Categories
anak antibiotika COVID-19 dokter Healthy Life UHC

2021 Kesehatan Digital

Informasi Kesehatan Digital Harus Berkredibilitas - Info Sehat  Klikdokter.com

KESEHATAN  DIGITAL

fx. wikan indrarto*)

Catatan : dimuat di Kompas Media

https://www.kompas.id/baca/opini/2021/09/25/menyongsong-era-kesehatan-digital/

Setelah pandemi COVID-19 usai, para dokter akan lebih fokus pada layanan kesehatan digital atau telemedicine. Para dokter akan berusaha untuk membuat layanan inovasi untuk pencegahan, diagnosis dan pengobatan penyakit secara digital, yang mulai saat ini dianggap lebih aspiratif dan futuristik. Apa yang menarik?

.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendefinisikan kesehatan digital, atau penggunaan teknologi digital untuk kesehatan, sebagai bidang praktik dokter yang lebih banyak menggunakan teknologi informasi dan komunikasi, secara rutin dan inovatif untuk memenuhi kebutuhan kesehatan. Kesehatan digital atau eHealth adalah bidang yang baru muncul, penggabungan ilmu kedokteran dengan ilmu komputasi tingkat lanjut dalam data, genomik, dan kecerdasan buatan (artificial intelligence).

.

Banyak dokter, termasuk dokter berbagai spesialis telah memanfaatkan keunggulan layanan kesehatan digital selama pandemi COVID-19 dan krisis kesehatan ini, bahkan lebih sering tidak seperti sebelumnya. Bentuknya berupa konsultasi video, telemonitoring, dan penggunaan kecerdasan buatan, karena kunjungan pasien ke rumah sakit dan klinik praktek dokter telah dibatasi di seluruh dunia. Teknologi ini sangat membantu dalam memberikan layanan kesehatan penting bagi para pasien. Namun demikian, ternyata ada banyak masalah baru, misalnya kesehatan digital dan virtual mungkin dapat memperparah ketidaksetaraan kesehatan (health inequalities), dan tidak semua orang di dunia memiliki ponsel cerdas atau sambungan internet secara memadai.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/01/31/2019-paska-rumah-sakit/

.

Kesehatan digital berpotensi membantu mengatasi masalah teknis layanan dokter, seperti jarak yang jauh dan akses yang sulit, tetapi tetap saja masih memiliki berbagai tantangan mendasar. Contoh kendala yang dihadapi dalam sistem kesehatan secara umum, misalnya tata kelola medis yang menurun, pelatihan dokter yang tidak memadai, dan keterbatasan infrastruktur teknologi informasi, misalnya akses internet yang buruk atau peralatan digital versi terdahulu yang masih digunakan.

Kendala tersebut perlu dipertimbangan dan diperhatikan, selain karena persyaratan spesifik yang dibutuhkan untuk layanan kesehatan digital lebih rumit, juga seharusnya berada dalam sistem kesehatan yang lebih luas dan lingkungan pendukung yang memadai. Untuk itu beberapa rekomendasi perlu dicermati, misalnya untuk para manajer sistem kesehatan, perlu rutin mengecek notifikasi digital yang bertujuan untuk mendorong ketersediaan di berbagai titik layanan. Dari perspektif pasien, layanan ini akan membantu untuk mengakses informasi dan layanan kesehatan dengan lebih cepat ke penyedia telemedicine. Begitu pula kebutuhan dan kompetensi tenaga dokter agar dapat terus ditingkatkan untuk memenuhi praktik yang berkualitas tinggi, melalui intervensi seperti pelatihan atau mLearning.

.

Implementasi kesehatan digital bergantung pada sejumlah faktor, dan keberhasilannya sering kali dipengaruhi oleh faktor intrinsik berupa desain program digital, serta faktor eksternal yaitu pendukung teknologi informasi. Keberhasilan implementasi intervensi kesehatan digital secara luas didasarkan pada komponen penting berikut. Perama, konten dan informasi kesehatan yang baik, menarik, dan akurat, misalnya pedoman  layanan kesehatan atau praktik dokter berbasis bukti. Kedua, intervensi kesehatan digital sesuai kebutuhan pasien. Ketiga, aplikasi digital lengkap yang memfasilitasi penyampaian intervensi medis secara digital. Dapat juga dikombinasikan dengan konten edukasi bidang kesehatan, misalnya pesan teks, atau aplikasi telepon pintar. Keempat, teknologi informasi dan lingkungan pendukung, misalnya tata kelola, infrastruktur, undang-undang dan kebijakan, tenaga kerja yang ahli, interoperabilitas dan arsitektur digital.

.

Inilah Manfaat Dari Platform Kesehatan Digital Bagi Keluarga di Aplikasi  SehatQ.com - GrosirBersama.co.id

Layanan digital oleh dokter akan membuat bangsal perawatan pasien di RS yang saat ini dipenuhi pasien dengan gangguan satu atau lebih sistem organ, kelak diprediksi justru hanya akan digunakan untuk proses diagnosis dan perawatan sementara saja. Sebuah perangkat pemindaian digital tunggal hasil dari kecerdasan buatan (artificial intelligence), kelak tentu akan mampu memberikan gambaran detail aspek metabolik, fungsional, dan struktural organ pasien, karena mampu menggabungkan fisika spektroskopi, resonansi magnetik, dan radiasi. Dengan demikian, kelak dokter hanya perlu satu tindakan pemindaian digital, dan tidak memerlukan sebuah tindakan invasif yang menyakitkan pasien, seperti operasi biopsi jaringan.

.

Kelak dokter juga tidak perlu lagi mempertimbangkan obat apa yang harus diresepkan untuk pasien dan kemudian apoteker yang memberikannya. Perangkat seluler dokter akan menerima informasi yang diperlukan untuk meramu obat, probiotik dan diet khusus, dari ruang penyimpanan data pasien. Selanjutnya, akan tersedia obat sesuai permintaan dokter, yang akan berlangsung bahkan dalam beberapa menit saja.

Sekarang RS dan dokter wajib memberikan layanan kepada pasien dengan memberikan informasi diagnostik yang paling akurat, intervensi yang paling tidak invasif, dan terapi teraman yang tersedia. Ke depan, pasien secara mandiri akan memiliki informasi yang serupa, sehingga cukup melakukan diskusi singkat dengan dokter secara sepadan.

Saat ini beban global penyakit sebagian besar dalam aspek pembuluh darah atau vaskular, dengan serangan jantung dan stroke menjadi penyebab kematian pasien yang terbesar di dunia. Pada hal, keduanya sebentar lagi dapat dicegah dengan pemahaman pasien yang lebih baik, dengan melakukan koreksi atas faktor risiko dalam bimbingan dokter secara digital. Kejadian cidera traumatis juga turun dan akan terus menurun, saat tersedianya mobil tanpa pengemudi dan pekerja robot telah diciptakan untuk menggantikan tugas manusia yang berisiko.

.

Teknologi kedokteran digital telah tersedia, sehingga sekarang diperlukan definisi ulang (reshape) hubungan dokter dengan pasien secara digital. Oleh sebab itu, sebaiknya para dokter melatih diri agar profesional secara digital, juga mengadvokasi organisasi profesi, pemerintah, penjamin biaya pasien seperti asuransi atau BPJS Kesehatan, dan kelompok lain untuk memulai penggunaan teknologi digital ini. Tetunya agar lebih banyak pasien tetap dapat tinggal di rumah, dalam program jaga jarak atau ‘social distancing’, meskipun pemberantasan pandemi COVID-19 sudah akan terlewati.

Sudahkah kita siap menjadi dokter digital sesudah pandemi COVID-19?

Sekian

Yogyakarta, 14 September 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
anak antibiotika COVID-19 Healthy Life resisten obat vaksinasi

2021 LIBAS TIFUS

Kenali 6 Gejala Tifus Pada Anak dan Cegah Penyebarannya! - Ibupedia

LIBAS  TIFUS

fx. wikan indrarto*)

Kekebalan bakteri atau resistensi antibiotik adalah fenomena alam yang terjadi ketika bakteri mengembangkan kemampuan untuk mengalahkan obat antibiotika. Penyakit infeksi menjadi lebih sulit dan terkadang tidak mungkin lagi untuk diobati, bahkan menyebabkan biaya perawatan kesehatan yang lebih tinggi. Apa masalahnya?
.

Dalam beberapa dekade terakhir Zimbabwe telah mengalami wabah kolera dan tifus. Demam tifoid atau tipus adalah infeksi bakteri yang sangat menular, bila tanpa pengobatan yang cepat, dapat menyebabkan komplikasi serius dan fatal. Wabah tifus besar dengan lebih dari 3.000 kasus terjadi antara Oktober 2017 dan Februari 2018, disebabkan oleh bakteri Salmonella strain yang telah resisten terhadap obat antibiotik (ciprofloxacin). Wabah tifus di Zimbabwe menyerang kota Harare, Bulawayo dan Gweru, karena praktik kebersihan yang buruk secara kronis, di lingkungan dengan kekurangan pasokan air bersih dan fasilitas sanitasi yang terganggu.


.
baca juga : https://dokterwikan.com/2018/05/28/2018-hapus-tifus/

.

Selanjutnya Zimbabwe kemudian mengalami wabah kolera besar antara September 2018 dan Maret 2019. Kolera adalah infeksi bakteri lain yang menyebabkan diare dan dehidrasi berat, yang dapat berkembang menjadi syok dan kejang. Jika tidak segera diobati, kolera berakibat fatal. Wabah ini disebabkan oleh strain Vibrio cholerae yang ditemukan sangat resisten terhadap hampir semua obat antibiotik. Strain wabah memiliki 14 gen resisten antimikroba tambahan pada plasmid bakteri. Hal ini mendorong pemerintah mengumumkan keadaan darurat. Untuk mengendalikan wabah, dilakukan revisi pedoman pelayanan pasien dari obat antimikroba fluoroquinolone yang lebih murah, yaitu ciprofloxacin, menjadi obat makrolida yang lebih mahal yang disebut azitromisin.

.

Kedua wabah ini membuktikan dalam kehidupan nyata atas konsekuensi peningkatan resistensi antimikroba di Zimbabwe. Terlihat adanya peningkatan biaya perawatan kesehatan, kematian dan morbiditas, dan penurunan produktivitas dan kualitas hidup, karena tifus dan kolera. Perbaikan penyediaan air bersih, sanitasi, dan kebersihan lingkungan, yang disertai dengan promosi kesehatan dan penggunaan antimikroba secara rasional, semuanya dilaksanakan sebagai tindakan pengendalian wabah tipus dan kolera. Untuk mengekang dampak buruk dari wabah tifus, Zimbabwe melakukan kampanye vaksinasi vaksin tifoid Vi-conjugate (TCV) massal dari Februari hingga Maret 2019, di sembilan area pinggiran kota Harare yang terkena dampak parah dari wabah tersebut. Kampanye ini menargetkan anak berusia antara 6 bulan dan 15 tahun pada tahun 2018 hingga 2019. Lebih dari 318.000 dosis vaksin telah diberikan. Selama periode yang sama, lebih dari 1,5 juta orang menerima vaksin kolera di 17 area pinggiran kota Harare, untuk mengelola strainbakteri Vibrio cholerae yang sangat resisten.

Penyakit Tipes Berbeda dengan Penyakit Tifus, Ini Penjelasannya

Keberhasilan kampanye vaksinasi darurat sebagai strategi pengendalian wabah berperan penting dalam memasukkan vaksin tifus TCV ke dalam jadwal rutin vaksinasi nasional Zimbabwe. Untuk memberikan lebih banyak bukti ilmiah tentang dampak vaksin pada resistensi antimikroba, Kementerian Kesehatan Zimbabwe akan melakukan studi potong lintang selama 2 tahun, untuk menilai peribahan pola konsumsi antibiotik yang diresepkan untuk kasus tifus sebelum dan setelah memasukkan imunisasi tifus TCV ke dalam program rutin. Selanjutnya akan dilakukan pengurutan genom untuk mendeteksi strain bakteri yang bersirkulasi, sebelum dan sesudah imunisasi massal.

.

Vaksin Konjugat Tifus adalah langkah signifikan untuk mengatasi tingginya tingkat penyakit tipus pada anak di Zimbabwe, dan pemerintah Zimbabwe layak mendapat pujian karena berhasil memasukkannya ke dalam program imunisasi rutinnya. Selain itu, data ini juga menunjukkan kebutuhan mendesak untuk meningkatkan investasi dalam memperkuat infrastruktur kebersihan lingkungan. Ini akan menjadi solusi yang lebih berkelanjutan untuk mencegah wabah penyakit seperti kolera dan tipus. Data tersebut juga menggambarkan sifat lintas sektor dalam mengatasi resistensi antimikroba, yaitu perlunya memperkuat perbaikan sanitasi lingkungan dan meningkatkan cakupan imunisasi rutin.

.

Vaksin tifus pertama dikembangkan pada tahun 1896 oleh Almroth Edward Wright, Richard Pfeiffer, dan Wilhelm Kolle. Vaksin tifus yang ada di Indonesia ada 2 macam, yaitu vaksin polisakarida Vi capsular yang disuntikkan, misalnya Typhim VI (Sanofi Pasteur) atau Typherix (GSK), dan vaksin oral Ty21a, misalnya Vivotif (PaxVax) yang ditelan.

.

Gejala Tipes, Penyakit Tipes, Pengobatan Sakit Tipes: Ini yang Perlu Kamu  Tahu! - Cermati.com

Di Indonesia hasil penelitian pemberian Vaksin Vi-DT atau vaksin konjugat tifus, seperti yang digunakan di Zimbabwe memberikan harapan baru bagi pencegahan demam tifoid pada anak. Penelitian yang dilakukan FKUI Jakarta pada Oktober 2020 menemukan fakta bahwa, vaksin ini aman dan efektif diberikan bagi anak berusia 6 bulan sampai 2 tahun dan 2-11 tahun. Selain itu, vaksin Vi-DT terbukti dapat meningkatkan titer antibodi 28 hari pasca vaksinasi sebesar 4 kali lipat atau lebih. Hal ini tentu sangat bermanfaat, apalagi mengingat belum ada vaksin tifus berlisensi di Indonesia untuk anak di bawah usia 2 tahun.

.

Untuk melawan resistensi antibiotik, kita harus menggunakan semua hal yang mungkin. Pelajaran dari Zimbabwe menunjukkan bahwa tidak ada peluru ajaib tunggal (single magic bullet), tetapi vaksin adalah salah satu peluru itu. Vaksin adalah alat yang efektif untuk mengurangi jumlah penyakit menular, sehingga secara langsung juga mengurangi kebutuhan penggunaan antibiotik secara luas. Dengan demikian, vaksin juga mampu mencegah munculnya resistensi bakteri terhadap antibiotik, karena perbaikan kesehatan lingkuangan mahal dan dapat memakan waktu puluhan tahun untuk diterapkan, dalam perang besar melibas tifus.

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 17 September 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
COVID-19 dokter Healthy Life UHC

2021 BIAYA KESEHATAN DIGITAL

INTI dan AdMedika Kembangkan Layanan Kesehatan Digital - Regional  Liputan6.com

BIAYA  KESEHATAN  DIGITAL

fx. wikan indrarto*)


Dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 12 September 2021, halaman 5.

Inovasi digital untuk layanan kesehatan dan pencegahan penyakit  telah berkembang pesat selama dekade terakhir, di hampir semua negara. Namun demikian, penggunaan teknologi digital dan perannya dalam penghematan pembiayaan kesehatan, dan implikasinya terhadap transformasi sistem kesehatan, kurang banyak diketahui. Apa yang menarik?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/11/12/2019-sehat-era-digital/

.

Teknologi digital meliputi aplikasi telepon seluler, platform web interaksi 2 arah, blockchain, analitik data besar, dan kecerdasan buatan termasuk mesin robotik. Idealnya teknologi digital untuk pembiayaan kesehatan harus berkontribusi pada terjadinya penjaminan layanan kesehatan semesta atau ‘Universal Heath Couverage’ (UHC). Untuk mencapai kemajuan menuju UHC, teknologi digital harus mendukung pencapaian prinsip pembiayaan kesehatan dan tujuan yang diinginkan, yaitu sebagian besar biaya layanan kesehatan berasal dari sumber keuangan negara atau publik, sehingga dapat mengurangi pengeluaran pribadi warga negara. Selain itu, juga memperluas pendanaan prabayar seperti polis asuransi dan membuat anggaran pembelian obat dan alat kesehatan menjadi lebih strategis. Namun demikian, teknologi digital dapat menimbulkan risiko pemborosan bagi pembiayaan kesehatan dan bahkan penerapan teknologi digital menghadapi berbagai tantangan, yang dapat merugikan dalam penyerapan pembiayaan kesehatan.

.

Aplikasi pada telepon seluler idealnya dapat digunakan untuk pembayaran premi asuransi kesehatan, sebagai bagian dari ‘mobile wallet services’ (mobile money). Mekanisme ini secara substansial mengurangi biaya administrasi oleh individu dan instansi, seperti yang telah dilakukan di Rwanda, Afrika. Contoh lainnya adalah di Kenya berupa ‘Mpesa programme’ atau ‘M-Tiba’s partnership’ dengan Dana Asuransi Kesehatan Nasional yang melibatkan beberapa ratus ribu anggota, saat membayar premi asuransi kesehatan mereka.

.

Ada juga aplikasi telepon seluler untuk memungut pajak, termasuk komponen pajak untuk layanan kesehatan, sehingga berkontribusi pada pembayaran pajak yang tepat waktu dan pengurangan biaya operasional staf pajak dan warga seperti di Rwanda. Proyek percontohan untuk pemungutan pajak melalui SMS sedang berlangsung di Zambia. Selain itu, aplikasi telepon seluler digunakan untuk pengingat pendaftaran ulang saat akan periksa di RS seperti di Ghana.

.

Ikon Teknologi Layanan Kesehatan Digital Ilustrasi Stok - Unduh Gambar  Sekarang - iStock

Apalagi saat teknologi digital dengan melibatkan berbagai kementerian atau sektor yang berbeda, tentu semakin dapat meningkatkan manfaat dalam program jaminan kesehatan. Salah satu titik masuknya adalah data catatan sipil digital, seperti yang awalnya hanya ada di India dengan ‘open source system’ yang diimplementasikan bertahap secara meluas, ke sejumlah negara lainnya. Sistem informasi manajemen keuangan terintegrasi dapat membantu meningkatkan kualitas dan kesesuaian data, bahkan dapat juga dalam bentuk visualisasi penggunaan dana melalui aplikasi. Dengan demikian, tentu dapat berkontribusi pada perbaikan manajemen keuangan masyarakat, bahkan peningkatan transparansi, dan akuntabilitas dana.

.

Berbagai macam aplikasi teknologi digital tampaknya berpotensi bermanfaat bagi pembiayaan kesehatan, berkontribusi untuk mencapai tujuan UHC, dan terutama meningkatkan akses ke layanan kesehatan. Seharusnya teknologi digital tidak hanya mampu meningkatkan akses informasi untuk warga negara dan pasien, tetapi juga dapat membantu penyedia, pembeli, dan pembuat kebijakan kesehatan, dalam aspek transparansi, akuntabilitas dan kepercayaan. Hal itu juga dapat membantu mengurangi biaya administrasi, sehingga berkontribusi pada efisiensi.

.

Pemerintah, khususnya kementerian  kesehatan, dapat mengambil berbagai tindakan untuk mendapatkan manfaat dan meminimalkan risiko. Sebagai langkah pertama, sebelum penerapan pembiayaan kesehatan dan penggunaan teknologi digital, perlu melihat pengalaman di negara lain. Strategi ini untuk melihat tentang teknis teknologi digital dalam mendukung pembiayaan kesehatan, terkait manfaat dan kendala yang telah dapat diatasi. Juga peran dan tanggung jawab berbagai pemangku kepentingan yang terlibat dalam perancangan dan implementasi teknologi digital untuk, pembiayaan kesehatan.

.

Kedua, mencermati peluang, mengantisipasi risiko, dan mengatasi tantangan terkait kapasitas dan keterampilan di bidang teknologi digital untuk pembiayaan kesehatan. Selain itu, juga regulasi untuk menangani masalah dalam aspek hukum dan etis, termasuk keamanan data dan perlindungan data privasi seseorang. Ketiga, komunitas global  mendukung investasi dalam tata kelola dan penguatan kapasitas pemerintah, dalam memanfaatkan keunggulan teknologi digital untuk pembiayaan kesehatan. Dengan melibatkan semua pemangku kepentingan dan dialog terbuka agar perbedaan pendapat dapat diatasi, sebagai sebuah proses pembelajaran bersama, tentang teknologi digital yang mendukung pembiayaan kesehatan untuk mencapai UHC.

.

Paradoks Aplikasi Kesehatan Digital: Bertumbuh dengan Nyaman, Apakah Data  Kesehatan Sudah Tentu Aman? Halaman 1 - Kompasiana.com

Aplikasi pedulilindungi dan p-care yang merupakan teknologi digital bidang kesehatan kini telah diterapkan di Indonesia, khususnya dalam layanan vaksinasi dan pemeriksaan laboratorium untuk COVID-19, layak dievaluasi berulang dan disempurnakan secara periodik. Meskipun keduanya mungkin belum terintegrasi dengan sistem pembiayaan layanan kesehatan di Indonesia, tetapi dapat terus dikembangkan dalam mendukung inovasi layanan kesehatan, pencegahan penyakit, dan pencapaian UHC di tanah air.

Sudahkah kita bertindak digital?

Sekian

Yogyakarta, 24 Agustus 2021

*) Dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

https://cdn.who.int/media/docs/default-source/health-financing/digital-technologies-for-health-financing.pdf?sfvrsn=a233a8a8_22

Categories
COVID-19 dokter Healthy Life UHC vaksinasi

2021 Digitalisasi COVID-19

AP II Lakukan Uji Coba Digitalisasi Dokumen Kesehatan di 17 Bandara Kelolaan

DIGITALISASI  COVID-19

fx. wikan indrarto*)

Sertifikat vaksinasi COVID-19 adalah hal baru, sebagai dokumen kesehatan yang mencatat pemberian vaksinasi COVID-19. Sebelum ini catatan vaksinasi berbentuk kartu kertas, yang berisi rincian data penting termasuk tanggal, produk, dan nomor batch vaksin yang diberikan. Apa yang menarik?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/10/03/2020-infodemik-covid-19/

.

Dokumentasi Digital Sertifikat COVID-19 dirancang sebagai mekanisme, di mana data kesehatan seseorang terkait COVID-19, dapat didokumentasikan secara digital melalui sertifikat elektronik. Sertifikat tersebut dapat digunakan sebagai catatan atau pengganti kartu vaksinasi berbasis kertas. Data ini akan mempu memberikan informasi kepada penyedia layanan kesehatan tentang status vaksinasi individu, memberikan dasar bagi petugas kesehatan untuk menawarkan dosis berikutnya dan atau bentuk layanan kesehatan yang sesuai, sebagaimana mestinya. Dalam beberapa kasus, kartu vaksinasi juga digunakan untuk memfasilitasi perjalanan internasional, seperti selama ini sudah berlaku dalam kasus demam kuning, di mana sertifikat vaksinasi mungkin diperlukan oleh beberapa negara sebagai syarat masuk.

.

Secara historis, catatan vaksinasi berbasis kertas telah menimbulkan banyak persoalan dan tantangan. Misalnya kemungkinan kehilangan atau kerusakan kartu, atau bahkan kemungkinan penipuan. Solusi digital yang diusulkan dirancang untuk mengatasi tantangan ini, meskipun kebocoran data digital tetap masih mengancam, bahkan sudah terbukti terjadi di Indonesia.

.

Jagat maya minggu terakhir Agustus 2021 heboh, mengenai sertifikat vaksin COVID-19 kedua milik Presiden RI Joko Widodo yang beredar di twitter. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar mengenai keamanan data yang tersimpan di aplikasi PeduliLindungi. Informasi yang beredar di twitter tersebut menunjukkan Jokowi telah menerima vaksin COVID-19 dosis kedua pada 27 Januari 2021, menggunakan vaksin Sinovac.

Digitalisasi Surat Tes Covid-19 - PORTONEWS

Terkait hal tersebut, Kementerian Kesehatan, Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) dan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) RI memberikan tanggapannya pada Sabtu, 4 September 2021. Pertama, akses terhadap sertifikat vaksinasi COVID-19 tersebut dilakukan menggunakan fitur pemeriksaan sertifikat nasional pada aplikasi PeduliLindungi. Kedua, regulasi sebelumnya mensyaratkan pengguna aplikasi PeduliLindungi menyertakan nomor handphone. Namun demikian, selanjutnya ada perubahan dengan hanya menggunakan 5 parameter yaitu nama, NIK, tanggal lahir, tanggal vaksin dan jenis vaksin. Keputusan penyederhanaan ini dilakukan untuk memudahkan masyarakat mengakses sertifikat vaksin COVID-19, setelah menimbang banyak masukan dari masyarakat, meskipun ternyata terbukti rawan terjadi pencurian data. Ketiga, data NIK dan tanggal vaksinasi milik Presiden Jokowi yang digunakan, bukan berasal dari aplikasi PeduliLindungi. Informasi NIK milik Presiden Jokowi telah tersedia pada situs Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk keperluan Pilpres 2019 lalu. Sementara informasi tanggal vaksin dapat ditemukan dalam pemberitaan di hampir semua media massa.

.

Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak terprovokasi oleh informasi yang tidak terkait dengan aplikasi PeduliLindungi. Diimbau juga agar masyarakat dapat mengunduh dan tetap memanfaatkan aplikasi PeduliLindungi, yang saat ini fiturnya terus dikembangkan untuk mendukung aktivitas masyarakat dalam masa adaptasi pengendalian pandemi COVID-19, termasuk aspek keamanan data sertifikat vaksinasi.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/12/27/2018-vaksin-bukan-mitos/

.

Sertifikat vaksinasi COVID-19 dapat murni digital, misalnya disimpan dalam aplikasi smartphone atau di server berbasis ‘cloud’. Selain menggantikan kebutuhan akan kartu kertas, sistem ini dapat juga berupa representasi digital dari catatan berbasis kertas tradisional. Hubungan antara catatan kertas dan catatan digital dapat dibuat dengan menggunakan pemindai khusus atau ‘barcode’ yang dicetak atau ditempelkan pada kartu vaksinasi yang berupa kertas. Namun demikian, regulasi sertifikat digital tidak boleh mengharuskan setiap individu untuk memiliki smartphone atau komputer.

.

WHO sebenarnya tidak mendukung persyaratan bukti vaksinasi COVID-19 untuk bepergian menggunakan transportasi umum. Namun demikian, dalam beberapa situasi, tergantung pada penilaian risiko negara yang bersangkutan, data tentang vaksinasi COVID-19 dapat digunakan untuk  persyaratan karantina atau testing pada saat kedatangan di suatu negera. Kondisi tersebut bukan tujuan utama dari langkah menuju dokumentasi digital status COVID-19.

.

Pada 27 Agustus 2021, WHO menerbitkan dokumen panduan untuk semua negara tentang persyaratan teknis penerbitan sertifikat digital, untuk data vaksinasi COVID-19. Panduan tersebut merupakan bagian dari rangkaian rencana pendokumenan dan digitalisasi sertifikat ataupun hasil pemeriksaan COVID-19. Pedoman tersebut antara lain menyatakan setiap negara anggota mendapatkan dukungan penuh, dalam mengadopsi alat digital untuk mendokumentasikan secara aman, status vaksinasi COVID-19. Digitalisasi yang aman ini bertujuan untuk perawatan kesehatan yang lebih efektif, berkesinambungan, dan dapat menjadi bukti vaksinasi COVID-19, jika diperlukan untuk tujuan lain.

Apakah kita sudah siap digital?

Sekian

Yogyakarta, 7 September 2021

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

Categories
anak Healthy Life resisten obat tuberkulosis

2021 Obat TB Baru untuk Anak

Waspadai Tuberkulosis pada Anak, Inilah Upaya Pencegahannya!

OBAT TB  BARU  UNTUK  ANAK

fx. wikan indrarto*)

Pada hari Kamis, 26 Agustus 2021 Program Tuberkulosis Global Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengumumkan pembaruan penting untuk pedoman pengelolaan tuberkulosis (TB) pada anak dan remaja. Ini termasuk rekomendasi baru tentang pilihan cara diagnostik, rejimen pengobatan, serta algoritme keputusan pengobatan dan model perawatan yang optimal untuk pemberian layanan TB anak dan remaja. Apa yang baru?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/03/30/2020-pencegahan-tbc/

.

Tuberkulosis pada anak dan remaja telah diabaikan selama bertahun-tahun, tercermin dalam kesenjangan besar dalam akses ke layanan pencegahan dan pengobatan TB. Untuk itu pedoman diagnosis, pengobatan, pencegahan dan perawatan untuk anak dan remaja dengan TB telah disusun  berdasarkan bukti ilmiah terbaru.

.

Pembaruan utama termasuk 5 buah rekomendasi. Pertama, pada anak di bawah 10 tahun dengan tanda dan gejala TB paru direkomendasikan untuk penggunaan Xpert MTB/RIF Ultra pada aspirasi lambung atau spesimen tinja sebagai uji diagnostik awal TB. Selain itu, juga dapat digunakan untuk deteksi resistensi bakteri terhadap obat rifampisin. Kedua, pada anak dan remaja di bawah 16 tahun dengan TB tidak parah   yang diduga rentandengan obat (presumed drug-susceptible TB), direkomendasikan untuk menggunakan rejimen pengobatan lebih pendek, yaitu 4 bulan (2HRZ(E)/2HR), dan tidak lagi menggunakan rejimen obat standar selama 6 bulan (2HRZ(E)/4HR).

.

BAGAIMANA DIAGNOSIS TUBERKULOSIS PADA ANAK? - Berita | Kalimantan Barat

Memperpendek pengobatan pada anak dan remaja dengan tuberkulosis tidak berat, sebaiknya dilakukan. Bukti dari uji klinis SHINE (Shorter Treatment for Minimal Tuberculosis in Children) atau Pengobatan Singkat untuk Tuberkulosis Minimal pada Anak, berupa pemendekan pengobatan pada anak dengan TB tidak parah, bergejala, diduga rentan terhadap obat, dan hasil BTA-negatif, telah dilakukan di Uganda, Zambia, Afrika Selatan, dan India. Anak berusia di bawah 16 tahun diacak untuk menjalani pengobatan anti-tuberkulosis lini pertama standar selama 16 versus 24 minggu, menggunakan formulasi kombinasi dosis tetap yang direkomendasikan WHO untuk anak. Hasil efikasi utama penelitian tersebut adalah kematian pada 72 minggu terapi, kegagalan pengobatan, dan putus obat. Sedangkan aspek keamanan obat yang utama adalah efek samping obat. Penelitian mampu membuktikan bahwa rejimen pengobatan jangka pendeka selama 4 bulan tidak lebih buruk dibandingkan rejimen 6 bulan, untuk anak yang diobati untuk TB BTA-negatif yang tidak parah, dan dianggap rentan terhadap obat.

.

Ketiga, untuk anak dengan MDR/RR-TB segala usia direkomendasikan untuk menggunakan obat TB baru yaitu bedaquiline, sebagai bagian dari rejimen obat yang lebih pendek (direkomendasikan secara kondisional oleh WHO pada tahun 2020) atau sebagai bagian dari rejimen pengobatan yang lebih lama. Keempat, rekomendasi untuk menggunakan delamanid sebagai bagian dari rejimen pengobatan yang lebih lama, untuk anak dengan MDR/RR-TB segala usia. Keempat, pada anak dengan MDR/RR-TB segala usia obat bedaquiline dapat digunakan sebagai bagian dari rejimen obat yang lebih pendek (direkomendasikan secara kondisional oleh WHO pada 2020) atau sebagai bagian dari rejimen pengobatan yang lebih lama. Obat delamanid dapat digunakan sebagai bagian dari rejimen pengobatan yang lebih lama.

.

Kelima, pada anak dan remaja dengan meningitis TB yang dikonfirmasi secara mikrobiologis atau didiagnosis secara klinis, dianggap rentan terhadap obat, rejimen intensif 6 bulan yang terdiri dari 6HRZEto (isoniazid, rifampisin, pirazinamid dan ethionamide) dapat digunakan sebagai pilihan alternatif, meskipun WHO sebelumnya merekomendasikan rejimen 12 bulan terdiri dari 2HRZE/10HR. Keenam, dalam wilayah dengan beban TB yang tinggi, layanan terpadu yang terdesentralisasi dan berpusat pada keluarga sebaiknya dilaksanakan untuk meningkatkan deteksi kasus TB dan pemanfaatan pengobatan pencegahan TB.

.

Rekomendasi baru ini disebut komunikasi cepat (rapid communication) bertujuan untuk menginformasikan secara cepat dan luas dari kementerian kesehatan dan penyedia layanan di sektor publik dan swasta, mitra teknis dan pemangku kepentingan lainnya. Tujuannya adalah pertimbangan dan perubahan terkait dengan diagnosis, pengobatan dan perawatan TB untuk anak dan remaja, agar dapat diterapkan dengan perencanaan rinci di tingkat nasional, sebelum rilis pedoman yang diperbarui dan buku pegangan operasional terkait.

Mengenal Tuberkulosis TB Pada Anak, Ciri dan Gejala | Dunia Biza

Rekomendasi yang lebih terperinci akan diterbitkan dalam beberapa bulan mendatang, di samping buku pegangan operasional pelengkap, yang akan berisi panduan implementasi. Rekomendasi di atas didasarkan pada hasil pertemuan kelompok khusus (Guideline Development Group) pada Mei-Juni 2021 dengan topik pengelolaan TB pada anak dan remaja.

.

Rekomendasi diagnosis dan pengobatan TB untuk anak terbaru tersebut, ditujukan untuk mencapai target TB global dalam SDG 2016-2030 dengan semboyan “Find. Treat. All. #EndTB.” Inisiatif ini bertujuan untuk mempercepat pembasmian TB dengan memastikan tidak ada anak yang tertinggal (to ensure no one is left behind).

 Sudahkah Anda terlibat membantu?

Sekian

Yogyakarta, 3 September 2021

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161,

Rekomendasi WHO tersebut dapat dilihat pada :

https://www.who.int/publications/i/item/9789240033450
wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?