Categories
anak COVID-19 dokter Healthy Life sekolah vaksinasi

2021 COVID-19 di Sekolah

Sekolah Diminta Bentuk Satgas Covid-19 Awasi Prokes Saat Pembelajaran Tatap  Muka : Okezone Nasional

COVID-19  DI  SEKOLAH

fx. wikan indrarto*)

Setelah laju penularan COVID-19 melandai dan Pembelajaran Tatap Muka (PTM) terbatas di sekolah telah diselenggarakan, masih juga ada kekawatiran terjadinya klaster sekolah yang menakutkan, bagi sebagian orangtua. Apa yang sebaiknya dicermati?

.

Ringkasan tulisan ini telah dimuat di media online.

https://news.detik.com/kolom/d-5791356/tak-perlu-cemas-kluster-covid-di-sekolah

Gejala klinis COVID-19 pada anak yang perlu diwaspadai oleh orangtua sebenarnya cukup khas. Misalnya demam atau meriang, batuk, hidung tersumbat atau pilek, dan kehilangan indra penciuman. Juga sakit tenggorokan, sesak atau kesulitan bernapas, sakit perut hingga diare, ada juga mual dan muntah. Selain itu, kelelahan, sakit kepala, nyeri otot atau tubuh dan kehilangan selera makan. Jika muncul keluhan tersebut, sebaiknya anak tidak diijinkan mengikuti PTM terlebih dahulu.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2021/02/06/2021-covid-19-pada-anak/

.

Jika anak pada akhirnya terkonfirmasi positif COVID-19, orangtua wajib memberikan pengobatan atau perawatan yang tepat. Orang tua atau pengasuh harus mendampingi anak selama proses penyembuhan. Yang utama adalah anak menjalani isolasi mandiri di rumah, bukan dirawat inap di RS. Selain itu, orang tua harus ikut menamani anak selama isolasi, tidak meninggalkan anak sendirian di rumah, dan memastikan anak merasa aman dan nyaman. Juga jaminan pemberian nutrisi yang cukup selama perawatan, termasuk ASI sesuai usia anak, karena anak sedang dalam proses pertumbuhan dan perkembangan. Orangtua juga wajib tetap memberikan stimulasi pada anak dengan berbagai kegiatan dan permainan yang menyenangkan, memicu aktivitasi otak, dan tumbuh kembang anak. Yang terakhir adalah pengobatan dan pemberian vitamin sesuai derajad klinis penyakit, oleh dokter yang menangani. Setelah dokter menyatakan anak telah pulih, anak dapat segera diantar untuk mengikuti PTM di sekolah kembali.

.

Anak yang dirawat oleh dokter yang tergabung dalam Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) periode Maret-Desember 2020, terdapat 37.707 anak terinfeksi COVID-19 dan 522 kematian. Data yang diterbitkan dalam jurnal ‘Frontiers in Pediatrics’ pada 23 September 2021 lalu ini juga menyajikan komorbid dan gagal napas sebagai penyebab utama  (54,5%) kematian anak akibat COVID-19, diikuti dengan sepsis atau syok septik (23,7%). Sebagian besar anak yang meninggal dengan COVID-19 memiliki komorbid gizi buruk (18,0%), diikuti oleh penyakit kanker (17,3%) dan penyakit jantung bawaan (9,0%). Ada 62 (11,8%) anak terkonfirmasi COVID-19 yang meninggal tanpa komorbid atau penyakit penyerta.

.

Muncul Kasus Covid-19 di Sekolah, Bamsoet Minta Evaluasi Menyeluruh PTM  Terbatas

Sementara komorbid terbanyak pada anak yang meninggal terkait COVID-19 adalah malnutrisi dan kanker, disusul penyakit jantung bawaan, kelainan genetik, tuberkulosis (TBC), penyakit ginjal kronik, cerebral palsy, dan penyakit autoimun. Orangtua yang memiliki anak tanpa mengalami salah satu komorbid tersebut, tentu saja tidak boleh ragu untuk mengijinkan anak ikut PTM di sekolah.

.

Terdapat 10 propinsi di Indonesia dengan kasus anak terkonfirmasi COVID-19 terbanyak yaitu Jawa Barat, Riau, Jawa Tengah, Sumatera Barat, Kalimantan Timur, Jawa Timur, Bali, Sumatera Utara, DIY, dan Papua. Sedangkan 7 (tujuh) propinsi dengan kasus kematian anak terkonfirmasi COVID-19 terbanyak, yaitu Jawa Tengah, DKI Jakarta, Jawa Barat, Sumatera Selatan, Jawa Timur, Sumatera Utara dan Sulawesi Selatan. Orangtua yang tinggal di 10 propinsi tersebut wajib lebih waspada, apabila memiliki anak dengan komorbid, sebelum mengijinkan anak mengikuti PTM terbatas di sekolah.

.

Pada Jumat, 22 Oktober 2021 tidak hanya Indonesia, tetapi terdapat 225 negara di dunia yang melaporkan adanya COVID-19 dengan total kasus terkonfirmasi 242.348.657 orang dan meninggal 4.927.723 orang. Pada saat yang sama di Indonesia kasus terkonfirmasi positif COVID-19 sebanyak 4.238.594 orang (hanya 1,7% dari kasus global), sembuh 4.080.351 orang dan meninggal 143.153 orang (hanya 0,29% dari kematian global). Dengan demikian, kita semua yang tinggal di wilayah Indonesia sebaiknya tidak perlu takut lagi akan keganasan COVID-19, yang telah dapat diatasi dengan baik.

.

Hari Pertama Masuk Sekolah, Mayoritas Belajar Jarak Jauh

Direktur eksekutif Program Darurat Kesehatan WHO, Dr. Mike Ryan mengingatkan bahwa virus COVID-19 akan menetap, karena terus bermutasi di seluruh dunia. Selain itu, WHO juga menjelaskan bahwa vaksin tidak menjamin pembasmian COVID-19 seperti virus lainnya. Bahkan kepala penasihat medis Gedung Putih AS Dr. Anthony Fauci dan Stephane Bancel, CEO pembuat vaksin Moderna, telah memperingatkan bahwa dunia harus hidup dengan COVID-19 selamanya, seperti halnya influenza. Oleh sebab itu, proses PTM terbatas di sekolah seharusnya memang tidak perlu ditunda lagi, termasuk di seluruh wilayah Indonesia, karena ‘telah’ terjadi perubahan COVID-19 dari pandemi menjadi endemi.

.

Data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi RI terkait klaster PTM terbatas terbanyak terjadi di Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Nusa Tenggara Timur. Pada 23 September 2021 terdapat 1.302 klaster sekolah. Klaster terbanyak di Sekolah Dasar dengan 583 klaster, PAUD 251 klaster, SMP 244 klaster, SMA 109 klaster, SMK 70 klaster, dan SLB 13 klaster. Meski klaster sekolah merebak, tetapi Mendikbudristek RI Nadiem Makarim menegaskan PTM di sekolah tidak akan dihentikan, bahkan terus dilanjutkan.

.

Untuk sekolah yang telah menjalankan PTM, keamanan PTM terbatas harusnya terus ditingkatkan melalui optimalisasi fasilitas sekolah dan perbaikan protokol kesehatan. Selain itu, perlu mempertimbangkan kapasitas kelas, memperbaiki sirkulasi udara, misalnya membentuk ruang kelas terbuka atau jendela kelas agar selalu dibuka, karena hal ini akan memperkecil risiko penularan COVID-19. Saat belajar di rumah yang sudah berlangsung selama pandemi COVID-19, banyak anak terbukti mampu belajar dan mengerjakan tugas sekolah. Oleh sebab itu frekuensi dan durasi PTM di sekolah sebaiknya tetap dibatasi, dan dilanjutkan atau dilengkapi dengan pembelajaran di rumah.

.

Untuk meningkatkan perlindungan anak, penting sekali bahwa setiap orang di sekitarnya, termasuk pengasuh, guru dan pegawai non akademik di sekolah, divaksinasi COVID-19 bila memenuhi syarat. Tentunya supaya vaksinasi pada orang tersebut tidak hanya melindungi diri mereka sendiri, tetapi juga melindungi orang lain yang tidak atau belum memungkinkan untuk divaksin, contohnya anak di bawah usia 12 tahun.

.

Data klaster sekolah sebaiknya jangan lagi mencemaskan orangtua, karena data itu merupakan kompilasi sejak Juli 2020, bukan berdasarkan laporan sejak PTM terbatas dilakukan dalam satu bulan terakhir. Dengan demikian penyebutan istilah ‘klaster’ sebenarnya juga berlebihan dan kurang tepat, karena angka 2,8 persen sekolah dari 46.500 sekolah yang melaporkan itu bukanlah data klaster, tetapi data sekolah yang melaporkan adanya warga sekolah yang pernah tertular COVID-19, meskipun penularannya belum tentu terjadi di sekolah. Berarti masih ada lebih dari 97 persen sekolah memiliki warga yang tidak pernah tertular COVID-19. Juga terkait isu yang beredar mengenai 15.000 siswa dan 7.000 guru positif COVID-19 akibat pelaksanaan PTM Terbatas, sebenarnya data tersebut belum diverifikasi, sehingga masih mungkin ditemukan kesalahan.

Sudahkah kita bijak dan tidak takut mengijinkan anak mengikuti PTM di sekolah, karena aman dari bahaya COVID-19?

Sekian

Yogyakarta, 25 Oktober 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
anak COVID-19 dokter Healthy Life vaksinasi

2021 Dongeng COVID-19

Mengajarkan Anak Soal Corona Lewat Dongeng

DONGENG  COVID-19

fx. wikan indrarto*)

Telah diterbitkan dongeng untuk membantu anak tetap berpengharapan selama pandemi COVID-19. Dongeng ini dapat digunakan oleh orang tua, guru, dan tenaga kesehatan dalam mendampingi anak. Apa yang menarik?

.

Dongeng ini merupakan sekuel dari buku berjudul ‘My Hero is You: how kids can fight COVID-19!’, yang diterbitkan pada April 2020. Buku mengacu pada kenyataan sehari-hari jutaan anak sejak awal pandemi COVID-19. Bagi banyak anak, pandemi COVID-19 terus mengganggu proses pendidikan, bermain, dan waktu mereka bersama teman, keluarga, dan guru. Dongen menarik ini dapat diperoleh dari link berikut ini :

https://interagencystandingcommittee.org/system/files/2021-09/My%20Hero%20is%20You%202021%2C%20Storybook%20for%20Children%20on%20COVID-19%20%28English%29_0.pdf

Dongeng ini ditujukan terutama untuk anak berusia 6-11 tahun, isinya menceritakan kembalinya Ario, makhluk fantasi yang berkeliling dunia membantu anak menemukan harapan di masa depan dan kegembiraan dalam kesenangan sederhana. Bersama dengan teman lama dan baru, Ario mengatasi ketakutan, frustrasi, dan kekhawatiran yang dihadapi anak dalam fase pandemi COVID-19 saat ini, dan mengeksplorasi berbagai mekanisme koping yang dapat mereka gunakan ketika menghadapi emosi yang sulit seperti ketakutan, kesedihan, kemarahan, dan keputusasaan.

Dongeng terbaru ini diambil dari tanggapan terhadap survei terhadap lebih dari 5.000 anak, orang tua, pengasuh, dan guru dari seluruh dunia yang menggambarkan tantangan yang terus mereka hadapi di tahun kedua pandemi.

.

Menjangkau anak di mana-mana, terbit dalam bahasa Arab, Bengali, Cina, Inggris, Perancis, Portugis, Rusia, Spanyol, dan Swahili. Dongeng sebelumnya sekarang sudah tersedia dalam lebih dari 140 bahasa, termasuk bahasa isyarat dan Braille, dan dalam lebih dari 50 adaptasi, dalam format video animasi, teater, buku aktivitas, dan audio. Contohnya termasuk adaptasi untuk penduduk asli Amerika, buku mewarnai untuk anak-anak di Suriah, dan animasi yang dikembangkan oleh tim yang dipimpin oleh Stanford Medicine di AS.

Sejak April 2020, pemerintah, universitas, organisasi non-pemerintah, outlet media, dan selebritas telah bergabung dengan PBB untuk memfasilitasi distribusi buku pertama seri ini secara global. Inisiatif termasuk peluncuran versi audio dan lokakarya yang berkaitan dengan buku di antara para pengungsi di Cox’s Bazar, Bangladesh; penyiaran versi animasi di televisi nasional Mongolia; dan dimasukkannya buku tersebut sebagai suplemen gratis dengan surat kabar nasional di Yunani.

Buku cerita baru dapat digunakan oleh orang tua dan guru bersama dengan panduan berjudul ‘My Hero is You’, yang dirilis oleh kelompok yang sama pada Februari 2021. Sudah tersedia dalam lebih dari selusin bahasa, panduan ini menyarankan orang tua, pengasuh, dan guru tentang cara untuk menciptakan kondisi yang tepat bagi anak-anak untuk secara terbuka berbagi perasaan dan kekhawatiran mereka terkait dengan pandemi dan termasuk kegiatan berdasarkan buku dalam seri.

Dongeng ini tentang Ario sebagai makhluk ajaib yang datang dari hati anak-anak, dia selalu mendengar anak-anak ketika mereka sedang bermimpi, bermain, dan bahkan ketika mereka tidak memikirkan orang lain sama sekali.

Satu tahun telah berlalu sejak Ario dan teman-temannya telah berkeliling dunia, memberi tahu anak-anak cara melindungi diri dari ganasnya pandemi COVID-19. Mereka telah belajar banyak dan menemukan cara baru untuk bermain dan tetap berkomunikasi dengan teman dan keluarga. Namun demikian, beberapa bentuk kekhawatiran anak-anak lebih nyata, dan beberapa anak mengalami ketakutan yang lebih hebat.

Anak-anak sering lupa bahwa Ario tetap berada di dalam hati anak, Ario tetap di langit pengharapan mereka, dan menunggu seorang anak untuk memanggilnya ke bumi. Ario merindukan teman-temannya Sara, Sasha, Salem, Leila dan Kim, yang akan selalu menjadi pahlawan bagi anak-anak.

Pada dongeng kali ini, diceritakan Ario bertemu harimau, pohon, gunung, dan salju, sehingga berbagai ungkapan penuh makna dalam kehidupan anak layak disampaikan dengan penegasan. Misalnya saat Ario menekankan ajakan mari kita menjadi teman baru, terlebih saat teman merasa malu, tertekan atau sedih, maka kita tawarkan tentang apa yang dibutuhkan. Ternyata anak-anak butuh harapan. Ario menekankan bahwa anak-anak dapat memegangnya, agar tumbuh dan tumbuh terus semakin berkembang, karena harapan sebenarnya ada di sekitar kita.

Misalnya saat harus tinggal di rumah karena aturan pembatasan aktivitas warga, semua anggota keluarga memiliki lebih banyak waktu untuk memasak bersama, berkebun dan membersihkan rumah, bahkan ayah bunda mampu membacakan dongeng di malam hari, jauh lebih banyak dari periode sebelumnya. Ayah bunda bahkan dapat mengajari berbagai pelajaran untuk anak-anaknya di rumah, ketika anak tidak dapat pergi ke sekolah. Sangat menyenangkan ketika mereka semua saling berdekatan di rumah. Bahkan tanaman dan benda-benda di rumah semua sangat bahagia, karena sebelum pandemi COVID-19, tidak ada siapa-siapa memperhatikannya. Perubahan terkadang dapat menakutkan, tapi juga dapat membawa manfaat bagi apapaun di sekitar kita.

Anak-anak sebaiknya secepatnya kembali pergi belajar ke sekolah, karena hal itu adalah harapan untuk masa depannya yang gemilang. Pelukan hangat ayah bunda kepada anak saat mengantarnya ke sekolah akan mengingatkan anak untuk berani, apalagi setelah cukup lama beraktivitas di dalam rumah saja, sejak awal pandemi tahun lalu. Kegelapan membuat anak sering merasa sedih, seperti ketika kakek atau anggota keluarga ada yang sakit, terpapar COVID-19 dan kemudian anak merasa kehilangan. Pengalaman buruk itu seperti saat lampu padam dan menciptakan kegelapan, anak sangat berharap hal tersebut jangan pernah terjadi lagi.

Sejak pandemi COVID-19 anak-anak sering mengalami kekhawatiran yang semakin menjadi. Ario menginspirasi orangtua sebaiknya mencoba untuk mendengarkan, karena terkadang ketika anak-anak menangis atau mengeluh untuk melepaskan kekhawatiran mereka, mereka mulai merasa lebih baik. Kalau di wilayah tertentu laju penularan COVID-19 sudah melandai, anak-anak sudah boleh diajak keluar rumah agar kembali tertawa bahagia, dengan sobat karibnya. Karena momentum itu mungkin pertama kalinya setelah sekian lama, maka para sahabat itu berpelukan lama. Keduanya mungkin punya lebih banyak waktu bermain di sekitar rumah sekarang, karena pembelajaran di sekolah belum tentu langsung akan segera dimulai. Itulah saat yang tepat untuk melatih anak melakukan protokol kesehatan secara ketat. Mencuci tangan, menjaga jarak setidaknya satu meter, dan mengenakan masker, adalah ketrampilan yang harus terus diajarkan agar menjadi kebiasaan. Selain itu, juga memastikan bahwa tidak ada seorang anakpun yang merasa sendirian.

Kita harus melakukan semua yang kita mampu untuk menjaga anak tetap aman selama pandemi COVID-19 saat ini. Dongeng untuk anak terbitan WHO berjudul ‘My Hero is You: how kids can fight COVID-19!’, dapat dibacakan dan diceritakan kepada semua anak di sekitar kita, agar anak tetap berpengharapan, berimajinasi dan berkreasi sebaik mungkin, meski masih dalam banyak keterbatasan karena pandemi COVID-19.

Apakah kita sudah bertindak?

Sekian

Yogyakarta, 7 Oktober 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
anak COVID-19 dokter Healthy Life Pendukung ASI resisten obat

2021 Keselamatan Pasien Bayi

Krisis Listrik, Nyawa 200 Bayi di Rumah Sakit di Gaza Terancam - Dunia  Tempo.co

KESELAMATAN  PASIEN  BAYI

fx. wikan indrarto*)

Hari Keselamatan Pasien Sedunia (World Patient Safety Day) diperingati setiap tahun dengan tujuan untuk meningkatkan kesadaran dan keterlibatan publik, juga untuk mempromosikan keselamatan pasien di fasilitas kesehatan. Tema Hari Keselamatan Pasien Sedunia 2021–2022 adalah membuat perawatan ibu dan bayi baru lahir lebih aman. Apa yang perlu dilakukan untuk bayi?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/09/03/2020-asi-untuk-bayi-covid-19/

Hari Keselamatan Pasien Bayi Baru Lahir memiliki 5 tujuan. Pertama, mengurangi praktik medis yang tidak perlu dan berbahaya, bagi bayi baru lahir. Kedua, memperkuat kapasitas dan dukungan petugas kesehatan untuk perawatan bayi baru lahir yang aman. Ketiga, mempromosikan persalinan yang aman dan penuh hormat. Keempat, meningkatkan penggunaan obat dan transfusi darah yang aman.

.

Tujuan pertama, yaitu mengurangi praktik yang tidak perlu dan berbahaya bagi bayi baru lahir, didasari data bahwa lebih dari tiga perempat kematian ibu, lebih dari 40% kelahiran mati, dan seperempat kematian neonatus disebabkan oleh komplikasi selama persalinan dan nifas. Di beberapa fasilitas kesehatan justru terlalu sedikit intervensi medis atau terlambat diberikan, kepada ibu bersalin dan bayi baru lahir, sedangkan di tempat lain justru ibu dan bayi baru lahir menerima terlalu banyak intervensi, bahkan juga terlalu cepat. Sebagian besar bayi baru lahir mungkin mengalami penjepitan tali pusat dini, penghisapan ciaran di mulut dan hidung secara rutin atau berlebihan, dan pemisahan dari ibu segera setelah lahir tanpa alasan medis kuat.

.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah menerbitkan serangkaian rekomendasi tentang perawatan intrapartum untuk terbentuknya pengalaman ibu melahirkan yang positif, agar merawat bayinya dengan penuh kegembiraan. Juga mengharuskan setiap fasilitas kesehatan sepenuhnya mematuhi Kode Internasional Pemasaran Pengganti ASI. Untuk keselamatan bayi baru lahir, tidak dianjurkan menjepit tali pusat lebih awal (sebelum satu menit setelah lahir), tidak boleh melakukan penyedotan cairan di mulut dan hidung pada neonatus, yang lahir dari ibu dengan cairan ketuban bening, dan mampu mulai bernapas sendiri setelah lahir. Selain itu, juga larangan agar tidak secara rutin memisahkan ibu dan bayi setelah lahir.

.

Bayi 50 Hari di Cirebon Sembuh dari Covid-19 | Republika Online

Alasan tujuan kedua, yaitu memperkuat kapasitas dan dukungan bagi petugas kesehatan untuk perawatan ibu dan bayi baru lahir yang aman, adalah bahwa semua tenaga kesehatan, termasuk dokter, bidan dan perawat, memiliki peran penting dalam memberikan perawatan yang aman dan terhormat untuk mencegah kematian ibu dan bayi baru lahir, bahkan juga kelahiran mati. Namun demikian, saat ini sistem kesehatan di seluruh dunia menghadapi kekurangan tenaga kesehatan, terutama perawat dan bidan. Selain itu, distribusi tenaga kesehatan yang tidak merata antar dan di dalam negara, menambah kesenjangan untuk mencapai target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG).

.

Sedangkan tujuan ketiga, yaitu mempromosikan perawatan penuh hormat untuk persalinan yang aman, dapat dilakukan dengan menetapkan mekanisme identifikasi bayi baru lahir di tempat bersalin, pencatatan sipil, dan akte kelahiran sebagai identitas hukum untuk semua bayi sejak lahir. Selain itu, perlu ditetapkan mekanisme untuk proses ganti rugi pada kasus bayi baru lahir yang mengalami penganiayaan, pelanggaran privasi, kerahasiaan, tindakan medis tanpa persetujuan, dan perawatan yang tidak adil. Juga jaminan agar pasangan ibu-bayi tetap bersama dalam sebuah ruangan atau rawat gabung, agar mampu meningkatkan kesempatan untuk menyusui dan kontak kulit-ke-kulit antara ibu dan bayi setiap saat, terlebih dalam satu jam pertama setelah kelahiran.

.

Perlu juga dipastikan bahwa semua bayi lahir mati dan bayi baru lahir yang meninggal, ditangani dengan penuh hormat. Juga orang tua serta keluarga diperbolehkan untuk mengungkapkan duka cita, dengan cara yang sesuai dengan budaya dan agama masing-masing.

.

Sedangkan tujuan keempat, yaitu meningkatkan penggunaan obat  dan transfusi darah yang aman, disebabkan karena akses keduanya adalah kunci untuk pencegahan dan pengelolaan komplikasi berat, seperti sepsis neonatal. Kesalahan pengobatan pada neonatus, di mana dosis obat harus dihitung berdasarkan berat badan atau usia, merupakan sumber kesalahan utama ketidakamanan. Untuk itu, biasakanlah menggunakan huruf kapital dan jelas dalam mengurangi kesalahan saat memesan dan meresepkan obat. Juga menerapkan langkah untuk mengurangi kesalahan, karena nama dan kemasan obat yang mirip atau terdengar mirip, dan mengurangi kemungkinan kesalahan selama penyimpanan maupun pemberian obat. Jika tersedia, gunakan rekam medis elektronik, sistem peresepan elektronik, dan barcode (kode batang) untuk menyederhanakan pertukaran informasi dan meningkatkan keterbacaan resep dokter.

.

Pastikan ketersediaan obat antidotum seperti nalokson, untuk mengatasi depresi pernapasan bayi baru lahir atau asfiksia neonatus. Menerapkan kebijakan dan protokol rinci, yang menguraikan penggunaan antibiotik yang benar sebagai bagian dari program pengelolaan antibiotik secara rasional. Juga memastikan praktik injeksi yang aman dan penggunaan teknik aseptik saat memberikan obat secara suntikan atau parenteral, dan transfusi darah pada bayi baru lahir.

.

Tujuan kelima adalah melaporkan dan menganalisis insiden keselamatan dalam persalinan, didasari oleh data bahwa di seluruh dunia, ibu dan bayi baru lahir dapat terpapar bahaya yang dapat dihindari, selama proses persalinan di fasilitas kesehatan, dan beberapa kasus menjadi meninggal atau menderita morbiditas parah yang tidak perlu. Sebagian besar kerugian ini dapat dicegah dengan perawatan berkualitas tinggi, intervensi berbasis bukti yang diberikan selama kehamilan, persalinan dan melahirkan. Sistem pelaporan insiden keselamatan pasien dapat memberikan pembelajaran tentang penyebab bahaya dan tindakan perbaikan, untuk mencegahnya di masa depan. Audit Kematian Maternal dan Perinatal  adalah intervensi penting untuk mengurangi kematian bayi baru lahir yang dapat dihindari.

.

Pandemi COVID-19 telah memicu krisis kesehatan lanjutan yang berdampak buruk pada ibu dan bayi baru lahir, karena terganggunya layanan kesehatan rutin. Momentum Hari Keselamatan Pasien Bayi Baru Lahir menunjukkan betapa pentingnya memperkuat layanan kesehatan dan kebidanan secara rutin, seperti sebelum pandemi COVID-19, demi keselamatan pasien bayi baru lahir di sekitar kita.

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 2 Oktober 2021

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?