Categories
anak antibiotika dokter Healthy Life UHC

2026 Hari Kesehatan Dunia

HARI  KESEHATAN  DUNIA 2026

fx. wikan indrarto

Hari Kesehatan Dunia diperingati setiap 7 April untuk menandai berdirinya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 7 April 1948. Pertama kali diperingati tahun 1950, hari istimewa ini bertujuan menyoroti isu kesehatan global utama seperti kesehatan mental, ibu-anak, dan perubahan iklim, serta mendorong kesadaran masyarakat. Apa yang menarik?

Tulisan ini dimuat di Harian Jawa Pos Surabaya pada Rabu, 8 April 2026 dengan judul : Peran Sains dalam Kesehatan Terpadu

Hari Kesehatan Dunia yang diperingati Selasa, 7 April 2026 menyerukan kepada semua orang di seluruh dunia untuk mengandalkan ilmu pengetahuan (sains). Dengan tema “Bersama untuk kesehatan. Berdiri bersama sains” (Together for health. Stand with science) peringatan tahun 2026 ini meluncurkan kampanye selama setahun, untuk mendorong kolaborasi ilmiah dalam melindungi kesehatan manusia, hewan, tumbuhan, dan planet ini. Kampanye ini menyoroti pencapaian ilmiah dan kerja sama multilateral, yang dibutuhkan untuk mengubah bukti menjadi tindakan, melalui pendekatan ‘One Health’ atau kesehatan terpadu.

Kampanye ini mengajak semua orang di mana pun untuk berpartisipasi merayakan pencapaian ilmiah, terlibat dengan bukti, berbagi kisah pribadi tentang bagaimana sains meningkatkan kehidupan, dan bergabung dalam percakapan global melalui tagar #StandWithScience.

Tujuan kampanye ini menyerukan kepada pemerintah, ilmuwan, dokter, tenaga kesehatan, mitra, dan masyarakat untuk pertama, berdiri bersama sains dengan terlibat dengan bukti, fakta, dan panduan berbasis sains untuk melindungi kesehatan. Kedua, membangun kembali kepercayaan pada sains dan kesehatan masyarakat; dan ketiga, mendukung solusi berbasis sains untuk masa depan yang lebih sehat, melalui pendekatan ‘One Health’.

Konsep “One Health” umumnya dikaitkan dengan karya Calvin Schwabe dari Universitas California, Davis USA sejak tahun 1960-an. Pendekatan ‘One Health’ adalah metode terpadu yang menyatukan kesehatan manusia, hewan, dan ekosistem secara berkelanjutan untuk mencegah penyakit, khususnya zoonosis (penyakit yang menular dari hewan ke manusia). Ini melibatkan kolaborasi berbagai sektor untuk mengoptimalkan keseimbangan kesehatan ketiga komponen tersebut.

Fokus ‘One Health’ adalah pencegahan, deteksi, dan pengendalian penyakit zoonosis. Sains memainkan peran penting dalam deteksi patogen, surveilans epidemiologi, penelitian vaksin, dan studi molekuler pada manusia maupun hewan. Kolaborasi multisektoral dalam ‘One Health’ melibatkan dokter, ahli kesehatan masyarakat, dokter hewan, ahli ekologi, dan pihak lain terkait. Pentingnya menyertakan lingkungan pada pendekatan ‘One Health’ adalah menekankan bahwa kesehatan manusia dan hewan, sangat bergantung pada kesehatan ekosistem. Pendekatan ini krusial untuk mengatasi ancaman kesehatan yang kompleks pada interaksi antara manusia, hewan, dan lingkungan.

Peran sains krusial dalam ‘One Health’. Pertama, penyedia bukti dan teknologi deteksi zoonosis dan kekebalan antimikroba (AMR), terutama ilmu pengetahuan di bidang kedokteran hewan dan mikrobiologi, berperan penting dalam mendeteksi virus, memantau spillover (perpindahan) patogen dari hewan ke manusia, serta menganalisis resistensi antibiotik pada ekosistem yang berbeda. Kedua, dalam intervensi lingkungan dan sosial ekologis, karena sains membantu merancang intervensi yang disesuaikan dengan konteks sosial-ekologis, seperti pengelolaan hama terpadu untuk keamanan pangan dan perlindungan lingkungan.

Ketiga, kolaborasi lintas disiplin dengan menyatukan para ahli dari berbagai bidang, termasuk dokter, dokter hewan, ahli ekologi, antropolog, dan ilmuwan sosial, untuk memecahkan masalah sistemik yang kompleks. Keempat, jembatan antara sains dan kebijakan dimungkinkan karena platform ilmiah menyediakan data yang valid bagi pembuat kebijakan kesehatan, untuk mengambil keputusan cepat dan tepat, terutama dalam manajemen pandemi.

Peran ini memastikan bahwa pendekatan ‘One Health’ tidak hanya berbasis teori, tetapi didukung oleh bukti ilmiah yang kuat untuk menciptakan kesehatan global yang berkelanjutan. Selain itu, sains berperan krusial dalam kedokteran sebagai fondasi pengembangan metode diagnostik, pengobatan, dan pencegahan penyakit melalui pendekatan biologi, kimia, dan fisika medik. Ini mencakup inovasi teknologi seperti alat pencitraan medis, penemuan obat baru, vaksin, teknologi AI/data science untuk deteksi dini, hingga robotika bedah.

Data science dan AI memungkinkan analisis data medis (rekam medis, pemeriksaan pencitraan maupun laboratorium klinik) untuk diagnosis yang lebih akurat dan personalisasi pengobatan (precision medicine). selain itu, sains juga berperan dalam pengembangan obat dan vaksin. Ilmu kimia dan biologi medik berperan dalam meneliti serta menciptakan terapi baru yang efektif, termasuk penanganan penyakit kronis, kanker, dan virus baru, seperti COVID-19.

Teknologi medis hasil sains mutakhir juga sangat bermanfaat, terutama dalam penggunaan fisika medik dan robotika membuat prosedur bedah menjadi kurang invasif, lebih aman, nyaman dan efisien. Sains juga berperan dalam proses pencegahan dan manajemen kesehatan melalui analisis data epidemiologi untuk memahami penyebaran penyakit dan memanfaatkan perangkat yang tersedia (wearable devices) untuk deteksi dini pasien secara real-time. Bahkan sains juga berperan pada efisiensi layanan kesehatan, karena sains dapat mengolah data dan mengoptimalkan operasional rumah sakit, mulai dari manajemen logistik obat hingga meminimalkan kesalahan diagnosis.

Momentum Hari Kesehatan Dunia 2026 mengingatkan semua orang di seluruh dunia untuk mengandalkan ilmu pengetahuan (sains). Sains mampu mengubah pendekatan kesehatan dari sekadar pengobatan menjadi pencegahan yang proaktif, serta meningkatkan kualitas hidup pasien melalui inovasi berkelanjutan.

Apakah kita sudah bijak?

Sekian

Yogyakarta, 25 Maret 2026

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM.

Categories
anak dokter Healthy Life UHC

2025 Dampak Perubahan Iklim

DAMPAK  PERUBAHAN  IKLIM

fx. wikan indrarto

Perubahan iklim telah memicu darurat kesehatan global, dengan lebih dari 540.000 orang meninggal akibat panas ekstrem setiap tahun dan 1 dari 12 rumah sakit di seluruh dunia berisiko mengalami penutupan terkait perubahan iklim. Apa yang mencemaskan?

Tulisan ini dimuat di Tribunnews.com

https://m.tribunnews.com/tribunners/7758745/dampak-perubahan-iklim-krisis-kesehatan-global-di-depan-mata

Data tersebut terdapat pada laporan bersama yang disusun oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Pemerintah Brasil (Presidensi COP30), dan Kementerian Kesehatan Brasil. COP30 (Konferensi Para Pihak ke-30) adalah bagian dari Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), yang diadakan di Belém, Brasil, pada 10-21 November 2025.  

“Krisis iklim adalah krisis kesehatan, bukan di masa depan yang jauh, tetapi di sini dan saat ini,” ujar Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO. Laporan tersebut menampilkan bukti tentang dampak perubahan iklim terhadap individu dan sistem kesehatan, serta contoh nyata tentang apa yang dapat dilakukan, dan sedang dilakukan, oleh berbagai negara untuk melindungi kesehatan dan memperkuat sistem kesehatan.

Dengan suhu global yang kini melebihi 1,5°C di atas tingkat pra-industri, dunia telah mengalami dampak kesehatan yang semakin meningkat. Sekitar 3,3 hingga 3,6 miliar orang telah tinggal di daerah yang sangat rentan terhadap perubahan iklim, dan rumah sakit menghadapi risiko kerusakan akibat dampak cuaca ekstrem 41% lebih tinggi dibandingkan tahun 1990. Hal ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk memperkuat dan mengadaptasi sistem kesehatan guna melindungi masyarakat dari guncangan terkait iklim.

Tanpa dekarbonisasi yang cepat, jumlah RS yang berisiko dapat berlipat ganda pada pertengahan abad ini, yang menekankan pentingnya penerapan langkah-langkah adaptasi untuk melindungi infrastruktur kesehatan. Sektor kesehatan sendiri menyumbang sekitar 5% emisi gas rumah kaca global dan membutuhkan transisi cepat ke sistem rendah karbon dan berketahanan iklim. Hanya ada 54% rencana adaptasi kesehatan nasional berbagai negara yang terkait dengan risiko perubahan iklim terhadap RS, dan kurang dari 30% penelitian tentang adaptasi RS yang berfokus pada pendapatan, 20% mempertimbangkan gender, dan kurang dari 1% melibatkan penyandang disabilitas.

“Buktinya jelas: melindungi sistem kesehatan adalah salah satu investasi paling cerdas yang dapat dilakukan oleh negara manapun,” kata Profesor Nick Watts, Ketua Kelompok Penasihat Ahli dan Direktur, Pusat Kedokteran Berkelanjutan NUS. Mengalokasikan hanya 7% dari pendanaan adaptasi untuk kesehatan akan melindungi miliaran orang dan menjaga layanan penting di RS tetap beroperasi, selama guncangan iklim dan ketika pasien sangat membutuhkannya.

Ada kemajuan yang sedang dicapai antara tahun 2015 dan 2023, jumlah negara dengan Sistem Peringatan Dini Multi-Bahaya nasional meningkat dua kali lipat menjadi 101, yang kini mencakup sekitar dua pertiga populasi global. Namun, hanya 46% Negara Terbelakang dan 39% Negara Berkembang Kepulauan Kecil yang memiliki sistem tersebut yang efektif.

Kini terdapat lebih dari cukup bukti untuk meningkatkan tindakan, hari ini juga. Intervensi yang hemat biaya dan berdampak tinggi telah tersedia untuk setiap komponen dalam Rencana Aksi Kesehatan Belém Brasil. Namun demikian, strategi adaptasi pada akhirnya dapat gagal, kecuali jika strategi tersebut mengatasi akar penyebab kesenjangan derajat kesehatan, baik di dalam sistem kesehatan maupun di seluruh masyarakat.

Rencana Aksi Kesehatan Belém Brasil menyerukan kepada setiap pemerintah untuk pertama, mengintegrasikan tujuan pembangunan bidang kesehatan ke dalam Rencana Adaptasi Nasional. Kedua, memanfaatkan penghematan finansial dari dekarbonisasi untuk mendanai adaptasi kesehatan. Ketiga, berinvestasi dalam infrastruktur yang tangguh, dengan memprioritaskan RS dan layanan esensial. Dan keempat, memberdayakan masyarakat untuk membentuk respons yang memadai.

Pemerintah Brasil juga merilis laporan pendamping, yang menyoroti bahwa perubahan iklim menimbulkan risiko besar terhadap kesehatan manusia, terutama bagi populasi yang rentan dan terpinggirkan secara historis. Selain itu, adaptasi yang efektif memerlukan keterlibatan aktif masyarakat dalam merancang, menerapkan, dan memantau kebijakan kesehatan.

“Dengan merilis laporan ini, Brasil dan WHO menegaskan kembali pentingnya COP30 sebagai COP Kebenaran. Laporan ini memberikan data dan bukti yang jelas bahwa perubahan iklim telah berdampak langsung pada sistem kesehatan di seluruh dunia,” ujar Dr. Alexandre Padilha, Menteri Kesehatan Brasil. Tragedi baru-baru ini menunjukkan bahwa sekaranglah saatnya untuk menerapkan kebijakan dan tindakan yang mengatasi dampak perubahan iklim terhadap kesehatan.

Rencana Aksi Kesehatan Belém, Brasil menguraikan tiga lini aksi untuk sistem kesehatan yang tangguh terhadap perunahan iklim. Pertama, surveilans dan pemantauan, yang berfokus pada penguatan surveilans kesehatan terpadu dan berbasis iklim. Kedua, kebijakan, strategi, dan pengembangan kapasitas berbasis bukti, yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan sistem nasional dan lokal, dalam menerapkan solusi yang efektif dan berbasis kesetaraan. Dan ketiga, inovasi, produksi, dan kesehatan digital, yang mendorong penelitian, pengembangan, dan akses terhadap teknologi yang memenuhi kebutuhan kesehatan, untuk beragam populasi.

Sudahkah kita bertindak bijak?

Sekian

Yogyakarta, 19 November 2025

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
anak Healthy Life sekolah UHC

2025 Keamanan Pangan

HARI KEAMANAN PANGAN DUNIA

fx. wikan indrarto

Presiden Prabowo Subianto mengklaim angka kasus keracunan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di bawah 200 orang. Persentase keracunan tersebut dianggapnya lebih kecil dibandingkan angka penerima manfaat yang mencapai hampir 3 juta orang (hanya 0,005 persen). Pernyataan ini mengingakat kita bahwa pada Sabtu, 7 Juni 2025 diperingati sebagai Hari Keamanan Pangan Dunia (World Food Safety Day). Terdapat sekitar 200 jenis penyakit yang disebabkan oleh makanan yang tidak aman, mulai dari diare hingga kanker. Apa yang perlu dilakukan?

Kepala Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM Yogyakarta, Prof. Sri Raharjo Dosen Fakultas Teknologi Pertanian UGM mengatakan keracunan makanan dapat disebabkan oleh dua hal, yakni  ‘food intoxication’ atau keracunan akibat racun yang dihasilkan oleh bakteri dan ‘food infection’ atau infeksi akibat mengkonsumsi bakteri patogen. Keduanya kerap terjadi tanpa tanda-tanda yang terlihat.

Diperkirakan 600 juta orang, sekitar hampir 1 dari 10 orang di dunia, jatuh sakit setelah mengonsumsi makanan yang terkontaminasi dan 420.000 orang meninggal setiap tahun. Anak balita menanggung 40% beban penyakit bawaan makanan, dengan 125.000 kematian setiap tahun.

Penyakit bawaan makanan menghambat pembangunan sosial ekonomi dengan membebani sistem perawatan kesehatan dan merugikan ekonomi nasional, pariwisata, dan perdagangan. Keamanan pangan merupakan tanggung jawab bersama di antara berbagai otoritas nasional dan memerlukan pendekatan kesehatan terpadu dan multisektoral.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di seluruh Indonesia kembali menjadi perhatian publik, setelah sejumlah siswa di Cianjur Jawa Barat mengalami gejala keracunan usai mengonsumsi makanan yang disediakan pemerintah. Berdasarkan hasil pemeriksaan sementara, ditemukan adanya kontaminasi bakteri E.coli, Salmonella, dan Staphylococcus pada makanan yang dikonsumsi siswa.

Penyakit bawaan makanan biasanya bersifat menular atau beracun dan disebabkan oleh bakteri, virus, parasit, atau zat kimia yang tertelan masuk ke dalam tubuh, melalui makanan yang terkontaminasi. Bakteri Salmonella, Campylobacter, dan Escherichia coli enterohaemorrhagic adalah beberapa patogen bawaan makanan yang paling umum. Gejalanya dapat berupa demam, sakit kepala, mual, muntah, sakit perut, dan diare. Makanan yang paling sering menyebabkan wabah salmonellosis adalah telur, unggas, dan produk hewani lainnya. Kasus bawaan makanan akibat Campylobacter terutama disebabkan oleh susu mentah, unggas mentah atau setengah matang, dan air minum. Escherichia coli enterohaemorrhagic sering dikaitkan dengan susu yang tidak dipasteurisasi, daging yang kurang matang, dan buah serta sayuran segar yang terkontaminasi.

Antimikroba, seperti antibiotik, sangat penting untuk mengobati infeksi yang disebabkan oleh bakteri, termasuk patogen bawaan makanan. Namun, penggunaan berlebihan dan penyalahgunaan obat antibiotik tersebut dalam pengobatan hewan dan manusia, telah dikaitkan dengan munculnya dan penyebaran bakteri yang resistan, sehingga pengobatan penyakit menular menjadi tidak efektif pada hewan dan manusia.

Norovirus merupakan penyebab umum infeksi bawaan makanan non bakteri yang ditandai dengan mual, muntah hebat, diare encer, dan nyeri perut. Virus Hepatitis A juga dapat ditularkan melalui makanan dan dapat menyebabkan penyakit hati yang berlangsung lama, dan biasanya menyebar melalui makanan laut mentah atau setengah matang atau produk mentah yang terkontaminasi.

Yang paling mengkhawatirkan bagi kesehatan adalah racun alami, bahan kimia, dan polutan lingkungan. Racun alami meliputi mikotoksin, biotoksin laut, glikosida sianogenik, dan racun yang terdapat pada jamur beracun. Makanan pokok seperti jagung atau sereal dapat mengandung mikotoksin tingkat tinggi, seperti aflatoksin dan okratoksin, yang diproduksi oleh jamur pada biji-bijian. Paparan jangka panjang dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh dan perkembangan normal, atau menyebabkan kanker.

Beban penyakit bawaan makanan pada kesehatan masyarakat dan ekonomi sering kali diremehkan, karena kurangnya pelaporan dan kesulitan dalam menetapkan hubungan kausal antara kontaminasi makanan dan penyakit atau kematian yang diakibatkannya. Kasus keracunan program MBG paling banyak terjadi di Jawa Barat. Kasus terbesar terjadi di Kecamatan Rajapolah, Kabupaten Tasikmalaya. Sedikitnya 400 siswa mulai dari TK, SD, SMP serta sejumlah guru mengalami keracunan. Ini merupakan kasus keracunan terbesar di Indonesia. Sejak 6 Januari hingga 15 Mei 2025, total terdapat 1.602 orang keracunan atau 0,045 persen dari penerima MBG 3.506.941 orang penerima manfaat.

Laporan WHO tentang perkiraan beban global penyakit bawaan makanan yang disebabkan oleh 31 agen bawaan makanan (bakteri, virus, parasit, toksin, dan bahan kimia) di tingkat global dan sub-regional, ada lebih dari 600 juta kasus penyakit bawaan makanan dan 420.000 kematian dapat terjadi dalam setahun. Beban penyakit bawaan makanan jatuh secara tidak proporsional pada kelompok dalam situasi rentan, terutama pada anak balita, dengan beban tertinggi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Laporan Bank Dunia tahun 2019 tentang beban ekonomi penyakit bawaan makanan menunjukkan bahwa, total kerugian produktivitas yang terkait dengan penyakit bawaan makanan di negara berpenghasilan rendah dan menengah diperkirakan mencapai US$ 95,2 miliar per tahun, dan biaya tahunan untuk mengobati penyakit bawaan makanan diperkirakan mencapai US$ 15 miliar.

Momentum Hari Keamanan Pangan Dunia (World Food Safety Day) mengingatkan kita semua bahwa pemerintah, dari pusat sampai daerah, harus menjadikan keamanan pangan sebagai prioritas kesehatan masyarakat, termasuk program MBG bagi anak sekolah. Prioritas ini memainkan peran penting dalam mengembangkan kebijakan dan kerangka kerja regulasi berbasis risiko, serta membangun dan menerapkan sistem keamanan pangan yang efektif. Keamanan pangan merupakan tanggung jawab bersama di antara berbagai otoritas dan memerlukan pendekatan kesehatan multisektoral, pada semua tahapan rantai makanan.

Apakah kita sudah melakukannya?

Sekian

Yogyakarta, 2 Juni 2025

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM.

Categories
anak bayi prematur dokter Healthy Life Pendukung ASI UHC

2025 Hari Kesehatan Dunia

HARI KESEHATAN SEDUNIA 2025

fx. wikan indrarto

Tulisan ini telah dimuat di Harian Nasional Kompas digital (Kompas.id) pada Senin, 7 April 2025

https://www.kompas.id/artikel/hari-kesehatan-sedunia-2025

Kesehatan ibu dan bayi yang baik adalah fondasi keluarga, masyarakat dan negara yang sehat, untuk membantu memastikan masa depan yang penuh harapan bagi kita semua. Apa yang harus kita lakukan?

Hari Kesehatan Dunia (World Health Day) yang dirayakan pada 7 April 2025, akan ditandai dengan dimulainya  kampanye selama setahun penuh, tentang kesehatan ibu dan bayi baru lahir. Kampanye ini bertema : Awal yang sehat, masa depan yang penuh harapan (Healthy beginnings, hopeful futures) akan mendesak pemerintah, komunitas kesehatan dan kita semua, dalam meningkatkan upaya guna mengakhiri penyebab kematian ibu dan bayi baru lahir yang dapat dicegah, dan memprioritaskan kesehatan dan kesejahteraan jangka panjang bagi ibu dan anak.

Kita diingatkan untuk membantu setiap ibu dan bayi agar dapat bertahan hidup dan berkembang dengan baik. Tugas ini sangat penting, tetapi  tragisnya, hampir 300.000 ibu meninggal karena kehamilan atau persalinan setiap tahun. Selain itu, lebih dari 2 juta bayi meninggal dalam bulan pertama kehidupan mereka dan sekitar 2 juta lainnya lahir mati. Angka ini kira-kira 1 kematian bayi yang dapat dicegah setiap 7 detik. Hal ini menyebabkan 4 dari 5 negara tidak akan memenuhi target untuk meningkatkan kelangsungan hidup ibu pada tahun 2030. Seain itu, 1 dari 3 negara akan gagal memenuhi target untuk mengurangi kematian bayi baru lahir.

Ibu dan bayi di mana pun membutuhkan perawatan kesehatan berkualitas tinggi, yang mendukung mereka secara fisik dan emosional, sebelum, selama, dan setelah melahirkan. Untuk itu, sistem layanan kesehatan harus berkembang untuk mengelola berbagai masalah medis yang memengaruhi kesehatan ibu dan bayi baru lahir. Ini tidak hanya mencakup komplikasi obstetrik langsung, tetapi juga kondisi kesehatan mental, penyakit tidak menular, dan bahkan keluarga berencana.

Selain itu, ibu dan bayi harus didukung oleh regulasi, undang-undang, dan kebijakan yang melindungi kesehatan dan hak-hak mereka. Hal ini sesuai dengan tujuan kampanye Hari Kesehatan Dunia 2025. Pertama, untuk meningkatkan kesadaran tentang kesenjangan dalam kelangsungan hidup ibu dan bayi baru lahir, juga perlunya memprioritaskan kesejahteraan mereka dalam jangka panjang.

Kedua, untuk mengadvokasi tambahan investasi yang efektif dalam meningkatkan kesehatan ibu dan bayi. Ketiga, untuk mendorong tindakan kolektif dalam mendukung para dokter dan tenaga kesehatan yang memberikan layanan pada kondisi kritis. Dan keempat, untuk memberikan informasi dan edukasi kesehatan yang berguna, terkait kehamilan, persalinan, dan periode pascanatal.

Tingginya angka kematian yang dapat dicegah dan buruknya kesehatan dan kesejahteraan bayi baru lahir dan anak di bawah usia lima tahun, merupakan indikator dari cakupan intervensi penyelamatan jiwa yang tidak merata dan dari pembangunan sosial dan ekonomi yang tidak memadai. Kemiskinan, gizi buruk, dan akses yang buruk terhadap air bersih dan sanitasi, merupakan beberapa faktor yang merugikan, seperti juga akses yang tidak memadai terhadap layanan medis dan kesehatan yang bermutu, seperti perawatan penting untuk bayi baru lahir.

Promosi kesehatan, layanan pencegahan penyakit (seperti vaksinasi rutin) dan pengobatan penyakit umum pada anak sangat penting, agar setiap anak dapat tumbuh dan bertahan hidup. Bulan pertama kehidupan merupakan periode paling rentan bagi kelangsungan hidup anak, dengan 2,3 juta bayi baru lahir meninggal pada tahun 2022. Angka kematian neonatal telah menurun hingga 44% sejak tahun 2000. Namun pada tahun 2022, hampir setengah (47%) dari semua kematian pada anak di bawah usia 5 tahun terjadi pada periode neonatal (28 hari pertama kehidupan), yang merupakan salah satu periode kehidupan paling rentan dan memerlukan perawatan intrapartum dan neonatal berkualitas tinggi.

Kebanyakan kematian neonatal (75%) terjadi selama minggu pertama kehidupan, dan sekitar 1 juta bayi baru lahir meninggal dalam 24 jam pertama. Di antara neonatus, penyebab utama kematian meliputi kelahiran prematur, komplikasi kelahiran (asfiksia dan trauma saat lahir), infeksi neonatal, dan kelainan bawaan, yang secara kolektif menyebabkan hampir 4 dari 10 kematian pada anak di bawah usia 5 tahun. Perlu dicatat bahwa meskipun tingkat penyebab utama kematian neonatal telah menurun secara global sejak tahun 2000, penyebab tersebut menyebabkan proporsi yang sama dari kematian anak di bawah usia 5 tahun, yaitu 4 dari 10 anak pada tahun 2000 dan 2022. Akses dan ketersediaan layanan medis dan kesehatan yang berkualitas, terus menjadi masalah hidup atau mati bagi ibu dan bayi baru lahir, di seluruh dunia.

Sebagian besar kematian bayi baru lahir terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Program untuk meningkatkan kelangsungan hidup bayi baru lahir harus dibangun di atas fondasi yang kuat, selaras dengan Every Newborn Action Plan (ENAP) dan target mengakhiri kematian ibu yang dapat dicegah (Ending Preventable Maternal Mortality atau EPMM). Hal ini mencakup perbaikan layanan medis antenatal dan pascanatal, juga meningkatkan kompetensi dokter dan tenaga kesehatan terampil dalam bidang obstetrik dan bayi baru lahir.

Meningkatkan pembiayaan dan mengalokasikan sumber daya terhadap dua intervensi tersebut di atas, akan berdampak sangat tinggi dan sangat penting. Hal ini karena langkah ini memberikan pengembalian investasi empat kali lipat, tidak hanya berupa pengurangan angka kematian ibu, bayi lahir mati, dan kematian bayi baru lahir, tetapi juga menurunkan morbiditas ibu dan bayi baru lahir.

Dengan meningkatnya angka kelahiran di fasilitas kesehatan, bahkan sudah mencapai hampir 80% secara global, maka tersedia peluang besar untuk perawatan semua bayi baru lahir, termasuk bayi baru lahir berisiko tinggi. Namun sayangnya, hanya sedikit ibu dan bayi baru lahir yang masih bertahan di fasilitas kesehatan selama 24 jam setelah kelahiran, yang merupakan waktu paling kritis ketika komplikasi medis pada bayi dapat muncul. Selain itu, terlalu banyak bayi baru lahir yang meninggal di rumah, karena pulang lebih awal dari rumah sakit, hambatan akses, dan keterlambatan dalam mencari perawatan. Untuk itu, empat kali kontak tenaga kesehatan dengan bayi dalam perawatan pascanatal yang direkomendasikan WHO, baik di fasilitas kesehatan atau melalui kunjungan ke rumah, memainkan peran penting untuk menjangkau bayi baru lahir dan keluarga mereka.

Hari Kesehatan Dunia (World Health Day) Senin, 7 April 2025 untuk memperingati hari lahir WHO pada 7 April 1948. Momentum ini mengingatkan kita semua agar melakukan percepatan kemajuan program, untuk kelangsungan hidup bayi baru lahir. Selain itu, peningkatan derajat kesehatan dan kesejahteraan bayi baru lahir memerlukan ketersediaan layanan medis dan kesehatan yang berkualitas, khususnya untuk bayi baru lahir yang kecil dan sakit.

Apakah kita sudah melakukannya?

Sekian
Yogyakarta, 22 Maret 2025
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM.

Categories
anak antibiotika COVID-19 dokter Healthy Life UHC vaksinasi

2025 ISPA HMPV

ISPA HMPV

fx. wikan indrarto*)

Sebagian tulisan ini telah dimuat di Harian Nasional Media Indonesia Rabu, 15 Januari 2025

https://mediaindonesia.com/opini/734459/ispa-hmpv-human-meta-pneumo-virus

Sejak awal Januari 2025 sedang terjadi peningkatan kejadian ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), termasuk yang disebabkan oleh HMPV (Human Meta Pneumo Virus), dari Cina yang menyebar sampai ke Indonesia. Apa yang perlu diwaspadai?

Peningkatan ini biasanya disebabkan oleh epidemi musiman patogen pernapasan seperti influenza musiman, respiratory syncytial virus (RSV), dan virus pernapasan umum lainnya, termasuk HMPV serta mycoplasma pneumoniae. HMPV adalah virus pernapasan umum yang ditemukan beredar di banyak negara pada musim dingin hingga musim semi, meskipun tidak semua negara secara rutin menguji dan menerbitkan data tentang tren HMPV. Virus ini memiliki karakteristik mirip dengan flu biasa, dengan gejala seperti batuk kering atau berdahak, pilek atau hidung tersumbat, demam ringan hingga tinggi, sakit tenggorokan, sesak napas, mudah lelah, dan kehilangan nafsu makan.

Sebagian besar orang yang terinfeksi akan pulih dengan sendirinya tanpa memerlukan perawatan khusus. Hanya beberapa kasus memerlukan dirawat inap di rumah sakit karena bronkiolitis, bronkitis atau pneumonia, sedangkan kebanyakan orang yang terinfeksi HMPV akan pulih setelah beberapa hari. Penularan virus HMPV serupa dengan virus flu lainnya, yaitu melalui percikan air liur atau droplet dari individu yang terinfeksi. Meskipun umumnya tidak berbahaya, kelompok rentan seperti anak, orang lanjut usia, dan individu dengan kondisi kesehatan tertentu tetap perlu waspada.

Diagnosis ISPA HMPV dilakukan melalui pemeriksaan medis, terutama jika gejala parah atau tidak membaik setelah beberapa hari. Dokter dapat merekomendasikan 3 jenis pemeriksaan penunjang medis, bila diperlukan. Pertama adalah tes swab nasofaring (usap tenggorok) untuk mendeteksi RNA virus melalui teknik reverse-transcription polymerase chain reaction (RT-PCR). Kedua, pemeriksaan darah untuk mengukur kadar antibodi atau tanda infeksi lainnya. Dan ketiga, rontgen dada jika dicurigai pneumonia.

Berdasarkan data yang diterbitkan oleh Tiongkok, yang mencakup periode hingga 29 Desember 2024, ISPA telah meningkat selama beberapa minggu terakhir dengan kuman penyebab virus influenza musiman, rhinovirus, HMPV, dan mycoplasma pneumoniae khususnya di provinsi bagian utara Tiongkok. Sepertinya hanya Tiongkok yang telah memiliki sistem pengawasan sentinel yang mapan untuk ISPA, termasuk hMPV, dan melakukan pengawasan virologi rutin untuk patogen pernapasan umum dengan laporan terperinci yang diterbitkan setiap minggu di situs web Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok (CDC). Data pengawasan dan laboratorium untuk HMPV tidak tersedia secara rutin dari semua negara, termasuk di Indonesia.

Virus Influenza saat ini merupakan penyebab penyakit pernapasan yang paling banyak dilaporkan, dengan tingkat positif tertinggi di antara semua patogen yang dipantau untuk semua kelompok umur, kecuali anak berusia 5-14 tahun yang memiliki tingkat positif tertinggi untuk mycoplasma pneumoniae. Tingkat ISPA yang dilaporkan di Tiongkok, termasuk HMPV, berada dalam kisaran yang telah diprediksi untuk musim dingin, tanpa pola wabah yang tidak biasa yang dilaporkan. Pihak berwenang Tiongkok mengonfirmasi bahwa sistem perawatan kesehatan tidak kewalahan, pemanfaatan rumah sakit saat ini lebih rendah daripada waktu yang sama tahun lalu, dan tidak ada deklarasi darurat kesehatan. Berdasarkan penilaian risiko saat ini, WHO menyarankan agar semua negara tidak melakukan pembatasan perjalanan atau perdagangan apapun yang terkait dengan tren ISPA terkini.

Meskipun HMPV dilaporkan telah menyebar dan ditemukan di Indonesia pada Senin, 6 Januari 2025 dengan semua kasus adalah anak, tetapi masyarakat diharapkan untuk tidak panik. Virus HMPV berbeda dengan virus COVID-19 yang merupakan virus baru, karena HMPV adalah virus lama yang sifatnya mirip dengan flu, sudah ada dan telah beredar ke seluruh dunia sejak 2001. Sistem imunitas manusia sudah mengenal virus ini sejak lama dan mampu meresponsnya dengan baik, bahkan selama ini juga tidak terjadi hal buruk.

Hingga saat ini, belum tersedia dan juga berlum diperlukan obat antivirus atau vaksin spesifik untuk HMPV. Namun, gejala  HMPV dapat dikelola dengan beberapa langkah berikut. Menggunakan pelembab udara (humidifier) untuk membantu kelegaan pernapasan, minum air putih atau teh hangat untuk mengurangi iritasi tenggorokan, istirahat yang cukup untuk memulihkan daya tahan tubuh. Juga minum obat pereda nyeri seperti acetaminophen atau ibuprofen untuk membantu meredakan demam dan nyeri, menggunakan pengobatan simptomatik untuk mengurangi keluhan yang dialami, seperti obat untuk meredakan hidung tersumbat atau batuk. Selanjutnya perlu memantau gejala yang dialami secara intensif dan segera berkonsultasi dengan dokter jika gejala memburuk.

Karena itu, sekali lagi masyarakat dihimbau untuk menjaga pola hidup sehat, seperti cukup istirahat, mencuci tangan secara rutin, memakai masker saat merasa tidak enak badan, dan segera berkonsultasi dengan dokter jika muncul gejala yang mencurigakan. Juga wajib bersikap tetap tenang dan waspada. Dengan mengikuti protokol kesehatan 3M, menjaga jarak, mencuci tangan dan memakai masker, sama seperti saat pandemi COVID-19, kita dapat mengatasi HMPV ini dengan baik.

Yogyakarta, 8 Januari 2025

*) dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Alumnus S3 UGM, WA :  081227280161

Categories
anak antibiotika COVID-19 dokter Healthy Life UHC

2024 Antibiotika Berlebihan

ANTIBIOTIKA  BERLEBIHAN

fx. wikan indrarto

Penggunaan antibiotik terdata berlebihan pada pasien yang dirawatinap di rumah sakit karena COVID-19. Pada 26 April 2024 terdapat bukti lengkap dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menunjukkan penggunaan antibiotik yang berlebihan selama pandemi COVID-19 di seluruh dunia, yang mungkin telah memperburuk penyebaran resistensi antimikroba (AMR) secara diam-diam. Apa yang mencemaskan?

Meskipun hanya 8% pasien COVID-19 yang dirawatinap di rumah sakit memiliki koinfeksi bakteri dan sebenarnya memerlukan antibiotik, ternyata tiga dari empat atau sekitar 75% pasien telah diobati dengan antibiotik, dengan pertimbangan ‘untuk berjaga-jaga’ karena antibiotik tersebut mungkin membantu (just in case they help). Penggunaan antibiotik berkisar dari 33% untuk pasien di Wilayah Pasifik Barat, hingga 83% di Wilayah Mediterania Timur dan Afrika. Antara tahun 2020 dan 2022, jumlah resep antibiotik menurun seiring waktu di Eropa dan Amerika, sementara jumlah resep obat serupa masih meningkat di Afrika.

Tingkat penggunaan antibiotik tertinggi terjadi pada pasien COVID-19 yang parah atau kritis, dengan rata-rata global sebesar 81%. Dalam kasus ringan atau sedang, terdapat variasi yang cukup besar antar wilayah, dengan penggunaan tertinggi di Wilayah Afrika (79%).

WHO mengklasifikasikan antibiotik berdasarkan klasifikasi AWaRe (Access, Watch, Reserve), berdasarkan risiko AMR. Yang mengkhawatirkan, laporan tersebut menemukan bahwa antibiotik ‘Watch’ dengan potensi resistensi lebih tinggi, justru telah paling sering diresepkan secara global, dibandingkan antibiotika ‘Access’ yang sebenarnya lebih aman.

Ketika seorang pasien membutuhkan antibiotik, manfaatnya sering kali lebih besar daripada risiko yang terkait dengan efek samping atau resistensi antibiotik. Namun, jika tidak diperlukan, obat tersebut tidak memberikan manfaat, tetapi justru menimbulkan risiko, dan penggunaannya berkontribusi terhadap muncul dan penyebaran resistensi antimikroba. Meskipun demikian, data pada laporan tersebut memerlukan perbaikan dalam penggunaan antibiotik yang rasional, untuk meminimalkan konsekuensi negatif yang tidak perlu bagi pasien dan masyarakat.

Secara keseluruhan sebenarnya penggunaan obat antibiotik terbukti tidak memperbaiki hasil klinis pasien COVID-19. Namun, penggunaan antibiotik ini justru dapat membahayakan orang yang tidak mengalami infeksi bakteri, dibandingkan dengan mereka yang tidak menerima antibiotik. Laporan ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk meningkatkan penggunaan antibiotik secara rasional, guna meminimalkan konsekuensi negatif yang tidak perlu bagi pasien dan masyarakat.

Telah diterbitkan rekomendasi WHO mengenai penggunaan antibiotik pada pasien dengan COVID-19, sebagai bagian dari pedoman pengelolaan klinis COVID-19. Pedoman ini didasarkan pada data dari Platform Klinis Global WHO untuk COVID-19, yang merupakan kumpulan data klinis anonim dan terstandarisasi pada tingkat individu, dari pasien yang dirawat di rumah sakit karena COVID-19. Data dikumpulkan dari sekitar 450.000 pasien yang dirawat di rumah sakit karena COVID-19, di 65 negara selama periode 3 tahun antara Januari 2020 hingga Maret 2023.

Temuan ini menggarisbawahi risiko meningkatkan peresepan antibiotik secara global, dan sangat serius dibahas pada Pertemuan Tingkat Tinggi Majelis Umum PBB mengenai AMR yang diadakan pada bulan September 2024. Pertemuan Tingkat Tinggi PBB mengenai AMR telah mempertemukan para pemimpin global untuk berkomitmen melakukan mitigasi AMR di bidang kesehatan manusia, kesehatan hewan, sektor pertanian pangan dan lingkungan hidup, serta untuk mendorong kepemimpinan politik, pendanaan dan tindakan untuk memperlambat kemunculan dan penyebaran AMR.

Penggunaan antimikroba yang bertanggung jawab dan bijaksana perlu ditingkatkan di semua sektor baik pada manusia, hewan, tanaman, dan lingkungan hidup, untuk menjaga manfaat antibiotika bagi kesehatan masyarakat. Secara khusus, antimikroba yang secara medis penting bagi pengobatan manusia perlu dilestarikan dengan mengurangi penggunaannya di sektor non-manusia. Daftar MIA WHO (Medically Important Antimicrobials) tentang antimikroba yang penting secara medis untuk pengobatan manusia merupakan alat manajemen risiko yang dapat digunakan dalam mendukung pengambilan keputusan, guna meminimalkan dampak penggunaan antimikroba di sektor non-manusia, terhadap resistensi antimikroba (AMR) pada manusia. Daftar MIA WHO dibuat untuk memandu upaya pengelolaan antimikroba internasional, nasional, dan subnasional (lokal, negara bagian, provinsi). Panduan ini melengkapi kerangka kerja WHO AWaRe (Access, Watch, Reserve) yang telah diterbitkan sebelumnya dan panduan penggunaan antibiotik esensial yang tepat, dalam sektor kesehatan manusia.

Daftar MIA WHO tersebut mengkategorikan kelas antimikroba berdasarkan pentingnya bagi pengobatan manusia dan menurut risiko AMR, serta potensi implikasi kesehatan manusia dari penggunaannya di sektor non-manusia. Daftar MIA WHO dikembangkan melalui kerja sama erat dengan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) dan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH) sebagai upaya bersama untuk menyelaraskan pedoman dan daftar terkait yang dikembangkan oleh keempat organisasi tersebut.

Pasien memiliki hak untuk mengingatkan para dokter, tentang perlu tidaknya peresepan obat antibiotika saat periksa. Sudahkah kita bertindak bijak dalam penggunaan obat antibiotika paska pandemi COVID-19?

Sekian

Yogyakarta, 30 November 2024

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
antibiotika dokter Healthy Life medicolegal UHC vaksinasi

2024 Hari Keselamatan Pasien

Sebagian tulisan ini telah diterbitkan di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 29 September 2024 dengan judul : Pentingnya diagnosis benar dan tepat waktu, pada kolom Husada, halaman 5.

HARI   KESELAMATAN   PASIEN   DUNIA

fx. wikan indrarto

Hari Keselamatan Pasien Dunia (World Patient Safety Day) pada 17 September 2024 merupakan kesempatan untuk meningkatkan kesadaran publik dan mendorong kolaborasi antara pasien, dokter, tenaga kesehatan, pembuat kebijakan, dan pemimpin fasilitas perawatan kesehatan untuk meningkatkan keselamatan pasien. Apa yang menarik?

Tahun ini temanya adalah “Meningkatkan diagnosis demi keselamatan pasien” dengan slogan “Lakukan dengan benar, buat aman!”, yang menyoroti pentingnya diagnosis yang benar dan tepat waktu dalam memastikan keselamatan pasien dan meningkatkan luaran atau hasil medis.

Diagnosis yang ditegakkan oleh dokter dan tenaga kesehatan merupakan identifikasi masalah kesehatan yang dialami pasien. Diagnosis ini merupakan kunci utama untuk mengakses perawatan dan pengobatan yang dibutuhkan pasien. Kesalahan diagnosis adalah kegagalan pasien untuk mendapatkan luaran klinis yang baik, karena tidak diteruskan dengan tatalaksana medis yang benar dan tepat waktu tentang masalah kesehatan pasien. Kesalahan diagnosis ini dapat mencakup diagnosis yang tertunda, tidak benar, atau terlewat, atau dapat juga merupakan kegagalan untuk mengomunikasikan penjelasan kondisi medis kepada pasien.

Kesalahan diagnostik terjadi pada 5–20% hasil pemeriksaan dokter terhadap pasiennya. Kesalahan diagnostik yang berbahaya ditemukan pada minimal 0,7% pasien dewasa yang dirawat inap di RS. Keselamatan pasien dalam aspek diagnostik dapat ditingkatkan secara signifikan dengan mengatasi masalah klinis berbasis sistem dan faktor kognitif dokter, yang dapat menyebabkan kesalahan diagnostik. Faktor sistemik adalah kerentanan organisasi yang menjadi predisposisi terjadinya kesalahan diagnostik, termasuk kegagalan komunikasi antara dokter dengan petugas kesehatan atau dokter dan petugas kesehatan dengan pasien, beban kerja yang berat, dan kerja tim yang tidak efektif. Faktor kognitif melibatkan pelatihan dan pengalaman dokter serta predisposisi terhadap bias, kelelahan, dan stres.

Prioritas keselamatan diagnostik perlu mengadopsi pendekatan multifase dalam memperkuat sistem, merancang jalur diagnostik yang aman, mendukung dokter dan tenaga kesehatan lainnya dalam menegakkan diagnosis, membuat keputusan yang tepat, dan melibatkan pasien di seluruh proses diagnostik.

Setiap titik dalam proses pemberian pelayanan medis dan keperawatan mengandung tingkat ketidakamanan tertentu untuk pasien, yang selalu melekat. Sekitar 1 dari 10 pasien mengalami cedera dan lebih dari 3 juta kematian terjadi setiap tahun, akibat perawatan yang tidak aman di fasilitas pelayanan kesehatan. Kejadian buruk umum yang dapat mengakibatkan cedera pasien yang dapat dihindari adalah kesalahan pengobatan, prosedur pembedahan yang tidak aman, infeksi terkait perawatan kesehatan, kesalahan diagnosis, pasien jatuh, luka dekubitus, kesalahan identifikasi pasien, transfusi darah yang tidak aman, dan tromboemboli vena.

“Pertama, jangan merugikan” (First, do no harm) adalah prinsip paling mendasar dari setiap layanan kesehatan bagi pasien. Tidak seorang pasienpun boleh dirugikan dalam layanan kesehatan. Keselamatan pasien didefinisikan sebagai tidak adanya bahaya yang dapat dicegah bagi pasien dan pengurangan risiko bahaya yang tidak perlu, terkait dengan perawatan kesehatan ke tingkat minimum yang dapat diterima. Dalam konteks sistem kesehatan yang lebih luas, keselamatan pasien adalah kerangka kegiatan terorganisasi yang menciptakan budaya, proses, prosedur, perilaku, teknologi, dan lingkungan dalam perawatan kesehatan yang secara konsisten dan berkelanjutan menurunkan risiko, mengurangi terjadinya bahaya yang dapat dihindari, mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahan, dan mengurangi dampak bahaya saat terjadi pada pasien.

Sumber umum bahaya untuk pasien saat menerima layanan kesehatan adalah dalam bentuk kesalahan diagnosis, pengobatan, tindakan bedah dan terjadinya infeksi ikutan. Dalam lingkup kesalahan pengobatan, bahaya terkait pengobatan memengaruhi 1 dari setiap 30 pasien dalam perawatan kesehatan, dengan lebih dari seperempat dari bahaya ini dianggap parah atau mengancam jiwa. Setengah dari bahaya atas pasien yang dapat dihindari dalam layanan kesehatan terkait dengan pengobatan.

Dalam lingkup kesalahan bedah, berasal dari sekitar 300 juta prosedur bedah yang dilakukan setiap tahun di seluruh dunia. Meskipun adanya efek samping sudah disadari sepenuhnya dan dilakukan tindakan antisipasi, namun demikian kesalahan bedah terus terjadi pada tingkat yang cukup tinggi. Bahkan 10% dari bahaya pasien yang dapat dicegah dalam perawatan kesehatan dilaporkan dalam lingkup kesalahan bedah, dengan sebagian besar kejadian buruk pada pasien yang diakibatkannya terjadi sebelum dan sesudah operasi dilakukan.

Dengan tingkat global sebesar 0,14% (meningkat sebesar 0,06% setiap tahun), infeksi terkait perawatan kesehatan mengakibatkan durasi rawat inap yang lebih lama, kecacatan jangka panjang, peningkatan resistensi antimikroba, beban keuangan tambahan pada pasien, keluarga dan sistem kesehatan, serta kematian yang dapat dihindari.

Ada banyak faktor yang saling terkait yang dapat menyebabkan cedera pada pasien, dan lebih dari satu faktor biasanya terlibat dalam setiap insiden keselamatan pasien, termasuk dalam proses penegakan diagnosis. Pertama faktor sistem dan organisasi, yaitu kompleksitas intervensi medis, proses dan prosedur yang tidak memadai, gangguan dalam alur kerja dan koordinasi layanan, keterbatasan sumber daya, staf yang tidak memadai dan pengembangan kompetensi yang kurang. Kedua faktor teknologi medis, yaitu masalah yang terkait dengan sistem informasi kesehatan, seperti masalah dengan catatan kesehatan elektronik atau sistem pemberian obat, dan penyalahgunaan teknologi. Ketiga faktor perilaku manusia, dapat beruapa gangguan komunikasi di antara petugas layanan kesehatan, dalam tim perawatan kesehatan, dan dengan pasien dan keluarga mereka, kerja tim yang tidak efektif, kelelahan, kejenuhan, dan mungkin juga bias kognitif.

Selanjutnya, kesalahan diagnosis juga dipengaruhi oleh faktor yang terkait dengan pasien, meliputi keterbatasan pasien dalam literasi kesehatan, kurangnya keterlibatan pasien dalam proses dan ketidakpatuhan pasien terhadap pengobatan. Dan terakhir faktor eksternal, yaitu tidak adanya kebijakan, regulasi yang tidak konsisten, tekanan ekonomi dan keuangan, dan tantangan yang terkait dengan lingkungan alam, semuanya dapat berkontribusi pada kesalahan diagnosis dan keselamatan pasien.

Bukti menunjukkan bahwa ketika pasien diperlakukan sebagai mitra dalam layanan kesehatan, keuntungan signifikan akan diperoleh dalam hal keselamatan, kepuasan, ketepatan diagnosis, dan luaran klinis dari tindakan medis. Apakah kita sudah bijak?

Sekian

Yogyakarta, 7 September 2024

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta,  Alumnus S3 UGM, surveiyor akreditasi Kemenkes RI untuk pelayanan di RS. WA: 081227280161

Categories
dokter UHC

2024 NYAMAN BANGET DI RSST KLATEN

NYAMAN BANGET DI RS SOERADJI TIRTONEGORO KLATEN
fx. wikan indrarto

Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr. Soeradji Tirtonegoro atau disebut juga RSST yang berada di Tegalyoso, Klaten, Jawa Tengah tercatat sebagai rumah sakit pertama dan tertua di teritorial Provinsi Jawa Tengah, yang didirikan pada 20 Desember 1927. Saat pertama kali dibangun, RS ini diberi nama Dr. Scheurer Hospital. Rumah sakit ini dikelola oleh Yayasan Zending yang bergerak di bidang kesejahteraan umat dan dipimpin oleh Dr Bakker. Pada awal Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) namanya kemudian berganti nama menjadi Rumah Sakit Umum (RSU) Tegalyoso Klaten.

Rumah Sakit Dr. Scheurer yang dikelola oleh Yayasan Zending sejak 20 Desember 1927

Pada 5 Maret 1946, Perguruan Tinggi Kedokteran bagian pre-klinik dibuka di RSU Tegalyoso Klaten, yang menjadi cikal bakal berdirinya Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK UGM) Yogyakarta. Hingga saat ini, RSST terus menjalin kerja sama erat dan menjadi RS pendidikan bagi FK UGM Yogyakarta, meskipun RSST dikelola secara penuh oleh Kementrian Kesehatan RI. Selain itu, RSST juga berkembang dalam memberikan berbagai pelayanan medis dan bahkan terpilih sebagai Rumah Sakit yang paling berkomitmen dalam memberikan pelayanan terbaik bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) Kategori RS Kelas A, Tingkat Kedeputian Wilayah Jawa Tengah dan DIY pada 2020.

.

Anak sulung kami, laki-laki usia 29 tahun, mengalami cedera lutut kanan berulang akibat benturan dengan temannya saat main futsal, terpeleset dan jatuh saat naik gunung, serta mungkin juga salah posisi mendarat setelah melakukan smash saat bermain bulutangkis. Oleh karena saya bertugas sebagai seorang dokter spesialis di RS Panti Rapih Yogyakarta, maka saya periksakan anak saya kepada dr. Bambang Kisworo, Sp.OT(K), seorang dokter spesialis bedah tulang konsultan lutut dan pinggul yang biasa dipanggil dr. BK dan merupakan dokter paling senior di RS saya. Setelah diperiksa secara teliti terhadap gerakan lutut kanan, anak saya disarankan untuk periksa MRI (Magnetic Resonance Imaging). MRI saat ini menjadi modalitas pemeriksaan penunjang medis yang paling valid dalam menilai kondisi jaringan lunak di daerah lutut karena pada MRI dapat terlihat gambaran ligamentum, meniscus serta jaringan kartilago yang ada di area cedera pada lutut. Ternyata anak saya mengalami robek atau ruptur Anterior Cruciatum Ligamen (ACL) akut komplit karena tampak adanya diskontinuitas jaringan ACL, irregularitas sinyal MRI pada ACL, perubahan sudut ACL, penebalan (buckling) PCL, serta memar pada tulang (lateral femoral condylus, lateral tibiaplateau). Sementara itu, tidak ada tanda seperti lesi atau edema subchondral yang biasanya dapat menjadi penanda sebuah robekan yang kronik.

Robek atau ruptur Anterior Cruciatum Ligamen (ACL) akut komplit pada lutut kanan

Saya cukup terkejut saat dr. BK menyarankan anak saya untuk dirujuk ke RSST di Klaten, bukan ke RSUP Dr. Sardjito di Yogyakarta, yang merupakan RS rujukan tertinggi di DIY, Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian selatan. Beliau meyakinkan saya, bahwa anak saya akan ditangani dengan baik oleh Dr. dr. Sholahuddin Rhatomy, Sp.OT(K), yang juga seorang dokter spesialis bedah ortopedi konsultan pinggul dan lutut. Meskipun lebih junior di bandingkan dengan dr. BK, tetapi saya diyakinkan lagi bahwa dr. Tomy jauh lebih terampil, karena didukung oleh tim yang solid dan alat medis terbaru untuk prosedur artroskopi, yaitu Arthroscopy System Instrument, sebuah alat bedah medis berkode [ME8-70020-00164] berharga sekitar Rp 1.5 Milyar

Dr. dr. Sholahuddin Rhatomy, Sp.OT(K) memeriksa lutut pasien di Klinik Bedah Tulang RSST Klaten

Benar sekali apa yang dijelaskan oleh dr. BK, saya menjadi mantap saat anak saya ditangani oleh dr. Tomy, karena pada pemeriksaan pertama di ruang praktek, dijelaskan secara detail tentang kondisi cedera lutut dan rencana penanganannya secara lengkap. Jaminan pembiayaan oleh BPJS Kesehatan berlaku sepenuhnya sejak awal penanganan, proses administrasi sederhana, penjadwalan operasi, dan penempatan pasien di kamar ruang rawat inap berjalan lancar, penuh koordinasi yang baik dan efisien waktu.

Dr. dr. Sholahuddin Rhatomy, Sp.OT(K) melakukan operasi rekonstruksi dan meniskus lutut kanan atau ‘reconstruction and repair meniscus medial genu dextra’

Sesuai rencana, pada hari Rabu pagi, 15 Mei 2019 saya diijinkan mendampingi anak saya masuk ke kamar operasi. Penyambutan yang ramah, akrab, dan personal oleh banyak sejawat dokter kenalan pribadi di ruang ganti dan persiapan operasi, membuat saya semakin mantap. Begitu juga saat saya melihat dari dekat jalannya operasi ‘reconstruction and repair meniscus medial genu dextra’ oleh dr. Tomy yang cekatan, dibantu oleh tim yang solid, diselingi beberapa kali penjelasan singkat melalui layar monitor dan operasi dapat diselesaikan dalam waktu sekitar 45 menit saja.

Dr. dr. Sholahuddin Rhatomy, Sp.OT(K) melakukan operasi menggunakan prosedur arthroskopi dan hasilnya terlihat pada layar monitor

Operasi tidak lagi dilakukan terbuka secara manual seperti di RS lain, melainkan anak saya menjalani operasi tertutup yang modern dengan prosedur artroskopi. dr. Tomy memasukkan alat kecil yang dilengkapi dengan kamera melalui sayatan kecil (seukuran 1 cm) di sekitar lutut kanan anak saya. Kamera tersebut menampilkan kondisi lutut anak saya, sehingga dr. Tomy dapat memeriksa ligamen dan jaringan lain di area lutut dengan mudah. Kemudian dr. Tomy membuat sayatan kecil lainnya di sekitar lutut dan memasukkan instrumen medis untuk memperbaiki kerusakan serta mengganti ligamen ACL dengan cangkok (graft). Cangkok diambil dari tendon kaki kiri anak saya, dengan cara membuat sayatan yang lebih besar di kaki kiri untuk mengeluarkan tendon untuk autograft. Setelah itu, dr. Tomy membuat soket ke tulang paha dan tulang kering untuk memosisikan cangkok ligamen ACL secara akurat. Ligamen yang rusak dibuang dan digantikan dengan tendon, kemudian dibuat lubang kecil lain pada tulang kering untuk memposisikan graft, dengan menempatkan baut dan alat lain dengan tujuan supaya posisi graft tidak bergeser. Graft ini akan membantu jaringan ligamen yang baru agar dapat tumbuh. Pada akhir operasi, dr. Tomy menutup luka sayatan dengan jahitan, yang terkesan sangat rapi agar tidak terlihat sebagai sayatan bekas operasi.

Perawatan pasien paska operasi lutut kanan secara paripurna dalam pengawasan oleh Dr. dr. Sholahuddin Rhatomy, Sp.OT(K)

Pengelolaan pasien dalam tahap pemulihan dari operasi, baik di ruang pemulihan maupun di ruang rawat inap, termasuk pengelolaan nyeri pasca operasi sangat rapi, runtut dan berkesinambungan. Begitu juga layanan fisioterapi untuk pemulihan fungsi lutut paska operasi secara bertahap, telah dilakukan dengan cermat. Tidak ada biaya tambahan yang kami keluarkan karena penjaminan biaya oleh BPJS Kesehatan juga mencakup layanan pasca operasi.

Selama 3 hari anak saya menjalani operasi lutut secara modern dengan prosedur artroskopi dan rawat inap di RSST Klaten, telah menyadarkan saya akan adanya pengembangan layanan medis yang luar biasa pesat, yang telah dilakukan di RSST Klaten. Meskipun merupakan RS tertua di Jawa Tengah, RSST Klaten tetap laju berkembang menyesuaikan adanya perubahan zaman, dan kemajuan teknologi kedokteran yang berkembang pesat.

Terima kasih kami haturkan kepada Dr. dr. Sholahuddin Rhatomy, Sp.OT(K) dan tim di RSST Klaten, yang bersemboyan “Berbenah tanpa lelah, Berinovasi tanpa henti.” Dokter dan tim hebat ini telah memberikan layanan medis inovatif terbaik bagi cidera parah lutut anak saya, dengan hasil yang luar biasa bagus, sampai saat ini pada tahun ke 5 pasca operasi, tidak ada keluhan yang terjadi. Benar sekali, nyaman banget di RSST.

Salam sehat untuk kita semua,
Selasa, 2 Juli 2024.

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta

Categories
anak antibiotika dokter Healthy Life UHC vaksinasi

2024 Dengue Regional

DENGUE  REGIONAL

fx. wikan indrarto

Telah diunggah juga pada media online nasional Jumat, 26 Jul 2024 10:30 WIB, pada artikel detiknews, “Kasus Demam Berdarah di Regional Asia”

https://news.detik.com/kolom/d-7455015/kasus-demam-berdarah-di-regional-asia.

Pada tanggal 30 April 2024, lebih dari 7,6 juta kasus demam berdarah dengue (DBD atau Dengue) telah dilaporkan secara global, termasuk 3,4 juta kasus terkonfirmasi, lebih dari 16.000 kasus dengue parah, dan lebih dari 3.000 kematian. Bagaimana situasi dengue regional Asia? 

.

Virus dengue ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi. Kasus paling sering tidak menunjukkan gejala atau mengakibatkan penyakit demam ringan. Namun, beberapa kasus akan berkembang menjadi dengue parah, yang mungkin menyebabkan syok, pendarahan hebat, atau kerusakan organ parah. Mengingat skala wabah dengue saat ini, potensi risiko penyebaran internasional lebih lanjut, dan kompleksitas faktor-faktor yang mempengaruhi penularan, risiko keseluruhan di tingkat global masih dinilai tinggi, sehingga dengue tetap menjadi ancaman global terhadap kesehatan masyarakat.

.

Faktor-faktor yang terkait dengan peningkatan risiko epidemi dengue dan penyebarannya ke berbagai negara meliputi musim penularan dengue yang dimulai lebih awal dan lebih lama di daerah endemis, perubahan distribusi dan peningkatan kelimpahan vektor nyamuk, konsekuensi perubahan iklim dan fenomena cuaca berkala (El Nino dan La Nina) yang menyebabkan curah hujan tinggi, kelembapan, dan kenaikan suhu yang mendukung reproduksi vektor dan penularan virus. Selain itu, juga perubahan serotipe virus dengue yang beredar di suatu negara yang mempengaruhi kekebalan penduduk, sistem kesehatan yang rapuh di tengah ketidakstabilan politik dan keuangan di beberapa negara, dan juga perpindahan penduduk dalam skala besar yang mengganggu respons kesehatan masyarakat.

.

baca juga : 2024 Dengue Global

.

Secara regional, semua negara di Asia Tenggara dan Timur Jauh mempunyai kondisi lingkungan yang memungkinkan terjadinya penularan endemik dengue, dan semuanya telah melaporkan kasus dengue secara sistematis, kecuali Republik Demokratik Rakyat Korea atau Korea Utara. Terdapat pola musiman yang jelas dalam kejadian dengue, terkait dengan pola iklim di masing-masing negara.

Indonesia mengalami lonjakan kasus dengue dengan 88.593 kasus terkonfirmasi dan 621 kematian pada Selasa, 30 April 2024. Angka ini sekitar tiga kali lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun 2023. Pada tahun 2024 Bangladesh, Nepal, dan Thailand melaporkan jumlah kasus dengue yang lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2023. Dari Januari hingga April 2024, CFR bervariasi dari 0% di Nepal hingga 1,09% di Bangladesh. Namun, penafsiran nilai-nilai ini memerlukan kehati-hatian karena definisi kasus dengue yang digunakan berbeda-beda di setiap negara. Beberapa negara hanya melaporkan kasus rawat inap (dikonfirmasi laboratorium) (dibandingkan negara lain yang melaporkan kemungkinan kasus dari masyarakat), sehingga menyebabkan tingkat kematian kasus yang lebih tinggi di antara mereka yang dirawat di rumah sakit atau menderita dengue parah.

.

Lonjakan kejadian dengue kemungkinan besar dipicu oleh berbagai faktor, antara lain pergeseran serotipe yang beredar dan perubahan iklim. Setidaknya lima negara (Bangladesh, India, Myanmar, Nepal dan Thailand) saat ini sedang bergulat dengan permulaan musim hujan, yang menciptakan kondisi yang cocok untuk perkembangbiakan dan kelangsungan hidup nyamuk Aedes. Selain itu, urbanisasi dan perpindahan penduduk juga memainkan peran penting dalam meningkatnya beban dengue di wilayah tersebut. Perubahan pada serotipe dengue dominan yang bersirkulasi tidak hanya meningkatkan kejadian, tetapi juga risiko populasi terkena serotipe DENV yang heterolog, yang pada gilirannya meningkatkan risiko tingginya angka dengue parah dan kematian.

.

Demam berdarah dengue pada dasarnya adalah penyakit perkotaan di daerah tropis dan virus dengue yang menyebabkannya berada dalam siklus yang melibatkan manusia dan nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk yang sama tersebut juga menularkan virus chikungunya dan Zika. Kedekatan tempat perkembangbiakan vektor nyamuk dengan tempat tinggal manusia merupakan faktor risiko yang signifikan terhadap infeksi virus dengue. Nyamuk spesies Aedes dapat tertular virus setelah menggigit individu yang terinfeksi DENV dan kemudian menularkan virus tersebut ke orang lain di sekitarnya. Oleh karena itu, siklus ini membuat nyamuk yang infektif mampu menyebarkan virus dengue di dalam rumah tangga dan lingkungan sekitar, sehingga menyebabkan terjadinya klaster.

.

Intervensi pengendalian vektor yang efektif adalah kunci pencegahan dan pengendalian dengue. Kegiatan pengendalian vektor harus menyasar seluruh area dimana terdapat risiko kontak manusia-vektor, seperti tempat tinggal, tempat kerja, sekolah, dan bahkan rumah sakit. Manajemen Vektor Terpadu untuk mengendalikan spesies Aedes harus mencakup menghilangkan potensi tempat perkembangbiakan, mengurangi populasi vektor, dan meminimalkan paparan individu. Hal ini harus melibatkan strategi pengendalian vektor untuk larva dan serangga dewasa (yaitu pengelolaan lingkungan dan pengurangan sumber air), terutama pemantauan praktik penyimpanan air, pengeringan dan pembersihan wadah penyimpanan air rumah tangga setiap minggu, larvasida dalam air yang tidak dapat diminum menggunakan larvasida  dengan dosis yang tepat, penggunaan kelambu berinsektisida bagi pasien dengue  rawat inap di RS, untuk membendung penyebaran virus dari RS. Penyemprotan di dalam ruangan untuk mengusir nyamuk yang terinfeksi dengue mungkin sulit dilakukan di daerah padat penduduk. Kota Yogyakarta menjadi kota pertama di Indonesia yang mengimplementasikan teknologi nyamuk ber-Wolbachia dalam pengendalian dengue. Sejak program ini dimulai pada tahun 2016 lalu, angka kasus dengue di Kota Yogyakarta berangsur menurun, dan pada tahun 2023 mencatatkan rekor terendahnya sepanjang sejarah, yaitu di angka 67 kasus saja.

Tindakan perlindungan diri selama beraktivitas di luar ruangan meliputi penggunaan pengusir nyamuk topikal pada kulit yang terbuka atau penggunaan pakaian pelindung, misalnya lengan kemeja dan celana panjang. Selain itu, perlindungan di dalam ruangan dapat mencakup penggunaan produk aerosol insektisida rumah tangga, atau obat nyamuk bakar di siang hari; tirai jendela dan pintu dapat mengurangi kemungkinan masuknya nyamuk ke dalam rumah dan kelambu yang mengandung insektisida memberikan perlindungan yang baik terhadap gigitan nyamuk saat tidur di siang hari. Tindakan perlindungan pribadi dianjurkan dari fajar hingga senja, karena Aedes aegypti bersifat diurnal. Langkah-langkah dan pengendalian nyamuk ini juga harus mencakup tempat kerja dan sekolah, karena vektor dengue adalah nyamuk yang menggigit di siang hari. Surveilans entomologi harus dilakukan untuk menilai potensi perkembangbiakan nyamuk Aedes dalam wadah, sebagai target kegiatan pengendalian vektor dan memantau resistensi insektisida, untuk membantu memilih intervensi berbasis insektisida yang paling efektif.

.

Tidak ada pengobatan khusus untuk infeksi dengue. Namun demikian, deteksi dini dan akses terhadap layanan kesehatan yang tepat dapat mengurangi angka kematian dengue. Begitu pula deteksi cepat kasus dengue dengan pengenalan tanda bahaya, yang disertai dengan rujukan tepat waktu, untuk kasus dengue parah ke RS tersier.

.

Vaksinasi dengue harus juga dilakukan sebagai bagian dari strategi terpadu untuk mengendalikan penyakit ini. WHO merekomendasikan penggunaan TAK-003, satu-satunya vaksin dengue yang saat ini tersedia untuk anak usia 6–16 tahun di semua wilayah dengan intensitas penularan dengue yang tinggi. Vaksin dengue TAK-003 (backbone DEN-2) ini dapat diberikan pada semua anak, baik pernah sakit dengue (seropositif) maupun belum pernah sakit (seronegatif), yang disuntikkan di bawah kulit (subkutan) mulai usia 6 tahun, sebanyak dua dosis dengan interval tiga bulan. Vaksin dengue TAK-003 merupakan vaksin tetravalen, vaksin hidup yang dilemahkan dan mempergunakan teknologi DNA rekombinan dengan back-bone virus Dengue-2, sehingga keamanan vaksin ringan sampai sedang, tetapi masih dapat ditoleransi dan tidak dilaporkan KIPI serius. Untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas infeksi dengue, vaksinasi dengue harus diberikan integrasi dengan pencegahan vektor.

Semua negara dalam regional Asia didorong untuk saling belajar dan mengadopsi contoh-contoh keberhasilan manajemen kasus yang efektif, pencegahan, dan pengendalian dengue dan arbovirus lainnya, melalui berbagai proyek penelitian yang lebih baik, terutama uji klinis. Penerapan surveilans klinis serta laporan kasus dan kematian dengue dapat sangat berguna dalam memahami penyakit ini dengan lebih baik, dan juga menjadi dasar untuk mengembangkan uji klinis, untuk terapi baru.

WHO tidak merekomendasikan penerapan pembatasan perjalanan warga atau perdagangan apapun antar negara regional. Namun demikian, Kementerian Kesehatan dan mitranya harus meninjau secara cermat kebijakan lokal yang selama ini diterapkan, untuk menerima dan merekomendasikan intervensi baru meniru negara lain yang telah lebih berhasil, dalam program kesehatan masyarakat mengendalikan dengue.

Sudahkah kita siap melawan dengue?

Sekian

Yogyakarta, 29 Juni 2024

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161.

Categories
anak antibiotika dokter tuberkulosis UHC

2024 Hari Tuberkulosis Dunia

HARI  TUBERKULOSIS  DUNIA 2024

fx. wikan indrarto

Tema Hari Tuberkulosis (TBC atau TB) Sedunia 2024 : ‘Yes! Kita bisa mengakhiri TBC!’. Kampanye ini menyampaikan harapan agar kita kembali ke jalur yang benar untuk membalikkan keadaan terpuruk, dalam melawan epidemi TB. Diperlukan 3 hal pokok, yaitu kepemimpinan dengan komitmen tinggi, peningkatan investasi, dan penerapan rekomendasi WHO yang baru dengan lebih cepat. Bagaimana melakukannya?

.

Tulisan ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 19 Mei 2024, halaman 9, kolom HUSADA dengan judul : Pengobatan Tuntas Akhiri Epidemi Tuberkulosis

.

Hari TB Dunia diadakan setiap tanggal 24 Maret untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang dampak buruk TB dalam bidang kesehatan, sosial dan ekonomi, juga untuk meningkatkan upaya mengakhiri epidemi TB global. Pada 24 Maret 1882 Dr. Robert Koch menemukan penyebab penyakit TB, yaitu bakteri Mycobacterium tuberculosis. Pada saat Dr. Koch mengumumkan penemuannya di Berlin, waktu itu TB mewabah di seluruh Eropa dan Amerika, bahkan menyebabkan kematian 1 dari setiap 7 orang penderitanya. Kemajuan yang telah kita dapatkan, 75 juta nyawa telah terselamatkan sejak tahun 2000 melalui upaya global untuk mengakhiri TB. Namun demikian, masih ada 10,6 juta orang terserang TB dan 1,3 juta orang meninggal karena TB pada tahun 2022 yang lalu.

.

Menyusul komitmen yang dibuat oleh para Kepala Negara pada pertemuan Tingkat Tinggi PBB pada tahun 2023 untuk mempercepat kemajuan dalam mengakhiri TB, fokus tahun 2024 ini beralih untuk mewujudkan komitmen tersebut menjadi tindakan nyata. Juga untuk membantu banyak negara dalam meningkatkan akses terhadap pengobatan pencegahan TB, WHO merekomendasikan untuk meningkatkan penerapan pengobatan pencegahan TB secepatnya. Selain itu, investasi sumber daya, dukungan, perawatan dan informasi yang berkelanjutan sangat penting untuk memastikan akses universal terhadap perawatan TB dan penelitian medis untuk mencapai Cakupan Kesehatan Semesta atau Universal Health Coverage (UHC).



Penerapan rekomendasi WHO yang baru dengan lebih cepat seharusnya dilakukan. Target jangak pendek rekomendasi tersebut adalah tersedianya lebih banyak investasi untuk pengobatan pencegahan TB, pemberian rejimen pengobatan TB yang lebih pendek, tes molekuler cepat untuk diagnostik infeksi TBC, dan inovasi alat medis digital.

.

Pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bertujuan untuk mencegah terjadinya infeksi TB pada individu yang terpapar dan untuk menghentikan perkembangan dari infeksi TB ke arah TB aktif (sakit TB). Sasaran prioritas pemberian TPT sesuai rekomendasi WHO adalah populasi anak dan remaja yang berisiko tinggi menderita TB, yaitu anak dan remaja dengan HIV/AIDS, kontak serumah dengan pasien TB paru yang terkonfirmasi bakteriologis, pasien imunokompromais selain HIV (misalnya kanker, dialisis, mendapat kortikosteroid jangka panjang, persiapan transplantasi organ) dan bersekolah atau tinggal di asrama, di lapas dan rumah singgah, tempat penitipan anak (daycare), pengguna narkoba, dll.

.

Syarat pemberian TPT TB adalah tidak sakit TB, tidak ada kontraindikasi TPT, misalnya hepatitis akut atau kronis, neuropati perifer (jika menggunakan isoniazid), konsumsi alkohol biasa atau berat, dan terdapat bukti infeksi TB baik secara in vivo (uji kulit tuberkulin) ataupun in vitro (Interferon Gama Release Essay = IGRA). Rejimen obat untuk TPT TB tersedia lebih banyak pilihan, misalnya 6H (Isoniazid selama 6 bulan), 3RH (Rifampisin & Isoniazid selama 3 bulan), 3HP (Rifapentin & Isoniazid selama 3 bulan untuk usia >2 tahun), 4R (Rifampisin selama 4 bulan),  dan 1HP (Isoniazid & Rifapentin selama 1 bulan untuk usia >2 tahun).

.

Untuk menegakkan diagosis TB, sebelum ini dilakukan dengan pemeriksaan bakteriologis dari spesimen dahak pasien. Belajar dari PCR COVID-19 saat pandemi, sekarang pemeriksaan tes cepat molekuler (TCM) justru diprioritaskan, antara lain pemeriksaan Nucleic Acid Amplification Test/NAAT (misalnya Xpert MTB/RIF) dan Line Probe Assay/LPA (misalnya Hain GenoType). Pemeriksaan TCM mempunyai nilai diagnostik yang lebih baik daripada pemeriksaan mikroskopis dahak, tetapi masih di bawah uji biakan. Saat ini TCM direkomendasikan sebagai alat diagnosis utama untuk penegakan diagnosis TB (terkonfirmasi bakteriologis). Namun demikian, hasil negatif TCM tidak menyingkirkan diagnosis TB pada anak dan remaja.

.

Pemberian rejimen pengobatan TB sesuai rekomendasi WHO harus semakin digencarkan. Paduan pemberian Obat Anti TB (OAT) pada anak dan remaja jenis rejimen pertama adalah 2RHZ 4RH (2 bulan Rifampisin, Isoniazid dan pirazinamid dilanjutkan 4 bulan Rifampisin dan Isoniazid) untuk TB paru tidak terkonfirmasi bakteriologis, TB kelenjar intratoraks tanpa obstruksi saluran respiratori dan TB kelenjar. Rejimen kedua adalah 2RHZE 4RH (2 bulan Rifampisin, Isoniazid, Pirazinamid dan Ethambutol dilanjutkan 4 bulan Rifampisin dan Isoniazid) untuk kasus TB paru pada remaja usia ≥15 tahun tanpa memandang klasifikasi dan tingkat keparahan.  Dalam hal ini untuk kasus TB paru terkonfirmasi bakteriologis, TB paru kerusakan luas, TB paru dengan HIV, TB ekstra paru, kecuali TB milier, meningitis TB, dan TB tulang. Rejimen ketiga adalah 2RHZE 10 RH (2 bulan Rifampisin, Isoniazid, Pirazinamid dan Ethambutol dilanjutkan 10 bulan Rifampisin dan Isoniazid) untuk kasus TB paling berat, yaitu meningitis TB, TB tulang, dan TB paru milier.

.

Momentum Hari Tuberkulosis (TB) Dunia Minggu, 24 Maret 2024 mengingatkan kita semua agar berinvestasi untuk mengakhiri TB dan menyelamatkan lebih banyak pasien. Selain itu, kita semua wajib menerapkan rekomendasi WHO yang baru dengan lebih cepat, baik dalam aspek diagnosis dengan TCM, terapi pencegahan (TPT) TB laten dan pengobatan TB sampai tuntas, untuk mengakhiri epidemi TB global.

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 13 Maret 2024

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM.

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?