Categories
Healthy Life Jalan-jalan sejarah

2026 Ngrabuk Nyowo ke Semarang

Bis Bimo sudah siap berangkat di samping Villa Selatan Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta

NGRABUK  NYOWO

fx. wikan indrarto dan b. sari prasetyati

Asrama Mahasiswa Realino adalah asrama bersejarah di Yogyakarta yang didirikan oleh para pastor dari ordo Serikat Jesus (Yesuit) pada tahun 1957. Terkenal sebagai “percobaan kecil tentang Indonesia”, asrama ini legendaris karena menampung mahasiswa dari berbagai suku, agama, ras, dan kampus di Yogyakarta (UGM, IKIP Negeri Yogyakarta (UNY), IKIP Sanata Dharma (USD), Universitas Atma Jaya Yogyakarta dan UPN Veteran) untuk hidup bersama dan memupuk toleransi. Lokasi asrama berlantai 2 berkapasitas 150 mahasiswa ini berada di Jl. Gejayan, Mrican Yogyakarta dan ditutup tahun 1989, yang kini sebagian besar telah dialihfungsikan menjadi area kampus Universitas Sanata Dharma (USD).

Dapat juga dilihat pada :

https://www.instagram.com/p/DbR8sAZIP8g/?igsh=MWphN2x6ZHNtZzdoZw==

Para warga asrama tersebut saat ini tersebar di seluruh dunia dan tergabung dalam Forsino (Forum Komunikasi Realino). Forsino Cabang Yogyakarta secara rutin mengadakan acara ‘Ngrabuk Nyowo’. Secara harfiah dalam bahasa Jawa berarti “memupuk jiwa” atau “memberi nutrisi pada kehidupan”. Frasa ini bersifat kiasan (metafora) untuk menggambarkan usaha atau aktivitas yang membuat batin pesertanya tetap hidup, sehat, penuh harapan, dan terus berkembang. Tujuannya adalah menjaga mental atau harapan agar tetap tumbuh meski sedang menghadapi masa-masa sulit. Selain itu, juga bersilaturahmi untuk menjalin hubungan baik antar sesama manusia, yang dipercaya sebagai rabuk nyowo (pemupuk jiwa) karena membawa kebahagiaan dan kepedulian.

Setelah berdoa dan menyanyikan lagu MARS REALINO, para peserta bersiap berangkat ke Semarang dari halaman Audiorium Driyarkara USD yang tinggi menjulang

Ngrabuk Nyowo Forsino Yogyakarta seri ke 18 diisi dengan piknik bersama naik bis. Pada Minggu, 26 Juli 2026 pagi hari, kami semua berkumpul di sekitar bekas Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta. Setelah berdoa bersama dan menyanyikan mars Realino dengan penuh semangat, kami naik bis Pariwisata Bimo.

Suasana gembira di dalam bis Bimo, sambil mendengarkan suara merdu Prof. Yoyong Arfiadi SeV 76 dan ibu Astuti, dalam karaoke meriah menjelang masuk Ambarawa.

Bimo Transport dimulai pada tahun 1986, dan didirikan oleh dua orang, yaitu Subagyo Hadi Siswoyo (Kepala Staf TNI Angkatan Darat periode 1998–1999) dan Marsudiono. Subagyo HS menetapkan 12 Juni, hari kelahirannya, sebagai hari ulang tahun perusahaan yang awalnya merupakan usaha angkutan antarkota dalam provinsi (AKDP) yang melayani rute Yogyakarta–Wonosari. Pada tahun 2000 layanan AKDP diakhiri dan Bimo Transport berubah sebagai perusahaan yang sepenuhnya bergerak di bidang transportasi pariwisata.

Per 2024, PO Bimo mengoperasikan 22 bus, dengan rincian 20 bus besar dan 2 bus sedang. Ciri khas tampilan bus adalah gambar wayang Bima, karakter Pandawa dalam wiracarita Mahabharata, yang berwarna biru, sesuai dengan karakter Mahabharata tersebut. Selain itu, bintang empat berwarna emas di atas tanda huruf “BIMO” yang berwarna merah, melambangkan kepangkatan TNI terakhir yang dijabat oleh Subagyo HS, yakni Jenderal TNI (Purn).

Sepanjang jalan kami selalu riang, penuh tawa dan bahagia. Apalagi Bapak Agus ‘Dodiet’ Haryanto memberikan berbagai pertanyaan yang sangat bervariasi isinya dalam quis berhadiah. Setelah melibas sebagain Tol Trans Jawa, kami mencapai Benteng Willem I atau lebih dikenal dengan nama Benteng Pendem Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Benteng yang dibangun pada tahun 1834, ini terletak di dekat Museum Kereta Api, atau di belakang Rumah Sakit Umum Daerah dr. Gunawan Mangunkusumo, dan berada di kompleks Lembaga Pemasyarakatan Kelas II Ambarawa. Benteng ini pernah digunakan sebagai lokasi pengambilan gambar untuk film Soekarno yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo.

Bergaya bersama di depan gerbang Benteng Willem I (Benteng Pendem) Ambarawa yang putih dan tinggi

Gerbang Benteng Willem I (Benteng Pendem) Ambarawa yang gagah

Lengkung berulang adalah interior khas Benteng Willem I (Benteng Pendem) Ambarawa yang artistik.

Disebut pendem atau pendhem (bahasa Jawa) karena benteng ini berada di bawah tanah atau terkubur, sebagai sebuah siasat perang. Pada tahun 1840-an di bawah kekuasaan pemerintah kolonial Hindia Belanda di Jawa, Ambarawa merupakan titik sumbu strategis antara Semarang dan Surakarta. Sejak awal abad-18, VOC membangun benteng benteng di sepanjang jalur Semarang – Oenarang (sekarang Ungaran) – Salatiga – Surakarta (Solo). Rancangan ini dimaksudkan untuk pengembangan hubungan dengan Kesultanan Mataram. Kamp-kamp militer juga dibangun di berbagai kota yang dilalui, tak terkecuali Ambarawa. Pada masa kekuasaan Kolonel Hoorn, tahun 1827-1830, sempat ada barak militer dan penyimpanan logistik militer, dan pada tahun 1834 dibangunlah sebuah benteng modern di Ambarawa yang kemudian diberi nama Benteng Willem I pada tahun 1853. Pada tahun 1853 sampai tahun 1927 digunakan sebagai barak militer Hindia Belanda atau KNIL yang terhubung ke Magelang, Yogyakarta, dan Semarang melalui jalur kereta api.

Bergaya di bawah lengkung berulang khas Benteng Willem I (Benteng Pendem) Ambarawa yang tetap terjaga indah.

Beda sisi Benteng Willem I (Benteng Pendem) Ambarawa yang putih telah direnovasi dan merah bata yang asli

Pada umumnya benteng dibangun dengan prinsp defensif dan kuat yang dimaksudkan untuk pertahanan dari serangan musuh. Juga dibangun parit mengelilingi benteng untuk memaksimalkan pertahanan.  Namun Benteng Willem I ini ternyata memiliki desain yang berbeda. Dengan banyak jendela, benteng ini bukan dirancang untuk pertahanan, tetapi untuk barak militer dan penyimpanan logistik militer. Di benteng ini juga tidak dilengkapi bangunan sebagai tameng. Dan tidak ada lubang di puncak dinding, seperti halnya pada benteng peninggalan Portugis, yang dirancang untuk memasang meriam.

Adik bungsu di asrama, yaitu Bapak E. Ponco Yulianto SeV 89 beserta istri yang tinggal di Ungaran, bergabung bersama kami di Benteng Pendhem Ambarawa. Sayang sekali, karena kesibukan keduanya, akhirnya pertemuan kami hanya sampai di bis Bimo, tidak ikut lanjut ke Semarang.

Mas Ponco Yulianto SeV 89 yang menyambut kami di Benteng Willem I (Benteng Pendem) Ambarawa yang berpamitan karena tidak dapat ikut lanjut ke Semarang

Selanjutnya kami mengunjungi Kelenteng Kuno Sam Poo Kong, yang secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai “Gua Tiga Perlindungan”,  di Kota Semarang. Istilah “tiga perlindungan” merujuk pada doktrin Buddhisme tentang berlindung pada Triratna (bahasa Sanskerta) atau Tiratana (bahasa Pali), yaitu Buddha, Dharma, dan Sangha. Berdasarkan pemahaman tersebut, wihara atau kelenteng Triratna yang terdapat di Asia Tenggara kerap dikaitkan dengan tokoh Cheng Ho dan oleh karena itu dianggap sebagai klenteng Cheng Ho.

Kelenteng Kuno Sam Poo Kong Semarang yang ikonik bergaya Tiongkok

Kelenteng utama Sam Poo Kong Semarang yang ikonik merah menyala bergaya Tiongkok

Laksamana Zheng He yang menginspirasi pendirian tempat ibadah umat Buddha Tionghoa di Semarang

Laksamana Zheng He atau Cheng Ho adalah tokoh besar yang menginspirasi pendirian tempat ibadah umat Buddha Tionghoa di Semarang ini. Zheng He lahir di Provinsi Yunnan pada 1371 dari suku Hui, salah satu suku minoritas di Tiongkok. Kebanyakan masyarakat Hui beragama Islam, dan menggunakan nama marga Ma, bentuk sinisisasi dari Muhammad. Namun Zheng He mendalami dharma ajaran Buddha dari seorang biksu bernama Daoyan, yang juga memimpin pembacaan Bodhisattva Sila untuk Zheng He.

Pada 1414 Zheng He menyalin Vajracchedika Prajna Paramita Sutra (Jin Gan Jing), Guan Yin Sutra (Guanyin Jing), Amithaba Sutra (Mituo Jing), Marici Bodhisattva Sutra (Molizhitian Jing), Prajnaparamitahrdaya (Xin Jing), Surangama Sutra (Leng Yan Jing), Mahakaruna Dharani (Da Bei Zhou), Sarvadurgatiparisodhana Tantra (Zun Sheng Zhou), dan Mantra Sataksara (Bai Zi Shen Zhou). Setiap mendapat perintah melanglang buana, senantiasa memperoleh karunia dari San Bao. Arti kata San Bao adalah tiga mustika atau tiga permata yang merujuk pada Tri Ratna yaitu Buddha, Dharma, dan Sangha. Dalam Bahasa Indonesia menjadi Sam Poo dan nama akhirnya Sam Poo Kong.

Bangunan yang sekarang menjadi tempat ibadah ini diyakini sebagai bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama Laksamana Zheng He/Cheng Ho, yang juga dikenal dengan nama Sam Poo. Tidak semua anak buah kapal beragama Islam. Kompleks Sam Poo Kong berada di daerah Simongan, sebelah barat daya Kota Semarang. Tanda yang menunjukan sebagai bekas petilasan yang berciri keislaman dengan ditemukannya tulisan berbunyi “Marilah kita mengheningkan cipta dengan mendengarkan bacaan Al Qur’an”.

Kelenteng ini disebut Gedung Batu karena bentuknya merupakan gua batu besar yang berada di sebuah bukit batu. Untuk mengenang Cheng Ho, masyarakat Indonesia keturunan Tionghoa beragama Buddha membangun sebuah kelenteng. Sekarang tempat ini dijadikan tempat peringatan dan pemujaan atau bersembahyang serta tempat untuk berziarah. Untuk keperluan tersebut, di dalam gua batu itu diletakkan sebuah altar serta patung-patung Sam Po Tay Djien.

Di Indonesia banyak yang menganggap Laksamana Cheng Ho adalah seorang Muslim, meskipun tidak ditemukan bukti pendukung atas keyakinan tersebut, akan tetapi umat Buddha Tionghoa menempatkannya sebagai dewa. Proses pendewaan atau deifikasi terhadap tokoh-tokoh besar memang merupakan praktik umum dalam tradisi spiritual Tiongkok, yang terbawa dalam bentuk akulturasinya dengan agama Buddha ke wilayah Nusantara.

Berpanas bersama di depan kelenteng Kuno Sam Poo Kong Semarang

Selanjutnya kami bersiap makan siang di salah satu soto legendaris, yakni warung soto khas Semarang Pak Man. Pendirinya yaitu Bapak Sholeman, yang berjualan sejak tahun 1978. Soto Ayam Khas Semarang Pak Man terkenal kelezatannya sehingga selalu ramai dikunjungi pembeli. Seporsi soto ayam Pak Man berisi nasi, bihun, ayam suwir, taoge, irisan tomat, dan potongan daun bawang dengan bening yang rasanya gurih.

Soto Ayam Khas Semarang Pak Man yang kami kunjungi

Soto Ayam khas Semarang Pak Man mempunyai lima cabang dan kami mengunjungi di cabang Jalan Pamularsih Raya No. 32. Dilansir dari laman setneg.go.id, dalam kunjungannya ke Semarang, Presiden Jokowi dan Ibu Iriana menyempatkan diri mencicipi kuliner soto khas kota Semarang untuk santap paginya. Rumah Makan Soto Ayam Khas Semarang Pak Man menjadi pilihan Jokowi untuk sarapan pada hari Sabtu, 14 April 2018. Presiden Jokowi dan rombongan tiba di rumah makan tersebut pada pukul 07.50 WIB.

Kenyang menu soto Ayam Khas Semarang Pak Man di Jl. Pamulrasih

Mas Darmadi (bertopi) dan mas Antok SeV 82 yang tinggal di Semarang dan bergabung dengan kami

Selanjutnya kami menuju ke Lawang Sewu (Seribu Pintu), gedung megah yang sebelumnya merupakan Gedung Administrasi N.V. Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij adalah bekas bangunan perkantoran yang terletak di seberang Tugu Muda di Samarang. Bangunan ini berstatus sebagai aset PT. Kereta Api Indonesia (KAI). Hal ini terjadi karena merupakan hasil dari perebutan aset-aset NIS dan perusahaan kereta api lain oleh Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI) pada masa Perang Kemerdekaan. Saat ini bangunan tersebut dijadikan sebagai museum dan galeri sejarah perkeretaapian oleh Unit Pusat Pelestarian dan Desain Arsitektur dan kini dioperasikan KAI Wisata, anak perusahaan KAI yang bergerak di bidang pariwisata.

Bergaya setelah menyanyikan lagi MARS REALINO di tangga ke lantai 2 Lawangsewu Semarang

Kegagahan Lawangsewu Semarang dari sisi kanan gedung 1

Dari kiri : Fonali Lahagu 64, William dan Laras, Darmadi Tjandradjaja 82, F. Ronny Dwi Agus 79, Fx. Wikan Indrarto 84, Suyoto 75, Yoyong Arfiadi 78, Ibu Harlina Bobby, Ibu Agung, Ibu Maria Kok Sen, Vincentius Oe Kok Sen 84, Ibu Suyoto, Glenndonald A. Engko 78, Indah Ronny DA, A. Tristiyono Joko M 79, Ibu Merry Arinto, Ibu Sari Wikan, Ch. Agus Dodiet Haryanto 76, Ibu Tristiyono, Ibu Hastuti Edi Santosa, Ibu Titin Anggoro, Edi Santoso 80, Ibu Astuti Yoyong, Ibu Jonna Yoseph Pulo, Agung Sugihandono 80, Joseph Pulo 72, Y. Anggoro Triharyanto 84, Eddy Arianto 75, Wachid SC 79, Setiawan, Robertus 75, Eduardus Tandelilin 76, Ibu Nina Tandelilin

Lawang Sewu yang kami kunjungi diarsiteki oleh Cosman Citroen, dari firma yang dibentuk arsitek senior J. F. Klinkhamer dan B. J. Ouëndag. Bangunan ini dirancang dalam Gaya Hindia Baru, istilah yang diterima secara akademis untuk Rasionalisme Belanda di Hindia. Ini untuk mengintegrasikan preseden tradisional (klasisisme) dengan kemungkinan teknologi baru, yaitu gaya transisi antara Tradisionalis dan Modernis serta dipengaruhi oleh desain Berlage.

Keindahan interior Lawang Sewu Semarang yang diarsiteki oleh Cosman Citroen

Bertemu anak bungsu Larasati, dengan suaminya William, di Lawang Sewu Semarang, setelah mereka datang dari Jepara

Konstruksi dimulai pada tahun 1904 dan rampung pada tahun 1919. Setelah Jepang menduduki Hindia Belanda pada tahun 1942, tentara Jepang mengambil alih Lawang Sewu. Ruang bawah tanah gedung B diubah menjadi penjara dengan eksekusi mati dilakukan di dalamnya. Ketika Semarang direbut kembali oleh Belanda dalam pertempuran di Semarang pada Oktober 1945, pasukan Belanda menggunakan terowongan yang mengarah ke gedung A untuk menyelinap ke kota. Pertempuran terjadi dengan banyak pejuang Indonesia gugur. Lima pegawai yang bekerja di sana juga gugur.

Peserta Ngrabuk Nyowo lengkap berjejer di sudut Lawang Sewu Semarang

Setelah perang, tentara Indonesia mengambil alih kompleks. Bangunan tersebut kemudian dioperasikan oleh Djawatan Kereta Republik Indonesia (DKARI). Pada tahun 1992 bangunan ini ditetapkan sebagai cagar budaya.

Bergaya di depan bis Bimo dengan anak bungsu Larasati, dengan suaminya William, di Lawang Sewu Semarang

Mas Anggoro SeV 84 dan mbak Titin pamitan, karena akan menlanjutkan perjalanan pulang ke Batang di Stasiun Poncol Semarang.

Kunjungan kami ke Semarang diakhiri dengan menikmati Kota Lama Semarang (Belanda: Semarang Oude Stad) ini adalah suatu kawasan pusat perdagangan pada abad 19. Pada masa itu, untuk mengamankan penghuni dan wilayahnya, kawasan itu dibangun benteng, yang dinamai benteng Vijfhoek. Benteng ini hanya memiliki satu gerbang di sisi selatannya dan lima menara pengawas. Masing-masing menara diberi nama: Zeeland, Amsterdam, Utrecht, Raamsdonk dan Bunschoten.

Bergaya dengan anak bungsu Larasati, dengan suaminya William, di depan Gereja Blenduk, Semarang

Bergaya di depan gereja Blenduk Semarang

Untuk mempercepat jalur perhubungan antar ketiga pintu gerbang di benteng itu maka dibuat jalan-jalan perhubungan, dengan jalan utamanya dinamai Heerenstraat (Jl. Letjen Soeprapto). Salah satu lokasi pintu benteng yang ada sampai saat ini adalah Jembatan Berok (De Zuider Por). Kata Berok sendiri merupakan hasil pelafalan masyarakat pribumi yang kesulitan melafalkan kata Burg dalam bahasa Belanda.

Bergaya di depan MARBA di kawasan Kota Lama Semarang

Di sekitar Kota Lama dibangun kanal-kanal air yang keberadaannya masih bisa disaksikan hingga kini meski tidak terawat. Luas kawasan Kota Lama Semarang (Oude Stad) ini sekitar 31 hektare. Dilihat dari kondisi geografi, tampak bahwa kawasan ini terpisah dengan daerah sekitarnya, sehingga tampak seperti kota tersendiri dengan julukan “Little Netherland”.

Silau melawan cahaya matahari sore di kawasan Kota Tua Semarang

Bergaya di depan bangunan bekas bank di kawasan Kota Lama Semarang

Kawasan Kota Lama Semarang ini merupakan saksi bisu sejarah Indonesia masa kolonial Belanda lebih dari 2 abad, dan lokasinya berdampingan dengan kawasan ekonomi dan Stasiun Tawang. Di tempat ini ada sekitar 50 bangunan kuno yang masih berdiri dengan kukuh dan mempunyai sejarah Kolonialisme di Semarang. Secara umum karakter bangunan di wilayah ini mengikuti bangunan-bangunan yang ada di benua Eropa sekitar tahun 1700-an, dengan detail bangunan yang khas dan ornamen-ornamen yang identik dengan gaya Eropa. Seperti ukuran pintu dan jendela yang luar biasa besar, penggunaan kaca-kaca berwarna, bentuk atap yang unik, sampai adanya ruang bawah tanah.

Bergaya di depan semut merah di atas bangunan di kawasan Kota Lama Semarang

Pusat dari Kawasan Kota Lama Semarang terletak di Taman Srigunting, sebuah taman yang menjadi jantung dari kawasan tersebut. Di masa lalu, taman ini dikenal sebagai parade plein, lapangan yang sering digunakan untuk parade militer karena dekat dengan sebuah barak militer. Sebelum menjadi lapangan, taman ini berfungsi sebagai kerkhof atau pemakaman warga Eropa. Pada awal abad ke-19, kerkhof dipindahkan ke daerah pengapon.

Selanjutnya kami kembali masuk ke bis Pariwisata Bimo yang mengusung bodi buatan Karoseri Morodadi Prima Malang, Jawa Timur. Perintis usaha karoseri ini adalah Bapak Bambang Gunawan pada 1978. Morodadi bermakna kepercayaan, yaitu saat pelanggan datang, maka barang jadi sesuai keinginan. Ini sesuai cita-citanya untuk membangun rasa percaya antara pelanggan dan perusahaan. Logo Singa yang digunakan diambil dari simbol yang melambangkan Kerajaan Singosari yang melambangkan semangat tinggi dan etika kerja yang baik, untuk menghasilkan bodi bus yang kuat, kokoh, aman, dan nyaman.

Untuk kategori bis besar, perusahaan ini menggunakan beberapa sasis seperti Mercedez Benz OH 1518, 1521, dan 1526. Selain itu juga menerima sasis Hino R260 dan Hyundai Aero Space. Sementara itu, untuk gayanya panten menggunakan desain New Travego dan Patriot.

Bis Bimo buatan Karoseri Morodadi siap meluncur kembali

Morodadi Prima hingga kini telah mengantongi sejumlah sertifikat resmi dari Mercedez Benz no: BBA-002/12 kepada PT. Morodadi Prima untuk mengakui bahwa semua design, rekayasa dan process produksi bus dengan chasis OH 1626 telah memenuhi semua standard Quality Gate Assessment.

Makan malam di Tahu Baxo Ibu Pudji Ungaran, sebelum kembali ke Jogja

Dalam perjalanan kami kembali ke Yogyakarta, kami singgah di Tahu Baxo Ibu Pudji. Bisnis legendaris sejak tahun 1995 ini dirintis oleh sepasang suami istri, Pudjianto (67) dan istri tercinta, Sri Lestari (65). Mereka berdua merupakan pelopor dan pionir tahu bakso di Semarang. Dasar idenya adalah bahwa tahu adalah makanan sehari-hari dan bakso kesukaan semua kalangan dari anak-anak sampai orang tua. Jadi saat digabungkan menjadi satu makanan baru, didasari pemikiran dan harapan dapat disukai banyak orang. Awalnya hanya disebut tahu yang diisi daging. Setelah kurang lebih satu tahun berjualan, di tahun 1996, barulah disebut tahu bakso. Selain itu, awalnya dinamai “Tahu Bakso Kepodang”, dikarenakan tinggal dan dijual di Jl. Kepodang Semarang. Mulai tahun 2002 resmi bernama Tahu Baxo Ibu Pudji. 

Akhirnya kami sampai kembali ke Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta pk. 21 dalam suasana riang, gembira dan bahagia. Terimakasih banyak atas kebersamaan kita semua dalam bis.

Ayo piknik !

wikan & sari

Categories
dokter Jalan-jalan sejarah

2026 Dari Salemba untuk Dokter Indonesia

Dari Salemba untuk dokter Indonesia
fx. wikan indrarto

Kesempatan menjalankan tugas dari Fakultas Kedokteran Universitas Atma Jaya Yogyakarta (FK UAJY), berangkat ke Jakarta untuk menghadiri acara Forum Dekan FK oleh AIPKI pada Kamis sampai Minggu, 16-19 Juli 2026.

Lihat juga :

https://www.instagram.com/p/Da-VmLOFL1s/?igsh=Y2UwYXE4ZDYyZWJw

AIPKI adalah singkatan dari Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia, yaitu organisasi yang menaungi seluruh fakultas kedokteran di tanah air Indonesia. Saat ini sudah ada 148 Fakultas Kedokteran (FK) di Indonesia

Memasuki gerbang Stasiun Tugu Yogyakarta

Kamis malam, 16 Juli 2026 saya bergegas menuju Stasiun Tugu Yogyakarta untuk masuk ke perut KA Taksaka menuju Stasiun Gambir di Jakarta Pusat. Lanjut naik Bajaj menuju Hotel Borobudur dan lanjut istirahat sejenak.

Nyaman di dalam perut KA Taksaka dari Yogyakarta menuju Stasiun Gambir di Jakarta Pusat.

Sampai di Gerbang Hotel Borobudur Jakarta pada dini hari

Jumat pagi, 17 Juli 2026 setelah ‘early breakfast’, saya mendapat penjelasan dari dr. Risma Ikawaty, MSc, PhD Wakil Dekan I FK Ubaya dari Surabaya. Sambil menunggu bis FK UI yang akan menjemput para peserta Forum Dekan di lobi Hotel Borobudur Jakarta, FK Ubaya menggunakan RS Ibnu Sina di Gresik sebagai RS Pendidikan Utama (RSPU). Dibandingkan UAJY yang sesama PTS, ternyata 2 tahun sejak FK berdiri, Ubaya langsung merancang pendirian RS Pendidikan sendiri, untuk memudahkan sinkronisasi program pendidikan jenjang sarjana, dengan jenjang profesi, bahkan sampai pada jenjang spesialis. Pada 2 tahun kemudian, RS Pendidikan FK memulai operasional tahap rawat jalan dan pada tahun ke 4 sudah lengkap semua layanan. Meskipun demikian, RS baru yang sedang berkembang tersebut kemudian digunakan sebagai RS Pendidikan Satelit, dengan RSPU tetap di RS Ibnu Sina sampai beberapa tahun ke depan. Setelah semuanya siap, RSPU akan menjadi milik Ubaya sendiri dan bahkan akan dikembangkan menjadi wahana pendidikan program spesialis.

Bersama Prof. dr. Ramdan Panigoro, MSc, PhD. (Guru Besar Unpad dan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Parahyangan) Bandung

Aula FK UI yang legendaris di Jakarta

Bersama Prof. Dr. dr. Reviono, SpP(K) Dekan FK UNS Surakarta

Dengan bis milik FK UI, kami segera mendarat di Aula FK UI Salemba Jakarta Pusat yang legendaris, untuk mengikuti sesi pembukaan Forum Dekan AIPKI. Acara diadakan di IMERI (Indonesia Medical Education and Research Institute) yang berada di dalam kompleks Kampus Universitas Indonesia (UI) Salemba, Jalan Salemba Raya No. 6, Senen, Jakarta Pusat.

Para peserta Forum Dekan FK oleh AIPKI 2026 di Aula FK UI Jakarta

Bersama Prof. Dr. dr. Reviono, SpP(K) Dekan FK UNS Surakarta

AIPKI adalah organisasi yang berfungsi sebagai wadah komunikasi dan kolaborasi antara institusi dengan pemerintah untuk menjaga, merumuskan, dan meningkatkan mutu pendidikan medis agar sesuai dengan standar nasional.

Duduk mengantuk di barisan ketiga dari depan, kelima dari kiri, dengan para peserta Forum Dekan FK oleh AIPKI 2026 di Aula FK UI Jakarta

Setelah sambutan seremonial pembukaan oleh Ketua Panitia Forum Dekan FK AIPKI 2026, dr. Eric Daniel Tenda, DIC., PhD, Sp.PD, Sub-Sp.P.M.K (K), FINASIM, FISQua dan Dekan FK UI Prof. Dr. dr. Anna Rozaliyani, M.Biomed, SpP(K) yang dilantik secara resmi oleh Rektor UI pada 8 Desember 2025, sebagai tuan rumah acara. Selanjutnya Ketua Umum Pengurus Pusat Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI) Prof. Dr. dr. Wisnu Barlianto, M.Si.Med., Sp.A(K). Beliau menggantikan ketua periode sebelumnya, Prof. Dr. dr. Budi Santoso, Sp.OG(K).

Kegiatan Forum Dekan FK AIPKI diawali pada Kamis, 16 Juli 2026 dengan diskusi panel yang menghadirkan para dekan FKUI periode sebelumnya. Sesi yang tidak sempat saya ikuti ini ditujukan untuk memberikan perspektif historis sekaligus refleksi pengalaman kepemimpinan dalam menghadapi dinamika pendidikan kedokteran.

Pada hari kedua, 17 Juli 2026, saya mengikuti agenda seremonial pembukaan yang dilanjutkan dengan keynote speech oleh Menteri Pendidikan, Sains, dan Teknologi. Selain itu, akan diselenggarakan diskusi panel serta sesi pleno bersama Ketua AIPKI yang membahas isu-isu strategis terkini dalam pendidikan kedokteran.

Selanjutnya adalah sesi diskusi dengan tema Kebijakan Diktisaintek Berdampak – Arah Penjaminan Mutu Pendidikan Kedokteran dan Optimalisasi Sistem Kesehatan Akademik (SKA), yang dipimpin oleh Prof. dr. Tonang Dwi Ardyanto, Sp.PK(K), Ph.D (Wakil Sekretaris 1 AIPKI). Terus lanjut sesi Diskusi Panel selanjutnya dengan tema Kebijakan Pendidikan Kedokteran : Transformatif dan Pelayanan Kesehatan di Indonesia (S1/profesi dokter, Sp1, Sp2).

Sesi istirahat siang itu saya mengikuti Prof. Dr. dr. Reviono, Sp.P(K), Dekan FK UNS Surakarta teman seangkatan di FK UGM 84 (Konga) menemui Dr. dr. Retno Sulistyo Wardani, Sp.T.H.T.B.K.L, Subsp.Rino(K), teman sesama Konga yang merupakan dokter spesialis THT konsultan rinologi di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Bersama Prof. Dr. dr. Reviono, SpP(K) Dekan FK UNS Surakarta dan Dr. dr. Retno Sulistyo Wardani, Sp.T.H.T.B.K.L, Subsp.Rino(K), konsultan rinologi di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), semuanya teman seangkatan di FK UGM 84 (Konga)

Kami bertiga lanjut mengikuti Hospital Tour di RS yang berdiri sejak 19 November 1919. RSCM memiliki peran sebagai RS pusat rujukan nasional yang terkenal dengan berbagai layanan unggulannya dan juga sebagai RSPU FK-UI. Nama rumah sakit ini diambil dari nama dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, seorang tokoh perjuangan Indonesia pada masa kolonial Belanda.

Bersama Prof. Dr. dr. Reviono, SpP(K) Dekan FK UNS dan Dr. dr. Retno Sulistyo Wardani, Sp.T.H.T.B.K.L, Subsp.Rino(K), di Pavilian Kanigara sayap bisnis menangah RS Cipto Mangunkusumo (RSCM)

Di RSCM, ribuan dokter dan tenaga kesehatan lain bersama-sama melayani ribuan pasien dari seluruh Indonesia yang setiap hari berkunjung ke RS ini. RSCM dengan 1.000 tempat tidur merupakan pusat rujukan nasional rumah sakit pemerintah dan merupakan tempat pendidikan dokter umum, dokter spesialis dan subspesialis, perawat, perawat spesialis, serta tenaga kesehatan lainnya.

Tiga serangkai KONGA yang jalan bersama dalam Hospital Tour RSCM

Lorong RSCM Jakarta yang legendaris

Bertiga kompak sampai IMERI FK UI

Setelah makan siang bersama di Kantin RSCM Kencana, kami berdua kembali ke IMERI FK UI untuk mengikuti diskusi panel selanjutnya dengan tema Kerangka Kerja & Peta Jalan Penjaminan Mutu Akademik Pendidikan Dokter dan Optimalisasi peran AIPKI dengan moderator Prof. Dr. dr. Haerani Rasyid, MKes., SpPD,K-GH., Sp-GK., FINASIM (Dekan FK Universitas Hasanuddin – Wakil Ketua 1 AIPKI). Lanjut Diskusi Panel dengan tema “Posisi dan Peran AIPKI pada Penjaminan Kualitas Pendidikan Kedokteran dan Optimalisasi AHS dan Dialog bersama Majelis Guru Besar Kedokteran Indonesia (MGBKI).

Berjalan kaki menyeberangi Jl. Salemba yang padat lalu lintas, untuk menuju ke RS Saint Carolus (RSSC) Jakarta

Sore itu saya melanjutkan kegiatan dengan mengunjungi RS Saint Carolus Jakarta, dengan berjalan kaki menyeberangi Jl. Salemba yang padat kendaraan. Begitu sampai, saya langsung teringat Lagu “Berpisah di Teras St. Carolus”. Lagu yang diciptakan oleh musisi legendaris Wedhasmara ini, merupakan lagu lawas yang menceritakan perpisahan pasien dengan seorang perawat. Lagu ini sangat populer dibawakan oleh penyanyi era 1960-an, yaitu Lilis Suryani dan sering direkam ulang oleh penyanyi seperti Rani pada Agustus 1999.

Kami bertemu di teras RS dengan Direktur RSSC Kolonel CKM (purn) dr. Robertus Bebet Prasetyo, SpU (K), saat mengingat lagu “Berpisah di Teras St. Carolus” yang diciptakan oleh musisi legendaris Wedhasmara

Rumah Sakit St. Carolus di Jakarta resmi dibuka pada 21 Januari 1919. Diprakarsai oleh Uskup Batavia Mgr. Edmundus Luypen, SJ dan dikelola oleh para biarawati dari Kongregasi Suster Suster Cinta Kasih Santo Carolus Borromeus (CB), rumah sakit ini memelopori pendidikan keperawatan dan kebidanan di Indonesia pada era 1940-an dan telah berkembang menjadi salah satu rumah sakit bersejarah tertua dengan fasilitas modern di ibu kota.


Dengan semboyan Kami Melayani dari Hati dan Membangkitkan Harapan, RS St. Carolus (RSSC) adalah rumah sakit tertua ke-2 se-Jakarta yang sudah berinovasi menjadi bangunan yang modern. Pelayanan yang diberikan RS St. Carolus sudah sesuai dengan standar kualitas terbaik, dokter & tenaga medis profesional serta, fasilitas lengkap.

Pendirian RSSC diawali dengan pertemuan sejumlah tokoh awam Katolik Batavia di bawah pimpinan Mgr. Edmundus Sybrandus Luypens SJ (Vikaris Apostolis Batavia), Pastor Sondaal SJ, Pastor van Swieten SJ, Bp. Karthaus, berinisiatif mendirikan sebuah rumah sakit Katolik di Batavia. Pada awal 1915 Mdr. Lucia Nolet, CB (Pemimpin Umum Kongregasi Suster-suster Cinta Kasih St. Carolus Borromeus 1914–1926) menerima tawaran Mgr. Luypens, SJ untuk membuka karya misi di Hindia Belanda – Batavia. Karena situasi perang dunia pertama saat itu, maka baru pada tanggal 22 Juni 1918, Sepuluh Suster CB dari Negeri Belanda berangkat ke Batavia dengan kapal laut, dan tiba di Tanjung Priok pada tanggal 7 Oktober 1918. Pada tanggal 21 Januari 1919 Pelayanan Kesehatan St. Carolus dimulai dan diberkati oleh Mgr. Edmundus S Luypen, SJ dengan kapasitas 40 tempat tidur.

Diterima di ruang kerja Direktur RSSC Kolonel CKM (purn) dr. Robertus Bebet Prasetyo, SpU (K)

Sejarah indah tersebut terngiang saat saya diterima oleh Direktur RSSC Kolonel CKM (purn) dr. Robertus Bebet Prasetyo, SpU (K) yang tegak, ramah dan sangat sibuk. Dokter TNI AD anggota Dokter Kepresidenan RI dan besan dr. Ambar Kelanawati (kakak kelas di FK UGM) sangat ramah sampai mengajak Hospital Tour menikmati sejarah RSSC.

Mengunjungi sepupu dik Gregorius Adi Utomo di Duren Sawit

Terimakasih dik Mukti yang sudah mendampingi suami dik Gregorius Adi Utomo di Duren Sawit setelah pulih dari sakit

Masuk Stasiun Buaran dari rumah adik sepupu di Duren Sawit Jakarta

Terus saya dijemput Bapak Mulyadi, sopir keponakan saya, dik Eka Novianto, sebagai Vice President Director di PT Summit Adyawinsa Indonesia yang merupakan lulusan S-1 Teknik Kimia UGM 1990. Keponakan yang pernah menjadi Wakil Presiden Senat Mahasiswa Fakultas Teknik UGM dan Pengurus Lembaga Kemahasiswaan itu mengutus pak Mulyadi dengan Honda CRV hitam mengantar saya ke Duren Sawit. Saya mengunjungi sepupu, dik Gregorius Adi Utomo yang baru tahap pemulihan setelah pasang stent jantung di RS Jantung Matraman. Setelah menguatkan harapan akan kesembuhan dan mendukung sikap sigap menjalani pemulihan dalam pendampingan oleh dik Mukti istrinya, saya diantar naik motor oleh adik iparnya menuju Stasiun Buaran. Saya menikmati perjalan dalam gerbong KRL.


KRL Commuter Line adalah sistem transportasi angkutan cepat komuter berbasis kereta rel listrik (KRL) yang dioperasikan oleh PT Kereta Commuter Indonesia (KAI Commuter), anak perusahaan dari PT Kereta Api Indonesia (Persero). Layanan ini telah beroperasi di wilayah Jakarta sejak tahun 1925, hingga kini melayani rute komuter di wilayah Jabodetabek serta lintas Yogyakarta—Palur.

Suasana sore di KRL Line biru dari Stasiun Buaran ke Manggarai Jakarta

Tertinggal KRL di Stasiun Manggarai

Saya naik Line Blue (biru) dari Stasiun Buaran, melewati Klender, Jatinegara, Matraman dan turun di Manggarai. Di stasiun besar persimpangan antar moda tersebut, saya naik ke lantai 3 untuk berganti Line Red (merah) melewati Cikini, Gondangdia, Gampir dan turun di Juanda. Lanjut naik Go-Jek menuju Hotel Borobudur.

Senang sekali dapat menyambut anak tengah kami arsitek yang sangat sibuk, Bimoseno, di Hotel Borobudur Jakarta

Jumat malam, 17 Juli 2026 saya menyambut kedatangan dik Bimoseno, anak kedua kami yang sangat sibuk, sepulang dari kantor biro arsitek, di lobi Hotel Borobudur. Terimakasih banyak dik Bimo, anak kami yang baik, membawakan nasi bungkus untuk makan malam bersama di hotel

Bersama Hendro Edi, yang telah tidak pernah ketemu lagi sejak bersama lulus dari SMP Bruderan Purworejo Jawa Tengah

Reuni dengan keluarga Hendro Edi

Lanjut saya menerima Hendro Edi, teman SMP Bruderan Purworejo yang telah tidak ketemu sejak lulus, meskipun sama-sama kuliah di UGM. Ditemani istri dan Yosaphat, anak tunggalnya yang baru lulus dari FK UI dan bersiap mengikuti program internship dokter, bersama Laras, anak bungsu kami. Malam itu kami semua ngobrol asyik di Kamar 838 Hotel Borobudur Jakarta sampai mata hampir lengket mengantuk hebat

Ganti hari

Sabtu pagi, 28 Juli 2026 saya berjalan kaki melewati Lapangan Banteng, untuk mengikuti misa kudus harian pagi di Gereja Katolik Santa Perawan Maria Diangkat ke Sorga, Paroki Katedral Jakarta.

Gereja Katolik Santa Perawan Maria Diangkat ke Sorga, Paroki Katedral Jakarta.

Suasana megah dan berwibawa interior Gereja Katolik Santa Perawan Maria Diangkat ke Sorga, Paroki Katedral Jakarta.

Kursi uskup (catedra) di dalam Gereja Katolik Santa Perawan Maria Diangkat ke Sorga, Paroki Katedral Jakarta.

Bersama Rm. Macharius Maharsono Probo, SJ di Gereja Katolik Santa Perawan Maria Diangkat ke Sorga, sebagai Pastor Kepala Paroki Katedral Jakarta.

Rancangan arsitek Antonius Dijkmans, Gereja Katedral Jakarta dalam bahasa Belanda: De Kerk van Onze Lieve Vrouwe ten Hemelopneming, diresmikan pada 1901 dan dibangun dengan arsitektur neo-gotik dari Eropa, yakni arsitektur yang sangat lazim digunakan untuk membangun gedung gereja beberapa abad yang lalu. Setelah misa kudus selesai, saya sempat berfoto bersama dengan Romo Macharius Maharsono Probo SJ, Pastor Kepala Paroki, yang pernah menduduki jabatan serupa di Gereja Katolik St Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta, di depan Graha Pemuda. Sebuah ruangan di samping Gereja Katedral Jakarta tersebut, pernah digunakan untuk menyusun draft Sumpah Pemuda yang digelorakan pada 28 Oktober 1928.

Masjid Istiqlal Jakarta yang tinggi menjulang

Lapangan Banteng dengan patung kebebasan Indonesia

Lanjut mampir sejenak ke Masjid Istiqlal dan Lapangan Banteng, sebelum kembali ke Hotel Borobudur Jakarta. Setelah menikmati sarapan berdua dengan dik Bimo, saya segera memberikan pelatihan online tentang Komite Medik yang diikuti oleh para dokter di RSUD Merauke, Papua Selatan.

Mengunjungi dr. FA Timmy Budi Yudhantara SpM, adik kelas di SMA Kolese de Britto Yogyakarta (JB 96), saat mendampingi dokter muda di RSSC Jakarta.

Sabtu pagi, 18 Juli 2026 saya kembali mengunjungi RS St Carolus untuk menemui dr. FA Timmy Budi Yudhantara SpM, adik kelas di SMA Kolese de Britto Yogyakarta (JB 96). Sambil membimbing dengan sabar para dokter muda dari FK Unika Atma Jaya Jakarta, dr. Timmy menerima saya di sela-sela melayani pasien. Terus saya jalan kaki lagi menyeberangi Jl. Salemba yang padat lalu lintas, untuk masuk ke Auditorium IMERI FK UI, mengikuti Forum Dekan FK AIPKI 2026 hari ketiga.

Bersama Ibu Dekan FK UMS Surakarta Dr. dr. Flora Ramona Sigit Prakoeswa, M.Kes., Sp.KK., Dipl.STD-HIV., FINSDV

Bersama Laksamana Pertama TNI (Purn.) dr. Herjunianto, Sp.PD, MMRS Bapak Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS)

Bersama Ketua Umum AIPKI, Prof. Dr. dr. Wisnu Barlianto, M.Si.Med., Sp.A(K) (berkacamata) dari FK UB Malang dan Sekjen AIPKI Dr. dr. Safrizal Rahman, M.Kes., Sp.OT (FK USK Banda Aceh)

Setelah diskusi panel yang dialogis, dengan pembicara Dr. dr. Flora Ramona Sigit Prakoeswa, M.Kes., Sp.D.V.E. Dekan FK UMS Surakarta berjudul Penjaminan Mutu sebagai Penggerak Transformasi: Perjalanan FK UMS Menuju Akreditasi Internasional. Lanjut tema Penerapan Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Kedokteran di Indonesia oleh Dr. dr. Riwanti Estiasari, Sp.S(K). Juga Sistem Pendidikan Kedokteran di Indonesia: From Policy to Practice oleh Prof. Dr, dr. Anna Rozaliyani, MBiomed, SpP(K) Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, yang mendapat masukan lebih luas oleh Prof. Dr. dr. Haerani Rasyid, M.Sc, Sp.PD-KGH, Sp.GK Dekan FK Unhas Makassar dan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, Dr. dr. Yenny, Sp.FK, terus saya ikut mengenal lebih jauh peran AIPKI dengan mengikuti diskusi paralel dengan subtopik utama terkait AIPKI.

Pertama, Fungsi dan Peran Utama Standarisasi Kurikulum: Berperan penting dalam merumuskan dan mengevaluasi kurikulum pendidikan kedokteran agar selalu relevan dengan perkembangan ilmu dan teknologi medis terkini. Diskusi di auditorium 1 & 2 di lantai 3 itu saya ikuti, bersamaan dengan diskusi kelompok Kedua, yang membahas tentang Koordinasi Antar Fakultas: Menjadi forum bagi para dekan fakultas kedokteran untuk bertukar informasi dan pengalaman dalam mengelola institusi. Juga Ketiga, Penataan Dokter Spesialis: Terlibat aktif dalam program pendampingan tenaga kesehatan dan pengembangan Rumah Sakit Pendidikan. Keempat, Penyelenggaraan AKTAPRO (Asesmen Komprehensif Tahap Profesi), dengan AIPKI menyelenggarakan try out nasional yang dahulu dikenal dengan sebutan TO AIPKI. Ujian simulasi ini dirancang bagi mahasiswa kedokteran sebagai persiapan untuk menghadapi Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD).

Setelah selesai diskusi paralel, saya menerima teman lama alumni FK UI angkatan 1985, dr. Thomas BJ Aliandoe yang pernah bertugas bersama di Kabupaten Sikka, Flores NTT tahun 1992-1995. Sebagai alumni FK UI, dr. Thomas mengajak saya keliling (Campus Tour).

Bersama alumni FK UI 85 dr. Thomas BJ Aliandoe

Kampus FK UI didirikan pada 2 Januari 1849 (Dokter-Djawa School) yang saat ini dipimpin oleh Ibu Dekan Prof. Dr. dr. Anna Rozaliyani, M.Biomed., Sp.P(K). FK UI tidak lepas dari sejarah pendidikan dokter di Indonesia yang dimulai sejak zaman penjajahan Belanda. Adapun momentum pendidikan kedokteran di Indonesia lahir pada tanggal 2 Januari 1849 melalui Keputusan Gubernemen No. 22. Ketetapan itu menjadi titik awal penyelenggaraan pendidikan kedokteran di Indonesia (Nederlandsch Indie), yang ketika itu dilaksanakan di Rumah Sakit Militer. Selang dua tahun, Dokter Djawa School hadir memenuhi kebutuhan tenaga dokter yang dimulai tahun 1851. Walaupun lulusan tersebut diberi gelar Dokter Djawa, sayangnya lulusan sekolah tersebut hanya dipekerjakan sebagai mantri cacar, karena saat itu sedang terjadi wabah cacar. Nyaris 10 tahun lamanya dokter-dokter Indonesia harus menunggu untuk memperoleh wewenang lebih dari sekadar mantri cacar.

Bersama alumni FK UI 85 dr. Thomas BJ Aliandoe di Aula FK UI Salemba yang bersejarah

Lebih dari 20 tahun kemudian, yaitu pada 1898, barulah berdiri sekolah pendidikan kedokteran yang disebut STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen). Para alumni ketika itu disebut Inlandsche Arts. Untuk memantapkan kualitas lulusan dalam hal praktik, pada akhir tahun 1919, didirikan Rumah Sakit Pusat CBZ (Centrale Burgerlijke Ziekenhuis, sekarang disebut RS Ciptomangukusumo/RSCM) yang dipakai sebagai rumah sakit pendidikan oleh siswa STOVIA. Kampus dengan dominasi warna putih yang kami kunjungi selesai dibangun pada tanggal 5 Juli 1920. Pada tanggal yang sama pula seluruh fasilitas pendidikan dipindahkan ke gedung pendidikan yang baru di Jalan Salemba 6 sekarang.

Diantar dr. Thomas BJ Aliandoe ke rumah teman

Setelah puas keliling kampus bekas FK, FE dan FT UI Salemba, saya diantar dr. Thomas BJ Aliandoe menuju rumah dab Fauzi, teman SMA Kolese de Britto Yogyakarta di seputaran Utan Kayu Jakarta. Setelah bercengkerama dan mengunjungi ibu mertuanya (88 tahun) yang sudah terpasang NGT sonde karena kesulitan menelan, terkait stroke otak kecil, saya pamit pulang.

Main ke rumah dab Nico Fauzi Bahari Fudhal, teman SMA Kolese de Britto Yogyakarta 1984, alumnus PPM (Pendidikan dan Pembinaan Manajemen) di seputaran Utan Kayu Jakarta

Siap makan menu enak banget buatan mbak Iswari (Alumni FPsi UGM dan Stece) dan dab Nico Fauzi Bahari Fudhal (teman SMA Kolese de Britto Yogyakarta 1984), di rumahnya Utan Kayu Jakarta


Terimakasih banyak kepada Bapak Ketua Lingkungan Albertus Utan Kayu di Paroki St. Yoseph Matraman Jakarta, dab Nico Fauzi Bahari Fudhal (JB 84) yang telah mengantarkan saya sesuai aplikasi, dari rumahnya yang artistik ke Terminal Terpadu Pulau Gebang Jakarta.

Diantar dab Nico Fauzi mendarat di Terminal Terpadu Pulo Gebang Jakarta

Luar biasa banget sambutan, dukungan, cerita dan inspirasi bisnis kamar kost yang diberikan olh dab Fauzi. Mohon maaf tidak membawakan oleh2, malah disiapkan makan siang banyak menu di meja makannya. Sampai ketemu lagi.

Siap naik bis tingkat Rosalia Indah berbodi Jetbus 3+SDD, yang gagah menjulang buatan karoseri Adiputro Malang, dan diusung sasis premium buatan Swedia Volvo BHR 430HP

Istirahat makan malam di Ros In Subang Jawa Barat dari Pulau Gebang Jakarta, sebelum lanjut ke Yogyakarta. Akan masuk di dalam lantai 2 bis tingkat Rosalia Indah berbodi Jetbus 3+SDD, yang gagah menjulang buatan karoseri Adiputro Malang, dan diusung sasis premium buatan Swedia Volvo BHR 430HP. Sangat lancar dan tleser2 melahap Tol Trans Jawa.

Salam holobis enak ngebis sambil mengenang hasil Forum Dekan FK AIPKI 2026 dari Salemba untuk dokter Indonesia

Terimakasih

Categories
anak dokter Healthy Life Jalan-jalan medicolegal

2026 Disiplin Profesi Dokter

DISIPLIN  PROFESI  DOKTER

fx wikan indrarto

Awalnya bingung dan dilematis, saat dihubungi oleh seorang pengacara untuk hadir dan memberikan pendapat medis pada sebuah sidang di hadapan Yang Mulia Majelis Disiplin Profesi (MDP) periode 2024–2028, yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/1630/2024, sebagai pemeriksa dugaan pelanggaran disiplin kedokteran.

Lihat juga :

https://www.instagram.com/p/Daj8DOMoBpW/?igsh=bnA2cDNseXJwNWI=

Siap terbang dari Bandara Adisucipto Yogyakarta

Setelah berkonsultasi kepada banyak senior dokter dan ahli hukum, saya akhirnya menyanggupinya dengan penuh was-was.

Rabu dini hari, 8 Juli 2026 saya memasuki Bandara Adisucipto Yogyakarta, yang lama tidak difungsikan sebagai bandara komersial. Hal ini karena seluruh rute penerbangan di Bandara Adisutjipto pindah ke Bandara Internasional Yogyakarta per 29 Maret 2020. Saya masuk perut pesawat milik maskapai Fly Jaya berkode KS101 jenis ATR 72-500. Pesawat ATR 72-500 adalah buatan perusahaan patungan Prancis-Italia bernama ATR,  kolaborasi antara Airbus (Prancis) dan Leonardo S.p.A. (Italia). ATR 72-500 adalah pesawat penumpang regional jarak pendek bermesin twin-turboprop, dengan efisiensi bahan bakarnya, berkapasitas standar 68 penumpang, dan mampu mendarat di landasan pendek.

Siap masuk ke kabin pesawat Fly Jaya berkode KS101 jenis ATR 72-500.

Mendarat dengan selamat di Bandara Legendaris Halim Perdanakusuma Jakarta

Bergaya di depan gerbang Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta

Setelah mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta, segera saya bergegas jalan kaki ke Gereja Katolik Santo Agustinus yang berada di bawah pengelolaan Keuskupan Agung Jakarta dan Ordinariat Militer Indonesia (OCI). Pada 29 Juli 1995, KASAU Marsekal TNI Rilo Pambudi meresmikan gereja ini dan Uskup Agung Jakarta, Mgr. Leo Soekoto, SJ memberkati bangunan gereja yang dinamai Agustinus, seorang filsuf yang bijaksana. Setelah berdoa sejenak memohon pendampingan Tuhan dan kebijaksanaan dalam menjalankan tugas pada sidang MDP, terus manyambut anak bungsu, Laras dan suaminya William, yang datang menguatkan saya.

Berjalan kaki pagi dari Bandara menuju Gereja Katolik Santo Agustinus Halim Perdana Kusuma Jakarta

Dekorasi kaca patri bagian belakang di Gereja Katolik Santo Agustinus Halim Perdana Kusuma Jakarta

Selesai berdoa bersama Laras dan William di Gereja Katolik Santo Agustinus Halim Perdana Kusuma Jakarta

Lanjut bertiga kami menuju Gedung MDP dan KKI (Konsil Kesehatan Indonesia) di Jl. Hang Jebat III Blok F 3, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sidang dimpimpin oleh Wakil Ketua MDP, yaitu Dr. Ahmad Redi, SH, MH, MSi dengan anggota dr. Erfen Gustiawan Suwangto, Sp.KKLP, Subsp. FOMC, SH, MH(Kes), PhD dan Ns. Arthur Daniel Thomas Betlehem Lapian, SE, SKep, MKes, MARS. Di ruang sidang yang bersifat tertutup untuk umum, saya duduk di kursi belakang menghadap meja majelis, dengan sebelah kiri saya duduk para penasehat hukum pengadu dan di sebalah kanan saya duduk dokter teradu yang didampingi para penasehat hukumnya juga.

Mendarat dengan selamat Gedung MDP dan KKI (Konsil Kesehatan Indonesia) di Jl. Hang Jebat III Blok F 3, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Setelah 2 orang saksi mengangkat sumpah menurut agamanya, lanjut saya juga mengangkat sumpah menurut agama Katolik, bukan untuk beraksi, tetapi menjadi ahli yang memberikan pendapat. Diikuti ahli di sebelah saya, seorang dosen senior bidang hukum perdata dari sebuah universitas di Jakarta.

Persiapan akhir sebelum tampil pada sidang MDP

Saya menyampaikan pendapat medis (medical opinion) sebagai keterangan ahli terkait Surat Panggilan Sidang Nomor: MD.01/MDP/1248/VI/2026 Tertanggal 30 Juni 2026. Pendapat Medis ini disusun atas permintaan Endang Supriyatna, SH, Sekjen NU Bogor Raya Law Firm dari Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBHNU). Dalam hal ini bertindak sebagai penasehat hukum seorang ibu yang beralamat di Kelapa Gading Jakarta Utara, yang melakukan pengaduan dugaan pelanggaran disiplin kedokteran kepada MDP pada tanggal 29 Mei 2026. Hal ini dipicu karena anak perempuannya (15 tahun) dirampas oleh mantan suaminya yang telah terjadi perceraian.

Saat bersama dengan ibunya sesuai hak asuh yang diperolehnya, anak tersebut bertumbuh secara sehat, baik mental dan fisik, normal, ceria dan berkembang dengan baik di rumah maupun di lingkungan sosial dan sekolah. Setelah bersama ayahnya, anak tersebut diperiksakan kepada seorang dokter di sebuah RS di Jakarta sebanyak 12 kali tatap muka, dan 9 kali tanpa dihadiri pasien. Ibu tersebut melaporkan dokter karena memberikan sedemikian banyak obat pada periode 2023-2025, hanya dengan mendengarkan uraian yang disampaikan oleh ayah anak tersebut, dan gagal untuk melihat potensi ketergantungan obat yang akan dialami oleh pasien. Selain itu, menurut ibu tersebut, dokter telah melakukan pelanggran disiplin profesi, karena sengaja meniadakan hak-hak ibu kandung, sekaligus membuat anak kehilangan haknya atas kebebasan.

Pendapat medis yang saya susun baru layak diketahui oleh umum, setelah perkara ini diputus, sehingga untuk sementara saya simpan. Seusia menjawab semua pertanyaan majelis hakim, para penasehat hukum dokter teradu dan ibu itu sebagai pengadu, saya pamit keluar ruangan sidang, saat sidang dilanjutkan dengan sesi lainnya.

Mendarat di Gereja Katolik Santo Yohanes Penginjil Paroki Blok B, di Jl. Melawai Raya 197 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Altar gereja yang menyimpan sebuah relikui Santo Yohanes Penginjil, berupa potongan kecil tulangnya.

Lansekap Gereja Katolik Santo Yohanes Penginjil Paroki Blok B, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Ditemani Laras dan William, kami menuju Gereja Katolik Santo Yohanes Penginjil Paroki Blok B, di Jl. Melawai Raya 197 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, untuk mengucap syukur dan berterimakasih atas semua rahmat Tuhan. Gereja ini dinamai menurut Yohanes Penginjil, yang dikenal sebagai salah seorang penulis Injil dan dua belas rasul Yesus Kritus. Di bawah altar gereja, terdapat sebuah relikui Santo Yohanes Penginjil, berupa potongan kecil tulangnya. Keaslian relikui ini dinyatakan oleh Uskup Agung Ferrara-Comacchio Italia utara, Mgr. Luigi Negri, pada tahun 2016. Relikui ini diserahkan oleh Communauté des Béatitudes di Medjugorje, Bosnia dan Herzegovina pada tahun 2018.

Gerbang Rumah Makan Mata Karanjang di Jl. Wijaya VI No. 14A, Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Furniture buatan William di Rumah Makan Mata Karanjang Jakarta Selatan.

Kami bertiga lanjut makan sore di Rumah Makan Mata Karanjang di Jl. Wijaya VI No. 14A, Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Restoran sederhana dan kasual ini menyajikan hidangan khas dari Sulawesi Utara. Selain aroma, rasa dan presentasi menu tersebut yang kami tuju, kami mengunjunginya juga untuk melihat furniturenya yang dibuat oleh perusaaah William di Jepara, Jawa Tengah

Siap naik MRT di Stasiun Blok M BCA

Kepadatan penumpang MRT Line 1 Utara Selatan Jakarta

MRT Jakarta yang telah kosong penumpang ternyata dicetuskan sejak 1985 oleh Prof. BJ. Habibie.

Setelah kenyang dan lega, kami segera menyusuri Blok M untuk menikmati Moda Raya Terpadu Jakarta (MRT Jakarta atau Jakarta Mass Rapid Transit). Ide pembangunan MRT di Jakarta telah dicetuskan sejak 1985 oleh Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi saat itu, Prof. BJ. Habibie. Kami akan menikmati sepenggal jalur pertama (Line 1 Utara Selatan) sepanjang 15,7 km yang menghubungkan Stasiun Lebak Bulus dengan Stasiun Bundaran HI Bank Jakarta. Kami naik dari Stasiun Blok M BCA (BML), melewati Blok A (BLA), Haji Nawi (HJN), Cipete Raya (CPR), Fatmawati Indomaret (FTM)dan turun Lebak Bulus Bank Syariah Indonesia (LBB)

Perpisahan kami di Stasiun MRT Lebak Bulus Bank Syariah Indonesia Jakarta Selatan

Lanjut kami berpisah jalan, karena William dan Laras pulang ke Bogor naik Grab Mobil dan saya jalan kaki ke Terminal Pondok Pinang. Saya lanjut menikmati kenyamanan kabin lantai 2 bis Rosalia Indah 119, bersasis premium Scania K410 buatan Swedia, berbodi Jetbus 3 double decker yang gagah buatan karoseri Adiputro Malang, dan dikenal sebagai millenial bus full tol trans Jawa AD 7254 DF.

Bis Rosalia Indah Scania K410 Jetbus 3 double decker

Kamis pagi, 9 Juli 2026 saya dapat kembali ke rumah di Yogyakarta.

Sidang dugaan pelanggaran disiplin profesi dokter sangat menekan jiwa bagi siapapun, bukan hanya sekedar pada dokter teradu saja. Semoga para dokter Indonesia mampu memberikan layanan medis kepada para pasien dengan semakin beretika, mermutu dan legal. Juga profesional dan manusiawi. Terimakasih

Salam dokter

-wikan

Categories
anak Healthy Life sekolah

2026 Makanan Tidak Aman

MAKANAN   TIDAK   AMAN

fx. wikan indrarto

Makanan yang tidak aman menyebabkan 866 juta penyakit dan 1,5 juta kematian setiap tahun. Anak balita menghadapi risiko penyakit akibat makanan yang tidak aman hampir tiga kali lipat, dibandingkan anak yang lebih besar dan orang dewasa. Apa yang perlu diwaspadai?

Tulisan ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 21 Juni 2026, halaman 8, kolom HUSADA

Meskipun hanya 9% dari populasi global, anak balita menderita hampir sepertiga dari semua kasus penyakit bawaan makanan, karena mengkonsumsi makanan yang tidak aman, khususnya diare, yang dapat mematikan bagi kelompok usia rentan ini. Selain itu, paparan bahaya kimia berbahaya seperti metilmerkuri dan timbal dalam makanan, dapat membahayakan perkembangan otak, menyebabkan masalah neurologis, dan gangguan perkembangan seumur hidup pada anak balita.

WHO memperkirakan bahwa makanan yang tidak aman menyebabkan sekitar 866 juta penyakit dan 1,5 juta kematian setiap tahun. Pada hal, banyak di antaranya dapat dicegah dengan langkah sederhana, termasuk peningkatan air bersih, sanitasi dan kebersihan, praktik keamanan pangan seperti pasteurisasi, dan juga akses ke perawatan kesehatan untuk populasi rentan. Meskipun beban penyakit bawaan makanan secara keseluruhan telah menurun sejak tahun 2000, ketidaksetaraan regional yang besar masih tetap ada, dengan beban terbesar di Afrika dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Paparan bahaya biologis, termasuk bakteri dan virus bawaan makanan serta infeksi parasit, menyebabkan sebagian besar penyakit bawaan makanan. Sementara itu, paparan bahan kimia menyebabkan sebagian besar kematian. Pada tahun 2021, bahaya kimia menyumbang 73% kematian akibat makanan yang terkontaminasi. Sebagian besar kematian terkait bahan kimia ini, dikaitkan dengan arsenik anorganik (42%) dan timbal (31%), terutama karena paparan ini meningkatkan risiko penyakit jantung dan kanker.

Selain dampak kesehatan, pada tahun 2021 penyakit bawaan makanan menyebabkan kerugian produktivitas (waktu orangtua absen kerja karena anak sakit) sekitar US$ 310 miliar. Ketika dampak ekonomi disesuaikan dengan perbedaan biaya hidup antar negara, perkiraan kerugian produktivitas meningkat menjadi US$ 647 miliar.

Keamanan pangan bukanlah masalah abstrak, karena hal itu sangat mungkin terjadi pada setiap makanan, setiap keluarga, dan setiap hari. Makanan yang tidak aman telah menjadi perhatian utama bidang kesehatan masyarakat, tetapi sampai sekarang kita belum memiliki gambaran yang lebih detail tentang dampak buruknya terhadap manusia dan ekonomi. Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO menyatakan : “Untuk pertama kalinya di tahun 2026 ini, banyak negara kini memiliki data sendiri untuk melihat di mana beban tertinggi berada”. Dengan data itu, pemerintah dapat memprioritaskan tindakan yang diperlukan untuk melindungi kesehatan masyarakat.

Selama ini dikenali ada 42 penyebab utama akan penyakit yang ditularkan melalui makanan, yaitu bakteri, virus, parasit, dan bahan kimia, berdasarkan laporan dari 194 negara dari tahun 2000 hingga 2021. Analisis baru WHO secara signifikan memperluas basis bukti dengan menilai bahaya baru, yaitu logam berat, rotavirus, dan Trypanosoma cruzi (parasit penyebab penyakit Chagas).

Makanan dapat terkontaminasi oleh bahan kimia seperti arsenik anorganik, timbal, dan metilmerkuri dari sumber alami dan aktivitas manusia. Setelah zat-zat ini masuk ke dalam rantai makanan, seringkali sulit atau bahkan tidak mungkin untuk dihilangkan. WHO menyerukan kepada pemerintah untuk mencegah kontaminasi di sumbernya – melalui praktik pertanian yang lebih baik, kontrol industri yang lebih ketat, dan peraturan lingkungan yang lebih kuat.

Meskipun keberadaan beberapa logam dalam makanan telah menurun dari waktu ke waktu, laporan WHO tahun 2026 ini untuk pertama kalinya mengungkapkan beban penyakit kardiovaskular, kanker, dan disabilitas intelektual yang diakibatkan oleh paparan logam melalui makanan. Arsenik dan timbal anorganik dikaitkan dengan lebih dari 1 juta kematian dalam satu tahun. Selian itu, metilmerkuri dapat membahayakan perkembangan otak dan menyebabkan masalah neurologis dan perkembangan seumur hidup pada anak-anak.

Perubahan pola makan, tekanan lingkungan, globalisasi, dan ketidaksetaraan dalam sistem pangan, terus membentuk siapa saja yang paling terpapar makanan yang tidak aman. Anak balita dan orang-orang yang tinggal di komunitas dengan sumber daya terbatas mengalami beban kesehatan akibat makanan tidak aman yang terbesar. Apalagi mereka yang tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah, terutama di Afrika dan Asia Tenggara, karena keduanya bersama-sama menyumbang hampir tiga perempat dari semua penyakit bawaan makanan dan 60% dari kematian global.

Data menunjukkan bahwa penyakit bawaan makanan tidak hanya terus-menerus terjadi, tetapi juga diperburuk oleh perubahan iklim, yang meningkatkan risiko kontaminasi, dan oleh resistensi antimikroba, yang membuat infeksi lebih sulit diobati. Pendekatan ‘One Health’ yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan, sangatlah penting. Semua negara seharusnya bertindak segera, untuk menargetkan intervensi, berinvestasi dalam pengawasan, dan menghilangkan sekat antara sektor kesehatan, pertanian, dan lingkungan. Penundaan akan merenggut lebih banyak nyawa anak balita.

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 7 Juni 2026

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Dekan FK UAJY, Anggota MKEK IDI Wilayah DIY, Alumnus S3 UGM.

Categories
Healthy Life Jalan-jalan

2026 Baru di Selandia

BARU DI SELANDIA

fx. wikan indrarto & benedicta sari prasetyati

Setahun lalu kami terbang ke belahan bumi selatan, tepatnya di Johannesburg, Afrika Selatan pada Senin, 12 Mei 2025. Tahun 2026 ini kami akan menikmati lagi kedamaian bumi selatan, sehingga kami terbang ke Auckland di Selandia Baru (New Zealand atau NZ), ) sambil mengikuti International Conference on Bacteriology and Microbial Pathogenesis (ICBAMP). Apa yang Baru di Selandia?

Persiapan meninggalkan rumah Timoho Yogyakarta untuk petualangan ke Selandia Baru

Minggu pagi, 24 Mei 2026 kami naik bis tingkat milik PT. Rosalia Indah Transport (Ros In), yaitu sebuah perusahaan otobus Indonesia yang berpusat di Karanganyar, Jawa Tengah. Perusahaan otobus ini melayani bus antarkota, bus antar-jemput, bus pariwisata, dan kurir. Di samping mengelola bisnis transportasi, lewat anak-anak usahanya, perusahaan otobus ini juga merambah ke bisnis penyantunan (hospitality) seperti rumah makan, rest area, dan hotel; serta produksi air minum dalam kemasan. Kantor pusat dan garasi utama perusahaan otobus ini terletak di Jalan Raya Solo–Ngawi km 7,5, Jaten, Karanganyar, Jawa Tengah.

Siap naik bus tingkat Rosalia Indah, dengan bodi Jetbus 3+ seri SDD buatan karoseri Adiputro Malang yang gagah, diusung sasis premium buatan Swedia Scania K410CB dari Yogyakarta

Kabin lantai 2 yang dingin dan nyaman di bus tingkat Rosalia Indah yang diusung sasis premium buatan Swedia Scania K410CB meluncur ke Ciputat, Tangerang Selatan.

Kami meluncur ke Ciputat, Tangerang Selatan di lantai 2 bus tingkat Rosalia Indah, dengan bodi Jetbus 3+ seri SDD buatan karoseri Adiputro Malang yang gagah, diusung sasis premium buatan Swedia Scania K410CB, dilengkapi dengan suspensi udara. Bis Ros In milik keluarga Bapak Yustinus Soeroso, yang mulai menapaki dunia transportasi bus sebagai kernet, kondektur bus, hingga akhirnya agen bus, di perusahaan otobus Timbul Jaya. Rosalia Indah saat ini mengoperasionalkan 389 unit bus reguler dan 50 unit bus tingkat, seperti yang kami naiki.

Bertemu dab Welly Sutanto, sesama alumni SMA Kolese de Britto Yogyakarta angkatan 1984, untuk berdoa bersama di Kapel Santo Christoforus, Pemalang Jawa Tengah, milik Rosalis Indah.

Kami sempat bertemu sejenak dengan sobat lama Dab Welly Sutanto, sesama alumni SMA Kolese de Britto Yogyakarta angkatan 1984, untuk berdoa bersama di Kapel Santo Christoforus, di Rest Area Ros In KM 319 di Pemalang, Jawa Tengah. Santo Christoforus adalah pelindung para pelaku perjalanan, yang kami yakini juga akan melindungi kami sampai di tempat tujuan tanpa halangan.

Siap berangkat setelah tertidur pulas semalam di rumah kakak saya (Pakde Toto Ismintarto dan Budhe Hastari Soekardi) di Villa Pamulang Tangerang Selatan.

Kami menginap semalam di rumah kakak saya (Pakde Toto Ismintarto dan Budhe Hastari Soekardi) di Villa Pamulang Tangerang Selatan. Senin pagi, 25 Mei 2026 kami mengantar Pakde Totok ke Stasiun Halim untuk naik Whoosh Kereta Sangat Cepat ke Bandung, karena ada tugas kunjungan proyek renovasi Hotel Padma. Selanjutnya kami diantar driver pak Solikh mengungjungi besan, Bapak Suharyadi dan Ibu Endang di Tambun, Kabupaten Bekasi. Juga mengjungi pengantin baru, anak bungsu kami Laras dan William, yang sedang mengerjakan proyeknya di rumah Cileungsi Bogor. Terus sowan Bulik Partinah adik sepupu bapak saya di Salaman, Magelang yang sedang tinggal di rumah anak sulungnya, dik Prastowo di Harapan Indah Bekasi.

Senang sekali dapat mengunjungi besan, Bapak Suharyadi dan Ibu Endang di Tambun, Kabupaten Bekasi, yang semuanya sehat

Bahagia sekali dapat mengunjungi pengantin baru, anak bungsu kami, Laras dan William, di rumah proyeknya di Cileungsi, Kabupaten Bogor

Sowan Bulik Yohana Tentrem Supartinah (84 tahun) adik sepupu bapak saya, di rumah dik Daniel Prastowo di Perumahan Harapan Indah Bekasi.

Suasana akademik di perpustakaan pribadi dik Daniel Prastowo di Perumahan Harapan Indah Bekasi.

Makan siang bersama pak Solikh, driver yang telah mengantarkan kami berkeliling

Terus kami menuju Stasiun Manggarai, untuk naik KA Bandara Basoetta ke Bandara Internasional Soekarno Hatta di Tangerang, terus ganti KA Layang (Sky Train) ke terminal 3. Setelah membereskan urusan bagasi dan imigrasi, malam itu kami terbang meninggalkan tanah air tercinta, Indonesia

KA Bandara yang kami naiki dari Stasiun Manggarai Jakarta ke Bandara Soetta di Tangerang

Interior Commuter Line Basoetta dari Stasiun Manggarai Jakarta ke Bandara Soetta yang cerah dan nyaman

KA Layang (Sky Train) menuju ke Terminal 3 Bandara Soetta Tangerang

Bersiap meninggalkan Bandara Soetta Indonesia di Gerbang Keberangkatan Internasional

Kami terbang dalam perut Qantas Airlines Limited, maskapai penerbangan nasional Australia. QANTAS singkatan dari “Queensland and Northern Territory Aerial Services yang sering disebut “The Flying Kangaroo”, berpusat di Sydney, dengan pangkalan utama di Bandar Udara Internasional Kingsford Smith, dan merupakan maskapai terbesar Australia. Qantas adalah maskapai tertua ketiga di dunia dan maskapai tertua yang beroperasi menggunakan nama aslinya.

Di dalam perut Qantas Airways Airbus 330-200 QF 42 yang merupakan tulang punggung armada pesawat berbadan lebar (wide-body), siap terbang ke Sydney Australia

Tahun 2007, Qantas terpilih menjadi maskapai penerbangan terbaik kelima di dunia berdasarkan penelitian Skytrax, jatuh dari posisi kedua pada tahun 2005 dan 2006. Qantas terbang ke 81 kota di 5 benua dengan penerbangan Bouing 747-400 tanpa henti dari Sydney ke Buenos Aires. Juga terdapat penerbangan ke Dubai dengan superjumbo Airbus A380.

Sering diklaim, khususnya pada film 1988 Rain Man, bahwa kehebatan Qantas adalah tidak pernah mengalami kecelakaan fatal. Pernyataan ini cukupberalasa, tetapi sebenarnya hanya membenarkan fakta bahwa Qantas tidak pernah kehilangan pesawat jet. Pesawat jet Qantas saat ini terdiri dari Airbus A330-200, Airbus A330-300, Airbus A380-800, jumbo jet Airbus A380-800, Boeing 737-800 dan Boeing 787-9.

Kami naik Qantas Airways Airbus 330-200 QF 42 yang merupakan tulang punggung armada pesawat berbadan lebar (wide-body) Qantas Airways, yang melayani rute domestik utama Australia dan rute internasional jarak jauh. Pesawat ini sangat populer karena menawarkan kabin yang senyap dan kenyamanan optimal, yang kami nikmati dari Jakarta Soekarno Terminal 3, selama 6 jam 45 menit menempuh 3.416 mil untuk mendarat di Sydney Kingsford Terminal 1 di Australia.

Mendarat dengan selamat di Sydney (SYD) Kingsford Terminal 1 di Australia pada Selasa pagi, 26 Mei 2026

Taman buatan yang hijau (Fragrance Garden) di Sydney (SYD) Kingsford Terminal 1 di Australia saat menunggu transit ke Auckland Selandia Baru

Dalam guyuran hujan menuju perut Qantas Airways Boeing 737-800 QF 145 di Sydney (SYD) Kingsford Terminal 1 Australia.

Bersama para penumpang bule semua di dalam perut Qantas Airways Boeing 737-800 QF 145 menuju Auckland Selandia Baru.

Selanjutnya kami terbang dengan Qantas Airways Boeing 737-800 QF 145 dari Sydney Kingsford Terminal 1 Australia, pintu 31 selama 3 jam 10 menit sejauh 1.345 mil dan mendarat Selasa sore, 26 Mei 2026 di International Auckland di Selandia Baru. Bandar Udara Auckland disebut Taunga Rererangi, yaitu bandara terbesar dan tersibuk di Selandia Baru.

Suasana penataan perumahan warga di kota Auckland yang terlihat dari jendela pesawat Qantas Airways Boeing 737-800 QF 145

Ornamen kayu tradisional motif Suku Maori, penduduk asli Selandia Baru di gerbang kedatangan penumpang internasional di Auckland

Selamat datang di Auckland, Selandia Baru yang disebut Tamaki Makaurau oleh penduduk asli suku Maori

Bandara ini terletak 21 kilometer (13 mil) di selatan pusat kota Auckland. Selesai menjalani proses imigrasi dan deklarasi barang bawaan yang paling ketat dibandingkan negara lain yang pernah kami kunjungi, kami segera menyeberang jalan di depan pintu keluar penumpang internasional untuk mengikuti sesi terakhir ’International Conference on Bacteriology and Microbial Pathogenesis’ (ICBAMP), yang diselenggarakan di Novotel Auckland Airport 35 Tom Pearce Drive Auckland. Ini adalah sebuah kesempatan untuk mempertemukan para profesional industri, ahli kesehatan, akademisi, dan dokter cendekiawan dari berbagai negara, untuk  meningkatkan kolaborasi di bidang bakteriologi ini.

Bergaya sejenak saat selesai konferensi di zona penurunan tamu di Novotel Auckland Airport 35 Tom Pearce Drive Auckland.

Pada sesi ‘meet the distinguished experts’ sesi terakhir, kami sempat melihat paparan Claudio Pusceddu (Businco Oncology Hospital, Cagliari, Italia) dan Marina Filimonova (Tsyb Medical Radiological Research Centre, Ulitsa Zhukova, Obninsk, Kaluga Oblast, Rusia), tentang Insights and Innovations, Microbial Genomics and Its Applications, Translational Research in Microbiology, Innovations in Microbial Laboratory Techniques dan Global Health Perspectives on Microbial Diseases. Pada hal sesi sebelumnya yang menampilkan Mary Jane Walsh (Northern Michigan University, USA), Michael Neuman (Barry University, Miami Shores, Florida, USA), dan Abhishek Ruia (Abhishek Speech & Hearing Centre, Kanpur, Uttar Pradesh, India) sebenarnya lebih menarik, yaitu Advancements in Bacteriology, Microbial Pathogenesis Mechanisms, Infectious Diseases: Current Challenges and Solutions, Clinical Diagnostics in Microbiology, Antimicrobial Resistance: Trends and Responses, Molecular Techniques in Microbial Research, Pathogen-Host Interactions.

Gelap malam sudah mendekap Novotel Auckland Airport 35 Tom Pearce Drive Auckland.

Setelah acara penutupan konferensi yang sederhana, kami segera masuk kembali ke areal kedatangan penumpang internasional di Auckland International Airport yang berlokasi di Ray Emery Drive, Māngere, Auckland, Selandia Baru. Dibuka 29 Januari 1966 dan dikelola oleh Auckland International Airport Limited (AIAL), bandara ini menjadi contoh sukses bagaimana pengelolaan profesional dan visi bisnis bisa mengubah infrastruktur publik menjadi perusahaan bernilai miliaran dolar.

Berbeda dengan bandara lain yang bergantung pada biaya penerbangan (aeronautical revenue), AIAL sejak awal menyadari bahwa diversifikasi pendapatan adalah kunci bertahan hidup, sehingga mulai berinvestasi di sektor non-aero seperti komersial & retail, parkir dan transportasi darat, pengembangan properti, dan fasilitas logistik terintegrasi.

Hal baru di Selandia yang nikmat dan aman seperti promosi bank di rumah sendiri, merupakan salah satu pendapatan Non-Aero Auckland Airport.

Kini, lebih dari 50% pendapatan Auckland Airport berasal dari sektor non-aero, menjadikannya salah satu bandara dengan model bisnis paling seimbang di dunia. Strategi Non-Aero adalah Menciptakan Nilai di Luar Terminal, misalnya Bisnis Ritel & F&B. Auckland Airport membangun The District, kawasan komersial berisi toko, kafe, dan restoran yang dirancang bukan hanya untuk penumpang, tetapi juga untuk masyarakat sekitar.

Konsepnya sederhana tapi efektif: “Menjadikan bandara sebagai tempat tujuan, bukan sekadar titik transit.” Pendekatan ini memperluas pasar mereka — dari penumpang pesawat ke konsumen lokal dan wisatawan domestik. Menurut laporan keuangan AIAL 2023, Pendapatan non-aero mencapai lebih dari NZD 340 juta, atau sekitar 56% dari total revenue.

Mendarat di halaman Kiwi International Hotel di 411 Queen St, Auckland City Center, Auckland.

Kami lanjut naik taksi Toyota Highlander bertarif NZD 80 untuk menuju Kiwi International Hotel di 411 Queen St, Auckland City Center, Auckland, New Zealand untuk beristirahat di kamar 251.

(Bersambung)

Rabu, 27 Mei 2026 kami terbangun di kamar 251 Kiwi International Hotel di 411 Queen St, Auckland City Center, Auckland, Selandia Baru atau New Zealand untuk memulai hari. Selandia Baru terdiri dari dua pulau besar (Pulau Utara dan Pulau Selatan) dan beberapa pulau lainnya yang lebih kecil. Karena letaknya yang jauh dari aktivitas manusia di bumi, Selandia Baru merupakan kepulauan terakhir yang didiami oleh manusia.

Petualangan hari kedua dimulai dengan jalan kaki dari Kiwi International Hotel di 411 Queen St, Auckland City Center, Auckland, Selandia Baru

Jalan kaki pagi menyusuri Upper Queen Street Auckland, yang mendaki cukup tinggi

Selama masa terisolirnya yang panjang, di Selandia Baru berkembanglah suatu keanekaragaman hayati yang berbeda, baik itu tumbuhan maupun hewan. Yang paling terkenal adalah sejumlah besar spesies burung yang unik, banyak di antaranya punah setelah tibanya manusia, dan mamalia yang dibawa serta. Dengan iklim bahari yang sedang, daratan Selandia Baru sebagian besarnya ditutupi hutan. Topografi negara yang bervariasi, dan puncak-puncak gunungnya yang tajam sangat dipengaruhi oleh tonjolan tektonik tanah, dan letusan gunung berapi yang disebabkan oleh tumbukan lempeng Pasifik dan lempeng Indo-Australia di bawah permukaan bumi.

Bangsa Polinesia mendiami Selandia Baru pada 1250–1300, dan membangun kebudayaan Māori yang berbeda, dan orang Eropa mulai merintis hubungan dengan mereka pada 1642. Pengenalan kentang dan senapan lontak telah memicu pergolakan di antara sesama Suku Māori pada permulaan abad ke-19, yang mengarah pada Peperangan Senapan antarsuku. Orang Eropa pertama yang mencapai Selandia Baru adalah penjelajah Belanda, Abel Tasman pada 1642. Dalam sebuah pertemuan yang menegangkan, empat awak kapal terbunuh, dan paling sedikit seorang Māori terpukul oleh canister shot. Orang Eropa tidak ada yang mengunjungi lagi Selandia Baru sampai 1769 ketika penjelajah Inggris, James Cook, memetakan hampir semua pesisirnya.

Geraja Santo Benedictus di 1 St Benedict’s Street, Eden Terrace (Newton) Auckland

Pagi itu kami berjalan kaki menuju Geraja Santo Benedictus di 1 St Benedict’s Street, Eden Terrace (Newton) Auckland. Pada tahun 1866, Uskup Aucland Mgr. Pompallier memberkati dan meresmikan Gereja kayu kecil St. Francis de Sales di tempat yang saat itu bernama East Street. Gereja ini akan digunakan sebagai kapel pemakaman dan berfungsi sebagai pos terdepan Katedral Auckland, untuk melayani sejumlah besar umat Katolik yang tinggal di daerah Newton. Kapel kecil ini melayani penduduk Newton selama hampir dua puluh tahun. Namun, seiring pertumbuhan penduduk di daerah tersebut, kebutuhan akan gereja yang lebih besar menjadi semakin mendesak. Pada tahun 1879, para biarawan Benediktin dari Biara Ramsgate, di Inggris, diberi tanggung jawab atas paroki Newton yang baru dibentuk.

Jadwal misa kudus yang berbeda dengan yang terlihat di website yang belum diperbaharui

Bersama Bapak Sugeng Wijanto di rumahnya, Seine Road Forrest Hill Auckland, sebuah kawasan elite

Ternyata misa kudus harian pagi di gereja tersebut telah diubah jadwalnya, dan tidak diperbaharui pada websitenya, sehingga kami tidak sempat ikut misa kudus. Setelah kembali ke hotel dan sarapan, kami segera meluncur naik taksi menuju rumah Bapak Sugeng Wijanto di Seine Road Forrest Hill Auckland, pimpinan di kantor kakak saya (Mas Toto Ismintarto). Ir. Sugeng Wijanto, MEng, PhD ahli struktur bangunan tahan gempa adalah President Director PT Gistama Intisemesta, sebuah konsultan struktur yang banyak menangani proyek-proyek gedung tinggi di Indonesia. Selain itu, beliau juga Staf Akademik Universitas Trisakti Jakarta dan salah satu Dewan Penasihat – Civil Engineering – Petra Christian University Surabaya.

Menyerahkan kenangan untuk ibu Suni, berupa tas yang langsung diselempangkan di bahu dan cinderamata yang langsung digenggam erat di tangan

Setelah bertemu Ibu Sumi yang sedang WFH, pada sebuah kantor administrasi Kesehatan. Pak Sugeng dan Bu Sumi yang sangat ramah, menyambut kami dengan terbuka di rumahnya yang asri tinggal berdua, karena kedua anak dan ketiga cucunya telah mandiri di rumah lain. Segera kami diajak naik sedan mewah Mercedez Benz C200 berpalat nomer istimewa 1111SW, selain huruf biasanya di depan deratan angka, juga angkanya semua angka 1 dan huruf hanya 2, singkatan inisial namanya Sugeng Wiyanto, sementara biasanya 3 huruf.

Kami bersiap naik sedan mewah Mercedez Benz C200 berpalat nomer istimewa 1111SW

Kami diajak mengelilingi Devonport, yaitu sebuah areal tepi laut bersejarah yang menawan di kawasan North Shore, Auckland. Sepanjang perjalanan, Pak Sugeng yang ahli dalam bidang struktur gempa dan baja, banyak bercerita tentang keahliannya dan riset internasional yang telah dilakukannya. Sepanjang North Shore yang terletak tepat di seberang Waitematā Harbour di pusat bisnis kota Aucland, kawasan ini terkenal dengan suasananya yang santai, jalanan yang dipenuhi vila kolonial bergaya Victoria, serta pemandangan indah ke arah cakrawala kota Auckland. Devonport yang kami kunjungi dengan taksi melalui jembatan (AJ Hackett Auckland Bridge Bungy & Climb) dapat dicapai juga hanya dengan 12 menit perjalanan feri dari pusat kota Auckland.

Devonport adalah salah satu pemukiman Eropa paling awal di Auckland pada abad ke-19. Kota ini memiliki sejarah vulkanik yang dramatis, terlihat dari bentuk lahannya, hubungan yang erat dengan laut, dan sejarah panjang pemukiman oleh suku Maori. Kota ini telah menjadi rumah bagi Angkatan Laut Selandia Baru selama bertahun-tahun, dan memiliki hubungan yang kuat dengan Angkatan Darat. Devonport merupakan pusat penting untuk pembuatan kapal di masa awal dan basis transportasi hingga ke utara Waiwera. Kota ini diakui memiliki beberapa pemandangan jalanan terbaik dari bangunan komersial dan perumahan abad ke-19 di Selandia Baru.

Bergaya di depan Devenport Museum di 33 Vauxhall Road, Devonport, Auckland 0624.

Kami menuju Devenport Museum di 33 Vauxhall Road, Devonport, Auckland 0624. Museum ini dibuka pada tanggal 10 Februari 1980 dan taman dibuka pada tanggal 22 November 1981. Museum Devonport mengkhususkan diri pada memorabilia dan materi sumber yang terutama berkaitan dengan sejarah Devonport dan penduduknya. Artefak dan materi lain dapat dipertimbangkan untuk dimasukkan ke dalam koleksi.

Teluk Hauraki dan kota Auckland di kejauhan

Di mulut North Head (Maungauika) yang menyimpan jaringan bungker, terowongan bawah tanah, dan benteng pertahanan militer

Selanjutnya kami menikmati pemandangan alam dari Gunung Berapi Purba, melihat Mount Victoria Reserve (Takarunga), Teluk Hauraki dan kota Auckland. Juga menjelajahi terowongan bawah tanah untuk keperluan militer yang bersejarah, yaitu North Head (Maungauika) yang menyimpan jaringan bungker, terowongan bawah tanah, dan benteng pertahanan militer yang digunakan sejak akhir abad ke-19 hingga Perang Dunia II.

Pemandangan Kota Auckland dari puncak gunung

Duduk santai di Torpedo Bay Navy Museum, sekaligus makan siang dengan pemandangan pantai yang indah

Terus menikmati pemandangan banyak warga yang bersantai di pinggir pantai berpasir emas yang tenang dan ramah keluarga, seperti Cheltenham Beach dan Narrow Neck Beach. Lanjut belajar sejarah maritim Selandia Baru di Torpedo Bay Navy Museum, sekaligus makan siang dengan pemandangan pantai yang indah. Habis itu menyusuri Victoria Road menyajikan deretan butik independen, galeri seni, toko buku, kafe trendi, serta produsen cokelat terkenal di Devonport Chocolates.

Di tengah the Arcade di Victoria Road yang menyajikan deretan butik independen, galeri seni, toko buku, dan kafe trendi.

Ferry Terminal Auckland di areal Viaduct Harbour, yaitu kawasan tepi laut yang ramai dan terletak di jantung kota Tāmaki Makaurau, Auckland

Terus melihat Devonport Wharf, yaitu terminal penyeberangan penumpang yang menuju Ferry Terminal Auckland. Kami terus menyeberangi ulang Auckland Harbour Bridge yang sebelumnya kami lewati saat naik taksi, bersama pak Sugeng menuju arah utara melalui Northern Motorway dan keluar di Esmonde Road. Kami mencapai Ferry Terminal Auckland di areal Viaduct Harbour, yaitu kawasan tepi laut yang ramai dan terletak di jantung kota Tāmaki Makaurau, Auckland. Sebagai rumah bagi beberapa bar, restoran, dan akomodasi terbaik di kota ini, Viaduct Harbour memiliki sesuatu untuk semua orang.

Maritime Museum di seberang Viaduct Harbour Marina yang bergaya butik.

Selain menawarkan layanan perhotelan kelas dunia, Viaduct Harbour juga merupakan rumah bagi Viaduct Harbour Marina yang bergaya butik, di seberang Maritime Museum. Marina ini juga berfungsi sebagai pusat bagi sekitar 70 kapal sewaan, yang secara rutin membawa pengunjung untuk menjelajahi Pelabuhan Waitematā dan pulau-pulau di sekitarnya.

Bergaya di depan Waitematā Station (sebelumnya dikenal sebagai Britomart Transport Centre) Auckland.

Kami terus berjalan kaki sampai ke Stasiun kereta utama di pusat kota (CBD) Auckland, yaitu Waitematā Station (sebelumnya dikenal sebagai Britomart Transport Centre). Terletak di ujung Queen Street, stasiun ini adalah pusat utama untuk semua layanan kereta komuter perkotaan dan bus di Auckland. Setelah minum teh dan roti sore, kami berpisah dengan Pak Sugeng yang herus kembali ke rumahnya sebelum kepadatan lalu lintas terjadi di sore hari. Kami segera berjalan kaki kembali ke hotel sejaiuh 1,6 km di jalanan yang mendaki, ke Upper Queen Street.

Senang mendapat penjelasan langsung dari seorang ahli gempa bumi, tentang penguatan struktur tahan gempa bangunan lama, dengan penyangga baja.

Melihat struktur tahan gempa, yaitu besi saling melintang yang diberi pelumas, di luar gedung tinggi itu di Auckland

Dalam perjalanan pulang ke hotel, kami melewati Balai Kota Auckland di 301 – 317 Queen Street, Auckland, yang megah bergaya Edwardian, berfungsi administratif (seperti rapat dan sidang Dewan), dilengkapi dengan Aula Besar yang terkenal dan Ruang Konser yang dimodelkan berdasarkan Gewandhaus di Leipzig, dan dianggap memiliki akustik terbaik di dunia. Balai Kota Auckland dibangun pada tahun 1910, meski sudah direncanakan sejak awal 1872.

Duduk beristirahat sejenak saat perjalanan pulang dari pusat kota (CBD) Auckland, yaitu Waitematā Station menyusuri Queen Street menuju hotel.

Persimpangan Greys Avenue dan Queen Street dipilih sebagai lokasi pada tahun 1880, dan dirancang oleh arsitek JJ & EJ Clark yang berbasis di Melbourne. Batu fondasi diletakkan oleh walikota Arthur Myers pada 24 Februari 1909 dan gedung tersebut secara resmi dibuka pada 14 Desember 1911 oleh Lord Islington, Gubernur Selandia Baru. Desain Kebangkitan Renaisans Italia lima lantai ini memiliki kemiripan dengan Balai Kota Lambeth di Brixton, London, yang dibangun sekitar waktu yang sama.

Balai Kota Auckland rancangan arsitek JJ & EJ Clark yang berbasis di Melbourne.

Sambil berjalan kaki pulang dari Balai Kota Auckland, kami jadi mengingat bahwa pemerintah Inggris mengangkat James Busby sebagai Residen untuk Selandia Baru pada 1832. Pada 1840 Inggris dan Māori menandatangani Perjanjian Waitangi yang menjadikan Selandia Baru sebagai jajahan Inggris (Imperium Britania). Pada 1907, atas permintaan Parlemen Selandia Baru, Raja Edward VII memproklamasikan Selandia Baru sebagai sebuah dominion di lingkungan Imperium Britania.

Setelah Perang Dunia II, Selandia Baru bersama Australia, dan Amerika Serikat bergabung di dalam perjanjian keamanan ANZUS. NamunAmerika Serikat pada 2010 membekukan perjanjian itu setelah Selandia Baru melarang senjata nuklir.

Orang Selandia Baru menikmati salah satu standar hidup tertinggi di dunia pada dasawarsa 1950-an, tetapi mengalami kejatuhan yang mendalam pada dasawarsa 1970-an. Pasar ekspor produk pertanian Selandia Baru telah didiversifikasi secara luas sejak dasawarsa 1970-an, dengan ekspor wol yang pernah mendominasi digantikan oleh produk peternakan, daging, dan minuman anggur.

Dijemput Ibu Gabriela Dian bersama Hana dan Freya di hotel kami di Auckland,

Setelah beristirahat sore sebentar di hotel, kami segera dijemput Ibu Gabriela Dian yang tinggal di 24/94 Glengarry Rd, Glen Eden Aucland bagian barat, bersama Hana dan Freya kedua anaknya kelas 5 dan 3 SD. Kedua anak tersebut pernah saya periksa di RS Panti Rapih Yogyakarta, karena kedua sepupunya pasien saya dan Ibu Dian yang asli Yogyakarta sedang berlibur mudik.

Dokter ketemu pasiennya

Ibu Dian yang sedang mengambil master bidang pekerja sosial di Massey University, mengajak kami jalan2 menggunakan Toyota Aqua hydbrid warna biru mengjungi seputar bagian barat Auckland, sampai makan malam bersama di Wendy’s Humbergers 570 Hillsborough Road Lynfield, Auckland, Selandia Baru.

Makan malam bersama di Wendy’s Humbergers Auckland

Kami berdua diantar kembali ke Hotel Kiwi Internasional untuk menginap dan beristirahat pada malam kedua kami, di Selandia baru.

(bersambung)

Kamis pagi, 28 Mei 2026 kami terjaga di kamar 215 Hotel Kiwi Internasional di Auckland, Selandia Baru. Kami jadi teringat tentang burung kiwi yang merupakan hewan endemik dan lambang nasional Selandia Baru. Satwa unik ini tidak dapat terbang, memiliki bulu menyerupai rambut, dan indra penciuman yang sangat tajam. Mereka sangat dijaga kelestariannya sehingga keberadaannya menjadi ikon identitas negara tersebut.

Menara huruf AUCKLAND yang penuh warna

Burung kiwi tidak dapat terbang, karena memiliki sayap yang sangat kecil dan tersembunyi di balik bulunya, burung ini sepenuhnya berjalan atau berlari di darat. Kiwi adalah satu-satunya burung di dunia yang memiliki lubang hidung di ujung paruhnya, bukan di pangkal. Mereka mengandalkan penciuman luar biasa untuk mencari makan di dalam tanah.

Meski ukuran tubuhnya mirip dengan ayam domestik, kiwi mampu menghasilkan telur yang besarnya mencapai sepertiga dari ukuran tubuh induknya. Burung kiwi adalah hewan yang aktif di malam hari dan biasanya menghabiskan siang hari di dalam liang yang mereka gali. Secara budaya, burung kiwi sangat melekat dengan Selandia Baru. Saking ikoniknya, warga lokal Selandia Baru sering dijuluki sebagai “Kiwi”. Kata “kiwi” itu sendiri berasal dari bahasa Māori yang menirukan suara kicauan burung tersebut.

Suasana misa kudus harian pagi di St Patrick’s Cathedral Auckland.

Megahnya Katedral Santo Patrick atau Santo Yosef (St Patrick’s Cathedral) di Auckland

Pagi itu kami melawan dingin pada suhu 16 derajat berjalan kaki menuju Katedral Auckland yang bernama resmi Katedral Santo Patrick atau Santo Yosef (St Patrick’s Cathedral). Kami akan mengikuti misa kudus harian pagi pk. 7 di sebuah gereja katedral Katolik yang terletak di sudut Jalan Federal dan Jalan Wyndham, Auckland CBD, Selandia Baru. Katedral Auckland merupakan gereja induk bagi Keuskupan Auckland dan katedral atau takhta bagi Uskup Auckland.

Katedral Santo Patrick atau Santo Yosef (St Patrick’s Cathedral) dirancang oleh arsitek Edward dan Thomas Mahoney, bergaya Neo-Gotik.

Pada tahun 1841, tanah tersebut dibeli oleh Uskup Mgr. Jean Baptiste Pompallier, uskup Katolik pertama di Selandia Baru. Sebuah kapel kayu dibangun pada tahun 1842, digantikan oleh gereja batu pada tahun 1848, yang diperluas pada tahun 1884, dan akhirnya dibangun ulang menjadi katedral saat ini pada 23 Februari 1908. Gereja ditetapkan sebagai katedral pada 6 September 1984, dan ditahbiskan pada 1 September 1963. Dirancang oleh arsitek Edward dan Thomas Mahoney, bergaya Neo-Gotik, saat ini dipimpin oleh Uskup Mgr. Stephen Marmion Lowe.

Patung Santo Yosef pelindung para pekerja di dalam Katedral Santo Patrick atau Santo Yosef (St Patrick’s Cathedral) Auckland.

Suasana di dasar Sky Tower Auckland

Setelah mengikuti misa kudus harian pagi itu, lanjut kami menyusuri jalanan di Auckland yang merupakan kota metropolitan terbesar di Selandia Baru dengan penduduknya berjumlah 1.354.900 jiwa. Auckland yang dalam bahasa Māori disebut Tamaki Makau Rau, terletak di Pulau Utara, Selandia baru. Penghuni awal dari kota ini adalah pelaut Māori, mereka datang sekitar tahun 1350, kemudian disusul oleh orang-orang dari kepulauan Polinesia. Mereka membangun desa-desa di sekitar gunung berapi yang memiliki tanah yang subur. Penduduk Māori di daerah tersebut diperkirakan mencapai sekitar 20.000 orang sebelum kedatangan orang Eropa. Peperangan antar suku inilah yang menyebabkan wilayah ini memiliki jumlah penduduk Māori yang relatif rendah ketika orang Eropa datang dan mendirikan pemukiman di wilayah ini.

Lambang kemajuan teknologi bangunan berstruktur tinggi Sky Tower di Auckland.

Pada 27 Januari 1832, Joseph Brooks Weller, anak tertua dari Weller bersaudara, dari Otago dan Sydney membeli tanah yang sekarang menjadi situs modern kota Auckland dari “Cohi Rangatira”. Setelah penandatanganan Perjanjian Waitangi pada bulan Februari 1840, Gubernur pertama Selandia Baru, Kapten William Hobson, memilih daerah ini sebagai ibu kota baru, dan mengambil nama “Auckland” sebagai penghormatan kepada pelindung dan mantan komandannya George Eden, Earl of Auckland, yang pada saat itu menjadi Viceroy of India. Tanah tempat Auckland didirikan merupakan hadiah kepada Gubernur tersebut oleh suku lokal Māori Ngati Whatua, sebagai tanda goodwill dan dengan harapan bahwa pembangunan kota akan menarik peluang dagang dan politik untuk suku tersebut. Auckland secara resmi dinyatakan sebagai ibu kota Selandia Baru pada tahun 1841, tetapi pada tahun 1865, ibu kota Selandia Baru dipindahkan ke Wellington.

Sky Tower Auckland adalah gedung tertinggi di Belahan Bumi Selatan.

Kami mencapai Sky Tower, sebauh menara dengan ketinggian lebih dari 1000 kaki (305 meter), Sky Tower Auckland adalah gedung tertinggi di Belahan Bumi Selatan, dan merupakan bagian ikonik dari cakrawala Auckland. Kami tidak naik ke puncak untuk menikmati pemandangan panorama kota yang tak tertandingi, di mana kita sebenarnya dapat melihat pelabuhan Auckland dan pegunungan yang telah kami kunjungi hari sebelumnya di kejauhan. Dari Sky Tower di Victoria Street West, Auckland Central, kami berjalan cepat melawan dinginnya angin yang berhembus pada suhu 16 derajat dan pendakian menanjak untuk kembali ke hotel, karena kami harus bersiap check out.

Melawan dinginnya angin Auckland, yang berhembus pada suhu 16 derajat dan pendakian menanjak untuk kembali ke hotel.

Nasi goreng sapi menu China sebagai makan siang porsi besar setelah check out hotel

Kami menikmati makan siang menu China di depan Kiwi International Hotel, serta membungkusnya karena posri terlalu banyak. Kami sudah ditunggu Mr Abara, orang Ethiopia yang mengantar kami dari Bandara Auckland saat datang, menggunakan Toyot Highlinder. Siang itu datang menggunakan Toyota Camry Hybrid untuk mengantar kembali ke Bandara Auckland dengan tarif NZD80.

Diantar Mr. Abrar orang Ethiopia naik taxi Toyota Camry Hybrid KDJ258 ke Bandara Auckland

Jetstar Airways jenis Airbus A 320 siap terbang ke Wellington

Mendarat dengan selamat dan siap mengelilingi Wellington di Selandia Baru

Selamat datang di Wellington ibu kota Selandia Baru

Kami naik  Jetstar Airways Airbus A 320 yang terlambat terbang 1 jam dan baru mendarat menjelang malam hari. Penerbangan selama 1 jam 5 menit sejauh 292 mil di Wellington Intl. Setelah mendrat di Wellington, kami dijemput oleh sopir temannya Mr. Abrar sesame orang Ethiopia dengan pembayaran tunai NZD 75 untuk mencapai Hotel Waterloo & Backpackers, 1 Bunny Street Pipitea, Wellington Central, New Zealand, 6011

Gerbang Hotel Waterloo & Backpackers, 1 Bunny Street Pipitea, di pusat kota Wellington yang menghadap laut.

Kamis, 28 Mei 2026 kami tidur pulas di kamar 308 Hotel Waterloo & Backpackers, 1 Bunny Street Pipitea, di pusat kota Wellington, Selandia baru

(bersambung)

Menikmati udara Wellington Central, New Zealand, dalam suhu 8 derajat.

Jumat, 29 Mei 2026 kami terbangun di kamar 308 Hotel Waterloo & Backpackers, 1 Bunny Street Pipitea, Wellington Central, New Zealand, dalam suhu 8 derajat. Nama hotel tersebut mengingatkan kami akan Pertempuran Waterloo yang terjadi pada tanggal 18 Juni 1815 di dekat kota Waterloo sekitar 15 km selatan ibu kota Belgia, Brussel (yang saat itu berada dalam wilayah Kerajaan Bersatu Belanda), dan merupakan pertempuran terakhir Napoleon. Kekalahan pasukan Prancis melawan pasukan Inggris dan koalisinya, di bawah pimpinan Arthur Wellesley, Pangeran Wellington ke-1 ini menjadi penutup sejarahnya sebagai Kaisar Prancis. Pertempuran ini juga dicatat dalam sejarah sebagai penutup dari seratus hari terakhir Napoleon sejak pelariannya dari pulau Elba, saat masa pengasingan pertamanya. Akhirnya Napoleon menjadi tawanan perang Inggris dan ditahan di Pulau St. Helena di Samudra Atlantik hingga meninggalnya pada 5 Mei 1821.

Menikmati udara pagi Wellington dalam suhu 8 derajat untuk ikut misa kudus harian pagi.

Wellington merupakan ibu kota negara Selandia Baru dan kota ini merupakan daerah urban kedua terbesar di Selandia Baru, serta merupakan ibu kota nasional terpadat di Oseania. Penduduknya berjumlah 389.700 jiwa. Wellington berada di ujung barat daya Pulau Utara di antara Selat Cook dan Rimutaka Range. Daerah perkotaan Wellington merupakan pusat populasi utama dari wilayah di selatan Pulau Utara. Kota ini diberi nama Wellington sebagai penghormatan pada Arthur Wellesley, Pangeran Wellington serta pemenang pada Pertempuran Waterloo. Gelar pangeran datang dari kota Wellington di County Somerset di Inggris.

Gereja Katedral Metropolitan Hati Kudus dan Santa Maria Bunda-Nya lebih dikenal sebagai “Katedral Hati Kudus” di Wellington

Altar utama Gereja Katedral Hati Kudus di Wellington

Pagi itu kami berjalan kaki mendaki bukit untuk mengikuti kisa kudus harian pagi di Gereja Katedral Metropolitan Hati Kudus dan Santa Maria Bunda-Nya (Metropolitan Cathedral of the Sacred Heart and St Mary his Mother) lebih dikenal sebagai “Katedral Hati Kudus” (Sacred Heart Cathedral), di Hill Street, Wellington. Gereja yang didirikan 1850 ini, awalnya dipimpin oleh Mgr. Philippe J. Viard, SM (1849-1872) saat ini takhta bagi Mgr. Paul. G Martin, SM Uskup Agung Wellington, dengan gaya arsitektur palladian dan ditetapkan sebagai katedral Wellington pada tahun 1984. Kami sempat berfoto bersama dengan pastor dari Tanzania setelah misa kudus.

Bersama seorang pastor misionaris dari Tanzania setelah misa kudus di Gereja Katedral Wellington.

Setelah selesai minguktui misa kudus harian pagi, kami segera bergegas menikmati kompleks pusat pemerintahan di ibukota negara ini. Selandia Baru adalah monarki konstitusional dengan demokrasi parlementer, meskipun konstitusinya tidaklah tertulis. Raja Inggris Charles III adalah kepala negara yang diberi gelar Raja Selandia Baru. Raja diwakili oleh gubernur jenderal, yang ditunjuk oleh raja atau ratu atas nasihat perdana menteri. Gubernur jenderal dapat menjalankan hak prerogatif mahkota (seperti meninjau kasus-kasus ketidakadilan, dan mengangkat Dewan Menteri (kabinet), duta besar, dan pejabat publik penting lainnya). Charles III Raja Inggris yang diwakili Gubernur Jenderal Ny. Dame Cindy Kiro dengan Chris Hipkins sebagai Perdana Menteri Selandia Baru sejak tahun 2023.

Perpustakaan Parlemen & Bowen House, sebuah bangunan tambahan dalam kompleks Parlemen Selandia Baru di Wellington.

Gedung Parlemen (Parliament House) yaitu gedung utama bergaya Neoklasik tempat sidang parlemen Selandia Baru.

The Beehive (Sayap Eksekutif) yang berbentuk sarang lebah adalah kantor Perdana Menteri dan Kabinet Selandia Baru. Saat ini Mr Chris Hipkins sebagai Perdana Menteri Selandia Baru sejak tahun 2023

Selandia Baru adalah negara demokrasi parlementer dan sebuah wilayah Persemakmuran Britania (Commonwealth Realm). Secara nasional, kekuasaan politik eksekutif dijalankan oleh kabinet, yang dikepalai oleh perdana menteri. Raja Inggris Charles III adalah kepala negara dan karena ketidakhadirannya, sang raja diwakili oleh gubernur jenderal. Pusat Pemerintahan Penting di Wellington berupa The Beehive (Sayap Eksekutif) yang selesai dibangun pada 1981, berbentuk sarang lebah yang unik, menampung kantor Perdana Menteri dan Kabinet. Gedung Parlemen (Parliament House), yaitu gedung utama bergaya Neoklasik tempat sidang parlemen berlangsung. Gedung Pemerintah (Government House), yaitu kediaman resmi Gubernur Jenderal Selandia Baru. Gedung Pemerintah Lama (Old Government Buildings), yaitu bangunan kayu terbesar di belahan bumi selatan, kini menjadi bagian dari Universitas Victoria. Yang terakhir adalah Perpustakaan Parlemen & Bowen House, sebuah bangunan tambahan dalam kompleks Parlemen. Hanya Gedung Pemerintah (Government House), yaitu kediaman resmi Gubernur Jenderal Selandia Baru yang tidak sempat kami datangi, karena lokasinya terpisah cukup jauh dari pusat kota.

Gedung Pemerintah Lama (Old Government Buildings), yaitu bangunan kayu terbesar di belahan bumi selatan, kini menjadi bagian dari Universitas Victoria di Wellington.

Gedung Parlemen Selandia Baru sebagai pusat pemerintahan dipilih oleh William Mein Smith dalam rencana Wellington tahun 1840. Setelah ibu kota Selandia Baru dipindahkan dari Auckland ke Wellington pada tahun 1865, Gedung Parlemen dibangun pada tahun 1873. Bangunan tertua yang masih ada di lokasi ini adalah Perpustakaan Parlemen, yang dirancang oleh Thomas Turnbull dengan gaya Gotik Victoria. Gedung Parlemen saat ini selesai dibangun pada tahun 1922 setelah gedung parlemen asli hancur terbakar pada tahun 1907. Sayap eksekutif parlemen dibangun berdasarkan konsep tahun 1964 oleh Sir Basil Spence, dijuluki ‘Sarang Lebah’ karena bentuknya, bangunan bundar setinggi sepuluh lantai di atas podium. Gedung Beehive secara resmi dibuka oleh Ratu Elizabeth II pada tanggal 28 Februari 1977.

Patung perunggu Richard Seddon, perdana menteri Selandia Baru yang paling lama menjabat.

Lahan yang ditata dengan indah mengelilingi gedung parlemen dan terbuka untuk umum. Lahan tersebut berisi beberapa patung termasuk patung perunggu Richard Seddon, perdana menteri Selandia Baru yang paling lama menjabat, di halaman depan utama.

Patung Pouwhenua yang dipahat oleh Ra Vincent di Wai-titi Landing, tempat pendaratan perahu kano (waka) bangsa Maori di Wellington.

Kami melihat 2 buah patung Pouwhenua yang dipahat oleh Ra Vincent di Wai-titi Landing. Pada zaman pra-Eropa, lokasi ini berada di garis pantai dan merupakan tempat pendaratan perahu kano (waka). Nama Wai-titi merujuk pada aliran kecil yang mengalir di antara Kumutoto Pā dan Pipitea Pā pada abad kesembilan belas. Semua bangunan tersebut berada di sekitar hotel kami, termasuk Stasiun Kereta Api Wellington (Wellington Central) adalah stasiun kereta api utama yang merupakan terminus selatan dari Jalur Utama Pulau Utara.

Gerbang Stasiun Kereta Api Wellington (Wellington Central) yang berdiri gagah.

Gedung Stasiun Wellington di atas 1.500 tiang pancang yang diletakkan pada tanggal 17 Desember 1934, sangat luas, kokoh dan terawat baik

Stasiun ini dibuka pada Juni 1937, menggantikan dua stasiun terminus Wellington sebelumnya, Lambton dan Thorndon. Karena lokasi yang direncanakan berada di lahan reklamasi, tiang pancang uji ditancapkan pada tahun 1928 sesuai kualitas tanah, digunakan tiang pancang Vibro yang dicor di tempat untuk menopang struktur. Bangunan ini merupakan struktur besar pertama di Selandia Baru yang menggabungkan tingkat ketahanan gempa yang signifikan, dengan 1.500 tiang pancang pada batu fondasi yang diletakkan pada tanggal 17 Desember 1934 oleh Duke of Gloucester. Ini adalah suatu peristiwa yang disaksikan oleh sekitar 5.000 orang dan akhirnya stasiun ini dibuka pada tanggal 19 Juni 1937 oleh Gubernur Jenderal Selandia Baru, Viscount Galway.

Patung Mahatma Gandhi karya pematung asal India, Gautam Pal di halaman Stasiun Wellington

Kereta Api ke Auckland di Stasiun Wellington

Di halaman Stasiun Wellington terdapat patung Mahatma Gandhi yang diresmikan pada 2 Oktober 2007. Karya pematung asal India, Gautam Pal ini merupakan hadiah dari Pemerintah India untuk kota Wellington dan patung ini sengaja ditempatkan di halaman stasiun, karena Gandhi dikenal sebagai pejuang yang merakyat dan gemar bepergian menggunakan kereta api serta transportasi umum.

Makan siang berdua di RM Malaysia di Lambton Quay, pusat kota Wellington

Kami berdua makan siang menu sate ayam seharga NZD 19 dan nasi Hainan dengan ayam dengan telor dadar seharga NZD 25 di sebuah RM Malaysia di Lambton Quay, pusat kota Wellington. Lanjut menikmati keindahan, ketenagan dan kerapian ibu kota Selandia Baru yang luar biasa. Selandia Baru termasuk dalam negara maju dengan tingkat pertumbuhan ekonomi menyaingi Eropa Selatan dalam beberapa hal, Selandia Baru termasuk dalam salah satu negara terbaik misalnya pada Indeks Pembangunan Manusia yang menempatkan Selandia Baru pada urutan ketiga. Ekspor merupakan andalan utama perekonomian negara ini sehingga dampak perekonomian dunia akan berpengaruh langsung pada kondisi ekonomi negara ini.

Mencari gerbang Kereta Gantung merah Wellington (Cable Car Lane) di antara deretan gedung tinggi

Gerbong pertama Kereta Gantung merah Wellington (Cable Car) yang akan kami naiki

Rel yang di tengahnya ada kabel penarik Kereta Gantung merah Wellington (Cable Car)

Kami lanjut menikmati Kereta Gantung merah Wellington yang ikonis dan bersejarah, untuk melihat pemandangan kota dan pelabuhan pada hari cerah. Kereta Gantung Wellington atau Cable Car Wellington Adalah sebuah kereta funikuler akan membawa kami dari pusat kota melalui terowongan bersejarah dan melintasi tiga jembatan hingga ke puncak bukit di sekitarnya. Banyak wisatawan yang menikmati makan siang di dek Cabletop Eatery yang cerah, yang menyajikan makanan lezat di salah satu titik pandang terbaik di Wellington.

Stasiun tertinggi Kereta Gantung merah Wellington (Cable Car)

Pemandangan kota dan pelabuhan Wellington dengan Selat Cook dari puncak tertinggi Kereta Gantung merah Wellington

Kebun Raya (Botanical Garden) di sekitar stasiun tertinggi Kereta Gantung merah Wellington

Di puncak tersebut kami menikmati Wellington Botanic Garden. Banyak wosatawan yang menggunakan jalur jalan kaki di lereng bukit, termasuk jalur berjalan kaki 40 menit untuk kembali ke pusat kota melalui Bolton Street Cemetery yang bersejarah dan Beehive.

Observatorium Carter di Kebun Raya (Botanical Garden) Wellington

Space Place di Kebun Raya (Botanical Garden) Wellington

Wellington Botanic Garden meliputi lahan seluas 25 hektar (62 acre) di sebuah lembah antara Thorndon dan Kelburn, dengan Jalan Glenmore sebagai batas di sepanjang dasar lembah. Salah satu titik aksesnya adalah dari puncak Kereta Gantung Wellington. Taman ini didirikan di pada tahun 1868,diperluas pada tahun 1871, dan memiliki koleksi hutan asli yang dilindungi, pohon konifer, koleksi tanaman, pajangan musiman, dan taman mawar yang luas . Patung-patung besar tersebar di seluruh taman. Di bagian tenggara Kebun Raya dekat stasiun kereta gantung dan museum terdapat beberapa observatorium. Observatorium Carter (juga dikenal sebagai Space Place) dimiliki dan dikelola oleh Dewan Kota Wellington.

Gerbang Museum Wellington yang dilengkapi jangkar kapal

Museum Wellington (dahulu bernama Museum Maritim dan Museum Kota & Laut ) yang terletak di Queens Wharf

Selanjutnya kami mengunjungi Museum Wellington (dahulu bernama Museum Maritim dan Museum Kota & Laut ) yang terletak di Queens Wharf, tidak jauh dari Stasiun Kereta Kabel Wellington. Museum ini menempati Bond Store tahun 1892, sebuah bangunan bersejarah di Jervois Quay di tepi laut Pelabuhan Wellington. Pada tahun 2013, museum ini terpilih oleh The Times sebagai salah satu dari 50 museum terbaik di dunia. Museum ini berawal pada tahun 1972 sebagai Museum Maritim Wellington dari Dewan Pelabuhan Wellington.

Wellington Waterfornt (areal pelabuhan Wellington) untuk menganang R. Lloyd.

Persewaan helikopter untuk melihat pemandangan kota di Wellington Waterfornt (areal pelabuhan Wellington)

Selanjutnya kami berjalan kaki laki menikmati Wellington Waterfornt, atau areal pelabuhan Wellington. Di situ kami menganang R. Lloyd, seorang pekerja pelabuhan Wellington, yang tewas saat bekerja pada September 1913 ketika, “sebuah derek jatuh menimpanya; tidak ada yang bisa disalahkan”. Pada tahun-tahun booming sebelum Perang Dunia I, pelabuhan Wellington adalah yang tersibuk di negara itu. Seribu enam ratus pekerja pelabuhan bekerja keras untuk memuat mentega, wol, daging, dan rami untuk ekspor secara manual ke dalam tali pengangkat yang berat, yang kemudian diangkat ke atas kapal dengan derek hidrolik.

Wellington Waterfornt (areal pelabuhan Wellington) untuk menganang pendaratan tentara.

Area tepi laut yang kami datangi ini merupakan lokasi keberangkatan pasukan untuk Perang Boer di Afrika Selatan, kedatangan marinir AS dalam Perang Dunia II, dan perselisihan serikat pekerja dan manajemen tepi laut yang terkenal pada tahun 1951.

Dermaga Bluebridge Cook Strait Ferries yang ramai penumpang

Rencana kami berjalan kaki mengunjungi Museum Te Papa Tongarewa di Wellington, tepatnya di 55 Cable Street, Te Aro, Wellington kami batalkan, karena kedua betis kami sudah kaku dan kedua pipi kami membeku. Kami putuskan untuk berlawanan arah, kembali ke hotel sambil melihat dermaga Bluebridge Cook Strait Ferries, yang melayani jalur Wellington di Pulau Utara ke Picton di Pulau Selatan. Jim Barker pendiri Strait Shipping memperkenalkan layanan pengiriman baru ke Selat Cook pada tahun 1992, dimulai dengan kapal MV Straitsman dari Tasmania. Selanjutnya feri Bluebridge semakin modern dan merupakan salah satu penyeberangan feri paling indah di dunia.

Setelah lelah menjelajah Wellington, kami segera kembali ke hotel untuk persiapan pulang ke Indonesia.

(selesai)

Ditulis di kamar 308 Hotel Waterloo & Backpackers, 1 Bunny Street Pipitea, di pusat kota Wellington, Selandia baru

Categories
anak Healthy Life resisten obat tuberkulosis

2026 Alat Baru Diagnosis TB

ALAT  BARU  DIAGNOSIS  TUBERKULOSIS

fx. wikan indrarto

Selasa, 24 Maret 2026 WHO merekomendasikan alat diagnostik baru untuk membantu mengakhiri  tuberculosis (TB). Rekomendasi ini dikeluarkan untuk mendukung perluasan akses ke layanan penyelamatan jiwa, dengan penggunaan alat tes diagnostik baru, yang dapat digunakan di dekat tempat tinggal pasien untuk mendeteksi penyakit lebih cepat, sehingga menjangkau lebih banyak orang.

Tulisan ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 19 April 2026, Halaman 8, kolom HUSADA.

Pedoman WHO 2026 terbaru tentang diagnosis TB merekomendasikan 3 hal. Pertama, penggunaan tes amplifikasi asam nukleat di dekat titik perawatan (near-point-of-care nucleic acid amplification tests atau NPOC-NAAT) untuk deteksi awal TB tanpa resistensi rifampisin di tingkat terluar sistem kesehatan (yaitu laboratorium perifer, fasilitas kesehatan primer, dan komunitas) dan dengan biaya yang lebih rendah, dibandingkan dengan jenis tes dan instrumen molekuler lainnya. Kedua, usap atau swab lidah untuk pengambilan spesimen yang tentu lebih mudah didapat, untuk digunakan dengan NPOC-NAAT dan NAAT otomatis (low-complexity automated atau LC-aNAAT) untuk deteksi awal TB dengan dan tanpa resistensi rifampisin, pada orang dewasa dan remaja yang tidak dapat mengeluarkan dahak. Dan ketiga, penggabungan pemeriksaan dahak dari beberapa pasien sebagai strategi diagnostik untuk deteksi awal TB dan resistensi rifampisin, menggunakan LC-aNAAT dengan potensi untuk meningkatkan waktu penyelesaian dan biaya, pada saat sumber daya terbatas.

Pedoman baru tentang usap lidah untuk tes diagnosis TB, menandai langkah lain menuju deteksi dan pengobatan yang lebih cepat, dari salah satu penyakit menular paling mematikan di dunia. Alat tes portabel dan mudah digunakan ini membuat diagnosis TB lebih dekat ke tempat setiap orang secara rutin mencari layanan kesehatan. Apalagi dengan harga kurang dari setengah biaya banyak diagnostik molekuler yang ada, tes ini dapat membantu banyak negara memperluas akses ke pengujian laboratorium. Alat diagnostik ini dapat beroperasi dengan daya baterai dan memberikan hasil dalam waktu kurang dari satu jam, memungkinkan pasien untuk memulai pengobatan lebih cepat.

“Alat baru ini benar-benar dapat mengubah penanganan TB, dengan mendekatkan diagnosis yang cepat dan akurat kepada masyarakat, menyelamatkan nyawa, menekan penularan, dan mengurangi biaya,” kata Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO. “WHO menyerukan kepada semua negara untuk meningkatkan akses terhadap alat ini dan alat-alat lainnya, sehingga setiap orang yang menderita TB dapat dijangkau dan diobati dengan segera.”

Selain untuk TB, alat ini berpotensi untuk mampu mendiagosis penyakit lain seperti HIV, Cacar Monyet (mpox), dan HPV, sehingga diagnostik penyakit tersebut menjadi lebih berpusat pada pasien, adil, dan selaras dengan layanan satu atap untuk penyakit yang muncul dan beredar.

Pedoman WHO yang baru ini juga merekomendasikan pengambilan sampel usap lidah yang mudah, serta strategi pengumpulan dahak yang hemat biaya untuk meningkatkan efisiensi pengujian TB dan TB resisten rifampisin. Usap lidah memungkinkan orang dewasa dan remaja yang tidak dapat mengeluarkan dahak untuk menjalani pengujian TB pertama kalinya, memungkinkan deteksi penyakit di antara orang-orang yang berisiko tinggi meninggal karena TB. Penggabungan sampel dahak, di mana sampel dari beberapa individu digabungkan dan diuji bersama, dapat secara signifikan mengurangi biaya komoditas dan waktu operasional mesin, sehingga menghasilkan hasil yang lebih cepat bagi masyarakat dan program TB, sebuah pendekatan yang secara khusus direkomendasikan ketika sumber daya sangat terbatas.

TB tetap menjadi salah satu penyakit menular paling mematikan di dunia. Setiap hari, lebih dari 3.300 orang meninggal karena TB dan lebih dari 29.000 orang jatuh sakit karena penyakit yang dapat dicegah dan disembuhkan ini. Upaya global untuk memerangi TB telah menyelamatkan sekitar 83 juta jiwa sejak tahun 2000, namun pemotongan pendanaan kesehatan global sangat mengancam, bahkan dapat membalikkan, kemajuan ini. Penggunaan alat diagnostik cepat telah menjadi tantangan di banyak negara, sebagian karena biaya yang tinggi dan ketergantungan pada media transportasi sampel, untuk dilakukan pengujian di laboratorium yang terpusat di kota.

Peningkatan skala solusi yang telah terbukti, termasuk 3 rekomendasi WHO terbaru di atas, dapat digunakan untuk menutup kesenjangan diagnostik di semua tingkatan sistem layanan kesehatan. Upaya tersebut dapat membantu mencapai target global untuk akses universal terhadap pengujian TB dan resistensi obat, mengurangi keterlambatan dalam memulai pengobatan, dan mencegah penularan lebih luas.

Apakah kita sudah bijak?

Sekian

Yogyakarta, 27 Maret 2026

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM.

Categories
anak antibiotika dokter Healthy Life UHC

2026 Hari Kesehatan Dunia

HARI  KESEHATAN  DUNIA 2026

fx. wikan indrarto

Hari Kesehatan Dunia diperingati setiap 7 April untuk menandai berdirinya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 7 April 1948. Pertama kali diperingati tahun 1950, hari istimewa ini bertujuan menyoroti isu kesehatan global utama seperti kesehatan mental, ibu-anak, dan perubahan iklim, serta mendorong kesadaran masyarakat. Apa yang menarik?

Tulisan ini dimuat di Harian Jawa Pos Surabaya pada Rabu, 8 April 2026 dengan judul : Peran Sains dalam Kesehatan Terpadu

Hari Kesehatan Dunia yang diperingati Selasa, 7 April 2026 menyerukan kepada semua orang di seluruh dunia untuk mengandalkan ilmu pengetahuan (sains). Dengan tema “Bersama untuk kesehatan. Berdiri bersama sains” (Together for health. Stand with science) peringatan tahun 2026 ini meluncurkan kampanye selama setahun, untuk mendorong kolaborasi ilmiah dalam melindungi kesehatan manusia, hewan, tumbuhan, dan planet ini. Kampanye ini menyoroti pencapaian ilmiah dan kerja sama multilateral, yang dibutuhkan untuk mengubah bukti menjadi tindakan, melalui pendekatan ‘One Health’ atau kesehatan terpadu.

Kampanye ini mengajak semua orang di mana pun untuk berpartisipasi merayakan pencapaian ilmiah, terlibat dengan bukti, berbagi kisah pribadi tentang bagaimana sains meningkatkan kehidupan, dan bergabung dalam percakapan global melalui tagar #StandWithScience.

Tujuan kampanye ini menyerukan kepada pemerintah, ilmuwan, dokter, tenaga kesehatan, mitra, dan masyarakat untuk pertama, berdiri bersama sains dengan terlibat dengan bukti, fakta, dan panduan berbasis sains untuk melindungi kesehatan. Kedua, membangun kembali kepercayaan pada sains dan kesehatan masyarakat; dan ketiga, mendukung solusi berbasis sains untuk masa depan yang lebih sehat, melalui pendekatan ‘One Health’.

Konsep “One Health” umumnya dikaitkan dengan karya Calvin Schwabe dari Universitas California, Davis USA sejak tahun 1960-an. Pendekatan ‘One Health’ adalah metode terpadu yang menyatukan kesehatan manusia, hewan, dan ekosistem secara berkelanjutan untuk mencegah penyakit, khususnya zoonosis (penyakit yang menular dari hewan ke manusia). Ini melibatkan kolaborasi berbagai sektor untuk mengoptimalkan keseimbangan kesehatan ketiga komponen tersebut.

Fokus ‘One Health’ adalah pencegahan, deteksi, dan pengendalian penyakit zoonosis. Sains memainkan peran penting dalam deteksi patogen, surveilans epidemiologi, penelitian vaksin, dan studi molekuler pada manusia maupun hewan. Kolaborasi multisektoral dalam ‘One Health’ melibatkan dokter, ahli kesehatan masyarakat, dokter hewan, ahli ekologi, dan pihak lain terkait. Pentingnya menyertakan lingkungan pada pendekatan ‘One Health’ adalah menekankan bahwa kesehatan manusia dan hewan, sangat bergantung pada kesehatan ekosistem. Pendekatan ini krusial untuk mengatasi ancaman kesehatan yang kompleks pada interaksi antara manusia, hewan, dan lingkungan.

Peran sains krusial dalam ‘One Health’. Pertama, penyedia bukti dan teknologi deteksi zoonosis dan kekebalan antimikroba (AMR), terutama ilmu pengetahuan di bidang kedokteran hewan dan mikrobiologi, berperan penting dalam mendeteksi virus, memantau spillover (perpindahan) patogen dari hewan ke manusia, serta menganalisis resistensi antibiotik pada ekosistem yang berbeda. Kedua, dalam intervensi lingkungan dan sosial ekologis, karena sains membantu merancang intervensi yang disesuaikan dengan konteks sosial-ekologis, seperti pengelolaan hama terpadu untuk keamanan pangan dan perlindungan lingkungan.

Ketiga, kolaborasi lintas disiplin dengan menyatukan para ahli dari berbagai bidang, termasuk dokter, dokter hewan, ahli ekologi, antropolog, dan ilmuwan sosial, untuk memecahkan masalah sistemik yang kompleks. Keempat, jembatan antara sains dan kebijakan dimungkinkan karena platform ilmiah menyediakan data yang valid bagi pembuat kebijakan kesehatan, untuk mengambil keputusan cepat dan tepat, terutama dalam manajemen pandemi.

Peran ini memastikan bahwa pendekatan ‘One Health’ tidak hanya berbasis teori, tetapi didukung oleh bukti ilmiah yang kuat untuk menciptakan kesehatan global yang berkelanjutan. Selain itu, sains berperan krusial dalam kedokteran sebagai fondasi pengembangan metode diagnostik, pengobatan, dan pencegahan penyakit melalui pendekatan biologi, kimia, dan fisika medik. Ini mencakup inovasi teknologi seperti alat pencitraan medis, penemuan obat baru, vaksin, teknologi AI/data science untuk deteksi dini, hingga robotika bedah.

Data science dan AI memungkinkan analisis data medis (rekam medis, pemeriksaan pencitraan maupun laboratorium klinik) untuk diagnosis yang lebih akurat dan personalisasi pengobatan (precision medicine). selain itu, sains juga berperan dalam pengembangan obat dan vaksin. Ilmu kimia dan biologi medik berperan dalam meneliti serta menciptakan terapi baru yang efektif, termasuk penanganan penyakit kronis, kanker, dan virus baru, seperti COVID-19.

Teknologi medis hasil sains mutakhir juga sangat bermanfaat, terutama dalam penggunaan fisika medik dan robotika membuat prosedur bedah menjadi kurang invasif, lebih aman, nyaman dan efisien. Sains juga berperan dalam proses pencegahan dan manajemen kesehatan melalui analisis data epidemiologi untuk memahami penyebaran penyakit dan memanfaatkan perangkat yang tersedia (wearable devices) untuk deteksi dini pasien secara real-time. Bahkan sains juga berperan pada efisiensi layanan kesehatan, karena sains dapat mengolah data dan mengoptimalkan operasional rumah sakit, mulai dari manajemen logistik obat hingga meminimalkan kesalahan diagnosis.

Momentum Hari Kesehatan Dunia 2026 mengingatkan semua orang di seluruh dunia untuk mengandalkan ilmu pengetahuan (sains). Sains mampu mengubah pendekatan kesehatan dari sekadar pengobatan menjadi pencegahan yang proaktif, serta meningkatkan kualitas hidup pasien melalui inovasi berkelanjutan.

Apakah kita sudah bijak?

Sekian

Yogyakarta, 25 Maret 2026

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM.

Categories
anak dokter Healthy Life resisten obat

2026 Ada Kusta di Antara Kita

ADA  KUSTA DI  ANTARA  KITA

fx. wikan indrarto*)

Tema Hari Kusta Dunia (World Leprosy Day) Minggu, 25 januari 2026 adalah “Kusta dapat disembuhkan, tantangan sebenarnya adalah stigma”. Tema ini merupakan seruan untuk bertindak yang bertujuan meningkatkan kesadaran tentang kusta, menyoroti tantangan yang dihadapi oleh penderita kusta, dan menginspirasi tindakan kolaboratif untuk memberantas kusta. Apa yang harus dilakukan?

Tulisan ini telah dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 22 Februari 2026, halaman 8, kolom Husada

Kusta atau lepra adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium leprae. Kusta tercatat dalam peradaban kuno di Cina, Mesir dan India. Penyebutan kusta secara tertulis pertama dikenal pada 600 SM dan sejak itu penderita kusta sering dikucilkan oleh masyarakat dan keluarga mereka. Bakteri M. leprae sebagai penyebab kusta ditemukan oleh Dr. GA. Hansen pada tahun 1873 dan merupakan bakteri pertama yang dikenali sebagai penyebab penyakit infeksi pada manusia.

Dalam sebuah negara atau daerah endemik, seseorang harus dicurigai kusta jika menunjukkan satu dari tanda utama atau kardinal sebagai berikut, (1) lesi kulit berwarna putih atau leukoderma yang disertai dengan kehilangan sensorik atau anestesi yang pasti, dengan atau tanpa penebalan saraf dan (2) pemeriksaan apusan kulit positif bakteri kusta. Lesi kulit dapat bersifat tunggal atau ganda, biasanya kurang berpigmen dari kulit normal di sekitarnya, sehingga terlihat lebih putih. Gangguan sensorik atau anestesi adalah gambaran khas kusta, berupa hilangnya sensasi untuk sentuhan ringan. Saraf yang menebal, terutama batang saraf perifer, merupakan gambaran khas kusta yang lain. Penebalan saraf sering disertai dengan tanda hilangnya sensasi di kulit dan kelemahan otot yang diatur oleh saraf yang terkena. Apusan kulit positif berarti ditemukan bakteri berbentuk batang, bernoda merah dapat dilihat pada sediaan yang diambil dari kulit yang terkena, ketika diperiksa di bawah mikroskop dengan pewarnaan yang sesuai.

Terobosan terapi pertama terjadi pada tahun 1940-an dengan pengembangan dapson, obat kusta pertama. Namun durasi pengobatan dengan dapson itu bertahun-tahun dan bahkan seumur hidup, sehingga sulit bagi pasien untuk mematuhinya. Pada tahun 1960, bakteri M. leprae mulai menjadi resistensi terhadap dapson, yang dikenal sebagai obat anti-kusta satu-satunya di dunia pada saat itu. Pada awal 1960-an, ditemukan obat kusta lainnya, yaitu rifampisin dan clofazimine. Sejak tahun 1981, WHO merekomendasikan MDT yang terdiri dari 3 obat: dapson, rifampisin dan clofazimine, dan kombinasi obat ini mampu mematikan bakteri patogen dan menyembuhkan pasien.

Pada tahun 1991 Majelis Kesehatan Dunia mengeluarkan resolusi untuk menghilangkan kusta pada tahun 2000. Penghapusan kusta didefinisikan sebagai tingkat prevalensi kurang dari 1 kasus per 10.000 orang. Target itu dicapai dengan penggunaan MDT, yang mampu mengurangi beban penyakit secara dramatis. Selama 20 tahun terakhir, lebih dari 14 juta penderita kusta telah sembuh, sekitar 4 juta dari mereka sembuh sejak tahun 2000. Tingkat prevalensi penyakit telah turun 90%, dari 21,1 per 10.000 orang menjadi kurang dari 1 per 10.000 orang pada tahun 2000. Kusta telah mampu dieliminasi di 119 dari 122 negara di mana penyakit ini dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat pada tahun 1985.

Stigma kusta secara konsisten diangkat oleh penderita kusta sebagai salah satu tantangan terbesar mereka. Stigma memengaruhi kehidupan penderita kusata sehari-hari, sebab dapat menyebabkan kehilangan pekerjaan, terpaksa meninggalkan rumah mereka, alasan dijauhkan dari keluarga dan kehidupan komunitas, dan bahkan dapat menjadi penolakan anak untuk bersekolah.

Stigma yang menyakitkan bagi yang terkena kusta sebenarnya ‘terjadi bukan karena orang jahat, tetapi karena mereka tidak mengerti.’ Stigma ada karena terlalu banyak orang percaya bahwa kusta sangat menular, bahwa tidak ada obatnya, bahwa itu disebabkan oleh dosa atau kutukan. Kesalahpahaman ini mewarnai cara orang diperlakukan ketika mereka didiagnosis menderita penyakit ini. Tergantung pada tingkat stigma dalam keluarga atau komunitas, namun demikian stigma ini dapat sangat menghancurkan kehidupan penderitanya.

Kusta dapat disembuhkan dengan pengobatan antibiotik yang sederhana dan gratis. Jika pengobatan itu dilakukan sejak dini, diharapkan tidak akan ada komplikasi bagi pasien tersebut. Selian itu, kita juga akan mampu mengurangi penularan kusta, meskipun stigma sering kali masih juga menghalangi pencapaian itu. Banyak orang masih menganggap stigma yang ditimbulkan oleh kusta, sehingga banyak penderita kusta memilih untuk menyembunyikan gejalanya, berdoa agar tidak ada yang menyadari sehingga mereka tidak harus menghadapi diskriminasi ini. Ketakutan penderita kusta seperti ini, sebenarnya justru akan mencegah mereka untuk berobat, yang menyebabkan komplikasi jangka panjang. Tentu saja, juga menimbulkan penularan kusta yang berkelanjutan.

Indonesia masih menempati peringkat ketiga beban kusta tertinggi di dunia, dengan lebih dari 400 kabupaten/kota masih mencatat penularan hingga akhir 2025. Kasus baru kusta ditemukan lebih dari 10.000 per tahun, termasuk pada anak, dengan Papua dan wilayah Timur lainnya sebagai salah satu fokus utama. Pemerintah menargetkan eliminasi di 11 kabupaten/kota pada 2025, menuju ‘zero leprosy’ pada 2030.

Momentum Hari Kusta Sedunia (World Leprosy Day) Minggu, 25 Januari 2026 mengingatkan kita tentang target nol infeksi pada anak dan mengurangi stigma, meskipun ternyata masih ada kusta di antara kita. Sudahkah kita bertindak?

Sekian

Yogyakarta, 24 Januari 2026

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM.

Categories
dokter medicolegal politik

2026 Perlindungan Hukum bagi Dokter

PERLINDUNGAN  HUKUM  BAGI  DOKTER

fx. wikan indrarto*)

Ditreskrimsus Polda Bangka Belitung melimpahkan berkas perkara serta tersangka seorang dokter spesialis anak  di  RSUD Depati Hamzah, ke Kejaksaan Tinggi Bangka Belitung, Kamis (20/11/2025). Pelimpahan kasus dilakukan kepolisian setelah berkas perkara terkait kasus tindak pidana kesehatan dinyatakan lengkap atau P21. Profesi dokter cukup sering menghadapi sengketa hukum. Ada berbagai penyebab, tetapi salah satu yang utama adalah karena perlindungan hukum atas profesi dokter tidaklah rinci. Apa yang sebaiknya dilakukan?

Tulisan ini telah dimuat di tribunnews.com :

https://www.tribunnews.com/tribunners/7777988/ketika-dokter-berhadapan-dengan-hukum-di-mana-perlindungan-profesi-dalam-uu-kesehatan-baru

Status tersangka ini ditetapkan setelah terbitnya rekomendasi dari Majelis Disiplin Profesi (MDP). Peran MPD untuk dokter adalah menegakkan disiplin profesi, mengawasi etika, dan memberikan sanksi atas dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh dokter dan tenaga kesehatan lainnya. MDP bertugas menerima dan memverifikasi pengaduan, melakukan investigasi, menyelenggarakan sidang disiplin, serta memberikan rekomendasi tindakan terhadap pelanggaran tersebut.

Pada era sebelumnya, Majelis Kehormatan Disiplin Profesi Kedokteran Indonesia (MKDKI) yang menangani masalah ini. Sedangkan MDP merupakan lembaga baru yang dibentuk berdasarkan UU No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Perbedaan utama adalah kewenangan MDP yang kini dapat memberikan rekomendasi untuk proses hukum pidana maupun perdata.

MDP telah mengeluarkan keputusan yang menyatakan bahwa dokter tersebut telah melanggar standar profesi sebagai dokter spesialis anak. Alasannya adalah dokter tersebut tidak pernah bertemu dan memeriksa langsung kondisi pasien. Perannya sebatas memberi arahan medis sesuai prosedur konsultasi spesialis. Kemudian rekomendasi itu berlanjut menjadi penetapan tersangka oleh Polda Bangka Belitung. Meskipun dokter tersebut telah mengajukan uji materi UU No.17/2023 tentang Kesehatan terutama Pasal 307 yang berkorelasi dengan kewenangan MDP atas keputusan yang merugikan dirinya, tetapi Mahkamah Konstitusi (MK) belum memberikan keputusan yang bersifat final dan mengikat, agar profesi dokter mendapat perlindungan hukum yang lebih rinci.

Michel Daniel Mangkey dalam ejournal Unsrat Vol. II/No. 8/Sep-Nov/2014, menjelaskan tentang ‘Lex et Societatis’. Dokter yang telah melaksanakan tugas sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional, berhak mendapatkan perlindungan hukum. Terdapat beberapa hal yang menjadi alasan peniadaan hukuman terhadap dokter, yaitu : resiko pengobatan, kecelakaan medik, tanpa unsur kelalaian, aturan minor yang dapat diabaikan, kesalahan dalam penilaian (error of (in) judgment), Volenti non fit iniura atau asumsi atas risiko, dan Res Ipsa Loquitur. Namun demikian, pada praktiknya sebagian hal tersebut sangat sulit, rumit, dan menyita waktu, tenaga dan konsentrasi dokter dalam perumusannya.

Sebaliknya, perlindungan hukum untuk profesi notaris, jauh lebih jelas, nyata, dan rinci, sebagaimana dituliskan oleh Mariyantini pada ejournal Undip vol 4, no 1 tahun 2013. Perlindungan hukum terhadap notaris ketika terjadi sengketa di pengadilan, telah diatur pada Pasal 66 Undang-undang No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris. Dalam hal memberikan kesaksian, seorang notaris tidak dapat mengungkapkan akta yang dibuatnya, baik sebagian maupun keseluruhannya, untuk merahasiakan semua hal yang diberitahukan kepadanya, karena akta yang dibuat oleh atau di hadapan notaris, merupakan suatu alat bukti yang mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna. Notaris hanya merumuskan keterangan dan pernyataan yang diperolehnya dari para penghadap. Notaris tidak hanya berhak untuk bicara, tetapi mempunyai kewajiban untuk tidak bicara. Kewajiban tersebut mengesampingkan kewajiban umum yang tercantum dalam Pasal 1909 ayat (1) KUHPerdata, karena adanya hak ingkar dari profesi notaris, sebagai konsekuensi dari adanya kewajiban merahasiakan sesuatu yang diketahuinya.

Yurisprudensi Mahkamah Agung (MA) melalui Putusan MA No 702K/Sip/1973, menyatakan bahwa notaris fungsinya hanya mencatatkan atau menuliskan, apa yang dikehendaki dan dikemukakan oleh para pihak yang menghadap notaris tersebut. Tidak ada kewajiban bagi notaris untuk menyelidiki secara materil, terkait apa yang dikemukakan oleh penghadap di hadapan notaris tersebut. Berdasarkan Putusan MA tersebut, jika akta yang dibuat oleh notaris dipermasalahkan oleh para pihak, maka hal tersebut menjadi urusan para pihak sendiri, notaris tidak perlu dilibatkan, dan notaris bukan pihak dalam akta.

Perlindungan hukum yang juga lebih baik, adalah terhadap profesi advokat atau pengacara. Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan permohonan perkara 26/PUU-XI/2013,  yaitu pengujian Pasal 16 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat, yang terkenal sebagai hak imunitas advokat. Putusan tersebut dinyatakan MK dalam sidang pengucapan putusan yang dipimpin Ketua MK Hamdan Zoelva, Rabu 14 Mei 2015. MK menegaskan bahwa ketentuan Pasal 16 UU Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat  harus dimaknai sebagai, advokat tidak dapat dituntut baik secara perdata maupun pidana dalam menjalankan tugas profesinya, dengan iktikad baik untuk kepentingan pembelaan klien, di dalam maupun di luar sidang pengadilan.

Dengan demikian hak imunitas profesi dokter dalam aspek perlindungan hukum, layak disusun serinci seperti profesi advokat dan notaris. Sudahkah para dokter bertindak agar mendapatkan perlindungan hukum?

Sekian

Sekian

Yogyakarta, 24 November 2025

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM.

Categories
anak dokter Healthy Life vaksinasi

2026 Vaksin dan Autis

VAKSIN  DAN AUTIS

fx. wikan indrarto

Kamis, 11 Desember 2025 analisis baru dari komite ahli WHO atau ‘The Global Advisory Committee on Vaccine Safety’ (GACVS), menegaskan  tidak ada hubungan sebab akibat antara vaksin dan autis. Bukti ilmiah berdasarkan 31 penelitian antara Januari 2010 dan Agustus 2025 dengan data dari berbagai negara, sangat mendukung profil keamanan positif vaksin dengan adjuvan tiomersal yang digunakan selama masa anak dan kehamilan, dan menegaskan tidak adanya hubungan sebab-akibat vaksin dengan autis.

Tulisan ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 4 Januari 2026, halaman 8, kolom HUSADA.

Imunisasi MMR dengan adjuvan tiomersal sempat mendapat penolakan dari banyak pihak dan menimbulkan fobia, terkait sebuah skandal penelitian yang besar. Pada tahun 1998, sebuah makalah karya dr. Andrew Wakefield, seorang dokter spesialis bedah, dimuat di jurnal bergengsi ‘Lancet’, tentang 12 kasus anak autis setelah divaksinasi MMR di Inggris. Makalah tersebut ditulis oleh Wakefield, Murch, dan Anthony dengan judul ‘Ileum hiperplasia limfoid nodular, kolitis non-spesifik, dan gangguan perkembangan regresif pada anak’ (Lancet, 1998, 351, halaman 637-41). Banyak media kemudian menampilkan informasi ini kepada publik awam, membuat heboh dan menimbulkan fobia. Dalam serangkaian laporan antara tahun 2004 dan 2010, jurnalis Brian Deer menyelidiki dan mengungkapkan bahwa dr. Wakefield memiliki beberapa konflik kepentingan, telah memanipulasi data, dan bertanggung jawab untuk apa yang kemudian oleh the ‘British Medical Journal’ (BMJ)  disebut “an elaborate fraud” atau penipuan yang rumit.

Penyelidikan Brian Deer ini adalah yang terpanjang yang pernah didanai oleh ‘General Medical Council UK’ (GMC). Pada bulan Januari 2010, GMC menilai dr. Wakefield tidak jujur, tidak etis dan tidak berperasaan, sehingga pada tanggal 24 Mei 2010 nama dr. Wakefield telah dihapus dari daftar dokter di Inggris. Menanggapi temuan Deer, pada tahun 2004 redaksi ‘Lancet’ menerbitkan surat untuk menanggapi tuduhan terhadap makalah yang dimuatnya, yang menyatakan tidak ada hubungan antara imunisasi MMR dan kejadian autis (no link existed between MMR and autism). ‘Lancet’ kemudian menarik sebagian laporan penelitian dr. Wakefield pada bulan Februari 2004. Pada tahun 2010, GMC menerbitkan sebuah laporan yang menentang tulisan dr. Wakefield dan menunjukkan bahwa catatan medis anak-anak di rumah sakit tidak mengandung bukti yang cukup meyakinkan, catatan medis di rumah sakit berbeda dengan makalah yang diterbitkan, dan akhirnya ‘Lancet’ pada bulan Februari 2010 mencabut sepenuhnya, isi makalah dr. Wakefield yang diterbitkan tahun 1998.

baca juga : https://pantirapih.or.id/rspr/anak-autis/

Autis merupakan kelompok kondisi yang beragam terkait dengan perkembangan otak. Karakteristiknya dapat terdeteksi pada masa anak, tetapi autis seringkali tidak didiagnosis hingga jauh kemudian. Autis memiliki tanda utama kesulitan dalam interaksi sosial dan komunikasi. Karakteristik lainnya adalah pola aktivitas dan perilaku yang tidak lazim, seperti kesulitan dalam transisi dari satu aktivitas ke aktivitas lain, fokus pada detail, dan reaksi yang tidak biasa terhadap sensasi. Mendiagnosis autis sulit dilakukan sebelum usia 12 bulan dan umumnya dimungkinkan pada usia 2 tahun. Ciri khas onsetnya meliputi keterlambatan perkembangan, atau kemunduran, dalam kemampuan bahasa dan sosial, serta pola perilaku yang berulang.

Bukti ilmiah menunjukkan bahwa berbagai faktor, baik genetik maupun lingkungan, berkontribusi terhadap timbulnya autis dengan memengaruhi perkembangan otak dini. Peningkatan kemungkinan autis pada keluarga dengan anggota autis dan khususnya pada kembar identik. Paparan terhadap faktor lingkungan tertentu lebih sering terjadi pada anak autis atau orang tua mereka. Ini termasuk usia orang tua yang lanjut, diabetes ibu selama kehamilan, paparan prenatal terhadap polutan udara atau logam berat tertentu, kelahiran prematur, komplikasi kelahiran yang parah, dan berat badan bayi lahir rendah. Selain itu, telah diteliti kemungkinan hubungan antara penggunaan berbagai obat selama kehamilan dan peningkatan risiko autis, yaitu paparan prenatal terhadap valproat dan karbamazepin, yang digunakan untuk penanganan kejang.

Autis tidak disebabkan oleh pola pengasuhan yang buruk dan tidak terkait dengan pola diet. Autis juga bukan penyakit menular dan tidak dapat menular ke orang lain. Anak autis seringkali memiliki kondisi penyerta, termasuk epilepsi, depresi, kecemasan, dan gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktif.

Anak autis memiliki masalah kesehatan yang sama dengan populasi umum. Namun demikian, mereka mungkin juga memiliki kebutuhan perawatan kesehatan khusus yang berkaitan dengan autis atau kondisi penyerta lainnya. Mereka mungkin lebih rentan terhadap perkembangan penyakit kronis non-menular, karena faktor risiko perilaku seperti kurangnya aktivitas fisik, pola diet yang buruk, dan berisiko lebih besar mengalami kekerasan, cedera, dan pelecehan. Bahkan anak autis lebih mungkin meninggal sebelum waktunya.

Komite GACVS-WHO menegaskan kembali kesimpulan yang sama dengan sebelumnya dari tahun 2002, 2004, dan 2012, yaitu vaksin, termasuk yang mengandung tiomersal, tidak menyebabkan autis. WHO menyarankan semua pihak untuk mengandalkan ilmu pengetahuan terkini dan memastikan kebijakan vaksinasi didasarkan pada bukti terkuat yang tersedia. Upaya vaksinasi anak secara global merupakan salah satu pencapaian terbesar bidang kedokteran dalam meningkatkan kehidupan, mata pencaharian, dan kemakmuran masyarakat.

Selama 50 tahun terakhir, vaksinasi anak, termasuk penggunaan vaksin dengan adjuvan tiomersal, terbukti tidak menyebabkan autis dan telah menyelamatkan setidaknya 154 juta jiwa.

Sekian

Yogyakarta, 17 Desember 2025

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM.

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?