Categories
dokter Jalan-jalan Malaria tuberkulosis

2018 Selamat Jalan Suster Dokter

Selamat jalan Suster Dokter

fx. wikan indrarto*)

Berita bahwa Sr. Dr Conchita Cruz, SpSS (83 tahun) meninggal dunia pada hari Kamis, 22 Maret 2018, pukul 16.10 di RSUP Sanglah Denpasar, Bali tersiar sangat cepat ke segenap pihak. Sosok yang sering kita sapa dengan sebutan Suster Dokter, karena sebagai seorang biarawati dalam konggregasi suster Abdi Roh Kudus (SpSS), juga seorang dokter medis tamatan Universitas Santo Thomas Manila, karena beliau sebelumnya adalah warga negara Filipina. Beliau adalah pribadi yang luar biasa dan panutan bagi kita semua, rasanya telah beristirahat dengan kekal bersama Bapa Yang Maha Baik di surga.

Pertemuan kami pertama kali dengan Suster Dokter terjadi pada hari Rabu, 24 Februari 1992 di sebuah siang yang terik. Kami diantar oleh Om Petu (maaf, saya lupa nama lengkapnya), seorang pegawai di kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, NTT yang menemani kami, sebagai seorang dokter baru CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) di lingkungan Departemen Kesehatan RI. Sesuai keputusan Dr. Lada (Kepala Kantor Wilayah Departemen Kesehatan NTT), kami ditempatkan sebagai dokter pemerintah yang diperbantukan di RS St. Elisabeth Lela, sekitar 24 km di selatan Maumere, ibukota Kabuaten Sikka, di Pulau Flores.

Sambutan yang meriah dengan kedua tangan terbuka, senyum lebar dan teriakan kegembiraan, menyambut kami dan memanggil kami sebagai dokter Fransiscus. Maklum saja, semua orang di Flores dengan nama permandian Katolik Santo Fransiscus Xaverius seperti kami, ataupun Santo Fransiscus yang lain, pasti akan disapa dengan panggilan Fransiscus, Frans, atau Franky. Beliau mengungkapkan kegembiraannya, karena direksi RS memohon bantuan tenaga dokter keada pemerintah sudah sejak lama, tetapi belum dapat dikabulkan, dengan alasan tenaga dokter pemerintah masih diperlukan di fasilitas kesehatan milik pemerintah.

Sejak siang itu, kami digembleng sebagai dokter klinisi di RS, sebuah profesi yang kami ragukan sendiri akan berhasil, terkait kompetensi diri yang sangat terbatas. Kami mendapatkan bimbingan langsung oleh Suster Dokter, baik dalam tatalaksana penyakit non bedah, tindakan operatif, maupun pengaturan jadwal jaga dokter, karena di RS tersebut juga sudah ada Dr. Kartono. Dalam ketiga bidang tersebut kami memiliki pengalaman sangat mengesankan tentang pribadi Suster Dokter.

Pada tatalaksana penyakit pasien yang bersifat non bedah, Suster Dokter membimbing kami dalam mengenali pasien TBC aktif, kusta, malaria, diare akut dan resusitasi bayi baru lahir. Semuanya memiliki karakter penyakit yang khusus, sehingga saat pasien masih berdiri di depan pintu ruang praktek saja, Suster Dokter sudah dapat menyusun diagnosis kerja yang sangat jarang meleset, dibandingkan dengan diagnosis akhirnya. Tidak hanya terkait diagnosis penyakit itu saja, tetapi juga menyangkut harapan kesembuhan (prognosis) dan kemungkinan kekambuhan (relaps), yang juga relatif tepat.

Pada bidang tindakan operatif, kami dilibatkan, dimbimbing dan akhirnya dilepaskan untuk melakukan berbagai jenis operasi, dari yang bersifat ringan, menengah dan besar. Operasi ringan pertama adalah pengambilan kuku (nail extraction) sampai benjolan lemak (lipoma exicion) di wajah. Operasi sedang pertama adalah pengambilan usus buntu sederhana (simple appendintomy) sampai koreksi ketedun pada pasien lansia (hernioraphy). Operasi besar pertama adalah sesar terencana (elective caesar) sampai pembukaan perut dan penyambungan usus (laparotomy with end to end anastomosis).

Operasi yang paling mengesankan adalah penyambungan tulang paha (ORIF Femur), sesar darurat (emergency caesar), pengambilan kelenjar gondok dengan anastesi lokal (strumectomy), pengambilan kelenjar prostat (open prostatektomy), pengambilan batu ureter lewat perut (peritoneal uretherotomy), dan pembukaan anus bayi (correction of atresia ani lower side). Semua tindakan operasi tersebut dilakukan oleh Suster Dokter dengan sangat terampil, baik sebagai dokter umum yang setiap 8 bulan mengikuti kursus di Jerman dan Belgia, maupun sebagai mentor bagi kami. Tentu saja, mengajarkan teknis operasi kepada seorang dokter umum yunior seperti kami, pasti memerlukan ketrampilan, semangat dan kesabaran ekstra besar, yang ternyata dimiliki oleh Suster Dokter dengan hampir sempurna. Bukti keberhasilan proses mentoring untuk kami, adalah saat kami sendiri mampu mandiri untuk melakukan hampir semua teknik oparasi yang diajarkan, selain strumectomy dengan anestesi lokal.

Pada aspek manajemen RS, termasuk pengaturan jadwal jaga dokter, Suster Dokter mengajari kami secara bertahap. Aspek pengaturan asuransi pasien, pengelolaan perbekalan obat dan alkes, juga kaderisasi tenaga perawat terampil sesuai unit kerja, semuanya diajarkan dan didiskusikan bersama. Suster Dokter selalu mengijinkan kami untuk pesiar, sebuah istilah untuk menggambarkan aktivitas jalan-jalan pergi ke kota, pada setiap hari libur dan tanggal merah, meskipun kami terjadwal dinas jaga, asalkan Suster Dokter tidak ada tugas keluar RS. Bahkan Suster Dokter cukup sering memintakan ijin bagi kami untuk meminjam mobil dinas RS sebagai sarana jalan-jalan, setelah kami memiliki satu anak.

Yudhistira Yasanusaraharja Indrarto, anak sulung kami yang lahir pada hari Kamis, 22 Januari 1993 di RS St Elisabeth Lela, Maumere dan kami tolong sendiri, diberikan nama permandian Erwin, oleh Suster Dokter. Beliau menyatakan sangat menyesal, karena waktu kelahiran anak kami tiba, beliau sedang bertugas sebagai pejabat biara di Seminari Hokeng, Flores Timur. Rasa sayangnya kepada Yudhi, panggilan anak sulung kami, ditunjukkan dengan banyak hal, termasuk kehendaknya agar Yudhi memanggilnya dengan sebutan Nenek Suster. Kedekatan Yudhi dengan Nenek Suster terakhir terlihat, saat kami sekeluarga bernostalgia ke Flores yang cantik dan menginap di Biara Suster SpSS Ende pada hari Sabtu, 26 Juni 2010. Keduanya terlibat teriakan hebat pada dini hari, saat menonton bersama (nobar) siaran langsung di TV, putaran kedua Final Sepak Bola FIFA Piala Dunia 2010.

Kontak kami terakhir adalah melalui email dengan Suster Dokter, setelah kami bertemu dan berkenalan dengan Sr. Maria Caridad, SSpS, di kapel Pink Sister dan Rumah Retret dan Pusat Pelayanan Konggregasi Roh Kudus (SpSS) di Tagaytay City, sekitar 60 km dari ibukota Filipina, Manila, pada Rabu sore 11 Januari 2012. Selain itu, juga saat kami mampir di Del Pilar Academy di Kota Imus, tidak jauh dari Tagatay City dan mencari Mrs. Tessie Cruz, seorang ipar Sr. Dr. Conchita Cruz, SpSS, yang bekerja di bagian administrasi sekolah tersebut.

Pada saat Suster Dokter menghadap Sang Pencipta, Yudhi sedang menjalankan tugas sebagai dokter baru dalam Program Internship Dokter Indonesia (PIDI) di RS Bhayangkara Polda NTT di Kupang. Selain itu, kami juga sedang mengikuti ‘The 16th Annual World Congress on Pediatrics’, sebuah konggres dokter spesialis anak sedunia di Hilton New York JFK Airport Hotel, 5144-02 135th Avenue, Jamaica, New York 11436 USA. Namun demikian, kami sekeluarga dan kita semua tetap merasa sangat berduka cita secara mendalam, atas kepulangan yang abadi Suster Dokter. Tentu saja, kami sangat menyesal tidak dapat ikut melayat dan menghantarkannya pada pemberhentian terakhir di Biara Suster SpSS di Kewapante, sedikit di luar kota Maumere, Flores NTT.

Marilah kita kenangkan, semua jasa baik Suster Dokter bagi kami pribadi, sekeluarga, maupun kita semua, dengan permohonan agar arwahnya dapat beristirahat dengan tenang, damai, dan kekal di rumah Bapa Sang Pencipta. Selamat jalan Sr. Dr Conchita Cruz, SpSS. Terimakasih atas semua jasa baik Suster Dokter yang telah kami rasakan dan mohon maaf atas kesalahan yang telah kami lakukan waktu itu.

Sekian

Ditulis dalam laju Train 93 milik Amtrax dari Pennsylvania Station di New York, menuju Union Station di Washington, DC di USA pada hari Kamis, 22 Maret 2018 pk. 14.10

*) dokter umum di RS St. Elisabeth Lela, Maumere, Flores, NTT 1992-1995.

Categories
anak antibiotika COVID-19 dokter Healthy Life Malaria resisten obat UHC vaksinasi

2022 Pencegahan Malaria

Kemenkes Imbau Waspadai Malaria di Tengah Pandemi Covid-19 -

PENCEGAHAN  MALARIA  TERBARU

fx. wikan indrarto*)

Jumat, 3 Juni 2022 diterbitkan rekomendasi WHO yang telah diperbarui untuk pencegahan atau kemoprevensi malaria pada anak dan ibu hamil. Terdapat 3 rekomendasi pencegahan (kemoprevensi) malaria utama, yaitu musiman, perenial pada bayi dan intermiten pada kehamilan. Apa yang baru?

.

Kemoterapi preventif adalah penggunaan obat, baik tunggal atau dalam kombinasi, untuk mencegah infeksi malaria dan komplikasinya. Pemberian obat antimalaria ditujukan untuk populasi yang rentan, yaitu bayi, anak balita dan ibu hamil, pada periode waktu dengan risiko terinfeksi malaria terbesar, terlepas dari status infeksinya. Kemoterapi preventif termasuk pengobatan pencegahan intermiten pada bayi, anak sekolah dan wanita hamil, kemoprevensi malaria musiman, kemoprevensi malaria pasca pulang dari daerah endemis dan pemberian obat massal.

.

Di beberapa daerah, malaria sangat musiman, dengan sebagian besar kasus terjadi dalam waktu singkat selama musim hujan. Kemoprevensi malaria musiman dirancang untuk melindungi anak dari infeksi yang ada dan mencegah infeksi malaria selama musim tersebut. Hal ini dicapai melalui pemberian obat antimalaria setiap bulan, biasanya kombinasi sulfadoksin pirimetamin plus amodiakuin (SP+AQ), selama musim hujan berlangsung.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/05/03/2019-vaksin-malaria/

.

Rekomendasi WHO yang diperbarui tentang kemoprevensi malaria musiman berbeda dari rekomendasi awal 2012 setidaknya dalam 2 hal yang signifikan, yaitu batas geografis dan dosis. Tidak ada lagi batasan geografis penggunaan hanya di subkawasan Sahel di Afrika. Sebelumnya tidak direkomendasikan kemoprevensi malaria musiman di luar Sahel, meski dengan penularan malaria musiman yang tinggi, seperti di Afrika bagian selatan, karena tingkat resistensi yang tinggi terhadap obat-obatan (SP dan AQ) di daerah tersebut. Rekomendasi yang diperbarui menyebutkan bahwa di bagian lain Afrika dengan variasi musiman yang tinggi dalam beban malaria, juga dapat memperoleh manfaat kemoprevensi malaria musiman, dan bahwa ketersediaan obat baru dapat menjadikannya intervensi yang layak.

.

Kemenkes Ingatkan Waspada Malaria di Tengah Pandemi Covid-19

Rekomendasi awal menyatakan bahwa maksimal 4 dosis obat kemoprevensi malaria musiman harus diberikan selama musim hujan dalam penularan malaria yang tinggi. Panduan yang diperbarui menyatakan bahwa kemoprevensi malaria musiman harus diberikan selama musim puncak penularan malaria, tanpa menentukan jumlah siklus bulanan yang spesifik. Sementara rekomendasi lama membatasi penggunaan untuk anak balita, rekomendasi baru merekomendasikan intervensi ini untuk semua anak dengan risiko tinggi malaria berat, yang dapat meluas ke anak yang lebih tua di beberapa lokasi.

.

Di beberapa negara lainnya, malaria adalah penyakit sepanjang tahun, dan penularannya stabil tinggi. WHO telah merekomendasikan penggunaan pengobatan pencegahan intermiten pada bayi, sekarang disebut kemoprevensi malaria perenial di beberapa negara ini sejak 2010. Rekomendasi yang diperbarui berbeda dari rekomendasi 2010 setidaknya dalam 2 hal penting, yaitu dosis sesuai usia dan interval pemberian. Rekomendasi awal menyatakan bahwa tiga dosis obat SP harus diberikan hanya pada bayi usia 2, 3 dan 9 bulan melalui program imunisasi rutin, bersamaan dengan dosis ke-2 dan ke-3 vaksin DPT/Penta dan campak. Rekomendasi baru menghapus spesifikasi ketat ini untuk jumlah dosis, serta usia di mana mereka harus diberikan. Ini juga memperluas kelompok usia target untuk memasukkan anak berusia lebih dari 1 tahun di tempat di mana beban penyakit parah tinggi.

.

Rekomendasi terbaru adalah pengobatan pencegahan malaria intermiten selama kehamilan. Infeksi malaria selama kehamilan menimbulkan risiko besar tidak hanya untuk ibu, tetapi juga untuk janin dan bayi yang baru lahir. Bukti yang tersedia terus menunjukkan bahwa pengobatan pencegahan intermiten selama kehamilan dengan SP adalah strategi yang aman dan sangat hemat biaya untuk mengurangi beban penyakit pada kehamilan, serta hasil kehamilan dan kelahiran yang merugikan.

.

Rekomendasi terbaru tentang kemoprevensi malaria selama kehamilan berbeda dari rekomendasi awal 2012 setidaknya dalam 2 hal penting, yaitu prosedur pemberian dan usia kehamilan. Rekomendasi yang diperbarui tidak membatasi prosedur pemberian SP pada ibu hamil hanya pada saat kontrol heamilan (ANC) saja, oleh karena ada ketidakadilan dalam akses ke layanan ANC, sehingga metode pemberian lainnya, seperti melalui kader kesehatan di masyarakat, dapat diijinkan. Di daerah endemis malaria, kemoprevensi malaria selama kehamilan sekarang direkomendasikan untuk semua wanita hamil, berapapun jumlah paritas atau kehamilannya. Sebelumnya, direkomendasikan hanya pada ibu dengan kehamilan pertama dan kedua saja.

.

Jumlah kasus malaria di Indonesia pada tahun 2021 sebesar 304.607 kasus, jumlah ini menurun jika dibandingkan jumlah kasus pada tahun 2009, yaitu sebesar 418.439. Angka kasus kesakitan malaria, yang dinyatakan dengan indikator Annual Paracite Incidence (API) sebesar 1,1 kasus per 1000 penduduk. Sampai dengan tahun 2021, sebanyak 347 dari 514 kabupaten/kota atau 68% sudah dinyatakan mencapai eliminasi.

.

Penggunaan panduan terbaru kemoprevensi malaria musiman, perenial pada bayi dan intermiten selama kehamilan menggunakan obat kombinasi sulfadoksin pirimetamin plus amodiakuin (SP+AQ) untuk pencegahan malaria seharusnya dilakukan tanpa kendor, termasuk di Indonesia.

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 18 Juni 2022

*) Dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
anak antibiotika COVID-19 dokter Healthy Life Malaria resisten obat tuberkulosis vaksinasi

2021 Waspada Resistensi Antimikroba

Program Pengendalian Resistensi Antimikroba (PPRA) – HISFARSI DIY

WASPADA   RESISTENSI  ANTIMIKROBA

fx. wikan indrarto*)

Ringkasan tulisan tersebut di atas dimuat di Kompas Digital Jumat, 26 November 2021 :

https://www.kompas.id/baca/opini/2021/11/26/waspada-resistensi-antimikroba

Pekan Kesadaran Antimikroba Sedunia diadakan pada 18-24 November setiap tahun. Tema 2021 adalah ‘Spread Awareness, Stop Resistance’ (Sebarkan Kewaspadaan, Hentikan Resistensi) untuk menyerukan kepada pemangku kepentingan, pembuat kebijakan, penyedia layanan kesehatan, dan masyarakat umum, untuk terlibat dalam kewaspadaan tentang Resistensi Antimikroba (AMR). Apa yang menarik?

.

Resistensi antimikroba (AMR) adalah ancaman kesehatan dan pembangunan global. Hal ini membutuhkan tindakan multisektoral yang mendesak untuk mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), karena AMR adalah salah satu dari 10 besar ancaman kesehatan masyarakat global yang dihadapi umat manusia. Antimikroba meliputi antibiotik, antivirus, antijamur, dan antiparasit, yaitu obat yang digunakan untuk mencegah dan mengobati infeksi pada manusia, hewan, dan tumbuhan.

.

Pada tahun 2019, indikator AMR baru dimasukkan dalam kerangka pemantauan SDG. Indikator ini memantau frekuensi infeksi darah atau sepsis, yang disebabkan karena dua patogen yang telah resistan terhadap obat tertentu, yaitu Staphylococcus aureus (MRSA) yang resistan terhadap methicillin dan E. coli resisten terhadap sefalosporin generasi ketiga (3GC). Pada tahun 2019, terdapat 25 negara memberikan data tentang infeksi aliran darah atau sepsis akibat MRSA dan 49 negara memberikan data tentang E. coli. Dengan demikian tingkat rata-rata MRSA adalah 12,11% dan 3GC adalah 36,0%.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/09/25/2021-libas-tifus/

.

Strain Mycobacterium tuberculosis penyebab TBC yang resisten terhadap antibiotik mengancam kemajuan dalam mengatasi epidemi tuberkulosis global. Pada tahun 2018, ada sekitar setengah juta kasus baru TB yang resistan terhadap rifampisin (RR-TB), obat TB paling poten saat ini dan sebagian besar menjadi TB yang resistan terhadap berbagai obat (MDR-TB), suatu bentuk tuberkulosis yang resisten terhadap dua obat anti-TB yang paling kuat. Pada hal, hanya sepertiga dari sekitar setengah juta orang MDR/RR-TB pada tahun 2018 yang terdeteksi dan dilaporkan. MDR-TB memerlukan paket pengobatan yang lebih lama, kurang efektif dan jauh lebih mahal dibandingkan dengan TB yang tidak resistan. Selain itu, hanya kurang dari 60% MDR/RR-TB yang berhasil disembuhkan. Pada tahun 2018, diperkirakan 3,4% kasus TB baru dan 18% dari kasus yang sebelumnya diobati berubah menjadi TB-MDR/RR-TB dan munculnya resistensi terhadap obat TB ‘pilihan terakhir’ baru benar-benar merupakan ancaman besar.

.

Hati-hati! Sebelum Terapi Antibiotik, Pahami Dulu Tentang Resistensi  Antibiotik

Resistensi obat antivirus semakin mencemaskan, karena telah terjadi pada sebagian besar antivirus, termasuk obat antiretroviral (ARV) untuk HIV. Semua ARV, termasuk kelas yang lebih baru, berisiko menjadi sebagian atau seluruhnya tidak aktif karena munculnya HIV yang resistan terhadap obat (HIVDR). Pedoman ARV WHO terbaru sekarang merekomendasikan obat baru, dolutegravir, sebagai pengobatan lini pertama untuk orang dewasa dan anak. Munculnya jenis parasit yang resistan terhadap obat merupakan salah satu ancaman terbesar terhadap pengendalian malaria dan mengakibatkan peningkatan morbiditas dan mortalitas malaria. Terapi kombinasi berbasis artemisinin (ACT) adalah pengobatan lini pertama yang direkomendasikan untuk malaria P. falciparum tanpa komplikasi, dan digunakan oleh sebagian besar negara endemik malaria. Prevalensi infeksi jamur yang resistan terhadap obat meningkat dan memperburuk situasi pengobatan yang sudah sulit. Banyak infeksi jamur memiliki masalah saat diobati seperti toksisitas, terutama untuk pasien dengan infeksi lain yang mendasarinya (misalnya HIV). Candida auris yang resistan terhadap obat, salah satu infeksi jamur invasif yang paling umum, sudah tersebar luas dengan meningkatnya resistensi yang dilaporkan terhadap flukonazol, amfoterisin B dan vorikonazol serta resistensi caspofungin yang muncul. Hal ini menyebabkan lebih sulit untuk mengobati infeksi jamur, kegagalan pengobatan, tinggal di rumah sakit lebih lama dan pilihan pengobatan yang jauh lebih mahal.

.

AMR merupakan masalah kompleks yang membutuhkan pendekatan multisektoral yang terpadu. Pendekatan ‘One Health’ menyatukan berbagai sektor dan pemangku kepentingan yang terlibat dalam kesehatan hewan, tumbuhan, dan manusia, baik yang hidup di darat dan air, juga produksi makanan, pakan hewan dan lingkungan. Diharapkan setiap negara akan mengembangkan rencana aksi nasional mereka sendiri, untuk mengatasi resistensi antibiotik sejalan dengan rencana global. Untuk mencapai tujuan ini, rencana aksi global menetapkan lima tujuan strategis: (1) meningkatkan kesadaran dan pemahaman tentang resistensi antibiotik; (2) memperkuat pengetahuan melalui surveilans dan penelitian; (3) mengurangi kejadian infeksi; (4) mengoptimalkan penggunaan obat antibiotik; dan (5) memastikan investasi berkelanjutan dalam melawan resistensi antibiotik.

.

Para dokter, apoteker dan petugas kesehatan lainnya dapat berperan dengan mencegah infeksi dengan memastikan tangan, instrumen medis dan lingkungan RS bersih, memberikan vaksinasi terbaru kepada pasien (up to date), ketika terjadi dugaan infeksi bakteri, melakukan kultur bakteri dan pemeriksaan penunjang medik lainnya untuk konfirmasi, hanya meresepkan dan mengeluarkan antibiotika ketika benar-benar dibutuhkan, pada dosis dan durasi pengobatan yang tepat. Para pejabat dan pembuat kebijakan kesehatan dapat bertindak dengan menyusun rencana aksi regional atau nasional yang kuat untuk mengatasi resistensi antibiotika, meningkatkan pengawasan infeksi bakteri yang telah resisten terhadap antibiotika, memperkuat langkah-langkah pencegahan dan pengendalian infeksi, juga mengatur dan mempromosikan penggunaan  obat antibiotika yang tepat dan berkualitas. Selain itu, juga membuat informasi tentang dampak resistensi antibiotika dan memberikan apresiasi atas pengembangan obat, vaksin serta alat diagnostik yang baru.

Resistensi Antibiotik, Kelak Infeksi Bakteri Pun Bisa Jadi Penyebab  Kematian Halaman 1 - Kompasiana.com
.

Para petugas sektor pertanian dapat bertindak dengan memberikan antibiotika pada hewan, hanya saat digunakan untuk mengobati penyakit menular dan di bawah pengawasan seorang dokter hewan, vaksinasi hewan untuk mengurangi kebutuhan antibiotika dan mengembangkan alternatif tindakan, selain penggunaan antibiotika pada tanaman yang terinfeksi. Selain itu, mempromosikan dan menerapkan praktek yang baik di semua tahap produksi ataupun pengolahan makanan dari sumber hewan dan tumbuhan, mengadopsi sistem yang berkelanjutan dengan meningkatkan kebersihan, biosecurity dan penanganan hewan bebas infeksi, melaksanakan standar internasional untuk penggunaan antibiotika yang bertanggung jawab, yang ditetapkan oleh OIE, FAO dan WHO. Para pelaku industri bidang kesehatan dapat membantu dengan berinvestasi untuk pengembangan antibiotika, vaksin, dan alat diagnostik baru.

.

Momentum Pekan Kewaspadaan Antibiotik Sedunia (World Antibiotic Awareness Week) pada 18–24 November 2021, mengingatkan kita semua bahwa ‘Spread Awareness, Stop Resistance’ (sebarkan Kewaspadaan, Hentikan Resistensi) tergantung pada niat dan usaha kita bersama.

Sudahkah kita menyadari?

Sekian

Yogyakarta, 16 November 2021

*) Dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
Healthy Life Malaria UHC vaksinasi

2021 Bebas Malaria

2018 MM Bebas Malaria – Berita Terbaru, Akurat & Terpercaya

BEBAS  MALARIA

fx. wikan indrarto*)

Kamis, 25 Februari 2021 El Salvador disertifikasi bebas malaria oleh WHO. El Salvador adalah negara ketiga yang telah mencapai status bebas malaria dalam beberapa tahun terakhir di Amerika, setelah Argentina pada 2019 dan Paraguay pada 2018. Tujuh negara di wilayah tersebut telah disertifikasi dari tahun 1962 hingga 1973. Secara global, terdapat total 38 negara dan wilayah telah mencapai pencapaian ini, dengan Indonesia ditargetkan akan mencapainya tahun 2030 kelak. Apa yang perlu dicontoh?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/04/24/2020-hari-malaria-sedunia/

.

Sertifikasi bebas malaria tersebut buah gemilang atas lebih dari 50 tahun komitmen pemerintah El Salvador dan masyarakatnya, untuk mengakhiri penyakit di negara dengan populasi padat dan geografi yang terbilang ramah terhadap malaria. “Malaria telah menyerang umat manusia selama ribuan tahun, tetapi negara-negara seperti El Salvador adalah bukti hidup dan inspirasi bagi semua negara yang berani memimpikan masa depan bebas malaria,” kata Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/05/03/2019-vaksin-malaria/

.

Sertifikasi eliminasi malaria diberikan oleh WHO ketika suatu negara telah membuktikan, tanpa keraguan, bahwa rantai penularan malaria pada penduduk lokal telah terputus secara nasional setidaknya selama tiga tahun berturut-turut. Dengan pengecualian satu wabah pada tahun 1996, El Salvador terus mengurangi beban malaria selama tiga dekade terakhir. Antara tahun 1990 dan 2010, jumlah kasus malaria menurun dari lebih dari 9.000 menjadi tinggal 26. Negara ini telah melaporkan nol kasus penyakit malaria indegenous atau asli sejak 2017.

.

Upaya anti-malaria El Salvador dimulai pada 1940-an dengan pengendalian mekanis vektor malaria, yaitu nyamuk anopheles, melalui pembangunan saluran air permanen pertama di rawa-rawa, diikuti dengan penyemprotan dalam ruangan dengan pestisida DDT. Pada pertengahan 1950-an, El Salvador membentuk Program Malaria Nasional dan merekrut jaringan petugas kesehatan komunitas untuk mendeteksi dan mengobati malaria di seluruh negeri. Para relawan, yang dikenal sebagai “Col Vol,” mencatat kasus dan intervensi malaria. Data tersebut, yang dimasukkan ke dalam sistem informasi kesehatan oleh personel pengendalian vektor, sehingga memungkinkan program pengendalian yang strategis dan bertarget jelas di seluruh negeri.

.

Bebas Malaria, Prestasi Bangsa – UPTD Puskesmas Wonogiri 1

Pada akhir 1960-an, kemajuan telah melambat karena nyamuk anopheles telah mengalami resistensi terhadap DDT. Ekspansi industri kapas di negara tersebut diperkirakan telah memicu peningkatan lebih lanjut kasus malaria. Sepanjang tahun 1970-an, terjadi lonjakan pekerja migran di perkebunan kapas di daerah pesisir dekat lokasi perkembangbiakan nyamuk, sehingga peningkatan kasus malaria sangat tajam, selain karena program penghentian penggunaan DDT. El Salvador mengalami kebangkitan kembali malaria, mencapai puncaknya hampir 96.000 kasus pada tahun 1980.

.

Dengan dukungan WHO, CDC, dan USAID, El Salvador berhasil mengubah orientasi program malaria, yang mengarah pada peningkatan sumber daya dan intervensi berdasarkan distribusi geografis kasus. Pemerintah juga mendesentralisasikan jaringan laboratorium diagnostiknya pada tahun 1987, sehingga kasus malaria dapat dideteksi dan ditangani dengan lebih cepat. Faktor tersebut yang terjadi bersamaan dengan runtuhnya industri kapas menyebabkan penurunan kasus yang cepat pada tahun 1980-an.

.

Reformasi kesehatan yang dimulai tahun 2009, yaitu mencakup peningkatan penting pada anggaran dan cakupan perawatan kesehatan primer, serta pemeliharaan program pengendalian vektor sebagai inti dalam intervensi malaria, telah berkontribusi pada keberhasilan El Salvador. Pemerintah El Salvador menyadari sejak awal bahwa pembiayaan domestik yang konsisten dan memadai akan sangat penting untuk mencapai dan mempertahankan tujuan pembangunan bidang kesehatan, termasuk untuk malaria. Komitmen ini telah tercermin selama lebih dari 50 tahun dalam anggaran nasional.

.

Meskipun melaporkan kematian terkait malaria terakhirnya pada tahun 1984, El Salvador telah mempertahankan besarnya investasi domestik untuk malaria. Pada tahun 2020, negara terus mengandalkan 276 orang petugas pengendalian vektor nyamuk, 247 buah laboratorium, perawat dan dokter yang terlibat dalam deteksi kasus, ahli epidemiologi, tim manajemen dan personel, dan lebih dari 3.000 petugas kesehatan masyarakat. Sebagai bagian dari komitmen El Salvador untuk mempertahankan nol kasus, penganggaran nasional untuk malaria telah dan akan terus dipertahankan, bahkan pada saat pandemi COVID-19 ini.

.

Lampung Masih Endemis Malaria, Kampanye Dinas Kesehatan Menuju Desa Bebas  Malaria Jangan Cuma Jargon | WARTA9.COM

Meskipun sebagian besar pembiayaan untuk malaria berasal dari sumber daya domestik, upaya eliminasi El Salvador mendapat manfaat dari hibah eksternal yang disediakan oleh Global Fund. Pembelajaran sertifikasi bebas malaria dari El Salvador dapat digunakan di Indonesia. Keseluruhan kasus malaria tahun 2019 di Indonesia masih sebanyak 250.644. Kasus tertinggi terjadi di Provinsi Papua sebanyak 216.380 kasus. Selanjutnya, disusul dengan Provinsi Nusa Tenggara Timur sebanyak 12.909 kasus dan Provinsi Papua Barat sebanyak 7.079 kasus.

Keberhasilan El Salvador merupakan upaya kolaboratif antara pemerintah, masyarakat sipil, akademisi, sektor swasta, dan komunitas untuk memberantas malaria tanpa kendor, bahkan pada saat pandemi COVID-19 ini.

Sudahkah kita mencontohnya?

Sekian

Yogyakarta, 5 Maret 2021

*) Dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
anak Healthy Life Jalan-jalan Malaria sekolah

2010 NOSTALGIA DI FLORES

NOSTALGIA  DI  FLORES

fx. wikan indrarto*)

Untuk merayakan rahmat Tuhan bagi keberhasilan sekolah anak-anak, kami merencanakan jalan-jalan (pesiar) untuk bernostalgia ke Pulau Flores. Di sanalah kami pernah bertugas dan mas Yudhi, anak kami yang sulung, dilahirkan. Kami berangkat dari Yogyakarta hari Rabu, 23 Juni 2010 pk. 16.05 wib dengan KA Ekskutif Sancaka dari Stasiun Tugu, Yogyakarta ke Surabaya. Sekitar pk. 21.15 wib di Stasiun Gubeng dekat Kali Mas di pusat kota Surabaya kami dijemput Dr. Daniel Ponco, SpB, dokter bedah di RS RKZ St. Vincent A. Paulo dan teman lama semasa SMA, lalu menginap di rumahnya. Rumah artistik 2 lantai di Palm Spring Regency C/99 Jambangan, Surabaya selatan, merupakan persinggahan pertama kami.

Saat kami tiba di Bandara Wai Oti Maumere

Dijamu makan siang di Maumere oleh Dr. Kristin

Kamis, 24 Juni 2010 pk. 09.15 kami melanjutkan perjalanan dengan pesawat Boeing 737 versi 200 Batavia Air ke Maumere, melalui Bandara Internasional Juanda yang baru dan megah. Setelah lelah dalam antrian panjang karena petugas ‘check in’ hanya seorang, kami harus singgah sebentar (transit) di Bandara Internasional Ngurah Rai di Denpasar dan Bandara El Tari di Kupang. Pada pk. 13.15 WITA kami mendarat dalam hawa panas musim kemarau di Bandara Wai Oti, sekitar 5 km sebelah timur pusat kota Maumare, di Flores bagian tengah agak ke timur. Kami dijemput Dr. Kristin, teman lama semasa kami tugas di Flores, dengan mobil Panther Touring hitam EB 1792 DA, diajak keliling kota. Kami mengingat-ingat kembali tempat yang dulu kami akrabi dan makan ikan bakar di RM Jakarta di dalam kompleks pelabuhan Maumere, yang meski padat oleh kapal, namun airnya jernih dengan banyak ikan dan kepiting di kaki dermaga. Saat lama menunggu masakan matang, kami jalan-jalan sepanjang dermaga, melihat banyak kapal berbagai ukuran yang ditambatkan, kesibukan bongkar muat peti kemas dan anak-anak yang terjun berenang ke air laut yang hampir tidak berombak sama sekali. Akhirnya kami mampir sebentar ke bekas RSU Dr. TC Hillers yang telah dialih fungsikan menjadi Puskesmas Berru dan Unipa (Universitas Nusa Nipa), rumah Bapak Sabinus Nabu dan isterinya, Bu Linda. Bapak Sabinus dahulu adalah Camat Lela dan ibu Linda dahulu adalah bidan Puskesmas Nanga. Dengan diantar Nong, sopir Puskesmas Beru, kami mampir ke rumah pasangan Lado dan Lies di Nita, dimana keduanya dahulu adalah karyawan Puskesmas Nanga. Setelah itu, kami numpang lewat melihat Puskesmas Nita, yang sekarang terdiri dari 2 kompleks terpisah, yaitu rawat jalan di tempat yang lama dan rawat inap yang merupakan gedung baru. Kami lanjut ke Lela, menyusuri jalan-jalan berliku yang tidak sulit untuk membangkitkan kenangan kami akan rute berliku itu, yang dahulu sering kami susuri.

Mama Sari mengenangnya karena dahulu merangkap tugas sebagai dokter gigi di Puskesmas Nanga dan Nita, di 2 kecamatan yang berbeda dan berjarak hampir 15 km. Kami semua membayangkan dengan haru, mama Sari yang duduk di bawah pohon beringin dekat pertigaan Nita, untuk menunggu angkutan umum dari Maumere. Hal itu dilakukannya 3 kali seminggu, sepulang kerja dari Puskesmas Nita, bahkan sampai saat hamil Yudhi sekalipun. Cukup sering angkutan yang lewat sudah penuh sesak dengan penumpang, bahkan bergelantungan di pintu, tangga dan atap, sehingga mama Sari kadang terpaksa menunggu lewatnya angkutan yang berikut. Hari menjelang gelap saat kami memasuki pelataran Puskesmas Nanga, berfoto dan bertemu dengan mama Burga dan mama Donce. Mama Burga adalah kader kesehatan, yang bahkan tetap ingat nama-nama kami. Kami dipeluknya satu persatu, bahkan Yudhi yang sudah jauh lebih tinggi dari badannya yang makin renta, dipandanginya tanpa berkedip dan berkomentar, ‘Yudhi su besar!’ Komentar seperti itu selalu diucapkan banyak orang yang dahulu mengenal Yudhi saat bayi, diucapkan dengan logat Maumere yang khas, sedikit keras dan meninggi pada akhir kalimat. ‘Sudah’ hanya diucapkan ‘su’, sehingga terasa aneh dan membuat dik Bimo dan dik Laras mengulanginya tanpa henti, bahkan dengan maksud menjahili, menggoda dan mengolok kakaknya. Malam itu kami menginap di Ruang Theresia Kamar 1, kamar pasien yang setelah gempa bumi hebat Desember 1992, kami tempati. Di seberang kamar tersebut, yaitu Ruang Theresia Kamar 2 di RS St. Elisabeth Lela adalah kamar pasien yang dahulu digunakan sebagai ruang bersalin darurat pasca gempa bumi dan di kamar itu pulalah Yudhi dilahirkan, pada hari Sabtu, 22 Januari 1993. Kami semua larut dalam kegembiraan tanpa kata, keharuan tanpa terucap dan kebahagiaan tanpa henti. Setelah beristirahat sejenak, kami lanjutkan makan malam bersama para suster di biara RS dan bertemu juga dengan Dr. J. Aliandoe, SpB dan ibu. Dokter spesialis bedah asli Flores, yang setelah pensiun dari RS Atma Jaya Jakarta itu, mengabdikan diri sepenuhnya untuk karya sosial di RS St. Elisabeth Lela, sebuah teladan hidup sejati. Kami juga mengunjungi kakak Yanti, pengasuh Yudhi saat bayi dulu, yang tinggal di dekat kompleks RS dan masih menyimpan foto-foto Yudhi.

Papan Puskesmas Nanga di Lela pada senja hari

Mampir di rumah kakak Yanti, pengasuh bayi Yudhi, yang tinggal di dekat RS Lela

Pagi harinya, Jum’at 26 Juni 2010, dengan mobil sewaan Avanza silver L 1511 PG yang dikemudikan Yulius Lado, dahulu sopir Puskesmas Nanga, kami meninggalkan RS Lela ke arah barat untuk menuju Danau Kelimutu, yaitu danau 3 warna yang terletak di pusat kawasan Kelimutu National Park. Danau pertama dinamakan Tiwu Ata Polo, seluas 4 ha, berkedalaman air sampai 64 m, diklasifikasikan sebagai kawah aktif, dan airnya berwarna hijau. Danau kedua dinamakan Tiwu Nuamuri Koofai, seluas 5,5 ha, berkedalaman air 127 m, klasifikasi sangat aktif, dan airnya berwarna hijau muda kekuningan. Danau ketiga dinamakan Tiwu Ata mbupu, atau oma (yang berarti nenek), seluas 4,5 ha, berkedalaman air 67 m, diklasifikasikan kurang aktif dan berwarna hitam. Ketiga danau tersebut terletak di puncak Gunung Kelimutu dengan ketinggian 1640 m di atas permukaan laut, yang harus kami tempuh dalam waktu 3,5 jam dengan diselingi sarapan di RM Bethania, milik suster FMM di Wolowaru.

Armada Toyota Avanza siap untuk menjelajah daratan Flores

Rumah adat Lio di dekat Kelimutu

Masyarakat setempat percaya bahwa arwah warga yang telah meninggal akan datang ke Gunung Kelimutu, jiwa atau maE meninggalkan telah kampung halamannya dan menetap di kawah Kelimutu untuk selamanya. Sebelum masuk ke dalam salah satu danau atau kawah, para arwah tersebut terlebih dahulu menghadap Konde Ratu selaku penjaga pintu masuk di Perekonde. Arwah tersebut masuk ke salah satu danau yang ada tergantung dari usia saat meninggal dan perbuatannya. Ke tiga danau terlihat seolah-olah bagaikan dicat berwarna dan warna airnya berubah-ubah tanpa ada tanda alami sebelumnya. Mineral yang terlarut di dalam air danau menyebabkan warna air akan berubah-ubah yang tidak dapat diduga sebelumnya. Susana danau Kelimutu bervariasi, tidak hanya terjadi perbedaan dan perubahan warna setiap danau, akan tetapi juga perubahan cuaca yang tidak terduga. Tidaklah aneh jika tempat yg keramat itu menjadi legenda yang sejak lama berlangsung turun-temurun. Masyarakat setempat percaya bahwa tempat tersebut adalah sakral.

Danau 1 dan 2 dengan beda warna di puncak Kelimutu

Danau warna ke 3 di puncak Kelimutu saat mama menerima call dari budhe Tari

Gunung Kelimutu tumbuh di dalam kaldera Sokoria atau Mutubasa bersama dengan Gunung Kelido (1641 m) dan Gunung Kelibara (1630 m), ketiganya membangun kompleks yang berkesinambungan, kecuali Gunung Kelibara yang terpisah oleh lembah dari Kaldera Sokoria. Letak puncak gunung berapi tersebut terjadi karena perpindahan titik erupsi melalui sebuah celah yang menjurus  dari utara ke selatan. Dari ketiga buah gunung tersebut, puncak Gunung Kelimutu merupakan kerucut tertua dan masih memperlihatkan aktivitasnya sampai sekarang, yang merupakan kelanjutan gunung api tua Sokoria. Tubuh puncak Gunung Kelimutu dibangun oleh batuan piroklastika, yang terdiri dari bom, lapili, skoria, pasir, abu, awan panas, lahar serta lelehan lava pijar. Permukaan lerengnya berkembang ke arah timur, tenggara dan barat daya, dengan topografi kasar sampai sedang. Bentuk tersebut dibangun oleh aktivitas Gunung Kelimutu muda, tetapi terhalang oleh Gunung Kelibara, sedangkan lereng barat dan utara memperlihatkan morfologi berelief kasar. Pada puncak Gunung Kelimutu terdapat 3 sisa kawah yang mencerminkan perpindahan puncak erupsi. Ketiga sisa kawah tersebut kini berupa danau dengan warna air berlainan dan mempunyai ukuran diameter yang bervariasi. Warna air danau biasanya khas, sehingga diberi nama sesuai dengan warnanya, yaitu polo (merah), fai (hijau) dan mbupu (biru). Pada saat kami datang, warna yang terlihat adalah hijau, hijau kekuningan dan hitam. Gunung Kelimutu yang kami kunjungi itu, pernah meletus dasyat pada tahun 1830 dengan mengeluarkan lava hitam (watukali), kemudian meletus kembali sepanjang tahun 1869 sampai tahun 1870. Letusan hebat itu disertai aliran lahar dan semburan debu, sehingga membuat susana gelap gulita di sekitarnya, bahkan hujan abu dan lontaran batu mencapai desa Pemo yang tercatat dalam arsip Direktorat Vulkanologi Dirjen Geologi & Sumberdaya Mineral di Kementrian Energi tahun 1990. Di Kelimutu National Park tersebut, kami sempat menyaksikan 2 dari 13 macam burung dan 4 dari 17 macam tanaman yang tercatat hampir punah, sehingga dilindungi secara ketat.

Dik Bimo berpakaian adat Lio (Moat Kecil)

Di gerbang Kelimutu National Park

Perjalanan kami lanjutkan ke Ende di Flores bagian tengah, melalui jalan berliku khas dataran tinggi di seantero Pulau Flores, yaitu jalan berliku, mendaki dan menurun, dengan tebing curam di satu sisi dan jurang dalam di sisi lainnya. Kami memasuki kota Ende menjelang sore dan langsung melakukan penjelajahan dalam kota. Pertama kami mengunjungi Jl. Perwira untuk melihat Rumah Pembuangan Bung Karno. Di situ kami berteduh di bawah situs pohon sukun, tempat dimana Bung Karno mendapatkan inspirasi lahirnya Pancasila, saat dibuang Pemerintah Kolonial Belanda pada tahun 1934 sampai 1938. Pohon sukun tersebut sekarang bercabang 5, yang dianggap melambangkan sila-sila dalam Pancasila. Kami lanjutkan dengan mengunjungi Museum Adat dan Museum Bahari yang keduanya berdampingan dan terletak di Taman Kota Ende. Di Museum Bahari kami melihat simpanan benda-benda laut yang sejak tahun 1982 dikumpulkan sedikit demi sedikit. Museum Bahari ini diresmikan oleh Pater Gabriel Goran, SVD pada tanggal 14 Agustus 1996, berlokasi di Jl. Moh Hatta Ende, saat ini memiliki koleksi 1000 spesies kerang laut, 300 spesies ikan dengan total koleksi sekitar 22.000 jenis biota laut. Kami juga mengunjungi Taman Rendo dan Monumen sebagai bukti sejarah kota Ende yang pernah menjadi ibukota daerah Flores tempoe doeloe. Terakhir kami mengunjungi Pasar Mbongawani yang merupakan pasar rakyat, menjual segala kebutuhan masyarakat, termasuk buah lokal yang terkenal pisang beranga, jeruk, alpokat dan nanas.

Museum Adat yang menyimpan berbagai artefak budaya di Ende

Museum Bahari yang menyimpan peralatan kelauatan di Ende

Malam itu kami menginap di biara suster SSpS di Jl. Masjid no 11. Bertemu Sr. dr. Conchita Cruz, SSpS dan Sr. Ekarista, SSpS yang pernah kami kenal selama di Lela dahulu. Sr. Conchita adalah dokter yang berkarya di RS Lela, telah menjadi ‘ikon’ RS selama bertahun-tahun, guru bagi ketrampilan teknik bedah hampir semua jenis operasi bagi dokter umum, dan nenek suster bagi Yudhi yang saat bayinya dahulu telah digendong, sampai dengan diompoli berkali-kali. Malam itu Yudhi dan Bimo ikut serta para suster di biara melihat Brazil melawan Portugal di Piala Dunia 2010 Afrika Selatan, sementara kami yang lain tertidur lelap.

Sabtu pagi, 26 Juni 2010 kami mengunjungi nDona, kediaman Uskup Agung Ende, Mgr Vincensius Sensi Potokota, Pr. Kami terkagum-kagum dengan keindahan bangunan kediaman uskup dan pemandangan alam yang tampak dari ruang tamu itu. Mgr Sensi sempat bersama kami di Lela sewaktu masih sebagai romo pembimbing frater. Setelah mencium cincin uskup, bercengkerama, didoakan, dan bahkan kemudian diberkati dengan berkat uskup, kami pamit untuk melanjutkan perjalanan ke barat. Dari Ende sampai Nangaroro di perbatasan Kabupaten Nagakeo, kami menyusuri bibir pantai selatan di sisi kiri jalan dan hampir bersentuhan dengan tebing batu yang tajam di sisi kanan jalan. Suara deru ombak yang kadang sangat keras, seringkali mengalahkan suara klakson mobil yang harus dibunyikan menjelang tikungan tajam. Kami mencatat nama-nama Nangaroro dan Nangapanda di pantai selatan, kemudian mulai mendaki bukit menuju ke utara melalui Aegela, Mataloko dan Boawae sebelum kami memasuki Bajawa di puncak dataran tinggi yang sangat dingin, ibukota Kabupaten Ngada. Setelah dik Laras mabuk darat 2 kali dan dik Bimo 1 kali, kami makan siang menjelang sore di rumah makan dekat gereja, Stadion Lebijaga, dan SMAN I Bajawa. Kami sempatkan foto bersama di depan gerbang RSU Bejawa, yang mungkin sekali akan kami kunjungi lagi kelak, dalam sebuah tugas resmi.

Bersama komunitas suster ordo SSpS di Ende

Bersama Mgr. Vincensius Sensi Potokota, Pr uskup Agung Ende yang pernah pada periode yang sama dengan kami bertugas di Lela, Maumere

Kami putuskan untuk segera melanjutkan perjalanan melalui Ai Mere di pantai selatan, kemudian mendaki bukit lagi menuju ke utara melalui Borong, sekitar 157 km dari Ende. Setelah beristirahat sejenak, kami terus ke Ruteng, ibukota Kabupaten Manggarai yang sama dinginnya dengan Bajawa. Kami sudah menempuh jalan amat sangat berliku dan naik turun sejauh 317 km dari pusat kota Ende. Setelah makan malam di RM Padang dekat BRI Cabang Ruteng, kami lanjutkan perjalanan sejauh 72 km lagi, untuk masuk kota Labuanbajo di ujung Flores paling barat, ibukota Kabupaten Manggarai Barat. Kami menginap di Hotel Wisata, Jl. Soekarno no 39, dan masuk hotel sekitar pk. 1 dini hari. Kami langsung terlelap dalam kelelahan hebat, meskipun sebenarnya kami bertemu dengan para staf hotel yang tidak ramah dan kamarnya yang tidak cukup bersih bersih dibanding harganya.

Setelah sarapan menu nasi kuning khas Jawa, kami dipandu menuju dermaga oleh mas Fandi Ilham, SH seorang jaksa muda di Kantor Kejaksaan Negeri Manggarai Barat, dan tetangga kami di Yogya yang agak terlupa, untunglah sempat kami ingat kembali sebelum kami tiba. Setelah foto bersama di gerbang dermaga dan melihat-lihat kesibukan dan pemandangan aktivitas dermaga, kami menuju ke Pulau Rinca, yang berarti buaya, dan merupakan pulau terdekat dari Pulau Flores yang termasuk di dalam kawasan Komodo National Park. Kami menggunakan kapal Bacukiki dan berangkat pk. 08.15. Perjalanan laut memerlukan waktu sekitar 2 jam, dan kami berlabuh di Loh Buaya, sebuah dermaga di sebuah teluk sisi timur Pulau Rinca. Kami langsung disambut pemandangan mengerikan, seekor komodo sedang berjemur di dekat pintu gerbang. Meskipun komodo tersebut hanya berbaring, toh kengerian tetap muncul dan bulu kuduk tetap berdiri. Salah seorang awak kapal mendampingi kami masuk gerbang menuju kantor penjaga yang biasa disebut ‘ranger’, dengan tongkat kayu sepanjang 3 m bercabang 2, dan selalu waspada berjaga-jaga. Tongkat kayu tersebut, dibawa ke manapun seorang ranger berjalan memimpin rombongan tamu, berfungsi untuk menahan leher komodo yang datang mendekat.

Bersama mas Fandi Ilham tetangga kami di Yogyakarta yang bertugas di Kejaksaan Negeri setempat di Gerbang Pelabuhan Labuan Bajo

Disambut komodo tidur seolah batang pohon tergeletak di tanah di Pulau Rinca

Sesampai di kantor penjaga Komodo National Park, kami bertemu dengan banyak turis asing maupun domistik. Harga tiket masuk Rp. 75.000 per orang untuk turis domistik non Flores, Rp. 10.000 untuk turis lokal dan US $15 untuk turis asing. Setelah membayar tiket, kami didampingi ranger, seorang pria paroh baya yang terkesan berani, mulai berjalan menyusuri rute terdekat. Tersedia 3 paket rute jelajah alam, yaitu paket ‘basic’ yang hanya di sekitar kantor, ‘short’ yang perlu waktu sekitar 1 jam, ‘medium’ dan ‘complete’ yang lebih jauh dan lama. Pada rute basic itu saja, kami sempat melihat hampir 10 ekor komodo berbagai ukuran, 3 ekor kera dan 2 ekor kerbau liar yang sewaktu-waktu dapat dimakan komodo. Komodo yang kami lihat sebagian besar hanya berbaring dalam keteduhan bayang-bayang pohon atau rumah panggung para penjaga, terutama dekat dapur yang mengeluarkan bau amis ikan atau daging untuk lauk mereka. Komodo berpenciuman sangat tajam, dapat memakan rusa, kambing atau kerbau dan mampu tidak makan selama 4 bulan berturut-turut setelah kenyang.

Komodo, atau yang selengkapnya disebut biawak komodo (Varanus komodoensis), adalah spesies kadal terbesar di dunia yang hidup di Pulau Komodo, Rinca, Flores, Gili Motang, dan Gili Dasami di Nusa Tenggara. Biawak ini oleh penduduk asli pulau Komodo juga disebut dengan nama setempat ora. Di alam bebas, komodo dewasa biasanya memiliki massa sekitar 70 kg, namun komodo yang dipelihara di penangkaran atau kebun binatang sering memiliki bobot tubuh yang lebih besar. Komodo liar terbesar yang pernah ada memiliki panjang 3.13 m dan berat sekitar 166 kg, termasuk berat makanan yang belum dicerna di dalam perutnya. Komodo memiliki ekor yang sama panjang dengan tubuhnya, dan sekitar 60 buah gigi yang bergerigi tajam sepanjang sekitar 2,5 cm, yang kerap diganti. Air liur komodo sering kali bercampur sedikit darah karena giginya hampir seluruhnya dilapisi jaringan gusi dan jaringan ini tercabik selama makan. Kondisi ini menciptakan lingkungan pertumbuhan yang ideal untuk bakteri mematikan yang hidup di mulut mereka. Komodo adalah hewan karnivora dan kanibal. Walaupun mereka kebanyakan makan daging bangkai,  penelitian menunjukkan bahwa mereka juga berburu mangsa hidup dengan cara mengendap-endap diikuti dengan serangan tiba-tiba terhadap korbannya. Ketika mangsa itu tiba di dekat tempat sembunyi komodo, hewan ini segera menyerangnya pada sisi bawah tubuh atau tenggorokan. Komodo dapat menemukan mangsanya dengan menggunakan penciumannya yang tajam, yang dapat menemukan binatang mati atau sekarat pada jarak hingga 9,5 kilometer. Dengan informasi seperti itu yang telah kami ketahui sebelumnya, maka wajar saja kalau bulu kuduk kami berdiri dan ketakutan yang muncul sangat hebat.

Komodo liar berkeliaran bebas di bawah rumah panggung

Di gerbang Komodo National Pak yang ikonik

Setelah puas berfoto bersama komodo tidur dalam lindungan ranger, kami melanjutkan perjalanan sampai ke liang komodo, yang banyak dibuat komodo betina sepanjang bulan Mei sampai Agustus, bertepatan dengan musim kawin. Setelah puas menjelajah pulau dan kekawatiran akan keganasan komodo mereda, kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Bidadari, yang terletak di mulut pelabuhan Labuan Bajo. Di pulau itu kami ‘snorkeling’, berenang terapung untuk melihat keindahan taman laut, berjemur dan bermain pasir putih yang lembut, mencari kerang, bahkan melihat bule berjemur. Dik Bimo dan dik Laras sampai mengalami luka robek telapak kaki, sebab sering salah injak batu karang yang indah, tetapi runcing dan tajam. Sore itu kami memaksakan diri langsung pulang ke Maumere, dari Labuan Bajo sekitar pk. 16 dengan suasana hati yang lega dan puas, meski badan sudah kelelahan.

Di atas kapal dari Labuan Bajo ke Pulau Rinca

Medan penjelajahan dengan jalan kaki rute ‘basic’ di Pulau Rinca

Perjalanan darat pulang ke Maumere yang melelahkan, bahkan sudah menimbulkan trauma psikologis bagi anak-anak karena pengalaman buruk mabuk perjalanan, tetap harus kami jalani. Kami harus kembali ke Maumere, sebab tiket pesawat pulang yang kami beli di Yogyakarta, hanya dapat yang berangkat dari Maumere. Tiket pesawat dari Labuan Bajo ke Denpasar yang merupakan penerbangan perintis, sangat sulit diperoleh dengan sistem on line, meskipun tiket on site kadang mudah didapat, tetapi hanya untuk beberapa kursi. Rute pulang yang berliku, mendaki dan menurun, melalui bibir jurang dalam atau pantai, harus kami lahap dalam kelelahan, sehingga kami harus bergantian menjadi sopir. Akhirnya kami harus menyerah dan terdampar di sebuah kamar di Villa Silverin, di Watujaji, 7 km dari Bajawa, Kabupaten Ngada. Kami masuk kamar dengan tarif Rp. 300 rb menjelang pk.1 dini hari, dan langsung tertidur di kamar yang bagus sekali dengan udara sangat dingin.

Di Museum Bung Karno, rumah tinggal saat pembuangan era kolonialisme Belanda di Ende

Patung Kristus Raja tinggi menjulang di Gereja Katolik Katedral Ende

Setelah sarapan nasi goreng dan telor dadar, hari Senin pagi kami melanjutkan kepulangan kami dan berangkat pada pk. 7.15, saat udara luar masih sangat dingin menembus tulang. Kami lalui Mataloko dan Nangaroro, lalu Nangapanda yang sudah masuk wilayah Kabupaten Ende. Mulai dari situ, mas Yudhi bertugas menjadi sopir pengganti, sebab jalan terus ke Ende menyusur bibir pantai selatan, relatif ringan untuk ditaklukkan seorang sopir pemula. Kami masuk kota Ende sesaat sebelum tengah hari, kembali ke biara SSpS di Jl. Masjid untuk pamitan dengan Sr. Dr. Conchita Cruz, SSpS yang sangat kami hormati, juga untuk Yudhi numpang mandi, sebab mandi pagi di Bejawa yang sangat dingin, tidak berani dia lakukan. Kami berlanjut mengunjungi Gereja Katedral Christo Regi Ende. Kami terkagum-kagum atas keindahan arsitektur katedral tua, khusuk berdoa dan memohon ampun karena kami tidak sempat ikut misa hari Minggu. Setelah itu kami berfoto di depan patung ‘Christus Rex Mundi’ atau Kristus Raja Semesta Alam,  yang diresmikan oleh Mgr. Abdon Longinus Da Cunha, Pr pada tanggal 24 November 2002. Setelah diselingi makan siang di RM Kelimutu di Moni, dekat gerbang Kelimutu National Park yang sudah kami kunjungi 4 hari sebelumnya, kami mampu mencapai desa Sikka menjelang senja. Di Sikka kami masih mampu melihat gereja tertua di seluruh daratan Pulau Flores dan rumah adat di bekas istana raja Sikka. Selanjutnya kami mengunjungi Wisung Fatima di Lela, sebuah tempat ibadah di lereng bukit terjal yang sudah dibangun baik, untuk berdoa kepada Bunda Maria, sayang sekali saat itu hari sudah gelap dan listrik padam.

Bis kayu, angkutan darat khas Flores terbuat dari truk bak kayu dengan atap dan potongan kayu untuk duduk penumpang

Gereja Katolik Sikka merupakan gereja yang tertua di Flores

Akhirnya kami melanjutkan perjalanan menempuh jarak Ende-Maumere 145 km. Perjalanan ini merupakan inti nostalgia kami ke sebuah rumah di dalam kompleks RS St. Elisabeth Lela, sebuah RS yang sudah 80 tahun melayani kesehatan masyarakat sekitar. Rumah yang kami tuju berada di samping kebun sayur, dekat kandang ayam dan di sayap atas kompleks RS itu, merupakan rumah yang kami tinggali selama hampir 3 tahun. Di rumah itulah kami mendapat banyak berkah, sejak kami datang April 1991 sampai saat kami pulang ke Jawa Oktober 1994. Saat kami datang mendekat, hati terkesiap, sanubari terharu dan jantung berdebar, mendapati suasana mistis masa lalu yang seakan datang ulang. Hanya tempat tidur besar tempat kami berbaring dan menidurkan bayi Yudhi yang diganti, perabotan lain masih tetap yang sama, terawat  dan terjaga baik. Luar biasa. Kami kenang ulang berbagai peristiwa yang pernah terjadi di setiap sudut rumah itu, baik yang menyenangkan, maupun yang sangat menyedihkan di halaman depan, tempat Yudhi terjerembab dalam ‘baby walker’ yang digunakannya. Dia lepas dari pengawasan kami yang terlarut dalam makan siang, dan meluncur turun melewati teras rumah, bahkan masuk ke kebun depan rumah, yang membuatnya luka di dahi dengan perdarahan dan memar. Malam itu kami mandi, makan dan tidur di tempat dimana hal yang sama pernah kami lakukan dengan cara serupa, di tempat yang sama dan dalam suasana yang tidak jauh berbeda. Hanya kami berdua yang begitu, sedangkan anak-anak, termasuk Yudhi, sangat mungkin hal tersebut hanya merupakan sebuah program pengisi libur sekolah. Tuhan sendiri yang mengatur ini semua.

Anak2 kami di depan gereja tua di Sikka, tidak jauh dari Lela

Rumah adat bekas istana raja Sikka

Pagi harinya, kami mengikuti Misa Kudus harian di kapel RS. Meski liturginya serupa, tetapi lagunya berbeda. ‘Qui bene cantat, bis orat’ atau ‘dia yang bernyanyi baik, berdoa dua kali’. Misa harian itu berlangsung 2 kali lebih lama dibanding misa serupa yang sudah kami akrabi di Yogya, sebab lagu-lagunya banyak dan lengkap, sesuai dengan teks dalam buku ‘Syukur Kepada Bapa’, cetakan XI, tahun 1981, oleh Penerbit Nusa Indah, percetakan Arnoldus, Ende. Setelah sarapan pagi, kami mengikuti Sr. Sofina, SSpS yang biasa dipanggil Sr. Nenek karena usianya, masuk ke kebun sayur, kandang ayam dan kandang babi. Penelusuran itu juga mengenang saat kami melakukan hal yang serupa 18 tahun sebelumnya, berjumpa dengan beberapa karyawan kebun yang masih saling ingat dengan kami. Setelah itu, kami keliling ke beberapa ruangan di dalam RS, bertemu dengan beberapa pegawai RS yang masih kami ingat dan sekaligus berpamitan, karena kami harus segera pulang. Kami kenang Sr. Helena Maria, SSpS, mama Detti Henriques, mama Ete Mertis, Br. Alex, mama Dete, mama Mia dan Erna Woga. Pegawai RS yang lain adalah generasi baru yang belum sempat kami kenal. Kami beradu kangen dengan mama Beth, wanita tua berpakaian adat Sikka yang tinggal di depan RS, bahkan memberikan salam khusus dengan cara menampar pipi kami keras-keras.

Sekeluarga di teras rumah dinas dokter dengan nostalgia di dalam kompleks RS Lela

Yudhi di kamar mandi kenangan, dahulu saat berdiri hanya setinggi keran air di tembok itu

Perjalanan pulang kami awali dengan mampir ke rumah mama Sedis dan Om Paul, pasangan pensiunan SPK Lela dan Puskesmas Nanga, Kemudian mampir di Puskesmas Nanga yang sedang ramai dikunjungi banyak pasien. Kami puaskan rindu kami bersama mama Gonda petugas gizi, Om Kornelius perawat senior dan kepala puskesmas dengan mama Lince, isterinya yang asisten apoteker, juga Om Kons yang sempat mampir, mama Burga kader posyandu yang aktif, mama Rin Palang Keda perawat pindahan dari SPK Lela, Om Lengo petugas KB, bidan Nona Ana dan Dr. Dwi.

Komunitas suster ordo SSpS di biara RS Lela

Pamitan pulang dengan sebagian pagawai Puskesmas Nanga di Lela

Kami melanjutkan perjalanan ziarah dan wisata rohani, dengan mengunjungi Patung Maria Bunda Segala Bangsa di Nilo, dekat Seminari Tinggi terbesar di dunia, yaitu STFK Ledalero. Patung Bunda Maria yang berwarna putih mengkilap dan terbesar di Indonesia tersebut, diresmikan pada tanggal 31 Mei 2005. Pernah runtuh karena angin puyuh, dibangun dan diresmikan kembali pada tanggal 1 Oktober 2007 oleh Mgr. Vincensius Sensi Potokota, Pr, yang waktu itu sebagai Uskup Agung Ende dan sekaligus administrator apostolik Keuskupan Maumere. Prasasti di pusat Spiritualitas Pasionis dan tempat ziarah Maria Bunda Segala Bangsa di Nilo ditandatangani oleh wakil donatur Ibu Megawati Soekarnoputri dan Vice Provincial CP waktu itu, Pastor Sabinus Lohin, CP. Di bawah patung besar tersebut, terpahat kata-kata bijak ‘Per Mariam Ad Jesum’, yang berarti ‘melalui Maria menuju Yesus’. Juga ‘Ina ata puku nulu’, yang berarti bunda yang tersayang, ‘ama ata gawi wa’a’, yang berarti menuju bapa dengan berjalan duluan di depan, ‘gea dena beta nain’, yang berarti dengan memberi makan anak cucu, dan ‘minu dena heron naran’ yang berarti minum agar tidak haus. Tinggi patung Bunda Maria yang berdiri di atas bola dunia itu 12 m. Patung itu diletakkan di atas rangka beton, sehingga total tinggi patung mencapai 28 m. Patung itu berada di sebuah puncak bukit di Nilo dan menghadap ke utara, seolah memberkati dan melindungi kota Maumere yang terhampar di bawahnya. Setelah berdoa secara khusus, kami lanjutkan foto bersama dalam hembusan semilir angin puncak bukit dan sengat matahari musim panas, bahkan sampai saat kami jalan turun menuju Maumere. Kami sempatkan mampir membeli cinderamata khas Sikka di sebuah kios depan Gelora Samador, menemui Drg. Toni Asaleo, teman lama kami yang sudah alih profesi menjadi pebisnis ritail atau barang eceran segala rupa, di kompleks pertokoan Maumere.

Patung Bunda Maria yang tinggi menjulang, Bunda Segala Bangsa di Nilo dekat Maumere

Awal perjalanan pulang siap terbang dengan Batavia Air dari Maumere

Kepulangan kami diawali dengan menumpang pesawat Batavia Air Y6-758 Boeing 737 seri 300, transit 20 menit di Kupang, dan akhirnya menuju Denpasar dalam waktu 1 jam 20 menit. Kami menginap semalam di rumah adik sepupu, Bulik Aning, Pak Nyoman dan anak-anaknya yang mandiri, mbak Diyah dan mas Toya, di kawasan Jimbaran, sehingga sempat jalan-jalan ke pantai Jimbaran, GWK (Garuda Wisnu Kencana) Park, Nusa Dua, Kuta dan mengunjungi rumah Bulik Sudilah, saudara sepupu Eyang Kakung Salaman dan terakhir bergaya di depan Patung Satria Gatotkaca, yang diresmikan pada tanggal 30 Oktober 1993 oleh Prof. IB Oka, Gubernur Bali saat itu. Patung putih Gatotkaca yang terbang sambil menghancurkan kereta perang musuh, meski dalam bidikan panah amat sakit Nanggala oleh Adipati Karna, gagah berdiri di gerbang Bandara Internasional Ngurah Rai, Denpasar. Kami sampai dengan selamat di Yogyakarta pada hari Kamis, 30 Juni 2010 pk. 19.25.

Sebelum kembali ke Yogyakarta kami mampir di gerbang Pecatu Jimbaran, Bali

Patung Kereta Perang Adipati Karno melawan Gatotkaca di gerbang Bandara Ngurah Rai, Bali

Perjalanan darat yang kami tempuh adalah hampir 2/3 bagian Pulau Flores, sejauh 925 km dalam medan jalan yang amat sangat berliku dan merupakan ciri khas medan daratan Pulau Flores, menghabiskan bensin 5 kali isi penuh tangki mobil (full tank), dan 4 hari cuti tahunan. Perjalanan itu ditambah 5 jam di atas kereta api, 5 jam 20 menit di atas pesawat dan 4 jam 20 menit di atas kapal. Kami telah menginjak tanah di 3 propinsi dalam 5 pulau, dan menyusuri 5 kabupaten di daratan Pulau Flores. Terima kasih kami sampaikan kepada siapapun yang telah membantu, mendoakan dan mengiringi perjalanan kami sekeluarga.

sekian

Yogyakarta, 1 Juli 2010

*) pelancong rutin setiap tahun

Posisi Komodo National Park di timur Pulau Jawa

Peta Pulau Rinca di sebalah barat Pulau Flores

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?