Categories
Healthy Life Jalan-jalan sejarah

2026 Ngrabuk Nyowo ke Semarang

Bis Bimo sudah siap berangkat di samping Villa Selatan Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta

NGRABUK  NYOWO

fx. wikan indrarto dan b. sari prasetyati

Asrama Mahasiswa Realino adalah asrama bersejarah di Yogyakarta yang didirikan oleh para pastor dari ordo Serikat Jesus (Yesuit) pada tahun 1957. Terkenal sebagai “percobaan kecil tentang Indonesia”, asrama ini legendaris karena menampung mahasiswa dari berbagai suku, agama, ras, dan kampus di Yogyakarta (UGM, IKIP Negeri Yogyakarta (UNY), IKIP Sanata Dharma (USD), Universitas Atma Jaya Yogyakarta dan UPN Veteran) untuk hidup bersama dan memupuk toleransi. Lokasi asrama berlantai 2 berkapasitas 150 mahasiswa ini berada di Jl. Gejayan, Mrican Yogyakarta dan ditutup tahun 1989, yang kini sebagian besar telah dialihfungsikan menjadi area kampus Universitas Sanata Dharma (USD).

Dapat juga dilihat pada :

https://www.instagram.com/p/DbR8sAZIP8g/?igsh=MWphN2x6ZHNtZzdoZw==

Para warga asrama tersebut saat ini tersebar di seluruh dunia dan tergabung dalam Forsino (Forum Komunikasi Realino). Forsino Cabang Yogyakarta secara rutin mengadakan acara ‘Ngrabuk Nyowo’. Secara harfiah dalam bahasa Jawa berarti “memupuk jiwa” atau “memberi nutrisi pada kehidupan”. Frasa ini bersifat kiasan (metafora) untuk menggambarkan usaha atau aktivitas yang membuat batin pesertanya tetap hidup, sehat, penuh harapan, dan terus berkembang. Tujuannya adalah menjaga mental atau harapan agar tetap tumbuh meski sedang menghadapi masa-masa sulit. Selain itu, juga bersilaturahmi untuk menjalin hubungan baik antar sesama manusia, yang dipercaya sebagai rabuk nyowo (pemupuk jiwa) karena membawa kebahagiaan dan kepedulian.

Setelah berdoa dan menyanyikan lagu MARS REALINO, para peserta bersiap berangkat ke Semarang dari halaman Audiorium Driyarkara USD yang tinggi menjulang

Ngrabuk Nyowo Forsino Yogyakarta seri ke 18 diisi dengan piknik bersama naik bis. Pada Minggu, 26 Juli 2026 pagi hari, kami semua berkumpul di sekitar bekas Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta. Setelah berdoa bersama dan menyanyikan mars Realino dengan penuh semangat, kami naik bis Pariwisata Bimo.

Suasana gembira di dalam bis Bimo, sambil mendengarkan suara merdu Prof. Yoyong Arfiadi SeV 76 dan ibu Astuti, dalam karaoke meriah menjelang masuk Ambarawa.

Bimo Transport dimulai pada tahun 1986, dan didirikan oleh dua orang, yaitu Subagyo Hadi Siswoyo (Kepala Staf TNI Angkatan Darat periode 1998–1999) dan Marsudiono. Subagyo HS menetapkan 12 Juni, hari kelahirannya, sebagai hari ulang tahun perusahaan yang awalnya merupakan usaha angkutan antarkota dalam provinsi (AKDP) yang melayani rute Yogyakarta–Wonosari. Pada tahun 2000 layanan AKDP diakhiri dan Bimo Transport berubah sebagai perusahaan yang sepenuhnya bergerak di bidang transportasi pariwisata.

Per 2024, PO Bimo mengoperasikan 22 bus, dengan rincian 20 bus besar dan 2 bus sedang. Ciri khas tampilan bus adalah gambar wayang Bima, karakter Pandawa dalam wiracarita Mahabharata, yang berwarna biru, sesuai dengan karakter Mahabharata tersebut. Selain itu, bintang empat berwarna emas di atas tanda huruf “BIMO” yang berwarna merah, melambangkan kepangkatan TNI terakhir yang dijabat oleh Subagyo HS, yakni Jenderal TNI (Purn).

Sepanjang jalan kami selalu riang, penuh tawa dan bahagia. Apalagi Bapak Agus ‘Dodiet’ Haryanto memberikan berbagai pertanyaan yang sangat bervariasi isinya dalam quis berhadiah. Setelah melibas sebagain Tol Trans Jawa, kami mencapai Benteng Willem I atau lebih dikenal dengan nama Benteng Pendem Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Benteng yang dibangun pada tahun 1834, ini terletak di dekat Museum Kereta Api, atau di belakang Rumah Sakit Umum Daerah dr. Gunawan Mangunkusumo, dan berada di kompleks Lembaga Pemasyarakatan Kelas II Ambarawa. Benteng ini pernah digunakan sebagai lokasi pengambilan gambar untuk film Soekarno yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo.

Bergaya bersama di depan gerbang Benteng Willem I (Benteng Pendem) Ambarawa yang putih dan tinggi

Gerbang Benteng Willem I (Benteng Pendem) Ambarawa yang gagah

Lengkung berulang adalah interior khas Benteng Willem I (Benteng Pendem) Ambarawa yang artistik.

Disebut pendem atau pendhem (bahasa Jawa) karena benteng ini berada di bawah tanah atau terkubur, sebagai sebuah siasat perang. Pada tahun 1840-an di bawah kekuasaan pemerintah kolonial Hindia Belanda di Jawa, Ambarawa merupakan titik sumbu strategis antara Semarang dan Surakarta. Sejak awal abad-18, VOC membangun benteng benteng di sepanjang jalur Semarang – Oenarang (sekarang Ungaran) – Salatiga – Surakarta (Solo). Rancangan ini dimaksudkan untuk pengembangan hubungan dengan Kesultanan Mataram. Kamp-kamp militer juga dibangun di berbagai kota yang dilalui, tak terkecuali Ambarawa. Pada masa kekuasaan Kolonel Hoorn, tahun 1827-1830, sempat ada barak militer dan penyimpanan logistik militer, dan pada tahun 1834 dibangunlah sebuah benteng modern di Ambarawa yang kemudian diberi nama Benteng Willem I pada tahun 1853. Pada tahun 1853 sampai tahun 1927 digunakan sebagai barak militer Hindia Belanda atau KNIL yang terhubung ke Magelang, Yogyakarta, dan Semarang melalui jalur kereta api.

Bergaya di bawah lengkung berulang khas Benteng Willem I (Benteng Pendem) Ambarawa yang tetap terjaga indah.

Beda sisi Benteng Willem I (Benteng Pendem) Ambarawa yang putih telah direnovasi dan merah bata yang asli

Pada umumnya benteng dibangun dengan prinsp defensif dan kuat yang dimaksudkan untuk pertahanan dari serangan musuh. Juga dibangun parit mengelilingi benteng untuk memaksimalkan pertahanan.  Namun Benteng Willem I ini ternyata memiliki desain yang berbeda. Dengan banyak jendela, benteng ini bukan dirancang untuk pertahanan, tetapi untuk barak militer dan penyimpanan logistik militer. Di benteng ini juga tidak dilengkapi bangunan sebagai tameng. Dan tidak ada lubang di puncak dinding, seperti halnya pada benteng peninggalan Portugis, yang dirancang untuk memasang meriam.

Adik bungsu di asrama, yaitu Bapak E. Ponco Yulianto SeV 89 beserta istri yang tinggal di Ungaran, bergabung bersama kami di Benteng Pendhem Ambarawa. Sayang sekali, karena kesibukan keduanya, akhirnya pertemuan kami hanya sampai di bis Bimo, tidak ikut lanjut ke Semarang.

Mas Ponco Yulianto SeV 89 yang menyambut kami di Benteng Willem I (Benteng Pendem) Ambarawa yang berpamitan karena tidak dapat ikut lanjut ke Semarang

Selanjutnya kami mengunjungi Kelenteng Kuno Sam Poo Kong, yang secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai “Gua Tiga Perlindungan”,  di Kota Semarang. Istilah “tiga perlindungan” merujuk pada doktrin Buddhisme tentang berlindung pada Triratna (bahasa Sanskerta) atau Tiratana (bahasa Pali), yaitu Buddha, Dharma, dan Sangha. Berdasarkan pemahaman tersebut, wihara atau kelenteng Triratna yang terdapat di Asia Tenggara kerap dikaitkan dengan tokoh Cheng Ho dan oleh karena itu dianggap sebagai klenteng Cheng Ho.

Kelenteng Kuno Sam Poo Kong Semarang yang ikonik bergaya Tiongkok

Kelenteng utama Sam Poo Kong Semarang yang ikonik merah menyala bergaya Tiongkok

Laksamana Zheng He yang menginspirasi pendirian tempat ibadah umat Buddha Tionghoa di Semarang

Laksamana Zheng He atau Cheng Ho adalah tokoh besar yang menginspirasi pendirian tempat ibadah umat Buddha Tionghoa di Semarang ini. Zheng He lahir di Provinsi Yunnan pada 1371 dari suku Hui, salah satu suku minoritas di Tiongkok. Kebanyakan masyarakat Hui beragama Islam, dan menggunakan nama marga Ma, bentuk sinisisasi dari Muhammad. Namun Zheng He mendalami dharma ajaran Buddha dari seorang biksu bernama Daoyan, yang juga memimpin pembacaan Bodhisattva Sila untuk Zheng He.

Pada 1414 Zheng He menyalin Vajracchedika Prajna Paramita Sutra (Jin Gan Jing), Guan Yin Sutra (Guanyin Jing), Amithaba Sutra (Mituo Jing), Marici Bodhisattva Sutra (Molizhitian Jing), Prajnaparamitahrdaya (Xin Jing), Surangama Sutra (Leng Yan Jing), Mahakaruna Dharani (Da Bei Zhou), Sarvadurgatiparisodhana Tantra (Zun Sheng Zhou), dan Mantra Sataksara (Bai Zi Shen Zhou). Setiap mendapat perintah melanglang buana, senantiasa memperoleh karunia dari San Bao. Arti kata San Bao adalah tiga mustika atau tiga permata yang merujuk pada Tri Ratna yaitu Buddha, Dharma, dan Sangha. Dalam Bahasa Indonesia menjadi Sam Poo dan nama akhirnya Sam Poo Kong.

Bangunan yang sekarang menjadi tempat ibadah ini diyakini sebagai bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama Laksamana Zheng He/Cheng Ho, yang juga dikenal dengan nama Sam Poo. Tidak semua anak buah kapal beragama Islam. Kompleks Sam Poo Kong berada di daerah Simongan, sebelah barat daya Kota Semarang. Tanda yang menunjukan sebagai bekas petilasan yang berciri keislaman dengan ditemukannya tulisan berbunyi “Marilah kita mengheningkan cipta dengan mendengarkan bacaan Al Qur’an”.

Kelenteng ini disebut Gedung Batu karena bentuknya merupakan gua batu besar yang berada di sebuah bukit batu. Untuk mengenang Cheng Ho, masyarakat Indonesia keturunan Tionghoa beragama Buddha membangun sebuah kelenteng. Sekarang tempat ini dijadikan tempat peringatan dan pemujaan atau bersembahyang serta tempat untuk berziarah. Untuk keperluan tersebut, di dalam gua batu itu diletakkan sebuah altar serta patung-patung Sam Po Tay Djien.

Di Indonesia banyak yang menganggap Laksamana Cheng Ho adalah seorang Muslim, meskipun tidak ditemukan bukti pendukung atas keyakinan tersebut, akan tetapi umat Buddha Tionghoa menempatkannya sebagai dewa. Proses pendewaan atau deifikasi terhadap tokoh-tokoh besar memang merupakan praktik umum dalam tradisi spiritual Tiongkok, yang terbawa dalam bentuk akulturasinya dengan agama Buddha ke wilayah Nusantara.

Berpanas bersama di depan kelenteng Kuno Sam Poo Kong Semarang

Selanjutnya kami bersiap makan siang di salah satu soto legendaris, yakni warung soto khas Semarang Pak Man. Pendirinya yaitu Bapak Sholeman, yang berjualan sejak tahun 1978. Soto Ayam Khas Semarang Pak Man terkenal kelezatannya sehingga selalu ramai dikunjungi pembeli. Seporsi soto ayam Pak Man berisi nasi, bihun, ayam suwir, taoge, irisan tomat, dan potongan daun bawang dengan bening yang rasanya gurih.

Soto Ayam Khas Semarang Pak Man yang kami kunjungi

Soto Ayam khas Semarang Pak Man mempunyai lima cabang dan kami mengunjungi di cabang Jalan Pamularsih Raya No. 32. Dilansir dari laman setneg.go.id, dalam kunjungannya ke Semarang, Presiden Jokowi dan Ibu Iriana menyempatkan diri mencicipi kuliner soto khas kota Semarang untuk santap paginya. Rumah Makan Soto Ayam Khas Semarang Pak Man menjadi pilihan Jokowi untuk sarapan pada hari Sabtu, 14 April 2018. Presiden Jokowi dan rombongan tiba di rumah makan tersebut pada pukul 07.50 WIB.

Kenyang menu soto Ayam Khas Semarang Pak Man di Jl. Pamulrasih

Mas Darmadi (bertopi) dan mas Antok SeV 82 yang tinggal di Semarang dan bergabung dengan kami

Selanjutnya kami menuju ke Lawang Sewu (Seribu Pintu), gedung megah yang sebelumnya merupakan Gedung Administrasi N.V. Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij adalah bekas bangunan perkantoran yang terletak di seberang Tugu Muda di Samarang. Bangunan ini berstatus sebagai aset PT. Kereta Api Indonesia (KAI). Hal ini terjadi karena merupakan hasil dari perebutan aset-aset NIS dan perusahaan kereta api lain oleh Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI) pada masa Perang Kemerdekaan. Saat ini bangunan tersebut dijadikan sebagai museum dan galeri sejarah perkeretaapian oleh Unit Pusat Pelestarian dan Desain Arsitektur dan kini dioperasikan KAI Wisata, anak perusahaan KAI yang bergerak di bidang pariwisata.

Bergaya setelah menyanyikan lagi MARS REALINO di tangga ke lantai 2 Lawangsewu Semarang

Kegagahan Lawangsewu Semarang dari sisi kanan gedung 1

Dari kiri : Fonali Lahagu 64, William dan Laras, Darmadi Tjandradjaja 82, F. Ronny Dwi Agus 79, Fx. Wikan Indrarto 84, Suyoto 75, Yoyong Arfiadi 78, Ibu Harlina Bobby, Ibu Agung, Ibu Maria Kok Sen, Vincentius Oe Kok Sen 84, Ibu Suyoto, Glenndonald A. Engko 78, Indah Ronny DA, A. Tristiyono Joko M 79, Ibu Merry Arinto, Ibu Sari Wikan, Ch. Agus Dodiet Haryanto 76, Ibu Tristiyono, Ibu Hastuti Edi Santosa, Ibu Titin Anggoro, Edi Santoso 80, Ibu Astuti Yoyong, Ibu Jonna Yoseph Pulo, Agung Sugihandono 80, Joseph Pulo 72, Y. Anggoro Triharyanto 84, Eddy Arianto 75, Wachid SC 79, Setiawan, Robertus 75, Eduardus Tandelilin 76, Ibu Nina Tandelilin

Lawang Sewu yang kami kunjungi diarsiteki oleh Cosman Citroen, dari firma yang dibentuk arsitek senior J. F. Klinkhamer dan B. J. Ouëndag. Bangunan ini dirancang dalam Gaya Hindia Baru, istilah yang diterima secara akademis untuk Rasionalisme Belanda di Hindia. Ini untuk mengintegrasikan preseden tradisional (klasisisme) dengan kemungkinan teknologi baru, yaitu gaya transisi antara Tradisionalis dan Modernis serta dipengaruhi oleh desain Berlage.

Keindahan interior Lawang Sewu Semarang yang diarsiteki oleh Cosman Citroen

Bertemu anak bungsu Larasati, dengan suaminya William, di Lawang Sewu Semarang, setelah mereka datang dari Jepara

Konstruksi dimulai pada tahun 1904 dan rampung pada tahun 1919. Setelah Jepang menduduki Hindia Belanda pada tahun 1942, tentara Jepang mengambil alih Lawang Sewu. Ruang bawah tanah gedung B diubah menjadi penjara dengan eksekusi mati dilakukan di dalamnya. Ketika Semarang direbut kembali oleh Belanda dalam pertempuran di Semarang pada Oktober 1945, pasukan Belanda menggunakan terowongan yang mengarah ke gedung A untuk menyelinap ke kota. Pertempuran terjadi dengan banyak pejuang Indonesia gugur. Lima pegawai yang bekerja di sana juga gugur.

Peserta Ngrabuk Nyowo lengkap berjejer di sudut Lawang Sewu Semarang

Setelah perang, tentara Indonesia mengambil alih kompleks. Bangunan tersebut kemudian dioperasikan oleh Djawatan Kereta Republik Indonesia (DKARI). Pada tahun 1992 bangunan ini ditetapkan sebagai cagar budaya.

Bergaya di depan bis Bimo dengan anak bungsu Larasati, dengan suaminya William, di Lawang Sewu Semarang

Mas Anggoro SeV 84 dan mbak Titin pamitan, karena akan menlanjutkan perjalanan pulang ke Batang di Stasiun Poncol Semarang.

Kunjungan kami ke Semarang diakhiri dengan menikmati Kota Lama Semarang (Belanda: Semarang Oude Stad) ini adalah suatu kawasan pusat perdagangan pada abad 19. Pada masa itu, untuk mengamankan penghuni dan wilayahnya, kawasan itu dibangun benteng, yang dinamai benteng Vijfhoek. Benteng ini hanya memiliki satu gerbang di sisi selatannya dan lima menara pengawas. Masing-masing menara diberi nama: Zeeland, Amsterdam, Utrecht, Raamsdonk dan Bunschoten.

Bergaya dengan anak bungsu Larasati, dengan suaminya William, di depan Gereja Blenduk, Semarang

Bergaya di depan gereja Blenduk Semarang

Untuk mempercepat jalur perhubungan antar ketiga pintu gerbang di benteng itu maka dibuat jalan-jalan perhubungan, dengan jalan utamanya dinamai Heerenstraat (Jl. Letjen Soeprapto). Salah satu lokasi pintu benteng yang ada sampai saat ini adalah Jembatan Berok (De Zuider Por). Kata Berok sendiri merupakan hasil pelafalan masyarakat pribumi yang kesulitan melafalkan kata Burg dalam bahasa Belanda.

Bergaya di depan MARBA di kawasan Kota Lama Semarang

Di sekitar Kota Lama dibangun kanal-kanal air yang keberadaannya masih bisa disaksikan hingga kini meski tidak terawat. Luas kawasan Kota Lama Semarang (Oude Stad) ini sekitar 31 hektare. Dilihat dari kondisi geografi, tampak bahwa kawasan ini terpisah dengan daerah sekitarnya, sehingga tampak seperti kota tersendiri dengan julukan “Little Netherland”.

Silau melawan cahaya matahari sore di kawasan Kota Tua Semarang

Bergaya di depan bangunan bekas bank di kawasan Kota Lama Semarang

Kawasan Kota Lama Semarang ini merupakan saksi bisu sejarah Indonesia masa kolonial Belanda lebih dari 2 abad, dan lokasinya berdampingan dengan kawasan ekonomi dan Stasiun Tawang. Di tempat ini ada sekitar 50 bangunan kuno yang masih berdiri dengan kukuh dan mempunyai sejarah Kolonialisme di Semarang. Secara umum karakter bangunan di wilayah ini mengikuti bangunan-bangunan yang ada di benua Eropa sekitar tahun 1700-an, dengan detail bangunan yang khas dan ornamen-ornamen yang identik dengan gaya Eropa. Seperti ukuran pintu dan jendela yang luar biasa besar, penggunaan kaca-kaca berwarna, bentuk atap yang unik, sampai adanya ruang bawah tanah.

Bergaya di depan semut merah di atas bangunan di kawasan Kota Lama Semarang

Pusat dari Kawasan Kota Lama Semarang terletak di Taman Srigunting, sebuah taman yang menjadi jantung dari kawasan tersebut. Di masa lalu, taman ini dikenal sebagai parade plein, lapangan yang sering digunakan untuk parade militer karena dekat dengan sebuah barak militer. Sebelum menjadi lapangan, taman ini berfungsi sebagai kerkhof atau pemakaman warga Eropa. Pada awal abad ke-19, kerkhof dipindahkan ke daerah pengapon.

Selanjutnya kami kembali masuk ke bis Pariwisata Bimo yang mengusung bodi buatan Karoseri Morodadi Prima Malang, Jawa Timur. Perintis usaha karoseri ini adalah Bapak Bambang Gunawan pada 1978. Morodadi bermakna kepercayaan, yaitu saat pelanggan datang, maka barang jadi sesuai keinginan. Ini sesuai cita-citanya untuk membangun rasa percaya antara pelanggan dan perusahaan. Logo Singa yang digunakan diambil dari simbol yang melambangkan Kerajaan Singosari yang melambangkan semangat tinggi dan etika kerja yang baik, untuk menghasilkan bodi bus yang kuat, kokoh, aman, dan nyaman.

Untuk kategori bis besar, perusahaan ini menggunakan beberapa sasis seperti Mercedez Benz OH 1518, 1521, dan 1526. Selain itu juga menerima sasis Hino R260 dan Hyundai Aero Space. Sementara itu, untuk gayanya panten menggunakan desain New Travego dan Patriot.

Bis Bimo buatan Karoseri Morodadi siap meluncur kembali

Morodadi Prima hingga kini telah mengantongi sejumlah sertifikat resmi dari Mercedez Benz no: BBA-002/12 kepada PT. Morodadi Prima untuk mengakui bahwa semua design, rekayasa dan process produksi bus dengan chasis OH 1626 telah memenuhi semua standard Quality Gate Assessment.

Makan malam di Tahu Baxo Ibu Pudji Ungaran, sebelum kembali ke Jogja

Dalam perjalanan kami kembali ke Yogyakarta, kami singgah di Tahu Baxo Ibu Pudji. Bisnis legendaris sejak tahun 1995 ini dirintis oleh sepasang suami istri, Pudjianto (67) dan istri tercinta, Sri Lestari (65). Mereka berdua merupakan pelopor dan pionir tahu bakso di Semarang. Dasar idenya adalah bahwa tahu adalah makanan sehari-hari dan bakso kesukaan semua kalangan dari anak-anak sampai orang tua. Jadi saat digabungkan menjadi satu makanan baru, didasari pemikiran dan harapan dapat disukai banyak orang. Awalnya hanya disebut tahu yang diisi daging. Setelah kurang lebih satu tahun berjualan, di tahun 1996, barulah disebut tahu bakso. Selain itu, awalnya dinamai “Tahu Bakso Kepodang”, dikarenakan tinggal dan dijual di Jl. Kepodang Semarang. Mulai tahun 2002 resmi bernama Tahu Baxo Ibu Pudji. 

Akhirnya kami sampai kembali ke Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta pk. 21 dalam suasana riang, gembira dan bahagia. Terimakasih banyak atas kebersamaan kita semua dalam bis.

Ayo piknik !

wikan & sari

Categories
dokter Jalan-jalan sejarah

2026 Dari Salemba untuk Dokter Indonesia

Dari Salemba untuk dokter Indonesia
fx. wikan indrarto

Kesempatan menjalankan tugas dari Fakultas Kedokteran Universitas Atma Jaya Yogyakarta (FK UAJY), berangkat ke Jakarta untuk menghadiri acara Forum Dekan FK oleh AIPKI pada Kamis sampai Minggu, 16-19 Juli 2026.

Lihat juga :

https://www.instagram.com/p/Da-VmLOFL1s/?igsh=Y2UwYXE4ZDYyZWJw

AIPKI adalah singkatan dari Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia, yaitu organisasi yang menaungi seluruh fakultas kedokteran di tanah air Indonesia. Saat ini sudah ada 148 Fakultas Kedokteran (FK) di Indonesia

Memasuki gerbang Stasiun Tugu Yogyakarta

Kamis malam, 16 Juli 2026 saya bergegas menuju Stasiun Tugu Yogyakarta untuk masuk ke perut KA Taksaka menuju Stasiun Gambir di Jakarta Pusat. Lanjut naik Bajaj menuju Hotel Borobudur dan lanjut istirahat sejenak.

Nyaman di dalam perut KA Taksaka dari Yogyakarta menuju Stasiun Gambir di Jakarta Pusat.

Sampai di Gerbang Hotel Borobudur Jakarta pada dini hari

Jumat pagi, 17 Juli 2026 setelah ‘early breakfast’, saya mendapat penjelasan dari dr. Risma Ikawaty, MSc, PhD Wakil Dekan I FK Ubaya dari Surabaya. Sambil menunggu bis FK UI yang akan menjemput para peserta Forum Dekan di lobi Hotel Borobudur Jakarta, FK Ubaya menggunakan RS Ibnu Sina di Gresik sebagai RS Pendidikan Utama (RSPU). Dibandingkan UAJY yang sesama PTS, ternyata 2 tahun sejak FK berdiri, Ubaya langsung merancang pendirian RS Pendidikan sendiri, untuk memudahkan sinkronisasi program pendidikan jenjang sarjana, dengan jenjang profesi, bahkan sampai pada jenjang spesialis. Pada 2 tahun kemudian, RS Pendidikan FK memulai operasional tahap rawat jalan dan pada tahun ke 4 sudah lengkap semua layanan. Meskipun demikian, RS baru yang sedang berkembang tersebut kemudian digunakan sebagai RS Pendidikan Satelit, dengan RSPU tetap di RS Ibnu Sina sampai beberapa tahun ke depan. Setelah semuanya siap, RSPU akan menjadi milik Ubaya sendiri dan bahkan akan dikembangkan menjadi wahana pendidikan program spesialis.

Bersama Prof. dr. Ramdan Panigoro, MSc, PhD. (Guru Besar Unpad dan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Parahyangan) Bandung

Aula FK UI yang legendaris di Jakarta

Bersama Prof. Dr. dr. Reviono, SpP(K) Dekan FK UNS Surakarta

Dengan bis milik FK UI, kami segera mendarat di Aula FK UI Salemba Jakarta Pusat yang legendaris, untuk mengikuti sesi pembukaan Forum Dekan AIPKI. Acara diadakan di IMERI (Indonesia Medical Education and Research Institute) yang berada di dalam kompleks Kampus Universitas Indonesia (UI) Salemba, Jalan Salemba Raya No. 6, Senen, Jakarta Pusat.

Para peserta Forum Dekan FK oleh AIPKI 2026 di Aula FK UI Jakarta

Bersama Prof. Dr. dr. Reviono, SpP(K) Dekan FK UNS Surakarta

AIPKI adalah organisasi yang berfungsi sebagai wadah komunikasi dan kolaborasi antara institusi dengan pemerintah untuk menjaga, merumuskan, dan meningkatkan mutu pendidikan medis agar sesuai dengan standar nasional.

Duduk mengantuk di barisan ketiga dari depan, kelima dari kiri, dengan para peserta Forum Dekan FK oleh AIPKI 2026 di Aula FK UI Jakarta

Setelah sambutan seremonial pembukaan oleh Ketua Panitia Forum Dekan FK AIPKI 2026, dr. Eric Daniel Tenda, DIC., PhD, Sp.PD, Sub-Sp.P.M.K (K), FINASIM, FISQua dan Dekan FK UI Prof. Dr. dr. Anna Rozaliyani, M.Biomed, SpP(K) yang dilantik secara resmi oleh Rektor UI pada 8 Desember 2025, sebagai tuan rumah acara. Selanjutnya Ketua Umum Pengurus Pusat Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI) Prof. Dr. dr. Wisnu Barlianto, M.Si.Med., Sp.A(K). Beliau menggantikan ketua periode sebelumnya, Prof. Dr. dr. Budi Santoso, Sp.OG(K).

Kegiatan Forum Dekan FK AIPKI diawali pada Kamis, 16 Juli 2026 dengan diskusi panel yang menghadirkan para dekan FKUI periode sebelumnya. Sesi yang tidak sempat saya ikuti ini ditujukan untuk memberikan perspektif historis sekaligus refleksi pengalaman kepemimpinan dalam menghadapi dinamika pendidikan kedokteran.

Pada hari kedua, 17 Juli 2026, saya mengikuti agenda seremonial pembukaan yang dilanjutkan dengan keynote speech oleh Menteri Pendidikan, Sains, dan Teknologi. Selain itu, akan diselenggarakan diskusi panel serta sesi pleno bersama Ketua AIPKI yang membahas isu-isu strategis terkini dalam pendidikan kedokteran.

Selanjutnya adalah sesi diskusi dengan tema Kebijakan Diktisaintek Berdampak – Arah Penjaminan Mutu Pendidikan Kedokteran dan Optimalisasi Sistem Kesehatan Akademik (SKA), yang dipimpin oleh Prof. dr. Tonang Dwi Ardyanto, Sp.PK(K), Ph.D (Wakil Sekretaris 1 AIPKI). Terus lanjut sesi Diskusi Panel selanjutnya dengan tema Kebijakan Pendidikan Kedokteran : Transformatif dan Pelayanan Kesehatan di Indonesia (S1/profesi dokter, Sp1, Sp2).

Sesi istirahat siang itu saya mengikuti Prof. Dr. dr. Reviono, Sp.P(K), Dekan FK UNS Surakarta teman seangkatan di FK UGM 84 (Konga) menemui Dr. dr. Retno Sulistyo Wardani, Sp.T.H.T.B.K.L, Subsp.Rino(K), teman sesama Konga yang merupakan dokter spesialis THT konsultan rinologi di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Bersama Prof. Dr. dr. Reviono, SpP(K) Dekan FK UNS Surakarta dan Dr. dr. Retno Sulistyo Wardani, Sp.T.H.T.B.K.L, Subsp.Rino(K), konsultan rinologi di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), semuanya teman seangkatan di FK UGM 84 (Konga)

Kami bertiga lanjut mengikuti Hospital Tour di RS yang berdiri sejak 19 November 1919. RSCM memiliki peran sebagai RS pusat rujukan nasional yang terkenal dengan berbagai layanan unggulannya dan juga sebagai RSPU FK-UI. Nama rumah sakit ini diambil dari nama dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, seorang tokoh perjuangan Indonesia pada masa kolonial Belanda.

Bersama Prof. Dr. dr. Reviono, SpP(K) Dekan FK UNS dan Dr. dr. Retno Sulistyo Wardani, Sp.T.H.T.B.K.L, Subsp.Rino(K), di Pavilian Kanigara sayap bisnis menangah RS Cipto Mangunkusumo (RSCM)

Di RSCM, ribuan dokter dan tenaga kesehatan lain bersama-sama melayani ribuan pasien dari seluruh Indonesia yang setiap hari berkunjung ke RS ini. RSCM dengan 1.000 tempat tidur merupakan pusat rujukan nasional rumah sakit pemerintah dan merupakan tempat pendidikan dokter umum, dokter spesialis dan subspesialis, perawat, perawat spesialis, serta tenaga kesehatan lainnya.

Tiga serangkai KONGA yang jalan bersama dalam Hospital Tour RSCM

Lorong RSCM Jakarta yang legendaris

Bertiga kompak sampai IMERI FK UI

Setelah makan siang bersama di Kantin RSCM Kencana, kami berdua kembali ke IMERI FK UI untuk mengikuti diskusi panel selanjutnya dengan tema Kerangka Kerja & Peta Jalan Penjaminan Mutu Akademik Pendidikan Dokter dan Optimalisasi peran AIPKI dengan moderator Prof. Dr. dr. Haerani Rasyid, MKes., SpPD,K-GH., Sp-GK., FINASIM (Dekan FK Universitas Hasanuddin – Wakil Ketua 1 AIPKI). Lanjut Diskusi Panel dengan tema “Posisi dan Peran AIPKI pada Penjaminan Kualitas Pendidikan Kedokteran dan Optimalisasi AHS dan Dialog bersama Majelis Guru Besar Kedokteran Indonesia (MGBKI).

Berjalan kaki menyeberangi Jl. Salemba yang padat lalu lintas, untuk menuju ke RS Saint Carolus (RSSC) Jakarta

Sore itu saya melanjutkan kegiatan dengan mengunjungi RS Saint Carolus Jakarta, dengan berjalan kaki menyeberangi Jl. Salemba yang padat kendaraan. Begitu sampai, saya langsung teringat Lagu “Berpisah di Teras St. Carolus”. Lagu yang diciptakan oleh musisi legendaris Wedhasmara ini, merupakan lagu lawas yang menceritakan perpisahan pasien dengan seorang perawat. Lagu ini sangat populer dibawakan oleh penyanyi era 1960-an, yaitu Lilis Suryani dan sering direkam ulang oleh penyanyi seperti Rani pada Agustus 1999.

Kami bertemu di teras RS dengan Direktur RSSC Kolonel CKM (purn) dr. Robertus Bebet Prasetyo, SpU (K), saat mengingat lagu “Berpisah di Teras St. Carolus” yang diciptakan oleh musisi legendaris Wedhasmara

Rumah Sakit St. Carolus di Jakarta resmi dibuka pada 21 Januari 1919. Diprakarsai oleh Uskup Batavia Mgr. Edmundus Luypen, SJ dan dikelola oleh para biarawati dari Kongregasi Suster Suster Cinta Kasih Santo Carolus Borromeus (CB), rumah sakit ini memelopori pendidikan keperawatan dan kebidanan di Indonesia pada era 1940-an dan telah berkembang menjadi salah satu rumah sakit bersejarah tertua dengan fasilitas modern di ibu kota.


Dengan semboyan Kami Melayani dari Hati dan Membangkitkan Harapan, RS St. Carolus (RSSC) adalah rumah sakit tertua ke-2 se-Jakarta yang sudah berinovasi menjadi bangunan yang modern. Pelayanan yang diberikan RS St. Carolus sudah sesuai dengan standar kualitas terbaik, dokter & tenaga medis profesional serta, fasilitas lengkap.

Pendirian RSSC diawali dengan pertemuan sejumlah tokoh awam Katolik Batavia di bawah pimpinan Mgr. Edmundus Sybrandus Luypens SJ (Vikaris Apostolis Batavia), Pastor Sondaal SJ, Pastor van Swieten SJ, Bp. Karthaus, berinisiatif mendirikan sebuah rumah sakit Katolik di Batavia. Pada awal 1915 Mdr. Lucia Nolet, CB (Pemimpin Umum Kongregasi Suster-suster Cinta Kasih St. Carolus Borromeus 1914–1926) menerima tawaran Mgr. Luypens, SJ untuk membuka karya misi di Hindia Belanda – Batavia. Karena situasi perang dunia pertama saat itu, maka baru pada tanggal 22 Juni 1918, Sepuluh Suster CB dari Negeri Belanda berangkat ke Batavia dengan kapal laut, dan tiba di Tanjung Priok pada tanggal 7 Oktober 1918. Pada tanggal 21 Januari 1919 Pelayanan Kesehatan St. Carolus dimulai dan diberkati oleh Mgr. Edmundus S Luypen, SJ dengan kapasitas 40 tempat tidur.

Diterima di ruang kerja Direktur RSSC Kolonel CKM (purn) dr. Robertus Bebet Prasetyo, SpU (K)

Sejarah indah tersebut terngiang saat saya diterima oleh Direktur RSSC Kolonel CKM (purn) dr. Robertus Bebet Prasetyo, SpU (K) yang tegak, ramah dan sangat sibuk. Dokter TNI AD anggota Dokter Kepresidenan RI dan besan dr. Ambar Kelanawati (kakak kelas di FK UGM) sangat ramah sampai mengajak Hospital Tour menikmati sejarah RSSC.

Mengunjungi sepupu dik Gregorius Adi Utomo di Duren Sawit

Terimakasih dik Mukti yang sudah mendampingi suami dik Gregorius Adi Utomo di Duren Sawit setelah pulih dari sakit

Masuk Stasiun Buaran dari rumah adik sepupu di Duren Sawit Jakarta

Terus saya dijemput Bapak Mulyadi, sopir keponakan saya, dik Eka Novianto, sebagai Vice President Director di PT Summit Adyawinsa Indonesia yang merupakan lulusan S-1 Teknik Kimia UGM 1990. Keponakan yang pernah menjadi Wakil Presiden Senat Mahasiswa Fakultas Teknik UGM dan Pengurus Lembaga Kemahasiswaan itu mengutus pak Mulyadi dengan Honda CRV hitam mengantar saya ke Duren Sawit. Saya mengunjungi sepupu, dik Gregorius Adi Utomo yang baru tahap pemulihan setelah pasang stent jantung di RS Jantung Matraman. Setelah menguatkan harapan akan kesembuhan dan mendukung sikap sigap menjalani pemulihan dalam pendampingan oleh dik Mukti istrinya, saya diantar naik motor oleh adik iparnya menuju Stasiun Buaran. Saya menikmati perjalan dalam gerbong KRL.


KRL Commuter Line adalah sistem transportasi angkutan cepat komuter berbasis kereta rel listrik (KRL) yang dioperasikan oleh PT Kereta Commuter Indonesia (KAI Commuter), anak perusahaan dari PT Kereta Api Indonesia (Persero). Layanan ini telah beroperasi di wilayah Jakarta sejak tahun 1925, hingga kini melayani rute komuter di wilayah Jabodetabek serta lintas Yogyakarta—Palur.

Suasana sore di KRL Line biru dari Stasiun Buaran ke Manggarai Jakarta

Tertinggal KRL di Stasiun Manggarai

Saya naik Line Blue (biru) dari Stasiun Buaran, melewati Klender, Jatinegara, Matraman dan turun di Manggarai. Di stasiun besar persimpangan antar moda tersebut, saya naik ke lantai 3 untuk berganti Line Red (merah) melewati Cikini, Gondangdia, Gampir dan turun di Juanda. Lanjut naik Go-Jek menuju Hotel Borobudur.

Senang sekali dapat menyambut anak tengah kami arsitek yang sangat sibuk, Bimoseno, di Hotel Borobudur Jakarta

Jumat malam, 17 Juli 2026 saya menyambut kedatangan dik Bimoseno, anak kedua kami yang sangat sibuk, sepulang dari kantor biro arsitek, di lobi Hotel Borobudur. Terimakasih banyak dik Bimo, anak kami yang baik, membawakan nasi bungkus untuk makan malam bersama di hotel

Bersama Hendro Edi, yang telah tidak pernah ketemu lagi sejak bersama lulus dari SMP Bruderan Purworejo Jawa Tengah

Reuni dengan keluarga Hendro Edi

Lanjut saya menerima Hendro Edi, teman SMP Bruderan Purworejo yang telah tidak ketemu sejak lulus, meskipun sama-sama kuliah di UGM. Ditemani istri dan Yosaphat, anak tunggalnya yang baru lulus dari FK UI dan bersiap mengikuti program internship dokter, bersama Laras, anak bungsu kami. Malam itu kami semua ngobrol asyik di Kamar 838 Hotel Borobudur Jakarta sampai mata hampir lengket mengantuk hebat

Ganti hari

Sabtu pagi, 28 Juli 2026 saya berjalan kaki melewati Lapangan Banteng, untuk mengikuti misa kudus harian pagi di Gereja Katolik Santa Perawan Maria Diangkat ke Sorga, Paroki Katedral Jakarta.

Gereja Katolik Santa Perawan Maria Diangkat ke Sorga, Paroki Katedral Jakarta.

Suasana megah dan berwibawa interior Gereja Katolik Santa Perawan Maria Diangkat ke Sorga, Paroki Katedral Jakarta.

Kursi uskup (catedra) di dalam Gereja Katolik Santa Perawan Maria Diangkat ke Sorga, Paroki Katedral Jakarta.

Bersama Rm. Macharius Maharsono Probo, SJ di Gereja Katolik Santa Perawan Maria Diangkat ke Sorga, sebagai Pastor Kepala Paroki Katedral Jakarta.

Rancangan arsitek Antonius Dijkmans, Gereja Katedral Jakarta dalam bahasa Belanda: De Kerk van Onze Lieve Vrouwe ten Hemelopneming, diresmikan pada 1901 dan dibangun dengan arsitektur neo-gotik dari Eropa, yakni arsitektur yang sangat lazim digunakan untuk membangun gedung gereja beberapa abad yang lalu. Setelah misa kudus selesai, saya sempat berfoto bersama dengan Romo Macharius Maharsono Probo SJ, Pastor Kepala Paroki, yang pernah menduduki jabatan serupa di Gereja Katolik St Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta, di depan Graha Pemuda. Sebuah ruangan di samping Gereja Katedral Jakarta tersebut, pernah digunakan untuk menyusun draft Sumpah Pemuda yang digelorakan pada 28 Oktober 1928.

Masjid Istiqlal Jakarta yang tinggi menjulang

Lapangan Banteng dengan patung kebebasan Indonesia

Lanjut mampir sejenak ke Masjid Istiqlal dan Lapangan Banteng, sebelum kembali ke Hotel Borobudur Jakarta. Setelah menikmati sarapan berdua dengan dik Bimo, saya segera memberikan pelatihan online tentang Komite Medik yang diikuti oleh para dokter di RSUD Merauke, Papua Selatan.

Mengunjungi dr. FA Timmy Budi Yudhantara SpM, adik kelas di SMA Kolese de Britto Yogyakarta (JB 96), saat mendampingi dokter muda di RSSC Jakarta.

Sabtu pagi, 18 Juli 2026 saya kembali mengunjungi RS St Carolus untuk menemui dr. FA Timmy Budi Yudhantara SpM, adik kelas di SMA Kolese de Britto Yogyakarta (JB 96). Sambil membimbing dengan sabar para dokter muda dari FK Unika Atma Jaya Jakarta, dr. Timmy menerima saya di sela-sela melayani pasien. Terus saya jalan kaki lagi menyeberangi Jl. Salemba yang padat lalu lintas, untuk masuk ke Auditorium IMERI FK UI, mengikuti Forum Dekan FK AIPKI 2026 hari ketiga.

Bersama Ibu Dekan FK UMS Surakarta Dr. dr. Flora Ramona Sigit Prakoeswa, M.Kes., Sp.KK., Dipl.STD-HIV., FINSDV

Bersama Laksamana Pertama TNI (Purn.) dr. Herjunianto, Sp.PD, MMRS Bapak Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS)

Bersama Ketua Umum AIPKI, Prof. Dr. dr. Wisnu Barlianto, M.Si.Med., Sp.A(K) (berkacamata) dari FK UB Malang dan Sekjen AIPKI Dr. dr. Safrizal Rahman, M.Kes., Sp.OT (FK USK Banda Aceh)

Setelah diskusi panel yang dialogis, dengan pembicara Dr. dr. Flora Ramona Sigit Prakoeswa, M.Kes., Sp.D.V.E. Dekan FK UMS Surakarta berjudul Penjaminan Mutu sebagai Penggerak Transformasi: Perjalanan FK UMS Menuju Akreditasi Internasional. Lanjut tema Penerapan Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Kedokteran di Indonesia oleh Dr. dr. Riwanti Estiasari, Sp.S(K). Juga Sistem Pendidikan Kedokteran di Indonesia: From Policy to Practice oleh Prof. Dr, dr. Anna Rozaliyani, MBiomed, SpP(K) Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, yang mendapat masukan lebih luas oleh Prof. Dr. dr. Haerani Rasyid, M.Sc, Sp.PD-KGH, Sp.GK Dekan FK Unhas Makassar dan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, Dr. dr. Yenny, Sp.FK, terus saya ikut mengenal lebih jauh peran AIPKI dengan mengikuti diskusi paralel dengan subtopik utama terkait AIPKI.

Pertama, Fungsi dan Peran Utama Standarisasi Kurikulum: Berperan penting dalam merumuskan dan mengevaluasi kurikulum pendidikan kedokteran agar selalu relevan dengan perkembangan ilmu dan teknologi medis terkini. Diskusi di auditorium 1 & 2 di lantai 3 itu saya ikuti, bersamaan dengan diskusi kelompok Kedua, yang membahas tentang Koordinasi Antar Fakultas: Menjadi forum bagi para dekan fakultas kedokteran untuk bertukar informasi dan pengalaman dalam mengelola institusi. Juga Ketiga, Penataan Dokter Spesialis: Terlibat aktif dalam program pendampingan tenaga kesehatan dan pengembangan Rumah Sakit Pendidikan. Keempat, Penyelenggaraan AKTAPRO (Asesmen Komprehensif Tahap Profesi), dengan AIPKI menyelenggarakan try out nasional yang dahulu dikenal dengan sebutan TO AIPKI. Ujian simulasi ini dirancang bagi mahasiswa kedokteran sebagai persiapan untuk menghadapi Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD).

Setelah selesai diskusi paralel, saya menerima teman lama alumni FK UI angkatan 1985, dr. Thomas BJ Aliandoe yang pernah bertugas bersama di Kabupaten Sikka, Flores NTT tahun 1992-1995. Sebagai alumni FK UI, dr. Thomas mengajak saya keliling (Campus Tour).

Bersama alumni FK UI 85 dr. Thomas BJ Aliandoe

Kampus FK UI didirikan pada 2 Januari 1849 (Dokter-Djawa School) yang saat ini dipimpin oleh Ibu Dekan Prof. Dr. dr. Anna Rozaliyani, M.Biomed., Sp.P(K). FK UI tidak lepas dari sejarah pendidikan dokter di Indonesia yang dimulai sejak zaman penjajahan Belanda. Adapun momentum pendidikan kedokteran di Indonesia lahir pada tanggal 2 Januari 1849 melalui Keputusan Gubernemen No. 22. Ketetapan itu menjadi titik awal penyelenggaraan pendidikan kedokteran di Indonesia (Nederlandsch Indie), yang ketika itu dilaksanakan di Rumah Sakit Militer. Selang dua tahun, Dokter Djawa School hadir memenuhi kebutuhan tenaga dokter yang dimulai tahun 1851. Walaupun lulusan tersebut diberi gelar Dokter Djawa, sayangnya lulusan sekolah tersebut hanya dipekerjakan sebagai mantri cacar, karena saat itu sedang terjadi wabah cacar. Nyaris 10 tahun lamanya dokter-dokter Indonesia harus menunggu untuk memperoleh wewenang lebih dari sekadar mantri cacar.

Bersama alumni FK UI 85 dr. Thomas BJ Aliandoe di Aula FK UI Salemba yang bersejarah

Lebih dari 20 tahun kemudian, yaitu pada 1898, barulah berdiri sekolah pendidikan kedokteran yang disebut STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen). Para alumni ketika itu disebut Inlandsche Arts. Untuk memantapkan kualitas lulusan dalam hal praktik, pada akhir tahun 1919, didirikan Rumah Sakit Pusat CBZ (Centrale Burgerlijke Ziekenhuis, sekarang disebut RS Ciptomangukusumo/RSCM) yang dipakai sebagai rumah sakit pendidikan oleh siswa STOVIA. Kampus dengan dominasi warna putih yang kami kunjungi selesai dibangun pada tanggal 5 Juli 1920. Pada tanggal yang sama pula seluruh fasilitas pendidikan dipindahkan ke gedung pendidikan yang baru di Jalan Salemba 6 sekarang.

Diantar dr. Thomas BJ Aliandoe ke rumah teman

Setelah puas keliling kampus bekas FK, FE dan FT UI Salemba, saya diantar dr. Thomas BJ Aliandoe menuju rumah dab Fauzi, teman SMA Kolese de Britto Yogyakarta di seputaran Utan Kayu Jakarta. Setelah bercengkerama dan mengunjungi ibu mertuanya (88 tahun) yang sudah terpasang NGT sonde karena kesulitan menelan, terkait stroke otak kecil, saya pamit pulang.

Main ke rumah dab Nico Fauzi Bahari Fudhal, teman SMA Kolese de Britto Yogyakarta 1984, alumnus PPM (Pendidikan dan Pembinaan Manajemen) di seputaran Utan Kayu Jakarta

Siap makan menu enak banget buatan mbak Iswari (Alumni FPsi UGM dan Stece) dan dab Nico Fauzi Bahari Fudhal (teman SMA Kolese de Britto Yogyakarta 1984), di rumahnya Utan Kayu Jakarta


Terimakasih banyak kepada Bapak Ketua Lingkungan Albertus Utan Kayu di Paroki St. Yoseph Matraman Jakarta, dab Nico Fauzi Bahari Fudhal (JB 84) yang telah mengantarkan saya sesuai aplikasi, dari rumahnya yang artistik ke Terminal Terpadu Pulau Gebang Jakarta.

Diantar dab Nico Fauzi mendarat di Terminal Terpadu Pulo Gebang Jakarta

Luar biasa banget sambutan, dukungan, cerita dan inspirasi bisnis kamar kost yang diberikan olh dab Fauzi. Mohon maaf tidak membawakan oleh2, malah disiapkan makan siang banyak menu di meja makannya. Sampai ketemu lagi.

Siap naik bis tingkat Rosalia Indah berbodi Jetbus 3+SDD, yang gagah menjulang buatan karoseri Adiputro Malang, dan diusung sasis premium buatan Swedia Volvo BHR 430HP

Istirahat makan malam di Ros In Subang Jawa Barat dari Pulau Gebang Jakarta, sebelum lanjut ke Yogyakarta. Akan masuk di dalam lantai 2 bis tingkat Rosalia Indah berbodi Jetbus 3+SDD, yang gagah menjulang buatan karoseri Adiputro Malang, dan diusung sasis premium buatan Swedia Volvo BHR 430HP. Sangat lancar dan tleser2 melahap Tol Trans Jawa.

Salam holobis enak ngebis sambil mengenang hasil Forum Dekan FK AIPKI 2026 dari Salemba untuk dokter Indonesia

Terimakasih

Categories
anak dokter Healthy Life Jalan-jalan medicolegal

2026 Disiplin Profesi Dokter

DISIPLIN  PROFESI  DOKTER

fx wikan indrarto

Awalnya bingung dan dilematis, saat dihubungi oleh seorang pengacara untuk hadir dan memberikan pendapat medis pada sebuah sidang di hadapan Yang Mulia Majelis Disiplin Profesi (MDP) periode 2024–2028, yang ditetapkan melalui Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/1630/2024, sebagai pemeriksa dugaan pelanggaran disiplin kedokteran.

Lihat juga :

https://www.instagram.com/p/Daj8DOMoBpW/?igsh=bnA2cDNseXJwNWI=

Siap terbang dari Bandara Adisucipto Yogyakarta

Setelah berkonsultasi kepada banyak senior dokter dan ahli hukum, saya akhirnya menyanggupinya dengan penuh was-was.

Rabu dini hari, 8 Juli 2026 saya memasuki Bandara Adisucipto Yogyakarta, yang lama tidak difungsikan sebagai bandara komersial. Hal ini karena seluruh rute penerbangan di Bandara Adisutjipto pindah ke Bandara Internasional Yogyakarta per 29 Maret 2020. Saya masuk perut pesawat milik maskapai Fly Jaya berkode KS101 jenis ATR 72-500. Pesawat ATR 72-500 adalah buatan perusahaan patungan Prancis-Italia bernama ATR,  kolaborasi antara Airbus (Prancis) dan Leonardo S.p.A. (Italia). ATR 72-500 adalah pesawat penumpang regional jarak pendek bermesin twin-turboprop, dengan efisiensi bahan bakarnya, berkapasitas standar 68 penumpang, dan mampu mendarat di landasan pendek.

Siap masuk ke kabin pesawat Fly Jaya berkode KS101 jenis ATR 72-500.

Mendarat dengan selamat di Bandara Legendaris Halim Perdanakusuma Jakarta

Bergaya di depan gerbang Bandara Halim Perdana Kusuma Jakarta

Setelah mendarat di Bandara Halim Perdanakusuma Jakarta, segera saya bergegas jalan kaki ke Gereja Katolik Santo Agustinus yang berada di bawah pengelolaan Keuskupan Agung Jakarta dan Ordinariat Militer Indonesia (OCI). Pada 29 Juli 1995, KASAU Marsekal TNI Rilo Pambudi meresmikan gereja ini dan Uskup Agung Jakarta, Mgr. Leo Soekoto, SJ memberkati bangunan gereja yang dinamai Agustinus, seorang filsuf yang bijaksana. Setelah berdoa sejenak memohon pendampingan Tuhan dan kebijaksanaan dalam menjalankan tugas pada sidang MDP, terus manyambut anak bungsu, Laras dan suaminya William, yang datang menguatkan saya.

Berjalan kaki pagi dari Bandara menuju Gereja Katolik Santo Agustinus Halim Perdana Kusuma Jakarta

Dekorasi kaca patri bagian belakang di Gereja Katolik Santo Agustinus Halim Perdana Kusuma Jakarta

Selesai berdoa bersama Laras dan William di Gereja Katolik Santo Agustinus Halim Perdana Kusuma Jakarta

Lanjut bertiga kami menuju Gedung MDP dan KKI (Konsil Kesehatan Indonesia) di Jl. Hang Jebat III Blok F 3, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Sidang dimpimpin oleh Wakil Ketua MDP, yaitu Dr. Ahmad Redi, SH, MH, MSi dengan anggota dr. Erfen Gustiawan Suwangto, Sp.KKLP, Subsp. FOMC, SH, MH(Kes), PhD dan Ns. Arthur Daniel Thomas Betlehem Lapian, SE, SKep, MKes, MARS. Di ruang sidang yang bersifat tertutup untuk umum, saya duduk di kursi belakang menghadap meja majelis, dengan sebelah kiri saya duduk para penasehat hukum pengadu dan di sebalah kanan saya duduk dokter teradu yang didampingi para penasehat hukumnya juga.

Mendarat dengan selamat Gedung MDP dan KKI (Konsil Kesehatan Indonesia) di Jl. Hang Jebat III Blok F 3, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Setelah 2 orang saksi mengangkat sumpah menurut agamanya, lanjut saya juga mengangkat sumpah menurut agama Katolik, bukan untuk beraksi, tetapi menjadi ahli yang memberikan pendapat. Diikuti ahli di sebelah saya, seorang dosen senior bidang hukum perdata dari sebuah universitas di Jakarta.

Persiapan akhir sebelum tampil pada sidang MDP

Saya menyampaikan pendapat medis (medical opinion) sebagai keterangan ahli terkait Surat Panggilan Sidang Nomor: MD.01/MDP/1248/VI/2026 Tertanggal 30 Juni 2026. Pendapat Medis ini disusun atas permintaan Endang Supriyatna, SH, Sekjen NU Bogor Raya Law Firm dari Lembaga Penyuluhan Bantuan Hukum Nahdlatul Ulama (LPBHNU). Dalam hal ini bertindak sebagai penasehat hukum seorang ibu yang beralamat di Kelapa Gading Jakarta Utara, yang melakukan pengaduan dugaan pelanggaran disiplin kedokteran kepada MDP pada tanggal 29 Mei 2026. Hal ini dipicu karena anak perempuannya (15 tahun) dirampas oleh mantan suaminya yang telah terjadi perceraian.

Saat bersama dengan ibunya sesuai hak asuh yang diperolehnya, anak tersebut bertumbuh secara sehat, baik mental dan fisik, normal, ceria dan berkembang dengan baik di rumah maupun di lingkungan sosial dan sekolah. Setelah bersama ayahnya, anak tersebut diperiksakan kepada seorang dokter di sebuah RS di Jakarta sebanyak 12 kali tatap muka, dan 9 kali tanpa dihadiri pasien. Ibu tersebut melaporkan dokter karena memberikan sedemikian banyak obat pada periode 2023-2025, hanya dengan mendengarkan uraian yang disampaikan oleh ayah anak tersebut, dan gagal untuk melihat potensi ketergantungan obat yang akan dialami oleh pasien. Selain itu, menurut ibu tersebut, dokter telah melakukan pelanggran disiplin profesi, karena sengaja meniadakan hak-hak ibu kandung, sekaligus membuat anak kehilangan haknya atas kebebasan.

Pendapat medis yang saya susun baru layak diketahui oleh umum, setelah perkara ini diputus, sehingga untuk sementara saya simpan. Seusia menjawab semua pertanyaan majelis hakim, para penasehat hukum dokter teradu dan ibu itu sebagai pengadu, saya pamit keluar ruangan sidang, saat sidang dilanjutkan dengan sesi lainnya.

Mendarat di Gereja Katolik Santo Yohanes Penginjil Paroki Blok B, di Jl. Melawai Raya 197 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Altar gereja yang menyimpan sebuah relikui Santo Yohanes Penginjil, berupa potongan kecil tulangnya.

Lansekap Gereja Katolik Santo Yohanes Penginjil Paroki Blok B, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Ditemani Laras dan William, kami menuju Gereja Katolik Santo Yohanes Penginjil Paroki Blok B, di Jl. Melawai Raya 197 Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, untuk mengucap syukur dan berterimakasih atas semua rahmat Tuhan. Gereja ini dinamai menurut Yohanes Penginjil, yang dikenal sebagai salah seorang penulis Injil dan dua belas rasul Yesus Kritus. Di bawah altar gereja, terdapat sebuah relikui Santo Yohanes Penginjil, berupa potongan kecil tulangnya. Keaslian relikui ini dinyatakan oleh Uskup Agung Ferrara-Comacchio Italia utara, Mgr. Luigi Negri, pada tahun 2016. Relikui ini diserahkan oleh Communauté des Béatitudes di Medjugorje, Bosnia dan Herzegovina pada tahun 2018.

Gerbang Rumah Makan Mata Karanjang di Jl. Wijaya VI No. 14A, Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.

Furniture buatan William di Rumah Makan Mata Karanjang Jakarta Selatan.

Kami bertiga lanjut makan sore di Rumah Makan Mata Karanjang di Jl. Wijaya VI No. 14A, Melawai, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Restoran sederhana dan kasual ini menyajikan hidangan khas dari Sulawesi Utara. Selain aroma, rasa dan presentasi menu tersebut yang kami tuju, kami mengunjunginya juga untuk melihat furniturenya yang dibuat oleh perusaaah William di Jepara, Jawa Tengah

Siap naik MRT di Stasiun Blok M BCA

Kepadatan penumpang MRT Line 1 Utara Selatan Jakarta

MRT Jakarta yang telah kosong penumpang ternyata dicetuskan sejak 1985 oleh Prof. BJ. Habibie.

Setelah kenyang dan lega, kami segera menyusuri Blok M untuk menikmati Moda Raya Terpadu Jakarta (MRT Jakarta atau Jakarta Mass Rapid Transit). Ide pembangunan MRT di Jakarta telah dicetuskan sejak 1985 oleh Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi saat itu, Prof. BJ. Habibie. Kami akan menikmati sepenggal jalur pertama (Line 1 Utara Selatan) sepanjang 15,7 km yang menghubungkan Stasiun Lebak Bulus dengan Stasiun Bundaran HI Bank Jakarta. Kami naik dari Stasiun Blok M BCA (BML), melewati Blok A (BLA), Haji Nawi (HJN), Cipete Raya (CPR), Fatmawati Indomaret (FTM)dan turun Lebak Bulus Bank Syariah Indonesia (LBB)

Perpisahan kami di Stasiun MRT Lebak Bulus Bank Syariah Indonesia Jakarta Selatan

Lanjut kami berpisah jalan, karena William dan Laras pulang ke Bogor naik Grab Mobil dan saya jalan kaki ke Terminal Pondok Pinang. Saya lanjut menikmati kenyamanan kabin lantai 2 bis Rosalia Indah 119, bersasis premium Scania K410 buatan Swedia, berbodi Jetbus 3 double decker yang gagah buatan karoseri Adiputro Malang, dan dikenal sebagai millenial bus full tol trans Jawa AD 7254 DF.

Bis Rosalia Indah Scania K410 Jetbus 3 double decker

Kamis pagi, 9 Juli 2026 saya dapat kembali ke rumah di Yogyakarta.

Sidang dugaan pelanggaran disiplin profesi dokter sangat menekan jiwa bagi siapapun, bukan hanya sekedar pada dokter teradu saja. Semoga para dokter Indonesia mampu memberikan layanan medis kepada para pasien dengan semakin beretika, mermutu dan legal. Juga profesional dan manusiawi. Terimakasih

Salam dokter

-wikan

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?