Categories
Healthy Life Jalan-jalan sejarah

2026 Ngrabuk Nyowo ke Semarang

Bis Bimo sudah siap berangkat di samping Villa Selatan Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta

NGRABUK  NYOWO

fx. wikan indrarto dan b. sari prasetyati

Asrama Mahasiswa Realino adalah asrama bersejarah di Yogyakarta yang didirikan oleh para pastor dari ordo Serikat Jesus (Yesuit) pada tahun 1957. Terkenal sebagai “percobaan kecil tentang Indonesia”, asrama ini legendaris karena menampung mahasiswa dari berbagai suku, agama, ras, dan kampus di Yogyakarta (UGM, IKIP Negeri Yogyakarta (UNY), IKIP Sanata Dharma (USD), Universitas Atma Jaya Yogyakarta dan UPN Veteran) untuk hidup bersama dan memupuk toleransi. Lokasi asrama berlantai 2 berkapasitas 150 mahasiswa ini berada di Jl. Gejayan, Mrican Yogyakarta dan ditutup tahun 1989, yang kini sebagian besar telah dialihfungsikan menjadi area kampus Universitas Sanata Dharma (USD).

Dapat juga dilihat pada :

https://www.instagram.com/p/DbR8sAZIP8g/?igsh=MWphN2x6ZHNtZzdoZw==

Para warga asrama tersebut saat ini tersebar di seluruh dunia dan tergabung dalam Forsino (Forum Komunikasi Realino). Forsino Cabang Yogyakarta secara rutin mengadakan acara ‘Ngrabuk Nyowo’. Secara harfiah dalam bahasa Jawa berarti “memupuk jiwa” atau “memberi nutrisi pada kehidupan”. Frasa ini bersifat kiasan (metafora) untuk menggambarkan usaha atau aktivitas yang membuat batin pesertanya tetap hidup, sehat, penuh harapan, dan terus berkembang. Tujuannya adalah menjaga mental atau harapan agar tetap tumbuh meski sedang menghadapi masa-masa sulit. Selain itu, juga bersilaturahmi untuk menjalin hubungan baik antar sesama manusia, yang dipercaya sebagai rabuk nyowo (pemupuk jiwa) karena membawa kebahagiaan dan kepedulian.

Setelah berdoa dan menyanyikan lagu MARS REALINO, para peserta bersiap berangkat ke Semarang dari halaman Audiorium Driyarkara USD yang tinggi menjulang

Ngrabuk Nyowo Forsino Yogyakarta seri ke 18 diisi dengan piknik bersama naik bis. Pada Minggu, 26 Juli 2026 pagi hari, kami semua berkumpul di sekitar bekas Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta. Setelah berdoa bersama dan menyanyikan mars Realino dengan penuh semangat, kami naik bis Pariwisata Bimo.

Suasana gembira di dalam bis Bimo, sambil mendengarkan suara merdu Prof. Yoyong Arfiadi SeV 76 dan ibu Astuti, dalam karaoke meriah menjelang masuk Ambarawa.

Bimo Transport dimulai pada tahun 1986, dan didirikan oleh dua orang, yaitu Subagyo Hadi Siswoyo (Kepala Staf TNI Angkatan Darat periode 1998–1999) dan Marsudiono. Subagyo HS menetapkan 12 Juni, hari kelahirannya, sebagai hari ulang tahun perusahaan yang awalnya merupakan usaha angkutan antarkota dalam provinsi (AKDP) yang melayani rute Yogyakarta–Wonosari. Pada tahun 2000 layanan AKDP diakhiri dan Bimo Transport berubah sebagai perusahaan yang sepenuhnya bergerak di bidang transportasi pariwisata.

Per 2024, PO Bimo mengoperasikan 22 bus, dengan rincian 20 bus besar dan 2 bus sedang. Ciri khas tampilan bus adalah gambar wayang Bima, karakter Pandawa dalam wiracarita Mahabharata, yang berwarna biru, sesuai dengan karakter Mahabharata tersebut. Selain itu, bintang empat berwarna emas di atas tanda huruf “BIMO” yang berwarna merah, melambangkan kepangkatan TNI terakhir yang dijabat oleh Subagyo HS, yakni Jenderal TNI (Purn).

Sepanjang jalan kami selalu riang, penuh tawa dan bahagia. Apalagi Bapak Agus ‘Dodiet’ Haryanto memberikan berbagai pertanyaan yang sangat bervariasi isinya dalam quis berhadiah. Setelah melibas sebagain Tol Trans Jawa, kami mencapai Benteng Willem I atau lebih dikenal dengan nama Benteng Pendem Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Benteng yang dibangun pada tahun 1834, ini terletak di dekat Museum Kereta Api, atau di belakang Rumah Sakit Umum Daerah dr. Gunawan Mangunkusumo, dan berada di kompleks Lembaga Pemasyarakatan Kelas II Ambarawa. Benteng ini pernah digunakan sebagai lokasi pengambilan gambar untuk film Soekarno yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo.

Bergaya bersama di depan gerbang Benteng Willem I (Benteng Pendem) Ambarawa yang putih dan tinggi

Gerbang Benteng Willem I (Benteng Pendem) Ambarawa yang gagah

Lengkung berulang adalah interior khas Benteng Willem I (Benteng Pendem) Ambarawa yang artistik.

Disebut pendem atau pendhem (bahasa Jawa) karena benteng ini berada di bawah tanah atau terkubur, sebagai sebuah siasat perang. Pada tahun 1840-an di bawah kekuasaan pemerintah kolonial Hindia Belanda di Jawa, Ambarawa merupakan titik sumbu strategis antara Semarang dan Surakarta. Sejak awal abad-18, VOC membangun benteng benteng di sepanjang jalur Semarang – Oenarang (sekarang Ungaran) – Salatiga – Surakarta (Solo). Rancangan ini dimaksudkan untuk pengembangan hubungan dengan Kesultanan Mataram. Kamp-kamp militer juga dibangun di berbagai kota yang dilalui, tak terkecuali Ambarawa. Pada masa kekuasaan Kolonel Hoorn, tahun 1827-1830, sempat ada barak militer dan penyimpanan logistik militer, dan pada tahun 1834 dibangunlah sebuah benteng modern di Ambarawa yang kemudian diberi nama Benteng Willem I pada tahun 1853. Pada tahun 1853 sampai tahun 1927 digunakan sebagai barak militer Hindia Belanda atau KNIL yang terhubung ke Magelang, Yogyakarta, dan Semarang melalui jalur kereta api.

Bergaya di bawah lengkung berulang khas Benteng Willem I (Benteng Pendem) Ambarawa yang tetap terjaga indah.

Beda sisi Benteng Willem I (Benteng Pendem) Ambarawa yang putih telah direnovasi dan merah bata yang asli

Pada umumnya benteng dibangun dengan prinsp defensif dan kuat yang dimaksudkan untuk pertahanan dari serangan musuh. Juga dibangun parit mengelilingi benteng untuk memaksimalkan pertahanan.  Namun Benteng Willem I ini ternyata memiliki desain yang berbeda. Dengan banyak jendela, benteng ini bukan dirancang untuk pertahanan, tetapi untuk barak militer dan penyimpanan logistik militer. Di benteng ini juga tidak dilengkapi bangunan sebagai tameng. Dan tidak ada lubang di puncak dinding, seperti halnya pada benteng peninggalan Portugis, yang dirancang untuk memasang meriam.

Adik bungsu di asrama, yaitu Bapak E. Ponco Yulianto SeV 89 beserta istri yang tinggal di Ungaran, bergabung bersama kami di Benteng Pendhem Ambarawa. Sayang sekali, karena kesibukan keduanya, akhirnya pertemuan kami hanya sampai di bis Bimo, tidak ikut lanjut ke Semarang.

Mas Ponco Yulianto SeV 89 yang menyambut kami di Benteng Willem I (Benteng Pendem) Ambarawa yang berpamitan karena tidak dapat ikut lanjut ke Semarang

Selanjutnya kami mengunjungi Kelenteng Kuno Sam Poo Kong, yang secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai “Gua Tiga Perlindungan”,  di Kota Semarang. Istilah “tiga perlindungan” merujuk pada doktrin Buddhisme tentang berlindung pada Triratna (bahasa Sanskerta) atau Tiratana (bahasa Pali), yaitu Buddha, Dharma, dan Sangha. Berdasarkan pemahaman tersebut, wihara atau kelenteng Triratna yang terdapat di Asia Tenggara kerap dikaitkan dengan tokoh Cheng Ho dan oleh karena itu dianggap sebagai klenteng Cheng Ho.

Kelenteng Kuno Sam Poo Kong Semarang yang ikonik bergaya Tiongkok

Kelenteng utama Sam Poo Kong Semarang yang ikonik merah menyala bergaya Tiongkok

Laksamana Zheng He yang menginspirasi pendirian tempat ibadah umat Buddha Tionghoa di Semarang

Laksamana Zheng He atau Cheng Ho adalah tokoh besar yang menginspirasi pendirian tempat ibadah umat Buddha Tionghoa di Semarang ini. Zheng He lahir di Provinsi Yunnan pada 1371 dari suku Hui, salah satu suku minoritas di Tiongkok. Kebanyakan masyarakat Hui beragama Islam, dan menggunakan nama marga Ma, bentuk sinisisasi dari Muhammad. Namun Zheng He mendalami dharma ajaran Buddha dari seorang biksu bernama Daoyan, yang juga memimpin pembacaan Bodhisattva Sila untuk Zheng He.

Pada 1414 Zheng He menyalin Vajracchedika Prajna Paramita Sutra (Jin Gan Jing), Guan Yin Sutra (Guanyin Jing), Amithaba Sutra (Mituo Jing), Marici Bodhisattva Sutra (Molizhitian Jing), Prajnaparamitahrdaya (Xin Jing), Surangama Sutra (Leng Yan Jing), Mahakaruna Dharani (Da Bei Zhou), Sarvadurgatiparisodhana Tantra (Zun Sheng Zhou), dan Mantra Sataksara (Bai Zi Shen Zhou). Setiap mendapat perintah melanglang buana, senantiasa memperoleh karunia dari San Bao. Arti kata San Bao adalah tiga mustika atau tiga permata yang merujuk pada Tri Ratna yaitu Buddha, Dharma, dan Sangha. Dalam Bahasa Indonesia menjadi Sam Poo dan nama akhirnya Sam Poo Kong.

Bangunan yang sekarang menjadi tempat ibadah ini diyakini sebagai bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama Laksamana Zheng He/Cheng Ho, yang juga dikenal dengan nama Sam Poo. Tidak semua anak buah kapal beragama Islam. Kompleks Sam Poo Kong berada di daerah Simongan, sebelah barat daya Kota Semarang. Tanda yang menunjukan sebagai bekas petilasan yang berciri keislaman dengan ditemukannya tulisan berbunyi “Marilah kita mengheningkan cipta dengan mendengarkan bacaan Al Qur’an”.

Kelenteng ini disebut Gedung Batu karena bentuknya merupakan gua batu besar yang berada di sebuah bukit batu. Untuk mengenang Cheng Ho, masyarakat Indonesia keturunan Tionghoa beragama Buddha membangun sebuah kelenteng. Sekarang tempat ini dijadikan tempat peringatan dan pemujaan atau bersembahyang serta tempat untuk berziarah. Untuk keperluan tersebut, di dalam gua batu itu diletakkan sebuah altar serta patung-patung Sam Po Tay Djien.

Di Indonesia banyak yang menganggap Laksamana Cheng Ho adalah seorang Muslim, meskipun tidak ditemukan bukti pendukung atas keyakinan tersebut, akan tetapi umat Buddha Tionghoa menempatkannya sebagai dewa. Proses pendewaan atau deifikasi terhadap tokoh-tokoh besar memang merupakan praktik umum dalam tradisi spiritual Tiongkok, yang terbawa dalam bentuk akulturasinya dengan agama Buddha ke wilayah Nusantara.

Berpanas bersama di depan kelenteng Kuno Sam Poo Kong Semarang

Selanjutnya kami bersiap makan siang di salah satu soto legendaris, yakni warung soto khas Semarang Pak Man. Pendirinya yaitu Bapak Sholeman, yang berjualan sejak tahun 1978. Soto Ayam Khas Semarang Pak Man terkenal kelezatannya sehingga selalu ramai dikunjungi pembeli. Seporsi soto ayam Pak Man berisi nasi, bihun, ayam suwir, taoge, irisan tomat, dan potongan daun bawang dengan bening yang rasanya gurih.

Soto Ayam Khas Semarang Pak Man yang kami kunjungi

Soto Ayam khas Semarang Pak Man mempunyai lima cabang dan kami mengunjungi di cabang Jalan Pamularsih Raya No. 32. Dilansir dari laman setneg.go.id, dalam kunjungannya ke Semarang, Presiden Jokowi dan Ibu Iriana menyempatkan diri mencicipi kuliner soto khas kota Semarang untuk santap paginya. Rumah Makan Soto Ayam Khas Semarang Pak Man menjadi pilihan Jokowi untuk sarapan pada hari Sabtu, 14 April 2018. Presiden Jokowi dan rombongan tiba di rumah makan tersebut pada pukul 07.50 WIB.

Kenyang menu soto Ayam Khas Semarang Pak Man di Jl. Pamulrasih

Mas Darmadi (bertopi) dan mas Antok SeV 82 yang tinggal di Semarang dan bergabung dengan kami

Selanjutnya kami menuju ke Lawang Sewu (Seribu Pintu), gedung megah yang sebelumnya merupakan Gedung Administrasi N.V. Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij adalah bekas bangunan perkantoran yang terletak di seberang Tugu Muda di Samarang. Bangunan ini berstatus sebagai aset PT. Kereta Api Indonesia (KAI). Hal ini terjadi karena merupakan hasil dari perebutan aset-aset NIS dan perusahaan kereta api lain oleh Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI) pada masa Perang Kemerdekaan. Saat ini bangunan tersebut dijadikan sebagai museum dan galeri sejarah perkeretaapian oleh Unit Pusat Pelestarian dan Desain Arsitektur dan kini dioperasikan KAI Wisata, anak perusahaan KAI yang bergerak di bidang pariwisata.

Bergaya setelah menyanyikan lagi MARS REALINO di tangga ke lantai 2 Lawangsewu Semarang

Kegagahan Lawangsewu Semarang dari sisi kanan gedung 1

Dari kiri : Fonali Lahagu 64, William dan Laras, Darmadi Tjandradjaja 82, F. Ronny Dwi Agus 79, Fx. Wikan Indrarto 84, Suyoto 75, Yoyong Arfiadi 78, Ibu Harlina Bobby, Ibu Agung, Ibu Maria Kok Sen, Vincentius Oe Kok Sen 84, Ibu Suyoto, Glenndonald A. Engko 78, Indah Ronny DA, A. Tristiyono Joko M 79, Ibu Merry Arinto, Ibu Sari Wikan, Ch. Agus Dodiet Haryanto 76, Ibu Tristiyono, Ibu Hastuti Edi Santosa, Ibu Titin Anggoro, Edi Santoso 80, Ibu Astuti Yoyong, Ibu Jonna Yoseph Pulo, Agung Sugihandono 80, Joseph Pulo 72, Y. Anggoro Triharyanto 84, Eddy Arianto 75, Wachid SC 79, Setiawan, Robertus 75, Eduardus Tandelilin 76, Ibu Nina Tandelilin

Lawang Sewu yang kami kunjungi diarsiteki oleh Cosman Citroen, dari firma yang dibentuk arsitek senior J. F. Klinkhamer dan B. J. Ouëndag. Bangunan ini dirancang dalam Gaya Hindia Baru, istilah yang diterima secara akademis untuk Rasionalisme Belanda di Hindia. Ini untuk mengintegrasikan preseden tradisional (klasisisme) dengan kemungkinan teknologi baru, yaitu gaya transisi antara Tradisionalis dan Modernis serta dipengaruhi oleh desain Berlage.

Keindahan interior Lawang Sewu Semarang yang diarsiteki oleh Cosman Citroen

Bertemu anak bungsu Larasati, dengan suaminya William, di Lawang Sewu Semarang, setelah mereka datang dari Jepara

Konstruksi dimulai pada tahun 1904 dan rampung pada tahun 1919. Setelah Jepang menduduki Hindia Belanda pada tahun 1942, tentara Jepang mengambil alih Lawang Sewu. Ruang bawah tanah gedung B diubah menjadi penjara dengan eksekusi mati dilakukan di dalamnya. Ketika Semarang direbut kembali oleh Belanda dalam pertempuran di Semarang pada Oktober 1945, pasukan Belanda menggunakan terowongan yang mengarah ke gedung A untuk menyelinap ke kota. Pertempuran terjadi dengan banyak pejuang Indonesia gugur. Lima pegawai yang bekerja di sana juga gugur.

Peserta Ngrabuk Nyowo lengkap berjejer di sudut Lawang Sewu Semarang

Setelah perang, tentara Indonesia mengambil alih kompleks. Bangunan tersebut kemudian dioperasikan oleh Djawatan Kereta Republik Indonesia (DKARI). Pada tahun 1992 bangunan ini ditetapkan sebagai cagar budaya.

Bergaya di depan bis Bimo dengan anak bungsu Larasati, dengan suaminya William, di Lawang Sewu Semarang

Mas Anggoro SeV 84 dan mbak Titin pamitan, karena akan menlanjutkan perjalanan pulang ke Batang di Stasiun Poncol Semarang.

Kunjungan kami ke Semarang diakhiri dengan menikmati Kota Lama Semarang (Belanda: Semarang Oude Stad) ini adalah suatu kawasan pusat perdagangan pada abad 19. Pada masa itu, untuk mengamankan penghuni dan wilayahnya, kawasan itu dibangun benteng, yang dinamai benteng Vijfhoek. Benteng ini hanya memiliki satu gerbang di sisi selatannya dan lima menara pengawas. Masing-masing menara diberi nama: Zeeland, Amsterdam, Utrecht, Raamsdonk dan Bunschoten.

Bergaya dengan anak bungsu Larasati, dengan suaminya William, di depan Gereja Blenduk, Semarang

Bergaya di depan gereja Blenduk Semarang

Untuk mempercepat jalur perhubungan antar ketiga pintu gerbang di benteng itu maka dibuat jalan-jalan perhubungan, dengan jalan utamanya dinamai Heerenstraat (Jl. Letjen Soeprapto). Salah satu lokasi pintu benteng yang ada sampai saat ini adalah Jembatan Berok (De Zuider Por). Kata Berok sendiri merupakan hasil pelafalan masyarakat pribumi yang kesulitan melafalkan kata Burg dalam bahasa Belanda.

Bergaya di depan MARBA di kawasan Kota Lama Semarang

Di sekitar Kota Lama dibangun kanal-kanal air yang keberadaannya masih bisa disaksikan hingga kini meski tidak terawat. Luas kawasan Kota Lama Semarang (Oude Stad) ini sekitar 31 hektare. Dilihat dari kondisi geografi, tampak bahwa kawasan ini terpisah dengan daerah sekitarnya, sehingga tampak seperti kota tersendiri dengan julukan “Little Netherland”.

Silau melawan cahaya matahari sore di kawasan Kota Tua Semarang

Bergaya di depan bangunan bekas bank di kawasan Kota Lama Semarang

Kawasan Kota Lama Semarang ini merupakan saksi bisu sejarah Indonesia masa kolonial Belanda lebih dari 2 abad, dan lokasinya berdampingan dengan kawasan ekonomi dan Stasiun Tawang. Di tempat ini ada sekitar 50 bangunan kuno yang masih berdiri dengan kukuh dan mempunyai sejarah Kolonialisme di Semarang. Secara umum karakter bangunan di wilayah ini mengikuti bangunan-bangunan yang ada di benua Eropa sekitar tahun 1700-an, dengan detail bangunan yang khas dan ornamen-ornamen yang identik dengan gaya Eropa. Seperti ukuran pintu dan jendela yang luar biasa besar, penggunaan kaca-kaca berwarna, bentuk atap yang unik, sampai adanya ruang bawah tanah.

Bergaya di depan semut merah di atas bangunan di kawasan Kota Lama Semarang

Pusat dari Kawasan Kota Lama Semarang terletak di Taman Srigunting, sebuah taman yang menjadi jantung dari kawasan tersebut. Di masa lalu, taman ini dikenal sebagai parade plein, lapangan yang sering digunakan untuk parade militer karena dekat dengan sebuah barak militer. Sebelum menjadi lapangan, taman ini berfungsi sebagai kerkhof atau pemakaman warga Eropa. Pada awal abad ke-19, kerkhof dipindahkan ke daerah pengapon.

Selanjutnya kami kembali masuk ke bis Pariwisata Bimo yang mengusung bodi buatan Karoseri Morodadi Prima Malang, Jawa Timur. Perintis usaha karoseri ini adalah Bapak Bambang Gunawan pada 1978. Morodadi bermakna kepercayaan, yaitu saat pelanggan datang, maka barang jadi sesuai keinginan. Ini sesuai cita-citanya untuk membangun rasa percaya antara pelanggan dan perusahaan. Logo Singa yang digunakan diambil dari simbol yang melambangkan Kerajaan Singosari yang melambangkan semangat tinggi dan etika kerja yang baik, untuk menghasilkan bodi bus yang kuat, kokoh, aman, dan nyaman.

Untuk kategori bis besar, perusahaan ini menggunakan beberapa sasis seperti Mercedez Benz OH 1518, 1521, dan 1526. Selain itu juga menerima sasis Hino R260 dan Hyundai Aero Space. Sementara itu, untuk gayanya panten menggunakan desain New Travego dan Patriot.

Bis Bimo buatan Karoseri Morodadi siap meluncur kembali

Morodadi Prima hingga kini telah mengantongi sejumlah sertifikat resmi dari Mercedez Benz no: BBA-002/12 kepada PT. Morodadi Prima untuk mengakui bahwa semua design, rekayasa dan process produksi bus dengan chasis OH 1626 telah memenuhi semua standard Quality Gate Assessment.

Makan malam di Tahu Baxo Ibu Pudji Ungaran, sebelum kembali ke Jogja

Dalam perjalanan kami kembali ke Yogyakarta, kami singgah di Tahu Baxo Ibu Pudji. Bisnis legendaris sejak tahun 1995 ini dirintis oleh sepasang suami istri, Pudjianto (67) dan istri tercinta, Sri Lestari (65). Mereka berdua merupakan pelopor dan pionir tahu bakso di Semarang. Dasar idenya adalah bahwa tahu adalah makanan sehari-hari dan bakso kesukaan semua kalangan dari anak-anak sampai orang tua. Jadi saat digabungkan menjadi satu makanan baru, didasari pemikiran dan harapan dapat disukai banyak orang. Awalnya hanya disebut tahu yang diisi daging. Setelah kurang lebih satu tahun berjualan, di tahun 1996, barulah disebut tahu bakso. Selain itu, awalnya dinamai “Tahu Bakso Kepodang”, dikarenakan tinggal dan dijual di Jl. Kepodang Semarang. Mulai tahun 2002 resmi bernama Tahu Baxo Ibu Pudji. 

Akhirnya kami sampai kembali ke Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta pk. 21 dalam suasana riang, gembira dan bahagia. Terimakasih banyak atas kebersamaan kita semua dalam bis.

Ayo piknik !

wikan & sari

Categories
dokter Jalan-jalan sejarah

2026 Dari Salemba untuk Dokter Indonesia

Dari Salemba untuk dokter Indonesia
fx. wikan indrarto

Kesempatan menjalankan tugas dari Fakultas Kedokteran Universitas Atma Jaya Yogyakarta (FK UAJY), berangkat ke Jakarta untuk menghadiri acara Forum Dekan FK oleh AIPKI pada Kamis sampai Minggu, 16-19 Juli 2026.

Lihat juga :

https://www.instagram.com/p/Da-VmLOFL1s/?igsh=Y2UwYXE4ZDYyZWJw

AIPKI adalah singkatan dari Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia, yaitu organisasi yang menaungi seluruh fakultas kedokteran di tanah air Indonesia. Saat ini sudah ada 148 Fakultas Kedokteran (FK) di Indonesia

Memasuki gerbang Stasiun Tugu Yogyakarta

Kamis malam, 16 Juli 2026 saya bergegas menuju Stasiun Tugu Yogyakarta untuk masuk ke perut KA Taksaka menuju Stasiun Gambir di Jakarta Pusat. Lanjut naik Bajaj menuju Hotel Borobudur dan lanjut istirahat sejenak.

Nyaman di dalam perut KA Taksaka dari Yogyakarta menuju Stasiun Gambir di Jakarta Pusat.

Sampai di Gerbang Hotel Borobudur Jakarta pada dini hari

Jumat pagi, 17 Juli 2026 setelah ‘early breakfast’, saya mendapat penjelasan dari dr. Risma Ikawaty, MSc, PhD Wakil Dekan I FK Ubaya dari Surabaya. Sambil menunggu bis FK UI yang akan menjemput para peserta Forum Dekan di lobi Hotel Borobudur Jakarta, FK Ubaya menggunakan RS Ibnu Sina di Gresik sebagai RS Pendidikan Utama (RSPU). Dibandingkan UAJY yang sesama PTS, ternyata 2 tahun sejak FK berdiri, Ubaya langsung merancang pendirian RS Pendidikan sendiri, untuk memudahkan sinkronisasi program pendidikan jenjang sarjana, dengan jenjang profesi, bahkan sampai pada jenjang spesialis. Pada 2 tahun kemudian, RS Pendidikan FK memulai operasional tahap rawat jalan dan pada tahun ke 4 sudah lengkap semua layanan. Meskipun demikian, RS baru yang sedang berkembang tersebut kemudian digunakan sebagai RS Pendidikan Satelit, dengan RSPU tetap di RS Ibnu Sina sampai beberapa tahun ke depan. Setelah semuanya siap, RSPU akan menjadi milik Ubaya sendiri dan bahkan akan dikembangkan menjadi wahana pendidikan program spesialis.

Bersama Prof. dr. Ramdan Panigoro, MSc, PhD. (Guru Besar Unpad dan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Parahyangan) Bandung

Aula FK UI yang legendaris di Jakarta

Bersama Prof. Dr. dr. Reviono, SpP(K) Dekan FK UNS Surakarta

Dengan bis milik FK UI, kami segera mendarat di Aula FK UI Salemba Jakarta Pusat yang legendaris, untuk mengikuti sesi pembukaan Forum Dekan AIPKI. Acara diadakan di IMERI (Indonesia Medical Education and Research Institute) yang berada di dalam kompleks Kampus Universitas Indonesia (UI) Salemba, Jalan Salemba Raya No. 6, Senen, Jakarta Pusat.

Para peserta Forum Dekan FK oleh AIPKI 2026 di Aula FK UI Jakarta

Bersama Prof. Dr. dr. Reviono, SpP(K) Dekan FK UNS Surakarta

AIPKI adalah organisasi yang berfungsi sebagai wadah komunikasi dan kolaborasi antara institusi dengan pemerintah untuk menjaga, merumuskan, dan meningkatkan mutu pendidikan medis agar sesuai dengan standar nasional.

Duduk mengantuk di barisan ketiga dari depan, kelima dari kiri, dengan para peserta Forum Dekan FK oleh AIPKI 2026 di Aula FK UI Jakarta

Setelah sambutan seremonial pembukaan oleh Ketua Panitia Forum Dekan FK AIPKI 2026, dr. Eric Daniel Tenda, DIC., PhD, Sp.PD, Sub-Sp.P.M.K (K), FINASIM, FISQua dan Dekan FK UI Prof. Dr. dr. Anna Rozaliyani, M.Biomed, SpP(K) yang dilantik secara resmi oleh Rektor UI pada 8 Desember 2025, sebagai tuan rumah acara. Selanjutnya Ketua Umum Pengurus Pusat Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI) Prof. Dr. dr. Wisnu Barlianto, M.Si.Med., Sp.A(K). Beliau menggantikan ketua periode sebelumnya, Prof. Dr. dr. Budi Santoso, Sp.OG(K).

Kegiatan Forum Dekan FK AIPKI diawali pada Kamis, 16 Juli 2026 dengan diskusi panel yang menghadirkan para dekan FKUI periode sebelumnya. Sesi yang tidak sempat saya ikuti ini ditujukan untuk memberikan perspektif historis sekaligus refleksi pengalaman kepemimpinan dalam menghadapi dinamika pendidikan kedokteran.

Pada hari kedua, 17 Juli 2026, saya mengikuti agenda seremonial pembukaan yang dilanjutkan dengan keynote speech oleh Menteri Pendidikan, Sains, dan Teknologi. Selain itu, akan diselenggarakan diskusi panel serta sesi pleno bersama Ketua AIPKI yang membahas isu-isu strategis terkini dalam pendidikan kedokteran.

Selanjutnya adalah sesi diskusi dengan tema Kebijakan Diktisaintek Berdampak – Arah Penjaminan Mutu Pendidikan Kedokteran dan Optimalisasi Sistem Kesehatan Akademik (SKA), yang dipimpin oleh Prof. dr. Tonang Dwi Ardyanto, Sp.PK(K), Ph.D (Wakil Sekretaris 1 AIPKI). Terus lanjut sesi Diskusi Panel selanjutnya dengan tema Kebijakan Pendidikan Kedokteran : Transformatif dan Pelayanan Kesehatan di Indonesia (S1/profesi dokter, Sp1, Sp2).

Sesi istirahat siang itu saya mengikuti Prof. Dr. dr. Reviono, Sp.P(K), Dekan FK UNS Surakarta teman seangkatan di FK UGM 84 (Konga) menemui Dr. dr. Retno Sulistyo Wardani, Sp.T.H.T.B.K.L, Subsp.Rino(K), teman sesama Konga yang merupakan dokter spesialis THT konsultan rinologi di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Bersama Prof. Dr. dr. Reviono, SpP(K) Dekan FK UNS Surakarta dan Dr. dr. Retno Sulistyo Wardani, Sp.T.H.T.B.K.L, Subsp.Rino(K), konsultan rinologi di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), semuanya teman seangkatan di FK UGM 84 (Konga)

Kami bertiga lanjut mengikuti Hospital Tour di RS yang berdiri sejak 19 November 1919. RSCM memiliki peran sebagai RS pusat rujukan nasional yang terkenal dengan berbagai layanan unggulannya dan juga sebagai RSPU FK-UI. Nama rumah sakit ini diambil dari nama dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, seorang tokoh perjuangan Indonesia pada masa kolonial Belanda.

Bersama Prof. Dr. dr. Reviono, SpP(K) Dekan FK UNS dan Dr. dr. Retno Sulistyo Wardani, Sp.T.H.T.B.K.L, Subsp.Rino(K), di Pavilian Kanigara sayap bisnis menangah RS Cipto Mangunkusumo (RSCM)

Di RSCM, ribuan dokter dan tenaga kesehatan lain bersama-sama melayani ribuan pasien dari seluruh Indonesia yang setiap hari berkunjung ke RS ini. RSCM dengan 1.000 tempat tidur merupakan pusat rujukan nasional rumah sakit pemerintah dan merupakan tempat pendidikan dokter umum, dokter spesialis dan subspesialis, perawat, perawat spesialis, serta tenaga kesehatan lainnya.

Tiga serangkai KONGA yang jalan bersama dalam Hospital Tour RSCM

Lorong RSCM Jakarta yang legendaris

Bertiga kompak sampai IMERI FK UI

Setelah makan siang bersama di Kantin RSCM Kencana, kami berdua kembali ke IMERI FK UI untuk mengikuti diskusi panel selanjutnya dengan tema Kerangka Kerja & Peta Jalan Penjaminan Mutu Akademik Pendidikan Dokter dan Optimalisasi peran AIPKI dengan moderator Prof. Dr. dr. Haerani Rasyid, MKes., SpPD,K-GH., Sp-GK., FINASIM (Dekan FK Universitas Hasanuddin – Wakil Ketua 1 AIPKI). Lanjut Diskusi Panel dengan tema “Posisi dan Peran AIPKI pada Penjaminan Kualitas Pendidikan Kedokteran dan Optimalisasi AHS dan Dialog bersama Majelis Guru Besar Kedokteran Indonesia (MGBKI).

Berjalan kaki menyeberangi Jl. Salemba yang padat lalu lintas, untuk menuju ke RS Saint Carolus (RSSC) Jakarta

Sore itu saya melanjutkan kegiatan dengan mengunjungi RS Saint Carolus Jakarta, dengan berjalan kaki menyeberangi Jl. Salemba yang padat kendaraan. Begitu sampai, saya langsung teringat Lagu “Berpisah di Teras St. Carolus”. Lagu yang diciptakan oleh musisi legendaris Wedhasmara ini, merupakan lagu lawas yang menceritakan perpisahan pasien dengan seorang perawat. Lagu ini sangat populer dibawakan oleh penyanyi era 1960-an, yaitu Lilis Suryani dan sering direkam ulang oleh penyanyi seperti Rani pada Agustus 1999.

Kami bertemu di teras RS dengan Direktur RSSC Kolonel CKM (purn) dr. Robertus Bebet Prasetyo, SpU (K), saat mengingat lagu “Berpisah di Teras St. Carolus” yang diciptakan oleh musisi legendaris Wedhasmara

Rumah Sakit St. Carolus di Jakarta resmi dibuka pada 21 Januari 1919. Diprakarsai oleh Uskup Batavia Mgr. Edmundus Luypen, SJ dan dikelola oleh para biarawati dari Kongregasi Suster Suster Cinta Kasih Santo Carolus Borromeus (CB), rumah sakit ini memelopori pendidikan keperawatan dan kebidanan di Indonesia pada era 1940-an dan telah berkembang menjadi salah satu rumah sakit bersejarah tertua dengan fasilitas modern di ibu kota.


Dengan semboyan Kami Melayani dari Hati dan Membangkitkan Harapan, RS St. Carolus (RSSC) adalah rumah sakit tertua ke-2 se-Jakarta yang sudah berinovasi menjadi bangunan yang modern. Pelayanan yang diberikan RS St. Carolus sudah sesuai dengan standar kualitas terbaik, dokter & tenaga medis profesional serta, fasilitas lengkap.

Pendirian RSSC diawali dengan pertemuan sejumlah tokoh awam Katolik Batavia di bawah pimpinan Mgr. Edmundus Sybrandus Luypens SJ (Vikaris Apostolis Batavia), Pastor Sondaal SJ, Pastor van Swieten SJ, Bp. Karthaus, berinisiatif mendirikan sebuah rumah sakit Katolik di Batavia. Pada awal 1915 Mdr. Lucia Nolet, CB (Pemimpin Umum Kongregasi Suster-suster Cinta Kasih St. Carolus Borromeus 1914–1926) menerima tawaran Mgr. Luypens, SJ untuk membuka karya misi di Hindia Belanda – Batavia. Karena situasi perang dunia pertama saat itu, maka baru pada tanggal 22 Juni 1918, Sepuluh Suster CB dari Negeri Belanda berangkat ke Batavia dengan kapal laut, dan tiba di Tanjung Priok pada tanggal 7 Oktober 1918. Pada tanggal 21 Januari 1919 Pelayanan Kesehatan St. Carolus dimulai dan diberkati oleh Mgr. Edmundus S Luypen, SJ dengan kapasitas 40 tempat tidur.

Diterima di ruang kerja Direktur RSSC Kolonel CKM (purn) dr. Robertus Bebet Prasetyo, SpU (K)

Sejarah indah tersebut terngiang saat saya diterima oleh Direktur RSSC Kolonel CKM (purn) dr. Robertus Bebet Prasetyo, SpU (K) yang tegak, ramah dan sangat sibuk. Dokter TNI AD anggota Dokter Kepresidenan RI dan besan dr. Ambar Kelanawati (kakak kelas di FK UGM) sangat ramah sampai mengajak Hospital Tour menikmati sejarah RSSC.

Mengunjungi sepupu dik Gregorius Adi Utomo di Duren Sawit

Terimakasih dik Mukti yang sudah mendampingi suami dik Gregorius Adi Utomo di Duren Sawit setelah pulih dari sakit

Masuk Stasiun Buaran dari rumah adik sepupu di Duren Sawit Jakarta

Terus saya dijemput Bapak Mulyadi, sopir keponakan saya, dik Eka Novianto, sebagai Vice President Director di PT Summit Adyawinsa Indonesia yang merupakan lulusan S-1 Teknik Kimia UGM 1990. Keponakan yang pernah menjadi Wakil Presiden Senat Mahasiswa Fakultas Teknik UGM dan Pengurus Lembaga Kemahasiswaan itu mengutus pak Mulyadi dengan Honda CRV hitam mengantar saya ke Duren Sawit. Saya mengunjungi sepupu, dik Gregorius Adi Utomo yang baru tahap pemulihan setelah pasang stent jantung di RS Jantung Matraman. Setelah menguatkan harapan akan kesembuhan dan mendukung sikap sigap menjalani pemulihan dalam pendampingan oleh dik Mukti istrinya, saya diantar naik motor oleh adik iparnya menuju Stasiun Buaran. Saya menikmati perjalan dalam gerbong KRL.


KRL Commuter Line adalah sistem transportasi angkutan cepat komuter berbasis kereta rel listrik (KRL) yang dioperasikan oleh PT Kereta Commuter Indonesia (KAI Commuter), anak perusahaan dari PT Kereta Api Indonesia (Persero). Layanan ini telah beroperasi di wilayah Jakarta sejak tahun 1925, hingga kini melayani rute komuter di wilayah Jabodetabek serta lintas Yogyakarta—Palur.

Suasana sore di KRL Line biru dari Stasiun Buaran ke Manggarai Jakarta

Tertinggal KRL di Stasiun Manggarai

Saya naik Line Blue (biru) dari Stasiun Buaran, melewati Klender, Jatinegara, Matraman dan turun di Manggarai. Di stasiun besar persimpangan antar moda tersebut, saya naik ke lantai 3 untuk berganti Line Red (merah) melewati Cikini, Gondangdia, Gampir dan turun di Juanda. Lanjut naik Go-Jek menuju Hotel Borobudur.

Senang sekali dapat menyambut anak tengah kami arsitek yang sangat sibuk, Bimoseno, di Hotel Borobudur Jakarta

Jumat malam, 17 Juli 2026 saya menyambut kedatangan dik Bimoseno, anak kedua kami yang sangat sibuk, sepulang dari kantor biro arsitek, di lobi Hotel Borobudur. Terimakasih banyak dik Bimo, anak kami yang baik, membawakan nasi bungkus untuk makan malam bersama di hotel

Bersama Hendro Edi, yang telah tidak pernah ketemu lagi sejak bersama lulus dari SMP Bruderan Purworejo Jawa Tengah

Reuni dengan keluarga Hendro Edi

Lanjut saya menerima Hendro Edi, teman SMP Bruderan Purworejo yang telah tidak ketemu sejak lulus, meskipun sama-sama kuliah di UGM. Ditemani istri dan Yosaphat, anak tunggalnya yang baru lulus dari FK UI dan bersiap mengikuti program internship dokter, bersama Laras, anak bungsu kami. Malam itu kami semua ngobrol asyik di Kamar 838 Hotel Borobudur Jakarta sampai mata hampir lengket mengantuk hebat

Ganti hari

Sabtu pagi, 28 Juli 2026 saya berjalan kaki melewati Lapangan Banteng, untuk mengikuti misa kudus harian pagi di Gereja Katolik Santa Perawan Maria Diangkat ke Sorga, Paroki Katedral Jakarta.

Gereja Katolik Santa Perawan Maria Diangkat ke Sorga, Paroki Katedral Jakarta.

Suasana megah dan berwibawa interior Gereja Katolik Santa Perawan Maria Diangkat ke Sorga, Paroki Katedral Jakarta.

Kursi uskup (catedra) di dalam Gereja Katolik Santa Perawan Maria Diangkat ke Sorga, Paroki Katedral Jakarta.

Bersama Rm. Macharius Maharsono Probo, SJ di Gereja Katolik Santa Perawan Maria Diangkat ke Sorga, sebagai Pastor Kepala Paroki Katedral Jakarta.

Rancangan arsitek Antonius Dijkmans, Gereja Katedral Jakarta dalam bahasa Belanda: De Kerk van Onze Lieve Vrouwe ten Hemelopneming, diresmikan pada 1901 dan dibangun dengan arsitektur neo-gotik dari Eropa, yakni arsitektur yang sangat lazim digunakan untuk membangun gedung gereja beberapa abad yang lalu. Setelah misa kudus selesai, saya sempat berfoto bersama dengan Romo Macharius Maharsono Probo SJ, Pastor Kepala Paroki, yang pernah menduduki jabatan serupa di Gereja Katolik St Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta, di depan Graha Pemuda. Sebuah ruangan di samping Gereja Katedral Jakarta tersebut, pernah digunakan untuk menyusun draft Sumpah Pemuda yang digelorakan pada 28 Oktober 1928.

Masjid Istiqlal Jakarta yang tinggi menjulang

Lapangan Banteng dengan patung kebebasan Indonesia

Lanjut mampir sejenak ke Masjid Istiqlal dan Lapangan Banteng, sebelum kembali ke Hotel Borobudur Jakarta. Setelah menikmati sarapan berdua dengan dik Bimo, saya segera memberikan pelatihan online tentang Komite Medik yang diikuti oleh para dokter di RSUD Merauke, Papua Selatan.

Mengunjungi dr. FA Timmy Budi Yudhantara SpM, adik kelas di SMA Kolese de Britto Yogyakarta (JB 96), saat mendampingi dokter muda di RSSC Jakarta.

Sabtu pagi, 18 Juli 2026 saya kembali mengunjungi RS St Carolus untuk menemui dr. FA Timmy Budi Yudhantara SpM, adik kelas di SMA Kolese de Britto Yogyakarta (JB 96). Sambil membimbing dengan sabar para dokter muda dari FK Unika Atma Jaya Jakarta, dr. Timmy menerima saya di sela-sela melayani pasien. Terus saya jalan kaki lagi menyeberangi Jl. Salemba yang padat lalu lintas, untuk masuk ke Auditorium IMERI FK UI, mengikuti Forum Dekan FK AIPKI 2026 hari ketiga.

Bersama Ibu Dekan FK UMS Surakarta Dr. dr. Flora Ramona Sigit Prakoeswa, M.Kes., Sp.KK., Dipl.STD-HIV., FINSDV

Bersama Laksamana Pertama TNI (Purn.) dr. Herjunianto, Sp.PD, MMRS Bapak Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS)

Bersama Ketua Umum AIPKI, Prof. Dr. dr. Wisnu Barlianto, M.Si.Med., Sp.A(K) (berkacamata) dari FK UB Malang dan Sekjen AIPKI Dr. dr. Safrizal Rahman, M.Kes., Sp.OT (FK USK Banda Aceh)

Setelah diskusi panel yang dialogis, dengan pembicara Dr. dr. Flora Ramona Sigit Prakoeswa, M.Kes., Sp.D.V.E. Dekan FK UMS Surakarta berjudul Penjaminan Mutu sebagai Penggerak Transformasi: Perjalanan FK UMS Menuju Akreditasi Internasional. Lanjut tema Penerapan Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Kedokteran di Indonesia oleh Dr. dr. Riwanti Estiasari, Sp.S(K). Juga Sistem Pendidikan Kedokteran di Indonesia: From Policy to Practice oleh Prof. Dr, dr. Anna Rozaliyani, MBiomed, SpP(K) Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, yang mendapat masukan lebih luas oleh Prof. Dr. dr. Haerani Rasyid, M.Sc, Sp.PD-KGH, Sp.GK Dekan FK Unhas Makassar dan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, Dr. dr. Yenny, Sp.FK, terus saya ikut mengenal lebih jauh peran AIPKI dengan mengikuti diskusi paralel dengan subtopik utama terkait AIPKI.

Pertama, Fungsi dan Peran Utama Standarisasi Kurikulum: Berperan penting dalam merumuskan dan mengevaluasi kurikulum pendidikan kedokteran agar selalu relevan dengan perkembangan ilmu dan teknologi medis terkini. Diskusi di auditorium 1 & 2 di lantai 3 itu saya ikuti, bersamaan dengan diskusi kelompok Kedua, yang membahas tentang Koordinasi Antar Fakultas: Menjadi forum bagi para dekan fakultas kedokteran untuk bertukar informasi dan pengalaman dalam mengelola institusi. Juga Ketiga, Penataan Dokter Spesialis: Terlibat aktif dalam program pendampingan tenaga kesehatan dan pengembangan Rumah Sakit Pendidikan. Keempat, Penyelenggaraan AKTAPRO (Asesmen Komprehensif Tahap Profesi), dengan AIPKI menyelenggarakan try out nasional yang dahulu dikenal dengan sebutan TO AIPKI. Ujian simulasi ini dirancang bagi mahasiswa kedokteran sebagai persiapan untuk menghadapi Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD).

Setelah selesai diskusi paralel, saya menerima teman lama alumni FK UI angkatan 1985, dr. Thomas BJ Aliandoe yang pernah bertugas bersama di Kabupaten Sikka, Flores NTT tahun 1992-1995. Sebagai alumni FK UI, dr. Thomas mengajak saya keliling (Campus Tour).

Bersama alumni FK UI 85 dr. Thomas BJ Aliandoe

Kampus FK UI didirikan pada 2 Januari 1849 (Dokter-Djawa School) yang saat ini dipimpin oleh Ibu Dekan Prof. Dr. dr. Anna Rozaliyani, M.Biomed., Sp.P(K). FK UI tidak lepas dari sejarah pendidikan dokter di Indonesia yang dimulai sejak zaman penjajahan Belanda. Adapun momentum pendidikan kedokteran di Indonesia lahir pada tanggal 2 Januari 1849 melalui Keputusan Gubernemen No. 22. Ketetapan itu menjadi titik awal penyelenggaraan pendidikan kedokteran di Indonesia (Nederlandsch Indie), yang ketika itu dilaksanakan di Rumah Sakit Militer. Selang dua tahun, Dokter Djawa School hadir memenuhi kebutuhan tenaga dokter yang dimulai tahun 1851. Walaupun lulusan tersebut diberi gelar Dokter Djawa, sayangnya lulusan sekolah tersebut hanya dipekerjakan sebagai mantri cacar, karena saat itu sedang terjadi wabah cacar. Nyaris 10 tahun lamanya dokter-dokter Indonesia harus menunggu untuk memperoleh wewenang lebih dari sekadar mantri cacar.

Bersama alumni FK UI 85 dr. Thomas BJ Aliandoe di Aula FK UI Salemba yang bersejarah

Lebih dari 20 tahun kemudian, yaitu pada 1898, barulah berdiri sekolah pendidikan kedokteran yang disebut STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen). Para alumni ketika itu disebut Inlandsche Arts. Untuk memantapkan kualitas lulusan dalam hal praktik, pada akhir tahun 1919, didirikan Rumah Sakit Pusat CBZ (Centrale Burgerlijke Ziekenhuis, sekarang disebut RS Ciptomangukusumo/RSCM) yang dipakai sebagai rumah sakit pendidikan oleh siswa STOVIA. Kampus dengan dominasi warna putih yang kami kunjungi selesai dibangun pada tanggal 5 Juli 1920. Pada tanggal yang sama pula seluruh fasilitas pendidikan dipindahkan ke gedung pendidikan yang baru di Jalan Salemba 6 sekarang.

Diantar dr. Thomas BJ Aliandoe ke rumah teman

Setelah puas keliling kampus bekas FK, FE dan FT UI Salemba, saya diantar dr. Thomas BJ Aliandoe menuju rumah dab Fauzi, teman SMA Kolese de Britto Yogyakarta di seputaran Utan Kayu Jakarta. Setelah bercengkerama dan mengunjungi ibu mertuanya (88 tahun) yang sudah terpasang NGT sonde karena kesulitan menelan, terkait stroke otak kecil, saya pamit pulang.

Main ke rumah dab Nico Fauzi Bahari Fudhal, teman SMA Kolese de Britto Yogyakarta 1984, alumnus PPM (Pendidikan dan Pembinaan Manajemen) di seputaran Utan Kayu Jakarta

Siap makan menu enak banget buatan mbak Iswari (Alumni FPsi UGM dan Stece) dan dab Nico Fauzi Bahari Fudhal (teman SMA Kolese de Britto Yogyakarta 1984), di rumahnya Utan Kayu Jakarta


Terimakasih banyak kepada Bapak Ketua Lingkungan Albertus Utan Kayu di Paroki St. Yoseph Matraman Jakarta, dab Nico Fauzi Bahari Fudhal (JB 84) yang telah mengantarkan saya sesuai aplikasi, dari rumahnya yang artistik ke Terminal Terpadu Pulau Gebang Jakarta.

Diantar dab Nico Fauzi mendarat di Terminal Terpadu Pulo Gebang Jakarta

Luar biasa banget sambutan, dukungan, cerita dan inspirasi bisnis kamar kost yang diberikan olh dab Fauzi. Mohon maaf tidak membawakan oleh2, malah disiapkan makan siang banyak menu di meja makannya. Sampai ketemu lagi.

Siap naik bis tingkat Rosalia Indah berbodi Jetbus 3+SDD, yang gagah menjulang buatan karoseri Adiputro Malang, dan diusung sasis premium buatan Swedia Volvo BHR 430HP

Istirahat makan malam di Ros In Subang Jawa Barat dari Pulau Gebang Jakarta, sebelum lanjut ke Yogyakarta. Akan masuk di dalam lantai 2 bis tingkat Rosalia Indah berbodi Jetbus 3+SDD, yang gagah menjulang buatan karoseri Adiputro Malang, dan diusung sasis premium buatan Swedia Volvo BHR 430HP. Sangat lancar dan tleser2 melahap Tol Trans Jawa.

Salam holobis enak ngebis sambil mengenang hasil Forum Dekan FK AIPKI 2026 dari Salemba untuk dokter Indonesia

Terimakasih

Categories
anak dokter Healthy Life Jalan-jalan medicolegal

2026 Disiplin Profesi Dokter

DISIPLIN  PROFESI  DOKTER

fx wikan indrarto

Awalnya bingung dan dilematis, saat dihubungi oleh seorang pengacara untuk hadir dan memberikan pendapat medis pada sebuah sidang di hadapan Yang Mulia Majelis Disiplin Profesi (MDP) periode 2024–2028, yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/1630/2024, sebagai pemeriksa dugaan pelanggaran disiplin kedokteran.

Lihat juga :

https://www.instagram.com/p/Daj8DOMoBpW/?igsh=bnA2cDNseXJwNWI=

Siap terbang dari Bandara Adisucipto Yogyakarta

Setelah berkonsultasi kepada banyak senior dokter dan ahli hukum, saya akhirnya menyanggupinya dengan penuh was-was.

Rabu dini hari, 8 Juli 2026 saya memasuki Bandara Adisucipto Yogyakarta, yang lama tidak difungsikan sebagai bandara komersial. Hal ini karena seluruh rute penerbangan di Bandara Adisutjipto pindah ke Bandara Internasional Yogyakarta per 29 Maret 2020. Saya masuk perut pesawat milik maskapai Fly Jaya berkode KS101 jenis ATR 72-500. Pesawat ATR 72-500 adalah buatan perusahaan patungan Prancis-Italia bernama ATR,  kolaborasi antara Airbus (Prancis) dan Leonardo S.p.A. (Italia). ATR 72-500 adalah pesawat penumpang regional jarak pendek bermesin twin-turboprop, dengan efisiensi bahan bakarnya, berkapasitas standar 68 penumpang, dan mampu mendarat di landasan pendek.

Siap masuk ke kabin pesawat Fly Jaya berkode KS101 jenis ATR 72-500.

Mendarat dengan selamat di Bandara Legendaris Halim Perdanakusuma Jakarta

Bergaya di depan gerbang Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta

Setelah mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta, segera saya bergegas jalan kaki ke Gereja Katolik Santo Agustinus yang berada di bawah pengelolaan Keuskupan Agung Jakarta dan Ordinariat Militer Indonesia (OCI). Pada 29 Juli 1995, KASAU Marsekal TNI Rilo Pambudi meresmikan gereja ini dan Uskup Agung Jakarta, Mgr. Leo Soekoto, SJ memberkati bangunan gereja yang dinamai Agustinus, seorang filsuf yang bijaksana. Setelah berdoa sejenak memohon pendampingan Tuhan dan kebijaksanaan dalam menjalankan tugas pada sidang MDP, terus manyambut anak bungsu, Laras dan suaminya William, yang datang menguatkan saya.

Berjalan kaki pagi dari Bandara menuju Gereja Katolik Santo Agustinus Halim Perdana Kusuma Jakarta

Dekorasi kaca patri bagian belakang di Gereja Katolik Santo Agustinus Halim Perdana Kusuma Jakarta

Selesai berdoa bersama Laras dan William di Gereja Katolik Santo Agustinus Halim Perdana Kusuma Jakarta

Lanjut bertiga kami menuju Gedung MDP dan KKI (Konsil Kesehatan Indonesia) di Jl. Hang Jebat III Blok F 3, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sidang dimpimpin oleh Wakil Ketua MDP, yaitu Dr. Ahmad Redi, SH, MH, MSi dengan anggota dr. Erfen Gustiawan Suwangto, Sp.KKLP, Subsp. FOMC, SH, MH(Kes), PhD dan Ns. Arthur Daniel Thomas Betlehem Lapian, SE, SKep, MKes, MARS. Di ruang sidang yang bersifat tertutup untuk umum, saya duduk di kursi belakang menghadap meja majelis, dengan sebelah kiri saya duduk para penasehat hukum pengadu dan di sebalah kanan saya duduk dokter teradu yang didampingi para penasehat hukumnya juga.

Mendarat dengan selamat Gedung MDP dan KKI (Konsil Kesehatan Indonesia) di Jl. Hang Jebat III Blok F 3, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Setelah 2 orang saksi mengangkat sumpah menurut agamanya, lanjut saya juga mengangkat sumpah menurut agama Katolik, bukan untuk beraksi, tetapi menjadi ahli yang memberikan pendapat. Diikuti ahli di sebelah saya, seorang dosen senior bidang hukum perdata dari sebuah universitas di Jakarta.

Persiapan akhir sebelum tampil pada sidang MDP

Saya menyampaikan pendapat medis (medical opinion) sebagai keterangan ahli terkait Surat Panggilan Sidang Nomor: MD.01/MDP/1248/VI/2026 Tertanggal 30 Juni 2026. Pendapat Medis ini disusun atas permintaan Endang Supriyatna, SH, Sekjen NU Bogor Raya Law Firm dari Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBHNU). Dalam hal ini bertindak sebagai penasehat hukum seorang ibu yang beralamat di Kelapa Gading Jakarta Utara, yang melakukan pengaduan dugaan pelanggaran disiplin kedokteran kepada MDP pada tanggal 29 Mei 2026. Hal ini dipicu karena anak perempuannya (15 tahun) dirampas oleh mantan suaminya yang telah terjadi perceraian.

Saat bersama dengan ibunya sesuai hak asuh yang diperolehnya, anak tersebut bertumbuh secara sehat, baik mental dan fisik, normal, ceria dan berkembang dengan baik di rumah maupun di lingkungan sosial dan sekolah. Setelah bersama ayahnya, anak tersebut diperiksakan kepada seorang dokter di sebuah RS di Jakarta sebanyak 12 kali tatap muka, dan 9 kali tanpa dihadiri pasien. Ibu tersebut melaporkan dokter karena memberikan sedemikian banyak obat pada periode 2023-2025, hanya dengan mendengarkan uraian yang disampaikan oleh ayah anak tersebut, dan gagal untuk melihat potensi ketergantungan obat yang akan dialami oleh pasien. Selain itu, menurut ibu tersebut, dokter telah melakukan pelanggran disiplin profesi, karena sengaja meniadakan hak-hak ibu kandung, sekaligus membuat anak kehilangan haknya atas kebebasan.

Pendapat medis yang saya susun baru layak diketahui oleh umum, setelah perkara ini diputus, sehingga untuk sementara saya simpan. Seusia menjawab semua pertanyaan majelis hakim, para penasehat hukum dokter teradu dan ibu itu sebagai pengadu, saya pamit keluar ruangan sidang, saat sidang dilanjutkan dengan sesi lainnya.

Mendarat di Gereja Katolik Santo Yohanes Penginjil Paroki Blok B, di Jl. Melawai Raya 197 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Altar gereja yang menyimpan sebuah relikui Santo Yohanes Penginjil, berupa potongan kecil tulangnya.

Lansekap Gereja Katolik Santo Yohanes Penginjil Paroki Blok B, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Ditemani Laras dan William, kami menuju Gereja Katolik Santo Yohanes Penginjil Paroki Blok B, di Jl. Melawai Raya 197 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, untuk mengucap syukur dan berterimakasih atas semua rahmat Tuhan. Gereja ini dinamai menurut Yohanes Penginjil, yang dikenal sebagai salah seorang penulis Injil dan dua belas rasul Yesus Kritus. Di bawah altar gereja, terdapat sebuah relikui Santo Yohanes Penginjil, berupa potongan kecil tulangnya. Keaslian relikui ini dinyatakan oleh Uskup Agung Ferrara-Comacchio Italia utara, Mgr. Luigi Negri, pada tahun 2016. Relikui ini diserahkan oleh Communauté des Béatitudes di Medjugorje, Bosnia dan Herzegovina pada tahun 2018.

Gerbang Rumah Makan Mata Karanjang di Jl. Wijaya VI No. 14A, Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Furniture buatan William di Rumah Makan Mata Karanjang Jakarta Selatan.

Kami bertiga lanjut makan sore di Rumah Makan Mata Karanjang di Jl. Wijaya VI No. 14A, Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Restoran sederhana dan kasual ini menyajikan hidangan khas dari Sulawesi Utara. Selain aroma, rasa dan presentasi menu tersebut yang kami tuju, kami mengunjunginya juga untuk melihat furniturenya yang dibuat oleh perusaaah William di Jepara, Jawa Tengah

Siap naik MRT di Stasiun Blok M BCA

Kepadatan penumpang MRT Line 1 Utara Selatan Jakarta

MRT Jakarta yang telah kosong penumpang ternyata dicetuskan sejak 1985 oleh Prof. BJ. Habibie.

Setelah kenyang dan lega, kami segera menyusuri Blok M untuk menikmati Moda Raya Terpadu Jakarta (MRT Jakarta atau Jakarta Mass Rapid Transit). Ide pembangunan MRT di Jakarta telah dicetuskan sejak 1985 oleh Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi saat itu, Prof. BJ. Habibie. Kami akan menikmati sepenggal jalur pertama (Line 1 Utara Selatan) sepanjang 15,7 km yang menghubungkan Stasiun Lebak Bulus dengan Stasiun Bundaran HI Bank Jakarta. Kami naik dari Stasiun Blok M BCA (BML), melewati Blok A (BLA), Haji Nawi (HJN), Cipete Raya (CPR), Fatmawati Indomaret (FTM)dan turun Lebak Bulus Bank Syariah Indonesia (LBB)

Perpisahan kami di Stasiun MRT Lebak Bulus Bank Syariah Indonesia Jakarta Selatan

Lanjut kami berpisah jalan, karena William dan Laras pulang ke Bogor naik Grab Mobil dan saya jalan kaki ke Terminal Pondok Pinang. Saya lanjut menikmati kenyamanan kabin lantai 2 bis Rosalia Indah 119, bersasis premium Scania K410 buatan Swedia, berbodi Jetbus 3 double decker yang gagah buatan karoseri Adiputro Malang, dan dikenal sebagai millenial bus full tol trans Jawa AD 7254 DF.

Bis Rosalia Indah Scania K410 Jetbus 3 double decker

Kamis pagi, 9 Juli 2026 saya dapat kembali ke rumah di Yogyakarta.

Sidang dugaan pelanggaran disiplin profesi dokter sangat menekan jiwa bagi siapapun, bukan hanya sekedar pada dokter teradu saja. Semoga para dokter Indonesia mampu memberikan layanan medis kepada para pasien dengan semakin beretika, mermutu dan legal. Juga profesional dan manusiawi. Terimakasih

Salam dokter

-wikan

Categories
Healthy Life Jalan-jalan

2026 Baru di Selandia

BARU DI SELANDIA

fx. wikan indrarto & benedicta sari prasetyati

Setahun lalu kami terbang ke belahan bumi selatan, tepatnya di Johannesburg, Afrika Selatan pada Senin, 12 Mei 2025. Tahun 2026 ini kami akan menikmati lagi kedamaian bumi selatan, sehingga kami terbang ke Auckland di Selandia Baru (New Zealand atau NZ), ) sambil mengikuti International Conference on Bacteriology and Microbial Pathogenesis (ICBAMP). Apa yang Baru di Selandia?

Persiapan meninggalkan rumah Timoho Yogyakarta untuk petualangan ke Selandia Baru

Minggu pagi, 24 Mei 2026 kami naik bis tingkat milik PT. Rosalia Indah Transport (Ros In), yaitu sebuah perusahaan otobus Indonesia yang berpusat di Karanganyar, Jawa Tengah. Perusahaan otobus ini melayani bus antarkota, bus antar-jemput, bus pariwisata, dan kurir. Di samping mengelola bisnis transportasi, lewat anak-anak usahanya, perusahaan otobus ini juga merambah ke bisnis penyantunan (hospitality) seperti rumah makan, rest area, dan hotel; serta produksi air minum dalam kemasan. Kantor pusat dan garasi utama perusahaan otobus ini terletak di Jalan Raya Solo–Ngawi km 7,5, Jaten, Karanganyar, Jawa Tengah.

Siap naik bus tingkat Rosalia Indah, dengan bodi Jetbus 3+ seri SDD buatan karoseri Adiputro Malang yang gagah, diusung sasis premium buatan Swedia Scania K410CB dari Yogyakarta

Kabin lantai 2 yang dingin dan nyaman di bus tingkat Rosalia Indah yang diusung sasis premium buatan Swedia Scania K410CB meluncur ke Ciputat, Tangerang Selatan.

Kami meluncur ke Ciputat, Tangerang Selatan di lantai 2 bus tingkat Rosalia Indah, dengan bodi Jetbus 3+ seri SDD buatan karoseri Adiputro Malang yang gagah, diusung sasis premium buatan Swedia Scania K410CB, dilengkapi dengan suspensi udara. Bis Ros In milik keluarga Bapak Yustinus Soeroso, yang mulai menapaki dunia transportasi bus sebagai kernet, kondektur bus, hingga akhirnya agen bus, di perusahaan otobus Timbul Jaya. Rosalia Indah saat ini mengoperasionalkan 389 unit bus reguler dan 50 unit bus tingkat, seperti yang kami naiki.

Bertemu dab Welly Sutanto, sesama alumni SMA Kolese de Britto Yogyakarta angkatan 1984, untuk berdoa bersama di Kapel Santo Christoforus, Pemalang Jawa Tengah, milik Rosalis Indah.

Kami sempat bertemu sejenak dengan sobat lama Dab Welly Sutanto, sesama alumni SMA Kolese de Britto Yogyakarta angkatan 1984, untuk berdoa bersama di Kapel Santo Christoforus, di Rest Area Ros In KM 319 di Pemalang, Jawa Tengah. Santo Christoforus adalah pelindung para pelaku perjalanan, yang kami yakini juga akan melindungi kami sampai di tempat tujuan tanpa halangan.

Siap berangkat setelah tertidur pulas semalam di rumah kakak saya (Pakde Toto Ismintarto dan Budhe Hastari Soekardi) di Villa Pamulang Tangerang Selatan.

Kami menginap semalam di rumah kakak saya (Pakde Toto Ismintarto dan Budhe Hastari Soekardi) di Villa Pamulang Tangerang Selatan. Senin pagi, 25 Mei 2026 kami mengantar Pakde Totok ke Stasiun Halim untuk naik Whoosh Kereta Sangat Cepat ke Bandung, karena ada tugas kunjungan proyek renovasi Hotel Padma. Selanjutnya kami diantar driver pak Solikh mengungjungi besan, Bapak Suharyadi dan Ibu Endang di Tambun, Kabupaten Bekasi. Juga mengjungi pengantin baru, anak bungsu kami Laras dan William, yang sedang mengerjakan proyeknya di rumah Cileungsi Bogor. Terus sowan Bulik Partinah adik sepupu bapak saya di Salaman, Magelang yang sedang tinggal di rumah anak sulungnya, dik Prastowo di Harapan Indah Bekasi.

Senang sekali dapat mengunjungi besan, Bapak Suharyadi dan Ibu Endang di Tambun, Kabupaten Bekasi, yang semuanya sehat

Bahagia sekali dapat mengunjungi pengantin baru, anak bungsu kami, Laras dan William, di rumah proyeknya di Cileungsi, Kabupaten Bogor

Sowan Bulik Yohana Tentrem Supartinah (84 tahun) adik sepupu bapak saya, di rumah dik Daniel Prastowo di Perumahan Harapan Indah Bekasi.

Suasana akademik di perpustakaan pribadi dik Daniel Prastowo di Perumahan Harapan Indah Bekasi.

Makan siang bersama pak Solikh, driver yang telah mengantarkan kami berkeliling

Terus kami menuju Stasiun Manggarai, untuk naik KA Bandara Basoetta ke Bandara Internasional Soekarno Hatta di Tangerang, terus ganti KA Layang (Sky Train) ke terminal 3. Setelah membereskan urusan bagasi dan imigrasi, malam itu kami terbang meninggalkan tanah air tercinta, Indonesia

KA Bandara yang kami naiki dari Stasiun Manggarai Jakarta ke Bandara Soetta di Tangerang

Interior Commuter Line Basoetta dari Stasiun Manggarai Jakarta ke Bandara Soetta yang cerah dan nyaman

KA Layang (Sky Train) menuju ke Terminal 3 Bandara Soetta Tangerang

Bersiap meninggalkan Bandara Soetta Indonesia di Gerbang Keberangkatan Internasional

Kami terbang dalam perut Qantas Airlines Limited, maskapai penerbangan nasional Australia. QANTAS singkatan dari “Queensland and Northern Territory Aerial Services yang sering disebut “The Flying Kangaroo”, berpusat di Sydney, dengan pangkalan utama di Bandar Udara Internasional Kingsford Smith, dan merupakan maskapai terbesar Australia. Qantas adalah maskapai tertua ketiga di dunia dan maskapai tertua yang beroperasi menggunakan nama aslinya.

Di dalam perut Qantas Airways Airbus 330-200 QF 42 yang merupakan tulang punggung armada pesawat berbadan lebar (wide-body), siap terbang ke Sydney Australia

Tahun 2007, Qantas terpilih menjadi maskapai penerbangan terbaik kelima di dunia berdasarkan penelitian Skytrax, jatuh dari posisi kedua pada tahun 2005 dan 2006. Qantas terbang ke 81 kota di 5 benua dengan penerbangan Bouing 747-400 tanpa henti dari Sydney ke Buenos Aires. Juga terdapat penerbangan ke Dubai dengan superjumbo Airbus A380.

Sering diklaim, khususnya pada film 1988 Rain Man, bahwa kehebatan Qantas adalah tidak pernah mengalami kecelakaan fatal. Pernyataan ini cukupberalasa, tetapi sebenarnya hanya membenarkan fakta bahwa Qantas tidak pernah kehilangan pesawat jet. Pesawat jet Qantas saat ini terdiri dari Airbus A330-200, Airbus A330-300, Airbus A380-800, jumbo jet Airbus A380-800, Boeing 737-800 dan Boeing 787-9.

Kami naik Qantas Airways Airbus 330-200 QF 42 yang merupakan tulang punggung armada pesawat berbadan lebar (wide-body) Qantas Airways, yang melayani rute domestik utama Australia dan rute internasional jarak jauh. Pesawat ini sangat populer karena menawarkan kabin yang senyap dan kenyamanan optimal, yang kami nikmati dari Jakarta Soekarno Terminal 3, selama 6 jam 45 menit menempuh 3.416 mil untuk mendarat di Sydney Kingsford Terminal 1 di Australia.

Mendarat dengan selamat di Sydney (SYD) Kingsford Terminal 1 di Australia pada Selasa pagi, 26 Mei 2026

Taman buatan yang hijau (Fragrance Garden) di Sydney (SYD) Kingsford Terminal 1 di Australia saat menunggu transit ke Auckland Selandia Baru

Dalam guyuran hujan menuju perut Qantas Airways Boeing 737-800 QF 145 di Sydney (SYD) Kingsford Terminal 1 Australia.

Bersama para penumpang bule semua di dalam perut Qantas Airways Boeing 737-800 QF 145 menuju Auckland Selandia Baru.

Selanjutnya kami terbang dengan Qantas Airways Boeing 737-800 QF 145 dari Sydney Kingsford Terminal 1 Australia, pintu 31 selama 3 jam 10 menit sejauh 1.345 mil dan mendarat Selasa sore, 26 Mei 2026 di International Auckland di Selandia Baru. Bandar Udara Auckland disebut Taunga Rererangi, yaitu bandara terbesar dan tersibuk di Selandia Baru.

Suasana penataan perumahan warga di kota Auckland yang terlihat dari jendela pesawat Qantas Airways Boeing 737-800 QF 145

Ornamen kayu tradisional motif Suku Maori, penduduk asli Selandia Baru di gerbang kedatangan penumpang internasional di Auckland

Selamat datang di Auckland, Selandia Baru yang disebut Tamaki Makaurau oleh penduduk asli suku Maori

Bandara ini terletak 21 kilometer (13 mil) di selatan pusat kota Auckland. Selesai menjalani proses imigrasi dan deklarasi barang bawaan yang paling ketat dibandingkan negara lain yang pernah kami kunjungi, kami segera menyeberang jalan di depan pintu keluar penumpang internasional untuk mengikuti sesi terakhir ’International Conference on Bacteriology and Microbial Pathogenesis’ (ICBAMP), yang diselenggarakan di Novotel Auckland Airport 35 Tom Pearce Drive Auckland. Ini adalah sebuah kesempatan untuk mempertemukan para profesional industri, ahli kesehatan, akademisi, dan dokter cendekiawan dari berbagai negara, untuk  meningkatkan kolaborasi di bidang bakteriologi ini.

Bergaya sejenak saat selesai konferensi di zona penurunan tamu di Novotel Auckland Airport 35 Tom Pearce Drive Auckland.

Pada sesi ‘meet the distinguished experts’ sesi terakhir, kami sempat melihat paparan Claudio Pusceddu (Businco Oncology Hospital, Cagliari, Italia) dan Marina Filimonova (Tsyb Medical Radiological Research Centre, Ulitsa Zhukova, Obninsk, Kaluga Oblast, Rusia), tentang Insights and Innovations, Microbial Genomics and Its Applications, Translational Research in Microbiology, Innovations in Microbial Laboratory Techniques dan Global Health Perspectives on Microbial Diseases. Pada hal sesi sebelumnya yang menampilkan Mary Jane Walsh (Northern Michigan University, USA), Michael Neuman (Barry University, Miami Shores, Florida, USA), dan Abhishek Ruia (Abhishek Speech & Hearing Centre, Kanpur, Uttar Pradesh, India) sebenarnya lebih menarik, yaitu Advancements in Bacteriology, Microbial Pathogenesis Mechanisms, Infectious Diseases: Current Challenges and Solutions, Clinical Diagnostics in Microbiology, Antimicrobial Resistance: Trends and Responses, Molecular Techniques in Microbial Research, Pathogen-Host Interactions.

Gelap malam sudah mendekap Novotel Auckland Airport 35 Tom Pearce Drive Auckland.

Setelah acara penutupan konferensi yang sederhana, kami segera masuk kembali ke areal kedatangan penumpang internasional di Auckland International Airport yang berlokasi di Ray Emery Drive, Māngere, Auckland, Selandia Baru. Dibuka 29 Januari 1966 dan dikelola oleh Auckland International Airport Limited (AIAL), bandara ini menjadi contoh sukses bagaimana pengelolaan profesional dan visi bisnis bisa mengubah infrastruktur publik menjadi perusahaan bernilai miliaran dolar.

Berbeda dengan bandara lain yang bergantung pada biaya penerbangan (aeronautical revenue), AIAL sejak awal menyadari bahwa diversifikasi pendapatan adalah kunci bertahan hidup, sehingga mulai berinvestasi di sektor non-aero seperti komersial & retail, parkir dan transportasi darat, pengembangan properti, dan fasilitas logistik terintegrasi.

Hal baru di Selandia yang nikmat dan aman seperti promosi bank di rumah sendiri, merupakan salah satu pendapatan Non-Aero Auckland Airport.

Kini, lebih dari 50% pendapatan Auckland Airport berasal dari sektor non-aero, menjadikannya salah satu bandara dengan model bisnis paling seimbang di dunia. Strategi Non-Aero adalah Menciptakan Nilai di Luar Terminal, misalnya Bisnis Ritel & F&B. Auckland Airport membangun The District, kawasan komersial berisi toko, kafe, dan restoran yang dirancang bukan hanya untuk penumpang, tetapi juga untuk masyarakat sekitar.

Konsepnya sederhana tapi efektif: “Menjadikan bandara sebagai tempat tujuan, bukan sekadar titik transit.” Pendekatan ini memperluas pasar mereka — dari penumpang pesawat ke konsumen lokal dan wisatawan domestik. Menurut laporan keuangan AIAL 2023, Pendapatan non-aero mencapai lebih dari NZD 340 juta, atau sekitar 56% dari total revenue.

Mendarat di halaman Kiwi International Hotel di 411 Queen St, Auckland City Center, Auckland.

Kami lanjut naik taksi Toyota Highlander bertarif NZD 80 untuk menuju Kiwi International Hotel di 411 Queen St, Auckland City Center, Auckland, New Zealand untuk beristirahat di kamar 251.

(Bersambung)

Rabu, 27 Mei 2026 kami terbangun di kamar 251 Kiwi International Hotel di 411 Queen St, Auckland City Center, Auckland, Selandia Baru atau New Zealand untuk memulai hari. Selandia Baru terdiri dari dua pulau besar (Pulau Utara dan Pulau Selatan) dan beberapa pulau lainnya yang lebih kecil. Karena letaknya yang jauh dari aktivitas manusia di bumi, Selandia Baru merupakan kepulauan terakhir yang didiami oleh manusia.

Petualangan hari kedua dimulai dengan jalan kaki dari Kiwi International Hotel di 411 Queen St, Auckland City Center, Auckland, Selandia Baru

Jalan kaki pagi menyusuri Upper Queen Street Auckland, yang mendaki cukup tinggi

Selama masa terisolirnya yang panjang, di Selandia Baru berkembanglah suatu keanekaragaman hayati yang berbeda, baik itu tumbuhan maupun hewan. Yang paling terkenal adalah sejumlah besar spesies burung yang unik, banyak di antaranya punah setelah tibanya manusia, dan mamalia yang dibawa serta. Dengan iklim bahari yang sedang, daratan Selandia Baru sebagian besarnya ditutupi hutan. Topografi negara yang bervariasi, dan puncak-puncak gunungnya yang tajam sangat dipengaruhi oleh tonjolan tektonik tanah, dan letusan gunung berapi yang disebabkan oleh tumbukan lempeng Pasifik dan lempeng Indo-Australia di bawah permukaan bumi.

Bangsa Polinesia mendiami Selandia Baru pada 1250–1300, dan membangun kebudayaan Māori yang berbeda, dan orang Eropa mulai merintis hubungan dengan mereka pada 1642. Pengenalan kentang dan senapan lontak telah memicu pergolakan di antara sesama Suku Māori pada permulaan abad ke-19, yang mengarah pada Peperangan Senapan antarsuku. Orang Eropa pertama yang mencapai Selandia Baru adalah penjelajah Belanda, Abel Tasman pada 1642. Dalam sebuah pertemuan yang menegangkan, empat awak kapal terbunuh, dan paling sedikit seorang Māori terpukul oleh canister shot. Orang Eropa tidak ada yang mengunjungi lagi Selandia Baru sampai 1769 ketika penjelajah Inggris, James Cook, memetakan hampir semua pesisirnya.

Geraja Santo Benedictus di 1 St Benedict’s Street, Eden Terrace (Newton) Auckland

Pagi itu kami berjalan kaki menuju Geraja Santo Benedictus di 1 St Benedict’s Street, Eden Terrace (Newton) Auckland. Pada tahun 1866, Uskup Aucland Mgr. Pompallier memberkati dan meresmikan Gereja kayu kecil St. Francis de Sales di tempat yang saat itu bernama East Street. Gereja ini akan digunakan sebagai kapel pemakaman dan berfungsi sebagai pos terdepan Katedral Auckland, untuk melayani sejumlah besar umat Katolik yang tinggal di daerah Newton. Kapel kecil ini melayani penduduk Newton selama hampir dua puluh tahun. Namun, seiring pertumbuhan penduduk di daerah tersebut, kebutuhan akan gereja yang lebih besar menjadi semakin mendesak. Pada tahun 1879, para biarawan Benediktin dari Biara Ramsgate, di Inggris, diberi tanggung jawab atas paroki Newton yang baru dibentuk.

Jadwal misa kudus yang berbeda dengan yang terlihat di website yang belum diperbaharui

Bersama Bapak Sugeng Wijanto di rumahnya, Seine Road Forrest Hill Auckland, sebuah kawasan elite

Ternyata misa kudus harian pagi di gereja tersebut telah diubah jadwalnya, dan tidak diperbaharui pada websitenya, sehingga kami tidak sempat ikut misa kudus. Setelah kembali ke hotel dan sarapan, kami segera meluncur naik taksi menuju rumah Bapak Sugeng Wijanto di Seine Road Forrest Hill Auckland, pimpinan di kantor kakak saya (Mas Toto Ismintarto). Ir. Sugeng Wijanto, MEng, PhD ahli struktur bangunan tahan gempa adalah President Director PT Gistama Intisemesta, sebuah konsultan struktur yang banyak menangani proyek-proyek gedung tinggi di Indonesia. Selain itu, beliau juga Staf Akademik Universitas Trisakti Jakarta dan salah satu Dewan Penasihat – Civil Engineering – Petra Christian University Surabaya.

Menyerahkan kenangan untuk ibu Suni, berupa tas yang langsung diselempangkan di bahu dan cinderamata yang langsung digenggam erat di tangan

Setelah bertemu Ibu Sumi yang sedang WFH, pada sebuah kantor administrasi Kesehatan. Pak Sugeng dan Bu Sumi yang sangat ramah, menyambut kami dengan terbuka di rumahnya yang asri tinggal berdua, karena kedua anak dan ketiga cucunya telah mandiri di rumah lain. Segera kami diajak naik sedan mewah Mercedez Benz C200 berpalat nomer istimewa 1111SW, selain huruf biasanya di depan deratan angka, juga angkanya semua angka 1 dan huruf hanya 2, singkatan inisial namanya Sugeng Wiyanto, sementara biasanya 3 huruf.

Kami bersiap naik sedan mewah Mercedez Benz C200 berpalat nomer istimewa 1111SW

Kami diajak mengelilingi Devonport, yaitu sebuah areal tepi laut bersejarah yang menawan di kawasan North Shore, Auckland. Sepanjang perjalanan, Pak Sugeng yang ahli dalam bidang struktur gempa dan baja, banyak bercerita tentang keahliannya dan riset internasional yang telah dilakukannya. Sepanjang North Shore yang terletak tepat di seberang Waitematā Harbour di pusat bisnis kota Aucland, kawasan ini terkenal dengan suasananya yang santai, jalanan yang dipenuhi vila kolonial bergaya Victoria, serta pemandangan indah ke arah cakrawala kota Auckland. Devonport yang kami kunjungi dengan taksi melalui jembatan (AJ Hackett Auckland Bridge Bungy & Climb) dapat dicapai juga hanya dengan 12 menit perjalanan feri dari pusat kota Auckland.

Devonport adalah salah satu pemukiman Eropa paling awal di Auckland pada abad ke-19. Kota ini memiliki sejarah vulkanik yang dramatis, terlihat dari bentuk lahannya, hubungan yang erat dengan laut, dan sejarah panjang pemukiman oleh suku Maori. Kota ini telah menjadi rumah bagi Angkatan Laut Selandia Baru selama bertahun-tahun, dan memiliki hubungan yang kuat dengan Angkatan Darat. Devonport merupakan pusat penting untuk pembuatan kapal di masa awal dan basis transportasi hingga ke utara Waiwera. Kota ini diakui memiliki beberapa pemandangan jalanan terbaik dari bangunan komersial dan perumahan abad ke-19 di Selandia Baru.

Bergaya di depan Devenport Museum di 33 Vauxhall Road, Devonport, Auckland 0624.

Kami menuju Devenport Museum di 33 Vauxhall Road, Devonport, Auckland 0624. Museum ini dibuka pada tanggal 10 Februari 1980 dan taman dibuka pada tanggal 22 November 1981. Museum Devonport mengkhususkan diri pada memorabilia dan materi sumber yang terutama berkaitan dengan sejarah Devonport dan penduduknya. Artefak dan materi lain dapat dipertimbangkan untuk dimasukkan ke dalam koleksi.

Teluk Hauraki dan kota Auckland di kejauhan

Di mulut North Head (Maungauika) yang menyimpan jaringan bungker, terowongan bawah tanah, dan benteng pertahanan militer

Selanjutnya kami menikmati pemandangan alam dari Gunung Berapi Purba, melihat Mount Victoria Reserve (Takarunga), Teluk Hauraki dan kota Auckland. Juga menjelajahi terowongan bawah tanah untuk keperluan militer yang bersejarah, yaitu North Head (Maungauika) yang menyimpan jaringan bungker, terowongan bawah tanah, dan benteng pertahanan militer yang digunakan sejak akhir abad ke-19 hingga Perang Dunia II.

Pemandangan Kota Auckland dari puncak gunung

Duduk santai di Torpedo Bay Navy Museum, sekaligus makan siang dengan pemandangan pantai yang indah

Terus menikmati pemandangan banyak warga yang bersantai di pinggir pantai berpasir emas yang tenang dan ramah keluarga, seperti Cheltenham Beach dan Narrow Neck Beach. Lanjut belajar sejarah maritim Selandia Baru di Torpedo Bay Navy Museum, sekaligus makan siang dengan pemandangan pantai yang indah. Habis itu menyusuri Victoria Road menyajikan deretan butik independen, galeri seni, toko buku, kafe trendi, serta produsen cokelat terkenal di Devonport Chocolates.

Di tengah the Arcade di Victoria Road yang menyajikan deretan butik independen, galeri seni, toko buku, dan kafe trendi.

Ferry Terminal Auckland di areal Viaduct Harbour, yaitu kawasan tepi laut yang ramai dan terletak di jantung kota Tāmaki Makaurau, Auckland

Terus melihat Devonport Wharf, yaitu terminal penyeberangan penumpang yang menuju Ferry Terminal Auckland. Kami terus menyeberangi ulang Auckland Harbour Bridge yang sebelumnya kami lewati saat naik taksi, bersama pak Sugeng menuju arah utara melalui Northern Motorway dan keluar di Esmonde Road. Kami mencapai Ferry Terminal Auckland di areal Viaduct Harbour, yaitu kawasan tepi laut yang ramai dan terletak di jantung kota Tāmaki Makaurau, Auckland. Sebagai rumah bagi beberapa bar, restoran, dan akomodasi terbaik di kota ini, Viaduct Harbour memiliki sesuatu untuk semua orang.

Maritime Museum di seberang Viaduct Harbour Marina yang bergaya butik.

Selain menawarkan layanan perhotelan kelas dunia, Viaduct Harbour juga merupakan rumah bagi Viaduct Harbour Marina yang bergaya butik, di seberang Maritime Museum. Marina ini juga berfungsi sebagai pusat bagi sekitar 70 kapal sewaan, yang secara rutin membawa pengunjung untuk menjelajahi Pelabuhan Waitematā dan pulau-pulau di sekitarnya.

Bergaya di depan Waitematā Station (sebelumnya dikenal sebagai Britomart Transport Centre) Auckland.

Kami terus berjalan kaki sampai ke Stasiun kereta utama di pusat kota (CBD) Auckland, yaitu Waitematā Station (sebelumnya dikenal sebagai Britomart Transport Centre). Terletak di ujung Queen Street, stasiun ini adalah pusat utama untuk semua layanan kereta komuter perkotaan dan bus di Auckland. Setelah minum teh dan roti sore, kami berpisah dengan Pak Sugeng yang herus kembali ke rumahnya sebelum kepadatan lalu lintas terjadi di sore hari. Kami segera berjalan kaki kembali ke hotel sejaiuh 1,6 km di jalanan yang mendaki, ke Upper Queen Street.

Senang mendapat penjelasan langsung dari seorang ahli gempa bumi, tentang penguatan struktur tahan gempa bangunan lama, dengan penyangga baja.

Melihat struktur tahan gempa, yaitu besi saling melintang yang diberi pelumas, di luar gedung tinggi itu di Auckland

Dalam perjalanan pulang ke hotel, kami melewati Balai Kota Auckland di 301 – 317 Queen Street, Auckland, yang megah bergaya Edwardian, berfungsi administratif (seperti rapat dan sidang Dewan), dilengkapi dengan Aula Besar yang terkenal dan Ruang Konser yang dimodelkan berdasarkan Gewandhaus di Leipzig, dan dianggap memiliki akustik terbaik di dunia. Balai Kota Auckland dibangun pada tahun 1910, meski sudah direncanakan sejak awal 1872.

Duduk beristirahat sejenak saat perjalanan pulang dari pusat kota (CBD) Auckland, yaitu Waitematā Station menyusuri Queen Street menuju hotel.

Persimpangan Greys Avenue dan Queen Street dipilih sebagai lokasi pada tahun 1880, dan dirancang oleh arsitek JJ & EJ Clark yang berbasis di Melbourne. Batu fondasi diletakkan oleh walikota Arthur Myers pada 24 Februari 1909 dan gedung tersebut secara resmi dibuka pada 14 Desember 1911 oleh Lord Islington, Gubernur Selandia Baru. Desain Kebangkitan Renaisans Italia lima lantai ini memiliki kemiripan dengan Balai Kota Lambeth di Brixton, London, yang dibangun sekitar waktu yang sama.

Balai Kota Auckland rancangan arsitek JJ & EJ Clark yang berbasis di Melbourne.

Sambil berjalan kaki pulang dari Balai Kota Auckland, kami jadi mengingat bahwa pemerintah Inggris mengangkat James Busby sebagai Residen untuk Selandia Baru pada 1832. Pada 1840 Inggris dan Māori menandatangani Perjanjian Waitangi yang menjadikan Selandia Baru sebagai jajahan Inggris (Imperium Britania). Pada 1907, atas permintaan Parlemen Selandia Baru, Raja Edward VII memproklamasikan Selandia Baru sebagai sebuah dominion di lingkungan Imperium Britania.

Setelah Perang Dunia II, Selandia Baru bersama Australia, dan Amerika Serikat bergabung di dalam perjanjian keamanan ANZUS. NamunAmerika Serikat pada 2010 membekukan perjanjian itu setelah Selandia Baru melarang senjata nuklir.

Orang Selandia Baru menikmati salah satu standar hidup tertinggi di dunia pada dasawarsa 1950-an, tetapi mengalami kejatuhan yang mendalam pada dasawarsa 1970-an. Pasar ekspor produk pertanian Selandia Baru telah didiversifikasi secara luas sejak dasawarsa 1970-an, dengan ekspor wol yang pernah mendominasi digantikan oleh produk peternakan, daging, dan minuman anggur.

Dijemput Ibu Gabriela Dian bersama Hana dan Freya di hotel kami di Auckland,

Setelah beristirahat sore sebentar di hotel, kami segera dijemput Ibu Gabriela Dian yang tinggal di 24/94 Glengarry Rd, Glen Eden Aucland bagian barat, bersama Hana dan Freya kedua anaknya kelas 5 dan 3 SD. Kedua anak tersebut pernah saya periksa di RS Panti Rapih Yogyakarta, karena kedua sepupunya pasien saya dan Ibu Dian yang asli Yogyakarta sedang berlibur mudik.

Dokter ketemu pasiennya

Ibu Dian yang sedang mengambil master bidang pekerja sosial di Massey University, mengajak kami jalan2 menggunakan Toyota Aqua hydbrid warna biru mengjungi seputar bagian barat Auckland, sampai makan malam bersama di Wendy’s Humbergers 570 Hillsborough Road Lynfield, Auckland, Selandia Baru.

Makan malam bersama di Wendy’s Humbergers Auckland

Kami berdua diantar kembali ke Hotel Kiwi Internasional untuk menginap dan beristirahat pada malam kedua kami, di Selandia baru.

(bersambung)

Kamis pagi, 28 Mei 2026 kami terjaga di kamar 215 Hotel Kiwi Internasional di Auckland, Selandia Baru. Kami jadi teringat tentang burung kiwi yang merupakan hewan endemik dan lambang nasional Selandia Baru. Satwa unik ini tidak dapat terbang, memiliki bulu menyerupai rambut, dan indra penciuman yang sangat tajam. Mereka sangat dijaga kelestariannya sehingga keberadaannya menjadi ikon identitas negara tersebut.

Menara huruf AUCKLAND yang penuh warna

Burung kiwi tidak dapat terbang, karena memiliki sayap yang sangat kecil dan tersembunyi di balik bulunya, burung ini sepenuhnya berjalan atau berlari di darat. Kiwi adalah satu-satunya burung di dunia yang memiliki lubang hidung di ujung paruhnya, bukan di pangkal. Mereka mengandalkan penciuman luar biasa untuk mencari makan di dalam tanah.

Meski ukuran tubuhnya mirip dengan ayam domestik, kiwi mampu menghasilkan telur yang besarnya mencapai sepertiga dari ukuran tubuh induknya. Burung kiwi adalah hewan yang aktif di malam hari dan biasanya menghabiskan siang hari di dalam liang yang mereka gali. Secara budaya, burung kiwi sangat melekat dengan Selandia Baru. Saking ikoniknya, warga lokal Selandia Baru sering dijuluki sebagai “Kiwi”. Kata “kiwi” itu sendiri berasal dari bahasa Māori yang menirukan suara kicauan burung tersebut.

Suasana misa kudus harian pagi di St Patrick’s Cathedral Auckland.

Megahnya Katedral Santo Patrick atau Santo Yosef (St Patrick’s Cathedral) di Auckland

Pagi itu kami melawan dingin pada suhu 16 derajat berjalan kaki menuju Katedral Auckland yang bernama resmi Katedral Santo Patrick atau Santo Yosef (St Patrick’s Cathedral). Kami akan mengikuti misa kudus harian pagi pk. 7 di sebuah gereja katedral Katolik yang terletak di sudut Jalan Federal dan Jalan Wyndham, Auckland CBD, Selandia Baru. Katedral Auckland merupakan gereja induk bagi Keuskupan Auckland dan katedral atau takhta bagi Uskup Auckland.

Katedral Santo Patrick atau Santo Yosef (St Patrick’s Cathedral) dirancang oleh arsitek Edward dan Thomas Mahoney, bergaya Neo-Gotik.

Pada tahun 1841, tanah tersebut dibeli oleh Uskup Mgr. Jean Baptiste Pompallier, uskup Katolik pertama di Selandia Baru. Sebuah kapel kayu dibangun pada tahun 1842, digantikan oleh gereja batu pada tahun 1848, yang diperluas pada tahun 1884, dan akhirnya dibangun ulang menjadi katedral saat ini pada 23 Februari 1908. Gereja ditetapkan sebagai katedral pada 6 September 1984, dan ditahbiskan pada 1 September 1963. Dirancang oleh arsitek Edward dan Thomas Mahoney, bergaya Neo-Gotik, saat ini dipimpin oleh Uskup Mgr. Stephen Marmion Lowe.

Patung Santo Yosef pelindung para pekerja di dalam Katedral Santo Patrick atau Santo Yosef (St Patrick’s Cathedral) Auckland.

Suasana di dasar Sky Tower Auckland

Setelah mengikuti misa kudus harian pagi itu, lanjut kami menyusuri jalanan di Auckland yang merupakan kota metropolitan terbesar di Selandia Baru dengan penduduknya berjumlah 1.354.900 jiwa. Auckland yang dalam bahasa Māori disebut Tamaki Makau Rau, terletak di Pulau Utara, Selandia baru. Penghuni awal dari kota ini adalah pelaut Māori, mereka datang sekitar tahun 1350, kemudian disusul oleh orang-orang dari kepulauan Polinesia. Mereka membangun desa-desa di sekitar gunung berapi yang memiliki tanah yang subur. Penduduk Māori di daerah tersebut diperkirakan mencapai sekitar 20.000 orang sebelum kedatangan orang Eropa. Peperangan antar suku inilah yang menyebabkan wilayah ini memiliki jumlah penduduk Māori yang relatif rendah ketika orang Eropa datang dan mendirikan pemukiman di wilayah ini.

Lambang kemajuan teknologi bangunan berstruktur tinggi Sky Tower di Auckland.

Pada 27 Januari 1832, Joseph Brooks Weller, anak tertua dari Weller bersaudara, dari Otago dan Sydney membeli tanah yang sekarang menjadi situs modern kota Auckland dari “Cohi Rangatira”. Setelah penandatanganan Perjanjian Waitangi pada bulan Februari 1840, Gubernur pertama Selandia Baru, Kapten William Hobson, memilih daerah ini sebagai ibu kota baru, dan mengambil nama “Auckland” sebagai penghormatan kepada pelindung dan mantan komandannya George Eden, Earl of Auckland, yang pada saat itu menjadi Viceroy of India. Tanah tempat Auckland didirikan merupakan hadiah kepada Gubernur tersebut oleh suku lokal Māori Ngati Whatua, sebagai tanda goodwill dan dengan harapan bahwa pembangunan kota akan menarik peluang dagang dan politik untuk suku tersebut. Auckland secara resmi dinyatakan sebagai ibu kota Selandia Baru pada tahun 1841, tetapi pada tahun 1865, ibu kota Selandia Baru dipindahkan ke Wellington.

Sky Tower Auckland adalah gedung tertinggi di Belahan Bumi Selatan.

Kami mencapai Sky Tower, sebauh menara dengan ketinggian lebih dari 1000 kaki (305 meter), Sky Tower Auckland adalah gedung tertinggi di Belahan Bumi Selatan, dan merupakan bagian ikonik dari cakrawala Auckland. Kami tidak naik ke puncak untuk menikmati pemandangan panorama kota yang tak tertandingi, di mana kita sebenarnya dapat melihat pelabuhan Auckland dan pegunungan yang telah kami kunjungi hari sebelumnya di kejauhan. Dari Sky Tower di Victoria Street West, Auckland Central, kami berjalan cepat melawan dinginnya angin yang berhembus pada suhu 16 derajat dan pendakian menanjak untuk kembali ke hotel, karena kami harus bersiap check out.

Melawan dinginnya angin Auckland, yang berhembus pada suhu 16 derajat dan pendakian menanjak untuk kembali ke hotel.

Nasi goreng sapi menu China sebagai makan siang porsi besar setelah check out hotel

Kami menikmati makan siang menu China di depan Kiwi International Hotel, serta membungkusnya karena posri terlalu banyak. Kami sudah ditunggu Mr Abara, orang Ethiopia yang mengantar kami dari Bandara Auckland saat datang, menggunakan Toyot Highlinder. Siang itu datang menggunakan Toyota Camry Hybrid untuk mengantar kembali ke Bandara Auckland dengan tarif NZD80.

Diantar Mr. Abrar orang Ethiopia naik taxi Toyota Camry Hybrid KDJ258 ke Bandara Auckland

Jetstar Airways jenis Airbus A 320 siap terbang ke Wellington

Mendarat dengan selamat dan siap mengelilingi Wellington di Selandia Baru

Selamat datang di Wellington ibu kota Selandia Baru

Kami naik  Jetstar Airways Airbus A 320 yang terlambat terbang 1 jam dan baru mendarat menjelang malam hari. Penerbangan selama 1 jam 5 menit sejauh 292 mil di Wellington Intl. Setelah mendrat di Wellington, kami dijemput oleh sopir temannya Mr. Abrar sesame orang Ethiopia dengan pembayaran tunai NZD 75 untuk mencapai Hotel Waterloo & Backpackers, 1 Bunny Street Pipitea, Wellington Central, New Zealand, 6011

Gerbang Hotel Waterloo & Backpackers, 1 Bunny Street Pipitea, di pusat kota Wellington yang menghadap laut.

Kamis, 28 Mei 2026 kami tidur pulas di kamar 308 Hotel Waterloo & Backpackers, 1 Bunny Street Pipitea, di pusat kota Wellington, Selandia baru

(bersambung)

Menikmati udara Wellington Central, New Zealand, dalam suhu 8 derajat.

Jumat, 29 Mei 2026 kami terbangun di kamar 308 Hotel Waterloo & Backpackers, 1 Bunny Street Pipitea, Wellington Central, New Zealand, dalam suhu 8 derajat. Nama hotel tersebut mengingatkan kami akan Pertempuran Waterloo yang terjadi pada tanggal 18 Juni 1815 di dekat kota Waterloo sekitar 15 km selatan ibu kota Belgia, Brussel (yang saat itu berada dalam wilayah Kerajaan Bersatu Belanda), dan merupakan pertempuran terakhir Napoleon. Kekalahan pasukan Prancis melawan pasukan Inggris dan koalisinya, di bawah pimpinan Arthur Wellesley, Pangeran Wellington ke-1 ini menjadi penutup sejarahnya sebagai Kaisar Prancis. Pertempuran ini juga dicatat dalam sejarah sebagai penutup dari seratus hari terakhir Napoleon sejak pelariannya dari pulau Elba, saat masa pengasingan pertamanya. Akhirnya Napoleon menjadi tawanan perang Inggris dan ditahan di Pulau St. Helena di Samudra Atlantik hingga meninggalnya pada 5 Mei 1821.

Menikmati udara pagi Wellington dalam suhu 8 derajat untuk ikut misa kudus harian pagi.

Wellington merupakan ibu kota negara Selandia Baru dan kota ini merupakan daerah urban kedua terbesar di Selandia Baru, serta merupakan ibu kota nasional terpadat di Oseania. Penduduknya berjumlah 389.700 jiwa. Wellington berada di ujung barat daya Pulau Utara di antara Selat Cook dan Rimutaka Range. Daerah perkotaan Wellington merupakan pusat populasi utama dari wilayah di selatan Pulau Utara. Kota ini diberi nama Wellington sebagai penghormatan pada Arthur Wellesley, Pangeran Wellington serta pemenang pada Pertempuran Waterloo. Gelar pangeran datang dari kota Wellington di County Somerset di Inggris.

Gereja Katedral Metropolitan Hati Kudus dan Santa Maria Bunda-Nya lebih dikenal sebagai “Katedral Hati Kudus” di Wellington

Altar utama Gereja Katedral Hati Kudus di Wellington

Pagi itu kami berjalan kaki mendaki bukit untuk mengikuti kisa kudus harian pagi di Gereja Katedral Metropolitan Hati Kudus dan Santa Maria Bunda-Nya (Metropolitan Cathedral of the Sacred Heart and St Mary his Mother) lebih dikenal sebagai “Katedral Hati Kudus” (Sacred Heart Cathedral), di Hill Street, Wellington. Gereja yang didirikan 1850 ini, awalnya dipimpin oleh Mgr. Philippe J. Viard, SM (1849-1872) saat ini takhta bagi Mgr. Paul. G Martin, SM Uskup Agung Wellington, dengan gaya arsitektur palladian dan ditetapkan sebagai katedral Wellington pada tahun 1984. Kami sempat berfoto bersama dengan pastor dari Tanzania setelah misa kudus.

Bersama seorang pastor misionaris dari Tanzania setelah misa kudus di Gereja Katedral Wellington.

Setelah selesai minguktui misa kudus harian pagi, kami segera bergegas menikmati kompleks pusat pemerintahan di ibukota negara ini. Selandia Baru adalah monarki konstitusional dengan demokrasi parlementer, meskipun konstitusinya tidaklah tertulis. Raja Inggris Charles III adalah kepala negara yang diberi gelar Raja Selandia Baru. Raja diwakili oleh gubernur jenderal, yang ditunjuk oleh raja atau ratu atas nasihat perdana menteri. Gubernur jenderal dapat menjalankan hak prerogatif mahkota (seperti meninjau kasus-kasus ketidakadilan, dan mengangkat Dewan Menteri (kabinet), duta besar, dan pejabat publik penting lainnya). Charles III Raja Inggris yang diwakili Gubernur Jenderal Ny. Dame Cindy Kiro dengan Chris Hipkins sebagai Perdana Menteri Selandia Baru sejak tahun 2023.

Perpustakaan Parlemen & Bowen House, sebuah bangunan tambahan dalam kompleks Parlemen Selandia Baru di Wellington.

Gedung Parlemen (Parliament House) yaitu gedung utama bergaya Neoklasik tempat sidang parlemen Selandia Baru.

The Beehive (Sayap Eksekutif) yang berbentuk sarang lebah adalah kantor Perdana Menteri dan Kabinet Selandia Baru. Saat ini Mr Chris Hipkins sebagai Perdana Menteri Selandia Baru sejak tahun 2023

Selandia Baru adalah negara demokrasi parlementer dan sebuah wilayah Persemakmuran Britania (Commonwealth Realm). Secara nasional, kekuasaan politik eksekutif dijalankan oleh kabinet, yang dikepalai oleh perdana menteri. Raja Inggris Charles III adalah kepala negara dan karena ketidakhadirannya, sang raja diwakili oleh gubernur jenderal. Pusat Pemerintahan Penting di Wellington berupa The Beehive (Sayap Eksekutif) yang selesai dibangun pada 1981, berbentuk sarang lebah yang unik, menampung kantor Perdana Menteri dan Kabinet. Gedung Parlemen (Parliament House), yaitu gedung utama bergaya Neoklasik tempat sidang parlemen berlangsung. Gedung Pemerintah (Government House), yaitu kediaman resmi Gubernur Jenderal Selandia Baru. Gedung Pemerintah Lama (Old Government Buildings), yaitu bangunan kayu terbesar di belahan bumi selatan, kini menjadi bagian dari Universitas Victoria. Yang terakhir adalah Perpustakaan Parlemen & Bowen House, sebuah bangunan tambahan dalam kompleks Parlemen. Hanya Gedung Pemerintah (Government House), yaitu kediaman resmi Gubernur Jenderal Selandia Baru yang tidak sempat kami datangi, karena lokasinya terpisah cukup jauh dari pusat kota.

Gedung Pemerintah Lama (Old Government Buildings), yaitu bangunan kayu terbesar di belahan bumi selatan, kini menjadi bagian dari Universitas Victoria di Wellington.

Gedung Parlemen Selandia Baru sebagai pusat pemerintahan dipilih oleh William Mein Smith dalam rencana Wellington tahun 1840. Setelah ibu kota Selandia Baru dipindahkan dari Auckland ke Wellington pada tahun 1865, Gedung Parlemen dibangun pada tahun 1873. Bangunan tertua yang masih ada di lokasi ini adalah Perpustakaan Parlemen, yang dirancang oleh Thomas Turnbull dengan gaya Gotik Victoria. Gedung Parlemen saat ini selesai dibangun pada tahun 1922 setelah gedung parlemen asli hancur terbakar pada tahun 1907. Sayap eksekutif parlemen dibangun berdasarkan konsep tahun 1964 oleh Sir Basil Spence, dijuluki ‘Sarang Lebah’ karena bentuknya, bangunan bundar setinggi sepuluh lantai di atas podium. Gedung Beehive secara resmi dibuka oleh Ratu Elizabeth II pada tanggal 28 Februari 1977.

Patung perunggu Richard Seddon, perdana menteri Selandia Baru yang paling lama menjabat.

Lahan yang ditata dengan indah mengelilingi gedung parlemen dan terbuka untuk umum. Lahan tersebut berisi beberapa patung termasuk patung perunggu Richard Seddon, perdana menteri Selandia Baru yang paling lama menjabat, di halaman depan utama.

Patung Pouwhenua yang dipahat oleh Ra Vincent di Wai-titi Landing, tempat pendaratan perahu kano (waka) bangsa Maori di Wellington.

Kami melihat 2 buah patung Pouwhenua yang dipahat oleh Ra Vincent di Wai-titi Landing. Pada zaman pra-Eropa, lokasi ini berada di garis pantai dan merupakan tempat pendaratan perahu kano (waka). Nama Wai-titi merujuk pada aliran kecil yang mengalir di antara Kumutoto Pā dan Pipitea Pā pada abad kesembilan belas. Semua bangunan tersebut berada di sekitar hotel kami, termasuk Stasiun Kereta Api Wellington (Wellington Central) adalah stasiun kereta api utama yang merupakan terminus selatan dari Jalur Utama Pulau Utara.

Gerbang Stasiun Kereta Api Wellington (Wellington Central) yang berdiri gagah.

Gedung Stasiun Wellington di atas 1.500 tiang pancang yang diletakkan pada tanggal 17 Desember 1934, sangat luas, kokoh dan terawat baik

Stasiun ini dibuka pada Juni 1937, menggantikan dua stasiun terminus Wellington sebelumnya, Lambton dan Thorndon. Karena lokasi yang direncanakan berada di lahan reklamasi, tiang pancang uji ditancapkan pada tahun 1928 sesuai kualitas tanah, digunakan tiang pancang Vibro yang dicor di tempat untuk menopang struktur. Bangunan ini merupakan struktur besar pertama di Selandia Baru yang menggabungkan tingkat ketahanan gempa yang signifikan, dengan 1.500 tiang pancang pada batu fondasi yang diletakkan pada tanggal 17 Desember 1934 oleh Duke of Gloucester. Ini adalah suatu peristiwa yang disaksikan oleh sekitar 5.000 orang dan akhirnya stasiun ini dibuka pada tanggal 19 Juni 1937 oleh Gubernur Jenderal Selandia Baru, Viscount Galway.

Patung Mahatma Gandhi karya pematung asal India, Gautam Pal di halaman Stasiun Wellington

Kereta Api ke Auckland di Stasiun Wellington

Di halaman Stasiun Wellington terdapat patung Mahatma Gandhi yang diresmikan pada 2 Oktober 2007. Karya pematung asal India, Gautam Pal ini merupakan hadiah dari Pemerintah India untuk kota Wellington dan patung ini sengaja ditempatkan di halaman stasiun, karena Gandhi dikenal sebagai pejuang yang merakyat dan gemar bepergian menggunakan kereta api serta transportasi umum.

Makan siang berdua di RM Malaysia di Lambton Quay, pusat kota Wellington

Kami berdua makan siang menu sate ayam seharga NZD 19 dan nasi Hainan dengan ayam dengan telor dadar seharga NZD 25 di sebuah RM Malaysia di Lambton Quay, pusat kota Wellington. Lanjut menikmati keindahan, ketenagan dan kerapian ibu kota Selandia Baru yang luar biasa. Selandia Baru termasuk dalam negara maju dengan tingkat pertumbuhan ekonomi menyaingi Eropa Selatan dalam beberapa hal, Selandia Baru termasuk dalam salah satu negara terbaik misalnya pada Indeks Pembangunan Manusia yang menempatkan Selandia Baru pada urutan ketiga. Ekspor merupakan andalan utama perekonomian negara ini sehingga dampak perekonomian dunia akan berpengaruh langsung pada kondisi ekonomi negara ini.

Mencari gerbang Kereta Gantung merah Wellington (Cable Car Lane) di antara deretan gedung tinggi

Gerbong pertama Kereta Gantung merah Wellington (Cable Car) yang akan kami naiki

Rel yang di tengahnya ada kabel penarik Kereta Gantung merah Wellington (Cable Car)

Kami lanjut menikmati Kereta Gantung merah Wellington yang ikonis dan bersejarah, untuk melihat pemandangan kota dan pelabuhan pada hari cerah. Kereta Gantung Wellington atau Cable Car Wellington Adalah sebuah kereta funikuler akan membawa kami dari pusat kota melalui terowongan bersejarah dan melintasi tiga jembatan hingga ke puncak bukit di sekitarnya. Banyak wisatawan yang menikmati makan siang di dek Cabletop Eatery yang cerah, yang menyajikan makanan lezat di salah satu titik pandang terbaik di Wellington.

Stasiun tertinggi Kereta Gantung merah Wellington (Cable Car)

Pemandangan kota dan pelabuhan Wellington dengan Selat Cook dari puncak tertinggi Kereta Gantung merah Wellington

Kebun Raya (Botanical Garden) di sekitar stasiun tertinggi Kereta Gantung merah Wellington

Di puncak tersebut kami menikmati Wellington Botanic Garden. Banyak wosatawan yang menggunakan jalur jalan kaki di lereng bukit, termasuk jalur berjalan kaki 40 menit untuk kembali ke pusat kota melalui Bolton Street Cemetery yang bersejarah dan Beehive.

Observatorium Carter di Kebun Raya (Botanical Garden) Wellington

Space Place di Kebun Raya (Botanical Garden) Wellington

Wellington Botanic Garden meliputi lahan seluas 25 hektar (62 acre) di sebuah lembah antara Thorndon dan Kelburn, dengan Jalan Glenmore sebagai batas di sepanjang dasar lembah. Salah satu titik aksesnya adalah dari puncak Kereta Gantung Wellington. Taman ini didirikan di pada tahun 1868,diperluas pada tahun 1871, dan memiliki koleksi hutan asli yang dilindungi, pohon konifer, koleksi tanaman, pajangan musiman, dan taman mawar yang luas . Patung-patung besar tersebar di seluruh taman. Di bagian tenggara Kebun Raya dekat stasiun kereta gantung dan museum terdapat beberapa observatorium. Observatorium Carter (juga dikenal sebagai Space Place) dimiliki dan dikelola oleh Dewan Kota Wellington.

Gerbang Museum Wellington yang dilengkapi jangkar kapal

Museum Wellington (dahulu bernama Museum Maritim dan Museum Kota & Laut ) yang terletak di Queens Wharf

Selanjutnya kami mengunjungi Museum Wellington (dahulu bernama Museum Maritim dan Museum Kota & Laut ) yang terletak di Queens Wharf, tidak jauh dari Stasiun Kereta Kabel Wellington. Museum ini menempati Bond Store tahun 1892, sebuah bangunan bersejarah di Jervois Quay di tepi laut Pelabuhan Wellington. Pada tahun 2013, museum ini terpilih oleh The Times sebagai salah satu dari 50 museum terbaik di dunia. Museum ini berawal pada tahun 1972 sebagai Museum Maritim Wellington dari Dewan Pelabuhan Wellington.

Wellington Waterfornt (areal pelabuhan Wellington) untuk menganang R. Lloyd.

Persewaan helikopter untuk melihat pemandangan kota di Wellington Waterfornt (areal pelabuhan Wellington)

Selanjutnya kami berjalan kaki laki menikmati Wellington Waterfornt, atau areal pelabuhan Wellington. Di situ kami menganang R. Lloyd, seorang pekerja pelabuhan Wellington, yang tewas saat bekerja pada September 1913 ketika, “sebuah derek jatuh menimpanya; tidak ada yang bisa disalahkan”. Pada tahun-tahun booming sebelum Perang Dunia I, pelabuhan Wellington adalah yang tersibuk di negara itu. Seribu enam ratus pekerja pelabuhan bekerja keras untuk memuat mentega, wol, daging, dan rami untuk ekspor secara manual ke dalam tali pengangkat yang berat, yang kemudian diangkat ke atas kapal dengan derek hidrolik.

Wellington Waterfornt (areal pelabuhan Wellington) untuk menganang pendaratan tentara.

Area tepi laut yang kami datangi ini merupakan lokasi keberangkatan pasukan untuk Perang Boer di Afrika Selatan, kedatangan marinir AS dalam Perang Dunia II, dan perselisihan serikat pekerja dan manajemen tepi laut yang terkenal pada tahun 1951.

Dermaga Bluebridge Cook Strait Ferries yang ramai penumpang

Rencana kami berjalan kaki mengunjungi Museum Te Papa Tongarewa di Wellington, tepatnya di 55 Cable Street, Te Aro, Wellington kami batalkan, karena kedua betis kami sudah kaku dan kedua pipi kami membeku. Kami putuskan untuk berlawanan arah, kembali ke hotel sambil melihat dermaga Bluebridge Cook Strait Ferries, yang melayani jalur Wellington di Pulau Utara ke Picton di Pulau Selatan. Jim Barker pendiri Strait Shipping memperkenalkan layanan pengiriman baru ke Selat Cook pada tahun 1992, dimulai dengan kapal MV Straitsman dari Tasmania. Selanjutnya feri Bluebridge semakin modern dan merupakan salah satu penyeberangan feri paling indah di dunia.

Setelah lelah menjelajah Wellington, kami segera kembali ke hotel untuk persiapan pulang ke Indonesia.

(selesai)

Ditulis di kamar 308 Hotel Waterloo & Backpackers, 1 Bunny Street Pipitea, di pusat kota Wellington, Selandia baru

Categories
anak Jalan-jalan

2025 Timur Laut Jawa Tengah

2025  TIMUR  LAUT  JAWA  TENGAH

fx. wikan indrarto & b. sari prasetyati

Liburan pergantian tahun kami isi dengan menjelajah darat (overland) teritorial Jawa Tengah bagian timur laut, dengan tujuan utama Lasem, di perbatasan utara Jawa Tengah dengan Jawa Timur.

Petualangan ini dapat dinikmati juga pada : https://www.instagram.com/p/DSzyO5JElLm/?igsh=MWd1Nm0xanZzaXlpeQ==

Mengajak dik Bimo (anak kedua, arsitek muda yang sedang WFA) dan dik Laras (anak ketiga, yang sedang menunggu ujian nasional dokter Indonesia UKMPPD), meninggalkan rumah Timoho Yogyakarta untuk menjelajah timur laut Jawa Tengah

Kami meninggalkan Yogyakarta Minggu siang, 28 Desember 2025 dengan tujuan pertama adalah Keraton Kartasura. Memang saat ini tinggallah sebagai bekas keraton dan ibu kota Kesultanan Mataram pada periode 1680–1745. Tepatnya sesudah Keraton Plered dihancuran pada Perang Trunajaya. Keraton ini akhirnya tidak digunakan lagi karena dipindahkan ke Surakarta.

Menikmati kemegahan benteng Keraton Kartasura yang sedang dipugar di Sukoharjo, Jawa Tengah

Keraton Kartasura didirikan oleh Sultan Amangkurat II pada tahun 1680, karena Keraton Plered saat itu telah diduduki Pangeran Puger yang ditugasi mempertahankan Plered oleh Sultan Amangkurat I, ketika terjadi pemberontakan Trunajaya. Pangeran Puger akhirnya dapat dibujuk untuk bergabung ke Kartasura dan mengakui kedaulatan kakaknya sebagai Amangkurat II.

Bekas Keraton Kartasura sekarang terletak di wilayah administratif Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo. Peninggalan yang masih tersisa dari Keraton Kartasura hingga saat ini adalah sebagian dinding cepuri (benteng), baluwarti, taman keraton (Gunung Kunci), gedong piring, gedong obat, dalem pangeran, dan toponim yang merupakan komponen kota Kartasura di masa lalu

Benteng Keraton Kartasura yang terbuat dari bata merah

Akibat pemberontakan Pangeran Trunajaya, maka Sultan Amangkurat I beserta keluarganya mengungsi ke arah barat termasuk putranya yaitu Raden Mas Rahmat. Dalam pengungsiannya, ia mengangkat Raden Mas Rahmat sebagai adipati anom (putra mahkota) yang sebelumnya hak putra mahkota telah diberikan kepada Pangeran Puger.

Amangkurat I beserta keluarga dan para pengikutnya sudah berada di daerah Banyumas. Dalam kondisi yang serba sulit, Amangkurat I jatuh sakit hingga akhirnya wafat. Sesuai wasiatnya sebelum meninggal, Amangkurat I dimakamkan di dekat gurunya di Tegalarum, Adiwerna, Tegal, Jawa Tengah sudah mendekati Jawa Barat.

Sementara itu Raden Mas Rahmat menyatakan diri sebagai susuhunan Mataram menggantikan Amangkurat I yang bergelar Amangkurat II. Pada tahun 1678 Amangkurat II mengerahkan pasukannya dengan dibantu VOC Belanda menyerang Pangeran Trunajaya di Kediri. Pada akhirnya Pangeran Trunajaya tertangkap dan dijatuhi hukuman mati, sehingga kekuasaan Mataram berhasil dipulihkan oleh Amangkurat II.

Usai menumpas Trunajaya, Amangkurat II menarik pasukannya menuju Semarang, kemudian ia memerintahkan kepada Patih Nerangkusuma agar membuka hutan Wanakerta yang akan dibangun menjadi keraton baru. Amangkurat II mulanya merupakan raja tanpa istana karena Keraton Plered telah diduduki adiknya, yaitu Pangeran Puger yang mengangkat diri sebagai Sunan Ngalaga. Pada 28 November 1681 Sunan Ngalaga menyerah kepada Jacob Couper, perwira VOC yang membantu Amangkurat II. Pada Rebo 11 September 1680 Amangkurat II secara resmi menempati Keraton Kartasura dan memindahkan pusat pemerintahannya di sana.

Gerbang Petilasan Keraton Kartasura yang telah hancur karena Geger Pacinan

Kehancuran Keraton Kartasura

Peristiwa Geger Pacinan dan perubahan sikap Pakubuwana II terhadap para pemberontak Tionghoa menjadi awal dari kehancuran Keraton Kartasura. Kekuatan pasukan pemberontak yang kuat berhasil mengalahkan pertahanan pasukan Kartasura di Boyolali, Teras, Mojosongo, dan Ngasem. Serangan ini membuat Van Hohendroff memberikan saran kepada Pakubuwana II agar menyelamatkan diri. Seusai penyerbuan, para pemberontak mulai merampas dan menjarah emas, karungan uang, dan barang-barang berharga lainnya. Selain melakukan penjarahan para pemberontak juga membakar perkampungan di sekitar keraton. Kekosongan kursi raja karena Susuhunan yang melarikan diri, diisi oleh Sunan Kuning yang kekuasaanya juga didukung oleh orang-orang Tionghoa

Peninggalan Kraton Kartasura yang digunakan pada tahun 1680-1742

Siang itu kami membayangkan kemegahan Keraton Kartasura yang merupakan istana Kerajaan Mataram Islam. Keraton megah yang dibangun tahun 1680 oleh Amangkurat II di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, menjadi saksi sejarah sebelum pindah ke Surakarta. Kami hanya melihat reruntuhan benteng (cepuri) dan situs pemakaman keluarga raja yang bersejarah dan kaya akan kisah heroik dan kehancuran, serta menjadi cikal bakal Keraton Surakarta.

Masjid Hastana Karaton Kartasura di Desa Ngadirejo, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, sekitar 11 km dari Keraton Surakarta.

Gerbang Petilasan Keraton Kartasura yang dibangun tahun 1680

Peninggalan: Yang tersisa hanyalah reruntuhan benteng bata merah (benteng cepuri dan baluwarti) serta situs makam keluarga raja (seperti makam keluarga Pakubuwana IX dan X).

Bentuk asli Benteng Cepuri Keraton Kartasura, benteng berbentuk segi delapan dengan dinding bata tanpa perekat, disebut juga Benteng Sri Penganti.

Setelah puas terkagum dengan bayangan kemegahan Keraton Kartasura yang saat ini tinggal petilasannya saja, kami segera melanjutkan penjelajahan darat (overland) menuju Petilasan (peninggalan) Kerajaan Pajang yang terletak di perbatasan Desa Pajang, Kota Surakarta dengan Desa Makamhaji, Kabupaten Sukoharjo. Petilasan Pajang ini telah menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang menawarkan pengalaman mendalam tentang perjalanan sejarah Nusantara, khususnya Jawa. Situs bersejarah ini merupakan saksi bisu kejayaan salah satu kerajaan Islam penting di Tanah Jawa pada abad ke-16.

Pintu gerbang Petilasan Keraton Pajang di Surakarta

Kerajaan Pajang didirikan oleh Sultan Hadiwijaya atau yang lebih dikenal sebagai Jaka Tingkir pada tahun 1568, setelah runtuhnya Kerajaan Demak Bintaro. Sebagai penerus Kerajaan Demak, Pajang memainkan peran penting dalam penyebaran Islam di Jawa dan perkembangan budaya Jawa.

Nuansa sakral, tenang dan teduh di areal Petilasan Keraton Pajang

Meskipun tidak ada istana yang tersisa, area Petilasan Kerajaan Pajang menawarkan nuansa yang tenang dan sakral. Pengunjung dapat melihat beberapa peninggalan seperti gapura, batu berukir, dan makam yang diyakini terkait dengan tokoh-tokoh penting kerajaan.

Salah satu daya tarik utama adalah Makam Sultan Hadiwijaya yang terletak di Desa Makamhaji, Kartasura. Kami tidak sempat mengunjungi makam ini siang itu, meski sering menjadi tujuan ziarah bagi masyarakat yang ingin menghormati leluhur sekaligus berdoa. Di depan makam terdapat gapura berbentuk paduraksa dengan hiasan ukiran kayu dan tembok batu bata bertuliskan kaligrafi Arab yang mengelilingi makam.

Selain makam, terdapat pula peninggalan berupa artefak seperti batu bata kuno dan struktur bangunan yang menjadi petunjuk penting bagi arkeolog dalam mempelajari sejarah Kerajaan Pajang. Meski banyak bagian yang telah terkikis oleh waktu, sisa-sisa ini tetap memberikan gambaran tentang kehidupan di masa kejayaan Pajang.

Suasana di dalam Petilasan Kerajaan Pajang

Petilasan Kerajaan Pajang juga menjadi lokasi untuk berbagai acara budaya dan tradisional. Pada malam Jumat Legi, masyarakat setempat menggelar kegiatan tahlil bersama dengan menyediakan bancakan sego liwet sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur.

Selanjutnya kami santap siang di Warung Pedas Cak Kend seputaran Laweyan, lanjut mengunjungi Masjid Raya Sheikh Zayed, Solo. Masjid ini dibangun pada tahun 2021, dan merupakan replika dari Masjid Sheikh Zayed di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Masjid ini merupakan hibah dari Pemerintah Uni Emirat Arab kepada Pemerintah Indonesia.

Masjid Agung Sheikh Zayed di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab yang kami kunjungi 10 Mei 2025

Masjid ini kemudian dirancang mirip aslinya dengan empat menara menjulang, satu kubah utama, dikelilingi 81 kubah-kubah kecil, dan ornamen bangunan Timur Tengah. Diresmikan pada 14 November 2022 oleh Presiden Joko Widodo dan Presiden Uni Emirat Arab Mohamed bin Zayed Al Nahyan, masjid ini menggunakan karpet bermotif batik serta tembok di dekat imam bertuliskan Asmaulhusna.

Masjid Raya Sheikh Zayed, di Gilingan Solo (Surakarta) yang dibangun pada tahun 2021

Sebelum menjadi masjid, lokasi tempat masjid ini berdiri dahulu merupakan bekas depot minyak Pertamina Gilingan. Seiring bertumbuhnya Kota Surakarta, depot minyak Gilingan menjadi semakin tidak efektif untuk distribusi BBM karena berlokasi di tengah-tengah permukiman. Akibatnya, rencana distribusi minyak menggunakan jaringan perpipaan ke depo ini menjadi gagal karena persoalan biaya. Depot minyak ini ditutup pada tahun 2008 karena beroperasinya depot baru di Boyolali. Pada tahun 2012, Pertamina merencanakan membangun hotel dan gedung pameran serta kawasan wisata kuliner di atas lahan depot minyak tersebut, tetapi akhirnya gagal terencana. Sebagian kecil dari lahan eks-depot minyak tersebut akhirnya dijadikan stasiun pengisian bahan bakar.

Masjid megah hasil rancangan PT Arkonin dan PT Airmas Asri Architects

Pada tahun 2019, Luhut Binsar Pandjaitan, yang menjabat sebagai Menko Marinves, membeberkan rencana UEA untuk membangun masjid di atas lahan depot minyak Gilingan. Terkait dengan hal tersebut, Duta Besar UEA kemudian meninjau lokasi eks-depot minyak Gilingan tersebut sebagai lokasi pembangunan masjid, sebagaimana rencana Muhammad bin Zayid Al Nahyan.

PT Arkonin dan PT Airmas Asri Architects ditunjuk sebagai firma arsitektur yang mendesain bangunan masjid, atas mandat Pemerintah UEA. Sementara itu, proses pembangunan dilakukan oleh kontraktor Waskita Karya. Masjid ini diresmikan pada 14 November 2022 oleh Presiden Joko Widodo dan Presiden Uni Emirat Arab Mohamed bin Zayed Al Nahyan. Selanjutnya, Wakil Presiden Ma’ruf Amin resmi membuka masjid ini untuk seluruh kegiatan keagamaan umum pada 28 Februari 2023.

Yang membedakan masjid ini dan masjid aslinya yang terletak di Abu Dhabi adalah ukurannya yang lebih kecil, dengan luas hanya 2,7 ha (27.000 m2) atau hanya sekitar 22,5% dari lahan masjid aslinya yang seluas 12 ha (120.000 m2).

Masjid Zayed di Surakarta yang diresmikan pada 14 November 2022 oleh Presiden Joko Widodo dan Presiden Uni Emirat Arab Mohamed bin Zayed Al Nahyan.

Bentuk dasarnya masih mengikuti masjid aslinya, yang masih kental dengan gaya arsitektur Maroko, Asia Selatan, dan Timur Tengah, dengan ukurannya yang lebih kecil. Di samping ukuran masjidnya yang kecil, yang menjadi ciri khas dari masjid ini dibandingkan dengan masjid aslinya adalah adaptasi motif-motif batik ke tiap-tiap komponen bangunan, seperti kawung, kembang, dan bokor kencono. Dengan luasnya itu, masjid ini diklaim mampu menampung 10.000 jemaah.

Setelah berdesakan dengan pengunjung lain dalam mencari posisi terbaik untuk melihat kemegahan Masjid Zayed, kami segera melanjutkan petualangan ke Jembatan Layang Simpang Joglo. Jembatan indah ini merupakan sebuah jalur rel layang dan jembatan kereta api yang berlokasi di Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah. Jalur rel layang ini menghubungkan Solo Balapan dengan jalur kereta api lintas utara Jawa.

Jalur rel layang Simpang Joglo menjadi salah satu jalur rel layang kereta api di Jawa Tengah. Terdapat jalur rel layang lainnya di Indonesia, beberapa diantaranya yaitu jalur kereta api Kadipiro–Bandara Adi Soemarmo, jalur kereta api Jakarta Kota–Manggarai–Jatinegara, jalur kereta api cepat Jakarta–Bandung, jalur kereta api Kedundang–YIA, dan jalur kereta api Medan.

Jembatan Simpang Joglo melintas di atas persimpangan 7 arah di ujung utara Kota Surakarta.

Peletakan batu pertama pembangunan jalur rel layang dan jembatan Simpang Joglo dilakukan pada 8 Januari 2022. Pembangunan dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian melalui Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Semarang dengan KSO antara Hutama Karya dan Wijaya Karya. Jalur rel layang Simpang Joglo memiliki panjang 270 meter.

Setelah terkagum dengan kemegahan jembatan besi berwarna merah yang melintasi simpang Joglo, segera dik Laras mengambil alih kemudi untuk melibas Jalan Tol Solo–Ngawi. Jalan ini adalah jalan tol sepanjang 90 km yang menghubungkan Kota Surakarta, Jawa Tengah dengan Ngawi, Jawa Timur. Jalan tol ini melewati wilayah Boyolali, Karanganyar, Sragen, dan Ngawi. Jalan tol ini merupakan bagian dari jaringan Jalan Tol Trans-Jawa, menghubungkan kota–kota utama di Pulau Jawa.

Dik Laras melahap jalan tol Solo Ngawi, yang dipagari pohon trembesi yang ditanam Djarum Faoundation

Pada 29 Maret 2018, Presiden Joko Widodo meresmikan Jalan Tol Solo–Ngawi ruas Ngawi-Klitik bersamaan dengan Jalan Tol Ngawi-Kertosono ruas Klitik-Wilangan. Untuk ruas Kartasura – Sragen sepanjang 35 kilometer telah diresmikan pada 16 Juli 2018, sedangkan ruas Sragen – Ngawi sepanjang 55 kilometer baru diresmikan pada 28 November 2018.

Minggu sore, 28 Desember 2025 kami menuju pemberhentian pertama, yaitu Ngawi, di Jawa Timur. Kata Ngawi (Bahasa Jawa Kuno : awi yang berarti bambu) menandakan bahwa di daerah ini terdapat banyak pohon bambu, yang tumbuh subur di areal pertemuan 2 sungai besar, yaitu Bengawan Solo dan Bengawan Madiun. Wilayah Ngawi telah menjadi bagian dari Kerajaan Majapahit ketika Raja Hayam Wuruk memerintah, tercermin dalam Prasasti Canggu 7 Juli 1358 M (1280 dalam kalender Saka).

Melawan silau matahari sore di gerbang Benteng Van den Bosch (Benteng Pendem), yaitu benteng di Kelurahan Pelem, Ngawi.

Tujuan wisata pertama kami adalah Benteng Van den Bosch (Benteng Pendem), yaitu benteng di Kelurahan Pelem, Ngawi. Benteng ini memiliki ukuran bangunan 165 m x 80 m dengan luas tanah 15 Ha. Letak benteng ini sangat strategis karena berada di dekat muara sungai Bengawan Madiun ke sungai Bengawan Solo. Benteng ini dulu sengaja dibuat lebih rendah dari tanah sekitar yang dikelilingi oleh tanah tinggi, agar tersembunyi dan memenuhi unsur ideal bagi suatu benteng pertahanan, sehingga terlihat dari luar terpendam dan disebut Benteng Pendem, nama serupa seperti Benteng Willem di Ambarawa. Hebatnya arsitek Belanda saat itu dalam mendesain saluran drainase, walaupun berposisi lebih rendah dari tanah sekitarnya, lokasi Benteng mampu terhindar dari banjir. Dipilihnya lokasi itu untuk pembangunan Benteng Van Den Bosch karena Sungai Bengawan Solo dan Bengawan Madiun kala itu merupakan jalur perdagangan strategis, dari Surakarta, Ngawi menuju Gresik, demikian juga Madiun-Ngawi dengan tujuan yang sama.

Situs Benteng Pendem di Ngawi

Pada abad 19 Ngawi menjadi salah satu pusat perdagangan dan pusat pertahanan Belanda dalam Perang Diponegoro (1825-1830). Perlawanan dipimpin oleh Adipati Judodiningrat dan Raden Tumenggung Surodirjo, serta salah satu pengikut Pangeran Diponegoro bernama Wirotani. Pada tahun 1825 Ngawi berhasil direbut dan diduduki oleh Belanda yang kemudian membangun sebuah benteng pada tahun 1845. Benteng ini dihuni tentara Belanda, terdiri dari 250 orang bersenjatakan bedil, 6 meriam api dan 60 orang kavaleri dipimpin oleh Johannes van den Bosch.

Benteng Van den Bosch yang masih nampak gagah dan anggun

Beristirahat sejenak di dalam benteng yang dahulu dihuni tentara Belanda yang dipimpin oleh Johannes van den Bosch.

Melihat usaha Belanda dalam menguasai wilayah Ngawi, Pangeran Diponegoro tidak tinggal diam, bersama salah satu pengikut setianya yaitu Kyai Haji Muhammad Nursalim, dia melakukan perlawanan terhadap Belanda serta mengajarkan Agama Islam dan memotivasi perlawanan terhadap Belanda kepada Masyarakat Ngawi. Konon Kyai Haji Muhammad Nursalim memiliki kekuatan kebal terhadap peluru dan senjata. Belanda membuat siasat untuk menangkap dan kemudian mengubur Kyai Haji Muhammad Nursalim hidup-hidup di sekitar zona inti Benteng Van Den Bosch. Lokasi makam bertempat di ruang utama benteng, tepatnya berada di sebelah museum mini yang dibatasi dengan kaca.

Bangunan paling megah di dekat Makam Kyai Haji Muhammad Nursalim di sekitar zona inti Benteng Van Den Bosch Ngawi

Sudut Benteng Van den Bosch yang nampak kokoh dalam pertahanan, tetapi tetap artistik dalam keindahan

Setelah puas menikmati kemegahan dan kewibawaan bangunan benteng Van den Bosch di Ngawi yang ikonik, kami segera menuju hotel. Di tengah tantangan ekonomi yang melanda sektor pariwisata, Nata Azana Hotel tetap percaya diri untuk menjalankan bisnisnya di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Meskipun sempat dibilang investasi gila oleh sejumlah pengamat, hotel yang berlokasi strategis ini tetap optimis untuk meraih sukses. Nata Azzana Hotel resmi dibuka pada Senin, 3 Februari 2025, hotel ini menghadirkan pengalaman menginap mewah di pusat Kota Ngawi.

Bergaya di pinggir kolam renang di Hotel Nata Azana Ngawi

Nata Azana Hotel dengan konsep yang menggabungkan kenyamanan modern dan nuansa tradisional. Dengan puluhan kamar yang tersedia, hotel ini menawarkan berbagai fasilitas, termasuk kolam renang, restoran, dan ruang pertemuan yang siap digunakan untuk berbagai acara.

Peresmian Nata Azzana Hotel Senin, 3 Februari 2025 dihadiri langsung oleh Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono, Wakil Bupati, serta jajaran Forkopimda, termasuk Ketua DPRD dan seluruh Kepala Dinas setempat. Hotel ini terletak di Desa Grudo dekat dengan exit toll Ngawi.

Lomba renang internal keluarga kami di Hotel Nata Azzana Nagwi, yang dimenangkan oleh pengguna kostum yang paling minimalis

Malam itu dik Bimo melanjutkan rendering WFA proyek resort di Bali, sedangkan dik Laras belajar menyiapkan diri menghadapi ujian negara kedokteran UKMPPD, di kamar 517 Hotel Nata Azzana Ngawi. Kami berdua mendampinginya sambil leyeh-leyeh

Minggu malam, 28 Desember 2025

(bersambung)

NGAWI

(sambungan)

Senin, 29 Desember 2025 pagi kami bangun tidur di kamar 517 Hotel Nata Azzana Ngawi dan segera bergegas untuk mengikuti misa kudus harian di Gereja Santo Yosef Paroki Ngawi, pk. 5.30. Gereja Katolik Roma ini berada di wilayah Keuskupan Surabaya, yang terletak di Kelurahan Ketanggi, Kecamatan Ngawi, Ngawi.

dapat juga dilihat pada : https://www.instagram.com/p/DS2Y6nbklGW/?igsh=MTNpbHdxOGJmbnJmNA==

Gerbang Gereja katolik Santo Yosef di Ngawi

Bangunan gedung gereja yang kami kunjungi pagi itu sudah ada dan digunakan sebagai tempat ibadah bagi umat Katolik pada zaman itu. Bentuk bangunan menunjukkan secara jelas bahwa gereja tersebut merupakan peninggalan zaman Hindia Belanda yang digunakan untuk melakukan pelayanan rohani bagi orang-orang Katolik zaman itu.

Interior Gereja Katolik Santo Yosef Ngawi, Jawa Timur setelah misa kudus harian selesai

Pada tahun 1955, Pastor Andre van Rijnsoever, CM, datang dari Madiun ke Ngawi bersama seorang pemuda bernama Sanen dan mengelola gedung gereja di Jalan Jaksa Agung Suprapto No 43, yang terletak di depan Polres Ngawi. Hingga saat ini, tata letak dan bentuk bangunan gereja tersebut masih asli dan belum mengalami perubahan. Lahan di belakang gereja yang berdampingan dengan rumah dinas Dandim Ngawi dulunya adalah tempat pembantaian orang-orang Belanda pada masa penjajahan Jepang.

Pada Desember 1968, umat Ngawi mulai merayakan Hari Natal kelahiran Yesus Kristus di gereja, menandakan kebahagiaan umat saat itu. Kemudian pada tahun 1969, Pastor Filippo Catini, CM, menetap di gereja untuk menggembalakan umat Ngawi. Pada 9 Juni 1969, Uskup Surabaya Mgr. Johanes Klooster, CM, memberikan Sakramen Penguatan pertama kali di gereja tersebut Ngawi.

Pagi itu misa kudus dipimpin oleh RD. Yakobus Budi Nuroto, pastor kepala paroki yang menyelesaikan pendidikan teologi dan filsafatnya di Universitas Sanata Dharma (USD) di kampus Kentungan Sleman DI Yogyakarta.

Bersama RD. Yakobus Budi Nuroto, pastor kepala paroki Santo Yosef Ngawi

Tradisi menuliskan pribadi Yusuf, suami Maria sebagai seorang tukang kayu di kota Nazareth.Ia seorang bangsawan yang saleh dan sederhana. Darah kebangsawanannya mengalir dari Raja Daud leluhurnya. Kesucian dan kesalehannya terlihat di dalam ketaatannya pada kehendak Allah untuk menerima Maria sebagai istrinya serta mendampingi Maria dalam membesarkan Yesus, Putera Allah yang menjadi manusia. Kesederhanaannya terlihat dalam pekerjaannya sebagai seorang tukang kayu, dan cara hidupnya yang biasa-biasa saja di dalam masyarakat.

Bergaya di depan Kantor Bupati Ngawi, Jawa Timur

Dalam pribadi Yusuf, pekerjaan tangan memperoleh suatu dimensi ilahi. Kerja meningkatkan harkat dan martabat manusia sebagai ciptaan Allah dan memungkinkan manusia turut serta di dalam karya penciptaan dan penyelamatan Allah. Atas dasar inilah gereja pada masa kepemimpinan Paus Pius XII menetapkan tanggal 1 Mei sebagai hari Raya Santo Yusuf Pekerja, sekaligus menetapkan sebagai Hari Buruh. Yusuf selanjutnya diangkat sebagai pelindung para karyawan/buruh yang bekerja setiap hari untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Sarapan bersama

Segera kami menikmati santap pagi bersama di Arum Dalu di lantai 1 Hotel Nata Azzana Ngawi, sebelum melanjutkan petualangan. Dik Bimo dan dik Laras kembali terpaku di depan laptop mereka masing-masing, dalam mengerjakan tugasnya yang tetap ada saat liburan pergantian tahun. Kami berdua lanjut mengenang kejadian tahun 1888, saat perusahaan Hindia Belanda yang bergerak di bidang perkebunan, bernama Verenigde Vorstenlandsche Cultuur Maatschappij (VVCM) mendirikan sebuah Pabrik Gula yang berlokasi di Desa Tepas, Kecamatan Geneng, Ngawi dan bernama Pabrik Gula Soedhono, yang masih operasional sampai sekarang.

Gerbang Stasiun Geneng, di seberang Pabrik Gula Soedhono

Pabrik Gula Soedhono di seberang Stasiun Geneng adalah pabrik gula yang produksinya berbasis tebu dan telah beroperasi sejak tahun 1888. Pabrik Gula Soedhono didirikan pada tahun 1888 oleh perusahaan Verenigde Vorsendsche Cultuur Maatschappij (VVCM). Pada tanggal 10 Desember 1957, direksi sebagai pimpinan tertinggi perusahaan negara yang berpusat di Jakarta melakukan perubahan struktur organisasi perkebunan dari sentralisasi menjadi desentralisasi dan status PG Soedhono menjadi Perusahaan Perkebunan Negara (PPN).

Gerbang Pabrik Gula (PG) Soedhono yang tinggi menjulang

Dalam setiap musim giling PG Soedhono sudah tidak mengaktifkan lagi loko yang ada untuk menarik tebu dari kebun ke pabrik, hal ini sebagai dampak dari usia loko dan mahalnya biaya perawatan. Untuk mengatasi hal tersebut PG Soedhono menggunakan armada truck untuk mengangkut tebu dari kebun ke pabrik dengan sistem kontrak. Hal ini dapat menghemat biaya pemeliharaan serta mempercepat proses penggilingan tebu. Pada tahun ini jumlah armada yang dipakai dari jumlah tebu digiling sebanyak 160 truck.

Cerobong asap PG Soedhono nampak menjulang di kejauhan

Tujuan petualangan kami sekanjutnya adalah Museum Trinil, yaitu museum khusus yang mengkoleksi beragam jenis fosil manusia dan hewan purba, yang dirintis oleh Wirodiharjo sejak tahun 1967. Pada tanggal 20 November 1991 Museum Trinil diresmikan oleh Soelarso (Gubernur Jawa Timur saat itu). Situs Trinil diteliti oleh seorang dokter militer Hindia Belanda bernama Eugene Dubois, yang melakukan penelitian pada 1891-1893. Penemuannya ialah fosil manusia purba Pithecanthropus Erectus dan tulang panggul gajah jenis Stegodon Trigonochepslus dan fosil tulang pengumpil gajah. Museum ini kelilingi oleh aliran Sungai Bengawan Solo.

Gerbang utama Museum Trinil di Ngawi

Situs ini mulai terkenal di dunia setelah Eugene Dubois memulai penelitiannya di wilayah Ngawi pada tahun 1891, meliputi tiga desa: Desa Kawu, Desa Gemarang, dan Desa Ngancar. Nama “Trinil” sendiri berasal dari tiga desa tersebut (tri) dan Sungai Bengawan Solo yang mengalir di sekitarnya, yang pada saat itu memiliki debit air melimpah seperti Sungai Nil (nil). 

Titik Nol Prasejarah dunia di Museum Trinil, Ngawi

Di Trinil, Eugene Dubois menorehkan penemuan penting. Pada tahun 1891, ia menemukan atap tengkorak dan gigi manusia yang mirip kera. Setahun kemudian, tulang paha kiri manusia purba pun ditemukan. Eugene Dubois kemudian menamai temuannya Pithecanthropus erectus, yang berarti “manusia kera yang berjalan tegak”. Penemuan revolusioner ini menjadi tonggak awal penelitian situs-situs Pleistosen dan perkembangan paleoantropologi di Indonesia. Trinil pun mendunia sebagai situs penting dalam evolusi manusia pada akhir abad ke-19, menarik para peneliti lain untuk mengikuti jejak Eugene Dubois dan melakukan penelitian di sana.

Pithecanthropus erectus, yang berarti “manusia kera yang berjalan tegak” di Museum Trinil, Ngawi

 Situs Trinil, salah satu situs penting di Indonesia dari era Pleistosen, menyimpan banyak informasi penting tentang kehidupan prasejarah, termasuk manusia, budaya, dan lingkungan pada masa lampau. Situs ini mulai terkenal di dunia setelah Eugene Dubois memulai penelitiannya di wilayah Ngawi pada tahun 1891.

Gajah purba era Pleistosen yang fosilnya ditemukan oleh Eugene Dubois di situs Trinil, Ngawi

Setelah check out hotel, kami segera menyusuri jalanan yang dikepung hutan jati, dari Ngawi masuk teritorial Bojonegoro. Kami beristirahat untuk makan siang di Rumah Makan Ikan Bakar Semriwing Mbak Ita di Arjosari, Ngasinan, Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Makan siang di Rumah Makan Ikan Bakar Semriwing Mbak Ita, Bojonegoro, Jawa Timur

Setelah kenyang, kami segera berbelok ke kiri melintasi Bengawan Solo, untuk masuk kembali ke teritoial Jawa Tengah. Kami memasuki wilayah Kecamatan Cepu di Kabupaten Blora. Cepu dikuasi pemerintah Kadipaten Jipang pada abad XVI, yang pada saat itu masih di bawah pemerintahan Kerajaan Demak. Adipati Jipang yang legendaris bernama Aryo Penangsang, yang lebih dikenal dengan nama Aria Jipang. Daerah kekuasaannya meliputi Pati, Lasem, Blora, dan Jipang sendiri.

Bergaya di gerbang SMP Negeri 1 Cepu, Blora Jawa Tengah

Begitu memasuki wilayah Cepu, langsung teringat beberapa teman di SMA Kolese de Britto Yogyakarta (JB), yang lulusan SMPN 1 Cepu. Ada mas Abu Khoiri dan mas Anang Prihutomo yang sekarang telah sukses sebagai insinyur di ibukota.

Pendopo di pusat Petilasan Kadipaten Jipang Panolan di Cepu.

Selain teringat wajah para teman SMA JB meski lama tidak bersua, kami juga langsung bergegeas menuju Petilasan Kadipaten Jipang Panolan berada di Desa Jipang, sekitar 8 kilometer dari Cepu. Petilasannya berwujud makam Gedong Ageng yang dahulu merupakan pusat pemerintahan dan bandar perdagangan Kadipaten Jipang. Di tempat tersebut juga terlihat Petilasan Siti Hinggil, Petilasan Semayam Kaputren, Petilasan Bengawan Sore, dan Petilasan Masjid. Ada juga makam kerabat kerajaan, antara lain makam R. Bagus Sumantri, R. Bagus Sosrokusumo, RA. Sekar Winangkrong, dan Tumenggung Ronggo Atmojo. Di sebelah utara Makam Gedong Ageng, terdapat Makam Santri Songo. Disebut demikian karena di situ ada sembilan makam santri dari Kerajaan Pajang yang dibunuh oleh prajurit Jipang, karena dicurigai sebagai telik sandi atau mata-mata Sultan Hadiwijaya.

Dikisahkan oleh Babad Tanah Jawi dalam perjalanan pulang ke Pajang, rombongan Adipati Pajang Jaka Tingkir singgah ke Gunung Danaraja tempat Ratu Kalinyamat menyendiri, setelah kematian Sunan Prawoto dan suaminya Hadlirin. Ratu Kalinyamat mendesak Jaka Tingkir agar segera membunuh Arya Penangsang, dirinya yang mengaku sebagai pewaris takhta Sunan Prawoto, berjanji akan menyerahkan Demak dan Jepara jika Jaka Tingkir menang.

Jaka Tingkir segan memerangi Arya Penangsang secara langsung karena merasa dirinya hanya sebagai mantu keluarga Demak. Maka diumumkanlah sayembara, barangsiapa dapat membunuh Arya Penangsang tersebut, akan memperoleh hadiah berupa tanah Pati dan Alas Mentaok (yang akan menjadi wilayah Mataram). Orangtua angkat Jaka Tingkir, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan sahabatnya Ki Panjawi dibimbing oleh Ki Juru Martani untuk mendaftar sayembara itu. Putra kandung Ki Ageng Pemanahan yang bernama Sutawijaya juga ikut mendaftar dalam sayembara dengan bekal Tombak Kyai Plered dari Jaka Tingkir.

Bergaya di alun-alun Jipang, bekas pusat Kotaraja Jipang di Cepu, saat Arya Penangsang berkuasa, di sekat aliran Sungai Bengawan Solo.

Diceritakan dalam Babad Tanah Jawi, ketika pasukan Pajang datang menyerang Kotaraja Jipang, saat itu Adipati Arya Penangsang sedang akan berbuka setelah keberhasilannya berpuasa 40 hari. Surat tantangan atas nama Hadiwijaya membuatnya tidak mampu menahan emosi. Apalagi surat tantangan itu dibawa oleh pekatik-nya (pemelihara kuda) yang sebelumnya sudah dipotong telinganya oleh Pemanahan dan Penjawi. Meskipun sudah disabarkan adik Arya Penangsang (Arya Mataram), Penangsang tetap berangkat ke medan perang menaiki kuda jantan yang bernama Gagak Rimang.

Kuda Gagak Rimang dengan penuh nafsu mengejar Sutawijaya yang mengendarai kuda betina, melompati bengawan. Perang antara Pasukan Pajang dan Jipang terjadi di dekat Bengawan Solo. Dalam perang tersebut perut Arya Penangsang robek terkena tombak Kyai Plered milik Sutawijaya. Meskipun demikian kesaktian yang dimiliki oleh Arya Penangsang membuatnya tetap bertahan. Ususnya yang terburai dililitkannya pada gagang keris yang terselip di pinggang. Arya Penangsang berhasil meringkus Sutawijaya. Saat mencabut keris Setan Kober untuk membunuh Sutawijaya, usus Arya Penangsang malah terpotong sehingga menyebabkan kematiannya.

Setelah kejadian itu, Jaka Tingkir (Hadiwijaya) mewarisi takhta Keraton Demak, dan pusat pemerintahan dipindah ke Pajang, yang petilasannya di Solo telah kami kunjungi pada hari sebelumnya. Dengan demikian, Cepu dan seluruh Blora masuk dalam kekuasan Kerajaan Pajang. Namun demikian, Kerajaan Pajang tidak lama memerintah (1568 sampai 1587), karena dikalahkan oleh Sutawijaya yang bergelar Panembahan Senopati dari Kerajaan Mataram (1587 sampai 1601) yang berpusat di Kotagede, sekitar 8 km dari Yogyakarta. Blora termasuk wilayah Mataram bagian timur atau daerah Bang Wetan.

Mampir berdoa sejenak di Gua Maria Sendangharjo , Blora, Jawa Tengah

Setelah puas membayangkan kegagahan Arya Penangsang dan sengitnya petempurannya dengan Danang Sutawijaya, kami segera meninggalkan Cepu dan Blora, untuk melanjutkan petualangan ke Rembang. Di tengah perjalanan ke Rembang menembus hutan jati dengan jalanan yang berkelok berulang, kami singgah di Sendangharjo. Harjo berarti selamat, sehingga Sendangharjo berarti Sendang Keselamatan.

Kami mengunjungi Gua Maria Sendangharjo yang terletak di Dukuh Polaman, Desa Sendangharjo, Kecamatan Blora, pada jalan menuju ke arah Rembang. Selain sarana Jalan Salib, tempat ziarah ini juga menyediakan pendopo dan tempat menginap dengan kapasitas 30 kamar.

Gua Maria Sendangharjo juga merupakan salah satu fasilitas rohani yang disediakan oleh Wireskat (Wisma Rehabilitasi Sosial Katolik). Wireskat mirip dengan Bahasa latin Virescat,  yang berarti “menghijaukan kembali” hidup sehat lagi dan sembuh.

Berdoa dan mengucap syukur atas semau anugerah sepanjang tahun 2025 di Gua Maria Sendangharjo , Blora, Jawa Tengah

Wireskat didirikan oleh para romo yang bertugas di Paroki Santo Pius X, Blora, Keuskupan Surabaya sekitar tahun 1970-1971. Antara lain Romo Siveri, Romo Fornasari dan Romo Ernesto Fervari. Wisma tersebut dibangun untuk menampung para penyintas sakit kusta dari RSK Donorejo, Jepara, RSK  Bojonegoro dan Susteran Bojonegoro. Karya pastoral Wireskat tersebut sangat menyentuh, karena memanusiakan para penderita kusta, sebuah penyakit infeksi kronis menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit yang sudah disebut sejak jaman Yesus Kristus ini menyerang kulit, saraf tepi, serta saluran pernapasan atas, dan mata. Kusta atau lepra ini menyebabkan mati rasa, lesi kulit, serta potensi kerusakan saraf dan cacat jika tidak diobati, meskipun penyakit ini bisa disembuhkan dengan pengobatan yang tepat. 

Mencari makan malam di seputaran Alun-alun Kota Rembang, untuk disantap bersama di seberangnya.

Selanjutnya kami beristirahat di kamar 504 Hotel Aston yang menghadap Laut Jawa di Jl. Jendral Sudirman No 8 Rembang, sebelum meneruskan petualangan ke Lasem.

(bersambung)

LASEM, REMBANG

Selasa, 30 Desember 2025 pagi kami terbangun dan bergegas berjalan kaki sejauh 600 m dari Hotel Aston Inn Jl. Jendral Sudirman No 8 untuk menuju Gereja Santo Petrus dan Paulus Jl. Diponegoro No 91 Rembang, untuk mengikuti misa kudus harian pagi.

Pada awalnya, gereja Katolik di Rembang merupakan stasi dari Gereja Cepu di Blora. Stasi ini secara berkala dikunjungi oleh para imam misionaris dari Ordo Jesuit yang pada waktu itu berkedudukan di Surabaya. Setelah daerah misi Surabaya diserahkan kepada Ordo Lazaristen yaitu imam ordo CM, Gereja Cepu yang memiliki umat Katolik lebih banyak dibanding kota-kota sekitarnya (kebanyakan mereka adalah orang Belanda karyawan minyak BPM) dan Stasi Rembang juga dilayani oleh imam CM.

Gereja Santo Petrus dan Paulus Jl. Diponegoro No 91 Rembang

Bersama Rm. Siprianus Yitno, Pastor Kepala Paroki dan para frater dari Keuskupan Surabaya di Gereja Santo Petrus dan Paulus Rembang

Pada tahun 1954 berdirilah sebuah gereja ukuran 7 x 14 meter, lengkap dengan menaranya disebut Gereja Santo Petrus dan Paulus (yang dirayakan tiap tanggal 29 Juni). Dan tepat pada hari raya Minggu Palma gedung Gereja yang baru diberkati oleh Bapa Uskup Surabaya Mgr Johannes Klooster, CM.

Bersiap untuk mengikuti misa kudus harian pagi di Gereja Santo Petrus dan Paulus Rembang

Bersama Rm. Siprianus Yitno, Pastor Kepala Paroki setelah mengikuti misa kudus harian pagi di Gereja Santo Petrus dan Paulus Rembang

Setelah selesai mengikuti misa kudus harian pagi dan bercengkerama sebentar dengan Romo Siprianus Yitno, Pr dan beberapa umat, kami segera berjalan kaki lagi kembali ke hotel. Kami menyusuri Jalan Pantura (Pantai Utara), yaitu jalur jalan nasional utama di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa, membentang dari Merak (Banten) di barat hingga Banyuwangi (Jawa Timur) di timur Jalan lebar 4 jalur ini berfungsi sebagai urat nadi transportasi dan penghubung antar-provinsi yang sangat penting, yang cikal bakalnya berasal dari Jalan Raya Pos (De Grote Postweg) yang dibangun pada masa Gubernur Jenderal VOC Belanda Herman Willem Daendels (1808 hingga 1811).

sarapan di hotel, sebelum menjelajah Lasem

Setelah sarapan, kami segera menyusuri Jalur Pantura dari Rembang menuju Lasem. Jalan lebar yang kami lalui ini dipadati Truk Hino kategori tronton (10 roda atau lebih), yang di Indonesia masuk dalam lini Hino 500 Series (Ranger) dengan standar emisi Euro 4. Secara umum, tronton Hino terbagi menjadi dua konfigurasi penggerak utama, yaitu FL dan FM. Truk Hino Tipe FL sudah sering kami kagumi saat melewati tol Trans Jawa, termasuk Cipali dan Japek. Namun demikian, truk Hino Tipe FM (6×4) dengan dua gardan penggerak (double gardan) yang dirancang untuk beban berat dan medan ekstrem, yang memiliki roda pada sasis belakang sampai 3 deret, baru kami lihat di Jalur Pantura sekitar Rembang ke Lasem.

Mengawali penjelajahan di Lasem, sentra batik tulis motif Cina

Lasem adalah sebuah kecamatan bersejarah di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, dikenal sebagai “Tiongkok Kecil” karena menjadi titik pendaratan awal orang Tiongkok di Jawa. Budaya Lasem kaya akan akulturasi budaya Tiongkok, Jawa, Arab, serta Belanda, terlihat dari arsitektur kuno, perkampungan, serta batik tulis khasnya yang dipengaruhi motif Tiongkok (naga, merak, phoenix).  

Belanja batik Lasem yang penuh warna, corak dan gaya

Berbagai motif batik Lasem 

Batik Lasem sangat terkenal karena cirinya sebagai batik pesisir yang indah dengan pewarnaan yang berani. Batik Lasem adalah batik tulis model pesisir, yang sangat khas dengan perpaduan motif Tiongkok (seperti naga, merak, phoenix) dan warna-warna berani, serta teknik pewarnaan yang unik.

Bergaya di Rumah Merah Heritage Lasem, Rembang

Salah satu tempat berkembangnya para imigran dari Tiongkok terbesar di Pulau Jawa abad ke-14 sampai 15 adalah Lasem (Hokkien: Lao Sam, Mandarin: La Sen) selain di Sampotoalang (Semarang) dan Ujung Galuh (Surabaya). Datangnya armada besar Laksamana Cheng Ho ke Jawa sebagai duta politik Kaisar Tiongkok masa Dinasti Ming yang ingin membina hubungan bilateral dengan Majapahit terutama dalam bidang kebudayaan dan perdagangan negeri tersebut, mereka memperoleh legitimasi untuk melakukan aktivitas perniagaannya dan kemudian banyak yang tinggal dan menetap di daerah pesisir utara Pulau Jawa.

Rumah Keluarga Oei Sien Tjo bergaya Tiongkok di Lasem, Rembang

Bahkan menurut NJ. Krom, perkampungan Tionghoa di masa Kerajaan Majapahit telah ada sejak 1294-1527 M. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya bangunan-bangunan tua seperti permukiman Pecinan dengan bangunan khas Tiongkoknya dan kelenteng tua yang berada tak jauh dari jalur lalu lintas perdagangan di sepanjang aliran Sungai Babagan Lasem (kala itu disebut Sungai Paturen) yang pada waktu itu sebagai akses utama penghubung antara laut dan darat, juga penguasaan tempat-tempat perekonomian yang strategis oleh mereka di kemudian waktu, seperti yang dapat dilihat pada pusat-pusat pertokoan di sepanjang jalan raya kota sekarang ini

Perkampungan Tionghoa di masa Kerajaan Majapahit di Lasem, Rembang yang telah ada sejak 1294-1527.

Batik Laseman sangat liat bercirikan egalitarian, yang mana batik ini lebih terbuka atau umum penggunaannya bagi segala kalangan atau lapisan masyarakat berikut macam etnisnya. Konon perkembangan Batik Laseman ini dipengaruhi oleh unsur-unsur seni dan budaya negeri seberang, yaitu Tiongkok dan Campa.

Bergaya di halaman depan Oemah Batik Lasem

Oemah Batik Lasem yang indah dipandang

Banyaknya orang-orang Tiongkok dan Campa yang menetap di Lasem dan membaur dengan penduduk lokal lambat laun melahirkan akulturasi kebudayaan yang positif dan kaya, salah satunya adalah seni batik itu sendiri. Batik Laseman sendiri pernah mengalami kejayaan dalam produksi dan pemasarannya.

Museum Batik Tiga Negeri di Lasem, Rembang

Secara historis, budaya di Lasem merupakan perpaduan budaya dari masyarakat pribumi (Jawa), Tiongkok & Campa (dibawa oleh pasukan Laksamana Cheng Ho), dan Belanda. Wujud nyata dari perpaduan budaya ini dapat kita temui sampai detik ini pada batik Lasem motif Tiga Negeri

Klenteng Cu An Kiong di Jalan Dasun, Lasem

Kelenteng Cu An Kiong merupakan kelenteng tertua di Lasem, Rembang dan bahkan juga tertua di Pulau Jawa, karena kelenteng ini dibangun pada tahun 1335. Ruang utama kelenteng yang berisi altar Tian Shang Sheng Mu berada di belakang dan tidak terbuka untuk umum. Orang-orang Tionghoa mulai datang dan mendarat di daerah hutan Jati di sekitar Sungai Babagan Lasem pada abad ke-15.

Kelenteng Cu An Kiong dibangun orang-orang Tionghoa menggunakan kayu jati yang tersedia melimpah. Tiang penyangga utama kelenteng ini merupakan dua buah kayu jati yang belum pernah diganti hingga sekarang. Bangunan kelenteng terakhir kali direnovasi pada tahun 1838, untuk meninggikan lantai bangunan yang sering mengalami banjir, karena lokasinya tepat berada di depan kali Lasem. Laksamana Zheng Ho mendarat di depan kelenteng tersebut, yaitu di muara Kali Lasem yang akan masuk ke Laut Jawa, sehingga pada masa lalu sering digunakan sebagai sarana lalu lintas kapal, meskipun dermaganya kini sudah tidak tersisa keberadaannya.

Monumen Perang Kuning dengan para tokohnya di Kelenteng Cu An Kiong, di Lasem, Rembang.

Perang Kuning merupakan perang yang dikobarkan oleh masyarakat Lasem secara khusus. Peperangan pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda setelah jatuhnya banyak korban jiwa pada kedua belah pihak serta menyebabkan wilayah Lasem dipisahkan dari Rembang secara de facto. Akhir peperangan ini juga menandakan berakhirnya seluruh perlawanan rakyat Lasem terhadap kekuasaan Kompeni serta kekuasaan keluarga Tejakusuman di Lasem.

Pasukan gabungan Tionghoa dan Jawa yang dibantu oleh Kesultanan Mataram. Para tokohnya adalah Tan Kee Wie, Oei Ing Kiat, Panji Margono, Kyai Ali Badawi, Kwee An Say, Guo Liu Guan, Amangkurat V, dan Pangeran Sambernyawa atau Mangkunegoro 1. Dalam Perang Kuning mereka melawan Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) dibantu Kesultanan Mataram. Para tokohnya adalah Bartholomeus Visscher, Gustaaf Willem baron van Imhoff, Johannes Thedens, Adriaan Valckenier, Cakraningrat IV,  Citrasoma IV dan Pakubuwana II.

Perang Kuning (Geel Oorlog) adalah serangkaian perlawanan rakyat Lasem-Rembang dan sekitarnya terhadap kekuasaan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di Semarang (1741-1742) dan Lasem (1750). Perang Kuning ini terjadi sebagai bagian dari konflik Mataram melawan VOC Belanda, dengan hasil akhir dimenangkan oleh VOC Belanda

Tempat Pasujudan Sunang Bonang di Lasem, Rembang

Setelah puas mengagumi warisan budaya Tiongkok di Lasem, segera kami mengungjungi Pasujudan Sunan Bonang, sedikit menjauh dari Lasem. Kami menyusuri Jalur Pantura dengan banyak truk Hino yang panjang untuk mengenang Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465 M di Lasem, Rembang dengan nama As-Sayyid Raden Maulana Makhdum Ibrahim. Ia adalah salah satu Wali Songo (sembilan orang penyiar agama Islam di Jawa) putra Sunan Ampel dengan Dewi Candrawati. Sunan Bonang juga dikenal sebagai penggubah suluk Wijil dan tembang Tombo Ati, yang masih sering dinyanyikan orang.

Kami melanjutkan petualangan dengan melaju di sela-sela truk Hino seri FL yang lalu lalang di Jalur Pantura, untuk kembali ke Rembang. Tujuan kami adalah melihat musem Kartini

Museum R.A. Kartini, dulunya bernama Museum Kamar Pengabadian R.A. Kartini berada di Jl. Gatot Subroto No. 8, Rembang. Dulunya museum ini menempati salah satu ruangan Rumah Dinas Bupati Rembang, tetapi sejak 2011 museum ini diperluas ke seluruh rumah dan namanya diubah menjadi Museum RA Kartini. Kami datang bersama banyak wisatawan yang berkunjung di sana, di samping mengenang sejarah pahlawan wanita ini yakni RA Kartirni, juga melihat langsung sejarah peninggalannya yakni tulisan tangan asli Ibu Kartini, dalam memperjuangkan emansipasi wanita Jawa. Kami juga menyaksikan gedung tempat RA Kartini dahulu mengajar atau mengamalkan ilmunya kepada para anak didiknya. Bangunan asli tersebut terletak satu lokasi kurang lebih 150 m dengan museum RA Kartini.

Patung dada Ibu RA Kartini di halaman depan museum

Reuni dengan dr. Bambang Suyamto, SpTHT sebagai sesama alumni FK UGM 1984 di Rembang

Selanjutnya kami melakukan reuni sekejap dengan teman seangkatan saat kuliah di FK UGM Yogyakarta angkatan 1984, yaitu dr. Bambang Suyamto, SpTHT. Sebagai mantan Ketua IDI Cabang Rembang, dr. Bambang menerima kami bersama istrinya, dr. Nunuk Sri Lestari, MKes, direktur RS Umum Islam Arafah di Jl. Raya Rembang lasem KM 5, Tritunggal, Rembang. Kami diajak santap siang di Citra Resto Jl. Jend. Sudirman No 47, Rembang, dengan menu andalan soup gurameh. Resto milik dr. Nowohadi Tjitrosuwito, SpPD senior kami di FK UGM Yogyakarta angkatan 70, juga menyambut kami dengan hangat.

Disambut dr. Bambang Suyamto, SpTHT dan istrinya, dr. Nunuk Sri Lestari, MKes dengan salam Konga (alumni FK UGM 84)

Bersama dr. Nowohadi Tjitrosuwito, SpPD senior kami di FK UGM Yogyakarta

Bersama mas dr. Bambang Suyamto, SpTHT di Citra Resto Jl. Jend. Sudirman No 47, Rembang, milik dr. Nowohadi Tjitrosuwito, SpPD

Setelah kenyang makan siang menu soup gurameh di Citra Resto, kami segera meninggalkan Rembang, menuju ke Cepu. Dalam perjalanan ke Cepu, kami mengingat kembali kebesaran jasa Ibu Kita Kartini untuk perempuan Indonesia. “Habis Gelap Terbitlah Terang”, kutipan penuh makna dari seorang pejuang emansipasi wanita, Raden Ajeng Kartini.

Ibu ini dilahirkan di Jepara, lalu menikah dengan Bupati Rembang. Di akhir hayatnya, RA Kartini bersama suami dan keturunannya dimakamkan di Desa Bulu, Rembang. Makamnya selalu ramai oleh para peziarah hingga saat ini. Kami sempatkan mampir, sebelum memasuki teritorial Blora menuju ke Cepu.

Bersama dik Laras di makam RA Kartini di Bulu, Rembang

Patung seukuran aslinya RA Kartini di depan makamnya di Bulu, Rembang

Setelah berhenti sejanak melepas penat dan mengenang keharuman nama RA Kartini di makamnya, kami segera melanjutkan perjalanan ke Cepu. Malam itu kami makan malam bersama di kamar 204 Hotel Kyriad Arra Hotel Cepu, sebelum mengantar dik Bimoseno (anak kedua, arsitek yunior) kembali ke Jakarta. Perjalanan naik KA Pandalungan dari Stasiun Cepu berangkat pk. 21.28 dan sampai di Stasiun Jatinegara Jakarta hari berikutnya pk. 4.12

Makan malam bersama sambil melihat drakor. sebelum mas Bimo kembali ke Jakarta

Selamat melaju mas Bimo, dengan KA Pandalungan dari Stasiun Cepu ke Stasiun Jatinegara Jakarta

(bersambung)

LANJUTAN PERJALANAN

Rabu, 31 Desember 2025 kami terbangung di kamar 204 Hotel Kyriad Arra Hotel Cepu, lanjut mengikuti misa kudus harian pagi di Gereja Santo Willibrordus Paroki Cepu, Jawa Tengah

Di depan Gereja Santo Willibrordus Cepu, Jawa Tengah

Umat Cepu tercatat pada Buku Baptis X, XI dan XII Paroki Santo Yusup Gedangan Semarang, karena ada baptisan baru yang terjadi pada 28 Februari 1912, sebanyak 3 orang oleh Romo HJJ. Janssen, SJ. Kemudian pada 29 September 1912 serta 24 September 1917, Vikaris Apostolik Batavia Mgr. Edmundus Luypen, SJ bahkan menerimakan Sakramen Krisma di Cepu terhadap 21 orang. Sebuah sejarah geraja yang panjang.

Bergaya sejenak di depan Gereja Santo Willibrordus Cepu, Jawa Tengah yang penuh sejarah

Dengan adanya perusahaan Minyak DPM (Dordtsche Petroleum Maatschappij) milik Belanda yang mulai mengadakan pengeboran minyak di Cepu pada tahun 1893, di Jepon pada tahun 1899 di Tinawun, Dandangilo – Wonocolo, Kawengan, Kidangan pada tahun 1895 demikian pula di Ledok pada tahun yang sama. Karyawan pertambangan DPM telah memberi sumbangan yang cukup berarti bagi tumbuh dan berkembanganya Gereja Santo Willibrordus, Cepu.

Apalagi pada tahun 1895/1896 di Cepu dibangun pabrik lilin, dikarenakan minyak di daerah Cepu banyak mengandung lilin. Sehingga pada tahun 1896 Peruasahaan Minyak DPM berkembang menjadi Peruasahaan Minyak terkuat di Jawa. Situasi ini memungkinkan bertambahnya umat Katolik di Cepu, Bojonegoro, Blora dan sekitarnya semakin banyak, karena jumlah orang Belanda yang bekerja di Cepu semakin banyak pula.

Pemberkatan Gedung Gereja Santo Willibrordus Cepu dilakukan oleh Mgr. Anton Pieter Franz van Velsen, S.J. perfector Apostolic Batavia, pada tanggal 20 Mei 1931. Nama pelindung gereja adalah Santo Willibrordus, seorang uskup dari daerah Belanda Selatan. Pada tanggal 15 September 1932 dijadikan Paroki dibawah kegembalaan Pastor G. Ravestijn, CM. Paroki Cepu dimasukkan dalam wilayah kerja Keuskupan Diosesan Surabaya dengan Mgr. Klooster, CM sebagai Uskup.

Interior Gereja Santo Willibrordus Cepu, Blora, Jawa Tengah, dengan patung bayi Yesus di palungan tanpa atap. Bagus sekali

Selesai misa kudus harian pagi, kami lanjut menyeebrang jalan menikmati kegagahan Patung Kuda Arjuna Wiwaha yang menjadi ikon Kota Cepu. Patung yang menelan anggaran fantastis Rp 1,3 miliar ini baru berdiri sejak tahun 2017.

Arjuna sedang memanah menggunakan Pasupati ke arah langit-langit mulut Prabu Niwatakawaca

Patung itu menggambarkan Arjuna (satria tengah Pandawa) sedang memanah menggunakan Pasupati ke arah langit-langit mulut Prabu Niwatakawaca, raja raksasa yang mengancam kayangan. Dengan bantuan bidadari Suprabha, Arjuna mengetahui kelemahan Niwatakawaca, yaitu langit-langit mulutnya, dan saat raja raksasa itu lengah, dan Arjuna berhasil membunuhnya, membawa kemenangan bagi para dewa. Patung Arjuna Wiwaha ini berdiri megah di depan Gereja Santo Willibrordus Cepu dan merupakan bagian dari Taman Seribu Lampu Cepu, yang menjadi gerbang wisata dari Jawa Timur sekaligus destinasi alternatif bagi warga lokal Blora dan Bojonegoro bagian barat.

Selanjutnya kami melakukan wisata geologi untuk melihat cara kerja sumur angguk, dalam menyedot minyak mentah dari bumi Blora. Awalnya kandungan minyak itu ditemukan di daerah Cepu, sejak saat itu penemuannya menjamur hingga seperti sekarang, sampai ke Bojonegoro. Tjokronegoro III, Bupati Blora era 1886-1912 pada masa kepemimpinannya mendorong Belanda melakukan pengeboran minyak pertama kali pada tahun 1894 di Desa Ledok, Kecamatan Sambong.

Sumur angguk menyedot minyak di bumi Nglobo, Jiken, Blora Jawa Tengah

Kami melihat Sumur Angguk di Desa Nglobo, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora. Ini adalah sebuah sumur minyak peninggalan Belanda yang sudah beroperasi sejak tahun 1928, menjadikannya sangat tua dan bersejarah. Untuk menuju ke titik peninggalan Belanda itu, kami harus masuk dulu melewati jalan berbatu menuju arah hutan jati yang lebat dan menyerupai labirin. Setelah itu melewati permukiman penduduk. Dengan pemandangan alam yang indah dan mesin sumur minyak tua yang masih berfungsi, desa Nglobo ini mampu menarik minat wisatawan yang ingin mengenal lebih jauh tentang sejarah perminyakan Indonesia, serta menikmati keunikan teknologi sederhana yang digunakan sejak zaman kolonial.

Selain itu, Desa Nglobo juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata edukasi. Lingkungan yang asri dan alami sangat mendukung kegiatan edukasi luar ruangan, seperti pengenalan flora dan fauna lokal, konservasi lingkungan, dan pelajaran sejarah industri perminyakan melalui kunjungan ke Sumur Angguk.

Sumur angguk di Nglobo, Jiken yang menyedot minyak di bumi Blora

Sayang sekali kami datang saat hujan turun, sehingga kami tidak sempat melibatkan masyarakat lokal sebagai pemandu dan instruktur, wisata edukasi ini tidak hanya memperkaya pengetahuan pengunjung, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi penduduk setempat.

Selanjutnya kami segera menyusuri jalur pantura yang penuh dengan truk Hino panjang, untuk sowan senior dr. Bowo Widiasmoko, SpPD di RS Budi Agung di Juwana, Pati Jawa Tengah. Banyak sekali Hino Tipe FM (6×4) dengan dua gardan penggerak (double gardan) yang dirancang untuk beban berat dan medan ekstrem, yang memiliki roda pada sasis belakang sampai 3 deret, yang kami temui dalam perjalanan ke Juwana.

Bergaya di depan papan informasi jadwal praktek dr. Bowo Widiasmoko, SpPD dan para dokter lain di RS Budi Agung, Yuawan, Pati, Jawa Tengah

Diterima dr. Bowo Widiasmoko, SpPD di ruang prakteknya

RS Budi Agung Juwana, Pati Jawa Tengah

Setelah puas mengobrol, kami lanjut diajak makan siang di WM Sumber Rejeki Juwana, Pati. RM dengan menu unggulan garangasem dan bakso, tersaji secara sederhana tetapi lezat.

Makan siang dijamu dr. Bowo Widiasmoko, SpPD di Juwana, Pati

Lanjut kami melewati jalan lurus melewati Tayu, Pati dan terus ke Mlonggo, Jepara memutari Gunung Muria yang tenang. Kami mengunjungi William Febuana di rumahnya, untuk membicarakan persiapan masa depannya bersama dik Laras. Sampai larut malam pembicaraan hangat berlangsung, yang diselingi makan menu ikan bakar sambil menunggu pergantian tahun 2025 menjadi 2026

(bersambung)

JEPARA

dapat dilihat juga pada : https://www.instagram.com/p/DS-Fp76Emkl/?igsh=bzJndWsxN3Fueno=

Kamis pagi, 1 Januari 2026 di awal tahun baru, kami segera bergegas mengikuti misa kudus di Gereja Katolik Stella Maris Paroki Jepara

Sejarah Gereja Katolik di Jepara dimulai kembali secara signifikan pada tahun 1930-an setelah sempat hilang pasca-larangan Jan Pieterszoon Coen , dengan berdirinya stasi Pecangaan pada 1936 yang dipimpin Pastor Stienen MSF, lalu diresmikan tahun 1961, sebelum akhirnya Paroki Stella Maris Jepara resmi berdiri dan gereja barunya diberkati tahun 1964, menandai kebangkitan kekatolikan di wilayah tersebut. 

Bersama Rm. Anton Gunardi, MSF di Gereja Stella Maris Jepara setelah misa kudus harian pagi pada hari pertama tahun baru 2026

Mgr. Albertus Soegijopranoto SJ, Uskup Agung Semarang saat itu, mengunjungi Jepara untuk memberikan Sakramen Penguatan (Krisma) pada 21 Oktober 1956. Pembentukan Dewan Stasi Jepara yang pertama dibentuk pada 24 Maret 1963. Peresmian Gereja Katolik Jepara yang baru diresmikan pada 18 Mei 1964 oleh Romo Kardinal Darmojuwono, menjadi penanda resmi berdirinya paroki di Jepara, yang kemudian dikenal sebagai Paroki Stella Maris. 

Misa kudus pagi itu dipimpin oleh Rm. Anton Gunardi, MSF, yang ternyata alumni SMA Kolese de Britto Yogyakarta (JB) angkatan 1972.

JB 72 dan JB 84 di Gereja Stella Maris Jepara

Setelah selesai mengikuti misa kudus harian pagi, kami segera lanjut melihat Pecinan Jepara sebagai salah satu pecinan (china town) tertua di Indonesia, komplek ini menjadi saksi bisu perkembangan sejarah, budaya, dan interaksi antar-etnis yang panjang. Terletak di bagian timur pusat kota, komplek Pecinan Jepara mencerminkan keberagaman dan integrasi harmonis antara masyarakat Tionghoa dan budaya lokal. Pecinan Jepara, yang didirikan pada abad ke-16, memperlihatkan arsitektur tradisional yang khas dengan aksen-aksen Tionghoa yang memesona. Pusatnya adalah klenteng wang fu atau furianto yang dibangun pada tahun 1881 Masehi.

Pada awalnya, komplek Pecinan di Jepara didirikan sebagai tempat tinggal dan pusat kegiatan komunitas Tionghoa yang memigrasi ke Jepara pada abad ke-16. Mereka membawa serta tradisi, budaya, dan agama dari tanah leluhur, menciptakan suatu kawasan yang memiliki identitas unik di tengah masyarakat Jepara yang heterogen. Di dalam komplek Pecinan, dapat ditemukan kuil-kuil dan kelenteng-kelenteng yang menjadi pusat aktivitas keagamaan dan budaya masyarakat Tionghoa. Struktur arsitektural yang khas, dengan ornamen-ornamen Tionghoa yang memikat, mencerminkan keberlanjutan tradisi dan nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi. Selama berabad-abad, komplek Pecinan di Jepara menjadi saksi bisu perkembangan masyarakat Tionghoa dan interaksi harmonis dengan masyarakat lokal.

Pecinan Jepara yang merupakan salah satu chinatown tertua di Indonesia

Setelah sarapan, kami berlima (Bapak Mulyono tidak ikut) segera bergegas menuju ke Benteng Portugis, yang terdapat di Desa Banyumanis Kecamatan Donorojo atau 45 km di sebelah timur laut Kota Jepara.

Sarapan bersama Keluarga Bapak Mulyono di Mlonggo Jepara, pada hari pertama tahun 2026

Kami jadi mengingat bahwa pada tahun 1619, kota Jayakarta atau Sunda Kelapa pertama kali dimasuki VOC Belanda. Saat ini Sunda Kelapa diubah namanya menjadi Batavia dan dianggap sebagai awal tumbuhnya penjajahan oleh Imperialis Belanda di Indonesia. Sultan Agung, Raja terbesar Mataram, langsung merasakan adanya bahaya yang mengancam dari situasi jatuhnya kota Jayakarta ke tangan Belanda. Untuk itu Sultan Agung mempersiapkan angkatan perangnya guna mengusir penjajah Belanda. Tekad Raja Mataram ini dilaksanakan berturut-turut pada tahun 1628 dan tahun 1629 yang berakhir dengan kekalahan di pihak Mataram.

Kejadian ini membuat Sultan Agung berpikir bahwa VOC Belanda hanya mungkin dikalahkan lewat serangan darat dan laut secara bersamaan. Padahal Mataram tidak memiliki armada laut yang kuat, sehingga perlu adanya bantuan dari pihak ketiga yang juga berseteru dengan VOC, yaitu Bangsa Portugis.

Bergaya di Gerbang Benteng Portugis Jepara

Pada hal sebelumnya Bangsa Portugis setidaknya mendapat serangan dari Ratu Kalinyamat, sebagai penguasa Jepara dan Jawa pada umumnya, sebanyak dua kali, yakni pada 1550 dan tahun 1564. Pada tahun 1550 Ratu Kalinyamat menyerang Portugis di Malaka (sekarang Malaysia), bersama pasukan dari Kesultanan Aceh, Johor, Palembang, dengan kekuatan total 200 kapal perang dan belasan ribu prajurit. Pada tahun 1564 juga menyerang lagi bersama pasukan dari Kesultanan Aceh Darussalam. Juga pada tahun 1573 menyerang Portugis lagi di Selat Malaka.

Replika meriam di puncak Benteng Portugis di Jepara yang menghadap ke arah laut

Ternyata Bangsa Portugis hanya beberapa tahun saja menempati benteng ini. Banyaknya gangguan yang memakan korban prajurit Portugis menjadi salah satu alasannya. Di Selat Mandalika depan benteng itu ada pusaran air laut, prajurit Portugis sering tersedot ke dalam laut dan hilang entah ke mana. Alasan lain adalah lalu lintas perdagangan yang waktu Kerajaan Demak dipusatkan melalui laut, dengan pindahnya Kerajaan Demak ke Pajang, lalu lintas perdagangan berubah melalui jalan darat. Benteng itu akhirnya ditinggalkan begitu saja, hingga bertumbuh semak belukar. 

Sisa bangunan Benteng Portugis di Jepara

Pada waktu Jepang menapakkan kakinya di bumi Nusantara, benteng ini kembali digunakan. Jepang memanfaatkannya sebagai tempat pengintai laut. Benteng ini sekarang menjadi tempat wisata, meski hanya berupa reruntuhan tembok berbentuk persegi empat yang terletak di atas bukit, tepat di seberang selatan Pulau Mandalika. Di dalam tembok hanya berupa lahan kosong yang ditumbuhi beberapa pohon yang sengaja dibiarkan untuk tempat berteduh pengunjung. Di area dalam sebelah utara terdapat satu bangunan yang juga digunakan sebagai temat berteduh pengunjung. Selain itu terdapat beberapa replika meriam yang ditempatkan di sisi utara dan timur benteng yang langsung berbatasan dengan laut lepas.

Di depan RS dr. Rehatta Donorojo, Jepara

Sepulang dari Benteng Portugis, kami sempat mampir di salah satu Rumah Sakit Umum Daerah dr. Rehatta saat ini adalah Rumah Sakit milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Pada awal berdirinya bernama Rumah Sakit Kusta Donorojo dengan direkturnya dr. H. Bervoets dibantu dr. Durachim.. Rumah Sakit Kusta Donorojo dibangun sekitar tahun 1916  oleh   Pemerintah  Hindia Belanda dan dikelola oleh misi Zending.  Tujuan pembangunan Rumah Sakit Kusta Donorojo waktu itu adalah untuk pengobatan dan leposeri. Rumah Sakit Kusta Donorojo berlokasi di Desa Banyumanis, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara berdiri diatas lahan seluas 1.791.740 m2. Termasuk lahan di kampung rehabilitasi yang dihuni oleh 155 KK.

Unit rehabilitasi kusta di Donorojo, Jepara

Pada tahun 1950-an karena pihak Zending tidak mampu lagi membiayai operasional RS Kelet dan RS Donorojo maka pengelolaan kedua Rumah Sakit tersebut diserahkan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Sejak itu kedua RS tersebut menjadi Rumah Sakit Kusta dengan kunjungan dokter seminggu sekali dari RS Kusta Tugurejo Semarang. Sejak tahun 1999 mulai dirintis langkah-langkah menata ulang fungsi  pelayanan di RS Kusta Donorojo untuk rehabilitasi kusta. Harapannya Jawa Tengah bebas kusta, hilangnya Stigma dan Diskriminasi Kusta, serta dipermudah dalam mendapatkan obat bagi para penderita kusta.

Kusta atau lepra adalah penyakit infeksi bakteri kronis disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae yang menyerang jaringan kulit, saraf tepi, serta saluran pernapasan. Kusta atau lepra dapat ditandai dengan rasa lemah atau mati rasa di tungkai dan kaki, kemudian diikuti timbulnya lesi pada kulit yang berawarna pucat terang serta mati rasa.

Kusta memang dapat menyebar melalui percikan ludah atau dahak yang keluar saat batuk atau bersin namun penularan terjadi jika seseorang terkena percikan droplet dari penderita kusta secara terus-menerus dalam waktu yang lama. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri penyebab lepra tidak dapat menular ke orang lain dengan mudah. Selain itu, bakteri ini juga membutuhkan waktu lama untuk berkembang biak di dalam tubuh penderita. Seseorang tidak akan tertular kusta hanya karena bersalaman, duduk bersama, atau bahkan memeluk penderita.


Ayo Stop Stigma dan Diskriminasi Kusta ‘United for Dignity’!
Ingat ! Kusta bisa dicegah dan diobati.

Sepulangnya dari Benteng Portugis, kami mampir ke Pertapaan Sonder atau Sonder Hermitage Park terdapat di Dukuh Sonder, yang berlokasi Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara. Pada abad XIV Nyai Langgeng atau sering dikenal dengan Ratu Kalinyamat berkuasa atas kerajaan yang berpusat di Kalinyamatan. Pada tahun 1549 suaminya yang bernama Sultan Hadirin terbunuh oleh Arya Penangsang pada suatu pertempuran.

Pertapaan Ratu Kalinyamat di Dukuh Sonder, Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, JeparaPertapaan Ratu Kalinyamat di Dukuh Sonder, Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, Jepara

Sepeninggal suaminya, Ratu Kalinyamat meninggalkan tahta kerajaan untuk berkelana menuntut keadilan, sampai akhirnya sampai di Dukuh Sonder Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo. Di tempat itu dia bertapa ‘topo wudo’ yaitu meninggalkan pakaian kebesaran kerajaan sampai dendamnya kepada Arya Penangsang terbalaskan. Ratu Kalinyamat yang dilukiskan sangat cantik bertapa hanya dengan berbalutkan rambutnya yang panjang terurai.

Pertapaan Ratu Kalinyamat di Dukuh Sonder, Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, Jepara

Ia memohon pertolongan kepada Tuhan agar diberikan kekuatan sehingga bisa membalas dendam atas kematian suaminya. Dia bersumpah ”ora pisan-pisan ingsun jengkar saka tapa ingsun yen durung iso kramas getihe lan kesed jambule Arya penangsang” (Ia tidak akan menghentikan laku tapanya jika belum bisa keramas dengan darah Aryo Penangsang). Akhirnya, Aryo Penangsang terbunuh dalam suatu pertempuran dengan Danang Sutawijaya, yang dikemudian hari menjadi Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram Islam di Pulau Jawa. Aryo Penangsang tewas secara mengenaskan dengan usus terburai oleh kerisnya sendiri. Situs peninggalan Aryo Penangsang di Jipang, Cepu sudah kami kunjungi sehari sebelumnya.

Pertapaan Ratu Kalinyamat yang berada di tengah pohon yang rimbun. Di depan masuk terdapat gapura dari batu bata kuno.

Laku tapa Ratu Kalinyamat dengan sumpahnya itu ditafsirkan oleh masyarakat desa Tulaan sebagai wujud kesetiaan, kecintaan, dan pengabdian sang ratu kepada suaminya. Ia dengan kesadaran dan keiikhlasannya yang tinggi bersedia meninggalkan gemerlapnya kehidupan istana demi membalas dendam atas kematian suaminya Ratu Kalinyamat bertapa sangat lama sampai-sampai rambutnya dikubur di tempat itu. Kami sampai di petilasan yang berada di tengah pohon yang rimbun, saat hujan gerimis tidak berhenti, sehingga hanya sekejap berdiri di depan pintu masuk yang dilengkapi dengan gapura dari batu bata kuno.

Selanjutnya kami pulang untuk makan siang di depan Pasar Mlonggo, Jepara

(bersambung)

JEPARA ke JOGJA
(sambungan terakhir)

Jumat, 2 Januari 2026 kami melanjutkan etape terakhir petualangan ke teritorial timur laut Jawa Tengah, dengan pulang dari Jepara ke Jogja.

Ternyata tidak ada misa kudus harian pagi di Gereja Stella Maris Paroki Jepara, karena hari tersebut adalah Jumat pertama, Jumat, 2 Januari 2026, ya kami hanya nampang saja

Melihat Klenteng Wang Fu atau Furianto Klenteng yang dibangun tahun 1881 di Pecinan Jepara. Diprakarsai oleh keluarga Giok Hwa yang menjadi tempat penyimpanan kitab Sam Ho Bio.

Mampir di Atmosfera coffee and eatery, di pusat kota Jepara untuk menemui sahabat lama

Bertemu sahabat lama, mas Edi mBako, teman sekelas di SMP Bruderan Purworejo, yang bisnis sembako dan tinggal di Jepara. Anak sulungnya pemilik atmosfera cofee and eatery.

Melihat alam indah di Pantai Blebak, Jepara, tetapi tidak naik jeep

Mampir sowan menemui bu Siwi Djanong dan cucu (sesama warga Yogyakarta) yang sedang berlibur di Sekuro Village Beach Resort, Blebak, Jepara

Kami pamit kepada Bapak Mulyono sekeluarga di Mlonggo Jepara, yang diiringi Lio (1 tahun), cucu yang menggemaskan

Setelah berpamitan dengan keluarga Bapak Mulyono (calon besan), kami segera menuju pemberhentian pertama perjalanan pulang ke Yogyakarta, yaitu Benteng VOC Japara (Fort Japara (XVI) atau Loji Gunung). Didirikan di Jepara pada 1618, karena kantornya di Gresik, Jawa Timur selalu mendapat gangguan terkait sistem monopoli VOC.

Bergaya di depan Benteng VOC Belanda Japara (Fort Japara (XVI) atau Loji Gunung), yang didirikan di Jepara pada 1618.

Kami mampir, melihat, dan mengagumi Benteng VOC Japara, juga dikenal sebagai Fort Japara (XVI) atau Loji Gunung, yang merupakan sebuah benteng peninggalan VOC Belanda di Jepara, Jawa Tengah. Gerbang benteng ini didirikan di Jepara pada 1613, karena kantornya yang ada di Gresik, Jawa Timur selalu mendapat gangguan dari para pedagang Islam madura dan Jawa Timur yang menentang sistem monopoli VOC.

Ketika pemberontakan Pangeran Trunajaya meletus, Letnan Martinus van Ingen memimpin 100 orang prajurit infanteri di Benteng VOC Jepara. Dibantu Ngabehi Wangsadipa, Bupati Jepara saat itu, dan menang melawan Pasukan Trunajaya. Oleh sebab itu Benteng Jepara tetap digunakan oleh VOC Belanda, sebagai konsesi yang diberikan Amangkurat II.

Pada 1615, Sultan Agung dari Mataram memberikan izin kepada VOC untuk mendirikan loji sebagai kantor pewakilan dagang di Jepara. Loji itu selesai dibangun pada tahun 1618. Ketika Pemberontakan Trunajaya meletus, Letnan VOC Martinus van Ingen membuat peta daerah Jepara dan merencanakan penempatan 100 infanteri di Benteng VOC Jepara. Pemimpin Jepara saat itu, Ngabehi Wangsadipa, memberi VOC berupa lima pucuk meriam yang salah satunya dipasang di benteng itu. Pasukan Trunajaya berkali-kali menyerang benteng Jepara, tetapi selalu berakhir gagal. Benteng Jepara tetap digunakan oleh VOC Belanda sebagai konsesi dalam bentuk sewa yang diberikan Amangkurat II kepada VOC, atas usahanya dalam menumpas Pemberontakan Trunajaya.

Benteng ini menjadi pusat perdagangannya VOC di pantai utara Jawa, tetapi kemudian ditinggalkan perlahan pada 1697, ketika Semarang mulai menggantikan fungsi Jepara sebagai pusat perdangangan. Alasannya adalah karena pelabuhan Jepara mengalami pendangkalan yang disebabkan oleh sedimentasi lumpur yang dibawa oleh arus sungai dan binatang-binatang karang yang semakin berkembang. VOC juga mempertimbangkan keunggulan pelabuhan Semarang yang memiliki akses ke pedalaman Mataram di Surakarta. Pada 1707, VOC secara resmi memindahkan pusat kekuasaannya dari Jepara ke Semarang. Hal itu didasarkan pada perjanjian tanggal 31 Oktober 1707 antara VOC dengan Pakubuwana I selaku raja Kesultanan Mataram di Surakarta.

Diselingi mampir di rumah mas dr. Isdiyanto, MHum dan menyantap menu kodok swike di Demak, ditraktir drg. Fx. Titik Purwaningsih.

Santap siang menu kodok swike di Demak, enak, hangat, pedas dan lezaat

Lanjut kami menyusuri jalan Pantura yang sering tergenang banjir rob, dari Demak ke Semarang. Setelah melalui tahapan hujan lebat sepanjang tol Trans Jawa dan keluar di GT Boyolali, kami segera menuju ke Pesanggrahan Pracimoharjo yang terletak di Desa Paras, Kecamatan Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah.

Gerbang Pesanggrahan Pracimoharjo yang terletak di Desa Paras, Kecamatan Cepogo, Boyolali, yang gagah menjulang

Pesanggrahan Pracimoharjo yang menjulang, artistik dan selesai dipugar

Pesanggrahan Pracimoharjo merupakan salah satu peninggalan bersejarah Kerajaan Mataram yang berdiri sejak era Pakubuwono IV pada 1803–1804. Lokasinya berada di lereng Gunung Merapi, sehingga sejak awal difungsikan sebagai tempat tetirah para raja, termasuk Pakubuwono VI yang kerap menikmati suasana perkebunan kopi di sekitarnya. Kesejukan dan keheningan menyatu menjadi satu di Pesanggarahan Pracimoharjo sehingga tempat ini cocok untuk merenung hingga mencari ketenangan.

Pesanggrahan Pracimoharjo didirikan pada masa pemerintahan Sinuhun Pakubuwono IV sekitar tahun 1803–1804.

Lereng Merapi dipilih sebagai lokasi karena ketenangan dan keindahan alamnya, menjadikannya tempat yang ideal untuk tetirah (beristirahat dan memulihkan diri). Pakubuwono VI kemudian melanjutkan tradisi tersebut. Sang Sunan kerap menggunakan pesanggrahan ini untuk menikmati keindahan perkebunan kopi di sekitarnya.

Selain itu, Pracimoharjo juga menjadi lokasi penting dalam sejarah Perang Jawa, karena PB VI beberapa kali bertemu Pangeran Diponegoro atau pasukannya di tempat ini untuk merumuskan strategi perlawanan kepada Belanda.

Bagian tengah Pesanggrahan Pracimoharjo yang terletak di Desa Paras, Kecamatan Cepogo, Boyolali.

Puncak kejayaan Pesanggrahan Pracimoharjo terjadi pada masa Sunan Pakubuwono X. Bangunan pesanggrahan sebelumnya masih sederhana. Baru pada masa PB X tempat ini dibangun ulang secara besar-besaran hingga menyerupai miniatur Keraton Kasunanan Surakarta.

Patung seukuran sebenarnya Raja terbesar Keraton Surakarta, Paku Buwono X

Petualangan penjelajahan darat (overland) pergantian tahun 2025 ke teritorial timur laut Jawa Tengah diakhiri dengan menikmati Tol Jogja-Solo Paket 1.1, ruas Kartasura-Klaten sejauh 22,3 km dan Ruas Klaten-Prambanan yang telah beroperasi pada 2 Juli 2025. Nyaman, tenang dan aman sampai di Yogyakarta. Ayo piknik !

Sampai bertemu dalam petualangan selanjutnya. Terimakasih

Jumat, 2 Januari 2026


Categories
Healthy Life Jalan-jalan

2025 Mengeksplor Timor, Menggores Flores

Mengeksplor Timor

hari pertama

fx. wikan indrarto & b. sari prasetyati

Dalam rangka mempromosikan Fakultas Kedokteran Universitas Atma Jaya Yogyakarta (FK UAJY), kami mengeksplor Timor. Minggu malam, 19 Oktober 2025 kami naik KA Pasundan kelas ekonomi dari Stasiun Lempuyangan Yogyakarta, menuju ke Stasiun Gubeng Surabaya.

Bergaya sebelum berangkat, di gerbang Stasiun Lempuyangan Yogyakarta

Dalam kabin kelas ekonomi KA Pasundan yang akan melaju kencang ke Stasiun Gubeng Surabaya

Mendarat di Stasiun Gubeng Surabaya yang bersih

Perjalanan menyusuri rel menempuh 320 km dan kami lanjutkan dengan berdoa Porta Sancta di Gereja Katolik Katedral Hati Kudus Tuhan Yesus, di Jl. Polisi Istimewa 11 Surabaya. Terus kami menuju Bandara Juanda di Sidoarjo untuk terbang dalam perut pesawat Lion Air / JT 697 pada pk. 05:45 dan mendarat di Eltari Airport Kupang NTT pk. 07:45. Petualangan mengeksplore Timor langsung dimulai.

Porta Sancta Gereja Katedral Hati Kudus Tuhan Yesus Surabaya

Gedung Gereja Katedral Surabaya yang dirancang Ed Cypress Bureau

Siap meninggalkan Bandara Juanda Surabaya, dengan Boeng 737 seri 800 Next Generation Lion Air menuju Kupang

Pulau Timor adalah sebuah pulau di bagian selatan Indonesia, terbagi antara negara merdeka Timor Leste dan kawasan Timor Barat, bagian dari Provinsi Nusa Tenggara Timur. Luas Pulau Timor sekitar 30.777 km². Nama pulau ini diambil dari kata ‘timor’, bahasa Melayu untuk “timur”; dinamakan demikian karena pulau ini terletak di ujung timur rantai kepulauan nusantara.

Sejarah Pulau Timor berasal dan berawal dari Gunung Lakaan, Belu, leluhur pertama orang Tetun bernama Laka Lorok Kmesak. Catatan sejarah paling awal tentang pulau Timor adalah Nagarakretagama pada abad ke-14, yaitu Pupuh 14, yang mengidentifikasi bahwa Timor sebagai sebuah pulau dalam wilayah Majapahit. Timor tercantum di dalam sastra kuno Jawa, disebutkan sebagai bagian jaringan perdagangan Cina dan India abad ke-14 sebagai pengekspor kayu cendana aromatik, budak, madu dan lilin.

Kenangan bersama Bang Drs. Alfred Herman Welem Fina, MKes, (paling kanan, tangan di saku celana) pada tahun 1992 saat sebagai Kepala Bagain Umum Kanwil Kesehatan NTT, menerima para dokter PNS baru yang ditempatkan di seluruh NTT.

Siap mengeksplore Timor dalam Mitshubishi Triton Merah ditemani pak Alfred (bertopi) dan pak David, adiknya

Ditemani Bang Drs. Alfred Herman Welem Fina, MKes, pensiunan Widyaiswara Madya UPTD Latnakes Jl. Adisucipto Penfui Kupang, yang kami kenal baik sejak pada tahun 1992 saat sebagai Kepala Bagian Umum Kanwil Kesehatan NTT, menerima para dokter PNS baru yang ditempatkan di seluruh NTT. Ditemani adik kandungnya, yaitu Direktur Yayasan Pelayanan dan Pengembangan Masyarakat Alfa Omega (YAO) 2020-2023 milik Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), Bapak Pdt. David Alfons Nikolas Fina, STh, MA kami terguncang di dalam Mitsubhisi Triton doube cabin menyusuri jalan nasonal Trans Timor jalur tengah sejauh 194 km menuju ke Kefamenanu di Timor Tengah Utara (TTU). Jalanan yang berkelok berulang, menanjak dan menurun berliku, dilahap habis oleh ketrampilan tangan Bapak Pendeta David mengemudikan kegarangan Mitsubhisi Triton bermesin diesel 4N15 berkapasitas 2.4 liter, dengan tenaga hingga 136 ps pada 3.500 rpm dan torsi 324 Nm berpenggerak 4 roda. Diselingi sesi makan sei di siang yang sejuk di Soe, ibukota Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), kami lanjut ke Timor Tengah Utara (TTU), menggapai ibukotanya, yaitu Kefamenanu.

Santap siang menu sei di Soe, ibukota Timor Tengah Selatan

Kefamenanu adalah sebuah kota kecil di Lembah Bikomi, yang didirikan oleh Belanda pada tanggal 22 September 1922. Kota ini kemudian dijadikan sebagai ibu kota Pemerintahan Belanda yang disebut Onderafdeling Noord-Midden Timor, dalam usaha Belanda untuk menguasai Pulau Timor seluruhnya, karena sudah bercokol lebih dahulu Portugis di ujung timur Pulau Timor dan sebagian wilayah utara, yang kini dikenal dengan nama Oecussi-Ambeno. Topasses (Portugis Hitam) yang menguasai bagian utara Pulau Timor dan beberapa wilayah lainnya berusaha menghalangi langkah Belanda masuk ke pedalaman Timor.

Dibentuklah Onderafdeling Noord Midden Timor dengan Controleur Landshoofd Noord-Midden Timor adalah Letnan Sketel Olifielt. Saat mencoba mencari wilayah yang dianggap pas untuk dijadikan sebagai kota dan pusat Pemerintahan Militer Belanda, berjumpa dengan seorang warga (rakyat dari Usif Bana yang sedang menggembalakan sapi dan tinggal di Nuntaen) dan bertanya dalam bahasa Melayu, “Di mana ada sumber air?”, warga yang ditanya tersebut dengan setengah mengerti menunjuk ke sebuah arah sambil menyebut: “Kefa’mnanu!”. Dan akhirnya tempat itu diberi nama Kefamenanu (setelah disesuaikan dengan dialek Bahasa Belanda) dan pada tanggal 22 September 1922, ibu kota Pemerintahan Militer Belanda (Onderafdeeling Noord Midden Timor) di Noetoko pindah ke Kefamenanu.

Kami segera menuju Gereja Paroki Santo Antonius Padua Sasi, yang merupakan salah satu gereja yang terkenal di Kefamenanu, Nusa Tenggara Timur. Gereja ini tidak hanya menjadi tempat ibadah bagi umat Katolik di sekitar daerah tersebut, tetapi juga simbol sejarah dan budaya yang kental. Terletak di jantung kota Kefamenanu, gereja ini menjadi saksi bisu perkembangan keimanan dan kebudayaan masyarakat setempat selama bertahun-tahun.

Pengalungan kain tenun khas Kefamenanu dalam sambutan hangat di depan gerbang Gereja St. Antonius Padua Sasi

Kami disambut hangat oleh para bidan yang merupakan mahasiswa Prodi Sarjana STIKES Guna Bangsa Yogyakarta, yang selama ini telah berulang bertatap muka dengan layar (zoom) saat berdiskusi dalam mata kuliah Kegawatdaruratan Neonatal.

Porta Sancta di Gerbang Gereja Santo Antonius Padua Sasi, Kefamenanu

Luar biasa penyambutan yang kami terima, termasuk pengalungan kain adat di depan Gerbang Gereja Porta Sancta. Gereja Santo Antonius Padua Sasi memiliki arsitektur khas dengan sentuhan gaya kolonial yang memukau. Bangunan gereja yang megah dan kokoh ini tersusun dari batu alam berwarna coklat dengan gereja membentuk setengah lingkaran. Interior gereja yang indah, lengkap dengan altar berornamen dan patung-patung santo, menambah kekhidmatan suasana bagi siapa pun yang beribadah di sana.

Gereja indah di Kefamenanu

Sambutan hangat oleh para bidan di Kefamenanu

Interior Gereja Santo Antonius Padua Sasi, Kefamenanu TTU

Setelah berpisah dengan Pak Alfred Herman Welem Fina yang lanjut ke Atambua, kami bertiga segera meneruskan mengeksplore Timor. Terus disopiri Pdt. David Alfons Nikolas Fina, ahli anthropologi budaya alumnus Menchester UK yang banyak cerita, kami lanjut menyusuri jalanan berliku tajam, tetapi tetap beraspal mulus di seputaran pegunanan Mutis dalam areal Taman Nasional Mutis Timau, yang mengandung marmer kelas dunia, mengeksplore Timor.

Pulau ini secara politik dibagi menjadi dua bagian selama berabad-abad. Belanda dan Portugis berebut untuk mengontrol pulau itu sampai tercapai Perjanjian Lisboa pada tahun 1859, tetapi keduanya masih belum secara resmi menyelesaikan masalah perbatasan hingga tahun 1912.

Pada 1945, Indonesia memproklamirkan kemerdekaan dan tak lagi di bawah cengkraman Belanda. Pada tahun itu, Portugal masih menguasai Timor Timur. Pada awal dekade 1970-an, Portugal bergejolak dan terjadi Revolusi Anyelir terjadi pada 25 April 1974, pasukan Jenderal António de Spínola mampu yang menggulingkan kediktatoran rezim Estado Novo, dengan tokohnya yang terkenal adalah Américo Tomás, Marcelo Caetano dan Joaquim da Silva Cunha. Pemerintah pusat Lisabon lalu menarik semua pasukan di daerah jajahan termasuk Timor Leste pada Agustus 1973.

Setelah Portugal cabut, Timor-timur mendeklarasikan kemerdekaan pada 1975. Kemudian terjadi kerusuhan internal dan partai Fretilin yang dicurigai komunis mulai mendominasi kekuatan, sehingga mendorong sebuah invasi oleh tentara Indonesia, yang menentang konsep Timor Portugis untuk merdeka. Pada tahun 1975, wilayah Timor Portugis diintegrasikan oleh Indonesia dan kemudian dikenal sebagai provinsi Timor Timur (Timtim) yang merupakan provinsi ke-27 Indonesia dengan ibu kota Dili, tetapi aneksasi ini tidak pernah diakui oleh PBB atau Portugal. Kami pernah mengunjungi Dili pada 12 Desember 1992, saat masih menjadi ibukota Timtim yang bersamaan dengan terjadinya gempa bumi besar di Maumere

Timor-Leste (Republik Demokratik Timor-Leste) yang sebelum merdeka bernama Timor Timur, berada dekat di sebelah utara benua Australia dan merupakan bagian timur pulau Timor. Selain itu wilayah negara ini juga meliputi pulau Kambing atau Atauro, Jaco, dan Oe-Cusse Ambeno di Timor Barat. Negara ini memiliki luas sekitar 15.007 kilometer persegi dengan Dili, kota di pesisir utara Pulau Timor, menjadi ibu kota dan kota terbesarnya.

Pada tanggal 20 Mei 2002, Konstitusi Republik Demokratis Timor-Leste mulai berlaku dan Timor-Leste diakui sebagai negara merdeka dan berdaulat oleh PBB. Parlemen Nasional dibentuk dan Xanana Gusmão dilantik sebagai Presiden pertama negara tersebut. Gusmão menolak masa jabatan presiden yang kedua kalinya. José Ramos-Horta terpilih sebagai presiden pada pemilihan bulan Mei 2007, sementara Gusmão mengikuti kontestasi pemilihan parlemen dan menjadi Perdana Menteri.

Urutan Presiden Timor Leste setelah Xanana Gusmao sejak awal adalah Francisco Xavier do Amaral, Nicolau dos Reis Lobato, Xanana Gusmão, José Ramos-Horta, Vicente Guterres, Fernando de Araújo, Taur Matan Ruak, Francisco Guterres dan sekarang kembali José Ramos-Horta.

Pos Napan yang memisahkan Indonesia dan Timor Leste

Kami di batas negara Indonesia dan Timor Leste

Petualangan dalam Mitsubishi Triton DH 8458 AK menyeberang batas negara

Senin, 20 Oktober 2025 kami mencapai Pos Lintas Batas (PLBN) Napan, yang merupakan pos lintas batas terpadu Indonesia-Timor Leste di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) NTT. Pos ini diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 2 Oktober 2024 bersama dengan enam PLBN terpadu lainnya, dan pengoperasiannya kembali sejak April 2025 menandai peningkatan pelayanan, keamanan, dan pergerakan ekonomi di wilayah perbatasan. Setelajh proses imigrasi dan bea cukai yang sedikit memakan waktu, kami lanjut mengunjungi Distrik Otonomi Oecusse (Oecusse-Ambeno) yang merupakan sebuah eksklave, terletak di pantai utara bagian barat Timor. Oecusse dipisahkan dari wilayah Timor Leste lainnya oleh Timor Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Timor Barat mengelilingi Oecusse di semua sisi kecuali utara, di mana eksklave ini menghadap ke Laut Sawu. Ibu kota Oecusse adalah Pante Makasar atau sebelumnya saat jaman Timor Portugis disebut Vila Taveiro.

Tumtum adalah sepeda motor untuk penumpang di Oecusee

Kantor resmi Penghubung KBRI Dilli di Oecusse Timor Leste

Kami disambut hangat oleh Kepala Kantor Penghubung KBRI Dili di Oecusse Timor Leste, Bapak Bonifasius Agung Nugroho, SE, Akt, MPA. Alumnus Master of Public Administration dari Lee Kuan Yew School of Public Policy, Singapura adalah ayah kandung Dharma (7 tahun) pasien kami di RS Panti Rapih Yogyakarta. Setelah dijamu makan malam menu sop ikan ekor kuning yang merupakan menu kuliner lokal, kami menginap semalam di KBRI-Oecusse R92C+G53, Pante Macassar

Jamuan makan malam kenegaraan dengan menu lokal, sop asam manis ikan ekor kuning oleh Bapak Boni Nugroho di Oecusse

Jembatan karya BUMN Indonesia Waskita Karya yang indah

Selasa, 21 Oktober 2025

Ditulis di Oecusse Timor Leste
(bersambung)

Mengeksplor Timor (hari kedua)

Dalam rangka mempromosikan Fakultas Kedokteran Universitas Atma Jaya Yogyakarta (FK UAJY), kami mengeksplor Timor. Selasa pagi, 21 Oktober 2025 kami terjaga dari tidur nyenyak dari mimpi indah di kamar utama Wisma Indonesia di Kantor Penghubung KBRI Dili untuk Oecusse, Timor Leste.

Tulisan estasionamentu reitor atau petugas parkir di Gereja St. Antonio Oecusse siap menjalankan tugas

Suasana umat yang khusuk berdoa di depan kami, saat misa kudus harian pagi di Gereja Santo Antonio Oecusse

Gedung Gereja Santo Antonio yang dibangun Portugis tahun 1965 di Oecusse

Pagi itu kami berdua bergegas berjalan kaki menyusuri Pante Maksar, sejajar dengan Av. Santo António, melewati Secretária Regional para a Educação e Solidariedade Social, menyusuri bibir pantai Laut Sewu yang indah. Kami menyususuri trotoar yang raspi, rata dan lebar, terus berjalan kaki melewati Estatua Nossa Senhora (Patung Bunda Maria) yang sayang sekali tertutup seng biru karena proses renovasi, untuk mencapai Igreja Consagrada a Santo António (Gereja Katolik Santo Antonius) untuk mengikuti misa kudus harian pagi. Gereja St. Antonius ini sebelumnya bernama Nossa Senhora do Rosário, dibangun di pinggir pantai Oecusse pada tahun 1965 oleh Portugis. Awal mulanya sebagai tempat tinggal Ordo Dominikan. Hingga saat ini, umat Katolik di Oecusse menghidupkan sebuah tradisi khusus selama Pekan Suci Paskah setiap tahun di paroki ini. Pada saat perayaan Paskah umat Katolik di Oecusse melakukan prosesi besar-besaran untuk menghormati Senhor Morto (patung seukuran tubuh Yesus yang terletak sujud di platform khusus dalam gereja tersebut). Dalam khusuk kami berdoa dan menerima tubuh Kristus, pada misa kudus berbahasa Tetun yang sama sekali tidak kami pahami secara logika, tetapi kami selami secara nurani, untuk kelancaran semua penugasan untuk kami.

Jalanan yang mulus, lebar, datar, sepi dan menyusuri pantai Laut Sawu di Oecusse

Jembatan Noefefa yang artistik buah karya PT Adhi Karya di Oecusse

Setelah misa kudus selesai, kami segera bergabung dengan Bapak Pdt. David Alfons Nikolas Fina, ahli anthropologi budaya alumnus Menchester UK yang banyak cerita, lanjut menyusuri jalanan halus sepanjang tepi Pante Makasar yang mengahadap Laut Sawu, dalamn Mitsubhisi Triton double cabin mengeksplore Timor di Oecusse.

Tujuan pertama kami adalah Jembatan Noefefa (mulut sungai) yang sering disebut warga setempat dengan nama Ponte Noefefa, yang melintasi muara sungai Noefefa sebelum aliran air sungainya menyatu dengan Laut Sawu. Jembatan baja lengkung yang kokoh, berwarna hijau dan telah kami kunjungi malam sebelumnya, kami datangi lagi saat pagi, untuk melihat keindahkan hasi bangunan BUMN PT. Adhi Karya pada bulan April 2017 hingga selesai tahun 2017. Jembatan Noefefa adalah jembatan jalan dua jalur di atas Sungai Tono, merupakan jembatan terbesar yang pernah dibangun di Timor Leste, dengan panjang 380 meter, dan menjadi salah satu ikon pariwisata bagi pemerintah Timor Leste khususnya di distrik Oecusse.

Jembatan Noefefa yang artistik buah karya PT Adhi Karya di Oecusse Timor Leste

Sejarah Oecusse bermula pada abad 15, sejumlah negara Eropa melakukan ekspansi ke wilayah di Asia Tenggara dengan tujuan awal mencari rempah-rempah. Portugis pertama kali mendarat pada 1511 di Malaka Malaysia. Pada awal 1512, kapal dagang Portugis rutin ke Pulau Timor untuk membeli kayu cendana sebagai komoditas utama dari pulau Timor. Pendaratan pertama Portugis di Pulau Timor adalah di Lifau, sedangkan Belanda baru berlabuh di Pelabuhan Banten pada 1596, dan seiring berjalannya waktu mereka tergiur untuk berdagang kayu cendana juga.

Monumen Lifau yang menggambarkan pendaratan Portugis pertama kali di Pulau Timor

Kami segera berbalik arah meninggalkan jembatan Noefefa dan tujuan kami selanjutnya adalah Lifau. Kami menikmati keindahan Monumen Lifau, yang menggambarkan peristiwa yang sangat penting dalam sejarah Timor-Leste dan Gereja Katolik di Pulau Timor. Di tempat tersebut, tepatnya di pantai Lifau inilah Portugis mendarat pada tahun 1515 dan memulai penjajahan selama lebih dari 450 tahun, hingga didirikan sebagai ibukota Portugis pada saat itu. Saat itu dari Lifau, para misionaris Katolik pertama mulai menyebarkan ajaran iman Katolik di pulau Timor. Pada Monumen Lifau terlihat perwira Portugis yang berwajah Kaukasus berbadan tidak tinggi, dan berhidung mancung membawa pedang terhunus menemui raja lokal. Di sampingnya berdiri seorang pastor Katolik yang menyertainya untuk menyebarkan Kabar Baik, iman dan harapan baru kepada masyarakat setempat.

Patung Perwira Portugis saat pertama kali mendarat di Pulau Timor, tertutup oleh Bapak Pdt. David Fina, karena badannya seukuran

Misionaris Katolik ikut bersama dalam pendaratan pertama kali Portugis di Pulau Timor pada Monumen Lifau Oecusse Timor Leste

Kami jadi mengingat pada Sabtu, 3 Oktober 2007 saat mengunjungi Monumen Penemuan (Discovery Monument), lambang penemuan dunia baru oleh para pelaut Portugis yang gagah berani, didirikan di tepi sungai Tajo di pusat kota Lisabon untuk mengenang jasa, semangat dan keberanian para pelaut Portugis. Merekalah yang berhasil menemukan jalur pelayaran ke seluruh dunia pada tahun 1448, terutama Vasco da Gama, setelah mereka berhasil menemukan teknologi pembuatan layar menjadi berbentuk kotak, sehingga laju kapal dapat lebih dikendalikan. ‘Discovery Monument’ ini merupakan hadiah dari Pemerintah Afrika Selatan, sebab Vasco da Gamalah yang mendarat di Cape Town, ujung selatan Afrika Selatan pada tahun 1488, sebelum melanjutkan pelayaran sampai di Natal 1492. Kolonisasi Portugis dimulai sejak mereka berhasil mencapai India dan menguasai hampir seluruh dunia, sehingga bahkan akhirnya ditandatanganilah perjanjian dengan Spanyol, untuk membagi 2 wilayah jajahan di seluruh dunia.

Monumen Penemuan (Discovery Monument), lambang penemuan dunia baru oleh para pelaut Portugis yang gagah berani, didirikan di tepi sungai Tajo di pusat kota Lisabon, Portugal yang kami kunjungi saat kami masih muda belia Sabtu, 3 Oktober 2007

Tidak hanya dengan Spanyol di belahan dunia lain Portugis bertikai, tetapi Belanda dan Portugis lalu terlibat perebutan wilayah pada 1859, untuk membagi Pulau Timor berdasarkan Perjanjian Lisbon. Timor Barat menjadi bagian Belanda dengan pusat koloni di Kupang, sementara Timor Timur menjadi bagian Portugis dengan pusat di Dili. Namun, pembagian itu meninggalkan Oekusi-Ambeno dan Noimuti sebagai daerah kantung yang dikelilingi wilayah kekuasaan Belanda. Pada 1916 Belanda membuat perbatasan definitif yang terus digunakan hingga akhir masa kolonial dan wilayah ini diberi status county (conselho), bernama Oecússi oleh pemerintah Portugis, dengan ibu kota Pante Makasar.

Pante Makassar adalah sebuah kota di pantai utara Timor Leste, 152 km atau 94 mil di sebelah barat Dili, ibu kota negara. Wilayah ini memiliki populasi 14.730 (2023) dan merupakan ibu kota eksklave dari Distrik Otonomi Khusus Oecusse. Nama ini secara harfiah berarti “Pantai Makassar”, mengacu pada perdagangan sebelumnya dengan Kesultanan Makassar (Kerajaan Gowa Tallo) di Pulau Sulawesi bagian selatan oleh Raja Tallo, Manginyarrang Daeng Makkio Karaeng Kanjilo, Sultan Mudaffar Tumammaliang ri Timoro pada tahun 1641. Secara lokal Pante Makassar dikenal juga sebagai Oecussi dan merupakan nama salah satu dari dua kerajaan asli yang membentuk eksklave. Yang lainnya adalah Ambeno. Selama penjajahan Portugis, kota ini juga dikenal sebagai Vila Taveiro.

Pembuatan jalan raya tambahan terlihat sambil mengenang keperkasaan Topass, menyusuri bibir pantai Laut Sawu, menjauh dari pusat Kota Pante Makasar di Oecusse Timor Leste

Lifau, yang terletak di pinggiran kota sekarang, adalah tempat di mana Portugis pertama kali mendarat di Pulau Timor dan merupakan ibu kota pertama Timor Portugis. Itu berlanjut sebagai ibu kota sampai tahun 1769, ketika dipindahkan ke Dili karena serangan terus-menerus dari Topass.

Suku Topasses adalah kelompok orang Indo-Portugis yang menyebut diri mereka “Portugis Hitam”. Dipimpin oleh dua keluarga berpengaruh, Da Costa (keturunan pedagang Yahudi Portugis) dan Hornay (keturunan Belanda). Mereka tinggal di daerah Oecussi dan Flores, dengan pusat kegiatan di Larantuka, Flores Timur, yang terkenal karena keterampilan bela diri dan budaya yang kuat.

Orang Topas (Portugis Hitam atau Bidau) terutama adalah keturunan campuran prajurit, pelaut, dan pedagang Portugis dengan wanita India dan Melayu. Seiring perjalanan waktu, istilah ini digunakan untuk menyebut sejumlah penduduk blasteran, dan pada akhirnya hanya digunakan oleh Portugis untuk menyebut Larantuqueiros, penduduk campuran Katolik dari Larantuka, Flores Timur. Di sana, orang Topas dalam 1 generasi mencoba membentuk sebuah kerajaan kecil merdeka, yang hingga abad ke-19. Belanda menggunakan istilah Topas untuk penduduk blasteran yang memeluk agama Kristen dan menjalani gaya hidup ala Eropa. Istilah Topas ini berasal dari kata topi (Gente de Chapeo), yang dalam bahasa Portugis berarti “orang yang memakai topi”.

Sisa pondasi rumah kerajaan keluarga da Costa, pemimpin Topass di Oecusse Timor Leste

Selain di Larantuka, orang Topas juga tinggal bersama orang Portugis di Lifau yang sekarang berada di Oecusse, Timor Leste. Dari sini, orang Topas juga mengambil alih perdagangan cendana. Pada tahun 1642, sejumlah besar orang Topas sudah tinggal di Timor dan masuk ke pedalaman. Pasokan senapan menjamin kendali atas sebagian besar produksi kayu cendana dan dapat menentukan harga. Di sini, klan Costa dan Da Hornay juga berperang untuk kekuasaan. Pemimpin Topas sejak tahun 1911–1948 adalah Hugo Hermenegildo da Costa. Tahun 1948–1999 digantikan oleh João Hermenegildo da Costa dan sejak tahun 1999 digantikan oleh António da Costa.

Monumen Korea di Pante Makasar Oecusse Timor Leste

Sebuah meriam di depan prasasti untuk 5 orang penjaga perdamaian PBB dari Republik Korea yang terbawa arus sungai kuat, hingga kehilangan nyawa mereka di Oé-Cusse.

Setelah puas merenungkan pendaratan Portugis di Lifau dan konflik dengan Belanda dan Topass, kami segera melaju lagi menyusuri bibir pantai yang berjalan mulus, bersih dan sepi untuk menuju Monumen Peringatan Korea. Monumen ini dibangun untuk menandai tragedi 6 Maret 2003, dimana terdapat lima penjaga perdamaian PBB dari Republik Korea terbawa arus sungai yang kuat hingga kehilangan nyawa mereka di Oé-Cusse. Lt Col Byungjo Min, Lt Col Jin Kyu Park, sergent Jong hoon Baek, segeant Jeong Joong Kim dan Sergeant Hee Choi adalah serdadu Korea yang namanya tercantum di monumen itu, sebagai tanda penghormatan kepada mereka yang kehilangan nyawa, saat bekerja untuk Timor-Leste yang lebih baik.

Kantor KBRI Dilli Kantor Penghubung Oecusse Timor Leste

Pohon cendana yang legendaris dan baru pertama kali kami lihat di Kantor KBRI Dilli Kantor Penghubung Oecusse Timor Leste

Setelah menikmati panorama sekitar Monumen Korea yang indah itu, kami segera kembali ke Wisma Indonesia KBRI Dili Kantor Penghubung untuk Oecusse. Di halaman sampingnya kami melihat 2 buah pohon cendana yang legendaris terus tumbuh, sebagai pengingat salah satu komoditas perdangan Timor yang tidak terlupakan.

Setelah mandi bugar kami segera berkemas dan mengikuti pergerakan Bapak Bonifasius Agung Nugroho, SE, Akt, MPA alumnus Lee Kuan Yew School of Public Policy, Singapore. Kandidat Dokter bidang pertahanan nir militer Universitas Pertahanan Bogor Jawa Barat ini, mengajak kami naik Toyota Jeep Land Cruiser 4WD ke reruntuhan Istana Raja Oé-Cusse. Sepanjang sejarah, raja-raja Oé-Cusse memiliki peran mendasar dalam hierarki sosial wilayah tersebut, dengan istana yang dibangun pada awal 1900-an, yang terletak di tepi pantai Oecusse.

Panorama perjalanan yang dilahap Toyota Jeep Land Cruiser 4WD menyusuri bibir pantai Laut Sawu di Oecusse Timor Leste

Sisa pondasi istana Raja keluarga da Costa di Oecusse yang tetap dihormati, meski telah rusak parah saat kerusuhan kemerdekaan Timor Leste

Karena jaraknya jauh dari wilayah Timor Leste lainnya, Oecussi-Ambeno, dan khususnya Pante Makasar, menjadi wilayah pertama yang diduduki pasukan Indonesia pada 29 November 1975. Pada tahun 1999, dalam hiruk-pikuk yang mengiringi referendum kemerdekaan, Pante Makasar sangat terpengaruh oleh proses kehancuran banyak bangunan oleh milisi pro-integrasi, yang didukung oleh tentara Indonesia. 65 warga sipil pendukung kemerdekaan digantung, dan 90 persen bangunan dibakar, termasuk istana raja Oecusse keluarga da Costa yang kami kunjungi pagi itu.

Gerbang tertinggi di Bukit Fatu-Suba Oecusse Timor Leste

Sisa bangunan bekas penjara era Portugis di Bukit Fatu-Suba Oecusse Timor Leste

Selesai pasang lilin dan berdoa di Gua Maria di puncak Bukit Fatu-Suba Oecusse Timor Leste

Tujuan kami selanjutnya adalah Fatu-Suba. Pada zaman penjajahan Portugis di Timor-Leste, Futu-Suba (batu di atas kepala) ini dijadikan sebagai penjara bagi para pelaku kriminal dan pemberontakan. Saat keemasan penjajahan Portugis, penjara Fatu Suba merupakan salah satu bangunan paling simbolis di Oé-Cusse. Kami sempatkan berdoa sejenak di Gua Maria yang dibangun di daratan landai puncak bukit itu, kemudian menyaksikan reruntuhan fasilitas keemasan Portugis ini yang terletak di puncak sebuah bukit di atas pusat Kota Oecusse. Dari atas bukit yang sangat tinggi dan lahap digapai Mitshubishi Tritor oleh Bapak Pendeta David Fina  dan Toyota Land Cruiser 4WD milik KBRI Dili yang kami tumpangi, untuk menikmati pemandangan nan indah seluruh kota Pante Makasar dari atas bukit.

Panorama kota Pante Makasar terlihat jauh di bawah dari gardu pandang di Bukit Fatu-Suba Oecusse Timor Leste

Selanjutnya rombongan kami mengunjungi Bandar Udara Internasional Oé-Cusse Rota Da Sândalo. Bangunan megah ini adalah bandar udara yang berada di enklave Timor Leste, Oecusse dengan ketinggan 0 meter dari permukaan laut. Bandara ini dibangun kembali pada 2015 dan diresmikan oleh Presiden Timor Leste Francisco Guterres pada 18 Juni 2019 untuk melayani rute domestik dan internasional.

Bandar Udara Internasional Oé-Cusse Rota Da Sândalo yang diresmikan oleh Presiden Timor Leste Francisco Guterres

Selanjutnya rombongan kami kembali menyusuri jalanan mulus, bersih, sepi dan panoramik di bibir pantai Laut Sawu untuk meninggalkan Oecusse menuju wilayah Indonesia. Kami keluar melalui jalur berbeda dengan saat masuk, yaitu akan keluar melalui pos Wini ke arah timur, berbeda dengan saat masuk lewat pos Napan dari arah tengah. Untuk memperlancar proses keluar kendaraan pada pos yang berbeda, Bapak Bonifasius Agung Nugroho, SE, Akt, MPA menyertai kami sampi pos Wini. Bersyukur juga karena pagi itu beliau juga akan bertugas dalam melindungi warga Indonesia, termasuk yang berada di Desa Inbate, Kecamatan Bikomi Nilulat yang terlibat konflik dengan UPF (Unidade Patrullamentu Fronteira) atau unit polisi patroli perbatasan Timor Leste.

Bersama bapak Bonifasius Agung Nugroho, SE, Akt, MPA dengan latar foto presiden dan PM Timor Leste

Setelah mengucapkan obrigado barak (terimakasih banyak untuk pria), berfoto bersama dan berpamitan, kami berpisah di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Wini, sebuah pos resmi di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), NTT, yang berbatasan langsung dengan wilayah Oecusse di Timor Leste. Fungsi utamanya adalah sebagai titik pengawasan dan pelayanan lintas batas untuk orang dan barang antara Indonesia dan Timor Leste. PLBN ini memiliki posisi strategis di pesisir utara Pulau Timor. Kami lanjut menuju Atambua (70 km) melalui jalan pantai utara, untuk menjemput Bapak Alfred Herman Welem Fina, yang telah menginap di Griya Bunda Homestay di pusat kota Atambua. 

Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Wini, sebuah pos resmi di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), NTT,

Sisi Indonesia di pos Lintas Batas Negara (PLBN) Wini, sebuah pos resmi di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), NTT,

Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Wini, sebuah pos resmi di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), NTT,

Atambua adalah ibu kota Kabupaten Belu di provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Kota ini meliputi 3 kecamatan, yaitu Kecamatan Kota Atambua, Kecamatan Atambua Barat, serta Kecamatan Atambua Selatan. Atambua adalah kota terbesar kedua di Pulau Timor dalam hal ekonomi, jumlah penduduk, pemerintahan dan sebagainya. Sebagian besar masyarakatnya berbahasa Tetun Belu dan Bunaq serta Kemak. Atambua adalah kota yang multi etnis dari suku Timor, Rote, Sabu, Flores, sebagian kecil suku Tionghoa dan pendatang dari Ambon, Bugis Makassar dan beberapa suku bangsa lainnya. Tetapi terlepas dari keragaman suku bangsa yang ada, penduduk Kota Atambua tetap rukun menjalani kehidupan sosial mereka.

Menu legendaris khas Padang yang rasanya nendang di RM Beringin Atambua

Menu legendaris khas Padang yang komplit tersaji di RM Beringin Atambua

Siang itu kami segera menuju RM Padang Beringin di Jalan Soekarno – Hatta atau Jalan Jenderal Sudirman No 34, Atambua, Belu, NTT. RM ini dikenal dengan masakan Padang otentik seperti rendang, ayam pop, gulai, dan lainnya dengan rasa nendang, bahkan memiliki ulasan yang bagus, seperti rating 4,3 dari 35 ulasan di Mindtrip. Setelah makan siang sampai kenyang di RM Padang Beringin yang legendaris itu, kami ber4 segera mengunjungi Bendungan Rotiklot, yang berfungsi untuk irigasi lahan pertanian seluas 139 hektare, penyediaan air baku, pengendali banjir, dan pariwisata. Bendungan ini dibangun di atas Sungai Rotiklot di Desa Fatuketi, Kecamatan Kakuluk Mesak. Dengan kapasitas tampung sebesar 3,3 juta meter kubik, bendungan ini mengatasi masalah kekeringan di wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste, bahkan mampu memenuhi kebutuhan Pelabuhan Atapupu sebesar 40 liter/detik. Dengan kapasitas tampung mencapai 3,3 juta meter kubik, bendungan ini memiliki tinggi 42,50 meter dan panjang puncak: 415,82 meter. Setelah berfoto bersama, kami segera menuju Atapupu.

Bendungan Rotiklot di luar kota Atambua, Belu, NTT

Penjaga pintu yang baik hati di bendungan Rotiklot di luar kota Atambua, Belu, NTT

Kembali Mitsubhisi Triton melaju kencang dalam genggaman tangan handal Bapak Pdt. David Alfons Nikolas Fina, STh, MA. Kami terguncang di dalam Mitsubhisi Triton doube cabin menyusuri jalan nasonal sejauh 42 km, berliku, menurun dan menanjak tajam, juga beberapa ruas datar. Sayang sekali, mobil bagus yang kami tumpangi tersebut sempat ditabrak anak kambing yang tetiba menyeberang jalan dan cidera parah berakibat fatal di sebuah segmen lurus yang datar. Setelah berbalik arah untuk menemui warga dan penggembala kambing yang tewas itu, kami sampaikan uang duka dan kembali melaju menuju Mota Ain.

Kejadian yang tidak diinginkan di jalan nasional dari Atambua ke Atapupu, Belu NTT

Pos Mota’ain (sering juga ditulis Mota Ain) adalah sebuah pos lintas batas negara (PLBN) antara Indonesia dan Timor Leste. Pos ini merupakan fasilitas utama untuk perlintasan orang dan barang di wilayah perbatasan antara dua negara, yang terletak di Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, NTT. Dari Atapupu kami melaju sejauh 5 kilometer menyusuri tepi pentai yang berliku untuk mencapai Mota’ain.

Gerbang Pos Mota’ain sebuah pos lintas batas negara (PLBN) antara Indonesia dan Timor Leste.

Para pelancong yang akan menyeberang ke Timor Leste di gerbang Pos Mota’ain sebuah pos lintas batas negara (PLBN) antara Indonesia dan Timor Leste.

Gerbang Pos Mota’ain sebuah pos lintas batas negara (PLBN) antara Indonesia dan Timor Leste.

Mota’ain berfungsi sebagai pos pemeriksaan utama yang melayani bea cukai, imigrasi, dan karantina bagi warga negara yang melintasi perbatasan Indonesia dan Timor Leste. Pos yang jauh lebih ramai dibandingkan Napan dan Wini yang telah kami lewati ini, dirancang oleh Pemerintah Indonesia dalam melakukan peningkatan fasilitas dan layanan di PLBN Mota’ain untuk memperlancar mobilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi di perbatasan. Oleh sebab itu, kami berjumpa dengan jauh lebih banyak pengunjung, baik yang ingin menyeberang ke Timor Leste ataupun yang sekedar ingin berfoto seperti kami.

Bapak Frans Leo (78 tahun) senior yang ramah, hangat dan menyenangkan saat menyambut kami yang lusuh di Atambua

Sesama warga Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta yang bertemu di Atambua, Belu NTT

Genggam erat tanganmu kawan, untuk sesama warga Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta yang bertemu di Atambua, Belu NTT

Setelah puas berfoto, kami segera kembali ke Atambua melewati jalur lain, bukan Atapupu lagi tetapi melewatai Umarese dan Bandar Udara AA. Bere Tallo. Setelah sampai di Stambua, kami segera menginap di Griya Bunda Homestay dan bereuni dengan Bapak Frans Leo SeV 71 dan Bapak Dens Klau SeV 85. Keduanya adalah warga Atambua yang kuliah di Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) dan warga Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta yang bersemangat Sapientia et Virtus (SeV). Kata “sapientia” dapat ditafsirkan dengan “kebijakan” dan dengan “kebijaksanaan”, yang tidak persis sama; sedang kata “virtus” dapat ditafsirkan dengan “kebajikan”, tetapi juga dengan “kekuatan”. SeV itulah semboyan segenap warga Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta sampai akhir hayatnya.

https://forsino.wordpress.com/2008/07/06/sapientia-et-virtus/

Kenangan foto bersama orang2 yang baik dan mendukung penuh kami, saat bertemu di Atambua, Belu NTT

Malam itu kami bertiga menyanyikan Mars Realino dengan penuh semangat, berbagi cerita menarik saat berkehidupan di asrama dan berbagi harapan untuk kehidupan yang lebih baik. Bapak Frans Leo sudah sangat senior, tetapi tetap sehat digelapnya glaukoma yang menyerang dan memberikan dukungan besar bagi langkah kami selanjunya. Bapak Gaudiens Klau memang sudah pensiun sebagai Kepala Protokoler Sekretariat Daerah Kabupaten Malaka, tetapi tetap memiliki lobi yang luas untuk membantu pengembangan kehidupan banyak manusia. Luar biasa indah anugerah Tuhan Maha Baik melalui keduanya, yang saya bawa mimpi saat terlelap di sebuah kamar di Griya Bunda Homestay Atambua, Belu NTT.

Rabu pagi, 22 Oktober 2025

Ditulis di Griya Bunda Homesta Atambua

(bersambung)

Mengeksplor Timor (hari ketiga)

Rabu, 22 oktober 2025 pagi buta kami telah terjaga dari mimpi indah di kamar A Griya Bunda Homestay Atambua, Belu NTT.

Simpang Lima Atambua, NTT di pagi yang indah

Sisi kota Atambua NTT yang indah di pagi hari

Atambua adalah kota yang merupakan salah satu pusat penampungan pengungsi dari Timor Timur pada tahun 1999. Mayoritas penduduk Kota Atambua beragama Katolik, di mana Atambua juga merupakan sebuah Keuskupan. Bahkan Keuskupan Atambua adalah salah satu keuskupan di Indonesia yang persentasi penganut Katoliknya mencapai 95% dari total jumlah penduduknya. Wilayah Keuskupan Atambua mencakup seluruh wilayah Kabupaten Belu, Kabupaten Malaka, dan Kabupaten Timor Tengah Utara. Total luas keuskupan ini mencapai 5.200 km2 dan berpenduduk sekitar 650.000 ribu jiwa pada tahun 2008. Sementara itu Belu, dalam bahasa Tetun berarti sahabat atau teman.

Titik Nol Atambua NTT di situlah kami mulai menikmati keindahkannya

Pagi itu kami berjalan kaki sejauh 1,2 km melewati jalur tengah Jl. Trans Timor menuju Gereja Katedral Atambua, untuk mengikuti misa kudus harian pagi pk. 5.30. Gereja Katedral Santa Maria Imakulata Atambua adalah sebuah gereja katedral Katolik yang didekisasikan untuk gelar Maria, yaitu Immaculata berarti Dikandung Tanpa Noda. Katedral ini menjadi pusat kedudukan dan takhta bagi Uskup Atambua, yang saat ini diemban oleh Mgr. Dominikus Saku.

Setelah misa kudus harian pagi di Gereja Katedral Santa Maria Imakulata Atambua NTT

Bersama bu Titi UAJY setelah misa kudus harian pagi di Gereja Katedral Santa Maria Imakulata Atambua NTT

Nama “Atambua” berasal dari kata Ata yang artinya hamba dan Buan yang artinya budak. Kemudian dalam perkembangannya kata Atabuan mengalami penyisipan fonem “M”. Hal ini dapat saja terjadi dengan tidak sengaja karena fonem “B” dan “M” masih memiliki titik artikulasi yang sama sehingga mampu mempertahankan kelancaran ucapan.

Pada tahun 1866-1911, Atapupu pernah jadi pusat pemerintahan Hindia Belanda untuk kawasan Kota Atambua dan Kabupaten Belu, dimana sebelumnya Belanda menjalankan pemerintahan dari Kupang (ibu kota provinsi NTT sekarang). Selanjutnya pada tahun 1911-1916 Beredao, yang terletak di tapal batas dengan Timor Portugis (Timor Leste), telah menjadi Benteng Pertahanan Belanda. Dan pada pada tahun 1916-1942, berubahlah pusat pemerintahan Belanda dari Atapupu ke Kota Atambua setelah berhasil mengalahkan Raja Moruk Pasunan.

Atambua memiliki sejarah yang panjang, dari masa penjajahan Belanda, dimana Belanda datang ke kota Atambua pada tahun 1916 (dimana tanggal itu ditetapkan pula sebagai tanggal Ulang Tahun Kota Atambua), masa penjajahan Jepang sekitaran tahun 1942 setelah berhasil mengusir Belanda dari daratan Timor, hingga masa Konflik Timor Leste yang berujung merdekanya Timor Leste pada tahun 1999 / 2002.

Awalnya, perbudakan di Belu hanya terjadi antar golongan yang berkuasa atas individu yang dikuasai. Penguasaan atas individu bisa terjadi secara sederhana. Catatan VOC tahun 1765 menjelaskan bahwa terdapat aktivitas perdagangan budak belian secara terbuka di Timor. Tung Hsi Kau, seorang pedagang Cina tahun 1618 bahkan sudah mulai perdagangan di Timor dengan komoditas yaitu: Cendana, Lilin, Madu dan Budak. Perdagangan budak oleh Belanda meningkat lagi pada tahun 1621 yang dipicu dengan berdirinya perusahaan perdagangan Belanda di India Barat yaitu West Indische Compagnie (WIC). Pada tahun 1667 setelah Belanda menguasai Makasar, maka aktivitas perdagangan budak ditingkatkan lagi karena kebutuhan tenaga kerja.

Pada tahun 1945 Atambua sudah merdeka dan bebas dari penjajahan bangsa lain, yaitu Portugis, Belanda dan Jepang. Pada tahun tersebut juga, presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno menanam beberapa pohon di Kota Atambua, tepatnya di Lapangan Umum Kota Atambua (nama tempat tersebut sekarang), dengan harapan supaya dijaga dan dilestarikan hingga sekarang. Namun, seiring perkembangan waktu, beberapa pohon tersebut layu, dan mati. Pada waktu itu, hanya pohon beringin yang ditanam Ir. Soekarno yang masih tetap hidup. Sampai sekarang pohon tersebut tetap dijaga dan dilestarikan, dengan membuat tempat-tempat duduk di bawah pohon tersebut. Sekarang, masyarakat kota Atambua pergi ke Lapangan Umum untuk bersantai, membeli sesuatu, dan duduk di bawah pohon tersebut.

Setelah misa kudus selesai, kami sempatkan melewati Pohon Beringin Sukarno di Lapangan Umum Kota Atambua. Kami jadi ingat akan laporan dari Komisi Akhir Penerimaan, Kebenaran dan Rekonsiliasi Timor-Leste (CAVR), tentang adanya beberapa bentuk pelanggaran hak asasi manusia (HAM) pada era kemerdekaaan Timor Leste oleh militer Indonesia. Bentuk pelanggaran hak asasi manusia tersebut adalah pemindahan paksa, kelaparan, pembunuhan tidak sah, penahanan sewenang-wenang, kekerasan seksual, pelanggaran hak anak, pelanggaran hukum perang, serangan terhadap orang dan barang sipil, perlakuan buruk terhadap orang tempur musuh, perusakan dan pencurian bangunan dan barang lain, penggunaan senjata ilegal, serta perekrutan paksa. CAVR memperkirakan bahwa jumlah terbesar pembunuhan tidak sah dan penghilangan terjadi pada tahun 1999 ketika diyakini sedikitnya 1.400 dan kemungkinan sebanyak 2.600 orang dibunuh secara tidak sah atau hilang. Jumlah korban dihitung sejak tahun 1975, yaitu mulainya perang saudara dan invasi Indonesia.

Kesuksesan rakyat Indonesia dalam melengserkan tirani Orde Baru pada tahun 1998, telah mengobarkan semangat perlawanan rakyat Timor Timur kepada pemerintah Indonesia. Saat Era Reformasi mulai berjalan di bawah pemerintahan Presiden B. J. Habibie, Timor Timur kembali bergejolak. Peristiwa jajak pendapat di Timor Timur tahun 1999 telah menelan korban baik dari pihak pro-otonomi maupun pihak pro-kemerdekaan. Beberapa dari mereka meninggal, luka-luka atau harus mengungsi. Sepanjang jajak pendapat tahun 1999, telah tercatat setidaknya lebih dari 5.297 orang, yang terdiri dari 149 orang tewas, 4 orang luka-luka, 5.150 orang mengungsi dan 23 kejahatan terhadap wanita. Atambua menjadi kota terpenting dalam pengungsian tersebut.

Gerbang Gereja Katedral Santa Maria Imakulata Atambua NTT

Setelah mengenang para pengungsi Timor Timur di Atambua yang jalan utamanya kami lewati dalam perjalanan pulang dari Gereja Katedral Santa Maria Imakulta menuju penginapan, segera kami bergegas bersiap menjalankan tugas utama kami, yaitu mempromosikan Fakultas Kedokteran Universitas Atma Jaya Yogyakarta (FK UAJY).

Bersama bu Titi UAJY dan Kordinator Kampus Ursulin Santa Angela Atambua, Sr. Caritas Sri Lestari, OSU yang berjubah biru.

Promosi FK UAJY pada Edufair SMA Santa Angela, Manumutin, Atambua, Belu NTT.

Kami segera bergeas menuju sesi Edufair di SMA Santa Angela yang berada di dalam kompleks Kampus Ursulin Santa Angela, Manumutin, Atambua, Belu NTT. Kami disambut oleh Kordinator Kampus Ursulin Santa Angela Atambua, Sr. Caritas Sri Lestari, OSU. Menurut Suster Lestari, Edufair diselenggarakan untuk mempertegas minat dan arah karir anak didik di SMA Santa Angela yang akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Selain itu, lewat Edufair ini masyarakat atau orang muda di Kabupaten Belu yang ingin mengakses langsung perguruan tinggi terkenal di seluruh Indonesia, juga  dapat hadir pada Pameran Perguruan Tinggi dan Seminar yang berlangsung pada Selasa dan Rabu, 21-22 Oktober 2025 di SMA Santa Angela Atambua. Dipandu oleh Wakil Kepala Bidang Promosi Kantor Kerja Sama dan Promosi (KKP) UAJY, Dra. Maria Titi Purwaningsih, kami segera melakukan presentasi dalam Seminar bertajuk ‘Menjadi Dokter Indonesia’, yang diikuti oleh sekitar 30-an siswa dari beberapa SMA yang hadir saat itu, bukan sekedar dari SMA Santa Angela.

Kordinator Kampus Ursulin Santa Angela Atambua, Sr. Caritas Sri Lestari, OSU.

Setelah sesi tanya jawab yang disertai pembagian hadiah selesai, kami segera lanjut melakukan hal serupa di SMA Suria. Catatan yang ada adalah Agustus 1958 sekolah ini dimulai. Pendirinya adalah seorang imam Katolik misionaris asal Belanda, (alm.) Pater Piet Verharren, SVD. Jumlah siswa angkatan perdana yang tamat pada 1961 sebanyak 14 orang. SMA Suria di Jl. Ki Hajar Dewantara, Tulamalae, Belu milik Keuskupan Atambua ini dipimpin oleh Kepala Sekolah : Rm. Drs. Benyamin Seran, Pr. MA.

Drs. Gaudensius Klau teman lama di Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta dan Rm. Drs. Benyamin Seran, Pr. MA yang berkemeja putih, Kepala Sekolah SMA Suria Atambua

Kami difasilitasi oleh Bapak Drs. Gaudensius Klau, pensiuanan PNS di Pemda Kabupaten Malaka, alumnus Ekonomi Akuntansi FE UAJY 1985 dan teman beda kamar di Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta. Apalagi Bapak Dens Klau adalah yunior Rm. Drs. Benyamin Seran, Pr. MA saat belajar di SMA Seminari Lalian, Belu, maka kami dimudahkan. Dengan tema yang sama, ‘Menjadi Dokter Indonesia’, promosi FK UAJY telah kami sampaikan di kedua SMA penting di Atambu, Belu dan kami lanjut kembali ke Kupang.

Bergaya mempromosikan FK UAJY pada seminar bertajuk ‘Menjadi Dokter Indonesia’

Rute ke Kupang kami pilih yang berbeda dengan rute saat kami datang yaitu jalur tengah Trans Timor yang padat lalu lintas, tetapi kami pilih jalur selatan. Kami melewati Lalian, Halilulik dan menujuke Betun, ibukota Kabupaten Malaka, sebuah kabupaten pemekaran dari Belu.

Seminari Menengah Lalian yang telah berusia 75 tahun, merupakan SMA swasta milik Keuskupan Atambua di Jl. Nela Raya, Lalian, Naelaksa Timor, kami lalui setelah keluar dari Atambua. Drs. Gaudensius Klau dan Rm. Drs. Benyamin Seran, Pr. MA yang telah melepas kami di halaman SMA Suria adalah alumnus seminari tersebut yang saat ini dipimpin oleh Rektor : Rm. Leonardus Asuk, Pr. Kami lanjut menuju Halilulik, yaitu kota kecil yang berada di desa Naitimu, kecamatan Tasifeto Barat, sekitar 20km dari ibu kota Kabupaten Belu, Atambua. Kota ini merupakan kota terbesar kedua di Kabupaten Belu, sekaligus kota terbesar di kecamatan Tasifeto Barat. Terdapat sebuah jalan, yaitu Jalan Nasional Trans Timor yang halus, sepi dan lurus menguhungkan kota kecil ini dengan Atambua. Walaupun Halilulik adalahkota terbesar di kecamatan Tasifeto Barat, tetapi Halilulik bukan ibu kota kecamatan tersebut.

Halilulik adalah gabungan dari kata Hali yang berarti pohon beringin dan lulik yang berarti keramat. Pohon beringin yang berbau mitis magis, memiliki makna dan konsep religius tertentu dalam kehidupan suku Tetun di Naitimu. Kata Halilulik kemudian diberikan sebagai nama dari sebuah tempat di lokasi di mana sekarang berdiri gereja Katolik Paroki Roh Kudus Halilulik. Namun dari segi status tempat, kampung yang bernama Halilulik ini adalah sebuah kampung kecil dari sebuah wilayah besar yang berbentuk kerajaan yang bernama kerajaan Naitimu, sebuah kerajaan yang besar di Belu. Gereja paroki Roh Kudus Halilulik secara resmi berdiri pada tahun 1918 dan kami lewati saat kami menuju Betun, sejauh 67 km dari Atambua.

Ditunggui si merah Mitshubisi Triton saat makan siang menu sei di Betun, yang merupakan ibu kota Kabupaten Malaka, dengan nasi bermotif jantung hati

Kami mampir makan siang menu sei di Betun, yang merupakan ibu kota Kabupaten Malaka. Selain Kota Atambua, kota ini juga merupakan salah satu tempat penampungan para pengungsi dari Timor Leste, yang mengungsi karena konflik antar-negara Indonesia dan Timor Leste pada tahun 1999-2006. Kota Betun ini diresmikan sebagai ibu kota Kabupaten Malaka sejak Kab. Malaka diresmikan diresmikan 22 April 2013. Kamimelanjutkan perjalanan di jalanan yang lebih menantang, berliku, menanjak, menurun, berbelok curam, bahkan kadang menyempit, aspal terkelupas dan ada juga timbunan material longsoran dari bukit sebelah.

Berhenti sejenak di depan Markas Polres Malaka di Betun, ibukota Kabupaten Malaka

Setelah kenyang makan siang di Betun, kami melanjutkan perjalanan di jalur Trans Timor sisi selatan yang memberikan tantangan sepadan untuk kegarangan Mitsubhisi Triton bermesin diesel 4N15 berkapasitas 2.4 liter, dengan tenaga hingga 136 ps pada 3.500 rpm dan torsi 324 Nm berpenggerak 4 roda. Bersama Bang Drs. Alfred Herman Welem Fina, MKes, pensiunan Widyaiswara Madya UPTD Latnakes Jl. Adisucipto Penfui Kupang, yang kami kenal baik sejak pada tahun 1992 saat sebagai Kepala Bagain Umum Kanwil Kesehatan NTT, menerima para dokter PNS baru yang ditempatkan di seluruh NTT. Ditemani adik kandungnya, yaitu Direktur Yayasan Pelayanan dan Pengembangan Masyarakat Alfa Omega (YAO) 2020-2023 milik Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), Bapak Pdt. David Alfons Nikolas Fina, STh, MA kami terguncang di dalam Mitsubhisi Triton doube cabin menyusuri jalan nasonal Trans Timor jalur selatan menuju Pantai Kolbano di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), sejauh 104 km

Menunjuk daratan Benua Australia yang ‘nampak’ dari sisi bukit di jalur selatan Jl. Trans Timor

Istirahat sejenak menikmati pemandangan alam, karena Bpk. Pdt. David Fina (kemeja kotak2) tidak tergantikan mengendalikan keperkasaan Mitshubisi Triton merah di jalanan

Kolbano sepertinya telah menjadi primadona dan daya tarik utama bagi para pengunjung yang hendak mengeksplorasi Pulau Timor. Pantai Kolbano yang dulu sepi, nampaknya sudah tak asing lagi terdengar di kalangan para pelancong, karena pasalnya keberadaan pantai ini sudah diliput oleh banyak acara di stasiun televisi dan juga para pengguna sosial media.  Terletak di Desa Kolbano, Kecamatan Kolbano, sekitar 135 km dari Kupang, dibutuhkan waktu sekitar 3-4 jam untuk sampai ke lokasi. Pantai cantik nan unik ini, bukan berupa hamparan pasir putih seperti di Pantai Tablolong yang lebih awal terkenal, melainkan hamparan bebatuan kerikil yang terlihat cantik berwarna-warni.

Menuju pantai Kolbano di Kabupaten TTS

Bersama anak-anak lokal yang ceria di Pantai Kolbano TTS, NTT

Batu besar “Fatu Un” yang sekilas terlihat seperti kepala singa di Panti Kolbano TTS, NTT

Menabur harapan ke atas dan menyebarkan semangat ke segala arah di Pantai Kolbano yang berbatu2 indah

Batu besar “Fatu Un” yang sekilas terlihat seperti kepala singa yang menatap kami berdua

Tak hanya itu saja, keindahan Pantai Kolbano juga dilengkapi dengan adanya landmark yang berupa sebuah batu raksasa yang menjadi ciri khas di Pantai Kolbano ini, penduduk setempat biasa menyebutnya batu besar “Fatu Un”. Sekilas batu Fatu Un ini terlihat seperti kepala singa jika dilihat dari sisi samping. Di sepanjang garis Pantai Kolbano, ombak yang tenang dan air laut yang jernih memancarkan gradasi warna biru yang memikat. Keindahan alamnya semakin sempurna dengan latar belakang perbukitan hijau yang menambah kesan alami dan asri.

Pantai Kolbano dengan batu besar “Fatu Un” yang sekilas terlihat seperti kepala singa

Pantai ini tidak hanya menawarkan keindahan visual, tetapi juga memberikan suasana yang tenang dan damai, jauh dari keramaian. Sehingga sangat cocok bagi Bapak Pdt. David Fina melakukan relaksasi dengan berbaring di hamparan bebatuan untuk melepas lelah, setelah mengendarai Mitshubishi Triton tanpa dapat diganti oleh seorangpun dari kami yang kurang profesional mengendalikan kegarangan kendaraan 4WD.

Padang pasir di Pantai Oetune TTS, NTT

Lambang UAJY berbentuk huruf A dengan anak2 lokal di padang pasir di Pantai Oetune TTS, NTT

Padang pasir di Pantai Oetune TTS, NTT

Setelah berfoto berbagai gaya yang dijepret oleh anak-anak lokal yang terampil, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Oetune yang tidak kalah indahnya. Pantai Oetune adalah destinasi wisata unik yang terletak di Desa Tuafanu, Kecamatan Kualin, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Pantai ini terkenal karena hamparan pasirnya yang luas dan membentuk bukit-bukit kecil menyerupai gurun pasir, memberikan pemandangan eksotis yang jarang ditemukan di pantai lain di Indonesia. Salah satu daya tarik utama Pantai Oetune adalah keberadaan gurun pasir yang membentang luas dengan bukit-bukit pasir bergelombang, mirip dengan pemandangan di Gurun Sahara Afrika dan Pantai Parangtritis di Bantul, DIY yang pernah kami kunjungi. Pasir di sini berwarna putih kekuningan dan sangat halus, memberikan sensasi berbeda saat disentuh dan diinjak. Setiap angin yang berembus membentuk pola-pola indah di permukaan pasir, sehingga setiap kunjungan menawarkan pemandangan yang selalu berubah.

Si merah Mitsubhisi triton double cabin yang garang dan setia menyertai kami petualangan kami

Lanjut kami menikmati hamparan sawah yang sangat luas di Daerah Irigasi Bena, yang memiliki luas baku sawah total sebesar 3.515 hektare. Selain itu, ada juga memiliki sistem irigasi dengan panjang aliran 23 kilometer, yang menunjukkan pentingnya sektor pertanian di daerah tersebut. Selanjutnya kami bergabung dengan jalur tengah Trans Timor yang ramai di dekat Jembatan Noelmina. Jembatan ini dibangun pada tahun 1910 oleh Pemerintah Hindia Belanda. Para pekerjanya adalah penduduk asli Timor yang dipaksa bekerja alias dijadikan tenaga kerja rodi. Penduduk tersebut diarahkan untuk mengumpulkan batu dan kayu dari hutan. Batu tersebut digunakan untuk membangun pondasi beton dan kayu untuk membuat struktur dan rangka jembatan.

Diperkirakan jembatan Noelmina dikerjakan selama 10 tahun dan tahun 1920 Jembatan Noelmina sudah dipergunakan. Di saat pendudukan Jepang, Jembatan Noelmina dijadikan penghubung utama mobilitas antara markas Jepang di Kota Kupang hingga barak tentara Jepang di Atambua, Kabupaten Belu. Pada tanggal 19 Februari 1944, Jembatan Noelmina dibom putus oleh pesawat tempur pasukan sekutu. Kondisi putusnya Jembatan Noelmina ini membuat pertahanan Jepang di Pulau Timor melemah dan terus mendapatkan serangan dari armada sekutu hingga berakhirnya masa pendudukan Jepang di Timor.

Pada akhir tahun 1945, Jembatan Noelmina di rekonstruksi kembali memperbaiki bekas pemboman tentara sekutu. Dan di awal kemerdekaan Indonesia, rekonstruksi Jembatan Noelmina diperkuat dengan manambah konstruksi lengkung untuk menahan beban jembatan. Saat itu Jembatan Noelmina hanya dapat memuat lalu lintas satu kendaraan saja.

Pada tahun 1987, tepat bersebelahan dengan Jembatan Noelmina lama di bangun Jembatan Noelmina yang baru dengan menggunakan konstruksi baja. Proses pembangunannya berlangsung hinga tahun 1989 atau selama 2 tahun. Dan tepat pada tanggal 14 Maret 1990, Jembatan Noelmina diresmikan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Sudarmono. Jembatan Noelmina memiliki panjang 240 meter dengan lebar 7 meter. Jembatan Noelmina juga merupakan jembatan rangka baja terpanjang di Provinsi Nusa Tenggara Timur.

Setelah makan malam di RM Suka Ramai, kami yang telah menempuh 308 km dari Atambua ke Kupang melahap jalur selatan Trans Timor, segera terlelap di rumah Bapak Pendeta David Vina di Jl. Perwira II areal Walikota, Kupang

Kamis pagi, 23 Oktober 2025

Ditulis di lantai 2 rumah Pdt. David Alfons Nikolas Fina, STh, MA yang indah di kawasan Walikota Kupang

(bersambung)

Terang Kupang (mengeksplor Timor hari ketiga)

(lanjutan)

Kamis pagi, 23 Oktober 2025 kami terjaga di kamar lantai 2 rumah Direktur Yayasan Pelayanan dan Pengembangan Masyarakat Alfa Omega (YAO) 2020-2023 milik Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), Bapak Pdt. David Alfons Nikolas Fina, STh, MA yang indah di kawasan Walikota Kupang. Kami segera bergegas bersiap dan pamit dengan segala ucapan terimakasih kepada tuan rumah, atas semua kebaikan yang diberikan dalam mengeksplor Timor sampai di Timor Leste.

Pamit pulang kepada Bapak Pdt. David Alfons Nikolas Fina, STh, MA di rumahnya yang indah di kawasan Walikota Kupang, untuk melanjutkan petualangan.

Pagi itu kami dijemput oleh Om Drs. Alfred Herman Welem Fina, MKes, pensiunan Widyaiswara Madya UPTD Latnakes Penfui Kupang, yang kami kenal baik sejak pada tahun 1992 saat sebagai Kepala Bagain Umum Kanwil Kesehatan NTT, menerima para dokter PNS baru yang ditempatkan di seluruh NTT. Kami diantar menuju Gereja Katolik Katedral Kristus Raja Kupang, yang didekisasikan untuk gelar Yesus, yaitu Kristus Raja. Katedral ini menjadi pusat kedudukan dan takhta bagi Uskup Agung Kupang, saat ini Mgr. Hironimus Pakaenoni.

Bergaya di depan Geraja Katedral Kupang yang pernah rusak karena Badai Seroja yang melanda Kota Kupang pada 2021 lalu.

Presiden Joko Widodo meresmikan Gereja Katedral Keuskupan Agung Kupang pada Rabu, 6 Desember 2023. Dalam sambutannya, Presiden Jokowi berpesan bahwa selain untuk tempat ibadah, gereja yang memiliki kapasitas 1.500 jemaat tersebut dapat dimanfaatkan untuk kegiatan sosial kemasyarakatan dan mempererat persaudaraan. Renovasi gereja katedral ini dilakukan secara menyeluruh dengan membangun gereja baru yang lebih luas dari bangunan sebelumnya, dan dilengkapi dengan pembangunan sekretariat paroki, menara lonceng, ruang panel, dan genset, yang nampak megah, indah, dan tertata rapi. Gereja bersejarah ini perlu direnovasi karena terdampak oleh bencana Badai Seroja yang melanda Kota Kupang pada 2021 lalu, apalagi telah menjadi bagian dari keberadaan gereja katolik di Kota Kupang sejak tahun 1936.

Gereja Katolik Kristus Raja Katedral Keuskupan Agung Kupang

Sayang sekali tidak ada misa kudus harian pagi yang rutin diselenggarakan di Katedral Kupang tersebut, sehingga kami segera lanjut mengunjungi SMA Giovani Kupang. SMA Katolik Giovanni didirikan oleh Pater Adrianus Conterius,SVD pada tahun 1992. Nama Giovanni diambil dari nama Paus Paulus VI yaitu Kardinal Giovanni Montini, seorang Paus yang diangkat pada tahun 1962. Penyelenggara sekolah adalah Yayasan Persekolahan Keuskupan Atambua dengan Kepala Sekolahnya Pater Adrianus Conterius, SVD dari tahun 1962-1967 sebagai Kepala Sekolah yang pertama. Kami diterima oleh kepala sekolah Rm. Stefanus Mau, Pr dan Guru BP Ibu Kiki Klau untuk promosi FK UAJY dengan tema ‘Menjadi dokter Indonesia’, di SMA yang bersemboyan ‘Maju terus dan terus maju bersama Giovanni. Hidup Giovanni, majulah pantang mundur.’

Bersiap mengadakan promosi FK UAJY di SMA Katolik Giovanni Kupang NTT

Disambut Rm. Stefanus Mau Kepala sekolahSMA Katolik Giovanni Kupang NTT

Lanjut kami menuju Bandara El Tari Kupang, untuk mengakhiri petualangan kami dalam mengksplore Timor, dan lanjut dengan Menggores Flores. Dalam perut pesawat Wings Air ATR72-500/600 yang berbaling-baling besar di luar kabin pesawat, sehingga kami menjadi berkeringat kepanasan di dalamnya, kami menuju ke Larantuka.

Siap masuk perut pesawat Wings Air ATR72-500/600 yang berbaling-baling besar di luar kabin pesawat

Suasana panas dan berkeringat di kabin pesawat Wings Air ATR72-500/600, karena berbaling-baling besar terpasang di luar kabin pesawat

Mendarat dengan Wings Air ATR72-500/600 di Bandar Udara Gewayantana Larantuka.

Pengaruh Portugis sangat terasa pada kehidupan umat Katholik di Larantuka, diujung timur Pulau Flores. Hal inilah yang menyebabkan Larantuka juga disebut sebagai Kota Reinha (kota yang diberkati Maria). Larantuka adalah ibukota Kabupaten Flores Timur, NTT. Larantuka dikenal sebagai tujuan wisata rohani bagi umat Katolik, bahkan kota yang terletak di kaki Gunung Ile Mandiri ini, memiliki tradisi Katolik peninggalan Portugis.

Beberapa ahli sejarah mengatakan bahwa pada abad ke-13 dipastikan sudah ada sistem pemerintahan yang teratur di bawah pimpinan seorang raja. “Tutu maring usu-asa” dalam ceritera rakyat menyebutkan bahwa kerajaan Larantuka semula didirikan oleh seorang tokoh perempuan bernama Watowele bersama suaminya Pati Golo Arakian yang berasal dari keturunan bangsawan kerajaan Manuaman Lakaan di Pulau Timor dan peranakan bangsawan Jawa. Kerajaan itu semula lebih dikenal dengani kerajaan Ata Jawa sebelum akhirnya bernama Larantuka.

Disambut rindu karena lama tidak bersua, oleh Bang Didu Fernandez, seorang Topas, di Bandar Udara Gewayantana Larantuka.

Diantar Bang Didu Fernandez mengunjungi SMAS Katolik Frateran Podor Larantuka, Flores Timur NTT

Pada tahun 1515, Portugis membangun kekuatannya di dua wilayah yang berada di Flores sebagai tempat singgah sebelum ke Pulau Timor, yakni di Ende dan Larantuka. Larantuka sendiri dipilih karena letaknya yang strategis, tidak menghadap laut lepas, dan terlindungi oleh dua pulau di depannya, yakni Pulau Solor dan Pulau Adonara, serta teluknya yang tenang dan indah. Selanjutnya, Portugis lebih memusatkan kekuatannya di Pulau Solor, tepatnya di Lohayong dan Larantuka ditinggalkan.

Pada tahun 1561, Solor didatangi oleh kaum misionaris Dominikan yang memulai misi Katolik di sana. Ketika Belanda menyerang Solor pada tahun 1613 dan benteng pertahanan yang dibangun Portugis di Lohayong berhasil direbut, Portugis mengalami kekalahan dan melarikan diri bersama beberapa pribumi yang sudah memeluk Katolik ke Larantuka sebagai wilayah yang aman. Dalam pelarian tersebut ada hal yang menarik di dalamnya, yaitu ketika komandan garnisun Belanda di Solor membelot dan menggabungkan diri dengan Portugis di Larantuka serta memeluk Katolik. Ketika berada di Larantuka itulah, imam-imam Portugis datang kepada Raja Larantuka dan mempermandikan raja beserta keluarganya menurut iman Katolik. Mulai saat itu juga, muncul semboyan di Larantuka, yaitu “raja adalah penguasa wilayah, penguasa pemerintahan, adat, dan agama”.

Kerajaan Larantuka merupakan sebuah kerajaan yang berada di Nusa Nipa yang berarti Pulau Naga dalam bahasa lokal, sedangkan dalam bahasa Portugis disebut Cabo de Flores yang sekarang disebut sebagai Pulau Flores. Wilayah kekuasaannya hingga mencapai Pulau Adonara, dengan raja pertama yaitu bernama Lorenzo I dan menjadi kerajaan Kristen-Katolik pertama di Nusantara, karena pengaruh Portugis. Dinasti Raja dari keluarga Diaz Vieira de Godinho (DVG) di Kerajaan Larantuka, di mana Don Lorenzo II adalah raja terakhir yang memerintah, dan Don Andreas Martinus DVG adalah keturunan yang saat ini masih aktif memegang peran penting dalam tradisi keagamaan di Larantuka.

Pelabuhan Larantuka selanjutnya berkembang dengan cukup pesat. Kapal-kapal dari Jawa dan Tiongkok rutin menyinggahi dan mendatangi Larantuka. Pada tahun 1641, terjadi pengungsian besar-besaran orang Portugis dari Malaka ke Larantuka bersama orang Melayu-Malaka yang telah memeluk agama Katolik, karena Malaka berhasil direbut oleh Inggris. Pengungsian besar-besaran inilah yang diduga juga membawa patung-patung dan benda-benda kerohanian Katolik ke Larantuka.

Pada tahun 1645, Raja Larantuka bernama Olla Adobala dipermandikan oleh seorang imam Katolik Portugis. Olla Adobala kemudian menyandang nama DVG (Don Fransisco Olla Adobala Diaz Viera Ghodinho). Para penerusnya lantas memerintah dan membangun Kerajaan Larantuka secara Katolik. Olla Adobala juga menyerahkan tongkat emas kerajaan pada Bunda Maria Reinha Rosari. Ratu Kerajaan Larantuka sesungguhnya adalah Bunda Maria Reinha Rosari dan keturunan dari Don Fransisco Olla Adobala Diaz Viera Ghodinho adalah wakil-wakilnya di dunia. Raja hanya bergerak di bidang keagamaan menjadi conferia (pemimpin perserikatan) dengan bendera keloba (gurita).

Kerajaan Larantuka adalah kerajaan terbesar di Flores Timur dan dikenal sampai di ujung timur Pulau Timor. Di Lospalos misalnya, kemasyhuran Kerajaan Larantuka membuat Raja Fuiloro, Verrisimo menyimpan pusaka berupa kain Larantuka yang unik. Dengan pemerintahan seperti itu, Kerajaan Larantuka pun dengan tangan terbuka menerima agama Katolik.

Diterima Bapak Edy Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas dan Kerjasama saat mengunjungi SMAS Katolik Frateran Podor Larantuka, Flores Timur NTT

Kamis siang, 23 Oktober 2025 kami dijemput oleh Bang Didu Fernandez, sesama warga Asrama Mahasiswa realino Yogyakarta angkatan 1984 yang belum pernah berjumpa sejak lulus, di Bandar Udara Gewayantana Larantuka. Segera kami berdua melepas rindu di bandar udara yang terletak di Desa Tiwatobi, Kecamatan Ile Mandiri, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Bandar udara ini memiliki ukuran landasan pacu 1600 x 30 m. Jarak bandara ini dari pusat kota Larantuka kurang lebih 10 km. Bandar Udara Gewayantana adalah Bandara Kelas III dan merupakan bandara Pengumpan dengan sarana dan prasaran terbatas dan fasilitas sederhana. Gedung terminalnya sangat kecil, dengan ruangan kecil. Terminal kedatangan kira-kira hanya berukuran 3 x 3 meter. Tak ada troli, tak ada conveyor belt. Jadi, bagasi akan dibagikan langsung oleh petugas bandara kepada para penumpang sesuai nomor masing-masing.

Namun, di balik fasilitasnya yang sederhana, Bandara Gewayantana mempunyai keistimewaan tersendiri. Tak lain adalah suasana bandara yang bersih dan asri serta panorama di sekitarnya yang menakjubkan. Begitu turun dari pesawat, penumpang akan disambut taman kecil dengan bunga-bunga cantik aneka warna dan di kejauhan, tampak pemandangan Gunung Ile Mandiri yang menjulang setinggi 1.501 mdpl sebagai latar belakangnya. Segera kami bergegas melakukan promosi FK UAJY di SMA Katolik Frateran Podor, Larantuka.

Diterima Fr. Karolus Kepala Sekolah saat mengunjungi SMAS Katolik Frateran Podor Larantuka, Flores Timur NTT

SMAK Frateran Podor yang pada tahun ini (2017) berusia 28 tahun sebenarnya bercikal bakal dari sebuah lembaga pendidikan guru tempo dulu yang dimulai sejak 1957. Kala itu, lembaga pendidikan guru bernama SGA mulai dirintis di Larantuka di bawah pimpinan Bpk. Mus da Cunha dengan mengambil lokasi di Postoh (kompleks bengkel misi sekarang). Dalam bulan Mei 1958, datanglah beberapa frater dari Ndao-Ende untuk menyelidiki lokasi pembangunan sekolah, asrama, dan rumah biara. Ada 3 tempat yang ditawarkan untuk tujuan itu, yaitu: Sarotari (kompleks Rumah Sakit Umum sekarang), Postoh (Stadion Ile Mandiri sekarang), dan Podor. Akhirnya, berkat kebijaksanaan sang perintis, pilihan jatuh pada Podor di Desa Lewolere –sebuah lokasi bekas kebun kapas dengan banyak batu dan pohon bidara. Di SMA Frateran Podor Larantuka itu, kami juga membawakan tema ‘Menjadi dokter Indonesia.’

Salam kompak Realino dari sesama warga Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta angkatan 1984

Selanjutnya Bang Didu Fernandez, teman sesama Mahasiswa Realino Yogyakarta angtan 1984 mengajak kami mengililingi rute prosesi Jumat Agung (hari kematian Tuhan Yesus Kristus di kayu salib) dan pekan Semana Santa atau Sesta Vera -pun mulai diberlakukan secara rutin sejak tahun 1736. Pada puncak ritual Sesta Vera atau Jumat Agung, pintu kapel Tuan Ma dan juga kapel Tuan Ana (Patung Bunda Maria dan Patung Yesus Kristus) akan dibuka untuk umum sejak pukul 10 pagi, dan umat Katolik mulai berdatangan untuk berdoa mengenang Yesus. Kegiatan ini telah menjadi kegiatan tahunan yang diadakan pada Jumat Agung, yang juga telah menjadi program wisata rohani unggulan di Nusa Tenggara Timur, dan di Flores Timur secara khusus.

Gereja Katedral Larantuka Flores Timur, Renha Rosari yang megah dan bersejarah

Bersama Bang Didu Fernandez di depan gereja Katedral Larantuka Flores Timur, Renha Rosari

Interior gereja Katedral Larantuka Flores Timur, Renha Rosari yang megah dan bersejarah

Tradisi yang masih dipertahankan sampai sekarang adalah delapan suku yang tetap berperan aktif selama masa Semana Santa. Mereka memimpin doa di kapela, mengatur perarakan Tuan Ma, menggerakkan masyarakat, membangun armida (tempat persinggahan Tuan Ma dan Tuan Ana), dan memimpin prosesi Jumat Agung.

Sampai sekarang pun yang menjaga dan membersihkan Patung Tuan Berdiri (Yesus disesah) dan juga Patung Cruz Costa (Yesus memikul salib) hanyalah suku-suku asli di masa lalu yang diberi kepercayaan penuh oleh Raja Larantuka. Begitu pula urut-urutan devosi sampai sekarang masih tetap dipertahankan sesuai dengan aslinya seperti di dalam Alkitab.

Cerita rakyat yang beredar bisa dipastikan bahwa tradisi Semana Santa dimulai sejak penemuan Patung Tuan Ma di Pantai Larantuka pada tahun 1510. Patung tersebut diperkirakan terdampar di pantai akibat karamnya kapal milik Portugis di perairan Larantuka. Atas perintah dari Kepala Kampung Lewonama saat itu, patung Tuan Ma tersebut kemudian disimpan di rumah pemujaan korke (bahasa lokal). Warga setempat yang kala itu belum mengenal sosok patung tersebut, kemudian menghormatinya sebagai benda sakral. Masyarakat pun kerap memberikan sesaji ketika merayakan peristiwa tertentu seperti perayaan panen dan perayaan-perayaan lainnya.

Kapel Tuan Ana (untuk menyebut Yesus Kristus sebagai anak) tempat menyimpan patung yang diarak dalam proses Samana Santa di Larantuka

Kapel Tuan Ma (untuk menyebut Santa Maria sebagai mama atau bunda Yesus Kristus) tempat menyimpan patung yang diarak dalam proses Samana Santa di Larantuka

Gerbang Reinha Rosari di perpisahan jalan atas dan jalan bawah pusat kota Larantuka Flores Timur NTT

Perayaan Semana Santa di tempat ini terjadi tiga kali, yang kerap disebut dengan Hari Baedi Nagi, Hari Bae diKonga, dan Hari Baedi Wureh. Perayaan ini menempatkan Yesus dan Bunda Maria yang berkabung menyaksikan penderitaan anaknya sebelum dan saat disalibkan sebagai pusat ritual.

Wureh, Adonara Barat, Flores Timur adalah sebuah desa yang memiliki pengaruh kuat dari budaya Portugis. Desa ini terletak di Pulau Adonara atau tepatnya di Kecamatan Adonara Barat yang dapat ditempuh dengan transportasi laut selama kurang lebih 20 menit dari kota Larantuka.

Pulau Adonara yang nampak di seberang dan dipisahkan oleh sebuah selat bagian dari Laut Sawu, dengan Larantuka

Petualangan kami Menggores Flores selanjutnya adalah menyusuri jalan Trans Flores, diantar Bang Didu Fernandez dengan Toyota Avanza Velos warna putih. Jalur yang berliku, mendaki, dan menyusuri bibir pantai Laut Sawu di sisi selatan ujung timur Pulau Flores, dilahap nyaman oleh Bang Didu. Sesi yang kami tunggu-tunggu akhirnya tiba, yaitu bertemu Joviel (3 tahun) cucu kami tersayang, di pinggir jalan daerah Lewolaga. Bang Didu Fernandez memberi kami kenang-kenangan kain tenun khas motif Solor yang indah. Luar biasa baik teman yang satu ini.

Bertemu cucu tersayang, Joviel (3 tahun) di tengah jalan saat kami diantar oleh Bang Didu Fernandez dari Larantuka ke Maumere

Bertemu cucu tersayang, Joviel (3 tahun) di areal Lewo Laga di tengah jalan dari Larantuka ke Maumere

Kesempatan yang lama banget kami tunggu, bermain dengan cucu tersayang, Joviel (3 tahun)

Melihat Gunung Lewotobi Laki-Laki dan Perempuan, yang telah meletus dan membuat Bandara Maumere sempat ditutup untuk penerbangan pesawat

Nostalgia ke Puskesmas Watubaing di Talibura, Sikka sekitar 46 km dari Maumere, Flores NTT. Di rumah dinas samping puskesmas tersebut mas Yudhi (anak sulung kami) pernah bertugas sebagai dokter puskesmas dan tinggal sekitar 2 tahun.

Kenangan bersama teman2 Puskesmas Watubaing di Talibura, Sikka teman mas Yudhi (anak sulung kami) pernah bertugas sebagai dokter puskesmas di situ.

Kenangan bersama teman2 mas Yudhi (anak sulung kami) di Gereja Kristus Raja Talibur.

Persiapan misa kudus penerimaan sakramen krisma di Gereja Kristus Raja Talibura, sekitar 46 km dari Maumere

Mimbar kayu di Gereja Kristus Raja Talibura, donasi dari mas Yudhi dan mbak Mega saat proses kanonik sebelum pernikahan mereka berdua

Langsung diajak bermain cucu kesayangan, Joviel (3 tahun), begitu kami sampai di rumahnya di Maumere.

Berkunjung kepada keluarga Bapak Don Rani, dimana mas Yudhi sekeluarga pernah tinggal sebelum pindah ke rumah dinas.

Kunjungan balasan oleh Bang Rolan dan Kak Lastri yang baik hati, ke rumah dinas RSUD dr. TC Hiller Maumere, tempat keluarga mas Yudhi tinggal.

Malam itu kami tertidur pulas di kamar depan rumah dinas yang ditempati keluarga mas Yudhi, sebagai dokter spesialis radiologi di RSUD dr. TC Hiller Maumere, Flores NTT.

Jumat pagi, 24 Oktober 2025

(bersambung)

NOSTALGIA MAUMERE

(sambungan)

Jumat pagi, 24 Oktober 2025 kami terjaga dari mimpi dan lelah di rumah dinas yang ditempati keluarga mas Yudhi, sebagai dokter spesialis radiologi di RSUD dr. TC Hillers Maumere, Flores NTT. Segera kami bergegas untuk mengikuti misa kudus harian pagi di Kapel Biara Suster Sang Timur. Pagi itu kami akan berkeliling di Maumere dan sekitarnya.

Selesai misa kudus harian pagi di Kapel Biara Suster Sang Timur, seberang RSUD Maumere

Nama Maumere berasal dari bahasa Ende dan Lio, dimana “ma’u” berarti pantai dan “mere” berarti besar atau luas. Jadi, Maumere secara harfiah berarti “pantai luas” atau “pantai besar”. Nama ini mencerminkan kondisi geografis kota tersebut yang memang terletak di pesisir pantai yang luas.

Nama aslinya oleh penduduk pribumi setempat dinamakan Alok, sedangkan nama Maumere diberikan oleh Belanda. Saat ini Kota Maumere merupakan kota terluas kedua di Nusa Tenggara Timur setelah kota Kupang. Kota ini pertama kali dibentuk sebagai Kecamatan Maumere pada tahun 1962. Pada tahun 1992, Kecamatan Alok memisahkan diri dari Maumere. Pada tahun 2007, Kecamatan Alok Timur dan Alok Barat memisahkan diri dari Kecamatan Alok dan memperoleh daerah tambahan berupa beberapa desa dari Kecamatan Maumere. Sementara itu, sisa Kecamatan Maumere juga dipecah menjadi Kecamatan Koting dan Kecamatan Nelle.

Joviel (3 tahun) tetap terlelap saat mengahadap Bapak Wakil Bupati Kabupaten Sikka

Gedung Kantor Bupati Sikka di pusat kota Meumere yang megah

Dahulu Kabupaten Sikka merupakan sebuah Onderafdeling dan kemudian menjadi Swapraja yang dipimpin oleh 12 raja dan ratu secara turun temurun. Yakni sejak pemerintahan Portugis saat dipimpin oleh Raja Don Alesu Ximenes da Silva hingga masa pemerintahan Belanda oleh Raja Andreas Djati da Silva pada tahun 1874. Saat kepemimpinan Raja J. Nong Meak da Silva pada tahun 1902 sistem pemerintahan Swapraja Sikka diubah dengan sistem Desentralisasi. Hingga kemudian berlakunya Undang – undang nomor 69 tahun 1958 tentang pembentukan daerah tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur maka pada tanggal 1 Maret 1958, daerah Swapraja Sikka dijadikan Daerah Tingkat II dengan ibu kotanya Maumere dengan kepala daerah pertama pada masa itu adalah D. P. C. Ximenes da Silva. Para bupati yang pernah memimpin Maumere adalah Paulus Samador da Cunha, Laurentius Say, Daniel Woda Palle, Avelinus Maschur Conterius, Alexander Idong, Paulus Moa, Alexander Longginus, Sosimus Mitang, Fransiskus Roberto Diogo, dan saat ini dijabat oleh Juventus Prima Yoris.

Salam Atma Jogja bersama Bapak Ir. Simon Subandi Supriadi, Wakil Bupati, di Kantor Kabupaten Sikka di pusat kota Maumere.

Bersama Joviel (3 tahun) di lobi Gedung Kantor Bupati Sikka

Pagi itu kami menghadap Bapak Ir. Simon Subandi Supriadi, Wakil Bupati, di Kantor Kabupaten Sikka di pusat kota Maumere. Dalam perbincangan hangat dan singkat karena kesibukan beliau, diperoleh kesempatan bagi kami untuk mempromosikan FK UAJY. Selain itu, juga adanya jaminan beasiswa bagi putra-putri daerah yang berpestasi untuk masuk FK UAJY, dengan syarat harus bersedia kembali ke aKabupaten Sikka sebagai dokter, yang memberikan layanan medis bagi masyarakat setempat.

Bergaya di belakang mobil dinas Bapak Wakil Bupati Sikka

Kami segera bergegas menuju ke SMA Negeri 1 Maumere yang diresmikan pada 6 Maret 1980 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. Dr. Daoed Yoesoef. Kami diterima oleh Bapak Johanes Jonas Teta, S.Pd (Kepala Sekolah) dan Eko Goran Maria, S.Pd (Wakasek Urusan Kurikulum). Pada sesipromosi FK UAJY, pertanyaan yang sering muncul dari para siswa adalah masalah beasiswa untuk pendidikan dokter. Beruntunglah Pemkab Sikka dengan Bapak Ir. Simon Subandi Supriadi sebagai wakil bupati, telah merencanakan pemberian beasiswa bagi putera-puteri terbaik. Hal ini telah menumbuhkan harapan bagi banyak peserta acara sosialisasi FK UAJY tersebut.

Saat diterima oleh Bapak Johanes Jonas Teta, S.Pd (Kepala Sekolah) di SMA Negeri 1 Maumere untuk promosi FK UAJY

Wisata religi secara Katolik di Bukit Nilo, Maumere

Selanjutnya kami segera lanjut menikmati liburan keluarga di segenap pelosok Kabupaten Sikka. Dengan mobil Toyota Avanza yang disopori mas Yudhi dan didampingi mbak Mega di sampingnya dengan setiap, Joviel 93 tahun cucu kami yang tidak mau diam), melompat ke sana ke mari di antara kami berdua di kursi deretan kedua. Tujuan pertama kami adalah tempat ziarah Bunda Maria Segala Bangsa Nilo, yaitu tempat doa yang dilengkapi patung setinggi 28 meter yang berlokasi di Bukit Keling-Nilo, Desa Wuliwutik, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Flores, NTT. Areal ini merupakan tujuan wisata religi bagi umat Katolik yang berfungsi sebagai tempat ziarah, dan menawarkan pemandangan alam lansekap kota Maumere yang indah dari puncak bukit dengan ketinggian sekitar 1.200 mdpl. Bukit Keling-Nilo berjarak sekitar 7 km dari pusat Kota Maumere dengan jalannan yang berliku, naik, melengkung dan mendaki, dengan areal sekitar jalan raya yang segar, nampak dedaunan hijau dan hidup. Nilo dalam bahasa Sikka berarti terang. Rasanya tepat jika di dusun ini berdiri Patung Maria Bunda Segala Bangsa, untuk memberikan terang bagi umat Katolik yang datang untuk berdoa dan menerangi seluruh penduduk Sikka.

Patung Bunda Maria Segala Bangsadi Bukit Nilo, Maumaere

Hiduplah Sang Saka Merah Putih oleh Joviel (3 tahun) yang tidak mau diam

Patung Maria Bunda Segala Bangsa dibangun oleh para imam Katolik Kongregasi Pasionis (CP) bekerja sama dengan umat Katolik di sana. CP didirikan di Italia oleh St. Paulus dari Salib tahun 1720. Kongregasi ini berpusat di Roma dan telah menyebar ke berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. Areal ziarah ini diresmikan pada 31 Mei 2005 dan setelah khusuk mengucap syukur atas semua kebaikan hati Tuhan Yesus Kristus dalam kehidupan kami, kami segera berdoa melalui perantaraan Bunda Maria, agar segala bangsa dapat hidup rukun dan damai. Selanjutnya kami menikmati pemandangan kota Maumere dari ketinggian, dalam suasana sejuk, damai dan tenang alami.

Lanjut kami turun bukit dan menikmati Bakso Mercon daging sapi yang lezat di samping Gereja Santo Mikael Nita. Terus ke Puskesmas Nita, tempat mama Sari pernah bertugas selama 3 tahun pada 1992-1995, setiap 3 hari dalam seminggu sebagai dokter gigi. Lanjut kami menyusuri jalan Trans Flores ke arah Ende, selalu berilu sesuai kontur bukit yang kami lalui, nampak dedaunan yang jauh lebih hijau dan hidup, dibandingkan daratan Timor yang telah kami eksplor hari sebelumnya. Kami mengunjungi RS. St. Elizabeth Lela yang berjarak 24 km dari Maumere dan diresmikan pada tanggal 10 Mei 1935 dibawah naungan Yayasan Kesehatan St Lukas, awalnya di bawah Keuskupan Agung Ende, tetapi kemudian mengalami pemekaran dan diserahkan kepada Keusukupan Maumere. Sayang sekali kami tidak berhasil bertemu Direktur RS St Elisabeth Lela, dr. Maria Bernadina Sada Nenu, sobat lama yang sedang berziarah ke Fatima Portugal.

Gerbang RS St. Elisabeth Lela

Di rumah dinas dokter RS St. Elisabeth Lela, 24 km dari Maumere itulah mas Yudhi sempat berguling jatuh di depan rumah dengan baby walker.

Di RS tersebut kami pernah bertugas selama 3,5 tahun (1991-1994), mas Yudhi anak sulung kami lahir di situ, kami tolong sendiri dengan penuh kehati-hatian pada 22 Januari 1993, di sebuah kamar darurat di dalam kompleks RS, karena banyak bangunan yang rusak terdampak gempa bumi dan tsunami Flores 1992. Itu adalah gempa bumi besar berkekuatan 7,8 pada skala Richter yang terjadi di lepas pantai Flores, pada hari Sabtu, 12 Desember 1992, pukul 13.29. Gempa bumi ini menyebabkan tsunami dengan ketinggian maksimum 26 m (85 ft) yang menghancurkan rumah di pesisir pantai utara Flores. Setidaknya 2.500 orang tewas atau hilang di wilayah Flores, termasuk 1.490 tewas di Maumere dan 700 orang di Pulau Babi, lebih dari 500 orang terluka dan 90.000 orang kehilangan tempat tinggal. Peristiwa ini merupakan salah satu gempa bumi paling mematikan di Indonesia.

Di kamar sebelah kiri lorong mas Yudhi lahir dan di kamar sebelah kanan lorong tepat di depannya, kami bertiga tinggal selama 1,5 tahun paska gempa bumi Flores

Rasanya tinggal tersisa seorang karyawan RS St. Elisabeth Lela (berkaos merah berdinas di dapur roti) yang masih aktif sampai sekarang, yang pernah berkarya pada waktu kami bertugas di situ

Kami susuri ulang jalanan di dalam kompleks RS St. Elisabeth Lela, di mana dulu kami setiap hari lalui untuk visite, praktek, operasi dan rekreasi. Kami kenang ulang jalan mendaki ke bagian belakang RS, ke rumah dinas dokter dimana kami tinggal, di tengah kebun sayuran, buah dan kandang babi serta ayam. Kami renungkan penuh hikmat, bahwa penyelenggaraan Tuhan Maha Besar sungguh luar biasa, karena dari rumah dinas di belakang RS itulah kami memulai hidup berkeluarga, berkarier sebagai dokter dan menyiapkan masa depan gemilang. Saat ini kondisinya sudah sangat menyedihkan, karena area tersebut sudah tidak digunakan sebagai aktivitas harian RS sejak pandemi COVID-19 menghantam dan menghancurkan banyak sisi kehidupan di situ.

Gerbang Wisung Fatima di Lela, 24 km dari Maumere

Mampir di rumah Zr. Stefani Ety Parera, mantan perawat kamar operasi satu-satunya yang kidal di RS St. Elisabeth Lela, saat ini menjadi Kepala Sekolah SMK Kesehatan Lela

Lanjut kami berziarah ke Sanctuarium Wisung Fatima di seberang RS St. Elisabeth Lela, Kabupaten Sikka, NTT, yang merupakan tempat ziarah dan wisata religi umat Katolik. Tempat ini menjadi pusat spiritualitas dengan arca Bunda Maria Fatima dan sering didatangi ribuan peziarah untuk berbagai kegiatan rohani, seperti ziarah tahunan. Berakar dari devosi kepada Bunda Maria yang diawali pada 1947, setelah seruan Paus Pius XII. Arca Bunda Maria Fatima tiba pada 1949 dan sanctuarium diberkati pada tahun yang sama. Pada tahun 2014, tempat ini dianugerahi status sanctuarium resmi sebagai tempat ziarah Maria pertama di Indonesia. Sanctuarium adalah kata Latin sanctus, yang berarti suci, tempat suci atau tempat penyimpanan benda-benda suci. Ziarah tahunan pada puncak kegiatan rohani yang dihadiri ribuan umat dari berbagai paroki di Keuskupan Maumere, sering kali dipimpin oleh Uskup Maumere, dilaksanakan di situ. Wisung Fatima Lela dikenal sebagai tempat ziarah yang didedikasikan untuk Bunda Maria, khususnya terkait dengan peringatan penampakan Maria di Fatima, Portugal, pada 1917.

Sanctuarium Wisung Fatima di seberang RS St. Elisabeth Lela, Kabupaten Sikka, NTT

Pada 1947, umat Paroki Lela dan Sikka secara resmi menyerahkan diri kepada Bunda Maria, di bawah pimpinan Pastor Herman Bolscher, SVD. Pastor inspiratif ini pernah tinggal bersama kami di komplkes RS St. Elisabeth Lela selama hampir 3 tahun. Upacara penyerahan diri waktu itu dihadiri ribuan umat dan menjadi momen bersejarah yang menguatkan iman dan kebersamaan komunitas Katolik di wilayah tersebut.

Gereja tua di Sikka yang terawat baik

Selanjutnya kami menyusuri pantai selatan Flores yang mengahadap Laut Sawu, berombak cukup besar, menimbulkan suara gemuruh berulang tetapi tetap indah dipandang dan ritmik didengar, untuk menikmati kemashuran Gereja Santo Ignatius Loyola. Bangunan megah ini dikenal sebagai Gereja Tua Sikka yang berada di desa Sikka, Flores, NTT. Gereja ini syarat sejarah dan menjadi salah satu gereja tertua di Indonesia dan masuk cagar budaya nasional. Gereja Santo Ignatius Loyola dibangun oleh arsitek Portugis, Pastor JF Le Cocq Engbers d’armanddaville, SJ pada 1896, dibantu oleh Raja Sikka Don Andreas Jati Ximenes da Silva, Joseph Mbako Ximenes da Silva dan warga Kampung Sikka.

Gereja Santo Ignatius Loyola yang dikenal sebagai Gereja Tua Sikka yang berada di desa Sikka, Flores, NTT

Gereja Santo Ignatius Loyola berada di pesisir pantai selatan Pulau Flores, tepatnya di Desa Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka. Gereja ini digunakan pertama kali pada malam Natal 24 Desember 1899. Gereja Katolik tertua yang berusia lebih dari 100 tahun ini, berukuran panjang 47 meter dan lebar 12 meter masih kokoh hingga kini, dan menjadi tempat ibadat umat Katolik di Kampung Sikka. Bangunan Gereja Tua Sikka sangat eksotis, arsitektur bangunan gereja adalah kombinasi sentuhan budaya Eropa dan budaya setempat, mengikuti gaya Renaisans dan Barok yang berkembang di daratan Eropa waktu itu. Terdapat ukiran khas tenun ikat Sikka bermotif Wenda terlihat pada dinding Gereja tersebut, yang sejak pertama kali gereja ini digunakan untuk misa malam Natal 24 Desember 1899, tetap utuh sampai sekarang. Bangunan Gereja Tua Sikka menggunakan material 150 kubik kayu jati. Material kayu khas Indonesia ini sebagai kuda-kuda penahan atap bangunan serta tiang penyangga bangunan gereja. Material kayu jati ini didatangkan langsung dari hutan-hutan di Pulau Jawa, termasuk material lain seperti semen dan besi, semuanya dibawa dari luar Maumere.

Setelah seharian berkelana, malam itu kami beristirahat nyenyak di sebuah kamar di rumah dinas dokter RSUD dr. TC Hillers Maumere, tempat tugas mas Yudhi sebagai dokter spesialis radiologi di situ.

Jumat malam, 24 Oktober 2025

(bersambung)

MAUMERE  HARI  TERKAHIR

Sabtu, 25 Oktober 2025 kami terbangun dari tidur nyenyak di sebuah kamar di rumah dinas dokter RSUD dr. TC Hillers Maumere, tempat tugas mas Yudhi menjadi dokter spesialis radiologi di situ. Lanjut kami mengikuti misa kudus harian pagi di Biara Sang Timur di seberang RS.

Dengan Mama Hedwigis Rosarince, teman lama sejak kami bertugas di RS St. Elisabeth Lela, di rumahnya yang indah di dekat terminal bis Maumere

Setelah misa kudus, kami lanjut bercengkerama sekejap dengan Mama Hedwigis Rosarince, teman lama sejak kami bertugas di RS St. Elisabeth Lela, di rumahnya yang indah di dekat terminal bis Maumere. Suami pertama mama Rince adalah mendiang Om Alfridus da Cunha, senior kami di SMA Kolese de Britto Yogyakarta. Kami saling melepas rindu dalam susana hangat di pagi hari, juga melihat dari dekat sebuah rumah paviliun di belakang rumah utama, yang pernah ditinggali keluarga mas Yudhi sebelum menempati rumah dinas RS sekarang.

Di rumah mungil nan indah itulah mas Yudhi, mbak Mega dan Joviel tinggal sebelum pindah ke rumah dinas RS

Bersama mama Linda Sabinus Nabu, anggota DPRD Sikka dari Fraksi Partai Perindo

Setelah sarapan pagi, kami segera meluncur ke TK Maria Ferrari, di situlah Joviel (3 tahun, cucu yang tidak mau diam) bersekolah. TK ini berfokus pada pendekatan pembelajaran yang menyenangkan dan inovatif. Dengan suasana yang ramah dan penuh kasih, TK Maria Ferrari memberikan lingkungan yang mendukung perkembangan anak-anak secara holistik, baik secara intelektual, sosial, maupun emosional. Melalui program yang beragam dan kreatif, sekolah ini bertujuan untuk mempersiapkan anak-anak untuk mengembangkan potensi mereka dengan penuh kepercayaan diri dan kecerdasan yang berkelanjutan.

Bersama teacher di TK Maria Ferrari Maumere

Bergaya di dalam kelas Joviel (3 tahun) di TK Maria Ferrari Maumere

Joviel sangat menikmati suasana TK MARIA FERRARI SCHOOL ini yang didirikan pada tanggal 16 Januari 2010 dengan Kepala Sekolah saat ini adalah Ibu Maria Magdalena Elu Saga. TK MARIA FERRARI SCHOOL merupakan salah satu sekolah jenjang TK di wilayah Kab. Sikka yang menawarkan pendidikan berkualitas dengan terakreditasi A dan sertifikasi ISO 9001:2008.

Kami bertiga di makam Sr. dr. Conchita Cruz, SSpS

Mas Yudhi dan mbak Mega yang pernah datang ke makam Sr. dr. Conchita Cruz, SSpS sempat tersesat saat mengantar kami, karena lupa-lupa ingat arah jalannya

Setelah menikmati suasana sekolah Joviel, kami lanjut ziarah ke makam Sr. dr. Conchita Cruz, SSpS di seputaran Kewapante. Beliau adalah sesorang biarawati Katolik berasal dari Imus, Filipina yang rumah keluarganya pernah kami kunjungi di tahun 2012. Selain seorang biarawati, Sr. Conchita sering dipanggil sebagai suster dokter, karena juga seorang dokter umum hebat, dalam banyak aspek preventif, diagnosis, terapi medis dan bahkan operatif berbagai kasus bedah. Dengan bimbingannya yang sangat sabar, kami pribadi telah mampu melakukan berbagai tindakan operasi untuk banyak kasus bedah di RS St. Elisabeth Lela. Teknik operasi terakhir yang diajarkan dan telah kami kuasai adalah strumektomi dengan anestesi lokal, yaitu mengambil jaringan kelenjar gondok di leher saat pasien sadar penuh. Setelah mendoakan agar arwah Sr. dr. Conchita Cruz, SSpS bersitirahat kekal di samping makam, kami lanjut jalan lagi.

baca juga : https://dokterwikan.com/2024/10/23/2018-selamat-jalan-suster-dokter/

Mangroove di Watubing

Klakat atau Mangrove Watubaing di Sikka

Kami lanjut menyusuri Jalan Trans Flores ke arah timur, yaitu menuju Larantuka, untuk berwisata ke hutan bakau atau mangrove di Desa Watubaing, Kecamatan Talibura, sekitar 42 kilometer dari Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka. Perjalanan kami berlima melalui jalan Trans Flores yang datar, cukup padat lalu lintas dan menyusuri pantai utara menghadap Selat Flores yang berombak kecil. Sepanjang jalan Joviel selalu berceloteh, beritingkah dan polah menggemaskan sekali. Rindu kami seakan terobati dengan kelucuan, keluguan dan bahkan kecerdasan Joviel yang sering tidak terduga. Wisata yang satu ini tak sekedar menyuguhkan keindahan alam yang apik, tetapi juga banyak spot foto Instagramable. Belum lagi saat menyusuri jalanan dari batang kayu di atas air payau yang membelah hutan bakau, kami merasakan sensasi yang luar biasa. Mangrove Watubaing dibuka pada bulan Desember 2022 dan diberi nama Klakat.

Kak Wawan Duran berkaos hijau menggendong anak sulungnya

Menikmati menu enak buah karya mbak Maria, istri Kak Wawan Duran, setelah lelah menyusuri jalan kayu di Klakat Mangrove Watubain

Kami menemui Kakak Wawan Duran inisiator wisata Klakat saat ditemui di situ. Kak Wawan tertarik mengelola hutan mangrove di sela-sela kuliah S2 Teknik Sipil di ITS di Surabaya, sampai hutan bakau mampu tumbuh subur di belakang rumahnya. Setelah menyelesaikan pendidikan magister di kampus tersebut, Kak Wawan lebih giat menyulap hutan itu sejak bulan Agustus 2022. Di Sikka sendiri, menurutnya mangrove masih belum dimanfaatkan secara optimal, sehingga dikreasikan banyak hal untuk meningkatkan daya tarik mangrove Klakat bagi banyak wisatawan. Selain  jalur kayu menembus hutan mangrove sejauh 30 m, juga dibangun lopo atau rumah tradisional terbuat dari kayu dan beratap kerucut, yang dapat digunakan pengunjung untuk berfoto ria sembari menikmati kuliner menu masakan Jawa oleh tangan mbak Maria, istrinya yang berasal dari Magelang Jawa Tengah, sambil merasakan sensasi aliran udara sejuk dan kicau burung. Siang itu kami menimati menu sop kuah asam dengan ikan ekor kuning yang lezat, sei sapi dengan sayur kangkung, sempol dan bakso sapi, ditambah mangga segar yang dipetik di halaman rumah Kak Wawan, sampai kami kekenyangan.

Selanjutnya kami menyebarng jalan Trans Flores yang padat lalu lintas ke arah Larantuka, untuk melihat Puskesmas Watubaing. Kami disambut hangat, meriah dan penuh sukacita oleh banyak pegawai, karena mereka teman lama mas Yudhi saat bertugas sebagai dokter umum di situ selama sekitar 2 tahun. Kami juga melihat rumah dinas yang dahulu ditinggali mas Yudhi, sebelum memulai pendidikan spesialis radiologi di UGM, Yogyakarta. Rumah penuh kenangan yang sekarang terbengkelai itu, menggambarkan juga kegigihan, keuletan dan harapan mas Yudhi untuk kehidupan lebih baik, meski penuh penderitaan, tantangan dan keterbatasan. Kami sangat terharu sekali, karena kami tidak mampu mengunjungi dan memberikan dorongan semangat saat mas Yudhi tinggal di rumah tersebut, karena wakgtu itu kami juga sedang dalam banyak kesulitan.

Gedung Puskesmas Watubaing yang megah di samping rumah dinas mas Yudhi saat bertugas si situ

Nama mas Yudhi nomer 15 masih tercantum di dalam daftar karyawan Puskesmas Watubaing

Setelah berfoto bersama di Watubaing, kami segera melanjutkan perjalanan ke Bendungan Napun Gete yang berjarak 11 km dari jalan negara Trans Maumere-Larantuka, dibangun membendung alur Sungai Napun Gete di perbatasan antara Desa Ilinmedo dan Desa Werang di Kecamatan Waiblama. Pembangunan bendungan terbesar di Pulau Flores ini dimulai sejak Desember 2016 yang proses pengerjaannya dilaksanakan oleh PT Nindya Karya (Persero), dan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 23 Februari 2021. Selain dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian seluas 300 hektar, bendungan ini juga dimanfaatkan untuk mereduksi debit banjir sebesar 219,43 meter kubik per detik dan menyediakan air baku sebesar 0,214 meter kubik per detik. Air yang terbendung oleh bendungan ini juga berpotensi untuk membangkitkan listrik melalui PLTM berkapasitas 0,1 MW.

Dari gardu pandang Bendung Napungete

Sang Saka Merah Putih selalu berkibar di tangan Joviel (3 tahun), juga di Bendungan Napungete, Sikka

Kementerian PUPR melakukan pengisian awal (impounding) bendungan Napun Gete sejak Desember 2020 dan diklaim akan mamapu memenuhi kebutuhan air bersih dan pengairan lahan pertanian milik warga sekitar. Total daya tampungan air di Bendungan Napun Napun yakni 11,2 juta m3 dengan luas genangan 99,78 hektar (Ha). Setelah puas menikmati keindahan banguan infrastruktur kebanggaan nasional tersebut, kami segera bergegas kembali ke Maumere.

Maumere ibu kota Kabupaten Sikka NTT sebenarnya adalah sebuah daerah yang sudah tidak ada lagi dalam pembagian wilayah administratif Indonesia. Namun demikian, daerah yang umumnya dianggap sebagai “Kota Maumere” adalah wilayah Kecamatan Alok, Kecamatan Alok Timur, dan Kecamatan Alok Barat. Nama Maumere berasal dari bahasa Ende dan Lio, dimana “ma’u” berarti pantai dan “mere” berarti besar atau luas. Jadi, Maumere secara harfiah berarti “pantai luas” atau “pantai besar”. Nama ini mencerminkan kondisi geografis kota tersebut yang memang terletak di pesisir pantai yang luas. Nama aslinya oleh penduduk pribumi setempat dinamakan Alok, sedangkan nama Maumere diberikan oleh Belanda. Kota Maumere merupakan kota terluas kedua di Nusa Tenggara Timur setelah kota Kupang. Kota ini pertama kali dibentuk sebagai Kecamatan Maumere pada tahun 1962. Produk ekspor yang dihasilkan di Maumere antara lain kelapa kopra, pisang, kemiri, dan kakao. Selain itu, Maumere merupakan sentra produksi kain tenun ikat dengan beragam motif.

Bukti prasejarah menunjukkan kawasan Sikka telah ada sejak zaman batu-megalithikum, dimana banyak artefak arkeologis menujukkan jejak-jekak prasejarah tersebut. Ada fosil yang ditemukan disebuah batu cadas yang keras masyarakat menyebutnya dengan la’e ripu terdapat di Rejo, Desa Wolorego, Kecamatan Paga. Ada juga sejumlah gua yang diyakini dahulunya manusia-manusia purba asli Sikka seperti Gua Patiahu di Talibura, Gua Keytimu, dan kubur batu buabari di Paga. Artefak emas berbentuk kapak atau bahartaka dan ukiran tuhan berwajah tiga di Kecamatan Bola. Artefak perunggu berbentuk perahu (Jong Dobo) di Kecamatan Kewapante.

Maumere memiliki beberapa julukan, di antaranya Nian Tana Sikka (tanah dan pantai) dan Kota Tahun Maria, karena pernah menjadi tempat Perayaan Tahun Maria dan kunjungan Paus Yohanes Paulus II tahun 1989. Kota ini juga dikenal dengan julukan Maumere Manise dan dijuluki Nyiur Melambai karena keindahan alamnya dengan pantai pasir putihnya.

Kembar bidan yang dulu berkarya dengan kami sebagai perawat di RS St. Elisabeth Lela

Kunjungan si Kembar Ika dan Eta Parera di rumah dinas mas Yudhi di RSUD dr. TC Hillers Maumere

Sore itu kami segera berjalan kaki dari rumah dinas dokter, menuju bangunan utama Rumah Sakit Umum Daerah T C Hillers Maumere berdiri tahun 1953 yang berada dibawah naungan Pemerintah Daerah Kabupaten Sikka. Memiliki Visi menjadi Rumah Sakit yang memberikan pelayanan yang berkualitas, memuaskan pelanggan dan menjadi Rumah Sakit rujukan di daratan Flores. Dengan sejumlah fasilitas penunjang layanan medis seperti: Unit Hemodialisa (Cuci Darah); instalasi Laboratorium, baik Laboratorium Klinik, Laboratorium Patologi Anatomi maupun Laboratorium Mikrobiologi, Instalsi Radiologi, IGD, dan Poliklinik Spesialis telah tersedia dan berfungsi dengan baik guna mendukung pelayanan kesehatan masyarakat Nian Tana. Kami mengunjungi Instalasi Radiologi dan saat mama Sari menjalani pemeriksaan USG abdomen oleh mas Yudhi, Joviel berlarian menyusuri lorong RS RSUD dr. TC Hillers yang memiliki 11 tempat tidur khusus ICU dari total 177 tempat tidur RS.

Menyerobot urutan anak yang minta berkat romo, tetapi Joviel (3 tahun) langsung berputar badan saat pemberkatan oleh romo belum selesai

Bergaya di depan Katedral Santo Yosep Maumere

Adegan ulangan di depan Katedral Santo Yosep Maumere, karena sebelumnya Joviel membalikkan muka

Sore itu kami mengikuti misa kudus di Stasi Santa Maria Perumnas Maumere, karena tidak ada misa di Gereja Katedral Santo Yosep. Katedral ini menjadi pusat kedudukan dan takhta bagi Uskup Maumere, saat ini Mgr. Ewaldus Martinus Sedu. Gereja Katedral Maumere ini dibangun oleh Pastor Omzight, SVD yang saat itu ditunjuk sebagai Pastor Stasi Maumere dan diresmikan pada tanggal 8 Desember 1873. Pembangunan gereja ini menjadi bagian dari penyebaran misi Katolik oleh para misionaris SVD di Flores. Pada awal Tahun 1900-an, beralih menjadi Paroki Santo Yosef Maumere, yang kini menjadi Paroki Katedral dan diumumkan oleh Paus Benediktus XVI pada tanggal 14 Desember 2005 pisah dari Keuskupan Agung Ende. Gereja ini juga pernah menjadi saksi kunjungan Paus Yohanes Paulus II pada  11 Oktober 1989. Bangunan gereja ini bergaya arsitektur kolonial Belanda cukup sederhana, dipugar dan diperluas beberapa kali sejak abad ke-20. Di dalamnya terdapat altar Paus Yohanes Paulus II, kursi Paus, dan patung Kristus Raja di taman samping. Selain itu, ada juga lonceng besar, lambang Santo Yosef, dan lambang keuskupan Maumere.

Jamuan makan malam menu lengkap kuliner lokal, di rumah mama Anny Radho Rani

Malam itu, setelah mengikuti misa kudus lanjut kami menyusuri Jalan El Tari di Kota Maumere, yang menjadi lokasi car free night (CFN) sejak Februari 2024 lalu. Semua ruas jalan di depan kantor Bupati Sikka itu menjadi pusat kuliner, sekaligus menggerakan ekonomi pelaku UMKM di Kota Maumere, Kabupaten Sikka, juga pelaku tempat olahraga, kuliner & hiburan. Hadirnya CFN ini menambah titik pusat kuliner di Kota Maumere. Warga memiliki tempat untuk menikmati kuliner dan menghabiskan waktu akhir pekan di Jalan El Tari. Bergam kuliner makanan dan minuman yang lezat bisa didapatkan di sini dengan harga yang ramah di kantong.

Bersiap terbang akan pulang ke Yogyakarta

Minggu pagi, 26 Oktober 2025 kami berdua mengakhiri petualangan di daratan Flores, yang karena hanya melewati 2 wilayah di sedikit sisi timur dan utara, maka kami hanya menggores Flores. Kami diantar mas Yudhi dan Joviel, karena mbak Mega sedang kurang bugar, bergegas menuju Bandar Udara Frans Xavier Seda (MOF) yang sebelumnya disebut Bandar Udara Wai Oti, untuk akan terbang ke Kupang, lanjut ke Surabaya dan terus ke rumah kami di Yogyakarta. Bandar Udara Frans Seda Maumere ini memiliki ukuran landasan pacu 2.250 x 45. Jarak dari pusat kota sekitar 5 km. Di ujung utara landasan menghadap langsung dengan Laut Flores, hampir menyentuh Jalur Trans Flores dari Maumere menuju Larantuka, sedangkan ujung selatan menghadap perbukitan. Bandar Udara Frans Seda semula hanyalah sebuah lapangan terbang darurat yang dipakai untuk kepentingan militer dan mobilitas tentara Belanda, yaitu lapangan udara sepanjang 700 meter yang dibangun pada tahun 1930 oleh Departement Voor Verkeer en Waterstaats (semacam Departement Pekerjaan Umum) Pemerintahan Hindia Belanda.

Sebelum masuk perut pesawat Wings Air meninggalkan Maumere

Perjalanan kami dalam mengeksplor Timor dan menggores Flores selama sepekan sangat membahagikan. Terimakasih banyak kepada semua pihak yang telah mendukung petulangan seru ini dan sampai ketemu lagi dalam petualangan selanjutnya.

Sekian

Ditulis di kursi 23c dalam kabin pesawat Boeing 737-800 Lion Air JT 697 dalam penerbangan menembus awan dari Kupang ke Surabaya.

Sesampai kami di Bandara Juanda Surabaya, kami dijemput oleh Laksma TNI Purn dr. Herjunianto, SpPD MMRS Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (Dekan FK UKWMS 2025-2029) dan istri. Langsung diajak menikmati kuliner lokal Surabaya, sambil berbagi inspirasi, harapan dan kebahagiaan antara kami berempat yang langsung akrab, meskipun baru pertama kali bersua, juga antar institusi FK UKWMS dan FK UAJY.

Makan kuliner lokal Surabaya yang lezat, rujak cungur di Surabaya Plaza

Diantar ke Stasiun Gubeng untuk naik KA Sancaka ke Yogyakarta

Minggu, 26 Oktober 2025

Salam pengelana

-wikan & sari

Categories
anak Healthy Life Jalan-jalan

2025 Di selatan Afrika Selatan

DI  SELATAN AFRIKA  SELATAN

(hari pertama)

fx. wikan indrarto dan b. sari prasetyati

Dalam rangka mengikuti International Conference on Pediatrics and Child Health at Radisson Blu Gautrain Hotel, Corner of West Street and Rivonia Road, Sandton, Johannesburg, Senin, 12 Mei 2025, kami terbang ke Afrika Selatan. Apa yang menarik?

BRICS (Brasil, Rusia, India, China, South Africa) adalah kelompok negara berkembang yang memiliki peran besar dalam perekonomian global. Indonesia resmi diterima untuk bergabung dengan BRICS pada 6 Januari 2025, menandai langkah strategis untuk memperluas pengaruh dalam ekonomi global. Kami berdua sudah pernah mengunjungi Brasil (Rio de Janeiro, 2015), Rusia (Moscow, 2024), India (New Delhi, 2017), dan China (Beijing 2009), maka kini giliran kami akan mengunjungi Afrika Selatan.

Republik Afrika Selatan (Afsel) dibatasi oleh garis pantai sepanjang 2.798 km yang membentang di sepanjang Samudra Atlantik dan Hindia di sebelah selatan; di sebelah utara berbatasan dengan Namibia, Botswana, dan Zimbabwe; di sebelah timur dan timur laut berbatasan dengan Mozambik dan Eswatini; dan mengelilingi negara enklave Lesotho.

Ucapan selamat datang di Afrika Selatan

Afrika Selatan memiliki tiga ibu kota, yaitu pemerintahan eksekutif di Pretoria, yudikatif di Bloemfontein, dan legislatif di Cape Town. Pada tahun 1910, ketika Uni Afrika Selatan dibentuk, terjadi pertikaian besar mengenai lokasi ibu kota negara baru tersebut. Sebuah kompromi dicapai untuk menyebarkan keseimbangan kekuasaan di seluruh negeri dan ini menghasilkan tiga ibu kota Afrika Selatan. Kota terbesarnya adalah Johannesburg. Kota ini dikenal sebagai ibu kota keuangan Afrika Selatan dan merupakan rumah bagi 74 persen Kantor Pusat Perusahaan.

Ucapan selamat datang di Afrika Selatan

Johannesburg di bagian Selatan Afrika Selatan dinamai dari nama dua pejabat Zuid-Afrikaansche Republiek (ZAR), Christiaan Johannes Joubert dan Johannes Rissik, yang keduanya bekerja di bidang survei dan pemetaan tanah. Kedua pria itu menggabungkan nama yang mereka gunakan, dengan menambahkan ‘burg’, kata kuno dalam bahasa Afrikaans yang berarti ‘kota berbenteng’. Selanjutnya kota Johannesburg sering disebut Joburg.

Setelah transit dan berjalan-jalan di dalam kota Abu Dhabi sepanjang hari Sabtu, 10 Mei 2025, kami segera melanjutkan penerbangan ke Joburg, Afrika Selatan. Kami terbang lagi dalam perut pesawat Boeing 787-9 Dreamliner milik Ethihad Airways EY 477 dari Abu Dhabi. Ini adalah pesawat jet penumpang jarak jauh, berukuran sedang, berbadan lebar, dan bermesin ganda, dengan menempuh 8 jam sejauh 3.892 mil, kami mendarat di Joburg O.R. Tambo Intl Airport.

lihat : https://dokterwikan.com/2025/05/10/2025-pesona-abu-dhabi/

Bandar Udara Internasional Oliver Tambo terletak di Kempton Park, Ekurhuleni, Gauteng, Afrika Selatan, di dekat kota Joburg. Bandara ini menjadi bandara utama untuk penerbangan internasional dan domestik dari dan menuju Afrika Selatan dan merupakan bandara tersibuk di Afrika dengan kapasitas layanan hingga 28 juta penumpang setiap tahun. Bandara ini menjadi hub bagi maskapai penerbangan domestik dan internasional terbesar di Afrika Selatan, South African Airways (SAA), dan sejumlah maskapai penerbangan lokal.

Selamat datang di Bandara OR Tambo Joburg Afrika Selatan

Bandara ini sebelumnya dikenal sebagai Bandar Udara Internasional Joburg dan sebelum itu dikenal sebagai Bandar Udara Internasional Jan Smuts, sesuai dengan nama seorang politikus internasional Afrika Selatan. Pada 27 Oktober 2006 diganti dengan nama Oliver Tambo, mantan presiden dari African National Congress. Bandar Udara Internasional Oliver Tambo sering disebut sebagai bandara “panas dan tinggi”. Berada di ketinggian hampir 1.700 meter di atas pemukaan laut, yang memiliki udara sangat tipis. Ketinggian seperti ini sangat berpengaruh terhadap performa pesawat terbang.

Setelah selesai proses imigrasi secara manual, sebagaimana terjadi di Bandara Soekarno Hatta sebelum pandemi COVID-19, kami segera menukarkan uang kami menjadi ZAR (bahasa Belanda ‘zuid-afrikaanse rand’ atau rand Afrika Selatan) di dalam bandara. Saat itu suasana interior bandara O Tambo bernuansa G20. Anggota G20 adalah Argentina, Australia, Brasil, Kanada, Tiongkok, Prancis, Jerman, India, Indonesia, Italia, Jepang, Republik Korea, Meksiko, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan, Turki, Inggris Raya, dan Amerika Serikat serta dua badan regional, yaitu Uni Eropa dan Uni Afrika.

Selamat datang para delegasi G20 di Afrika Selatan

G20 tidak memiliki sekretariat atau staf tetap. Sebaliknya, Presidensi G20 dirotasi setiap tahun di antara para anggotanya dan tahun 2025 adalah giliran Afrika Selatan dan Indonesia tahun 2022 lalu. Setelah berfoto pada layer sambutan selamat datang oleh Matamela Cyril Ramaphosa (lahir 17 November 1952) Presiden Afrika Selatan, selanjutnya kami membeli tiket KA ke pusat kota, pada petugas konter. Kami naik Gautrain, kereta api komuter ekspres berkecepatan tinggi yang melayani rute dari Bandara Internasional Oliver Tambo ke dalam kota Joburg.

Sambutan oleh Bapak Matamela Cyril Ramaphosa Presiden Afrika Selatan.

Gautrain adalah sistem kereta komuter ekspres berkecepatan tinggi sepanjang 80 kilometer (50 mil) di Propinsi Gauteng, Afrika Selatan, yang menghubungkan Joburg, Pretoria, Kempton Park, dan Bandara Internasional Oliver Tambo. Diperlukan waktu 15 menit untuk menempuh perjalanan dari Bandara Internasional Oliver Tambo ke Marlboro. Guatrin kami melaju dari Bandara Internasional Oliver Tambo, melewati Rhodesfield dan turun Marlboro, dengan semua stasiun berada di permukaan tanah. Dari stasiun Marlboro kami pindah jalur untuk naik Gautrain lanjutan melewati stasiun Sandton, Rosebank dan turun di Park Station, ketiganya merupakan stasiun bawah tanah, di pusat kota Joburg.

Bergaya di depan Gautrain sebuah kereta komuter ekspres berkecepatan tinggi

Bergaya di dalam gerbong Gautrain, sebuah kereta komuter ekspres berkecepatan tinggi, bukan kelas KRL

Bergaya di Stasiun Marlboro untuk berganti line Guatrain menuju Stasiun Park Joburg

Setelah keluar ke permukaan tanah, kami segera disambut cuaca bersuhu 9 derajat dan bergegas menuju The Bannister Hotel di 9 De Beer St, Braamfontein, Joburg. Hanya berdasarkan tangkapan layar pada HP tentang rute yang harus kami jalani karena sudah tidak ada free wifi lagi di luar stasiun, maka nampaklah kami berdua sebagai  makluk asing yang kebingungan. Berkat kebaikan hati 2 orang satpam sebuah bangunan di samping stasiun Park, yang mengantar kami menyusuri jalan, akhirnya kami berhasil mencapai hotel kami.

Keluar dari bawah tanah di Stasiun Park Joburg

Dengan seorang satpam negro yang baik hati mengantar kami, agar tidak tersesat, berjalan kaki mencapai Hotel Bannister

Setelah mandi bugar dan membayar hutang tidur, pada hari Minggu sore, 10 Mei 2025 kami segera mengaktifkan aplikasi Uber dengan unggah foto paspor untuk mencari taksi online. Tujuan pertama kami adalah Katedral Kristus Raja (Cathedral Of Christ the King Catholic Church), yaitu sebuah gereja Katolik yang menjadi pusat kedudukan dan takhta bagi Keuskupan Agung Joburg. Dengan diantar seorang sopir bernama Tiyiselani Hendrick, kami naik VW Polo putih bernomor polisi LY27HVGP berbiaya ZAR 33 untuk mencapai gedung katedral di 192 End St, Berea, Joburg, yang dibangun pada tahun 1958.

Disopiri Tiyiselani Hendrick dengan aplikasi uber, kami naik VW Polo putih bernomor polisi LY27HVGP

Di depan Katedral Kristus Raja (Cathedral Of Christ the King Catholic Church) Joburg

Katedral yang sebelumnya di Jalan Kerk, dibangun pada tahun 1896, telah melayani komunitas Katolik dengan baik, tetapi dengan jumlah yang terus bertambah, diputuskan untuk mendirikan katedral baru yang lebih besar. Rencana untuk membangun katedral tersebut dimulai pada tahun 1937 oleh David O’Leary, orang Katolik kelahiran Afrika Selatan pertama yang menjadi Uskup Joburg. O’Leary awalnya bermaksud agar katedral dibangun di lokasi dekat Jalan Kerk tetapi tanah itu sebagian dijual dan sisanya menjadi Gereja Jalan Kerk.

Rencana katedral ditunda karena pecahnya Perang Dunia Kedua dan O’Leary meninggal pada tahun 1950. Pada tahun 1957 sebuah situs dibeli di Saratoga Avenue oleh Uskup Mgr. W. P. Whelan dan dana dikumpulkan untuk meletakkan batu pertama pada tahun 1958. Katedral Kristus Raja dirancang oleh arsitek Brian Gregory dari Belfast, Irlandia Utara. Pekerjaan konstruksi diawasi oleh John P. Monahan dan diselesaikan pada tahun 1958 oleh kontraktor John Burrow (Pty) Ltd dari Joburg. Katedral ini diberkati dan dibuka pada tahun 1960. Mgr. Whelan kemudian menjadi Uskup Agung Bloemfontein dan menimbulkan beberapa kontroversi, ketika dia gagal menjauhkan gereja Katolik Afrika Selatan dari apartheid pada tahun 1964.

Interior Katedral Kristus Raja Joburg dengan salib Yesus Kristus tergantung dari atap, bukan tertempel di dinding, dirancang oleh arsitek Brian Gregory dari Belfast, Irlandia Utara.

Eksterior Katedral Kristus Raja dirancang oleh arsitek Brian Gregory dari Belfast, Irlandia Utara, berbentuk kotak warna coklat

Oleh karena tidak ada nuansa Porta Sancta di Cathedral Of Christ the King Catholic Church, dan jadwal misa kudus hari Minggu hanya pagi pk. 7 dan siang pk. 09.30, maka kami hanya berdoa pribadi saja. Kembali kami segera berlutut, berdoa dan mengucap syukur di Gereja Katedral itu. Kami bersyukur atas semua berkat dan rahmat Tuhan Maha Baik di bangku katedral deretan paling belakang. Dalam doa khusuk, kami memohon lagi agar diberikan kebijaksanaan, keselamatan, kecerdasan, kesehatan dan kebahagian bagi kami semua.

Mobil takxi Josiah Shingirai berupa sedan Suzuki Ciaz warna putih

Setelah itu kami mencari area yang ada free wifi di sekitar parkiran, atas anjuran petugas sekuriti gerja Katedral. Kembali kami memesan taksi ojol dengan aplikasi Uber, berdasarkan signal sangat lemah dari free wifi yang ada. Kami diantar sopir seorang negro Josiah Shingirai dengan sedan Suzuki Ciaz warna putih untuk kembali ke hotel.

Para pemuda negro yang baik hati dan penuh gaya di perempatan Juta Street Joburg

Suasana konter KFC dekat hotel kami di Joburg

Minggu, 11 Mei 2025 menjelang malam itu kami akhiri dengan jalan-jalan di seputarn Juta Street untuk melihat suasana. Kami bertemu dengan beberapa pemuda negro yang ramah menyapa kami, bahkan mengenali bendera merah putih yang kami bawa dengan teriakan ‘Indonesia!’. Juga membeli beberapa potong ayam di KFC di ujung jalan. Konter KFC dengan sistem open kithcen bernuansa hitam legam, sangat mengesankan. Lanjut malam itu kami makan malam di kamar hotel.

(bersambung)

Salam pengelana

-wikan dan sari

Minggu, 11 Mei 2025

CERIA  DI  PRETORIA

(hari kedua)

(sambungan)

Setelah mengikuti hari pertama International Conference on Pediatrics and Child Health at Radisson Blu Gautrain Hotel, Corner of West Street and Rivonia Road, Sandton, Johannesburg (Joburg), Afrika Selatan pada Senin, 12 Mei 2025, kami rencana akan melaju ke Pretoria. Apa yang perlu diketahui?

Setelah sarapan di The Bannister Hotel di 9 De Beer St, Braamfontein, kami bergegas ke lokasi konferensi. Di perjalanan kami mengingat bahwa ada 2 negara Eropa yang pernah menduduki wilayah yang kami lalui, yaitu Belanda (1652-1795 dan 1803-1806) dan Inggris (1795-1803 dan 1806-1961). Belanda tiba di wilayah ini pada tahun 1652, baru Inggris meminati wilayah tersebut, terutama setelah penemuan cadangan berlian yang melimpah. Hal ini menyebabkan Perang Inggris-Belanda dan dua Perang Boer. Pada tahun 1931, Afrika Selatan menjadi jajahan Britania Raya sepenuhnya. Meski demikian, Inggris terpaksa berbagi kuasa dengan pihak Afrikaner (sebutan untuk bangsa Belanda di Afrika). Pembagian kuasa ini berlanjut hingga tahun 1940-an, saat partai pro-Afrikaner, yaitu Partai Nasional memperoleh kursi mayoritas di parlemen.

Sejarah politik apartheid dimulai tahun 1948 yang digagas oleh Hendrik Frensch Verwoerd dari Partai Nasional. Paham Apartheid adalah segregasi rasial di bawah pemerintahan Afrika Selatan berkulit putih, yang mengharuskan warga Afrika Selatan non-kulit putih (mayoritas penduduk) untuk tinggal di area terpisah dari warga kulit putih dan menggunakan fasilitas publik terpisah. Strategi ini untuk mengawal sistem ekonomi dan sosial negara dengan dominasi kulit putih dan diskriminasi ras, dengan tokoh utama penentangnya oleh Nelson Mandela.

Gambar Presiden Nelson Mandela yang besar di dinding sebuah bangunan tinggi

Senin, 12 Mei 2025 sejak pagi kami mengikuti konferensi dan pada sambutan pembukaan oleh Ketua Panita dijelaskan bahwa PEPFAR (The U.S. President’s Emergency Plan for AIDS Relief) telah memainkan peran penting dalam memastikan pasien HIV dan TB, termasuk anak, untuk mendapatkan layanan kesehatan yang mereka butuhkan. Di Afrika Selatan, yang memiliki 7,8 juta penderita HIV, PEPFAR telah menjadi salah satu sumber utama pendanaan dalam dua dekade terakhir. Menteri Kesehatan Afrika Selatan, dr. Aaron Motsoaledi menyatakan bahwa penghentian sementara PEPFAR ini mengejutkan pemerintah. Prof. Asanda Ngoasheng, seorang analis politik dari Afrika Selatan, menilai bahwa banyak negara akan terdampak, mengingat sistem kesehatan publik di beberapa negara Afrika sangat bergantung pada pendanaan dari PEPFAR.

Bahkan jika PEPFAR tidak membiayai 100% program, pengurangan dana tetap akan berimbas pada kemampuan banyak negara Afrika dalam menyediakan layanan medis yang sebelumnya ditopang oleh dana tersebut. Meski penghentian bantuan PEPFAR telah disesuaikan dengan pengecualian untuk “bantuan kemanusiaan yang menyelamatkan nyawa,” termasuk obat-obatan esensial, banyak negara masih mengevaluasi dampaknya jika penghentian ini menjadi permanen. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menjelaskan bahwa pengecualian ini bertujuan untuk memastikan bantuan yang bersifat darurat seperti makanan dan obat-obatan, tetap disalurkan.

Pembicara pertama adalah dr. Antonis C. Antoniou, PhD, seorang Genetics and  Epidemiology dari Cambridge, England, United Kingdom. Saat ini, ia memimpin kelompok penelitian di Departemen Kesehatan Masyarakat dan Perawatan Primer dan menjabat sebagai Direktur Akademik untuk MPhil dalam Epidemiologi. Pembicara selanjutnya adalah Richard J. Scarfone MD, FAAP, seorang Pediatric Emergency Medicine dari Philadelphia, Pennsylvania, United States of America. Beliau adalah Wakil Direktur Kegawatdaruratan Pediatrik di Children’s Hospital of Philadelphia dan salah satu pimpinan tim kurikulum pendidikan Center for Diagnostic Excellence. Wabah HIV merupakan masalah yang kritikal di negara ini. Diperkirakan 4,79 juta penduduknya dijangkiti AIDS dan pemerintahan Afrika Selatan terpaksa mengeluarkan berjuta-juta ZAR untuk menangani masalah ini. Sejak Afrika Selatan membuka perbatasannya selepas berakhirnya Apartheid, sindikat NAPZA internasional justru mudah memasuki negara ini. Kini Afrika Selatan adalah produsen mariyuana terbesar di dunia.

Makan siang menu ayam dengan nasi, Bersama para nona negro

Setelah selesai sesi diskusi, kami bersiap untuk makan siang berupa nasi dan segera mengingat sejarah bahwa pada Februari 1990, akibat dorongan internasional dan tentangan hebat dari berbagai gerakan anti-apartheid khususnya KNA (Kongres Nasional Afrika), pemerintahan Partai Nasional di bawah pimpinan Presiden Frederik Willem de Klerk (18 Maret 1936 – 11 November 2021) yang merupakan presiden kulit putih terakhir di Afrika Selatan, mencabut larangan terhadap Kongres Nasional Afrika dan partai-partai politik berhaluan kiri yang lain, dan membebaskan Nelson Mandela (Pimpinan KNA) dari penjara. Pada 1962, Nelson Mandela ditahan dan dituduh melakukan sabotase dan bersekongkol menggulingkan pemerintahan, dan dihukum penjara seumur hidup di Pengadilan Rivonia. Mandela menjalani masa kurungan 27 tahun, pertama di Pulau Robben, kemudian di Penjara Pollsmoor dan Penjara Victor Verster.

Undang-undang apartheid mulai dihapus secara perlahan-lahan dan pemilu tanpa diskriminasi yang pertama diadakan pada tahun 1994. Kemenangan yang besar diraih oleh Partai KNA, dan Nelson Mandela dilantik sebagai presiden kulit hitam pertama di Afrika Selatan. Walaupun kekuasaan sudah berada di tangan kaum kulit hitam, berjuta-juta penduduknya masih hidup dalam kemiskinan. Ketika Nelson Mandela menjadi presiden selama 5 tahun, pemerintahannya melaksanakan berbagai perubahan, terutama dalam isu yang telah diabaikan semasa era apartheid. Beberapa isu yang ditangani oleh pemerintahan pimpinan KNA adalah seperti pengangguran, wabah AIDS, termasuk pada bayi dan anak, juga kekurangan perumahan dan pangan.

Mural bergambar Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela, Thabo Mbeki dan Oliver Tambo, dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Di samping itu, dalam usahanya untuk menyatukan rakyat, pemerintah juga membuat sebuah komite yang dikenal dengan ‘Truth and Reconciliation Committee’ (TRC) di bawah pimpinan Uskup Desmond Tutu. Komite ini berperan untuk memantau badan-badan pemerintah seperti badan polisi agar masyarakat Afrika Selatan dapat hidup aman dan harmonis. Presiden Nelson Mandela memusatkan perhatiannya terhadap perdamaian di tahap nasional dan mencoba membina satu jati diri untuk Afrika Selatan dalam masyarakat majemuk yang terpisah oleh konflik berlarut-larut selama beberapa dasawarsa. Berkat kemampuannya, setelah tahun 1994 negara ini telah bebas dari konflik politik. Nelson Mandela melepas jabatannya sebagai presiden partai KNA pada Desember 1997 untuk memberi kesempatan kepada presiden yang baru, Thabo Mbeki.

Seorang pemuda negro Ellias Gift yang terus ceria dan siap mengantar kami dengan mobil Suzuki Dzire warna putih, menuju Pretoria

Seperti kita ketahui bersama, Afrika Selatan memiliki tiga ibu kota, yaitu pemerintahan eksekutif di Pretoria, yudikatif di Bloemfontein tempat kami menginap, dan legislatif di Cape Town yang terlalu jauh dijangkau. Senin, 12 Mei 2025 setelah makan siang, kami segera bergegas menuju ibukota Pretoria. Dengan menggunakan aplikasi uber, kami dapat diantar oleh seorang pemuda negro Ellias Gift dengan mobil Suzuki Dzire warna putih, menuju Gedung bersejarah Union Building di Pretoria. Tepatnya di atas bukit Meintjeskop di ujung utara wilayah Arcadia, dekat dengan Church Square yang juga bersejarah

Meriam di sisi jalan menanjak menuju Union Building di puncak bukit

Union Buildings merupakan kantor pusat resmi Pemerintah Afrika Selatan dan juga merupakan kantor Presiden Afrika Selatan. Bangunan megah ini terletak di Pretoria. Taman luas di gedung ini terletak di antara Government Avenue, Vermeulen Street East, Church Street, R104, dan Blackwood Street. Meskipun tidak berada di pusat kota Pretoria, Union Buildings menempati titik tertinggi dataran Pretoria, dan merupakan situs warisan nasional Afrika Selatan.

Dua buah bangunan sayap di kiri dan kanan Union Building di Pretoria

Gedung ini merupakan salah satu pusat kehidupan politik di Afrika Selatan, menjadi bangunan ikonik Pretoria dan Afrika Selatan secara umum, dan merupakan salah satu objek wisata paling populer di kota ini dan lambang demokrasi. Di dalam gedung tersebut merupakan lokasi pelantikan presiden Afrika Selatan.

Selalu ceria, juga saat di gerbang dengan tulisan Union Buliding Pretoria

Kompleks bangunan ini, dibangun dari batu pasir ringan, dirancang oleh arsitek Sir Herbert Baker dalam gaya monumental Inggris dan sepanjang 285 m. Gedung utama memiliki bentuk setengah lingkaran, dengan dua sayap di sisinya, ini berfungsi untuk mewakili penyatuan orang-orang yang sebelumnya terbagi dalam perselisihan bersenjata. Lonceng jam identik dengan Big Ben di London, yang pernah kami kunjungi pada Minggu, 23 November 2015, sepulang dari Rio de Janeiro Brazil. Bangunan ini dianggap sebagai pencapaian terbesar arsitek dan mahakarya arsitektur Afrika Selatan.

Setelah puas berfoto dalam dekapan suhu 10 derajat, kami lanjut mampir ke KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) di Pretoria (Embassy of the Republic of Indonesia), yaitu kantor pusat misi diplomatik Republik Indonesia untuk Republik Afrika Selatan dan merangkap sebagai perwakilan Indonesia untuk Republik Botswana, Kerajaan Eswatini, dan Kerajaan Lesotho. Kedutaan ini terletak di Jalan Francis Baard 949 (sebelumnya bernama Jalan Schoeman) di daerah kota Pretoria bernama Arcadia. Kantor diplomatik Indonesia lainnya di Afrika Selatan adalah sebuah konsulat jenderal di Cape Town. Terdapat juga sebuah Konsulat Kehormatan di Mbabane, Eswatini.

Gerbang KBRI Pretoria

Duta besar Indonesia pertama untuk Afrika Selatan adalah Rahadi Iskandar (1995–1998) dan saat ini dijabat oleh Bapak Saud Purwanto Krisnawan sejak 26 Juni 2023.

Lanjut kami melaju menuju Monumen Voortrekker yang terletak di sebelah selatan Pretoria, dirancang oleh arsitek Gerard Moerdijk, megah berdiri di puncak sebuah bukit dan dibangun untuk mengenang para Voortrekker yang meninggalkan Cape Colony. Voortrekkers (dalam bahasa Afrikaans : mereka di depan yang menarik) adalah para peternak Boer (keturunan Belanda) yang bermigrasi ke timur selama peristiwa Die Groot Trek (Perang Boer) untuk menghindari kekuasaan kolonial Inggris. Para Voortrekkers keturunan Belanda yang melakukan perpindahan ke timur, dengan jumlah sekitar 2.540 keluarga dari tahun 1835 hingga 1845.

Monumen Voortrekker yang tinggi menjulang nampak di kejauhan dirancang oleh arsitek Gerard Moerdijk

Perang Boer merupakan peperangan yang terjadi di Afrika Selatan antara colonial Ingfgris melawan 2 republik Boer merdeka, yakni Negara Bebas Oranje (Oranje Vrijstaat) dan Republik Transvaal, antara abad ke-19 dan awal abad ke-20. Orang Boer atau Afrikaner merupakan keturunan kolonialis Belanda, yang sebagai pioner (Voortrekkers) merambah ke pedalaman Afrika Selatan dan mendirikan Oranje Vrijstaat serta Zuid-Afrikaanse Republiek. Akan tetapi republik-republik Boer kalah dalam peperangan melawan Inggris.

Ellias Gift yang terus ceria dengan Monumen Voortrekker yang tinggi menjulang nampak di kejauhan

Pembangunan monument ini dimulai pada tanggal 13 Juli 1937 dipimpin oleh Advokat Ernest George Jansen. Pada tanggal 16 Desember 1938, batu pertama diletakkan  oleh tiga keturunan pemimpin Voortrekker, yaitu Ny. J.C. Muller (cucu perempuan Andries Pretorius), Ny. K.F. Ackerman (cicit perempuan Hendrik Potgieter) dan Nyonya J.C. Preller (cicit perempuan Piet Retief).

Bersama keturunan pemimpin Voortrekker, tetapi bukan Ny. J.C. Muller (cucu perempuan Andries Pretorius), yang ceria banget saat berbusana gaya kolonial Belanda di Monumen Voortrekker

Monumen ini diresmikan pada tanggal 16 Desember 1949 oleh Daniël François Malan, Perdana Menteri Afrika Selatan dari 1948 sampai 1954, yang dipandang sebagai pembela nasionalisme Afrikaner. Total biaya pembangunan monumen ini sekitar £360.000, yang sebagian besar disumbangkan oleh pemerintah Afrika Selatan. Pada tanggal 8 Juli 2011, Monumen Voortrekker dinyatakan sebagai Situs Warisan Nasional oleh Badan Sumber Daya Warisan Afrika Selatan.

Padang prairie dengan berbagai hewan ternak di kejauhan seperti di berbagai taman safari di Afrika Tengah yang kadang masih buas.

Di sekitar situ ada hamparan prairie, yaitu padang rumput yang luas, datar atau bergelombang, tanpa banyak pohon. Kata “prairi” berasal dari bahasa Prancis dan awalnya dari bahasa Latin “pratum” yang berarti ladang. Prairie didominasi oleh rumput tinggi dengan sedikit pohon, sehinnga banyak binatang ternak yang merumput, sebagaimana banyak terdapat di Afrika Selatan. Setelah menyaksikan padang rumput yang luas semacam praire di sekitar monument, kami segera Kembali ke hotel di Joburg. Kota ini pada awalnya dibangun oleh para penambang kebangsaan Inggris, yang membangun kota segera setelah emas ditemukan pada 1886 di Witwatersrand yang berdekatan. Lokasi yang kelak menjadi jantung kota ini ialah salah satu dari banyak bidang tanah yang dinyatakan sebagai galian umum. Di bawah pimpinan Johann Rissik dan Christian Johanes Joubert, mulai tumbuh sebagai kota utama di daerah pertambangan itu, menjadi pusat jalur KA seluruh Afrika Selatan, dan dinamakan Johannesburg, diambil dari nama keduanya.

Para remaja negro yang lalu lalang ceria di jalanan Johannesburg

Setelah kami menikmati Pretoria dengan ceria, malam ini kami makan malam lagi dengan bekal dari rumah di kamar hotel.

(bersambung)

Salam pengelana

-wikan dan sari

Senin, 12 Mei 2025

Ditulis di kamar 116 The Bannister Hotel di 9 De Beer St, Braamfontein, Joburg, di bagian selatan South Africa

JENDELA  MANDELA

(hari ketiga atau terakhir)

fx. wikan indrarto & b. sari prasetyati

Setelah mengikuti International Conference on Pediatrics and Child Health at Radisson Blu Gautrain Hotel, Corner of West Street and Rivonia Road, Sandton, Johannesburg (Joburg), Afrika Selatan pada Selasa, 13 Mei 2025, kami segera melihat dunia dari jendela Nelson Mandela. Apa yang menarik?

Sarapan menu telor, roti tawar, dan tomat di resto The Bannister Hotel di 9 De Beer St, Braamfontein.

Setelah sarapan di The Bannister Hotel di 9 De Beer St, Braamfontein, kami bergegas ke lokasi konferensi hari kedua (terakhir). Pembicara pertama Ippei Takahashi, PhD dari Tohoku University, Sendai, Japan yang membahas tentang risiko melihat layar gadget (screen time atau waktu layer) pada bayi sebelum usia 1 tahun, dari studi kohort (Three-Generation Cohort Study) yang mencakup 7.097 pasangan ibu-anak, di prefektur Miyagi dan Iwate di Jepang antara Juli 2013 dan Maret 2017. Waktu paparan layar per hari dikelompokkan menjadi kurang dari 1 jam, 1 hingga kurang dari 2 jam, 2 hingga kurang dari 4 jam, dan 4 jam atau lebih. Kesimpulan penelitian ini adalah waktu layar yang lebih lama untuk bayi berusia kurang dari 1 tahun dikaitkan dengan keterlambatan perkembangan dalam komunikasi dan pemecahan masalah pada usia 2 dan 4 tahun.

Pembicara kedua adalah Oliver Van Hecke guru besar pada University of Oxford, UK yang menjelaskan manfaat penggunaan infografis berbasis bukti untuk meningkatkan pemahaman orang tua tentang penggunaan antibiotik dan resistensi antibiotik. Penelitian metode campuran dengan tiga fase. Fase 1 mengidentifikasi dan meringkas bukti penggunaan antibiotik untuk tiga jenis infeksi tersering pada anak (sakit tenggorokan, batuk akut, dan radang telinga otitis media). Pada fase 2, merancang prototipe infografis dengan orang tua dan tim desain grafis (kelompok fokus). Fase 3 menilai efek infografis pada pemahaman orang tua tentang penggunaan antibiotik untuk tiga jenis infeksi pada anak. Disimpulkan bahwa infografis yang dirancang bersama orangtua berpotensi mengubah persepsi orang tua tentang antibiotik untuk infeksi saluran pernapasan akut pada anak-anak.

Pembicara ketiga adalah Mona-Lisa Wernroth, peneliti di Uppsala Clinical Research Center, Uppsala University, Sweden, dengan topik Pengobatan Antibiotik Anak Usia Dini untuk Otitis Media dan Infeksi Saluran Pernapasan Lainnya Berkaitan dengan Risiko Diabetes Tipe 1 di kemudian hari. Studi ini menerapkan desain berbasis register anak hingga usia 10 tahun termasuk analisis kontrol saudara kandung, antara 1 Juli 2005 dan 30 September 2013. Disimpulkan bahwa pemberian antibiotik, terutama untuk otitis media akut dan infeksi saluran pernapasan, pada tahun pertama kehidupan dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 1 sebelum usia 10 tahun, terutama pada anak yang dilahirkan melalui operasi caesar.

Sebelum International Conference on Pediatrics and Child Health ditutup, kami segera makan siang dan bersiap melihat dunia dari jendela Nelson Mandela. Segera kami kontak Ellias Gift, sopir yang telah kami kenal lewat aplikasi uber sebelumnya, agar datang dengan mobil Suzuki Dzire warna putih, bernomor polisi LJ74FJGP, untuk mengantar kami menuju China Town Joburg.

Gerbang Johannesburg Chinatown berdiri tinggi

Kami menuju areal 28 Derrick Ave, Cyrildene, Johannesburg, dimana Gerbang Johannesburg Chinatown berdiri tinggi, gagah dan ramah menyambut semua tamu yang datang. Segera kami menghabiskan menu makan siang dengan lahap, untuk melawan hawa dingin yang masih mencekam sekitar 10 derajat.

Perut Asia menjadi hangat diisi menu bakmi goreng ayam yang lezat

Sempat ingin mencoba bis wisata Hip On and Off untuk wisatawan yang mengunjungi Joburg

Segera kami meluncur ke Gold Reef City, yang saat ini merupakan sebuah taman hiburan di Johannesburg bagian Selatan. Tempat ini sangat bersejarah, karena terletak di bekas tambang emas pertama, tetapi telah ditutup pada tahun 1971, taman ini bertemakan demam emas yang dimulai pada tahun 1886 di Witwatersrand, dan bangunan-bangunan di taman ini dirancang untuk meniru periode ini. Ada sebuah museum yang didedikasikan untuk penambangan emas di lahan tersebut, tempat pengunjung dapat melihat urat bijih dari tanah, yang mengandung emas dan melihat bagaimana emas dituangkan ke dalam tong.

Berdiri di Golden Reef, tempat asal mula ditemukan tambang emas yang menjadi cikal bakal Joburg.

Gold Reef City terletak di sebelah selatan Central Business District Johannesburg di luar jalan lingkar M1. Di sebelahnya terdapat Museum Apartheid, yaitu museum yang menggambarkan politik apartheid yang membedakan orang berdasarkan warna kulitnya, putih atau hitam. Museum ini juga menggambarkan sejarah Afrika Selatan pada abad ke-20, saat puncak kejayaan parteid yang dibuka pada bulan November 2001.

Di Gerbang Museum Apartheid untuk ikut merayakan berakhirnya apartheid dan dimulainya demokrasi multiras bagi masyarakat Afrika Selatan.

Selanjutnya kami meluncur agak jauh menuju ke patung perunggu Nelson Mandela, yang berdiri tegak setinggi 6 meter di Sandton, Johannesburg bagian utara. Patung Mandela ini ramai dikunjungi wisatawan dan terletak di Alun-alun Nelson Mandela. Alun-alun ini diubah namanya untuk menghormati ikon antiapartheid dan mantan Presiden Afrika Selatan. Patung yang dibuat oleh seniman Kobus Hattingh dan Jacob Maponyane ini diresmikan pada tahun 2004.

Patung Nelson Mendela ikon antiapartheid dan mantan Presiden Afrika Selatan

Pintu gerbang Alun-alun Nelson Mandela

Selfie di depan patung Nelson Mandela buah karya Kobus Hattingh dan Jacob Maponyane

Selanjutnya kami mengunjungi RS Anak Nelson Mandela di 6 Jubilee Rd, Parktown, Johannesburg. Dimpimpin oleh CEO Dr. Nonkululeko Boikhutso, RS ini dengan hangat menyambut semua pelanggan di tahun penuh harapan, kepedulian, dan dedikasi. Tahun 2025 ini, fokus pelayanan tetap teguh, yaitu menyediakan layanan kesehatan khusus kelas dunia untuk anak-anak di seluruh negeri.

Ruang menyusui di salah satu lantai RSA Nelson Mandela.

Salah satu bagian penentu keberhasilan pemberian ASI eksklusif di RSA Nelson Mandela adalah layanan laktasi yang unggul.

Ruang pemeriksaan radiologi RSA Nelson Mandela Joburg yang ramah anak

Gerbang RSA Nelson Mandela yang gagah

Selanjutnya kami meluncur ke rumah kediaman terakhir Nelson Mandela di Houghton Estate no 9 di 12th Ave Johannesburg. Rumah ini terletak di kawasan perumahan kelas atas yang tenang. Di sinilah Nelson Mandela tinggal sebelum kematiannya.

Houghton Estate no 9, rumah kediaman terakhir Nelson Mandela

Kata-kata berisi pujian kepada Nelson Mandela tertulis di batu, yang kemudian diletakkan pada petak bunga taman depan rumah. Rumah tersebut terletak di daerah yang indah dan tenang, dengan rumah-rumah kelas atas dengan tembok tinggi, serta keamanan super ketat. Jalanannya ditumbuhi pepohonan yang indah, cocok untuk penghormatan kepada Nelson Mandela sebagai warga negara yang dihormati ini.

Kata pujian untuk Nelson Mandela tertulis pada banyak batu putih dekat pohon bunga di depan rumahnya

Kami jadi teringat bahwa pada bulan Desember 1956, Nelson Mandela ditangkap bersama sebagian besar pejabat eksekutif tingkat nasional ANC dan dituduh melakukan “pengkhianatan tingkat tinggi” terhadap negara. Ia dinyatakan sebagai penjahat karena menuntut kesetaraan bagi semua orang negro Afrika kulit hitam. Ia dihukum, diasingkan, dan dijebloskan ke penjara, ditindas dan disiksa hingga tak tertahankan. Ia menderita kelaparan, penindasan, dan ketidakadilan, tetapi tegar menjaga api kemerdekaan tetap menyala di dalam hatinya.

Dengan berakhirnya politik apartheid, pada 10 Mei 1994 Nelson Mandela dilantik sebagai presiden berkulit hitam pertama Afrika Selatan. Pada saat dilantik Nelson Mandela mengidentifikasi tiga masalah utama dalam pidatonya, yaitu kemiskinan, ketidakadilan, dan ketidaksetaraan yang parah. Sebagai Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela meningkatkan taraf hidup dan fasilitas penduduk kulit hitam Afrika Selatan, yang telah menderita selama puluhan tahun di bawah apartheid. Ia juga bekerja keras untuk menjadikan Afrika Selatan sebagai negara yang menjunjung tinggi kesetaraan, tempat orang-orang dari semua ras dan warna kulit dapat hidup bersama dalam damai.

Di samping patung perunggu Nelson Mandela yang menyebarkan perdamaian

Nelson Mandela dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian 1993, bersama dengan mantan Presiden Frederik Willem de Klerk, atas karyanya dalam mengakhiri rezim apartheid secara damai, dan meletakkan dasar bagi Afrika Selatan yang demokratis. Namun demikian, oleh karena Konstitusi tahun 1996 membatasi masa jabatan presiden hingga dua kali masa jabatan lima tahun berturut-turut, maka Mandela tidak berupaya mengubah dokumen tersebut bahkan ia hanya bermaksud untuk menjabat satu kali, dengan faktor usia sebagai faktor utama dalam keputusan ini. Mandela meninggalkan jabatannya pada tanggal 14 Juni 1999.

Pada 5 Desember 2013 Nelson Mandela meninggal dunia pada usia 95 tahun di rumahnya di Houghton, Johannesburg, yang telah kami kunjungi, dikelilingi oleh keluarga dekat. Kematiannya diumumkan oleh Presiden Jacob Zuma di televisi nasional Afrika Selatan. Nelson Mandela adalah seorang pejuang kemanusiaan yang memperjuangkan keadilan sosial selama 67 tahun hidupnya. Kita patut mengenang kerja kerasnya untuk menjadikan dunia tempat yang lebih baik

Selanjunya kami meluncur ke Stadion First National Bank (FNB Stadium atau Soccer City) adalah sebuah stadion yang dibangun tahun 1987, berlokasi di Joburg bagian utara. Stadion ini berkapasitas 78.000 tempat duduk berbentuk ember plastik dan merupakan stadion ketiga terbesar di Afrika dan pernah digunakan sebagai tempat final Piala Dunia sepak bola FIFA 2010.

Selamat datang di FNB Stadium bukan pada final World Cup FIFA 2010

Kita jadi dapat mengingat bahwa Timnas Portugal berhasil mencetak tujuh gol tanpa sekalipun kebobolan, saat melawan Korea Utara yang berakhir 7–0. Pada Piala Dunia 2010 tersebut juga tim Selandia Baru merupakan satu-satunya tim yang tidak pernah kalah dalam turnamen, gagal lolos ke babak gugur, serta hanya bermain imbang di seluruh pertandingan fase grup. Spanyol kalah 0–1 dari Swiss di laga perdana, namun berikutnya berhasil membuat sejarah baru sebagai tim pertama yang menjuarai Piala Dunia dengan mengalami kekalahan di pertandingan awal, dengan memenangkan seluruh laga hingga final dengan skor sama, yaitu 1–0.

Tidak jadi beli tiket final Piala Dunia 2010 di FNB Stadium Joburg

Ketinggian lokasi sejumlah stadion di Afrika Selatan diduga memengaruhi gerakan bola dan kelincahan pemain. Enam dari sepuluh stadion terletak lebih dari 1.200 m di atas permukaan laut, dengan dua stadion di Joburg (FNB atau Soccer City dan Ellis Park) berada di ketinggian paling tinggi, yaitu sekitar 1.750 m. Final Piala Dunia FIFA 2010 pada 11 Juli 2010 antara Belanda dan Spanyol berakhir 0–1 dengan gol dicetak oleh Iniesta di FNB atau Soccer City, Joburg, dilihat oleh 84.490 penonton dan dipimpin oleh Wasit Howard Webb (Inggris)

Selanjutnya kami kembali ke hotel karena sudah kelelahan. Setelah beristirahat sejenak, kami segera keluar kamar untuk menikmati makan malam menu Afrika.

Menu Afrika siap dipesan sebelum kembali pulang ke Indonesia

Sambil makan malam, kami mengenang Johannesburg yang dinamai dari nama dua pejabat Zuid-Afrikaansche Republiek (ZAR), Christiaan Johannes Joubert dan Johannes Rissik, yang keduanya bekerja di bidang survei dan pemetaan tanah. Kedua pria itu menggabungkan nama yang mereka gunakan, dengan menambahkan ‘burg’, kata kuno dalam bahasa Afrikaans yang berarti ‘kota berbenteng’. Selanjutnya Johannesburg sering disingkat Joburg sebagai pusat, jantung komersial dan finansial Afrika Selatan, yang secara planologi kotanya ditata dalam pola kotak persegi panjang, yang tidak berubah sejak survei kota pertama pada tahun 1886. Jalan-jalannya sempit dan dibayangi oleh blok-blok beton tinggi, sehingga menciptakan efek seperti terowongan.

Panorama efek terowongan kota Joburg sejak tahun 1886.

Afrika Selatan memiliki tiga ibu kota, yaitu ibu kota administratif Pretoria yang telah kami kunjungi sehari sebelumnya, ibu kota legislative adalah Cape Town yang tidak mampu kami jangkau, dan ibu kota yudikatif adalah Bloemfontein. Dari Bloemfontein kami pamit untuk kembali ke Indonesia.

Bloemfontein ibukota yudikatif Afrika Selatan

Setelah selesai mengikuti International Conference on Pediatrics and Child Health at Radisson Blu Gautrain Hotel, Corner of West Street and Rivonia Road, Sandton, Johannesburg (Joburg), Afrika Selatan dan melihat dari jendela Mandela, maka kami akhiri laporan perjalanan ini dengan penuh damai.

Pamit (out of Africa) untuk kembali ke Indonesia

Disampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya pengelanaan ke Afrika Selatan ini dan sampai jumpa pada petualangan selanjutnya.

Salam pengelana

-wikan dan sari

Selasa malam, 13 Mei 2025

Ditulis saat sudah sangat penat di kamar 116 The Bannister Hotel di 9 De Beer St, Braamfontein, Joburg, di bagian selatan South Africa

Categories
Healthy Life Jalan-jalan

2025 Pesona Abu Dhabi

PESONA  ABU DHABI

fx. wikan indrarto dan b. sari prasetyati

Dalam rangka mengikuti ‘International Conference on Pediatrics and Child Health’ di Radisson Gautrain Hotel, Johannesburg, South Africa, kami mampir sehari untuk menikmati pesona Abu Dhabi, Uni Emirat Arab pada Sabtu, 10 Mei 2025. Apa yang menarik?

Dari Yogyakarta kami naik Kereta Api Fajar Utama dari Stasiun Tugu sampai Stasiun Jatinegara Jakarta. Lanjut naik Commuter Line Bandara dari Stasiun Manggarai sampai Bandara Soekarno Hatta, Tangerang Banten.

https://www.instagram.com/p/DJbfSRJS4Rj/?igsh=MTEwcHMwcmJsMmlnMg==

Terus kami terbang dalam perut pesawat Boeing 787-9 Dreamliner milik Ethihad Airways EY 475 menuju Abu Dhabi. Ini adalah pesawat jet penumpang jarak jauh, berukuran sedang, berbadan lebar, dan bermesin ganda. Varian ini merupakan versi yang diperpanjang dari 787-8 dan memiliki kapasitas penumpang yang lebih banyak, serta jangkauan penerbangan yang sedikit lebih luas. Boeing 787-9 mulai beroperasi pada 7 Agustus 2014 dengan pengguna pertama adalah All Nippon Airways.

Mendarat di bandara Zayed Abu Dhabi dengan hiasan lampu kristal

Emirat Abu Dhabi yang kami tempuh dalam 6 jam 15 menit sejauh 4.111 mil atau setara 6.750 km adalah sebuah monarki konstitusional dan saat ini dipimpin oleh Sheikh Muhammad bin Zayid Al Nahyan. Abu Dhabi (Bapak Rusa) adalah ibu kota dan kota terbesar kedua di negara Uni Emirat Arab (UEA), menurut jumlah penduduknya dan luas wilayah. Selain itu, Abu Dhabi merupakan yang terbesar dari tujuh emirat yang membentuk UEA. Abu Dhabi adalah kawasan terpenting UEA karena merupakan pusat Pemerintahan UEA, rumah untuk Keluarga Emir Abu Dhabi dan Presiden UEA.

Saat ini Abu Dhabi telah berkembang menjadi kota metropolis kosmopolitan. Perkembangan yang cepat dan urbanisasi, ditambah dengan pendapatan rata-rata relatif tinggi penduduknya, telah mengubah Abu Dhabi menjadi lebih besar dan maju. Kota ini direncanakan di bawah arahan Sheikh Zayed oleh arsitek Jepang Katsuhiko Takahashi pada tahun 1967, yang awalnya untuk populasi 40.000 jiwa. Saat ini Abu Dhabi adalah kota paling mahal kedua untuk karyawan asing di wilayah tersebut, dan kota termahal ke-67 di dunia. Majalah Fortune & CNN menyatakan bahwa Abu Dhabi adalah kota terkaya di dunia.

Pada awalnya Abu Dhabi berbisnis mutiara, karena Teluk Persia adalah lokasi terbaik untuk pembentukan mutiara. Pada 1930, karena perdagangan mutiara menurun, bisnis pertambangan tumbuh di daerah berpotensi minyak. Pada tanggal 5 Januari 1936, Petroleum Development Trucial Coast Ltd (PDTC), asosiasi Perusahaan Minyak Irak melakukan eksplorasi minyak. Pada tahun 1953, Perusahaan D’Arcy Exploration, anak perusahaan British Petroleum dan Compagnie Française des Pétroles, yang kemudian menjadi Total mulai menggunakan platform pengeboran laut.

Gerbang Premier Inn Abu Dhabi International Airport Hotel

Setelah proses pemeriksaan imigrasi dan pengambilan bagasi, kami segera menuju Premier Inn Abu Dhabi International Airport Hotel, yang terletak di Business Park Opposite Terminals 1 and 3, Next To Skypark Multi Storey Car Park 95219, Abu Dhabi. Segera kami terlelap dalam mimpi indah pada hari Sabtu, 10 Mei 2025 dini hari waktu setempat, yang berselesih 3 jam dengan WIB. Kami bermimpi menjelajah Abu Dhabi  yang terletak di bagian timur laut Teluk Persia di Semenanjung Arab, di sebuah pulau kurang dari 250 meter dari daratan utama, dan dihubungkan dengan 3 buah jembatan indah, yaitu Jembatan Maqta, Musafah dan Sheikh Zayed yang dibuka pada akhir tahun 2010. Sebagian besar kota Abu Dhabi terletak di pulau itu sendiri, sedangkan luas Emirat Abu Dhabi sekitar 67.340 kilometer persegi, yang setara dengan sekitar 80% dari total luas lahan Uni Emirat Arab. Namun hanya 30% dari luas emirat yang dihuni, dengan hamparan luas yang tersisa tertutup oleh padang pasir dan lahan kering, yang merupakan sekitar 93% dari total luas Abu Dhabi.

Sarapan menu Arab di Premier Inn Abu Dhabi International Airport Hotel

Setelah mandi bugar dan sarapan, kami segera menjelajah negeri yang dipimpin oleh Khalifa bin Zayed Al Nahyan. Dia adalah putra Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan, presiden pertama dari Uni Emirat Arab. Saudara tirinya, Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan, adalah Putra Mahkota Abu Dhabi, dan memiliki pengaruh yang cukup besar sebagai Ketua dari Abu Dhabi Executive Council dan Deputi Panglima Tertinggi angkatan bersenjata Uni Emirat Arab.

Kami segera melakukan negosiasi harga dengan seorang sopir taksi, berkebangsaan Pakistan, yang berasal dari Peshawar dekat Afganistan, agar mau mengantar kami berkeliling kota, seperti yang kami lakukan di Dubai pada Sabtu, 3 Juni 2023 yang lalu. Secara geografis Abu Dhabi bertetangga dengan Dubai yang terletak di bagian timur, dengan Abu Dhabi sebagai ibu kota UAE dan Dubai adalah salah satu emirat (kerajaan) di wilayah UAE, yaitu sebuah negara federasi yang terdiri dari tujuh emirat. Dubai adalah salah satu nama kota dan dan salah satu kerajaan di wilayah UAE. Abu Dhabi mempunyai luas sekitar 972 km² hampir 30 kali lebih besar daripada Dubai yang hanya 35 km². Landmark Abu Dhabi adalah Masjid Agung Sheikh Zayed, Louvre Abu Dhabi, Yas Waterworld Abu Dhabi, serta Qasr Al Watan. Sedangkan Dubai mempunyai landmark yang paling terkenal adalah Burj Khalifa yang merupakan bangunan tertinggi di dunia, yakni setinggi 828 m yang telah kami kunjungi 2 tahun sebelumnya.

Toyota Camry Abu Dhabi Taxi yang siap mengantar kami jalan-jalan di Abu Dhabi

Setelah sepakat 250 Dirham dengan 6 tujuan, kami segera meluncur dalam Toyota Camry bermesin 2487 cc yang cicilan sebulannya sebesar sekitar Rp. 20 juta, berbahan bakar gas, dan setir kiri menuju Masjid Raya Sheikh Zayed. Masjid terbesar di negara ini dirancang oleh arsitek Yusef Abdelki, bergaya arsitektur Timur Tengah, didirikan 1996 dengan spesifikasi ada 82 kubah dengan tujuh ukuran berbeda yang dilengkapi 4 buah menara.

Masjid Agung Sheikh Zayed terlihat dari pintu depan

Masjid Agung Sheikh Zayed adalah contoh terbaik seni Islam, menggabungkan arsitektur Mughal, Moor, Ottoman, dan Persia. Hasilnya adalah perpaduan menakjubkan antara tradisi dan modernitas, sebuah struktur yang menghormati masa lalu sambil menatap masa depan. Permata arsitektur ini merupakan bukti kreativitas, keterampilan, dan visi orang-orang di baliknya. Terletak di jantung kota Abu Dhabi, Masjid Agung Sheikh Zayed jadi salah satu spot yang paling banyak dikunjungi di kota itu. Masjid ini adalah sebuah karya seni dengan arsitekturnya yang spektakuler, desainnya yang rumit, dan kemegahannya yang anggun. Masjid Agung Sheikh Zayed merupakan salah satu masjid terbesar ketiga di dunia setelah Masjid Al-Haram di Mekkah dan Masjid Al-Nabawi di Madinah, keduanya di Saudi Arabia. Masjid ini dibangun di areal 12 hektare dengan luas area masjid sebesar 22.412 meter persegi, setara hampir empat lapangan sepak bola. Daya tampung masjid ini dapat mencapai 40.000 jamaah.

Masjid Agung Sheikh Zayed nampak dari sisi belakang, tetap nampak anggun dan mempesona

Kami segera berfoto berdua, dengan latar belakang Masjid Agung Sheikh Zayed yang didominasi oleh warna putih bersih, karena putih melambangkan kemurnian dan dilapisi marmer dari Makedonia. Juga dilengkapi 7 buah lampu gantung kristal di ruang salat dan pintu masuk serambi. Lampu gantung seberat 12 ton tersebut adalah salah satu lampu terbesar di dunia. Juga dilengkapi karpet besar yang terletak di ruang shalat utama masjid seluas 5.700 meter persegi. Karpet Persia tersebut merupakan rekor dunia, yaitu karpet rajutan tangan terbesar dibuat membutuhkan waktu sekitar dua tahun oleh sekitar 1.200 pengrajin, terbuat dari 70% wol dan 30% katun dari seluruh dunia. Para desainer mengambil bahan bangunan dari negara-negara seperti Selandia Baru, Maroko, Mesir, Turki, Yunani, Pakistan, Italia, Jerman, Austria, Cina, dan India.

Sayang sekali, kami datang pada pagi hari yang cerah, sehingga tidak mampu melihat fasad masjid yang bersinar lembut di malam hari, selaras dengan siklus bulan. Speirs and Major Associates merancang skema pencahayaan 360 derajat yang mengubah warna masjid dari putih sejuk saat bulan purnama menjadi biru secara bertahap saat bulan memudar, berubah setiap dua malam. Pada malam keempat belas siklus tersebut, lampu menyala dengan warna biru paling dalam, yang menandakan tidak ada bulan di langit. Sistem ini bukan hanya sebuah prestasi teknologi, tetapi juga sebuah karya seni yang menimbulkan rasa kagum pada semua orang yang melihatnya.

Gerbang Geraja Katedral Santo Yosef Abu Dhabi

Interior dalam Geraja Katedral Santo Yosef Abu Dhabi

Setelah puas berfoto dalam silua sinar matahari pagi yang cerah, kami segera masuk kembali ke Abu Dhabi Taxi Toyota All New Camry untuk menuju Katedral Santo Yosef, yaitu sebuah gereja katedral Katolik di Abu Dhabi. Katedral ini menjadi pusat kedudukan dan takhta dari Vikaris Apostolik atau Uskup Arab Selatan. Katedral Abu Dhabi merupakan salah satu dari enam gereja Katolik yang ada di Keemiran Abu Dhabi, selain Gereja Santo Paulus di Musaffah, Gereja Santa Maria di Al Ain, Gereja Santo Fransiskus di Abu Dhabi, Gereja Santa Theresa di Abu Dhabi dan Gereja Santo Yohanes Pembaptis di Ruwais. Gereja tersebut dibangun pada 1962 di atas sebidang lahan yang disumbangkan oleh Sheikh Shakhbut, seorang kerabat dekat penguasa Abu Dhabi.

Bangku paling belakang untuk tim medis dalam Geraja Katedral Santo Yosef Abu Dhabi

Fasad depan Geraja Katedral Santo Yosef Abu Dhabi

Misa kudus diadakan dalam berbagai bahasa, utamanya bahasa Inggris selain juga bahasa Arab, Tagalog, Malayalam, Sinhala, Urdu, Konkani, Tamil, dan Prancis. Saat ini dipimpin oleh Uskup Mgr. Paolo Martinelli, OFM Cap dan pastor kepala paroki adalah Johnson Kadukanmakal. Kami segera masuk Porta Sancta atau Pintu Suci, yaitu pintu khusus di gereja besar tertentu yang hanya dibuka pada momen istimewa, misalnya pada Tahun Yubileum 2025 sesuai penetapan oleh mendiang Paus Fransiskus. Sebagai peziarah pengharapan (pilgrimage of hope) pada tahun Yubileum 2025 ini, kami sangat bersuka cita dapat memenuhi harapan kami untuk berkunjung ke berbagai gereja katedral.

Poster peziarah pengharapan (pilgrimage of hope) pada tahun Yubileum 2025 di Katderal Santo Yosef Abu Dhabi

Lambang peziarah pengharapan (pilgrimage of hope) pada tahun Yubileum 2025 di pintu depan katedral Santo Yosef Abu Dhabi

Setelah melewati Porta Sancta Katedral Santo Yoseph Abu Dhabi, kami segera berlutut, berdoa dan mengucap syukur. Kami bersyukur atas semua berkat dan rahamat Tuhan Maha Baik di bangku katedral deretan paling belakang, yang sebenarnya dikhususkan untuk tim medis saat ada misa kudus. Dalam doa khusuk, kami memohon kebijaksanaan, keselamatan, kecerdasan, kesehatan dan kebahagian bagi kami semua.

Misa kudus di Gereja Santa Theresia dari Lisieux di Abu Dhabi, dengan ruangan khusus untuk ibu dan bayi di bagian belakang berbatas kaca

Selanjutnya kami memasuki Gereja St. Theresia dari Lisieux, juga dikenal sebagai “Bunga Kecil”, seorang santa Katolik Prancis dan Doktor Gereja yang dihormati karena kerendahan hati dan pengabdiannya kepada Tuhan. Gereja yang dibangun bersebelahan dengan Gereja Katedral Santo Yosef ini merupakan bagian dari Vikariat Arab Selatan, dan merupakan gereja di dalam Paroki Gereja Santo Yosef, dan diberkati dalam sebuah Misa Kudus pada tanggal 14 Desember 2013.

Selesai berdoa pribadi di tengah-tengah misa kudus di Gereja Santa Theresia,  kami segera menuju Masjid Maria ibu Yesus (Masjid Maryam Umm ‘Īsā), yang dibagun di seberang Katedral Santo Yoseph dan terletak di wilayah Al Mushrif. Masjid tersebut dibangun pada 1989 dengan nama Masjid Mohammed Bin Zayed, dan mengambil nama dari Mohammed bin Zayed Al Nahyan, Pangeran Mahkota Abu Dhabi. Pada 14 Juni 2017, Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan memutuskan untuk mengganti nama masjid tersebut menjadi “Masjid Mariam Umm Eisa” (Masjid Maria ibu Yesus).

Di bawah papan nama Mary Mother of Jesus Mosque Abu Dhabi

Wajah Bunda Maria (Mary Mother of Jesus) versi Arab di Abu Dhabi

Desain arsitektur masjid yang cukup megah, meski tak semegah dan sebesar Masjid Sheikh Zayed, tetapi desain bangunan Mary Mother of Jesus Mosque juga terbilang indah dan unik. Bangunan masjid ini berbentuk persegi dengan empat menara yang menjulang tinggi di setiap sudutnya. Selain itu, masjid ini juga memiliki kubah utama berukuran besar dan sejumlah kubah kecil di sekelilingnya. Bagian luar bangunan masjid berwana krem keemasan. Warna bangunan yang kalem ini memberi kesan teduh bagi jemaah yang datang dan berkunjung ke masjid tersebut. Terdapat pula plang atau papan nama di bagian depan dan bagian atas pintu masuk masjid bertuliskan “Mary Mother of Jesus”.

Masjid Mara Bunda Yesus (Mary Mother of Jesus) yang indah dan mempesona

Ukiran motif geometris dinding pada bagian luar masjid ini dilengkai elemen dekoratif geometris. Motif geometris ini berfungsi untuk menunjukan perhatian, pengenalan, dan mengesankan perasaan. Jendela masjid dibuat dengan ukiran bermotif arabesk dan tanpa menggunakan kaca. Artinya masjid ini memaksimalkan sirkulasi udara alami dari luar bangunan. Motif arabesk sendiri adalah gambar atau ukiran berupa sulur, daun, cabang, atau pohon. Seniman Muslim mengembangkan seni arabesk dari budaya era Byzantium. Dalam penerapannya, bentuk arabesk bisa dikombinasikan dengan kaligrafi dan ornamen geometris.  Kaligrafi Dalam Masjid Sementara itu, dinding pada bagian dalam masjid ini berwana putih dengan kalifgrafi ayat suci Al Quran. Di bawah tulisan kaligrafi tersebut juga terdapat lemari kayu berukuran besar yang digunakan sebagai tempat untuk menyimpan Al-Quran.

Jalur pejalan kaki menyusuri Teluk Persia di Abu Dhabi, sangat bersih, indah dan mempesona

Selanjutnya kami meluncur lagi di jalanan Abu Dhabi yang mulus, lebar, bersusun dan sepi kendaraan karena hari libur, menuju Etihad Towers. Ini  adalah kompleks gedung dengan lima menara di Abu Dhabi, yang diresmikan pada November 2012. Kelima tower meliputi T1: hotel / perumahan, T2: perumahan, T3: kantor, T4: perumahan dan T5: perumahan. Pembangunan konstruksi dimulai 27 Oktober 2006 dan selesai 27 Oktober 2011 dengan ketinggian masing-masing tower adalah T1: 277,6 m, T2: 305,3 m, T3: 260,3 m, T4: 234,0 m, dan T5: 217,5 m. Jumlah lantai T1: 69, T2: 80, T3: 60, T4: 66 dan T5: 61.

Etihad Tower yang tinggi menjulang di langit Abu Dhabi

Menara ini buah tangan arsitek Tim Desain DBI dari Australia dengan cakupan, besarnya, dan keunikannya sungguh menakjubkan. Menara-menara yang mengubah cakrawala Abu Dhabi ini menawarkan sudut pandang yang paling menakjubkan, dengan pemandangan panorama yang luas ke seluruh kota yang semarak dan Laut Arab dan Teluk Persia. Menara ini terletak di seberang hotel Emirates Palace dibangun dengan perkiraan biaya konstruksi sebesar 2,5 miliar Dirham. HH Sheikh Suroor bin Mohammed bin Khalifa Al Nahyan adalah tokoh terkemuka di UEA adalah pemilik Etihad Towers yang ikonik dan Abu Dhabi Mall yang ramai.

Menara ini digunakan sebagai lokasi syuting film Furious 7 tahun 2015. Furious 7 adalah sebuah film aksi, laga dan balap mobil produksi Amerika Serikat dan merupakan film ketujuh dari serial Fast & Furious. Film ini mengupas ‘pensiunnya’ Brian O’Conner dari dunia balap, karena pemeran Brian, Paul Walker, telah meninggal dunia. Dalam film tersebut, Dominic Toretto (Vin Diesel) dan Brian O’Conner (Paul Walker) mencuri Lykan HyperSport dan mengendarainya melewati tiga menara.

Air mancur menjadi latar depan Menara Etihad yang tinggi menjulang di langit Abu Dhabi

Seterusnya kami menikmati pesona pemandangan tepi pantai di Teluk Persia saat mengunjungi Rixos Marina Abu Dhabi, untuk menemui mas Arya Boske yang bekerja di situ, menyampaikan bingkisan dari ayahnya. Mas Arya adalah anak sulung dr. Paulus Kemil, yang bersama kami praktek di Apotek K24 Demangan Baru Yogyakarta. Rixos Marina adalah bangunan arsitektur ikonik yang menyatukan budaya, kuliner, dan keramahtamahan Arab dan Turki yang terbaik.

Rixos Marina yang tinggi menjulang terlihat di kajauhan, pada jalur pejalan kaki mengyusuri Teluk Persia di Abu Dhabi

Terletak di jantung pusat perbelanjaan, hiburan, dan perumahan Abu Dhabi, Rixos Marina Abu Dhabi adalah resor multifaset yang memiliki perairan yang berkilauan dan garis pantai berpasir. Rixos Marina Abu Dhabi mencerminkan keserbagunaan Abu Dhabi sebagai kota kosmopolitan yang berlimpah dengan pengalaman, warisan alam dan akuatik yang kaya. Rixos Marina Abu Dhabi dengan mulus memadukan desain akuatik dan arabesque yang canggih, untuk menceritakan kisah Abu Dhabi dari asal-usul pelayaran kuno, hingga kini menjadi kota kosmopolitan yang sangat berkembang dengan kemewahan tertingginya. Sebagai destinasi, Rixos Marina Abu Dhabi berani tampil beda, meningkatkan pengalaman tamu melalui desain, fasilitas, suasana, hiburan, dan waktu luang yang luar biasa.

Di halaman depan pada dasar Rixos Marina yang tinggi menjulang

Bertemu Bli Ferdy dari Bali, teman sekamar apartemen mas Arya Boske di Rixos Marina, untuk menitipkan oleh2 dari dr. Paulus Kemil

Qasr Al Watan (Istana Negara) karya arsitek Xavier Cartron

Selanjutnya kami berniat mengunjungi Qasr Al Watan, yang secara harfiah berarti ‘Istana Negara’ karya arsitek Xavier Cartron dan ICON Spaces, merupakan kompleks pemerintahan yang mengesankan wibawa, menjadi kantor resmi Presiden, Wakil Presiden, dan Putra Mahkota Abu Dhabi. Qasr Al Watan dibangun selama kurun waktu tujuh tahun, antara tahun 2010 dan 2017. Istana putih berkilauan dengan kubah adalah Qasr Al Watan. Istana berwarna pasir di sebelah kirinya adalah Istana Emirates sebagai satu-satunya “hotel bintang tujuh” di dunia.

Gerbang penjualan tiket masuk Qasr Al Watan (Istana Negara)

Pengunjung yang masuk kompleks luas tersebut wajib memiliki tiket masuk seharga 75 dirham (AED), yang sudah termasuk bus nyaman yang akan membawa pengunjung ke pintu masuk depan Qasr Al Watan, dan kembali ke pusat pengunjung/kantor tiket. Hal ini disebabkan karena perlu waktu setidaknya 1-2 jam di kompleks ini, yang dibangun di atas lahan seluas 150 Ha dengan luas bangunan melebihi 380.000 m². Pada bulan Agustus 2019, istana ini dinobatkan oleh situs web perjalanan dan pariwisata Hotel and Rest di antara 20 landmark seni dan budaya teratas di Dunia. Pada tahun 2020, Istana Kepresidenan Qasr Al Watan dinominasikan untuk World Travel Awards sebagai objek wisata budaya utama di Timur Tengah.

Gerbang Qasr Al Watan yang dijaga serdadu bersenjata dan anjing tanpa ikatan

Kami hanya sempat berfoto sejenak di depan gerbang dengan fasad yang terbuat dari granit putih dan batu kapur, istana yang sebagian besar berwarna putih dirancang dengan rumit dan dihias dengan sangat indah. Kami segera pergi karena takut banget saat diawasi oleh serdadu Abu Dhabi, dengan senjata laras panjang dan anjing jenis herder di pos penjaga yang tidak dirantai.

Panorama Qasr Al Watan karya arsitek Xavier Cartron yang mempesona

Emirates Palace Mandarin Oriental, Abu Dhabi yang gagah

Selanjutnya kami menuju Emirates Palace Mandarin Oriental, Abu Dhabi, yaitu sebuah hotel mewah bintang lima yang awalnya dioperasikan oleh Kempinski sejak dibuka pada November 2005. Karena adanya perubahan manajemen, Istana ini direnovasi selama dua tahun. Saat ini dioperasikan oleh Mandarin Oriental sejak 1 Januari 2020. Bangunan indah ini dirancang oleh WATG Architects. Desain hotel ini merupakan campuran dari elemen arsitektur Islam seperti keseimbangan, geometri, proporsi, ritme, dan penekanan hierarkis di samping metode desain dan konstruksi modern. Kubah pusatnya menampilkan pola geometris yang rumit dan 114 kubah yang lebih kecil, tersebar di seluruh bangunan. Warna bangunan ini terinspirasi oleh berbagai corak pasir yang ditemukan di Gurun Arab. Biaya konstruksi sekitar US$3 miliar, menjadikannya hotel termahal ketiga yang pernah dibangun, dilampaui oleh Cosmopolitan of Las Vegas di USA ($3,9 miliar) dan Marina Bay Sands di Singapura ($5,5 miliar).

Setelah puas, kami segera kembali ke bandara dan mampir sejenak menikmati keindahan Sheikh Zayed Bridge, sebuah jembatan karya arsitek Zaha Hadid. Antara tahun 1997 dan 2010, arsitek Zahā Ḥadīd merancang jembatan yang jauh lebih ambisius, Jembatan Sheikh Zayed, untuk menghormati Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan, antara pulau Abu Dhabi dan daratan utama Abu Dhabi, serta ke Bandara Internasional Abu Dhabi. Baik desain jembatan maupun pencahayaannya, yang terdiri dari warna-warna yang berubah secara bertahap, dirancang untuk memberikan kesan gerakan. Siluet jembatan adalah gelombang air laut, dengan lengkungan utama sepanjang 235 meter, berdiri 60 meter di atas air laut. Rentang total empat lajur adalah 842 meter panjangnya, dan juga termasuk jalur pejalan kaki. Jembatan ini diresmikan pada tanggal 25 November 2010, oleh mendiang Presiden UEA Sheikh Khalifa. Upacara tersebut juga dihadiri oleh Ratu Elizabeth II dari Inggris, menandai kunjungan kenegaraan keduanya ke UEA. Lalu lintas di jembatan dimulai tiga hari setelah upacara pembukaan.

Jembatan Sheikh Zayed antara pulau dan daratan Abu Dhabi buah karya arsitek Dame Zaha Mohammad Hadid

Dame Zaha Mohammad Hadid, DBE (Zahā Ḥadīd; 31 Oktober 1950 – 31 Maret 2016) adalah seorang arsitek Inggris kelahiran Irak. Ia adalah wanita pertama yang meraih Penghargaan Arsitektur Pritzker tahun 2004. Ia meraih Penghargaan Stirling pada 2010 dan 2011. Pada 2012, ia diberi bintang Dame Commander of the Order of the British Empire dan pada 2015 ia menjadi wanita pertama yang diberi penghargaan RIBA Gold Medal. Pada 31 Maret 2016, Hadid meninggal karena serangan jantung di rumah sakit Miami, USA dimana ia dirawat akibat penyakit bronkitis.

Major projects (2006–2010) Zahā Ḥadīd meliputi Bridge Pavilion di Zaragoza (2008), Sheikh Zayed Bridge di Abu Dhabi UEA (2010), MAXXI museum di Rome Italia (2010), Guangzhou Opera House in Guangzhou China (2010), Riverside Museum in Glasgow Skotlandia (2011), CMA CGM Tower in Marseille Perancis (2011). Juga London Aquatics Centre di London (Inggris 2012), dan Broad Art Museum di East Lansing, Michigan, US (2012), Galaxy SOHO di Beijing (2012), CMA CGM Tower, di Marseille, France (2006–2011), Heydar Aliyev Center di Baku Azerbaijan (2013), Dongdaemun Design Plaza di Seoul Korea (2013), University of Economics and Business Library and Learning Center di Vienna Austria (2013), Serpentine Sackler North Gallery di London Inggris (2013), Jockey Club Innovation Tower di Hong Kong China (2007–2014), The Wangjing SOHO di Beijing China (2014), dan Sky SOHO di Shanghai China (2014). Ada lagi International Youth Cultural Centre di Nanjing China (2015), Port Authority Building di Antwerp Belgia (2016).

Di gerbang Bandar Udara Internasional Zayed di Abu Dhabi.

Kami segera mencapai Bandar Udara Internasional Zayed di Abu Dhabi. Bandar udara yang terletak 30,6 km timur kota Abu Dhabi ini, adalah bandar udara terbesar kedua di UEA setelah Bandar Udara Internasional Dubai, melayani sekitar 20 juta penumpang pada tahun 2014. Bandara ini memiliki tiga terminal penumpang operasional: Terminal 1 ( terbagi menjadi Terminal 1A dan 1B), Terminal 2, Terminal 3. Bandar Udara Internasional Abu Dhabi ini memiliki luas area sebesar 3.400 hektare. Ruang terminalnya didominasi oleh Etihad Airways, maskapai penerbangan terbesar kedua di UEA setelah Emirates. Terdapat lebih dari 30 maskapai penerbangan yang dilayani di bandar udara ini dan menawarkan layanan ke lebih dari 120 tujuan di lebih dari 60 negara di seluruh dunia.

The Shell, sebuah pahatan berbahan kaca yang terinspirasi oleh warisan maritim Abu Dhabi.

Bandara Internasional Zayed di Abu Dhabi dinobatkan sebagai bandara terindah di dunia. Melansir The National, Senin (16 Desember 2024) bandara tersebut meraih penghargaan tertinggi dalam ajang Prix Versailles yang diadakan di kantor pusat UNESCO di Paris Perancis.

Atap melengkung indah, tinggi, kokoh dan mempesona Bandara Internasional Zayed di Abu Dhabi buah karya arsitek Kohn Pedersen Fox

Bandara Internasional Zayed di Abu Dhabi dirancang oleh arsitek Kohn Pedersen Fox, atap di bandara tidak hanya menjadi elemen desain yang menonjol, tetapi juga memiliki fungsi untuk mengurangi konsumsi energi dengan menaungi bangunan. Juga dihiasi oleh struktur instalasi seperti The Shell, sebuah pahatan berbahan kaca, kuningan, dan baja yang terinspirasi oleh warisan maritim Abu Dhabi. Bandara Internasional Zayed juga dilengkapi dengan teknologi canggih. Tata letak berbentuk X meminimalkan jarak antara titik kedatangan dan keberangkatan. Sungguh Abu Dhabi sangat mempesona.

Sebelum kami lapor diri, mas Arya Boske (putera sulung dr. Paulus Kemil) menyusul kami di Bandara Internasional Zayed. Banyak inspirasi perjuangan hidupnya yang kami dengar, saat cerita penuh semangat kehidupan sehari-harinya sebagai pekerja di Abu Dhabi.

Mas Arya Boske sepulang kerja di Rixos Marina lanjut mengejar kami sampai di Bandara Zayed Abu Dhabi

Sabtu, 10 Mei 2025

Salam pengelana

-wikan & sari

(bersambung)

Ditulis sambil menunggu penerbangan ke Johannesburg Afrika Selatan, di salah satu sudut Bandara Internasional Zayed di Abu Dhabi


Categories
anak dokter Healthy Life Jalan-jalan medicolegal

2025 Dari Mataram ke Mataram.

DARI MATARAM KE MATARAM

Ada dua kerajaan yang pernah berdiri dalam periode yang berbeda dan keduanya disebut Mataram. Kerajaan Mataram Hindu atau Kerajaan Mataram Kuno terletak di sekitar Magelang, Jawa Tengah, dekat tempat kami dilahirkan. Kerajaan ini didirikan pada abad ke-8 oleh Raja Sanjaya yang bergelar Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Dinasti yang memerintah Kerajaan Mataram Kuno adalah Dinasti Sanjaya, Dinasti Syailendra dan Dinasti Isyana hingga awal abad ke-11. Kata “Mataram” diambil dari Bahasa Sansekerta “Matr” yang memiliki arti sebagai “ibu” yang melambangkan kehidupan, alam dan lingkungan.

Pemitan dengan Joviel (2,5 tahun) yang tidak mau diam dan merengek ingin ikut ke Mataram

Kerajaan dengan nama sama yang selanjutnya adalah Kesultanan Mataram Islam, yang didirikan oleh Panembahan Senapati pada tahun 1586, dengan ibukota di Kotagede, dekat Yogyakarta. Sepanjang abad ke-16 Kesultanan Mataram mencapai puncak kejayaannya di bawah pemerintahan Susuhunan Anyakrakusuma atau Sultan Agung (Sultan Agung Adi Prabu Anyakrakusuma). Mataram adalah salah satu kerajaan terkuat di Jawa, kesultanan yang menyatukan sebagian besar pulau Jawa, yakni Jawa Tengah, DI Yogyakarta, sebagian besar Jawa Barat dan Jawa Timur, kecuali Banten. Selain itu juga menguasai daerah Madura, dan Sukadana (Kalimantan Barat), Makasar, serta sebagian Pulau Sumatera (Palembang dan Jambi).
Perjanjian Giyanti yang ditandatangani oleh Pangeran Mangkubumi dengan VOC Belanda membuahkan kesepakatan bahwa Kesultanan Mataram dibagi dalam dua kekuasaan, yaitu Nagari Kasunanan di Surakarta dan Nagari Kasultanan Ngayogyakarta di Yogyakarta. Perjanjian yang ditandatangani dan diratifikasi pada tanggal 13 Februari 1755 di Giyanti ini, secara hukum menandai berakhirnya Kerajaan Mataram Islam.

Sebagian anggota rombongan IDI Wilayah DIY yang akan terbang tinggi menuju Mataram di Bandara YIA Yogyakarta Internasional Airport


Kami adalah rombongan dokter dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), untuk mengikuti Muktamar XXXII IDI Tahun 2025, yang merupakan acara rutin oleh organisasi profesi dokter terbesar di Indonesia. Muktamar IDI ke 32 dilaksanakan pada 12-15 Februari 2025, bertempat di Hotel Lombok Raya, Jl. Panca Usaha No 11, Mataram, Nusa Tenggara Barat. Perjalanan kami antar Mataram dari situs Mataram Islam Yogyakarta ke Kota Mataram di NTB, tentu sangat diimpikan.

Peserta lengkap IDI Wilayah DIY yang hadir pada Muktamar IDI ke 32 di Mataram.


Peserta Muktamar IDI ke 32 dari IDI wilayah DIY adalah dr. Joko Murdiyanto, Sp. An., MPH., FISQua, dr. Heni Suryadi, dr. Dewi Irawty, MKes, dr. Rina Nuryati, MPH, dr. Dela Oktaviana, dr. Diah prasetyorini, M.Sc, Dr. dr. Ita Fauzia Hanoum, MCE, dr. Budi Nur Rokhmah, MH, dr. Abdul Latief, MKes, dr. Tri widjaja, Dr. dr. HM. Any Ashari, SpOG(K), dr. Melly, dr. Wisnu Wardana, dr. Dharmawan Lingga Artama, dr. Fajar Meitaharti, dr. Riska Novriana, dr. Desi Arijadi, dr. Eva Rusiene, dr. Lucia Srie Rejeki, MPH, dr. Wahyu Pamungkasih, dr. Tri Kusumo Bawono, SE, Dr. dr. Fx. Wikan Indrarto, SpA, dr. Atthobari, MPH, SpMK, dr. Sitti Aisyah Sahidu, SU, MKes, FISQua dan dr. Lipur Riyantiningtyas Budi, SH, SpFM.
Muktamar IDI di laksanakan 3 tahun sekali, dihadiri oleh para dokter dari berbagai daerah di Indonesia, dan bertujuan untuk membahas berbagai isu dan perkembangan terkini dalam bidang kesehatan, untuk menetapkan arah dan kebijakan organisasi ke depan. Selain itu, Muktamar juga menjadi ajang untuk memperkuat solidaritas antar dokter, serta untuk menjalin kerja sama dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Indonesia. Dengan tema “Membangun Soliditas Dalam Beradaptasi Untuk Mewujudkan IDI Yang Berkemajuan”, diharapkan IDI dapat menciptakan kekompakan, tanggung jawab, dan keteguhan dalam beradaptasi saat menjalankan tugas profesi. Hal ini penting agar marwah organisasi yang baik dapat terus terjaga.

Perjalanan kami pada Selasa, 11 Februari 2025 sore diawali dengan terbang bersama Super Air Jet (SAJ), yaitu salah satu maskapai penerbangan domestik di Indonesia milik PT Kabin Kita Top yang berdiri pada Maret 2021, ketika Indonesia dan dunia sedang menghadapi pandemi Covid-19. Maskapai ini didirikan atas dasar optimisme bahwa peluang pasar, khususnya kebutuhan penerbangan domestik, masih ada dan terbuka luas. Maskapai ini memperoleh Sertifikat Operator Penerbangan dari Kementerian Perhubungan RI pada 30 Juni 2021 dan pada tahun yang sama meluncurkan 11 tujuan di Indonesia.

Super Air Jet dibiayai oleh pendiri Lion Air Group, Rusdi Kirana. Selain itu, maskapai ini dipimpin oleh Ari Azhari yang pernah menjabat sebagai General Manager of Services Lion Air Group. Maskapai ini mengadopsi model low cost carrier yang fokus pada perjalanan titik ke titik untuk mengangkut penumpang antar pulau di Indonesia, dengan berfokus pada milenial sebagai target pasar. Super Air Jet meluncurkan penerbangan dengan tiga Airbus A320-200 bekas, yang sebelumnya terbang untuk IndiGo Airlines dan Tigerair Australia. Tahapan awal maskapai Super Air Jet armada menggunakan armada generasi terbaru yaitu Airbus A320-200 yang berkapasitas 180 kursi kelas ekonomi. Kami duduk di kursi nomer 19F dekat jendela, sehingga mampu leluasa menikmati pemandangan awan, mendung dan daratan.

Airbus A320 adalah pesawat penumpang komersial jarak dekat sampai menengah yang diproduksi oleh Airbus. A320 merupakan pesawat penumpang pertama dengan sebuah sistem kendali fly-by-wire digital, di mana pilot mengendalikan penerbangan melalui penggunaan sinyal elektronik dan bukan secara mekanik dengan hendel dan sistem hidraulis. Kelompok pesawat A320 adalah satu-satunya kelompok pesawat berbadan sempit (narrow-body) yang diproduksi Airbus. Saking sempitnya badan pesawat, hanya ada 1 pintu keluar masuk untuk penumpang di sisi kiri depan.

Bandara Praya Zainudin Abdul Madjid Lombok

Bersama senior terhormat, Prof. Dr. Yati Soenarto, SpAK, PhD dari FKKMK UGM Yogyakarta, yang akan menerima anugerah IDI di Bandara Praya Zainudin Abdul Madjid Lombok

Kami mendarat dengan selamat di Bandar Udara Internasional Lombok (IATA: LOP), yang juga dikenal sebagai Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid, yang berlokasi di Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Bandara ini dioperasikan oleh PT Angkasa Pura I dan dibuka pertama kali pada tanggal 1 Oktober 2011 untuk menggantikan fungsi Bandara Selaparang, di dalam Kota Mataram. Bandara ini diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono dan arsitektur bandara ini memiliki ciri khas rumah adat Sasak. Bandara ini dibangun di atas lahan seluas 550 hektare yang menelan biaya Rp.625 miliar (US$73.100.000).

Setelah menjalani proses registrasi peserta Muktamar IDI ke 32 di areal Bandara Praya Zainudin Abdul Madjid Lombok, pada Selasa, 11 Februari 2025 pk. 22.30 waktu setempat, kami yang kelaparan segera menuju RM. Taliwang Alam Nyaman Jl. By Pass Bundaran BL Tanakawu. RM di dekat pintu gerbang Bandara Praya tersebut menyajikan menu Ayam Taliwang, yang makanan khas yang berasal dari Taliwang, Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Makanan ini berbahan dasar daging ayam. Daging ayam yang disajikan berasal dari ayam kampung muda yang dibakar kemudian dibumbui dengan semacam saus yang bahannya antara lain cabai merah kering, bawang merah, bawang putih, tomat, terasi goreng, kencur, gula merah, dan garam.

Setelah kenyang dan hampir mengantuk, kami segera naik HiAce Commuter menuju Kota Mataram, sekitar 43 km dari Bandara Praya Zainudin Abdul Madjid Lombok. Mataram merupakan kota terbesar sekaligus ibu kota dari Provinsi Nusa Tenggara Barat. Mataram merupakan Kota Inti kawasan Metropolitan Mataram Raya, sebuah kawasan metropolitan terbesar kedua di Kepulauan Nusa Tenggara setelah Sarbagita (Denpasar-Badung-Gianyar-Tabanan sebuah kawasan metropolitan di Provinsi Bali). Jumlah penduduk kota Mataram pertengahan tahun 2024 sebanyak 459.683 jiwa, dengan kepadatan penduduk sebanyak 7.500 jiwa/km2.

Kami segera check in di Hotel Lombok Raya Jl. Panca Usaha no 11 Mataram dan lanjut tidur nyenyak.

sekian laporan pandangan mata dan akan dilanjutkan lain waktu.

Ditulis dan diedarkan dari kamar C145 Hotel Lombok Raya di Mataram NTB, sambil masih mengantuk.

Rabu pagi, 12 Februari 2025

(bersambung)

KOTA MATARAM
(hari kedua)

(sambungan)

Perjalanan kami bersama sejawat dokter dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ke Mataram, NTB dilakukan untuk mengikuti Muktamar XXXII IDI Tahun 2025. Muktamar IDI ke 32 dilaksanakan pada 12-15 Februari 2025, bertempat di Hotel Lombok Raya, Jl. Panca Usaha No 11, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Hari Rabu, 12 Februari 2025 saya terjaga di samping dr. Abdul Latief di kamar C145 Hotel Lombok Raya, untuk bergegas menuju Gereja Katolik St Maria Imaculata Jl Pejanggik Mataram. Saya berjalan kaki menyusuri Jl. Caturwarga melewati Hotel Aston dengan sedikit lari, karena pagi itu gerimis tidak mau berhenti dan misa kudus harian dilaksanakan pk. 6-6.30. setelah melewati beberapa blok, saya berbelok ke kanan masuk Gang IV untuk mencapai Jl. Pejanggik.

Selesai mengikuti misa kudus harian pagi di Gereja Katolik St Maria Imaculata Mataram NTB

Segera saya teringat Babad Lombok, yang menjelaskan tentang petualangan untuk menaklukkan wilayah Nusa Tenggara. Ekspedisi ini dipimpin Sunan Prapen yang berangkat bersama para mubalig Islam dan armadanya, dengan didukung puluhan kapal dan 10 ribu pasukan yang berasal dari daerah seperti Mataram Yogyakarta, Majalengka, Madura, Sumenep, Surabaya, Semarang, Gresik, Besuki Gembong, Candi, Betawi dan lainnya. Mereka dipimpin oleh pemukanya seperti Arya Majalengka, Ratu Madura dari Sumenep, Adipati Surabaya, Adipati Semarang, Patih Ki Jaya Lengkara, dan Raden Kusuma Betawi. Setelah mengislamkan raja Lombok Prabu Rangkesari, dengan berbasis di kotaraja Lombok di teluk Lombok, ekspedisi dipecah-pecah menjadi rombongan yang dikirim ke seluruh penjuru pulau Lombok.

Raja Mataram Prabu Rangkesari pada 1842 menaklukkan Kerajaan Pagesangan. Setahun kemudian yakni 1843 menaklukkan Kerajaan Kahuripan dan ibukota kerajaan dipidahkan ke Cakranegara, di daerah yang saya jelajahi pagi itu. Raja Mataram Lombok Prabu Rangkesari selain terkenal kaya raya juga adalah raja yang ahli tata ruang kota, bahkan melaksanakan sensus penduduk pertama kali.

Setelah selesai mengikuti misa harian pagi saya segera bergegas pulang ke Hotel Lombok Raya berjalan kaki melewati jalur lain dan kembali mengingat memori. Menyusuri Jl. Pejanggik sampai Air Mancur Mataram di persimpangan Jl. Bung Hatta, mengingatkan tentang Kerajaan Mataram yang dijatuhkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Pada 5 Juli 1894 ekspedisi Belanda yang dipimpin oleh Jenderal JA Vetter dan wakilnya Mayor Jenderal PPH Van Ham mendarat di Pelabuhan Ampenan. Pendaratan ini memicu pertempuran sengit dengan pasukan Kerajaan Mataram dan bahkan Mayor Jenderal PPH Van Ham terbunuh.

Monumen makam Mayor Jenderal PPH Van Ham, wakil komandan pasukan Belanda yang terbunuh tahun 1894, di seberang Hotel Lombok Raya

Jenazahnya sempat dimakamkan di Karang Jengkong, selanjutnya didirikan monumen gugurnya Van Ham, sampai sekarang masih sering dikunjungi oleh keluarga besarnya dari Belanda, dan terletak di seberang Hotel Lombok Raya tempat saya menginap, yang pagi itu saya lewati sepulang dari Gereja Katolik St Imaculata. Cukup merinding juga bulu kuduk saat melewati areal tersebut, karena menjadi teringat bahwa sejak itu Belanda mulai menerapkan sistem pemerintahan dwitunggal, yang berada di bawah Afdeling Bali Lombok, yang berpusat di Singaraja, Bali.

Setelah kemerdekaan Indonesia, Kota Mataram menjadi ibukota Propinsi NTB yang terbagi atas 6 kecamatan, yaitu Kecamatan Ampenan, Cakranegara, Mataram, Sandubaya, Selaparang dan Sekarbela.

Setelah sampai di Hotel Lombok Raya, saya segera menuju restoran untuk sarapan dan bertemu banyak dokter peserta Muktamar IDI ke 32, salah satunya adalah Dr. dr. M. Abid Khomaidi, SpOT yang akan mengakhiri jabatannya sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) periode 2022-2025. Dalam obrolan asyik semeja di dekat konter minuman panas, diselingi banyak anggukan kepala, lambaian tangan, berdiri berpelukan dan say hallo dengan banyak sejawat dokter lainnya, dr. Adib menjelaskan tentang posisi IDI sebagai organisasi profesi dokter ke depan. Setelah berlakunya UU nomor 17 tahun 2023 omnibuslaw tentang Kesehatan, peran IDI dalam aspek mutu dan legal sudah diambil alih oleh Kementerian Kesehatan RI, sehingga tinggal peran etik profesi medis yang harus tetap dipertahankan. Peran para pengurus IDI di semua tingkatan sangat menentukan, apakah IDI sebagai organisasi profesi dokter akan tetap dihargai oleh para dokter anggota, apalagi sekarang tidak lagi memiliki sumber pendapatan organisasi, baik berupa iuran wajib anggota ataupun dana pengurusan SKP (Satuan Kredit Profesi) IDI, termasuk biaya administrasi terbitnya rekomendasi ijin praktek dokter. Namun demikian, dr. Adib tetap optimis bahwa di hampir semua daerah di Indonesia, IDI tetap menjadi organisasi profesi dokter yang keberadaannya diakui oleh pemerintah daerah. Bahkan dr. Adib mencontohkan beberapa pengurus IDI Cabang tetap mampu menghidupi organisasi, berkoordinasi dengan dinas kesehatan setempat, mendapatkan dana operasional melalui program peningkatan kemampuan SDM dan mendampingi para dokter anggota yang menghadapi sengketa medis. Kita dianjurkan untuk meneladani aktivitas pengurus IDI Cabang Lamongan Jatim, Kampar Riau dan Bogor Jabar, yang disebut dr. Adib sebagai beberapa contoh IDI Cabang yang tetap hidup, berkembang baik dan berdenyut secara kreatif.

Kenangan saat berfoto bersama dengan Dr. dr. M. Adib Khomaidi, SpOT, Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia periode 2023-2025, saat sarapan pagi di Hotel Lombok Raya Mataram NTB

Setelah berfoto bersama dengan dr. Adib, saya segera menyampaikan rasa hormat dan pamit undur untuk mengikuti rangkaian simposium Muktamar IDI ke 32, di Ruang Selaparang dengan tema besar ‘Principal Management in Acute Onset’. Saya segera berkonsentrasi mengikuti simposium sesi pertama bertema : ‘Disaster triage and Orthopaedi management in acute onset earthquake’ oleh dr. Yogi Prabowo, SpOT(K) dari RS Islam Jakarta, kemudian ‘Neurosurgical emergencies management in earthquake disaster’ oleh Dr. dr. Bambang Priyanto, SpBS(K) dari Siloam Hospitals Mataram, dan ‘Initial response in health crisis condition’ oleh dr. Eko Widya Nugroho, SpEM Kepala Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Provinsi NTB. Topik menarik ini terinspirasi oleh gempa bumi besar tahun 2018 yang meluluhkan Mataram dan sekitarnya, terulang setiap sekitar 40 tahun, dan waktu itu saya hadir mewakili pengurus IDI Wilayah DIY memberikan bantuan dana, yang diterima oleh Dr. Dody Ario Kumboyo SpOG(K) sebagai Ketua IDI Wilayah NTB.

Saya segera pindah ke ruang Rinjani untuk mengikuti simposium paralel dengan topik : Mengenal dan tatalaksana hirscsprung disease oleh dr. Sunanto, SpBA, ‘Chronic venous insufisiency curent diagnostic and management’ oleh dr. I Made Arya Winatha, SpB(K)V, seorang Dokter Bedah Vaskular di Siloam Hospitals Mataram, ‘Cryosurgery: A New Option for Late-Stage Tumor Management’ oleh dr. Maz Isa Ansyori Arsatt, Sp.BTKV, Diagnosis dan tatalaksana retensio urine oleh dr. Akhada Maulana, SpU, ‘Abdominal compartement syndrome’ oleh dr. Aulia Ahimsa Martawiguna, MBiomed, SpB. Lanjut kembali ke ruangan sebelah untuk mendengarkan ‘Code Stroke and hyperacute treatment of ischemic stroke’ oleh Dr. dr. Sumantri, SpS, FINS, FINA, ‘neurointerventional management for ischaemic stroke: neurosurgery perspectiv’ oleh dr. Affan Priyambodo Permana, SpBS, ‘Hemorhagic stroke, neurointerventional approach’ oleh dr. Achmad Firdaus Sani, SpS(K), FINS, ‘Hemorhaegic stroke : do surgery of endovascular intervention’ oleh Dr. dr. Nur Setiawan Suroto, SpBS (K) dari Surabaya, dan ‘Update in Cervical Cancer Management’ oleh dr. I Made Widyalaksana Mahayasa, SpOG(K)Onk. Simposium yang menurut saya paling menarik adalah ‘Prenatal care: Early Diagnosis and Prompt Treatment’ oleh dr. Agus Rusdhy Hariawan Hamid, SpOG, SubsKFm, MARS, dan ‘Dealing with postpartum hemorrhage’ oleh dr. Ario Danianto, SpOGK(Subsp K.Fm). Diselingi pindah ruangan lagi untuk mengikuti simposium bertema ‘Pre-Hospital Medical Personnel Challenges in Large Scale Sport Event’ oleh dr. Mokh. Rakhmad Abadi, SpKO, ‘Management Muskuloskeletal Injury in Mass Public Event’ oleh dr. Audi Hidayatullah Syahbani, SpOT, dan ‘Awareness of Cardiac Arrest Among Sport Enthusiasts’ oleh dr. Yusra Pintaningrum, SpJP, FIHA, FAPSC, FAsCC.

Tertidur kelelahan yang sangat.

Setelah cukup penat dan lelah mengikuti berbagai perkembangan teknologi dan ilmu kedokteran terkini pada simposium paralel tersebut, saya segera bergabung dengan para dokter dari IDI Wilayah DIY untuk menjelajahi Lombok. Menggunakan 2 buah HiAce Commuter warna putih, berpelat nomer DR, dan velg mobil bercat emas, kami segera membelah gerimis yang tetap saja turun tanpa bosan, menuju toko grosir mutiara A&R di sebuah gang kecil Jl. Darul Hikmah, Genteng, Pagutan, Mataram. Setelah tertidur lelap saat teman2 sejawat berbelanja aneka perhiasan mutiara, kami lanjut menuju kampung Adat Sade, berupa komunitas asli suku Sasak yang masih menjaga tradisi aslinya.

Gerbang desa Sade yang eksotik, kampung adat suku Sasak di Lombok Tengah.

Desa Sade terletak di Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat, yang berada satu dusun dengan Desa Rembitan. Lokasi Desa Sade berada persis di samping Jalan Raya Praya-Kuta. Kami menikmati perjalanan di jalan nasional yang lebar, 4 jalur dengan sparator, halus dan nyaman seolah berupa jalan tol, sangat berbeda dengan jalanan padat di Pulau Jawa. Desa Sade merupakan salah satu Desa Adat Suku Sasak yang masih mempertahankan adat dalam kehidupan kesehariannya. Adat suku Sasak merupakan salah satu daya tarik wisatawan, baik dalam negeri maupun luar negeri. Desa Adat Sade memiliki sejarah panjang, dimana adat suku Sasak telah berlangsung kurang lebih 1.500 tahun yang lalu.

Penjelasan pendahuluan oleh seorang warga setempat, tentang adat suku Sasak di Desa Sade, Lombok Tengah

Saat memasuki halaman parkir, kami langsung melihat atap rumah warga yang terbuat dari anyaman bambu, berdiri kokoh di antara bangunan tembok warga sekitar, berbeda mencolok dengan nuansa pedesaan tradisional yang sangat terasa di Desa Sade. Luas Desa Sade sekitar 5,5 hektar dan memiliki sekitar 150 rumah. Setiap rumah terdiri satu kepala keluarga. Semua penduduk Desa Sade adalah suku Sasak Lombok. Penduduk Desa Sade masih satu keturunan karena mereka melakukan perkawinan antar saudara. Makanya saat anak-anak melintas dalam lari di sekitar kami, terlihat bahwa raut wajahnya saling mirip.

Keunikan Desa Sade adalah rumah beserta fungsinya yang terdiri dari beberapa jenis, yaitu Bale Bonter, Bale Kodong, dan Bale Tani. Masing-masing rumah memiliki fungsi yang berbeda. Bale Bonter berfungsi sebagai rumah pejabat desa. Bale Bonter juga berfungsi sebagai tempat persidangan adat. Sementara Bale Kodong berfungsi sebagai tempat tinggal untuk orang-orang yang sudah jompo. Tempat tersebut juga digunakan untuk orang sudah menikah namun belum memiliki tempat tinggal. Bale Tani berfungsi sebagai tempat tinggal masyarakat yang kebanyakan berprofesi sebagai petani.

Suasana gelap di dalam ruang utama rumah suku Sasak di Desa Sade Lombok Tengah, dengan lantai yang telah diolesi kotoran sapi.

Masyarakat Desa Sade memiliki kebiasaan membersihkan lantai rumah dengan kotoran kerbau atau sapi sekitar semiinggu sekali. Tujuannya supaya lantai bersih dari debu-debu yang melekat, menguatkan lantai, dan berfungsi untuk mencegah serangga, terutama nyamuk agar tidak masuk ke dalam rumah. Rumah Desa Sade memiliki desain yang sederhana, berdinding anyaman bambu, atap alang-alang kering, dan lantai yang terbuat dari campuran tanah liat dengan sekam padi. Bangunan rumah Desa Sade juga tahan gempa, masih terlihat kokoh meskipun wilayah tersebut pernah diguncang gempa.

Kenangan saat diterima oleh Dr. dr. Doddy Ario Kumboyo SpOG(K), Ketua IDI Wilayah NTB waktu itu, saat saya mengirimkan bantuan medis untuk korban gempa bumi NTB Agustus 2018

Mata pencaharian penduduk Desa Sade adalah petani. Mereka menanam padi di sawah tadah hujan yang tidak ada irigasinya, dengan masa panen setahun sekali. Di tengah menunggu masa panen, penduduk Desa Sade memiliki pekerjaan sampingan menenun untuk memenuhi kebutuhan pokok.

Bergaya sebelum melanjutkan perjalanan, di Gerbang Desa Sade sebuah desa adat suku Sasak di Lombok Tengah

Perjalanan selanjutnya setelah puas menikmati Desa Sade adalah melalui Jalan By Pass Bandara Internasional Lombok, untuk menuju Mandalika, sebuah kawasan wisata seluas 20.035 hektar yang berlokasi di Kuta, Pujut, Kabupaten Lombok Tengah NTB. Sejak 2017, Mandalika sudah diresmikan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pariwisata yang direncanakan dapat menjadi kawasan wisata. Nama Mandalika berasal dari nama seorang putri dalam cerita rakyat yang terkait dengan perayaan Nyale di Lombok.

Kawasan Mandalika awalnya direncanakan sebagai proyek investasi oleh Emaar Properties dari Uni Emirat Arab dengan penandatanganan nota kesepahaman pada 19 Maret 2008. Rencana tersebut kemudian dibatalkan karena terjadinya resesi ekonomi dunia tahun 2008.

Tujuan selanjutnya adalah merasakan sensasi balap di Sirkuit Mandalika Lombok Tengah

Kami segera menuju Sirkuit balap Internasional Mandalika, sirkuit Mandalika, atau dengan nama resminya yaitu Pertamina Mandalika International Street Circuit, yang diresmikan pada tanggal 12 November 2021 oleh Presiden Joko Widodo. Sebelumnya pada tanggal 23 Februari 2019. Lintasan balap di Mandalika memiliki panjang 4.320 kilometer dengan 17 tikungan. Sirkuit Mandalika menjadi tempat penyelenggaraan MotoGP dan Kejuaraan Dunia Superbike yang dibangun oleh Vinci Grand Projects. Proyek klaster olahraga dan hiburan seluas 120 hektare dengan kapasitas 195.700 ini mencakup pembangunan hotel dan fasilitas lainnya.

Pantai Mandalika yang eksotik, di samping sirkuit balap termegah di Indonesia

Sebagai bagian dari pemeliharaan konservasi, vegetasi yang menjadi latar belakang kawasan Resor Mandalika akan ditetapkan sebagai kawasan konservasi seluas lebih dari 3.000 hektar. Kawasan dengan banyak spesies asli ini hanya dapat diakses untuk kegiatan lingkungan berdampak rendah, seperti bersepeda atau mendaki, demi meminimalkan kerusakan pada flora dan fauna.

Bergaya di tribun penonton dekat sebuah tikungan sirkuit balap Mandalika, Lombok Tengah

Setelah berfoto bersama di tribun penonton dan melihat aktivitas mobil penyelamat melintas sitkuti balap Mandalika, kami segera menuju ke
Bukit Seger yang menjadi pusat perhatian karena pernah menjadi spot foto pebalap MotoGP Repsol Honda, Marc Marquez. Pada waktu itu, Marquez datang ke Lombok bersama beberapa pebalap lainnya saat mengikuti tes pramusim MotoGP di Pertamina Mandalika Street Circuit atau Sirkuit Mandalika, Jumat (11/2/2022).

Gerbang Bukit Seger Mandalika Lombok

Bukit Seger adalah tempat terindah untuk melihat sunset dan menikmati panorama alam yang sangat indah. Dari situ saya dapat melihat tikungan maut Sirkuit Mandalika di sisi kiri, yang hanya dibatasi oleh sebuah jalan sekitar 50 meter sudah ada bibir pantai dengan ombak yang landai, di sisi kanan. Bukit Seger juga menjadi tempat untuk melihat adu balap, kelincahan pembalap melahap tikungan, dan keceriaan suasana balap di Sirkuit Mandalika.

Dari puncak Bukit Seger kita dapat melihat sebuah tikungan tajam Sirkuit Mandalika di sebelah kiri dan bibir pantai di sebelah kanan, yang dipisahkan hanya oleh sebuah areal paling sempit.

Setelah puas berfoto, kami segera meninggalkan Bukit Seger Mandalika dan lanjut kembali ke Hotel Lombok Raya, untuk mengikuti rapat koordinasi antar IDI Wilayah dan IDI Cabang seluruh Indonesia di ruang pertemuan utama (ballroom) Hotel Lombok Raya lantai 2.

Setelah selesai acara, lanjut saya ikut reuni tipis dengan teman sekelas di SMA Kolese de Britto Yogyakarta (JB). Om Pengky Jupiter (d/h The Tiong Peng) teman sekelas saya saat SMA saat ini adalah Direktur Utama PT Narmada, seorang asli Mataram. Perusahaannya memproduksi air mineral kemasan dengan merk Narmada, yang bersiap IPO menjadi perusahaan publik. Sangat senang bertemu teman yang lama tidak bersua, segera saya diajak keliling kota Mataram.

Diantar Om Pengky Jupiter memasuki areal alun-alun Ampenan

Tujuan pertama adalah salah satu lokasi kota tua yang dapat kita nikmati di Pulau Lombok, yaitu Ampenan. Saat ini menjadi kecamatan Ampenan yang berjarak sekitar 5 kilometer dari pusat kota di Mataram. Ampenan berasal dari kata “amben” yang dalam bahasa Sasak artinya adalah tempat persinggahan.
Sejak abad 19 Ampenan telah menjadi pusat perdagangan yang ramai. Pada masa lalu, Ampenan merupakan pusat kota Lombok yaitu ketika Pemerintah Hindia Belanda menunjuknya sebagai Afdeeling atau wilayah administrasi setingkat kabupaten berdasarkan Staatbald nomor 181 tahun 1895 tertanggal 31 Agustus 1895.

Melalui peraturan itu pihak kolonial menjadikan Pulau Lombok sebagai bagian dari Karesidenan Bali dengan Ampenan sebagai pusat kegiatan jasa dan perdagangan. Sebagai sebuah pusat bisnis, pihak Hindia Belanda melengkapi Ampenan dengan kantor bank, bioskop, pasar, rumah ibadah, kantor dagang, permukiman kelas menengah dan rumah-rumah pejabat Belanda. Ciri khas bangunan-bangunan kolonial di Ampenan adalah dindingnya yang sangat tebal.

Melihat sebuah kapal tanker berlabuh di Pelabuhan Ampenan diantar Om Pengky Jupiter

Pada 1924 mereka membangun pelabuhan di pesisir Ampenan dan sejak itu kota buatan Belanda itu makin ramai. Pelabuhan Ampenan menjadi pintu keluar bermacam komoditas penting Pulau Lombok seperti padi, ternak sapi dan kuda yang dikirim ke daerah-daerah lain di Nusantara serta untuk kebutuhan ekspor.
Ampenan perlahan mulai ditinggalkan sebagai kota perdagangan dan jasa ketika Jepang masuk dan menduduki Lombok dan menjadikan Mataram sebagai pusat pemerintahan. Kehidupan di Ampenan yang berpenduduk sekitar 90.000 jiwa tersebut semakin sepi tatkala pemerintah pada 13 Oktober 1977 memindahkan aktivitas pelabuhan ke Lembar sampai hari ini.

Setelah tidak lagi menjadi pusat perdagangan dan jasa, denyut kehidupan di Ampenan tetap terjaga. Mulai dari Jembatan Ampenan menuju ke Jalan Pabean hingga ke Pantai Ampenan yang kini dikenal sebagai Pantai Boom, masih kental dengan suasana tempo dulu. Memasuki kawasan ini dari Jembatan Ampenan, akan terlihat bangunan-bangunan tua yang masih kokoh berdiri, kendati rata-rata kondisinya kurang terawat.

Kota Tua Ampenan memiliki ratusan bangunan berarsitek Belanda yang menjadi cagar budaya. Bangunan yang berada di tepian jalan raya yang menghubungkan Kota Mataram dengan kawasan wisata Senggigi itu kini dalam kondisi rusak, tidak terawat, dan tidak berpenghuni. Padahal, Kota Tua Ampenan adalah salah satu dari 43 kota di Indonesia yang ditetapkan sebagai Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI).

Sejumlah bangunan tua di Jalan Niaga juga sudah ditata menjadi sebuah ruang kreatif dikemas dalam sebuah kegiatan “Ampenan Huis”. Lokasi itu dapat digunakan untuk para pelaku seni dan budaya untuk menampilkan hasil karya terbaiknya setiap akhir pekan. Pemkot Mataram bahkan telah membeli bangunan tua bekas Bank Dagang Belanda (Nederlandsch Indische Handelsbank) yang ada di areal bekas Pelabuhan Ampenan. Bangunan tua bekas Bank Dagang Belanda bergaya art deco tersebut dibeli, guna menyelamatkan cagar budaya yang harus dijaga dan dilestarikan.

Bangunan tua bekas Bank Dagang Belanda (Nederlandsch Indische Handelsbank) bergaya art deco dengan atap tinggi yang ada di areal bekas Pelabuhan Ampenan.

Setelah berfoto bersama Om Pengky di bangan bekas Bank Dagang Belanda, kami segera menuju rumah asli Om Pengky di dekat wihara Ampenan. Rumah tua, terawat dan bersejarah itu sekarang ditinggali oleh kakak tertua. Selanjutnya kami menikmati inspirasi dari abad ke-18, yaitu Cakranegara. Sekarang menjadi Kecamatan Cakranegara, tetapi ini telah memberi contoh bagaimana seharusnya sebuah kota dibangun, karena kota lama ini dirancang dengan masterplan modern yang melampaui zamannya. Sisa-sisanya masih dapat dilihat sampai sekarang, yaitu Kota Cakra ini tersusun dalam blok-blok persegi (grid pattern) dengan jalan dan gang-gang lebar presisi yang terhubung satu sama lain.
Cakranegara adalah kota yang dibangun ulang di permulaan abad ke-18 oleh Kerajaan Karangasem di Bali yang berkuasa di masa itu. Kota ini kemudian disempurnakan kembali oleh dinasti Kerajaan Mataram setelah perang suadara 1838. Kota ini didesain berdasarkan mitologi Hindu, dengan dataran rendah Cakranegara dibagi dalam blok-blok pemukiman yanh menempatkan Pura Meru Mayura berada di tengah. Sementara di sisi barat terdapat Pura Dalem, Karang Jangkong dan Pura Puseh di pojok sebelah timur, menyerupai formasi kota kuno di Bali.

Sisa-sisa keteraturan Cakranegara masih terasa hingga kini. Cakra dibagi oleh dua jalur arteri utama (marga sanga) yang saling menyilang, yaitu jalan Pejanggik-Selaparang yang membelah timur-barat dari Karang Jangkong hingga Sweta. Kemudian dari utara-selatan ada jalan Sultan Hasanudin–AA Gede Ngurah yang menghubungkan Karang Taliwang dan Abian Tubuh. Dua jalur ini bertemu di perempatan Cakranegara di depan Hotel Lombok Plaza.

Penataan kota dengan jalan yang lebar ini memudahkan lalulintas orang dan barang. Selain itu, juga mendukung aspek pertahanan sebuah pusat pemerintahan. Cakra dibangun tepat di tengah jalur yang menghubungkan Pelabuhan Ampenan dan Labuhan Lombok. Jalan ini juga menghubungkan akses Cakra dengan Pelabuhan Lembar dan Lombok Utara.


Pada awalnya Cakranegara dirancang untuk 33 banjar (lingkungan). Angka 33 merujuk pada bilangan khusus dalam kepercayaan Hindu dimana ada 33 dewa yang menghuni Puncak Meru (Mahameru). Dalam desainnya, satu lingkungan (karang) terdiri atas 80 kapling rumah yang terbagi atas empat marga. Satu marga memanjang utara selatan, tersusun atas 20 kapling rumah yang saling memunggungi. Hal inilah yang membuat setiap rumah akan berhadapan langsung dengan jalan baik jalan marga sanga (jalan utama) marga dasa (jalan lingkungan) dan marga (jalan kecil/gang). Dengan pengaturan ini setiap keluarga di Cakranegara akan menempati satu kapling lahan dengan luas antara 6-8 are.

Sementara itu setiap lingkungan (karang) dibagi melintang utara-selatan dengan jalan-jalan yang sedikit lebih sempit atau yang dikenal dengan Marga Dasa. Di ujung barat misalnya ruas-ruas ini menghubungkan Jalan Kebudayaan di utara dengan Jalan Songket di selatan. Oleh karena itulah setiap orang sebenarnya tidak akan tersesat di jalan, karena semua jalur marga dasa akan memiliki persilangan dengan jalur utama Marga Sanga.

Lebih dari itu penataan ini memungkinkan sisi jalan ditumbuhi pohon-pohon pelindung. Kemudian dilengapi saluran drainase yang terhubung dengan kanal-kanal lebih besar menuju sungai. Hal inilah yang membuat Cakra selalu siap menghadapi banjir karena pemukiman dibangun lengkap dengan sistem pembuangan air hujan yang terpadu.

Selayaknya sebuah Super Cluster dalam perumahan modern, Cakra juga dilengkapi ruang-ruang publik dan pusat perekonomian. Selain Pura Miru hampir semua lingkungan memiliki Pura. Kemudian sebagai pusat ekonomi Pasar Cakra dibangun. Ini adalah bentuk umum pasar-pasar lama baik di Jawa dan Bali, yang berdiri tak jauh dari gerbang pura yang sampai sekarang masih dapat dilihat.
Sebagai daerah koloni Karangasem, nama-nama kampung di Cakranegara juga banyak diambil dari nama-nama tempat di Bali. Seperti Karang Ujung, Sindu, Pondok Perasi, Pagutan, Karang Tangkeban, Tohpati dan lainnya. Tatakelola Hindu-Bali yang dianut dalam penataan Kota Cakranegara juga berpengaruh pada pengaturan penghuni daerah perumahan di distribusikan menurut empat kasta yang ada, Brahmana, Kesatriya, Weisya dan Sudra.

Dalam sistem Kota Cakranegara kebanyakan para Brahmana tinggal di sebelah Utara dan Timur. Ini mengacu pada arah Timur laut adalah arah yang dianggap suci mengikuti arah Gunung Rinjani. Sedangkan kasta Ksatriya sebagian besar banyak yang tinggal disebelah Barat. Kasta Weisya banyak yang tingal disebelah Timur. Sementara kasta sudra atau Bali biasa, banyak hidup di semua bagian blok sesuai aturan kerajaan. Sejumlah perkampungan Muslim Sasak diizinkan berdiri diantara perkampungan Bali di Cakra dan Mataram, yang pada awalnya masih terbatas bagi mereka yang memiliki keterampilan khusus. Seperti para perawat gamelan di Karang Kemong, perajin emas di Kamasan dan Sekarbela, juru masak di Karang Tapen dan Pelaras dan pembuat Senjata di Karang Bedil.

Wajah Kota Cakranegara berubah seiring dengan runtuhnya dinasti Mataram. Perang melelahkan dengan koalisi Timur Juring dan Belanda di tahun 1894 mengakhiri riwayat kerajaan Mataram ini. Selepas perang hampir seluruh perkampungan Bali di Mataram dan Cakra dihancurkan. Harta kerajaan dijarah, termasuk 453 kilogram emas, 3.173 kilogram harta berbahan perak dan 75 peti permata dan batu mulia lainnya. Ini belum termasuk benda-benda penting seperti senjata dan naskah-naskah kuno di perpustakaan kerajaan Mataram. Sementara sisa-sisa keluarga Kerajaan Mataram yang selamat ditangkap dan diasingkan. Mereka tak diperkenankan bersatu kembali dengan jalan diasingkan terpisah di Batavia, Cianjur, Sulawesi dan Bengkulu. Sementara sebagai penguasa baru, Belanda membawa para bangsawan Bali dari Buleleng untuk memimpin Cakranegara.

Puri raja kini menjadi komplek pertokoan di barat Taman Mayura. Yakni dari Jalan Selaparang hingga Jalan Tenun di utara. Setelah Belanda berkuasa, Mataram dipilih sebagai pusat pemerintahan. Sementara Cakra bergerak sebagai pusat niaga. Bersamaan dengan itu pola hunian dan kepemilikan lahan di Cakra tak lagi berdasar kasta. Semua orang bebas memiliki lahan selama tak bertentangan dengan aturan Kolonial Belanda. Sejak saat inilah Cakra menjadi lebih heterogen. Mayarakat Sasak yang dulu berada di luar boleh masuk selama mampu membeli lahan. Kemudian etnis lain seperti Cina, Arab, Bugis, Jawa dan lainnya bisa berdampingan dengan masyarakat Hindu-Bali yang sebelumnya menguasai kota. Hasilnya bisa dilihat kini, Cakra tak hanya didominasi Pura. Rumah ibadah lain seperti Masjid, Vihara hingga Gereja dapat ditemui. Namun di balik itu struktur kota yang dibangun dalam pola grid ini masih bertahan hingga kini.

Disambut Ibu Desi, istri Om Pengky yang berdarah Belanda, di rumahnya yang artistik di Mataram


Setelah puas menikmati pesona kota yang tertata di Cakranegara, kami segera menuju rumah Om Pengky Jupiter yang indah, luas, dan bersih di belakang kompleks Kejaksaan Tinggi NTB di Dasan Agung Mataram. Saat ini Om Pengky hanya tinggal berdua bersama mbak Desi, sang istri yang berdarah Belanda, karena puteri tunggalnya kuliah Desain Komunikasi Visual (DKV) di Singapura. Saya senang sekali ikut menikmati acara persiapan cap go meh di rumah indah itu, yang dilengkapi kolam renang pribadi, bahkan kami semua sesama alumni JB 84 diundang ke Mataram, akan dijamin senang. Suasana Imlek masih tersisa di beberapa sudut rumahnya, yang membuat siapapun pasti kerasan tinggal di rumah tersebut, mbak Desi, istrinya yang cantik, ramah dan berdarah Belanda telah menyiapkan hidangan khas Mataram. Kami mengobrol di ruang tengah yang lebar di dekat kolam renang pribadi, dan ngobrol berbagai kenangan indah maupun menyakitkan, saat kami bersama di SMA Kolese de Britto Yogyakarta. Oleh karena bersamaan dengan acara cap go meh di rumahnya, saya segera pamit untuk jalan lagi dan atas kebaikannya, sopir dan mobil Honda CRV disiapkan untuk mengantar saya.

Sore itu saya menikmati kota Mataram yang merupakan kota multi etnis dan agama. Pengaruh budaya Sasak dan Bali, sangat terasa di kota ini. Adapun keberagaman penduduk kota Mataram menurut agama yang dianut (2024), yakni pemeluk agama Islam 83,02% yang umumnya dianut suku Sasak, kemudian Hindu 13,72% yang dianut suku Bali.

Masjid Raya Hubbul Wathan Islamic Center Lombok yang memiliki menara setinggi 99 meter dan dinamakan Asmaul Husna


Lombok bahkan dijuluki sebagai Pulau Seribu Masjid, karena mayoritas masyarakatnya memeluk agama Islam. Sebutan ini bermula dari kunjungan Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama Effendi Zarkasih di tahun 1970, saat meresmikan Masjid Jami Cakranegara atau yang sekarang lebih resmi dikenal sebagai Masjid Raya Hubbul Wathan Islamic Center Lombok. Sebagai ikon religi di Lombok, Masjid megah ini adalah destinasi yang tak boleh dilewatkan, terletak di pusat kota, dan memiliki menara setinggi 99 meter yang dinamakan Asmaul Husna. Kemegahan arsitekturnya menggabungkan nuansa Islam dengan motif batik khas Sasambo. Tidak hanya menjadi tempat ibadah, masjid ini juga menawarkan panorama indah dari puncak menara yang memungkinkan menikmati pemandangan Kota Mataram dari ketinggian.

Taman Mayura yang indah bercorak Hindu Bali dan terawat baik di Mataram NTB

Selanjutnya saya menikmati keindahan taman Air Mayura, yang merupakan peninggalan sejarah masa kerajaan di Lombok. Nama “Mayura” diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti merak. Dulunya, burung merak dihadirkan di taman ini untuk mengusir ular yang sering mengganggu pengunjung. Selanjutnya saya mengagumi keelokan Pura Meru, yang berdiri gagah tidak jauh dari Taman Air Mayura dan merupakan pura terbesar di Lombok. Pura ini dibangun pada masa kerajaan oleh Anak Agung Ngurah Karangasem dan memiliki 33 sanggah yang melambangkan desa-desa di sekitarnya yang berperan dalam pembangunannya. Akan dapat dilihat perpaduan arsitektur khas Lombok dengan sentuhan Jawa Kuno, menciptakan nuansa spiritual yang unik.

di gerbang Istana Narmada yang sangat luas dan menawan, tetapi sudah terlanjur tutup sore itu

Lebih ke utara lagi, sore itu saya mengunjungi Istana Narmada, sebuah kompleks taman dan istana yang dibangun oleh Raja Anak Agung Gede Karangasem pada tahun 1727. Istana ini dibangun sebagai replika mini dari Gunung Rinjani dan Danau Segara Anak, yang digunakan sebagai tempat upacara keagamaan dan peristirahatan raja. Namun demikian, sore itu Istana Narmada yang telah menjadi objek wisata populer sudah tutup jam kunjung, sehingga saya tidak mampu menikmati pemandangan yang asri, nuansa Hindu yang kental, dan sejarah yang kaya.

Kemudian saya diantar mengunjungi salah satu pabrik air mineral kemasan Narmada, yang tengah berkembang pesat. Om Pengky Jupiter teman sekelas saya di SMA Kolese de Britto Yogyakarta dulu, adalah manajer bertangan dingin yang membuat perusahaan tersebut cepat besar.

Om Pengky Jupiter teman sekelas saya di SMA Kolese de Britto Yogyakarta dulu, adalah manajer bertangan dingin yang membuat perusahaan Narmada pembuat air mineral kemasan tersebut cepat besar.

Bersama dr. Suwardiman MKes SpKKLP teman seangkatan saya di FK UGM 84, sebagai utusan IDI Cabang Kota Metro Lampung, saat menghadiri malam kesejawatan pada Muktamar IDI ke 32 di Hotel Lombok Raya Mataram

Selanjutnya saya diantar pulang kembali ke Hotel Lombok Raya Mataram untuk berpakaian adat Ngayogyakarta Hadiningrat dalam menghadiri malam keakraban peserta Muktamar IDI ke 32. Pada malam yang hingar bingar musik, sajian menu makanan aneka ragam dan gemerlap lampu di taman dekat kolam renang hotel, juga diberikan penghargaan IDI untuk Prof. dr. Yati Sunarto, SpAK, PhD, guru saya di Bagian Anak FK UGM Yogyakarta, yang membuat tambah bangga.

berpakaian adat Ngayogyakarta Hadiningrat dalam menghadiri malam keakraban peserta Muktamar IDI ke 32 berpakaian adat Ngayogyakarta Hadiningrat dalam menghadiri malam keakraban peserta Muktamar IDI ke 32

Sowan senior kakak kelas 2 tingkat di FK UGM Yogyakarta, yang menjadi Health Specialist Unicef NTT dan NTB, dr. VAMA Chrisnadharmani, MPH saat menginap di Fave Hotel Mataram, karena menjalankan tugas supervisi di Kabupaten Lombok Utara

Selanjutnya saya mengunjungi senior Dr. VAMA Chrisnadharmani Taolin, MPH Health Specialist Unicef Indonesia Perwakilan Kupang NTT, yang sedang menjalankan program pelatihan di Kabupaten Lombok Utara dan menginap di Fave Hotel Mataram NTB. Kiprah Univef Devisi Kesehatan di NTB misalnya adalah program pemantauan kondisi bayi baru lahir oleh orang tua, program MTBS (Manajemen Balita Sakit) dan kegawatdaruratan medis yang mudah dikenali orangtua, agar anak tidak terlambat dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat. Kisah inspiratif karya Unicef Indonesia untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat terpencil ini terbawa sampai mimpi pada tidur nyenyak saya di kamar C145 Hotel Lombok Raya Mataram malam itu.

Sekian dulu tulisan yang dibuat di lorong Hotel Lombok Raya, setelah sarapan pada Kamis pagi, 13 Februari 2025. Terimakasih

(Bersambung lain waktu, dengan petualangan lebih lanjut).

Salam pengelana
-wikan

Disebarkan dari dalam kabin senyap bis Tiara Mas jurusan Bima Jakarta PP, yang membawa saya meninggalkan Mataram NTB menuju Denpasar Bali

DI MATARAM HARI KETIGA
(laporan terakhir)

Kamis, 13 Februari 2025 saya mengikuti rombongan dokter dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pada Muktamar ke 32 IDI Tahun 2025 di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Pagi itu kami awali dengan sarapan bersama Dr. Ulul Albab, SpOG Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia periode 2022-2025. Obrolan santai di sela-sela sarapan menyinggung tentang tingginya biaya layanan kesehatan di Indonesia dibandingkan dengan di Malaysia, khususnya Penang. Dijelaskan bahwa perbedaan pandangan telah terjadi saat diskusi antara PB IDI dengan Kemenkes RI, dimana Kemenkes RI menyoroti biaya promosi obat kepada para dokter yang besar, yang harus ditanggung pasien adalah masalah prioritas yang harus dibereskan terlebih dahulu, agar biaya layanan kesehatan dapat diturunkan. Sebaliknya, PB IDI justru menilai bahwa penerapan pajak atas berbagai produk obat dan alat kesehatan yang besar dan kadang ganda, justru harus lebih dahulu diturunkan, bahkan kalau perlu dibebaskan. Perbedaan kedua sudut pandang ini belum dapat dijembatani sampai kepengurusan Dr. Ulul pada PB IDI akan berakhir.

Bersama dr. Ulul Albab, SpOG Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia

Setelah diskusi hangat sambil sarapan tersebut, kami segera bergegas untuk mengikuti rangkaian acara Pembukaan Muktamar IDI ke 32 yang diagendakan berlangsung pk. 8-9.30. Acara yang diselenggarakan di ruang pertemuan utama (ballroom) Hotel Lombok Raya Mataram NTB, dikawal ketat oleh banyak personil keamanan, panitia yang cekatan dan dihadiri dengan antusiasme oleh delegasi, dengan kehadiran hampir 80 persen dari seluruh IDI Cabang di Indonesia.

bersama mas dr. Bambang Suyamto SpTHT Ketua IDI Cabang Rembang Jawa Tengah, teman seangkatan saya di FK UGM Yogyakarta

Saya berjumpa dengan dr. Bambang Suyamto, SpTHT Ketua IDI Cabang Kabupaten Rembang, Jawa Tengah teman seangkatan di FK UGM Yogyakarta tahun 1984 dan mas dr. Didik Wijayanto Ketua Kompartemen JKN PB IDI periode yang lalu, kakak kelas setahun di FK UGM Yogyakarta. Reuni tipis tersebut sangat menyenangkan, karena dihiasi obrolan santai dan kenangan saat kuliah dahulu.

Bersama dengan mas dr. Didik Wijayanto Ketua Kompartemen JKN PB IDI, kakak kelas setahun di FK UGM dan Asrama Mahasiswa Ralealino Yogyakarta

Kemudian kami semua mengikuti acara resmi pembukaan Muktamar IDI ke 32, sebagai salah satu momentum memperkuat nilai-nilai kesejawatan serta profesionalisme dokter yang tertanam dalam Sumpah Dokter sebagai modal utama menghadapi tantangan masa depan.

Bersama Dr. dr. Dodi Ario Kumboyo SpOG(K) mantan Ketua IDI Wilayah NTB sebelum acara pembukaan Muktamar IDI ke 32 di Mataram

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) periode 2022-2025 Dr. dr. Mohamad Adib Khumaidi, SpOT pada pidato pembukaan Muktamar. Keberadaan organisasi profesi IDI tetap relevan dan sangat dibutuhkan. Karena itu semua dokter anggota IDI diharapkan untuk terus memperkuat nilai-nilai kesejawatan yang tertanam dalam Sumpah Dokter sebagai modal utama menghadapi tantangan masa depan.

Kenangan bersama dengan Dr. dr. M Adib Khomaidi SpOT Ketua Umum PB IDI di Lamongan Jawa Timur

IDI lahir bukan karena kepentingan kelompok, melainkan karena kepentingan rakyat Indonesia. Sejarah panjang organisasi ini, sejak 1911 hingga menjadi satu kesatuan pada 1950, membuktikan bahwa IDI memiliki akar kuat dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Untuk itu letak pentingnya transformasi organisasi melalui semangat IDI Reborn, dengan fokus pada penguatan internal, revitalisasi, dan komitmen perubahan.

bersama para dokter peserta Muktamar IDI ke 32 di Mataram NTB

Semua dokter seharusnya bersama-sama menciptakan resolusi perubahan demi IDI yang lebih baik, demi bangsa, rakyat, dan anggota,” katanya. Dalam menghadapi berbagai tantangan eksternal maupun internal, PB IDI berkomitmen menjadi organisasi yang lebih profesional dan modern melalui program-program strategis yang komprehensif. Semua dokter anggota IDI agar tidak terjebak dalam konflik internal yang dapat menghambat kemajuan organisasi.

Seperti kata Charles Darwin, yang bertahan bukanlah yang terkuat atau terpintar, melainkan yang paling mampu beradaptasi. Jadi, IDI juga harus menjadi institusi yang durable dan infinite, mampu bertahan menghadapi tantangan zaman.

Bersama dengan Dr. dr. M. Ali Firdaus SpA, SH, MH anggota tim BPH2A PP IDAI dari Tasikmalaya

Setelah sambutan Ketum PB IDI tersebut, Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, SH, MSc secara resmi membuka Muktamar IDI ke 32 mewakili Pemerintah Pusat. Menteri Yusril Ihza Mahendra menegaskan bahwa organisasi profesi seperti organisasi kedokteran idealnya hanya ada satu di Indonesia, bukan dualisme organisasi profesi kedokteran yang ada, yaitu Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Perkumpulan Dokter Seluruh Indonesia (PDSI).

Yusril mengatakan bahwa IDI adalah organisasi profesi yang berbeda dari organisasi lain seperti organisasi kemasyarakatan (ormas), perkumpulan, yayasan atau pun partai politik, sudah pasti berbeda.

Persoalan organisasi profesi seperti di kedokteran disebabkan karena belum mempunyai undang-undang (UU) tentang Organisasi Profesi. Sebab, organisasi profesi akan menjalankan sebagian dari fungsi negara. Ini menjadi tugas pemerintah untuk merancang UU organisasi profesi.

Secara ideal dokter seharusnya berhimpun dalam sebuah organisasi profesi bukan berhimpun dalam ormas. Memang IDI tidak mengangkat dokter tetapi idealnya izin dokter atau rekomendasi izin untuk praktek kedokteran dan kemudian melakukan pengawasan, pendidikan dan bahkan menerapkan sanksi, adalah tugas IDI. Karena organisasi profesi yang mempunyai hal itu dan itu tidak ada pada ormas.

Oleh karena itu, dalam posisi dualisme organisasi profesi antara IDI dan PSDI ini, Yusril menegaskan bahwa pemerintah akan berusaha menjembatani supaya akhirnya betul-betulnya mempunyai organisasi profesi kedokteran yang kuat dan menjadi mitra negara dalam menyelesaikan persoalan kesehatan yang dihadapi bersama.

Menteri Yusril menegaskan pentingnya IDI dalam menjaga ketahanan nasional. Oleh karena itu IDI harus tetap satu dan solid sebagai mitra strategis pemerintah dalam menjalankan berbagai fungsi negara, termasuk pengawasan profesi dokter.

Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan RI, Yusril Ihza Mahendra, secara resmi membuka acara tersebut dengan memukul gendang beleq, alat musik tradisional khas Lombok.

Setelah resmi dibuka oleh Menteri Yusril Muktamar IDI yang mengusung tema “Membangun Solidaritas dalam Beradaptasi untuk Mewujudkan IDI yang Berkelanjutan” diteruskan dengan diskusi panel pendukung tema. Sejumlah narasumber terkemuka turut hadir dalam sesi keynote speech, salah satunya Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan BPJS, dr. Lily Kresnowati, MKes

Ia membahas tantangan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) saat ini dan masa depan, dengan menyoroti peran penting Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan.

Sementara itu, narasumber lainnya seperti Dr. dr. Mahlil Ruby, MKes Direktur Pengembangan BPJS Kesehatan kesehatan dan drg. Iing Ichsan Hanafi, HMA, Ketua Umum Asosiasi RS Swasta Indonesia (ARSI) yang membedah berbagai tantangan kebijakan BPJS, khususnya dalam implementasi di rumah sakit. Isu pembatasan tindakan medis oleh BPJS serta dampaknya terhadap fasilitas kesehatan juga menjadi sorotan dalam diskusi yang dipandu oleh Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH, DrPH

Setelah ISHOMA acara dilanjuktan dengan Sidang Pleno I pk. 14-15.30 tentang penetapan kuorum, agenda, tata tertib muktamar dan presidium sidang muktamar. Lanjut pada Sidang Pleno II pk. 15.30-18 tentang laporan pertanggungjawaban Ketua Umum PB IDI, Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK), Majelis Pengembangan Pelayanan Kedokteran (MPPK), Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia (MKKI), penyampaian pandangan umum dan penetepan demisioner PB IDI periode 2022-2025.

Dr. dr. Moh Adib Khumaidi, Sp.OT adalah Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) periode 2022-2025. Selain itu, dr. Adib juga merupakan dosen tetap di Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta. Ia meraih gelar doktor bidang Ilmu Kedokteran dari Fakultas Kedokteran Universitas Hasanudin. Beberapa kegiatan yang dilakukan oleh Ketua Umum PB IDI, antara lain: Melantik Pengurus Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) masa bakti 2024-2027, Melantik Pengurus IDI Wilayah Bali masa bakti 2024-2027, Melantik Pengurus Kolegiun Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Indonesia masa bakti 2024-2027, Melantik Pengurus IDI Wilayah Jawa Barat masa bakti 2024-2027 dan hadir dalam acara Halal Bi Halal dan Seminar Hukum Kesehatan 2024.

Kenangan bersama Dr. dr. M Adib Khomaidi SpOT di makam dr. Wahidin Sudirohusodo di Yogyakarta

Sorenya pk. 15.30-18 dilanjutkan dengan pengukuhan Ketua Umum PB IDI periode 2025-2028, pembacaan ketetapan Muktamar IDI ke 32, serah terima jabatan Ketua Umum PB IDI periode 2022-2025 kepada Ketua Umum PB IDI periode 2025-2028. Dr. dr. Slamet Budiarto, SH, MH.Kes yang selanjutnya menjadi Ketua Umum PB IDI periode 2025-2028 sebelumnya adalah Ketua IDI Provinsi DKI Jakarta. Selain itu, juga menjabat Wakil Ketua MPKU PP Muhammadiyah, Ketua umum PP PKFI (Perhimpunan Klinik dan Faskes Primer Indonesia), Direktur Utama RS Islam Jakarta Pondok Kopi yang meraih gelar Doktor Administrasi dan Kebijakan Kesehatan di FKM UI Jakarta, sekaligus sebagai Ketua Dewan Pembina Lembaga Akreditasi Rumah Sakit Indonesia (LARSI), merupakan salah satu dari 6 Lembaga Independen Penyelenggara Akreditasi Rumah Sakit yang didirikan pada tanggal 13 September 2021.

Setelah ISHOMA malam harinya akan dilanjutkan sidang organisasi yang dibagi dalam beberapa komisi. Komisi A membahas tentang AD ART IDI, komisi B membahas tentang pendidikan dokter dan CPD, komisi C membahas pelayanan profesi kedokteran, komisi D membahas tentang etika, disiplin dan hukum, komisi E membahas tentang kebijakan organisasi dan renstra, sedangkan komisi F membahas tentang rekomendasi organisasi.

Namun demikian, sore itu saya pamit mundur dari arena Muktamar IDI ke 32 di Hotel Lombok Raya Mataram, untuk menyeberang ke Pulau Bali. Atas kebaikan Om Pengky Jupiter teman sekelas saya di SMA Kolese de Britto Yogyakarta tahun 1984, Direktur Utama PT Narmada pembuat air mineral kemasan, mengantar saya ke kantor PO Tiara Mas. Setelah menunggu sedikit waktu bis bernomor polisi EA 7615 A, berbodi Avante H7 Super High deck buatan karoseri Tentrem Malang, dan bersasis Hino RM 280 datang dengan penuh muatan di kedua sisi bagasi, bahkan bagasi sisi atas belakang bis.

bis Tiara Mas jurusan Bima Jakarta yang mengantarkan saya meninggalkan Mataram NTB menuju Denpasar Bali

Bis ini telah berangkat dari Bima NTB kemarin Rabu malam dan Kamis siang ini saya naik dari pool bis di Jl. Selaparang Mataram, untuk menyeberang Selat Lombok yang kadang berarus kuat ke Bali, sebelum bis ini lanjut ke Jakarta.

Terimakasih Om Pengky Jupiter JB84 dan segenap pihak yang tidak dapat saya sebutkan namanya masing-masing, yang telah membantu saya mengikuti semua rangkaian acara Muktamar IDI ke 32 di Mataram NTB. Sampai ketemu lagi dalam kegiatan lain.

(sekian)

Jumat pagi, 15 Februari 2025 ditulis dan disebarkan dari Tanah Dewata Jimbaran Bali

Salam pengelana IDI
-wikan

Categories
anak dokter Healthy Life Jalan-jalan vaksinasi

2024 MPOX PADA ANAK

MPOX PADA ANAK

fx. wikan indrarto

Mpox (dulu disebut cacar monyet) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus Monkeypox (MPXV). Pada tanggal 14 Agustus 2024 WHO menyatakan bahwa wabah mpox di Afrika merupakan  darurat kesehatan masyarakat yang mengkhawatirkan dunia. Apa risikonya?

baca juga : https://www.suaramerdeka.com/opini/0413496670/menekan-risiko-cacar-monyet-apakah-kita-sudah-bertindak-bijak

Mpox adalah penyakit langka yang menyebabkan ruam kulut dan gejala mirip flu, terutama pada orang dewasa. Anak dapat tertular mpox jika mereka melakukan kontak dekat dengan seseorang yang memiliki gejala. Anak dapat terpapar virus di rumah dari saudara kandung, orang tua, pengasuh, atau anggota keluarga lainnya melalui kontak dekat. Di beberapa wilayah di pedalaman Afrika, anak dan remaja dapat terpapar melalui kegiatan berburu atau menjebak binatang liar, atau juga mengkonsumsi daging hewan yang tidak dimasak dengan benar. Remaja yang telah melakukan aktivitas seksual dengan seseorang yang menderita mpox juga dapat terpapar. Ruam mpox pada awalnya dapat menyerupai penyakit anak umum lainnya, seperti cacar air dan infeksi virus lainnya.

Anak mungkin berisiko lebih besar terkena mpox parah daripada orang dewasa. Mereka harus dipantau secara ketat hingga pulih, untuk diwaspadai jika mereka membutuhkan perawatan tambahan. Dokter dan tenaga kesehatan yang bertanggung jawab atas anak tersebut, mungkin menyarankan agar mereka dirawat inap di RS, sesuai derajat gejala klinis. Dalam situasi ini, orang tua atau pengasuh yang sehat dan berisiko rendah terkena mpox, tentu akan diizinkan untuk tinggal bersama mereka.

Jika seorang ibu menyusui telah dikonfirmasi atau diduga terinfeksi mpox, bicarakan dengan dokter dan tenaga kesehatan terdekat untuk meminta saran. Mereka akan menilai risiko penularan mpox serta risiko buruk jika tidak melanjutkan memberikan ASI kepada bayi. Jika ibu dapat terus menyusui dan melakukan kontak dekat, mereka akan mengajarkan kepada ibu tentang cara mengurangi risiko dengan mengambil tindakan lain, termasuk menutupi lesi kulit. Risiko infeksi perlu diimbangi secara hati-hati dengan potensi buruk yang disebabkan oleh penghentian pemberian ASI, dan kontak dekat antara ibu dan bayi. Belum diketahui apakah virus cacar monyet dapat menyebar dari ibu ke bayi melalui ASI, dan saat ini masih merupakan area yang perlu diteliti lebih lanjut.

Penelitian bertahun-tahun tentang terapi cacar yang telah dapat dibasmi di seluruh dunia, telah menghasilkan pengembangan produk farmasi yang juga dapat bermanfaat untuk mengobati mpox. Misalnya, obat antivirus yang dikembangkan untuk mengobati cacar (tecovirimat) telah disetujui pada Januari 2022 oleh Badan Obat-obatan Eropa untuk pengobatan mpox dalam keadaan luar biasa. Pengalaman dengan terapi ini dalam konteks wabah mpox terus berkembang tetapi masih terbatas. Karena alasan ini, penggunaannya biasanya disertai dengan kewajiban untuk masuk dalam uji klinis atau protokol akses yang diperluas, disertai dengan pengumpulan data yang akan meningkatkan pengetahuan tentang cara terbaik untuk menggunakannya, di masa mendatang.

Ada vaksin yang direkomendasikan oleh WHO untuk digunakan melawan mpox. Penelitian selama bertahun-tahun telah menghasilkan pengembangan vaksin yang lebih baru dan lebih aman, yang berasal dari vaksin untuk penyakit yang telah diberantas secara global, yaitu cacar. Beberapa vaksin tersebut telah disetujui di berbagai negara untuk digunakan melawan mpox. Saat ini, WHO merekomendasikan penggunaan vaksin MVA-BN atau LC16, atau vaksin ACAM2000 jika vaksin lainnya tidak tersedia.

Hanya orang yang berisiko (misalnya, seseorang yang pernah menjadi kontak dekat dengan seseorang yang menderita mpox, atau seseorang yang termasuk dalam kelompok berisiko tinggi terpapar mpox) yang harus dipertimbangkan untuk divaksinasi. Vaksinasi massal, termasuk untuk anak, saat ini tidak direkomendasikan. Pelancong yang akan memasuki daerah endemis mpox dan mungkin berisiko berdasarkan penilaian risiko individu oleh dokter, mungkin perlu dipertimbangkan mendapatkan vaksinasi.

WHO saat ini merekomendasikan vaksin bagi orang-orang yang pernah melakukan kontak dekat dengan seseorang yang menderita mpox, atau orang-orang yang termasuk dalam kelompok berisiko tinggi terpapar mpox. Vaksin mpox memberikan tingkat perlindungan terhadap infeksi dan penyakit parah. Hasil penelitian efektivitas vaksin menunjukkan bahwa tingkat perlindungan yang baik diberikan terhadap mpox setelah vaksinasi.

Anak dengan imunosupresi berisiko lebih tinggi terkena mpox parah atau meninggal. Mpox yang parah dapat mencakup lesi yang lebih besar dan lebih luas (terutama di mulut, mata, dan alat kelamin), kondisi seperti peradangan pada jantung, otak, atau organ lainnya, atau infeksi bakteri sekunder pada kulit atau darah, dan infeksi paru-paru.

Anak dengan penyakit HIV stadium lanjut (jumlah CD4 rendah, dan viral load HIV tinggi) memiliki risiko kematian yang lebih tinggi jika mereka mengalami mpox parah. Hal ini lebih umum terjadi pada orang dengan status HIV yang tidak diketahui sebelum diagnosis mpox.

Anak yang hidup dengan HIV yang tidak lagi mengalami supresi virus melalui pengobatan antiretroviral (ARV), tampaknya tidak memiliki risiko lebih tinggi mengalami mpox parah, daripada populasi umum. Penggunaan setiap hari antiretroviral (ARV) mengurangi risiko timbulnya gejala mpox parah pada anak dengan HIV, jika terjadi infeksi. Anak dengan HIV yang tidak diobati dan penyakit HIV stadium lanjut, sangat mungkin mengalami gangguan kekebalan tubuh, dan karenanya berisiko lebih besar mengalami mpox parah. WHO menyarankan agar setiap negara mengintegrasikan pengujian, pencegahan, dan perawatan HIV dan mpox.

Kasus mpox parah yang terlihat di beberapa negara di Afrika menyoroti kebutuhan mendesak untuk meningkatkan akses yang adil terhadap tes diagnostik, vaksin, dan terapi mpox, serta pencegahan, pengujian, dan pengobatan HIV. Jika anak hidup dengan HIV, teruslah minum obat HIV sesuai petunjuk. Pada tahun 2023, terdapat 9 juta orang, termasuk anak, di seluruh dunia yang hidup dengan HIV, tetapi tidak menjalani pengobatan HIV, berisiko terkena penyakit HIV stadium lanjut dan mpox yang mengancam jiwa, apalagi kalau tidak mendapatkan vaksinasi.

Saat ini, vaksin Mpox yang digunakan di Indonesia adalah jenis Modified Vaccinia Ankara-Bavarian Nordic (MVA-BN), yaitu vaksin turunan cacar (smallpox) generasi ketiga yang bersifat non-replicating. Pelaksanaan vaksinasi Mpox dengan MVA-BN telah dilakukan sejak 2023, setelah ditemukan kasus konfirmasi Mpox di Indonesia.

Apakah kita sudah bertindak bijak melindungi anak dari mpox?

Yogyakarta, 25 September 2024

*) dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM. WA :  081227280161

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?