Categories
dokter medicolegal politik

2026 Perlindungan Hukum bagi Dokter

PERLINDUNGAN  HUKUM  BAGI  DOKTER

fx. wikan indrarto*)

Ditreskrimsus Polda Bangka Belitung melimpahkan berkas perkara serta tersangka seorang dokter spesialis anak  di  RSUD Depati Hamzah, ke Kejaksaan Tinggi Bangka Belitung, Kamis (20/11/2025). Pelimpahan kasus dilakukan kepolisian setelah berkas perkara terkait kasus tindak pidana kesehatan dinyatakan lengkap atau P21. Profesi dokter cukup sering menghadapi sengketa hukum. Ada berbagai penyebab, tetapi salah satu yang utama adalah karena perlindungan hukum atas profesi dokter tidaklah rinci. Apa yang sebaiknya dilakukan?

Tulisan ini telah dimuat di tribunnews.com :

https://www.tribunnews.com/tribunners/7777988/ketika-dokter-berhadapan-dengan-hukum-di-mana-perlindungan-profesi-dalam-uu-kesehatan-baru

Status tersangka ini ditetapkan setelah terbitnya rekomendasi dari Majelis Disiplin Profesi (MDP). Peran MPD untuk dokter adalah menegakkan disiplin profesi, mengawasi etika, dan memberikan sanksi atas dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh dokter dan tenaga kesehatan lainnya. MDP bertugas menerima dan memverifikasi pengaduan, melakukan investigasi, menyelenggarakan sidang disiplin, serta memberikan rekomendasi tindakan terhadap pelanggaran tersebut.

Pada era sebelumnya, Majelis Kehormatan Disiplin Profesi Kedokteran Indonesia (MKDKI) yang menangani masalah ini. Sedangkan MDP merupakan lembaga baru yang dibentuk berdasarkan UU No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Perbedaan utama adalah kewenangan MDP yang kini dapat memberikan rekomendasi untuk proses hukum pidana maupun perdata.

MDP telah mengeluarkan keputusan yang menyatakan bahwa dokter tersebut telah melanggar standar profesi sebagai dokter spesialis anak. Alasannya adalah dokter tersebut tidak pernah bertemu dan memeriksa langsung kondisi pasien. Perannya sebatas memberi arahan medis sesuai prosedur konsultasi spesialis. Kemudian rekomendasi itu berlanjut menjadi penetapan tersangka oleh Polda Bangka Belitung. Meskipun dokter tersebut telah mengajukan uji materi UU No.17/2023 tentang Kesehatan terutama Pasal 307 yang berkorelasi dengan kewenangan MDP atas keputusan yang merugikan dirinya, tetapi Mahkamah Konstitusi (MK) belum memberikan keputusan yang bersifat final dan mengikat, agar profesi dokter mendapat perlindungan hukum yang lebih rinci.

Michel Daniel Mangkey dalam ejournal Unsrat Vol. II/No. 8/Sep-Nov/2014, menjelaskan tentang ‘Lex et Societatis’. Dokter yang telah melaksanakan tugas sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional, berhak mendapatkan perlindungan hukum. Terdapat beberapa hal yang menjadi alasan peniadaan hukuman terhadap dokter, yaitu : resiko pengobatan, kecelakaan medik, tanpa unsur kelalaian, aturan minor yang dapat diabaikan, kesalahan dalam penilaian (error of (in) judgment), Volenti non fit iniura atau asumsi atas risiko, dan Res Ipsa Loquitur. Namun demikian, pada praktiknya sebagian hal tersebut sangat sulit, rumit, dan menyita waktu, tenaga dan konsentrasi dokter dalam perumusannya.

Sebaliknya, perlindungan hukum untuk profesi notaris, jauh lebih jelas, nyata, dan rinci, sebagaimana dituliskan oleh Mariyantini pada ejournal Undip vol 4, no 1 tahun 2013. Perlindungan hukum terhadap notaris ketika terjadi sengketa di pengadilan, telah diatur pada Pasal 66 Undang-undang No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris. Dalam hal memberikan kesaksian, seorang notaris tidak dapat mengungkapkan akta yang dibuatnya, baik sebagian maupun keseluruhannya, untuk merahasiakan semua hal yang diberitahukan kepadanya, karena akta yang dibuat oleh atau di hadapan notaris, merupakan suatu alat bukti yang mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna. Notaris hanya merumuskan keterangan dan pernyataan yang diperolehnya dari para penghadap. Notaris tidak hanya berhak untuk bicara, tetapi mempunyai kewajiban untuk tidak bicara. Kewajiban tersebut mengesampingkan kewajiban umum yang tercantum dalam Pasal 1909 ayat (1) KUHPerdata, karena adanya hak ingkar dari profesi notaris, sebagai konsekuensi dari adanya kewajiban merahasiakan sesuatu yang diketahuinya.

Yurisprudensi Mahkamah Agung (MA) melalui Putusan MA No 702K/Sip/1973, menyatakan bahwa notaris fungsinya hanya mencatatkan atau menuliskan, apa yang dikehendaki dan dikemukakan oleh para pihak yang menghadap notaris tersebut. Tidak ada kewajiban bagi notaris untuk menyelidiki secara materil, terkait apa yang dikemukakan oleh penghadap di hadapan notaris tersebut. Berdasarkan Putusan MA tersebut, jika akta yang dibuat oleh notaris dipermasalahkan oleh para pihak, maka hal tersebut menjadi urusan para pihak sendiri, notaris tidak perlu dilibatkan, dan notaris bukan pihak dalam akta.

Perlindungan hukum yang juga lebih baik, adalah terhadap profesi advokat atau pengacara. Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan permohonan perkara 26/PUU-XI/2013,  yaitu pengujian Pasal 16 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat, yang terkenal sebagai hak imunitas advokat. Putusan tersebut dinyatakan MK dalam sidang pengucapan putusan yang dipimpin Ketua MK Hamdan Zoelva, Rabu 14 Mei 2015. MK menegaskan bahwa ketentuan Pasal 16 UU Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat  harus dimaknai sebagai, advokat tidak dapat dituntut baik secara perdata maupun pidana dalam menjalankan tugas profesinya, dengan iktikad baik untuk kepentingan pembelaan klien, di dalam maupun di luar sidang pengadilan.

Dengan demikian hak imunitas profesi dokter dalam aspek perlindungan hukum, layak disusun serinci seperti profesi advokat dan notaris. Sudahkah para dokter bertindak agar mendapatkan perlindungan hukum?

Sekian

Sekian

Yogyakarta, 24 November 2025

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM.

Categories
anak dokter Healthy Life vaksinasi

2026 Vaksin dan Autis

VAKSIN  DAN AUTIS

fx. wikan indrarto

Kamis, 11 Desember 2025 analisis baru dari komite ahli WHO atau ‘The Global Advisory Committee on Vaccine Safety’ (GACVS), menegaskan  tidak ada hubungan sebab akibat antara vaksin dan autis. Bukti ilmiah berdasarkan 31 penelitian antara Januari 2010 dan Agustus 2025 dengan data dari berbagai negara, sangat mendukung profil keamanan positif vaksin dengan adjuvan tiomersal yang digunakan selama masa anak dan kehamilan, dan menegaskan tidak adanya hubungan sebab-akibat vaksin dengan autis.

Tulisan ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 4 Januari 2026, halaman 8, kolom HUSADA.

Imunisasi MMR dengan adjuvan tiomersal sempat mendapat penolakan dari banyak pihak dan menimbulkan fobia, terkait sebuah skandal penelitian yang besar. Pada tahun 1998, sebuah makalah karya dr. Andrew Wakefield, seorang dokter spesialis bedah, dimuat di jurnal bergengsi ‘Lancet’, tentang 12 kasus anak autis setelah divaksinasi MMR di Inggris. Makalah tersebut ditulis oleh Wakefield, Murch, dan Anthony dengan judul ‘Ileum hiperplasia limfoid nodular, kolitis non-spesifik, dan gangguan perkembangan regresif pada anak’ (Lancet, 1998, 351, halaman 637-41). Banyak media kemudian menampilkan informasi ini kepada publik awam, membuat heboh dan menimbulkan fobia. Dalam serangkaian laporan antara tahun 2004 dan 2010, jurnalis Brian Deer menyelidiki dan mengungkapkan bahwa dr. Wakefield memiliki beberapa konflik kepentingan, telah memanipulasi data, dan bertanggung jawab untuk apa yang kemudian oleh the ‘British Medical Journal’ (BMJ)  disebut “an elaborate fraud” atau penipuan yang rumit.

Penyelidikan Brian Deer ini adalah yang terpanjang yang pernah didanai oleh ‘General Medical Council UK’ (GMC). Pada bulan Januari 2010, GMC menilai dr. Wakefield tidak jujur, tidak etis dan tidak berperasaan, sehingga pada tanggal 24 Mei 2010 nama dr. Wakefield telah dihapus dari daftar dokter di Inggris. Menanggapi temuan Deer, pada tahun 2004 redaksi ‘Lancet’ menerbitkan surat untuk menanggapi tuduhan terhadap makalah yang dimuatnya, yang menyatakan tidak ada hubungan antara imunisasi MMR dan kejadian autis (no link existed between MMR and autism). ‘Lancet’ kemudian menarik sebagian laporan penelitian dr. Wakefield pada bulan Februari 2004. Pada tahun 2010, GMC menerbitkan sebuah laporan yang menentang tulisan dr. Wakefield dan menunjukkan bahwa catatan medis anak-anak di rumah sakit tidak mengandung bukti yang cukup meyakinkan, catatan medis di rumah sakit berbeda dengan makalah yang diterbitkan, dan akhirnya ‘Lancet’ pada bulan Februari 2010 mencabut sepenuhnya, isi makalah dr. Wakefield yang diterbitkan tahun 1998.

baca juga : https://pantirapih.or.id/rspr/anak-autis/

Autis merupakan kelompok kondisi yang beragam terkait dengan perkembangan otak. Karakteristiknya dapat terdeteksi pada masa anak, tetapi autis seringkali tidak didiagnosis hingga jauh kemudian. Autis memiliki tanda utama kesulitan dalam interaksi sosial dan komunikasi. Karakteristik lainnya adalah pola aktivitas dan perilaku yang tidak lazim, seperti kesulitan dalam transisi dari satu aktivitas ke aktivitas lain, fokus pada detail, dan reaksi yang tidak biasa terhadap sensasi. Mendiagnosis autis sulit dilakukan sebelum usia 12 bulan dan umumnya dimungkinkan pada usia 2 tahun. Ciri khas onsetnya meliputi keterlambatan perkembangan, atau kemunduran, dalam kemampuan bahasa dan sosial, serta pola perilaku yang berulang.

Bukti ilmiah menunjukkan bahwa berbagai faktor, baik genetik maupun lingkungan, berkontribusi terhadap timbulnya autis dengan memengaruhi perkembangan otak dini. Peningkatan kemungkinan autis pada keluarga dengan anggota autis dan khususnya pada kembar identik. Paparan terhadap faktor lingkungan tertentu lebih sering terjadi pada anak autis atau orang tua mereka. Ini termasuk usia orang tua yang lanjut, diabetes ibu selama kehamilan, paparan prenatal terhadap polutan udara atau logam berat tertentu, kelahiran prematur, komplikasi kelahiran yang parah, dan berat badan bayi lahir rendah. Selain itu, telah diteliti kemungkinan hubungan antara penggunaan berbagai obat selama kehamilan dan peningkatan risiko autis, yaitu paparan prenatal terhadap valproat dan karbamazepin, yang digunakan untuk penanganan kejang.

Autis tidak disebabkan oleh pola pengasuhan yang buruk dan tidak terkait dengan pola diet. Autis juga bukan penyakit menular dan tidak dapat menular ke orang lain. Anak autis seringkali memiliki kondisi penyerta, termasuk epilepsi, depresi, kecemasan, dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif.

Anak autis memiliki masalah kesehatan yang sama dengan populasi umum. Namun demikian, mereka mungkin juga memiliki kebutuhan perawatan kesehatan khusus yang berkaitan dengan autis atau kondisi penyerta lainnya. Mereka mungkin lebih rentan terhadap perkembangan penyakit kronis non-menular, karena faktor risiko perilaku seperti kurangnya aktivitas fisik, pola diet yang buruk, dan berisiko lebih besar mengalami kekerasan, cedera, dan pelecehan. Bahkan anak autis lebih mungkin meninggal sebelum waktunya.

Komite GACVS-WHO menegaskan kembali kesimpulan yang sama dengan sebelumnya dari tahun 2002, 2004, dan 2012, yaitu vaksin, termasuk yang mengandung tiomersal, tidak menyebabkan autis. WHO menyarankan semua pihak untuk mengandalkan ilmu pengetahuan terkini dan memastikan kebijakan vaksinasi didasarkan pada bukti terkuat yang tersedia. Upaya vaksinasi anak secara global merupakan salah satu pencapaian terbesar bidang kedokteran dalam meningkatkan kehidupan, mata pencaharian, dan kemakmuran masyarakat.

Selama 50 tahun terakhir, vaksinasi anak, termasuk penggunaan vaksin dengan adjuvan tiomersal, terbukti tidak menyebabkan autis dan telah menyelamatkan setidaknya 154 juta jiwa.

Sekian

Yogyakarta, 17 Desember 2025

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM.

Categories
anak dokter Healthy Life sekolah

2025 Cukai Minuman Manis

CUKAI  MINUMAN  MANIS

fx. wikan indrarto*)

Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa menerapkan pembatalan pengenaan cukai Minuman Berpemanis Dalam Kemasan (MBDK) yang rencananya akan diterapkan pada awal 2026. Apa yang mencemaskan?

Tulisan ini dimuat di Harian Nasional Kompas digital Jumat, 12 Desember 2025


https://www.kompas.id/artikel/cukai-minuman-manis?utm_source=link&utm_medium=shared&utm_campaign=tpd_-_android_traffic

Survei Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik (Susenas BPS) tahun 2021 menemukan ada 47,9 juta penduduk Indonesia mengonsumsi gula berlebih, dengan memilih 37 jenis makanan dan minuman berpemanis dari total 188 jenis bahan makanan dan makanan minuman jadi yang tersedia di Susenas. Hampir semua orang Indonesia menyukai konsumsi gula dalam berbagai makanan dan minuman, bahkan gula telah menjadi candu bagi orang Indonesia

Untuk pertama kalinya pada Selasa, 13 Desember 2022 WHO merekomendasikan pajak atau cukai global untuk MBDK, karena cukai  MBDK, tembakau, dan alkohol telah terbukti sebagai cara yang hemat biaya untuk mencegah penyakit, cedera, dan kematian dini. Cukai MBDK juga dapat mendorong perusahaan minuman kemasan untuk memformulasi ulang produknya, dengan mengurangi kadar gula. Konsumsi MBDK secara teratur, termasuk minuman ringan, susu beraroma, minuman berenergi, air vitamin, jus buah, dan es teh manis, dikaitkan dengan peningkatan risiko gigi berlubang, diabetes tipe 2, penambahan berat badan dan obesitas pada anak, dan kelak lebih mudah mengalami penyakit jantung, stroke dan kanker saat dewasa muda.

Bukti menunjukkan bahwa menerapkan cukai MBDK akan meningkatkan harga produk dan mengurangi permintaan, sehingga mengurangi pembelian. Satu kali kenaikan cukai MBDK global yang menaikkan harga 50% dapat menghasilkan pendapatan tambahan sebesar US$1,4 triliun selama 50 tahun. Jajak pendapat Gallup juga menemukan bahwa mayoritas orang di seluruh Amerika Serikat, Tanzania, Yordania, India, dan Kolombia mendukung cukai MBDK, alkohol, dan tembakau.

Obesitas dan penyakit tidak menular terkait diet terus meningkat secara global, sehingga diperlukan tindakan yang efektif untuk mengatasi faktor penyebabnya. Di antara pilihan kebijakan berbasis bukti yang tersedia, pilihan yang lebih sehat dengan pola makan yang lebih baik, adalah penerapan cukai MBDK.

WHO telah meluncurkan rancangan pedoman tentang kebijakan fiskal untuk mempromosikan diet sehat. Selain itu, juga memberikan rekomendasi tentang cukai MBDK dan subsidi pangan, dengan tujuan utama untuk mengubah perilaku konsumen dalam membeli produk makanan dan minuman.  

Andreyeva pada JAMA (2022) membuat laporan berjudul ‘Evaluation of Economic and Health Outcomes Associated With Food Taxes and Subsidies’. Temuan sistematis terhadap 54 penelitian dan meta-analisis dari 15 penelitian melaporkan bahwa subsidi buah dan sayuran dikaitkan dengan peningkatan penjualan buah dan sayuran, dengan elastisitas harga −0,59. Sedangkan perubahan pola konsumsi secara statistik tidak signifikan. Selain itu, cukai makanan dikaitkan dengan harga yang lebih tinggi dan penurunan penjualan produk, meski bukti tentang hasil lain dari cukai makanan dan subsidi masih terbatas. Penelitian tambahan diperlukan untuk memastikan implikasi dari kebijakan tersebut untuk hasil konsumsi, diet, dan kesehatan.

Andreyeva pada JAMA (2022) membuat laporan lain yang berjudul ‘Outcomes Following Taxation of Sugar-Sweetened Beverages. A Systematic Review and Meta-Analysis’. Temuan dalam tinjauan sistematis dari 86 penelitian dan meta-analisis dari 62 penelitian, penerapan cukai MBDK dikaitkan dengan harga minuman 82% lebih tinggi dan penjualan MBDK 15% lebih rendah, dengan elastisitas harga permintaan dari −1,59. Tidak ada perubahan negatif yang ditemukan, sehingga cukai MBDK dapat berfungsi untuk mengurangi permintaan MBDK melalui harga yang lebih tinggi. Namun demikian, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami hubungannya dengan hasil akhir proses perubahan diet, derajat kesehatan dan heterogenitas tanggapan dari konsumen.

Cukai MBDK diusulkan sebagai alat kebijakan untuk mengatasi peningkatan prevalensi pola makan yang buruk, obesitas, dan beban biaya ekonomi dan sosial. Penyakit tidak menular (PTM) menyebabkan 71% kematian secara global, diperkirakan 40% kasus dikaitkan dengan faktor makanan yang tidak sehat. Kekhawatiran tentang PTM terkait diet semakin meningkat, karena hubungannya dengan derajat klinis yang lebih parah saat terpapar COVID-19, termasuk rawat inap di RS dan kematian.

Saat ini, setidaknya 85 negara telah menerapkan cukai MBDK, bahkan berapa negara telah berhasil menerapkan cukai tersebut dengan baik, yaitu Meksiko, Afrika Selatan, dan Inggris. Cukai MBDK dapat menjadi strategi jalan tengah (win-win) kemenangan untuk kesehatan masyarakat dan menurunkan biaya perawatan kesehatan, kemenangan untuk pendapatan pemerintah, dan kemenangan untuk ekuitas kesehatan.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat setidaknya 61,27% penduduk Indonesia usia tiga tahun ke atas mengonsumsi MBDK lebih dari 1 kali per hari. Juga 30,22% orang mengonsumsi MBDK sebanyak 1-6 kali per minggu dan 8,51% orang mengonsumsi MBDK kurang dari 3 kali per bulan. Pada hal rekomendasi konsumsi maksimum gula sebanyak 50 gram per hari atau empat sendok makan. 

Kebijakan cukai di Indonesia sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 39 Tahun 2007 Tentang Cukai MBDK, untuk mencegah penyakit, cedera, dan kematian dini pada anak di sekitar kita. Mengapa cukai MBDK masih juga belum diterapkan pada tahun 2026?

Sekian

Yogyakarta, 9 Desember 2025

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM.

Categories
anak bayi prematur dokter Healthy Life Pendukung ASI

2025 Hari Prematuritas Dunia


HARI  PREMATURITAS  DUNIA  2025

fx. wikan indrarto

Tema tahun 2025 ini “Awal yang sehat, masa depan yang penuh harapan”, untuk mengingatkan kita bahwa setiap bayi berhak mendapatkan kesempatan hidup yang adil, dimulai dari hari pertama mereka. Berikan bayi prematur awal yang sehat untuk masa depan yang penuh harapan. Apa yang harus kita lakukan?

Tulisan ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 8 Desember 2025, halaman 8, kolom HUSADA dengan judul : Perawatan berkualitas bagi bayi prematur.


Awal yang kuat bukan hanya tentang bayi yang bertahan hidup, tetapi ini juga tentang janji profesi dokter dalam menghormati setiap kehidupan. Jadi ini tentang jaminan bagi bayi kecil agar tidak hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk berkembang dan suatu hari nanti, mengubah dunia. Kegagalan memberikan perawatan khusus yang dibutuhkan bayi mungil ini berarti hilangnya potensi besar di kemudian hari. Beberapa tokoh terhebat dalam sejarah dunia lahir terlalu dini. Bayi prematur yang terkenal antara lain Albert Einstein, Isaac Newton, Charles Darwin, dan Pablo Picasso.

Kampanye ini memiliki beberapa seruan utama untuk bertindak bagi semua negara yaitu pertama, berinvestasi dalam perawatan khusus untuk bayi baru lahir kecil dan sakit, termasuk unit neonatal, staf terlatih, ruang khusus, dan peralatan kesehatan penyelamat jiwa. Kedua, memperkuat layanan kesehatan ibu untuk mencegah kelahiran prematur dan mendeteksi masalah kesehatan sejak dini. Ketiga, mendukung keluarga dengan sumber daya emosional, finansial, dan praktis untuk merawat bayi mungil mereka. Dan keempat, memastikan kesetaraan sehingga kelangsungan hidup tidak bergantung pada lokasi geografis atau pendapatan, tetapi memberikan setiap bayi prematur, sejak usia sangat muda, kesempatan terbaik untuk masa depan yang cemerlang.

Sekitar 1 dari 10 bayi di seluruh dunia lahir prematur, yaitu lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu. Tanpa perawatan yang efektif, mereka berisiko tinggi mengalami kondisi kesehatan yang mengancam jiwa seperti gangguan pernapasan, infeksi, dan hipotermia, yang secara keseluruhan menyebabkan ratusan ribu kematian yang sebenarnya dapat dicegah setiap tahun. Untuk itu, mulai tahun 2025 WHO secara resmi menambahkan Hari Prematuritas Dunia setiap 15 November ke dalam kalender kesehatan internasional. Tujuan utamanya adalah meningkatkan kesadaran akan dampak kelahiran prematur dan mengupayakan perawatan berkualitas bagi setiap bayi prematur.

Saat WHO mengkampanyekan Hari Prematuritas Dunia untuk pertama kalinya pada 2008, ditandai dengan peluncuran panduan Perawatan Metode Kanguru (PMK). PMK ini adalah sebuah intervensi medis sederhana dan telah terbukti mampu menyelamatkan jiwa bayi prematur, sehingga selalu dikampanyekan ulang setiap tahun.

Setiap tahun secara global diperkirakan 15 juta bayi lahir prematur dan komplikasi akibat kelahiran prematur merupakan penyebab utama kematian pada anak balita. Di negara miskin, sebagian besar bayi prematur ekstrem meninggal dalam beberapa hari, sementara di banyak negara berpenghasilan tinggi, hampir semuanya bertahan hidup. PMK, yang menggabungkan kontak kulit ke kulit dengan pemberian ASI eksklusif, telah terbukti secara dramatis meningkatkan hasil klinis untuk bayi baru lahir kecil dan prematur, serta layak dan hemat biaya di semua situasi. PMK berhubungan dengan penurunan lebih dari 30% angka kematian bayi baru lahir, penurunan hampir 70% angka hipotermia, penurunan 15% angka infeksi berat, peningkatan berat badan bayi dan kesehatan jangka panjang, serta perkembangan kognitif yang lebih baik.

Meskipun ibu biasanya menjadi penolong utama, ayah, nenek dan anggota keluarga lainnya juga dapat malakukan PMK saat ibu tidak mampu, sekaligus memberikan dukungan emosional dan praktis yang krusial. PMK dapat dipraktikkan di semua tingkat fasilitas kesehatan, mulai dari ruang bersalin atau ruang operasi hingga bangsal pascanatal dan unit perawatan bayi baru lahir khusus atau intensif, dan dapat dilanjutkan di rumah.

Semua bayi baru lahir kecil dan sakit membutuhkan perawatan dan perhatian medis yang berdedikasi. WHO mengimbau pemerintah, sistem kesehatan, dan mitra untuk memprioritaskan perawatan berkualitas bagi bayi prematur dan bayi berat lahir rendah. Ini berarti memastikan bangsal atau fasilitas khusus dengan staf neonatal terlatih, yang menyediakan perawatan 24 jam bagi bayi baru lahir kecil dan sakit, serta akses terhadap alat kesehatan dan obat penting seperti antibiotik.

Karena waktu mereka di dalam rahim lebih singkat, banyak bayi prematur memiliki paru-paru, otak, sistem kekebalan tubuh, dan kapasitas pengaturan suhu yang belum berkembang. Hal ini meningkatkan risiko infeksi, hipotermia, masalah jantung, gangguan pernapasan, dan komplikasi lain yang mengancam jiwa.

“Tidak boleh lagi ada bayi baru lahir yang meninggal, karena penyebab yang dapat dicegah,” kata Dr. Per Ashorn, Kepala Unit Kesehatan dan Perkembangan Bayi Baru Lahir dan Anak WHO. Sudah saatnya kita semua memastikan setiap bayi prematur mendapatkan layanan medis yang mereka butuhkan, dengan berinvestasi dalam perawatan khusus untuk bayi kecil atau sakit, di samping layanan kebidanan yang dapat mencegah kejadian kelahiran prematur. Selain itu, juga mengingatkan pentingnya PMK untuk setiap bayi prematur, sebagai awal yang kuat agar bayi bertahan hidup, sesuai janji profesi dokter dalam menghormati setiap kehidupan.

Apakah kita sudah melakukannya?

Sekian
Yogyakarta, 25 November 2025
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM.

Categories
anak dokter Healthy Life UHC

2025 Dampak Perubahan Iklim

DAMPAK  PERUBAHAN  IKLIM

fx. wikan indrarto

Perubahan iklim telah memicu darurat kesehatan global, dengan lebih dari 540.000 orang meninggal akibat panas ekstrem setiap tahun dan 1 dari 12 rumah sakit di seluruh dunia berisiko mengalami penutupan terkait perubahan iklim. Apa yang mencemaskan?

Tulisan ini dimuat di Tribunnews.com

https://m.tribunnews.com/tribunners/7758745/dampak-perubahan-iklim-krisis-kesehatan-global-di-depan-mata

Data tersebut terdapat pada laporan bersama yang disusun oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Pemerintah Brasil (Presidensi COP30), dan Kementerian Kesehatan Brasil. COP30 (Konferensi Para Pihak ke-30) adalah bagian dari Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), yang diadakan di Belém, Brasil, pada 10-21 November 2025.  

“Krisis iklim adalah krisis kesehatan, bukan di masa depan yang jauh, tetapi di sini dan saat ini,” ujar Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO. Laporan tersebut menampilkan bukti tentang dampak perubahan iklim terhadap individu dan sistem kesehatan, serta contoh nyata tentang apa yang dapat dilakukan, dan sedang dilakukan, oleh berbagai negara untuk melindungi kesehatan dan memperkuat sistem kesehatan.

Dengan suhu global yang kini melebihi 1,5°C di atas tingkat pra-industri, dunia telah mengalami dampak kesehatan yang semakin meningkat. Sekitar 3,3 hingga 3,6 miliar orang telah tinggal di daerah yang sangat rentan terhadap perubahan iklim, dan rumah sakit menghadapi risiko kerusakan akibat dampak cuaca ekstrem 41% lebih tinggi dibandingkan tahun 1990. Hal ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk memperkuat dan mengadaptasi sistem kesehatan guna melindungi masyarakat dari guncangan terkait iklim.

Tanpa dekarbonisasi yang cepat, jumlah RS yang berisiko dapat berlipat ganda pada pertengahan abad ini, yang menekankan pentingnya penerapan langkah-langkah adaptasi untuk melindungi infrastruktur kesehatan. Sektor kesehatan sendiri menyumbang sekitar 5% emisi gas rumah kaca global dan membutuhkan transisi cepat ke sistem rendah karbon dan berketahanan iklim. Hanya ada 54% rencana adaptasi kesehatan nasional berbagai negara yang terkait dengan risiko perubahan iklim terhadap RS, dan kurang dari 30% penelitian tentang adaptasi RS yang berfokus pada pendapatan, 20% mempertimbangkan gender, dan kurang dari 1% melibatkan penyandang disabilitas.

“Buktinya jelas: melindungi sistem kesehatan adalah salah satu investasi paling cerdas yang dapat dilakukan oleh negara manapun,” kata Profesor Nick Watts, Ketua Kelompok Penasihat Ahli dan Direktur, Pusat Kedokteran Berkelanjutan NUS. Mengalokasikan hanya 7% dari pendanaan adaptasi untuk kesehatan akan melindungi miliaran orang dan menjaga layanan penting di RS tetap beroperasi, selama guncangan iklim dan ketika pasien sangat membutuhkannya.

Ada kemajuan yang sedang dicapai antara tahun 2015 dan 2023, jumlah negara dengan Sistem Peringatan Dini Multi-Bahaya nasional meningkat dua kali lipat menjadi 101, yang kini mencakup sekitar dua pertiga populasi global. Namun, hanya 46% Negara Terbelakang dan 39% Negara Berkembang Kepulauan Kecil yang memiliki sistem tersebut yang efektif.

Kini terdapat lebih dari cukup bukti untuk meningkatkan tindakan, hari ini juga. Intervensi yang hemat biaya dan berdampak tinggi telah tersedia untuk setiap komponen dalam Rencana Aksi Kesehatan Belém Brasil. Namun demikian, strategi adaptasi pada akhirnya dapat gagal, kecuali jika strategi tersebut mengatasi akar penyebab kesenjangan derajat kesehatan, baik di dalam sistem kesehatan maupun di seluruh masyarakat.

Rencana Aksi Kesehatan Belém Brasil menyerukan kepada setiap pemerintah untuk pertama, mengintegrasikan tujuan pembangunan bidang kesehatan ke dalam Rencana Adaptasi Nasional. Kedua, memanfaatkan penghematan finansial dari dekarbonisasi untuk mendanai adaptasi kesehatan. Ketiga, berinvestasi dalam infrastruktur yang tangguh, dengan memprioritaskan RS dan layanan esensial. Dan keempat, memberdayakan masyarakat untuk membentuk respons yang memadai.

Pemerintah Brasil juga merilis laporan pendamping, yang menyoroti bahwa perubahan iklim menimbulkan risiko besar terhadap kesehatan manusia, terutama bagi populasi yang rentan dan terpinggirkan secara historis. Selain itu, adaptasi yang efektif memerlukan keterlibatan aktif masyarakat dalam merancang, menerapkan, dan memantau kebijakan kesehatan.

“Dengan merilis laporan ini, Brasil dan WHO menegaskan kembali pentingnya COP30 sebagai COP Kebenaran. Laporan ini memberikan data dan bukti yang jelas bahwa perubahan iklim telah berdampak langsung pada sistem kesehatan di seluruh dunia,” ujar Dr. Alexandre Padilha, Menteri Kesehatan Brasil. Tragedi baru-baru ini menunjukkan bahwa sekaranglah saatnya untuk menerapkan kebijakan dan tindakan yang mengatasi dampak perubahan iklim terhadap kesehatan.

Rencana Aksi Kesehatan Belém, Brasil menguraikan tiga lini aksi untuk sistem kesehatan yang tangguh terhadap perunahan iklim. Pertama, surveilans dan pemantauan, yang berfokus pada penguatan surveilans kesehatan terpadu dan berbasis iklim. Kedua, kebijakan, strategi, dan pengembangan kapasitas berbasis bukti, yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan sistem nasional dan lokal, dalam menerapkan solusi yang efektif dan berbasis kesetaraan. Dan ketiga, inovasi, produksi, dan kesehatan digital, yang mendorong penelitian, pengembangan, dan akses terhadap teknologi yang memenuhi kebutuhan kesehatan, untuk beragam populasi.

Sudahkah kita bertindak bijak?

Sekian

Yogyakarta, 19 November 2025

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
anak dokter Healthy Life

2025 Kelebihan Berat Badan

KELEBIHAN  BERAT  BADAN

fx. wikan indrarto

Lebih dari 390 juta anak dan remaja berusia 5–19 tahun mengalami kelebihan berat badan pada tahun 2022, termasuk 160 juta orang yang mengalami obesitas. Angkanya terus meningkat, bahkan pada tahun 2024, 35 juta anak balita global mengalami kelebihan berat badan. Apa yang mencemaskan?

Tulisan ini telah dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta pada Minggu, 23 November 2023, halaman 8, kolom HUSADA

Kelebihan berat badan adalah kondisi timbunan lemak yang berlebihan. Obesitas adalah penyakit kronis kompleks yang ditandai dengan timbunan lemak berlebih yang dapat mengganggu kesehatan. Diagnosis kelebihan berat badan dan obesitas dilakukan dengan mengukur berat badan dan tinggi badan seseorang, kemudian menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT), dengan rumus berat badan (kg)/tinggi badan² (m²). Kategori IMT untuk mendefinisikan obesitas bervariasi berdasarkan usia dan jenis kelamin. Untuk dewasa, kelebihan berat badan adalah IMT lebih besar dari 25, dan obesitas lebih besar dari 30.

Untuk anak balita, kelebihan berat badan adalah rasio berat badan terhadap tinggi badan yang lebih besar dari 2 standar deviasi dan obesitas bila lebih besar dari 3 standar deviasi di atas median Standar Pertumbuhan Anak WHO. Untuk anak usia 5–19 tahun, kelebihan berat badan rasio IMT terhadap usia lebih besar dari 1 dan obesitas lebih besar dari 2 standar deviasi di atas median Referensi Pertumbuhan WHO.

Pada tahun 2024, diperkirakan 35 juta anak balita mengalami kelebihan berat badan. Sebelumnya hal ini dianggap sebagai masalah di negara berpenghasilan tinggi saja, namun demikian saat ini kelebihan berat badan justru meningkat di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Di Afrika, jumlah anak balita yang kelebihan berat badan telah meningkat hampir 12,1% sejak tahun 2000. Hampir separuh dari anak balita yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas pada tahun 2024 berada di Asia.

Kelebihan berat badan dan obesitas disebabkan oleh ketidakseimbangan asupan energi (pola makan) dan pengeluaran energi (aktivitas fisik). Pada sebagian besar kasus, obesitas merupakan penyakit multifaktorial yang disebabkan oleh lingkungan obesogenik, faktor psikososial, dan varian genetik. Pada sebagian kecil pasien, faktor etiologi utama tunggal dapat diidentifikasi, misalnya obat, penyakit, imobilisasi, prosedur iatrogenik, penyakit monogenik atau sindrom genetik.

Lingkungan obesogenik yang meningkatkan kemungkinan obesitas terkait dengan faktor struktural. Misalnya kondisi yang membatasi ketersediaan pangan sehat berkelanjutan dengan harga terjangkau secara lokal, kurangnya mobilitas fisik yang aman dan mudah dalam kehidupan sehari-hari, dan tidak adanya hukum dan peraturan yang memadai. Di saat yang sama, kurangnya respons sistem kesehatan yang efektif untuk mengidentifikasi kelebihan berat badan dan penumpukan lemak pada tahap awal, memperparah perkembangan obesitas.

Kelebihan berat badan tidak hanya memengaruhi kesehatan anak dan remaja secara langsung, tetapi juga dikaitkan dengan risiko yang lebih besar dan timbulnya berbagai PTM (Penyakit Tidak Menular) lebih dini, seperti diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular. Obesitas pada masa anak dan remaja memiliki konsekuensi psikososial yang merugikan, bahkan obesitas memengaruhi prestasi sekolah dan kualitas hidup anak. Selain itu, juga diperparah oleh stigma, diskriminasi, dan perundungan. Anak dengan obesitas sangat mungkin akan menjadi orang dewasa dengan obesitas dan juga berisiko lebih tinggi terkena PTM di masa dewasa.

Dampak ekonomi dari epidemi obesitas juga patut dicermati. Jika sekarang tidak ada tindakan yang diambil, biaya global akibat kelebihan berat badan dan obesitas diperkirakan mencapai US$ 3 triliun per tahun pada tahun 2030 dan lebih dari US$ 18 triliun pada tahun 2060. Terakhir, peningkatan angka obesitas di negara berpenghasilan rendah dan menengah, termasuk di antara kelompok sosial ekonomi rendah, dengan cepat menjadikan obesitas sebagai masalah global, pada hal sebelumnya hanya terkait dengan negara berpenghasilan tinggi.

Banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah menghadapi apa yang disebut beban ganda malnutrisi. Dalam hal ini berarti bahwa sementara negara ini terus menghadapi masalah penyakit menular dan kekurangan gizi, tetapi negera tersebut juga mulai mengalami peningkatan pesat obesitas dan kelebihan berat badan. Bahkan kekurangan dan kelebihan gizi seperti obesitas sering ditemukan terjadi bersamaan di negara yang sama, komunitas yang sama, dan bahkan rumah tangga yang sama.

Kegemukan dan obesitas, serta penyakit tidak menular yang terkait, sebagian besar dapat dicegah dan ditangani. Pada tingkat individu, setiap orang dapat mengurangi risiko kelebihan berat badan dengan menerapkan intervensi pencegahan di setiap tahap siklus kehidupan, mulai dari pra-konsepsi dan berlanjut hingga tahun-tahun awal kehidupan.

Hal ini meliputi pertama, memastikan kenaikan berat badan yang sesuai selama kehamilan. Kedua, memberikan ASI eksklusif dalam 6 bulan pertama setelah kelahiran dan melanjutkan pemberian ASI hingga usia 2 tahun. Ketiga, mendukung perilaku anak seputar pola makan sehat, aktivitas fisik, perilaku rebahan (sedentary), dan tidur. Keempat, membatasi waktu menonton layar (screen time). Kelima, batasi konsumsi minuman manis dan makanan padat energi, serta promosikan perilaku makan sehat lainnya. Selain itu, dampingi anak membentuk pola hidup sehat (makan sehat, aktivitas fisik, durasi dan kualitas tidur, hindari tembakau dan alkohol, serta pengaturan emosi diri). Batasi anak dengan asupan energi dari total lemak dan gula, tingkatkan konsumsi buah dan sayur, serta menu kacang-kacangan atau biji-bijian. Yang terakhir, dampingi anak melakukan aktivitas fisik secara teratur.

Para dokter dan tenaga kesehatan perlu melakukan berbagai hal penting. Pertama, menilai berat dan tinggi badan setiap anak yang datang ke fasilitas kesehatan. Kedua, memberikan konseling tentang pola makan dan gaya hidup sehat. Ketiga, ketika diagnosis obesitas ditegakkan, menyediakan layanan kesehatan terpadu untuk pencegahan dan pengelolaan obesitas, termasuk edukasi pola makan sehat, aktivitas fisik, dan tindakan medis serta bedah. Dan keempat, memantau faktor risiko PTM lainnya (glukosa darah, lipid, dan tekanan darah) serta menilai keberadaan penyakit penyerta dan disabilitas, termasuk gangguan kesehatan mental.

Menghentikan peningkatan obesitas membutuhkan tindakan multisektoral seperti manufaktur, pemasaran, dan penetapan harga pangan, bahkan tindakan lain yang berupaya mengatasi determinan kesehatan yang lebih luas, seperti penanggulangan kemiskinan dan perencanaan kota. Kebijakan pemerintah di semua tingkatan meliputi tindakan struktural, fiskal, dan regulasi yang bertujuan menciptakan lingkungan pangan sehat yang menyediakan pilihan pangan sehat. Selain itu, juga program sektor kesehatan yang dirancang untuk mengidentifikasi faktor risiko, mencegah, mengobati, dan mengelola PTM dan memperkuat sistem kesehatan melalui pendekatan pelayanan kesehatan primer.

Selain itu, peran pelaku industri pangan juga penting dalam mempromosikan pola makan sehat untuk anak dengan pertama, mengurangi kandungan lemak, gula, dan garam dalam pangan olahan. Kedua, memastikan pilihan pangan sehat dan bergizi tersedia dan terjangkau bagi seluruh konsumen anak. Ketiga, membatasi pemasaran pangan tinggi gula, garam, dan lemak, terutama pangan yang ditujukan untuk anak dan remaja. Dan keempat, memastikan ketersediaan pilihan pangan sehat dan mendukung praktik aktivitas fisik rutin di tempat kerja.

Sudahkah kita bertindak bijak?

Sekian

Yogyakarta, 2 Oktober 2025

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Dekan FK UAJY, WA : 081227280161

Categories
anak dokter Healthy Life

2025 Gula dan Gigi Anak

GULA  DAN  GIGI  ANAK

fx. wikan indrarto*)

Tulisan ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 28 September 2025, halaman 8 kolom HUSADA dengan judul : Karies Gigi : Masalah Kesehatan Utama Dunia.

Karies gigi (kerusakan gigi atau gigi berlubang) adalah penyakit tidak menular (PTM) yang paling umum di seluruh dunia, yang memengaruhi 2,5 miliar orang. Meskipun karies gigi dapat dicegah, penyakit ini menimbulkan beban kesehatan yang besar di banyak negara dan memengaruhi banyak orang sepanjang hidup mereka, menyebabkan rasa sakit, ketidaknyamanan, kesulitan makan dan tidur, kehilangan gigi, dan penurunan kualitas hidup. Apa yang mencemaskan?

Karies gigi merupakan masalah kesehatan masyarakat utama di dunia, prevalen sepanjang hidup, dan memengaruhi semua gigi, baik permanen maupun gigi sulung (pertama). Diperkirakan terdapat 2 miliar orang dengan gigi permanen yang karies dan 510 juta anak dengan gigi sulung yang karies. Karies gigi yang parah dapat menyebabkan kehilangan gigi dan mengganggu kualitas hidup. Konsekuensi dari karies gigi yang tidak dirawat meliputi gejala fisik seperti nyeri, ketidaknyamanan, atau infeksi sistemik kronis, keterbatasan fungsional seperti kesulitan makan, berbicara, bernapas, atau tidur, dan dampak buruk pada kesejahteraan emosional, mental, dan sosial.

Di lingkungan berpenghasilan rendah, sebagian besar karies gigi tidak dirawat. Gigi anak yang terkena karies sering langsung dicabut ketika menyebabkan nyeri atau infeksi. Apalagi, pencegahan dan perawatan karies gigi pada anak biasanya tidak termasuk dalam paket jaminan kesehatan nasional. Hal ini sering menyebabkan biaya yang sangat besar dan beban keuangan yang signifikan bagi keluarga dan masyarakat. Total pengeluaran langsung untuk penyakit mulut di antara 194 Negara Anggota WHO mencapai US$ 387 miliar, atau rata-rata global sekitar US$ 50 per kapita pada tahun 2022. Angka ini mewakili sekitar 4,8% dari pengeluaran kesehatan langsung global. Sementara itu, kerugian produktivitas akibat penyakit mulut diperkirakan sekitar US$ 42 per kapita, dengan total sekitar US$ 323 miliar secara global.

Terdapat hubungan yang jelas antara konsumsi gula dan karies gigi pada anak. Karies gigi terjadi ketika plak terbentuk di permukaan gigi dan mengubah gula bebas yang terkandung dalam makanan dan minuman, menjadi partikel asam yang merusak gigi. Gula bebas  adalah semua gula yang ditambahkan ke dalam makanan dan minuman oleh produsen, juru masak, atau konsumen. Selain itu, juga gula yang secara alami terdapat dalam madu, sirup, dan jus buah. Asupan gula bebas yang tinggi secara terus-menerus, paparan fluoride yang tidak memadai, dan kurangnya pembersihan plak saat menyikat gigi, apalagi tidak  menggunakan pasta gigi berfluoride dengan konsentrasi 1.000 ppm, dapat memudahkan terjadinya karies gigi pada anak.

Strategi yang diterapkan secara luas untuk mengurangi konsumsi gula bebas, merupakan pendekatan kesehatan masyarakat yang penting, untuk menekan beban karies gigi. Intervensi tersebut meliputi pertama, pelabelan nutrisi. Pelabelan di bagian depan kemasan makanan atau minuman untuk menginformasikan tentang kandungan gula, sebaiknya merupakan pernyataan wajib oleh produsen. Kedua, batas atau target reformulasi sebaiknya tegas, untuk mengurangi kandungan gula dalam makanan dan minuman kemasan. Ketiga, kebijakan pengadaan dan layanan pangan bagi publik. Ini untuk mengurangi promosi makanan dan minuman tinggi gula. Kebijakan ini juga untuk melindungi anak dari dampak buruk pemasaran makanan dan minuman tinggi gula. Dan keempat, pajak untuk minuman manis dan gula atau makanan tinggi gula.

Banyak penyakit mulut, termasuk karies gigi, dapat dicegah dan diobati sejak dini dengan intervensi yang hemat biaya. Mengintegrasikan serangkaian layanan kesehatan mulut esensial ke dalam paket manfaat jaminan kesehatan nasional menggunakan pendekatan layanan kesehatan masyarakat, diprediksi akan berdampak signifikan dalam mengurangi beban karies gigi. Apalagi dilengkapi dengan meningkatkan ketersediaan dan aksesibilitas terhadap layanan kesehatan gigi anak yang berkualitas. Intervensi tersebut mencakup penggunaan pasta gigi berfluoride, fluoride topikal, dan teknik restoratif sederhana, sebagai bagian dari layanan kesehatan mulut komprehensif yang berpusat pada pasien anak.

Perlu diingat bahwa PTM merupakan penyebab utama kematian dan bertanggung jawab atas 38 juta (68%) dari 56 juta kematian dunia pada tahun 2012. Karies gigi merupakan PTM yang paling umum secara global. Konsumsi gula bebas dalam makanan dan minuman merupakan faktor risiko paling umum untuk karies gigi. WHO merekomendasikan agar anak di bawah usia 2 tahun tidak mengonsumsi minuman manis apapun dan pengurangan asupan gula bebas sepanjang hidup (rekomendasi kuat). Pada orang dewasa dan anak, WHO merekomendasikan pengurangan asupan gula bebas hingga kurang dari 10% dari total asupan energi (rekomendasi kuat). WHO menyarankan pengurangan lebih lanjut asupan gula bebas hingga di bawah 5% dari total asupan energi (rekomendasi bersyarat). Selain itu, WHO juga merekomendasikan penerapan paket kebijakan hemat biaya untuk pola makan sehat, termasuk pajak minuman manis sebagai langkah kebijakan fiskal untuk mengurangi konsumsi gula.

Apakah kita sudah bertindak bijak?

Sekian

Yogyakarta, 23 Agustus 2025

*) Dokter spesialis anak RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Dekan FK UAJY, WA : 081227280161

Categories
anak dokter vaksinasi

KLB CAMPAK  LAGI

KLB Campak Lagi

fx. wikan indrarto*)

Catatan : tulisan ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 14 September 2025, halaman 8, kolom HUSADA dengan judul Campak : Penyakit serius sangat menular.

Pemerintahan Provinsi Jawa Timur pada Kamis, 21 Agustus 2025 mencatat kasus suspek campak (gabagen, morbili atau measles) telah mencapai 2.035 kasus dan 17 orang meninggal dunia di Kabupaten Sumenep, Madura. Kasus campak ini tersebar di 26  kecamatan. Penyebaran campak di Sumenep ini kemudian ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Apa yang mencemaskan?

Meskipun vaksin campak yang aman dan hemat biaya tersedia, tetapi sejak tahun 2023 masih ada 110.000 kematian akibat campak secara global, sebagian besar pada anak balita. Pada hal vaksinasi campak telah mengakibatkan penurunan 80% kematian akibat campak pada rentang tahun 2000 sampai 2023 di seluruh dunia. Pada tahun 2023, sekitar 85% bayi di dunia telah menerima satu dosis vaksin campak sebelum ulang tahun pertama mereka, melalui layanan kesehatan rutin yang naik dari 72% pada tahun 2005. Selama 2005-2023, vaksinasi campak mencegah sekitar 21,1 juta kematian, sehingga menjadikan vaksin campak adalah salah satu yang terbaik dari barang medis yang dibeli, dalam program kesehatan masyarakat.

Campak adalah penyakit serius yang sangat menular yang disebabkan oleh virus. Sebelum ada vaksin campak pada tahun 1963 dan pemberian vaksinasi yang luas, epidemi besar terjadi kira-kira setiap 2-3 tahun di seluruh dunia dan campak menyebabkan sekitar 2,6 juta kematian setiap tahun. Campak disebabkan oleh infeksi virus dalam keluarga paramyxovirus dan biasanya ditularkan melalui kontak langsung antar anak dan melalui udara. Virus menginfeksi saluran pernapasan, kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Campak adalah penyakit pada manusia dan tidak ada data bahwa terjadi pada hewan.

Sebagian besar kematian terkait campak disebabkan oleh komplikasi yang terkait dengan penyakit ini. Komplikasi serius lebih sering terjadi pada anak balita atau orang dewasa di atas usia 30 tahun. Komplikasi campak yang paling serius meliputi kebutaan, ensefalitis (infeksi otak), diare dan dehidrasi berat, infeksi telinga, atau saluran pernapasan bawah yang parah, seperti pneumonia. Campak parah lebih mungkin terjadi pada anak yang kurang gizi, terutama kekurangan vitamin A, atau yang sistem kekebalannya telah dilemahkan oleh HIV / AIDS atau penyakit lainnya.

Campak adalah salah satu penyakit paling menular di dunia. Penyakit ini menyebar melalui batuk dan bersin, kontak pribadi yang dekat atau kontak langsung dengan sekresi hidung atau tenggorokan yang terinfeksi. Virus tetap aktif dan menular di udara atau di permukaan benda yang terinfeksi hingga 2 jam. Campak dapat ditularkan oleh orang yang terinfeksi dari 4 hari sebelum timbulnya ruam kulit, hingga 4 hari setelah ruam kulit menjadi nyata. Wabah campak dapat menyebabkan epidemi yang menyebabkan banyak kematian, terutama pada anak balita yang kekurangan gizi. Di negara-negara di mana campak sebagian besar telah dieliminasi, kasus yang diimpor dari negara lain tetap menjadi sumber infeksi yang sulit dikendalikan.

Tidak ada pengobatan antivirus khusus untuk virus campak. Komplikasi parah dari campak dapat dikurangi, melalui perawatan suportif yang memastikan nutrisi yang baik, asupan cairan yang cukup, dan pengelolaan dehidrasi dengan cairan rehidrasi oral yang direkomendasikan WHO. Cairan rehidrasi ini menggantikan cairan tubuh dan elemen penting lainnya, yang hilang karena diare atau muntah. Antibiotik harus diresepkan untuk mengobati infeksi bakteri pada mata, telinga, dan paru-paru atau pneumonia.

Pada tahun 2023, sekitar 85% anak di dunia telah menerima 1 dosis vaksin campak pada ulang tahun pertama mereka melalui layanan kesehatan rutin, yang naik dari 72% dibandingkan pada tahun 2020. Dua dosis vaksin campak direkomendasikan untuk memastikan kekebalan dan mencegah wabah, karena sekitar 15% anak yang divaksinasi gagal mengembangkan kekebalan dari dosis pertama. Pada tahun 2023, sekitar 67% anak menerima dosis kedua vaksin campak. Dari perkiraan 20,8 juta bayi yang tidak divaksinasi dengan setidaknya satu dosis vaksin campak melalui imunisasi rutin sejak tahun 2023, sekitar 8,1 juta bayi berada di 3 negara, yaitu India, Nigeria dan Pakistan.

Indonesia termasuk 10 negara dengan jumlah kasus campak terbesar di dunia. Kementerian Kesehatan RI mencatat jumlah kasus campak di Indonesia sangat banyak dan cenderung meningkat, dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Adapun jumlah kasus suspek campak yang dilaporkan antara 2020 sampai dengan Juli 2023 sebanyak 57.056 kasus, di mana 8.964 di antaranya positif campak. Cakupan imunisasi campak di Pulau Jawa pada 2023 telah mencapai 100 persen, sementara di luar Pulau Jawa (termasuk Madura) hanya 72,70 persen, bahkan 71 kabupaten dan kota di luar Jawa hanya mencapai di bawah 50 persen, dengan propinsi paling rendah adalah Provinsi Aceh. Dengan target yang dicanangkan adalah 95 persen, maka saat cakupan imunisasi campak gagal ditingkatkan, Jawa Timur dan Indonesia harus bersiap-siap menghadapi KLB Campak.

Pada KLB campak kali ini tindakan segera adalah mengirimkan 9.825 botol vaksin campak atau MR (Measles and Rubella) dari Kementerian Kesehatan ke Dinas Kesehatan Sumenep, sebagai Outbreak Response Imunization atau ORI. Tak hanya itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur lalu memberikan on the job training (OJT) pembuatan kajian epidemiologi KLB PD3I ke seluruh puskesmas di Kabupaten Sumenep sebagai upaya penanggulangan. Juga digelar pertemuan koordinasi lintas batas Madura Raya dan Surabaya Raya, dengan output berupa dokumen kesepakatan penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I). Ini mengingatkan kita akan pentingnya imunisasi campak 2 dosis (MR dan MMR), untuk semua anak Indonesia di sekitar kita.

Sudahkah kita bertindak bijak?

Sekian

Yogyakarta, 23 Agustus 2025

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Dekan FK UAJY, WA : 081227280161

Categories
anak dokter

2025 Hari Kemanusiaan Dunia

HARI  KEMANUSIAAN  DUNIA

fx. wikan indrarto*)

Tulisan ini telah dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 6 September 2025, halaman 8 kolom HUSADA

Setiap tahun pada tanggal 19 Agustus, dirayakan sebagai Hari Kemanusiaan Dunia (World Humanitarian Day). Apa yang perlu disadari?

Tanggal 19 Agustus telah dipilih oleh Majelis Umum PBB pada tahun 2008, untuk memperingati karya gemilang para relawan kemanusiaan. Alasannya adalah karena pada tanggal tersebut, 22 orang karyawan PBB, termasuk Utusan Khusus Sekjen PBB Tuan Sergio Vieira de Mello, tewas dalam serangan bom bunuh diri pada tahun 2003 di Baghdad, Irak.

Relawan kemanusiaan sering kali dilupakan jasanya. Pada hal mereka tidak hanya bekerja di tempat paling buruk di dunia, di suhu lingkungan yang ekstrim, seperti panasnya lahar gunung berapi, dinginnya salju, ataupun keringnya udara, tetapi juga terancam oleh penyakit menular, peluru nyasar atau ancaman ganasnya medan di tempat-tempat berbahaya. Di sanalah mereka mempertaruhkan hidup mereka untuk membantu kaum miskin, pengungsi korban perang atau bencana alam, tanpa memandang apa pun ras, kebangsaan, agama atau aliran politiknya, dengan netralitas yang total.

Antara Januari 2024 dan Agustus 2025, terjadi 2.450 kali serangan bersenjata terhadap layanan kesehatan di 21 negara. Serangan ini mengakibatkan 2.060 kematian dan 2.395 cedera pada dokter, tenaga kesehatan dan pasien. Dalam periode yang sama, 1.392 serangan berdampak pada dokter dan tenaga kesehatan melalui pembunuhan, cedera, penculikan, penangkapan, dan/atau intimidasi.

Pada tahun 2025 saja, serangan bersenjata terhadap layanan kesehatan terjadi di Ukraina (310 serangan), Palestina termasuk Yerusalem Timur (304), dan Sudan (38), sehingga secara total mengakibatkan 933 kematian dokter, tenaga kesehatan dan pasien. Juga di Republik Demokratik Kongo, Haiti, dan Myanmar (total 71 serangan) yang berdampak pada fasilitas kesehatan, rantai pasokan medis, dokter, tenaga kesehatan, dan pasien.

Sampai saat ini tim medis WHO terus melayani sesama manusia dalam keadaan darurat paling kompleks di dunia. Di 27 negara, termasuk Palestina, Sudan, dan Ukraina, tim ini bekerja sama dengan lebih dari 900 mitra lokal untuk memberikan layanan medis. Sekitar dua pertiga mitra adalah organisasi relawan lokal dan nasional yang melayani di garis depan dan menghadapi risiko terbesar. Antara tahun 2000 dan 2023, 86% dari seluruh korban relawan kemanusiaan adalah staf lokal dan 96% dari mereka yang tewas, terluka, atau diculik antara Januari dan Oktober 2024 juga adalah staf lokal.

Sementara itu, telah terjadi meningkatnya politisasi bantuan medis. Layanan kesehatan tidak lagi diperlakukan sebagai sesuatu yang netral, dan aksi kemanusiaan semakin dimanipulasi atau dihambat. Antara Juni dan November 2024, akses kemanusiaan memburuk di 20% dari 93 negara, sementara hampir setengahnya terus menghadapi kendala yang tinggi hingga ekstrem. Di Burkina Faso, Haiti, Myanmar, Palestina, dan Sudan, rintangan birokrasi, campur tangan, atau pembatasan akses yang ekstrem telah memaksa penangguhan dan pengurangan operasi dan pasokan, meninggalkan jutaan orang tanpa perawatan kesehatan yang menyelamatkan jiwa. Praktik-praktik semacam itu bertentangan dengan kewajiban kemanusiaan fundamental untuk memastikan sentralitas perlindungan, keselamatan, dan martabat penduduk, menjadikannya respons yang sangat cacat.

Komunitas internasional telah bersuara dengan mengutuk serangan bersenjata terhadap tim kesehatan. Mereka telah menegaskan komitmennya untuk melindungi para dokter dan pekerja kemanusiaan. Namun demikian, pernyataan dan kutukan saja tidak dapat melindungi ambulans dari serangan udara, dokter dari peluru, atau konvoi kemanusiaan dari pesawat tanpa awak yang salah sasaran.

Kini saatnya diserukan kepada komunitas internasional secara luas untuk bergerak dan mengambil tindakan yang berkelanjutan, dengan menegakkan hukum humaniter internasional dan melindungi layanan kesehatan. Pertama, menegakkan hukum humaniter internasional dan melindungi layanan kesehatan dalam semua konteks memastikan akuntabilitas bagi mereka yang bertanggung jawab atas serangan terhadap layanan kesehatan. Kedua, menjamin pendanaan dan dukungan berkelanjutan untuk respons, koordinasi, dan aksi kemanusiaan Klaster Kesehatan yang lebih luas. Ketiga, memberdayakan responden garis depan dengan sumber daya yang langsung, fleksibel, dan dapat diprediksi

menolak politisasi, sekuritisasi, dan privatisasi bantuan kemanusiaan; dan keempat, menegaskan bahwa layanan kesehatan harus tetap netral, terlindungi, dan mudah diakses.

Hari Kemanusiaan Dunia 19 Agustus dirancang untuk memberikan penghormatan yang setinggi-tingginya, bagi para dokter, petugas kesehatan dan relawan kemanusiaan yang telah gugur, diculik atau terluka saat mereka bertugas. Selain itu, juga memotivasi panggilan baru untuk relawan penerus. Pada prinsipnya, hari tersebut adalah momentum perayaan manusia membantu sesamanya (people helping people).

Sudahkah kita secara pribadi ataupun berkelompok, berbuat sesuatu untuk sesama kita?

Sekian

Yogyakarta, 20 Agustus 2025

*) dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM, pernah menjadi relawan kesehatan saat bencana erupsi Gunung Merapi di Yogyakarta. WA: 081227280161,

Categories
anak bayi prematur dokter Pendukung ASI

2025 Pekan Menyusui Dunia

PEKAN  MENYUSUI  DUNIA  2025

fx. wikan indrarto

tulisan ini telah dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 31 Agustus 2025, halaman 8 kolom Husada, dengan judul : menyusui bayi memberikan masa depan penuh harapan.

Pekan Menyusui Dunia (World Breastfeeding Week) diperingati setiap tahun pada minggu pertama bulan Agustus. Ini adalah saatnya untuk mengingatkan kita semua bahwa menyusui bayi adalah fondasi yang kuat bagi kesehatan, perkembangan, dan kesetaraan seumur hidup. Apa yang perlu dilakukan?

Pekan Menyusui Sedunia menyoroti secara khusus dukungan berkelanjutan yang dibutuhkan ibu dan bayi dari sistem layanan kesehatan selama perjalanan menyusui mereka. Hal ini berarti memastikan setiap ibu memiliki akses terhadap dukungan dan informasi yang dibutuhkannya untuk menyusui selama ia menginginkannya. Termasuk ketersediaan konselor laktasi atau menyusui yang terampil, menegakkan Kode Internasional Pemasaran Pengganti ASI, dan menciptakan lingkungan, baik di rumah, di layanan kesehatan, dan di tempat kerja, yang mendukung dan memberdayakan ibu menyusui.

Aksi ini bukan hanya tentang melakukan hal yang benar saja, tetapi juga tentang tindakan ekonomi yang cerdas. Karena menyusui bayi memberikan masa depan yang penuh harapan, tidak hanya bagi anak, tetapi juga bagi masyarakat. Ini mengurangi biaya perawatan kesehatan, meningkatkan perkembangan kognitif, memperkuat ekonomi, dan menyiapkan anak-anak dengan awal yang sehat.

Tema tahun 2025 : Berinvestasi dalam menyusui, berinvestasi untuk masa depan (Invest in breastfeeding, invest in the future). Berinvestasi dalam dukungan pemberian ASI merupakan salah satu metode paling ampuh yang dimiliki para pembuat kebijakan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, memperkuat perekonomian, dan menjamin kesejahteraan generasi mendatang.

Menyusui melindungi kesehatan anak dan meningkatkan kelangsungan hidup, terutama di bulan-bulan pertama kehidupan. Selain nutrisi esensial, pemberian ASI eksklusif mampu menyediakan antibodi penting yang melindungi dari berbagai penyakit umum pada bayi seperti diare, pneumonia, dan infeksi berat (sepsis).

Selain itu, dampak pemberian ASI sebenarnya jauh melampaui masa bayi. Anak yang waktu bayi disusui, lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami kelebihan berat badan atau obesitas dan memiliki risiko lebih rendah terkena diabetes tipe 2 dan kondisi kronis lainnya. Para ibu juga mendapatkan manfaat, misalnya menyusui mengurangi risiko perdarahan pascapersalinan, kanker payudara dan ovarium, penyakit jantung, dan diabetes tipe 2.

Dengan investasi yang tepat, banyak negara dapat meningkatkan tingkat pemberian ASI eksklusif secara signifikan, dibuktikan dengan peningkatan global selama dekade terakhir. Sekitar 10% lebih banyak bayi secara global, saat ini yang disusui secara eksklusif sampai pada usia 6 bulan dibandingkan dengan tahun 2013, dengan beberapa negara mengalami peningkatan sebesar 20% selama periode yang sama.

Ada beberapa tindakan kunci bagi pemerintah untuk berinvestasi untuk masa depan. Pertama, alokasikan dana khusus untuk dukungan menyusui, termasuk dengan memastikan semua ibu memiliki akses ke dukungan menyusui oleh konselor yang terampil di rumah sakit dan saat mereka membawa bayi pulang, di samping perlindungan maternitas yang kuat seperti cuti berbayar setelah melahirkan.

Kedua, terapkan Kode WHO dengan mengadopsi sepenuhnya dan tegakkan Kode Internasional Pemasaran Pengganti ASI, untuk menjaga kesehatan masyarakat. Ketiga, pimpinan memberi contoh. Perjuangkan investasi dalam menyusui dalam strategi kesehatan nasional dan pastikan akuntabilitas melalui undang-undang, regulasi, dan pemantauan dampak program menyusui. Keempat, utamakan kesehatan bayi di atas lainnya. Tetapkan dan tegakkan kebijakan yang melindungi menyusui dan mencegah pengaruh komersial dari iklan pemberian makanan bayi.

Juga ada tindakan penting bagi sektor kesehatan. Pertama, dukung setiap langkah perjalanan menyusui. Berikan dukungan menyusui oleh konselor yang terampil dan penuh kasih sayang sejak kehamilan hingga anak usia dini, pastikan para ibu memiliki akses berkelanjutan ke layanan konseling menyusui sejak kehamilan hingga usia dini, termasuk memberikan dukungan khusus pada saat-saat transisi. Kedua, latih dan berdayakan tenaga kesehatan. Dengan memastikan semua tenaga kesehatan yang menangani kesehatan ibu dan anak, dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan menyusui terkini. Ketiga, ciptakan sistem kesehatan yang ramah menyusui. Jadikan semua rumah sakit dan klinik sebagai ruang yang aman dan suportif untuk ibu menyusui, melalui Inisiatif Rumah Sakit Ramah Bayi dan seterusnya.

Selain itu, ada beberapa tindakan kunci untuk masyarakat umum. Pertama, kita semua dapat berperan untuk mendukung para ibu. Keluarga, teman, perusahaan, dan masyarakat, semuanya berperan dalam mendukung ibu menyusui dan menciptakan lingkungan yang suportif bagi mereka untuk menyusui kapan saja, di mana saja. Kedua, pahami faktanya. Menyusui adalah cara alami dan ampuh untuk memberi bayi awal terbaik dalam hidup—memperkuat sistem kekebalan tubuh mereka, membantu mereka melawan penyakit – sekarang dan di masa mendatang – serta memberikan kenyamanan dan nutrisi penting. Ketiga, ajukan dukungan untuk menyusui. Advokasikan kebijakan dan lingkungan yang membuat menyusui lebih mudah dan lebih mudah diakses oleh semua keluarga.

Apakah kita sudah bertindak bijak dengan mendukung setiap ibu menyusui di sekitar kita?

Sekian

Yogyakarta, 4 Agustus 2025

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?