Chile menjadi negara pertama di Amerika Selatan dan Bhutan merupakan negara pertama di Asia bagian Tenggara, yang tahun 2026 ini menerima validasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) atas keberhasilannya mengeliminasi rabies, sebuah penyakit yang ditularkan oleh anjing, sebagai masalah kesehatan masyarakat. Pengakuan ini menyoroti kemajuan selama lebih dari 50 tahun tanpa adanya kasus rabies pada manusia, serta menegaskan kemampuan kedua negara tersebut dalam mencegah munculnya kembali penularan. Apa yang menarik?
Dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Minggu, 11 Oktober 2026
Rabies adalah penyakit akibat infeksi virus Lyssavirus dari keluarga Rhabdoviridae melalui gigitan anjingyang menyerang sistem saraf pusat, dan hampir selalu berakibat fatal begitu gejala klinis muncul. Namun demikian, kematian manusia akibat rabies sebenarnya dapat dicegah. Di satu sisi, vaksinasi anjing dapat mengendalikan penyakit ini pada sumber penularannya, sedangkan di sisi lain, program profilaksis pasca-paparan (PEP) secara cepat dapat mencegah virus mencapai sistem saraf pusat manusia, setelah terjadinya gigitan anjing. PEP mencakup pencucian luka secara menyeluruh, pemberian rangkaian vaksin rabies untuk manusia, dan—jika diindikasikan— diberikan Serum Anti Rabies (SAR) atau Human Rabies Immune Globulin (HRIG) yang disuntikkan di sekitar luka.
Keberhasilan Chile dan Bhutan memberikan pelajaran berharga bagi semua negara, yang berupaya mengakhiri kematian manusia akibat rabies. Keberhasilan tersebut mencerminkan upaya nasional berkelanjutan selama lebih dari lima dekade, untuk memutus rantai penularan yang diperantarai oleh anjing, dan mempertahankan pencapaian itu melalui vaksinasi anjing, surveilans, serta akses tepat waktu terhadap PEP. Hal ini menunjukkan bahwa eliminasi rabies yang ditularkan oleh anjing bukan hanya mungkin dilakukan, tetapi juga dapat dicapai dan dipertahankan secara berkelanjutan, ketika negara bekerja lintas sektor, serta memelihara sistem yang diperlukan untuk melindungi manusia dan hewan.
Kasus rabies pada manusia akibat penularan anjing yang terakhir dilaporkan di Chile terjadi pada tahun 1972. Sejak tahun 1983, jumlah kasus rabies pada manusia akibat penularan anjing di kawasan ini telah menurun lebih dari 98%, dengan hanya segelintir kasus yang dilaporkan setiap tahunnya. Bhutan telah mempertahankan status nol kematian manusia akibat rabies yang ditularkan oleh anjing sejak Juni 2023.
Chile terus menjalankan Program Nasional Pencegahan dan Pengendalian Rabies, yang mencakup kampanye vaksinasi massal gratis bagi anjing dan kucing, surveilans epidemiologis, peningkatan kapasitas diagnostik laboratorium, pemantauan peredaran virus rabies pada hewan, serta akses tepat waktu terhadap profilaksis pasca-paparan. Chile dan Bhutan telah memperkuat kapasitas penilaian risiko, memperluas surveilans berbasis masyarakat, dan melaksanakan kegiatan vaksinasi pencegahan di wilayah perbatasan negara, yang dinilai memiliki risiko lebih tinggi terhadap masuknya kembali rabies.
Pencapaian Chile dan Bhutan merupakan hasil dari investasi berkelanjutan selama lebih dari satu dekade dalam pendekatan ‘One Health’ (Satu Kesehatan), yang mengakui adanya keterkaitan erat antara kesehatan manusia, hewan, dan ekosistem. Perubahan dalam hubungan ini dapat meningkatkan risiko muncul dan menyebarnya penyakit, baik pada manusia maupun hewan. ‘One Health’ mendorong optimalisasi kesehatan manusia, hewan, tanaman, dan ekosistem melalui tindakan terkoordinasi dan terintegrasi lintas sektor. Dengan menyatukan dokter, tenaga kesehatan, dokter hewan, dan masyarakat luas, Chile dan Bhutan telah membuktikan bahwa perjuangan melawan rabies tidak dimenangkan secara terpisah-pisah, melainkan melalui solidaritas lintas sektor.
Kemajuan yang dicapai Chile dan Bhutan sangat kontras dengan situasi global. Rabies yang ditularkan oleh anjing masih menyebabkan puluhan ribu kematian setiap tahunnya, terutama di Asia dan Afrika. Kasus gigitan hewan penular rabies di Indonesia dari Januari hingga Mei 2026 mencapai 103.701 kasus dengan 52 kematian. Provinsi Bali menempati urutan tertinggi, bahkan pada 11 September 2026 Dinas Kesehatan Provinsi Bali mencatat 52.645 kasus gigitan, dengan 39.193 kasus terindikasi positif rabies, di mana Kabupaten Badung dan Karangasem menjadi wilayah dengan laporan tertinggi. Kasus suspek juga ditemukan di Kabupaten Jembrana pada September 2026
Hari Rabies Dunia Senin, 28 September 2026 mengingatkan kita akan keberhasilan Chile dan Bhutan, yang mampu menunjukkan bahwa investasi berkelanjutan dalam pencegahan, surveilans, dan akses terhadap layanan kesehatan dapat membawa penyakit mematikan namun dapat dicegah, ini menuju tahap eliminasi rabies.
Maukah kita berlajar dari Chile dan Bhutan?
Sekian
Yogyakarta, 21 September 2026
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM.
Tujuan akhir petualangan kami adalah di Monumen Jenderal Sudirman, di Desa Pakis Baru, Kecamatan Nawangan, di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur
FLYEVING TO PACITAN
fx. wikan indrarto & b. sari prasetyati
Kami berniat mencoba kehandalan mobil listrik (EV) dalam terbang mendaki (flyeving) punggung Pegunungan Sewu milik UNESCO Global Geopark, di teritorial Gunung Kidul (DIY), Wonogiri (Jawa Tengah) dan Pacitan (Jawa Timur). Kami mengikuti rute gerilya Jendral Sudirman saat menyingkir dalam agresi militer Belanda. Pada 19 Desember 1948 serangan dimulai dengan pengeboman Pangkalan Udara Maguwo di Yogyakarta oleh pasukan Belanda di bawah pimpinan Letnan Jenderal Simon Spoor.
Awal petualangan dari depan rumah di Yogyakarta
Secara ringkas, petualangan kami adalah meningkatkan ketrampilan mengubah menu dalam folder driving pada tablet layar sentuh di dashboard, baik energy recovery menjadi strong dari comfort, maupun driving mode menjadi sporty dari eco. Maka medan mendaki terjal, turun curam, maupun kelok tajam, menjadi tetap mampu dilahap dengan nyaman.
Kami mampir sowan senior Bapak Robertus Setiawan di Wonosari, terus menyeberang Jawa Tengah bagian selatan sampai di Pacitan, untuk mengunjungi Goa Gong, gua dengan stalaktit dan stalakmit terindah se Asia Tenggara. Terus wisata Sungai Maron yang dikenal sebagai Amazone-nya Pacitan, karena kerimbunan pepohonan yang menutupinya. Juga Pantai Klayar di Pacitan yang pernah dipopulerkan oleh lagu campursari milik musisi Didi Kempot, The God Father of Broken Heart.
Setelah full charger di SPKLU PLN Pacitan, lanjut ke Gereja Katolik St Fransiskus Xaverius Paroki Pacitan yang dikenal sebagai Gereja Prau. Terus melihat rumah masa kecil Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Museum SBY ANI. Terus tertegun membayangkan kehebatan perjuangan TNI di Monumen Jendral Sudirman, di Pakis Baru, Nawangan, yang berbatasan dengan Jawa Tengah.
Kami pulang memutar, terbang lagi, menaklukkan bagian lain Pegunungan Sewu melalui Purwantoro, Jatisrono dan Wonogiri. Terus ke Bayat di Klaten dan Kalasan.
Terbang bersama Wuling Aira EV ke Pacitan dengan motor listrik kecil bertenaga 40,2 HP (30 kW) dan torsi 85 Nm berpenggerak roda belakang, mampu menempuh 370 km, dengan tetap tangguh, nyaman dan irit
Keceriaan mengawali petualatang dengan EV mungil dari rumah Yogyakarta
Sabtu siang, 26 September 2026 dari Yogyakarta lewat Wonosari, Gunung Kidul kami berniat mengunjungi Gua Gong, Sungai Maron, dan Pantai Klayar di Pacitan, Jawa Timur. Pertama kami sowan senior warga Asrama Mahasiswa Realino Yogykarta Bapak Robertus Setiawan SeV 75, di rumahnya di Baleharjo, Wonosari. Beliau 9 tahun di atas saya, saat kuliah di FKH UGM dan mantan Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Gunung Kidul.
Sowan senior Bapak Robertus Setiawan SeV 75 di Wonosari
Pamit senior Bapak Robertus Setiawan, untuk melanjutkan petualangan
Kami segera bergegas menuju ke arah timur, melewati Semanu dan Ponjong di Kabupaten Gunung Kidul. Hutan jati yang terlihat merangas karena kemaru panjang, kami lahap dengan nyaman
Hutan jati di Pegungan Sewu yang dipanggang kemarau panjang
Kami berulang mengubah menu dalam folder driving pada tablet layar sentuh di dashboard, baik energy recovery menjadi strong dari comfort, maupun driving mode menjadi sporty dari eco. Maka medan mendaki terjal, turun curam, maupun kelok tajam, menjadi tetap mampu dilahap dengan nyaman.
Hutan jati yang terlihat meranggas di Pegungan Sewu
Memasuki perbatasan Jawa Tengah dan DIY di tengah hutan
Mampir Museum Karst di teritorial Wonogiri, Jawa Tengah
Memasuki perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur di Kabupaten Pacitan
Bersyukur sudah mampu memasuki Gerbang Kabupaten Pacitan, Jawa Timur
Tujuan pertama petualangan kami di Pacitan adalah Gua Gong yang terkenal. Gua Gong ditemukan sekitar tahun 1930-an. Akibat musim kemarau berkepanjangan, saat itu Pacitan mengalami kekeringan dan sangat sulit untuk memperoleh air. Untuk mengatasi kondisi tersebut, 2 orang warga bernama Mbah Noyo Semito dan Mbah Joyo mencari sumber mata air, agar dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Akhirnya mereka menemukan sebuah lubang dan berinisiatif untuk menelusurinya. Dengan hanya membawa obor, mereka masuk ke lubang (goa) tersebut dan menyusuri lorong-lorong yang ada di dalamnya. Lubang yang mereka masuki ternyata sangat dalam, Mbah Noyo dan Mbah Joyo menghabiskan sebanyak tujuh obor hingga keduanya menemukan mata air. Setelah beristirahat dan mandi di mata air tersebut, mereka pulang sambil mengangkut air dan membawa kabar baik untuk penduduk. Mulai saat itu, warga berbondong-bondong memanfaatkan mata air yang ada di gua tersebut.
Menaklukan Pegunungan Sewu yang naik turun tajam
Bergaya di depan gerbang Gua Gong Pacitan yang indah
Melalui jembatan yang melintasi jurang dari parkiran ke mulut Gua Gong
Sesi foto di depan Gua Gong
Stalaktit dan stalakmit terindah se Asia Tenggara ada di Gua Gong Pacitan
Masih boleh memgang stalaktit, tidak boleh memukulnya, di Gua Gong Pacitan
Nama Goa Gong sendiri diambil dari misteri yang dahulu sempat menyelimuti dan menghantui masyarakat sekitar. Masyarakat sekitar gua mengungkapkan bahwa di malam hari mereka sering mendengar suara tabuhan menyerupai suara gong (salah satu alat musik gamelan) yang berasal dari dalam gua. Ada juga yang mengatakan bahwa di salah satu ruangan gua, terdapat batu yang apabila ditabuh akan mengeluarkan bunyi yang menggema, seperti bunyi gong.
Bunyi gong yang nyaris tidak terdengar di Gua Gong di Pacitan
Secara ilmiah, suara yang muncul itu ternyata dapat dijelaskan. Suara yang terdengar menyerupai bunyi gong tersebut dihasilkan dari tetesan air yang menimpa stalaktit atau stalakmit di gua tersebut. Apakagi ditambah dengan gema yang dipantulkan oleh formasi batuan di dalam gua, sehingga bunyi yang dihasilkan cukup apik untuk dinikmati.
Tujuan kami kedua adalah Sungai Maron di Pacitan
Sungai Maron Pacitan yang berarus kecil, di puncak musim kemarau
Kapal kecil untuk susur sungai Maron menikmati Amazone-nya Pacitan
Sungai Maron merupakan objek wisata yang cukup populer di Dersono, Kecamatan Pringkuku, Pacitan, Jawa Timur. Wisatawan dapat menyusuri Sungai Maron yang menyajikan petualangan bernuansa ala sungai Amazon di Brasil, dengan cara Susur Sungai Maron, yang menjadi salah satu kekayaan wisata alam di Pacitan. Daya tarik Sungai Maron adalah memiliki air sungai berwarna hijau kebiruan, yang merupakan refleksi dari cahaya matahari atas rerimbunan pohon di sekitar sungai, karena air Sungai Maron sangat jernih.
Pemandangan saat susur Sungai Maron berupa pepohonan hijau yang terdapat di tepian sungai selama perjalanan, sehingga suasananya sangat sejuk. Karena keindahan alamnya, Sungai Maron juga mendapat julukan Green Canyon Pacitan, tidak hanya disebut Sungai Amazonnya Pacitan. Wisatawan dapat menyusuri Sungai Maron yang bermuara di Pantai Ngiroboyo dalam perjalanan sepanjang 4,5 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih 30 hingga 45 menit di atas sungai dengan kedalaman hingga 20 meter ini.
Wisata Sungai Maron biasanya juga dilengkapi dengan menghabiskan waktu di Pantai Ngiroboyo. Wisatawan dapat turun sejenak untuk menikmati pantai. Sementara, perahu akan menunggu sebelum kembali ke dermaga Sungai Maron. Waktu tunggu perahu dapat mencapai dua jam.
Jarak tempuh Sungai Maron dari pusat Pacitan sekitar 38,8 kilometer dalam waktu tempuh sekitar satu jam 13 menit. Perjalanan akan melewati Jalan Nasional 3, Jalan Basuki Rahmat, Jalan Gatot Subroto, Jalan WR Supratman, dan Jalan Raya Tompak Rinjing. Rute perjalanan sama dengan rute menuju Goa Gong, kemudian meneruskan perjalanan sejauh 15 kilometer ke arah Selatan.
Tujuan berikutnya di Pacitan adalah Pantai Klayar
Perjalanan kami lanjutkan dengan menuju ke Pantai Klayar yang tidak mudah, karena dikelilingi deretan bukit dan gua kecil yang terlihat stalaktit dan stalagmitnya dari pinggir jalan. Objek wisata Pantai Klayar memiliki garis pantai berpasir putih dengan dihiasi deretan pohon kelapa, serta menjulangnya bukit-bukit di pinggir pantai yang bisa didaki oleh wisatawan untuk melihat keindahan Pantai Klayar dari atas bukit.
Selain pantai berpasir putih, Pantai Klayar memiliki ciri khas yaitu ada sebuah celah di batu karang. Ketika ombak datang dengan cukup deras, sebagian air masuk ke bawah batu dan menyembur ke atas sehingga membentuk sebuah air mancur, bahkan dapat mencapai ketinggian hingga 10 meter. Air yang mancur juga disertai dengan suara mirip siulan, sehingga sering disebut sebagai Seruling Laut. Satu lagi ciri khasnya, yaitu deretan tebing karang raksasa di sisi timur, mirip patung Sphinx di Mesir.
Sesi foto di Pantai Klayar Pacitan yang indah
Pantai Klayar memiliki air laut yang biru dan ombak yang sangat besar, sehingga pengunjung tidak diperbolehkan untuk berenang. Bibir pantai dihiasi tumbuhan pohon kelapa dan gubug dengan lincak yang beratap daun kering, karang-karang di wilayah pasang surut juga masih terawat dengan alami. Wisatawan juga bisa menyusuri deretan karang untuk menemukan kerang Moluska dan bintang laut Echinodermata. Di samping itu, di sepanjang batuan juga terdapat tanaman limpet dan rumput laut yang tumbuh di sekitar bebatuan. Wisatawan kadang dapat melihat langsung masyarakat setempat memanjat pohon kelapa, guna mengambil air deresan (bahan baku untuk pembuatan gula jawa) atau hanya untuk disuguhkan langsung kepada wisatawan, sambil menikmati eksotisme alam Pantai Klayar
Deru angin dan ombak di Pantai Klayar di Pacitan
Pantai Klayar di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, semakin terkenal luas berkat lagu campursari hit yang berjudul “Pantai Klayar.” Lagu ini diciptakan dan dipopulerkan oleh musisi legendaris almarhum Didi Kempot, yang berjuluk “Godfather of Broken Heart”. Lagu “Pantai Klayar” mengisahkan kerinduan dan kesedihan seseorang yang teringat janji kekasihnya di pantai tersebut. Lirik ikoniknya yang berbunyi “Samar, ati iki samar yen nganti kowe lali janjimu ning Pantai Klayar” sangat melekat di hati para penggemar. Lagu ini dinilai sangat berjasa dalam melambungkan nama dan menarik minat wisatawan, termasuk komunitas Sobat Ambyar, untuk berkunjung langsung menikmati keindahan pesona alam Pacitan.
Deru ombak yang berulang-ulang di Pantai Klayar di Pacitan
Bersama para pelancong lain, menikmati keindangan Pantai Klayar di Pacitan
Menikmati keindahan malam dan gemerlap lampu Kota Pacitan, sebelum kami masuki
Terus kami menginap di Super OYO 942 Srikandi Hotel di Jl. A Yani Pacitan Sabtu 26 September 2026 sore masuk dan keluar hari berikutnya
Bugar setelah menginap di Hotel Srikandi Jl. Ahmad Yani Pacitan
Mengisi daya di SPKLU PLN Pacitan untuk Wuling Aira EV dengan motor listrik kecil bertenaga 40,2 HP (30 kW) dan torsi 85 Nm berpenggerak roda belakang
Minggu pagi, 27 September 2026 kami berjalan kaki menuju Gereja Katolik St. Fransiskus Xaverius Paroki Pacitan di Jl. Piere Tendean No. 9, Pucangsewu, Pacitan, Jawa Timur. Jadwal Misa Gereja Katolik Hari Minggu: Pukul 07. Gereja ini diresmikan Jumat, 3 Desember 2021 oleh Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji, SS yang didampingi langsung oleh RP Antonius Wahyuliana, CM, selaku Vikep Madiun,Keuskupan Surabaya.
Bangunan gereja ini mulanya hanyalah bagunan biasa seperti rumah penduduk. Namun setelah dilakukan renovasi, jadilah bangunan gereja itu jadi semegah sekarang. Biaya renovasi gereja ini menghabiskan kurang lebih dana sekitar Rp. 5 milyar. Konsep bangunan ini dirancang dengan memadukan nilai-nilai Katolik dengan model pentagonal asimetris, yaitu lima sisi tidak simetris, yang melambangkan kehidupan manusia yang tidak sempurna. Dari kelima singkap yang ada, posisinya tidak rata. Ada yang naik, ada pula yang turun. Itu merupakan simbolisasi dari gelombang, karena posisi geografis Kabupaten Pacitan memang berdekatan dengan Samudera Indonesia.
Gereja Katolik St. Fransiscus Xaverius Pacitan
Gereja Katolik St. Fransiscus Xaverius Pacitan
Nampak samping seperti sebuah perahu Gereja Katolik St. Fransiscus Xaverius Pacitan
Bangunan gereja ini dirancang oleh para mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) dengan memadukan nilai-nilai Kristiani. Salah satunya tergambar dengan huruf M, yang merujuk pada Bunda Maria, sosok yang melahirkan Yesus Kristus sekaligus perlindungan bagi umat Katolik. Selain itu, bentuk bangunan yang mirip kapal juga memiliki arti khusus, tak ubahnya kapal yang berlayar di samudera yang sangat luas. Samudera sendiri dimaknai kekuasaan Tuhan yang tanpa batas. Bagian interiornya menggunakan puluhan jenis batu alam asli khas Pacitan.
Dari segi arsitektur gereja yang sekarang, setelah direnovasi sangat memiliki nilai yang bagus. Daya tarik utama gereja ini terletak pada desain bangunannya yang menyerupai kapal. Bentuk ini bukan tanpa makna, melainkan memiliki filosofi mendalam.
Interior gereja Katolik St. Fransiscus Xaverius Pacitan
Salib dengan corpus Yesus dari batu karang di gereja Katolik St. Fransiscus Xaverius Pacitan
Kapal sering dimaknai sebagai simbol perjalanan iman dan perlindungan, layaknya bahtera yang membawa umat menuju keselamatan. Desain ini juga mencerminkan Gereja sebagai tempat bernaung bagi umat dalam menjalani kehidupan spiritual.
Interior gereja Katolik St. Fransiscus Xaverius Pacitan yang menggunakan material batu lokal
Selain bentuk luar yang mencolok, bagian interior gereja juga dirancang dengan sederhana namun tetap menghadirkan suasana khidmat dan tenang. Keunikan gereja ini menjadikannya salah satu destinasi wisata religi di Pacitan yang layak dikunjungi.
Gereja St. Fransiskus Xaverius ini unik berbentuk seperti kapal, tidak terlalu besar dan ornamennya banyak berasal dari batu-batuan alam khas Pacitan. Gua Maria terletak di halaman bagian belakang gereja, disebut Gua Maria Karang Bolong, namun sebenarnya nama resminya adalah Gua Maria Stella Maris yang bermakna Maria Bintang Samudera, yang diberkati oleh Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono, 5 Oktober 2019.
Patung Santo Fransis Xaverius, pelindung gereja
Gua Maria Karang Bolong di belakang gereja
Bersama Pastor Kepala Stasi Pacitan (yang masuk dalam wilayah Gereja Paroki Santa Maria Ponorogo, Keuskupan Surabaya) Romo Timutheus Siga, yang menggantikan pejabat sebelumnya yaitu R.D. Ferdinandus Eltyson Prayudi (Romo Yudi).
Minggu siang, 27 September 2026 kami rencana akan ke Sentono Gentong: Destinasi di puncak perbukitan yang menyajikan pemandangan teluk dan kota Pacitan dari ketinggian, serta sering dipakai sebagai lokasi lepas landas paralayang.
Meski tak banyak disebut, Pacitan ternyata menyimpan catatan masa perjuangan. Satu di antara bukti sejarahnya yakni Monumen Palagan Tumpak Rinjing, yang kami kunjungi sebelum mencapai Sentono Gentong. Monumen yang terdiri dari patung Jenderal Sudirman dan Supriyadi tersebut masih berdiri kokoh hingga saat ini. Lokasinya di tepi jalan raya Pacitan-Solo, ruas Desa Dadapan, Kecamatan Pringkuku. Di situ terjadi pertempuran hebat dengan gugurnya lebih kurang 10 orang pejuang Indonesia saat melawan Belanda
Sejarah Tumpak Rinjing tidak dapat dipisahkan dari aktivitas gerilya Jenderal Sudirman. Perlawanan itu dilakukan usai Belanda kembali menguasai Yogyakarta pada 19 Desember 1948. Keberadaan Jenderal Sudirman yang memimpin perang gerilya sampai ke Pacitan, terus menjadi incaran Belanda. Dengan menurunkan pasukan berjumlah cukup besar, pihak penjajah terus menelusuri jejak Jenderal Sudirman dan pasukannya. Bahkan khusus ke Pacitan ini Belanda melakukan pengejaran juga lewat laut. Begitu pasukan Belanda menepi di pantai Pacitan pada 13 Januari 1949, perlawanan pun mulai terjadi di sejumlah tempat. Salah satu yang terbesar terjadi di Tumpak Rinjing pada tanggal 7 Juni 1949. Pertempuran hebat tersebut kemudian dikenal dengan Palagan Tumpak Rinjing. Selanjutnya, setelah kondisi aman, pada tanggal 7 Juli 1949, Jenderal Sudirman meninggalkan Pacitan menuju Yogyakarta.
Palagan Tumpak Rinjing yang kami kunjungi
Setelah menikmati heroisme Palagan Tumpak Rinjing, kami segera menuju ke Sentono Gentong Pacitan terletak di Desa Dadapan, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Sentono Gentong Pacitan merupakan tempat wisata yang berada di area perbukitan. Kawasan wisata yang dibuka pada tahun 2018 ini dapat melihat Kota Pacitan dari ketinggian.
Pengunjung yang tiba di Sentono Gentong Pacitan akan menikmati pemandangan terbuka ke arah Teluk Pacitan yang sangat menakjubkan. Terlihat juga pasir putih Pantai Teleng Ria sampai Pantai Pancer Door yang tampak seperti bulan sabit. Keindahan pemandangan tersebut tampak menyatu dengan barisan perbukitan yang mengelilingi layaknya dinding raksasa. Sapuan awan tipis yang sesekali terlihat membuat suasana semakin syahdu.
Pada malam hari, pengunjung akan disuguhkan keindahan gemerlap cahaya lampu Kota Pacitan yang tampak seperti taburan bintang. Bintang di langit saat cuaca cerah semakin menambah semarak pemandangan di depan mata. Jarak tempuh Sentono Gentong Pacitan dari pusat Kota Pacitan sekitar 25 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih 44 menit.
Teluk Pacitan yang nampak indah dari Selo Gentong
Perjalanan akan melalui Jalan Laksamana Yos Sudarso, Jalan Tentara Pelajar, Jalan Basuki Rahmat, Jalan Gatot Subroto, Jalan WR Supratman, Jalan Raya Tompak Rinjing. Arahkan kendaraan menuju Desa Dadapan hingga menemukan Balai Desa Dadapan. Anda kemudian akan melihat plang petunjuk memasuki lokasi Sentono Gentong Pacitan. Jalan dari balai desa menuju lokasi tidak terlalu luas namun mobil pribadi dan kendaraan motor masih dapat melewatinya.
Rumah masa kecil Presiden SBY
Bergaya di depan rumah masa kecil Presiden SBY
Rumah masa kecil Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, terletak di Lingkungan Blumbang, Kelurahan Ploso berjarak 200 meter dari Terminal Kelas A Kota Pacitan atau sekitar 1 km dari Kota Pacitan. SBY menempati rumah ini sejak kelas 5 SD (tinggal bersama pamannya yang seorang lurah bernama Pakde Sastro) hingga lulus SMA. Bangunan berdesain tradisional Jawa (Joglo) ini berdinding kayu dengan lantai tegel dan ukuran yang sangat sederhana. Kamar tidur pribadi SBY semasa muda sangat sempit, yakni hanya berukuran sekitar 2 meter x 1,5 meter, yang di dalamnya hanya muat sebuah dipan dan meja kecil.Rumah bersejarah tempat SBY tumbuh besar dan menimba ilmu ini kini dirawat dan dipenuhi oleh berbagai foto kenangan masa lalu, serta menjadi salah satu lokasi penanda sejarah perjalanan hidup SBY di Pacitan.
Bergaya di depan Museum dan Galeri SBY – ANI di Pacitan
Salah satu ruangan di Museum dan Galeri SBY – ANI di Pacitan
Museum dan Galeri SBY-ANI merupakan museum yang menyimpan sejarah dan perjalanan panjang salah satu tokoh berpengaruh di Indonesia yaitu Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono. Terletak di Jalan Lingkar Pacitan, Ploso, Pacitan, museum ini berada tepat di tepi Jalan Lintas Selatan (JLS) Pacitan, dan berbentuk bangunan megah, yakni bagaikan Gedung Putih di Amerika Serikat.
Bergaya salah satu ruangan di Museum dan Galeri SBY – ANI di Pacitan
Museum dan Galeri SBY-ANI dibangun di atas lahan seluas 1,5 hektar dengan luas bangunan dua lantai sekitar 7.500 meter persegi. Museum dua lantai tersebut berisi 30 segmen. Dari luarnya, museum ini berdesain modern dengan 6 pilar gagah yang berdiri di bagian depan. Di area luar museum terdapat pohon-pohon rindang di sisi kanan dan kirinya.
Lantai pertama Museum SBY menampilkan narasi awal pembentukan karakter Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang dipengaruhi oleh lingkungan alam dan kehidupan masa kecilnya di Pacitan. Pada fase ini, SBY mulai aktif dalam bidang olahraga, kesenian, serta berbagai kegiatan organisasi. Pameran berlanjut dengan dokumentasi perjalanan karier militernya, mulai dari pendidikan di AKABRI Magelang, pengabdian di TNI Angkatan Darat, penugasan luar negeri, hingga jabatan strategis sebagai Komandan Resor Militer dan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan di era pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri. Segmen paling menonjol di lantai ini menyoroti kiprah SBY sebagai Presiden Republik Indonesia selama dua periode (2004–2014), mencakup keputusan untuk mencalonkan diri, dinamika kampanye, hingga keberhasilan dalam dua pemilihan umum.
Kabupaten Pacitan terletak di sisi paling barat Provinsi Jawa Timur, dengan ibu kotanya adalah Kecamatan Pacitan. Pada zaman Hindia Belanda, daerah ini disebut Kawedanan Pacitan. Menurut Babad Pacitan dan sebuah babad yang diterbitkan di Poesaka Djawi, pada masa Demak paruh pertama abad ke-16, wilayah Pacitan merupakan bagian dari Ponorogo.
Dikisahkan di dalam babad tersebut bahwa orang-orang Pacitan berasal dari rombongan Bathara Katong yang diberi izin menempati daerah Pacitan. Daerah tersebut pada masa itu merupakan wilayah tak berpenghuni dan ditutupi oleh hutan belantara. Lebih lanjut, dikisahkan bahwa orang-orang pertama yang disebut sebagai pembuka hutan atau pembabat alas bernama Kiai Siti Geseng, Kiai Ampak Boyo, Ménak Sopal, dan Syekh Maulana Maghribi.
Selanjutnya kami meninggalkan Kota Pacitan ke arah Pemandian Air Hangat Tirtohusodo berada di Kecamatan Arjosari, sekitar 15 km dari Kota Pacitan ke arah utara, untuk menuju tujuan utama petualangan kami. Kami penuh semangat menuju Monumen Jenderal Sudirman berada di Desa Pakisbaru, Kecamatan Nawangan, sekitar 45 km dari Kota Pacitan. Monumen ini berdiri megah di atas gunung dan telah diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Di sini masih dapat kita lihat rumah yang digunakan Jenderal Sudirman ketika melakukan perang gerilya.
Pada tanggal 19 Desember 1948, beberapa hari setelah Soedirman keluar dari RS Panti Rapih Yogyakarta karena sakit, Belanda melancarkan Agresi Militer II untuk menduduki Yogyakarta. Pada saat pemimpin-pemimpin politik berlindung di Keraton Sultan Hamengku Buwono IX, Soedirman beserta sekelompok kecil tentara dan dokter pribadinya, melakukan perjalanan ke arah selatan dan memulai perlawanan gerilya selama tujuh bulan. Awalnya mereka diikuti oleh pasukan Belanda, tetapi Soedirman dan pasukannya berhasil kabur dan mendirikan markas sementara di Sobo, di dekat Gunung Lawu. Dari tempat ini, ia mampu mengomandoi kegiatan militer di Pulau Jawa, termasuk Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto.
Ketika Belanda mulai menarik diri, Soedirman dipanggil kembali ke Yogyakarta pada bulan Juli 1949. Meskipun ingin terus melanjutkan perlawanan terhadap pasukan Belanda, ia dilarang oleh Presiden Soekarno. Penyakit TBC yang diidapnya kambuh; ia pensiun dan pindah ke Magelang. Soedirman wafat kurang lebih satu bulan setelah Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta.
Menyusuri jalur perjalanan gerilya Jenderal Sudirman, nampak jurang di bawah tebing yang kami lalui
Berangkat dari rumah dinas Panglima TRI di Bintaran Timur, Yogyakarta, menuju arah selatan dan sempat beristirahat di Grogol, dekat Parangtritis di Bantul. Lanjut ke wilayah Gunungkidul, masuk ke wilayah karst melalui rute Panggang, Paliyan (singgah di kediaman Mbok Sayuk), Semanu, hingga Bedoyo. Terus ke Wonogiri, melintasi Pracimantoro, Eromoko, Wuryantoro, Jatisrono, hingga Purwantoro. Lanjut terus ke Ponorogo, Jawa Timur masuk melalui Sumoroto, Ponorogo, Jetis, Sambit, Sawoo, Trenggalek, Tulungagung, dan Kediri. Bahkan melalui kawasan pegunungan dan hutan lebat seperti Karangnongko, Goliman, dan Pesanggrahan Bajulan di Loceret. Terus ke Pacitan, menjadikan Desa Pakisbaru, Kecamatan Nawangan, di Pacitan sebagai salah satu basis pertahanan utama, sebelum akhirnya kembali ke Yogyakarta pada Juli 1949
Gerbang masuk ke kawasan sejarah Jenderal Sudirman
Rumah Markas Gerilya Panglima Besar Jenderal Sudirman Desa Pakisbaru, Kecamatan Nawangan, di Pacitan bergaya sederhana dengan dinding dari anyaman bambu dan berlantai tanah. Terdapat beberapa ruang kamar yang pernah digunakan sebagai tempat peristirahatan Jenderal Sudirman, dan pengawalnya, Kapten Soepardjo Roestam, Kapten Tjokropanolo, Roto Suwarno, dan beberapa orang lainnya. Dari markas gerilya ini Jenderal Sudirman menjalin komunikasi dengan Kol. AH. Nasution, Kol. TB. Simantupang, Kol. Gatot Subroto, Letkol I. Slamet Riyadi, Kol. Zulkifli Lubis, dan Mayor Suharto.
Monumen Jenderal Sudirman dibangun di Desa Pakis Baru karena Sang Jenderal pernah bermarkas di sini pada 1 April 1949 sampai 7 Juli 1949. Monumen Jenderal Sudirman ialah berupa patung Sang Jenderal setinggi sekitar delapan meter. Untuk sampai ke patung, terdapat 70 anak tangga yang harus dilalui. Anak tangga pertama berjumlah 45, kedua berjumlah delapan, dan ketiga berjumlah 17. Anak tangga itu bila disatukan adalah 17-8-45 yang melambangkan tanggal kemerdekaan Indonesia. Sesampai di tempat patung, tampak lapangan yang begitu luas dan dikelilingi bagunan berbentuk persegi. Sementara itu di setiap dinding bangunan, terdapat relief yang menggambarkan kisah hidup Jenderal Sudirman berbahan tembaga. Ada 38 relief yang terpampang di dinding, jika ingin melihat semua, perlu untuk berjalan kali mengelilingi lapangan.
Monumen Panglima Besar Jenderal Sudirman dengan pedang pora yang artistik
Monumen Panglima Besar Jenderal Sudirman memiliki ketinggian sekitar 8 meter dengan luas tanah sekitar 97 meter persegi. Bangunan ini memiliki delapan gerbang yang melambangkan delapan provinsi yang ada pada awal kemerdekaan. Pada bangunan terdapat 12 pedangpora yang menunjukkan penghormatan para prajurit TNI kepada Jenderal Sudirman. Pada pelataran bangunan terdapat tiga bagian undakan tangga dengan 70 anak tangga. Undakan atas memiliki 17 anak tangga, undakan tengah memiliki 8 anak tangga, dan undakan bawah memiliki 45 anak tangga yang melambangkan tanggal kemerdekaan Indonesia. Di sekitar monumen terdapat sekitar 38 relief yang menggambarkan kehidupan Jenderal Sudirman sejak kelahiran hingga kematiannya. Pada Monumen Panglima Besar Jenderal Sudirman terdapat patung Jenderal Sudirman yang terbuat dari perunggu.
Salah satu relief yang menggambarkan kisah hidup Jenderal Sudirman
Relief yang menggambarkan Jenderal Sudirman saat menjadi tentara PETA
Perjalanan Jenderal Sudirman yang bisa disaksikan melalui relief adalah sejak kelahirannya, ketika dirinya belajar mengaji, mengikuti kepanduan, bergabung dalam anggota PETA (Pembela Tanah Air pada zaman Jepang), perjuangan gerilya, hingga wafat di Magelang. Ketika sore hari, banyak warga sekitar yang berkunjung ke monumen Jenderal Sudirman untuk menikmati suasana. Memang, semilir angin perbukitan begitu sejuk ketika dinikmati sambil duduk-duduk di bawah patung.
Relief yang menggambarkan terpilihnya Jenderal Sudirman sebagai Panglima Tertinggi TNI
Salah satu petuah Jenderal Sudirman
Monumen Panglima Besar Jenderal Sudirman memiliki ketinggian sekitar 8 meter dengan luas tanah sekitar 97 meter persegi.
Setelah menikmati Monumen Panglima Besar Jenderal Sudirman di Pakis Baru, Nawangan pacitan, kami segera kembali ke rumah. Kami melewati sisi utara Pegungan Sewu yang terjal, menuju Purwantoro, Jatisarono dan Wonogiri kota. Terus ke Bayat di Klaten dan Kalasan.
Terbang bersama Wuling Aira EV ke Pacitan dengan motor listrik kecil bertenaga 40,2 HP (30 kW) dan torsi 85 Nm berpenggerak roda belakang, mampu menempuh 370 km, dengan tetap tangguh, nyaman dan irit. Juga tidak perlu ikut masuk antrian panjang kendaraan di SPBU, karena kelangkaan parah dan pembatasan pembelian BBM.
Terimakasih banyak atas semua dukungan, sehingga petualngan terbang dengan mobil listrik (flyeving) ke Pacitan telah berlangsung dengan lancar.
Sabtu dan Minggu, 26 dan 27 September 2026
Menikmati lembah dan jurang yang dalam di samping kami, saat menanjak tinggi di Pegunungan Sewu sisi utara
Dokter kurang piknik adalah hal yang tidak baik. Untuk meningkatkan kerjasama, keakraban dan kekompakan segenap dokter di RS Panti Rapih Yogyakarta (RSPR), juga untuk membentuk sinergi menghadapi tantangan yang lebih berat di tahun depan, maka diadakan acara dari, untuk, dan oleh para dokter RSPR. Acara yang dikomandani oleh dr. Radijanti ‘Nenny’ Anggraeni, SpKK ini dikemas dengan memadukan aspek religi, rekreasi dan nutrisi, yaitu Ziatour (ziarah singkat dan piknik jarak dekat) Dokter RSPR 2017. Acara ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 11 November 2017, pk. 13-20, dengan menggunakan sebuah bis pariwisata dan kaos seragam untuk kekompakan.
Acara ini dikomandani oleh dr. Radijanti ‘Nenny’ Anggraeni, SpKK (paling kanan)
Masih menunggu penumpang lainnya
Sudah siap menyambut tamu di gerbang masuk Gereja Kristus Raja Paroki Bacito Yogyakarta
Panitia yang sigap merancang acara Ziatour Dokter RSPR 2017
Kami menggunakan Bis Pariwisata Tami Jaya bercat hijau pupus yang melambangkan pertumbuhan. Kami awali acara dengan menuju Gereja Kristus Raja Baciro, Yogyakarta yang berjarak 3,1 km dari RSPR. Sejarah mencatat bahwa pada tahun 1943, Baciro masih merupakan salah satu Kring dari Paroki St. Antonius Kotabaru, yang mengadakan misa di Aula Pabrik Cerutu Taru Martani Jl. Kompol Bambang Suprapto No. 2A Yogyakarta. Pada tanggal 27 Oktober 1963, barulah Gereja dan Paroki Kristus Raja Baciro diresmikan berdirinya, yaitu di Jl. Melati Wetan No. 13 Yogyakarta.
Para dokter senior (dr. Tyas dan dr. Sulanto) yang selalu menginspirasi
Para dokter senior (dr. Djoko dan dr. Pandit) yang juga selalu menginspirasi
Kita ingat bahwa pada hari Sabtu, tanggal 27 Mei 2006 terjadi Gempa Bumi hebat pada pukul 05.56 dengan kekuatan 5,9 Skala Richter, dengan durasi waktu 56 detik, yang telah mengguncang wilayah DIY dan sebagian Jateng. Paling tidak ada 6.000 orang meninggal, banyak bangunan hancur, dan ratusan ribu orang kehilangan tempat tinggal. Di Paroki Kristus Raja Baciro yang sedang berlangsung misa harian pagi, gempa bumi ini menghancurkan bangunan gereja dan membawa korban seorang koster meninggal dunia, saat menjalankan tugas yaitu Bpk. E. Teguh Basuki, dan beberapa umat terluka. Bangunan gereja sudah tidak dapat dipakai lagi, maka untuk Ekaristi dan peribadatan lain diselenggarakan di gereja darurat (tenda) selama satu tahun. Renovasi gereja korban gempa selesai pada Mei 2007 dan pemberkatan gedung gereja tanggal 27 Mei 2007, pada peringatan satu tahun gempa bumi.
Saling koordinasi sebelum pindah tempat
Yunior (dr. John) yang siap menjalankan perintah senior (drg. Agus)
Bangunan gereja baru yang sekarang ini diberkati oleh Uskup Agung Semarang Alm Mgr. Yohanes Pujosumarta, Pr dan diresmikan oleh Sekretaris Daerah Pemerintah DIY, drs. Ichsanuri, MM pada tanggal 25 November 2012, dan merupakan bangunan hasil relokasi gereja lama. Gereja Kristus Raja Baciro yang baru dibangun dengan menyerap budaya lokal, yaitu bentuk bangunan kubah yang berbentuk Joglo, bangunan rumah adat Yogyakarta. Gereja dengan daya tampung kedua terbesar se Kevikepan DIY ini sangat indah dengan sentuhan budaya Jawa yang khas, dilengkapi dengan Gua Maria Ratu Rosari di samping gereja utama.
Belum siap semua, tetapi kamera sudah terlanjur merekam
Ini juga belum siap semua je, lha kok malah sudah dijepret ulang
Nah, ini baru pose yang benar oleh segenap peserta
Khusuk saat dr. Maria Dewanti memimpin doa di depan Goa Maria Ratu Rosari, Baciro
Ziarah singkat dokter RSPR 2017 dan ucap syukur atas semua anugerah Tuhan, diawali dengan berdoa bersama di Gua Maria Ratu Rosari, dalam Kompleks Gereja Kristus Raja, Paroki Baciro, Yogyakarta. Kami semua diingatkan tentang ajaran Santo Paulus kepada Jemaat di Roma, yang pantas menjadi pegangan bagi kita semua, segenap dokter saat bekerja sama di RSPR (Rom 12: 5-16A). Ajaran itu dibacakan oleh dr. Maria Dewanti, SpRad sebagai pemimpin doa di depan Goa Maria Ratu Rosari, Baciro. Paling tidak ada 2 hal yang penting, yaitu ‘bersuka citalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan dan bertekunlah dalam doa’. Kemudian yang kedua adalah ‘hendaklah kalian sehati sebudi, dalam hidupmu bersama.’ Kami semua peserta ziatour sempat terkagum saat menikmati keindahan arsitektural gereja baru, paska bencana gempa bumi dahsyat Sabtu, 27 Mei 2006. Setelah dr. Esdras Ardi Pramudita, SpS datang menyusul naik Grab, kita semua berfoto bersama di lokasi itu, dan melanjutkan perjalanan secara pelan, dengan piknik jarak dekat.
Suasana ceria di dalam bis saat melanjutkan acarea ke tujuan kedua
Setelah dr. Bagus Nugroho, SpP, dr. Theresia Riawati, SpRad, drg. Krisnovianto, SpKG yang baru selesai praktek, dan mbak Helvi Humas RSPR menyusul bis kami di sekitar Blok O, Banguntapan Bantul, kami segera bergegas berangkat. Tujuan pertama adalah menyusuri jejak Mantan Presiden AS Barrack Obama saat berkunjung di Yogyakarta pada hari Rabu (28 Juni 2017), yaitu mengunjungi Tebing Batu Breksi yang terletak di Dusun Groyokan, Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman. Tebing Breksi yang berjarak 17,6 km dari Gereja Baciro ini sangat cantik dan mulai terkenal saat banyak foto-foto yang menggambarkan keindahannya beredar di Instagram.
Tempat wisata yang satu ini memang unik, karena mengedepankan tebing sebagai obyeknya. Sayang sekali, jalan menuju lokasi tersebut macet merayap dan dipadati oleh banyak sekali bis pariwisata, sehingga kami memutuskan tidak jadi pergi ke sana. Kami hanya dapat membayangkan tebing yang tampak bagai mahakarya seni raksasa ini, yang diresmikan oleh HB X Gubernur DIY pada 30 Mei 2015. Segera kami mengingat saat yang bersamaan dengan Tebing Breksi diresmikan, juga dikenalkan Tlatar Seneng, sebentuk area luas yang dilengkapi tempat duduk melingkar dilengkapi panggung bulat berdiameter kira-kira 15 meter. Tlatar Seneng berada satu kawasan dengan Tebing Breksi dan difungsikan untuk tempat pertunjukan kesenian disana. Sekilas panggung ini mengingatkan kita pada amphiteater dalam Colosseum di Roma Italia.
Sudah bergaya, meski yang lain masih akan menyusul datang
Kami juga hanya mampu membayangkan tentang batuapung jenis breksi, yang merupakan salah satu bahan bangunan. Di lokasi tersebut, yang membuktikan dengan sangat meyakinkan bahwa perlapisan ini merupakan hasil letusan gunungapi yang eksplosif. Batuan semacam ini memiliki ketebalan antara 300-600 m. Secara stratigrafi (urutan perlapisan), batu di Tebing Breksi berada di atas Lava Bantal Berbah, di dekat Kali Oya, Berbah yang juga kami lewati dalam perjalanan. Distribusi yang luas sampai ke Wonogiri dan dengan ketebalan yang besar, mengindikasikan bahwa batuan ini dihasilkan dari suatu peristiwa rangkaian letusan gunungapi yang besar, pada sekitar 20 juta tahun lalu. Kemungkinan besar kejadiannya tidak kalah dahsyat dibandingkan dengan letusan Toba Volcano di Sumatera Utara. Saat ini, Tebing Breksi atau yang lebih dikenal dengan Taman Tebing Breksi, benar-benar sudah ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya.
Apakah dr. Tyas dan drg. Agus ini kakak beradik, kok tidak serupa?
Terlalu banyak kamera, jadi sulit fokus arah
Tujuan kami selanjutnya adalah Istana Ratu Boko, yang berjarak 3,6 km dari Tebing Breksi yang merupakan sebuah peninggalan situs arkeologi kompleks bangunan istana raja. Situs ini diduga sebagai tempat berkegiatan, situs permukiman atau istana raja (keraton), namun fungsi tepatnya belum diketahui dengan jelas. Istana Ratu Boko diperkirakan sudah dipergunakan orang pada abad ke 8 pada masa Wangsa Sailendra (Rakai Panangkaran) dari Kerajaan Medang (Mataram Hindu). Pendapat ini berdasarkan pada kenyataan bahwa kompleks ini bukan candi atau bangunan dengan sifat religius, melainkan sebuah istana berbenteng dengan bukti adanya sisa dinding benteng dan parit kering sebagai struktur pertahanan. Nama “Ratu Boko” berasal dari legenda masyarakat setempat. Ratu Boko (Jawa, arti harafiah: “raja bangau”) adalah ayah dari Loro Jonggrang, yang juga menjadi nama candi utama pada kompleks Candi Prambanan. Kompleks bangunan ini dikaitkan dengan legenda rakyat setempat tentang Loro Jonggrang.
Gaya resmi, mumpung pengunjung lain sudah menyingkir
Ulangi gaya, karena tadi belum membentangkan spanduk
Semoga lutut drg. Agus dan drg. Krisnov yang untuk jongkok masih dapat menyangga untuk berdiri
Lutut drg. Krisnov sudah menyerah, untung segera dapat berdiri
Istana Ratu Boko juga terkenal sebagai tempat terbaik untuk menikmati sunset di Jogja. Lokasinya yang berada di perbukitan memungkinan hal itu, juga menyaksikan pemandangan sebagian kota Jogja. Istana Ratu Boko adalah sebuah bangunan megah yang dibangun pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran, salah satu keturunan Wangsa Syailendra. Istana yang awalnya bernama ‘Abhayagiri Vihara’ atau biara di bukit yang penuh kedamaian ini, didirikan untuk tempat menyepi dan memfokuskan diri pada kehidupan spiritual. Berada di istana ini, anda bisa merasakan kedamaian sekaligus melihat pemandangan kota Yogyakarta dan Candi Prambanan dengan latar Gunung Merapi.
nah, ini pose wajib dan resmi
Wah, ada yang nutupi tulisan Keraton Ratu Boko je
Meski didirikan oleh seorang raja beragama Buddha, istana ini memiliki unsur-unsur Hindu. Itu dapat dilihat dengan adanya Lingga, Yoni, arca Ganesha, serta lempengan emas sebagai bentuk pemujaan terhadap Dewa Rudra, yang merupakan nama lain Dewa Siwa. Adanya unsur-unsur Hindu itu membuktikan adanya toleransi umat beragama yang tercermin dalam karya arsitektural. Memang, saat itu Rakai Panangkaran yang merupakan pengikut Budha hidup berdampingan dengan para pengikut Hindu. Gambaran toleransi, sinergi dan kerja sama era Rakai Panangkaran, tentu saja akan berlanjut kepada kita semua segenap dokter di RSPR, dalam sebuah dokumentasi yang tak lekang oleh jaman. Kami harus berbagi momentum dengan para pengunjung lain yang sangat padat, saat akan berfoto dalam keindahan bangunan arkeologis itu.
Semua peserta dibagi tiga kelompok, yaitu gajah, monyet dan macan, dengan berkalungkan kacang panjang, pisang dan sosis di leher, sebagai pengenal anggota kelompok.
Sebagian dari berbagai games yang menegangkan, menguji nyali, dan penuh canda
Pada salah satu lapangan berumput hijau di luar beteng Istana Ratu Boko, kami mengadakan fun-games dalam acara outbond, yang dirancang sangat atraktif oleh dr. Caraka Anto Yuwono dan mbak Helvi. Semua peserta dibagi tiga kelompok, yaitu gajah, monyet dan macan, dengan berkalungkan kacang panjang, pisang dan sosis di leher, sebagai pengenal anggota kelompok. Dengan berbagai games yang menegangkan, menguji nyali, dan penuh canda, dr. John Hartono, dr. Esdras Ardi Pramudita, SpS dan drg. Agus Sri Gunarto, SpBM memimpin masing-masing kelompoknya. Sayang sekali dr. Pandit Sarosa, SpAn harus mengakhiri kebersamaan karena ada acara lain, tetapi untunglah dr. Fx. Suharnadi, SpPD-KEMD datang menyusul untuk menggantikan posisinya. Setelah puas berfoto groufi dan selfi berisiko dalam cuaca sedikit mendung, kami segera melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya, saat Ibu Wahyu Tyasmono hadir menyusul, untuk memastikan bahwa dr. Tyasmono, SpPD dalam kondisi tetap bugar paska rawat inap.
Menang sing endi iki?
Juara pertama dr. Sulanto yang paling mantab
Juara kedua dr. Theresia Riawati yang hebat
Tetap bergaya, meski hanya juara tiga
Ini bukan di Candi Borobudur Magelang
Acara ziatour 2017 ini ditutup dengan makan malam bersama di puncak bukit, sambil menikmati pemandangan alam yang terpampang luas, di Abhayagiri Restaurant, sekitar 2,1 km dari Istana Ratu Boko. Kita ingat bahwa Abhayagiri Restaurant yang nge-hits sejak tahun 2016 ini, terletak di desa Sumberwatu, Prambanan, yang menarik dari resto ini adalah view Gunung Merapi, Candi Prambanan dan Sojiwan. Ditambah lampu hias yang tertata, menjadikan spot ini sangat bagus untuk dikenang. Puncak acara adalah sesi ramah tamah segenap dokter RSPR yang informal, akrab, dan tanpa sungkan. Setelah makan malam menu spesial 88, kita berbagi hadiah untuk juara fun-games outbond. Lagu ‘Kemesraan’ dan ‘Gundhul2 Pacul’ yang dinyanyikan oleh kelompok Macan dan Monyet, menjadi penentu juara 1 dan 2, karena hasil fun-games keduanya adalah draw.
Malam di Abhayagiri Restaurant yang nge-hits sejak tahun 2016
Suasana malam di Abhayagiri Restaurant
Sebelum acara ditutup, terjadi kudeta karena dr. Djoko Rijanto, SpS mengambil alih mimbar dan microphone, dengan mengungkapkan kesedihannya karena ada 2 orang peserta yang telah melakukan kesalahan selama perjalanan di bis. Lalu dr. Sabarno Pracoyo, SpB dan drg. Krisnovianto, SpKG yang dipanggil maju ke depan oleh dr. Djoko Rijanto, SpS dituduh melakukan kesalahan fatal dan membuat suasana malam itu menjadi sangat tegang, mencekam dan sunyi. Ternyata keduanya melakukan kesalahan fatal, yaitu berulang tahun saat acara ziatour digelar. Hukuman berat segera dijatuhkan, yaitu meniup lilin di atas kue tart coklat dalam iringan lagu ‘Happy Birthday” dari segenap peserta yang sontak berubah menjadi sumringah. Kami semua juga diingatkan oleh dr. Sulanto Saleh Danu, SpFK bahwa semua kegiatan ini intinya adalah menumbuhkan ‘paseduluran’ atau ‘paguyuban’ segenap dokter RSPR, yang seharusnya diselenggarakan rutin.
Dua dokter (dr. Sabarno dan drg. Krisnov) yang dipanggil dr. Djoko Rijanto, SpS
Hukuman berat bagi dokter yang melakukan kesalahan fatal
Menikmati sajian malam di Abhayagiri Restaurant
Porsi kecil makan malam di Abhayagiri Restaurant
Segera kami menikmati keindahan lokasi yang sangat cantik pada saat petang hari, dengan dinyalakannya lampu sorot yang diarahkan ke berbagai sisi, karena akan menghasilkan panorama yang indah, gagah dan megah. Kenangan segenap dokter RSPR secara bersama di situ, diabadikan secara khusus, berulang dan profesional, menggunakan teknik tinggi fotografi digital luar ruang, oleh mas Henry PPU RSPR.
Suasana malam yang cerah di Abhayagiri Restaurant
Kemudian kami kembali ke RS Panti Rapih Yogyakarta yang berjarak 16,2 km dari Abhayagiri Restaurant. Perjalanan pulang dari Abhayagiri Restaurant, setelah diselingi dr. Sabarno Pracoyo, SpB yang turun dari bis di dekat Kalasan, membuat kami terjebak macet jalanan di kota Yogyakarta, yang malam itu padat kendaraan karena cuaca cerah. Bus seri Tourista facelift buatan Karoseri Laksana, Ungaran, Jawa Tengah yang kami naiki itu sangat elit, antara lain ditandai dengan pembaruan desain lampu depan dan desain grill depan agar lebih tampil memukau. Tourista keluaran awal 2016 seharga Rp 337,5 juta ini menggunakan platform sasis terbaru, Hino FC 190, produksi kebanggan Jepang. Bus dengan lebar bodi 260 milimeter ini, tampil mempesona dengan interior bus yang didesain mewah dengan lampu LED untuk penerangan kabin. Kami segera larut dalam alunan lagu-lagu pop yang diputar melalui perangkat audio-video digital dolbi di dalam bis, yang mampu membuat kami betah.
Sebagai seorang dokter, tentu saja banyak sekali acara, rutinitas, dan kegiatan lain yang harus diikuti. Namun demikian, dengan meluangkan waktu sejenak untuk mengikuti program ziatour dokter RSPR 2017 yang menempuh jarak 43 km dan fenomenal ini, tentu kita dapat rehat sejenak dalam acara yang sangat mengasyikkan.
Mengucapkan terimakasih kepada semua pihak
Terimakasih atas perhatian, keterlibatan dan kekompakan kita semua. Sampai jumpa pada acara serupa berikutnya.
Salam hangat dokter RSPR,
wikan dan segenap Panita Ziatour Dokter RSPR 2017.
Hari Minggu pagi buta, 21 Agustus 2016 yang masih gelap, setelah selesai acara the 28th International Congress of Pediatrics (IPA 2016) di ‘West Building Vancouver Convention Centre’, kami menumpang taxi dari Hotel Barclay yang beralamat di 1348 Robson St, Vancouver, BC V6E 1C5, Kanada, menuju Vancouver International Airport (YVR). Kami akan melanjutkan penjelajahan di San Fransisco, sebelum pulang ke Indonesia.
Penerbangan dengan pesawat Airbus A320-200 AC 560 milik Air Canada
‘Wellcome to the US’ di San Fransisco International Airport (SFO)
Penumpang tujuan Amerika Serikat, menempati segmen tersendiri di Vancouver International Airport (YVR), terpisah dengan pasien tujuan negera lainnnya. Setelah gagal mengatasi kesulitan proses ‘auto check in’ dengan mesin, kami dibantu petugas darat maskapai Air Canada, untuk pembayaran biaya bagasi penumpang. Sebuah kejadian yang tidak pernah kami alami pada maskapai penerbangan lainnya. Selain itu, ada juga fasilitas pengalihan status tas saat masih di ruang tunggu penumpang, yang awalnya akan masuk kabin pesawat dapat dialihkan menjadi tas bagasi. Rasanya di bandara lain belum pernah memiliki aturan seperti ini. Setelah itu, proses pemeriksaan imigrasi dilakukan oleh petugas dari Amerika Serikat, sehingga sudah ada ucapan ‘Wellcome to the US’, bendera AS yang berkibar di konter tersebut, dan penyerahan deklarasi bebas cukai. Penerbangan dengan pesawat Airbus A320-200 AC 560 yang memakan waktu 1 jam 35 menit, menjadi terasa sebuah penerbangan domistik. Perjalanan sejauh 857 mil atau 13.900 km dari Vancouver Kanada ke San Fransisco Amerika Serikat, masih berada di dalam satuan waktu GMT yang sama. Kami mendarat di San Fransisco International Airport (SFO) di pantai barat Amerika Serikat pada pukul 9.30, tidak lagi melalui proses imigrasi, tetapi sudah langsung dikejutkan dengan suasana kapitalistik murni, dengan aturan bahwa penggunaan troli bagasi penumpang dikenai biaya sewa.
Menikmati Bay Area Rapid Transit (BART) yaitu sistem transportasi umum yang melayani seluruh San Francisco Bay Area
Perjalanan kami selanjutnya adalah mencari tiket kereta api ke pusat kota, dengan menuju konter BART. Bay Area Rapid Transit (BART) adalah sistem transportasi umum yang melayani seluruh San Francisco Bay Area. Sistem BART pesat mengoperasikan lima rute sejauh 167 km, dengan 44 stasiun ditambah 5,1 km AGT ke Oakland Airport. Dengan rata-rata mengangkut 423.120 penumpang pada hari kerja dan 126 juta penumpang per tahun pada tahun fiskal 2015, BART adalah maskapai rel tersibuk kelima di Amerika Serikat. BART dibentuk pada tahun 1957 untuk melayani penumpang di San Francisco, Alameda County, dan Contra Costa County. Pembelian tiket di mesin sudah seringkali kami lakukan, tetapi pada BART sedikit berbeda. Pembelian yang dibantu oleh penumpang lain, ternyata menggunakan sistem pengurangan nominal uang kita, sampai setara tarif BART sesuai tujuan. Setelah itu, uang kembalian dan tiket akan keluar dari mesin.
Dari Pittsburg/Bay Point di San Francisco Int’l Airport Station, kami naik KA selama 30 menit dengan 10 perhentian, melewati stasiun San Bruno Station, South San Francisco Station, Colma Station, Daly City Station, Balboa Park Station, Glen Park Station, 24th St Mission Station, 16th St. Mission Station, Civic Center/UN Plaza Station dan turun di Powell St. Station. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar sekitar 7 menit sejauh 0,4 mil, untuk mencapai Union Square Plaza Hotel, yang beralamat di 432 Geary Street, San Francisco, CA 94102, Amerika Serikat dengan Biaya: US$8,95. Oleh karena kamar yang kami pesan belum siap dan masih digunakan tamu lain, kami hanya check in menitipkan tas dan melanjutkan petualangan.
Bingung di perempatan saat akan membeli ‘Clipper’ San Francisco, yaitu kartu dengan deteksi sentuh (contactless smart) isi ulang, yang digunakan untuk pembayaran ongkos angkutan umum secara elektronik di San Francisco Bay Area.
Salah satu sudut San Francisco Bay Area.
Kami harus berjalan 2 blok menyusuri Geary Street, untuk membeli tiket di Walgreens Store #1283, semacam apotek waralaba, di 500 Geary St. Untuk membeli ‘Clipper’ San Francisco, yaitu kartu dengan deteksi sentuh (contactless smart) isi ulang, yang digunakan untuk pembayaran ongkos angkutan umum secara elektronik di San Francisco Bay Area. Pertama kali diperkenalkan sebagai ‘TransLink’ pada tahun 2002 dan namanya diubah menjadi Clipper pada tanggal 16 Juni 2010. Kami naik Bis Line 38 menyusuri Geary St naik dari perempatan Jones. Seperti Melbourne dan Vancouver yang pernah kami kunjungi, San Fransisco juga memiliki tata ruang jalan yang sama, yaitu dalam bentuk kotak blok, sehingga rapi dan mudah diingat.
Salah satu sudut Fort Poin untuk melihat Golden Gate Bridge.
Setelah melewati Leavenworth, Hyde, Larkin, Polk, Van Ness Ave, Franklin, Gough, Octavia, Laguna, Buchanan, Webster, Fillmore, Steiner, Pierce, Scott, Devisadero, Masocanic Ave, Arguello, 8 th, Funston Ave, kami turun di Park Presidio Blvd. Dari situ kami berganti dengan bis Line 28 menyusuri Park Presiderio melewati Clement, California, Lake, masuk Gen. Douglas MacArthur Tunnel dan menyusuri Veterans Blvd untuk turun di Fort Poin dan melihat jembatan legendari ‘Golden Gate Bridge’ di Fort Point yang penuh wisatawan.
Bergaya melihat Golden Gate Bridge di Fort Point yang penuh wisatawan.
Mencari gaya lain saat melihat Golden Gate Bridge di Fort Point
Golden Gate Bridge adalah jembatan gantung ikonik yang membentang Selat Golden Gate dan menghubungkan kota San Francisco dengan Marin County di sebelah utara. Pada jembatan ini tersedia jalan raya U.S. Route 101 dan California State Route 1 di sepanjang teluk. Jembatan tersebut juga menyediakan pejalan kaki dan lalu lintas sepeda yang dirancang sebagai bagian dari U.S. Bicycle Route 95. Jembatan Golden Gate diakui oleh American Society of Civil Engineers sebagai salah satu dari Keajaiban Dunia, sekaligus salah satu simbol San Fransisco dan California yang diakui dunia.
Jembatan ini memiliki lebar 1,6 km dan panjang 4,8 km, melengkung dan seolah membatasi San Francisco Bay dan Samudra Pasifik. Jembatan ini adalah salah satu simbol paling diakui secara internasional dari San Francisco, California, dan Amerika Serikat. Telah dinyatakan sebagai salah satu ‘Keajaiban Dunia Modern’ oleh American Society of Civil Engineers. Frommer menggambarkan Golden Gate Bridge sebagai “jembatan yang paling indah di dunia untuk difoto.” Jembatan ini dibuka pada tahun 1937 dan sampai 1964 merupakan jembatan gantung bentang utama terpanjang di dunia, yaitu 1.300 m.
Terus bergaya dengan latar belakang Golden Gate Bridge di Fort Point.
Gaya lain de dekat Golden Gate Bridge di Fort Point yang penuh wisatawan.
Mengukur ketinggian Golden Gate Bridge di Fort Point San Fransisco.
Mengukur ulang ketinggian Golden Gate Bridge di Fort Point San Fransisco.
Setelah puas menikmati kegagahan struktur bangunan, keindahan panorama dan saling bantu dengan wisatwan lain untuk berfoto, kami melanjutkan perjalanan. Kembali kami naik bis Line 28, yang kondisi bis pada umumnya sangat berbeda dengan kondisi bis kota di Vancouver, Kanada. Bis kota di San Fransisco umumnya lebih tua, lebih sering ngebut, kurang nyaman dalam berkendara, karena gas rem berulang, sopir kurang sopan dan terkesan sombong, meskipun berpakaian lebih formal.
Mengatur gaya pengunjung lain di dekat Golden Gate Bridge di Fort Point yang penuh wisatawan.
Kami menyusuri Richardson Ave Street, melewati Palace of Fine Arts, lanjut menyusuri Lombard sampai Laguna, Oktavia, Gough, Franklin, dan di Souh van Ness berbelok kiri dan kami turun di Chestnut. Di Chosnut kami berganti bis kota Line 47 menyusuri South Ness Ave sampai GGNRA Headquarters, berbelok ke kanan menuju Fishermans Wharf untuk mencapai Alcatraz Departure Terminal.
Kami hanya mampu membayangkan Alcatraz, yang sebenarnya adalah sebuah penjara lama yang terletak di sebuah pulau di San Francisco Bay. Pada awalnya adalah pusat pertahanan tentara dan akhirnya diubah menjadi penjara. Penjara Alcatraz menyimpan 1001 jenis misteri dan banyak sekali penjahat ataupun gengster terkenal pernah dikurung di sini. Sekarang Alcatraz tidak lagi dijadikan sebagai penjara dan telah dibuka untuk pelancong dari seluruh dunia. Sore itu kami tidak jadi ikut keliling pulau Alcatraz, karena terlalu panjangnya antrian calon wisatawan di loket pembelian tiket.
Melewati Fishermans Wharf untuk mencapai Alcatraz Departure Terminal dan melihat kapal yang menuju ke Alcatraz.
Dari Fishermans Wharf untuk mencapai Alcatraz Landing.
Dari Pier 33, kami menyusuri dermaga atau San Francisco Fisherman’s Wharf untuk mencapai Pier 39 dengan menggunakan trem listrik.Dari sekian banyak dermaga di sepanjang ‘the embarcadero’ atau dermaga nelayan, Pier 39 adalah yang paling menarik dan paling banyak dikunjungi wisatawan. Pier 39 pertama kali dikembangkan oleh pengusaha Warren Simmons dan dibuka 4 Oktober 1978. Toko2 berkembang dengan pesat. Konsepnya memang ‘shopping arcade / pedestrian arcade’. Mobil2 di parkir jauh dari shopping arcade ini. Ada banyak toko souvenir di sekitar dermaga ini, wisatawan dapat berjalan-jalan sambil melihat-lihat suasana perbelanjaan, dan yang paling menarik adalah melihat singa laut yang banyak beristirahat di sana. Untunglah kami sempat melihatnya, meski hanya ada 1 ekor. Meskipun di daerah Fisherman’s Wharf di San Francisco memang menawarkan banyak daya tarik wisata, dengan dermaga-dermaganya yang cantik dan pemandangan pulau Alcatraz yang terkenal, tetapi bintang utama di Pier 39 yang mampu membuat para wisatawan berkumpul, adalah segerombolan singa laut dengan tingkah polahnya, yang jumlahnya dapat mencapai ratusan ekor. Pernah sejak September 1989 jumlah singa laut di Teluk California terus menurun, sedangkan jumlah mereka di Pier 39 secara umum meningkat. Beberapa orang berspekulasi bahwa singa laut pindah ke dermaga karena gempa Loma Prieta 1989, namun sebenarnya gempa terjadi sebulan setelah singa laut pertama tiba di Pier 39. Kemungkinan bahwa singa laut merasa lebih aman di Pier 39, dibandingkan di dalam ganasnya Teluk California. Setelah puas menikmati Pier 39, kami pulag ke hotel untuk beristirahat. Maklum, perjalanan pulang kami diawali dengan bangun tidur pada pk. 2 dini hari dan mata tidak pernah sekejappun sejak bangun tidur itu. Kami naik bis Line 8 di North Point Stockton ke Powell, lalu menyusur Powell melewati Fransisco, Chestnut, Lombardi sampai Washinton Square, belok ke Columbus Ave sampai Kearny. Selanjutnya sampai bis sampai di ujung jalan Geary dekat Union Square untuk ganti bis kota Line 38, kembali ke hotel dengan menyusuri Geary. Malam itu kami tidur nyenyak, untuk memulihkan stamina yang sudah loyo dan melanjutkan petualangan kami di San Fransisco esok harinya.
(bersambung)
SAN FANSISCO HARI KEDUA
fx. wikan indrarto*)
Hari Selasa pagi, 23 Agustus 2016 yang dingin sekitar 14 derajad C, setelah selesai mengikuti acara the 28th International Congress of Pediatrics (IPA 2016) di ‘West Building Vancouver Convention Centre’, Vancouver, Kanada, kami melanjutkan petualangan di San Fransisco. Pada hari kedua di San Fransisco, dari Hotel Union Plaza di 432 Geary Street kami berjalan sekitar 2 menit sejauh 427 kaki menuju Geary Blvd & Taylor St untuk naik bis kota Muni Line 38 selama 7 menit dengan 7 perhentian, yaitu Jones St, Leavenworth St, Hyde St, Larkin St, Van Ness Ave, Franklin St. dan turun di Gough St. Selanjutnya kami berjalan kaki sekitar 2 menit sejauh 482 kaki untuk mencapai ‘Cathedral of Saint Mary of the Assumption’ yang beralamat di 1111 Gough Street, San Francisco, CA 94109, Amerika Serikat.
Katedral Santa Maria Assumpta, yang saat ini digembalakan oleh Mgr. Harry Schlitt adalah gereja utama untuk para pemeluk agama Katolik Roma, di Keuskupan Agung San Francisco, California. Katedral asli ‘Saint Mary Immaculate Conception’ dibangun pada 1853-1854 dan masih berdiri saat ini. Hal ini sekarang dikenal sebagai Gereja ‘Old Saint Mary’. Pada 1 Mei 1887 uskup agung meletakkan batu penjuru pembangunan gedung gereja baru. Uskup Agung Riordan, kemudian memberkati bangunan baru tersebut sebagai Katedral ‘Saint Mary of the Assumption’ pada 11 Januari 1891. Katedral kedua dibangun oleh Keuskupan Agung San Francisco selama tujuh puluh satu tahun. Pada tanggal 3 April 1962, Joseph T. McGucken menjadi Uskup Agung kelima San Francisco yang bertahta di katedral baru yang terletak di Van Ness Street. Pada tanggal 5 Mei 1971, katedral ini diberkati dan pada tanggal 5 Oktober 1996, secara resmi didedikasikan untuk Perawan Maria dengan nama ‘Cathedral Saint Mary of the Assumption’. Paus Pertama yang merayakan misa di katedral itu adalah Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1987.
Katedral Santa Maria Assumpta ini dirancang oleh arsitek lokal John Michael Lee, Paul A. Ryan dan Angus McSweeney, berkolaborasi dengan arsitek yang dikenal secara internasional Pier Luigi Nervi dan Pietro Belluschi, yang pada saat itu menjabat Dekan Sekolah Arsitektur di MIT. Desainnya menyerupai kapal yang sedang berlayar dan mengingatkan kami akan Katedral Santa Maria yang mirip sekali di Tokyo, yang dibangun awal dekade ini. Ukurannya 77,7 m persegi, tinggi 57,9 m dan dimahkotai dengan salib suci dari logam setinggi 16,7 m. Karena kemiripannya dengan agitator mesin cuci besar, katedral telah dijuluki “Our Lady of Maytag” atau “McGucken ini Maytag”. Bangunan ini pada tahun 2007 dipilih oleh ‘American Institute of Architects’ untuk masuk dalam daftar top 25 bangunan di San Francisco. Setelah khusuk berdoa dan mengucap syukur, kami segera mengambil gambar dari berbagai sudut, untuk mendokumentasikan kemegahan dan keindahan gedung ‘Cathedral of St. Mary of the Assumption’.
Kami melanjutkan perjalanan dengan naik bis kota San Fransisco yang dikenal sebagai Muni karena dioperasionalkan oleh MTA (Municipal Transportation Agency) Line 38 lagi, menyusuri Geary Street, melewati Octavia, Laguna, Buchanan, Wesbter, Fillmore, Steiner, Pierce, Scott, Divisidero, Arguello, 8th Ave, dan turun di Park Presidio Ave. Rute ini sama persis dengan yang kami lalui hari sebelumnya, yaitu dengan berganti bis Muni Line 28 ke Fort Poin di Golden Gate Bridge. Hari Senin pagi, 23 Agustus 2016 saat itu taman di dekat jembatan tersebut sangat longgar karena bukan hari libur, sangat berbeda dengan hari sebelumnya. Kami lanjutkan perjalanan melalui Presidio Parkway dan turun di Richardson Ave, untuk menyaksikan keindahan Palace of Fine Art.
The Palace of Fine Arts di daerah Marina di San Francisco, California, adalah struktur monumental indah yang awalnya dibangun untuk acara Panama-Pacific Exposition tahun 1915, yaitu kegiatan pameran karya seni. Gedung ini dibangun kembali pada tahun 1965 dan proyek renovasi laguna, trotoar, dan retrofit diselesaikan pada awal 2009. Selain sering untuk ruang pameran seni, gedung indah itu juga menjadi tujuan yang populer bagi wisatawan dan merupakan lokasi favorit untuk foto pra pernikahan oleh banyak pasangan di seluruh San Francisco Bay Area. Dibangun di sekitar laguna buatan kecil, Palace of Fine Arts terdiri dari, pergola lebar sekitar 340 m yang mengelilingi rotunda atau tiang besar di pusat yang terletak di tepi air dalam laguna. Air tersebut dimaksudkan untuk menimbulkan bayangan atau echo dalam gaya klasik di Eropa saat dilihat, di mana hamparan air menjadi permukaan cermin untuk memantulkan bentuk bangunan megah dari kejauhan. Ornamen mencakup tiga panel garapan Bruno Louis Zimm yang mengelilingi rotunda, dan melambangkan kebudayaan Yunani. Pematung hebat Ulric Ellerhusen memahat patung perempuan menangis di atas tiang dan dekorasi pahatan alegoris yang menggambarkan kontemplasi, keheranan dan meditasi. Bagian bawah kubah Palace rotunda ini memiliki delapan tiang besar, yang awalnya berisi mural karya Robert Reid. Palace of Fine Arts yang dirancang arsitek William Gladstone Merchant dan Bernard Maybeck tahun 1912 dalam areal seluas 6,9 ha telah dicatat dalam ‘U.S. National Register of Historic Places’.
Setelah puas menikmati keindahan bangunan tersebut, kami melanjutkan dengan berjalan kaki dalam taman indah di Golden Gate National Recreation Area yang dibangun tahun 1900. Pada taman yang terletak di seberang Palace of Fine Arts tersebut, juga terdapat Letterman Digital Arts Center, yang didatangi oleh para mahasiswa dan pekerja film. Di tengah taman berdiri gagah, patung Mr. Eadweard James Muybridge (1830-1904), father of cinema San Fransisco. Setelah melihat berbagai karya pekerja seni, termasuk tempat proses editing film Star Wars edisi ke2, kami lanjut ke Montgomery Steet Barracks. Barak militer yang digunakan pada Civil War 1861-64 dan perang Spanyol Amerika tahun 1898, waktu itu merupakan Music in the Military Presidio Band Barracks yang terkenal sejak tahun 1867.
Di dalam areal tersebut, juga ada The Walt Disney Family Museum (WDFM) yaitu sebuah museum yang menampilkan kehidupan dan warisan Walt Disney. Museum ini terletak di The Presidio of San Francisco, bagian dari National Recreation Area Golden Gate di San Francisco. Bangunan utama dibangun tahun 2009. The Walt Disney Family Museum didanai oleh Walt Disney Family Foundation-sebuah organisasi non-profit yang didirikan oleh ahli waris Disney, termasuk Diane Disney Miller, putri kandung Disney dan pendiri museum. Di dalam bangunan museum utama terdapat 40.000 fitur teknologi terbaru dan bahan bersejarah yang menggambarkan prestasi Disney yang meliputi gambar awal, animasi, film, musik, dan model Disneyland berdiameter 12 kaki. Di lobi museum terdapat 248 penghargaan yang dimenangkan Disney selama karirnya, termasuk Presidential Medal of Freedom dan banyak Academy Awards, termasuk penghargaan kehormatan untuk Putri Salju dan Tujuh Kurcaci, yang terdiri dari satu Oscar berukuran sebenarnya bersama tujuh Oscar kecil yang menggambarkan 7 orang Kurcaci. Ada juga 10 galeri yang menggambarkan cerita dimulai dengan sejarah leluhur Walt Disney dan berakhir dengan saat kematiannya pada tanggal 15 Desember 1966. Miniatur Walt Disney Carolwood Pacific Railroad juga dibangun di halaman belakang museum, termasuk lokomotif Lilly Belle. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan dengan naik bis Muni Line 43 di depan Presidio Transit Center, menuju ke Lombard Street. Kami melewati Divisadero, Scott, Pierce, Steiner, Fillmore, Webster, Buchanan, Laguna, belok ke kiri dan turun di Chesnut untuk ganti bis Muni Line 30 ke Powell Hyde Cable Car Line.
Kita tahu bahwa Cable Car atau mobil kabel di San Francisco yang dioperasikan secara manual adalah yang tertua di dunia. Mobil kabel merupakan ikon San Francisco, bagian dari jaringan transportasi perkotaan intermoda yang dioperasikan oleh San Francisco Municipal Railway. Dari dua puluh tiga jalur rel yang dibangun antara 1873 dan 1890, tiga rute masih tetap aktif, yaitu dari pusat kota dekat Union Square ke Fisherman Wharf, dan sepanjang California Street. Sebagian besar dari 7 juta penumpang tahunan mobil kabel ini adalah wisatawan, karena ini adalah salah satu tempat wisata yang paling signifikan di kota San Fransisco, bersama dengan Alcatraz Island, Jembatan Golden Gate, dan Fisherman Wharf. Daya tarik mobil kabel tidak menjadi berkurang meskipun sudah ada trem San Francisco, yang beroperasi di Market Street dan Embarcadero. Cable Car The Powell-Hyde (Jalur 60) berjalan dari utara dan melaweti jalan yang curam menanjak di Powell menuju Market, sebelum melintasi garis California Street di puncak bukit. Kemudin menurun dari puncak, berbelok ke kiri, dan menanjak lagi melewati Jackson Street sampai ke puncak di Hyde Street. Jalur ini adalah jalur paling menantang dan sangat diminati oleh wisatawan, sehingga sering terjadi antrian panjang di konter tiket.
Setelah berbaur dengan para wisatawan yang mengagumi mobil kabel tersebut, kami lanjutkan perjalanan dengan naik bis Muni Line 30, menyusuri Columbus dan menyimpang untuk turun di Chesnut. Dari situ kami berjalan kaki 2 blok ke Lombard and Jones, untuk menikmati keindahan sebuah segmen Lombard Street. Segmen jalan tersebut dikenal sebagai ‘crookedest street’ yaitu jalan dari timur ke barat di San Francisco, California, yang merupakan jalan menurun paling curam di dunia. Membentang dari Presidio timur ke Embarcadero, dengan mendatar sebentar di Telegraph Hill, dan dicatat sebagai “jalan yang paling bengkok di dunia “, terletak di sepanjang segmen timur di lingkungan Russian Hill. Jalan itu dinamai Lombard Street oleh Jasper O’Farrell, seorang surveyor dari Philadelphia di San Francisco. Desain jalan menurun tajam ini pertama kali diusulkan oleh pemilik properti Carl Henry dan dibangun pada tahun 1922, yang dimaksudkan untuk mengurangi 27% kemiringan jalan menurun bukit ini, agar tidak terlalu curam untuk kendaraan.
Setelah terengah-engah berjalan mendaki 2 blok dengan kecuraman sekitar 30 derajad, kami harus antri untuk berfoto dengan banyak wisatawan lain. Pada areal tersebut cukup banyak wisatwan yang terkagum-kagum dengan arsitektur jalan menurun dan taman bunga di sekitarnya, sehingga membuat cukup sulit berfoto polos. Setelah menunggu cukup lama dan berhasil foto di tengah kecurman jalan, kami segera melanjutkan perjalan dengan menuruni bukit sebanyak 3 blok, untuk ganti naik Muni Line 30 di akhir Russian Hill. Bis berjalan cepat menyusuri Columbus menyimpang Masont, melewati Washington Square yang padat pengunjung, lanjut Powell, sampai Stockton belok kanan menyusur sisi barat China Town, kemudian berbelok ke kiri menyusuri Mason. Kami turun di Geary dan lanjut pulang ke hotel untuk berkemas-kemas. Sore itu kami akan makan malam perpisahan dengan seorang teman dari Yogyakarta, yang telah bekerja di sebuah bank, yaitu Wells Fargo, sejak 25 tahun lalu. Malam harinya, kami harus check out dari hotel, untuk kembali ke Indonesia.
Terima kasih kami haturkan, kepada semua pihak yang terkait, sehingga perjalanan untuk mengikuti the 28th International Congress of Pediatrics (IPA 2016) di Vancouver Kanada dan petualangan di San Fransisco AS ini, dapat terlaksana. Sampai jumpa dalam perjalanan selanjutnya. Terima kasih.
Sekian
*) pelancong Jawa berdana cekak.
Ditulis di kamar no 608 Hotel Union Plaza
di 432 Geary Street, San Fransisco, California, USA
Tujuan diselenggarakannya akreditasi Rumah Sakit (RS) adalah meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, menjamin keselamatan pasien, dan memberikan perlindungan kepada masyarakat. Proses Akreditasi RS saat ini dilakukan dengan menilai aktivitas pada tahap input dan proses layanan saja. Dengan penilaian pada tahap input dan proses saja, tujuan akreditasi RS selama ini masih tidak mudah diwujudkan. Bagaimana sebaiknya?
Telah dimuat di Harian Nasional Media Indonesia Digital pada Kamis, 6 Agustus 2026 :
Standar Akreditasi RS dikelompokkan menjadi 4, yaitu Kelompok Manajemen Rumah Sakit, Kelompok Pelayanan Berfokus pada Pasien, Kelompok Sasaran Keselamatan Pasien, dan Kelompok Program Nasional (PROGNAS). Masing-masing kelompok tersebut terdiri dari beberapa bab dan banyak standar, yang dilengkapi dengan elemen penilaian.
Sebagai gambaran, Kelompok Manajemen Rumah Sakit terdiri dari Tata Kelola Rumah Sakit (TKRS) 15 standar, Kualifikasi dan Pendidikan Staf (KPS) 19 standar, dan Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK) 11 standar. Selain itu, Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP) 11 standar, Manajemen Rekam Medik dan Informasi Kesehatan (MRMIK) 13 standar, Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) 13 standar, dan Pendidikan dalam Pelayanan Kesehatan (PPK) 6 standar.
Harian Nasional Media Indonesia Digital pada Kamis, 6 Agustus 2026
Pada Kelompok Pelayanan Berfokus pada Pasien, terdiri dari Akses dan Kontinuitas Pelayanan (AKP) 6 standar, Hak Pasien dan Keterlibatan Keluarga (HPK) 4 standar, Pengkajian Pasien (PP) 4 standar, dan Pelayanan dan Asuhan Pasien (PAP) 5 standar. Selain itu, Pelayanan Anestesi dan Bedah (PAB) 7 standar, Pelayanan Kefarmasian dan Penggunaan Obat (PKPO) 8 standar dan Komunikasi dan Edukasi (KE) 7 standar. Pada Kelompok Sasaran Keselamatan Pasien (SKP) 6 standar, yaitu Mengidentifikasi pasien dengan benar, Meningkatkan komunikasi yang efektif, dan Meningkatkan keamanan obat-obatan yang harus diwaspadai. Selain itu, juga Memastikan sisi yang benar, prosedur yang benar, pasien yang benar pada pembedahan / tindakan invasif, Mengurangi risiko infeksi akibat perawatan kesehatan, dan Mengurangi risiko cedera pasien akibat jatuh. Pada Kelompok Program Nasional (PROGNAS) 5 standar, yaitu Peningkatan kesehatan ibu dan bayi, Penurunan angka kesakitan Tuberkulosis/TBC, Penurunan angka kesakitan HIV/AIDS, Penurunan prevalensi stunting dan wasting, serta Pelayanan Keluarga Berencana Rumah Sakit.
Akreditasi RS dengan berbagai kelompok tersebut di atas, yang terdiri dari beberapa bab dan banyak standar, yang juga dilengkapi dengan banyak elemen penilaian, tentu saja perlu dievaluasi secara berulang. Ke depan akreditasi RS sebaiknya semakin menitikberatkan secara lengkap 3 tahap utama pelayanan RS, yaitu tahap input (SDM dan regulasi), proses (layanan harian) dan output (hasil pelayanan). Akreditasi RS rasanya tidak cukup hanya memastikan tahap input, yaitu bahwa semua standar dan dokumen pencatatannya tersedia secara lengkap dan mampu telusur, juga kelengkapan dan ketersediaan sebanyak mungkin elemen penilaian. Namun demikian, akreditasi RS sebaiknya juga harus mampu membuktikan bahwa pelayanan kepada pasien telah dilakukan dan menghasilkan luaran klinis yang baik dan dapat dipertanggung jawabkan (justified).
Kompetensi RS sebaiknya juga diukur pada tahap output atau hasil pelayanannya. Kompetensi RS memang didukung oleh SDM yang cukup, sarana dan prasarana yang lengkap, disertai regulasi yang rinci. Namun demikian, kompetensi RS juga harus dibuktikan melalui hasil pelayanan (clinical outcomes) yang baik.
Kementerian Kesehatan RI telah merombak sistem akreditasi rumah sakit menjadi berbasis hasil klinis (clinical outcome) secara real-time, menggunakan acuan Standar Akreditasi Rumah Sakit (STARKES) berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/1596/2024, serta melibatkan delapan Lembaga Penyelenggara Akreditasi (LPA). Sistem dan kebijakan terbaru dengan penilaian berbasis hasil medis ini, proses akreditasi RS tidak lagi sekadar evaluasi administrasi lima tahunan, melainkan diukur dari angka kesembuhan, tingkat kegagalan operasi, dan keselamatan pasien (survival rate). Proses penilaian mutu eksternal RS akan dilakukan oleh delapan lembaga resmi yang disetujui pemerintah, yaitu KARS (Komisi Akreditasi Rumah Sakit), LAM-KPRS (Lembaga Akreditasi Mutu dan Keselamatan Pasien Rumah Sakit), LARSI (Lembaga Akreditasi Rumah Sakit Indonesia), LARs DHP (Lembaga Akreditasi Rumah Sakit Damarhusada Paripurna), LPAKI (Lembaga Akreditasi Fasilitas Kesehatan Indonesia), BAM Mutu Rumah Sakit (Badan Akreditasi Mutu Rumah Sakit), LARSKI (Lembaga Akreditasi Rumah Sakit Quantum Indonesia), dan LCES (Lembaga Akreditasi Layanan Kesehatan)
Standar dan elemen penilaian untuk akreditasi RS tahap input dan proses sudah tersedia secara lengkap. Standar acuan untuk akreditasi RS model baru tetap mengacu pada instrumen Standar Akreditasi Rumah Sakit (STARKES) yang sudah ada. Namun demikian, tentu perlu disusun standar dan elemen penilaian tambahan, untuk akreditasi tahap hasil klinis pelayanan RS. Tentu saja standar dan elemen penilaian luaran klinis akan mempertimbangkan banyak hal, termasuk derajat penyakit pasien saat masuk RS, yang berkontribusi secara obyektif terhadap luaran klinis. Untuk itu, diperlukan masukan dari berbagai pihak, terutama para dokter spesialis, sub spesialis, konsultan dan para klinisi lainnya, agar standar dan elemen penilaian luaran klinis benar-benar memotret bagaimana layanan nyata yang telah dilakukan di RS, untuk para pasiennya.
Sangat mungkin proses akreditasi RS yang menggunakan standar dan elemen penilaian baru pada penilaian luaran klinis, mirip dengan proses audit medis, audit klinis ataupun audit kematian pasien, yang telah rutin dilakukan di RS. Sebaiknya akreditasi RS ke depan juga menilai mekanisme penegakan diagnosis dalam 48 jam sejak pasien masuk RS, bukti pemeriksaan penunjang medis untuk penegakan diagnosis, kesesuaian diagnosis radiologis dan klinis, kesesuaian diagnosis pre dan post operasi, atau kesesuaian layanan dengan CP (clinical pathways) yang sudah ditetapkan. Pada akreditasi RS model yang baru, status akreditasi rumah sakit dapat diturunkan di tengah jalan, jika ditemukan tingkat kegagalan tindakan medis atau operasi, angka kesembuhan, tingkat kegagalan operasi, atau keselamatan pasien (survival rate) yang buruk.
Dengan demikian, proses perbaikan layanan dan mutu RS secara berkesinambungan, yang merupakan tujuan akreditasi RS, rasanya akan lebih mudah dilakukan dengan akreditasi RS model baru ini. Hal ini karena hasil akreditasi RS model baru mencakup hal yang lebih lengkap dan nyata dirasakan pasien, karena menitik beratkan pada hasil luaran klinis.
Selamat berbenah untuk semua RS.
Sekian
Yogyakarta, 29 Juli 2026
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Dekan FK UAJY, surveyor akreditasi RS, Alumnus S3 UGM.
Perjalanan kami menjelajah Sumatera di atas roda dan menggilas Andalas (nama lama Pulau Sumatera) dimulai pada Sabtu, 1 Agustus 2026, pk. 14 dari Yogyakarta ke Bandar Lampung, naik bis Rosalia Indah.
Pamit berniat Menggilas Andalas dari Yogyakarta naik bis Rosalia Indah 3145 menuju Bandar Lampung.
Suasana kegembiraan dalam perjalanan meninggalkan Yogyakarta dalam kabin bis Rosalia Indah
Bus tronton Scania K410 premium bermesin ganda (tiga as roda) buatan Swedia ini, menawarkan kenyamanan suspensi udara kelas atas, mesin 13.000 cc bertenaga besar (hingga 450 hp), dan sistem pengereman canggih. Kami melalui jalur selatan Pulau Jawa, yaitu dari Yogyakarta melewati Purworejo, Kebumen sampai Ajibarang, terus ke utara.
Bus tronton Scania K410 dibalut bodi Legacy SR3 Prime milik Rosalia Indah
Kami menaiki bis Rosalia Indah yang dibalut bodi Legacy SR3 Prime buatan karoseri Laksana Ungaran, Semarang. Siap menyusuri jalur selatan Jawa, sebelum masuk tol Trans Jawa di GT Pejagan, tepat sebelum kota Cirebon, Jawa Barat.
Lanjut berpacu dengan pelari Cipali lainnya, melahap tol Trans Jawa melewati Jakarta, dan mendarat di Merak. Di ujung barat Pulau Jawa itu, kami menyeberangi Selat Sunda ke Pulau Sumatera.
Pemandangan Selat Sunda saat menuju ke Pulau Sumatera
Arus tenang saat kami menyeberangi Selat Sunda ke Pulau Sumatera
Menyeberangi Selat Sunda di dalam lambung ferry yang meluncur di arus tenang
Penyambutan teman2 yang luar biasa di Way Halim agen bis Rosalia Indah Bandar Lampung
Mendampingi Prof Fx. Sumarja (teman sekalas di SMA) dalam kunjungan inspeksi pembangunan Katedral Kristus Raja Keuskupan Tanjungkarang, Bandar Lampung.
Nampak luar Gereja Katolik Katedral Kristus Raja Keuskupan Tanjungkarang, Bandar Lampung yang sedang dibangun.
Nampak interior gereja Katolik Katedral Kristus Raja Keuskupan Tanjungkarang, Bandar Lampung yang sedang dibangun
Mgr. Vinsensius Setiawan TriatmojoUsukup Keuskupan Tanjungkarang, Bandar Lampung
Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Siger Milenial yang menghubungkan gedung parkir Pemerintah Kota Bandar Lampung dengan Masjid Agung Al Furqon.
Bersama segenap teman yang bergembira di JPO Siger Milenial Bandar Lampung, dengan pemandangan ke arah Teluk Lampung
Pada Minggu, 2 Agustus 2026, pk. 11 kami mencapai pool bis Rosalia Indah Way Halim Jalan Bypass Soekarno – Hatta No. 2A Bandar Lampung. Lanjut City Tour diantar mas Fx Sumardja (guru besar FH UNILA dan teman sekelas di SMA Kolese de Britto Yogyakarta JB 84 dan istri). Juga mas Wahadi Setiadi (Mantan Kepala Dinas Sosial Lampung) teman di UGM 84, mas Iko Sandy Trisandyadenta (teman sejak di SMP Bruderan Purworejo), dr. Humisar Sibarani, SpAn (teman seangkatan di FK UGM 84) dan dr. Suwardiman, MKes yang datang menyusul. Kami melaju ke “Taman Doa Sendang Banyu Urip” di halaman belakang Gereja Santa Maria Immaculata, di Way Kandis, lanjut ke rumah Mas Arwandi kakak sepupu di Jl. Pulau Batam Raya no 21 Way Halim Permai (depan RS Urip Sumoharjo), melihat Gapura Siger, Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Siger Milenial yang menghubungkan gedung parkir Pemerintah Kota Bandar Lampung dengan Masjid Agung Al Furqon, terus ke Gereja Katedral Kristus Raja (Keuskupan Tanjungkarang) berlokasi di Jl. Kotaraja 14, Tanjungkarang, Bandar Lampung. Lanjut naik bis SAN dari Bandar Lampung ke Jambi pk. 19 di Jl. Terusan Ryacudu No 2, Lampung Selatan.
Pemandangan indah di bawah JPO Siger Milenial Bandar Lampung
Bersama dr. Suwardiman, MKes dan dr. Humisar Sibarani, SpAn sesama alumnus FK UGM 84 di depan kantor Walikota Bandar Lampung
Kota Bandar Lampung bermula dari penggabungan wilayah Telukbetung dan Tanjungkarang, yang kemudian resmi menjadi ibu kota Provinsi Lampung melalui proses panjang sejak era kolonial dan administratif. Telukbetung dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1819 sebagai pusat administrasi, perdagangan, dan militer. Selain itu, juga pusat pelabuhan, karena lokasinya yang strategis di Teluk Lampung menjadikannya pintu gerbang utama pengiriman hasil bumi seperti lada dan kopi. Pada awal kemerdekaan Indonesia hingga orde lama, daerah ini dikenal sebagai Kotamadya Tanjungkarang–Telukbetung. Berdasarkan ketentuan dan aspirasi tahun 1965, nama resmi diubah menjadi Bandar Lampung yang berasal dari gabungan kata “Bandar” (pelabuhan atau tempat perdagangan) dan “Lampung” (nama wilayah provinsi), yang resmi disahkan pada tahun 1983 untuk menggantikan nama lama yaitu Kota Madya Tanjungkarang–Telukbetung.
Gerbang Siger di batas kota Bandar Lampung, dengan semua teman yang baik hati.
Kami teringat Romo Kanjeng di Lampung, yaitu sebutan bagi Mgr. Albertus Hermelink Gentiaras, SCJ, tokoh gereja Katolik pertama di Pringsewu Lampung dan mantan Uskup Tanjungkarang.
Berdoa bersama segenap teman yang baik hati di Taman Doa Sendang Banyu Urip Bandar Lampung
Taman Doa Sendang Banyu Urip di samping Gereja Katolik Santa Maria Imakulata, Bandar Lampung
Berdoa di Taman Doa Sendang Banyu Urip di samping Gereja Katolik Santa Maria Imakulata, Bandar Lampung
Gereja Katolik Santa Maria Immaculata adalah gereja yang dibangun dengan penuh semangat para jemaatnya. Dulu, gereja ini berbentuk seperti lumbung padi, namun berkat pertumbuhan iman para jemaat dan dukungan sumbangsih, gereja ini akhirnya dapat dibangun dengan lebih megah.
Bersama teman2 mengunjungi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung
Fakultas Kedokteran Universitas Lampung
Gereja Katolik Santa Maria Imakulata memiliki tempat yang luas, dengan konsep bangunan yang dibangun sedemikian rupa membuat peribadatan menjadi nyaman. Kami lanjut mengjungi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung dan Gereja Katolik Santo Yohanes Rasul Paroki Kedaton, Bandar Lampung. Ini Gereja Paroki di mana mas Fx. Sumarja tinggal dan beraktivitas yang berlokasi di Jl. Tupai 49 Bandar Lampung
Gereja Katolik Santo Yohanes Rasul Paroki Kedaton, Bandar Lampung
Suasana di dalam ruangan Gereja Katolik Santo Yohanes Rasul Paroki Kedaton, Bandar Lampung
Bergaya di depan Gereja Katolik Santo Yohanes Rasul Paroki Kedaton, Bandar Lampung
Gapura atau Menara Siger adalah ikon budaya dan titik nol Pulau Sumatera yang berbentuk mahkota pengantin wanita khas Lampung. Lokasinya berada di Bakauheni, Lampung Selatan, berjarak sekitar 91,5 km atau 1 jam 18 menit berkendara via jalan tol dari pusat Kota Bandar Lampung. Mengara Siger tersebut kami lihat saat ferry penyebrangan hampir mendarat di Bakauheni.
Siger adalah mahkota pengantin perempuan Lampung yang berbentuk segitiga berwarna emas. Siger biasanya memiliki cabang yang jumlahnya tujuh atau sembilan. Meskipun mulanya dikenakan wanita saat pernikahan, saat ini siger sudah menjadi simbol provinsi tersebut. Selain dibangun menjadi menara di Bakauheni, siger juga dijadikan lambang batas kota Bandar Lampung yang kami kunjungi.
Luar biasa perjumpaan ini bersama Mas Kol (Purn) Hi. Arwandi, SIP, MSi
Bersama anak kedua dan menantu mas Kol (Purn) Hi. Arwandi, SIP, MSi
Dalam perjalanan meninggalkan Bandar Lampung menuju ke Jambi, jadi teringat akan kekek buyut, yaitu Kyai Mangundrono yang mempunyai 4 anak, yaitu Kyai Mangundarso, Nyai Mangundiharjo, Nyai Atmowidarso dan Kyai Atmoharjono.
Kyai Mangundarso (mbah Darso) memiliki 4 anak, yaitu Parsinah, Djakiyah, Basoeki dan Soewiknyo
Sedangkan Nyai Mangundiharjo (di desa Salaman, Magelang) (mbah Mangun) memiliki 13 anak, yaitu Suliyah (di Magelang), Soedjiman Partodiwarno (di desa Salaman), Walijah Hardjowidarso (di Sapuran, Wonosobo), Dasinah Soekodo Mulyosentono (di Wonosobo), Wagiyo (di Kebumen), Wilis Legiono (di Purwakarta), Soekartinah (meninggal saat bayi), Soekiman (di Salaman, Magelang), Soetiyah (di Jakarta), Soekirlan (di Wonosobo), Daliyah (di Magelang) dan Soenariyah (di Tangerang).
Selanjutnya Nyai Atmowidarso (mbah Atmo) punya 1 anak, yaitu Sardjiyo Martodarsono. Dan terakhir Kyai Atmoharjono (mbah Har) punya 5 anak, yaitu Tasronah, Suminah, Suwartinah, Sugiyanto, dan Suratinah
Dengan demikian Bapak Sukiman adalah sepupu Ibu Tasronah
Bapak Sukiman memiliki 3 anak, yaitu Ig. Toto Ismintarto (di Tangerang Selatan), Fx. Wikan Indrarto (saya di Yogyakarta) dan Y. Woro Pradnastuti (di Bandung)
Ibu Tasronah memiliki 9 anak, yaitu Gempur Supriyanto (almarhum), Kusnarto (almarhum), Suharyani (di Belitang OKU Timur), Christina Sumaryati (almarhum), Heribertus Sudibyo (di Belitang OKU Timur), Hadrianus Susanto Wiratmoko (di Jambi), Sigek Susanti Arwandi (almarhumah, istri mas Kol (Purn) Hi Arwandi yang telah kami kunjungi di Bandar Lampung), Maria Gawat Takaryati (di Sleman DIY) dan Panggih Rinekso.
Dengan demikian saya dengan mas Heribertus Sudibyo (di OKU Timur) dan mas Hadrianus Susanto (di Jambi) yang akan saya kunjungi di rumahnya juga saudara sepupu, dengan saya secara keturunan lebih tua dan dapat memanggilnya adik.
Pamit lanjut perjalanan dari Bandar Lampung menuju Jambi, naik bis SAN (Siliwangi Antar Nusa) buatan Karoseri Stadabus dari Bandung.
Bodi bus Supernova ini buatan 2024, dengan sasis Golden Dragon 300 TK buatan Tiongkok. Bodi andalan ini bergaya Eropa dan konsep kaca tunggal (single glass). Bentuk bis yang belum pernah kami lihat sebelumnya.
Suasana di dalam kabin bis SAN (Siliwangi Antar Nusa) meninggalkan Bandar Lampung menuju Jambi
Senin, 3 Agustus 2026, pagi sampai di Jambi pk. 8.30. Dijemput sepupu mas Hadrianus Susanto Wiratmoko, pensiunan Guru dan Kepala Sekolah SMA Xaverius untuk City tour, dimulai dari terminal Simpang Rimbo, Gereja Gregorius Agung di Kenali, Kota Baru, terus ke Tugu Keris, RSUD Raden Mattaher untuk bertemu dengan dr. Samsirun Halim, SpPD-KIC (kakak kelas di SMA Kolese de Britto Yogyakarta JB 82), kantin SMA Xaverius, ke rumah mas Susanto di Palmerah, lihat jembatan Gentala Arasi, terus lewat Gereja St. Teresia.
Dijemput mas Hadrianus Susanto Wiratmoko di Terminal bis Simpang Rimbo Jambi
Gereja Santo Gregorius Agung yang bernama resmi Gereja Santo Gregorius Agung Paroki Kenali adalah sebuah gereja paroki Katolik yang terletak di Kenali Asam Bawah, Kota Baru, Jambi. Gereja ini didedikasikan kepada Santo Paus Gregorius Agung. Gereja ini berada di bawah naungan yurisdiksi Keuskupan Agung Palembang.
Tugu Keris Siginjai adalah sebuah tugu atau monumen yang merupakan ikon dari Kota Jambi. Bentuknya menyerupai Keris Siginjai, yakni keris dari Kerajaan Jambi. Selain menjadi kebanggaan masyarakat Jambi, Keris ini juga digunakan sebagai bagian Lambang Jambi. Letaknya tepat berada dipusat perkantoran Wali Kota Jambi, Kota Baru.
Pembangunan monumen ini merupakan proyek inisiasi langsung dari Pemerintah Kota Jambi di bawah kepemimpinan Wali Kota Syarif Fasha pada tahun 2017, dengan pengerjaan teknis yang dikoordinasikan melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Jambi. Diresmikan pada 31 Desember 2017, berlokasi di Pusat perkantoran Wali Kota Jambi, Kecamatan Kota Baru, Jambi dengan biaya pembangunan sekitar Rp3,5 miliar
Tugu Keris Siginjai memiliki tinggi sekitar 9 meter dan tinggi keseluruhannya sekitar 28 meter. Tugu Keris Siginjai memiliki sembilan struktur besi pipa galvanis berbentuk spiral yang saling merangkai membentuk satu kesatuan dan terdapat patung angsa. Hal ini melambangkan luas wilayah Kerajaan Jambi dahulu meliputi sembilan lurah yang dialiri oleh anak-anak sungai.
Tugu keris siginjai diresmikan oleh Wali Kota Jambi, Syarif Fasha tanggal 31 Desember 2017 atau pada tahun baru 2018. Sebelum direnovasi menjadi tugu keris siginjai, tugu ini adalah tugu jam atau dikenal juga dengan tugu monas, karena bentuknya menyerupai monas yang berada di Jakarta.
Tugu Keris Siginja di malam hari di tengah kota Jambi
Tugu Keris Siginja di siang hari yang panas di tengah kota Jambi
Bersama dr. Samsirun Halim SpPD-KIC (kakak kelas di SMA, JB 82) di RSUD Raden Mattaher Jambi.
Sowan dan menimba ilmu dari senior yang inspiratif, dr. Samsirun Halim SpPD-KIC (JB 82) di RSUD Raden Mattaher Jambi.
RSUD Raden Mattaher Provinsi Jambi adalah rumah sakit milik Pemerintah Propinsi Jambi terletak dikota Jambi, berdiri pada tahun 1948 dengan tipe C dan bergabung dengan Dinas Kesehatan Tentara (DKT) Jambi. Pada tanggal 19 November 1972 dipindahkan ke Jl. Letjen Suprapto No. 31 Telanaipura Jambi. Rumah Sakit ini dibangun di atas tanah seluas + 75.000 M2 dengan luas bangunan + 41.590 M2.
Rumah sakit umum daerah Raden Mattaher Provinsi Jambi semula namanya Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi Jambi. Dan kemudian pada bulan November 1999 bertepatan pada hari kesehatan nasional 1999, rumah sakit ini diberi nama salah seorang Pahlawan Jambi yaitu Raden Mattaher.
RSUD Raden Mattaher seja Bulan Nopember 2009 merupakan rumah sakit kelas B Pendidikan dengan kapasitas 321 tempat tidur. Dengan diberlakukannya Peraturan Daerah (Perda) No.10 Tahun 2001 tentang RS Unit Swadana maka sejak Januari 2002 RSD Raden Mattaher Jambi berlaku sebagai RS Unit Swadana. Kemudian Dengan Perda No. 09 , sejak mulai 1 Januari 2011, RSUD Raden Mattaher telah dikelola keuangannya secara Badan Layanan Umum Daerah (BLUD)
Pada saat ini RSUD Raden Mattaher telah menjadi tempat mahasiswa kepaniteraan klinik Fakultas Kedokteran Universitas Jambi (FK UNJA) yang melaksanakan pendidikan profesi kedokteran. Selain itu ada mahasiswa kepaniteraan klinik yunior dan program pendidikan tenaga kesehatan lainnya
Makan siang menu enak di kantin mbak Irine Widyawati dan mas Hadrianus Susantodi dalam kompleks SMA Xaverius I Jambi
Senang sekali dapat mengunjungi suami istri mas Susanto Wiratmoko dan mbak Irine di sekolahnya
Bersama mas Hadrianus Susantodi Gereja Gregorius Agung, Jambi yang megah menjulang
Terimakasih banyak mas Hadrianus Susanto Wiratmoko (sepupu, cucu Mbah Har Salaman) telah menemani kami ke Gereja Katolik St Gregorius Agung di Kenali, Jambi. Kami segera pamit pulang, karena kami lanjut jalan lagi naik Innova Reborn milik Ratu Intan Travel, menuju Palembang.
Jembatan Gentala Arasy yang arstistik menyeberangi Sungai Batanghari di Jambi
Jembatan Gentala Arasy adalah sebuah jembatan pedestrian untuk pejalan kaki yang melintang di atas Sungai Batanghari, Kota Jambi. Jembatan ini menghubungkan Tepian Tanggo Rajo ke Menara Gentala Arasy, Jambi Seberang. Jembatan Gentala Arasy adalah jembatan pedestrian di atas sungai pertama di Indonesia yang memiliki kontur meliuk seperti huruf S.
Jembatan ini merupakan proyek dari masa pemerintahan Gubernur Jambi, Hasan Basri Agus, dan diresmikan oleh Wakil Presiden Indonesia pada waktu itu, Jusuf Kalla, pada tanggal 28 Maret 2015. Jembatan Gentala Arasy dibangun dengan anggaran senilai Rp 88,7 miliar dalam tiga tahun anggaran 2012-2014. Jembatan penghubung ini memiliki panjang 503 meter dan lebar 4,5 meter.
Nama Gentala Arasy diperoleh dari tiga kata yaitu genta yang berarti suara, tala yang berarti keselarasan, dan arasy yang berarti menggema ke langit. Maka makna dari Gentala Arasy adalah bunyi yang selaras dan menggema ke langit. Bunyi ini berasal dari lonceng menara Gentala Arasy yang mengeluarkan bunyi sebagai pertanda waktu salat fardu bagi umat muslim di Kota Jambi.
Selain itu, Gentala Arasy juga merupakan akronim dari Genah Tanah Lahir Abdurrahman Sayoeti. Genah sendiri dalam bahasa Melayu Jambi adalah tempat. Abdurrahman Sayoeti adalah salah satu gubernur Jambi yang lahir di Jambi Kota Seberang, yang menjabat pada tahun 1989-1999.
Jembatan Gentala Arasy yang arstistik pada malam hari menyeberangi Sungai Batanghari di Jambi
Gereja Santa Theresia di Jambi
Interior Gereja Katolik Santa Theresia di Jambi
Gereja Santa Teresia yang bernama resmi Gereja Paroki Santa Teresia, Jambi adalah sebuah gereja paroki Katolik yang terletak di Kota Jambi. Gereja ini didedikasikan kepada Santa Teresia. Gereja ini berada di bawah naungan yurisdiksi Keuskupan Agung Palembang.
Naik travel Ratu Intan Toyota Innova Reborn dari Jambi ke Palembang
Lanjut naik Travel pk. 13 ke Palembang dan turun di POM Bensin KM 12 (pinggiran Kota Palembang yang berbatasan dengan Kabupaten Musi Banyu Asin), dijemput sepupu mas Heri Sudribyo dan istrinya, mbak Komijah. Lanjut makan malam khas Palembang, yakni pindang ikan baung, terus ke rumah istirahat menginap semalam.
Tiba dan menginap semalam di rumah pasangan mas Heri Sudibyo dan mbak Komijah di Palembang
Pindang ikan baung Palembang adalah hidangan sup ikan air tawar khas Sumatra Selatan, terkenal dengan kuah bening yang kaya rempah, bercita rasa asam, manis, gurih, dan pedas. Disajikan dengan potongan nanas dan daun kemangi, hidangan ini sangat cocok dinikmati bersama nasi hangat, lalapan, dan sambal mangga atau sambal terasi
Di Gereja Katolik St Stefanus, Paroki Talang Betutu, Pelambang.
Senin pagi, 4 Agustus 2026 kami berjalan kaki menuju Gereja Santo Stefanus Talang Betutu Palembang, untuk mengikuti misa kudus harian pagi, dari rumah mas Heri Sudibyo dan mbak Komijah.
Setelah sarapan bersama, kami segera menuju Taman Doa Via Crucis Sukamoro, yaitu tempat ziarah rohani Katolik yang terletak berdampingan dengan Gua Maria Mater Misericordiae (Bunda Belas Kasih). Tempat ini menawarkan area luas berornamen klasik dengan patung-patung jalan salib, berlokasi di Desa Sukamoro, Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan (sekitar 20 kilometer dari pusat Kota Palembang). Fasilitas dan daya tarik yang menggumkan adalah 14 Patung Jalan Salib. Patung ukuran besar dengan nuansa seni Romawi kuno yang artistik tersebut menggambarkan kisah sengsara Yesus Kristus. Di ujung arena jalan salib terdapat Gua Maria Mater Misericordiae (Bunda Berbelas kasih) yang berada dalam satu kompleks dengan Panti Werdha Sumarah.
Bersama mas Heri Sudibyo dan mbak Komijah di gerbang Taman Doa Via Crucis Sukomoro, Palembang
Di Taman Doa Via Crucis Sukomoro di pinggiran Kota Palembang, kami merenungkan sengsara dan wafat Yesus Kristus di kayu salib. Taman Doa Via Crucis Sukomoro dibangun sejak April 2021 dan diberkati oleh Uskup Agung Palembang Mgr. Aloysius Sudarso SCJ pada tanggal 8 Desember 2021.
Patung seukuran sebenarnya saat Tuhan Yesus dimakamkan di Taman Doa Via Crucis Sukomoro, Palembang
Tempat ini merupakan pengembangan lanjutan dari Gua Maria Mater Misericordiae (Bunda Belas Kasih) yang telah dibangun lebih dulu di lokasi yang sama. Menampilkan 14 perhentian Jalan Salib, tempat ini didesain dan dikerjakan oleh Gregorius Sutanto bersama tim Blendang-Blendung Art Studio dari Jogjakarta.
Taman Doa Via Crucis Sukomoro memiliki desain yang menarik dan unik. Tempat ini mengambil inspirasi dari Via Dolorosa atau Jalan Kesengsaraan di Yerusalem, yaitu jalan yang diyakini dilalui oleh Yesus saat memanggul salib-Nya menuju ke puncak Kalvari. Tempat ini dibangun dengan nuansa Timur Tengah, dengan batu-batu kapur, gerbang-gerbang Romawi, dan patung-patung malaikat yang menghiasi jalur Jalan Salib. Tempat ini juga dikelilingi oleh pepohonan rindang yang memberikan suasana alam yang sejuk dan tenang.
Taman Doa Via Crucis Sukomoro, Palembang
Selasa pagi, 4 Agustus 2026 setelah menginap semalam di rumahnya, kami diantar sepupu mas Heri Sudibyo dan mbak Komijah untuk City Tour ke Gua Maria Via Crucis Sukomoro, Katedral Santa Maria berfoto bersama mas Agus Yuswono (teman sekelas di SMA Kolese de Britto Yogyakarta JB 84, lanjut ke Jembatan Ampera, dan kuliner lagi khas Palembang (empek2), terus pulang ke Belitang OKU sejauh 180 km. Sore menemui dr. PC Bambang Suyatmoko JB 85 dan dr. Prasanita FK UGM 84 di Klinik Enggal Saras Belitang OKU
Menikmati pempek di kota asalnya bersama mas Agus Yuswana JB 84 di Palembang. Meskipun terpencar hidupmu, adalah de Britto contohmu
Katedral Palembang yang bernama resmi Gereja Katedral Santa Maria adalah sebuah gereja katedral Katolik yang terletak di Kota Palembang, ibu kota provinsi Sumatera Selatan. Gereja ini merupakan takhta dan pusat kedudukan bagi Uskup Agung Palembang, yang saat ini dijabat oleh Yang Mulia Mgr. Dr. Yohanes Harun Yuwono. Pada Maret 2023, bangunan baru katedral ini diresmikan oleh Nunsius Apostolik Takhta Suci untuk Indonesia, Yang Mulia Mgr. Piero Pioppo.
Gereja Katedral Santa Maria Keuskupan Agung Palembang yang menjulang
Gereja Katedral Santa Maria Keuskupan Agung Palembang yang menjulang
Arsitektur Gereja Katedral ini adalah Neo-Gothic yang juga disisipkan dengan unsur lokal. Seperti adanya miniatur Jembatan Ampera dan juga Songket pada ukiran di dinding gereja. Gereja ini di rancang oleh Arsitek Giovanny Kesaulya, S.Ars
Bedua dalam gaya di depan Gereja Katedral Santa Maria Keuskupan Agung Palembang yang menjulang
Selanjutnya kami menikmati keindahan Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat) yaitu sebuah jembatan ikonik di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Jembatan Ampera, yang telah menjadi semacam lambang kota, terletak di tengah-tengah Kota Palembang, menghubungkan daerah Seberang Ulu dan Seberang Ilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi yang lebar. Jembatan Ampera merupakan salah satu ikon Kota Palembang yang paling terkenal.
Panjang Jembatan Ampera 1.117 m, lebar 22 m (bagian tengah 71,90 m, berat 944 ton dan dilengkapi pembandul seberat 500 ton), semua bagian tengah bisa diangkat agar kapal-kapal besar bisa lewat tetapi sejak tahun 1970 bagian tengah sudah tidak dapat diangkat lagi. Bandul pemberatnya pada tahun 1990 dibongkar karena dikhawatirkan dapat membahayakan. Tinggi jembatan ini 11,5 m dari atas permukaan air, tinggi menara 63 m dari permukaan tanah dan jarak antara menara 75 m.
Pada awalnya, bagian tengah badan jembatan ini bisa diangkat ke atas agar tiang kapal yang lewat dibawahnya tidak tersangkut badan jembatan. Bagian tengah jembatan dapat diangkat dengan peralatan mekanis, dua bandul pemberat masing-masing sekitar 500 ton di dua menaranya. Kecepatan pengangkatannya sekitar 10 meter per menit dengan total waktu yang diperlukan untuk mengangkat penuh jembatan selama 3 menit.
Di dekat Jembatan Ampera kami juga mengunjungi Benteng Kuto Besak, yaitu bangunan bersejarah peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam. Benteng ini terletak di tepi Sungai Musi, Kota Palembang, dan berfungsi sebagai pusat istana serta tempat pertahanan sultan pada abad ke-18.
Gagasan awal pembangunannya dicetuskan oleh Sultan Mahmud Badaruddin I (memerintah 1724–1758). Mulai dibangun tahun 1780 pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Bahauddin. Selesai dan diresmikan pada 21 Februari 1792. Keunikan Benteng Kuto Besak adalah menjadi satu-satunya benteng di Indonesia yang dibangun atas prakarsa dan tenaga pribumi, bukan oleh pemerintah kolonial. Benteng ini adalah tempat tinggal resmi sultan beserta keluarga kerajaan. Juga pusat pemerintahan dan pertahanan Kesultanan Palembang dari serangan musuh (termasuk Belanda)
Dinding Beteng Kuto Besak Palembang yang tebal menjulang
Jembatan Ampera Palembang yang merah menjulang
Pada saat bagian tengah jembatan diangkat, kapal dengan ukuran lebar 60 meter dan dengan tinggi maksimum 44,50 meter, bisa lewat mengarungi Sungai Musi. Bila bagian tengah jembatan ini tidak diangkat, tinggi kapal maksimum yang bisa lewat di bawah Jembatan Ampera hanya sembilan meter dari permukaan air sungai.[9]
Jembatan Ampera yang memebalah Sungi Musi di Palembang
Sejak tahun 1970, aktivitas turun naik bagian tengah jembatan ini sudah tidak dilakukan lagi. Alasannya, waktu yang digunakan untuk mengangkat jembatan ini dianggap mengganggu arus lalu lintas di atasnya. Pada tahun 1990, kedua bandul pemberat di menara jembatan ini diturunkan untuk menghindari jatuhnya kedua beban pemberat ini.
Di Pelambang ini kami juga menikmati pempek, yaitu makanan khas Palembang, Sumatera Selatan. Pempek terbuat dari daging tenggiri atau gabus yang digiling lembut, dicampur tepung kanji atau tepung sagu, serta dengan bahan-bahan lain seperti telur, bawang putih halus, penyedap rasa, dan garam. Pempek biasanya disajikan dengan kuah yang disebut cuko yang terasa asam, manis, dan pedas.
Cara memakan pempek adalah dengan menggunakan mangkuk kecil sebagai tempat cukonya lalu pempek dicocolkan. Cuko kemudian diseruput untuk menambah rasa. Pelengkap lain untuk menyantap pempek adalah potongan dadu mentimun segar, mie kuning, dan cabai bubuk untuk tambahan pedas.
Pempek mempunyai sejarah yang unik dan tidak dapat dilepaskan dari masuknya para perantau Tionghoa ke Palembang semasa pemerintahan Kesultanan Palembang Darussalam ketika dipimpin oleh Sultan Mahmud Badaruddin II pada abad ke-16 Masehi. Berdasarkan cerita masyarakat, pempek dijual keliling kota oleh seseorang asal Tionghoa yang sering dipanggil Apek di kisaran tahun 1617 M.
Makan siang pindang gabus di RM Balitang di Kayu Agung, Sumsel.
Dari Palembang, kami diantar mas Heri Sudibyo dan mbak Komijah naik Nissan X-trail menuju ke Belitang di UKO Timur. Salah satu tempat yang akan kami kunjungi adalah Klinik Enggal Saras. Tanggal 28 Februari 2011 merupakan hari yang bersejarah bagi Klinik Enggal Saras mhcc, sebab di hari itu Klinik Enggal Saras mhcc pertama kali menerima Pasien Rawat Inap. 10 tahun silam pada awal merintis klinik, dr. PC Bambang Suyatmoko (adik kelas di SMA Kolese de britto dan FK UGM Yogyakarta) hanya memiliki 8 karyawan umum dan 5 perawat. Saat itu Klinik Enggal Saras mhcc telah memiliki peralatan kesehatan yang canggih. Klinik Enggal Saras memiliki Automatic Haematology Analyzer, dimana pada saat itu ada Rumah Sakit yang belum memiliki alat tersebut.
Menimba semangat inovasi dari dr. PC Bambang Suyatmoko (adik kelas SMA JB 85), yang mengkombinasikan kompetensi mekatronika dan medis.
Telah menciptakan stetoskop dengan loud speaker, pemandu frekuensi pijat jantung pada RKP, prototipe kursi roda cerdas untuk pasien paraplegi inferior agar dapat berdiri dan berjalan, juga prototipe skeleton untuk pasien serupa, dan berbagai inovasi lainnya yang diciptakannya mandiri.
Kami sempat berfoto membelakangi berbagai peralatan mekatronika seperti PCB, dioda, katalis, kabel, solder dan lainnya di bengkel lantai 2 dan 3, di Klinik Enggal Saras MHCC Belitang OKU Timur Sumsel. Luar biasa.
inovasi dari dr. PC Bambang Suyatmoko (JB 85), menemukan stetoskop dengan amplifier sehingga suara organ tubuh internal pasien dapat didengarkan di dalam ruangan periksa.
Klinik Enggal Saras mhcc beralamatkan di Jalan Raya Belitang – Belitang III Desa Sidogede Kecamatan Belitang itu dipimpin oleh dr. PC Bambang Suyatmoko. Dokter yang lahir di Gunung Kidul 27 April 1967 merupakan putra ke-empat dari pasangan ayah Yosep Suradjimin Dirdjopranoto dan ibu Maria Sumarti. dr. PC Bambang Suyatmoko alumni Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) tahun 1993. Setelah lulus dokter Bambang mengabdi sebagai dokter PTT di Kalimantan Selatan tepatnya di Puskesmas Bantuil Kecamatan Cerbon Kabupaten Barito Kuala.
Bersama dr. PC Bambang Suyatmoko (JB 85) sesama alumni SMA Kolese de Britto Yogyakarta
Bersama dr. PC Bambang Suyatmoko (JB 85) sesama alumni SMA Kolese de Britto Yogyakartadan dr. VM. Prasanita sesama alumni FK UGM 84
Bersama dr. PC Bambang Suyatmoko (JB 85) sesama alumni SMA Kolese de Britto Yogyakarta
Berkat dari Amateus Sukadi, SCJ (pastor kepala paroki) setelah misa kudus harian pagi di Gereja Katolik St Maria Tak Bernoda Paroki Balitang OKU Sumsel. Bersama mbak dr. VM Prasanita (FK UGM 84) dan anak bungsunya
Gereja Katolik St Maria Tak Bernoda Paroki Balitang OKU Sumsel
Suasana Belitang, kota yang berkembang di sepanjang jalan inspeksi aliran selokan dari Bendungan Komering (BK), untuk persawahan
Siap berangkat dari rumah mas Heri Sudibyo di Belitang UKO Timur, dengwan Nissan X-trail yang nyaman
Mampir mengjungi dr. Tria (anak bungsu mas Heri Sudibyo) dengan kedua cucu
Mampir melihat pabrik (selepan gabah) milik mas Marcus, menantu mas Heri Sudibyo
Mengjungi mbak Suharyani yang telah lama tegolek sakit di rumah anaknya
Mengjungi mas Kusumo Hadi di rumahnya, di belakang GerejaSanta Maria Assumpta Paroki Mojosari BK IX kecamatan Belitang OKU Timur
Rabu, 5 Agustus 2026, kami diantar mas Heri Sudibyo dan mbak Komijah naik Nissan X-trail menuju Martapura menemui saudara dan lanjut ke Baturaja menemui Sr. Evarista Direktur RS Antonio dan lanjut naik bis Rosalia Indah pk. 13 sampai di Jogja Kamis malam, 6 Agustus 2026
Sejarah Rumah Sakit Antonio Baturaja
Bendung Perjaya yang membendung Sungai Komering untuk lumbung padi di Belitang
Kereta Api Batubara Panjang (Babaranjang) dengan 60 gerbong pengangkut batubara dari tambang di Muara Enim ke pelabuhan Bandar Lampung
Mampir di rumah mbak Ayu (puteri sulung mas Heri Sudibyo) di Martapura
Kornelius (cucu mas Heri Sudibyo dari mbak Ayu) ikut mengantar kami ke Baturaja
Kami mengunjungi RS. SANTO ANTONIO di Jln. Garuda No.3 KM.3 Tanjung Baru, Baturaja Timur, Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan – 32126. Berawal dari perjalanan para suster misionaris dari Belanda menuju Lampung, mereka harus melalui Palembang karena situasi Lampung pada waktu itu (Mei 1948) sedang dalam masa transisi peralihan kekuasaan. Tanggal 21 September 1948 adalah hari kedatangan para suster di Baturaja.
Rombongan terdiri dari empat suster: Sr. Maria Pauline Schoorl, Sr. Maria Romualdis Droste, dan Sr. Maria Jose Van Goozen, satu suster novis Sr. M. Clara, delapan anak dan Tan Yu Tiong (Yance). Pastor Borst SCJ yang telah tinggal di Baturaja menyambut mereka dan menggunakan kesempatan ini untuk meminta agar para suster mau bekerja di Baturaja. Kehadiran para suster mendapat tanggapan yang sangat positif sehingga dr. Meier meminta para suster untuk bekerja di Rumah Sakit Umum (RSU) Budiman Baturaja, yang pada waktu itu sangat kekurangan tenaga perawat. Para suster tinggal sementara di perumahan dokter di kompleks rumah sakit.
Bersama Sr. Evarista, SFGM dan dr. Oka Wilsen Joung, SpPD (Direktur RS Atinonio Baturaja)
Bertemu dr. Oka Wilsen Joung, SpPD (Direktur RS Atonio Baturaja)
Pada waktu senggang atau libur para suster mengadakan kunjungan pelayanan bagi masyarakat umum yang sakit di kampung-kampung. Alat transportasi yang digunakan para suster waktu itu adalah sepeda onthel atau bahkan jalan kaki. Pada tanggal 2 November 1948, Sr. Maria Renate Bonke misionaris baru dari Belanda datang dan bekerja di rumah sakit sesuai profesinya yaitu bidan. Sebagai bidan ia lebih sering mendapat panggilan untuk menolong persalinan di kampung-kampung.
Melihat banyaknya masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan waktu itu, para suster terdorong untuk membuka tempat pelayanan kesehatan tersendiri. Di kampung Air Gading yang penuh hutan alang-alang jauh dari keramaian, kira-kira satu kilometer dari RSU Budiman, rencana para suster ini dimulai yang ditandai dengan peletakan batu pertama pembangunan pada tanggal 4 April 1952. Pada bulan Oktober 1952 para suster menempati rumah baru yang sederhana.
Tiga suster tetap bekerja di RSU Budiman, suster lain merintis poliklinik dan rumah bersalin. Tanggal 10 November 1952 bangunan komplek susteran, klinik bersalin dan poliklinik telah selesai di bangun dengan kapasitas 10 tempat tidur. Pada 10 Desember 1952 klinik bersalin dan poliklinik diberkati oleh Mgr. H. Mekkelholt, dibuka dan diresmikan oleh Ny. dr. R. Setioharjo, pimpinan RSU Budiman dengan nama pelindung Santo Antonio. Karena kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan cukup tinggi, pada bulan April 1954 Klinik Bersalin memperluas kamar perawatan sehingga berkapasitas dua puluh tempat tidur walaupun dengan kondisi yang sangat sederhana.
Diajak Sr. Evarista, SFGM keliling RS Antonio Baturaja
Tahun 1977 terjadi wabah Cholera, sehingga jumlah pasien tidak tertampung di rumah sakit umum. Dengan kondisi yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat, maka suster-suster Fransiskanes dari Pringsewu ikut ambil bagian dalam kesulitan ini dan kemudian juga diputuskan rencana untuk memperluas klinik bersalin dan poliklinik menjadi rumah sakit. Maka pada bulan Januari 1980 di atas tanah seluas 28.865.50 m2 mulai dibangun gedung rumah sakit baru dengan kapasitas 50 tempat tidur. Pembangunan ini dapat diselesaikan tanggal 13 Juni 1981.
Terimakasih banyak Sr. Evarista, SSGM telah menerima kami di Baturaja Sumsel.
Seiring berjalannya waktu, kapasitas rumah sakit semakin tidak mencukupi, terutama kebutuhan tempat tidur pasien. Kondisi lahan yang sudah terbatas menjadi kendala. Sementara akses jalan masuk ke lokasi rumah sakit yang sempit melalui pemukiman yang padat penduduk, sering terganggu oleh adanya perlintasan kereta api jalur ganda yang semakin ramai oleh kereta api batubara panjang (babaranjang) yang melintas. Maka untuk meningkatkan dan pengembangan pelayanannya, dilakukan pemindahan lokasi rumah sakit.
Lokasi baru Rumah Sakit Santo Antonio berada di Jalan Garuda No.3, KM.3, Jalan Lintas Sumatera. Bulan Juni 2015 dilaksanakan peletakan batu pertama oleh Bupati Kabupaten Ogan Komering Ulu dan Pembina Yayasan, sebagai tanda dimulainya pembangunan rumah sakit di tempat yang baru. Pada tanggal 6 Desember 2018 Rumah Sakit diresmikan oleh Bupati Ogan Komering Ulu. Pada tanggal 18 Februari 2019 Rumah Sakit Santo Antonio mulai operasional pelayanan di tempat dan sarana baru yang lebih memadai, serta di situlah kami berkunjung.
Diantar sepupu mas Heri dan mbak Kom, dengan Lius cucu yang tidak mau diam, untuk pamit kembali dari Baturaja Sumsel ke Yogyakarta naik bis Rosalia Indah.
Selesai mengunjungi RS St. Antonio Baturaja, kami segera pulang ke Yogyakarta naik bis Rosalia Indah. Bersasis premium Mercedes-Benz OH 1626 buatan Jerman, bermesin belakang berbobot 16 ton dengan tenaga 260 horsepower. Berbalut bodi Legacy SR3 XHD Prime buatan Karoseri Laksana Ungaran ini, terkenal berkat kenyamanan suspensi udara (air suspension) dan kapasitas bagasi tembus yang luas.
Bis Rosalia Indah Mercedes-Benz OH 1626 buatan Jerman, berbalut bodi Legacy SR3 XHD Prime buatan karoseri Laksana
Tandan sawit segar di atas truk yang lalu lalang dari kebun ke pabrik
Mendarat di kantor Pusat Rosalia Indah, di Palur Karanganyar Jawa Tengah
Sowan Bulik Sri Redjeki (adik kandung ibu saya, Eyang NY Karsini) di rumahnya di Jaten, Karanganyar
Siap naik KRL Joglo dari Stasiun Palur ke Stasin Lempuyangan untuk kembali ke Jogja
Bis Rosalia Indah yang kami tumpangi melaju kencang sampai ke Palur, Karanganyar, Jawa Tengah. Kami mendarat Kamis siang, 6 Agustus 2026 di Palur dan lanjut sowan Bulik Sri Rejeki (adik kandung ibu saya) di Jaten, tidak jauh dari Palur. Terus kami naik KRL Joglo dari Stasiun Palur menuju Statiun Lempuyangan Yogyakarta, sebelum lanjut ke rumah Timoho naik Grab Car.
Terimakasih kami sampaikan kepad segenap pendukung perjalanan yang sukses ini.
Menggilas Andalas
Di atas roda dengan suspensi udara, meluncur ke sebagain Andalas (Lampung, Sumatera Selatan dan Jambi). Diusung sasis bis Scania tronton K410 buatan Swedia milik Rosalia Indah, Golden dragon 300TK dari Tiongkok milik SAN, dan Mercedez Benz OH 1626 asli Jerman, punya Rosalia Indah lagi. Juga Toyota Innova Reborn dan Nissan X-Trail.
Menikmati Taman Doa Sendang Banyu Urip, JPO Siger, Tugu Keris, Jembatan Gantala Arasy, Jembatan Ampera, Katedral Kristus Raja Tanjungkarang, Gereja St. Gregorius Agung Jambi, Katedral Santa Maria Palembang, Gereja St. Stefanus Talang Betutu Palembang, dan Gereja Santa Maria Belitang OKU Timur. Juga Sungai Musi yang lebar, Sungai Batanghari yang hidup, dan Sungai Komering yang berarus deras
Juga reuni dengan teman SMP Bruderan Purworejo, SMA Kolese de Britto dan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Silaturahmi dengan sesama keturunan Kyai Mangundrono, dari garis Nyai Mangundihardjo dan dari Nyai Atmoharjono. Juga melihat potensi kerjasama dengan RS Antonio Baturaja dan Klinik Enggal Saras Belitang, untuk pendidikan dokter.
Menempuh 2.922 km, menikmati jalur lintas timur Sumatera di musim kemarau, melihat pohon sawit, karet, durian dan duku. Juga rumah panggung warga lokal, iringan truk long vehicle, kereta api batubara panjang, juga antrian pembeli solar di berbagai SPBU, karena kelangkaan parah. Terimakasih
Menggilas Andalas jelas membekas. Terimakasih banyak atas semua bantuan dari segenap pihak, sehingga penjelajahan ke Sumatera dapat berjalan baik.
Bis Bimo sudah siap berangkat di samping Villa Selatan Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta
NGRABUK NYOWO
fx. wikan indrarto dan b. sari prasetyati
Asrama Mahasiswa Realino adalah asrama bersejarah di Yogyakarta yang didirikan oleh para pastor dari ordo Serikat Jesus (Yesuit) pada tahun 1957. Terkenal sebagai “percobaan kecil tentang Indonesia”, asrama ini legendaris karena menampung mahasiswa dari berbagai suku, agama, ras, dan kampus di Yogyakarta (UGM, IKIP Negeri Yogyakarta (UNY), IKIP Sanata Dharma (USD), Universitas Atma Jaya Yogyakarta dan UPN Veteran) untuk hidup bersama dan memupuk toleransi. Lokasi asrama berlantai 2 berkapasitas 150 mahasiswa ini berada di Jl. Gejayan, Mrican Yogyakarta dan ditutup tahun 1989, yang kini sebagian besar telah dialihfungsikan menjadi area kampus Universitas Sanata Dharma (USD).
Para warga asrama tersebut saat ini tersebar di seluruh dunia dan tergabung dalam Forsino (Forum Komunikasi Realino). Forsino Cabang Yogyakarta secara rutin mengadakan acara ‘Ngrabuk Nyowo’. Secara harfiah dalam bahasa Jawa berarti “memupuk jiwa” atau “memberi nutrisi pada kehidupan”. Frasa ini bersifat kiasan (metafora) untuk menggambarkan usaha atau aktivitas yang membuat batin pesertanya tetap hidup, sehat, penuh harapan, dan terus berkembang. Tujuannya adalah menjaga mental atau harapan agar tetap tumbuh meski sedang menghadapi masa-masa sulit. Selain itu, juga bersilaturahmi untuk menjalin hubungan baik antar sesama manusia, yang dipercaya sebagai rabuk nyowo (pemupuk jiwa) karena membawa kebahagiaan dan kepedulian.
Setelah berdoa dan menyanyikan lagu MARS REALINO, para peserta bersiap berangkat ke Semarang dari halaman Audiorium Driyarkara USD yang tinggi menjulang
Ngrabuk Nyowo Forsino Yogyakarta seri ke 18 diisi dengan piknik bersama naik bis. Pada Minggu, 26 Juli 2026 pagi hari, kami semua berkumpul di sekitar bekas Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta. Setelah berdoa bersama dan menyanyikan mars Realino dengan penuh semangat, kami naik bis Pariwisata Bimo.
Suasana gembira di dalam bis Bimo, sambil mendengarkan suara merdu Prof. Yoyong Arfiadi SeV 76 dan ibu Astuti, dalam karaoke meriah menjelang masuk Ambarawa.
Bimo Transport dimulai pada tahun 1986, dan didirikan oleh dua orang, yaitu Subagyo Hadi Siswoyo (Kepala Staf TNI Angkatan Darat periode 1998–1999) dan Marsudiono. Subagyo HS menetapkan 12 Juni, hari kelahirannya, sebagai hari ulang tahun perusahaan yang awalnya merupakan usaha angkutan antarkota dalam provinsi (AKDP) yang melayani rute Yogyakarta–Wonosari. Pada tahun 2000 layanan AKDP diakhiri dan Bimo Transport berubah sebagai perusahaan yang sepenuhnya bergerak di bidang transportasi pariwisata.
Per 2024, PO Bimo mengoperasikan 22 bus, dengan rincian 20 bus besar dan 2 bus sedang. Ciri khas tampilan bus adalah gambar wayang Bima, karakter Pandawa dalam wiracarita Mahabharata, yang berwarna biru, sesuai dengan karakter Mahabharata tersebut. Selain itu, bintang empat berwarna emas di atas tanda huruf “BIMO” yang berwarna merah, melambangkan kepangkatan TNI terakhir yang dijabat oleh Subagyo HS, yakni Jenderal TNI (Purn).
Sepanjang jalan kami selalu riang, penuh tawa dan bahagia. Apalagi Bapak Agus ‘Dodiet’ Haryanto memberikan berbagai pertanyaan yang sangat bervariasi isinya dalam quis berhadiah. Setelah melibas sebagain Tol Trans Jawa, kami mencapai Benteng Willem I atau lebih dikenal dengan nama Benteng Pendem Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Benteng yang dibangun pada tahun 1834, ini terletak di dekat Museum Kereta Api, atau di belakang Rumah Sakit Umum Daerah dr. Gunawan Mangunkusumo, dan berada di kompleks Lembaga Pemasyarakatan Kelas II Ambarawa. Benteng ini pernah digunakan sebagai lokasi pengambilan gambar untuk film Soekarno yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo.
Bergaya bersama di depan gerbang Benteng Willem I (Benteng Pendem) Ambarawa yang putih dan tinggi
Gerbang Benteng Willem I (Benteng Pendem) Ambarawa yang gagah
Lengkung berulang adalah interior khas Benteng Willem I (Benteng Pendem) Ambarawa yang artistik.
Disebut pendem atau pendhem (bahasa Jawa) karena benteng ini berada di bawah tanah atau terkubur, sebagai sebuah siasat perang. Pada tahun 1840-an di bawah kekuasaan pemerintah kolonial Hindia Belanda di Jawa, Ambarawa merupakan titik sumbu strategis antara Semarang dan Surakarta. Sejak awal abad-18, VOC membangun benteng benteng di sepanjang jalur Semarang – Oenarang (sekarang Ungaran) – Salatiga – Surakarta (Solo). Rancangan ini dimaksudkan untuk pengembangan hubungan dengan Kesultanan Mataram. Kamp-kamp militer juga dibangun di berbagai kota yang dilalui, tak terkecuali Ambarawa. Pada masa kekuasaan Kolonel Hoorn, tahun 1827-1830, sempat ada barak militer dan penyimpanan logistik militer, dan pada tahun 1834 dibangunlah sebuah benteng modern di Ambarawa yang kemudian diberi nama Benteng Willem I pada tahun 1853. Pada tahun 1853 sampai tahun 1927 digunakan sebagai barak militer Hindia Belanda atau KNIL yang terhubung ke Magelang, Yogyakarta, dan Semarang melalui jalur kereta api.
Bergaya di bawah lengkung berulang khas Benteng Willem I (Benteng Pendem) Ambarawa yang tetap terjaga indah.
Beda sisi Benteng Willem I (Benteng Pendem) Ambarawa yang putih telah direnovasi dan merah bata yang asli
Pada umumnya benteng dibangun dengan prinsp defensif dan kuat yang dimaksudkan untuk pertahanan dari serangan musuh. Juga dibangun parit mengelilingi benteng untuk memaksimalkan pertahanan. Namun Benteng Willem I ini ternyata memiliki desain yang berbeda. Dengan banyak jendela, benteng ini bukan dirancang untuk pertahanan, tetapi untuk barak militer dan penyimpanan logistik militer. Di benteng ini juga tidak dilengkapi bangunan sebagai tameng. Dan tidak ada lubang di puncak dinding, seperti halnya pada benteng peninggalan Portugis, yang dirancang untuk memasang meriam.
Adik bungsu di asrama, yaitu Bapak E. Ponco Yulianto SeV 89 beserta istri yang tinggal di Ungaran, bergabung bersama kami di Benteng Pendhem Ambarawa. Sayang sekali, karena kesibukan keduanya, akhirnya pertemuan kami hanya sampai di bis Bimo, tidak ikut lanjut ke Semarang.
Mas Ponco Yulianto SeV 89 yang menyambut kami di Benteng Willem I (Benteng Pendem) Ambarawa yang berpamitan karena tidak dapat ikut lanjut ke Semarang
Selanjutnya kami mengunjungi Kelenteng Kuno Sam Poo Kong, yang secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai “Gua Tiga Perlindungan”, di Kota Semarang. Istilah “tiga perlindungan” merujuk pada doktrin Buddhisme tentang berlindung pada Triratna (bahasa Sanskerta) atau Tiratana (bahasa Pali), yaitu Buddha, Dharma, dan Sangha. Berdasarkan pemahaman tersebut, wihara atau kelenteng Triratna yang terdapat di Asia Tenggara kerap dikaitkan dengan tokoh Cheng Ho dan oleh karena itu dianggap sebagai klenteng Cheng Ho.
Kelenteng Kuno Sam Poo Kong Semarang yang ikonik bergaya Tiongkok
Kelenteng utama Sam Poo Kong Semarang yang ikonik merah menyala bergaya Tiongkok
Laksamana Zheng He yang menginspirasi pendirian tempat ibadah umat Buddha Tionghoa di Semarang
Laksamana Zheng He atau Cheng Ho adalah tokoh besar yang menginspirasi pendirian tempat ibadah umat Buddha Tionghoa di Semarang ini. Zheng He lahir di Provinsi Yunnan pada 1371 dari suku Hui, salah satu suku minoritas di Tiongkok. Kebanyakan masyarakat Hui beragama Islam, dan menggunakan nama marga Ma, bentuk sinisisasi dari Muhammad. Namun Zheng He mendalami dharma ajaran Buddha dari seorang biksu bernama Daoyan, yang juga memimpin pembacaan Bodhisattva Sila untuk Zheng He.
Pada 1414 Zheng He menyalin Vajracchedika Prajna Paramita Sutra (Jin Gan Jing), Guan Yin Sutra (Guanyin Jing), Amithaba Sutra (Mituo Jing), Marici Bodhisattva Sutra (Molizhitian Jing), Prajnaparamitahrdaya (Xin Jing), Surangama Sutra (Leng Yan Jing), Mahakaruna Dharani (Da Bei Zhou), Sarvadurgatiparisodhana Tantra (Zun Sheng Zhou), dan Mantra Sataksara (Bai Zi Shen Zhou). Setiap mendapat perintah melanglang buana, senantiasa memperoleh karunia dari San Bao. Arti kata San Bao adalah tiga mustika atau tiga permata yang merujuk pada Tri Ratna yaitu Buddha, Dharma, dan Sangha. Dalam Bahasa Indonesia menjadi Sam Poo dan nama akhirnya Sam Poo Kong.
Bangunan yang sekarang menjadi tempat ibadah ini diyakini sebagai bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama Laksamana Zheng He/Cheng Ho, yang juga dikenal dengan nama Sam Poo. Tidak semua anak buah kapal beragama Islam. Kompleks Sam Poo Kong berada di daerah Simongan, sebelah barat daya Kota Semarang. Tanda yang menunjukan sebagai bekas petilasan yang berciri keislaman dengan ditemukannya tulisan berbunyi “Marilah kita mengheningkan cipta dengan mendengarkan bacaan Al Qur’an”.
Kelenteng ini disebut Gedung Batu karena bentuknya merupakan gua batu besar yang berada di sebuah bukit batu. Untuk mengenang Cheng Ho, masyarakat Indonesia keturunan Tionghoa beragama Buddha membangun sebuah kelenteng. Sekarang tempat ini dijadikan tempat peringatan dan pemujaan atau bersembahyang serta tempat untuk berziarah. Untuk keperluan tersebut, di dalam gua batu itu diletakkan sebuah altar serta patung-patung Sam Po Tay Djien.
Di Indonesia banyak yang menganggap Laksamana Cheng Ho adalah seorang Muslim, meskipun tidak ditemukan bukti pendukung atas keyakinan tersebut, akan tetapi umat Buddha Tionghoa menempatkannya sebagai dewa. Proses pendewaan atau deifikasi terhadap tokoh-tokoh besar memang merupakan praktik umum dalam tradisi spiritual Tiongkok, yang terbawa dalam bentuk akulturasinya dengan agama Buddha ke wilayah Nusantara.
Berpanas bersama di depan kelenteng Kuno Sam Poo Kong Semarang
Selanjutnya kami bersiap makan siang di salah satu soto legendaris, yakni warung soto khas Semarang Pak Man. Pendirinya yaitu Bapak Sholeman, yang berjualan sejak tahun 1978. Soto Ayam Khas Semarang Pak Man terkenal kelezatannya sehingga selalu ramai dikunjungi pembeli. Seporsi soto ayam Pak Man berisi nasi, bihun, ayam suwir, taoge, irisan tomat, dan potongan daun bawang dengan bening yang rasanya gurih.
Soto Ayam Khas Semarang Pak Man yang kami kunjungi
Soto Ayam khas Semarang Pak Man mempunyai lima cabang dan kami mengunjungi di cabang Jalan Pamularsih Raya No. 32. Dilansir dari laman setneg.go.id, dalam kunjungannya ke Semarang, Presiden Jokowi dan Ibu Iriana menyempatkan diri mencicipi kuliner soto khas kota Semarang untuk santap paginya. Rumah Makan Soto Ayam Khas Semarang Pak Man menjadi pilihan Jokowi untuk sarapan pada hari Sabtu, 14 April 2018. Presiden Jokowi dan rombongan tiba di rumah makan tersebut pada pukul 07.50 WIB.
Kenyang menu soto Ayam Khas Semarang Pak Man di Jl. Pamulrasih
Mas Darmadi (bertopi) dan mas Antok SeV 82 yang tinggal di Semarang dan bergabung dengan kami
Selanjutnya kami menuju ke Lawang Sewu (Seribu Pintu), gedung megah yang sebelumnya merupakan Gedung Administrasi N.V. Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij adalah bekas bangunan perkantoran yang terletak di seberang Tugu Muda di Samarang. Bangunan ini berstatus sebagai aset PT. Kereta Api Indonesia (KAI). Hal ini terjadi karena merupakan hasil dari perebutan aset-aset NIS dan perusahaan kereta api lain oleh Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI) pada masa Perang Kemerdekaan. Saat ini bangunan tersebut dijadikan sebagai museum dan galeri sejarah perkeretaapian oleh Unit Pusat Pelestarian dan Desain Arsitektur dan kini dioperasikan KAI Wisata, anak perusahaan KAI yang bergerak di bidang pariwisata.
Bergaya setelah menyanyikan lagi MARS REALINO di tangga ke lantai 2 Lawangsewu Semarang
Kegagahan Lawangsewu Semarang dari sisi kanan gedung 1
Dari kiri : Fonali Lahagu 64, William dan Laras, Darmadi Tjandradjaja 82, F. Ronny Dwi Agus 79, Fx. Wikan Indrarto 84, Suyoto 75, Yoyong Arfiadi 78, Ibu Harlina Bobby, Ibu Agung, Ibu Maria Kok Sen, Vincentius Oe Kok Sen 84, Ibu Suyoto, Glenndonald A. Engko 78, Indah Ronny DA, A. Tristiyono Joko M 79, Ibu Merry Arinto, Ibu Sari Wikan, Ch. Agus Dodiet Haryanto 76, Ibu Tristiyono, Ibu Hastuti Edi Santosa, Ibu Titin Anggoro, Edi Santoso 80, Ibu Astuti Yoyong, Ibu Jonna Yoseph Pulo, Agung Sugihandono 80, Joseph Pulo 72, Y. Anggoro Triharyanto 84, Eddy Arianto 75, Wachid SC 79, Setiawan, Robertus 75, Eduardus Tandelilin 76, Ibu Nina Tandelilin
Lawang Sewu yang kami kunjungi diarsiteki oleh Cosman Citroen, dari firma yang dibentuk arsitek senior J. F. Klinkhamer dan B. J. Ouëndag. Bangunan ini dirancang dalam Gaya Hindia Baru, istilah yang diterima secara akademis untuk Rasionalisme Belanda di Hindia. Ini untuk mengintegrasikan preseden tradisional (klasisisme) dengan kemungkinan teknologi baru, yaitu gaya transisi antara Tradisionalis dan Modernis serta dipengaruhi oleh desain Berlage.
Keindahan interior Lawang Sewu Semarang yang diarsiteki oleh Cosman Citroen
Bertemu anak bungsu Larasati, dengan suaminya William, di Lawang Sewu Semarang, setelah mereka datang dari Jepara
Konstruksi dimulai pada tahun 1904 dan rampung pada tahun 1919. Setelah Jepang menduduki Hindia Belanda pada tahun 1942, tentara Jepang mengambil alih Lawang Sewu. Ruang bawah tanah gedung B diubah menjadi penjara dengan eksekusi mati dilakukan di dalamnya. Ketika Semarang direbut kembali oleh Belanda dalam pertempuran di Semarang pada Oktober 1945, pasukan Belanda menggunakan terowongan yang mengarah ke gedung A untuk menyelinap ke kota. Pertempuran terjadi dengan banyak pejuang Indonesia gugur. Lima pegawai yang bekerja di sana juga gugur.
Peserta Ngrabuk Nyowo lengkap berjejer di sudut Lawang Sewu Semarang
Setelah perang, tentara Indonesia mengambil alih kompleks. Bangunan tersebut kemudian dioperasikan oleh Djawatan Kereta Republik Indonesia (DKARI). Pada tahun 1992 bangunan ini ditetapkan sebagai cagar budaya.
Bergaya di depan bis Bimo dengan anak bungsu Larasati, dengan suaminya William, di Lawang Sewu Semarang
Mas Anggoro SeV 84 dan mbak Titin pamitan, karena akan menlanjutkan perjalanan pulang ke Batang di Stasiun Poncol Semarang.
Kunjungan kami ke Semarang diakhiri dengan menikmati Kota Lama Semarang (Belanda: Semarang Oude Stad) ini adalah suatu kawasan pusat perdagangan pada abad 19. Pada masa itu, untuk mengamankan penghuni dan wilayahnya, kawasan itu dibangun benteng, yang dinamai benteng Vijfhoek. Benteng ini hanya memiliki satu gerbang di sisi selatannya dan lima menara pengawas. Masing-masing menara diberi nama: Zeeland, Amsterdam, Utrecht, Raamsdonk dan Bunschoten.
Bergaya dengan anak bungsu Larasati, dengan suaminya William, di depan Gereja Blenduk, Semarang
Bergaya di depan gereja Blenduk Semarang
Untuk mempercepat jalur perhubungan antar ketiga pintu gerbang di benteng itu maka dibuat jalan-jalan perhubungan, dengan jalan utamanya dinamai Heerenstraat (Jl. Letjen Soeprapto). Salah satu lokasi pintu benteng yang ada sampai saat ini adalah Jembatan Berok (De Zuider Por). Kata Berok sendiri merupakan hasil pelafalan masyarakat pribumi yang kesulitan melafalkan kata Burg dalam bahasa Belanda.
Bergaya di depan MARBA di kawasan Kota Lama Semarang
Di sekitar Kota Lama dibangun kanal-kanal air yang keberadaannya masih bisa disaksikan hingga kini meski tidak terawat. Luas kawasan Kota Lama Semarang (Oude Stad) ini sekitar 31 hektare. Dilihat dari kondisi geografi, tampak bahwa kawasan ini terpisah dengan daerah sekitarnya, sehingga tampak seperti kota tersendiri dengan julukan “Little Netherland”.
Silau melawan cahaya matahari sore di kawasan Kota Tua Semarang
Bergaya di depan bangunan bekas bank di kawasan Kota Lama Semarang
Kawasan Kota Lama Semarang ini merupakan saksi bisu sejarah Indonesia masa kolonial Belanda lebih dari 2 abad, dan lokasinya berdampingan dengan kawasan ekonomi dan Stasiun Tawang. Di tempat ini ada sekitar 50 bangunan kuno yang masih berdiri dengan kukuh dan mempunyai sejarah Kolonialisme di Semarang. Secara umum karakter bangunan di wilayah ini mengikuti bangunan-bangunan yang ada di benua Eropa sekitar tahun 1700-an, dengan detail bangunan yang khas dan ornamen-ornamen yang identik dengan gaya Eropa. Seperti ukuran pintu dan jendela yang luar biasa besar, penggunaan kaca-kaca berwarna, bentuk atap yang unik, sampai adanya ruang bawah tanah.
Bergaya di depan semut merah di atas bangunan di kawasan Kota Lama Semarang
Pusat dari Kawasan Kota Lama Semarang terletak di Taman Srigunting, sebuah taman yang menjadi jantung dari kawasan tersebut. Di masa lalu, taman ini dikenal sebagai parade plein, lapangan yang sering digunakan untuk parade militer karena dekat dengan sebuah barak militer. Sebelum menjadi lapangan, taman ini berfungsi sebagai kerkhof atau pemakaman warga Eropa. Pada awal abad ke-19, kerkhof dipindahkan ke daerah pengapon.
Selanjutnya kami kembali masuk ke bis Pariwisata Bimo yang mengusung bodi buatan Karoseri Morodadi Prima Malang, Jawa Timur. Perintis usaha karoseri ini adalah Bapak Bambang Gunawan pada 1978. Morodadi bermakna kepercayaan, yaitu saat pelanggan datang, maka barang jadi sesuai keinginan. Ini sesuai cita-citanya untuk membangun rasa percaya antara pelanggan dan perusahaan. Logo Singa yang digunakan diambil dari simbol yang melambangkan Kerajaan Singosari yang melambangkan semangat tinggi dan etika kerja yang baik, untuk menghasilkan bodi bus yang kuat, kokoh, aman, dan nyaman.
Untuk kategori bis besar, perusahaan ini menggunakan beberapa sasis seperti Mercedez Benz OH 1518, 1521, dan 1526. Selain itu juga menerima sasis Hino R260 dan Hyundai Aero Space. Sementara itu, untuk gayanya panten menggunakan desain New Travego dan Patriot.
Bis Bimo buatan Karoseri Morodadi siap meluncur kembali
Morodadi Prima hingga kini telah mengantongi sejumlah sertifikat resmi dari Mercedez Benz no: BBA-002/12 kepada PT. Morodadi Prima untuk mengakui bahwa semua design, rekayasa dan process produksi bus dengan chasis OH 1626 telah memenuhi semua standard Quality Gate Assessment.
Makan malam di Tahu Baxo Ibu Pudji Ungaran, sebelum kembali ke Jogja
Dalam perjalanan kami kembali ke Yogyakarta, kami singgah di Tahu Baxo Ibu Pudji. Bisnis legendaris sejak tahun 1995 ini dirintis oleh sepasang suami istri, Pudjianto (67) dan istri tercinta, Sri Lestari (65). Mereka berdua merupakan pelopor dan pionir tahu bakso di Semarang. Dasar idenya adalah bahwa tahu adalah makanan sehari-hari dan bakso kesukaan semua kalangan dari anak-anak sampai orang tua. Jadi saat digabungkan menjadi satu makanan baru, didasari pemikiran dan harapan dapat disukai banyak orang. Awalnya hanya disebut tahu yang diisi daging. Setelah kurang lebih satu tahun berjualan, di tahun 1996, barulah disebut tahu bakso. Selain itu, awalnya dinamai “Tahu Bakso Kepodang”, dikarenakan tinggal dan dijual di Jl. Kepodang Semarang. Mulai tahun 2002 resmi bernama Tahu Baxo Ibu Pudji.
Akhirnya kami sampai kembali ke Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta pk. 21 dalam suasana riang, gembira dan bahagia. Terimakasih banyak atas kebersamaan kita semua dalam bis.
Dari Salemba untuk dokter Indonesia fx. wikan indrarto
Kesempatan menjalankan tugas dari Fakultas Kedokteran Universitas Atma Jaya Yogyakarta (FK UAJY), berangkat ke Jakarta untuk menghadiri acara Forum Dekan FK oleh AIPKI pada Kamis sampai Minggu, 16-19 Juli 2026.
AIPKI adalah singkatan dari Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia, yaitu organisasi yang menaungi seluruh fakultas kedokteran di tanah air Indonesia. Saat ini sudah ada 148 Fakultas Kedokteran (FK) di Indonesia
Memasuki gerbang Stasiun Tugu Yogyakarta
Kamis malam, 16 Juli 2026 saya bergegas menuju Stasiun Tugu Yogyakarta untuk masuk ke perut KA Taksaka menuju Stasiun Gambir di Jakarta Pusat. Lanjut naik Bajaj menuju Hotel Borobudur dan lanjut istirahat sejenak.
Nyaman di dalam perut KA Taksaka dari Yogyakarta menuju Stasiun Gambir di Jakarta Pusat.
Sampai di Gerbang Hotel Borobudur Jakarta pada dini hari
Jumat pagi, 17 Juli 2026 setelah ‘early breakfast’, saya mendapat penjelasan dari dr. Risma Ikawaty, MSc, PhD Wakil Dekan I FK Ubaya dari Surabaya. Sambil menunggu bis FK UI yang akan menjemput para peserta Forum Dekan di lobi Hotel Borobudur Jakarta, FK Ubaya menggunakan RS Ibnu Sina di Gresik sebagai RS Pendidikan Utama (RSPU). Dibandingkan UAJY yang sesama PTS, ternyata 2 tahun sejak FK berdiri, Ubaya langsung merancang pendirian RS Pendidikan sendiri, untuk memudahkan sinkronisasi program pendidikan jenjang sarjana, dengan jenjang profesi, bahkan sampai pada jenjang spesialis. Pada 2 tahun kemudian, RS Pendidikan FK memulai operasional tahap rawat jalan dan pada tahun ke 4 sudah lengkap semua layanan. Meskipun demikian, RS baru yang sedang berkembang tersebut kemudian digunakan sebagai RS Pendidikan Satelit, dengan RSPU tetap di RS Ibnu Sina sampai beberapa tahun ke depan. Setelah semuanya siap, RSPU akan menjadi milik Ubaya sendiri dan bahkan akan dikembangkan menjadi wahana pendidikan program spesialis.
Bersama Prof. dr. Ramdan Panigoro, MSc, PhD. (Guru Besar Unpad dan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Parahyangan) Bandung
Aula FK UI yang legendaris di Jakarta
Bersama Prof. Dr. dr. Reviono, SpP(K) Dekan FK UNS Surakarta
Dengan bis milik FK UI, kami segera mendarat di Aula FK UI Salemba Jakarta Pusat yang legendaris, untuk mengikuti sesi pembukaan Forum Dekan AIPKI. Acara diadakan di IMERI (Indonesia Medical Education and Research Institute) yang berada di dalam kompleks Kampus Universitas Indonesia (UI) Salemba, Jalan Salemba Raya No. 6, Senen, Jakarta Pusat.
Para peserta Forum Dekan FK oleh AIPKI 2026 di Aula FK UI Jakarta
Bersama Prof. Dr. dr. Reviono, SpP(K) Dekan FK UNS Surakarta
AIPKI adalah organisasi yang berfungsi sebagai wadah komunikasi dan kolaborasi antara institusi dengan pemerintah untuk menjaga, merumuskan, dan meningkatkan mutu pendidikan medis agar sesuai dengan standar nasional.
Duduk mengantuk di barisan ketiga dari depan, kelima dari kiri, dengan para peserta Forum Dekan FK oleh AIPKI 2026 di Aula FK UI Jakarta
Setelah sambutan seremonial pembukaan oleh Ketua Panitia Forum Dekan FK AIPKI 2026, dr. Eric Daniel Tenda, DIC., PhD, Sp.PD, Sub-Sp.P.M.K (K), FINASIM, FISQua dan Dekan FK UI Prof. Dr. dr. Anna Rozaliyani, M.Biomed, SpP(K) yang dilantik secara resmi oleh Rektor UI pada 8 Desember 2025, sebagai tuan rumah acara. Selanjutnya Ketua Umum Pengurus Pusat Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI) Prof. Dr. dr. Wisnu Barlianto, M.Si.Med., Sp.A(K). Beliau menggantikan ketua periode sebelumnya, Prof. Dr. dr. Budi Santoso, Sp.OG(K).
Kegiatan Forum Dekan FK AIPKI diawali pada Kamis, 16 Juli 2026 dengan diskusi panel yang menghadirkan para dekan FKUI periode sebelumnya. Sesi yang tidak sempat saya ikuti ini ditujukan untuk memberikan perspektif historis sekaligus refleksi pengalaman kepemimpinan dalam menghadapi dinamika pendidikan kedokteran.
Pada hari kedua, 17 Juli 2026, saya mengikuti agenda seremonial pembukaan yang dilanjutkan dengan keynote speech oleh Menteri Pendidikan, Sains, dan Teknologi. Selain itu, akan diselenggarakan diskusi panel serta sesi pleno bersama Ketua AIPKI yang membahas isu-isu strategis terkini dalam pendidikan kedokteran.
Selanjutnya adalah sesi diskusi dengan tema Kebijakan Diktisaintek Berdampak – Arah Penjaminan Mutu Pendidikan Kedokteran dan Optimalisasi Sistem Kesehatan Akademik (SKA), yang dipimpin oleh Prof. dr. Tonang Dwi Ardyanto, Sp.PK(K), Ph.D (Wakil Sekretaris 1 AIPKI). Terus lanjut sesi Diskusi Panel selanjutnya dengan tema Kebijakan Pendidikan Kedokteran : Transformatif dan Pelayanan Kesehatan di Indonesia (S1/profesi dokter, Sp1, Sp2).
Sesi istirahat siang itu saya mengikuti Prof. Dr. dr. Reviono, Sp.P(K), Dekan FK UNS Surakarta teman seangkatan di FK UGM 84 (Konga) menemui Dr. dr. Retno Sulistyo Wardani, Sp.T.H.T.B.K.L, Subsp.Rino(K), teman sesama Konga yang merupakan dokter spesialis THT konsultan rinologi di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM).
Bersama Prof. Dr. dr. Reviono, SpP(K) Dekan FK UNS Surakarta dan Dr. dr. Retno Sulistyo Wardani, Sp.T.H.T.B.K.L, Subsp.Rino(K), konsultan rinologi di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), semuanya teman seangkatan di FK UGM 84 (Konga)
Kami bertiga lanjut mengikuti Hospital Tour di RS yang berdiri sejak 19 November 1919. RSCM memiliki peran sebagai RS pusat rujukan nasional yang terkenal dengan berbagai layanan unggulannya dan juga sebagai RSPU FK-UI. Nama rumah sakit ini diambil dari nama dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, seorang tokoh perjuangan Indonesia pada masa kolonial Belanda.
Bersama Prof. Dr. dr. Reviono, SpP(K) Dekan FK UNS dan Dr. dr. Retno Sulistyo Wardani, Sp.T.H.T.B.K.L, Subsp.Rino(K), di Pavilian Kanigara sayap bisnis menangah RS Cipto Mangunkusumo (RSCM)
Di RSCM, ribuan dokter dan tenaga kesehatan lain bersama-sama melayani ribuan pasien dari seluruh Indonesia yang setiap hari berkunjung ke RS ini. RSCM dengan 1.000 tempat tidur merupakan pusat rujukan nasional rumah sakit pemerintah dan merupakan tempat pendidikan dokter umum, dokter spesialis dan subspesialis, perawat, perawat spesialis, serta tenaga kesehatan lainnya.
Tiga serangkai KONGA yang jalan bersama dalam Hospital Tour RSCM
Lorong RSCM Jakarta yang legendaris
Bertiga kompak sampai IMERI FK UI
Setelah makan siang bersama di Kantin RSCM Kencana, kami berdua kembali ke IMERI FK UI untuk mengikuti diskusi panel selanjutnya dengan tema Kerangka Kerja & Peta Jalan Penjaminan Mutu Akademik Pendidikan Dokter dan Optimalisasi peran AIPKI dengan moderator Prof. Dr. dr. Haerani Rasyid, MKes., SpPD,K-GH., Sp-GK., FINASIM (Dekan FK Universitas Hasanuddin – Wakil Ketua 1 AIPKI). Lanjut Diskusi Panel dengan tema “Posisi dan Peran AIPKI pada Penjaminan Kualitas Pendidikan Kedokteran dan Optimalisasi AHS dan Dialog bersama Majelis Guru Besar Kedokteran Indonesia (MGBKI).
Berjalan kaki menyeberangi Jl. Salemba yang padat lalu lintas, untuk menuju ke RS Saint Carolus (RSSC) Jakarta
Sore itu saya melanjutkan kegiatan dengan mengunjungi RS Saint Carolus Jakarta, dengan berjalan kaki menyeberangi Jl. Salemba yang padat kendaraan. Begitu sampai, saya langsung teringat Lagu “Berpisah di Teras St. Carolus”. Lagu yang diciptakan oleh musisi legendaris Wedhasmara ini, merupakan lagu lawas yang menceritakan perpisahan pasien dengan seorang perawat. Lagu ini sangat populer dibawakan oleh penyanyi era 1960-an, yaitu Lilis Suryani dan sering direkam ulang oleh penyanyi seperti Rani pada Agustus 1999.
Kami bertemu di teras RS dengan Direktur RSSC Kolonel CKM (purn) dr. Robertus Bebet Prasetyo, SpU (K), saat mengingat lagu “Berpisah di Teras St. Carolus” yang diciptakan oleh musisi legendaris Wedhasmara
Rumah Sakit St. Carolus di Jakarta resmi dibuka pada 21 Januari 1919. Diprakarsai oleh Uskup Batavia Mgr. Edmundus Luypen, SJ dan dikelola oleh para biarawati dari Kongregasi Suster Suster Cinta Kasih Santo Carolus Borromeus (CB), rumah sakit ini memelopori pendidikan keperawatan dan kebidanan di Indonesia pada era 1940-an dan telah berkembang menjadi salah satu rumah sakit bersejarah tertua dengan fasilitas modern di ibu kota.
Dengan semboyan Kami Melayani dari Hati dan Membangkitkan Harapan, RS St. Carolus (RSSC) adalah rumah sakit tertua ke-2 se-Jakarta yang sudah berinovasi menjadi bangunan yang modern. Pelayanan yang diberikan RS St. Carolus sudah sesuai dengan standar kualitas terbaik, dokter & tenaga medis profesional serta, fasilitas lengkap.
Pendirian RSSC diawali dengan pertemuan sejumlah tokoh awam Katolik Batavia di bawah pimpinan Mgr. Edmundus Sybrandus Luypens SJ (Vikaris Apostolis Batavia), Pastor Sondaal SJ, Pastor van Swieten SJ, Bp. Karthaus, berinisiatif mendirikan sebuah rumah sakit Katolik di Batavia. Pada awal 1915 Mdr. Lucia Nolet, CB (Pemimpin Umum Kongregasi Suster-suster Cinta Kasih St. Carolus Borromeus 1914–1926) menerima tawaran Mgr. Luypens, SJ untuk membuka karya misi di Hindia Belanda – Batavia. Karena situasi perang dunia pertama saat itu, maka baru pada tanggal 22 Juni 1918, Sepuluh Suster CB dari Negeri Belanda berangkat ke Batavia dengan kapal laut, dan tiba di Tanjung Priok pada tanggal 7 Oktober 1918. Pada tanggal 21 Januari 1919 Pelayanan Kesehatan St. Carolus dimulai dan diberkati oleh Mgr. Edmundus S Luypen, SJ dengan kapasitas 40 tempat tidur.
Diterima di ruang kerja Direktur RSSC Kolonel CKM (purn) dr. Robertus Bebet Prasetyo, SpU (K)
Sejarah indah tersebut terngiang saat saya diterima oleh Direktur RSSC Kolonel CKM (purn) dr. Robertus Bebet Prasetyo, SpU (K) yang tegak, ramah dan sangat sibuk. Dokter TNI AD anggota Dokter Kepresidenan RI dan besan dr. Ambar Kelanawati (kakak kelas di FK UGM) sangat ramah sampai mengajak Hospital Tour menikmati sejarah RSSC.
Mengunjungi sepupu dik Gregorius Adi Utomo di Duren Sawit
Terimakasih dik Mukti yang sudah mendampingi suami dik Gregorius Adi Utomo di Duren Sawit setelah pulih dari sakit
Masuk Stasiun Buaran dari rumah adik sepupu di Duren Sawit Jakarta
Terus saya dijemput Bapak Mulyadi, sopir keponakan saya, dik Eka Novianto, sebagai Vice President Director di PT Summit Adyawinsa Indonesia yang merupakan lulusan S-1 Teknik Kimia UGM 1990. Keponakan yang pernah menjadi Wakil Presiden Senat Mahasiswa Fakultas Teknik UGM dan Pengurus Lembaga Kemahasiswaan itu mengutus pak Mulyadi dengan Honda CRV hitam mengantar saya ke Duren Sawit. Saya mengunjungi sepupu, dik Gregorius Adi Utomo yang baru tahap pemulihan setelah pasang stent jantung di RS Jantung Matraman. Setelah menguatkan harapan akan kesembuhan dan mendukung sikap sigap menjalani pemulihan dalam pendampingan oleh dik Mukti istrinya, saya diantar naik motor oleh adik iparnya menuju Stasiun Buaran. Saya menikmati perjalan dalam gerbong KRL.
KRL Commuter Line adalah sistem transportasi angkutan cepat komuter berbasis kereta rel listrik (KRL) yang dioperasikan oleh PT Kereta Commuter Indonesia (KAI Commuter), anak perusahaan dari PT Kereta Api Indonesia (Persero). Layanan ini telah beroperasi di wilayah Jakarta sejak tahun 1925, hingga kini melayani rute komuter di wilayah Jabodetabek serta lintas Yogyakarta—Palur.
Suasana sore di KRL Line biru dari Stasiun Buaran ke Manggarai Jakarta
Tertinggal KRL di Stasiun Manggarai
Saya naik Line Blue (biru) dari Stasiun Buaran, melewati Klender, Jatinegara, Matraman dan turun di Manggarai. Di stasiun besar persimpangan antar moda tersebut, saya naik ke lantai 3 untuk berganti Line Red (merah) melewati Cikini, Gondangdia, Gampir dan turun di Juanda. Lanjut naik Go-Jek menuju Hotel Borobudur.
Senang sekali dapat menyambut anak tengah kami arsitek yang sangat sibuk, Bimoseno, di Hotel Borobudur Jakarta
Jumat malam, 17 Juli 2026 saya menyambut kedatangan dik Bimoseno, anak kedua kami yang sangat sibuk, sepulang dari kantor biro arsitek, di lobi Hotel Borobudur. Terimakasih banyak dik Bimo, anak kami yang baik, membawakan nasi bungkus untuk makan malam bersama di hotel
Bersama Hendro Edi, yang telah tidak pernah ketemu lagi sejak bersama lulus dari SMP Bruderan Purworejo Jawa Tengah
Reuni dengan keluarga Hendro Edi
Lanjut saya menerima Hendro Edi, teman SMP Bruderan Purworejo yang telah tidak ketemu sejak lulus, meskipun sama-sama kuliah di UGM. Ditemani istri dan Yosaphat, anak tunggalnya yang baru lulus dari FK UI dan bersiap mengikuti program internship dokter, bersama Laras, anak bungsu kami. Malam itu kami semua ngobrol asyik di Kamar 838 Hotel Borobudur Jakarta sampai mata hampir lengket mengantuk hebat
Ganti hari
Sabtu pagi, 28 Juli 2026 saya berjalan kaki melewati Lapangan Banteng, untuk mengikuti misa kudus harian pagi di Gereja Katolik Santa Perawan Maria Diangkat ke Sorga, Paroki Katedral Jakarta.
Gereja Katolik Santa Perawan Maria Diangkat ke Sorga, Paroki Katedral Jakarta.
Suasana megah dan berwibawa interior Gereja Katolik Santa Perawan Maria Diangkat ke Sorga, Paroki Katedral Jakarta.
Kursi uskup (catedra) di dalam Gereja Katolik Santa Perawan Maria Diangkat ke Sorga, Paroki Katedral Jakarta.
Bersama Rm. Macharius Maharsono Probo, SJ di Gereja Katolik Santa Perawan Maria Diangkat ke Sorga, sebagai Pastor Kepala Paroki Katedral Jakarta.
Rancangan arsitek Antonius Dijkmans, Gereja Katedral Jakarta dalam bahasa Belanda: De Kerk van Onze Lieve Vrouwe ten Hemelopneming, diresmikan pada 1901 dan dibangun dengan arsitektur neo-gotik dari Eropa, yakni arsitektur yang sangat lazim digunakan untuk membangun gedung gereja beberapa abad yang lalu. Setelah misa kudus selesai, saya sempat berfoto bersama dengan Romo Macharius Maharsono Probo SJ, Pastor Kepala Paroki, yang pernah menduduki jabatan serupa di Gereja Katolik St Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta, di depan Graha Pemuda. Sebuah ruangan di samping Gereja Katedral Jakarta tersebut, pernah digunakan untuk menyusun draft Sumpah Pemuda yang digelorakan pada 28 Oktober 1928.
Masjid Istiqlal Jakarta yang tinggi menjulang
Lapangan Banteng dengan patung kebebasan Indonesia
Lanjut mampir sejenak ke Masjid Istiqlal dan Lapangan Banteng, sebelum kembali ke Hotel Borobudur Jakarta. Setelah menikmati sarapan berdua dengan dik Bimo, saya segera memberikan pelatihan online tentang Komite Medik yang diikuti oleh para dokter di RSUD Merauke, Papua Selatan.
Mengunjungi dr. FA Timmy Budi Yudhantara SpM, adik kelas di SMA Kolese de Britto Yogyakarta (JB 96), saat mendampingi dokter muda di RSSC Jakarta.
Sabtu pagi, 18 Juli 2026 saya kembali mengunjungi RS St Carolus untuk menemui dr. FA Timmy Budi Yudhantara SpM, adik kelas di SMA Kolese de Britto Yogyakarta (JB 96). Sambil membimbing dengan sabar para dokter muda dari FK Unika Atma Jaya Jakarta, dr. Timmy menerima saya di sela-sela melayani pasien. Terus saya jalan kaki lagi menyeberangi Jl. Salemba yang padat lalu lintas, untuk masuk ke Auditorium IMERI FK UI, mengikuti Forum Dekan FK AIPKI 2026 hari ketiga.
Bersama Ibu Dekan FK UMS Surakarta Dr. dr. Flora Ramona Sigit Prakoeswa, M.Kes., Sp.KK., Dipl.STD-HIV., FINSDV
Bersama Laksamana Pertama TNI (Purn.) dr. Herjunianto, Sp.PD, MMRS Bapak Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS)
Bersama Ketua Umum AIPKI, Prof. Dr. dr. Wisnu Barlianto, M.Si.Med., Sp.A(K) (berkacamata) dari FK UB Malang dan Sekjen AIPKI Dr. dr. Safrizal Rahman, M.Kes., Sp.OT (FK USK Banda Aceh)
Setelah diskusi panel yang dialogis, dengan pembicara Dr. dr. Flora Ramona Sigit Prakoeswa, M.Kes., Sp.D.V.E. Dekan FK UMS Surakarta berjudul Penjaminan Mutu sebagai Penggerak Transformasi: Perjalanan FK UMS Menuju Akreditasi Internasional. Lanjut tema Penerapan Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Kedokteran di Indonesia oleh Dr. dr. Riwanti Estiasari, Sp.S(K). Juga Sistem Pendidikan Kedokteran di Indonesia: From Policy to Practice oleh Prof. Dr, dr. Anna Rozaliyani, MBiomed, SpP(K) Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, yang mendapat masukan lebih luas oleh Prof. Dr. dr. Haerani Rasyid, M.Sc, Sp.PD-KGH, Sp.GK Dekan FK Unhas Makassar dan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, Dr. dr. Yenny, Sp.FK, terus saya ikut mengenal lebih jauh peran AIPKI dengan mengikuti diskusi paralel dengan subtopik utama terkait AIPKI.
Pertama, Fungsi dan Peran Utama Standarisasi Kurikulum: Berperan penting dalam merumuskan dan mengevaluasi kurikulum pendidikan kedokteran agar selalu relevan dengan perkembangan ilmu dan teknologi medis terkini. Diskusi di auditorium 1 & 2 di lantai 3 itu saya ikuti, bersamaan dengan diskusi kelompok Kedua, yang membahas tentang Koordinasi Antar Fakultas: Menjadi forum bagi para dekan fakultas kedokteran untuk bertukar informasi dan pengalaman dalam mengelola institusi. Juga Ketiga, Penataan Dokter Spesialis: Terlibat aktif dalam program pendampingan tenaga kesehatan dan pengembangan Rumah Sakit Pendidikan. Keempat, Penyelenggaraan AKTAPRO (Asesmen Komprehensif Tahap Profesi), dengan AIPKI menyelenggarakan try out nasional yang dahulu dikenal dengan sebutan TO AIPKI. Ujian simulasi ini dirancang bagi mahasiswa kedokteran sebagai persiapan untuk menghadapi Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD).
Setelah selesai diskusi paralel, saya menerima teman lama alumni FK UI angkatan 1985, dr. Thomas BJ Aliandoe yang pernah bertugas bersama di Kabupaten Sikka, Flores NTT tahun 1992-1995. Sebagai alumni FK UI, dr. Thomas mengajak saya keliling (Campus Tour).
Bersama alumni FK UI 85 dr. Thomas BJ Aliandoe
Kampus FK UI didirikan pada 2 Januari 1849 (Dokter-Djawa School) yang saat ini dipimpin oleh Ibu Dekan Prof. Dr. dr. Anna Rozaliyani, M.Biomed., Sp.P(K). FK UI tidak lepas dari sejarah pendidikan dokter di Indonesia yang dimulai sejak zaman penjajahan Belanda. Adapun momentum pendidikan kedokteran di Indonesia lahir pada tanggal 2 Januari 1849 melalui Keputusan Gubernemen No. 22. Ketetapan itu menjadi titik awal penyelenggaraan pendidikan kedokteran di Indonesia (Nederlandsch Indie), yang ketika itu dilaksanakan di Rumah Sakit Militer. Selang dua tahun, Dokter Djawa School hadir memenuhi kebutuhan tenaga dokter yang dimulai tahun 1851. Walaupun lulusan tersebut diberi gelar Dokter Djawa, sayangnya lulusan sekolah tersebut hanya dipekerjakan sebagai mantri cacar, karena saat itu sedang terjadi wabah cacar. Nyaris 10 tahun lamanya dokter-dokter Indonesia harus menunggu untuk memperoleh wewenang lebih dari sekadar mantri cacar.
Bersama alumni FK UI 85 dr. Thomas BJ Aliandoe di Aula FK UI Salemba yang bersejarah
Lebih dari 20 tahun kemudian, yaitu pada 1898, barulah berdiri sekolah pendidikan kedokteran yang disebut STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen). Para alumni ketika itu disebut Inlandsche Arts. Untuk memantapkan kualitas lulusan dalam hal praktik, pada akhir tahun 1919, didirikan Rumah Sakit Pusat CBZ (Centrale Burgerlijke Ziekenhuis, sekarang disebut RS Ciptomangukusumo/RSCM) yang dipakai sebagai rumah sakit pendidikan oleh siswa STOVIA. Kampus dengan dominasi warna putih yang kami kunjungi selesai dibangun pada tanggal 5 Juli 1920. Pada tanggal yang sama pula seluruh fasilitas pendidikan dipindahkan ke gedung pendidikan yang baru di Jalan Salemba 6 sekarang.
Diantar dr. Thomas BJ Aliandoe ke rumah teman
Setelah puas keliling kampus bekas FK, FE dan FT UI Salemba, saya diantar dr. Thomas BJ Aliandoe menuju rumah dab Fauzi, teman SMA Kolese de Britto Yogyakarta di seputaran Utan Kayu Jakarta. Setelah bercengkerama dan mengunjungi ibu mertuanya (88 tahun) yang sudah terpasang NGT sonde karena kesulitan menelan, terkait stroke otak kecil, saya pamit pulang.
Main ke rumah dab Nico Fauzi Bahari Fudhal, teman SMA Kolese de Britto Yogyakarta 1984, alumnus PPM (Pendidikan dan Pembinaan Manajemen) di seputaran Utan Kayu Jakarta
Siap makan menu enak banget buatan mbak Iswari (Alumni FPsi UGM dan Stece) dan dab Nico Fauzi Bahari Fudhal (teman SMA Kolese de Britto Yogyakarta 1984), di rumahnya Utan Kayu Jakarta
Terimakasih banyak kepada Bapak Ketua Lingkungan Albertus Utan Kayu di Paroki St. Yoseph Matraman Jakarta, dab Nico Fauzi Bahari Fudhal (JB 84) yang telah mengantarkan saya sesuai aplikasi, dari rumahnya yang artistik ke Terminal Terpadu Pulau Gebang Jakarta.
Diantar dab Nico Fauzi mendarat di Terminal Terpadu Pulo Gebang Jakarta
Luar biasa banget sambutan, dukungan, cerita dan inspirasi bisnis kamar kost yang diberikan olh dab Fauzi. Mohon maaf tidak membawakan oleh2, malah disiapkan makan siang banyak menu di meja makannya. Sampai ketemu lagi.
Siap naik bis tingkat Rosalia Indah berbodi Jetbus 3+SDD, yang gagah menjulang buatan karoseri Adiputro Malang, dan diusung sasis premium buatan Swedia Volvo BHR 430HP
Istirahat makan malam di Ros In Subang Jawa Barat dari Pulau Gebang Jakarta, sebelum lanjut ke Yogyakarta. Akan masuk di dalam lantai 2 bis tingkat Rosalia Indah berbodi Jetbus 3+SDD, yang gagah menjulang buatan karoseri Adiputro Malang, dan diusung sasis premium buatan Swedia Volvo BHR 430HP. Sangat lancar dan tleser2 melahap Tol Trans Jawa.
Salam holobis enak ngebis sambil mengenang hasil Forum Dekan FK AIPKI 2026 dari Salemba untuk dokter Indonesia
Awalnya bingung dan dilematis, saat dihubungi oleh seorang pengacara untuk hadir dan memberikan pendapat medis (‘medical opinion’ atau keterangan ahli, yang saya cantumkan pada akhir tulisan ini) pada sebuah sidang di hadapan Yang Mulia Majelis Disiplin Profesi (MDP) periode 2024–2028, yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kesehatan RI Nomor HK.01.07/MENKES/1630/2024, sebagai pemeriksa dugaan pelanggaran disiplin, standar profesi atau standar pelayanan oleh tenaga medis dan kesehatan.
Setelah berkonsultasi kepada banyak senior dokter dan ahli hukum, saya akhirnya menyanggupinya dengan penuh was-was.
Rabu dini hari, 8 Juli 2026 saya memasuki Bandara Adisucipto Yogyakarta, yang lama tidak difungsikan sebagai bandara komersial. Hal ini karena seluruh rute penerbangan di Bandara Adisutjipto pindah ke Bandara Internasional Yogyakarta per 29 Maret 2020. Saya masuk perut pesawat milik maskapai Fly Jaya berkode KS101 jenis ATR 72-500. Pesawat ATR 72-500 adalah buatan perusahaan patungan Prancis-Italia bernama ATR, kolaborasi antara Airbus (Prancis) dan Leonardo S.p.A. (Italia). ATR 72-500 adalah pesawat penumpang regional jarak pendek bermesin twin-turboprop, dengan efisiensi bahan bakarnya, berkapasitas standar 68 penumpang, dan mampu mendarat di landasan pendek.
Siap masuk ke kabin pesawat Fly Jaya berkode KS101 jenis ATR 72-500.
Mendarat dengan selamat di Bandara Legendaris Halim Perdanakusuma Jakarta
Bergaya di depan gerbang Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta
Setelah mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta, segera saya bergegas jalan kaki ke Gereja Katolik Santo Agustinus yang berada di bawah pengelolaan Keuskupan Agung Jakarta dan Ordinariat Militer Indonesia (OCI). Pada 29 Juli 1995, KASAU Marsekal TNI Rilo Pambudi meresmikan gereja ini dan Uskup Agung Jakarta, Mgr. Leo Soekoto, SJ memberkati bangunan gereja yang dinamai Agustinus, seorang filsuf yang bijaksana. Setelah berdoa sejenak memohon pendampingan Tuhan dan kebijaksanaan dalam menjalankan tugas pada sidang MDP, terus manyambut anak bungsu, Laras dan suaminya William, yang datang menguatkan saya.
Berjalan kaki pagi dari Bandara menuju Gereja Katolik Santo Agustinus Halim Perdana Kusuma Jakarta
Dekorasi kaca patri bagian belakang di Gereja Katolik Santo Agustinus Halim Perdana Kusuma Jakarta
Selesai berdoa bersama Laras dan Williamdi Gereja Katolik Santo Agustinus Halim Perdana Kusuma Jakarta
Lanjut bertiga kami menuju Gedung MDP dan KKI (Konsil Kesehatan Indonesia) di Jl. Hang Jebat III Blok F 3, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sidang dimpimpin oleh Wakil Ketua MDP, yaitu Dr. Ahmad Redi, SH, MH, MSi dengan anggota dr. Erfen Gustiawan Suwangto, Sp.KKLP, Subsp. FOMC, SH, MH(Kes), PhD dan Ns. Arthur Daniel Thomas Betlehem Lapian, SE, SKep, MKes, MARS. Di ruang sidang yang bersifat tertutup untuk umum, saya duduk di kursi belakang menghadap meja majelis, dengan sebelah kiri saya duduk para penasehat hukum pengadu dan di sebalah kanan saya, duduk dokter teradu yang didampingi para penasehat hukumnya juga.
Mendarat dengan selamat Gedung MDP dan KKI (Konsil Kesehatan Indonesia) di Jl. Hang Jebat III Blok F 3, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Setelah 2 orang saksi mengangkat sumpah menurut agamanya, lanjut saya juga mengangkat sumpah menurut agama Katolik, bukan untuk beraksi, tetapi menjadi ahli yang memberikan pendapat. Diikuti ahli di sebelah saya, seorang dosen senior bidang hukum perdata dari sebuah universitas di Jakarta.
Persiapan akhir sebelum tampil pada sidang MDP
Saya menyampaikan pendapat medis (medical opinion) sebagai keterangan ahli terkait Surat Panggilan Sidang Nomor: MD.01/MDP/1248/VI/2026 Tertanggal 30 Juni 2026. Pendapat Medis ini disusun atas permintaan Endang Supriyatna, SH, Sekjen NU Bogor Raya Law Firm dari Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBHNU). Dalam hal ini bertindak sebagai penasehat hukum seorang ibu yang beralamat di Kelapa Gading Jakarta Utara, yang melakukan pengaduan dugaan pelanggaran disiplin kedokteran kepada MDP pada tanggal 29 Mei 2026. Hal ini dipicu karena anak perempuannya (15 tahun) dirampas oleh mantan suaminya yang telah terjadi perceraian.
Saat bersama dengan ibunya sesuai hak asuh yang diperolehnya, anak tersebut bertumbuh secara sehat, baik mental dan fisik, normal, ceria dan berkembang dengan baik di rumah maupun di lingkungan sosial dan sekolah. Setelah bersama ayahnya, anak tersebut diperiksakan kepada seorang dokter di sebuah RS di Jakarta sebanyak 12 kali tatap muka, dan 9 kali tanpa dihadiri pasien. Ibu tersebut melaporkan dokter karena memberikan sedemikian banyak obat pada periode 2023-2025, hanya dengan mendengarkan uraian yang disampaikan oleh ayah anak tersebut, dan gagal untuk melihat potensi ketergantungan obat yang akan dialami oleh pasien. Selain itu, menurut ibu tersebut, dokter telah melakukan pelanggran disiplin profesi, karena sengaja meniadakan hak-hak ibu kandung, sekaligus membuat anak kehilangan haknya atas kebebasan.
Seusia menjawab semua pertanyaan majelis hakim, para penasehat hukum dokter teradu dan ibu itu sebagai pengadu, saya pamit keluar ruangan sidang, saat sidang dilanjutkan dengan sesi lainnya.
Mendarat di Gereja Katolik Santo Yohanes Penginjil Paroki Blok B, di Jl. Melawai Raya 197 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Altar gereja yang menyimpan sebuah relikui Santo Yohanes Penginjil, berupa potongan kecil tulangnya.
Lansekap Gereja Katolik Santo Yohanes Penginjil Paroki Blok B, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Ditemani Laras dan William, kami menuju Gereja Katolik Santo Yohanes Penginjil Paroki Blok B, di Jl. Melawai Raya 197 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, untuk mengucap syukur dan berterimakasih atas semua rahmat Tuhan. Gereja ini dinamai menurut Yohanes Penginjil, yang dikenal sebagai salah seorang penulis Injil dan dua belas rasul Yesus Kritus. Di bawah altar gereja, terdapat sebuah relikui Santo Yohanes Penginjil, berupa potongan kecil tulangnya. Keaslian relikui ini dinyatakan oleh Uskup Agung Ferrara-Comacchio Italia utara, Mgr. Luigi Negri, pada tahun 2016. Relikui ini diserahkan oleh Communauté des Béatitudes di Medjugorje, Bosnia dan Herzegovina pada tahun 2018.
Gerbang Rumah Makan Mata Karanjang di Jl. Wijaya VI No. 14A, Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Furniture buatan William di Rumah Makan Mata Karanjang Jakarta Selatan.
Kami bertiga lanjut makan sore di Rumah Makan Mata Karanjang di Jl. Wijaya VI No. 14A, Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Restoran sederhana dan kasual ini menyajikan hidangan khas dari Sulawesi Utara. Selain aroma, rasa dan presentasi menu tersebut yang kami tuju, kami mengunjunginya juga untuk melihat furniturenya yang dibuat oleh perusaaah William di Jepara, Jawa Tengah
Siap naik MRT di Stasiun Blok M BCA
Kepadatan penumpang MRT Line 1 Utara Selatan Jakarta
MRT Jakarta yang telah kosong penumpang ternyata dicetuskan sejak 1985 oleh Prof. BJ. Habibie.
Setelah kenyang dan lega, kami segera menyusuri Blok M untuk menikmati Moda Raya Terpadu Jakarta (MRT Jakarta atau Jakarta Mass Rapid Transit). Ide pembangunan MRT di Jakarta telah dicetuskan sejak 1985 oleh Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi saat itu, Prof. BJ. Habibie. Kami akan menikmati sepenggal jalur pertama (Line 1 Utara Selatan) sepanjang 15,7 km yang menghubungkan Stasiun Lebak Bulus dengan Stasiun Bundaran HI Bank Jakarta. Kami naik dari Stasiun Blok M BCA (BML), melewati Blok A (BLA), Haji Nawi (HJN), Cipete Raya (CPR), Fatmawati Indomaret (FTM)dan turun Lebak Bulus Bank Syariah Indonesia (LBB)
Perpisahan kami di Stasiun MRT Lebak Bulus Bank Syariah Indonesia Jakarta Selatan
Lanjut kami berpisah jalan, karena William dan Laras pulang ke Bogor naik Grab Mobil dan saya jalan kaki ke Terminal Pondok Pinang. Saya lanjut menikmati kenyamanan kabin lantai 2 bis Rosalia Indah 119, bersasis premium Scania K410 buatan Swedia, berbodi Jetbus 3 double decker yang gagah buatan karoseri Adiputro Malang, dan dikenal sebagai millenial bus full tol trans Jawa AD 7254 DF.
Bis Rosalia Indah Scania K410 Jetbus 3 double decker
Kamis pagi, 9 Juli 2026 saya dapat kembali ke rumah di Yogyakarta.
Sidang dugaan pelanggaran disiplin profesi dokter sangat menekan jiwa bagi siapapun, bukan hanya sekedar pada dokter teradu saja. Semoga para dokter Indonesia mampu memberikan layanan medis kepada para pasien dengan semakin beretika, mermutu dan legal. Juga profesional dan manusiawi.
Saya mendapat chat WA sbb :
[10.27, 22/8/2026] dokter teradu di Jakarta: Selamat pagi Dr Wikan, dari MDP sudah ada putusan untuk kasus yang waktu itu Dokter diundang juga sebagai ahli, putusannya: tidak terbukti melakukan pelanggaran. Terima kasih untuk dukungan dan diskusinya Dok, semoga Dokter sekeluarga sehat selalu, senantiasa dalam berkat Tuhan 🙏
[10.38, 22/8/2026] fx wikan indrarto: Luar biasa.
Terimakasih banyak informasi baik ini. Semoga dokter sekeluarga juga sehat, bahagia dan sukses selalu. Tuhan Yesus Kristus memberkati.
Salam untuk keluarga -wikan
Sangat senang sekali bahwa pendapat medis (medical opinion) sebagai keterangan ahli (terlampir di bawah) yang saya berikan pada Rabu, 8 Juli 2026, akhirnya digunakan untuk membuat sebuah keputusan oleh MDP yang dikeluarkan pada Jumat, 21 Agustus 2026.
PENDAPAT MEDIS Dr. dr. Fx Wikan Indrarto, SpA*)
Kepada Yang Mulia Majelis Disiplin Profesi (MDP) periode 2024–2028, yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/1630/2024, sebagai pemeriksa dugaan pelanggaran disiplin kedokteran.
Perkenankanlah saya menyampaikan pendapat medis (medical opinion) sebagai keterangan ahli terkait Surat Panggilan Sidang Nomor: MD.01/MDP/1248/VI/2026 Tertanggal 30 Juni 2026. Pendapat Medis ini disusun atas permintaan Endang Supriyatna, SH, Sekjen NU Bogor Raya Law Firm dari Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBHNU), yang beralamat di Komplek Pesantren Al Falak Jl Kyai Falak No 39, Kelurahan Loji, Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor. Dalam hal ini bertindak sebagai penasehat hukum Ny. O yang beralamat di Kelapa Gading Jakarta Utara, yang melakukan pengaduan dugaan pelanggaran disiplin kedokteran kepada MDP pada tanggal 29 Mei 2026. Hal ini dipicu karena An. G (15 tahun) dirampas oleh mantan suaminya, yaitu Bpk. D
Saat bersama dengan Ny. O sesuai hak asuh yang diperolehnya, An. G bertumbuh secara sehat, baik mental dan fisik, normal, ceria dan berkembang dengan baik di rumah maupun di lingkungan sosial dan sekolah. Namun An. G diperiksakan kepada seorang dokter di sebuah RS di Jakarta sebanyak 12 kali tatap muka, dan 9 kali tanpa dihadiri pasien. Ny. O melaporkan dokter tersebut karena memberikan sedemikian banyak obat anti-deppresant pada periode 2023-2025, hanya dengan mendengarkan uraian yang disampaikan oleh ayah anak tersebut, dan gagal untuk melihat potensi ketergantungan obat yang akan dialami oleh pasien. Selain itu, dokter tersebut menurut Ny. O melakukan pelanggran disiplin profesi, karena telah sengaja meniadakan hak-hak ibu kandung, sekaligus membuat anak kehilangan haknya atas kebebasan.
Dampak perceraian terhadap anak
Perceraian orangtua dapat mengubah hidup anak, bahkan secara drastis, menyebabkan masalah emosional (seperti kesedihan dan kecemasan), penurunan prestasi akademik, dan masalah perilaku.
Dampak emosional pada anak dari peristiwa perceraian dapat berupa rasa bersalah dan kebingungan. Terutama anak usia di bawah 12 tahun, sering kali merasa bahwa perpisahan orang tua terjadi karena kesalahan atau kenakalan mereka. Anak juga akan merasakan kesedihan yang mendalam karena hancurnya bayangan keluarga yang utuh.
Dampak psikologis & perilaku pada anak dari peristiwa perceraian dapat berupa gangguan kesehatan mental, seperti kecemasan hingga depresi. Anak juga dapat menarik diri dari lingkungan pergaulan, menjadi sangat pendiam, atau sebaliknya, mencari validasi dengan cara yang keliru di luar rumah. Beban emosional di rumah sering kali mengganggu konsentrasi belajar anak, yang berdampak langsung pada turunnya nilai akademis di sekolah. Bahkan juga perubahan tempat tinggal atau hilangnya interaksi harian dengan salah satu orang tua, sangat membebani adaptasi anak.
Dampak spesifik perceraian orang tua ini dapat terlihat lebih menonjol pada anak perempuan, yaitu sering menunjukkan kecemasan berlebih (anxiety) dan rentan mengalami depresi. Anak perempuan juga lebih berisiko mengalami stres karena meratapi kehilangan keutuhan keluarga. Sebaliknya, anak perempuan juga mungkin memiliki sikap menjadi terlalu mandiri atau kritis, karena berniat untuk menutupi kekosongan figur ayah atau ibu, beberapa anak perempuan tumbuh menjadi sosok yang terlalu mandiri. Masalah sosial juga dapat terjadi, berupa rasa tidak aman (insecurity), kesulitan menjalin pertemanan, menarik diri dari lingkungan sosial, atau terlalu tertutup, bahkan kecenderungan menjadi penurut atau perfeksionis.
Perampasan hak asuh anak perempuan secara paksa, dikategorikan sebagai bentuk kekerasan yang memicu trauma mendalam. Dampaknya mencakup gangguan psikologis, hilangnya figur pelindung, hingga trauma relasional yang berisiko merusak masa depan anak dalam jangka panjang. Dampak psikologis dan emosional dapat berupa stres dan trauma, yang mungkin memicu kecemasan hebat, kebingungan, dan depresi. Juga krisis identitas karena sebagai anak perempuan, kehilangan figur ibu yang menjadi role model dapat mengganggu pembentukan karakter dan harga diri. Pelanggaran hak anak berupa kehilangan akses untuk mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari ibu, juga dapat menyebabkan terputusnya kebutuhan emosional, karena anak sangat membutuhkan sosok ibu dalam fase tumbuh kembang tertentu, yang tidak tergantikan oleh ayah atau pihak lain sebagai perampas hak asuh.
Pemeriksaan dokter
Pemeriksaan dokter spesialis anak pada pasien anak dan remaja secara komprehensif ini mencakup penilaian riwayat medis, evaluasi tumbuh kembang, serta pemeriksaan fisik menyeluruh guna mendeteksi penyakit atau kelainan sejak dini. Allo anamnesa (atau alloanamnesis) adalah proses wawancara medis yang dilakukan dokter dengan keluarga, pengasuh, atau saksi mata untuk menggali riwayat kesehatan pasien. Metode ini dilakukan ketika pasien tidak dapat menjawab sendiri, seperti pada bayi dan anak.
Rangkaian prosedur yang umumnya dilakukan meliputi pengukuran antropometri, yaitu menimbang berat badan, mengukur tinggi/panjang badan, serta lingkar kepala dan lengan untuk memantau pertumbuhan.
Selanjutnya pemeriksaan tanda vital, yaitu mengecek suhu tubuh, denyut nadi, laju pernapasan, dan kadang tekanan darah. Pemeriksaan fisik menyeluruh berupa 4 tahap, yaitu inspeksi (melihat postur, warna kulit, dan kondisi fisik secara visual), palpasi (meraba perut atau kelenjar getah bening untuk memeriksa adanya pembengkakan atau nyeri), perkusi (mengetuk bagian tubuh tertentu untuk memeriksa rongga atau organ di dalamnya, misalnya dada atau perut), dan auskultasi (mendengarkan detak jantung, suara paru-paru, dan fungsi usus menggunakan stetoskop).
Layanan dokter spesialis anak pada pasien anak dan remaja disesuaikan dengan kelompok usia, mulai dari bayi baru lahir (neonatologi) hingga remaja, menggunakan pendekatan medis dan psikologis yang ramah anak. Peresepan obat oleh dokter sesuai dosis pediatrik, yaitu dosis obat untuk anak dihitung secara khusus berdasarkan usia atau berat badan, bukan dosis dewasa yang dikurangi.
Layanan telemedisin
Terinspirasi saat pandemi COVID-19, saat ini telah berkembang layanan dokter jarak jauh (telemedisin), dimana dokter melayanai pasien yang tidak hadir di ruang praktek. Telemedisin (telemedicine) adalah pemberian layanan kesehatan jarak jauh oleh tenaga kesehatan menggunakan teknologi informasi dan komunikasi. Layanan ini meliputi pertukaran informasi diagnosis, pengobatan, pencegahan penyakit, serta pendidikan berkelanjutan untuk mengatasi hambatan geografis dan meratakan akses layanan medis. Penyelenggaraan layanan ini diatur secara resmi dalam Permenkes Nomor 20 Tahun 2019 dan mencakup berbagai bentuk pelayanan klinis, antar fasilitas kesehatan, bukan antara dokter dengan pasien.
Keselamatan Pasien
Patient safety (keselamatan pasien) adalah sistem dalam fasilitas pelayanan kesehatan yang mencegah terjadinya cedera akibat kesalahan tindakan atau kelalaian. Tujuannya adalah meminimalkan risiko, melaporkan insiden, dan menciptakan budaya asuhan medis yang aman sesuai standar. Patient Safety sangat penting, karena menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO Patient Safety), kesalahan dalam perawatan kesehatan merupakan tantangan global yang berisiko menimbulkan kerugian fatal. Pelaksanaan layanan yang baik memastikan pasien terhindar dari kejadian tidak diharapkan (KTD) seperti salah memberikan obat, infeksi nosokomial, atau kesalahan prosedur operasi.
Standar Internasional dan akreditasi RS di Indonesia menetapkan 6 poin utama untuk memastikan keselamatan pasien di rumah sakit atau fasilitas kesehatan. Sasaran keselamatan pasien yang pertama adalah identifikasi pasien dengan benar. Dalam hal ini dokter dan tenaga kesehatan wajib memastikan ketepatan identitas pasien, biasanya menggunakan dua identitas seperti nama dan tanggal lahir, sebelum dilakukannya tindakan.
Disiplin Profesi Dokter
Disiplin profesi kedokteran adalah aturan dan standar perilaku, etika, serta kompetensi yang wajib dipatuhi oleh dokter. Aturan ini ditegakkan untuk melindungi masyarakat dari pelayanan dokter yang tidak aman, menjaga mutu pelayanan kesehatan, serta melindungi kehormatan profesi kedokteran. Penegakan disiplin profesi diatur berdasarkan Permenkes No. 3 Tahun 2025, yang mengatur pedoman penanganan pelanggaran, standar prosedur, hingga sanksi bagi tenaga medis. Proses penanganan dugaan pelanggaran dievaluasi oleh Majelis Disiplin Profesi dan Konsil terkait untuk memastikan tindakan medis sesuai dengan standar profesi, standar pelayanan, dan prosedur operasional.
Tindakan yang dianggap melanggar disiplin profesi dokter antara lain melakukan praktik kedokteran tanpa memiliki surat izin yang sah dan menerapkan standar pelayanan atau penanganan yang berada di bawah standar kompetensi rata-rata. Selain itu, juga tidak melakukan tindakan atau pertolongan darurat pada kondisi yang mengancam nyawa, padahal itu merupakan kewajibannya (duty of care), dan melakukan tindakan medis yang tidak sesuai dengan kebutuhan atau tanpa memberikan penjelasan dan persetujuan medis yang layak (informed consent).
Demikian pendapat medis yang ahli sampaikan, semoga dapat memberikan manfaat bagi Yang Mulia MDP, dalam mempertimbangkan dan menjatuhkan putusan, atas pengaduan yang teregistrasi dengan Nomor 26/P/MDP/II/2026 atas nama seorang dokter teradu di Jakarta. Sekian dan terimakasih
Hormat Saya, Fx. Wikan Indrarto
Yogyakarta, 7 Juli 2026
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM, surveiyor akreditasi RS, no WA 081227280161.
Bacaan :
Roza S., Irman S., Silva F. The Impact of Divorce on Children’s Social Behavior, International Journal of Research in Counseling, 3(1) – June 2024 61-70
D’Onofrio B and Emery R. Parental divorce or separation and children’s mental health, World Psychiatry, 2023 Jan 2;18(1):100–101. doi: 10.1002/wps.20590
Obeid, S., Al Karaki, G., Haddad, C. et al. Association between parental divorce and mental health outcomes. BMC Pediatr 21, 455 (2021).
Ehrlich, Joshua. Divorce and Loss: Helping Adults and Children Mourn When a Marriage Comes Apart. Lanham: Rowman & Littlefield, 2024.
Wojtowicz A, Jaśkiewicz L, Jurczak P, and Doboszyńska A. Telemedicine in Primary Practice in the Age of the COVID-19 Pandemic-Review, Medicina (Kaunas). 2023 Aug 25;59(9):1541. doi: 10.3390/medicina59091541.
Makanan yang tidak aman menyebabkan 866 juta penyakit dan 1,5 juta kematian setiap tahun. Anak balita menghadapi risiko penyakit akibat makanan yang tidak aman hampir tiga kali lipat, dibandingkan anak yang lebih besar dan orang dewasa. Apa yang perlu diwaspadai?
Tulisan ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 21 Juni 2026, halaman 8, kolom HUSADA
Meskipun hanya 9% dari populasi global, anak balita menderita hampir sepertiga dari semua kasus penyakit bawaan makanan, karena mengkonsumsi makanan yang tidak aman, khususnya diare, yang dapat mematikan bagi kelompok usia rentan ini. Selain itu, paparan bahaya kimia berbahaya seperti metilmerkuri dan timbal dalam makanan, dapat membahayakan perkembangan otak, menyebabkan masalah neurologis, dan gangguan perkembangan seumur hidup pada anak balita.
WHO memperkirakan bahwa makanan yang tidak aman menyebabkan sekitar 866 juta penyakit dan 1,5 juta kematian setiap tahun. Pada hal, banyak di antaranya dapat dicegah dengan langkah sederhana, termasuk peningkatan air bersih, sanitasi dan kebersihan, praktik keamanan pangan seperti pasteurisasi, dan juga akses ke perawatan kesehatan untuk populasi rentan. Meskipun beban penyakit bawaan makanan secara keseluruhan telah menurun sejak tahun 2000, ketidaksetaraan regional yang besar masih tetap ada, dengan beban terbesar di Afrika dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.
Paparan bahaya biologis, termasuk bakteri dan virus bawaan makanan serta infeksi parasit, menyebabkan sebagian besar penyakit bawaan makanan. Sementara itu, paparan bahan kimia menyebabkan sebagian besar kematian. Pada tahun 2021, bahaya kimia menyumbang 73% kematian akibat makanan yang terkontaminasi. Sebagian besar kematian terkait bahan kimia ini, dikaitkan dengan arsenik anorganik (42%) dan timbal (31%), terutama karena paparan ini meningkatkan risiko penyakit jantung dan kanker.
Selain dampak kesehatan, pada tahun 2021 penyakit bawaan makanan menyebabkan kerugian produktivitas (waktu orangtua absen kerja karena anak sakit) sekitar US$ 310 miliar. Ketika dampak ekonomi disesuaikan dengan perbedaan biaya hidup antar negara, perkiraan kerugian produktivitas meningkat menjadi US$ 647 miliar.
Keamanan pangan bukanlah masalah abstrak, karena hal itu sangat mungkin terjadi pada setiap makanan, setiap keluarga, dan setiap hari. Makanan yang tidak aman telah menjadi perhatian utama bidang kesehatan masyarakat, tetapi sampai sekarang kita belum memiliki gambaran yang lebih detail tentang dampak buruknya terhadap manusia dan ekonomi. Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO menyatakan : “Untuk pertama kalinya di tahun 2026 ini, banyak negara kini memiliki data sendiri untuk melihat di mana beban tertinggi berada”. Dengan data itu, pemerintah dapat memprioritaskan tindakan yang diperlukan untuk melindungi kesehatan masyarakat.
Selama ini dikenali ada 42 penyebab utama akan penyakit yang ditularkan melalui makanan, yaitu bakteri, virus, parasit, dan bahan kimia, berdasarkan laporan dari 194 negara dari tahun 2000 hingga 2021. Analisis baru WHO secara signifikan memperluas basis bukti dengan menilai bahaya baru, yaitu logam berat, rotavirus, dan Trypanosoma cruzi (parasit penyebab penyakit Chagas).
Makanan dapat terkontaminasi oleh bahan kimia seperti arsenik anorganik, timbal, dan metilmerkuri dari sumber alami dan aktivitas manusia. Setelah zat-zat ini masuk ke dalam rantai makanan, seringkali sulit atau bahkan tidak mungkin untuk dihilangkan. WHO menyerukan kepada pemerintah untuk mencegah kontaminasi di sumbernya – melalui praktik pertanian yang lebih baik, kontrol industri yang lebih ketat, dan peraturan lingkungan yang lebih kuat.
Meskipun keberadaan beberapa logam dalam makanan telah menurun dari waktu ke waktu, laporan WHO tahun 2026 ini untuk pertama kalinya mengungkapkan beban penyakit kardiovaskular, kanker, dan disabilitas intelektual yang diakibatkan oleh paparan logam melalui makanan. Arsenik dan timbal anorganik dikaitkan dengan lebih dari 1 juta kematian dalam satu tahun. Selian itu, metilmerkuri dapat membahayakan perkembangan otak dan menyebabkan masalah neurologis dan perkembangan seumur hidup pada anak-anak.
Perubahan pola makan, tekanan lingkungan, globalisasi, dan ketidaksetaraan dalam sistem pangan, terus membentuk siapa saja yang paling terpapar makanan yang tidak aman. Anak balita dan orang-orang yang tinggal di komunitas dengan sumber daya terbatas mengalami beban kesehatan akibat makanan tidak aman yang terbesar. Apalagi mereka yang tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah, terutama di Afrika dan Asia Tenggara, karena keduanya bersama-sama menyumbang hampir tiga perempat dari semua penyakit bawaan makanan dan 60% dari kematian global.
Data menunjukkan bahwa penyakit bawaan makanan tidak hanya terus-menerus terjadi, tetapi juga diperburuk oleh perubahan iklim, yang meningkatkan risiko kontaminasi, dan oleh resistensi antimikroba, yang membuat infeksi lebih sulit diobati. Pendekatan ‘One Health’ yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan, sangatlah penting. Semua negara seharusnya bertindak segera, untuk menargetkan intervensi, berinvestasi dalam pengawasan, dan menghilangkan sekat antara sektor kesehatan, pertanian, dan lingkungan. Penundaan akan merenggut lebih banyak nyawa anak balita.
Sudahkah kita bijak?
Sekian
Yogyakarta, 7 Juni 2026
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Dekan FK UAJY, Anggota MKEK IDI Wilayah DIY, Alumnus S3 UGM.