Categories
Healthy Life Jalan-jalan

2026 Baru di Selandia

BARU DI SELANDIA

fx. wikan indrarto & benedicta sari prasetyati

Setahun lalu kami terbang ke belahan bumi selatan, tepatnya di Johannesburg, Afrika Selatan pada Senin, 12 Mei 2025. Tahun 2026 ini kami akan menikmati lagi kedamaian bumi selatan, sehingga kami terbang ke Auckland di Selandia Baru (New Zealand atau NZ), ) sambil mengikuti International Conference on Bacteriology and Microbial Pathogenesis (ICBAMP). Apa yang Baru di Selandia?

Persiapan meninggalkan rumah Timoho Yogyakarta untuk petualangan ke Selandia Baru

Minggu pagi, 24 Mei 2026 kami naik bis tingkat milik PT. Rosalia Indah Transport (Ros In), yaitu sebuah perusahaan otobus Indonesia yang berpusat di Karanganyar, Jawa Tengah. Perusahaan otobus ini melayani bus antarkota, bus antar-jemput, bus pariwisata, dan kurir. Di samping mengelola bisnis transportasi, lewat anak-anak usahanya, perusahaan otobus ini juga merambah ke bisnis penyantunan (hospitality) seperti rumah makan, rest area, dan hotel; serta produksi air minum dalam kemasan. Kantor pusat dan garasi utama perusahaan otobus ini terletak di Jalan Raya Solo–Ngawi km 7,5, Jaten, Karanganyar, Jawa Tengah.

Siap naik bus tingkat Rosalia Indah, dengan bodi Jetbus 3+ seri SDD buatan karoseri Adiputro Malang yang gagah, diusung sasis premium buatan Swedia Scania K410CB dari Yogyakarta

Kabin lantai 2 yang dingin dan nyaman di bus tingkat Rosalia Indah yang diusung sasis premium buatan Swedia Scania K410CB meluncur ke Ciputat, Tangerang Selatan.

Kami meluncur ke Ciputat, Tangerang Selatan di lantai 2 bus tingkat Rosalia Indah, dengan bodi Jetbus 3+ seri SDD buatan karoseri Adiputro Malang yang gagah, diusung sasis premium buatan Swedia Scania K410CB, dilengkapi dengan suspensi udara. Bis Ros In milik keluarga Bapak Yustinus Soeroso, yang mulai menapaki dunia transportasi bus sebagai kernet, kondektur bus, hingga akhirnya agen bus, di perusahaan otobus Timbul Jaya. Rosalia Indah saat ini mengoperasionalkan 389 unit bus reguler dan 50 unit bus tingkat, seperti yang kami naiki.

Bertemu dab Welly Sutanto, sesama alumni SMA Kolese de Britto Yogyakarta angkatan 1984, untuk berdoa bersama di Kapel Santo Christoforus, Pemalang Jawa Tengah, milik Rosalis Indah.

Kami sempat bertemu sejenak dengan sobat lama Dab Welly Sutanto, sesama alumni SMA Kolese de Britto Yogyakarta angkatan 1984, untuk berdoa bersama di Kapel Santo Christoforus, di Rest Area Ros In KM 319 di Pemalang, Jawa Tengah. Santo Christoforus adalah pelindung para pelaku perjalanan, yang kami yakini juga akan melindungi kami sampai di tempat tujuan tanpa halangan.

Siap berangkat setelah tertidur pulas semalam di rumah kakak saya (Pakde Toto Ismintarto dan Budhe Hastari Soekardi) di Villa Pamulang Tangerang Selatan.

Kami menginap semalam di rumah kakak saya (Pakde Toto Ismintarto dan Budhe Hastari Soekardi) di Villa Pamulang Tangerang Selatan. Senin pagi, 25 Mei 2026 kami mengantar Pakde Totok ke Stasiun Halim untuk naik Whoosh Kereta Sangat Cepat ke Bandung, karena ada tugas kunjungan proyek renovasi Hotel Padma. Selanjutnya kami diantar driver pak Solikh mengungjungi besan, Bapak Suharyadi dan Ibu Endang di Tambun, Kabupaten Bekasi. Juga mengjungi pengantin baru, anak bungsu kami Laras dan William, yang sedang mengerjakan proyeknya di rumah Cileungsi Bogor. Terus sowan Bulik Partinah adik sepupu bapak saya di Salaman, Magelang yang sedang tinggal di rumah anak sulungnya, dik Prastowo di Harapan Indah Bekasi.

Senang sekali dapat mengunjungi besan, Bapak Suharyadi dan Ibu Endang di Tambun, Kabupaten Bekasi, yang semuanya sehat

Bahagia sekali dapat mengunjungi pengantin baru, anak bungsu kami, Laras dan William, di rumah proyeknya di Cileungsi, Kabupaten Bogor

Sowan Bulik Yohana Tentrem Supartinah (84 tahun) adik sepupu bapak saya, di rumah dik Daniel Prastowo di Perumahan Harapan Indah Bekasi.

Suasana akademik di perpustakaan pribadi dik Daniel Prastowo di Perumahan Harapan Indah Bekasi.

Makan siang bersama pak Solikh, driver yang telah mengantarkan kami berkeliling

Terus kami menuju Stasiun Manggarai, untuk naik KA Bandara Basoetta ke Bandara Internasional Soekarno Hatta di Tangerang, terus ganti KA Layang (Sky Train) ke terminal 3. Setelah membereskan urusan bagasi dan imigrasi, malam itu kami terbang meninggalkan tanah air tercinta, Indonesia

KA Bandara yang kami naiki dari Stasiun Manggarai Jakarta ke Bandara Soetta di Tangerang

Interior Commuter Line Basoetta dari Stasiun Manggarai Jakarta ke Bandara Soetta yang cerah dan nyaman

KA Layang (Sky Train) menuju ke Terminal 3 Bandara Soetta Tangerang

Bersiap meninggalkan Bandara Soetta Indonesia di Gerbang Keberangkatan Internasional

Kami terbang dalam perut Qantas Airlines Limited, maskapai penerbangan nasional Australia. QANTAS singkatan dari “Queensland and Northern Territory Aerial Services yang sering disebut “The Flying Kangaroo”, berpusat di Sydney, dengan pangkalan utama di Bandar Udara Internasional Kingsford Smith, dan merupakan maskapai terbesar Australia. Qantas adalah maskapai tertua ketiga di dunia dan maskapai tertua yang beroperasi menggunakan nama aslinya.

Di dalam perut Qantas Airways Airbus 330-200 QF 42 yang merupakan tulang punggung armada pesawat berbadan lebar (wide-body), siap terbang ke Sydney Australia

Tahun 2007, Qantas terpilih menjadi maskapai penerbangan terbaik kelima di dunia berdasarkan penelitian Skytrax, jatuh dari posisi kedua pada tahun 2005 dan 2006. Qantas terbang ke 81 kota di 5 benua dengan penerbangan Bouing 747-400 tanpa henti dari Sydney ke Buenos Aires. Juga terdapat penerbangan ke Dubai dengan superjumbo Airbus A380.

Sering diklaim, khususnya pada film 1988 Rain Man, bahwa kehebatan Qantas adalah tidak pernah mengalami kecelakaan fatal. Pernyataan ini cukupberalasa, tetapi sebenarnya hanya membenarkan fakta bahwa Qantas tidak pernah kehilangan pesawat jet. Pesawat jet Qantas saat ini terdiri dari Airbus A330-200, Airbus A330-300, Airbus A380-800, jumbo jet Airbus A380-800, Boeing 737-800 dan Boeing 787-9.

Kami naik Qantas Airways Airbus 330-200 QF 42 yang merupakan tulang punggung armada pesawat berbadan lebar (wide-body) Qantas Airways, yang melayani rute domestik utama Australia dan rute internasional jarak jauh. Pesawat ini sangat populer karena menawarkan kabin yang senyap dan kenyamanan optimal, yang kami nikmati dari Jakarta Soekarno Terminal 3, selama 6 jam 45 menit menempuh 3.416 mil untuk mendarat di Sydney Kingsford Terminal 1 di Australia.

Mendarat dengan selamat di Sydney (SYD) Kingsford Terminal 1 di Australia pada Selasa pagi, 26 Mei 2026

Taman buatan yang hijau (Fragrance Garden) di Sydney (SYD) Kingsford Terminal 1 di Australia saat menunggu transit ke Auckland Selandia Baru

Dalam guyuran hujan menuju perut Qantas Airways Boeing 737-800 QF 145 di Sydney (SYD) Kingsford Terminal 1 Australia.

Bersama para penumpang bule semua di dalam perut Qantas Airways Boeing 737-800 QF 145 menuju Auckland Selandia Baru.

Selanjutnya kami terbang dengan Qantas Airways Boeing 737-800 QF 145 dari Sydney Kingsford Terminal 1 Australia, pintu 31 selama 3 jam 10 menit sejauh 1.345 mil dan mendarat Selasa sore, 26 Mei 2026 di International Auckland di Selandia Baru. Bandar Udara Auckland disebut Taunga Rererangi, yaitu bandara terbesar dan tersibuk di Selandia Baru.

Suasana penataan perumahan warga di kota Auckland yang terlihat dari jendela pesawat Qantas Airways Boeing 737-800 QF 145

Ornamen kayu tradisional motif Suku Maori, penduduk asli Selandia Baru di gerbang kedatangan penumpang internasional di Auckland

Selamat datang di Auckland, Selandia Baru yang disebut Tamaki Makaurau oleh penduduk asli suku Maori

Bandara ini terletak 21 kilometer (13 mil) di selatan pusat kota Auckland. Selesai menjalani proses imigrasi dan deklarasi barang bawaan yang paling ketat dibandingkan negara lain yang pernah kami kunjungi, kami segera menyeberang jalan di depan pintu keluar penumpang internasional untuk mengikuti sesi terakhir ’International Conference on Bacteriology and Microbial Pathogenesis’ (ICBAMP), yang diselenggarakan di Novotel Auckland Airport 35 Tom Pearce Drive Auckland. Ini adalah sebuah kesempatan untuk mempertemukan para profesional industri, ahli kesehatan, akademisi, dan dokter cendekiawan dari berbagai negara, untuk  meningkatkan kolaborasi di bidang bakteriologi ini.

Bergaya sejenak saat selesai konferensi di zona penurunan tamu di Novotel Auckland Airport 35 Tom Pearce Drive Auckland.

Pada sesi ‘meet the distinguished experts’ sesi terakhir, kami sempat melihat paparan Claudio Pusceddu (Businco Oncology Hospital, Cagliari, Italia) dan Marina Filimonova (Tsyb Medical Radiological Research Centre, Ulitsa Zhukova, Obninsk, Kaluga Oblast, Rusia), tentang Insights and Innovations, Microbial Genomics and Its Applications, Translational Research in Microbiology, Innovations in Microbial Laboratory Techniques dan Global Health Perspectives on Microbial Diseases. Pada hal sesi sebelumnya yang menampilkan Mary Jane Walsh (Northern Michigan University, USA), Michael Neuman (Barry University, Miami Shores, Florida, USA), dan Abhishek Ruia (Abhishek Speech & Hearing Centre, Kanpur, Uttar Pradesh, India) sebenarnya lebih menarik, yaitu Advancements in Bacteriology, Microbial Pathogenesis Mechanisms, Infectious Diseases: Current Challenges and Solutions, Clinical Diagnostics in Microbiology, Antimicrobial Resistance: Trends and Responses, Molecular Techniques in Microbial Research, Pathogen-Host Interactions.

Gelap malam sudah mendekap Novotel Auckland Airport 35 Tom Pearce Drive Auckland.

Setelah acara penutupan konferensi yang sederhana, kami segera masuk kembali ke areal kedatangan penumpang internasional di Auckland International Airport yang berlokasi di Ray Emery Drive, Māngere, Auckland, Selandia Baru. Dibuka 29 Januari 1966 dan dikelola oleh Auckland International Airport Limited (AIAL), bandara ini menjadi contoh sukses bagaimana pengelolaan profesional dan visi bisnis bisa mengubah infrastruktur publik menjadi perusahaan bernilai miliaran dolar.

Berbeda dengan bandara lain yang bergantung pada biaya penerbangan (aeronautical revenue), AIAL sejak awal menyadari bahwa diversifikasi pendapatan adalah kunci bertahan hidup, sehingga mulai berinvestasi di sektor non-aero seperti komersial & retail, parkir dan transportasi darat, pengembangan properti, dan fasilitas logistik terintegrasi.

Hal baru di Selandia yang nikmat dan aman seperti promosi bank di rumah sendiri, merupakan salah satu pendapatan Non-Aero Auckland Airport.

Kini, lebih dari 50% pendapatan Auckland Airport berasal dari sektor non-aero, menjadikannya salah satu bandara dengan model bisnis paling seimbang di dunia. Strategi Non-Aero adalah Menciptakan Nilai di Luar Terminal, misalnya Bisnis Ritel & F&B. Auckland Airport membangun The District, kawasan komersial berisi toko, kafe, dan restoran yang dirancang bukan hanya untuk penumpang, tetapi juga untuk masyarakat sekitar.

Konsepnya sederhana tapi efektif: “Menjadikan bandara sebagai tempat tujuan, bukan sekadar titik transit.” Pendekatan ini memperluas pasar mereka — dari penumpang pesawat ke konsumen lokal dan wisatawan domestik. Menurut laporan keuangan AIAL 2023, Pendapatan non-aero mencapai lebih dari NZD 340 juta, atau sekitar 56% dari total revenue.

Mendarat di halaman Kiwi International Hotel di 411 Queen St, Auckland City Center, Auckland.

Kami lanjut naik taksi Toyota Highlander bertarif NZD 80 untuk menuju Kiwi International Hotel di 411 Queen St, Auckland City Center, Auckland, New Zealand untuk beristirahat di kamar 251.

(Bersambung)

Rabu, 27 Mei 2026 kami terbangun di kamar 251 Kiwi International Hotel di 411 Queen St, Auckland City Center, Auckland, Selandia Baru atau New Zealand untuk memulai hari. Selandia Baru terdiri dari dua pulau besar (Pulau Utara dan Pulau Selatan) dan beberapa pulau lainnya yang lebih kecil. Karena letaknya yang jauh dari aktivitas manusia di bumi, Selandia Baru merupakan kepulauan terakhir yang didiami oleh manusia.

Petualangan hari kedua dimulai dengan jalan kaki dari Kiwi International Hotel di 411 Queen St, Auckland City Center, Auckland, Selandia Baru

Jalan kaki pagi menyusuri Upper Queen Street Auckland, yang mendaki cukup tinggi

Selama masa terisolirnya yang panjang, di Selandia Baru berkembanglah suatu keanekaragaman hayati yang berbeda, baik itu tumbuhan maupun hewan. Yang paling terkenal adalah sejumlah besar spesies burung yang unik, banyak di antaranya punah setelah tibanya manusia, dan mamalia yang dibawa serta. Dengan iklim bahari yang sedang, daratan Selandia Baru sebagian besarnya ditutupi hutan. Topografi negara yang bervariasi, dan puncak-puncak gunungnya yang tajam sangat dipengaruhi oleh tonjolan tektonik tanah, dan letusan gunung berapi yang disebabkan oleh tumbukan lempeng Pasifik dan lempeng Indo-Australia di bawah permukaan bumi.

Bangsa Polinesia mendiami Selandia Baru pada 1250–1300, dan membangun kebudayaan Māori yang berbeda, dan orang Eropa mulai merintis hubungan dengan mereka pada 1642. Pengenalan kentang dan senapan lontak telah memicu pergolakan di antara sesama Suku Māori pada permulaan abad ke-19, yang mengarah pada Peperangan Senapan antarsuku. Orang Eropa pertama yang mencapai Selandia Baru adalah penjelajah Belanda, Abel Tasman pada 1642. Dalam sebuah pertemuan yang menegangkan, empat awak kapal terbunuh, dan paling sedikit seorang Māori terpukul oleh canister shot. Orang Eropa tidak ada yang mengunjungi lagi Selandia Baru sampai 1769 ketika penjelajah Inggris, James Cook, memetakan hampir semua pesisirnya.

Geraja Santo Benedictus di 1 St Benedict’s Street, Eden Terrace (Newton) Auckland

Pagi itu kami berjalan kaki menuju Geraja Santo Benedictus di 1 St Benedict’s Street, Eden Terrace (Newton) Auckland. Pada tahun 1866, Uskup Aucland Mgr. Pompallier memberkati dan meresmikan Gereja kayu kecil St. Francis de Sales di tempat yang saat itu bernama East Street. Gereja ini akan digunakan sebagai kapel pemakaman dan berfungsi sebagai pos terdepan Katedral Auckland, untuk melayani sejumlah besar umat Katolik yang tinggal di daerah Newton. Kapel kecil ini melayani penduduk Newton selama hampir dua puluh tahun. Namun, seiring pertumbuhan penduduk di daerah tersebut, kebutuhan akan gereja yang lebih besar menjadi semakin mendesak. Pada tahun 1879, para biarawan Benediktin dari Biara Ramsgate, di Inggris, diberi tanggung jawab atas paroki Newton yang baru dibentuk.

Jadwal misa kudus yang berbeda dengan yang terlihat di website yang belum diperbaharui

Bersama Bapak Sugeng Wijanto di rumahnya, Seine Road Forrest Hill Auckland, sebuah kawasan elite

Ternyata misa kudus harian pagi di gereja tersebut telah diubah jadwalnya, dan tidak diperbaharui pada websitenya, sehingga kami tidak sempat ikut misa kudus. Setelah kembali ke hotel dan sarapan, kami segera meluncur naik taksi menuju rumah Bapak Sugeng Wijanto di Seine Road Forrest Hill Auckland, pimpinan di kantor kakak saya (Mas Toto Ismintarto). Ir. Sugeng Wijanto, MEng, PhD ahli struktur bangunan tahan gempa adalah President Director PT Gistama Intisemesta, sebuah konsultan struktur yang banyak menangani proyek-proyek gedung tinggi di Indonesia. Selain itu, beliau juga Staf Akademik Universitas Trisakti Jakarta dan salah satu Dewan Penasihat – Civil Engineering – Petra Christian University Surabaya.

Menyerahkan kenangan untuk ibu Suni, berupa tas yang langsung diselempangkan di bahu dan cinderamata yang langsung digenggam erat di tangan

Setelah bertemu Ibu Sumi yang sedang WFH, pada sebuah kantor administrasi Kesehatan. Pak Sugeng dan Bu Sumi yang sangat ramah, menyambut kami dengan terbuka di rumahnya yang asri tinggal berdua, karena kedua anak dan ketiga cucunya telah mandiri di rumah lain. Segera kami diajak naik sedan mewah Mercedez Benz C200 berpalat nomer istimewa 1111SW, selain huruf biasanya di depan deratan angka, juga angkanya semua angka 1 dan huruf hanya 2, singkatan inisial namanya Sugeng Wiyanto, sementara biasanya 3 huruf.

Kami bersiap naik sedan mewah Mercedez Benz C200 berpalat nomer istimewa 1111SW

Kami diajak mengelilingi Devonport, yaitu sebuah areal tepi laut bersejarah yang menawan di kawasan North Shore, Auckland. Sepanjang perjalanan, Pak Sugeng yang ahli dalam bidang struktur gempa dan baja, banyak bercerita tentang keahliannya dan riset internasional yang telah dilakukannya. Sepanjang North Shore yang terletak tepat di seberang Waitematā Harbour di pusat bisnis kota Aucland, kawasan ini terkenal dengan suasananya yang santai, jalanan yang dipenuhi vila kolonial bergaya Victoria, serta pemandangan indah ke arah cakrawala kota Auckland. Devonport yang kami kunjungi dengan taksi melalui jembatan (AJ Hackett Auckland Bridge Bungy & Climb) dapat dicapai juga hanya dengan 12 menit perjalanan feri dari pusat kota Auckland.

Devonport adalah salah satu pemukiman Eropa paling awal di Auckland pada abad ke-19. Kota ini memiliki sejarah vulkanik yang dramatis, terlihat dari bentuk lahannya, hubungan yang erat dengan laut, dan sejarah panjang pemukiman oleh suku Maori. Kota ini telah menjadi rumah bagi Angkatan Laut Selandia Baru selama bertahun-tahun, dan memiliki hubungan yang kuat dengan Angkatan Darat. Devonport merupakan pusat penting untuk pembuatan kapal di masa awal dan basis transportasi hingga ke utara Waiwera. Kota ini diakui memiliki beberapa pemandangan jalanan terbaik dari bangunan komersial dan perumahan abad ke-19 di Selandia Baru.

Bergaya di depan Devenport Museum di 33 Vauxhall Road, Devonport, Auckland 0624.

Kami menuju Devenport Museum di 33 Vauxhall Road, Devonport, Auckland 0624. Museum ini dibuka pada tanggal 10 Februari 1980 dan taman dibuka pada tanggal 22 November 1981. Museum Devonport mengkhususkan diri pada memorabilia dan materi sumber yang terutama berkaitan dengan sejarah Devonport dan penduduknya. Artefak dan materi lain dapat dipertimbangkan untuk dimasukkan ke dalam koleksi.

Teluk Hauraki dan kota Auckland di kejauhan

Di mulut North Head (Maungauika) yang menyimpan jaringan bungker, terowongan bawah tanah, dan benteng pertahanan militer

Selanjutnya kami menikmati pemandangan alam dari Gunung Berapi Purba, melihat Mount Victoria Reserve (Takarunga), Teluk Hauraki dan kota Auckland. Juga menjelajahi terowongan bawah tanah untuk keperluan militer yang bersejarah, yaitu North Head (Maungauika) yang menyimpan jaringan bungker, terowongan bawah tanah, dan benteng pertahanan militer yang digunakan sejak akhir abad ke-19 hingga Perang Dunia II.

Pemandangan Kota Auckland dari puncak gunung

Duduk santai di Torpedo Bay Navy Museum, sekaligus makan siang dengan pemandangan pantai yang indah

Terus menikmati pemandangan banyak warga yang bersantai di pinggir pantai berpasir emas yang tenang dan ramah keluarga, seperti Cheltenham Beach dan Narrow Neck Beach. Lanjut belajar sejarah maritim Selandia Baru di Torpedo Bay Navy Museum, sekaligus makan siang dengan pemandangan pantai yang indah. Habis itu menyusuri Victoria Road menyajikan deretan butik independen, galeri seni, toko buku, kafe trendi, serta produsen cokelat terkenal di Devonport Chocolates.

Di tengah the Arcade di Victoria Road yang menyajikan deretan butik independen, galeri seni, toko buku, dan kafe trendi.

Ferry Terminal Auckland di areal Viaduct Harbour, yaitu kawasan tepi laut yang ramai dan terletak di jantung kota Tāmaki Makaurau, Auckland

Terus melihat Devonport Wharf, yaitu terminal penyeberangan penumpang yang menuju Ferry Terminal Auckland. Kami terus menyeberangi ulang Auckland Harbour Bridge yang sebelumnya kami lewati saat naik taksi, bersama pak Sugeng menuju arah utara melalui Northern Motorway dan keluar di Esmonde Road. Kami mencapai Ferry Terminal Auckland di areal Viaduct Harbour, yaitu kawasan tepi laut yang ramai dan terletak di jantung kota Tāmaki Makaurau, Auckland. Sebagai rumah bagi beberapa bar, restoran, dan akomodasi terbaik di kota ini, Viaduct Harbour memiliki sesuatu untuk semua orang.

Maritime Museum di seberang Viaduct Harbour Marina yang bergaya butik.

Selain menawarkan layanan perhotelan kelas dunia, Viaduct Harbour juga merupakan rumah bagi Viaduct Harbour Marina yang bergaya butik, di seberang Maritime Museum. Marina ini juga berfungsi sebagai pusat bagi sekitar 70 kapal sewaan, yang secara rutin membawa pengunjung untuk menjelajahi Pelabuhan Waitematā dan pulau-pulau di sekitarnya.

Bergaya di depan Waitematā Station (sebelumnya dikenal sebagai Britomart Transport Centre) Auckland.

Kami terus berjalan kaki sampai ke Stasiun kereta utama di pusat kota (CBD) Auckland, yaitu Waitematā Station (sebelumnya dikenal sebagai Britomart Transport Centre). Terletak di ujung Queen Street, stasiun ini adalah pusat utama untuk semua layanan kereta komuter perkotaan dan bus di Auckland. Setelah minum teh dan roti sore, kami berpisah dengan Pak Sugeng yang herus kembali ke rumahnya sebelum kepadatan lalu lintas terjadi di sore hari. Kami segera berjalan kaki kembali ke hotel sejaiuh 1,6 km di jalanan yang mendaki, ke Upper Queen Street.

Senang mendapat penjelasan langsung dari seorang ahli gempa bumi, tentang penguatan struktur tahan gempa bangunan lama, dengan penyangga baja.

Melihat struktur tahan gempa, yaitu besi saling melintang yang diberi pelumas, di luar gedung tinggi itu di Auckland

Dalam perjalanan pulang ke hotel, kami melewati Balai Kota Auckland di 301 – 317 Queen Street, Auckland, yang megah bergaya Edwardian, berfungsi administratif (seperti rapat dan sidang Dewan), dilengkapi dengan Aula Besar yang terkenal dan Ruang Konser yang dimodelkan berdasarkan Gewandhaus di Leipzig, dan dianggap memiliki akustik terbaik di dunia. Balai Kota Auckland dibangun pada tahun 1910, meski sudah direncanakan sejak awal 1872.

Duduk beristirahat sejenak saat perjalanan pulang dari pusat kota (CBD) Auckland, yaitu Waitematā Station menyusuri Queen Street menuju hotel.

Persimpangan Greys Avenue dan Queen Street dipilih sebagai lokasi pada tahun 1880, dan dirancang oleh arsitek JJ & EJ Clark yang berbasis di Melbourne. Batu fondasi diletakkan oleh walikota Arthur Myers pada 24 Februari 1909 dan gedung tersebut secara resmi dibuka pada 14 Desember 1911 oleh Lord Islington, Gubernur Selandia Baru. Desain Kebangkitan Renaisans Italia lima lantai ini memiliki kemiripan dengan Balai Kota Lambeth di Brixton, London, yang dibangun sekitar waktu yang sama.

Balai Kota Auckland rancangan arsitek JJ & EJ Clark yang berbasis di Melbourne.

Sambil berjalan kaki pulang dari Balai Kota Auckland, kami jadi mengingat bahwa pemerintah Inggris mengangkat James Busby sebagai Residen untuk Selandia Baru pada 1832. Pada 1840 Inggris dan Māori menandatangani Perjanjian Waitangi yang menjadikan Selandia Baru sebagai jajahan Inggris (Imperium Britania). Pada 1907, atas permintaan Parlemen Selandia Baru, Raja Edward VII memproklamasikan Selandia Baru sebagai sebuah dominion di lingkungan Imperium Britania.

Setelah Perang Dunia II, Selandia Baru bersama Australia, dan Amerika Serikat bergabung di dalam perjanjian keamanan ANZUS. NamunAmerika Serikat pada 2010 membekukan perjanjian itu setelah Selandia Baru melarang senjata nuklir.

Orang Selandia Baru menikmati salah satu standar hidup tertinggi di dunia pada dasawarsa 1950-an, tetapi mengalami kejatuhan yang mendalam pada dasawarsa 1970-an. Pasar ekspor produk pertanian Selandia Baru telah didiversifikasi secara luas sejak dasawarsa 1970-an, dengan ekspor wol yang pernah mendominasi digantikan oleh produk peternakan, daging, dan minuman anggur.

Dijemput Ibu Gabriela Dian bersama Hana dan Freya di hotel kami di Auckland,

Setelah beristirahat sore sebentar di hotel, kami segera dijemput Ibu Gabriela Dian yang tinggal di 24/94 Glengarry Rd, Glen Eden Aucland bagian barat, bersama Hana dan Freya kedua anaknya kelas 5 dan 3 SD. Kedua anak tersebut pernah saya periksa di RS Panti Rapih Yogyakarta, karena kedua sepupunya pasien saya dan Ibu Dian yang asli Yogyakarta sedang berlibur mudik.

Dokter ketemu pasiennya

Ibu Dian yang sedang mengambil master bidang pekerja sosial di Massey University, mengajak kami jalan2 menggunakan Toyota Aqua hydbrid warna biru mengjungi seputar bagian barat Auckland, sampai makan malam bersama di Wendy’s Humbergers 570 Hillsborough Road Lynfield, Auckland, Selandia Baru.

Makan malam bersama di Wendy’s Humbergers Auckland

Kami berdua diantar kembali ke Hotel Kiwi Internasional untuk menginap dan beristirahat pada malam kedua kami, di Selandia baru.

(bersambung)

Kamis pagi, 28 Mei 2026 kami terjaga di kamar 215 Hotel Kiwi Internasional di Auckland, Selandia Baru. Kami jadi teringat tentang burung kiwi yang merupakan hewan endemik dan lambang nasional Selandia Baru. Satwa unik ini tidak dapat terbang, memiliki bulu menyerupai rambut, dan indra penciuman yang sangat tajam. Mereka sangat dijaga kelestariannya sehingga keberadaannya menjadi ikon identitas negara tersebut.

Menara huruf AUCKLAND yang penuh warna

Burung kiwi tidak dapat terbang, karena memiliki sayap yang sangat kecil dan tersembunyi di balik bulunya, burung ini sepenuhnya berjalan atau berlari di darat. Kiwi adalah satu-satunya burung di dunia yang memiliki lubang hidung di ujung paruhnya, bukan di pangkal. Mereka mengandalkan penciuman luar biasa untuk mencari makan di dalam tanah.

Meski ukuran tubuhnya mirip dengan ayam domestik, kiwi mampu menghasilkan telur yang besarnya mencapai sepertiga dari ukuran tubuh induknya. Burung kiwi adalah hewan yang aktif di malam hari dan biasanya menghabiskan siang hari di dalam liang yang mereka gali. Secara budaya, burung kiwi sangat melekat dengan Selandia Baru. Saking ikoniknya, warga lokal Selandia Baru sering dijuluki sebagai “Kiwi”. Kata “kiwi” itu sendiri berasal dari bahasa Māori yang menirukan suara kicauan burung tersebut.

Suasana misa kudus harian pagi di St Patrick’s Cathedral Auckland.

Megahnya Katedral Santo Patrick atau Santo Yosef (St Patrick’s Cathedral) di Auckland

Pagi itu kami melawan dingin pada suhu 16 derajat berjalan kaki menuju Katedral Auckland yang bernama resmi Katedral Santo Patrick atau Santo Yosef (St Patrick’s Cathedral). Kami akan mengikuti misa kudus harian pagi pk. 7 di sebuah gereja katedral Katolik yang terletak di sudut Jalan Federal dan Jalan Wyndham, Auckland CBD, Selandia Baru. Katedral Auckland merupakan gereja induk bagi Keuskupan Auckland dan katedral atau takhta bagi Uskup Auckland.

Katedral Santo Patrick atau Santo Yosef (St Patrick’s Cathedral) dirancang oleh arsitek Edward dan Thomas Mahoney, bergaya Neo-Gotik.

Pada tahun 1841, tanah tersebut dibeli oleh Uskup Mgr. Jean Baptiste Pompallier, uskup Katolik pertama di Selandia Baru. Sebuah kapel kayu dibangun pada tahun 1842, digantikan oleh gereja batu pada tahun 1848, yang diperluas pada tahun 1884, dan akhirnya dibangun ulang menjadi katedral saat ini pada 23 Februari 1908. Gereja ditetapkan sebagai katedral pada 6 September 1984, dan ditahbiskan pada 1 September 1963. Dirancang oleh arsitek Edward dan Thomas Mahoney, bergaya Neo-Gotik, saat ini dipimpin oleh Uskup Mgr. Stephen Marmion Lowe.

Patung Santo Yosef pelindung para pekerja di dalam Katedral Santo Patrick atau Santo Yosef (St Patrick’s Cathedral) Auckland.

Suasana di dasar Sky Tower Auckland

Setelah mengikuti misa kudus harian pagi itu, lanjut kami menyusuri jalanan di Auckland yang merupakan kota metropolitan terbesar di Selandia Baru dengan penduduknya berjumlah 1.354.900 jiwa. Auckland yang dalam bahasa Māori disebut Tamaki Makau Rau, terletak di Pulau Utara, Selandia baru. Penghuni awal dari kota ini adalah pelaut Māori, mereka datang sekitar tahun 1350, kemudian disusul oleh orang-orang dari kepulauan Polinesia. Mereka membangun desa-desa di sekitar gunung berapi yang memiliki tanah yang subur. Penduduk Māori di daerah tersebut diperkirakan mencapai sekitar 20.000 orang sebelum kedatangan orang Eropa. Peperangan antar suku inilah yang menyebabkan wilayah ini memiliki jumlah penduduk Māori yang relatif rendah ketika orang Eropa datang dan mendirikan pemukiman di wilayah ini.

Lambang kemajuan teknologi bangunan berstruktur tinggi Sky Tower di Auckland.

Pada 27 Januari 1832, Joseph Brooks Weller, anak tertua dari Weller bersaudara, dari Otago dan Sydney membeli tanah yang sekarang menjadi situs modern kota Auckland dari “Cohi Rangatira”. Setelah penandatanganan Perjanjian Waitangi pada bulan Februari 1840, Gubernur pertama Selandia Baru, Kapten William Hobson, memilih daerah ini sebagai ibu kota baru, dan mengambil nama “Auckland” sebagai penghormatan kepada pelindung dan mantan komandannya George Eden, Earl of Auckland, yang pada saat itu menjadi Viceroy of India. Tanah tempat Auckland didirikan merupakan hadiah kepada Gubernur tersebut oleh suku lokal Māori Ngati Whatua, sebagai tanda goodwill dan dengan harapan bahwa pembangunan kota akan menarik peluang dagang dan politik untuk suku tersebut. Auckland secara resmi dinyatakan sebagai ibu kota Selandia Baru pada tahun 1841, tetapi pada tahun 1865, ibu kota Selandia Baru dipindahkan ke Wellington.

Sky Tower Auckland adalah gedung tertinggi di Belahan Bumi Selatan.

Kami mencapai Sky Tower, sebauh menara dengan ketinggian lebih dari 1000 kaki (305 meter), Sky Tower Auckland adalah gedung tertinggi di Belahan Bumi Selatan, dan merupakan bagian ikonik dari cakrawala Auckland. Kami tidak naik ke puncak untuk menikmati pemandangan panorama kota yang tak tertandingi, di mana kita sebenarnya dapat melihat pelabuhan Auckland dan pegunungan yang telah kami kunjungi hari sebelumnya di kejauhan. Dari Sky Tower di Victoria Street West, Auckland Central, kami berjalan cepat melawan dinginnya angin yang berhembus pada suhu 16 derajat dan pendakian menanjak untuk kembali ke hotel, karena kami harus bersiap check out.

Melawan dinginnya angin Auckland, yang berhembus pada suhu 16 derajat dan pendakian menanjak untuk kembali ke hotel.

Nasi goreng sapi menu China sebagai makan siang porsi besar setelah check out hotel

Kami menikmati makan siang menu China di depan Kiwi International Hotel, serta membungkusnya karena posri terlalu banyak. Kami sudah ditunggu Mr Abara, orang Ethiopia yang mengantar kami dari Bandara Auckland saat datang, menggunakan Toyot Highlinder. Siang itu datang menggunakan Toyota Camry Hybrid untuk mengantar kembali ke Bandara Auckland dengan tarif NZD80.

Diantar Mr. Abrar orang Ethiopia naik taxi Toyota Camry Hybrid KDJ258 ke Bandara Auckland

Jetstar Airways jenis Airbus A 320 siap terbang ke Wellington

Mendarat dengan selamat dan siap mengelilingi Wellington di Selandia Baru

Selamat datang di Wellington ibu kota Selandia Baru

Kami naik  Jetstar Airways Airbus A 320 yang terlambat terbang 1 jam dan baru mendarat menjelang malam hari. Penerbangan selama 1 jam 5 menit sejauh 292 mil di Wellington Intl. Setelah mendrat di Wellington, kami dijemput oleh sopir temannya Mr. Abrar sesame orang Ethiopia dengan pembayaran tunai NZD 75 untuk mencapai Hotel Waterloo & Backpackers, 1 Bunny Street Pipitea, Wellington Central, New Zealand, 6011

Gerbang Hotel Waterloo & Backpackers, 1 Bunny Street Pipitea, di pusat kota Wellington yang menghadap laut.

Kamis, 28 Mei 2026 kami tidur pulas di kamar 308 Hotel Waterloo & Backpackers, 1 Bunny Street Pipitea, di pusat kota Wellington, Selandia baru

(bersambung)

Menikmati udara Wellington Central, New Zealand, dalam suhu 8 derajat.

Jumat, 29 Mei 2026 kami terbangun di kamar 308 Hotel Waterloo & Backpackers, 1 Bunny Street Pipitea, Wellington Central, New Zealand, dalam suhu 8 derajat. Nama hotel tersebut mengingatkan kami akan Pertempuran Waterloo yang terjadi pada tanggal 18 Juni 1815 di dekat kota Waterloo sekitar 15 km selatan ibu kota Belgia, Brussel (yang saat itu berada dalam wilayah Kerajaan Bersatu Belanda), dan merupakan pertempuran terakhir Napoleon. Kekalahan pasukan Prancis melawan pasukan Inggris dan koalisinya, di bawah pimpinan Arthur Wellesley, Pangeran Wellington ke-1 ini menjadi penutup sejarahnya sebagai Kaisar Prancis. Pertempuran ini juga dicatat dalam sejarah sebagai penutup dari seratus hari terakhir Napoleon sejak pelariannya dari pulau Elba, saat masa pengasingan pertamanya. Akhirnya Napoleon menjadi tawanan perang Inggris dan ditahan di Pulau St. Helena di Samudra Atlantik hingga meninggalnya pada 5 Mei 1821.

Menikmati udara pagi Wellington dalam suhu 8 derajat untuk ikut misa kudus harian pagi.

Wellington merupakan ibu kota negara Selandia Baru dan kota ini merupakan daerah urban kedua terbesar di Selandia Baru, serta merupakan ibu kota nasional terpadat di Oseania. Penduduknya berjumlah 389.700 jiwa. Wellington berada di ujung barat daya Pulau Utara di antara Selat Cook dan Rimutaka Range. Daerah perkotaan Wellington merupakan pusat populasi utama dari wilayah di selatan Pulau Utara. Kota ini diberi nama Wellington sebagai penghormatan pada Arthur Wellesley, Pangeran Wellington serta pemenang pada Pertempuran Waterloo. Gelar pangeran datang dari kota Wellington di County Somerset di Inggris.

Gereja Katedral Metropolitan Hati Kudus dan Santa Maria Bunda-Nya lebih dikenal sebagai “Katedral Hati Kudus” di Wellington

Altar utama Gereja Katedral Hati Kudus di Wellington

Pagi itu kami berjalan kaki mendaki bukit untuk mengikuti kisa kudus harian pagi di Gereja Katedral Metropolitan Hati Kudus dan Santa Maria Bunda-Nya (Metropolitan Cathedral of the Sacred Heart and St Mary his Mother) lebih dikenal sebagai “Katedral Hati Kudus” (Sacred Heart Cathedral), di Hill Street, Wellington. Gereja yang didirikan 1850 ini, awalnya dipimpin oleh Mgr. Philippe J. Viard, SM (1849-1872) saat ini takhta bagi Mgr. Paul. G Martin, SM Uskup Agung Wellington, dengan gaya arsitektur palladian dan ditetapkan sebagai katedral Wellington pada tahun 1984. Kami sempat berfoto bersama dengan pastor dari Tanzania setelah misa kudus.

Bersama seorang pastor misionaris dari Tanzania setelah misa kudus di Gereja Katedral Wellington.

Setelah selesai minguktui misa kudus harian pagi, kami segera bergegas menikmati kompleks pusat pemerintahan di ibukota negara ini. Selandia Baru adalah monarki konstitusional dengan demokrasi parlementer, meskipun konstitusinya tidaklah tertulis. Raja Inggris Charles III adalah kepala negara yang diberi gelar Raja Selandia Baru. Raja diwakili oleh gubernur jenderal, yang ditunjuk oleh raja atau ratu atas nasihat perdana menteri. Gubernur jenderal dapat menjalankan hak prerogatif mahkota (seperti meninjau kasus-kasus ketidakadilan, dan mengangkat Dewan Menteri (kabinet), duta besar, dan pejabat publik penting lainnya). Charles III Raja Inggris yang diwakili Gubernur Jenderal Ny. Dame Cindy Kiro dengan Chris Hipkins sebagai Perdana Menteri Selandia Baru sejak tahun 2023.

Perpustakaan Parlemen & Bowen House, sebuah bangunan tambahan dalam kompleks Parlemen Selandia Baru di Wellington.

Gedung Parlemen (Parliament House) yaitu gedung utama bergaya Neoklasik tempat sidang parlemen Selandia Baru.

The Beehive (Sayap Eksekutif) yang berbentuk sarang lebah adalah kantor Perdana Menteri dan Kabinet Selandia Baru. Saat ini Mr Chris Hipkins sebagai Perdana Menteri Selandia Baru sejak tahun 2023

Selandia Baru adalah negara demokrasi parlementer dan sebuah wilayah Persemakmuran Britania (Commonwealth Realm). Secara nasional, kekuasaan politik eksekutif dijalankan oleh kabinet, yang dikepalai oleh perdana menteri. Raja Inggris Charles III adalah kepala negara dan karena ketidakhadirannya, sang raja diwakili oleh gubernur jenderal. Pusat Pemerintahan Penting di Wellington berupa The Beehive (Sayap Eksekutif) yang selesai dibangun pada 1981, berbentuk sarang lebah yang unik, menampung kantor Perdana Menteri dan Kabinet. Gedung Parlemen (Parliament House), yaitu gedung utama bergaya Neoklasik tempat sidang parlemen berlangsung. Gedung Pemerintah (Government House), yaitu kediaman resmi Gubernur Jenderal Selandia Baru. Gedung Pemerintah Lama (Old Government Buildings), yaitu bangunan kayu terbesar di belahan bumi selatan, kini menjadi bagian dari Universitas Victoria. Yang terakhir adalah Perpustakaan Parlemen & Bowen House, sebuah bangunan tambahan dalam kompleks Parlemen. Hanya Gedung Pemerintah (Government House), yaitu kediaman resmi Gubernur Jenderal Selandia Baru yang tidak sempat kami datangi, karena lokasinya terpisah cukup jauh dari pusat kota.

Gedung Pemerintah Lama (Old Government Buildings), yaitu bangunan kayu terbesar di belahan bumi selatan, kini menjadi bagian dari Universitas Victoria di Wellington.

Gedung Parlemen Selandia Baru sebagai pusat pemerintahan dipilih oleh William Mein Smith dalam rencana Wellington tahun 1840. Setelah ibu kota Selandia Baru dipindahkan dari Auckland ke Wellington pada tahun 1865, Gedung Parlemen dibangun pada tahun 1873. Bangunan tertua yang masih ada di lokasi ini adalah Perpustakaan Parlemen, yang dirancang oleh Thomas Turnbull dengan gaya Gotik Victoria. Gedung Parlemen saat ini selesai dibangun pada tahun 1922 setelah gedung parlemen asli hancur terbakar pada tahun 1907. Sayap eksekutif parlemen dibangun berdasarkan konsep tahun 1964 oleh Sir Basil Spence, dijuluki ‘Sarang Lebah’ karena bentuknya, bangunan bundar setinggi sepuluh lantai di atas podium. Gedung Beehive secara resmi dibuka oleh Ratu Elizabeth II pada tanggal 28 Februari 1977.

Patung perunggu Richard Seddon, perdana menteri Selandia Baru yang paling lama menjabat.

Lahan yang ditata dengan indah mengelilingi gedung parlemen dan terbuka untuk umum. Lahan tersebut berisi beberapa patung termasuk patung perunggu Richard Seddon, perdana menteri Selandia Baru yang paling lama menjabat, di halaman depan utama.

Patung Pouwhenua yang dipahat oleh Ra Vincent di Wai-titi Landing, tempat pendaratan perahu kano (waka) bangsa Maori di Wellington.

Kami melihat 2 buah patung Pouwhenua yang dipahat oleh Ra Vincent di Wai-titi Landing. Pada zaman pra-Eropa, lokasi ini berada di garis pantai dan merupakan tempat pendaratan perahu kano (waka). Nama Wai-titi merujuk pada aliran kecil yang mengalir di antara Kumutoto Pā dan Pipitea Pā pada abad kesembilan belas. Semua bangunan tersebut berada di sekitar hotel kami, termasuk Stasiun Kereta Api Wellington (Wellington Central) adalah stasiun kereta api utama yang merupakan terminus selatan dari Jalur Utama Pulau Utara.

Gerbang Stasiun Kereta Api Wellington (Wellington Central) yang berdiri gagah.

Gedung Stasiun Wellington di atas 1.500 tiang pancang yang diletakkan pada tanggal 17 Desember 1934, sangat luas, kokoh dan terawat baik

Stasiun ini dibuka pada Juni 1937, menggantikan dua stasiun terminus Wellington sebelumnya, Lambton dan Thorndon. Karena lokasi yang direncanakan berada di lahan reklamasi, tiang pancang uji ditancapkan pada tahun 1928 sesuai kualitas tanah, digunakan tiang pancang Vibro yang dicor di tempat untuk menopang struktur. Bangunan ini merupakan struktur besar pertama di Selandia Baru yang menggabungkan tingkat ketahanan gempa yang signifikan, dengan 1.500 tiang pancang pada batu fondasi yang diletakkan pada tanggal 17 Desember 1934 oleh Duke of Gloucester. Ini adalah suatu peristiwa yang disaksikan oleh sekitar 5.000 orang dan akhirnya stasiun ini dibuka pada tanggal 19 Juni 1937 oleh Gubernur Jenderal Selandia Baru, Viscount Galway.

Patung Mahatma Gandhi karya pematung asal India, Gautam Pal di halaman Stasiun Wellington

Kereta Api ke Auckland di Stasiun Wellington

Di halaman Stasiun Wellington terdapat patung Mahatma Gandhi yang diresmikan pada 2 Oktober 2007. Karya pematung asal India, Gautam Pal ini merupakan hadiah dari Pemerintah India untuk kota Wellington dan patung ini sengaja ditempatkan di halaman stasiun, karena Gandhi dikenal sebagai pejuang yang merakyat dan gemar bepergian menggunakan kereta api serta transportasi umum.

Makan siang berdua di RM Malaysia di Lambton Quay, pusat kota Wellington

Kami berdua makan siang menu sate ayam seharga NZD 19 dan nasi Hainan dengan ayam dengan telor dadar seharga NZD 25 di sebuah RM Malaysia di Lambton Quay, pusat kota Wellington. Lanjut menikmati keindahan, ketenagan dan kerapian ibu kota Selandia Baru yang luar biasa. Selandia Baru termasuk dalam negara maju dengan tingkat pertumbuhan ekonomi menyaingi Eropa Selatan dalam beberapa hal, Selandia Baru termasuk dalam salah satu negara terbaik misalnya pada Indeks Pembangunan Manusia yang menempatkan Selandia Baru pada urutan ketiga. Ekspor merupakan andalan utama perekonomian negara ini sehingga dampak perekonomian dunia akan berpengaruh langsung pada kondisi ekonomi negara ini.

Mencari gerbang Kereta Gantung merah Wellington (Cable Car Lane) di antara deretan gedung tinggi

Gerbong pertama Kereta Gantung merah Wellington (Cable Car) yang akan kami naiki

Rel yang di tengahnya ada kabel penarik Kereta Gantung merah Wellington (Cable Car)

Kami lanjut menikmati Kereta Gantung merah Wellington yang ikonis dan bersejarah, untuk melihat pemandangan kota dan pelabuhan pada hari cerah. Kereta Gantung Wellington atau Cable Car Wellington Adalah sebuah kereta funikuler akan membawa kami dari pusat kota melalui terowongan bersejarah dan melintasi tiga jembatan hingga ke puncak bukit di sekitarnya. Banyak wisatawan yang menikmati makan siang di dek Cabletop Eatery yang cerah, yang menyajikan makanan lezat di salah satu titik pandang terbaik di Wellington.

Stasiun tertinggi Kereta Gantung merah Wellington (Cable Car)

Pemandangan kota dan pelabuhan Wellington dengan Selat Cook dari puncak tertinggi Kereta Gantung merah Wellington

Kebun Raya (Botanical Garden) di sekitar stasiun tertinggi Kereta Gantung merah Wellington

Di puncak tersebut kami menikmati Wellington Botanic Garden. Banyak wosatawan yang menggunakan jalur jalan kaki di lereng bukit, termasuk jalur berjalan kaki 40 menit untuk kembali ke pusat kota melalui Bolton Street Cemetery yang bersejarah dan Beehive.

Observatorium Carter di Kebun Raya (Botanical Garden) Wellington

Space Place di Kebun Raya (Botanical Garden) Wellington

Wellington Botanic Garden meliputi lahan seluas 25 hektar (62 acre) di sebuah lembah antara Thorndon dan Kelburn, dengan Jalan Glenmore sebagai batas di sepanjang dasar lembah. Salah satu titik aksesnya adalah dari puncak Kereta Gantung Wellington. Taman ini didirikan di pada tahun 1868,diperluas pada tahun 1871, dan memiliki koleksi hutan asli yang dilindungi, pohon konifer, koleksi tanaman, pajangan musiman, dan taman mawar yang luas . Patung-patung besar tersebar di seluruh taman. Di bagian tenggara Kebun Raya dekat stasiun kereta gantung dan museum terdapat beberapa observatorium. Observatorium Carter (juga dikenal sebagai Space Place) dimiliki dan dikelola oleh Dewan Kota Wellington.

Gerbang Museum Wellington yang dilengkapi jangkar kapal

Museum Wellington (dahulu bernama Museum Maritim dan Museum Kota & Laut ) yang terletak di Queens Wharf

Selanjutnya kami mengunjungi Museum Wellington (dahulu bernama Museum Maritim dan Museum Kota & Laut ) yang terletak di Queens Wharf, tidak jauh dari Stasiun Kereta Kabel Wellington. Museum ini menempati Bond Store tahun 1892, sebuah bangunan bersejarah di Jervois Quay di tepi laut Pelabuhan Wellington. Pada tahun 2013, museum ini terpilih oleh The Times sebagai salah satu dari 50 museum terbaik di dunia. Museum ini berawal pada tahun 1972 sebagai Museum Maritim Wellington dari Dewan Pelabuhan Wellington.

Wellington Waterfornt (areal pelabuhan Wellington) untuk menganang R. Lloyd.

Persewaan helikopter untuk melihat pemandangan kota di Wellington Waterfornt (areal pelabuhan Wellington)

Selanjutnya kami berjalan kaki laki menikmati Wellington Waterfornt, atau areal pelabuhan Wellington. Di situ kami menganang R. Lloyd, seorang pekerja pelabuhan Wellington, yang tewas saat bekerja pada September 1913 ketika, “sebuah derek jatuh menimpanya; tidak ada yang bisa disalahkan”. Pada tahun-tahun booming sebelum Perang Dunia I, pelabuhan Wellington adalah yang tersibuk di negara itu. Seribu enam ratus pekerja pelabuhan bekerja keras untuk memuat mentega, wol, daging, dan rami untuk ekspor secara manual ke dalam tali pengangkat yang berat, yang kemudian diangkat ke atas kapal dengan derek hidrolik.

Wellington Waterfornt (areal pelabuhan Wellington) untuk menganang pendaratan tentara.

Area tepi laut yang kami datangi ini merupakan lokasi keberangkatan pasukan untuk Perang Boer di Afrika Selatan, kedatangan marinir AS dalam Perang Dunia II, dan perselisihan serikat pekerja dan manajemen tepi laut yang terkenal pada tahun 1951.

Dermaga Bluebridge Cook Strait Ferries yang ramai penumpang

Rencana kami berjalan kaki mengunjungi Museum Te Papa Tongarewa di Wellington, tepatnya di 55 Cable Street, Te Aro, Wellington kami batalkan, karena kedua betis kami sudah kaku dan kedua pipi kami membeku. Kami putuskan untuk berlawanan arah, kembali ke hotel sambil melihat dermaga Bluebridge Cook Strait Ferries, yang melayani jalur Wellington di Pulau Utara ke Picton di Pulau Selatan. Jim Barker pendiri Strait Shipping memperkenalkan layanan pengiriman baru ke Selat Cook pada tahun 1992, dimulai dengan kapal MV Straitsman dari Tasmania. Selanjutnya feri Bluebridge semakin modern dan merupakan salah satu penyeberangan feri paling indah di dunia.

Setelah lelah menjelajah Wellington, kami segera kembali ke hotel untuk persiapan pulang ke Indonesia.

(selesai)

Ditulis di kamar 308 Hotel Waterloo & Backpackers, 1 Bunny Street Pipitea, di pusat kota Wellington, Selandia baru

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?