Tujuan diselenggarakannya akreditasi Rumah Sakit (RS) adalah meningkatkan mutu pelayanan kesehatan, menjamin keselamatan pasien, dan memberikan perlindungan kepada masyarakat. Proses Akreditasi RS saat ini dilakukan dengan menilai aktivitas pada tahap input dan proses layanan saja. Dengan penilaian pada tahap input dan proses saja, tujuan akreditasi RS selama ini masih tidak mudah diwujudkan. Bagaimana sebaiknya?
Telah dimuat di Harian Nasional Media Indonesia Digital pada Kamis, 6 Agustus 2026 :
Standar Akreditasi RS dikelompokkan menjadi 4, yaitu Kelompok Manajemen Rumah Sakit, Kelompok Pelayanan Berfokus pada Pasien, Kelompok Sasaran Keselamatan Pasien, dan Kelompok Program Nasional (PROGNAS). Masing-masing kelompok tersebut terdiri dari beberapa bab dan banyak standar, yang dilengkapi dengan elemen penilaian.
Sebagai gambaran, Kelompok Manajemen Rumah Sakit terdiri dari Tata Kelola Rumah Sakit (TKRS) 15 standar, Kualifikasi dan Pendidikan Staf (KPS) 19 standar, dan Manajemen Fasilitas dan Keselamatan (MFK) 11 standar. Selain itu, Peningkatan Mutu dan Keselamatan Pasien (PMKP) 11 standar, Manajemen Rekam Medik dan Informasi Kesehatan (MRMIK) 13 standar, Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) 13 standar, dan Pendidikan dalam Pelayanan Kesehatan (PPK) 6 standar.
Harian Nasional Media Indonesia Digital pada Kamis, 6 Agustus 2026
Pada Kelompok Pelayanan Berfokus pada Pasien, terdiri dari Akses dan Kontinuitas Pelayanan (AKP) 6 standar, Hak Pasien dan Keterlibatan Keluarga (HPK) 4 standar, Pengkajian Pasien (PP) 4 standar, dan Pelayanan dan Asuhan Pasien (PAP) 5 standar. Selain itu, Pelayanan Anestesi dan Bedah (PAB) 7 standar, Pelayanan Kefarmasian dan Penggunaan Obat (PKPO) 8 standar dan Komunikasi dan Edukasi (KE) 7 standar. Pada Kelompok Sasaran Keselamatan Pasien (SKP) 6 standar, yaitu Mengidentifikasi pasien dengan benar, Meningkatkan komunikasi yang efektif, dan Meningkatkan keamanan obat-obatan yang harus diwaspadai. Selain itu, juga Memastikan sisi yang benar, prosedur yang benar, pasien yang benar pada pembedahan / tindakan invasif, Mengurangi risiko infeksi akibat perawatan kesehatan, dan Mengurangi risiko cedera pasien akibat jatuh. Pada Kelompok Program Nasional (PROGNAS) 5 standar, yaitu Peningkatan kesehatan ibu dan bayi, Penurunan angka kesakitan Tuberkulosis/TBC, Penurunan angka kesakitan HIV/AIDS, Penurunan prevalensi stunting dan wasting, serta Pelayanan Keluarga Berencana Rumah Sakit.
Akreditasi RS dengan berbagai kelompok tersebut di atas, yang terdiri dari beberapa bab dan banyak standar, yang juga dilengkapi dengan banyak elemen penilaian, tentu saja perlu dievaluasi secara berulang. Ke depan akreditasi RS sebaiknya semakin menitikberatkan secara lengkap 3 tahap utama pelayanan RS, yaitu tahap input (SDM dan regulasi), proses (layanan harian) dan output (hasil pelayanan). Akreditasi RS rasanya tidak cukup hanya memastikan tahap input, yaitu bahwa semua standar dan dokumen pencatatannya tersedia secara lengkap dan mampu telusur, juga kelengkapan dan ketersediaan sebanyak mungkin elemen penilaian. Namun demikian, akreditasi RS sebaiknya juga harus mampu membuktikan bahwa pelayanan kepada pasien telah dilakukan dan menghasilkan luaran klinis yang baik dan dapat dipertanggung jawabkan (justified).
Kompetensi RS sebaiknya juga diukur pada tahap output atau hasil pelayanannya. Kompetensi RS memang didukung oleh SDM yang cukup, sarana dan prasarana yang lengkap, disertai regulasi yang rinci. Namun demikian, kompetensi RS juga harus dibuktikan melalui hasil pelayanan (clinical outcomes) yang baik.
Kementerian Kesehatan RI telah merombak sistem akreditasi rumah sakit menjadi berbasis hasil klinis (clinical outcome) secara real-time, menggunakan acuan Standar Akreditasi Rumah Sakit (STARKES) berdasarkan Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/1596/2024, serta melibatkan delapan Lembaga Penyelenggara Akreditasi (LPA). Sistem dan kebijakan terbaru dengan penilaian berbasis hasil medis ini, proses akreditasi RS tidak lagi sekadar evaluasi administrasi lima tahunan, melainkan diukur dari angka kesembuhan, tingkat kegagalan operasi, dan keselamatan pasien (survival rate). Proses penilaian mutu eksternal RS akan dilakukan oleh delapan lembaga resmi yang disetujui pemerintah, yaitu KARS (Komisi Akreditasi Rumah Sakit), LAM-KPRS (Lembaga Akreditasi Mutu dan Keselamatan Pasien Rumah Sakit), LARSI (Lembaga Akreditasi Rumah Sakit Indonesia), LARs DHP (Lembaga Akreditasi Rumah Sakit Damarhusada Paripurna), LPAKI (Lembaga Akreditasi Fasilitas Kesehatan Indonesia), BAM Mutu Rumah Sakit (Badan Akreditasi Mutu Rumah Sakit), LARSKI (Lembaga Akreditasi Rumah Sakit Quantum Indonesia), dan LCES (Lembaga Akreditasi Layanan Kesehatan)
Standar dan elemen penilaian untuk akreditasi RS tahap input dan proses sudah tersedia secara lengkap. Standar acuan untuk akreditasi RS model baru tetap mengacu pada instrumen Standar Akreditasi Rumah Sakit (STARKES) yang sudah ada. Namun demikian, tentu perlu disusun standar dan elemen penilaian tambahan, untuk akreditasi tahap hasil klinis pelayanan RS. Tentu saja standar dan elemen penilaian luaran klinis akan mempertimbangkan banyak hal, termasuk derajat penyakit pasien saat masuk RS, yang berkontribusi secara obyektif terhadap luaran klinis. Untuk itu, diperlukan masukan dari berbagai pihak, terutama para dokter spesialis, sub spesialis, konsultan dan para klinisi lainnya, agar standar dan elemen penilaian luaran klinis benar-benar memotret bagaimana layanan nyata yang telah dilakukan di RS, untuk para pasiennya.
Sangat mungkin proses akreditasi RS yang menggunakan standar dan elemen penilaian baru pada penilaian luaran klinis, mirip dengan proses audit medis, audit klinis ataupun audit kematian pasien, yang telah rutin dilakukan di RS. Sebaiknya akreditasi RS ke depan juga menilai mekanisme penegakan diagnosis dalam 48 jam sejak pasien masuk RS, bukti pemeriksaan penunjang medis untuk penegakan diagnosis, kesesuaian diagnosis radiologis dan klinis, kesesuaian diagnosis pre dan post operasi, atau kesesuaian layanan dengan CP (clinical pathways) yang sudah ditetapkan. Pada akreditasi RS model yang baru, status akreditasi rumah sakit dapat diturunkan di tengah jalan, jika ditemukan tingkat kegagalan tindakan medis atau operasi, angka kesembuhan, tingkat kegagalan operasi, atau keselamatan pasien (survival rate) yang buruk.
Dengan demikian, proses perbaikan layanan dan mutu RS secara berkesinambungan, yang merupakan tujuan akreditasi RS, rasanya akan lebih mudah dilakukan dengan akreditasi RS model baru ini. Hal ini karena hasil akreditasi RS model baru mencakup hal yang lebih lengkap dan nyata dirasakan pasien, karena menitik beratkan pada hasil luaran klinis.
Selamat berbenah untuk semua RS.
Sekian
Yogyakarta, 29 Juli 2026
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Dekan FK UAJY, surveyor akreditasi RS, Alumnus S3 UGM.
Perjalanan kami menjelajah Sumatera di atas roda dan menggilas Andalas (nama lama Pulau Sumatera) dimulai pada Sabtu, 1 Agustus 2026, pk. 14 dari Yogyakarta ke Bandar Lampung, naik bis Rosalia Indah.
Pamit berniat Menggilas Andalas dari Yogyakarta naik bis Rosalia Indah 3145 menuju Bandar Lampung.
Suasana kegembiraan dalam perjalanan meninggalkan Yogyakarta dalam kabin bis Rosalia Indah
Bus tronton Scania K410 premium bermesin ganda (tiga as roda) buatan Swedia ini, menawarkan kenyamanan suspensi udara kelas atas, mesin 13.000 cc bertenaga besar (hingga 450 hp), dan sistem pengereman canggih. Kami melalui jalur selatan Pulau Jawa, yaitu dari Yogyakarta melewati Purworejo, Kebumen sampai Ajibarang, terus ke utara.
Bus tronton Scania K410 dibalut bodi Legacy SR3 Prime milik Rosalia Indah
Kami menaiki bis Rosalia Indah yang dibalut bodi Legacy SR3 Prime buatan karoseri Laksana Ungaran, Semarang. Siap menyusuri jalur selatan Jawa, sebelum masuk tol Trans Jawa di GT Pejagan, tepat sebelum kota Cirebon, Jawa Barat.
Lanjut berpacu dengan pelari Cipali lainnya, melahap tol Trans Jawa melewati Jakarta, dan mendarat di Merak. Di ujung barat Pulau Jawa itu, kami menyeberangi Selat Sunda ke Pulau Sumatera.
Pemandangan Selat Sunda saat menuju ke Pulau Sumatera
Arus tenang saat kami menyeberangi Selat Sunda ke Pulau Sumatera
Menyeberangi Selat Sunda di dalam lambung ferry yang meluncur di arus tenang
Penyambutan teman2 yang luar biasa di Way Halim agen bis Rosalia Indah Bandar Lampung
Mendampingi Prof Fx. Sumarja (teman sekalas di SMA) dalam kunjungan inspeksi pembangunan Katedral Kristus Raja Keuskupan Tanjungkarang, Bandar Lampung.
Nampak luar Gereja Katolik Katedral Kristus Raja Keuskupan Tanjungkarang, Bandar Lampung yang sedang dibangun.
Nampak interior gereja Katolik Katedral Kristus Raja Keuskupan Tanjungkarang, Bandar Lampung yang sedang dibangun
Mgr. Vinsensius Setiawan TriatmojoUsukup Keuskupan Tanjungkarang, Bandar Lampung
Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Siger Milenial yang menghubungkan gedung parkir Pemerintah Kota Bandar Lampung dengan Masjid Agung Al Furqon.
Bersama segenap teman yang bergembira di JPO Siger Milenial Bandar Lampung, dengan pemandangan ke arah Teluk Lampung
Pada Minggu, 2 Agustus 2026, pk. 11 kami mencapai pool bis Rosalia Indah Way Halim Jalan Bypass Soekarno – Hatta No. 2A Bandar Lampung. Lanjut City Tour diantar mas Fx Sumardja (guru besar FH UNILA dan teman sekelas di SMA Kolese de Britto Yogyakarta JB 84 dan istri). Juga mas Wahadi Setiadi (Mantan Kepala Dinas Sosial Lampung) teman di UGM 84, mas Iko Sandy Trisandyadenta (teman sejak di SMP Bruderan Purworejo), dr. Humisar Sibarani, SpAn (teman seangkatan di FK UGM 84) dan dr. Suwardiman, MKes yang datang menyusul. Kami melaju ke “Taman Doa Sendang Banyu Urip” di halaman belakang Gereja Santa Maria Immaculata, di Way Kandis, lanjut ke rumah Mas Arwandi kakak sepupu di Jl. Pulau Batam Raya no 21 Way Halim Permai (depan RS Urip Sumoharjo), melihat Gapura Siger, Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) Siger Milenial yang menghubungkan gedung parkir Pemerintah Kota Bandar Lampung dengan Masjid Agung Al Furqon, terus ke Gereja Katedral Kristus Raja (Keuskupan Tanjungkarang) berlokasi di Jl. Kotaraja 14, Tanjungkarang, Bandar Lampung. Lanjut naik bis SAN dari Bandar Lampung ke Jambi pk. 19 di Jl. Terusan Ryacudu No 2, Lampung Selatan.
Pemandangan indah di bawah JPO Siger Milenial Bandar Lampung
Bersama dr. Suwardiman, MKes dan dr. Humisar Sibarani, SpAn sesama alumnus FK UGM 84 di depan kantor Walikota Bandar Lampung
Kota Bandar Lampung bermula dari penggabungan wilayah Telukbetung dan Tanjungkarang, yang kemudian resmi menjadi ibu kota Provinsi Lampung melalui proses panjang sejak era kolonial dan administratif. Telukbetung dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada tahun 1819 sebagai pusat administrasi, perdagangan, dan militer. Selain itu, juga pusat pelabuhan, karena lokasinya yang strategis di Teluk Lampung menjadikannya pintu gerbang utama pengiriman hasil bumi seperti lada dan kopi. Pada awal kemerdekaan Indonesia hingga orde lama, daerah ini dikenal sebagai Kotamadya Tanjungkarang–Telukbetung. Berdasarkan ketentuan dan aspirasi tahun 1965, nama resmi diubah menjadi Bandar Lampung yang berasal dari gabungan kata “Bandar” (pelabuhan atau tempat perdagangan) dan “Lampung” (nama wilayah provinsi), yang resmi disahkan pada tahun 1983 untuk menggantikan nama lama yaitu Kota Madya Tanjungkarang–Telukbetung.
Gerbang Siger di batas kota Bandar Lampung, dengan semua teman yang baik hati.
Kami teringat Romo Kanjeng di Lampung, yaitu sebutan bagi Mgr. Albertus Hermelink Gentiaras, SCJ, tokoh gereja Katolik pertama di Pringsewu Lampung dan mantan Uskup Tanjungkarang.
Berdoa bersama segenap teman yang baik hati di Taman Doa Sendang Banyu Urip Bandar Lampung
Taman Doa Sendang Banyu Urip di samping Gereja Katolik Santa Maria Imakulata, Bandar Lampung
Berdoa di Taman Doa Sendang Banyu Urip di samping Gereja Katolik Santa Maria Imakulata, Bandar Lampung
Gereja Katolik Santa Maria Immaculata adalah gereja yang dibangun dengan penuh semangat para jemaatnya. Dulu, gereja ini berbentuk seperti lumbung padi, namun berkat pertumbuhan iman para jemaat dan dukungan sumbangsih, gereja ini akhirnya dapat dibangun dengan lebih megah.
Bersama teman2 mengunjungi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung
Fakultas Kedokteran Universitas Lampung
Gereja Katolik Santa Maria Imakulata memiliki tempat yang luas, dengan konsep bangunan yang dibangun sedemikian rupa membuat peribadatan menjadi nyaman. Kami lanjut mengjungi Fakultas Kedokteran Universitas Lampung dan Gereja Katolik Santo Yohanes Rasul Paroki Kedaton, Bandar Lampung. Ini Gereja Paroki di mana mas Fx. Sumarja tinggal dan beraktivitas yang berlokasi di Jl. Tupai 49 Bandar Lampung
Gereja Katolik Santo Yohanes Rasul Paroki Kedaton, Bandar Lampung
Suasana di dalam ruangan Gereja Katolik Santo Yohanes Rasul Paroki Kedaton, Bandar Lampung
Bergaya di depan Gereja Katolik Santo Yohanes Rasul Paroki Kedaton, Bandar Lampung
Gapura atau Menara Siger adalah ikon budaya dan titik nol Pulau Sumatera yang berbentuk mahkota pengantin wanita khas Lampung. Lokasinya berada di Bakauheni, Lampung Selatan, berjarak sekitar 91,5 km atau 1 jam 18 menit berkendara via jalan tol dari pusat Kota Bandar Lampung. Mengara Siger tersebut kami lihat saat ferry penyebrangan hampir mendarat di Bakauheni.
Siger adalah mahkota pengantin perempuan Lampung yang berbentuk segitiga berwarna emas. Siger biasanya memiliki cabang yang jumlahnya tujuh atau sembilan. Meskipun mulanya dikenakan wanita saat pernikahan, saat ini siger sudah menjadi simbol provinsi tersebut. Selain dibangun menjadi menara di Bakauheni, siger juga dijadikan lambang batas kota Bandar Lampung yang kami kunjungi.
Luar biasa perjumpaan ini bersama Mas Kol (Purn) Hi. Arwandi, SIP, MSi
Bersama anak kedua dan menantu mas Kol (Purn) Hi. Arwandi, SIP, MSi
Dalam perjalanan meninggalkan Bandar Lampung menuju ke Jambi, jadi teringat akan kekek buyut, yaitu Kyai Mangundrono yang mempunyai 4 anak, yaitu Kyai Mangundarso, Nyai Mangundiharjo, Nyai Atmowidarso dan Kyai Atmoharjono.
Kyai Mangundarso (mbah Darso) memiliki 4 anak, yaitu Parsinah, Djakiyah, Basoeki dan Soewiknyo
Sedangkan Nyai Mangundiharjo (di desa Salaman, Magelang) (mbah Mangun) memiliki 13 anak, yaitu Suliyah (di Magelang), Soedjiman Partodiwarno (di desa Salaman), Walijah Hardjowidarso (di Sapuran, Wonosobo), Dasinah Soekodo Mulyosentono (di Wonosobo), Wagiyo (di Kebumen), Wilis Legiono (di Purwakarta), Soekartinah (meninggal saat bayi), Soekiman (di Salaman, Magelang), Soetiyah (di Jakarta), Soekirlan (di Wonosobo), Daliyah (di Magelang) dan Soenariyah (di Tangerang).
Selanjutnya Nyai Atmowidarso (mbah Atmo) punya 1 anak, yaitu Sardjiyo Martodarsono. Dan terakhir Kyai Atmoharjono (mbah Har) punya 5 anak, yaitu Tasronah, Suminah, Suwartinah, Sugiyanto, dan Suratinah
Dengan demikian Bapak Sukiman adalah sepupu Ibu Tasronah
Bapak Sukiman memiliki 3 anak, yaitu Ig. Toto Ismintarto (di Tangerang Selatan), Fx. Wikan Indrarto (saya di Yogyakarta) dan Y. Woro Pradnastuti (di Bandung)
Ibu Tasronah memiliki 9 anak, yaitu Gempur Supriyanto (almarhum), Kusnarto (almarhum), Suharyani (di Belitang OKU Timur), Christina Sumaryati (almarhum), Heribertus Sudibyo (di Belitang OKU Timur), Hadrianus Susanto Wiratmoko (di Jambi), Sigek Susanti Arwandi (almarhumah, istri mas Kol (Purn) Hi Arwandi yang telah kami kunjungi di Bandar Lampung), Maria Gawat Takaryati (di Sleman DIY) dan Panggih Rinekso.
Dengan demikian saya dengan mas Heribertus Sudibyo (di OKU Timur) dan mas Hadrianus Susanto (di Jambi) yang akan saya kunjungi di rumahnya juga saudara sepupu, dengan saya secara keturunan lebih tua dan dapat memanggilnya adik.
Pamit lanjut perjalanan dari Bandar Lampung menuju Jambi, naik bis SAN (Siliwangi Antar Nusa) buatan Karoseri Stadabus dari Bandung.
Bodi bus Supernova ini buatan 2024, dengan sasis Golden Dragon 300 TK buatan Tiongkok. Bodi andalan ini bergaya Eropa dan konsep kaca tunggal (single glass). Bentuk bis yang belum pernah kami lihat sebelumnya.
Suasana di dalam kabin bis SAN (Siliwangi Antar Nusa) meninggalkan Bandar Lampung menuju Jambi
Senin, 3 Agustus 2026, pagi sampai di Jambi pk. 8.30. Dijemput sepupu mas Hadrianus Susanto Wiratmoko, pensiunan Guru dan Kepala Sekolah SMA Xaverius untuk City tour, dimulai dari terminal Simpang Rimbo, Gereja Gregorius Agung di Kenali, Kota Baru, terus ke Tugu Keris, RSUD Raden Mattaher untuk bertemu dengan dr. Samsirun Halim, SpPD-KIC (kakak kelas di SMA Kolese de Britto Yogyakarta JB 82), kantin SMA Xaverius, ke rumah mas Susanto di Palmerah, lihat jembatan Gentala Arasi, terus lewat Gereja St. Teresia.
Dijemput mas Hadrianus Susanto Wiratmoko di Terminal bis Simpang Rimbo Jambi
Gereja Santo Gregorius Agung yang bernama resmi Gereja Santo Gregorius Agung Paroki Kenali adalah sebuah gereja paroki Katolik yang terletak di Kenali Asam Bawah, Kota Baru, Jambi. Gereja ini didedikasikan kepada Santo Paus Gregorius Agung. Gereja ini berada di bawah naungan yurisdiksi Keuskupan Agung Palembang.
Tugu Keris Siginjai adalah sebuah tugu atau monumen yang merupakan ikon dari Kota Jambi. Bentuknya menyerupai Keris Siginjai, yakni keris dari Kerajaan Jambi. Selain menjadi kebanggaan masyarakat Jambi, Keris ini juga digunakan sebagai bagian Lambang Jambi. Letaknya tepat berada dipusat perkantoran Wali Kota Jambi, Kota Baru.
Pembangunan monumen ini merupakan proyek inisiasi langsung dari Pemerintah Kota Jambi di bawah kepemimpinan Wali Kota Syarif Fasha pada tahun 2017, dengan pengerjaan teknis yang dikoordinasikan melalui Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Jambi. Diresmikan pada 31 Desember 2017, berlokasi di Pusat perkantoran Wali Kota Jambi, Kecamatan Kota Baru, Jambi dengan biaya pembangunan sekitar Rp3,5 miliar
Tugu Keris Siginjai memiliki tinggi sekitar 9 meter dan tinggi keseluruhannya sekitar 28 meter. Tugu Keris Siginjai memiliki sembilan struktur besi pipa galvanis berbentuk spiral yang saling merangkai membentuk satu kesatuan dan terdapat patung angsa. Hal ini melambangkan luas wilayah Kerajaan Jambi dahulu meliputi sembilan lurah yang dialiri oleh anak-anak sungai.
Tugu keris siginjai diresmikan oleh Wali Kota Jambi, Syarif Fasha tanggal 31 Desember 2017 atau pada tahun baru 2018. Sebelum direnovasi menjadi tugu keris siginjai, tugu ini adalah tugu jam atau dikenal juga dengan tugu monas, karena bentuknya menyerupai monas yang berada di Jakarta.
Tugu Keris Siginja di malam hari di tengah kota Jambi
Tugu Keris Siginja di siang hari yang panas di tengah kota Jambi
Bersama dr. Samsirun Halim SpPD-KIC (kakak kelas di SMA, JB 82) di RSUD Raden Mattaher Jambi.
Sowan dan menimba ilmu dari senior yang inspiratif, dr. Samsirun Halim SpPD-KIC (JB 82) di RSUD Raden Mattaher Jambi.
RSUD Raden Mattaher Provinsi Jambi adalah rumah sakit milik Pemerintah Propinsi Jambi terletak dikota Jambi, berdiri pada tahun 1948 dengan tipe C dan bergabung dengan Dinas Kesehatan Tentara (DKT) Jambi. Pada tanggal 19 November 1972 dipindahkan ke Jl. Letjen Suprapto No. 31 Telanaipura Jambi. Rumah Sakit ini dibangun di atas tanah seluas + 75.000 M2 dengan luas bangunan + 41.590 M2.
Rumah sakit umum daerah Raden Mattaher Provinsi Jambi semula namanya Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Provinsi Jambi. Dan kemudian pada bulan November 1999 bertepatan pada hari kesehatan nasional 1999, rumah sakit ini diberi nama salah seorang Pahlawan Jambi yaitu Raden Mattaher.
RSUD Raden Mattaher seja Bulan Nopember 2009 merupakan rumah sakit kelas B Pendidikan dengan kapasitas 321 tempat tidur. Dengan diberlakukannya Peraturan Daerah (Perda) No.10 Tahun 2001 tentang RS Unit Swadana maka sejak Januari 2002 RSD Raden Mattaher Jambi berlaku sebagai RS Unit Swadana. Kemudian Dengan Perda No. 09 , sejak mulai 1 Januari 2011, RSUD Raden Mattaher telah dikelola keuangannya secara Badan Layanan Umum Daerah (BLUD)
Pada saat ini RSUD Raden Mattaher telah menjadi tempat mahasiswa kepaniteraan klinik Fakultas Kedokteran Universitas Jambi (FK UNJA) yang melaksanakan pendidikan profesi kedokteran. Selain itu ada mahasiswa kepaniteraan klinik yunior dan program pendidikan tenaga kesehatan lainnya
Makan siang menu enak di kantin mbak Irine Widyawati dan mas Hadrianus Susantodi dalam kompleks SMA Xaverius I Jambi
Senang sekali dapat mengunjungi suami istri mas Susanto Wiratmoko dan mbak Irine di sekolahnya
Bersama mas Hadrianus Susantodi Gereja Gregorius Agung, Jambi yang megah menjulang
Terimakasih banyak mas Hadrianus Susanto Wiratmoko (sepupu, cucu Mbah Har Salaman) telah menemani kami ke Gereja Katolik St Gregorius Agung di Kenali, Jambi. Kami segera pamit pulang, karena kami lanjut jalan lagi naik Innova Reborn milik Ratu Intan Travel, menuju Palembang.
Jembatan Gentala Arasy yang arstistik menyeberangi Sungai Batanghari di Jambi
Jembatan Gentala Arasy adalah sebuah jembatan pedestrian untuk pejalan kaki yang melintang di atas Sungai Batanghari, Kota Jambi. Jembatan ini menghubungkan Tepian Tanggo Rajo ke Menara Gentala Arasy, Jambi Seberang. Jembatan Gentala Arasy adalah jembatan pedestrian di atas sungai pertama di Indonesia yang memiliki kontur meliuk seperti huruf S.
Jembatan ini merupakan proyek dari masa pemerintahan Gubernur Jambi, Hasan Basri Agus, dan diresmikan oleh Wakil Presiden Indonesia pada waktu itu, Jusuf Kalla, pada tanggal 28 Maret 2015. Jembatan Gentala Arasy dibangun dengan anggaran senilai Rp 88,7 miliar dalam tiga tahun anggaran 2012-2014. Jembatan penghubung ini memiliki panjang 503 meter dan lebar 4,5 meter.
Nama Gentala Arasy diperoleh dari tiga kata yaitu genta yang berarti suara, tala yang berarti keselarasan, dan arasy yang berarti menggema ke langit. Maka makna dari Gentala Arasy adalah bunyi yang selaras dan menggema ke langit. Bunyi ini berasal dari lonceng menara Gentala Arasy yang mengeluarkan bunyi sebagai pertanda waktu salat fardu bagi umat muslim di Kota Jambi.
Selain itu, Gentala Arasy juga merupakan akronim dari Genah Tanah Lahir Abdurrahman Sayoeti. Genah sendiri dalam bahasa Melayu Jambi adalah tempat. Abdurrahman Sayoeti adalah salah satu gubernur Jambi yang lahir di Jambi Kota Seberang, yang menjabat pada tahun 1989-1999.
Jembatan Gentala Arasy yang arstistik pada malam hari menyeberangi Sungai Batanghari di Jambi
Gereja Santa Theresia di Jambi
Interior Gereja Katolik Santa Theresia di Jambi
Gereja Santa Teresia yang bernama resmi Gereja Paroki Santa Teresia, Jambi adalah sebuah gereja paroki Katolik yang terletak di Kota Jambi. Gereja ini didedikasikan kepada Santa Teresia. Gereja ini berada di bawah naungan yurisdiksi Keuskupan Agung Palembang.
Naik travel Ratu Intan Toyota Innova Reborn dari Jambi ke Palembang
Lanjut naik Travel pk. 13 ke Palembang dan turun di POM Bensin KM 12 (pinggiran Kota Palembang yang berbatasan dengan Kabupaten Musi Banyu Asin), dijemput sepupu mas Heri Sudribyo dan istrinya, mbak Komijah. Lanjut makan malam khas Palembang, yakni pindang ikan baung, terus ke rumah istirahat menginap semalam.
Tiba dan menginap semalam di rumah pasangan mas Heri Sudibyo dan mbak Komijah di Palembang
Pindang ikan baung Palembang adalah hidangan sup ikan air tawar khas Sumatra Selatan, terkenal dengan kuah bening yang kaya rempah, bercita rasa asam, manis, gurih, dan pedas. Disajikan dengan potongan nanas dan daun kemangi, hidangan ini sangat cocok dinikmati bersama nasi hangat, lalapan, dan sambal mangga atau sambal terasi
Di Gereja Katolik St Stefanus, Paroki Talang Betutu, Pelambang.
Senin pagi, 4 Agustus 2026 kami berjalan kaki menuju Gereja Santo Stefanus Talang Betutu Palembang, untuk mengikuti misa kudus harian pagi, dari rumah mas Heri Sudibyo dan mbak Komijah.
Setelah sarapan bersama, kami segera menuju Taman Doa Via Crucis Sukamoro, yaitu tempat ziarah rohani Katolik yang terletak berdampingan dengan Gua Maria Mater Misericordiae (Bunda Belas Kasih). Tempat ini menawarkan area luas berornamen klasik dengan patung-patung jalan salib, berlokasi di Desa Sukamoro, Kecamatan Talang Kelapa, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan (sekitar 20 kilometer dari pusat Kota Palembang). Fasilitas dan daya tarik yang menggumkan adalah 14 Patung Jalan Salib. Patung ukuran besar dengan nuansa seni Romawi kuno yang artistik tersebut menggambarkan kisah sengsara Yesus Kristus. Di ujung arena jalan salib terdapat Gua Maria Mater Misericordiae (Bunda Berbelas kasih) yang berada dalam satu kompleks dengan Panti Werdha Sumarah.
Bersama mas Heri Sudibyo dan mbak Komijah di gerbang Taman Doa Via Crucis Sukomoro, Palembang
Di Taman Doa Via Crucis Sukomoro di pinggiran Kota Palembang, kami merenungkan sengsara dan wafat Yesus Kristus di kayu salib. Taman Doa Via Crucis Sukomoro dibangun sejak April 2021 dan diberkati oleh Uskup Agung Palembang Mgr. Aloysius Sudarso SCJ pada tanggal 8 Desember 2021.
Patung seukuran sebenarnya saat Tuhan Yesus dimakamkan di Taman Doa Via Crucis Sukomoro, Palembang
Tempat ini merupakan pengembangan lanjutan dari Gua Maria Mater Misericordiae (Bunda Belas Kasih) yang telah dibangun lebih dulu di lokasi yang sama. Menampilkan 14 perhentian Jalan Salib, tempat ini didesain dan dikerjakan oleh Gregorius Sutanto bersama tim Blendang-Blendung Art Studio dari Jogjakarta.
Taman Doa Via Crucis Sukomoro memiliki desain yang menarik dan unik. Tempat ini mengambil inspirasi dari Via Dolorosa atau Jalan Kesengsaraan di Yerusalem, yaitu jalan yang diyakini dilalui oleh Yesus saat memanggul salib-Nya menuju ke puncak Kalvari. Tempat ini dibangun dengan nuansa Timur Tengah, dengan batu-batu kapur, gerbang-gerbang Romawi, dan patung-patung malaikat yang menghiasi jalur Jalan Salib. Tempat ini juga dikelilingi oleh pepohonan rindang yang memberikan suasana alam yang sejuk dan tenang.
Taman Doa Via Crucis Sukomoro, Palembang
Selasa pagi, 4 Agustus 2026 setelah menginap semalam di rumahnya, kami diantar sepupu mas Heri Sudibyo dan mbak Komijah untuk City Tour ke Gua Maria Via Crucis Sukomoro, Katedral Santa Maria berfoto bersama mas Agus Yuswono (teman sekelas di SMA Kolese de Britto Yogyakarta JB 84, lanjut ke Jembatan Ampera, dan kuliner lagi khas Palembang (empek2), terus pulang ke Belitang OKU sejauh 180 km. Sore menemui dr. PC Bambang Suyatmoko JB 85 dan dr. Prasanita FK UGM 84 di Klinik Enggal Saras Belitang OKU
Menikmati pempek di kota asalnya bersama mas Agus Yuswana JB 84 di Palembang. Meskipun terpencar hidupmu, adalah de Britto contohmu
Katedral Palembang yang bernama resmi Gereja Katedral Santa Maria adalah sebuah gereja katedral Katolik yang terletak di Kota Palembang, ibu kota provinsi Sumatera Selatan. Gereja ini merupakan takhta dan pusat kedudukan bagi Uskup Agung Palembang, yang saat ini dijabat oleh Yang Mulia Mgr. Dr. Yohanes Harun Yuwono. Pada Maret 2023, bangunan baru katedral ini diresmikan oleh Nunsius Apostolik Takhta Suci untuk Indonesia, Yang Mulia Mgr. Piero Pioppo.
Gereja Katedral Santa Maria Keuskupan Agung Palembang yang menjulang
Gereja Katedral Santa Maria Keuskupan Agung Palembang yang menjulang
Arsitektur Gereja Katedral ini adalah Neo-Gothic yang juga disisipkan dengan unsur lokal. Seperti adanya miniatur Jembatan Ampera dan juga Songket pada ukiran di dinding gereja. Gereja ini di rancang oleh Arsitek Giovanny Kesaulya, S.Ars
Bedua dalam gaya di depan Gereja Katedral Santa Maria Keuskupan Agung Palembang yang menjulang
Selanjutnya kami menikmati keindahan Jembatan Ampera (Amanat Penderitaan Rakyat) yaitu sebuah jembatan ikonik di Kota Palembang, Sumatera Selatan. Jembatan Ampera, yang telah menjadi semacam lambang kota, terletak di tengah-tengah Kota Palembang, menghubungkan daerah Seberang Ulu dan Seberang Ilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi yang lebar. Jembatan Ampera merupakan salah satu ikon Kota Palembang yang paling terkenal.
Panjang Jembatan Ampera 1.117 m, lebar 22 m (bagian tengah 71,90 m, berat 944 ton dan dilengkapi pembandul seberat 500 ton), semua bagian tengah bisa diangkat agar kapal-kapal besar bisa lewat tetapi sejak tahun 1970 bagian tengah sudah tidak dapat diangkat lagi. Bandul pemberatnya pada tahun 1990 dibongkar karena dikhawatirkan dapat membahayakan. Tinggi jembatan ini 11,5 m dari atas permukaan air, tinggi menara 63 m dari permukaan tanah dan jarak antara menara 75 m.
Pada awalnya, bagian tengah badan jembatan ini bisa diangkat ke atas agar tiang kapal yang lewat dibawahnya tidak tersangkut badan jembatan. Bagian tengah jembatan dapat diangkat dengan peralatan mekanis, dua bandul pemberat masing-masing sekitar 500 ton di dua menaranya. Kecepatan pengangkatannya sekitar 10 meter per menit dengan total waktu yang diperlukan untuk mengangkat penuh jembatan selama 3 menit.
Di dekat Jembatan Ampera kami juga mengunjungi Benteng Kuto Besak, yaitu bangunan bersejarah peninggalan Kesultanan Palembang Darussalam. Benteng ini terletak di tepi Sungai Musi, Kota Palembang, dan berfungsi sebagai pusat istana serta tempat pertahanan sultan pada abad ke-18.
Gagasan awal pembangunannya dicetuskan oleh Sultan Mahmud Badaruddin I (memerintah 1724–1758). Mulai dibangun tahun 1780 pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Bahauddin. Selesai dan diresmikan pada 21 Februari 1792. Keunikan Benteng Kuto Besak adalah menjadi satu-satunya benteng di Indonesia yang dibangun atas prakarsa dan tenaga pribumi, bukan oleh pemerintah kolonial. Benteng ini adalah tempat tinggal resmi sultan beserta keluarga kerajaan. Juga pusat pemerintahan dan pertahanan Kesultanan Palembang dari serangan musuh (termasuk Belanda)
Dinding Beteng Kuto Besak Palembang yang tebal menjulang
Jembatan Ampera Palembang yang merah menjulang
Pada saat bagian tengah jembatan diangkat, kapal dengan ukuran lebar 60 meter dan dengan tinggi maksimum 44,50 meter, bisa lewat mengarungi Sungai Musi. Bila bagian tengah jembatan ini tidak diangkat, tinggi kapal maksimum yang bisa lewat di bawah Jembatan Ampera hanya sembilan meter dari permukaan air sungai.[9]
Jembatan Ampera yang memebalah Sungi Musi di Palembang
Sejak tahun 1970, aktivitas turun naik bagian tengah jembatan ini sudah tidak dilakukan lagi. Alasannya, waktu yang digunakan untuk mengangkat jembatan ini dianggap mengganggu arus lalu lintas di atasnya. Pada tahun 1990, kedua bandul pemberat di menara jembatan ini diturunkan untuk menghindari jatuhnya kedua beban pemberat ini.
Di Pelambang ini kami juga menikmati pempek, yaitu makanan khas Palembang, Sumatera Selatan. Pempek terbuat dari daging tenggiri atau gabus yang digiling lembut, dicampur tepung kanji atau tepung sagu, serta dengan bahan-bahan lain seperti telur, bawang putih halus, penyedap rasa, dan garam. Pempek biasanya disajikan dengan kuah yang disebut cuko yang terasa asam, manis, dan pedas.
Cara memakan pempek adalah dengan menggunakan mangkuk kecil sebagai tempat cukonya lalu pempek dicocolkan. Cuko kemudian diseruput untuk menambah rasa. Pelengkap lain untuk menyantap pempek adalah potongan dadu mentimun segar, mie kuning, dan cabai bubuk untuk tambahan pedas.
Pempek mempunyai sejarah yang unik dan tidak dapat dilepaskan dari masuknya para perantau Tionghoa ke Palembang semasa pemerintahan Kesultanan Palembang Darussalam ketika dipimpin oleh Sultan Mahmud Badaruddin II pada abad ke-16 Masehi. Berdasarkan cerita masyarakat, pempek dijual keliling kota oleh seseorang asal Tionghoa yang sering dipanggil Apek di kisaran tahun 1617 M.
Makan siang pindang gabus di RM Balitang di Kayu Agung, Sumsel.
Dari Palembang, kami diantar mas Heri Sudibyo dan mbak Komijah naik Nissan X-trail menuju ke Belitang di UKO Timur. Salah satu tempat yang akan kami kunjungi adalah Klinik Enggal Saras. Tanggal 28 Februari 2011 merupakan hari yang bersejarah bagi Klinik Enggal Saras mhcc, sebab di hari itu Klinik Enggal Saras mhcc pertama kali menerima Pasien Rawat Inap. 10 tahun silam pada awal merintis klinik, dr. PC Bambang Suyatmoko (adik kelas di SMA Kolese de britto dan FK UGM Yogyakarta) hanya memiliki 8 karyawan umum dan 5 perawat. Saat itu Klinik Enggal Saras mhcc telah memiliki peralatan kesehatan yang canggih. Klinik Enggal Saras memiliki Automatic Haematology Analyzer, dimana pada saat itu ada Rumah Sakit yang belum memiliki alat tersebut.
Menimba semangat inovasi dari dr. PC Bambang Suyatmoko (adik kelas SMA JB 85), yang mengkombinasikan kompetensi mekatronika dan medis.
Telah menciptakan stetoskop dengan loud speaker, pemandu frekuensi pijat jantung pada RKP, prototipe kursi roda cerdas untuk pasien paraplegi inferior agar dapat berdiri dan berjalan, juga prototipe skeleton untuk pasien serupa, dan berbagai inovasi lainnya yang diciptakannya mandiri.
Kami sempat berfoto membelakangi berbagai peralatan mekatronika seperti PCB, dioda, katalis, kabel, solder dan lainnya di bengkel lantai 2 dan 3, di Klinik Enggal Saras MHCC Belitang OKU Timur Sumsel. Luar biasa.
inovasi dari dr. PC Bambang Suyatmoko (JB 85), menemukan stetoskop dengan amplifier sehingga suara organ tubuh internal pasien dapat didengarkan di dalam ruangan periksa.
Klinik Enggal Saras mhcc beralamatkan di Jalan Raya Belitang – Belitang III Desa Sidogede Kecamatan Belitang itu dipimpin oleh dr. PC Bambang Suyatmoko. Dokter yang lahir di Gunung Kidul 27 April 1967 merupakan putra ke-empat dari pasangan ayah Yosep Suradjimin Dirdjopranoto dan ibu Maria Sumarti. dr. PC Bambang Suyatmoko alumni Fakultas Kedokteran Universitas Gajah Mada (UGM) tahun 1993. Setelah lulus dokter Bambang mengabdi sebagai dokter PTT di Kalimantan Selatan tepatnya di Puskesmas Bantuil Kecamatan Cerbon Kabupaten Barito Kuala.
Bersama dr. PC Bambang Suyatmoko (JB 85) sesama alumni SMA Kolese de Britto Yogyakarta
Bersama dr. PC Bambang Suyatmoko (JB 85) sesama alumni SMA Kolese de Britto Yogyakartadan dr. VM. Prasanita sesama alumni FK UGM 84
Bersama dr. PC Bambang Suyatmoko (JB 85) sesama alumni SMA Kolese de Britto Yogyakarta
Berkat dari Amateus Sukadi, SCJ (pastor kepala paroki) setelah misa kudus harian pagi di Gereja Katolik St Maria Tak Bernoda Paroki Balitang OKU Sumsel. Bersama mbak dr. VM Prasanita (FK UGM 84) dan anak bungsunya
Gereja Katolik St Maria Tak Bernoda Paroki Balitang OKU Sumsel
Suasana Belitang, kota yang berkembang di sepanjang jalan inspeksi aliran selokan dari Bendungan Komering (BK), untuk persawahan
Siap berangkat dari rumah mas Heri Sudibyo di Belitang UKO Timur, dengwan Nissan X-trail yang nyaman
Mampir mengjungi dr. Tria (anak bungsu mas Heri Sudibyo) dengan kedua cucu
Mampir melihat pabrik (selepan gabah) milik mas Marcus, menantu mas Heri Sudibyo
Mengjungi mbak Suharyani yang telah lama tegolek sakit di rumah anaknya
Mengjungi mas Kusumo Hadi di rumahnya, di belakang GerejaSanta Maria Assumpta Paroki Mojosari BK IX kecamatan Belitang OKU Timur
Rabu, 5 Agustus 2026, kami diantar mas Heri Sudibyo dan mbak Komijah naik Nissan X-trail menuju Martapura menemui saudara dan lanjut ke Baturaja menemui Sr. Evarista Direktur RS Antonio dan lanjut naik bis Rosalia Indah pk. 13 sampai di Jogja Kamis malam, 6 Agustus 2026
Sejarah Rumah Sakit Antonio Baturaja
Bendung Perjaya yang membendung Sungai Komering untuk lumbung padi di Belitang
Kereta Api Batubara Panjang (Babaranjang) dengan 60 gerbong pengangkut batubara dari tambang di Muara Enim ke pelabuhan Bandar Lampung
Mampir di rumah mbak Ayu (puteri sulung mas Heri Sudibyo) di Martapura
Kornelius (cucu mas Heri Sudibyo dari mbak Ayu) ikut mengantar kami ke Baturaja
Kami mengunjungi RS. SANTO ANTONIO di Jln. Garuda No.3 KM.3 Tanjung Baru, Baturaja Timur, Ogan Komering Ulu, Sumatera Selatan – 32126. Berawal dari perjalanan para suster misionaris dari Belanda menuju Lampung, mereka harus melalui Palembang karena situasi Lampung pada waktu itu (Mei 1948) sedang dalam masa transisi peralihan kekuasaan. Tanggal 21 September 1948 adalah hari kedatangan para suster di Baturaja.
Rombongan terdiri dari empat suster: Sr. Maria Pauline Schoorl, Sr. Maria Romualdis Droste, dan Sr. Maria Jose Van Goozen, satu suster novis Sr. M. Clara, delapan anak dan Tan Yu Tiong (Yance). Pastor Borst SCJ yang telah tinggal di Baturaja menyambut mereka dan menggunakan kesempatan ini untuk meminta agar para suster mau bekerja di Baturaja. Kehadiran para suster mendapat tanggapan yang sangat positif sehingga dr. Meier meminta para suster untuk bekerja di Rumah Sakit Umum (RSU) Budiman Baturaja, yang pada waktu itu sangat kekurangan tenaga perawat. Para suster tinggal sementara di perumahan dokter di kompleks rumah sakit.
Bersama Sr. Evarista, SFGM dan dr. Oka Wilsen Joung, SpPD (Direktur RS Atinonio Baturaja)
Bertemu dr. Oka Wilsen Joung, SpPD (Direktur RS Atonio Baturaja)
Pada waktu senggang atau libur para suster mengadakan kunjungan pelayanan bagi masyarakat umum yang sakit di kampung-kampung. Alat transportasi yang digunakan para suster waktu itu adalah sepeda onthel atau bahkan jalan kaki. Pada tanggal 2 November 1948, Sr. Maria Renate Bonke misionaris baru dari Belanda datang dan bekerja di rumah sakit sesuai profesinya yaitu bidan. Sebagai bidan ia lebih sering mendapat panggilan untuk menolong persalinan di kampung-kampung.
Melihat banyaknya masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan waktu itu, para suster terdorong untuk membuka tempat pelayanan kesehatan tersendiri. Di kampung Air Gading yang penuh hutan alang-alang jauh dari keramaian, kira-kira satu kilometer dari RSU Budiman, rencana para suster ini dimulai yang ditandai dengan peletakan batu pertama pembangunan pada tanggal 4 April 1952. Pada bulan Oktober 1952 para suster menempati rumah baru yang sederhana.
Tiga suster tetap bekerja di RSU Budiman, suster lain merintis poliklinik dan rumah bersalin. Tanggal 10 November 1952 bangunan komplek susteran, klinik bersalin dan poliklinik telah selesai di bangun dengan kapasitas 10 tempat tidur. Pada 10 Desember 1952 klinik bersalin dan poliklinik diberkati oleh Mgr. H. Mekkelholt, dibuka dan diresmikan oleh Ny. dr. R. Setioharjo, pimpinan RSU Budiman dengan nama pelindung Santo Antonio. Karena kebutuhan masyarakat akan pelayanan kesehatan cukup tinggi, pada bulan April 1954 Klinik Bersalin memperluas kamar perawatan sehingga berkapasitas dua puluh tempat tidur walaupun dengan kondisi yang sangat sederhana.
Diajak Sr. Evarista, SFGM keliling RS Antonio Baturaja
Tahun 1977 terjadi wabah Cholera, sehingga jumlah pasien tidak tertampung di rumah sakit umum. Dengan kondisi yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat, maka suster-suster Fransiskanes dari Pringsewu ikut ambil bagian dalam kesulitan ini dan kemudian juga diputuskan rencana untuk memperluas klinik bersalin dan poliklinik menjadi rumah sakit. Maka pada bulan Januari 1980 di atas tanah seluas 28.865.50 m2 mulai dibangun gedung rumah sakit baru dengan kapasitas 50 tempat tidur. Pembangunan ini dapat diselesaikan tanggal 13 Juni 1981.
Terimakasih banyak Sr. Evarista, SSGM telah menerima kami di Baturaja Sumsel.
Seiring berjalannya waktu, kapasitas rumah sakit semakin tidak mencukupi, terutama kebutuhan tempat tidur pasien. Kondisi lahan yang sudah terbatas menjadi kendala. Sementara akses jalan masuk ke lokasi rumah sakit yang sempit melalui pemukiman yang padat penduduk, sering terganggu oleh adanya perlintasan kereta api jalur ganda yang semakin ramai oleh kereta api batubara panjang (babaranjang) yang melintas. Maka untuk meningkatkan dan pengembangan pelayanannya, dilakukan pemindahan lokasi rumah sakit.
Lokasi baru Rumah Sakit Santo Antonio berada di Jalan Garuda No.3, KM.3, Jalan Lintas Sumatera. Bulan Juni 2015 dilaksanakan peletakan batu pertama oleh Bupati Kabupaten Ogan Komering Ulu dan Pembina Yayasan, sebagai tanda dimulainya pembangunan rumah sakit di tempat yang baru. Pada tanggal 6 Desember 2018 Rumah Sakit diresmikan oleh Bupati Ogan Komering Ulu. Pada tanggal 18 Februari 2019 Rumah Sakit Santo Antonio mulai operasional pelayanan di tempat dan sarana baru yang lebih memadai, serta di situlah kami berkunjung.
Diantar sepupu mas Heri dan mbak Kom, dengan Lius cucu yang tidak mau diam, untuk pamit kembali dari Baturaja Sumsel ke Yogyakarta naik bis Rosalia Indah.
Selesai mengunjungi RS St. Antonio Baturaja, kami segera pulang ke Yogyakarta naik bis Rosalia Indah. Bersasis premium Mercedes-Benz OH 1626 buatan Jerman, bermesin belakang berbobot 16 ton dengan tenaga 260 horsepower. Berbalut bodi Legacy SR3 XHD Prime buatan Karoseri Laksana Ungaran ini, terkenal berkat kenyamanan suspensi udara (air suspension) dan kapasitas bagasi tembus yang luas.
Bis Rosalia Indah Mercedes-Benz OH 1626 buatan Jerman, berbalut bodi Legacy SR3 XHD Prime buatan karoseri Laksana
Tandan sawit segar di atas truk yang lalu lalang dari kebun ke pabrik
Mendarat di kantor Pusat Rosalia Indah, di Palur Karanganyar Jawa Tengah
Sowan Bulik Sri Redjeki (adik kandung ibu saya, Eyang NY Karsini) di rumahnya di Jaten, Karanganyar
Siap naik KRL Joglo dari Stasiun Palur ke Stasin Lempuyangan untuk kembali ke Jogja
Bis Rosalia Indah yang kami tumpangi melaju kencang sampai ke Palur, Karanganyar, Jawa Tengah. Kami mendarat Kamis siang, 6 Agustus 2026 di Palur dan lanjut sowan Bulik Sri Rejeki (adik kandung ibu saya) di Jaten, tidak jauh dari Palur. Terus kami naik KRL Joglo dari Stasiun Palur menuju Statiun Lempuyangan Yogyakarta, sebelum lanjut ke rumah Timoho naik Grab Car.
Terimakasih kami sampaikan kepad segenap pendukung perjalanan yang sukses ini.
Menggilas Andalas
Di atas roda dengan suspensi udara, meluncur ke sebagain Andalas (Lampung, Sumatera Selatan dan Jambi). Diusung sasis bis Scania tronton K410 buatan Swedia milik Rosalia Indah, Golden dragon 300TK dari Tiongkok milik SAN, dan Mercedez Benz OH 1626 asli Jerman, punya Rosalia Indah lagi. Juga Toyota Innova Reborn dan Nissan X-Trail.
Menikmati Taman Doa Sendang Banyu Urip, JPO Siger, Tugu Keris, Jembatan Gantala Arasy, Jembatan Ampera, Katedral Kristus Raja Tanjungkarang, Gereja St. Gregorius Agung Jambi, Katedral Santa Maria Palembang, Gereja St. Stefanus Talang Betutu Palembang, dan Gereja Santa Maria Belitang OKU Timur. Juga Sungai Musi yang lebar, Sungai Batanghari yang hidup, dan Sungai Komering yang berarus deras
Juga reuni dengan teman SMP Bruderan Purworejo, SMA Kolese de Britto dan Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Silaturahmi dengan sesama keturunan Kyai Mangundrono, dari garis Nyai Mangundihardjo dan dari Nyai Atmoharjono. Juga melihat potensi kerjasama dengan RS Antonio Baturaja dan Klinik Enggal Saras Belitang, untuk pendidikan dokter.
Menempuh 2.922 km, menikmati jalur lintas timur Sumatera di musim kemarau, melihat pohon sawit, karet, durian dan duku. Juga rumah panggung warga lokal, iringan truk long vehicle, kereta api batubara panjang, juga antrian pembeli solar di berbagai SPBU, karena kelangkaan parah. Terimakasih
Menggilas Andalas jelas membekas. Terimakasih banyak atas semua bantuan dari segenap pihak, sehingga penjelajahan ke Sumatera dapat berjalan baik.