Awalnya bingung dan dilematis, saat dihubungi oleh seorang pengacara untuk hadir dan memberikan pendapat medis pada sebuah sidang di hadapan Yang Mulia Majelis Disiplin Profesi (MDP) periode 2024–2028, yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/1630/2024, sebagai pemeriksa dugaan pelanggaran disiplin kedokteran.
Setelah berkonsultasi kepada banyak senior dokter dan ahli hukum, saya akhirnya menyanggupinya dengan penuh was-was.
Rabu dini hari, 8 Juli 2026 saya memasuki Bandara Adisucipto Yogyakarta, yang lama tidak difungsikan sebagai bandara komersial. Hal ini karena seluruh rute penerbangan di Bandara Adisutjipto pindah ke Bandara Internasional Yogyakarta per 29 Maret 2020. Saya masuk perut pesawat milik maskapai Fly Jaya berkode KS101 jenis ATR 72-500. Pesawat ATR 72-500 adalah buatan perusahaan patungan Prancis-Italia bernama ATR, kolaborasi antara Airbus (Prancis) dan Leonardo S.p.A. (Italia). ATR 72-500 adalah pesawat penumpang regional jarak pendek bermesin twin-turboprop, dengan efisiensi bahan bakarnya, berkapasitas standar 68 penumpang, dan mampu mendarat di landasan pendek.
Siap masuk ke kabin pesawat Fly Jaya berkode KS101 jenis ATR 72-500.
Mendarat dengan selamat di Bandara Legendaris Halim Perdanakusuma Jakarta
Bergaya di depan gerbang Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta
Setelah mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta, segera saya bergegas jalan kaki ke Gereja Katolik Santo Agustinus yang berada di bawah pengelolaan Keuskupan Agung Jakarta dan Ordinariat Militer Indonesia (OCI). Pada 29 Juli 1995, KASAU Marsekal TNI Rilo Pambudi meresmikan gereja ini dan Uskup Agung Jakarta, Mgr. Leo Soekoto, SJ memberkati bangunan gereja yang dinamai Agustinus, seorang filsuf yang bijaksana. Setelah berdoa sejenak memohon pendampingan Tuhan dan kebijaksanaan dalam menjalankan tugas pada sidang MDP, terus manyambut anak bungsu, Laras dan suaminya William, yang datang menguatkan saya.
Berjalan kaki pagi dari Bandara menuju Gereja Katolik Santo Agustinus Halim Perdana Kusuma Jakarta
Dekorasi kaca patri bagian belakang di Gereja Katolik Santo Agustinus Halim Perdana Kusuma Jakarta
Selesai berdoa bersama Laras dan Williamdi Gereja Katolik Santo Agustinus Halim Perdana Kusuma Jakarta
Lanjut bertiga kami menuju Gedung MDP dan KKI (Konsil Kesehatan Indonesia) di Jl. Hang Jebat III Blok F 3, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sidang dimpimpin oleh Wakil Ketua MDP, yaitu Dr. Ahmad Redi, SH, MH, MSi dengan anggota dr. Erfen Gustiawan Suwangto, Sp.KKLP, Subsp. FOMC, SH, MH(Kes), PhD dan Ns. Arthur Daniel Thomas Betlehem Lapian, SE, SKep, MKes, MARS. Di ruang sidang yang bersifat tertutup untuk umum, saya duduk di kursi belakang menghadap meja majelis, dengan sebelah kiri saya duduk para penasehat hukum pengadu dan di sebalah kanan saya duduk dokter teradu yang didampingi para penasehat hukumnya juga.
Mendarat dengan selamat Gedung MDP dan KKI (Konsil Kesehatan Indonesia) di Jl. Hang Jebat III Blok F 3, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Setelah 2 orang saksi mengangkat sumpah menurut agamanya, lanjut saya juga mengangkat sumpah menurut agama Katolik, bukan untuk beraksi, tetapi menjadi ahli yang memberikan pendapat. Diikuti ahli di sebelah saya, seorang dosen senior bidang hukum perdata dari sebuah universitas di Jakarta.
Persiapan akhir sebelum tampil pada sidang MDP
Saya menyampaikan pendapat medis (medical opinion) sebagai keterangan ahli terkait Surat Panggilan Sidang Nomor: MD.01/MDP/1248/VI/2026 Tertanggal 30 Juni 2026. Pendapat Medis ini disusun atas permintaan Endang Supriyatna, SH, Sekjen NU Bogor Raya Law Firm dari Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBHNU). Dalam hal ini bertindak sebagai penasehat hukum seorang ibu yang beralamat di Kelapa Gading Jakarta Utara, yang melakukan pengaduan dugaan pelanggaran disiplin kedokteran kepada MDP pada tanggal 29 Mei 2026. Hal ini dipicu karena anak perempuannya (15 tahun) dirampas oleh mantan suaminya yang telah terjadi perceraian.
Saat bersama dengan ibunya sesuai hak asuh yang diperolehnya, anak tersebut bertumbuh secara sehat, baik mental dan fisik, normal, ceria dan berkembang dengan baik di rumah maupun di lingkungan sosial dan sekolah. Setelah bersama ayahnya, anak tersebut diperiksakan kepada seorang dokter di sebuah RS di Jakarta sebanyak 12 kali tatap muka, dan 9 kali tanpa dihadiri pasien. Ibu tersebut melaporkan dokter karena memberikan sedemikian banyak obat pada periode 2023-2025, hanya dengan mendengarkan uraian yang disampaikan oleh ayah anak tersebut, dan gagal untuk melihat potensi ketergantungan obat yang akan dialami oleh pasien. Selain itu, menurut ibu tersebut, dokter telah melakukan pelanggran disiplin profesi, karena sengaja meniadakan hak-hak ibu kandung, sekaligus membuat anak kehilangan haknya atas kebebasan.
Pendapat medis yang saya susun baru layak diketahui oleh umum, setelah perkara ini diputus, sehingga untuk sementara saya simpan. Seusia menjawab semua pertanyaan majelis hakim, para penasehat hukum dokter teradu dan ibu itu sebagai pengadu, saya pamit keluar ruangan sidang, saat sidang dilanjutkan dengan sesi lainnya.
Mendarat di Gereja Katolik Santo Yohanes Penginjil Paroki Blok B, di Jl. Melawai Raya 197 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Altar gereja yang menyimpan sebuah relikui Santo Yohanes Penginjil, berupa potongan kecil tulangnya.
Lansekap Gereja Katolik Santo Yohanes Penginjil Paroki Blok B, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Ditemani Laras dan William, kami menuju Gereja Katolik Santo Yohanes Penginjil Paroki Blok B, di Jl. Melawai Raya 197 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, untuk mengucap syukur dan berterimakasih atas semua rahmat Tuhan. Gereja ini dinamai menurut Yohanes Penginjil, yang dikenal sebagai salah seorang penulis Injil dan dua belas rasul Yesus Kritus. Di bawah altar gereja, terdapat sebuah relikui Santo Yohanes Penginjil, berupa potongan kecil tulangnya. Keaslian relikui ini dinyatakan oleh Uskup Agung Ferrara-Comacchio Italia utara, Mgr. Luigi Negri, pada tahun 2016. Relikui ini diserahkan oleh Communauté des Béatitudes di Medjugorje, Bosnia dan Herzegovina pada tahun 2018.
Gerbang Rumah Makan Mata Karanjang di Jl. Wijaya VI No. 14A, Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Furniture buatan William di Rumah Makan Mata Karanjang Jakarta Selatan.
Kami bertiga lanjut makan sore di Rumah Makan Mata Karanjang di Jl. Wijaya VI No. 14A, Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Restoran sederhana dan kasual ini menyajikan hidangan khas dari Sulawesi Utara. Selain aroma, rasa dan presentasi menu tersebut yang kami tuju, kami mengunjunginya juga untuk melihat furniturenya yang dibuat oleh perusaaah William di Jepara, Jawa Tengah
Siap naik MRT di Stasiun Blok M BCA
Kepadatan penumpang MRT Line 1 Utara Selatan Jakarta
MRT Jakarta yang telah kosong penumpang ternyata dicetuskan sejak 1985 oleh Prof. BJ. Habibie.
Setelah kenyang dan lega, kami segera menyusuri Blok M untuk menikmati Moda Raya Terpadu Jakarta (MRT Jakarta atau Jakarta Mass Rapid Transit). Ide pembangunan MRT di Jakarta telah dicetuskan sejak 1985 oleh Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi saat itu, Prof. BJ. Habibie. Kami akan menikmati sepenggal jalur pertama (Line 1 Utara Selatan) sepanjang 15,7 km yang menghubungkan Stasiun Lebak Bulus dengan Stasiun Bundaran HI Bank Jakarta. Kami naik dari Stasiun Blok M BCA (BML), melewati Blok A (BLA), Haji Nawi (HJN), Cipete Raya (CPR), Fatmawati Indomaret (FTM)dan turun Lebak Bulus Bank Syariah Indonesia (LBB)
Perpisahan kami di Stasiun MRT Lebak Bulus Bank Syariah Indonesia Jakarta Selatan
Lanjut kami berpisah jalan, karena William dan Laras pulang ke Bogor naik Grab Mobil dan saya jalan kaki ke Terminal Pondok Pinang. Saya lanjut menikmati kenyamanan kabin lantai 2 bis Rosalia Indah 119, bersasis premium Scania K410 buatan Swedia, berbodi Jetbus 3 double decker yang gagah buatan karoseri Adiputro Malang, dan dikenal sebagai millenial bus full tol trans Jawa AD 7254 DF.
Bis Rosalia Indah Scania K410 Jetbus 3 double decker
Kamis pagi, 9 Juli 2026 saya dapat kembali ke rumah di Yogyakarta.
Sidang dugaan pelanggaran disiplin profesi dokter sangat menekan jiwa bagi siapapun, bukan hanya sekedar pada dokter teradu saja. Semoga para dokter Indonesia mampu memberikan layanan medis kepada para pasien dengan semakin beretika, mermutu dan legal. Juga profesional dan manusiawi. Terimakasih
Ditreskrimsus Polda Bangka Belitung melimpahkan berkas perkara serta tersangka seorang dokter spesialis anak di RSUD Depati Hamzah, ke Kejaksaan Tinggi Bangka Belitung, Kamis (20/11/2025). Pelimpahan kasus dilakukan kepolisian setelah berkas perkara terkait kasus tindak pidana kesehatan dinyatakan lengkap atau P21. Profesi dokter cukup sering menghadapi sengketa hukum. Ada berbagai penyebab, tetapi salah satu yang utama adalah karena perlindungan hukum atas profesi dokter tidaklah rinci. Apa yang sebaiknya dilakukan?
Status tersangka ini ditetapkan setelah terbitnya rekomendasi dari Majelis Disiplin Profesi (MDP). Peran MPD untuk dokter adalah menegakkan disiplin profesi, mengawasi etika, dan memberikan sanksi atas dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh dokter dan tenaga kesehatan lainnya. MDP bertugas menerima dan memverifikasi pengaduan, melakukan investigasi, menyelenggarakan sidang disiplin, serta memberikan rekomendasi tindakan terhadap pelanggaran tersebut.
Pada era sebelumnya, Majelis Kehormatan Disiplin Profesi Kedokteran Indonesia (MKDKI) yang menangani masalah ini. Sedangkan MDP merupakan lembaga baru yang dibentuk berdasarkan UU No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Perbedaan utama adalah kewenangan MDP yang kini dapat memberikan rekomendasi untuk proses hukum pidana maupun perdata.
MDP telah mengeluarkan keputusan yang menyatakan bahwa dokter tersebut telah melanggar standar profesi sebagai dokter spesialis anak. Alasannya adalah dokter tersebut tidak pernah bertemu dan memeriksa langsung kondisi pasien. Perannya sebatas memberi arahan medis sesuai prosedur konsultasi spesialis. Kemudian rekomendasi itu berlanjut menjadi penetapan tersangka oleh Polda Bangka Belitung. Meskipun dokter tersebut telah mengajukan uji materi UU No.17/2023 tentang Kesehatan terutama Pasal 307 yang berkorelasi dengan kewenangan MDP atas keputusan yang merugikan dirinya, tetapi Mahkamah Konstitusi (MK) belum memberikan keputusan yang bersifat final dan mengikat, agar profesi dokter mendapat perlindungan hukum yang lebih rinci.
Michel Daniel Mangkey dalam ejournal Unsrat Vol. II/No. 8/Sep-Nov/2014, menjelaskan tentang ‘Lex et Societatis’. Dokter yang telah melaksanakan tugas sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional, berhak mendapatkan perlindungan hukum. Terdapat beberapa hal yang menjadi alasan peniadaan hukuman terhadap dokter, yaitu : resiko pengobatan, kecelakaan medik, tanpa unsur kelalaian, aturan minor yang dapat diabaikan, kesalahan dalam penilaian (error of (in) judgment), Volenti non fit iniura atau asumsi atas risiko, dan Res Ipsa Loquitur. Namun demikian, pada praktiknya sebagian hal tersebut sangat sulit, rumit, dan menyita waktu, tenaga dan konsentrasi dokter dalam perumusannya.
Sebaliknya, perlindungan hukum untuk profesi notaris, jauh lebih jelas, nyata, dan rinci, sebagaimana dituliskan oleh Mariyantini pada ejournal Undip vol 4, no 1 tahun 2013. Perlindungan hukum terhadap notaris ketika terjadi sengketa di pengadilan, telah diatur pada Pasal 66 Undang-undang No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris. Dalam hal memberikan kesaksian, seorang notaris tidak dapat mengungkapkan akta yang dibuatnya, baik sebagian maupun keseluruhannya, untuk merahasiakan semua hal yang diberitahukan kepadanya, karena akta yang dibuat oleh atau di hadapan notaris, merupakan suatu alat bukti yang mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna. Notaris hanya merumuskan keterangan dan pernyataan yang diperolehnya dari para penghadap. Notaris tidak hanya berhak untuk bicara, tetapi mempunyai kewajiban untuk tidak bicara. Kewajiban tersebut mengesampingkan kewajiban umum yang tercantum dalam Pasal 1909 ayat (1) KUHPerdata, karena adanya hak ingkar dari profesi notaris, sebagai konsekuensi dari adanya kewajiban merahasiakan sesuatu yang diketahuinya.
Yurisprudensi Mahkamah Agung (MA) melalui Putusan MA No 702K/Sip/1973, menyatakan bahwa notaris fungsinya hanya mencatatkan atau menuliskan, apa yang dikehendaki dan dikemukakan oleh para pihak yang menghadap notaris tersebut. Tidak ada kewajiban bagi notaris untuk menyelidiki secara materil, terkait apa yang dikemukakan oleh penghadap di hadapan notaris tersebut. Berdasarkan Putusan MA tersebut, jika akta yang dibuat oleh notaris dipermasalahkan oleh para pihak, maka hal tersebut menjadi urusan para pihak sendiri, notaris tidak perlu dilibatkan, dan notaris bukan pihak dalam akta.
Perlindungan hukum yang juga lebih baik, adalah terhadap profesi advokat atau pengacara. Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan permohonan perkara 26/PUU-XI/2013, yaitu pengujian Pasal 16 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat, yang terkenal sebagai hak imunitas advokat. Putusan tersebut dinyatakan MK dalam sidang pengucapan putusan yang dipimpin Ketua MK Hamdan Zoelva, Rabu 14 Mei 2015. MK menegaskan bahwa ketentuan Pasal 16 UU Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat harus dimaknai sebagai, advokat tidak dapat dituntut baik secara perdata maupun pidana dalam menjalankan tugas profesinya, dengan iktikad baik untuk kepentingan pembelaan klien, di dalam maupun di luar sidang pengadilan.
Dengan demikian hak imunitas profesi dokter dalam aspek perlindungan hukum, layak disusun serinci seperti profesi advokat dan notaris. Sudahkah para dokter bertindak agar mendapatkan perlindungan hukum?
Sekian
Sekian
Yogyakarta, 24 November 2025
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM.
Ada dua kerajaan yang pernah berdiri dalam periode yang berbeda dan keduanya disebut Mataram. Kerajaan Mataram Hindu atau Kerajaan Mataram Kuno terletak di sekitar Magelang, Jawa Tengah, dekat tempat kami dilahirkan. Kerajaan ini didirikan pada abad ke-8 oleh Raja Sanjaya yang bergelar Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Dinasti yang memerintah Kerajaan Mataram Kuno adalah Dinasti Sanjaya, Dinasti Syailendra dan Dinasti Isyana hingga awal abad ke-11. Kata “Mataram” diambil dari Bahasa Sansekerta “Matr” yang memiliki arti sebagai “ibu” yang melambangkan kehidupan, alam dan lingkungan.
Pemitan dengan Joviel (2,5 tahun) yang tidak mau diam dan merengek ingin ikut ke Mataram
Kerajaan dengan nama sama yang selanjutnya adalah Kesultanan Mataram Islam, yang didirikan oleh Panembahan Senapati pada tahun 1586, dengan ibukota di Kotagede, dekat Yogyakarta. Sepanjang abad ke-16 Kesultanan Mataram mencapai puncak kejayaannya di bawah pemerintahan Susuhunan Anyakrakusuma atau Sultan Agung (Sultan Agung Adi Prabu Anyakrakusuma). Mataram adalah salah satu kerajaan terkuat di Jawa, kesultanan yang menyatukan sebagian besar pulau Jawa, yakni Jawa Tengah, DI Yogyakarta, sebagian besar Jawa Barat dan Jawa Timur, kecuali Banten. Selain itu juga menguasai daerah Madura, dan Sukadana (Kalimantan Barat), Makasar, serta sebagian Pulau Sumatera (Palembang dan Jambi). Perjanjian Giyanti yang ditandatangani oleh Pangeran Mangkubumi dengan VOC Belanda membuahkan kesepakatan bahwa Kesultanan Mataram dibagi dalam dua kekuasaan, yaitu Nagari Kasunanan di Surakarta dan Nagari Kasultanan Ngayogyakarta di Yogyakarta. Perjanjian yang ditandatangani dan diratifikasi pada tanggal 13 Februari 1755 di Giyanti ini, secara hukum menandai berakhirnya Kerajaan Mataram Islam.
Sebagian anggota rombongan IDI Wilayah DIY yang akan terbang tinggi menuju Mataram di Bandara YIA Yogyakarta Internasional Airport
Kami adalah rombongan dokter dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), untuk mengikuti Muktamar XXXII IDI Tahun 2025, yang merupakan acara rutin oleh organisasi profesi dokter terbesar di Indonesia. Muktamar IDI ke 32 dilaksanakan pada 12-15 Februari 2025, bertempat di Hotel Lombok Raya, Jl. Panca Usaha No 11, Mataram, Nusa Tenggara Barat. Perjalanan kami antar Mataram dari situs Mataram Islam Yogyakarta ke Kota Mataram di NTB, tentu sangat diimpikan.
Peserta lengkap IDI Wilayah DIY yang hadir pada Muktamar IDI ke 32 di Mataram.
Peserta Muktamar IDI ke 32 dari IDI wilayah DIY adalah dr. Joko Murdiyanto, Sp. An., MPH., FISQua, dr. Heni Suryadi, dr. Dewi Irawty, MKes, dr. Rina Nuryati, MPH, dr. Dela Oktaviana, dr. Diah prasetyorini, M.Sc, Dr. dr. Ita Fauzia Hanoum, MCE, dr. Budi Nur Rokhmah, MH, dr. Abdul Latief, MKes, dr. Tri widjaja, Dr. dr. HM. Any Ashari, SpOG(K), dr. Melly, dr. Wisnu Wardana, dr. Dharmawan Lingga Artama, dr. Fajar Meitaharti, dr. Riska Novriana, dr. Desi Arijadi, dr. Eva Rusiene, dr. Lucia Srie Rejeki, MPH, dr. Wahyu Pamungkasih, dr. Tri Kusumo Bawono, SE, Dr. dr. Fx. Wikan Indrarto, SpA, dr. Atthobari, MPH, SpMK, dr. Sitti Aisyah Sahidu, SU, MKes, FISQua dan dr. Lipur Riyantiningtyas Budi, SH, SpFM. Muktamar IDI di laksanakan 3 tahun sekali, dihadiri oleh para dokter dari berbagai daerah di Indonesia, dan bertujuan untuk membahas berbagai isu dan perkembangan terkini dalam bidang kesehatan, untuk menetapkan arah dan kebijakan organisasi ke depan. Selain itu, Muktamar juga menjadi ajang untuk memperkuat solidaritas antar dokter, serta untuk menjalin kerja sama dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Indonesia. Dengan tema “Membangun Soliditas Dalam Beradaptasi Untuk Mewujudkan IDI Yang Berkemajuan”, diharapkan IDI dapat menciptakan kekompakan, tanggung jawab, dan keteguhan dalam beradaptasi saat menjalankan tugas profesi. Hal ini penting agar marwah organisasi yang baik dapat terus terjaga.
Perjalanan kami pada Selasa, 11 Februari 2025 sore diawali dengan terbang bersama Super Air Jet (SAJ), yaitu salah satu maskapai penerbangan domestik di Indonesia milik PT Kabin Kita Top yang berdiri pada Maret 2021, ketika Indonesia dan dunia sedang menghadapi pandemi Covid-19. Maskapai ini didirikan atas dasar optimisme bahwa peluang pasar, khususnya kebutuhan penerbangan domestik, masih ada dan terbuka luas. Maskapai ini memperoleh Sertifikat Operator Penerbangan dari Kementerian Perhubungan RI pada 30 Juni 2021 dan pada tahun yang sama meluncurkan 11 tujuan di Indonesia.
Super Air Jet dibiayai oleh pendiri Lion Air Group, Rusdi Kirana. Selain itu, maskapai ini dipimpin oleh Ari Azhari yang pernah menjabat sebagai General Manager of Services Lion Air Group. Maskapai ini mengadopsi model low cost carrier yang fokus pada perjalanan titik ke titik untuk mengangkut penumpang antar pulau di Indonesia, dengan berfokus pada milenial sebagai target pasar. Super Air Jet meluncurkan penerbangan dengan tiga Airbus A320-200 bekas, yang sebelumnya terbang untuk IndiGo Airlines dan Tigerair Australia. Tahapan awal maskapai Super Air Jet armada menggunakan armada generasi terbaru yaitu Airbus A320-200 yang berkapasitas 180 kursi kelas ekonomi. Kami duduk di kursi nomer 19F dekat jendela, sehingga mampu leluasa menikmati pemandangan awan, mendung dan daratan.
Airbus A320 adalah pesawat penumpang komersial jarak dekat sampai menengah yang diproduksi oleh Airbus. A320 merupakan pesawat penumpang pertama dengan sebuah sistem kendali fly-by-wire digital, di mana pilot mengendalikan penerbangan melalui penggunaan sinyal elektronik dan bukan secara mekanik dengan hendel dan sistem hidraulis. Kelompok pesawat A320 adalah satu-satunya kelompok pesawat berbadan sempit (narrow-body) yang diproduksi Airbus. Saking sempitnya badan pesawat, hanya ada 1 pintu keluar masuk untuk penumpang di sisi kiri depan.
Bandara Praya Zainudin Abdul Madjid Lombok
Bersama senior terhormat, Prof. Dr. Yati Soenarto, SpAK, PhD dari FKKMK UGM Yogyakarta, yang akan menerima anugerah IDI di Bandara Praya Zainudin Abdul Madjid Lombok
Kami mendarat dengan selamat di Bandar Udara Internasional Lombok (IATA: LOP), yang juga dikenal sebagai Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid, yang berlokasi di Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Bandara ini dioperasikan oleh PT Angkasa Pura I dan dibuka pertama kali pada tanggal 1 Oktober 2011 untuk menggantikan fungsi Bandara Selaparang, di dalam Kota Mataram. Bandara ini diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono dan arsitektur bandara ini memiliki ciri khas rumah adat Sasak. Bandara ini dibangun di atas lahan seluas 550 hektare yang menelan biaya Rp.625 miliar (US$73.100.000).
Setelah menjalani proses registrasi peserta Muktamar IDI ke 32 di areal Bandara Praya Zainudin Abdul Madjid Lombok, pada Selasa, 11 Februari 2025 pk. 22.30 waktu setempat, kami yang kelaparan segera menuju RM. Taliwang Alam Nyaman Jl. By Pass Bundaran BL Tanakawu. RM di dekat pintu gerbang Bandara Praya tersebut menyajikan menu Ayam Taliwang, yang makanan khas yang berasal dari Taliwang, Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Makanan ini berbahan dasar daging ayam. Daging ayam yang disajikan berasal dari ayam kampung muda yang dibakar kemudian dibumbui dengan semacam saus yang bahannya antara lain cabai merah kering, bawang merah, bawang putih, tomat, terasi goreng, kencur, gula merah, dan garam.
Setelah kenyang dan hampir mengantuk, kami segera naik HiAce Commuter menuju Kota Mataram, sekitar 43 km dari Bandara Praya Zainudin Abdul Madjid Lombok. Mataram merupakan kota terbesar sekaligus ibu kota dari Provinsi Nusa Tenggara Barat. Mataram merupakan Kota Inti kawasan Metropolitan Mataram Raya, sebuah kawasan metropolitan terbesar kedua di Kepulauan Nusa Tenggara setelah Sarbagita (Denpasar-Badung-Gianyar-Tabanan sebuah kawasan metropolitan di Provinsi Bali). Jumlah penduduk kota Mataram pertengahan tahun 2024 sebanyak 459.683 jiwa, dengan kepadatan penduduk sebanyak 7.500 jiwa/km2.
Kami segera check in di Hotel Lombok Raya Jl. Panca Usaha no 11 Mataram dan lanjut tidur nyenyak.
sekian laporan pandangan mata dan akan dilanjutkan lain waktu.
Ditulis dan diedarkan dari kamar C145 Hotel Lombok Raya di Mataram NTB, sambil masih mengantuk.
Rabu pagi, 12 Februari 2025
(bersambung)
KOTA MATARAM (hari kedua)
(sambungan)
Perjalanan kami bersama sejawat dokter dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ke Mataram, NTB dilakukan untuk mengikuti Muktamar XXXII IDI Tahun 2025. Muktamar IDI ke 32 dilaksanakan pada 12-15 Februari 2025, bertempat di Hotel Lombok Raya, Jl. Panca Usaha No 11, Mataram, Nusa Tenggara Barat.
Hari Rabu, 12 Februari 2025 saya terjaga di samping dr. Abdul Latief di kamar C145 Hotel Lombok Raya, untuk bergegas menuju Gereja Katolik St Maria Imaculata Jl Pejanggik Mataram. Saya berjalan kaki menyusuri Jl. Caturwarga melewati Hotel Aston dengan sedikit lari, karena pagi itu gerimis tidak mau berhenti dan misa kudus harian dilaksanakan pk. 6-6.30. setelah melewati beberapa blok, saya berbelok ke kanan masuk Gang IV untuk mencapai Jl. Pejanggik.
Selesai mengikuti misa kudus harian pagi di Gereja Katolik St Maria Imaculata Mataram NTB
Segera saya teringat Babad Lombok, yang menjelaskan tentang petualangan untuk menaklukkan wilayah Nusa Tenggara. Ekspedisi ini dipimpin Sunan Prapen yang berangkat bersama para mubalig Islam dan armadanya, dengan didukung puluhan kapal dan 10 ribu pasukan yang berasal dari daerah seperti Mataram Yogyakarta, Majalengka, Madura, Sumenep, Surabaya, Semarang, Gresik, Besuki Gembong, Candi, Betawi dan lainnya. Mereka dipimpin oleh pemukanya seperti Arya Majalengka, Ratu Madura dari Sumenep, Adipati Surabaya, Adipati Semarang, Patih Ki Jaya Lengkara, dan Raden Kusuma Betawi. Setelah mengislamkan raja Lombok Prabu Rangkesari, dengan berbasis di kotaraja Lombok di teluk Lombok, ekspedisi dipecah-pecah menjadi rombongan yang dikirim ke seluruh penjuru pulau Lombok.
Raja Mataram Prabu Rangkesari pada 1842 menaklukkan Kerajaan Pagesangan. Setahun kemudian yakni 1843 menaklukkan Kerajaan Kahuripan dan ibukota kerajaan dipidahkan ke Cakranegara, di daerah yang saya jelajahi pagi itu. Raja Mataram Lombok Prabu Rangkesari selain terkenal kaya raya juga adalah raja yang ahli tata ruang kota, bahkan melaksanakan sensus penduduk pertama kali.
Setelah selesai mengikuti misa harian pagi saya segera bergegas pulang ke Hotel Lombok Raya berjalan kaki melewati jalur lain dan kembali mengingat memori. Menyusuri Jl. Pejanggik sampai Air Mancur Mataram di persimpangan Jl. Bung Hatta, mengingatkan tentang Kerajaan Mataram yang dijatuhkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Pada 5 Juli 1894 ekspedisi Belanda yang dipimpin oleh Jenderal JA Vetter dan wakilnya Mayor Jenderal PPH Van Ham mendarat di Pelabuhan Ampenan. Pendaratan ini memicu pertempuran sengit dengan pasukan Kerajaan Mataram dan bahkan Mayor Jenderal PPH Van Ham terbunuh.
Monumen makam Mayor Jenderal PPH Van Ham, wakil komandan pasukan Belanda yang terbunuh tahun 1894, di seberang Hotel Lombok Raya
Jenazahnya sempat dimakamkan di Karang Jengkong, selanjutnya didirikan monumen gugurnya Van Ham, sampai sekarang masih sering dikunjungi oleh keluarga besarnya dari Belanda, dan terletak di seberang Hotel Lombok Raya tempat saya menginap, yang pagi itu saya lewati sepulang dari Gereja Katolik St Imaculata. Cukup merinding juga bulu kuduk saat melewati areal tersebut, karena menjadi teringat bahwa sejak itu Belanda mulai menerapkan sistem pemerintahan dwitunggal, yang berada di bawah Afdeling Bali Lombok, yang berpusat di Singaraja, Bali.
Setelah kemerdekaan Indonesia, Kota Mataram menjadi ibukota Propinsi NTB yang terbagi atas 6 kecamatan, yaitu Kecamatan Ampenan, Cakranegara, Mataram, Sandubaya, Selaparang dan Sekarbela.
Setelah sampai di Hotel Lombok Raya, saya segera menuju restoran untuk sarapan dan bertemu banyak dokter peserta Muktamar IDI ke 32, salah satunya adalah Dr. dr. M. Abid Khomaidi, SpOT yang akan mengakhiri jabatannya sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) periode 2022-2025. Dalam obrolan asyik semeja di dekat konter minuman panas, diselingi banyak anggukan kepala, lambaian tangan, berdiri berpelukan dan say hallo dengan banyak sejawat dokter lainnya, dr. Adib menjelaskan tentang posisi IDI sebagai organisasi profesi dokter ke depan. Setelah berlakunya UU nomor 17 tahun 2023 omnibuslaw tentang Kesehatan, peran IDI dalam aspek mutu dan legal sudah diambil alih oleh Kementerian Kesehatan RI, sehingga tinggal peran etik profesi medis yang harus tetap dipertahankan. Peran para pengurus IDI di semua tingkatan sangat menentukan, apakah IDI sebagai organisasi profesi dokter akan tetap dihargai oleh para dokter anggota, apalagi sekarang tidak lagi memiliki sumber pendapatan organisasi, baik berupa iuran wajib anggota ataupun dana pengurusan SKP (Satuan Kredit Profesi) IDI, termasuk biaya administrasi terbitnya rekomendasi ijin praktek dokter. Namun demikian, dr. Adib tetap optimis bahwa di hampir semua daerah di Indonesia, IDI tetap menjadi organisasi profesi dokter yang keberadaannya diakui oleh pemerintah daerah. Bahkan dr. Adib mencontohkan beberapa pengurus IDI Cabang tetap mampu menghidupi organisasi, berkoordinasi dengan dinas kesehatan setempat, mendapatkan dana operasional melalui program peningkatan kemampuan SDM dan mendampingi para dokter anggota yang menghadapi sengketa medis. Kita dianjurkan untuk meneladani aktivitas pengurus IDI Cabang Lamongan Jatim, Kampar Riau dan Bogor Jabar, yang disebut dr. Adib sebagai beberapa contoh IDI Cabang yang tetap hidup, berkembang baik dan berdenyut secara kreatif.
Kenangan saat berfoto bersama dengan Dr. dr. M. Adib Khomaidi, SpOT, Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia periode 2023-2025, saat sarapan pagi di Hotel Lombok Raya Mataram NTB
Setelah berfoto bersama dengan dr. Adib, saya segera menyampaikan rasa hormat dan pamit undur untuk mengikuti rangkaian simposium Muktamar IDI ke 32, di Ruang Selaparang dengan tema besar ‘Principal Management in Acute Onset’. Saya segera berkonsentrasi mengikuti simposium sesi pertama bertema : ‘Disaster triage and Orthopaedi management in acute onset earthquake’ oleh dr. Yogi Prabowo, SpOT(K) dari RS Islam Jakarta, kemudian ‘Neurosurgical emergencies management in earthquake disaster’ oleh Dr. dr. Bambang Priyanto, SpBS(K) dari Siloam Hospitals Mataram, dan ‘Initial response in health crisis condition’ oleh dr. Eko Widya Nugroho, SpEM Kepala Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Provinsi NTB. Topik menarik ini terinspirasi oleh gempa bumi besar tahun 2018 yang meluluhkan Mataram dan sekitarnya, terulang setiap sekitar 40 tahun, dan waktu itu saya hadir mewakili pengurus IDI Wilayah DIY memberikan bantuan dana, yang diterima oleh Dr. Dody Ario Kumboyo SpOG(K) sebagai Ketua IDI Wilayah NTB.
Saya segera pindah ke ruang Rinjani untuk mengikuti simposium paralel dengan topik : Mengenal dan tatalaksana hirscsprung disease oleh dr. Sunanto, SpBA, ‘Chronic venous insufisiency curent diagnostic and management’ oleh dr. I Made Arya Winatha, SpB(K)V, seorang Dokter Bedah Vaskular di Siloam Hospitals Mataram, ‘Cryosurgery: A New Option for Late-Stage Tumor Management’ oleh dr. Maz Isa Ansyori Arsatt, Sp.BTKV, Diagnosis dan tatalaksana retensio urine oleh dr. Akhada Maulana, SpU, ‘Abdominal compartement syndrome’ oleh dr. Aulia Ahimsa Martawiguna, MBiomed, SpB. Lanjut kembali ke ruangan sebelah untuk mendengarkan ‘Code Stroke and hyperacute treatment of ischemic stroke’ oleh Dr. dr. Sumantri, SpS, FINS, FINA, ‘neurointerventional management for ischaemic stroke: neurosurgery perspectiv’ oleh dr. Affan Priyambodo Permana, SpBS, ‘Hemorhagic stroke, neurointerventional approach’ oleh dr. Achmad Firdaus Sani, SpS(K), FINS, ‘Hemorhaegic stroke : do surgery of endovascular intervention’ oleh Dr. dr. Nur Setiawan Suroto, SpBS (K) dari Surabaya, dan ‘Update in Cervical Cancer Management’ oleh dr. I Made Widyalaksana Mahayasa, SpOG(K)Onk. Simposium yang menurut saya paling menarik adalah ‘Prenatal care: Early Diagnosis and Prompt Treatment’ oleh dr. Agus Rusdhy Hariawan Hamid, SpOG, SubsKFm, MARS, dan ‘Dealing with postpartum hemorrhage’ oleh dr. Ario Danianto, SpOGK(Subsp K.Fm). Diselingi pindah ruangan lagi untuk mengikuti simposium bertema ‘Pre-Hospital Medical Personnel Challenges in Large Scale Sport Event’ oleh dr. Mokh. Rakhmad Abadi, SpKO, ‘Management Muskuloskeletal Injury in Mass Public Event’ oleh dr. Audi Hidayatullah Syahbani, SpOT, dan ‘Awareness of Cardiac Arrest Among Sport Enthusiasts’ oleh dr. Yusra Pintaningrum, SpJP, FIHA, FAPSC, FAsCC.
Tertidur kelelahan yang sangat.
Setelah cukup penat dan lelah mengikuti berbagai perkembangan teknologi dan ilmu kedokteran terkini pada simposium paralel tersebut, saya segera bergabung dengan para dokter dari IDI Wilayah DIY untuk menjelajahi Lombok. Menggunakan 2 buah HiAce Commuter warna putih, berpelat nomer DR, dan velg mobil bercat emas, kami segera membelah gerimis yang tetap saja turun tanpa bosan, menuju toko grosir mutiara A&R di sebuah gang kecil Jl. Darul Hikmah, Genteng, Pagutan, Mataram. Setelah tertidur lelap saat teman2 sejawat berbelanja aneka perhiasan mutiara, kami lanjut menuju kampung Adat Sade, berupa komunitas asli suku Sasak yang masih menjaga tradisi aslinya.
Gerbang desa Sade yang eksotik, kampung adat suku Sasak di Lombok Tengah.
Desa Sade terletak di Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat, yang berada satu dusun dengan Desa Rembitan. Lokasi Desa Sade berada persis di samping Jalan Raya Praya-Kuta. Kami menikmati perjalanan di jalan nasional yang lebar, 4 jalur dengan sparator, halus dan nyaman seolah berupa jalan tol, sangat berbeda dengan jalanan padat di Pulau Jawa. Desa Sade merupakan salah satu Desa Adat Suku Sasak yang masih mempertahankan adat dalam kehidupan kesehariannya. Adat suku Sasak merupakan salah satu daya tarik wisatawan, baik dalam negeri maupun luar negeri. Desa Adat Sade memiliki sejarah panjang, dimana adat suku Sasak telah berlangsung kurang lebih 1.500 tahun yang lalu.
Penjelasan pendahuluan oleh seorang warga setempat, tentang adat suku Sasak di Desa Sade, Lombok Tengah
Saat memasuki halaman parkir, kami langsung melihat atap rumah warga yang terbuat dari anyaman bambu, berdiri kokoh di antara bangunan tembok warga sekitar, berbeda mencolok dengan nuansa pedesaan tradisional yang sangat terasa di Desa Sade. Luas Desa Sade sekitar 5,5 hektar dan memiliki sekitar 150 rumah. Setiap rumah terdiri satu kepala keluarga. Semua penduduk Desa Sade adalah suku Sasak Lombok. Penduduk Desa Sade masih satu keturunan karena mereka melakukan perkawinan antar saudara. Makanya saat anak-anak melintas dalam lari di sekitar kami, terlihat bahwa raut wajahnya saling mirip.
Keunikan Desa Sade adalah rumah beserta fungsinya yang terdiri dari beberapa jenis, yaitu Bale Bonter, Bale Kodong, dan Bale Tani. Masing-masing rumah memiliki fungsi yang berbeda. Bale Bonter berfungsi sebagai rumah pejabat desa. Bale Bonter juga berfungsi sebagai tempat persidangan adat. Sementara Bale Kodong berfungsi sebagai tempat tinggal untuk orang-orang yang sudah jompo. Tempat tersebut juga digunakan untuk orang sudah menikah namun belum memiliki tempat tinggal. Bale Tani berfungsi sebagai tempat tinggal masyarakat yang kebanyakan berprofesi sebagai petani.
Suasana gelap di dalam ruang utama rumah suku Sasak di Desa Sade Lombok Tengah, dengan lantai yang telah diolesi kotoran sapi.
Masyarakat Desa Sade memiliki kebiasaan membersihkan lantai rumah dengan kotoran kerbau atau sapi sekitar semiinggu sekali. Tujuannya supaya lantai bersih dari debu-debu yang melekat, menguatkan lantai, dan berfungsi untuk mencegah serangga, terutama nyamuk agar tidak masuk ke dalam rumah. Rumah Desa Sade memiliki desain yang sederhana, berdinding anyaman bambu, atap alang-alang kering, dan lantai yang terbuat dari campuran tanah liat dengan sekam padi. Bangunan rumah Desa Sade juga tahan gempa, masih terlihat kokoh meskipun wilayah tersebut pernah diguncang gempa.
Kenangan saat diterima oleh Dr. dr. Doddy Ario Kumboyo SpOG(K), Ketua IDI Wilayah NTB waktu itu, saat saya mengirimkan bantuan medis untuk korban gempa bumi NTB Agustus 2018
Mata pencaharian penduduk Desa Sade adalah petani. Mereka menanam padi di sawah tadah hujan yang tidak ada irigasinya, dengan masa panen setahun sekali. Di tengah menunggu masa panen, penduduk Desa Sade memiliki pekerjaan sampingan menenun untuk memenuhi kebutuhan pokok.
Bergaya sebelum melanjutkan perjalanan, di Gerbang Desa Sade sebuah desa adat suku Sasak di Lombok Tengah
Perjalanan selanjutnya setelah puas menikmati Desa Sade adalah melalui Jalan By Pass Bandara Internasional Lombok, untuk menuju Mandalika, sebuah kawasan wisata seluas 20.035 hektar yang berlokasi di Kuta, Pujut, Kabupaten Lombok Tengah NTB. Sejak 2017, Mandalika sudah diresmikan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pariwisata yang direncanakan dapat menjadi kawasan wisata. Nama Mandalika berasal dari nama seorang putri dalam cerita rakyat yang terkait dengan perayaan Nyale di Lombok.
Kawasan Mandalika awalnya direncanakan sebagai proyek investasi oleh Emaar Properties dari Uni Emirat Arab dengan penandatanganan nota kesepahaman pada 19 Maret 2008. Rencana tersebut kemudian dibatalkan karena terjadinya resesi ekonomi dunia tahun 2008.
Tujuan selanjutnya adalah merasakan sensasi balap di Sirkuit Mandalika Lombok Tengah
Kami segera menuju Sirkuit balap Internasional Mandalika, sirkuit Mandalika, atau dengan nama resminya yaitu Pertamina Mandalika International Street Circuit, yang diresmikan pada tanggal 12 November 2021 oleh Presiden Joko Widodo. Sebelumnya pada tanggal 23 Februari 2019. Lintasan balap di Mandalika memiliki panjang 4.320 kilometer dengan 17 tikungan. Sirkuit Mandalika menjadi tempat penyelenggaraan MotoGP dan Kejuaraan Dunia Superbike yang dibangun oleh Vinci Grand Projects. Proyek klaster olahraga dan hiburan seluas 120 hektare dengan kapasitas 195.700 ini mencakup pembangunan hotel dan fasilitas lainnya.
Pantai Mandalika yang eksotik, di samping sirkuit balap termegah di Indonesia
Sebagai bagian dari pemeliharaan konservasi, vegetasi yang menjadi latar belakang kawasan Resor Mandalika akan ditetapkan sebagai kawasan konservasi seluas lebih dari 3.000 hektar. Kawasan dengan banyak spesies asli ini hanya dapat diakses untuk kegiatan lingkungan berdampak rendah, seperti bersepeda atau mendaki, demi meminimalkan kerusakan pada flora dan fauna.
Bergaya di tribun penonton dekat sebuah tikungan sirkuit balap Mandalika, Lombok Tengah
Setelah berfoto bersama di tribun penonton dan melihat aktivitas mobil penyelamat melintas sitkuti balap Mandalika, kami segera menuju ke Bukit Seger yang menjadi pusat perhatian karena pernah menjadi spot foto pebalap MotoGP Repsol Honda, Marc Marquez. Pada waktu itu, Marquez datang ke Lombok bersama beberapa pebalap lainnya saat mengikuti tes pramusim MotoGP di Pertamina Mandalika Street Circuit atau Sirkuit Mandalika, Jumat (11/2/2022).
Gerbang Bukit Seger Mandalika Lombok
Bukit Seger adalah tempat terindah untuk melihat sunset dan menikmati panorama alam yang sangat indah. Dari situ saya dapat melihat tikungan maut Sirkuit Mandalika di sisi kiri, yang hanya dibatasi oleh sebuah jalan sekitar 50 meter sudah ada bibir pantai dengan ombak yang landai, di sisi kanan. Bukit Seger juga menjadi tempat untuk melihat adu balap, kelincahan pembalap melahap tikungan, dan keceriaan suasana balap di Sirkuit Mandalika.
Dari puncak Bukit Seger kita dapat melihat sebuah tikungan tajam Sirkuit Mandalika di sebelah kiri dan bibir pantai di sebelah kanan, yang dipisahkan hanya oleh sebuah areal paling sempit.
Setelah puas berfoto, kami segera meninggalkan Bukit Seger Mandalika dan lanjut kembali ke Hotel Lombok Raya, untuk mengikuti rapat koordinasi antar IDI Wilayah dan IDI Cabang seluruh Indonesia di ruang pertemuan utama (ballroom) Hotel Lombok Raya lantai 2.
Setelah selesai acara, lanjut saya ikut reuni tipis dengan teman sekelas di SMA Kolese de Britto Yogyakarta (JB). Om Pengky Jupiter (d/h The Tiong Peng) teman sekelas saya saat SMA saat ini adalah Direktur Utama PT Narmada, seorang asli Mataram. Perusahaannya memproduksi air mineral kemasan dengan merk Narmada, yang bersiap IPO menjadi perusahaan publik. Sangat senang bertemu teman yang lama tidak bersua, segera saya diajak keliling kota Mataram.
Diantar Om Pengky Jupiter memasuki areal alun-alun Ampenan
Tujuan pertama adalah salah satu lokasi kota tua yang dapat kita nikmati di Pulau Lombok, yaitu Ampenan. Saat ini menjadi kecamatan Ampenan yang berjarak sekitar 5 kilometer dari pusat kota di Mataram. Ampenan berasal dari kata “amben” yang dalam bahasa Sasak artinya adalah tempat persinggahan. Sejak abad 19 Ampenan telah menjadi pusat perdagangan yang ramai. Pada masa lalu, Ampenan merupakan pusat kota Lombok yaitu ketika Pemerintah Hindia Belanda menunjuknya sebagai Afdeeling atau wilayah administrasi setingkat kabupaten berdasarkan Staatbald nomor 181 tahun 1895 tertanggal 31 Agustus 1895.
Melalui peraturan itu pihak kolonial menjadikan Pulau Lombok sebagai bagian dari Karesidenan Bali dengan Ampenan sebagai pusat kegiatan jasa dan perdagangan. Sebagai sebuah pusat bisnis, pihak Hindia Belanda melengkapi Ampenan dengan kantor bank, bioskop, pasar, rumah ibadah, kantor dagang, permukiman kelas menengah dan rumah-rumah pejabat Belanda. Ciri khas bangunan-bangunan kolonial di Ampenan adalah dindingnya yang sangat tebal.
Melihat sebuah kapal tanker berlabuh di Pelabuhan Ampenan diantar Om Pengky Jupiter
Pada 1924 mereka membangun pelabuhan di pesisir Ampenan dan sejak itu kota buatan Belanda itu makin ramai. Pelabuhan Ampenan menjadi pintu keluar bermacam komoditas penting Pulau Lombok seperti padi, ternak sapi dan kuda yang dikirim ke daerah-daerah lain di Nusantara serta untuk kebutuhan ekspor. Ampenan perlahan mulai ditinggalkan sebagai kota perdagangan dan jasa ketika Jepang masuk dan menduduki Lombok dan menjadikan Mataram sebagai pusat pemerintahan. Kehidupan di Ampenan yang berpenduduk sekitar 90.000 jiwa tersebut semakin sepi tatkala pemerintah pada 13 Oktober 1977 memindahkan aktivitas pelabuhan ke Lembar sampai hari ini.
Setelah tidak lagi menjadi pusat perdagangan dan jasa, denyut kehidupan di Ampenan tetap terjaga. Mulai dari Jembatan Ampenan menuju ke Jalan Pabean hingga ke Pantai Ampenan yang kini dikenal sebagai Pantai Boom, masih kental dengan suasana tempo dulu. Memasuki kawasan ini dari Jembatan Ampenan, akan terlihat bangunan-bangunan tua yang masih kokoh berdiri, kendati rata-rata kondisinya kurang terawat.
Kota Tua Ampenan memiliki ratusan bangunan berarsitek Belanda yang menjadi cagar budaya. Bangunan yang berada di tepian jalan raya yang menghubungkan Kota Mataram dengan kawasan wisata Senggigi itu kini dalam kondisi rusak, tidak terawat, dan tidak berpenghuni. Padahal, Kota Tua Ampenan adalah salah satu dari 43 kota di Indonesia yang ditetapkan sebagai Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI).
Sejumlah bangunan tua di Jalan Niaga juga sudah ditata menjadi sebuah ruang kreatif dikemas dalam sebuah kegiatan “Ampenan Huis”. Lokasi itu dapat digunakan untuk para pelaku seni dan budaya untuk menampilkan hasil karya terbaiknya setiap akhir pekan. Pemkot Mataram bahkan telah membeli bangunan tua bekas Bank Dagang Belanda (Nederlandsch Indische Handelsbank) yang ada di areal bekas Pelabuhan Ampenan. Bangunan tua bekas Bank Dagang Belanda bergaya art deco tersebut dibeli, guna menyelamatkan cagar budaya yang harus dijaga dan dilestarikan.
Bangunan tua bekas Bank Dagang Belanda (Nederlandsch Indische Handelsbank) bergaya art deco dengan atap tinggi yang ada di areal bekas Pelabuhan Ampenan.
Setelah berfoto bersama Om Pengky di bangan bekas Bank Dagang Belanda, kami segera menuju rumah asli Om Pengky di dekat wihara Ampenan. Rumah tua, terawat dan bersejarah itu sekarang ditinggali oleh kakak tertua. Selanjutnya kami menikmati inspirasi dari abad ke-18, yaitu Cakranegara. Sekarang menjadi Kecamatan Cakranegara, tetapi ini telah memberi contoh bagaimana seharusnya sebuah kota dibangun, karena kota lama ini dirancang dengan masterplan modern yang melampaui zamannya. Sisa-sisanya masih dapat dilihat sampai sekarang, yaitu Kota Cakra ini tersusun dalam blok-blok persegi (grid pattern) dengan jalan dan gang-gang lebar presisi yang terhubung satu sama lain. Cakranegara adalah kota yang dibangun ulang di permulaan abad ke-18 oleh Kerajaan Karangasem di Bali yang berkuasa di masa itu. Kota ini kemudian disempurnakan kembali oleh dinasti Kerajaan Mataram setelah perang suadara 1838. Kota ini didesain berdasarkan mitologi Hindu, dengan dataran rendah Cakranegara dibagi dalam blok-blok pemukiman yanh menempatkan Pura Meru Mayura berada di tengah. Sementara di sisi barat terdapat Pura Dalem, Karang Jangkong dan Pura Puseh di pojok sebelah timur, menyerupai formasi kota kuno di Bali.
Sisa-sisa keteraturan Cakranegara masih terasa hingga kini. Cakra dibagi oleh dua jalur arteri utama (marga sanga) yang saling menyilang, yaitu jalan Pejanggik-Selaparang yang membelah timur-barat dari Karang Jangkong hingga Sweta. Kemudian dari utara-selatan ada jalan Sultan Hasanudin–AA Gede Ngurah yang menghubungkan Karang Taliwang dan Abian Tubuh. Dua jalur ini bertemu di perempatan Cakranegara di depan Hotel Lombok Plaza.
Penataan kota dengan jalan yang lebar ini memudahkan lalulintas orang dan barang. Selain itu, juga mendukung aspek pertahanan sebuah pusat pemerintahan. Cakra dibangun tepat di tengah jalur yang menghubungkan Pelabuhan Ampenan dan Labuhan Lombok. Jalan ini juga menghubungkan akses Cakra dengan Pelabuhan Lembar dan Lombok Utara.
Pada awalnya Cakranegara dirancang untuk 33 banjar (lingkungan). Angka 33 merujuk pada bilangan khusus dalam kepercayaan Hindu dimana ada 33 dewa yang menghuni Puncak Meru (Mahameru). Dalam desainnya, satu lingkungan (karang) terdiri atas 80 kapling rumah yang terbagi atas empat marga. Satu marga memanjang utara selatan, tersusun atas 20 kapling rumah yang saling memunggungi. Hal inilah yang membuat setiap rumah akan berhadapan langsung dengan jalan baik jalan marga sanga (jalan utama) marga dasa (jalan lingkungan) dan marga (jalan kecil/gang). Dengan pengaturan ini setiap keluarga di Cakranegara akan menempati satu kapling lahan dengan luas antara 6-8 are.
Sementara itu setiap lingkungan (karang) dibagi melintang utara-selatan dengan jalan-jalan yang sedikit lebih sempit atau yang dikenal dengan Marga Dasa. Di ujung barat misalnya ruas-ruas ini menghubungkan Jalan Kebudayaan di utara dengan Jalan Songket di selatan. Oleh karena itulah setiap orang sebenarnya tidak akan tersesat di jalan, karena semua jalur marga dasa akan memiliki persilangan dengan jalur utama Marga Sanga.
Lebih dari itu penataan ini memungkinkan sisi jalan ditumbuhi pohon-pohon pelindung. Kemudian dilengapi saluran drainase yang terhubung dengan kanal-kanal lebih besar menuju sungai. Hal inilah yang membuat Cakra selalu siap menghadapi banjir karena pemukiman dibangun lengkap dengan sistem pembuangan air hujan yang terpadu.
Selayaknya sebuah Super Cluster dalam perumahan modern, Cakra juga dilengkapi ruang-ruang publik dan pusat perekonomian. Selain Pura Miru hampir semua lingkungan memiliki Pura. Kemudian sebagai pusat ekonomi Pasar Cakra dibangun. Ini adalah bentuk umum pasar-pasar lama baik di Jawa dan Bali, yang berdiri tak jauh dari gerbang pura yang sampai sekarang masih dapat dilihat. Sebagai daerah koloni Karangasem, nama-nama kampung di Cakranegara juga banyak diambil dari nama-nama tempat di Bali. Seperti Karang Ujung, Sindu, Pondok Perasi, Pagutan, Karang Tangkeban, Tohpati dan lainnya. Tatakelola Hindu-Bali yang dianut dalam penataan Kota Cakranegara juga berpengaruh pada pengaturan penghuni daerah perumahan di distribusikan menurut empat kasta yang ada, Brahmana, Kesatriya, Weisya dan Sudra.
Dalam sistem Kota Cakranegara kebanyakan para Brahmana tinggal di sebelah Utara dan Timur. Ini mengacu pada arah Timur laut adalah arah yang dianggap suci mengikuti arah Gunung Rinjani. Sedangkan kasta Ksatriya sebagian besar banyak yang tinggal disebelah Barat. Kasta Weisya banyak yang tingal disebelah Timur. Sementara kasta sudra atau Bali biasa, banyak hidup di semua bagian blok sesuai aturan kerajaan. Sejumlah perkampungan Muslim Sasak diizinkan berdiri diantara perkampungan Bali di Cakra dan Mataram, yang pada awalnya masih terbatas bagi mereka yang memiliki keterampilan khusus. Seperti para perawat gamelan di Karang Kemong, perajin emas di Kamasan dan Sekarbela, juru masak di Karang Tapen dan Pelaras dan pembuat Senjata di Karang Bedil.
Wajah Kota Cakranegara berubah seiring dengan runtuhnya dinasti Mataram. Perang melelahkan dengan koalisi Timur Juring dan Belanda di tahun 1894 mengakhiri riwayat kerajaan Mataram ini. Selepas perang hampir seluruh perkampungan Bali di Mataram dan Cakra dihancurkan. Harta kerajaan dijarah, termasuk 453 kilogram emas, 3.173 kilogram harta berbahan perak dan 75 peti permata dan batu mulia lainnya. Ini belum termasuk benda-benda penting seperti senjata dan naskah-naskah kuno di perpustakaan kerajaan Mataram. Sementara sisa-sisa keluarga Kerajaan Mataram yang selamat ditangkap dan diasingkan. Mereka tak diperkenankan bersatu kembali dengan jalan diasingkan terpisah di Batavia, Cianjur, Sulawesi dan Bengkulu. Sementara sebagai penguasa baru, Belanda membawa para bangsawan Bali dari Buleleng untuk memimpin Cakranegara.
Puri raja kini menjadi komplek pertokoan di barat Taman Mayura. Yakni dari Jalan Selaparang hingga Jalan Tenun di utara. Setelah Belanda berkuasa, Mataram dipilih sebagai pusat pemerintahan. Sementara Cakra bergerak sebagai pusat niaga. Bersamaan dengan itu pola hunian dan kepemilikan lahan di Cakra tak lagi berdasar kasta. Semua orang bebas memiliki lahan selama tak bertentangan dengan aturan Kolonial Belanda. Sejak saat inilah Cakra menjadi lebih heterogen. Mayarakat Sasak yang dulu berada di luar boleh masuk selama mampu membeli lahan. Kemudian etnis lain seperti Cina, Arab, Bugis, Jawa dan lainnya bisa berdampingan dengan masyarakat Hindu-Bali yang sebelumnya menguasai kota. Hasilnya bisa dilihat kini, Cakra tak hanya didominasi Pura. Rumah ibadah lain seperti Masjid, Vihara hingga Gereja dapat ditemui. Namun di balik itu struktur kota yang dibangun dalam pola grid ini masih bertahan hingga kini.
Disambut Ibu Desi, istri Om Pengky yang berdarah Belanda, di rumahnya yang artistik di Mataram
Setelah puas menikmati pesona kota yang tertata di Cakranegara, kami segera menuju rumah Om Pengky Jupiter yang indah, luas, dan bersih di belakang kompleks Kejaksaan Tinggi NTB di Dasan Agung Mataram. Saat ini Om Pengky hanya tinggal berdua bersama mbak Desi, sang istri yang berdarah Belanda, karena puteri tunggalnya kuliah Desain Komunikasi Visual (DKV) di Singapura. Saya senang sekali ikut menikmati acara persiapan cap go meh di rumah indah itu, yang dilengkapi kolam renang pribadi, bahkan kami semua sesama alumni JB 84 diundang ke Mataram, akan dijamin senang. Suasana Imlek masih tersisa di beberapa sudut rumahnya, yang membuat siapapun pasti kerasan tinggal di rumah tersebut, mbak Desi, istrinya yang cantik, ramah dan berdarah Belanda telah menyiapkan hidangan khas Mataram. Kami mengobrol di ruang tengah yang lebar di dekat kolam renang pribadi, dan ngobrol berbagai kenangan indah maupun menyakitkan, saat kami bersama di SMA Kolese de Britto Yogyakarta. Oleh karena bersamaan dengan acara cap go meh di rumahnya, saya segera pamit untuk jalan lagi dan atas kebaikannya, sopir dan mobil Honda CRV disiapkan untuk mengantar saya.
Sore itu saya menikmati kota Mataram yang merupakan kota multi etnis dan agama. Pengaruh budaya Sasak dan Bali, sangat terasa di kota ini. Adapun keberagaman penduduk kota Mataram menurut agama yang dianut (2024), yakni pemeluk agama Islam 83,02% yang umumnya dianut suku Sasak, kemudian Hindu 13,72% yang dianut suku Bali.
Masjid Raya Hubbul Wathan Islamic Center Lombok yang memiliki menara setinggi 99 meter dan dinamakan Asmaul Husna
Lombok bahkan dijuluki sebagai Pulau Seribu Masjid, karena mayoritas masyarakatnya memeluk agama Islam. Sebutan ini bermula dari kunjungan Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama Effendi Zarkasih di tahun 1970, saat meresmikan Masjid Jami Cakranegara atau yang sekarang lebih resmi dikenal sebagai Masjid Raya Hubbul Wathan Islamic Center Lombok. Sebagai ikon religi di Lombok, Masjid megah ini adalah destinasi yang tak boleh dilewatkan, terletak di pusat kota, dan memiliki menara setinggi 99 meter yang dinamakan Asmaul Husna. Kemegahan arsitekturnya menggabungkan nuansa Islam dengan motif batik khas Sasambo. Tidak hanya menjadi tempat ibadah, masjid ini juga menawarkan panorama indah dari puncak menara yang memungkinkan menikmati pemandangan Kota Mataram dari ketinggian.
Taman Mayura yang indah bercorak Hindu Bali dan terawat baik di Mataram NTB
Selanjutnya saya menikmati keindahan taman Air Mayura, yang merupakan peninggalan sejarah masa kerajaan di Lombok. Nama “Mayura” diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti merak. Dulunya, burung merak dihadirkan di taman ini untuk mengusir ular yang sering mengganggu pengunjung. Selanjutnya saya mengagumi keelokan Pura Meru, yang berdiri gagah tidak jauh dari Taman Air Mayura dan merupakan pura terbesar di Lombok. Pura ini dibangun pada masa kerajaan oleh Anak Agung Ngurah Karangasem dan memiliki 33 sanggah yang melambangkan desa-desa di sekitarnya yang berperan dalam pembangunannya. Akan dapat dilihat perpaduan arsitektur khas Lombok dengan sentuhan Jawa Kuno, menciptakan nuansa spiritual yang unik.
di gerbang Istana Narmada yang sangat luas dan menawan, tetapi sudah terlanjur tutup sore itu
Lebih ke utara lagi, sore itu saya mengunjungi Istana Narmada, sebuah kompleks taman dan istana yang dibangun oleh Raja Anak Agung Gede Karangasem pada tahun 1727. Istana ini dibangun sebagai replika mini dari Gunung Rinjani dan Danau Segara Anak, yang digunakan sebagai tempat upacara keagamaan dan peristirahatan raja. Namun demikian, sore itu Istana Narmada yang telah menjadi objek wisata populer sudah tutup jam kunjung, sehingga saya tidak mampu menikmati pemandangan yang asri, nuansa Hindu yang kental, dan sejarah yang kaya.
Kemudian saya diantar mengunjungi salah satu pabrik air mineral kemasan Narmada, yang tengah berkembang pesat. Om Pengky Jupiter teman sekelas saya di SMA Kolese de Britto Yogyakarta dulu, adalah manajer bertangan dingin yang membuat perusahaan tersebut cepat besar.
Om Pengky Jupiter teman sekelas saya di SMA Kolese de Britto Yogyakarta dulu, adalah manajer bertangan dingin yang membuat perusahaan Narmada pembuat air mineral kemasan tersebut cepat besar.
Bersama dr. Suwardiman MKes SpKKLP teman seangkatan saya di FK UGM 84, sebagai utusan IDI Cabang Kota Metro Lampung, saat menghadiri malam kesejawatan pada Muktamar IDI ke 32 di Hotel Lombok Raya Mataram
Selanjutnya saya diantar pulang kembali ke Hotel Lombok Raya Mataram untuk berpakaian adat Ngayogyakarta Hadiningrat dalam menghadiri malam keakraban peserta Muktamar IDI ke 32. Pada malam yang hingar bingar musik, sajian menu makanan aneka ragam dan gemerlap lampu di taman dekat kolam renang hotel, juga diberikan penghargaan IDI untuk Prof. dr. Yati Sunarto, SpAK, PhD, guru saya di Bagian Anak FK UGM Yogyakarta, yang membuat tambah bangga.
berpakaian adat Ngayogyakarta Hadiningrat dalam menghadiri malam keakraban peserta Muktamar IDI ke 32 berpakaian adat Ngayogyakarta Hadiningrat dalam menghadiri malam keakraban peserta Muktamar IDI ke 32
Sowan senior kakak kelas 2 tingkat di FK UGM Yogyakarta, yang menjadi Health Specialist Unicef NTT dan NTB, dr. VAMA Chrisnadharmani, MPH saat menginap di Fave Hotel Mataram, karena menjalankan tugas supervisi di Kabupaten Lombok Utara
Selanjutnya saya mengunjungi senior Dr. VAMA Chrisnadharmani Taolin, MPH Health Specialist Unicef Indonesia Perwakilan Kupang NTT, yang sedang menjalankan program pelatihan di Kabupaten Lombok Utara dan menginap di Fave Hotel Mataram NTB. Kiprah Univef Devisi Kesehatan di NTB misalnya adalah program pemantauan kondisi bayi baru lahir oleh orang tua, program MTBS (Manajemen Balita Sakit) dan kegawatdaruratan medis yang mudah dikenali orangtua, agar anak tidak terlambat dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat. Kisah inspiratif karya Unicef Indonesia untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat terpencil ini terbawa sampai mimpi pada tidur nyenyak saya di kamar C145 Hotel Lombok Raya Mataram malam itu.
Sekian dulu tulisan yang dibuat di lorong Hotel Lombok Raya, setelah sarapan pada Kamis pagi, 13 Februari 2025. Terimakasih
(Bersambung lain waktu, dengan petualangan lebih lanjut).
Salam pengelana -wikan
Disebarkan dari dalam kabin senyap bis Tiara Mas jurusan Bima Jakarta PP, yang membawa saya meninggalkan Mataram NTB menuju Denpasar Bali
DI MATARAM HARI KETIGA (laporan terakhir)
Kamis, 13 Februari 2025 saya mengikuti rombongan dokter dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pada Muktamar ke 32 IDI Tahun 2025 di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Pagi itu kami awali dengan sarapan bersama Dr. Ulul Albab, SpOG Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia periode 2022-2025. Obrolan santai di sela-sela sarapan menyinggung tentang tingginya biaya layanan kesehatan di Indonesia dibandingkan dengan di Malaysia, khususnya Penang. Dijelaskan bahwa perbedaan pandangan telah terjadi saat diskusi antara PB IDI dengan Kemenkes RI, dimana Kemenkes RI menyoroti biaya promosi obat kepada para dokter yang besar, yang harus ditanggung pasien adalah masalah prioritas yang harus dibereskan terlebih dahulu, agar biaya layanan kesehatan dapat diturunkan. Sebaliknya, PB IDI justru menilai bahwa penerapan pajak atas berbagai produk obat dan alat kesehatan yang besar dan kadang ganda, justru harus lebih dahulu diturunkan, bahkan kalau perlu dibebaskan. Perbedaan kedua sudut pandang ini belum dapat dijembatani sampai kepengurusan Dr. Ulul pada PB IDI akan berakhir.
Bersama dr. Ulul Albab, SpOG Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia
Setelah diskusi hangat sambil sarapan tersebut, kami segera bergegas untuk mengikuti rangkaian acara Pembukaan Muktamar IDI ke 32 yang diagendakan berlangsung pk. 8-9.30. Acara yang diselenggarakan di ruang pertemuan utama (ballroom) Hotel Lombok Raya Mataram NTB, dikawal ketat oleh banyak personil keamanan, panitia yang cekatan dan dihadiri dengan antusiasme oleh delegasi, dengan kehadiran hampir 80 persen dari seluruh IDI Cabang di Indonesia.
bersama mas dr. Bambang Suyamto SpTHT Ketua IDI Cabang Rembang Jawa Tengah, teman seangkatan saya di FK UGM Yogyakarta
Saya berjumpa dengan dr. Bambang Suyamto, SpTHT Ketua IDI Cabang Kabupaten Rembang, Jawa Tengah teman seangkatan di FK UGM Yogyakarta tahun 1984 dan mas dr. Didik Wijayanto Ketua Kompartemen JKN PB IDI periode yang lalu, kakak kelas setahun di FK UGM Yogyakarta. Reuni tipis tersebut sangat menyenangkan, karena dihiasi obrolan santai dan kenangan saat kuliah dahulu.
Bersama dengan mas dr. Didik Wijayanto Ketua Kompartemen JKN PB IDI, kakak kelas setahun di FK UGM dan Asrama Mahasiswa Ralealino Yogyakarta
Kemudian kami semua mengikuti acara resmi pembukaan Muktamar IDI ke 32, sebagai salah satu momentum memperkuat nilai-nilai kesejawatan serta profesionalisme dokter yang tertanam dalam Sumpah Dokter sebagai modal utama menghadapi tantangan masa depan.
Bersama Dr. dr. Dodi Ario Kumboyo SpOG(K) mantan Ketua IDI Wilayah NTB sebelum acara pembukaan Muktamar IDI ke 32 di Mataram
Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) periode 2022-2025 Dr. dr. Mohamad Adib Khumaidi, SpOT pada pidato pembukaan Muktamar. Keberadaan organisasi profesi IDI tetap relevan dan sangat dibutuhkan. Karena itu semua dokter anggota IDI diharapkan untuk terus memperkuat nilai-nilai kesejawatan yang tertanam dalam Sumpah Dokter sebagai modal utama menghadapi tantangan masa depan.
Kenangan bersama dengan Dr. dr. M Adib Khomaidi SpOT Ketua Umum PB IDI di Lamongan Jawa Timur
IDI lahir bukan karena kepentingan kelompok, melainkan karena kepentingan rakyat Indonesia. Sejarah panjang organisasi ini, sejak 1911 hingga menjadi satu kesatuan pada 1950, membuktikan bahwa IDI memiliki akar kuat dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Untuk itu letak pentingnya transformasi organisasi melalui semangat IDI Reborn, dengan fokus pada penguatan internal, revitalisasi, dan komitmen perubahan.
bersama para dokter peserta Muktamar IDI ke 32 di Mataram NTB
Semua dokter seharusnya bersama-sama menciptakan resolusi perubahan demi IDI yang lebih baik, demi bangsa, rakyat, dan anggota,” katanya. Dalam menghadapi berbagai tantangan eksternal maupun internal, PB IDI berkomitmen menjadi organisasi yang lebih profesional dan modern melalui program-program strategis yang komprehensif. Semua dokter anggota IDI agar tidak terjebak dalam konflik internal yang dapat menghambat kemajuan organisasi.
Seperti kata Charles Darwin, yang bertahan bukanlah yang terkuat atau terpintar, melainkan yang paling mampu beradaptasi. Jadi, IDI juga harus menjadi institusi yang durable dan infinite, mampu bertahan menghadapi tantangan zaman.
Bersama dengan Dr. dr. M. Ali Firdaus SpA, SH, MH anggota tim BPH2A PP IDAI dari Tasikmalaya
Setelah sambutan Ketum PB IDI tersebut, Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, SH, MSc secara resmi membuka Muktamar IDI ke 32 mewakili Pemerintah Pusat. Menteri Yusril Ihza Mahendra menegaskan bahwa organisasi profesi seperti organisasi kedokteran idealnya hanya ada satu di Indonesia, bukan dualisme organisasi profesi kedokteran yang ada, yaitu Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Perkumpulan Dokter Seluruh Indonesia (PDSI).
Yusril mengatakan bahwa IDI adalah organisasi profesi yang berbeda dari organisasi lain seperti organisasi kemasyarakatan (ormas), perkumpulan, yayasan atau pun partai politik, sudah pasti berbeda.
Persoalan organisasi profesi seperti di kedokteran disebabkan karena belum mempunyai undang-undang (UU) tentang Organisasi Profesi. Sebab, organisasi profesi akan menjalankan sebagian dari fungsi negara. Ini menjadi tugas pemerintah untuk merancang UU organisasi profesi.
Secara ideal dokter seharusnya berhimpun dalam sebuah organisasi profesi bukan berhimpun dalam ormas. Memang IDI tidak mengangkat dokter tetapi idealnya izin dokter atau rekomendasi izin untuk praktek kedokteran dan kemudian melakukan pengawasan, pendidikan dan bahkan menerapkan sanksi, adalah tugas IDI. Karena organisasi profesi yang mempunyai hal itu dan itu tidak ada pada ormas.
Oleh karena itu, dalam posisi dualisme organisasi profesi antara IDI dan PSDI ini, Yusril menegaskan bahwa pemerintah akan berusaha menjembatani supaya akhirnya betul-betulnya mempunyai organisasi profesi kedokteran yang kuat dan menjadi mitra negara dalam menyelesaikan persoalan kesehatan yang dihadapi bersama.
Menteri Yusril menegaskan pentingnya IDI dalam menjaga ketahanan nasional. Oleh karena itu IDI harus tetap satu dan solid sebagai mitra strategis pemerintah dalam menjalankan berbagai fungsi negara, termasuk pengawasan profesi dokter.
Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan RI, Yusril Ihza Mahendra, secara resmi membuka acara tersebut dengan memukul gendang beleq, alat musik tradisional khas Lombok.
Setelah resmi dibuka oleh Menteri Yusril Muktamar IDI yang mengusung tema “Membangun Solidaritas dalam Beradaptasi untuk Mewujudkan IDI yang Berkelanjutan” diteruskan dengan diskusi panel pendukung tema. Sejumlah narasumber terkemuka turut hadir dalam sesi keynote speech, salah satunya Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan BPJS, dr. Lily Kresnowati, MKes
Ia membahas tantangan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) saat ini dan masa depan, dengan menyoroti peran penting Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan.
Sementara itu, narasumber lainnya seperti Dr. dr. Mahlil Ruby, MKes Direktur Pengembangan BPJS Kesehatan kesehatan dan drg. Iing Ichsan Hanafi, HMA, Ketua Umum Asosiasi RS Swasta Indonesia (ARSI) yang membedah berbagai tantangan kebijakan BPJS, khususnya dalam implementasi di rumah sakit. Isu pembatasan tindakan medis oleh BPJS serta dampaknya terhadap fasilitas kesehatan juga menjadi sorotan dalam diskusi yang dipandu oleh Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH, DrPH
Setelah ISHOMA acara dilanjuktan dengan Sidang Pleno I pk. 14-15.30 tentang penetapan kuorum, agenda, tata tertib muktamar dan presidium sidang muktamar. Lanjut pada Sidang Pleno II pk. 15.30-18 tentang laporan pertanggungjawaban Ketua Umum PB IDI, Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK), Majelis Pengembangan Pelayanan Kedokteran (MPPK), Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia (MKKI), penyampaian pandangan umum dan penetepan demisioner PB IDI periode 2022-2025.
Dr. dr. Moh Adib Khumaidi, Sp.OT adalah Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) periode 2022-2025. Selain itu, dr. Adib juga merupakan dosen tetap di Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta. Ia meraih gelar doktor bidang Ilmu Kedokteran dari Fakultas Kedokteran Universitas Hasanudin. Beberapa kegiatan yang dilakukan oleh Ketua Umum PB IDI, antara lain: Melantik Pengurus Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) masa bakti 2024-2027, Melantik Pengurus IDI Wilayah Bali masa bakti 2024-2027, Melantik Pengurus Kolegiun Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Indonesia masa bakti 2024-2027, Melantik Pengurus IDI Wilayah Jawa Barat masa bakti 2024-2027 dan hadir dalam acara Halal Bi Halal dan Seminar Hukum Kesehatan 2024.
Kenangan bersama Dr. dr. M Adib Khomaidi SpOT di makam dr. Wahidin Sudirohusodo di Yogyakarta
Sorenya pk. 15.30-18 dilanjutkan dengan pengukuhan Ketua Umum PB IDI periode 2025-2028, pembacaan ketetapan Muktamar IDI ke 32, serah terima jabatan Ketua Umum PB IDI periode 2022-2025 kepada Ketua Umum PB IDI periode 2025-2028. Dr. dr. Slamet Budiarto, SH, MH.Kes yang selanjutnya menjadi Ketua Umum PB IDI periode 2025-2028 sebelumnya adalah Ketua IDI Provinsi DKI Jakarta. Selain itu, juga menjabat Wakil Ketua MPKU PP Muhammadiyah, Ketua umum PP PKFI (Perhimpunan Klinik dan Faskes Primer Indonesia), Direktur Utama RS Islam Jakarta Pondok Kopi yang meraih gelar Doktor Administrasi dan Kebijakan Kesehatan di FKM UI Jakarta, sekaligus sebagai Ketua Dewan Pembina Lembaga Akreditasi Rumah Sakit Indonesia (LARSI), merupakan salah satu dari 6 Lembaga Independen Penyelenggara Akreditasi Rumah Sakit yang didirikan pada tanggal 13 September 2021.
Setelah ISHOMA malam harinya akan dilanjutkan sidang organisasi yang dibagi dalam beberapa komisi. Komisi A membahas tentang AD ART IDI, komisi B membahas tentang pendidikan dokter dan CPD, komisi C membahas pelayanan profesi kedokteran, komisi D membahas tentang etika, disiplin dan hukum, komisi E membahas tentang kebijakan organisasi dan renstra, sedangkan komisi F membahas tentang rekomendasi organisasi.
Namun demikian, sore itu saya pamit mundur dari arena Muktamar IDI ke 32 di Hotel Lombok Raya Mataram, untuk menyeberang ke Pulau Bali. Atas kebaikan Om Pengky Jupiter teman sekelas saya di SMA Kolese de Britto Yogyakarta tahun 1984, Direktur Utama PT Narmada pembuat air mineral kemasan, mengantar saya ke kantor PO Tiara Mas. Setelah menunggu sedikit waktu bis bernomor polisi EA 7615 A, berbodi Avante H7 Super High deck buatan karoseri Tentrem Malang, dan bersasis Hino RM 280 datang dengan penuh muatan di kedua sisi bagasi, bahkan bagasi sisi atas belakang bis.
bis Tiara Mas jurusan Bima Jakarta yang mengantarkan saya meninggalkan Mataram NTB menuju Denpasar Bali
Bis ini telah berangkat dari Bima NTB kemarin Rabu malam dan Kamis siang ini saya naik dari pool bis di Jl. Selaparang Mataram, untuk menyeberang Selat Lombok yang kadang berarus kuat ke Bali, sebelum bis ini lanjut ke Jakarta.
Terimakasih Om Pengky Jupiter JB84 dan segenap pihak yang tidak dapat saya sebutkan namanya masing-masing, yang telah membantu saya mengikuti semua rangkaian acara Muktamar IDI ke 32 di Mataram NTB. Sampai ketemu lagi dalam kegiatan lain.
(sekian)
Jumat pagi, 15 Februari 2025 ditulis dan disebarkan dari Tanah Dewata Jimbaran Bali
Dunia kesehatan di Indonesia berubah sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Setelah diterapkannya UU 17/2023 Omnibus Law tentang Kesehatan, maka ada 11 UU yang dicabut dan dinyatakan tidak berlaku, termasuk UU No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. Bagaimana dampak regulasi ini bagi pada para dokter?
Tulisan ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 29 Desember 2024, kolom Husada, halaman 8 dengan judul : IDI diharapkan dapat menjaga etika medis.
Pada UU tentang Praktek Kedokteran tersebut, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sebagai organisasi profesi medis tunggal memiliki peran dalam aspek etika, mutu dan legal, untuk semua dokter di seluruh Indonesia. Dalam aspek legal, penerbitan SIP (Surat Ijin Praktek) dokter oleh dinas kesehatan setempat tidak lagi melibatkan IDI, karena persyaratan penerbitan SIP tidak lagi memerlukan rekomendasi IDI. Permohonan penerbitan SIP dokter hanya melampirkan STR (Surat Tanda Registrasi) dokter, surat keterangan tempat praktik, dan bukti pemenuhan kompetensi medis. Bukti pemenuhan kompetensi medis dapat diperoleh dokter, setelah mengikuti pemenuhan kompetensi yang diselenggarakan oleh sebuah kementerian, yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan berkoordinasi dengan Kolegium atau penyelenggara pendidikan, bukan lagi dengan IDI.
Peran IDI dalam aspek mutu layanan dokter juga sudah tidak ada sama sekali, karena peran tersebut diambil alih oleh Kemenkes RI. Penentuan pencapaian pemenuhan kompetensi medis dalam bentuk SKP (Satuan Kredit Profesi) untuk para dokter, murni ditentukan oleh Kemenkes RI. Pemenuhan kompetensi medis baik dalam ranah profesionalisme, pendidikan berkelanjutan, pengabdian masyarakat, publikasi penelitian dan pendidikan formal tambahan, semuanya sudah tidak lagi dikelola oleh IDI.
Rasanya peran IDI tinggal dalam aspek etika medis, salah satunya sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan. PP tersebut memberikan definisi kecurangan (fraud) dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yaitu tindakan yang dilakukan dengan sengaja, untuk mendapatkan keuntungan finansial dari program Jaminan Kesehatan dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), melalui perbuatan curang yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Untuk meningkatkan upaya pencegahan dan penanganan kecurangan telah dibuat pedoman dan tim yang dapat menilai sampai mengenakan sanksi administrasi terhadap kecurangan dalam pelaksanaan program JKN. Pada pasal 3 ayat 2 PP tersebut dijelaskan bahwa tim pencegahan kecurangan pada dinas kesehatan tingkat kabupaten atau kota terdiri atas unsur dinas kesehatan setempat, BPJS Kesehatan cabang, asosiasi fasilitas kesehatan,organisasi profesi dalam hal ini IDI, dan unsur lain yang terkait.
Dengan regulasi ini peran IDI rasanya ‘tinggal tersisa’ dalam menjaga aspek etika medis, agar para dokter di seluruh Indonesia dapat menjalankan profesinya secara mulia dan menghindari tindak kecurangan. Jenis kecurangan yang mungkin dilakukan oleh fasilitas kesehatan atau dokter anggota IDI pemberi pelayanan kesehatan, sangat perlu dicermati. Kecurangan di FKTP dapat berupa tindakan penyalahgunaan dana kapitasi dan/atau nonkapitasi FKTP milik Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, oleh dokter yang menjadi pimpinan FKTP. Selain itu juga dapat berupa tindakan menarik biaya tambahan dari Peserta atau memanipulasi klaim nonkapitasi. Dalam hal ini meliputi klaim palsu atau klaim fiktif, yaitu klaim atas layanan yang tidak pernah diberikan, memperpanjang lama perawatan di FKTP rawat inap, penjiplakan klaim dari pasien lain, dan tagihan atau klaim berulang pada kasus yang sudah ditagihkan sebelumnya. Dapat juga melakukan rujukan pasien yang tidak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, memberi dan/atau menerima suap dan/atau imbalan terkait dengan program Jaminan Kesehatan; dan memalsukan Surat Izin Praktek (SIP) Dokter.
Jenis kecurangan oleh dokter anggota IDI pemberi pelayanan kesehatan di FKRTL atau RS dapat berupa memanipulasi diagnosis dan/atau tindakan medis, untuk meningkatkan besaran klaim. Beberapa cara misalnya seorang pasien seharusnya cuckup didiagnosis sebagai apendicitis akut setelah operasi tanpa penyulit, tetapi pada resume rekam medis ditulis apendicitis akut dengan perforasi usus. Mungkin juga seorang pasien lain dengan pterigium pada mata grade I, tetapi dalam resume rekam medis ditulis kanker, yaitu squaomous cell carsinoma conjungtiva dan dilakukan tindakan biopsi eksisi pada mata, tetapi tanpa bukti dilakukan pemeriksaan lanjutan untuk kanker yaitu patologi anatomi.
Kecurangan oleh dokter dapat juga berupa penjiplakan klaim dari pasien lain, yang dibuat dengan cara menyalin dari klaim pasien lain yang sudah ada, seperti: menyalin seluruh atau sebagian rekam medis dan/atau data pasien lain. Juga klaim palsu, yaitu klaim atas layanan yang tidak pernah dilakukan kepada pasien, seperti penagihan tindakan medik operatif yang tidak pernah dilakukan, dan penagihan obat/alat kesehatan di luar paket INA-CBG yang tidak diberikan kepada pasien.
Dapat juga berupa tindakan penggelembungan tagihan obat dan alat kesehatan yang lebih besar dari biaya yang sebenarnya, seperti seorang pasien patah tulang dilakukan operasi ortopedi dengan menggunakan plate and screw 4 (empat) buah, namun ditagihkan lebih dari 4 (empat) buah. Dapat juga berupa obat pasien penyakit kronis pada rawat jalan yang seharusnya mendapat obat 1 (satu) bulan, tetapi obat yang diberikan untuk 2 minggu, namun ditagihkan biayanya selama 1 (satu) bulan.
Dapat juga berupa pemecahan episode pelayanan sesuai dengan indikasi medis, tetapi tidak sesuai dengan ketentuan. Ini merupakan klaim atas dua atau lebih diagnosis dan atau prosedur yang seharusnya menjadi satu paket pelayanan dalam episode yang sama, seperti dokter mengirimkan tagihan terpisah dari diagnosis yang sama, dengan hasil pemeriksaan penunjang atau laboratorium yang sebenarnya dapat digabungkan, menjadi terpisah menjadi 3 atau 4 pengajuan dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan lebih.
Tindakan menagihkan beberapa prosedur secara terpisah yang seharusnya dapat ditagihkan bersama dalam bentuk paket pelayanan, untuk mendapatkan nilai klaim lebih besar pada satu episode perawatan pasien dan tindakan operasi lebih dari satu diagnosa penyakit yang dapat dilaksanakan dalam satu tindakan namun dilakukan tindakan lebih dari satu dan diklaim terpisah dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan.
Ada juga rujukan semu merupakan klaim atas biaya pelayanan akibat rujukan ke dokter yang sama di Fasilitas Kesehatan lain kecuali dengan alasan keterbatasan fasilitas, karena jasa operasi yang didapatkan sedikit sehingga pasien. Dapat juga melakukan rujukan tanpa persetujuan pasien atau keluarga pasien ke rumah sakit dimana dokter itu berdinas. Dapat juga berupa tagihan atau klaim berulang pada kasus yang sama, seperti tagihan yang sudah pernah ditagihkan dan dibayarkan tetapi ditagihkan ulang. Yang lebih halus adalah memperpanjang lama perawatan untuk mendapatkan klaim atas biaya pelayanan kesehatan yang lebih besar bukan karena indikasi medis, seperti penggunaan ventilator yang diperpanjang waktunya.
Selain dalam tim pencegahan dan penindakan kecurangan, peran IDI sebenarnya lebih pada mengadvokasi secara etika medis agara para dokter anggotanya menjalankan implementasi pencegahan kecurangan di FKRTL atau RS, yang dilakukan dengan prinsip Good Clinical Governance, antara lain penetapan kewenangan dan uraian tugas dokter secara rinci, Standard Operational Procedure (SOP) layanan klinis yang mengacu kepada Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) dan atau pedoman lain yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan. Juga peningkatan kemampuan dokter yang berkaitan dengan Klaim, berupa pemahaman dan penggunaan sistem koding yang berlaku, meningkatkan ketaatan terhadap SOP, dan Dokter Penanggung Jawab Pelayanan Pasien (DPJP) wajib mengisi resume medis secara jelas, lengkap dan tepat waktu.
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sebagai organisasi profesi dokter yang tunggal, seharusnya mampu berperan menjaga etika medis para dokter dalam memberikan layanan kepada pasiennya.
Yogyakarta, 2 November 2024
*) dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Alumnus S3 UGM, Pengurus MKEK IDI Wilayah DIY. WA : 081227280161
Guru honorer Supriyani di Konawe Selatan Sulawei Tenggara didakwa melakukan penganiyaan terhadap muridnya. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) menyebut terdapat perlindungan yang timpang antara murid dan guru. Profesi dokter juga sering menghadapi sengketa hukum. Ada berbagai penyebab, tetapi salah satu yang utama adalah karena perlindungan hukum atas profesi guru dan dokter tidaklah rinci. Apa yang sebaiknya dilakukan?
UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pada Pasal 41 menyebutkan bahwa Guru berhak mendapatkan perlindungan hukum dari tindak kekerasan, ancaman, perlakuan diskriminatif, intimidasi, atau perlakuan tidak adil dari pihak peserta didik, orang tua peserta didik, masyarakat, birokrasi, atau pihak lain. Perlindungan terhadap guru ini diatur dalam Pasal 39 UU Guru dan Dosen tersebut. Pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, organisasi profesi, dan/atau satuan pendidikan wajib memberikan perlindungan terhadap guru dalam pelaksanaan tugas.
Perlindungan terhadap guru ini juga didukung oleh yurisprudensi Mahkamah Agung (MA) yang dapat ditemukan dalam Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia, Putusan No. 1554 K/PID/2013, yang menyebutkan bahwa guru tidak dapat dipidana saat menjalankan profesinya dan melakukan tindakan pendisiplinan terhadap siswa. Namun demikian, kekerasan fisik yang dilakukan guru terhadap peserta didiknya termasuk dalam tindak pidana, sehingga dapat dikenakan sanksi pidana sebagaimana diatur di dalam Pasal 80 jo Pasal 76 UU No.35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
Sebaliknya terkait profesi dokter, putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 119/Puu-Xx/2022 Perihal Pengujian Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran Terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 telah dibacakan pada 31 Januari 2023. Mahkamah Konstitusi (MK) telah memberikan ketetapan hukum tentang prosedur hukum yang khusus, dalam menilai dan menentukan benar salahnya seorang dokter dalam menjalankan profesinya. MK memberlakukan proses pemeriksaan yang berjenjang, dimulai dari proses pemeriksaan etik di Majelis Kehoratan Etik Kedokteran (MKEK) dan disiplin di Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI), sebagai proses pemeriksaan tingkat pertama. Selain itu, juga sekaligus berfungsi sebagai penilai apakah ada pelanggaran hukum atau tidak. Apabila dari hasil pemeriksaan di MKEK dan MKDKI ditemukan indikasi pelanggaran hukum, maka kasusnya akan diteruskan atau diserahkan kepada kepolisian atau pengadilan.
Michel Daniel Mangkey dalam ejournal Unsrat Vol. II/No. 8/Sep-Nov/2014, menjelaskan tentang ‘Lex et Societatis’. Dokter yang telah melaksanakan tugas sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional, berhak mendapatkan perlindungan hukum. Terdapat beberapa hal yang menjadi alasan peniadaan hukuman terhadap dokter, yaitu : resiko pengobatan, kecelakaan medik, tanpa unsur kelalaian, aturan minor yang dapat diabaikan, kesalahan dalam penilaian (error of (in) judgment), Volenti non fit iniura atau asumsi atas risiko, dan Res Ipsa Loquitur. Namun demikian, pada praktiknya sebagian hal tersebut sangat sulit, rumit, dan menyita waktu, tenaga dan konsentrasi dokter dalam perumusannya.
Sebaliknya, perlindungan hukum untuk profesi notaris, jauh lebih jelas, nyata, dan rinci, sebagaimana dituliskan oleh Mariyantini pada ejournal Undip vol 4, no 1 tahun 2013. Perlindungan hukum terhadap notaris ketika terjadi sengketa di pengadilan, telah diatur pada Pasal 66 Undang-undang No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris. Dalam hal memberikan kesaksian, seorang notaris tidak dapat mengungkapkan akta yang dibuatnya, baik sebagian maupun keseluruhannya, untuk merahasiakan semua hal yang diberitahukan kepadanya, karena akta yang dibuat oleh atau di hadapan notaris, merupakan suatu alat bukti yang mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna. Notaris hanya merumuskan keterangan dan pernyataan yang diperolehnya dari para penghadap. Notaris tidak hanya berhak untuk bicara, tetapi mempunyai kewajiban untuk tidak bicara. Kewajiban tersebut mengesampingkan kewajiban umum yang tercantum dalam Pasal 1909 ayat (1) KUHPerdata, karena adanya hak ingkar dari profesi notaris, sebagai konsekuensi dari adanya kewajiban merahasiakan sesuatu yang diketahuinya.
Yurisprudensi Mahkamah Agung (MA) melalui Putusan MA No 702K/Sip/1973, menyatakan bahwa notaris fungsinya hanya mencatatkan atau menuliskan, apa yang dikehendaki dan dikemukakan oleh para pihak yang menghadap notaris tersebut. Tidak ada kewajiban bagi notaris untuk menyelidiki secara materil, terkait apa yang dikemukakan oleh penghadap di hadapan notaris tersebut. Berdasarkan Putusan MA tersebut, jika akta yang dibuat oleh notaris dipermasalahkan oleh para pihak, maka hal tersebut menjadi urusan para pihak sendiri, notaris tidak perlu dilibatkan, dan notaris bukan pihak dalam akta.
Perlindungan hukum yang juga lebih baik, adalah terhadap profesi advokat atau pengacara. Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan permohonan perkara 26/PUU-XI/2013, yaitu pengujian Pasal 16 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat, yang terkenal sebagai hak imunitas advokat. Putusan tersebut dinyatakan MK dalam sidang pengucapan putusan yang dipimpin Ketua MK Hamdan Zoelva, Rabu 14 Mei 2015. MK menegaskan bahwa ketentuan Pasal 16 UU Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat harus dimaknai sebagai, advokat tidak dapat dituntut baik secara perdata maupun pidana dalam menjalankan tugas profesinya, dengan iktikad baik untuk kepentingan pembelaan klien, di dalam maupun di luar sidang pengadilan.
Dengan demikian hak imunitas profesi guru, dosen, dan dokter dalam aspek perlindungan hukum, layak disusun serinci dengan profesi advokat dan notaris. Sudahkah para guru dan dokter bertindak?
Sekian
Yogyakarta, 5 November 2024
*) dokter spesialis anak dan dosen FK, pernah menjadi Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA 081227280161.
Sebagian tulisan ini telah diterbitkan di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 29 September 2024 dengan judul : Pentingnya diagnosis benar dan tepat waktu, pada kolom Husada, halaman 5.
HARI KESELAMATAN PASIENDUNIA
fx. wikan indrarto
Hari Keselamatan Pasien Dunia (World Patient Safety Day) pada 17 September 2024 merupakan kesempatan untuk meningkatkan kesadaran publik dan mendorong kolaborasi antara pasien, dokter, tenaga kesehatan, pembuat kebijakan, dan pemimpin fasilitas perawatan kesehatan untuk meningkatkan keselamatan pasien. Apa yang menarik?
Tahun ini temanya adalah “Meningkatkan diagnosis demi keselamatan pasien” dengan slogan “Lakukan dengan benar, buat aman!”, yang menyoroti pentingnya diagnosis yang benar dan tepat waktu dalam memastikan keselamatan pasien dan meningkatkan luaran atau hasil medis.
Diagnosis yang ditegakkan oleh dokter dan tenaga kesehatan merupakan identifikasi masalah kesehatan yang dialami pasien. Diagnosis ini merupakan kunci utama untuk mengakses perawatan dan pengobatan yang dibutuhkan pasien. Kesalahan diagnosis adalah kegagalan pasien untuk mendapatkan luaran klinis yang baik, karena tidak diteruskan dengan tatalaksana medis yang benar dan tepat waktu tentang masalah kesehatan pasien. Kesalahan diagnosis ini dapat mencakup diagnosis yang tertunda, tidak benar, atau terlewat, atau dapat juga merupakan kegagalan untuk mengomunikasikan penjelasan kondisi medis kepada pasien.
Kesalahan diagnostik terjadi pada 5–20% hasil pemeriksaan dokter terhadap pasiennya. Kesalahan diagnostik yang berbahaya ditemukan pada minimal 0,7% pasien dewasa yang dirawat inap di RS. Keselamatan pasien dalam aspek diagnostik dapat ditingkatkan secara signifikan dengan mengatasi masalah klinis berbasis sistem dan faktor kognitif dokter, yang dapat menyebabkan kesalahan diagnostik. Faktor sistemik adalah kerentanan organisasi yang menjadi predisposisi terjadinya kesalahan diagnostik, termasuk kegagalan komunikasi antara dokter dengan petugas kesehatan atau dokter dan petugas kesehatan dengan pasien, beban kerja yang berat, dan kerja tim yang tidak efektif. Faktor kognitif melibatkan pelatihan dan pengalaman dokter serta predisposisi terhadap bias, kelelahan, dan stres.
Prioritas keselamatan diagnostik perlu mengadopsi pendekatan multifase dalam memperkuat sistem, merancang jalur diagnostik yang aman, mendukung dokter dan tenaga kesehatan lainnya dalam menegakkan diagnosis, membuat keputusan yang tepat, dan melibatkan pasien di seluruh proses diagnostik.
Setiap titik dalam proses pemberian pelayanan medis dan keperawatan mengandung tingkat ketidakamanan tertentu untuk pasien, yang selalu melekat. Sekitar 1 dari 10 pasien mengalami cedera dan lebih dari 3 juta kematian terjadi setiap tahun, akibat perawatan yang tidak aman di fasilitas pelayanan kesehatan. Kejadian buruk umum yang dapat mengakibatkan cedera pasien yang dapat dihindari adalah kesalahan pengobatan, prosedur pembedahan yang tidak aman, infeksi terkait perawatan kesehatan, kesalahan diagnosis, pasien jatuh, luka dekubitus, kesalahan identifikasi pasien, transfusi darah yang tidak aman, dan tromboemboli vena.
“Pertama, jangan merugikan” (First, do no harm) adalah prinsip paling mendasar dari setiap layanan kesehatan bagi pasien. Tidak seorang pasienpun boleh dirugikan dalam layanan kesehatan. Keselamatan pasien didefinisikan sebagai tidak adanya bahaya yang dapat dicegah bagi pasien dan pengurangan risiko bahaya yang tidak perlu, terkait dengan perawatan kesehatan ke tingkat minimum yang dapat diterima. Dalam konteks sistem kesehatan yang lebih luas, keselamatan pasien adalah kerangka kegiatan terorganisasi yang menciptakan budaya, proses, prosedur, perilaku, teknologi, dan lingkungan dalam perawatan kesehatan yang secara konsisten dan berkelanjutan menurunkan risiko, mengurangi terjadinya bahaya yang dapat dihindari, mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahan, dan mengurangi dampak bahaya saat terjadi pada pasien.
Sumber umum bahaya untuk pasien saat menerima layanan kesehatan adalah dalam bentuk kesalahan diagnosis, pengobatan, tindakan bedah dan terjadinya infeksi ikutan. Dalam lingkup kesalahan pengobatan, bahaya terkait pengobatan memengaruhi 1 dari setiap 30 pasien dalam perawatan kesehatan, dengan lebih dari seperempat dari bahaya ini dianggap parah atau mengancam jiwa. Setengah dari bahaya atas pasien yang dapat dihindari dalam layanan kesehatan terkait dengan pengobatan.
Dalam lingkup kesalahan bedah, berasal dari sekitar 300 juta prosedur bedah yang dilakukan setiap tahun di seluruh dunia. Meskipun adanya efek samping sudah disadari sepenuhnya dan dilakukan tindakan antisipasi, namun demikian kesalahan bedah terus terjadi pada tingkat yang cukup tinggi. Bahkan 10% dari bahaya pasien yang dapat dicegah dalam perawatan kesehatan dilaporkan dalam lingkup kesalahan bedah, dengan sebagian besar kejadian buruk pada pasien yang diakibatkannya terjadi sebelum dan sesudah operasi dilakukan.
Dengan tingkat global sebesar 0,14% (meningkat sebesar 0,06% setiap tahun), infeksi terkait perawatan kesehatan mengakibatkan durasi rawat inap yang lebih lama, kecacatan jangka panjang, peningkatan resistensi antimikroba, beban keuangan tambahan pada pasien, keluarga dan sistem kesehatan, serta kematian yang dapat dihindari.
Ada banyak faktor yang saling terkait yang dapat menyebabkan cedera pada pasien, dan lebih dari satu faktor biasanya terlibat dalam setiap insiden keselamatan pasien, termasuk dalam proses penegakan diagnosis. Pertama faktor sistem dan organisasi, yaitu kompleksitas intervensi medis, proses dan prosedur yang tidak memadai, gangguan dalam alur kerja dan koordinasi layanan, keterbatasan sumber daya, staf yang tidak memadai dan pengembangan kompetensi yang kurang. Kedua faktor teknologi medis, yaitu masalah yang terkait dengan sistem informasi kesehatan, seperti masalah dengan catatan kesehatan elektronik atau sistem pemberian obat, dan penyalahgunaan teknologi. Ketiga faktor perilaku manusia, dapat beruapa gangguan komunikasi di antara petugas layanan kesehatan, dalam tim perawatan kesehatan, dan dengan pasien dan keluarga mereka, kerja tim yang tidak efektif, kelelahan, kejenuhan, dan mungkin juga bias kognitif.
Selanjutnya, kesalahan diagnosis juga dipengaruhi oleh faktor yang terkait dengan pasien, meliputi keterbatasan pasien dalam literasi kesehatan, kurangnya keterlibatan pasien dalam proses dan ketidakpatuhan pasien terhadap pengobatan. Dan terakhir faktor eksternal, yaitu tidak adanya kebijakan, regulasi yang tidak konsisten, tekanan ekonomi dan keuangan, dan tantangan yang terkait dengan lingkungan alam, semuanya dapat berkontribusi pada kesalahan diagnosis dan keselamatan pasien.
Bukti menunjukkan bahwa ketika pasien diperlakukan sebagai mitra dalam layanan kesehatan, keuntungan signifikan akan diperoleh dalam hal keselamatan, kepuasan, ketepatan diagnosis, dan luaran klinis dari tindakan medis. Apakah kita sudah bijak?
Sekian
Yogyakarta, 7 September 2024
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, surveiyor akreditasi Kemenkes RI untuk pelayanan di RS. WA: 081227280161
Di depan gerbang FORT JAPARA XVI peninggalan gerbang kota yang dibangun VOC Belanda tahun 1613 di Jepara (d/h Japara)
JELAJAH JEPARA
fx. wikan indrarto
Penjelajahan ke Jepara dan perjalanan darat (overland) ke sekitar Gunung Muria yang tenang, menjulang dan sakral di ujung utara Pulau Jawa, kami awali Sabtu pagi, 30 Desember 2023, sebelum pergantian tahun.
Setelah menabur bunga dan berdoa sejenak di makan bapak (Eyang Kakung Heribertus Sukiman Tondo Darsono) di makam Kerkof Mendut, dekat Candi Borobudur, Magelang yang suci, kami memulai petualangan menuju Gunung Muria. Dik Larasati (anak bungsu kami) mengendalikan laju Honda Mobilio AB 1412 GH dengan tenang, di tengah kepadatan arus liburan Nataru 2023 yang cukup hingar, merayap dan teratur.
Dik Larasati (anak bungsu kami) mengendalikan laju Honda Mobilio AB 1412 GH dengan tenang, di tengah kepadatan arus liburan Nataru 2023
Membelikan oleh-oleh untuk si ganteng Joviel (cucu tersayang), berupa truk kayu di Payaman, Magelang, persis seperti yang dahulu dibelikan oleh Eyang Kakung Heribertus Sukiman Tondo Darsono untuk ayah Joviel.
Setelah menikmati sepenggal tol trans Jawa dari GT Bawen, kami keluar di GT Ungaran. Perhentian pertama kami adalah menemui Drg. Ana Retno Lumbini di Puskesmas Ungaran Kabupaten Semarang, untuk menyampaikan duka cita mendalam karena suaminya telah berpulang dan kami tidak sempat ikut melayat. Setelah selesai melayani pasiennya, kami diterima di Klinik Gigi Puskesmas Ungaran, yang hadir sebagai bagian dari usaha peningkatan derajat kesehatan masyarakat wilayah kecamatan Ungaran Barat dan sekitarnya. Bersama dengan Drg. Fx. Titik Purwaningsih yang diantar suaminya, Dr. Isdianto, MHum yang datang dari Demak, kami bercengkerama cukup lama di Puskesmas Ungaran. Dengan istri, ketiganya adalah alumnus FKG UGM Yogyakarta seangkatan tahun 1985.
Menemui Drg. Ana Retno Lumbini di Puskesmas Ungaran Kabupaten Semarang, untuk berbela rasa sepeninggalan suaminya
Jamuan makan siang di Super Penyet Banyumanik Semarang, oleh Drg. Fx. Titik Purwaningsih dan suaminya, Dr. Isdianto, MHum
Selanjutnya kami makan siang bersama di Banyumanik Semarang dan melanjutkan perjalanan ke Jepara. Kembali kami menjajal kenyamanan tol Trans Jawa dari GT Banyumanik dan keluar di GT Kaligawe di pesisir pantai Tanjung Emas Semarang utara. Kami menyusuri Jalur Pantura meninggalkan Semarang, untuk memasuki GT Sayung dan menempuh 16 km untuk keluar di GT Demak. Dengan menyusuri Jalur Pantura ke arah timur, kami mencapai pertigaan Trengguli dan berbelok arah ke kiri, keluar dari Jalur Pantura yang mulus, lebar dan padat kendaraan. Dari Trengguli, kami melewati Mijen dan Welahan untuk mencapai Kalinyamatan, yaitu kecamatan pertama di wilayah terotorial Kabupaten Jepara.
e-Poster peresmian PPTQ dan MTs Al-Wustho Kalinyamatan dengan teman seangkatan Brigjen. Pol (Purn) dr. H. Musyafak sebagai pendiri
Pemberhentian kedua adalah kami mengunjungi Pondok Pesantren Tahfidz Qur’an dan MTs Al-Wustho Kalinyamatan, Kabupaten Jepara yang baru diresmikan pada Rabu, 22 November 2023. PPTQ dan MTs Al-Wustho Kalinyamatan yang sepi karena para santri sudah libur setelah menerima raport semester ganjil, berada dibawah naungan Yayasan Haji Ahmad Sholeh. Sedangkan kepengurusan yayasan terdiri dari para pendirinya, meliputi Brigjen. Pol (Purn) dr. H. Musyafak, Suudi Hartono dan Betty Erny Ayu. Jenderal Polisi Dr. Musyafak adalah teman seangkatan kami di FK UGM Yogyakarta 1984.
Mengunjungi PPTQ dan MTs Al-Wustho Kalinyamatan yang sepi karena para santri sudah libur setelah menerima raport semester ganjil
Kami jadi teringat bahwa Pemerintah Indonesia baru saja menyematkan gelar pahlawan nasional kepada Ratu Kalinyamat pada peringatan Hari Pahlawan, 10 November 2023. Banner dan baliho ucapan selamat masih banyak terpampang di sepanjang jalan yang kami lalaui menuju Jepara. Nama asli Ratu Kalinyamat adalah Retna Kencana, puteri Sultan Trenggono, raja Demak (1521-1546). Pada usia remaja ia dinikahkan dengan Pangeran Kalinyamat.
Pangeran Kalinyamat berasal dari Tiongkok daratan bernama Win-tang, seorang saudagar Tiongkok yang mengalami kecelakaan di laut. Ia terdampar di pantai Jepara, dan kemudian berguru kepada Sunan Kudus. Win-tang kemudian mendirikan desa Kalinyamat yang saat ini berada di wilayah Kecamatan Kalinyamatan, sehingga ia pun dikenal dengan nama Pangeran Kalinyamat dan menikahi Retna Kencana putri Sultan Demak, sehingga istrinya itu kemudian dijuluki Ratu Kalinyamat. Pangeran Kalinyamat menjadi anggota keluarga Kerajaan Demak dan memperoleh gelar Pangeran Hadiri. Pangeran dan Ratu Kalinyamat memerintah bersama di Jepara. Ayah angkatnya, yaitu Tjie Hwio Gwan, dijadikan patih bergelar Sungging Badar Duwung, yang juga mengajarkan seni ukir pada penduduk Jepara. Inilah asal usul ketrampilan mengukir kayu jati yang dimiliki para warga Jepara sampai sekarang dan tidak tertandingi.
e-poster gelar pahlawan nasional kepada Ratu Kalinyamat pada peringatan Hari Pahlawan, 10 November 2023.
Pada tahun 1549 Sunan Prawata, raja keempat Demak mati dibunuh utusan Arya Penangsang, sepupunya yang menjadi adipati Jipang, mungkin saat ini berada di sekitar Grobogan. Ratu Kalinyamat menemukan keris Kyai Betok milik Sunan Kudus menancap pada mayat kakaknya itu. Maka, Pangeran dan Ratu Kalinyamat pun berangkat ke Kudus minta penjelasan. Sunan Kudus adalah pendukung Arya Penangsang dalam konflik perebutan takhta sepeninggal raja Trenggana (1546). Sunan Kudus menjelaskan semasa muda Sunan Prawata pernah membunuh Pangeran Surowiyoto alias Sekar Seda Lepen ayah Arya Penangsang, jadi wajar kalau ia sekarang mendapat balasan setimpal.
Ratu Kalinyamat kecewa atas sikap Sunan Kudus. Ia dan suaminya memilih pulang ke Jepara. Di tengah jalan, mereka dikeroyok anak buah Arya Penangsang. Pangeran Kalinyamat tewas. Menurut legenda, lahirlah nama tempat Prambatan (karena Pangeran Kalinyamat sampai harus merambat sebelum tewas), Kaliwungu (karena sungai di situ tercampur darah Pangeran Kalinyamat dan berubah warna menjadi ungu), Mayong (berjalan sempoyongan) dan Purwogondo (karena mulai keluar bau jenazah). Ketiga tempat tersebut kami lewati dalam petualangan kami ke seputaran Gunung Muria kali ini.
Ratu Kalinyamat diangkat menjadi Pahlawan Nasional Indonesia karena jasa dan perjuangannya. Pada tahun 1573 Ratu Kalinyamat mengirimkan 300 kapal berisi 15.000 prajurit Jepara untuk menyerang Portugus di Malaka, Malaysia. Serangan pertama di tahun 1550 berakhir gagal. Serangan kedua dipimpin oleh Ki Demang Laksamana yang langsung menembaki Malaka dari Selat Malaka. Esoknya, mereka mendarat dan membangun pertahanan. Tapi akhirnya, pertahanan itu dapat ditembus pihak Portugis. Sebanyak 30 buah kapal Jepara terbakar. Pihak Jepara mulai terdesak, semakin lemah, dan memutuskan pulang. Dari jumlah awal yang dikirim Ratu Kalinyamat, hanya sekitar sepertiga saja yang tiba di Jawa. Meskipun dua kali mengalami kekalahan, tetapi Ratu Kalinyamat telah menunjukkan bahwa dirinya seorang wanita yang gagah berani. Bahkan Portugis mencatatnya sebagai ‘rainha de Japara, senhora poderosa e rica, de kranige Dame’, yang berarti Ratu Jepara seorang wanita yang kaya dan berkuasa, seorang perempuan pemberani.
Saat Pangeran Arya Jepara, anak angkat Ratu Kalinyamat, pulang dari perang melawan Banten, Keraton Kalinyamat mendapat serangan oleh Panembahan Senopati dari Mataram Kotagede, Yogyakarta. Pasukan Panembahan Senopati datang menyerbu wilayah Jepara hingga kota ini berhasil diduduki serta keraton Kalinyamat ikut dihancurkan tahun 1593. Saat ini kita tidak lagi dapat melihat sisa kejayaan Kalinyamat.
Kami segera melanjutkan perjalanan memasuki Kota Jepara yang disebut juga Bumi Kartini. Tujuan kami adalah melintasi kota Jepara untuk menuju Mlonggo, sebuah kecamatan sekitar 12 km sebelah utara Jepara. Kami mengantar dik Larasati, anak bungsu kami yang semester ini akan menyelesaikan kuliahnya di Fakultas Kedokteran Universitas kristen Maranatha (FK UKM) Bandung, untuk melakukan kunjungan balasan kepada keluarga William Febuana. Keluarga William, yaitu Bapak Mulyono dengan Ibu Harlina mengunjungi rumah kami di Timoho Yogyakarta dan telah melakukan proses tingjing atau prosesi pertama dalam lamaran menurut adat Tionghoa. Proses Tingjing atau kalungan dilakukan dengan cara memberikan kalung dari pihak calon pengantin pria kepada calon pengantin wanita sebagai tanda pengikat, saat keluarga calon mempelai pria datang ke rumah calon mempelai wanita, yang hanya dihadiri oleh keluarga dan kerabat dekat dari calon mempelai, pada Selasa, 26 Desember 2023. Larasati dan William sudah menjalin persahabatan sejak mereka menjadi sesama pelajar di asrama SMP Marganingsih di Muntilan, Magelang, Jawa Tengah.
Proses Tingjing atau kalungan untuk dik Larasati oleh Keluarga William, yaitu Bapak Mulyono, Ibu Harlina, Cicik Tia yang sedang hamil dan mas Dito suaminya, saat mengunjungi rumah kami di Timoho Yogyakarta dan mas Bimoseno (anak kedua kami) liburan di rumah. Mas Yudhistira (anak sulung kami) sekeluarga sedang mengungjungi mertua di Bekasi.
Bersyukur sekali kami telah mampu mencapai Jepara dalam kunjungan balasan ini. Menurut C. Lekkerkerker, nama Jepara berasal dari kata Ujungpara. Disebut ujungpara karena legenda ada utusan Kerajaan Majapahit yang sedang berjalan melewati daerah yang sekarang disebut Jepara, melihat nelayan yang sedang membagi-bagi ikan hasil tangkapannya “membagi” dalam bahasa Jawa adalah “para” (dibaca: Poro), maka utusan tersebut menceritakan bahwa dia melewati Ujung Para, karena dia melewati ujung pulau Jawa saat ada nelayan yang membagi ikan. Kemudian berubah menjadi Ujung Mara, dan Jumpara, yang akhirnya berubah menjadi Japara. Pada tahun 1950an diubah menjadi Jepara. Meskipun Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi, umumnya sebagian besar masyarakat Jepara menggunakan Bahasa Jawa sebagai bahasa sehari-hari dengan dialek Jeporonan. Agak perlu waktu bagi kami, untuk memahami pembicaraan dalam dialek tersebut.
Ikan kakap lodi bintang merah dan lodi kuning yang ditangkap oleh nelayan Mlonggo, Jepara dan difoto dik Larasati. Nelayan sekarang juga sering terlihat yang sedang membagi-bagi ikan hasil tangkapannya “membagi” dalam Bahasa Jawa adalah “para” (dibaca: Poro), menjadi asal kata Jepara.
Dijamu makan malam menu Thailand di YamYam Resto Jl. Dr. Sutomo 13 Jepara
Kami memasuki rumah keluarga Bapak Mulyono, menjelang senja pada Sabtu, 30 Desember 2023. Rumah mungil nan bersih ini berada di dalam areal pabrik furniture Mahkota Mulyo Mandiri, seluas hampir 2 ha dengan sekitar 65 karyawan dan pengiriman export sekitar 2 kontainer 40 feet per bulan. Saat kami bertiga mendarat, kami disambut hangat di depan gerbang rumahnya. Setelah beristirahat sore sejenak, kami segera kembali ke kota Jepara untuk dijamu makan malam menu Thailand di YamYam Resto Jl. Dr. Sutomo 13 Jepara. Di restauran yamyam ini menu favoritnya adalah tom yam seafood yang rasanya lebih nendhang dan luar biasa.
Pada Minggu pagi, 31 Desember 2023 ikut misa kudus di Gereja Katolik Stella Maris, yang merupakan gereja pertama di Jepara
Setelah beristirahat semalam, pada Minggu pagi, 31 Desember 2023 kami menuju Gereja Katolik Stella Maris, yang merupakan gereja pertama di Jepara dan berdiri tahun 60an dengan pastor dari ordo MSF. Pada awalnya Jepara merupakan wilayah kerja paroki Kudus sampai akhirnya Jepara menjadi paroki sendiri. Dengan jumlah umat 1000an tersebar dari Keling sampai Mayong, gereja Katolik Jepara mengadakan Ekaristi harian pk. 6 pagi dan dua kali setiap Minggu pk. 7 pagi dan pk. 17 sore. Di belakang gedung gereja terdapat aktifitas pendidikan PAUD dan TK Kanisius yg menjadikan setiap paginya gereja selalu ramai. Di seberangnya ada SD Kanisius Jepara, yang merupakan salah satu sekolah swasta favorit di Jepara. Selanjutnya kami menikmati sarapan di RM H Isnan ke 6 menu sop campur khas Jepara, dan kami melanjutkan petualangan ke Kudus. Disopiri William dan dipinjami Toyota Fortuner 2017 VRZ hitam K 1396 FL, kami ber 4 menuju Kudus, sejauh 41 km dari Jepara.
Kami melewati Mayong, Prambatan, Kaliwungu, dan Purwogondo, sesuai daerah yang dahulu dilalui Pangeran Kalinyamat yang terluka parah dalam perjalanan dari Kudus ke Jepara, sebelum akhirnya meninggal karena serangan Arya Penangsang. Kudus saat ini lebih terkenal disebut Kota Kretek. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kretek atau keretek merupakan rokok yang tembakaunya dicampur serbuk cacahan cengkih. Sejarah kretek bermula di Kudus berkat Haji Djamhari, yang menemukan kretek ketika berusaha mengatasi sesak napasnya dengan minyak cengkih. Ia kemudian bereksperimen dengan mencampur bubuk cengkih dan tembakau, melintingkannya dengan “klobot” atau kulit kulit jagung. Lintingan tersebut dibakarnya sehingga menghasilkan bunyi khas “kretek.. kretek.. kretek…”. Inilah asal-usul nama kretek.
Namun demikian, kretek baru dikembangkan oleh Bapak Kretek Indonesia dari Kudus, yaitu Bapak Nitisemito, yang merintis kesuksesannya dari kegagalan di berbagai bidang. Lahir pada 1863, dimulai sebagai kusir dokar dan penjual tembakau. Setelah menikahi Nasilah, pembuat rokok kretek, pasangan ini mengembangkan usaha tersebut menjadi industri besar dengan merek Bal Tiga di Kudus. Meski buta huruf, Nitisemito terbukti jenius dalam bisnis kretek. Ia berhasil menerapkan manajemen modern dan pemasaran yang inovatif. Kesuksesannya membuatnya dikenal sebagai pengusaha pribumi sukses, bahkan Presiden Soekarno sering berkonsultasi dengannya pada masa perjuangan kemerdekaan Indonesia. Museum Kretek di Kudus saat ini sedang menjadi perbincangan netizen, karena menjadi lokasi syuting film serial Gadis Kretek. Pada tahun 1986, Museum Kretek diresmikan di atas lahan seluas 2,5 hektare, berkat inisiatif dari Soepardjo Rustam, Gubernur Jawa Tengah.
Berhenti di RS Ibu dan Anak (RSIA) Miriam di Jl. A. Yani 58 Kudus untuk menyapa Sr. Widianingsih, OP
Kami memasuki kota Kudus yang rindang langsung menuju Cynthia Cake and Tart Jl. Pemuda 90 Sleko Kudus. Di toko roti legendaris yang mempertahankan nuansa tradisional dengan banyak pembeli ini, kami belanja beberapa kue khas Kudus. Kami lanjut ke RS Ibu dan Anak (RSIA) Miriam di Jl. A. Yani 58 Kudus yang didirikan pada tahun 1977. Kami hendak menemui sahabat dari Klaten, yaitu Sr. Widianingsih, OP biarawati yang bekerja sebagai bidan di RSIA Miriam tersebut, yang mendapat bantuan dari Djarum Foundation dan telah berkembang menjadi salah satu rumah sakit terbaik di Kudus.
Selajutnya kami berpetualang ke Pati yang berjarak 24 km. Kota Pati didirikan saat Kerajaan Hindu Pajajaran di Jawa Barat mulai meredup dan pusat kekuasaan pindah ke Majapahit, di Trowulan, Jawa Timur. Pada saat Raja Majapahit adalah Brawijaya II, diutuslah Jaka Pekik dan putranya Jaka Suruh untuk menemui Kyai Ageng Pati, yang bernama Tambranegara agar menghadap ke ibukota Kerajaan Majapahit, yang tercatat pada tanggal 13 Desember 1323. Dengan data itu, diperkirakan bahwa pindahnya ibukota Kadipaten Pesantenan dari Desa Kemiri ke Desa Kaborongan dan kelak akan menjadi Kabupaten Pati itu terjadi pada 7 Agustus 1323, sehingga sekarang dinyatakan sebagai Hari Jadi Pati
Reuni dengan Dr. Eddy Mulyono, SpPD, teman seangkatan saat kuliah di FK UGM Yogyakarta tahun 1984 di istananya yang megah di Jl. Diponegoro 119A Pati.
Kami mengunjungi Dr. Eddy Mulyono, SpPD, teman seangkatan saat kuliah di FK UGM Yogyakarta tahun 1984. Kami disambut meriah di istananya yang megah di Jl. Diponegoro 119A Pati. Rumah bergaya Art deco dengan pilar2 yang besar, bulat, dan menjulang tinggi, membuat rumah 2 lantai tersebut nampak gagah, megah, dan berwibawa. Istrinya, Drg. Diah Handayani yang merupakan Ketua PDGI Cabang Pati dengan 65 dokter gigi anggota, memasakkan menu spesial lontong opor bagi kami yang datang berkunjung dan tidak pernah bertemu sejak lulus jadi dokter tahun 1991 dulu, sekitar 24 tahun kami berdua tidak pernah bertemu.
Reuni dengan Dr. Eddy Mulyono, SpPD, teman seangkatan saat kuliah di FK UGM Yogyakarta tahun 1984 di istananya yang megah di Jl. Diponegoro 119A Pati.
Setelah puas makan kenyang dan foto bersama, kami segera melanjutkan petualangan menjelajahi Pati dalam Lintasan Zaman. Setelah pamor pelabuhan Jepara menurun setelah VOC memindahkan markas kongsi dagangnya ke Semarang pada akhir abad 16, maka Pati mengambil perannya sebagai daerah transit perdagangan dengan mengembangkan Pelabuhan Juwana dan memanfaatkan posisi strategis pengiriman logistik melalui jalur darat dari Semarang ke timur menuju Surabaya. Setelah Gubernur Jenderal Daendels membangun jalan raya pos pada tahun 1808, posisi Pati menjadi daerah yang lebih strategis dibandingkan Jepara, dengan potensi ekonomi yang semakin tinggi, karena perdagangan rempah dan gula yang menjadi primadona komoditas ekspor Hindia Belanda. Terlebih lagi setelah ditemukannya sumber minyak di daerah Cepu, maka Pati dijadikan sebagai ibukota karesidenan yang membawahi Kudus, Jepara, Pati, Rembang dan Blora.
Sisa kejayaan ini masih dapat dinikmati sepanjang Jalan Panglima Sudirman yang membelah Kota Pati, dari barat sampai ke Alun Alun Pati dan ke timur terus ke arah Juwana, salah satu pelabuhan penting yang menopang laju ekonomi pada masa kolonial. Pati sejak jaman kolonial nampaknya sudah dirancang sebagai kota dengan orientasi sebagai pusat kegiatan politik dan pendidikan. Hal ini tampak dari bangunan sekolah dan pemerintahan yang sudah ada sejak abad ke 19, lebih banyak dibandingkan dengan bangunan sebagai pusat perdagangan atau pertokoan. Hampir semua bangunan heritage bergaya art deco, terpusat di Jl. Jenderal Sudirman, dari barat dimulai dengan Gedung eks Karesidenan Pati yang berumur hampir 200 tahun, sisa kemegahan masih nampak nyata dapat kami nikmati. Ke arah timur dijumpai stasiun kereta api yang dulu digunakan pada rute Semarang ke Juwana, yang diresmikan pada 1884, tetapi saat ini hanya terlihat atapnya saja, karena berubah fungsi menjadi cafe. Masih ke arah timur terlihat gedung kantor pos dan telegrap sebagai tujuan utama dibangunnya Jalan Raya Pos Daendels. Bagian depan gedung yang masih terlihat lestari yaitu jendela dan pintu ukuran besar dan tinggi, yang pada jaman Belanda dulu merupakan Gedung sekolah Europeesche Lagere School (ELS).
Gedung Juang juga mewarnai deretan bangunan heritage sepanjang jalan Daendels, dulunya adalah bangunan kantin untuk para serdadu Belanda yang menikmati santap siang dan istirahatnya. Rute selanjutnya ke arah timur terdapat kompleks militer, markas CPM, Polwil Pati, kejaksaan, rumah sakit tentara dan Kodim Pati yang menaungi batalion di Karesiden Pati. Bangunan ini dahulu digunakan sebagai Markas Batalion “K” dari Inggris, yang akhirnya sampai saat ini digunakan sebagai kode plat nomor kendaraan di wilayah Eks karesidenan Pati. Bangunan tersebut masih gagah dan terawat cukup detail lekuk bangunannya.
Kami kembali ke jalan Panglima Sudirman Pati untuk menikmati nuansa kolonial yang masih terlihat ke arah alun alun, sekolah, gedung biara Alverna, dan Rumah Sakit Bersalin Panti Rukmi, yang menunjukkan fungsi religi dan kemanusiaan sejak jaman itu. RSB Panti Rukmi saat ini tidak berfungsi lagi dan telah diubah menjadi rumah lansia. Panti lansia ini berada di bawah kendali Yayasan Suster Fransiskus Dina yang berkarya dibidang sosial kemasyarakatan dan pendidikan. Segera kami bergegas masuk ke Wisma Lansia Panti Rukmi, Pati untuk menemui Sr. Maria, SFD, seorang biarawati dan perawat teman seperjuangan dalam layanan kesehatan di Klinik Panti Usada Baciro Yogyakarta tahun 2014 dan pernah juga kami kunjungi dalam layanan selanjutnya di pedalaman Kalimantan Selatan, jauh dari Banjarbaru tahun 2017.
Di Wisma Lansia Panti Rukmi, Pati kami menemui Sr. Maria, SFD, seorang biarawati dan perawat teman seperjuangan dalam layanan kesehatan di Klinik Panti Usada Baciro Yogyakarta tahun 2014
Dari Rumah Lansia Panti Rukmi Pati, kami segera menuju Gua Maria Immaculata dan Bumi Persami Subasio Sani, Jl. Raya Tlogowungu, Pati. Selain mengucap syukur atas semua anugerah yang telah kami terima, kami juga memohon doa dan pendampingan dari Bunda Maria Ibu Yesus, agar mampu melanjutkan pelayanan bagi sesama. Kami juga mampir di rumah kusta di seberang Gua Maria Immaculata, untuk memberikan sedikit bingkisan bagi penderita penyakit kusta atau lepra yang dirawat di situ. Juga menunjukkan kepada dik Larasati yang sebentar lagi akan memasuki program profesi pendidikan dokter, agar melihat dengan mata kepala sendiri, kerusakan kulit, jari kaki, jari tangan dan hidung penderita kusta, yang selama ini hanya dilihatnya di e-book. Kusta atau lepra memang penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium Lepra dan telah disebutkan dalam Alkitab.
Kerusakan jari tangan penderita kusta atau lepra yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium Lepra telah didokumentasikan oleh dik Larasati, tentu menambah pemahamannya sebagai calon dokter
Selanjutnya kami menempuh jalan pulang dari Pati ke Jepara, melalui jalur lain, tidak sama dengan saat kami berangkat. Kami lanjut pulang ke Jepara mengitari Gunung Muria yang menjulang di sebelah kiri jalan, memasuki Kecamatan Widarijaksa, Pati. Kami langsung berdiskusi hangat dengan dik Larasati, karena di situlah Dr. Setyaningrum yang melayani pasiennya dituntut, diadili, dan sempat divonis bersalah untuk dipenjara, karena pasien tersebut meninggal dunia saat mengalami syok anafilaksis pada tahun 1979. Berkat kegigihannya dan dukungan dari berbagai pihak, termasuk para pengurus IDI, akhirnya pada 27 Juni 1984 dinyakan tidak bersalah, pada jenjang pengadilan tertinggi di Mahkamah Agung RI. Dengan kejadian di Wedarijaksa, Pati itulah mengapa setiap tanggal 27 Juni ditetapkan sebagai Hari Kesadaran Hukum Kedokter Indonesia, agar para dokter menyadari tentang konsekuensi legal atas semua layanan kedokteran yang dilakukannya. Juga profesinya selalu bersinggungan dengan hukum sehingga para dokter harus taat etika serta perundang-undangan yang ada. Para dokter wajib belajar dan mengambil manfaat dari pengalaman masa lalu atau kasus-kasus hukum kedokteran yang terjadi, serta tetap menjunjung tinggi etika profesi, sumpah profesi, kebutuhan, serta keselamatan pasien. Selain itu, juga menjaga spirit kesejawatan dalam dinamika masyarakat Indonesia yang heterogen dan turut serta dalam mewujudkan masyarakat yang adil, makmur, serta sejahtera sesuai cita-cita bangsa. Juga para penegak hukum dan masyarakat diharapkan dapat lebih memahami bahwa masalah hukum kedokteran yang merupakan persinggungan antara disiplin hukum dan disiplin kedokteran, mempunyai dimensi yang sangat komplek.
e-poster Hari Kesadaran Hukum Kedokteran oleh PB IDI 2019, terinspirasi oleh kasus mediko-legal di Wedarijaksa, Pati
Selanjutnya kami memutari Gunung Muria untuk menuju Kecamatan Mlonggo dengan melewati Tayu, Kluwak, Kelet, Batealit, Tahunan, Kembang, dan Bangsri. Penjelajahan ini melwatai jalur yang mendaki, turunan tajam dan belok berulang dan aspal jalan yang tidak terlalu bagus, bahkan cenderung jelek. Rasanya karena Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Jepara tidak membangun terlebih dahulu selokan drainasi di kedua sisi jalan raya dengan banyak inlet di sepajang jalan kabupaten, sehingga air hujan menggerus berulang aspal jalan. Namun demikian pesona Kelet telah membuyarkan usulan tersebut, karena nama Kelet sangat legendaris.
bus Kencana double dekcer bermesin Scania K410iBnampak gagah di pinggir jalan Kelet, Jepara sebelum berangkat melaju ke Jakarta
Sebagai penggila bis (bus mania), petualangan melewati Kelet sangat mengasyikkan, karena banyak bis baru, besar dan bagus jurusan Jakarta, Surabaya, ataupun Denpasar ke Jepara hampir semuanya berakhir di Kelet. Bis terbaru adalah bus Kencana double dekcer bermesin Scania K410iB yang dijual oleh United Tractors, dibekali mesin 13.000 cc, 6-Silinder Segaris, Turbocharger, dan Intercooler. Bodi gagah garapan perusahaan karoseri Tentrem, Malang berseri Avante D2 yang diberi nama Kezia. Bus double decker Kezia itu melengkapi dua bus double decker PO Kencana yang juga memiliki nama unik dari anak-anak Toni (pemilik bis) lainnya yakni Valentino dan Emiliano. PO Kencana banyak dikenal karena fasilitasnya yang tak main-main. Mewah, mungkin adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikannya. Dengan dominasi warna pink di badan luar bus, menjadikannya mudah dikenali. Selain itu, kami juga melihat bis gagah lainnya dari PO Sahalaah, Shantika, Haryanto, Bejeu, Muji Jaya, Mension, Gunung Harta, dan Jaya Utama Indo.
Didampingi Ibu Harlina melihat area produksi furniture tahap ketiga
Setelah sampai dengan selamat menjelang sore di Mlonggo, kami segera disuguhi menu soto Betawi yang lezat dan lanjut beristirahat sore. Pada malam pergantian tahun, kami menikmati menu bebaqaran ayam, udang, ikan kakap merah dan kembang api. Pada Senin pagi, 1 Januari 2024 kami diajak keliling areal pabrik furniture Mahkota Mulyo Mandiri, seluas hampir 2 ha.
Bapak Mulyono dan Ibu Harlina mengantar kami mengelilingi kopleks pabrik furniture
Bergaya memotong kayu dengan gergaji mesin di Mahkota Mulyo Furniture, Mlonggo, Jepara
Sebuah usaha keluarga yang luar biasa berkembang pesat dengan buyer furniture dari Spanyol, Belanda, USA dan Yunani. Selanjutnya kami mengunjungi Pantai Pailus Mlonggo, untuk melihat bekas usaha tambak udang keluarga Mulyono dan berwisata di pasir putih pantai, sambil menikmati lobster rebus yang gurih. Setelah makan siang, kami berdua segera pamit pulang ke Yogyakarta, dengan dik Larasati masih akan menginap semalam di situ, sebelum lanjut kembali ke Bandung untuk ujian blok terakhir di FK UKM Bandung, akan naik bis Nusantara SE.
Dik Larasati keliling kompleks produksi furniture dengan Moci, sebelum kembali ke Bandung
Fort Japara (XVI) atau Loji Gunungyang merupakan sebuah benteng peninggalan VOC Belanda di Jepara tahun 1613.
Senin, 1 Januari 2023 siang kami berdua dalam Honda Mobilio AB 1412 GH memulai perjalanan pulang dari Jepara ke Yogyakarta. Kami mampir, melihat, dan mengagumi Benteng VOC Japara, juga dikenal sebagai Fort Japara (XVI) atau Loji Gunung, yang merupakan sebuah benteng peninggalan VOC Belanda di Jepara, Jawa Tengah. Gerbang benteng ini merupakan bagian dari kawasan yang terdiri dari benteng, kompleks permakaman (yang diantaranya adalah Taman Makam Pahlawan Giri Dharma), dan sebuah hutan tanaman buah yag dikelola PT. Rimba Raya. Benteng dan kantor dagang VOC ini didirikan di Jepara pada 1613, karena kantornya yang ada di Gresik, Jawa Timur selalu mendapat gangguan dari para pedagang Islam madura dan Jawa Timur yang menentang sistem monopoli VOC.
Pada 1615, Sultan Agung dari Mataram memberikan izin kepada VOC untuk mendirikan loji sebagai kantor pewakilan dagang di Jepara. Loji itu selesai dibangun pada tahun 1618. Ketika Pemberontakan Trunajaya meletus, Letnan VOC Martinus van Ingen membuat peta daerah Jepara dan merencanakan penempatan 100 infanteri di Benteng VOC Jepara. Pemimpin Jepara saat itu, Ngabehi Wangsadipa, memberi VOC berupa lima pucuk meriam yang salah satunya dipasang di benteng itu. Pasukan Trunajaya berkali-kali menyerang benteng Jepara, tetapi selalu berakhir gagal. Benteng Jepara tetap digunakan oleh VOC Belanda sebagai konsesi dalam bentuk sewa yang diberikan Amangkurat II kepada VOC, atas usahanya dalam menumpas Pemberontakan Trunajaya.
Benteng ini menjadi pusat perdagangannya VOC di pantai utara Jawa, tetapi kemudian ditinggalkan perlahan pada 1697, ketika Semarang mulai menggantikan fungsi Jepara sebagai pusat perdangangan. Alasannya adalah karena pelabuhan Jepara mengalami pendangkalan yang disebabkan oleh sedimentasi lumpur yang dibawa oleh arus sungai dan binatang-binatang karang yang semakin berkembang. VOC juga mempertimbangkan keunggulan pelabuhan Semarang yang memiliki akses ke pedalaman Mataram di Surakarta. Pada 1707, VOC secara resmi memindahkan pusat kekuasaannya dari Jepara ke Semarang. Hal itu didasarkan pada perjanjian tanggal 31 Oktober 1707 antara VOC dengan Pakubuwana I selaku raja Kesultanan Mataram di Surakarta.
Alun-alun di pusat kota Demak
Selanjutnya kami menyusuri jalan Jepara Kudus yang padat kendaraan dan sampai di Kalinyamatan kami berbelok ke kanan menuju Welahan, untuk mencapai pusat kota Demak. Setelah berfoto sejenak di alun-alun Kota Demak sebagai Kota Wali, kami bergegas masuk ke komplkes Masjid Agung Demak yang diyakini dibangun tahun 1479 oleh Wali Sanga, penyebar agama Islam di Pulau Jawa, dengan sosok yang paling menonjol adalah Sunan Kalijaga, pada masa penguasa Kesultanan Demak pertama, Raden Patah pada abad ke-15. Di dalam lokasi kompleks masjid ini, terdapat beberapa makam raja-raja Kesultanan Demak termasuk di antaranya adalah Raden Patah yang merupakan raja pertama Kesultanan Demak dan para abdinya.
Gaya arsitektur Masjid Agung Demak adalah Jawa Kuno, yaitu perpaduan antara bentuk Joglo dan Limasan serta sedikit polesan arsitektur Persia pada keramik.
Dinding masjidnya tersusun dengan keramik dari Vietnam dan penggunaan keramik yang lebih dominan daripada batu, dianggap meniru masjid-masjid di Persia. Sunan Kalijaga membuat usulan untuk membuat tata kota berupa masjid, alun-alun, dan Keraton. Usulan itu disetujui oleh penguasa Kerajaan Demak, Raden Patah. Gaya arsitektur masjid adalah Jawa Kuno, yaitu perpaduan antara bentuk Joglo dan Limasan serta sedikit polesan arsitektur Persia pada keramik. Bentuk arsitekturalnya yang khas adalah atap tumpang, yaitu bentuk atap bertingkat 2, 3, atau 4 yang makin ke atas makin mengecil dan diakhiri dengan kemuncak. Salah satu dari 4 buah tiang utama masjid tersebut berasal dari serpihan-serpihan kayu, sehingga dinamai saka tatal. Atap masjid berbentuk limas bersusun tiga jadi gambaran akidah Islam yakni Iman, Islam, dan Ihsan.
Kelenteng Hok Tek Bio atau Vihara Budhi Luhur, di dekat Alun-alun Demak, Jawa Tengah
Selanjutnya kami menyeberangi jalan dan menuju ke Jl. Siwalan nomer 3 Demak, untuk melihat Kelenteng Hok Tek Bio atau disebut juga Vihara Budhi Luhur, yang menjadi tempat ibadah umat Konghucu, sekaligus objek wisata karena memiliki altar cantik, beserta ukiran kayu warna-warni. Bangunan kelenteng ini menghadap ke arah barat, arah yang paling dekat ke pinggir laut, yaitu sekitar 15 km ke arah Bonang, area yang di jaman dahulu pernah menjadi salah satu pelabuhan milik Kesultanan Demak Bintoro. Pelabuhan Demak satunya lagi, yang merupakan pelabuhan bagi berlabuhnya kapal-kapal militer, berada di sekitar Teluk Wetan, Jepara.
Dari Demak kami segera melanjutkan penjelajahan untun mencapai Jatingaleh, Kota Semarang. Kami menemui mbak Ratri dan mas Arief AW di rumahnya, karena keduanya teman sekelas di SMP Bruderan Purworejo, Kedu, Jawa Tengah, yang sudah 38 tahun tidak pernah bertemu lagi, semenjak lulus SMP. Perjumpaan yang sangat membahagiakan dan mengagetkan, karena postur fisik mas Arief yang sudah sangat berbeda jauh dan membuat kami tidak mampu lagi mengenalinya. Beruntunglah mbak Ratri yang tinggi menjulang masih tidak banyak berubah, sehingga sebutan genter (galah dari bambu untuk memetik buah di pohon yang tinggi) yang disandangnya sejak SMP, masih dapat kami kenali. Dalam perbincangan yang hangat, berbagi kabar antar kami, dan reuni tipis yang membahagikan, kenangan atmosfer Purworejo terasa nyata. Selanjutnya kami pamit untuk pulang ke Yogyakarta dan akan mampir sejenak ke Tuntang, untuk berdevosi kepada Bunda Maria sesuai masukan mas Arief AW.
Reuni dengan mbak Ratri dan mas Arief AW, teman semasa belajar di SMP Bruderan Purworejo di rumahnya Jatingaleh, Semarang
Rosa Mystica (atau Mawar Mistik) adalah gelar puitis untuk Bunda Maria, Ibu Yesus Kristus. Salah satu bentuk devosi Maria adalah memanjatkan doa Perawan Maria dengan memanggilnya menggunakan litani dengan berbagai judul, dan judul ‘Mawar Mistik’ terdapat dalam Litani Loreto. Ini juga merupakan gelar Katolik Bunda Maria berdasarkan penampakan Maria yang terjadi antara tahun 1947 dan 1966 oleh Pierina Gilli di Montichiari dan Fontanelle, di Italia. Sejarah Rosa Mystica dimulai pada tahun 1531, saat Bunda Allah menampakkan diri kepada Juan Diego di Bukit Tepeyac di Meksiko dan melakukan “keajaiban mawar” sebagai bukti kehadirannya kepada Uskup Zumarraga. Mawar tidak pernah tumbuh di daerah berbatu itu. Terlebih lagi, ketika dalam keterkejutan mereka, para pelayan uskup mencoba memetik dan mengambil beberapa di antara bunga-bunga itu dari tilmanya, mereka tidak dapat melakukannya karena bunga-bunga itu bukanlah bunga mawar yang mereka sentuh, tetapi seolah-olah bunga-bunga itu adalah mawar yang dicat atau disulam, sehingga disebut “mawar mistik”.
Gua Maria Rosa Mystica di Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang.
Gua Maria Rosa Mystica memberikan keheningan untuk berdoa, berdevosi dan berucap syukur sembari menenangkan diri, berlokasi di Kecamatan Tuntang, Kabupaten Semarang. Oleh karena berlokasi cukup jauh dari keramaian, Gua Maria Rosa Mystica memberi kedamaian tersendiri saat berdoa. Setelah puas berdoa dan berucap syukur atas semua rahmat yang kami terima sepanjang tahun 2023, kami memohon pendampingan untuk semua layanan yang harus kami lakukan sepanjang tahun 2024.
Kemudian kami segera bergegas pulang, sebelum hujan lebat mengguyur jalanan untuk mencapai rumah kami di Timoho Yogyakarta menjelang pk. 21. Terimakasih kami haturkan kepada segenap sponsor pendungkung kegiatan, sehingga penjelajahan ke Jepara dan sekitar Gunung Muria telah dapat kami jalani. Sampai ketemu lagi dalam petualangan selanjutnya.
IDI Reborn adalah visi organisasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) untuk menuju organisasi profesi dokter yang mandiri, modern, dan akuntable untuk menciptakan masa depan yang lebih baik. Juga membawa semangat perubahan dan pembaharuan yang dilandasi kekuatan, kecerdasan gagasan dan implementasi yang sangat kokoh, serta terwujud pada kinerja organisasi yang saling sinergis, kolaboratif, dan selalu konsisten dalam bingkai kolegialitas sebagai ikatan spiritual tertinggi bagi IDI, sebagaimana disampaikan oleh Dr. dr. Moh Adib Khumaidi, SpOT, sebagai Ketua Umum PB IDI.
bersama Dr. dr. Moh. Adib Khumoidi, SpOT Ketua Umum PB IDI di Lamongan
Penegasan tersebut juga dilakukan di Lamongan, Jawa Timur saat peringatan HUT ke -73 sekaligus Hari Dokter Nasional. Untuk itulah petualangan ke Lamongan kami jalani. Oleh karena para pengurus IDI se DIY sudah berangkat ke Lamongan terlebih dahulu dan kami masih harus masuk kerja, maka petualangan dimulai dengan naik bis CEPAT EKA, meninggalkan terminal Bis Giwangan Yogyakarta menuju terminal bis Bungurasih Surabaya, sejauh 263 km pada Sabtu siang, 21 Oktober 2023, selepas kerja.
Bis Cepat EKA yang akan membawa kami berpetualang
Bus EKA tentu sudah tak asing lagi bagi para maniak bus, sebagai bus patas AC legendaris yang semula bernama PO. Flores. Bus EKA menggunakan tipe chassis Hino New RN 285 yang dilengkapi shock breaker air suspension, berbalut body jenis Jetbus 3+ buatan Adi Putro Malang, sehingga nampak gagah. Bis EKA berplat nomer S 7852 US dengan chassis Hino RN285 ini adalah sasis paling banyak digunakan dibandingkan sasis bus merek lain, karena faktor harga yang terjangkau, mampu diandalkan, dan mudah perawatannya.
Kami menyusul teman2 pengurus IDI se DIY yang telah berangkat lebih awal ke Lamongan dengan 2 buah Toyota Hi-Ace Premio, untuk memeriahkan HUT IDI ke 73, yang dipusatkan di Alun-alun Lamongan, Jawa Timur.
masjid agung di seberang alun-alun Lamongan
Lamongan adalah sebuah kabupaten di Provinsi Jawa Timur yang terletak 49 km barat Kota Surabaya. Kabupaten Lamongan dilintasi Jalan Nasional Jakarta-Surabaya, merupakan salah satu wilayah yang masuk dalam kawasan metropolitan Surabaya, yaitu Gerbangkertosusila (Gresik, Bangkalan, Kertosono, Surabaya, Sidoarjo, dan Lamongan). Kabupaten Lamongan memiliki garis pantai sepanjang 47 km, termasuk Pantai Tanjung Kodok yang menawan, dan daratan dibelah oleh Sungai Bengawan Solo.
sebagian pengurus IDI se DIY bergaya di depan panggung acara, mengenang pendudukan Lamongan pada era awal kemerdekaan RI
Setelah Indonesia Merdeka pada 17 Agustus 1945, daerah Lamongan menjadi garis depan pertahanan melawan tentara kependudukan Belanda atau NICA. Pada tanggal 20 Desember 1948 pk. 15 terjadi serbuan atas kota Babat oleh Pasukan Marbrig (Mariniers Brigade atau Koninklijk Nederlandse Marine Korps) yang datang dari Tuban. Kecamatan Babat termasuk jembatan Cincim akhirnya jatuh ke tangan Belanda tanpa ada perlawanan sama sekali. Peristiwa ini dikenal dengan sebutan “dosa komandan Batalyon Halik”. Brigade Marinir Belanda ternyata tidak langsung menyerang kota Lamongan dari arah Babat, melainkan bergerak ke arah selatan dengan tujuan utama kota Kertosono. Baru pada tanggal 18 Januari 1949 pk. 13 Kota Lamongan berhasil diduduki dan dikuasai oleh Belanda, dengan kerugian yang besar. Selama enam bulan pertempuran perebutan Lamongan, korban dari pihak tentara Belanda relatif lebih besar dibandingkan dengan korban di pihak pasukan Lamongan. Tercatat pihak Belanda mengalami korban tewas 139 pasukan, luka-luka 29 orang dan tertawan 11 orang. Korban dari pihak RI tercatat sebanyak 40 tentara gugur, 11 tertawan dan 12 orang terluka. Adapun korban dari warga sipil 335 orang tewas dan 93 mengalami luka-luka.
menu gulai kambing dan teh panas kental di RM Duta Ngawi bagi para penumpang bis cepat EKA
Perjalanan bis cepat EKA dari Yogyakarta melewati 2 penggal Tol Trans Jawa yang legendaris. Pertama dari Gerbang Tol (GT) Ngemplak Solo ke GT Sragen Timur. Setelah melibas Banaran, batas 2 propinsi Jateng dan Jatim, kami beristirahat sejenak di RM Duta Ngawi dengan menu makan gulai kambing hangat dan teh kental, manis, juga hangat. Lanjut masuk GT Madiun dan melibas tol panjang, iklan yang disuarakan crew bis untuk menggaet penumpang, dan keluar di GT Waru Gunung Surabaya dengan harga tiket bis Rp. 175 ribu termasuk makan.
Kami memasuki areal terminal bis Bungurasih Surabaya, terminal bis terbesar di Jawa Timur menjelang pk. 22. Selanjutnya kami ganti bis Patas Jaya Utama Indo L 7574 UV jurusan Surabaya ke Semarang, akan turun di Lamongan dengan tarif Rp. 50 ribu. Jaya Utama Indo merupakan salah satu PO bus pelopor rute Surabaya-Semarang. Pada awal tahun 1990-an, PO ini hanya memiliki lima armada dengan nama PO Jaya Utama. Persaingan ketat membuatnya mengalami pasang surut. Perusahaan otobus ini pernah mengakuisisi beberapa PO seperti PO Trigaya Putra dan PO Tjipto. Pada tahun 2000, perusahaan ini mengakuisisi PO Indonesia sehingga berubah nama menjadi PO Jaya Utama Indo hingga sekarang dengan armada yang telah mencapai ratusan unit. Kini armada yang dimiliki Jaya Utama Indo sudah banyak diperbarui dan mengakomodasi teknologi terkini. Unit bus kebanyakan menggunakan body buatan karoseri Tentrem Malang dan Laksana Ungaran dengan model Discovery dan Legacy SR2 HD Prime. Ada pula dari karoseri Gunung Mas berbodi Zeppelin G3 serta karoseri Trisakti berbodi Ultima 2. Dapur pacu atau mesin yang dipakai hanya dari Hino Jepang dan Mercedes Benz Jerman. Kami naik bis Jaya Utama Indo berbody Avante H9 buatan Karoseri Tentrem Malang dengan mesin Mercedes-Benz tipe 1836 0500 susoensi udara dan masuk GT Tandes Barat dan keluar di GT Kebomas Gresik.
kabin bis Jaya Utama Indo dari Surabaya ke Lamongan, dengan seat buatan Rimba Raya
Selanjutnya kami menempuh jalan nasional non tol menuju Lamongan dan turun di depan Lamongan Plaza Mall. Kami segera pesan Grab Bike menuju Hotel Mahkota, sebuah hotel melati plus yang letaknya strategis, berada di pusat kota Lamongan yang hanya perlu waktu 45 menit perjalanan dari pusat bisnis Kota Surabaya. Segera kami terlelap di kamar 216 Hotel Mahkota 1 berlokasi di Jl. Sunan Drajad 6-8, Lamongan dalam kepenatan badan karena perjalanan panjang, tetapi masih sempat membayangkan perang kemerdekaan yang berkecamuk di Lamongan.
hotel Mahkota di dekat alun-alun Lamongan
Heroisme warga Lamongan saat melawan pendudukan Belanda tersebut menjiwai seluruh rangkaian kegiatan HUT IDI ke 73 pada Sabtu – Selasa, 21 sampai 24 Oktober 2023 di Lamongan, Jawa Timur.
Heroisme pelari Dr. Joko Murdiyanto dan Dr. Agus Wiyono saat mencapai garis finish pada Charity Run For Stunting di Lamongan
Agenda utama kegiatan yang kami ikuti setelah sarapan di Hotel Mahkota Minggu pagi, 22 Oktober 2023 adalah ‘charity for stunting’. Stunting saat ini masih menjadi masalah gizi utama bagi bayi dan anak di bawah usia 2 tahun di Indonesia. Hal ini menjadi tantangan tersendiri saat Indonesia tengah mempersiapkan generasi emas pada 2045 mendatang.
bersama teman2 pengurus IDI se DIY di panggung Charity Run for Stunting
Oleh karena itu semua pihak seharusnya bersama-sama mengatasi dan menurunkan angka kejadian stunting, termasuk para dokter anggota IDI. Sesuai dengan harapan Presiden Jokowi pada tahun 2024 target stunting harus dibawah 14%. Sedangkan merujuk hasil Survei Status Gizi Indonesia (SSG) 2022, angka stunting nasional masih tinggi, di atas 21,6%.
siap mengikuti apel siaga dokter Indonesia di LamonganApel Siaga Dokter Indonesia melawan stunting
Selain penggalangan dana untuk mengatasi stunting, juga dilakukan pengobatan gratis oleh dokter spesialis dengan beragam disiplin ilmu atau spesialisasi, di 32 puskesmas di seluruh Kabupaten Lamongan. Target pasien setiap puskesmas diperkirakan dapat dilayani 150-200 orang pasien dan IDI menyiapkan 179 dokter spesialis untuk kegiatan ini.
Festival Olahraga di alun-alun kota Lamongan
Juga ada festival olahraga dan seni dengan 3 cabang olahraga yang akan dipertandingkan, yakni badminton, tenis meja, dan futsal, yang diikuti oleh seluruh dokter se-Indonesia. Sebanyak 200 orang dokter telah mendaftarkan diri. Festival ini bertujuan untuk memotivasi gaya hidup sehat dengan beraktivitas fisik, berolahraga dan bergerak secara teratur, termasuk para balita stunting.
wajah gelap tertutup bayangan balon,
Pada kesempatan tersebut kami sempat bertemu langsung dan berfoto dengan Dr. dr. Moh. Adib Khumoidi, SpOT Ketua Umum PB IDI dan Dr. dr. Sutrisno, SpOG(K) Ketua IDI Wilayah Jawa Timur.
bersama Dr. Agus Wiyono, Dr. Adib Khomaidi dan Dr. Joko Murdiyanto di lokasi acara HUT IDI ke 73 di Lamongan
Juga ada bazar atau pesta rakyat yang menghadirkan berbagai kebutuhan pokok bagi rakyat sekitar, bekerjasama dengan dinas terkait di Pemkab Lamongan. Bahkan dilengkapi dengan pemberian sembako, khususnya beras murah di alun-alun Lamongan sebagai bentuk simpati IDI atas naiknya harga beras dalam beberapa bulan terakhir. Telah disediakan beras 5 ton dalam kegiatan ini. Selain itu juga akan ada stan UMKM dan kuliner dari masyarakat setempat, donor darah, serta ada komunitas musik untuk hiburan. Ada juga charity run, lari untuk umum sepanjang 7,3 km, gerakan orangtua asuh dokter untuk balita stunting hingga pemecahan Rekor MURI.
rombongan pengurus IDI se DIY di Lamongan
Pendidikan agama Islam sangat maju di seluruh Lamongan. Bahkan terdapat banyak pondok pesantren terkenal seperti Ponpes Tarbiyatut Tholabah di Kranji Paciran, Ponpes Sunan Drajat di Drajat Paciran, Ponpes Thoriqul Ulum Lamongan, Ponpes Manarul Qur’an di Paciran, Ponpes Bustanul Hikmah di Dumpiagung dan di Kembangbahu. Pagi itu kami sempatkan mengikuti peryaan ekaristi atau misa kudus di Gereja Katolik St. Fransiskus Xaverius Lamongan yang memiliki ciri khas bangunan sederhana yang sejuk, dengan sejarah gereja katolik di Kabupaten Lamongan yang kuat, sehingga menjadi tempat ibadah yang nyaman bagi ummat katolik Kabupaten Lamongan sejak tahun 1968.
berdoa sejenak di dalam gedung gereja Katolik Lamongan
Misa kudus dilayani oleh para imam atau pastor dari Paroki Santa Perawan Maria Gresik, yang dirintis sejak sekitar tahun 1932. Saat itu beberapa umat Katolik di Gresik sering merayakan ekaristi di gedung pengadilan negeri Jln. Basuki Rachmat sekarang, bersama Pastor Massen, CM dan diresmikan sebagai paroki pada tanggal 22 Desember 1996. Pada tahun 2018, berdasar SK Keuskupan Surabaya no. 95/G.113/II/2018 tentang Pembagian Wilayah di Keuskupan Surabaya, maka Paroki Gresik yang selama ini tergabung dalam Vikep Surabaya Barat menjadi Kevikepan Mojokerto bersama Paroki Mojokerto, Tuban dan Bojonegoro, serta melayani wilayah Lamongan.
Gereja Katolik Fransiskus Xaverius Lamongan
Setelah pengurus IDI wilayah DIY diberikan amanah untuk menyelenggarakan puncak acara Hari Bakti Dokter Indonesia (HBDI) pada Mei 2024, kami terus berpamitan dengan para pengurus PB IDI, IDI wilayah Jatim dan IDI Cabang Lamongan, kami segera berpisah rombongan. Para dokter pengurus IDI se DIY yang muda melanjutkan perjalanan wisata dan yang setengah baya segera kembali ke Yogyakarta. Kami mengikuti Dr. Joko Murdiyanto, SpAn, MKes, Fisqua (Ketua), Dr. Rina Nuryati, MPH (sekretaris) dan Dr. Agus Wiyono, MKes (BHP2A) IDI wilayah DIY, segera duduk manis di Toyota Hi-Ace Premio keluaran 2022 hitam, mengkilat dan bertenaga, segera mengambil jalan nasional kembali ke arah Gresik, untuk masuk tol.
Kabupaten Lamongan dilintasi jalur utama pantura yang menghubungkan Jakarta-Surabaya, yakni yang kami lalui sepanjang pesisir utara Jawa. Kami tidak menggunakan Kereta Api yang melintas di jalur sangat padat Surabaya, Cepu, ke Semarang, dimana Babat merupakan persimpangan antara jalur KA Surabaya-Semarang dengan jalur KA Jombang-Tuban.
Teman-teman pengurus IDI wilayah DIY yang lain memanjakan diri menikmati sebagain Wisata Alam di Kabupaten Lamongan. Kalau waktunya cukup, sebenarnya dapat menikmati Waduk Gondang, Akar Langit Trinil Brondong, Wisata Edukasi Gondang Outbond (WEGO), Istana Gunung Mas, Waduk Prijetan, atau tempat menginap malam sebelumnya di Wisata Bahari Lamongan (WBL), Gua Maharani, atau Pantai Joko Mursodo. Tempat Wisata Sejarah di Kabupaten Lamongan juga tidak kalah menarik, yaitu Museum Sunan Drajat, Monumen Van der Wijck, Prasasti Wide dan Sedayu Lawas. Sedangkan tempat wisata religi Islam di Kabupaten Lamongan, meliputi Makam Sunan Drajat, Makam Sunan Sendang Duwur, Makam Syekh Maulana Ishaq (Ayah Sunan Giri), Makam Sunan Lamongan atau Syekh Hisyamudin (Putra Sunan Ampel). Yang tidak kalah menarik adalah kuliner khas Lamongan diantaranya Soto Lamongan, Sego Boranan, Lodeh Kuthuk, Tahu Thek, Walang Goreng, Wingko Babat, dan Pecel Lele. Patut disayangkan, wisata sejarah, religi dan kuliner khas Lamongan hanya dapat kami bayangkan saat melaju di Tol menuju Yogyakarta
Petualangan diakhiri dengan meninggalkan km nol Lamongan.
Semoga saja semangat IDI reborn akan semakin mendewasakan organisasi para dokter seluruh Indonesia dan penyelenggaraan acara selanjutnya di Yogyakarta tahun 2024 dapat berjalan lancar. Terima kasih kepada semua pihak atas dukungannya, sehingga petualangan ke Lamongan telah berlangsung sukses.
Salam pengelana -wikan
Catatan : ditulis dan disebarkan dalam goyangan laju kencang Toyota Hi-Ace Premio 2023 AB 7904 WD melibas tol Trans Jawa menuju Yogyakarta
Ringkasan tulisan ini telah dimuat di Detik.com, yang merupakan portal media online terbaik di Indonesia yang menjadi favorit masyarakat menurut Similarweb. Menjadi salah satu pionir media berita online di Indonesia, Detik.com menawarkan berita baru setiap detiknya. Media yang didirikan pada tahun 1998 ini menjadi portal berita yang informatif, cepat, dan terkini di Indonesia.
UU Kesehatan Undang-undang (UU) Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan yang telah disahkan pada Selasa, 8 Agustus 2023 menempatkan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pada posisi yang berbeda. Apa yang sebaiknya diposisikan?
.
UU no 17/23 yang baru ini telah mencabut 10 buah UU sebelumnya, yaitu tentang Kebidanan, Kekarantinaan Kesehatan, Keperawatan, Tenaga Kesehatan, Kesehatan Jiwa, Pendidikan Kedokteran, Rumah Sakit, Kesehatan, Praktik Kedokteran, Wabah Penyakit Menular, dan Ordonansi Obat Keras. Posisi dan peran IDI seperti termuat pada UU No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran yang telah dihapus, tentu saja harus disikapi dengan perubahan posisi.
IDI Reborn adalah visi organisasi IDI untuk menuju organisasi profesi dokter yang mandiri, modern, dan akuntable. Juga membawa semangat perubahan dan pembaharuan dalam bingkai kolegialitas teman sejawat dokter, sebagaimaan disampaikan oleh Dr. dr. Moh Adib Khumaidi, SpOT, sebagai Ketua Umum PB IDI. Bentuk konkrit dari perubahan posisi tersebut memang masih dibahas lebih rinci, tetapi paling tidak perlu menjawab berbagai persoalan praktis yang selama ini muncul.
.
Terdapat beberapa hal penting yang dapat dikerjakan oleh pengurus IDI dalam waktu dekat, yaitu sistem mentoring, iuran bukan tunggal, ketrampilan mendengarkan dan mengedukasi, kemudahan bagi dokter diaspora, pengurangan porsi ranah pendidikan dalam P2KB, serta aturan turunan untuk SIP Dokter yang perlu diperjuangkan.
.
Sistem mentoring sebaiknya diperkenalkan untuk menularkan ketrampilan dari para dokter yang telah mapan atau senior, kepada para dokter pra mapan atau yunior. Untuk selanjutnya mentoring seharusnya tidak sekedar dalam aspek mutu medis, etika kedokteran, ilmiah dan iptekdok yang selama ini sudah berjalan dan tidak perlu ditingkatkan, tetapi juga dalam aspek seluk beluk kehidupan dokter yang lebih luas, termasuk karier, pendidikan lanjutan dan peminatan, yang tentunya jauh lebih ditunggu-tunggu oleh para dokter yunior. Para dokter senior hendaknya iklhas dan legowo, saat menularkan ‘trick and tips’ untuk berkembangnya para doktr yunior, bukan yang sebaliknya. Seirama dengan hal itu, perlu juga diberlakukan regulasi baru tentang iuran bagi anggota untuk organisasi IDI, yang sebaiknya tidak memiliki besaran nominal tunggal, karena sering kali memberatkan bagi para dokter pra mapan atau pemula. Fokus kembali pada ranah peningkatan kesejahteraan anggota, sebagaimana telah dilakukan oleh pengurus IDI pada awal berdirinya dulu, layak dilakukan.
.
Belajar dari tingginya penyebab kurang memadainya komuniasi dokter, sebagai faktor penting terjadinya keluhan pasien, sengketa dokter dengan pasien, bahkan tuduhan malpraktek medis, maka ketrampilan mendengarkan keluhan pasien dan mengedukasi pasien, terutama pada saat pasien diharapkan akan menyetujui tindakan medis penting dalam bentuk ‘informed consent’, dipandang sangat perlu dilatihkan oleh para dokter senior. Terkait dengan sulitnya dokter WNI tamatan fakultas kedokteran luar negeri untuk memulai berkarier di Indonesia, karena proses adaptasi di FK PTN yang rumit, berbelit dan sulit, ada baiknya dicetuskan program internship dokter diaspora, sebagai pengganti adaptasi. Program ini tentu saja jauh lebih terjangkau, semakin singkat, tambah pasti dan menyenangkan. Internsip adalah proses pemantapan mutu profesi dokter untuk menerapkan kompetensi yang telah diperoleh selama pendidikan, secara terintegrasi, komprehensif, mandiri serta menggunakan pendekatan kedokteran keluarga, dalam rangka pemahiran dan penyelarasan antara hasil pendidikan dengan praktik di lapangan. Proses ini dapat dilakukan di RS tipe C atau D dan puskesmas untuk dokter umum tamatan luar negeri dan hanya di RS tipe B untuk dokter spesialis.
.
Poin penting lainnya adalah pengurangan bobot ranah pendidikan dalam P2KB, yang saat ini setara dengan ranah professional, tentu banyak ditunggu oleh para dokter yang selama ini suaranya mungkin terkunci. Program Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (P2KB) atau Continuing Professional Development (CPD) adalah upaya pembinaan bersistem bagi profesional tenaga medis, yang bertujuan meningkatkan pengetahuan dan keterampilan, serta mengembangkan sikap agar ia senantiasa dapat menjalankan profesinya dengan baik. Namun demikian, bobot ranah pendidikan yang setara dengan ranah profesional, sehingga cukup sering disalahgunakan, melenceng dan memberatkan, perlu segera dikoreksi.
.
Langkah lainnya adalah peran pengurus IDI dalam mengawal terbitnya aturan turunan dari UU Kesehatan Omnibuslaw, khususnya dalam regulasi penerbitan SIP (Surat Ijin Praktek) Dokter oleh dinas kesehatan tingkat 2 di seluruh Indonesia. Persyaratan rekomendasi IDI untuk terbitnya SIP yang sudah dianulir, sebaiknya diperjuangkan untuk diganti menjadi persyaratan rekredensialing dokter, oleh dinas kesehatan kabupaten atau kota yang wajib melibatkan pengurus IDI tingkat Cabang.
.
Visi IDI Reborn merupakan reposisi setelah mawas diri atas sikap IDI yang pernah terlanjur ‘kemajon’. Diperlukan misi dan aksi nyata IDI dalam waktu dekat, dengan lebih peka atas berbagai kendala dan kesulitan para dokter anggotanya, untuk berkiprah meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Semoga berhasil dengan baik.
Sekian
Yogyakarta, 22 Agustus 2023
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, anggota MKEK IDI Wilayah DIY, NPA IDI : 1401.32378, WA: 081227280161
Para dokter pengurus Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan utusan IDI Cabang se DIY, diundang untuk hadir dalam sebuah pertemuan khusus, yang diberangkatkan sesuai dengan kelompok umur dalam 2 buah bis ukuran medium, selain beberapa mobil pribadi. Kami pribadi masuk kelompok 1 yang disebut senior untuk segera naik bis. Bis kami adalah sebuah Mercedes Benz OF 917 yang unik karena menggunakan mesin 4D34 series buatan Mitsubishi, karena saham Mitsubishi Truck and Bus sebagian besar dimiliki oleh Daimler yang juga pemilik Mercedes-Benz. Bis ini menggunakan mesin diesel turbo intercooler yang mampu mengeluarkan tenaga maksimal 170 ps dan torsi maksimal 520 nm, yang disalurkan via transmisi manual 6 percepatan, sehingga kami santai saja saat bis menanjak menuju Ngablak, Kabupaten Magelang yang terletak di dataran tinggi dengan ketinggian rata-rata 1.370 mdpl dan dikeliling Gunung Merbabu, Gunung Telomoyo dan Gunung Andong. Bis dengan mesin depan buatan tahun 2019 AB 7304 BK milik PO. Gege Transport, berbalut body Jetbus MD3+ buatan karoseri Adi Putro Malang, tampil gagah dengan kabin wangi, dingin dan senyap, melaju dengan diantar oleh Seven Six Tour.
Kedua bis medium Mercedes-Benz yang gagah telah parkir di Omah Kembang, Ngablak, Magelang yang berundak terasering dan mempesonaSunset di Omah Kembang , Ngablak, Magelang dengan Gunung Andong di kejauhan
Pertemuan khusus tersebut adalah Penggalangan Komitmen IDI Wilayah DIY dengan tema : bersama untuk maju dan menjadi lebih baik, diselenggarakan di Omah Kembang, Ngablak, Magelang Jawa Tengah pada Sabtu, 19 Agustus 2023. Setelah menjalani perjalanan mengasyikkan dengan alunan suara karaoke yang merdu penuh cengkok dari dr. Dewi Irawati, MKes dan dr. Wisni Anggrieni, M. Biomed (AAM), termasuk lagu hit ‘Nemen’ dan ‘Rungkad’ di tengah kepadatan arus lalu lintas, kami segera mendarat di lokasi dan mengambil posisi untuk membuat foto indah berlatar matahari yang akan tidur dalam sunset, dibuai panorama alam indah yang dikelilingi oleh Gunung Telomoyo di kanan dan Gunung Andong di kiri. Setelah beristirahat sejenak di kamar, menikmati wellcome drink jahe hangat, dan sholat magrib, kami segera berkumpul di aula yang atapnya tinggi menjulang, disangga pilar besar serupa Pathenon dalam mitologi Yunani, yang bercat putih dan nampak berwibawa.
Setelah sesi makan malam bersama, acara resmi dimulai dengan berdoa bersama menurut agama masing-masing peserta, menyanyikan langsung lagu Indonesia Raya yang menggetarkan jiwa, Hymne IDI yang anggun dan Mars IDI yang penuh semangat, meski perangkat audio ngadat. Pengantar acara dan pemaparan hasil survei tentang harapan para dokter di DIY terhadap pengurus IDI, disampaikan oleh Dr. Joko Murdiyanto, SpAn, MKes, FISQua, sebagai Ketua Umum IDI Wilayah DIY. Meskipun mayoritas jawaban survei adalah kepercayaan yang baik, dukungan positif dan harapan yang terjaga akan IDI, tetapi analisis lebih lanjut tentang persebaran karakteristik dokter pengisi survei perlu dilakukan, karena suara para dokter yang tidak aktif dalam orgaisasi IDI tentu lebih berbunyi.
Acara resmi dilanjutkan sambutan oleh Dr. dr. M. Adib Khomaidi, SpOT Ketua Umum PB IDI di Jakarta melalui aplikasi Zoom, yang menjelaskan tentang visi IDI Reborn. Menyusul disetujuinya UU Kesehatan Omnibuslaw, maka segenap pengurus dan anggota IDI diharapkan mawas diri dan memperbaiki kekurangan yang masih ada, agar marwah organisasi profesi dokter tetap dapat dijaga baik dan bermanfaat bagi sesama.
Segenap peserta acara dengan Dr. Agung Kristianto alumnus FK UGM 95, jongkok paling kiri, sebagai motivator yang seorang dokter
Malam semakin dingin menggigit tulang, karena angin gunung berhembus menurunkan suhu sampai 16 derajat, saat kami masuk sesi utama penggalangan komitmen. Didampingi Dr. Agung Kristianto alumnus FK UGM 95 yang menjadi motivator handal dalam merumuskan langkah konkrit yang terjangkau, untuk mewujudkan visi IDI Reborn di tingkat Wilayah DIY. Dengan dibagi menjadi 5 kelompok dengan sebutan paru, tangan, mata, usus, dan otak yang masing-masing kelompok memiliki yel-yel, ketua suku, juru bicara dan juru foto dokumentasi sendiri-sendiri, para peserta wajib menjawab 4 buah pertanyaan refleksi tentang IDI, terkait terbitnya UU Kesehatan Omnibuslaw. Yaitu apa yang sekarang dirasakan, posisi IDI yang sedang dialami dalam roda kehidupan, harapan ke depan yang visioner, dan rencana aksi nyata yang terdekat, terjangkau dan terukur. Model pembagian kelompok, jawaban setiap peserta yang wajib ditulis dan ditempelkan di kertas kerja kelompok, adalah metode sangat cepat, tepat dan ideal, karena mampu melibatkan setiap peserta, tanpa kecuali. Sasaran kerja pengurus IDI Wilayah DIY adalah para dokter anggota berdasarkan kelompok umur menjadi calon anggota, pra mapan, mapan dan paska mapan. Sebuah pembagian kelompok sasaran program kerja yang bersifat baru, genuine, deduktif, dan rasanya selama ini belum pernah dilakukan.
Kelompok ‘tangan’ yang berdiskusi cepat, lugas, dan terus terang, saat menjawab pertanyaan refleksi oleh motivator handal, Dr. Agung Kristianto
Dengan diselingi sesi ‘games’ pemecah kebekuan yang penuh sanksi bagi peserta yang kurang berkonsentrasi, juga foto segenap peserta dalam berbagai gaya, maka rangkuman hasil refleksi berkelompok segenap peserta tanpa kecuali, telah dirumuskan dan diserahkan kepada pengurus IDI Wilayah DIY. Sebagai penutup acara, Dr. dr. HM Sagiran, MKes, SpB-KL merumuskan rangkuman sebagai simpul pertemuan malam itu, yang dapat dibawa pulang oleh peserta. Semua hal yang dilakukan oleh para pengurus IDI, baik saat bekerja dengan tekun maupun bermain dengan riang, seharusnya menjadi ibadah kepada Tuhan kita Yang Maha Besar.
Dr. dr. HM Sagiran, MKes, SpB-KL merumuskan rangkuman yang ‘mbundeli’.
Setelah acara resmi ditutup menjelang tengah malam yang dingin menyayat, segera dilanjutkan acara pribadi sampai larut malam. Di kamar masing-masing ada peserta yang langsung dapat tertidur pulas, masih mengobrol serius, atau bahkan ada yang kurang nyenyak tidur, sebagai dampak suara dengkuran peserta lain yang saling bersautan mencapai 85 dB, bahkan ada juga senior yang mengalami ‘sleep apneu’ saat tidur terlentang. Terdapat 3 pasangan peserta yang hadir dari total 76 dokter pserta, yaitu yang paling senior adalah Prof. dr. Abdul Salam Sofro, MSc, PhD, yang tengah adalah Dr. dr. HM Sagiran, MKes, SpB-KL, yang memainkan peran kunci acara ini Dr. dr. M. Rosadi Seswandhana, Sp.B, Sp. BP-RE(K), ketiganya terlelap di kamar bentuk villa, dan yang paling berbahagia mengalahkan semua yang hadir karena tingginya semangat, tentu saja pasangan hebat dr. Agung Widianto, SpB-KBD yang akhirnya terkapar di kamar bentuk glamping.
Minggu, 20 Agustus 2023 dini hari suhu lingkungan mencapai titik terendah, yaitu 14 derajat. Segera aktivitas pagi dimulai, baik dengan jogging ataupun jalan kaki menyusuri alam sambil belanja sayuran segar dari petani setempat. Yang paling heboh adalah selfi dengan suasana kemerdekanaan RI dengan banyaknya umbul-umbul dan bendera Merah Putih di sepanjang jalan. Dalam sesi obrolan menjelang sarapan, muncul beberapa poin penting yang dapat dikerjakan pengurus IDI dalam waktu dekat, yaitu sistem mentoring, iuran bukan tunggal, ketrampilan mendengarkan dan mengedukasi, kemudahan bagi dokter diaspora, pengurangan porsi ranah pendidikan dalam P2KB, serta aturan turunan untuk SIP Dokter yang perlu diperjuangkan.
.
Sistem mentoring sebaiknya diperkenalkan untuk menularkan ketrampilan dari dokter mapan atau senior kepada dokter pra mapan atau yunior, seharusnya tidak sekedar dalam aspek mutu, etika, ilmiah dan iptekdok yang selama ini sudah berjalan dan tidak perlu ditingkatkan, tetapi juga dalam aspek seluk beluk kehidupan dokter yang lebih luas, termasuk karier, pendidikan lanjutan dan minat. Seirama dengan hal itu, perlu juga diberlakukan regulasi baru iuran anggota IDI, yang sebaiknya tidak memiliki besaran nominal tunggal, karena sering kali memberatkan bagi para dokter pra mapan atau pemula.
.
Belajar dari tingginya penyebab kurang memadainya komuniasi dokter, sebagai faktor penting terjadinya keluhan pasien, sengketa dokter dan pasien, bahkan tuduhan malpraktek medis, maka ketrampilan mendengarkan keluhan pasien dan mengedukasi pasien, terutama pada saat pasien diharapkan akan menyetujui tindakan medis penting dalam bentuk ‘informed consent’, dipandang sangat perlu dilatihkan oleh para dokter senior. Terkait dengan sulitnya dokter WNI tamatan FK luar negeri untuk berkarier di Indonesia, karena proses adaptasi yang rumit, berbelit dan sulit, ada baiknya dicetuskan program internship dokter diaspora, sebagai pengganti adaptasi. Program ini tentu jauh lebih terjangkau, semakin singkat, tambah pasti dan menyenangkan.
.
Poin penting lainnya adalah pengurangan bobot ranah pendidikan dalam P2KB yang saat ini setara dengan ranah professional, tentu banyak ditunggu oleh para dokter yang selama ini suaranya terkunci. Juga peran pengurus IDI dalam mengawal terbitnya aturan turunan dari UU Kesehatan Omnibuslaw, khususnya dalam regulasi penerbitan SIP (Surat Ijin Praktek) Dokter oleh dinas kesehatan tingkat 2 di manapun. Persyaratan rekomendasi IDI untuk terbitnya SIP yang sudah dianulir, sebaiknya diperjuangkan untuk diganti menjadi persyaratan rekredensialing dokter, oleh dinas kesehatan yang wajib melibatkan IDI.
.
Setelah sarapan pagi yang mengenyangkan, sebagain kecil para peserta pamit mundur melanjutkan agenda mingguannya pribadi. Sebagain besar peserta, baik dalam 2 buah bis medium dan 8 buah mobil pribadi, melanjutkan petualangan ke Gunung Telomoyo yang terletak di perbatasan wilayah Kabupaten Semarang dan Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Gunung ini memiliki ketinggian 1.894 mdpl dan merupakan gunung api yang berbentuk strato (kerucut), tetapi belum pernah tercatat meletus dalam koleksi data geologis Pemerintah Hindia Belanda. Gunung Telomoyo diapit oleh Gunung Merbabu, Gunung Andong, Gunung Sumbing, dan Gunung Ungaran, yang secara alamiah terbentuk dari sisi selatan Gunung Soropati, yang telah tererosi dan runtuh sejak masa Pleistosen. Akibat runtuhan ini, terbentuk cekungan berbentuk U yang membuka ke arah tenggara. Gunung Telomoyo muncul di sebelah selatan depresi ini, setinggi 600 m dari dasar cekungan, yang membuatnya enak dipandang dari kejauhan.
.
Terdapat 2 jalur untuk mendaki di Gunung Telomoyo, pertama lewat Pos Dalangan Desa Pandean, Kecamatan Ngablak, Kabupaten Magelang, dan kedua lewat Sepakung, Banyubiru, Kabupaten Semarang. Kami segera bergegas menuju terminal akhir kendaraan pribadi, di desa Pandean yang tertata rapi, asri dan bersih. Setelah diambil gambar dan video peserta dalam arahan ‘guide Seven Six Tour’, kami segera berpencar naik ke atas jeep masing-masing, untuk memulai pendakian. Kalau wisata di Gunung Bromo menggunakan Jeep Toyota Land Cruiser Hard Top, di Gunung Merapi menggunakan Jeep Willys peninggalan Perang Dunia II dan di areal Candi Borobudur menggunakan semi jeep VW Safari, maka di Telomoyo menggunakan jeep keluaran pabrikan Daihatsu, baik Feroza, Rocky, Hi-Line, maupuan Taft. Kami berkesempatan naik jeep Daihatsu keluaran tahun 1988 atau generasi ketiga dari Taft yang diberi kode F75. Mobil itu kemudian lebih populer dengan sebutan jeep Taft Rocky generasi pertama, sebuah SUV boxy dengan atap removable terbuat dari resin dan menggunakan mesin diesel DL42, memiliki kubikasi 2.765 cc dengan transmisi empat percepatan. Mesin Taft Rocky tersebut sudah menggunakan timing belt sebagai penggerak katup dan injeksi rotari. Dr. Kuncoro dari Cabang Gunung Kidul dan Dr. Surya Pidada dari BHP2A adalah teman seperjalanan yang asyik menikmati petualangan ini.
Kami bertiga (dengan Dr. Kuncoro dan Dr. Surya Pidada) siap ikut Jeep Anventure Daihatsu Rocky 1987 dalam pendakian Telomoyo Explore
Berbeda dengan kebanyakan gunung dimana kita harus bersusah-susah mendaki untuk dapat sampai di puncaknya, di Gunung Telomoyo kita tidak perlu menguras tenaga dengan berjalan kaki, karena sudah terdapat jalan beraspal dari bawah hingga puncak. Walaupun jalannya sudah berupa aspal, tetapi ada beberapa bagian jalan di wilayah Kabupaten Magelang yang sedikit rusak, namun inilah tantangan yang membuat pendakian kami naik jeep semakin seru. Jalan aspal menuju puncak Gunung Telomoyo cukup menanjak dengan jalur yang sempit, berliku, tikungan dan tanjakan tajam dengan banyak sekali pesepeda motor yang berwisata, sehingga perjalanan cukup sering berhenti untuk berbagi jalan. Sepanjang perjalanan kami disuguhi pemandangan alam kawasan Kota Salatiga, Kabupaten Magelang dan Semarang yang terlihat mengagumkan, di sela-sela awan yang terkoyak.
.
Perjalanan ke puncak Gunung Telomoyo membutuhkan waktu sekitar 30 menit sampai ke stasiun Telkom, melewati landasan paralayang yang menjadi spot foto paling populer dan favorit di jalur pendakian Gunung Telomoyo, yang setiap hari libur sangat padat pengunjung. Setelah puas berfoto dan direkam video di puncak Gunung Telomoyo yang dilengkapi dengan penyalaan suar beraneka warna, termasuk warna coklat dan biru yang melumuri segenap wajah ganteng Dr. Desi Arijadi yang justru semakin merata saat dibasuh dengan air mineral, kami segera turun. Setelah makan siang menu ikan nila goreng, tempe garit, tahu bacem, sayur asem, jahe panas dan pisang tandan segar di Griya Dahar Sere Wangi Pandean, Ngablak, Kabupaten Magelang, kami segera berpisah arah. Rombongan peserta generasi milenial melanjutkan perjalanan wisata ke Kopeng, sedangkan kami dari generasi lansia segera kembali ke Yogyakarta.
Taman Langit pada puncak Gunung Telomoyo dengan ketinggian 1.370 mdpl yang menuh menara telekomunikasi tinggi menjulangMenu makan siang dengan pisang tandan segar di Griya Dahar Sere Wangi Pandean, Ngablak, Kabupaten Magelang,
Penggalangan komitmen segenap pengurus IDI Wilayah DIY dengan tema : bersama untuk maju dan menjadi lebih baik, merupakan reposisi setelah mawas diri atas sikap IDI yang pernah terlanjur ‘kemajon’. Pada acara tersebut telah menyatukan tekat dalam aksi nyata dalam waktu dekat, dengan lebih peka, tidak pecah, dan tetap hanya ada 1 organisasi profesi dokter Indonesia, yaitu IDI. Semoga berhasil dengan baik.
Sekian dan terimakasih
*) anggota MKEK IDI Wilayah DIY, NPA IDI : 1401.32378, dan penggemar bis.