Categories
Healthy Life Jalan-jalan

2024 From Russia with Love

MERAIH (BERUANG)  MERAH

fx. wikan indrarto

Setelah dari Doha, Qatar, petualangan kami selanjutnya adalah mengikuti International Conference on Pediatric Allergy and Immunology (ICPAI), Moskow, Rusia untuk meraih (beruang) merah. Apa yang menarik?

.

Eksistensi beruang di Rusia telah ada sejak zaman kuno. Pada abad pertengahan, orang Slavia memakai beruang jinak dan berkeliling ke seluruh daratan Rusia. Binatang yang mempunyai badan tinggi besar ini dianggap masyarakat Rusia sebagai hewan pintar layaknya anjing. Mereka yakin beruang bukan hewan yang berbahaya apabila mendapatkan didikan yang baik, bahkan beruang mampu menari, melakukan sulap, juga meminta-minta. Akhirnya, mulai tahun 1526 kisah beruang Rusia yang unik tersebut menyebar ke penjuru dunia. Sebutan ‘Beruang Merah’ sebagai representasi ‘Red Army’ dari tentara Rusia. Warna merah di lambang ‘Red Army’ mempunyai arti perjuangan pekerja dalam merenggut kembali setiap keadilan. Petualangan ke Rusia kami lakukan dengan gigih meniru perjuangan Beruang Merah yang tanpa kenal lelah.

Di konter Aeroflot, maskapai penerbangan nasional Rusia, di Bandara Moscow

Kami terbang dari Doha, Qatar selama 5 jam 20 menit ke Moscow dalam perut pesawat Qatar Airways QR 337 sebuah Boeing 787-8 (Dreamliner), yaitu pesawat penumpang sipil berbadan lebar ukuran sedang yang diproduksi oleh Boeing Commercial Airplanes dan memulai pelayanan pada 2011. B787 membawa antara 242 – 335 penumpang tergantung konfigurasi tempat duduk, dan lebih efisien bahan bakar. Seri 787 juga menjadi pesawat penumpang pertama yang menggunakan material komposit di kebanyakan konstruksinya. Boeing 787-8 adalah model dasar dari keluarga 787, dengan panjang 57 meter dan lebar sayap 60 meter dan memiliki jarak tempuh 14.200 hingga 15.200 kilometer. Seri 787-8 memiliki 210 kursi penumpang dalam konfigurasi tiga kelas. Maskapai penerbangan asal Jepang, ANA (All Nippon Airways) menjadi maskapai pemakai pertama.

.

Dari Doha, Qatar kami terbang sejauh 3.621 km dengan kecepatan 913 km/jam dan ketinggian 11.582 m untuk mendarat di Sheremetyevo International Airport Terminal C Moscow, yang merupakan bandara tersibuk di Rusia, melayani sekitar 50 juta penumpang pada 2019, dan menduduki peringkat sebagai bandara tersibuk kedelapan di Eropa. Ada 5 bandara internasional dan komersial utama di Moscow, yaitu Sheremetyevo (SVO), Domodedovo (DME), Vnukovo (VKO), Zhukovsky (ZIA), dan Ostafyevo (OSF). Bandar Udara Internasional Sheremetyevo adalah pintu masuk utama untuk turis asing, mendatangkan 60% dari seluruh jumlah penerbangan internasional.

Kami mendarat di Terminal C Bandara Internasional Sheremetyevo (SVO) Moscow, Russia dalam dekapan dingin malam 4 derajat C

Bandara ini juga menjadi rumah bagi semua anggota SkyTeam, dan penghubung utama bagi Aeroflot. Domodedovo adalah bandara dengan jumlah penumpang terbesar di Rusia dan pintu masuk utama untuk penerbangan domestik jarak jauh dan destinasi kawasan CIS (The Commonwealth of Independent States). CIS beranggotakan semua negara bekas Uni Soviet, yaitu Armenia, Azerbaijan, Belarus, Kazakhstan, Kirgizstan, Moldova, Rusia, Tajikistan, dan Uzbekistan. Sebagian besar anggota Star Alliance menggunakan Domodedovo sebagai penghubung internasional utama.

.

Sedangkan Bandara Vnukovo digunakan oleh maskapai Turkish Airlines, Lufthansa, Transaero dan beberapa maskapai lain. Bandara Ostafyevo digunakan untuk bisnis penerbangan. Bandar udara di Moskwa jaraknya bervariasi dari pusat kota: Domodedovo paling jauh, berjarak 22 km; Vnukovo berjarak 11 km; Sheremetyevo berjarak 10 km; dan Ostafievo berjarak 8 km dari MKAD. Ada juga bandara lain yang lebih kecil dekat dengan Moskwa seperti Bandar Udara Myachkovo, digunakan untuk pesawat pribadi, helikopter, dan penerbangan charter.

.

Kami mendarat menjelang tengah malam dan segera menuju ke Mini-hotel Nikitskaya yang berlokasi di Bolshaya Nikitskaya ulitsa, d. 22/2, Moscow, Russia, untuk segera terlelap. Sebelum terlelap, kami membayangkan bahwa dengan wilayah seluas 17.125.191 km², maka Rusia adalah negara terluas di dunia. Wilayahnya mencakup seperdelapan luas daratan bumi, penduduknya menduduki peringkat kesembilan terbanyak di dunia dengan jumlah sekitar 147.190.001 jiwa (2021). Wilayahnya membentang sepanjang Asia Utara dan sebagian Eropa timur, Rusia memiliki 11 zona waktu dan wilayahnya terdiri dari berbagai tipe lingkungan dan tanah.

.

Sejarah Rusia diawali dengan perpindahan bangsa-bangsa Skandinavia yang dikenal sebagai bangsa Varangia yang dipimpin oleh tokoh semilegendaris Rurik yang menyeberangi Laut Baltik serta pada tahun 862 M memasuki Kota Novgorod dan memerintah di sana. Sejak itu, cikal bakal Rusia dimulai dari Dinasti Rurik pada tahun 862, Rus’ Kiev (882) dengan masa keemasan pemerintahan jaman Vladimir Agung (980–1015) dan putranya Yaroslav the Wise (1019–1054). Selanjutnya Keharyapatihan Moskow (Grand Duchy of Moscow) (1283) dengan masa keemasan saat dipimpin oleh Ivan III (Agung Seluruh Rusia), Ketsaran Rusia mulai 16 Januari 1547 dengan masa kejayaan pada saat dimpin oleh Tsar Ivan IV (Mengerikan atau Ivan the Terrible), Kekaisaran Rusia mulai 22 Oktober 1721 jaya saat dipimpin oleh Kaisar Yekaterina II (Kaisar Agung) memerintah 1762–1796 dan Kaisar Rusia terakhir Nikolai II (1894–1917) yang tidak dapat mencegah Revolusi 1905 untuk melahirkan Republik Rusia mulai 14 September 1917.

.

Revolusi Oktober 1905 yang dipimpin oleh pemimpin Bolshevik, Vladimir Lenin mendepak Pemerintah Provisional Kaisar Nikolai II dan mendirikan negara sosialis pertama di dunia. Kemudian menjadi Uni Soviet mulai 30 Desember 1922 dengan pimpinan utama Joseph Stalin, Sekretaris Jenderal Partai Komunis Uni Soviet yang mampu menyingkirkan lawan politik terberat, yaitu Leon Trotsky.

.

Pemimpin terakhir Uni Soviet adalah Mikhail Gorbachev, yang berusaha untuk memberlakukan reformasi liberal dalam sistem Soviet, memperkenalkan kebijakan glasnost (keterbukaan) dan perestroika (restrukturisasi) untuk mencoba mengakhiri periode stagnasi ekonomi dan mendemokratisasi pemerintah. Dampaknya justru pada 25 Desember 1991, Uni Soviet bubar menjadi 15 negara yang terpisah dengan terbentuknya CIS (The Commonwealth of Independent States). CIS beranggotakan semua negara bekas Uni Soviet, yaitu Armenia, Azerbaijan, Belarus, Kazakhstan, Kirgizstan, Moldova, Federasi Rusia, Tajikistan, dan Uzbekistan. Boris Yeltsin terpilih sebagai presiden pertama ketika menjadi Federasi Rusia bulan Desember 1991 setelah bubarnya Uni Soviet.

Membuat laporan menjelang tidur lelap di dapur penginapan kami di Moscow, kecil tetapi penuh perlengkapan rumah tangga.

.

Malam itu kami terlelap dalam mimpi tentang Negeri Beruang Merah Rusia di kamar Mini-hotel Nikitskaya yang berlokasi di Bolshaya Nikitskaya ulitsa, d. 22/2, Moscow, Russia.

(bersambung)

Selasa tengah malam, 7 Mei 2024

Salam pengelana

-wikan dan sari

KONGKOW  DI  MOSCOW HARI PERTAMA

fx. wikan indrarto

(sambungan)

Kongkow berasal dari Bahasa Tionghoa yang berarti kumpul-kumpul atau biasa disebut oleh anak remaja era sekarang sebagai nongkrong atau nongki. Di sela-sela acara International Conference on Pediatric Allergy and Immunology (ICPAI), kami sempat kongkow di Moscow, Rusia pada Rabu, 8 Mei 2024. Apa yang mengesankan?

.

Berkat kebaikan hati kakak kelas kami di SMP Bruderan Purworejo, Jawa Tengah, yang menjadi Tenaga Ahli Profesional Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Taprof Lemhannas RI), yaitu mas Putut Prabantoro, SH, kami dihubungkan dengan Wakil Duta Besar RI di Moscow. Mantan Direktur Pengkajian Ideologi dan Politik Lemhannas RI Drs. Berlian Helmy, M.Ec. yang saat ini menjadi wakil Duta Besar Drs. Jose Antonio Morato Tavares, MA yang dilantik oleh Presiden Joko Widodo pada 25 Februari 2016. Diutuslah Pak Besyen, sopir Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dengan sedan Mercedez Benz tipe terbaru untuk menjemput kami di penginapan, agar datang ke KBRI di Moskow, yang resmi dibuka setelah Duta Besar Indonesia pertama untuk Uni Soviet, Soebandrio, menyerahkan surat kepercayaan kepada Ketua Presidium Tertinggi Uni Soviet, Kliment Yefremovich Voroshilov, pada tanggal 13 April 1954.

Mr. Besyen, sopir Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dengan sedan Mercedez Benz tipe terbaru ditugaskan untuk menjemput kami di penginapan.

Sejak tahun 1954, KBRI Moskow telah pindah dua kali. Pertama dari lokasi awal di Hotel Metropole ke Sadovo-Somatechnaya 14. Kemudian ke lokasi saat ini di Novokuznetskaya Ulitsa 12–14. Gedung nomor 12 adalah kantor KBRI, sedangkan gedung nomor 14 adalah Wisma Duta, kediaman resmi duta besar. Bangunan yang pertama adalah bekas kediaman Bangsawan Rusia Protopopov-Tatischev yang dibangun pada tahun 1900-an dan didesain oleh Vladimir Sherwood. Antara tahun 1911–1913, bangunan ini diperluas oleh Gustav Helrich. Bangunan yang kedua adalah kediaman pangeran-pangeran Ouroussoff yang dibangun pada tahun 1912 dan didesain oleh Ivan Rerberg.

Kami diterima oleh YM Bapak Drs. Berlian Helmy, M.Ec Wakil Duta Besar Indonesia di Moskow di ruang tamunya yang indah

Kami mendapatkan penjelasan lisan dari Bapak Drs. Berlian Helmy, M.Ec tentang sejarah, budaya, pendidikan, sastra, politik dan diplomasi warga Rusia. Di ruang kerja pribadinya yang artistik dan indah, kami dijelaskan juga bahwa akan ada banyak senyawa yang tersembunyi di balik kebesaran yang agung Rusia sebagai sebuah bangsa, bukan sebagai sebuah negara. Selanjutnya Bapak Theo Sunarjaya (sekretaris, asli Malang Jawa Timur yang beristri Ny Tatiana asli Rusia) dan Mr. Besyen (sopir, asli Tajikiztan) diutus untuk menemani kami keliling Moskow dengan sedan elite Mercedez Benz S 580 4 MATIC lainnya.

Bapak Drs. Berlian Helmy, M.Ec Wakil Duta Besar RI di Moskow melepas kami di gerbang KBRI Moscow

Tertulis nama Drs. Djauhari Oratmangun, MSi (senior kami di Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta) sebagai duta besar pada 2012-2016, di samping kami saat bersama Bapak Drs. Berlian Helmy, M.Ec Wakil Duta Besar RI di Moskow

Segera kami bergegas menjelajah kota Moskwa atau Moskow, pada akhir musim semi yang masih minyisakan hujan. Moskwa adalah ibu kota Rusia sekaligus pusat politik, ekonomi, budaya, dan sains utama di negara tersebut. Moskwa adalah kota berpenduduk terbanyak di Rusia dan Eropa serta menjadi kawasan urban terbesar ke-6 di dunia. Berdasarkan sensus tahun 2021, Moskwa memiliki penduduk sebesar 13 juta jiwa. Menurut Forbes di tahun 2011, Moskwa merupakan kota yang paling banyak dihuni oleh orang terkaya di dunia.

Kota ini pertama kali disebut keberadaannya pada tahun 1147. Sebelumnya, Moskwa juga pernah menjadi ibu kota Ketsaran Rusia hingga dipindahkan oleh Pyotr yang Agung pada masa Kekaisaran Rusia ke Sankt-Peterburg, sebuah kota baru yang dibangun di pesisir Laut Baltik yang direbut dari Swedia, setelah kalah perang melawan Rusia. Pasca Revolusi Oktober atas prakarsa Vladimir Lenin, Moskwa kembali menjadi ibu kota RSFS Rusia sekaligus Uni Soviet di tahun 1922–1991. Dan pasca runtuhnya Uni Soviet, Moskwa menjadi ibu kota Federasi Rusia hingga sekarang.

Tujuan pertama kami adalah Gereja Katedral Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda di Moskow, Rusia

Tujuan pertama kami adalah Katedral Moskow atau yang bernama lengkap Gereja Katedral Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda adalah sebuah gereja katedral Katolik berarsitektur Neogotik. Katedral ini berfungsi sebagai pusat kedudukan dan takhta bagi Keuskupan Agung Moskow. Gedung yang terletak di kawasan Okrug Administratif Pusat ini adalah salah satu dari tiga gereja Katolik di kota Moskow, dan merupakan gereja Katolik terbesar di Rusia.

Rencana pembangunannya disetujui Menteri Dalam Negeri Kekaisaran Rusia pada tahun 1894. Upacara peletakan batu pertama terselenggara pada tahun 1899, dan pembangunannya dilaksanakan mulai tahun 1901 sampai rampung sepuluh tahun kemudian. Gereja katedral berselasar tiga ini dibangun menggunakan bata merah dengan mengacu kepada gambar rancangan karya arsitek Tomasz Bohdanowicz-Dworzecki. Corak bangunannya dipengaruhi bentuk gereja Biara Westminster di Inggris  dan gereja Katedral Milan di Italia.

Selesai berdoa dan mengucap syukur atas semua kebaikan hati Tuhan Yang Maha Baik di Gereja Katedral Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda di Moskow, Rusia

Seusai Revolusi Rusia tahun 1917, kaum Bosyewik menggulingkan Kaisar Nikolas II dan Rusia akhirnya menjadi bagian dari Uni Soviet pada tahun 1922. Karena propaganda ateisme oleh negara adalah salah satu unsur ideologi Marxisme–Leninisme, banyak gereja yang disegel pemerintah Uni Soviet. Gereja ini disegel pada tahun 1938. Bangunan ini sempat hendak dirubuhkan ketika Perang Dunia II sedang berkecamuk, tetapi akhirnya digunakan untuk kepentingan sipil seusai perang, mula-mula sebagai gudang, kemudian sebagai asrama. Sesudah Komunisme tumbang pada tahun 1991, bangunan ini kembali difungsikan sebagai rumah ibadat umat Katolik pada tahun 1996. Pada tahun 2002, statusnya dinaikkan menjadi katedral. Sesudah menjalani rekonstruksi dan renovasi besar-besaran, gereja ini akhirnya diberkati ulang pada tahun 2005.

.

Pada abad ke-21, sesudah 58 tahun lamanya digunakan untuk berbagai keperluan di luar agama, gereja katedral ini kembali menjadi tempat penyelenggaraan ibadat dalam berbagai bahasa (Rusia, Polandia, Korea, Inggris, Prancis, Spanyol, Armenia, dan Latin). Orgel yang ada sekarang di gereja tersebut adalah orgel ketiga semenjak gereja ini pertama kali berdiri, dan merupakan hibah dari gereja Basler Münster di Jerman. Di Gereja Katedral Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda Moskow yang kini terdaftar sebagai salah satu bangunan warisan sejarah dan monumen yang dilindungi negara Federasi Rusia, kami berdoa dan mengucap syukur atas semua kebaikan hati Tuhan Yang Maha Besar.

.

Selanjutnya kami mengikuti sejenak International Conference on Pediatric Allergy and Immunology (ICPAI), yang berbeda dengan konggres ilmiah yang biasanya kami ikuti di sebuah hotel atau gedung pertemuan, tetapi kali ini diselenggarakan di Sechenov University Congress Center, tepatnya di 8 Trubetskaya str., bldg. 2 Moscow. Sebagai tuan rumah (hosts of congress) adalah Moscow State Budgetary Healthcare Institution, Sechenov University, dan Ministry of Health of the Russian Federation.

.

Sambutan pembukaan acara oleh Rudolf Valenta (Professor for Allergology at the Medical University of Vienna, vice-president of the European Academy for Allergy and Clinical Immunology). Sesi pertama yang kami ikuti adalah presentasi Laura Vidivocy (United Kingdom) yang berjudul : 5-year patient-reported outcomes after oral immunotherapy using heat-modified peanuts: results from the BOPI (Boiled Peanut Oral Immunotherapy) study. Sebenarnya kurang menarik, tetapi kami melanjutkan sesi berikutnya oleh Margarita Areina (Portugal) dengan tema Immunotherapy with Vespa velutina nigrithorax venom: safety of ultra-rush protocol and preliminary clinical results, yang ternyata justru lebih tidak menarik hati. Sesi selanjutnya oleh Jose Alexandro Huertis Guzman (Spain) berjudul : Safety of a cluster strategy, effectiveness and immunological changes in allergic children sensitized to house dust mites with native and modified subcutaneous immunotherapy treatment.

Makan siang menu khas Rusia di Restoran Zaryadye, pinggiran Lapangan Merah Moskow

Setelah sesi istirahat pertama, kami segera pamit undur diri dari pertemuan dan melanjutkan petualangan kami di Moscow Red Square atau Lapangan Merah. Kami menikmati makan siang menu khas Rusia di Restoran Zaryadye, berupa borsh (sup buah bit), lagman (sup dengan mie), salad cesar, pancake dengan irisan salmon asin dan apokat hijau, iga bakar, teh dengan raspberries dan borsh smetana (cream), di pinggiran Lapangan Merah, kami segera kongkow sejenak di taman yang indah, sebelum melanjutkan perjalanan ke Saint Basil Cathedral yang menjadi ikon kota Moskow.

Kongkow di Moskow sejenak di taman yang indah setelah makan siang, sebelum melanjutkan perjalanan ke Saint Basil Cathedral, Moskow

Merupakan gereja yang memiliki banyak kubah dengan bentuk seperti bawang dengan warna yang beraneka ragam dan menarik. Bangunan yang didirikan tahun 1555-1561 ini tidak terlalu besar, dan terdiri dari sembilan kapel yang dibangun dengan pondasi tunggal, menjadi mirip istana dengan atap berbentuk bawang berwarna-warni, sebagai simbol posisi unik Rusia di antara Eropa dan Asia, yang pembangunannya selesai pada tahun 1560. Nama resminya adalah Katedral Vasily yang Diberkati, Katedral Syafaat Theotokos Mahakudus di Parit, atau Katedral Pokrovsky atau lebih dikenal sebagai Katedral Santo Basilius.

Setelah kongkow di Moskow, segara kami berjalan menyusuri taman menuju Saint Basil Cathedral

Pembangunan katedral ini diprakarsai oleh Tsar Ivan IV Vasilyevich dan dibangun antara 1555 dan 1561 untuk memperingati direbutnya Kekhanan Kazan. Pada 1588 Tsar Fedor Ivanovich menambahkan sebuah kapel di sisi timur di atas kuburan Basil yang Diberkati (yurodivy Vassily Blazhenny), seorang santo Ortodoks Rusia yang dijadikan sebagai nama katedral ini. Sebagai bagian dari program ateisme negara, gereja ini disita dari komunitas Ortodoks Rusia dalam kampanye anti-agama di Uni Soviet, dan diubah menjadi Museum Sejarah Negara sejak 1928. Meskipun negara menjadi benar-benar sekuler pada tahun 1929, tetapi gereja ini tetap menjadi milik pemerintah Federasi Rusia dan dengan pembubaran Uni Soviet pada tahun 1991, layanan ibadah mingguan agama Kristen Ortodoks dengan doa-doa ke Santo Basil telah dipulihkan sejak 1997.

Dalam guyuran hujan salju di depan Saint Basil Cathedral Moskow, Rusia

Sayang sekali, saat kami datang segera turun hujan salju dan suhu mengigit sampai minus 1 derajat C. Untunglah kami dipinjami baju hangat Bapak Theo dan kami hanya dapat berfoto dari kejauhan dengan latar belakang Katedral Santo Basil dalam guyuran hujan salju. Keindahkan katedral yang mengikuti banyak gereja beratap kerucut pada masa yang sama, khususnya Gereja Kenaikan di Kolomenskoye (1530) dan Gereja Pemenggalan Kepala Santo Yohanes Pembaptis di Dyakovo (1547), jadi tidak nampak nyata. Konsep awal katedral ini adalah sebuah kumpulan kapel, masing-masing dipersembahkan kepada setiap santo yang hari pestanya jatuh pada saat Tsar menang dalam suatu pertempuran. Menurut legenda, Tsar Ivan memerintahkan agar sang arsitek, Postnik Yakovlev, dijadikan buta agar ia tidak membangun bangunan yang lebih indah untuk orang lain.

Dalam dingin mencekam karena guyuran hujan salju di GUM dekat Saint Basil Cathedral Moskow, Rusia

Oleh karena hujan salju tidak semakin reda dan kami menjadi kedinginan, maka oleh Bapak Theo diajak turun masuk ke dalam Stasiun Metro Moskow, untuk menghangatkan badan. Kota Moscow ini dilayani oleh jaringan transportasi yang tersebar di seluruh penjuru kota, termasuk di dalamnya empat bandar udara internasional, sembilan stasiun kereta api, dan sistem kereta api bawah tanah (Metro Moskow) yang jumlah penumpangnya hanya kalah dari Tokyo dan Seoul. Sistem kereta api bawah tanahnya ini juga merupakan salah satu penanda kota ini, selain Kremlin dan Katedral Santo Basil, karena arsitektur di 194 stasiunnya yang beragam.

Bergaya di Stasiun Metro Ploshchad Revolyutsii di bawah tanah, yang memiliki koleksi 76 patung perunggu, di dinding lorongnya

Dibangun sejak tahun 1930-an, stasiun kereta bawah tanah Moscow (Metro Underground) boleh dikatakan salah satu tempat tercantik di dunia. Tiap stasiun punya kisah masing-masing seperti buku cerita. Seluruhnya dihias karya seniman terbaik era Uni Soviet plus lampu-lampu kristal dengan logam gemerlap. Pintu kereta hanya terbuka 3 menit, sehingga para penumpang harus dapat bergerak cepat. Kami turun ke Stasiun Metro Ploshchad Revolyutsii yang memiliki koleksi 76 patung perunggu, termasuk patung seorang pejuang bersama anjing. Mitos mengatakan bila kita  membelai moncong anjingnya, maka akan kembali lagi ke Rusia. Bagian moncong anjing dan bagian lain di patung yang lain menjadi jauh lebih mengkilap dibandingkan bagian lain, karena seringnya dibelai oleh para penumpang.

Kepadatan penumpang di Metro Moskow yang jumlah penumpangnya hanya kalah dari Metro Tokyo dan Seoul

Hingga tahun 2023, Metro Moskow (tidak termasuk Jalur Lingkar Moskow, Jalur Tengah Moskwa, dan Monorel Moskwa) telah memiliki 294 stasiun dan panjang rute 514,5 km, tidak termasuk monorel kereta ringan, menjadikannya metro terpanjang ke-8 di dunia dan terpanjang di luar Tiongkok. Metro Moskow adalah jaringan metro ke-3 di dunia (setelah Madrid dan Beijing), yang memiliki dua jalur lingkar. Jaringan ini sebagian besar berada di bawah tanah, dengan bagian terdalam 84 meter di bawah tanah di stasiun Park Pobedy, salah satu stasiun bawah tanah terdalam di dunia. Metro Moskow adalah sistem metro tersibuk di Eropa, tersibuk di dunia di luar Asia, dan dianggap sebagai daya tarik wisata tersendiri. Metro Moskow adalah pemimpin dunia dalam hal frekuensi lalu lintas kereta api (interval selama jam sibuk tidak melebihi 90 detik). Pada bulan Februari 2023, Moskow menjadi kota pertama di dunia yang mengurangi interval kereta metro menjadi 80 detik. Dari 241 stasiun metro, 88 berada jauh di bawah tanah, 123 di bawah tanah, 12 di permukaan, dan 5 layang.

Salah satu dari lima kubah Gereja St. Clement Ortodoks di Moskow

Atas kebaikan hati Bapak Theo yang menyediakan uang tunai Rubel yang harus diambilnya dari mesin ATM, kami kongkow di Moskow lagi sambil menunggu prosesnya di dekat Gereja St. Clement, yang merupakan salah satu dari dua gereja Ortodoks di Moskow yang didedikasikan kepada Paus Katolik Roma, St. Clement I. Gereja besar berlantai lima dengan lima kubah dulunya mendominasi cakrawala Zamoskvorechye ini dibangun antara tahun 1762 dan 1769. Gereja ini dianggap sebagai contoh utama gaya Elizabethan Baroque, tetapi arsiteknya tidak diketahui secara pasti, meski sering dikaitkan dengan Pietro Antonio Trezzini, arsitek Katedral St Sampson di kota St. Petersburg. Menara tempat lonceng bergantung dan ruang makan dirancang oleh Dmitry Ukhtomsky dan dibangun pada tahun 1756—1758.

Interior gaya Barok dan ikonostasisnya yang berkilauan, serta serangkaian pagar berlapis emas buatan abad ke-18 .di Gereja St. Clement Ortodoks di Moskow

Gereja ini terkenal dengan interior gaya Barok dan ikonostasisnya yang berkilauan, serta serangkaian pagar berlapis emas buatan abad ke-18. Paroki itu dibubarkan pada tahun 1934 dan gerbang asli yang berdiri sendiri dibongkar. Perpustakaan Negara Lenin menyimpan buku-bukunya di gedung tersebut selama periode Soviet. Baru pada tahun 2008 bangunan tersebut dikembalikan ke Gereja Ortodoks Rusia .

Selanjutnya kami pulang sendiri naik Metro Moskow dengan tiket yang kami beli di mesin anjungan menuju Stasiun Metro Ploshchad Revolyutsii. Setelah kami bertanya ke lebih dari 4 orang di jalan, karena kami tidak memiliki sambungan internet, tentu tidak mampu membuka googlemaps, dan menempuh 1,4 km selama 9 menit, akhirnya kami berhasil kembali ke penginapan. Malam itu kami terlelap kelelahan setelah kongkow di Moskow.

(bersambung)

Dilaporkan dan disebarkan dari Mini-hotel Nikitskaya yang berlokasi di Bolshaya Nikitskaya ulitsa, d. 22/2, Moscow, Russia.

Rabu malam, 8 Mei 2024

Salam pengelana

-wikan dan sari

KONGKOW  HARI  KEDUA DI  MOSCOW

fx. wikan indrarto

Kumpul-kumpul, nongkrong, nongki, atau kongkow di Moscow kami lakukan lagi di sela-sela acara International Conference on Pediatric Allergy and Immunology (ICPAI) pada Kamis, 9 Mei 2024. Apa yang menarik?

Lambang bintang dan medali kemenangan Rusia  dengan tulian MAR (huruf R terbalik dibaca Mei) ditempel di banyak tempat. Setiap tanggal 9 Mei dinyatakan sebagai “Hari Kemenangan” Uni Soviet. Pemimpin Soviet Josef Stalin menetapkan sebagai hari libur nasional, dan mengadakan parade kemenangan pertama di Lapangan Merah, yang menampilkan lambang Jerman yang direbut pada 1945.

Setiap tanggal 9 Mei di Rusia dinyatakan sebai hari libur nasional, yaitu sebagai Hari Kemenangan. Pada hari tersebut Rusia menggelar parade militer, konser meriah, dan pawai kendaraan militer atau alat tempur lainnya, untuk memperingati kemenangan dalam Perang Patriotik Hebat.  Peringatan atas kemenangan Uni Soviet dari Nazi Jerman, dalam Perang Patriotik Hebat terjadi pada 1941-1945 dengan menguasai kota Berlin. Pada perayaan tersebut dibuka dengan parade seremonial di Lapangan Merah, Moscow. Kantor berita resmi Rusia TASS, melaporkan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin memeriksa parade tersebut sebagai panglima tentara Rusia tertinggi untuk ke-21 kalinya. Menteri Pertahanan Rusia Sergey Shoigu mengatakan lebih dari 9.000 orang, 26 pesawat dan 75 unit peralatan militer ambil bagian dalam parade di Lapangan Merah.  Secara keseluruhan, parade militer juga berlangsung di 28 Kota di seluruh Rusia dan melibatkan lebih dari 50.000 tentara dan sekitar 1.000 item persenjataan, serta perangkat keras militer.

Mendekati seorang serdadu Rusia bersenjata yang menjaga tank dan kendaraan tempur lainnya untuk persiapan parade kemenangan Rusia di Moscow

Turut menyaksikan parade tadi pagi adalah Presiden Belarus Alexander Lukashenko, Presiden Kazakhstan Kassym-Jomart Tokayev, dan Presiden Tajikistan Emomali Rahmon. Selain itu, juga Presiden Turkmenistan Serdar Berdimuhamedow, Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel, Presiden Laos Thongloun Sisoulith, dan Presiden Guinea-Bissau Umaro Sissoco Embalo.

Bersama para penonton lainnya, kami tertahan di Jalan Gazetnyy Pereulok, sekitar 150 m dari batas steril Lapangan Merah Moscow

Sayang sekali, kemegahan parade tersebut tidak dapat kami lihat sendiri secara langsung, karena kami tertahan di Jalan Gazetnyy Pereulok, sekitar 150 m dari batas steril Lapangan Merah yang dijaga banyak personil militer Rusia. Semua penonton tetap kidmat antri untuk melihat parade kemenangan tersebut, meski suhu udara luar mengigit mencapai minus 2 derajat dan setelah kongkow di pusat Moscow sebentar, kami putuskan untuk mundur balik badan meninggalkan arena tersebut.

Menggigil kedinginan dalam minus 2 derajat dengan salju yang menyelumuti sebuah patung dan dedaunan, di pinggir Jalan Bol’shaya Nikitskaya Ulitsa, dekat Lapangan Merah Moscow

Selanjutnya kami mengikuti International Conference on Pediatric Allergy and Immunology (ICPAI) di Sechenov University Congress Center, tepatnya di 8 Trubetskaya str., bldg. 2 Moscow, Russia. Sesi hari kedua atau hari terakhir dimulai presentasi Selena Janković (Serbia) dengan tema Effect of allergen specific immunotherapy on PFS symptoms. Yang menurut kami lebih menarik adalah ‘tips and trick’ Julius Lemanske, Jr. (USA) berjudul : Back to School with Allergies and Asthma. Hal ini karena hri pertama sekolah merupakan saat yang menyenangkan bagi anak dan orang tua. Namun demikian, ini juga mungkin menjadi saat kecemasan jika anak menderita asma atau alergi. Untuk itu, dianjurkan agar orangtua menyiapkan segalanya ‘Sebelum Bel Pertama Berbunyi’, dengan melakukan persiapan sebelum tahun ajaran baru dimulai, agar orangtua dapat merasa percaya diri mengantar anak ke kelas.

.

Pastikan anak meminum obat asma atau alergi sesuai resep. Pertahankan rutinitas ini selama hari sekolah, agar dosisnya tidak terlewatkan. Melewatkan pengobatan dapat menyebabkan peningkatan gejala, yang seringkali berarti lebih sedikit waktu untuk belajar. Tergantung pada derajat alergi anak, orangtua mungkin baik untuk melakukan hal berikut, yaitu kelilingi sekolah untuk mengidentifikasi potensi pemicu asma atau alergi, berbicara dengan guru, termasuk pelatih olahraga, tentang kondisi anak dan rencana perawatannya. Di dalam ruang kelas anak, sangat mungkin ada banyak potensi pemicu alergi dan asma. Sangat penting bahwa alergi anak didiagnosis secara akurat untuk menentukan alergen apa yang harus dihindari. Jika anak belum menjalani tes, buatlah janji dengan dokter ahli alergi/imunologi. Pemicu asma dan alergi yang umum di dalam kelas meliputi tungau debu, limbah cetakan, debu kapur dan bulu binatang. Sesi istirahat di sekolah, baik pertama ataupun kedua, sangat mungkin merupakan waktu paling favorit bagi banyak anak. Namun bagi anak yang memiliki alergi atau asma, waktu istirahat dapat menjadi ladang ranjau yang berpotensi menjadi pemicunya.

.

Presentasi Sophie Karra (France) berjudul Adult outcomes of childhood wheezing phenotypes are associated with early life factors, sangat inspiratif. Selanjutnya Francesco Foppiano Florez Estrada (Germany) menjelaskan tentang Differential gene expression analysis in ten year old asthmatic children from the PASTURE cohort dan Hui-Ju Tsai (Taiwan) menerangkan tentang Comparative Risk of Neuropsychiatric Adverse Events Associated With Leukotriene-Receptor Antagonists Versus Inhaled Corticosteroids Among Asthma Patients.

.

Sesi terakhir adalah Helena Martin-Gonzalez (Spain) : Epigenome-wide association study of asthma exacerbations in European populations dan Sophie Carra (France) lagi denganjudul berbeda, yaitu Natural history of methacholine bronchial hyperresponsiveness across the life-course and its associated risk factors. Kami mengikuti sambutan penutup acara oleh Victor Fomin (Chief external specialist at Moscow Healthcare Department, First Moscow State Medical University).

Gapura kemenangan “Triumphal Arch of Moscow” yang hanya selama bulan Mei ini dilengkapi dengan tulisan Moskow Kota Kemenangan di Victory Square Jalan Kutuzovsky Prospekt, bercerita tentang keberhasilan Rusia mengalahkan Perancis.

Selanjutnya kami turut bergembira dalam kemenangan Rusia, bukan hanya saat mengalahkan Nazi Jerman pada Perang Dunia II yang dirayakan di Lapangan Merah, tetapi juga kemenangan atas laskar Perancis, dengan menikmati kemegahan Lapangan Kemenangan atau Victory Square. Kita perlu mengingat bahwa Moscow memiliki bangunan gapura yang serupa dengan Arc de Triomphe yang ada di Paris bernama “Triumphal Arch of Moscow.” Monumen gapura ini menjadi salah satu destinasi wajib karena keunikan kisahnya. Jika yang di Paris bercerita tentang Napoleon menang dalam pertempuran Austerlitz, maka yang di Moscow bercerita tentang keberhasilan Rusia mengalahkan Napoleon. Pertempuran Austerlitz atau yang dikenal dengan nama Pertempuran Tiga Kaisar, adalah salah satu dari sekian kemenangan besar yang diraih oleh Napoleon. Pada tanggal 2 Desember 1805, pasukan Prancis yang dipimpin oleh Napoleon secara meyakinkan mengalahkan tentara gabungan Rusia-Austria yang dikomandani oleh Tsar Alexander I setelah mereka bertempur sengit selama 9 jam di berbagai sektor. Pertempuran ini terjadi di daerah Austerlitz sekitar 20 kilometer timur kota Brno di Moravia Republik Ceko. Pertempuran ini sering disebut sebagai perang strategi yang cemerlang.

.

Awalnya, monumen tersebut didirikan tahun 1814 dari kayu oleh veteran perang Napoleon. Lalu dibuat kembali dari marmer di tahun 1827 oleh desainer Joseph Bove. Tahun 1936 gapura ini diruntuhkan karena rekonstruksi kota Moscow oleh Joseph Stalin. Di tahun 1960an gapura ini kembali dibangun dan ditempatkan di Kutuzovsky Avenue yang kini dikenal sebagai Victory Square. Jalan Kutuzovsky Prospekt adalah sebuah jalan radial utama yang sangat lebar, lurus dan ramai di Moskwa, Rusia, dinamai menurut nama Mikhail Illarionovich Kutuzov, pemimpin pasukan lapangan Rusia selama invasi Prancis ke Rusia tahun 1812.

Patriotisme pasukan Rusia dahulu dan sekaranng yang mengagumkan

Invasi Prancis ke Rusia juga dikenal sebagai Perang Patriotik 1812, dimulai 24 Juni 1812 ketika pasukan Prancis yang dipimpin Napoleon Bonaparte menyeberangi sungai Neman di Eropa Timur, dengan tujuan untuk mengalahkan pasukan Rusia. Nama Neman, Nemunas, Nyoman, Niemen atau Memel adalah sungai besar di Eropa Timur yang mengalir dari wilayah Belarus, melalui Lituania hingga akhirnya bermuara di Laguna Curonia. Sungai ini bermula di pertemuan dua sungai kecil sekitar 15 km di sebelah barat daya kota Uzda dan sekitar 55 km di sebelah barat daya kota Minsk, Ibu Kota Belarusia. Napoleon mendesak Tsar Alexander supaya menghentikan perdagangan antara Rusia dengan Inggris, dengan tujuan memaksa Inggris berdamai dengan Prancis. Napoleon menamakan perang tersebut Perang Polandia Kedua, untuk menarik simpati dan dukungan dari rakyat Polandia, juga sebagai pembenaran politik atas perang tersebut.

.

Kita perlu mengenal nama Borodino, sebuah desa di Distrik Mozhaysky di Oblast Moskow, Rusia, yang terletak 13 kilometer sebelah barat Mozhaysk. Desa ini terkenal sebagai lokasi Pertempuran Borodino yang terjadi pada 7 September 1812, sebagai pertempuran paling berdarah selama satu hari sepanjang sejarah dalam perang Napoleon, dengan korban 72.000 jiwa dan berakhir dengan kemenangan Prancis, meski sangat sulit untuk dicapai. Pasukan Rusia kemudian mundur keesokan harinya, dengan meninggalkan pasukan Prancis tanpa kemenangan dahsyat yang Napoleon harapkan. Seminggu kemudian, Napoleon dan pasukannya tiba di Moskow, yang telah dibakar dan ditinggalkan oleh penghuninya.

.

Jatuhnya Moskow tidak mampu mendesak Tsar Alexander untuk bernegosiasi dengan Napoleon, dan bersama pasukannya selama sebulan lamanya, Napoleon menunggu tawaran untuk berdamai yang tak kunjung datang. Pada 19 Oktober 1812 Napoleon dan pasukannya meninggalkan Moskow dan menuju arah barat daya ke Kaluga, dan dihadang oleh panglima tertinggi pasukan Rusia, Mikhail Kutuzov. Berminggu-minggu lamanya pasukan Prancis menderita gara-gara musim dingin Rusia yang menyengat. Kurangnya makanan untuk pasukan infantri dan rumput untuk kuda pasukan kavaleri, hipotermia yang diakibatkan suhu dingin yang ekstrim, dengan kombinasi serangan gerilya yang dilakukan terus menerus oleh rakyat Rusia dan pasukan Kazaki, mengakibatkan korban jiwa yang semakin banyak, dan runtuhnya kedisiplinan pasukan Prancis. Pertempuran selanjutnya di Vyazma dan Krasnoi menghasilkan kekalahan yang lebih banyak lagi bagi Prancis.

Kongkow di Moskow lagi, kali ini di bawah gapura kemenangan “Triumphal Arch of Moscow” di Victory Square Moskow, yang melambangkan tentang keberhasilan Mikhail Illarionovich Kutuzov, jenderal Rusia saat mengalahkan Napoleon, Kaisar Perancis pada 14 Desember 1812

Ketika sisa-sisa pasukan utama Prancis yang dipimpin Napoleon Bonaparte menyeberangi sungai Berezina di Belarus dan merupakan anak sungai dari Sungai Dnieper pada akhir November 1812, hanya tersisa 27.000 prajurit, karena 380.000 tentara Prancis tewas dan 100.000 tertangkap selama perang di Rusia. Setelah menyebrangi Berezina, Napoleon meninggalkan pasukannya, kembali ke Paris untuk melindungi posisinya sebagai kaisar Prancis, dan merekrut lebih banyak pasukan cadangan, untuk menghadapi pasukan Rusia yang mulai menuju ke arah Prancis. Perang ini berakhir setelah 6 bulan pada tanggal 14 Desember 1812, tanggal dimana pasukan Prancis akhirnya meninggalkan Rusia.

.

Perang ini menjadi titik balik bagi karier militer Napoleon Bonaparte. Perang ini adalah perang terbesar dan paling berdarah pada jamannya, melibatkan lebih dari 1,5 juta pasukan, dengan lebih dari 500.000 korban jiwa di pihak Prancis dan 400.000 korban jiwa di pihak Rusia. Reputasi Napoleon hancur seketika, dan hegemoni Prancis di Eropa melemah secara drastis. Itulah mengapa Moscow membuat bangunan gapura yang serupa dengan Arc de Triomphe yang ada di Paris, yang disebut “Triumphal Arch of Moscow” untuk mengenang keberhasilan Mikhail Illarionovich Kutuzov, jenderal Rusia saat mengalahkan Napoleon Bonaparte, Kaisar Perancis.

Beruntung kami dapat mencapai Jalan Tveskaya yang lebar, sepi dan steril dari kendaraan maupun pejalan kaki, karena merupakan ring 1 parade kemenangan Rusia di Lapangan Merah.

Menjelang sore kami mencoba kembali mendekati Lapangan Merah. Bersyukur kami dapat melewati penjagaan serdadu Rusia yang baik hati dan membukakan pagar pembatas di Jalan Nikitskiy Pereulok. Meski masih digigit suhu 0 derajat, kami terus berjalan kaki sampai pada pertemuan Jalan Tveskaya dengan Jalan Mokhovaya. Di situlah kami tertahan lagi oleh batas steril yang dijaga serdadu Rusia. Beruntunglah kami dapat kongkow di Moskow sebentar dan melihat di kejauhan, sebuah bangunan indah yang digunakan sebagai Museum Sejarah Negara (State Historical Museum).

Pada pertemuan Jalan Tveskaya dengan Jalan Mokhovaya nampak di kejauhan adalah Museum Sejarah Negara (State Historical Museum), yang berwarna merah tua dan gaya Neo-Rusia dari tahun 1881, dengan banyak umbul-umbul tanda perayaan Hari Kemenangan.

Museum yang berlokasi di Red Square Street 1 ini didirikan tahun 1.872, memiliki lebih dari satu juta artefak, dan menjadi salah satu sarana untuk mempromosikan sejarah dan warisan Rusia. Bangunan ini sangat khas dengan warna merahnya, bergaya Neo-Rusia dari tahun 1881 yang memajang peninggalan prasejarah sampai karya seni dinasti Romanov. Di belakang gedung Museum Sejarah tersebut, Lapangan Merah berada dan parade kemenangan Rusia berlangsung. Di depan museum tersebut ada patung prajurit berkuda yang didirikan sejak 1995, untuk menggambarkan pemimpin militer Uni Soviet yang berperan penting bagi kemenangan atas Jerman pada PD II.

Usaha kami terakhir untuk melihat parade kemenangan Rusia tertahan pada persimpangan Jalan Bol’shaya Nikitskaya Ulitsa dengan Jalan Mokhovaya, yang sudah tinggal 7 menit berjalan kaki ke arah Kremlin dan Lapangan Merah, akhirnya kami menyerah dan kembali ke penginapan.

Malam itu kami mengikuti Perayaan Ekaristi Hari Kenaikan Tuhan Yesus Kristus dari Gereja Kristus Raja Baciro Yogyakarta, melalui channel https://www.youtube.com/crembomedia/live. Selanjutnya kami kembali terlelap kelelahan setelah kongkow di Moskow hari kedua.

(bersambung)

Dilaporkan dan disebarkan dari Mini-hotel Nikitskaya yang berlokasi di Bolshaya Nikitskaya ulitsa, d. 22/2, Moscow, Russia.

Kamis malam, 9 Mei 2024

Salam pengelana

-wikan dan sari

FROM  RUSSIA  WITH  LOVE

(penutup)

fx. wikan indrarto

Selesai mengikuti International Conference on Pediatric Allergy and Immunology (ICPAI) di Moscow, Rusia kami segera menikmati hari terakhir sebelum pulang dengan kasih (From Russia with Love) pada Jumat, 10 Mei 2024. Apa yang menarik?

From Russia with Love adalah film James Bond tahun 1963 dan peran kedua Sean Connery sebagai agen MI6 007 James Bond. Film ini berdasarkan novel dengan judul sama karya Ian Fleming tahun 1957. Dalam film tersebut, Bond dikirim untuk membantu pembelotan Tatiana. Daniela Bianchi berperan sebagai Tatiana Romanova, pegawai Konsulat Soviet di Turki.

Tidak sempat pamit pulang kepada Bapak Drs. Berlian Helmy, M.Ec Wakil Duta Besar atau DCM (Deputy Head of Mission) Indonesia di Moskow, karena hari itu adalah hari libur nasional Rusia.

Atas kebaikan hati Bapak Drs. Berlian Helmy, M.Ec Wakil Duta Besar atau DCM (Deputy Head of Mission) Indonesia di Moskow, Bapak Theo Sunarjaya (sekretaris, asli Malang Jawa Timur yang beristri Ny Tatiana asli Rusia) dan Bapak German Anusopati (staf lokal bidang transportasi yang menjadi sopir, pernah kuliah di Odessa Ukraina) diutus untuk menemani kami keliling Moskow dengan sedan elite Mercedez Benz E200 4 MATIC. Kami segera menikmati tujuan utama kami yang belum berhasil kami jangkau, karena hujan salju kemarin dulu dan sterilisasi lokasi terkait parade militer kemarin, yaitu Lapangan Merah. Lapangan yang telah menjadi Situs Warisan Dunia UNESCO sejak tahun 1990, dahulu digunakan untuk acara penobatan Raja dan Tsar Rusia, tetapi  sekarang merupakan pusat kegiatan masyarakat seperti upacara, pidato kenegaraan, pelantikan presiden, perayaan hari besar nasional, konser musik, dan parade militer negara.

St. Basil Cathedral yang kubahnya warnawarni dan Kremlin istana Presiden Rusia yang temboknya merah dan dijaga ketat tentara.

Di sekitar lapangan Red Square yang menjadi ikon kota Moscow ini terdapat St. Basil Cathedral, GUM Department Store, State Historical Museum, Lenin Mausoleum dan juga Kremlin. Kami segera memasuki area yang sangat luas dan hampir selalu ramai pengunjung dan turis. Di area Red Square banyak personil militer berseragam camouflage biru putih dan bertopi ushanka khas Rusia. Dua parade militer Rusia paling terkenal telah diselenggarakan di Lapangan Merah ini. Pertama adalah Parade Revolusi Oktober 1941, ketika kota itu dikepung oleh tentara Jerman dan kedua adalah Parade Kemenangan pada tahun 1945, ketika spanduk tentara Nazi Jerman yang telah kalah dikibarkan, lalu dijatuhkan ke depan Mausoleum Lenin. Pada tanggal 9 Mei 2010, untuk memperingati 65 tahun penyerahan Jerman pada tahun 1945, angkatan bersenjata Prancis, Inggris, dan Amerika Serikat ikut berbaris dalam parade Hari Kemenangan untuk pertama kalinya dalam sejarah.

Katedral Santo Basil di Lapangan Merah Moscow yang menjadi ikon kota

Segera kami berpose wajib, yaitu foto berdua dengan latar belakang Katedral Santo Basil yang cerah, karena sebelumnya kami berfoto dalam hujan salju dan hanya sendirian. Kami tidak dapat melanjutnya petualangan kami untuk mengunjungi Mausoleum Lenin, karena arena tersebut masih ditutup untuk umum, terkait parade militer kemarin. Bangunan megah yang hanya dapat kami lihat tidak dapat kami kunjungi tersebut merupakan tempat jenazah Vladimir Lenin disimpan. Tubuhnya dipindahkan ke mausoleum ini tak lama setelah meninggal tahun 1924 dan telah diawetkan agar dapat dilihat oleh publik.

Bertopi ploretar era Lenin di Rusia dengan bendera lambang palu arit sesuai dengan teori ekonomi Marxisme–Leninisme.

Vladimir Ilyich Ulyanov (22 April 1870 – 21 Januari 1924), lebih dikenal sebagai Vladimir Lenin, adalah seorang tokoh revolusioner komunis, politikus, dan teoretikus politik berkebangsaan Rusia. Nama Lenin sebenarnya adalah nama samaran yang diambil dari nama Sungai Lena di Siberia. Ia menjabat sebagai kepala pemerintahan Republik Sosialis Federasi Soviet Rusia (RSFS Rusia) dari tahun 1917 hingga kematiannya dan juga sebagai kepala pemerintahan Uni Soviet dari tahun 1922 hingga akhir hayatnya di tahun 1924. Lenin berhaluan politik Marxis dan telah ikut menyumbangkan gagasan politiknya dalam pemikiran Marxis yang disebut sebagai Leninisme. Gagasannya itu bila digabung dengan teori ekonomi Marx dikenal dengan sebutan Marxisme–Leninisme. Majalah Time mengangkat Lenin menjadi salah satu dari 100 tokoh paling berpengaruh pada abad ke-20 dan juga sebagai salah satu dari 25 ikon politik terbesar sepanjang masa. Pada bulan Oktober 1923 Lenin berkunjung ke Moskow dan Kremlin untuk yang terakhir kalinya dan pulang ke dacha Gorki dan meninggal dunia pada tanggal 21 Januari 1924. Penyebab kematian resminya adalah penyakit pembuluh darah yang tak dapat disembuhkan. Jenazahnya lalu diangkut dengan menggunakan kereta api menuju Moskow dan dibawa ke Gedung Serikat Buruh. Selama tiga hari berikutnya, sekitar satu juta pelayat datang untuk melihat jasadnya, dan banyak yang mengantre selama berjam-jam di tengah cuaca yang sangat dingin. Upacara pemakaman Lenin diadakan pada hari berikutnya: jenazahnya dibawa ke Lapangan Merah, diiringi oleh musik, dan kerumunan mendengarkan sejumlah pidato sebelum jenazahnya dimasukkan ke dalam sebuah mausoleum yang dibangun khusus untuknya.

Panorama 360° Lapangan Merah Moskow. Dari kiri ke kanan: Katedral Santo Basil, Kremlin, Mausoleum Lenin, Museum Sejarah Negara, mall GUM

Diantar Pak German dan Pak Theo dengan sedan Mercedes E 400 untuk tamu KBRI menjelajah Moskow

Selanjutnya kami dalam laju sedan Mercedes E 400 menjelajah Moskow yang memiliki 63 stadion olahraga, di mana Stadion Luzhniki adalah stadion terbesar di Rusia dan terbesar ke-4 di Eropa, menjadi tuan rumah Piala UEFA 1998–99, final Liga Champions UEFA 2007–08, Olimpiade Musim Panas 1980, dan Piala Dunia FIFA 2018. Prancis menjuarai Piala Dunia 2018 di Rusia setelah pada babak final di Stadion Luzhniki Moskow, Minggu, 15 Juli 2018 malam menundukkan Kroasia 4-2. Bagi Prancis ini adalah gelar juara yang kedua di ajang turnamen akbar Piala Dunia. Mereka pertama kali merebut gelar ini pada 1998 di kandang sendiri.

Stadion Luzhniki adalah stadion olahraga terbesar di Rusia berkapasitas 84.745 kursi, dibangun pada tahun 1955 yang kembar dengan Gelora Bung Karno di Jakarta. Di stadion tersebut Prancis menjuarai Piala Dunia 2018 setelah pada babak final Minggu, 15 Juli 2018 malam menundukkan Kroasia 4-2

Stadion Luzhniki adalah stadion olahraga terbesar di Rusia berkapasitas 84.745 kursi, dibangun pada tahun 1955 dan selesai hanya dalam 90 hari, oleh arsitek Alexander Vlasov, Igor Rozhin, Nikolai Ullas, Alexander Khryakov dan insinyur Vsevolod Nasonov, Nikolai Reznikov, Vasily Polikarpov. Bahan bangunan berasal dari Leningrad dan Armenia, balok listrik dan kayu ek untuk bangku penonton dari Ukraina, furnitur dari Riga dan Kaunas, kaca didatangkan dari Minsk, peralatan listrik dari Podolsk di Oblast Moskow, dan kayu larch dari Irkutsk di Siberia. Karena tanahnya tergenang air, hampir seluruh area pondasi kompleks harus ditinggikan setengah meter, 10.000 tiang pancang ditancapkan ke dalam tanah dan kapal keruk mereklamasi sekitar 3 juta meter kubik tanah.

.

Selain untuk olahraga, stadion ini juga digunakan untuk aktifitas politik. Pada 18 Maret 2022, Presiden Rusia Vladimir Putin mengadakan rapat umum di stadion tersebut untuk memperingati ulang tahun kedelapan aneksasi Krimea oleh Federasi Rusia dan untuk menarik dukungan bagi invasi Rusia ke Ukraina. Aksi tersebut dihadiri oleh sekitar 200.000 orang pendukung. Selain teringat akan perang Ukrania Rusia yang diinisasi di stadiun itu, wajar saja kalau kita juga jadi ingat dengan stadion kembarannya, yaitu Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK) di Senayan, Jakarta.

.

Tiba di depan Stadion Luzhniki, Moskow, kami jadi langsung teringat dengan satu stadion kebanggaan Indonesia, Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), yaitu atap bundar yang saling terhubung. Presiden RI pertama, Ir. Soekarno, memang terinspirasi oleh stadion Luzhniki dalam membangun SUGBK. Waktu itu, Indonesia memang memiliki hubungan erat dengan Uni Soviet. Soekarno-lah yang meminta secara langsung bantuan dana kepada Uni Soviet dalam pidatonya di acara peletakan batu pertama pada 1956. Kala itu, Uni Soviet langsung memberikan bantuan dana 12,5 juta dolar AS untuk membangun kompleks Gelora Bung Karno (GBK). Tujuannya untuk mendukung Indonesia sebagai tuan rumah Asian Games 1962. Selain bantuan dana, arsitek dan insinyur Uni Soviet pun dikerahkan untuk membantu pembangunan GBK mulai 8 Februari 1960 dan selesai 21 Juli 1962. Pembangunan kompleks GBK memang tak sekadar untuk menyambut Asian Games, tapi juga dianggap sebagai alat politik bagi Soekarno untuk menunjukkan kekuatannya sebagai pemimpin Indonesia pertama.

GBK Jakarta dibuat mirip dengan Stadion Luzhniki Moskow. Di kejauhan nampak panorama kota baru yang indah di sekitarnya (New Moscow City).

GBK pun dibuat mirip dengan Luzhniki yakni memiliki trek lari dan berkapasitas lebih dari 100 ribu penonton. Luzhiniki pada awal dibuka mampu menampung penonton sebanyak itu dengan rekor yakni 102.538 orang saat Uni Soviet menghadapi Italia tahun 1963. Setelah jatuhnya Uni Soviet, Luzhniki pun menjadi tempat konser artis papan atas seperti Michael Jackson, Madonna, Metallica, dan Red Hot Chili Peppers. Pada tanggal 20 Oktober 1982, bencana terjadi saat pertandingan Piala UEFA antara FC Spartak Moscow Rusia dan HFC Haarlem Belanda. Saat itu ada 66 orang penonton tewas dalam kerumunan massa, yang menjadikannya bencana olahraga terburuk di Rusia dan upaya menutup-nutupi paling terkenal pada saat itu.

Setelah puas berfoto dan menikmati kemegahan Stadion Luzhniki di Moskow, kami segera melanjutkan penjelajahan ke Universitas Negeri Moskow atau MV Lomonosov Moscow State University (MSU) yang memiliki 15 lembaga penelitian, 43 fakultas, lebih dari 300 departemen, dan enam cabang (termasuk lima cabang asing di negara-negara pecahan Uni Soviet. Dalam pemeringkatan dunia, MSU menduduki peringkat 101–150 menurut Academic Ranking of World Universities 2022, 75 oleh QS World University Rankings 2023, dan 355 oleh US News & World Report 2023.

Alumni universitas ini mencakup para pemimpin masa lalu Uni Soviet dan pemerintahan lain. Sampai tahun 2019 terdapat 13 pemenang hadiah Nobel, 6 pemenang Fields Medal, dan 1 pemenang Turing Award adalah dosen di universitas. Sejarah mencatat bahwa Ivan Shuvalov dan Mikhail Lomonosov adalah penggagas universitas ini dan Permaisuri Rusia Elizabeth mendekritkan pendiriannya pada tanggal 23 Januari 1755.

MV Lomonosov Moscow State University (MSU) adalah salah satu dari Seven Sisters (‘Stalin’s high-rises’), yaitu 7 buah gedung pencakar langit kembar di Moskow yang dirancang dengan gaya Stalinis, yang dibangun dari tahun 1947 hingga 1953.

Pada era pasca Perang Dunia II, Joseph Stalin memerintahkan pembangunan tujuh menara neoklasik berjenjang di sekitar kota. Dibangun dengan menggunakan tenaga kerja Gulag, Gedung utama MSU merupakan gedung tertinggi di Eropa hingga tahun 1990. Menara pusatnya setinggi 240 m, setinggi 36 lantai. Seven Sisters (‘Stalin’s high-rises’) adalah 7 buah gedung pencakar langit kembar di Moskow yang dirancang dengan gaya Stalinis, yang dibangun dari tahun 1947 hingga 1953. Ketujuhnya adalah: Hotel Ukraina, Apartemen Kotelnicheskaya, Kudrinskaya Square, Hotel Hilton Moscow, gedung Kementerian Luar Negeri, Universitas Negeri Moskow, dan Gedung Administrasi Gerbang Merah. Ada dua gedung pencakar langit lagi dengan gaya yang sama yang direncanakan namun tidak pernah dibangun: Gedung Administrasi Zaryadye dan Istana Soviet.

Jalan-jalan di Arbatskaya Street, pusat kesenian jalanan, kuliner dan souvenir di tengah kota Moskow

Selanjutnya kami mengunjungi Arbatskaya Street, yaitu nama jalan terkenal di Moskow dengan banyak restoran, kafe, klub malam hingga penjual suvenir dan seniman. Kami sempat melihat patung dan rumah Alexander Sergeyevich Pushkin (6 Juni 1799 – 10 Februari 1837) yaitu seorang penyair, penulis drama, dan novelis Rusia pada era Romantis. Ia dianggap oleh banyak orang sebagai penyair Rusia terhebat, serta pelopor sastra Rusia.

Bepose meniru seniman besar Rusia Alexander Pushkin dan istrinya Natalya Pushkina di seberang rumahnya di Arbatskaya Street, Moskow.

Kurang lengkap ke Moskow tanpa menyusuri jalan ini dengan jalan kaki saat siang maupun malam hari. Relatif aman bagi turis, dan jalanannya pun cukup lebar untuk dilalui wisatawan. Tapi nggak ada salahnya selalu waspada di mana pun. Kami makan siang dengan minum teh hijau dengan rempah khas Uzbekistan, menu makanan berupa plov = nasi biryani sapi khas Uzbekistan, sup bubur kacang lentil merah, khaacapuri (pizza full keju khas Georgia), lipyohka (roti bulat khas Uzbekistan), iga kambing bakar, salad kacang merah, salad terong bakar, paprika bakar, dan timun.

Makan siang menu Uzbekistan di sebuah rumah makan bergaya Turki di Arbatskaya Street, Moskow

Sebelum ke bandara, kami mampir ke Crocus City Hall yang memilukan. Pada tanggal 22 Maret 2024, sekitar pukul 20  terjadi penembakan massal dan beberapa ledakan granat di ruang teater Crocus City Hall di Krasnogorsk, Oblast, di tepi barat Moskwa. Lima pria bersenjata bertopeng melepaskan tembakan ke arah orang-orang yang berkumpul di tempat tersebut. Penyelidik mengatakan serangan itu telah menewaskan 144 orang, dan lebih dari 360 penonton konser terluka akibat luka tembak dan “keracunan” akibat kebakaran. Pada tanggal 28 Maret 2024, pihak berwenang Rusia juga mengklaim bahwa 95 orang lainnya hilang.

Tragedi Crocus City Hall yang memilukan karena menelan korban 144 orang meninggal, lebih dari 360 orang terluka dan 95 orang lainnya hilang. Kerusakan gedung belum juga diperbaiki.

Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut serangan itu sebagai “aksi teroris biadab” dan mengatakan bahwa orang-orang bersenjata telah ditangkap. Ia juga mendeklarasikan 24 Maret 2024 sebagai hari berkabung nasional, dan menghubungkan para penyerang dengan Ukraina.  Kementerian Luar Negeri Rusia menyebut insiden tersebut sebagai serangan teroris. Itu adalah serangan teroris paling mematikan di tanah Rusia sejak pengepungan sekolah Beslan pada tahun 2004. Negara Islam Irak dan Syam Khorasan yang berbasis di Asia Tengah, telah mengaku bertanggung jawab. Penyidik menahan 11 orang terkait penyerangan tersebut, termasuk empat tersangka, yang didakwa melakukan terorisme.

Pamit pulang dengan membawa kasih (From Russia with Love by James Bond) kepada ‘Mr. Vladimir Putin, Presiden Rusia’ di Arbatskaya Street, Moskow

Selanjutnya kami kembali ke Yogyakarta melalui Sheremetyevo International Airport Terminal C Moscow, yang merupakan bandara tersibuk di Rusia, melayani sekitar 50 juta penumpang pada 2019, dan menduduki peringkat sebagai bandara tersibuk kedelapan di Eropa. Pemeriksaan penumpang secara ketat yang berbeda dengan di bandara lain adalah sepatu dilepas, sehingga para penumpang cekeran tanpa alas kaki saat masuk ‘metal detector’ dan laptop wajib  dihidupkan di hadapan petugas.

Disampaikan banyak terimakasih kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah memungkian terjadinya petualangan singkat di Doha, Qatar dan lanjut ke Moskow, Rusia ini dapat terlaksana dengan baik. Selain inspirasi dari International Conference on Pediatric Allergy and Immunology (ICPAI), dari Rusia kami bawa pulang kasih (From Russia with Love by James Bond) untuk kami bagikan kepada siapapun yang kami temui.

Sampai bertemu kembali dalam petualangan lain yang tidak kalah serunya.

Salam pengelana

wikan & sari

Jumat, 10 Mei 2024, pk. 23.45

Ditulis dan disebarkan di ruang tunggu C34 Hamad International Airport (HIA) Doha, Qatar, sambil menunggu penerbangan selanjutnya ke Jakarta

By Fx Wikan Indrarto

Dokter Fx Wikan Indrarto

Leave a Reply

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?