Categories
anak Healthy Life resisten obat tuberkulosis

2026 Alat Baru Diagnosis TB

ALAT  BARU  DIAGNOSIS  TUBERKULOSIS

fx. wikan indrarto

Selasa, 24 Maret 2026 WHO merekomendasikan alat diagnostik baru untuk membantu mengakhiri  tuberculosis (TB). Rekomendasi ini dikeluarkan untuk mendukung perluasan akses ke layanan penyelamatan jiwa, dengan penggunaan alat tes diagnostik baru, yang dapat digunakan di dekat tempat tinggal pasien untuk mendeteksi penyakit lebih cepat, sehingga menjangkau lebih banyak orang.

Tulisan ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 19 April 2026, Halaman 8, kolom HUSADA.

Pedoman WHO 2026 terbaru tentang diagnosis TB merekomendasikan 3 hal. Pertama, penggunaan tes amplifikasi asam nukleat di dekat titik perawatan (near-point-of-care nucleic acid amplification tests atau NPOC-NAAT) untuk deteksi awal TB tanpa resistensi rifampisin di tingkat terluar sistem kesehatan (yaitu laboratorium perifer, fasilitas kesehatan primer, dan komunitas) dan dengan biaya yang lebih rendah, dibandingkan dengan jenis tes dan instrumen molekuler lainnya. Kedua, usap atau swab lidah untuk pengambilan spesimen yang tentu lebih mudah didapat, untuk digunakan dengan NPOC-NAAT dan NAAT otomatis (low-complexity automated atau LC-aNAAT) untuk deteksi awal TB dengan dan tanpa resistensi rifampisin, pada orang dewasa dan remaja yang tidak dapat mengeluarkan dahak. Dan ketiga, penggabungan pemeriksaan dahak dari beberapa pasien sebagai strategi diagnostik untuk deteksi awal TB dan resistensi rifampisin, menggunakan LC-aNAAT dengan potensi untuk meningkatkan waktu penyelesaian dan biaya, pada saat sumber daya terbatas.

Pedoman baru tentang usap lidah untuk tes diagnosis TB, menandai langkah lain menuju deteksi dan pengobatan yang lebih cepat, dari salah satu penyakit menular paling mematikan di dunia. Alat tes portabel dan mudah digunakan ini membuat diagnosis TB lebih dekat ke tempat setiap orang secara rutin mencari layanan kesehatan. Apalagi dengan harga kurang dari setengah biaya banyak diagnostik molekuler yang ada, tes ini dapat membantu banyak negara memperluas akses ke pengujian laboratorium. Alat diagnostik ini dapat beroperasi dengan daya baterai dan memberikan hasil dalam waktu kurang dari satu jam, memungkinkan pasien untuk memulai pengobatan lebih cepat.

“Alat baru ini benar-benar dapat mengubah penanganan TB, dengan mendekatkan diagnosis yang cepat dan akurat kepada masyarakat, menyelamatkan nyawa, menekan penularan, dan mengurangi biaya,” kata Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO. “WHO menyerukan kepada semua negara untuk meningkatkan akses terhadap alat ini dan alat-alat lainnya, sehingga setiap orang yang menderita TB dapat dijangkau dan diobati dengan segera.”

Selain untuk TB, alat ini berpotensi untuk mampu mendiagosis penyakit lain seperti HIV, Cacar Monyet (mpox), dan HPV, sehingga diagnostik penyakit tersebut menjadi lebih berpusat pada pasien, adil, dan selaras dengan layanan satu atap untuk penyakit yang muncul dan beredar.

Pedoman WHO yang baru ini juga merekomendasikan pengambilan sampel usap lidah yang mudah, serta strategi pengumpulan dahak yang hemat biaya untuk meningkatkan efisiensi pengujian TB dan TB resisten rifampisin. Usap lidah memungkinkan orang dewasa dan remaja yang tidak dapat mengeluarkan dahak untuk menjalani pengujian TB pertama kalinya, memungkinkan deteksi penyakit di antara orang-orang yang berisiko tinggi meninggal karena TB. Penggabungan sampel dahak, di mana sampel dari beberapa individu digabungkan dan diuji bersama, dapat secara signifikan mengurangi biaya komoditas dan waktu operasional mesin, sehingga menghasilkan hasil yang lebih cepat bagi masyarakat dan program TB, sebuah pendekatan yang secara khusus direkomendasikan ketika sumber daya sangat terbatas.

TB tetap menjadi salah satu penyakit menular paling mematikan di dunia. Setiap hari, lebih dari 3.300 orang meninggal karena TB dan lebih dari 29.000 orang jatuh sakit karena penyakit yang dapat dicegah dan disembuhkan ini. Upaya global untuk memerangi TB telah menyelamatkan sekitar 83 juta jiwa sejak tahun 2000, namun pemotongan pendanaan kesehatan global sangat mengancam, bahkan dapat membalikkan, kemajuan ini. Penggunaan alat diagnostik cepat telah menjadi tantangan di banyak negara, sebagian karena biaya yang tinggi dan ketergantungan pada media transportasi sampel, untuk dilakukan pengujian di laboratorium yang terpusat di kota.

Peningkatan skala solusi yang telah terbukti, termasuk 3 rekomendasi WHO terbaru di atas, dapat digunakan untuk menutup kesenjangan diagnostik di semua tingkatan sistem layanan kesehatan. Upaya tersebut dapat membantu mencapai target global untuk akses universal terhadap pengujian TB dan resistensi obat, mengurangi keterlambatan dalam memulai pengobatan, dan mencegah penularan lebih luas.

Apakah kita sudah bijak?

Sekian

Yogyakarta, 27 Maret 2026

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM.

Categories
anak antibiotika dokter Healthy Life UHC

2026 Hari Kesehatan Dunia

HARI  KESEHATAN  DUNIA 2026

fx. wikan indrarto

Hari Kesehatan Dunia diperingati setiap 7 April untuk menandai berdirinya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 7 April 1948. Pertama kali diperingati tahun 1950, hari istimewa ini bertujuan menyoroti isu kesehatan global utama seperti kesehatan mental, ibu-anak, dan perubahan iklim, serta mendorong kesadaran masyarakat. Apa yang menarik?

Tulisan ini dimuat di Harian Jawa Pos Surabaya pada Rabu, 8 April 2026 dengan judul : Peran Sains dalam Kesehatan Terpadu

Hari Kesehatan Dunia yang diperingati Selasa, 7 April 2026 menyerukan kepada semua orang di seluruh dunia untuk mengandalkan ilmu pengetahuan (sains). Dengan tema “Bersama untuk kesehatan. Berdiri bersama sains” (Together for health. Stand with science) peringatan tahun 2026 ini meluncurkan kampanye selama setahun, untuk mendorong kolaborasi ilmiah dalam melindungi kesehatan manusia, hewan, tumbuhan, dan planet ini. Kampanye ini menyoroti pencapaian ilmiah dan kerja sama multilateral, yang dibutuhkan untuk mengubah bukti menjadi tindakan, melalui pendekatan ‘One Health’ atau kesehatan terpadu.

Kampanye ini mengajak semua orang di mana pun untuk berpartisipasi merayakan pencapaian ilmiah, terlibat dengan bukti, berbagi kisah pribadi tentang bagaimana sains meningkatkan kehidupan, dan bergabung dalam percakapan global melalui tagar #StandWithScience.

Tujuan kampanye ini menyerukan kepada pemerintah, ilmuwan, dokter, tenaga kesehatan, mitra, dan masyarakat untuk pertama, berdiri bersama sains dengan terlibat dengan bukti, fakta, dan panduan berbasis sains untuk melindungi kesehatan. Kedua, membangun kembali kepercayaan pada sains dan kesehatan masyarakat; dan ketiga, mendukung solusi berbasis sains untuk masa depan yang lebih sehat, melalui pendekatan ‘One Health’.

Konsep “One Health” umumnya dikaitkan dengan karya Calvin Schwabe dari Universitas California, Davis USA sejak tahun 1960-an. Pendekatan ‘One Health’ adalah metode terpadu yang menyatukan kesehatan manusia, hewan, dan ekosistem secara berkelanjutan untuk mencegah penyakit, khususnya zoonosis (penyakit yang menular dari hewan ke manusia). Ini melibatkan kolaborasi berbagai sektor untuk mengoptimalkan keseimbangan kesehatan ketiga komponen tersebut.

Fokus ‘One Health’ adalah pencegahan, deteksi, dan pengendalian penyakit zoonosis. Sains memainkan peran penting dalam deteksi patogen, surveilans epidemiologi, penelitian vaksin, dan studi molekuler pada manusia maupun hewan. Kolaborasi multisektoral dalam ‘One Health’ melibatkan dokter, ahli kesehatan masyarakat, dokter hewan, ahli ekologi, dan pihak lain terkait. Pentingnya menyertakan lingkungan pada pendekatan ‘One Health’ adalah menekankan bahwa kesehatan manusia dan hewan, sangat bergantung pada kesehatan ekosistem. Pendekatan ini krusial untuk mengatasi ancaman kesehatan yang kompleks pada interaksi antara manusia, hewan, dan lingkungan.

Peran sains krusial dalam ‘One Health’. Pertama, penyedia bukti dan teknologi deteksi zoonosis dan kekebalan antimikroba (AMR), terutama ilmu pengetahuan di bidang kedokteran hewan dan mikrobiologi, berperan penting dalam mendeteksi virus, memantau spillover (perpindahan) patogen dari hewan ke manusia, serta menganalisis resistensi antibiotik pada ekosistem yang berbeda. Kedua, dalam intervensi lingkungan dan sosial ekologis, karena sains membantu merancang intervensi yang disesuaikan dengan konteks sosial-ekologis, seperti pengelolaan hama terpadu untuk keamanan pangan dan perlindungan lingkungan.

Ketiga, kolaborasi lintas disiplin dengan menyatukan para ahli dari berbagai bidang, termasuk dokter, dokter hewan, ahli ekologi, antropolog, dan ilmuwan sosial, untuk memecahkan masalah sistemik yang kompleks. Keempat, jembatan antara sains dan kebijakan dimungkinkan karena platform ilmiah menyediakan data yang valid bagi pembuat kebijakan kesehatan, untuk mengambil keputusan cepat dan tepat, terutama dalam manajemen pandemi.

Peran ini memastikan bahwa pendekatan ‘One Health’ tidak hanya berbasis teori, tetapi didukung oleh bukti ilmiah yang kuat untuk menciptakan kesehatan global yang berkelanjutan. Selain itu, sains berperan krusial dalam kedokteran sebagai fondasi pengembangan metode diagnostik, pengobatan, dan pencegahan penyakit melalui pendekatan biologi, kimia, dan fisika medik. Ini mencakup inovasi teknologi seperti alat pencitraan medis, penemuan obat baru, vaksin, teknologi AI/data science untuk deteksi dini, hingga robotika bedah.

Data science dan AI memungkinkan analisis data medis (rekam medis, pemeriksaan pencitraan maupun laboratorium klinik) untuk diagnosis yang lebih akurat dan personalisasi pengobatan (precision medicine). selain itu, sains juga berperan dalam pengembangan obat dan vaksin. Ilmu kimia dan biologi medik berperan dalam meneliti serta menciptakan terapi baru yang efektif, termasuk penanganan penyakit kronis, kanker, dan virus baru, seperti COVID-19.

Teknologi medis hasil sains mutakhir juga sangat bermanfaat, terutama dalam penggunaan fisika medik dan robotika membuat prosedur bedah menjadi kurang invasif, lebih aman, nyaman dan efisien. Sains juga berperan dalam proses pencegahan dan manajemen kesehatan melalui analisis data epidemiologi untuk memahami penyebaran penyakit dan memanfaatkan perangkat yang tersedia (wearable devices) untuk deteksi dini pasien secara real-time. Bahkan sains juga berperan pada efisiensi layanan kesehatan, karena sains dapat mengolah data dan mengoptimalkan operasional rumah sakit, mulai dari manajemen logistik obat hingga meminimalkan kesalahan diagnosis.

Momentum Hari Kesehatan Dunia 2026 mengingatkan semua orang di seluruh dunia untuk mengandalkan ilmu pengetahuan (sains). Sains mampu mengubah pendekatan kesehatan dari sekadar pengobatan menjadi pencegahan yang proaktif, serta meningkatkan kualitas hidup pasien melalui inovasi berkelanjutan.

Apakah kita sudah bijak?

Sekian

Yogyakarta, 25 Maret 2026

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM.

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?