Categories
anak COVID-19 Healthy Life Pendukung ASI sekolah UHC

2021 Kesehatan Anak Paska Pandemi COVID-19

Anak Sehat, Indonesia Kuat! | Indonesia Baik

KESEHATAN  ANAK  PASKA  PANDEMI  COVID-19

fx. wikan indrarto*)

Dimuat di Harian Nasional KOMPAS hari Senin, 19 April 2021, halaman 7

Selama dua dekade terakhir, epidemiologi kesehatan anak global telah berubah secara signifikan, termasuk dalam kesejahteraan anak. Ketika semua negara berusaha membangun kembali saat pulih dari ganasnya pandemi COVID-19, diperlukan evolusi substansial dalam berbagai program, untuk memenuhi kebutuhan kesehatan anak yang berubah. Apa yang harus berubah?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/03/21/2021-imunitas-anak/

.

Pola kematian dan penyakit pada masa anak berubah secara dramatis. Tren menunjukkan bahwa kematian yang dapat dicegah sekarang tertinggi pada periode bayi baru lahir. Namun demikian, sebnarnya pneumonia, diare dan malaria yang diperparah oleh malnutrisi, masih juga terus berdampak besar pada anak balita. Ini terutama terjadi di antara populasi yang paling terpinggirkan di wilayah Afrika sub-Sahara, di mana populasi anak justru diperkirakan akan tumbuh dalam beberapa dekade mendatang.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/02/06/2021-covid-19-pada-anak/

.

Di beberapa negara kematian pada remaja (15-19 tahun) justru meningkat karena kecelakaan lalu lintas di jalan raya, kekerasan fisik, dan melukai diri sendiri. Peningkatan jumlah anak dan remaja yang masih bertahan hidup, banyak yang dipengaruhi oleh kejadian cedera, gangguan perkembangan, penyakit tidak menular dan kesehatan mental yang buruk. Kelebihan berat badan dan obesitas di kalangan remaja dengan cepat meningkat, sehingga banyak negara menghadapi beban ganda malnutrisi, baik berupa kekurangan maupun kelebihan gizi.

.

Tantangan ini cenderung diperparah oleh pergeseran demografis. Peningkatan jumlah anak yang tinggal di pusat kota pada tahun-tahun mendatang, membatasi kesempatan untuk mendapatkan udara bersih dan beraktivitas fisik, sehingga menyebabkan tekanan serius pada berbagai fasilitas layanan kesehatan di daerah, apabila tanpa intervensi khusus. Kesehatan dan kesejahteraan anak dan remaja harus menjadi pusat upaya untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs) pada tahun 2030. Dunia perlu mengubah orientasi program untuk mencapai SDG (reframing child and adolescent health for the SDG era).

.

Kata Dokter, Begini Ciri-ciri Anak Sehat Secara Fisik dan Mental

Negara hanya dapat berkembang dan makmur jika negara berinvestasi untuk anak dan remaja, dan mengoptimalkan dukungan dalam momen penting pembentukan kesehatan anak di masa depan, dengan menggunakan apa yang disebut pendekatan alur kehidupan (lifecourse approach). Dengan pemikiran ini, meningkatkan kesehatan anak tidak boleh lagi hanya dianggap semata-mata sebagai masalah sektor kesehatan. Kebijakan, layanan, dan edukasi harus ditempatkan sebagai bagian dari solusi oleh pemerintah dan masyarakat, untuk mendorong agenda kesehatan anak dan remaja global, regional dan nasional.

.

Hampir satu tahun setelah COVID-19 dinyatakan sebagai pandemi, peningkatan luar biasa terlihat pada pembalikan risiko kelangsungan hidup anak dan remaja. Kerangka Sasaran Pembangunan Berkelanjutan (SDG) yang diadopsi pada tahun 2015, memang telah mencakup pendekatan holistik untuk meningkatkan kesehatan anak dan remaja, tetap masih relevan setelah pandemi COVID-19 berakhir, tetapi perlu penajaman fokus.

.

Kerangka kerja tersebut dahulu disusun berdasarkan tren tingkat makro, sehingga saat ini membutuhkan perubahan besar dalam paradigma tentang kesehatan anak dan remaja. Hal ini memerlukan peralihan dari fokus (shift in thinking) yang sebelumnya hanya tentang kelangsungan hidup anak di bawah 5 tahun, menjadi keterkaitan kesehatan ibu, bayi baru lahir, anak dan remaja, dengan pemahaman tentang bagaimana alur kehidupan manusia, tidak hanya pada masa dini, tetapi harus berlanjut sepanjang kehidupan anak hingga dewasa.

.

Perubahan demografi dan beban penyakit telah memaksa setiap negara harus memperkuat sistem kesehatannya, agar lebih responsif terhadap perubahan kebutuhan anak dan remaja. WHO dan UNICEF telah memulai upaya untuk mengarahkan kembali strategi kesehatan anak, mengalihkan perhatian ke perspektif alur kehidupan (life course perspective), dan menjauh dari fokus eksklusif sebelumnya, yaitu hanya terkait kelangsungan hidup bayi dan anak di bawah 5 tahun.

.

Prinsip pemrograman ulang (redesign) kesehatan anak, berupa program kesehatan anak dan remaja, serta implementasi kebijakannya yang harus mengikuti pendekatan alur kehidupan (life course perspective), yang didasarkan pada data tentang epidemiologi penyakit terbaru. Pemrograman ulang ini termasuk memastikan layanan kesehatan prakonsepsi yang baik, layanan kesehatan ibu hamil, serta intervensi medis yang berkualitas tinggi untuk anak sampai remaja, yang berusia 0 hingga 19 tahun.

.

Program baru harus berdasarkan hak dan adil (rights based and equitable), sehingga intervensi dan layanan medis penting harus disediakan untuk semua anak, di mana pun mereka tinggal. Selain itu, program harus mencakup layanan terpadu yang berpusat pada keluarga, anak, dan remaja, dalam bentuk mempromosikan kesehatan, pertumbuhan, dan kesejahteraan. Implementasinya meliputi pembentukan ketahanan atau imunitas, mencegah pajanan terhadap penyakit dan komplikasi selanjutnya, dan meminimalkan kerentanan atau faktor risiko sakit, dengan mempertimbangkan kebutuhan personal anak dan remaja.

.

Masyarakat dan keluarga harus diberdayakan untuk berpartisipasi dalam perancangan kebijakan pada anak dan remaja, untuk penyediaan layanan kesehatan yang berkualitas, paska pandemi COVID-19.

Sudahkah Anda terlibat membantu?

Sekian

Yogyakarta, 22 Maret 2021

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

Categories
anak COVID-19 Healthy Life sekolah

2021 Cidera dan Kekerasan

Waspada! 5 Jenis Cedera karena Olahraga dan Cara Mengatasinya | Popmama.com

CEDERA  DAN  KEKERASAN

fx. wikan indrarto*)

Laporan UNICEF pada Jumat, 19 Maret 2021 menyebutkan bahwa cidera merenggut nyawa 4,4 juta remaja di seluruh dunia setiap tahun dan merupakan hampir 8% dari semua kematian remaja. Kira-kira 1 dari 3 kematian remaja ini diakibatkan oleh kecelakaan lalu lintas di jalan raya, 1 dari 6 akibat bunuh diri, 1 dari 10 akibat pembunuhan, dan 1 dari 61 akibat perang dan konflik bersenjata. Apa yang mencemaskan?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/08/14/2020-hari-remaja-internasional/

.

Selain kematian dan cedera, paparan terhadap segala bentuk kekerasan, terutama di masa anak, dapat meningkatkan risiko gangguan mental dan keinginan untuk bunuh diri, menjadi perokok, pengguna alkohol dan penyalahgunaan zat terlarang, mengalami penyakit kronis seperti penyakit jantung, diabetes dan kanker, serta masalah sosial seperti kemiskinan, kejahatan dan kekerasan. Karena alasan ini, mencegah cedera dan kekerasan, termasuk dengan memutus siklus kekerasan antargenerasi, sebenarnya lebih dari sekadar menghindari cedera fisik, tetapi juga berkontribusi pada manfaat kesehatan, sosial dan ekonomi yang substansial.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/09/10/2020-kesehatan-seksual-remaja/

.

Cedera dan kekerasan merupakan penyebab utama kematian dan beban penyakit di semua negara, tetapi tidak tersebar merata di seluruh wilayah sebuah negara. Bahkan beberapa remaja lebih rentan daripada yang lain tergantung pada kondisi di mana mereka dilahirkan, tumbuh, sekolah, hidup, dan usia. Usia lebih muda, laki-laki dan status sosial ekonomi rendah semuanya meningkatkan risiko cedera dan menjadi korban atau pelaku kekerasan fisik yang berat. Risiko cedera akibat jatuh meningkat seiring bertambahnya usia.

.

Remaja laki-laki dua kali lebih banyak daripada perempuan yang meninggal setiap tahun akibat cedera dan kekerasan. Di seluruh dunia, sekitar tiga perempat kematian akibat kecelakaan lalu lintas di jalan raya, empat perlima kematian akibat pembunuhan, dan dua pertiga kematian akibat perang dan konflik bersenjata, mengenai remaja laki-laki. Akan tetapi di banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah, wanita dan remaja perempuan lebih mungkin untuk mengalami luka bakar dibandingkan pria dan remaja laki-laki.

.

Kemiskinan juga meningkatkan risiko terjadinya cidera dan kekerasan. Sekitar 90% kematian terkait cidera terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Di seluruh dunia, angka kematian akibat cedera lebih tinggi di negara berpenghasilan rendah dibandingkan di negara berpenghasilan tinggi. Bahkan di dalam negara, anak dan remaja dari latar belakang ekonomi yang lebih miskin memiliki tingkat kecelakaan fatal dan non-fatal yang lebih tinggi, daripada sebayanya dari latar belakang ekonomi yang lebih kaya.

Video Perkelahian Siswi SMP Viral di Klungkung, TKP Tak Jauh dari Rumah  Jabatan Bupati & Wabup - Tribun Bali

Faktor risiko dan determinan yang umum untuk semua jenis cedera, meliputi pengaruh alkohol atau penggunaan obat terlarang, pengawasan orang tua yang tidak memadai, dan faktor prediktor kesehatan lainnya. Hal ini mencakup kemiskinan, ketidaksetaraan ekonomi dan gender, pengangguran, kurangnya keamanan di lingkungan perumahan, sekolah, dan jalan. Pada saat layanan RS untuk kondisi trauma dan darurat medis adalah lemah atau karena akses yang tidak adil ke layanan kesehatan, tentu saja dampak dari cedera dan kekerasan dapat memburuk.

.

Cedera dan kekerasan dapat diprediksi dan dicegah. Analisis biaya dan manfaat tindakan pencegahan cedera dan kekerasan, menawarkan efisiensi finansial yang signifikan dan memberikan manfaat yang besar. Ssetiap US $ 1 yang diinvestasikan untuk detektor asap menghemat US $ 65 perawatan luka bakar, penggunaan sabuk pengaman dan helm sepeda motor menghemat US $ 29 biaya layanan medis, dan kunjungan ke rumah oleh petugas kesehatan menghemat US $ 6 untuk biaya medis dan kehilangan produktivitas. Di Bangladesh, mengajarkan anak usia sekolah keterampilan berenang dapat menghemat US $ 3.000 per kematian remaja yang dapat dicegah. Di Eropa dan Amerika Utara, pengurangan 10% dalam pengalaman masa kanak yang merugikan dapat disamakan dengan tabungan tahunan sebesar 3 juta Tahun Hidup dengan Kendala (Disability Adjusted Life Years) atau setara US $ 105 miliar.

.

Layanan medis darurat yang berkualitas bagi para korban cidera dapat mencegah kematian remaja, mengurangi jumlah kecacatan, serta mengatasi dampak fisik, emosional, finansial dan hukum atas cidera atau kekerasan tersebut. Dengan demikian, membentuk sistem organisasi, perencanaan dan akses ke layanan trauma dan kedaruratan, termasuk telekomunikasi dan transportasi ke rumah sakit, perawatan pra-rumah sakit dan di rumah sakit, merupakan strategi penting untuk meminimalkan kematian dan kecacatan remaja, akibat cedera dan kekerasan. Menyediakan rehabilitasi bagi penyandang disabilitas, memastikan mereka memiliki akses ke alat bantu seperti kursi roda, dan menghilangkan hambatan partisipasi sosial dan ekonomi adalah strategi utama untuk memastikan bahwa remaja yang mengalami disabilitas akibat cedera atau kekerasan, dapat terus melanjutan kehidupan dengan penuh semangat dan menyenangkan.

.

Laporan UNICEF pada Jumat, 19 Maret 2021 mengingatkan kita semua, bahwa cidera, kekerasan, dan kematian pada remaja dapat dicegah, dengan memastikan tidak ada seorangpun remaja yang tertinggal (to ensure no one is left behind).

 Sudahkah Anda terlibat membantu?

Sekian

Yogyakarta, 22 Maret 2021

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

Categories
anak COVID-19 Healthy Life resisten obat tuberkulosis

2021 Tuberkulosis pada Anak

MENGENALI TBC PADA ANAK

TB  PADA  ANAK

fx. wikan indrarto*)

Penyakit tuberkulosis (TB) pada anak di bawah usia 15 tahun merupakan masalah kesehatan masyarakat yang sangat penting, karena merupakan penanda adanya proses penularan TB yang baru terjadi. Apa yang sebaiknya dilakukan?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/03/24/2021-hari-tuberkulosis-sedunia/

.

TB disebabkan oleh bakteri yang disebut Mycobacterium tuberculosis. Bakteri TB menyebar dari orang ke orang melalui udara. Bakteri TB dikeluarkan ke udara ketika penderita TB mengalami batuk, bersin, berbicara, atau bernyanyi, sehingga anak di sekitarnya mungkin menghirup bakteri ini dan terinfeksi, dengan dua jenis TB pada anak, yaitu infeksi TB laten dan sakit TB.

.

Pertama, anak dengan infeksi TB laten biasanya diketahui dengan tes Mantoux pada kulit atau tes serologi darah yang menunjukkan adanya infeksi TB. Anak tersebut memiliki bakteri TB di dalam tubuhnya, tetapi bakterinya tidak aktif, sehingga anak tidak sakit dan tidak memiliki gejala klinis. Anak tersebut tidak berbahaya karena tidak dapat menyebarkan bakteri TB ke orang lain. Jika kondisi umum anak menurun, maka bakteri TB dapat menjadi aktif di dalam tubuh dan berkembang biak, sehingga akan mengalami sakit TB.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/01/22/2019-akhiri-tb/

.

Kedua, anak sakit TB setelah terinfeksi bakteri TB, karena anak lebih mungkin mengalami sakit TB dan lebih cepat terjadi sakit daripada orang dewasa. Dibandingkan dengan anak yang sakit TB karena terinfeksi baru, penyakit TB pada orang dewasa biasanya disebabkan oleh infeksi TB masa lalu yang menjadi aktif, ketika sistem kekebalan menjadi lemah, misalnya adanya infeksi HIV atau ko infeksi TB HIV dan diabetes.

.

Tanda dan gejala penyakit TB pada anak antara lain batuk, rasa sakit atau lemah, lesu, dan atau berkurangnya semangat bermain. Juga penurunan berat badan atau gagal tumbuh, demam dan atau mengalami banyak keringat pada malam hari. Gejala penyakit TB di bagian tubuh lain bergantung pada daerah yang terkena. Bayi, anak kecil, dan anak dengan gangguan sistem imun (misalnya, anak dengan HIV) berada pada risiko tertinggi untuk berkembang menjadi bentuk TB yang paling parah seperti meningitis TB atau penyakit TB yang menyebar (disseminated TB disease).

.

Mengenal Kondisi TB Paru pada Anak yang Harus Moms Antisipasi – Good  Doctor | Tips Kesehatan, Chat Dokter, Beli Obat Online

Memastikan diagnosis sakit TB pada anak dengan tes laboratorium klinik adalah tantangan yang tidak mudah. Hal ini karena 2 penyebab utama, yaitu pada anak sulit untuk mengumpulkan spesimen dahak, apalagi pada bayi. Selain itu, tes laboratorium yang digunakan untuk menemukan TB dalam dahak (sputum BTA) cenderung memberikan hasil positif pada anak. Hal ini disebabkan oleh fakta bahwa anak lebih mungkin mengalami sakit TB, meski jumlah bakteri lebih sedikit (paucibacillary).

.

Karena alasan ini, diagnosis penyakit TB pada anak berbeda dengan dewasa, sering dibuat tanpa konfirmasi laboratorium sputum BTA, tetapi berdasarkan kombinasi 4 faktor berikut. Pertama, tanda dan gejala klinis sakit TB. Kedua, tes kulit Mantoux atau tuberkulin atau tes darah serologi TB  (IGRA) positif. Ketiga, foto rontgen dada yang memiliki pola sakit TB berat, dan keempat, riwayat kontak dengan orang dewasa yang mengidap TB menular.

.

Pengujian laboratorium TB pada anak yang biasanya merupakan satu-satunya tanda infeksi TB adalah reaksi positif terhadap tes kulit Mantoux atau tes darah serologi TB. Tes kulit TB adalah aman pada anak, dan lebih sering diterapkan daripada tes darah serologi TB untuk anak di bawah usia 5 tahun, karena lebih praktis dan ekonomis.

.

Semua anak dengan hasil tes kulit Mantoux positif untuk infeksi TB yang disertai gejala klinis TB, atau riwayat kontak dengan pengidap dewasa penyakit TB, harus menjalani evaluasi medis. Evaluasi medis untuk penyakit TB, termasuk rontgen dada dan pemeriksaan fisik untuk menyingkirkan sakit TB, dan harus dilakukan sebelum memulai pengobatan untuk infeksi TB laten. 

.

Anak di atas usia 2 tahun dengan infeksi TB laten dapat diobati dengan obat anti TB (OAT) lini pertama, yaitu isoniazid-rifapentin sekali seminggu selama 12 minggu. Pengobatan alternatif untuk infeksi TB laten pada anak adalah rifampisin harian selama 4 bulan atau isoniazid harian selama 9 bulan. Kedua jenis regimen obat tersebut sama-sama mudah dilaksanakan, namun demikian dokter sebaiknya menawarkan dan meresepkan rejimen pendek yang tentu lebih nyaman, jika memungkinkan. Semua pasien tentu lebih mungkin untuk menyelesaikan rejimen pengobatan yang lebih pendek.

.

Sakit TB pada anak diobati dengan beberapa kombinasi OAT selama 6 sampai 9 bulan. Penting untuk diperhatikan bahwa jika seorang anak berhenti minum obat sebelum selesai, anak tersebut dapat kembali sakit. Jika obat tidak diminum dengan benar, bakteri TB yang masih hidup dapat menjadi resisten terhadap obat tersebut. TB yang resisten terhadap obat lebih sulit dan lebih mahal untuk diobati, dan pengobatan berlangsung lebih lama, bahkan hingga 18 sampai 24 bulan.

.

Momentum Hari TB Sedunia Rabu, 24 Maret 2021 mengingatkan kita bahwa jam terus berdetak (The Clock is Ticking), dan kita hampir kehabisan waktu, untuk mencapai target TB global dalam SDG 2016-2030 dengan semboyan “Find. Treat. All. #EndTB.” Inisiatif ini bertujuan untuk mempercepat pembasmian TB dengan memastikan tidak ada anak yang tertinggal (to ensure no child is left behind).

 Sudahkah Anda terlibat membantu?

Sekian

Yogyakarta, 20 Maret 2021

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

Categories
anak HIV-AIDS resisten obat tuberkulosis UHC

2021 Hari Tuberkulosis Sedunia

Puncak Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia tahun 2021 - YouTube

HARI  TUBERKULOSIS  SEDUNIA  2021

fx. wikan indrarto*)

Setiap tahun diperingati Hari Tuberkulosis (TB) Sedunia pada tanggal 24 Maret, untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang penyakit TB yang menghancurkan secara medis, sosial dan ekonomi, dan untuk meningkatkan upaya mengakhiri epidemi TB global. Apa yang menarik?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/03/30/2020-pencegahan-tbc/

.

TB awalnya disebut “phthisis” di era Yunani kuno, “tabes” di jaman Romawi kuno, dan “schachepheth” dalam bahasa Ibrani kuno. Pada tahun 1700-an, TB disebut “wabah putih” (the white plague), karena wajah para pasien yang berubah pucat. Dr. Johann Schonlein menciptakan istilah “tuberkulosis” pada tahun 1834, meskipun diperkirakan bakteri Mycobacterium tuberculosis mungkin sudah ada selama 3 juta tahun sebelumnya. Pada abad 1800-an bahkan setelah Schonlein menamakannya tuberkulosis, TB juga disebut “Kapten Kematian” (Captain of all these men of death).

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/01/18/2019-tantangan-tb/

.

Pada tanggal 24 Maret 1882, Dr. Robert Koch di Berlin, Jerman mengumumkan penemuan Mycobacterium tuberculosis, bakteri penyebab TB. Pada waktu ini, TB membunuh satu dari setiap tujuh orang di Amerika Serikat dan Eropa. Penemuan Dr. Koch adalah langkah terpenting yang diambil untuk mengendalikan dan menghilangkan penyakit mematikan ini, yang awalnya disebut Koch Pulmonum (KP). Seabad kemudian, 24 Maret baru ditetapkan sebagai Hari TB Sedunia, yaitu sebuah hari yang didedikasikan untuk mengingatkan masyarakat tentang dampak TB di seluruh dunia.

.

Sampai saat ini TB tetap menjadi salah satu penyakit menular pembunuh paling mematikan di dunia. Setiap hari hampir 4.000 orang meninggal karena TB dan hampir 28.000 orang jatuh sakit, karena penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dan disembuhkan ini. Sampai tahun lalu, upaya global untuk memerangi TB telah menyelamatkan sekitar 63 juta jiwa sejak tahun 2000.

.

Tema Hari TB Sedunia 2021 adalah : jam terus berdetak (The Clock is Ticking), untuk mengingatkan bahwa dunia hampir kehabisan waktu, karena komitmen memberantas TB yang dibuat oleh para pemimpin global, masih jauh dari terwujud. Hal ini sangat penting karena pandemi COVID-19 telah menempatkan kemajuan pananganan TB selama ini, pada risiko kegagalan. Selain itu, juga untuk memastikan akses yang adil ke layanan pencegahan dan perawatan TB sejalan dengan upaya global untuk mencapai Cakupan Kesehatan Semesta atau ‘Universal Health Coverage’ (UHC).

.

Sejarah Hari Tuberkulosis Sedunia yang Diperingati Setiap 24 Maret |  Limapagi

WHO menetapkan tiga indikator TB beserta targetnya yang harus dicapai oleh semua negara di dunia. Pertama, menurunkan jumlah kematian TB sebanyak 95% pada tahun 2035 dibandingkan kematian pada tahun 2015. Kedua, menurunkan insidens TB sebanyak 90% pada tahun 2035 dibandingkan tahun 2015, dan ketiga, tidak ada keluarga pasien TB yang terbebani pembiayaannya terkait pengobatan TB pada tahun 2035.

.

Target program Penanggulangan TB nasional yaitu eliminasi pada tahun 2035 dan Indonesia Bebas TB Tahun 2050. Eliminasi TB adalah tercapainya jumlah kasus TB 1 per 1.000.000 penduduk. Sementara tahun 2017 jumlah kasus TB saat ini sebesar 254 per 100.000 atau 25,40 per 1 juta penduduk Indonesia. WHO menetapkan standar keberhasilan pengobatan sebesar 85%. Angka keberhasilan di Indonesia pada tahun 2017 sebesar 87,8% (data per 21 Mei 2018). Angka kesembuhan cenderung mempunyai gap dengan angka keberhasilan pengobatan, fenomena menurunnya angka kesembuhan ini mencemaskan dan perlu mendapat perhatian besar karena akan mempengaruhi penularan penyakit TB.

.

Pencegahan dan pengendalian faktor risiko TB dilakukan dengan cara membudayakan perilaku hidup bersih dan sehat, perilaku etika berbatuk, pemeliharaan dan perbaikan kualitas perumahan dan lingkungannya sesuai dengan standar rumah sehat, dan peningkatan daya tahan tubuh. Selain itu, juga penanganan penyakit penyerta TB dan penerapan pencegahan dan pengendalian infeksi TB.

.

Penanganan COVID-19 saat ini juga dapat diterapkan dalam upaya eliminasi TB. Pelacakan yang agresif untuk menemukan penderita dapat dilakukan untuk mencari penderita TB yang belum terlaporkan. Selain itu, upaya preventif dan promotif untuk mengatasi TB bukan hanya menjadi tanggung jawab sektor kesehatan saja, melainkan juga menjadi tanggung jawab bersama berbagai pemangku kepentingan, dengan melibatkan banyak sektor pendukung lainnya secara terpadu. Meski tengah disibukkan dengan penanganan COVID-19, tetapi layanan TB maupun pengobatan terhadap pasien harus tetap berlangsung.

.

Memang ada pengurangan yang signifikan kasus TB baru pada paruh pertama tahun 2020, mungkin karena banyak negara memberlakukan ‘lockdown’ untuk mengekang penyebaran wabah COVID-19. Tiga negara dengan beban tinggi yakni India, Indonesia dan Filipina, melaporkan penurunan antara 25-30% TB selama enam bulan pertama tahun 2020 dibandingkan dengan periode sama tahun 2019 lalu. Ketiga negara tersebut juga termasuk negara dengan angka kasus virus COVID-19 tertinggi di dunia.

.

Momentum Hari TB Sedunia Rabu, 24 Maret 2021 mengingatkan kita bahwa jam terus berdetak (The Clock is Ticking), dan kita hampir kehabisan waktu, untuk mencapai target TB global dalam SDG 2016-2030 dengan semboyan “Find. Treat. All. #EndTB.” Inisiatif ini bertujuan untuk mempercepat pembasmian TB dengan memastikan tidak ada yang tertinggal (to ensure no one is left behind).

 Sudahkah Anda terlibat membantu?

Sekian

Yogyakarta, 19 Maret 2021

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

Categories
Healthy Life Malaria UHC vaksinasi

2021 Bebas Malaria

2018 MM Bebas Malaria – Berita Terbaru, Akurat & Terpercaya

BEBAS  MALARIA

fx. wikan indrarto*)

Kamis, 25 Februari 2021 El Salvador disertifikasi bebas malaria oleh WHO. El Salvador adalah negara ketiga yang telah mencapai status bebas malaria dalam beberapa tahun terakhir di Amerika, setelah Argentina pada 2019 dan Paraguay pada 2018. Tujuh negara di wilayah tersebut telah disertifikasi dari tahun 1962 hingga 1973. Secara global, terdapat total 38 negara dan wilayah telah mencapai pencapaian ini, dengan Indonesia ditargetkan akan mencapainya tahun 2030 kelak. Apa yang perlu dicontoh?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/04/24/2020-hari-malaria-sedunia/

.

Sertifikasi bebas malaria tersebut buah gemilang atas lebih dari 50 tahun komitmen pemerintah El Salvador dan masyarakatnya, untuk mengakhiri penyakit di negara dengan populasi padat dan geografi yang terbilang ramah terhadap malaria. “Malaria telah menyerang umat manusia selama ribuan tahun, tetapi negara-negara seperti El Salvador adalah bukti hidup dan inspirasi bagi semua negara yang berani memimpikan masa depan bebas malaria,” kata Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/05/03/2019-vaksin-malaria/

.

Sertifikasi eliminasi malaria diberikan oleh WHO ketika suatu negara telah membuktikan, tanpa keraguan, bahwa rantai penularan malaria pada penduduk lokal telah terputus secara nasional setidaknya selama tiga tahun berturut-turut. Dengan pengecualian satu wabah pada tahun 1996, El Salvador terus mengurangi beban malaria selama tiga dekade terakhir. Antara tahun 1990 dan 2010, jumlah kasus malaria menurun dari lebih dari 9.000 menjadi tinggal 26. Negara ini telah melaporkan nol kasus penyakit malaria indegenous atau asli sejak 2017.

.

Upaya anti-malaria El Salvador dimulai pada 1940-an dengan pengendalian mekanis vektor malaria, yaitu nyamuk anopheles, melalui pembangunan saluran air permanen pertama di rawa-rawa, diikuti dengan penyemprotan dalam ruangan dengan pestisida DDT. Pada pertengahan 1950-an, El Salvador membentuk Program Malaria Nasional dan merekrut jaringan petugas kesehatan komunitas untuk mendeteksi dan mengobati malaria di seluruh negeri. Para relawan, yang dikenal sebagai “Col Vol,” mencatat kasus dan intervensi malaria. Data tersebut, yang dimasukkan ke dalam sistem informasi kesehatan oleh personel pengendalian vektor, sehingga memungkinkan program pengendalian yang strategis dan bertarget jelas di seluruh negeri.

.

Bebas Malaria, Prestasi Bangsa – UPTD Puskesmas Wonogiri 1

Pada akhir 1960-an, kemajuan telah melambat karena nyamuk anopheles telah mengalami resistensi terhadap DDT. Ekspansi industri kapas di negara tersebut diperkirakan telah memicu peningkatan lebih lanjut kasus malaria. Sepanjang tahun 1970-an, terjadi lonjakan pekerja migran di perkebunan kapas di daerah pesisir dekat lokasi perkembangbiakan nyamuk, sehingga peningkatan kasus malaria sangat tajam, selain karena program penghentian penggunaan DDT. El Salvador mengalami kebangkitan kembali malaria, mencapai puncaknya hampir 96.000 kasus pada tahun 1980.

.

Dengan dukungan WHO, CDC, dan USAID, El Salvador berhasil mengubah orientasi program malaria, yang mengarah pada peningkatan sumber daya dan intervensi berdasarkan distribusi geografis kasus. Pemerintah juga mendesentralisasikan jaringan laboratorium diagnostiknya pada tahun 1987, sehingga kasus malaria dapat dideteksi dan ditangani dengan lebih cepat. Faktor tersebut yang terjadi bersamaan dengan runtuhnya industri kapas menyebabkan penurunan kasus yang cepat pada tahun 1980-an.

.

Reformasi kesehatan yang dimulai tahun 2009, yaitu mencakup peningkatan penting pada anggaran dan cakupan perawatan kesehatan primer, serta pemeliharaan program pengendalian vektor sebagai inti dalam intervensi malaria, telah berkontribusi pada keberhasilan El Salvador. Pemerintah El Salvador menyadari sejak awal bahwa pembiayaan domestik yang konsisten dan memadai akan sangat penting untuk mencapai dan mempertahankan tujuan pembangunan bidang kesehatan, termasuk untuk malaria. Komitmen ini telah tercermin selama lebih dari 50 tahun dalam anggaran nasional.

.

Meskipun melaporkan kematian terkait malaria terakhirnya pada tahun 1984, El Salvador telah mempertahankan besarnya investasi domestik untuk malaria. Pada tahun 2020, negara terus mengandalkan 276 orang petugas pengendalian vektor nyamuk, 247 buah laboratorium, perawat dan dokter yang terlibat dalam deteksi kasus, ahli epidemiologi, tim manajemen dan personel, dan lebih dari 3.000 petugas kesehatan masyarakat. Sebagai bagian dari komitmen El Salvador untuk mempertahankan nol kasus, penganggaran nasional untuk malaria telah dan akan terus dipertahankan, bahkan pada saat pandemi COVID-19 ini.

.

Lampung Masih Endemis Malaria, Kampanye Dinas Kesehatan Menuju Desa Bebas  Malaria Jangan Cuma Jargon | WARTA9.COM

Meskipun sebagian besar pembiayaan untuk malaria berasal dari sumber daya domestik, upaya eliminasi El Salvador mendapat manfaat dari hibah eksternal yang disediakan oleh Global Fund. Pembelajaran sertifikasi bebas malaria dari El Salvador dapat digunakan di Indonesia. Keseluruhan kasus malaria tahun 2019 di Indonesia masih sebanyak 250.644. Kasus tertinggi terjadi di Provinsi Papua sebanyak 216.380 kasus. Selanjutnya, disusul dengan Provinsi Nusa Tenggara Timur sebanyak 12.909 kasus dan Provinsi Papua Barat sebanyak 7.079 kasus.

Keberhasilan El Salvador merupakan upaya kolaboratif antara pemerintah, masyarakat sipil, akademisi, sektor swasta, dan komunitas untuk memberantas malaria tanpa kendor, bahkan pada saat pandemi COVID-19 ini.

Sudahkah kita mencontohnya?

Sekian

Yogyakarta, 5 Maret 2021

*) Dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
antibiotika COVID-19 Healthy Life

2021 Imunitas Anak

Tips Menjaga Imunitas Anak di Masa Pandemi

ANCAMAN  PADA  IMUNITAS  ANAK

fx. wikan indrarto*)

Seringkali orangtua memperingatkan anak, “Jangan memasukkan jari ke dalam mulut.” Orang tua dan pengasuh berulang kali berusaha melindungi anak dari kuman, baik virus maupun bakteri, yang dapat menyebabkan flu biasa atau infeksi bakteri serius, seperti pneumonia dan disentri. Apakah ada yang kurang?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/02/06/2021-covid-19-pada-anak/

.

Tulisan ini telah dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 28 Maret 2021, halaman 5.

Anak biasa merangkak di tanah dan memasukkan jari mereka ke dalam mulut, tetapi sistem imunitas atau kekebalan mereka yang belum matang, membuat anak lebih rentan terhadap penyakit. Lebih berbahaya kalau penyakit infeksi pada anak disebabkan oleh mikroba yang telah kebal atau resisten terhadap obat yang ada di sekitar anak. Saat ini, resistensi antimikroba atau ‘Anti Microbial Resistance’ (AMR) adalah ancaman utama dan terus berkembang terhadap kesehatan dan kehidupan manusia. Terjadinya resistensi antimikroba ini sangat mempengaruhi kemampuan medis untuk secara efektif mengobati berbagai infeksi dengan obat antibiotik, termasuk infeksi saluran kemih, sepsis, dan diare.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/09/19/2020-antibiotika-semasa-covid-19/

.

‘Superbugs’ atau bakteri yang resisten terhadap berbagai antibiotik, juga menjadi lebih umum terdapat di mana-mana. Anak yang tinggal di lingkungan dengan sumber daya rendah dan akses terbatas ke layanan kesehatan, tentu menghadapi risiko yang lebih besar. Kurangnya air bersih, kondisi sanitasi buruk, praktik kebersihan yang kurang, dan pengendalian infeksi yang tidak memadai, secara bersama-sama memungkinkan penyebaran resistensi antimikroba.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/01/29/2020-semakin-sedikit-antibiotika/

.

Resistensi terhadap obat, seperti obat antiretroviral (ARV), antimalaria, anti tuberkulosis (OAT), dan antijamur mengancam untuk membalikkan kemajuan dan prestasi bidang medis, dalam mengurangi kematian anak. Di negara berpenghasilan rendah, di mana sebagian besar kematian anak terjadi, obat antibiotik yang efektif dan dapat diakses sangat penting untuk mengobati penyakit anak yang paling umum, yaitu pneumonia, infeksi saluran pernapasan lain, disentri, serta sepsis atau infeksi bakteri dalam darah. Jika obat antibiotika ini menjadi resisten, peluang anak untuk bertahan hidup menjadi terancam.

.

Saat ini, sekitar 2 juta anak terpajan tuberkulosis (TB) yang telah resisten terhadap beberapa obat, dan 5 juta lainnya terpajan TB yang resisten terhadap Rifampisin, sebuah OAT yang paling poten. Satu dari setiap dua bayi baru lahir yang didiagnosis dengan HIV, terinfeksi virus dari ibu yang sudah memiliki resistensi terhadap obat ARV lini pertama yang paling umum digunakan. Bahkan secara global resistensi terhadap ARV lini pertama mencapai 63,7% pada bayi baru lahir dengan HIV karena tertular dari ibu.

.

Selain itu, resistensi antibiotik meningkat pesat pada bakteri berarti beberapa kelas antibiotik yang secara tradisional digunakan untuk memerangi infeksi umum tetapi berpotensi mematikan anak, seperti diare, pneumonia, dan sepsis neonatal, tentu tidak lagi efektif. Namun demikian, resistensi bukanlah satu-satunya ancaman bagi peluang anak untuk bertahan hidup dan berkembang. Kurangnya akses ke antimikroba berkualitas dan terjangkau, terutama di wilayah dengan sumber daya rendah mengganggu kemampuan untuk mengobati infeksi di tempat pertama. Pada tahun 2016 saja, diperkirakan 6,3 juta kematian di anak balita disebabkan oleh penyakit menular, yang sebenarnya dapat dicegah dengan peningkatan akses ke obat antibiotik.

.

Pada saat yang sama, kita juga mengetahui bahwa resistensi berkembang lebih cepat melalui penyalahgunaan dan penggunaan obat antimikroba yang berlebihan, terutama karena penggunaan antibiotik pada manusia yang meningkat pesat. Meskipun penting bagi anak untuk mendapatkan antimikroba lengkap pada waktu yang tepat dan saat dibutuhkan, penting juga bagi petugas kesehatan dan pengasuh untuk menghindari penggunaan antimikroba yang salah atau berlebihan (mis- or over-use of antimicrobials).

.

Cara Membuat Imunitas Anak Lebih Baik Tanpa Membuat Mereka Sakit | Orami

Kita semua diingatkan untuk meningkatkan kesadaran tentang AMR dan mendorong praktik terbaik di antara masyarakat, petugas kesehatan, dan pembuat kebijakan. Namun demikian, kita juga memiliki tujuan untuk mengedepankan hak anak atas kesehatan. Hari Anak Sedunia (World Children’s Day), yang jatuh pada waktu yang bersamaan dengan Pekan Kewaspadaan Antimikroba (World Antimicrobial Awareness Week), merupakan kesempatan untuk merayakan dan merefleksikan upaya kolektif kita untuk memastikan bahwa hak anak, termasuk hak mereka atas kesehatan yang baik, harus terus dihormati, dilindungi, dan dipenuhi.

.

Hak atas kesehatan berarti berhak atas perawatan kesehatan yang berkualitas, termasuk akses ke obat esensial, seperti antimikroba. Ini juga berarti memiliki hak untuk mengakses informasi kesehatan yang sesuai, termasuk tentang penggunaan antimikroba yang tepat, tetapi juga akan risiko yang terkait dengan penyalahgunaan atau penggunaan berlebihan.

.

Sesuai dengan Konvensi Hak Anak (the Convention on the Rights of the Child), pengakuan hak anak atas kesehatan mengharuskan pemerintah untuk mengembangkan dan menerapkan kebijakan dan peraturan yang memastikan anak dan pengasuhnya, memiliki akses yang sama ke obat antimikroba. Dengan demikian kebijakan, peraturan dan protokol harus ada untuk mencegah peresepan obat antimikroba yang berlebihan oleh para dokter dan tenaga kesehatan, bahkan untuk menghindari obat yang dijual bebas.

.

Meskipun orangtua tidak dapat sepenuhnya menghentikan anak untuk memasukkan jari mereka ke dalam mulut, namun kita semua seharusnya mampu berperan dalam meningkatkan imunitas anak dan melindungi anak dari ancaman AMR yang semakin meningkat. Hak anak atas kesehatan haruslah ditegakkan.

Sudahkah kita melakukannya pada anak di sekitar kita?

Sekian

Yogyakarta, 2 Maret 2021

*) Dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
COVID-19 Healthy Life Pendukung ASI UHC

2021 INFEKSI NEONATAL SERIUS

Waspadai Neonatal Tetanus pada Bayi Baru Lahir, Cermati Tandanya Moms! -  Semua Halaman - Nakita

INFEKSI  NEONATAL  SERIUS

fx. wikan indrarto

Setiap tahun secara global sekitar 2,8 juta bayi meninggal pada bulan pertama kehidupan, dengan 98% kematian terjadi di negara berkembang. Infeksi bakteri serius, termasuk sepsis atau infeksi sistemik dan meningitis atau radang selaput otak, diperkirakan menyebabkan lebih dari 420.000 kematian bayi setiap tahun, dengan 136.000 bayi lainya disebabkan oleh pneumonia atau radang paru-paru. Apa yang harus dilakukan?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/05/09/2019-kematian-bayi/

.

Perawatan di RS untuk bayi dengan infeksi serius bertujuan agar bayi mendapatkan setidaknya paket tujuh hari kombinasi dua suntikan obat  antibiotik, yaitu benzilpenisilin atau ampisilin plus gentamisin. Namun demikian, bukti menunjukkan bahwa di wilayah dengan keterbatasan sumber daya, banyak bayi kecil dengan tanda-tanda infeksi serius tidak mendapat pengobatan rawat inap di RS seperti yang dianjurkan, karena perawatan semacam itu tidak dapat diakses, tidak disetujui atau kurang terjangkau oleh keluarga. Dengan demikian bayi tersebut tidak menerima pengobatan, mengakibatkan kematian bayi baru lahir yang tidak perlu, dan sebenarnya berpotensi untuk dapat dicegah.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/10/21/2019-kekerasan-pada-kelahiran-bayi/

.

Identifikasi tanda bahaya pada bayi sakit serius dilakukan oleh dokter, bidan, perawat maternitas atau tenaga kesehatan lainnya, saat melakukan kunjungan rumah. Tanda klinis kemungkinan infeksi bakteri  serius pada bayi adalah napas cepat (laju pernapasan ≥ 60 kali / menit), tarikan dinding dada, demam (suhu ≥ 38 °C), hipotermia (suhu <35,5 °C), tidak ada gerakan otot sama sekali atau gerakan hanya pada saat distimulasi, menetek lemah atau tidak mampu menetek sama sekali, dan kejang. 

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/09/03/2020-asi-untuk-bayi-covid-19/

.

Penelitian meta analisis dan tinjauan sistematis pada semua bayi baru lahir atau neonatus usia 0-28 hari, yang mendapat kunjungan rumah oleh bidan dibandingkan dengan yang tidak, menunjukkan bahwa kunjungan rumah berhasil mengidentifikasi bayi muda dengan penyakit serius, dan meningkatkan kesempatan untuk mencari perawatan di RS. Selain itu, spesifisitas diagnosis penyakit infeksi bakteri serius oleh bidan adalah tinggi, mekipun beberapa ada yang positif palsu, dan karenanya kemungkinan rujukan ke RS yang tidak perlu, dapat ditekan.

.

Penelitian lainnya telah dilakukan pada bayi muda usia 0–59 hari, yang memiliki hanya nafas cepat sebagai tanda bahaya, yang orang tuanya tidak menyetujui tindakan rujukan ke rumah sakit. Penelitian ini melibatkan 2.333 bayi dalam kelompok perlakukan yang diberikan obat telan atau oral amoksisilin selama tujuh hari, dibandingkan dengan 2.196 bayi dalam kelompok kontrol, yang diberikan obat injeksi gentamisin intramuskular ditambah prokain penisilin intramuskular.

.

Uji klinis terkontrol secara acak tersebut dilakukan di Kongo, Kenya dan Nigeria. Obat antibiotika oral yang diberikan pada pasien rawat jalan terbukti seefektif pemberian kombinasi suntikan penisilin dan gentamisin selama tujuh hari, yang diukur dari tingkat kematian dan perburukan klinis, yaitu perkembangan tanda-tanda infeksi serius, dalam dua minggu setelah memulai pengobatan.

.

Penyakit Asfiksia Neonatorum - Gejala, Penyebab, Pengobatan - Klikdokter.com

.

Selain itu, tidak ada perbedaan dalam kemanjuran klinis dan kegagalan pengobatan, efek samping yang serius atau kematian bayi. Obat antibiotik oral sama manjurnya dengan obat suntikan, bahkan obat oral lebih disukai karena lebih sederhana dan menghindari tindakan penyuntikan. Obat oral kemungkinan besar juga lebih dapat diterima oleh keluarga, lebih mudah diakses, dan memiliki tingkat penyelesaian paket pengobatan yang lebih tinggi. Harga obat amoksisilin oral lebih murah daripada antibiotik suntik dan dapat mengurangi beban ekonomi keluarga dan sistem kesehatan. Selain itu, amoksisilin oral paling dianjurkan untuk pengobatan pneumonia pada anak berusia 2–59 bulan, dan karenanya harus tersedia secara rutin di fasilitas kesehatan.

.

Untuk itu, bayi dengan napas cepat perlu tindaklanjut yang ditentukan oleh usia bayi, yaitu bayi 0–6 hari atau usia 7–59 hari. Bayi muda 0–6 hari dengan napas cepat sebagai satu-satunya tanda penyakit serius harus dirujuk ke RS. Jika keluarga tidak menyetujui atau tidak dapat mengakses perawatan rujukan, bayi ini harus diobati dengan amoksisilin oral 50 mg / kg BB per dosis, yang diberikan dua kali sehari selama tujuh hari. Sedangkan pada bayi kecil berusia 7–59 hari harus diobati dengan amoksisilin oral, 50 mg / kg BB per dosis, yang diberikan dua kali sehari selama tujuh hari dan bayi ini tidak membutuhkan rujukan ke RS.

.

Bayi muda (0–59 hari) gejala klinis infeksi berat, yang keluarganya tidak menyetujui atau tidak dapat mengakses rujukan ke RS, boleh dikelola sebagai pasien rawat jalan, dengan salah satu dari dua pilihan rejimen berikut. Pilihan pertama adalah obat suntikan gentamisin intramuskular 5–7,5 mg / kg BB, sedangkan untuk bayi dengan berat lahir rendah gentamisin cukup 3–4 mg / kg BB sekali sehari selama tujuh hari dan amoksisilin oral dua kali sehari, 50 mg / kg BB per dosis selama tujuh hari. Sedangkan pilihan kedua adalah obat suntikan gentamisin intramuskular selama dua hari dan 2 kali sehari amoksisilin oral, selama tujuh hari. Tindak lanjut pemantauan klinis pada hari ke-4 wajib dilakukan untuk menentukan apakah bayi membaik. Bila memiliki tanda kritis penyakit pada pemeriksaan awal, atau berkembang menjadi memburuk selama pengobatan, harus dirawat inap di RS, dengan disertai pemberian antibiotika selama perawatan pra-rujukan.

.

Pengelolaan infeksi bakteri serius pada neonatus (0-28 hari) dan bayi muda (0-59 hari) adalah dirujuk ke RS. WHO telah menerbitkan pedoman saat rujukan ke RS tidak memungkinkan. Layanan medis sesuai rekomendasi WHO tersebut dapat melindungi semua bayi dari penyakit infeksi bakteri serius dan mampu menurunkan angka kematian bayi.

Sudahkah kita memlakukannya pada bayi di sekitar kita?

Sekian

Yogyakarta, 21 Februari 2021

*) Dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
Healthy Life vaksinasi

LAYANAN IMUNISASI

oleh Dr. dr. Wikan Indrarto, SpA

Pada saat pandemi COVID-19 ini, banyak orang tua kawatir untuk datang ke rumah sakit, termasuk untuk mendapatkan layanan imunisasi bagi bayi dan anak.

Saat ini telah hadir layanan imunisasi yang dibutuhkan tanpa disertai kekhawatiran. Layanan ini adalah solusi imunisasi yang akan menghasilkan imun, dilaksanakan secara aman, dan lebih nyaman.

Lindungi buah hati dengan imunisasi sesuai jadwal,

Mohon jangan ditunda, dengan pemesanan minimal H-1 hari kerja

Jadwal Imunisasi IDAI 2020 untuk Anak 0-18 Tahun, Pengumuman Baru Nih Bun

Jadwal Imunisasi anak Indonesia usia 0-18 tahun

Imunisasi dapat diberikan di rumah (homecare)

IMUN

  1. Diberikan oleh dokter spesialis anak
  2. Pemantauan KIPI (Kejadian Ikutan Paska Imunisasi)
  3. Jaminan keaslian vaksin
  4. Ketersediaan vaksin sesuai usia

AMAN

  1. Waktu dan tempat pelaksanaan seseuai kesepakatan
  2. Konsultasi pra dan paska imunisasi
  3. Jadwal imunisasi berikutnya
  4. Pemantauan tumbuh kembang anak

NYAMAN

  1. Harga terjangkau
  2. Harga sudah termasuk jasa medis
  3. Pembayaran non tunai
  4. Layanan mencakup Kota Yogyakarta dan sekitarnya 

Berikan imunisasi sesuai jadwal

Sembilan Penyakit yang Bisa Dicegah Lewat Imunisasi
Imunisasi akan meningkatkan kekebalan anak

Tempat dan waktu layanan imunisasi adalah fleksibel, tetapi sebaiknya tidak mendadak dan minimal H-1 hari kerja, karena imunisasi bukan intervensi medis darurat :

  1. Di rumah pasien
  2. Di Apotek K24 Demangan Baru Yogyakarta https://goo.gl/maps/F1K6yyqAYxF2
  3. Di Perumahan Timoho Regency A4 Yogyakarta https://goo.gl/maps/gjUYutu7aDw

PROSEDUR IMUNISASI

1. Konsultasi via chat whatsapp :

http://wa.me/6281227280161

Dipersilakan berkonsultasi mengenai kebutuhan dan jadwal imunisasi, sesuai usia dan kondisi kesehatan anak.

2. Transfer biaya imunisasi

Dipersilakan melakukan pembayaran dengan cara transfer ke rekening BCA 0372714822 a/n Benedicta Sari Prasetyati. Layanan imunisasi di rumah pasien (home care), ditambah biaya waktu dan transportasi sesuai jarak. Bukti transfer dikirimkan via chat whatsapp

http://wa.me/6282224065954

3. Pelaksanaan Imunisasi


Dipersilakan menunggu di rumah (homecare) atau datang ke lokasi sesuai kesepakatan dan jadwal, dokter akan datang untuk memberikan layanan imunisasi.

Categories
COVID-19 Healthy Life Pendukung ASI

2021 Tumpas Obesitas

Belajar dari Beberapa Kasus, Ini 4 Cara Cegah Obesitas pada Anak Halaman  all - Kompas.com

TUMPAS  OBESITAS

fx. wikan indrarto*)

Pada hari Kamis, 4 Maret 2021 dirayakan sebagai Hari Obesitas Dunia (World Obesity Day), untuk mendorong solusi praktis dalam membantu orang mencapai dan mempertahankan berat badan yang sehat, melakukan perawatan yang tepat, dan membalikkan krisis dengan menumpas obesitas. Tema peringatan tahun 2021 adalah memerangi akar penyebab obesitas (Let’s work together to combat the root causes of obesity). Apa yang perlu disadari?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/01/10/stigma-sosial-obesitas/

.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan obesitas sebagai ‘penumpukan lemak berlebihan yang berisiko bagi kesehatan’. Hidup dengan obesitas menempatkan orang pada risiko yang lebih tinggi dari penyakit berbahaya, termasuk penyakit jantung, diabetes dan beberapa jenis kanker. Orang yang hidup dengan obesitas dua kali lebih mungkin untuk dirawat di rumah sakit jika dinyatakan positif COVID-19. Bahkan obesitas pada anak diperkirakan terjadi lonjakan dan meningkat 60% selama dekade berikutnya, mencapai 250 juta pada tahun 2030. Pada hal, konsekuensi medis dari obesitas akan menelan biaya lebih dari $ 1 triliun pada tahun 2025. Saat ini, sekitar 800 juta orang di dunia hidup dengan obesitas.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/12/08/2020-kematian-anak-karena-covid-19/

.

Di banyak negara, orang dengan obesitas secara berulang disalahkan atas kondisi mereka. Terbentuk stigma bahwa obesitas disebabkan karena kegagalan individu, dan menempatkan tanggung jawab pada orang dengan obesitas untuk ‘memperbaikinya’. Hal ini justru dapat merusak kesehatan mental dan fisik, bahkan justru mencegah orang tersebut mencari perawatan medis yang diperlukan. Mengobati obesitas adalah tentang meningkatkan kesehatan secara keseluruhan, bukan hanya tentang mengupayakan kehilangan berat badan.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/03/19/2020-pajak-gemuk/

.

Tingkat obesitas anak meningkat hampir dua kali lipat setiap 10 tahun. Kondisi ini sangat mempengaruhi kesehatan fisik, sosial, emosional, kesejahteraan, dan harga diri anak. Hal ini juga terkait dengan prestasi akademis yang buruk, bahkan kinerja dan kualitas hidup yang lebih rendah. Dengan demikian pencegahan dan pengobatan sangat penting untuk menghentikan peningkatan global dalam obesitas pada anak.

.

Anak yang hidup dengan obesitas sering kali diberi tahu bahwa jawabannya adalah ‘makan lebih sedikit, bergerak lebih banyak’. Namun demikian, mengatasi obesitas bukan hanya soal pola makan dan olahraga. Saat kita memberi tahu orang untuk ‘makan lebih sedikit, bergerak lebih banyak’, kita sebenarnya mengabaikan faktor penting lainnya. Padahal latihan fisik meskipun memegang peranan penting dan merupakan bagian dalam kesehatan secara keseluruhan, namun hal itu bukanlah faktor yang signifikan dalam mengelola obesitas. Daripada menyalahkan individu atas penyakit mereka, kita harus mendorong pemerintah dan pembuat kebijakan untuk mengatasi akar penyebabnya. Selain itu, juga meningkatkan aktivitas fisik sejak bayi, untuk mencegah anak agar tidak mengalami obesitas, sesuai pedoman yang dikeluarkan WHO pada hari Rabu, 24 April 2019 (WHO guidelines on physical activity, sedentary behaviour and sleep for children under 5 years of age).

.

3 Cara Untuk Mencegah Obesitas Pada Anak - Health Liputan6.com

Pola keseluruhan aktivitas anak selama 24 jam kuncinya adalah mengganti waktu memandangi layar gawai (screen time) yang lama atau tubuh yang diam, menjadi bermain yang lebih aktif, sambil memastikan anak mendapatkan tidur yang cukup dan berkualitas. Waktu tubuh kurang aktif tetapi berkualitas, adalah waktu yang dihabiskan dalam kegiatan interaktif langsung (non-screen-based) dengan pengasuh, seperti membaca, bercerita, bernyanyi dan mengisi teka-teki, juga terbukti sangat penting untuk perkembangan anak.

.

Rekomendasi WHO untuk bayi (kurang dari 1 tahun) adalah pertama, aktif secara fisik beberapa kali sehari dalam berbagai cara, terutama melalui permainan di lantai yang interaktif, dengan lebih banyak dan lebih sering adalah lebih baik. Bagi bayi yang belum dapat bergerak mandiri, setidaknya 30 menit dibantu dalam posisi tengkurap yang dilakukan sepanjang hari saat bayi terjaga. Kedua, tidak boleh lebih dari 1 jam setiap kali saat berada di kereta bayi, kursi tinggi, atau digendong di punggung pengasuh. Ketiga, waktu layar (sedentary screen time) tidak disarankan. Keempat, saat bayi tidak banyak bergerak, sangat dianjurkan dibacakan cerita oleh pengasuh. Kelima, tidur secara berkualitas selama 14-17 jam (usia 0–3 bulan) atau 12–16 jam (usia 4–11 bulan) sehari, termasuk tidur siang.

.

Rekomendasi WHO untuk anak usia 1-2 tahun adalah pertama, meluangkan setidaknya 3 jam atau 180 menit untuk melakukan berbagai jenis aktivitas fisik pada intensitas apa pun, termasuk aktivitas fisik intensitas sedang hingga kuat, merata waktunya sepanjang hari, dan lebih banyak tentu lebih baik. Kedua, tidak boleh lebih dari 1 jam pada suatu waktu duduk dalam kereta bayi, kursi tinggi, atau digendong di punggung pengasuh. Untuk anak berusia 1 tahun, waktu layar yang membuat badannya tidak aktif bergerak, seperti menonton TV atau video dan bermain ‘game’ di komputer, tidak dianjurkan. Bagi mereka yang berusia 2 tahun, waktu tayang (sedentary screen time) tidak boleh lebih dari 1 jam, dan lebih sebentar terbukti justru lebih baik. Ketika anak tidak banyak bergerak, sebaiknya dilibatkan dalam aktivitas membaca dan bercerita dengan pengasuh. Selain itu, sebaiknya tidur berkualitas baik selama 11-14 jam, termasuk tidur siang, dengan waktu tidur dan bangun dilatih agar teratur.

.

Bahaya Obesitas Pada Bayi - Semua Halaman - Nakita

Rekomendasi WHO untuk anak usia 3-4 tahun seharusnya pertama, menghabiskan setidaknya 180 menit dalam berbagai jenis aktivitas fisik pada intensitas apa pun, di mana setidaknya 60 menit merupakan aktivitas fisik dengan intensitas sedang hingga kuat, menyebar sepanjang hari dan lebih banyak lebih baik. Kedua, tidak dianjurkan diam selama lebih dari 1 jam pada suatu waktu, misalnya di dalam kereta bayi atau duduk untuk waktu yang lama. Waktu tayang tidak lebih dari 1 jam, dan lebih sebentar, tentu lebih baik. Ketika anak tidak banyak bergerak, sebaiknya juga dilibatkan dalam aktivitas membaca dan bercerita dengan pengasuh. Selain itu, sebaiknya tidur berkualitas secara baik selama 10-13 jam sehari, termasuk tidur siang, dengan waktu tidur dan bangun dilatih agar lebih  teratur.

Momentum Hari Obesitas Dunia (World Obesity Day) pada Kamis, 4 Maret 2021, mengingatkan kita untuk mencegah obesitas sejak usia dini, termasuk mengkoreksi akarnya (obesity and its root causes). Orangtua wajib mendorong anak agar aktif bermain, sekaligus menjamin tidur yang cukup untuk menumpas obesitas.

Sudahkah anak di sekitar kita aktif bermain?

Sekian

Yogyakarta, 27 Februari 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor di FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

Categories
COVID-19 Healthy Life vaksinasi

2021 Kalahkan Meningitis

Hasil gambar untuk meningitis disebabkan oleh

KALAHKAN  MENINGITIS

fx. wikan indrarto*)

Pada Sesi ke-73 Majelis Kesehatan Dunia Rabu, 13 Januari 2021, diserukan tindakan segera untuk mencegah dan mengalahkan meningitis pada tahun 2030. Peta jalan global ini adalah intervensi pengendalian meningitis terpadu jangka panjang untuk pengurangan kasus dan kematian karena meningitis. Apa yang menarik?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/08/02/2020-bahaya-tanpa-imunisasi/

.

Meskipun upaya pengendalian meningitis cukup berhasil di beberapa wilayah di dunia, meningitis terus menjadi masalah kesehatan masyarakat global yang menyebabkan hingga 5 juta kasus setiap tahun, di seluruh dunia. Beban meningitis bakterial sangat tinggi, menyebabkan 300.000 kematian setiap tahun dan menyisakan satu dari lima orang yang terkena, berupa dampak kesehatan jangka panjang yang menghancurkan, yaitu kecacatan.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/01/02/2020-menurunkan-angka-kematian-anak/

.

Meningitis adalah infeksi serius pada meninges, yaitu selaput tipis yang menutupi otak dan sumsum tulang belakang. Ini adalah penyakit yang menghancurkan harapan hidup dan tetap menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang utama. Penyakit ini dapat disebabkan oleh berbagai patogen termasuk bakteri, jamur atau virus, tetapi beban global tertinggi terlihat pada meningitis bakterial.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/05/09/2019-kematian-bayi/

.

Bakteri Streptococcus pneumoniae, Haemophilus influenzae, dan Neisseria meningitidis adalah bakteri yang paling sering menyebabkan meningitis. N. meningitidis, penyebab meningitis meningokokus, berpotensi menimbulkan epidemi yang luas. Ada 12 serogrup N. meningitidis yang telah teridentifikasi, 6 diantaranya (A, B, C, W, X dan Y) dapat menyebabkan epidemi. Meningitis meningokokus dapat menyerang siapa saja dari segala usia, tetapi terutama menyerang bayi, anak prasekolah, dan remaja. Beban meningitis meningokokus terbesar terjadi di sabuk meningitis, suatu wilayah di sub-Sahara Afrika, yang membentang dari Senegal di barat hingga Ethiopia di timur. 

.

Hasil gambar untuk meningitis disebabkan oleh
.

Bakteri yang menyebabkan meningitis ditularkan dari orang ke orang melalui tetesan cairan pernapasan atau ‘droplet’, sepeti COVID-19. Kontak dekat dan lama – seperti mencium, bersin, batuk, atau tinggal dekat dengan orang yang terinfeksi, memungkinkan proses penyebaran penyakit. Masa inkubasi rata-rata adalah 4 hari, tetapi dapat berkisar antara 2 dan 10 hari.

.

Meskipun demikian, N. meningitidis sebenarnya dapat menyebabkan berbagai macam penyakit, yaitu penyakit meningokokus invasif, termasuk septikemia, artritis, dan meningitis. Demikian pula, bakteri S. pneumoniae dapat menyebabkan penyakit invasif lainnya termasuk otitis dan pneumonia. N. meningitidis hanya menginfeksi manusia dan menyebar melalui aliran darah untuk sampai ke otak. Sebagian besar populasi di sabuk meningitis, antara 5 dan 10%, memiliki bakteri N. meningitidis yang menetap di tenggorokan.

.

Gejala meningitis yang paling umum adalah leher kaku, demam tinggi, sensitif terhadap cahaya, kebingungan, sakit kepala, dan muntah. Meningitis sangat berbahaya, bahkan dengan diagnosis dini dan pengobatan yang memadai sekalipun, 5-10% pasien akan meninggal, biasanya dalam 24-48 jam setelah timbulnya gejala. Meningitis bakterial dapat menyebabkan kerusakan otak, gangguan pendengaran, atau ketidakmampuan belajar pada 10-20% pasien yang berhasil selamat. Bentuk penyakit meningokokus yang lebih jarang, tetapi bahkan lebih parah dan seringkali fatal adalah septikemia meningokokus, yang ditandai dengan bercak kemerahan di kulit atau ruam hemoragik dan kolaps sirkulasi darah yang cepat.

.

Diagnosis awal meningitis meningokokus dapat dilakukan dengan pemeriksaan klinis, diikuti dengan pungsi lumbal yang menunjukkan cairan otak di tulang belakang bernanah. Bakteri kadang-kadang dapat dilihat dalam pemeriksaan mikroskopis pada cairan otak di tulang belakang tersebut. Diagnosis dipastikan dengan menumbuhkan bakteri dari spesimen cairan otak di tulang belakang atau darah. Diagnosis juga dapat didukung oleh tes diagnostik cepat seperti tes aglutinasi antibodi, walaupun tes yang tersedia saat ini memiliki beberapa keterbatasan. Identifikasi serogrup meningokokus dan pengujian kepekaan terhadap antibiotik penting untuk menentukan jenis antibiotika yang diberikan dan tindakan pengendalian lainnya.

.

Penyakit meningokokus berpotensi fatal dan merupakan keadaan darurat medis. Diperlukan pemberian antibiotik yang tepat dan harus dimulai sesegera mungkin, idealnya setelah dilakukan pungsi lumbal. Jika pengobatan dimulai sebelum pungsi lumbal, mungkin sulit untuk menumbuhkan bakteri dari cairan otak di tulang belakang dan memastikan diagnosisnya. Namun demikian, konfirmasi diagnosis tidak boleh menunda pengobatan. Berbagai antibiotik dapat digunakan untuk mengobati meningitis bakterial, termasuk penisilin, ampisilin, dan seftriakson yang tersedia cukup mudah, murah dan tersebar luas, dengan ceftriaxone sebagai obat pilihan utama.

.

Vaksin berlisensi untuk mencegah penyakit meningokokus telah tersedia selama lebih dari 40 tahun. Menactra buatan Sanofi, Trumenba dari Pfizer, dan Menivax buatan PT Biofarma Indonesia adalah contoh vaksin untuk meningitis. Menactra (vaksin meningitis konjugat) diindikasikan untuk imunisasi aktif mencegah penyakit meningokokus invasif yang disebabkan oleh Neisseria meningitidis serogrup A, C, Y, dan W-135. Pada anak-anak usia 9 hingga 23 bulan, Menactra diberikan sebagai seri 2 dosis, dengan interval antar dosis 3 bulan. Sedangkan pada anak usia 2 hingga 55 tahun, diberikan sebagai dosis tunggal. Menivax dapat diberikan 1x (single dose) pada dewasa dan anak usia di atas 2 tahun. Berlaku 2 tahun, sebagai perlindungan jangka pendek terhadap Infeksi Meningococcal Group A, apabila MCV4 (Vaksin Meningitis Konjugat) tidak tersedia.

.

Hasil gambar untuk merk vaksin meningitis

Seiring waktu, telah terjadi peningkatan besar dalam cakupan strain dan ketersediaan vaksin, tetapi hingga saat ini, belum ada vaksin tunggal untuk melawan semua jenis penyakit meningokokus. Vaksin masih bersifat serogrup tertentu dan perlindungan yang diberikan bervariasi dalam durasi, bergantung pada jenis yang digunakan.

.

Rekomendasi WHO, UNICEF dan Gavi (the Global Vaccine Alliance), untuk meneruskan program imunisasi rutin, termasuk untuk melawan meningitis saat pandemi COVID-19, akan mampu mengalahkan meningitis di seluruh dunia, termasuk di wilayah Indonesia.

Sudahkah kita siap?

Sekian

Yogyakarta, 25 Januari 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com