Categories
dokter Jalan-jalan sejarah

2026 Dari Salemba untuk Dokter Indonesia

Dari Salemba untuk dokter Indonesia
fx. wikan indrarto

Kesempatan menjalankan tugas dari Fakultas Kedokteran Universitas Atma Jaya Yogyakarta (FK UAJY), berangkat ke Jakarta untuk menghadiri acara Forum Dekan FK oleh AIPKI pada Kamis sampai Minggu, 16-19 Juli 2026.

Lihat juga :

https://www.instagram.com/p/Da-VmLOFL1s/?igsh=Y2UwYXE4ZDYyZWJw

AIPKI adalah singkatan dari Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia, yaitu organisasi yang menaungi seluruh fakultas kedokteran di tanah air Indonesia. Saat ini sudah ada 148 Fakultas Kedokteran (FK) di Indonesia

Memasuki gerbang Stasiun Tugu Yogyakarta

Kamis malam, 16 Juli 2026 saya bergegas menuju Stasiun Tugu Yogyakarta untuk masuk ke perut KA Taksaka menuju Stasiun Gambir di Jakarta Pusat. Lanjut naik Bajaj menuju Hotel Borobudur dan lanjut istirahat sejenak.

Nyaman di dalam perut KA Taksaka dari Yogyakarta menuju Stasiun Gambir di Jakarta Pusat.

Sampai di Gerbang Hotel Borobudur Jakarta pada dini hari

Jumat pagi, 17 Juli 2026 setelah ‘early breakfast’, saya mendapat penjelasan dari dr. Risma Ikawaty, MSc, PhD Wakil Dekan I FK Ubaya dari Surabaya. Sambil menunggu bis FK UI yang akan menjemput para peserta Forum Dekan di lobi Hotel Borobudur Jakarta, FK Ubaya menggunakan RS Ibnu Sina di Gresik sebagai RS Pendidikan Utama (RSPU). Dibandingkan UAJY yang sesama PTS, ternyata 2 tahun sejak FK berdiri, Ubaya langsung merancang pendirian RS Pendidikan sendiri, untuk memudahkan sinkronisasi program pendidikan jenjang sarjana, dengan jenjang profesi, bahkan sampai pada jenjang spesialis. Pada 2 tahun kemudian, RS Pendidikan FK memulai operasional tahap rawat jalan dan pada tahun ke 4 sudah lengkap semua layanan. Meskipun demikian, RS baru yang sedang berkembang tersebut kemudian digunakan sebagai RS Pendidikan Satelit, dengan RSPU tetap di RS Ibnu Sina sampai beberapa tahun ke depan. Setelah semuanya siap, RSPU akan menjadi milik Ubaya sendiri dan bahkan akan dikembangkan menjadi wahana pendidikan program spesialis.

Bersama Prof. dr. Ramdan Panigoro, MSc, PhD. (Guru Besar Unpad dan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Parahyangan) Bandung

Aula FK UI yang legendaris di Jakarta

Bersama Prof. Dr. dr. Reviono, SpP(K) Dekan FK UNS Surakarta

Dengan bis milik FK UI, kami segera mendarat di Aula FK UI Salemba Jakarta Pusat yang legendaris, untuk mengikuti sesi pembukaan Forum Dekan AIPKI. Acara diadakan di IMERI (Indonesia Medical Education and Research Institute) yang berada di dalam kompleks Kampus Universitas Indonesia (UI) Salemba, Jalan Salemba Raya No. 6, Senen, Jakarta Pusat.

Para peserta Forum Dekan FK oleh AIPKI 2026 di Aula FK UI Jakarta

Bersama Prof. Dr. dr. Reviono, SpP(K) Dekan FK UNS Surakarta

AIPKI adalah organisasi yang berfungsi sebagai wadah komunikasi dan kolaborasi antara institusi dengan pemerintah untuk menjaga, merumuskan, dan meningkatkan mutu pendidikan medis agar sesuai dengan standar nasional.

Duduk mengantuk di barisan ketiga dari depan, kelima dari kiri, dengan para peserta Forum Dekan FK oleh AIPKI 2026 di Aula FK UI Jakarta

Setelah sambutan seremonial pembukaan oleh Ketua Panitia Forum Dekan FK AIPKI 2026, dr. Eric Daniel Tenda, DIC., PhD, Sp.PD, Sub-Sp.P.M.K (K), FINASIM, FISQua dan Dekan FK UI Prof. Dr. dr. Anna Rozaliyani, M.Biomed, SpP(K) yang dilantik secara resmi oleh Rektor UI pada 8 Desember 2025, sebagai tuan rumah acara. Selanjutnya Ketua Umum Pengurus Pusat Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI) Prof. Dr. dr. Wisnu Barlianto, M.Si.Med., Sp.A(K). Beliau menggantikan ketua periode sebelumnya, Prof. Dr. dr. Budi Santoso, Sp.OG(K).

Kegiatan Forum Dekan FK AIPKI diawali pada Kamis, 16 Juli 2026 dengan diskusi panel yang menghadirkan para dekan FKUI periode sebelumnya. Sesi yang tidak sempat saya ikuti ini ditujukan untuk memberikan perspektif historis sekaligus refleksi pengalaman kepemimpinan dalam menghadapi dinamika pendidikan kedokteran.

Pada hari kedua, 17 Juli 2026, saya mengikuti agenda seremonial pembukaan yang dilanjutkan dengan keynote speech oleh Menteri Pendidikan, Sains, dan Teknologi. Selain itu, akan diselenggarakan diskusi panel serta sesi pleno bersama Ketua AIPKI yang membahas isu-isu strategis terkini dalam pendidikan kedokteran.

Selanjutnya adalah sesi diskusi dengan tema Kebijakan Diktisaintek Berdampak – Arah Penjaminan Mutu Pendidikan Kedokteran dan Optimalisasi Sistem Kesehatan Akademik (SKA), yang dipimpin oleh Prof. dr. Tonang Dwi Ardyanto, Sp.PK(K), Ph.D (Wakil Sekretaris 1 AIPKI). Terus lanjut sesi Diskusi Panel selanjutnya dengan tema Kebijakan Pendidikan Kedokteran : Transformatif dan Pelayanan Kesehatan di Indonesia (S1/profesi dokter, Sp1, Sp2).

Sesi istirahat siang itu saya mengikuti Prof. Dr. dr. Reviono, Sp.P(K), Dekan FK UNS Surakarta teman seangkatan di FK UGM 84 (Konga) menemui Dr. dr. Retno Sulistyo Wardani, Sp.T.H.T.B.K.L, Subsp.Rino(K), teman sesama Konga yang merupakan dokter spesialis THT konsultan rinologi di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Bersama Prof. Dr. dr. Reviono, SpP(K) Dekan FK UNS Surakarta dan Dr. dr. Retno Sulistyo Wardani, Sp.T.H.T.B.K.L, Subsp.Rino(K), konsultan rinologi di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), semuanya teman seangkatan di FK UGM 84 (Konga)

Kami bertiga lanjut mengikuti Hospital Tour di RS yang berdiri sejak 19 November 1919. RSCM memiliki peran sebagai RS pusat rujukan nasional yang terkenal dengan berbagai layanan unggulannya dan juga sebagai RSPU FK-UI. Nama rumah sakit ini diambil dari nama dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, seorang tokoh perjuangan Indonesia pada masa kolonial Belanda.

Bersama Prof. Dr. dr. Reviono, SpP(K) Dekan FK UNS dan Dr. dr. Retno Sulistyo Wardani, Sp.T.H.T.B.K.L, Subsp.Rino(K), di Pavilian Kanigara sayap bisnis menangah RS Cipto Mangunkusumo (RSCM)

Di RSCM, ribuan dokter dan tenaga kesehatan lain bersama-sama melayani ribuan pasien dari seluruh Indonesia yang setiap hari berkunjung ke RS ini. RSCM dengan 1.000 tempat tidur merupakan pusat rujukan nasional rumah sakit pemerintah dan merupakan tempat pendidikan dokter umum, dokter spesialis dan subspesialis, perawat, perawat spesialis, serta tenaga kesehatan lainnya.

Tiga serangkai KONGA yang jalan bersama dalam Hospital Tour RSCM

Lorong RSCM Jakarta yang legendaris

Bertiga kompak sampai IMERI FK UI

Setelah makan siang bersama di Kantin RSCM Kencana, kami berdua kembali ke IMERI FK UI untuk mengikuti diskusi panel selanjutnya dengan tema Kerangka Kerja & Peta Jalan Penjaminan Mutu Akademik Pendidikan Dokter dan Optimalisasi peran AIPKI dengan moderator Prof. Dr. dr. Haerani Rasyid, MKes., SpPD,K-GH., Sp-GK., FINASIM (Dekan FK Universitas Hasanuddin – Wakil Ketua 1 AIPKI). Lanjut Diskusi Panel dengan tema “Posisi dan Peran AIPKI pada Penjaminan Kualitas Pendidikan Kedokteran dan Optimalisasi AHS dan Dialog bersama Majelis Guru Besar Kedokteran Indonesia (MGBKI).

Berjalan kaki menyeberangi Jl. Salemba yang padat lalu lintas, untuk menuju ke RS Saint Carolus (RSSC) Jakarta

Sore itu saya melanjutkan kegiatan dengan mengunjungi RS Saint Carolus Jakarta, dengan berjalan kaki menyeberangi Jl. Salemba yang padat kendaraan. Begitu sampai, saya langsung teringat Lagu “Berpisah di Teras St. Carolus”. Lagu yang diciptakan oleh musisi legendaris Wedhasmara ini, merupakan lagu lawas yang menceritakan perpisahan pasien dengan seorang perawat. Lagu ini sangat populer dibawakan oleh penyanyi era 1960-an, yaitu Lilis Suryani dan sering direkam ulang oleh penyanyi seperti Rani pada Agustus 1999.

Kami bertemu di teras RS dengan Direktur RSSC Kolonel CKM (purn) dr. Robertus Bebet Prasetyo, SpU (K), saat mengingat lagu “Berpisah di Teras St. Carolus” yang diciptakan oleh musisi legendaris Wedhasmara

Rumah Sakit St. Carolus di Jakarta resmi dibuka pada 21 Januari 1919. Diprakarsai oleh Uskup Batavia Mgr. Edmundus Luypen, SJ dan dikelola oleh para biarawati dari Kongregasi Suster Suster Cinta Kasih Santo Carolus Borromeus (CB), rumah sakit ini memelopori pendidikan keperawatan dan kebidanan di Indonesia pada era 1940-an dan telah berkembang menjadi salah satu rumah sakit bersejarah tertua dengan fasilitas modern di ibu kota.


Dengan semboyan Kami Melayani dari Hati dan Membangkitkan Harapan, RS St. Carolus (RSSC) adalah rumah sakit tertua ke-2 se-Jakarta yang sudah berinovasi menjadi bangunan yang modern. Pelayanan yang diberikan RS St. Carolus sudah sesuai dengan standar kualitas terbaik, dokter & tenaga medis profesional serta, fasilitas lengkap.

Pendirian RSSC diawali dengan pertemuan sejumlah tokoh awam Katolik Batavia di bawah pimpinan Mgr. Edmundus Sybrandus Luypens SJ (Vikaris Apostolis Batavia), Pastor Sondaal SJ, Pastor van Swieten SJ, Bp. Karthaus, berinisiatif mendirikan sebuah rumah sakit Katolik di Batavia. Pada awal 1915 Mdr. Lucia Nolet, CB (Pemimpin Umum Kongregasi Suster-suster Cinta Kasih St. Carolus Borromeus 1914–1926) menerima tawaran Mgr. Luypens, SJ untuk membuka karya misi di Hindia Belanda – Batavia. Karena situasi perang dunia pertama saat itu, maka baru pada tanggal 22 Juni 1918, Sepuluh Suster CB dari Negeri Belanda berangkat ke Batavia dengan kapal laut, dan tiba di Tanjung Priok pada tanggal 7 Oktober 1918. Pada tanggal 21 Januari 1919 Pelayanan Kesehatan St. Carolus dimulai dan diberkati oleh Mgr. Edmundus S Luypen, SJ dengan kapasitas 40 tempat tidur.

Diterima di ruang kerja Direktur RSSC Kolonel CKM (purn) dr. Robertus Bebet Prasetyo, SpU (K)

Sejarah indah tersebut terngiang saat saya diterima oleh Direktur RSSC Kolonel CKM (purn) dr. Robertus Bebet Prasetyo, SpU (K) yang tegak, ramah dan sangat sibuk. Dokter TNI AD anggota Dokter Kepresidenan RI dan besan dr. Ambar Kelanawati (kakak kelas di FK UGM) sangat ramah sampai mengajak Hospital Tour menikmati sejarah RSSC.

Mengunjungi sepupu dik Gregorius Adi Utomo di Duren Sawit

Terimakasih dik Mukti yang sudah mendampingi suami dik Gregorius Adi Utomo di Duren Sawit setelah pulih dari sakit

Masuk Stasiun Buaran dari rumah adik sepupu di Duren Sawit Jakarta

Terus saya dijemput Bapak Mulyadi, sopir keponakan saya, dik Eka Novianto, sebagai Vice President Director di PT Summit Adyawinsa Indonesia yang merupakan lulusan S-1 Teknik Kimia UGM 1990. Keponakan yang pernah menjadi Wakil Presiden Senat Mahasiswa Fakultas Teknik UGM dan Pengurus Lembaga Kemahasiswaan itu mengutus pak Mulyadi dengan Honda CRV hitam mengantar saya ke Duren Sawit. Saya mengunjungi sepupu, dik Gregorius Adi Utomo yang baru tahap pemulihan setelah pasang stent jantung di RS Jantung Matraman. Setelah menguatkan harapan akan kesembuhan dan mendukung sikap sigap menjalani pemulihan dalam pendampingan oleh dik Mukti istrinya, saya diantar naik motor oleh adik iparnya menuju Stasiun Buaran. Saya menikmati perjalan dalam gerbong KRL.


KRL Commuter Line adalah sistem transportasi angkutan cepat komuter berbasis kereta rel listrik (KRL) yang dioperasikan oleh PT Kereta Commuter Indonesia (KAI Commuter), anak perusahaan dari PT Kereta Api Indonesia (Persero). Layanan ini telah beroperasi di wilayah Jakarta sejak tahun 1925, hingga kini melayani rute komuter di wilayah Jabodetabek serta lintas Yogyakarta—Palur.

Suasana sore di KRL Line biru dari Stasiun Buaran ke Manggarai Jakarta

Tertinggal KRL di Stasiun Manggarai

Saya naik Line Blue (biru) dari Stasiun Buaran, melewati Klender, Jatinegara, Matraman dan turun di Manggarai. Di stasiun besar persimpangan antar moda tersebut, saya naik ke lantai 3 untuk berganti Line Red (merah) melewati Cikini, Gondangdia, Gampir dan turun di Juanda. Lanjut naik Go-Jek menuju Hotel Borobudur.

Senang sekali dapat menyambut anak tengah kami arsitek yang sangat sibuk, Bimoseno, di Hotel Borobudur Jakarta

Jumat malam, 17 Juli 2026 saya menyambut kedatangan dik Bimoseno, anak kedua kami yang sangat sibuk, sepulang dari kantor biro arsitek, di lobi Hotel Borobudur. Terimakasih banyak dik Bimo, anak kami yang baik, membawakan nasi bungkus untuk makan malam bersama di hotel

Bersama Hendro Edi, yang telah tidak pernah ketemu lagi sejak bersama lulus dari SMP Bruderan Purworejo Jawa Tengah

Reuni dengan keluarga Hendro Edi

Lanjut saya menerima Hendro Edi, teman SMP Bruderan Purworejo yang telah tidak ketemu sejak lulus, meskipun sama-sama kuliah di UGM. Ditemani istri dan Yosaphat, anak tunggalnya yang baru lulus dari FK UI dan bersiap mengikuti program internship dokter, bersama Laras, anak bungsu kami. Malam itu kami semua ngobrol asyik di Kamar 838 Hotel Borobudur Jakarta sampai mata hampir lengket mengantuk hebat

Ganti hari

Sabtu pagi, 28 Juli 2026 saya berjalan kaki melewati Lapangan Banteng, untuk mengikuti misa kudus harian pagi di Gereja Katolik Santa Perawan Maria Diangkat ke Sorga, Paroki Katedral Jakarta.

Gereja Katolik Santa Perawan Maria Diangkat ke Sorga, Paroki Katedral Jakarta.

Suasana megah dan berwibawa interior Gereja Katolik Santa Perawan Maria Diangkat ke Sorga, Paroki Katedral Jakarta.

Kursi uskup (catedra) di dalam Gereja Katolik Santa Perawan Maria Diangkat ke Sorga, Paroki Katedral Jakarta.

Bersama Rm. Macharius Maharsono Probo, SJ di Gereja Katolik Santa Perawan Maria Diangkat ke Sorga, sebagai Pastor Kepala Paroki Katedral Jakarta.

Rancangan arsitek Antonius Dijkmans, Gereja Katedral Jakarta dalam bahasa Belanda: De Kerk van Onze Lieve Vrouwe ten Hemelopneming, diresmikan pada 1901 dan dibangun dengan arsitektur neo-gotik dari Eropa, yakni arsitektur yang sangat lazim digunakan untuk membangun gedung gereja beberapa abad yang lalu. Setelah misa kudus selesai, saya sempat berfoto bersama dengan Romo Macharius Maharsono Probo SJ, Pastor Kepala Paroki, yang pernah menduduki jabatan serupa di Gereja Katolik St Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta, di depan Graha Pemuda. Sebuah ruangan di samping Gereja Katedral Jakarta tersebut, pernah digunakan untuk menyusun draft Sumpah Pemuda yang digelorakan pada 28 Oktober 1928.

Masjid Istiqlal Jakarta yang tinggi menjulang

Lapangan Banteng dengan patung kebebasan Indonesia

Lanjut mampir sejenak ke Masjid Istiqlal dan Lapangan Banteng, sebelum kembali ke Hotel Borobudur Jakarta. Setelah menikmati sarapan berdua dengan dik Bimo, saya segera memberikan pelatihan online tentang Komite Medik yang diikuti oleh para dokter di RSUD Merauke, Papua Selatan.

Mengunjungi dr. FA Timmy Budi Yudhantara SpM, adik kelas di SMA Kolese de Britto Yogyakarta (JB 96), saat mendampingi dokter muda di RSSC Jakarta.

Sabtu pagi, 18 Juli 2026 saya kembali mengunjungi RS St Carolus untuk menemui dr. FA Timmy Budi Yudhantara SpM, adik kelas di SMA Kolese de Britto Yogyakarta (JB 96). Sambil membimbing dengan sabar para dokter muda dari FK Unika Atma Jaya Jakarta, dr. Timmy menerima saya di sela-sela melayani pasien. Terus saya jalan kaki lagi menyeberangi Jl. Salemba yang padat lalu lintas, untuk masuk ke Auditorium IMERI FK UI, mengikuti Forum Dekan FK AIPKI 2026 hari ketiga.

Bersama Ibu Dekan FK UMS Surakarta Dr. dr. Flora Ramona Sigit Prakoeswa, M.Kes., Sp.KK., Dipl.STD-HIV., FINSDV

Bersama Laksamana Pertama TNI (Purn.) dr. Herjunianto, Sp.PD, MMRS Bapak Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS)

Bersama Ketua Umum AIPKI, Prof. Dr. dr. Wisnu Barlianto, M.Si.Med., Sp.A(K) (berkacamata) dari FK UB Malang dan Sekjen AIPKI Dr. dr. Safrizal Rahman, M.Kes., Sp.OT (FK USK Banda Aceh)

Setelah diskusi panel yang dialogis, dengan pembicara Dr. dr. Flora Ramona Sigit Prakoeswa, M.Kes., Sp.D.V.E. Dekan FK UMS Surakarta berjudul Penjaminan Mutu sebagai Penggerak Transformasi: Perjalanan FK UMS Menuju Akreditasi Internasional. Lanjut tema Penerapan Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Kedokteran di Indonesia oleh Dr. dr. Riwanti Estiasari, Sp.S(K). Juga Sistem Pendidikan Kedokteran di Indonesia: From Policy to Practice oleh Prof. Dr, dr. Anna Rozaliyani, MBiomed, SpP(K) Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, yang mendapat masukan lebih luas oleh Prof. Dr. dr. Haerani Rasyid, M.Sc, Sp.PD-KGH, Sp.GK Dekan FK Unhas Makassar dan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, Dr. dr. Yenny, Sp.FK, terus saya ikut mengenal lebih jauh peran AIPKI dengan mengikuti diskusi paralel dengan subtopik utama terkait AIPKI.

Pertama, Fungsi dan Peran Utama Standarisasi Kurikulum: Berperan penting dalam merumuskan dan mengevaluasi kurikulum pendidikan kedokteran agar selalu relevan dengan perkembangan ilmu dan teknologi medis terkini. Diskusi di auditorium 1 & 2 di lantai 3 itu saya ikuti, bersamaan dengan diskusi kelompok Kedua, yang membahas tentang Koordinasi Antar Fakultas: Menjadi forum bagi para dekan fakultas kedokteran untuk bertukar informasi dan pengalaman dalam mengelola institusi. Juga Ketiga, Penataan Dokter Spesialis: Terlibat aktif dalam program pendampingan tenaga kesehatan dan pengembangan Rumah Sakit Pendidikan. Keempat, Penyelenggaraan AKTAPRO (Asesmen Komprehensif Tahap Profesi), dengan AIPKI menyelenggarakan try out nasional yang dahulu dikenal dengan sebutan TO AIPKI. Ujian simulasi ini dirancang bagi mahasiswa kedokteran sebagai persiapan untuk menghadapi Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD).

Setelah selesai diskusi paralel, saya menerima teman lama alumni FK UI angkatan 1985, dr. Thomas BJ Aliandoe yang pernah bertugas bersama di Kabupaten Sikka, Flores NTT tahun 1992-1995. Sebagai alumni FK UI, dr. Thomas mengajak saya keliling (Campus Tour).

Bersama alumni FK UI 85 dr. Thomas BJ Aliandoe

Kampus FK UI didirikan pada 2 Januari 1849 (Dokter-Djawa School) yang saat ini dipimpin oleh Ibu Dekan Prof. Dr. dr. Anna Rozaliyani, M.Biomed., Sp.P(K). FK UI tidak lepas dari sejarah pendidikan dokter di Indonesia yang dimulai sejak zaman penjajahan Belanda. Adapun momentum pendidikan kedokteran di Indonesia lahir pada tanggal 2 Januari 1849 melalui Keputusan Gubernemen No. 22. Ketetapan itu menjadi titik awal penyelenggaraan pendidikan kedokteran di Indonesia (Nederlandsch Indie), yang ketika itu dilaksanakan di Rumah Sakit Militer. Selang dua tahun, Dokter Djawa School hadir memenuhi kebutuhan tenaga dokter yang dimulai tahun 1851. Walaupun lulusan tersebut diberi gelar Dokter Djawa, sayangnya lulusan sekolah tersebut hanya dipekerjakan sebagai mantri cacar, karena saat itu sedang terjadi wabah cacar. Nyaris 10 tahun lamanya dokter-dokter Indonesia harus menunggu untuk memperoleh wewenang lebih dari sekadar mantri cacar.

Bersama alumni FK UI 85 dr. Thomas BJ Aliandoe di Aula FK UI Salemba yang bersejarah

Lebih dari 20 tahun kemudian, yaitu pada 1898, barulah berdiri sekolah pendidikan kedokteran yang disebut STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen). Para alumni ketika itu disebut Inlandsche Arts. Untuk memantapkan kualitas lulusan dalam hal praktik, pada akhir tahun 1919, didirikan Rumah Sakit Pusat CBZ (Centrale Burgerlijke Ziekenhuis, sekarang disebut RS Ciptomangukusumo/RSCM) yang dipakai sebagai rumah sakit pendidikan oleh siswa STOVIA. Kampus dengan dominasi warna putih yang kami kunjungi selesai dibangun pada tanggal 5 Juli 1920. Pada tanggal yang sama pula seluruh fasilitas pendidikan dipindahkan ke gedung pendidikan yang baru di Jalan Salemba 6 sekarang.

Diantar dr. Thomas BJ Aliandoe ke rumah teman

Setelah puas keliling kampus bekas FK, FE dan FT UI Salemba, saya diantar dr. Thomas BJ Aliandoe menuju rumah dab Fauzi, teman SMA Kolese de Britto Yogyakarta di seputaran Utan Kayu Jakarta. Setelah bercengkerama dan mengunjungi ibu mertuanya (88 tahun) yang sudah terpasang NGT sonde karena kesulitan menelan, terkait stroke otak kecil, saya pamit pulang.

Main ke rumah dab Nico Fauzi Bahari Fudhal, teman SMA Kolese de Britto Yogyakarta 1984, alumnus PPM (Pendidikan dan Pembinaan Manajemen) di seputaran Utan Kayu Jakarta

Siap makan menu enak banget buatan mbak Iswari (Alumni FPsi UGM dan Stece) dan dab Nico Fauzi Bahari Fudhal (teman SMA Kolese de Britto Yogyakarta 1984), di rumahnya Utan Kayu Jakarta


Terimakasih banyak kepada Bapak Ketua Lingkungan Albertus Utan Kayu di Paroki St. Yoseph Matraman Jakarta, dab Nico Fauzi Bahari Fudhal (JB 84) yang telah mengantarkan saya sesuai aplikasi, dari rumahnya yang artistik ke Terminal Terpadu Pulau Gebang Jakarta.

Diantar dab Nico Fauzi mendarat di Terminal Terpadu Pulo Gebang Jakarta

Luar biasa banget sambutan, dukungan, cerita dan inspirasi bisnis kamar kost yang diberikan olh dab Fauzi. Mohon maaf tidak membawakan oleh2, malah disiapkan makan siang banyak menu di meja makannya. Sampai ketemu lagi.

Siap naik bis tingkat Rosalia Indah berbodi Jetbus 3+SDD, yang gagah menjulang buatan karoseri Adiputro Malang, dan diusung sasis premium buatan Swedia Volvo BHR 430HP

Istirahat makan malam di Ros In Subang Jawa Barat dari Pulau Gebang Jakarta, sebelum lanjut ke Yogyakarta. Akan masuk di dalam lantai 2 bis tingkat Rosalia Indah berbodi Jetbus 3+SDD, yang gagah menjulang buatan karoseri Adiputro Malang, dan diusung sasis premium buatan Swedia Volvo BHR 430HP. Sangat lancar dan tleser2 melahap Tol Trans Jawa.

Salam holobis enak ngebis sambil mengenang hasil Forum Dekan FK AIPKI 2026 dari Salemba untuk dokter Indonesia

Terimakasih

Categories
anak dokter Healthy Life Jalan-jalan medicolegal

2026 Disiplin Profesi Dokter

DISIPLIN  PROFESI  DOKTER

fx wikan indrarto

Awalnya bingung dan dilematis, saat dihubungi oleh seorang pengacara untuk hadir dan memberikan pendapat medis pada sebuah sidang di hadapan Yang Mulia Majelis Disiplin Profesi (MDP) periode 2024–2028, yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/1630/2024, sebagai pemeriksa dugaan pelanggaran disiplin kedokteran.

Lihat juga :

https://www.instagram.com/p/Daj8DOMoBpW/?igsh=bnA2cDNseXJwNWI=

Siap terbang dari Bandara Adisucipto Yogyakarta

Setelah berkonsultasi kepada banyak senior dokter dan ahli hukum, saya akhirnya menyanggupinya dengan penuh was-was.

Rabu dini hari, 8 Juli 2026 saya memasuki Bandara Adisucipto Yogyakarta, yang lama tidak difungsikan sebagai bandara komersial. Hal ini karena seluruh rute penerbangan di Bandara Adisutjipto pindah ke Bandara Internasional Yogyakarta per 29 Maret 2020. Saya masuk perut pesawat milik maskapai Fly Jaya berkode KS101 jenis ATR 72-500. Pesawat ATR 72-500 adalah buatan perusahaan patungan Prancis-Italia bernama ATR,  kolaborasi antara Airbus (Prancis) dan Leonardo S.p.A. (Italia). ATR 72-500 adalah pesawat penumpang regional jarak pendek bermesin twin-turboprop, dengan efisiensi bahan bakarnya, berkapasitas standar 68 penumpang, dan mampu mendarat di landasan pendek.

Siap masuk ke kabin pesawat Fly Jaya berkode KS101 jenis ATR 72-500.

Mendarat dengan selamat di Bandara Legendaris Halim Perdanakusuma Jakarta

Bergaya di depan gerbang Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta

Setelah mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta, segera saya bergegas jalan kaki ke Gereja Katolik Santo Agustinus yang berada di bawah pengelolaan Keuskupan Agung Jakarta dan Ordinariat Militer Indonesia (OCI). Pada 29 Juli 1995, KASAU Marsekal TNI Rilo Pambudi meresmikan gereja ini dan Uskup Agung Jakarta, Mgr. Leo Soekoto, SJ memberkati bangunan gereja yang dinamai Agustinus, seorang filsuf yang bijaksana. Setelah berdoa sejenak memohon pendampingan Tuhan dan kebijaksanaan dalam menjalankan tugas pada sidang MDP, terus manyambut anak bungsu, Laras dan suaminya William, yang datang menguatkan saya.

Berjalan kaki pagi dari Bandara menuju Gereja Katolik Santo Agustinus Halim Perdana Kusuma Jakarta

Dekorasi kaca patri bagian belakang di Gereja Katolik Santo Agustinus Halim Perdana Kusuma Jakarta

Selesai berdoa bersama Laras dan William di Gereja Katolik Santo Agustinus Halim Perdana Kusuma Jakarta

Lanjut bertiga kami menuju Gedung MDP dan KKI (Konsil Kesehatan Indonesia) di Jl. Hang Jebat III Blok F 3, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sidang dimpimpin oleh Wakil Ketua MDP, yaitu Dr. Ahmad Redi, SH, MH, MSi dengan anggota dr. Erfen Gustiawan Suwangto, Sp.KKLP, Subsp. FOMC, SH, MH(Kes), PhD dan Ns. Arthur Daniel Thomas Betlehem Lapian, SE, SKep, MKes, MARS. Di ruang sidang yang bersifat tertutup untuk umum, saya duduk di kursi belakang menghadap meja majelis, dengan sebelah kiri saya duduk para penasehat hukum pengadu dan di sebalah kanan saya duduk dokter teradu yang didampingi para penasehat hukumnya juga.

Mendarat dengan selamat Gedung MDP dan KKI (Konsil Kesehatan Indonesia) di Jl. Hang Jebat III Blok F 3, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Setelah 2 orang saksi mengangkat sumpah menurut agamanya, lanjut saya juga mengangkat sumpah menurut agama Katolik, bukan untuk beraksi, tetapi menjadi ahli yang memberikan pendapat. Diikuti ahli di sebelah saya, seorang dosen senior bidang hukum perdata dari sebuah universitas di Jakarta.

Persiapan akhir sebelum tampil pada sidang MDP

Saya menyampaikan pendapat medis (medical opinion) sebagai keterangan ahli terkait Surat Panggilan Sidang Nomor: MD.01/MDP/1248/VI/2026 Tertanggal 30 Juni 2026. Pendapat Medis ini disusun atas permintaan Endang Supriyatna, SH, Sekjen NU Bogor Raya Law Firm dari Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBHNU). Dalam hal ini bertindak sebagai penasehat hukum seorang ibu yang beralamat di Kelapa Gading Jakarta Utara, yang melakukan pengaduan dugaan pelanggaran disiplin kedokteran kepada MDP pada tanggal 29 Mei 2026. Hal ini dipicu karena anak perempuannya (15 tahun) dirampas oleh mantan suaminya yang telah terjadi perceraian.

Saat bersama dengan ibunya sesuai hak asuh yang diperolehnya, anak tersebut bertumbuh secara sehat, baik mental dan fisik, normal, ceria dan berkembang dengan baik di rumah maupun di lingkungan sosial dan sekolah. Setelah bersama ayahnya, anak tersebut diperiksakan kepada seorang dokter di sebuah RS di Jakarta sebanyak 12 kali tatap muka, dan 9 kali tanpa dihadiri pasien. Ibu tersebut melaporkan dokter karena memberikan sedemikian banyak obat pada periode 2023-2025, hanya dengan mendengarkan uraian yang disampaikan oleh ayah anak tersebut, dan gagal untuk melihat potensi ketergantungan obat yang akan dialami oleh pasien. Selain itu, menurut ibu tersebut, dokter telah melakukan pelanggran disiplin profesi, karena sengaja meniadakan hak-hak ibu kandung, sekaligus membuat anak kehilangan haknya atas kebebasan.

Pendapat medis yang saya susun baru layak diketahui oleh umum, setelah perkara ini diputus, sehingga untuk sementara saya simpan. Seusia menjawab semua pertanyaan majelis hakim, para penasehat hukum dokter teradu dan ibu itu sebagai pengadu, saya pamit keluar ruangan sidang, saat sidang dilanjutkan dengan sesi lainnya.

Mendarat di Gereja Katolik Santo Yohanes Penginjil Paroki Blok B, di Jl. Melawai Raya 197 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Altar gereja yang menyimpan sebuah relikui Santo Yohanes Penginjil, berupa potongan kecil tulangnya.

Lansekap Gereja Katolik Santo Yohanes Penginjil Paroki Blok B, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Ditemani Laras dan William, kami menuju Gereja Katolik Santo Yohanes Penginjil Paroki Blok B, di Jl. Melawai Raya 197 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, untuk mengucap syukur dan berterimakasih atas semua rahmat Tuhan. Gereja ini dinamai menurut Yohanes Penginjil, yang dikenal sebagai salah seorang penulis Injil dan dua belas rasul Yesus Kritus. Di bawah altar gereja, terdapat sebuah relikui Santo Yohanes Penginjil, berupa potongan kecil tulangnya. Keaslian relikui ini dinyatakan oleh Uskup Agung Ferrara-Comacchio Italia utara, Mgr. Luigi Negri, pada tahun 2016. Relikui ini diserahkan oleh Communauté des Béatitudes di Medjugorje, Bosnia dan Herzegovina pada tahun 2018.

Gerbang Rumah Makan Mata Karanjang di Jl. Wijaya VI No. 14A, Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Furniture buatan William di Rumah Makan Mata Karanjang Jakarta Selatan.

Kami bertiga lanjut makan sore di Rumah Makan Mata Karanjang di Jl. Wijaya VI No. 14A, Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Restoran sederhana dan kasual ini menyajikan hidangan khas dari Sulawesi Utara. Selain aroma, rasa dan presentasi menu tersebut yang kami tuju, kami mengunjunginya juga untuk melihat furniturenya yang dibuat oleh perusaaah William di Jepara, Jawa Tengah

Siap naik MRT di Stasiun Blok M BCA

Kepadatan penumpang MRT Line 1 Utara Selatan Jakarta

MRT Jakarta yang telah kosong penumpang ternyata dicetuskan sejak 1985 oleh Prof. BJ. Habibie.

Setelah kenyang dan lega, kami segera menyusuri Blok M untuk menikmati Moda Raya Terpadu Jakarta (MRT Jakarta atau Jakarta Mass Rapid Transit). Ide pembangunan MRT di Jakarta telah dicetuskan sejak 1985 oleh Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi saat itu, Prof. BJ. Habibie. Kami akan menikmati sepenggal jalur pertama (Line 1 Utara Selatan) sepanjang 15,7 km yang menghubungkan Stasiun Lebak Bulus dengan Stasiun Bundaran HI Bank Jakarta. Kami naik dari Stasiun Blok M BCA (BML), melewati Blok A (BLA), Haji Nawi (HJN), Cipete Raya (CPR), Fatmawati Indomaret (FTM)dan turun Lebak Bulus Bank Syariah Indonesia (LBB)

Perpisahan kami di Stasiun MRT Lebak Bulus Bank Syariah Indonesia Jakarta Selatan

Lanjut kami berpisah jalan, karena William dan Laras pulang ke Bogor naik Grab Mobil dan saya jalan kaki ke Terminal Pondok Pinang. Saya lanjut menikmati kenyamanan kabin lantai 2 bis Rosalia Indah 119, bersasis premium Scania K410 buatan Swedia, berbodi Jetbus 3 double decker yang gagah buatan karoseri Adiputro Malang, dan dikenal sebagai millenial bus full tol trans Jawa AD 7254 DF.

Bis Rosalia Indah Scania K410 Jetbus 3 double decker

Kamis pagi, 9 Juli 2026 saya dapat kembali ke rumah di Yogyakarta.

Sidang dugaan pelanggaran disiplin profesi dokter sangat menekan jiwa bagi siapapun, bukan hanya sekedar pada dokter teradu saja. Semoga para dokter Indonesia mampu memberikan layanan medis kepada para pasien dengan semakin beretika, mermutu dan legal. Juga profesional dan manusiawi. Terimakasih

Salam dokter

-wikan

Categories
anak antibiotika dokter Healthy Life UHC

2026 Hari Kesehatan Dunia

HARI  KESEHATAN  DUNIA 2026

fx. wikan indrarto

Hari Kesehatan Dunia diperingati setiap 7 April untuk menandai berdirinya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 7 April 1948. Pertama kali diperingati tahun 1950, hari istimewa ini bertujuan menyoroti isu kesehatan global utama seperti kesehatan mental, ibu-anak, dan perubahan iklim, serta mendorong kesadaran masyarakat. Apa yang menarik?

Tulisan ini dimuat di Harian Jawa Pos Surabaya pada Rabu, 8 April 2026 dengan judul : Peran Sains dalam Kesehatan Terpadu

Hari Kesehatan Dunia yang diperingati Selasa, 7 April 2026 menyerukan kepada semua orang di seluruh dunia untuk mengandalkan ilmu pengetahuan (sains). Dengan tema “Bersama untuk kesehatan. Berdiri bersama sains” (Together for health. Stand with science) peringatan tahun 2026 ini meluncurkan kampanye selama setahun, untuk mendorong kolaborasi ilmiah dalam melindungi kesehatan manusia, hewan, tumbuhan, dan planet ini. Kampanye ini menyoroti pencapaian ilmiah dan kerja sama multilateral, yang dibutuhkan untuk mengubah bukti menjadi tindakan, melalui pendekatan ‘One Health’ atau kesehatan terpadu.

Kampanye ini mengajak semua orang di mana pun untuk berpartisipasi merayakan pencapaian ilmiah, terlibat dengan bukti, berbagi kisah pribadi tentang bagaimana sains meningkatkan kehidupan, dan bergabung dalam percakapan global melalui tagar #StandWithScience.

Tujuan kampanye ini menyerukan kepada pemerintah, ilmuwan, dokter, tenaga kesehatan, mitra, dan masyarakat untuk pertama, berdiri bersama sains dengan terlibat dengan bukti, fakta, dan panduan berbasis sains untuk melindungi kesehatan. Kedua, membangun kembali kepercayaan pada sains dan kesehatan masyarakat; dan ketiga, mendukung solusi berbasis sains untuk masa depan yang lebih sehat, melalui pendekatan ‘One Health’.

Konsep “One Health” umumnya dikaitkan dengan karya Calvin Schwabe dari Universitas California, Davis USA sejak tahun 1960-an. Pendekatan ‘One Health’ adalah metode terpadu yang menyatukan kesehatan manusia, hewan, dan ekosistem secara berkelanjutan untuk mencegah penyakit, khususnya zoonosis (penyakit yang menular dari hewan ke manusia). Ini melibatkan kolaborasi berbagai sektor untuk mengoptimalkan keseimbangan kesehatan ketiga komponen tersebut.

Fokus ‘One Health’ adalah pencegahan, deteksi, dan pengendalian penyakit zoonosis. Sains memainkan peran penting dalam deteksi patogen, surveilans epidemiologi, penelitian vaksin, dan studi molekuler pada manusia maupun hewan. Kolaborasi multisektoral dalam ‘One Health’ melibatkan dokter, ahli kesehatan masyarakat, dokter hewan, ahli ekologi, dan pihak lain terkait. Pentingnya menyertakan lingkungan pada pendekatan ‘One Health’ adalah menekankan bahwa kesehatan manusia dan hewan, sangat bergantung pada kesehatan ekosistem. Pendekatan ini krusial untuk mengatasi ancaman kesehatan yang kompleks pada interaksi antara manusia, hewan, dan lingkungan.

Peran sains krusial dalam ‘One Health’. Pertama, penyedia bukti dan teknologi deteksi zoonosis dan kekebalan antimikroba (AMR), terutama ilmu pengetahuan di bidang kedokteran hewan dan mikrobiologi, berperan penting dalam mendeteksi virus, memantau spillover (perpindahan) patogen dari hewan ke manusia, serta menganalisis resistensi antibiotik pada ekosistem yang berbeda. Kedua, dalam intervensi lingkungan dan sosial ekologis, karena sains membantu merancang intervensi yang disesuaikan dengan konteks sosial-ekologis, seperti pengelolaan hama terpadu untuk keamanan pangan dan perlindungan lingkungan.

Ketiga, kolaborasi lintas disiplin dengan menyatukan para ahli dari berbagai bidang, termasuk dokter, dokter hewan, ahli ekologi, antropolog, dan ilmuwan sosial, untuk memecahkan masalah sistemik yang kompleks. Keempat, jembatan antara sains dan kebijakan dimungkinkan karena platform ilmiah menyediakan data yang valid bagi pembuat kebijakan kesehatan, untuk mengambil keputusan cepat dan tepat, terutama dalam manajemen pandemi.

Peran ini memastikan bahwa pendekatan ‘One Health’ tidak hanya berbasis teori, tetapi didukung oleh bukti ilmiah yang kuat untuk menciptakan kesehatan global yang berkelanjutan. Selain itu, sains berperan krusial dalam kedokteran sebagai fondasi pengembangan metode diagnostik, pengobatan, dan pencegahan penyakit melalui pendekatan biologi, kimia, dan fisika medik. Ini mencakup inovasi teknologi seperti alat pencitraan medis, penemuan obat baru, vaksin, teknologi AI/data science untuk deteksi dini, hingga robotika bedah.

Data science dan AI memungkinkan analisis data medis (rekam medis, pemeriksaan pencitraan maupun laboratorium klinik) untuk diagnosis yang lebih akurat dan personalisasi pengobatan (precision medicine). selain itu, sains juga berperan dalam pengembangan obat dan vaksin. Ilmu kimia dan biologi medik berperan dalam meneliti serta menciptakan terapi baru yang efektif, termasuk penanganan penyakit kronis, kanker, dan virus baru, seperti COVID-19.

Teknologi medis hasil sains mutakhir juga sangat bermanfaat, terutama dalam penggunaan fisika medik dan robotika membuat prosedur bedah menjadi kurang invasif, lebih aman, nyaman dan efisien. Sains juga berperan dalam proses pencegahan dan manajemen kesehatan melalui analisis data epidemiologi untuk memahami penyebaran penyakit dan memanfaatkan perangkat yang tersedia (wearable devices) untuk deteksi dini pasien secara real-time. Bahkan sains juga berperan pada efisiensi layanan kesehatan, karena sains dapat mengolah data dan mengoptimalkan operasional rumah sakit, mulai dari manajemen logistik obat hingga meminimalkan kesalahan diagnosis.

Momentum Hari Kesehatan Dunia 2026 mengingatkan semua orang di seluruh dunia untuk mengandalkan ilmu pengetahuan (sains). Sains mampu mengubah pendekatan kesehatan dari sekadar pengobatan menjadi pencegahan yang proaktif, serta meningkatkan kualitas hidup pasien melalui inovasi berkelanjutan.

Apakah kita sudah bijak?

Sekian

Yogyakarta, 25 Maret 2026

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM.

Categories
anak dokter Healthy Life resisten obat

2026 Ada Kusta di Antara Kita

ADA  KUSTA DI  ANTARA  KITA

fx. wikan indrarto*)

Tema Hari Kusta Dunia (World Leprosy Day) Minggu, 25 januari 2026 adalah “Kusta dapat disembuhkan, tantangan sebenarnya adalah stigma”. Tema ini merupakan seruan untuk bertindak yang bertujuan meningkatkan kesadaran tentang kusta, menyoroti tantangan yang dihadapi oleh penderita kusta, dan menginspirasi tindakan kolaboratif untuk memberantas kusta. Apa yang harus dilakukan?

Tulisan ini telah dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 22 Februari 2026, halaman 8, kolom Husada

Kusta atau lepra adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium leprae. Kusta tercatat dalam peradaban kuno di Cina, Mesir dan India. Penyebutan kusta secara tertulis pertama dikenal pada 600 SM dan sejak itu penderita kusta sering dikucilkan oleh masyarakat dan keluarga mereka. Bakteri M. leprae sebagai penyebab kusta ditemukan oleh Dr. GA. Hansen pada tahun 1873 dan merupakan bakteri pertama yang dikenali sebagai penyebab penyakit infeksi pada manusia.

Dalam sebuah negara atau daerah endemik, seseorang harus dicurigai kusta jika menunjukkan satu dari tanda utama atau kardinal sebagai berikut, (1) lesi kulit berwarna putih atau leukoderma yang disertai dengan kehilangan sensorik atau anestesi yang pasti, dengan atau tanpa penebalan saraf dan (2) pemeriksaan apusan kulit positif bakteri kusta. Lesi kulit dapat bersifat tunggal atau ganda, biasanya kurang berpigmen dari kulit normal di sekitarnya, sehingga terlihat lebih putih. Gangguan sensorik atau anestesi adalah gambaran khas kusta, berupa hilangnya sensasi untuk sentuhan ringan. Saraf yang menebal, terutama batang saraf perifer, merupakan gambaran khas kusta yang lain. Penebalan saraf sering disertai dengan tanda hilangnya sensasi di kulit dan kelemahan otot yang diatur oleh saraf yang terkena. Apusan kulit positif berarti ditemukan bakteri berbentuk batang, bernoda merah dapat dilihat pada sediaan yang diambil dari kulit yang terkena, ketika diperiksa di bawah mikroskop dengan pewarnaan yang sesuai.

Terobosan terapi pertama terjadi pada tahun 1940-an dengan pengembangan dapson, obat kusta pertama. Namun durasi pengobatan dengan dapson itu bertahun-tahun dan bahkan seumur hidup, sehingga sulit bagi pasien untuk mematuhinya. Pada tahun 1960, bakteri M. leprae mulai menjadi resistensi terhadap dapson, yang dikenal sebagai obat anti-kusta satu-satunya di dunia pada saat itu. Pada awal 1960-an, ditemukan obat kusta lainnya, yaitu rifampisin dan clofazimine. Sejak tahun 1981, WHO merekomendasikan MDT yang terdiri dari 3 obat: dapson, rifampisin dan clofazimine, dan kombinasi obat ini mampu mematikan bakteri patogen dan menyembuhkan pasien.

Pada tahun 1991 Majelis Kesehatan Dunia mengeluarkan resolusi untuk menghilangkan kusta pada tahun 2000. Penghapusan kusta didefinisikan sebagai tingkat prevalensi kurang dari 1 kasus per 10.000 orang. Target itu dicapai dengan penggunaan MDT, yang mampu mengurangi beban penyakit secara dramatis. Selama 20 tahun terakhir, lebih dari 14 juta penderita kusta telah sembuh, sekitar 4 juta dari mereka sembuh sejak tahun 2000. Tingkat prevalensi penyakit telah turun 90%, dari 21,1 per 10.000 orang menjadi kurang dari 1 per 10.000 orang pada tahun 2000. Kusta telah mampu dieliminasi di 119 dari 122 negara di mana penyakit ini dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat pada tahun 1985.

Stigma kusta secara konsisten diangkat oleh penderita kusta sebagai salah satu tantangan terbesar mereka. Stigma memengaruhi kehidupan penderita kusata sehari-hari, sebab dapat menyebabkan kehilangan pekerjaan, terpaksa meninggalkan rumah mereka, alasan dijauhkan dari keluarga dan kehidupan komunitas, dan bahkan dapat menjadi penolakan anak untuk bersekolah.

Stigma yang menyakitkan bagi yang terkena kusta sebenarnya ‘terjadi bukan karena orang jahat, tetapi karena mereka tidak mengerti.’ Stigma ada karena terlalu banyak orang percaya bahwa kusta sangat menular, bahwa tidak ada obatnya, bahwa itu disebabkan oleh dosa atau kutukan. Kesalahpahaman ini mewarnai cara orang diperlakukan ketika mereka didiagnosis menderita penyakit ini. Tergantung pada tingkat stigma dalam keluarga atau komunitas, namun demikian stigma ini dapat sangat menghancurkan kehidupan penderitanya.

Kusta dapat disembuhkan dengan pengobatan antibiotik yang sederhana dan gratis. Jika pengobatan itu dilakukan sejak dini, diharapkan tidak akan ada komplikasi bagi pasien tersebut. Selian itu, kita juga akan mampu mengurangi penularan kusta, meskipun stigma sering kali masih juga menghalangi pencapaian itu. Banyak orang masih menganggap stigma yang ditimbulkan oleh kusta, sehingga banyak penderita kusta memilih untuk menyembunyikan gejalanya, berdoa agar tidak ada yang menyadari sehingga mereka tidak harus menghadapi diskriminasi ini. Ketakutan penderita kusta seperti ini, sebenarnya justru akan mencegah mereka untuk berobat, yang menyebabkan komplikasi jangka panjang. Tentu saja, juga menimbulkan penularan kusta yang berkelanjutan.

Indonesia masih menempati peringkat ketiga beban kusta tertinggi di dunia, dengan lebih dari 400 kabupaten/kota masih mencatat penularan hingga akhir 2025. Kasus baru kusta ditemukan lebih dari 10.000 per tahun, termasuk pada anak, dengan Papua dan wilayah Timur lainnya sebagai salah satu fokus utama. Pemerintah menargetkan eliminasi di 11 kabupaten/kota pada 2025, menuju ‘zero leprosy’ pada 2030.

Momentum Hari Kusta Sedunia (World Leprosy Day) Minggu, 25 Januari 2026 mengingatkan kita tentang target nol infeksi pada anak dan mengurangi stigma, meskipun ternyata masih ada kusta di antara kita. Sudahkah kita bertindak?

Sekian

Yogyakarta, 24 Januari 2026

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM.

Categories
dokter medicolegal politik

2026 Perlindungan Hukum bagi Dokter

PERLINDUNGAN  HUKUM  BAGI  DOKTER

fx. wikan indrarto*)

Ditreskrimsus Polda Bangka Belitung melimpahkan berkas perkara serta tersangka seorang dokter spesialis anak  di  RSUD Depati Hamzah, ke Kejaksaan Tinggi Bangka Belitung, Kamis (20/11/2025). Pelimpahan kasus dilakukan kepolisian setelah berkas perkara terkait kasus tindak pidana kesehatan dinyatakan lengkap atau P21. Profesi dokter cukup sering menghadapi sengketa hukum. Ada berbagai penyebab, tetapi salah satu yang utama adalah karena perlindungan hukum atas profesi dokter tidaklah rinci. Apa yang sebaiknya dilakukan?

Tulisan ini telah dimuat di tribunnews.com :

https://www.tribunnews.com/tribunners/7777988/ketika-dokter-berhadapan-dengan-hukum-di-mana-perlindungan-profesi-dalam-uu-kesehatan-baru

Status tersangka ini ditetapkan setelah terbitnya rekomendasi dari Majelis Disiplin Profesi (MDP). Peran MPD untuk dokter adalah menegakkan disiplin profesi, mengawasi etika, dan memberikan sanksi atas dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh dokter dan tenaga kesehatan lainnya. MDP bertugas menerima dan memverifikasi pengaduan, melakukan investigasi, menyelenggarakan sidang disiplin, serta memberikan rekomendasi tindakan terhadap pelanggaran tersebut.

Pada era sebelumnya, Majelis Kehormatan Disiplin Profesi Kedokteran Indonesia (MKDKI) yang menangani masalah ini. Sedangkan MDP merupakan lembaga baru yang dibentuk berdasarkan UU No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Perbedaan utama adalah kewenangan MDP yang kini dapat memberikan rekomendasi untuk proses hukum pidana maupun perdata.

MDP telah mengeluarkan keputusan yang menyatakan bahwa dokter tersebut telah melanggar standar profesi sebagai dokter spesialis anak. Alasannya adalah dokter tersebut tidak pernah bertemu dan memeriksa langsung kondisi pasien. Perannya sebatas memberi arahan medis sesuai prosedur konsultasi spesialis. Kemudian rekomendasi itu berlanjut menjadi penetapan tersangka oleh Polda Bangka Belitung. Meskipun dokter tersebut telah mengajukan uji materi UU No.17/2023 tentang Kesehatan terutama Pasal 307 yang berkorelasi dengan kewenangan MDP atas keputusan yang merugikan dirinya, tetapi Mahkamah Konstitusi (MK) belum memberikan keputusan yang bersifat final dan mengikat, agar profesi dokter mendapat perlindungan hukum yang lebih rinci.

Michel Daniel Mangkey dalam ejournal Unsrat Vol. II/No. 8/Sep-Nov/2014, menjelaskan tentang ‘Lex et Societatis’. Dokter yang telah melaksanakan tugas sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional, berhak mendapatkan perlindungan hukum. Terdapat beberapa hal yang menjadi alasan peniadaan hukuman terhadap dokter, yaitu : resiko pengobatan, kecelakaan medik, tanpa unsur kelalaian, aturan minor yang dapat diabaikan, kesalahan dalam penilaian (error of (in) judgment), Volenti non fit iniura atau asumsi atas risiko, dan Res Ipsa Loquitur. Namun demikian, pada praktiknya sebagian hal tersebut sangat sulit, rumit, dan menyita waktu, tenaga dan konsentrasi dokter dalam perumusannya.

Sebaliknya, perlindungan hukum untuk profesi notaris, jauh lebih jelas, nyata, dan rinci, sebagaimana dituliskan oleh Mariyantini pada ejournal Undip vol 4, no 1 tahun 2013. Perlindungan hukum terhadap notaris ketika terjadi sengketa di pengadilan, telah diatur pada Pasal 66 Undang-undang No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris. Dalam hal memberikan kesaksian, seorang notaris tidak dapat mengungkapkan akta yang dibuatnya, baik sebagian maupun keseluruhannya, untuk merahasiakan semua hal yang diberitahukan kepadanya, karena akta yang dibuat oleh atau di hadapan notaris, merupakan suatu alat bukti yang mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna. Notaris hanya merumuskan keterangan dan pernyataan yang diperolehnya dari para penghadap. Notaris tidak hanya berhak untuk bicara, tetapi mempunyai kewajiban untuk tidak bicara. Kewajiban tersebut mengesampingkan kewajiban umum yang tercantum dalam Pasal 1909 ayat (1) KUHPerdata, karena adanya hak ingkar dari profesi notaris, sebagai konsekuensi dari adanya kewajiban merahasiakan sesuatu yang diketahuinya.

Yurisprudensi Mahkamah Agung (MA) melalui Putusan MA No 702K/Sip/1973, menyatakan bahwa notaris fungsinya hanya mencatatkan atau menuliskan, apa yang dikehendaki dan dikemukakan oleh para pihak yang menghadap notaris tersebut. Tidak ada kewajiban bagi notaris untuk menyelidiki secara materil, terkait apa yang dikemukakan oleh penghadap di hadapan notaris tersebut. Berdasarkan Putusan MA tersebut, jika akta yang dibuat oleh notaris dipermasalahkan oleh para pihak, maka hal tersebut menjadi urusan para pihak sendiri, notaris tidak perlu dilibatkan, dan notaris bukan pihak dalam akta.

Perlindungan hukum yang juga lebih baik, adalah terhadap profesi advokat atau pengacara. Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan permohonan perkara 26/PUU-XI/2013,  yaitu pengujian Pasal 16 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat, yang terkenal sebagai hak imunitas advokat. Putusan tersebut dinyatakan MK dalam sidang pengucapan putusan yang dipimpin Ketua MK Hamdan Zoelva, Rabu 14 Mei 2015. MK menegaskan bahwa ketentuan Pasal 16 UU Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat  harus dimaknai sebagai, advokat tidak dapat dituntut baik secara perdata maupun pidana dalam menjalankan tugas profesinya, dengan iktikad baik untuk kepentingan pembelaan klien, di dalam maupun di luar sidang pengadilan.

Dengan demikian hak imunitas profesi dokter dalam aspek perlindungan hukum, layak disusun serinci seperti profesi advokat dan notaris. Sudahkah para dokter bertindak agar mendapatkan perlindungan hukum?

Sekian

Sekian

Yogyakarta, 24 November 2025

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM.

Categories
anak dokter Healthy Life vaksinasi

2026 Vaksin dan Autis

VAKSIN  DAN AUTIS

fx. wikan indrarto

Kamis, 11 Desember 2025 analisis baru dari komite ahli WHO atau ‘The Global Advisory Committee on Vaccine Safety’ (GACVS), menegaskan  tidak ada hubungan sebab akibat antara vaksin dan autis. Bukti ilmiah berdasarkan 31 penelitian antara Januari 2010 dan Agustus 2025 dengan data dari berbagai negara, sangat mendukung profil keamanan positif vaksin dengan adjuvan tiomersal yang digunakan selama masa anak dan kehamilan, dan menegaskan tidak adanya hubungan sebab-akibat vaksin dengan autis.

Tulisan ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 4 Januari 2026, halaman 8, kolom HUSADA.

Imunisasi MMR dengan adjuvan tiomersal sempat mendapat penolakan dari banyak pihak dan menimbulkan fobia, terkait sebuah skandal penelitian yang besar. Pada tahun 1998, sebuah makalah karya dr. Andrew Wakefield, seorang dokter spesialis bedah, dimuat di jurnal bergengsi ‘Lancet’, tentang 12 kasus anak autis setelah divaksinasi MMR di Inggris. Makalah tersebut ditulis oleh Wakefield, Murch, dan Anthony dengan judul ‘Ileum hiperplasia limfoid nodular, kolitis non-spesifik, dan gangguan perkembangan regresif pada anak’ (Lancet, 1998, 351, halaman 637-41). Banyak media kemudian menampilkan informasi ini kepada publik awam, membuat heboh dan menimbulkan fobia. Dalam serangkaian laporan antara tahun 2004 dan 2010, jurnalis Brian Deer menyelidiki dan mengungkapkan bahwa dr. Wakefield memiliki beberapa konflik kepentingan, telah memanipulasi data, dan bertanggung jawab untuk apa yang kemudian oleh the ‘British Medical Journal’ (BMJ)  disebut “an elaborate fraud” atau penipuan yang rumit.

Penyelidikan Brian Deer ini adalah yang terpanjang yang pernah didanai oleh ‘General Medical Council UK’ (GMC). Pada bulan Januari 2010, GMC menilai dr. Wakefield tidak jujur, tidak etis dan tidak berperasaan, sehingga pada tanggal 24 Mei 2010 nama dr. Wakefield telah dihapus dari daftar dokter di Inggris. Menanggapi temuan Deer, pada tahun 2004 redaksi ‘Lancet’ menerbitkan surat untuk menanggapi tuduhan terhadap makalah yang dimuatnya, yang menyatakan tidak ada hubungan antara imunisasi MMR dan kejadian autis (no link existed between MMR and autism). ‘Lancet’ kemudian menarik sebagian laporan penelitian dr. Wakefield pada bulan Februari 2004. Pada tahun 2010, GMC menerbitkan sebuah laporan yang menentang tulisan dr. Wakefield dan menunjukkan bahwa catatan medis anak-anak di rumah sakit tidak mengandung bukti yang cukup meyakinkan, catatan medis di rumah sakit berbeda dengan makalah yang diterbitkan, dan akhirnya ‘Lancet’ pada bulan Februari 2010 mencabut sepenuhnya, isi makalah dr. Wakefield yang diterbitkan tahun 1998.

baca juga : https://pantirapih.or.id/rspr/anak-autis/

Autis merupakan kelompok kondisi yang beragam terkait dengan perkembangan otak. Karakteristiknya dapat terdeteksi pada masa anak, tetapi autis seringkali tidak didiagnosis hingga jauh kemudian. Autis memiliki tanda utama kesulitan dalam interaksi sosial dan komunikasi. Karakteristik lainnya adalah pola aktivitas dan perilaku yang tidak lazim, seperti kesulitan dalam transisi dari satu aktivitas ke aktivitas lain, fokus pada detail, dan reaksi yang tidak biasa terhadap sensasi. Mendiagnosis autis sulit dilakukan sebelum usia 12 bulan dan umumnya dimungkinkan pada usia 2 tahun. Ciri khas onsetnya meliputi keterlambatan perkembangan, atau kemunduran, dalam kemampuan bahasa dan sosial, serta pola perilaku yang berulang.

Bukti ilmiah menunjukkan bahwa berbagai faktor, baik genetik maupun lingkungan, berkontribusi terhadap timbulnya autis dengan memengaruhi perkembangan otak dini. Peningkatan kemungkinan autis pada keluarga dengan anggota autis dan khususnya pada kembar identik. Paparan terhadap faktor lingkungan tertentu lebih sering terjadi pada anak autis atau orang tua mereka. Ini termasuk usia orang tua yang lanjut, diabetes ibu selama kehamilan, paparan prenatal terhadap polutan udara atau logam berat tertentu, kelahiran prematur, komplikasi kelahiran yang parah, dan berat badan bayi lahir rendah. Selain itu, telah diteliti kemungkinan hubungan antara penggunaan berbagai obat selama kehamilan dan peningkatan risiko autis, yaitu paparan prenatal terhadap valproat dan karbamazepin, yang digunakan untuk penanganan kejang.

Autis tidak disebabkan oleh pola pengasuhan yang buruk dan tidak terkait dengan pola diet. Autis juga bukan penyakit menular dan tidak dapat menular ke orang lain. Anak autis seringkali memiliki kondisi penyerta, termasuk epilepsi, depresi, kecemasan, dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif.

Anak autis memiliki masalah kesehatan yang sama dengan populasi umum. Namun demikian, mereka mungkin juga memiliki kebutuhan perawatan kesehatan khusus yang berkaitan dengan autis atau kondisi penyerta lainnya. Mereka mungkin lebih rentan terhadap perkembangan penyakit kronis non-menular, karena faktor risiko perilaku seperti kurangnya aktivitas fisik, pola diet yang buruk, dan berisiko lebih besar mengalami kekerasan, cedera, dan pelecehan. Bahkan anak autis lebih mungkin meninggal sebelum waktunya.

Komite GACVS-WHO menegaskan kembali kesimpulan yang sama dengan sebelumnya dari tahun 2002, 2004, dan 2012, yaitu vaksin, termasuk yang mengandung tiomersal, tidak menyebabkan autis. WHO menyarankan semua pihak untuk mengandalkan ilmu pengetahuan terkini dan memastikan kebijakan vaksinasi didasarkan pada bukti terkuat yang tersedia. Upaya vaksinasi anak secara global merupakan salah satu pencapaian terbesar bidang kedokteran dalam meningkatkan kehidupan, mata pencaharian, dan kemakmuran masyarakat.

Selama 50 tahun terakhir, vaksinasi anak, termasuk penggunaan vaksin dengan adjuvan tiomersal, terbukti tidak menyebabkan autis dan telah menyelamatkan setidaknya 154 juta jiwa.

Sekian

Yogyakarta, 17 Desember 2025

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM.

Categories
anak dokter Healthy Life sekolah

2025 Cukai Minuman Manis

CUKAI  MINUMAN  MANIS

fx. wikan indrarto*)

Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa menerapkan pembatalan pengenaan cukai Minuman Berpemanis Dalam Kemasan (MBDK) yang rencananya akan diterapkan pada awal 2026. Apa yang mencemaskan?

Tulisan ini dimuat di Harian Nasional Kompas digital Jumat, 12 Desember 2025


https://www.kompas.id/artikel/cukai-minuman-manis?utm_source=link&utm_medium=shared&utm_campaign=tpd_-_android_traffic

Survei Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik (Susenas BPS) tahun 2021 menemukan ada 47,9 juta penduduk Indonesia mengonsumsi gula berlebih, dengan memilih 37 jenis makanan dan minuman berpemanis dari total 188 jenis bahan makanan dan makanan minuman jadi yang tersedia di Susenas. Hampir semua orang Indonesia menyukai konsumsi gula dalam berbagai makanan dan minuman, bahkan gula telah menjadi candu bagi orang Indonesia

Untuk pertama kalinya pada Selasa, 13 Desember 2022 WHO merekomendasikan pajak atau cukai global untuk MBDK, karena cukai  MBDK, tembakau, dan alkohol telah terbukti sebagai cara yang hemat biaya untuk mencegah penyakit, cedera, dan kematian dini. Cukai MBDK juga dapat mendorong perusahaan minuman kemasan untuk memformulasi ulang produknya, dengan mengurangi kadar gula. Konsumsi MBDK secara teratur, termasuk minuman ringan, susu beraroma, minuman berenergi, air vitamin, jus buah, dan es teh manis, dikaitkan dengan peningkatan risiko gigi berlubang, diabetes tipe 2, penambahan berat badan dan obesitas pada anak, dan kelak lebih mudah mengalami penyakit jantung, stroke dan kanker saat dewasa muda.

Bukti menunjukkan bahwa menerapkan cukai MBDK akan meningkatkan harga produk dan mengurangi permintaan, sehingga mengurangi pembelian. Satu kali kenaikan cukai MBDK global yang menaikkan harga 50% dapat menghasilkan pendapatan tambahan sebesar US$1,4 triliun selama 50 tahun. Jajak pendapat Gallup juga menemukan bahwa mayoritas orang di seluruh Amerika Serikat, Tanzania, Yordania, India, dan Kolombia mendukung cukai MBDK, alkohol, dan tembakau.

Obesitas dan penyakit tidak menular terkait diet terus meningkat secara global, sehingga diperlukan tindakan yang efektif untuk mengatasi faktor penyebabnya. Di antara pilihan kebijakan berbasis bukti yang tersedia, pilihan yang lebih sehat dengan pola makan yang lebih baik, adalah penerapan cukai MBDK.

WHO telah meluncurkan rancangan pedoman tentang kebijakan fiskal untuk mempromosikan diet sehat. Selain itu, juga memberikan rekomendasi tentang cukai MBDK dan subsidi pangan, dengan tujuan utama untuk mengubah perilaku konsumen dalam membeli produk makanan dan minuman.  

Andreyeva pada JAMA (2022) membuat laporan berjudul : ‘Evaluation of Economic and Health Outcomes Associated With Food Taxes and Subsidies’. Temuan sistematis terhadap 54 penelitian dan meta-analisis dari 15 penelitian melaporkan bahwa subsidi buah dan sayuran dikaitkan dengan peningkatan penjualan buah dan sayuran, dengan elastisitas harga −0,59. Sedangkan perubahan pola konsumsi secara statistik tidak signifikan. Selain itu, cukai makanan dikaitkan dengan harga yang lebih tinggi dan penurunan penjualan produk, meski bukti tentang hasil lain dari cukai makanan dan subsidi masih terbatas. Penelitian tambahan diperlukan untuk memastikan implikasi dari kebijakan tersebut untuk hasil konsumsi, diet, dan kesehatan.

Andreyeva pada JAMA (2022) membuat laporan lain yang berjudurl : ‘Outcomes Following Taxation of Sugar-Sweetened Beverages. A Systematic Review and Meta-Analysis’. Temuan dalam tinjauan sistematis dari 86 penelitian dan meta-analisis dari 62 penelitian, penerapan cukai MBDK dikaitkan dengan harga minuman 82% lebih tinggi dan penjualan MBDK 15% lebih rendah, dengan elastisitas harga permintaan dari −1,59. Tidak ada perubahan negatif yang ditemukan, sehingga cukai MBDK dapat berfungsi untuk mengurangi permintaan MBDK melalui harga yang lebih tinggi. Namun demikian, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami hubungannya dengan hasil akhir proses perubahan diet, derajat kesehatan dan heterogenitas tanggapan dari konsumen.

Cukai MBDK diusulkan sebagai alat kebijakan untuk mengatasi peningkatan prevalensi pola makan yang buruk, obesitas, dan beban biaya ekonomi dan sosial. Penyakit tidak menular (PTM) menyebabkan 71% kematian secara global, diperkirakan 40% kasus dikaitkan dengan faktor makanan yang tidak sehat. Kekhawatiran tentang PTM terkait diet semakin meningkat, karena hubungannya dengan derajat klinis yang lebih parah saat terpapar COVID-19, termasuk rawat inap di RS dan kematian.

Saat ini, setidaknya 85 negara telah menerapkan cukai MBDK, bahkan berapa negara telah berhasil menerapkan cukai tersebut dengan baik, yaitu Meksiko, Afrika Selatan, dan Inggris. Cukai MBDK dapat menjadi strategi jalan tengah (win-win) kemenangan untuk kesehatan masyarakat dan menurunkan biaya perawatan kesehatan, kemenangan untuk pendapatan pemerintah, dan kemenangan untuk ekuitas kesehatan.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat setidaknya 61,27% penduduk Indonesia usia tiga tahun ke atas mengonsumsi MBDK lebih dari 1 kali per hari. Juga 30,22% orang mengonsumsi MBDK sebanyak 1-6 kali per minggu dan 8,51% orang mengonsumsi MBDK kurang dari 3 kali per bulan. Pada hal rekomendasi konsumsi maksimum gula sebanyak 50 gram per hari atau empat sendok makan. 

Kebijakan cukai di Indonesia sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 39 Tahun 2007 Tentang Cukai MBDK, untuk untuk mencegah penyakit, cedera, dan kematian dini pada anak di sekitar kita. Mengapa cukai MBDK masih juga belum diterapkan pada tahun 2026?

Sekian

Yogyakarta, 9 Desember 2025

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM.

Categories
anak bayi prematur dokter Healthy Life Pendukung ASI

2025 Hari Prematuritas Dunia


HARI  PREMATURITAS  DUNIA  2025

fx. wikan indrarto

Tema tahun 2025 ini “Awal yang sehat, masa depan yang penuh harapan”, untuk mengingatkan kita bahwa setiap bayi berhak mendapatkan kesempatan hidup yang adil, dimulai dari hari pertama mereka. Berikan bayi prematur awal yang sehat untuk masa depan yang penuh harapan. Apa yang harus kita lakukan?

Tulisan ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 8 Desember 2025, halaman 8, kolom HUSADA dengan judul : Perawatan berkualitas bagi bayi prematur.


Awal yang kuat bukan hanya tentang bayi yang bertahan hidup, tetapi ini juga tentang janji profesi dokter dalam menghormati setiap kehidupan. Jadi ini tentang jaminan bagi bayi kecil agar tidak hanya untuk bertahan hidup, tetapi juga untuk berkembang dan suatu hari nanti, mengubah dunia. Kegagalan memberikan perawatan khusus yang dibutuhkan bayi mungil ini berarti hilangnya potensi besar di kemudian hari. Beberapa tokoh terhebat dalam sejarah dunia lahir terlalu dini. Bayi prematur yang terkenal antara lain Albert Einstein, Isaac Newton, Charles Darwin, dan Pablo Picasso.

Kampanye ini memiliki beberapa seruan utama untuk bertindak bagi semua negara yaitu pertama, berinvestasi dalam perawatan khusus untuk bayi baru lahir kecil dan sakit, termasuk unit neonatal, staf terlatih, ruang khusus, dan peralatan kesehatan penyelamat jiwa. Kedua, memperkuat layanan kesehatan ibu untuk mencegah kelahiran prematur dan mendeteksi masalah kesehatan sejak dini. Ketiga, mendukung keluarga dengan sumber daya emosional, finansial, dan praktis untuk merawat bayi mungil mereka. Dan keempat, memastikan kesetaraan sehingga kelangsungan hidup tidak bergantung pada lokasi geografis atau pendapatan, tetapi memberikan setiap bayi prematur, sejak usia sangat muda, kesempatan terbaik untuk masa depan yang cemerlang.

Sekitar 1 dari 10 bayi di seluruh dunia lahir prematur, yaitu lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu. Tanpa perawatan yang efektif, mereka berisiko tinggi mengalami kondisi kesehatan yang mengancam jiwa seperti gangguan pernapasan, infeksi, dan hipotermia, yang secara keseluruhan menyebabkan ratusan ribu kematian yang sebenarnya dapat dicegah setiap tahun. Untuk itu, mulai tahun 2025 WHO secara resmi menambahkan Hari Prematuritas Dunia setiap 15 November ke dalam kalender kesehatan internasional. Tujuan utamanya adalah meningkatkan kesadaran akan dampak kelahiran prematur dan mengupayakan perawatan berkualitas bagi setiap bayi prematur.

Saat WHO mengkampanyekan Hari Prematuritas Dunia untuk pertama kalinya pada 2008, ditandai dengan peluncuran panduan Perawatan Metode Kanguru (PMK). PMK ini adalah sebuah intervensi medis sederhana dan telah terbukti mampu menyelamatkan jiwa bayi prematur, sehingga selalu dikampanyekan ulang setiap tahun.

Setiap tahun secara global diperkirakan 15 juta bayi lahir prematur dan komplikasi akibat kelahiran prematur merupakan penyebab utama kematian pada anak balita. Di negara miskin, sebagian besar bayi prematur ekstrem meninggal dalam beberapa hari, sementara di banyak negara berpenghasilan tinggi, hampir semuanya bertahan hidup. PMK, yang menggabungkan kontak kulit ke kulit dengan pemberian ASI eksklusif, telah terbukti secara dramatis meningkatkan hasil klinis untuk bayi baru lahir kecil dan prematur, serta layak dan hemat biaya di semua situasi. PMK berhubungan dengan penurunan lebih dari 30% angka kematian bayi baru lahir, penurunan hampir 70% angka hipotermia, penurunan 15% angka infeksi berat, peningkatan berat badan bayi dan kesehatan jangka panjang, serta perkembangan kognitif yang lebih baik.

Meskipun ibu biasanya menjadi penolong utama, ayah, nenek dan anggota keluarga lainnya juga dapat malakukan PMK saat ibu tidak mampu, sekaligus memberikan dukungan emosional dan praktis yang krusial. PMK dapat dipraktikkan di semua tingkat fasilitas kesehatan, mulai dari ruang bersalin atau ruang operasi hingga bangsal pascanatal dan unit perawatan bayi baru lahir khusus atau intensif, dan dapat dilanjutkan di rumah.

Semua bayi baru lahir kecil dan sakit membutuhkan perawatan dan perhatian medis yang berdedikasi. WHO mengimbau pemerintah, sistem kesehatan, dan mitra untuk memprioritaskan perawatan berkualitas bagi bayi prematur dan bayi berat lahir rendah. Ini berarti memastikan bangsal atau fasilitas khusus dengan staf neonatal terlatih, yang menyediakan perawatan 24 jam bagi bayi baru lahir kecil dan sakit, serta akses terhadap alat kesehatan dan obat penting seperti antibiotik.

Karena waktu mereka di dalam rahim lebih singkat, banyak bayi prematur memiliki paru-paru, otak, sistem kekebalan tubuh, dan kapasitas pengaturan suhu yang belum berkembang. Hal ini meningkatkan risiko infeksi, hipotermia, masalah jantung, gangguan pernapasan, dan komplikasi lain yang mengancam jiwa.

“Tidak boleh lagi ada bayi baru lahir yang meninggal, karena penyebab yang dapat dicegah,” kata Dr. Per Ashorn, Kepala Unit Kesehatan dan Perkembangan Bayi Baru Lahir dan Anak WHO. Sudah saatnya kita semua memastikan setiap bayi prematur mendapatkan layanan medis yang mereka butuhkan, dengan berinvestasi dalam perawatan khusus untuk bayi kecil atau sakit, di samping layanan kebidanan yang dapat mencegah kejadian kelahiran prematur. Selain itu, juga mengingatkan pentingnya PMK untuk setiap bayi prematur, sebagai awal yang kuat agar bayi bertahan hidup, sesuai janji profesi dokter dalam menghormati setiap kehidupan.

Apakah kita sudah melakukannya?

Sekian
Yogyakarta, 25 November 2025
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM.

Categories
anak dokter Healthy Life UHC

2025 Dampak Perubahan Iklim

DAMPAK  PERUBAHAN  IKLIM

fx. wikan indrarto

Perubahan iklim telah memicu darurat kesehatan global, dengan lebih dari 540.000 orang meninggal akibat panas ekstrem setiap tahun dan 1 dari 12 rumah sakit di seluruh dunia berisiko mengalami penutupan terkait perubahan iklim. Apa yang mencemaskan?

Tulisan ini dimuat di Tribunnews.com

https://m.tribunnews.com/tribunners/7758745/dampak-perubahan-iklim-krisis-kesehatan-global-di-depan-mata

Data tersebut terdapat pada laporan bersama yang disusun oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Pemerintah Brasil (Presidensi COP30), dan Kementerian Kesehatan Brasil. COP30 (Konferensi Para Pihak ke-30) adalah bagian dari Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), yang diadakan di Belém, Brasil, pada 10-21 November 2025.  

“Krisis iklim adalah krisis kesehatan, bukan di masa depan yang jauh, tetapi di sini dan saat ini,” ujar Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO. Laporan tersebut menampilkan bukti tentang dampak perubahan iklim terhadap individu dan sistem kesehatan, serta contoh nyata tentang apa yang dapat dilakukan, dan sedang dilakukan, oleh berbagai negara untuk melindungi kesehatan dan memperkuat sistem kesehatan.

Dengan suhu global yang kini melebihi 1,5°C di atas tingkat pra-industri, dunia telah mengalami dampak kesehatan yang semakin meningkat. Sekitar 3,3 hingga 3,6 miliar orang telah tinggal di daerah yang sangat rentan terhadap perubahan iklim, dan rumah sakit menghadapi risiko kerusakan akibat dampak cuaca ekstrem 41% lebih tinggi dibandingkan tahun 1990. Hal ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk memperkuat dan mengadaptasi sistem kesehatan guna melindungi masyarakat dari guncangan terkait iklim.

Tanpa dekarbonisasi yang cepat, jumlah RS yang berisiko dapat berlipat ganda pada pertengahan abad ini, yang menekankan pentingnya penerapan langkah-langkah adaptasi untuk melindungi infrastruktur kesehatan. Sektor kesehatan sendiri menyumbang sekitar 5% emisi gas rumah kaca global dan membutuhkan transisi cepat ke sistem rendah karbon dan berketahanan iklim. Hanya ada 54% rencana adaptasi kesehatan nasional berbagai negara yang terkait dengan risiko perubahan iklim terhadap RS, dan kurang dari 30% penelitian tentang adaptasi RS yang berfokus pada pendapatan, 20% mempertimbangkan gender, dan kurang dari 1% melibatkan penyandang disabilitas.

“Buktinya jelas: melindungi sistem kesehatan adalah salah satu investasi paling cerdas yang dapat dilakukan oleh negara manapun,” kata Profesor Nick Watts, Ketua Kelompok Penasihat Ahli dan Direktur, Pusat Kedokteran Berkelanjutan NUS. Mengalokasikan hanya 7% dari pendanaan adaptasi untuk kesehatan akan melindungi miliaran orang dan menjaga layanan penting di RS tetap beroperasi, selama guncangan iklim dan ketika pasien sangat membutuhkannya.

Ada kemajuan yang sedang dicapai antara tahun 2015 dan 2023, jumlah negara dengan Sistem Peringatan Dini Multi-Bahaya nasional meningkat dua kali lipat menjadi 101, yang kini mencakup sekitar dua pertiga populasi global. Namun, hanya 46% Negara Terbelakang dan 39% Negara Berkembang Kepulauan Kecil yang memiliki sistem tersebut yang efektif.

Kini terdapat lebih dari cukup bukti untuk meningkatkan tindakan, hari ini juga. Intervensi yang hemat biaya dan berdampak tinggi telah tersedia untuk setiap komponen dalam Rencana Aksi Kesehatan Belém Brasil. Namun demikian, strategi adaptasi pada akhirnya dapat gagal, kecuali jika strategi tersebut mengatasi akar penyebab kesenjangan derajat kesehatan, baik di dalam sistem kesehatan maupun di seluruh masyarakat.

Rencana Aksi Kesehatan Belém Brasil menyerukan kepada setiap pemerintah untuk pertama, mengintegrasikan tujuan pembangunan bidang kesehatan ke dalam Rencana Adaptasi Nasional. Kedua, memanfaatkan penghematan finansial dari dekarbonisasi untuk mendanai adaptasi kesehatan. Ketiga, berinvestasi dalam infrastruktur yang tangguh, dengan memprioritaskan RS dan layanan esensial. Dan keempat, memberdayakan masyarakat untuk membentuk respons yang memadai.

Pemerintah Brasil juga merilis laporan pendamping, yang menyoroti bahwa perubahan iklim menimbulkan risiko besar terhadap kesehatan manusia, terutama bagi populasi yang rentan dan terpinggirkan secara historis. Selain itu, adaptasi yang efektif memerlukan keterlibatan aktif masyarakat dalam merancang, menerapkan, dan memantau kebijakan kesehatan.

“Dengan merilis laporan ini, Brasil dan WHO menegaskan kembali pentingnya COP30 sebagai COP Kebenaran. Laporan ini memberikan data dan bukti yang jelas bahwa perubahan iklim telah berdampak langsung pada sistem kesehatan di seluruh dunia,” ujar Dr. Alexandre Padilha, Menteri Kesehatan Brasil. Tragedi baru-baru ini menunjukkan bahwa sekaranglah saatnya untuk menerapkan kebijakan dan tindakan yang mengatasi dampak perubahan iklim terhadap kesehatan.

Rencana Aksi Kesehatan Belém, Brasil menguraikan tiga lini aksi untuk sistem kesehatan yang tangguh terhadap perunahan iklim. Pertama, surveilans dan pemantauan, yang berfokus pada penguatan surveilans kesehatan terpadu dan berbasis iklim. Kedua, kebijakan, strategi, dan pengembangan kapasitas berbasis bukti, yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan sistem nasional dan lokal, dalam menerapkan solusi yang efektif dan berbasis kesetaraan. Dan ketiga, inovasi, produksi, dan kesehatan digital, yang mendorong penelitian, pengembangan, dan akses terhadap teknologi yang memenuhi kebutuhan kesehatan, untuk beragam populasi.

Sudahkah kita bertindak bijak?

Sekian

Yogyakarta, 19 November 2025

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
anak dokter Healthy Life

2025 Kelebihan Berat Badan

KELEBIHAN  BERAT  BADAN

fx. wikan indrarto

Lebih dari 390 juta anak dan remaja berusia 5–19 tahun mengalami kelebihan berat badan pada tahun 2022, termasuk 160 juta orang yang mengalami obesitas. Angkanya terus meningkat, bahkan pada tahun 2024, 35 juta anak balita global mengalami kelebihan berat badan. Apa yang mencemaskan?

Tulisan ini telah dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta pada Minggu, 23 November 2023, halaman 8, kolom HUSADA

Kelebihan berat badan adalah kondisi timbunan lemak yang berlebihan. Obesitas adalah penyakit kronis kompleks yang ditandai dengan timbunan lemak berlebih yang dapat mengganggu kesehatan. Diagnosis kelebihan berat badan dan obesitas dilakukan dengan mengukur berat badan dan tinggi badan seseorang, kemudian menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT), dengan rumus berat badan (kg)/tinggi badan² (m²). Kategori IMT untuk mendefinisikan obesitas bervariasi berdasarkan usia dan jenis kelamin. Untuk dewasa, kelebihan berat badan adalah IMT lebih besar dari 25, dan obesitas lebih besar dari 30.

Untuk anak balita, kelebihan berat badan adalah rasio berat badan terhadap tinggi badan yang lebih besar dari 2 standar deviasi dan obesitas bila lebih besar dari 3 standar deviasi di atas median Standar Pertumbuhan Anak WHO. Untuk anak usia 5–19 tahun, kelebihan berat badan rasio IMT terhadap usia lebih besar dari 1 dan obesitas lebih besar dari 2 standar deviasi di atas median Referensi Pertumbuhan WHO.

Pada tahun 2024, diperkirakan 35 juta anak balita mengalami kelebihan berat badan. Sebelumnya hal ini dianggap sebagai masalah di negara berpenghasilan tinggi saja, namun demikian saat ini kelebihan berat badan justru meningkat di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Di Afrika, jumlah anak balita yang kelebihan berat badan telah meningkat hampir 12,1% sejak tahun 2000. Hampir separuh dari anak balita yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas pada tahun 2024 berada di Asia.

Kelebihan berat badan dan obesitas disebabkan oleh ketidakseimbangan asupan energi (pola makan) dan pengeluaran energi (aktivitas fisik). Pada sebagian besar kasus, obesitas merupakan penyakit multifaktorial yang disebabkan oleh lingkungan obesogenik, faktor psikososial, dan varian genetik. Pada sebagian kecil pasien, faktor etiologi utama tunggal dapat diidentifikasi, misalnya obat, penyakit, imobilisasi, prosedur iatrogenik, penyakit monogenik atau sindrom genetik.

Lingkungan obesogenik yang meningkatkan kemungkinan obesitas terkait dengan faktor struktural. Misalnya kondisi yang membatasi ketersediaan pangan sehat berkelanjutan dengan harga terjangkau secara lokal, kurangnya mobilitas fisik yang aman dan mudah dalam kehidupan sehari-hari, dan tidak adanya hukum dan peraturan yang memadai. Di saat yang sama, kurangnya respons sistem kesehatan yang efektif untuk mengidentifikasi kelebihan berat badan dan penumpukan lemak pada tahap awal, memperparah perkembangan obesitas.

Kelebihan berat badan tidak hanya memengaruhi kesehatan anak dan remaja secara langsung, tetapi juga dikaitkan dengan risiko yang lebih besar dan timbulnya berbagai PTM (Penyakit Tidak Menular) lebih dini, seperti diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular. Obesitas pada masa anak dan remaja memiliki konsekuensi psikososial yang merugikan, bahkan obesitas memengaruhi prestasi sekolah dan kualitas hidup anak. Selain itu, juga diperparah oleh stigma, diskriminasi, dan perundungan. Anak dengan obesitas sangat mungkin akan menjadi orang dewasa dengan obesitas dan juga berisiko lebih tinggi terkena PTM di masa dewasa.

Dampak ekonomi dari epidemi obesitas juga patut dicermati. Jika sekarang tidak ada tindakan yang diambil, biaya global akibat kelebihan berat badan dan obesitas diperkirakan mencapai US$ 3 triliun per tahun pada tahun 2030 dan lebih dari US$ 18 triliun pada tahun 2060. Terakhir, peningkatan angka obesitas di negara berpenghasilan rendah dan menengah, termasuk di antara kelompok sosial ekonomi rendah, dengan cepat menjadikan obesitas sebagai masalah global, pada hal sebelumnya hanya terkait dengan negara berpenghasilan tinggi.

Banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah menghadapi apa yang disebut beban ganda malnutrisi. Dalam hal ini berarti bahwa sementara negara ini terus menghadapi masalah penyakit menular dan kekurangan gizi, tetapi negera tersebut juga mulai mengalami peningkatan pesat obesitas dan kelebihan berat badan. Bahkan kekurangan dan kelebihan gizi seperti obesitas sering ditemukan terjadi bersamaan di negara yang sama, komunitas yang sama, dan bahkan rumah tangga yang sama.

Kegemukan dan obesitas, serta penyakit tidak menular yang terkait, sebagian besar dapat dicegah dan ditangani. Pada tingkat individu, setiap orang dapat mengurangi risiko kelebihan berat badan dengan menerapkan intervensi pencegahan di setiap tahap siklus kehidupan, mulai dari pra-konsepsi dan berlanjut hingga tahun-tahun awal kehidupan.

Hal ini meliputi pertama, memastikan kenaikan berat badan yang sesuai selama kehamilan. Kedua, memberikan ASI eksklusif dalam 6 bulan pertama setelah kelahiran dan melanjutkan pemberian ASI hingga usia 2 tahun. Ketiga, mendukung perilaku anak seputar pola makan sehat, aktivitas fisik, perilaku rebahan (sedentary), dan tidur. Keempat, membatasi waktu menonton layar (screen time). Kelima, batasi konsumsi minuman manis dan makanan padat energi, serta promosikan perilaku makan sehat lainnya. Selain itu, dampingi anak membentuk pola hidup sehat (makan sehat, aktivitas fisik, durasi dan kualitas tidur, hindari tembakau dan alkohol, serta pengaturan emosi diri). Batasi anak dengan asupan energi dari total lemak dan gula, tingkatkan konsumsi buah dan sayur, serta menu kacang-kacangan atau biji-bijian. Yang terakhir, dampingi anak melakukan aktivitas fisik secara teratur.

Para dokter dan tenaga kesehatan perlu melakukan berbagai hal penting. Pertama, menilai berat dan tinggi badan setiap anak yang datang ke fasilitas kesehatan. Kedua, memberikan konseling tentang pola makan dan gaya hidup sehat. Ketiga, ketika diagnosis obesitas ditegakkan, menyediakan layanan kesehatan terpadu untuk pencegahan dan pengelolaan obesitas, termasuk edukasi pola makan sehat, aktivitas fisik, dan tindakan medis serta bedah. Dan keempat, memantau faktor risiko PTM lainnya (glukosa darah, lipid, dan tekanan darah) serta menilai keberadaan penyakit penyerta dan disabilitas, termasuk gangguan kesehatan mental.

Menghentikan peningkatan obesitas membutuhkan tindakan multisektoral seperti manufaktur, pemasaran, dan penetapan harga pangan, bahkan tindakan lain yang berupaya mengatasi determinan kesehatan yang lebih luas, seperti penanggulangan kemiskinan dan perencanaan kota. Kebijakan pemerintah di semua tingkatan meliputi tindakan struktural, fiskal, dan regulasi yang bertujuan menciptakan lingkungan pangan sehat yang menyediakan pilihan pangan sehat. Selain itu, juga program sektor kesehatan yang dirancang untuk mengidentifikasi faktor risiko, mencegah, mengobati, dan mengelola PTM dan memperkuat sistem kesehatan melalui pendekatan pelayanan kesehatan primer.

Selain itu, peran pelaku industri pangan juga penting dalam mempromosikan pola makan sehat untuk anak dengan pertama, mengurangi kandungan lemak, gula, dan garam dalam pangan olahan. Kedua, memastikan pilihan pangan sehat dan bergizi tersedia dan terjangkau bagi seluruh konsumen anak. Ketiga, membatasi pemasaran pangan tinggi gula, garam, dan lemak, terutama pangan yang ditujukan untuk anak dan remaja. Dan keempat, memastikan ketersediaan pilihan pangan sehat dan mendukung praktik aktivitas fisik rutin di tempat kerja.

Sudahkah kita bertindak bijak?

Sekian

Yogyakarta, 2 Oktober 2025

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Dekan FK UAJY, WA : 081227280161

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?