Categories
dokter medicolegal politik

2026 Perlindungan Hukum bagi Dokter

PERLINDUNGAN  HUKUM  BAGI  DOKTER

fx. wikan indrarto*)

Ditreskrimsus Polda Bangka Belitung melimpahkan berkas perkara serta tersangka seorang dokter spesialis anak  di  RSUD Depati Hamzah, ke Kejaksaan Tinggi Bangka Belitung, Kamis (20/11/2025). Pelimpahan kasus dilakukan kepolisian setelah berkas perkara terkait kasus tindak pidana kesehatan dinyatakan lengkap atau P21. Profesi dokter cukup sering menghadapi sengketa hukum. Ada berbagai penyebab, tetapi salah satu yang utama adalah karena perlindungan hukum atas profesi dokter tidaklah rinci. Apa yang sebaiknya dilakukan?

Tulisan ini telah dimuat di tribunnews.com :

https://www.tribunnews.com/tribunners/7777988/ketika-dokter-berhadapan-dengan-hukum-di-mana-perlindungan-profesi-dalam-uu-kesehatan-baru

Status tersangka ini ditetapkan setelah terbitnya rekomendasi dari Majelis Disiplin Profesi (MDP). Peran MPD untuk dokter adalah menegakkan disiplin profesi, mengawasi etika, dan memberikan sanksi atas dugaan pelanggaran yang dilakukan oleh dokter dan tenaga kesehatan lainnya. MDP bertugas menerima dan memverifikasi pengaduan, melakukan investigasi, menyelenggarakan sidang disiplin, serta memberikan rekomendasi tindakan terhadap pelanggaran tersebut.

Pada era sebelumnya, Majelis Kehormatan Disiplin Profesi Kedokteran Indonesia (MKDKI) yang menangani masalah ini. Sedangkan MDP merupakan lembaga baru yang dibentuk berdasarkan UU No. 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan. Perbedaan utama adalah kewenangan MDP yang kini dapat memberikan rekomendasi untuk proses hukum pidana maupun perdata.

MDP telah mengeluarkan keputusan yang menyatakan bahwa dokter tersebut telah melanggar standar profesi sebagai dokter spesialis anak. Alasannya adalah dokter tersebut tidak pernah bertemu dan memeriksa langsung kondisi pasien. Perannya sebatas memberi arahan medis sesuai prosedur konsultasi spesialis. Kemudian rekomendasi itu berlanjut menjadi penetapan tersangka oleh Polda Bangka Belitung. Meskipun dokter tersebut telah mengajukan uji materi UU No.17/2023 tentang Kesehatan terutama Pasal 307 yang berkorelasi dengan kewenangan MDP atas keputusan yang merugikan dirinya, tetapi Mahkamah Konstitusi (MK) belum memberikan keputusan yang bersifat final dan mengikat, agar profesi dokter mendapat perlindungan hukum yang lebih rinci.

Michel Daniel Mangkey dalam ejournal Unsrat Vol. II/No. 8/Sep-Nov/2014, menjelaskan tentang ‘Lex et Societatis’. Dokter yang telah melaksanakan tugas sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional, berhak mendapatkan perlindungan hukum. Terdapat beberapa hal yang menjadi alasan peniadaan hukuman terhadap dokter, yaitu : resiko pengobatan, kecelakaan medik, tanpa unsur kelalaian, aturan minor yang dapat diabaikan, kesalahan dalam penilaian (error of (in) judgment), Volenti non fit iniura atau asumsi atas risiko, dan Res Ipsa Loquitur. Namun demikian, pada praktiknya sebagian hal tersebut sangat sulit, rumit, dan menyita waktu, tenaga dan konsentrasi dokter dalam perumusannya.

Sebaliknya, perlindungan hukum untuk profesi notaris, jauh lebih jelas, nyata, dan rinci, sebagaimana dituliskan oleh Mariyantini pada ejournal Undip vol 4, no 1 tahun 2013. Perlindungan hukum terhadap notaris ketika terjadi sengketa di pengadilan, telah diatur pada Pasal 66 Undang-undang No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris. Dalam hal memberikan kesaksian, seorang notaris tidak dapat mengungkapkan akta yang dibuatnya, baik sebagian maupun keseluruhannya, untuk merahasiakan semua hal yang diberitahukan kepadanya, karena akta yang dibuat oleh atau di hadapan notaris, merupakan suatu alat bukti yang mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna. Notaris hanya merumuskan keterangan dan pernyataan yang diperolehnya dari para penghadap. Notaris tidak hanya berhak untuk bicara, tetapi mempunyai kewajiban untuk tidak bicara. Kewajiban tersebut mengesampingkan kewajiban umum yang tercantum dalam Pasal 1909 ayat (1) KUHPerdata, karena adanya hak ingkar dari profesi notaris, sebagai konsekuensi dari adanya kewajiban merahasiakan sesuatu yang diketahuinya.

Yurisprudensi Mahkamah Agung (MA) melalui Putusan MA No 702K/Sip/1973, menyatakan bahwa notaris fungsinya hanya mencatatkan atau menuliskan, apa yang dikehendaki dan dikemukakan oleh para pihak yang menghadap notaris tersebut. Tidak ada kewajiban bagi notaris untuk menyelidiki secara materil, terkait apa yang dikemukakan oleh penghadap di hadapan notaris tersebut. Berdasarkan Putusan MA tersebut, jika akta yang dibuat oleh notaris dipermasalahkan oleh para pihak, maka hal tersebut menjadi urusan para pihak sendiri, notaris tidak perlu dilibatkan, dan notaris bukan pihak dalam akta.

Perlindungan hukum yang juga lebih baik, adalah terhadap profesi advokat atau pengacara. Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan permohonan perkara 26/PUU-XI/2013,  yaitu pengujian Pasal 16 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat, yang terkenal sebagai hak imunitas advokat. Putusan tersebut dinyatakan MK dalam sidang pengucapan putusan yang dipimpin Ketua MK Hamdan Zoelva, Rabu 14 Mei 2015. MK menegaskan bahwa ketentuan Pasal 16 UU Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat  harus dimaknai sebagai, advokat tidak dapat dituntut baik secara perdata maupun pidana dalam menjalankan tugas profesinya, dengan iktikad baik untuk kepentingan pembelaan klien, di dalam maupun di luar sidang pengadilan.

Dengan demikian hak imunitas profesi dokter dalam aspek perlindungan hukum, layak disusun serinci seperti profesi advokat dan notaris. Sudahkah para dokter bertindak agar mendapatkan perlindungan hukum?

Sekian

Sekian

Yogyakarta, 24 November 2025

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM.

Categories
anak dokter Healthy Life medicolegal politik sekolah

2024 Perlindungan Guru dan Dokter

PERLINDUNGAN  GURU  DAN  DOKTER

fx. wikan indrarto*)

Guru honorer Supriyani di Konawe Selatan Sulawei Tenggara didakwa melakukan penganiyaan terhadap muridnya. Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) menyebut terdapat perlindungan yang timpang antara murid dan guru. Profesi dokter juga sering menghadapi sengketa hukum. Ada berbagai penyebab, tetapi salah satu yang utama adalah karena perlindungan hukum atas profesi guru dan dokter tidaklah rinci. Apa yang sebaiknya dilakukan?

baca juga : https://www.suaramerdeka.com/opini/0413998699/perlindungan-guru-dan-dokter

UU Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen pada Pasal 41 menyebutkan bahwa Guru berhak mendapatkan perlindungan hukum dari tindak kekerasan, ancaman, perlakuan diskriminatif, intimidasi, atau perlakuan tidak adil dari pihak peserta didik, orang tua peserta didik, masyarakat, birokrasi, atau pihak lain. Perlindungan terhadap guru ini diatur dalam Pasal 39 UU Guru dan Dosen tersebut. Pemerintah, pemerintah daerah, masyarakat, organisasi profesi, dan/atau satuan pendidikan wajib memberikan perlindungan terhadap guru dalam pelaksanaan tugas.

Perlindungan terhadap guru ini juga didukung oleh yurisprudensi Mahkamah Agung (MA) yang dapat ditemukan dalam Direktori Putusan Mahkamah Agung Republik Indonesia, Putusan No. 1554 K/PID/2013, yang menyebutkan bahwa guru tidak dapat dipidana saat menjalankan profesinya dan melakukan tindakan pendisiplinan terhadap siswa. Namun demikian, kekerasan fisik yang dilakukan guru terhadap peserta didiknya termasuk dalam tindak pidana, sehingga dapat dikenakan sanksi pidana sebagaimana diatur di dalam Pasal 80 jo Pasal 76 UU No.35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Sebaliknya terkait profesi dokter, putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 119/Puu-Xx/2022 Perihal Pengujian Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran Terhadap Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 telah dibacakan pada 31 Januari 2023. Mahkamah Konstitusi (MK) telah memberikan ketetapan hukum tentang prosedur hukum yang khusus, dalam menilai dan menentukan benar salahnya seorang dokter dalam menjalankan profesinya. MK memberlakukan proses pemeriksaan yang berjenjang, dimulai dari proses pemeriksaan etik di Majelis Kehoratan Etik Kedokteran (MKEK) dan disiplin di Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI), sebagai proses pemeriksaan tingkat pertama. Selain itu, juga sekaligus berfungsi sebagai penilai apakah ada pelanggaran hukum atau tidak.  Apabila dari hasil pemeriksaan di MKEK dan MKDKI ditemukan indikasi pelanggaran hukum, maka kasusnya akan diteruskan atau diserahkan kepada kepolisian atau pengadilan.

Michel Daniel Mangkey dalam ejournal Unsrat Vol. II/No. 8/Sep-Nov/2014, menjelaskan tentang ‘Lex et Societatis’. Dokter yang telah melaksanakan tugas sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional, berhak mendapatkan perlindungan hukum. Terdapat beberapa hal yang menjadi alasan peniadaan hukuman terhadap dokter, yaitu : resiko pengobatan, kecelakaan medik, tanpa unsur kelalaian, aturan minor yang dapat diabaikan, kesalahan dalam penilaian (error of (in) judgment), Volenti non fit iniura atau asumsi atas risiko, dan Res Ipsa Loquitur. Namun demikian, pada praktiknya sebagian hal tersebut sangat sulit, rumit, dan menyita waktu, tenaga dan konsentrasi dokter dalam perumusannya.

Sebaliknya, perlindungan hukum untuk profesi notaris, jauh lebih jelas, nyata, dan rinci, sebagaimana dituliskan oleh Mariyantini pada ejournal Undip vol 4, no 1 tahun 2013. Perlindungan hukum terhadap notaris ketika terjadi sengketa di pengadilan, telah diatur pada Pasal 66 Undang-undang No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris. Dalam hal memberikan kesaksian, seorang notaris tidak dapat mengungkapkan akta yang dibuatnya, baik sebagian maupun keseluruhannya, untuk merahasiakan semua hal yang diberitahukan kepadanya, karena akta yang dibuat oleh atau di hadapan notaris, merupakan suatu alat bukti yang mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna. Notaris hanya merumuskan keterangan dan pernyataan yang diperolehnya dari para penghadap. Notaris tidak hanya berhak untuk bicara, tetapi mempunyai kewajiban untuk tidak bicara. Kewajiban tersebut mengesampingkan kewajiban umum yang tercantum dalam Pasal 1909 ayat (1) KUHPerdata, karena adanya hak ingkar dari profesi notaris, sebagai konsekuensi dari adanya kewajiban merahasiakan sesuatu yang diketahuinya.

Yurisprudensi Mahkamah Agung (MA) melalui Putusan MA No 702K/Sip/1973, menyatakan bahwa notaris fungsinya hanya mencatatkan atau menuliskan, apa yang dikehendaki dan dikemukakan oleh para pihak yang menghadap notaris tersebut. Tidak ada kewajiban bagi notaris untuk menyelidiki secara materil, terkait apa yang dikemukakan oleh penghadap di hadapan notaris tersebut. Berdasarkan Putusan MA tersebut, jika akta yang dibuat oleh notaris dipermasalahkan oleh para pihak, maka hal tersebut menjadi urusan para pihak sendiri, notaris tidak perlu dilibatkan, dan notaris bukan pihak dalam akta. 

Perlindungan hukum yang juga lebih baik, adalah terhadap profesi advokat atau pengacara. Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan permohonan perkara 26/PUU-XI/2013,  yaitu pengujian Pasal 16 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat, yang terkenal sebagai hak imunitas advokat. Putusan tersebut dinyatakan MK dalam sidang pengucapan putusan yang dipimpin Ketua MK Hamdan Zoelva, Rabu 14 Mei 2015. MK menegaskan bahwa ketentuan Pasal 16 UU Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat  harus dimaknai sebagai, advokat tidak dapat dituntut baik secara perdata maupun pidana dalam menjalankan tugas profesinya, dengan iktikad baik untuk kepentingan pembelaan klien, di dalam maupun di luar sidang pengadilan.

Dengan demikian hak imunitas profesi guru, dosen, dan dokter dalam aspek perlindungan hukum, layak disusun serinci dengan profesi advokat dan notaris. Sudahkah para guru dan dokter bertindak?

Sekian

Yogyakarta, 5 November 2024

*) dokter spesialis anak dan dosen FK, pernah menjadi Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA 081227280161.

Categories
dokter Healthy Life politik

2019 Dokter Proklamasi

Image result for moewardi wikipedia

DOKTER  PROKLAMASI

fx. wikan indrarto*)

Moewardi adalah seorang dokter yang turut memberikan sambutan setelah Soewirjo, wakil wali kota Jakarta saat itu, pada momentum Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agustus 1945. Dr. Moewardi membacakan sebuah teks, yang kini kita kenal dengan nama ‘Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945’, sebelum Bung Karno, Sang Proklamator membacakan naskah Proklamasi.  Apa yang sebaiknya kita sadari?

.

.

Dr. Moewardi lahir di Pati, Jawa Tengah di tahun 1907 dan lulusan School Tot Opleiding Voor Indische Artsen (STOVIA), cikal bakal Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta. Dia kemudian melanjutkan pendidikannya dengan mengambil semacam spesialisasi  di sekolah Telinga, Hidung, dan Tenggorokan (THT). Selain menjadi dokter, Moewardi juga aktif berorganisasi pada Barisan Pelopor, bahkan pernah menjadi Pemimpin Umum Pandu Kebangsaan (Kepanduan Bangsa Indonesia), cikal bakal PRAMUKA yang berperan dalam pendidikan karakter pemuda. Barisan Pelopor bertugas untuk mengamankan para pemimpin perjuangan, seperti Soekarno dan Hatta. Muwardi diserahi tugas untuk memimpin Barisan Pelopor di daerah Jakarta. Markas Barisan Pelopor Jakarta adalah rumah milik pribadi Moewardi di jalan Cik Di Tiro No 7 Jakarta. Di rumah berkamar 11 buah tersebut, setiap hari rapat digelar untuk mempersiapkan strategi bagi kemerdekaan Indonesia. Di situ selalu hadir Chaerul Saleh, Sudiro, Suwiryo, Suharto dan Moewardi. Sering kali Moewardi menjual beberapa barang miliknya dan membeli makanan untuk para pemuda itu.

.

Dalam peristiwa mengamankan Sukarno dan Hatta ke Rengasdengklok, Muwardi mendapat tugas untuk membangunkan Bung Karno. Pada tanggal 16 Agustus 1945 dia memerintahkan Barisan Pelopor untuk menjaga Lapangan Ikada (sekarang Lapangan Monas), yang rencananya akan digunakan sebagai tempat pembacaan teks proklamasi. Pada 17 Agustus 1945 di rumah kediaman Bung Karno di Jl. Pegangsaan Timur 56 Jakarta ramai dikunjungi orang, Moewardi menjamin keadaan aman. Waktu sudah mendekati pukul 10, tetapi Bung Hatta belum juga datang. Moewardi yang tidak sabar mendesak Bung Karno agar segera mengumumkan Proklamasi sendirian saja, tanpa menunggu kedatangan Bung Hatta, dengan alasan karena Bung Hatta sudah menandatangani teks Proklamasi. Moewardi melakukan itu karena khawatir kalau Proklamasi belum dibacakan sudah diserbu tentara Jepang, tentu akhirnya Proklamasi gagal. Tetapi memang Bung Hatta adalah seorang yang selalu memegang teguh janji, sebelum pukul 10 dia sudah tiba. Setelah masuk dalam kamar Bung Karno, tidak lama kemudian mereka berdua keluar rumah menuju halaman depan di mana sudah tersedia mikrofon, tiang bendera dan para hadirin yang akan menjadi saksi pembacaan Proklamasi tepat pada pukul 10.

.

Profil dan Kisah Dr Moewardi, 'Dokter Gembel' dari Pati yang Namanya Abadi  Jadi RSUD di Kota Solo - Tribun Solo
Dr. Moewardi saat mendampingi Bung Karno

baca juga : 2020 Dokter Merdeka

Sesudah 18 Agustus 1945 Barisan Pelopor ditugaskan untuk menjaga rumah proklamator Presiden dan Wakil Presiden  (Soekarno-Hatta). Saat Bung Karno menjadi Presiden dan hendak menyusun Kabinet, Moewardi mendapat tawaran langsung dari Bung Karno untuk menjabat sebagai Menteri Pertahanan, namun dia menolak karena hendak meneruskan kariernya sebagai dokter.  Waktu itu Pemerintah Republik Indonesia telah siap-siap hendak hijrah ke Yogyakarta mengingat kota Jakarta yang menjadi tidak aman. Oleh karena itu, kepada Moewardi dianjurkan supaya kedudukan BPRI dipindahkan dari Jakarta. Setelah Pemerintah RI hijrah ke Yogyakarta tanggal 4 Januari 1946, pengurus BPRI mengadakan perundingan untuk memindahkan markasnya ke Solo. BPRI pada bulan Desember 1945 mengadakan konggres di Gedung Habiproyo, Singosaren (sekarang Matahari Singosaren), Solo, Jawa Tengah. Dalam konggres 15-16 Desember 1945 itu diputuskan untuk mengganti nama dari BPRI menjadi Barisan Banteng Republik Indonesia (BBRI). BBRI bermarkas di Solo dengan Dr. Moewardi sebagai Pemimpin Umum.

.

Dr. Moewardi tetap menjalankan tugasnya sebagai dokter, sekaligus tetap aktif di berbagai organisasi kenegaraan. Saat Sekolah Tinggi Kedokteran kelanjutan dari STOVIA di Jakarta dipindah ke Solo, pada 4 Maret 1946 Dr. Moewardi berperan dalam pendirian Sekolah Tinggi Kedokteran di RS Jebres (sekarang RSUP Dr. Moewardi) Solo untuk bagian klinis, dan pada 5 Maret 1946 di RS Tegalyoso (sekarang RSUP Dr. Soeradji Tirtonegoro) di Klaten untuk bagian pre-klinis. Selanjutnya pada 1 November 1949, Dr. Moewardi tidak lagi dapat berperan dalam pemindahan perguruan tinggi kedokteran RI ke Yogyakarta, yang kemudian pada 19 Desember 1949 menjadi bagian dari Universitas Negeri Gadjah Mada, sekarang UGM.

.

Sejak pertengahan tahun 1946, di Solo mulai tampak partai dan badan perjuangan yang menjurus ke paham Sosialis Kiri dan Komunis. Polarisasi partai-partai dan golongan itu terlihat pada peritiwa perebutan kedudukan Residen Solo. Indikasi Solo dalam keadaan gawat adalah peristiwa diculiknya Perdana Menteri Syahrir tanggal 27 Juni 1946, dan berlanjut dengan kudeta militer yang dilakukan oleh Jenderal Mayor Soedarsono tanggal 3 Juli 1946, beruntunglah kudeta tersebut dapat digagalkan.

.

Untuk mengatasi keadaan yang rawan di Solo sekitar pertengahan tahun 1946 dan untuk menghadapi pemberontakan PKI, Dr. Moewardi mendirikan Gerakan Rakyat Revolusioner. Pada peristiwa Madiun Jawa Timur, 11 September 1948 salah satu tokoh yang dikabarkan hilang dan diduga dibunuh oleh pemberontak PKI adalah Gubernur Jawa Timur, Soeryo. Pada tanggal 13 September 1948 di Solo PKI juga melakukan serangkaian penculikan dan pembunuhan. Dr. Moewardi turut menjadi korban kebiadaban PKI tersebut, dia diculik dibunuh dan jenazahnya tidak ditemukan sampai sekarang, pada saat akan pergi menjalankan praktik sebagai dokter di RS Jebres.

RSUD Dr. Moewardi | Daftar Online
RSUP Dr. Moewardi di Jl. Kolonel Sutarto No. 132, Jebres, Surakarta, Jawa Tengah


Dr. Moewardi diberi gelar sebagai pahlawan Kemerdekaan Nasional pada 4 Agustus 1964, sesuai Kepres No 190 Tahun 1964. Kiprah Dr. Moewardi dalam momentum proklamasi dan awal kemerdekaan dahulu, seharusnya menjadi inspirasi bagi para dokter Indonesia di jaman sekarang. Hendaklah para dokter tidak sekedar menjalankan praktek medis, tetapi juga terlibat dalam pendidikan dokter ataupun pembinaan karakter remaja, demi keamanan dan kemajuan negara.

Dirgahayu negeriku, jayalah dokter Indonesia.

Sekian

Yogyakarta, 14 Agustus 2019

Peringatan HUT RI pada Selasa, 17 Agustus 2019 di RS Panti Rapih Yogyakarta

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

Categories
dokter medicolegal politik

2019 Hukum Kesehatan

Hasil gambar untuk hukum bagi dokter

HUKUM  dan KESEHATAN

fx. wikan indrarto*)

Ikatan Dokter Indonesia telah mencanangkan bahwa 27 Juni sebagai Hari Kesadaran Hukum Kedokteran. Hal ini terkait bahwa pada 27 Juni 1984 Mahkamah Agung mengeluarkan putusan yang membebaskan Dr. Setyaningrum di Puskesmas Wedarijaksa, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, dari segala tuntutan hukum atas dugaan malapraktik, yang mengakibatkan seorang pasien meninggal dunia. Para dokter diharapkan menyadari bahwa profesinya selalu bersinggungan dengan hukum, etika, sumpah profesi, spirit kesejawatan, kebutuhan dan keselamatan pasien. Apa yang sebaiknya kita pelajari?

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/06/26/2019-hukum-bagi-dokter/

.


Hukum dan Kesehatan selama ini lebih sering berfokus hanya dalam masalah sengketa medik antara pasien dan dokter. Namun demikian, banyak produk hukum di berbagai negara ternyata dapat meningkatkan derajad kesehatan masyarakat. Beberapa produk hukum, misalnya pajak soda di Meksiko, pembatasan garam di Afrika Selatan, aturan rokok kemasan polos di Australia, pajak dosa di Filipina, asuransi kesehatan nasional di Ghana, wajib helm untuk pengguna sepeda motor di Vietnam, dan perawatan kesehatan di Amerika Serikat, merupakan contoh peran penting hukum dalam menjaga dan mempromosikan kesehatan yang baik. Hal tersebut termuat dalam sebuah laporan pada Selasa, 17 Januari 2017 oleh IDLO (the International Development Law Organization), University of Sydney di Australia, dan Georgetown University di Washington, DC, USA. Laporan penting tersebut menjelaskan banyak cara di mana produk hukum berhasil membuat perbedaan penting bagi masyarakat, meningkatkan derajad kesehatan dan keselamatan warga, bahkan menyediakan sumber informasi bagi semua negara, untuk belajar dari pengalaman negara lain.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/06/07/2019-hoaks-medis/

.


Pada tahun 1875, parlemen di Kerajaan Inggris telah mengeluarkan undang-undang yang mengharuskan semua pemilik tanah untuk menyediakan sanitasi, ventilasi dan drainase yang baik, untuk membendung penyebaran penyakit menular. Sampai saat ini, pengendalian penyakit menular adalah salah satu ilustrasi yang paling menonjol, tentang bagaimana produk hukum dapat membuat perbaikan di bidang kesehatan. Dari wabah cacar pada awal abad 20 sampai yang lebih baru yaitu SARS dan Ebola, hukum kesehatan masyarakat dapat mengatur kegiatan skrining, pelacakan kontak, karantina, dan pelaporan, bahkan membendung penyebaran infeksi.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/12/29/2018-rokok-polos/


.

Produk hukum kesehatan sering menjadi heboh ketika memiliki dampak langsung pada pola konsumsi sehari-hari masyarakat. Misalnya saja pajak soda di Meksiko yang diterapkan pada tahun 2014 untuk mengurangi konsumsi minuman manis. Juga, aturan kemasan rokok polos di Australia, telah menginspirasi secara global dalam upaya untuk mengurangi jumlah perokok. Penggunaan produk hukum untuk mengurangi jumlah perokok telah menjadi salah satu prestasi hukum kesehatan masyarakat yang besar. Tentu saja dapat ditingkatkan untuk menekan makanan yang tidak sehat, penggunaan alkohol berlebihan, cedera karena kecelakaan lalulintas, dan kesehatan mental yang masih diabaikan.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/10/30/2018-semua-berhak-sehat/

.

Sekarang ini jalur baru lebih terbuka, untuk menggunakan intervensi hukum berbasis bukti dalam meningkatkan derajad kesehatan dan kesejahteraan manusia. Bahkan banyak negara juga telah menggunakan perangkat hukum untuk memperkuat sistem kesehatan nasional, misalnya Indonesia dalam program menuju cakupan kesehatan universal pada awal tahun 2019. Beberapa negara lain juga telah menggunakan payung hukum untuk menciptakan lembaga yang mengatur sistem kesehatan, asuransi kesehatan nasional, atau lembaga yang mengatur obat atau menjamin layanan kesehatan yang berkualitas, tersedia dan terjangkau untuk semua warganya.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/08/01/2018-joki-dokter/

.

Sementara di beberapa negara hukum dapat membantu dalam melindungi kesehatan warganya, di beberapa negara lain yang tidak ada atau mengabaikan hukum, maka seluruh warga akan mengalami ancaman kesehatan. Sebagai contoh, lemahnya regulasi tentang produk tembakau di beberapa negara, termasuk Indonesia, memungkinkan perusahaan rokok yang kuat untuk memasarkan produknya dan bahkan merekrut perokok muda. Pada tingkat global, ‘International Health Regulations and Framework Convention on Tobacco Control’ sebagai kerangka hukum untuk merespon keadaan darurat kesehatan masyarakat, karena terjadinya epidemi tembakau global. Namun demikian, kegagalan beberapa negara untuk mematuhi kerangka hukum rokok tersebut, menciptakan risiko wabah yang berpotensi bencana, berbiaya jangka panjang, dan dampak buruk dalam bidang kesehatan karena merokok.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/07/12/2018-rokok-gelap/

.


Lebih buruk lagi, di beberapa wilayah hukum dapat dan telah digunakan untuk membahayakan kesehatan warganya. Sebagai contoh, hukum telah digunakan untuk memenjarakan orang dengan penyakit mental, dan untuk menolak mereka dalam mendapatkan hak dan layanan kesehatan yang mereka butuhkan. Demikian juga, pembatasan perjalanan selama wabah Ebola di Afrika Barat untuk para relawan tenaga medis ke negara-negara yang terkena dampak, terjanya terbukti justru memperpanjang epidemi Ebola. Namun demikian, ketika dimanfaatkan untuk melindungi, mempromosikan dan memajukan hak atas kesehatan, hukum dapat menjadi perangkat yang kuat.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/09/24/1819/

.


Momentum Hari Kesadaran Hukum Kedokteran Kamis, 27 Juni 2019, menyadarkan kita bahwa produk hukum dapat digunakan untuk meningkatkan derajad kesehatan masyarakat. Dengan demikian, semua pihak sebaiknya ikut mendorong pemerintah dan parlemen, dalam mereformasi berbagai undang-undang, untuk mewujudkan hak azasi warga negara atas kesehatan.

Sudahkah Anda berperan?

Candi Angkor Wat di Siem Reap, Kerajaan Kamboja

Sekian

Yogyakarta, 25 Juni 2019

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

Categories
Healthy Life politik

2019 Biologi Politik

BIOLOGI  POLITIK

fx. wikan indrarto*)

Tahun 2019 adalah tahun politik, karena akan diselenggarakan Pemilihan Presiden (Pilpres) dan anggota legislatif (Pileg) Republik Indonesia. Sebagai warga negara yang baik, para dokter di Indonesia tidak boleh tinggal diam dalam peta perpolitikan daerah ataupun nasional. Bagaimana peran dokter dalam menganalisis sikap politik sesama warga bangsa?

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/05/28/2018-dokter-dan-pilkada/

Hasil gambar untuk pilpres 2019

Semua warga bangsa Indonesia dihadapkan dengan pertaruhan politik besar, bukan hanya sekedar menuju demokrasi paripurna, tetapi hal yang tersulit adalah menjaga agar kebhinekaan Indonesia tetap terjaga dengan baik. Pemilihan umum, baik pilkada maupun pilpres saat ini dihadapkan pada tantangan menguatnya politik sektarian berbasis Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan (SARA). Menguatnya politik sektarian menegaskan bahwa Indonesia sebagai sebuah bangsa, masih menghadapi permasalahan kebhinekaan yang terus mengintai dan mengancam. Ancaman tersebut tidak akan pernah berhenti, sampai kesadaran berbangsa dan bernegara dapat secara efektif termanifestasi dalam benak publik secara keseluruhan.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/05/31/2018-dokter-pancasila/

Selama ini politik sektarian juga menjadi penghalang bagi integrasi politik dalam bingkai kebhinekaan. Mengapa masyarakat Indonesia bisa terjerat dalam pertarungan politik sektarian? Apa yang terjadi sampai bangsa ini memasuki ruang politik yang sangat gaduh? Keduanya adalah pertanyaan besar yang harus dianalisis dari berbagai sudut pandang. Namun demikian, belum banyak orang yang tahu bahwa padangan politik sesunguhnya sesuatu yang eksak, artinya bisa diterjemahkan dari sesuatu yang terukur, misalnya dalam beberapa riset kedokteran membuktikan adanya keterkaitan struktur otak dan gen dengan orientasi politik.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/08/17/2018-dokter-merdeka/

Jurnal ilmiah ‘Current Biology’ Volume 21, 26 April 2011, memuat tulisan Tom Feilden, Colin Firth dan Geraint Rees dengan judul ‘Political Orientations Are Correlated with Brain Structure in Young Adults’. Jurnal yang Published Online: April 07, 2011 belum banyak diminati oleh banyak dokter di Indonesia. Para ilmuan dari London College University tersebut menemukan perbedaan struktural dalam otak manusia di Inggris, berdasarkan pandangan politiknya, yaitu liberal atau konservatif. Pelitian ini menggunakan alat Magnetic Resonace Imaging (MRI) untuk memindai otak responden dan dikorelasikan terhadap orientasi politiknya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seorang dengan orientasi politik konservatif dan seorang liberal memiliki struktur otak yang berbeda. Meskipun demikian, sebenarnya struktur otak manusia dapat berubah dari waktu ke waktu berdasarkan pengalaman seseorang, sebuah adaptasi yang dinamakan neuroplastisitas.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/08/04/2018-dokter-proklamasi/

Shaw, Christopher, dan McEachern (2001) mendefinisikan neuroplastisitas sebagai konsep neurosains yang merujuk kepada kemampuan otak dan sistem saraf semua spesies, termasuk manusia, untuk berubah secara struktural dan fungsional, sebagai akibat dari input lingkungan. Gagasan ini pertama kali diusulkan pada tahun 1890 oleh William James, tetapi diabaikan selama lima puluh tahun. Orang pertama yang menggunakan istilah ‘plastisitas neuronadalah ilmuwan neurosains Polandia, yaitu Jerzy Konorski, sebelum disempurnakan oleh Shaw pada tahun 2001. Meskipun demikian, belum jelas benar apakah perubahan dalam sikap politik seseorang dapat mempengaharuhi perubahan struktur otak. Riset kedokteran seperti ini terus berkembang dan dapat digunakan dalam pemetaan pemilih atau ‘voters’ dalam persiapan pilkada atau pilpres di manapun.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/08/17/2018-dokter-merdeka/

Evan Charney dan William English pada ‘The American Political Science Review’, Volume 107, Edisi 2 Mei 2013, menuliskan ‘Genopolitics and the Science of Genetics’. Pada tulisan tersebut, dua gen manusia yang dapat memprediksi suara pemilih atau genopolitik, tidak terbukti memiliki hubungan langsung dengan hasil pemungutan suara dalam pemilihan umum. Hasil ini karena dipengaruhi oleh stratifikasi populasi dan variabel bias yang diabaikan. Dengan demikian dari sudut pandang genetika, neuroscience, dan biologi evolusioner, genopolitik masih perlu dikaji lebih lanjut, terkait beberapa prinsip dasar dalam genetika molekuler selama 50 tahun terakhir.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/11/07/2018-dokter-pahlawan/

Namun demikian, pada jurnal ‘Current Biology’ edisi 17 Nov 2014, Woo-Young Ahn dan rekan menulis laporan lain dengan judul ‘Nonpolitical Images Evoke Neural Predictors of Political Ideology.’ Ternyata ciri dasar ideologi politik seseorang telah ditemukan terkait secara mendalam dengan mekanisme biologi dasar, yang dapat berfungsi untuk mempertahankan diri terhadap tantangan lingkungan, seperti kontaminasi dan ancaman fisik. Hasil ini mempertanyakan klaim provokatif sebelumnya, bahwa respons saraf terhadap rangsangan nonpolitik (nonpolitical stimuli), seperti makanan haram atau ancaman fisik dapat digunakan untuk memprediksi opini politik (political opinions), seperti sikap terhadap pasangan calon atau partai pengusung dalam pilkada dan pilpres.

Hasil gambar untuk politik

Radikalisme dari sisi kedokteran jiwa atau psikiatri, penting dibahas untuk penatalaksanaan paripurna, meskipun sampai sekarang masih diteliti apakah terjadi hanya pada orang dengan gangguan kejiwaan atau hasil proses cuci otak. Scott Antran seorang Antropolog Kognitif dari ‘French National Center for Scientific Research’, mengungkapkan bahwa orang muda memerlukan nilai dan impian. Kesimpulan bahwa ‘the youth need values and dreams’ dimuat dalam The Guardian, koran di Inggris yang terbit Minggu, 15 November 2015. Oleh sebab itu, para pihak yang dapat menawarkan nilai dan impian kepada para pemilih pemula, tentu akan dapat mendulang suara, bukan hanya karena pemilih mengalami gangguan kejiwaan semata, tetapi juga dipengaruhi oleh proses indoktrinasi bertubi.

Hasil gambar untuk politik

Tentu saja para dokter Indonesia harus ikut terpanggil untuk melakukan pendekatan medis dalam perpolitikan nasional. Paling tidak, para dokter seharusnya mengedukasi warga bangsa, agar menggunakan hak pilihnya secara cerdas dalam pemilu serentak 2019. Selain itu, juga mengajarkan nilai-nilai rasional, seperti selalu menjaga persatuan Indonesia, agar tetap merasa nyaman dengan ketidaksempurnaan, menoleransi perbedaan, dan tidak mengidealkan sebuah utopia, yang sering dinamakan moderasi.

Hasil gambar untuk biologi politik

Sudahkah para dokter terlibat membantu?

Sekian

Yogyakarta, 10 Februari 2019

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, lektor FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com.

Categories
anak Healthy Life Jalan-jalan politik sekolah

2018 Pesiar di Kupang, NTT

PESIAR   KELUARGA  DI  KUPANG,  NTT

fx. wikan indrarto*)

Kami sekeluarga (dengan Eyang Putri, Dik Bimo dan Dik Laras) melakukan petualangan (pesiar) ke Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk mengunjungi anak sulung kami (mas Yudhi) yang sedang menjalankan tugas PIDI (Program Internship Dokter Indonesia), di RS Bhayangkara Polda NTT di Kupang. Keluarga Dr. Silas dari Wonosari, Gunung Kidul juga berangkat bersama kami dengan maksud yang sama.

Perjalanan diawali dari Yogyakarta dengan menggunakan penerbangan Lion Air JT 560 pada Kamis, 28 Juni 2018. Setelah terbang sekitar 1 jam 15 menit, kami mendarat di Denpasar, Bali. Pada transit sekitar 2 jam tersebut, kami sempat bertemu dengan adik sepupu Wahyu Prasetyaningtyas (Aning), owner dan CEO Lentera Hati International School, di Jl. Taman Maruna no 14, Jimbaran, Kuta Selatan, Badung, Bali di ruang tunggu kedatangan penumpang untuk makan menu spesial, yaitu sate penyu sate yang dibuat dari daging penyu. Sate ini terutama banyak disajikan dan dijajakan hanya di Bali. Meskipun sangat enak, tetapi daging penyu sebenarnya berkolestrol tinggi dan penyu juga merupakan hewan terlindung secara hukum.

 Berangkat dari Jogja  Transit di Bali
Terbang dari Yogyakarta dengan pesawat Lion Air JT 560 pada Kamis, 28 Juni 2018.
Saat transit di Denpasar bertemu adik sepupu (Wahyu Prasetyaningtyas) untuk makan sate penyu 

Lion Air adalah sebuah maskapai penerbangan bertarif rendah dan merupakan maskapai swasta terbesar di Indonesia. Lion Air mengalami penambahan armada secara signifikan sejak tahun 2000 dengan kontrak pengadaan pesawat baru, dengan total keseluruhan sebesar US$ 46.4 Milliar untuk armada 234 unit Airbus A320 dan 203 Pesawat Boeing 737 MAX. Lion Air mengoperasikan lebih dari 100 buah pesawat Boeing 737-800/900ER seperti yang kami tumpangi selanjutnya, yaitu Lion Air JT 924 selama 1 jam 45 menit untuk mendarat di Kupang. Kota Kupang adalah sebuah kotamadya dan sekaligus ibu kota provinsi NTT. Kotamadya ini adalah kota yang terbesar di Pulau Timor yang terletak di pesisir Teluk Kupang, bagian barat laut pulau Timor.

 RUMAH "WAKIL GUBERNUR^ RESIDENSI TIMOR JADI TEMPAT SIMPAN GEROBAK I,  Catatan Matheos Victor Messakh | MediatorKupang

Pantai Pasir Panjang (Kupang, Indonesia) - Review - Tripadvisor

Kediaman residen di Kupang di jaman Kolonial Belanda (1870-1910)
Pemandangan senja di pantai Pasir Panjang, Kupang yang menarik mata

Nama Kupang sebenarnya berasal dari nama seorang raja, yaitu Nai Kopan atau Lai Kopan, yang memerintah Kota Kupang sebelum bangsa Portugis datang ke NTT. Pada tanggal 29 Desember 1645, seorang padri Portugis yang bernama Antonio de Sao Jacinto tiba di Kupang. Dia mendapat tawaran tinggal menetap dari Raja Helong. Pada tahun 1653, VOC mendarat di Kupang dan berhasil merebut bekas benteng Portugis Fort Concordia, yang terletak di muara sebuah sungai ke Teluk Kupang di bawah pimpinan Kapten Johan Burger. Kedudukan VOC di Kupang langsung dipimpin oleh Openhofd J. van Der Heiden. Nama Lai Kopan kemudian disebut oleh Belanda sebagai Koepan dan dalam bahasa sehari-hari menjadi Kupang. Untuk meningkatkan pengamanan kota, maka pada tahun 23 April 1886, Residen Creeve menetapkan batas-batas kota yang diterbitkan pada Staatblad Nomor 171 tahun 1886. Oleh karena itu, tanggal 23 April 1886 ditetapkan sebagai tanggal lahir Kota Kupang.

Setelah Indonesia merdeka, melalui Surat Keputusan Gubernemen tanggal 6 Februari 1946, Kota Kupang diserahkan kepada Swapraja Kupang, yang kemudian dialihkan lagi statusnya pada tanggal 21 Oktober 1946 dengan bentuk Timor Elland Federatie atau Dewan Raja-Raja Timor dengan ketua H. A. A. Koroh, yang juga adalah Raja Amarasi. Luas wilayah 180,27 Km2, suhu rata-rata di Kota Kupang berkisar antara 23,8°C sampai dengan 31,6°C. Kelembaban udara rata-rata berkisar antara 73 persen sampai dengan 99 persen. Curah hujan selama tahun 2010 tercatat 1.720,4 mm dan hari hujan sebanyak 152 hari. Curah hujan tertinggi terjadi pada bulan Januari, yaitu tercatat 598,3 mm, sedangkan hari hujan tertinggi terjadi pada bulan Desember dengan 28 hari hujan.


Dengan demikian Kota Kupang sama seperti NTT lainnya, nampak sekali kesan kering, berbatu karang, dan tanaman sulit tumbuh. Total penduduk Kupang adalah
390,877 jiwa dengan kepadatan sekitar 2.496/km2. Mayoritas penduduknya beragama Kristen Protestan (71.32%), kemudian disusul oleh Katolik (17.05%), Islam (10.09%), Hindu (1.53%) dan Buddha (0.01%). Luas wilayah Kota Kupang adalah 180,27 km² dengan jumlah penduduk sekitar 450.360 jiwa (2014). Daerah ini terbagi menjadi 6 kecamatan dan 51 kelurahan.

Bocah 5 Tahun ini Jadi Pembaca Peta Buta Termuda MURI   | tempo.co

 Mendarat di El Tari
Peta Kota Kupang di ujung barat Pulau Timor bagian Barat
Kami mendarat di Bandar Udara Internasional El Tari, Kamis, 28 Juni 2018

Kota Kupang dipimpin oleh seorang Wali kota, yaitu Drs. Mesakh Amalo, Letkol Inf. Semuel Kristian Lerik (1986-2007), Drs. Daniel Adoe (2007-2012), Jonas Salean, SH., MSi. (2012-2017), dan Walikota Kupang sekarang adalah Dr. Jefirstson R. Riwu Kore, MM, MH (2017-2022). Saat ini Kota Kupang dibagi menjadi 6 wilayah kecamatan, yaitu Alak (11 kelurahan), Kelapa Lima (7 kelurahan), Kota Raja (6 kelurahan), Kota Lama (10 kelurahan), Maulafa (9 kelurahan) dan Oebobo (7 kelurahan).

Kami mendarat di Bandar Udara Internasional El Tari, yang dahulu bernama pelabuhan udara Penfui pada Kamis, 28 Juni 2018, pk. 14.30. Bandara ini pada mulanya adalah bekas peninggalan zaman penjajahan Belanda, yang hanya berupa sebuah ‘airstrip’. Untuk pertama kali bandar udara ini didarati oleh pesawat udara pada tahun 1928 oleh penerbang Amerika Serikat Lamij Johnson. Selanjutnya dikembangkan oleh Australia pada tahun 1944-1945 dan diberi nama Lapangan Terbang Penfui, yang dalam bahasa Timor berarti Hutan Jagung (Pena=jagung dan Fui=hutan). Sejak tanggal 20 Desember 1988, Pelabuhan Udara Penfui diubah dan ditetapkan menjadi Pelabuhan Udara El Tari Kupang untuk mengenang jasa (almarhum) mantan Gubernur Nusa Tenggara Timur, El Tari. Dulu, bandara ini pernah melayani penerbangan langsung dari dan ke luar negeri, yaitu ke Australia dan Timor Leste, tetapi karena insiden 1998 maka penerbangan luar negri dari bandara ini diberhentikan. Namun berjalannya waktu, bandara inipun akan kembali menjadi bandar udara internasional yang melayani penerbangan menuju Dili dan Darwin.

 Dr. Priyander  Pesiar Kupang
berjumpa di Bandara El Tari dengan Dr. Priyander Funay, SpPD-KHOM, teman lama kami di FK UGM 84
Pesiar keluarga kami di Kupang dalam kendali dan pengaturan oleh mas Yudhi

Sekejap kami berjumpa di ruang tunggu Bandara El Tari Kupang dengan Dr. Priyander Funay, SpPD, teman lama kami di FK UGM 84, yang akan segera kembali ke Jakarta, untuk mempelajari Hemato-Onkologi Medik. Kami dijemput oleh mas Yudhi, dengan mas Daniel, mbak Stefi dan mbak Devita (semuanya adalah para dokter PIDI di RS yang sama). Selanjutnya kami diajak makan siang di RM Bambu Kuning, untuk merasakan sensasi menu terkenal di Kupang, yaitu daging sei.

Sei adalah makanan khas suku Timor, berupa daging yang disayat kecil-kecil memanjang dan diolah dengan cara diasapi pada bara api. Bahan baku sei dapat berupa daging babi atau sapi, namun biasanya masyarakat setempat lebih banyak mengkonsumsi sei babi. Sei mulai tenar di kalangan masyarakat Kota Kupang sejak tahun 1986. Kata Se’i berasal dari bahasa Rote, yaitu daging yang diiris tipis memanjang. Tidak sama seperti daging babi Jasio, Siobak atau ‘smoked beef’, Ham ataupun babi Guling dari Bali, walaupun sama-sama dibakar, tetapi daging Se’i mempunyai ciri khas yang tersendiri, karena daging diolah secara tradisional dengan dipotong memanjang dengan 2-3 cm lebarnya, lalu diolah dengan pemberian garam dan sedikit rempah rempah sesuai dengan ciri khas penjualnya, dan dilanjutkan dengan pengasapan menggunakan kayu Kosambi. Beberapa Rumah Makan untuk makanan khas Kupang daging Se’i yang terkenal yaitu “Bambu Kuning”, “Petra”, “Aroma” dan “Pondok Sawah,” tetapi di desa “Baun” kurang lebih 40 km atau 45 menit dari kota Kupang, di sanalah original daging Se’i babi yang pertama. Daging Se’i harus dimakan dalam keadaan panas, karena kalau sudah dingin, maka dagingnya akan sedikit alot. Selain itu, saat panas itu kita bisa mencium bau aroma daging asap dengan rempah rempahnya. Selanjutnya kami mampir sebentar di rumah kost mas Yudhi dan teman2 dokter PIDI di dekat RS Bhayangkara, dan selanjutnya diantar ke Hotel Greenia di Jl. Hati Mulia V, (Belakang Kantor PU Prov. NTT), Oebobo, Kupang, untuk beristirahat.

 Kost mas Yudhi  Sei Babi
Mampir sebentar di rumah kost mas Yudhi dan teman2 dokter PIDI di dekat RS Bhayangkara Kupang
Makanan khas Kupang daging Se’i yang terkenal, kami santap di RM “Bambu Kuning”

Setelah beristirahat sore, kami melanjutkan petualangan pada Kamis, 28 Juni 2018 sore ke Taman Nostalgia (Tamnos) untuk bertemu Drs. Alfred Funay, MKes. Taman Nostalgia berlokasi di Kelurahan Fatululi, Kecamatan Oebobo, Kupang, yang dirancang sebagai taman kota. Dengan fasilitas ‘jogging track’, arena olahraga dan wisata kuliner. Di Taman Nostalgia terdapat Gong Perdamaian Nusantara (GPN), yang merupakan sarana persaudaraan dan pemersatu bangsa. Berasal dari Desa Pakis Aji, Kecamatan Plajan, Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah, gong yang berusia 450 tahun itu milik Ibu Musrini, yang adalah ahli waris generasi ketujuh dari pencetus gong. GPN terbuat dari bahan campuran kuningan (bronze) dan perunggu, berdiameter 2 meter dengan berat ± 100 kg. GPN bermakna keseimbangan kehidupan dan memberi nilai lebih, kebanggaan, citra baik dan sumber pendapatan sepanjang masa bagi daerah yang menerimanya. Di Taman Nostalgia tersebut kami mencoba menu salome, semacam bakso bakar, bernostalgia dengan Drs. Alfred Funay, MKes, widyaiswara Bapelkes Kupang, yang pada tahun 1992 sebagai pegawai Bagain Umum Kanwil Kesehatan menyambut kami, para dokter baru yang akan ditugaskan di seluruh NTT. Nostalgia selanjutnya kami isi dengan makan malam di Kampung Solor, dengan mencoba aroma menu ikan kakap putih yang berdaging sangat kenyal.

 Tamnos  Kampung Solor
Taman Nostalgia (Tamnos) berlokasi di  Fatululi, Kecamatan Oebobo, Kupang, sebagai taman kota pada senja hari
Makan malam di Kampung Solor yang dipenuhi para pedagang makanan laut (seafood) yang ditangkap dari Laut Oeba.

NTT kaya dengan hasil laut, sehingga berbagai ikan laut kaya protein siap menyambut para wisatawan yang berkunjung ke kota Kupang ini, terutama di Kampung Solor, Kupang. Kampung Solor adalah wilayah pesisir dengan profesi penduduknya sebagain besar sebagai nelayan dan pedagang. Wilayah tersebut di zamaan Belanda adalah kota lama asal usul Kupang sebagai pusat perdagangan. Kampung Solor menjadi rujukan atau rekomendasi paling utama saat wisatawan singgah di Kupang. Mirip seperti Muara Angke atau kawasan Cilincing di Ancol, Jakarta, kampung ini merupakan kampung pesisir yang dipenuhi para pedagang makanan laut (seafood). Berbagai jenis ikan laut, cumi, udang, dan makanan laut lainnya yang ditangkap dari Laut Oeba, dibanderol dengan harga standar, puluhan ribu rupiah. Sambil merasakan hembusan angin pantai, makan di Kampung Solor bisa membuat siapa saja lahap. Para pedagang membuka lapaknya hingga tengah malam.

 Gua Fatima  Taman Doa
Taman Doa Lourdes Kupang yang dibangun di sebuah lahan berkontur menurun di kelurahan Oebobo, Kupang.
Gerbang Taman Doa Lourdes Kupang pada malam hari yang gelap

Setelah itu, kami melanjutkan peziarahan ke Goa Maria dan Taman Doa Lourdes Kupang, yang dibangun di sebuah lahan berkontur menurun di kelurahan Oebobo, Kupang. Nama jalan di sekitar lokasi akhirnya menjadi Jalan Lourdes, yang selanjutnya nama Lourdes berubah menjadi Lordez. Nama kampung yang dilalui jalan ini disingkat LDZ oleh kaum mudanya. Pintu masuknya cuma satu, dari arah depan menghadap jalan Cak Doko, sedangkan pintu sampingnya sudah tertutup tembok gedung lain. Di dalam komplkes taman doa ada sebuah patung yang diresmikan pada 11 Oktober 1996 oleh Uskup Agung Kupang waktu itu, Mgr. Gregorius Monteiro, SVD. Dalam prasasti marmernya disebutkan kata ARMIDA sebagai ‘head’-nya. Setelah selesai berdoa mengucap syukur melalui perantaraan Bunda Maria, malam itu kami tertidur nyenyak di Hotel Greenia, karena pengalaman iman dan kuliner yang membahagiakan.

Jumat, 29 Juni 2018 pagi, kami terjaga dari mimpi indah untuk segera bangun dan akan mengikuti misa kudus harian pagi. Kami segera menggunakan aplikasi ‘grab’, karena  aplikasi go-car dan minibus angkutan kota yang biasa disebut bemo, pagi itu belum beroperasional. Bemo di Kupang memiliki ciri khas tersendiri, yaitu rute setiap bemo ditandai oleh warna dan angka yang terdapat pada kaca depan bagian atas bemo. Selain itu, aksesoris bemo yang sangat banyak ditambah dengan dentuman musik yang sangat keras, adalah ciri lain bemo Kupang.

Tampilan Angkot (Bemo) Kupang Keren & Penuh Gaya #ntt #kupang #angkot  #angkotntt - YouTube

 Gereja St Yoseph
Bemo di Kupang yang khas dengan banyak asesoris dan full musik yang berdentum keras
Gereja Katolik St Yoseph Naikoten, yang merupakan gereja terbesar ketiga di kota Kupang, setelah Gereja Maria Assumpta dan Gereja Katedral.

Pagi itu pk. 6.30 kami mengikuti misa kudus harian di Gereja Katolik St Yoseph Naikoten, yang merupakan gereja terbesar ketiga di kota Kupang, setelah Gereja Maria Assumpta dan Gereja Katedral. Gereja ini berada di daerah Oebobo, tepatnya di Jl. Herewila No 27 Naikoten, Oebobo Kupang. Gereja ini terlihat megah dengan tiga buah menara yang sangat tinggi, di bagian depan gereja. Ketiga menara tersebut dihiasi dengan kaca-kaca dan ornamen kristiani yang sangat indah. Gereja ini bersebelahan dengan Sekolah Katolik (SD dan SMP Santo Yoseph) yang terkenal di Kupang, yang berada di wilayah Naikoten, Oebobo.

Jumat, 29 Juni 2018 setelah sarapan menu lokal di Hotel Greenia, Kupang, kami melanjutkan petualangan ke Pantai Lasiana, yang mulai dibuka untuk umum sekitar tahun 1970-an. Sejak Dinas Pariwisata NTT memoles dengan membangun berbagai fasilitas pada tahun 1986, Pantai Lasiana ramai dikunjungi turis asing. Sesuai rencana pengembangan Pemkot Kupang, Pantai Lasiana akan dijadikan Taman Budaya Flobamora, yakni sebutan yang mengacu pada keseluruhan suku bangsa di dekat Pantai Lasiana antara lain, Flores, Sumba, Timor dan Alor. Di pantai Lasiana ini terdapat sebuah Cafe, dan banyak didapati Lopo-lopo dan tempat makanan ringan seperti pisang bakar dan jagung bakar yang berderet. Lopo-lopo adalah sebutan lokal untuk pondok yang dibangun menyerupai payung dengan tiang dari batang pohon kelapa atau kayu dan beratapkan ijuk, pelepah kelapa atau lontar, alang-alang, dan yang berbahan semen. Kupang, adalah nama yang dipahat di atas batu karang. Nama yang kenyal dengan kegersangan, terik matahari yang membakar, ilalang kecoklatan, rumah reyot, pepohonan lontar dan kepulan asap yang membubung tinggi. Secuil keindahan seolah hanya ada pada bentangan bibir pantai Lasiana nan kusam. Pantai renta tempat seantero warga biasa melepas kepenatan hidup. Di Pantai Lasiana tersebut, kami dijemput Dr. Maria Surina, teman lama kami saat bertugas di Pulau Flores tahun 1992-1994.

 Pantai Lasiana  Taman Ziarah 3
Pantai Lasiana  merupakan Taman Budaya Flobamora, (Flores, Sumba, Timor dan Alor).
Diantar Dr. Maria Surina ke Taman Ziarah Yesus Maria Oebelo sekitar 10 km dari bibir Pantai Lasiana. 

Selanjutnya kami diantar ke sebuah Taman Terindah, Taman Ziarah Yesus Maria Oebelo sekitar 10 km dari bibir Pantai Lasiana, yang berada pada suatu titik ketinggian yang istimewa. Siapapun yang berada di titik ketinggian ini akan menikmati suatu panorama alam yang menakjubkan. Karenanya, keberadaan Kapela John Paul II di puncak titik ketinggian tersebut, seolah mempertegas betapa Tuhan telah menciptakan alam raya ini dengan keindahan tak terkira.

Berdiri diatas balkon lantai tiga bangunan Kapela John Paul II kita seolah berada dekat dengan langit, tempat Tuhan bersemayam. Awan berarak di atas kepala, burung-burung terbang melintas, angin menampar lembut dan Patung Yesus berjubah putih berselempang merah di atas bubungan atap dengan tangan terentang ke atas, membuat hati bergetar, nurani terbuka, sungguh suatu keindahan tak terbantah. Dengan melihat ke sekeliling, pepohonan lontar berderet di seantero pebukitan seperti tentara sorga berbaju zirah melingkari, mengepung, dan menjaga takhta Tuhan. Dan di kejauhan panoramanya bagai lukisan kanvas. Tuhan mengarsir panorama alam di depan Kapela John Paul II begitu sempurna, yaitu petakan sawah dan ladang yang didominasi warna kekuningan. Di sana ada ruas jalan aspal yang membelah di tengah-tengah. Di sebelahnya laut biru membujur diantara dua sayap pulau Timor yang merentang bagai bukit barisan. Semuanya akan terlihat dari puncak Taman Ziarah Yesus Maria Oebelo yang dibangun oleh Yang Mulia Uskup Agung Kupang Mgr. Petrus Turang. Ketika diresmikan pada hari Senin, 25 November 2013 oleh Kardinal Stanislaw Rylco dari Tahkta Suci Roma, sekitar 30.000-an umat Katolik datang memadati seluruh area taman.

Taman Doa dan Ziarah Bunda Maria Kupang Potensi Wisata Religi yang Minim  Fasilitas Umum - TribunNews.com

 El Tari Kupang
Umat berbondong-bodong datang berdoa di Taman Ziarah Yesus Maria Oebelo
Tim penjemput keluarga pakde Totok di Bandara El Tari, Kupang

Di taman ini peziarah dari seluruh penjuru angin menanam Doa Rosario. Ruas jalan permenungan untuk meniti Empat Peristiwa dalam Doa Rosario yaitu peritiwa Gembira, Mulia, Sedih dan Terang ada di sini, lengkap dengan stasi perhentiannya. Semua peristiwa ini mengantar peziarah menuju Yesus Kristus Sang Juru Selamat, melalui Bunda Maria. Langkah kaki menuju empat peristiwa dalam doa rosario dimulai dari Aula Terbuka yang berada di kaki bukit. Di aula ini seluruh peziarah diberi kesempatan untuk sejenak menenangkan diri, menyiapkan hati, pikiran dan fisik, sebelum menapaki bukit terindah ini. Peziarah akan menanjaki ruas jalan dengan kemiringan sekitar 45 derajat.

Setelah puas berdoa, kami segera turun gunung untuk mencoba menu jagung bose. Menu ini adalah bubur jagung dengan campuran santan yang diolah dari buah kelapa yang diparut secara manual, tidak menggunakan mesin. Untuk membuat jagung bose, waktu yang diperlukan tidak sebentar. Namun demikian, proses pembuatannya sangat sederhana. Bahannya pun sangat mudah didapat di pasar tradisional seputar Kota Kupang. Awalnya, jagung yang masih utuh dilulur atau direndam dalam air selama kurang lebih 15 menit. Setelah itu, jagung ditumbuk lalu dicampur air dan ditapis untuk memisahkan kulit ari dari pecahan biji jagung. Pecahan jagung siap dimasak di atas tungku dengan nyala api sedang. Jagung direbus sampai setengah matang. Kemudian, dimasukkan tambahan kacang hijau dan selama kurang lebih dua jam, maka akan terbentuk kaldu yang mengental.

 Jagung Bose  Aroma Sei 1
Jagung bose yang manis ini tersedia dalam dua pilihan, yakni putih atau kuning, hanya akan ditemukan di NTT.
Dijamu makan siang menu se'i babi oleh Dr. Maria Surina di RM Aroma yang padat pengunjung, di pusat kota Kupang

Setelah jagung matang dan terasa kental, masukkan garam secukupnya dan sedikit bumbu tambahan, seperti santan atau bumbu-bumbu lain. Dalam penyajiannya, jagung bose kerap ditambahkan dengan potongan iga sapi. Pada proses akhir perebusan setelah terbentuk kaldu yang mengental, masukkan potongan iga sapi tersebut. Tambahkan sedikit air lagi, lalu rebus kembali hingga daging matang. Jagung bose pun siap disajikan. Jagung bose dapat pula disajikan panas-panas bersama lauk daging seì (daging asap) yang telah masak. Selain daging seì sebagai lauk pendamping, lawar ikan sardine pun bisa menjadi pasangan khas jagung bose. Jenis jagung bose yang manis ini tersedia dalam dua pilihan, yakni putih atau kuning. Dengan rasanya yang khas, jagung bose benar-benar hanya akan ditemukan di Nusa Tenggara Timur.

Selesai makan siang itu, kami segera menjemput keluarga pakde Totok (budhe Tari, mas Danang dan mbak Esthi) yang akan mendarat di Bandara El Tari, Kupang dan siap bergabung berpetualang dengan kami. Keluarga pakde Totok yang datang dari Pamulang, Tangerang nampak kelelahan, karena tertundanya penerbangan mereka, yang disebabkan aktivitas Gunung Agung di Karangasem, Bali. Segera kami mengingat berbagai bentuk layanan kesehatan di kota Kupang antara lain Rumah Sakit Pemerintah seperti : RSUD WZ. Johannes Kupang, RS Bhayangkara Kupang, RS Korem 161 Wira Sakti Kupang, Rumkital Kupang dan RSUD SK Lerik Kupang. Sedangkan Rumah Sakit dan Klinik Swasta antara lain adalah RSU Mamami, RSIA Dedari, RS Kartini, RS Leona, Siloam Hospital Kupang dan RS Katolik Carolus Boromeus.

Setelah melihat sekejap RSUD WZ. Johannes yang pernah kami kunjungi tahun 1993, kami melanjutkan petualangan ke RS Bhayangkara Kupang, dimana mas Yudhi belajar sebagai dokter internship pada PIDI. RS Bhayangkara Kupang berdiri tanggal 3 Juli tahun 1967 di atas tanah seluas 5.865 m² yang berlokasi di Jl. Nangka No 84 Kupang NTT, adalah warisan dari gedung Komplek Komdak XVII Nusra yang direnovasi menjadi sebuah rumah sakit. Rumah Sakit milik POLDA NTT di Kupang ini sebagai salah satu rumah sakit dengan lingkungan terbaik, juga menyediakan prasarana antara lain ambulance yang siap mengantarkan pasien yang akan dirujuk, menjemput pasien di rumah, dan menjemput pasien yang kecelakaan di jalan. Parkiran yang luas yang membuat pengunjung dapat nyaman saat bertamu ke kerabat atau keluarga yang sedang dirawat inap. Kami sempatkan berfoto bersama mas Yudhi di areal sebelah IGD, sebagai salah satu pintu masuk ke RS Bhayangkara, yang terletak di bagian depan dari rumah sakit, agar setiap tindakan yang membutuhkan penanganan secara cepat, dapat dilaksanakan. RS ini memiliki motto: senyummu adalah kepuasanku. Di RS itulah mas Yudhi dan teman-temannya belajar secara intensif sebagai dokter internship Indonesia. Setelah itu, kami segera menuju ke RS Siloam Kupang.

 RS Bhayangkara  Siloam Kupang
Sisi depan RS Bhayangkara Kupang di Jl. Nangka No 84 Kupang NTT,
Bergaya di samping ambulance Siloam Hospitals Group, di Fatululi, Kupang, NTT.

RSU Siloam yang merupakan anak usaha PT Lippo Karawaci Tbk (LPKR), Siloam Hospitals Group, berlokasi di daerah Fatululi, Kupang NTT. Biaya yang dibutuhkan untuk membangun RS ini senilai US$ 40 juta (Rp 360 miliar), termasuk peralatan medis terkini seperti MRI, Cathlab dan CT Scan, sesuai dengan standar internasional yang diterapkan di seluruh unit Siloam Hospitals. Rumah Sakit Umum Siloam Hospital (RSUSH) Kupang adalah rumah sakit ke-19 yang telah dibangun Lippo Group. Berbeda dengan RS Siloam lainnya, RS Siloam Kupang lebih fokus melayani pasien peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) yang dikelola Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) Kesehatan. Sebagian besar atau sekitar 70 persen fasilitas layanannya diperuntukkan bagi pasien peserta JKN, seperti disampaikan saat Grand Opening Siloam Hospital Kupang, oleh Gubernur NTT dan disaksikan Presiden Joko Widodo, Sabtu 20 Desember 2016. Siloam Hospital Kupang memiliki kapasitas 600 tempat tidur, namun untuk tahap awal mulai dioperasionalkan 100 dan termasuk yang terbaik dari Silaom Hospital yang sudah dibangun. Siloam Kupang memiliki gedung besar dan kenyamanan dengan teknologi kesehatan canggih. Ke depan akan dikembangkan duplikat dari Siloam Hospital Kupang di berapa kota di NTT, seperti di Maumere, Waingapu, dan Rote.

Kota Kupang menyimpan begitu banyak potensi wisata yang wajib untuk dikunjungi, salah satunya adalah Pantai Oesapa. Pantai ini terletak di Kelurahan Oesapa, Kecamatan Kelapa Lima, Kota Kupang. Pantai Oesapa memang sangat eksotis, letaknya pun sekitar 10 kilometer dari jantung kota Kupang. Pantai Oesapa mungkin saat ini menjadi satu-satunya ruang terbuka di pesisir pantai Kota Kupang, sehingga setiap hari terutama menjelang sore, akan ramai dikunjungi ratusan orang. Ramainya pantai ini dikarenakan langit sore berubah menjadi warna merah keemasan, ketika matahari mulai kembali ke peraduannya. Keindahan Pantai Oesapa menjadi daya tarik sendiri karena latar belakang ribuan pohon lontar yang berdiri kokoh di sepanjang pantai.

 Pantai Oesapa 1 Pekan Suci, Gereja St. Maria Assumpta Kupang Batasi Jumlah Umat, Hanya 50  Persen - Victory News
Keindahan Pantai Oesapa dengan ribuan pohon lontar yang berdiri kokoh di sepanjang pantai.
Gereja Santa Maria Assumpta di Jl. Perintis Kemerdekaan No. 9, Kupang. 

Setelah mengantarkan keluarga Pakde Totok untuk beristirahat sejenak di kamar sebelah kami di Hotel Greenia, kami semua segera menikmati senja di Pantai Oesapa. Setelah menikmati pisang goreng, jagung bakar, teh dan kopi di pinggir Pantai Oesapa, segera kami melanjutkan pesiar ke Gereja Santa Maria Assumpta di Jl. Perintis Kemerdekaan No. 9, Kupang. Kompleks Paroki termasuk gedung Gereja, Pendopo Pastoran, kantor Sekretariat Paroki dan Sebuah Aula Serba guna, berlokasi dalam sebuah komplkes yang sama. Gereja ini dibangun di atas pondasi batu, dengan ruang jemaat yang besar dan bebas kolom, serta dilengkapi pendingin udara (AC). Atap dan lengkungan yang memiliki parapets, merupakan ciri khas gereja ini dan bagian depan gereja terletak di sebelah barat.

Pada bulan Desember 1979 oleh Pastor Herman Y. Kaiser SVD yang mejabat Pastor Paroki St Yoseph Naikoten Kupang, berdasarkan hasil kunjungan pastoral ditemukan kesulitan umat untuk hadir ke Gereja, karena transportasi yang kurang mendukung. Bapak uskup mengijinkan agar umat yang berdomisi di wilayah ini dapat melaksanakan misa hari minggu di istana keuskupan saja. Namun demikian, Rumah Bapak Uskup dalam beberapa waktu ternyata tidak dapat menampung umat lagi untuk misa hari minggu. Pada saat itu dibangun pula seminari Santu Rafael Oepoi. Persiapan paroki yang diperjuangkan umat selama 8 tahun, yaitu 1979-1988, akhirnya berhasil dan peletakan batu pertama dimulai pada tanggal 12 Agustus 1988, sekaligus perayaan ulang tahun paroki untuk pertama kalinya. Pastor Paroki Pertama P. Julis Bere SVD dan Pastor kapelan Pastor Ebed, Pr., dengan nama paroki selengkapnya menjadi Paroki Santa Maria Assumpta Kota Baru Kupang, yang terus dipakai hingga saat ini. Selain ruang adorasi tubuh Kristus yang buka 24 jam untuk berdevosi, kami juga menyaksikan Aula Serba Guna Paroki Santa Maria Assumpta yang megah, dengan daya tampung seribu orang. Selain itu, kami juga sempatkan berdoa di Gua Maria yang strategis berada di areal depan kompleks, sehingga memudahkan umat untuk berdoa dengan khusuk. Gua Maria terbuka 24 jam bagi umat yang hendak memanjatkan doa-doanya. Setelah puas berdoa kepada Bunda Maria, segera kami melanjutkan perjalanan ke ikon baru kota Kupang, yaitu Kantor Gubernur NTT.

 Sasando Gubernur

Ke Kupang Belum Lengkap Bila Tidak Berpose di Depan Gedung Unik Kantor  Gubernur NTT Berbentuk Sasando - Sila News

Malam hari di Kantor Gubernur NTT di Jalan El Tari Kupang, yang telah menjadi ikon baru Nusa Tenggara Timur.
Berfoto pada siang hari di Kantor Gubernur NTT yang telah menjadi ikon baru Nusa Tenggara Timur.

Kantor Gubernur NTT, Kupang Indonesia. Merupakan salah satu project yang  menggunakan atap shingle bitumen IKO. 📷 : @about.indonesia.id @druld  @indrasunbanu #kantor #gubernur #ntt #kupang #nusatenggaratimur #atap #iko  #ataprumah #atapjawabarat ...

Maket Gedung Kantor Gubernur NTT karya arsitek muda NTT, Luiz Wilson
yang menyerupai alat musik Sasando.

Kantor Gubernur NTT yang terletak di Jalan El Tari Kupang, telah menjadi ikon baru Nusa Tenggara Timur. Bentuknya yang unik yaitu menyerupai alat musik tradisional NTT Sasando, menjadikan lokasi ini selalu ramai dikunjungi warga Kota Kupang, maupun mereka yang baru pertama menginjakkan kaki di Kota Kupang. Gedung yang berada di Jalan El Tari ini merupakan tempat berkantor Gubenur dan Wakil Gubernur NTT, dan tempat ini juga menjadi pusat pemerintahan NTT. Gedung megah ini sebenarnya dibangun untuk menggantikan gedung lama yang terbakar pada tanggal 9 Agustus 2013, yaitu lantai 2 dan 3 hangus terbakar. Pada tahun 2014, Pemprop menggelar sayembara bentuk kantor gubernur. Pemenang sayembara adalah seorang arsitek muda NTT, Luiz Wilson. Ia memilih bentuk gedung menyerupai alat musik Sasando. Dan kini bagian depan gedung ini memang menyerupai alat musik Sasando, sementara bagian depan sisi kiri dan kanan menyerupai lipatan daun lontar. Gedung yang dibangun sejak Januari 2016 oleh kontraktor PT Waskita Karya (persero) Tbk, selesai dikerjakan pada pada Desember 2016, dan mulai digunakan pada tahun 2017. Anggaran untuk membangun gedung ini sekitar Rp 178 miliar dan sekarang menjadi lokasi rekreasi warga. Dengan berpose di depan kantor gubernur NTT, yang indah untuk foti selfie, menjadi arena nongkrong anak muda Kota Kupang setiap sore, bahkan hingga tengah malam, terbuka untuk umum dalam bercengkrama dan bersantai di kawasan itu. Selain itu, bagian depan Kantor Gubernur juga sering dijadikan panggung pertunjukan, dengan latar belakang bagian depan gedung yang berbentuk sasando. Setelah puas berfoto di depan Kantor Gubernur NTT, malam itu kami semua tertidur nyenyak dalam kepuasan dan kelelahan yang berpadu.

Sabtu pagi, 29 Juni 2018 kembali kami mengikuti misa kudus harian di Gereja Katolik St Yoseph Naikoten. Setelah sarapan di Hotel Greenia dan mas Yudhi berangkat kerja di Puskesmas Oesapa, kami melanjutkan petualangan ke Goa Kristal. Ketika mendengar kata ‘kristal’ mungkin kita akan beranggapan di dalam gua tersebut bergelimang batu perhiasan. Namun, itu hanyalah kiasan saja yang menggambarkan akan adanya air jernih dan batu di dalamnya yang membentuk seperti kolam renang.

Gua Kristal yang terletak di Desa Bolok, Kecamatan Kupang Barat. Gua Kristal yang mempunyai luas kurang lebih 30 meter persegi dengan airnya yang begitu jernih, sehingga membuat terlihat begitu sangat jelas dasar kolamnya. Air yang di dalam gua tersebut memiliki rasa payau dan sangat menyegarkan tubuh. Goa Kristal ini sangat dekat dengan Kota Kupang, hanya memerlukan waktu tempuh 30 menit atau berjarak 20 km, lokasinya sangat berdekatan dengan Pos Polisi Air Pelabuhan Bolok. Sesampainya di sana pengunjung dapat memarkir kendaraannya di dekat Pos Polisi Air Bolok, kemudian berjalan kaki kira-kira 500 meter untuk sampai ke bibir gua.

 Gua Kristal 1  Gua Kristal 2
Ditemani Moses, bocah pemandu lokal, menuju Gua Kristal di Kupang Barat
Berenang bersama melihat keindahan di dalam perut Gua Kristal, Kupang Barat

Kami datang sesuai anjuran untuk berkunjung pada siang hari atau pukul 11, karena sinar matahari yang menerobos celah-celah gua, akan membuat pemandangan yang jarang terlihat, seolah seperti batu kristal. Kami juga mengikuti saran untuk membawa senter, karena tidak banyak cahaya mampu masuk ke dalam goa dan jalan masuk cukup terjal menurun dan licin. Setelah puas berenang di dasar goa, berbasah air payau, dan menikmati keindahan kristal karena cahaya matahari yang menyelinap ke dalam goa, kami segera melanjutkan petualangan (pesiar) dengan menikmati menu kuliner lokal lainnya, di warung artis kuah asam Tenau yang berada di Jl. M Praja, Kelurahan Alak, Kecamatan Alak, Kota Kupang. Di warung tersebut kami bertemu mas Yudhi, setelah selesai bertugas di puskesmas.

Warung yang terletak tidak jauh dari Pelabuhan Tenau Kupang itu, menjadi salah satu ikon masakan kuah asam ikan paling fenomenal di ibu kota NTT. Betapa tidak. Selama enam hari seminggu, dari Senin hingga Sabtu, warung yang menyajikan masakan kuah asam, ikan asap, gule sapi dan sambal goreng itu, tidak pernah sepi dari pengunjung. Warung kuah asam Tenau sudah menjadi idola banyak pejabat pemerintah hingga masyarakat biasa, penyuka makan ikan. Selain ikan ‘fresh’ yang diolah, racikan khusus bumbu si pemilik warung menjadikan pecinta kuliner tidak akan merasakan bau amis, usai menyantap habis satu porsi kuah asam ikan.

RRI.co.id - Warung Kuah Asam Ikan Tenau Tempat Makan Populer

Ken Patar | Pelabuhan #Tenau - Kupang, NTT. 2022 Diantara kapal - kapal  besar yang bersandar di pelabuhan Tenau, ada beberapa kapal kecil yang... |  Instagram

Menu spesial di Warung ikan kuah asam Tenau, dekat Pelabuhan Kupang
Pelabuhan Tenau Kupang pada senja hari, dekat Warung ikan kuah asam Tenau

Setelah kenyang makan siang menu ikan, kami melanjutkan petualangan ke rumah kenalan lama di Wates, Kulon Progo, DIY. Cik Hong dan Koh Cung, sepasang suami isteri yang kedua anaknya telah menjadi dokter di Medan dan Jakarta, kami temui dalam keharuan di rumahnya Salon Lince di Jl. Sumba no 10 Oeba, Kupang. Kami segera larut dalam suasana reuni dan nostalgia dengan saling mendoakan dan meneguhkan, untuk selanjutnya meneruskan petualangan ke Oesao, di Kabupaten Kupang. Melalui jalan raya yang padat kendaraan, kami menyatu dengan para pengguna jalan yang seenaknya sendiri, tidak mau peduli, melaju di sisi tengah jalan, dan tidak segera menepi saat diklakson. Selain itu, juga ada antrian bus antar kota dalam provinsi, dengan tujuan ke SoE, Kefa dan Atambua, serta antar negara, yakni ke Dili, Timor Leste. Bus ini disediakan oleh berbagai penyedia layanan termasuk DAMRI. Kalau kita mengikuti lajunya, pasti akan sampai di Layanan imigrasi Indonesia-Timor Leste yang dilaksanakan di Tasifeto Timur-Batugade, yang sangat megah dan membanggakan.

 Cik Hong  Cik Hong 1
Keluarga Cik Hong tinggal di Salon Lince, nama yang digunakan sejak di Wates DIY, di Jl. Sumba no 10 Oeba, Kupang
Cik Hong dan Koh Cung, sepasang suami isteri yang kedua anaknya telah menjadi dokter di Medan dan Jakarta,

Kami harus keluar dari Kotamadya untuk masuk ke dalam territorial Kabupaten Kupang, guna menikmati kue cucur, yang merupakan ciri khas makanan lokal kesukaan masyarakat di desa Oesao, Kabupaten Kupang. Kue ini terbuat dari bahan beras yang diolah menjadi tepung. Para petualang yang mengadakan perjalanan melalui atau ke Kabupaten Kupang, menuju ke SoE, Kefa dan Atambua, biasanya singgah di tempat ini, karena kue cucur rasanya enak untuk dinikmati. Selain kue cucur, kami juga menikmati ulang jagung bose sampai kenyang.

Siang itu, kami mengantar keluarga pakde Totok naik ke Taman Ziarah Yesus Maria Oebelo, yang telah kami kunjungi hari sebelumnya. Di aula kami tertahan, karena hanya sebuah mobil yang diijinkan naik ke puncak taman, sehingga hanya keluarga pakde Totok yang naik dan berhenti tepat di depan Patung Bunda Maria yang tengah menggendong kanak-kanak Yesus. Patung setinggi manusia itu berada pada kaki bukit kedua dengan sudut kemiringan sekitar 40 derajat. Bunda Maria dan Yesus seolah tengah bercakap-cakap. Tentu, Bunda Tak Bernoda ini tengah menyampaikan seluruh isi hati kita, keluh kesah kita, mimpi-mimpi kita, juga gumpalan kekecewaan kita yang mengkristal, bahkan membatu.

 Taman Ziarah
Keluarga pakde Totok di Taman Ziarah Yesus Maria Oebelo, Kupang

Bagi peziarah beragama katolik yang hendak berdoa, inilah Taman Doa Rosario terlengkap yang menggelar kisah kehadiran Tuhan Yesus Kristus, dalam perjalananNya menyelamatkan umat manusia dari belenggu dosa. Bila peziarah menapaki ruas jalan menanjak dari ‘paving block’ di sebelah kiri posisi berdiri Patung Bunda Maria, maka wajib mendaraskan lima Peritiwa Gembira dan lima Peristiwa Mulia. Sedangkan peziarah yang melangkah ke sebelah kanan, wajib mendaraskan lima Peristiwa Sedih dan lima Peristiwa Terang.

 Taman Ziarah 6
Kapel S. Paul John II di sore hari, di Taman Ziarah Yesus Maria di puncak Bukit Oebelo 

Turun dari taman terindah, kami langsung menikmati sasando, yaitu sebuah alat musik dawai yang dimainkan dengan cara dipetik. Instumen musik ini berasal dari pulau Rote, NTT. Secara harfiah nama Sasando menurut asal katanya dalam bahasa Rote, sasandu, yang artinya alat yang bergetar atau berbunyi. Suara sasando mirip dengan alat musik dawai lainnya seperti gitar, biola, kecapi, dan harpa. Bagian utama sasando berbentuk tabung panjang yang biasa terbuat dari bambu. Lalu pada bagian tengah, melingkar dari atas ke bawah diberi ganjalan-ganjalan, di mana senar-senar (dawai-dawai) yang direntangkan di tabung, dari atas ke bawah, akan bertumpu. Ganjalan-ganjalan ini memberikan nada yang berbeda-beda kepada setiap petikan senar. Lalu tabung sasando ini ditaruh dalam sebuah wadah, yang terbuat dari semacam anyaman daun lontar, yang dibuat seperti kipas. Wadah ini merupakan tempat resonansi sasando.

 Sasando  Sasando 1
Alat musik sasando, topi Ti’i Langga dan kain tenun Rote yang melambangkan kepemimpinan, wibawa dan percaya diri. 
Menikmati alunan musik pemain sasando elektrik di Sanggar Sasando Oebelo Puluti, Kabupaten Kupang Tengah.

Kami mampir di sebuah rumah sederhana yang dikenal sebagai tempat perajin sasando, berada di Oebelo Puluti, Kabupaten Kupang Tengah, sekitar 20 km dari Kota Kupang. Masyarakat Oebelo kebanyakan adalah petani garam. Hal tersebut bisa dilihat kala melintasi sepanjang jalan besarnya. Tepi jalan dihiasi dengan garam yang dipasarkan dalam bentuk sokal (sejenis tabung panjang yang bahannya terbuat dari daun lontar). Daun lontar memang menjadi komoditas yang banyak digunakan di Kupang. Selain bisa dirubah menjadi berbagai macam tempat penyimpanan, di sini anyaman daun lontar juga biasa digunakan sebagai atap rumah, karpet, bahan rumah gubuk juga kerajinan, seperti yang biasa dipakai oleh Jeremias Pah, seorang perajin dari Bengkel Perajin Sasando. Sasando dimainkan untuk beberapa keperluan seperti menghibur kerabat atau orang yang berduka cita, sebagai pengiring tarian dan upacara adat, menyambut tamu penting, atau sekadar alat musik penghibur. Bahkan kini, telah dikembangkan sasando elektrik, bukan akustik lagi, dan terdapat beberapa jenis sasando, mulai dari 10 senar hingga 56 senar yang dibuatnya selama 5 hingga 15 hari.

Bagi orang Rote, selain alat musik sasando, juga ada topi Ti’i Langga yang melambangkan jiwa kepemimpinan, kewibawaan dan percaya diri. Pada awalnya topi Ti’i Langga hanya digunakan oleh para petinggi adat yang bermukim di Pulau Rote, tetapi sekarang topi Ti’i Langga sudah menjadi pelengkap untuk pakaian tradisonal laki-laki di Rote dan juga sering dipakai untuk acara-acara adat. Bahan utama yang digunakan untuk membuat topi Ti’i Langga yaitu daun lontar, dimana pohon lontar memang banyak ditemui di wilayah NTT. Setelah puas mendengarkan alunan sasando elektrik, berfoto dengan topi Ti’i Langga dan kain tenun khas Rote, sore itu kami kembali ke Kota Kupang.

 Puskesmas Oesapa 2  Puskesmas Oesapa 1
Gedung megah Puskesmas Oesapa berlantai 2 sore itu masih ramai dengan berbagai aktivitas pegawai.
Prasasti peresmian di dinding Gedung Puskesmas Oesapa, Kupang yang digunakan mas Yudhi untuk belajar

Di seluruh teritorial Kota Kupang, terdapat Puskesmas Alak, Puskesmas Naioni, Puskesmas Bakunase, Puskesmas Pasir Panjang, Puskesmas Kupang Kota, Puskesmas Oebobo, Puskesmas Oesapa, Puskesmas Oepoi, Puskesmas Sikumana, Puskesmas Penfui dan Puskesmas Manutapen. Sore itu kami mampir ke Puskesmas Oesapa, yang digunakan sebagai wahana internship mas Yudhi dan teman2 dokter lainnya, selain puskesmas pembantu (pustu) di Kelapa Lima, Oesapa Barat, dan Lasiana. Gedung Puskesmas Oesapa berlantai 2 sore itu masih ramai dengan berbagai aktivitas pegawai, tertata rapi dan bersih, tidak kalah dan sangat mirip dengan banyak puskesmas yang modern di Pulau Jawa. Setelah puas mengamatinya, kami segera melanjutkan petualangan ke air terjun Oenesu, yang menjadi oase dari panas teriknya kota Kupang, yang berada di Desa Oenesu, Kecamatan Kupang Barat, Kabupaten Kupang ini berjarak sekitar 20 kilometer dari Kota Kupang. Air terjun Oenesu menjadi salah satu tempat favorit wisatawan, lantaran pesona air terjun yang dikelilingi rerimbunan berbagai jenis pohon itu, menjadi pilihan cocok menghalau rasa gerah, terkait panasnya cuaca Kota Kupang pada musim kemarau. Tak hanya itu, rindangnya pepohonan yang beragam jenisnya membuat susana hati setiap pengunjung yang melihatnya, merasa tenang dan sejuk. Uniknya, Air Terjun Oenesu memiliki air terjun yang bertingkat-tingkat hingga mencapai empat lapisan.

 Oenesu 3  Oenesu 6
Air Terjun Oenesu yang bertingkat-tingkat hingga mencapai empat lapisan
Bersemedi di sebuah tingkatan pada aliran Air Terjun Oenesu Kupang

Masing-masing tingkatan, di sela-selanya terdapat kolam-kolam yang terbentuk secara alamiah sehingga banyak dimanfaatkan pengunjung untuk berenang maupun berendam. Air yang mengalir ini banyak mengandung kapur. Saat musim hujan, curuhan dan volume air Oenesu begitu melimpah. Kendati begitu airnya tetap jernih. Sementara ketika musim panas, airnya tak pernah kering, meski tak sebanyak saat musim hujan, namun airnya terlihat lebih jernih. Lokasi wisata air terjun yang memiliki luas areal sekitar 1,5 hektar sudah dilengkapi berbagai fasilitas, seperti bangunan peneduh berupa sembilan lopo, dan tangga menurun ke lokasi air terjun. Setelah kami puas mandi, berenang dan berfoto pada setiap tingkatan air terjun Oenesu, kami segera berganti baju kering untuk bergegas menikmati sore di sebuah pantai.

 Tabl  Tablalong
Senja di Pantai Tablolong yang diapit oleh Pulau Rote dan Timor
Perpaduan hamparan pasir putih dan birunya langit menambah keelokan Pantai Tablolong.

Dibalik kesan panas dan keringnya Kota Kupang, berada tak jauh dari pusat kota, terdapat beberapa primadona pantai, dengan hamparan pasir putihnya yang menjadi daya tarik bagi para pengunjungnya, salah satunya adalah pantai Tablolong. Nama Tablolong diambil dari nama salah satu perkampungan nelayan kecil yang berada di ujung timur. Pantai yang memiliki hamparan pasir putih ini, diapit oleh Pulau Rote dan Timor. Pantai ini sering dijadikan arena olahraga memancing skala lokal, nasional hingga internasional setiap tahunnya. Perairan sejauh 10 mil dari garis Pantai Tablolong itu merupakan jalur migrasi ikan yang cukup ramai, dari perairan Laut Timor menuju Laut Sawu. Selain itu, Tablolong juga sebagai penghasil rumput laut terbesar di NTT.

Perpaduan hamparan pasir putih dan birunya langit menambah keelokan Pantai Tablolong. Selain berenang ataupun bermain air, pengunjung dapat bersantai ria di lopo (sejenis bale-bale/ gazebo) sambil menikmati hembusan angin pantai. Tablolong juga dihiasi oleh adanya Pohon Centigi (Pempis Acidula) yang tumbuh liar di sekitaran bebatuan karang, dan merupakan sebuah tanaman golongan perdu yang banyak diburu orang karena keunikannya.

Pantai yang berjarak sekitar 30 km dari pusat Kota Kupang ke arah Tenau, waktu tempuh menuju lokasi dapat mencapai 1-1.5 jam. Sore itu kami menikmati pemandangan matahari tenggelam yang sangat sensasional, selanjutnya kami menikmati makan malam nasi bungkus dan air kelapa muda yang segar, sampai malam gelap menghimpit kami. Kami segera menuju ke Hotel Greenia dalam kepuasan yang penuh. Setelah mandi sore, hanya kami berdua dan pakde Totok serta budhe Tari yang masih mampu menikmati malam hari, dengan diantar oleh mas Yudhi. Malam itu, kami dijamu oleh Dr. Maria Surina dan Om Fendi suaminya, menikmati jagung bakar dan pisang bumbu kacang di kios nomer 10, pusat kuliner malam hari di sepanjang Jl. El Tari Kupang depan Gedung Sasando, Kantor Gubernur NTT yang legendaris. Setelah kekenyangan dan mulai mengantuk, kami lantas berpisah, mengantar pakde Totok dan budhe Tari kembali ke Hotel Greenia, dan kami melanjutkan petualangan ke Rumah Sakit St. Carolus Borromeus (RSCB) di Jl. H.R. Koroh KM 8 Kupang – NTT. RS yang didirikan oleh Kongregasi Suster-Suster Cinta Kasih Carolus Borromeus, seperti halnya RS Panti Rapih di Yogyakarta, dikelola oleh Yayasan Elisabeth Gruyters Kupang.

 RSCB Kupang  RS Bhayangkara 1
Ambulance di UGD Rumah Sakit St. Carolus Borromeus, Kupang
 Bersama mas Yudhi yang belajar sebagai dokter di RS Bhayangkara Kupang

Rumah Sakit St. Carolus Borromeus ini merupakan rumah sakit tipe C yang telah lulus akreditasi tingkat perdana, menerima pasien BPJS maupun asuransi swasta lainnya yang telah bekerja sama. Motto RS St. Carolus Borromeus adalah “Kasih yang Menyembuhkan.” RSCB ini melayani semua penderita dengan cinta kasih dalam kepemimpinan oleh Direktur Dr. Herli Soedarmadji. SDM terdiri dari 10 orang dokter umum, 16 orang perawat, dokter spesialis yang tetap baru dokter penyakit dalam, yaitu dokter Stefani, memiliki 27 tempat tidur, yang sedang dikembangkan menjadi 50. Malam sudah terlalu larut, sehingga kami tidak mampu menemui Sr. Natalia, CB, seorang apoteker dari RS Panti Rapih Yogyakarta yang pindah di situ, dan langsung kembali terlelap di kamar Hotel Greenia.

Minggu, 1 Juli 2018 pagi hari, kami terjaga agak siang karena kelelahan yang penat. Pagi itu, kami akan mengikuti misa kudus di Gereja Katedral Kupang. Katedral ini adalah pusat dari Keuskupan Agung Kupang (KAP) yang didirikan pada 13 April 1967, hasil pemekaran dari Keuskupan Atambua. Kemudian pada 23 Oktober 1989 ditingkatkan menjadi Keuskupan Agung Kupang, dalam kesatuan satu provinsi gerejani dengan dua keuskupan sufragan, Atambua dan Weetebula. Mencakup 130.000 umat yang berada di Kabupaten Kupang, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Pulau Alor dan Pulau Pantar. Pertambahan umat di Keuskupan Kupang yang cukup besar terjadi setelah tahun 1965, ketika banyak penduduk yang menganut agama asli kesukuan, meminta diterima menjadi anggota Gereja. Perkembangan itu menyebabkan pemisahan dari Keuskupan Atambua. Statistik tahun 2004 menunjukkan jumlah umat sebanyak 125.000 tersebar di 22 paroki. Uskup Kupang pertama adalah Mgr Gregorius Manteiro SVD (13 April 1967—23 Oktober 1989), selanjutnya Uskup Agung Kupang adalah Mgr Gregorius Manteiro SVD (23 Oktober 1989—10 Oktober 1997, wafat) dan Mgr Petrus Turang (10 Oktober 1997—sekarang).

 Katerdral  Katerdral 1
Gereja Katolik Katedral Kristus Raja Kupang ini berdiri pada tanggal 15 Agustus 1967
Sekretariat Gereja Katedral Kristus Raja di Jl. Soekarno nomor 1 Bonipoi, Kupang.

Gereja Katedral Kristus Raja Kupang ini berdiri pada tanggal 15 Agustus 1967, terletak di Jl. Soekarno nomor 1 Bonipoi, Kupang. Katedral berasal dari kata latin “cathedra” yang artinya kursi. Di luar gedung geraja terdapat makam Uskup Agung pertama Keuskupan Agung Kupang, Mgr. Gregorius Monteiro. Tanggal 14 Oktober 1999, makam ini diberkati oleh Uskup Agung Kupang, Mgr. Petrus Turang. Ciri khas katedral ini adalah kaca patri di sepanjang dinding yang menyatu menjadi galeri ‘stained glass’. Gambarnya terdiri dari ‘Lamb of God’, ‘St. Mary and globe’, ‘Christ the King’, ‘The Ressurection of Christ’, dan ‘The Infant Jesus of Prague’. Setelah misa kudus selesai dan kami puas menikmati keindahan gedung gereja, kami segera kembali ke Hotel Greenia untuk berkemas pulang.

Setelah kenyang makan siang bersama di rumah pasangan ideal suami isteri Dr. Vama (konsultan UNICEF Regio  Indonesia Tengah) dan Dr. Frans Taolin, SpA (Ketua IDAI Cabang NTT), kami segera terbang kembali ke Jogja menggunakan pesawat Boeing 737-900 ER, yang merupakan pesawat penumpang sipil (airliner) komersial untuk penerbangan jarak dekat dan jauh. Pertama kali dibuat pada tahun 2006, dan resmi mengudara pada 2007, Boeing 737-900 ER ‘Extended Range’ dioperasikan pertama kali oleh maskapai penerbangan asal Indonesia yaitu Lion Air. Boeing membuat 737-900 yang mampu terbang lebih jauh dan menampung penumpang lebih banyak daripada vesi sebelumnya. Pada varian ini, yaitu Boeing 737-900 ER (Extended Range), cockpitnya telah dilengkapi dengan HUD (Head Up Display). Di Indonesia, Boeing 737 merupakan “standar” armada bagi berbagai maskapai di Indonesia, baik varian “original” (seri -200), varian “Classic” (seri -300, -400, dan -500), maupun “Next Generation” (seri -800 dan -900ER).

 Dr. Vama  Terbang Boeng
Setelah makan siang bersama di rumah Dr. Vama dan Dr. Frans Taolin, SpA, 
Di dalam pesawat Sriwijaya Air SJ 255 Boeing 737-900 ER dari Kupang

Keluarga pakde Totok melanjutkan pesiar ke Maumere dan Kelimutu di Pulau Flores, sedangkan kami terbang pulang ke Yogyakarta dengan menumpang pesawat Sriwijaya Air SJ 255 Boeing 737-900 ER dari Kupang Minggu, 1 Juli 2018, pk. 14.30 selama 1 jam 50 menit. Dilanjutkan dengan pesawat Sriwijaya Air SJ 235 Boeing 737-900 ER dari Surabya selama 55 menit, untuk mendarat di Yogyakarta Minggu, 1 Juli 2018, pk. 17.45. Sriwijaya Air adalah sebuah maskapai penerbangan di Indonesia yang didirikan oleh keluarga Lie (Hendry Lie dan Chandra Lie) dengan Johannes Bundjamin dan Andy Halim. Saat ini Sriwijaya Air adalah Maskapai Penerbangan terbesar ketiga di Indonesia, dan sejak tahun 2007 hingga saat ini tercatat sebagai salah satu Maskapai Penerbangan Nasional yang memiliki standar keamanan kategori 1 di Indonesia.

Terimakasih kepada segenap pihak, yang telah mendukung pesiar kami di Kupang dan proses pendidikan internship mas Yudhi dan teman2 dokter muda lainnya. Sampai bertemu dalam petualangan selanjutnya.

 Ikut pak Jokowi

Sekian
Yogyakarta, 3 Juli 2018
*) petualang, pesepeda, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

Categories
anak Healthy Life Jalan-jalan politik

2014 Pancen Munchen Jerman

PANCEN   MUNCHEN  JERMAN

fx. wikan indrarto*)

Kami memulai petualangan di Eropa yang kedua kalinya dengan pesawat Lion Air JT 559 Boeing 737-900 ER pada hari Sabtu, 5 September 2014, berangkat pk. 13.15 dari Yogyakarta menuju ke Jakarta. Setelah beristirahat sejenak dan bertemu Yangti, mas Toto dan dik Woro di Bandara Cengkareng Jakarta, kami lanjut dengan Air France AF 0259, sebuah Boeing 777-300 ER baru, yang dilengkapi ‘consignes de securite’ atau petunjuk keselamatan dan ucapan ‘bienvenue a bord’ atau selamat datang di dalam kabin pesawat dalam Bahasa Perancis.

.

Kami berangkat pk. 18.45 melalui Singapura yang berjarak 883 km, menuju Paris (CDG kode untuk Charles de Gaulle Airport). Pesawat kami merupakan salah satu dari 37 pesawat sejenis, dari 111 buah ‘avions long-courriers’ atau pesawat jarak jauh milik Air France, termasuk 10 buah pesawat penumpang terbesar di dunia, Airbus A380. Dengan kecepatan pesawat 538 mph yang setera 878 km/jam, dengan ketinggian jelajah atau altitude 36.000 kaki, perjalanan yang menempuh 11.337 km tersebut, menghabiskan waktu 13 jam non stop dari Singapura. Kami lanjutkan perjalanan ke Munich di Jerman bagian selatan, melalui terminal 2F gate F47, pk. 9.45 dari Bandara Charles de Gaulle (CDG) Paris yang sangat megah. Kami berganti dengan pesawat Airbus A 320 Air France, salah satu dari 45 pesawat sejenis. Air France juga memiliki 129 pesawat jarak menengah dan 95 pesawat regional. Sampai Munich pk. 11.45 waktu setempat, atau 1 jam 15 menit perjalanan dari Paris.

.

Bandara Internasional Franz Josef Strauss (IATA: MUC, ICAO: EDDM) adalah bandara internasional terbesar kedua di Jerman dan ketujuh di Eropa setelah London Heathrow, Paris Charle de Gaulle, Frankfurt, Amsterdam, Madrid and Istanbul Atatürk. Bandara ini melayani sekitar 34 juta orang per tahunnya, dan terletak sekitar 30 km (19 mil) arah timur laut dari pusat kota. Bandara dapat dicapai dengan kereta S8 dari timur dan S1 dari barat kota. Dari stasiun kereta utama, perjalanannya akan memakan waktu 40-45 menit. Sebuah kereta ekspres akan ditambahkan, sehingga akan memangkas waktu perjalanan menjadi 20-25 menit saja. Lufthansa menjadikan bandara ini sebagai penghubung keduanya, ketika Terminal 2 dibuka pada tahun 2003. Bandara ini mulai digunakan sejak tahun 1992, menggantikan bandara sebelumnya yaitu Munich-Riem airport.

.

 
DSC04235
 
DSC04231

Kereta S8 yang akan kami gunakan

Gerbang Arcadia Hotel Munchen Airport

.

Setelah mendarat, kami segera menuju Arcadia Hotel Munchen Airport dengan naik taxi BMW bertarif E20. Setelah check in dan beristirahat sejenak di kamar nomor 111, kami segera memulai petualangan di Munchen dengan kereta api. Suburban train dan subway di Munchen diberi kode U (Urban dari 1 sampai 6) dan S (Suburban dari 1 sampai 8). Jalur Deutsche Bahn atau S-Bahn (suburban train), yaitu kereta api yang menjangkau daerah pinggiran kota dalam ring 4. Kereta jalur S8 memiliki stasiun pemberangkatan awal di terminal 1 bandara Munich Airport (Flughafen Munchen) menuju Herrsching. Kerata api berwarna dasar merah oranye dengan putih ini terdiri dari 10 gerbong bertarif E40. Kami melewati stasiun Besucherpark, Hallbergmoos, Ismaning, Unterfohring, Johanneskirchen, Englschalking, Daglfing, Leuchtenbergring, Ostbahnhof, Rosenheimer Platz, Isartor, Marien Platz, Karlsplatz (stachus) dan turun di Hauptbahnhof Central Station, di pusat kota. Kami tidak hanya berada di jalur bawah tanah yang gelap, tetapi kadang juga melewati areal persawahan gandum yang tertata rapi, diselingi pohon-pohon semak penuh daun tanpa buah, juga perkampungan dengan rumah gaya Jerman yang khas. Bangunan 2 lantai, bentuk luar kotak dengan sebuah kamar kecil beratap menghadap keluar, dari atap utama rumah. Sejak Stasiun Ostbahnhof, jalur kerata api selalu di bawah tanah, karena sudah berada di wilayah kota yang padat lalu lintas, agar semuanya lancar tanpa perlintasan sebidang. Kami turun di Hauptbahnhof Central Station, naik ke lantai utama dan melaksanakan rencana utama, yaitu membeli tiket City Night Line Train menuju ke Roma Termini Central Station di Italia, seharga E335 unt 2 orang.

.

 
DSC04236
 
DSC04238

Munchen Hauptbahnhof
Central Station

Tram di Munchen Hauptbahnhof
Central Station

.

Setelah itu kami membeli makan di konter ‘asiagourmet’, menu B1 seharga E3,5 (Asia-Bratnudeln) dan B5 (Mini Veggie Springrolls) seharga E 4,9 yang dibungkus kertas. Kami kembali ke jalur bawah tanah untuk naik S4 melewati stasiun Karlsplatz (stachus) dan turun di Marien Platz. Beda subway di Munchen dengan kota lainnya, pintu penumpang yang masuk dan keluar berbeda sisi, yaitu sisi kiri gerbong untuk penumpang yang masuk dan sisi kanan gerbong untuk penumpang yang turun. Para penumpang jadi tidak saling bertemu, banyak penumpang juga membawa sepeda maupun anjingnya, dan pintu hanya terbuka kalau ada penumpang memencet tombol.

.

Kami memasuki kathedral Stadtpfarramt St. Peter, Rindermarkt 1 Munchen, di seberang gedung Balaikota dan Speilzeug Museum. Katedral St. Petrus tersebut ditandai prasasti Ritterorden vom Heiligen Grab zu Jerusalem, Ordensprovinz Bayern, Kumturei Patrona Bavariae-Munchen.

.

 
DSC04245
 
DSC04254

Gedung Balaikota Munchen
dan Speilzeug Museum dalam hujan

Di dalam kathedral Stadtpfarramt St. Peter, Rindermarkt 1 Munchen

.

Kami bertahan cukup lama di beranda, karena hujan deras tiba-tiba turun. Setelah berdoa sejenak di dalam katedral yang megah, kami naik bis MAN gandeng warna biru yang bersih dan nyaman, untuk melihat-lihat kota. Kami turun di halte Candidplatz, untuk naik kereta api U1 (underground U-Bahnlinie) ke Sendinglinger Tor, melewati Kolumbusplatz dan Fraunhofererstr. Di stasiun Sendlinger Tor kami ganti U6 menuju stasiun Frottmaning untuk melihat stadiun sepakbola Allianz Arena. Kami melewati Marienplatz City Center, Odeonplatz, Universitat, Gisalastr, Munchner Freihet, Dietlindenstr, Nordfriedorf, Alte Heide, dan mulai dari stasiun Studentenstadt jalur bukan lagi di bawah tanah karena sudah di luar pusat kota, terus menuju ke Freimann, Kieferngarten, dan turun di Frottmaning. Kami mengunjungi dan berfoto di Allianz Arena, markas FC Bayern Munchen, sebuah klub sepakbola profesional, sampai matahari terbenam pk. 20 waktu setempat. Mega bintang Real Madrid, Cristiano Ronaldo, menahbiskan diri sebagai pencetak gol terbanyak dalam satu musim Liga Champions. Ronaldo telah membukukan 16 gol di kompetisi antarklub paling elit di benua Eropa itu. Ronaldo mencetak rekor tersebut lewat tambahan dua gol dalam kemenangan 4-0 Madrid atas Bayern Munchen, di leg kedua babak semifinal Liga Champions di Allianz Arena yang kami kunjungi itu, pada Rabu, 30 April 2014 yang lalu.

.

Kami kembali naik kereta api U6 dari Stasiun Frottmaning menuju ke Stasiun Marianplatz untuk berganti S8 menuju Munchen Airport atau Flughafen Munchen. Hotel Arcadia, tempat kami menginap, terletak di dalam kompleks bandara.

.

 
DSC04265
 
DSC04272

Allianz Arena,
markas dan stadion sepakbola milik
FC Bayern Munchen

ICM (Internationales Congress
Center Munchen)
di Messegelande, lokasi konggres ERS

.

Pada hari Senin, 8 September 2014, kami memulai hari dengan perjalanan dari Terminal 1 Bandara Munchen, kami naik kereta S8 menuju Leuchtenbergring, melewati Hallbergmoos, Ismaning, Unterfohring, Johanneskirchen, Englishalking, dan Daglfing. Kami ganti S4 tujuan stasiun Ebersberg, menuju stasiun Trudering melewati Berg am Laim, kemudian ganti U2 menuju Messestadt West melewati Moosfeld untuk berjalan kaki menuju ICM (Internationales Congress Center Munchen) di Messegelande. Kami mengikuti ERS (European Respiratory Society) International Congress 2014 yang diselenggarakan di ICM. U-Bahn menggunakan gerbong kereta gaya konservatif, tradisional dan lama yang masih terawat baik, dengan ornamen dan panel kayu pada dindingnya. S-Bahn menggunakan gerbong kereta modern yang mencerminkan dinamika, kepraktisan, dan optimisme.

.

Setelah mengikuti beberapa sesi konggres, kami melanjutkan perjalanan. Dengan kereta U2 dari stasiun Messestadt West lewat Moosfeld terus ke Trudering, untuk berganti S6 ke Stasiun Marianplatz City Center. Kami melewati Stasiun Berg am Laim dan Leuchtenbergring yang berada di atas tanah, dan mulai dari stasiun Ostbahnhof jalur kereta api berada di bawah tanah, menuju stasiun Rosenheimer Platz, dan Isartor karena sejak itu sudah berada di areal pusat kota Munich. Tujuan pertama kami adalah Deutsches Museum verkehrszentrum. Tersedia 2 buah pilihan tiket, yaitu seharga E 8,5 yang berupa ‘one day ticket’ atau E 15 berupa ‘three museum ticket’. München (bahasa Inggris: Munich, bahasa Bayern: Minga) adalah ibu kota negara bagian sekaligus kota terbesar di negara bagian Bayern di Jerman. Dengan penduduk berjumlah 1.305.522 jiwa (2006), München merupakan kota berpenduduk terbesar ketiga di Jerman setelah Berlin dan Hamburg. Kota ini terletak di sisi sungai Isar, bagian utara dari Bavarian Alps.

.

Kami sempatkan bergaya di depan patung Otto Furst von Bismarck (1815-1898) dengan keterangan ‘grunder des deutschen reiches ehrenburger derstadt Munchen’, yang berdiri gagah di dekat Sungai Isar, sebuah sungai besar yang membelah kota Munchen. Dengan sambutan ‘Herzlich Willkommen’ atau selamat datang dalam Bahasa Jerman, kami memasuki Wok & Roth, China Restaurant di SteinsdorfstraBe 22, tidak jauh dari patung Bismarck. Menu Peking Suppe atau sop seharga E2, Gebratener Reis m Huhn atau nasi goreng seharga E3,3 dan Rindfleisch mit Zwiebeln atau nasi daging seharga E6, mengenyangkan perut Asia kami sore itu.

.

Dari balai kota turun di Marienplatz City Center, naik U3 ke arah Moosach. Kami melewati Odeonplatz, Universitat, Giselastr, Munchner Freiheit, Bonner Platz, Scheidplatz, Petuelring, dan turun di Olympiazentrum, untuk melihat BMW Welt, BMW Museum dan Olympiapark. Ketiganya berada dalam sebuah kompleks yang sangat besar dan luas. Selanjutnya ke Zum Kirchenzentrum im Olympischen Dorf 1972. Naik kereta kelinci Einzelfahrschein Watzinger bertarif E 3, kami mengelilingi kompleks olimpiade yang sekarang tidak hanya digunakan sebagai fasilitas olah raga, tetapi juga kesenian, kuliner dan rekreasi keluarga. Kami sempat melihat sea live, patung Freddie Mercury (1946-1991) lead singer of Queen di Rockmuseum Munich di Olympiaturm, souvenir shop. Bahkan juga Retaurant 181, yang terletak di ketinggian 181 m dari atas tanah, dalam sebuah bangunan menara pemancar televisi olimpiade. Kota ini juga merupakan kota penyelenggara Olimpiade Musim Panas tahun 1972. Selanjutnya kami menikmati keindahan arsitektur BMW Welt atau ruang pamer mobil baru keluaran BMW. Kami berfoto dengan sebuah the all new BMW M3 Sedan yang berwarna biru dan the all new BMW M4 Coupe yg bercat merah tua. Kota ini juga menjadi kantor pusat dari beberapa perusahaan besar seperti Siemens AG (elektronik), BMW (mobil), MAN AG (produsen truk), Linde (gas), Allianz (asuransi), Munich Re (re-insurance), dan Rohde & Schwarz (elektronik).

.

 
DSC04312
 
DSC04320

the all new BMW M3 Sedan dan
the all new BMW M4 Coupe di BMW Welt

BMW Museum dan Kantor Pusat BMWmodern, berkelas dan futuristik

.

Dari Stasiun Olympiazentrum kami naik U3 menuju Stasiun Odeonplatz. Kami melewati Stasiun Petuelring, Scheidplatz, Bonner Platz, Munchner Freheit, Giselastr dan Universitat. Kami turun di stasiun Galeristr untuk keluar dari jalur bawah tanah menuju Ludwigstr. Di situ kami menikmati keindahan bangunan tua, yaitu Residenz Munchen yang dibangun tahun 1155. Sejarah kota Munich bermula saat Pangeran Ludwig memindahkan istananya dari Landshut dalam perpecahan Bavaria pada tahun 1255. Setelah menjadi raja, diubahlah rumah keluarga Wittelsbachs menjadi Residence atau istana, dari sebuah kuil kecil yang dimulai tahun 1385 sampai menjadi bangunan megah seluas 10 yards. Dalam 4 abad, yaitu sampai tahun 1918, gedung Residence ini menjadi pusat pemerintahan dan kekuasaan dinasti Wittelsbach. Istana ini memiliki 4 corak bangunan sesuai abad yang berbeda. Antiquarium merupakan aula terbesar bergaya Renaissance abad 17, yang dibangun Pangeran Maximilian I. Ancestral dan Ornate dirancang oleh Francois Cuvillies bergaya Recoco yang menonjol. Konigsbau yang dirancang Leo von Klenze untuk Raja Ludwig I, merupakan apartemen bergaya neoklasik. Dinding pembatas istana luar yang disebut Nibelungen digambari sejarah Munich oleh Julius Schnorr von Carolsfeld. Pesona gambar ini masih bisa kita saksikan dengan jelas sampai hari ini. Keindahan arsitektur gedung, lukisan, piranti rumah atau furniture, patung, hiasan, dan dipadukan dengan taman, sangat menakjubkan.

.

 
DSC04338
 
DSC04341
Gedung Maximilianeum, sebuah gedung parlemen, di tepi Sungai Isar yang membelah kota MunichMaxmonument
patung Raja Maximilian II
Keunig van Bayern

.

Dari Odeonplatz kami naik U5 menuju Neuperlach Sud, untuk turun di Max Weber Platz melewati Lehel. Kami melihat Gedung Maximilianeum, sebuah gedung parlemen, di tepi Sungai Isar. Kami lanjutkan dengan naik tram 19 menuju Pasing untuk turun di Hauptbahnhof. Dikoordinasikan oleh Tramnetz Munchen berlambang huruf H pada halte pemberhentian, terdapat 19 jalur tram. Dalam wajah tram hanya tertulis no 19, tanpa simbol huruf H dan semua tram berjalan di atas tanah, melewati pusat kota Munchen yang indah. Tram 19 menyeberangi Sungai Isar, melewati Maxmonument, Kammerspiele, Nationaltheater, Lenbachplatz dan Karlsplatz (stachus) Nord. Kami sempatkan turun di halte Maxmonument untuk mengamati keindahan patung Raja Maximilian II Keunig van Bayern.

.

Didirikan dengan nama Munichen pada tahun 1158 oleh Heinrich, pemimpin dari Sachsen, dan setengah abad kemudian dibangun benteng keliling kota. Pada awalnya, uskup Otto dari Freising, pemimpin gereja dan Heinrich, pemimpin wilayah, bersitegang memperebutkan kota tersebut sebelum akhirnya Heinrich dinobatkan sebagai kaisar di Augsburg. Pada 1180 Otto dari Wittelsbach menjadi Penguasa Bayern. Dinasti Wittelsbach kemudian menguasai Bayern sampai tahun 1918. Pada tahun 1255, Kekaisaran Bayern dibagi menjadi dua, dan München menjadi ibukota Bayern. Pada tahun 1327, seluruh kota terbakar, namun berhasil dibangun kembali beberapa tahun kemudian oleh Raja Ludwig IV. Pada 1632 kota tersebut dikuasai oleh Raja Adolf Gustav II dari Swedia pada Perang Tigapuluh Tahun, namun pada 1705, Munchen dapat direbut kembali dan dimasukkan ke dalam kepemimpinan Habsburg. Kami melanjutkan dengan tram 19, menuju Karlsplatz (stachus), untuk melihat kemegahan gedung tua dan patung Raja Ludwig IV. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan ke Stasiun Kota untuk membeli oleh2 cinderamata di Central Station yang dibangun tahun 1925, terus pulang ke hotel.

.

 
DSC04334
 
DSC04331

Patung Raja Ludwig IV
Raja Bavaria yang besar tahun 1327

Residence atau istana Dinasti Wittelsbachs, Penguasa Bavaria

Pada hari Selasa, 9 September 2014, kami memulai jalan-jalan lagi dengan mengenang kejadian pada tahun 1919, saat Jerman mengalami kehancuran pada akhir Perang Dunia I. Penduduk Munchen mengalami kesengsaraan hebat, penderitaan dan kemiskinan, yang memacu terjadinya hiperinflasi tertinggi di seluruh Bavaria, sehingga menghasilkan sebuah etos kerja revolusioner. Dari situlah lahir gerakan Nazi dan salah satu diktatator terbesar dan terkejam di dalam sejarah dunia, yaitu Adolf Hitler. Kenangan gelap sejarah Munich dimulai dari Hofbrauhaus di dekat Konigsplatz, sebuah lapangan luas yang digunakan untuk rapat raksasa yang pertama kali, yang kemudian akan berlanjut sampai pada pengukuhkan wibawa sang diktator dan kejayaan seluruh Jerman. Sisi gelap sejarah Munich masih dapat dinikmati, karena merupakan kenangan abadi, meskipun menyedihkan.

.

Kami mencari lemari penititpan kopor berbayar (luggage lockers) bertarif E6, kencing di WC umum bertarif E2 (setara dengan Rp. 30 ribu), mampir di warung ‘asiahung’ yang bermenu Asia, untuk makan chicken Yaki seharga E 5,9 dan kerupuk seharga E 2,5, untuk dimakan berdua. Kami naik Tram 17 ke arah Romanplatz dari Stasiun Hauptbahnhof sisi utara. Kami melewati jalan dalam kota yang rapi, yaitu Hopfenstr, Heckerbrucke, Deroystr, Marsstr, Donnersbergerstr, Burghausener Str, Briefzentrum, Steubenplatz, dan Kriemhildenstr. Dari Romansplatz, kami berjalan kaki ke Istana Nymphenburg. Dalam perjalanan di sepanjang jalur pejalan kaki yang nyaman dari Romanplatz, kami sempat mampir berdoa sejenak Gereja Fransiscus Asisi Pfarrgemeinde Christkonig, Nymphenburg. Gereja yang dibangun tahun 1865 tersebut memiliki 2 buah menara kembar dan atap oval bergambar Santo Fransiscus Asisi yang sedang menyapa. Setelah puas berdoa, kami melanjutkan jalan kaki ke istana Nymphenburg.

.

Dalam kombinasi rancangan taman dan arsitektur bangunan, Istana Nymphenburg adalah salah satu contoh sintesa seni terbaik di Eropa. Raja Max Emanuel menunjuk arsitek Agustino Barelli untuk membangun istana ini mulai tahun 1664. Selanjutnya Henrico Zuccalli merancang perluasan ruang pamer dan pemukiman pada tahun 1701. Joseph Effner melanjutkan pada tahun 1714 dan menyempurnakan dalam gaya French yang utuh, dan menjadi istana musim panas yang eksotik. Karl Albfrecht melengkapi istana ini dengan bangunan Rondell. Dekorasi dalam gedung (interior) mencerminkan seni gaya Baroque sampai Classicism, termasuk kamar di mana Raja Bavaria terbesar, Ludwig II, dilahirkan.

.

 
Munchen
 
DSC04357
Istana Nymphenburg, salah satu contoh sintesa seni terbaik di EropaGaya ‘post wedding’
di taman air Istana Nymphenburg

.

Kami naik lagi Tram 17 dari Romanplatz menuju SchwanseestraBe dan turun di Hauptbahnhof untuk berganti kereta api S2 ke arah Petershausen. Kami melewati Hackerbruce, Donnersbergerbruce, Hirschgarten, Laim, Obermenzing, Untermenzing Allach, Karlsfeld dan turun di Stasiun Dachau, sekitar 18 km dari pusat kota Munchen. Kami berganti bis kota jalur 719 menuju Rathaus dan kami akan menikmati istana Dachau, old town, altstadt and schloss. Istana ini awalnya sebuah kastil di atas sebuah bukit di atas Sungai Amper, dengan pemandangan sangat indah di sekelilingnya. Sejak abad ke 16 tumbuh menjadi sebuah areal pemukiman di dekat pusat kota Munich. Semasa Pangeran Wilhelm IV dan Pangeran Albrecht V, telah dikembangkan bangunan sayap ke 4 arah yang berbeda, yang dihubungkan dengan taman yang indah, rancangan Hans Wisreutter pada tahun 1564 sampai 1566. Aliran Renaissance pada era tersebut, menjadikannya gaya paling dominan di seluruh Jerman bagian selatan. Pada jaman Pangeran Max Emanuel, halaman depan direnovasi secara menakjubkan, dalam rancangan Joseph Effner pada periode tahun 1715 sampai 1717. Di taman yang indah terdapat pergola berusia 280 tahun, yang menjadi bukti kesempurnaan perancangan dan perawatan yang luar biasa.

.

DSC04394
DSC04391

Istana Dachau,
rancangan Hans Wisreutter
pada tahun 1564 sampai 1566.

Pemandangan sangat indah
dari atas sebuah bukit
di sekeliling istana Dachau

Kami mampir berdoa sejenak di gereja St. Yakobus Dacau, yang berada di kompleks old town Dacau. Gereja ini mulai dibangun tahun 1696 oleh arsitek Stich von Michael Wening. Kami kembali naik bis kota 719 dari Rathus, di pusat kota tua Dacau ke terminal kereta S2 di pinggiran Dacau. Kami naik S2 tujuan Osthbanhof untuk turun di Hauptbahnhof Central Station. Sore itu kami bersiap-siap melanjutkan perjalanan ke Roma, Italia, dengan City Night Train yang akan berangkat pk. 21.

(Berlanjut dengan petualangan di Italia)

baca juga :

2014 Nyata di Italia

*) pelancong Jawa berdana cekak

Ditulis di atas gerbong 255 City Night Train

antara Bologna dan Firenze di Italia Utara

Rabu dini hari, 10 September 2014.

Categories
antibiotika dokter Healthy Life Jalan-jalan politik

2008 MEDAN & TOBA

MEDAN & TOBA

fx. wikan indrarto*)

Pada hari Minggu siang yang cerah, 12 Januari 2008, kami berdua menggunakan Kijang Innova BK 2375 KF melaju dari Medan yang ramai ke Prapat di tepi Danau Toba. Kami menyusuri jalan trans Sumatera yang lebar melewati kota Tanjung Marowa, Kabupaten Deli Serdang dengan ibu kota Pakam, Serdang Dalui, Tebing Tinggi, dan Kabupaten Simalungun dengan ibu kota Pematang Siantar. Di Tebing Tinggi kami berbelok ke kanan, berpisah dengan jalur trans Sumatera, masuk ke areal perkebunan kelapa sawit dan karet yang luas sepanjang mata memandang. Kami perlu waktu hampir 4 jam untuk sampai Prapat, yaitu sekitar pk. 18.30, dan menginap di Hotel Prapat Inn persis di tepi Danau Toba, sebuah danau terbesar di seluruh dunia.

100_2471

Bergaya di depan gerbang makam Tomok di Pulau Samosir

Pada Senin pagi yang cerah, 13 Januari 2008 kami menyeberang ke Pulau Samosir, naik kapal umum di dermaga pasar tua Prapat. Penyeberangan dapat menggunakan 3 pilihan, yaitu dengan kapal umum dari pasar tua bertarif Rp. 15.000/orang, speedboat dari dermaga taman kota bertarif Rp. 300.000/kapal, dan feri yang dapat memuat mobil. Kapal umum yang kami pilih itu memuat para padagang dengan barang dagangannya, pegawai dan sedikit pelancong. Di dalam kapal itu juga ada sepeda motor, barang dagangan pasar, sayuran, bahkan pupuk urea, semua menjadi satu. Kami naik kapal dengan jadwal perjalanan pk.08.30 menuju Tomok di jantung Pulau Samosir. Kami menyewa motor ojek untuk berboncengan seharga Rp. 30 ribu, untuk menyusuri jalan beraspal tipis dengan rute mengelilingi 1/4 pulau. Pulau Samosir berbentuk seperti ikan, berasal dari gunung berapi purba dan merupakan asal usul orang Batak. Peradaban dimulai di Tomok sekitar 600 tahun yang lalu, dan meninggalkan maskot patung berbentuk seperti cecak dan payudara, yang berarti orang Batak akan dapat hidup di mana saja dan sesama anak suku tidak boleh menikah. Bendera dan corak warna kain atau cat selalu dengan warna merah, putih dan hitam, yang merupakan warna khas.

 100_2472  100_2475

Gaya dengan ulos di depan makam

Raja Sidabutar di Tomok, jantung Pulau Samosir

Gaya pakaian adat Batak Toba

di depan Museum Tomok, dengan senjata betulan.

Anak suku tertua orang Batak adalah Sidabutar, yang waktu itu dikenal masih belum beragama (animisme), masih hidup secara vegetarian, makan sayuran mentah, dan rambutnya panjang, baik pria maupun wanita dewasa. Situs arkeologis yang masih dapat dilihat adalah makam dengan nisan batu yang besar untuk para raja, sedangkan nisan yang kecil untuk para serdadu yang gagah berani dan gugur di medan perang. Raja Sidabutar III baru beragama Kristen, setelah seorang pendeta Jerman, yaitu Tuan Nomensen datang pada tahun 1825. Kami sempat memasuki situs makam Raja Sidabutar, melihat rumah adat Batak, tarian Sigale-gale dan mencicipi menu khas makanan tradisional tanah Samosir. Setelah puas, kami kembali menyeberang danau menuju Perapat dan melanjutkan perjalanan pulang ke Medan.

100_2469

Naik motor sewaan keliling Pulau Samosir yang berpanorma indah.

Perjalanan pulang ke Medan kami tempuh melewati rute yang berbeda dengan saat datang, yaitu menyusur danau sisi timur, melihat banyak penjual sayur dan buah yang menjajakan dagangan di tepi jalan, terus melaju sampai ke Kabupaten Tanah Karo dengan ibukota Kabanjahe dan Kabupaten Mandailing dengan ibukota Beras Tagi. Di Beras Tagi yang dingin mencekam karena berada di punggung gunung, kami beristirahat dan mencicipi jus markabe, terdiri dari markisa dan terong belanda, yang merupakan buah khas daerah tersebut. Kami memasuki Medan saat matahari hampir tenggelam dan menginap di Hotel Danau Toba.

 Raja Sisingamangaraja  Tarian Sigale-Gale

Patung gagah Raja Sisingamangaraja XII

di depan makamnya

Tarian Sigale-gale, boneka yang dapat menari

di depan rumah adat Batak Toba

Hari berikutnya kami mengunjungi Istana Maimoon yang berdiri sejak tahun 1612, di pusat pemerintahan Kasultanan Deli abad pertangahan. Saat ini istana tersebut hanyalah tempat rekreasi, sebab sultan dan keluarganya sudah tidak tinggal di situ. Tuanku Sultan Mahmud Arya Lamanciji Perkasa Alam (Sultan Deli XIV) adalah sultan sekarang yang lahir pada 30 Agustus 1998 dan diangkat 22 Juli 2005. Kami dapat melihat tahta sultan, pakaian kebesaran, benda-benda milik sultan dan foto para sultan, termasuk sultan terakhir yang masih remaja. Setelah berfoto bersama, kami mengunjungi Makam Raja Sisingamangaraja XII, pahlawan nasional yang melawan penjajah Belanda, yang dibangun di pinggiran kota Medan. Di depannya berdiri gagah patungnya yang sedang naik kuda berwarna putih bersih dan dengan gagah memimpin pertempuran. Sayang sekali, monumen tersebut tidak terawat baik dan dikotori oleh para pedagang kaki lima di sekitarnya.

 100_2484  100_2491

Istana Maimon peninggalan Sultan Deli

yang tidak ditempati lagi

Mencoba naik betor (becak bermotor)

di sekitar Masjid Besar Medan

Perjalanan kami lanjutkan dengan melihat Kantor Gubernur Sumatera Utara, Kantor Walikota Medan, dan Merdeka Walk, sebuah area olah raga, rekreasi dan kuliner untuk umum, yang ramai dikunjungi masyarakat dan terletak di depan kantor Balai Kota lama, Gedung Bank Indonesia Cabang Medan dan Kantor Pos Besar. Merdeka Walk sebaiknya menjadi panutan bagi kota lain untuk membangun fasilitas umum yang dilengkapi dengan fasilitas olah raga, ‘jogging tract’ dan bahkan alat-alat fitness yang terbuat dari besi antara lain : ‘double multi height leg-stretching’, ‘double stretcing wheel station’, ‘shoulder dynamic station’, ‘back extention station’, ‘double circumvolving station’, ‘elliptical work station’, ‘space walker station’, ‘double torso swing station’ yang dikelola oleh Dinas Pertamanan Kota Medan, terawat baik dan boleh digunakan oleh siapapun secara cuma-cuma. Kami mencoba menaiki betor (becak bermotor), sebuah alat transportasi khas kota Medan yang banyak digunakan oleh penumpang masyarakat kebanyakan di sekitar Masjid Besar Medan.

100_2494

Bergaya di depan Kantor Gubernur Sumatera Utara di pusat kota Medan.

100_2496

Bergaya di depan Kantor Walikota Medan yang modern di pusat kota Medan.

 100_2486

Masjid Raya Medan yang berkubah hitam seperti di Aceh.

Perjalanan keliling kota kami akhiri dengan mengikuti Pelatihan Vaksinasi Dasar untuk Dokter Spesialis Anak di Hotel Tiara. Kami pulang ke Jakarta dengan menuju Bandara Polonia yang masih terhitung di tengah kota, sehingga akan dipindahkah ke Tanjung Morowa, untuk mengurangi dampak buruk bandara bagi masyarakat kota yang semakin padat.

sekian

Yogyakarta, 17 Januari 2008

*) pelancong Jawa berdana cekak

 

Categories
dokter Healthy Life politik

BIOLOGI POLITIK

BIOLOGI POLITIK

fx. wikan indrarto*)

Tahun 2019 adalah tahun politik, karena akan diselenggarakan Pemilihan Presiden (Pilpres) Republik Indonesia, yang diawali dengan Pilkada serentak 2018. Sebagai warga negara yang baik, para dokter di Indonesia tidak boleh tinggal diam dalam peta perpolitikan daerah ataupun nasional. Bagaimana peran dokter dalam menganalisis sikap politik sesama warga bangsa?

Hasil gambar untuk biologi politik

Semua warga bangsa Indonesia dihadapkan dengan pertaruhan politik besar, bukan hanya sekedar menuju demokrasi paripurna, tetapi hal yang tersulit adalah menjaga agar kebhinekaan Indonesia tetap terjaga dengan baik. Pemilihan umum, baik pilkada maupun pilpres saat ini dihadapkan pada tantangan menguatnya politik sektarian berbasis Suku, Agama, Ras, dan Antar golongan (SARA). Menguatnya politik sektarian menegaskan bahwa Indonesia sebagai sebuah bangsa, masih menghadapi permasalahan kebhinekaan yang terus mengintai dan mengancam. Ancaman tersebut tidak akan pernah berhenti, sampai kesadaran berbangsa dan bernegara dapat secara efektif termanifestasi dalam benak publik secara keseluruhan.

Hasil gambar untuk radikalisme dan terorisme

Selama ini politik sektarian juga menjadi penghalang bagi integrasi politik dalam bingkai kebhinekaan. Mengapa masyarakat Indonesia bisa terjerat dalam pertarungan politik sektarian? Apa yang terjadi sampai bangsa ini memasuki ruang politik yang sangat gaduh? Keduanya adalah pertanyaan besar yang harus dianalisis dari berbagai sudut pandang. Namun demikian, belum banyak dokter yang menyadari bahwa padangan politik sesunguhnya sesuatu yang eksak, artinya bisa diterjemahkan dari sesuatu yang terukur, misalnya dalam beberapa riset kedokteran membuktikan adanya keterkaitan struktur otak dan gen dengan orientasi politik.

Hasil gambar untuk biologi politik

Jurnal ilmiah ‘Current Biology’ Volume 21, 26 April 2011, memuat tulisan Tom Feilden, Colin Firth dan Geraint Rees dengan judul ‘Political Orientations Are Correlated with Brain Structure in Young Adults’. Jurnal yang Published Online 7 April 2011 belum banyak diminati oleh banyak dokter di Indonesia. Para ilmuan dari London College University tersebut menemukan perbedaan struktural dalam otak manusia di Inggris, berdasarkan pandangan politiknya, yaitu liberal atau konservatif. Pelitian ini menggunakan alat Magnetic Resonance Imaging (MRI) untuk memindai otak responden dan dikorelasikan terhadap orientasi politiknya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seorang dengan orientasi politik konservatif dan seorang liberal memiliki struktur otak yang berbeda. Meskipun demikian, sebenarnya struktur otak manusia dapat berubah dari waktu ke waktu berdasarkan pengalaman seseorang, sebuah adaptasi yang dinamakan neuroplastisitas.

Hasil gambar untuk biologi politik

Shaw, Christopher, dan McEachern (2001) mendefinisikan neuroplastisitas sebagai konsep neurosains yang merujuk kepada kemampuan otak dan sistem saraf semua spesies, termasuk manusia, untuk berubah secara struktural dan fungsional, sebagai akibat dari input lingkungan. Gagasan ini pertama kali diusulkan pada tahun 1890 oleh William James, tetapi diabaikan selama lima puluh tahun. Orang pertama yang menggunakan istilah ‘plastisitas neuronadalah ilmuwan neurosains Polandia, yaitu Jerzy Konorski, sebelum disempurnakan oleh Shaw pada tahun 2001. Meskipun demikian, belum jelas benar apakah perubahan dalam sikap politik seseorang dapat mempengaharuhi perubahan struktur otak. Riset kedokteran seperti ini terus berkembang dan dapat digunakan dalam pemetaan pemilih atau ‘voters’ dalam persiapan pilkada atau pilpres di manapun.

Hasil gambar untuk biologi politik

Evan Charney dan William English pada ‘The American Political Science Review’, Volume 107, Edisi 2 Mei 2013, menuliskan ‘Genopolitics and the Science of Genetics’. Pada tulisan tersebut, dua gen manusia yang dapat memprediksi suara pemilih atau genopolitik, tidak terbukti memiliki hubungan langsung dengan hasil pemungutan suara dalam pemilihan umum. Hasil ini karena dipengaruhi oleh stratifikasi populasi dan variabel bias yang diabaikan. Dengan demikian dari sudut pandang genetika, neuroscience, dan biologi evolusioner, genopolitik masih perlu dikaji lebih lanjut, terkait beberapa prinsip dasar dalam genetika molekuler selama 50 tahun terakhir.

Namun demikian, pada jurnal ‘Current Biology’ edisi 17 Nov 2014, Woo-Young Ahn dan rekan menulis laporan lain dengan judul ‘Nonpolitical Images Evoke Neural Predictors of Political Ideology.’ Ternyata ciri dasar ideologi politik seseorang telah ditemukan terkait secara mendalam dengan mekanisme biologi dasar, yang dapat berfungsi untuk mempertahankan diri terhadap tantangan lingkungan, seperti kontaminasi dan ancaman fisik. Hasil ini mempertanyakan klaim provokatif sebelumnya, bahwa respons saraf terhadap rangsangan nonpolitik (nonpolitical stimuli), seperti makanan haram atau ancaman fisik dapat digunakan untuk memprediksi opini politik (political opinions), seperti sikap terhadap pasangan calon atau partai pengusung dalam pilkada dan pilpres.

Radikalisme dari sisi kedokteran jiwa atau psikiatri, penting dibahas untuk penatalaksanaan paripurna, meskipun sampai sekarang masih diteliti apakah terjadi hanya pada orang dengan gangguan kejiwaan atau hasil proses cuci otak. Scott Antran seorang Antropolog Kognitif dari ‘French National Center for Scientific Research’, mengungkapkan bahwa orang muda memerlukan nilai dan impian. Kesimpulan bahwa ‘the youth need values and dreams’ dimuat dalam The Guardian, koran di Inggris yang terbit Minggu, 15 November 2015. Oleh sebab itu, para pihak yang dapat menawarkan nilai dan impian kepada para pemilih pemula, tentu akan dapat mendulang suara, bukan hanya karena pemilih mengalami gangguan kejiwaan semata, tetapi juga dipengaruhi oleh proses indoktrinasi bertubi.

Hasil gambar untuk biologi politik

Tentu saja para dokter Indonesia harus ikut terpanggil untuk melakukan pendekatan medis dalam perpolitikan nasional. Paling tidak, para dokter seharusnya mengedukasi warga bangsa, agar dapat menangkal pola pikir radikalisasi. Selain itu, juga dengan mengajarkan nilai-nilai rasional seperti agar tetap merasa nyaman dengan ketidaksempurnaan, menoleransi perbedaan, dan tidak mengidealkan sebuah utopia, singkat kata cara ini dinamakan moderasi. Oleh sebab itu, segenap warga bangsa NKRI seharusnya memecahkan masalah dengan instrumen berfikir dan asuhan medis paripurna, yaitu sesuai dengan ideologi dan karakteristik bangsa, berdasarkan Pancasila. Sudahkah para dokter terlibat membantu?

Sekian

Yogyakarta, 9 Januari 2018

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis, lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com.

Hasil gambar untuk dr wikan indrarto

Categories
Healthy Life Jalan-jalan politik

2005 MENAPAK TANAH SUCI

 

MENAPAK  TANAH  SUCI

fx. wikan indrarto & b. sari prasetyati *)

Perjalanan kami ke tanah suci berlangsung dari Minggu Pon 30 Oktober sampai dengan Minggu Kliwon, 6 November 2005 yang lalu. Berikut kami laporkan apa yang kami lihat, rasa, dengar dan alami di sana, yang kemudian kami tambahkan dengan apa yang kami kutip dan baca dari buku ‘Tanah Air Alkitab, Napak Tilas di Tanah Suci’ (selanjutnya disebut buku saja) dengan editor Reuven Dorot, terbitan tahun 1996. Kesemuanya kami gabungkan, agar apa yang kami tuliskan dapat lebih mudah dipahami.

 

 

Peta Tanah Suci

Perlu dipahami terlebih dahulu, bahwa The Holy Land (tanah suci) seluas hampir 14.000 mil persegi, yang sekarang mencakup 5 negara berdaulat (Israel, Palestina, Yordania, Lebanon, Suriah dan Mesir) bukanlah wilayah yang luas. Akan tetapi, apa yang dahulu pernah terjadi di sana memainkan peranan yang sangat besar dalam sejarah umat manusia. Tanah ini terbentang dari wilayah Phoenicia (saat ini masuk Lebanon) dan Gaulan (Suriah) di paling utara, ke selatan adalah Galilea (Israel) dan Decapolis (Yordania), lalu Samaria (Palestina) dan Perae (Yordania), ke selatan lagi adalah Yudea (Israel dan sebagian Palestina) sampai paling selatan dan barat adalah Sinai (Mesir). Tanah dimana para nabi dan Yesus Kristus dengan pengajaranNya dan hukum spiritualNya yang abadi, seharusnya dapat membawa manusia kepada keadilan, perdamaian dan kasih persaudaraan, melalui 3 agama monotheis terbesar di dunia, yaitu Kristen, Islam dan Yahudi.

Sejak dahulu kala sampai sekarang, sangat banyak sekali para peziarah yang datang dari segala penjuru dunia, mengahadapi segala susah payah dan risiko, untuk melihat tanah dengan sejarah luar biasa ini, yang telah sangat umum mereka ketahui sejak masa kecil mereka. Hal itu jugalah yang mendorong kami berdua, bergabung dengan 45 peziarah dari seluruh tanah air melakukan perjalanan ziarah ini dalam koordinasi Ritz Tour Indonesia. Rombongan kami didampingi oleh Romo Benny Susetyo, Pr dari Komisi E Konferensi Wali Gereja Indonesia (KWI) Jakarta. Perjalanan kami dari Yogyakarta ke Jakarta, terus ke Abu Dhabi ibu kota Uni Emirat Arab, transit semalam di Bahrain yang terletak di jantung Teluk Persia, kemudian dilanjutkan ke Amman di pusat Kerajaan Yordania, tidaklah perlu kami jelaskan terperinci di sini.

Perjalanan ziarah kami dimulai dari Hotel Amman West di pusat Kerajaan Yordania, menggunakan bis wisata dari Jordan Express Tourist Transport (JETT) yang berwarna biru putih, dipandu oleh Mrs. Lana, seorang wanita Rusia yang merupakan local guide kami, menuju ke tujuan pertama : Gunung Nebo.

 100_0422  100_0419.JPG

Bis JETT dan kami di depan Hotel West Amman,

di pusat Kerajaan Yordania

Bis JETT dengan Mrs. Lana (local guide)

di Gunung Nebo

Lokasi pasti Gunung Nebo dalam Alkitab tidak begitu jelas (Bil 32), tetapi tradisi Kristen kuno sejak abad ke 4 menunjukkan adanya suatu bukit yang terletak 10 km di sebelah utara kota Madaba. Gunung Nebo diyakini sebagai tempat Musa dalam perjalanannya keluar dari Mesir, melihat secara lengkap di kejauhan, tanah yang dijanjikan Allah (Ulangan 32-34), tetapi akhirnya Musa justru meninggal dan dikuburkan di situ. Di gunung itu juga Musa menancapkan tongkat yang dililit ular, atas perintah Allah untuk menyembuhkan bangsa Israel yang sakit dalam perjalanan 40 tahun keluar dari Mesir. Di puncak bukit itulah dibangun kapel oleh para pastor ordo Fransiskan, batu nisan Musa dan tongkat ular sebagai lambang kesembuhan dan medis.

 100_0410  100_0413.JPG

Kami di depan tongkat dililit ular,

lambang penyembuhan dari Musa

Di sini Musa diyakini berdiri dan melihat seluruh tanah terjanji di kejauhan sana itu, lho

Dari wilayah Kerajaan Yordania, kami melanjutkan perjalanan memasuki wilayah Israel. Di perbatasan yang dijaga sangat ketat oleh para serdadu dan intel Israel di Allenby Bridge yang bersenjata lengkap dan modern, kami harus melewati suatu proses imigrasi yang melelahkan. Dengan menggunakan bis wisata Israel, perjalanan kami lanjutkan dengan didampingi Mr. Faris Sabha, seorang Yahudi Kristen sebagai local guide.

 yerikho

Yerikho, kota ‘Seribu Palem’ pada buku dengan banyak pohon palma

dan Jabal (bukit) Qarantal atau Bukit Pencobaan di kejauhan sana.

Setelah menyeberangi Sungai Yordan di perbatasan, kota terdekat yang kami kunjungi adalah Yerikho. Kota ini terletak pada 820 kaki (sekitar 400 m) di bawah permukaan laut, tepatnya di lembah Sungai Yordan. Sejak masa lalu Yerikho dikenal dengan kekayaan akan sumber air tanah (debitnya sekitar 4.000 liter per menit), jeruk, pisang dan kurma. Yerikho yang juga disebut ‘Kota Seribu Palem’ pada musim panas mempunyai iklim yang menyenangkan dengan udara hangatnya, yang disertai semerbak harum berbagai bunga. Kota yang saat ini masuk dalam wilayah Palestina ini, selain sebagai kota yang terletak paling rendah, juga dikenal sebagai kota berdinding tertua di dunia, yang dibangun pada abad ke 8 SM

Di kota yang pernah diserbu Yosua (1 Raja16:34) ini, masih tumbuh dengan suburnya pohon ara yang dulu dipanjat Zakheus, seorang pemungut cukai yang bertubuh pendek untuk melihat Yesus lewat (Luk 19,1). Selain itu, Barthimeus, orang buta yang disembuhkan Yesus tinggal tidak jauh dari situ (Mrk 10,46).

 100_0490  100_0425

Inilah bis wisata kami

Mahfouz Tourist Travel dari Israel

Pohon ara Zakheus, yang tetap tumbuh dan dikunjungi banyak orang di Yerikho

Di sebelah selatan kota ada Jabal (bukit) Qarantal yang memanjang dan disebut Bukit Pencobaan, yang gambarnya dapat dilihat dari foto pada buku di atas. Di bukit itulah Yesus dicobai iblis (pencobaan pertama dan ketiga) yang berlangsung setelah Yesus dibaptis oleh Yohanes Pemandi di Sungai Yordan (Luk 4:1-13, Mat 4:1-11 dan Mrk 1:12-13). Dari puncak bukit yang disebut Moah ini kita dapat melihat pemandangan Lembah Sungai Yordan secara utuh, dan dianggap sebagai tempat iblis memperlihatkan seluruh kerajaan di dunia. Pada abad ke 6, sebuah gereja dibangun di tempat yang dianggap pernah ditempati oleh Yesus pada masa puasa 40 harinya (Mat 4:3). Sejak abad ke 13, gereja tersebut tidak ditempati lagi dan baru pada tahun 1974, Gereja Yunani Orthodoks membangun biara dan menempatinya sampai sekarang.

Kami menikmati makan siang dengan menu Arab yang cukup terlambat kami santap, sebab habis waktu kami untuk urusan imigrasi di perbatasan Israel. Setelah makan siang, atau tepatnya makan sore, kami melanjutkan perjalanan ke Laut Mati. Dengan panjang 47 mil dan lebar terjauh hanya 10 mil, total luas permukaannya 360 mil persegi dengan kedalaman maksimalnya mencapai 1278 kaki. Laut Mati terletak pada 1290 kaki (sekitar 400 m) di bawah permukaan laut, merupakan tempat terendah di seluruh dunia dan dinamakan demikian, sebab tidak ada kehidupan apapun di dalamnya. Hal ini dikarenakan kadar garamnya yang sangat tinggi sekitar 27% (atau 6 kali lipat kadar garam di laut biasa) dan disebabkan karena tidak adanya saluran air keluar. Sedangkan setiap hari sekitar 7 ton air dari Sungai Yordan dan sungai-sungai kecil lainnya, mengalir ke laut ini degan sulfur (belerang) dan nutrisi lainnya. Mineral pada air yang tidak dapat mengalir keluar inilah yang kemudian mengendap dan dengan adanya penguapan hebat dari panasnya Lembah Sungai Yordan, dan meninggalkan banyak simpanan zat-zat yang bersifat solid dan kimiawi di laut ini.

Mengambang di Laut Mati, tidak tenggelam karena berat jenis airnya

laut mati

Dengan demikian, wajar saja kalau berat jenis air di laut ini > 1, sehingga siapapun akan mengambang dan tidak dapat tenggelam di dalamnya. Banyak peziarah yang mengambang dan dilumuri lumpur dari dasarnya, sebab diyakini dapat menyembuhkan penyakit kulit, rematik maupun penuaan. Di tepinya telah disediakan kamar bilas dengan air tawar yang bersih. Kami berdua telah mencoba mengambang dan berhasil, seperti pada foto di samping.

Segera setelah kami semua mandi bersih dengan air tawar, kami melanjutkan perjalanan ke kota Tiberias. Rute yang kami tempuh adalah menyusuri Sungai Yordan ke arah hulu, sehingga kami tiba di sana menjelang makan malam. Kota Tiberias ini terletak di tepi barat Danau Galilea dan berada pada kedalaman 682 kaki di bawah permukaan air laut. Herodes Antipas sebagai wali negeri membangun kota ini dengan beberapa tempat yang indah, yaitu gedung teater dan kuil yang terbuat dari emas dan marmer, juga tempat pemandian umum air hangat yang terkenal di seluruh Kekaisaran Romawi dan namanya diambil dari Kaisar Tiberias yang berkuasa. Masa penjajahan Romawi di seluruh tanah suci berlangsung dari tahun 63 SM sampai 324 M, yaitu sejak Panglima Pompei merebut Yerusalem dan menjadikannya daerah penyangga bersama Kekaisaran Parthian. Raja Herodes Agung memimpin negeri ini dengan loyalitas yang tinggi kepada penjajah Romawi, membangun Bait Allah ke II di Yerusalem. Saat Titus dan tentara Yahudi memberontak, Yerusalem bagian atas dan Bait Allah dihancurkan oleh pasukan Romawi. Pemberontakan bangsa Yahudi yang kedua dipimpin oleh Bar Kochba, namun dikalahkan oleh Panglima Hadrian yang menyebut Yerusalem baru sebagai Aelia Capitolina, sehingga sebagian besar bangsa Yahudi mengungsi ke wilayah Galilea, tepatnya ke kota Tiberias ini.

Setelah masa itu, Tiberias menggantikan Yerusalem sebagai pusat kota, tempat tinggal orang bijak, rohaniwan dan intelektual Yahudi pindahan dari Yerusalem. Di kota inilah Taurat (kitab Mishna) disusun pada tahun 2000 SM. Di kota ini juga huruf hidup, tanda baca dan tata bahasa diperkenalkan dalam bahasa Ibrani. Banyak para rabbi Yahudi terkenal dikubur di kota ini, sehingga menjadikannya salah satu dari 4 kota suci umat Yahudi. Kami menginap di Hotel Jordan River, di pinggir jalan utama kota Tiberias yang ramai, tepat di tepi dermaga Danau Galilea selama 2 malam.

Pada pagi harinya, setelah sarapan bersama dan misa kudus harian di hotel, kami mengunjungi Gunung Tabor, sedikit di luar kota ke arah barat daya. Gunung ini mempunyai ketinggian 1900 kaki di atas permukaan laut dan merupakan gunung terindah dan paling terkenal di seluruh tanah Galilea. Oleh pemazmur, kekuatan dan keindahan gunung ini merupakan pernyataan kekuasaan Tuhan. Dalam Mazmur 89:13, Daud bermazmur bahwa Gunung Tabor dan Gunung Hermon bersorak sorai akan nama Tuhan. Keindahan gunung ini sering disebut dalam Alkitab dan dianggap sebagai gunung kudus bagi bangsa Israel, sejak menjadi saksi bagi kekuatan Tuhan, yang dimanifestasikan sebagai kemenangan perang oleh kaum Barak yag dipimpin Sisera (Hak 4:6). Bagi umat Kristen, gunung ini merupakan gunung suci, sebab di tempat inilah Yesus berubah rupa (transfigurasi) dan pakaianNya putih berkilauan bersama Musa dan Elia, 2 nabi besar jaman Perjanjian Lama (Luk 9:28-36). Arsitek besar Italia Antonio Berluzzi pada tahun 1924 membangun sebuah gereja di puncak gunung ini untuk memperingati peristiwa tersebut. Konstruksinya merupakan gabungan dari sisa-sisa bangunan geraja zaman Byzantine pada abad ke 6 dan zaman Crusader (Perang Salib) abad ke 12. Dari kejauhan, gereja transfigurasi ini nampak sangat indah seperti pada gambar di bawah.

 100_0455  100_0459

Di depan Kapel Transfigurasi

di puncak Gunung Tabor

Di dinding gereja Nazareth, nampak mosaik malaikat Gabriel berbicara kepada Maria

Pada siang harinya, kami melanjutkan ke kota Nazareth, yang terletak di bawah Gunung Tabor sisi sebelah barat. Nazareth berarti ‘tiada yang baik’ (Yoh 1:46), merupakan desa kecil di Galilea dengan penduduk hanya 400 orang pada jaman Yesus hidup. Saat ini, Nazareth merupakan salah satu kota utama bagi umat Kristen, sebab di sinilah Allah mengumumkan kelahiran PuteraNya, ‘firman Tuhan itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita’ (Yoh 1:14). Di kota inilah Yesus dibesarkan dan menghabiskan masa kecilnya dengan bermain, berlari dan bersembunyi di bukit-bukit, tanpa ada perbedaan antara diriNya dengan anak-anak sebayaNya. Ketika Yesus memulai pelayananNya di kota ini, Dia ditolak untuk menggenapi apa yang dikatakan Alkitab (Luk 4:24). Pencobaan oleh iblis yang kedua terjadi di kota ini (Luk 4:28-29) yang saat ini justru merupakan kota paling padat dan banyak penduduk Arab yang beragama Kristen di seluruh tanah suci. Di Nazareth, kami mengunjungi Gereja Kabar Suka Cita yang besar dan megah, dibangun pada tahun 1960-68 di atas gua dimana Perawan Maria diberitahu malaikat Gabriel bahwa dirinya akan mengandung dan melahirkan Yesus (Luk 1). Arsitek Italia lainnya, Sidnor Muzio, membangun 2 buah geraja yang saling berhubungan dan didekorasi dengan ilustrasi pemberitahuan malaikat kepada Maria. Salah satu dindingnya terdapat mosaik gambar Gabriel berbicara dengan Maria seperti terlihat pada foto di atas.

 Kapal Santo Petrus  100_0474

Seperti inilah kapal Petrus yang menjaring ikan di Danau Galilea, sebelum dipanggil Yesus, ada pada buku

Suasana kapal kami di Danau Galilea saat akan berlayar dan sharing pengalaman

Setelah dari Nazareth, kami kembali ke Tiberias, untuk makan siang di dermaga Danau Galilea, dengan menu spesial ‘ikan Santo Petrus’. Ikan tersebut secara tradisi diyakini sebagai keturunan ikan yang dahulu dijala langsung oleh Petrus, sebelum dipanggil Yesus sebagai muridNya. Danau Galilea (sea of Galilee) nama Yahudinya adalah Kineret (‘kecapi’) karena berbentuk seperti kecapi dan sering juga disebut sebagai Genesaret (Luk 8). Danau dengan panjang 13 mil (21 km), lebar 7 mil, kedalaman maksimal 157 kaki, terletak pada ketinggian 686 kaki di bawah permukaan laut. Air tawarnya berasal dari anak Sungai Yordan dari Gunung Hermon dan pada umumnya airnya tenang, tetapi kadang secara tiba-tiba badai yang kuat mengubahnya menjadi danau yang berbahaya dengan ombaknya yang tinggi. Pada masa Yesus, danau ini merupakan urat nadi lalu lintas manusia dan barang yang menuju ke seluruh arah. Di danau yang indah dengan 9 kota di sekelilingnya inilah Yesus mulai megajar tentang Kerajaan Allah, menghabiskan sisa hidupnya, memberikan hampir semua ajaranNya dan melakukan hampir semua mujizatNya. Di tepi danau ini, Yesus memanggil para nelayan yaitu Petrus, Andreas dan Yakobus saudaraya, beserta semua muridNya (Mat 4: 18-20 dan Mrk 3:13-19). Di sini juga Yesus menyembuhkan orang kusta (Mat 8:1-8), berbicara pada orang banyak dari atas perahu (Mrk 3:7-12), meredakan angin badai (Mat 8:23-27) dan berjalan di atas air (Mat 14:16-21).

Setelah makan siang dengan nasi yang mengenyangkan, kami semua juga mencoba berlayar di danau tersebut, dengan perahu yang dirancang khusus berbentuk mirip dengan perahu Petrus dahulu. Di dalam pelayaran tersebut, kami semua saling mendengarkan dalam forum sharing pengalaman antar anggota. Setelah menempuh rute yang sama dengan yang dahulu dilalui Petrus sewaktu ada badai dan diredakan Yesus, kami melanjutkan perjalanan ke Bukit Sabda Bahagia (Mount of Beatitudes). Di puncak gunung dengan pemandangan indah ke Danau Galilea, ordo Fransiskan dengan arsitek Italia Giovani Matsuo pada tahun 1930 membangun sebuah gereja bersegi 8 (oktagonal), untuk mengenang ziarah 8 kelompok yang mendapat pelajaran langsung dari Yesus pada ‘kotbhah di bukit’ (Mat 5-7). Arsitek Italia tersebut merancang jendelanya yang panjang-panjang, dengan serambi dan tiang-tiangnya. Semuanya memungkinkan para pengunjung dapat melihat lereng-lereng bukit di sekitarnya, sama seperti latar belakang saat Yesus mengajar, sebagaimana dahulu disebut dalam Alkitab. Gereja itu nampak pada foto ini.

 100_0481  Gereja Sabda Bahagia

Di depan Geraja Sabda Bahagia bersegi 8 (oktagonal) di Bukit Sabda Bahagia

Geraja Sabda Bahagia pada buku dalam bentuk utuh dengan Danau Galilea di belakangnya

Dari Bukit Sabda Bahagia di tepi barat laut Danau Galilea, kami melanjutkan lagi perjalanan ke Kapernaum, yang juga terletak di tepi utara danau yang sama. Pada masa Yesus, kota besar ini berpenduduk 5000 orang (10 kali lipat lebih besar daripada Nazareth), merupakan pusat kebudayaan dan pemerintahan Romawi, bahkan mungkin merupakan kota yang terindah, terbesar dan terkaya di sepanjang tepi Danau Galilea. Ketika Yesus diusir dari Nazareth, Dia pergi dan menetap di Kapernaum (Mat 1, Mrk 2:1) dan menjadikannya pusat pelayananNya selama kurang lebih 20 bulan. Di sini terdapat rumah Petrus (Mat 8:5) dan sinagoga bergaya Korintu (Mrk 1:21). Di kota ini Yesus menyembuhkan orang kusta, ibu mertua Petrus serta anak perempuan seorang perwira tentara Romawi (Mrk 8:1-15), orang lumpuh yang diturunkan melalui atap (Mat 9:8) dan bernubuat tentang kota ini (Mat 11:23-24) yang akan hancur dan hilang untuk waktu yang sangat lama. Pada kenyataannya, kehancuran Kapernaum ternyata disebabkan oleh gempa bumi yang sangat hebat pada abad ke 7. Saat ini Kapernaum yang disebut ‘kota Yesus’ hanyalah berupa tumpukan reruntuhan arkeologis di tengah kebun palem di tepi utara Danau Galilea. Kapernaum digali oleh arkeolog Perancis pada tahun 1905 dan penemuan terpentingnya adalah sinagoga tua yang terkenal dan sebuah bangunan yang dianggap sebagai rumah Petrus. Semua gambarnya dapat dilihat pada foto di bawah ini.

 100_0483  Sinagoga Kaprenaum

Di depan sisa sinagoga Kapernaum,

tempat Yesus mengajar

Reruntuhan arkeologis sinagoga Kapernaum

secara utuh dalam buku di sore yang cerah

Dari Kapernaum, langsung saja kami mengunjungi Tabgha, di tepi barat Danau Galilea, terletak di tengah antara Kota Tiberias dan Bukit Sabda Bahagia. Kata ini berasal dari kata ‘heptapegon’ dalam bahasa Yunani yang berarti tujuh mata air. Di sinilah Yesus memberi makan kepada 5.000 orang laki-laki dengan memperbanyak 5 roti dan 2 ekor ikan (Mrk 6:30-44 dan Yoh 6). Ada 2 buah gereja yang dibangun di sini pada jaman Byzantine, dan baru pada tahun 1932 ditemukan sisa-sisa kedua gereja tersebut. Di bawah altarnya terdapat mosaik yang menggambarkan sebuah keranjang roti dengan ikan di dekatnya. Foto altar tersebut dapat dilihat pada gambar di bawah.

 100_0488  100_0491

Patung Petrus yang memegang kunci sorga, di halaman bekas rumahnya di Kapernaum

Batu di bawah altar geraja Tagbha diyakini sebagai batu yang diduduki Yesus saat memperbanyak roti dan ikan yang nampak pada mosaik.

Dari Tabgha, kami melewati kota Tiberias ke arah selatan, mengunjungi tempat mengalirnya Sungai Yordan dari sisi paling selatan Danau Galilea. Sungai Yordan ini merupakan kumpulan dari 4 anak sungai yang airnya terus menerus mengalir turun dari Gunung Hermon di bagian utara tanah Gaulan (saat ini masuk wilayah Suriah) yang berpuncak salju, menuju ke Laut Mati. Panjang lurus aslinya 160 mil (105 km), tetapi berkelak-kelok sehingga mencapai 250 km dengan rata-rata lebarnya 1000 kaki dan dianggap sebagai sungai suci (Mat 3, Mrk 1, dan Luk3). Sekalipun hanya sungai kecil, sungai ini banyak disebut di Alkitab diantaranya penyeberangan bangsa Israel yang dipimpin Yosua, anak Musa (Yosua 3), keajaiban mata kapak yang mengapung (2 Raja 6), sembuhnya Naaman dari penyakit lepra (2 Raja 5) dan pembaptisan Yesus (Mat 3). Yordanit adalah sebuah desa yang dipercaya sebagai tempat yang secara tradisi dianggap sebagai tempat pembaptisan Yesus dan terletak 5 mil sebelah timur Yerikho. Kami tidak mengunjungi Yordanit, tetapi suatu tempat lain yang sekarang digunakan untuk pembaharuan permandian oleh umat Kristen dari seluruh dunia, seperti pada foto di bawah ini. Sayang kami terlalu malam sampai di gerbang tempat itu.

 100_0494  Baptis di Sungai Yordan

Terlalu malam kami sampai ke tempat ini, sehingga suasana ritual pembaharuan pembaptisan tidak dapat

tervisualisasi dengan baik.

Suasana pembaharuan baptis yang dilakukan para peziarah dari seluruh dunia. Pada siang hari nampak jelas dan nyata

seperti gambar pada buku ini

Setelah semua peziarah melakukan pembaharuan permandian dan diberkati oleh Romo Benny Susetyo, Pr dengan air Sungai Yordan, kami kembali ke hotel di Tiberias. Pagi harinya, kami keluar dari hotel dan melanjutkan perjalanan ke kota Kana, ke arah barat dari pusat kota Tiberias. Sampai saat ini, terdapat 3 atau 4 tempat yang dianggap sebagai Kana yang disebut dalam Alkitab. Kana yang teletak sekitar 4 mil dari sebuah jalan antara Nazareth dan Tiberias dianggap sebagai Kana yang sesungguhnya. Kana dikenal umat Kristen sebagai tempat dimana Yesus membuat mujizat yang pertama, yaitu mengubah air menjadi anggur pada suatu pesta perkawinan adat Yahudi (Yoh 2:1-11). Saat ini ada 2 buah gereja, yaitu milik gereja Yunani Orthodoks dan milik gereja Katolik, yang dibangun di atas tempat yang secara tradisi dianggap sebagai tempat berlangsungnya pesta perkawinaan di Kana, untuk memperingati mujizat tersebut. Selain itu, mujizat yang lain adalah Yesus yang tetap di Kana dapat menyembuhkan anak pegawai istana yang sakit di Kapernaum (Yoh 4:46-54). Kami mengikuti misa kudus, di ruang gereja utama, tempat salah satu dari 6 tempayan yang dahulu airnya telah diubah Yesus menjadi anggur diletakkan. Dalam misa tersebut, semua peziarah melakukan pembaharuan janji perkawinannya bersama pasangannya masing-masing, dan bahkan diberikan sertifikat khusus berbahasa Latin, dan ditandatangani oleh pastor kepala setempat. Gereja yang indah tersebut dapat dilihat pada foto di bawah ini.

 Gereja Kana  100_0503

Gereja yang dibangun di atas tempat pesta pernikahan di Kana. Salah satu tempayan airnya ada di dalam ruang utama gereja ini.

Foto pada buku diambil dari sudut atas

Semua pasangan peziaah diberkati oleh Rm Benny Susetyo dan melakukan pembaharuan janji pernikahan di dalam gereja Kana ini.

Foto kami diambil dari sudut bawah.

Dari situ, setelah kami semua mencicipi anggur Kana seperti yang dahulu dibuat Yesus, kami terus menuju ke arah barat, sampai ke garis timur pantai Laut Tengah (Mediternian), tepatnya di bekas kota besar, yaitu Kaesarea. Kota yang dibangun oleh Raja Herodes pada tahun 20 SM ini merupakan pelabuhan kelas dunia di tepi timur Laut Mediterania. Selama lebih dari 600 tahun, Kaesarea merupakan ibukota resmi dari daerah yang disebut Propinsi Yudea oleh para penjajah Romawi. Selama jaman Yesus, Pontius Pilatus memerintah dari kota ini atas nama Kaisar di Roma, kemudian diganti oleh Filipus (Kis 8:40). Di kota ini juga Petrus mengajar Kornelius (Kis 10) dan Paulus ditahan (Kis 26). Penggalian arkeologis telah dapat menemukan adanya sebuah bangunan teater raksasa di tepi selatan kota, parit dan dinding saluran air yang dibangun pasukan Perang Salib pada tahun 1101 yang dipercaya sepanjang 20 km, dari puncak Gunung Karmel yang kaya air menuju ke pusat kota.

 100_0527  Saluran Air

Situs arkeologis sepanjang 500 meter, merupakan sisa saluran air dari Gunung Karmel ke pusat kota Kaesarea.

Foto kami dari sudut depan persis.

Situs arkeologis yang awalnya terbentang 20 km, merupakan saluran air bersih

untuk penduduk kota Kaesarea.

Foto pada buku dari depan atas di sore yang cerah.

Perjalanan kami diteruskan dengan menyusuri pantai timur Laut Tengah menuju ke barat. Pada siang hari yang cerah kami memasuki kota modern Tel Aviv dan makan siang di restoran Cina. Tel Aviv adalah kota baru yang dibangun di pinggiran kota Jaffa, nama yang banyak disebut di Alkitab sebagai benteng angkatan laut Romawi yang kemudian lenyap. Dari Tel Aviv, kami menjauhi garis pantai dan menuju ke timur, ke arah kota tua Yerusalem. Gambaran lengkap kota Yerusalem dari kejauhan yang akan kami tuju, dapat dilihat pada foto di bawah.

 Yerusalem

Lansekap Yerusalem, dengan ciri khas kubah kuning Masjid Umar (Dome of the Rock)

Kami sampai di pusat ziarah kami, Yerusalem, pada sore hari yang sangat cerah. Kota ini berdiri di tengah-tengah Bukit Yudea dan telah dipilih oleh Allah. Pada awalnya, Yerusalem adalah sebuah benteng Kanaan yang dinamakan Yebus, sampai akhirnya diambil alih oleh pasukan Raja Daud pada sekitar tahun 1000 SM (2 Samuel 5). Raja Salomo membangun kota ini dan membuat Bait Allah yang pertama di sana (1 Raja 6), digunakan oleh raja-raja Yudea yang berikutnya untuk memerintah dan akhirnya banyak yang dikuburkan di sini juga (2 Raja 8:24). Kemudian kota ini dihancurkan oleh pasukan Babilon pada tahun 586 SM (Yeremia 39), yang diikuti dengan masa-masa menyakitkan bagi bangsa Israel di pengasingan (Maz 137). Kota ini merupakan kota suci bagi setengah penduduk dunia dan menjadi pusat dari 3 agama monotheis terbesar di dunia. Bagi orang Yahudi, Yerusalem merupakan simbol kejayaan masa lalu dan sekaligus pengharapan akan masa depan yang gemilang. Bagi orang Kristen, Yerusalem adalah kota Yesus dengan pelayanan terakhirNya. Kota yang menjadi saksi penderitaan dan kematianNya di kayu salib, bahkan juga kebangkitanNya dari kubur. Bagi orang Islam, kota ini adalah kota dimana Nabi Muhammad SAW dipercaya naik ke sorga.

Yerusalam adalah kota sumber dari iman, hukum spiritual dan paling suci, walaupun kenyataannya merupakan kota teror, perang dan darah karena diperebutkan oleh banyak bangsa sejak dahulu kala, bahkan sampai sekarang ini. Pasukan penjajah yang telah pernah merebutnya adalah meliputi bangsa Asyur, Babilon, Yunani, Romawi, Byzantin, Arab dan pasukan Perang Salib. Kota Yerusalem selalu disebut sebagai Kota Perdamaian, walaupun pedang dan mesiu telah sering dan berulang kali menghancurkan anak-anak kandungnya sendiri. Di kota ini telah terjadi peperangan yang paling sering dalam sejarah, dibandingkan dengan kota manapun lainnya di seluruh dunia. Saat ini, Yerusalem terbagi menjadi 2 bagian, yang ‘Baru’ dibangun dalam 30 tahun terakhir dan digunakan juga untuk ibukota pemerintahan Israel, walaupun masih ditentang oleh banyak negara lainnya. Yang ‘Lama’ dikelilingi oleh tembok besar dan dibangun pada pertengahan abad 16 oleh bangsa Turki. Tempat-tempat suci utama terdapat di dalam kota ‘Lama’ yang dikelilingi tembok. Tembok yang sangat mengesankan ini sebenarnya merupakan pengelompokan beberapa konstruksi yang berasal dari periode berbeda. Tembok yang terlihat sekarang dibangun oleh Sultan Sulaiman, pemimpin bangsa Turki pada tahun 1538 – 1542, memiliki keliling 2,5 mil dengan tinggi rata-rata 40 kaki, dilengkapi dengan 34 buah menara pengawas dan 8 buah pintu gerbang. Pintu gerbang ‘Baru’, ‘Damaseus’ dan ‘Herodes’ yang dikuasai pasukan Perang Salib tahun 1099 terletak di sebelah utara. Gerbang ‘St. Stefanus’ tempat terjadinya hukum rajam pelemparan batu atas Santo Stefanus (Kisah Para Rasul 7) dan ‘Emas’ (yang telah ditutup oleh bangsa Turki sejak 1580) terletak di sebalah timur. Gerbang ‘Dung’ dan ‘Zion’ yang rusak karena 2 kali perang modern Arab – Israel (pada tahun 1948 dan 1967) terletak di sebelah selatan dan gerbang ‘Jaffa’ terletak di sebalah barat. Gerbang ‘Emas’ adalah yang paling dikenal sebagai gerbang Yerusalem (‘Yerusalem Gate’).

Tempat yang pertama kami kunjungi sore itu di kota Yerusalem adalah Bukit Zion. Bukit ini semula merupakan istana Raja Daud, namun tradisi yang berkembang menggesernya menjadi bagian dari kota berdinding Yerusalem di bawah kekuasaan Raja Hizkia (abad 8 SM). Di bukit itulah kami mengunjungi makam Raja Daud, tempat yang sangat disucikan oleh umat Yahudi, dan Ruang Perjamuan Terakhir. Malam menjelang penangkapanNya, Yesus menikmati makan malam terakhir bersama para murid di sebuah tempat (Yoh 13). Perayaan ekaristi atau komuni di Gereja Katolik Roma merupakan liturgi penting untuk mengenang peristiwa ini (Mrk 14 dan Luk 22). Perjamuan terakhir yang dikenang sebagai ‘cenacle’ di desa Essene di kaki Bukit Zion, dikenang dalam bentuk kapel yang dihancurkan oleh bangsa Turki pada tahun 614, kemudian dibangun kembali sebagai sebuah masjid dengan menambahkan sebuah ruang ceruk bagi imam sholat, seperti terlihat pada gambar di bawah.

 100_0538  Ruang Perjamuan Terakhir

Ruang tempat Yesus dan muridNya mengadakan perjamuan terakhirNya

Ruang Perjamuan Terakhir Yesus dengan ceruk imam untuk sholat milik umat muslim pada buku

Dari Ruang Perjamuan Terakhir ini, kami melanjutkan dengan naik bis ke sisi lain Bukit Zion, yaitu ke Gereja Santo Petrus dan Ayam Berkokok (St. Peter en Gallicantu). Geraja ini dibangun pada tahun 1931 di tempat yang secara tradisi dianggap sebagai rumah Imam Kepala Yusuf Kayafas. Yesus yang ditangkap tentara Romawi di taman Getsemani dibawa ke rumah ini. Di suatu ruang tahanan bawah tanah (yang biasa digunakan untuk menahan para penipu di pasar tua Yerusalem) itulah Yesus menghabiskan seluruh malamNya untuk menghadapi persidangan pertamaNya (Mat 26:57-63, Mrk 14:53-65, Luk 22:63-71 dan Yoh 18:12-14). Di rumah itu juga Petrus menangis pada saat ayam jantan berkokok di pagi buta, sesuai dengan yang dikatakan Yesus mengenai penyangkalan 3 kali oleh Petrus terhadap diriNya (Mat 26:34, Mrk 14:66-72, Luk 12:54-62 dan Yoh 18:15-18), sehingga disebut Gereja Santo Petrus dan Kokok Ayam (St. Peter en Gallicantu) seperti terlihat pada foto di bawah. Setelah itu, kami menuju hotel untuk makan malam menu Israel.

 100_0545  Gereja Ayam Berkokok

Gereja Santo Petrus dengan kubah biru dan patung ayam berkokok di atasnya

Gereja Santo Petrus dan patung ayam berkokok dengan cahaya matahari penuh pada buku

Pada malam itu kami menginap 2 malam di Jerusalem Gate Hotel, di wilayah kota baru Yerusalem sebelah utara.

Hari pertama kami di Yerusalem, pagi hari kami mengunjungi bukit lainnya, yaitu Bukit Zaitun. Bukit ini terletak di sebelah timur kota Yerusalem, puncaknya terletak 3000 kaki lebih tinggi dari kota dan dipisahkan oleh lembah Kidron. Bukit yang sangat sering disebut dalam Alkitab karena sering dikunjungi Yesus ini, merupakan bukit yang indah dan kota Yerusalem dapat terlihat secara utuh bagi siapapun yang berada di situ, dan diabadikan sebagai gambar lansekap seperti pada halaman 9. Di bukit inilah Yesus bernubuat tentang kehancuran Yerusalem, mengajarkan doa Bapa Kami, berdoa yang terakhir kalinya sebelum ditangkap dan terangkat ke sorga. Dalam Alkitab Yesus membawa para muridNya menuju Bukit Zaitun dan setelah memberkati mereka, Yesus naik ke sorga (Kis 4:9-12). Puncak Bukit Zaitun dianggap sebagai tempat Yesus naik ke sorga. Gereja Byzantine dibangun di tempat ini pada abad ke 4, kemudian dihancurkan oleh bangsa Persia pada tahun 614. Crusader membangun kembali gereja yang lain pada abad ke 12. Kapel kecil yang dibangun Crusader di sebuah lapangan, terdapat batu di mana jejak kaki Yesus terbentuk ketika Yesus naik ke sorga. Batu tersebut di dalam gereja kecil ini dapat dilihat pada gambar di bawah.

 100_0643  100_0566

Di depan hotel

tempat kami menginap di Yerusalem.

Batu terakhir yang diinjak Yesus sebelum diangkat ke sorga, diyakini terdapat tapak kaki Yesus

Gereja lainnya adalah Gereja Pater Noster (bahasa Latin), dibangun di tempat yang secara tradisi dianggap sebagai tempat Yesus mengajarkan doa Bapa Kami (Mat 6:10-13) di lereng barat Bukit Zaitun, menubuatkan kehancuran Yerusalem dan kedatanganNya yang kedua pada akhir zaman (Mat 24:1-3, Mrk 12:1-4 dan Luk 21:5-7). Kaisar Konstantin pertama kali membangun gereja di puncak bukit ini, dihancurkan bangsa Persia pada tahun 614 dan dibangun kembali oleh Crusader pada abad ke 12. Pada akhir Perang Salib saat Crusader dikalahkan, gereja tersebut dihancurkan dan dikuasai oleh kaum Muslim. Pada tahun 1868 permaisuri kekaisaran Peranis, Aurelia de Bossi de la Tour D’Auvergne, membeli tanah ini dan tahun 1875 dia membangun biara untuk para suster Ordo Karmelit. Di dalam gereja, pada dinding-dinding serambinya terdapat tulisan lengkap doa Bapa Kami dalam berbagai bahasa di dunia, termasuk bahasa Indonesia. Permaisuri Aurelia de Bossi itu sendiri dikuburkan di salah satu serambi gereja.

Setelah itu, kami berjalan kaki bersama menuruni Bukit Zaitun untuk masuk ke dalam Taman Getzemani. Taman yang berarti ‘tempat penggilingan buah zaitun’ ini terletak di kaki Bukit Zaitun sebelah barat, dan merupakan tempat yang paling disenangi Yesus untuk menyendiri, berdoa dan bermeditasi (Luk 22:39). Di taman inilah Yesus mengalami saat yang paling sedih, bergumul untuk memilih menderita dan mati di kayu salib (Luk 2:22-42) dan akhirnya Yudas Iskariot datang bersama pelayan Imam Kepala dan Tentara Romawi untuk mengkhianati gurunya (Mat 26:36-56, Mrk 14:32-52, Luk 22:39-53 dan Yoh 18). Akhirnya dibuatlah kapel berkubah seperti air mata yang disebut Dominus Flevit, bahasa Latin yang berarti Tuhan menangis, untuk mengenang di situlah Yesus sangat sedih, bahkan sampai menangis (Luk 19:41).

Kemudian kami melangkah lebih jauh ke dalam pusat taman tersebut dan sampailah di Gereja Segala Bangsa. Pada tahun 379 M Byzantin membangun basilika pertamanya, di suatu tempat yang diyakini sebagai tempat yag disucikan oleh doa dan penderitaan Yesus. Basilika ini merupakan tempat yang pertama kali dihancurkan oleh bangsa Persia pada tahun 614. Pada abad ke 12 Crusader membangun kembali gereja ini dan merupakan salah satu gereja yang paling indah di seluruh Yerusalem. Gereja yang sekarang ini berdiri dibangun pada tahun 1919 – 1924 dan didonasi oleh 16 negara besar di dunia saat itu, sehingga dinamakan ‘Gereja Segala Bangsa’. Cahaya remang-remang yang menembus melalui jendela yang berwarna ungu kebiruan dan keindahan ornamen interiornya, mampu menciptakan atmosfer yang menyenangkan untuk berdoa dan bermeditasi. Sisa dari batu yang secara tradisi dianggap sebagai tempat Yesus berdoa sambil menangis, terletak di depan altar gereja. Altarnya berbentuk seperti mangkuk, mengingatkan kita kepada doa Yesus saat berteriak ‘biarlah cawan ini lalu daripadaKu’ (Mat 26:39). Mosaik di atas altar memperlihatkan gambar saat Yesus berdoa sambil sangat sedih.

 100_0580  Batu Getsemani

Gambar atas adalah altar berbentuk mangkuk dengan batu besar di depannya, tempat Yesus dahulu menangis sedih sambil berdoa.

Gambar di samping diambil dari buku, menggambarkan altar mangkuk, batu doa dan mosaik dinding kesedihan Yesus

Pada siang harinya, kami melanjutkan perjalanan ke Betlehem, yaitu meninggalkan pusat kota Yerusalem ke arah selatan. Kota Betlehem ini terletak di tepi gurun Yudea, 5 mil dari Yerusalem, di atas bukit berbatu pada ketinggian 2600 kaki di atas permukaan air laut. Betlehem saat ini berpenduduk hampir 40.000 orang, sebagian besar muslim, berada di dalam wilayah otoritas Palistina dan dikepung oleh tembok beton setinggi 3 meter, yang dibangun oleh Israel untuk mencegah para imigran dan teroris pelintas batas. Betlehem berarti ‘rumah roti’ dalam bahasa Ibrani yang menggambarkan kembalinya Naomi setelah masa paceklik lewat dan telah membuatnya menyingkir (Rut 3:1-5). Kota ini sangat menarik, sebab dalam Alkitab disebutkan bahwa kematian Rahel, kelahiran dan penobatan Daud oleh Nabi Samuel sebagai Raja Israel yang besar dilakukan di kota ini (1Sam 16:1-4) dan akhirnya kelahiran Yesus (Mat 2:5) di kota ini membuatnya menjadi abadi dan namanya hidup di hati setiap orang Kristen, meskipun sekarang dikuasai sepenuhnya oleh muslim Palestina.

 Gereja Segala Bangsa  100_0584

Gereja Segala Bangsa pada gambar dari buku pada siang yang cerah.

Mosaik luar yang indah di dinding depan

Gereja Segala Bangsa di Taman Getzemani

Tempat yang diyakini sebagai gua tempat Yesus lahir di Betlehem, saat ini merupakan sebuah gereja kuno. Di tahun 135 Kaisar Hadrian menajiskan gua tempat kelahiran Yesus dengan membangun sebuah kuil yang dipersembahkan kepada dewa Adonis. Pada abad ke 4 Kaisar Constantine menghancurkan kuil tersebut dan dibawahnya nampak ‘gua’ yang masih utuh. Kaisar Constantine kemudian membangun sebuah basilika yag sangat kaya dengan dekorasi dan lukisan dinding. Pada tahun 529 basilika ini dihancurkan orang-orang Samaria yang memberontak terhadap kekaisaran Byzantine. Kemudian Kaisar Yustinus membangunnya kembali dan masih terpelihara sampai sekarang ini. Di tahun 614 ketika bangsa Persia menghancurkan seluruh gereja dan biara di tanah suci, gereja inilah satu-satunya yang terhindar dari penghancuran, sebab di dinding luarnya saat itu terlukis 3 orang majus dari timur yang menyembah Yesus dan dianggap serupa dengan mereka. Basilika ini berbetuk salib dengan ukuran 170 kaki panjangnya dan 80 kaki lebarnya. Di dalam gereja ini terdapat bintang Daud dari perak dengan tulisan dalam bahasa Latin ‘Hi de Maria Virgine Jesus Christ Netus Est’ (di sinilah Yesus Kristus dilahirkan oleh Perawan Maria). Atap aslinya sudah diganti pada abad ke 4 dan dinding gua tersebut terbuat dari asbes tahan api yang didonasikan oleh Tuan Mamahon, Presiden Republik Perancis pada tahun 1874. Di bawahnya terdapat 3 buah gua, 2 di ataraya adalah kapel tempat tinggal St. Heronimus yang selalu tinggal di gua tersebut saat menterjemahkan Alkitab dari bahasa Ibrani ke dalam bahasa Latin (the vulgate), sehingga bisa diterjemahkan ke dalam segala bahasa. Yang lain adalah kapel ‘orang tak bersalah’ untuk mengingatkan teror Raja Herodes yang memerintahkan pembantaian terhadap semua anak laki-laki di Betlehem (Mat2:14).

Dari Bintang Daud di pusat kota Betlehem, kami melanjutkan perjalanan ke arah timur, menuju Gereja Padang Gembala. Walaupun dalam Alkitab tidak dilukiskan secara tepat letaknya, tempat di mana para gembala mendengarkan sabda tentang kelahiran Yesus (Luk2), tetapi secara tradisi sebuah padang yang berjarak 3 mil sebelah timur Betlehem, dianggap sebagai tempat di mana para gembala ditemui malaikat dan diberi kabar tentang kelahiran Yesus. Ada bintang terang di kubah gereja ini, yang digunakan gembala dan 3 orang majus untuk menemukan gua kelahiran Yesus.

 100_0595  Bintang Daud

Bintang Daud dari perak di bawah altar di Gereja Kelahiran Betlehem,

tempat bayi Yesus lahir

Bintang Daud pada buku,

dengan pencahayaan yang sangat optimal

Kapel bawah tanah pada buku, di bawah Gereja Padang Gembala yang diyakini sebagai gua asli para gembala yang dahulu didatangi malaikatKapel Kelahiran  Bintang terang di kubah Gereja Padang Gembala.

100_0607

Setelah makan siang masakan Cina di Betlehem, kami kembali ke Yerusalem untuk melakukan jalan salib di sore hari, agar kerumunan orang di pasar tua kota Yerusalem semakin sedikit. Sebelum jalan salib, kami mengunjungi Gereja Santa Anna dan kolam Bethesda. Gereja di sebelah kolam Bethesda ini dibangun pada tahun 1140 atas permintaan dari istri Raja Baldwin I, dibangun di atas sebuah ruangan bawah tanah, yang dipercayai sebagai goa tempat kelahiran Maria, ibu Yesus, dan tinggal dengan Anna dan Yoakim orang tuanya. Setelah Crusader dikalahkan pada Perang Salib, oleh Sultan Salahudin gereja tersebut digunakan untuk sekolah teologi Islam dan tempat belajar AlQuran. Pada tahun 1856 setelah Perang Krimean, Sultan Abdul Majid memberikan tempat ini kepada Kaisar Napoleon III atas jasanya dalam perang tersebut. Gereja ini memiliki arsitektur terbaik dalam bidang akustik, sehingga setiap kelompok peziarah selalu bernyanyi bersama dan suaranya terdengar sangat merdu karena pantulannya di dinding gereja.

Kolam Bethesda ini terletak beberapa yard saja dari gerbang ‘St. Stefanus’ di dalam tembok kota Yerusalem kuno. Pada jaman Yesus, kolam ini terletak di luar tembok utara kota, dekat dengan gerbang ‘Domba’, sebuah pintu masuk ke dalam Bait Allah di kota Yerusalem kuno. Di tepi kolam selalu dipenuhi oleh orang-orag sakit, karena mereka percaya bahwa riak air kolam yang diyakini digoncangkan oleh malaikat Tuhan, dapat menyembuhkan segala macam penyakit. Kolam ini dianggap suci oleh semua orang Kristen semenjak Yesus menyembuhkan seorang lumpuh selama 38 tahun (Yoh 5:2-4) pada hari Sabbat. Kolam ini lama sekali tertimbun reruntuhan, dan kini tinggal sisa-sisa batu arkeologis dengan bentuk persegi ukuran 350 kali 200 kaki, dengan kedalaman 25 kaki.

 100_0613  100_0611

Gereja Santa Anna yang memiliki

arsitektur akustik sangat baik

Situs arkeologis Kolam Bethesda di samping Gereja Santa Anna

Sampailah kami pada tahap paling menyedihkan dalam ziarah ini, yaitu mengikuti jalan salib. Via Dolorosa (bahasa Latin untuk ‘jalan penderitaan’) adalah jalan kecil yang dilalui Yesus ketika memikul salib, dari rumah Ponsius Pilatus (Mat 27:11-26 dan Luk 23:13-25) sampai ke bukit Golgota (Yoh 19:17-30). Peristiwa dari jalan sengsara ini diperingati pertama kali oleh para pastor ordo Fransiskan pada abad ke 14, melalui 14 buah pemberhentian (stasi), dimana 9 buah didasarkan pada Alkitab dan 5 lainnya didasarkan pada tradisi. Secara terperinci adalah, 2 buah di dalam kompleks Benteng Antonia kuno yang pada jaman Yesus merupakan barak besar tentara Romawi, 7 buah di sepanjang lorong jalan yang membelah pasar kota tua Yerusalem, dan 5 buah yang terakhir terletak di Bukit Golgota di dalam ‘Gereja Kubur Suci’ (Church of The Holy Sepulchre). Tugu yang menandai permulaan via dolorosa dikenal sebagai tugu ‘Ecce Homo’ (Lihatlah manusia itu). Tradisi menyebutkan bahwa di tempat itulah Pilatus berseru pada orang-orang Yahudi : ‘Lihatlah manusia itu!’, sambil menunjuk ke arah Yesus.

 Salib Peziarah

Gambar pada buku, para peziarah memanggul salib besar

Gereja kubur suci (church of the holy sepulchre) ini berdiri di atas Bukit Golgota, tempat Yesus disalib dan dikuburkan, dan merupakan tempat ziarah paling penting bagi umat Kristen dari masa Byzantine sampai masa Perang Salib. Gereja ini dibangun tahun 324 dan merupakan bagian dari kota Yerusalem yang diperluas oleh Raja Herodes Agripa. Raja Hadrian yang ingin melenyapkan pengaruh agama Yahudi dan Kristen, kemudian membangun kuil untuk menyembah Dewa Yupiter dan menajiskan tempat tersebut. Pada tahun 362 Kaisar Konstantin kemudian menghancurkan kuil Yupiter ini dan membangun sebuah basilika yang lebih megah, tetapi dihancurkan lagi oleh bangsa Persia pada tahun 614. Pembangunan yang berikut dengan skala lebih kecil dilakukan oleh Raja Abbot Modestos, tetapi dihancurkan lagi oleh Raja Khalif Hakim pada tahun 1009. Penghancuran inilah yang menyebabkan terjadinya Perang Salib antara umat muslim melawan Kristen selama lebih dari 200 tahun.

Perang Salib yang merupakan perang besar ini terjadi pada tahun 1009 sampai 1250 M, sejak Paus Urbanus II mengajak umat Kristen kuno membebaskan tempat-tempat bersejarah umat Kristen di seluruh tanah suci. Setelah membebaskan Yerusalem, penduduk muslim dibantai, dan panglima Kristen Raja Balding I membangun monarki Latin. Namun, setelah Sultan Saladin menang di Hattin, Pasukan Salib akhirnya memperoleh konsesi berupa akses ke tempat-tempat suci melalui jalur perundingan dan perangpun selesai.

Gereja yang ada sekarang dibangun oleh Crusader. Di dalam gereja ini terdapat kalvari dan kubur Yesus. Kalvari merupakan batu besar di bukit Golgota dengan tinggi 45 kaki, yang pada jaman Yesus disebut sebagai tempat yang berarti ‘tengkorak’ karena bentuknya. Saat ini di kalvari terdapat 2 buah kapel, yang sebuah dianggap sebagai tempat penyaliban Yesus milik Gereja Yunani Orthodoks. Yang satunya lagi dipercaya sebagai tempat dimana Yesus ditelanjangi dari pakaianNya (Mat 27:35 dan Yoh 19:23) dan dipaku di atas kayu salib milik Gereja Katolik Roma. Mayat Yesus diletakkan di sebuah kubur milik Yusuf dari Arimatea yang kaya (Mat 27:57-58) di kaki Kalvari (Yoh 19:42). Monumen peringatan dengan kubah Mosotivenya yang ada sekarang ini dibangun pada tahun 1810 oleh Gereja Orthodoks Yunani. Di geraja yang sangat mistis tetapi selalu ramai ini terdapat 6 kolompok yang mengadakan kebaktian harian rutin, yaitu Gereja Orthodoks Yunani, Armenia, Katholik Roma, Orthodoks Suriah, Koptik dan Gereja Ethiopia secara bergantian.

 100_0618  100_0620

Jalan Salib Yesus, dalam ‘gaya Jawa’,

melalui lorong pasar kota tua Yerusalem.

Pemberhentian terakhir

sebelum masuk ke Golgota

 100_0622  Gereja Kubur Suci

Gambar atas : Gerbang Gereja Kubur Suci (Church of The Holy Sepulchre) di puncak Golgota menjelang malam.

Gambar samping : gereja yang sama pada buku yang cerah dan utuh.

 Kubur Suci  100_0626

Kami berdoa bersama di depan batu yang diyakini sebagai batu Yesus dibaringkan.

Gambar samping pada buku : Batu tempat Yesus dibaringkan setelah wafat, untuk diminyaki sebelum dikuburkan.

Setelah kami puas berdoa, bahkan sampai merasa merinding haru di tempat yang paling mistis, yaitu kubur Yesus, kami kembali menyusuri lorong kota tua Yerusalem. Kami menuju ke Tembok Ratapan di seberang Masjid Umar yang sangat terkenal.

Tembok ratapan (wailing wall atau hakotel hamma’aravi) adalah tempat yang dianggap paling suci bagi orang Yahudi. Tembok ini disebut juga dinding barat (western wall) dianggap sebagai serambi barat bagian dari peninggalan Bait Allah yang terakhir dan dibangun oleh Raja Herodes. Pada masa penjajahan Kekaisaran Romawi, orang Yahudi hanya diijinkan oleh Panglima Titus berkunjung ke Yerusalem setahun sekali, untuk berdoa dan memperingati hancurnya Bait Allah, serta meratapi pencerai beraian bangsa Israel, sehingga bagian dari tembok ini disebut Tembok Ratapan. Maria juga berdoa dan membawa bayi Yesus ke tempat ini untuk dikuduskan bagi Allah (Luk 2: 22-28). Kebiasaan berdoa dan meratap ini berjalan terus sampai sekarang. Para peziarah Yahudi akan berdoa, bernyanyi, meratap dan memukul-mukulkan kepalanya pada tembok itu di hari Sabbat. Selain itu, tulisan pemohonan mereka pada Tuhan dalam gulungan kertas kecil akan diselipkan di antara batu tembok tersebut. Pada periode 1948 sampai 1967 saat Yerusalem dikuasai oleh tentara Kerajaan Yordania, orang Yahudi kembali tidak diijinkan datang. Baru sejak kemenangan Israel pada Perang Enam Hari tahun 1967, Tembok Ratapan menjadi tempat yang khusus disediakan untuk berdoa bagi orang Yahudi sampai sekarang, terutama pada hari Sabbat.

Di sebelah Tembok Ratapan terdapat Masjid Umar yang sangat terkenal. Sebutannya ‘dome of the rock’ (kubah batu) dan dibangun pada akhir abad ke 7 (688-691) pada jaman Kalifah Ommayad, oleh Caliph Abdul El Malik bin Marwan, yang menginginkan Yerusalem sebagai tempat suci bagi orang muslim, selain Mekkah dan Medinah di Arab Saudi. Masjid ini dianggap sebagai tempat suci ketiga oleh umat muslim, setelah Ka’bah di Mekkah dan makam Nabi Muhammad SAW di Madinah. Masjid ini bersisi 8, setiap sisiya berukuran 63 kaki, dengan diameter 180 kaki dan tinggi 108 kaki. Kubahnya yang khas, karena berwarna kuning keemasan, memilki diameter 78 kaki, terbuat dari campuran perunggu yang berlapis emas secara khusus, disumbangkan oleh Raja Husein dari Kerajaan Yordania. Saat ini, masjid yang merupakan ‘permata arsitektur Yerusalem’ ini menjadi ciri khas kota Yerusalem yang terlihat dari kejauhan (gambar lansekap). Batu dari Gunung Moria terdapat tepat di bawah kubah masjid, panjang 15 yard, lebar 12 yard dan tinggi 2 yard. Batu ini secara tradisi dianggap sebagai batu di mana Abraham hampir mengorbankan anaknya Iskhak. Umat muslim percaya, dari batu yang sama Nabi Muhammad SAW naik ke sorga. Pada masa Bait Allah dahulu, batu itu digunakan sebagai tempat untuk mempersembahkan korban bakaran. Oleh karena tempat suci umat muslim, maka daerah ini tertutup bagi para peziarah non muslim, seperti kami semua.

 Tembok Ratapan

Gambar di buku dari udara. Nampak Tembok Ratapan yang dikerumuni banyak orang Yahudi,

di seberang Masjid Umar atau Kubah Batu (Dome of The Rock) yang berkubah kuning

 100_0642  100_0575

Tembok Ratapan di waktu malam, dengan kubah Masjid Umar di sebelahnya

Permata arsitektur Yerusalem (Masjid Umar) yang berkubah emas dilihat dari Bukit Zaitun

di seberang Yerusalem

Setelah puas mengelilingi kota Yerusalem kuno di malam terakhir, kami mulai berkemas untuk pulang. Rute pulang kami dari Yerusalem melalui darat menuju Qumran, kota kecil yang subur di tengah padang gersang di tepi barat Laut Mati. Di kota inilah kami berpisah dengan sebagian peziarah yang akan melanjutkan perjalanan ke Mesir. Dari situ kami menyeberang lagi ke wilayah Kerajaan Yordania melalui pos perbatasan Allenby Bridge seperti saat kami datang. Perjalanan pulang melalui Amman, Abu Dhabi dan Jakarta tidaklah perlu diceritakan secara mendetil. Demikianlah laporan perjalanan kami, dengan harapan kita semua mendapat menfaat yang sebesar-besarnya. Terima kasih banyak atas segala perhatian, dukungan doa, dan terlebih atas bantuannya menjaga anak-anak selama kami tinggal pergi.

Sekian.

Yogyakarta, Kamis Legi malam, 10 November 2005, pk. 23.16 wib

*) peziarah dan sekaligus pelancong dari tanah Jawa

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?