Awalnya bingung dan dilematis, saat dihubungi oleh seorang pengacara untuk hadir dan memberikan pendapat medis pada sebuah sidang di hadapan Yang Mulia Majelis Disiplin Profesi (MDP) periode 2024–2028, yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/1630/2024, sebagai pemeriksa dugaan pelanggaran disiplin kedokteran.
Setelah berkonsultasi kepada banyak senior dokter dan ahli hukum, saya akhirnya menyanggupinya dengan penuh was-was.
Rabu dini hari, 8 Juli 2026 saya memasuki Bandara Adisucipto Yogyakarta, yang lama tidak difungsikan sebagai bandara komersial. Hal ini karena seluruh rute penerbangan di Bandara Adisutjipto pindah ke Bandara Internasional Yogyakarta per 29 Maret 2020. Saya masuk perut pesawat milik maskapai Fly Jaya berkode KS101 jenis ATR 72-500. Pesawat ATR 72-500 adalah buatan perusahaan patungan Prancis-Italia bernama ATR, kolaborasi antara Airbus (Prancis) dan Leonardo S.p.A. (Italia). ATR 72-500 adalah pesawat penumpang regional jarak pendek bermesin twin-turboprop, dengan efisiensi bahan bakarnya, berkapasitas standar 68 penumpang, dan mampu mendarat di landasan pendek.
Siap masuk ke kabin pesawat Fly Jaya berkode KS101 jenis ATR 72-500.
Mendarat dengan selamat di Bandara Legendaris Halim Perdanakusuma Jakarta
Bergaya di depan gerbang Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta
Setelah mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta, segera saya bergegas jalan kaki ke Gereja Katolik Santo Agustinus yang berada di bawah pengelolaan Keuskupan Agung Jakarta dan Ordinariat Militer Indonesia (OCI). Pada 29 Juli 1995, KASAU Marsekal TNI Rilo Pambudi meresmikan gereja ini dan Uskup Agung Jakarta, Mgr. Leo Soekoto, SJ memberkati bangunan gereja yang dinamai Agustinus, seorang filsuf yang bijaksana. Setelah berdoa sejenak memohon pendampingan Tuhan dan kebijaksanaan dalam menjalankan tugas pada sidang MDP, terus manyambut anak bungsu, Laras dan suaminya William, yang datang menguatkan saya.
Berjalan kaki pagi dari Bandara menuju Gereja Katolik Santo Agustinus Halim Perdana Kusuma Jakarta
Dekorasi kaca patri bagian belakang di Gereja Katolik Santo Agustinus Halim Perdana Kusuma Jakarta
Selesai berdoa bersama Laras dan Williamdi Gereja Katolik Santo Agustinus Halim Perdana Kusuma Jakarta
Lanjut bertiga kami menuju Gedung MDP dan KKI (Konsil Kesehatan Indonesia) di Jl. Hang Jebat III Blok F 3, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sidang dimpimpin oleh Wakil Ketua MDP, yaitu Dr. Ahmad Redi, SH, MH, MSi dengan anggota dr. Erfen Gustiawan Suwangto, Sp.KKLP, Subsp. FOMC, SH, MH(Kes), PhD dan Ns. Arthur Daniel Thomas Betlehem Lapian, SE, SKep, MKes, MARS. Di ruang sidang yang bersifat tertutup untuk umum, saya duduk di kursi belakang menghadap meja majelis, dengan sebelah kiri saya duduk para penasehat hukum pengadu dan di sebalah kanan saya duduk dokter teradu yang didampingi para penasehat hukumnya juga.
Mendarat dengan selamat Gedung MDP dan KKI (Konsil Kesehatan Indonesia) di Jl. Hang Jebat III Blok F 3, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Setelah 2 orang saksi mengangkat sumpah menurut agamanya, lanjut saya juga mengangkat sumpah menurut agama Katolik, bukan untuk beraksi, tetapi menjadi ahli yang memberikan pendapat. Diikuti ahli di sebelah saya, seorang dosen senior bidang hukum perdata dari sebuah universitas di Jakarta.
Persiapan akhir sebelum tampil pada sidang MDP
Saya menyampaikan pendapat medis (medical opinion) sebagai keterangan ahli terkait Surat Panggilan Sidang Nomor: MD.01/MDP/1248/VI/2026 Tertanggal 30 Juni 2026. Pendapat Medis ini disusun atas permintaan Endang Supriyatna, SH, Sekjen NU Bogor Raya Law Firm dari Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBHNU). Dalam hal ini bertindak sebagai penasehat hukum seorang ibu yang beralamat di Kelapa Gading Jakarta Utara, yang melakukan pengaduan dugaan pelanggaran disiplin kedokteran kepada MDP pada tanggal 29 Mei 2026. Hal ini dipicu karena anak perempuannya (15 tahun) dirampas oleh mantan suaminya yang telah terjadi perceraian.
Saat bersama dengan ibunya sesuai hak asuh yang diperolehnya, anak tersebut bertumbuh secara sehat, baik mental dan fisik, normal, ceria dan berkembang dengan baik di rumah maupun di lingkungan sosial dan sekolah. Setelah bersama ayahnya, anak tersebut diperiksakan kepada seorang dokter di sebuah RS di Jakarta sebanyak 12 kali tatap muka, dan 9 kali tanpa dihadiri pasien. Ibu tersebut melaporkan dokter karena memberikan sedemikian banyak obat pada periode 2023-2025, hanya dengan mendengarkan uraian yang disampaikan oleh ayah anak tersebut, dan gagal untuk melihat potensi ketergantungan obat yang akan dialami oleh pasien. Selain itu, menurut ibu tersebut, dokter telah melakukan pelanggran disiplin profesi, karena sengaja meniadakan hak-hak ibu kandung, sekaligus membuat anak kehilangan haknya atas kebebasan.
Pendapat medis yang saya susun baru layak diketahui oleh umum, setelah perkara ini diputus, sehingga untuk sementara saya simpan. Seusia menjawab semua pertanyaan majelis hakim, para penasehat hukum dokter teradu dan ibu itu sebagai pengadu, saya pamit keluar ruangan sidang, saat sidang dilanjutkan dengan sesi lainnya.
Mendarat di Gereja Katolik Santo Yohanes Penginjil Paroki Blok B, di Jl. Melawai Raya 197 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Altar gereja yang menyimpan sebuah relikui Santo Yohanes Penginjil, berupa potongan kecil tulangnya.
Lansekap Gereja Katolik Santo Yohanes Penginjil Paroki Blok B, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Ditemani Laras dan William, kami menuju Gereja Katolik Santo Yohanes Penginjil Paroki Blok B, di Jl. Melawai Raya 197 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, untuk mengucap syukur dan berterimakasih atas semua rahmat Tuhan. Gereja ini dinamai menurut Yohanes Penginjil, yang dikenal sebagai salah seorang penulis Injil dan dua belas rasul Yesus Kritus. Di bawah altar gereja, terdapat sebuah relikui Santo Yohanes Penginjil, berupa potongan kecil tulangnya. Keaslian relikui ini dinyatakan oleh Uskup Agung Ferrara-Comacchio Italia utara, Mgr. Luigi Negri, pada tahun 2016. Relikui ini diserahkan oleh Communauté des Béatitudes di Medjugorje, Bosnia dan Herzegovina pada tahun 2018.
Gerbang Rumah Makan Mata Karanjang di Jl. Wijaya VI No. 14A, Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Furniture buatan William di Rumah Makan Mata Karanjang Jakarta Selatan.
Kami bertiga lanjut makan sore di Rumah Makan Mata Karanjang di Jl. Wijaya VI No. 14A, Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Restoran sederhana dan kasual ini menyajikan hidangan khas dari Sulawesi Utara. Selain aroma, rasa dan presentasi menu tersebut yang kami tuju, kami mengunjunginya juga untuk melihat furniturenya yang dibuat oleh perusaaah William di Jepara, Jawa Tengah
Siap naik MRT di Stasiun Blok M BCA
Kepadatan penumpang MRT Line 1 Utara Selatan Jakarta
MRT Jakarta yang telah kosong penumpang ternyata dicetuskan sejak 1985 oleh Prof. BJ. Habibie.
Setelah kenyang dan lega, kami segera menyusuri Blok M untuk menikmati Moda Raya Terpadu Jakarta (MRT Jakarta atau Jakarta Mass Rapid Transit). Ide pembangunan MRT di Jakarta telah dicetuskan sejak 1985 oleh Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi saat itu, Prof. BJ. Habibie. Kami akan menikmati sepenggal jalur pertama (Line 1 Utara Selatan) sepanjang 15,7 km yang menghubungkan Stasiun Lebak Bulus dengan Stasiun Bundaran HI Bank Jakarta. Kami naik dari Stasiun Blok M BCA (BML), melewati Blok A (BLA), Haji Nawi (HJN), Cipete Raya (CPR), Fatmawati Indomaret (FTM)dan turun Lebak Bulus Bank Syariah Indonesia (LBB)
Perpisahan kami di Stasiun MRT Lebak Bulus Bank Syariah Indonesia Jakarta Selatan
Lanjut kami berpisah jalan, karena William dan Laras pulang ke Bogor naik Grab Mobil dan saya jalan kaki ke Terminal Pondok Pinang. Saya lanjut menikmati kenyamanan kabin lantai 2 bis Rosalia Indah 119, bersasis premium Scania K410 buatan Swedia, berbodi Jetbus 3 double decker yang gagah buatan karoseri Adiputro Malang, dan dikenal sebagai millenial bus full tol trans Jawa AD 7254 DF.
Bis Rosalia Indah Scania K410 Jetbus 3 double decker
Kamis pagi, 9 Juli 2026 saya dapat kembali ke rumah di Yogyakarta.
Sidang dugaan pelanggaran disiplin profesi dokter sangat menekan jiwa bagi siapapun, bukan hanya sekedar pada dokter teradu saja. Semoga para dokter Indonesia mampu memberikan layanan medis kepada para pasien dengan semakin beretika, mermutu dan legal. Juga profesional dan manusiawi. Terimakasih
Makanan yang tidak aman menyebabkan 866 juta penyakit dan 1,5 juta kematian setiap tahun. Anak balita menghadapi risiko penyakit akibat makanan yang tidak aman hampir tiga kali lipat, dibandingkan anak yang lebih besar dan orang dewasa. Apa yang perlu diwaspadai?
Tulisan ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 21 Juni 2026, halaman 8, kolom HUSADA
Meskipun hanya 9% dari populasi global, anak balita menderita hampir sepertiga dari semua kasus penyakit bawaan makanan, karena mengkonsumsi makanan yang tidak aman, khususnya diare, yang dapat mematikan bagi kelompok usia rentan ini. Selain itu, paparan bahaya kimia berbahaya seperti metilmerkuri dan timbal dalam makanan, dapat membahayakan perkembangan otak, menyebabkan masalah neurologis, dan gangguan perkembangan seumur hidup pada anak balita.
WHO memperkirakan bahwa makanan yang tidak aman menyebabkan sekitar 866 juta penyakit dan 1,5 juta kematian setiap tahun. Pada hal, banyak di antaranya dapat dicegah dengan langkah sederhana, termasuk peningkatan air bersih, sanitasi dan kebersihan, praktik keamanan pangan seperti pasteurisasi, dan juga akses ke perawatan kesehatan untuk populasi rentan. Meskipun beban penyakit bawaan makanan secara keseluruhan telah menurun sejak tahun 2000, ketidaksetaraan regional yang besar masih tetap ada, dengan beban terbesar di Afrika dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Paparan bahaya biologis, termasuk bakteri dan virus bawaan makanan serta infeksi parasit, menyebabkan sebagian besar penyakit bawaan makanan. Sementara itu, paparan bahan kimia menyebabkan sebagian besar kematian. Pada tahun 2021, bahaya kimia menyumbang 73% kematian akibat makanan yang terkontaminasi. Sebagian besar kematian terkait bahan kimia ini, dikaitkan dengan arsenik anorganik (42%) dan timbal (31%), terutama karena paparan ini meningkatkan risiko penyakit jantung dan kanker.
Selain dampak kesehatan, pada tahun 2021 penyakit bawaan makanan menyebabkan kerugian produktivitas (waktu orangtua absen kerja karena anak sakit) sekitar US$ 310 miliar. Ketika dampak ekonomi disesuaikan dengan perbedaan biaya hidup antar negara, perkiraan kerugian produktivitas meningkat menjadi US$ 647 miliar.
Keamanan pangan bukanlah masalah abstrak, karena hal itu sangat mungkin terjadi pada setiap makanan, setiap keluarga, dan setiap hari. Makanan yang tidak aman telah menjadi perhatian utama bidang kesehatan masyarakat, tetapi sampai sekarang kita belum memiliki gambaran yang lebih detail tentang dampak buruknya terhadap manusia dan ekonomi. Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO menyatakan : “Untuk pertama kalinya di tahun 2026 ini, banyak negara kini memiliki data sendiri untuk melihat di mana beban tertinggi berada”. Dengan data itu, pemerintah dapat memprioritaskan tindakan yang diperlukan untuk melindungi kesehatan masyarakat.
Selama ini dikenali ada 42 penyebab utama akan penyakit yang ditularkan melalui makanan, yaitu bakteri, virus, parasit, dan bahan kimia, berdasarkan laporan dari 194 negara dari tahun 2000 hingga 2021. Analisis baru WHO secara signifikan memperluas basis bukti dengan menilai bahaya baru, yaitu logam berat, rotavirus, dan Trypanosoma cruzi (parasit penyebab penyakit Chagas).
Makanan dapat terkontaminasi oleh bahan kimia seperti arsenik anorganik, timbal, dan metilmerkuri dari sumber alami dan aktivitas manusia. Setelah zat-zat ini masuk ke dalam rantai makanan, seringkali sulit atau bahkan tidak mungkin untuk dihilangkan. WHO menyerukan kepada pemerintah untuk mencegah kontaminasi di sumbernya – melalui praktik pertanian yang lebih baik, kontrol industri yang lebih ketat, dan peraturan lingkungan yang lebih kuat.
Meskipun keberadaan beberapa logam dalam makanan telah menurun dari waktu ke waktu, laporan WHO tahun 2026 ini untuk pertama kalinya mengungkapkan beban penyakit kardiovaskular, kanker, dan disabilitas intelektual yang diakibatkan oleh paparan logam melalui makanan. Arsenik dan timbal anorganik dikaitkan dengan lebih dari 1 juta kematian dalam satu tahun. Selian itu, metilmerkuri dapat membahayakan perkembangan otak dan menyebabkan masalah neurologis dan perkembangan seumur hidup pada anak-anak.
Perubahan pola makan, tekanan lingkungan, globalisasi, dan ketidaksetaraan dalam sistem pangan, terus membentuk siapa saja yang paling terpapar makanan yang tidak aman. Anak balita dan orang-orang yang tinggal di komunitas dengan sumber daya terbatas mengalami beban kesehatan akibat makanan tidak aman yang terbesar. Apalagi mereka yang tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah, terutama di Afrika dan Asia Tenggara, karena keduanya bersama-sama menyumbang hampir tiga perempat dari semua penyakit bawaan makanan dan 60% dari kematian global.
Data menunjukkan bahwa penyakit bawaan makanan tidak hanya terus-menerus terjadi, tetapi juga diperburuk oleh perubahan iklim, yang meningkatkan risiko kontaminasi, dan oleh resistensi antimikroba, yang membuat infeksi lebih sulit diobati. Pendekatan ‘One Health’ yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan, sangatlah penting. Semua negara seharusnya bertindak segera, untuk menargetkan intervensi, berinvestasi dalam pengawasan, dan menghilangkan sekat antara sektor kesehatan, pertanian, dan lingkungan. Penundaan akan merenggut lebih banyak nyawa anak balita.
Sudahkah kita bijak?
Sekian
Yogyakarta, 7 Juni 2026
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Dekan FK UAJY, Anggota MKEK IDI Wilayah DIY, Alumnus S3 UGM.
Selasa, 24 Maret 2026 WHO merekomendasikan alat diagnostik baru untuk membantu mengakhiri tuberculosis (TB). Rekomendasi ini dikeluarkan untuk mendukung perluasan akses ke layanan penyelamatan jiwa, dengan penggunaan alat tes diagnostik baru, yang dapat digunakan di dekat tempat tinggal pasien untuk mendeteksi penyakit lebih cepat, sehingga menjangkau lebih banyak orang.
Tulisan ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 19 April 2026, Halaman 8, kolom HUSADA.
Pedoman WHO 2026 terbaru tentang diagnosis TB merekomendasikan 3 hal. Pertama, penggunaan tes amplifikasi asam nukleat di dekat titik perawatan (near-point-of-care nucleic acid amplification tests atau NPOC-NAAT) untuk deteksi awal TB tanpa resistensi rifampisin di tingkat terluar sistem kesehatan (yaitu laboratorium perifer, fasilitas kesehatan primer, dan komunitas) dan dengan biaya yang lebih rendah, dibandingkan dengan jenis tes dan instrumen molekuler lainnya. Kedua, usap atau swab lidah untuk pengambilan spesimen yang tentu lebih mudah didapat, untuk digunakan dengan NPOC-NAAT dan NAAT otomatis (low-complexity automated atau LC-aNAAT) untuk deteksi awal TB dengan dan tanpa resistensi rifampisin, pada orang dewasa dan remaja yang tidak dapat mengeluarkan dahak. Dan ketiga, penggabungan pemeriksaan dahak dari beberapa pasien sebagai strategi diagnostik untuk deteksi awal TB dan resistensi rifampisin, menggunakan LC-aNAAT dengan potensi untuk meningkatkan waktu penyelesaian dan biaya, pada saat sumber daya terbatas.
Pedoman baru tentang usap lidah untuk tes diagnosis TB, menandai langkah lain menuju deteksi dan pengobatan yang lebih cepat, dari salah satu penyakit menular paling mematikan di dunia. Alat tes portabel dan mudah digunakan ini membuat diagnosis TB lebih dekat ke tempat setiap orang secara rutin mencari layanan kesehatan. Apalagi dengan harga kurang dari setengah biaya banyak diagnostik molekuler yang ada, tes ini dapat membantu banyak negara memperluas akses ke pengujian laboratorium. Alat diagnostik ini dapat beroperasi dengan daya baterai dan memberikan hasil dalam waktu kurang dari satu jam, memungkinkan pasien untuk memulai pengobatan lebih cepat.
“Alat baru ini benar-benar dapat mengubah penanganan TB, dengan mendekatkan diagnosis yang cepat dan akurat kepada masyarakat, menyelamatkan nyawa, menekan penularan, dan mengurangi biaya,” kata Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO. “WHO menyerukan kepada semua negara untuk meningkatkan akses terhadap alat ini dan alat-alat lainnya, sehingga setiap orang yang menderita TB dapat dijangkau dan diobati dengan segera.”
Selain untuk TB, alat ini berpotensi untuk mampu mendiagosis penyakit lain seperti HIV, Cacar Monyet (mpox), dan HPV, sehingga diagnostik penyakit tersebut menjadi lebih berpusat pada pasien, adil, dan selaras dengan layanan satu atap untuk penyakit yang muncul dan beredar.
Pedoman WHO yang baru ini juga merekomendasikan pengambilan sampel usap lidah yang mudah, serta strategi pengumpulan dahak yang hemat biaya untuk meningkatkan efisiensi pengujian TB dan TB resisten rifampisin. Usap lidah memungkinkan orang dewasa dan remaja yang tidak dapat mengeluarkan dahak untuk menjalani pengujian TB pertama kalinya, memungkinkan deteksi penyakit di antara orang-orang yang berisiko tinggi meninggal karena TB. Penggabungan sampel dahak, di mana sampel dari beberapa individu digabungkan dan diuji bersama, dapat secara signifikan mengurangi biaya komoditas dan waktu operasional mesin, sehingga menghasilkan hasil yang lebih cepat bagi masyarakat dan program TB, sebuah pendekatan yang secara khusus direkomendasikan ketika sumber daya sangat terbatas.
TB tetap menjadi salah satu penyakit menular paling mematikan di dunia. Setiap hari, lebih dari 3.300 orang meninggal karena TB dan lebih dari 29.000 orang jatuh sakit karena penyakit yang dapat dicegah dan disembuhkan ini. Upaya global untuk memerangi TB telah menyelamatkan sekitar 83 juta jiwa sejak tahun 2000, namun pemotongan pendanaan kesehatan global sangat mengancam, bahkan dapat membalikkan, kemajuan ini. Penggunaan alat diagnostik cepat telah menjadi tantangan di banyak negara, sebagian karena biaya yang tinggi dan ketergantungan pada media transportasi sampel, untuk dilakukan pengujian di laboratorium yang terpusat di kota.
Peningkatan skala solusi yang telah terbukti, termasuk 3 rekomendasi WHO terbaru di atas, dapat digunakan untuk menutup kesenjangan diagnostik di semua tingkatan sistem layanan kesehatan. Upaya tersebut dapat membantu mencapai target global untuk akses universal terhadap pengujian TB dan resistensi obat, mengurangi keterlambatan dalam memulai pengobatan, dan mencegah penularan lebih luas.
Apakah kita sudah bijak?
Sekian
Yogyakarta, 27 Maret 2026
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM.
Hari Kesehatan Dunia diperingati setiap 7 April untuk menandai berdirinya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 7 April 1948. Pertama kali diperingati tahun 1950, hari istimewa ini bertujuan menyoroti isu kesehatan global utama seperti kesehatan mental, ibu-anak, dan perubahan iklim, serta mendorong kesadaran masyarakat. Apa yang menarik?
Tulisan ini dimuat di Harian Jawa Pos Surabaya pada Rabu, 8 April 2026 dengan judul : Peran Sains dalam Kesehatan Terpadu
Hari Kesehatan Dunia yang diperingati Selasa, 7 April 2026 menyerukan kepada semua orang di seluruh dunia untuk mengandalkan ilmu pengetahuan (sains). Dengan tema “Bersama untuk kesehatan. Berdiri bersama sains” (Together for health. Stand with science) peringatan tahun 2026 ini meluncurkan kampanye selama setahun, untuk mendorong kolaborasi ilmiah dalam melindungi kesehatan manusia, hewan, tumbuhan, dan planet ini. Kampanye ini menyoroti pencapaian ilmiah dan kerja sama multilateral, yang dibutuhkan untuk mengubah bukti menjadi tindakan, melalui pendekatan ‘One Health’ atau kesehatan terpadu.
Kampanye ini mengajak semua orang di mana pun untuk berpartisipasi merayakan pencapaian ilmiah, terlibat dengan bukti, berbagi kisah pribadi tentang bagaimana sains meningkatkan kehidupan, dan bergabung dalam percakapan global melalui tagar #StandWithScience.
Tujuan kampanye ini menyerukan kepada pemerintah, ilmuwan, dokter, tenaga kesehatan, mitra, dan masyarakat untuk pertama, berdiri bersama sains dengan terlibat dengan bukti, fakta, dan panduan berbasis sains untuk melindungi kesehatan. Kedua, membangun kembali kepercayaan pada sains dan kesehatan masyarakat; dan ketiga, mendukung solusi berbasis sains untuk masa depan yang lebih sehat, melalui pendekatan ‘One Health’.
Konsep “One Health” umumnya dikaitkan dengan karya Calvin Schwabe dari Universitas California, Davis USA sejak tahun 1960-an. Pendekatan ‘One Health’ adalah metode terpadu yang menyatukan kesehatan manusia, hewan, dan ekosistem secara berkelanjutan untuk mencegah penyakit, khususnya zoonosis (penyakit yang menular dari hewan ke manusia). Ini melibatkan kolaborasi berbagai sektor untuk mengoptimalkan keseimbangan kesehatan ketiga komponen tersebut.
Fokus ‘One Health’ adalah pencegahan, deteksi, dan pengendalian penyakit zoonosis. Sains memainkan peran penting dalam deteksi patogen, surveilans epidemiologi, penelitian vaksin, dan studi molekuler pada manusia maupun hewan. Kolaborasi multisektoral dalam ‘One Health’ melibatkan dokter, ahli kesehatan masyarakat, dokter hewan, ahli ekologi, dan pihak lain terkait. Pentingnya menyertakan lingkungan pada pendekatan ‘One Health’ adalah menekankan bahwa kesehatan manusia dan hewan, sangat bergantung pada kesehatan ekosistem. Pendekatan ini krusial untuk mengatasi ancaman kesehatan yang kompleks pada interaksi antara manusia, hewan, dan lingkungan.
Peran sains krusial dalam ‘One Health’. Pertama, penyedia bukti dan teknologi deteksi zoonosis dan kekebalan antimikroba (AMR), terutama ilmu pengetahuan di bidang kedokteran hewan dan mikrobiologi, berperan penting dalam mendeteksi virus, memantau spillover (perpindahan) patogen dari hewan ke manusia, serta menganalisis resistensi antibiotik pada ekosistem yang berbeda. Kedua, dalam intervensi lingkungan dan sosial ekologis, karena sains membantu merancang intervensi yang disesuaikan dengan konteks sosial-ekologis, seperti pengelolaan hama terpadu untuk keamanan pangan dan perlindungan lingkungan.
Ketiga, kolaborasi lintas disiplin dengan menyatukan para ahli dari berbagai bidang, termasuk dokter, dokter hewan, ahli ekologi, antropolog, dan ilmuwan sosial, untuk memecahkan masalah sistemik yang kompleks. Keempat, jembatan antara sains dan kebijakan dimungkinkan karena platform ilmiah menyediakan data yang valid bagi pembuat kebijakan kesehatan, untuk mengambil keputusan cepat dan tepat, terutama dalam manajemen pandemi.
Peran ini memastikan bahwa pendekatan ‘One Health’ tidak hanya berbasis teori, tetapi didukung oleh bukti ilmiah yang kuat untuk menciptakan kesehatan global yang berkelanjutan. Selain itu, sains berperan krusial dalam kedokteran sebagai fondasi pengembangan metode diagnostik, pengobatan, dan pencegahan penyakit melalui pendekatan biologi, kimia, dan fisika medik. Ini mencakup inovasi teknologi seperti alat pencitraan medis, penemuan obat baru, vaksin, teknologi AI/data science untuk deteksi dini, hingga robotika bedah.
Data science dan AI memungkinkan analisis data medis (rekam medis, pemeriksaan pencitraan maupun laboratorium klinik) untuk diagnosis yang lebih akurat dan personalisasi pengobatan (precision medicine). selain itu, sains juga berperan dalam pengembangan obat dan vaksin. Ilmu kimia dan biologi medik berperan dalam meneliti serta menciptakan terapi baru yang efektif, termasuk penanganan penyakit kronis, kanker, dan virus baru, seperti COVID-19.
Teknologi medis hasil sains mutakhir juga sangat bermanfaat, terutama dalam penggunaan fisika medik dan robotika membuat prosedur bedah menjadi kurang invasif, lebih aman, nyaman dan efisien. Sains juga berperan dalam proses pencegahan dan manajemen kesehatan melalui analisis data epidemiologi untuk memahami penyebaran penyakit dan memanfaatkan perangkat yang tersedia (wearable devices) untuk deteksi dini pasien secara real-time. Bahkan sains juga berperan pada efisiensi layanan kesehatan, karena sains dapat mengolah data dan mengoptimalkan operasional rumah sakit, mulai dari manajemen logistik obat hingga meminimalkan kesalahan diagnosis.
Momentum Hari Kesehatan Dunia 2026 mengingatkan semua orang di seluruh dunia untuk mengandalkan ilmu pengetahuan (sains). Sains mampu mengubah pendekatan kesehatan dari sekadar pengobatan menjadi pencegahan yang proaktif, serta meningkatkan kualitas hidup pasien melalui inovasi berkelanjutan.
Apakah kita sudah bijak?
Sekian
Yogyakarta, 25 Maret 2026
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM.
Tema Hari Kusta Dunia (World Leprosy Day) Minggu, 25 januari 2026 adalah “Kusta dapat disembuhkan, tantangan sebenarnya adalah stigma”. Tema ini merupakan seruan untuk bertindak yang bertujuan meningkatkan kesadaran tentang kusta, menyoroti tantangan yang dihadapi oleh penderita kusta, dan menginspirasi tindakan kolaboratif untuk memberantas kusta. Apa yang harus dilakukan?
Tulisan ini telah dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 22 Februari 2026, halaman 8, kolom Husada
Kusta atau lepra adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium leprae. Kusta tercatat dalam peradaban kuno di Cina, Mesir dan India. Penyebutan kusta secara tertulis pertama dikenal pada 600 SM dan sejak itu penderita kusta sering dikucilkan oleh masyarakat dan keluarga mereka. Bakteri M. leprae sebagai penyebab kusta ditemukan oleh Dr. GA. Hansen pada tahun 1873 dan merupakan bakteri pertama yang dikenali sebagai penyebab penyakit infeksi pada manusia.
Dalam sebuah negara atau daerah endemik, seseorang harus dicurigai kusta jika menunjukkan satu dari tanda utama atau kardinal sebagai berikut, (1) lesi kulit berwarna putih atau leukoderma yang disertai dengan kehilangan sensorik atau anestesi yang pasti, dengan atau tanpa penebalan saraf dan (2) pemeriksaan apusan kulit positif bakteri kusta. Lesi kulit dapat bersifat tunggal atau ganda, biasanya kurang berpigmen dari kulit normal di sekitarnya, sehingga terlihat lebih putih. Gangguan sensorik atau anestesi adalah gambaran khas kusta, berupa hilangnya sensasi untuk sentuhan ringan. Saraf yang menebal, terutama batang saraf perifer, merupakan gambaran khas kusta yang lain. Penebalan saraf sering disertai dengan tanda hilangnya sensasi di kulit dan kelemahan otot yang diatur oleh saraf yang terkena. Apusan kulit positif berarti ditemukan bakteri berbentuk batang, bernoda merah dapat dilihat pada sediaan yang diambil dari kulit yang terkena, ketika diperiksa di bawah mikroskop dengan pewarnaan yang sesuai.
Terobosan terapi pertama terjadi pada tahun 1940-an dengan pengembangan dapson, obat kusta pertama. Namun durasi pengobatan dengan dapson itu bertahun-tahun dan bahkan seumur hidup, sehingga sulit bagi pasien untuk mematuhinya. Pada tahun 1960, bakteri M. leprae mulai menjadi resistensi terhadap dapson, yang dikenal sebagai obat anti-kusta satu-satunya di dunia pada saat itu. Pada awal 1960-an, ditemukan obat kusta lainnya, yaitu rifampisin dan clofazimine. Sejak tahun 1981, WHO merekomendasikan MDT yang terdiri dari 3 obat: dapson, rifampisin dan clofazimine, dan kombinasi obat ini mampu mematikan bakteri patogen dan menyembuhkan pasien.
Pada tahun 1991 Majelis Kesehatan Dunia mengeluarkan resolusi untuk menghilangkan kusta pada tahun 2000. Penghapusan kusta didefinisikan sebagai tingkat prevalensi kurang dari 1 kasus per 10.000 orang. Target itu dicapai dengan penggunaan MDT, yang mampu mengurangi beban penyakit secara dramatis. Selama 20 tahun terakhir, lebih dari 14 juta penderita kusta telah sembuh, sekitar 4 juta dari mereka sembuh sejak tahun 2000. Tingkat prevalensi penyakit telah turun 90%, dari 21,1 per 10.000 orang menjadi kurang dari 1 per 10.000 orang pada tahun 2000. Kusta telah mampu dieliminasi di 119 dari 122 negara di mana penyakit ini dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat pada tahun 1985.
Stigma kusta secara konsisten diangkat oleh penderita kusta sebagai salah satu tantangan terbesar mereka. Stigma memengaruhi kehidupan penderita kusata sehari-hari, sebab dapat menyebabkan kehilangan pekerjaan, terpaksa meninggalkan rumah mereka, alasan dijauhkan dari keluarga dan kehidupan komunitas, dan bahkan dapat menjadi penolakan anak untuk bersekolah.
Stigma yang menyakitkan bagi yang terkena kusta sebenarnya ‘terjadi bukan karena orang jahat, tetapi karena mereka tidak mengerti.’ Stigma ada karena terlalu banyak orang percaya bahwa kusta sangat menular, bahwa tidak ada obatnya, bahwa itu disebabkan oleh dosa atau kutukan. Kesalahpahaman ini mewarnai cara orang diperlakukan ketika mereka didiagnosis menderita penyakit ini. Tergantung pada tingkat stigma dalam keluarga atau komunitas, namun demikian stigma ini dapat sangat menghancurkan kehidupan penderitanya.
Kusta dapat disembuhkan dengan pengobatan antibiotik yang sederhana dan gratis. Jika pengobatan itu dilakukan sejak dini, diharapkan tidak akan ada komplikasi bagi pasien tersebut. Selian itu, kita juga akan mampu mengurangi penularan kusta, meskipun stigma sering kali masih juga menghalangi pencapaian itu. Banyak orang masih menganggap stigma yang ditimbulkan oleh kusta, sehingga banyak penderita kusta memilih untuk menyembunyikan gejalanya, berdoa agar tidak ada yang menyadari sehingga mereka tidak harus menghadapi diskriminasi ini. Ketakutan penderita kusta seperti ini, sebenarnya justru akan mencegah mereka untuk berobat, yang menyebabkan komplikasi jangka panjang. Tentu saja, juga menimbulkan penularan kusta yang berkelanjutan.
Indonesia masih menempati peringkat ketiga beban kusta tertinggi di dunia, dengan lebih dari 400 kabupaten/kota masih mencatat penularan hingga akhir 2025. Kasus baru kusta ditemukan lebih dari 10.000 per tahun, termasuk pada anak, dengan Papua dan wilayah Timur lainnya sebagai salah satu fokus utama. Pemerintah menargetkan eliminasi di 11 kabupaten/kota pada 2025, menuju ‘zero leprosy’ pada 2030.
Momentum Hari Kusta Sedunia (World Leprosy Day) Minggu, 25 Januari 2026 mengingatkan kita tentang target nol infeksi pada anak dan mengurangi stigma, meskipun ternyata masih ada kusta di antara kita. Sudahkah kita bertindak?
Sekian
Yogyakarta, 24 Januari 2026
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM.
Kamis, 11 Desember 2025 analisis baru dari komite ahli WHO atau ‘The Global Advisory Committee on Vaccine Safety’ (GACVS), menegaskan tidak ada hubungan sebab akibat antara vaksin dan autis. Bukti ilmiah berdasarkan 31 penelitian antara Januari 2010 dan Agustus 2025 dengan data dari berbagai negara, sangat mendukung profil keamanan positif vaksin dengan adjuvan tiomersal yang digunakan selama masa anak dan kehamilan, dan menegaskan tidak adanya hubungan sebab-akibat vaksin dengan autis.
Tulisan ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 4 Januari 2026, halaman 8, kolom HUSADA.
Imunisasi MMR dengan adjuvan tiomersal sempat mendapat penolakan dari banyak pihak dan menimbulkan fobia, terkait sebuah skandal penelitian yang besar. Pada tahun 1998, sebuah makalah karya dr. Andrew Wakefield, seorang dokter spesialis bedah, dimuat di jurnal bergengsi ‘Lancet’, tentang 12 kasus anak autis setelah divaksinasi MMR di Inggris. Makalah tersebut ditulis oleh Wakefield, Murch, dan Anthony dengan judul ‘Ileum hiperplasia limfoid nodular, kolitis non-spesifik, dan gangguan perkembangan regresif pada anak’ (Lancet, 1998, 351, halaman 637-41). Banyak media kemudian menampilkan informasi ini kepada publik awam, membuat heboh dan menimbulkan fobia. Dalam serangkaian laporan antara tahun 2004 dan 2010, jurnalis Brian Deer menyelidiki dan mengungkapkan bahwa dr. Wakefield memiliki beberapa konflik kepentingan, telah memanipulasi data, dan bertanggung jawab untuk apa yang kemudian oleh the ‘British Medical Journal’ (BMJ) disebut “an elaborate fraud” atau penipuan yang rumit.
Penyelidikan Brian Deer ini adalah yang terpanjang yang pernah didanai oleh ‘General Medical Council UK’ (GMC). Pada bulan Januari 2010, GMC menilai dr. Wakefield tidak jujur, tidak etis dan tidak berperasaan, sehingga pada tanggal 24 Mei 2010 nama dr. Wakefield telah dihapus dari daftar dokter di Inggris. Menanggapi temuan Deer, pada tahun 2004 redaksi ‘Lancet’ menerbitkan surat untuk menanggapi tuduhan terhadap makalah yang dimuatnya, yang menyatakan tidak ada hubungan antara imunisasi MMR dan kejadian autis (no link existed between MMR and autism). ‘Lancet’ kemudian menarik sebagian laporan penelitian dr. Wakefield pada bulan Februari 2004. Pada tahun 2010, GMC menerbitkan sebuah laporan yang menentang tulisan dr. Wakefield dan menunjukkan bahwa catatan medis anak-anak di rumah sakit tidak mengandung bukti yang cukup meyakinkan, catatan medis di rumah sakit berbeda dengan makalah yang diterbitkan, dan akhirnya ‘Lancet’ pada bulan Februari 2010 mencabut sepenuhnya, isi makalah dr. Wakefield yang diterbitkan tahun 1998.
Autis merupakan kelompok kondisi yang beragam terkait dengan perkembangan otak. Karakteristiknya dapat terdeteksi pada masa anak, tetapi autis seringkali tidak didiagnosis hingga jauh kemudian. Autis memiliki tanda utama kesulitan dalam interaksi sosial dan komunikasi. Karakteristik lainnya adalah pola aktivitas dan perilaku yang tidak lazim, seperti kesulitan dalam transisi dari satu aktivitas ke aktivitas lain, fokus pada detail, dan reaksi yang tidak biasa terhadap sensasi. Mendiagnosis autis sulit dilakukan sebelum usia 12 bulan dan umumnya dimungkinkan pada usia 2 tahun. Ciri khas onsetnya meliputi keterlambatan perkembangan, atau kemunduran, dalam kemampuan bahasa dan sosial, serta pola perilaku yang berulang.
Bukti ilmiah menunjukkan bahwa berbagai faktor, baik genetik maupun lingkungan, berkontribusi terhadap timbulnya autis dengan memengaruhi perkembangan otak dini. Peningkatan kemungkinan autis pada keluarga dengan anggota autis dan khususnya pada kembar identik. Paparan terhadap faktor lingkungan tertentu lebih sering terjadi pada anak autis atau orang tua mereka. Ini termasuk usia orang tua yang lanjut, diabetes ibu selama kehamilan, paparan prenatal terhadap polutan udara atau logam berat tertentu, kelahiran prematur, komplikasi kelahiran yang parah, dan berat badan bayi lahir rendah. Selain itu, telah diteliti kemungkinan hubungan antara penggunaan berbagai obat selama kehamilan dan peningkatan risiko autis, yaitu paparan prenatal terhadap valproat dan karbamazepin, yang digunakan untuk penanganan kejang.
Autis tidak disebabkan oleh pola pengasuhan yang buruk dan tidak terkait dengan pola diet. Autis juga bukan penyakit menular dan tidak dapat menular ke orang lain. Anak autis seringkali memiliki kondisi penyerta, termasuk epilepsi, depresi, kecemasan, dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif.
Anak autis memiliki masalah kesehatan yang sama dengan populasi umum. Namun demikian, mereka mungkin juga memiliki kebutuhan perawatan kesehatan khusus yang berkaitan dengan autis atau kondisi penyerta lainnya. Mereka mungkin lebih rentan terhadap perkembangan penyakit kronis non-menular, karena faktor risiko perilaku seperti kurangnya aktivitas fisik, pola diet yang buruk, dan berisiko lebih besar mengalami kekerasan, cedera, dan pelecehan. Bahkan anak autis lebih mungkin meninggal sebelum waktunya.
Komite GACVS-WHO menegaskan kembali kesimpulan yang sama dengan sebelumnya dari tahun 2002, 2004, dan 2012, yaitu vaksin, termasuk yang mengandung tiomersal, tidak menyebabkan autis. WHO menyarankan semua pihak untuk mengandalkan ilmu pengetahuan terkini dan memastikan kebijakan vaksinasi didasarkan pada bukti terkuat yang tersedia. Upaya vaksinasi anak secara global merupakan salah satu pencapaian terbesar bidang kedokteran dalam meningkatkan kehidupan, mata pencaharian, dan kemakmuran masyarakat.
Selama 50 tahun terakhir, vaksinasi anak, termasuk penggunaan vaksin dengan adjuvan tiomersal, terbukti tidak menyebabkan autis dan telah menyelamatkan setidaknya 154 juta jiwa.
Sekian
Yogyakarta, 17 Desember 2025
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM.
Liburan pergantian tahun kami isi dengan menjelajah darat (overland) teritorial Jawa Tengah bagian timur laut, dengan tujuan utama Lasem, di perbatasan utara Jawa Tengah dengan Jawa Timur.
Mengajak dik Bimo (anak kedua, arsitek muda yang sedang WFA) dan dik Laras (anak ketiga, yang sedang menunggu ujian nasional dokter Indonesia UKMPPD), meninggalkan rumah Timoho Yogyakarta untuk menjelajah timur laut Jawa Tengah
Kami meninggalkan Yogyakarta Minggu siang, 28 Desember 2025 dengan tujuan pertama adalah Keraton Kartasura. Memang saat ini tinggallah sebagai bekas keraton dan ibu kota Kesultanan Mataram pada periode 1680–1745. Tepatnya sesudah Keraton Plered dihancuran pada Perang Trunajaya. Keraton ini akhirnya tidak digunakan lagi karena dipindahkan ke Surakarta.
Menikmati kemegahan benteng Keraton Kartasura yang sedang dipugar di Sukoharjo, Jawa Tengah
Keraton Kartasura didirikan oleh Sultan Amangkurat II pada tahun 1680, karena Keraton Plered saat itu telah diduduki Pangeran Puger yang ditugasi mempertahankan Plered oleh Sultan Amangkurat I, ketika terjadi pemberontakan Trunajaya. Pangeran Puger akhirnya dapat dibujuk untuk bergabung ke Kartasura dan mengakui kedaulatan kakaknya sebagai Amangkurat II.
Bekas Keraton Kartasura sekarang terletak di wilayah administratif Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo. Peninggalan yang masih tersisa dari Keraton Kartasura hingga saat ini adalah sebagian dinding cepuri (benteng), baluwarti, taman keraton (Gunung Kunci), gedong piring, gedong obat, dalem pangeran, dan toponim yang merupakan komponen kota Kartasura di masa lalu
Benteng Keraton Kartasura yang terbuat dari bata merah
Akibat pemberontakan Pangeran Trunajaya, maka Sultan Amangkurat I beserta keluarganya mengungsi ke arah barat termasuk putranya yaitu Raden Mas Rahmat. Dalam pengungsiannya, ia mengangkat Raden Mas Rahmat sebagai adipati anom (putra mahkota) yang sebelumnya hak putra mahkota telah diberikan kepada Pangeran Puger.
Amangkurat I beserta keluarga dan para pengikutnya sudah berada di daerah Banyumas. Dalam kondisi yang serba sulit, Amangkurat I jatuh sakit hingga akhirnya wafat. Sesuai wasiatnya sebelum meninggal, Amangkurat I dimakamkan di dekat gurunya di Tegalarum, Adiwerna, Tegal, Jawa Tengah sudah mendekati Jawa Barat.
Sementara itu Raden Mas Rahmat menyatakan diri sebagai susuhunan Mataram menggantikan Amangkurat I yang bergelar Amangkurat II. Pada tahun 1678 Amangkurat II mengerahkan pasukannya dengan dibantu VOC Belanda menyerang Pangeran Trunajaya di Kediri. Pada akhirnya Pangeran Trunajaya tertangkap dan dijatuhi hukuman mati, sehingga kekuasaan Mataram berhasil dipulihkan oleh Amangkurat II.
Usai menumpas Trunajaya, Amangkurat II menarik pasukannya menuju Semarang, kemudian ia memerintahkan kepada Patih Nerangkusuma agar membuka hutan Wanakerta yang akan dibangun menjadi keraton baru. Amangkurat II mulanya merupakan raja tanpa istana karena Keraton Plered telah diduduki adiknya, yaitu Pangeran Puger yang mengangkat diri sebagai Sunan Ngalaga. Pada 28 November 1681 Sunan Ngalaga menyerah kepada Jacob Couper, perwira VOC yang membantu Amangkurat II. Pada Rebo 11 September 1680 Amangkurat II secara resmi menempati Keraton Kartasura dan memindahkan pusat pemerintahannya di sana.
Gerbang Petilasan Keraton Kartasura yang telah hancur karena Geger Pacinan
Kehancuran Keraton Kartasura
Peristiwa Geger Pacinan dan perubahan sikap Pakubuwana II terhadap para pemberontak Tionghoa menjadi awal dari kehancuran Keraton Kartasura. Kekuatan pasukan pemberontak yang kuat berhasil mengalahkan pertahanan pasukan Kartasura di Boyolali, Teras, Mojosongo, dan Ngasem. Serangan ini membuat Van Hohendroff memberikan saran kepada Pakubuwana II agar menyelamatkan diri. Seusai penyerbuan, para pemberontak mulai merampas dan menjarah emas, karungan uang, dan barang-barang berharga lainnya. Selain melakukan penjarahan para pemberontak juga membakar perkampungan di sekitar keraton. Kekosongan kursi raja karena Susuhunan yang melarikan diri, diisi oleh Sunan Kuning yang kekuasaanya juga didukung oleh orang-orang Tionghoa
Peninggalan Kraton Kartasura yang digunakan pada tahun 1680-1742
Siang itu kami membayangkan kemegahan Keraton Kartasura yang merupakan istana Kerajaan Mataram Islam. Keraton megah yang dibangun tahun 1680 oleh Amangkurat II di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, menjadi saksi sejarah sebelum pindah ke Surakarta. Kami hanya melihat reruntuhan benteng (cepuri) dan situs pemakaman keluarga raja yang bersejarah dan kaya akan kisah heroik dan kehancuran, serta menjadi cikal bakal Keraton Surakarta.
Masjid Hastana Karaton Kartasura di Desa Ngadirejo, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, sekitar 11 km dari Keraton Surakarta.
Gerbang Petilasan Keraton Kartasura yang dibangun tahun 1680
Peninggalan: Yang tersisa hanyalah reruntuhan benteng bata merah (benteng cepuri dan baluwarti) serta situs makam keluarga raja (seperti makam keluarga Pakubuwana IX dan X).
Bentuk asli Benteng Cepuri Keraton Kartasura, benteng berbentuk segi delapan dengan dinding bata tanpa perekat, disebut juga Benteng Sri Penganti.
Setelah puas terkagum dengan bayangan kemegahan Keraton Kartasura yang saat ini tinggal petilasannya saja, kami segera melanjutkan penjelajahan darat (overland) menuju Petilasan (peninggalan) Kerajaan Pajang yang terletak di perbatasan Desa Pajang, Kota Surakarta dengan Desa Makamhaji, Kabupaten Sukoharjo. Petilasan Pajang ini telah menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang menawarkan pengalaman mendalam tentang perjalanan sejarah Nusantara, khususnya Jawa. Situs bersejarah ini merupakan saksi bisu kejayaan salah satu kerajaan Islam penting di Tanah Jawa pada abad ke-16.
Pintu gerbang Petilasan Keraton Pajang di Surakarta
Kerajaan Pajang didirikan oleh Sultan Hadiwijaya atau yang lebih dikenal sebagai Jaka Tingkir pada tahun 1568, setelah runtuhnya Kerajaan Demak Bintaro. Sebagai penerus Kerajaan Demak, Pajang memainkan peran penting dalam penyebaran Islam di Jawa dan perkembangan budaya Jawa.
Nuansa sakral, tenang dan teduh di areal Petilasan Keraton Pajang
Meskipun tidak ada istana yang tersisa, area Petilasan Kerajaan Pajang menawarkan nuansa yang tenang dan sakral. Pengunjung dapat melihat beberapa peninggalan seperti gapura, batu berukir, dan makam yang diyakini terkait dengan tokoh-tokoh penting kerajaan.
Salah satu daya tarik utama adalah Makam Sultan Hadiwijaya yang terletak di Desa Makamhaji, Kartasura. Kami tidak sempat mengunjungi makam ini siang itu, meski sering menjadi tujuan ziarah bagi masyarakat yang ingin menghormati leluhur sekaligus berdoa. Di depan makam terdapat gapura berbentuk paduraksa dengan hiasan ukiran kayu dan tembok batu bata bertuliskan kaligrafi Arab yang mengelilingi makam.
Selain makam, terdapat pula peninggalan berupa artefak seperti batu bata kuno dan struktur bangunan yang menjadi petunjuk penting bagi arkeolog dalam mempelajari sejarah Kerajaan Pajang. Meski banyak bagian yang telah terkikis oleh waktu, sisa-sisa ini tetap memberikan gambaran tentang kehidupan di masa kejayaan Pajang.
Suasana di dalam Petilasan Kerajaan Pajang
Petilasan Kerajaan Pajang juga menjadi lokasi untuk berbagai acara budaya dan tradisional. Pada malam Jumat Legi, masyarakat setempat menggelar kegiatan tahlil bersama dengan menyediakan bancakan sego liwet sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur.
Selanjutnya kami santap siang di Warung Pedas Cak Kend seputaran Laweyan, lanjut mengunjungi Masjid Raya Sheikh Zayed, Solo. Masjid ini dibangun pada tahun 2021, dan merupakan replika dari Masjid Sheikh Zayed di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Masjid ini merupakan hibah dari Pemerintah Uni Emirat Arab kepada Pemerintah Indonesia.
Masjid Agung Sheikh Zayed di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab yang kami kunjungi 10 Mei 2025
Masjid ini kemudian dirancang mirip aslinya dengan empat menara menjulang, satu kubah utama, dikelilingi 81 kubah-kubah kecil, dan ornamen bangunan Timur Tengah. Diresmikan pada 14 November 2022 oleh Presiden Joko Widodo dan Presiden Uni Emirat Arab Mohamed bin Zayed Al Nahyan, masjid ini menggunakan karpet bermotif batik serta tembok di dekat imam bertuliskan Asmaulhusna.
Masjid Raya Sheikh Zayed, di Gilingan Solo (Surakarta) yang dibangun pada tahun 2021
Sebelum menjadi masjid, lokasi tempat masjid ini berdiri dahulu merupakan bekas depot minyak Pertamina Gilingan. Seiring bertumbuhnya Kota Surakarta, depot minyak Gilingan menjadi semakin tidak efektif untuk distribusi BBM karena berlokasi di tengah-tengah permukiman. Akibatnya, rencana distribusi minyak menggunakan jaringan perpipaan ke depo ini menjadi gagal karena persoalan biaya. Depot minyak ini ditutup pada tahun 2008 karena beroperasinya depot baru di Boyolali. Pada tahun 2012, Pertamina merencanakan membangun hotel dan gedung pameran serta kawasan wisata kuliner di atas lahan depot minyak tersebut, tetapi akhirnya gagal terencana. Sebagian kecil dari lahan eks-depot minyak tersebut akhirnya dijadikan stasiun pengisian bahan bakar.
Masjid megah hasil rancangan PT Arkonin dan PT Airmas Asri Architects
Pada tahun 2019, Luhut Binsar Pandjaitan, yang menjabat sebagai Menko Marinves, membeberkan rencana UEA untuk membangun masjid di atas lahan depot minyak Gilingan. Terkait dengan hal tersebut, Duta Besar UEA kemudian meninjau lokasi eks-depot minyak Gilingan tersebut sebagai lokasi pembangunan masjid, sebagaimana rencana Muhammad bin Zayid Al Nahyan.
PT Arkonin dan PT Airmas Asri Architects ditunjuk sebagai firma arsitektur yang mendesain bangunan masjid, atas mandat Pemerintah UEA. Sementara itu, proses pembangunan dilakukan oleh kontraktor Waskita Karya. Masjid ini diresmikan pada 14 November 2022 oleh Presiden Joko Widodo dan Presiden Uni Emirat Arab Mohamed bin Zayed Al Nahyan. Selanjutnya, Wakil Presiden Ma’ruf Amin resmi membuka masjid ini untuk seluruh kegiatan keagamaan umum pada 28 Februari 2023.
Yang membedakan masjid ini dan masjid aslinya yang terletak di Abu Dhabi adalah ukurannya yang lebih kecil, dengan luas hanya 2,7 ha (27.000 m2) atau hanya sekitar 22,5% dari lahan masjid aslinya yang seluas 12 ha (120.000 m2).
Masjid Zayed di Surakarta yang diresmikan pada 14 November 2022 oleh Presiden Joko Widodo dan Presiden Uni Emirat Arab Mohamed bin Zayed Al Nahyan.
Bentuk dasarnya masih mengikuti masjid aslinya, yang masih kental dengan gaya arsitektur Maroko, Asia Selatan, dan Timur Tengah, dengan ukurannya yang lebih kecil. Di samping ukuran masjidnya yang kecil, yang menjadi ciri khas dari masjid ini dibandingkan dengan masjid aslinya adalah adaptasi motif-motif batik ke tiap-tiap komponen bangunan, seperti kawung, kembang, dan bokor kencono. Dengan luasnya itu, masjid ini diklaim mampu menampung 10.000 jemaah.
Setelah berdesakan dengan pengunjung lain dalam mencari posisi terbaik untuk melihat kemegahan Masjid Zayed, kami segera melanjutkan petualangan ke Jembatan Layang Simpang Joglo. Jembatan indah ini merupakan sebuah jalur rel layang dan jembatan kereta api yang berlokasi di Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah. Jalur rel layang ini menghubungkan Solo Balapan dengan jalur kereta api lintas utara Jawa.
Jalur rel layang Simpang Joglo menjadi salah satu jalur rel layang kereta api di Jawa Tengah. Terdapat jalur rel layang lainnya di Indonesia, beberapa diantaranya yaitu jalur kereta api Kadipiro–Bandara Adi Soemarmo, jalur kereta api Jakarta Kota–Manggarai–Jatinegara, jalur kereta api cepat Jakarta–Bandung, jalur kereta api Kedundang–YIA, dan jalur kereta api Medan.
Jembatan Simpang Joglo melintas di atas persimpangan 7 arah di ujung utara Kota Surakarta.
Peletakan batu pertama pembangunan jalur rel layang dan jembatan Simpang Joglo dilakukan pada 8 Januari 2022. Pembangunan dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian melalui Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Semarang dengan KSO antara Hutama Karya dan Wijaya Karya. Jalur rel layang Simpang Joglo memiliki panjang 270 meter.
Setelah terkagum dengan kemegahan jembatan besi berwarna merah yang melintasi simpang Joglo, segera dik Laras mengambil alih kemudi untuk melibas Jalan Tol Solo–Ngawi. Jalan ini adalah jalan tol sepanjang 90 km yang menghubungkan Kota Surakarta, Jawa Tengah dengan Ngawi, Jawa Timur. Jalan tol ini melewati wilayah Boyolali, Karanganyar, Sragen, dan Ngawi. Jalan tol ini merupakan bagian dari jaringan Jalan Tol Trans-Jawa, menghubungkan kota–kota utama di Pulau Jawa.
Dik Laras melahap jalan tol Solo Ngawi, yang dipagari pohon trembesi yang ditanam Djarum Faoundation
Pada 29 Maret 2018, Presiden Joko Widodo meresmikan Jalan Tol Solo–Ngawi ruas Ngawi-Klitik bersamaan dengan Jalan Tol Ngawi-Kertosono ruas Klitik-Wilangan. Untuk ruas Kartasura – Sragen sepanjang 35 kilometer telah diresmikan pada 16 Juli 2018, sedangkan ruas Sragen – Ngawi sepanjang 55 kilometer baru diresmikan pada 28 November 2018.
Minggu sore, 28 Desember 2025 kami menuju pemberhentian pertama, yaitu Ngawi, di Jawa Timur. Kata Ngawi (Bahasa Jawa Kuno : awi yang berarti bambu) menandakan bahwa di daerah ini terdapat banyak pohon bambu, yang tumbuh subur di areal pertemuan 2 sungai besar, yaitu Bengawan Solo dan Bengawan Madiun. Wilayah Ngawi telah menjadi bagian dari Kerajaan Majapahit ketika Raja Hayam Wuruk memerintah, tercermin dalam Prasasti Canggu 7 Juli 1358 M (1280 dalam kalender Saka).
Melawan silau matahari sore di gerbang Benteng Van den Bosch (Benteng Pendem), yaitu benteng di Kelurahan Pelem, Ngawi.
Tujuan wisata pertama kami adalah Benteng Van den Bosch (Benteng Pendem), yaitu benteng di Kelurahan Pelem, Ngawi. Benteng ini memiliki ukuran bangunan 165 m x 80 m dengan luas tanah 15 Ha. Letak benteng ini sangat strategis karena berada di dekat muara sungai Bengawan Madiun ke sungai Bengawan Solo. Benteng ini dulu sengaja dibuat lebih rendah dari tanah sekitar yang dikelilingi oleh tanah tinggi, agar tersembunyi dan memenuhi unsur ideal bagi suatu benteng pertahanan, sehingga terlihat dari luar terpendam dan disebut Benteng Pendem, nama serupa seperti Benteng Willem di Ambarawa. Hebatnya arsitek Belanda saat itu dalam mendesain saluran drainase, walaupun berposisi lebih rendah dari tanah sekitarnya, lokasi Benteng mampu terhindar dari banjir. Dipilihnya lokasi itu untuk pembangunan Benteng Van Den Bosch karena Sungai Bengawan Solo dan Bengawan Madiun kala itu merupakan jalur perdagangan strategis, dari Surakarta, Ngawi menuju Gresik, demikian juga Madiun-Ngawi dengan tujuan yang sama.
Situs Benteng Pendem di Ngawi
Pada abad 19 Ngawi menjadi salah satu pusat perdagangan dan pusat pertahanan Belanda dalam Perang Diponegoro (1825-1830). Perlawanan dipimpin oleh Adipati Judodiningrat dan Raden Tumenggung Surodirjo, serta salah satu pengikut Pangeran Diponegoro bernama Wirotani. Pada tahun 1825 Ngawi berhasil direbut dan diduduki oleh Belanda yang kemudian membangun sebuah benteng pada tahun 1845. Benteng ini dihuni tentara Belanda, terdiri dari 250 orang bersenjatakan bedil, 6 meriam api dan 60 orang kavaleri dipimpin oleh Johannes van den Bosch.
Benteng Van den Bosch yang masih nampak gagah dan anggun
Beristirahat sejenak di dalam benteng yang dahulu dihuni tentara Belanda yang dipimpin oleh Johannes van den Bosch.
Melihat usaha Belanda dalam menguasai wilayah Ngawi, Pangeran Diponegoro tidak tinggal diam, bersama salah satu pengikut setianya yaitu Kyai Haji Muhammad Nursalim, dia melakukan perlawanan terhadap Belanda serta mengajarkan Agama Islam dan memotivasi perlawanan terhadap Belanda kepada Masyarakat Ngawi. Konon Kyai Haji Muhammad Nursalim memiliki kekuatan kebal terhadap peluru dan senjata. Belanda membuat siasat untuk menangkap dan kemudian mengubur Kyai Haji Muhammad Nursalim hidup-hidup di sekitar zona inti Benteng Van Den Bosch. Lokasi makam bertempat di ruang utama benteng, tepatnya berada di sebelah museum mini yang dibatasi dengan kaca.
Bangunan paling megah di dekat Makam Kyai Haji Muhammad Nursalim di sekitar zona inti Benteng Van Den Bosch Ngawi
Sudut Benteng Van den Bosch yang nampak kokoh dalam pertahanan, tetapi tetap artistik dalam keindahan
Setelah puas menikmati kemegahan dan kewibawaan bangunan benteng Van den Bosch di Ngawi yang ikonik, kami segera menuju hotel. Di tengah tantangan ekonomi yang melanda sektor pariwisata, Nata Azana Hotel tetap percaya diri untuk menjalankan bisnisnya di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Meskipun sempat dibilang investasi gila oleh sejumlah pengamat, hotel yang berlokasi strategis ini tetap optimis untuk meraih sukses. Nata Azzana Hotel resmi dibuka pada Senin, 3 Februari 2025, hotel ini menghadirkan pengalaman menginap mewah di pusat Kota Ngawi.
Bergaya di pinggir kolam renang di Hotel Nata Azana Ngawi
Nata Azana Hotel dengan konsep yang menggabungkan kenyamanan modern dan nuansa tradisional. Dengan puluhan kamar yang tersedia, hotel ini menawarkan berbagai fasilitas, termasuk kolam renang, restoran, dan ruang pertemuan yang siap digunakan untuk berbagai acara.
Peresmian Nata Azzana Hotel Senin, 3 Februari 2025 dihadiri langsung oleh Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono, Wakil Bupati, serta jajaran Forkopimda, termasuk Ketua DPRD dan seluruh Kepala Dinas setempat. Hotel ini terletak di Desa Grudo dekat dengan exit toll Ngawi.
Lomba renang internal keluarga kami di Hotel Nata Azzana Nagwi, yang dimenangkan oleh pengguna kostum yang paling minimalis
Malam itu dik Bimo melanjutkan rendering WFA proyek resort di Bali, sedangkan dik Laras belajar menyiapkan diri menghadapi ujian negara kedokteran UKMPPD, di kamar 517 Hotel Nata Azzana Ngawi. Kami berdua mendampinginya sambil leyeh-leyeh
Minggu malam, 28 Desember 2025
(bersambung)
NGAWI
(sambungan)
Senin, 29 Desember 2025 pagi kami bangun tidur di kamar 517 Hotel Nata Azzana Ngawi dan segera bergegas untuk mengikuti misa kudus harian di Gereja Santo Yosef Paroki Ngawi, pk. 5.30. Gereja Katolik Roma ini berada di wilayah Keuskupan Surabaya, yang terletak di Kelurahan Ketanggi, Kecamatan Ngawi, Ngawi.
Bangunan gedung gereja yang kami kunjungi pagi itu sudah ada dan digunakan sebagai tempat ibadah bagi umat Katolik pada zaman itu. Bentuk bangunan menunjukkan secara jelas bahwa gereja tersebut merupakan peninggalan zaman Hindia Belanda yang digunakan untuk melakukan pelayanan rohani bagi orang-orang Katolik zaman itu.
Interior Gereja Katolik Santo Yosef Ngawi, Jawa Timur setelah misa kudus harian selesai
Pada tahun 1955, Pastor Andre van Rijnsoever, CM, datang dari Madiun ke Ngawi bersama seorang pemuda bernama Sanen dan mengelola gedung gereja di Jalan Jaksa Agung Suprapto No 43, yang terletak di depan Polres Ngawi. Hingga saat ini, tata letak dan bentuk bangunan gereja tersebut masih asli dan belum mengalami perubahan. Lahan di belakang gereja yang berdampingan dengan rumah dinas Dandim Ngawi dulunya adalah tempat pembantaian orang-orang Belanda pada masa penjajahan Jepang.
Pada Desember 1968, umat Ngawi mulai merayakan Hari Natal kelahiran Yesus Kristus di gereja, menandakan kebahagiaan umat saat itu. Kemudian pada tahun 1969, Pastor Filippo Catini, CM, menetap di gereja untuk menggembalakan umat Ngawi. Pada 9 Juni 1969, Uskup Surabaya Mgr. Johanes Klooster, CM, memberikan Sakramen Penguatan pertama kali di gereja tersebut Ngawi.
Pagi itu misa kudus dipimpin oleh RD. Yakobus Budi Nuroto, pastor kepala paroki yang menyelesaikan pendidikan teologi dan filsafatnya di Universitas Sanata Dharma (USD) di kampus Kentungan Sleman DI Yogyakarta.
Bersama RD. Yakobus Budi Nuroto, pastor kepala paroki Santo Yosef Ngawi
Tradisi menuliskan pribadi Yusuf, suami Maria sebagai seorang tukang kayu di kota Nazareth.Ia seorang bangsawan yang saleh dan sederhana. Darah kebangsawanannya mengalir dari Raja Daud leluhurnya. Kesucian dan kesalehannya terlihat di dalam ketaatannya pada kehendak Allah untuk menerima Maria sebagai istrinya serta mendampingi Maria dalam membesarkan Yesus, Putera Allah yang menjadi manusia. Kesederhanaannya terlihat dalam pekerjaannya sebagai seorang tukang kayu, dan cara hidupnya yang biasa-biasa saja di dalam masyarakat.
Bergaya di depan Kantor Bupati Ngawi, Jawa Timur
Dalam pribadi Yusuf, pekerjaan tangan memperoleh suatu dimensi ilahi. Kerja meningkatkan harkat dan martabat manusia sebagai ciptaan Allah dan memungkinkan manusia turut serta di dalam karya penciptaan dan penyelamatan Allah. Atas dasar inilah gereja pada masa kepemimpinan Paus Pius XII menetapkan tanggal 1 Mei sebagai hari Raya Santo Yusuf Pekerja, sekaligus menetapkan sebagai Hari Buruh. Yusuf selanjutnya diangkat sebagai pelindung para karyawan/buruh yang bekerja setiap hari untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.
Sarapan bersama
Segera kami menikmati santap pagi bersama di Arum Dalu di lantai 1 Hotel Nata Azzana Ngawi, sebelum melanjutkan petualangan. Dik Bimo dan dik Laras kembali terpaku di depan laptop mereka masing-masing, dalam mengerjakan tugasnya yang tetap ada saat liburan pergantian tahun. Kami berdua lanjut mengenang kejadian tahun 1888, saat perusahaan Hindia Belanda yang bergerak di bidang perkebunan, bernama Verenigde Vorstenlandsche Cultuur Maatschappij (VVCM) mendirikan sebuah Pabrik Gula yang berlokasi di Desa Tepas, Kecamatan Geneng, Ngawi dan bernama Pabrik Gula Soedhono, yang masih operasional sampai sekarang.
Gerbang Stasiun Geneng, di seberang Pabrik Gula Soedhono
Pabrik Gula Soedhono di seberang Stasiun Geneng adalah pabrik gula yang produksinya berbasis tebu dan telah beroperasi sejak tahun 1888. Pabrik Gula Soedhono didirikan pada tahun 1888 oleh perusahaan Verenigde Vorsendsche Cultuur Maatschappij (VVCM). Pada tanggal 10 Desember 1957, direksi sebagai pimpinan tertinggi perusahaan negara yang berpusat di Jakarta melakukan perubahan struktur organisasi perkebunan dari sentralisasi menjadi desentralisasi dan status PG Soedhono menjadi Perusahaan Perkebunan Negara (PPN).
Gerbang Pabrik Gula (PG) Soedhono yang tinggi menjulang
Dalam setiap musim giling PG Soedhono sudah tidak mengaktifkan lagi loko yang ada untuk menarik tebu dari kebun ke pabrik, hal ini sebagai dampak dari usia loko dan mahalnya biaya perawatan. Untuk mengatasi hal tersebut PG Soedhono menggunakan armada truck untuk mengangkut tebu dari kebun ke pabrik dengan sistem kontrak. Hal ini dapat menghemat biaya pemeliharaan serta mempercepat proses penggilingan tebu. Pada tahun ini jumlah armada yang dipakai dari jumlah tebu digiling sebanyak 160 truck.
Cerobong asap PG Soedhono nampak menjulang di kejauhan
Tujuan petualangan kami sekanjutnya adalah Museum Trinil, yaitu museum khusus yang mengkoleksi beragam jenis fosil manusia dan hewan purba, yang dirintis oleh Wirodiharjo sejak tahun 1967. Pada tanggal 20 November 1991 Museum Trinil diresmikan oleh Soelarso (Gubernur Jawa Timur saat itu). Situs Trinil diteliti oleh seorang dokter militer Hindia Belanda bernama Eugene Dubois, yang melakukan penelitian pada 1891-1893. Penemuannya ialah fosil manusia purba Pithecanthropus Erectus dan tulang panggul gajah jenis Stegodon Trigonochepslus dan fosil tulang pengumpil gajah. Museum ini kelilingi oleh aliran Sungai Bengawan Solo.
Gerbang utama Museum Trinil di Ngawi
Situs ini mulai terkenal di dunia setelah Eugene Dubois memulai penelitiannya di wilayah Ngawi pada tahun 1891, meliputi tiga desa: Desa Kawu, Desa Gemarang, dan Desa Ngancar. Nama “Trinil” sendiri berasal dari tiga desa tersebut (tri) dan Sungai Bengawan Solo yang mengalir di sekitarnya, yang pada saat itu memiliki debit air melimpah seperti Sungai Nil (nil).
Titik Nol Prasejarah dunia di Museum Trinil, Ngawi
Di Trinil, Eugene Dubois menorehkan penemuan penting. Pada tahun 1891, ia menemukan atap tengkorak dan gigi manusia yang mirip kera. Setahun kemudian, tulang paha kiri manusia purba pun ditemukan. Eugene Dubois kemudian menamai temuannya Pithecanthropus erectus, yang berarti “manusia kera yang berjalan tegak”. Penemuan revolusioner ini menjadi tonggak awal penelitian situs-situs Pleistosen dan perkembangan paleoantropologi di Indonesia. Trinil pun mendunia sebagai situs penting dalam evolusi manusia pada akhir abad ke-19, menarik para peneliti lain untuk mengikuti jejak Eugene Dubois dan melakukan penelitian di sana.
Pithecanthropus erectus, yang berarti “manusia kera yang berjalan tegak” di Museum Trinil, Ngawi
Situs Trinil, salah satu situs penting di Indonesia dari era Pleistosen, menyimpan banyak informasi penting tentang kehidupan prasejarah, termasuk manusia, budaya, dan lingkungan pada masa lampau. Situs ini mulai terkenal di dunia setelah Eugene Dubois memulai penelitiannya di wilayah Ngawi pada tahun 1891.
Gajah purba era Pleistosen yang fosilnya ditemukan oleh Eugene Dubois di situs Trinil, Ngawi
Setelah check out hotel, kami segera menyusuri jalanan yang dikepung hutan jati, dari Ngawi masuk teritorial Bojonegoro. Kami beristirahat untuk makan siang di Rumah Makan Ikan Bakar Semriwing Mbak Ita di Arjosari, Ngasinan, Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.
Makan siang di Rumah Makan Ikan Bakar Semriwing Mbak Ita, Bojonegoro, Jawa Timur
Setelah kenyang, kami segera berbelok ke kiri melintasi Bengawan Solo, untuk masuk kembali ke teritoial Jawa Tengah. Kami memasuki wilayah Kecamatan Cepu di Kabupaten Blora. Cepu dikuasi pemerintah Kadipaten Jipang pada abad XVI, yang pada saat itu masih di bawah pemerintahan Kerajaan Demak. Adipati Jipang yang legendaris bernama Aryo Penangsang, yang lebih dikenal dengan nama Aria Jipang. Daerah kekuasaannya meliputi Pati, Lasem, Blora, dan Jipang sendiri.
Bergaya di gerbang SMP Negeri 1 Cepu, Blora Jawa Tengah
Begitu memasuki wilayah Cepu, langsung teringat beberapa teman di SMA Kolese de Britto Yogyakarta (JB), yang lulusan SMPN 1 Cepu. Ada mas Abu Khoiri dan mas Anang Prihutomo yang sekarang telah sukses sebagai insinyur di ibukota.
Pendopo di pusat Petilasan Kadipaten Jipang Panolan di Cepu.
Selain teringat wajah para teman SMA JB meski lama tidak bersua, kami juga langsung bergegeas menuju Petilasan Kadipaten Jipang Panolan berada di Desa Jipang, sekitar 8 kilometer dari Cepu. Petilasannya berwujud makam Gedong Ageng yang dahulu merupakan pusat pemerintahan dan bandar perdagangan Kadipaten Jipang. Di tempat tersebut juga terlihat Petilasan Siti Hinggil, Petilasan Semayam Kaputren, Petilasan Bengawan Sore, dan Petilasan Masjid. Ada juga makam kerabat kerajaan, antara lain makam R. Bagus Sumantri, R. Bagus Sosrokusumo, RA. Sekar Winangkrong, dan Tumenggung Ronggo Atmojo. Di sebelah utara Makam Gedong Ageng, terdapat Makam Santri Songo. Disebut demikian karena di situ ada sembilan makam santri dari Kerajaan Pajang yang dibunuh oleh prajurit Jipang, karena dicurigai sebagai telik sandi atau mata-mata Sultan Hadiwijaya.
Dikisahkan oleh Babad Tanah Jawi dalam perjalanan pulang ke Pajang, rombongan Adipati Pajang Jaka Tingkir singgah ke Gunung Danaraja tempat Ratu Kalinyamat menyendiri, setelah kematian Sunan Prawoto dan suaminya Hadlirin. Ratu Kalinyamat mendesak Jaka Tingkir agar segera membunuh Arya Penangsang, dirinya yang mengaku sebagai pewaris takhta Sunan Prawoto, berjanji akan menyerahkan Demak dan Jepara jika Jaka Tingkir menang.
Jaka Tingkir segan memerangi Arya Penangsang secara langsung karena merasa dirinya hanya sebagai mantu keluarga Demak. Maka diumumkanlah sayembara, barangsiapa dapat membunuh Arya Penangsang tersebut, akan memperoleh hadiah berupa tanah Pati dan Alas Mentaok (yang akan menjadi wilayah Mataram). Orangtua angkat Jaka Tingkir, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan sahabatnya Ki Panjawi dibimbing oleh Ki Juru Martani untuk mendaftar sayembara itu. Putra kandung Ki Ageng Pemanahan yang bernama Sutawijaya juga ikut mendaftar dalam sayembara dengan bekal Tombak Kyai Plered dari Jaka Tingkir.
Bergaya di alun-alun Jipang, bekas pusat Kotaraja Jipang di Cepu, saat Arya Penangsang berkuasa, di sekat aliran Sungai Bengawan Solo.
Diceritakan dalam Babad Tanah Jawi, ketika pasukan Pajang datang menyerang Kotaraja Jipang, saat itu Adipati Arya Penangsang sedang akan berbuka setelah keberhasilannya berpuasa 40 hari. Surat tantangan atas nama Hadiwijaya membuatnya tidak mampu menahan emosi. Apalagi surat tantangan itu dibawa oleh pekatik-nya (pemelihara kuda) yang sebelumnya sudah dipotong telinganya oleh Pemanahan dan Penjawi. Meskipun sudah disabarkan adik Arya Penangsang (Arya Mataram), Penangsang tetap berangkat ke medan perang menaiki kuda jantan yang bernama Gagak Rimang.
Kuda Gagak Rimang dengan penuh nafsu mengejar Sutawijaya yang mengendarai kuda betina, melompati bengawan. Perang antara Pasukan Pajang dan Jipang terjadi di dekat Bengawan Solo. Dalam perang tersebut perut Arya Penangsang robek terkena tombak Kyai Plered milik Sutawijaya. Meskipun demikian kesaktian yang dimiliki oleh Arya Penangsang membuatnya tetap bertahan. Ususnya yang terburai dililitkannya pada gagang keris yang terselip di pinggang. Arya Penangsang berhasil meringkus Sutawijaya. Saat mencabut keris Setan Kober untuk membunuh Sutawijaya, usus Arya Penangsang malah terpotong sehingga menyebabkan kematiannya.
Setelah kejadian itu, Jaka Tingkir (Hadiwijaya) mewarisi takhta Keraton Demak, dan pusat pemerintahan dipindah ke Pajang, yang petilasannya di Solo telah kami kunjungi pada hari sebelumnya. Dengan demikian, Cepu dan seluruh Blora masuk dalam kekuasan Kerajaan Pajang. Namun demikian, Kerajaan Pajang tidak lama memerintah (1568 sampai 1587), karena dikalahkan oleh Sutawijaya yang bergelar Panembahan Senopati dari Kerajaan Mataram (1587 sampai 1601) yang berpusat di Kotagede, sekitar 8 km dari Yogyakarta. Blora termasuk wilayah Mataram bagian timur atau daerah Bang Wetan.
Mampir berdoa sejenak di Gua Maria Sendangharjo , Blora, Jawa Tengah
Setelah puas membayangkan kegagahan Arya Penangsang dan sengitnya petempurannya dengan Danang Sutawijaya, kami segera meninggalkan Cepu dan Blora, untuk melanjutkan petualangan ke Rembang. Di tengah perjalanan ke Rembang menembus hutan jati dengan jalanan yang berkelok berulang, kami singgah di Sendangharjo. Harjo berarti selamat, sehingga Sendangharjo berarti Sendang Keselamatan.
Kami mengunjungi Gua Maria Sendangharjo yang terletak di Dukuh Polaman, Desa Sendangharjo, Kecamatan Blora, pada jalan menuju ke arah Rembang. Selain sarana Jalan Salib, tempat ziarah ini juga menyediakan pendopo dan tempat menginap dengan kapasitas 30 kamar.
Gua Maria Sendangharjo juga merupakan salah satu fasilitas rohani yang disediakan oleh Wireskat (Wisma Rehabilitasi Sosial Katolik). Wireskat mirip dengan Bahasa latin Virescat, yang berarti “menghijaukan kembali” hidup sehat lagi dan sembuh.
Berdoa dan mengucap syukur atas semau anugerah sepanjang tahun 2025 di Gua Maria Sendangharjo , Blora, Jawa Tengah
Wireskat didirikan oleh para romo yang bertugas di Paroki Santo Pius X, Blora, Keuskupan Surabaya sekitar tahun 1970-1971. Antara lain Romo Siveri, Romo Fornasari dan Romo Ernesto Fervari. Wisma tersebut dibangun untuk menampung para penyintas sakit kusta dari RSK Donorejo, Jepara, RSK Bojonegoro dan Susteran Bojonegoro. Karya pastoral Wireskat tersebut sangat menyentuh, karena memanusiakan para penderita kusta, sebuah penyakit infeksi kronis menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit yang sudah disebut sejak jaman Yesus Kristus ini menyerang kulit, saraf tepi, serta saluran pernapasan atas, dan mata. Kusta atau lepra ini menyebabkan mati rasa, lesi kulit, serta potensi kerusakan saraf dan cacat jika tidak diobati, meskipun penyakit ini bisa disembuhkan dengan pengobatan yang tepat.
Mencari makan malam di seputaran Alun-alun Kota Rembang, untuk disantap bersama di seberangnya.
Selanjutnya kami beristirahat di kamar 504 Hotel Aston yang menghadap Laut Jawa di Jl. Jendral Sudirman No 8 Rembang, sebelum meneruskan petualangan ke Lasem.
(bersambung)
LASEM, REMBANG
Selasa, 30 Desember 2025 pagi kami terbangun dan bergegas berjalan kaki sejauh 600 m dari Hotel Aston Inn Jl. Jendral Sudirman No 8 untuk menuju Gereja Santo Petrus dan Paulus Jl. Diponegoro No 91 Rembang, untuk mengikuti misa kudus harian pagi.
Pada awalnya, gereja Katolik di Rembang merupakan stasi dari Gereja Cepu di Blora. Stasi ini secara berkala dikunjungi oleh para imam misionaris dari Ordo Jesuit yang pada waktu itu berkedudukan di Surabaya. Setelah daerah misi Surabaya diserahkan kepada Ordo Lazaristen yaitu imam ordo CM, Gereja Cepu yang memiliki umat Katolik lebih banyak dibanding kota-kota sekitarnya (kebanyakan mereka adalah orang Belanda karyawan minyak BPM) dan Stasi Rembang juga dilayani oleh imam CM.
Gereja Santo Petrus dan Paulus Jl. Diponegoro No 91 Rembang
Bersama Rm. Siprianus Yitno, Pastor Kepala Paroki dan para frater dari Keuskupan Surabaya di Gereja Santo Petrus dan Paulus Rembang
Pada tahun 1954 berdirilah sebuah gereja ukuran 7 x 14 meter, lengkap dengan menaranya disebut Gereja Santo Petrus dan Paulus (yang dirayakan tiap tanggal 29 Juni). Dan tepat pada hari raya Minggu Palma gedung Gereja yang baru diberkati oleh Bapa Uskup Surabaya Mgr Johannes Klooster, CM.
Bersiap untuk mengikuti misa kudus harian pagi di Gereja Santo Petrus dan Paulus Rembang
Bersama Rm. Siprianus Yitno, Pastor Kepala Paroki setelah mengikuti misa kudus harian pagi di Gereja Santo Petrus dan Paulus Rembang
Setelah selesai mengikuti misa kudus harian pagi dan bercengkerama sebentar dengan Romo Siprianus Yitno, Pr dan beberapa umat, kami segera berjalan kaki lagi kembali ke hotel. Kami menyusuri Jalan Pantura (Pantai Utara), yaitu jalur jalan nasional utama di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa, membentang dari Merak (Banten) di barat hingga Banyuwangi (Jawa Timur) di timur Jalan lebar 4 jalur ini berfungsi sebagai urat nadi transportasi dan penghubung antar-provinsi yang sangat penting, yang cikal bakalnya berasal dari Jalan Raya Pos (De Grote Postweg) yang dibangun pada masa Gubernur Jenderal VOC Belanda Herman Willem Daendels (1808 hingga 1811).
sarapan di hotel, sebelum menjelajah Lasem
Setelah sarapan, kami segera menyusuri Jalur Pantura dari Rembang menuju Lasem. Jalan lebar yang kami lalui ini dipadati Truk Hino kategori tronton (10 roda atau lebih), yang di Indonesia masuk dalam lini Hino 500 Series (Ranger) dengan standar emisi Euro 4. Secara umum, tronton Hino terbagi menjadi dua konfigurasi penggerak utama, yaitu FL dan FM. Truk Hino Tipe FL sudah sering kami kagumi saat melewati tol Trans Jawa, termasuk Cipali dan Japek. Namun demikian, truk Hino Tipe FM (6×4) dengan dua gardan penggerak (double gardan) yang dirancang untuk beban berat dan medan ekstrem, yang memiliki roda pada sasis belakang sampai 3 deret, baru kami lihat di Jalur Pantura sekitar Rembang ke Lasem.
Mengawali penjelajahan di Lasem, sentra batik tulis motif Cina
Lasem adalah sebuah kecamatan bersejarah di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, dikenal sebagai “Tiongkok Kecil” karena menjadi titik pendaratan awal orang Tiongkok di Jawa. Budaya Lasem kaya akan akulturasi budaya Tiongkok, Jawa, Arab, serta Belanda, terlihat dari arsitektur kuno, perkampungan, serta batik tulis khasnya yang dipengaruhi motif Tiongkok (naga, merak, phoenix).
Belanja batik Lasem yang penuh warna, corak dan gaya
Berbagai motif batik Lasem
Batik Lasem sangat terkenal karena cirinya sebagai batik pesisir yang indah dengan pewarnaan yang berani. Batik Lasem adalah batik tulis model pesisir, yang sangat khas dengan perpaduan motif Tiongkok (seperti naga, merak, phoenix) dan warna-warna berani, serta teknik pewarnaan yang unik.
Bergaya di Rumah Merah Heritage Lasem, Rembang
Salah satu tempat berkembangnya para imigran dari Tiongkok terbesar di Pulau Jawa abad ke-14 sampai 15 adalah Lasem (Hokkien: Lao Sam, Mandarin: La Sen) selain di Sampotoalang (Semarang) dan Ujung Galuh (Surabaya). Datangnya armada besar Laksamana Cheng Ho ke Jawa sebagai duta politik Kaisar Tiongkok masa Dinasti Ming yang ingin membina hubungan bilateral dengan Majapahit terutama dalam bidang kebudayaan dan perdagangan negeri tersebut, mereka memperoleh legitimasi untuk melakukan aktivitas perniagaannya dan kemudian banyak yang tinggal dan menetap di daerah pesisir utara Pulau Jawa.
Rumah Keluarga Oei Sien Tjo bergaya Tiongkok di Lasem, Rembang
Bahkan menurut NJ. Krom, perkampungan Tionghoa di masa Kerajaan Majapahit telah ada sejak 1294-1527 M. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya bangunan-bangunan tua seperti permukiman Pecinan dengan bangunan khas Tiongkoknya dan kelenteng tua yang berada tak jauh dari jalur lalu lintas perdagangan di sepanjang aliran Sungai Babagan Lasem (kala itu disebut Sungai Paturen) yang pada waktu itu sebagai akses utama penghubung antara laut dan darat, juga penguasaan tempat-tempat perekonomian yang strategis oleh mereka di kemudian waktu, seperti yang dapat dilihat pada pusat-pusat pertokoan di sepanjang jalan raya kota sekarang ini
Perkampungan Tionghoa di masa Kerajaan Majapahit di Lasem, Rembang yang telah ada sejak 1294-1527.
Batik Laseman sangat liat bercirikan egalitarian, yang mana batik ini lebih terbuka atau umum penggunaannya bagi segala kalangan atau lapisan masyarakat berikut macam etnisnya. Konon perkembangan Batik Laseman ini dipengaruhi oleh unsur-unsur seni dan budaya negeri seberang, yaitu Tiongkok dan Campa.
Bergaya di halaman depan Oemah Batik Lasem
Oemah Batik Lasem yang indah dipandang
Banyaknya orang-orang Tiongkok dan Campa yang menetap di Lasem dan membaur dengan penduduk lokal lambat laun melahirkan akulturasi kebudayaan yang positif dan kaya, salah satunya adalah seni batik itu sendiri. Batik Laseman sendiri pernah mengalami kejayaan dalam produksi dan pemasarannya.
Museum Batik Tiga Negeri di Lasem, Rembang
Secara historis, budaya di Lasem merupakan perpaduan budaya dari masyarakat pribumi (Jawa), Tiongkok & Campa (dibawa oleh pasukan Laksamana Cheng Ho), dan Belanda. Wujud nyata dari perpaduan budaya ini dapat kita temui sampai detik ini pada batik Lasem motif Tiga Negeri
Klenteng Cu An Kiong di Jalan Dasun, Lasem
Kelenteng Cu An Kiong merupakan kelenteng tertua di Lasem, Rembang dan bahkan juga tertua di Pulau Jawa, karena kelenteng ini dibangun pada tahun 1335. Ruang utama kelenteng yang berisi altar Tian Shang Sheng Mu berada di belakang dan tidak terbuka untuk umum. Orang-orang Tionghoa mulai datang dan mendarat di daerah hutan Jati di sekitar Sungai Babagan Lasem pada abad ke-15.
Kelenteng Cu An Kiong dibangun orang-orang Tionghoa menggunakan kayu jati yang tersedia melimpah. Tiang penyangga utama kelenteng ini merupakan dua buah kayu jati yang belum pernah diganti hingga sekarang. Bangunan kelenteng terakhir kali direnovasi pada tahun 1838, untuk meninggikan lantai bangunan yang sering mengalami banjir, karena lokasinya tepat berada di depan kali Lasem. Laksamana Zheng Ho mendarat di depan kelenteng tersebut, yaitu di muara Kali Lasem yang akan masuk ke Laut Jawa, sehingga pada masa lalu sering digunakan sebagai sarana lalu lintas kapal, meskipun dermaganya kini sudah tidak tersisa keberadaannya.
Monumen Perang Kuning dengan para tokohnya di Kelenteng Cu An Kiong, di Lasem, Rembang.
Perang Kuning merupakan perang yang dikobarkan oleh masyarakat Lasem secara khusus. Peperangan pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda setelah jatuhnya banyak korban jiwa pada kedua belah pihak serta menyebabkan wilayah Lasem dipisahkan dari Rembang secara de facto. Akhir peperangan ini juga menandakan berakhirnya seluruh perlawanan rakyat Lasem terhadap kekuasaan Kompeni serta kekuasaan keluarga Tejakusuman di Lasem.
Pasukan gabungan Tionghoa dan Jawa yang dibantu oleh Kesultanan Mataram. Para tokohnya adalah Tan Kee Wie, Oei Ing Kiat, Panji Margono, Kyai Ali Badawi, Kwee An Say, Guo Liu Guan, Amangkurat V, dan Pangeran Sambernyawa atau Mangkunegoro 1. Dalam Perang Kuning mereka melawan Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) dibantu Kesultanan Mataram. Para tokohnya adalah Bartholomeus Visscher, Gustaaf Willem baron van Imhoff, Johannes Thedens, Adriaan Valckenier, Cakraningrat IV, Citrasoma IV dan Pakubuwana II.
Perang Kuning (Geel Oorlog) adalah serangkaian perlawanan rakyat Lasem-Rembang dan sekitarnya terhadap kekuasaan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di Semarang (1741-1742) dan Lasem (1750). Perang Kuning ini terjadi sebagai bagian dari konflik Mataram melawan VOC Belanda, dengan hasil akhir dimenangkan oleh VOC Belanda
Tempat Pasujudan Sunang Bonang di Lasem, Rembang
Setelah puas mengagumi warisan budaya Tiongkok di Lasem, segera kami mengungjungi Pasujudan Sunan Bonang, sedikit menjauh dari Lasem. Kami menyusuri Jalur Pantura dengan banyak truk Hino yang panjang untuk mengenang Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465 M di Lasem, Rembang dengan nama As-Sayyid Raden Maulana Makhdum Ibrahim. Ia adalah salah satu Wali Songo (sembilan orang penyiar agama Islam di Jawa) putra Sunan Ampel dengan Dewi Candrawati. Sunan Bonang juga dikenal sebagai penggubah suluk Wijil dan tembang Tombo Ati, yang masih sering dinyanyikan orang.
Kami melanjutkan petualangan dengan melaju di sela-sela truk Hino seri FL yang lalu lalang di Jalur Pantura, untuk kembali ke Rembang. Tujuan kami adalah melihat musem Kartini
Museum R.A. Kartini, dulunya bernama Museum Kamar Pengabadian R.A. Kartini berada di Jl. Gatot Subroto No. 8, Rembang. Dulunya museum ini menempati salah satu ruangan Rumah Dinas Bupati Rembang, tetapi sejak 2011 museum ini diperluas ke seluruh rumah dan namanya diubah menjadi Museum RA Kartini. Kami datang bersama banyak wisatawan yang berkunjung di sana, di samping mengenang sejarah pahlawan wanita ini yakni RA Kartirni, juga melihat langsung sejarah peninggalannya yakni tulisan tangan asli Ibu Kartini, dalam memperjuangkan emansipasi wanita Jawa. Kami juga menyaksikan gedung tempat RA Kartini dahulu mengajar atau mengamalkan ilmunya kepada para anak didiknya. Bangunan asli tersebut terletak satu lokasi kurang lebih 150 m dengan museum RA Kartini.
Patung dada Ibu RA Kartini di halaman depan museum
Reuni dengan dr. Bambang Suyamto, SpTHT sebagai sesama alumni FK UGM 1984 di Rembang
Selanjutnya kami melakukan reuni sekejap dengan teman seangkatan saat kuliah di FK UGM Yogyakarta angkatan 1984, yaitu dr. Bambang Suyamto, SpTHT. Sebagai mantan Ketua IDI Cabang Rembang, dr. Bambang menerima kami bersama istrinya, dr. Nunuk Sri Lestari, MKes, direktur RS Umum Islam Arafah di Jl. Raya Rembang lasem KM 5, Tritunggal, Rembang. Kami diajak santap siang di Citra Resto Jl. Jend. Sudirman No 47, Rembang, dengan menu andalan soup gurameh. Resto milik dr. Nowohadi Tjitrosuwito, SpPD senior kami di FK UGM Yogyakarta angkatan 70, juga menyambut kami dengan hangat.
Disambut dr. Bambang Suyamto, SpTHT dan istrinya, dr. Nunuk Sri Lestari, MKes dengan salam Konga (alumni FK UGM 84)
Bersama dr. Nowohadi Tjitrosuwito, SpPD senior kami di FK UGM Yogyakarta
Bersama mas dr. Bambang Suyamto, SpTHT di Citra Resto Jl. Jend. Sudirman No 47, Rembang, milik dr. Nowohadi Tjitrosuwito, SpPD
Setelah kenyang makan siang menu soup gurameh di Citra Resto, kami segera meninggalkan Rembang, menuju ke Cepu. Dalam perjalanan ke Cepu, kami mengingat kembali kebesaran jasa Ibu Kita Kartini untuk perempuan Indonesia. “Habis Gelap Terbitlah Terang”, kutipan penuh makna dari seorang pejuang emansipasi wanita, Raden Ajeng Kartini.
Ibu ini dilahirkan di Jepara, lalu menikah dengan Bupati Rembang. Di akhir hayatnya, RA Kartini bersama suami dan keturunannya dimakamkan di Desa Bulu, Rembang. Makamnya selalu ramai oleh para peziarah hingga saat ini. Kami sempatkan mampir, sebelum memasuki teritorial Blora menuju ke Cepu.
Bersama dik Laras di makam RA Kartini di Bulu, Rembang
Patung seukuran aslinya RA Kartini di depan makamnya di Bulu, Rembang
Setelah berhenti sejanak melepas penat dan mengenang keharuman nama RA Kartini di makamnya, kami segera melanjutkan perjalanan ke Cepu. Malam itu kami makan malam bersama di kamar 204 Hotel Kyriad Arra Hotel Cepu, sebelum mengantar dik Bimoseno (anak kedua, arsitek yunior) kembali ke Jakarta. Perjalanan naik KA Pandalungan dari Stasiun Cepu berangkat pk. 21.28 dan sampai di Stasiun Jatinegara Jakarta hari berikutnya pk. 4.12
Makan malam bersama sambil melihat drakor.sebelum mas Bimo kembali ke Jakarta
Selamat melaju mas Bimo, dengan KA Pandalungan dari Stasiun Cepu ke Stasiun Jatinegara Jakarta
(bersambung)
LANJUTAN PERJALANAN
Rabu, 31 Desember 2025 kami terbangung di kamar 204 Hotel Kyriad Arra Hotel Cepu, lanjut mengikuti misa kudus harian pagi di Gereja Santo Willibrordus Paroki Cepu, Jawa Tengah
Di depan Gereja Santo Willibrordus Cepu, Jawa Tengah
Umat Cepu tercatat pada Buku Baptis X, XI dan XII Paroki Santo Yusup Gedangan Semarang, karena ada baptisan baru yang terjadi pada 28 Februari 1912, sebanyak 3 orang oleh Romo HJJ. Janssen, SJ. Kemudian pada 29 September 1912 serta 24 September 1917, Vikaris Apostolik Batavia Mgr. Edmundus Luypen, SJ bahkan menerimakan Sakramen Krisma di Cepu terhadap 21 orang. Sebuah sejarah geraja yang panjang.
Bergaya sejenak di depan Gereja Santo Willibrordus Cepu, Jawa Tengah yang penuh sejarah
Dengan adanya perusahaan Minyak DPM (Dordtsche Petroleum Maatschappij) milik Belanda yang mulai mengadakan pengeboran minyak di Cepu pada tahun 1893, di Jepon pada tahun 1899 di Tinawun, Dandangilo – Wonocolo, Kawengan, Kidangan pada tahun 1895 demikian pula di Ledok pada tahun yang sama. Karyawan pertambangan DPM telah memberi sumbangan yang cukup berarti bagi tumbuh dan berkembanganya Gereja Santo Willibrordus, Cepu.
Apalagi pada tahun 1895/1896 di Cepu dibangun pabrik lilin, dikarenakan minyak di daerah Cepu banyak mengandung lilin. Sehingga pada tahun 1896 Peruasahaan Minyak DPM berkembang menjadi Peruasahaan Minyak terkuat di Jawa. Situasi ini memungkinkan bertambahnya umat Katolik di Cepu, Bojonegoro, Blora dan sekitarnya semakin banyak, karena jumlah orang Belanda yang bekerja di Cepu semakin banyak pula.
Pemberkatan Gedung Gereja Santo Willibrordus Cepu dilakukan oleh Mgr. Anton Pieter Franz van Velsen, S.J. perfector Apostolic Batavia, pada tanggal 20 Mei 1931. Nama pelindung gereja adalah Santo Willibrordus, seorang uskup dari daerah Belanda Selatan. Pada tanggal 15 September 1932 dijadikan Paroki dibawah kegembalaan Pastor G. Ravestijn, CM. Paroki Cepu dimasukkan dalam wilayah kerja Keuskupan Diosesan Surabaya dengan Mgr. Klooster, CM sebagai Uskup.
Interior Gereja Santo Willibrordus Cepu, Blora, Jawa Tengah, dengan patung bayi Yesus di palungan tanpa atap. Bagus sekali
Selesai misa kudus harian pagi, kami lanjut menyeebrang jalan menikmati kegagahan Patung Kuda Arjuna Wiwaha yang menjadi ikon Kota Cepu. Patung yang menelan anggaran fantastis Rp 1,3 miliar ini baru berdiri sejak tahun 2017.
Arjuna sedang memanah menggunakan Pasupati ke arah langit-langit mulut Prabu Niwatakawaca
Patung itu menggambarkan Arjuna (satria tengah Pandawa) sedang memanah menggunakan Pasupati ke arah langit-langit mulut Prabu Niwatakawaca, raja raksasa yang mengancam kayangan. Dengan bantuan bidadari Suprabha, Arjuna mengetahui kelemahan Niwatakawaca, yaitu langit-langit mulutnya, dan saat raja raksasa itu lengah, dan Arjuna berhasil membunuhnya, membawa kemenangan bagi para dewa. Patung Arjuna Wiwaha ini berdiri megah di depan Gereja Santo Willibrordus Cepu dan merupakan bagian dari Taman Seribu Lampu Cepu, yang menjadi gerbang wisata dari Jawa Timur sekaligus destinasi alternatif bagi warga lokal Blora dan Bojonegoro bagian barat.
Selanjutnya kami melakukan wisata geologi untuk melihat cara kerja sumur angguk, dalam menyedot minyak mentah dari bumi Blora. Awalnya kandungan minyak itu ditemukan di daerah Cepu, sejak saat itu penemuannya menjamur hingga seperti sekarang, sampai ke Bojonegoro. Tjokronegoro III, Bupati Blora era 1886-1912 pada masa kepemimpinannya mendorong Belanda melakukan pengeboran minyak pertama kali pada tahun 1894 di Desa Ledok, Kecamatan Sambong.
Sumur angguk menyedot minyak di bumi Nglobo, Jiken, Blora Jawa Tengah
Kami melihat Sumur Angguk di Desa Nglobo, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora. Ini adalah sebuah sumur minyak peninggalan Belanda yang sudah beroperasi sejak tahun 1928, menjadikannya sangat tua dan bersejarah. Untuk menuju ke titik peninggalan Belanda itu, kami harus masuk dulu melewati jalan berbatu menuju arah hutan jati yang lebat dan menyerupai labirin. Setelah itu melewati permukiman penduduk. Dengan pemandangan alam yang indah dan mesin sumur minyak tua yang masih berfungsi, desa Nglobo ini mampu menarik minat wisatawan yang ingin mengenal lebih jauh tentang sejarah perminyakan Indonesia, serta menikmati keunikan teknologi sederhana yang digunakan sejak zaman kolonial.
Selain itu, Desa Nglobo juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata edukasi. Lingkungan yang asri dan alami sangat mendukung kegiatan edukasi luar ruangan, seperti pengenalan flora dan fauna lokal, konservasi lingkungan, dan pelajaran sejarah industri perminyakan melalui kunjungan ke Sumur Angguk.
Sumur angguk di Nglobo, Jiken yang menyedot minyak di bumi Blora
Sayang sekali kami datang saat hujan turun, sehingga kami tidak sempat melibatkan masyarakat lokal sebagai pemandu dan instruktur, wisata edukasi ini tidak hanya memperkaya pengetahuan pengunjung, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi penduduk setempat.
Selanjutnya kami segera menyusuri jalur pantura yang penuh dengan truk Hino panjang, untuk sowan senior dr. Bowo Widiasmoko, SpPD di RS Budi Agung di Juwana, Pati Jawa Tengah. Banyak sekali Hino Tipe FM (6×4) dengan dua gardan penggerak (double gardan) yang dirancang untuk beban berat dan medan ekstrem, yang memiliki roda pada sasis belakang sampai 3 deret, yang kami temui dalam perjalanan ke Juwana.
Bergaya di depan papan informasi jadwal praktek dr. Bowo Widiasmoko, SpPD dan para dokter lain di RS Budi Agung, Yuawan, Pati, Jawa Tengah
Diterima dr. Bowo Widiasmoko, SpPD di ruang prakteknya
RS Budi Agung Juwana, Pati Jawa Tengah
Setelah puas mengobrol, kami lanjut diajak makan siang di WM Sumber Rejeki Juwana, Pati. RM dengan menu unggulan garangasem dan bakso, tersaji secara sederhana tetapi lezat.
Makan siang dijamu dr. Bowo Widiasmoko, SpPD di Juwana, Pati
Lanjut kami melewati jalan lurus melewati Tayu, Pati dan terus ke Mlonggo, Jepara memutari Gunung Muria yang tenang. Kami mengunjungi William Febuana di rumahnya, untuk membicarakan persiapan masa depannya bersama dik Laras. Sampai larut malam pembicaraan hangat berlangsung, yang diselingi makan menu ikan bakar sambil menunggu pergantian tahun 2025 menjadi 2026
Kamis pagi, 1 Januari 2026 di awal tahun baru, kami segera bergegas mengikuti misa kudus di Gereja Katolik Stella Maris Paroki Jepara
Sejarah Gereja Katolik di Jepara dimulai kembali secara signifikan pada tahun 1930-an setelah sempat hilang pasca-larangan Jan Pieterszoon Coen , dengan berdirinya stasi Pecangaan pada 1936 yang dipimpin Pastor Stienen MSF, lalu diresmikan tahun 1961, sebelum akhirnya Paroki Stella Maris Jepara resmi berdiri dan gereja barunya diberkati tahun 1964, menandai kebangkitan kekatolikan di wilayah tersebut.
Bersama Rm. Anton Gunardi, MSF di Gereja Stella Maris Jepara setelah misa kudus harian pagi pada hari pertama tahun baru 2026
Mgr. Albertus Soegijopranoto SJ, Uskup Agung Semarang saat itu, mengunjungi Jepara untuk memberikan Sakramen Penguatan (Krisma) pada 21 Oktober 1956. Pembentukan Dewan Stasi Jepara yang pertama dibentuk pada 24 Maret 1963. Peresmian Gereja Katolik Jepara yang baru diresmikan pada 18 Mei 1964 oleh Romo Kardinal Darmojuwono, menjadi penanda resmi berdirinya paroki di Jepara, yang kemudian dikenal sebagai Paroki Stella Maris.
Misa kudus pagi itu dipimpin oleh Rm. Anton Gunardi, MSF, yang ternyata alumni SMA Kolese de Britto Yogyakarta (JB) angkatan 1972.
JB 72 dan JB 84 di Gereja Stella Maris Jepara
Setelah selesai mengikuti misa kudus harian pagi, kami segera lanjut melihat Pecinan Jepara sebagai salah satu pecinan (china town) tertua di Indonesia, komplek ini menjadi saksi bisu perkembangan sejarah, budaya, dan interaksi antar-etnis yang panjang. Terletak di bagian timur pusat kota, komplek Pecinan Jepara mencerminkan keberagaman dan integrasi harmonis antara masyarakat Tionghoa dan budaya lokal. Pecinan Jepara, yang didirikan pada abad ke-16, memperlihatkan arsitektur tradisional yang khas dengan aksen-aksen Tionghoa yang memesona. Pusatnya adalah klenteng wang fu atau furianto yang dibangun pada tahun 1881 Masehi.
Pada awalnya, komplek Pecinan di Jepara didirikan sebagai tempat tinggal dan pusat kegiatan komunitas Tionghoa yang memigrasi ke Jepara pada abad ke-16. Mereka membawa serta tradisi, budaya, dan agama dari tanah leluhur, menciptakan suatu kawasan yang memiliki identitas unik di tengah masyarakat Jepara yang heterogen. Di dalam komplek Pecinan, dapat ditemukan kuil-kuil dan kelenteng-kelenteng yang menjadi pusat aktivitas keagamaan dan budaya masyarakat Tionghoa. Struktur arsitektural yang khas, dengan ornamen-ornamen Tionghoa yang memikat, mencerminkan keberlanjutan tradisi dan nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi. Selama berabad-abad, komplek Pecinan di Jepara menjadi saksi bisu perkembangan masyarakat Tionghoa dan interaksi harmonis dengan masyarakat lokal.
Pecinan Jepara yang merupakan salah satu chinatown tertua di Indonesia
Setelah sarapan, kami berlima (Bapak Mulyono tidak ikut) segera bergegas menuju ke Benteng Portugis, yang terdapat di Desa Banyumanis Kecamatan Donorojo atau 45 km di sebelah timur laut Kota Jepara.
Sarapan bersama Keluarga Bapak Mulyono di Mlonggo Jepara, pada hari pertama tahun 2026
Kami jadi mengingat bahwa pada tahun 1619, kota Jayakarta atau Sunda Kelapa pertama kali dimasuki VOC Belanda. Saat ini Sunda Kelapa diubah namanya menjadi Batavia dan dianggap sebagai awal tumbuhnya penjajahan oleh Imperialis Belanda di Indonesia. Sultan Agung, Raja terbesar Mataram, langsung merasakan adanya bahaya yang mengancam dari situasi jatuhnya kota Jayakarta ke tangan Belanda. Untuk itu Sultan Agung mempersiapkan angkatan perangnya guna mengusir penjajah Belanda. Tekad Raja Mataram ini dilaksanakan berturut-turut pada tahun 1628 dan tahun 1629 yang berakhir dengan kekalahan di pihak Mataram.
Kejadian ini membuat Sultan Agung berpikir bahwa VOC Belanda hanya mungkin dikalahkan lewat serangan darat dan laut secara bersamaan. Padahal Mataram tidak memiliki armada laut yang kuat, sehingga perlu adanya bantuan dari pihak ketiga yang juga berseteru dengan VOC, yaitu Bangsa Portugis.
Bergaya di Gerbang Benteng Portugis Jepara
Pada hal sebelumnya Bangsa Portugis setidaknya mendapat serangan dari Ratu Kalinyamat, sebagai penguasa Jepara dan Jawa pada umumnya, sebanyak dua kali, yakni pada 1550 dan tahun 1564. Pada tahun 1550 Ratu Kalinyamat menyerang Portugis di Malaka (sekarang Malaysia), bersama pasukan dari Kesultanan Aceh, Johor, Palembang, dengan kekuatan total 200 kapal perang dan belasan ribu prajurit. Pada tahun 1564 juga menyerang lagi bersama pasukan dari Kesultanan Aceh Darussalam. Juga pada tahun 1573 menyerang Portugis lagi di Selat Malaka.
Replika meriam di puncak Benteng Portugis di Jepara yang menghadap ke arah laut
Ternyata Bangsa Portugis hanya beberapa tahun saja menempati benteng ini. Banyaknya gangguan yang memakan korban prajurit Portugis menjadi salah satu alasannya. Di Selat Mandalika depan benteng itu ada pusaran air laut, prajurit Portugis sering tersedot ke dalam laut dan hilang entah ke mana. Alasan lain adalah lalu lintas perdagangan yang waktu Kerajaan Demak dipusatkan melalui laut, dengan pindahnya Kerajaan Demak ke Pajang, lalu lintas perdagangan berubah melalui jalan darat. Benteng itu akhirnya ditinggalkan begitu saja, hingga bertumbuh semak belukar.
Sisa bangunan Benteng Portugis di Jepara
Pada waktu Jepang menapakkan kakinya di bumi Nusantara, benteng ini kembali digunakan. Jepang memanfaatkannya sebagai tempat pengintai laut. Benteng ini sekarang menjadi tempat wisata, meski hanya berupa reruntuhan tembok berbentuk persegi empat yang terletak di atas bukit, tepat di seberang selatan Pulau Mandalika. Di dalam tembok hanya berupa lahan kosong yang ditumbuhi beberapa pohon yang sengaja dibiarkan untuk tempat berteduh pengunjung. Di area dalam sebelah utara terdapat satu bangunan yang juga digunakan sebagai temat berteduh pengunjung. Selain itu terdapat beberapa replika meriam yang ditempatkan di sisi utara dan timur benteng yang langsung berbatasan dengan laut lepas.
Di depan RS dr. Rehatta Donorojo, Jepara
Sepulang dari Benteng Portugis, kami sempat mampir di salah satu Rumah Sakit Umum Daerah dr. Rehatta saat ini adalah Rumah Sakit milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Pada awal berdirinya bernama Rumah Sakit Kusta Donorojo dengan direkturnya dr. H. Bervoets dibantu dr. Durachim.. Rumah Sakit Kusta Donorojo dibangun sekitar tahun 1916 oleh Pemerintah Hindia Belanda dan dikelola oleh misi Zending. Tujuan pembangunan Rumah Sakit Kusta Donorojo waktu itu adalah untuk pengobatan dan leposeri. Rumah Sakit Kusta Donorojo berlokasi di Desa Banyumanis, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara berdiri diatas lahan seluas 1.791.740 m2. Termasuk lahan di kampung rehabilitasi yang dihuni oleh 155 KK.
Unit rehabilitasi kusta di Donorojo, Jepara
Pada tahun 1950-an karena pihak Zending tidak mampu lagi membiayai operasional RS Kelet dan RS Donorojo maka pengelolaan kedua Rumah Sakit tersebut diserahkan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Sejak itu kedua RS tersebut menjadi Rumah Sakit Kusta dengan kunjungan dokter seminggu sekali dari RS Kusta Tugurejo Semarang. Sejak tahun 1999 mulai dirintis langkah-langkah menata ulang fungsi pelayanan di RS Kusta Donorojo untuk rehabilitasi kusta. Harapannya Jawa Tengah bebas kusta, hilangnya Stigma dan Diskriminasi Kusta, serta dipermudah dalam mendapatkan obat bagi para penderita kusta.
Kusta atau lepra adalah penyakit infeksi bakteri kronis disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae yang menyerang jaringan kulit, saraf tepi, serta saluran pernapasan. Kusta atau lepra dapat ditandai dengan rasa lemah atau mati rasa di tungkai dan kaki, kemudian diikuti timbulnya lesi pada kulit yang berawarna pucat terang serta mati rasa.
Kusta memang dapat menyebar melalui percikan ludah atau dahak yang keluar saat batuk atau bersin namun penularan terjadi jika seseorang terkena percikan droplet dari penderita kusta secara terus-menerus dalam waktu yang lama. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri penyebab lepra tidak dapat menular ke orang lain dengan mudah. Selain itu, bakteri ini juga membutuhkan waktu lama untuk berkembang biak di dalam tubuh penderita. Seseorang tidak akan tertular kusta hanya karena bersalaman, duduk bersama, atau bahkan memeluk penderita.
Ayo Stop Stigma dan Diskriminasi Kusta ‘United for Dignity’! Ingat ! Kusta bisa dicegah dan diobati.
Sepulangnya dari Benteng Portugis, kami mampir ke Pertapaan Sonder atau Sonder Hermitage Park terdapat di Dukuh Sonder, yang berlokasi Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara. Pada abad XIV Nyai Langgeng atau sering dikenal dengan Ratu Kalinyamat berkuasa atas kerajaan yang berpusat di Kalinyamatan. Pada tahun 1549 suaminya yang bernama Sultan Hadirin terbunuh oleh Arya Penangsang pada suatu pertempuran.
Pertapaan Ratu Kalinyamat di Dukuh Sonder, Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, JeparaPertapaan Ratu Kalinyamat di Dukuh Sonder, Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, Jepara
Sepeninggal suaminya, Ratu Kalinyamat meninggalkan tahta kerajaan untuk berkelana menuntut keadilan, sampai akhirnya sampai di Dukuh Sonder Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo. Di tempat itu dia bertapa ‘topo wudo’ yaitu meninggalkan pakaian kebesaran kerajaan sampai dendamnya kepada Arya Penangsang terbalaskan. Ratu Kalinyamat yang dilukiskan sangat cantik bertapa hanya dengan berbalutkan rambutnya yang panjang terurai.
Pertapaan Ratu Kalinyamat di Dukuh Sonder, Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, Jepara
Ia memohon pertolongan kepada Tuhan agar diberikan kekuatan sehingga bisa membalas dendam atas kematian suaminya. Dia bersumpah ”ora pisan-pisan ingsun jengkar saka tapa ingsun yen durung iso kramas getihe lan kesed jambule Arya penangsang” (Ia tidak akan menghentikan laku tapanya jika belum bisa keramas dengan darah Aryo Penangsang). Akhirnya, Aryo Penangsang terbunuh dalam suatu pertempuran dengan Danang Sutawijaya, yang dikemudian hari menjadi Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram Islam di Pulau Jawa. Aryo Penangsang tewas secara mengenaskan dengan usus terburai oleh kerisnya sendiri. Situs peninggalan Aryo Penangsang di Jipang, Cepu sudah kami kunjungi sehari sebelumnya.
Pertapaan Ratu Kalinyamat yang berada di tengah pohon yang rimbun. Di depan masuk terdapat gapura dari batu bata kuno.
Laku tapa Ratu Kalinyamat dengan sumpahnya itu ditafsirkan oleh masyarakat desa Tulaan sebagai wujud kesetiaan, kecintaan, dan pengabdian sang ratu kepada suaminya. Ia dengan kesadaran dan keiikhlasannya yang tinggi bersedia meninggalkan gemerlapnya kehidupan istana demi membalas dendam atas kematian suaminya Ratu Kalinyamat bertapa sangat lama sampai-sampai rambutnya dikubur di tempat itu. Kami sampai di petilasan yang berada di tengah pohon yang rimbun, saat hujan gerimis tidak berhenti, sehingga hanya sekejap berdiri di depan pintu masuk yang dilengkapi dengan gapura dari batu bata kuno.
Selanjutnya kami pulang untuk makan siang di depan Pasar Mlonggo, Jepara
(bersambung)
JEPARA ke JOGJA (sambungan terakhir)
Jumat, 2 Januari 2026 kami melanjutkan etape terakhir petualangan ke teritorial timur laut Jawa Tengah, dengan pulang dari Jepara ke Jogja.
Ternyata tidak ada misa kudus harian pagi di Gereja Stella Maris Paroki Jepara, karena hari tersebut adalah Jumat pertama, Jumat, 2 Januari 2026, ya kami hanya nampang saja
Melihat Klenteng Wang Fu atau Furianto Klenteng yang dibangun tahun 1881 di Pecinan Jepara. Diprakarsai oleh keluarga Giok Hwa yang menjadi tempat penyimpanan kitab Sam Ho Bio.
Mampir di Atmosfera coffee and eatery, di pusat kota Jepara untuk menemui sahabat lama
Bertemu sahabat lama, mas Edi mBako, teman sekelas di SMP Bruderan Purworejo, yang bisnis sembako dan tinggal di Jepara. Anak sulungnya pemilik atmosfera cofee and eatery.
Melihat alam indah di Pantai Blebak, Jepara, tetapi tidak naik jeep
Mampir sowan menemui bu Siwi Djanong dan cucu (sesama warga Yogyakarta) yang sedang berlibur di Sekuro Village Beach Resort, Blebak, Jepara
Kami pamit kepada Bapak Mulyono sekeluarga di Mlonggo Jepara, yang diiringi Lio (1 tahun), cucu yang menggemaskan
Setelah berpamitan dengan keluarga Bapak Mulyono (calon besan), kami segera menuju pemberhentian pertama perjalanan pulang ke Yogyakarta, yaitu Benteng VOC Japara (Fort Japara (XVI) atau Loji Gunung). Didirikan di Jepara pada 1618, karena kantornya di Gresik, Jawa Timur selalu mendapat gangguan terkait sistem monopoli VOC.
Bergaya di depan Benteng VOC Belanda Japara (Fort Japara (XVI) atau Loji Gunung), yang didirikan di Jepara pada 1618.
Kami mampir, melihat, dan mengagumi Benteng VOC Japara, juga dikenal sebagai Fort Japara (XVI) atau Loji Gunung, yang merupakan sebuah benteng peninggalan VOC Belanda di Jepara, Jawa Tengah. Gerbang benteng ini didirikan di Jepara pada 1613, karena kantornya yang ada di Gresik, Jawa Timur selalu mendapat gangguan dari para pedagang Islam madura dan Jawa Timur yang menentang sistem monopoli VOC.
Ketika pemberontakan Pangeran Trunajaya meletus, Letnan Martinus van Ingen memimpin 100 orang prajurit infanteri di Benteng VOC Jepara. Dibantu Ngabehi Wangsadipa, Bupati Jepara saat itu, dan menang melawan Pasukan Trunajaya. Oleh sebab itu Benteng Jepara tetap digunakan oleh VOC Belanda, sebagai konsesi yang diberikan Amangkurat II.
Pada 1615, Sultan Agung dari Mataram memberikan izin kepada VOC untuk mendirikan loji sebagai kantor pewakilan dagang di Jepara. Loji itu selesai dibangun pada tahun 1618. Ketika Pemberontakan Trunajaya meletus, Letnan VOC Martinus van Ingen membuat peta daerah Jepara dan merencanakan penempatan 100 infanteri di Benteng VOC Jepara. Pemimpin Jepara saat itu, Ngabehi Wangsadipa, memberi VOC berupa lima pucuk meriam yang salah satunya dipasang di benteng itu. Pasukan Trunajaya berkali-kali menyerang benteng Jepara, tetapi selalu berakhir gagal. Benteng Jepara tetap digunakan oleh VOC Belanda sebagai konsesi dalam bentuk sewa yang diberikan Amangkurat II kepada VOC, atas usahanya dalam menumpas Pemberontakan Trunajaya.
Benteng ini menjadi pusat perdagangannya VOC di pantai utara Jawa, tetapi kemudian ditinggalkan perlahan pada 1697, ketika Semarang mulai menggantikan fungsi Jepara sebagai pusat perdangangan. Alasannya adalah karena pelabuhan Jepara mengalami pendangkalan yang disebabkan oleh sedimentasi lumpur yang dibawa oleh arus sungai dan binatang-binatang karang yang semakin berkembang. VOC juga mempertimbangkan keunggulan pelabuhan Semarang yang memiliki akses ke pedalaman Mataram di Surakarta. Pada 1707, VOC secara resmi memindahkan pusat kekuasaannya dari Jepara ke Semarang. Hal itu didasarkan pada perjanjian tanggal 31 Oktober 1707 antara VOC dengan Pakubuwana I selaku raja Kesultanan Mataram di Surakarta.
Diselingi mampir di rumah mas dr. Isdiyanto, MHum dan menyantap menu kodok swike di Demak, ditraktir drg. Fx. Titik Purwaningsih.
Santap siang menu kodok swike di Demak, enak, hangat, pedas dan lezaat
Lanjut kami menyusuri jalan Pantura yang sering tergenang banjir rob, dari Demak ke Semarang. Setelah melalui tahapan hujan lebat sepanjang tol Trans Jawa dan keluar di GT Boyolali, kami segera menuju ke Pesanggrahan Pracimoharjo yang terletak di Desa Paras, Kecamatan Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah.
Gerbang Pesanggrahan Pracimoharjo yang terletak di Desa Paras, Kecamatan Cepogo, Boyolali, yang gagah menjulang
Pesanggrahan Pracimoharjo yang menjulang, artistik dan selesai dipugar
Pesanggrahan Pracimoharjo merupakan salah satu peninggalan bersejarah Kerajaan Mataram yang berdiri sejak era Pakubuwono IV pada 1803–1804. Lokasinya berada di lereng Gunung Merapi, sehingga sejak awal difungsikan sebagai tempat tetirah para raja, termasuk Pakubuwono VI yang kerap menikmati suasana perkebunan kopi di sekitarnya. Kesejukan dan keheningan menyatu menjadi satu di Pesanggarahan Pracimoharjo sehingga tempat ini cocok untuk merenung hingga mencari ketenangan.
Pesanggrahan Pracimoharjo didirikan pada masa pemerintahan Sinuhun Pakubuwono IV sekitar tahun 1803–1804.
Lereng Merapi dipilih sebagai lokasi karena ketenangan dan keindahan alamnya, menjadikannya tempat yang ideal untuk tetirah (beristirahat dan memulihkan diri). Pakubuwono VI kemudian melanjutkan tradisi tersebut. Sang Sunan kerap menggunakan pesanggrahan ini untuk menikmati keindahan perkebunan kopi di sekitarnya.
Selain itu, Pracimoharjo juga menjadi lokasi penting dalam sejarah Perang Jawa, karena PB VI beberapa kali bertemu Pangeran Diponegoro atau pasukannya di tempat ini untuk merumuskan strategi perlawanan kepada Belanda.
Bagian tengah Pesanggrahan Pracimoharjo yang terletak di Desa Paras, Kecamatan Cepogo, Boyolali.
Puncak kejayaan Pesanggrahan Pracimoharjo terjadi pada masa Sunan Pakubuwono X. Bangunan pesanggrahan sebelumnya masih sederhana. Baru pada masa PB X tempat ini dibangun ulang secara besar-besaran hingga menyerupai miniatur Keraton Kasunanan Surakarta.
Patung seukuran sebenarnya Raja terbesar Keraton Surakarta, Paku Buwono X
Petualangan penjelajahan darat (overland) pergantian tahun 2025 ke teritorial timur laut Jawa Tengah diakhiri dengan menikmati Tol Jogja-Solo Paket 1.1, ruas Kartasura-Klaten sejauh 22,3 km dan Ruas Klaten-Prambanan yang telah beroperasi pada 2 Juli 2025. Nyaman, tenang dan aman sampai di Yogyakarta. Ayo piknik !
Sampai bertemu dalam petualangan selanjutnya. Terimakasih
Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa menerapkan pembatalan pengenaan cukai Minuman Berpemanis Dalam Kemasan (MBDK) yang rencananya akan diterapkan pada awal 2026. Apa yang mencemaskan?
Tulisan ini dimuat di Harian Nasional Kompas digital Jumat, 12 Desember 2025
Survei Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik (Susenas BPS) tahun 2021 menemukan ada 47,9 juta penduduk Indonesia mengonsumsi gula berlebih, dengan memilih 37 jenis makanan dan minuman berpemanis dari total 188 jenis bahan makanan dan makanan minuman jadi yang tersedia di Susenas. Hampir semua orang Indonesia menyukai konsumsi gula dalam berbagai makanan dan minuman, bahkan gula telah menjadi candu bagi orang Indonesia
Untuk pertama kalinya pada Selasa, 13 Desember 2022 WHO merekomendasikan pajak atau cukai global untuk MBDK, karena cukai MBDK, tembakau, dan alkohol telah terbukti sebagai cara yang hemat biaya untuk mencegah penyakit, cedera, dan kematian dini. Cukai MBDK juga dapat mendorong perusahaan minuman kemasan untuk memformulasi ulang produknya, dengan mengurangi kadar gula. Konsumsi MBDK secara teratur, termasuk minuman ringan, susu beraroma, minuman berenergi, air vitamin, jus buah, dan es teh manis, dikaitkan dengan peningkatan risiko gigi berlubang, diabetes tipe 2, penambahan berat badan dan obesitas pada anak, dan kelak lebih mudah mengalami penyakit jantung, stroke dan kanker saat dewasa muda.
Bukti menunjukkan bahwa menerapkan cukai MBDK akan meningkatkan harga produk dan mengurangi permintaan, sehingga mengurangi pembelian. Satu kali kenaikan cukai MBDK global yang menaikkan harga 50% dapat menghasilkan pendapatan tambahan sebesar US$1,4 triliun selama 50 tahun. Jajak pendapat Gallup juga menemukan bahwa mayoritas orang di seluruh Amerika Serikat, Tanzania, Yordania, India, dan Kolombia mendukung cukai MBDK, alkohol, dan tembakau.
Obesitas dan penyakit tidak menular terkait diet terus meningkat secara global, sehingga diperlukan tindakan yang efektif untuk mengatasi faktor penyebabnya. Di antara pilihan kebijakan berbasis bukti yang tersedia, pilihan yang lebih sehat dengan pola makan yang lebih baik, adalah penerapan cukai MBDK.
WHO telah meluncurkan rancangan pedoman tentang kebijakan fiskal untuk mempromosikan diet sehat. Selain itu, juga memberikan rekomendasi tentang cukai MBDK dan subsidi pangan, dengan tujuan utama untuk mengubah perilaku konsumen dalam membeli produk makanan dan minuman.
Andreyeva pada JAMA (2022) membuat laporan berjudul : ‘Evaluation of Economic and Health Outcomes Associated With Food Taxes and Subsidies’. Temuan sistematis terhadap 54 penelitian dan meta-analisis dari 15 penelitian melaporkan bahwa subsidi buah dan sayuran dikaitkan dengan peningkatan penjualan buah dan sayuran, dengan elastisitas harga −0,59. Sedangkan perubahan pola konsumsi secara statistik tidak signifikan. Selain itu, cukai makanan dikaitkan dengan harga yang lebih tinggi dan penurunan penjualan produk, meski bukti tentang hasil lain dari cukai makanan dan subsidi masih terbatas. Penelitian tambahan diperlukan untuk memastikan implikasi dari kebijakan tersebut untuk hasil konsumsi, diet, dan kesehatan.
Andreyeva pada JAMA (2022) membuat laporan lain yang berjudurl : ‘Outcomes Following Taxation of Sugar-Sweetened Beverages. A Systematic Review and Meta-Analysis’. Temuan dalam tinjauan sistematis dari 86 penelitian dan meta-analisis dari 62 penelitian, penerapan cukai MBDK dikaitkan dengan harga minuman 82% lebih tinggi dan penjualan MBDK 15% lebih rendah, dengan elastisitas harga permintaan dari −1,59. Tidak ada perubahan negatif yang ditemukan, sehingga cukai MBDK dapat berfungsi untuk mengurangi permintaan MBDK melalui harga yang lebih tinggi. Namun demikian, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami hubungannya dengan hasil akhir proses perubahan diet, derajat kesehatan dan heterogenitas tanggapan dari konsumen.
Cukai MBDK diusulkan sebagai alat kebijakan untuk mengatasi peningkatan prevalensi pola makan yang buruk, obesitas, dan beban biaya ekonomi dan sosial. Penyakit tidak menular (PTM) menyebabkan 71% kematian secara global, diperkirakan 40% kasus dikaitkan dengan faktor makanan yang tidak sehat. Kekhawatiran tentang PTM terkait diet semakin meningkat, karena hubungannya dengan derajat klinis yang lebih parah saat terpapar COVID-19, termasuk rawat inap di RS dan kematian.
Saat ini, setidaknya 85 negara telah menerapkan cukai MBDK, bahkan berapa negara telah berhasil menerapkan cukai tersebut dengan baik, yaitu Meksiko, Afrika Selatan, dan Inggris. Cukai MBDK dapat menjadi strategi jalan tengah (win-win) kemenangan untuk kesehatan masyarakat dan menurunkan biaya perawatan kesehatan, kemenangan untuk pendapatan pemerintah, dan kemenangan untuk ekuitas kesehatan.
Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat setidaknya 61,27% penduduk Indonesia usia tiga tahun ke atas mengonsumsi MBDK lebih dari 1 kali per hari. Juga 30,22% orang mengonsumsi MBDK sebanyak 1-6 kali per minggu dan 8,51% orang mengonsumsi MBDK kurang dari 3 kali per bulan. Pada hal rekomendasi konsumsi maksimum gula sebanyak 50 gram per hari atau empat sendok makan.
Kebijakan cukai di Indonesia sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 39 Tahun 2007 Tentang Cukai MBDK, untuk untuk mencegah penyakit, cedera, dan kematian dini pada anak di sekitar kita. Mengapa cukai MBDK masih juga belum diterapkan pada tahun 2026?
Sekian
Yogyakarta, 9 Desember 2025
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM.
Tema tahun 2025 ini “Awal yang sehat, masa depan yang penuh harapan”, untuk mengingatkan kita bahwa setiap bayi berhak mendapatkan kesempatan hidup yang adil, dimulai dari hari pertama mereka. Berikan bayi prematur awal yang sehat untuk masa depan yang penuh harapan. Apa yang harus kita lakukan?
Tulisan ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 8 Desember 2025, halaman 8, kolom HUSADA dengan judul : Perawatan berkualitas bagi bayi prematur.
Awal yang kuat bukan hanya tentang bayi yang bertahan hidup, tetapi ini juga tentang janji profesi dokter dalam menghormati setiap kehidupan. Jadi ini tentang jaminan bagi bayi kecil agar tidak hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk berkembang dan suatu hari nanti, mengubah dunia. Kegagalan memberikan perawatan khusus yang dibutuhkan bayi mungil ini berarti hilangnya potensi besar di kemudian hari. Beberapa tokoh terhebat dalam sejarah dunia lahir terlalu dini. Bayi prematur yang terkenal antara lain Albert Einstein, Isaac Newton, Charles Darwin, dan Pablo Picasso.
Kampanye ini memiliki beberapa seruan utama untuk bertindak bagi semua negara yaitu pertama, berinvestasi dalam perawatan khusus untuk bayi baru lahir kecil dan sakit, termasuk unit neonatal, staf terlatih, ruang khusus, dan peralatan kesehatan penyelamat jiwa. Kedua, memperkuat layanan kesehatan ibu untuk mencegah kelahiran prematur dan mendeteksi masalah kesehatan sejak dini. Ketiga, mendukung keluarga dengan sumber daya emosional, finansial, dan praktis untuk merawat bayi mungil mereka. Dan keempat, memastikan kesetaraan sehingga kelangsungan hidup tidak bergantung pada lokasi geografis atau pendapatan, tetapi memberikan setiap bayi prematur, sejak usia sangat muda, kesempatan terbaik untuk masa depan yang cemerlang.
Sekitar 1 dari 10 bayi di seluruh dunia lahir prematur, yaitu lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu. Tanpa perawatan yang efektif, mereka berisiko tinggi mengalami kondisi kesehatan yang mengancam jiwa seperti gangguan pernapasan, infeksi, dan hipotermia, yang secara keseluruhan menyebabkan ratusan ribu kematian yang sebenarnya dapat dicegah setiap tahun. Untuk itu, mulai tahun 2025 WHO secara resmi menambahkan Hari Prematuritas Dunia setiap 15 November ke dalam kalender kesehatan internasional. Tujuan utamanya adalah meningkatkan kesadaran akan dampak kelahiran prematur dan mengupayakan perawatan berkualitas bagi setiap bayi prematur.
Saat WHO mengkampanyekan Hari Prematuritas Dunia untuk pertama kalinya pada 2008, ditandai dengan peluncuran panduan Perawatan Metode Kanguru (PMK). PMK ini adalah sebuah intervensi medis sederhana dan telah terbukti mampu menyelamatkan jiwa bayi prematur, sehingga selalu dikampanyekan ulang setiap tahun.
Setiap tahun secara global diperkirakan 15 juta bayi lahir prematur dan komplikasi akibat kelahiran prematur merupakan penyebab utama kematian pada anak balita. Di negara miskin, sebagian besar bayi prematur ekstrem meninggal dalam beberapa hari, sementara di banyak negara berpenghasilan tinggi, hampir semuanya bertahan hidup. PMK, yang menggabungkan kontak kulit ke kulit dengan pemberian ASI eksklusif, telah terbukti secara dramatis meningkatkan hasil klinis untuk bayi baru lahir kecil dan prematur, serta layak dan hemat biaya di semua situasi. PMK berhubungan dengan penurunan lebih dari 30% angka kematian bayi baru lahir, penurunan hampir 70% angka hipotermia, penurunan 15% angka infeksi berat, peningkatan berat badan bayi dan kesehatan jangka panjang, serta perkembangan kognitif yang lebih baik.
Meskipun ibu biasanya menjadi penolong utama, ayah, nenek dan anggota keluarga lainnya juga dapat malakukan PMK saat ibu tidak mampu, sekaligus memberikan dukungan emosional dan praktis yang krusial. PMK dapat dipraktikkan di semua tingkat fasilitas kesehatan, mulai dari ruang bersalin atau ruang operasi hingga bangsal pascanatal dan unit perawatan bayi baru lahir khusus atau intensif, dan dapat dilanjutkan di rumah.
Semua bayi baru lahir kecil dan sakit membutuhkan perawatan dan perhatian medis yang berdedikasi. WHO mengimbau pemerintah, sistem kesehatan, dan mitra untuk memprioritaskan perawatan berkualitas bagi bayi prematur dan bayi berat lahir rendah. Ini berarti memastikan bangsal atau fasilitas khusus dengan staf neonatal terlatih, yang menyediakan perawatan 24 jam bagi bayi baru lahir kecil dan sakit, serta akses terhadap alat kesehatan dan obat penting seperti antibiotik.
Karena waktu mereka di dalam rahim lebih singkat, banyak bayi prematur memiliki paru-paru, otak, sistem kekebalan tubuh, dan kapasitas pengaturan suhu yang belum berkembang. Hal ini meningkatkan risiko infeksi, hipotermia, masalah jantung, gangguan pernapasan, dan komplikasi lain yang mengancam jiwa.
“Tidak boleh lagi ada bayi baru lahir yang meninggal, karena penyebab yang dapat dicegah,” kata Dr. Per Ashorn, Kepala Unit Kesehatan dan Perkembangan Bayi Baru Lahir dan Anak WHO. Sudah saatnya kita semua memastikan setiap bayi prematur mendapatkan layanan medis yang mereka butuhkan, dengan berinvestasi dalam perawatan khusus untuk bayi kecil atau sakit, di samping layanan kebidanan yang dapat mencegah kejadian kelahiran prematur. Selain itu, juga mengingatkan pentingnya PMK untuk setiap bayi prematur, sebagai awal yang kuat agar bayi bertahan hidup, sesuai janji profesi dokter dalam menghormati setiap kehidupan.
Apakah kita sudah melakukannya?
Sekian Yogyakarta, 25 November 2025 *) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM.
Perubahan iklim telah memicu darurat kesehatan global, dengan lebih dari 540.000 orang meninggal akibat panas ekstrem setiap tahun dan 1 dari 12 rumah sakit di seluruh dunia berisiko mengalami penutupan terkait perubahan iklim. Apa yang mencemaskan?
Data tersebut terdapat pada laporan bersama yang disusun oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Pemerintah Brasil (Presidensi COP30), dan Kementerian Kesehatan Brasil. COP30 (Konferensi Para Pihak ke-30) adalah bagian dari Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), yang diadakan di Belém, Brasil, pada 10-21 November 2025.
“Krisis iklim adalah krisis kesehatan, bukan di masa depan yang jauh, tetapi di sini dan saat ini,” ujar Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO. Laporan tersebut menampilkan bukti tentang dampak perubahan iklim terhadap individu dan sistem kesehatan, serta contoh nyata tentang apa yang dapat dilakukan, dan sedang dilakukan, oleh berbagai negara untuk melindungi kesehatan dan memperkuat sistem kesehatan.
Dengan suhu global yang kini melebihi 1,5°C di atas tingkat pra-industri, dunia telah mengalami dampak kesehatan yang semakin meningkat. Sekitar 3,3 hingga 3,6 miliar orang telah tinggal di daerah yang sangat rentan terhadap perubahan iklim, dan rumah sakit menghadapi risiko kerusakan akibat dampak cuaca ekstrem 41% lebih tinggi dibandingkan tahun 1990. Hal ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk memperkuat dan mengadaptasi sistem kesehatan guna melindungi masyarakat dari guncangan terkait iklim.
Tanpa dekarbonisasi yang cepat, jumlah RS yang berisiko dapat berlipat ganda pada pertengahan abad ini, yang menekankan pentingnya penerapan langkah-langkah adaptasi untuk melindungi infrastruktur kesehatan. Sektor kesehatan sendiri menyumbang sekitar 5% emisi gas rumah kaca global dan membutuhkan transisi cepat ke sistem rendah karbon dan berketahanan iklim. Hanya ada 54% rencana adaptasi kesehatan nasional berbagai negara yang terkait dengan risiko perubahan iklim terhadap RS, dan kurang dari 30% penelitian tentang adaptasi RS yang berfokus pada pendapatan, 20% mempertimbangkan gender, dan kurang dari 1% melibatkan penyandang disabilitas.
“Buktinya jelas: melindungi sistem kesehatan adalah salah satu investasi paling cerdas yang dapat dilakukan oleh negara manapun,” kata Profesor Nick Watts, Ketua Kelompok Penasihat Ahli dan Direktur, Pusat Kedokteran Berkelanjutan NUS. Mengalokasikan hanya 7% dari pendanaan adaptasi untuk kesehatan akan melindungi miliaran orang dan menjaga layanan penting di RS tetap beroperasi, selama guncangan iklim dan ketika pasien sangat membutuhkannya.
Ada kemajuan yang sedang dicapai antara tahun 2015 dan 2023, jumlah negara dengan Sistem Peringatan Dini Multi-Bahaya nasional meningkat dua kali lipat menjadi 101, yang kini mencakup sekitar dua pertiga populasi global. Namun, hanya 46% Negara Terbelakang dan 39% Negara Berkembang Kepulauan Kecil yang memiliki sistem tersebut yang efektif.
Kini terdapat lebih dari cukup bukti untuk meningkatkan tindakan, hari ini juga. Intervensi yang hemat biaya dan berdampak tinggi telah tersedia untuk setiap komponen dalam Rencana Aksi Kesehatan Belém Brasil. Namun demikian, strategi adaptasi pada akhirnya dapat gagal, kecuali jika strategi tersebut mengatasi akar penyebab kesenjangan derajat kesehatan, baik di dalam sistem kesehatan maupun di seluruh masyarakat.
Rencana Aksi Kesehatan Belém Brasil menyerukan kepada setiap pemerintah untuk pertama, mengintegrasikan tujuan pembangunan bidang kesehatan ke dalam Rencana Adaptasi Nasional. Kedua, memanfaatkan penghematan finansial dari dekarbonisasi untuk mendanai adaptasi kesehatan. Ketiga, berinvestasi dalam infrastruktur yang tangguh, dengan memprioritaskan RS dan layanan esensial. Dan keempat, memberdayakan masyarakat untuk membentuk respons yang memadai.
Pemerintah Brasil juga merilis laporan pendamping, yang menyoroti bahwa perubahan iklim menimbulkan risiko besar terhadap kesehatan manusia, terutama bagi populasi yang rentan dan terpinggirkan secara historis. Selain itu, adaptasi yang efektif memerlukan keterlibatan aktif masyarakat dalam merancang, menerapkan, dan memantau kebijakan kesehatan.
“Dengan merilis laporan ini, Brasil dan WHO menegaskan kembali pentingnya COP30 sebagai COP Kebenaran. Laporan ini memberikan data dan bukti yang jelas bahwa perubahan iklim telah berdampak langsung pada sistem kesehatan di seluruh dunia,” ujar Dr. Alexandre Padilha, Menteri Kesehatan Brasil. Tragedi baru-baru ini menunjukkan bahwa sekaranglah saatnya untuk menerapkan kebijakan dan tindakan yang mengatasi dampak perubahan iklim terhadap kesehatan.
Rencana Aksi Kesehatan Belém, Brasil menguraikan tiga lini aksi untuk sistem kesehatan yang tangguh terhadap perunahan iklim. Pertama, surveilans dan pemantauan, yang berfokus pada penguatan surveilans kesehatan terpadu dan berbasis iklim. Kedua, kebijakan, strategi, dan pengembangan kapasitas berbasis bukti, yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan sistem nasional dan lokal, dalam menerapkan solusi yang efektif dan berbasis kesetaraan. Dan ketiga, inovasi, produksi, dan kesehatan digital, yang mendorong penelitian, pengembangan, dan akses terhadap teknologi yang memenuhi kebutuhan kesehatan, untuk beragam populasi.
Sudahkah kita bertindak bijak?
Sekian
Yogyakarta, 19 November 2025
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161