Categories
Istanbul

2020 Hari AIDS Sedunia

HARI AIDS SEDUNIA

HARI  AIDS  DUNIA

fx. wikan indrarto*)

Hari AIDS Sedunia (World AIDS Day) dirayakan pada 1 Desember setiap tahun. Ini adalah kesempatan bagi orang-orang di seluruh dunia untuk bersatu dalam memerangi HIV, untuk menunjukkan dukungan bagi orang yang hidup dengan HIV, dan untuk memperingati mereka yang meninggal karena penyakit terkait AIDS. Dirayakan sejak tahun 1988, Hari AIDS Sedunia adalah hari kesehatan global pertama. Apa yang menarik?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/11/26/bayi-bebas-hiv-dari-ibu/

.

Direktur Eksekutif UNAIDS Winnie Byanyima yang juga merangkap sebagai Wakil Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa, menjelaskan bahwa Hari AIDS Sedunia 2020 tidak akan dirayakan seperti biasanya. Pandemi COVID-19 mengancam kemajuan yang telah dicapai dunia dalam bidang kesehatan dan pembangunan selama 20 tahun terakhir, termasuk memperlebar ketidaksetaraan yang sudah ada, yaitu ketidaksetaraan gender, ketimpangan ras, ketimpangan sosial dan ekonomi.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/11/26/2018-aids/

.

Dalam menanggapi pandemi COVID-19, dunia tidak boleh membuat kesalahan yang sama seperti yang dibuat dalam memerangi HIV, ketika jutaan pasien di negara berkembang meninggal karena harus menunggu pengobatan. Bahkan saat ini, lebih dari 12 juta orang masih menunggu untuk mendapatkan pengobatan HIV dan 1,7 juta orang terinfeksi HIV pada 2019 karena tidak dapat mengakses layanan esensial. Masalah global membutuhkan solidaritas global. Hanya solidaritas global dan tanggung jawab bersama yang akan membantu kita mengalahkan virus corona, mengakhiri epidemi AIDS, dan menjamin hak atas kesehatan untuk semua.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/11/29/2019-inovasi-tes-hiv/

.

Tidak ada metode pencegahan tunggal yang dapat menghentikan epidemi HIV. Beberapa intervensi terbukti sangat efektif dalam mengurangi risiko, pencegahan, dan melindungi terhadap infeksi HIV, yaitu penggunaan kondom, obat antiretroviral sebagai profilaksis pra pajanan (PrEP), sunat pria, mengurangi jumlah pasangan seksual, penggunaan jarum suntik bersih, terapi substitusi opiat (misalnya metadon), dan pengobatan dengan obat antiretroviral untuk orang yang hidup dengan HIV.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/11/30/akhiri-epidemi-hiv/

.

Tiga alasan yang saling berhubungan tampaknya mendukung kegagalan untuk mengimplementasikan program pencegahan AIDS yang efektif pada skala besar. Pertama, kurangnya komitmen politik dan akibatnya investasi yang tidak memadai. Kedua, keengganan untuk menangani masalah sensitif terkait kebutuhan, hak seksual dan reproduksi remaja. Dan ketiga, kurangnya implementasi pencegahan sistematis.

.

UNAIDS berupaya membantu semua negara untuk memastikan akses ke kombinasi pilihan intervensi pencegahan, termasuk kondom, PrEP, pengurangan dampak buruk, dan sunat. Target setidaknya 90% orang yang berisiko pada tahun 2020, terutama wanita muda dan anak perempuan di negara dengan prevalensi tinggi dan populasi kunci. Dalam hal ini mencapai 3 juta orang dengan risiko tinggi untuk mendapatkan PrPP, 25 juta pria disunat, dan menyediakan 20 miliar kondom di negara berpenghasilan rendah dan menengah.

.

Begitu Penting Kampanyekan Hari AIDS Sedunia, 1 Desember | Panrita News

Pada tahun 2019, ada 38,0 juta orang yang hidup dengan HIV, yaitu 36,2 juta orang dewasa dan 1,8 juta anak (0–14 tahun). Sudah sekitar 81% dari semua orang yang hidup dengan HIV mampu mengetahui status HIV mereka dan sekitar 7,1 juta orang tidak tahu bahwa mereka hidup dengan HIV. Pada akhir Juni 2020, 26,0 juta orang mengakses terapi antiretroviral, meningkat dari 6,4 juta pada 2009. Pada 2019, baru sekitar 67% dari semua orang yang hidup dengan HIV mengakses pengobatan, yaitu 68% orang dewasa dan 53% anak usia 0–14 tahun. Sudah 85% ibu hamil yang hidup dengan HIV memiliki akses ke obat antiretroviral untuk mencegah penularan HIV ke bayi pada tahun 2019.

.

Infeksi HIV baru telah berkurang 40% sejak puncaknya pada tahun 1998. Pada tahun 2019, sekitar 1,7 juta orang baru terinfeksi HIV, dibandingkan dengan 2,8 juta orang pada tahun 1998. Sejak 2010, infeksi HIV baru telah menurun 23%, dari 2,1 juta menjadi 1,7 juta pada tahun 2019. Sejak 2010, infeksi HIV baru pada bayi telah menurun sebesar 52%, dari 310.000 pada tahun 2010 tinggal menjadi 150.000 bayi pada tahun 2019. Kematian terkait AIDS telah berkurang 60% sejak puncaknya pada tahun 2004. Pada tahun 2019, sekitar 690.000 orang meninggal karena penyakit terkait AIDS di seluruh dunia, dibandingkan dengan 1,7 juta orang pada tahun 2004 dan 1,1 juta orang pada tahun 2010. Kematian terkait AIDS telah menurun 39% sejak 2010.

.

Mengakhiri epidemi AIDS lebih dari sekadar kewajiban bersejarah, bagi 39 juta orang yang meninggal karena penyakit tersebut. Ini juga merupakan kesempatan penting untuk meletakkan dasar bagi dunia yang lebih sehat, lebih adil, dan setara bagi generasi mendatang. Mengakhiri epidemi AIDS akan menginspirasi upaya kesehatan dan pembangunan global yang lebih luas, menunjukkan apa yang dapat dicapai melalui solidaritas global, tindakan berbasis bukti, dan kemitraan multisektoral. Dengan tagline 90-90-90, yaitu 3 target luar biasa untuk membantu mengakhiri AIDS.

.

Pertama, 90% dari semua orang yang hidup dengan HIV akan mampu mengetahui status HIV-nya. Kedua, 90% dari semua orang dengan infeksi HIV yang didiagnosis akan menerima terapi antiretroviral yang berkelanjutan. Dan ketiga, 90% dari semua orang yang menerima terapi antiretroviral akan mengalami penekanan virus (viral suppression).

.

Pada akhir 2019, dana sebesar US $ 18,6 miliar tersedia untuk penanggulangan AIDS di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah, hampir US $ 1,3 miliar lebih sedikit dibandingkan tahun 2017. Sekitar 57% dari total sumber daya untuk penanganan HIV di negara berpenghasilan rendah dan menengah pada tahun 2019 berasal dari sumber domestik. UNAIDS memperkirakan bahwa US $ 26,2 miliar (konstan dolar 2016) akan dibutuhkan untuk penanggulangan AIDS pada 2020.

.

Momentum Hari AIDS Sedunia Selasa, 1 Desember 2020 mengingatkan kita tentang slogan kampanye global ‘Stop AIDS. Keep the Promise’. Slogan yang digunakan sepanjang tahun itu untuk meminta pertanggungjawaban pemerintah atas komitmen terkait HIV dan AIDS di semua negara, termasuk Indonesia.

Bagaimana sikap kita?

Sekian

Yogyakarta, 26 November 2019

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

Categories
Istanbul

2020 Campak yang tercampakkan

Waspada Komplikasi yang Terjadi Akibat Campak Jerman

CAMPAK  YANG  TERCAMPAKKAN

fx.wikan indrarto*)

Kematian akibat penyakit campak di seluruh dunia naik 50% dan merenggut lebih dari 207.500 nyawa anak pada sepanjang tahun 2019 lalu. Apa yang sebenarnya terjadi?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/12/05/2019-campak-lagi/

.

Kamis, 12 November 2020 penyakit campak tercatat WHO dan CDC melonjak di seluruh dunia pada tahun 2019 yang lalu, mencapai jumlah kasus tertinggi yang dilaporkan dalam 23 tahun. Kasus campak di seluruh dunia meningkat menjadi 869.770 pada 2019, jumlah tertinggi yang dilaporkan sejak tahun 1996. Kematian akibat campak global juga naik hampir 50 persen sejak 2016.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/05/09/2019-campak-terkini/

.

Setelah kemajuan global yang stabil dari 2010 hingga 2016, jumlah kasus campak yang dilaporkan meningkat secara bertahap hingga 2019. Membandingkan data 2019 dengan rekor terendah dalam kasus campak yang dilaporkan pada 2016, hal ini mencerminkan kegagalan vaksinasi campak tepat waktu dengan dua dosis, sebagai pendorong utama peningkatan kasus dan kematian karena penyakit campak. Hal ini menggambarkan bahwa vaksinasi campak telah tidak diprioritaskan atau sudah dicampakkan.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/04/29/2019-bahaya-campak/

.

Wabah campak terjadi ketika orang yang tidak kebal dari virus, terinfeksi campak dan menyebarkan penyakit tersebut ke populasi yang tidak divaksinasi atau divaksinasi tidak lengkap. Untuk mengendalikan campak dan mencegah wabah dan kematian, diperlukan cakupan vaksinasi campak dengan 2 dosis harus mencapai 95 persen dan dipertahankan di tingkat nasional dan lokal. Cakupan vaksinasi campak atau MR dosis pertama telah stagnan secara global selama lebih dari satu dekade di antara 84 dan 85 persen. Cakupan MMR atau MR dosis kedua terus meningkat, tetapi sekarang tertahan hanya 71 persen. Cakupan vaksinasi campak 2 dosis masih jauh di bawah 95 persen atau lebih, yang dibutuhkan untuk mengendalikan campak, mencegah wabah dan kematian.

.

Serba Serbi Imunisasi Campak: Apa Saja yang Perlu Mam Ketahui? |  theAsianparent Indonesia
.

Meskipun kasus campak yang dilaporkan lebih rendah pada tahun 2020, berbagai upaya untuk mengendalikan pandemi COVID-19 telah mengakibatkan terganggunya vaksinasi untuk mencegah dan meminimalkan wabah campak. Pada November 2020, secara global lebih dari 94 juta anak berisiko kehilangan vaksin karena kampanye imunisasi campak dihentikan di 26 negara, karena pandemi COVID-19. Pada hal, banyak dari negara tersebut sedang mengalami wabah campak. Dari negara-negara dengan rencana kampanye vaksinasi campak 2020 yang ditunda, hanya delapan (Brasil, Republik Afrika Tengah, Republik Demokratik Kongo, Ethiopia, Nepal, Nigeria, Filipina, dan Somalia) yang melanjutkan kampanye setelah sempat terjadi penundaan awal.

.

Sebelum ada pandemi COVID-19, dunia bergulat dengan krisis campak, dan wabah campak itu belum sepenuhnya hilang. Sistem dan layanan kesehatan sedang terganggu oleh pandemi COVID-19 di banyak negara, yang menjadi penyebab kegagalan pengendalian campak dan harus segera ditangani. Para pemimpin, petugas medis, dan tenaga kesehatan masyarakat di semua negara yang terkena dampak dan berisiko, diwajibakan memastikan bahwa vaksin campak tersedia. Dengan demikian dapat diberikan dengan aman, tepat waktu, dan merata, serta orangtua atau pengasuh anak memahami manfaat vaksin campak yang telah terbukti mampu menyelamatkan jiwa. Pada 6 November 2020, WHO dan UNICEF telah mengeluarkan seruan bersama untuk tindakan darurat dalam pencegahan dan penanggulangan wabah campak.

.

Virus campak dengan mudah menginfeksi anak, remaja dan orang dewasa yang tidak kebal, karena sangat menular. Infeksi campak tidak hanya merupakan tanda cakupan vaksinasi campak yang buruk, tetapi juga penanda bahwa layanan kesehatan penting mungkin tidak menjangkau populasi yang paling berisiko. Upaya kolektif segera harus dilakukan untuk menjangkau anak dengan vaksinisasi campak sekarang, tidak perlu menunggu adanya kebijakan pelonggaran pembatasan perjalanan karena pandemi COVID-19 dan peningkatan pergerakan populasi.

.

Fakta bahwa wabah campak terjadi pada tingkat tertinggi yang pernah kita lihat dalam satu generasi sangat mencemaskan, karena sebenarnya telah tersedia vaksin yang aman, hemat biaya, dan terbukti ampuh. Tidak boleh ada anak yang meninggal karena penyakit yang dapat dicegah dengan vaksin, termasuk campak. Pandemi COVID-19 terbukti berkontribusi pada peningkatan jumlah kasus campak dan kematian. Campak tidak mengenal batas, dan sangat penting bagi kita untuk bekerja sama dalam memvaksinasi lebih banyak anak, dan melanjutkan perjuangan melawan penyakit yang dapat dicegah ini.

.

Sementara itu, data program imunisasi nasional menunjukkan penurunan cakupan vaksinasi di Indonesia, seperti vaksin MR yang menurun 13% antara Januari sampai Maret 2020, jika dibandingkan dengan tahun 2019 lalu. Pada hal Presiden RI Joko Widodo menargetkan bahwa pada tahun 2020, Indonesia bebas penyakit campak dan rubella pada acara pencanangan imunisasi Measles Rubella (MR) di MTsN 10 Sleman, DIY Selasa, 1 Agustus 2017. Target Presiden Jokowi tentu sulit terwujud, kalau kita masih mencampakkan vaksinasi campak, karena ada prioritas lainnya.

Sudahkah kita bertindak bijak?

.

Sekian
Yogyakarta, 14 November 2020

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
Istanbul

2020 Steroid untuk Bayi Prematur

Gangguan Paru-Paru pada Bayi Prematur | HonestDocs

STEROID  UNTUK  BAYI  PREMATUR

fx. wikan indrarto*)

Kontrol kehamilan yang akurat dan perawatan kebidanan berkualitas, yang dikombinasikan dengan pemberian obat suntikan steroid adalah kunci untuk bayi prematur, agar mampu bertahan hidup. Apa yang menarik?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/09/26/2019-ibu-dan-bayi-lebih-banyak-hidup/

.

Hasil uji klinis berjudul ‘Antenatal Dexamethasone for Early Preterm Birth in Low-Resource Countries’ diterbitkan pada hari Senin, 23 Oktober 2020 di New England Journal of Medicine. Uji klinis menunjukkan bahwa deksametason, sebuah glukokortikoid atau steroid yang digunakan untuk mengobati banyak penyakit berat, termasuk rematik dan COVID-19 yang parah, dapat meningkatkan kelangsungan hidup bayi prematur. Obat tersebut diberikan kepada ibu hamil, yang berisiko melahirkan bayi prematur, terutama di fasilitas kesehatan dengan sumber daya rendah.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/05/09/2019-kematian-bayi/

.

Uji klinis dalam koordinasi ‘The WHO ACTION Trials Collaborators’ menyelesaikan kontroversi yang sedang berlangsung, tentang kemanjuran (efficacy) steroid antenatal, untuk meningkatkan kelangsungan hidup bayi baru lahir prematur di negara berpenghasilan rendah. Deksametason telah lama terbukti efektif dalam menyelamatkan bayi prematur yang tinggal di negara berpenghasilan tinggi, di mana perawatan untuk bayi baru lahir berkualitas tinggi lebih mudah diakses. Ini adalah pertama kalinya uji klinis membuktikan bahwa obat tersebut juga efektif di negara berpenghasilan rendah.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/10/21/2019-kekerasan-pada-kelahiran-bayi/

.

Dampaknya signifikan: untuk setiap 25 wanita hamil yang diobati dengan deksametason, satu nyawa bayi prematur terselamatkan. Ketika diberikan kepada ibu yang berisiko melahirkan prematur, deksametason mampu melewati tali pusat dan plasenta, untuk mempercepat perkembangan paru-paru, sehingga bayi prematur lebih kecil kemungkinannya mengalami masalah pernapasan segera setelah lahir. Deksametason sekarang terbukti sebagai obat untuk menyelamatkan bayi yang lahir terlalu cepat, di negara berpenghasilan rendah. Namun demikian, obat ini hanya efektif bila dokter  dapat membuat keputusan yang tepat waktu dan akurat, yang dilanjutkan dengan paket perawatan berkualitas tinggi untuk ibu hamil dan bayi prematurnya.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2019/03/22/2019-kehilangan-bayi/

.

Secara global, prematuritas merupakan penyebab utama kematian pada anak balita (di bawah usia 5 tahun). Setiap tahun, diperkirakan 15 juta bayi lahir terlalu dini, dan 1 juta meninggal karena komplikasi akibat kelahiran dini atau prematuritas. Di negara berpenghasilan rendah, setengah dari bayi yang lahir pada atau kurang dari usia 32 minggu kehamilan, akan meninggal karena kurangnya perawatan yang layak, mudah diakses, dan hemat biaya.

.

Fasilitas kesehatan harus memiliki sarana untuk menentukan ibu hamil yang paling mungkin mendapat manfaat dari obat deksametason tersebut, untuk memulai pengobatan dengan benar, dan pada waktu yang tepat – idealnya 48 jam sebelum melahirkan, guna memberikan waktu yang cukup untuk menyelesaikan dosis obat suntikan steroid sampai mencapai efek maksimal. Ibu dengan usia kehamilan 26-34 minggu, kemungkinan besar mendapat manfaat dari steroid. Dengan demikian, fasilitas kesehatan juga harus memiliki perangkat ultrasonografi (USG) untuk menentukan usia kehamilan secara akurat. Selain itu, bayi prematur yang baru lahir harus mendapatkan perawatan dengan kualitas yang cukup baik, saat dan setelah dilahirkan.

.

10 Gangguan Kesehatan Selama Kehamilan Trimester Ketiga | Popmama.com
.

Paket perawatan minimal untuk bayi baru lahir, mencakup pengelolaan infeksi, dukungan nutrisi, perawatan termal dan akses ke alat bantu napas berupa mesin CPAP untuk mendukung pernapasan bayi. Pada paket minimal yang sudah diterapkan di negara berpenghasilan rendah, maka steroid antenatal seperti deksametason dapat membantu menyelamatkan hidup bayi prematur.

.

Penelitian uji klinis yang dipimpin oleh Dr. Olufemi T. Oladapo, MPH, dilakukan dari Desember 2017 – November 2019, secara acak mendata 2.852 ibu dan 3.070 bayi prematur mereka dari 29 rumah sakit rujukan sekunder dan tersier di Bangladesh, India, Kenya, Nigeria, dan Pakistan. Uji klinis tersebut mendapatkan data kematian neonatal terjadi pada 278 dari 1.417 bayi (19,6%) pada kelompok deksametason dan pada 331 dari 1.406 bayi (23,5%) pada kelompok plasebo (RR 0,84; IK 95% 0,72-0,97; P = 0,03). Kelahiran mati atau kematian neonatal terjadi pada 393 dari 1.532 janin dan bayi (25,7%) dan pada 444 dari 1.519 janin dan bayi (29,2%), RR 0,88; 95% CI, 0,78-0,99; P = 0,04); kejadian infeksi bakteri pada ibu masing-masing adalah 4,8% dan 6,3% (RR 0,76; CI 95%, 0,56-1,03).

.

Bagaimana Bayi Bernapas di Dalam Rahim ? | Kafe Kepo |
.

Tidak ada perbedaan antar kelompok yang signifikan, dalam kejadian efek samping obat. Selain menemukan risiko kematian dan kelahiran mati neonatal yang secara signifikan lebih rendah, penelitian uji klinis ini juga menemukan tidak ada peningkatan kemungkinan infeksi bakteri pada ibu, ketika ibu hamil diberikan suntikan deksametason di negara dengan sumber daya rendah.

.

Hampir tiga dekade lalu, Konvensi Hak Anak telah diberlakukan secara global, yang menjamin setiap bayi baru lahir berhak atas standar perawatan kesehatan tertinggi. Setiap negara di seluruh dunia wajib memastikan bahwa sumber daya medis dan keuangan, tersedia untuk menciptakan hak itu menjadi kenyataan, bagi setiap bayi baru lahir. Tambahan pemberian obat suntikan steroid pada ibu hamil adalah langkah kunci untuk bayi prematur, agar tidak mengalami kematian.

Bagaimana sikap kita?

Sekian

Yogyakarta, 3 November 2020

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
Healthy Life

2020 Kecelakaan Lalu Lintas

Waspada! Angka Kecelakaan Lalu Lintas Terus Meningkat – Timlo.net

KECELAKAAN LALU LINTAS

fx. wikan indrarto*)

Minggu, 15 November 2020 secara global akan dirayakan sebagai Hari Peringatan Sedunia untuk Korban Kecelakaan Lalu Lintas di Jalan Raya (The World Day of Remembrance for Road Traffic Victims). Acara rutin ini dimulai sejak ‘RoadPeace’ pada tahun 1993. Apa yang menarik?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/06/07/2018-kecelakaan-lalu-lintas/

.

Kita semua wajib menciptakan dunia bagi semua orang untuk mendapat manfaat dari perlindungan kesehatan semesta atau Universal Health Couverage (UHC), termasuk pengobatan karena trauma, rehabilitasi dan dukungan psikologis bagi para korban kecelakaan lalu lintas di jalan raya. Pada hari tersebut dan selanjutnya setiap minggu, segenap warga dunia didorong untuk memainkan peran masing-masing, dalam membuat jalan raya lebih aman untuk semua orang. Bahkan jalan raya yang lebih aman bagi orang lain, sebenarnya juga adalah jalan raya yang lebih aman bagi kita semua.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/08/14/2020-kota-sehat/

.

Meskipun sudah ada kemajuan pesat, namun kematian karena kecelakaan lalu lintas di jalan raya terus saja meningkat, dengan kematian tahunan global mencapai 1,35 juta kasus. Cedera lalu lintas di jalan kini menjadi pembunuh utama bagi anak dan remaja yang berusia 5-29 tahun. Secara global, dari semua kematian karena kecelakaan lalu lintas, pejalan kaki dan pengendara sepeda merupakan 26% korban. Sedangkan pengendara sepeda motor dan penumpang kendaraan merupakan 28% korban. Risiko kematian karena kecelakaan lalu lintas di jalan, sampai sekarang tetap mencapai tiga kali lebih tinggi di negara berpenghasilan rendah daripada di negara berpenghasilan tinggi, dengan tingkat tertinggi di Afrika (26,6 per 100.000 penduduk) dan terendah di Eropa (9,3 per 100.000 penduduk).

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/02/10/2020-keamanan-di-jalan-raya/

.

Sebenarnya kematian dan cedera karena kecelakaan lalu lintas di jalan raya, adalah harga yang tidak dapat diterima (an unacceptable price) untuk membayar mobilitas manusia. Untuk itu, tidak ada alasan untuk tidak bertindak, karena ini adalah masalah yang sebenarnya memiliki solusi yang telah terbukti. Pemerintah di manapun harus menunjukkan kepemimpinan dan mempercepat tindakan untuk menyelamatkan nyawa warganya, dengan menerapkan aturan hukum yang lebih baik dan telah terbukti berhasil guna.

.

KECELAKAAN LALU LINTAS : Klaten Duduki Lima Besar Angka Kecelakaan  Tertinggi di Jateng
.

Dalam pengaturan oleh negara di mana kemajuan telah dibuat, ternyata disebabkan karena adanya kepemimpinan negara yang kuat, dengan undang-undang yang mengatur tentang faktor risiko utama kecelakaan lalu lintas, seperti larangan mengebut, mabuk saat mengemudi, tidak menggunakan sabuk pengaman, helm sepeda motor, dan pengikatan anak (child restraints). Selain itu, juga infrastruktur yang lebih aman seperti trotoar dan jalur khusus untuk pengendara sepeda dan sepeda motor, standar keamanan kendaraan yang lebih ditingkatkan, seperti kewajiban adanya mekanisme kontrol stabilitas elektronik dan sistem pengereman kendaraan, bahkan perawatan medis pasca kecelakaan lalu lintas.

.

Beberapa acara yang diselenggarakan dalam peringatan tersebut adalah pertama, menilai perjalanan (assessing journeys) yang diharapkan akan menghasilkan perubahan konkret kepada pembuat kebijakan di lebih dari 50 negara, terutama di Brazil, Mongolia, Nigeria dan Pakistan. Kedua, seruan untuk meningkatkan keselamatan pejalan kaki pada zona penyeberangan jalan di Trinidad dan Tobago. Ketiga, mengurangi batas kecepatan kendaraan di Slovenia. Keempat, meningkatkan penggunaan sabuk pengaman di dalam mobil di Kazakhstan dan pengikataan anak (child restraints) di Chili. Kelima, meningkatkan perawatan medis pasca-kecelakaan dan mengharuskan mobil memberi jalan kepada ambulans di India, dan menutup biaya perawatan medis bagi para korban kecelakaan lalu lintas jalan di Rwanda, melalui “mutuelle de santé”.

.

Selain itu, juga berbagai kegiatan yang meningkatkan kesadaran dan penegakan hukum secara umum, mengadvokasi jalan yang aman untuk anak di banyak negara, dengan memasang rambu batas maksimal kecepatan kendaraan di sekitar sekolah, sebagaimana telah dilakukan di Argentina, Senegal dan Tunisia. Bahkan juga mempromosikan penggunaan helm pagi pengendara sepeda motor untuk pembonceng anak di Malaysia. Kegiatan lainnya adalah melatih ketrampilan awak bus sekolah di Nepal, dan penguatan kepemimpinan untuk keselamatan pengguna jalan di Yordania, Lebanon dan Filipina.

.

Di Indonesia rata-rata 3 orang meninggal setiap jam akibat kecelakaan di jalan raya. Data tersebut juga menyatakan bahwa besarnya jumlah kecelakaan tersebut disebabkan oleh beberapa hal, yaitu : 61% kecelakaan disebabkan oleh faktor manusia yang terkait dengan kemampuan serta karakter pengemudi, 9% disebabkan karena faktor kendaraan (terkait dengan pemenuhan persyaratan teknik laik jalan) dan 30% disebabkan oleh faktor prasarana dan lingkungan. Demikian disampaikan Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementrian Perhubungan Pudji Hartanto saat persiapan kegiatan Kampanye Keselamatan Jalan di Jakarta, Jumat, 18 Agustus 2020.

.

Pandemi COVID-19 telah mendatangkan malapetaka bagi umat manusia. Pada saat yang sama, ini memberi kita kesempatan untuk membangun kembali kehidupan, termasuk aktivitas pengguna jalan raya, dengan lebih baik. Momentum Hari Peringatan Sedunia untuk Korban Lalu Lintas Jalan Raya  menginspirasi bentuk dunia baru pasca-pandemi COVID-19, yaitu dunia yang memprioritaskan jalan raya yang aman bagi semua pengguna jalan. Selain itu, juga berinvestasi untuk fasilitas pejalan kaki dan pesepeda yang lebih aman, untuk menekan angka kematian karena kecelakaan lalu lintas di jalan raya.  

.

Apakah kita sudah terlibat?

.

Sekian

Yogyakarta, 10 November 2020

*) Dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, pengguna sepeda di jalan raya dalam kota, WA: 081227280161,

Categories
COVID-19 Healthy Life sekolah vaksinasi

2020 Sekolah saat pandemi COVID-19

Ini Syarat Sekolah Boleh Dibuka Lagi di Masa Pandemi | Indonesia.go.id

SEKOLAH  SAAT  PANDEMI  COVID-19

fx. wikan indrarto*)

Banyak negara di seluruh dunia mengambil tindakan pembatasan sosial berskala luas, termasuk penutupan sekolah, untuk mencegah penyebaran virus SARS-CoV-2, yang menyebabkan COVID-19. Bagaimana sebaiknya?

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/10/19/2020-covid-19-dan-anak/

.

Beberapa hal dijadikan pertimbangan untuk memulai kegiatan sekolah, termasuk pembukaan, penutupan sementara dan pembukaan kembali serta langkah-langkah yang diperlukan untuk meminimalkan risiko terinfeksi COVID-19, terutama pada anak di bawah usia 18 tahun. Panduan WHO, UNICEF, dan UNESCO telah disusun dengan mempertimbangkan keadilan, implikasi sumber daya, dan kelayakan, demi kesinambungan pendidikan, kesejahteraan, kesehatan, dan keselamatan untuk anak, orang tua atau pengasuh, guru dan staf lain dan lebih luas lagi, komunitas dan masyarakat sekitar.

.

baca juga : https://dokterwikan.com/2020/10/06/2020-ancaman-covid-19/

.

Keputusan tentang penutupan penuh atau sebagian, juga pembukaan kembali sekolah harus diambil di tingkat pemerintah daerah, berdasarkan tingkat lokal penularan SARS-CoV-2 dan penilaian risiko lokal, serta seberapa besar pembukaan kembali sekolah dapat meningkatkan penularan di komunitas. Penutupan sekolah hanya perlu dipertimbangkan jika tidak ada alternatif lain. COVID-19 menyebabkan beban langsung yang sebenarnya cukup terbatas pada kesehatan anak, hanya sekitar 8,5% dari kasus yang dilaporkan secara global, dan sangat sedikit kematian terkait COVID-19 pada anak. Sebaliknya, penutupan sekolah memiliki dampak negatif yang jelas terhadap kesehatan anak, pendidikan dan perkembangan, pendapatan keluarga dan perekonomian secara keseluruhan. Pemerintah pusat dan daerah harus mempertimbangkan untuk memprioritaskan kesinambungan pendidikan, sementara juga membatasi penularan di masyarakat yang lebih luas.

.

Siswa di China Pakai Topi Social Distancing Saat Kembali Sekolah Usai  Lockdown Akibat Covid-19 - Tribunnews.com Mobile

.

Pihak berwenang dapat mempertimbangkan untuk menutup sekolah sebagai bagian dari PSBB, di wilayah yang mengalami peningkatan jumlah kasus dan cluster yang mencakup sekolah. Tergantung tren dan intensitas  penularan, otoritas lokal dapat mempertimbangkan pendekatan berbasis risiko untuk penutupan sekolah, terutama di daerah dengan tren peningkatan, rawat inap, dan kematian terkait COVID-19. Selain itu, sekolah harus benar-benar mematuhi protokol kesehatan untuk COVID-19.

.

Ketentuan tentang jaga jarak fisik di sekolah dapat diterapkan untuk siswa  di luar ruang kelas setidaknya 1 meter untuk siswa (semua kelompok umur) dan staf sekolah. Di dalam ruang kelas, tindakan sesuai usia berikut dapat dipertimbangkan berdasarkan intensitas penularan SARS-COV-2 setempat.

.

Untuk wilayah dengan transmisi komunitas, tetap pertahankan jarak setidaknya 1 meter antara semua orang. Untuk wilayah dengan transmisi cluster, pendekatan berbasis risiko harus diterapkan untuk menjaga jarak setidaknya 1 meter antar siswa.  Untuk wilayah dengan tidak ada kasus penularan, anak di bawah usia 12 tahun tidak harus selalu menjaga jarak secara fisik. Sebaliknya, anak berusia 12 tahun ke atas harus menjaga jarak setidaknya 1 meter satu sama lain. Saat jaga jarak minimal 1 meter, maka siswa, guru dan staf pendukung sekolah tetap harus memakai masker.

.

Batasi pencampuran kelas dan kelompok usia, untuk semua kegiatan, termasuk program ekstra atau setelah sekolah. Sekolah dengan ruang atau sumber daya terbatas dapat mempertimbangkan pengaturan kelas alternatif, untuk membatasi kontak antar siswa yang berbeda kelas. Misalnya, pengaturan jadwal mulai dan berakhirnya pelajaran pada waktu yang berbeda. Sekolah juga dapat meminimalkan waktu istirahat bersama dengan bergantian kapan dan di mana siswa boleh makan. Selain itu, pertimbangkan untuk menambah jumlah guru atau meminta bantuan tenaga guru sukarela, untuk memungkinkan lebih sedikit siswa per ruang kelas.

.

Hindarkan adanya kerumunan selama waktu sekolah atau penitipan anak, dengan pengaturan jalur masuk dan keluar areal yang jelas, dan pertimbangkan pembatasan untuk orang tua atau pengasuh yang memasuki areal sekolah. Ciptakan kesadaran pada siswa, agar tidak berkumpul dalam kelompok besar atau berdekatan saat dalam antrean, saat meninggalkan sekolah dan di waktu istirahat.

.

Hari Pertama Masuk Sekolah, Mayoritas Belajar Jarak Jauh
.

Anak berusia 5 tahun ke bawah tidak diharuskan memakai masker. Untuk anak antara 6 dan 11 tahun, pendekatan berbasis risiko harus diterapkan pada keputusan untuk menggunakan masker. Pertama, intensitas penularan di daerah tempat anak itu berada dan data terkini tentang risiko infeksi dan penularan pada kelompok usia ini. Kedua, lingkungan sosial dan budaya seperti kepercayaan, adat istiadat, perilaku atau norma sosial yang mempengaruhi masyarakat dan interaksi sosial populasi. Ketiga, kapasitas anak untuk mematuhi aturan penggunaan masker dan ketersediaan pengawasan orang dewasa. Keempat, dampak potensial pemakaian masker pada pembelajaran dan perkembangan psikososial. Kelima, pertimbangkan untuk pengaturan khusus seperti kegiatan olahraga atau untuk anak berkebutuhan khusus atau penyakit yang mendasari.

.

Anak tidak boleh ditolak aksesnya ke pendidikan karena alasan aturan pemakaian masker atau kurangnya ketersediaan masker, terkait sumber daya yang rendah atau tidak tersedia. Penggunaan masker oleh anak dan remaja di sekolah, sebaiknya hanya dianggap sebagai salah satu bagian dari strategi komprehensif untuk membatasi penyebaran COVID-19. Sekolah harus membuat sistem pengelolaan limbah, termasuk pembuangan masker bekas untuk mengurangi risiko penularan melalui masker yang terkontaminasi, yang dibuang di areal sekolah.

.

Pastikan penggunaan ventilasi alami, yaitu membuka jendela ruang kelas untuk meningkatkan pengenceran (dilution) udara dalam ruangan. Jika menggunakan pendingin udara ruangan, sistem tersebut harus diperiksa, dipelihara, dan secara teratur dibersihkan. Untuk penggunaan sistem mekanis pengaturan kelembaban udara, aturlah dengan meningkatkan total suplai aliran udara luar, seperti dengan menggunakan ‘economizer mode’ yang berpotensi setinggi 100%. Pastikan sistem aliran udara luar maksimum selama 2 jam sebelum dan sesudah waktu pembelajaran di kelas.

.

Panduan WHO, UNICEF, dan UNESCO berjudul ‘Considerations for school-related public health measures in the context of COVID-19’, telah diterbitkan pada 14 September 2020. Panduan tersebut disusun dengan mempertimbangkan aspek keadilan, penularan COVID-19, implikasi dan sumber daya, untuk menciptakan dunia yang lebih sehat, lebih aman, lebih adil, dan lebih berkelanjutan bagi pendidikan anak dan generasi mendatang, termasuk di Indonesia.

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 7 November 2020

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?