KONGKOW DI MOSCOW HARI PERTAMA
fx. wikan indrarto
(sambungan)
Kongkow berasal dari Bahasa Tionghoa yang berarti kumpul-kumpul atau biasa disebut oleh anak remaja era sekarang sebagai nongkrong atau nongki. Di sela-sela acara International Conference on Pediatric Allergy and Immunology (ICPAI), kami sempat kongkow di Moscow, Rusia pada Rabu, 8 Mei 2024. Apa yang mengesankan?
.
Berkat kebaikan hati kakak kelas kami di SMP Bruderan Purworejo, Jawa Tengah, yang menjadi Tenaga Ahli Profesional Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Taprof Lemhannas RI), yaitu mas Putut Prabantoro, SH, kami dihubungkan dengan Wakil Duta Besar RI di Moscow. Mantan Direktur Pengkajian Ideologi dan Politik Lemhannas RI Drs. Berlian Helmy, M.Ec. yang saat ini menjadi wakil Duta Besar Drs. Jose Antonio Morato Tavares, MA yang dilantik oleh Presiden Joko Widodo pada 25 Februari 2016. Diutuslah Pak Besyen, sopir Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dengan sedan Mercedez Benz tipe terbaru untuk menjemput kami di penginapan, agar datang ke KBRI di Moskow, yang resmi dibuka setelah Duta Besar Indonesia pertama untuk Uni Soviet, Soebandrio, menyerahkan surat kepercayaan kepada Ketua Presidium Tertinggi Uni Soviet, Kliment Yefremovich Voroshilov, pada tanggal 13 April 1954.

Mr. Besyen, sopir Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) dengan sedan Mercedez Benz tipe terbaru ditugaskan untuk menjemput kami di penginapan.
Sejak tahun 1954, KBRI Moskow telah pindah dua kali. Pertama dari lokasi awal di Hotel Metropole ke Sadovo-Somatechnaya 14. Kemudian ke lokasi saat ini di Novokuznetskaya Ulitsa 12–14. Gedung nomor 12 adalah kantor KBRI, sedangkan gedung nomor 14 adalah Wisma Duta, kediaman resmi duta besar. Bangunan yang pertama adalah bekas kediaman Bangsawan Rusia Protopopov-Tatischev yang dibangun pada tahun 1900-an dan didesain oleh Vladimir Sherwood. Antara tahun 1911–1913, bangunan ini diperluas oleh Gustav Helrich. Bangunan yang kedua adalah kediaman pangeran-pangeran Ouroussoff yang dibangun pada tahun 1912 dan didesain oleh Ivan Rerberg.

Kami diterima oleh YM Bapak Drs. Berlian Helmy, M.Ec Wakil Duta Besar Indonesia di Moskow di ruang tamunya yang indah
Kami mendapatkan penjelasan lisan dari Bapak Drs. Berlian Helmy, M.Ec tentang sejarah, budaya, pendidikan, sastra, politik dan diplomasi warga Rusia. Di ruang kerja pribadinya yang artistik dan indah, kami dijelaskan juga bahwa akan ada banyak senyawa yang tersembunyi di balik kebesaran yang agung Rusia sebagai sebuah bangsa, bukan sebagai sebuah negara. Selanjutnya Bapak Theo Sunarjaya (sekretaris, asli Malang Jawa Timur yang beristri Ny Tatiana asli Rusia) dan Mr. Besyen (sopir, asli Tajikiztan) diutus untuk menemani kami keliling Moskow dengan sedan elite Mercedez Benz S 580 4 MATIC lainnya.

Bapak Drs. Berlian Helmy, M.Ec Wakil Duta Besar RI di Moskow melepas kami di gerbang KBRI Moscow

Tertulis nama Drs. Djauhari Oratmangun, MSi (senior kami di Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta) sebagai duta besar pada 2012-2016, di samping kami saat bersama Bapak Drs. Berlian Helmy, M.Ec Wakil Duta Besar RI di Moskow
Segera kami bergegas menjelajah kota Moskwa atau Moskow, pada akhir musim semi yang masih minyisakan hujan. Moskwa adalah ibu kota Rusia sekaligus pusat politik, ekonomi, budaya, dan sains utama di negara tersebut. Moskwa adalah kota berpenduduk terbanyak di Rusia dan Eropa serta menjadi kawasan urban terbesar ke-6 di dunia. Berdasarkan sensus tahun 2021, Moskwa memiliki penduduk sebesar 13 juta jiwa. Menurut Forbes di tahun 2011, Moskwa merupakan kota yang paling banyak dihuni oleh orang terkaya di dunia.
Kota ini pertama kali disebut keberadaannya pada tahun 1147. Sebelumnya, Moskwa juga pernah menjadi ibu kota Ketsaran Rusia hingga dipindahkan oleh Pyotr yang Agung pada masa Kekaisaran Rusia ke Sankt-Peterburg, sebuah kota baru yang dibangun di pesisir Laut Baltik yang direbut dari Swedia, setelah kalah perang melawan Rusia. Pasca Revolusi Oktober atas prakarsa Vladimir Lenin, Moskwa kembali menjadi ibu kota RSFS Rusia sekaligus Uni Soviet di tahun 1922–1991. Dan pasca runtuhnya Uni Soviet, Moskwa menjadi ibu kota Federasi Rusia hingga sekarang.

Tujuan pertama kami adalah Gereja Katedral Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda di Moskow, Rusia
Tujuan pertama kami adalah Katedral Moskow atau yang bernama lengkap Gereja Katedral Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda adalah sebuah gereja katedral Katolik berarsitektur Neogotik. Katedral ini berfungsi sebagai pusat kedudukan dan takhta bagi Keuskupan Agung Moskow. Gedung yang terletak di kawasan Okrug Administratif Pusat ini adalah salah satu dari tiga gereja Katolik di kota Moskow, dan merupakan gereja Katolik terbesar di Rusia.
Rencana pembangunannya disetujui Menteri Dalam Negeri Kekaisaran Rusia pada tahun 1894. Upacara peletakan batu pertama terselenggara pada tahun 1899, dan pembangunannya dilaksanakan mulai tahun 1901 sampai rampung sepuluh tahun kemudian. Gereja katedral berselasar tiga ini dibangun menggunakan bata merah dengan mengacu kepada gambar rancangan karya arsitek Tomasz Bohdanowicz-Dworzecki. Corak bangunannya dipengaruhi bentuk gereja Biara Westminster di Inggris dan gereja Katedral Milan di Italia.

Selesai berdoa dan mengucap syukur atas semua kebaikan hati Tuhan Yang Maha Baik di Gereja Katedral Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda di Moskow, Rusia
Seusai Revolusi Rusia tahun 1917, kaum Bosyewik menggulingkan Kaisar Nikolas II dan Rusia akhirnya menjadi bagian dari Uni Soviet pada tahun 1922. Karena propaganda ateisme oleh negara adalah salah satu unsur ideologi Marxisme–Leninisme, banyak gereja yang disegel pemerintah Uni Soviet. Gereja ini disegel pada tahun 1938. Bangunan ini sempat hendak dirubuhkan ketika Perang Dunia II sedang berkecamuk, tetapi akhirnya digunakan untuk kepentingan sipil seusai perang, mula-mula sebagai gudang, kemudian sebagai asrama. Sesudah Komunisme tumbang pada tahun 1991, bangunan ini kembali difungsikan sebagai rumah ibadat umat Katolik pada tahun 1996. Pada tahun 2002, statusnya dinaikkan menjadi katedral. Sesudah menjalani rekonstruksi dan renovasi besar-besaran, gereja ini akhirnya diberkati ulang pada tahun 2005.
.
Pada abad ke-21, sesudah 58 tahun lamanya digunakan untuk berbagai keperluan di luar agama, gereja katedral ini kembali menjadi tempat penyelenggaraan ibadat dalam berbagai bahasa (Rusia, Polandia, Korea, Inggris, Prancis, Spanyol, Armenia, dan Latin). Orgel yang ada sekarang di gereja tersebut adalah orgel ketiga semenjak gereja ini pertama kali berdiri, dan merupakan hibah dari gereja Basler Münster di Jerman. Di Gereja Katedral Santa Perawan Maria Dikandung Tanpa Noda Moskow yang kini terdaftar sebagai salah satu bangunan warisan sejarah dan monumen yang dilindungi negara Federasi Rusia, kami berdoa dan mengucap syukur atas semua kebaikan hati Tuhan Yang Maha Besar.
.
Selanjutnya kami mengikuti sejenak International Conference on Pediatric Allergy and Immunology (ICPAI), yang berbeda dengan konggres ilmiah yang biasanya kami ikuti di sebuah hotel atau gedung pertemuan, tetapi kali ini diselenggarakan di Sechenov University Congress Center, tepatnya di 8 Trubetskaya str., bldg. 2 Moscow. Sebagai tuan rumah (hosts of congress) adalah Moscow State Budgetary Healthcare Institution, Sechenov University, dan Ministry of Health of the Russian Federation.
.
Sambutan pembukaan acara oleh Rudolf Valenta (Professor for Allergology at the Medical University of Vienna, vice-president of the European Academy for Allergy and Clinical Immunology). Sesi pertama yang kami ikuti adalah presentasi Laura Vidivocy (United Kingdom) yang berjudul : 5-year patient-reported outcomes after oral immunotherapy using heat-modified peanuts: results from the BOPI (Boiled Peanut Oral Immunotherapy) study. Sebenarnya kurang menarik, tetapi kami melanjutkan sesi berikutnya oleh Margarita Areina (Portugal) dengan tema Immunotherapy with Vespa velutina nigrithorax venom: safety of ultra-rush protocol and preliminary clinical results, yang ternyata justru lebih tidak menarik hati. Sesi selanjutnya oleh Jose Alexandro Huertis Guzman (Spain) berjudul : Safety of a cluster strategy, effectiveness and immunological changes in allergic children sensitized to house dust mites with native and modified subcutaneous immunotherapy treatment.

Makan siang menu khas Rusia di Restoran Zaryadye, pinggiran Lapangan Merah Moskow
Setelah sesi istirahat pertama, kami segera pamit undur diri dari pertemuan dan melanjutkan petualangan kami di Moscow Red Square atau Lapangan Merah. Kami menikmati makan siang menu khas Rusia di Restoran Zaryadye, berupa borsh (sup buah bit), lagman (sup dengan mie), salad cesar, pancake dengan irisan salmon asin dan apokat hijau, iga bakar, teh dengan raspberries dan borsh smetana (cream), di pinggiran Lapangan Merah, kami segera kongkow sejenak di taman yang indah, sebelum melanjutkan perjalanan ke Saint Basil Cathedral yang menjadi ikon kota Moskow.

Kongkow di Moskow sejenak di taman yang indah setelah makan siang, sebelum melanjutkan perjalanan ke Saint Basil Cathedral, Moskow
Merupakan gereja yang memiliki banyak kubah dengan bentuk seperti bawang dengan warna yang beraneka ragam dan menarik. Bangunan yang didirikan tahun 1555-1561 ini tidak terlalu besar, dan terdiri dari sembilan kapel yang dibangun dengan pondasi tunggal, menjadi mirip istana dengan atap berbentuk bawang berwarna-warni, sebagai simbol posisi unik Rusia di antara Eropa dan Asia, yang pembangunannya selesai pada tahun 1560. Nama resminya adalah Katedral Vasily yang Diberkati, Katedral Syafaat Theotokos Mahakudus di Parit, atau Katedral Pokrovsky atau lebih dikenal sebagai Katedral Santo Basilius.

Setelah kongkow di Moskow, segara kami berjalan menyusuri taman menuju Saint Basil Cathedral
Pembangunan katedral ini diprakarsai oleh Tsar Ivan IV Vasilyevich dan dibangun antara 1555 dan 1561 untuk memperingati direbutnya Kekhanan Kazan. Pada 1588 Tsar Fedor Ivanovich menambahkan sebuah kapel di sisi timur di atas kuburan Basil yang Diberkati (yurodivy Vassily Blazhenny), seorang santo Ortodoks Rusia yang dijadikan sebagai nama katedral ini. Sebagai bagian dari program ateisme negara, gereja ini disita dari komunitas Ortodoks Rusia dalam kampanye anti-agama di Uni Soviet, dan diubah menjadi Museum Sejarah Negara sejak 1928. Meskipun negara menjadi benar-benar sekuler pada tahun 1929, tetapi gereja ini tetap menjadi milik pemerintah Federasi Rusia dan dengan pembubaran Uni Soviet pada tahun 1991, layanan ibadah mingguan agama Kristen Ortodoks dengan doa-doa ke Santo Basil telah dipulihkan sejak 1997.

Dalam guyuran hujan salju di depan Saint Basil Cathedral Moskow, Rusia
Sayang sekali, saat kami datang segera turun hujan salju dan suhu mengigit sampai minus 1 derajat C. Untunglah kami dipinjami baju hangat Bapak Theo dan kami hanya dapat berfoto dari kejauhan dengan latar belakang Katedral Santo Basil dalam guyuran hujan salju. Keindahkan katedral yang mengikuti banyak gereja beratap kerucut pada masa yang sama, khususnya Gereja Kenaikan di Kolomenskoye (1530) dan Gereja Pemenggalan Kepala Santo Yohanes Pembaptis di Dyakovo (1547), jadi tidak nampak nyata. Konsep awal katedral ini adalah sebuah kumpulan kapel, masing-masing dipersembahkan kepada setiap santo yang hari pestanya jatuh pada saat Tsar menang dalam suatu pertempuran. Menurut legenda, Tsar Ivan memerintahkan agar sang arsitek, Postnik Yakovlev, dijadikan buta agar ia tidak membangun bangunan yang lebih indah untuk orang lain.

Dalam dingin mencekam karena guyuran hujan salju di GUM dekat Saint Basil Cathedral Moskow, Rusia
Oleh karena hujan salju tidak semakin reda dan kami menjadi kedinginan, maka oleh Bapak Theo diajak turun masuk ke dalam Stasiun Metro Moskow, untuk menghangatkan badan. Kota Moscow ini dilayani oleh jaringan transportasi yang tersebar di seluruh penjuru kota, termasuk di dalamnya empat bandar udara internasional, sembilan stasiun kereta api, dan sistem kereta api bawah tanah (Metro Moskow) yang jumlah penumpangnya hanya kalah dari Tokyo dan Seoul. Sistem kereta api bawah tanahnya ini juga merupakan salah satu penanda kota ini, selain Kremlin dan Katedral Santo Basil, karena arsitektur di 194 stasiunnya yang beragam.

Bergaya di Stasiun Metro Ploshchad Revolyutsii di bawah tanah, yang memiliki koleksi 76 patung perunggu, di dinding lorongnya
Dibangun sejak tahun 1930-an, stasiun kereta bawah tanah Moscow (Metro Underground) boleh dikatakan salah satu tempat tercantik di dunia. Tiap stasiun punya kisah masing-masing seperti buku cerita. Seluruhnya dihias karya seniman terbaik era Uni Soviet plus lampu-lampu kristal dengan logam gemerlap. Pintu kereta hanya terbuka 3 menit, sehingga para penumpang harus dapat bergerak cepat. Kami turun ke Stasiun Metro Ploshchad Revolyutsii yang memiliki koleksi 76 patung perunggu, termasuk patung seorang pejuang bersama anjing. Mitos mengatakan bila kita membelai moncong anjingnya, maka akan kembali lagi ke Rusia. Bagian moncong anjing dan bagian lain di patung yang lain menjadi jauh lebih mengkilap dibandingkan bagian lain, karena seringnya dibelai oleh para penumpang.

Kepadatan penumpang di Metro Moskow yang jumlah penumpangnya hanya kalah dari Metro Tokyo dan Seoul
Hingga tahun 2023, Metro Moskow (tidak termasuk Jalur Lingkar Moskow, Jalur Tengah Moskwa, dan Monorel Moskwa) telah memiliki 294 stasiun dan panjang rute 514,5 km, tidak termasuk monorel kereta ringan, menjadikannya metro terpanjang ke-8 di dunia dan terpanjang di luar Tiongkok. Metro Moskow adalah jaringan metro ke-3 di dunia (setelah Madrid dan Beijing), yang memiliki dua jalur lingkar. Jaringan ini sebagian besar berada di bawah tanah, dengan bagian terdalam 84 meter di bawah tanah di stasiun Park Pobedy, salah satu stasiun bawah tanah terdalam di dunia. Metro Moskow adalah sistem metro tersibuk di Eropa, tersibuk di dunia di luar Asia, dan dianggap sebagai daya tarik wisata tersendiri. Metro Moskow adalah pemimpin dunia dalam hal frekuensi lalu lintas kereta api (interval selama jam sibuk tidak melebihi 90 detik). Pada bulan Februari 2023, Moskow menjadi kota pertama di dunia yang mengurangi interval kereta metro menjadi 80 detik. Dari 241 stasiun metro, 88 berada jauh di bawah tanah, 123 di bawah tanah, 12 di permukaan, dan 5 layang.

Salah satu dari lima kubah Gereja St. Clement Ortodoks di Moskow
Atas kebaikan hati Bapak Theo yang menyediakan uang tunai Rubel yang harus diambilnya dari mesin ATM, kami kongkow di Moskow lagi sambil menunggu prosesnya di dekat Gereja St. Clement, yang merupakan salah satu dari dua gereja Ortodoks di Moskow yang didedikasikan kepada Paus Katolik Roma, St. Clement I. Gereja besar berlantai lima dengan lima kubah dulunya mendominasi cakrawala Zamoskvorechye ini dibangun antara tahun 1762 dan 1769. Gereja ini dianggap sebagai contoh utama gaya Elizabethan Baroque, tetapi arsiteknya tidak diketahui secara pasti, meski sering dikaitkan dengan Pietro Antonio Trezzini, arsitek Katedral St Sampson di kota St. Petersburg. Menara tempat lonceng bergantung dan ruang makan dirancang oleh Dmitry Ukhtomsky dan dibangun pada tahun 1756—1758.

Interior gaya Barok dan ikonostasisnya yang berkilauan, serta serangkaian pagar berlapis emas buatan abad ke-18 .di Gereja St. Clement Ortodoks di Moskow
Gereja ini terkenal dengan interior gaya Barok dan ikonostasisnya yang berkilauan, serta serangkaian pagar berlapis emas buatan abad ke-18. Paroki itu dibubarkan pada tahun 1934 dan gerbang asli yang berdiri sendiri dibongkar. Perpustakaan Negara Lenin menyimpan buku-bukunya di gedung tersebut selama periode Soviet. Baru pada tahun 2008 bangunan tersebut dikembalikan ke Gereja Ortodoks Rusia .
Selanjutnya kami pulang sendiri naik Metro Moskow dengan tiket yang kami beli di mesin anjungan menuju Stasiun Metro Ploshchad Revolyutsii. Setelah kami bertanya ke lebih dari 4 orang di jalan, karena kami tidak memiliki sambungan internet, tentu tidak mampu membuka googlemaps, dan menempuh 1,4 km selama 9 menit, akhirnya kami berhasil kembali ke penginapan. Malam itu kami terlelap kelelahan setelah kongkow di Moskow.
(bersambung)
Dilaporkan dan disebarkan dari Mini-hotel Nikitskaya yang berlokasi di Bolshaya Nikitskaya ulitsa, d. 22/2, Moscow, Russia.
Rabu malam, 8 Mei 2024
Salam pengelana
-wikan dan sari