Categories
anak dokter Healthy Life

2025 Gula dan Gigi Anak

GULA  DAN  GIGI  ANAK

fx. wikan indrarto*)

Tulisan ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 28 September 2025, halaman 8 kolom HUSADA dengan judul : Karies Gigi : Masalah Kesehatan Utama Dunia.

Karies gigi (kerusakan gigi atau gigi berlubang) adalah penyakit tidak menular (PTM) yang paling umum di seluruh dunia, yang memengaruhi 2,5 miliar orang. Meskipun karies gigi dapat dicegah, penyakit ini menimbulkan beban kesehatan yang besar di banyak negara dan memengaruhi banyak orang sepanjang hidup mereka, menyebabkan rasa sakit, ketidaknyamanan, kesulitan makan dan tidur, kehilangan gigi, dan penurunan kualitas hidup. Apa yang mencemaskan?

Karies gigi merupakan masalah kesehatan masyarakat utama di dunia, prevalen sepanjang hidup, dan memengaruhi semua gigi, baik permanen maupun gigi sulung (pertama). Diperkirakan terdapat 2 miliar orang dengan gigi permanen yang karies dan 510 juta anak dengan gigi sulung yang karies. Karies gigi yang parah dapat menyebabkan kehilangan gigi dan mengganggu kualitas hidup. Konsekuensi dari karies gigi yang tidak dirawat meliputi gejala fisik seperti nyeri, ketidaknyamanan, atau infeksi sistemik kronis, keterbatasan fungsional seperti kesulitan makan, berbicara, bernapas, atau tidur, dan dampak buruk pada kesejahteraan emosional, mental, dan sosial.

Di lingkungan berpenghasilan rendah, sebagian besar karies gigi tidak dirawat. Gigi anak yang terkena karies sering langsung dicabut ketika menyebabkan nyeri atau infeksi. Apalagi, pencegahan dan perawatan karies gigi pada anak biasanya tidak termasuk dalam paket jaminan kesehatan nasional. Hal ini sering menyebabkan biaya yang sangat besar dan beban keuangan yang signifikan bagi keluarga dan masyarakat. Total pengeluaran langsung untuk penyakit mulut di antara 194 Negara Anggota WHO mencapai US$ 387 miliar, atau rata-rata global sekitar US$ 50 per kapita pada tahun 2022. Angka ini mewakili sekitar 4,8% dari pengeluaran kesehatan langsung global. Sementara itu, kerugian produktivitas akibat penyakit mulut diperkirakan sekitar US$ 42 per kapita, dengan total sekitar US$ 323 miliar secara global.

Terdapat hubungan yang jelas antara konsumsi gula dan karies gigi pada anak. Karies gigi terjadi ketika plak terbentuk di permukaan gigi dan mengubah gula bebas yang terkandung dalam makanan dan minuman, menjadi partikel asam yang merusak gigi. Gula bebas  adalah semua gula yang ditambahkan ke dalam makanan dan minuman oleh produsen, juru masak, atau konsumen. Selain itu, juga gula yang secara alami terdapat dalam madu, sirup, dan jus buah. Asupan gula bebas yang tinggi secara terus-menerus, paparan fluoride yang tidak memadai, dan kurangnya pembersihan plak saat menyikat gigi, apalagi tidak  menggunakan pasta gigi berfluoride dengan konsentrasi 1.000 ppm, dapat memudahkan terjadinya karies gigi pada anak.

Strategi yang diterapkan secara luas untuk mengurangi konsumsi gula bebas, merupakan pendekatan kesehatan masyarakat yang penting, untuk menekan beban karies gigi. Intervensi tersebut meliputi pertama, pelabelan nutrisi. Pelabelan di bagian depan kemasan makanan atau minuman untuk menginformasikan tentang kandungan gula, sebaiknya merupakan pernyataan wajib oleh produsen. Kedua, batas atau target reformulasi sebaiknya tegas, untuk mengurangi kandungan gula dalam makanan dan minuman kemasan. Ketiga, kebijakan pengadaan dan layanan pangan bagi publik. Ini untuk mengurangi promosi makanan dan minuman tinggi gula. Kebijakan ini juga untuk melindungi anak dari dampak buruk pemasaran makanan dan minuman tinggi gula. Dan keempat, pajak untuk minuman manis dan gula atau makanan tinggi gula.

Banyak penyakit mulut, termasuk karies gigi, dapat dicegah dan diobati sejak dini dengan intervensi yang hemat biaya. Mengintegrasikan serangkaian layanan kesehatan mulut esensial ke dalam paket manfaat jaminan kesehatan nasional menggunakan pendekatan layanan kesehatan masyarakat, diprediksi akan berdampak signifikan dalam mengurangi beban karies gigi. Apalagi dilengkapi dengan meningkatkan ketersediaan dan aksesibilitas terhadap layanan kesehatan gigi anak yang berkualitas. Intervensi tersebut mencakup penggunaan pasta gigi berfluoride, fluoride topikal, dan teknik restoratif sederhana, sebagai bagian dari layanan kesehatan mulut komprehensif yang berpusat pada pasien anak.

Perlu diingat bahwa PTM merupakan penyebab utama kematian dan bertanggung jawab atas 38 juta (68%) dari 56 juta kematian dunia pada tahun 2012. Karies gigi merupakan PTM yang paling umum secara global. Konsumsi gula bebas dalam makanan dan minuman merupakan faktor risiko paling umum untuk karies gigi. WHO merekomendasikan agar anak di bawah usia 2 tahun tidak mengonsumsi minuman manis apapun dan pengurangan asupan gula bebas sepanjang hidup (rekomendasi kuat). Pada orang dewasa dan anak, WHO merekomendasikan pengurangan asupan gula bebas hingga kurang dari 10% dari total asupan energi (rekomendasi kuat). WHO menyarankan pengurangan lebih lanjut asupan gula bebas hingga di bawah 5% dari total asupan energi (rekomendasi bersyarat). Selain itu, WHO juga merekomendasikan penerapan paket kebijakan hemat biaya untuk pola makan sehat, termasuk pajak minuman manis sebagai langkah kebijakan fiskal untuk mengurangi konsumsi gula.

Apakah kita sudah bertindak bijak?

Sekian

Yogyakarta, 23 Agustus 2025

*) Dokter spesialis anak RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Dekan FK UAJY, WA : 081227280161

Categories
anak dokter vaksinasi

KLB CAMPAK  LAGI

KLB Campak Lagi

fx. wikan indrarto*)

Catatan : tulisan ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 14 September 2025, halaman 8, kolom HUSADA dengan judul Campak : Penyakit serius sangat menular.

Pemerintahan Provinsi Jawa Timur pada Kamis, 21 Agustus 2025 mencatat kasus suspek campak (gabagen, morbili atau measles) telah mencapai 2.035 kasus dan 17 orang meninggal dunia di Kabupaten Sumenep, Madura. Kasus campak ini tersebar di 26  kecamatan. Penyebaran campak di Sumenep ini kemudian ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Apa yang mencemaskan?

Meskipun vaksin campak yang aman dan hemat biaya tersedia, tetapi sejak tahun 2023 masih ada 110.000 kematian akibat campak secara global, sebagian besar pada anak balita. Pada hal vaksinasi campak telah mengakibatkan penurunan 80% kematian akibat campak pada rentang tahun 2000 sampai 2023 di seluruh dunia. Pada tahun 2023, sekitar 85% bayi di dunia telah menerima satu dosis vaksin campak sebelum ulang tahun pertama mereka, melalui layanan kesehatan rutin yang naik dari 72% pada tahun 2005. Selama 2005-2023, vaksinasi campak mencegah sekitar 21,1 juta kematian, sehingga menjadikan vaksin campak adalah salah satu yang terbaik dari barang medis yang dibeli, dalam program kesehatan masyarakat.

Campak adalah penyakit serius yang sangat menular yang disebabkan oleh virus. Sebelum ada vaksin campak pada tahun 1963 dan pemberian vaksinasi yang luas, epidemi besar terjadi kira-kira setiap 2-3 tahun di seluruh dunia dan campak menyebabkan sekitar 2,6 juta kematian setiap tahun. Campak disebabkan oleh infeksi virus dalam keluarga paramyxovirus dan biasanya ditularkan melalui kontak langsung antar anak dan melalui udara. Virus menginfeksi saluran pernapasan, kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Campak adalah penyakit pada manusia dan tidak ada data bahwa terjadi pada hewan.

Sebagian besar kematian terkait campak disebabkan oleh komplikasi yang terkait dengan penyakit ini. Komplikasi serius lebih sering terjadi pada anak balita atau orang dewasa di atas usia 30 tahun. Komplikasi campak yang paling serius meliputi kebutaan, ensefalitis (infeksi otak), diare dan dehidrasi berat, infeksi telinga, atau saluran pernapasan bawah yang parah, seperti pneumonia. Campak parah lebih mungkin terjadi pada anak yang kurang gizi, terutama kekurangan vitamin A, atau yang sistem kekebalannya telah dilemahkan oleh HIV / AIDS atau penyakit lainnya.

Campak adalah salah satu penyakit paling menular di dunia. Penyakit ini menyebar melalui batuk dan bersin, kontak pribadi yang dekat atau kontak langsung dengan sekresi hidung atau tenggorokan yang terinfeksi. Virus tetap aktif dan menular di udara atau di permukaan benda yang terinfeksi hingga 2 jam. Campak dapat ditularkan oleh orang yang terinfeksi dari 4 hari sebelum timbulnya ruam kulit, hingga 4 hari setelah ruam kulit menjadi nyata. Wabah campak dapat menyebabkan epidemi yang menyebabkan banyak kematian, terutama pada anak balita yang kekurangan gizi. Di negara-negara di mana campak sebagian besar telah dieliminasi, kasus yang diimpor dari negara lain tetap menjadi sumber infeksi yang sulit dikendalikan.

Tidak ada pengobatan antivirus khusus untuk virus campak. Komplikasi parah dari campak dapat dikurangi, melalui perawatan suportif yang memastikan nutrisi yang baik, asupan cairan yang cukup, dan pengelolaan dehidrasi dengan cairan rehidrasi oral yang direkomendasikan WHO. Cairan rehidrasi ini menggantikan cairan tubuh dan elemen penting lainnya, yang hilang karena diare atau muntah. Antibiotik harus diresepkan untuk mengobati infeksi bakteri pada mata, telinga, dan paru-paru atau pneumonia.

Pada tahun 2023, sekitar 85% anak di dunia telah menerima 1 dosis vaksin campak pada ulang tahun pertama mereka melalui layanan kesehatan rutin, yang naik dari 72% dibandingkan pada tahun 2020. Dua dosis vaksin campak direkomendasikan untuk memastikan kekebalan dan mencegah wabah, karena sekitar 15% anak yang divaksinasi gagal mengembangkan kekebalan dari dosis pertama. Pada tahun 2023, sekitar 67% anak menerima dosis kedua vaksin campak. Dari perkiraan 20,8 juta bayi yang tidak divaksinasi dengan setidaknya satu dosis vaksin campak melalui imunisasi rutin sejak tahun 2023, sekitar 8,1 juta bayi berada di 3 negara, yaitu India, Nigeria dan Pakistan.

Indonesia termasuk 10 negara dengan jumlah kasus campak terbesar di dunia. Kementerian Kesehatan RI mencatat jumlah kasus campak di Indonesia sangat banyak dan cenderung meningkat, dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Adapun jumlah kasus suspek campak yang dilaporkan antara 2020 sampai dengan Juli 2023 sebanyak 57.056 kasus, di mana 8.964 di antaranya positif campak. Cakupan imunisasi campak di Pulau Jawa pada 2023 telah mencapai 100 persen, sementara di luar Pulau Jawa (termasuk Madura) hanya 72,70 persen, bahkan 71 kabupaten dan kota di luar Jawa hanya mencapai di bawah 50 persen, dengan propinsi paling rendah adalah Provinsi Aceh. Dengan target yang dicanangkan adalah 95 persen, maka saat cakupan imunisasi campak gagal ditingkatkan, Jawa Timur dan Indonesia harus bersiap-siap menghadapi KLB Campak.

Pada KLB campak kali ini tindakan segera adalah mengirimkan 9.825 botol vaksin campak atau MR (Measles and Rubella) dari Kementerian Kesehatan ke Dinas Kesehatan Sumenep, sebagai Outbreak Response Imunization atau ORI. Tak hanya itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur lalu memberikan on the job training (OJT) pembuatan kajian epidemiologi KLB PD3I ke seluruh puskesmas di Kabupaten Sumenep sebagai upaya penanggulangan. Juga digelar pertemuan koordinasi lintas batas Madura Raya dan Surabaya Raya, dengan output berupa dokumen kesepakatan penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I). Ini mengingatkan kita akan pentingnya imunisasi campak 2 dosis (MR dan MMR), untuk semua anak Indonesia di sekitar kita.

Sudahkah kita bertindak bijak?

Sekian

Yogyakarta, 23 Agustus 2025

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Dekan FK UAJY, WA : 081227280161

Categories
anak dokter

2025 Hari Kemanusiaan Dunia

HARI  KEMANUSIAAN  DUNIA

fx. wikan indrarto*)

Tulisan ini telah dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 6 September 2025, halaman 8 kolom HUSADA

Setiap tahun pada tanggal 19 Agustus, dirayakan sebagai Hari Kemanusiaan Dunia (World Humanitarian Day). Apa yang perlu disadari?

Tanggal 19 Agustus telah dipilih oleh Majelis Umum PBB pada tahun 2008, untuk memperingati karya gemilang para relawan kemanusiaan. Alasannya adalah karena pada tanggal tersebut, 22 orang karyawan PBB, termasuk Utusan Khusus Sekjen PBB Tuan Sergio Vieira de Mello, tewas dalam serangan bom bunuh diri pada tahun 2003 di Baghdad, Irak.

Relawan kemanusiaan sering kali dilupakan jasanya. Pada hal mereka tidak hanya bekerja di tempat paling buruk di dunia, di suhu lingkungan yang ekstrim, seperti panasnya lahar gunung berapi, dinginnya salju, ataupun keringnya udara, tetapi juga terancam oleh penyakit menular, peluru nyasar atau ancaman ganasnya medan di tempat-tempat berbahaya. Di sanalah mereka mempertaruhkan hidup mereka untuk membantu kaum miskin, pengungsi korban perang atau bencana alam, tanpa memandang apa pun ras, kebangsaan, agama atau aliran politiknya, dengan netralitas yang total.

Antara Januari 2024 dan Agustus 2025, terjadi 2.450 kali serangan bersenjata terhadap layanan kesehatan di 21 negara. Serangan ini mengakibatkan 2.060 kematian dan 2.395 cedera pada dokter, tenaga kesehatan dan pasien. Dalam periode yang sama, 1.392 serangan berdampak pada dokter dan tenaga kesehatan melalui pembunuhan, cedera, penculikan, penangkapan, dan/atau intimidasi.

Pada tahun 2025 saja, serangan bersenjata terhadap layanan kesehatan terjadi di Ukraina (310 serangan), Palestina termasuk Yerusalem Timur (304), dan Sudan (38), sehingga secara total mengakibatkan 933 kematian dokter, tenaga kesehatan dan pasien. Juga di Republik Demokratik Kongo, Haiti, dan Myanmar (total 71 serangan) yang berdampak pada fasilitas kesehatan, rantai pasokan medis, dokter, tenaga kesehatan, dan pasien.

Sampai saat ini tim medis WHO terus melayani sesama manusia dalam keadaan darurat paling kompleks di dunia. Di 27 negara, termasuk Palestina, Sudan, dan Ukraina, tim ini bekerja sama dengan lebih dari 900 mitra lokal untuk memberikan layanan medis. Sekitar dua pertiga mitra adalah organisasi relawan lokal dan nasional yang melayani di garis depan dan menghadapi risiko terbesar. Antara tahun 2000 dan 2023, 86% dari seluruh korban relawan kemanusiaan adalah staf lokal dan 96% dari mereka yang tewas, terluka, atau diculik antara Januari dan Oktober 2024 juga adalah staf lokal.

Sementara itu, telah terjadi meningkatnya politisasi bantuan medis. Layanan kesehatan tidak lagi diperlakukan sebagai sesuatu yang netral, dan aksi kemanusiaan semakin dimanipulasi atau dihambat. Antara Juni dan November 2024, akses kemanusiaan memburuk di 20% dari 93 negara, sementara hampir setengahnya terus menghadapi kendala yang tinggi hingga ekstrem. Di Burkina Faso, Haiti, Myanmar, Palestina, dan Sudan, rintangan birokrasi, campur tangan, atau pembatasan akses yang ekstrem telah memaksa penangguhan dan pengurangan operasi dan pasokan, meninggalkan jutaan orang tanpa perawatan kesehatan yang menyelamatkan jiwa. Praktik-praktik semacam itu bertentangan dengan kewajiban kemanusiaan fundamental untuk memastikan sentralitas perlindungan, keselamatan, dan martabat penduduk, menjadikannya respons yang sangat cacat.

Komunitas internasional telah bersuara dengan mengutuk serangan bersenjata terhadap tim kesehatan. Mereka telah menegaskan komitmennya untuk melindungi para dokter dan pekerja kemanusiaan. Namun demikian, pernyataan dan kutukan saja tidak dapat melindungi ambulans dari serangan udara, dokter dari peluru, atau konvoi kemanusiaan dari pesawat tanpa awak yang salah sasaran.

Kini saatnya diserukan kepada komunitas internasional secara luas untuk bergerak dan mengambil tindakan yang berkelanjutan, dengan menegakkan hukum humaniter internasional dan melindungi layanan kesehatan. Pertama, menegakkan hukum humaniter internasional dan melindungi layanan kesehatan dalam semua konteks memastikan akuntabilitas bagi mereka yang bertanggung jawab atas serangan terhadap layanan kesehatan. Kedua, menjamin pendanaan dan dukungan berkelanjutan untuk respons, koordinasi, dan aksi kemanusiaan Klaster Kesehatan yang lebih luas. Ketiga, memberdayakan responden garis depan dengan sumber daya yang langsung, fleksibel, dan dapat diprediksi

menolak politisasi, sekuritisasi, dan privatisasi bantuan kemanusiaan; dan keempat, menegaskan bahwa layanan kesehatan harus tetap netral, terlindungi, dan mudah diakses.

Hari Kemanusiaan Dunia 19 Agustus dirancang untuk memberikan penghormatan yang setinggi-tingginya, bagi para dokter, petugas kesehatan dan relawan kemanusiaan yang telah gugur, diculik atau terluka saat mereka bertugas. Selain itu, juga memotivasi panggilan baru untuk relawan penerus. Pada prinsipnya, hari tersebut adalah momentum perayaan manusia membantu sesamanya (people helping people).

Sudahkah kita secara pribadi ataupun berkelompok, berbuat sesuatu untuk sesama kita?

Sekian

Yogyakarta, 20 Agustus 2025

*) dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM, pernah menjadi relawan kesehatan saat bencana erupsi Gunung Merapi di Yogyakarta. WA: 081227280161,

Categories
anak bayi prematur dokter Pendukung ASI

2025 Pekan Menyusui Dunia

PEKAN  MENYUSUI  DUNIA  2025

fx. wikan indrarto

tulisan ini telah dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 31 Agustus 2025, halaman 8 kolom Husada, dengan judul : menyusui bayi memberikan masa depan penuh harapan.

Pekan Menyusui Dunia (World Breastfeeding Week) diperingati setiap tahun pada minggu pertama bulan Agustus. Ini adalah saatnya untuk mengingatkan kita semua bahwa menyusui bayi adalah fondasi yang kuat bagi kesehatan, perkembangan, dan kesetaraan seumur hidup. Apa yang perlu dilakukan?

Pekan Menyusui Sedunia menyoroti secara khusus dukungan berkelanjutan yang dibutuhkan ibu dan bayi dari sistem layanan kesehatan selama perjalanan menyusui mereka. Hal ini berarti memastikan setiap ibu memiliki akses terhadap dukungan dan informasi yang dibutuhkannya untuk menyusui selama ia menginginkannya. Termasuk ketersediaan konselor laktasi atau menyusui yang terampil, menegakkan Kode Internasional Pemasaran Pengganti ASI, dan menciptakan lingkungan, baik di rumah, di layanan kesehatan, dan di tempat kerja, yang mendukung dan memberdayakan ibu menyusui.

Aksi ini bukan hanya tentang melakukan hal yang benar saja, tetapi juga tentang tindakan ekonomi yang cerdas. Karena menyusui bayi memberikan masa depan yang penuh harapan, tidak hanya bagi anak, tetapi juga bagi masyarakat. Ini mengurangi biaya perawatan kesehatan, meningkatkan perkembangan kognitif, memperkuat ekonomi, dan menyiapkan anak-anak dengan awal yang sehat.

Tema tahun 2025 : Berinvestasi dalam menyusui, berinvestasi untuk masa depan (Invest in breastfeeding, invest in the future). Berinvestasi dalam dukungan pemberian ASI merupakan salah satu metode paling ampuh yang dimiliki para pembuat kebijakan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, memperkuat perekonomian, dan menjamin kesejahteraan generasi mendatang.

Menyusui melindungi kesehatan anak dan meningkatkan kelangsungan hidup, terutama di bulan-bulan pertama kehidupan. Selain nutrisi esensial, pemberian ASI eksklusif mampu menyediakan antibodi penting yang melindungi dari berbagai penyakit umum pada bayi seperti diare, pneumonia, dan infeksi berat (sepsis).

Selain itu, dampak pemberian ASI sebenarnya jauh melampaui masa bayi. Anak yang waktu bayi disusui, lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami kelebihan berat badan atau obesitas dan memiliki risiko lebih rendah terkena diabetes tipe 2 dan kondisi kronis lainnya. Para ibu juga mendapatkan manfaat, misalnya menyusui mengurangi risiko perdarahan pascapersalinan, kanker payudara dan ovarium, penyakit jantung, dan diabetes tipe 2.

Dengan investasi yang tepat, banyak negara dapat meningkatkan tingkat pemberian ASI eksklusif secara signifikan, dibuktikan dengan peningkatan global selama dekade terakhir. Sekitar 10% lebih banyak bayi secara global, saat ini yang disusui secara eksklusif sampai pada usia 6 bulan dibandingkan dengan tahun 2013, dengan beberapa negara mengalami peningkatan sebesar 20% selama periode yang sama.

Ada beberapa tindakan kunci bagi pemerintah untuk berinvestasi untuk masa depan. Pertama, alokasikan dana khusus untuk dukungan menyusui, termasuk dengan memastikan semua ibu memiliki akses ke dukungan menyusui oleh konselor yang terampil di rumah sakit dan saat mereka membawa bayi pulang, di samping perlindungan maternitas yang kuat seperti cuti berbayar setelah melahirkan.

Kedua, terapkan Kode WHO dengan mengadopsi sepenuhnya dan tegakkan Kode Internasional Pemasaran Pengganti ASI, untuk menjaga kesehatan masyarakat. Ketiga, pimpinan memberi contoh. Perjuangkan investasi dalam menyusui dalam strategi kesehatan nasional dan pastikan akuntabilitas melalui undang-undang, regulasi, dan pemantauan dampak program menyusui. Keempat, utamakan kesehatan bayi di atas lainnya. Tetapkan dan tegakkan kebijakan yang melindungi menyusui dan mencegah pengaruh komersial dari iklan pemberian makanan bayi.

Juga ada tindakan penting bagi sektor kesehatan. Pertama, dukung setiap langkah perjalanan menyusui. Berikan dukungan menyusui oleh konselor yang terampil dan penuh kasih sayang sejak kehamilan hingga anak usia dini, pastikan para ibu memiliki akses berkelanjutan ke layanan konseling menyusui sejak kehamilan hingga usia dini, termasuk memberikan dukungan khusus pada saat-saat transisi. Kedua, latih dan berdayakan tenaga kesehatan. Dengan memastikan semua tenaga kesehatan yang menangani kesehatan ibu dan anak, dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan menyusui terkini. Ketiga, ciptakan sistem kesehatan yang ramah menyusui. Jadikan semua rumah sakit dan klinik sebagai ruang yang aman dan suportif untuk ibu menyusui, melalui Inisiatif Rumah Sakit Ramah Bayi dan seterusnya.

Selain itu, ada beberapa tindakan kunci untuk masyarakat umum. Pertama, kita semua dapat berperan untuk mendukung para ibu. Keluarga, teman, perusahaan, dan masyarakat, semuanya berperan dalam mendukung ibu menyusui dan menciptakan lingkungan yang suportif bagi mereka untuk menyusui kapan saja, di mana saja. Kedua, pahami faktanya. Menyusui adalah cara alami dan ampuh untuk memberi bayi awal terbaik dalam hidup—memperkuat sistem kekebalan tubuh mereka, membantu mereka melawan penyakit – sekarang dan di masa mendatang – serta memberikan kenyamanan dan nutrisi penting. Ketiga, ajukan dukungan untuk menyusui. Advokasikan kebijakan dan lingkungan yang membuat menyusui lebih mudah dan lebih mudah diakses oleh semua keluarga.

Apakah kita sudah bertindak bijak dengan mendukung setiap ibu menyusui di sekitar kita?

Sekian

Yogyakarta, 4 Agustus 2025

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
anak dokter Healthy Life vaksinasi

2025 Hari Hepatitis Dunia

HARI HEPATITIS DUNIA 2025
fx. wikan indrarto

Catatan :

Tulisan ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 10 Agustus 2025,  halaman 8, kolom HUSADA

Sekitar 304 juta orang hidup dengan hepatitis B dan C kronis pada tahun 2022. Hanya 45% bayi yang menerima vaksin hepatitis B dalam waktu 24 jam setelah lahir pada tahun 2022. Masih ada 1,3 juta orang yang meninggal karena hepatitis B dan C kronis pada tahun 2022. Apa yang mencemaskan?

Hari Hepatitis Dunia diperingati setiap tahun pada tanggal 28 Juli untuk meningkatkan kesadaran akan hepatitis virus, peradangan hati yang menyebabkan penyakit hati parah dan kanker hati. Tanggal 28 Juli dipilih untuk menghormati ulang tahun pemenang hadiah Nobel bidang kedokteran, Profesor Baruch Samuel Blumberg, penemu virus hepatitis B (HBV) dan vaksin hepatitis B pertama.

Tema untuk tahun 2025: Hepatitis: Mari Kita Urai (Let’s Break It Down) menyerukan tindakan segera untuk menghilangkan hambatan finansial, sosial, dan sistemik termasuk stigma, yang menghalangi proses eliminasi hepatitis dan pencegahan kanker hati.

Hepatitis B dan C kronis secara diam-diam menyebabkan kerusakan hati dan kanker, meskipun keduanya sebenarnya dapat dicegah, diobati, dan, dalam kasus hepatitis C, dapat disembuhkan. Tema tersebut menekankan perlunya penyederhanaan, peningkatan, dan pengintegrasian layanan hepatitis, baik berupa vaksinasi, praktik penyuntikan yang aman, pengurangan bahaya, dan terutama pengujian laboratorium dan pengobatan, ke dalam sistem kesehatan nasional di setiap negara. Kampanye ini merupakan pengingat bahwa kita harus bertindak sekarang untuk memperluas akses, mengintegrasikan layanan pasien, dan mengakhiri hepatitis sebagai masalah kesehatan masyarakat pada tahun 2030.

Pesan utama kampanye ini ada 3 buah, pertama  adalah data bahwa hepatitis adalah penyebab utama kanker hati semakin nyata, kedua perlu langkah pertama untuk menghentikannya, dan ketiga adalah pencegahan harus dilakukan sekarang oleh negara.

Hepatitis selain sebagai penyebab utama kanker hati, juga merupakan pembunuh global yang terus bertambah. Hepatitis virus kronis menyebabkan 1,3 juta kematian setiap tahun, sebagian besar akibat kanker hati dan sirosis. Itu berarti 3.500 kematian setiap hari atau setara dengan tuberkulosis. Hepatitis B dan C menyebar secara diam-diam tanpa disadari, dengan 8.000 infeksi baru setiap hari. Meskipun dapat dicegah dan diobati, beban penyakit ini terus meningkat, terutama di wilayah atau negara dengan akses terbatas ke fasilitas kesehatan.

Mengetahui status diri adalah langkah pertama untuk menghentikan kanker hati. Kebanyakan orang yang hidup dengan hepatitis tidak tahu bahwa mereka terinfeksi, karena sering kali tidak ada gejala klinis, sehingga tidak diperiksa di laboratorium klinik. Diagnosis dini adalah langkah pertama untuk mengakses tatalaksana medis yang mampu menyelamatkan jiwa dan mencegah kanker hati. Pemeriksaan skrining di laboratorium, terutama bagi mereka yang berada di negara atau wilayah endemis atau berisiko tinggi, sangat penting untuk mengakhiri penularan hepatitis.

Kita dapat mencegah 2,8 juta kematian pada tahun 2030, tetapi hanya jika para pemimpin negara bertindak sekarang. Eliminasi hepatitis sudah di depan mata, karena saat ini telah tersedia vaksin, obat untuk terapi kuratif, dan alat kesehatan yang telah terbukti mampu untuk menghentikan penularan.

Namun demikian, sebagian besar kasus tetap tidak terdiagnosis, hingga terlambat ditangani. Kemajuan menuntut komitmen para pimpinan nasional, investasi cerdas, dan sistem kesehatan publik yang mengintegrasikan layanan hepatitis ke dalam sistem perawatan primer. Berinvestasi dalam diagnosis tepat waktu dan perawatan terpadu yang berpusat pada masyarakat, akan menyelamatkan nyawa dan menghentikan kanker hati sebelum terjadi. Untuk itu, ajakan bertindak untuk kita semua dalam rangka eliminasi hepatitis untuk mencegah kematian dan kanker hati, ditujukan kepada bebepara pihak.


Pertama, untuk warga masyarakat. Silakan melakukan tes hepatitis B dan C secara rutin. Vaksinasi bayi baru lahir dengan dosis pertama hepatitis B  dalam waktu 24 jam saat lahir. Lanjutkan dengan 4 dosis berikutnya bersama imunisasi DPT. Bicarakan dengan dokter keluarga tentang pemeriksaan laboratorium dan pengobatan dini. Dan bantu menghentikan stigma dengan berbagi informasi yang akurat.

Kedua, untuk pembuat kebijakan dan pemerintah. Diharapkan untuk memimpin dan mendanai kampanye kesadaran masyarakat yang tentang hepatitis dan pencegahan kanker hati. Memperluas layanan vaksinasi dosis pertama hepatitis B saat bayi lahir, menerapkan regulasi praktik pengambilan sampel darah dan injeksi yang aman, dan pengurangan bahaya penularan hepatitis B. Meningkatkan layanan tes skrining hepatitis yang terjangkau dan terdesentralisasi, yang terintegrasi ke dalam perawatan primer di seluruh tingkatan layanan kesehatan, termasuk fasilitas perawatan HIV, penyakit menular dan tidak menular (PTM) lainnya, pengendalian kanker, serta kesehatan ibu dan anak. Juga integrasikan layanan hepatitis dalam cakupan kesehatan semesta (Universal Health Couverage) dan skema asuransi kesehatan nasional. Tidak lupa, juga melibatkan semua pemangku kepentingan dan berinvestasilah dalam sistem data yang kuat untuk akuntabilitas.

Ketiga, untuk otoritas kesehatan tingkat nasional, regional dan lokal. Diharapkan memprioritaskan regulasi tentang diagnosis dan perawatan dini, dengan fokus pada komunitas masyarakat dengan beban tinggi dan kurang terlayani. Desentralisasikan layanan medis ke pusat kesehatan primer dan distrik yang lebih rendah. Integrasikan program pencegahan hepatitis dengan layanan imunisasi ke dalam program kesehatan ibu dan anak. Pastikan akses gratis untuk pemeriksaan laboratorium dan pengobatan dasar. Juga memobilisasi pendanaan berkelanjutan dengan menggunakan data terkini, untuk meningkatkan akurasi.

Apakah kita sudah melakukannya?

Sekian

Yogyakarta, 8 Juli 2025

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM.

Categories
anak COVID-19 dokter Healthy Life vaksinasi

2025 Asal usul COVID-19

ASAL-USUL COVID-19

fx. wikan indrarto

Catatan :

Tulisan ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 13 Juli 2025, halaman 8, kolom HUSADA.

Pada Jumat, 27 Juni 2025 Scientific Advisory Group for the Origins of Novel Pathogens (SAGO) WHO yang terdiri dari 27 orang pakar multidisiplin internasional dan independen, menerbitkan laporannya tentang asal-usul SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan pandemi COVID-19. Apa yang menarik?

Pada bulan Juli 2021, WHO meluncurkan SAGO dengan dua mandat. Pertama, merancang kerangka kerja global untuk menyelidiki asal-usul patogen, dan kedua, menerapkan kerangka kerja tersebut untuk mengevaluasi bukti ilmiah guna menentukan asal-usul COVID-19. SAGO menerbitkan temuan dan rekomendasi awalnya dalam sebuah laporan pertama pada 9 Juni 2022. Laporan kedua ini memperbarui laporan sebelumnya berdasarkan makalah, tinjauan sejawat, informasi yang belum dipublikasikan, studi lapangan, wawancara, dan laporan lain termasuk temuan audit, laporan pemerintah, dan laporan intelijen. SAGO mengadakan pertemuan dalam berbagai format sebanyak 52 kali, melakukan diskusi berfokus dengan para peneliti, akademisi, jurnalis, dan profesi lain-lain terkait COVID-19.

COVID-19 adalah penyakit yang disebabkan oleh virus. Gejala yang paling umum adalah demam, menggigil, dan sakit tenggorokan, tetapi ada berbagai gejala lainnya. Kebanyakan orang yang terinfeksi akan pulih sepenuhnya tanpa memerlukan perawatan di rumah sakit. Sebaliknya, orang dengan gejala parah harus mencari perawatan medis sesegera mungkin.

Orang mungkin mengalami gejala yang berbeda akibat COVID-19. Gejala biasanya mulai 5–6 hari setelah terpapar dan berlangsung 1–14 hari. Gejala yang paling umum adalah demam, menggigil, sakit tenggorokan. Gejala yang kurang umum adalah nyeri otot dan lengan atau kaki terasa berat, kelelahan atau rasa lelah yang parah, hidung berair atau tersumbat, atau bersin, sakit kepala, mata sakit, pusing, batuk terus-menerus, dada sesak atau nyeri dada, suara serak, mati rasa atau kesemutan, kehilangan nafsu makan, mual, muntah, nyeri perut atau diare. Selain itu, juga kehilangan atau perubahan indera perasa atau penciuman dan kesulitan tidur.

Orang dengan gejala yang lebih berat berikut harus segera mencari bantuan medis, yaitu kesulitan bernapas, terutama saat istirahat, atau tidak dapat berbicara dalam kalimat dan kebingungan, mengantuk atau kehilangan kesadaran, dan nyeri atau tekanan terus-menerus di dada. Juga kulit menjadi dingin atau lembap, atau menjadi pucat atau berwarna kebiruan dan kehilangan kemampuan berbicara atau gerakan.

Orang dengan penyakit parah dan mereka yang membutuhkan perawatan di rumah sakit harus menerima perawatan sesegera mungkin. Konsekuensi dari COVID-19 yang parah meliputi kematian, gagal napas, sepsis, tromboemboli (bekuan darah), dan kegagalan multiorgan, termasuk cedera pada jantung, hati, atau ginjal. Dalam situasi yang jarang terjadi, khususnya anak dapat mengalami sindrom peradangan parah beberapa minggu setelah infeksi.

Kebanyakan orang akan pulih tanpa memerlukan perawatan di rumah sakit. Bagi mereka yang membutuhkannya, dokter akan menyarankan perawatan inap di RS untuk COVID-19 berdasarkan tingkat keparahan penyakit dan risiko memburuknya penyakit. Mereka akan mempertimbangkan usia orang tersebut dan apakah mereka memiliki masalah kesehatan lainnya.

Untuk tindakan pencegahan, orang harus divaksinasi segera. Mereka harus mengikuti panduan setempat tentang vaksinasi dan cara melindungi diri dari COVID-19. Vaksin COVID-19 memberikan perlindungan yang kuat terhadap penyakit serius, rawat inap, dan kematian. Lebih dari 760 juta kasus dan 6,9 juta kematian telah tercatat di seluruh dunia sejak Desember 2019, tetapi jumlah sebenarnya diperkirakan lebih tinggi. Selain itu, lebih dari 13 miliar dosis vaksin telah diberikan hingga Juni 2023.  Vaksin COVID-19 memberikan perlindungan yang kuat terhadap penyakit parah dan kematian. WHO memperkirakan terjadi 14,9 juta kematian secara global akibat COVID-19 pada tahun 2020–21. Perkiraan global WHO lebih rendah daripada 18,2 juta kematian yang dilaporkan oleh Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) dan 17,7 juta kematian yang diperkirakan oleh The Economist untuk periode waktu yang sama.

SAGO telah menambah pemahaman kita tentang asal-usul COVID-19, namun seperti yang mereka laporkan, masih banyak informasi tambahan yang diperlukan untuk mengevaluasi semua hipotesis secara lengkap, tetapi sekarang belum tersedia. Sesuai dengan keadaan saat ini, semua hipotesis harus tetap ada, termasuk penularan zoonosis dan kebocoran laboratorium. SAGO menyimpulkan bahwa “bobot bukti yang tersedia menunjukkan adanya penularan zoonosis, baik secara langsung dari kelelawar atau melalui inang perantara.”

WHO meminta Tiongkok untuk membagikan ratusan sekuens genetik dari individu dengan COVID-19 di awal pandemi, informasi lebih rinci tentang hewan yang dijual di pasar di Wuhan, dan informasi tentang pekerjaan yang dilakukan dan kondisi biosafety di laboratorium di Wuhan. Hingga saat ini, Tiongkok belum membagikan informasi ini baik dengan SAGO maupun WHO.

“Seperti yang disebutkan dalam laporan, ini bukan hanya upaya ilmiah, ini adalah keharusan moral dan etika,” kata Dr. Marietjie Venter, Ketua kelompok, Guru Besar di Universitas Witwatersrand, Afrika Selatan dan Ketua Riset One Health dalam Vaksin dan Pengawasan untuk Ancaman Virus yang Muncul. Memahami asal-usul SARS-CoV-2 dan bagaimana hal itu memicu pandemi diperlukan untuk membantu mencegah pandemi di masa mendatang, menyelamatkan nyawa dan mata pencaharian, serta mengurangi penderitaan global. Program untuk memahami asal-usul SARS-CoV-2 masih belum selesai. WHO menyambut baik bukti lebih lanjut tentang asal-usul COVID-19, dan SAGO tetap berkomitmen untuk meninjau informasi baru apa pun jika tersedia.

Dengan mengetahui asal usul SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan pandemi COVID-19, tatalaksana paripurna dapat dilakukan.

Sekian

Yogyakarta, 30 Juni 2025

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
anak bayi prematur dokter Healthy Life vaksinasi

2025 RSV PADA BAYI

RSV  PADA  BAYI

fx. wikan indrarto*)

Jumat, 30 Mei 2025 WHO merekomendasikan vaksin untuk melindungi bayi dari infeksi RSV (Respiratory Syncytial Virus). RSV penyebab utama infeksi saluran pernapasan bawah akut pada bayi di seluruh dunia. Apa yang menarik?

Catatan : Tulisan ini telah dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta pada Minggu, 6 Juli 2025, halaman 8, kolom HUSADA dengan judul : Vaksin pelindung bayi yang direkomendasikan WHO

Setiap tahun, RSV menyebabkan sekitar 100.000 kematian dan lebih dari 3,6 juta rawat inap pada anak-anak di bawah usia 5 tahun di seluruh dunia. Sekitar setengah dari kematian ini terjadi pada bayi yang berusia di bawah 6 bulan. Sebagian besar (97%) kematian RSV pada bayi terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah yang memiliki akses terbatas ke perawatan medis suportif, seperti oksigen atau hidrasi.

“RSV adalah virus yang sangat menular yang menginfeksi orang-orang dari segala usia, tetapi sangat berbahaya bagi bayi, terutama yang lahir prematur, saat mereka paling rentan terhadap penyakit parah,” kata Dr. Kate O’Brien, Direktur Imunisasi, Vaksin, dan Biologi di WHO. Produk imunisasi RSV yang direkomendasikan WHO dapat mengubah perang melawan penyakit RSV yang parah, secara drastis mengurangi rawat inap, dan kematian, yang pada akhirnya menyelamatkan banyak nyawa bayi di seluruh dunia.

RSV adalah virus pernapasan umum yang menyebabkan gejala yang mirip dengan flu biasa, termasuk pilek, batuk, dan demam. Namun, penyakit ini dapat mengakibatkan komplikasi serius, termasuk pneumonia dan bronkiolitis, pada bayi, anak balita, lansia, dan mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah. Tanda dan gejala yang sesuai dengan komplikasi berupa infeksi saluran pernapasan bawah meliputi batuk, sesak napas, napas cepat, bronkospasme dan mengi.

Penyakit paru-paru yang parah dapat mengakibatkan kadar oksigen rendah dalam tubuh, kelelahan otot pernapasan, dan terkadang dapat mengakibatkan kematian. Infkesi RSV pada awal kehidupan anak dapat menyebabkan konsekuensi pernapasan jangka panjang, termasuk rawat inap berulang karena penyakit pernapasan selama masa bayi, mengi dan atau asma berulang, dan gangguan kesehatan paru-paru setelah masa bayi. Tidak ada pengobatan khusus untuk RSV. Penatalaksanaan penyakit RSV yang parah melibatkan perawatan suportif, seperti penyedotan sekresi melalui hidung, cairan intravena untuk hidrasi, dan yang terpenting oksigen tambahan untuk membantu pernapasan. 

Menanggapi beban global penyakit RSV parah pada bayi, WHO merekomendasikan agar semua negara memperkenalkan vaksin maternal (RSVpreF) pada ibu atau pemberian antibodi monoklonal, yaitu nirsevimab untuk bayi, tergantung pada kelayakan penerapan dalam sistem kesehatan di setiap negara, efektivitas biaya, dan cakupan yang dapat diantisipasi. Kedua produk tersebut direkomendasikan oleh Strategic Advisory Group of Experts on Immunization (SAGE) untuk penerapan global pada September 2024. Selain itu, vaksin maternal untuk ibu telah menerima prakualifikasi WHO pada Maret 2025, yang memungkinkannya untuk dibeli dengan harga terjangkau. baik oleh badan-badan PBB ataupun negera yang membutuhkan.

WHO merekomendasikan agar vaksin maternal RSVpreF (seperti Abrysvo dan Arexvy harga sekitar US $ 350) adalah vaksin yang ditujukan untuk ibu hamil yang mengandung bagian virus RSV, yaitu subunit protein F prefusi stabil bivalen (RSV A dan B), dan diberikan secara injeksi intramuskuler. Vaksin ini diberikan pada ibu hamil saat usia kehamilan 32-36 minggu, untuk mengoptimalkan transfer antibodi yang memadai kepada janin. Vaksin dapat diberikan selama kontrol kehamilan atau perawatan antenatal (ANC) rutin, misalnya pada salah satu dari 5 kunjungan ANC yang direkomendasikan WHO pada trimester ketiga atau konsultasi medis tambahan.

Produk kedua yang direkomendasikan WHO, yaitu nirsevimab, diberikan sebagai suntikan tunggal antibodi monoklonal yang mulai melindungi bayi terhadap RSV dalam waktu seminggu setelah pemberian dan bertahan setidaknya selama 5 bulan, yang dapat mencakup seluruh musim RSV di semua negara dengan musim RSV. Nirsevimab adalah antibodi monoklonal suntik seharga US $ 519,75 per dosis untuk dosis 50 mg dan 100 mg, yang mencegah penyakit RSV parah pada bayi dan anak kecil. Antibodi monoklonal tidak mengaktifkan sistem imun, seperti yang terjadi pada proses infeksi atau program vaksinasi (imunisasi aktif).

WHO merekomendasikan agar bayi menerima suntikan satu dosis nirsevimab (merek dagang Beyfortus) segera setelah lahir atau sebelum dipulangkan dari fasilitas bersalin. Jika tidak diberikan saat lahir, antibodi monoklonal dapat diberikan selama kunjungan kesehatan pertama bayi. Jika suatu negara memutuskan untuk memberikan produk hanya selama musim RSV bukan sepanjang tahun, satu dosis juga dapat diberikan kepada bayi yang lebih besar tepat sebelum memasuki musim RSV pertama mereka. Dampak terbesar pada penyakit RSV yang parah akan tercapai dengan pemberian antibodi monoklonal kepada bayi di bawah usia 6 bulan. Namun, masih ada potensi manfaat pada bayi hingga usia 12 bulan.

Bayi sering memiliki gejala infeksi RSV yang mirip dengan flu biasa, termasuk pilek, batuk, dan demam. Namun demikian, apabila memburuk menjadi batuk, sesak napas, napas cepat, bronkospasme dan mengi harus dirujuk sesegera mungkin di fasilitas kesehatan, karena dicurigai mengalami komplikasi serius, termasuk pneumonia dan bronkiolitis. Pemberian vaksin maternal (RSVpreF) pada ibu hamil atau pemberian antibodi monoklonal nirsevimab untuk bayi, dapat mengurangi risiko terjadinya kejadian tersebut.

Apakah kita sudah melakukannya?

Sekian

Yogyakarta, 13 Juni 2025

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM.

Categories
anak bayi prematur dokter Healthy Life Pendukung ASI UHC

2025 Hari Kesehatan Dunia

HARI KESEHATAN SEDUNIA 2025

fx. wikan indrarto

Tulisan ini telah dimuat di Harian Nasional Kompas digital (Kompas.id) pada Senin, 7 April 2025

https://www.kompas.id/artikel/hari-kesehatan-sedunia-2025

Kesehatan ibu dan bayi yang baik adalah fondasi keluarga, masyarakat dan negara yang sehat, untuk membantu memastikan masa depan yang penuh harapan bagi kita semua. Apa yang harus kita lakukan?

Hari Kesehatan Dunia (World Health Day) yang dirayakan pada 7 April 2025, akan ditandai dengan dimulainya  kampanye selama setahun penuh, tentang kesehatan ibu dan bayi baru lahir. Kampanye ini bertema : Awal yang sehat, masa depan yang penuh harapan (Healthy beginnings, hopeful futures) akan mendesak pemerintah, komunitas kesehatan dan kita semua, dalam meningkatkan upaya guna mengakhiri penyebab kematian ibu dan bayi baru lahir yang dapat dicegah, dan memprioritaskan kesehatan dan kesejahteraan jangka panjang bagi ibu dan anak.

Kita diingatkan untuk membantu setiap ibu dan bayi agar dapat bertahan hidup dan berkembang dengan baik. Tugas ini sangat penting, tetapi  tragisnya, hampir 300.000 ibu meninggal karena kehamilan atau persalinan setiap tahun. Selain itu, lebih dari 2 juta bayi meninggal dalam bulan pertama kehidupan mereka dan sekitar 2 juta lainnya lahir mati. Angka ini kira-kira 1 kematian bayi yang dapat dicegah setiap 7 detik. Hal ini menyebabkan 4 dari 5 negara tidak akan memenuhi target untuk meningkatkan kelangsungan hidup ibu pada tahun 2030. Seain itu, 1 dari 3 negara akan gagal memenuhi target untuk mengurangi kematian bayi baru lahir.

Ibu dan bayi di mana pun membutuhkan perawatan kesehatan berkualitas tinggi, yang mendukung mereka secara fisik dan emosional, sebelum, selama, dan setelah melahirkan. Untuk itu, sistem layanan kesehatan harus berkembang untuk mengelola berbagai masalah medis yang memengaruhi kesehatan ibu dan bayi baru lahir. Ini tidak hanya mencakup komplikasi obstetrik langsung, tetapi juga kondisi kesehatan mental, penyakit tidak menular, dan bahkan keluarga berencana.

Selain itu, ibu dan bayi harus didukung oleh regulasi, undang-undang, dan kebijakan yang melindungi kesehatan dan hak-hak mereka. Hal ini sesuai dengan tujuan kampanye Hari Kesehatan Dunia 2025. Pertama, untuk meningkatkan kesadaran tentang kesenjangan dalam kelangsungan hidup ibu dan bayi baru lahir, juga perlunya memprioritaskan kesejahteraan mereka dalam jangka panjang.

Kedua, untuk mengadvokasi tambahan investasi yang efektif dalam meningkatkan kesehatan ibu dan bayi. Ketiga, untuk mendorong tindakan kolektif dalam mendukung para dokter dan tenaga kesehatan yang memberikan layanan pada kondisi kritis. Dan keempat, untuk memberikan informasi dan edukasi kesehatan yang berguna, terkait kehamilan, persalinan, dan periode pascanatal.

Tingginya angka kematian yang dapat dicegah dan buruknya kesehatan dan kesejahteraan bayi baru lahir dan anak di bawah usia lima tahun, merupakan indikator dari cakupan intervensi penyelamatan jiwa yang tidak merata dan dari pembangunan sosial dan ekonomi yang tidak memadai. Kemiskinan, gizi buruk, dan akses yang buruk terhadap air bersih dan sanitasi, merupakan beberapa faktor yang merugikan, seperti juga akses yang tidak memadai terhadap layanan medis dan kesehatan yang bermutu, seperti perawatan penting untuk bayi baru lahir.

Promosi kesehatan, layanan pencegahan penyakit (seperti vaksinasi rutin) dan pengobatan penyakit umum pada anak sangat penting, agar setiap anak dapat tumbuh dan bertahan hidup. Bulan pertama kehidupan merupakan periode paling rentan bagi kelangsungan hidup anak, dengan 2,3 juta bayi baru lahir meninggal pada tahun 2022. Angka kematian neonatal telah menurun hingga 44% sejak tahun 2000. Namun pada tahun 2022, hampir setengah (47%) dari semua kematian pada anak di bawah usia 5 tahun terjadi pada periode neonatal (28 hari pertama kehidupan), yang merupakan salah satu periode kehidupan paling rentan dan memerlukan perawatan intrapartum dan neonatal berkualitas tinggi.

Kebanyakan kematian neonatal (75%) terjadi selama minggu pertama kehidupan, dan sekitar 1 juta bayi baru lahir meninggal dalam 24 jam pertama. Di antara neonatus, penyebab utama kematian meliputi kelahiran prematur, komplikasi kelahiran (asfiksia dan trauma saat lahir), infeksi neonatal, dan kelainan bawaan, yang secara kolektif menyebabkan hampir 4 dari 10 kematian pada anak di bawah usia 5 tahun. Perlu dicatat bahwa meskipun tingkat penyebab utama kematian neonatal telah menurun secara global sejak tahun 2000, penyebab tersebut menyebabkan proporsi yang sama dari kematian anak di bawah usia 5 tahun, yaitu 4 dari 10 anak pada tahun 2000 dan 2022. Akses dan ketersediaan layanan medis dan kesehatan yang berkualitas, terus menjadi masalah hidup atau mati bagi ibu dan bayi baru lahir, di seluruh dunia.

Sebagian besar kematian bayi baru lahir terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Program untuk meningkatkan kelangsungan hidup bayi baru lahir harus dibangun di atas fondasi yang kuat, selaras dengan Every Newborn Action Plan (ENAP) dan target mengakhiri kematian ibu yang dapat dicegah (Ending Preventable Maternal Mortality atau EPMM). Hal ini mencakup perbaikan layanan medis antenatal dan pascanatal, juga meningkatkan kompetensi dokter dan tenaga kesehatan terampil dalam bidang obstetrik dan bayi baru lahir.

Meningkatkan pembiayaan dan mengalokasikan sumber daya terhadap dua intervensi tersebut di atas, akan berdampak sangat tinggi dan sangat penting. Hal ini karena langkah ini memberikan pengembalian investasi empat kali lipat, tidak hanya berupa pengurangan angka kematian ibu, bayi lahir mati, dan kematian bayi baru lahir, tetapi juga menurunkan morbiditas ibu dan bayi baru lahir.

Dengan meningkatnya angka kelahiran di fasilitas kesehatan, bahkan sudah mencapai hampir 80% secara global, maka tersedia peluang besar untuk perawatan semua bayi baru lahir, termasuk bayi baru lahir berisiko tinggi. Namun sayangnya, hanya sedikit ibu dan bayi baru lahir yang masih bertahan di fasilitas kesehatan selama 24 jam setelah kelahiran, yang merupakan waktu paling kritis ketika komplikasi medis pada bayi dapat muncul. Selain itu, terlalu banyak bayi baru lahir yang meninggal di rumah, karena pulang lebih awal dari rumah sakit, hambatan akses, dan keterlambatan dalam mencari perawatan. Untuk itu, empat kali kontak tenaga kesehatan dengan bayi dalam perawatan pascanatal yang direkomendasikan WHO, baik di fasilitas kesehatan atau melalui kunjungan ke rumah, memainkan peran penting untuk menjangkau bayi baru lahir dan keluarga mereka.

Hari Kesehatan Dunia (World Health Day) Senin, 7 April 2025 untuk memperingati hari lahir WHO pada 7 April 1948. Momentum ini mengingatkan kita semua agar melakukan percepatan kemajuan program, untuk kelangsungan hidup bayi baru lahir. Selain itu, peningkatan derajat kesehatan dan kesejahteraan bayi baru lahir memerlukan ketersediaan layanan medis dan kesehatan yang berkualitas, khususnya untuk bayi baru lahir yang kecil dan sakit.

Apakah kita sudah melakukannya?

Sekian
Yogyakarta, 22 Maret 2025
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM.

Categories
anak antibiotika dokter resisten obat tuberkulosis

2025 Hari Tuberkulosis Dunia

HARI TUBERKULOSIS DUNIA 2025

fx. wikan indrarto

Tulisan ini telah dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 6 April 2025, halaman 8, kolom HUSADA.

Hari Tuberkulosis (TB) Dunia diadakan setiap tanggal 24 Maret untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang dampak buruk TB dalam bidang kesehatan, sosial dan ekonomi. Selain itu, juga untuk meningkatkan upaya mengakhiri epidemi TB global. Apa yang perlu dicermati?

Pada 24 Maret 1882 Dr. Robert Koch menemukan penyebab penyakit TB, yaitu bakteri Mycobacterium tuberculosis. Pada saat Dr. Koch mengumumkan penemuannya di Berlin, Jerman waktu itu TB mewabah di seluruh Eropa dan Amerika, bahkan menyebabkan kematian 1 dari setiap 7 orang penderitanya. Kemajuan yang telah kita dapatkan, 75 juta nyawa telah terselamatkan sejak tahun 2000 melalui upaya global untuk mengakhiri TB. Meskipun 79 juta nyawa telah terselamatkan sejak tahun 2000 berkat upaya global untuk mengakhiri TB, tetapi 10,8 juta orang telah jatuh sakit karena TB pada tahun 2023, dan 1,25 juta orang meninggal karena TB pada tahun 2023.

Tema Hari (TB) Dunia tahun 2025 ini : Ya! Kita Bisa Mengakhiri TB : Berkomitmen, Berinvestasi, Mewujudkan, (Yes! We Can End TB: Commit, Invest, Deliver).

Pertama, berkomitmen. Para pemimpin dunia pada Pertemuan Tingkat Tinggi PBB 2023 telah berjanji untuk mempercepat upaya dalam mengakhiri TB. Sekarang, warga dunia mengingatkan dan membutuhkan tindakan nyata dari segenap pemimpin dunia di semua tingkatan, dalam komitmen implementasi secara cepat pedoman dan kebijakan WHO, strategi nasional dan regional untuk mengatasi TB yang diperkuat, dan pendanaan program secara penuh.

Kedua, berinvestasi. TB tidak dapat dikalahkan tanpa pendanaan yang memadai dan tepat. Dunia memerlukan pendekatan yang berani dan beragam untuk mendanai inovasi, untuk menutup kesenjangan dalam akses terhadap pencegahan, diagnosis molekuler, pengobatan, dan perawatan pasien TB, serta untuk memajukan penelitian kedokteran.

Ketiga, bertindak. Mengubah dari komitmen menjadi sebuah tindakan berarti meningkatkan skala intervensi kesehatan yang direkomendasikan WHO. Dalam hal ini mencakup aspek deteksi dini, diagnosis, pengobatan pencegahan, dan perawatan TB berkualitas tinggi, khususnya untuk TB yang resistan terhadap obat (MDR TB). Keberhasilan tindakan ini bergantung pada kepemimpinan di semua tingkatan dari nasional, regional dan lokal, tindakan serentak segenap masyarakat sipil, dan kolaborasi lintas sektor.

Dalam aspek diagnosis TB secara lebih akurat, modalitas pemeriksaan Tes Cepat Molekuler (TCM) dengan PCR geneXpert konvensional dan ultra sebaiknya dilakukan untuk mengganti pemeriksaan dahak BTA sputum, yang sampai sekarang masih sering dilakukan. Alasan penggunaan TCM yang berbiaya lebih mahal adalah karena pemeriksaan ini jauh lebih sensitif, dapat langsung mendeteksi resistensi bakteri TB, dan lebih praktis, juga sederhana. Perlu juga dicermati, bahwa bakteri M. tuberculosis dapat menginfeksi organ-organ lain atau disebut tuberkulosis ekstraparu, yang tidak mudah didiagnosis.

Momentum Hari Tuberkulosis (TB) Dunia Senin, 24 Maret 2025 mengingatkan kita semua agar berkomitmen, berinvestasi dan bertindak sekarang, untuk mengakhiri TB dan menyelamatkan lebih banyak pasien. Selain itu, kita semua wajib menerapkan rekomendasi WHO yang baru dengan lebih cepat, baik dalam aspek diagnosis dengan TCM, terapi pencegahan (TPT) TB laten dan pengobatan TB sampai tuntas, untuk mengakhiri epidemi TB global.

Sudahkah kita bijak?

Sekian Yogyakarta, 15 Maret 2025 *) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM.
Categories
anak COVID-19 dokter Healthy Life vaksinasi

2025 Pelajaran dari sejarah COVID-19

PELAJARAN  DARI SEJARAH  COVID-19

fx. wikan indrarto

Tulisan ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 13 April 2025, halaman 8, kolom HUSADA

Lima tahun lalu, tepatnya pada 31 Desember 2019, Kantor WHO di Tiongkok mengeluarkan pernyataan resmi tentang kasus ‘pneumonia virus’ di Wuhan, Tiongkok. Dalam beberapa minggu, bulan, dan tahun setelah itu, ‘pneumonia virus’ yang selanjutnya disebut COVID-19 mempengaruhi kehidupan kita dan dunia. Apa yang menarik?

WHO langsung mengaktifkan sistem darurat pada hari libur tahun baru, yaitu 1 Januari 2020. Seminggu kemudian, pada 10-12 Januari 2020 WHO menerbitkan paket dokumen panduan yang komprehensif untuk semua negara, yang mencakup beberapa topik terkait dengan manajemen wabah penyakit baru tersebut. Misalnya pencegahan dan pengendalian infeksi, pengujian laboratorium, perangkat tinjauan kapasitas sistem kesehatan nasional, dan pedoman komunikasi risiko dan keterlibatan masyarakat.

Tiga minggu kemudian, pada 20 Januari 2020 virus corona jenis baru mulai menjadi perhatian masyarakat dunia setelah otoritas kesehatan di  Tiongkok, melaporkan adanya tiga orang tewas di Wuhan setelah menderita pneumonia yang disebabkan virus tersebut. Sebulan kemudian pada 29 Januari 2020 WHO menerbitkan saran tentang penggunaan masker wajah oleh masyarakat, selama perawatan di rumah dan di tempat perawatan kesehatan. Kemudian pada 30 Januari 2020 Direktur Jenderal WHO menyatakan wabah virus corona baru sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional atau ‘Public Health Emergency Of International Concern’ (PHEIC), tingkat kewaspadaan tertinggi WHO.  

Pada saat itu, terdapat 98 kasus dan tidak ada kematian di 18 negara di luar Tiongkok. Empat negara di luar Tiongkok (Jerman, Jepang, Amerika Serikat, dan Vietnam) memiliki bukti (8 kasus) penularan antarmanusia. WHO kemudian merumuskan saran untuk Republik Rakyat Tiongkok, semua negara, dan komunitas global, sebagai Rekomendasi Sementara.

Selain itu, pada 11 Februari 2020 WHO mengumumkan bahwa penyakit yang disebabkan oleh virus corona baru tersebut diberi nama ‘Corona Virus Disease 2019’ atau COVID-19. Nama penyakit tersebut dipilih untuk menghindari ketidakakuratan dan stigma, sehingga tidak merujuk pada nama tempat, nama negara, lokasi geografis, nama hewan, nama individu atau sekelompok orang.

Sekitar 3 bulan kemudian, yaitu pada 11 Maret 2020 WHO menetapkan status COVID-19 sebagai pandemi. Faktor utama dalam penetapan status pandemi adalah wabah penyakit infeksi tersebut yang menular cepat dan meluas. Berbeda dengan pandemi, status epidemi menggambarkan bahwa suatu penyakit infeksi menyebar lebih banyak dari yang diperkirakan, tetapi terbatas terjadi pada suatu tempat tertentu saja. Memang istilah pandemi terkesan menakutkan, tetapi sebenarnya itu netral dan tidak ada kaitannya dengan keganasan penyakit, akan tetapi lebih pada penyebarannya yang meluas melampaui batas geografis.

Pada 31 Maret 2020 WHO mengeluarkan peringatan bagi masyarakat, dokter dan tenaga kesehatan, juga otoritas kesehatan terhadap semakin banyaknya informasi keliru yang berlebihan (infodemik) dan produk medis palsu yang mengklaim dapat mencegah, mendeteksi, mengobati, atau menyembuhkan COVID-19. Hampir 4 bulan kemudian pada 14 April 2020 WHO menerbitkan pembaharuan strategi COVID-19, karena menurunnya tingkat penularan. Panduan tersebut ditujukan bagi negara yang bersiap untuk transisi bertahap dari penularan yang meluas, ke keadaan stabil dengan tingkat penularan rendah atau tanpa penularan. Strategi ini bertujuan agar semua negara tetap mengendalikan pandemi, dengan mulai memobilisasi semua sektor dan masyarakat, untuk mencegah dan menekan penularan di masyarakat, mengurangi angka kematian, dan mengembangkan vaksin serta terapi yang aman dan efektif.

Setelah tingkat penularan semakin meningkat, pada 5 Juni 2020 WHO menerbitkan panduan terbaru tentang penggunaan masker untuk pengendalian COVID-19, dan memberikan saran terbaru tentang siapa yang harus mengenakan masker, kapan harus dikenakan, dan dari bahan apa masker harus dibuat. Diteruskan pada 24 Juli 2020 WHO menerbitkan panduan untuk mencegah dan mengurangi dampak COVID-19 jangka panjang, termasuk perawatan berbasis rumah dan komunitas. Pada 21 Agustus 2020 WHO bekerja sama dengan UNICEF, menerbitkan panduan tentang penggunaan masker untuk anak dalam aktivitas masyarakat untuk pengendalian COVID-19.

Dalam aspek terapi pada 2 September 2020 WHO menerbitkan panduan tentang peran kortikosteroid dalam mengobati COVID-19. Obat lama, murah, tersedia di banyak tempat secara global dan terbukti efektif dalam penanganan COVID-19. Sedangkan dalam aspek diagnostik, pada 22 September 2020 WHO menerbitkan Daftar Penggunaan Darurat pertama untuk alat uji diagnostik cepat berbasis antigen untuk mendeteksi virus SARS-CoV-2, yang menyebabkan COVID-19.

Dalam aspek pendidikan kedokteran berkelanjutan pada 18 November 2020 WHO Academy meluncurkan kursus online pertamanya untuk dokter dan tenaga kesehatan di seluruh dunia tentang penggunaan alat pelindung diri COVID-19 yang tepat. Juga pada 16 Desember 2020 WHO menerbitkan panduan tentang penerapan pendekatan berbasis risiko untuk perjalanan internasional dalam pengendalian COVID-19.

Hampir 2 tahun kemudian, yaitu pada 11 Januari 2022 sebuah tim WHO yang disebut Penasihat Teknis Komposisi Vaksin COVID-19 (TAG-CO-VAC) mengeluarkan pernyataan sementara tentang implikasi varian Omicron untuk vaksin COVID-19 dan rekomendasi tentang pilihan vaksin untuk masa mendatang. Selanjutya pada 11 Februari 2022 WHO melakukan prakualifikasi antibodi monoklonal pertamanya, yaitu tocilizumab untuk mengobati COVID-19.

Hingga 24 November 2021, total kasus konfirmasi COVID-19 di lebih dari 195 negara di dunia adalah 258.164.425 kasus dengan 5.166.192 kematian (CFR 2,0%). WHO memperkirakan terjadi 14,9 juta kematian secara global akibat COVID-19 pada tahun 2020–21. Perkiraan global WHO lebih rendah daripada 18,2 juta kematian yang dilaporkan oleh Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) dan 17,7 juta kematian yang diperkirakan oleh The Economist untuk periode waktu yang sama.

Setelah terjadi tingkat penularan yang landai, tiga setengah tahun kemudian  pada 5 Mei 2023 WHO mencabut status darurat COVID-19 pada tingkat global. Selanjutnya pada 21 Juni 2023, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) secara resmi mengumumkan pencabutan status pandemi COVID-19 di Indonesia dan beralih menjadi endemi. Perbedaan antara pandemi dan endemi adalah dalam aspek prediktabilitas. Status pandemi lebih sering berada pada situasi ketidakpastian, sedangkan kondisi endemik merujuk pada sesuatu penyakit yang sering tetap terus ada, tetapi lebih mampu diatasi.

Begitu banyak pelajaran yang dapat kita ambil dalam perjalanan sejarah COVID-19, baik yang bersifat positif dan perlu diteruskan seperti respon sigap atas masalah kesehatan, kerjasama banyak pihak dalam mengatasi masalah diagnosis, terapi dan juga pencegahan penyakit baru. Namun demikian, juga aspek negatif dan perlu dihindari seperti infodemik COVID-19, hoaks dan promosi produk medis yang melenceng.

Sudahkah kita bertindak bijak dalam bersiaga menghadapi berbagai masalah kesehatan masyarakat paska pandemi COVID-19?

Sekian

Yogyakarta, 12 Maret 2025

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?