
ADA KUSTA DI ANTARA KITA
fx. wikan indrarto*)
Tema Hari Kusta Dunia (World Leprosy Day) Minggu, 25 januari 2026 adalah “Kusta dapat disembuhkan, tantangan sebenarnya adalah stigma”. Tema ini merupakan seruan untuk bertindak yang bertujuan meningkatkan kesadaran tentang kusta, menyoroti tantangan yang dihadapi oleh penderita kusta, dan menginspirasi tindakan kolaboratif untuk memberantas kusta. Apa yang harus dilakukan?
Tulisan ini telah dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 22 Februari 2026, halaman 8, kolom Husada

Kusta atau lepra adalah penyakit kronis yang disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium leprae. Kusta tercatat dalam peradaban kuno di Cina, Mesir dan India. Penyebutan kusta secara tertulis pertama dikenal pada 600 SM dan sejak itu penderita kusta sering dikucilkan oleh masyarakat dan keluarga mereka. Bakteri M. leprae sebagai penyebab kusta ditemukan oleh Dr. GA. Hansen pada tahun 1873 dan merupakan bakteri pertama yang dikenali sebagai penyebab penyakit infeksi pada manusia.
Dalam sebuah negara atau daerah endemik, seseorang harus dicurigai kusta jika menunjukkan satu dari tanda utama atau kardinal sebagai berikut, (1) lesi kulit berwarna putih atau leukoderma yang disertai dengan kehilangan sensorik atau anestesi yang pasti, dengan atau tanpa penebalan saraf dan (2) pemeriksaan apusan kulit positif bakteri kusta. Lesi kulit dapat bersifat tunggal atau ganda, biasanya kurang berpigmen dari kulit normal di sekitarnya, sehingga terlihat lebih putih. Gangguan sensorik atau anestesi adalah gambaran khas kusta, berupa hilangnya sensasi untuk sentuhan ringan. Saraf yang menebal, terutama batang saraf perifer, merupakan gambaran khas kusta yang lain. Penebalan saraf sering disertai dengan tanda hilangnya sensasi di kulit dan kelemahan otot yang diatur oleh saraf yang terkena. Apusan kulit positif berarti ditemukan bakteri berbentuk batang, bernoda merah dapat dilihat pada sediaan yang diambil dari kulit yang terkena, ketika diperiksa di bawah mikroskop dengan pewarnaan yang sesuai.
Terobosan terapi pertama terjadi pada tahun 1940-an dengan pengembangan dapson, obat kusta pertama. Namun durasi pengobatan dengan dapson itu bertahun-tahun dan bahkan seumur hidup, sehingga sulit bagi pasien untuk mematuhinya. Pada tahun 1960, bakteri M. leprae mulai menjadi resistensi terhadap dapson, yang dikenal sebagai obat anti-kusta satu-satunya di dunia pada saat itu. Pada awal 1960-an, ditemukan obat kusta lainnya, yaitu rifampisin dan clofazimine. Sejak tahun 1981, WHO merekomendasikan MDT yang terdiri dari 3 obat: dapson, rifampisin dan clofazimine, dan kombinasi obat ini mampu mematikan bakteri patogen dan menyembuhkan pasien.

Pada tahun 1991 Majelis Kesehatan Dunia mengeluarkan resolusi untuk menghilangkan kusta pada tahun 2000. Penghapusan kusta didefinisikan sebagai tingkat prevalensi kurang dari 1 kasus per 10.000 orang. Target itu dicapai dengan penggunaan MDT, yang mampu mengurangi beban penyakit secara dramatis. Selama 20 tahun terakhir, lebih dari 14 juta penderita kusta telah sembuh, sekitar 4 juta dari mereka sembuh sejak tahun 2000. Tingkat prevalensi penyakit telah turun 90%, dari 21,1 per 10.000 orang menjadi kurang dari 1 per 10.000 orang pada tahun 2000. Kusta telah mampu dieliminasi di 119 dari 122 negara di mana penyakit ini dianggap sebagai masalah kesehatan masyarakat pada tahun 1985.
Stigma kusta secara konsisten diangkat oleh penderita kusta sebagai salah satu tantangan terbesar mereka. Stigma memengaruhi kehidupan penderita kusata sehari-hari, sebab dapat menyebabkan kehilangan pekerjaan, terpaksa meninggalkan rumah mereka, alasan dijauhkan dari keluarga dan kehidupan komunitas, dan bahkan dapat menjadi penolakan anak untuk bersekolah.
Stigma yang menyakitkan bagi yang terkena kusta sebenarnya ‘terjadi bukan karena orang jahat, tetapi karena mereka tidak mengerti.’ Stigma ada karena terlalu banyak orang percaya bahwa kusta sangat menular, bahwa tidak ada obatnya, bahwa itu disebabkan oleh dosa atau kutukan. Kesalahpahaman ini mewarnai cara orang diperlakukan ketika mereka didiagnosis menderita penyakit ini. Tergantung pada tingkat stigma dalam keluarga atau komunitas, namun demikian stigma ini dapat sangat menghancurkan kehidupan penderitanya.
Kusta dapat disembuhkan dengan pengobatan antibiotik yang sederhana dan gratis. Jika pengobatan itu dilakukan sejak dini, diharapkan tidak akan ada komplikasi bagi pasien tersebut. Selian itu, kita juga akan mampu mengurangi penularan kusta, meskipun stigma sering kali masih juga menghalangi pencapaian itu. Banyak orang masih menganggap stigma yang ditimbulkan oleh kusta, sehingga banyak penderita kusta memilih untuk menyembunyikan gejalanya, berdoa agar tidak ada yang menyadari sehingga mereka tidak harus menghadapi diskriminasi ini. Ketakutan penderita kusta seperti ini, sebenarnya justru akan mencegah mereka untuk berobat, yang menyebabkan komplikasi jangka panjang. Tentu saja, juga menimbulkan penularan kusta yang berkelanjutan.
Indonesia masih menempati peringkat ketiga beban kusta tertinggi di dunia, dengan lebih dari 400 kabupaten/kota masih mencatat penularan hingga akhir 2025. Kasus baru kusta ditemukan lebih dari 10.000 per tahun, termasuk pada anak, dengan Papua dan wilayah Timur lainnya sebagai salah satu fokus utama. Pemerintah menargetkan eliminasi di 11 kabupaten/kota pada 2025, menuju ‘zero leprosy’ pada 2030.
Momentum Hari Kusta Sedunia (World Leprosy Day) Minggu, 25 Januari 2026 mengingatkan kita tentang target nol infeksi pada anak dan mengurangi stigma, meskipun ternyata masih ada kusta di antara kita. Sudahkah kita bertindak?
Sekian
Yogyakarta, 24 Januari 2026
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM.