Tulisan ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 13 Juli 2025, halaman 8, kolom HUSADA.
Pada Jumat, 27 Juni 2025 Scientific Advisory Group for the Origins of Novel Pathogens (SAGO) WHO yang terdiri dari 27 orang pakar multidisiplin internasional dan independen, menerbitkan laporannya tentang asal-usul SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan pandemi COVID-19. Apa yang menarik?
Pada bulan Juli 2021, WHO meluncurkan SAGO dengan dua mandat. Pertama, merancang kerangka kerja global untuk menyelidiki asal-usul patogen, dan kedua, menerapkan kerangka kerja tersebut untuk mengevaluasi bukti ilmiah guna menentukan asal-usul COVID-19. SAGO menerbitkan temuan dan rekomendasi awalnya dalam sebuah laporan pertama pada 9 Juni 2022. Laporan kedua ini memperbarui laporan sebelumnya berdasarkan makalah, tinjauan sejawat, informasi yang belum dipublikasikan, studi lapangan, wawancara, dan laporan lain termasuk temuan audit, laporan pemerintah, dan laporan intelijen. SAGO mengadakan pertemuan dalam berbagai format sebanyak 52 kali, melakukan diskusi berfokus dengan para peneliti, akademisi, jurnalis, dan profesi lain-lain terkait COVID-19.
COVID-19 adalah penyakit yang disebabkan oleh virus. Gejala yang paling umum adalah demam, menggigil, dan sakit tenggorokan, tetapi ada berbagai gejala lainnya. Kebanyakan orang yang terinfeksi akan pulih sepenuhnya tanpa memerlukan perawatan di rumah sakit. Sebaliknya, orang dengan gejala parah harus mencari perawatan medis sesegera mungkin.
Orang mungkin mengalami gejala yang berbeda akibat COVID-19. Gejala biasanya mulai 5–6 hari setelah terpapar dan berlangsung 1–14 hari. Gejala yang paling umum adalah demam, menggigil, sakit tenggorokan. Gejala yang kurang umum adalah nyeri otot dan lengan atau kaki terasa berat, kelelahan atau rasa lelah yang parah, hidung berair atau tersumbat, atau bersin, sakit kepala, mata sakit, pusing, batuk terus-menerus, dada sesak atau nyeri dada, suara serak, mati rasa atau kesemutan, kehilangan nafsu makan, mual, muntah, nyeri perut atau diare. Selain itu, juga kehilangan atau perubahan indera perasa atau penciuman dan kesulitan tidur.
Orang dengan gejala yang lebih berat berikut harus segera mencari bantuan medis, yaitu kesulitan bernapas, terutama saat istirahat, atau tidak dapat berbicara dalam kalimat dan kebingungan, mengantuk atau kehilangan kesadaran, dan nyeri atau tekanan terus-menerus di dada. Juga kulit menjadi dingin atau lembap, atau menjadi pucat atau berwarna kebiruan dan kehilangan kemampuan berbicara atau gerakan.
Orang dengan penyakit parah dan mereka yang membutuhkan perawatan di rumah sakit harus menerima perawatan sesegera mungkin. Konsekuensi dari COVID-19 yang parah meliputi kematian, gagal napas, sepsis, tromboemboli (bekuan darah), dan kegagalan multiorgan, termasuk cedera pada jantung, hati, atau ginjal. Dalam situasi yang jarang terjadi, khususnya anak dapat mengalami sindrom peradangan parah beberapa minggu setelah infeksi.
Kebanyakan orang akan pulih tanpa memerlukan perawatan di rumah sakit. Bagi mereka yang membutuhkannya, dokter akan menyarankan perawatan inap di RS untuk COVID-19 berdasarkan tingkat keparahan penyakit dan risiko memburuknya penyakit. Mereka akan mempertimbangkan usia orang tersebut dan apakah mereka memiliki masalah kesehatan lainnya.
Untuk tindakan pencegahan, orang harus divaksinasi segera. Mereka harus mengikuti panduan setempat tentang vaksinasi dan cara melindungi diri dari COVID-19. Vaksin COVID-19 memberikan perlindungan yang kuat terhadap penyakit serius, rawat inap, dan kematian. Lebih dari 760 juta kasus dan 6,9 juta kematian telah tercatat di seluruh dunia sejak Desember 2019, tetapi jumlah sebenarnya diperkirakan lebih tinggi. Selain itu, lebih dari 13 miliar dosis vaksin telah diberikan hingga Juni 2023. Vaksin COVID-19 memberikan perlindungan yang kuat terhadap penyakit parah dan kematian. WHO memperkirakan terjadi 14,9 juta kematian secara global akibat COVID-19 pada tahun 2020–21. Perkiraan global WHO lebih rendah daripada 18,2 juta kematian yang dilaporkan oleh Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) dan 17,7 juta kematian yang diperkirakan oleh The Economist untuk periode waktu yang sama.
SAGO telah menambah pemahaman kita tentang asal-usul COVID-19, namun seperti yang mereka laporkan, masih banyak informasi tambahan yang diperlukan untuk mengevaluasi semua hipotesis secara lengkap, tetapi sekarang belum tersedia. Sesuai dengan keadaan saat ini, semua hipotesis harus tetap ada, termasuk penularan zoonosis dan kebocoran laboratorium. SAGO menyimpulkan bahwa “bobot bukti yang tersedia menunjukkan adanya penularan zoonosis, baik secara langsung dari kelelawar atau melalui inang perantara.”
WHO meminta Tiongkok untuk membagikan ratusan sekuens genetik dari individu dengan COVID-19 di awal pandemi, informasi lebih rinci tentang hewan yang dijual di pasar di Wuhan, dan informasi tentang pekerjaan yang dilakukan dan kondisi biosafety di laboratorium di Wuhan. Hingga saat ini, Tiongkok belum membagikan informasi ini baik dengan SAGO maupun WHO.
“Seperti yang disebutkan dalam laporan, ini bukan hanya upaya ilmiah, ini adalah keharusan moral dan etika,” kata Dr. Marietjie Venter, Ketua kelompok, Guru Besar di Universitas Witwatersrand, Afrika Selatan dan Ketua Riset One Health dalam Vaksin dan Pengawasan untuk Ancaman Virus yang Muncul. Memahami asal-usul SARS-CoV-2 dan bagaimana hal itu memicu pandemi diperlukan untuk membantu mencegah pandemi di masa mendatang, menyelamatkan nyawa dan mata pencaharian, serta mengurangi penderitaan global. Program untuk memahami asal-usul SARS-CoV-2 masih belum selesai. WHO menyambut baik bukti lebih lanjut tentang asal-usul COVID-19, dan SAGO tetap berkomitmen untuk meninjau informasi baru apa pun jika tersedia.
Dengan mengetahui asal usul SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan pandemi COVID-19, tatalaksana paripurna dapat dilakukan.
Sekian
Yogyakarta, 30 Juni 2025
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161
Tulisan ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 13 April 2025, halaman 8, kolom HUSADA
Lima tahun lalu, tepatnya pada 31 Desember 2019, Kantor WHO di Tiongkok mengeluarkan pernyataan resmi tentang kasus ‘pneumonia virus’ di Wuhan, Tiongkok. Dalam beberapa minggu, bulan, dan tahun setelah itu, ‘pneumonia virus’ yang selanjutnya disebut COVID-19 mempengaruhi kehidupan kita dan dunia. Apa yang menarik?
WHO langsung mengaktifkan sistem darurat pada hari libur tahun baru, yaitu 1 Januari 2020. Seminggu kemudian, pada 10-12 Januari 2020 WHO menerbitkan paket dokumen panduan yang komprehensif untuk semua negara, yang mencakup beberapa topik terkait dengan manajemen wabah penyakit baru tersebut. Misalnya pencegahan dan pengendalian infeksi, pengujian laboratorium, perangkat tinjauan kapasitas sistem kesehatan nasional, dan pedoman komunikasi risiko dan keterlibatan masyarakat.
Tiga minggu kemudian, pada 20 Januari 2020 virus corona jenis baru mulai menjadi perhatian masyarakat dunia setelah otoritas kesehatan di Tiongkok, melaporkan adanya tiga orang tewas di Wuhan setelah menderita pneumonia yang disebabkan virus tersebut. Sebulan kemudian pada 29 Januari 2020 WHO menerbitkan saran tentang penggunaan masker wajah oleh masyarakat, selama perawatan di rumah dan di tempat perawatan kesehatan. Kemudian pada 30 Januari 2020 Direktur Jenderal WHO menyatakan wabah virus corona baru sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional atau ‘Public Health Emergency Of International Concern’ (PHEIC), tingkat kewaspadaan tertinggi WHO.
Pada saat itu, terdapat 98 kasus dan tidak ada kematian di 18 negara di luar Tiongkok. Empat negara di luar Tiongkok (Jerman, Jepang, Amerika Serikat, dan Vietnam) memiliki bukti (8 kasus) penularan antarmanusia. WHO kemudian merumuskan saran untuk Republik Rakyat Tiongkok, semua negara, dan komunitas global, sebagai Rekomendasi Sementara.
Selain itu, pada 11 Februari 2020 WHO mengumumkan bahwa penyakit yang disebabkan oleh virus corona baru tersebut diberi nama ‘Corona Virus Disease 2019’ atau COVID-19. Nama penyakit tersebut dipilih untuk menghindari ketidakakuratan dan stigma, sehingga tidak merujuk pada nama tempat, nama negara, lokasi geografis, nama hewan, nama individu atau sekelompok orang.
Sekitar 3 bulan kemudian, yaitu pada 11 Maret 2020 WHO menetapkan status COVID-19 sebagai pandemi. Faktor utama dalam penetapan status pandemi adalah wabah penyakit infeksi tersebut yang menular cepat dan meluas. Berbeda dengan pandemi, status epidemi menggambarkan bahwa suatu penyakit infeksi menyebar lebih banyak dari yang diperkirakan, tetapi terbatas terjadi pada suatu tempat tertentu saja. Memang istilah pandemi terkesan menakutkan, tetapi sebenarnya itu netral dan tidak ada kaitannya dengan keganasan penyakit, akan tetapi lebih pada penyebarannya yang meluas melampaui batas geografis.
Pada 31 Maret 2020 WHO mengeluarkan peringatan bagi masyarakat, dokter dan tenaga kesehatan, juga otoritas kesehatan terhadap semakin banyaknya informasi keliru yang berlebihan (infodemik) dan produk medis palsu yang mengklaim dapat mencegah, mendeteksi, mengobati, atau menyembuhkan COVID-19. Hampir 4 bulan kemudian pada 14 April 2020 WHO menerbitkan pembaharuan strategi COVID-19, karena menurunnya tingkat penularan. Panduan tersebut ditujukan bagi negara yang bersiap untuk transisi bertahap dari penularan yang meluas, ke keadaan stabil dengan tingkat penularan rendah atau tanpa penularan. Strategi ini bertujuan agar semua negara tetap mengendalikan pandemi, dengan mulai memobilisasi semua sektor dan masyarakat, untuk mencegah dan menekan penularan di masyarakat, mengurangi angka kematian, dan mengembangkan vaksin serta terapi yang aman dan efektif.
Setelah tingkat penularan semakin meningkat, pada 5 Juni 2020 WHO menerbitkan panduan terbaru tentang penggunaan masker untuk pengendalian COVID-19, dan memberikan saran terbaru tentang siapa yang harus mengenakan masker, kapan harus dikenakan, dan dari bahan apa masker harus dibuat. Diteruskan pada 24 Juli 2020 WHO menerbitkan panduan untuk mencegah dan mengurangi dampak COVID-19 jangka panjang, termasuk perawatan berbasis rumah dan komunitas. Pada 21 Agustus 2020 WHO bekerja sama dengan UNICEF, menerbitkan panduan tentang penggunaan masker untuk anak dalam aktivitas masyarakat untuk pengendalian COVID-19.
Dalam aspek terapi pada 2 September 2020 WHO menerbitkan panduan tentang peran kortikosteroid dalam mengobati COVID-19. Obat lama, murah, tersedia di banyak tempat secara global dan terbukti efektif dalam penanganan COVID-19. Sedangkan dalam aspek diagnostik, pada 22 September 2020 WHO menerbitkan Daftar Penggunaan Darurat pertama untuk alat uji diagnostik cepat berbasis antigen untuk mendeteksi virus SARS-CoV-2, yang menyebabkan COVID-19.
Dalam aspek pendidikan kedokteran berkelanjutan pada 18 November 2020 WHO Academy meluncurkan kursus online pertamanya untuk dokter dan tenaga kesehatan di seluruh dunia tentang penggunaan alat pelindung diri COVID-19 yang tepat. Juga pada 16 Desember 2020 WHO menerbitkan panduan tentang penerapan pendekatan berbasis risiko untuk perjalanan internasional dalam pengendalian COVID-19.
Hampir 2 tahun kemudian, yaitu pada 11 Januari 2022 sebuah tim WHO yang disebut Penasihat Teknis Komposisi Vaksin COVID-19 (TAG-CO-VAC) mengeluarkan pernyataan sementara tentang implikasi varian Omicron untuk vaksin COVID-19 dan rekomendasi tentang pilihan vaksin untuk masa mendatang. Selanjutya pada 11 Februari 2022 WHO melakukan prakualifikasi antibodi monoklonal pertamanya, yaitu tocilizumab untuk mengobati COVID-19.
Hingga 24 November 2021, total kasus konfirmasi COVID-19 di lebih dari 195 negara di dunia adalah 258.164.425 kasus dengan 5.166.192 kematian (CFR 2,0%). WHO memperkirakan terjadi 14,9 juta kematian secara global akibat COVID-19 pada tahun 2020–21. Perkiraan global WHO lebih rendah daripada 18,2 juta kematian yang dilaporkan oleh Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) dan 17,7 juta kematian yang diperkirakan oleh The Economist untuk periode waktu yang sama.
Setelah terjadi tingkat penularan yang landai, tiga setengah tahun kemudian pada 5 Mei 2023 WHO mencabut status darurat COVID-19 pada tingkat global. Selanjutnya pada 21 Juni 2023, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) secara resmi mengumumkan pencabutan status pandemi COVID-19 di Indonesia dan beralih menjadi endemi. Perbedaan antara pandemi dan endemi adalah dalam aspek prediktabilitas. Status pandemi lebih sering berada pada situasi ketidakpastian, sedangkan kondisi endemik merujuk pada sesuatu penyakit yang sering tetap terus ada, tetapi lebih mampu diatasi.
Begitu banyak pelajaran yang dapat kita ambil dalam perjalanan sejarah COVID-19, baik yang bersifat positif dan perlu diteruskan seperti respon sigap atas masalah kesehatan, kerjasama banyak pihak dalam mengatasi masalah diagnosis, terapi dan juga pencegahan penyakit baru. Namun demikian, juga aspek negatif dan perlu dihindari seperti infodemik COVID-19, hoaks dan promosi produk medis yang melenceng.
Sudahkah kita bertindak bijak dalam bersiaga menghadapi berbagai masalah kesehatan masyarakat paska pandemi COVID-19?
Sekian
Yogyakarta, 12 Maret 2025
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161
Tulisan ini dimuat di harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 19 Januari 2025, halaman 8 kolom HUSADA dengan judul : Tuberkulosis pembunuh utama penyakit menular 2023.
Tuberkulosis (TB) kembali menjadi penyakit menular sebagai pembunuh utama. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Rabu, 13 November 2024 menerbitkan laporan baru tentang TB yang mengungkap bahwa sekitar 8,2 juta orang didiagnosis menderita TB sebagai kasus baru pada tahun 2023, dan ini adalah jumlah tertinggi yang tercatat sejak WHO memulai pemantauan TB global pada tahun 1995. Dengan peningkatan yang signifikan dari 7,5 juta yang dilaporkan pada tahun 2022, menempatkan TB kembali sebagai pembunuh utama dari penyakit menular pada tahun 2023, melampaui COVID-19. Apa yang mencemaskan?
Laporan TB Global WHO 2024 menyoroti jumlah kematian terkait TB menurun dari 1,32 juta pada tahun 2022 menjadi 1,25 juta pada tahun 2023, jumlah total orang yang jatuh sakit karena TB meningkat sedikit menjadi sekitar 10,8 juta pada tahun 2023. Beban TB tertinggi berada di 30 negara dengan India (26%), Indonesia (10%), Tiongkok (6,8%), Filipina (6,8%) dan Pakistan (6,3%) bersama-sama menyumbang 56% dari beban TB global. Sekitar 55% orang TB adalah laki-laki dan 12% adalah anak dan remaja muda.
Pada tahun 2023, kesenjangan antara perkiraan jumlah kasus TB baru dan yang dilaporkan menyempit menjadi sekitar 2,7 juta, turun dari tingkat saat pandemi COVID-19 sekitar 4 juta pada tahun 2020 dan 2021. Hal ini disebabkan karena upaya global yang substansial, untuk segera pulih dari gangguan COVID-19 pada layanan TB. Cakupan terapi pencegahan TB telah dapat dipertahankan untuk sebagian besar orang yang hidup dengan HIV, dan terus dapat meningkat untuk sebagain besar kontak rumah tangga orang yang didiagnosis dengan TB.
Namun, TB yang resisten terhadap banyak obat tetap menjadi krisis kesehatan masyarakat. Tingkat keberhasilan pengobatan untuk TB yang resisten terhadap banyak obat atau resistan terhadap rifampisin (MDR/RR-TB) kini telah mencapai 68%. Dari 400.000 orang yang diperkirakan telah menjadi MDR/RR-TB, hanya 44% yang didiagnosis dan diobati pada tahun 2023.
Pendanaan global untuk pencegahan dan perawatan TB menurun lebih jauh pada tahun 2023 dan masih jauh di bawah target. Negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah yang menanggung 98% beban TB, menghadapi kekurangan pendanaan yang signifikan. Hanya US$ 5,7 miliar dari target pendanaan tahunan sebesar US$ 22 miliar yang tersedia pada tahun 2023, setara dengan hanya 26% dari target global. Jumlah total pendanaan donor internasional untuk semua negara tersebut tetap berada di sekitar US$ 1,2 miliar per tahun selama beberapa tahun. Pemerintah Amerika Serikat tetap menjadi donor bilateral terbesar untuk TB. Sementara Dana Global untuk Memerangi AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria (the Global Fund) merupakan pendana internasional teratas untuk mengetasi TB. Donasi tersebut penting, namun tetap tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan layanan TB yang utama, sehingga diperlukan investasi keuangan yang berkelanjutan untuk keberhasilan upaya pencegahan, diagnosis, dan pengobatan TB.
Persentase rumah tangga yang terdampak TB yang menghadapi biaya yang sangat besar (melebihi 20% dari pendapatan rumah tangga tahunan) untuk mengakses diagnosis dan pengobatan TB di semua negara berkembang. Hal ini menunjukkan bahwa setengah dari rumah tangga yang terdampak TB menghadapi biaya yang sangat besar tersebut. Sejumlah besar kasus TB baru didorong oleh 5 faktor risiko utama: kekurangan gizi, infeksi HIV, gangguan penggunaan alkohol, merokok (terutama di kalangan pria), dan diabetes. Menangani masalah ini, bersama dengan faktor penentu penting seperti kemiskinan dan PDB per kapita, memerlukan tindakan multisektoral yang terkoordinasi. Dunia dihadapkan dengan berbagai tantangan berat: kekurangan dana dan beban keuangan yang sangat besar bagi mereka yang terdampak TB, perubahan iklim, konflik bersenjata, migrasi dan pengungsian, pandemi, dan TB yang resistan terhadap obat, yang merupakan pendorong utama resistensi antimikroba.
Tonggak sejarah dan target global untuk mengurangi beban penyakit TB masih belum tercapai, dan kemajuan yang signifikan diperlukan untuk mencapai target lain yang ditetapkan untuk tahun 2027 menjelang Pertemuan Tingkat Tinggi PBB kedua. Semua pemerintah, mitra global, dan donor diharapkan segera menerjemahkan komitmen yang dibuat selama Pertemuan Tingkat Tinggi PBB tentang TB tahun 2023 menjadi tindakan nyata. Peningkatan pendanaan untuk penelitian, khususnya untuk vaksin TB baru, sangat penting untuk mempercepat kemajuan dan mencapai target global yang ditetapkan untuk tahun 2027. Secara global, penelitian TB masih sangat kekurangan dana dengan hanya seperlima dari target tahunan sebesar US$ 5 miliar yang tercapai pada tahun 2022. Hal ini menghambat pengembangan alat diagnostik, obat, dan vaksin TB yang baru.
Laporan TB Global WHO 2024 menggambaran bahaya yang masih mengancam dari TB, yaitu pendanaan global untuk pencegahan dan perawatan TB terus menurun dan masih jauh di bawah target. Layanan TB yang utama dan berkelanjutan meliputi upaya pencegahan, diagnosis, dan pengobatan TB menjadi terancam, tidak sesuai dengan target global.
Sudahkah kita menyadari bahaya TB?
Sekian
Yogyakarta, 6 Desember 2024
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161.
Sejak awal Januari 2025 sedang terjadi peningkatan kejadian ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), termasuk yang disebabkan oleh HMPV (Human Meta Pneumo Virus), dari Cina yang menyebar sampai ke Indonesia. Apa yang perlu diwaspadai?
Peningkatan ini biasanya disebabkan oleh epidemi musiman patogen pernapasan seperti influenza musiman, respiratory syncytial virus (RSV), dan virus pernapasan umum lainnya, termasuk HMPV serta mycoplasma pneumoniae. HMPV adalah virus pernapasan umum yang ditemukan beredar di banyak negara pada musim dingin hingga musim semi, meskipun tidak semua negara secara rutin menguji dan menerbitkan data tentang tren HMPV. Virus ini memiliki karakteristik mirip dengan flu biasa, dengan gejala seperti batuk kering atau berdahak, pilek atau hidung tersumbat, demam ringan hingga tinggi, sakit tenggorokan, sesak napas, mudah lelah, dan kehilangan nafsu makan.
Sebagian besar orang yang terinfeksi akan pulih dengan sendirinya tanpa memerlukan perawatan khusus. Hanya beberapa kasus memerlukan dirawat inap di rumah sakit karena bronkiolitis, bronkitis atau pneumonia, sedangkan kebanyakan orang yang terinfeksi HMPV akan pulih setelah beberapa hari. Penularan virus HMPV serupa dengan virus flu lainnya, yaitu melalui percikan air liur atau droplet dari individu yang terinfeksi. Meskipun umumnya tidak berbahaya, kelompok rentan seperti anak, orang lanjut usia, dan individu dengan kondisi kesehatan tertentu tetap perlu waspada.
Diagnosis ISPA HMPV dilakukan melalui pemeriksaan medis, terutama jika gejala parah atau tidak membaik setelah beberapa hari. Dokter dapat merekomendasikan 3 jenis pemeriksaan penunjang medis, bila diperlukan. Pertama adalah tes swab nasofaring (usap tenggorok) untuk mendeteksi RNA virus melalui teknik reverse-transcription polymerase chain reaction (RT-PCR). Kedua, pemeriksaan darah untuk mengukur kadar antibodi atau tanda infeksi lainnya. Dan ketiga, rontgen dada jika dicurigai pneumonia.
Berdasarkan data yang diterbitkan oleh Tiongkok, yang mencakup periode hingga 29 Desember 2024, ISPA telah meningkat selama beberapa minggu terakhir dengan kuman penyebab virus influenza musiman, rhinovirus, HMPV, dan mycoplasma pneumoniae khususnya di provinsi bagian utara Tiongkok. Sepertinya hanya Tiongkok yang telah memiliki sistem pengawasan sentinel yang mapan untuk ISPA, termasuk hMPV, dan melakukan pengawasan virologi rutin untuk patogen pernapasan umum dengan laporan terperinci yang diterbitkan setiap minggu di situs web Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok (CDC). Data pengawasan dan laboratorium untuk HMPV tidak tersedia secara rutin dari semua negara, termasuk di Indonesia.
Virus Influenza saat ini merupakan penyebab penyakit pernapasan yang paling banyak dilaporkan, dengan tingkat positif tertinggi di antara semua patogen yang dipantau untuk semua kelompok umur, kecuali anak berusia 5-14 tahun yang memiliki tingkat positif tertinggi untuk mycoplasma pneumoniae. Tingkat ISPA yang dilaporkan di Tiongkok, termasuk HMPV, berada dalam kisaran yang telah diprediksi untuk musim dingin, tanpa pola wabah yang tidak biasa yang dilaporkan. Pihak berwenang Tiongkok mengonfirmasi bahwa sistem perawatan kesehatan tidak kewalahan, pemanfaatan rumah sakit saat ini lebih rendah daripada waktu yang sama tahun lalu, dan tidak ada deklarasi darurat kesehatan. Berdasarkan penilaian risiko saat ini, WHO menyarankan agar semua negara tidak melakukan pembatasan perjalanan atau perdagangan apapun yang terkait dengan tren ISPA terkini.
Meskipun HMPV dilaporkan telah menyebar dan ditemukan di Indonesia pada Senin, 6 Januari 2025 dengan semua kasus adalah anak, tetapi masyarakat diharapkan untuk tidak panik. Virus HMPV berbeda dengan virus COVID-19 yang merupakan virus baru, karena HMPV adalah virus lama yang sifatnya mirip dengan flu, sudah ada dan telah beredar ke seluruh dunia sejak 2001. Sistem imunitas manusia sudah mengenal virus ini sejak lama dan mampu meresponsnya dengan baik, bahkan selama ini juga tidak terjadi hal buruk.
Hingga saat ini, belum tersedia dan juga berlum diperlukan obat antivirus atau vaksin spesifik untuk HMPV. Namun, gejala HMPV dapat dikelola dengan beberapa langkah berikut. Menggunakan pelembab udara (humidifier) untuk membantu kelegaan pernapasan, minum air putih atau teh hangat untuk mengurangi iritasi tenggorokan, istirahat yang cukup untuk memulihkan daya tahan tubuh. Juga minum obat pereda nyeri seperti acetaminophen atau ibuprofen untuk membantu meredakan demam dan nyeri, menggunakan pengobatan simptomatik untuk mengurangi keluhan yang dialami, seperti obat untuk meredakan hidung tersumbat atau batuk. Selanjutnya perlu memantau gejala yang dialami secara intensif dan segera berkonsultasi dengan dokter jika gejala memburuk.
Karena itu, sekali lagi masyarakat dihimbau untuk menjaga pola hidup sehat, seperti cukup istirahat, mencuci tangan secara rutin, memakai masker saat merasa tidak enak badan, dan segera berkonsultasi dengan dokter jika muncul gejala yang mencurigakan. Juga wajib bersikap tetap tenang dan waspada. Dengan mengikuti protokol kesehatan 3M, menjaga jarak, mencuci tangan dan memakai masker, sama seperti saat pandemi COVID-19, kita dapat mengatasi HMPV ini dengan baik.
Yogyakarta, 8 Januari 2025
*) dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161
Eyang Puteri Yustina Nanik Karsini (ibu saya dan selanjutnya disebut Yangti Nanik) sempat bertirahbaring di rumah mas Ig. Toto Ismintarto (kakak saya) di Villa Pamulang, Tangerang Selatan, Banten selama lebih dari 4 tahun, sejak sebelum pandemi COVID-19.
Perayaan Natal terakhir bersama dengan Yangti, yaitu Natal 2024
Yangti menderita penyakit Parkinson dan stroke ringan sejak awal Januari 2020 tepat sebelum pandemi COVID-19. Penyakit Parkinson yang dialami Yangti bertambah terus ‘stage Hoehn and Yahr’. Kita diingatkan bahwa Skala Hoehn dan Yahr yang diterbitkan pada tahun 1967 digunakan untuk membedakan lima tahap penyakit Parkinson, dari gangguan satu sisi tubuh atau unilateral (Tahap 1) hingga gangguan dua sisi tubuh atau bilateral, tanpa kesulitan kontrol postural (Tahap 2), ketidakstabilan berdiri atau postural (Tahap 3), hingga hilangnya kemandirian fisik (Tahap 4), dan akhirnya mencapai stadium akhir yang harus berbaring di tempat tidur (Tahap 5). Kondiasi ini menyebabkan Yangti harus terbaring di tempat tidur (bedridden), 2x masuk RSUP Fatmawati Jakarta, dan 3x mengalami luka tekan di bagian tubuh yang terkena kasur (decubitus). Bahkan luka dekubitus yang terakhir masih menganga lebar, 3x mendapat suntikan antibiotik di rumah, infus NaCl 3%, kadang ditambah terapi hirupan atau nebulizer, dan makan menu cair yang masuk lewat pipa lambung (NGT).
Berkat bantuan beberapa pihak yang baik hati, Yangti didampingi kakak berdua (mas Toto dan mbak Tari, seorang dokter spesialis saraf di RSUP Fatmawati Jakarta) dan pramurukti (mbak Amy Amanah), dihantar pulang ke rumah Kauman 348 Salaman, Magelang menggunakan Ambulance pada hari Minggu, 1 Desember 2024. Sejak itu, sangat banyak tetangga, kenalan, saudara dan murid Yangti yang datang berkunjung memberikan peneguhan. Bersyukur sekali Yangti seringkali merespon, baik dengan gerakan tangannya yang lemah, air mata yang menetes, buka mata yang sekejap atau engahan suara tanpa arti.
Yangti terbaring lemah di dalam ambulance transport yang dilengkapi peralatan medis, didampingi mas Toto dan mbak Tari, menuju rumah kebanggannya di Kauman, Salaman, Magelang, Jawa Tengah
Malam pertama Yangti berbaring di rumah Kauman, Salaman Magelang, Jawa Tengah sesuai permintaan yang di-‘ucapkannya’ pada hari Minggu, 1 Desember 2024, setelah lebih dari 4 tahun di rumah Mas Toto di Pamulang, Tangerang Selatan, Banten
Mbak Esthi (cucu Yangti) berpamitan kepada Yangti, karena liburan Natalnya sudah habis dan harus kembali bekerja di Bali
Tepat sebulan setelah Yangti berbaring di kamar yang dirancang Eyang Kakung Heribertus Sukiman Tondodarsono (selanjutnya disebut Yangkung yang telah meninggal pada tahun 2009), pada hari Rabu, 1 Januari 2025 siang yang merupakan hari libur, kami berdua melaju dari rumah Timoho Yogyakarta menuju Salaman, Magelang Jawa Tengah. Ini adalah sebuah kunjungan tidak terencana, karena biasanya kami sowan Yangti pada hari Minggu pagi. Oleh sebab itu, siang yang mendung kami membeli bunga tabur di dekat Tugu Yogyakarta dan meluncur melalui jalan alternatif menghindari keramaian lalu lintas. Kami menyusuri teritorial Kapanewon Mlati dan Sayegan di Kabupaten Sleman, menyeberang Sungai Progo di Jembatan Ancol untuk masuk ke Kapanewon Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo lanjut menyusuri Sungai Progo yang berarus deras untuk masuk ke Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Perjalanan kami melalui jalur alternatif sungguh menyingkat waktu, dibandingkan melalui jalan nasional melewati Muntilan, yang padat sangat merayap oleh kendaraan pelancong pada pergantian tahun. Bunga yang kami beli untuk ditaburkan di makam Yangkung di Mendut terpaksa kami tetap simpan di mobil, entah mengapa kami memutuskan untuk langsung ke rumah Salaman, tidak mampir makam terlebih dahulu seperti kebiasaan sebelumnya.
Keluarga Bulik Partinah datang dari Bekasi Jawa Barat dan Melbourne Australia mengunjungi Yangti
Sampai di rumah Salaman kami segera bergegas menurunkan beberapa barang yang kami beli di Yogyakarta untuk kebutuhan Yangti, dan segera menghampiri Yangti yang nampak semakin lemah, lunglai dan letih dengan napas yang berbunyi karena banyak dahak tertahan di jalan napasnya. Mama Sari segera mengajak mbak Amy keluar ke Pasar Salaman untuk membeli keperluan Yangti lainnya dan lanjut RM Sumber Rejeki di pinggir jalan besar menuju Magelang, untuk makan siang menu kegemaran mbak Amy menjelang sore.
Tidak lama kemudian kedua sahabat kami, yaitu mas Isdiyanto (dokter purna karya dari RSUD Sunan Kalijaga Demak, Jawa Tengah) dan mbak Titik Purwaningsih (dokter gigi kepala Puskesmas Gajah di Demak, Jawa Tengah) sampai di rumah Salaman, untuk mengunjungi Yangti. Setelah disuguhi minuman teh manis hangat oleh Bulik Sunariyah (82 tahun, adik bungsu Yangkung), kami bertiga langsung terlibat dalam cerita yang mengasyikkan, di kamar tamu yang berbatasan dengan sebuah tembok penuh ditempeli banyak foto kenangan dalam pigura, dengan kamar Yangti. Belum kelar kami berbagi cerita, tetiba ada seorang bapak memanggil mbak Amy di depan pintu samping barat rumah Yangti. Saya segera menemuinya dan menerima sebuah bungkusan plastik yang ternyata diminta membayar kiriman yang datang atau COD. Untuk menghindari penipuan saya menelphon mama Sari untuk menanyakan kepada mbak Amy, apakah benar memesan sebuah barang yang harus saya bayar secara COD. Saat itu juga Bulik Sunariyah datang menghampiri kami dan setelah mendapat konfirmasi dari mbak Amy, segera transaksi non tunai kami lakukan di depan pintu barat rumah Yangti.
Proses yang sedikit menelan waktu itu, diselengi suara Yangti yang terdengar akan mengeluarkan dahak lewat mulutnya dan membuat mbak Titik mendekat untuk membersihkan mulut Yangti. Segera saya taruh bingkisan COD pesanan mbak Amy di sebuah meja kecil, untuk bergegas menggantikan posisi mbak Titik di sebelah kanan badan Yangti yang tergolek miring ke kanan. Begitu banyak dahak yang telah keluar dari jalan napas dan tertahan di mulut Yangti. Segera saya kenakan sarung tangan dan membersihkannya dengan kertas tissue, karena tidak ada alat suction elektrik penyedot lendir di kamar besar itu. Sambil saya bersihkan lendir, dahak dan liur Yangti, saya saksikan wajah Yangti semakin pucat, bahkan napasnya semakin pelan, berat dan tersendat. Juga teraba kulit lehernya demam cukup tinggi.
Spontan saya teringat tarikan napas terakhir Yangkung di kamar sebelah di rumah yang sama, pada Jumat malam, 20 Februari 2009. Vibesnya serupa (vibes adalah kata gaul yang digunakan untuk menggambarkan suasana, perasaan, atau energi yang dirasakan dalam suatu momen. Kata ini berasal dari bahasa Inggris “vibe” yang artinya atmosfer). Saya ingat pasti dalam sekejap, yakin tanpa salah, ini sangat serupa dengan kondisi Yangkung sebelum meninggal.
Segera saya berpura menanyakan kepada Yangti apakah akan segera berpulang. Tanpa menunggu jawaban, saya segera menyampaikan bahwa kalau Yangti hendak segera berpulang, menghadap Tuhan Maha Besar dan menyatu dengan Yangkung, kami semua, yaitu anak, menantu, cucu dan cicit sudah iklas dan siap. Saya mohonkan Yangti berpulang dalam kondisi bersih, dengan saya terus mengeringkan lendir di mulutnya dengan kertas tissue berulang-ulang. Didampingi mbak Titik di sebelah kiri badan Yangti yang semakin pucat, saya terus mengulangi kata-kata peneguhan agar Yangti dapat lancar, mantab dan tanpa ragu menghadap Sang Perncipta. Bersyukurlah mas Isdiyanto dari kamar tamu segera bergabung dengan kami berdua, mendampingi napas terakhir Yangti yang dihembuskan dengan sangat pelan, tertahan dan berat. Setelah mulut Yangti bersih dan tidak ada lagi usaha napas yang muncul, saya segera memimpin doa spontan kepasarahan kepada Sang Khalik.
Sempat saya terhenti sangat terharu dan meneteskan air mata, sehingga alunan doa kepasarahan menjadi tersendat. Saat itu juga mama Sari dan mbak Amy pulang dari belanja dan ikut mendampingi Yangti berpulang dengan lengkingan haru, mengapa Yangti berangkat menghadap Tuhan dengan tidak berkenan menunggu sampai meraka pulang dan justru mencuri waktu (malah nglimpeke). Setelah selesai berdoa, saya lepas sarung tangan dan hendak mulai menyebarkan kabar Yangti berpulang dengan chat WA ke segala penjuru arah angin. Mas Isdiyanto dan mbak Titik melanjutnya tindakan merawat jasad Yangti yang masih hangat dengan melepas NGT, sebuah pipa plastik yang setia menghantarkan menu ke lambung Yangti, mengatupkan dagu, dan mengikatnya dengan verban agar mulut Yangti tidak lagi menganga.
Kami, mbak Anna, mas Gunawan dan Mas Isdiyanto (kemeja batik) berdoa bersama sesaat setelah Yangti berpulang
Kembali saya tatap, sangat dekat, dan lebih lekat lagi wajah Yangti yang sudah pucat, pasi, dan pasti tanpa nadi. Saya teteskan ulang air mata haru, baru dan sendu mengingat bimbingannya membesarkan saya, sampai saya mampu mewujudkan angan Yangti dan Yangkung, bahwa ‘kamulyaning anak, soko rekasaning wong tuwo, kamulyaning wong tuwo, soko nyawang anake’. Terima kasih atas semua yang Yangti telah lakukan bagi saya, dan mofon maaf atas semua kilaf, salah dan keliru yang saya telah perbuat. Yangti yang saya kagumi, selamat beristirahat dalam udara dingin menjelang sore, di rumahmu saat hujan tetiba lebat mengguyur bumi.
Para tetangga dekat sebagai pelayat awal, turut melihat jasad Yangti di dalam peti. Sangat meneguhkan hati.
Kiriman bunga papan ucapan dukacita atas meninggalnya Yangti yang pertama kali datang, dari Umat Lingungan FX2 Villa Pamulang, Paroki Santo Barnabas Pamulang, Keuskupan Agung Jakarta.
Pada Rabu hari pertama tahun 2025, kepulangan Yangti rasanya adalah kematian yang sungguh indah, membebaskan Yangti dari penderitaan, sungguh bagus dalam tahapan saat saya sudah berdiri di samping Yangti, sungguh tepat dalam waktu, dan sungguh mudah pada prosesnya. Yangti pamit dalam damai, seolah berucap ‘Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.’ (2 Timotius 4:7) Syukurlah keberangkatan itu saya tunggu, saksikan dan hantarkan langsung, bukan pada saat saya pergi, lengah atau terlelap. Kepergian itu telah memisahkan kami semua yang masih hidup dengan Yangti, dalam jarak yang abstrak, beda yang sumir, dan rentang yang absurd.
Sembahyangan sore setelah jasad Yangti berada dalam peti jenazah oleh beberapa umat Stasi Santo Paulus Salaman
Para tetangga segera datang mendampingi, menguatkan dan membantu kami merawat jasad Yangti yang sudah mulai dingin, mengecil, dan penuh luka dekubitus yang dalam. Proses memandikan jasad Yangti berjalan lancar berkat bantuan para ibu dari Gereja Kristen Jawa (GKJ) Salaman yang sigap, cekatan dan ramah. Berkat bantuan, kerja keras, dan koordinasi oleh dik Totok Wilarso, peti jenazah sudah segara siap di ruang tengah, sebelum adzan Mahrib berkumandang dari Masjid Besar Kauman Salaman di seberang rumah. Setelah cukup rapi, dengan hujan yang masih turun cukup deras malam itu kami segera mengadakan sembahyangan pertama, yang dipimpin oleh mbak Tuti (MGE Triyati Yuliastuti) sebagai prodiakon pengganti, bersama beberapa umat Stasi Santo Paulus, Paroki Santo Mikael Panca Arga Magelang.
Malam itu saya menemani jasad Yangti yang telah terbujur, dingin dan kaku, di dalam peti jenazah yang diletakkan di depan altar dalam ruang tengah rumah depan. Rumah peninggalan Yangkung ini memang telah digunakan sebagai kapel Stasi Santo Paulus, ruang doa, ruang pertemuan umat dan kegiatan kemasyarakatan lainnya. Saya terus mendaraskan doa untuk Yangti di samping kanan peti jenazah, ditemani para tetangga yang setia, semangat dan solider, duduk sambil ngobrol di bawah tratag yang masih basah di halaman samping rumah. Kantuk, lelah dan gundah yang telah menyatu, tetaplah tidak mampu mengusir saya dari kursi merah di samping peti mati Yangti. Saya tetap duduk, terjaga dan berdoa agar rangkaian kepulangan Yangti tidak ada yang terlupa.
Kamis, 2 Januari 2025 menjelang pk. 2 dini hari, keluarga Bulik Nana (Yosephine Wara Pradnastuti, adik bungsu saya) telah datang. Om Greg (suaminya), dik Kevin dan dik Niko (kedua anaknya) yang menyertai Bulik Nana, segera saya peluk dan syukuri atas kedatangannya. Meski baru sehari sampai di rumahnya di Cimahi Jawa Barat dari libur Natal di Salaman, langsung harus kembali ke Salaman lagi.
Rombongan berikutnya adalah kedatangan anak bungsu yang cantik (Larasati). Perjuangan pulang mengantar Yangti dimulai dengan langsung pamit kepada dokter perseptor karena sedang menjalani rotasi klinik (koass) bagian bedah di RS Emanuel Bandung, dengan diantar William (pacar Laras, yang sedang pada periode ritual apel) dari Bandung naik Travel CT Trans ke Semarang. Menjelang ganti hari Rabu ke Kamis mereka berdua bergabung dengan Bapak Mulyo dan Ibu Harlina (orangtua William) yang datang langsung dari Jepara, untuk lanjut ke Salaman Magelang. Setelah saya rangkul hangat, Laras lalu mengajak William dan orangtuanya berdoa di samping jasad Yangti, sebelum akhirnya mereka bertiga beristirahat di sebuah hotel di dekat Candi Borobudur. Laras lanjut saya dekap lama untuk menemani saya menjaga jasad Yangti yang telah terbaring di peti.
Selanjutnya hadir menyatu pada dini hari yang masih dingin, saat Pakde Totok (Ignasius Toto Ismintarto, kakak saya) dan budhe Tari (Hastari Soekardi, kakak ipar saya yang selama ini menangani penyakit Yangti dengan cermat) datang tidak lama kemudian, yang hanya sehari di rumahnya di Pamulang Tangerang Selatan, Banten. Keduanya jadi tidak begitu bugar, malah sedikit demam dan batuk karena kelelahan yang sangat. Apalagi ditambah kesedihan yang peling mendalam, karena pakde Totok sangat dekat, lekat dan terikat dengan Yangti yang sempat tinggal hampir 5 tahun berturut-turut di salah satu kamar depan di rumah Pamulang.
Matahari segera bersinar cerah di hari Kamis, 2 Januari 2025 saat cucu Yangti lainnya (mbak Esthi dan mas Danang dari Pamulang, mas Yudhi yang menggendong Joviel, 2 tahun, cicit Yangti, seorang anak yang menggemaskan dari Yogyakarta dan dik Bimo dari Jakarta) datang lengkap. Para tamu lain segera datang, susul menyusul, silih berganti dengan wajah bersahabat, ucapan turut berduka dan pelukan peneguhan. Mereka datang dari 8 penjuru angin, bergerak dari rumahnya yang dekat, kantornya yang menengah, ataupun tempatnya yang berjarak. Mereka layaknya aliran sungai Elo yang tidak pernah berhenti mengalir untuk bergabung dengan sungai Progo, sangat deras meski meliuk-liuk, sampai di dekat sebuah makam, di daratan yang diapit Candi Borobudur yang gagah dan Candi Mendut yang suci. Makam Krekoff Mendut namanya, makam yang telah dipilih oleh Yangkung, sebagai tempatnya bersebelahan dengan Yangti yang terakhir, terlama dan terindah dalam iringan debur suara arus air sungai, yang tidak akan pernah diam.
Mas Moko (Ketua RT, teman sekolah mas Totok saat SD) dan ibu yang sangat banyak membantu kami, saat melayat Yangti
Misa pemberkatan jenazah (requiem) hari Kamis, 2 Januari 2025 dipimpin langsung oleh Romo Petrus Sajiana, Pr (Pastor Kepala Parki Santo Mikael Panca Arga Magelang), dimulai pk. 9 pagi, dihadiri oleh umat stasi Salaman dan sanak saudara yang membuat persediaan tambahan kursi semakin terasa kurang. Dalam homilinya, Romo Saji menekankan nasehat Santo Paulus kepada Timotius, tentang kematian orang beriman. ‘Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.’ (2 Timotius 4:7). Menurut Romo Saji, Yangti telah mati dalam iman yang teguh, telah menyelesaikan tugas kemanusiaan dan telah mengakhiri pertandingan kehidupan. Tentulah Yangti juga telah terbebas dari semua penderitaan, terlepas dari segala kepedihan raga dan masuk dalam kesatuan dengan Allah Bapa.
Setelah selesai acara liturgi, para pelayat dipersilakan memberikan penghormatan terakhir bagi Yangti, sebelum peti jenazah ditutup dan disekrop. Dik Wowok, dik Totok, dik Nunung, dik Jati, Yudhi dan William ikut menyekrop, meski dengan obeng yang harus bergantian. Jenazah Yangti dilepas pergi menjelang pk. 11 setelah Bapak Antok, Kepala Dusun Kauman, menyampaikan pidato pelepasan di tengah-tengah banyak para pelayat yang terpaksa harus berdiri, karena tidak kebagian kursi. Setelah acara ‘tlusupan’ (berjalan berurutan di bawah peti jenazah yang diangkat 8 orang petugas dari Yayasan Dharma Magelang, memutarinya sebanyak 3 kali), peti jenazah Yangti dimasukkan ke dalam mobil jenazah. Ada 2 mobil jenazah dan 7 mobil lain dalam iring-iringan menuju makam Mendut, berjalan perlahan dalam cuaca agak mendung sepanjang jalan, sejauh sekitar 9 km.
Ibadat pemakaman Yangti pada tengah siang yang agak terik itu dipimpin oleh mbak Tuti prodiakon
Makam Yangti sudah disiapkan sejak pagi itu oleh petugas makam Krekoff Mendut. Makam yang sepi itu telah diramakain oleh banyak handai taulan yang melayat tidak ke rumah duka Salaman, tetapi langsung menunggu di makam tersebut. Setelah acara pemberkatan liang kubur oleh mbak Tuti (MGE Triyati Yuliastuti) sebagai prodiakon pengganti, bersama beberapa umat Stasi Santo Paulus, Paroki Santo Mikael Panca Arga Magelang, secara perlahan peti jenazah yang mendekap jasad Yangti yang telah kaku dan beku, diturunkan ke pangkuan ibu pertiwi. Penutupan ‘gladak’ beton, tanah yang basah, bunga tabur yang wangi semerbak, dan salib penanda makam Yangti, dilakukan dalam cuaca yang cukup terik dengan angin sepoi yang kadang datang. Bahkan Joviel (cucu pertama saya berusia 2 tahun) dalam gendongan saya sampai kehausan dan berteriak meminta minum. Setelah lobang kubur tertutup oleh tanah dengan rapi, kami segera mengadakan tabur bunga dengan segenap pelayat yang hadir, termasuk Joviel yang penuh semangat.
Peti jenazah Yangti siap dimasukkan ke liang lahat, persis di samping nisan makam Yangkung
Turut serta memasukkan tanah ke liang lahat Yangti
Setelah selesai semua rangkaian acara, para pengantar jenazah bergegas berlalu, suara tapak alas kakinya perlahan menjauh, dan deru mobil-mobilnya beringsut kabur, tinggallah kami sekeluarga dicekam sunyi, terpaku ragu dan kehabisan air mata. Segeralah kami berjajar bersujud berdoa, menunjukkan kepasrahan yang dalam dan kegembiraan iman yang berpadu satu saat melepas Yangti menghadap Sang Pencipta, ‘Selamat Jalan Yangti Yustina Nanik Karsini, berpulanglah dengan damai dan berbahagialah di rumah Tuhan. ‘Berbahagialah orang-orang mati, yang mati dalam Tuhan’ (Wahyu 14,13).
Terimakasih dan Berkah Dalem
sekian
*) anak Yangti yang tengah
disusun dalam penat, lelah dan sunyi di hari pertama masuk kerja
Penggunaan antibiotik terdata berlebihan pada pasien yang dirawatinap di rumah sakit karena COVID-19. Pada 26 April 2024 terdapat bukti lengkap dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menunjukkan penggunaan antibiotik yang berlebihan selama pandemi COVID-19 di seluruh dunia, yang mungkin telah memperburuk penyebaran resistensi antimikroba (AMR) secara diam-diam. Apa yang mencemaskan?
Meskipun hanya 8% pasien COVID-19 yang dirawatinap di rumah sakit memiliki koinfeksi bakteri dan sebenarnya memerlukan antibiotik, ternyata tiga dari empat atau sekitar 75% pasien telah diobati dengan antibiotik, dengan pertimbangan ‘untuk berjaga-jaga’ karena antibiotik tersebut mungkin membantu (just in case they help). Penggunaan antibiotik berkisar dari 33% untuk pasien di Wilayah Pasifik Barat, hingga 83% di Wilayah Mediterania Timur dan Afrika. Antara tahun 2020 dan 2022, jumlah resep antibiotik menurun seiring waktu di Eropa dan Amerika, sementara jumlah resep obat serupa masih meningkat di Afrika.
Tingkat penggunaan antibiotik tertinggi terjadi pada pasien COVID-19 yang parah atau kritis, dengan rata-rata global sebesar 81%. Dalam kasus ringan atau sedang, terdapat variasi yang cukup besar antar wilayah, dengan penggunaan tertinggi di Wilayah Afrika (79%).
WHO mengklasifikasikan antibiotik berdasarkan klasifikasi AWaRe (Access, Watch, Reserve), berdasarkan risiko AMR. Yang mengkhawatirkan, laporan tersebut menemukan bahwa antibiotik ‘Watch’ dengan potensi resistensi lebih tinggi, justru telah paling sering diresepkan secara global, dibandingkan antibiotika ‘Access’ yang sebenarnya lebih aman.
Ketika seorang pasien membutuhkan antibiotik, manfaatnya sering kali lebih besar daripada risiko yang terkait dengan efek samping atau resistensi antibiotik. Namun, jika tidak diperlukan, obat tersebut tidak memberikan manfaat, tetapi justru menimbulkan risiko, dan penggunaannya berkontribusi terhadap muncul dan penyebaran resistensi antimikroba. Meskipun demikian, data pada laporan tersebut memerlukan perbaikan dalam penggunaan antibiotik yang rasional, untuk meminimalkan konsekuensi negatif yang tidak perlu bagi pasien dan masyarakat.
Secara keseluruhan sebenarnya penggunaan obat antibiotik terbukti tidak memperbaiki hasil klinis pasien COVID-19. Namun, penggunaan antibiotik ini justru dapat membahayakan orang yang tidak mengalami infeksi bakteri, dibandingkan dengan mereka yang tidak menerima antibiotik. Laporan ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk meningkatkan penggunaan antibiotik secara rasional, guna meminimalkan konsekuensi negatif yang tidak perlu bagi pasien dan masyarakat.
Telah diterbitkan rekomendasi WHO mengenai penggunaan antibiotik pada pasien dengan COVID-19, sebagai bagian dari pedoman pengelolaan klinis COVID-19. Pedoman ini didasarkan pada data dari Platform Klinis Global WHO untuk COVID-19, yang merupakan kumpulan data klinis anonim dan terstandarisasi pada tingkat individu, dari pasien yang dirawat di rumah sakit karena COVID-19. Data dikumpulkan dari sekitar 450.000 pasien yang dirawat di rumah sakit karena COVID-19, di 65 negara selama periode 3 tahun antara Januari 2020 hingga Maret 2023.
Temuan ini menggarisbawahi risiko meningkatkan peresepan antibiotik secara global, dan sangat serius dibahas pada Pertemuan Tingkat Tinggi Majelis Umum PBB mengenai AMR yang diadakan pada bulan September 2024. Pertemuan Tingkat Tinggi PBB mengenai AMR telah mempertemukan para pemimpin global untuk berkomitmen melakukan mitigasi AMR di bidang kesehatan manusia, kesehatan hewan, sektor pertanian pangan dan lingkungan hidup, serta untuk mendorong kepemimpinan politik, pendanaan dan tindakan untuk memperlambat kemunculan dan penyebaran AMR.
Penggunaan antimikroba yang bertanggung jawab dan bijaksana perlu ditingkatkan di semua sektor baik pada manusia, hewan, tanaman, dan lingkungan hidup, untuk menjaga manfaat antibiotika bagi kesehatan masyarakat. Secara khusus, antimikroba yang secara medis penting bagi pengobatan manusia perlu dilestarikan dengan mengurangi penggunaannya di sektor non-manusia. Daftar MIA WHO (Medically Important Antimicrobials) tentang antimikroba yang penting secara medis untuk pengobatan manusia merupakan alat manajemen risiko yang dapat digunakan dalam mendukung pengambilan keputusan, guna meminimalkan dampak penggunaan antimikroba di sektor non-manusia, terhadap resistensi antimikroba (AMR) pada manusia. Daftar MIA WHO dibuat untuk memandu upaya pengelolaan antimikroba internasional, nasional, dan subnasional (lokal, negara bagian, provinsi). Panduan ini melengkapi kerangka kerja WHO AWaRe (Access, Watch, Reserve) yang telah diterbitkan sebelumnya dan panduan penggunaan antibiotik esensial yang tepat, dalam sektor kesehatan manusia.
Daftar MIA WHO tersebut mengkategorikan kelas antimikroba berdasarkan pentingnya bagi pengobatan manusia dan menurut risiko AMR, serta potensi implikasi kesehatan manusia dari penggunaannya di sektor non-manusia. Daftar MIA WHO dikembangkan melalui kerja sama erat dengan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) dan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH) sebagai upaya bersama untuk menyelaraskan pedoman dan daftar terkait yang dikembangkan oleh keempat organisasi tersebut.
Pasien memiliki hak untuk mengingatkan para dokter, tentang perlu tidaknya peresepan obat antibiotika saat periksa. Sudahkah kita bertindak bijak dalam penggunaan obat antibiotika paska pandemi COVID-19?
Sekian
Yogyakarta, 30 November 2024
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161
Kementerian Kesehatan RI mencatat pada 1 Maret 2024 terdapat hampir 16.000 kasus Demam Berdarah Dengue (DBD atau dengue) di 213 Kabupaten/Kota di Indonesia dengan 124 kematian. Kasus DBD terbanyak tercatat terjadi di Tangerang, Bandung Barat, Kota Kendari, Subang, dan Lebak. Keadaan ini diperkirakan terus berlanjut sampai bulan Mei seiring dengan musim hujan setelah El nino. Meskipun DBD dapat disembuhkan, namun kita perlu waspada kemungkinan komplikasi terjadinya Dengue Shock Syndrome (DSS) yang bisa berujung kematian. Bagaimana layanan pasien dengue dalam era digital ini?
Tulisan ini telah dimuat di Harian Nasional Media Indonesia pada Senin, 6 Mei 2024
Perangkat digital seharusnya dapat digunakan oleh para dokter dalam menuntaskan dengue di faskes primer (FKTP) dan memprediksi kegawatan, agar kasus DSS tidak terlambat untuk dirujuk ke RS (FKTL). Namun demikian, perangkat digital untuk dengue, saat ini baru dimanfaatkan dalam aktivitas non klinik, yaitu dalam aspek administrasi dan kebijakan. Misalnya ‘Dengue Track, digital disease surveillance and eHealth’, buatan Harvard Medical School and Boston Children’s Hospital USA tahun 2014. Juga ‘Digital Disease Detection’, sebuah program survelance digital di Filipina, Pakistan, Sri Lanka dan Puerto Rico sejak tahun 2014, dalam pengawasan, pencegahan dan pengendalian dengue, untuk melakukan intervensi dan membatasi dampak wabah penyakit dengue. Selain itu, ada ‘Dengue Cover+’, sebuah program digital untuk asuransi jiwa yang diluncurkan oleh Digi Telecommunications Sdn Bhd (Digi), Kuala Lumpur, Malaysia tahun 2014 dan ‘new digital map on dengue outbreaks’, yang dibuat di Taiwan tahun 2015. Semua program digital untuk dengue non klinik tersebut belum dapat diaplikasikan di Indonesia.
Selain tanda bahaya dengue, faktor prediktor dengue dapat digunakan untuk menduga risiko perburukan gejala klinis dengue pada hari kritis, yaitu hari ke 4 dan 5 demam. Beberapa tanda klinis sederhana yang dapat digunakan sebagai faktor prediktor DSS adalah muntah, demam tinggi, nyeri perut hebat, gemuk dan riwayat kontak dengan penderita dengue berat. Aplikasi digital seharusnya mampu membantu dokter dalam kedua hal tersebut, yaitu pemantauan klinik secara rawat jalan dan pengenalan faktor prediktor untuk rujukan ke RS tanpa terlambat.
.
Salah satu dari lima jenis teknologi kesehatan digital pada majalah bergengsi Forbes 4 Februari 2019, sangat mungkin akan dapat digunakan oleh dokter di Indonesia, dalam tatalaksana dengue. Kelima jenis teknologi tersebut meliputi pertama, kecerdasan buatan dalam pemeriksaan pencitraan radiologi. Kedua, bedah robotik, ketiga data tunggal untuk penjaminan asuransi kesehatan, keempat penyatuan data pasien dari berbagai rekam medik, dan kelima adalah uji klinis virtual. Kecerdasan buatan radiologi dan bedah robotik, sangat mungkin tidak berperan dalam tatalaksana digital dengue. Penjaminan asuransi kesehatan, penyatuan data rekam medik dan uji klinis virtual, tentu akan dapat bermanfaat dalam tatalaksana digital dengue.
Penjaminan asuransi kesehatan digital sebagaimana ‘Dengue Cover+’ buatan Digi Telecommunications Sdn Bhd (Digi), Kuala Lumpur, Malaysia, tentu perlu integrasi program dengan Sistem Informasi Manajemen (SIM) di semua RS dan BPJS Kesehatan. Untuk penyatuan data rekam medik, InterSystems, sebuah vendor sistem informasi RS yang telah mampu mengintegrasikan data pasien dari 23 RS, 655 klinik, dan 18.500 dokter praktek mandiri di AS, tentu sistem serupa dapat digunakan di Indonesia. InterSystems telah mampu membuat registrasi pasien secara terpadu, memiliki satu miliar poin data, berupa penilaian faktor risiko penyakit, keterlibatan pasien, dan pemantauan pasien secara jarak jauh. Program serupa tentu dapat diatur sebagai alat pemantau dengue secara digital setelah pasien dilakukan pemeriksaan jasmani, oleh dokter untuk masing-masing pasien, sesuai hari demam. Uji klinis jarak jauh yang terintegrasi tentang dengue, dapat meniru uji klinis diabetes VERKKO fase IV dengan mengukur kadar glukosa darah nirkabel berkemampuan 3G, yang menghabiskan waktu 66% lebih sedikit dalam kegiatan koordinasi penelitian dan mencapai tingkat kepatuhan 18% lebih tinggi, dengan potensi untuk menghemat biaya hingga $ 10 juta setiap uji klinik.
.
Layanan dokter pada era digital lainnya adalah penggunaan teknologi ‘Human–Machine Interface’, misalnya menggunakan ResearchKit®, sebuah menu terbuka (open-source platform) produksi Apple, yang memungkinkan para dokter mengambil data pasien melalui HP (mobile apps). Saat ini ResearchKit® baru mampu mendeteksi gangguan emosi, mendiagnosis autisme, asma, memprediksi serangan epilepsi, dan memetakan pertumbuhan sel ganas mole untuk kanker kulit melanoma, yang memudahkan dokter saat memberikan layanan. Untuk pasien dengue, alat ini perlu modifikasi sedikit agar memiliki kemampuan mengenali faktor prediktor buruk dengue, sehingga dapat memilah pasien dengue yang memerlukan pemantauan ketat dan yang tidak. Alat ini akan mampu melakukan kalkulasi faktor muntah, demam tinggi, nyeri perut hebat, gemuk dan riwayat kontak dengan penderita dengue berat, pada hari awal demam.
.
Selain itu, ResearchKit® ini juga akan mampu mengenali tanda bahaya dengue pada setiap satuan waktu misalnya setiap 12 jam, pada hari kritis, yaitu hari ke 4 dan 5 demam. Data tanda bahaya dengue yang dikombinasikan dengan data tanda vital pasien, akan membantu dokter untuk segera melakukan pemeriksaan fisik atas kecurigaan DSS dan melakukan rujukan ke RS secara tidak terlambat. Data tanda bahaya dengue (WHO, 2009) adalah nyeri perut, muntah berkepanjangan, akumulasi cairan tubuh karena kebocoran plasma, perdarahan mukosa, letargi atau kelemahan umum, pembesaran hati atau hepatomegali > 2 cm, dan kenaikan nilai hematokrit seiring dengan penurunan jumlah trombosit yang cepat.
.
Teknologi digital lainnya adalah “tricorder medis”, yang bahkan hampir setiap orang memiliki teknologi ini dalam genggaman. Hanya dengan menempelkannya pada dahi, pasien dapat mengukur suhu, detak jantung, saturasi oksigen, kekentalan darah atau hemokonsentrasi, tekanan nadi, dan tekanan darah dengan alat tersebut. Setelah diperiksa jasmani oleh dokter, pasein di rumah akan mampu memberikan data dengan meng-upload melalui HP kepada dokter. Untuk pasien dengan penyakit jantung atau mengalami risiko kardiomiopati dengue, juga telah tersedia perangkat pintar Band-Aids®, yang akan mengirimkan informasi ‘real-time’ data EKG, suhu, denyut jantung, tingkat stres, atau kalori yang terbakar melalui web atau sambungan internet kepada dokter yang merawatnya.
.
Oleh sebab itu, pada era digital ini definisi konsultasi dokter, kunjungan medis atau visite dokter perlu juga dirumuskan ulang, karena berbeda dengan layanan dokter secara konvensional. Meskipun masih banyak dokter yang enggan (reluctant) untuk melakukan kunjungan medis virtual, tetapi sebuah perusahaan asuransi kesehatan yang besar di USA, telah berani menjamin pembiayaan untuk maksimal 20 juta kunjungan medis virtual menggunakan video, untuk semua nasabahnya sepanjang tahun 2016 lalu. Keengganan dokter sering terjadi karena terkait kesulitan dalam proses tagihan finansial. Sebagai pasien, kunjungan virtual tentu lebih mudah, tetapi cukup banyak yang kawatir tentang rahasia kedokteran dan privasi sesuai standar HIPAA (Health Insurance Portability and Accountability Act). Kemajuan teknologi digital jauh lebih cepat daripada aspek hukum, pengaturan, atau pembayaran.
.
Teknologi kedokteran digital telah tersedia, sehingga sekarang diperlukan definisi ulang (reshape) hubungan dokter dengan pasien dengue secara digital. Oleh sebab itu, sebaiknya para dokter melatih diri agar profesional secara digital, juga mengadvokasi IDI sebagai organisasi profesi dokter, pemerintah, penjamin biaya pasien seperti BPJS Kesehatan, dan kelompok lain, untuk memulai penggunaan teknologi digital ini di seluruh Indonesia.
.
Sudahkah kita siap pada periode epidemi dengue tahun 2024 ini, untuk pengelolaan dengue secara digital, pengenalan DSS dengan cepat dan pencegahan kasus kematian dengue?
Pekan Imunisasi Dunia (World Immunization Week) diselenggarakan setiap minggu terakhir bulan April. Tahun ini dirayakan pada Rabu, 24 hingga Selasa, 30 April 2024. Apa yang menarik?
.
Dimulai pada tahun 1974, Program Perluasan Imunisasi (PPI) berfokus pada perlindungan semua anak di seluruh dunia terhadap 6 penyakit infeksi. Namun demikian, saat ini jumlah tersebut telah berkembang menjadi 13 vaksin yang direkomendasikan secara universal sepanjang masa hidup manusia, dan 17 vaksin tambahan dengan rekomendasi yang bergantung pada situasi. Dengan meluasnya program imunisasi sepanjang masa hidup, kita sekarang menyebutnya Program Esensial Imunisasi.
.
Tahun 2024 ini Pekan Imunisasi Dunia akan merayakan 50 tahun dimulainya PPI dengan menyadarkan tentang upaya bersama untuk menyelamatkan banyak nyawa anak dari ancaman penyakit infeksi yang dapat dicegah dengan vaksin. Selain itu, juga menyerukan kepada semua negara untuk meningkatkan investasi dalam program imunisasi dalam melindungi generasi berikutnya.
.
Dalam beberapa tahun terakhir selama pandemi COVID-19, kemajuan cakupan imunisasi rutin menurun. Meskipun terdapat lebih dari 4 juta anak yang menerima imunisasi secara global pada tahun 2022 dibandingkan tahun 2021, masih ada 20 juta anak yang melewatkan satu atau lebih imunisasi dasar mereka. Meningkatnya konflik, kemerosotan ekonomi, dan meningkatnya keraguan terhadap vaksin merupakan beberapa ancaman terhadap upaya untuk menjangkau anak-anak ini. Akibatnya, di banyak tempat di dunia tiba-tiba mengalami wabah difteri dan campak, penyakit yang sampai saat ini hampir dapat kita tangani. Meskipun cakupan imunisasi global cukup baik, yaitu 4 dari 5 anak telah diimunisasi dasar, tetapi tetap saja masih banyak yang harus kita lakukan.
.
Sejak dahulu manusia telah mencari cara untuk melindungi diri dari penyakit infeksi yang mematikan. Catatan pertama adalah abad ke-15 untuk penyakit cacar, dikenal sebuah praktik yang disebut sebagai variolasi (dari nama cacar, ‘la variole’). Pada tahun 1721, Lady Mary Wortley Montagu membawa inokulasi cacar ke Eropa, dengan meminta agar kedua putrinya diinokulasi untuk melawan cacar seperti yang dia lihat di praktiknya di Turki. Selanjutnya pada tahun 1774, Benjamin Jesty membuat terobosan untuk menguji hipotesisnya bahwa infeksi cacar sapi dapat melindungi seseorang dari penyakit cacar.
Selanjutnya pada Mei 1796, seorang dokter Inggris Edward Jenner menyuntik James Phipps (8 tahun) dengan bahan yang dikumpulkan dari luka cacar sapi di tangan seorang pemerah susu. Meskipun menderita reaksi lokal dan merasa tidak enak badan selama beberapa hari, Phipps pulih sepenuhnya. Dua bulan kemudian, pada bulan Juli 1796, Jenner menginokulasi Phipps dengan bahan dari penyakit cacar pada manusia untuk menguji ketahanan Phipps. Phipps tetap dalam kondisi kesehatan yang sempurna, dan menjadi manusia pertama yang menerima vaksinasi cacar. Istilah ‘vaksin’ kemudian diciptakan, diambil dari kata Latin untuk sapi, vacca.
.
Pada tahun 1872, meskipun menderita stroke dan kematian 2 putrinya karena tipus, Louis Pasteur menciptakan vaksin pertama yang diproduksi di laboratorium, yaitu vaksin kolera unggas pada ayam. Berikutnya pada tahun 1885, Louis Pasteur berhasil mencegah rabies melalui vaksinasi pasca pajanan. Sebenarnya Pasteur bukanlah seorang dokter, tetapi ia berani memulai 13 suntikan pada Joseph Meister, masing-masing mengandung virus rabies dalam dosis yang lebih kuat. Meister bertahan dan kemudian menjadi penjaga makam Pasteur di Paris.
.
Pada tahun 1894, Dr Anna Wessels Williams mengisolasi strain bakteri difteri yang penting dalam pengembangan antitoksin untuk penyakit ini. Dari tahun 1918 hingga 1919, pandemi Flu Spanyol membunuh sekitar 20–50 juta orang di seluruh dunia, termasuk 1 dari 67 tentara Amerika Serikat, sehingga vaksin influenza menjadi prioritas militer AS. Eksperimen awal dengan vaksin influenza telah dilakukan di Sekolah Kedokteran Angkatan Darat AS dengan menguji 2 juta dosis pada tahun 1918, namun hasilnya tidak meyakinkan. Pada tahun 1937 Max Theiler, Hugh Smith dan Eugen Haagen mengembangkan vaksin 17D untuk melawan demam kuning. Vaksin ini disetujui pada tahun 1938 dan lebih dari satu juta orang telah menerimanya pada tahun tersebut. Theiler kemudian dianugerahi Hadiah Nobel.
.
Dari tahun 1952–1955, vaksin polio pertama yang efektif dikembangkan oleh Jonas Salk dan uji coba dimulai. Salk menguji vaksin tersebut pada dirinya dan keluarganya pada tahun berikutnya, dan uji coba massal yang melibatkan lebih dari 1,3 juta anak dilakukan pada tahun 1954. Pada tahun 1960, vaksin polio jenis kedua, yang dikembangkan oleh Albert Sabin, disetujui untuk digunakan. Vaksin Sabin dilemahkan secara hidup (menggunakan virus dalam bentuk yang dilemahkan) dan dapat diberikan secara oral, dalam bentuk tetes atau dalam bentuk gula batu. Vaksin polio oral (OPV) pertama kali diuji dan diproduksi di Uni Soviet dan Eropa Timur. Cekoslowakia menjadi negara pertama di dunia yang berhasil memberantas polio.
.
Pada tanggal 30 Januari 2020 Direktur Jenderal WHO menyatakan wabah virus corona baru 2019 (SARS-CoV-2) sebagai Darurat Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional dan pada 11 Maret 2020, WHO mengonfirmasi bahwa COVID-19 adalah pandemi. Vaksin COVID-19 yang efektif segera dikembangkan, diproduksi, dan didistribusikan dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya, beberapa di antaranya menggunakan teknologi mRNA baru. Pada bulan Desember 2020, hanya 1 tahun setelah kasus pertama COVID-19 terdeteksi, dosis vaksin COVID-19 pertama diberikan.
Di banyak belahan dunia, 1 dari 5 anak masih belum mendapatkan imunisasi dasar. Salah satu penyebabnya adalah pemahaman orangtua yang belum baik, bahwa imunisasi akan mampu mengurangi risiko buruk penyakit infeksi, karena pertahanan alami tubuh anak dalam membentuk imunitas atau perlindungan. Saat anak diimunisasi, sistem kekebalan anak akan merespons bertahap. Pertama, mengenali kuman yang menyerang, seperti virus atau bakteri. Kedua, menghasilkan antibodi. Antibodi adalah protein yang diproduksi secara alami oleh sistem kekebalan tubuh untuk melawan penyakit. Ketiga, mengingat penyakit dan cara melawannya. Jika anak kemudian terpapar kuman yang sama tersebut di kemudian hari, sistem kekebalan anak dapat dengan cepat menghancurkannya, sehingga anak menjadi tidak sakit atau sakit derajat ringan. Oleh karena itu, imunisasi merupakan cara yang aman dan cerdas untuk menghasilkan respons imun dalam tubuh, tanpa menyebabkan penyakit.
.
Imunisasi aman dan efek samping biasanya ringan dan bersifat sementara, seperti nyeri lengan atau demam ringan. Efek samping yang lebih serius mungkin saja terjadi, tetapi sangat jarang. Setiap vaksin yang berlisensi telah diuji secara ketat melalui berbagai fase uji coba sebelum disetujui untuk digunakan, dan secara rutin dinilai ulang setelah dipasarkan. Para ilmuwan juga terus memantau informasi dari beberapa sumber untuk mencari tanda awal bahwa suatu vaksin dapat menimbulkan risiko kesehatan yang buruk.
.
Anak jauh lebih mungkin terkena dampak serius akibat penyakit infeksi yang dapat dicegah dengan imunisasi, dibandingkan dampak buruk karena vaksin. Misalnya tetanus yang dapat menyebabkan kematian cepat, nyeri hebat, kejang otot (lockjaw) dan penggumpalan darah, juga campak dapat menyebabkan kematian anak, ensefalitis (infeksi otak) dan kebutaan. Banyak penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin bahkan dapat menyebabkan kematian. Manfaat vaksinasi jauh lebih besar dibandingkan risikonya, dan akan lebih banyak penyakit dan kematian yang terjadi tanpa vaksin.
.
Layanan imunisasi global pada paruh kedua abad ke-20 adalah salah satu pencapaian terbesar umat manusia dalam bidang kesehatan. Kampanye imunisasi telah memungkinkan kita memberantas penyakit cacar, hampir mengalahkan polio, dan memastikan lebih banyak anak yang bertahan hidup dan berkembang dibandingkan sebelumnya. Hanya dalam 5 dekade, kita telah beralih dari dunia dimana kematian anak merupakan sesuatu yang ditakuti oleh banyak orang tua, menjadi dunia dimana setiap anak, jika diimunisasi, memiliki peluang untuk bertahan hidup dan berkembang. Hal ini sesuai dengan tema Pekan Imunisasi Dunia (World Immunization Week) Humanly Possible: Saving lives through immunization atau menyelamatkan nyawa melalui imunisasi.
Apakah kita sudah bertindak bijak dengan melengkapi status imunisasi semua anak di sekitar kita?
Sekian
Yogyakarta, 30 April 2024
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161
Tema Hari Tuberkulosis (TBC atau TB) Sedunia 2024 : ‘Yes! Kita bisa mengakhiri TBC!’. Kampanye ini menyampaikan harapan agar kita kembali ke jalur yang benar untuk membalikkan keadaan terpuruk, dalam melawan epidemi TB. Diperlukan 3 hal pokok, yaitu kepemimpinan dengan komitmen tinggi, peningkatan investasi, dan penerapan rekomendasi WHO yang baru dengan lebih cepat. Bagaimana melakukannya?
.
Hari TB Dunia diadakan setiap tanggal 24 Maret untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang dampak buruk TB dalam bidang kesehatan, sosial dan ekonomi, juga untuk meningkatkan upaya mengakhiri epidemi TB global. Pada 24 Maret 1882 Dr. Robert Koch menemukan penyebab penyakit TB, yaitu bakteri Mycobacterium tuberculosis. Pada saat Dr. Koch mengumumkan penemuannya di Berlin, waktu itu TB mewabah di seluruh Eropa dan Amerika, bahkan menyebabkan kematian 1 dari setiap 7 orang penderitanya. Kemajuan yang telah kita dapatkan, 75 juta nyawa telah terselamatkan sejak tahun 2000 melalui upaya global untuk mengakhiri TB. Namun demikian, masih ada 10,6 juta orang terserang TB dan 1,3 juta orang meninggal karena TB pada tahun 2022 yang lalu.
.
Menyusul komitmen yang dibuat oleh para Kepala Negara pada pertemuan Tingkat Tinggi PBB pada tahun 2023 untuk mempercepat kemajuan dalam mengakhiri TB, fokus tahun 2024 ini beralih untuk mewujudkan komitmen tersebut menjadi tindakan nyata. Juga untuk membantu banyak negara dalam meningkatkan akses terhadap pengobatan pencegahan TB, WHO merekomendasikan untuk meningkatkan penerapan pengobatan pencegahan TB secepatnya. Selain itu, investasi sumber daya, dukungan, perawatan dan informasi yang berkelanjutan sangat penting untuk memastikan akses universal terhadap perawatan TB dan penelitian medis untuk mencapai Cakupan Kesehatan Semesta atau Universal Health Coverage (UHC).
.
Penerapan rekomendasi WHO yang baru dengan lebih cepat seharusnya dilakukan. Target jangak pendek rekomendasi tersebut adalah tersedianya lebih banyak investasi untuk pengobatan pencegahan TB, pemberian rejimen pengobatan TB yang lebih pendek, tes molekuler cepat untuk diagnostik infeksi TBC, dan inovasi alat medis digital.
.
Pemberian Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) bertujuan untuk mencegah terjadinya infeksi TB pada individu yang terpapar dan untuk menghentikan perkembangan dari infeksi TB ke arah TB aktif (sakit TB). Sasaran prioritas pemberian TPT sesuai rekomendasi WHO adalah populasi anak dan remaja yang berisiko tinggi menderita TB, yaitu anak dan remaja dengan HIV/AIDS, kontak serumah dengan pasien TB paru yang terkonfirmasi bakteriologis, pasien imunokompromais selain HIV (misalnya kanker, dialisis, mendapat kortikosteroid jangka panjang, persiapan transplantasi organ) dan bersekolah atau tinggal di asrama, di lapas dan rumah singgah, tempat penitipan anak (daycare), pengguna narkoba, dll.
Syarat pemberian TPT TB adalah tidak sakit TB, tidak ada kontraindikasi TPT, misalnya hepatitis akut atau kronis, neuropati perifer (jika menggunakan isoniazid), konsumsi alkohol biasa atau berat, dan terdapat bukti infeksi TB baik secara in vivo (uji kulit tuberkulin) ataupun in vitro (Interferon Gama Release Essay = IGRA). Rejimen obat untuk TPT TB tersedia lebih banyak pilihan, misalnya 6H (Isoniazid selama 6 bulan), 3RH (Rifampisin & Isoniazid selama 3 bulan), 3HP (Rifapentin & Isoniazid selama 3 bulan untuk usia >2 tahun), 4R (Rifampisin selama 4 bulan), dan 1HP (Isoniazid & Rifapentin selama 1 bulan untuk usia >2 tahun).
.
Untuk menegakkan diagosis TB, sebelum ini dilakukan dengan pemeriksaan bakteriologis dari spesimen dahak pasien. Belajar dari PCR COVID-19 saat pandemi, sekarang pemeriksaan tes cepat molekuler (TCM) justru diprioritaskan, antara lain pemeriksaan Nucleic Acid Amplification Test/NAAT (misalnya Xpert MTB/RIF) dan Line Probe Assay/LPA (misalnya Hain GenoType). Pemeriksaan TCM mempunyai nilai diagnostik yang lebih baik daripada pemeriksaan mikroskopis dahak, tetapi masih di bawah uji biakan. Saat ini TCM direkomendasikan sebagai alat diagnosis utama untuk penegakan diagnosis TB (terkonfirmasi bakteriologis). Namun demikian, hasil negatif TCM tidak menyingkirkan diagnosis TB pada anak dan remaja.
.
Pemberian rejimen pengobatan TB sesuai rekomendasi WHO harus semakin digencarkan. Paduan pemberian Obat Anti TB (OAT) pada anak dan remaja jenis rejimen pertama adalah 2RHZ 4RH (2 bulan Rifampisin, Isoniazid dan pirazinamid dilanjutkan 4 bulan Rifampisin dan Isoniazid) untuk TB paru tidak terkonfirmasi bakteriologis, TB kelenjar intratoraks tanpa obstruksi saluran respiratori dan TB kelenjar. Rejimen kedua adalah 2RHZE 4RH (2 bulan Rifampisin, Isoniazid, Pirazinamid dan Ethambutol dilanjutkan 4 bulan Rifampisin dan Isoniazid) untuk kasus TB paru pada remaja usia ≥15 tahun tanpa memandang klasifikasi dan tingkat keparahan. Dalam hal ini untuk kasus TB paru terkonfirmasi bakteriologis, TB paru kerusakan luas, TB paru dengan HIV, TB ekstra paru, kecuali TB milier, meningitis TB, dan TB tulang. Rejimen ketiga adalah 2RHZE 10 RH (2 bulan Rifampisin, Isoniazid, Pirazinamid dan Ethambutol dilanjutkan 10 bulan Rifampisin dan Isoniazid) untuk kasus TB paling berat, yaitu meningitis TB, TB tulang, dan TB paru milier.
.
Momentum Hari Tuberkulosis (TB) Dunia Minggu, 24 Maret 2024 mengingatkan kita semua agar berinvestasi untuk mengakhiri TB dan menyelamatkan lebih banyak pasien. Selain itu, kita semua wajib menerapkan rekomendasi WHO yang baru dengan lebih cepat, baik dalam aspek diagnosis dengan TCM, terapi pencegahan (TPT) TB laten dan pengobatan TB sampai tuntas, untuk mengakhiri epidemi TB global.
Sudahkah kita bijak?
Sekian
Yogyakarta, 23 Maret 2024
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM.
Kejadian Demam Berdarah Dengue (Dengue atau DBD) secara global telah meningkat tajam selama dua dekade terakhir, sehingga menimbulkan tantangan kesehatan masyarakat yang besar. Apa yang mencemaskan?
Dari tahun 2000 hingga 2019, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mendokumentasikan peningkatan sepuluh kali lipat kasus yang dilaporkan di seluruh dunia, meningkat dari 500.000 menjadi 5,2 juta. Tahun 2019 menandai puncak yang belum pernah terjadi sebelumnya, dengan kasus-kasus yang dilaporkan menyebar di 129 negara. Setelah terjadi sedikit penurunan kasus antara tahun 2020-2022 akibat pandemi COVID-19 dan tingkat pelaporan yang lebih rendah, pada tahun 2023, terjadi peningkatan kasus dengue secara global, yang ditandai dengan peningkatan signifikan dalam jumlah, skala, dan peningkatan kasus secara simultan, juga terjadinya beberapa wabah, menyebar ke wilayah yang sebelumnya tidak terkena dengue.
Afrika merupakan salah satu dari empat wilayah teratas yang paling terkena dampak dengue. Wabah telah dilaporkan di 15 dari 47 negara termasuk Benin, Burkina Faso, Cape Verde, Chad, Pantai Gading, Ethiopia, Ghana, Guinea, Mali, Mauritius, Niger, Nigeria, São Tomé dan Principe, Senegal dan Togo. Beban penyakit dengue di Afrika belum dipahami dengan baik karena 3 hal. Pertama, kemiripan gejala klinis dengue yang umum dan tidak spesifik, dengan malaria dan penyakit demam tropis lainnya. Kedua, terbatasnya kapasitas laboratorium untuk melakukan deteksi dan konfirmasi dengue secara tepat waktu, yang sangat penting untuk mendeteksi dan melaporkan kasus serta mencegah penyebarannya. Dan ketiga, pengawasan yang tidak memadai dan pelaporan kasus yang terbatas, terutama untuk dengue ringan.
Dengue di Amerika pada 1 Januari 2023 sampai 11 Desember 2023, total 4,1 juta kasus dugaan dengue, termasuk 6.710 kasus parah, dan 2.049 kematian (CFR 0,05%) dilaporkan terjadi di 42 negara di Amerika. Brasil telah melaporkan jumlah kasus suspek tertinggi per 100.000 penduduk di kawasan ini (1.359 kasus), diikuti oleh Peru (813 kasus), dan Meksiko (179 kasus). Dalam hal dengue berat, Kolombia melaporkan kasus terbanyak (1504), diikuti oleh Brasil (1474), Meksiko (1272), Peru (1065), dan Bolivia (640).
Dengue di Timur Tengah menyebabkan epidemi dengue pertama kali dilaporkan pada tahun 1998, dan sejak itu, frekuensi dan penyebaran geografisnya meningkat, dengan wabah terjadi di sembilan negara endemik. Di antaranya adalah negara yang rapuh terkena dampak konflik seperti Afghanistan, Pakistan, Sudan, Somalia, dan Yaman. Wabah ini diperburuk karena gangguan layanan kesehatan (Sudan), sistem kesehatan yang rapuh (Afghanistan, Somalia, Sudan, Pakistan dan Yaman), perpindahan penduduk secara massal, infrastruktur air dan sanitasi yang buruk, dan bencana alam yang berulang seperti banjir yang melanda Somalia, Sudan, Pakistan, dan Yaman, serta gempa bumi di Afghanistan.
.
Dengue bukan endemik di Eropa dan sebagian besar kasus terkait dengan perjalanan ke daerah lain. Namun demikian, sejak tahun 2010 terdapat laporan mengenai kasus asli di sejumlah negara Eropa, termasuk Kroasia, Perancis, Israel, Italia, Portugal dan Spanyol. Pada tahun 2018, tahun dengan data terlengkap yang tersedia, total 2.500 kasus dengue dilaporkan melalui mekanisme pengumpulan data pengawasan tahunan regional dengan Jerman, Perancis, dan Inggris menyumbang sebagian besar kasus dan ini merupakan kasus impor. Namun, perlu dicatat bahwa kelengkapan data masih menjadi tantangan.
.
Di kawasan Asia Tenggara, 10 dari 11 Negara Anggota merupakan endemis virus dengue. Pada tahun 2023, beberapa negara, termasuk Bangladesh dan Thailand, telah melaporkan lonjakan kasus dengue. Secara khusus, India, Myanmar, Sri Lanka dan Thailand termasuk dalam 30 negara dengan tingkat endemis tertinggi di dunia. Thailand mengalami peningkatan kasus dengue lebih dari 300% pada tahun 2023. Angka kematian (CFR) di Bangladesh meningkat dari 0,45% menjadi 0,52%, sedangkan di Thailand meningkat menjadi 0,11%, 0,04% di Nepal hingga tertinggi 0,72% di Indonesia. Penting untuk menafsirkan nilai-nilai ini dengan hati-hati karena adanya variasi dalam definisi kasus yang digunakan di berbagai negara.
.
Wilayah Pasifik Barat terus menghadapi tingginya dengue, dengan lebih dari 500.000 kasus dengue dan 750 kematian di Australia, Kamboja, Tiongkok, Laos, Malaysia, Filipina, Singapura, dan Vietnam. Negara yang paling terkena dampaknya adalah Filipina (CFR 0.34%) dan Vietnam (CFR: 0.02%). Di Fiji ada 11.522 kasus pada tahun 2023, mencerminkan peningkatan sebesar 37%.
Virus dengue (DENV) memiliki empat serotipe (DENV-1, DENV-2, DENV-3, DENV-4). Infeksi oleh satu serotipe memberikan kekebalan jangka panjang terhadap serotipe yang sama, dan hanya kekebalan sementara terhadap serotipe lainnya, tetapi infeksi sekunder dengan serotipe berbeda, justru akan meningkatkan risiko dengue menjadi berat. Infeksi dengue paling sering tidak menunjukkan gejala atau hanya menyebabkan penyakit demam ringan. Namun, beberapa kasus akan berkembang menjadi demam berdarah dengue berat, terjadi syok, pendarahan hebat, atau kerusakan organ parah, dan bahkan kematian pasien. Tahap ini sering dimulai setelah demam hilang dan didahului dengan tanda bahaya sebagai peringatan dini, seperti sakit perut yang hebat, muntah terus-menerus, gusi berdarah, penumpukan cairan, lesu atau gelisah, dan pembesaran hati.
.
Tidak ada pengobatan khusus untuk infeksi dengue. Namun, deteksi dini dan akses terhadap layanan kesehatan yang tepat, untuk manajemen kasus dapat mengurangi angka kematian, begitu juga dengan deteksi cepat kasus dengue berat dan rujukan tepat waktu ke fasilitas kesehatan tersier. Kebanyakan penderita dengue memiliki gejala ringan atau tanpa gejala dan akan membaik dalam 1-2 minggu. Anak yang terinfeksi dengue untuk kedua kalinya mempunyai risiko lebih besar mengalami dengue berat. Gejala dengue berat seringkali muncul setelah demamnya hilang seperti sakit perut yang hebat, muntah berulang, napas cepat, gusi atau hidung berdarah, kelelahan umum, gelisah, darah dalam muntahan atau tinja, mengeluh sangat haus, kulit pucat dan dingin. Kasus dengue dengan gejala parah ini harus segera mendapatkan perawatan atau rujukan yang sesuai.
.
Inisiatif Arbovirus Global adalah rencana strategis terpadu untuk mengatasi dengue dan penyakit arbovirus yang ditularkan melalui nyamuk, dengan potensi epidemi dan pandemi, yang fokus pada pemantauan risiko, pencegahan pandemi, kesiapsiagaan, deteksi dan respons, serta membangun koalisi mitra. Selain itu, juga mendukung semua negara anggota melalui penguatan pengawasan epidemiologi dan entomologi, diagnosis laboratorium dan pengawasan genom, manajemen klinis, komunikasi risiko dan keterlibatan komunitas, pengawasan dan pengendalian vektor, juga re-organisasi pelayanan kesehatan.
.
Yang tidak kalah penting adalah berbagi pedoman manajemen kasus dan pelatihan klinis, untuk dokter dan petugas kesehatan melalui webinar. Pengembangan pedoman WHO untuk manajemen klinis dan diagnosis dengue, chikungunya, Zika, dan demam kuning yang terus berlangsung, yang periode pertama akan selesai pada pertengahan tahun 2024. WHO telah menyelenggarakan kursus virtual pembelajaran mandiri selama 20 jam, mengenai manajemen klinis dengue dalam bahasa Spanyol dan Inggris, yang berfokus pada identifikasi prediktor awal terjadinya penyakit parah (tanda bahaya dengue) dan mencegah perkembangan kasus dengue menjadi beat dan bahkan kematian pasien. Kursus ini telah melatih lebih dari 312.000 dokter, termasuk para dokter Indonesia, sejak diluncurkan pada bulan September 2020.
.
Kemunculan dengue dan penyebarannya yang belum pernah terjadi sebelumnya di seluruh dunia, terkait dengan berbagai faktor penting. Yaitu faktot lingkungan meliputi perubahan distribusi dan adaptasi vektor nyamuk Aedes aegypti, meningkatnya urbanisasi yang tidak terencana, perubahan iklim, dan ko-sirkulasi beberapa serotipe virus. Faktor sistem layanan kesehatan meliputi kerapuhan di tengah ketidakstabilan politik dan keuangan, tantangan dokter dalam diagnosis klinis karena gejala yang tidak spesifik, kapasitas laboratorium yang tidak memadai, terjadi secara bersamaan dengan COVID-19, dan tidak adanya obat khusus. Faktor masyarakat meliputi perilaku dan persepsi risiko belum baik, kesadaran dan perilaku mencari layanan kesehatan masih rendah, kurangnya pendekatan yang berpusat pada masyarakat, keterlibatan dan mobilisasi masyarakat dalam kegiatan pengendalian vektor masih rendah, kurangnya kapasitas pengawasan dan pengendalian vektor, kurangnya koordinasi antar pemangku kepentingan, kekurangan dana, rendahnya minat pendonor sukarela, dan pergerakan manusia dalam skala besar.
Tantangan ini diperparah dengan terbatasnya persediaan penting untuk program pencegahan dan pengendalian, reagen di laboratorium untuk tes diagnostik, dan perlunya pelatihan berkelanjutan bagi dokter dan petugas kesehatan lainnya. Untuk mengatasi tantangan ini memerlukan pendekatan terpadu multidisiplin dan multisektoral, terutama di tingkat nasional untuk mencapai tujuannya dalam mengurangi dampak terhadap kesehatan masyarakat. Pengendalian vektor yang efektif adalah kunci pencegahan dan pengendalian dengue dengan 3M, harus mencakup Menutup bak air, Menguras air KM dan Menimbun benda berpotensi menampung air. Juga ditambah pemberian larvasida dalam air yang tidak diminum dengan dosis yang tepat, penggunaan kelambu berinsektisida, dan kadang penyemprotan insektisida.
Penyebaran nyamuk yang mengandung bakteri Wolbachia mampu menurunkan kasus dengue sebesar 77,1 persen. Selain itu, jumlah perawatan di rumah sakit akibat dengue juga mengalami penurunan sebanyak 86 persen. Nyamuk Wolbachia tidak mengurangi populasi nyamuk Aedes aegypti, tetapi dengan adanya nyamuk ini, akan menekan penyebaran virus dengue yang terbawa oleh nyamuk Aedes aegypti, sehingga metode penyebaran nyamuk ini menjadi pelengkap dari program 3M.
Sudahkah kita siap melawan Dengue?
Sekian
Yogyakarta, 15 Januari 2024
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161.