Categories
Healthy Life Jalan-jalan

2025 Pesona Abu Dhabi

PESONA  ABU DHABI

fx. wikan indrarto dan b. sari prasetyati

Dalam rangka mengikuti ‘International Conference on Pediatrics and Child Health’ di Radisson Gautrain Hotel, Johannesburg, South Africa, kami mampir sehari untuk menikmati pesona Abu Dhabi, Uni Emirat Arab pada Sabtu, 10 Mei 2025. Apa yang menarik?

Dari Yogyakarta kami naik Kereta Api Fajar Utama dari Stasiun Tugu sampai Stasiun Jatinegara Jakarta. Lanjut naik Commuter Line Bandara dari Stasiun Manggarai sampai Bandara Soekarno Hatta, Tangerang Banten.

https://www.instagram.com/p/DJbfSRJS4Rj/?igsh=MTEwcHMwcmJsMmlnMg==

Terus kami terbang dalam perut pesawat Boeing 787-9 Dreamliner milik Ethihad Airways EY 475 menuju Abu Dhabi. Ini adalah pesawat jet penumpang jarak jauh, berukuran sedang, berbadan lebar, dan bermesin ganda. Varian ini merupakan versi yang diperpanjang dari 787-8 dan memiliki kapasitas penumpang yang lebih banyak, serta jangkauan penerbangan yang sedikit lebih luas. Boeing 787-9 mulai beroperasi pada 7 Agustus 2014 dengan pengguna pertama adalah All Nippon Airways.

Mendarat di bandara Zayed Abu Dhabi dengan hiasan lampu kristal

Emirat Abu Dhabi yang kami tempuh dalam 6 jam 15 menit sejauh 4.111 mil atau setara 6.750 km adalah sebuah monarki konstitusional dan saat ini dipimpin oleh Sheikh Muhammad bin Zayid Al Nahyan. Abu Dhabi (Bapak Rusa) adalah ibu kota dan kota terbesar kedua di negara Uni Emirat Arab (UEA), menurut jumlah penduduknya dan luas wilayah. Selain itu, Abu Dhabi merupakan yang terbesar dari tujuh emirat yang membentuk UEA. Abu Dhabi adalah kawasan terpenting UEA karena merupakan pusat Pemerintahan UEA, rumah untuk Keluarga Emir Abu Dhabi dan Presiden UEA.

Saat ini Abu Dhabi telah berkembang menjadi kota metropolis kosmopolitan. Perkembangan yang cepat dan urbanisasi, ditambah dengan pendapatan rata-rata relatif tinggi penduduknya, telah mengubah Abu Dhabi menjadi lebih besar dan maju. Kota ini direncanakan di bawah arahan Sheikh Zayed oleh arsitek Jepang Katsuhiko Takahashi pada tahun 1967, yang awalnya untuk populasi 40.000 jiwa. Saat ini Abu Dhabi adalah kota paling mahal kedua untuk karyawan asing di wilayah tersebut, dan kota termahal ke-67 di dunia. Majalah Fortune & CNN menyatakan bahwa Abu Dhabi adalah kota terkaya di dunia.

Pada awalnya Abu Dhabi berbisnis mutiara, karena Teluk Persia adalah lokasi terbaik untuk pembentukan mutiara. Pada 1930, karena perdagangan mutiara menurun, bisnis pertambangan tumbuh di daerah berpotensi minyak. Pada tanggal 5 Januari 1936, Petroleum Development Trucial Coast Ltd (PDTC), asosiasi Perusahaan Minyak Irak melakukan eksplorasi minyak. Pada tahun 1953, Perusahaan D’Arcy Exploration, anak perusahaan British Petroleum dan Compagnie Française des Pétroles, yang kemudian menjadi Total mulai menggunakan platform pengeboran laut.

Gerbang Premier Inn Abu Dhabi International Airport Hotel

Setelah proses pemeriksaan imigrasi dan pengambilan bagasi, kami segera menuju Premier Inn Abu Dhabi International Airport Hotel, yang terletak di Business Park Opposite Terminals 1 and 3, Next To Skypark Multi Storey Car Park 95219, Abu Dhabi. Segera kami terlelap dalam mimpi indah pada hari Sabtu, 10 Mei 2025 dini hari waktu setempat, yang berselesih 3 jam dengan WIB. Kami bermimpi menjelajah Abu Dhabi  yang terletak di bagian timur laut Teluk Persia di Semenanjung Arab, di sebuah pulau kurang dari 250 meter dari daratan utama, dan dihubungkan dengan 3 buah jembatan indah, yaitu Jembatan Maqta, Musafah dan Sheikh Zayed yang dibuka pada akhir tahun 2010. Sebagian besar kota Abu Dhabi terletak di pulau itu sendiri, sedangkan luas Emirat Abu Dhabi sekitar 67.340 kilometer persegi, yang setara dengan sekitar 80% dari total luas lahan Uni Emirat Arab. Namun hanya 30% dari luas emirat yang dihuni, dengan hamparan luas yang tersisa tertutup oleh padang pasir dan lahan kering, yang merupakan sekitar 93% dari total luas Abu Dhabi.

Sarapan menu Arab di Premier Inn Abu Dhabi International Airport Hotel

Setelah mandi bugar dan sarapan, kami segera menjelajah negeri yang dipimpin oleh Khalifa bin Zayed Al Nahyan. Dia adalah putra Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan, presiden pertama dari Uni Emirat Arab. Saudara tirinya, Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan, adalah Putra Mahkota Abu Dhabi, dan memiliki pengaruh yang cukup besar sebagai Ketua dari Abu Dhabi Executive Council dan Deputi Panglima Tertinggi angkatan bersenjata Uni Emirat Arab.

Kami segera melakukan negosiasi harga dengan seorang sopir taksi, berkebangsaan Pakistan, yang berasal dari Peshawar dekat Afganistan, agar mau mengantar kami berkeliling kota, seperti yang kami lakukan di Dubai pada Sabtu, 3 Juni 2023 yang lalu. Secara geografis Abu Dhabi bertetangga dengan Dubai yang terletak di bagian timur, dengan Abu Dhabi sebagai ibu kota UAE dan Dubai adalah salah satu emirat (kerajaan) di wilayah UAE, yaitu sebuah negara federasi yang terdiri dari tujuh emirat. Dubai adalah salah satu nama kota dan dan salah satu kerajaan di wilayah UAE. Abu Dhabi mempunyai luas sekitar 972 km² hampir 30 kali lebih besar daripada Dubai yang hanya 35 km². Landmark Abu Dhabi adalah Masjid Agung Sheikh Zayed, Louvre Abu Dhabi, Yas Waterworld Abu Dhabi, serta Qasr Al Watan. Sedangkan Dubai mempunyai landmark yang paling terkenal adalah Burj Khalifa yang merupakan bangunan tertinggi di dunia, yakni setinggi 828 m yang telah kami kunjungi 2 tahun sebelumnya.

Toyota Camry Abu Dhabi Taxi yang siap mengantar kami jalan-jalan di Abu Dhabi

Setelah sepakat 250 Dirham dengan 6 tujuan, kami segera meluncur dalam Toyota Camry bermesin 2487 cc yang cicilan sebulannya sebesar sekitar Rp. 20 juta, berbahan bakar gas, dan setir kiri menuju Masjid Raya Sheikh Zayed. Masjid terbesar di negara ini dirancang oleh arsitek Yusef Abdelki, bergaya arsitektur Timur Tengah, didirikan 1996 dengan spesifikasi ada 82 kubah dengan tujuh ukuran berbeda yang dilengkapi 4 buah menara.

Masjid Agung Sheikh Zayed terlihat dari pintu depan

Masjid Agung Sheikh Zayed adalah contoh terbaik seni Islam, menggabungkan arsitektur Mughal, Moor, Ottoman, dan Persia. Hasilnya adalah perpaduan menakjubkan antara tradisi dan modernitas, sebuah struktur yang menghormati masa lalu sambil menatap masa depan. Permata arsitektur ini merupakan bukti kreativitas, keterampilan, dan visi orang-orang di baliknya. Terletak di jantung kota Abu Dhabi, Masjid Agung Sheikh Zayed jadi salah satu spot yang paling banyak dikunjungi di kota itu. Masjid ini adalah sebuah karya seni dengan arsitekturnya yang spektakuler, desainnya yang rumit, dan kemegahannya yang anggun. Masjid Agung Sheikh Zayed merupakan salah satu masjid terbesar ketiga di dunia setelah Masjid Al-Haram di Mekkah dan Masjid Al-Nabawi di Madinah, keduanya di Saudi Arabia. Masjid ini dibangun di areal 12 hektare dengan luas area masjid sebesar 22.412 meter persegi, setara hampir empat lapangan sepak bola. Daya tampung masjid ini dapat mencapai 40.000 jamaah.

Masjid Agung Sheikh Zayed nampak dari sisi belakang, tetap nampak anggun dan mempesona

Kami segera berfoto berdua, dengan latar belakang Masjid Agung Sheikh Zayed yang didominasi oleh warna putih bersih, karena putih melambangkan kemurnian dan dilapisi marmer dari Makedonia. Juga dilengkapi 7 buah lampu gantung kristal di ruang salat dan pintu masuk serambi. Lampu gantung seberat 12 ton tersebut adalah salah satu lampu terbesar di dunia. Juga dilengkapi karpet besar yang terletak di ruang shalat utama masjid seluas 5.700 meter persegi. Karpet Persia tersebut merupakan rekor dunia, yaitu karpet rajutan tangan terbesar dibuat membutuhkan waktu sekitar dua tahun oleh sekitar 1.200 pengrajin, terbuat dari 70% wol dan 30% katun dari seluruh dunia. Para desainer mengambil bahan bangunan dari negara-negara seperti Selandia Baru, Maroko, Mesir, Turki, Yunani, Pakistan, Italia, Jerman, Austria, Cina, dan India.

Sayang sekali, kami datang pada pagi hari yang cerah, sehingga tidak mampu melihat fasad masjid yang bersinar lembut di malam hari, selaras dengan siklus bulan. Speirs and Major Associates merancang skema pencahayaan 360 derajat yang mengubah warna masjid dari putih sejuk saat bulan purnama menjadi biru secara bertahap saat bulan memudar, berubah setiap dua malam. Pada malam keempat belas siklus tersebut, lampu menyala dengan warna biru paling dalam, yang menandakan tidak ada bulan di langit. Sistem ini bukan hanya sebuah prestasi teknologi, tetapi juga sebuah karya seni yang menimbulkan rasa kagum pada semua orang yang melihatnya.

Gerbang Geraja Katedral Santo Yosef Abu Dhabi

Interior dalam Geraja Katedral Santo Yosef Abu Dhabi

Setelah puas berfoto dalam silua sinar matahari pagi yang cerah, kami segera masuk kembali ke Abu Dhabi Taxi Toyota All New Camry untuk menuju Katedral Santo Yosef, yaitu sebuah gereja katedral Katolik di Abu Dhabi. Katedral ini menjadi pusat kedudukan dan takhta dari Vikaris Apostolik atau Uskup Arab Selatan. Katedral Abu Dhabi merupakan salah satu dari enam gereja Katolik yang ada di Keemiran Abu Dhabi, selain Gereja Santo Paulus di Musaffah, Gereja Santa Maria di Al Ain, Gereja Santo Fransiskus di Abu Dhabi, Gereja Santa Theresa di Abu Dhabi dan Gereja Santo Yohanes Pembaptis di Ruwais. Gereja tersebut dibangun pada 1962 di atas sebidang lahan yang disumbangkan oleh Sheikh Shakhbut, seorang kerabat dekat penguasa Abu Dhabi.

Bangku paling belakang untuk tim medis dalam Geraja Katedral Santo Yosef Abu Dhabi

Fasad depan Geraja Katedral Santo Yosef Abu Dhabi

Misa kudus diadakan dalam berbagai bahasa, utamanya bahasa Inggris selain juga bahasa Arab, Tagalog, Malayalam, Sinhala, Urdu, Konkani, Tamil, dan Prancis. Saat ini dipimpin oleh Uskup Mgr. Paolo Martinelli, OFM Cap dan pastor kepala paroki adalah Johnson Kadukanmakal. Kami segera masuk Porta Sancta atau Pintu Suci, yaitu pintu khusus di gereja besar tertentu yang hanya dibuka pada momen istimewa, misalnya pada Tahun Yubileum 2025 sesuai penetapan oleh mendiang Paus Fransiskus. Sebagai peziarah pengharapan (pilgrimage of hope) pada tahun Yubileum 2025 ini, kami sangat bersuka cita dapat memenuhi harapan kami untuk berkunjung ke berbagai gereja katedral.

Poster peziarah pengharapan (pilgrimage of hope) pada tahun Yubileum 2025 di Katderal Santo Yosef Abu Dhabi

Lambang peziarah pengharapan (pilgrimage of hope) pada tahun Yubileum 2025 di pintu depan katedral Santo Yosef Abu Dhabi

Setelah melewati Porta Sancta Katedral Santo Yoseph Abu Dhabi, kami segera berlutut, berdoa dan mengucap syukur. Kami bersyukur atas semua berkat dan rahamat Tuhan Maha Baik di bangku katedral deretan paling belakang, yang sebenarnya dikhususkan untuk tim medis saat ada misa kudus. Dalam doa khusuk, kami memohon kebijaksanaan, keselamatan, kecerdasan, kesehatan dan kebahagian bagi kami semua.

Misa kudus di Gereja Santa Theresia dari Lisieux di Abu Dhabi, dengan ruangan khusus untuk ibu dan bayi di bagian belakang berbatas kaca

Selanjutnya kami memasuki Gereja St. Theresia dari Lisieux, juga dikenal sebagai “Bunga Kecil”, seorang santa Katolik Prancis dan Doktor Gereja yang dihormati karena kerendahan hati dan pengabdiannya kepada Tuhan. Gereja yang dibangun bersebelahan dengan Gereja Katedral Santo Yosef ini merupakan bagian dari Vikariat Arab Selatan, dan merupakan gereja di dalam Paroki Gereja Santo Yosef, dan diberkati dalam sebuah Misa Kudus pada tanggal 14 Desember 2013.

Selesai berdoa pribadi di tengah-tengah misa kudus di Gereja Santa Theresia,  kami segera menuju Masjid Maria ibu Yesus (Masjid Maryam Umm ‘Īsā), yang dibagun di seberang Katedral Santo Yoseph dan terletak di wilayah Al Mushrif. Masjid tersebut dibangun pada 1989 dengan nama Masjid Mohammed Bin Zayed, dan mengambil nama dari Mohammed bin Zayed Al Nahyan, Pangeran Mahkota Abu Dhabi. Pada 14 Juni 2017, Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan memutuskan untuk mengganti nama masjid tersebut menjadi “Masjid Mariam Umm Eisa” (Masjid Maria ibu Yesus).

Di bawah papan nama Mary Mother of Jesus Mosque Abu Dhabi

Wajah Bunda Maria (Mary Mother of Jesus) versi Arab di Abu Dhabi

Desain arsitektur masjid yang cukup megah, meski tak semegah dan sebesar Masjid Sheikh Zayed, tetapi desain bangunan Mary Mother of Jesus Mosque juga terbilang indah dan unik. Bangunan masjid ini berbentuk persegi dengan empat menara yang menjulang tinggi di setiap sudutnya. Selain itu, masjid ini juga memiliki kubah utama berukuran besar dan sejumlah kubah kecil di sekelilingnya. Bagian luar bangunan masjid berwana krem keemasan. Warna bangunan yang kalem ini memberi kesan teduh bagi jemaah yang datang dan berkunjung ke masjid tersebut. Terdapat pula plang atau papan nama di bagian depan dan bagian atas pintu masuk masjid bertuliskan “Mary Mother of Jesus”.

Masjid Mara Bunda Yesus (Mary Mother of Jesus) yang indah dan mempesona

Ukiran motif geometris dinding pada bagian luar masjid ini dilengkai elemen dekoratif geometris. Motif geometris ini berfungsi untuk menunjukan perhatian, pengenalan, dan mengesankan perasaan. Jendela masjid dibuat dengan ukiran bermotif arabesk dan tanpa menggunakan kaca. Artinya masjid ini memaksimalkan sirkulasi udara alami dari luar bangunan. Motif arabesk sendiri adalah gambar atau ukiran berupa sulur, daun, cabang, atau pohon. Seniman Muslim mengembangkan seni arabesk dari budaya era Byzantium. Dalam penerapannya, bentuk arabesk bisa dikombinasikan dengan kaligrafi dan ornamen geometris.  Kaligrafi Dalam Masjid Sementara itu, dinding pada bagian dalam masjid ini berwana putih dengan kalifgrafi ayat suci Al Quran. Di bawah tulisan kaligrafi tersebut juga terdapat lemari kayu berukuran besar yang digunakan sebagai tempat untuk menyimpan Al-Quran.

Jalur pejalan kaki menyusuri Teluk Persia di Abu Dhabi, sangat bersih, indah dan mempesona

Selanjutnya kami meluncur lagi di jalanan Abu Dhabi yang mulus, lebar, bersusun dan sepi kendaraan karena hari libur, menuju Etihad Towers. Ini  adalah kompleks gedung dengan lima menara di Abu Dhabi, yang diresmikan pada November 2012. Kelima tower meliputi T1: hotel / perumahan, T2: perumahan, T3: kantor, T4: perumahan dan T5: perumahan. Pembangunan konstruksi dimulai 27 Oktober 2006 dan selesai 27 Oktober 2011 dengan ketinggian masing-masing tower adalah T1: 277,6 m, T2: 305,3 m, T3: 260,3 m, T4: 234,0 m, dan T5: 217,5 m. Jumlah lantai T1: 69, T2: 80, T3: 60, T4: 66 dan T5: 61.

Etihad Tower yang tinggi menjulang di langit Abu Dhabi

Menara ini buah tangan arsitek Tim Desain DBI dari Australia dengan cakupan, besarnya, dan keunikannya sungguh menakjubkan. Menara-menara yang mengubah cakrawala Abu Dhabi ini menawarkan sudut pandang yang paling menakjubkan, dengan pemandangan panorama yang luas ke seluruh kota yang semarak dan Laut Arab dan Teluk Persia. Menara ini terletak di seberang hotel Emirates Palace dibangun dengan perkiraan biaya konstruksi sebesar 2,5 miliar Dirham. HH Sheikh Suroor bin Mohammed bin Khalifa Al Nahyan adalah tokoh terkemuka di UEA adalah pemilik Etihad Towers yang ikonik dan Abu Dhabi Mall yang ramai.

Menara ini digunakan sebagai lokasi syuting film Furious 7 tahun 2015. Furious 7 adalah sebuah film aksi, laga dan balap mobil produksi Amerika Serikat dan merupakan film ketujuh dari serial Fast & Furious. Film ini mengupas ‘pensiunnya’ Brian O’Conner dari dunia balap, karena pemeran Brian, Paul Walker, telah meninggal dunia. Dalam film tersebut, Dominic Toretto (Vin Diesel) dan Brian O’Conner (Paul Walker) mencuri Lykan HyperSport dan mengendarainya melewati tiga menara.

Air mancur menjadi latar depan Menara Etihad yang tinggi menjulang di langit Abu Dhabi

Seterusnya kami menikmati pesona pemandangan tepi pantai di Teluk Persia saat mengunjungi Rixos Marina Abu Dhabi, untuk menemui mas Arya Boske yang bekerja di situ, menyampaikan bingkisan dari ayahnya. Mas Arya adalah anak sulung dr. Paulus Kemil, yang bersama kami praktek di Apotek K24 Demangan Baru Yogyakarta. Rixos Marina adalah bangunan arsitektur ikonik yang menyatukan budaya, kuliner, dan keramahtamahan Arab dan Turki yang terbaik.

Rixos Marina yang tinggi menjulang terlihat di kajauhan, pada jalur pejalan kaki mengyusuri Teluk Persia di Abu Dhabi

Terletak di jantung pusat perbelanjaan, hiburan, dan perumahan Abu Dhabi, Rixos Marina Abu Dhabi adalah resor multifaset yang memiliki perairan yang berkilauan dan garis pantai berpasir. Rixos Marina Abu Dhabi mencerminkan keserbagunaan Abu Dhabi sebagai kota kosmopolitan yang berlimpah dengan pengalaman, warisan alam dan akuatik yang kaya. Rixos Marina Abu Dhabi dengan mulus memadukan desain akuatik dan arabesque yang canggih, untuk menceritakan kisah Abu Dhabi dari asal-usul pelayaran kuno, hingga kini menjadi kota kosmopolitan yang sangat berkembang dengan kemewahan tertingginya. Sebagai destinasi, Rixos Marina Abu Dhabi berani tampil beda, meningkatkan pengalaman tamu melalui desain, fasilitas, suasana, hiburan, dan waktu luang yang luar biasa.

Di halaman depan pada dasar Rixos Marina yang tinggi menjulang

Bertemu Bli Ferdy dari Bali, teman sekamar apartemen mas Arya Boske di Rixos Marina, untuk menitipkan oleh2 dari dr. Paulus Kemil

Qasr Al Watan (Istana Negara) karya arsitek Xavier Cartron

Selanjutnya kami berniat mengunjungi Qasr Al Watan, yang secara harfiah berarti ‘Istana Negara’ karya arsitek Xavier Cartron dan ICON Spaces, merupakan kompleks pemerintahan yang mengesankan wibawa, menjadi kantor resmi Presiden, Wakil Presiden, dan Putra Mahkota Abu Dhabi. Qasr Al Watan dibangun selama kurun waktu tujuh tahun, antara tahun 2010 dan 2017. Istana putih berkilauan dengan kubah adalah Qasr Al Watan. Istana berwarna pasir di sebelah kirinya adalah Istana Emirates sebagai satu-satunya “hotel bintang tujuh” di dunia.

Gerbang penjualan tiket masuk Qasr Al Watan (Istana Negara)

Pengunjung yang masuk kompleks luas tersebut wajib memiliki tiket masuk seharga 75 dirham (AED), yang sudah termasuk bus nyaman yang akan membawa pengunjung ke pintu masuk depan Qasr Al Watan, dan kembali ke pusat pengunjung/kantor tiket. Hal ini disebabkan karena perlu waktu setidaknya 1-2 jam di kompleks ini, yang dibangun di atas lahan seluas 150 Ha dengan luas bangunan melebihi 380.000 m². Pada bulan Agustus 2019, istana ini dinobatkan oleh situs web perjalanan dan pariwisata Hotel and Rest di antara 20 landmark seni dan budaya teratas di Dunia. Pada tahun 2020, Istana Kepresidenan Qasr Al Watan dinominasikan untuk World Travel Awards sebagai objek wisata budaya utama di Timur Tengah.

Gerbang Qasr Al Watan yang dijaga serdadu bersenjata dan anjing tanpa ikatan

Kami hanya sempat berfoto sejenak di depan gerbang dengan fasad yang terbuat dari granit putih dan batu kapur, istana yang sebagian besar berwarna putih dirancang dengan rumit dan dihias dengan sangat indah. Kami segera pergi karena takut banget saat diawasi oleh serdadu Abu Dhabi, dengan senjata laras panjang dan anjing jenis herder di pos penjaga yang tidak dirantai.

Panorama Qasr Al Watan karya arsitek Xavier Cartron yang mempesona

Emirates Palace Mandarin Oriental, Abu Dhabi yang gagah

Selanjutnya kami menuju Emirates Palace Mandarin Oriental, Abu Dhabi, yaitu sebuah hotel mewah bintang lima yang awalnya dioperasikan oleh Kempinski sejak dibuka pada November 2005. Karena adanya perubahan manajemen, Istana ini direnovasi selama dua tahun. Saat ini dioperasikan oleh Mandarin Oriental sejak 1 Januari 2020. Bangunan indah ini dirancang oleh WATG Architects. Desain hotel ini merupakan campuran dari elemen arsitektur Islam seperti keseimbangan, geometri, proporsi, ritme, dan penekanan hierarkis di samping metode desain dan konstruksi modern. Kubah pusatnya menampilkan pola geometris yang rumit dan 114 kubah yang lebih kecil, tersebar di seluruh bangunan. Warna bangunan ini terinspirasi oleh berbagai corak pasir yang ditemukan di Gurun Arab. Biaya konstruksi sekitar US$3 miliar, menjadikannya hotel termahal ketiga yang pernah dibangun, dilampaui oleh Cosmopolitan of Las Vegas di USA ($3,9 miliar) dan Marina Bay Sands di Singapura ($5,5 miliar).

Setelah puas, kami segera kembali ke bandara dan mampir sejenak menikmati keindahan Sheikh Zayed Bridge, sebuah jembatan karya arsitek Zaha Hadid. Antara tahun 1997 dan 2010, arsitek Zahā Ḥadīd merancang jembatan yang jauh lebih ambisius, Jembatan Sheikh Zayed, untuk menghormati Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan, antara pulau Abu Dhabi dan daratan utama Abu Dhabi, serta ke Bandara Internasional Abu Dhabi. Baik desain jembatan maupun pencahayaannya, yang terdiri dari warna-warna yang berubah secara bertahap, dirancang untuk memberikan kesan gerakan. Siluet jembatan adalah gelombang air laut, dengan lengkungan utama sepanjang 235 meter, berdiri 60 meter di atas air laut. Rentang total empat lajur adalah 842 meter panjangnya, dan juga termasuk jalur pejalan kaki. Jembatan ini diresmikan pada tanggal 25 November 2010, oleh mendiang Presiden UEA Sheikh Khalifa. Upacara tersebut juga dihadiri oleh Ratu Elizabeth II dari Inggris, menandai kunjungan kenegaraan keduanya ke UEA. Lalu lintas di jembatan dimulai tiga hari setelah upacara pembukaan.

Jembatan Sheikh Zayed antara pulau dan daratan Abu Dhabi buah karya arsitek Dame Zaha Mohammad Hadid

Dame Zaha Mohammad Hadid, DBE (Zahā Ḥadīd; 31 Oktober 1950 – 31 Maret 2016) adalah seorang arsitek Inggris kelahiran Irak. Ia adalah wanita pertama yang meraih Penghargaan Arsitektur Pritzker tahun 2004. Ia meraih Penghargaan Stirling pada 2010 dan 2011. Pada 2012, ia diberi bintang Dame Commander of the Order of the British Empire dan pada 2015 ia menjadi wanita pertama yang diberi penghargaan RIBA Gold Medal. Pada 31 Maret 2016, Hadid meninggal karena serangan jantung di rumah sakit Miami, USA dimana ia dirawat akibat penyakit bronkitis.

Major projects (2006–2010) Zahā Ḥadīd meliputi Bridge Pavilion di Zaragoza (2008), Sheikh Zayed Bridge di Abu Dhabi UEA (2010), MAXXI museum di Rome Italia (2010), Guangzhou Opera House in Guangzhou China (2010), Riverside Museum in Glasgow Skotlandia (2011), CMA CGM Tower in Marseille Perancis (2011). Juga London Aquatics Centre di London (Inggris 2012), dan Broad Art Museum di East Lansing, Michigan, US (2012), Galaxy SOHO di Beijing (2012), CMA CGM Tower, di Marseille, France (2006–2011), Heydar Aliyev Center di Baku Azerbaijan (2013), Dongdaemun Design Plaza di Seoul Korea (2013), University of Economics and Business Library and Learning Center di Vienna Austria (2013), Serpentine Sackler North Gallery di London Inggris (2013), Jockey Club Innovation Tower di Hong Kong China (2007–2014), The Wangjing SOHO di Beijing China (2014), dan Sky SOHO di Shanghai China (2014). Ada lagi International Youth Cultural Centre di Nanjing China (2015), Port Authority Building di Antwerp Belgia (2016).

Di gerbang Bandar Udara Internasional Zayed di Abu Dhabi.

Kami segera mencapai Bandar Udara Internasional Zayed di Abu Dhabi. Bandar udara yang terletak 30,6 km timur kota Abu Dhabi ini, adalah bandar udara terbesar kedua di UEA setelah Bandar Udara Internasional Dubai, melayani sekitar 20 juta penumpang pada tahun 2014. Bandara ini memiliki tiga terminal penumpang operasional: Terminal 1 ( terbagi menjadi Terminal 1A dan 1B), Terminal 2, Terminal 3. Bandar Udara Internasional Abu Dhabi ini memiliki luas area sebesar 3.400 hektare. Ruang terminalnya didominasi oleh Etihad Airways, maskapai penerbangan terbesar kedua di UEA setelah Emirates. Terdapat lebih dari 30 maskapai penerbangan yang dilayani di bandar udara ini dan menawarkan layanan ke lebih dari 120 tujuan di lebih dari 60 negara di seluruh dunia.

The Shell, sebuah pahatan berbahan kaca yang terinspirasi oleh warisan maritim Abu Dhabi.

Bandara Internasional Zayed di Abu Dhabi dinobatkan sebagai bandara terindah di dunia. Melansir The National, Senin (16 Desember 2024) bandara tersebut meraih penghargaan tertinggi dalam ajang Prix Versailles yang diadakan di kantor pusat UNESCO di Paris Perancis.

Atap melengkung indah, tinggi, kokoh dan mempesona Bandara Internasional Zayed di Abu Dhabi buah karya arsitek Kohn Pedersen Fox

Bandara Internasional Zayed di Abu Dhabi dirancang oleh arsitek Kohn Pedersen Fox, atap di bandara tidak hanya menjadi elemen desain yang menonjol, tetapi juga memiliki fungsi untuk mengurangi konsumsi energi dengan menaungi bangunan. Juga dihiasi oleh struktur instalasi seperti The Shell, sebuah pahatan berbahan kaca, kuningan, dan baja yang terinspirasi oleh warisan maritim Abu Dhabi. Bandara Internasional Zayed juga dilengkapi dengan teknologi canggih. Tata letak berbentuk X meminimalkan jarak antara titik kedatangan dan keberangkatan. Sungguh Abu Dhabi sangat mempesona.

Sebelum kami lapor diri, mas Arya Boske (putera sulung dr. Paulus Kemil) menyusul kami di Bandara Internasional Zayed. Banyak inspirasi perjuangan hidupnya yang kami dengar, saat cerita penuh semangat kehidupan sehari-harinya sebagai pekerja di Abu Dhabi.

Mas Arya Boske sepulang kerja di Rixos Marina lanjut mengejar kami sampai di Bandara Zayed Abu Dhabi

Sabtu, 10 Mei 2025

Salam pengelana

-wikan & sari

(bersambung)

Ditulis sambil menunggu penerbangan ke Johannesburg Afrika Selatan, di salah satu sudut Bandara Internasional Zayed di Abu Dhabi


Categories
anak bayi prematur dokter Healthy Life Pendukung ASI UHC

2025 Hari Kesehatan Dunia

HARI KESEHATAN SEDUNIA 2025

fx. wikan indrarto

Tulisan ini telah dimuat di Harian Nasional Kompas digital (Kompas.id) pada Senin, 7 April 2025

https://www.kompas.id/artikel/hari-kesehatan-sedunia-2025

Kesehatan ibu dan bayi yang baik adalah fondasi keluarga, masyarakat dan negara yang sehat, untuk membantu memastikan masa depan yang penuh harapan bagi kita semua. Apa yang harus kita lakukan?

Hari Kesehatan Dunia (World Health Day) yang dirayakan pada 7 April 2025, akan ditandai dengan dimulainya  kampanye selama setahun penuh, tentang kesehatan ibu dan bayi baru lahir. Kampanye ini bertema : Awal yang sehat, masa depan yang penuh harapan (Healthy beginnings, hopeful futures) akan mendesak pemerintah, komunitas kesehatan dan kita semua, dalam meningkatkan upaya guna mengakhiri penyebab kematian ibu dan bayi baru lahir yang dapat dicegah, dan memprioritaskan kesehatan dan kesejahteraan jangka panjang bagi ibu dan anak.

Kita diingatkan untuk membantu setiap ibu dan bayi agar dapat bertahan hidup dan berkembang dengan baik. Tugas ini sangat penting, tetapi  tragisnya, hampir 300.000 ibu meninggal karena kehamilan atau persalinan setiap tahun. Selain itu, lebih dari 2 juta bayi meninggal dalam bulan pertama kehidupan mereka dan sekitar 2 juta lainnya lahir mati. Angka ini kira-kira 1 kematian bayi yang dapat dicegah setiap 7 detik. Hal ini menyebabkan 4 dari 5 negara tidak akan memenuhi target untuk meningkatkan kelangsungan hidup ibu pada tahun 2030. Seain itu, 1 dari 3 negara akan gagal memenuhi target untuk mengurangi kematian bayi baru lahir.

Ibu dan bayi di mana pun membutuhkan perawatan kesehatan berkualitas tinggi, yang mendukung mereka secara fisik dan emosional, sebelum, selama, dan setelah melahirkan. Untuk itu, sistem layanan kesehatan harus berkembang untuk mengelola berbagai masalah medis yang memengaruhi kesehatan ibu dan bayi baru lahir. Ini tidak hanya mencakup komplikasi obstetrik langsung, tetapi juga kondisi kesehatan mental, penyakit tidak menular, dan bahkan keluarga berencana.

Selain itu, ibu dan bayi harus didukung oleh regulasi, undang-undang, dan kebijakan yang melindungi kesehatan dan hak-hak mereka. Hal ini sesuai dengan tujuan kampanye Hari Kesehatan Dunia 2025. Pertama, untuk meningkatkan kesadaran tentang kesenjangan dalam kelangsungan hidup ibu dan bayi baru lahir, juga perlunya memprioritaskan kesejahteraan mereka dalam jangka panjang.

Kedua, untuk mengadvokasi tambahan investasi yang efektif dalam meningkatkan kesehatan ibu dan bayi. Ketiga, untuk mendorong tindakan kolektif dalam mendukung para dokter dan tenaga kesehatan yang memberikan layanan pada kondisi kritis. Dan keempat, untuk memberikan informasi dan edukasi kesehatan yang berguna, terkait kehamilan, persalinan, dan periode pascanatal.

Tingginya angka kematian yang dapat dicegah dan buruknya kesehatan dan kesejahteraan bayi baru lahir dan anak di bawah usia lima tahun, merupakan indikator dari cakupan intervensi penyelamatan jiwa yang tidak merata dan dari pembangunan sosial dan ekonomi yang tidak memadai. Kemiskinan, gizi buruk, dan akses yang buruk terhadap air bersih dan sanitasi, merupakan beberapa faktor yang merugikan, seperti juga akses yang tidak memadai terhadap layanan medis dan kesehatan yang bermutu, seperti perawatan penting untuk bayi baru lahir.

Promosi kesehatan, layanan pencegahan penyakit (seperti vaksinasi rutin) dan pengobatan penyakit umum pada anak sangat penting, agar setiap anak dapat tumbuh dan bertahan hidup. Bulan pertama kehidupan merupakan periode paling rentan bagi kelangsungan hidup anak, dengan 2,3 juta bayi baru lahir meninggal pada tahun 2022. Angka kematian neonatal telah menurun hingga 44% sejak tahun 2000. Namun pada tahun 2022, hampir setengah (47%) dari semua kematian pada anak di bawah usia 5 tahun terjadi pada periode neonatal (28 hari pertama kehidupan), yang merupakan salah satu periode kehidupan paling rentan dan memerlukan perawatan intrapartum dan neonatal berkualitas tinggi.

Kebanyakan kematian neonatal (75%) terjadi selama minggu pertama kehidupan, dan sekitar 1 juta bayi baru lahir meninggal dalam 24 jam pertama. Di antara neonatus, penyebab utama kematian meliputi kelahiran prematur, komplikasi kelahiran (asfiksia dan trauma saat lahir), infeksi neonatal, dan kelainan bawaan, yang secara kolektif menyebabkan hampir 4 dari 10 kematian pada anak di bawah usia 5 tahun. Perlu dicatat bahwa meskipun tingkat penyebab utama kematian neonatal telah menurun secara global sejak tahun 2000, penyebab tersebut menyebabkan proporsi yang sama dari kematian anak di bawah usia 5 tahun, yaitu 4 dari 10 anak pada tahun 2000 dan 2022. Akses dan ketersediaan layanan medis dan kesehatan yang berkualitas, terus menjadi masalah hidup atau mati bagi ibu dan bayi baru lahir, di seluruh dunia.

Sebagian besar kematian bayi baru lahir terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Program untuk meningkatkan kelangsungan hidup bayi baru lahir harus dibangun di atas fondasi yang kuat, selaras dengan Every Newborn Action Plan (ENAP) dan target mengakhiri kematian ibu yang dapat dicegah (Ending Preventable Maternal Mortality atau EPMM). Hal ini mencakup perbaikan layanan medis antenatal dan pascanatal, juga meningkatkan kompetensi dokter dan tenaga kesehatan terampil dalam bidang obstetrik dan bayi baru lahir.

Meningkatkan pembiayaan dan mengalokasikan sumber daya terhadap dua intervensi tersebut di atas, akan berdampak sangat tinggi dan sangat penting. Hal ini karena langkah ini memberikan pengembalian investasi empat kali lipat, tidak hanya berupa pengurangan angka kematian ibu, bayi lahir mati, dan kematian bayi baru lahir, tetapi juga menurunkan morbiditas ibu dan bayi baru lahir.

Dengan meningkatnya angka kelahiran di fasilitas kesehatan, bahkan sudah mencapai hampir 80% secara global, maka tersedia peluang besar untuk perawatan semua bayi baru lahir, termasuk bayi baru lahir berisiko tinggi. Namun sayangnya, hanya sedikit ibu dan bayi baru lahir yang masih bertahan di fasilitas kesehatan selama 24 jam setelah kelahiran, yang merupakan waktu paling kritis ketika komplikasi medis pada bayi dapat muncul. Selain itu, terlalu banyak bayi baru lahir yang meninggal di rumah, karena pulang lebih awal dari rumah sakit, hambatan akses, dan keterlambatan dalam mencari perawatan. Untuk itu, empat kali kontak tenaga kesehatan dengan bayi dalam perawatan pascanatal yang direkomendasikan WHO, baik di fasilitas kesehatan atau melalui kunjungan ke rumah, memainkan peran penting untuk menjangkau bayi baru lahir dan keluarga mereka.

Hari Kesehatan Dunia (World Health Day) Senin, 7 April 2025 untuk memperingati hari lahir WHO pada 7 April 1948. Momentum ini mengingatkan kita semua agar melakukan percepatan kemajuan program, untuk kelangsungan hidup bayi baru lahir. Selain itu, peningkatan derajat kesehatan dan kesejahteraan bayi baru lahir memerlukan ketersediaan layanan medis dan kesehatan yang berkualitas, khususnya untuk bayi baru lahir yang kecil dan sakit.

Apakah kita sudah melakukannya?

Sekian
Yogyakarta, 22 Maret 2025
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM.

Categories
anak COVID-19 dokter Healthy Life vaksinasi

2025 Pelajaran dari sejarah COVID-19

PELAJARAN  DARI SEJARAH  COVID-19

fx. wikan indrarto

Tulisan ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 13 April 2025, halaman 8, kolom HUSADA

Lima tahun lalu, tepatnya pada 31 Desember 2019, Kantor WHO di Tiongkok mengeluarkan pernyataan resmi tentang kasus ‘pneumonia virus’ di Wuhan, Tiongkok. Dalam beberapa minggu, bulan, dan tahun setelah itu, ‘pneumonia virus’ yang selanjutnya disebut COVID-19 mempengaruhi kehidupan kita dan dunia. Apa yang menarik?

WHO langsung mengaktifkan sistem darurat pada hari libur tahun baru, yaitu 1 Januari 2020. Seminggu kemudian, pada 10-12 Januari 2020 WHO menerbitkan paket dokumen panduan yang komprehensif untuk semua negara, yang mencakup beberapa topik terkait dengan manajemen wabah penyakit baru tersebut. Misalnya pencegahan dan pengendalian infeksi, pengujian laboratorium, perangkat tinjauan kapasitas sistem kesehatan nasional, dan pedoman komunikasi risiko dan keterlibatan masyarakat.

Tiga minggu kemudian, pada 20 Januari 2020 virus corona jenis baru mulai menjadi perhatian masyarakat dunia setelah otoritas kesehatan di  Tiongkok, melaporkan adanya tiga orang tewas di Wuhan setelah menderita pneumonia yang disebabkan virus tersebut. Sebulan kemudian pada 29 Januari 2020 WHO menerbitkan saran tentang penggunaan masker wajah oleh masyarakat, selama perawatan di rumah dan di tempat perawatan kesehatan. Kemudian pada 30 Januari 2020 Direktur Jenderal WHO menyatakan wabah virus corona baru sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional atau ‘Public Health Emergency Of International Concern’ (PHEIC), tingkat kewaspadaan tertinggi WHO.  

Pada saat itu, terdapat 98 kasus dan tidak ada kematian di 18 negara di luar Tiongkok. Empat negara di luar Tiongkok (Jerman, Jepang, Amerika Serikat, dan Vietnam) memiliki bukti (8 kasus) penularan antarmanusia. WHO kemudian merumuskan saran untuk Republik Rakyat Tiongkok, semua negara, dan komunitas global, sebagai Rekomendasi Sementara.

Selain itu, pada 11 Februari 2020 WHO mengumumkan bahwa penyakit yang disebabkan oleh virus corona baru tersebut diberi nama ‘Corona Virus Disease 2019’ atau COVID-19. Nama penyakit tersebut dipilih untuk menghindari ketidakakuratan dan stigma, sehingga tidak merujuk pada nama tempat, nama negara, lokasi geografis, nama hewan, nama individu atau sekelompok orang.

Sekitar 3 bulan kemudian, yaitu pada 11 Maret 2020 WHO menetapkan status COVID-19 sebagai pandemi. Faktor utama dalam penetapan status pandemi adalah wabah penyakit infeksi tersebut yang menular cepat dan meluas. Berbeda dengan pandemi, status epidemi menggambarkan bahwa suatu penyakit infeksi menyebar lebih banyak dari yang diperkirakan, tetapi terbatas terjadi pada suatu tempat tertentu saja. Memang istilah pandemi terkesan menakutkan, tetapi sebenarnya itu netral dan tidak ada kaitannya dengan keganasan penyakit, akan tetapi lebih pada penyebarannya yang meluas melampaui batas geografis.

Pada 31 Maret 2020 WHO mengeluarkan peringatan bagi masyarakat, dokter dan tenaga kesehatan, juga otoritas kesehatan terhadap semakin banyaknya informasi keliru yang berlebihan (infodemik) dan produk medis palsu yang mengklaim dapat mencegah, mendeteksi, mengobati, atau menyembuhkan COVID-19. Hampir 4 bulan kemudian pada 14 April 2020 WHO menerbitkan pembaharuan strategi COVID-19, karena menurunnya tingkat penularan. Panduan tersebut ditujukan bagi negara yang bersiap untuk transisi bertahap dari penularan yang meluas, ke keadaan stabil dengan tingkat penularan rendah atau tanpa penularan. Strategi ini bertujuan agar semua negara tetap mengendalikan pandemi, dengan mulai memobilisasi semua sektor dan masyarakat, untuk mencegah dan menekan penularan di masyarakat, mengurangi angka kematian, dan mengembangkan vaksin serta terapi yang aman dan efektif.

Setelah tingkat penularan semakin meningkat, pada 5 Juni 2020 WHO menerbitkan panduan terbaru tentang penggunaan masker untuk pengendalian COVID-19, dan memberikan saran terbaru tentang siapa yang harus mengenakan masker, kapan harus dikenakan, dan dari bahan apa masker harus dibuat. Diteruskan pada 24 Juli 2020 WHO menerbitkan panduan untuk mencegah dan mengurangi dampak COVID-19 jangka panjang, termasuk perawatan berbasis rumah dan komunitas. Pada 21 Agustus 2020 WHO bekerja sama dengan UNICEF, menerbitkan panduan tentang penggunaan masker untuk anak dalam aktivitas masyarakat untuk pengendalian COVID-19.

Dalam aspek terapi pada 2 September 2020 WHO menerbitkan panduan tentang peran kortikosteroid dalam mengobati COVID-19. Obat lama, murah, tersedia di banyak tempat secara global dan terbukti efektif dalam penanganan COVID-19. Sedangkan dalam aspek diagnostik, pada 22 September 2020 WHO menerbitkan Daftar Penggunaan Darurat pertama untuk alat uji diagnostik cepat berbasis antigen untuk mendeteksi virus SARS-CoV-2, yang menyebabkan COVID-19.

Dalam aspek pendidikan kedokteran berkelanjutan pada 18 November 2020 WHO Academy meluncurkan kursus online pertamanya untuk dokter dan tenaga kesehatan di seluruh dunia tentang penggunaan alat pelindung diri COVID-19 yang tepat. Juga pada 16 Desember 2020 WHO menerbitkan panduan tentang penerapan pendekatan berbasis risiko untuk perjalanan internasional dalam pengendalian COVID-19.

Hampir 2 tahun kemudian, yaitu pada 11 Januari 2022 sebuah tim WHO yang disebut Penasihat Teknis Komposisi Vaksin COVID-19 (TAG-CO-VAC) mengeluarkan pernyataan sementara tentang implikasi varian Omicron untuk vaksin COVID-19 dan rekomendasi tentang pilihan vaksin untuk masa mendatang. Selanjutya pada 11 Februari 2022 WHO melakukan prakualifikasi antibodi monoklonal pertamanya, yaitu tocilizumab untuk mengobati COVID-19.

Hingga 24 November 2021, total kasus konfirmasi COVID-19 di lebih dari 195 negara di dunia adalah 258.164.425 kasus dengan 5.166.192 kematian (CFR 2,0%). WHO memperkirakan terjadi 14,9 juta kematian secara global akibat COVID-19 pada tahun 2020–21. Perkiraan global WHO lebih rendah daripada 18,2 juta kematian yang dilaporkan oleh Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) dan 17,7 juta kematian yang diperkirakan oleh The Economist untuk periode waktu yang sama.

Setelah terjadi tingkat penularan yang landai, tiga setengah tahun kemudian  pada 5 Mei 2023 WHO mencabut status darurat COVID-19 pada tingkat global. Selanjutnya pada 21 Juni 2023, Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) secara resmi mengumumkan pencabutan status pandemi COVID-19 di Indonesia dan beralih menjadi endemi. Perbedaan antara pandemi dan endemi adalah dalam aspek prediktabilitas. Status pandemi lebih sering berada pada situasi ketidakpastian, sedangkan kondisi endemik merujuk pada sesuatu penyakit yang sering tetap terus ada, tetapi lebih mampu diatasi.

Begitu banyak pelajaran yang dapat kita ambil dalam perjalanan sejarah COVID-19, baik yang bersifat positif dan perlu diteruskan seperti respon sigap atas masalah kesehatan, kerjasama banyak pihak dalam mengatasi masalah diagnosis, terapi dan juga pencegahan penyakit baru. Namun demikian, juga aspek negatif dan perlu dihindari seperti infodemik COVID-19, hoaks dan promosi produk medis yang melenceng.

Sudahkah kita bertindak bijak dalam bersiaga menghadapi berbagai masalah kesehatan masyarakat paska pandemi COVID-19?

Sekian

Yogyakarta, 12 Maret 2025

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
anak bayi prematur dokter Healthy Life

2025 Hari Pendengaran Dunia

HARI  PENDENGARAN  SEDUNIA 2025

fx. wikan indrarto

Tulisan ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 23 Maret 2025, halaman 8, kolom HUSADA dengan judul ’Merawat Telinga berpengaruh pada Masa Depan’.

Tema Hari Pendengaran Sedunia Senin, 3 Maret 2025 adalah mengubah pola pikir untuk mewujudkan perawatan telinga dan fungsi pendengaran bagi semua orang! (Changing mindsets: Empower yourself to make ear and hearing care a reality for all!)

Pada tahun 2030 kelak, lebih dari 500 juta orang diperkirakan mengalami gangguan pendengaran yang memerlukan rehabilitasi. Lebih dari satu miliar orang muda menghadapi risiko kehilangan pendengaran permanen akibat paparan suara keras dalam jangka panjang, selama kegiatan rekreasi seperti mendengarkan musik dan bermain video game.

Cara kita mendengar di masa depan bergantung pada cara kita merawat telinga kita saat ini, karena banyak kasus kehilangan pendengaran dapat dihindari melalui penerapan praktik mendengarkan yang aman dan perawatan pendengaran yang baik. Bagi mereka yang mengalami kehilangan pendengaran, identifikasi dini dan akses ke rehabilitasi tepat waktu sangat penting, untuk mencapai potensi tertinggi mereka.

Hampir 20% orang mengalami beberapa tingkat kehilangan pendengaran dan persentase ini terus meningkat. Oleh karena itu, kemungkinan besar kita perlu berkomunikasi dengan orang dengan gangguan pendengaran dalam kehidupan sehari-hari kita. Mengetahui strategi komunikasi yang baik bagi penyandang gangguan pendengaran akan memungkinkan kita menjadi komunikator yang baik. Bersikap ramah terhadap seorang tuna rungu atau gangguan pendengaran sangat penting, untuk menumbuhkan inklusivitas dan memastikan komunikasi yang efektif. Hal ini mendorong terciptanya lingkungan yang mendukung yang memungkinkan setiap orang untuk berpartisipasi penuh dalam kegiatan sosial.

Pada saat kita berinteraksi dengan seseorang dengan gangguan pendengaran, maka sebaiknya kita saling bertatap muka. Hal ini memungkinkan mereka untuk melihat wajah kita, sehingga lebih mudah untuk membaca gerak bibir dan memahami ekspresi wajah. Sebaiknya kita berkomunikasi secara visual menggunakan wajah, tubuh, dan tangan untuk mengekspresikan diri. Berbicaralah dengan jelas dan dengan kecepatan sedang. Hindari berteriak, karena dapat mendistorsi ucapan dan membuat membaca gerak bibir menjadi sulit. Ucapan yang jelas dan disengaja lebih mudah dipahami.

Selain itu, berbicaralah satu per satu dan hindari berbicara bersamaan dengan orang yang lain, karena hal ini dapat menimbulkan kebingungan. Berbicara satu per satu membantu orang yang sulit mendengar untuk fokus pada pembicara. Manfaatkan teknologi baru dan potensi ponsel pintar atau tablet, seperti menggunakan aplikasi suara-ke-teks, layanan penerjemahan bahasa isyarat jarak jauh, dan kamus bahasa isyarat digital. Pelajari tanda-tanda dasar dan ejaan jari, gunakan kesempatan untuk mempelajari tanda-tanda dasar dan ejaan jari dalam bahasa isyarat nasional yang digunakan oleh orang yang tuli.

Sebagai seorang guru di sekolah umum, perlu mendukung anak yang tuli atau sulit mendengar di kelas. Tanyakan kepada anak apa yang dibutuhkan untuk akomodasi yang wajar, sehingga para guru,siswa, dan staf sekolah dapat menjadi sekutu. Jika memungkinkan, mintalah persetujuannya untuk menempatkan anak di kursi kelas deretan depan dan tatap anak secara langsung ketika berbicara.

Dukung anak yang menggunakan alat bantu dengar atau implan dengan mempelajari cara memecahkan masalah umum, seperti mengganti baterai. Dorong anak untuk memberi tahu saat mereka tidak mendengar orang lain dan ingin mereka mengulangi perkataan mereka. Dorong anak lain di kelas untuk berkomunikasi dengan baik, seperti mempelajari bahasa isyarat nasional anak tersebut atau menggunakan komunikasi visual.

Gunakan loop induksi pendengaran dan sistem modulasi frekuensi (FM) karena sistem ini dapat memastikan komunikasi yang lebih lancar bagi anak yang menggunakan alat bantu dengar atau implan. Ajari anak untuk membela diri sendiri dan melakukan banyak hal secara mandiri atas kebutuhan mereka di rumah dan di sekolah. Misalnya, dorong anak untuk memberi tahu guru atau orang tua mereka, saat alat bantu dengar berhenti bekerja.

Dorong orang tua untuk mengungkapkan disabilitas anak mereka dan tidak menyembunyikannya. Libatkan anak dalam semua kegiatan dan dorong anak lain untuk melakukan hal yang sama. Juga fasilitasi pertemuan antara anak dan teman sebaya lainnya serta orang dewasa yang juga tuna rungu atau sulit mendengar. Pastikan apakah anak tersebut mengalami gangguan pendengaran, jika anak tidak berprestasi baik di kelas dengan mendorong orang tua untuk memeriksakan pendengaran anak tersebut ke dokter.

Masyarakat dapat melibatkan orang yang sulit mendengar dalam berbagai kegiatan. Misalnya dengan memastikan komunikasi yang dapat diakses, informasi tertulis, subtitel atau teks, dan tersedianya juru bahasa isyarat yang profesional. Ruang publik sebaiknya juga dibuat ramah bagi orang sulit mendengar. Misalnya dengan cara pemasangan peringatan visual untuk pengumuman penting, seperti lampu yang berkedip atau teks yang bergulir, untuk melengkapi pemberitahuan atau informasi selain pendengaran. Juga penyediaan sistem loop induksi pendengaran yang mentransmisikan audio langsung ke alat bantu dengar, meningkatkan kualitas suara bagi individu yang tuli atau sulit mendengar.

Momentum Hari Pendengaran Dunia (World Hearing Day) 2025 mengingatkan kita untuk mendorong sebanyak mungkin orang untuk mengubah perilaku, guna melindungi pendengaran mereka dari suara keras dan mencegah kehilangan pendengaran, memeriksakan fungsi pendengaran secara teratur, menggunakan alat bantu dengar jika diperlukan, dan mendukung mereka yang mengalami gangguan pendengaran.

Apakah kita sudah melakukannya?

Sekian

Yogyakarta, 20 Februari  2025

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM.

Categories
anak dokter Healthy Life Jalan-jalan medicolegal

2025 Dari Mataram ke Mataram.

DARI MATARAM KE MATARAM

Ada dua kerajaan yang pernah berdiri dalam periode yang berbeda dan keduanya disebut Mataram. Kerajaan Mataram Hindu atau Kerajaan Mataram Kuno terletak di sekitar Magelang, Jawa Tengah, dekat tempat kami dilahirkan. Kerajaan ini didirikan pada abad ke-8 oleh Raja Sanjaya yang bergelar Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Dinasti yang memerintah Kerajaan Mataram Kuno adalah Dinasti Sanjaya, Dinasti Syailendra dan Dinasti Isyana hingga awal abad ke-11. Kata “Mataram” diambil dari Bahasa Sansekerta “Matr” yang memiliki arti sebagai “ibu” yang melambangkan kehidupan, alam dan lingkungan.

Pemitan dengan Joviel (2,5 tahun) yang tidak mau diam dan merengek ingin ikut ke Mataram

Kerajaan dengan nama sama yang selanjutnya adalah Kesultanan Mataram Islam, yang didirikan oleh Panembahan Senapati pada tahun 1586, dengan ibukota di Kotagede, dekat Yogyakarta. Sepanjang abad ke-16 Kesultanan Mataram mencapai puncak kejayaannya di bawah pemerintahan Susuhunan Anyakrakusuma atau Sultan Agung (Sultan Agung Adi Prabu Anyakrakusuma). Mataram adalah salah satu kerajaan terkuat di Jawa, kesultanan yang menyatukan sebagian besar pulau Jawa, yakni Jawa Tengah, DI Yogyakarta, sebagian besar Jawa Barat dan Jawa Timur, kecuali Banten. Selain itu juga menguasai daerah Madura, dan Sukadana (Kalimantan Barat), Makasar, serta sebagian Pulau Sumatera (Palembang dan Jambi).
Perjanjian Giyanti yang ditandatangani oleh Pangeran Mangkubumi dengan VOC Belanda membuahkan kesepakatan bahwa Kesultanan Mataram dibagi dalam dua kekuasaan, yaitu Nagari Kasunanan di Surakarta dan Nagari Kasultanan Ngayogyakarta di Yogyakarta. Perjanjian yang ditandatangani dan diratifikasi pada tanggal 13 Februari 1755 di Giyanti ini, secara hukum menandai berakhirnya Kerajaan Mataram Islam.

Sebagian anggota rombongan IDI Wilayah DIY yang akan terbang tinggi menuju Mataram di Bandara YIA Yogyakarta Internasional Airport


Kami adalah rombongan dokter dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), untuk mengikuti Muktamar XXXII IDI Tahun 2025, yang merupakan acara rutin oleh organisasi profesi dokter terbesar di Indonesia. Muktamar IDI ke 32 dilaksanakan pada 12-15 Februari 2025, bertempat di Hotel Lombok Raya, Jl. Panca Usaha No 11, Mataram, Nusa Tenggara Barat. Perjalanan kami antar Mataram dari situs Mataram Islam Yogyakarta ke Kota Mataram di NTB, tentu sangat diimpikan.

Peserta lengkap IDI Wilayah DIY yang hadir pada Muktamar IDI ke 32 di Mataram.


Peserta Muktamar IDI ke 32 dari IDI wilayah DIY adalah dr. Joko Murdiyanto, Sp. An., MPH., FISQua, dr. Heni Suryadi, dr. Dewi Irawty, MKes, dr. Rina Nuryati, MPH, dr. Dela Oktaviana, dr. Diah prasetyorini, M.Sc, Dr. dr. Ita Fauzia Hanoum, MCE, dr. Budi Nur Rokhmah, MH, dr. Abdul Latief, MKes, dr. Tri widjaja, Dr. dr. HM. Any Ashari, SpOG(K), dr. Melly, dr. Wisnu Wardana, dr. Dharmawan Lingga Artama, dr. Fajar Meitaharti, dr. Riska Novriana, dr. Desi Arijadi, dr. Eva Rusiene, dr. Lucia Srie Rejeki, MPH, dr. Wahyu Pamungkasih, dr. Tri Kusumo Bawono, SE, Dr. dr. Fx. Wikan Indrarto, SpA, dr. Atthobari, MPH, SpMK, dr. Sitti Aisyah Sahidu, SU, MKes, FISQua dan dr. Lipur Riyantiningtyas Budi, SH, SpFM.
Muktamar IDI di laksanakan 3 tahun sekali, dihadiri oleh para dokter dari berbagai daerah di Indonesia, dan bertujuan untuk membahas berbagai isu dan perkembangan terkini dalam bidang kesehatan, untuk menetapkan arah dan kebijakan organisasi ke depan. Selain itu, Muktamar juga menjadi ajang untuk memperkuat solidaritas antar dokter, serta untuk menjalin kerja sama dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di Indonesia. Dengan tema “Membangun Soliditas Dalam Beradaptasi Untuk Mewujudkan IDI Yang Berkemajuan”, diharapkan IDI dapat menciptakan kekompakan, tanggung jawab, dan keteguhan dalam beradaptasi saat menjalankan tugas profesi. Hal ini penting agar marwah organisasi yang baik dapat terus terjaga.

Perjalanan kami pada Selasa, 11 Februari 2025 sore diawali dengan terbang bersama Super Air Jet (SAJ), yaitu salah satu maskapai penerbangan domestik di Indonesia milik PT Kabin Kita Top yang berdiri pada Maret 2021, ketika Indonesia dan dunia sedang menghadapi pandemi Covid-19. Maskapai ini didirikan atas dasar optimisme bahwa peluang pasar, khususnya kebutuhan penerbangan domestik, masih ada dan terbuka luas. Maskapai ini memperoleh Sertifikat Operator Penerbangan dari Kementerian Perhubungan RI pada 30 Juni 2021 dan pada tahun yang sama meluncurkan 11 tujuan di Indonesia.

Super Air Jet dibiayai oleh pendiri Lion Air Group, Rusdi Kirana. Selain itu, maskapai ini dipimpin oleh Ari Azhari yang pernah menjabat sebagai General Manager of Services Lion Air Group. Maskapai ini mengadopsi model low cost carrier yang fokus pada perjalanan titik ke titik untuk mengangkut penumpang antar pulau di Indonesia, dengan berfokus pada milenial sebagai target pasar. Super Air Jet meluncurkan penerbangan dengan tiga Airbus A320-200 bekas, yang sebelumnya terbang untuk IndiGo Airlines dan Tigerair Australia. Tahapan awal maskapai Super Air Jet armada menggunakan armada generasi terbaru yaitu Airbus A320-200 yang berkapasitas 180 kursi kelas ekonomi. Kami duduk di kursi nomer 19F dekat jendela, sehingga mampu leluasa menikmati pemandangan awan, mendung dan daratan.

Airbus A320 adalah pesawat penumpang komersial jarak dekat sampai menengah yang diproduksi oleh Airbus. A320 merupakan pesawat penumpang pertama dengan sebuah sistem kendali fly-by-wire digital, di mana pilot mengendalikan penerbangan melalui penggunaan sinyal elektronik dan bukan secara mekanik dengan hendel dan sistem hidraulis. Kelompok pesawat A320 adalah satu-satunya kelompok pesawat berbadan sempit (narrow-body) yang diproduksi Airbus. Saking sempitnya badan pesawat, hanya ada 1 pintu keluar masuk untuk penumpang di sisi kiri depan.

Bandara Praya Zainudin Abdul Madjid Lombok

Bersama senior terhormat, Prof. Dr. Yati Soenarto, SpAK, PhD dari FKKMK UGM Yogyakarta, yang akan menerima anugerah IDI di Bandara Praya Zainudin Abdul Madjid Lombok

Kami mendarat dengan selamat di Bandar Udara Internasional Lombok (IATA: LOP), yang juga dikenal sebagai Bandar Udara Internasional Zainuddin Abdul Madjid, yang berlokasi di Praya, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Bandara ini dioperasikan oleh PT Angkasa Pura I dan dibuka pertama kali pada tanggal 1 Oktober 2011 untuk menggantikan fungsi Bandara Selaparang, di dalam Kota Mataram. Bandara ini diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono dan arsitektur bandara ini memiliki ciri khas rumah adat Sasak. Bandara ini dibangun di atas lahan seluas 550 hektare yang menelan biaya Rp.625 miliar (US$73.100.000).

Setelah menjalani proses registrasi peserta Muktamar IDI ke 32 di areal Bandara Praya Zainudin Abdul Madjid Lombok, pada Selasa, 11 Februari 2025 pk. 22.30 waktu setempat, kami yang kelaparan segera menuju RM. Taliwang Alam Nyaman Jl. By Pass Bundaran BL Tanakawu. RM di dekat pintu gerbang Bandara Praya tersebut menyajikan menu Ayam Taliwang, yang makanan khas yang berasal dari Taliwang, Sumbawa Barat, Nusa Tenggara Barat. Makanan ini berbahan dasar daging ayam. Daging ayam yang disajikan berasal dari ayam kampung muda yang dibakar kemudian dibumbui dengan semacam saus yang bahannya antara lain cabai merah kering, bawang merah, bawang putih, tomat, terasi goreng, kencur, gula merah, dan garam.

Setelah kenyang dan hampir mengantuk, kami segera naik HiAce Commuter menuju Kota Mataram, sekitar 43 km dari Bandara Praya Zainudin Abdul Madjid Lombok. Mataram merupakan kota terbesar sekaligus ibu kota dari Provinsi Nusa Tenggara Barat. Mataram merupakan Kota Inti kawasan Metropolitan Mataram Raya, sebuah kawasan metropolitan terbesar kedua di Kepulauan Nusa Tenggara setelah Sarbagita (Denpasar-Badung-Gianyar-Tabanan sebuah kawasan metropolitan di Provinsi Bali). Jumlah penduduk kota Mataram pertengahan tahun 2024 sebanyak 459.683 jiwa, dengan kepadatan penduduk sebanyak 7.500 jiwa/km2.

Kami segera check in di Hotel Lombok Raya Jl. Panca Usaha no 11 Mataram dan lanjut tidur nyenyak.

sekian laporan pandangan mata dan akan dilanjutkan lain waktu.

Ditulis dan diedarkan dari kamar C145 Hotel Lombok Raya di Mataram NTB, sambil masih mengantuk.

Rabu pagi, 12 Februari 2025

(bersambung)

KOTA MATARAM
(hari kedua)

(sambungan)

Perjalanan kami bersama sejawat dokter dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ke Mataram, NTB dilakukan untuk mengikuti Muktamar XXXII IDI Tahun 2025. Muktamar IDI ke 32 dilaksanakan pada 12-15 Februari 2025, bertempat di Hotel Lombok Raya, Jl. Panca Usaha No 11, Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Hari Rabu, 12 Februari 2025 saya terjaga di samping dr. Abdul Latief di kamar C145 Hotel Lombok Raya, untuk bergegas menuju Gereja Katolik St Maria Imaculata Jl Pejanggik Mataram. Saya berjalan kaki menyusuri Jl. Caturwarga melewati Hotel Aston dengan sedikit lari, karena pagi itu gerimis tidak mau berhenti dan misa kudus harian dilaksanakan pk. 6-6.30. setelah melewati beberapa blok, saya berbelok ke kanan masuk Gang IV untuk mencapai Jl. Pejanggik.

Selesai mengikuti misa kudus harian pagi di Gereja Katolik St Maria Imaculata Mataram NTB

Segera saya teringat Babad Lombok, yang menjelaskan tentang petualangan untuk menaklukkan wilayah Nusa Tenggara. Ekspedisi ini dipimpin Sunan Prapen yang berangkat bersama para mubalig Islam dan armadanya, dengan didukung puluhan kapal dan 10 ribu pasukan yang berasal dari daerah seperti Mataram Yogyakarta, Majalengka, Madura, Sumenep, Surabaya, Semarang, Gresik, Besuki Gembong, Candi, Betawi dan lainnya. Mereka dipimpin oleh pemukanya seperti Arya Majalengka, Ratu Madura dari Sumenep, Adipati Surabaya, Adipati Semarang, Patih Ki Jaya Lengkara, dan Raden Kusuma Betawi. Setelah mengislamkan raja Lombok Prabu Rangkesari, dengan berbasis di kotaraja Lombok di teluk Lombok, ekspedisi dipecah-pecah menjadi rombongan yang dikirim ke seluruh penjuru pulau Lombok.

Raja Mataram Prabu Rangkesari pada 1842 menaklukkan Kerajaan Pagesangan. Setahun kemudian yakni 1843 menaklukkan Kerajaan Kahuripan dan ibukota kerajaan dipidahkan ke Cakranegara, di daerah yang saya jelajahi pagi itu. Raja Mataram Lombok Prabu Rangkesari selain terkenal kaya raya juga adalah raja yang ahli tata ruang kota, bahkan melaksanakan sensus penduduk pertama kali.

Setelah selesai mengikuti misa harian pagi saya segera bergegas pulang ke Hotel Lombok Raya berjalan kaki melewati jalur lain dan kembali mengingat memori. Menyusuri Jl. Pejanggik sampai Air Mancur Mataram di persimpangan Jl. Bung Hatta, mengingatkan tentang Kerajaan Mataram yang dijatuhkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Pada 5 Juli 1894 ekspedisi Belanda yang dipimpin oleh Jenderal JA Vetter dan wakilnya Mayor Jenderal PPH Van Ham mendarat di Pelabuhan Ampenan. Pendaratan ini memicu pertempuran sengit dengan pasukan Kerajaan Mataram dan bahkan Mayor Jenderal PPH Van Ham terbunuh.

Monumen makam Mayor Jenderal PPH Van Ham, wakil komandan pasukan Belanda yang terbunuh tahun 1894, di seberang Hotel Lombok Raya

Jenazahnya sempat dimakamkan di Karang Jengkong, selanjutnya didirikan monumen gugurnya Van Ham, sampai sekarang masih sering dikunjungi oleh keluarga besarnya dari Belanda, dan terletak di seberang Hotel Lombok Raya tempat saya menginap, yang pagi itu saya lewati sepulang dari Gereja Katolik St Imaculata. Cukup merinding juga bulu kuduk saat melewati areal tersebut, karena menjadi teringat bahwa sejak itu Belanda mulai menerapkan sistem pemerintahan dwitunggal, yang berada di bawah Afdeling Bali Lombok, yang berpusat di Singaraja, Bali.

Setelah kemerdekaan Indonesia, Kota Mataram menjadi ibukota Propinsi NTB yang terbagi atas 6 kecamatan, yaitu Kecamatan Ampenan, Cakranegara, Mataram, Sandubaya, Selaparang dan Sekarbela.

Setelah sampai di Hotel Lombok Raya, saya segera menuju restoran untuk sarapan dan bertemu banyak dokter peserta Muktamar IDI ke 32, salah satunya adalah Dr. dr. M. Abid Khomaidi, SpOT yang akan mengakhiri jabatannya sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) periode 2022-2025. Dalam obrolan asyik semeja di dekat konter minuman panas, diselingi banyak anggukan kepala, lambaian tangan, berdiri berpelukan dan say hallo dengan banyak sejawat dokter lainnya, dr. Adib menjelaskan tentang posisi IDI sebagai organisasi profesi dokter ke depan. Setelah berlakunya UU nomor 17 tahun 2023 omnibuslaw tentang Kesehatan, peran IDI dalam aspek mutu dan legal sudah diambil alih oleh Kementerian Kesehatan RI, sehingga tinggal peran etik profesi medis yang harus tetap dipertahankan. Peran para pengurus IDI di semua tingkatan sangat menentukan, apakah IDI sebagai organisasi profesi dokter akan tetap dihargai oleh para dokter anggota, apalagi sekarang tidak lagi memiliki sumber pendapatan organisasi, baik berupa iuran wajib anggota ataupun dana pengurusan SKP (Satuan Kredit Profesi) IDI, termasuk biaya administrasi terbitnya rekomendasi ijin praktek dokter. Namun demikian, dr. Adib tetap optimis bahwa di hampir semua daerah di Indonesia, IDI tetap menjadi organisasi profesi dokter yang keberadaannya diakui oleh pemerintah daerah. Bahkan dr. Adib mencontohkan beberapa pengurus IDI Cabang tetap mampu menghidupi organisasi, berkoordinasi dengan dinas kesehatan setempat, mendapatkan dana operasional melalui program peningkatan kemampuan SDM dan mendampingi para dokter anggota yang menghadapi sengketa medis. Kita dianjurkan untuk meneladani aktivitas pengurus IDI Cabang Lamongan Jatim, Kampar Riau dan Bogor Jabar, yang disebut dr. Adib sebagai beberapa contoh IDI Cabang yang tetap hidup, berkembang baik dan berdenyut secara kreatif.

Kenangan saat berfoto bersama dengan Dr. dr. M. Adib Khomaidi, SpOT, Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia periode 2023-2025, saat sarapan pagi di Hotel Lombok Raya Mataram NTB

Setelah berfoto bersama dengan dr. Adib, saya segera menyampaikan rasa hormat dan pamit undur untuk mengikuti rangkaian simposium Muktamar IDI ke 32, di Ruang Selaparang dengan tema besar ‘Principal Management in Acute Onset’. Saya segera berkonsentrasi mengikuti simposium sesi pertama bertema : ‘Disaster triage and Orthopaedi management in acute onset earthquake’ oleh dr. Yogi Prabowo, SpOT(K) dari RS Islam Jakarta, kemudian ‘Neurosurgical emergencies management in earthquake disaster’ oleh Dr. dr. Bambang Priyanto, SpBS(K) dari Siloam Hospitals Mataram, dan ‘Initial response in health crisis condition’ oleh dr. Eko Widya Nugroho, SpEM Kepala Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Provinsi NTB. Topik menarik ini terinspirasi oleh gempa bumi besar tahun 2018 yang meluluhkan Mataram dan sekitarnya, terulang setiap sekitar 40 tahun, dan waktu itu saya hadir mewakili pengurus IDI Wilayah DIY memberikan bantuan dana, yang diterima oleh Dr. Dody Ario Kumboyo SpOG(K) sebagai Ketua IDI Wilayah NTB.

Saya segera pindah ke ruang Rinjani untuk mengikuti simposium paralel dengan topik : Mengenal dan tatalaksana hirscsprung disease oleh dr. Sunanto, SpBA, ‘Chronic venous insufisiency curent diagnostic and management’ oleh dr. I Made Arya Winatha, SpB(K)V, seorang Dokter Bedah Vaskular di Siloam Hospitals Mataram, ‘Cryosurgery: A New Option for Late-Stage Tumor Management’ oleh dr. Maz Isa Ansyori Arsatt, Sp.BTKV, Diagnosis dan tatalaksana retensio urine oleh dr. Akhada Maulana, SpU, ‘Abdominal compartement syndrome’ oleh dr. Aulia Ahimsa Martawiguna, MBiomed, SpB. Lanjut kembali ke ruangan sebelah untuk mendengarkan ‘Code Stroke and hyperacute treatment of ischemic stroke’ oleh Dr. dr. Sumantri, SpS, FINS, FINA, ‘neurointerventional management for ischaemic stroke: neurosurgery perspectiv’ oleh dr. Affan Priyambodo Permana, SpBS, ‘Hemorhagic stroke, neurointerventional approach’ oleh dr. Achmad Firdaus Sani, SpS(K), FINS, ‘Hemorhaegic stroke : do surgery of endovascular intervention’ oleh Dr. dr. Nur Setiawan Suroto, SpBS (K) dari Surabaya, dan ‘Update in Cervical Cancer Management’ oleh dr. I Made Widyalaksana Mahayasa, SpOG(K)Onk. Simposium yang menurut saya paling menarik adalah ‘Prenatal care: Early Diagnosis and Prompt Treatment’ oleh dr. Agus Rusdhy Hariawan Hamid, SpOG, SubsKFm, MARS, dan ‘Dealing with postpartum hemorrhage’ oleh dr. Ario Danianto, SpOGK(Subsp K.Fm). Diselingi pindah ruangan lagi untuk mengikuti simposium bertema ‘Pre-Hospital Medical Personnel Challenges in Large Scale Sport Event’ oleh dr. Mokh. Rakhmad Abadi, SpKO, ‘Management Muskuloskeletal Injury in Mass Public Event’ oleh dr. Audi Hidayatullah Syahbani, SpOT, dan ‘Awareness of Cardiac Arrest Among Sport Enthusiasts’ oleh dr. Yusra Pintaningrum, SpJP, FIHA, FAPSC, FAsCC.

Tertidur kelelahan yang sangat.

Setelah cukup penat dan lelah mengikuti berbagai perkembangan teknologi dan ilmu kedokteran terkini pada simposium paralel tersebut, saya segera bergabung dengan para dokter dari IDI Wilayah DIY untuk menjelajahi Lombok. Menggunakan 2 buah HiAce Commuter warna putih, berpelat nomer DR, dan velg mobil bercat emas, kami segera membelah gerimis yang tetap saja turun tanpa bosan, menuju toko grosir mutiara A&R di sebuah gang kecil Jl. Darul Hikmah, Genteng, Pagutan, Mataram. Setelah tertidur lelap saat teman2 sejawat berbelanja aneka perhiasan mutiara, kami lanjut menuju kampung Adat Sade, berupa komunitas asli suku Sasak yang masih menjaga tradisi aslinya.

Gerbang desa Sade yang eksotik, kampung adat suku Sasak di Lombok Tengah.

Desa Sade terletak di Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Provinsi Nusa Tenggara Barat, yang berada satu dusun dengan Desa Rembitan. Lokasi Desa Sade berada persis di samping Jalan Raya Praya-Kuta. Kami menikmati perjalanan di jalan nasional yang lebar, 4 jalur dengan sparator, halus dan nyaman seolah berupa jalan tol, sangat berbeda dengan jalanan padat di Pulau Jawa. Desa Sade merupakan salah satu Desa Adat Suku Sasak yang masih mempertahankan adat dalam kehidupan kesehariannya. Adat suku Sasak merupakan salah satu daya tarik wisatawan, baik dalam negeri maupun luar negeri. Desa Adat Sade memiliki sejarah panjang, dimana adat suku Sasak telah berlangsung kurang lebih 1.500 tahun yang lalu.

Penjelasan pendahuluan oleh seorang warga setempat, tentang adat suku Sasak di Desa Sade, Lombok Tengah

Saat memasuki halaman parkir, kami langsung melihat atap rumah warga yang terbuat dari anyaman bambu, berdiri kokoh di antara bangunan tembok warga sekitar, berbeda mencolok dengan nuansa pedesaan tradisional yang sangat terasa di Desa Sade. Luas Desa Sade sekitar 5,5 hektar dan memiliki sekitar 150 rumah. Setiap rumah terdiri satu kepala keluarga. Semua penduduk Desa Sade adalah suku Sasak Lombok. Penduduk Desa Sade masih satu keturunan karena mereka melakukan perkawinan antar saudara. Makanya saat anak-anak melintas dalam lari di sekitar kami, terlihat bahwa raut wajahnya saling mirip.

Keunikan Desa Sade adalah rumah beserta fungsinya yang terdiri dari beberapa jenis, yaitu Bale Bonter, Bale Kodong, dan Bale Tani. Masing-masing rumah memiliki fungsi yang berbeda. Bale Bonter berfungsi sebagai rumah pejabat desa. Bale Bonter juga berfungsi sebagai tempat persidangan adat. Sementara Bale Kodong berfungsi sebagai tempat tinggal untuk orang-orang yang sudah jompo. Tempat tersebut juga digunakan untuk orang sudah menikah namun belum memiliki tempat tinggal. Bale Tani berfungsi sebagai tempat tinggal masyarakat yang kebanyakan berprofesi sebagai petani.

Suasana gelap di dalam ruang utama rumah suku Sasak di Desa Sade Lombok Tengah, dengan lantai yang telah diolesi kotoran sapi.

Masyarakat Desa Sade memiliki kebiasaan membersihkan lantai rumah dengan kotoran kerbau atau sapi sekitar semiinggu sekali. Tujuannya supaya lantai bersih dari debu-debu yang melekat, menguatkan lantai, dan berfungsi untuk mencegah serangga, terutama nyamuk agar tidak masuk ke dalam rumah. Rumah Desa Sade memiliki desain yang sederhana, berdinding anyaman bambu, atap alang-alang kering, dan lantai yang terbuat dari campuran tanah liat dengan sekam padi. Bangunan rumah Desa Sade juga tahan gempa, masih terlihat kokoh meskipun wilayah tersebut pernah diguncang gempa.

Kenangan saat diterima oleh Dr. dr. Doddy Ario Kumboyo SpOG(K), Ketua IDI Wilayah NTB waktu itu, saat saya mengirimkan bantuan medis untuk korban gempa bumi NTB Agustus 2018

Mata pencaharian penduduk Desa Sade adalah petani. Mereka menanam padi di sawah tadah hujan yang tidak ada irigasinya, dengan masa panen setahun sekali. Di tengah menunggu masa panen, penduduk Desa Sade memiliki pekerjaan sampingan menenun untuk memenuhi kebutuhan pokok.

Bergaya sebelum melanjutkan perjalanan, di Gerbang Desa Sade sebuah desa adat suku Sasak di Lombok Tengah

Perjalanan selanjutnya setelah puas menikmati Desa Sade adalah melalui Jalan By Pass Bandara Internasional Lombok, untuk menuju Mandalika, sebuah kawasan wisata seluas 20.035 hektar yang berlokasi di Kuta, Pujut, Kabupaten Lombok Tengah NTB. Sejak 2017, Mandalika sudah diresmikan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) pariwisata yang direncanakan dapat menjadi kawasan wisata. Nama Mandalika berasal dari nama seorang putri dalam cerita rakyat yang terkait dengan perayaan Nyale di Lombok.

Kawasan Mandalika awalnya direncanakan sebagai proyek investasi oleh Emaar Properties dari Uni Emirat Arab dengan penandatanganan nota kesepahaman pada 19 Maret 2008. Rencana tersebut kemudian dibatalkan karena terjadinya resesi ekonomi dunia tahun 2008.

Tujuan selanjutnya adalah merasakan sensasi balap di Sirkuit Mandalika Lombok Tengah

Kami segera menuju Sirkuit balap Internasional Mandalika, sirkuit Mandalika, atau dengan nama resminya yaitu Pertamina Mandalika International Street Circuit, yang diresmikan pada tanggal 12 November 2021 oleh Presiden Joko Widodo. Sebelumnya pada tanggal 23 Februari 2019. Lintasan balap di Mandalika memiliki panjang 4.320 kilometer dengan 17 tikungan. Sirkuit Mandalika menjadi tempat penyelenggaraan MotoGP dan Kejuaraan Dunia Superbike yang dibangun oleh Vinci Grand Projects. Proyek klaster olahraga dan hiburan seluas 120 hektare dengan kapasitas 195.700 ini mencakup pembangunan hotel dan fasilitas lainnya.

Pantai Mandalika yang eksotik, di samping sirkuit balap termegah di Indonesia

Sebagai bagian dari pemeliharaan konservasi, vegetasi yang menjadi latar belakang kawasan Resor Mandalika akan ditetapkan sebagai kawasan konservasi seluas lebih dari 3.000 hektar. Kawasan dengan banyak spesies asli ini hanya dapat diakses untuk kegiatan lingkungan berdampak rendah, seperti bersepeda atau mendaki, demi meminimalkan kerusakan pada flora dan fauna.

Bergaya di tribun penonton dekat sebuah tikungan sirkuit balap Mandalika, Lombok Tengah

Setelah berfoto bersama di tribun penonton dan melihat aktivitas mobil penyelamat melintas sitkuti balap Mandalika, kami segera menuju ke
Bukit Seger yang menjadi pusat perhatian karena pernah menjadi spot foto pebalap MotoGP Repsol Honda, Marc Marquez. Pada waktu itu, Marquez datang ke Lombok bersama beberapa pebalap lainnya saat mengikuti tes pramusim MotoGP di Pertamina Mandalika Street Circuit atau Sirkuit Mandalika, Jumat (11/2/2022).

Gerbang Bukit Seger Mandalika Lombok

Bukit Seger adalah tempat terindah untuk melihat sunset dan menikmati panorama alam yang sangat indah. Dari situ saya dapat melihat tikungan maut Sirkuit Mandalika di sisi kiri, yang hanya dibatasi oleh sebuah jalan sekitar 50 meter sudah ada bibir pantai dengan ombak yang landai, di sisi kanan. Bukit Seger juga menjadi tempat untuk melihat adu balap, kelincahan pembalap melahap tikungan, dan keceriaan suasana balap di Sirkuit Mandalika.

Dari puncak Bukit Seger kita dapat melihat sebuah tikungan tajam Sirkuit Mandalika di sebelah kiri dan bibir pantai di sebelah kanan, yang dipisahkan hanya oleh sebuah areal paling sempit.

Setelah puas berfoto, kami segera meninggalkan Bukit Seger Mandalika dan lanjut kembali ke Hotel Lombok Raya, untuk mengikuti rapat koordinasi antar IDI Wilayah dan IDI Cabang seluruh Indonesia di ruang pertemuan utama (ballroom) Hotel Lombok Raya lantai 2.

Setelah selesai acara, lanjut saya ikut reuni tipis dengan teman sekelas di SMA Kolese de Britto Yogyakarta (JB). Om Pengky Jupiter (d/h The Tiong Peng) teman sekelas saya saat SMA saat ini adalah Direktur Utama PT Narmada, seorang asli Mataram. Perusahaannya memproduksi air mineral kemasan dengan merk Narmada, yang bersiap IPO menjadi perusahaan publik. Sangat senang bertemu teman yang lama tidak bersua, segera saya diajak keliling kota Mataram.

Diantar Om Pengky Jupiter memasuki areal alun-alun Ampenan

Tujuan pertama adalah salah satu lokasi kota tua yang dapat kita nikmati di Pulau Lombok, yaitu Ampenan. Saat ini menjadi kecamatan Ampenan yang berjarak sekitar 5 kilometer dari pusat kota di Mataram. Ampenan berasal dari kata “amben” yang dalam bahasa Sasak artinya adalah tempat persinggahan.
Sejak abad 19 Ampenan telah menjadi pusat perdagangan yang ramai. Pada masa lalu, Ampenan merupakan pusat kota Lombok yaitu ketika Pemerintah Hindia Belanda menunjuknya sebagai Afdeeling atau wilayah administrasi setingkat kabupaten berdasarkan Staatbald nomor 181 tahun 1895 tertanggal 31 Agustus 1895.

Melalui peraturan itu pihak kolonial menjadikan Pulau Lombok sebagai bagian dari Karesidenan Bali dengan Ampenan sebagai pusat kegiatan jasa dan perdagangan. Sebagai sebuah pusat bisnis, pihak Hindia Belanda melengkapi Ampenan dengan kantor bank, bioskop, pasar, rumah ibadah, kantor dagang, permukiman kelas menengah dan rumah-rumah pejabat Belanda. Ciri khas bangunan-bangunan kolonial di Ampenan adalah dindingnya yang sangat tebal.

Melihat sebuah kapal tanker berlabuh di Pelabuhan Ampenan diantar Om Pengky Jupiter

Pada 1924 mereka membangun pelabuhan di pesisir Ampenan dan sejak itu kota buatan Belanda itu makin ramai. Pelabuhan Ampenan menjadi pintu keluar bermacam komoditas penting Pulau Lombok seperti padi, ternak sapi dan kuda yang dikirim ke daerah-daerah lain di Nusantara serta untuk kebutuhan ekspor.
Ampenan perlahan mulai ditinggalkan sebagai kota perdagangan dan jasa ketika Jepang masuk dan menduduki Lombok dan menjadikan Mataram sebagai pusat pemerintahan. Kehidupan di Ampenan yang berpenduduk sekitar 90.000 jiwa tersebut semakin sepi tatkala pemerintah pada 13 Oktober 1977 memindahkan aktivitas pelabuhan ke Lembar sampai hari ini.

Setelah tidak lagi menjadi pusat perdagangan dan jasa, denyut kehidupan di Ampenan tetap terjaga. Mulai dari Jembatan Ampenan menuju ke Jalan Pabean hingga ke Pantai Ampenan yang kini dikenal sebagai Pantai Boom, masih kental dengan suasana tempo dulu. Memasuki kawasan ini dari Jembatan Ampenan, akan terlihat bangunan-bangunan tua yang masih kokoh berdiri, kendati rata-rata kondisinya kurang terawat.

Kota Tua Ampenan memiliki ratusan bangunan berarsitek Belanda yang menjadi cagar budaya. Bangunan yang berada di tepian jalan raya yang menghubungkan Kota Mataram dengan kawasan wisata Senggigi itu kini dalam kondisi rusak, tidak terawat, dan tidak berpenghuni. Padahal, Kota Tua Ampenan adalah salah satu dari 43 kota di Indonesia yang ditetapkan sebagai Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI).

Sejumlah bangunan tua di Jalan Niaga juga sudah ditata menjadi sebuah ruang kreatif dikemas dalam sebuah kegiatan “Ampenan Huis”. Lokasi itu dapat digunakan untuk para pelaku seni dan budaya untuk menampilkan hasil karya terbaiknya setiap akhir pekan. Pemkot Mataram bahkan telah membeli bangunan tua bekas Bank Dagang Belanda (Nederlandsch Indische Handelsbank) yang ada di areal bekas Pelabuhan Ampenan. Bangunan tua bekas Bank Dagang Belanda bergaya art deco tersebut dibeli, guna menyelamatkan cagar budaya yang harus dijaga dan dilestarikan.

Bangunan tua bekas Bank Dagang Belanda (Nederlandsch Indische Handelsbank) bergaya art deco dengan atap tinggi yang ada di areal bekas Pelabuhan Ampenan.

Setelah berfoto bersama Om Pengky di bangan bekas Bank Dagang Belanda, kami segera menuju rumah asli Om Pengky di dekat wihara Ampenan. Rumah tua, terawat dan bersejarah itu sekarang ditinggali oleh kakak tertua. Selanjutnya kami menikmati inspirasi dari abad ke-18, yaitu Cakranegara. Sekarang menjadi Kecamatan Cakranegara, tetapi ini telah memberi contoh bagaimana seharusnya sebuah kota dibangun, karena kota lama ini dirancang dengan masterplan modern yang melampaui zamannya. Sisa-sisanya masih dapat dilihat sampai sekarang, yaitu Kota Cakra ini tersusun dalam blok-blok persegi (grid pattern) dengan jalan dan gang-gang lebar presisi yang terhubung satu sama lain.
Cakranegara adalah kota yang dibangun ulang di permulaan abad ke-18 oleh Kerajaan Karangasem di Bali yang berkuasa di masa itu. Kota ini kemudian disempurnakan kembali oleh dinasti Kerajaan Mataram setelah perang suadara 1838. Kota ini didesain berdasarkan mitologi Hindu, dengan dataran rendah Cakranegara dibagi dalam blok-blok pemukiman yanh menempatkan Pura Meru Mayura berada di tengah. Sementara di sisi barat terdapat Pura Dalem, Karang Jangkong dan Pura Puseh di pojok sebelah timur, menyerupai formasi kota kuno di Bali.

Sisa-sisa keteraturan Cakranegara masih terasa hingga kini. Cakra dibagi oleh dua jalur arteri utama (marga sanga) yang saling menyilang, yaitu jalan Pejanggik-Selaparang yang membelah timur-barat dari Karang Jangkong hingga Sweta. Kemudian dari utara-selatan ada jalan Sultan Hasanudin–AA Gede Ngurah yang menghubungkan Karang Taliwang dan Abian Tubuh. Dua jalur ini bertemu di perempatan Cakranegara di depan Hotel Lombok Plaza.

Penataan kota dengan jalan yang lebar ini memudahkan lalulintas orang dan barang. Selain itu, juga mendukung aspek pertahanan sebuah pusat pemerintahan. Cakra dibangun tepat di tengah jalur yang menghubungkan Pelabuhan Ampenan dan Labuhan Lombok. Jalan ini juga menghubungkan akses Cakra dengan Pelabuhan Lembar dan Lombok Utara.


Pada awalnya Cakranegara dirancang untuk 33 banjar (lingkungan). Angka 33 merujuk pada bilangan khusus dalam kepercayaan Hindu dimana ada 33 dewa yang menghuni Puncak Meru (Mahameru). Dalam desainnya, satu lingkungan (karang) terdiri atas 80 kapling rumah yang terbagi atas empat marga. Satu marga memanjang utara selatan, tersusun atas 20 kapling rumah yang saling memunggungi. Hal inilah yang membuat setiap rumah akan berhadapan langsung dengan jalan baik jalan marga sanga (jalan utama) marga dasa (jalan lingkungan) dan marga (jalan kecil/gang). Dengan pengaturan ini setiap keluarga di Cakranegara akan menempati satu kapling lahan dengan luas antara 6-8 are.

Sementara itu setiap lingkungan (karang) dibagi melintang utara-selatan dengan jalan-jalan yang sedikit lebih sempit atau yang dikenal dengan Marga Dasa. Di ujung barat misalnya ruas-ruas ini menghubungkan Jalan Kebudayaan di utara dengan Jalan Songket di selatan. Oleh karena itulah setiap orang sebenarnya tidak akan tersesat di jalan, karena semua jalur marga dasa akan memiliki persilangan dengan jalur utama Marga Sanga.

Lebih dari itu penataan ini memungkinkan sisi jalan ditumbuhi pohon-pohon pelindung. Kemudian dilengapi saluran drainase yang terhubung dengan kanal-kanal lebih besar menuju sungai. Hal inilah yang membuat Cakra selalu siap menghadapi banjir karena pemukiman dibangun lengkap dengan sistem pembuangan air hujan yang terpadu.

Selayaknya sebuah Super Cluster dalam perumahan modern, Cakra juga dilengkapi ruang-ruang publik dan pusat perekonomian. Selain Pura Miru hampir semua lingkungan memiliki Pura. Kemudian sebagai pusat ekonomi Pasar Cakra dibangun. Ini adalah bentuk umum pasar-pasar lama baik di Jawa dan Bali, yang berdiri tak jauh dari gerbang pura yang sampai sekarang masih dapat dilihat.
Sebagai daerah koloni Karangasem, nama-nama kampung di Cakranegara juga banyak diambil dari nama-nama tempat di Bali. Seperti Karang Ujung, Sindu, Pondok Perasi, Pagutan, Karang Tangkeban, Tohpati dan lainnya. Tatakelola Hindu-Bali yang dianut dalam penataan Kota Cakranegara juga berpengaruh pada pengaturan penghuni daerah perumahan di distribusikan menurut empat kasta yang ada, Brahmana, Kesatriya, Weisya dan Sudra.

Dalam sistem Kota Cakranegara kebanyakan para Brahmana tinggal di sebelah Utara dan Timur. Ini mengacu pada arah Timur laut adalah arah yang dianggap suci mengikuti arah Gunung Rinjani. Sedangkan kasta Ksatriya sebagian besar banyak yang tinggal disebelah Barat. Kasta Weisya banyak yang tingal disebelah Timur. Sementara kasta sudra atau Bali biasa, banyak hidup di semua bagian blok sesuai aturan kerajaan. Sejumlah perkampungan Muslim Sasak diizinkan berdiri diantara perkampungan Bali di Cakra dan Mataram, yang pada awalnya masih terbatas bagi mereka yang memiliki keterampilan khusus. Seperti para perawat gamelan di Karang Kemong, perajin emas di Kamasan dan Sekarbela, juru masak di Karang Tapen dan Pelaras dan pembuat Senjata di Karang Bedil.

Wajah Kota Cakranegara berubah seiring dengan runtuhnya dinasti Mataram. Perang melelahkan dengan koalisi Timur Juring dan Belanda di tahun 1894 mengakhiri riwayat kerajaan Mataram ini. Selepas perang hampir seluruh perkampungan Bali di Mataram dan Cakra dihancurkan. Harta kerajaan dijarah, termasuk 453 kilogram emas, 3.173 kilogram harta berbahan perak dan 75 peti permata dan batu mulia lainnya. Ini belum termasuk benda-benda penting seperti senjata dan naskah-naskah kuno di perpustakaan kerajaan Mataram. Sementara sisa-sisa keluarga Kerajaan Mataram yang selamat ditangkap dan diasingkan. Mereka tak diperkenankan bersatu kembali dengan jalan diasingkan terpisah di Batavia, Cianjur, Sulawesi dan Bengkulu. Sementara sebagai penguasa baru, Belanda membawa para bangsawan Bali dari Buleleng untuk memimpin Cakranegara.

Puri raja kini menjadi komplek pertokoan di barat Taman Mayura. Yakni dari Jalan Selaparang hingga Jalan Tenun di utara. Setelah Belanda berkuasa, Mataram dipilih sebagai pusat pemerintahan. Sementara Cakra bergerak sebagai pusat niaga. Bersamaan dengan itu pola hunian dan kepemilikan lahan di Cakra tak lagi berdasar kasta. Semua orang bebas memiliki lahan selama tak bertentangan dengan aturan Kolonial Belanda. Sejak saat inilah Cakra menjadi lebih heterogen. Mayarakat Sasak yang dulu berada di luar boleh masuk selama mampu membeli lahan. Kemudian etnis lain seperti Cina, Arab, Bugis, Jawa dan lainnya bisa berdampingan dengan masyarakat Hindu-Bali yang sebelumnya menguasai kota. Hasilnya bisa dilihat kini, Cakra tak hanya didominasi Pura. Rumah ibadah lain seperti Masjid, Vihara hingga Gereja dapat ditemui. Namun di balik itu struktur kota yang dibangun dalam pola grid ini masih bertahan hingga kini.

Disambut Ibu Desi, istri Om Pengky yang berdarah Belanda, di rumahnya yang artistik di Mataram


Setelah puas menikmati pesona kota yang tertata di Cakranegara, kami segera menuju rumah Om Pengky Jupiter yang indah, luas, dan bersih di belakang kompleks Kejaksaan Tinggi NTB di Dasan Agung Mataram. Saat ini Om Pengky hanya tinggal berdua bersama mbak Desi, sang istri yang berdarah Belanda, karena puteri tunggalnya kuliah Desain Komunikasi Visual (DKV) di Singapura. Saya senang sekali ikut menikmati acara persiapan cap go meh di rumah indah itu, yang dilengkapi kolam renang pribadi, bahkan kami semua sesama alumni JB 84 diundang ke Mataram, akan dijamin senang. Suasana Imlek masih tersisa di beberapa sudut rumahnya, yang membuat siapapun pasti kerasan tinggal di rumah tersebut, mbak Desi, istrinya yang cantik, ramah dan berdarah Belanda telah menyiapkan hidangan khas Mataram. Kami mengobrol di ruang tengah yang lebar di dekat kolam renang pribadi, dan ngobrol berbagai kenangan indah maupun menyakitkan, saat kami bersama di SMA Kolese de Britto Yogyakarta. Oleh karena bersamaan dengan acara cap go meh di rumahnya, saya segera pamit untuk jalan lagi dan atas kebaikannya, sopir dan mobil Honda CRV disiapkan untuk mengantar saya.

Sore itu saya menikmati kota Mataram yang merupakan kota multi etnis dan agama. Pengaruh budaya Sasak dan Bali, sangat terasa di kota ini. Adapun keberagaman penduduk kota Mataram menurut agama yang dianut (2024), yakni pemeluk agama Islam 83,02% yang umumnya dianut suku Sasak, kemudian Hindu 13,72% yang dianut suku Bali.

Masjid Raya Hubbul Wathan Islamic Center Lombok yang memiliki menara setinggi 99 meter dan dinamakan Asmaul Husna


Lombok bahkan dijuluki sebagai Pulau Seribu Masjid, karena mayoritas masyarakatnya memeluk agama Islam. Sebutan ini bermula dari kunjungan Dirjen Bimas Islam Kementerian Agama Effendi Zarkasih di tahun 1970, saat meresmikan Masjid Jami Cakranegara atau yang sekarang lebih resmi dikenal sebagai Masjid Raya Hubbul Wathan Islamic Center Lombok. Sebagai ikon religi di Lombok, Masjid megah ini adalah destinasi yang tak boleh dilewatkan, terletak di pusat kota, dan memiliki menara setinggi 99 meter yang dinamakan Asmaul Husna. Kemegahan arsitekturnya menggabungkan nuansa Islam dengan motif batik khas Sasambo. Tidak hanya menjadi tempat ibadah, masjid ini juga menawarkan panorama indah dari puncak menara yang memungkinkan menikmati pemandangan Kota Mataram dari ketinggian.

Taman Mayura yang indah bercorak Hindu Bali dan terawat baik di Mataram NTB

Selanjutnya saya menikmati keindahan taman Air Mayura, yang merupakan peninggalan sejarah masa kerajaan di Lombok. Nama “Mayura” diambil dari bahasa Sansekerta yang berarti merak. Dulunya, burung merak dihadirkan di taman ini untuk mengusir ular yang sering mengganggu pengunjung. Selanjutnya saya mengagumi keelokan Pura Meru, yang berdiri gagah tidak jauh dari Taman Air Mayura dan merupakan pura terbesar di Lombok. Pura ini dibangun pada masa kerajaan oleh Anak Agung Ngurah Karangasem dan memiliki 33 sanggah yang melambangkan desa-desa di sekitarnya yang berperan dalam pembangunannya. Akan dapat dilihat perpaduan arsitektur khas Lombok dengan sentuhan Jawa Kuno, menciptakan nuansa spiritual yang unik.

di gerbang Istana Narmada yang sangat luas dan menawan, tetapi sudah terlanjur tutup sore itu

Lebih ke utara lagi, sore itu saya mengunjungi Istana Narmada, sebuah kompleks taman dan istana yang dibangun oleh Raja Anak Agung Gede Karangasem pada tahun 1727. Istana ini dibangun sebagai replika mini dari Gunung Rinjani dan Danau Segara Anak, yang digunakan sebagai tempat upacara keagamaan dan peristirahatan raja. Namun demikian, sore itu Istana Narmada yang telah menjadi objek wisata populer sudah tutup jam kunjung, sehingga saya tidak mampu menikmati pemandangan yang asri, nuansa Hindu yang kental, dan sejarah yang kaya.

Kemudian saya diantar mengunjungi salah satu pabrik air mineral kemasan Narmada, yang tengah berkembang pesat. Om Pengky Jupiter teman sekelas saya di SMA Kolese de Britto Yogyakarta dulu, adalah manajer bertangan dingin yang membuat perusahaan tersebut cepat besar.

Om Pengky Jupiter teman sekelas saya di SMA Kolese de Britto Yogyakarta dulu, adalah manajer bertangan dingin yang membuat perusahaan Narmada pembuat air mineral kemasan tersebut cepat besar.

Bersama dr. Suwardiman MKes SpKKLP teman seangkatan saya di FK UGM 84, sebagai utusan IDI Cabang Kota Metro Lampung, saat menghadiri malam kesejawatan pada Muktamar IDI ke 32 di Hotel Lombok Raya Mataram

Selanjutnya saya diantar pulang kembali ke Hotel Lombok Raya Mataram untuk berpakaian adat Ngayogyakarta Hadiningrat dalam menghadiri malam keakraban peserta Muktamar IDI ke 32. Pada malam yang hingar bingar musik, sajian menu makanan aneka ragam dan gemerlap lampu di taman dekat kolam renang hotel, juga diberikan penghargaan IDI untuk Prof. dr. Yati Sunarto, SpAK, PhD, guru saya di Bagian Anak FK UGM Yogyakarta, yang membuat tambah bangga.

berpakaian adat Ngayogyakarta Hadiningrat dalam menghadiri malam keakraban peserta Muktamar IDI ke 32 berpakaian adat Ngayogyakarta Hadiningrat dalam menghadiri malam keakraban peserta Muktamar IDI ke 32

Sowan senior kakak kelas 2 tingkat di FK UGM Yogyakarta, yang menjadi Health Specialist Unicef NTT dan NTB, dr. VAMA Chrisnadharmani, MPH saat menginap di Fave Hotel Mataram, karena menjalankan tugas supervisi di Kabupaten Lombok Utara

Selanjutnya saya mengunjungi senior Dr. VAMA Chrisnadharmani Taolin, MPH Health Specialist Unicef Indonesia Perwakilan Kupang NTT, yang sedang menjalankan program pelatihan di Kabupaten Lombok Utara dan menginap di Fave Hotel Mataram NTB. Kiprah Univef Devisi Kesehatan di NTB misalnya adalah program pemantauan kondisi bayi baru lahir oleh orang tua, program MTBS (Manajemen Balita Sakit) dan kegawatdaruratan medis yang mudah dikenali orangtua, agar anak tidak terlambat dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat. Kisah inspiratif karya Unicef Indonesia untuk meningkatkan derajat kesehatan masyarakat terpencil ini terbawa sampai mimpi pada tidur nyenyak saya di kamar C145 Hotel Lombok Raya Mataram malam itu.

Sekian dulu tulisan yang dibuat di lorong Hotel Lombok Raya, setelah sarapan pada Kamis pagi, 13 Februari 2025. Terimakasih

(Bersambung lain waktu, dengan petualangan lebih lanjut).

Salam pengelana
-wikan

Disebarkan dari dalam kabin senyap bis Tiara Mas jurusan Bima Jakarta PP, yang membawa saya meninggalkan Mataram NTB menuju Denpasar Bali

DI MATARAM HARI KETIGA
(laporan terakhir)

Kamis, 13 Februari 2025 saya mengikuti rombongan dokter dari Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), pada Muktamar ke 32 IDI Tahun 2025 di Mataram, Nusa Tenggara Barat. Pagi itu kami awali dengan sarapan bersama Dr. Ulul Albab, SpOG Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia periode 2022-2025. Obrolan santai di sela-sela sarapan menyinggung tentang tingginya biaya layanan kesehatan di Indonesia dibandingkan dengan di Malaysia, khususnya Penang. Dijelaskan bahwa perbedaan pandangan telah terjadi saat diskusi antara PB IDI dengan Kemenkes RI, dimana Kemenkes RI menyoroti biaya promosi obat kepada para dokter yang besar, yang harus ditanggung pasien adalah masalah prioritas yang harus dibereskan terlebih dahulu, agar biaya layanan kesehatan dapat diturunkan. Sebaliknya, PB IDI justru menilai bahwa penerapan pajak atas berbagai produk obat dan alat kesehatan yang besar dan kadang ganda, justru harus lebih dahulu diturunkan, bahkan kalau perlu dibebaskan. Perbedaan kedua sudut pandang ini belum dapat dijembatani sampai kepengurusan Dr. Ulul pada PB IDI akan berakhir.

Bersama dr. Ulul Albab, SpOG Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia

Setelah diskusi hangat sambil sarapan tersebut, kami segera bergegas untuk mengikuti rangkaian acara Pembukaan Muktamar IDI ke 32 yang diagendakan berlangsung pk. 8-9.30. Acara yang diselenggarakan di ruang pertemuan utama (ballroom) Hotel Lombok Raya Mataram NTB, dikawal ketat oleh banyak personil keamanan, panitia yang cekatan dan dihadiri dengan antusiasme oleh delegasi, dengan kehadiran hampir 80 persen dari seluruh IDI Cabang di Indonesia.

bersama mas dr. Bambang Suyamto SpTHT Ketua IDI Cabang Rembang Jawa Tengah, teman seangkatan saya di FK UGM Yogyakarta

Saya berjumpa dengan dr. Bambang Suyamto, SpTHT Ketua IDI Cabang Kabupaten Rembang, Jawa Tengah teman seangkatan di FK UGM Yogyakarta tahun 1984 dan mas dr. Didik Wijayanto Ketua Kompartemen JKN PB IDI periode yang lalu, kakak kelas setahun di FK UGM Yogyakarta. Reuni tipis tersebut sangat menyenangkan, karena dihiasi obrolan santai dan kenangan saat kuliah dahulu.

Bersama dengan mas dr. Didik Wijayanto Ketua Kompartemen JKN PB IDI, kakak kelas setahun di FK UGM dan Asrama Mahasiswa Ralealino Yogyakarta

Kemudian kami semua mengikuti acara resmi pembukaan Muktamar IDI ke 32, sebagai salah satu momentum memperkuat nilai-nilai kesejawatan serta profesionalisme dokter yang tertanam dalam Sumpah Dokter sebagai modal utama menghadapi tantangan masa depan.

Bersama Dr. dr. Dodi Ario Kumboyo SpOG(K) mantan Ketua IDI Wilayah NTB sebelum acara pembukaan Muktamar IDI ke 32 di Mataram

Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) periode 2022-2025 Dr. dr. Mohamad Adib Khumaidi, SpOT pada pidato pembukaan Muktamar. Keberadaan organisasi profesi IDI tetap relevan dan sangat dibutuhkan. Karena itu semua dokter anggota IDI diharapkan untuk terus memperkuat nilai-nilai kesejawatan yang tertanam dalam Sumpah Dokter sebagai modal utama menghadapi tantangan masa depan.

Kenangan bersama dengan Dr. dr. M Adib Khomaidi SpOT Ketua Umum PB IDI di Lamongan Jawa Timur

IDI lahir bukan karena kepentingan kelompok, melainkan karena kepentingan rakyat Indonesia. Sejarah panjang organisasi ini, sejak 1911 hingga menjadi satu kesatuan pada 1950, membuktikan bahwa IDI memiliki akar kuat dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Untuk itu letak pentingnya transformasi organisasi melalui semangat IDI Reborn, dengan fokus pada penguatan internal, revitalisasi, dan komitmen perubahan.

bersama para dokter peserta Muktamar IDI ke 32 di Mataram NTB

Semua dokter seharusnya bersama-sama menciptakan resolusi perubahan demi IDI yang lebih baik, demi bangsa, rakyat, dan anggota,” katanya. Dalam menghadapi berbagai tantangan eksternal maupun internal, PB IDI berkomitmen menjadi organisasi yang lebih profesional dan modern melalui program-program strategis yang komprehensif. Semua dokter anggota IDI agar tidak terjebak dalam konflik internal yang dapat menghambat kemajuan organisasi.

Seperti kata Charles Darwin, yang bertahan bukanlah yang terkuat atau terpintar, melainkan yang paling mampu beradaptasi. Jadi, IDI juga harus menjadi institusi yang durable dan infinite, mampu bertahan menghadapi tantangan zaman.

Bersama dengan Dr. dr. M. Ali Firdaus SpA, SH, MH anggota tim BPH2A PP IDAI dari Tasikmalaya

Setelah sambutan Ketum PB IDI tersebut, Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, SH, MSc secara resmi membuka Muktamar IDI ke 32 mewakili Pemerintah Pusat. Menteri Yusril Ihza Mahendra menegaskan bahwa organisasi profesi seperti organisasi kedokteran idealnya hanya ada satu di Indonesia, bukan dualisme organisasi profesi kedokteran yang ada, yaitu Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dan Perkumpulan Dokter Seluruh Indonesia (PDSI).

Yusril mengatakan bahwa IDI adalah organisasi profesi yang berbeda dari organisasi lain seperti organisasi kemasyarakatan (ormas), perkumpulan, yayasan atau pun partai politik, sudah pasti berbeda.

Persoalan organisasi profesi seperti di kedokteran disebabkan karena belum mempunyai undang-undang (UU) tentang Organisasi Profesi. Sebab, organisasi profesi akan menjalankan sebagian dari fungsi negara. Ini menjadi tugas pemerintah untuk merancang UU organisasi profesi.

Secara ideal dokter seharusnya berhimpun dalam sebuah organisasi profesi bukan berhimpun dalam ormas. Memang IDI tidak mengangkat dokter tetapi idealnya izin dokter atau rekomendasi izin untuk praktek kedokteran dan kemudian melakukan pengawasan, pendidikan dan bahkan menerapkan sanksi, adalah tugas IDI. Karena organisasi profesi yang mempunyai hal itu dan itu tidak ada pada ormas.

Oleh karena itu, dalam posisi dualisme organisasi profesi antara IDI dan PSDI ini, Yusril menegaskan bahwa pemerintah akan berusaha menjembatani supaya akhirnya betul-betulnya mempunyai organisasi profesi kedokteran yang kuat dan menjadi mitra negara dalam menyelesaikan persoalan kesehatan yang dihadapi bersama.

Menteri Yusril menegaskan pentingnya IDI dalam menjaga ketahanan nasional. Oleh karena itu IDI harus tetap satu dan solid sebagai mitra strategis pemerintah dalam menjalankan berbagai fungsi negara, termasuk pengawasan profesi dokter.

Menteri Koordinator Bidang Hukum, Hak Asasi Manusia, Imigrasi, dan Pemasyarakatan RI, Yusril Ihza Mahendra, secara resmi membuka acara tersebut dengan memukul gendang beleq, alat musik tradisional khas Lombok.

Setelah resmi dibuka oleh Menteri Yusril Muktamar IDI yang mengusung tema “Membangun Solidaritas dalam Beradaptasi untuk Mewujudkan IDI yang Berkelanjutan” diteruskan dengan diskusi panel pendukung tema. Sejumlah narasumber terkemuka turut hadir dalam sesi keynote speech, salah satunya Direktur Jaminan Pelayanan Kesehatan BPJS, dr. Lily Kresnowati, MKes

Ia membahas tantangan Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) saat ini dan masa depan, dengan menyoroti peran penting Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) sebagai ujung tombak pelayanan kesehatan.

Sementara itu, narasumber lainnya seperti Dr. dr. Mahlil Ruby, MKes Direktur Pengembangan BPJS Kesehatan kesehatan dan drg. Iing Ichsan Hanafi, HMA, Ketua Umum Asosiasi RS Swasta Indonesia (ARSI) yang membedah berbagai tantangan kebijakan BPJS, khususnya dalam implementasi di rumah sakit. Isu pembatasan tindakan medis oleh BPJS serta dampaknya terhadap fasilitas kesehatan juga menjadi sorotan dalam diskusi yang dipandu oleh Prof. dr. Hasbullah Thabrany, MPH, DrPH

Setelah ISHOMA acara dilanjuktan dengan Sidang Pleno I pk. 14-15.30 tentang penetapan kuorum, agenda, tata tertib muktamar dan presidium sidang muktamar. Lanjut pada Sidang Pleno II pk. 15.30-18 tentang laporan pertanggungjawaban Ketua Umum PB IDI, Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK), Majelis Pengembangan Pelayanan Kedokteran (MPPK), Majelis Kolegium Kedokteran Indonesia (MKKI), penyampaian pandangan umum dan penetepan demisioner PB IDI periode 2022-2025.

Dr. dr. Moh Adib Khumaidi, Sp.OT adalah Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) periode 2022-2025. Selain itu, dr. Adib juga merupakan dosen tetap di Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta. Ia meraih gelar doktor bidang Ilmu Kedokteran dari Fakultas Kedokteran Universitas Hasanudin. Beberapa kegiatan yang dilakukan oleh Ketua Umum PB IDI, antara lain: Melantik Pengurus Perhimpunan Dokter Spesialis Kulit dan Kelamin Indonesia (PERDOSKI) masa bakti 2024-2027, Melantik Pengurus IDI Wilayah Bali masa bakti 2024-2027, Melantik Pengurus Kolegiun Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Indonesia masa bakti 2024-2027, Melantik Pengurus IDI Wilayah Jawa Barat masa bakti 2024-2027 dan hadir dalam acara Halal Bi Halal dan Seminar Hukum Kesehatan 2024.

Kenangan bersama Dr. dr. M Adib Khomaidi SpOT di makam dr. Wahidin Sudirohusodo di Yogyakarta

Sorenya pk. 15.30-18 dilanjutkan dengan pengukuhan Ketua Umum PB IDI periode 2025-2028, pembacaan ketetapan Muktamar IDI ke 32, serah terima jabatan Ketua Umum PB IDI periode 2022-2025 kepada Ketua Umum PB IDI periode 2025-2028. Dr. dr. Slamet Budiarto, SH, MH.Kes yang selanjutnya menjadi Ketua Umum PB IDI periode 2025-2028 sebelumnya adalah Ketua IDI Provinsi DKI Jakarta. Selain itu, juga menjabat Wakil Ketua MPKU PP Muhammadiyah, Ketua umum PP PKFI (Perhimpunan Klinik dan Faskes Primer Indonesia), Direktur Utama RS Islam Jakarta Pondok Kopi yang meraih gelar Doktor Administrasi dan Kebijakan Kesehatan di FKM UI Jakarta, sekaligus sebagai Ketua Dewan Pembina Lembaga Akreditasi Rumah Sakit Indonesia (LARSI), merupakan salah satu dari 6 Lembaga Independen Penyelenggara Akreditasi Rumah Sakit yang didirikan pada tanggal 13 September 2021.

Setelah ISHOMA malam harinya akan dilanjutkan sidang organisasi yang dibagi dalam beberapa komisi. Komisi A membahas tentang AD ART IDI, komisi B membahas tentang pendidikan dokter dan CPD, komisi C membahas pelayanan profesi kedokteran, komisi D membahas tentang etika, disiplin dan hukum, komisi E membahas tentang kebijakan organisasi dan renstra, sedangkan komisi F membahas tentang rekomendasi organisasi.

Namun demikian, sore itu saya pamit mundur dari arena Muktamar IDI ke 32 di Hotel Lombok Raya Mataram, untuk menyeberang ke Pulau Bali. Atas kebaikan Om Pengky Jupiter teman sekelas saya di SMA Kolese de Britto Yogyakarta tahun 1984, Direktur Utama PT Narmada pembuat air mineral kemasan, mengantar saya ke kantor PO Tiara Mas. Setelah menunggu sedikit waktu bis bernomor polisi EA 7615 A, berbodi Avante H7 Super High deck buatan karoseri Tentrem Malang, dan bersasis Hino RM 280 datang dengan penuh muatan di kedua sisi bagasi, bahkan bagasi sisi atas belakang bis.

bis Tiara Mas jurusan Bima Jakarta yang mengantarkan saya meninggalkan Mataram NTB menuju Denpasar Bali

Bis ini telah berangkat dari Bima NTB kemarin Rabu malam dan Kamis siang ini saya naik dari pool bis di Jl. Selaparang Mataram, untuk menyeberang Selat Lombok yang kadang berarus kuat ke Bali, sebelum bis ini lanjut ke Jakarta.

Terimakasih Om Pengky Jupiter JB84 dan segenap pihak yang tidak dapat saya sebutkan namanya masing-masing, yang telah membantu saya mengikuti semua rangkaian acara Muktamar IDI ke 32 di Mataram NTB. Sampai ketemu lagi dalam kegiatan lain.

(sekian)

Jumat pagi, 15 Februari 2025 ditulis dan disebarkan dari Tanah Dewata Jimbaran Bali

Salam pengelana IDI
-wikan

Categories
anak antibiotika dokter Healthy Life resisten obat tuberkulosis

2025 Diagnosis Tuberkulosis

DIAGNOSIS  TUBERKULOSIS

fx. wikan indrarto

Tulisan ini dimuat di harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 2 Februari 2025, halaman 8 kolom HUSADA dengan judul : uji kerentanan antibiotik penuhi standar WHO.

Rabu, 4 Desember 2024 Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah memberikan prakualifikasi untuk perangkat uji diagnostik molekuler tuberkulosis (TB) yang disebut Xpert® MTB/RIF Ultra. Ini adalah uji pertama untuk diagnosis TB dan uji kerentanan antibiotik yang memenuhi standar prakualifikasi WHO. Apa yang menarik?

Penilaian WHO untuk prakualifikasi didasarkan pada informasi yang disampaikan oleh produsen perangkat tersebut, yaitu Cepheid Inc dan tinjauan oleh Otoritas Ilmu Kesehatan (HSA) Singapura, badan regulasi yang mendaftar produk ini. Dirancang untuk digunakan pada Sistem Instrumen GeneXpert®, uji amplifikasi asam nukleat (NAAT) Xpert® MTB/RIF Ultra ini mendeteksi materi genetik Mycobacterium tuberculosis, bakteri penyebab TB, dalam sampel dahak, dan memberikan hasil yang akurat dalam hitungan jam. Pada saat yang sama, uji ini mengidentifikasi mutasi yang terkait dengan resistensi terhadap obat rifampisin, indikator utama TB resistan terhadap berbagai obat. Pemeriksaan PCR geneXpert MTB/RIF saat ini sudah dapat dikerjakan pusat rujukan kesehatan berbagai daerah di Indonesia. Akan tetapi, masih terdapat berbagai keterbatasan di sisi sumber daya material maupun manusia.

Pemeriksaan PCR geneXpert MTB/RIF konvensional dan ultra memiliki perbedaan yang mendasar, yaitu dalam akurasi diagnostik, fitur pemeriksaan, batas deteksi alat, dan durasi TAT. Namun demikian metode ultra secara umum lebih unggul daripada konvensional, sedangkan metode konvensional sedikit lebih unggul pada perbandingan akurasi diagnostik untuk poin spesifisitas dan NPP. Uji geneXpert MTB/RIF ultra ini ditujukan untuk pasien yang hasil skriningnya positif TB paru dan yang belum memulai pengobatan antituberkulosis atau pada pasien yang sudah menerima terapi kurang dari tiga hari dalam enam bulan terakhir. 

Prakualifikasi oleh WHO membuka jalan bagi akses yang adil terhadap teknologi mutakhir, termasuk perangkat geneXpert MTB/RIF ultra, memberdayakan banyak negara untuk mengatasi beban ganda TB, yaitu TB resistan terhadap obat. Prakualifikasi adalah program yang dilakukan oleh WHO untuk mengevaluasi kualitas, keamanan, dan kemanjuran produk medis. Program ini bertujuan untuk memastikan bahwa produk kesehatan tersebut memenuhi standar global dan dapat diakses oleh semua negara berpenghasilan rendah dan menengah, termasuk Indonesia. Prakualifikasi dilakukan melalui prosedur standar, yang mencakup peninjauan berkas produk, evaluasi laboratorium terhadap kinerja dan karakteristik operasionalnya.

Beberapa contoh produk medis yang telah melalui prakualifikasi, diantaranya Vaksin TAK-003 dari Takeda, yang dirancang untuk melawan empat serotipe virus dengue penyebab penyakit demam berdarah. Juga vaksin Mpox MVA-BN buatan produsen Denmark untuk orang berusia 18 tahun ke atas.

Prakualifikasi pertama untuk sebuah alat uji diagnostik TB ini menandai tonggak penting dalam upaya WHO, untuk mendukung semua negara dalam meningkatkan dan mempercepat akses ke uji TB berkualitas tinggi, seaui standar kualitas, keamanan, dan kinerja yang ketat. WHO saat ini sedang menilai sebanyak tujuh alat uji diagnostik TB lainnya. Alat tersebut meliputi : BD MAX MDR-TB, Truenat MTB Plus, Truenat MTB-RIF Dx, cobas MTB-RIF/INH, cobas MTB, Loopamp MTBC Detection Kit, dan Xpert MTB/XDR.

Jenis pemeriksaan penunjang medis untuk mendiagnosis TB antara lain tes Mantoux atau ‘tuberculin skin test’ yang paling sering dilakukan di Indonesia untuk mendeteksi adanya tuberkulosis.  Juga foto rontgen dada atau thoraks, pemeriksaan IGRA dan pemeriksaan apus dahak atau sputum BTA. Namun demikian, pemeriksaan penunjang medis yang tersedia saat ini masih kurang ideal dan memiliki berbagai kelemahan.

Pada hal diagnosis TB dalam pengkodean internasional untuk TB sesuai ICD-10 yang meliputi A15 sampai A16.9, mengharuskan disertakan jenis pemeriksaan penunjang medis yang dilakukan dalam menegakkan diagnosis pasien. Hal ini mencakup infeksi TB pada organ definitif seperti sistem pernapasan, kelenjar getah bening intrathoraks, laring, trakea, bronkus, dan pleura. Juga jenis pemeriksaan penunjang medis untuk konfirmasi TB, baik secara bakteriologis, histologis, mikroskopi sputum, biakan atau kultur, atau TB yang dikonfirmasi dengan cara yang tidak ditentukan.

Spesimen dahak untuk uji diagnostik molekuler TB Xpert® MTB/RIF Ultra dapat berupa dahak yang dikeluarkan langsung oleh pasien atau dengan cara invasif (seperti induksi dan suction). Untuk pasien anak yang belum mampu mengeluarkan dahak, pemeriksaan tersebut dapat menggunakan spesimen non-dahak, yang harus dilakukan di dalam BSC (Biological Safety Cabinet) untuk menghindari terhirupnya aerosol saat proses pengolahan spesimen oleh petugas laboratorium. Spesimen non-dahak yang dapat diperiksa dengan TCM terdiri atas cairan serebrospinal (CSF), bilasan lambung (gastric lavage), jaringan biopsi-aspirasi, feses, dan cairan tubuh lainnya kecuali darah. Seluruh spesimen non-dahak harus diproses sesegera mungkin untuk mendapatkan hasil pemeriksaan yang optimal. Selama transportasi, spesimen harus disimpan pada suhu 2-8 oC dan sudah harus diproses maksimal dalam waktu 7 hari.

Pemeriksaan PCR geneXpert konvensional dan ultra sebaiknya dilakukan untuk mengganti pemeriksaan BTA sputum dan rontgen dada yang selama ini masih sering dilakukan. Hal ini karena bakteri M. tuberculosis dapat menginfeksi organ-organ lain atau disebut tuberkulosis ekstraparu. Proses prakualifikasi WHO untuk perangkat uji diagnostik molekuler TB yang disebut Xpert® MTB/RIF Ultra, akan memudahkan pelaksanaan rekomendasi WHO dalam aspek diagnosis TB. Sudahkah kita bijak dalam mendiagnosis TB?

SekianYogyakarta, 4 Januari 2025*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM.

Categories
anak COVID-19 dokter Healthy Life resisten obat tuberkulosis

2025 Bahaya Tuberkulosis

BAHAYA  TUBERKULOSIS

fx. wikan indrarto

Tulisan ini dimuat di harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 19 Januari 2025, halaman 8 kolom HUSADA dengan judul : Tuberkulosis pembunuh utama penyakit menular 2023.

Tuberkulosis (TB) kembali menjadi penyakit menular sebagai pembunuh utama. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Rabu, 13 November 2024 menerbitkan laporan baru tentang TB yang mengungkap bahwa sekitar 8,2 juta orang didiagnosis menderita TB sebagai kasus baru pada tahun 2023, dan ini adalah jumlah tertinggi yang tercatat sejak WHO memulai pemantauan TB global pada tahun 1995. Dengan peningkatan yang signifikan dari 7,5 juta yang dilaporkan pada tahun 2022, menempatkan TB kembali sebagai pembunuh utama dari penyakit menular pada tahun 2023, melampaui COVID-19. Apa yang mencemaskan?

Laporan TB Global WHO 2024 menyoroti jumlah kematian terkait TB menurun dari 1,32 juta pada tahun 2022 menjadi 1,25 juta pada tahun 2023, jumlah total orang yang jatuh sakit karena TB meningkat sedikit menjadi sekitar 10,8 juta pada tahun 2023. Beban TB tertinggi berada di 30 negara dengan India (26%), Indonesia (10%), Tiongkok (6,8%), Filipina (6,8%) dan Pakistan (6,3%) bersama-sama menyumbang 56% dari beban TB global. Sekitar 55% orang TB adalah laki-laki dan 12% adalah anak dan remaja muda.

Pada tahun 2023, kesenjangan antara perkiraan jumlah kasus TB baru dan yang dilaporkan menyempit menjadi sekitar 2,7 juta, turun dari tingkat saat pandemi COVID-19 sekitar 4 juta pada tahun 2020 dan 2021. Hal ini disebabkan karena upaya global yang substansial, untuk segera pulih dari gangguan COVID-19 pada layanan TB. Cakupan terapi  pencegahan TB telah dapat dipertahankan untuk sebagian besar orang yang hidup dengan HIV, dan terus dapat meningkat untuk sebagain besar kontak rumah tangga orang yang didiagnosis dengan TB.

Namun, TB yang resisten terhadap banyak obat tetap menjadi krisis kesehatan masyarakat. Tingkat keberhasilan pengobatan untuk TB yang resisten terhadap banyak obat atau resistan terhadap rifampisin (MDR/RR-TB) kini telah mencapai 68%. Dari 400.000 orang yang diperkirakan telah menjadi MDR/RR-TB, hanya 44% yang didiagnosis dan diobati pada tahun 2023.

Pendanaan global untuk pencegahan dan perawatan TB menurun lebih jauh pada tahun 2023 dan masih jauh di bawah target. Negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah  yang menanggung 98% beban TB, menghadapi kekurangan pendanaan yang signifikan. Hanya US$ 5,7 miliar dari target pendanaan tahunan sebesar US$ 22 miliar yang tersedia pada tahun 2023, setara dengan hanya 26% dari target global. Jumlah total pendanaan donor internasional untuk semua negara tersebut tetap berada di sekitar US$ 1,2 miliar per tahun selama beberapa tahun. Pemerintah Amerika Serikat tetap menjadi donor bilateral terbesar untuk TB. Sementara Dana Global untuk Memerangi AIDS, Tuberkulosis, dan Malaria (the Global Fund) merupakan pendana internasional teratas untuk mengetasi TB. Donasi tersebut penting, namun tetap tidak mencukupi untuk memenuhi kebutuhan layanan TB yang utama, sehingga diperlukan investasi keuangan yang berkelanjutan untuk keberhasilan upaya pencegahan, diagnosis, dan pengobatan TB.

Persentase rumah tangga yang terdampak TB yang menghadapi biaya yang sangat besar (melebihi 20% dari pendapatan rumah tangga tahunan) untuk mengakses diagnosis dan pengobatan TB di semua negara berkembang. Hal ini menunjukkan bahwa setengah dari rumah tangga yang terdampak TB menghadapi biaya yang sangat besar tersebut. Sejumlah besar kasus TB baru didorong oleh 5 faktor risiko utama: kekurangan gizi, infeksi HIV, gangguan penggunaan alkohol, merokok (terutama di kalangan pria), dan diabetes. Menangani masalah ini, bersama dengan faktor penentu penting seperti kemiskinan dan PDB per kapita, memerlukan tindakan multisektoral yang terkoordinasi. Dunia dihadapkan dengan berbagai tantangan berat: kekurangan dana dan beban keuangan yang sangat besar bagi mereka yang terdampak TB, perubahan iklim, konflik bersenjata, migrasi dan pengungsian, pandemi, dan TB yang resistan terhadap obat, yang merupakan pendorong utama resistensi antimikroba.

Tonggak sejarah dan target global untuk mengurangi beban penyakit TB masih belum tercapai, dan kemajuan yang signifikan diperlukan untuk mencapai target lain yang ditetapkan untuk tahun 2027 menjelang Pertemuan Tingkat Tinggi PBB kedua. Semua pemerintah, mitra global, dan donor diharapkan segera menerjemahkan komitmen yang dibuat selama Pertemuan Tingkat Tinggi PBB tentang TB tahun 2023 menjadi tindakan nyata. Peningkatan pendanaan untuk penelitian, khususnya untuk vaksin TB baru, sangat penting untuk mempercepat kemajuan dan mencapai target global yang ditetapkan untuk tahun 2027. Secara global, penelitian TB masih sangat kekurangan dana dengan hanya seperlima dari target tahunan sebesar US$ 5 miliar yang tercapai pada tahun 2022. Hal ini menghambat pengembangan alat diagnostik, obat, dan vaksin TB yang baru.

Laporan TB Global WHO 2024 menggambaran bahaya yang masih mengancam dari TB, yaitu pendanaan global untuk pencegahan dan perawatan TB terus menurun dan masih jauh di bawah target. Layanan TB yang utama dan berkelanjutan meliputi upaya pencegahan, diagnosis, dan pengobatan TB menjadi terancam, tidak sesuai dengan target global.

Sudahkah kita menyadari bahaya TB?

Sekian

Yogyakarta, 6 Desember 2024

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161.

Categories
anak antibiotika COVID-19 dokter Healthy Life UHC vaksinasi

2025 ISPA HMPV

ISPA HMPV

fx. wikan indrarto*)

Sebagian tulisan ini telah dimuat di Harian Nasional Media Indonesia Rabu, 15 Januari 2025

https://mediaindonesia.com/opini/734459/ispa-hmpv-human-meta-pneumo-virus

Sejak awal Januari 2025 sedang terjadi peningkatan kejadian ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Akut), termasuk yang disebabkan oleh HMPV (Human Meta Pneumo Virus), dari Cina yang menyebar sampai ke Indonesia. Apa yang perlu diwaspadai?

Peningkatan ini biasanya disebabkan oleh epidemi musiman patogen pernapasan seperti influenza musiman, respiratory syncytial virus (RSV), dan virus pernapasan umum lainnya, termasuk HMPV serta mycoplasma pneumoniae. HMPV adalah virus pernapasan umum yang ditemukan beredar di banyak negara pada musim dingin hingga musim semi, meskipun tidak semua negara secara rutin menguji dan menerbitkan data tentang tren HMPV. Virus ini memiliki karakteristik mirip dengan flu biasa, dengan gejala seperti batuk kering atau berdahak, pilek atau hidung tersumbat, demam ringan hingga tinggi, sakit tenggorokan, sesak napas, mudah lelah, dan kehilangan nafsu makan.

Sebagian besar orang yang terinfeksi akan pulih dengan sendirinya tanpa memerlukan perawatan khusus. Hanya beberapa kasus memerlukan dirawat inap di rumah sakit karena bronkiolitis, bronkitis atau pneumonia, sedangkan kebanyakan orang yang terinfeksi HMPV akan pulih setelah beberapa hari. Penularan virus HMPV serupa dengan virus flu lainnya, yaitu melalui percikan air liur atau droplet dari individu yang terinfeksi. Meskipun umumnya tidak berbahaya, kelompok rentan seperti anak, orang lanjut usia, dan individu dengan kondisi kesehatan tertentu tetap perlu waspada.

Diagnosis ISPA HMPV dilakukan melalui pemeriksaan medis, terutama jika gejala parah atau tidak membaik setelah beberapa hari. Dokter dapat merekomendasikan 3 jenis pemeriksaan penunjang medis, bila diperlukan. Pertama adalah tes swab nasofaring (usap tenggorok) untuk mendeteksi RNA virus melalui teknik reverse-transcription polymerase chain reaction (RT-PCR). Kedua, pemeriksaan darah untuk mengukur kadar antibodi atau tanda infeksi lainnya. Dan ketiga, rontgen dada jika dicurigai pneumonia.

Berdasarkan data yang diterbitkan oleh Tiongkok, yang mencakup periode hingga 29 Desember 2024, ISPA telah meningkat selama beberapa minggu terakhir dengan kuman penyebab virus influenza musiman, rhinovirus, HMPV, dan mycoplasma pneumoniae khususnya di provinsi bagian utara Tiongkok. Sepertinya hanya Tiongkok yang telah memiliki sistem pengawasan sentinel yang mapan untuk ISPA, termasuk hMPV, dan melakukan pengawasan virologi rutin untuk patogen pernapasan umum dengan laporan terperinci yang diterbitkan setiap minggu di situs web Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Tiongkok (CDC). Data pengawasan dan laboratorium untuk HMPV tidak tersedia secara rutin dari semua negara, termasuk di Indonesia.

Virus Influenza saat ini merupakan penyebab penyakit pernapasan yang paling banyak dilaporkan, dengan tingkat positif tertinggi di antara semua patogen yang dipantau untuk semua kelompok umur, kecuali anak berusia 5-14 tahun yang memiliki tingkat positif tertinggi untuk mycoplasma pneumoniae. Tingkat ISPA yang dilaporkan di Tiongkok, termasuk HMPV, berada dalam kisaran yang telah diprediksi untuk musim dingin, tanpa pola wabah yang tidak biasa yang dilaporkan. Pihak berwenang Tiongkok mengonfirmasi bahwa sistem perawatan kesehatan tidak kewalahan, pemanfaatan rumah sakit saat ini lebih rendah daripada waktu yang sama tahun lalu, dan tidak ada deklarasi darurat kesehatan. Berdasarkan penilaian risiko saat ini, WHO menyarankan agar semua negara tidak melakukan pembatasan perjalanan atau perdagangan apapun yang terkait dengan tren ISPA terkini.

Meskipun HMPV dilaporkan telah menyebar dan ditemukan di Indonesia pada Senin, 6 Januari 2025 dengan semua kasus adalah anak, tetapi masyarakat diharapkan untuk tidak panik. Virus HMPV berbeda dengan virus COVID-19 yang merupakan virus baru, karena HMPV adalah virus lama yang sifatnya mirip dengan flu, sudah ada dan telah beredar ke seluruh dunia sejak 2001. Sistem imunitas manusia sudah mengenal virus ini sejak lama dan mampu meresponsnya dengan baik, bahkan selama ini juga tidak terjadi hal buruk.

Hingga saat ini, belum tersedia dan juga berlum diperlukan obat antivirus atau vaksin spesifik untuk HMPV. Namun, gejala  HMPV dapat dikelola dengan beberapa langkah berikut. Menggunakan pelembab udara (humidifier) untuk membantu kelegaan pernapasan, minum air putih atau teh hangat untuk mengurangi iritasi tenggorokan, istirahat yang cukup untuk memulihkan daya tahan tubuh. Juga minum obat pereda nyeri seperti acetaminophen atau ibuprofen untuk membantu meredakan demam dan nyeri, menggunakan pengobatan simptomatik untuk mengurangi keluhan yang dialami, seperti obat untuk meredakan hidung tersumbat atau batuk. Selanjutnya perlu memantau gejala yang dialami secara intensif dan segera berkonsultasi dengan dokter jika gejala memburuk.

Karena itu, sekali lagi masyarakat dihimbau untuk menjaga pola hidup sehat, seperti cukup istirahat, mencuci tangan secara rutin, memakai masker saat merasa tidak enak badan, dan segera berkonsultasi dengan dokter jika muncul gejala yang mencurigakan. Juga wajib bersikap tetap tenang dan waspada. Dengan mengikuti protokol kesehatan 3M, menjaga jarak, mencuci tangan dan memakai masker, sama seperti saat pandemi COVID-19, kita dapat mengatasi HMPV ini dengan baik.

Yogyakarta, 8 Januari 2025

*) dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Alumnus S3 UGM, WA :  081227280161

Categories
dokter Healthy Life medicolegal

2024 Sisa Peran IDI

SISA  PERAN  IDI

fx. wikan indrarto

Dunia kesehatan di Indonesia berubah sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Setelah diterapkannya UU 17/2023 Omnibus Law tentang Kesehatan, maka ada 11 UU yang dicabut dan dinyatakan tidak berlaku, termasuk UU No. 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran. Bagaimana dampak regulasi ini bagi pada para dokter?

Tulisan ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 29 Desember 2024, kolom Husada, halaman 8 dengan judul : IDI diharapkan dapat menjaga etika medis.

Pada UU tentang Praktek Kedokteran tersebut, Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sebagai organisasi profesi medis tunggal memiliki peran dalam aspek etika, mutu dan legal, untuk semua dokter di seluruh Indonesia. Dalam aspek legal, penerbitan SIP (Surat Ijin Praktek) dokter oleh dinas kesehatan setempat tidak lagi melibatkan IDI, karena persyaratan penerbitan SIP tidak lagi memerlukan rekomendasi IDI. Permohonan penerbitan SIP dokter hanya melampirkan STR (Surat Tanda Registrasi) dokter, surat keterangan tempat praktik, dan bukti pemenuhan kompetensi medis. Bukti pemenuhan kompetensi medis dapat diperoleh dokter, setelah mengikuti pemenuhan kompetensi yang diselenggarakan oleh sebuah kementerian, yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang kesehatan berkoordinasi dengan Kolegium atau penyelenggara pendidikan, bukan lagi dengan IDI.

Peran IDI dalam aspek mutu layanan dokter juga sudah tidak ada sama sekali, karena peran tersebut diambil alih oleh Kemenkes RI. Penentuan pencapaian pemenuhan kompetensi medis dalam bentuk SKP (Satuan Kredit Profesi) untuk para dokter, murni ditentukan oleh Kemenkes RI. Pemenuhan kompetensi medis baik dalam ranah profesionalisme, pendidikan berkelanjutan, pengabdian masyarakat, publikasi penelitian dan pendidikan formal tambahan, semuanya sudah tidak lagi dikelola oleh IDI.

Rasanya peran IDI tinggal dalam aspek etika medis, salah satunya sesuai dengan Peraturan Presiden Nomor 82 Tahun 2018 tentang Jaminan Kesehatan. PP tersebut memberikan definisi kecurangan (fraud) dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yaitu tindakan yang dilakukan dengan sengaja, untuk mendapatkan keuntungan finansial dari program Jaminan Kesehatan dalam Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN), melalui perbuatan curang yang tidak sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Untuk meningkatkan upaya pencegahan dan penanganan kecurangan telah dibuat pedoman dan tim yang dapat menilai sampai mengenakan sanksi administrasi terhadap kecurangan dalam pelaksanaan program JKN. Pada pasal 3 ayat 2 PP tersebut dijelaskan bahwa tim pencegahan kecurangan pada dinas kesehatan tingkat kabupaten atau kota terdiri atas unsur dinas kesehatan setempat, BPJS Kesehatan cabang, asosiasi fasilitas kesehatan, organisasi profesi dalam hal ini IDI, dan unsur lain yang terkait.

Dengan regulasi ini peran IDI rasanya ‘tinggal tersisa’ dalam menjaga aspek etika medis, agar para dokter di seluruh Indonesia dapat menjalankan profesinya secara mulia dan menghindari tindak kecurangan. Jenis kecurangan yang mungkin dilakukan oleh fasilitas kesehatan atau dokter anggota IDI pemberi pelayanan kesehatan, sangat perlu dicermati. Kecurangan di FKTP dapat berupa tindakan penyalahgunaan dana kapitasi dan/atau nonkapitasi FKTP milik Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah, oleh dokter yang menjadi pimpinan FKTP. Selain itu juga dapat berupa tindakan menarik biaya tambahan dari Peserta atau memanipulasi klaim nonkapitasi. Dalam hal ini meliputi klaim palsu atau klaim fiktif, yaitu klaim atas layanan yang tidak pernah diberikan,  memperpanjang lama perawatan di FKTP rawat inap, penjiplakan klaim dari pasien lain, dan tagihan atau klaim berulang pada kasus yang sudah ditagihkan sebelumnya. Dapat juga melakukan rujukan pasien yang tidak sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, memberi dan/atau menerima suap dan/atau imbalan terkait dengan program Jaminan Kesehatan; dan memalsukan Surat Izin Praktek (SIP) Dokter.

Jenis kecurangan oleh dokter anggota IDI pemberi pelayanan kesehatan di FKRTL atau RS dapat berupa memanipulasi diagnosis dan/atau tindakan medis, untuk meningkatkan besaran klaim. Beberapa cara misalnya seorang pasien seharusnya cuckup didiagnosis sebagai apendicitis akut setelah operasi tanpa penyulit, tetapi pada resume rekam medis ditulis apendicitis akut dengan perforasi usus. Mungkin juga seorang pasien lain dengan pterigium pada mata grade I, tetapi dalam resume rekam medis ditulis kanker, yaitu squaomous cell carsinoma conjungtiva dan dilakukan tindakan biopsi eksisi pada mata, tetapi tanpa bukti dilakukan pemeriksaan lanjutan untuk kanker yaitu patologi anatomi.

Kecurangan oleh dokter dapat juga berupa penjiplakan klaim dari pasien lain, yang dibuat dengan cara menyalin dari klaim pasien lain yang sudah ada, seperti: menyalin seluruh atau sebagian rekam medis dan/atau data pasien lain. Juga klaim palsu, yaitu klaim atas layanan yang tidak pernah dilakukan kepada pasien, seperti penagihan tindakan medik operatif yang tidak pernah dilakukan, dan penagihan obat/alat kesehatan di luar paket INA-CBG yang tidak diberikan kepada pasien.

Dapat juga berupa tindakan penggelembungan tagihan obat dan alat kesehatan yang lebih besar dari biaya yang sebenarnya, seperti seorang pasien patah tulang dilakukan operasi ortopedi dengan menggunakan plate and screw 4 (empat) buah, namun ditagihkan lebih dari 4 (empat) buah. Dapat juga berupa obat pasien penyakit kronis pada rawat jalan yang seharusnya mendapat obat 1 (satu) bulan, tetapi obat yang diberikan untuk 2 minggu, namun ditagihkan biayanya selama 1 (satu) bulan.

Dapat juga berupa pemecahan episode pelayanan sesuai dengan indikasi medis, tetapi tidak sesuai dengan ketentuan. Ini merupakan klaim atas dua atau lebih diagnosis dan atau prosedur yang seharusnya menjadi satu paket pelayanan dalam episode yang sama, seperti dokter mengirimkan tagihan terpisah dari diagnosis yang sama, dengan hasil pemeriksaan penunjang atau laboratorium yang sebenarnya dapat digabungkan, menjadi terpisah menjadi 3 atau 4 pengajuan dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan lebih.

Tindakan menagihkan beberapa prosedur secara terpisah yang seharusnya dapat ditagihkan bersama dalam bentuk paket pelayanan, untuk mendapatkan nilai klaim lebih besar pada satu episode perawatan pasien dan tindakan operasi lebih dari satu diagnosa penyakit yang dapat dilaksanakan dalam satu tindakan namun dilakukan tindakan lebih dari satu dan diklaim terpisah dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan.

Ada juga rujukan semu merupakan klaim atas biaya pelayanan akibat rujukan ke dokter yang sama di Fasilitas Kesehatan lain kecuali dengan alasan keterbatasan fasilitas, karena jasa operasi yang didapatkan sedikit sehingga pasien. Dapat juga melakukan rujukan tanpa persetujuan pasien atau keluarga pasien ke rumah sakit dimana dokter itu berdinas. Dapat juga berupa tagihan atau klaim berulang pada kasus yang sama, seperti tagihan yang sudah pernah ditagihkan dan dibayarkan tetapi ditagihkan ulang. Yang lebih halus adalah memperpanjang lama perawatan untuk mendapatkan klaim atas biaya pelayanan kesehatan yang lebih besar bukan karena indikasi medis, seperti penggunaan ventilator yang diperpanjang waktunya.

Selain dalam tim pencegahan dan penindakan kecurangan, peran IDI sebenarnya lebih pada mengadvokasi secara etika medis agara para dokter anggotanya menjalankan implementasi pencegahan kecurangan di FKRTL atau RS, yang dilakukan dengan prinsip Good Clinical Governance, antara lain penetapan kewenangan dan uraian tugas dokter secara rinci, Standard Operational Procedure (SOP) layanan klinis yang mengacu kepada Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran (PNPK) dan atau pedoman lain yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan. Juga peningkatan kemampuan dokter yang berkaitan dengan Klaim, berupa pemahaman dan penggunaan sistem koding yang berlaku, meningkatkan ketaatan terhadap SOP, dan Dokter Penanggung Jawab Pelayanan Pasien (DPJP) wajib mengisi resume medis secara jelas, lengkap dan tepat waktu.

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) sebagai organisasi profesi dokter yang tunggal, seharusnya mampu berperan menjaga etika medis para dokter dalam memberikan layanan kepada pasiennya.

Yogyakarta, 2 November  2024

*) dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Alumnus S3 UGM, Pengurus MKEK IDI Wilayah DIY. WA :  081227280161

Categories
anak bayi prematur dokter Healthy Life sekolah

2024 Diabetes pada Anak

PENCEGAHAN  DIABETES  PADA ANAK

fx. wikan indrarto

Tulisan ini telah dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta pada Rabu, 27 November 2024.

baca : https://www.krjogja.com/opini/1245361913/diabetes-pada-anak

Diabetes adalah penyakit metabolik yang menyebabkan kadar gula darah menjadi tinggi. Penyakit ini sering dialami oleh orang dewasa, tetapi pencegahan harus dimulai pada usia anak. Menurut Federasi Diabetes Internasional (IDF), diperkirakan 1,1 juta anak dan remaja (di bawah usia 20) saat ini hidup dengan diabetes tipe 1 di seluruh dunia. Selain itu, lebih dari 132.000 anak dan remaja didiagnosis dengan diabetes tipe 1 setiap tahun, termasuk di Indonesia.

Ada banyak faktor yang dapat meningkatkan risiko anak mengalami diabetes tipe 1, mulai dari genetik atau keturunan karena gen seperti HLA-DR3 atau HLA-DR4, kerusakan organ pankreas tanpa penyebab yang jelas, atau mengalami infeksi virus dengan sistem kekebalan tubuh yang berfungsi secara keliru, yaitu justru menghancurkan sel penghasil insulin (islet) di pankreas. Diabetes tipe 1 merupakan tipe diabetes yang paling sering dialami oleh bayi, balita, dan anak usia awal SD. Hampir semua penyebab diabetes tipe 1 pada anak tidak dapat dicegah. 

Sedangkan diabetes tipe 2 biasanya rentan terjadi pada anak yang berusia di atas 10 tahun atau di awal masa pubertas. Penyebab diabetes tipe 2 pada anak meliputi lahir prematur atau berat badan rendah, pola makan yang kurang sehat, kurang aktif berolahraga, dan berat badan berlebih atau obesitas. Berbeda dengan diabetes tipe 1, hampir semua penyebab diabetes tipe 2 dapat dicegah.

Pencegahan agar bayi tidak lahir secara prematur atau BB lahir rendah adalah kontrol rutin ibu hamil (Ante Natal care atau ANC) minimal 4 kali selama kehamilan, mengelola stres ibu saat hamil, ibu mengonsumsi makanan sehat untuk mencukupi kebutuhan nutrisi selama hamil, dan menjaga kebersihan organ intim ibu selama hamil. Juga menghindari konsumsi minuman beralkohol, merokok, hingga menggunakan narkoba.

Tindakan pencegahan pada anak usia SD sampai SMP atau awal pubertas agar tidak mengalami BB berlebih atau obesitas, adalah dengan gaya hidup sehat, aktif berolah raga, hindari kebiasaan duduk lama, menghindari menu yang manis, gurih dan asin secara berulang. Peran orangtua sangat penting sebagai panutan dalam tindakan ini, apalagi kalau orangtua juga mengalami kondisi BB berlebih serupa.

Orangtua diharapkan memberi contoh untuk bangun lebih pagi, makan teratur dalam porsi yang wajar, makan menu rumahan atau masakan keluarga secara rutin, menu olahan atau pabrikan dan menu cepat saji hanya dikonsumsi sesekali saja, makan bersama segenap anggota keluarga sebagai acara yang menyenangkan, paling tidak dilakukan sekali sehari, juga tidur malam tidak terlalu larut.

Orangtua yang mengantar jemput anak ke sekolah, tempat les atau acara rutin anak lainnya, sebaiknya tidak diturunkan persis di gerbang. Sebaiknya diturun naikan sedikit agak jauh dan mintalah anak untuk berjalan kaki bersama teman-temannya. Kalau cukup memungkinkan untuk naik sepeda, berikan kepercayaan anak agar menaiki sepedanya ke tempat acara, merawat sepedanya agar tetap awet dan melatih kemandirian sejak dini.

Mari kita memberi contoh dan mengajak anak untuk rutin menerapkan perilaku hidup sehat dengan menjaga pola makan, memenuhi kebutuhan tidur dan mengajak mereka untuk melakukan aktivitas fisik atau olahraga. Tujuannya adalah untuk mencegah diabetes tipe 2, yang merupakan salah satu masalah kesehatan utama pada anak usia SD sampai SMP.

Sudahkah kita bijak?

Sekian

Yogyakarta, 19 November 2024

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?