Categories
Istanbul

AKHIRI EPIDEMI HIV

Hasil gambar untuk epidemi hiv aids

AKHIRI  EPIDEMI  HIV-AIDS

fx. wikan indrarto*)

Ketakutan, stigma dan penolakan (fear, stigma and ignorance) adalah reaksi dunia saat terjadi epidemi HIV yang mengamuk di seluruh dunia pada awal 1980-an. Saat itu AIDS menewaskan ribuan orang yang hanya memiliki beberapa minggu atau bulan sejak didiagnosis sampai kematian datang, bahkan banyak juga yang tidak berhasil didiagnosis sampai mereka meninggal. Apa yang perlu dicermati?

Hasil gambar untuk epidemi hiv aids

Sabtu, 1 Desember 2018 adalah peringatan 30 tahun Hari AIDS Sedunia, hari yang diciptakan untuk meningkatkan kesadaran tentang HIV dan epidemi AIDS. Sejak awal epidemi, lebih dari 70 juta orang telah terinfeksi, dan sekitar 35 juta orang telah meninggal. Pada hari ini, masih ada sekitar 37 juta orang di seluruh dunia hidup dengan HIV, di antaranya 22 juta orang lainnya sedang menjalani pengobatan anti retrovriral (ARV).

Hasil gambar untuk epidemi hiv aids

Pada tahun 1988, dua petugas komunikasi WHO, Thomas Netter dan James Bunn, mengajukan gagasan mengadakan Hari AIDS Sedunia secara tahunan, dengan tujuan meningkatkan kesadaran akan bahaya HIV, memobilisasi masyarakat dan mengadvokasi aksi di seluruh dunia. Pada tahun 1991 gerakan global HIV ditandai dengan pita merah yang ikonik, yang dirancang oleh para seniman dari Caucus Artis Visual AIDS di New York, memilih warna yang mencerminkan “hubungan antara darah dan gagasan yang bergelora, bukan hanya kemarahan, tetapi cinta” Ini adalah pita lambang kesadaran akan sebuah penyakit yang pertama, sebuah konsep yang selanjutnya diadopsi oleh banyak penyakit lainnya.

Hasil gambar untuk epidemi hiv aids

Pada 2015, WHO merekomendasikan penggunaan ARV untuk mencegah penularan HIV, yaitu profilaksis pra-pajanan(PrPP), untuk orang yang tidak terinfeksi HIV, tetapi berisiko besar. PrPP telah berkontribusi untuk mengurangi tingkat infeksi HIV baru di antara laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki, di beberapa tempat di negara-negara berpenghasilan tinggi. Namun, PrPP baru mulai tersedia di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, di mana program dimulai untuk pria yang berhubungan seks dengan pria, transgender, pekerja seks, gadis remaja dan wanita muda di seluruh Afrika.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/11/26/2018-hari-aids-sedunia/

Hasil gambar untuk epidemi hiv aids

HIV bukanlah virus yang mudah untuk dikalahkan. Hampir satu juta orang masih meninggal setiap tahun secara global, karena mereka tidak tahu bahwa mereka terinfeksi HIV, sehingga tidak diobati, atau mereka terlambat memulai pengobatan. Pada hal, pedoman WHO (2015) merekomendasikan bahwa semua orang yang hidup dengan HIV, harus menerima pengobatan ART, terlepas dari status kekebalan dan tahap infeksi mereka, dan sesegera mungkin diberikan ART setelah diagnosis tegak.

Hasil gambar untuk epidemi hiv aids

Pada 2017 masih terdapat 1,8 juta orang  terinfeksi HIV sebagai kasus baru. Kita semua di dunia ini telah berkomitmen untuk mengakhiri AIDS pada tahun 2030, pada hal tingkat infeksi dan kematian baru tidak turun cukup cepat untuk memenuhi target itu. Salah satu tantangan terbesar mengapa beban HIV tetap tidak berubah selama 30 tahun ini, adalah karena HIV secara tidak proporsional menyerang hanya orang dalam populasi rentan yang sering sangat terpinggirkan dan distigmatisasi. Dengan demikian, sebagian besar infeksi dan kematian karena HIV hanya terjadi pada kelompok berisiko tinggi, tetapi mereka tetap tidak sadar, kurang terlayani, atau terabaikan. Sekitar 75% infeksi HIV baru terjadi pada pria yang berhubungan seks dengan pria, pengguna narkoba suntik, tahanan di penjara, pekerja seks komersial, orang transgender, atau pasangan seksual dari orang-orang tersebut. Mereka adalah kelompok yang sering didiskriminasi dan dikecualikan dari sistem layanan kesehatan di banyak tempat.

Gambar terkait

Tema Hari AIDS Sedunia, Ketahui Status Anda (Know Your Status), adalah penting. Satu dari empat orang dengan HIV tidak tahu bahwa mereka terinfeksi HIV. Untuk menjembatani kesenjangan ketersediaan sarana pengujian atau tes laboratorium untuk HIV, WHO merekomendasikan penggunaan tes mandiri (self-tests for HIV). WHO pertama kali merekomendasikan tes HIV pada tahun 2016, dan sekarang lebih dari 50 negara telah mengembangkan kebijakan tentang tes mandiri ini.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/11/26/2018-hari-aids-sedunia/

Hasil gambar untuk epidemi hiv aids

WHO bekerja sama dengan organisasi internasional seperti Unitaid, mendukung program uji mandiri HIV terbesar di enam negara di Afrika. Program ini menjangkau orang-orang yang belum pernah menguji diri mereka sebelumnya, dan menghubungkan mereka dengan layanan perawatan atau pencegahan. WHO, dan ILO (International Labour Organization) atau Organisasi Perburuhan Internasional juga merekomendasikan panduan baru untuk mendukung semua perusahaan dan organisasi, untuk menawarkan tes mandiri HIV di tempat kerja.

Orang dengan HIV sering memiliki infeksi lain, yang dikenal sebagai co-morbiditas, seperti TB (tuberkulosis) atau hepatitis. Satu dari tiga kematian pada orang dengan HIV adalah karena TB, sekitar 5 juta orang yang hidup dengan HIV juga terinfeksi hepatitis virus, dan satu dari tiga orang dengan HIV memiliki penyakit jantung. Data ini berarti bahwa perawatan HIVsebenarnya juga membutuhkan perawatan gabungan, meskipun hal ini tidak selalu terjadi dalam praktik klinik. Untuk itu, WHO sekarang mempromosikan layanan kesehatan ‘berpusat pada orang’ (person-centred) kepada semua orang yang hidup dengan HIV, yaitu untuk memenuhi kebutuhan kesehatan holistik mereka, bukan hanya masalah infeksi HIV, tetapi juga  layanan untuk TB, kesehatan seksual dan reproduksi, penyakit tidak menular dan bahkan juga kesehatan mental.

baca juga :  https://dokterwikan.wordpress.com/2018/11/26/bayi-bebas-hiv-dari-ibu/

Hasil gambar untuk epidemi hiv aids

Mengakhiri epidemi AIDS tidak mungkin terjadi tanpa sistem kesehatan terpadu yang berbasis manusia (person-centred), yang menyediakan sarana pencegahan, diagnosis, dan pengobatan HIV, serta dukungan untuk komorbiditas seperti TB dan hepatitis.

Sudahkah kita bertindak?

Sekian

Yogyakarta, 29 November 2018

*) dokter spesialis anak, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA=081227280161

Categories
Istanbul

2018 AIDS

Hasil gambar untuk hari aids sedunia 2018

HARI   AIDS   SEDUNIA  2018

fx. wikan indrarto*)

Hari AIDS Sedunia (World AIDS Day) diadakan pada hari Sabtu, 1 Desember 2018. Ini adalah kesempatan bagi semua orang di seluruh dunia untuk bersatu dalam perang melawan HIV, untuk menunjukkan dukungan bagi orang yang hidup dengan HIV, dan untuk mengenang mereka yang telah meninggal karena penyakit AIDS. Saat bersatu dalam perang melawan HIV, tentu perlu keseragaman langkah. Apa yang baru?

Hasil gambar untuk hari aids sedunia 2018

Sejak tahun 2016, WHO telah merekomendasikan penggunaan obat tenofovir disoproxil fumarate (TDF) dikombinasi dengan lamivudine (3TC) atau emtricitabine (FTC) dan efavirenz (EFV) 600 mg, sebagai pilihan utama terapi antiretroviral (ART) lini pertama. Namun demikian, pada April 2018 terdapat pembaruan pada rejimen antiretroviral untuk mengobati dan mencegah infeksi HIV. WHO merekomendasikan dolutegravir (DTG) sebagai pilihan alternatif pengganti EFV untuk ART lini pertama, karena ketidakpastian mengenai keamanan dan kemanjuran EFV, pada orang yang hidup dengan HIV selama kehamilan dan selama menerima pengobatan tuberkulosis (TB) berbasis rifampisin. Pedoman WHO yang baru berisi rekomendasi mengenai rejimen lini pertama ART, termasuk DTG dan raltegravir (RAL).

Hasil gambar untuk hari aids sedunia 2018

Terapi antiretroviral (ART) terdiri dari kombinasi obat antiretroviral (ARV) untuk menekan secara maksimum replikasi virus HIV dan menghentikan perkembangan alamiah penyakit infeksi HIV. ART juga mencegah penularan HIV selanjutnya. Pengurangan besar telah terlihat pada tingkat kematian dan infeksi ketika penggunaan rejimen ARV yang kuat, terutama pada tahap awal penyakit. Selain itu, WHO juga merekomendasikan ART untuk semua orang dengan HIV sesegera mungkin setelah diagnosis, tanpa pembatasan jumlah CD4. Pemeriksaan jumlah CD4, yang juga disebut T-limfosit, T-sel, atau sel T-helper, digunakan untuk menentukan seberapa baik sistem kekebalan tubuh pada orang yang terinfeksi HIV. CD4 adalah jenis sel darah putih yang berperan penting dalam memerangi infeksi.

Gambar terkait

Juga perlu disampaikan tawaran terapi profilaksis pra-pajanan, kepada orang yang berisiko besar terinfeksi HIV, sebagai pilihan pencegahan tambahan dan bagian dari pencegahan komprehensif. Pada April 2018 WHO juga merekomendasikan bahwa paket skrining, profilaksis, inisiasi ART yang cepat dan intervensi kepatuhan pengobatan secara intensif, sebaiknya ditawarkan kepada semua orang yang hidup dengan HIV dan penyakit lebih lanjut. Rekomendasi juga menentukan seberapa cepat ART harus dimulai dalam konteks kebijakan untuk semua (treat all policy), terutama ketika ada ko-infeksi.

Hasil gambar untuk hari aids sedunia 2018

WHO sangat merekomendasikan bahwa inisiasi ART yang cepat harus ditawarkan kepada orang yang hidup dengan HIV, setelah diagnosis dan penilaian klinis terkonfirmasi. Inisiasi ART yang cepat didefinisikan sebagai dalam 7 (tujuh) hari setelah diagnosis HIV tegak. Rekomendasi inisiasi ART adalah pada hari yang sama dengan tegaknya diagnosis HIV, berdasarkan keinginan dan kesiapan pasien untuk segera memulai ART, kecuali ada alasan klinis untuk menunda pengobatan. Rekomendasi ini berlaku untuk semua populasi dan kelompok usia. Orang dengan penyakit HIV lanjut harus diberi prioritas untuk penilaian klinis dan inisiasi pengobatan.

Hasil gambar untuk hari aids sedunia 2018

Jumlah sel CD4 dapat membantu menentukan apakah infeksi lain (infeksi oportunistik) dapat terjadi. Meningitis kriptokokus atau radang selaput otak yang disebabkan oleh jamur kriptokokus dari debu atau uap kotoran burung yang sudah kering, adalah infeksi oportunistik serius, yang merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas pada orang dengan HIV dan penyakit lanjut, yang diperkirakan 15% dari semua kematian terkait AIDS secara global. Diperkirakan 223.100 kasus meningitis kriptokokus mengakibatkan 181.000 kematian global setiap tahun, pada orang yang hidup dengan HIV. Namun demikian, penyakit kriptokokus jarang terjadi pada anak dengan HIV, bahkan di daerah dengan beban penyakit yang tinggi di kalangan orang dewasa.

Berikut ini rekomendasi baru dan merupakan bagian dari panduan praktik klinik yang baik, yaitu pertama, pendekatan optimal untuk mendiagnosis meningitis kriptokokal, kedua strategi untuk mencegah penyakit kriptokokus invasif melalui skrining antigen kriptokokus dan terapi flukonazol pre-emptive, dan ketiga mengobati meningitis kriptokokal dengan kombinasi rejimen terapi anti jamur. Keempat, mencegah, memantau, dan mengelola toksisitas obat amfoterisin B, kelima, rekomendasi terhadap terapi tambahan dengan kortikosteroid sistemik; dan keenam, rekomendasi tentang waktu inisiasi terapi antiretroviral.

Tema Hari AIDS Sedunia 2018 adalah “kenali statusmu” (know your status) yang bertujuan untuk mencapai 2 hal berikut. Pertama, mendorong semua orang untuk mengetahui status infeksi HIV mereka melalui pemeriksaan di laboratorium klinik, sehingga dapat langsung mengakses layanan pencegahan, pengobatan dan perawatan HIV. Kedua, mendesak pembuat kebijakan kesehatan untuk membentuk agenda “sehat untuk semua” (healthfor all) tentang HIV, tuberkulosis (TB), hepatitis dan penyakit tidak menular yang terkait.

Hasil gambar untuk hari aids sedunia 2018

Penerapan rekomendasi WHO baru tersebut menunjang tujuan kedua peringatan Hari AIDS Sedunia 2018. Selain itu, memotivasi sebanyak mungkin orang untuk mengetahui status infeksi HIV mereka (know your status), perlu mendapat dukungan penuh.

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 26 November 2018

*) dokter spesialis anak, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA=081227280161

Categories
Istanbul

2018 Hari AIDS Sedunia

Hari AIDS Sedunia 2018

fx. wikan indrarto*)

Hasil gambar untuk hari aids sedunia 2018

Hari AIDS Sedunia (World AIDS Day) diadakan pada hari Sabtu, 1 Desember 2018. Ini adalah kesempatan bagi semua orang di seluruh dunia untuk bersatu dalam perang melawan HIV, untuk menunjukkan dukungan bagi orang yang hidup dengan HIV, dan untuk mengenang mereka yang telah meninggal karena penyakit AIDS. Dicanangkan pada tahun 1988, Hari AIDS Sedunia adalah hari kesehatan global yang pertama. Apa maknanya?

Gambar terkait

Hal yang baru terkait HIV AIDS adalah temuan uji klinis NAMSAL (New Antiretroviral and Monitoring Strategies in HIV-infected in Low-income countries), yang menggunakan obat baru dolutegravir, dan dilaporkan pada Rabu, 14 November 2018. Penelitian terkait strategi dan pemantauan dengan obat antiretroviral baru untuk infeksi HIV di negara-negara berpenghasilan rendah ini, dilakukan di Kamerun oleh Badan Prancis ANRS (Agency for Research on AIDS and Viral Hepatitis). Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas dua model perawatan medis lini pertama untuk infeksi HIV pada lebih dari 600 orang peserta.

Hasil gambar untuk hari aids sedunia 2018

Hasil uji klinis menunjukkan bahwa pengobatan berbasis dolutegravir tidak kalah baik dibandingkan dengan efavirenz. Dalam konteks pengobatan khusus untuk orang yang hidup dengan HIV di negara berkembang, para peneliti percaya bahwa pengobatan lini pertama dengan dolutegravir adalah alternatif yang baik untuk pengganti efavirenz. Penelitian ANRS NAMSAL mendukung upaya bersama yang dibuat oleh WHO dan Unitaid, untuk mengoptimalkan pengobatan HIV dan untuk merumuskan perawatan yang lebih baik dan lebih aman untuk orang yang hidup dengan HIV dalam berbagai keterbatasan.

Hasil gambar untuk hari aids sedunia 2018

Dua tahun setelah peluncurannya, uji klinis NAMSAL dari ANRS Prancis yang melakukan penelitian tentang AIDS dan Hepatitis virus, menghasilkan kesimpulan pertama. Dilakukan di Yaoundé (Kamerun), penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kemanjuran dua model perawatan lini pertama untuk infeksi HIV pada lebih dari 600 pasien. Hasil penelitian disampaikan oleh Dr. Charles Kouanfack (Rumah Sakit Pusat Yaoundé, Fakultas Kedokteran dan Farmasi dari Universitas Dschang, Kamerun) dan Dr. Éric Delaporte (Universitas Montpellier dan Institut Kesehatan Nasional Prancis), yang menunjukkan bahwa terapi berbasis obat dolutegravir tidak kalah dibandingkan dengan pengobatan baku yang menggunakan efavirenz (400 mg). Dalam konteks pengobatan khusus untuk orang yang hidup dengan HIV di negara Selatan, para peneliti percaya bahwa pengobatan lini pertama dengan dolutegravir adalah alternatif yang baik untuk pengganti efavirenz. Temuan penelitian yang didanai bersama oleh Unitaid dan ANRS, sudah dipresentasikan pada HIV Drug Therapy Conference di Glasgow, Skotlandia pada Rabu, 31 Oktober 2018.

Hasil gambar untuk hari aids sedunia 2018

Rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) terbaru yang diterbitkan pada Juli 2018, menganjurkan pengobatan lini pertama infeksi HIV menggunakan dolutegravir (DTG), sebagai alternatif pengobatan dengan efavirenz400 mg (EFV400). Namun demikian, hingga saat ini tidak ada data uji klinis lain, untuk membandingkan langsung keefektifan kedua obat tersebut, dalam konteks spesifik negara-negara berpenghasilan rendah. DTG dianggap sebagai pilihan pengobatan yang valid, sebagai obat lini pertama untuk orang dengan HIV di negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Penelitian ANRS NAMSAL telah membandingkan efek dari kedua obat, yaitu DTG dan EFV, pada 613 peserta yang hidup dengan HIV, yang sebelumnya tidak menerima pengobatan ARV. Menurut Wakil Direktur Eksekutif Unitaid, Dr. Philippe Duneton, penelitian uji klinis ini adalah yang pertama yang memiliki data komparatif tentang penggunaan dolutegravir pada orang yang hidup dengan HIV, di negara berpenghasilan rendah seperti Kamerun. Unitaid akan bermitra dengan ANRS dan WHO, untuk mempercepat akses ke pengobatan HIV yang terjangkau secara lebih baik.

Uji klinis ini diluncurkan pada Juli 2016 dan dilakukan di Kamerun, tepatnya di tiga rumah sakit di Yaoundé, ibukota Kamerun, yaitu di Rumah Sakit Pusat, Rumah Sakit Militer dan rumah sakit distrik CitéVerte. Uji klinik ini akan berlanjut hingga tahun 2021. Penelitian uji klinik ini melibatkan lebih dari 600 pasien yang terinfeksi HIV, yang belum pernah menggunakan ART sama sekali. Tujuannya adalah untuk membandingkan efikasi, toleransi, dan biaya dari dua jenis rejimen perawatan antiretroviral lini pertama, efavirenz 400 mg, dan dolutegravir.

Hasil gambar untuk hari aids sedunia 2018

Tema Hari AIDS Sedunia 2018 adalah “kenali statusmu” (know your status) yang bertujuan untuk mencapai 2 hal berikut. Pertama, mendorong semua orang untuk mengetahui status infeksi HIV mereka melalui pemeriksaan di laboratorium klinik, sehingga dapat langsung mengakses layanan pencegahan, pengobatan dan perawatan HIV. Kedua, mendesak pembuat kebijakan kesehatan untuk membentuk agenda “sehat untuk semua” (healthfor all) tentang HIV, tuberkulosis (TB), hepatitis dan penyakit tidak menular yang terkait.

Hasil uji klinis terkait pengobatan berbasis dolutegravir yang tidak kalah baik dibandingkan dengan efavirenz, menunjang tujuan kedua peringatan Hari AIDS Sedunia 2018, khususnya di negera berkembang. Selain itu, memotivasi sebanyak mungkin orang untuk mengetahui status infeksi HIV mereka (know your status), perlu mendapat dukungan penuh.

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 24 November 2018

*) dokter spesialis anak, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA=081227280161

Categories
Istanbul

Bayi Bebas HIV dari Ibu

Hasil gambar untuk hiv pada bayi

BAYI  BEBAS   HIV   DARI    IBU

fx. wikan indrarto*)

Tema Hari AIDS Sedunia Sabtu, 1 Desember 2018 adalah “kenali statusmu” (know your status) yang bertujuan untuk mencapai 2 hal berikut. Pertama, mendorong semua orang untuk mengetahui status infeksi HIV mereka melalui pemeriksaan di laboratorium klinik, sehingga dapat langsung mengakses layanan pencegahan, pengobatan dan perawatan HIV. Kedua, mendesak pembuat kebijakan kesehatan untuk membentuk agenda “sehat untuk semua”(health for all) tentang HIV, tuberkulosis (TB), hepatitis dan penyakit tidak menular yang terkait.  Apa yang harus dilakukan?

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/11/30/akhiri-epidemi-hiv/

Hasil gambar untuk hiv pada bayi

Hari AIDS Sedunia (World AIDS Day) ini mengingatkan kita bahwa pada Rabu, 8 Juni 2016 yang lalu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan bahwa Thailand, Belarus, Armenia, dan Republik Moldova telah mengikuti Kuba, berhasil menghilangkan proses penularan HIV dari ibu ke bayi. Ini adalah sinyal yang jelas bahwa dunia sudah dalam perjalanan menuju generasi bebas AIDS. Menghilangkan penularan HIV dari ibu ke bayi adalah kunci untuk upaya global, dalam mengakhiri AIDS pada tahun 2030.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/11/26/2018-hari-aids-sedunia/

Gambar terkait

Setiap tahun, secara global diperkirakan terdapat 1,4 juta ibu hamil yang hidup dengan HIV. Dengan pengobatan yang tepat, 15-45% dari mereka masih memiliki kemungkinan menularkan virus kepada bayi mereka selama kehamilan, persalinan, dan atau menyusui. Bahkan risiko dapat diturunkan sampai kurang dari 1%, jika obat antiretroviral (ARV) diberikan kepada ibu dan bayi pada seluruh tahap kehidupan, ketika penularan infeksi HIV dapat terjadi. Program tersebut dinamakan pencegahan penularan HIV dari ibu ke anak (PMTCT atau ‘Preventionof Mother-To-Child HIV Transmission’). Jumlah bayi yang lahir dengan HIV setiap tahun, telah turun hampir setengahnya sejak tahun 2009, yaitu turun dari 400.000 di 2009 menjadi tinggal 240.000 pada tahun 2013. Upaya intensif tetap dibutuhkan untuk mencapai target global, yaitu kurang dari 40.000 infeksi baru pada bayi per tahun pada tahun 2016.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/11/30/akhiri-epidemi-hiv/

Hasil gambar untuk hiv pada bayi

Para petugas kesehatan di Thailand telah menjalankan serangkaian langkah PMTCT secara paripurna. Setelah melakukan pemeriksaan dan konfirmasi virus pada ibu hamil, ibu diberikan obat ARV secara teratur dan dengan persetujuan ibu, menjadwalkan operasi bedah caesar pada minggu ke-38 kehamilan. Setelah persalinan, bayi baru lahir juga diberi obat ARV dan kemudian dipantau dengan pemeriksaan berkala sampai anak berusia 18 bulan. Ibu juga mengikuti rekomendasi dokter untuk tidak menyusui bayi, karena ASI dapat menularkan HIV kepada bayi, sehingga digunakan susu formula. Di Thailand 98% ibu hamil yang hidup dengan HIV telah memiliki akses terhadap terapi ARV, sehingga tingkat penularan HIV dari ibu ke bayi telah berkurang menjadi kurang dari 2%. Pada tahun 2000, diperkirakan 1.000 bayi telah terinfeksi dengan HIV, sedangkan pada tahun 2015, penularan ibu ke bayi berkurang menjadi tinggal 85 bayi. Ini adalah penurunan lebih dari 90% dan merupakan prestasi yang signifikan di sebuah negara dengan perkiraan terdapat 450.000 orang yang hidup dengan HIV. Semua wanita hamil di Thailand wajib menjalani setidaknya 10 kali pemeriksaan kehamilan (Ante Natal Care atau ANC).

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/11/26/2018-aids/

Hasil gambar untuk hiv pada bayi

Bandingkan dengan di Indonesia yang hanya 4 kali ANC selama kehamilan, yaitu 1 kali pada trimester pertama, 1 kali pada trimester kedua dan 2 kali pada trimester ketiga. Menurut LAKIP (Laporan Akuntabilitas Kinerja) Direktorat Kesehatan Keluarga Kemenkes TA 2017, Ibu Hamil yang Mendapat Pelayanan Antenatal (K4) minimal 4 kali, menjalani test laboratorium klinik sederhana (Golongan Darah, Hb, Glukoprotein Urin) dan atau berdasarkan indikasi (HBsAg, Sifilis, HIV, Malaria, TBC). Cakupan K4 tahun 2017 adalah sebesar 86,4%, yaitu sebanyak 4.596.717 orang ibu hamil telah mendapatkan kunjungan antenatal sebanyak 4 kali.

Hasil gambar untuk hiv pada bayi

Di Thailand, terdapat 99,2% ibu hamil dengan HIV positif dan 100% bayi yang dilahirkan, telah menerima pengobatan sejak September 2014. Obat ARV diberikan secara gratis setiap bulan, ibu atau anggota keluarga datang untuk mengambil obat dengan kartu yang tidak mencantumkan nama pasien, untuk menjaga rahasia kedokteran atas diagnosis. Kartu ini juga merupakan cara untuk memantau kepatuhan pengobatan. Thailand telah melakukan PMTCT paripurna dengan menjamin akses awal untuk perawatan prenatal, pengujian HIV untuk ibu hamil dan pasangannya, pengobatan untuk ibu yang positif HIV dan bayi mereka, persalinan secara bedah caesar, dan substitusi menyusui dengan susu formula. Layanan ini disediakan negara dalam sistem kesehatan nasional yang adil, dapat diakses di seluruh pelosok Thailand, dan PMTCT terintegrasi dengan program kesehatan ibu dan anak. Sebaliknya di Indonesia, menurut Profil Kesehatan Indonesia yang diterbitkan Kemenkes, pada tahun 2017 jumlah kasus baru HIV adalah 33.660 orang, ditemukan dari 4.295 fasilitas kesehatan yang mampu memberikan layanan ARV dan PMTCT, atau 2,05 % dari semua klien yang datang.

Hasil gambar untuk hiv pada bayi

Thailand telah menerima validasi dari WHO atas keberhasilannya menghapus penularan HIV dari ibu ke bayi, menjadi negara pertama di Asia dan Pasifik. Selain itu, Thailand juga negara yang pertama dengan epidemi HIV besar, yang mampu memastikan generasi penerusnya bebas AIDS. Menteri Kesehatan Thailand hadir menerima sertifikat validasi dalam upacara megah yang berlangsung di New York, pada malam Pertemuan Tingkat Tinggi Majelis Umum PBB. Hal ini merupakan prestasi yang luar biasa untuk sebuah negara, di mana ribuan orang warganya hidup dengan HIV.

Hasil gambar untuk hiv pada bayi

Keberhasilan Thailand menunjukkan bagaimana negara dapat membuat perubahan, dengan kebijakan yang baik dan diikuti dengan komitmen yang tinggi. Penghapusan penularan HIV dari ibu ke anak, telah menjadi sebuah kenyataan dan Thailand telah menunjukkan kepada dunia, bahwa HIV dapat dikalahkan. Selain itu, memotivasi sebanyak mungkin orang, terutama ibu hamil untuk mengetahui status infeksi HIV mereka (know your status), perlu mendapat dukungan penuh.

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 26 November 2018

*) dokter spesialis anak, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA=081227280161

Categories
Istanbul

2018 Kematian di Jalan Raya

Image result for world day of remembrance for road traffic victims 2018 theme

KEMATIAN  DI  JALAN  RAYA

fx. wikan indrarto*)

Hari Peringatan Dunia untuk Korban Kecelakaan Lalu Lintas di Jalan Raya atau‘World Day of Remembrance for Road Traffic Victims’ (WDoR), diadakan pada hari Minggu ketiga bulan November setiap tahun. Tema untuk WDoR pada tahun 2018 adalah “jalan raya memiliki cerita”, menyoroti bahwa jalan raya lebih dari sekadar koneksi fisik dari titik A ke titik B, tetapi jalan raya ternyata juga tempat peristirahatan terakhir untuk begitu banyak kehidupan yang terputus. Apa yang harus disadari ?

Laporan “Global status report on road safety2015” menyebutkan bahwa sekitar 1,25 juta orang secara global meninggal setiap tahun, akibat kecelakaan lalu lintas, terutama pada remaja yang berusia 15-29 tahun. Sekitar 90% kematian di jalan raya tersebut terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah, meskipun negara tersebut sebenarnya hanya memiliki sekitar setengah dari total kendaraan di seluruh dunia. Tanpa tindakan yang berarti, kecelakaan lalu lintas diperkirakan akan meningkat menjadi penyebab utama atas 7 kematian global pada tahun 2030. ‘Agenda for Sustainable Development’s’ 2030 yang baru diadopsi, telah menetapkan target ambisius, yaitu mengurangi setengah jumlah kematian global dan cedera karena kecelakaan lalulintas pada tahun 2020.

Image result for global status report on road safety 2017


Kecelakaan lalu lintas sangat disesalkan, karena telah diabaikan dari agenda kesehatan global selama bertahun-tahun, meskipun sebenarnya dapat diprediksi dan dicegah. Bukti dari berbagai negara menunjukkan bahwa keberhasilan dramatis dalam mencegah kecelakaan lalu lintas, dapat dicapai melalui upaya bersama yang melibatkan sektor kesehatan. Pemerintah perlu mengambil tindakan untuk meningkatkan keselamatan pengguna jalan secara holistik, yang memerlukan keterlibatan dari berbagai sektor seperti perhubungan, kepolisian, kesehatan, dan pendidikan.

Image result for global status report on road safety 2017

Faktor risiko utama kecelakaan lalu lintas adalah kecepatan. Peningkatan kecepatan laju kendaraan di atas rata-rata, secara langsung berkaitan, baik dengan kemungkinan terjadinya kecelakaan, maupun dengan tingkat keparahan korban  kecelakaan itu. Risiko seorang dewasa pejalan kaki akan meninggal hanya kurang dari 20% jika tertabrak mobil dengan kecepatan 50 km/jam, tetapi akan meningkat menjadi hampir 60% jika mobil melaju dalam kecepatan 80 km/jam. Pemberlakuan zona kecepatan 30 km/jam terbukti dapat mengurangi risiko kecelakaan dan direkomendasikan berlaku kawasan dengan banyak pejalan kaki, misalnya di daerah pemukiman dan sekolah.

Image result for world day of remembrance for road traffic victims 2018 theme

Mengenakan helm secara benar oleh pengendara sepeda motor dapat mengurangi risiko kematian hampir 40% dan risiko cedera parah lebih dari 70%. Ketika aturan wajib helm sepeda motor ditegakkan secara efektif, tingkat penggunaan helm dapat meningkat menjadi lebih dari 90%. Mengenakan sabuk pengaman di dalam mobil, terbukti dapat mengurangi risiko kematian penumpang di kursi depan sampai 50% dan penumpang di kursi belakang sampai 75%. Jika dipasang dan digunakan secara benar, kursi dan sabuk pengaman khusus anak dapat mengurangi kematian bayi sekitar 70% dan kematian anak 80%.

Image result for global status report on road safety 2017

Selain itu, penggunaan telephon genggam atau HP dapat mengganggu penampilan atau performance pengemudi, yaitu waktu reaksi lebih lambat, terutama saat pengereman atau reaksi terhadap sinyal lalu lintas, gangguan kemampuan untuk selalu berada di jalur yang benar, dan menjaga jarak antar kendaraan yang layak. Penggunaan fitur pada HP berupa pesan teks seperti sms atau WA, menyebabkan kinerja pengemudi juga berkurang. Pengemudi yang menggunakan HP sekitar 4 kali lebih mungkin terlibat dalam kecelakaan, dibandingkan pengemudi yang tidak menggunakannnya, dan penggunaan fasilitas ‘hands-free HP’ tidak terbukti jauh lebih aman.

Bloomberg Initiative Global Road Safety (BIGRS)2015-2019 berusaha untuk mengurangi korban jiwa dan luka karena kecelakaan lalulintas, khususnya di negara berpenghasilan rendah dan menengah, yaitu di China, Filipina, Thailand dan Tanzania, dengan menyediakan dukungan teknis di bidang legislasi dan media pelatihan. Selain itu, juga mendukung keselamatan di jalan dengan cara meningkatkan keamanan di sekitar sekolah di Malawi dan Mozambik, dan dalam membantu meningkatkan layanan darurat di Kenya dan India, juga peningkatan penggunaan helm pada pengemudi sepeda motor dan mengurangi kadar alkohol saat mengemudi di sejumlah negara ASEAN.

Dalam tiga tahun terakhir, 17 negara telah menetapkan hukum terbaik tentang sabuk pengaman, mengemudi dalam pengaruh alkohol, kecepatan maksimal, helm sepeda motor atau perlindungan anak. Michael R. Bloomberg, pendiri Bloomberg Philanthropies melaporkan bahwa secara global terdapat 105 negara memiliki aturan tentang sabuk pengaman yang berlaku untuk semua penumpang, 47 negara memiliki undang-undang yang menentukan batas kecepatan nasional perkotaan maksimum 50 Km/jam dan menghimbau pemerintah daerah untuk mengurangi batas kecepatan di daerahnya masing-masing, 44 negara memiliki ketentuan tentang helm yang berlaku untuk semua pengendara dan penumpang sepeda motor, dan 53 negara memiliki aturan berdasarkan usia, tinggi atau berat badan, dan menerapkan pembatasan usia anak, sebagai penumpang mobil yang duduk di kursi depan. Laporan ini juga menemukan bahwa 80% kendaraan yang dijual di seluruh dunia, tidak memenuhi standar keselamatan dasar, khususnya di negara berpenghasilan rendah dan menengah, termasuk hampir 50% dari 67 juta mobil penumpang baru yang diproduksi pada tahun 2014.

Momentum ‘World Day of Remembrance for Road Traffic Victims’ 2018, menampilkan cerita trauma, rasa sakit, dan harapan untuk masa depan yang hilang. Semuanya ini adalah panggilan untuk bertindak bersama, agar jalan raya menjadi lebih aman, sehingga risiko kecelakaan lalu lintas dan kematian dapat dikurangi. Sudahkah kita bertindak?

Sekian Yogyakarta, 23 November 2018 *) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161.
Categories
Istanbul

2018 Menumpas Chagas

Hasil gambar untuk chagas adalah

MENUMPAS  CHAGAS

fx. wikan indrarto*)

Pada hari Jumat, 16 November 2018 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) merekomendasikan hal baru untuk menumpas penyakit chagas. Anjurannya adalah mengalihkan fokus ke arah skrining aktif pada anak perempuan dan wanita usia subur, untuk mendeteksi keberadaan Trypanosoma cruzi, parasit penyebab penyakit Chagas. Bukti ilmiah terbaru menunjukkan bahwa mendiagnosis dan mengobati wanita sebelum kehamilan, dapat secara efektif mencegah penularan kepada janin dalam kandungan. Apa yang perlu dipahami?

Gambar terkait

Penyakit Chagas disebarkan melalui gigitan serangga triatomine (kissing bugs) atau Trypanosoma cruzi, yang ditemukan ilmuwan Oswaldo Cruz. Gejala penyakit chagas sangat bervariasi, mulai dari yang mendadak (akut) atau bersifat menahun (kronis). Beberapa gejala yang sudah termasuk dalam kategori kronis adalah detak jantung yang tidak beraturan, kesulitan menelan akibat kerongkongan membengkak, rasa sakit pada perut atau sembelit akibat pelebaran pada usus besar, dan gagal jantung. Penyakit ini juga dapat mengakibatkan kematian mendadak akibat kerusakan pada sistem saraf dan otot jantung.

Hasil gambar untuk chagas adalah

Selama berabad-abad, penyakit chagas ini benar-benar hanya terdapat di wilayah Amerika Latin pada populasi di pedesaan saja. Penyakit Chagas ditemukan terutama di daerah endemik dari 21 negara Amerika Latin di mana infeksi ditularkan sebagian besar oleh vektor serangga ke manusia, melalui kontak dengan faeces atau urin triatomine. Namun demikian, pergerakan orang dari pedesaan ke perkotaan dan bahkan ke benua lain, telah memperluas jangkauan penularan penyakit melalui rute non-vektor, misalnya melalui transfusi darah, penularan dari ibu ke anak dan transplantasi organ. Saat ini penyakit Chagas telah terdeteksi di Amerika Serikat, Kanada, banyak negara Eropa, dan beberapa negara Pasifik Barat, terutama karena migrasi. Namun demikian, kasus infeksi juga telah dilaporkan di antara para pelancong, mungkin termasuk dari Indonesia,  yang kembali berlibur dari Amerika Latin dan bahkan pada anak-anak yang diadopsi.

Hasil gambar untuk chagas adalah

Sekitar 6 hingga 7 juta orang di seluruh dunia diperkirakan terinfeksi Trypanosoma cruzi, parasit yang menyebabkan penyakit Chagas. Sampai saat ini tidak ada vaksin yang tersedia untuk melawan penyakit Chagas, sehingga kontrol vektor dan transfusi darah, merupakan metode yang paling efektif untuk mencegah penularan di Amerika Latin. Penyakit Chagas diberi nama setelah Carlos Ribeiro Justiniano Chagas, seorang dokter Brasil, menemukan penyakit ini pada tahun 1909, dalam penelitian di Negara Bagian Minas Gerais, Brasil. Hingga kini, strategi pengendalian dan pencegahan penyakit Chagas sangat bergantung pada deteksi dini, juga pengobatan bayi baru lahir yang terinfeksi, dan saudara kandung dari wanita hamil.

Hasil gambar untuk chagas adalah

Namun demikian, pergeseran pendekatan untuk mencegah penularan secara global, termasuk di negara non-endemik, adalah melalui skrining yang aktif dan sistematis terhadap perempuan yang berisiko terinfeksi. “Deteksi dini sebaiknya dilakukan dan dilengkapi dengan strategi biomedis dan psikososial,” kata Dr. Manuel Segovia, Direktur Kedokteran Tropis, Rumah Sakit Clínico Universitario Virgen de la Arrixaca, Murcia, Spanyol. Setelah infeksi dikonfirmasi pada pasien, pemeriksaan fisik dan penunjang medik komplementer diperlukan untuk menentukan gambaran klinis penyakit secara lengkap.

Secara umum, diperkirakan bahwa diagnosis penyakit Chagas yang tidak benar (under-diagnosis) dapat setinggi 90%, dengan diagnosis yang kurang tepat (under-diagnosis) tentang penularan selama kehamilan atau transmisi bawaan diyakini lebih tinggi. Pada hal, penularan selama kehamilan (mother-to-child transmission) ini merupakan cara penularan yang paling sering, terutama di daerah di mana infeksi melalui vektor serangga tidak lagi ditularkan, dan dimana penularan melalui transfusi darah telah dapat dicegah.

Hasil gambar untuk chagas adalah

 

Untuk mempercepat penghapusan penularan selama kehamilan, diperlukan strategi dan metode untuk mendeteksi, menyaring dan mendiagnosis semua wanita hamil, bayi baru lahir dan saudara mereka yang terinfeksi. Selanjutnya  memberikan terapi kepada mereka semua yang terbukti terinfeksi sesegera mungkin. Hal ini juga berarti perlunya menerapkan strategi yang sama untuk semua wanita usia subur, idealnya pada anak perempuan usia di bawah 19 tahun. Selain itu, ternyata efektivitas pengobatan antiparasit terbukti jauh lebih baik dan cepat pada kelompok usia tersebut, daripada pada orang dewasa dan dengan lebih sedikit reaksi yang merugikan.

Hasil gambar untuk chagas adalah

Untuk penderita yang masih mengalami gejala awal, obat untuk meredakan dan membunuh parasit T. Cruzi adalah benznidazole dan nifurtimox. Obat Nifurtimox, yang disumbangkan oleh industri farmasi Bayer, telah didistribusikan secara gratis untuk pasien dari segala usia sejak 2008. Benznidazole, yang disumbangkan oleh Insud Pharma, akan didistribusikan secara bebas untuk mengobati pasien yang berusia di bawah 19 tahun. Kedua obat ini sangat efektif untuk melawan parasit T. Cruzi bagi penderita dengan gejala akut. Lebih lama parasit tersebut mengendap di tubuh, lebih sulit pengobatannya, bahkan ketika sudah masuk tahap kronis, penyakit Chagas tidak dapat diobati seluruhnya. Bagi penderita yang masih berusia di bawah lima puluh tahun, pengobatan bisa diberikan dengan tujuan untuk memperlambat tingkat keparahan penyakit dan mengurangi risiko terjadinya komplikasi yang sangat serius.

Rekomendasi baru untuk menumpas penyakit chagas, adalah dengan mengalihkan fokus ke arah skrining aktif pada anak perempuan dan wanita usia subur.


Sudahkah kita terlibat membantu?

Sekian  
Yogyakarta, 21 November 2018 
*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161.

Categories
Istanbul

2018 TENGGELAM

Related image

TENGGELAM

fx. wikan indrarto*)



Cucu Menkopolhukam Wiranto yang berusia 1 tahun 4 bulan meninggal dunia pada Kamis, 15 November 2018, karena mengalami kecelakaan terpeleset di kolam. Pada 7 Mei 2017, telah terbit ‘Preventing drowning: an implementation guide‘ (Mencegah tenggelam: sebuah panduan implementasi). Publikasi ini disusun untuk memberikan panduan praktis tentang bagaimana menerapkan intervensi pencegahan tenggelam. Apa yang sebaiknya kita ketahui?

Image result for tenggelam


Tenggelam adalah sebuah proses gangguan pernafasan karena perendaman atau pencelupan dalam cairan, yang dapat menyebabkan luka atau cidera dan kematian. Laporan global tentang tenggelam (Global Report On Drowning: Preventing A Leading Killer) pada tahun 2015, diperkirakan 360.000 orang meninggal karena tenggelam, sehingga tenggelam merupakan masalah kesehatan masyarakat utama di seluruh dunia, karena menjadi penyebab utama ke-3 kematian akibat kecelakaan yang tidak disengaja. Pada tahun 2015,  tenggelam menyumbang lebih dari 9% dari total angka kematian global, penyebab utama kematian akibat cedera yang tidak disengaja, dan mencapai 7% dari semua kematian terkait cedera.


Beban global dan kematian akibat tenggelam ditemukan di semua kelompok ekonomidan wilayah. Namun demikian, tenggelam mencapai lebih dari 90% kematian yang tidak disengaja di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Lebih dari separuh kasus tenggelam terjadi di Pasifik Barat dan Asia Tenggara. Selain itu, tingkat kematian tertinggi karena tenggelam terjadi di Afrika, mencapai 15-20 kali lebih tinggi daripada di Jerman atau Inggris Raya. Memang masih ada berbagai ketidakpastian tentang perkiraan kematian global karena tenggelam. Hal ini mencakup metode kategorisasi data resmi tenggelam yang tidak seragam dan tidak semua memasukkan kasus kematian tenggelam yang disengaja, baik bunuh diri ataupun pembunuhan. Selain itu, juga kasus tenggelam akibat bencana banjir dan kecelakaan transportasi air. Data kematian karena tenggelam dari sebuah negara dapat dipertimbangkan jika memenuhi kriteria berikut: perkiraan cakupan kematian nasional sebesar 70% atau lebih, penyebab kematian kurang jelas kurang dari 20%, terdapat 10 atau lebih penyebab kematian pada kelompok usia 1-14 tahun, dan data tersedia dari tahun 2007.

Image result for tenggelam

Meski data terbatas, beberapa penelitian mengungkapkaninformasi mengenai dampak biaya tenggelam. Di Amerika Serikat, 45% kematiankarena tenggelam mengenai salah satu segmen populasi yang paling aktif secaraekonomi. Kasus tenggelam di pesisir Amerika Serikat saja menyumbang US $ 273juta setiap tahun, untuk biaya langsung dan tidak langsung. Di Australia danKanada, total biaya tahunan untuk tenggelam adalah US $ 85,5  juta dan US $ 173juta.


Laporan ‘the global report on drowning’ tahun 2014 menunjukkan bahwausia merupakan salah satu faktor risiko utama untuk tenggelam. Hubungan inisering dikaitkan dengan kelengahan pengawasan pengasuh anak. Secara global,tingkat tenggelam tertinggi adalah di antara anak usia 1-4 tahun, diikuti olehanak usia 5-9 tahun. Di wilayah Pasifik Barat, anak yang berusia 5-14 tahunmeninggal lebih sering karena tenggelam daripada penyebab lainnya. Tenggelamadalah salah satu dari 5 penyebab kematian tertinggi bagi anak yang berusia1-14 tahun pada 48 dari 85 negara. Di Australia, tenggelam adalah penyebab utamakematian akibat cedera yang tidak disengaja, pada anak usia 1-3 tahun. DiBangladesh, tenggelam menyumbang 43% dari semua kematian pada anak-anak berusia1-4 tahun, di China tenggelam adalah penyebab utama kematian akibat kecelakaanpada anak usia 1-14 tahun, dan di Amerika Serikat: tenggelam adalah penyebabutama kedua kematian akibat cedera yang tidak disengaja pada anak usia 1-14tahun. Di Indonesia, data seperti itu rasanya belum tersedia.

Anak laki-laki lebih berisiko tenggelam, tetapi tingkat kematian atau mortalitas anak perempuan secara keseluruhan dua kali lipat. Laki-laki juga lebih cenderung dirawat di rumah sakit daripada perempuan, karena tenggelamnya secara tidak fatal. Data menunjukkan bahwa tingkat tenggelam yang lebih tinggi di antara laki-laki disebabkan oleh peningkatan paparan terhadap air dan perilaku berisiko seperti berenang sendiri, minum alkohol sebelum berenang dan berperahu sendirian.


Pencegahan yang perlu dilakukan meliputi hindari meninggalkan anak tanpa pengawasan, di lokasi dekat genangan air, kolam renang tanpa pagar, tidak ada petugas penjaga (lifeguards) atau perenang terlatih. Anak harus diawasi setiap saat ketika mereka berada di sekitar air, termasuk bak mandi, toilet, atau ember penuh air. Tutup toilet harus dibiarkan tertutup, atau sabuk pengikat anak harus digunakan. Ember dan bathtub harus segera dikosongkan setelah digunakan dan dibiarkan kosong jika tidak digunakan. Semua kolam harus dipagari dengan tepat menggunakan pagar 4-4, yaitu di semua 4 sisi  kolam renang dan tinggi 4 ft atau 120 cm, telah terbukti menyebabkan penurunan jumlah kasus anak tenggelam yang signifikan. Mainan dan benda-benda lainnya yang menarik untuk anak, tidak boleh dibiarkan di area kolam. Orang tua yang memiliki kolam atau yang membawa anak mereka selama liburan ini ke kolam renang, didorong untuk belajar resusitasi. Setidaknya satu orang tua atau pengasuh harus tetap fokus pada anak setiap saat, menghindari kegiatan lain yang mungkin mengganggu konsentrasi, seperti menggunakan telepon dan bercakap dengan orang lain.

 
Peristiwa meninggalnya cucu Menkopolhukam Wiranto karena terpeleset di kolam, mengingatkan kita semua akan bahaya tenggelam, khususnya pada anak. Pencegahan tenggelam pada anak bersifat multisektoral, yang memerlukan koordinasi dan kolaborasi yang lebih besar antara pemerintah, LSM, institusi akademis dan juga petugas kesehatan. Sudahkah kita berperan?

Sekian
Yogyakarta, 16 November 2018
*) dokter spesialis anak, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA=081227280161

 

Categories
Istanbul

2018 Sehat yang Satu

 SEHAT  YANG SATU

fx. wikan indrarto*)

Dari semua penyakit infeksi pada manusia, 60% berasal dari hewan, sehingga Satu Kesehatan, Sehat yang Satu atau “One Health” adalah satu-satunya cara untuk menjaga agar obat antibiotik tetap bekerja baik. Pernyataan tersebut ditekankan ulang oleh Yang Mulia Putri Mahkota Mary Elizabeth Donaldson dari Kerajaan Denmark pada Senin, 12 November 2018, dalam puncak acara seremonial Pekan Kesadaran Antibiotik Dunia atau World Antibiotic Awareness Week (WAAW) 2018. Apa yang harus disadari?

Resistensi antibiotik adalah ancaman besar yang berkembang untuk prestasi kesehatan secara global. Penyakit infeksi bakteri yang telah resisten atau kebal terhadap obat antibiotik, diperkirakan menyebabkan 700.000 orang meninggal setiap tahun di seluruh dunia. Banyak mikroba (yaitu bakteri, virus,jamur, parasit) yang sama menginfeksi hewan dan manusia, melalui lingkungan tempat mereka berbagi, bahkan 60% dari semua penyakit infeksi bakteri pada manusia, terbukti berasal dari hewan.

Hasil gambar untuk resistensi antibiotika adalah

“Untuk kesehatan semua manusia, hewan, dan lingkungan secara bersama-sama, sebaiknya menggunakan obat antimikroba yang tepat. Dengan demikian semua pihak bertanggung jawab untuk ikut serta mencegah terjadinya ancaman resistensi antimikroba,” kata Dr. Zsuzsanna Jakab, Direktur Regional WHO untuk Eropa. Saat obat antibiotik secara benar digunakan pada pasien dalam sistem layanan kesehatan, tetapi kalau satu sektor itu saja, tentu tidak akan menyelesaikan masalah resistensi ini. Pendekatan ‘One Health’ atau Sehat yang Satu akan menyatukan para dokter dan petugas profesional dalam bidang kesehatan manusia, hewan, makanan, dan lingkungan sebagai sebuah kekuatan tunggal. Dengan demikian itu adalah satu-satunya cara untuk menjaga obat antibiotik, agar tetap bekerja baik untuk kesehatan semua pihak.

Hasil gambar untuk resistensi antibiotika adalah

Dengan 33.000 kematian pasien di seluruh Eropa setiap tahun, sebagai konsekuensi dari infeksi yang disebabkan oleh bakteri yang resisten atau kebal terhadap antibiotik, dan tambahan pengeluaran €1 miliar untuk perawatan kesehatan tahunan, maka perlu lebih dipastikan bahwa obat antibiotik digunakan secara lebih berhati-hati. Selain itu, juga langkah-langkah pencegahan infeksi harus dilakukan di semua lini di seluruh Eropa. Hal ini ditegaskan oleh Dr. Andrea Ammon, Direktur Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Eropa (ECDC).

Hasil gambar untuk resistensi antibiotika adalah

Tingkat konsumsi dan resistensi antibiotik, serta praktik pencegahan infeksi saat ini bervariasi antar negara, maka menjadi penting untuk menyesuaikan sebuah strategi bersama. WHO bergabung dengan Organisasi Pangan dan Pertanian atau ‘Food and Agriculture Organization’ (FAO) dan Organisasi Dunia untuk Kesehatan Hewan atau ‘the World Organisation for Animal Health’ (OIE), mendesak semua pemerintah agar menggunakan strategi baru, dengan mengadopsi dan memperkuat penggunaan pendekatan ‘One Health’. Pendekatan ‘Sehat yang Satu’ (One Health) berarti tindakan koordinasi lintas sektor, yaitu kesehatan masyarakat, hewan dan lingkungan, untuk mencapai hasil dalam bidang kesehatan yang terbaik, bagi semua spesies. Hal ini juga menegaskan bahwa bakteri yang resisten tidak mengenal batas, karena dapat dengan mudah menyeberang dari manusia ke hewan, dan menyebar dari satu lokasi geografis ke yang lain.

Hasil gambar untuk resistensi antibiotika adalah

Obat antibiotik banyak digunakan dalam lingkup produksi ternak, kadang-kadang lebih digunakan untuk meningkatkan pertumbuhan ternak dan mencegah infeksi, daripada untuk mengobati hewan ternak yang sakit. Penggunaan antibiotik yang berlebihan ini dapat menyebabkan lebih banyak terjadinya resistensi bakteri. Padahal, kelas antibiotik yang sama sering digunakan pada manusia dan hewan ternak yang sakit. Selain itu, rantai makanan merupakan rute penting untuk transmisi penyakit infeksi bakteri, sehingga membutuhkan pemantauan dan koordinasi yang ketat untuk mencegah penyebarannya. Data ini menunjukkan bahwa tidak ada satu sektorpun yang memiliki kapasitas untuk menyelesaikan masalah resistensi antibiotik secara sendirian. Namun demikian, tindakan kolektif dapat membantu dunia membuat kemajuan.

Hasil gambar untuk resistensi antibiotika adalah

Salah satu cara efektif untuk melindungi kesehatan manusia, adalah dengan mengurangi kemungkinan resistensi bakteri berkembang pada hewan. Banyak negara secara bertahap menghapus penggunaan antibiotik, sebagai promotor pertumbuhan dan tindakan pencegahan dalam bidang peternakan. Untuk itu, sekarang penggunaan antimikroba pada hewan yang sehat hanya diijinkan, dalam keadaan yang sangat luar biasa. Negara lain yang belum melakukannya, diminta untuk memastikan bahwa obat antibiotik esensial, yang sangat penting bagi kesehatan manusia dan hewan, hanya boleh digunakan ketika benar-benar diperlukan. Kebijakan ini membantu mencegah resistensi bakteri dan membuat antibiotik tetap dapat bekerja penuh, baik untuk manusia maupun hewan.

Hasil gambar untuk resistensi antibiotika adalah

Resistensi bakteri secara luas diakui sebagai salah satu ancaman terbesar abad ke-21 untuk prestasi bidang kesehatan, kesejahteraan dan keamanan pangan. Di seluruh dunia, diperkirakan 700.000 orang meninggal setiap tahun dari infeksi bakteri yang resistan terhadap obat, dan di Eropa yang telah  maju saja, 33.000 jiwa meninggal setiap tahun dan angka-angka tersebut diprediksi terus meningkat. Dengan ini, semua pemerintah didesak untuk melakukan kampanye yang mendorong warga negaranya untuk “berpikir dan bertanya ulang” (think twice and seek advice), sebelum menggunakan antibiotik. Selain itu, juga hanya menggunakan antibiotik sesuai dengan resep dari dokter atau dokter hewan. Pemerintah juga didorong untuk menghentikan penggunaan antibiotik sebagai promotor pertumbuhan pada hewan. Upaya lainnya adalah termasuk tambahan investasi dalam akses yang lebih baik kepada vaksin dan alat diagnosa penyakit infeksi yang lebih cepat dan terjangkau, serta praktik kebersihan dan biosekuriti yang baik.

Hasil gambar untuk resistensi antibiotika adalah

Momentum Pekan Kesadaran Antibiotik Sedunia (World Antibiotic Awareness Week) ke-4 pada 12-18 November 2018 yang lalu, seharusnya memunculkan komitmen kolaborasi seluruh sektor, untuk menjaga kesehatan manusia, hewan dan lingkungan, dalam semangat ‘One Health’ (Sehat yang Satu).

Sudahkah Anda terlibat membantu?

Sekian
Yogyakarta, 13 November 2018 
*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

Categories
Istanbul

2018 Tarif Tunggal JKN

Hasil gambar untuk jkn

TARIF  TUNGGAL JKN

fx. wikan indrarto*)

Layanan pasien peserta JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) harus mengikuti regulasi yang ada. Salah satunya adalah rujukan berjenjang secara ‘on line’. Apa yang sebaiknya diperbaiki?

Hasil gambar untuk jkn

Tujuan kita adalah untuk menciptakan layanan kesehatan yang bermutu, terjangkau dan legal. Layanan kesehatan bermutu buruk, terbukti menghambat kemajuan dalam meningkatkan derajad kesehatan pada warga negara. Hal ini termuat pada laporan gabungan yang dikeluarkan pada Kamis, 5 Juli 2018 oleh Organisasi Kerjasama Ekonomi atau ‘The Organisation for Economic Co-operation and Development’ (OECD), Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Bank Dunia (World Bank). Laporan tersebut berjudul Layanan Kesehatan Global menuju Cakupan Kesehatan Semesta atau ‘Universal Health Coverage’ (UHC), yaitu sebuah kondisi di mana setiap orang dapat menerima layanan kesehatan yang mereka butuhkan, tanpa mengalami kesulitan dalam bidang keuangan.

Baca : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/07/09/2018-mutu-dan-biaya/

Hasil gambar untuk rujukan berjenjang bpjs 2018

Layanan pasien di Indonesia yang memerlukan rujukan oleh dokter di puskesmas atau Faskes Primer lainnya, saat ini dilakukan menggunakan aplikasi p-care. Layanan dokter spesialis di RS tipe D atau tipe terendah yang dituju, dilakukan sesuai data HFIS (Health Facilities Information System), termasuk jadwal praktek dokter spesialis dan kuota pasien yang akan dilayani. Kalau sudah hampir penuh atau 80% kuota terpenuhi, maka pasien akan dirujuk ke RS dengan tipe D yang sama, bahkan dapat juga diteruskan dengan naik tipe RS ke C, B dan A, bila tetap penuh.

Baca : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/10/01/2018-rujukan-jkn-on-line/

Hasil gambar untuk rujukan berjenjang bpjs 2018

Tujuan pengaturan rujukan ‘on line’ dan berjejang ini adalah agar pasien peserta JKN mendapatkan kepastian layanan, terjadi kendali mutu, dan juga kendali biaya layanan.  Hal ini disebabkan karena tarif INA CBGs di RS dengan tipe yang lebih rendah, memiliki nominal yang lebih sedikit. Dampak buruknya, pasien kadang harus pergi jauh ke RS tipe D yang lebih rendah, sementara RS dengan tipe C atau B yang lebih tinggi, ada di dekat rumahnya. Demikian juga, anggota TNI, Polri dan karyawan RS tipe tinggi, tidak dapat langsung dilayani di RSnya sendiri.

Hasil gambar untuk tarif jkn

Mungkin perlu dipertimbangkan untuk diberlakukan tarif INA CBGs yang sama (tunggal), untuk kode diagnosis dan atau prosedur medis  yang sama, di semua RS tanpa membedakan kelas RS, di regional yang sama, dengan menggunakan tarif RS tipe C. Besaran tarif mengacu pada PMK (Peraturan Menteri Kesehatan) nomor 6 tahun 2018 dan nomor 52 tahun 2016, Tentang Standar Tarif Pelayanan Kesehatan Dalam Penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan.

Hasil gambar untuk tarif jkn

Beberapa keuntungan yang dapat dicapai pada tarif tunggal ini adalah pertama, kendali biaya dan kendali mutu tetap dapat diterapan. Kedua, tidak memerlukan pengaturan baru kelas RS, dan mencegah terjadinya perpindahan banyak sekali dokter spesialis ke RS lain, sesuai rencana baru PMK tentang kelas RS (rancangan PMK no 45 tahun 2018 yang berdimensi layanan maksimal), sebagai pengganti PMK 56 Tahun 2014 tentang Klasifikasi Dan Perizinan Rumah Sakit (yang berdimensi layanan minimal). Ketiga, pasien dilibatkan dan diberikan hak, untuk ikut menentukan RS yang akan dituju dalam proses rujukan, atau hak otonomi pasien tetap dihargai, tidak sepenuhnya dikendalikan oleh aplikasi.

Hasil gambar untuk tarif jkn

Keempat, akan lebih mungkin terjadi persaingan yang sehat antar RS, untuk memberikan layanan pasien yang semakin lebih baik, meski dengan tarif yang sama dengan RS lain dan terhindar dari risiko perang tarif antar RS. Kelima, tidak terjadi pemusatan pasien di RS tipe D atau RS dengan tipe yang lebih rendah, dengan RS tipe yang lebih tinggi mengalami penurunan jumlah pasien secara hebat. Keenam, pasien yang merupakan anggota TNI, Polri dan karyawan RS dapat dilayani di RS-nya sendiri, sehingga dapat mengakomodasi surat protes Menhan Ryamizard Ryacudu nomor B/1341/M/IX/2018, tertanggal 17 September 2018. Ketujuh, data HFIS (Health Facilities Information System) dan p-care tetap digunakan, khususnya untuk melihat kuota layanan, agar antrian pasien yang panjang  di RS yang dikehendaki, dapat digunakan oleh pasien untuk menentukan pilihan rujukan. Kedelapan, rujukan berjenjang ‘on line’ tetap digunakan, tetapi hanya untuk melakukan rujukan antar RS, bukan rujukan dari FKTP ke RS.

Hasil gambar untuk tarif jkn

Memang ada risiko kerugian karena sumber daya untuk proses diagnostik dan tatalaksana pasien yang akan digunakan untuk suatu diagnosis mungkin saja sama di setiap kelas RS, tetapi tarif Hospital Based Rate (HBR) akan  berbeda. HBR RS tipe yang lebih besar akan lebih mahal dibandingkan dengan RS dengan tipe yang lebih kecil, misalnya jumlah pegawai RS lebih banyak,  gedung lebih luas, biaya pemeliharaaan lebih tinggi dan sebagainya. Namun demikian, risiko kerugian finansial ini tentu jauh lebih kecil, dibandingkan manfaat yang diperoleh atau kondisi tidak adanya pasien JKN yang dilayani, karena pasien sudah terseleksi di RS dengan tipe yang lebih rendah seperti sekarang ini. Selain itu, HBR antar RS yang berbeda, rasanya justru akan memicu hal positif berupa gerakan baru, misalnya efisiensi kreatif setiap RS.

Hasil gambar untuk tarif jkn

Sistem layanan pasien dalam era JKN, memerlukan partisipasi sebanyak mungkin pihak dalam perbaikan terus menerus, untuk mencapai UHC sebelum tahun 2019.

Apakah kita sudah terlibat membantu?

Jokowi Sekian

Yogyakarta, 12 November 2018

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

Categories
Istanbul

2018 Birokrasi Jogja Sehat

Hasil gambar untuk lambang yogyakarta

 

BIROKRASI  JOGJA  SEHAT

fx. wikan indrarto*)

Evaluasi birokrasi pelayanan publik kabupaten dan kota tahun 2017, menempatkan Kota Yogyakarta sebagai peringkat pertama di Indonesia, yang mendapat predikat sangat baik dengan nilai (A-). Penilaian dari Kementrian Pendayagunaan Aparatur Negara tersebut, belum ada satupun  kabupaten dan kota yang mendapat penilaian kategori pelayanan prima (A). Apa yang perlu disehatkan?

 

Hasil gambar untuk yogyakarta

 

Indeks Kemudahan Berusaha tahun 2019 oleh Bank Dunia, Indonesia menempati peringkat 73 dari 190 negara, yang berarti turun setingkat dari tahun 2018. Reformasi birokrasi pelayanan publik, terutama pengurusan izin konstruksi, izin memulai usaha, serta peralihan hak atas tanah dan bangunan, belum sesuai dengan harapan publik. Ketiga perizinan tersebut berada di bawah pemerintah daerah, termasuk untuk usaha di bidang layanan kesehatan, seperti klinik dan RS.

 

Hasil gambar untuk yogyakarta

 

Terdapat 11 Praktek Dokter Keluarga, 18 Puskesmas, dan 21 Klinik Pratama yang merupakan fasilitas kesehatan (faskes) primer di seluruh Kota Yogyakarta. Selain itu, juga terdapat 9 RS umum dan 8 RS Khusus yang merupakan faskes sekunder dan tersier. Berdasarkan data BPJS Kesehatan, jumlah peserta JKN-KIS (Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat) Kota Yogyakarta pada bulan Oktober 2017 yang lalu sebanyak 390.417 jiwa dari total jumlah penduduk 410.262 jiwa atau kepesertaan mencapai 95,16 persen. Dengan demikian di Kota Yogyakarta sudah tercapai cakupan jaminan kesehatan semesta (Universal Health Coverage) sejak tahun lalu. Selain itu, Pemkot Yogyakarta sebaiknya juga memberikan jaminan kesehatan finansial segenap faskes di seluruh Kota Yogyakarta, terkait berbagai regulasi JKN. Masalah utama adalah defisit anggaran JKN dan regulasi yang semakin tidak murah, di tingkat nasional yang berimbas ke daerah.

 

 

Hasil gambar untuk faskes 1

 

 

Klaim tunda sampai 3-4 bulan setelah layanan diberikan, menyebabkan banyak faskes mengalami gangguan arus kas (cash flow), baik faskes pemerintah maupun swasta. Pemerintah telah memutuskan anggaran DBH-CHT (Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau) sebesar Rp. 1,48 triliun untuk dana talangan BPJS Kesehatan. Dana itu melengkapi dana talangan BPJS Kesehatan yang berasal dari APBN Rp 4,9 triliun dan pajak rokok Rp. 1,1 triliun pada hari Senin, 24 September 2018. Meskipun dana talangan akhirnya turun juga, tetapi itu hanya sekitar 30% dari defisit secara nasional yang sudah terjadi.

 

Hasil gambar untuk faskes 1

 

Untuk itu, jaminan pencairan klaim untuk faskes di seluruh kota Yogyakarta masih belum dapat memadai secara tuntas. Meskipun Bank Mandiri dan Bank DKI telah menyiapkan dana talangan untuk membayar tagihan faskes, tetapi hanya untuk tagihan yang telah diakseptasi oleh BPJS Kesehatan. Tujuannya adalah bahwa dana talangan ini dapat membantu faskes dalam mengelola ‘cash flow’, sehingga pelayanan tetap terjaga. Usulan agar faskes meminjam dana di bank, dengan aturan bunga pinjaman perbankan 7,5% per tahun untuk menutup klaim tunda, sebenarnya adalah anjuran yang dilematis.

 

Hasil gambar untuk faskes 1

 

Sebaiknya Pemkot Yogyakarta menerapkan status bencana daerah, sehingga pendanaan untuk ‘cash flow’ faskes dapat dianggarkan. Sesuai UU Nomor 24 Tahun 2007 Tentang Penanggulangan Bencana, pada Pasal 1 menjelaskan bahwa bencana adalah peristiwa yang mengganggu penghidupan masyarakat, yang dapat disebabkan oleh faktor non alam, sehingga mengakibatkan timbulnya kerugian harta benda dan dampak psikologis. Pada Pasal 8 ditentukan bahwa tanggung jawab pemerintah daerah meliputi pengalokasian dana penanggulangan bencana dalam APBD yang memadai.

 

 

Hasil gambar untuk akreditasi faskes

 

 

Regulasi faskes, khususnya ketentuan tentang akreditasi faskes oleh tim dari pusat, adalah persyaratan yang sangat mahal dan perlu direformasi. Dengan biaya sekitar Rp. 50 juta, tentu tidak mudah ditanggung oleh faskes kecil dan sedang, apalagi faskes swasta. Ketentuan tersebut memang bagus secara legal formal, tetapi sulit dijangkau secara finansial. Sebaiknya Pemkot Yogyakarta menerapkan mekanisme daerah, sehingga bantuan tim surveyor dari daerah untuk proses akreditasi faskes dapat diatur secara daerah, tidak harus menggunakan surveyor nasional. Surveyor dari Yogyakarta dalam proses akreditasi faskes, tentu sangat memadai dalam hal jumlah SDM dan persebarannya, sehingga Pemkot dapat melakukan pengorganisasian proses akreditasi di seluruh kota Yogyakarta. Selain itu, bantuan pendanaandan pendampingan akreditasi untuk semua faskes kecil dan menengah, dapat diatur melalui mekanisme subsidi silang.

 

Hasil gambar untuk yogyakarta

 

Momentum Kota Yogyakarta sebagai peringkat pertama dalam evaluasi reformasi birokrasi layanan publik, termasuk perizinan layanan kesehatan,  seharusnya dapat menyehatkan dan menjadi inspirasi bagi kota lainnya di Indonesia. Tidak hanya segenap warga kota Yogyakarta yang akan terjamin biaya layanan kesehatannya, tetapi segenap faskes juga terjamin kesehatan finansialnya.

Apakah kita sudah terlibat membantu?

Jokowi Sekian

Yogyakarta, 9 November 2018

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?