
Tujuan akhir petualangan kami adalah di Monumen Jenderal Sudirman, di Dese Pakis Baru, Kecamatan Nawangan, di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur
FLYEVING TO PACITAN
fx. wikan indrarto & b. sari prasetyati
Kami bernniat mencoba kehandalan mobil listrik (EV) dalam terbang mendaki (flyeving) punggung Pegunungan Sewu milik UNESCO Global Geopark, di teritorial Gunung Kidul (DIY), Wonogiri (Jawa Tengah) dan Pacitan (Jawa Timur). Kami mengikuti rute gerilya Jendral Sudirman saat menyingkir dalam agresi militer Belanda. Pada 19 Desember 1948 serangan dimulai dengan pengeboman Pangkalan Udara Maguwo di Yogyakarta oleh pasukan Belanda di bawah pimpinan Letnan Jenderal Simon Spoor.

Awal petualangan dari depan rumah di Yogyakarta
Secara ringkas, petualangan kami adalah meningkatkan ketrampilan mengubah menu dalam folder driving pada tablet layar sentuh di dashboard, baik energy recovery menjadi strong dari comfort, maupun driving mode menjadi sporty dari eco. Maka medan mendaki terjal, turun curam, maupun kelok tajam, menjadi tetap mampu dilahap dengan nyaman.
Kami mampir sowan senior Bapak Robertus Setiawan di Wonosari, terus menyeberang Jawa Tengah bagian selatan sampai di Pacitan, untuk mengunjungi Goa Gong, gua dengan stalaktit dan stalakmit terindah se Asia Tenggara. Terus wisata Sungai Maron yang dikenal sebagai Amazone-nya Pacitan, karena kerimbunan pepohonan yang menutupinya. Juga Pantai Klayar di Pacitan yang pernah dipopulerkan oleh lagu campursari milik musisi Didi Kempot, The God Father of Broken Heart.
Setelah full charger di SPKLU PLN Pacitan, lanjut ke Gereja Katolik St Fransiskus Xaverius Paroki Pacitan yang dikenal sebagai Gereja Prau. Terus melihat rumah masa kecil Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Museum SBY ANI. Terus tertegun membayangkan kehebatan perjuangan TNI di Monumen Jendral Sudirman, di Pakis Baru, Nawangan, yang berbatasan dengan Jawa Tengah.
Kami pulang memutar, terbang lagi, menaklukkan bagian lain Pegunungan Sewu melalui Purwantoro, Jatisrono dan Wonogiri. Terus ke Bayat di Klaten dan Kalasan.
Terbang bersama Wuling Aira EV ke Pacitan dengan motor listrik kecil bertenaga 40,2 HP (30 kW) dan torsi 85 Nm berpenggerak roda belakang, mampu menempuh 370 km, dengan tetap tangguh, nyaman dan irit
Sabtu dan Minggu, 26 dan 27 September 2026
Dapat juga di lihat pada :
https://www.instagram.com/p/DdyubUxlMqg/?stkn=MXhmc3QzbDQzNDQ1dw==

Keceriaan mengawali petualatang dengan EV mungil di rumah Yogyakarta
Sabtu siang, 26 September 2026 dari Yogyakarta lewat Wonosari, Gunung Kidul kami berniat mengunjungi Gua Gong, Sungai Maron, dan Pantai Klayar di Pacitan, Jawa Timur. Pertama kami sowan senior warga Asrama Mahasiswa Realino Yogykarta Bapak Robertus Setiawan SeV 75, di rumahnya di Baleharjo, Wonosari. Beliau 9 tahun di atas saya, saat kuliah di FKH UGM dan mantan Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Gunung Kidul.

Sowan senior Bapak Robertus Setiawan SeV 75 di Wonosari

Pamit senior Bapak Robertus Setiawan, untuk melanjutkan petualangan
Kami segera bergegas menuju ke arah timur, melewati Semanu dan Ponjong di Kabupaten Gunung Kidul. Hutan jati yang terlihat merangas karena kemaru panjang, kami lahap dengan nyaman

Hutan jati di Pegungan Sewu yang dipanggang kemarau panjang
Kami berulang mengubah menu dalam folder driving pada tablet layar sentuh di dashboard, baik energy recovery menjadi strong dari comfort, maupun driving mode menjadi sporty dari eco. Maka medan mendaki terjal, turun curam, maupun kelok tajam, menjadi tetap mampu dilahap dengan nyaman.

Hutan jati yang terlihat meranggas di Pegungan Sewu

Memasuki perbatasan Jawa Tengah dan DIY

Mampir Museum Karst di teritorial Wonogiri, Jawa Tengah

Memasuki perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur di Kabupaten Pacitan

Bersyukur sudah mampu memasuki Gerbang Kabupaten Pacitan, Jawa Timur
Tujuan pertama petualangan kami di Pacitan adalah Gua Gong yang terkenal. Gua Gong ditemukan sekitar tahun 1930-an. Akibat musim kemarau berkepanjangan, saat itu Pacitan mengalami kekeringan dan sangat sulit untuk memperoleh air. Untuk mengatasi kondisi tersebut, 2 orang warga bernama Mbah Noyo Semito dan Mbah Joyo mencari sumber mata air, agar dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan mereka.
Akhirnya mereka menemukan sebuah lubang dan berinisiatif untuk menelusurinya. Dengan hanya membawa obor, mereka masuk ke lubang (goa) tersebut dan menyusuri lorong-lorong yang ada di dalamnya. Lubang yang mereka masuki ternyata sangat dalam, Mbah Noyo dan Mbah Joyo menghabiskan sebanyak tujuh obor hingga keduanya menemukan mata air. Setelah beristirahat dan mandi di mata air tersebut, mereka pulang sambil mengangkut air dan membawa kabar baik untuk penduduk. Mulai saat itu, warga berbondong-bondong memanfaatkan mata air yang ada di gua tersebut.

Menaklukan Pegunungan Sewu yang naik turun tajam

Bergaya di depan gerbang Gua Gong Pacitan yang indah

Melalui jembatan yang melintasi jurang dari parkiran ke mulut Gua Gong

Sesi foto di depan Gua Gong

Stalaktit dan stalakmit terindah se Asia Tenggara ada di Gua Gong Pacitan

Masih boleh memgang stalaktit, tidak boleh memukulnya, di Gua Gong Pacitan
Nama Goa Gong sendiri diambil dari misteri yang dahulu sempat menyelimuti dan menghantui masyarakat sekitar. Masyarakat sekitar gua mengungkapkan bahwa di malam hari mereka sering mendengar suara tabuhan menyerupai suara gong (salah satu alat musik gamelan) yang berasal dari dalam gua. Ada juga yang mengatakan bahwa di salah satu ruangan gua, terdapat batu yang apabila ditabuh akan mengeluarkan bunyi yang menggema, seperti bunyi gong.

Bunyi gong yang nyaris tidak terdengar di Gua Gong di Pacitan
Secara ilmiah, suara yang muncul itu ternyata dapat dijelaskan. Suara yang terdengar menyerupai bunyi gong tersebut dihasilkan dari tetesan air yang menimpa stalaktit atau stalakmit di gua tersebut. Apakagi ditambah dengan gema yang dipantulkan oleh formasi batuan di dalam gua, sehingga bunyi yang dihasilkan cukup apik untuk dinikmati.

Tujuan kami kedua adalah Sungai Maron di Pacitan

Sungai Maron Pacitan yang berarus kecil, di puncak musim kemarau

Kapal kecil untuk susur sungai Maron menikmati Amazone-nya Pacitan
Sungai Maron merupakan objek wisata yang cukup populer di Dersono, Kecamatan Pringkuku, Pacitan, Jawa Timur. Wisatawan dapat menyusuri Sungai Maron yang menyajikan petualangan bernuansa ala sungai Amazon di Brasil, dengan cara Susur Sungai Maron, yang menjadi salah satu kekayaan wisata alam di Pacitan. Daya tarik Sungai Maron adalah memiliki air sungai berwarna hijau kebiruan, yang merupakan refleksi dari cahaya matahari atas rerimbunan pohon di sekitar sungai, karena air Sungai Maron sangat jernih.
Pemandangan saat susur Sungai Maron berupa pepohonan hijau yang terdapat di tepian sungai selama perjalanan, sehingga suasananya sangat sejuk. Karena keindahan alamnya, Sungai Maron juga mendapat julukan Green Canyon Pacitan, tidak hanya disebut Sungai Amazonnya Pacitan. Wisatawan dapat menyusuri Sungai Maron yang bermuara di Pantai Ngiroboyo dalam perjalanan sepanjang 4,5 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih 30 hingga 45 menit di atas sungai dengan kedalaman hingga 20 meter ini.
Wisata Sungai Maron biasanya juga dilengkapi dengan menghabiskan waktu di Pantai Ngiroboyo. Wisatawan dapat turun sejenak untuk menikmati pantai. Sementara, perahu akan menunggu sebelum kembali ke dermaga Sungai Maron. Waktu tunggu perahu dapat mencapai dua jam.
Jarak tempuh Sungai Maron dari pusat Pacitan sekitar 38,8 kilometer dalam waktu tempuh sekitar satu jam 13 menit. Perjalanan akan melewati Jalan Nasional 3, Jalan Basuki Rahmat, Jalan Gatot Subroto, Jalan WR Supratman, dan Jalan Raya Tompak Rinjing. Rute perjalanan sama dengan rute menuju Goa Gong, kemudian meneruskan perjalanan sejauh 15 kilometer ke arah Selatan.

Tujuan berikutnya di Pacitan adalah Pantai Klayar
Perjalanan kami lanjutkan dengan menuju ke Pantai Klayar yang tidak mudah, karena dikelilingi deretan bukit dan gua kecil yang terlihat stalaktit dan stalagmitnya dari pinggir jalan. Objek wisata Pantai Klayar memiliki garis pantai berpasir putih dengan dihiasi deretan pohon kelapa, serta menjulangnya bukit-bukit di pinggir pantai yang bisa didaki oleh wisatawan untuk melihat keindahan Pantai Klayar dari atas bukit.
Selain pantai berpasir putih, Pantai Klayar memiliki ciri khas yaitu ada sebuah celah di batu karang. Ketika ombak datang dengan cukup deras, sebagian air masuk ke bawah batu dan menyembur ke atas sehingga membentuk sebuah air mancur, bahkan dapat mencapai ketinggian hingga 10 meter. Air yang mancur juga disertai dengan suara mirip siulan, sehingga sering disebut sebagai Seruling Laut. Satu lagi ciri khasnya, yaitu deretan tebing karang raksasa di sisi timur, mirip patung Sphinx di Mesir.

Sesi foto di Pantai Klayar Pacitan yang indah
Pantai Klayar memiliki air laut yang biru dan ombak yang sangat besar, sehingga pengunjung tidak diperbolehkan untuk berenang. Bibir pantai dihiasi tumbuhan pohon kelapa dan gubug dengan lincak yang beratap daun kering, karang-karang di wilayah pasang surut juga masih terawat dengan alami. Wisatawan juga bisa menyusuri deretan karang untuk menemukan kerang Moluska dan bintang laut Echinodermata. Di samping itu, di sepanjang batuan juga terdapat tanaman limpet dan rumput laut yang tumbuh di sekitar bebatuan. Wisatawan kadang dapat melihat langsung masyarakat setempat memanjat pohon kelapa, guna mengambil air deresan (bahan baku untuk pembuatan gula jawa) atau hanya untuk disuguhkan langsung kepada wisatawan, sambil menikmati eksotisme alam Pantai Klayar

Deru angin dan ombak di Pantai Klayar di Pacitan
Pantai Klayar di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, semakin terkenal luas berkat lagu campursari hit yang berjudul “Pantai Klayar.” Lagu ini diciptakan dan dipopulerkan oleh musisi legendaris almarhum Didi Kempot, yang berjuluk “Godfather of Broken Heart”. Lagu “Pantai Klayar” mengisahkan kerinduan dan kesedihan seseorang yang teringat janji kekasihnya di pantai tersebut. Lirik ikoniknya yang berbunyi “Samar, ati iki samar yen nganti kowe lali janjimu ning Pantai Klayar” sangat melekat di hati para penggemar. Lagu ini dinilai sangat berjasa dalam melambungkan nama dan menarik minat wisatawan, termasuk komunitas Sobat Ambyar, untuk berkunjung langsung menikmati keindahan pesona alam Pacitan.

Deru ombak yang berulang-ulang di Pantai Klayar di Pacitan

Bersama para pelancong lain, menikmati keindangan Pantai Klayar di Pacitan

Menikmati keindahan malam dan gemerlap lampu Kota Pacitan, sebelum kami masuki
Terus kami menginap di Super OYO 942 Srikandi Hotel di Jl. A Yani Pacitan Sabtu 26 September 2026 sore masuk dan keluar hari berikutnya

Bugar setelah menginap di Hotel Srikandi Jl. Ahmad Yani Pacitan

Mengisi daya di SPKLU PLN Pacitan untuk Wuling Aira EV dengan motor listrik kecil bertenaga 40,2 HP (30 kW) dan torsi 85 Nm berpenggerak roda belakang
Minggu pagi, 27 September 2026 kami berjalan kaki menuju Gereja Katolik St. Fransiskus Xaverius Paroki Pacitan di Jl. Piere Tendean No. 9, Pucangsewu, Pacitan, Jawa Timur. Jadwal Misa Gereja Katolik Hari Minggu: Pukul 07. Gereja ini diresmikan Jumat, 3 Desember 2021 oleh Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji, SS yang didampingi langsung oleh RP Antonius Wahyuliana, CM, selaku Vikep Madiun,Keuskupan Surabaya.
Bangunan gereja ini mulanya hanyalah bagunan biasa seperti rumah penduduk. Namun setelah dilakukan renovasi, jadilah bangunan gereja itu jadi semegah sekarang. Biaya renovasi gereja ini menghabiskan kurang lebih dana sekitar Rp. 5 milyar. Konsep bangunan ini dirancang dengan memadukan nilai-nilai Katolik dengan model pentagonal asimetris, yaitu lima sisi tidak simetris, yang melambangkan kehidupan manusia yang tidak sempurna. Dari kelima singkap yang ada, posisinya tidak rata. Ada yang naik, ada pula yang turun. Itu merupakan simbolisasi dari gelombang, karena posisi geografis Kabupaten Pacitan memang berdekatan dengan Samudera Indonesia.

Gereja Katolik St. Fransiscus Xaverius Pacitan

Gereja Katolik St. Fransiscus Xaverius Pacitan

Nampak samping seperti sebuah perahu Gereja Katolik St. Fransiscus Xaverius Pacitan
Bangunan gereja ini dirancang oleh para mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) dengan memadukan nilai-nilai Kristiani. Salah satunya tergambar dengan huruf M, yang merujuk pada Bunda Maria, sosok yang melahirkan Yesus Kristus sekaligus perlindungan bagi umat Katolik. Selain itu, bentuk bangunan yang mirip kapal juga memiliki arti khusus, tak ubahnya kapal yang berlayar di samudera yang sangat luas. Samudera sendiri dimaknai kekuasaan Tuhan yang tanpa batas. Bagian interiornya menggunakan puluhan jenis batu alam asli khas Pacitan.
Dari segi arsitektur gereja yang sekarang, setelah direnovasi sangat memiliki nilai yang bagus. Daya tarik utama gereja ini terletak pada desain bangunannya yang menyerupai kapal. Bentuk ini bukan tanpa makna, melainkan memiliki filosofi mendalam.

Interior gereja Katolik St. Fransiscus Xaverius Pacitan

Salib dengan corpus Yesus dari batu karang di gereja Katolik St. Fransiscus Xaverius Pacitan
Kapal sering dimaknai sebagai simbol perjalanan iman dan perlindungan, layaknya bahtera yang membawa umat menuju keselamatan. Desain ini juga mencerminkan Gereja sebagai tempat bernaung bagi umat dalam menjalani kehidupan spiritual.

Interior gereja Katolik St. Fransiscus Xaverius Pacitan yang menggunakan material batu lokal
Selain bentuk luar yang mencolok, bagian interior gereja juga dirancang dengan sederhana namun tetap menghadirkan suasana khidmat dan tenang. Keunikan gereja ini menjadikannya salah satu destinasi wisata religi di Pacitan yang layak dikunjungi.
Gereja St. Fransiskus Xaverius ini unik berbentuk seperti kapal, tidak terlalu besar dan ornamennya banyak berasal dari batu-batuan alam khas Pacitan. Gua Maria terletak di halaman bagian belakang gereja, disebut Gua Maria Karang Bolong, namun sebenarnya nama resminya adalah Gua Maria Stella Maris yang bermakna Maria Bintang Samudera, yang diberkati oleh Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono, 5 Oktober 2019.

Patung Santo Fransis Xaverius, pelindung gereja

Gua Maria Karang Bolong di belakang gereja

Bersama Pastor Kepala Stasi Pacitan (yang masuk dalam wilayah Gereja Paroki Santa Maria Ponorogo, Keuskupan Surabaya) Romo Timutheus Siga, yang menggantikan pejabat sebelumnya yaitu R.D. Ferdinandus Eltyson Prayudi (Romo Yudi).
Minggu siang, 27 September 2026 kami rencana akan ke Sentono Gentong: Destinasi di puncak perbukitan yang menyajikan pemandangan teluk dan kota Pacitan dari ketinggian, serta sering dipakai sebagai lokasi lepas landas paralayang.
Meski tak banyak disebut, Pacitan ternyata menyimpan catatan masa perjuangan. Satu di antara bukti sejarahnya yakni Monumen Palagan Tumpak Rinjing, yang kami kunjungi sebelum mencapai Sentono Gentong.
Monumen yang terdiri dari patung Jenderal Sudirman dan Supriyadi tersebut masih berdiri kokoh hingga saat ini. Lokasinya di tepi jalan raya Pacitan-Solo, ruas Desa Dadapan, Kecamatan Pringkuku. Di situ terjadi pertempuran hebat dengan gugurnya lebih kurang 10 orang pejuang Indonesia saat melawan Belanda
Sejarah Tumpak Rinjing tidak dapat dipisahkan dari aktivitas gerilya Jenderal Sudirman. Perlawanan itu dilakukan usai Belanda kembali menguasai Yogyakarta pada 19 Desember 1948. Keberadaan Jenderal Sudirman yang memimpin perang gerilya sampai ke Pacitan, terus menjadi incaran Belanda. Dengan menurunkan pasukan berjumlah cukup besar, pihak penjajah terus menelusuri jejak Jenderal Sudirman dan pasukannya. Bahkan khusus ke Pacitan ini Belanda melakukan pengejaran juga lewat laut. Begitu pasukan Belanda menepi di pantai Pacitan pada 13 Januari 1949, perlawanan pun mulai terjadi di sejumlah tempat. Salah satu yang terbesar terjadi di Tumpak Rinjing pada tanggal 7 Juni 1949. Pertempuran hebat tersebut kemudian dikenal dengan Palagan Tumpak Rinjing. Selanjutnya, setelah kondisi aman, pada tanggal 7 Juli 1949, Jenderal Sudirman meninggalkan Pacitan menuju Yogyakarta.

Palagan Tumpak Rinjing yang kami kunjungi

Setelah menikmati heroisme Palagan Tumpak Rinjing, kami segera menuju ke Sentono Gentong Pacitan terletak di Desa Dadapan, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Sentono Gentong Pacitan merupakan tempat wisata yang berada di area perbukitan. Kawasan wisata yang dibuka pada tahun 2018 ini dapat melihat Kota Pacitan dari ketinggian.
Pengunjung yang tiba di Sentono Gentong Pacitan akan menikmati pemandangan terbuka ke arah Teluk Pacitan yang sangat menakjubkan. Terlihat juga pasir putih Pantai Teleng Ria sampai Pantai Pancer Door yang tampak seperti bulan sabit. Keindahan pemandangan tersebut tampak menyatu dengan barisan perbukitan yang mengelilingi layaknya dinding raksasa. Sapuan awan tipis yang sesekali terlihat membuat suasana semakin syahdu.
Pada malam hari, pengunjung akan disuguhkan keindahan gemerlap cahaya lampu Kota Pacitan yang tampak seperti taburan bintang. Bintang di langit saat cuaca cerah semakin menambah semarak pemandangan di depan mata. Jarak tempuh Sentono Gentong Pacitan dari pusat Kota Pacitan sekitar 25 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih 44 menit.

Teluk Pacitan yang nampak indah dari Selo Gentong
Perjalanan akan melalui Jalan Laksamana Yos Sudarso, Jalan Tentara Pelajar, Jalan Basuki Rahmat, Jalan Gatot Subroto, Jalan WR Supratman, Jalan Raya Tompak Rinjing. Arahkan kendaraan menuju Desa Dadapan hingga menemukan Balai Desa Dadapan. Anda kemudian akan melihat plang petunjuk memasuki lokasi Sentono Gentong Pacitan. Jalan dari balai desa menuju lokasi tidak terlalu luas namun mobil pribadi dan kendaraan motor masih dapat melewatinya.

Rumah masa kecil Presiden SBY

Bergaya di depan rumah masa kecil Presiden SBY
Rumah masa kecil Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, terletak di Lingkungan Blumbang, Kelurahan Ploso berjarak 200 meter dari Terminal Kelas A Kota Pacitan atau sekitar 1 km dari Kota Pacitan. SBY menempati rumah ini sejak kelas 5 SD (tinggal bersama pamannya yang seorang lurah bernama Pakde Sastro) hingga lulus SMA. Bangunan berdesain tradisional Jawa (Joglo) ini berdinding kayu dengan lantai tegel dan ukuran yang sangat sederhana. Kamar tidur pribadi SBY semasa muda sangat sempit, yakni hanya berukuran sekitar 2 meter x 1,5 meter, yang di dalamnya hanya muat sebuah dipan dan meja kecil.Rumah bersejarah tempat SBY tumbuh besar dan menimba ilmu ini kini dirawat dan dipenuhi oleh berbagai foto kenangan masa lalu, serta menjadi salah satu lokasi penanda sejarah perjalanan hidup SBY di Pacitan.

Bergaya di depan Museum dan Galeri SBY – ANI di Pacitan

Salah satu ruangan di Museum dan Galeri SBY – ANI di Pacitan
Museum dan Galeri SBY-ANI merupakan museum yang menyimpan sejarah dan perjalanan panjang salah satu tokoh berpengaruh di Indonesia yaitu Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono. Terletak di Jalan Lingkar Pacitan, Ploso, Pacitan, museum ini berada tepat di tepi Jalan Lintas Selatan (JLS) Pacitan, dan berbentuk bangunan megah, yakni bagaikan Gedung Putih di Amerika Serikat.

Bergaya salah satu ruangan di Museum dan Galeri SBY – ANI di Pacitan
Museum dan Galeri SBY-ANI dibangun di atas lahan seluas 1,5 hektar dengan luas bangunan dua lantai sekitar 7.500 meter persegi. Museum dua lantai tersebut berisi 30 segmen. Dari luarnya, museum ini berdesain modern dengan 6 pilar gagah yang berdiri di bagian depan. Di area luar museum terdapat pohon-pohon rindang di sisi kanan dan kirinya.
Lantai pertama Museum SBY menampilkan narasi awal pembentukan karakter Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang dipengaruhi oleh lingkungan alam dan kehidupan masa kecilnya di Pacitan. Pada fase ini, SBY mulai aktif dalam bidang olahraga, kesenian, serta berbagai kegiatan organisasi. Pameran berlanjut dengan dokumentasi perjalanan karier militernya, mulai dari pendidikan di AKABRI Magelang, pengabdian di TNI Angkatan Darat, penugasan luar negeri, hingga jabatan strategis sebagai Komandan Resor Militer dan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan di era pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri. Segmen paling menonjol di lantai ini menyoroti kiprah SBY sebagai Presiden Republik Indonesia selama dua periode (2004–2014), mencakup keputusan untuk mencalonkan diri, dinamika kampanye, hingga keberhasilan dalam dua pemilihan umum.
Kabupaten Pacitan terletak di sisi paling barat Provinsi Jawa Timur, dengan ibu kotanya adalah Kecamatan Pacitan. Pada zaman Hindia Belanda, daerah ini disebut Kawedanan Pacitan. Menurut Babad Pacitan dan sebuah babad yang diterbitkan di Poesaka Djawi, pada masa Demak paruh pertama abad ke-16, wilayah Pacitan merupakan bagian dari Ponorogo.
Dikisahkan di dalam babad tersebut bahwa orang-orang Pacitan berasal dari rombongan Bathara Katong yang diberi izin menempati daerah Pacitan. Daerah tersebut pada masa itu merupakan wilayah tak berpenghuni dan ditutupi oleh hutan belantara. Lebih lanjut, dikisahkan bahwa orang-orang pertama yang disebut sebagai pembuka hutan atau pembabat alas bernama Kiai Siti Geseng, Kiai Ampak Boyo, Ménak Sopal, dan Syekh Maulana Maghribi.
Selanjutnya kami meninggalkan Kota Pacitan ke arah Pemandian Air Hangat Tirtohusodo berada di Kecamatan Arjosari, sekitar 15 km dari Kota Pacitan ke arah utara, untuk menuju tujuan utama petualangan kami. Kami penuh semangat menuju Monumen Jenderal Sudirman berada di Desa Pakisbaru, Kecamatan Nawangan, sekitar 45 km dari Kota Pacitan. Monumen ini berdiri megah di atas gunung dan telah diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Di sini masih dapat kita lihat rumah yang digunakan Jenderal Sudirman ketika melakukan perang gerilya.
Pada tanggal 19 Desember 1948, beberapa hari setelah Soedirman keluar dari RS Panti Rapih Yogyakarta karena sakit, Belanda melancarkan Agresi Militer II untuk menduduki Yogyakarta. Pada saat pemimpin-pemimpin politik berlindung di Keraton Sultan Hamengku Buwono IX, Soedirman beserta sekelompok kecil tentara dan dokter pribadinya, melakukan perjalanan ke arah selatan dan memulai perlawanan gerilya selama tujuh bulan. Awalnya mereka diikuti oleh pasukan Belanda, tetapi Soedirman dan pasukannya berhasil kabur dan mendirikan markas sementara di Sobo, di dekat Gunung Lawu. Dari tempat ini, ia mampu mengomandoi kegiatan militer di Pulau Jawa, termasuk Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto.
Ketika Belanda mulai menarik diri, Soedirman dipanggil kembali ke Yogyakarta pada bulan Juli 1949. Meskipun ingin terus melanjutkan perlawanan terhadap pasukan Belanda, ia dilarang oleh Presiden Soekarno. Penyakit TBC yang diidapnya kambuh; ia pensiun dan pindah ke Magelang. Soedirman wafat kurang lebih satu bulan setelah Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta.

Menyusuri jalur perjalanan gerilya Jenderal Sudirman, nampak jurang di bawah tebing yang kami lalui
Berangkat dari rumah dinas Panglima TRI di Bintaran Timur, Yogyakarta, menuju arah selatan dan sempat beristirahat di Grogol, dekat Parangtritis di Bantul. Lanjut ke wilayah Gunungkidul, masuk ke wilayah karst melalui rute Panggang, Paliyan (singgah di kediaman Mbok Sayuk), Semanu, hingga Bedoyo. Terus ke Wonogiri, melintasi Pracimantoro, Eromoko, Wuryantoro, Jatisrono, hingga Purwantoro. Lanjut terus ke Ponorogo, Jawa Timur masuk melalui Sumoroto, Ponorogo, Jetis, Sambit, Sawoo, Trenggalek, Tulungagung, dan Kediri. Bahkan melalui kawasan pegunungan dan hutan lebat seperti Karangnongko, Goliman, dan Pesanggrahan Bajulan di Loceret. Terus ke Pacitan, menjadikan Desa Pakisbaru, Kecamatan Nawangan, di Pacitan sebagai salah satu basis pertahanan utama, sebelum akhirnya kembali ke Yogyakarta pada Juli 1949

Gerbang masuk ke kawasan sejarah Jenderal Sudirman
Rumah Markas Gerilya Panglima Besar Jenderal Sudirman Desa Pakisbaru, Kecamatan Nawangan, di Pacitan bergaya sederhana dengan dinding dari anyaman bambu dan berlantai tanah. Terdapat beberapa ruang kamar yang pernah digunakan sebagai tempat peristirahatan Jenderal Sudirman, dan pengawalnya, Kapten Soepardjo Roestam, Kapten Tjokropanolo, Roto Suwarno, dan beberapa orang lainnya. Dari markas gerilya ini Jenderal Sudirman menjalin komunikasi dengan Kol. AH. Nasution, Kol. TB. Simantupang, Kol. Gatot Subroto, Letkol I. Slamet Riyadi, Kol. Zulkifli Lubis, dan Mayor Suharto.
Monumen Jenderal Sudirman dibangun di Desa Pakis Baru karena Sang Jenderal pernah bermarkas di sini pada 1 April 1949 sampai 7 Juli 1949. Monumen Jenderal Sudirman ialah berupa patung Sang Jenderal setinggi sekitar delapan meter. Untuk sampai ke patung, terdapat 70 anak tangga yang harus dilalui. Anak tangga pertama berjumlah 45, kedua berjumlah delapan, dan ketiga berjumlah 17. Anak tangga itu bila disatukan adalah 17-8-45 yang melambangkan tanggal kemerdekaan Indonesia. Sesampai di tempat patung, tampak lapangan yang begitu luas dan dikelilingi bagunan berbentuk persegi. Sementara itu di setiap dinding bangunan, terdapat relief yang menggambarkan kisah hidup Jenderal Sudirman berbahan tembaga. Ada 38 relief yang terpampang di dinding, jika ingin melihat semua, perlu untuk berjalan kali mengelilingi lapangan.

Monumen Panglima Besar Jenderal Sudirman dengan pedang pora yang artistik
Monumen Panglima Besar Jenderal Sudirman memiliki ketinggian sekitar 8 meter dengan luas tanah sekitar 97 meter persegi. Bangunan ini memiliki delapan gerbang yang melambangkan delapan provinsi yang ada pada awal kemerdekaan. Pada bangunan terdapat 12 pedangpora yang menunjukkan penghormatan para prajurit TNI kepada Jenderal Sudirman. Pada pelataran bangunan terdapat tiga bagian undakan tangga dengan 70 anak tangga. Undakan atas memiliki 17 anak tangga, undakan tengah memiliki 8 anak tangga, dan undakan bawah memiliki 45 anak tangga yang melambangkan tanggal kemerdekaan Indonesia. Di sekitar monumen terdapat sekitar 38 relief yang menggambarkan kehidupan Jenderal Sudirman sejak kelahiran hingga kematiannya. Pada Monumen Panglima Besar Jenderal Sudirman terdapat patung Jenderal Sudirman yang terbuat dari perunggu.

Salah satu relief yang menggambarkan kisah hidup Jenderal Sudirman

Relief yang menggambarkan Jenderal Sudirman saat menjadi tentara PETA
Perjalanan Jenderal Sudirman yang bisa disaksikan melalui relief adalah sejak kelahirannya, ketika dirinya belajar mengaji, mengikuti kepanduan, bergabung dalam anggota PETA (Pembela Tanah Air pada zaman Jepang), perjuangan gerilya, hingga wafat di Magelang. Ketika sore hari, banyak warga sekitar yang berkunjung ke monumen Jenderal Sudirman untuk menikmati suasana. Memang, semilir angin perbukitan begitu sejuk ketika dinikmati sambil duduk-duduk di bawah patung.

Relief yang menggambarkan terpilihnya Jenderal Sudirman sebagai Panglima Tertinggi TNI

Salah satu petuah Jenderal Sudirman

Monumen Panglima Besar Jenderal Sudirman memiliki ketinggian sekitar 8 meter dengan luas tanah sekitar 97 meter persegi.
Setelah menikmati Monumen Panglima Besar Jenderal Sudirman di Pakis Baru, Nawangan pacitan, kami segera kembali ke rumah. Kami melewati sisi utara Pegungan Sewu yang terjal, menuju Purwantoro, Jatisarono dan Wonogiri kota. Terus ke Bayat di Klaten dan Kalasan.
Terbang bersama Wuling Aira EV ke Pacitan dengan motor listrik kecil bertenaga 40,2 HP (30 kW) dan torsi 85 Nm berpenggerak roda belakang, mampu menempuh 370 km, dengan tetap tangguh, nyaman dan irit. Juga tidak perlu ikut masuk antrian panjang kendaraan di SPBU, karena kelangkaan parah dan pembatasan pembelian BBM.
Terimakasih banyak atas semua dukungan, sehingga petualngan terbang dengan mobil listrik (flyeving) ke Pacitan telah berlangsung dengan lancar.
Sabtu dan Minggu, 26 dan 27 September 2026

Menikmati lembah dan jurang yang dalam di samping kami, saat menanjak tinggi di Pegunungan Sewu sisi utara









































































































































































































































































































































