Categories
anak dokter Healthy Life Jalan-jalan sejarah

2016 San Fransisco CA Amerika

SAN  FRANSISCO

fx. wikan indrarto & b. sari prasetyati

Hari Minggu pagi buta, 21 Agustus 2016 yang masih gelap, setelah selesai acara the 28th International Congress of Pediatrics (IPA 2016) di ‘West Building Vancouver Convention Centre’, kami menumpang taxi dari Hotel Barclay yang beralamat di 1348 Robson St, Vancouver, BC V6E 1C5, Kanada, menuju Vancouver International Airport (YVR). Kami akan melanjutkan penjelajahan di San Fransisco, sebelum pulang ke Indonesia.

Penerbangan dengan pesawat Airbus A320-200 AC 560 milik Air Canada

‘Wellcome to the US’ di San Fransisco International Airport (SFO)

Penumpang tujuan Amerika Serikat, menempati segmen tersendiri di Vancouver International Airport (YVR), terpisah dengan pasien tujuan negera lainnnya. Setelah gagal mengatasi kesulitan proses ‘auto check in’ dengan mesin, kami dibantu petugas darat maskapai Air Canada, untuk pembayaran biaya bagasi penumpang. Sebuah kejadian yang tidak pernah kami alami pada maskapai penerbangan lainnya. Selain itu, ada juga fasilitas pengalihan status tas saat masih di ruang tunggu penumpang, yang awalnya akan masuk kabin pesawat dapat dialihkan menjadi tas bagasi. Rasanya di bandara lain belum pernah memiliki aturan seperti ini. Setelah itu, proses pemeriksaan imigrasi dilakukan oleh petugas dari Amerika Serikat, sehingga sudah ada ucapan ‘Wellcome to the US’, bendera AS yang berkibar di konter tersebut, dan penyerahan deklarasi bebas cukai. Penerbangan dengan pesawat Airbus A320-200 AC 560 yang memakan waktu 1 jam 35 menit, menjadi terasa sebuah penerbangan domistik. Perjalanan sejauh 857 mil atau 13.900 km dari Vancouver Kanada ke San Fransisco Amerika Serikat, masih berada di dalam satuan waktu GMT yang sama. Kami mendarat di San Fransisco International Airport (SFO) di pantai barat Amerika Serikat pada pukul 9.30, tidak lagi melalui proses imigrasi, tetapi sudah langsung dikejutkan dengan suasana kapitalistik murni, dengan aturan bahwa penggunaan troli bagasi penumpang dikenai biaya sewa.

Menikmati Bay Area Rapid Transit (BART) yaitu sistem transportasi umum yang melayani seluruh San Francisco Bay Area

Perjalanan kami selanjutnya adalah mencari tiket kereta api ke pusat kota, dengan menuju konter BART. Bay Area Rapid Transit (BART) adalah sistem transportasi umum yang melayani seluruh San Francisco Bay Area. Sistem BART pesat mengoperasikan lima rute sejauh 167 km, dengan 44 stasiun ditambah 5,1 km AGT ke Oakland Airport. Dengan rata-rata mengangkut 423.120 penumpang pada hari kerja dan 126 juta penumpang per tahun pada tahun fiskal 2015, BART adalah maskapai rel tersibuk kelima di Amerika Serikat. BART dibentuk pada tahun 1957 untuk melayani penumpang di San Francisco, Alameda County, dan Contra Costa County. Pembelian tiket di mesin sudah seringkali kami lakukan, tetapi pada BART sedikit berbeda. Pembelian yang dibantu oleh penumpang lain, ternyata menggunakan sistem pengurangan nominal uang kita, sampai setara tarif BART sesuai tujuan. Setelah itu, uang kembalian dan tiket akan keluar dari mesin.

Dari Pittsburg/Bay Point di San Francisco Int’l Airport Station, kami naik KA selama 30 menit dengan 10 perhentian, melewati stasiun San Bruno Station, South San Francisco Station, Colma Station, Daly City Station, Balboa Park Station, Glen Park Station, 24th St Mission Station, 16th St. Mission Station, Civic Center/UN Plaza Station dan turun di Powell St. Station. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar sekitar 7 menit sejauh 0,4 mil, untuk mencapai Union Square Plaza Hotel, yang beralamat di 432 Geary Street, San Francisco, CA 94102, Amerika Serikat dengan Biaya: US$8,95. Oleh karena kamar yang kami pesan belum siap dan masih digunakan tamu lain, kami hanya check in menitipkan tas dan melanjutkan petualangan.

Bingung di perempatan saat akan membeli ‘Clipper’ San Francisco, yaitu kartu dengan deteksi sentuh (contactless smart) isi ulang, yang digunakan untuk pembayaran ongkos angkutan umum secara elektronik di San Francisco Bay Area.

Salah satu sudut San Francisco Bay Area.

Kami harus berjalan 2 blok menyusuri Geary Street, untuk membeli tiket di Walgreens Store #1283, semacam apotek waralaba, di 500 Geary St. Untuk membeli ‘Clipper’ San Francisco, yaitu kartu dengan deteksi sentuh (contactless smart) isi ulang, yang digunakan untuk pembayaran ongkos angkutan umum secara elektronik di San Francisco Bay Area. Pertama kali diperkenalkan sebagai ‘TransLink’ pada tahun 2002 dan namanya diubah menjadi Clipper pada tanggal 16 Juni 2010. Kami naik Bis Line 38 menyusuri Geary St naik dari perempatan Jones. Seperti Melbourne dan Vancouver yang pernah kami kunjungi, San Fransisco juga memiliki tata ruang jalan yang sama, yaitu dalam bentuk kotak blok, sehingga rapi dan mudah diingat.

Salah satu sudut Fort Poin untuk melihat Golden Gate Bridge.

Setelah melewati Leavenworth, Hyde, Larkin,  Polk, Van Ness  Ave, Franklin, Gough, Octavia, Laguna, Buchanan, Webster, Fillmore, Steiner, Pierce, Scott, Devisadero, Masocanic Ave, Arguello, 8 th, Funston Ave, kami turun di Park Presidio Blvd. Dari situ kami berganti dengan bis Line 28 menyusuri Park Presiderio melewati Clement, California, Lake, masuk Gen. Douglas MacArthur Tunnel dan menyusuri Veterans Blvd untuk turun di Fort Poin dan melihat jembatan legendari ‘Golden Gate Bridge’ di Fort Point yang penuh wisatawan.

Bergaya melihat Golden Gate Bridge di Fort Point yang penuh wisatawan.

Mencari gaya lain saat melihat Golden Gate Bridge di Fort Point

Golden Gate Bridge adalah jembatan gantung ikonik yang membentang Selat Golden Gate dan menghubungkan kota San Francisco dengan Marin County di sebelah utara. Pada jembatan ini tersedia jalan raya U.S. Route 101 dan California State Route 1 di sepanjang teluk. Jembatan tersebut juga menyediakan pejalan kaki dan lalu lintas sepeda yang dirancang sebagai bagian dari U.S. Bicycle Route 95. Jembatan Golden Gate diakui oleh American Society of Civil Engineers sebagai salah satu dari Keajaiban Dunia, sekaligus salah satu simbol San Fransisco dan California yang diakui dunia.

Jembatan ini memiliki lebar 1,6 km dan panjang 4,8 km, melengkung dan seolah membatasi San Francisco Bay dan Samudra Pasifik. Jembatan ini adalah salah satu simbol paling diakui secara internasional dari San Francisco, California, dan Amerika Serikat. Telah dinyatakan sebagai salah satu ‘Keajaiban Dunia Modern’ oleh American Society of Civil Engineers. Frommer menggambarkan Golden Gate Bridge sebagai “jembatan yang paling indah di dunia untuk difoto.” Jembatan ini dibuka pada tahun 1937 dan sampai 1964 merupakan jembatan gantung bentang utama terpanjang di dunia, yaitu 1.300 m.

Terus bergaya dengan latar belakang Golden Gate Bridge di Fort Point.

Gaya lain de dekat Golden Gate Bridge di Fort Point yang penuh wisatawan.

Mengukur ketinggian Golden Gate Bridge di Fort Point San Fransisco.

Mengukur ulang ketinggian Golden Gate Bridge di Fort Point San Fransisco.

Setelah puas menikmati kegagahan struktur bangunan, keindahan panorama dan saling bantu dengan wisatwan lain untuk berfoto, kami melanjutkan perjalanan. Kembali kami naik bis Line 28, yang kondisi bis pada umumnya sangat berbeda dengan kondisi bis kota di Vancouver, Kanada. Bis kota di San Fransisco umumnya lebih tua, lebih sering ngebut, kurang nyaman dalam berkendara, karena gas rem berulang, sopir kurang sopan dan terkesan sombong, meskipun berpakaian lebih formal.

Mengatur gaya pengunjung lain di dekat Golden Gate Bridge di Fort Point yang penuh wisatawan.

Kami menyusuri Richardson Ave Street, melewati Palace of Fine Arts, lanjut menyusuri Lombard sampai Laguna, Oktavia, Gough, Franklin, dan di Souh van Ness berbelok kiri dan kami turun di Chestnut. Di Chosnut kami berganti bis kota Line 47 menyusuri South Ness Ave sampai GGNRA Headquarters, berbelok ke kanan menuju Fishermans Wharf untuk mencapai Alcatraz Departure Terminal. 

Kami hanya mampu membayangkan Alcatraz, yang sebenarnya adalah sebuah penjara lama yang terletak di sebuah pulau di San Francisco Bay. Pada awalnya adalah pusat pertahanan tentara dan akhirnya diubah menjadi penjara. Penjara Alcatraz menyimpan 1001 jenis misteri dan banyak sekali penjahat ataupun gengster  terkenal pernah dikurung di sini. Sekarang Alcatraz tidak lagi dijadikan sebagai penjara dan telah dibuka untuk pelancong dari seluruh dunia. Sore itu kami tidak jadi ikut keliling pulau Alcatraz, karena terlalu panjangnya antrian calon wisatawan di loket pembelian tiket.

Melewati Fishermans Wharf untuk mencapai Alcatraz Departure Terminal dan melihat kapal yang menuju ke Alcatraz. 

Dari Fishermans Wharf untuk mencapai Alcatraz Landing. 

Dari Pier 33, kami menyusuri dermaga atau San Francisco Fisherman’s Wharf untuk mencapai Pier 39 dengan menggunakan trem listrik. Dari sekian banyak dermaga di sepanjang ‘the embarcadero’ atau dermaga nelayan, Pier 39 adalah yang paling menarik dan paling banyak dikunjungi wisatawan. Pier 39 pertama kali dikembangkan oleh pengusaha Warren Simmons dan dibuka 4 Oktober 1978. Toko2 berkembang dengan pesat. Konsepnya memang ‘shopping arcade / pedestrian arcade’. Mobil2 di parkir jauh dari shopping arcade ini. Ada banyak toko souvenir di sekitar dermaga ini, wisatawan dapat berjalan-jalan sambil melihat-lihat suasana perbelanjaan, dan yang paling menarik adalah melihat singa laut yang banyak beristirahat di sana. Untunglah kami sempat melihatnya, meski hanya ada 1 ekor. Meskipun di daerah Fisherman’s Wharf di San Francisco memang menawarkan banyak daya tarik wisata, dengan dermaga-dermaganya yang cantik dan pemandangan pulau Alcatraz yang terkenal, tetapi bintang utama di Pier 39 yang mampu membuat para wisatawan berkumpul, adalah segerombolan singa laut dengan tingkah polahnya, yang jumlahnya dapat mencapai ratusan ekor. Pernah sejak September 1989 jumlah singa laut di Teluk California terus menurun, sedangkan jumlah mereka di Pier 39 secara umum meningkat. Beberapa orang berspekulasi bahwa singa laut pindah ke dermaga karena gempa Loma Prieta 1989, namun sebenarnya gempa terjadi sebulan setelah singa laut pertama tiba di Pier 39. Kemungkinan bahwa singa laut merasa lebih aman di Pier 39, dibandingkan di dalam ganasnya Teluk California.
Setelah puas menikmati Pier 39, kami pulag ke hotel untuk beristirahat. Maklum, perjalanan pulang kami diawali dengan bangun tidur pada pk. 2 dini hari dan mata tidak pernah sekejappun sejak bangun tidur itu. Kami naik bis Line 8 di North Point Stockton ke Powell, lalu menyusur Powell melewati Fransisco, Chestnut, Lombardi sampai Washinton Square, belok ke Columbus Ave sampai Kearny. Selanjutnya sampai bis sampai di ujung jalan Geary dekat Union Square untuk ganti bis kota Line 38, kembali ke hotel dengan menyusuri Geary. Malam itu kami tidur nyenyak, untuk memulihkan stamina yang sudah loyo dan melanjutkan petualangan kami di San Fransisco esok harinya.

(bersambung)

SAN FANSISCO HARI KEDUA

fx. wikan indrarto*)

Hari Selasa pagi, 23 Agustus 2016 yang dingin sekitar 14 derajad C, setelah selesai mengikuti acara the 28th International Congress of Pediatrics (IPA 2016) di ‘West Building Vancouver Convention Centre’, Vancouver, Kanada, kami melanjutkan petualangan di San Fransisco. Pada hari kedua di San Fransisco, dari Hotel Union Plaza di 432 Geary Street kami berjalan sekitar 2 menit sejauh 427 kaki menuju Geary Blvd & Taylor St untuk naik bis kota Muni Line 38 selama 7 menit dengan 7 perhentian, yaitu Jones St, Leavenworth St, Hyde St, Larkin St, Van Ness Ave, Franklin St. dan turun di Gough St. Selanjutnya kami berjalan kaki sekitar 2 menit sejauh 482 kaki untuk mencapai ‘Cathedral of Saint Mary of the Assumption’ yang beralamat di 1111 Gough Street, San Francisco, CA 94109, Amerika Serikat.

Katedral Santa Maria Assumpta, yang saat ini digembalakan oleh Mgr. Harry Schlitt adalah gereja utama untuk para pemeluk agama Katolik Roma, di Keuskupan Agung San Francisco, California. Katedral asli ‘Saint Mary Immaculate Conception’ dibangun pada 1853-1854 dan masih berdiri saat ini. Hal ini sekarang dikenal sebagai Gereja ‘Old Saint Mary’. Pada 1 Mei 1887 uskup agung meletakkan batu penjuru pembangunan gedung gereja baru. Uskup Agung Riordan, kemudian memberkati bangunan baru tersebut sebagai Katedral ‘Saint Mary of the Assumption’ pada 11 Januari 1891. Katedral kedua dibangun oleh Keuskupan Agung San Francisco selama tujuh puluh satu tahun. Pada tanggal 3 April 1962, Joseph T. McGucken menjadi Uskup Agung kelima San Francisco yang bertahta di katedral baru yang terletak di Van Ness Street. Pada tanggal 5 Mei 1971, katedral ini diberkati dan pada tanggal 5 Oktober 1996, secara resmi didedikasikan untuk Perawan Maria dengan nama ‘Cathedral Saint Mary of the Assumption’. Paus Pertama yang merayakan misa di katedral itu adalah Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1987.

Katedral Santa Maria Assumpta ini dirancang oleh arsitek lokal John Michael Lee, Paul A. Ryan dan Angus McSweeney, berkolaborasi dengan arsitek yang dikenal secara internasional Pier Luigi Nervi dan Pietro Belluschi, yang pada saat itu menjabat Dekan Sekolah Arsitektur di MIT. Desainnya menyerupai kapal yang sedang berlayar dan mengingatkan kami akan Katedral Santa Maria yang mirip sekali di Tokyo, yang dibangun awal dekade ini. Ukurannya 77,7 m persegi, tinggi 57,9 m dan dimahkotai dengan  salib suci dari logam setinggi 16,7 m. Karena kemiripannya dengan agitator mesin cuci besar, katedral telah dijuluki “Our Lady of Maytag” atau “McGucken ini Maytag”. Bangunan ini pada tahun 2007 dipilih oleh ‘American Institute of Architects’ untuk masuk dalam daftar top 25 bangunan di San Francisco. Setelah khusuk berdoa dan mengucap syukur, kami segera mengambil gambar dari berbagai sudut, untuk mendokumentasikan kemegahan dan keindahan gedung ‘Cathedral of St. Mary of the Assumption’.     

Kami melanjutkan perjalanan dengan naik bis kota San Fransisco yang dikenal sebagai Muni karena dioperasionalkan oleh MTA (Municipal Transportation Agency) Line 38 lagi, menyusuri Geary Street, melewati Octavia, Laguna, Buchanan, Wesbter, Fillmore, Steiner, Pierce, Scott, Divisidero, Arguello, 8th Ave, dan turun di Park Presidio Ave. Rute ini sama persis dengan yang kami lalui hari sebelumnya, yaitu dengan berganti bis Muni Line 28 ke Fort Poin di Golden Gate Bridge. Hari Senin pagi, 23 Agustus 2016 saat itu taman di dekat jembatan tersebut sangat longgar karena bukan hari libur, sangat berbeda dengan hari sebelumnya. Kami lanjutkan perjalanan melalui Presidio Parkway dan turun di Richardson Ave, untuk menyaksikan keindahan Palace of Fine Art.

The Palace of Fine Arts di daerah Marina di San Francisco, California, adalah struktur monumental indah yang awalnya dibangun untuk acara Panama-Pacific Exposition tahun 1915, yaitu kegiatan pameran karya seni. Gedung ini dibangun kembali pada tahun 1965 dan proyek renovasi laguna, trotoar, dan retrofit diselesaikan pada awal 2009. Selain sering untuk ruang pameran seni, gedung indah itu juga menjadi tujuan yang populer bagi wisatawan dan merupakan lokasi favorit untuk foto pra pernikahan oleh banyak pasangan di seluruh San Francisco Bay Area. Dibangun di sekitar laguna buatan kecil, Palace of Fine Arts terdiri dari, pergola lebar sekitar 340 m yang mengelilingi rotunda atau tiang besar di pusat yang terletak di tepi air dalam laguna. Air tersebut dimaksudkan untuk menimbulkan bayangan atau echo dalam gaya klasik di Eropa saat dilihat, di mana hamparan air menjadi permukaan cermin untuk memantulkan bentuk bangunan megah dari kejauhan. Ornamen mencakup tiga panel garapan Bruno Louis Zimm yang mengelilingi rotunda, dan melambangkan kebudayaan Yunani. Pematung hebat Ulric Ellerhusen memahat patung perempuan menangis di atas tiang dan dekorasi pahatan alegoris yang menggambarkan kontemplasi, keheranan dan meditasi. Bagian bawah kubah Palace rotunda ini memiliki delapan tiang besar, yang awalnya berisi mural karya Robert Reid. Palace of Fine Arts yang dirancang arsitek William Gladstone Merchant dan Bernard Maybeck tahun 1912 dalam areal seluas 6,9 ha telah dicatat dalam ‘U.S. National Register of Historic Places’.

Setelah puas menikmati keindahan bangunan tersebut, kami melanjutkan dengan berjalan kaki dalam taman indah di Golden Gate National Recreation Area yang dibangun tahun 1900. Pada taman yang terletak di seberang Palace of Fine Arts tersebut, juga terdapat Letterman Digital Arts Center, yang didatangi oleh para mahasiswa dan pekerja film. Di tengah taman berdiri gagah, patung Mr. Eadweard James Muybridge (1830-1904), father of cinema San Fransisco. Setelah melihat berbagai karya pekerja seni, termasuk tempat proses editing film Star Wars edisi ke2, kami lanjut ke Montgomery Steet Barracks. Barak militer yang digunakan pada Civil War 1861-64 dan perang Spanyol Amerika tahun 1898, waktu itu  merupakan Music in the Military Presidio Band Barracks yang terkenal sejak tahun 1867.

Di dalam areal tersebut, juga ada The Walt Disney Family Museum (WDFM) yaitu sebuah museum yang menampilkan kehidupan dan warisan Walt Disney. Museum ini terletak di The Presidio of San Francisco, bagian dari National Recreation Area Golden Gate di San Francisco. Bangunan utama dibangun tahun 2009. The Walt Disney Family Museum didanai oleh Walt Disney Family Foundation-sebuah organisasi non-profit yang didirikan oleh ahli waris Disney, termasuk Diane Disney Miller, putri kandung Disney dan pendiri museum. Di dalam bangunan museum utama terdapat 40.000 fitur teknologi terbaru dan bahan bersejarah yang menggambarkan prestasi Disney yang meliputi gambar awal, animasi, film, musik, dan model Disneyland berdiameter 12 kaki. Di lobi museum terdapat 248 penghargaan yang dimenangkan Disney selama karirnya, termasuk Presidential Medal of Freedom dan banyak Academy Awards, termasuk penghargaan kehormatan untuk Putri Salju dan Tujuh Kurcaci, yang terdiri dari satu Oscar berukuran sebenarnya bersama tujuh Oscar kecil yang menggambarkan 7 orang Kurcaci. Ada juga 10 galeri yang menggambarkan cerita dimulai dengan sejarah leluhur Walt Disney dan berakhir dengan saat kematiannya pada tanggal 15 Desember 1966. Miniatur Walt Disney Carolwood Pacific Railroad juga dibangun di halaman belakang museum, termasuk lokomotif Lilly Belle. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan dengan naik bis Muni Line 43 di depan Presidio Transit Center, menuju ke Lombard Street. Kami melewati Divisadero, Scott, Pierce, Steiner, Fillmore, Webster, Buchanan, Laguna, belok ke kiri dan turun di Chesnut untuk ganti bis Muni Line 30 ke Powell Hyde Cable Car Line.

Kita tahu bahwa Cable Car atau mobil kabel di San Francisco yang dioperasikan secara manual adalah yang tertua di dunia. Mobil kabel merupakan ikon San Francisco, bagian dari jaringan transportasi perkotaan intermoda yang dioperasikan oleh San Francisco Municipal Railway. Dari dua puluh tiga jalur rel yang dibangun antara 1873 dan 1890, tiga rute masih tetap aktif, yaitu dari pusat kota dekat Union Square ke Fisherman Wharf, dan sepanjang California Street. Sebagian besar dari 7 juta penumpang tahunan mobil kabel ini adalah wisatawan, karena ini adalah salah satu tempat wisata yang paling signifikan di kota San Fransisco, bersama dengan Alcatraz Island, Jembatan Golden Gate, dan Fisherman Wharf. Daya tarik mobil kabel tidak menjadi berkurang meskipun sudah ada trem San Francisco, yang beroperasi di Market Street dan Embarcadero. Cable Car The Powell-Hyde (Jalur 60) berjalan dari utara dan melaweti jalan yang curam menanjak di Powell menuju Market, sebelum melintasi garis California Street di puncak bukit. Kemudin menurun dari puncak, berbelok ke kiri, dan menanjak lagi melewati Jackson Street sampai ke puncak di Hyde Street. Jalur ini adalah jalur paling menantang dan sangat diminati oleh wisatawan, sehingga sering terjadi antrian panjang di konter tiket.

Setelah berbaur dengan para wisatawan yang mengagumi mobil kabel tersebut, kami lanjutkan perjalanan dengan naik bis Muni Line 30,  menyusuri Columbus dan menyimpang untuk turun di Chesnut. Dari situ kami berjalan kaki 2 blok ke Lombard and Jones, untuk menikmati keindahan sebuah segmen Lombard Street. Segmen jalan tersebut dikenal sebagai ‘crookedest street’ yaitu jalan dari timur ke barat di San Francisco, California, yang merupakan jalan menurun paling curam di dunia. Membentang dari Presidio timur ke Embarcadero, dengan mendatar sebentar di Telegraph Hill, dan dicatat sebagai “jalan yang paling bengkok di dunia “, terletak di sepanjang segmen timur di lingkungan Russian Hill. Jalan itu dinamai Lombard Street oleh Jasper O’Farrell, seorang surveyor dari Philadelphia di San Francisco. Desain jalan menurun tajam ini pertama kali diusulkan oleh pemilik properti Carl Henry dan dibangun pada tahun 1922, yang dimaksudkan untuk mengurangi 27% kemiringan jalan menurun bukit ini, agar tidak terlalu curam untuk kendaraan.

Setelah terengah-engah berjalan mendaki 2 blok dengan kecuraman sekitar 30 derajad, kami harus antri untuk berfoto dengan banyak wisatawan lain. Pada areal tersebut cukup banyak wisatwan yang terkagum-kagum dengan arsitektur jalan menurun dan taman bunga di sekitarnya, sehingga membuat cukup sulit berfoto polos. Setelah menunggu cukup lama dan berhasil foto di tengah kecurman jalan, kami segera melanjutkan perjalan dengan menuruni bukit sebanyak 3 blok, untuk ganti naik Muni Line 30 di  akhir Russian Hill. Bis berjalan cepat menyusuri Columbus menyimpang Masont, melewati Washington Square yang padat pengunjung, lanjut Powell, sampai Stockton belok kanan menyusur sisi barat China Town, kemudian berbelok ke kiri menyusuri Mason. Kami turun di Geary dan lanjut pulang ke hotel untuk berkemas-kemas. Sore itu kami akan makan malam perpisahan dengan seorang teman dari Yogyakarta, yang telah bekerja di sebuah bank, yaitu Wells Fargo, sejak 25 tahun lalu. Malam harinya, kami harus check out dari hotel, untuk kembali ke Indonesia.

Terima kasih kami haturkan, kepada semua pihak yang terkait, sehingga perjalanan untuk mengikuti the 28th International Congress of Pediatrics (IPA 2016) di Vancouver Kanada dan petualangan di San Fransisco AS ini, dapat terlaksana. Sampai jumpa dalam perjalanan selanjutnya. Terima kasih.

Sekian

*) pelancong Jawa berdana cekak.

Ditulis di kamar no 608 Hotel Union Plaza

di 432 Geary Street, San Fransisco, California, USA

Categories
dokter rumah sakit

2026 Model baru akreditasi RS

MODEL BARU AKREDITASI RS

fx. wikan indrarto

Tujuan diselenggarakannya akreditasi Rumah Sakit (RS) adalah meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, menjamin keselamatan pasien, dan memberikan perlindungan kepada masyarakat. Proses Akreditasi RS saat ini dilakukan dengan menilai aktivitas pada tahap input dan proses layanan saja. Dengan penilaian pada tahap input dan proses saja, tujuan akreditasi RS selama ini masih tidak mudah diwujudkan. Bagaimana sebaiknya?

Telah dimuat di Harian Nasional Media Indonesia Digital pada Kamis, 6 Agustus 2026 :

https://share.google/aCxYbmsBhIWqY3epT

Standar Akreditasi RS dikelompokkan menjadi 4, yaitu Kelompok Manajemen Rumah Sakit, Kelompok Pelayanan Berfokus pada Pasien, Kelompok Sasaran Keselamatan Pasien, dan Kelompok Program Nasional (PROGNAS). Masing-masing kelompok tersebut terdiri dari beberapa bab dan banyak standar, yang dilengkapi dengan elemen penilaian. 

Sebagai gambaran, Kelompok Manajemen Rumah Sakit terdiri dari Tata Kelola Rumah Sakit (TKRS) 15 standar, Kualifikasi dan Pendidikan Staf (KPS) 19 standar, dan Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK) 11 standar. Selain itu, Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP) 11 standar, Manajemen Rekam Medik dan Informasi Kesehatan (MRMIK) 13 standar, Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) 13 standar, dan Pendidikan dalam Pelayanan Kesehatan (PPK) 6 standar.

Harian Nasional Media Indonesia Digital pada Kamis, 6 Agustus 2026

Pada Kelompok Pelayanan Berfokus pada Pasien, terdiri dari Akses dan Kontinuitas Pelayanan (AKP) 6 standar, Hak Pasien dan Keterlibatan Keluarga (HPK) 4 standar, Pengkajian Pasien (PP) 4 standar, dan Pelayanan dan Asuhan Pasien (PAP) 5 standar. Selain itu, Pelayanan Anestesi dan Bedah (PAB) 7 standar, Pelayanan Kefarmasian dan Penggunaan Obat (PKPO) 8 standar dan Komunikasi dan Edukasi (KE) 7 standar. Pada Kelompok Sasaran Keselamatan Pasien (SKP) 6 standar, yaitu Mengidentifikasi pasien dengan benar, Meningkatkan komunikasi yang efektif, dan Meningkatkan keamanan obat-obatan yang harus diwaspadai. Selain itu, juga Memastikan sisi yang benar, prosedur yang benar, pasien yang benar pada pembedahan / tindakan invasif, Mengurangi risiko infeksi akibat perawatan kesehatan, dan Mengurangi risiko cedera pasien akibat jatuh. Pada Kelompok Program Nasional (PROGNAS) 5 standar, yaitu Peningkatan kesehatan ibu dan bayi, Penurunan angka kesakitan Tuberkulosis/TBC, Penurunan angka kesakitan HIV/AIDS, Penurunan prevalensi stunting dan wasting, serta Pelayanan Keluarga Berencana Rumah Sakit.

Akreditasi RS dengan berbagai kelompok tersebut di atas, yang terdiri dari beberapa bab dan banyak standar, yang juga dilengkapi dengan banyak elemen penilaian, tentu saja perlu dievaluasi secara berulang. Ke depan akreditasi RS sebaiknya semakin menitikberatkan secara lengkap 3 tahap utama pelayanan RS, yaitu tahap input (SDM dan regulasi), proses (layanan harian) dan output (hasil pelayanan). Akreditasi RS rasanya tidak cukup hanya memastikan tahap input, yaitu bahwa semua standar dan dokumen pencatatannya tersedia secara lengkap dan mampu telusur, juga kelengkapan dan ketersediaan sebanyak mungkin elemen penilaian. Namun demikian, akreditasi RS sebaiknya juga harus mampu membuktikan bahwa pelayanan kepada pasien telah dilakukan dan menghasilkan luaran klinis yang baik dan dapat dipertanggung jawabkan (justified).

Kompetensi RS sebaiknya juga diukur pada tahap output atau hasil pelayanannya. Kompetensi RS memang didukung oleh SDM yang cukup, sarana dan prasarana yang lengkap, disertai regulasi yang rinci. Namun demikian, kompetensi RS juga harus dibuktikan melalui hasil pelayanan (clinical outcomes) yang baik.

Kementerian Kesehatan RI telah merombak sistem akreditasi rumah sakit menjadi berbasis hasil klinis (clinical outcome) secara real-time, menggunakan acuan Standar Akreditasi Rumah Sakit (STARKES) berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/1596/2024, serta melibatkan delapan Lembaga Penyelenggara Akreditasi (LPA). Sistem dan kebijakan terbaru dengan penilaian berbasis hasil medis ini, proses akreditasi RS tidak lagi sekadar evaluasi administrasi lima tahunan, melainkan diukur dari angka kesembuhan, tingkat kegagalan operasi, dan keselamatan pasien (survival rate). Proses penilaian mutu eksternal RS akan dilakukan oleh delapan lembaga resmi yang disetujui pemerintah, yaitu KARS (Komisi Akreditasi Rumah Sakit), LAM-KPRS (Lembaga Akreditasi Mutu dan Keselamatan Pasien Rumah Sakit), LARSI (Lembaga Akreditasi Rumah Sakit Indonesia), LARs DHP (Lembaga Akreditasi Rumah Sakit Damarhusada Paripurna), LPAKI (Lembaga Akreditasi Fasilitas Kesehatan Indonesia), BAM Mutu Rumah Sakit (Badan Akreditasi Mutu Rumah Sakit), LARSKI (Lembaga Akreditasi Rumah Sakit Quantum Indonesia), dan LCES (Lembaga Akreditasi Layanan Kesehatan)

Standar dan elemen penilaian untuk akreditasi RS tahap input dan proses sudah tersedia secara lengkap. Standar acuan untuk akreditasi RS model baru tetap mengacu pada instrumen Standar Akreditasi Rumah Sakit (STARKES) yang sudah ada. Namun demikian, tentu perlu disusun standar dan elemen penilaian tambahan, untuk akreditasi tahap hasil klinis pelayanan RS. Tentu saja standar dan elemen penilaian luaran klinis akan mempertimbangkan banyak hal, termasuk derajat penyakit pasien saat masuk RS, yang berkontribusi secara obyektif terhadap luaran klinis. Untuk itu, diperlukan masukan dari berbagai pihak, terutama para dokter spesialis, sub spesialis, konsultan dan para klinisi lainnya, agar standar dan elemen penilaian luaran klinis benar-benar memotret bagaimana layanan nyata yang telah dilakukan di RS, untuk para pasiennya.

Sangat mungkin proses akreditasi RS yang menggunakan standar dan elemen penilaian baru pada penilaian luaran klinis, mirip dengan proses audit medis, audit klinis ataupun audit kematian pasien, yang telah rutin dilakukan di RS. Sebaiknya akreditasi RS ke depan juga menilai mekanisme penegakan diagnosis dalam 48 jam sejak pasien masuk RS, bukti pemeriksaan penunjang medis untuk penegakan diagnosis, kesesuaian diagnosis radiologis dan klinis, kesesuaian diagnosis pre dan post operasi, atau kesesuaian layanan dengan CP (clinical pathways) yang sudah ditetapkan. Pada akreditasi RS model yang baru, status akreditasi rumah sakit dapat diturunkan di tengah jalan, jika ditemukan tingkat kegagalan tindakan medis atau operasi, angka kesembuhan, tingkat kegagalan operasi, atau keselamatan pasien (survival rate) yang buruk.

Dengan demikian, proses perbaikan layanan dan mutu RS secara berkesinambungan, yang merupakan tujuan akreditasi RS, rasanya akan lebih mudah dilakukan dengan akreditasi RS model baru ini. Hal ini karena hasil akreditasi RS model baru mencakup hal yang lebih lengkap dan nyata dirasakan pasien, karena menitik beratkan pada hasil luaran klinis.

Selamat berbenah untuk semua RS.

Sekian

Yogyakarta, 29 Juli 2026

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Dekan FK UAJY, surveyor akreditasi RS, Alumnus S3 UGM.

Categories
dokter Healthy Life Jalan-jalan

2026 Menggilas Andalas

MENGGILAS ANDALAS : MENJELAJAH  SUMETARA

fx. wikan indrarto & b. sari prasetyati

Siap berangkat menggilas Andalas dari rumah di Timoho Regency Yogyakarta

Dapat juga dilihat pada :

https://www.instagram.com/p/DbqpAzcEioU/?igsh=MTB4MnFlNmNlNWNnaA==

Perjalanan kami menjelajah Sumatera di atas roda dan menggilas Andalas (nama lama Pulau Sumatera) dimulai pada Sabtu, 1 Agustus 2026, pk. 14 dari Yogyakarta ke Bandar Lampung, naik bis Rosalia Indah.

Pamit berniat Menggilas Andalas dari Yogyakarta naik bis Rosalia Indah 3145 menuju Bandar Lampung.

Suasana kegembiraan dalam perjalanan meninggalkan Yogyakarta dalam kabin bis Rosalia Indah

Bus tronton Scania K410 premium bermesin ganda (tiga as roda) buatan Swedia ini, menawarkan kenyamanan suspensi udara kelas atas, mesin 13.000 cc bertenaga besar (hingga 450 hp), dan sistem pengereman canggih. Kami melalui jalur selatan Pulau Jawa, yaitu dari Yogyakarta melewati Purworejo, Kebumen sampai Ajibarang, terus ke utara.

Bus tronton Scania K410 dibalut bodi Legacy SR3 Prime milik Rosalia Indah

Kami menaiki bis Rosalia Indah yang dibalut bodi Legacy SR3 Prime buatan karoseri Laksana Ungaran, Semarang. Siap menyusuri jalur selatan Jawa, sebelum masuk tol Trans Jawa di GT Pejagan, tepat sebelum kota Cirebon, Jawa Barat.

Lanjut berpacu dengan pelari Cipali lainnya, melahap tol Trans Jawa melewati Jakarta, dan mendarat di Merak. Di ujung barat Pulau Jawa itu, kami menyeberangi Selat Sunda ke Pulau Sumatera.

Pemandangan Selat Sunda saat menuju ke Pulau Sumatera

Arus tenang saat kami menyeberangi Selat Sunda ke Pulau Sumatera

Menyeberangi Selat Sunda di dalam lambung ferry yang meluncur di arus tenang

Penyambutan teman2 yang luar biasa di Way Halim agen bis Rosalia Indah Bandar Lampung

Mendampingi Prof Fx. Sumarja (teman sekalas di SMA) dalam kunjungan inspeksi pembangunan Katedral Kristus Raja Keuskupan Tanjungkarang, Bandar Lampung.

Nampak luar Gereja Katolik Katedral Kristus Raja Keuskupan Tanjungkarang, Bandar Lampung yang sedang dibangun.

Nampak interior gereja Katolik Katedral Kristus Raja Keuskupan Tanjungkarang, Bandar Lampung yang sedang dibangun

Mgr. Vinsensius Setiawan Triatmojo Usukup Keuskupan Tanjungkarang, Bandar Lampung

Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Siger Milenial yang menghubungkan gedung parkir Pemerintah Kota Bandar Lampung dengan Masjid Agung Al Furqon.

Bersama segenap teman yang bergembira di JPO Siger Milenial Bandar Lampung, dengan pemandangan ke arah Teluk Lampung

Pada Minggu, 2 Agustus 2026, pk. 11 kami mencapai pool bis Rosalia Indah Way Halim Jalan Bypass Soekarno – Hatta No. 2A Bandar Lampung. Lanjut City Tour diantar mas Fx Sumardja (guru besar FH UNILA dan teman sekelas di SMA Kolese de Britto Yogyakarta JB 84 dan istri). Juga mas Wahadi Setiadi (Mantan Kepala Dinas Sosial Lampung) teman di UGM 84, mas Iko Sandy Trisandyadenta (teman sejak di SMP Bruderan Purworejo), dr. Humisar Sibarani, SpAn (teman seangkatan di FK UGM 84) dan dr. Suwardiman, MKes yang datang menyusul. Kami melaju ke  “Taman Doa Sendang Banyu Urip” di halaman belakang Gereja Santa Maria Immaculata, di Way Kandis, lanjut ke rumah Mas Arwandi kakak sepupu di Jl. Pulau Batam Raya no 21 Way Halim Permai  (depan RS Urip Sumoharjo), melihat Gapura Siger, Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Siger Milenial yang menghubungkan gedung parkir Pemerintah Kota Bandar Lampung dengan Masjid Agung Al Furqon, terus ke Gereja Katedral Kristus Raja (Keuskupan Tanjungkarang) berlokasi di Jl. Kotaraja 14, Tanjungkarang, Bandar Lampung. Lanjut naik bis SAN dari Bandar Lampung ke Jambi pk. 19 di Jl. Terusan Ryacudu No 2, Lampung Selatan.

Pemandangan indah di bawah JPO Siger Milenial Bandar Lampung

Bersama dr. Suwardiman, MKes dan dr. Humisar Sibarani, SpAn sesama alumnus FK UGM 84 di depan kantor Walikota Bandar Lampung

Kota Bandar Lampung bermula dari penggabungan wilayah Telukbetung dan Tanjungkarang, yang kemudian resmi menjadi ibu kota Provinsi Lampung melalui proses panjang sejak era kolonial dan administratif. Telukbetung dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1819 sebagai pusat administrasi, perdagangan, dan militer. Selain itu, juga pusat pelabuhan, karena lokasinya yang strategis di Teluk Lampung menjadikannya pintu gerbang utama pengiriman hasil bumi seperti lada dan kopi. Pada awal kemerdekaan Indonesia hingga orde lama, daerah ini dikenal sebagai Kotamadya Tanjungkarang–Telukbetung. Berdasarkan ketentuan dan aspirasi tahun 1965, nama resmi diubah menjadi Bandar Lampung yang berasal dari gabungan kata “Bandar” (pelabuhan atau tempat perdagangan) dan “Lampung” (nama wilayah provinsi), yang resmi disahkan pada tahun 1983 untuk menggantikan nama lama yaitu Kota Madya Tanjungkarang–Telukbetung.

Gerbang Siger di batas kota Bandar Lampung, dengan semua teman yang baik hati.

Kami teringat Romo Kanjeng di Lampung, yaitu sebutan bagi Mgr. Albertus Hermelink Gentiaras, SCJ, tokoh gereja Katolik pertama di Pringsewu Lampung dan mantan Uskup Tanjungkarang.

Berdoa bersama segenap teman yang baik hati di Taman Doa Sendang Banyu Urip Bandar Lampung

Taman Doa Sendang Banyu Urip di samping Gereja Katolik Santa Maria Imakulata, Bandar Lampung

Berdoa di Taman Doa Sendang Banyu Urip di samping Gereja Katolik Santa Maria Imakulata, Bandar Lampung

Gereja Katolik Santa Maria Immaculata adalah gereja yang dibangun dengan penuh semangat para jemaatnya. Dulu, gereja ini berbentuk seperti lumbung padi, namun berkat pertumbuhan iman para jemaat dan dukungan sumbangsih, gereja ini akhirnya dapat dibangun dengan lebih megah.

Bersama teman2 mengunjungi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Fakultas Kedokteran Universitas Lampung

Gereja Katolik Santa Maria Imakulata memiliki tempat yang luas, dengan konsep bangunan yang dibangun sedemikian rupa membuat peribadatan menjadi nyaman. Kami lanjut mengjungi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung dan Gereja Katolik Santo Yohanes Rasul Paroki Kedaton, Bandar Lampung. Ini Gereja Paroki di mana mas Fx. Sumarja tinggal dan beraktivitas yang berlokasi di Jl. Tupai 49 Bandar Lampung

Gereja Katolik Santo Yohanes Rasul Paroki Kedaton, Bandar Lampung

Suasana di dalam ruangan Gereja Katolik Santo Yohanes Rasul Paroki Kedaton, Bandar Lampung

Bergaya di depan Gereja Katolik Santo Yohanes Rasul Paroki Kedaton, Bandar Lampung

Gapura atau Menara Siger adalah ikon budaya dan titik nol Pulau Sumatera yang berbentuk mahkota pengantin wanita khas Lampung. Lokasinya berada di Bakauheni, Lampung Selatan, berjarak sekitar 91,5 km atau 1 jam 18 menit berkendara via jalan tol dari pusat Kota Bandar Lampung. Mengara Siger tersebut kami lihat saat ferry penyebrangan hampir mendarat di Bakauheni.

Siger adalah mahkota pengantin perempuan Lampung yang berbentuk segitiga berwarna emas. Siger biasanya memiliki cabang yang jumlahnya tujuh atau sembilan. Meskipun mulanya dikenakan wanita saat pernikahan, saat ini siger sudah menjadi simbol provinsi tersebut. Selain dibangun menjadi menara di Bakauheni, siger juga dijadikan lambang batas kota Bandar Lampung yang kami kunjungi.

Luar biasa perjumpaan ini bersama Mas Kol (Purn) Hi. Arwandi, SIP, MSi

Bersama anak kedua dan menantu mas Kol (Purn) Hi. Arwandi, SIP, MSi

Dalam perjalanan meninggalkan Bandar Lampung menuju ke Jambi, jadi teringat akan kekek buyut, yaitu Kyai Mangundrono yang mempunyai 4 anak, yaitu Kyai Mangundarso, Nyai Mangundiharjo, Nyai Atmowidarso dan Kyai Atmoharjono.

Kyai Mangundarso (mbah Darso) memiliki 4 anak, yaitu Parsinah, Djakiyah, Basoeki dan Soewiknyo

Sedangkan Nyai Mangundiharjo (di desa Salaman, Magelang) (mbah Mangun) memiliki 13 anak, yaitu Suliyah (di Magelang), Soedjiman Partodiwarno (di desa Salaman), Walijah Hardjowidarso (di Sapuran, Wonosobo), Dasinah Soekodo Mulyosentono (di Wonosobo), Wagiyo (di Kebumen), Wilis Legiono (di Purwakarta), Soekartinah (meninggal saat bayi), Soekiman (di Salaman, Magelang), Soetiyah (di Jakarta), Soekirlan (di Wonosobo), Daliyah (di Magelang) dan Soenariyah (di Tangerang).

Selanjutnya Nyai Atmowidarso (mbah Atmo) punya 1 anak, yaitu Sardjiyo Martodarsono. Dan terakhir Kyai Atmoharjono (mbah Har) punya 5 anak, yaitu Tasronah, Suminah, Suwartinah, Sugiyanto, dan Suratinah

Dengan demikian Bapak Sukiman adalah sepupu Ibu Tasronah

Bapak Sukiman memiliki 3 anak, yaitu Ig. Toto Ismintarto (di Tangerang Selatan), Fx. Wikan Indrarto (saya di Yogyakarta) dan Y. Woro Pradnastuti (di Bandung)

Ibu Tasronah memiliki 9 anak, yaitu Gempur Supriyanto (almarhum), Kusnarto (almarhum), Suharyani (di Belitang OKU Timur), Christina Sumaryati (almarhum), Heribertus Sudibyo (di Belitang OKU Timur), Hadrianus Susanto Wiratmoko (di Jambi), Sigek Susanti Arwandi (almarhumah, istri mas Kol (Purn) Hi Arwandi yang telah kami kunjungi di Bandar Lampung), Maria Gawat Takaryati (di Sleman DIY) dan Panggih Rinekso.

Dengan demikian saya dengan mas Heribertus Sudibyo (di OKU Timur) dan mas Hadrianus Susanto (di Jambi) yang akan saya kunjungi di rumahnya juga saudara sepupu, dengan saya secara keturunan lebih tua dan dapat memanggilnya adik.

Pamit lanjut perjalanan dari Bandar Lampung menuju Jambi, naik bis SAN (Siliwangi Antar Nusa) buatan Karoseri Stadabus dari Bandung.

Bodi bus Supernova ini buatan 2024, dengan sasis Golden Dragon 300 TK buatan Tiongkok. Bodi andalan ini bergaya Eropa dan konsep kaca tunggal (single glass). Bentuk bis yang belum pernah kami lihat sebelumnya.

Suasana di dalam kabin bis SAN (Siliwangi Antar Nusa) meninggalkan Bandar Lampung menuju Jambi

Senin, 3 Agustus 2026,  pagi sampai di Jambi pk. 8.30. Dijemput sepupu mas Hadrianus Susanto Wiratmoko, pensiunan Guru dan Kepala Sekolah SMA Xaverius untuk City tour, dimulai dari terminal Simpang Rimbo, Gereja Gregorius Agung di Kenali, Kota Baru, terus ke Tugu Keris, RSUD Raden Mattaher untuk bertemu dengan dr. Samsirun Halim, SpPD-KIC (kakak kelas di SMA Kolese de Britto Yogyakarta JB 82), kantin SMA Xaverius, ke rumah mas Susanto di Palmerah, lihat jembatan Gentala Arasi, terus lewat Gereja St. Teresia.

Dijemput mas Hadrianus Susanto Wiratmoko di Terminal bis Simpang Rimbo Jambi

Gereja Santo Gregorius Agung yang bernama resmi Gereja Santo Gregorius Agung Paroki Kenali adalah sebuah gereja paroki Katolik yang terletak di Kenali Asam Bawah, Kota Baru, Jambi. Gereja ini didedikasikan kepada Santo Paus Gregorius Agung. Gereja ini berada di bawah naungan yurisdiksi Keuskupan Agung Palembang.

Tugu Keris Siginjai adalah sebuah tugu atau monumen yang merupakan ikon dari Kota Jambi. Bentuknya menyerupai Keris Siginjai, yakni keris dari Kerajaan Jambi. Selain menjadi kebanggaan masyarakat Jambi, Keris ini juga digunakan sebagai bagian Lambang Jambi. Letaknya tepat berada dipusat perkantoran Wali Kota Jambi, Kota Baru.

Pembangunan monumen ini merupakan proyek inisiasi langsung dari Pemerintah Kota Jambi di bawah kepemimpinan Wali Kota Syarif Fasha pada tahun 2017, dengan pengerjaan teknis yang dikoordinasikan melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Jambi. Diresmikan pada 31 Desember 2017, berlokasi di Pusat perkantoran Wali Kota Jambi, Kecamatan Kota Baru, Jambi dengan biaya pembangunan sekitar Rp3,5 miliar

Tugu Keris Siginjai memiliki tinggi sekitar 9 meter dan tinggi keseluruhannya sekitar 28 meter. Tugu Keris Siginjai memiliki sembilan struktur besi pipa galvanis berbentuk spiral yang saling merangkai membentuk satu kesatuan dan terdapat patung angsa. Hal ini melambangkan luas wilayah Kerajaan Jambi dahulu meliputi sembilan lurah yang dialiri oleh anak-anak sungai.

Tugu keris siginjai diresmikan oleh Wali Kota Jambi, Syarif Fasha tanggal 31 Desember 2017 atau pada tahun baru 2018. Sebelum direnovasi menjadi tugu keris siginjai, tugu ini adalah tugu jam atau dikenal juga dengan tugu monas, karena bentuknya menyerupai monas yang berada di Jakarta.

Tugu Keris Siginja di malam hari di tengah kota Jambi

Tugu Keris Siginja di siang hari yang panas di tengah kota Jambi

Bersama dr. Samsirun Halim SpPD-KIC (kakak kelas di SMA, JB 82) di RSUD Raden Mattaher Jambi.

Sowan dan menimba ilmu dari senior yang inspiratif, dr. Samsirun Halim SpPD-KIC (JB 82) di RSUD Raden Mattaher Jambi.

RSUD Raden Mattaher Provinsi Jambi adalah rumah sakit milik Pemerintah Propinsi Jambi terletak dikota Jambi, berdiri pada tahun 1948 dengan tipe C dan bergabung dengan Dinas Kesehatan Tentara (DKT) Jambi. Pada tanggal 19 November 1972 dipindahkan ke Jl. Letjen Suprapto No. 31 Telanaipura Jambi. Rumah Sakit ini dibangun di atas tanah seluas + 75.000 M2 dengan luas bangunan + 41.590 M2.

Rumah sakit umum daerah Raden Mattaher Provinsi Jambi semula namanya Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi Jambi. Dan kemudian pada bulan November 1999 bertepatan pada hari kesehatan nasional 1999, rumah sakit ini diberi nama salah seorang Pahlawan Jambi yaitu Raden Mattaher.

RSUD Raden Mattaher seja Bulan Nopember 2009 merupakan rumah sakit kelas B Pendidikan dengan kapasitas 321 tempat tidur. Dengan diberlakukannya Peraturan Daerah (Perda) No.10 Tahun 2001 tentang RS Unit Swadana maka sejak Januari 2002 RSD Raden Mattaher Jambi berlaku sebagai RS Unit Swadana. Kemudian Dengan Perda No. 09 , sejak mulai 1 Januari 2011, RSUD Raden Mattaher telah dikelola keuangannya secara Badan Layanan Umum Daerah (BLUD)

Pada saat ini RSUD Raden Mattaher telah menjadi tempat mahasiswa kepaniteraan klinik Fakultas Kedokteran Universitas Jambi (FK UNJA) yang melaksanakan pendidikan profesi kedokteran. Selain itu ada mahasiswa kepaniteraan klinik yunior dan program pendidikan tenaga kesehatan lainnya

Makan siang menu enak di kantin mbak Irine Widyawati dan mas Hadrianus Susanto di dalam kompleks SMA Xaverius I Jambi

Senang sekali dapat mengunjungi suami istri mas Susanto Wiratmoko dan mbak Irine di sekolahnya

Bersama mas Hadrianus Susanto di Gereja Gregorius Agung, Jambi yang megah menjulang

Terimakasih banyak mas Hadrianus Susanto Wiratmoko (sepupu, cucu Mbah Har Salaman) telah menemani kami ke Gereja Katolik St Gregorius Agung di Kenali, Jambi. Kami segera pamit pulang, karena kami lanjut jalan lagi naik Innova Reborn milik Ratu Intan Travel, menuju Palembang.

Jembatan Gentala Arasy yang arstistik menyeberangi Sungai Batanghari di Jambi

Jembatan Gentala Arasy adalah sebuah jembatan pedestrian untuk pejalan kaki yang melintang di atas Sungai Batanghari, Kota Jambi. Jembatan ini menghubungkan Tepian Tanggo Rajo ke Menara Gentala Arasy, Jambi Seberang. Jembatan Gentala Arasy adalah jembatan pedestrian di atas sungai pertama di Indonesia yang memiliki kontur meliuk seperti huruf S.

Jembatan ini merupakan proyek dari masa pemerintahan Gubernur Jambi, Hasan Basri Agus, dan diresmikan oleh Wakil Presiden Indonesia pada waktu itu, Jusuf Kalla, pada tanggal 28 Maret 2015. Jembatan Gentala Arasy dibangun dengan anggaran senilai Rp 88,7 miliar dalam tiga tahun anggaran 2012-2014. Jembatan penghubung ini memiliki panjang 503 meter dan lebar 4,5 meter.

Nama Gentala Arasy diperoleh dari tiga kata yaitu genta yang berarti suara, tala yang berarti keselarasan, dan arasy yang berarti menggema ke langit. Maka makna dari Gentala Arasy adalah bunyi yang selaras dan menggema ke langit. Bunyi ini berasal dari lonceng menara Gentala Arasy yang mengeluarkan bunyi sebagai pertanda waktu salat fardu bagi umat muslim di Kota Jambi.

Selain itu, Gentala Arasy juga merupakan akronim dari Genah Tanah Lahir Abdurrahman Sayoeti. Genah sendiri dalam bahasa Melayu Jambi adalah tempat. Abdurrahman Sayoeti adalah salah satu gubernur Jambi yang lahir di Jambi Kota Seberang, yang menjabat pada tahun 1989-1999.

Jembatan Gentala Arasy yang arstistik pada malam hari menyeberangi Sungai Batanghari di Jambi

Gereja Santa Theresia di Jambi

Interior Gereja Katolik Santa Theresia di Jambi

Gereja Santa Teresia yang bernama resmi Gereja Paroki Santa Teresia, Jambi adalah sebuah gereja paroki Katolik yang terletak di Kota Jambi. Gereja ini didedikasikan kepada Santa Teresia. Gereja ini berada di bawah naungan yurisdiksi Keuskupan Agung Palembang.

Naik travel Ratu Intan Toyota Innova Reborn dari Jambi ke Palembang

Lanjut naik Travel pk. 13 ke Palembang dan turun di POM Bensin KM 12 (pinggiran Kota Palembang yang berbatasan dengan Kabupaten Musi Banyu Asin), dijemput sepupu mas Heri Sudribyo dan istrinya, mbak Komijah. Lanjut makan malam khas Palembang, yakni pindang ikan baung, terus ke rumah istirahat menginap semalam.

Tiba dan menginap semalam di rumah pasangan mas Heri Sudibyo dan mbak Komijah di Palembang

Pindang ikan baung Palembang adalah hidangan sup ikan air tawar khas Sumatra Selatan, terkenal dengan kuah bening yang kaya rempah, bercita rasa asam, manis, gurih, dan pedas. Disajikan dengan potongan nanas dan daun kemangi, hidangan ini sangat cocok dinikmati bersama nasi hangat, lalapan, dan sambal mangga atau sambal terasi

Di Gereja Katolik St Stefanus, Paroki Talang Betutu, Pelambang.

Senin pagi, 4 Agustus 2026 kami berjalan kaki menuju Gereja Santo Stefanus Talang Betutu Palembang, untuk mengikuti misa kudus harian pagi, dari rumah mas Heri Sudibyo dan mbak Komijah.

Setelah sarapan bersama, kami segera menuju Taman Doa Via Crucis Sukamoro, yaitu tempat ziarah rohani Katolik yang terletak berdampingan dengan Gua Maria Mater Misericordiae (Bunda Belas Kasih). Tempat ini menawarkan area luas berornamen klasik dengan patung-patung jalan salib, berlokasi di Desa Sukamoro, Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan (sekitar 20 kilometer dari pusat Kota Palembang). Fasilitas dan daya tarik yang menggumkan adalah 14 Patung Jalan Salib. Patung ukuran besar dengan nuansa seni Romawi kuno yang artistik tersebut menggambarkan kisah sengsara Yesus Kristus. Di ujung arena jalan salib terdapat Gua Maria Mater Misericordiae (Bunda Berbelas kasih) yang berada dalam satu kompleks dengan Panti Werdha Sumarah.

Bersama mas Heri Sudibyo dan mbak Komijah di gerbang Taman Doa Via Crucis Sukomoro, Palembang

Di Taman Doa Via Crucis Sukomoro di pinggiran Kota Palembang, kami merenungkan sengsara dan wafat Yesus Kristus di kayu salib. Taman Doa Via Crucis Sukomoro dibangun sejak April 2021 dan diberkati oleh Uskup Agung Palembang Mgr. Aloysius Sudarso SCJ pada tanggal 8 Desember 2021.

Patung seukuran sebenarnya saat Tuhan Yesus dimakamkan di Taman Doa Via Crucis Sukomoro, Palembang

Tempat ini merupakan pengembangan lanjutan dari Gua Maria Mater Misericordiae (Bunda Belas Kasih) yang telah dibangun lebih dulu di lokasi yang sama. Menampilkan 14 perhentian Jalan Salib, tempat ini didesain dan dikerjakan oleh Gregorius Sutanto bersama tim Blendang-Blendung Art Studio dari Jogjakarta.

Taman Doa Via Crucis Sukomoro memiliki desain yang menarik dan unik. Tempat ini mengambil inspirasi dari Via Dolorosa atau Jalan Kesengsaraan di Yerusalem, yaitu jalan yang diyakini dilalui oleh Yesus saat memanggul salib-Nya menuju ke puncak Kalvari. Tempat ini dibangun dengan nuansa Timur Tengah, dengan batu-batu kapur, gerbang-gerbang Romawi, dan patung-patung malaikat yang menghiasi jalur Jalan Salib. Tempat ini juga dikelilingi oleh pepohonan rindang yang memberikan suasana alam yang sejuk dan tenang.

Taman Doa Via Crucis Sukomoro, Palembang

Selasa pagi, 4 Agustus 2026 setelah menginap semalam di rumahnya, kami diantar sepupu mas Heri Sudibyo dan mbak Komijah untuk City Tour ke Gua Maria Via Crucis Sukomoro, Katedral Santa Maria berfoto bersama mas Agus Yuswono (teman sekelas di SMA Kolese de Britto Yogyakarta JB 84, lanjut ke Jembatan Ampera, dan kuliner lagi khas Palembang (empek2), terus pulang ke Belitang OKU  sejauh 180 km. Sore menemui dr. PC Bambang Suyatmoko JB 85 dan dr. Prasanita FK UGM 84 di Klinik Enggal Saras Belitang OKU

Menikmati pempek di kota asalnya bersama mas Agus Yuswana JB 84 di Palembang. Meskipun terpencar hidupmu, adalah de Britto contohmu

Katedral Palembang yang bernama resmi Gereja Katedral Santa Maria adalah sebuah gereja katedral Katolik yang terletak di Kota Palembang, ibu kota provinsi Sumatera Selatan. Gereja ini merupakan takhta dan pusat kedudukan bagi Uskup Agung Palembang, yang saat ini dijabat oleh Yang Mulia Mgr. Dr. Yohanes Harun Yuwono. Pada Maret 2023, bangunan baru katedral ini diresmikan oleh Nunsius Apostolik Takhta Suci untuk Indonesia, Yang Mulia Mgr. Piero Pioppo.

Gereja Katedral Santa Maria Keuskupan Agung Palembang yang menjulang

Gereja Katedral Santa Maria Keuskupan Agung Palembang yang menjulang

Arsitektur Gereja Katedral ini adalah Neo-Gothic yang juga disisipkan dengan unsur lokal. Seperti adanya miniatur Jembatan Ampera dan juga Songket pada ukiran di dinding gereja. Gereja ini di rancang oleh Arsitek Giovanny Kesaulya, S.Ars

Bedua dalam gaya di depan Gereja Katedral Santa Maria Keuskupan Agung Palembang yang menjulang

Selanjutnya kami menikmati keindahan Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat) yaitu sebuah jembatan ikonik di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Jembatan Ampera, yang telah menjadi semacam lambang kota, terletak di tengah-tengah Kota Palembang, menghubungkan daerah Seberang Ulu dan Seberang Ilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi yang lebar. Jembatan Ampera merupakan salah satu ikon Kota Palembang yang paling terkenal.

Panjang Jembatan Ampera 1.117 m, lebar 22 m (bagian tengah 71,90 m, berat 944 ton dan dilengkapi pembandul seberat 500 ton), semua bagian tengah bisa diangkat agar kapal-kapal besar bisa lewat tetapi sejak tahun 1970 bagian tengah sudah tidak dapat diangkat lagi. Bandul pemberatnya pada tahun 1990 dibongkar karena dikhawatirkan dapat membahayakan. Tinggi jembatan ini 11,5 m dari atas permukaan air, tinggi menara 63 m dari permukaan tanah dan jarak antara menara 75 m.

Pada awalnya, bagian tengah badan jembatan ini bisa diangkat ke atas agar tiang kapal yang lewat dibawahnya tidak tersangkut badan jembatan. Bagian tengah jembatan dapat diangkat dengan peralatan mekanis, dua bandul pemberat masing-masing sekitar 500 ton di dua menaranya. Kecepatan pengangkatannya sekitar 10 meter per menit dengan total waktu yang diperlukan untuk mengangkat penuh jembatan selama 3 menit.

Di dekat Jembatan Ampera kami juga mengunjungi Benteng Kuto Besak, yaitu bangunan bersejarah peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam. Benteng ini terletak di tepi Sungai Musi, Kota Palembang, dan berfungsi sebagai pusat istana serta tempat pertahanan sultan pada abad ke-18.

Gagasan awal pembangunannya dicetuskan oleh Sultan Mahmud Badaruddin I (memerintah 1724–1758). Mulai dibangun tahun 1780 pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Bahauddin. Selesai dan diresmikan pada 21 Februari 1792. Keunikan Benteng Kuto Besak adalah menjadi satu-satunya benteng di Indonesia yang dibangun atas prakarsa dan tenaga pribumi, bukan oleh pemerintah kolonial. Benteng ini adalah tempat tinggal resmi sultan beserta keluarga kerajaan. Juga pusat pemerintahan dan pertahanan Kesultanan Palembang dari serangan musuh (termasuk Belanda)

Dinding Beteng Kuto Besak Palembang yang tebal menjulang

Jembatan Ampera Palembang yang merah menjulang

Pada saat bagian tengah jembatan diangkat, kapal dengan ukuran lebar 60 meter dan dengan tinggi maksimum 44,50 meter, bisa lewat mengarungi Sungai Musi. Bila bagian tengah jembatan ini tidak diangkat, tinggi kapal maksimum yang bisa lewat di bawah Jembatan Ampera hanya sembilan meter dari permukaan air sungai.[9]

Jembatan Ampera yang memebalah Sungi Musi di Palembang

Sejak tahun 1970, aktivitas turun naik bagian tengah jembatan ini sudah tidak dilakukan lagi. Alasannya, waktu yang digunakan untuk mengangkat jembatan ini dianggap mengganggu arus lalu lintas di atasnya. Pada tahun 1990, kedua bandul pemberat di menara jembatan ini diturunkan untuk menghindari jatuhnya kedua beban pemberat ini.

Di Pelambang ini kami juga menikmati pempek, yaitu makanan khas Palembang, Sumatera Selatan. Pempek terbuat dari daging tenggiri atau gabus yang digiling lembut, dicampur tepung kanji atau tepung sagu, serta dengan bahan-bahan lain seperti telur, bawang putih halus, penyedap rasa, dan garam. Pempek biasanya disajikan dengan kuah yang disebut cuko yang terasa asam, manis, dan pedas.

Cara memakan pempek adalah dengan menggunakan mangkuk kecil sebagai tempat cukonya lalu pempek dicocolkan. Cuko kemudian diseruput untuk menambah rasa. Pelengkap lain untuk menyantap pempek adalah potongan dadu mentimun segar, mie kuning, dan cabai bubuk untuk tambahan pedas.

Pempek mempunyai sejarah yang unik dan tidak dapat dilepaskan dari masuknya para perantau Tionghoa ke Palembang semasa pemerintahan Kesultanan Palembang Darussalam ketika dipimpin oleh Sultan Mahmud Badaruddin II pada abad ke-16 Masehi. Berdasarkan cerita masyarakat, pempek dijual keliling kota oleh seseorang asal Tionghoa yang sering dipanggil Apek di kisaran tahun 1617 M.

Makan siang pindang gabus di RM Balitang di Kayu Agung, Sumsel.

Dari Palembang, kami diantar mas Heri Sudibyo dan mbak Komijah naik Nissan X-trail menuju ke Belitang di UKO Timur. Salah satu tempat yang akan kami kunjungi adalah Klinik Enggal Saras. Tanggal 28 Februari 2011 merupakan hari yang bersejarah bagi Klinik Enggal Saras mhcc, sebab di hari itu Klinik Enggal Saras mhcc pertama kali menerima Pasien Rawat Inap. 10 tahun silam pada awal merintis klinik, dr. PC Bambang Suyatmoko (adik kelas di SMA Kolese de britto dan FK UGM Yogyakarta) hanya memiliki 8 karyawan umum dan 5 perawat. Saat itu Klinik Enggal Saras mhcc telah memiliki peralatan  kesehatan yang canggih. Klinik Enggal Saras memiliki Automatic Haematology Analyzer, dimana pada saat itu ada  Rumah Sakit yang belum memiliki alat tersebut.

Menimba semangat inovasi dari dr. PC Bambang Suyatmoko (adik kelas SMA JB 85), yang mengkombinasikan kompetensi mekatronika dan medis.

Telah menciptakan stetoskop dengan loud speaker, pemandu frekuensi pijat jantung pada RKP, prototipe kursi roda cerdas untuk pasien paraplegi inferior agar dapat berdiri dan berjalan, juga prototipe skeleton untuk pasien serupa, dan berbagai inovasi lainnya yang diciptakannya mandiri.

Kami sempat berfoto membelakangi berbagai peralatan mekatronika seperti PCB, dioda, katalis, kabel, solder dan lainnya di bengkel lantai 2 dan 3, di Klinik Enggal Saras MHCC Belitang OKU Timur Sumsel. Luar biasa.

inovasi dari dr. PC Bambang Suyatmoko (JB 85), menemukan stetoskop dengan amplifier sehingga suara organ tubuh internal pasien dapat didengarkan di dalam ruangan periksa.

Klinik Enggal Saras mhcc beralamatkan di Jalan Raya Belitang – Belitang III Desa Sidogede Kecamatan Belitang itu dipimpin oleh dr. PC Bambang Suyatmoko. Dokter yang lahir di Gunung Kidul 27 April 1967 merupakan putra ke-empat dari pasangan ayah Yosep Suradjimin Dirdjopranoto dan ibu Maria Sumarti. dr. PC Bambang Suyatmoko alumni Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) tahun 1993. Setelah lulus dokter Bambang mengabdi sebagai dokter PTT di Kalimantan Selatan tepatnya di Puskesmas Bantuil Kecamatan Cerbon Kabupaten Barito Kuala.

Bersama dr. PC Bambang Suyatmoko (JB 85) sesama alumni SMA Kolese de Britto Yogyakarta

Bersama dr. PC Bambang Suyatmoko (JB 85) sesama alumni SMA Kolese de Britto Yogyakarta dan dr. VM. Prasanita sesama alumni FK UGM 84

Bersama dr. PC Bambang Suyatmoko (JB 85) sesama alumni SMA Kolese de Britto Yogyakarta

Berkat dari Amateus Sukadi, SCJ (pastor kepala paroki) setelah misa kudus harian pagi di Gereja Katolik St Maria Tak Bernoda Paroki Balitang OKU Sumsel. Bersama mbak dr. VM Prasanita (FK UGM 84) dan anak bungsunya

Gereja Katolik St Maria Tak Bernoda Paroki Balitang OKU Sumsel

Suasana Belitang, kota yang berkembang di sepanjang jalan inspeksi aliran selokan dari Bendungan Komering (BK), untuk persawahan

Siap berangkat dari rumah mas Heri Sudibyo di Belitang UKO Timur, dengwan Nissan X-trail yang nyaman

Mampir mengjungi dr. Tria (anak bungsu mas Heri Sudibyo) dengan kedua cucu

Mampir melihat pabrik (selepan gabah) milik mas Marcus, menantu mas Heri Sudibyo

Mengjungi mbak Suharyani yang telah lama tegolek sakit di rumah anaknya

Mengjungi mas Kusumo Hadi di rumahnya, di belakang Gereja Santa Maria Assumpta Paroki Mojosari BK IX kecamatan Belitang OKU Timur 

Rabu, 5 Agustus 2026, kami diantar mas Heri Sudibyo dan mbak Komijah naik Nissan X-trail menuju Martapura menemui saudara dan lanjut ke Baturaja menemui Sr. Evarista Direktur RS Antonio dan lanjut naik bis Rosalia Indah pk. 13 sampai di Jogja Kamis malam, 6 Agustus 2026

Sejarah Rumah Sakit Antonio Baturaja

Bendung Perjaya yang membendung Sungai Komering untuk lumbung padi di Belitang

Kereta Api Batubara Panjang (Babaranjang) dengan 60 gerbong pengangkut batubara dari tambang di Muara Enim ke pelabuhan Bandar Lampung

Mampir di rumah mbak Ayu (puteri sulung mas Heri Sudibyo) di Martapura

Kornelius (cucu mas Heri Sudibyo dari mbak Ayu) ikut mengantar kami ke Baturaja

Kami mengunjungi RS. SANTO ANTONIO di Jln. Garuda No.3 KM.3 Tanjung Baru, Baturaja Timur, Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan – 32126. Berawal dari perjalanan para suster misionaris dari Belanda menuju Lampung, mereka harus melalui Palembang karena situasi Lampung pada waktu itu (Mei 1948) sedang dalam masa transisi peralihan kekuasaan. Tanggal 21 September 1948 adalah hari kedatangan para suster di Baturaja.

Rombongan terdiri dari empat suster: Sr. Maria Pauline Schoorl, Sr. Maria Romualdis Droste, dan Sr. Maria Jose Van Goozen, satu suster novis Sr. M. Clara, delapan anak dan Tan Yu Tiong (Yance). Pastor Borst SCJ yang telah tinggal di Baturaja menyambut mereka dan menggunakan kesempatan ini untuk meminta agar para suster mau bekerja di Baturaja. Kehadiran para suster mendapat tanggapan yang sangat positif sehingga dr. Meier meminta para suster untuk bekerja di Rumah Sakit Umum (RSU) Budiman Baturaja, yang pada waktu itu sangat kekurangan tenaga perawat. Para suster tinggal sementara di perumahan dokter di kompleks rumah sakit.

Bersama Sr. Evarista, SFGM dan dr. Oka Wilsen Joung, SpPD (Direktur RS Atinonio Baturaja)

Bertemu dr. Oka Wilsen Joung, SpPD (Direktur RS Atonio Baturaja)

Pada waktu senggang atau libur para suster mengadakan kunjungan pelayanan bagi masyarakat umum yang sakit di kampung-kampung. Alat transportasi yang digunakan para suster waktu itu adalah sepeda onthel atau bahkan jalan kaki. Pada tanggal 2 November 1948, Sr. Maria Renate Bonke misionaris baru dari Belanda datang dan bekerja di rumah sakit sesuai profesinya yaitu bidan. Sebagai bidan ia lebih sering mendapat panggilan untuk menolong persalinan di kampung-kampung.

Melihat banyaknya masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan waktu itu, para suster terdorong untuk membuka tempat pelayanan kesehatan tersendiri. Di kampung Air Gading yang penuh hutan alang-alang jauh dari keramaian, kira-kira satu kilometer dari RSU Budiman, rencana para suster ini dimulai yang ditandai dengan peletakan batu pertama pembangunan pada tanggal 4 April 1952. Pada bulan Oktober 1952 para suster menempati rumah baru yang sederhana.

Tiga suster tetap bekerja di RSU Budiman, suster lain merintis poliklinik dan rumah bersalin. Tanggal 10 November 1952 bangunan komplek susteran, klinik bersalin dan poliklinik telah selesai di bangun dengan kapasitas 10 tempat tidur. Pada 10 Desember 1952 klinik bersalin dan poliklinik diberkati oleh Mgr. H. Mekkelholt, dibuka dan diresmikan oleh Ny. dr. R. Setioharjo, pimpinan RSU Budiman dengan nama pelindung Santo Antonio. Karena kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan cukup tinggi, pada bulan April 1954 Klinik Bersalin memperluas kamar perawatan sehingga berkapasitas dua puluh tempat tidur walaupun dengan kondisi yang sangat sederhana.

Diajak Sr. Evarista, SFGM keliling RS Antonio Baturaja

Tahun 1977 terjadi wabah Cholera, sehingga jumlah pasien tidak tertampung di rumah sakit umum. Dengan kondisi yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat, maka suster-suster Fransiskanes dari Pringsewu ikut ambil bagian dalam kesulitan ini dan kemudian juga diputuskan rencana untuk memperluas klinik bersalin dan poliklinik menjadi rumah sakit. Maka pada bulan Januari 1980 di atas tanah seluas 28.865.50 m2 mulai dibangun gedung rumah sakit baru dengan kapasitas 50 tempat tidur. Pembangunan ini dapat diselesaikan tanggal 13 Juni 1981.

Terimakasih banyak Sr. Evarista, SSGM telah menerima kami di Baturaja Sumsel.

Seiring berjalannya waktu, kapasitas rumah sakit semakin tidak mencukupi, terutama kebutuhan tempat tidur pasien. Kondisi lahan yang sudah terbatas menjadi kendala. Sementara akses jalan masuk ke lokasi rumah sakit yang sempit melalui pemukiman yang padat penduduk, sering terganggu oleh adanya perlintasan kereta api jalur ganda yang semakin ramai oleh kereta api batubara panjang (babaranjang) yang melintas. Maka untuk meningkatkan dan pengembangan pelayanannya, dilakukan pemindahan lokasi rumah sakit.

Lokasi baru Rumah Sakit Santo Antonio berada di Jalan Garuda No.3, KM.3, Jalan Lintas Sumatera. Bulan Juni 2015 dilaksanakan peletakan batu pertama oleh Bupati Kabupaten Ogan Komering Ulu dan Pembina Yayasan, sebagai tanda dimulainya pembangunan rumah sakit di tempat yang baru. Pada tanggal 6 Desember 2018 Rumah Sakit diresmikan oleh Bupati Ogan Komering Ulu. Pada tanggal 18 Februari 2019 Rumah Sakit Santo Antonio mulai operasional pelayanan di tempat dan sarana baru yang lebih memadai, serta di situlah kami berkunjung.

Diantar sepupu mas Heri dan mbak Kom, dengan Lius cucu yang tidak mau diam, untuk pamit kembali dari Baturaja Sumsel ke Yogyakarta naik bis Rosalia Indah.

Selesai mengunjungi RS St. Antonio Baturaja, kami segera pulang ke Yogyakarta naik bis Rosalia Indah. Bersasis premium Mercedes-Benz OH 1626 buatan Jerman, bermesin belakang berbobot 16 ton dengan tenaga 260 horsepower. Berbalut bodi Legacy SR3 XHD Prime buatan Karoseri Laksana Ungaran ini, terkenal berkat kenyamanan suspensi udara (air suspension) dan kapasitas bagasi tembus yang luas.

Bis Rosalia Indah Mercedes-Benz OH 1626 buatan Jerman, berbalut bodi Legacy SR3 XHD Prime buatan karoseri Laksana

Tandan sawit segar di atas truk yang lalu lalang dari kebun ke pabrik

Mendarat di kantor Pusat Rosalia Indah, di Palur Karanganyar Jawa Tengah

Sowan Bulik Sri Redjeki (adik kandung ibu saya, Eyang NY Karsini) di rumahnya di Jaten, Karanganyar

Siap naik KRL Joglo dari Stasiun Palur ke Stasin Lempuyangan untuk kembali ke Jogja

Bis Rosalia Indah yang kami tumpangi melaju kencang sampai ke Palur, Karanganyar, Jawa Tengah. Kami mendarat Kamis siang, 6 Agustus 2026 di Palur dan lanjut sowan Bulik Sri Rejeki (adik kandung ibu saya) di Jaten, tidak jauh dari Palur. Terus kami naik KRL Joglo dari Stasiun Palur menuju Statiun Lempuyangan Yogyakarta, sebelum lanjut ke rumah Timoho naik Grab Car.

Terimakasih kami sampaikan kepad segenap pendukung perjalanan yang sukses ini.

Menggilas Andalas

Di atas roda dengan suspensi udara, meluncur ke sebagain Andalas (Lampung, Sumatera Selatan dan Jambi). Diusung sasis bis Scania tronton K410 buatan Swedia milik Rosalia Indah, Golden dragon 300TK dari Tiongkok milik SAN, dan Mercedez Benz OH 1626 asli Jerman, punya Rosalia Indah lagi. Juga Toyota Innova Reborn dan Nissan X-Trail.

Menikmati Taman Doa Sendang Banyu Urip, JPO Siger, Tugu Keris, Jembatan Gantala Arasy, Jembatan Ampera, Katedral Kristus Raja Tanjungkarang, Gereja St. Gregorius Agung Jambi, Katedral Santa Maria Palembang, Gereja St. Stefanus Talang Betutu Palembang, dan Gereja Santa Maria Belitang OKU Timur. Juga Sungai Musi yang lebar, Sungai Batanghari yang hidup, dan Sungai Komering yang berarus deras

Juga reuni dengan teman SMP Bruderan Purworejo, SMA Kolese de Britto dan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Silaturahmi dengan sesama keturunan Kyai Mangundrono, dari garis Nyai Mangundihardjo dan dari Nyai Atmoharjono. Juga melihat potensi kerjasama dengan RS Antonio Baturaja dan Klinik Enggal Saras Belitang, untuk pendidikan dokter.

Menempuh 2.922 km, menikmati jalur lintas timur Sumatera di musim kemarau, melihat pohon sawit, karet, durian dan duku. Juga rumah panggung warga lokal, iringan truk long vehicle, kereta api batubara panjang, juga antrian pembeli solar di berbagai SPBU, karena kelangkaan parah. Terimakasih

Menggilas Andalas jelas membekas. Terimakasih banyak atas semua bantuan dari segenap pihak, sehingga penjelajahan ke Sumatera dapat berjalan baik.

Jumat, 7 Agustus 2026 sudah masuk kerja biasa

Categories
dokter Jalan-jalan sejarah

2026 Dari Salemba untuk Dokter Indonesia

Dari Salemba untuk dokter Indonesia
fx. wikan indrarto

Kesempatan menjalankan tugas dari Fakultas Kedokteran Universitas Atma Jaya Yogyakarta (FK UAJY), berangkat ke Jakarta untuk menghadiri acara Forum Dekan FK oleh AIPKI pada Kamis sampai Minggu, 16-19 Juli 2026.

Lihat juga :

https://www.instagram.com/p/Da-VmLOFL1s/?igsh=Y2UwYXE4ZDYyZWJw

AIPKI adalah singkatan dari Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia, yaitu organisasi yang menaungi seluruh fakultas kedokteran di tanah air Indonesia. Saat ini sudah ada 148 Fakultas Kedokteran (FK) di Indonesia

Memasuki gerbang Stasiun Tugu Yogyakarta

Kamis malam, 16 Juli 2026 saya bergegas menuju Stasiun Tugu Yogyakarta untuk masuk ke perut KA Taksaka menuju Stasiun Gambir di Jakarta Pusat. Lanjut naik Bajaj menuju Hotel Borobudur dan lanjut istirahat sejenak.

Nyaman di dalam perut KA Taksaka dari Yogyakarta menuju Stasiun Gambir di Jakarta Pusat.

Sampai di Gerbang Hotel Borobudur Jakarta pada dini hari

Jumat pagi, 17 Juli 2026 setelah ‘early breakfast’, saya mendapat penjelasan dari dr. Risma Ikawaty, MSc, PhD Wakil Dekan I FK Ubaya dari Surabaya. Sambil menunggu bis FK UI yang akan menjemput para peserta Forum Dekan di lobi Hotel Borobudur Jakarta, FK Ubaya menggunakan RS Ibnu Sina di Gresik sebagai RS Pendidikan Utama (RSPU). Dibandingkan UAJY yang sesama PTS, ternyata 2 tahun sejak FK berdiri, Ubaya langsung merancang pendirian RS Pendidikan sendiri, untuk memudahkan sinkronisasi program pendidikan jenjang sarjana, dengan jenjang profesi, bahkan sampai pada jenjang spesialis. Pada 2 tahun kemudian, RS Pendidikan FK memulai operasional tahap rawat jalan dan pada tahun ke 4 sudah lengkap semua layanan. Meskipun demikian, RS baru yang sedang berkembang tersebut kemudian digunakan sebagai RS Pendidikan Satelit, dengan RSPU tetap di RS Ibnu Sina sampai beberapa tahun ke depan. Setelah semuanya siap, RSPU akan menjadi milik Ubaya sendiri dan bahkan akan dikembangkan menjadi wahana pendidikan program spesialis.

Bersama Prof. dr. Ramdan Panigoro, MSc, PhD. (Guru Besar Unpad dan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Parahyangan) Bandung

Aula FK UI yang legendaris di Jakarta

Bersama Prof. Dr. dr. Reviono, SpP(K) Dekan FK UNS Surakarta

Dengan bis milik FK UI, kami segera mendarat di Aula FK UI Salemba Jakarta Pusat yang legendaris, untuk mengikuti sesi pembukaan Forum Dekan AIPKI. Acara diadakan di IMERI (Indonesia Medical Education and Research Institute) yang berada di dalam kompleks Kampus Universitas Indonesia (UI) Salemba, Jalan Salemba Raya No. 6, Senen, Jakarta Pusat.

Para peserta Forum Dekan FK oleh AIPKI 2026 di Aula FK UI Jakarta

Bersama Prof. Dr. dr. Reviono, SpP(K) Dekan FK UNS Surakarta

AIPKI adalah organisasi yang berfungsi sebagai wadah komunikasi dan kolaborasi antara institusi dengan pemerintah untuk menjaga, merumuskan, dan meningkatkan mutu pendidikan medis agar sesuai dengan standar nasional.

Duduk mengantuk di barisan ketiga dari depan, kelima dari kiri, dengan para peserta Forum Dekan FK oleh AIPKI 2026 di Aula FK UI Jakarta

Setelah sambutan seremonial pembukaan oleh Ketua Panitia Forum Dekan FK AIPKI 2026, dr. Eric Daniel Tenda, DIC., PhD, Sp.PD, Sub-Sp.P.M.K (K), FINASIM, FISQua dan Dekan FK UI Prof. Dr. dr. Anna Rozaliyani, M.Biomed, SpP(K) yang dilantik secara resmi oleh Rektor UI pada 8 Desember 2025, sebagai tuan rumah acara. Selanjutnya Ketua Umum Pengurus Pusat Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI) Prof. Dr. dr. Wisnu Barlianto, M.Si.Med., Sp.A(K). Beliau menggantikan ketua periode sebelumnya, Prof. Dr. dr. Budi Santoso, Sp.OG(K).

Kegiatan Forum Dekan FK AIPKI diawali pada Kamis, 16 Juli 2026 dengan diskusi panel yang menghadirkan para dekan FKUI periode sebelumnya. Sesi yang tidak sempat saya ikuti ini ditujukan untuk memberikan perspektif historis sekaligus refleksi pengalaman kepemimpinan dalam menghadapi dinamika pendidikan kedokteran.

Pada hari kedua, 17 Juli 2026, saya mengikuti agenda seremonial pembukaan yang dilanjutkan dengan keynote speech oleh Menteri Pendidikan, Sains, dan Teknologi. Selain itu, akan diselenggarakan diskusi panel serta sesi pleno bersama Ketua AIPKI yang membahas isu-isu strategis terkini dalam pendidikan kedokteran.

Selanjutnya adalah sesi diskusi dengan tema Kebijakan Diktisaintek Berdampak – Arah Penjaminan Mutu Pendidikan Kedokteran dan Optimalisasi Sistem Kesehatan Akademik (SKA), yang dipimpin oleh Prof. dr. Tonang Dwi Ardyanto, Sp.PK(K), Ph.D (Wakil Sekretaris 1 AIPKI). Terus lanjut sesi Diskusi Panel selanjutnya dengan tema Kebijakan Pendidikan Kedokteran : Transformatif dan Pelayanan Kesehatan di Indonesia (S1/profesi dokter, Sp1, Sp2).

Sesi istirahat siang itu saya mengikuti Prof. Dr. dr. Reviono, Sp.P(K), Dekan FK UNS Surakarta teman seangkatan di FK UGM 84 (Konga) menemui Dr. dr. Retno Sulistyo Wardani, Sp.T.H.T.B.K.L, Subsp.Rino(K), teman sesama Konga yang merupakan dokter spesialis THT konsultan rinologi di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Bersama Prof. Dr. dr. Reviono, SpP(K) Dekan FK UNS Surakarta dan Dr. dr. Retno Sulistyo Wardani, Sp.T.H.T.B.K.L, Subsp.Rino(K), konsultan rinologi di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), semuanya teman seangkatan di FK UGM 84 (Konga)

Kami bertiga lanjut mengikuti Hospital Tour di RS yang berdiri sejak 19 November 1919. RSCM memiliki peran sebagai RS pusat rujukan nasional yang terkenal dengan berbagai layanan unggulannya dan juga sebagai RSPU FK-UI. Nama rumah sakit ini diambil dari nama dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, seorang tokoh perjuangan Indonesia pada masa kolonial Belanda.

Bersama Prof. Dr. dr. Reviono, SpP(K) Dekan FK UNS dan Dr. dr. Retno Sulistyo Wardani, Sp.T.H.T.B.K.L, Subsp.Rino(K), di Pavilian Kanigara sayap bisnis menangah RS Cipto Mangunkusumo (RSCM)

Di RSCM, ribuan dokter dan tenaga kesehatan lain bersama-sama melayani ribuan pasien dari seluruh Indonesia yang setiap hari berkunjung ke RS ini. RSCM dengan 1.000 tempat tidur merupakan pusat rujukan nasional rumah sakit pemerintah dan merupakan tempat pendidikan dokter umum, dokter spesialis dan subspesialis, perawat, perawat spesialis, serta tenaga kesehatan lainnya.

Tiga serangkai KONGA yang jalan bersama dalam Hospital Tour RSCM

Lorong RSCM Jakarta yang legendaris

Bertiga kompak sampai IMERI FK UI

Setelah makan siang bersama di Kantin RSCM Kencana, kami berdua kembali ke IMERI FK UI untuk mengikuti diskusi panel selanjutnya dengan tema Kerangka Kerja & Peta Jalan Penjaminan Mutu Akademik Pendidikan Dokter dan Optimalisasi peran AIPKI dengan moderator Prof. Dr. dr. Haerani Rasyid, MKes., SpPD,K-GH., Sp-GK., FINASIM (Dekan FK Universitas Hasanuddin – Wakil Ketua 1 AIPKI). Lanjut Diskusi Panel dengan tema “Posisi dan Peran AIPKI pada Penjaminan Kualitas Pendidikan Kedokteran dan Optimalisasi AHS dan Dialog bersama Majelis Guru Besar Kedokteran Indonesia (MGBKI).

Berjalan kaki menyeberangi Jl. Salemba yang padat lalu lintas, untuk menuju ke RS Saint Carolus (RSSC) Jakarta

Sore itu saya melanjutkan kegiatan dengan mengunjungi RS Saint Carolus Jakarta, dengan berjalan kaki menyeberangi Jl. Salemba yang padat kendaraan. Begitu sampai, saya langsung teringat Lagu “Berpisah di Teras St. Carolus”. Lagu yang diciptakan oleh musisi legendaris Wedhasmara ini, merupakan lagu lawas yang menceritakan perpisahan pasien dengan seorang perawat. Lagu ini sangat populer dibawakan oleh penyanyi era 1960-an, yaitu Lilis Suryani dan sering direkam ulang oleh penyanyi seperti Rani pada Agustus 1999.

Kami bertemu di teras RS dengan Direktur RSSC Kolonel CKM (purn) dr. Robertus Bebet Prasetyo, SpU (K), saat mengingat lagu “Berpisah di Teras St. Carolus” yang diciptakan oleh musisi legendaris Wedhasmara

Rumah Sakit St. Carolus di Jakarta resmi dibuka pada 21 Januari 1919. Diprakarsai oleh Uskup Batavia Mgr. Edmundus Luypen, SJ dan dikelola oleh para biarawati dari Kongregasi Suster Suster Cinta Kasih Santo Carolus Borromeus (CB), rumah sakit ini memelopori pendidikan keperawatan dan kebidanan di Indonesia pada era 1940-an dan telah berkembang menjadi salah satu rumah sakit bersejarah tertua dengan fasilitas modern di ibu kota.


Dengan semboyan Kami Melayani dari Hati dan Membangkitkan Harapan, RS St. Carolus (RSSC) adalah rumah sakit tertua ke-2 se-Jakarta yang sudah berinovasi menjadi bangunan yang modern. Pelayanan yang diberikan RS St. Carolus sudah sesuai dengan standar kualitas terbaik, dokter & tenaga medis profesional serta, fasilitas lengkap.

Pendirian RSSC diawali dengan pertemuan sejumlah tokoh awam Katolik Batavia di bawah pimpinan Mgr. Edmundus Sybrandus Luypens SJ (Vikaris Apostolis Batavia), Pastor Sondaal SJ, Pastor van Swieten SJ, Bp. Karthaus, berinisiatif mendirikan sebuah rumah sakit Katolik di Batavia. Pada awal 1915 Mdr. Lucia Nolet, CB (Pemimpin Umum Kongregasi Suster-suster Cinta Kasih St. Carolus Borromeus 1914–1926) menerima tawaran Mgr. Luypens, SJ untuk membuka karya misi di Hindia Belanda – Batavia. Karena situasi perang dunia pertama saat itu, maka baru pada tanggal 22 Juni 1918, Sepuluh Suster CB dari Negeri Belanda berangkat ke Batavia dengan kapal laut, dan tiba di Tanjung Priok pada tanggal 7 Oktober 1918. Pada tanggal 21 Januari 1919 Pelayanan Kesehatan St. Carolus dimulai dan diberkati oleh Mgr. Edmundus S Luypen, SJ dengan kapasitas 40 tempat tidur.

Diterima di ruang kerja Direktur RSSC Kolonel CKM (purn) dr. Robertus Bebet Prasetyo, SpU (K)

Sejarah indah tersebut terngiang saat saya diterima oleh Direktur RSSC Kolonel CKM (purn) dr. Robertus Bebet Prasetyo, SpU (K) yang tegak, ramah dan sangat sibuk. Dokter TNI AD anggota Dokter Kepresidenan RI dan besan dr. Ambar Kelanawati (kakak kelas di FK UGM) sangat ramah sampai mengajak Hospital Tour menikmati sejarah RSSC.

Mengunjungi sepupu dik Gregorius Adi Utomo di Duren Sawit

Terimakasih dik Mukti yang sudah mendampingi suami dik Gregorius Adi Utomo di Duren Sawit setelah pulih dari sakit

Masuk Stasiun Buaran dari rumah adik sepupu di Duren Sawit Jakarta

Terus saya dijemput Bapak Mulyadi, sopir keponakan saya, dik Eka Novianto, sebagai Vice President Director di PT Summit Adyawinsa Indonesia yang merupakan lulusan S-1 Teknik Kimia UGM 1990. Keponakan yang pernah menjadi Wakil Presiden Senat Mahasiswa Fakultas Teknik UGM dan Pengurus Lembaga Kemahasiswaan itu mengutus pak Mulyadi dengan Honda CRV hitam mengantar saya ke Duren Sawit. Saya mengunjungi sepupu, dik Gregorius Adi Utomo yang baru tahap pemulihan setelah pasang stent jantung di RS Jantung Matraman. Setelah menguatkan harapan akan kesembuhan dan mendukung sikap sigap menjalani pemulihan dalam pendampingan oleh dik Mukti istrinya, saya diantar naik motor oleh adik iparnya menuju Stasiun Buaran. Saya menikmati perjalan dalam gerbong KRL.


KRL Commuter Line adalah sistem transportasi angkutan cepat komuter berbasis kereta rel listrik (KRL) yang dioperasikan oleh PT Kereta Commuter Indonesia (KAI Commuter), anak perusahaan dari PT Kereta Api Indonesia (Persero). Layanan ini telah beroperasi di wilayah Jakarta sejak tahun 1925, hingga kini melayani rute komuter di wilayah Jabodetabek serta lintas Yogyakarta—Palur.

Suasana sore di KRL Line biru dari Stasiun Buaran ke Manggarai Jakarta

Tertinggal KRL di Stasiun Manggarai

Saya naik Line Blue (biru) dari Stasiun Buaran, melewati Klender, Jatinegara, Matraman dan turun di Manggarai. Di stasiun besar persimpangan antar moda tersebut, saya naik ke lantai 3 untuk berganti Line Red (merah) melewati Cikini, Gondangdia, Gampir dan turun di Juanda. Lanjut naik Go-Jek menuju Hotel Borobudur.

Senang sekali dapat menyambut anak tengah kami arsitek yang sangat sibuk, Bimoseno, di Hotel Borobudur Jakarta

Jumat malam, 17 Juli 2026 saya menyambut kedatangan dik Bimoseno, anak kedua kami yang sangat sibuk, sepulang dari kantor biro arsitek, di lobi Hotel Borobudur. Terimakasih banyak dik Bimo, anak kami yang baik, membawakan nasi bungkus untuk makan malam bersama di hotel

Bersama Hendro Edi, yang telah tidak pernah ketemu lagi sejak bersama lulus dari SMP Bruderan Purworejo Jawa Tengah

Reuni dengan keluarga Hendro Edi

Lanjut saya menerima Hendro Edi, teman SMP Bruderan Purworejo yang telah tidak ketemu sejak lulus, meskipun sama-sama kuliah di UGM. Ditemani istri dan Yosaphat, anak tunggalnya yang baru lulus dari FK UI dan bersiap mengikuti program internship dokter, bersama Laras, anak bungsu kami. Malam itu kami semua ngobrol asyik di Kamar 838 Hotel Borobudur Jakarta sampai mata hampir lengket mengantuk hebat

Ganti hari

Sabtu pagi, 28 Juli 2026 saya berjalan kaki melewati Lapangan Banteng, untuk mengikuti misa kudus harian pagi di Gereja Katolik Santa Perawan Maria Diangkat ke Sorga, Paroki Katedral Jakarta.

Gereja Katolik Santa Perawan Maria Diangkat ke Sorga, Paroki Katedral Jakarta.

Suasana megah dan berwibawa interior Gereja Katolik Santa Perawan Maria Diangkat ke Sorga, Paroki Katedral Jakarta.

Kursi uskup (catedra) di dalam Gereja Katolik Santa Perawan Maria Diangkat ke Sorga, Paroki Katedral Jakarta.

Bersama Rm. Macharius Maharsono Probo, SJ di Gereja Katolik Santa Perawan Maria Diangkat ke Sorga, sebagai Pastor Kepala Paroki Katedral Jakarta.

Rancangan arsitek Antonius Dijkmans, Gereja Katedral Jakarta dalam bahasa Belanda: De Kerk van Onze Lieve Vrouwe ten Hemelopneming, diresmikan pada 1901 dan dibangun dengan arsitektur neo-gotik dari Eropa, yakni arsitektur yang sangat lazim digunakan untuk membangun gedung gereja beberapa abad yang lalu. Setelah misa kudus selesai, saya sempat berfoto bersama dengan Romo Macharius Maharsono Probo SJ, Pastor Kepala Paroki, yang pernah menduduki jabatan serupa di Gereja Katolik St Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta, di depan Graha Pemuda. Sebuah ruangan di samping Gereja Katedral Jakarta tersebut, pernah digunakan untuk menyusun draft Sumpah Pemuda yang digelorakan pada 28 Oktober 1928.

Masjid Istiqlal Jakarta yang tinggi menjulang

Lapangan Banteng dengan patung kebebasan Indonesia

Lanjut mampir sejenak ke Masjid Istiqlal dan Lapangan Banteng, sebelum kembali ke Hotel Borobudur Jakarta. Setelah menikmati sarapan berdua dengan dik Bimo, saya segera memberikan pelatihan online tentang Komite Medik yang diikuti oleh para dokter di RSUD Merauke, Papua Selatan.

Mengunjungi dr. FA Timmy Budi Yudhantara SpM, adik kelas di SMA Kolese de Britto Yogyakarta (JB 96), saat mendampingi dokter muda di RSSC Jakarta.

Sabtu pagi, 18 Juli 2026 saya kembali mengunjungi RS St Carolus untuk menemui dr. FA Timmy Budi Yudhantara SpM, adik kelas di SMA Kolese de Britto Yogyakarta (JB 96). Sambil membimbing dengan sabar para dokter muda dari FK Unika Atma Jaya Jakarta, dr. Timmy menerima saya di sela-sela melayani pasien. Terus saya jalan kaki lagi menyeberangi Jl. Salemba yang padat lalu lintas, untuk masuk ke Auditorium IMERI FK UI, mengikuti Forum Dekan FK AIPKI 2026 hari ketiga.

Bersama Ibu Dekan FK UMS Surakarta Dr. dr. Flora Ramona Sigit Prakoeswa, M.Kes., Sp.KK., Dipl.STD-HIV., FINSDV

Bersama Laksamana Pertama TNI (Purn.) dr. Herjunianto, Sp.PD, MMRS Bapak Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS)

Bersama Ketua Umum AIPKI, Prof. Dr. dr. Wisnu Barlianto, M.Si.Med., Sp.A(K) (berkacamata) dari FK UB Malang dan Sekjen AIPKI Dr. dr. Safrizal Rahman, M.Kes., Sp.OT (FK USK Banda Aceh)

Setelah diskusi panel yang dialogis, dengan pembicara Dr. dr. Flora Ramona Sigit Prakoeswa, M.Kes., Sp.D.V.E. Dekan FK UMS Surakarta berjudul Penjaminan Mutu sebagai Penggerak Transformasi: Perjalanan FK UMS Menuju Akreditasi Internasional. Lanjut tema Penerapan Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Kedokteran di Indonesia oleh Dr. dr. Riwanti Estiasari, Sp.S(K). Juga Sistem Pendidikan Kedokteran di Indonesia: From Policy to Practice oleh Prof. Dr, dr. Anna Rozaliyani, MBiomed, SpP(K) Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, yang mendapat masukan lebih luas oleh Prof. Dr. dr. Haerani Rasyid, M.Sc, Sp.PD-KGH, Sp.GK Dekan FK Unhas Makassar dan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, Dr. dr. Yenny, Sp.FK, terus saya ikut mengenal lebih jauh peran AIPKI dengan mengikuti diskusi paralel dengan subtopik utama terkait AIPKI.

Pertama, Fungsi dan Peran Utama Standarisasi Kurikulum: Berperan penting dalam merumuskan dan mengevaluasi kurikulum pendidikan kedokteran agar selalu relevan dengan perkembangan ilmu dan teknologi medis terkini. Diskusi di auditorium 1 & 2 di lantai 3 itu saya ikuti, bersamaan dengan diskusi kelompok Kedua, yang membahas tentang Koordinasi Antar Fakultas: Menjadi forum bagi para dekan fakultas kedokteran untuk bertukar informasi dan pengalaman dalam mengelola institusi. Juga Ketiga, Penataan Dokter Spesialis: Terlibat aktif dalam program pendampingan tenaga kesehatan dan pengembangan Rumah Sakit Pendidikan. Keempat, Penyelenggaraan AKTAPRO (Asesmen Komprehensif Tahap Profesi), dengan AIPKI menyelenggarakan try out nasional yang dahulu dikenal dengan sebutan TO AIPKI. Ujian simulasi ini dirancang bagi mahasiswa kedokteran sebagai persiapan untuk menghadapi Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD).

Setelah selesai diskusi paralel, saya menerima teman lama alumni FK UI angkatan 1985, dr. Thomas BJ Aliandoe yang pernah bertugas bersama di Kabupaten Sikka, Flores NTT tahun 1992-1995. Sebagai alumni FK UI, dr. Thomas mengajak saya keliling (Campus Tour).

Bersama alumni FK UI 85 dr. Thomas BJ Aliandoe

Kampus FK UI didirikan pada 2 Januari 1849 (Dokter-Djawa School) yang saat ini dipimpin oleh Ibu Dekan Prof. Dr. dr. Anna Rozaliyani, M.Biomed., Sp.P(K). FK UI tidak lepas dari sejarah pendidikan dokter di Indonesia yang dimulai sejak zaman penjajahan Belanda. Adapun momentum pendidikan kedokteran di Indonesia lahir pada tanggal 2 Januari 1849 melalui Keputusan Gubernemen No. 22. Ketetapan itu menjadi titik awal penyelenggaraan pendidikan kedokteran di Indonesia (Nederlandsch Indie), yang ketika itu dilaksanakan di Rumah Sakit Militer. Selang dua tahun, Dokter Djawa School hadir memenuhi kebutuhan tenaga dokter yang dimulai tahun 1851. Walaupun lulusan tersebut diberi gelar Dokter Djawa, sayangnya lulusan sekolah tersebut hanya dipekerjakan sebagai mantri cacar, karena saat itu sedang terjadi wabah cacar. Nyaris 10 tahun lamanya dokter-dokter Indonesia harus menunggu untuk memperoleh wewenang lebih dari sekadar mantri cacar.

Bersama alumni FK UI 85 dr. Thomas BJ Aliandoe di Aula FK UI Salemba yang bersejarah

Lebih dari 20 tahun kemudian, yaitu pada 1898, barulah berdiri sekolah pendidikan kedokteran yang disebut STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen). Para alumni ketika itu disebut Inlandsche Arts. Untuk memantapkan kualitas lulusan dalam hal praktik, pada akhir tahun 1919, didirikan Rumah Sakit Pusat CBZ (Centrale Burgerlijke Ziekenhuis, sekarang disebut RS Ciptomangukusumo/RSCM) yang dipakai sebagai rumah sakit pendidikan oleh siswa STOVIA. Kampus dengan dominasi warna putih yang kami kunjungi selesai dibangun pada tanggal 5 Juli 1920. Pada tanggal yang sama pula seluruh fasilitas pendidikan dipindahkan ke gedung pendidikan yang baru di Jalan Salemba 6 sekarang.

Diantar dr. Thomas BJ Aliandoe ke rumah teman

Setelah puas keliling kampus bekas FK, FE dan FT UI Salemba, saya diantar dr. Thomas BJ Aliandoe menuju rumah dab Fauzi, teman SMA Kolese de Britto Yogyakarta di seputaran Utan Kayu Jakarta. Setelah bercengkerama dan mengunjungi ibu mertuanya (88 tahun) yang sudah terpasang NGT sonde karena kesulitan menelan, terkait stroke otak kecil, saya pamit pulang.

Main ke rumah dab Nico Fauzi Bahari Fudhal, teman SMA Kolese de Britto Yogyakarta 1984, alumnus PPM (Pendidikan dan Pembinaan Manajemen) di seputaran Utan Kayu Jakarta

Siap makan menu enak banget buatan mbak Iswari (Alumni FPsi UGM dan Stece) dan dab Nico Fauzi Bahari Fudhal (teman SMA Kolese de Britto Yogyakarta 1984), di rumahnya Utan Kayu Jakarta


Terimakasih banyak kepada Bapak Ketua Lingkungan Albertus Utan Kayu di Paroki St. Yoseph Matraman Jakarta, dab Nico Fauzi Bahari Fudhal (JB 84) yang telah mengantarkan saya sesuai aplikasi, dari rumahnya yang artistik ke Terminal Terpadu Pulau Gebang Jakarta.

Diantar dab Nico Fauzi mendarat di Terminal Terpadu Pulo Gebang Jakarta

Luar biasa banget sambutan, dukungan, cerita dan inspirasi bisnis kamar kost yang diberikan olh dab Fauzi. Mohon maaf tidak membawakan oleh2, malah disiapkan makan siang banyak menu di meja makannya. Sampai ketemu lagi.

Siap naik bis tingkat Rosalia Indah berbodi Jetbus 3+SDD, yang gagah menjulang buatan karoseri Adiputro Malang, dan diusung sasis premium buatan Swedia Volvo BHR 430HP

Istirahat makan malam di Ros In Subang Jawa Barat dari Pulau Gebang Jakarta, sebelum lanjut ke Yogyakarta. Akan masuk di dalam lantai 2 bis tingkat Rosalia Indah berbodi Jetbus 3+SDD, yang gagah menjulang buatan karoseri Adiputro Malang, dan diusung sasis premium buatan Swedia Volvo BHR 430HP. Sangat lancar dan tleser2 melahap Tol Trans Jawa.

Salam holobis enak ngebis sambil mengenang hasil Forum Dekan FK AIPKI 2026 dari Salemba untuk dokter Indonesia

Terimakasih

Categories
anak dokter Healthy Life Jalan-jalan medicolegal

2026 Disiplin Profesi Dokter

DISIPLIN  PROFESI  DOKTER

fx wikan indrarto

Awalnya bingung dan dilematis, saat dihubungi oleh seorang pengacara untuk hadir dan memberikan pendapat medis (‘medical opinion’ atau keterangan ahli, yang saya cantumkan pada akhir tulisan ini) pada sebuah sidang di hadapan Yang Mulia Majelis Disiplin Profesi (MDP) periode 2024–2028, yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.01.07/MENKES/1630/2024, sebagai pemeriksa dugaan pelanggaran disiplin, standar profesi atau standar pelayanan oleh tenaga medis dan kesehatan.

Lihat juga :

https://www.instagram.com/p/Daj8DOMoBpW/?igsh=bnA2cDNseXJwNWI=

Siap terbang dari Bandara Adisucipto Yogyakarta

Setelah berkonsultasi kepada banyak senior dokter dan ahli hukum, saya akhirnya menyanggupinya dengan penuh was-was.

Rabu dini hari, 8 Juli 2026 saya memasuki Bandara Adisucipto Yogyakarta, yang lama tidak difungsikan sebagai bandara komersial. Hal ini karena seluruh rute penerbangan di Bandara Adisutjipto pindah ke Bandara Internasional Yogyakarta per 29 Maret 2020. Saya masuk perut pesawat milik maskapai Fly Jaya berkode KS101 jenis ATR 72-500. Pesawat ATR 72-500 adalah buatan perusahaan patungan Prancis-Italia bernama ATR,  kolaborasi antara Airbus (Prancis) dan Leonardo S.p.A. (Italia). ATR 72-500 adalah pesawat penumpang regional jarak pendek bermesin twin-turboprop, dengan efisiensi bahan bakarnya, berkapasitas standar 68 penumpang, dan mampu mendarat di landasan pendek.

Siap masuk ke kabin pesawat Fly Jaya berkode KS101 jenis ATR 72-500.

Mendarat dengan selamat di Bandara Legendaris Halim Perdanakusuma Jakarta

Bergaya di depan gerbang Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta

Setelah mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta, segera saya bergegas jalan kaki ke Gereja Katolik Santo Agustinus yang berada di bawah pengelolaan Keuskupan Agung Jakarta dan Ordinariat Militer Indonesia (OCI). Pada 29 Juli 1995, KASAU Marsekal TNI Rilo Pambudi meresmikan gereja ini dan Uskup Agung Jakarta, Mgr. Leo Soekoto, SJ memberkati bangunan gereja yang dinamai Agustinus, seorang filsuf yang bijaksana. Setelah berdoa sejenak memohon pendampingan Tuhan dan kebijaksanaan dalam menjalankan tugas pada sidang MDP, terus manyambut anak bungsu, Laras dan suaminya William, yang datang menguatkan saya.

Berjalan kaki pagi dari Bandara menuju Gereja Katolik Santo Agustinus Halim Perdana Kusuma Jakarta

Dekorasi kaca patri bagian belakang di Gereja Katolik Santo Agustinus Halim Perdana Kusuma Jakarta

Selesai berdoa bersama Laras dan William di Gereja Katolik Santo Agustinus Halim Perdana Kusuma Jakarta

Lanjut bertiga kami menuju Gedung MDP dan KKI (Konsil Kesehatan Indonesia) di Jl. Hang Jebat III Blok F 3, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sidang dimpimpin oleh Wakil Ketua MDP, yaitu Dr. Ahmad Redi, SH, MH, MSi dengan anggota dr. Erfen Gustiawan Suwangto, Sp.KKLP, Subsp. FOMC, SH, MH(Kes), PhD dan Ns. Arthur Daniel Thomas Betlehem Lapian, SE, SKep, MKes, MARS. Di ruang sidang yang bersifat tertutup untuk umum, saya duduk di kursi belakang menghadap meja majelis, dengan sebelah kiri saya duduk para penasehat hukum pengadu dan di sebalah kanan saya, duduk dokter teradu yang didampingi para penasehat hukumnya juga.

Mendarat dengan selamat Gedung MDP dan KKI (Konsil Kesehatan Indonesia) di Jl. Hang Jebat III Blok F 3, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Setelah 2 orang saksi mengangkat sumpah menurut agamanya, lanjut saya juga mengangkat sumpah menurut agama Katolik, bukan untuk beraksi, tetapi menjadi ahli yang memberikan pendapat. Diikuti ahli di sebelah saya, seorang dosen senior bidang hukum perdata dari sebuah universitas di Jakarta.

Persiapan akhir sebelum tampil pada sidang MDP

Saya menyampaikan pendapat medis (medical opinion) sebagai keterangan ahli terkait Surat Panggilan Sidang Nomor: MD.01/MDP/1248/VI/2026 Tertanggal 30 Juni 2026. Pendapat Medis ini disusun atas permintaan Endang Supriyatna, SH, Sekjen NU Bogor Raya Law Firm dari Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBHNU). Dalam hal ini bertindak sebagai penasehat hukum seorang ibu yang beralamat di Kelapa Gading Jakarta Utara, yang melakukan pengaduan dugaan pelanggaran disiplin kedokteran kepada MDP pada tanggal 29 Mei 2026. Hal ini dipicu karena anak perempuannya (15 tahun) dirampas oleh mantan suaminya yang telah terjadi perceraian.

Saat bersama dengan ibunya sesuai hak asuh yang diperolehnya, anak tersebut bertumbuh secara sehat, baik mental dan fisik, normal, ceria dan berkembang dengan baik di rumah maupun di lingkungan sosial dan sekolah. Setelah bersama ayahnya, anak tersebut diperiksakan kepada seorang dokter di sebuah RS di Jakarta sebanyak 12 kali tatap muka, dan 9 kali tanpa dihadiri pasien. Ibu tersebut melaporkan dokter karena memberikan sedemikian banyak obat pada periode 2023-2025, hanya dengan mendengarkan uraian yang disampaikan oleh ayah anak tersebut, dan gagal untuk melihat potensi ketergantungan obat yang akan dialami oleh pasien. Selain itu, menurut ibu tersebut, dokter telah melakukan pelanggran disiplin profesi, karena sengaja meniadakan hak-hak ibu kandung, sekaligus membuat anak kehilangan haknya atas kebebasan.

Seusia menjawab semua pertanyaan majelis hakim, para penasehat hukum dokter teradu dan ibu itu sebagai pengadu, saya pamit keluar ruangan sidang, saat sidang dilanjutkan dengan sesi lainnya.

Mendarat di Gereja Katolik Santo Yohanes Penginjil Paroki Blok B, di Jl. Melawai Raya 197 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Altar gereja yang menyimpan sebuah relikui Santo Yohanes Penginjil, berupa potongan kecil tulangnya.

Lansekap Gereja Katolik Santo Yohanes Penginjil Paroki Blok B, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Ditemani Laras dan William, kami menuju Gereja Katolik Santo Yohanes Penginjil Paroki Blok B, di Jl. Melawai Raya 197 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, untuk mengucap syukur dan berterimakasih atas semua rahmat Tuhan. Gereja ini dinamai menurut Yohanes Penginjil, yang dikenal sebagai salah seorang penulis Injil dan dua belas rasul Yesus Kritus. Di bawah altar gereja, terdapat sebuah relikui Santo Yohanes Penginjil, berupa potongan kecil tulangnya. Keaslian relikui ini dinyatakan oleh Uskup Agung Ferrara-Comacchio Italia utara, Mgr. Luigi Negri, pada tahun 2016. Relikui ini diserahkan oleh Communauté des Béatitudes di Medjugorje, Bosnia dan Herzegovina pada tahun 2018.

Gerbang Rumah Makan Mata Karanjang di Jl. Wijaya VI No. 14A, Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Furniture buatan William di Rumah Makan Mata Karanjang Jakarta Selatan.

Kami bertiga lanjut makan sore di Rumah Makan Mata Karanjang di Jl. Wijaya VI No. 14A, Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Restoran sederhana dan kasual ini menyajikan hidangan khas dari Sulawesi Utara. Selain aroma, rasa dan presentasi menu tersebut yang kami tuju, kami mengunjunginya juga untuk melihat furniturenya yang dibuat oleh perusaaah William di Jepara, Jawa Tengah

Siap naik MRT di Stasiun Blok M BCA

Kepadatan penumpang MRT Line 1 Utara Selatan Jakarta

MRT Jakarta yang telah kosong penumpang ternyata dicetuskan sejak 1985 oleh Prof. BJ. Habibie.

Setelah kenyang dan lega, kami segera menyusuri Blok M untuk menikmati Moda Raya Terpadu Jakarta (MRT Jakarta atau Jakarta Mass Rapid Transit). Ide pembangunan MRT di Jakarta telah dicetuskan sejak 1985 oleh Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi saat itu, Prof. BJ. Habibie. Kami akan menikmati sepenggal jalur pertama (Line 1 Utara Selatan) sepanjang 15,7 km yang menghubungkan Stasiun Lebak Bulus dengan Stasiun Bundaran HI Bank Jakarta. Kami naik dari Stasiun Blok M BCA (BML), melewati Blok A (BLA), Haji Nawi (HJN), Cipete Raya (CPR), Fatmawati Indomaret (FTM)dan turun Lebak Bulus Bank Syariah Indonesia (LBB)

Perpisahan kami di Stasiun MRT Lebak Bulus Bank Syariah Indonesia Jakarta Selatan

Lanjut kami berpisah jalan, karena William dan Laras pulang ke Bogor naik Grab Mobil dan saya jalan kaki ke Terminal Pondok Pinang. Saya lanjut menikmati kenyamanan kabin lantai 2 bis Rosalia Indah 119, bersasis premium Scania K410 buatan Swedia, berbodi Jetbus 3 double decker yang gagah buatan karoseri Adiputro Malang, dan dikenal sebagai millenial bus full tol trans Jawa AD 7254 DF.

Bis Rosalia Indah Scania K410 Jetbus 3 double decker

Kamis pagi, 9 Juli 2026 saya dapat kembali ke rumah di Yogyakarta.

Sidang dugaan pelanggaran disiplin profesi dokter sangat menekan jiwa bagi siapapun, bukan hanya sekedar pada dokter teradu saja. Semoga para dokter Indonesia mampu memberikan layanan medis kepada para pasien dengan semakin beretika, mermutu dan legal. Juga profesional dan manusiawi.

Saya mendapat chat WA sbb :

[10.27, 22/8/2026] dokter teradu di Jakarta:
Selamat pagi Dr Wikan, dari MDP sudah ada putusan untuk kasus yang waktu itu Dokter diundang juga sebagai ahli, putusannya: tidak terbukti melakukan pelanggaran.
Terima kasih untuk dukungan dan diskusinya Dok, semoga Dokter sekeluarga sehat selalu, senantiasa dalam berkat Tuhan
🙏

[10.38, 22/8/2026] fx wikan indrarto:
Luar biasa.

Terimakasih banyak informasi baik ini. Semoga dokter sekeluarga juga sehat, bahagia dan sukses selalu.
Tuhan Yesus Kristus memberkati.

Salam untuk keluarga
-wikan

Sangat senang sekali bahwa pendapat medis (medical opinion) sebagai keterangan ahli (terlampir di bawah) yang saya berikan pada Rabu, 8 Juli 2026, akhirnya digunakan untuk membuat sebuah keputusan oleh MDP yang dikeluarkan pada Jumat, 21 Agustus 2026.

PENDAPAT MEDIS
Dr. dr. Fx Wikan Indrarto, SpA*)

Kepada Yang Mulia Majelis Disiplin Profesi (MDP) periode 2024–2028, yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/1630/2024, sebagai pemeriksa dugaan pelanggaran disiplin kedokteran.

Perkenankanlah saya menyampaikan pendapat medis (medical opinion) sebagai keterangan ahli terkait Surat Panggilan Sidang Nomor: MD.01/MDP/1248/VI/2026 Tertanggal 30 Juni 2026. Pendapat Medis ini disusun atas permintaan Endang Supriyatna, SH, Sekjen NU Bogor Raya Law Firm dari Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBHNU), yang beralamat di Komplek Pesantren Al Falak Jl Kyai Falak No 39, Kelurahan Loji, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor. Dalam hal ini bertindak sebagai penasehat hukum Ny. O yang beralamat di Kelapa Gading Jakarta Utara, yang melakukan pengaduan dugaan pelanggaran disiplin kedokteran kepada MDP pada tanggal 29 Mei 2026. Hal ini dipicu karena An. G (15 tahun) dirampas oleh mantan suaminya, yaitu Bpk. D

Saat bersama dengan Ny. O sesuai hak asuh yang diperolehnya, An. G bertumbuh secara sehat, baik mental dan fisik, normal, ceria dan berkembang dengan baik di rumah maupun di lingkungan sosial dan sekolah. Namun An. G diperiksakan kepada seorang dokter di sebuah RS di Jakarta sebanyak 12 kali tatap muka, dan 9 kali tanpa dihadiri pasien. Ny. O melaporkan dokter tersebut karena memberikan sedemikian banyak obat anti-deppresant pada periode 2023-2025, hanya dengan mendengarkan uraian yang disampaikan oleh ayah anak tersebut, dan gagal untuk melihat potensi ketergantungan obat yang akan dialami oleh pasien. Selain itu, dokter tersebut menurut Ny. O melakukan pelanggran disiplin profesi, karena telah sengaja meniadakan hak-hak ibu kandung, sekaligus membuat anak kehilangan haknya atas kebebasan.

Dampak perceraian terhadap anak

Perceraian orangtua dapat mengubah hidup anak, bahkan secara drastis, menyebabkan masalah emosional (seperti kesedihan dan kecemasan), penurunan prestasi akademik, dan masalah perilaku.

Dampak emosional pada anak dari peristiwa perceraian dapat berupa rasa bersalah dan kebingungan. Terutama anak usia di bawah 12 tahun, sering kali merasa bahwa perpisahan orang tua terjadi karena kesalahan atau kenakalan mereka. Anak juga akan merasakan kesedihan yang mendalam karena hancurnya bayangan keluarga yang utuh.

Dampak psikologis & perilaku pada anak dari peristiwa perceraian dapat berupa gangguan kesehatan mental, seperti kecemasan hingga depresi. Anak juga dapat menarik diri dari lingkungan pergaulan, menjadi sangat pendiam, atau sebaliknya, mencari validasi dengan cara yang keliru di luar rumah. Beban emosional di rumah sering kali mengganggu konsentrasi belajar anak, yang berdampak langsung pada turunnya nilai akademis di sekolah. Bahkan juga perubahan tempat tinggal atau hilangnya interaksi harian dengan salah satu orang tua, sangat membebani adaptasi anak.

Dampak spesifik perceraian orang tua ini dapat terlihat lebih menonjol pada anak perempuan, yaitu sering menunjukkan kecemasan berlebih (anxiety) dan rentan mengalami depresi. Anak perempuan juga lebih berisiko mengalami stres karena meratapi kehilangan keutuhan keluarga. Sebaliknya, anak perempuan juga mungkin memiliki sikap menjadi terlalu mandiri atau kritis, karena berniat untuk menutupi kekosongan figur ayah atau ibu, beberapa anak perempuan tumbuh menjadi sosok yang terlalu mandiri. Masalah sosial juga dapat terjadi, berupa rasa tidak aman (insecurity), kesulitan menjalin pertemanan, menarik diri dari lingkungan sosial, atau terlalu tertutup, bahkan kecenderungan menjadi penurut atau perfeksionis.

Perampasan hak asuh anak perempuan secara paksa, dikategorikan sebagai bentuk kekerasan yang memicu trauma mendalam. Dampaknya mencakup gangguan psikologis, hilangnya figur pelindung, hingga trauma relasional yang berisiko merusak masa depan anak dalam jangka panjang. Dampak psikologis dan emosional dapat berupa stres dan trauma, yang mungkin memicu kecemasan hebat, kebingungan, dan depresi. Juga krisis identitas karena sebagai anak perempuan, kehilangan figur ibu yang menjadi role model dapat mengganggu pembentukan karakter dan harga diri. Pelanggaran hak anak berupa kehilangan akses untuk mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari ibu, juga dapat menyebabkan terputusnya kebutuhan emosional, karena anak sangat membutuhkan sosok ibu dalam fase tumbuh kembang tertentu, yang tidak tergantikan oleh ayah atau pihak lain sebagai perampas hak asuh.

Pemeriksaan dokter

Pemeriksaan dokter spesialis anak pada pasien anak dan remaja secara komprehensif ini mencakup penilaian riwayat medis, evaluasi tumbuh kembang, serta pemeriksaan fisik menyeluruh guna mendeteksi penyakit atau kelainan sejak dini. Allo anamnesa (atau alloanamnesis) adalah proses wawancara medis yang dilakukan dokter dengan keluarga, pengasuh, atau saksi mata untuk menggali riwayat kesehatan pasien. Metode ini dilakukan ketika pasien tidak dapat menjawab sendiri, seperti pada bayi dan anak.

Rangkaian prosedur yang umumnya dilakukan meliputi pengukuran antropometri, yaitu menimbang berat badan, mengukur tinggi/panjang badan, serta lingkar kepala dan lengan untuk memantau pertumbuhan.

Selanjutnya pemeriksaan tanda vital, yaitu mengecek suhu tubuh, denyut nadi, laju pernapasan, dan kadang tekanan darah. Pemeriksaan fisik menyeluruh berupa 4 tahap, yaitu inspeksi (melihat postur, warna kulit, dan kondisi fisik secara visual), palpasi (meraba perut atau kelenjar getah bening untuk memeriksa adanya pembengkakan atau nyeri), perkusi (mengetuk bagian tubuh tertentu untuk memeriksa rongga atau organ di dalamnya, misalnya dada atau perut), dan auskultasi (mendengarkan detak jantung, suara paru-paru, dan fungsi usus menggunakan stetoskop).

Layanan dokter spesialis anak pada pasien anak dan remaja disesuaikan dengan kelompok usia, mulai dari bayi baru lahir (neonatologi) hingga remaja, menggunakan pendekatan medis dan psikologis yang ramah anak. Peresepan obat oleh dokter sesuai dosis pediatrik, yaitu dosis obat untuk anak dihitung secara khusus berdasarkan usia atau berat badan, bukan dosis dewasa yang dikurangi.

Layanan telemedisin

Terinspirasi saat pandemi COVID-19, saat ini telah berkembang layanan dokter jarak jauh (telemedisin), dimana dokter melayanai pasien yang tidak hadir di ruang praktek. Telemedisin (telemedicine) adalah pemberian layanan kesehatan jarak jauh oleh tenaga kesehatan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Layanan ini meliputi pertukaran informasi diagnosis, pengobatan, pencegahan penyakit, serta pendidikan berkelanjutan untuk mengatasi hambatan geografis dan meratakan akses layanan medis. Penyelenggaraan layanan ini diatur secara resmi dalam Permenkes Nomor 20 Tahun 2019 dan mencakup berbagai bentuk pelayanan klinis, antar fasilitas kesehatan, bukan antara dokter dengan pasien.

Keselamatan Pasien

Patient safety (keselamatan pasien) adalah sistem dalam fasilitas pelayanan kesehatan yang mencegah terjadinya cedera akibat kesalahan tindakan atau kelalaian. Tujuannya adalah meminimalkan risiko, melaporkan insiden, dan menciptakan budaya asuhan medis yang aman sesuai standar. Patient Safety sangat penting, karena menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO Patient Safety), kesalahan dalam perawatan kesehatan merupakan tantangan global yang berisiko menimbulkan kerugian fatal. Pelaksanaan layanan yang baik memastikan pasien terhindar dari kejadian tidak diharapkan (KTD) seperti salah memberikan obat, infeksi nosokomial, atau kesalahan prosedur operasi.

Standar Internasional dan akreditasi RS di Indonesia menetapkan 6 poin utama untuk memastikan keselamatan pasien di rumah sakit atau fasilitas kesehatan. Sasaran keselamatan pasien yang pertama adalah identifikasi pasien dengan benar. Dalam hal ini dokter dan tenaga kesehatan wajib memastikan ketepatan identitas pasien, biasanya menggunakan dua identitas seperti nama dan tanggal lahir, sebelum dilakukannya tindakan.

Disiplin Profesi Dokter

Disiplin profesi kedokteran adalah aturan dan standar perilaku, etika, serta kompetensi yang wajib dipatuhi oleh dokter. Aturan ini ditegakkan untuk melindungi masyarakat dari pelayanan dokter yang tidak aman, menjaga mutu pelayanan kesehatan, serta melindungi kehormatan profesi kedokteran. Penegakan disiplin profesi diatur berdasarkan Permenkes No. 3 Tahun 2025, yang mengatur pedoman penanganan pelanggaran, standar prosedur, hingga sanksi bagi tenaga medis. Proses penanganan dugaan pelanggaran dievaluasi oleh Majelis Disiplin Profesi dan Konsil terkait untuk memastikan tindakan medis sesuai dengan standar profesi, standar pelayanan, dan prosedur operasional.

Tindakan yang dianggap melanggar disiplin profesi dokter antara lain melakukan praktik kedokteran tanpa memiliki surat izin yang sah dan menerapkan standar pelayanan atau penanganan yang berada di bawah standar kompetensi rata-rata. Selain itu, juga tidak melakukan tindakan atau pertolongan darurat pada kondisi yang mengancam nyawa, padahal itu merupakan kewajibannya (duty of care), dan melakukan tindakan medis yang tidak sesuai dengan kebutuhan atau tanpa memberikan penjelasan dan persetujuan medis yang layak (informed consent).

Demikian pendapat medis yang ahli sampaikan, semoga dapat memberikan manfaat bagi Yang Mulia MDP, dalam mempertimbangkan dan menjatuhkan putusan, atas pengaduan yang teregistrasi dengan Nomor 26/P/MDP/II/2026 atas nama seorang dokter teradu di Jakarta. Sekian dan terimakasih

Hormat Saya,
Fx. Wikan Indrarto

Yogyakarta, 7 Juli 2026

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM, surveiyor akreditasi RS, no WA 081227280161.

Bacaan :

  1. Roza S., Irman S., Silva F. The Impact of Divorce on Children’s Social Behavior, International Journal of Research in Counseling, 3(1) – June 2024 61-70
  2. D’Onofrio B and Emery R. Parental divorce or separation and children’s mental health, World Psychiatry, 2023 Jan 2;18(1):100–101. doi: 10.1002/wps.20590
  3. Obeid, S., Al Karaki, G., Haddad, C. et al. Association between parental divorce and mental health outcomes. BMC Pediatr 21, 455 (2021).
  4. Ehrlich, Joshua. Divorce and Loss: Helping Adults and Children Mourn When a Marriage Comes Apart. Lanham: Rowman & Littlefield, 2024.
  5. Wojtowicz A, Jaśkiewicz L, Jurczak P, and Doboszyńska A. Telemedicine in Primary Practice in the Age of the COVID-19 Pandemic-Review, Medicina (Kaunas). 2023 Aug 25;59(9):1541. doi: 10.3390/medicina59091541.

-wikan

Categories
anak antibiotika dokter Healthy Life UHC

2026 Hari Kesehatan Dunia

HARI  KESEHATAN  DUNIA 2026

fx. wikan indrarto

Hari Kesehatan Dunia diperingati setiap 7 April untuk menandai berdirinya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 7 April 1948. Pertama kali diperingati tahun 1950, hari istimewa ini bertujuan menyoroti isu kesehatan global utama seperti kesehatan mental, ibu-anak, dan perubahan iklim, serta mendorong kesadaran masyarakat. Apa yang menarik?

Tulisan ini dimuat di Harian Jawa Pos Surabaya pada Rabu, 8 April 2026 dengan judul : Peran Sains dalam Kesehatan Terpadu

Hari Kesehatan Dunia yang diperingati Selasa, 7 April 2026 menyerukan kepada semua orang di seluruh dunia untuk mengandalkan ilmu pengetahuan (sains). Dengan tema “Bersama untuk kesehatan. Berdiri bersama sains” (Together for health. Stand with science) peringatan tahun 2026 ini meluncurkan kampanye selama setahun, untuk mendorong kolaborasi ilmiah dalam melindungi kesehatan manusia, hewan, tumbuhan, dan planet ini. Kampanye ini menyoroti pencapaian ilmiah dan kerja sama multilateral, yang dibutuhkan untuk mengubah bukti menjadi tindakan, melalui pendekatan ‘One Health’ atau kesehatan terpadu.

Kampanye ini mengajak semua orang di mana pun untuk berpartisipasi merayakan pencapaian ilmiah, terlibat dengan bukti, berbagi kisah pribadi tentang bagaimana sains meningkatkan kehidupan, dan bergabung dalam percakapan global melalui tagar #StandWithScience.

Tujuan kampanye ini menyerukan kepada pemerintah, ilmuwan, dokter, tenaga kesehatan, mitra, dan masyarakat untuk pertama, berdiri bersama sains dengan terlibat dengan bukti, fakta, dan panduan berbasis sains untuk melindungi kesehatan. Kedua, membangun kembali kepercayaan pada sains dan kesehatan masyarakat; dan ketiga, mendukung solusi berbasis sains untuk masa depan yang lebih sehat, melalui pendekatan ‘One Health’.

Konsep “One Health” umumnya dikaitkan dengan karya Calvin Schwabe dari Universitas California, Davis USA sejak tahun 1960-an. Pendekatan ‘One Health’ adalah metode terpadu yang menyatukan kesehatan manusia, hewan, dan ekosistem secara berkelanjutan untuk mencegah penyakit, khususnya zoonosis (penyakit yang menular dari hewan ke manusia). Ini melibatkan kolaborasi berbagai sektor untuk mengoptimalkan keseimbangan kesehatan ketiga komponen tersebut.

Fokus ‘One Health’ adalah pencegahan, deteksi, dan pengendalian penyakit zoonosis. Sains memainkan peran penting dalam deteksi patogen, surveilans epidemiologi, penelitian vaksin, dan studi molekuler pada manusia maupun hewan. Kolaborasi multisektoral dalam ‘One Health’ melibatkan dokter, ahli kesehatan masyarakat, dokter hewan, ahli ekologi, dan pihak lain terkait. Pentingnya menyertakan lingkungan pada pendekatan ‘One Health’ adalah menekankan bahwa kesehatan manusia dan hewan, sangat bergantung pada kesehatan ekosistem. Pendekatan ini krusial untuk mengatasi ancaman kesehatan yang kompleks pada interaksi antara manusia, hewan, dan lingkungan.

Peran sains krusial dalam ‘One Health’. Pertama, penyedia bukti dan teknologi deteksi zoonosis dan kekebalan antimikroba (AMR), terutama ilmu pengetahuan di bidang kedokteran hewan dan mikrobiologi, berperan penting dalam mendeteksi virus, memantau spillover (perpindahan) patogen dari hewan ke manusia, serta menganalisis resistensi antibiotik pada ekosistem yang berbeda. Kedua, dalam intervensi lingkungan dan sosial ekologis, karena sains membantu merancang intervensi yang disesuaikan dengan konteks sosial-ekologis, seperti pengelolaan hama terpadu untuk keamanan pangan dan perlindungan lingkungan.

Ketiga, kolaborasi lintas disiplin dengan menyatukan para ahli dari berbagai bidang, termasuk dokter, dokter hewan, ahli ekologi, antropolog, dan ilmuwan sosial, untuk memecahkan masalah sistemik yang kompleks. Keempat, jembatan antara sains dan kebijakan dimungkinkan karena platform ilmiah menyediakan data yang valid bagi pembuat kebijakan kesehatan, untuk mengambil keputusan cepat dan tepat, terutama dalam manajemen pandemi.

Peran ini memastikan bahwa pendekatan ‘One Health’ tidak hanya berbasis teori, tetapi didukung oleh bukti ilmiah yang kuat untuk menciptakan kesehatan global yang berkelanjutan. Selain itu, sains berperan krusial dalam kedokteran sebagai fondasi pengembangan metode diagnostik, pengobatan, dan pencegahan penyakit melalui pendekatan biologi, kimia, dan fisika medik. Ini mencakup inovasi teknologi seperti alat pencitraan medis, penemuan obat baru, vaksin, teknologi AI/data science untuk deteksi dini, hingga robotika bedah.

Data science dan AI memungkinkan analisis data medis (rekam medis, pemeriksaan pencitraan maupun laboratorium klinik) untuk diagnosis yang lebih akurat dan personalisasi pengobatan (precision medicine). selain itu, sains juga berperan dalam pengembangan obat dan vaksin. Ilmu kimia dan biologi medik berperan dalam meneliti serta menciptakan terapi baru yang efektif, termasuk penanganan penyakit kronis, kanker, dan virus baru, seperti COVID-19.

Teknologi medis hasil sains mutakhir juga sangat bermanfaat, terutama dalam penggunaan fisika medik dan robotika membuat prosedur bedah menjadi kurang invasif, lebih aman, nyaman dan efisien. Sains juga berperan dalam proses pencegahan dan manajemen kesehatan melalui analisis data epidemiologi untuk memahami penyebaran penyakit dan memanfaatkan perangkat yang tersedia (wearable devices) untuk deteksi dini pasien secara real-time. Bahkan sains juga berperan pada efisiensi layanan kesehatan, karena sains dapat mengolah data dan mengoptimalkan operasional rumah sakit, mulai dari manajemen logistik obat hingga meminimalkan kesalahan diagnosis.

Momentum Hari Kesehatan Dunia 2026 mengingatkan semua orang di seluruh dunia untuk mengandalkan ilmu pengetahuan (sains). Sains mampu mengubah pendekatan kesehatan dari sekadar pengobatan menjadi pencegahan yang proaktif, serta meningkatkan kualitas hidup pasien melalui inovasi berkelanjutan.

Apakah kita sudah bijak?

Sekian

Yogyakarta, 25 Maret 2026

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM.

Categories
anak dokter Healthy Life resisten obat

2026 Ada Kusta di Antara Kita

ADA  KUSTA DI  ANTARA  KITA

fx. wikan indrarto*)

Tema Hari Kusta Dunia (World Leprosy Day) Minggu, 25 januari 2026 adalah “Kusta dapat disembuhkan, tantangan sebenarnya adalah stigma”. Tema ini merupakan seruan untuk bertindak yang bertujuan meningkatkan kesadaran tentang kusta, menyoroti tantangan yang dihadapi oleh penderita kusta, dan menginspirasi tindakan kolaboratif untuk memberantas kusta. Apa yang harus dilakukan?

Tulisan ini telah dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 22 Februari 2026, halaman 8, kolom Husada

Kusta atau lepra adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium leprae. Kusta tercatat dalam peradaban kuno di Cina, Mesir dan India. Penyebutan kusta secara tertulis pertama dikenal pada 600 SM dan sejak itu penderita kusta sering dikucilkan oleh masyarakat dan keluarga mereka. Bakteri M. leprae sebagai penyebab kusta ditemukan oleh Dr. GA. Hansen pada tahun 1873 dan merupakan bakteri pertama yang dikenali sebagai penyebab penyakit infeksi pada manusia.

Dalam sebuah negara atau daerah endemik, seseorang harus dicurigai kusta jika menunjukkan satu dari tanda utama atau kardinal sebagai berikut, (1) lesi kulit berwarna putih atau leukoderma yang disertai dengan kehilangan sensorik atau anestesi yang pasti, dengan atau tanpa penebalan saraf dan (2) pemeriksaan apusan kulit positif bakteri kusta. Lesi kulit dapat bersifat tunggal atau ganda, biasanya kurang berpigmen dari kulit normal di sekitarnya, sehingga terlihat lebih putih. Gangguan sensorik atau anestesi adalah gambaran khas kusta, berupa hilangnya sensasi untuk sentuhan ringan. Saraf yang menebal, terutama batang saraf perifer, merupakan gambaran khas kusta yang lain. Penebalan saraf sering disertai dengan tanda hilangnya sensasi di kulit dan kelemahan otot yang diatur oleh saraf yang terkena. Apusan kulit positif berarti ditemukan bakteri berbentuk batang, bernoda merah dapat dilihat pada sediaan yang diambil dari kulit yang terkena, ketika diperiksa di bawah mikroskop dengan pewarnaan yang sesuai.

Terobosan terapi pertama terjadi pada tahun 1940-an dengan pengembangan dapson, obat kusta pertama. Namun durasi pengobatan dengan dapson itu bertahun-tahun dan bahkan seumur hidup, sehingga sulit bagi pasien untuk mematuhinya. Pada tahun 1960, bakteri M. leprae mulai menjadi resistensi terhadap dapson, yang dikenal sebagai obat anti-kusta satu-satunya di dunia pada saat itu. Pada awal 1960-an, ditemukan obat kusta lainnya, yaitu rifampisin dan clofazimine. Sejak tahun 1981, WHO merekomendasikan MDT yang terdiri dari 3 obat: dapson, rifampisin dan clofazimine, dan kombinasi obat ini mampu mematikan bakteri patogen dan menyembuhkan pasien.

Pada tahun 1991 Majelis Kesehatan Dunia mengeluarkan resolusi untuk menghilangkan kusta pada tahun 2000. Penghapusan kusta didefinisikan sebagai tingkat prevalensi kurang dari 1 kasus per 10.000 orang. Target itu dicapai dengan penggunaan MDT, yang mampu mengurangi beban penyakit secara dramatis. Selama 20 tahun terakhir, lebih dari 14 juta penderita kusta telah sembuh, sekitar 4 juta dari mereka sembuh sejak tahun 2000. Tingkat prevalensi penyakit telah turun 90%, dari 21,1 per 10.000 orang menjadi kurang dari 1 per 10.000 orang pada tahun 2000. Kusta telah mampu dieliminasi di 119 dari 122 negara di mana penyakit ini dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat pada tahun 1985.

Stigma kusta secara konsisten diangkat oleh penderita kusta sebagai salah satu tantangan terbesar mereka. Stigma memengaruhi kehidupan penderita kusata sehari-hari, sebab dapat menyebabkan kehilangan pekerjaan, terpaksa meninggalkan rumah mereka, alasan dijauhkan dari keluarga dan kehidupan komunitas, dan bahkan dapat menjadi penolakan anak untuk bersekolah.

Stigma yang menyakitkan bagi yang terkena kusta sebenarnya ‘terjadi bukan karena orang jahat, tetapi karena mereka tidak mengerti.’ Stigma ada karena terlalu banyak orang percaya bahwa kusta sangat menular, bahwa tidak ada obatnya, bahwa itu disebabkan oleh dosa atau kutukan. Kesalahpahaman ini mewarnai cara orang diperlakukan ketika mereka didiagnosis menderita penyakit ini. Tergantung pada tingkat stigma dalam keluarga atau komunitas, namun demikian stigma ini dapat sangat menghancurkan kehidupan penderitanya.

Kusta dapat disembuhkan dengan pengobatan antibiotik yang sederhana dan gratis. Jika pengobatan itu dilakukan sejak dini, diharapkan tidak akan ada komplikasi bagi pasien tersebut. Selian itu, kita juga akan mampu mengurangi penularan kusta, meskipun stigma sering kali masih juga menghalangi pencapaian itu. Banyak orang masih menganggap stigma yang ditimbulkan oleh kusta, sehingga banyak penderita kusta memilih untuk menyembunyikan gejalanya, berdoa agar tidak ada yang menyadari sehingga mereka tidak harus menghadapi diskriminasi ini. Ketakutan penderita kusta seperti ini, sebenarnya justru akan mencegah mereka untuk berobat, yang menyebabkan komplikasi jangka panjang. Tentu saja, juga menimbulkan penularan kusta yang berkelanjutan.

Indonesia masih menempati peringkat ketiga beban kusta tertinggi di dunia, dengan lebih dari 400 kabupaten/kota masih mencatat penularan hingga akhir 2025. Kasus baru kusta ditemukan lebih dari 10.000 per tahun, termasuk pada anak, dengan Papua dan wilayah Timur lainnya sebagai salah satu fokus utama. Pemerintah menargetkan eliminasi di 11 kabupaten/kota pada 2025, menuju ‘zero leprosy’ pada 2030.

Momentum Hari Kusta Sedunia (World Leprosy Day) Minggu, 25 Januari 2026 mengingatkan kita tentang target nol infeksi pada anak dan mengurangi stigma, meskipun ternyata masih ada kusta di antara kita. Sudahkah kita bertindak?

Sekian

Yogyakarta, 24 Januari 2026

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM.

Categories
dokter medicolegal politik

2026 Perlindungan Hukum bagi Dokter

PERLINDUNGAN  HUKUM  BAGI  DOKTER

fx. wikan indrarto*)

Ditreskrimsus Polda Bangka Belitung melimpahkan berkas perkara serta tersangka seorang dokter spesialis anak  di  RSUD Depati Hamzah, ke Kejaksaan Tinggi Bangka Belitung, Kamis (20/11/2025). Pelimpahan kasus dilakukan kepolisian setelah berkas perkara terkait kasus tindak pidana kesehatan dinyatakan lengkap atau P21. Profesi dokter cukup sering menghadapi sengketa hukum. Ada berbagai penyebab, tetapi salah satu yang utama adalah karena perlindungan hukum atas profesi dokter tidaklah rinci. Apa yang sebaiknya dilakukan?

Tulisan ini telah dimuat di tribunnews.com :

https://www.tribunnews.com/tribunners/7777988/ketika-dokter-berhadapan-dengan-hukum-di-mana-perlindungan-profesi-dalam-uu-kesehatan-baru

Status tersangka ini ditetapkan setelah terbitnya rekomendasi dari Majelis Disiplin Profesi (MDP). Peran MPD untuk dokter adalah menegakkan disiplin profesi, mengawasi etika, dan memberikan sanksi atas dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh dokter dan tenaga kesehatan lainnya. MDP bertugas menerima dan memverifikasi pengaduan, melakukan investigasi, menyelenggarakan sidang disiplin, serta memberikan rekomendasi tindakan terhadap pelanggaran tersebut.

Pada era sebelumnya, Majelis Kehormatan Disiplin Profesi Kedokteran Indonesia (MKDKI) yang menangani masalah ini. Sedangkan MDP merupakan lembaga baru yang dibentuk berdasarkan UU No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Perbedaan utama adalah kewenangan MDP yang kini dapat memberikan rekomendasi untuk proses hukum pidana maupun perdata.

MDP telah mengeluarkan keputusan yang menyatakan bahwa dokter tersebut telah melanggar standar profesi sebagai dokter spesialis anak. Alasannya adalah dokter tersebut tidak pernah bertemu dan memeriksa langsung kondisi pasien. Perannya sebatas memberi arahan medis sesuai prosedur konsultasi spesialis. Kemudian rekomendasi itu berlanjut menjadi penetapan tersangka oleh Polda Bangka Belitung. Meskipun dokter tersebut telah mengajukan uji materi UU No.17/2023 tentang Kesehatan terutama Pasal 307 yang berkorelasi dengan kewenangan MDP atas keputusan yang merugikan dirinya, tetapi Mahkamah Konstitusi (MK) belum memberikan keputusan yang bersifat final dan mengikat, agar profesi dokter mendapat perlindungan hukum yang lebih rinci.

Michel Daniel Mangkey dalam ejournal Unsrat Vol. II/No. 8/Sep-Nov/2014, menjelaskan tentang ‘Lex et Societatis’. Dokter yang telah melaksanakan tugas sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional, berhak mendapatkan perlindungan hukum. Terdapat beberapa hal yang menjadi alasan peniadaan hukuman terhadap dokter, yaitu : resiko pengobatan, kecelakaan medik, tanpa unsur kelalaian, aturan minor yang dapat diabaikan, kesalahan dalam penilaian (error of (in) judgment), Volenti non fit iniura atau asumsi atas risiko, dan Res Ipsa Loquitur. Namun demikian, pada praktiknya sebagian hal tersebut sangat sulit, rumit, dan menyita waktu, tenaga dan konsentrasi dokter dalam perumusannya.

Sebaliknya, perlindungan hukum untuk profesi notaris, jauh lebih jelas, nyata, dan rinci, sebagaimana dituliskan oleh Mariyantini pada ejournal Undip vol 4, no 1 tahun 2013. Perlindungan hukum terhadap notaris ketika terjadi sengketa di pengadilan, telah diatur pada Pasal 66 Undang-undang No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris. Dalam hal memberikan kesaksian, seorang notaris tidak dapat mengungkapkan akta yang dibuatnya, baik sebagian maupun keseluruhannya, untuk merahasiakan semua hal yang diberitahukan kepadanya, karena akta yang dibuat oleh atau di hadapan notaris, merupakan suatu alat bukti yang mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna. Notaris hanya merumuskan keterangan dan pernyataan yang diperolehnya dari para penghadap. Notaris tidak hanya berhak untuk bicara, tetapi mempunyai kewajiban untuk tidak bicara. Kewajiban tersebut mengesampingkan kewajiban umum yang tercantum dalam Pasal 1909 ayat (1) KUHPerdata, karena adanya hak ingkar dari profesi notaris, sebagai konsekuensi dari adanya kewajiban merahasiakan sesuatu yang diketahuinya.

Yurisprudensi Mahkamah Agung (MA) melalui Putusan MA No 702K/Sip/1973, menyatakan bahwa notaris fungsinya hanya mencatatkan atau menuliskan, apa yang dikehendaki dan dikemukakan oleh para pihak yang menghadap notaris tersebut. Tidak ada kewajiban bagi notaris untuk menyelidiki secara materil, terkait apa yang dikemukakan oleh penghadap di hadapan notaris tersebut. Berdasarkan Putusan MA tersebut, jika akta yang dibuat oleh notaris dipermasalahkan oleh para pihak, maka hal tersebut menjadi urusan para pihak sendiri, notaris tidak perlu dilibatkan, dan notaris bukan pihak dalam akta.

Perlindungan hukum yang juga lebih baik, adalah terhadap profesi advokat atau pengacara. Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan permohonan perkara 26/PUU-XI/2013,  yaitu pengujian Pasal 16 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat, yang terkenal sebagai hak imunitas advokat. Putusan tersebut dinyatakan MK dalam sidang pengucapan putusan yang dipimpin Ketua MK Hamdan Zoelva, Rabu 14 Mei 2015. MK menegaskan bahwa ketentuan Pasal 16 UU Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat  harus dimaknai sebagai, advokat tidak dapat dituntut baik secara perdata maupun pidana dalam menjalankan tugas profesinya, dengan iktikad baik untuk kepentingan pembelaan klien, di dalam maupun di luar sidang pengadilan.

Dengan demikian hak imunitas profesi dokter dalam aspek perlindungan hukum, layak disusun serinci seperti profesi advokat dan notaris. Sudahkah para dokter bertindak agar mendapatkan perlindungan hukum?

Sekian

Sekian

Yogyakarta, 24 November 2025

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM.

Categories
anak dokter Healthy Life vaksinasi

2026 Vaksin dan Autis

VAKSIN  DAN AUTIS

fx. wikan indrarto

Kamis, 11 Desember 2025 analisis baru dari komite ahli WHO atau ‘The Global Advisory Committee on Vaccine Safety’ (GACVS), menegaskan  tidak ada hubungan sebab akibat antara vaksin dan autis. Bukti ilmiah berdasarkan 31 penelitian antara Januari 2010 dan Agustus 2025 dengan data dari berbagai negara, sangat mendukung profil keamanan positif vaksin dengan adjuvan tiomersal yang digunakan selama masa anak dan kehamilan, dan menegaskan tidak adanya hubungan sebab-akibat vaksin dengan autis.

Tulisan ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 4 Januari 2026, halaman 8, kolom HUSADA.

Imunisasi MMR dengan adjuvan tiomersal sempat mendapat penolakan dari banyak pihak dan menimbulkan fobia, terkait sebuah skandal penelitian yang besar. Pada tahun 1998, sebuah makalah karya dr. Andrew Wakefield, seorang dokter spesialis bedah, dimuat di jurnal bergengsi ‘Lancet’, tentang 12 kasus anak autis setelah divaksinasi MMR di Inggris. Makalah tersebut ditulis oleh Wakefield, Murch, dan Anthony dengan judul ‘Ileum hiperplasia limfoid nodular, kolitis non-spesifik, dan gangguan perkembangan regresif pada anak’ (Lancet, 1998, 351, halaman 637-41). Banyak media kemudian menampilkan informasi ini kepada publik awam, membuat heboh dan menimbulkan fobia. Dalam serangkaian laporan antara tahun 2004 dan 2010, jurnalis Brian Deer menyelidiki dan mengungkapkan bahwa dr. Wakefield memiliki beberapa konflik kepentingan, telah memanipulasi data, dan bertanggung jawab untuk apa yang kemudian oleh the ‘British Medical Journal’ (BMJ)  disebut “an elaborate fraud” atau penipuan yang rumit.

Penyelidikan Brian Deer ini adalah yang terpanjang yang pernah didanai oleh ‘General Medical Council UK’ (GMC). Pada bulan Januari 2010, GMC menilai dr. Wakefield tidak jujur, tidak etis dan tidak berperasaan, sehingga pada tanggal 24 Mei 2010 nama dr. Wakefield telah dihapus dari daftar dokter di Inggris. Menanggapi temuan Deer, pada tahun 2004 redaksi ‘Lancet’ menerbitkan surat untuk menanggapi tuduhan terhadap makalah yang dimuatnya, yang menyatakan tidak ada hubungan antara imunisasi MMR dan kejadian autis (no link existed between MMR and autism). ‘Lancet’ kemudian menarik sebagian laporan penelitian dr. Wakefield pada bulan Februari 2004. Pada tahun 2010, GMC menerbitkan sebuah laporan yang menentang tulisan dr. Wakefield dan menunjukkan bahwa catatan medis anak-anak di rumah sakit tidak mengandung bukti yang cukup meyakinkan, catatan medis di rumah sakit berbeda dengan makalah yang diterbitkan, dan akhirnya ‘Lancet’ pada bulan Februari 2010 mencabut sepenuhnya, isi makalah dr. Wakefield yang diterbitkan tahun 1998.

baca juga : https://pantirapih.or.id/rspr/anak-autis/

Autis merupakan kelompok kondisi yang beragam terkait dengan perkembangan otak. Karakteristiknya dapat terdeteksi pada masa anak, tetapi autis seringkali tidak didiagnosis hingga jauh kemudian. Autis memiliki tanda utama kesulitan dalam interaksi sosial dan komunikasi. Karakteristik lainnya adalah pola aktivitas dan perilaku yang tidak lazim, seperti kesulitan dalam transisi dari satu aktivitas ke aktivitas lain, fokus pada detail, dan reaksi yang tidak biasa terhadap sensasi. Mendiagnosis autis sulit dilakukan sebelum usia 12 bulan dan umumnya dimungkinkan pada usia 2 tahun. Ciri khas onsetnya meliputi keterlambatan perkembangan, atau kemunduran, dalam kemampuan bahasa dan sosial, serta pola perilaku yang berulang.

Bukti ilmiah menunjukkan bahwa berbagai faktor, baik genetik maupun lingkungan, berkontribusi terhadap timbulnya autis dengan memengaruhi perkembangan otak dini. Peningkatan kemungkinan autis pada keluarga dengan anggota autis dan khususnya pada kembar identik. Paparan terhadap faktor lingkungan tertentu lebih sering terjadi pada anak autis atau orang tua mereka. Ini termasuk usia orang tua yang lanjut, diabetes ibu selama kehamilan, paparan prenatal terhadap polutan udara atau logam berat tertentu, kelahiran prematur, komplikasi kelahiran yang parah, dan berat badan bayi lahir rendah. Selain itu, telah diteliti kemungkinan hubungan antara penggunaan berbagai obat selama kehamilan dan peningkatan risiko autis, yaitu paparan prenatal terhadap valproat dan karbamazepin, yang digunakan untuk penanganan kejang.

Autis tidak disebabkan oleh pola pengasuhan yang buruk dan tidak terkait dengan pola diet. Autis juga bukan penyakit menular dan tidak dapat menular ke orang lain. Anak autis seringkali memiliki kondisi penyerta, termasuk epilepsi, depresi, kecemasan, dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif.

Anak autis memiliki masalah kesehatan yang sama dengan populasi umum. Namun demikian, mereka mungkin juga memiliki kebutuhan perawatan kesehatan khusus yang berkaitan dengan autis atau kondisi penyerta lainnya. Mereka mungkin lebih rentan terhadap perkembangan penyakit kronis non-menular, karena faktor risiko perilaku seperti kurangnya aktivitas fisik, pola diet yang buruk, dan berisiko lebih besar mengalami kekerasan, cedera, dan pelecehan. Bahkan anak autis lebih mungkin meninggal sebelum waktunya.

Komite GACVS-WHO menegaskan kembali kesimpulan yang sama dengan sebelumnya dari tahun 2002, 2004, dan 2012, yaitu vaksin, termasuk yang mengandung tiomersal, tidak menyebabkan autis. WHO menyarankan semua pihak untuk mengandalkan ilmu pengetahuan terkini dan memastikan kebijakan vaksinasi didasarkan pada bukti terkuat yang tersedia. Upaya vaksinasi anak secara global merupakan salah satu pencapaian terbesar bidang kedokteran dalam meningkatkan kehidupan, mata pencaharian, dan kemakmuran masyarakat.

Selama 50 tahun terakhir, vaksinasi anak, termasuk penggunaan vaksin dengan adjuvan tiomersal, terbukti tidak menyebabkan autis dan telah menyelamatkan setidaknya 154 juta jiwa.

Sekian

Yogyakarta, 17 Desember 2025

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM.

Categories
anak dokter Healthy Life sekolah

2025 Cukai Minuman Manis

CUKAI  MINUMAN  MANIS

fx. wikan indrarto*)

Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa menerapkan pembatalan pengenaan cukai Minuman Berpemanis Dalam Kemasan (MBDK) yang rencananya akan diterapkan pada awal 2026. Apa yang mencemaskan?

Tulisan ini dimuat di Harian Nasional Kompas digital Jumat, 12 Desember 2025


https://www.kompas.id/artikel/cukai-minuman-manis?utm_source=link&utm_medium=shared&utm_campaign=tpd_-_android_traffic

Survei Sosial Ekonomi Nasional Badan Pusat Statistik (Susenas BPS) tahun 2021 menemukan ada 47,9 juta penduduk Indonesia mengonsumsi gula berlebih, dengan memilih 37 jenis makanan dan minuman berpemanis dari total 188 jenis bahan makanan dan makanan minuman jadi yang tersedia di Susenas. Hampir semua orang Indonesia menyukai konsumsi gula dalam berbagai makanan dan minuman, bahkan gula telah menjadi candu bagi orang Indonesia

Untuk pertama kalinya pada Selasa, 13 Desember 2022 WHO merekomendasikan pajak atau cukai global untuk MBDK, karena cukai  MBDK, tembakau, dan alkohol telah terbukti sebagai cara yang hemat biaya untuk mencegah penyakit, cedera, dan kematian dini. Cukai MBDK juga dapat mendorong perusahaan minuman kemasan untuk memformulasi ulang produknya, dengan mengurangi kadar gula. Konsumsi MBDK secara teratur, termasuk minuman ringan, susu beraroma, minuman berenergi, air vitamin, jus buah, dan es teh manis, dikaitkan dengan peningkatan risiko gigi berlubang, diabetes tipe 2, penambahan berat badan dan obesitas pada anak, dan kelak lebih mudah mengalami penyakit jantung, stroke dan kanker saat dewasa muda.

Bukti menunjukkan bahwa menerapkan cukai MBDK akan meningkatkan harga produk dan mengurangi permintaan, sehingga mengurangi pembelian. Satu kali kenaikan cukai MBDK global yang menaikkan harga 50% dapat menghasilkan pendapatan tambahan sebesar US$1,4 triliun selama 50 tahun. Jajak pendapat Gallup juga menemukan bahwa mayoritas orang di seluruh Amerika Serikat, Tanzania, Yordania, India, dan Kolombia mendukung cukai MBDK, alkohol, dan tembakau.

Obesitas dan penyakit tidak menular terkait diet terus meningkat secara global, sehingga diperlukan tindakan yang efektif untuk mengatasi faktor penyebabnya. Di antara pilihan kebijakan berbasis bukti yang tersedia, pilihan yang lebih sehat dengan pola makan yang lebih baik, adalah penerapan cukai MBDK.

WHO telah meluncurkan rancangan pedoman tentang kebijakan fiskal untuk mempromosikan diet sehat. Selain itu, juga memberikan rekomendasi tentang cukai MBDK dan subsidi pangan, dengan tujuan utama untuk mengubah perilaku konsumen dalam membeli produk makanan dan minuman.  

Andreyeva pada JAMA (2022) membuat laporan berjudul : ‘Evaluation of Economic and Health Outcomes Associated With Food Taxes and Subsidies’. Temuan sistematis terhadap 54 penelitian dan meta-analisis dari 15 penelitian melaporkan bahwa subsidi buah dan sayuran dikaitkan dengan peningkatan penjualan buah dan sayuran, dengan elastisitas harga −0,59. Sedangkan perubahan pola konsumsi secara statistik tidak signifikan. Selain itu, cukai makanan dikaitkan dengan harga yang lebih tinggi dan penurunan penjualan produk, meski bukti tentang hasil lain dari cukai makanan dan subsidi masih terbatas. Penelitian tambahan diperlukan untuk memastikan implikasi dari kebijakan tersebut untuk hasil konsumsi, diet, dan kesehatan.

Andreyeva pada JAMA (2022) membuat laporan lain yang berjudurl : ‘Outcomes Following Taxation of Sugar-Sweetened Beverages. A Systematic Review and Meta-Analysis’. Temuan dalam tinjauan sistematis dari 86 penelitian dan meta-analisis dari 62 penelitian, penerapan cukai MBDK dikaitkan dengan harga minuman 82% lebih tinggi dan penjualan MBDK 15% lebih rendah, dengan elastisitas harga permintaan dari −1,59. Tidak ada perubahan negatif yang ditemukan, sehingga cukai MBDK dapat berfungsi untuk mengurangi permintaan MBDK melalui harga yang lebih tinggi. Namun demikian, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk memahami hubungannya dengan hasil akhir proses perubahan diet, derajat kesehatan dan heterogenitas tanggapan dari konsumen.

Cukai MBDK diusulkan sebagai alat kebijakan untuk mengatasi peningkatan prevalensi pola makan yang buruk, obesitas, dan beban biaya ekonomi dan sosial. Penyakit tidak menular (PTM) menyebabkan 71% kematian secara global, diperkirakan 40% kasus dikaitkan dengan faktor makanan yang tidak sehat. Kekhawatiran tentang PTM terkait diet semakin meningkat, karena hubungannya dengan derajat klinis yang lebih parah saat terpapar COVID-19, termasuk rawat inap di RS dan kematian.

Saat ini, setidaknya 85 negara telah menerapkan cukai MBDK, bahkan berapa negara telah berhasil menerapkan cukai tersebut dengan baik, yaitu Meksiko, Afrika Selatan, dan Inggris. Cukai MBDK dapat menjadi strategi jalan tengah (win-win) kemenangan untuk kesehatan masyarakat dan menurunkan biaya perawatan kesehatan, kemenangan untuk pendapatan pemerintah, dan kemenangan untuk ekuitas kesehatan.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) RI mencatat setidaknya 61,27% penduduk Indonesia usia tiga tahun ke atas mengonsumsi MBDK lebih dari 1 kali per hari. Juga 30,22% orang mengonsumsi MBDK sebanyak 1-6 kali per minggu dan 8,51% orang mengonsumsi MBDK kurang dari 3 kali per bulan. Pada hal rekomendasi konsumsi maksimum gula sebanyak 50 gram per hari atau empat sendok makan. 

Kebijakan cukai di Indonesia sebenarnya sudah diatur dalam UU Nomor 39 Tahun 2007 Tentang Cukai MBDK, untuk untuk mencegah penyakit, cedera, dan kematian dini pada anak di sekitar kita. Mengapa cukai MBDK masih juga belum diterapkan pada tahun 2026?

Sekian

Yogyakarta, 9 Desember 2025

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM.

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?