Categories
anak dokter Healthy Life UHC

2025 Dampak Perubahan Iklim

DAMPAK  PERUBAHAN  IKLIM

fx. wikan indrarto

Perubahan iklim telah memicu darurat kesehatan global, dengan lebih dari 540.000 orang meninggal akibat panas ekstrem setiap tahun dan 1 dari 12 rumah sakit di seluruh dunia berisiko mengalami penutupan terkait perubahan iklim. Apa yang mencemaskan?

Tulisan ini dimuat di Tribunnews.com

https://m.tribunnews.com/tribunners/7758745/dampak-perubahan-iklim-krisis-kesehatan-global-di-depan-mata

Data tersebut terdapat pada laporan bersama yang disusun oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), Pemerintah Brasil (Presidensi COP30), dan Kementerian Kesehatan Brasil. COP30 (Konferensi Para Pihak ke-30) adalah bagian dari Konvensi Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC), yang diadakan di Belém, Brasil, pada 10-21 November 2025.  

“Krisis iklim adalah krisis kesehatan, bukan di masa depan yang jauh, tetapi di sini dan saat ini,” ujar Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO. Laporan tersebut menampilkan bukti tentang dampak perubahan iklim terhadap individu dan sistem kesehatan, serta contoh nyata tentang apa yang dapat dilakukan, dan sedang dilakukan, oleh berbagai negara untuk melindungi kesehatan dan memperkuat sistem kesehatan.

Dengan suhu global yang kini melebihi 1,5°C di atas tingkat pra-industri, dunia telah mengalami dampak kesehatan yang semakin meningkat. Sekitar 3,3 hingga 3,6 miliar orang telah tinggal di daerah yang sangat rentan terhadap perubahan iklim, dan rumah sakit menghadapi risiko kerusakan akibat dampak cuaca ekstrem 41% lebih tinggi dibandingkan tahun 1990. Hal ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk memperkuat dan mengadaptasi sistem kesehatan guna melindungi masyarakat dari guncangan terkait iklim.

Tanpa dekarbonisasi yang cepat, jumlah RS yang berisiko dapat berlipat ganda pada pertengahan abad ini, yang menekankan pentingnya penerapan langkah-langkah adaptasi untuk melindungi infrastruktur kesehatan. Sektor kesehatan sendiri menyumbang sekitar 5% emisi gas rumah kaca global dan membutuhkan transisi cepat ke sistem rendah karbon dan berketahanan iklim. Hanya ada 54% rencana adaptasi kesehatan nasional berbagai negara yang terkait dengan risiko perubahan iklim terhadap RS, dan kurang dari 30% penelitian tentang adaptasi RS yang berfokus pada pendapatan, 20% mempertimbangkan gender, dan kurang dari 1% melibatkan penyandang disabilitas.

“Buktinya jelas: melindungi sistem kesehatan adalah salah satu investasi paling cerdas yang dapat dilakukan oleh negara manapun,” kata Profesor Nick Watts, Ketua Kelompok Penasihat Ahli dan Direktur, Pusat Kedokteran Berkelanjutan NUS. Mengalokasikan hanya 7% dari pendanaan adaptasi untuk kesehatan akan melindungi miliaran orang dan menjaga layanan penting di RS tetap beroperasi, selama guncangan iklim dan ketika pasien sangat membutuhkannya.

Ada kemajuan yang sedang dicapai antara tahun 2015 dan 2023, jumlah negara dengan Sistem Peringatan Dini Multi-Bahaya nasional meningkat dua kali lipat menjadi 101, yang kini mencakup sekitar dua pertiga populasi global. Namun, hanya 46% Negara Terbelakang dan 39% Negara Berkembang Kepulauan Kecil yang memiliki sistem tersebut yang efektif.

Kini terdapat lebih dari cukup bukti untuk meningkatkan tindakan, hari ini juga. Intervensi yang hemat biaya dan berdampak tinggi telah tersedia untuk setiap komponen dalam Rencana Aksi Kesehatan Belém Brasil. Namun demikian, strategi adaptasi pada akhirnya dapat gagal, kecuali jika strategi tersebut mengatasi akar penyebab kesenjangan derajat kesehatan, baik di dalam sistem kesehatan maupun di seluruh masyarakat.

Rencana Aksi Kesehatan Belém Brasil menyerukan kepada setiap pemerintah untuk pertama, mengintegrasikan tujuan pembangunan bidang kesehatan ke dalam Rencana Adaptasi Nasional. Kedua, memanfaatkan penghematan finansial dari dekarbonisasi untuk mendanai adaptasi kesehatan. Ketiga, berinvestasi dalam infrastruktur yang tangguh, dengan memprioritaskan RS dan layanan esensial. Dan keempat, memberdayakan masyarakat untuk membentuk respons yang memadai.

Pemerintah Brasil juga merilis laporan pendamping, yang menyoroti bahwa perubahan iklim menimbulkan risiko besar terhadap kesehatan manusia, terutama bagi populasi yang rentan dan terpinggirkan secara historis. Selain itu, adaptasi yang efektif memerlukan keterlibatan aktif masyarakat dalam merancang, menerapkan, dan memantau kebijakan kesehatan.

“Dengan merilis laporan ini, Brasil dan WHO menegaskan kembali pentingnya COP30 sebagai COP Kebenaran. Laporan ini memberikan data dan bukti yang jelas bahwa perubahan iklim telah berdampak langsung pada sistem kesehatan di seluruh dunia,” ujar Dr. Alexandre Padilha, Menteri Kesehatan Brasil. Tragedi baru-baru ini menunjukkan bahwa sekaranglah saatnya untuk menerapkan kebijakan dan tindakan yang mengatasi dampak perubahan iklim terhadap kesehatan.

Rencana Aksi Kesehatan Belém, Brasil menguraikan tiga lini aksi untuk sistem kesehatan yang tangguh terhadap perunahan iklim. Pertama, surveilans dan pemantauan, yang berfokus pada penguatan surveilans kesehatan terpadu dan berbasis iklim. Kedua, kebijakan, strategi, dan pengembangan kapasitas berbasis bukti, yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan sistem nasional dan lokal, dalam menerapkan solusi yang efektif dan berbasis kesetaraan. Dan ketiga, inovasi, produksi, dan kesehatan digital, yang mendorong penelitian, pengembangan, dan akses terhadap teknologi yang memenuhi kebutuhan kesehatan, untuk beragam populasi.

Sudahkah kita bertindak bijak?

Sekian

Yogyakarta, 19 November 2025

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
anak dokter Healthy Life

2025 Kelebihan Berat Badan

KELEBIHAN  BERAT  BADAN

fx. wikan indrarto

Lebih dari 390 juta anak dan remaja berusia 5–19 tahun mengalami kelebihan berat badan pada tahun 2022, termasuk 160 juta orang yang mengalami obesitas. Angkanya terus meningkat, bahkan pada tahun 2024, 35 juta anak balita global mengalami kelebihan berat badan. Apa yang mencemaskan?

Tulisan ini telah dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta pada Minggu, 23 November 2023, halaman 8, kolom HUSADA

Kelebihan berat badan adalah kondisi timbunan lemak yang berlebihan. Obesitas adalah penyakit kronis kompleks yang ditandai dengan timbunan lemak berlebih yang dapat mengganggu kesehatan. Diagnosis kelebihan berat badan dan obesitas dilakukan dengan mengukur berat badan dan tinggi badan seseorang, kemudian menghitung Indeks Massa Tubuh (IMT), dengan rumus berat badan (kg)/tinggi badan² (m²). Kategori IMT untuk mendefinisikan obesitas bervariasi berdasarkan usia dan jenis kelamin. Untuk dewasa, kelebihan berat badan adalah IMT lebih besar dari 25, dan obesitas lebih besar dari 30.

Untuk anak balita, kelebihan berat badan adalah rasio berat badan terhadap tinggi badan yang lebih besar dari 2 standar deviasi dan obesitas bila lebih besar dari 3 standar deviasi di atas median Standar Pertumbuhan Anak WHO. Untuk anak usia 5–19 tahun, kelebihan berat badan rasio IMT terhadap usia lebih besar dari 1 dan obesitas lebih besar dari 2 standar deviasi di atas median Referensi Pertumbuhan WHO.

Pada tahun 2024, diperkirakan 35 juta anak balita mengalami kelebihan berat badan. Sebelumnya hal ini dianggap sebagai masalah di negara berpenghasilan tinggi saja, namun demikian saat ini kelebihan berat badan justru meningkat di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Di Afrika, jumlah anak balita yang kelebihan berat badan telah meningkat hampir 12,1% sejak tahun 2000. Hampir separuh dari anak balita yang mengalami kelebihan berat badan atau obesitas pada tahun 2024 berada di Asia.

Kelebihan berat badan dan obesitas disebabkan oleh ketidakseimbangan asupan energi (pola makan) dan pengeluaran energi (aktivitas fisik). Pada sebagian besar kasus, obesitas merupakan penyakit multifaktorial yang disebabkan oleh lingkungan obesogenik, faktor psikososial, dan varian genetik. Pada sebagian kecil pasien, faktor etiologi utama tunggal dapat diidentifikasi, misalnya obat, penyakit, imobilisasi, prosedur iatrogenik, penyakit monogenik atau sindrom genetik.

Lingkungan obesogenik yang meningkatkan kemungkinan obesitas terkait dengan faktor struktural. Misalnya kondisi yang membatasi ketersediaan pangan sehat berkelanjutan dengan harga terjangkau secara lokal, kurangnya mobilitas fisik yang aman dan mudah dalam kehidupan sehari-hari, dan tidak adanya hukum dan peraturan yang memadai. Di saat yang sama, kurangnya respons sistem kesehatan yang efektif untuk mengidentifikasi kelebihan berat badan dan penumpukan lemak pada tahap awal, memperparah perkembangan obesitas.

Kelebihan berat badan tidak hanya memengaruhi kesehatan anak dan remaja secara langsung, tetapi juga dikaitkan dengan risiko yang lebih besar dan timbulnya berbagai PTM (Penyakit Tidak Menular) lebih dini, seperti diabetes tipe 2 dan penyakit kardiovaskular. Obesitas pada masa anak dan remaja memiliki konsekuensi psikososial yang merugikan, bahkan obesitas memengaruhi prestasi sekolah dan kualitas hidup anak. Selain itu, juga diperparah oleh stigma, diskriminasi, dan perundungan. Anak dengan obesitas sangat mungkin akan menjadi orang dewasa dengan obesitas dan juga berisiko lebih tinggi terkena PTM di masa dewasa.

Dampak ekonomi dari epidemi obesitas juga patut dicermati. Jika sekarang tidak ada tindakan yang diambil, biaya global akibat kelebihan berat badan dan obesitas diperkirakan mencapai US$ 3 triliun per tahun pada tahun 2030 dan lebih dari US$ 18 triliun pada tahun 2060. Terakhir, peningkatan angka obesitas di negara berpenghasilan rendah dan menengah, termasuk di antara kelompok sosial ekonomi rendah, dengan cepat menjadikan obesitas sebagai masalah global, pada hal sebelumnya hanya terkait dengan negara berpenghasilan tinggi.

Banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah menghadapi apa yang disebut beban ganda malnutrisi. Dalam hal ini berarti bahwa sementara negara ini terus menghadapi masalah penyakit menular dan kekurangan gizi, tetapi negera tersebut juga mulai mengalami peningkatan pesat obesitas dan kelebihan berat badan. Bahkan kekurangan dan kelebihan gizi seperti obesitas sering ditemukan terjadi bersamaan di negara yang sama, komunitas yang sama, dan bahkan rumah tangga yang sama.

Kegemukan dan obesitas, serta penyakit tidak menular yang terkait, sebagian besar dapat dicegah dan ditangani. Pada tingkat individu, setiap orang dapat mengurangi risiko kelebihan berat badan dengan menerapkan intervensi pencegahan di setiap tahap siklus kehidupan, mulai dari pra-konsepsi dan berlanjut hingga tahun-tahun awal kehidupan.

Hal ini meliputi pertama, memastikan kenaikan berat badan yang sesuai selama kehamilan. Kedua, memberikan ASI eksklusif dalam 6 bulan pertama setelah kelahiran dan melanjutkan pemberian ASI hingga usia 2 tahun. Ketiga, mendukung perilaku anak seputar pola makan sehat, aktivitas fisik, perilaku rebahan (sedentary), dan tidur. Keempat, membatasi waktu menonton layar (screen time). Kelima, batasi konsumsi minuman manis dan makanan padat energi, serta promosikan perilaku makan sehat lainnya. Selain itu, dampingi anak membentuk pola hidup sehat (makan sehat, aktivitas fisik, durasi dan kualitas tidur, hindari tembakau dan alkohol, serta pengaturan emosi diri). Batasi anak dengan asupan energi dari total lemak dan gula, tingkatkan konsumsi buah dan sayur, serta menu kacang-kacangan atau biji-bijian. Yang terakhir, dampingi anak melakukan aktivitas fisik secara teratur.

Para dokter dan tenaga kesehatan perlu melakukan berbagai hal penting. Pertama, menilai berat dan tinggi badan setiap anak yang datang ke fasilitas kesehatan. Kedua, memberikan konseling tentang pola makan dan gaya hidup sehat. Ketiga, ketika diagnosis obesitas ditegakkan, menyediakan layanan kesehatan terpadu untuk pencegahan dan pengelolaan obesitas, termasuk edukasi pola makan sehat, aktivitas fisik, dan tindakan medis serta bedah. Dan keempat, memantau faktor risiko PTM lainnya (glukosa darah, lipid, dan tekanan darah) serta menilai keberadaan penyakit penyerta dan disabilitas, termasuk gangguan kesehatan mental.

Menghentikan peningkatan obesitas membutuhkan tindakan multisektoral seperti manufaktur, pemasaran, dan penetapan harga pangan, bahkan tindakan lain yang berupaya mengatasi determinan kesehatan yang lebih luas, seperti penanggulangan kemiskinan dan perencanaan kota. Kebijakan pemerintah di semua tingkatan meliputi tindakan struktural, fiskal, dan regulasi yang bertujuan menciptakan lingkungan pangan sehat yang menyediakan pilihan pangan sehat. Selain itu, juga program sektor kesehatan yang dirancang untuk mengidentifikasi faktor risiko, mencegah, mengobati, dan mengelola PTM dan memperkuat sistem kesehatan melalui pendekatan pelayanan kesehatan primer.

Selain itu, peran pelaku industri pangan juga penting dalam mempromosikan pola makan sehat untuk anak dengan pertama, mengurangi kandungan lemak, gula, dan garam dalam pangan olahan. Kedua, memastikan pilihan pangan sehat dan bergizi tersedia dan terjangkau bagi seluruh konsumen anak. Ketiga, membatasi pemasaran pangan tinggi gula, garam, dan lemak, terutama pangan yang ditujukan untuk anak dan remaja. Dan keempat, memastikan ketersediaan pilihan pangan sehat dan mendukung praktik aktivitas fisik rutin di tempat kerja.

Sudahkah kita bertindak bijak?

Sekian

Yogyakarta, 2 Oktober 2025

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Dekan FK UAJY, WA : 081227280161

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?