Categories
anak dokter Healthy Life

2025 Gula dan Gigi Anak

GULA  DAN  GIGI  ANAK

fx. wikan indrarto*)

Tulisan ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 28 September 2025, halaman 8 kolom HUSADA dengan judul : Karies Gigi : Masalah Kesehatan Utama Dunia.

Karies gigi (kerusakan gigi atau gigi berlubang) adalah penyakit tidak menular (PTM) yang paling umum di seluruh dunia, yang memengaruhi 2,5 miliar orang. Meskipun karies gigi dapat dicegah, penyakit ini menimbulkan beban kesehatan yang besar di banyak negara dan memengaruhi banyak orang sepanjang hidup mereka, menyebabkan rasa sakit, ketidaknyamanan, kesulitan makan dan tidur, kehilangan gigi, dan penurunan kualitas hidup. Apa yang mencemaskan?

Karies gigi merupakan masalah kesehatan masyarakat utama di dunia, prevalen sepanjang hidup, dan memengaruhi semua gigi, baik permanen maupun gigi sulung (pertama). Diperkirakan terdapat 2 miliar orang dengan gigi permanen yang karies dan 510 juta anak dengan gigi sulung yang karies. Karies gigi yang parah dapat menyebabkan kehilangan gigi dan mengganggu kualitas hidup. Konsekuensi dari karies gigi yang tidak dirawat meliputi gejala fisik seperti nyeri, ketidaknyamanan, atau infeksi sistemik kronis, keterbatasan fungsional seperti kesulitan makan, berbicara, bernapas, atau tidur, dan dampak buruk pada kesejahteraan emosional, mental, dan sosial.

Di lingkungan berpenghasilan rendah, sebagian besar karies gigi tidak dirawat. Gigi anak yang terkena karies sering langsung dicabut ketika menyebabkan nyeri atau infeksi. Apalagi, pencegahan dan perawatan karies gigi pada anak biasanya tidak termasuk dalam paket jaminan kesehatan nasional. Hal ini sering menyebabkan biaya yang sangat besar dan beban keuangan yang signifikan bagi keluarga dan masyarakat. Total pengeluaran langsung untuk penyakit mulut di antara 194 Negara Anggota WHO mencapai US$ 387 miliar, atau rata-rata global sekitar US$ 50 per kapita pada tahun 2022. Angka ini mewakili sekitar 4,8% dari pengeluaran kesehatan langsung global. Sementara itu, kerugian produktivitas akibat penyakit mulut diperkirakan sekitar US$ 42 per kapita, dengan total sekitar US$ 323 miliar secara global.

Terdapat hubungan yang jelas antara konsumsi gula dan karies gigi pada anak. Karies gigi terjadi ketika plak terbentuk di permukaan gigi dan mengubah gula bebas yang terkandung dalam makanan dan minuman, menjadi partikel asam yang merusak gigi. Gula bebas  adalah semua gula yang ditambahkan ke dalam makanan dan minuman oleh produsen, juru masak, atau konsumen. Selain itu, juga gula yang secara alami terdapat dalam madu, sirup, dan jus buah. Asupan gula bebas yang tinggi secara terus-menerus, paparan fluoride yang tidak memadai, dan kurangnya pembersihan plak saat menyikat gigi, apalagi tidak  menggunakan pasta gigi berfluoride dengan konsentrasi 1.000 ppm, dapat memudahkan terjadinya karies gigi pada anak.

Strategi yang diterapkan secara luas untuk mengurangi konsumsi gula bebas, merupakan pendekatan kesehatan masyarakat yang penting, untuk menekan beban karies gigi. Intervensi tersebut meliputi pertama, pelabelan nutrisi. Pelabelan di bagian depan kemasan makanan atau minuman untuk menginformasikan tentang kandungan gula, sebaiknya merupakan pernyataan wajib oleh produsen. Kedua, batas atau target reformulasi sebaiknya tegas, untuk mengurangi kandungan gula dalam makanan dan minuman kemasan. Ketiga, kebijakan pengadaan dan layanan pangan bagi publik. Ini untuk mengurangi promosi makanan dan minuman tinggi gula. Kebijakan ini juga untuk melindungi anak dari dampak buruk pemasaran makanan dan minuman tinggi gula. Dan keempat, pajak untuk minuman manis dan gula atau makanan tinggi gula.

Banyak penyakit mulut, termasuk karies gigi, dapat dicegah dan diobati sejak dini dengan intervensi yang hemat biaya. Mengintegrasikan serangkaian layanan kesehatan mulut esensial ke dalam paket manfaat jaminan kesehatan nasional menggunakan pendekatan layanan kesehatan masyarakat, diprediksi akan berdampak signifikan dalam mengurangi beban karies gigi. Apalagi dilengkapi dengan meningkatkan ketersediaan dan aksesibilitas terhadap layanan kesehatan gigi anak yang berkualitas. Intervensi tersebut mencakup penggunaan pasta gigi berfluoride, fluoride topikal, dan teknik restoratif sederhana, sebagai bagian dari layanan kesehatan mulut komprehensif yang berpusat pada pasien anak.

Perlu diingat bahwa PTM merupakan penyebab utama kematian dan bertanggung jawab atas 38 juta (68%) dari 56 juta kematian dunia pada tahun 2012. Karies gigi merupakan PTM yang paling umum secara global. Konsumsi gula bebas dalam makanan dan minuman merupakan faktor risiko paling umum untuk karies gigi. WHO merekomendasikan agar anak di bawah usia 2 tahun tidak mengonsumsi minuman manis apapun dan pengurangan asupan gula bebas sepanjang hidup (rekomendasi kuat). Pada orang dewasa dan anak, WHO merekomendasikan pengurangan asupan gula bebas hingga kurang dari 10% dari total asupan energi (rekomendasi kuat). WHO menyarankan pengurangan lebih lanjut asupan gula bebas hingga di bawah 5% dari total asupan energi (rekomendasi bersyarat). Selain itu, WHO juga merekomendasikan penerapan paket kebijakan hemat biaya untuk pola makan sehat, termasuk pajak minuman manis sebagai langkah kebijakan fiskal untuk mengurangi konsumsi gula.

Apakah kita sudah bertindak bijak?

Sekian

Yogyakarta, 23 Agustus 2025

*) Dokter spesialis anak RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Dekan FK UAJY, WA : 081227280161

Categories
anak dokter vaksinasi

KLB CAMPAK  LAGI

KLB Campak Lagi

fx. wikan indrarto*)

Catatan : tulisan ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 14 September 2025, halaman 8, kolom HUSADA dengan judul Campak : Penyakit serius sangat menular.

Pemerintahan Provinsi Jawa Timur pada Kamis, 21 Agustus 2025 mencatat kasus suspek campak (gabagen, morbili atau measles) telah mencapai 2.035 kasus dan 17 orang meninggal dunia di Kabupaten Sumenep, Madura. Kasus campak ini tersebar di 26  kecamatan. Penyebaran campak di Sumenep ini kemudian ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Apa yang mencemaskan?

Meskipun vaksin campak yang aman dan hemat biaya tersedia, tetapi sejak tahun 2023 masih ada 110.000 kematian akibat campak secara global, sebagian besar pada anak balita. Pada hal vaksinasi campak telah mengakibatkan penurunan 80% kematian akibat campak pada rentang tahun 2000 sampai 2023 di seluruh dunia. Pada tahun 2023, sekitar 85% bayi di dunia telah menerima satu dosis vaksin campak sebelum ulang tahun pertama mereka, melalui layanan kesehatan rutin yang naik dari 72% pada tahun 2005. Selama 2005-2023, vaksinasi campak mencegah sekitar 21,1 juta kematian, sehingga menjadikan vaksin campak adalah salah satu yang terbaik dari barang medis yang dibeli, dalam program kesehatan masyarakat.

Campak adalah penyakit serius yang sangat menular yang disebabkan oleh virus. Sebelum ada vaksin campak pada tahun 1963 dan pemberian vaksinasi yang luas, epidemi besar terjadi kira-kira setiap 2-3 tahun di seluruh dunia dan campak menyebabkan sekitar 2,6 juta kematian setiap tahun. Campak disebabkan oleh infeksi virus dalam keluarga paramyxovirus dan biasanya ditularkan melalui kontak langsung antar anak dan melalui udara. Virus menginfeksi saluran pernapasan, kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Campak adalah penyakit pada manusia dan tidak ada data bahwa terjadi pada hewan.

Sebagian besar kematian terkait campak disebabkan oleh komplikasi yang terkait dengan penyakit ini. Komplikasi serius lebih sering terjadi pada anak balita atau orang dewasa di atas usia 30 tahun. Komplikasi campak yang paling serius meliputi kebutaan, ensefalitis (infeksi otak), diare dan dehidrasi berat, infeksi telinga, atau saluran pernapasan bawah yang parah, seperti pneumonia. Campak parah lebih mungkin terjadi pada anak yang kurang gizi, terutama kekurangan vitamin A, atau yang sistem kekebalannya telah dilemahkan oleh HIV / AIDS atau penyakit lainnya.

Campak adalah salah satu penyakit paling menular di dunia. Penyakit ini menyebar melalui batuk dan bersin, kontak pribadi yang dekat atau kontak langsung dengan sekresi hidung atau tenggorokan yang terinfeksi. Virus tetap aktif dan menular di udara atau di permukaan benda yang terinfeksi hingga 2 jam. Campak dapat ditularkan oleh orang yang terinfeksi dari 4 hari sebelum timbulnya ruam kulit, hingga 4 hari setelah ruam kulit menjadi nyata. Wabah campak dapat menyebabkan epidemi yang menyebabkan banyak kematian, terutama pada anak balita yang kekurangan gizi. Di negara-negara di mana campak sebagian besar telah dieliminasi, kasus yang diimpor dari negara lain tetap menjadi sumber infeksi yang sulit dikendalikan.

Tidak ada pengobatan antivirus khusus untuk virus campak. Komplikasi parah dari campak dapat dikurangi, melalui perawatan suportif yang memastikan nutrisi yang baik, asupan cairan yang cukup, dan pengelolaan dehidrasi dengan cairan rehidrasi oral yang direkomendasikan WHO. Cairan rehidrasi ini menggantikan cairan tubuh dan elemen penting lainnya, yang hilang karena diare atau muntah. Antibiotik harus diresepkan untuk mengobati infeksi bakteri pada mata, telinga, dan paru-paru atau pneumonia.

Pada tahun 2023, sekitar 85% anak di dunia telah menerima 1 dosis vaksin campak pada ulang tahun pertama mereka melalui layanan kesehatan rutin, yang naik dari 72% dibandingkan pada tahun 2020. Dua dosis vaksin campak direkomendasikan untuk memastikan kekebalan dan mencegah wabah, karena sekitar 15% anak yang divaksinasi gagal mengembangkan kekebalan dari dosis pertama. Pada tahun 2023, sekitar 67% anak menerima dosis kedua vaksin campak. Dari perkiraan 20,8 juta bayi yang tidak divaksinasi dengan setidaknya satu dosis vaksin campak melalui imunisasi rutin sejak tahun 2023, sekitar 8,1 juta bayi berada di 3 negara, yaitu India, Nigeria dan Pakistan.

Indonesia termasuk 10 negara dengan jumlah kasus campak terbesar di dunia. Kementerian Kesehatan RI mencatat jumlah kasus campak di Indonesia sangat banyak dan cenderung meningkat, dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Adapun jumlah kasus suspek campak yang dilaporkan antara 2020 sampai dengan Juli 2023 sebanyak 57.056 kasus, di mana 8.964 di antaranya positif campak. Cakupan imunisasi campak di Pulau Jawa pada 2023 telah mencapai 100 persen, sementara di luar Pulau Jawa (termasuk Madura) hanya 72,70 persen, bahkan 71 kabupaten dan kota di luar Jawa hanya mencapai di bawah 50 persen, dengan propinsi paling rendah adalah Provinsi Aceh. Dengan target yang dicanangkan adalah 95 persen, maka saat cakupan imunisasi campak gagal ditingkatkan, Jawa Timur dan Indonesia harus bersiap-siap menghadapi KLB Campak.

Pada KLB campak kali ini tindakan segera adalah mengirimkan 9.825 botol vaksin campak atau MR (Measles and Rubella) dari Kementerian Kesehatan ke Dinas Kesehatan Sumenep, sebagai Outbreak Response Imunization atau ORI. Tak hanya itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur lalu memberikan on the job training (OJT) pembuatan kajian epidemiologi KLB PD3I ke seluruh puskesmas di Kabupaten Sumenep sebagai upaya penanggulangan. Juga digelar pertemuan koordinasi lintas batas Madura Raya dan Surabaya Raya, dengan output berupa dokumen kesepakatan penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I). Ini mengingatkan kita akan pentingnya imunisasi campak 2 dosis (MR dan MMR), untuk semua anak Indonesia di sekitar kita.

Sudahkah kita bertindak bijak?

Sekian

Yogyakarta, 23 Agustus 2025

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Dekan FK UAJY, WA : 081227280161

Categories
anak dokter

2025 Hari Kemanusiaan Dunia

HARI  KEMANUSIAAN  DUNIA

fx. wikan indrarto*)

Tulisan ini telah dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 6 September 2025, halaman 8 kolom HUSADA

Setiap tahun pada tanggal 19 Agustus, dirayakan sebagai Hari Kemanusiaan Dunia (World Humanitarian Day). Apa yang perlu disadari?

Tanggal 19 Agustus telah dipilih oleh Majelis Umum PBB pada tahun 2008, untuk memperingati karya gemilang para relawan kemanusiaan. Alasannya adalah karena pada tanggal tersebut, 22 orang karyawan PBB, termasuk Utusan Khusus Sekjen PBB Tuan Sergio Vieira de Mello, tewas dalam serangan bom bunuh diri pada tahun 2003 di Baghdad, Irak.

Relawan kemanusiaan sering kali dilupakan jasanya. Pada hal mereka tidak hanya bekerja di tempat paling buruk di dunia, di suhu lingkungan yang ekstrim, seperti panasnya lahar gunung berapi, dinginnya salju, ataupun keringnya udara, tetapi juga terancam oleh penyakit menular, peluru nyasar atau ancaman ganasnya medan di tempat-tempat berbahaya. Di sanalah mereka mempertaruhkan hidup mereka untuk membantu kaum miskin, pengungsi korban perang atau bencana alam, tanpa memandang apa pun ras, kebangsaan, agama atau aliran politiknya, dengan netralitas yang total.

Antara Januari 2024 dan Agustus 2025, terjadi 2.450 kali serangan bersenjata terhadap layanan kesehatan di 21 negara. Serangan ini mengakibatkan 2.060 kematian dan 2.395 cedera pada dokter, tenaga kesehatan dan pasien. Dalam periode yang sama, 1.392 serangan berdampak pada dokter dan tenaga kesehatan melalui pembunuhan, cedera, penculikan, penangkapan, dan/atau intimidasi.

Pada tahun 2025 saja, serangan bersenjata terhadap layanan kesehatan terjadi di Ukraina (310 serangan), Palestina termasuk Yerusalem Timur (304), dan Sudan (38), sehingga secara total mengakibatkan 933 kematian dokter, tenaga kesehatan dan pasien. Juga di Republik Demokratik Kongo, Haiti, dan Myanmar (total 71 serangan) yang berdampak pada fasilitas kesehatan, rantai pasokan medis, dokter, tenaga kesehatan, dan pasien.

Sampai saat ini tim medis WHO terus melayani sesama manusia dalam keadaan darurat paling kompleks di dunia. Di 27 negara, termasuk Palestina, Sudan, dan Ukraina, tim ini bekerja sama dengan lebih dari 900 mitra lokal untuk memberikan layanan medis. Sekitar dua pertiga mitra adalah organisasi relawan lokal dan nasional yang melayani di garis depan dan menghadapi risiko terbesar. Antara tahun 2000 dan 2023, 86% dari seluruh korban relawan kemanusiaan adalah staf lokal dan 96% dari mereka yang tewas, terluka, atau diculik antara Januari dan Oktober 2024 juga adalah staf lokal.

Sementara itu, telah terjadi meningkatnya politisasi bantuan medis. Layanan kesehatan tidak lagi diperlakukan sebagai sesuatu yang netral, dan aksi kemanusiaan semakin dimanipulasi atau dihambat. Antara Juni dan November 2024, akses kemanusiaan memburuk di 20% dari 93 negara, sementara hampir setengahnya terus menghadapi kendala yang tinggi hingga ekstrem. Di Burkina Faso, Haiti, Myanmar, Palestina, dan Sudan, rintangan birokrasi, campur tangan, atau pembatasan akses yang ekstrem telah memaksa penangguhan dan pengurangan operasi dan pasokan, meninggalkan jutaan orang tanpa perawatan kesehatan yang menyelamatkan jiwa. Praktik-praktik semacam itu bertentangan dengan kewajiban kemanusiaan fundamental untuk memastikan sentralitas perlindungan, keselamatan, dan martabat penduduk, menjadikannya respons yang sangat cacat.

Komunitas internasional telah bersuara dengan mengutuk serangan bersenjata terhadap tim kesehatan. Mereka telah menegaskan komitmennya untuk melindungi para dokter dan pekerja kemanusiaan. Namun demikian, pernyataan dan kutukan saja tidak dapat melindungi ambulans dari serangan udara, dokter dari peluru, atau konvoi kemanusiaan dari pesawat tanpa awak yang salah sasaran.

Kini saatnya diserukan kepada komunitas internasional secara luas untuk bergerak dan mengambil tindakan yang berkelanjutan, dengan menegakkan hukum humaniter internasional dan melindungi layanan kesehatan. Pertama, menegakkan hukum humaniter internasional dan melindungi layanan kesehatan dalam semua konteks memastikan akuntabilitas bagi mereka yang bertanggung jawab atas serangan terhadap layanan kesehatan. Kedua, menjamin pendanaan dan dukungan berkelanjutan untuk respons, koordinasi, dan aksi kemanusiaan Klaster Kesehatan yang lebih luas. Ketiga, memberdayakan responden garis depan dengan sumber daya yang langsung, fleksibel, dan dapat diprediksi

menolak politisasi, sekuritisasi, dan privatisasi bantuan kemanusiaan; dan keempat, menegaskan bahwa layanan kesehatan harus tetap netral, terlindungi, dan mudah diakses.

Hari Kemanusiaan Dunia 19 Agustus dirancang untuk memberikan penghormatan yang setinggi-tingginya, bagi para dokter, petugas kesehatan dan relawan kemanusiaan yang telah gugur, diculik atau terluka saat mereka bertugas. Selain itu, juga memotivasi panggilan baru untuk relawan penerus. Pada prinsipnya, hari tersebut adalah momentum perayaan manusia membantu sesamanya (people helping people).

Sudahkah kita secara pribadi ataupun berkelompok, berbuat sesuatu untuk sesama kita?

Sekian

Yogyakarta, 20 Agustus 2025

*) dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM, pernah menjadi relawan kesehatan saat bencana erupsi Gunung Merapi di Yogyakarta. WA: 081227280161,

Categories
anak bayi prematur dokter Pendukung ASI

2025 Pekan Menyusui Dunia

PEKAN  MENYUSUI  DUNIA  2025

fx. wikan indrarto

tulisan ini telah dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 31 Agustus 2025, halaman 8 kolom Husada, dengan judul : menyusui bayi memberikan masa depan penuh harapan.

Pekan Menyusui Dunia (World Breastfeeding Week) diperingati setiap tahun pada minggu pertama bulan Agustus. Ini adalah saatnya untuk mengingatkan kita semua bahwa menyusui bayi adalah fondasi yang kuat bagi kesehatan, perkembangan, dan kesetaraan seumur hidup. Apa yang perlu dilakukan?

Pekan Menyusui Sedunia menyoroti secara khusus dukungan berkelanjutan yang dibutuhkan ibu dan bayi dari sistem layanan kesehatan selama perjalanan menyusui mereka. Hal ini berarti memastikan setiap ibu memiliki akses terhadap dukungan dan informasi yang dibutuhkannya untuk menyusui selama ia menginginkannya. Termasuk ketersediaan konselor laktasi atau menyusui yang terampil, menegakkan Kode Internasional Pemasaran Pengganti ASI, dan menciptakan lingkungan, baik di rumah, di layanan kesehatan, dan di tempat kerja, yang mendukung dan memberdayakan ibu menyusui.

Aksi ini bukan hanya tentang melakukan hal yang benar saja, tetapi juga tentang tindakan ekonomi yang cerdas. Karena menyusui bayi memberikan masa depan yang penuh harapan, tidak hanya bagi anak, tetapi juga bagi masyarakat. Ini mengurangi biaya perawatan kesehatan, meningkatkan perkembangan kognitif, memperkuat ekonomi, dan menyiapkan anak-anak dengan awal yang sehat.

Tema tahun 2025 : Berinvestasi dalam menyusui, berinvestasi untuk masa depan (Invest in breastfeeding, invest in the future). Berinvestasi dalam dukungan pemberian ASI merupakan salah satu metode paling ampuh yang dimiliki para pembuat kebijakan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, memperkuat perekonomian, dan menjamin kesejahteraan generasi mendatang.

Menyusui melindungi kesehatan anak dan meningkatkan kelangsungan hidup, terutama di bulan-bulan pertama kehidupan. Selain nutrisi esensial, pemberian ASI eksklusif mampu menyediakan antibodi penting yang melindungi dari berbagai penyakit umum pada bayi seperti diare, pneumonia, dan infeksi berat (sepsis).

Selain itu, dampak pemberian ASI sebenarnya jauh melampaui masa bayi. Anak yang waktu bayi disusui, lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami kelebihan berat badan atau obesitas dan memiliki risiko lebih rendah terkena diabetes tipe 2 dan kondisi kronis lainnya. Para ibu juga mendapatkan manfaat, misalnya menyusui mengurangi risiko perdarahan pascapersalinan, kanker payudara dan ovarium, penyakit jantung, dan diabetes tipe 2.

Dengan investasi yang tepat, banyak negara dapat meningkatkan tingkat pemberian ASI eksklusif secara signifikan, dibuktikan dengan peningkatan global selama dekade terakhir. Sekitar 10% lebih banyak bayi secara global, saat ini yang disusui secara eksklusif sampai pada usia 6 bulan dibandingkan dengan tahun 2013, dengan beberapa negara mengalami peningkatan sebesar 20% selama periode yang sama.

Ada beberapa tindakan kunci bagi pemerintah untuk berinvestasi untuk masa depan. Pertama, alokasikan dana khusus untuk dukungan menyusui, termasuk dengan memastikan semua ibu memiliki akses ke dukungan menyusui oleh konselor yang terampil di rumah sakit dan saat mereka membawa bayi pulang, di samping perlindungan maternitas yang kuat seperti cuti berbayar setelah melahirkan.

Kedua, terapkan Kode WHO dengan mengadopsi sepenuhnya dan tegakkan Kode Internasional Pemasaran Pengganti ASI, untuk menjaga kesehatan masyarakat. Ketiga, pimpinan memberi contoh. Perjuangkan investasi dalam menyusui dalam strategi kesehatan nasional dan pastikan akuntabilitas melalui undang-undang, regulasi, dan pemantauan dampak program menyusui. Keempat, utamakan kesehatan bayi di atas lainnya. Tetapkan dan tegakkan kebijakan yang melindungi menyusui dan mencegah pengaruh komersial dari iklan pemberian makanan bayi.

Juga ada tindakan penting bagi sektor kesehatan. Pertama, dukung setiap langkah perjalanan menyusui. Berikan dukungan menyusui oleh konselor yang terampil dan penuh kasih sayang sejak kehamilan hingga anak usia dini, pastikan para ibu memiliki akses berkelanjutan ke layanan konseling menyusui sejak kehamilan hingga usia dini, termasuk memberikan dukungan khusus pada saat-saat transisi. Kedua, latih dan berdayakan tenaga kesehatan. Dengan memastikan semua tenaga kesehatan yang menangani kesehatan ibu dan anak, dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan menyusui terkini. Ketiga, ciptakan sistem kesehatan yang ramah menyusui. Jadikan semua rumah sakit dan klinik sebagai ruang yang aman dan suportif untuk ibu menyusui, melalui Inisiatif Rumah Sakit Ramah Bayi dan seterusnya.

Selain itu, ada beberapa tindakan kunci untuk masyarakat umum. Pertama, kita semua dapat berperan untuk mendukung para ibu. Keluarga, teman, perusahaan, dan masyarakat, semuanya berperan dalam mendukung ibu menyusui dan menciptakan lingkungan yang suportif bagi mereka untuk menyusui kapan saja, di mana saja. Kedua, pahami faktanya. Menyusui adalah cara alami dan ampuh untuk memberi bayi awal terbaik dalam hidup—memperkuat sistem kekebalan tubuh mereka, membantu mereka melawan penyakit – sekarang dan di masa mendatang – serta memberikan kenyamanan dan nutrisi penting. Ketiga, ajukan dukungan untuk menyusui. Advokasikan kebijakan dan lingkungan yang membuat menyusui lebih mudah dan lebih mudah diakses oleh semua keluarga.

Apakah kita sudah bertindak bijak dengan mendukung setiap ibu menyusui di sekitar kita?

Sekian

Yogyakarta, 4 Agustus 2025

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?