
Bis Bimo sudah siap berangkat di samping Villa Selatan Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta
NGRABUK NYOWO
fx. wikan indrarto dan b. sari prasetyati
Asrama Mahasiswa Realino adalah asrama bersejarah di Yogyakarta yang didirikan oleh para pastor dari ordo Serikat Jesus (Yesuit) pada tahun 1957. Terkenal sebagai “percobaan kecil tentang Indonesia”, asrama ini legendaris karena menampung mahasiswa dari berbagai suku, agama, ras, dan kampus di Yogyakarta (UGM, IKIP Negeri Yogyakarta (UNY), IKIP Sanata Dharma (USD), Universitas Atma Jaya Yogyakarta dan UPN Veteran) untuk hidup bersama dan memupuk toleransi. Lokasi asrama berlantai 2 berkapasitas 150 mahasiswa ini berada di Jl. Gejayan, Mrican Yogyakarta dan ditutup tahun 1989, yang kini sebagian besar telah dialihfungsikan menjadi area kampus Universitas Sanata Dharma (USD).
Dapat juga dilihat pada :
https://www.instagram.com/p/DbR8sAZIP8g/?igsh=MWphN2x6ZHNtZzdoZw==
Para warga asrama tersebut saat ini tersebar di seluruh dunia dan tergabung dalam Forsino (Forum Komunikasi Realino). Forsino Cabang Yogyakarta secara rutin mengadakan acara ‘Ngrabuk Nyowo’. Secara harfiah dalam bahasa Jawa berarti “memupuk jiwa” atau “memberi nutrisi pada kehidupan”. Frasa ini bersifat kiasan (metafora) untuk menggambarkan usaha atau aktivitas yang membuat batin pesertanya tetap hidup, sehat, penuh harapan, dan terus berkembang. Tujuannya adalah menjaga mental atau harapan agar tetap tumbuh meski sedang menghadapi masa-masa sulit. Selain itu, juga bersilaturahmi untuk menjalin hubungan baik antar sesama manusia, yang dipercaya sebagai rabuk nyowo (pemupuk jiwa) karena membawa kebahagiaan dan kepedulian.

Setelah berdoa dan menyanyikan lagu MARS REALINO, para peserta bersiap berangkat ke Semarang dari halaman Audiorium Driyarkara USD yang tinggi menjulang
Ngrabuk Nyowo Forsino Yogyakarta seri ke 18 diisi dengan piknik bersama naik bis. Pada Minggu, 26 Juli 2026 pagi hari, kami semua berkumpul di sekitar bekas Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta. Setelah berdoa bersama dan menyanyikan mars Realino dengan penuh semangat, kami naik bis Pariwisata Bimo.

Suasana gembira di dalam bis Bimo, sambil mendengarkan suara merdu Prof. Yoyong Arfiadi SeV 76 dan ibu Astuti, dalam karaoke meriah menjelang masuk Ambarawa.
Bimo Transport dimulai pada tahun 1986, dan didirikan oleh dua orang, yaitu Subagyo Hadi Siswoyo (Kepala Staf TNI Angkatan Darat periode 1998–1999) dan Marsudiono. Subagyo HS menetapkan 12 Juni, hari kelahirannya, sebagai hari ulang tahun perusahaan yang awalnya merupakan usaha angkutan antarkota dalam provinsi (AKDP) yang melayani rute Yogyakarta–Wonosari. Pada tahun 2000 layanan AKDP diakhiri dan Bimo Transport berubah sebagai perusahaan yang sepenuhnya bergerak di bidang transportasi pariwisata.
Per 2024, PO Bimo mengoperasikan 22 bus, dengan rincian 20 bus besar dan 2 bus sedang. Ciri khas tampilan bus adalah gambar wayang Bima, karakter Pandawa dalam wiracarita Mahabharata, yang berwarna biru, sesuai dengan karakter Mahabharata tersebut. Selain itu, bintang empat berwarna emas di atas tanda huruf “BIMO” yang berwarna merah, melambangkan kepangkatan TNI terakhir yang dijabat oleh Subagyo HS, yakni Jenderal TNI (Purn).
Sepanjang jalan kami selalu riang, penuh tawa dan bahagia. Apalagi Bapak Agus ‘Dodiet’ Haryanto memberikan berbagai pertanyaan yang sangat bervariasi isinya dalam quis berhadiah. Setelah melibas sebagain Tol Trans Jawa, kami mencapai Benteng Willem I atau lebih dikenal dengan nama Benteng Pendem Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Benteng yang dibangun pada tahun 1834, ini terletak di dekat Museum Kereta Api, atau di belakang Rumah Sakit Umum Daerah dr. Gunawan Mangunkusumo, dan berada di kompleks Lembaga Pemasyarakatan Kelas II Ambarawa. Benteng ini pernah digunakan sebagai lokasi pengambilan gambar untuk film Soekarno yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo.

Bergaya bersama di depan gerbang Benteng Willem I (Benteng Pendem) Ambarawa yang putih dan tinggi

Gerbang Benteng Willem I (Benteng Pendem) Ambarawa yang gagah

Lengkung berulang adalah interior khas Benteng Willem I (Benteng Pendem) Ambarawa yang artistik.
Disebut pendem atau pendhem (bahasa Jawa) karena benteng ini berada di bawah tanah atau terkubur, sebagai sebuah siasat perang. Pada tahun 1840-an di bawah kekuasaan pemerintah kolonial Hindia Belanda di Jawa, Ambarawa merupakan titik sumbu strategis antara Semarang dan Surakarta. Sejak awal abad-18, VOC membangun benteng benteng di sepanjang jalur Semarang – Oenarang (sekarang Ungaran) – Salatiga – Surakarta (Solo). Rancangan ini dimaksudkan untuk pengembangan hubungan dengan Kesultanan Mataram. Kamp-kamp militer juga dibangun di berbagai kota yang dilalui, tak terkecuali Ambarawa. Pada masa kekuasaan Kolonel Hoorn, tahun 1827-1830, sempat ada barak militer dan penyimpanan logistik militer, dan pada tahun 1834 dibangunlah sebuah benteng modern di Ambarawa yang kemudian diberi nama Benteng Willem I pada tahun 1853. Pada tahun 1853 sampai tahun 1927 digunakan sebagai barak militer Hindia Belanda atau KNIL yang terhubung ke Magelang, Yogyakarta, dan Semarang melalui jalur kereta api.

Bergaya di bawah lengkung berulang khas Benteng Willem I (Benteng Pendem) Ambarawa yang tetap terjaga indah.

Beda sisi Benteng Willem I (Benteng Pendem) Ambarawa yang putih telah direnovasi dan merah bata yang asli
Pada umumnya benteng dibangun dengan prinsp defensif dan kuat yang dimaksudkan untuk pertahanan dari serangan musuh. Juga dibangun parit mengelilingi benteng untuk memaksimalkan pertahanan. Namun Benteng Willem I ini ternyata memiliki desain yang berbeda. Dengan banyak jendela, benteng ini bukan dirancang untuk pertahanan, tetapi untuk barak militer dan penyimpanan logistik militer. Di benteng ini juga tidak dilengkapi bangunan sebagai tameng. Dan tidak ada lubang di puncak dinding, seperti halnya pada benteng peninggalan Portugis, yang dirancang untuk memasang meriam.
Adik bungsu di asrama, yaitu Bapak E. Ponco Yulianto SeV 89 beserta istri yang tinggal di Ungaran, bergabung bersama kami di Benteng Pendhem Ambarawa. Sayang sekali, karena kesibukan keduanya, akhirnya pertemuan kami hanya sampai di bis Bimo, tidak ikut lanjut ke Semarang.

Mas Ponco Yulianto SeV 89 yang menyambut kami di Benteng Willem I (Benteng Pendem) Ambarawa yang berpamitan karena tidak dapat ikut lanjut ke Semarang
Selanjutnya kami mengunjungi Kelenteng Kuno Sam Poo Kong, yang secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai “Gua Tiga Perlindungan”, di Kota Semarang. Istilah “tiga perlindungan” merujuk pada doktrin Buddhisme tentang berlindung pada Triratna (bahasa Sanskerta) atau Tiratana (bahasa Pali), yaitu Buddha, Dharma, dan Sangha. Berdasarkan pemahaman tersebut, wihara atau kelenteng Triratna yang terdapat di Asia Tenggara kerap dikaitkan dengan tokoh Cheng Ho dan oleh karena itu dianggap sebagai klenteng Cheng Ho.

Kelenteng Kuno Sam Poo Kong Semarang yang ikonik bergaya Tiongkok

Kelenteng utama Sam Poo Kong Semarang yang ikonik merah menyala bergaya Tiongkok

Laksamana Zheng He yang menginspirasi pendirian tempat ibadah umat Buddha Tionghoa di Semarang
Laksamana Zheng He atau Cheng Ho adalah tokoh besar yang menginspirasi pendirian tempat ibadah umat Buddha Tionghoa di Semarang ini. Zheng He lahir di Provinsi Yunnan pada 1371 dari suku Hui, salah satu suku minoritas di Tiongkok. Kebanyakan masyarakat Hui beragama Islam, dan menggunakan nama marga Ma, bentuk sinisisasi dari Muhammad. Namun Zheng He mendalami dharma ajaran Buddha dari seorang biksu bernama Daoyan, yang juga memimpin pembacaan Bodhisattva Sila untuk Zheng He.
Pada 1414 Zheng He menyalin Vajracchedika Prajna Paramita Sutra (Jin Gan Jing), Guan Yin Sutra (Guanyin Jing), Amithaba Sutra (Mituo Jing), Marici Bodhisattva Sutra (Molizhitian Jing), Prajnaparamitahrdaya (Xin Jing), Surangama Sutra (Leng Yan Jing), Mahakaruna Dharani (Da Bei Zhou), Sarvadurgatiparisodhana Tantra (Zun Sheng Zhou), dan Mantra Sataksara (Bai Zi Shen Zhou). Setiap mendapat perintah melanglang buana, senantiasa memperoleh karunia dari San Bao. Arti kata San Bao adalah tiga mustika atau tiga permata yang merujuk pada Tri Ratna yaitu Buddha, Dharma, dan Sangha. Dalam Bahasa Indonesia menjadi Sam Poo dan nama akhirnya Sam Poo Kong.
Bangunan yang sekarang menjadi tempat ibadah ini diyakini sebagai bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama Laksamana Zheng He/Cheng Ho, yang juga dikenal dengan nama Sam Poo. Tidak semua anak buah kapal beragama Islam. Kompleks Sam Poo Kong berada di daerah Simongan, sebelah barat daya Kota Semarang. Tanda yang menunjukan sebagai bekas petilasan yang berciri keislaman dengan ditemukannya tulisan berbunyi “Marilah kita mengheningkan cipta dengan mendengarkan bacaan Al Qur’an”.
Kelenteng ini disebut Gedung Batu karena bentuknya merupakan gua batu besar yang berada di sebuah bukit batu. Untuk mengenang Cheng Ho, masyarakat Indonesia keturunan Tionghoa beragama Buddha membangun sebuah kelenteng. Sekarang tempat ini dijadikan tempat peringatan dan pemujaan atau bersembahyang serta tempat untuk berziarah. Untuk keperluan tersebut, di dalam gua batu itu diletakkan sebuah altar serta patung-patung Sam Po Tay Djien.
Di Indonesia banyak yang menganggap Laksamana Cheng Ho adalah seorang Muslim, meskipun tidak ditemukan bukti pendukung atas keyakinan tersebut, akan tetapi umat Buddha Tionghoa menempatkannya sebagai dewa. Proses pendewaan atau deifikasi terhadap tokoh-tokoh besar memang merupakan praktik umum dalam tradisi spiritual Tiongkok, yang terbawa dalam bentuk akulturasinya dengan agama Buddha ke wilayah Nusantara.

Berpanas bersama di depan kelenteng Kuno Sam Poo Kong Semarang
Selanjutnya kami bersiap makan siang di salah satu soto legendaris, yakni warung soto khas Semarang Pak Man. Pendirinya yaitu Bapak Sholeman, yang berjualan sejak tahun 1978. Soto Ayam Khas Semarang Pak Man terkenal kelezatannya sehingga selalu ramai dikunjungi pembeli. Seporsi soto ayam Pak Man berisi nasi, bihun, ayam suwir, taoge, irisan tomat, dan potongan daun bawang dengan bening yang rasanya gurih.

Soto Ayam Khas Semarang Pak Man yang kami kunjungi
Soto Ayam khas Semarang Pak Man mempunyai lima cabang dan kami mengunjungi di cabang Jalan Pamularsih Raya No. 32. Dilansir dari laman setneg.go.id, dalam kunjungannya ke Semarang, Presiden Jokowi dan Ibu Iriana menyempatkan diri mencicipi kuliner soto khas kota Semarang untuk santap paginya. Rumah Makan Soto Ayam Khas Semarang Pak Man menjadi pilihan Jokowi untuk sarapan pada hari Sabtu, 14 April 2018. Presiden Jokowi dan rombongan tiba di rumah makan tersebut pada pukul 07.50 WIB.

Kenyang menu soto Ayam Khas Semarang Pak Man di Jl. Pamulrasih

Mas Darmadi (bertopi) dan mas Antok SeV 82 yang tinggal di Semarang dan bergabung dengan kami
Selanjutnya kami menuju ke Lawang Sewu (Seribu Pintu), gedung megah yang sebelumnya merupakan Gedung Administrasi N.V. Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij adalah bekas bangunan perkantoran yang terletak di seberang Tugu Muda di Samarang. Bangunan ini berstatus sebagai aset PT. Kereta Api Indonesia (KAI). Hal ini terjadi karena merupakan hasil dari perebutan aset-aset NIS dan perusahaan kereta api lain oleh Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI) pada masa Perang Kemerdekaan. Saat ini bangunan tersebut dijadikan sebagai museum dan galeri sejarah perkeretaapian oleh Unit Pusat Pelestarian dan Desain Arsitektur dan kini dioperasikan KAI Wisata, anak perusahaan KAI yang bergerak di bidang pariwisata.

Bergaya setelah menyanyikan lagi MARS REALINO di tangga ke lantai 2 Lawangsewu Semarang

Kegagahan Lawangsewu Semarang dari sisi kanan gedung 1
Dari kiri : Fonali Lahagu 64, William dan Laras, Darmadi Tjandradjaja 82, F. Ronny Dwi Agus 79, Fx. Wikan Indrarto 84, Suyoto 75, Yoyong Arfiadi 78, Ibu Harlina Bobby, Ibu Agung, Ibu Maria Kok Sen, Vincentius Oe Kok Sen 84, Ibu Suyoto, Glenndonald A. Engko 78, Indah Ronny DA, A. Tristiyono Joko M 79, Ibu Merry Arinto, Ibu Sari Wikan, Ch. Agus Dodiet Haryanto 76, Ibu Tristiyono, Ibu Hastuti Edi Santosa, Ibu Titin Anggoro, Edi Santoso 80, Ibu Astuti Yoyong, Ibu Jonna Yoseph Pulo, Agung Sugihandono 80, Joseph Pulo 72, Y. Anggoro Triharyanto 84, Eddy Arianto 75, Wachid SC 79, Setiawan, Robertus 75, Eduardus Tandelilin 76, Ibu Nina Tandelilin
Lawang Sewu yang kami kunjungi diarsiteki oleh Cosman Citroen, dari firma yang dibentuk arsitek senior J. F. Klinkhamer dan B. J. Ouëndag. Bangunan ini dirancang dalam Gaya Hindia Baru, istilah yang diterima secara akademis untuk Rasionalisme Belanda di Hindia. Ini untuk mengintegrasikan preseden tradisional (klasisisme) dengan kemungkinan teknologi baru, yaitu gaya transisi antara Tradisionalis dan Modernis serta dipengaruhi oleh desain Berlage.

Keindahan interior Lawang Sewu Semarang yang diarsiteki oleh Cosman Citroen

Bertemu anak bungsu Larasati, dengan suaminya William, di Lawang Sewu Semarang, setelah mereka datang dari Jepara
Konstruksi dimulai pada tahun 1904 dan rampung pada tahun 1919. Setelah Jepang menduduki Hindia Belanda pada tahun 1942, tentara Jepang mengambil alih Lawang Sewu. Ruang bawah tanah gedung B diubah menjadi penjara dengan eksekusi mati dilakukan di dalamnya. Ketika Semarang direbut kembali oleh Belanda dalam pertempuran di Semarang pada Oktober 1945, pasukan Belanda menggunakan terowongan yang mengarah ke gedung A untuk menyelinap ke kota. Pertempuran terjadi dengan banyak pejuang Indonesia gugur. Lima pegawai yang bekerja di sana juga gugur.

Peserta Ngrabuk Nyowo lengkap berjejer di sudut Lawang Sewu Semarang
Setelah perang, tentara Indonesia mengambil alih kompleks. Bangunan tersebut kemudian dioperasikan oleh Djawatan Kereta Republik Indonesia (DKARI). Pada tahun 1992 bangunan ini ditetapkan sebagai cagar budaya.

Bergaya di depan bis Bimo dengan anak bungsu Larasati, dengan suaminya William, di Lawang Sewu Semarang

Mas Anggoro SeV 84 dan mbak Titin pamitan, karena akan menlanjutkan perjalanan pulang ke Batang di Stasiun Poncol Semarang.
Kunjungan kami ke Semarang diakhiri dengan menikmati Kota Lama Semarang (Belanda: Semarang Oude Stad) ini adalah suatu kawasan pusat perdagangan pada abad 19. Pada masa itu, untuk mengamankan penghuni dan wilayahnya, kawasan itu dibangun benteng, yang dinamai benteng Vijfhoek. Benteng ini hanya memiliki satu gerbang di sisi selatannya dan lima menara pengawas. Masing-masing menara diberi nama: Zeeland, Amsterdam, Utrecht, Raamsdonk dan Bunschoten.

Bergaya dengan anak bungsu Larasati, dengan suaminya William, di depan Gereja Blenduk, Semarang

Bergaya di depan gereja Blenduk Semarang
Untuk mempercepat jalur perhubungan antar ketiga pintu gerbang di benteng itu maka dibuat jalan-jalan perhubungan, dengan jalan utamanya dinamai Heerenstraat (Jl. Letjen Soeprapto). Salah satu lokasi pintu benteng yang ada sampai saat ini adalah Jembatan Berok (De Zuider Por). Kata Berok sendiri merupakan hasil pelafalan masyarakat pribumi yang kesulitan melafalkan kata Burg dalam bahasa Belanda.

Bergaya di depan MARBA di kawasan Kota Lama Semarang
Di sekitar Kota Lama dibangun kanal-kanal air yang keberadaannya masih bisa disaksikan hingga kini meski tidak terawat. Luas kawasan Kota Lama Semarang (Oude Stad) ini sekitar 31 hektare. Dilihat dari kondisi geografi, tampak bahwa kawasan ini terpisah dengan daerah sekitarnya, sehingga tampak seperti kota tersendiri dengan julukan “Little Netherland”.

Silau melawan cahaya matahari sore di kawasan Kota Tua Semarang

Bergaya di depan bangunan bekas bank di kawasan Kota Lama Semarang
Kawasan Kota Lama Semarang ini merupakan saksi bisu sejarah Indonesia masa kolonial Belanda lebih dari 2 abad, dan lokasinya berdampingan dengan kawasan ekonomi dan Stasiun Tawang. Di tempat ini ada sekitar 50 bangunan kuno yang masih berdiri dengan kukuh dan mempunyai sejarah Kolonialisme di Semarang. Secara umum karakter bangunan di wilayah ini mengikuti bangunan-bangunan yang ada di benua Eropa sekitar tahun 1700-an, dengan detail bangunan yang khas dan ornamen-ornamen yang identik dengan gaya Eropa. Seperti ukuran pintu dan jendela yang luar biasa besar, penggunaan kaca-kaca berwarna, bentuk atap yang unik, sampai adanya ruang bawah tanah.

Bergaya di depan semut merah di atas bangunan di kawasan Kota Lama Semarang
Pusat dari Kawasan Kota Lama Semarang terletak di Taman Srigunting, sebuah taman yang menjadi jantung dari kawasan tersebut. Di masa lalu, taman ini dikenal sebagai parade plein, lapangan yang sering digunakan untuk parade militer karena dekat dengan sebuah barak militer. Sebelum menjadi lapangan, taman ini berfungsi sebagai kerkhof atau pemakaman warga Eropa. Pada awal abad ke-19, kerkhof dipindahkan ke daerah pengapon.
Selanjutnya kami kembali masuk ke bis Pariwisata Bimo yang mengusung bodi buatan Karoseri Morodadi Prima Malang, Jawa Timur. Perintis usaha karoseri ini adalah Bapak Bambang Gunawan pada 1978. Morodadi bermakna kepercayaan, yaitu saat pelanggan datang, maka barang jadi sesuai keinginan. Ini sesuai cita-citanya untuk membangun rasa percaya antara pelanggan dan perusahaan. Logo Singa yang digunakan diambil dari simbol yang melambangkan Kerajaan Singosari yang melambangkan semangat tinggi dan etika kerja yang baik, untuk menghasilkan bodi bus yang kuat, kokoh, aman, dan nyaman.
Untuk kategori bis besar, perusahaan ini menggunakan beberapa sasis seperti Mercedez Benz OH 1518, 1521, dan 1526. Selain itu juga menerima sasis Hino R260 dan Hyundai Aero Space. Sementara itu, untuk gayanya panten menggunakan desain New Travego dan Patriot.

Bis Bimo buatan Karoseri Morodadi siap meluncur kembali
Morodadi Prima hingga kini telah mengantongi sejumlah sertifikat resmi dari Mercedez Benz no: BBA-002/12 kepada PT. Morodadi Prima untuk mengakui bahwa semua design, rekayasa dan process produksi bus dengan chasis OH 1626 telah memenuhi semua standard Quality Gate Assessment.

Makan malam di Tahu Baxo Ibu Pudji Ungaran, sebelum kembali ke Jogja
Dalam perjalanan kami kembali ke Yogyakarta, kami singgah di Tahu Baxo Ibu Pudji. Bisnis legendaris sejak tahun 1995 ini dirintis oleh sepasang suami istri, Pudjianto (67) dan istri tercinta, Sri Lestari (65). Mereka berdua merupakan pelopor dan pionir tahu bakso di Semarang. Dasar idenya adalah bahwa tahu adalah makanan sehari-hari dan bakso kesukaan semua kalangan dari anak-anak sampai orang tua. Jadi saat digabungkan menjadi satu makanan baru, didasari pemikiran dan harapan dapat disukai banyak orang. Awalnya hanya disebut tahu yang diisi daging. Setelah kurang lebih satu tahun berjualan, di tahun 1996, barulah disebut tahu bakso. Selain itu, awalnya dinamai “Tahu Bakso Kepodang”, dikarenakan tinggal dan dijual di Jl. Kepodang Semarang. Mulai tahun 2002 resmi bernama Tahu Baxo Ibu Pudji.
Akhirnya kami sampai kembali ke Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta pk. 21 dalam suasana riang, gembira dan bahagia. Terimakasih banyak atas kebersamaan kita semua dalam bis.
Ayo piknik !
wikan & sari