Categories
COVID-19 Healthy Life

2020 Kematian anak terkait COVID-19

Kematian Anak Akibat COVID-19 Tak Terelakkan - ASUMSI

KEMATIAN  ANAK  TERKAIT  COVID-19

fx. wikan indrarto*)

Pandemi COVID-19 dapat menghancurkan kemajuan yang telah diperoleh dalam puluhan tahun, menuju ke arah penghapusan kematian anak yang dapat dicegah (preventable child deaths). Dengan jumlah kematian balita yang tercatat terendah sepanjang masa pada tahun 2019, gangguan pada layanan kesehatan untuk anak akibat pandemi COVID-19, mengancam tambahan kematian jutaan nyawa anak. Apa yang mencemaskan?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/09/23/2020-dokter-dan-rs-era-normal-baru/

.

Jumlah kematian balita global turun ke titik terendah dalam sejarah pada tahun 2019, turun menjadi 5,2 juta dari 12,5 juta pada tahun 1990. Data ini dikeluarkan bersama oleh UNICEF, WHO, PBB, dan Bank Dunia. Namun demikian, survei oleh UNICEF dan WHO tahun 2020 mengungkapkan bahwa, pandemi COVID-19 telah mengakibatkan gangguan besar pada layanan kesehatan, yang mengancam untuk membatalkan kemajuan yang telah dicapai dengan susah payah selama puluhan tahun.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/01/02/2020-menurunkan-angka-kematian-anak/

.

Komunitas global telah melangkah jauh dalam menekan angka kematian anak yang dapat dicegah, tetapi pandemi COVID-19 dapat menghentikan langkah tersebut. Saat ini banyak anak kehilangan akses ke layanan medis karena sistem kesehatan terganggu pandemi COVID-19, ibu hamil tidak melahirkan di rumah sakit karena takut terinfeksi, dan mereka mungkin juga akan menjadi korban ganasnya pandemi COVID-19. Tanpa investasi tambahan yang mendesak untuk memperbaiki sistem dan memulai kembali layanan kesehatan yang terganggu, jutaan anak balita, terutama bayi baru lahir, dapat meninggal.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/05/09/2019-kematian-bayi/

.

Selama 30 tahun terakhir, layanan kesehatan untuk mencegah atau mengobati penyebab kematian pada anak, telah berperan besar dalam menyelamatkan jutaan jiwa anak dan mempertahankan kehidupan. Penyebab kematian anak yang dapat dicegah (preventable child deaths) meliputi prematuritas, berat badan lahir rendah, komplikasi saat lahir, sepsis neonatal, pneumonia, diare dan malaria, serta kurang lengkapnya vaksinasi. Sekarang banyak negara di seluruh dunia sedang mengalami gangguan pada layanan kesehatan anak, seperti pemeriksaan kesehatan rutin, vaksinasi dan perawatan prenatal dan pasca melahirkan, karena keterbatasan sumber daya. Selain itu, juga faktor ketidaknyamanan umum dalam menggunakan layanan kesehatan, karena takut tertular COVID-19.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/01/17/2019-kematian-anak/

.

Sebuah survei UNICEF yang dilakukan selama pertengahan tahun 2019 di 77 negara, menemukan bahwa hampir 68 persen negara melaporkan setidaknya beberapa gangguan dalam layanan kesehatan untuk anak, termasuk imunisasi. Selain itu, 63 persen negara melaporkan gangguan dalam pemeriksaan antenatal dan 59 persen dalam perawatan pasca melahirkan. Survei WHO tahun 2020 yang dilakukan pada 105 negara, mengungkapkan bahwa 52 persen negara melaporkan gangguan pada layanan kesehatan untuk anak yang sakit, dan 51 persen dalam layanan untuk penanganan malnutrisi.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/11/24/2018-kematian-di-jalan-raya/

.

“Fakta bahwa saat ini lebih banyak anak mampu merayakan ulang tahun pertama mereka daripada waktu mana pun dalam sejarah, adalah tanda nyata dari apa yang dapat dicapai, ketika dunia menempatkan kesehatan dan kesejahteraan sebagai pusat dari prioritas program pembangunan,” kata Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus Direktur Jenderal WHO. Seharusnya kita tidak boleh membiarkan pandemi COVID-19 membalikkan kemajuan luar biasa bagi anak dan generasi masa depan global. Sebaliknya, inilah saatnya untuk menyelamatkan nyawa anak, dan terus berinvestasi dalam pembentukan sistem kesehatan yang lebih kuat, baik, dan tangguh.

.

Ahli Coba Beberkan Alasan Tingginya Tingkat Kematian Anak-Anak Akibat  Covid-19 di Indonesia
.

Berdasarkan data dari berbagai negara yang berpartisipasi dalam survei oleh UNICEF dan WHO, alasan gangguan layanan kesehatan yang paling sering adalah orang tua menghindari fasilitas kesehatan karena takut tertular COVID-19, pembatasan transportasi umum, dan penangguhan atau penutupan layanan dan fasilitas kesehatan. Selain itu, juga lebih sedikit petugas layanan kesehatan karena pengalihan atau ketakutan terinfeksi terkait kekurangan Alat Pelindung Diri (APD) seperti masker dan sarung tangan, juga adanya kesulitan keuangan keluarga. Afghanistan, Bolivia, Kamerun, Republik Afrika Tengah, Libya, Madagaskar, Pakistan, Sudan dan Yaman adalah beberapa negara yang paling terpukul karena pandemi COVID-19.

.

Tujuh dari sembilan negara memiliki angka kematian anak yang tinggi, lebih dari 50 kematian balita per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2019. Di Afghanistan, di mana 1 dari 17 anak meninggal sebelum mencapai usia 5 tahun pada tahun 2019, Kementerian Kesehatan Afganistan melaporkan penurunan yang signifikan dalam kunjungan anak sakit ke fasilitas kesehatan. Alasan yang disebutkan adalah karena takut tertular COVID-19, juga keluarga tidak memprioritaskan perawatan sebelum dan sesudah melahirkan, sehingga menambah risiko yang dihadapi ibu hamil dan bayi baru lahir. Bahkan sebelum pandemi COVID-19, bayi baru lahir di seluruh daratan Afganistan memiliki risiko kematian tertinggi di dunia. Pada tahun 2019 bayi baru lahir meninggal setiap 13 detik. Selain itu, 47 persen dari semua kematian balita terjadi pada periode neonatal, naik dari 40 persen pada tahun 1990. Dengan gangguan parah pada layanan kesehatan esensial, bayi baru lahir memiliki risiko kematian yang jauh lebih tinggi. 

.

Pandemi COVID-19 berdampak buruk pada intervensi kesehatan yang sangat penting bagi kesehatan anak. Diperlukan program nyata untuk memperbaiki ketidakadilan yang sangat besar, agar lebih banyak anak di negara berkembang dapat bertahan hidup dari ancaman kematian yang dapat dicegah (preventable child deaths).

Sudahkah kita bertindak?

Sekian

Yogyakarta, 15 September 2020

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
COVID-19 Healthy Life

2020 Jantung dan COVID-19

World Heart Day 2020 – Date, Themes, History, Quotes | World heart day, Heart  day, Improve heart health

JANTUNG  DAN  COVID-19

fx. wikan indrarto*)

Selasa, 29 September 2020 dirayakan sebagai Hari Jantung Sedunia (World Heart Day). Tema peringatan tahun 2020 ini adalah gunakan hati untuk merawat penyakit jantung (#UseHeart to beat cardiovascular disease). Meskipun belum diketahui pasti apa yang terjadi pada jantung setelah pandemi COVID-19 di masa depan, tetapi sekarang terbukti bahwa merawat jantung saat ini, adalah lebih penting dari sebelumnya. Mengapa?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/08/23/2020-resesi-rumah-sakit/

.

Penyakit jantung adalah penyebab kematian nomor satu di planet ini. Serangan jantung ini memiliki banyak penyebab dari merokok, diabetes, tekanan darah tinggi dan obesitas, hingga polusi udara, dan kondisi langka dan terabaikan seperti Penyakit Chagas dan amiloidosis jantung. Saat pandemi COVID-19, pasien dengan ganggguan jantung dihadapkan pada ancaman bermata dua. Mereka tidak hanya lebih berisiko jatuh dalam derajad penyakit COVID-19 yang parah, tetapi mereka juga mungkin takut untuk kembali datang ke RS dan mencari perawatan jantung, sehingga diperlukan modifikasi layanan kesehatan jantung.

.

Pada era Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) di Indonesia yang dikelola oleh Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan, ada yang namanya program rujuk balik untuk mereka yang menderita penyakit kronis stabil. Terdapat 9 jenis penyakit yang masuk Program Rujuk Balik, yaitu Diabetes Mellitus, Hipertensi, Jantung, Asma, Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK), Epilepsy, Stroke, Schizophrenia dan Systemic Lupus Erythematosus (SLE). Pasien dengan gangguan jantung yang sudah stabil, tidak perlu datang kontrol dan dilayani di RS, tetapi dapat melanjutkan pengobatan rumatan di FKTP, dokter keluarga, klinik, atau puskesmas terdekat.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/09/26/2019-jantung-anak/

.

Layanan kesehatan virtual (virtual health) atau ‘telemedicine’ diharapkan menjadi layanan penyakit jantung di masa depan, sejak pandemi COVID-19 (the future of cardiovascular disease care delivery). Hal ini terutama karena pasien gangguan jantung memiliki peningkatan risiko kematian kalau terinfeksi COVID-19. Selain itu, layanan telemedicine memberikan pilihan bagi dokter yang lebih senior atau memiliki penyakit komorbid dan juga berisiko lebih tinggi terkena penyakit parah jika terinfeksi COVID-19, untuk terus memberikan layanan yang sangat dibutuhkan pasiennya. Layanan telemedicine mengacu pada penggunaan teknologi digital dan telekomunikasi, untuk memberikan perawatan kesehatan. Penerapannya bervariasi, dari sekedar melengkapi hingga mengganti total pemberian layanan kesehatan, tergantung pada kebutuhan pasien dan sumber daya yang tersedia. Peningkatan penggunaan layanan telemedicine menghadirkan banyak peluang. Namun demikian, pada saat yang sama beberapa masalah perlu ditangani, seperti pertimbangan regulasi dan etika.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/09/23/2020-dokter-dan-rs-era-normal-baru/

.

Pandemi COVID-19 telah mengurangi hambatan untuk penerapan layanan telemedicine dan mempercepat pemberlakuan peraturannya di seluruh dunia. Di Amerika Serikat, sebagian besar konsultasi kesehatan saat ini telah dilakukan secara virtual. Di Cina, kesehatan virtual berkembang segera setelah pandemi COVID-19 dimulai dengan dukungan pemerintah yang signifikan, yang menjamin pembiayaaan jasa konsultasi dokter online. Negara lain yang telah menerapkan layanan kesehatan virtual adalah Kanada dan Skotlandia. Di Skotlandia, penggunaan ‘video conferencing’ bahkan meningkat 1.000%.

.

Contoh keberhasilan penerapan telemedicine adalah pada program penyakit jantung bawaan pada orang dewasa di Rumah Sakit Massachusetts di Boston, USA. Telah terjadi penurunan beban kerja yang signifikan dari 400 pasien sehari menjadi kurang dari 40 pasien. Dr. Ami Bhatt, direktur program telemedicine melaporkan manfaat positif telekardiologi pada hubungan dokter-pasien. Pasien justru merasa bahwa mereka adalah mitra yang setara dalam hubungan dengan dokter dan kebutuhan mereka dihormati. Di sisi lain, dokter terbebas dari kesibukan praktek di klinik dan lebih fokus mendengarkan dan mendidik pasien. Hasilnya adalah peningkatan kepuasan, yang dapat membantu mengatasi tingginya tingkat kelelahan dan bunuh diri, yang dialami oleh dokter di USA yang bekerja terlalu keras.

.

Kelemahan layanan telemedicine ini adalah kurangnya pemeriksaan fisik dan kontak antar manusia, yang telah lama dianggap sebagai komponen inti dari hubungan pasien-dokter. Meskipun masih belum jelas apa implikasinya terhadap kualitas perawatan, tetapi American College of Cardiology (ACC) telah mengeluarkan panduan untuk layanan telekardiologi. Salah satu elemen penting yang perlu dipertimbangkan, mencakup pilihan pasien yang memenuhi syarat untuk layanan telekardiologi.

.

Pelatihan dokter terus dilakukan, dalam menilai jenis pasien apa yang harus diarahkan ke konsultasi tatap muka. Layanan telekardiologi tersebut mencakup pemantauan jarak jauh perangkat yang ditanamkan dalam tubuh pasien serta akses ke peralatan pemantauan non-invasif (misalnya, manset tekanan darah, timbangan BB, atau monitor saturasi oksigen). Pasien dapat membagikan hasil pengukuran mereka sebelum atau selama konsultasi, tergantung pada sistem yang diterapkan. Dalam kebanyakan kasus, resep dapat diberikan secara virtual, kecuali untuk obat keras yang memang dikendalikan. Namun demikian, jika tes diagnostik diperlukan pasien, kunjungan langsung oleh pasien ke dokter di RS harus dilakukan.

.

Semua orang dari segala usia dapat terinfeksi COVID-19. Namun demikian, COVID-19 menimbulkan risiko yang lebih buruk bagi orang yang berusia di atas 60 tahun dan mereka yang memiliki kondisi medis dasar (komorbid). Dalam hal ini termasuk penyakit jantung, hipertensi, diabetes, penyakit pernafasan kronis, dan kanker. Untuk menghindari perburukan infeksi COVID-19, pasien disarankan untuk terus minum obat jantung secara rutin dan ikuti nasihat dokter, amankan persediaan obat rutin untuk satu bulan atau lebih lama, jika memungkinkan. Selain itu, juga jaga jarak setidaknya satu meter dari penderita batuk, pilek atau flu, seringlah mencuci tangan dengan sabun dan air setidaknya selama 20 detik, tinggallah di rumah saja dan waspadai perburukan kondisi kesehatan.

.

Momentum Hari Jantung Sedunia (World Heart Day) dengan tema #UseHeart to beat cardiovascular disease, mengingatkan kita semua, agar menjaga kesehatan jantung sebaik mungkin, sesuai protokol kesehatan. Untuk para dokter dan pasien dengan penyakit jantung kronis yang stabil, disarankan memanfaatkan Program Rujuk Balik (PRB) atau menggunakan fasilitas layanan telekardiologi selama pandemi COVID-19.

Apakah para dokter dan pasien gangguan jantung sudah siap ?

.

Yogyakarta, 25 September 2020

*) Dokter spesialis anak RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
Istanbul

2020 ANTIBIOTIKA SEMASA COVID-19

Fungsi Antibiotik dan Jenisnya, Perhatikan Cara Kerjanya yang Berbeda-beda

ANTIBIOTIKA  SEMASA  COVID-19

fx. wikan indrarto*)

Sejumlah negara kini mampu memantau dan melaporkan tentang adanya resistensi antibiotik semasa pandemi COVID-19. Hal ini menandai langkah maju yang besar dalam perang global melawan resistensi atau kekebalan kuman terhadap obat. Data yang ada mengungkapkan bahwa sejumlah infeksi bakteri yang mengkhawatirkan, semakin kebal terhadap obat antibiotika yang tersedia untuk mengobatinya. Apa yang perlu dicermati?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/02/02/resistensi-antibiotik-global/

.

“Saat terkumpul lebih banyak bukti, terlihat dengan lebih jelas dan lebih mengkhawatirkan seberapa cepat kita kehilangan obat antimikroba yang sangat penting di seluruh dunia,” kata Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Data ini menggarisbawahi pentingnya melindungi obat abtibiotika yang kita miliki dan mengembangkan jenis obat antibiotika baru, untuk mengobati infeksi bakteri secara efektif, menjaga prestasi bidang kesehatan yang diperoleh dalam abad terakhir, dan memastikan masa depan yang aman.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/01/29/2020-semakin-sedikit-antibiotika/

.

Sejak adanya laporan ‘Global Antimicrobial Resistance and Use Surveillance System’ (GLASS) WHO pada tahun 2018, partisipasi telah tumbuh secara eksponensial. Hanya dalam tiga tahun terakhir, sistem ini sekarang mampu mengumpulkan data dari lebih dari 64.000 situs pengawasan penggunaan obat antibiotika dengan lebih dari 2 juta pasien terdaftar dari 66 negara di seluruh dunia. Pada 2018 jumlah situs pengawasan adalah 729 di 22 negara.

.

Tanya Jawab Seputar Covid-19 (Bagian III): Apakah Antibiotik Bisa Obati  Virus Corona?

.

Lebih banyak negara juga melaporkan indikator yang telah disetujui tentang resistensi antimikroba atau ‘Anti Microbial Resistance’ (AMR) sebagai bagian dari pemantauan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Ekspansi besar-besaran beberapa negara, fasilitas kesehatan, dan pasien yang tercakup oleh sistem pengawasan AMR, memungkinkan untuk mendokumentasikan dengan lebih baik ancaman kesehatan masyarakat yang muncul akibat AMR.

.

Tingkat resistensi yang tinggi di antara antimikroba, khususnya antibiotika yang sering digunakan untuk mengobati infeksi bakteri yang umum, seperti infeksi saluran kemih dan diare, menunjukkan bahwa dunia kehabisan cara efektif untuk mengatasi penyakit ini. Misalnya, tingkat resistensi terhadap obat ciprofloxacin, antibiotika yang paling sering digunakan untuk mengobati infeksi saluran kemih, bervariasi dari 8,4% hingga 92,9% di 33 negara yang melaporkan.

.

Kita semua haruslah khawatir tren perburukan tersebut akan semakin hebat, karena dipicu oleh penggunaan antibiotik yang tidak tepat selama pandemi COVID-19. Bukti menunjukkan bahwa sebenarnya hanya sebagian kecil pasien COVID-19 yang membutuhkan antibiotik untuk mengobati infeksi bakteri. WHO telah mengeluarkan panduan untuk tidak memberikan obat antibiotik sebagai terapi ataupun profilaksis, kepada pasien dengan COVID-19 ringan atau kepada pasien dengan dugaan atau dikonfirmasi penyakit COVID-19 sedang, kecuali ada indikasi klinis untuk melakukannya.

.

Kita semua prihatin dengan penurunan investasi, termasuk oleh sektor swasta, dan kurangnya inovasi dalam pengembangan obat antibiotika baru. Selain itu, juga faktor-faktor yang menghambat upaya untuk memerangi infeksi bakteri yang resistan terhadap obat. Kini saatnya kita harus meningkatkan kerja sama dan kemitraan global termasuk antara sektor publik dan swasta untuk memberikan insentif keuangan dan non-keuangan untuk pengembangan obat antibiotika dan antimikroba yang baru dan inovatif.

.

Untuk mendukung upaya ini, perlu kesepakatan global tentang profil produk target obat antibiotika untuk memandu pengembangan pengobatan baru untuk infeksi bakteri yang telah resisten. Selain itu, juga disertai model ekonomi yang mensimulasikan biaya, risiko, dan kemungkinan pengembalian investasi pengembangan obat antibiotik baru.

.

Pada akhir tahun 2017 WHO menerbitkan daftar patogen prioritas, yaitu 12 kelas bakteri ditambah bakteri tuberkulosis, yang meningkatkan risiko terhadap kesehatan manusia secara global, karena bateri tersebut telah resisten terhadap sebagian besar obat antibiotika yang ada. Daftar tersebut disusun untuk mendorong komunitas riset medis, dalam mengembangkan pengobatan inovatif untuk bakteri yang telah resisten. Antibiotik yang sedang dikembangkan untuk melawan patogen prioritas WHO meliputi β-Laktam, Tetrasiklin, Aminoglikosida, Topoisomerase inhibitor, Penghambat FabI, FtsZ inhibitor, Oksazolidinon, Macrolides dan ketolides, Hibrida, Polimiksin, infeksi TB, DprE1 inhibitor, dan infeksi C. difficile.

.

Panduan tatalaksana medis yang jelas dan ketat tentang penggunaan antibiotik saat pandemi COVID-19 ini, akan membantu berbagai negara dalam menangani COVID-19 secara efektif, dan sekaligus mencegah muncul dan berkembangnya resistensi antibiotika.

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 9 September 2020

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
Istanbul

2020 Keselamatan Pasien COVID-19

keselamatan pasien

KESELAMATAN  PASIEN  COVID-19

fx. wikan indrarto*)

Kamis, 17 September 2020 dirayakan sebagai Hari Keselamatan Pasien Sedunia (World Patient Safety Day) 2020. Tema peringatan tahun 2020 sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, karena bukan lagi terpusat pada keselamatan pasien saat menerima layanan medis, tetapi justru pada tenaga kesehatan (nakes) yang menangani pasien, yaitu “Speak up for health worker safety!” Apa yang menarik?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/08/29/2020-pahlawan-covid-19/

.

Hari Keselamatan Pasien Sedunia ditetapkan oleh Majelis Kesehatan Dunia ke-72, pada Mei 2019 sesuai resolusi WHA72.6 tentang ‘Tindakan global terhadap keselamatan pasien.’ Hal ini didasarkan pada serangkaian Pertemuan Tingkat Menteri Kesehatan tahunan yang dimulai di London pada tahun 2016. Kampanye ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman,  keterlibatan, dan mempromosikan tindakan global demi keselamatan pasien, dan mengurangi bahaya terhadap pasien. Layanan kesehatan seharusnya berlandaskan pada prinsip dasar pengobatan yang tidak boleh merugikan (principle of medicine – First, do no harm).

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/09/17/2019-hari-keselamatn-pasien-sedua/

.

Pandemi COVID-19 saat ini merupakan salah satu tantangan dan ancaman terbesar yang harus dihadapi dunia dan umat manusia. Selain itu, layanan kesehatan sedang mengalami krisis terbesar dalam aspek keselamatan pasien. Pandemi COVID-19 telah memberikan tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya, pada sistem kesehatan di seluruh dunia. Sistem kesehatan hanya dapat berfungsi dengan baik, kalau tersedia nakes dalam jumlah memadai, berpengetahuan luas, terampil, dan termotivasi untuk penyediaan layanan yang aman bagi pasien.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/05/18/2019-dilema-akreditasi-rs/

.

Tema Hari Keselamatan Pasien Sedunia 2020 dipilih untuk mendesak semua pemangku kepentingan, agar fokus pada ancaman COVID-19 terhadap keselamatan nakes, yaitu para dokter, perawat, bidan dan segenap tenaga kesehatan dalam profesi lainnya. Pandemi COVID-19 telah menyoroti tantangan besar yang dihadapi nakes secara global. Bekerja di lingkungan yang penuh tekanan memperburuk risiko keselamatan bagi nakes, termasuk terinfeksi dari pasien dan berkontribusi pada merebaknya wabah di fasilitas perawatan kesehatan tempat nakes bekerja. Selain itu, banyak nakes yang memiliki akses hanya terbatas atau kekurangpatuhan terhadap penggunaan APD (Alat Pelindung Diri), juga abai akan tindakan pencegahan dan pengendalian infeksi lainnya, sehingga menyebabkan kesalahan yang berpotensi membahayakan pasien dan nakes lainnya. Di banyak negara, nakes juga menghadapi peningkatan risiko infeksi, kekerasan, kecelakaan, stigma, penyakit tidak menular dan bahkan kematian.

.

Tujuan Hari Keselamatan Pasien Sedunia 2020 adalah pertama, meningkatkan kesadaran global tentang pentingnya keselamatan nakes dari ancaman COVID-19 dan keterkaitannya dengan keselamatan pasien. Kedua, melibatkan berbagai pemangku kepentingan dalam menerapkan strategi multimoda untuk meningkatkan keselamatan nakes dan pasien. Ketiga, menerapkan tindakan mendesak dan berkelanjutan oleh semua pemangku kepentingan agar berinvestasi dalam berbagai program keselamatan nakes, sebagai prioritas keselamatan pasien. Keempat, memberikan pengakuan atas dedikasi dan kerja keras nakes, terutama di tengah perjuangan melawan pandemi COVID-19 saat ini.

.

Merujuk data dari wabah SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) tahun 2002 dan 2003, WHO menyebut 21 persen kasus dalam epidemi waktu itu dialami dokter. Pola serupa muncul juga di kalangan dokter yang menangani pasien COVID-19. Pada 2 April 2020 di Italia, lebih dari 6.200 orang yang terkonfirmasi positif COVID-19 adalah dokter. Di Spanyol, persentasenya 12 persen. Pada awal Maret lalu, China memperkirakan sekitar 3.300 orang dokter telah tertular virus corona. Artinya, antara 4-12 persen kasus COVID-19 akan dialami dokter, maupun perawat dan orang-orang di garis terdepan penanganan virus tersebut, termasuk di Indonesia.

.

Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) pada hari Selasa 4 April 2020 melaporkan adanya 74 orang dokter dari seluruh Indonesia, yang meninggal akibat positif dan suspek COVID-19. Peningkatan kasus terus terjadi, bahkan pada hari Selasa, 25 Agustus 2020 tercatat sebanyak 90 orang dokter meninggal dunia karena COVID-19 di seluruh Indonesia. Mereka meninggal setelah berjuang menangani pasien yang terjangkit virus SARS-CoV-2 itu. Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19, Wiku Bakti Bawono Adisasmito, mengatakan pemerintah turut berbela sungkawa atas meninggalnya 90 dokter tersebut dan berjanji akan terus meningkatkan perlindungan terhadap nakes. Salah satu caranya adalah membatasi jam kerja nakes yang menangani pasien COVID-19.

.

Dalam rangka HUT 75 Tahun Proklamasi Kemerdekaan RI, Presiden Joko Widodo memberikan bintang jasa kepada 53 Orang Penerima Tanda Jasa dan Kehormatan 2020, Termasuk Dokter yang gugur karena ganasnya pandemi COVID-19. Penerima Bintang Jasa Pratama adalah Dr. Djoko Judodjoko, SpB, Prof. DR. Dr. Bambang Sutrisna, Dr. Exsenveny Lalopua, MKes, Dr. Bartholomeus Bayu Satrio Kukuh Wibowo, Dr. Heru Sutantyo, dan Dr. Wahyu Hidayat, SpTHT. Sedangkan penerima Bintang Jasa Nararya adalah Dr. Hadio Ali Khazatsin, SpS, Dr. Adi Mirsa Putra, SpTHT-KL, Drg. Umi Susana Widjaja, Drg. Gunawan Oentaryo Drg. Anna Herlina Ratnasari, Drg. Amutavia Pancarsari Artsianti Putri, dan Drg. Yuniarto Budi Santosa.

.

“Tidak ada yang boleh dirugikan dalam layanan kesehatan. Namun secara global, setidaknya 5 pasien meninggal setiap menit karena layanan kesehatan yang tidak aman dan nakes yang tertular COVID-19 semakin banyak,” kata Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO. Kita membutuhkan budaya keselamatan dan kemitraan pasien dengan nakes, mendorong pelaporan dan pembelajaran dari kesalahan, serta menciptakan lingkungan kerja bebas kesalahan, di mana nakes diberdayakan dan dilatih untuk mengurangi kesalahan.

.

Momentum Hari Keselamatan Pasien Sedunia (World Patient Safety Day) 2020 mengingatkan kita agar ‘tidak seorang pun boleh dirugikan dalam memperoleh perawatan kesehatan,’ termasuk para nakes dari ganasnya pandemi COVID-19.

Apakah kita sudah bertindak?

Sekian

Yogyakarta, 12 September 2020

*) Dokter spesialis anak RS Panti Rapih dan Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
Istanbul

2020 Kesehatan Seksual Remaja

World Sexual Health Day — North America Hosted by Stanford University

KESEHATAN  SEKSUAL  REMAJA

fx. wikan indrarto*)

Tema Hari Kesehatan Seksual Sedunia (World Sexual Health Day) pada Jumat, 4 September 2020 adalah “Kenikmatan Seksual pada era COVID-19”.  Namun demikian, banyak remaja yang telah mendahului mencoba merasakan kenikmatan seksual, tetapi justru mengalami  dampak buruknya. Apa yang mengkawatirkan?

.
baca juga : https://dokterwikan.com/2020/04/03/2020-layanan-medis-non-covid-10/

.

Sekitar 12 juta remaja perempuan berusia 15–19 tahun dan setidaknya 777.000 remaja perempuan di bawah 15 tahun, melahirkan setiap tahun di semua negara berkembang. Setidaknya 10 juta kehamilan yang tidak diinginkan terjadi setiap tahun di antara remaja perempuan berusia 15-19 tahun, juga di negara berkembang. Komplikasi selama kehamilan dan persalinan adalah penyebab utama kematian remaja perempuan usia 15-19 tahun di seluruh dunia.
.

World sexual health day | Free Vector

Dari perkiraan 5,6 juta aborsi yang terjadi setiap tahun di antara remaja perempuan berusia 15-19 tahun, 3,9 juta tidak aman, berkontribusi pada kematian ibu, morbiditas dan masalah kesehatan yang berkepanjangan. Ibu remaja (usia 10-19 tahun) menghadapi risiko eklampsia, endometritis nifas, dan infeksi sistemik yang lebih tinggi daripada wanita berusia 20 hingga 24 tahun, dan bayi dari ibu remaja menghadapi risiko lebih tinggi mengalami berat badan lahir rendah, kelahiran prematur, dan kondisi neonatal parah.

.
baca juga :https://dokterwikan.com/2020/08/14/2020-hari-remaja-internasional/

.

.


Kehamilan remaja merupakan masalah global yang terjadi di negara berpenghasilan tinggi, menengah, dan rendah. Namun demikian, di seluruh dunia kehamilan remaja lebih mungkin terjadi di komunitas yang terpinggirkan, yang umumnya dipengaruhi oleh kemiskinan dan kurangnya pendidikan, kesempatan kerja dan bantuan sosial, sehingga jauh dari terwujudnya kenikmatan seksual.

.

Beberapa faktor berkontribusi pada kehamilan dan kelahiran remaja. Di banyak masyarakat, anak perempuan berada di bawah tekanan untuk menikah dan melahirkan anak lebih dini. Di negara kurang berkembang, setidaknya 39% anak perempuan menikah sebelum mereka berusia 18 tahun dan 12% sebelum usia 15. Di banyak tempat anak perempuan memilih untuk hamil karena mereka memiliki prospek pendidikan dan pekerjaan yang terbatas. Seringkali, dalam masyarakat seperti itu, menjadi ibu dihargai dan pernikahan dengan seorang pria yang lebih mapak dan melahirkan anak mungkin merupakan pilihan terbaik dari pilihan terbatas yang tersedia.

.

Selain itu, remaja yang ingin menghindari kehamilan mungkin tidak dapat melakukannya karena kesulitan mengakses metode kontrasepsi. Banyak remaja menghadapi hambatan untuk mengakses kontrasepsi termasuk undang-undang dan kebijakan yang membatasi tentang penyediaan kontrasepsi berdasarkan usia atau status perkawinan, bias petugas kesehatan dan atau kurangnya kemauan untuk mengakui kebutuhan kesehatan seksual remaja, dan ketidakmampuan remaja itu sendiri untuk mengakses alat kontrasepsi karena kendala pengetahuan, transportasi, dan keuangan.

.

Penyebab tambahan dari kehamilan yang tidak diinginkan adalah kekerasan seksual, yang tersebar luas dengan lebih dari sepertiga anak perempuan di beberapa negara melaporkan bahwa hubungan seksual pertama mereka dipaksakan. Kehamilan dini di kalangan remaja memiliki konsekuensi kesehatan yang besar bagi ibu remaja dan bayinya. Komplikasi kehamilan dan persalinan adalah penyebab utama kematian pada remaja perempuan berusia 15–19 tahun di seluruh dunia, dengan negara berpenghasilan rendah dan menengah menyumbang 99% kematian ibu global pada wanita usia 15–49 tahun. Melahirkan usia dini dapat meningkatkan risiko bagi bayi baru lahir maupun ibu muda. Bayi yang lahir dari ibu di bawah usia 20 tahun menghadapi risiko yang lebih tinggi mengalami berat badan lahir rendah,  prematur, dan kondisi neonatal yang parah.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/01/02/2020-menurunkan-angka-kematian-anak/

.

Pencegahan kehamilan remaja, juga mortalitas dan morbiditas terkait HIV pada remaja tidak mendapat perhatian yang cukup karena kalah prioritas. Meskipun sudah ada pedoman untuk mencegah kehamilan dini di negara berkembang, yaitu “WHO’s Guidelines for preventing early pregnancy and poor reproductive outcomes in adolescents in developing countries”, tetapi masih diperlukan alat pendukung program kesehatan remaja lainnya menuju era Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, agar remaja dipindah ke dalam pusat agenda kesehatan dan pembangunan global. WHO, UNICEF, UNFPA, dan UNWomen telah bekerjasama dalam program global untuk mempercepat keberhasilan mengakhiri pernikahan anak. Selain itu, juga kemitraan global yang berupaya memungkinkan lebih dari 120 juta perempuan mengakses kontrasepsi pada akhir tahun 2020, meskipun terjadi pandemi COVID-19.

.

Momentum ‘World Sexual Health Day’ mengingatkan kita bahwa kesehatan seksual membutuhkan pendekatan yang positif dan hormat terhadap seksualitas dan hubungan seksual. Dengan demikian, akan menghasilkan pengalaman seksual yang menyenangkan (sexual pleasure), aman, dan bebas dari paksaan, diskriminasi dan kekerasan, bahkan dapat mencegah kehamilan yang tidak diinginkan, khususnya pada remaja perempuan. Pada pandemi COVID-19 ini, layanan keluarga berencana, kontrasepsi, dan kesehatan repoduksi remaja adalah jenis layanan kesehatan yang cukup terganggu dan banyak yang tidak diselenggarakan lagi.

.

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 4 September 2020

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
Istanbul

2020 Gangguan Layanan Medis

Polda Papua Bersama Doctor Share Beri Pelayanan Medis Kepada Masyarakat di  Dermaga Polairud Polda Papua - PapuaSatu.com

GANGGUAN LAYANAN MEDIS

fx. wikan indrarto*)

Senin, 31 Agustus 2020 hasil survei global tentang dampak pandemi COVID-19 menunjukkan adanya gangguan pada sistem kesehatan dan layanan medis, berdasarkan laporan dari 105 negara. Apa yang harus dicermati?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/08/23/2020-resesi-rumah-sakit/

.

Survei layanan kesehatan esensial selama pandemi COVID-19, dilakukan di 159 negara, kecuali di benua Amerika. Terdapat 105 (66%) negara yang telah mengirimkan tanggapan, yang diwakili oleh pejabat senior kementerian kesehatan periode Maret hingga Juni 2020. Tujuan survei ini adalah untuk mendapatkan wawasan dan perspektif tentang dampak pandemi COVID-19, terhadap layanan medis dan layanan kesehatan esensial lainnya, dan bagaimana negara mengadaptasi strategi untuk mempertahankan layanan esensial.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/04/03/2020-layanan-medis-non-covid-10/

.

Survei global ini menyoroti celah dalam sistem kesehatan nasional setiap negara, tetapi juga berfungsi untuk menginformasikan strategi baru dalam meningkatkan penyediaan layanan medis dan perawatan kesehatan selama pandemi COVID-19. Keganasan COVID-19 seharusnya menjadi pembelajaran bagi semua negara bahwa layanan kesehatan harus adaptif dalam menghadapi keadaan darurat kesehatan. Selain itu, negara juga harus terus berinvestasi dalam sistem kesehatan yang lebih baik, agar sepenuhnya melayani kebutuhan semua orang di sepanjang kehidupannya.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/04/09/2018-layanan-tbc/

.

Berbagai negara rata-rata mengalami gangguan di 50% dari 25 jenis layanan kesehatan. Layanan yang paling sering mengalami gangguan adalah program imunisasi rutin yaitu berupa gangguan layanan penjangkauan (70%). Selain itu, juga terjadi gangguan layanan yang berbasis fasilitas kesehatan (61%), diagnosis dan pengobatan penyakit tidak menular (69%), keluarga berencana dan kontrasepsi (68%), pengobatan untuk gangguan jiwa (61%), juga diagnosis dan pengobatan kanker (55%).

.

Berbagai negara juga melaporkan adanya gangguan dalam layanan diagnosis dan pengobatan malaria (46%), deteksi kasus dan pengobatan tuberkulosis (42%) dan pengobatan antiretroviral untuk HIV (32%). Sementara itu, beberapa bidang layanan kesehatan lainnya, seperti perawatan gigi dan rehabilitasi medis, sengaja ditangguhkan sejalan dengan protokol kesehatan yang diterapkan oleh pemerintah. Pada hal, gangguan pada banyak layanan medis berpotensi memiliki efek berbahaya pada kesehatan penduduk dalam jangka pendek, menengah, dan panjang.

.

Layanan gawat darurat yang berpotensi menyelamatkan nyawa, ternyata juga terganggu di hampir seperempat negara di dunia. Gangguan terhadap layanan ruang gawat darurat yang seharusnya berlangsung 24 jam, terjadi di 22% negara, transfusi darah yang mendesak terganggu di 23% negara, dan operasi medis darurat terpengaruh di 19% negara.

.

Sekitar 76% negara melaporkan penurunan kunjungan pasien rawat jalan karena faktor permintaan (demand) yang lebih rendah, selain karena faktor luar lainnya, seperti aturan pembatasan sosial dan kesulitan keuangan. Faktor yang paling sering dilaporkan di sisi penawaran (supply) adalah pembatalan layanan medis elektif oleh pihak rumah sakit (66%). Faktor internal RS yang lain juga ada, seperti pemindahan staf RS untuk memberikan layanan bagi pasien COVID-19, tidak tersedianya layanan medis karena aturan penutupan atau dekontaminasi ruangan, dan juga adanya gangguan dalam pasokan obat, peralatan medis dan produk kesehatan lainnya.

.

Banyak negara telah mulai menerapkan beberapa strategi untuk mengurangi gangguan layanan medis, seperti proses triase untuk mengidentifikasi prioritas layanan yang dibutuhkan pasien, beralih ke layanan konsultasi pasien secara online, perubahan pada praktik peresepan obat dan rantai pasokan serta strategi informasi kesehatan masyarakat. Namun demikian, saat ini hanya ada 14% negara yang melakukan penghapusan biaya pengguna modifikasi layanan medis, untuk mengimbangi potensi kesulitan keuangan bagi pasien. Untuk itu, diperlukan pemantauan lebih lanjut, akan adanya perubahan bentuk layanan medis dan pemanfaatannya oleh pasien, karena pandemi COVID-19 kemungkinan akan tetap berlangsung selama beberapa bulan ke depan. Hal ini tentu akan bermanfaat dalam merumuskan solusi yang sesuai.

.

Mengingat permintaan mendesak dari berbagai negara akan adanya bantuan selama respons pandemi COVID-19, saat ini telah dibentuk Pusat Pembelajaran Layanan Kesehatan (Health Services Learning Hub). Layanan berupa platform berbasis web yang memungkinkan setiap negara untuk berbagi pengalaman dan pembelajaran, tentang layanan medis dan praktik inovatif sebagai sebuah tanggapan global secara kolektif. Survei tambahan akan dilakukan di tingkat regional, nasional, lokal, dan bahkan di fasilitas kesehatan, untuk mengukur dampak jangka panjang dari gangguan layanan medis. Selain itu, juga untuk membantu berbagai negara dalam mempertimbangkan manfaat dan risiko dalam menjalankan strategi mitigasi yang berbeda.

.

Meskipun survei ini memiliki beberapa keterbatasan, namun demikian kekuatan survei ini adalah sifatnya yang komprehensif, karena mencakup 25 jenis layanan kesehatan inti, dibandingkan dengan survei lainnya yang biasanya hanya layanan medis tunggal, dan mencakup lebih dari 100 negara. Kesimpulan survei ini menunjukkan bahwa sistem kesehatan yang kuat sekalipun, terbukti dapat dengan cepat terganggu dan kewalahan karena ganasnya pandemi COVID-19, sehingga memerlukan adaptasi strategis untuk memastikan tersedianya layanan medis dan perawatan esensial lainnya.

.

Sudahkah kita bijaksana?

Sekian

Yogyakarta, 3 September 2020

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

Categories
Istanbul

2020 ASI untuk Bayi COVID-19

KIA Archives - Sahabat untuk Hidup Sehat

ASI  UNTUK  BAYI  COVID-19

fx. wikan indrarto*)

Pada saat pandemi COVID-19 ini, seorang bayi baru lahir tetap berisiko tertular COVID-19 dari ibu, keluarga dan petugas kesehatan di sekitarnya. Apa yang perlu dilakukan?

.

baca juga :https://dokterwikan.com/2020/08/02/2020-penghambat-asi-eksklusif/

.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah mengeluarkan Panduan Klinis Tata laksana COVID-19 pada Neonatus, yang merupakan EDISI 3 dan terbit pada 14 Juni 2020. Untuk proses Inisiasi Menyusu Dini (IMD) yang sangat penting dalam menentukan keberhasilan pemberian ASI eksklusif, sebaiknya dilakukan diskusikan dengan orang tua bayi, mengenai keuntungan dan kerugian IMD, serta cara penularan virus COVID-19. Hal ini disebabkan karena IMD harus dilakukan berdasarkan keputusan bersama antara petugas kesehatan dengan orang tua bayi. IMD hanya dilakukan bila status maternal jelas bukan tersangka COVID-19 dan klinis bayi baru lahir stabil.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/08/08/2020-konseling-menyusui-eksklusif/

.

ASI adalah asupan nutrisi terbaik untuk bayi baru baru lahir yang sehat maupun sakit. Dalam beberapa penelitian, virus SARS-CoV-2 tidak ditemukan dalam ASI pada ibu menyusui, meskipun sudah terkonfirmasi COVID-19. Walaupun demikian, hingga saat ini penularan COVID-19 melalui ASI masih belum diketahui secara pasti. Oleh sebab itu, pemberian ASI adalah keputusan bersama antara petugas kesehatan, ibu dan keluarga. Terdapat 3 pilihan pemberian nutrisi pada bayi baru lahir dari ibu tersangka dan terkonfirmasi COVID-19.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/07/31/2020-pekan-menyusui-sedunia/

.

Pilihan pertama untuk ibu dengan kondisi klinis yang berat, sehingga prioritas adalah mencegah risiko penularan, dengan melakukan pemisahan sementara antara ibu dan bayi, sedangkan bayi diberikan ASI donor atau susu formula. Perawatan bayi dilakukan di ruang isolasi khusus COVID-19, terpisah dari ibunya (TIDAK RAWAT GABUNG). Ibu dibantu untuk memerah ASI untuk mempertahankan produksi ASI, namun ASI dibuang sampai dua pemeriksaan rapid test berturut-turut negatif, dengan selang waktu minimal 24 jam dan ibu tidak lagi bergejala klinis. Anggota keluarga lain yang kompeten dan tidak menderita COVID-19 dapat diajak merawat bayi.

.

Pilihan kedua untuk ibu dengan kondisi klinis sedang, sehingga pertimbangannya untuk mengurangi risiko penularan, sambil mempertahankan kedekatan ibu dan bayi. Pilihan nutrisi untuk bayi adalah ASI perah. Ibu mencuci tangan menggunakan air dan sabun selama minimal 20 detik sebelum memerah dan mengenakan masker wajah selama memerah ASI. Selanjutnya ibu harus membersihkan pompa, wadah, serta semua alat yang bersentuhan dengan ASI. ASI perah diberikan untuk bayi oleh tenaga kesehatan atau keluarga yang tidak menderita COVID-19.

.

Pilihan ketiga untuk ibu dengan kondisi klinis tidak bergejala atau ringan, keluarga menerima risiko bayi tertular COVID-19 dan menolak pemisahan sementara ibu dengan bayi. Pilihan nutrisi bagi bayi adalah ASI eksklusif dengan menyusu langsung. Ibu diwajibkan menggunakan masker bedah, mencuci tangan dan membersihkan payudara dengan sabun dan air, sebelum dan setelah menyusui. Ruangan rawat gabung untuk ibu dan bayi seharusnya memiliki sirkulasi yang baik. Lingkungan di sekitar ibu juga harus rutin dibersihkan dengan cairan disinfektan.

.

Untuk mengurangi risiko penularan COVID-19 pada bayi, jika memungkinkan ibu harus menjaga jarak 2 meter dengan bayinya. Apabila dirawat bersama dalam satu ruangan, sebaiknya bayi tetap di dalam inkubator, dan bila tidak tersedia inkubator, gunakan kain pemisah. Pencegahan penularan COVID-19 melalui percikan cairan tubuh harus terus dilakukan hingga ibu tidak demam tanpa obat penurun demam, menunjukkan perbaikan gejala serta rapid test negatif dua kali berturut-turut, dengan selang waktu minimal 24 jam.

.

Bayi yang lahir dari ibu terkonfirmasi COVID-19 baru diperbolehkan pulang, setelah dua kali berturut-turut pemeriksaan apus nasofaring negatif, dengan selang waktu minimal 24 jam. Ibu dapat mengasuh bayinya kembali setelah tidak demam 3 hari berturut-turut tanpa obat penurun demam, menunjukkan perbaikan gejala (minimal 7 hari dari gejala pertama kali muncul) dan rapid test dua kali berturut- turut negatif, dengan selang waktu minimal 24 jam. Ibu tetap memberlakukan perilaku hidup bersih dan sehat serta tetap menggunakan masker.

.

Selama ibu tidak diperbolehkan merawat bayinya, sebaiknya pengasuhan bayi dilakukan oleh anggota keluarga yang sehat dan tidak menderita COVID-19 serta ibu tetap menjaga jarak 2 meter dari bayinya. Pada saat ibu dan bayi diperbolehkan pulang dari RS, diwajibkan tetap meneruskan pembatasan fisik dan bayi diperiksa di laboratorium segera, bila terdapat keluhan. Ibu dicurigai COVID-19 dapat menyusui langsung apabila pemeriksaan antigen negatif, sementara ibu terkonfirmasi COVID-19 dapat menyusui setelah 14 hari pemeriksaan antigen negatif.

.

Momentum Pekan Menyusui Dunia (World Breastfeeding Week) 2020, juga mengingatkan kita akan pentingnya memberikan dukungan bagi semua ibu untuk menyusui secara eksklusif, sambil berperan dalam pemutusan rantai penularan COVID-19 yang berbahaya.

Apakah kita sudah bertindak bijak?

Sekian

Yogyakarta, 21 Agustus 2020

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
Istanbul

2020 Bebas Kanker Serviks

Perempuan Harus Berjuang Lawan Kanker Serviks

BEBAS  KANKER  SERVIKS

fx. wikan indrarto*)

Rabu, 19 Agustus 2020 Majelis Kesehatan Dunia (World Health Assembly) mengadopsi strategi global untuk mempercepat eliminasi atau penghapusan kanker serviks atau kanker leher rahim, sebagai masalah kesehatan masyarakat, meskipun terdampak cukup serius oleh pandemi COVID-19. Apa yang harus dilakukan?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/02/05/2020-melawan-kanker/

.

Kanker serviks merupakan penyakit yang dapat dicegah dan disembuhkan, selama terdeteksi sejak dini dan ditangani secara efektif. Kanker ini adalah bentuk kanker keempat yang paling umum pada wanita di seluruh dunia, dan kanker paling umum pada wanita yang hidup dengan HIV, yaitu enam kali lebih mungkin mengalami kanker serviks. Pada 2018, penyakit itu merenggut nyawa lebih dari 300.000 wanita.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/02/23/2019-mencegah-kanker-serviks/

.

Kanker serviks juga merupakan penyakit yang mencerminkan ketidakadilan global. Bebannya paling besar di negara berpenghasilan rendah dan menengah, di mana akses ke layanan kesehatan masyarakat terbatas dan skrining serta pengobatan untuk penyakit tersebut belum diterapkan secara luas. Pada 2018, hampir 90% dari semua kematian di seluruh dunia terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Lebih lanjut, proporsi wanita penderita kanker serviks yang meninggal akibat penyakit ini lebih dari 60% terjadi di kelompok negara ini, lebih dari dua kali lipat jumlah penderita di banyak negara berpenghasilan tinggi, yang hanya mencapai 30%.

.

Human papillomavirus (HPV) adalah infeksi virus sebagai penyebab utama kanker serviks, dan vaksin HPV adalah cara yang aman dan efektif untuk melindungi wanita dari infeksi HPV. Namun demikian, pada tahun 2020 ini hanya kurang dari seperempat negara berpenghasilan rendah yang telah memasukkan vaksin HPV ke dalam jadwal imunisasi nasional mereka. Pada hal, lebih dari 85% negara berpenghasilan tinggi telah melakukannya. Perbedaan serupa juga terjadi dalam program skrining untuk mengenali stadium dini kanker serviks.

.

Strategi eliminasi kanker serviks bertumpu pada tiga pilar utama, yaitu pertama pencegahan melalui vaksinasi HPV, kedua skrining atau deteksi dini dan pengobatan lesi prakanker, serta ketiga adalah pengobatan dan perawatan paliatif untuk penyintas kanker serviks invasif. Ketiga pilar tersebut harus dilaksanakan secara kolektif dan dalam skala besar untuk mencapai tujuan eliminasi. Vaksinasi HPV menawarkan perlindungan jangka panjang terhadap kanker serviks. Skrining dan pengobatan lesi prakanker dapat mencegah prakanker berkembang menjadi kanker. Bagi mereka yang diidentifikasi dengan kanker invasif, perawatan dan pengobatan tepat waktu masih mampu menyelamatkan nyawa, sementara perawatan paliatif dapat sangat mengurangi rasa sakit dan penderitaan.

.

Berdasarkan tiga pilar utama dari strategi global, maka WHO merekomendasikan serangkaian target atau tonggak sejarah yang harus dipenuhi oleh setiap negara pada tahun 2030 untuk berada di jalur pemberantasan kanker serviks dalam satu abad. Pertama, 90% remaja perempuan divaksinasi penuh dengan vaksin HPV sebelum usia 15 tahun. Kedua, 70% wanita dilakukan pemeriksaan skrining menggunakan pada usia 35 dan 45 tahun. Dan ketigas, 90% wanita pendeirta kanker serviks menerima perawatan medis, yaitu 90% wanita dengan pra-kanker serviks dirawat dan 90% wanita dengan kanker invasif dikelola.

.

Penghapusan kanker serviks juga akan menghasilkan dampak ekonomi dan sosial yang positif. Pada tahun 2030, sekitar 250.000 perempuan akan tetap menjadi pekerja yang produktif, menambah sekitar US $ 28 miliar untuk ekonomi dunia: US $ 700 juta sebagai akibat langsung dari peningkatan partisipasi angkatan kerja dan sekitar US $ 27 miliar sebagai manfaat tidak langsung dari kesehatan yang baik.

.

Tiga vaksin HPV sekarang sudah dipasarkan di banyak negara di seluruh dunia, yaitu vaksin bivalen, quadrivalent, dan nonavalent. Ketiga vaksin ini sangat manjur dalam mencegah infeksi dengan virus tipe 16 dan 18, yang secara bersama-sama bertanggung jawab atas sekitar 70% kasus kanker serviks secara global. Vaksin ini juga sangat manjur dalam mencegah lesi serviks pra-kanker yang disebabkan oleh jenis virus ini. Vaksin kuadrivalen juga sangat manjur dalam mencegah kutil anogenital, penyakit genital umum yang hampir selalu disebabkan oleh infeksi HPV tipe 6 dan 11. Nonavalent memberikan perlindungan tambahan terhadap HPV tipe 31, 33, 45, 52, dan 58. Data dari uji klinis dan pengawasan awal pasca pemasaran yang dilakukan di beberapa benua, menunjukkan bahwa ketiga vaksin aman.

.

Kelompok sasaran utama di sebagian besar negara yang direkomendasikan mendapatkan vaksinasi HPV adalah gadis remaja, berusia 9-14 tahun. Untuk ketiga vaksin, jadwal vaksinasi tergantung pada usia penerima vaksin. Pada anak perempuan sebelum usia 15 tahun direkomendasikan 2 dosis pemberian, yaitu 0 dan 6 bulan. Namun demikian, jika interval antar dosis lebih pendek dari 5 bulan, maka dosis ketiga harus diberikan setidaknya 6 bulan setelah dosis pertama. Untuk wanita berusia15 tahun atau lebih, direkomendasikan 3 dosis, dengan jadwal pemberian 0, 2, 6 bulan. Pemberian 3 dosis diperlukan bagi wanita yang diketahui memiliki sistem imun yang tertekan dan atau terinfeksi HIV.

.

Proyek percontohan vakinasi HPV untuk anak sekolah pada program BIAS (Bulan Imunisasi Anak Sekolah) pertama kali dilakukan di Jakarta tahun 2016. Kemudian sejak tahun 2018 dilanjutkan dengan menyasar para siswi kelas 5 SD di lima daerah, yaitu Yogyakarta, Surabaya, Makassar, dan Manado pada bulan Agustus dan September setiap tahun. Pelaksanaan imunisasi HPV tahun 2020 ini pada masa pandemi COVID-19 dilakukan di salah satu ruang kelas SD yang tampak sepi. Hal ini disebabkan karena penerapan protokol kesehatan yang ketat, siswi yang datang ke sekolah diatur secara bergiliran, sehingga tidak sekaligus datang, untuk menekan penularan COVID-19.

.

Strategi global untuk mempercepat eliminasi atau penghapusan kanker serviks sebagai masalah kesehatan masyarakat, diawali dengan upaya pencegahan sejak periode gadis remaja. Imunisasi HPV menjadi langkah strategis untuk menciptakan dunia yang bebas kanker serviks.

Sudahkah gadis remaja di sekitar kita diimunisasi?

Sekian

Yogyakarta, 30 Agustus 2020

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
Healthy Life Istanbul

2020 Kandidat Vaksin COVID-19

Vaksin Covid-19 Australia Tunjukkan Hasil Positif dalam Uji Praklinis -  Tekno Tempo.co

KANDIDAT  VAKSIN  COVID-19

fx. wikan indrarto*)

Senin, 24 Agustus 2020 tercatat ada sembilan kandidat vaksin COVID-19 yang didukung CEPI (Coalition for Epidemic Preparedness Innovations) dan COVAX (COVID-19 Vaccine Global Access), dengan sembilan kandidat lainnya sedang dievaluasi. Pengendalikan pandemi melalui akses yang adil ke vaksin COVID-19 membutuhkan komitmen dan investasi berskala luas dari berbagai negara. Apa yang harus dilakukan?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/07/23/2020-vaksinasi-saat-pandemi-covid-19/

.

Gavi (Aliansi Vaksin) dan WHO bermitra dengan produsen vaksin dari semua negara dalam CEPI, untuk memastikan vaksin COVID-19 tersedia di seluruh dunia. CEPI akan memfasilitasi pengadaan vaksin COVID-19 dan untuk memastikan akses vaksin yang adil dan merata di setiap negara. CEPI akan melakukan kalkulasi daya beli dari semua negara, memberikan jaminan ketersediaan kandidat vaksin, memungkinkan produsen memproduksi vaksin baru dalam skala besar, dan untuk melakukan investasi awal yang berisiko.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/09/10/2019-informasi-vaksinasi/

.

CEPI memimpin penelitian dan pengembangan vaksin COVID-19 yang aman dan efektif. Sembilan kandidat vaksin saat ini sedang didukung oleh CEPI, tujuh di antaranya sedang dalam uji klinis, karena vaksin individual secara historis memiliki tingkat kegagalan yang tinggi. Pemerintah, produsen vaksin, organisasi swasta dan donatur individu telah berkomitmen sebesar US $ 1,4 miliar untuk program pengembangan vaksin, tetapi masih perlu tambahan US $ 1 miliar untuk terus memajukan kegiatan ini. 

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/08/04/2020-bebas-cacar-dan-covid-19/

.

Kolaborasi antara Serum Institute of India (SII), Gavi dan Bill & Melinda Gates Foundation yang diumumkan awal bulan Agustus 2020 telah memastikan hingga 100 juta dosis kandidat vaksin buatan AstraZeneca atau Novavax. Jika program ini berhasil, segera akan tersedia vaksin COVID-19 untuk negara berpenghasilan rendah dan menengah, yang dapat dibeli melalui Fasilitas COVAX, hanya dengan biaya US $ 3 per dosis. Perjanjian terpisah antara Gavi, CEPI dan AstraZeneca, yang diumumkan pada bulan Juni 2020, menjamin 300 juta dosis lagi dari kandidat vaksin mereka, jika berhasil.

.

Bulan Juni 2020 Gavi telah meluncurkan COVAX Advance Market Commitment (AMC), instrumen pembiayaan yang bertujuan untuk mendukung partisipasi 92 negara berpenghasilan rendah dan menengah dalam pengadaan vaksin COVID-19. COVAX AMC telah mengumpulkan lebih dari US $ 600 juta dari target awal sebesar US $ 2 miliar, yang berasal dari  filantropi dan sektor swasta. Delapan puluh negara berpenghasilan tinggi, yang akan membiayai vaksin dari anggaran keuangan publik mereka sendiri, sejauh ini telah mengajukan pernyataan minat untuk berpartisipasi dalam AMC. Mereka akan bermitra dengan 92 negara berpenghasilan rendah dan menengah, sehingga 172 negara ini telah mewakili lebih dari 70% populasi dunia.

WHO Sebut Vaksin COVID-19 Belum Tersedia hingga Pertengahan 2021 - Tirto.ID

.

Tujuan COVAX adalah pada akhir tahun 2021 dapat memberikan dua miliar dosis vaksin yang aman dan efektif. Vaksin ini akan ditawarkan secara merata ke semua negara secara proporsional dengan populasi mereka. Pada awalnya diprioritaskan untuk petugas kesehatan kemudian diperluas untuk kelompok rentan, seperti orang tua dan mereka yang memiliki penyakit komorbid sebelumnya. Dosis lebih lanjut kemudian akan tersedia berdasarkan kebutuhan negara, kerentanan dan ancaman COVID-19.

.

Kkandidat vaksin yang didukung CEPI adalah Inovio buatan Amerika Serikat (Uji klinis tahap I-II), Moderna buatan Amerika Serikat (Tahap III), CureVac, buatan Jerman (Tahap I), belum ada nama buatan Institut Pasteur, Merck, Themis, Prancis, Amerika Serikat dan Austria (Preklinis), dan belum ada nama buatan AstraZeneca dan Universitas Oxford, Inggris (Fase III). Selain itu, belum ada nama buatan Universitas Hong Kong, Cina (Preklinis), Novavax buatan Amerika Serikat (Tahap I-II), belum ada nama buatan Clover Biopharmaceuticals, Cina (Tahap I) dan buatan Universitas Queensland / CSL, Australia (Tahap I).

.

LIPI: Vaksin Rusia Picu Sedikit Antibodi untuk Tangkal Corona

Sembilan kandidat vaksin yang saat ini sedang dievaluasi untuk dimasukkan dalam Fasilitas COVAX termasuk dua dari China, dua dari Amerika Serikat, satu dari Republik Korea, satu dari Inggris dan satu dari multi kemitraan manufaktur global. Dua di antaranya dalam uji coba Tahap I, dua adalah transfer teknologi, dan sisanya dalam tahap penemuan.

.

Indonesia mungkin tidak termasuk dalam 80 negara yang telah memesan kandidat vaksin COVID-19 dalam koordinasi Gavi. Namun demikian, hanya 43 yang telah setuju untuk disebutkan namanya secara publik, yaitu Andorra, Argentina, Armenia, Botswana, Brasil, Kanada, Chili, Kolombia, Kroasia, Republik Ceko, Republik Dominika, Estonia, Finlandia, Yunani, Islandia, Irak, Irlandia, Israel, Jepang, Yordania, Kuwait, Lebanon, Luksemburg, Mauritius, Meksiko, Monako, Montenegro, Selandia Baru, Makedonia Utara, Norwegia, Palau, Portugal, Qatar, Republik Korea, San Marino, Arab Saudi, Seychelles, Singapura, Afrika Selatan, Swiss, Uni Emirat Arab, Kerajaan Inggris Raya dan Irlandia Utara serta Venezuela.

.

Di seluruh dunia, pandemi COVID-19 telah menyebabkan kejadian dan kematian yang signifikan, mengganggu mata pencaharian, melemahkan ekonomi, mengancam kemajuan pembangunan bidang kesehatan, dan kemajuan menuju tujuan pembangunan global. Hal itu terlihat pada ‘World Health Statistics’ yang terbit Rabu, 13 Mei 2020. Pengendalikan pandemi melalui akses yang adil ke (kandidat) vaksin COVID-19, akan mampu menghilangkan ketidaksetaraan layanan kesehatan, yang dapat menghapus penentuan siapa yang akan hidup lebih lama dan lebih sehat, dengan siapa yang tidak. 

Sudahkah kita bijaksana?

Sekian

Yogyakarta, 2 September 2020

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?