Tulisan ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 23 Maret 2025, halaman 8, kolom HUSADA dengan judul ’Merawat Telinga berpengaruh pada Masa Depan’.
Tema Hari Pendengaran Sedunia Senin, 3 Maret 2025 adalah mengubah pola pikir untuk mewujudkan perawatan telinga dan fungsi pendengaran bagi semua orang! (Changing mindsets: Empower yourself to make ear and hearing care a reality for all!)
Pada tahun 2030 kelak, lebih dari 500 juta orang diperkirakan mengalami gangguan pendengaran yang memerlukan rehabilitasi. Lebih dari satu miliar orang muda menghadapi risiko kehilangan pendengaran permanen akibat paparan suara keras dalam jangka panjang, selama kegiatan rekreasi seperti mendengarkan musik dan bermain video game.
Cara kita mendengar di masa depan bergantung pada cara kita merawat telinga kita saat ini, karena banyak kasus kehilangan pendengaran dapat dihindari melalui penerapan praktik mendengarkan yang aman dan perawatan pendengaran yang baik. Bagi mereka yang mengalami kehilangan pendengaran, identifikasi dini dan akses ke rehabilitasi tepat waktu sangat penting, untuk mencapai potensi tertinggi mereka.
Hampir 20% orang mengalami beberapa tingkat kehilangan pendengaran dan persentase ini terus meningkat. Oleh karena itu, kemungkinan besar kita perlu berkomunikasi dengan orang dengan gangguan pendengaran dalam kehidupan sehari-hari kita. Mengetahui strategi komunikasi yang baik bagi penyandang gangguan pendengaran akan memungkinkan kita menjadi komunikator yang baik. Bersikap ramah terhadap seorang tuna rungu atau gangguan pendengaran sangat penting, untuk menumbuhkan inklusivitas dan memastikan komunikasi yang efektif. Hal ini mendorong terciptanya lingkungan yang mendukung yang memungkinkan setiap orang untuk berpartisipasi penuh dalam kegiatan sosial.
Pada saat kita berinteraksi dengan seseorang dengan gangguan pendengaran, maka sebaiknya kita saling bertatap muka. Hal ini memungkinkan mereka untuk melihat wajah kita, sehingga lebih mudah untuk membaca gerak bibir dan memahami ekspresi wajah. Sebaiknya kita berkomunikasi secara visual menggunakan wajah, tubuh, dan tangan untuk mengekspresikan diri. Berbicaralah dengan jelas dan dengan kecepatan sedang. Hindari berteriak, karena dapat mendistorsi ucapan dan membuat membaca gerak bibir menjadi sulit. Ucapan yang jelas dan disengaja lebih mudah dipahami.
Selain itu, berbicaralah satu per satu dan hindari berbicara bersamaan dengan orang yang lain, karena hal ini dapat menimbulkan kebingungan. Berbicara satu per satu membantu orang yang sulit mendengar untuk fokus pada pembicara. Manfaatkan teknologi baru dan potensi ponsel pintar atau tablet, seperti menggunakan aplikasi suara-ke-teks, layanan penerjemahan bahasa isyarat jarak jauh, dan kamus bahasa isyarat digital. Pelajari tanda-tanda dasar dan ejaan jari, gunakan kesempatan untuk mempelajari tanda-tanda dasar dan ejaan jari dalam bahasa isyarat nasional yang digunakan oleh orang yang tuli.
Sebagai seorang guru di sekolah umum, perlu mendukung anak yang tuli atau sulit mendengar di kelas. Tanyakan kepada anak apa yang dibutuhkan untuk akomodasi yang wajar, sehingga para guru,siswa, dan staf sekolah dapat menjadi sekutu. Jika memungkinkan, mintalah persetujuannya untuk menempatkan anak di kursi kelas deretan depan dan tatap anak secara langsung ketika berbicara.
Dukung anak yang menggunakan alat bantu dengar atau implan dengan mempelajari cara memecahkan masalah umum, seperti mengganti baterai. Dorong anak untuk memberi tahu saat mereka tidak mendengar orang lain dan ingin mereka mengulangi perkataan mereka. Dorong anak lain di kelas untuk berkomunikasi dengan baik, seperti mempelajari bahasa isyarat nasional anak tersebut atau menggunakan komunikasi visual.
Gunakan loop induksi pendengaran dan sistem modulasi frekuensi (FM) karena sistem ini dapat memastikan komunikasi yang lebih lancar bagi anak yang menggunakan alat bantu dengar atau implan. Ajari anak untuk membela diri sendiri dan melakukan banyak hal secara mandiri atas kebutuhan mereka di rumah dan di sekolah. Misalnya, dorong anak untuk memberi tahu guru atau orang tua mereka, saat alat bantu dengar berhenti bekerja.
Dorong orang tua untuk mengungkapkan disabilitas anak mereka dan tidak menyembunyikannya. Libatkan anak dalam semua kegiatan dan dorong anak lain untuk melakukan hal yang sama. Juga fasilitasi pertemuan antara anak dan teman sebaya lainnya serta orang dewasa yang juga tuna rungu atau sulit mendengar. Pastikan apakah anak tersebut mengalami gangguan pendengaran, jika anak tidak berprestasi baik di kelas dengan mendorong orang tua untuk memeriksakan pendengaran anak tersebut ke dokter.
Masyarakat dapat melibatkan orang yang sulit mendengar dalam berbagai kegiatan. Misalnya dengan memastikan komunikasi yang dapat diakses, informasi tertulis, subtitel atau teks, dan tersedianya juru bahasa isyarat yang profesional. Ruang publik sebaiknya juga dibuat ramah bagi orang sulit mendengar. Misalnya dengan cara pemasangan peringatan visual untuk pengumuman penting, seperti lampu yang berkedip atau teks yang bergulir, untuk melengkapi pemberitahuan atau informasi selain pendengaran. Juga penyediaan sistem loop induksi pendengaran yang mentransmisikan audio langsung ke alat bantu dengar, meningkatkan kualitas suara bagi individu yang tuli atau sulit mendengar.
Momentum Hari Pendengaran Dunia (World Hearing Day) 2025 mengingatkan kita untuk mendorong sebanyak mungkin orang untuk mengubah perilaku, guna melindungi pendengaran mereka dari suara keras dan mencegah kehilangan pendengaran, memeriksakan fungsi pendengaran secara teratur, menggunakan alat bantu dengar jika diperlukan, dan mendukung mereka yang mengalami gangguan pendengaran.
Apakah kita sudah melakukannya?
Sekian
Yogyakarta, 20 Februari 2025
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM.
Ada dua kerajaan yang pernah berdiri dalam periode yang berbeda dan keduanya disebut Mataram. Kerajaan Mataram Hindu atau Kerajaan Mataram Kuno terletak di sekitar Magelang, Jawa Tengah, dekat tempat kami dilahirkan. Kerajaan ini didirikan pada abad ke-8 oleh Raja Sanjaya yang bergelar Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Dinasti yang memerintah Kerajaan Mataram Kuno adalah Dinasti Sanjaya, Dinasti Syailendra dan Dinasti Isyana hingga awal abad ke-11. Kata “Mataram” diambil dari Bahasa Sansekerta “Matr” yang memiliki arti sebagai “ibu” yang melambangkan kehidupan, alam dan lingkungan.
Pemitan dengan Joviel (2,5 tahun) yang tidak mau diam dan merengek ingin ikut ke Mataram
Kerajaan dengan nama sama yang selanjutnya adalah Kesultanan Mataram Islam, yang didirikan oleh Panembahan Senapati pada tahun 1586, dengan ibukota di Kotagede, dekat Yogyakarta. Sepanjang abad ke-16 Kesultanan Mataram mencapai puncak kejayaannya di bawah pemerintahan Susuhunan Anyakrakusuma atau Sultan Agung (Sultan Agung Adi Prabu Anyakrakusuma). Mataram adalah salah satu kerajaan terkuat di Jawa, kesultanan yang menyatukan sebagian besar pulau Jawa, yakni Jawa Tengah, DI Yogyakarta, sebagian besar Jawa Barat dan Jawa Timur, kecuali Banten. Selain itu juga menguasai daerah Madura, dan Sukadana (Kalimantan Barat), Makasar, serta sebagian Pulau Sumatera (Palembang dan Jambi). Perjanjian Giyanti yang ditandatangani oleh Pangeran Mangkubumi dengan VOC Belanda membuahkan kesepakatan bahwa Kesultanan Mataram dibagi dalam dua kekuasaan, yaitu Nagari Kasunanan di Surakarta dan Nagari Kasultanan Ngayogyakarta di Yogyakarta. Perjanjian yang ditandatangani dan diratifikasi pada tanggal 13 Februari 1755 di Giyanti ini, secara hukum menandai berakhirnya Kerajaan Mataram Islam.
Sebagian anggota rombongan IDI Wilayah DIY yang akan terbang tinggi menuju Mataram di Bandara YIA Yogyakarta Internasional Airport
Kami adalah rombongan dokter dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), untuk mengikuti Muktamar XXXII IDI Tahun 2025, yang merupakan acara rutin oleh organisasi profesi dokter terbesar di Indonesia. Muktamar IDI ke 32 dilaksanakan pada 12-15 Februari 2025, bertempat di Hotel Lombok Raya, Jl. Panca Usaha No 11, Mataram, Nusa Tenggara Barat. Perjalanan kami antar Mataram dari situs Mataram Islam Yogyakarta ke Kota Mataram di NTB, tentu sangat diimpikan.
Peserta lengkap IDI Wilayah DIY yang hadir pada Muktamar IDI ke 32 di Mataram.
Peserta Muktamar IDI ke 32 dari IDI wilayah DIY adalah dr. Joko Murdiyanto, Sp. An., MPH., FISQua, dr. Heni Suryadi, dr. Dewi Irawty, MKes, dr. Rina Nuryati, MPH, dr. Dela Oktaviana, dr. Diah prasetyorini, M.Sc, Dr. dr. Ita Fauzia Hanoum, MCE, dr. Budi Nur Rokhmah, MH, dr. Abdul Latief, MKes, dr. Tri widjaja, Dr. dr. HM. Any Ashari, SpOG(K), dr. Melly, dr. Wisnu Wardana, dr. Dharmawan Lingga Artama, dr. Fajar Meitaharti, dr. Riska Novriana, dr. Desi Arijadi, dr. Eva Rusiene, dr. Lucia Srie Rejeki, MPH, dr. Wahyu Pamungkasih, dr. Tri Kusumo Bawono, SE, Dr. dr. Fx. Wikan Indrarto, SpA, dr. Atthobari, MPH, SpMK, dr. Sitti Aisyah Sahidu, SU, MKes, FISQua dan dr. Lipur Riyantiningtyas Budi, SH, SpFM. Muktamar IDI di laksanakan 3 tahun sekali, dihadiri oleh para dokter dari berbagai daerah di Indonesia, dan bertujuan untuk membahas berbagai isu dan perkembangan terkini dalam bidang kesehatan, untuk menetapkan arah dan kebijakan organisasi ke depan. Selain itu, Muktamar juga menjadi ajang untuk memperkuat solidaritas antar dokter, serta untuk menjalin kerja sama dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Indonesia. Dengan tema “Membangun Soliditas Dalam Beradaptasi Untuk Mewujudkan IDI Yang Berkemajuan”, diharapkan IDI dapat menciptakan kekompakan, tanggung jawab, dan keteguhan dalam beradaptasi saat menjalankan tugas profesi. Hal ini penting agar marwah organisasi yang baik dapat terus terjaga.
Perjalanan kami pada Selasa, 11 Februari 2025 sore diawali dengan terbang bersama Super Air Jet (SAJ), yaitu salah satu maskapai penerbangan domestik di Indonesia milik PT Kabin Kita Top yang berdiri pada Maret 2021, ketika Indonesia dan dunia sedang menghadapi pandemi Covid-19. Maskapai ini didirikan atas dasar optimisme bahwa peluang pasar, khususnya kebutuhan penerbangan domestik, masih ada dan terbuka luas. Maskapai ini memperoleh Sertifikat Operator Penerbangan dari Kementerian Perhubungan RI pada 30 Juni 2021 dan pada tahun yang sama meluncurkan 11 tujuan di Indonesia.
Super Air Jet dibiayai oleh pendiri Lion Air Group, Rusdi Kirana. Selain itu, maskapai ini dipimpin oleh Ari Azhari yang pernah menjabat sebagai General Manager of Services Lion Air Group. Maskapai ini mengadopsi model low cost carrier yang fokus pada perjalanan titik ke titik untuk mengangkut penumpang antar pulau di Indonesia, dengan berfokus pada milenial sebagai target pasar. Super Air Jet meluncurkan penerbangan dengan tiga Airbus A320-200 bekas, yang sebelumnya terbang untuk IndiGo Airlines dan Tigerair Australia. Tahapan awal maskapai Super Air Jet armada menggunakan armada generasi terbaru yaitu Airbus A320-200 yang berkapasitas 180 kursi kelas ekonomi. Kami duduk di kursi nomer 19F dekat jendela, sehingga mampu leluasa menikmati pemandangan awan, mendung dan daratan.
Airbus A320 adalah pesawat penumpang komersial jarak dekat sampai menengah yang diproduksi oleh Airbus. A320 merupakan pesawat penumpang pertama dengan sebuah sistem kendali fly-by-wire digital, di mana pilot mengendalikan penerbangan melalui penggunaan sinyal elektronik dan bukan secara mekanik dengan hendel dan sistem hidraulis. Kelompok pesawat A320 adalah satu-satunya kelompok pesawat berbadan sempit (narrow-body) yang diproduksi Airbus. Saking sempitnya badan pesawat, hanya ada 1 pintu keluar masuk untuk penumpang di sisi kiri depan.
Bandara Praya Zainudin Abdul Madjid Lombok
Bersama senior terhormat, Prof. Dr. Yati Soenarto, SpAK, PhD dari FKKMK UGM Yogyakarta, yang akan menerima anugerah IDI di Bandara Praya Zainudin Abdul Madjid Lombok
Kami mendarat dengan selamat di Bandar Udara Internasional Lombok (IATA: LOP), yang juga dikenal sebagai Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid, yang berlokasi di Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Bandara ini dioperasikan oleh PT Angkasa Pura I dan dibuka pertama kali pada tanggal 1 Oktober 2011 untuk menggantikan fungsi Bandara Selaparang, di dalam Kota Mataram. Bandara ini diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono dan arsitektur bandara ini memiliki ciri khas rumah adat Sasak. Bandara ini dibangun di atas lahan seluas 550 hektare yang menelan biaya Rp.625 miliar (US$73.100.000).
Setelah menjalani proses registrasi peserta Muktamar IDI ke 32 di areal Bandara Praya Zainudin Abdul Madjid Lombok, pada Selasa, 11 Februari 2025 pk. 22.30 waktu setempat, kami yang kelaparan segera menuju RM. Taliwang Alam Nyaman Jl. By Pass Bundaran BL Tanakawu. RM di dekat pintu gerbang Bandara Praya tersebut menyajikan menu Ayam Taliwang, yang makanan khas yang berasal dari Taliwang, Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Makanan ini berbahan dasar daging ayam. Daging ayam yang disajikan berasal dari ayam kampung muda yang dibakar kemudian dibumbui dengan semacam saus yang bahannya antara lain cabai merah kering, bawang merah, bawang putih, tomat, terasi goreng, kencur, gula merah, dan garam.
Setelah kenyang dan hampir mengantuk, kami segera naik HiAce Commuter menuju Kota Mataram, sekitar 43 km dari Bandara Praya Zainudin Abdul Madjid Lombok. Mataram merupakan kota terbesar sekaligus ibu kota dari Provinsi Nusa Tenggara Barat. Mataram merupakan Kota Inti kawasan Metropolitan Mataram Raya, sebuah kawasan metropolitan terbesar kedua di Kepulauan Nusa Tenggara setelah Sarbagita (Denpasar-Badung-Gianyar-Tabanan sebuah kawasan metropolitan di Provinsi Bali). Jumlah penduduk kota Mataram pertengahan tahun 2024 sebanyak 459.683 jiwa, dengan kepadatan penduduk sebanyak 7.500 jiwa/km2.
Kami segera check in di Hotel Lombok Raya Jl. Panca Usaha no 11 Mataram dan lanjut tidur nyenyak.
sekian laporan pandangan mata dan akan dilanjutkan lain waktu.
Ditulis dan diedarkan dari kamar C145 Hotel Lombok Raya di Mataram NTB, sambil masih mengantuk.
Rabu pagi, 12 Februari 2025
(bersambung)
KOTA MATARAM (hari kedua)
(sambungan)
Perjalanan kami bersama sejawat dokter dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ke Mataram, NTB dilakukan untuk mengikuti Muktamar XXXII IDI Tahun 2025. Muktamar IDI ke 32 dilaksanakan pada 12-15 Februari 2025, bertempat di Hotel Lombok Raya, Jl. Panca Usaha No 11, Mataram, Nusa Tenggara Barat.
Hari Rabu, 12 Februari 2025 saya terjaga di samping dr. Abdul Latief di kamar C145 Hotel Lombok Raya, untuk bergegas menuju Gereja Katolik St Maria Imaculata Jl Pejanggik Mataram. Saya berjalan kaki menyusuri Jl. Caturwarga melewati Hotel Aston dengan sedikit lari, karena pagi itu gerimis tidak mau berhenti dan misa kudus harian dilaksanakan pk. 6-6.30. setelah melewati beberapa blok, saya berbelok ke kanan masuk Gang IV untuk mencapai Jl. Pejanggik.
Selesai mengikuti misa kudus harian pagi di Gereja Katolik St Maria Imaculata Mataram NTB
Segera saya teringat Babad Lombok, yang menjelaskan tentang petualangan untuk menaklukkan wilayah Nusa Tenggara. Ekspedisi ini dipimpin Sunan Prapen yang berangkat bersama para mubalig Islam dan armadanya, dengan didukung puluhan kapal dan 10 ribu pasukan yang berasal dari daerah seperti Mataram Yogyakarta, Majalengka, Madura, Sumenep, Surabaya, Semarang, Gresik, Besuki Gembong, Candi, Betawi dan lainnya. Mereka dipimpin oleh pemukanya seperti Arya Majalengka, Ratu Madura dari Sumenep, Adipati Surabaya, Adipati Semarang, Patih Ki Jaya Lengkara, dan Raden Kusuma Betawi. Setelah mengislamkan raja Lombok Prabu Rangkesari, dengan berbasis di kotaraja Lombok di teluk Lombok, ekspedisi dipecah-pecah menjadi rombongan yang dikirim ke seluruh penjuru pulau Lombok.
Raja Mataram Prabu Rangkesari pada 1842 menaklukkan Kerajaan Pagesangan. Setahun kemudian yakni 1843 menaklukkan Kerajaan Kahuripan dan ibukota kerajaan dipidahkan ke Cakranegara, di daerah yang saya jelajahi pagi itu. Raja Mataram Lombok Prabu Rangkesari selain terkenal kaya raya juga adalah raja yang ahli tata ruang kota, bahkan melaksanakan sensus penduduk pertama kali.
Setelah selesai mengikuti misa harian pagi saya segera bergegas pulang ke Hotel Lombok Raya berjalan kaki melewati jalur lain dan kembali mengingat memori. Menyusuri Jl. Pejanggik sampai Air Mancur Mataram di persimpangan Jl. Bung Hatta, mengingatkan tentang Kerajaan Mataram yang dijatuhkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Pada 5 Juli 1894 ekspedisi Belanda yang dipimpin oleh Jenderal JA Vetter dan wakilnya Mayor Jenderal PPH Van Ham mendarat di Pelabuhan Ampenan. Pendaratan ini memicu pertempuran sengit dengan pasukan Kerajaan Mataram dan bahkan Mayor Jenderal PPH Van Ham terbunuh.
Monumen makam Mayor Jenderal PPH Van Ham, wakil komandan pasukan Belanda yang terbunuh tahun 1894, di seberang Hotel Lombok Raya
Jenazahnya sempat dimakamkan di Karang Jengkong, selanjutnya didirikan monumen gugurnya Van Ham, sampai sekarang masih sering dikunjungi oleh keluarga besarnya dari Belanda, dan terletak di seberang Hotel Lombok Raya tempat saya menginap, yang pagi itu saya lewati sepulang dari Gereja Katolik St Imaculata. Cukup merinding juga bulu kuduk saat melewati areal tersebut, karena menjadi teringat bahwa sejak itu Belanda mulai menerapkan sistem pemerintahan dwitunggal, yang berada di bawah Afdeling Bali Lombok, yang berpusat di Singaraja, Bali.
Setelah kemerdekaan Indonesia, Kota Mataram menjadi ibukota Propinsi NTB yang terbagi atas 6 kecamatan, yaitu Kecamatan Ampenan, Cakranegara, Mataram, Sandubaya, Selaparang dan Sekarbela.
Setelah sampai di Hotel Lombok Raya, saya segera menuju restoran untuk sarapan dan bertemu banyak dokter peserta Muktamar IDI ke 32, salah satunya adalah Dr. dr. M. Abid Khomaidi, SpOT yang akan mengakhiri jabatannya sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) periode 2022-2025. Dalam obrolan asyik semeja di dekat konter minuman panas, diselingi banyak anggukan kepala, lambaian tangan, berdiri berpelukan dan say hallo dengan banyak sejawat dokter lainnya, dr. Adib menjelaskan tentang posisi IDI sebagai organisasi profesi dokter ke depan. Setelah berlakunya UU nomor 17 tahun 2023 omnibuslaw tentang Kesehatan, peran IDI dalam aspek mutu dan legal sudah diambil alih oleh Kementerian Kesehatan RI, sehingga tinggal peran etik profesi medis yang harus tetap dipertahankan. Peran para pengurus IDI di semua tingkatan sangat menentukan, apakah IDI sebagai organisasi profesi dokter akan tetap dihargai oleh para dokter anggota, apalagi sekarang tidak lagi memiliki sumber pendapatan organisasi, baik berupa iuran wajib anggota ataupun dana pengurusan SKP (Satuan Kredit Profesi) IDI, termasuk biaya administrasi terbitnya rekomendasi ijin praktek dokter. Namun demikian, dr. Adib tetap optimis bahwa di hampir semua daerah di Indonesia, IDI tetap menjadi organisasi profesi dokter yang keberadaannya diakui oleh pemerintah daerah. Bahkan dr. Adib mencontohkan beberapa pengurus IDI Cabang tetap mampu menghidupi organisasi, berkoordinasi dengan dinas kesehatan setempat, mendapatkan dana operasional melalui program peningkatan kemampuan SDM dan mendampingi para dokter anggota yang menghadapi sengketa medis. Kita dianjurkan untuk meneladani aktivitas pengurus IDI Cabang Lamongan Jatim, Kampar Riau dan Bogor Jabar, yang disebut dr. Adib sebagai beberapa contoh IDI Cabang yang tetap hidup, berkembang baik dan berdenyut secara kreatif.
Kenangan saat berfoto bersama dengan Dr. dr. M. Adib Khomaidi, SpOT, Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia periode 2023-2025, saat sarapan pagi di Hotel Lombok Raya Mataram NTB
Setelah berfoto bersama dengan dr. Adib, saya segera menyampaikan rasa hormat dan pamit undur untuk mengikuti rangkaian simposium Muktamar IDI ke 32, di Ruang Selaparang dengan tema besar ‘Principal Management in Acute Onset’. Saya segera berkonsentrasi mengikuti simposium sesi pertama bertema : ‘Disaster triage and Orthopaedi management in acute onset earthquake’ oleh dr. Yogi Prabowo, SpOT(K) dari RS Islam Jakarta, kemudian ‘Neurosurgical emergencies management in earthquake disaster’ oleh Dr. dr. Bambang Priyanto, SpBS(K) dari Siloam Hospitals Mataram, dan ‘Initial response in health crisis condition’ oleh dr. Eko Widya Nugroho, SpEM Kepala Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Provinsi NTB. Topik menarik ini terinspirasi oleh gempa bumi besar tahun 2018 yang meluluhkan Mataram dan sekitarnya, terulang setiap sekitar 40 tahun, dan waktu itu saya hadir mewakili pengurus IDI Wilayah DIY memberikan bantuan dana, yang diterima oleh Dr. Dody Ario Kumboyo SpOG(K) sebagai Ketua IDI Wilayah NTB.
Saya segera pindah ke ruang Rinjani untuk mengikuti simposium paralel dengan topik : Mengenal dan tatalaksana hirscsprung disease oleh dr. Sunanto, SpBA, ‘Chronic venous insufisiency curent diagnostic and management’ oleh dr. I Made Arya Winatha, SpB(K)V, seorang Dokter Bedah Vaskular di Siloam Hospitals Mataram, ‘Cryosurgery: A New Option for Late-Stage Tumor Management’ oleh dr. Maz Isa Ansyori Arsatt, Sp.BTKV, Diagnosis dan tatalaksana retensio urine oleh dr. Akhada Maulana, SpU, ‘Abdominal compartement syndrome’ oleh dr. Aulia Ahimsa Martawiguna, MBiomed, SpB. Lanjut kembali ke ruangan sebelah untuk mendengarkan ‘Code Stroke and hyperacute treatment of ischemic stroke’ oleh Dr. dr. Sumantri, SpS, FINS, FINA, ‘neurointerventional management for ischaemic stroke: neurosurgery perspectiv’ oleh dr. Affan Priyambodo Permana, SpBS, ‘Hemorhagic stroke, neurointerventional approach’ oleh dr. Achmad Firdaus Sani, SpS(K), FINS, ‘Hemorhaegic stroke : do surgery of endovascular intervention’ oleh Dr. dr. Nur Setiawan Suroto, SpBS (K) dari Surabaya, dan ‘Update in Cervical Cancer Management’ oleh dr. I Made Widyalaksana Mahayasa, SpOG(K)Onk. Simposium yang menurut saya paling menarik adalah ‘Prenatal care: Early Diagnosis and Prompt Treatment’ oleh dr. Agus Rusdhy Hariawan Hamid, SpOG, SubsKFm, MARS, dan ‘Dealing with postpartum hemorrhage’ oleh dr. Ario Danianto, SpOGK(Subsp K.Fm). Diselingi pindah ruangan lagi untuk mengikuti simposium bertema ‘Pre-Hospital Medical Personnel Challenges in Large Scale Sport Event’ oleh dr. Mokh. Rakhmad Abadi, SpKO, ‘Management Muskuloskeletal Injury in Mass Public Event’ oleh dr. Audi Hidayatullah Syahbani, SpOT, dan ‘Awareness of Cardiac Arrest Among Sport Enthusiasts’ oleh dr. Yusra Pintaningrum, SpJP, FIHA, FAPSC, FAsCC.
Tertidur kelelahan yang sangat.
Setelah cukup penat dan lelah mengikuti berbagai perkembangan teknologi dan ilmu kedokteran terkini pada simposium paralel tersebut, saya segera bergabung dengan para dokter dari IDI Wilayah DIY untuk menjelajahi Lombok. Menggunakan 2 buah HiAce Commuter warna putih, berpelat nomer DR, dan velg mobil bercat emas, kami segera membelah gerimis yang tetap saja turun tanpa bosan, menuju toko grosir mutiara A&R di sebuah gang kecil Jl. Darul Hikmah, Genteng, Pagutan, Mataram. Setelah tertidur lelap saat teman2 sejawat berbelanja aneka perhiasan mutiara, kami lanjut menuju kampung Adat Sade, berupa komunitas asli suku Sasak yang masih menjaga tradisi aslinya.
Gerbang desa Sade yang eksotik, kampung adat suku Sasak di Lombok Tengah.
Desa Sade terletak di Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat, yang berada satu dusun dengan Desa Rembitan. Lokasi Desa Sade berada persis di samping Jalan Raya Praya-Kuta. Kami menikmati perjalanan di jalan nasional yang lebar, 4 jalur dengan sparator, halus dan nyaman seolah berupa jalan tol, sangat berbeda dengan jalanan padat di Pulau Jawa. Desa Sade merupakan salah satu Desa Adat Suku Sasak yang masih mempertahankan adat dalam kehidupan kesehariannya. Adat suku Sasak merupakan salah satu daya tarik wisatawan, baik dalam negeri maupun luar negeri. Desa Adat Sade memiliki sejarah panjang, dimana adat suku Sasak telah berlangsung kurang lebih 1.500 tahun yang lalu.
Penjelasan pendahuluan oleh seorang warga setempat, tentang adat suku Sasak di Desa Sade, Lombok Tengah
Saat memasuki halaman parkir, kami langsung melihat atap rumah warga yang terbuat dari anyaman bambu, berdiri kokoh di antara bangunan tembok warga sekitar, berbeda mencolok dengan nuansa pedesaan tradisional yang sangat terasa di Desa Sade. Luas Desa Sade sekitar 5,5 hektar dan memiliki sekitar 150 rumah. Setiap rumah terdiri satu kepala keluarga. Semua penduduk Desa Sade adalah suku Sasak Lombok. Penduduk Desa Sade masih satu keturunan karena mereka melakukan perkawinan antar saudara. Makanya saat anak-anak melintas dalam lari di sekitar kami, terlihat bahwa raut wajahnya saling mirip.
Keunikan Desa Sade adalah rumah beserta fungsinya yang terdiri dari beberapa jenis, yaitu Bale Bonter, Bale Kodong, dan Bale Tani. Masing-masing rumah memiliki fungsi yang berbeda. Bale Bonter berfungsi sebagai rumah pejabat desa. Bale Bonter juga berfungsi sebagai tempat persidangan adat. Sementara Bale Kodong berfungsi sebagai tempat tinggal untuk orang-orang yang sudah jompo. Tempat tersebut juga digunakan untuk orang sudah menikah namun belum memiliki tempat tinggal. Bale Tani berfungsi sebagai tempat tinggal masyarakat yang kebanyakan berprofesi sebagai petani.
Suasana gelap di dalam ruang utama rumah suku Sasak di Desa Sade Lombok Tengah, dengan lantai yang telah diolesi kotoran sapi.
Masyarakat Desa Sade memiliki kebiasaan membersihkan lantai rumah dengan kotoran kerbau atau sapi sekitar semiinggu sekali. Tujuannya supaya lantai bersih dari debu-debu yang melekat, menguatkan lantai, dan berfungsi untuk mencegah serangga, terutama nyamuk agar tidak masuk ke dalam rumah. Rumah Desa Sade memiliki desain yang sederhana, berdinding anyaman bambu, atap alang-alang kering, dan lantai yang terbuat dari campuran tanah liat dengan sekam padi. Bangunan rumah Desa Sade juga tahan gempa, masih terlihat kokoh meskipun wilayah tersebut pernah diguncang gempa.
Kenangan saat diterima oleh Dr. dr. Doddy Ario Kumboyo SpOG(K), Ketua IDI Wilayah NTB waktu itu, saat saya mengirimkan bantuan medis untuk korban gempa bumi NTB Agustus 2018
Mata pencaharian penduduk Desa Sade adalah petani. Mereka menanam padi di sawah tadah hujan yang tidak ada irigasinya, dengan masa panen setahun sekali. Di tengah menunggu masa panen, penduduk Desa Sade memiliki pekerjaan sampingan menenun untuk memenuhi kebutuhan pokok.
Bergaya sebelum melanjutkan perjalanan, di Gerbang Desa Sade sebuah desa adat suku Sasak di Lombok Tengah
Perjalanan selanjutnya setelah puas menikmati Desa Sade adalah melalui Jalan By Pass Bandara Internasional Lombok, untuk menuju Mandalika, sebuah kawasan wisata seluas 20.035 hektar yang berlokasi di Kuta, Pujut, Kabupaten Lombok Tengah NTB. Sejak 2017, Mandalika sudah diresmikan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pariwisata yang direncanakan dapat menjadi kawasan wisata. Nama Mandalika berasal dari nama seorang putri dalam cerita rakyat yang terkait dengan perayaan Nyale di Lombok.
Kawasan Mandalika awalnya direncanakan sebagai proyek investasi oleh Emaar Properties dari Uni Emirat Arab dengan penandatanganan nota kesepahaman pada 19 Maret 2008. Rencana tersebut kemudian dibatalkan karena terjadinya resesi ekonomi dunia tahun 2008.
Tujuan selanjutnya adalah merasakan sensasi balap di Sirkuit Mandalika Lombok Tengah
Kami segera menuju Sirkuit balap Internasional Mandalika, sirkuit Mandalika, atau dengan nama resminya yaitu Pertamina Mandalika International Street Circuit, yang diresmikan pada tanggal 12 November 2021 oleh Presiden Joko Widodo. Sebelumnya pada tanggal 23 Februari 2019. Lintasan balap di Mandalika memiliki panjang 4.320 kilometer dengan 17 tikungan. Sirkuit Mandalika menjadi tempat penyelenggaraan MotoGP dan Kejuaraan Dunia Superbike yang dibangun oleh Vinci Grand Projects. Proyek klaster olahraga dan hiburan seluas 120 hektare dengan kapasitas 195.700 ini mencakup pembangunan hotel dan fasilitas lainnya.
Pantai Mandalika yang eksotik, di samping sirkuit balap termegah di Indonesia
Sebagai bagian dari pemeliharaan konservasi, vegetasi yang menjadi latar belakang kawasan Resor Mandalika akan ditetapkan sebagai kawasan konservasi seluas lebih dari 3.000 hektar. Kawasan dengan banyak spesies asli ini hanya dapat diakses untuk kegiatan lingkungan berdampak rendah, seperti bersepeda atau mendaki, demi meminimalkan kerusakan pada flora dan fauna.
Bergaya di tribun penonton dekat sebuah tikungan sirkuit balap Mandalika, Lombok Tengah
Setelah berfoto bersama di tribun penonton dan melihat aktivitas mobil penyelamat melintas sitkuti balap Mandalika, kami segera menuju ke Bukit Seger yang menjadi pusat perhatian karena pernah menjadi spot foto pebalap MotoGP Repsol Honda, Marc Marquez. Pada waktu itu, Marquez datang ke Lombok bersama beberapa pebalap lainnya saat mengikuti tes pramusim MotoGP di Pertamina Mandalika Street Circuit atau Sirkuit Mandalika, Jumat (11/2/2022).
Gerbang Bukit Seger Mandalika Lombok
Bukit Seger adalah tempat terindah untuk melihat sunset dan menikmati panorama alam yang sangat indah. Dari situ saya dapat melihat tikungan maut Sirkuit Mandalika di sisi kiri, yang hanya dibatasi oleh sebuah jalan sekitar 50 meter sudah ada bibir pantai dengan ombak yang landai, di sisi kanan. Bukit Seger juga menjadi tempat untuk melihat adu balap, kelincahan pembalap melahap tikungan, dan keceriaan suasana balap di Sirkuit Mandalika.
Dari puncak Bukit Seger kita dapat melihat sebuah tikungan tajam Sirkuit Mandalika di sebelah kiri dan bibir pantai di sebelah kanan, yang dipisahkan hanya oleh sebuah areal paling sempit.
Setelah puas berfoto, kami segera meninggalkan Bukit Seger Mandalika dan lanjut kembali ke Hotel Lombok Raya, untuk mengikuti rapat koordinasi antar IDI Wilayah dan IDI Cabang seluruh Indonesia di ruang pertemuan utama (ballroom) Hotel Lombok Raya lantai 2.
Setelah selesai acara, lanjut saya ikut reuni tipis dengan teman sekelas di SMA Kolese de Britto Yogyakarta (JB). Om Pengky Jupiter (d/h The Tiong Peng) teman sekelas saya saat SMA saat ini adalah Direktur Utama PT Narmada, seorang asli Mataram. Perusahaannya memproduksi air mineral kemasan dengan merk Narmada, yang bersiap IPO menjadi perusahaan publik. Sangat senang bertemu teman yang lama tidak bersua, segera saya diajak keliling kota Mataram.
Diantar Om Pengky Jupiter memasuki areal alun-alun Ampenan
Tujuan pertama adalah salah satu lokasi kota tua yang dapat kita nikmati di Pulau Lombok, yaitu Ampenan. Saat ini menjadi kecamatan Ampenan yang berjarak sekitar 5 kilometer dari pusat kota di Mataram. Ampenan berasal dari kata “amben” yang dalam bahasa Sasak artinya adalah tempat persinggahan. Sejak abad 19 Ampenan telah menjadi pusat perdagangan yang ramai. Pada masa lalu, Ampenan merupakan pusat kota Lombok yaitu ketika Pemerintah Hindia Belanda menunjuknya sebagai Afdeeling atau wilayah administrasi setingkat kabupaten berdasarkan Staatbald nomor 181 tahun 1895 tertanggal 31 Agustus 1895.
Melalui peraturan itu pihak kolonial menjadikan Pulau Lombok sebagai bagian dari Karesidenan Bali dengan Ampenan sebagai pusat kegiatan jasa dan perdagangan. Sebagai sebuah pusat bisnis, pihak Hindia Belanda melengkapi Ampenan dengan kantor bank, bioskop, pasar, rumah ibadah, kantor dagang, permukiman kelas menengah dan rumah-rumah pejabat Belanda. Ciri khas bangunan-bangunan kolonial di Ampenan adalah dindingnya yang sangat tebal.
Melihat sebuah kapal tanker berlabuh di Pelabuhan Ampenan diantar Om Pengky Jupiter
Pada 1924 mereka membangun pelabuhan di pesisir Ampenan dan sejak itu kota buatan Belanda itu makin ramai. Pelabuhan Ampenan menjadi pintu keluar bermacam komoditas penting Pulau Lombok seperti padi, ternak sapi dan kuda yang dikirim ke daerah-daerah lain di Nusantara serta untuk kebutuhan ekspor. Ampenan perlahan mulai ditinggalkan sebagai kota perdagangan dan jasa ketika Jepang masuk dan menduduki Lombok dan menjadikan Mataram sebagai pusat pemerintahan. Kehidupan di Ampenan yang berpenduduk sekitar 90.000 jiwa tersebut semakin sepi tatkala pemerintah pada 13 Oktober 1977 memindahkan aktivitas pelabuhan ke Lembar sampai hari ini.
Setelah tidak lagi menjadi pusat perdagangan dan jasa, denyut kehidupan di Ampenan tetap terjaga. Mulai dari Jembatan Ampenan menuju ke Jalan Pabean hingga ke Pantai Ampenan yang kini dikenal sebagai Pantai Boom, masih kental dengan suasana tempo dulu. Memasuki kawasan ini dari Jembatan Ampenan, akan terlihat bangunan-bangunan tua yang masih kokoh berdiri, kendati rata-rata kondisinya kurang terawat.
Kota Tua Ampenan memiliki ratusan bangunan berarsitek Belanda yang menjadi cagar budaya. Bangunan yang berada di tepian jalan raya yang menghubungkan Kota Mataram dengan kawasan wisata Senggigi itu kini dalam kondisi rusak, tidak terawat, dan tidak berpenghuni. Padahal, Kota Tua Ampenan adalah salah satu dari 43 kota di Indonesia yang ditetapkan sebagai Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI).
Sejumlah bangunan tua di Jalan Niaga juga sudah ditata menjadi sebuah ruang kreatif dikemas dalam sebuah kegiatan “Ampenan Huis”. Lokasi itu dapat digunakan untuk para pelaku seni dan budaya untuk menampilkan hasil karya terbaiknya setiap akhir pekan. Pemkot Mataram bahkan telah membeli bangunan tua bekas Bank Dagang Belanda (Nederlandsch Indische Handelsbank) yang ada di areal bekas Pelabuhan Ampenan. Bangunan tua bekas Bank Dagang Belanda bergaya art deco tersebut dibeli, guna menyelamatkan cagar budaya yang harus dijaga dan dilestarikan.
Bangunan tua bekas Bank Dagang Belanda (Nederlandsch Indische Handelsbank) bergaya art deco dengan atap tinggi yang ada di areal bekas Pelabuhan Ampenan.
Setelah berfoto bersama Om Pengky di bangan bekas Bank Dagang Belanda, kami segera menuju rumah asli Om Pengky di dekat wihara Ampenan. Rumah tua, terawat dan bersejarah itu sekarang ditinggali oleh kakak tertua. Selanjutnya kami menikmati inspirasi dari abad ke-18, yaitu Cakranegara. Sekarang menjadi Kecamatan Cakranegara, tetapi ini telah memberi contoh bagaimana seharusnya sebuah kota dibangun, karena kota lama ini dirancang dengan masterplan modern yang melampaui zamannya. Sisa-sisanya masih dapat dilihat sampai sekarang, yaitu Kota Cakra ini tersusun dalam blok-blok persegi (grid pattern) dengan jalan dan gang-gang lebar presisi yang terhubung satu sama lain. Cakranegara adalah kota yang dibangun ulang di permulaan abad ke-18 oleh Kerajaan Karangasem di Bali yang berkuasa di masa itu. Kota ini kemudian disempurnakan kembali oleh dinasti Kerajaan Mataram setelah perang suadara 1838. Kota ini didesain berdasarkan mitologi Hindu, dengan dataran rendah Cakranegara dibagi dalam blok-blok pemukiman yanh menempatkan Pura Meru Mayura berada di tengah. Sementara di sisi barat terdapat Pura Dalem, Karang Jangkong dan Pura Puseh di pojok sebelah timur, menyerupai formasi kota kuno di Bali.
Sisa-sisa keteraturan Cakranegara masih terasa hingga kini. Cakra dibagi oleh dua jalur arteri utama (marga sanga) yang saling menyilang, yaitu jalan Pejanggik-Selaparang yang membelah timur-barat dari Karang Jangkong hingga Sweta. Kemudian dari utara-selatan ada jalan Sultan Hasanudin–AA Gede Ngurah yang menghubungkan Karang Taliwang dan Abian Tubuh. Dua jalur ini bertemu di perempatan Cakranegara di depan Hotel Lombok Plaza.
Penataan kota dengan jalan yang lebar ini memudahkan lalulintas orang dan barang. Selain itu, juga mendukung aspek pertahanan sebuah pusat pemerintahan. Cakra dibangun tepat di tengah jalur yang menghubungkan Pelabuhan Ampenan dan Labuhan Lombok. Jalan ini juga menghubungkan akses Cakra dengan Pelabuhan Lembar dan Lombok Utara.
Pada awalnya Cakranegara dirancang untuk 33 banjar (lingkungan). Angka 33 merujuk pada bilangan khusus dalam kepercayaan Hindu dimana ada 33 dewa yang menghuni Puncak Meru (Mahameru). Dalam desainnya, satu lingkungan (karang) terdiri atas 80 kapling rumah yang terbagi atas empat marga. Satu marga memanjang utara selatan, tersusun atas 20 kapling rumah yang saling memunggungi. Hal inilah yang membuat setiap rumah akan berhadapan langsung dengan jalan baik jalan marga sanga (jalan utama) marga dasa (jalan lingkungan) dan marga (jalan kecil/gang). Dengan pengaturan ini setiap keluarga di Cakranegara akan menempati satu kapling lahan dengan luas antara 6-8 are.
Sementara itu setiap lingkungan (karang) dibagi melintang utara-selatan dengan jalan-jalan yang sedikit lebih sempit atau yang dikenal dengan Marga Dasa. Di ujung barat misalnya ruas-ruas ini menghubungkan Jalan Kebudayaan di utara dengan Jalan Songket di selatan. Oleh karena itulah setiap orang sebenarnya tidak akan tersesat di jalan, karena semua jalur marga dasa akan memiliki persilangan dengan jalur utama Marga Sanga.
Lebih dari itu penataan ini memungkinkan sisi jalan ditumbuhi pohon-pohon pelindung. Kemudian dilengapi saluran drainase yang terhubung dengan kanal-kanal lebih besar menuju sungai. Hal inilah yang membuat Cakra selalu siap menghadapi banjir karena pemukiman dibangun lengkap dengan sistem pembuangan air hujan yang terpadu.
Selayaknya sebuah Super Cluster dalam perumahan modern, Cakra juga dilengkapi ruang-ruang publik dan pusat perekonomian. Selain Pura Miru hampir semua lingkungan memiliki Pura. Kemudian sebagai pusat ekonomi Pasar Cakra dibangun. Ini adalah bentuk umum pasar-pasar lama baik di Jawa dan Bali, yang berdiri tak jauh dari gerbang pura yang sampai sekarang masih dapat dilihat. Sebagai daerah koloni Karangasem, nama-nama kampung di Cakranegara juga banyak diambil dari nama-nama tempat di Bali. Seperti Karang Ujung, Sindu, Pondok Perasi, Pagutan, Karang Tangkeban, Tohpati dan lainnya. Tatakelola Hindu-Bali yang dianut dalam penataan Kota Cakranegara juga berpengaruh pada pengaturan penghuni daerah perumahan di distribusikan menurut empat kasta yang ada, Brahmana, Kesatriya, Weisya dan Sudra.
Dalam sistem Kota Cakranegara kebanyakan para Brahmana tinggal di sebelah Utara dan Timur. Ini mengacu pada arah Timur laut adalah arah yang dianggap suci mengikuti arah Gunung Rinjani. Sedangkan kasta Ksatriya sebagian besar banyak yang tinggal disebelah Barat. Kasta Weisya banyak yang tingal disebelah Timur. Sementara kasta sudra atau Bali biasa, banyak hidup di semua bagian blok sesuai aturan kerajaan. Sejumlah perkampungan Muslim Sasak diizinkan berdiri diantara perkampungan Bali di Cakra dan Mataram, yang pada awalnya masih terbatas bagi mereka yang memiliki keterampilan khusus. Seperti para perawat gamelan di Karang Kemong, perajin emas di Kamasan dan Sekarbela, juru masak di Karang Tapen dan Pelaras dan pembuat Senjata di Karang Bedil.
Wajah Kota Cakranegara berubah seiring dengan runtuhnya dinasti Mataram. Perang melelahkan dengan koalisi Timur Juring dan Belanda di tahun 1894 mengakhiri riwayat kerajaan Mataram ini. Selepas perang hampir seluruh perkampungan Bali di Mataram dan Cakra dihancurkan. Harta kerajaan dijarah, termasuk 453 kilogram emas, 3.173 kilogram harta berbahan perak dan 75 peti permata dan batu mulia lainnya. Ini belum termasuk benda-benda penting seperti senjata dan naskah-naskah kuno di perpustakaan kerajaan Mataram. Sementara sisa-sisa keluarga Kerajaan Mataram yang selamat ditangkap dan diasingkan. Mereka tak diperkenankan bersatu kembali dengan jalan diasingkan terpisah di Batavia, Cianjur, Sulawesi dan Bengkulu. Sementara sebagai penguasa baru, Belanda membawa para bangsawan Bali dari Buleleng untuk memimpin Cakranegara.
Puri raja kini menjadi komplek pertokoan di barat Taman Mayura. Yakni dari Jalan Selaparang hingga Jalan Tenun di utara. Setelah Belanda berkuasa, Mataram dipilih sebagai pusat pemerintahan. Sementara Cakra bergerak sebagai pusat niaga. Bersamaan dengan itu pola hunian dan kepemilikan lahan di Cakra tak lagi berdasar kasta. Semua orang bebas memiliki lahan selama tak bertentangan dengan aturan Kolonial Belanda. Sejak saat inilah Cakra menjadi lebih heterogen. Mayarakat Sasak yang dulu berada di luar boleh masuk selama mampu membeli lahan. Kemudian etnis lain seperti Cina, Arab, Bugis, Jawa dan lainnya bisa berdampingan dengan masyarakat Hindu-Bali yang sebelumnya menguasai kota. Hasilnya bisa dilihat kini, Cakra tak hanya didominasi Pura. Rumah ibadah lain seperti Masjid, Vihara hingga Gereja dapat ditemui. Namun di balik itu struktur kota yang dibangun dalam pola grid ini masih bertahan hingga kini.
Disambut Ibu Desi, istri Om Pengky yang berdarah Belanda, di rumahnya yang artistik di Mataram
Setelah puas menikmati pesona kota yang tertata di Cakranegara, kami segera menuju rumah Om Pengky Jupiter yang indah, luas, dan bersih di belakang kompleks Kejaksaan Tinggi NTB di Dasan Agung Mataram. Saat ini Om Pengky hanya tinggal berdua bersama mbak Desi, sang istri yang berdarah Belanda, karena puteri tunggalnya kuliah Desain Komunikasi Visual (DKV) di Singapura. Saya senang sekali ikut menikmati acara persiapan cap go meh di rumah indah itu, yang dilengkapi kolam renang pribadi, bahkan kami semua sesama alumni JB 84 diundang ke Mataram, akan dijamin senang. Suasana Imlek masih tersisa di beberapa sudut rumahnya, yang membuat siapapun pasti kerasan tinggal di rumah tersebut, mbak Desi, istrinya yang cantik, ramah dan berdarah Belanda telah menyiapkan hidangan khas Mataram. Kami mengobrol di ruang tengah yang lebar di dekat kolam renang pribadi, dan ngobrol berbagai kenangan indah maupun menyakitkan, saat kami bersama di SMA Kolese de Britto Yogyakarta. Oleh karena bersamaan dengan acara cap go meh di rumahnya, saya segera pamit untuk jalan lagi dan atas kebaikannya, sopir dan mobil Honda CRV disiapkan untuk mengantar saya.
Sore itu saya menikmati kota Mataram yang merupakan kota multi etnis dan agama. Pengaruh budaya Sasak dan Bali, sangat terasa di kota ini. Adapun keberagaman penduduk kota Mataram menurut agama yang dianut (2024), yakni pemeluk agama Islam 83,02% yang umumnya dianut suku Sasak, kemudian Hindu 13,72% yang dianut suku Bali.
Masjid Raya Hubbul Wathan Islamic Center Lombok yang memiliki menara setinggi 99 meter dan dinamakan Asmaul Husna
Lombok bahkan dijuluki sebagai Pulau Seribu Masjid, karena mayoritas masyarakatnya memeluk agama Islam. Sebutan ini bermula dari kunjungan Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama Effendi Zarkasih di tahun 1970, saat meresmikan Masjid Jami Cakranegara atau yang sekarang lebih resmi dikenal sebagai Masjid Raya Hubbul Wathan Islamic Center Lombok. Sebagai ikon religi di Lombok, Masjid megah ini adalah destinasi yang tak boleh dilewatkan, terletak di pusat kota, dan memiliki menara setinggi 99 meter yang dinamakan Asmaul Husna. Kemegahan arsitekturnya menggabungkan nuansa Islam dengan motif batik khas Sasambo. Tidak hanya menjadi tempat ibadah, masjid ini juga menawarkan panorama indah dari puncak menara yang memungkinkan menikmati pemandangan Kota Mataram dari ketinggian.
Taman Mayura yang indah bercorak Hindu Bali dan terawat baik di Mataram NTB
Selanjutnya saya menikmati keindahan taman Air Mayura, yang merupakan peninggalan sejarah masa kerajaan di Lombok. Nama “Mayura” diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti merak. Dulunya, burung merak dihadirkan di taman ini untuk mengusir ular yang sering mengganggu pengunjung. Selanjutnya saya mengagumi keelokan Pura Meru, yang berdiri gagah tidak jauh dari Taman Air Mayura dan merupakan pura terbesar di Lombok. Pura ini dibangun pada masa kerajaan oleh Anak Agung Ngurah Karangasem dan memiliki 33 sanggah yang melambangkan desa-desa di sekitarnya yang berperan dalam pembangunannya. Akan dapat dilihat perpaduan arsitektur khas Lombok dengan sentuhan Jawa Kuno, menciptakan nuansa spiritual yang unik.
di gerbang Istana Narmada yang sangat luas dan menawan, tetapi sudah terlanjur tutup sore itu
Lebih ke utara lagi, sore itu saya mengunjungi Istana Narmada, sebuah kompleks taman dan istana yang dibangun oleh Raja Anak Agung Gede Karangasem pada tahun 1727. Istana ini dibangun sebagai replika mini dari Gunung Rinjani dan Danau Segara Anak, yang digunakan sebagai tempat upacara keagamaan dan peristirahatan raja. Namun demikian, sore itu Istana Narmada yang telah menjadi objek wisata populer sudah tutup jam kunjung, sehingga saya tidak mampu menikmati pemandangan yang asri, nuansa Hindu yang kental, dan sejarah yang kaya.
Kemudian saya diantar mengunjungi salah satu pabrik air mineral kemasan Narmada, yang tengah berkembang pesat. Om Pengky Jupiter teman sekelas saya di SMA Kolese de Britto Yogyakarta dulu, adalah manajer bertangan dingin yang membuat perusahaan tersebut cepat besar.
Om Pengky Jupiter teman sekelas saya di SMA Kolese de Britto Yogyakarta dulu, adalah manajer bertangan dingin yang membuat perusahaan Narmada pembuat air mineral kemasan tersebut cepat besar.
Bersama dr. Suwardiman MKes SpKKLP teman seangkatan saya di FK UGM 84, sebagai utusan IDI Cabang Kota Metro Lampung, saat menghadiri malam kesejawatan pada Muktamar IDI ke 32 di Hotel Lombok Raya Mataram
Selanjutnya saya diantar pulang kembali ke Hotel Lombok Raya Mataram untuk berpakaian adat Ngayogyakarta Hadiningrat dalam menghadiri malam keakraban peserta Muktamar IDI ke 32. Pada malam yang hingar bingar musik, sajian menu makanan aneka ragam dan gemerlap lampu di taman dekat kolam renang hotel, juga diberikan penghargaan IDI untuk Prof. dr. Yati Sunarto, SpAK, PhD, guru saya di Bagian Anak FK UGM Yogyakarta, yang membuat tambah bangga.
berpakaian adat Ngayogyakarta Hadiningrat dalam menghadiri malam keakraban peserta Muktamar IDI ke 32 berpakaian adat Ngayogyakarta Hadiningrat dalam menghadiri malam keakraban peserta Muktamar IDI ke 32
Sowan senior kakak kelas 2 tingkat di FK UGM Yogyakarta, yang menjadi Health Specialist Unicef NTT dan NTB, dr. VAMA Chrisnadharmani, MPH saat menginap di Fave Hotel Mataram, karena menjalankan tugas supervisi di Kabupaten Lombok Utara
Selanjutnya saya mengunjungi senior Dr. VAMA Chrisnadharmani Taolin, MPH Health Specialist Unicef Indonesia Perwakilan Kupang NTT, yang sedang menjalankan program pelatihan di Kabupaten Lombok Utara dan menginap di Fave Hotel Mataram NTB. Kiprah Univef Devisi Kesehatan di NTB misalnya adalah program pemantauan kondisi bayi baru lahir oleh orang tua, program MTBS (Manajemen Balita Sakit) dan kegawatdaruratan medis yang mudah dikenali orangtua, agar anak tidak terlambat dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat. Kisah inspiratif karya Unicef Indonesia untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat terpencil ini terbawa sampai mimpi pada tidur nyenyak saya di kamar C145 Hotel Lombok Raya Mataram malam itu.
Sekian dulu tulisan yang dibuat di lorong Hotel Lombok Raya, setelah sarapan pada Kamis pagi, 13 Februari 2025. Terimakasih
(Bersambung lain waktu, dengan petualangan lebih lanjut).
Salam pengelana -wikan
Disebarkan dari dalam kabin senyap bis Tiara Mas jurusan Bima Jakarta PP, yang membawa saya meninggalkan Mataram NTB menuju Denpasar Bali
DI MATARAM HARI KETIGA (laporan terakhir)
Kamis, 13 Februari 2025 saya mengikuti rombongan dokter dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pada Muktamar ke 32 IDI Tahun 2025 di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Pagi itu kami awali dengan sarapan bersama Dr. Ulul Albab, SpOG Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia periode 2022-2025. Obrolan santai di sela-sela sarapan menyinggung tentang tingginya biaya layanan kesehatan di Indonesia dibandingkan dengan di Malaysia, khususnya Penang. Dijelaskan bahwa perbedaan pandangan telah terjadi saat diskusi antara PB IDI dengan Kemenkes RI, dimana Kemenkes RI menyoroti biaya promosi obat kepada para dokter yang besar, yang harus ditanggung pasien adalah masalah prioritas yang harus dibereskan terlebih dahulu, agar biaya layanan kesehatan dapat diturunkan. Sebaliknya, PB IDI justru menilai bahwa penerapan pajak atas berbagai produk obat dan alat kesehatan yang besar dan kadang ganda, justru harus lebih dahulu diturunkan, bahkan kalau perlu dibebaskan. Perbedaan kedua sudut pandang ini belum dapat dijembatani sampai kepengurusan Dr. Ulul pada PB IDI akan berakhir.
Bersama dr. Ulul Albab, SpOG Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia
Setelah diskusi hangat sambil sarapan tersebut, kami segera bergegas untuk mengikuti rangkaian acara Pembukaan Muktamar IDI ke 32 yang diagendakan berlangsung pk. 8-9.30. Acara yang diselenggarakan di ruang pertemuan utama (ballroom) Hotel Lombok Raya Mataram NTB, dikawal ketat oleh banyak personil keamanan, panitia yang cekatan dan dihadiri dengan antusiasme oleh delegasi, dengan kehadiran hampir 80 persen dari seluruh IDI Cabang di Indonesia.
bersama mas dr. Bambang Suyamto SpTHT Ketua IDI Cabang Rembang Jawa Tengah, teman seangkatan saya di FK UGM Yogyakarta
Saya berjumpa dengan dr. Bambang Suyamto, SpTHT Ketua IDI Cabang Kabupaten Rembang, Jawa Tengah teman seangkatan di FK UGM Yogyakarta tahun 1984 dan mas dr. Didik Wijayanto Ketua Kompartemen JKN PB IDI periode yang lalu, kakak kelas setahun di FK UGM Yogyakarta. Reuni tipis tersebut sangat menyenangkan, karena dihiasi obrolan santai dan kenangan saat kuliah dahulu.
Bersama dengan mas dr. Didik Wijayanto Ketua Kompartemen JKN PB IDI, kakak kelas setahun di FK UGM dan Asrama Mahasiswa Ralealino Yogyakarta
Kemudian kami semua mengikuti acara resmi pembukaan Muktamar IDI ke 32, sebagai salah satu momentum memperkuat nilai-nilai kesejawatan serta profesionalisme dokter yang tertanam dalam Sumpah Dokter sebagai modal utama menghadapi tantangan masa depan.
Bersama Dr. dr. Dodi Ario Kumboyo SpOG(K) mantan Ketua IDI Wilayah NTB sebelum acara pembukaan Muktamar IDI ke 32 di Mataram
Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) periode 2022-2025 Dr. dr. Mohamad Adib Khumaidi, SpOT pada pidato pembukaan Muktamar. Keberadaan organisasi profesi IDI tetap relevan dan sangat dibutuhkan. Karena itu semua dokter anggota IDI diharapkan untuk terus memperkuat nilai-nilai kesejawatan yang tertanam dalam Sumpah Dokter sebagai modal utama menghadapi tantangan masa depan.
Kenangan bersama dengan Dr. dr. M Adib Khomaidi SpOT Ketua Umum PB IDI di Lamongan Jawa Timur
IDI lahir bukan karena kepentingan kelompok, melainkan karena kepentingan rakyat Indonesia. Sejarah panjang organisasi ini, sejak 1911 hingga menjadi satu kesatuan pada 1950, membuktikan bahwa IDI memiliki akar kuat dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat.
Untuk itu letak pentingnya transformasi organisasi melalui semangat IDI Reborn, dengan fokus pada penguatan internal, revitalisasi, dan komitmen perubahan.
bersama para dokter peserta Muktamar IDI ke 32 di Mataram NTB
Semua dokter seharusnya bersama-sama menciptakan resolusi perubahan demi IDI yang lebih baik, demi bangsa, rakyat, dan anggota,” katanya. Dalam menghadapi berbagai tantangan eksternal maupun internal, PB IDI berkomitmen menjadi organisasi yang lebih profesional dan modern melalui program-program strategis yang komprehensif. Semua dokter anggota IDI agar tidak terjebak dalam konflik internal yang dapat menghambat kemajuan organisasi.
Seperti kata Charles Darwin, yang bertahan bukanlah yang terkuat atau terpintar, melainkan yang paling mampu beradaptasi. Jadi, IDI juga harus menjadi institusi yang durable dan infinite, mampu bertahan menghadapi tantangan zaman.
Bersama dengan Dr. dr. M. Ali Firdaus SpA, SH, MH anggota tim BPH2A PP IDAI dari Tasikmalaya
Setelah sambutan Ketum PB IDI tersebut, Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, SH, MSc secara resmi membuka Muktamar IDI ke 32 mewakili Pemerintah Pusat. Menteri Yusril Ihza Mahendra menegaskan bahwa organisasi profesi seperti organisasi kedokteran idealnya hanya ada satu di Indonesia, bukan dualisme organisasi profesi kedokteran yang ada, yaitu Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Perkumpulan Dokter Seluruh Indonesia (PDSI).
Yusril mengatakan bahwa IDI adalah organisasi profesi yang berbeda dari organisasi lain seperti organisasi kemasyarakatan (ormas), perkumpulan, yayasan atau pun partai politik, sudah pasti berbeda.
Persoalan organisasi profesi seperti di kedokteran disebabkan karena belum mempunyai undang-undang (UU) tentang Organisasi Profesi. Sebab, organisasi profesi akan menjalankan sebagian dari fungsi negara. Ini menjadi tugas pemerintah untuk merancang UU organisasi profesi.
Secara ideal dokter seharusnya berhimpun dalam sebuah organisasi profesi bukan berhimpun dalam ormas. Memang IDI tidak mengangkat dokter tetapi idealnya izin dokter atau rekomendasi izin untuk praktek kedokteran dan kemudian melakukan pengawasan, pendidikan dan bahkan menerapkan sanksi, adalah tugas IDI. Karena organisasi profesi yang mempunyai hal itu dan itu tidak ada pada ormas.
Oleh karena itu, dalam posisi dualisme organisasi profesi antara IDI dan PSDI ini, Yusril menegaskan bahwa pemerintah akan berusaha menjembatani supaya akhirnya betul-betulnya mempunyai organisasi profesi kedokteran yang kuat dan menjadi mitra negara dalam menyelesaikan persoalan kesehatan yang dihadapi bersama.
Menteri Yusril menegaskan pentingnya IDI dalam menjaga ketahanan nasional. Oleh karena itu IDI harus tetap satu dan solid sebagai mitra strategis pemerintah dalam menjalankan berbagai fungsi negara, termasuk pengawasan profesi dokter.
Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan RI, Yusril Ihza Mahendra, secara resmi membuka acara tersebut dengan memukul gendang beleq, alat musik tradisional khas Lombok.
Setelah resmi dibuka oleh Menteri Yusril Muktamar IDI yang mengusung tema “Membangun Solidaritas dalam Beradaptasi untuk Mewujudkan IDI yang Berkelanjutan” diteruskan dengan diskusi panel pendukung tema. Sejumlah narasumber terkemuka turut hadir dalam sesi keynote speech, salah satunya Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan BPJS, dr. Lily Kresnowati, MKes
Ia membahas tantangan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) saat ini dan masa depan, dengan menyoroti peran penting Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan.
Sementara itu, narasumber lainnya seperti Dr. dr. Mahlil Ruby, MKes Direktur Pengembangan BPJS Kesehatan kesehatan dan drg. Iing Ichsan Hanafi, HMA, Ketua Umum Asosiasi RS Swasta Indonesia (ARSI) yang membedah berbagai tantangan kebijakan BPJS, khususnya dalam implementasi di rumah sakit. Isu pembatasan tindakan medis oleh BPJS serta dampaknya terhadap fasilitas kesehatan juga menjadi sorotan dalam diskusi yang dipandu oleh Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH, DrPH
Setelah ISHOMA acara dilanjuktan dengan Sidang Pleno I pk. 14-15.30 tentang penetapan kuorum, agenda, tata tertib muktamar dan presidium sidang muktamar. Lanjut pada Sidang Pleno II pk. 15.30-18 tentang laporan pertanggungjawaban Ketua Umum PB IDI, Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK), Majelis Pengembangan Pelayanan Kedokteran (MPPK), Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia (MKKI), penyampaian pandangan umum dan penetepan demisioner PB IDI periode 2022-2025.
Dr. dr. Moh Adib Khumaidi, Sp.OT adalah Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) periode 2022-2025. Selain itu, dr. Adib juga merupakan dosen tetap di Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta. Ia meraih gelar doktor bidang Ilmu Kedokteran dari Fakultas Kedokteran Universitas Hasanudin. Beberapa kegiatan yang dilakukan oleh Ketua Umum PB IDI, antara lain: Melantik Pengurus Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) masa bakti 2024-2027, Melantik Pengurus IDI Wilayah Bali masa bakti 2024-2027, Melantik Pengurus Kolegiun Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Indonesia masa bakti 2024-2027, Melantik Pengurus IDI Wilayah Jawa Barat masa bakti 2024-2027 dan hadir dalam acara Halal Bi Halal dan Seminar Hukum Kesehatan 2024.
Kenangan bersama Dr. dr. M Adib Khomaidi SpOT di makam dr. Wahidin Sudirohusodo di Yogyakarta
Sorenya pk. 15.30-18 dilanjutkan dengan pengukuhan Ketua Umum PB IDI periode 2025-2028, pembacaan ketetapan Muktamar IDI ke 32, serah terima jabatan Ketua Umum PB IDI periode 2022-2025 kepada Ketua Umum PB IDI periode 2025-2028. Dr. dr. Slamet Budiarto, SH, MH.Kes yang selanjutnya menjadi Ketua Umum PB IDI periode 2025-2028 sebelumnya adalah Ketua IDI Provinsi DKI Jakarta. Selain itu, juga menjabat Wakil Ketua MPKU PP Muhammadiyah, Ketua umum PP PKFI (Perhimpunan Klinik dan Faskes Primer Indonesia), Direktur Utama RS Islam Jakarta Pondok Kopi yang meraih gelar Doktor Administrasi dan Kebijakan Kesehatan di FKM UI Jakarta, sekaligus sebagai Ketua Dewan Pembina Lembaga Akreditasi Rumah Sakit Indonesia (LARSI), merupakan salah satu dari 6 Lembaga Independen Penyelenggara Akreditasi Rumah Sakit yang didirikan pada tanggal 13 September 2021.
Setelah ISHOMA malam harinya akan dilanjutkan sidang organisasi yang dibagi dalam beberapa komisi. Komisi A membahas tentang AD ART IDI, komisi B membahas tentang pendidikan dokter dan CPD, komisi C membahas pelayanan profesi kedokteran, komisi D membahas tentang etika, disiplin dan hukum, komisi E membahas tentang kebijakan organisasi dan renstra, sedangkan komisi F membahas tentang rekomendasi organisasi.
Namun demikian, sore itu saya pamit mundur dari arena Muktamar IDI ke 32 di Hotel Lombok Raya Mataram, untuk menyeberang ke Pulau Bali. Atas kebaikan Om Pengky Jupiter teman sekelas saya di SMA Kolese de Britto Yogyakarta tahun 1984, Direktur Utama PT Narmada pembuat air mineral kemasan, mengantar saya ke kantor PO Tiara Mas. Setelah menunggu sedikit waktu bis bernomor polisi EA 7615 A, berbodi Avante H7 Super High deck buatan karoseri Tentrem Malang, dan bersasis Hino RM 280 datang dengan penuh muatan di kedua sisi bagasi, bahkan bagasi sisi atas belakang bis.
bis Tiara Mas jurusan Bima Jakarta yang mengantarkan saya meninggalkan Mataram NTB menuju Denpasar Bali
Bis ini telah berangkat dari Bima NTB kemarin Rabu malam dan Kamis siang ini saya naik dari pool bis di Jl. Selaparang Mataram, untuk menyeberang Selat Lombok yang kadang berarus kuat ke Bali, sebelum bis ini lanjut ke Jakarta.
Terimakasih Om Pengky Jupiter JB84 dan segenap pihak yang tidak dapat saya sebutkan namanya masing-masing, yang telah membantu saya mengikuti semua rangkaian acara Muktamar IDI ke 32 di Mataram NTB. Sampai ketemu lagi dalam kegiatan lain.
(sekian)
Jumat pagi, 15 Februari 2025 ditulis dan disebarkan dari Tanah Dewata Jimbaran Bali
Tulisan ini dimuat di harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 2 Februari 2025, halaman 8 kolom HUSADA dengan judul : uji kerentanan antibiotik penuhi standar WHO.
Rabu, 4 Desember 2024 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memberikan prakualifikasi untuk perangkat uji diagnostik molekuler tuberkulosis (TB) yang disebut Xpert® MTB/RIF Ultra. Ini adalah uji pertama untuk diagnosis TB dan uji kerentanan antibiotik yang memenuhi standar prakualifikasi WHO. Apa yang menarik?
Penilaian WHO untuk prakualifikasi didasarkan pada informasi yang disampaikan oleh produsen perangkat tersebut, yaitu Cepheid Inc dan tinjauan oleh Otoritas Ilmu Kesehatan (HSA) Singapura, badan regulasi yang mendaftar produk ini. Dirancang untuk digunakan pada Sistem Instrumen GeneXpert®, uji amplifikasi asam nukleat (NAAT) Xpert® MTB/RIF Ultra ini mendeteksi materi genetik Mycobacterium tuberculosis, bakteri penyebab TB, dalam sampel dahak, dan memberikan hasil yang akurat dalam hitungan jam. Pada saat yang sama, uji ini mengidentifikasi mutasi yang terkait dengan resistensi terhadap obat rifampisin, indikator utama TB resistan terhadap berbagai obat. Pemeriksaan PCR geneXpert MTB/RIF saat ini sudah dapat dikerjakan pusat rujukan kesehatan berbagai daerah di Indonesia. Akan tetapi, masih terdapat berbagai keterbatasan di sisi sumber daya material maupun manusia.
Pemeriksaan PCR geneXpert MTB/RIF konvensional dan ultra memiliki perbedaan yang mendasar, yaitu dalam akurasi diagnostik, fitur pemeriksaan, batas deteksi alat, dan durasi TAT. Namun demikian metode ultra secara umum lebih unggul daripada konvensional, sedangkan metode konvensional sedikit lebih unggul pada perbandingan akurasi diagnostik untuk poin spesifisitas dan NPP. Uji geneXpert MTB/RIF ultra ini ditujukan untuk pasien yang hasil skriningnya positif TB paru dan yang belum memulai pengobatan antituberkulosis atau pada pasien yang sudah menerima terapi kurang dari tiga hari dalam enam bulan terakhir.
Prakualifikasi oleh WHO membuka jalan bagi akses yang adil terhadap teknologi mutakhir, termasuk perangkat geneXpert MTB/RIF ultra, memberdayakan banyak negara untuk mengatasi beban ganda TB, yaitu TB resistan terhadap obat. Prakualifikasi adalah program yang dilakukan oleh WHO untuk mengevaluasi kualitas, keamanan, dan kemanjuran produk medis. Program ini bertujuan untuk memastikan bahwa produk kesehatan tersebut memenuhi standar global dan dapat diakses oleh semua negara berpenghasilan rendah dan menengah, termasuk Indonesia. Prakualifikasi dilakukan melalui prosedur standar, yang mencakup peninjauan berkas produk, evaluasi laboratorium terhadap kinerja dan karakteristik operasionalnya.
Beberapa contoh produk medis yang telah melalui prakualifikasi, diantaranya Vaksin TAK-003 dari Takeda, yang dirancang untuk melawan empat serotipe virus dengue penyebab penyakit demam berdarah. Juga vaksin Mpox MVA-BN buatan produsen Denmark untuk orang berusia 18 tahun ke atas.
Prakualifikasi pertama untuk sebuah alat uji diagnostik TB ini menandai tonggak penting dalam upaya WHO, untuk mendukung semua negara dalam meningkatkan dan mempercepat akses ke uji TB berkualitas tinggi, seaui standar kualitas, keamanan, dan kinerja yang ketat. WHO saat ini sedang menilai sebanyak tujuh alat uji diagnostik TB lainnya. Alat tersebut meliputi : BD MAX MDR-TB, Truenat MTB Plus, Truenat MTB-RIF Dx, cobas MTB-RIF/INH, cobas MTB, Loopamp MTBC Detection Kit, dan Xpert MTB/XDR.
Jenis pemeriksaan penunjang medis untuk mendiagnosis TB antara lain tes Mantoux atau ‘tuberculin skin test’ yang paling sering dilakukan di Indonesia untuk mendeteksi adanya tuberkulosis. Juga foto rontgen dada atau thoraks, pemeriksaan IGRA dan pemeriksaan apus dahak atau sputum BTA. Namun demikian, pemeriksaan penunjang medis yang tersedia saat ini masih kurang ideal dan memiliki berbagai kelemahan.
Pada hal diagnosis TB dalam pengkodean internasional untuk TB sesuai ICD-10 yang meliputi A15 sampai A16.9, mengharuskan disertakan jenis pemeriksaan penunjang medis yang dilakukan dalam menegakkan diagnosis pasien. Hal ini mencakup infeksi TB pada organ definitif seperti sistem pernapasan, kelenjar getah bening intrathoraks, laring, trakea, bronkus, dan pleura. Juga jenis pemeriksaan penunjang medis untuk konfirmasi TB, baik secara bakteriologis, histologis, mikroskopi sputum, biakan atau kultur, atau TB yang dikonfirmasi dengan cara yang tidak ditentukan.
Spesimen dahak untuk uji diagnostik molekuler TB Xpert® MTB/RIF Ultra dapat berupa dahak yang dikeluarkan langsung oleh pasien atau dengan cara invasif (seperti induksi dan suction). Untuk pasien anak yang belum mampu mengeluarkan dahak, pemeriksaan tersebut dapat menggunakan spesimen non-dahak, yang harus dilakukan di dalam BSC (Biological Safety Cabinet) untuk menghindari terhirupnya aerosol saat proses pengolahan spesimen oleh petugas laboratorium. Spesimen non-dahak yang dapat diperiksa dengan TCM terdiri atas cairan serebrospinal (CSF), bilasan lambung (gastric lavage), jaringan biopsi-aspirasi, feses, dan cairan tubuh lainnya kecuali darah. Seluruh spesimen non-dahak harus diproses sesegera mungkin untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang optimal. Selama transportasi, spesimen harus disimpan pada suhu 2-8 oC dan sudah harus diproses maksimal dalam waktu 7 hari.
Pemeriksaan PCR geneXpert konvensional dan ultra sebaiknya dilakukan untuk mengganti pemeriksaan BTA sputum dan rontgen dada yang selama ini masih sering dilakukan. Hal ini karena bakteri M. tuberculosis dapat menginfeksi organ-organ lain atau disebut tuberkulosis ekstraparu. Proses prakualifikasi WHO untuk perangkat uji diagnostik molekuler TB yang disebut Xpert® MTB/RIF Ultra, akan memudahkan pelaksanaan rekomendasi WHO dalam aspek diagnosis TB. Sudahkah kita bijak dalam mendiagnosis TB?
SekianYogyakarta, 4 Januari 2025*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM.
Tulisan ini dimuat di harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 19 Januari 2025, halaman 8 kolom HUSADA dengan judul : Tuberkulosis pembunuh utama penyakit menular 2023.
Tuberkulosis (TB) kembali menjadi penyakit menular sebagai pembunuh utama. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Rabu, 13 November 2024 menerbitkan laporan baru tentang TB yang mengungkap bahwa sekitar 8,2 juta orang didiagnosis menderita TB sebagai kasus baru pada tahun 2023, dan ini adalah jumlah tertinggi yang tercatat sejak WHO memulai pemantauan TB global pada tahun 1995. Dengan peningkatan yang signifikan dari 7,5 juta yang dilaporkan pada tahun 2022, menempatkan TB kembali sebagai pembunuh utama dari penyakit menular pada tahun 2023, melampaui COVID-19. Apa yang mencemaskan?
Laporan TB Global WHO 2024 menyoroti jumlah kematian terkait TB menurun dari 1,32 juta pada tahun 2022 menjadi 1,25 juta pada tahun 2023, jumlah total orang yang jatuh sakit karena TB meningkat sedikit menjadi sekitar 10,8 juta pada tahun 2023. Beban TB tertinggi berada di 30 negara dengan India (26%), Indonesia (10%), Tiongkok (6,8%), Filipina (6,8%) dan Pakistan (6,3%) bersama-sama menyumbang 56% dari beban TB global. Sekitar 55% orang TB adalah laki-laki dan 12% adalah anak dan remaja muda.
Pada tahun 2023, kesenjangan antara perkiraan jumlah kasus TB baru dan yang dilaporkan menyempit menjadi sekitar 2,7 juta, turun dari tingkat saat pandemi COVID-19 sekitar 4 juta pada tahun 2020 dan 2021. Hal ini disebabkan karena upaya global yang substansial, untuk segera pulih dari gangguan COVID-19 pada layanan TB. Cakupan terapi pencegahan TB telah dapat dipertahankan untuk sebagian besar orang yang hidup dengan HIV, dan terus dapat meningkat untuk sebagain besar kontak rumah tangga orang yang didiagnosis dengan TB.
Namun, TB yang resisten terhadap banyak obat tetap menjadi krisis kesehatan masyarakat. Tingkat keberhasilan pengobatan untuk TB yang resisten terhadap banyak obat atau resistan terhadap rifampisin (MDR/RR-TB) kini telah mencapai 68%. Dari 400.000 orang yang diperkirakan telah menjadi MDR/RR-TB, hanya 44% yang didiagnosis dan diobati pada tahun 2023.
Pendanaan global untuk pencegahan dan perawatan TB menurun lebih jauh pada tahun 2023 dan masih jauh di bawah target. Negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah yang menanggung 98% beban TB, menghadapi kekurangan pendanaan yang signifikan. Hanya US$ 5,7 miliar dari target pendanaan tahunan sebesar US$ 22 miliar yang tersedia pada tahun 2023, setara dengan hanya 26% dari target global. Jumlah total pendanaan donor internasional untuk semua negara tersebut tetap berada di sekitar US$ 1,2 miliar per tahun selama beberapa tahun. Pemerintah Amerika Serikat tetap menjadi donor bilateral terbesar untuk TB. Sementara Dana Global untuk Memerangi AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria (the Global Fund) merupakan pendana internasional teratas untuk mengetasi TB. Donasi tersebut penting, namun tetap tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan layanan TB yang utama, sehingga diperlukan investasi keuangan yang berkelanjutan untuk keberhasilan upaya pencegahan, diagnosis, dan pengobatan TB.
Persentase rumah tangga yang terdampak TB yang menghadapi biaya yang sangat besar (melebihi 20% dari pendapatan rumah tangga tahunan) untuk mengakses diagnosis dan pengobatan TB di semua negara berkembang. Hal ini menunjukkan bahwa setengah dari rumah tangga yang terdampak TB menghadapi biaya yang sangat besar tersebut. Sejumlah besar kasus TB baru didorong oleh 5 faktor risiko utama: kekurangan gizi, infeksi HIV, gangguan penggunaan alkohol, merokok (terutama di kalangan pria), dan diabetes. Menangani masalah ini, bersama dengan faktor penentu penting seperti kemiskinan dan PDB per kapita, memerlukan tindakan multisektoral yang terkoordinasi. Dunia dihadapkan dengan berbagai tantangan berat: kekurangan dana dan beban keuangan yang sangat besar bagi mereka yang terdampak TB, perubahan iklim, konflik bersenjata, migrasi dan pengungsian, pandemi, dan TB yang resistan terhadap obat, yang merupakan pendorong utama resistensi antimikroba.
Tonggak sejarah dan target global untuk mengurangi beban penyakit TB masih belum tercapai, dan kemajuan yang signifikan diperlukan untuk mencapai target lain yang ditetapkan untuk tahun 2027 menjelang Pertemuan Tingkat Tinggi PBB kedua. Semua pemerintah, mitra global, dan donor diharapkan segera menerjemahkan komitmen yang dibuat selama Pertemuan Tingkat Tinggi PBB tentang TB tahun 2023 menjadi tindakan nyata. Peningkatan pendanaan untuk penelitian, khususnya untuk vaksin TB baru, sangat penting untuk mempercepat kemajuan dan mencapai target global yang ditetapkan untuk tahun 2027. Secara global, penelitian TB masih sangat kekurangan dana dengan hanya seperlima dari target tahunan sebesar US$ 5 miliar yang tercapai pada tahun 2022. Hal ini menghambat pengembangan alat diagnostik, obat, dan vaksin TB yang baru.
Laporan TB Global WHO 2024 menggambaran bahaya yang masih mengancam dari TB, yaitu pendanaan global untuk pencegahan dan perawatan TB terus menurun dan masih jauh di bawah target. Layanan TB yang utama dan berkelanjutan meliputi upaya pencegahan, diagnosis, dan pengobatan TB menjadi terancam, tidak sesuai dengan target global.
Sudahkah kita menyadari bahaya TB?
Sekian
Yogyakarta, 6 Desember 2024
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161.
Sejak awal Januari 2025 sedang terjadi peningkatan kejadian ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), termasuk yang disebabkan oleh HMPV (Human Meta Pneumo Virus), dari Cina yang menyebar sampai ke Indonesia. Apa yang perlu diwaspadai?
Peningkatan ini biasanya disebabkan oleh epidemi musiman patogen pernapasan seperti influenza musiman, respiratory syncytial virus (RSV), dan virus pernapasan umum lainnya, termasuk HMPV serta mycoplasma pneumoniae. HMPV adalah virus pernapasan umum yang ditemukan beredar di banyak negara pada musim dingin hingga musim semi, meskipun tidak semua negara secara rutin menguji dan menerbitkan data tentang tren HMPV. Virus ini memiliki karakteristik mirip dengan flu biasa, dengan gejala seperti batuk kering atau berdahak, pilek atau hidung tersumbat, demam ringan hingga tinggi, sakit tenggorokan, sesak napas, mudah lelah, dan kehilangan nafsu makan.
Sebagian besar orang yang terinfeksi akan pulih dengan sendirinya tanpa memerlukan perawatan khusus. Hanya beberapa kasus memerlukan dirawat inap di rumah sakit karena bronkiolitis, bronkitis atau pneumonia, sedangkan kebanyakan orang yang terinfeksi HMPV akan pulih setelah beberapa hari. Penularan virus HMPV serupa dengan virus flu lainnya, yaitu melalui percikan air liur atau droplet dari individu yang terinfeksi. Meskipun umumnya tidak berbahaya, kelompok rentan seperti anak, orang lanjut usia, dan individu dengan kondisi kesehatan tertentu tetap perlu waspada.
Diagnosis ISPA HMPV dilakukan melalui pemeriksaan medis, terutama jika gejala parah atau tidak membaik setelah beberapa hari. Dokter dapat merekomendasikan 3 jenis pemeriksaan penunjang medis, bila diperlukan. Pertama adalah tes swab nasofaring (usap tenggorok) untuk mendeteksi RNA virus melalui teknik reverse-transcription polymerase chain reaction (RT-PCR). Kedua, pemeriksaan darah untuk mengukur kadar antibodi atau tanda infeksi lainnya. Dan ketiga, rontgen dada jika dicurigai pneumonia.
Berdasarkan data yang diterbitkan oleh Tiongkok, yang mencakup periode hingga 29 Desember 2024, ISPA telah meningkat selama beberapa minggu terakhir dengan kuman penyebab virus influenza musiman, rhinovirus, HMPV, dan mycoplasma pneumoniae khususnya di provinsi bagian utara Tiongkok. Sepertinya hanya Tiongkok yang telah memiliki sistem pengawasan sentinel yang mapan untuk ISPA, termasuk hMPV, dan melakukan pengawasan virologi rutin untuk patogen pernapasan umum dengan laporan terperinci yang diterbitkan setiap minggu di situs web Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok (CDC). Data pengawasan dan laboratorium untuk HMPV tidak tersedia secara rutin dari semua negara, termasuk di Indonesia.
Virus Influenza saat ini merupakan penyebab penyakit pernapasan yang paling banyak dilaporkan, dengan tingkat positif tertinggi di antara semua patogen yang dipantau untuk semua kelompok umur, kecuali anak berusia 5-14 tahun yang memiliki tingkat positif tertinggi untuk mycoplasma pneumoniae. Tingkat ISPA yang dilaporkan di Tiongkok, termasuk HMPV, berada dalam kisaran yang telah diprediksi untuk musim dingin, tanpa pola wabah yang tidak biasa yang dilaporkan. Pihak berwenang Tiongkok mengonfirmasi bahwa sistem perawatan kesehatan tidak kewalahan, pemanfaatan rumah sakit saat ini lebih rendah daripada waktu yang sama tahun lalu, dan tidak ada deklarasi darurat kesehatan. Berdasarkan penilaian risiko saat ini, WHO menyarankan agar semua negara tidak melakukan pembatasan perjalanan atau perdagangan apapun yang terkait dengan tren ISPA terkini.
Meskipun HMPV dilaporkan telah menyebar dan ditemukan di Indonesia pada Senin, 6 Januari 2025 dengan semua kasus adalah anak, tetapi masyarakat diharapkan untuk tidak panik. Virus HMPV berbeda dengan virus COVID-19 yang merupakan virus baru, karena HMPV adalah virus lama yang sifatnya mirip dengan flu, sudah ada dan telah beredar ke seluruh dunia sejak 2001. Sistem imunitas manusia sudah mengenal virus ini sejak lama dan mampu meresponsnya dengan baik, bahkan selama ini juga tidak terjadi hal buruk.
Hingga saat ini, belum tersedia dan juga berlum diperlukan obat antivirus atau vaksin spesifik untuk HMPV. Namun, gejala HMPV dapat dikelola dengan beberapa langkah berikut. Menggunakan pelembab udara (humidifier) untuk membantu kelegaan pernapasan, minum air putih atau teh hangat untuk mengurangi iritasi tenggorokan, istirahat yang cukup untuk memulihkan daya tahan tubuh. Juga minum obat pereda nyeri seperti acetaminophen atau ibuprofen untuk membantu meredakan demam dan nyeri, menggunakan pengobatan simptomatik untuk mengurangi keluhan yang dialami, seperti obat untuk meredakan hidung tersumbat atau batuk. Selanjutnya perlu memantau gejala yang dialami secara intensif dan segera berkonsultasi dengan dokter jika gejala memburuk.
Karena itu, sekali lagi masyarakat dihimbau untuk menjaga pola hidup sehat, seperti cukup istirahat, mencuci tangan secara rutin, memakai masker saat merasa tidak enak badan, dan segera berkonsultasi dengan dokter jika muncul gejala yang mencurigakan. Juga wajib bersikap tetap tenang dan waspada. Dengan mengikuti protokol kesehatan 3M, menjaga jarak, mencuci tangan dan memakai masker, sama seperti saat pandemi COVID-19, kita dapat mengatasi HMPV ini dengan baik.
Yogyakarta, 8 Januari 2025
*) dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161
Dunia kesehatan di Indonesia berubah sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Setelah diterapkannya UU 17/2023 Omnibus Law tentang Kesehatan, maka ada 11 UU yang dicabut dan dinyatakan tidak berlaku, termasuk UU No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. Bagaimana dampak regulasi ini bagi pada para dokter?
Tulisan ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 29 Desember 2024, kolom Husada, halaman 8 dengan judul : IDI diharapkan dapat menjaga etika medis.
Pada UU tentang Praktek Kedokteran tersebut, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sebagai organisasi profesi medis tunggal memiliki peran dalam aspek etika, mutu dan legal, untuk semua dokter di seluruh Indonesia. Dalam aspek legal, penerbitan SIP (Surat Ijin Praktek) dokter oleh dinas kesehatan setempat tidak lagi melibatkan IDI, karena persyaratan penerbitan SIP tidak lagi memerlukan rekomendasi IDI. Permohonan penerbitan SIP dokter hanya melampirkan STR (Surat Tanda Registrasi) dokter, surat keterangan tempat praktik, dan bukti pemenuhan kompetensi medis. Bukti pemenuhan kompetensi medis dapat diperoleh dokter, setelah mengikuti pemenuhan kompetensi yang diselenggarakan oleh sebuah kementerian, yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan berkoordinasi dengan Kolegium atau penyelenggara pendidikan, bukan lagi dengan IDI.
Peran IDI dalam aspek mutu layanan dokter juga sudah tidak ada sama sekali, karena peran tersebut diambil alih oleh Kemenkes RI. Penentuan pencapaian pemenuhan kompetensi medis dalam bentuk SKP (Satuan Kredit Profesi) untuk para dokter, murni ditentukan oleh Kemenkes RI. Pemenuhan kompetensi medis baik dalam ranah profesionalisme, pendidikan berkelanjutan, pengabdian masyarakat, publikasi penelitian dan pendidikan formal tambahan, semuanya sudah tidak lagi dikelola oleh IDI.
Rasanya peran IDI tinggal dalam aspek etika medis, salah satunya sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan. PP tersebut memberikan definisi kecurangan (fraud) dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yaitu tindakan yang dilakukan dengan sengaja, untuk mendapatkan keuntungan finansial dari program Jaminan Kesehatan dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), melalui perbuatan curang yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Untuk meningkatkan upaya pencegahan dan penanganan kecurangan telah dibuat pedoman dan tim yang dapat menilai sampai mengenakan sanksi administrasi terhadap kecurangan dalam pelaksanaan program JKN. Pada pasal 3 ayat 2 PP tersebut dijelaskan bahwa tim pencegahan kecurangan pada dinas kesehatan tingkat kabupaten atau kota terdiri atas unsur dinas kesehatan setempat, BPJS Kesehatan cabang, asosiasi fasilitas kesehatan,organisasi profesi dalam hal ini IDI, dan unsur lain yang terkait.
Dengan regulasi ini peran IDI rasanya ‘tinggal tersisa’ dalam menjaga aspek etika medis, agar para dokter di seluruh Indonesia dapat menjalankan profesinya secara mulia dan menghindari tindak kecurangan. Jenis kecurangan yang mungkin dilakukan oleh fasilitas kesehatan atau dokter anggota IDI pemberi pelayanan kesehatan, sangat perlu dicermati. Kecurangan di FKTP dapat berupa tindakan penyalahgunaan dana kapitasi dan/atau nonkapitasi FKTP milik Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, oleh dokter yang menjadi pimpinan FKTP. Selain itu juga dapat berupa tindakan menarik biaya tambahan dari Peserta atau memanipulasi klaim nonkapitasi. Dalam hal ini meliputi klaim palsu atau klaim fiktif, yaitu klaim atas layanan yang tidak pernah diberikan, memperpanjang lama perawatan di FKTP rawat inap, penjiplakan klaim dari pasien lain, dan tagihan atau klaim berulang pada kasus yang sudah ditagihkan sebelumnya. Dapat juga melakukan rujukan pasien yang tidak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, memberi dan/atau menerima suap dan/atau imbalan terkait dengan program Jaminan Kesehatan; dan memalsukan Surat Izin Praktek (SIP) Dokter.
Jenis kecurangan oleh dokter anggota IDI pemberi pelayanan kesehatan di FKRTL atau RS dapat berupa memanipulasi diagnosis dan/atau tindakan medis, untuk meningkatkan besaran klaim. Beberapa cara misalnya seorang pasien seharusnya cuckup didiagnosis sebagai apendicitis akut setelah operasi tanpa penyulit, tetapi pada resume rekam medis ditulis apendicitis akut dengan perforasi usus. Mungkin juga seorang pasien lain dengan pterigium pada mata grade I, tetapi dalam resume rekam medis ditulis kanker, yaitu squaomous cell carsinoma conjungtiva dan dilakukan tindakan biopsi eksisi pada mata, tetapi tanpa bukti dilakukan pemeriksaan lanjutan untuk kanker yaitu patologi anatomi.
Kecurangan oleh dokter dapat juga berupa penjiplakan klaim dari pasien lain, yang dibuat dengan cara menyalin dari klaim pasien lain yang sudah ada, seperti: menyalin seluruh atau sebagian rekam medis dan/atau data pasien lain. Juga klaim palsu, yaitu klaim atas layanan yang tidak pernah dilakukan kepada pasien, seperti penagihan tindakan medik operatif yang tidak pernah dilakukan, dan penagihan obat/alat kesehatan di luar paket INA-CBG yang tidak diberikan kepada pasien.
Dapat juga berupa tindakan penggelembungan tagihan obat dan alat kesehatan yang lebih besar dari biaya yang sebenarnya, seperti seorang pasien patah tulang dilakukan operasi ortopedi dengan menggunakan plate and screw 4 (empat) buah, namun ditagihkan lebih dari 4 (empat) buah. Dapat juga berupa obat pasien penyakit kronis pada rawat jalan yang seharusnya mendapat obat 1 (satu) bulan, tetapi obat yang diberikan untuk 2 minggu, namun ditagihkan biayanya selama 1 (satu) bulan.
Dapat juga berupa pemecahan episode pelayanan sesuai dengan indikasi medis, tetapi tidak sesuai dengan ketentuan. Ini merupakan klaim atas dua atau lebih diagnosis dan atau prosedur yang seharusnya menjadi satu paket pelayanan dalam episode yang sama, seperti dokter mengirimkan tagihan terpisah dari diagnosis yang sama, dengan hasil pemeriksaan penunjang atau laboratorium yang sebenarnya dapat digabungkan, menjadi terpisah menjadi 3 atau 4 pengajuan dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan lebih.
Tindakan menagihkan beberapa prosedur secara terpisah yang seharusnya dapat ditagihkan bersama dalam bentuk paket pelayanan, untuk mendapatkan nilai klaim lebih besar pada satu episode perawatan pasien dan tindakan operasi lebih dari satu diagnosa penyakit yang dapat dilaksanakan dalam satu tindakan namun dilakukan tindakan lebih dari satu dan diklaim terpisah dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan.
Ada juga rujukan semu merupakan klaim atas biaya pelayanan akibat rujukan ke dokter yang sama di Fasilitas Kesehatan lain kecuali dengan alasan keterbatasan fasilitas, karena jasa operasi yang didapatkan sedikit sehingga pasien. Dapat juga melakukan rujukan tanpa persetujuan pasien atau keluarga pasien ke rumah sakit dimana dokter itu berdinas. Dapat juga berupa tagihan atau klaim berulang pada kasus yang sama, seperti tagihan yang sudah pernah ditagihkan dan dibayarkan tetapi ditagihkan ulang. Yang lebih halus adalah memperpanjang lama perawatan untuk mendapatkan klaim atas biaya pelayanan kesehatan yang lebih besar bukan karena indikasi medis, seperti penggunaan ventilator yang diperpanjang waktunya.
Selain dalam tim pencegahan dan penindakan kecurangan, peran IDI sebenarnya lebih pada mengadvokasi secara etika medis agara para dokter anggotanya menjalankan implementasi pencegahan kecurangan di FKRTL atau RS, yang dilakukan dengan prinsip Good Clinical Governance, antara lain penetapan kewenangan dan uraian tugas dokter secara rinci, Standard Operational Procedure (SOP) layanan klinis yang mengacu kepada Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) dan atau pedoman lain yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan. Juga peningkatan kemampuan dokter yang berkaitan dengan Klaim, berupa pemahaman dan penggunaan sistem koding yang berlaku, meningkatkan ketaatan terhadap SOP, dan Dokter Penanggung Jawab Pelayanan Pasien (DPJP) wajib mengisi resume medis secara jelas, lengkap dan tepat waktu.
Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sebagai organisasi profesi dokter yang tunggal, seharusnya mampu berperan menjaga etika medis para dokter dalam memberikan layanan kepada pasiennya.
Yogyakarta, 2 November 2024
*) dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Alumnus S3 UGM, Pengurus MKEK IDI Wilayah DIY. WA : 081227280161
Diabetes adalah penyakit metabolik yang menyebabkan kadar gula darah menjadi tinggi. Penyakit ini sering dialami oleh orang dewasa, tetapi pencegahan harus dimulai pada usia anak. Menurut Federasi Diabetes Internasional (IDF), diperkirakan 1,1 juta anak dan remaja (di bawah usia 20) saat ini hidup dengan diabetes tipe 1 di seluruh dunia. Selain itu, lebih dari 132.000 anak dan remaja didiagnosis dengan diabetes tipe 1 setiap tahun, termasuk di Indonesia.
Ada banyak faktor yang dapat meningkatkan risiko anak mengalami diabetes tipe 1, mulai dari genetik atau keturunan karena gen seperti HLA-DR3 atau HLA-DR4, kerusakan organ pankreas tanpa penyebab yang jelas, atau mengalami infeksi virus dengan sistem kekebalan tubuh yang berfungsi secara keliru, yaitu justru menghancurkan sel penghasil insulin (islet) di pankreas. Diabetes tipe 1 merupakan tipe diabetes yang paling sering dialami oleh bayi, balita, dan anak usia awal SD. Hampir semua penyebab diabetes tipe 1 pada anak tidak dapat dicegah.
Sedangkan diabetes tipe 2 biasanya rentan terjadi pada anak yang berusia di atas 10 tahun atau di awal masa pubertas. Penyebab diabetes tipe 2 pada anak meliputi lahir prematur atau berat badan rendah, pola makan yang kurang sehat, kurang aktif berolahraga, dan berat badan berlebih atau obesitas. Berbeda dengan diabetes tipe 1, hampir semua penyebab diabetes tipe 2 dapat dicegah.
Pencegahan agar bayi tidak lahir secara prematur atau BB lahir rendah adalah kontrol rutin ibu hamil (Ante Natal care atau ANC) minimal 4 kali selama kehamilan, mengelola stres ibu saat hamil, ibu mengonsumsi makanan sehat untuk mencukupi kebutuhan nutrisi selama hamil, dan menjaga kebersihan organ intim ibu selama hamil. Juga menghindari konsumsi minuman beralkohol, merokok, hingga menggunakan narkoba.
Tindakan pencegahan pada anak usia SD sampai SMP atau awal pubertas agar tidak mengalami BB berlebih atau obesitas, adalah dengan gaya hidup sehat, aktif berolah raga, hindari kebiasaan duduk lama, menghindari menu yang manis, gurih dan asin secara berulang. Peran orangtua sangat penting sebagai panutan dalam tindakan ini, apalagi kalau orangtua juga mengalami kondisi BB berlebih serupa.
Orangtua diharapkan memberi contoh untuk bangun lebih pagi, makan teratur dalam porsi yang wajar, makan menu rumahan atau masakan keluarga secara rutin, menu olahan atau pabrikan dan menu cepat saji hanya dikonsumsi sesekali saja, makan bersama segenap anggota keluarga sebagai acara yang menyenangkan, paling tidak dilakukan sekali sehari, juga tidur malam tidak terlalu larut.
Orangtua yang mengantar jemput anak ke sekolah, tempat les atau acara rutin anak lainnya, sebaiknya tidak diturunkan persis di gerbang. Sebaiknya diturun naikan sedikit agak jauh dan mintalah anak untuk berjalan kaki bersama teman-temannya. Kalau cukup memungkinkan untuk naik sepeda, berikan kepercayaan anak agar menaiki sepedanya ke tempat acara, merawat sepedanya agar tetap awet dan melatih kemandirian sejak dini.
Mari kita memberi contoh dan mengajak anak untuk rutin menerapkan perilaku hidup sehat dengan menjaga pola makan, memenuhi kebutuhan tidur dan mengajak mereka untuk melakukan aktivitas fisik atau olahraga. Tujuannya adalah untuk mencegah diabetes tipe 2, yang merupakan salah satu masalah kesehatan utama pada anak usia SD sampai SMP.
Sudahkah kita bijak?
Sekian
Yogyakarta, 19 November 2024
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161
Guru honorer Supriyani di Konawe Selatan Sulawei Tenggara didakwa melakukan penganiyaan terhadap muridnya. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) menyebut terdapat perlindungan yang timpang antara murid dan guru. Profesi dokter juga sering menghadapi sengketa hukum. Ada berbagai penyebab, tetapi salah satu yang utama adalah karena perlindungan hukum atas profesi guru dan dokter tidaklah rinci. Apa yang sebaiknya dilakukan?
UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pada Pasal 41 menyebutkan bahwa Guru berhak mendapatkan perlindungan hukum dari tindak kekerasan, ancaman, perlakuan diskriminatif, intimidasi, atau perlakuan tidak adil dari pihak peserta didik, orang tua peserta didik, masyarakat, birokrasi, atau pihak lain. Perlindungan terhadap guru ini diatur dalam Pasal 39 UU Guru dan Dosen tersebut. Pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, organisasi profesi, dan/atau satuan pendidikan wajib memberikan perlindungan terhadap guru dalam pelaksanaan tugas.
Perlindungan terhadap guru ini juga didukung oleh yurisprudensi Mahkamah Agung (MA) yang dapat ditemukan dalam Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia, Putusan No. 1554 K/PID/2013, yang menyebutkan bahwa guru tidak dapat dipidana saat menjalankan profesinya dan melakukan tindakan pendisiplinan terhadap siswa. Namun demikian, kekerasan fisik yang dilakukan guru terhadap peserta didiknya termasuk dalam tindak pidana, sehingga dapat dikenakan sanksi pidana sebagaimana diatur di dalam Pasal 80 jo Pasal 76 UU No.35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.
Sebaliknya terkait profesi dokter, putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 119/Puu-Xx/2022 Perihal Pengujian Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran Terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 telah dibacakan pada 31 Januari 2023. Mahkamah Konstitusi (MK) telah memberikan ketetapan hukum tentang prosedur hukum yang khusus, dalam menilai dan menentukan benar salahnya seorang dokter dalam menjalankan profesinya. MK memberlakukan proses pemeriksaan yang berjenjang, dimulai dari proses pemeriksaan etik di Majelis Kehoratan Etik Kedokteran (MKEK) dan disiplin di Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI), sebagai proses pemeriksaan tingkat pertama. Selain itu, juga sekaligus berfungsi sebagai penilai apakah ada pelanggaran hukum atau tidak. Apabila dari hasil pemeriksaan di MKEK dan MKDKI ditemukan indikasi pelanggaran hukum, maka kasusnya akan diteruskan atau diserahkan kepada kepolisian atau pengadilan.
Michel Daniel Mangkey dalam ejournal Unsrat Vol. II/No. 8/Sep-Nov/2014, menjelaskan tentang ‘Lex et Societatis’. Dokter yang telah melaksanakan tugas sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional, berhak mendapatkan perlindungan hukum. Terdapat beberapa hal yang menjadi alasan peniadaan hukuman terhadap dokter, yaitu : resiko pengobatan, kecelakaan medik, tanpa unsur kelalaian, aturan minor yang dapat diabaikan, kesalahan dalam penilaian (error of (in) judgment), Volenti non fit iniura atau asumsi atas risiko, dan Res Ipsa Loquitur. Namun demikian, pada praktiknya sebagian hal tersebut sangat sulit, rumit, dan menyita waktu, tenaga dan konsentrasi dokter dalam perumusannya.
Sebaliknya, perlindungan hukum untuk profesi notaris, jauh lebih jelas, nyata, dan rinci, sebagaimana dituliskan oleh Mariyantini pada ejournal Undip vol 4, no 1 tahun 2013. Perlindungan hukum terhadap notaris ketika terjadi sengketa di pengadilan, telah diatur pada Pasal 66 Undang-undang No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris. Dalam hal memberikan kesaksian, seorang notaris tidak dapat mengungkapkan akta yang dibuatnya, baik sebagian maupun keseluruhannya, untuk merahasiakan semua hal yang diberitahukan kepadanya, karena akta yang dibuat oleh atau di hadapan notaris, merupakan suatu alat bukti yang mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna. Notaris hanya merumuskan keterangan dan pernyataan yang diperolehnya dari para penghadap. Notaris tidak hanya berhak untuk bicara, tetapi mempunyai kewajiban untuk tidak bicara. Kewajiban tersebut mengesampingkan kewajiban umum yang tercantum dalam Pasal 1909 ayat (1) KUHPerdata, karena adanya hak ingkar dari profesi notaris, sebagai konsekuensi dari adanya kewajiban merahasiakan sesuatu yang diketahuinya.
Yurisprudensi Mahkamah Agung (MA) melalui Putusan MA No 702K/Sip/1973, menyatakan bahwa notaris fungsinya hanya mencatatkan atau menuliskan, apa yang dikehendaki dan dikemukakan oleh para pihak yang menghadap notaris tersebut. Tidak ada kewajiban bagi notaris untuk menyelidiki secara materil, terkait apa yang dikemukakan oleh penghadap di hadapan notaris tersebut. Berdasarkan Putusan MA tersebut, jika akta yang dibuat oleh notaris dipermasalahkan oleh para pihak, maka hal tersebut menjadi urusan para pihak sendiri, notaris tidak perlu dilibatkan, dan notaris bukan pihak dalam akta.
Perlindungan hukum yang juga lebih baik, adalah terhadap profesi advokat atau pengacara. Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan permohonan perkara 26/PUU-XI/2013, yaitu pengujian Pasal 16 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat, yang terkenal sebagai hak imunitas advokat. Putusan tersebut dinyatakan MK dalam sidang pengucapan putusan yang dipimpin Ketua MK Hamdan Zoelva, Rabu 14 Mei 2015. MK menegaskan bahwa ketentuan Pasal 16 UU Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat harus dimaknai sebagai, advokat tidak dapat dituntut baik secara perdata maupun pidana dalam menjalankan tugas profesinya, dengan iktikad baik untuk kepentingan pembelaan klien, di dalam maupun di luar sidang pengadilan.
Dengan demikian hak imunitas profesi guru, dosen, dan dokter dalam aspek perlindungan hukum, layak disusun serinci dengan profesi advokat dan notaris. Sudahkah para guru dan dokter bertindak?
Sekian
Yogyakarta, 5 November 2024
*) dokter spesialis anak dan dosen FK, pernah menjadi Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA 081227280161.
Penggunaan antibiotik terdata berlebihan pada pasien yang dirawatinap di rumah sakit karena COVID-19. Pada 26 April 2024 terdapat bukti lengkap dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menunjukkan penggunaan antibiotik yang berlebihan selama pandemi COVID-19 di seluruh dunia, yang mungkin telah memperburuk penyebaran resistensi antimikroba (AMR) secara diam-diam. Apa yang mencemaskan?
Meskipun hanya 8% pasien COVID-19 yang dirawatinap di rumah sakit memiliki koinfeksi bakteri dan sebenarnya memerlukan antibiotik, ternyata tiga dari empat atau sekitar 75% pasien telah diobati dengan antibiotik, dengan pertimbangan ‘untuk berjaga-jaga’ karena antibiotik tersebut mungkin membantu (just in case they help). Penggunaan antibiotik berkisar dari 33% untuk pasien di Wilayah Pasifik Barat, hingga 83% di Wilayah Mediterania Timur dan Afrika. Antara tahun 2020 dan 2022, jumlah resep antibiotik menurun seiring waktu di Eropa dan Amerika, sementara jumlah resep obat serupa masih meningkat di Afrika.
Tingkat penggunaan antibiotik tertinggi terjadi pada pasien COVID-19 yang parah atau kritis, dengan rata-rata global sebesar 81%. Dalam kasus ringan atau sedang, terdapat variasi yang cukup besar antar wilayah, dengan penggunaan tertinggi di Wilayah Afrika (79%).
WHO mengklasifikasikan antibiotik berdasarkan klasifikasi AWaRe (Access, Watch, Reserve), berdasarkan risiko AMR. Yang mengkhawatirkan, laporan tersebut menemukan bahwa antibiotik ‘Watch’ dengan potensi resistensi lebih tinggi, justru telah paling sering diresepkan secara global, dibandingkan antibiotika ‘Access’ yang sebenarnya lebih aman.
Ketika seorang pasien membutuhkan antibiotik, manfaatnya sering kali lebih besar daripada risiko yang terkait dengan efek samping atau resistensi antibiotik. Namun, jika tidak diperlukan, obat tersebut tidak memberikan manfaat, tetapi justru menimbulkan risiko, dan penggunaannya berkontribusi terhadap muncul dan penyebaran resistensi antimikroba. Meskipun demikian, data pada laporan tersebut memerlukan perbaikan dalam penggunaan antibiotik yang rasional, untuk meminimalkan konsekuensi negatif yang tidak perlu bagi pasien dan masyarakat.
Secara keseluruhan sebenarnya penggunaan obat antibiotik terbukti tidak memperbaiki hasil klinis pasien COVID-19. Namun, penggunaan antibiotik ini justru dapat membahayakan orang yang tidak mengalami infeksi bakteri, dibandingkan dengan mereka yang tidak menerima antibiotik. Laporan ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk meningkatkan penggunaan antibiotik secara rasional, guna meminimalkan konsekuensi negatif yang tidak perlu bagi pasien dan masyarakat.
Telah diterbitkan rekomendasi WHO mengenai penggunaan antibiotik pada pasien dengan COVID-19, sebagai bagian dari pedoman pengelolaan klinis COVID-19. Pedoman ini didasarkan pada data dari Platform Klinis Global WHO untuk COVID-19, yang merupakan kumpulan data klinis anonim dan terstandarisasi pada tingkat individu, dari pasien yang dirawat di rumah sakit karena COVID-19. Data dikumpulkan dari sekitar 450.000 pasien yang dirawat di rumah sakit karena COVID-19, di 65 negara selama periode 3 tahun antara Januari 2020 hingga Maret 2023.
Temuan ini menggarisbawahi risiko meningkatkan peresepan antibiotik secara global, dan sangat serius dibahas pada Pertemuan Tingkat Tinggi Majelis Umum PBB mengenai AMR yang diadakan pada bulan September 2024. Pertemuan Tingkat Tinggi PBB mengenai AMR telah mempertemukan para pemimpin global untuk berkomitmen melakukan mitigasi AMR di bidang kesehatan manusia, kesehatan hewan, sektor pertanian pangan dan lingkungan hidup, serta untuk mendorong kepemimpinan politik, pendanaan dan tindakan untuk memperlambat kemunculan dan penyebaran AMR.
Penggunaan antimikroba yang bertanggung jawab dan bijaksana perlu ditingkatkan di semua sektor baik pada manusia, hewan, tanaman, dan lingkungan hidup, untuk menjaga manfaat antibiotika bagi kesehatan masyarakat. Secara khusus, antimikroba yang secara medis penting bagi pengobatan manusia perlu dilestarikan dengan mengurangi penggunaannya di sektor non-manusia. Daftar MIA WHO (Medically Important Antimicrobials) tentang antimikroba yang penting secara medis untuk pengobatan manusia merupakan alat manajemen risiko yang dapat digunakan dalam mendukung pengambilan keputusan, guna meminimalkan dampak penggunaan antimikroba di sektor non-manusia, terhadap resistensi antimikroba (AMR) pada manusia. Daftar MIA WHO dibuat untuk memandu upaya pengelolaan antimikroba internasional, nasional, dan subnasional (lokal, negara bagian, provinsi). Panduan ini melengkapi kerangka kerja WHO AWaRe (Access, Watch, Reserve) yang telah diterbitkan sebelumnya dan panduan penggunaan antibiotik esensial yang tepat, dalam sektor kesehatan manusia.
Daftar MIA WHO tersebut mengkategorikan kelas antimikroba berdasarkan pentingnya bagi pengobatan manusia dan menurut risiko AMR, serta potensi implikasi kesehatan manusia dari penggunaannya di sektor non-manusia. Daftar MIA WHO dikembangkan melalui kerja sama erat dengan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) dan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH) sebagai upaya bersama untuk menyelaraskan pedoman dan daftar terkait yang dikembangkan oleh keempat organisasi tersebut.
Pasien memiliki hak untuk mengingatkan para dokter, tentang perlu tidaknya peresepan obat antibiotika saat periksa. Sudahkah kita bertindak bijak dalam penggunaan obat antibiotika paska pandemi COVID-19?
Sekian
Yogyakarta, 30 November 2024
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161
Mpox (dulu disebut cacar monyet) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus Monkeypox (MPXV). Pada tanggal 14 Agustus 2024 WHO menyatakan bahwa wabah mpox di Afrika merupakan darurat kesehatan masyarakat yang mengkhawatirkan dunia. Apa risikonya?
Mpox adalah penyakit langka yang menyebabkan ruam kulut dan gejala mirip flu, terutama pada orang dewasa. Anak dapat tertular mpox jika mereka melakukan kontak dekat dengan seseorang yang memiliki gejala. Anak dapat terpapar virus di rumah dari saudara kandung, orang tua, pengasuh, atau anggota keluarga lainnya melalui kontak dekat. Di beberapa wilayah di pedalaman Afrika, anak dan remaja dapat terpapar melalui kegiatan berburu atau menjebak binatang liar, atau juga mengkonsumsi daging hewan yang tidak dimasak dengan benar. Remaja yang telah melakukan aktivitas seksual dengan seseorang yang menderita mpox juga dapat terpapar. Ruam mpox pada awalnya dapat menyerupai penyakit anak umum lainnya, seperti cacar air dan infeksi virus lainnya.
Anak mungkin berisiko lebih besar terkena mpox parah daripada orang dewasa. Mereka harus dipantau secara ketat hingga pulih, untuk diwaspadai jika mereka membutuhkan perawatan tambahan. Dokter dan tenaga kesehatan yang bertanggung jawab atas anak tersebut, mungkin menyarankan agar mereka dirawat inap di RS, sesuai derajat gejala klinis. Dalam situasi ini, orang tua atau pengasuh yang sehat dan berisiko rendah terkena mpox, tentu akan diizinkan untuk tinggal bersama mereka.
Jika seorang ibu menyusui telah dikonfirmasi atau diduga terinfeksi mpox, bicarakan dengan dokter dan tenaga kesehatan terdekat untuk meminta saran. Mereka akan menilai risiko penularan mpox serta risiko buruk jika tidak melanjutkan memberikan ASI kepada bayi. Jika ibu dapat terus menyusui dan melakukan kontak dekat, mereka akan mengajarkan kepada ibu tentang cara mengurangi risiko dengan mengambil tindakan lain, termasuk menutupi lesi kulit. Risiko infeksi perlu diimbangi secara hati-hati dengan potensi buruk yang disebabkan oleh penghentian pemberian ASI, dan kontak dekat antara ibu dan bayi. Belum diketahui apakah virus cacar monyet dapat menyebar dari ibu ke bayi melalui ASI, dan saat ini masih merupakan area yang perlu diteliti lebih lanjut.
Penelitian bertahun-tahun tentang terapi cacar yang telah dapat dibasmi di seluruh dunia, telah menghasilkan pengembangan produk farmasi yang juga dapat bermanfaat untuk mengobati mpox. Misalnya, obat antivirus yang dikembangkan untuk mengobati cacar (tecovirimat) telah disetujui pada Januari 2022 oleh Badan Obat-obatan Eropa untuk pengobatan mpox dalam keadaan luar biasa. Pengalaman dengan terapi ini dalam konteks wabah mpox terus berkembang tetapi masih terbatas. Karena alasan ini, penggunaannya biasanya disertai dengan kewajiban untuk masuk dalam uji klinis atau protokol akses yang diperluas, disertai dengan pengumpulan data yang akan meningkatkan pengetahuan tentang cara terbaik untuk menggunakannya, di masa mendatang.
Ada vaksin yang direkomendasikan oleh WHO untuk digunakan melawan mpox. Penelitian selama bertahun-tahun telah menghasilkan pengembangan vaksin yang lebih baru dan lebih aman, yang berasal dari vaksin untuk penyakit yang telah diberantas secara global, yaitu cacar. Beberapa vaksin tersebut telah disetujui di berbagai negara untuk digunakan melawan mpox. Saat ini, WHO merekomendasikan penggunaan vaksin MVA-BN atau LC16, atau vaksin ACAM2000 jika vaksin lainnya tidak tersedia.
Hanya orang yang berisiko (misalnya, seseorang yang pernah menjadi kontak dekat dengan seseorang yang menderita mpox, atau seseorang yang termasuk dalam kelompok berisiko tinggi terpapar mpox) yang harus dipertimbangkan untuk divaksinasi. Vaksinasi massal, termasuk untuk anak, saat ini tidak direkomendasikan. Pelancong yang akan memasuki daerah endemis mpox dan mungkin berisiko berdasarkan penilaian risiko individu oleh dokter, mungkin perlu dipertimbangkan mendapatkan vaksinasi.
WHO saat ini merekomendasikan vaksin bagi orang-orang yang pernah melakukan kontak dekat dengan seseorang yang menderita mpox, atau orang-orang yang termasuk dalam kelompok berisiko tinggi terpapar mpox. Vaksin mpox memberikan tingkat perlindungan terhadap infeksi dan penyakit parah. Hasil penelitian efektivitas vaksin menunjukkan bahwa tingkat perlindungan yang baik diberikan terhadap mpox setelah vaksinasi.
Anak dengan imunosupresi berisiko lebih tinggi terkena mpox parah atau meninggal. Mpox yang parah dapat mencakup lesi yang lebih besar dan lebih luas (terutama di mulut, mata, dan alat kelamin), kondisi seperti peradangan pada jantung, otak, atau organ lainnya, atau infeksi bakteri sekunder pada kulit atau darah, dan infeksi paru-paru.
Anak dengan penyakit HIV stadium lanjut (jumlah CD4 rendah, dan viral load HIV tinggi) memiliki risiko kematian yang lebih tinggi jika mereka mengalami mpox parah. Hal ini lebih umum terjadi pada orang dengan status HIV yang tidak diketahui sebelum diagnosis mpox.
Anak yang hidup dengan HIV yang tidak lagi mengalami supresi virus melalui pengobatan antiretroviral (ARV), tampaknya tidak memiliki risiko lebih tinggi mengalami mpox parah, daripada populasi umum. Penggunaan setiap hari antiretroviral (ARV) mengurangi risiko timbulnya gejala mpox parah pada anak dengan HIV, jika terjadi infeksi. Anak dengan HIV yang tidak diobati dan penyakit HIV stadium lanjut, sangat mungkin mengalami gangguan kekebalan tubuh, dan karenanya berisiko lebih besar mengalami mpox parah. WHO menyarankan agar setiap negara mengintegrasikan pengujian, pencegahan, dan perawatan HIV dan mpox.
Kasus mpox parah yang terlihat di beberapa negara di Afrika menyoroti kebutuhan mendesak untuk meningkatkan akses yang adil terhadap tes diagnostik, vaksin, dan terapi mpox, serta pencegahan, pengujian, dan pengobatan HIV. Jika anak hidup dengan HIV, teruslah minum obat HIV sesuai petunjuk. Pada tahun 2023, terdapat 9 juta orang, termasuk anak, di seluruh dunia yang hidup dengan HIV, tetapi tidak menjalani pengobatan HIV, berisiko terkena penyakit HIV stadium lanjut dan mpox yang mengancam jiwa, apalagi kalau tidak mendapatkan vaksinasi.
Saat ini, vaksin Mpox yang digunakan di Indonesia adalah jenis Modified Vaccinia Ankara-Bavarian Nordic (MVA-BN), yaitu vaksin turunan cacar (smallpox) generasi ketiga yang bersifat non-replicating. Pelaksanaan vaksinasi Mpox dengan MVA-BN telah dilakukan sejak 2023, setelah ditemukan kasus konfirmasi Mpox di Indonesia.
Apakah kita sudah bertindak bijak melindungi anak dari mpox?
Yogyakarta, 25 September 2024
*) dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM. WA : 081227280161