Categories
anak Healthy Life Jalan-jalan

2025 Di selatan Afrika Selatan

DI  SELATAN AFRIKA  SELATAN

(hari pertama)

fx. wikan indrarto dan b. sari prasetyati

Dalam rangka mengikuti International Conference on Pediatrics and Child Health at Radisson Blu Gautrain Hotel, Corner of West Street and Rivonia Road, Sandton, Johannesburg, Senin, 12 Mei 2025, kami terbang ke Afrika Selatan. Apa yang menarik?

BRICS (Brasil, Rusia, India, China, South Africa) adalah kelompok negara berkembang yang memiliki peran besar dalam perekonomian global. Indonesia resmi diterima untuk bergabung dengan BRICS pada 6 Januari 2025, menandai langkah strategis untuk memperluas pengaruh dalam ekonomi global. Kami berdua sudah pernah mengunjungi Brasil (Rio de Janeiro, 2015), Rusia (Moscow, 2024), India (New Delhi, 2017), dan China (Beijing 2009), maka kini giliran kami akan mengunjungi Afrika Selatan.

Republik Afrika Selatan (Afsel) dibatasi oleh garis pantai sepanjang 2.798 km yang membentang di sepanjang Samudra Atlantik dan Hindia di sebelah selatan; di sebelah utara berbatasan dengan Namibia, Botswana, dan Zimbabwe; di sebelah timur dan timur laut berbatasan dengan Mozambik dan Eswatini; dan mengelilingi negara enklave Lesotho.

Ucapan selamat datang di Afrika Selatan

Afrika Selatan memiliki tiga ibu kota, yaitu pemerintahan eksekutif di Pretoria, yudikatif di Bloemfontein, dan legislatif di Cape Town. Pada tahun 1910, ketika Uni Afrika Selatan dibentuk, terjadi pertikaian besar mengenai lokasi ibu kota negara baru tersebut. Sebuah kompromi dicapai untuk menyebarkan keseimbangan kekuasaan di seluruh negeri dan ini menghasilkan tiga ibu kota Afrika Selatan. Kota terbesarnya adalah Johannesburg. Kota ini dikenal sebagai ibu kota keuangan Afrika Selatan dan merupakan rumah bagi 74 persen Kantor Pusat Perusahaan.

Ucapan selamat datang di Afrika Selatan

Johannesburg di bagian Selatan Afrika Selatan dinamai dari nama dua pejabat Zuid-Afrikaansche Republiek (ZAR), Christiaan Johannes Joubert dan Johannes Rissik, yang keduanya bekerja di bidang survei dan pemetaan tanah. Kedua pria itu menggabungkan nama yang mereka gunakan, dengan menambahkan ‘burg’, kata kuno dalam bahasa Afrikaans yang berarti ‘kota berbenteng’. Selanjutnya kota Johannesburg sering disebut Joburg.

Setelah transit dan berjalan-jalan di dalam kota Abu Dhabi sepanjang hari Sabtu, 10 Mei 2025, kami segera melanjutkan penerbangan ke Joburg, Afrika Selatan. Kami terbang lagi dalam perut pesawat Boeing 787-9 Dreamliner milik Ethihad Airways EY 477 dari Abu Dhabi. Ini adalah pesawat jet penumpang jarak jauh, berukuran sedang, berbadan lebar, dan bermesin ganda, dengan menempuh 8 jam sejauh 3.892 mil, kami mendarat di Joburg O.R. Tambo Intl Airport.

lihat : https://dokterwikan.com/2025/05/10/2025-pesona-abu-dhabi/

Bandar Udara Internasional Oliver Tambo terletak di Kempton Park, Ekurhuleni, Gauteng, Afrika Selatan, di dekat kota Joburg. Bandara ini menjadi bandara utama untuk penerbangan internasional dan domestik dari dan menuju Afrika Selatan dan merupakan bandara tersibuk di Afrika dengan kapasitas layanan hingga 28 juta penumpang setiap tahun. Bandara ini menjadi hub bagi maskapai penerbangan domestik dan internasional terbesar di Afrika Selatan, South African Airways (SAA), dan sejumlah maskapai penerbangan lokal.

Selamat datang di Bandara OR Tambo Joburg Afrika Selatan

Bandara ini sebelumnya dikenal sebagai Bandar Udara Internasional Joburg dan sebelum itu dikenal sebagai Bandar Udara Internasional Jan Smuts, sesuai dengan nama seorang politikus internasional Afrika Selatan. Pada 27 Oktober 2006 diganti dengan nama Oliver Tambo, mantan presiden dari African National Congress. Bandar Udara Internasional Oliver Tambo sering disebut sebagai bandara “panas dan tinggi”. Berada di ketinggian hampir 1.700 meter di atas pemukaan laut, yang memiliki udara sangat tipis. Ketinggian seperti ini sangat berpengaruh terhadap performa pesawat terbang.

Setelah selesai proses imigrasi secara manual, sebagaimana terjadi di Bandara Soekarno Hatta sebelum pandemi COVID-19, kami segera menukarkan uang kami menjadi ZAR (bahasa Belanda ‘zuid-afrikaanse rand’ atau rand Afrika Selatan) di dalam bandara. Saat itu suasana interior bandara O Tambo bernuansa G20. Anggota G20 adalah Argentina, Australia, Brasil, Kanada, Tiongkok, Prancis, Jerman, India, Indonesia, Italia, Jepang, Republik Korea, Meksiko, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan, Turki, Inggris Raya, dan Amerika Serikat serta dua badan regional, yaitu Uni Eropa dan Uni Afrika.

Selamat datang para delegasi G20 di Afrika Selatan

G20 tidak memiliki sekretariat atau staf tetap. Sebaliknya, Presidensi G20 dirotasi setiap tahun di antara para anggotanya dan tahun 2025 adalah giliran Afrika Selatan dan Indonesia tahun 2022 lalu. Setelah berfoto pada layer sambutan selamat datang oleh Matamela Cyril Ramaphosa (lahir 17 November 1952) Presiden Afrika Selatan, selanjutnya kami membeli tiket KA ke pusat kota, pada petugas konter. Kami naik Gautrain, kereta api komuter ekspres berkecepatan tinggi yang melayani rute dari Bandara Internasional Oliver Tambo ke dalam kota Joburg.

Sambutan oleh Bapak Matamela Cyril Ramaphosa Presiden Afrika Selatan.

Gautrain adalah sistem kereta komuter ekspres berkecepatan tinggi sepanjang 80 kilometer (50 mil) di Propinsi Gauteng, Afrika Selatan, yang menghubungkan Joburg, Pretoria, Kempton Park, dan Bandara Internasional Oliver Tambo. Diperlukan waktu 15 menit untuk menempuh perjalanan dari Bandara Internasional Oliver Tambo ke Marlboro. Guatrin kami melaju dari Bandara Internasional Oliver Tambo, melewati Rhodesfield dan turun Marlboro, dengan semua stasiun berada di permukaan tanah. Dari stasiun Marlboro kami pindah jalur untuk naik Gautrain lanjutan melewati stasiun Sandton, Rosebank dan turun di Park Station, ketiganya merupakan stasiun bawah tanah, di pusat kota Joburg.

Bergaya di depan Gautrain sebuah kereta komuter ekspres berkecepatan tinggi

Bergaya di dalam gerbong Gautrain, sebuah kereta komuter ekspres berkecepatan tinggi, bukan kelas KRL

Bergaya di Stasiun Marlboro untuk berganti line Guatrain menuju Stasiun Park Joburg

Setelah keluar ke permukaan tanah, kami segera disambut cuaca bersuhu 9 derajat dan bergegas menuju The Bannister Hotel di 9 De Beer St, Braamfontein, Joburg. Hanya berdasarkan tangkapan layar pada HP tentang rute yang harus kami jalani karena sudah tidak ada free wifi lagi di luar stasiun, maka nampaklah kami berdua sebagai  makluk asing yang kebingungan. Berkat kebaikan hati 2 orang satpam sebuah bangunan di samping stasiun Park, yang mengantar kami menyusuri jalan, akhirnya kami berhasil mencapai hotel kami.

Keluar dari bawah tanah di Stasiun Park Joburg

Dengan seorang satpam negro yang baik hati mengantar kami, agar tidak tersesat, berjalan kaki mencapai Hotel Bannister

Setelah mandi bugar dan membayar hutang tidur, pada hari Minggu sore, 10 Mei 2025 kami segera mengaktifkan aplikasi Uber dengan unggah foto paspor untuk mencari taksi online. Tujuan pertama kami adalah Katedral Kristus Raja (Cathedral Of Christ the King Catholic Church), yaitu sebuah gereja Katolik yang menjadi pusat kedudukan dan takhta bagi Keuskupan Agung Joburg. Dengan diantar seorang sopir bernama Tiyiselani Hendrick, kami naik VW Polo putih bernomor polisi LY27HVGP berbiaya ZAR 33 untuk mencapai gedung katedral di 192 End St, Berea, Joburg, yang dibangun pada tahun 1958.

Disopiri Tiyiselani Hendrick dengan aplikasi uber, kami naik VW Polo putih bernomor polisi LY27HVGP

Di depan Katedral Kristus Raja (Cathedral Of Christ the King Catholic Church) Joburg

Katedral yang sebelumnya di Jalan Kerk, dibangun pada tahun 1896, telah melayani komunitas Katolik dengan baik, tetapi dengan jumlah yang terus bertambah, diputuskan untuk mendirikan katedral baru yang lebih besar. Rencana untuk membangun katedral tersebut dimulai pada tahun 1937 oleh David O’Leary, orang Katolik kelahiran Afrika Selatan pertama yang menjadi Uskup Joburg. O’Leary awalnya bermaksud agar katedral dibangun di lokasi dekat Jalan Kerk tetapi tanah itu sebagian dijual dan sisanya menjadi Gereja Jalan Kerk.

Rencana katedral ditunda karena pecahnya Perang Dunia Kedua dan O’Leary meninggal pada tahun 1950. Pada tahun 1957 sebuah situs dibeli di Saratoga Avenue oleh Uskup Mgr. W. P. Whelan dan dana dikumpulkan untuk meletakkan batu pertama pada tahun 1958. Katedral Kristus Raja dirancang oleh arsitek Brian Gregory dari Belfast, Irlandia Utara. Pekerjaan konstruksi diawasi oleh John P. Monahan dan diselesaikan pada tahun 1958 oleh kontraktor John Burrow (Pty) Ltd dari Joburg. Katedral ini diberkati dan dibuka pada tahun 1960. Mgr. Whelan kemudian menjadi Uskup Agung Bloemfontein dan menimbulkan beberapa kontroversi, ketika dia gagal menjauhkan gereja Katolik Afrika Selatan dari apartheid pada tahun 1964.

Interior Katedral Kristus Raja Joburg dengan salib Yesus Kristus tergantung dari atap, bukan tertempel di dinding, dirancang oleh arsitek Brian Gregory dari Belfast, Irlandia Utara.

Eksterior Katedral Kristus Raja dirancang oleh arsitek Brian Gregory dari Belfast, Irlandia Utara, berbentuk kotak warna coklat

Oleh karena tidak ada nuansa Porta Sancta di Cathedral Of Christ the King Catholic Church, dan jadwal misa kudus hari Minggu hanya pagi pk. 7 dan siang pk. 09.30, maka kami hanya berdoa pribadi saja. Kembali kami segera berlutut, berdoa dan mengucap syukur di Gereja Katedral itu. Kami bersyukur atas semua berkat dan rahmat Tuhan Maha Baik di bangku katedral deretan paling belakang. Dalam doa khusuk, kami memohon lagi agar diberikan kebijaksanaan, keselamatan, kecerdasan, kesehatan dan kebahagian bagi kami semua.

Mobil takxi Josiah Shingirai berupa sedan Suzuki Ciaz warna putih

Setelah itu kami mencari area yang ada free wifi di sekitar parkiran, atas anjuran petugas sekuriti gerja Katedral. Kembali kami memesan taksi ojol dengan aplikasi Uber, berdasarkan signal sangat lemah dari free wifi yang ada. Kami diantar sopir seorang negro Josiah Shingirai dengan sedan Suzuki Ciaz warna putih untuk kembali ke hotel.

Para pemuda negro yang baik hati dan penuh gaya di perempatan Juta Street Joburg

Suasana konter KFC dekat hotel kami di Joburg

Minggu, 11 Mei 2025 menjelang malam itu kami akhiri dengan jalan-jalan di seputarn Juta Street untuk melihat suasana. Kami bertemu dengan beberapa pemuda negro yang ramah menyapa kami, bahkan mengenali bendera merah putih yang kami bawa dengan teriakan ‘Indonesia!’. Juga membeli beberapa potong ayam di KFC di ujung jalan. Konter KFC dengan sistem open kithcen bernuansa hitam legam, sangat mengesankan. Lanjut malam itu kami makan malam di kamar hotel.

(bersambung)

Salam pengelana

-wikan dan sari

Minggu, 11 Mei 2025

CERIA  DI  PRETORIA

(hari kedua)

(sambungan)

Setelah mengikuti hari pertama International Conference on Pediatrics and Child Health at Radisson Blu Gautrain Hotel, Corner of West Street and Rivonia Road, Sandton, Johannesburg (Joburg), Afrika Selatan pada Senin, 12 Mei 2025, kami rencana akan melaju ke Pretoria. Apa yang perlu diketahui?

Setelah sarapan di The Bannister Hotel di 9 De Beer St, Braamfontein, kami bergegas ke lokasi konferensi. Di perjalanan kami mengingat bahwa ada 2 negara Eropa yang pernah menduduki wilayah yang kami lalui, yaitu Belanda (1652-1795 dan 1803-1806) dan Inggris (1795-1803 dan 1806-1961). Belanda tiba di wilayah ini pada tahun 1652, baru Inggris meminati wilayah tersebut, terutama setelah penemuan cadangan berlian yang melimpah. Hal ini menyebabkan Perang Inggris-Belanda dan dua Perang Boer. Pada tahun 1931, Afrika Selatan menjadi jajahan Britania Raya sepenuhnya. Meski demikian, Inggris terpaksa berbagi kuasa dengan pihak Afrikaner (sebutan untuk bangsa Belanda di Afrika). Pembagian kuasa ini berlanjut hingga tahun 1940-an, saat partai pro-Afrikaner, yaitu Partai Nasional memperoleh kursi mayoritas di parlemen.

Sejarah politik apartheid dimulai tahun 1948 yang digagas oleh Hendrik Frensch Verwoerd dari Partai Nasional. Paham Apartheid adalah segregasi rasial di bawah pemerintahan Afrika Selatan berkulit putih, yang mengharuskan warga Afrika Selatan non-kulit putih (mayoritas penduduk) untuk tinggal di area terpisah dari warga kulit putih dan menggunakan fasilitas publik terpisah. Strategi ini untuk mengawal sistem ekonomi dan sosial negara dengan dominasi kulit putih dan diskriminasi ras, dengan tokoh utama penentangnya oleh Nelson Mandela.

Gambar Presiden Nelson Mandela yang besar di dinding sebuah bangunan tinggi

Senin, 12 Mei 2025 sejak pagi kami mengikuti konferensi dan pada sambutan pembukaan oleh Ketua Panita dijelaskan bahwa PEPFAR (The U.S. President’s Emergency Plan for AIDS Relief) telah memainkan peran penting dalam memastikan pasien HIV dan TB, termasuk anak, untuk mendapatkan layanan kesehatan yang mereka butuhkan. Di Afrika Selatan, yang memiliki 7,8 juta penderita HIV, PEPFAR telah menjadi salah satu sumber utama pendanaan dalam dua dekade terakhir. Menteri Kesehatan Afrika Selatan, dr. Aaron Motsoaledi menyatakan bahwa penghentian sementara PEPFAR ini mengejutkan pemerintah. Prof. Asanda Ngoasheng, seorang analis politik dari Afrika Selatan, menilai bahwa banyak negara akan terdampak, mengingat sistem kesehatan publik di beberapa negara Afrika sangat bergantung pada pendanaan dari PEPFAR.

Bahkan jika PEPFAR tidak membiayai 100% program, pengurangan dana tetap akan berimbas pada kemampuan banyak negara Afrika dalam menyediakan layanan medis yang sebelumnya ditopang oleh dana tersebut. Meski penghentian bantuan PEPFAR telah disesuaikan dengan pengecualian untuk “bantuan kemanusiaan yang menyelamatkan nyawa,” termasuk obat-obatan esensial, banyak negara masih mengevaluasi dampaknya jika penghentian ini menjadi permanen. Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio, menjelaskan bahwa pengecualian ini bertujuan untuk memastikan bantuan yang bersifat darurat seperti makanan dan obat-obatan, tetap disalurkan.

Pembicara pertama adalah dr. Antonis C. Antoniou, PhD, seorang Genetics and  Epidemiology dari Cambridge, England, United Kingdom. Saat ini, ia memimpin kelompok penelitian di Departemen Kesehatan Masyarakat dan Perawatan Primer dan menjabat sebagai Direktur Akademik untuk MPhil dalam Epidemiologi. Pembicara selanjutnya adalah Richard J. Scarfone MD, FAAP, seorang Pediatric Emergency Medicine dari Philadelphia, Pennsylvania, United States of America. Beliau adalah Wakil Direktur Kegawatdaruratan Pediatrik di Children’s Hospital of Philadelphia dan salah satu pimpinan tim kurikulum pendidikan Center for Diagnostic Excellence. Wabah HIV merupakan masalah yang kritikal di negara ini. Diperkirakan 4,79 juta penduduknya dijangkiti AIDS dan pemerintahan Afrika Selatan terpaksa mengeluarkan berjuta-juta ZAR untuk menangani masalah ini. Sejak Afrika Selatan membuka perbatasannya selepas berakhirnya Apartheid, sindikat NAPZA internasional justru mudah memasuki negara ini. Kini Afrika Selatan adalah produsen mariyuana terbesar di dunia.

Makan siang menu ayam dengan nasi, Bersama para nona negro

Setelah selesai sesi diskusi, kami bersiap untuk makan siang berupa nasi dan segera mengingat sejarah bahwa pada Februari 1990, akibat dorongan internasional dan tentangan hebat dari berbagai gerakan anti-apartheid khususnya KNA (Kongres Nasional Afrika), pemerintahan Partai Nasional di bawah pimpinan Presiden Frederik Willem de Klerk (18 Maret 1936 – 11 November 2021) yang merupakan presiden kulit putih terakhir di Afrika Selatan, mencabut larangan terhadap Kongres Nasional Afrika dan partai-partai politik berhaluan kiri yang lain, dan membebaskan Nelson Mandela (Pimpinan KNA) dari penjara. Pada 1962, Nelson Mandela ditahan dan dituduh melakukan sabotase dan bersekongkol menggulingkan pemerintahan, dan dihukum penjara seumur hidup di Pengadilan Rivonia. Mandela menjalani masa kurungan 27 tahun, pertama di Pulau Robben, kemudian di Penjara Pollsmoor dan Penjara Victor Verster.

Undang-undang apartheid mulai dihapus secara perlahan-lahan dan pemilu tanpa diskriminasi yang pertama diadakan pada tahun 1994. Kemenangan yang besar diraih oleh Partai KNA, dan Nelson Mandela dilantik sebagai presiden kulit hitam pertama di Afrika Selatan. Walaupun kekuasaan sudah berada di tangan kaum kulit hitam, berjuta-juta penduduknya masih hidup dalam kemiskinan. Ketika Nelson Mandela menjadi presiden selama 5 tahun, pemerintahannya melaksanakan berbagai perubahan, terutama dalam isu yang telah diabaikan semasa era apartheid. Beberapa isu yang ditangani oleh pemerintahan pimpinan KNA adalah seperti pengangguran, wabah AIDS, termasuk pada bayi dan anak, juga kekurangan perumahan dan pangan.

Mural bergambar Presiden Afrika Selatan Nelson Mandela, Thabo Mbeki dan Oliver Tambo, dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Di samping itu, dalam usahanya untuk menyatukan rakyat, pemerintah juga membuat sebuah komite yang dikenal dengan ‘Truth and Reconciliation Committee’ (TRC) di bawah pimpinan Uskup Desmond Tutu. Komite ini berperan untuk memantau badan-badan pemerintah seperti badan polisi agar masyarakat Afrika Selatan dapat hidup aman dan harmonis. Presiden Nelson Mandela memusatkan perhatiannya terhadap perdamaian di tahap nasional dan mencoba membina satu jati diri untuk Afrika Selatan dalam masyarakat majemuk yang terpisah oleh konflik berlarut-larut selama beberapa dasawarsa. Berkat kemampuannya, setelah tahun 1994 negara ini telah bebas dari konflik politik. Nelson Mandela melepas jabatannya sebagai presiden partai KNA pada Desember 1997 untuk memberi kesempatan kepada presiden yang baru, Thabo Mbeki.

Seorang pemuda negro Ellias Gift yang terus ceria dan siap mengantar kami dengan mobil Suzuki Dzire warna putih, menuju Pretoria

Seperti kita ketahui bersama, Afrika Selatan memiliki tiga ibu kota, yaitu pemerintahan eksekutif di Pretoria, yudikatif di Bloemfontein tempat kami menginap, dan legislatif di Cape Town yang terlalu jauh dijangkau. Senin, 12 Mei 2025 setelah makan siang, kami segera bergegas menuju ibukota Pretoria. Dengan menggunakan aplikasi uber, kami dapat diantar oleh seorang pemuda negro Ellias Gift dengan mobil Suzuki Dzire warna putih, menuju Gedung bersejarah Union Building di Pretoria. Tepatnya di atas bukit Meintjeskop di ujung utara wilayah Arcadia, dekat dengan Church Square yang juga bersejarah

Meriam di sisi jalan menanjak menuju Union Building di puncak bukit

Union Buildings merupakan kantor pusat resmi Pemerintah Afrika Selatan dan juga merupakan kantor Presiden Afrika Selatan. Bangunan megah ini terletak di Pretoria. Taman luas di gedung ini terletak di antara Government Avenue, Vermeulen Street East, Church Street, R104, dan Blackwood Street. Meskipun tidak berada di pusat kota Pretoria, Union Buildings menempati titik tertinggi dataran Pretoria, dan merupakan situs warisan nasional Afrika Selatan.

Dua buah bangunan sayap di kiri dan kanan Union Building di Pretoria

Gedung ini merupakan salah satu pusat kehidupan politik di Afrika Selatan, menjadi bangunan ikonik Pretoria dan Afrika Selatan secara umum, dan merupakan salah satu objek wisata paling populer di kota ini dan lambang demokrasi. Di dalam gedung tersebut merupakan lokasi pelantikan presiden Afrika Selatan.

Selalu ceria, juga saat di gerbang dengan tulisan Union Buliding Pretoria

Kompleks bangunan ini, dibangun dari batu pasir ringan, dirancang oleh arsitek Sir Herbert Baker dalam gaya monumental Inggris dan sepanjang 285 m. Gedung utama memiliki bentuk setengah lingkaran, dengan dua sayap di sisinya, ini berfungsi untuk mewakili penyatuan orang-orang yang sebelumnya terbagi dalam perselisihan bersenjata. Lonceng jam identik dengan Big Ben di London, yang pernah kami kunjungi pada Minggu, 23 November 2015, sepulang dari Rio de Janeiro Brazil. Bangunan ini dianggap sebagai pencapaian terbesar arsitek dan mahakarya arsitektur Afrika Selatan.

Setelah puas berfoto dalam dekapan suhu 10 derajat, kami lanjut mampir ke KBRI (Kedutaan Besar Republik Indonesia) di Pretoria (Embassy of the Republic of Indonesia), yaitu kantor pusat misi diplomatik Republik Indonesia untuk Republik Afrika Selatan dan merangkap sebagai perwakilan Indonesia untuk Republik Botswana, Kerajaan Eswatini, dan Kerajaan Lesotho. Kedutaan ini terletak di Jalan Francis Baard 949 (sebelumnya bernama Jalan Schoeman) di daerah kota Pretoria bernama Arcadia. Kantor diplomatik Indonesia lainnya di Afrika Selatan adalah sebuah konsulat jenderal di Cape Town. Terdapat juga sebuah Konsulat Kehormatan di Mbabane, Eswatini.

Gerbang KBRI Pretoria

Duta besar Indonesia pertama untuk Afrika Selatan adalah Rahadi Iskandar (1995–1998) dan saat ini dijabat oleh Bapak Saud Purwanto Krisnawan sejak 26 Juni 2023.

Lanjut kami melaju menuju Monumen Voortrekker yang terletak di sebelah selatan Pretoria, dirancang oleh arsitek Gerard Moerdijk, megah berdiri di puncak sebuah bukit dan dibangun untuk mengenang para Voortrekker yang meninggalkan Cape Colony. Voortrekkers (dalam bahasa Afrikaans : mereka di depan yang menarik) adalah para peternak Boer (keturunan Belanda) yang bermigrasi ke timur selama peristiwa Die Groot Trek (Perang Boer) untuk menghindari kekuasaan kolonial Inggris. Para Voortrekkers keturunan Belanda yang melakukan perpindahan ke timur, dengan jumlah sekitar 2.540 keluarga dari tahun 1835 hingga 1845.

Monumen Voortrekker yang tinggi menjulang nampak di kejauhan dirancang oleh arsitek Gerard Moerdijk

Perang Boer merupakan peperangan yang terjadi di Afrika Selatan antara colonial Ingfgris melawan 2 republik Boer merdeka, yakni Negara Bebas Oranje (Oranje Vrijstaat) dan Republik Transvaal, antara abad ke-19 dan awal abad ke-20. Orang Boer atau Afrikaner merupakan keturunan kolonialis Belanda, yang sebagai pioner (Voortrekkers) merambah ke pedalaman Afrika Selatan dan mendirikan Oranje Vrijstaat serta Zuid-Afrikaanse Republiek. Akan tetapi republik-republik Boer kalah dalam peperangan melawan Inggris.

Ellias Gift yang terus ceria dengan Monumen Voortrekker yang tinggi menjulang nampak di kejauhan

Pembangunan monument ini dimulai pada tanggal 13 Juli 1937 dipimpin oleh Advokat Ernest George Jansen. Pada tanggal 16 Desember 1938, batu pertama diletakkan  oleh tiga keturunan pemimpin Voortrekker, yaitu Ny. J.C. Muller (cucu perempuan Andries Pretorius), Ny. K.F. Ackerman (cicit perempuan Hendrik Potgieter) dan Nyonya J.C. Preller (cicit perempuan Piet Retief).

Bersama keturunan pemimpin Voortrekker, tetapi bukan Ny. J.C. Muller (cucu perempuan Andries Pretorius), yang ceria banget saat berbusana gaya kolonial Belanda di Monumen Voortrekker

Monumen ini diresmikan pada tanggal 16 Desember 1949 oleh Daniël François Malan, Perdana Menteri Afrika Selatan dari 1948 sampai 1954, yang dipandang sebagai pembela nasionalisme Afrikaner. Total biaya pembangunan monumen ini sekitar £360.000, yang sebagian besar disumbangkan oleh pemerintah Afrika Selatan. Pada tanggal 8 Juli 2011, Monumen Voortrekker dinyatakan sebagai Situs Warisan Nasional oleh Badan Sumber Daya Warisan Afrika Selatan.

Padang prairie dengan berbagai hewan ternak di kejauhan seperti di berbagai taman safari di Afrika Tengah yang kadang masih buas.

Di sekitar situ ada hamparan prairie, yaitu padang rumput yang luas, datar atau bergelombang, tanpa banyak pohon. Kata “prairi” berasal dari bahasa Prancis dan awalnya dari bahasa Latin “pratum” yang berarti ladang. Prairie didominasi oleh rumput tinggi dengan sedikit pohon, sehinnga banyak binatang ternak yang merumput, sebagaimana banyak terdapat di Afrika Selatan. Setelah menyaksikan padang rumput yang luas semacam praire di sekitar monument, kami segera Kembali ke hotel di Joburg. Kota ini pada awalnya dibangun oleh para penambang kebangsaan Inggris, yang membangun kota segera setelah emas ditemukan pada 1886 di Witwatersrand yang berdekatan. Lokasi yang kelak menjadi jantung kota ini ialah salah satu dari banyak bidang tanah yang dinyatakan sebagai galian umum. Di bawah pimpinan Johann Rissik dan Christian Johanes Joubert, mulai tumbuh sebagai kota utama di daerah pertambangan itu, menjadi pusat jalur KA seluruh Afrika Selatan, dan dinamakan Johannesburg, diambil dari nama keduanya.

Para remaja negro yang lalu lalang ceria di jalanan Johannesburg

Setelah kami menikmati Pretoria dengan ceria, malam ini kami makan malam lagi dengan bekal dari rumah di kamar hotel.

(bersambung)

Salam pengelana

-wikan dan sari

Senin, 12 Mei 2025

Ditulis di kamar 116 The Bannister Hotel di 9 De Beer St, Braamfontein, Joburg, di bagian selatan South Africa

JENDELA  MANDELA

(hari ketiga atau terakhir)

fx. wikan indrarto & b. sari prasetyati

Setelah mengikuti International Conference on Pediatrics and Child Health at Radisson Blu Gautrain Hotel, Corner of West Street and Rivonia Road, Sandton, Johannesburg (Joburg), Afrika Selatan pada Selasa, 13 Mei 2025, kami segera melihat dunia dari jendela Nelson Mandela. Apa yang menarik?

Sarapan menu telor, roti tawar, dan tomat di resto The Bannister Hotel di 9 De Beer St, Braamfontein.

Setelah sarapan di The Bannister Hotel di 9 De Beer St, Braamfontein, kami bergegas ke lokasi konferensi hari kedua (terakhir). Pembicara pertama Ippei Takahashi, PhD dari Tohoku University, Sendai, Japan yang membahas tentang risiko melihat layar gadget (screen time atau waktu layer) pada bayi sebelum usia 1 tahun, dari studi kohort (Three-Generation Cohort Study) yang mencakup 7.097 pasangan ibu-anak, di prefektur Miyagi dan Iwate di Jepang antara Juli 2013 dan Maret 2017. Waktu paparan layar per hari dikelompokkan menjadi kurang dari 1 jam, 1 hingga kurang dari 2 jam, 2 hingga kurang dari 4 jam, dan 4 jam atau lebih. Kesimpulan penelitian ini adalah waktu layar yang lebih lama untuk bayi berusia kurang dari 1 tahun dikaitkan dengan keterlambatan perkembangan dalam komunikasi dan pemecahan masalah pada usia 2 dan 4 tahun.

Pembicara kedua adalah Oliver Van Hecke guru besar pada University of Oxford, UK yang menjelaskan manfaat penggunaan infografis berbasis bukti untuk meningkatkan pemahaman orang tua tentang penggunaan antibiotik dan resistensi antibiotik. Penelitian metode campuran dengan tiga fase. Fase 1 mengidentifikasi dan meringkas bukti penggunaan antibiotik untuk tiga jenis infeksi tersering pada anak (sakit tenggorokan, batuk akut, dan radang telinga otitis media). Pada fase 2, merancang prototipe infografis dengan orang tua dan tim desain grafis (kelompok fokus). Fase 3 menilai efek infografis pada pemahaman orang tua tentang penggunaan antibiotik untuk tiga jenis infeksi pada anak. Disimpulkan bahwa infografis yang dirancang bersama orangtua berpotensi mengubah persepsi orang tua tentang antibiotik untuk infeksi saluran pernapasan akut pada anak-anak.

Pembicara ketiga adalah Mona-Lisa Wernroth, peneliti di Uppsala Clinical Research Center, Uppsala University, Sweden, dengan topik Pengobatan Antibiotik Anak Usia Dini untuk Otitis Media dan Infeksi Saluran Pernapasan Lainnya Berkaitan dengan Risiko Diabetes Tipe 1 di kemudian hari. Studi ini menerapkan desain berbasis register anak hingga usia 10 tahun termasuk analisis kontrol saudara kandung, antara 1 Juli 2005 dan 30 September 2013. Disimpulkan bahwa pemberian antibiotik, terutama untuk otitis media akut dan infeksi saluran pernapasan, pada tahun pertama kehidupan dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes tipe 1 sebelum usia 10 tahun, terutama pada anak yang dilahirkan melalui operasi caesar.

Sebelum International Conference on Pediatrics and Child Health ditutup, kami segera makan siang dan bersiap melihat dunia dari jendela Nelson Mandela. Segera kami kontak Ellias Gift, sopir yang telah kami kenal lewat aplikasi uber sebelumnya, agar datang dengan mobil Suzuki Dzire warna putih, bernomor polisi LJ74FJGP, untuk mengantar kami menuju China Town Joburg.

Gerbang Johannesburg Chinatown berdiri tinggi

Kami menuju areal 28 Derrick Ave, Cyrildene, Johannesburg, dimana Gerbang Johannesburg Chinatown berdiri tinggi, gagah dan ramah menyambut semua tamu yang datang. Segera kami menghabiskan menu makan siang dengan lahap, untuk melawan hawa dingin yang masih mencekam sekitar 10 derajat.

Perut Asia menjadi hangat diisi menu bakmi goreng ayam yang lezat

Sempat ingin mencoba bis wisata Hip On and Off untuk wisatawan yang mengunjungi Joburg

Segera kami meluncur ke Gold Reef City, yang saat ini merupakan sebuah taman hiburan di Johannesburg bagian Selatan. Tempat ini sangat bersejarah, karena terletak di bekas tambang emas pertama, tetapi telah ditutup pada tahun 1971, taman ini bertemakan demam emas yang dimulai pada tahun 1886 di Witwatersrand, dan bangunan-bangunan di taman ini dirancang untuk meniru periode ini. Ada sebuah museum yang didedikasikan untuk penambangan emas di lahan tersebut, tempat pengunjung dapat melihat urat bijih dari tanah, yang mengandung emas dan melihat bagaimana emas dituangkan ke dalam tong.

Berdiri di Golden Reef, tempat asal mula ditemukan tambang emas yang menjadi cikal bakal Joburg.

Gold Reef City terletak di sebelah selatan Central Business District Johannesburg di luar jalan lingkar M1. Di sebelahnya terdapat Museum Apartheid, yaitu museum yang menggambarkan politik apartheid yang membedakan orang berdasarkan warna kulitnya, putih atau hitam. Museum ini juga menggambarkan sejarah Afrika Selatan pada abad ke-20, saat puncak kejayaan parteid yang dibuka pada bulan November 2001.

Di Gerbang Museum Apartheid untuk ikut merayakan berakhirnya apartheid dan dimulainya demokrasi multiras bagi masyarakat Afrika Selatan.

Selanjutnya kami meluncur agak jauh menuju ke patung perunggu Nelson Mandela, yang berdiri tegak setinggi 6 meter di Sandton, Johannesburg bagian utara. Patung Mandela ini ramai dikunjungi wisatawan dan terletak di Alun-alun Nelson Mandela. Alun-alun ini diubah namanya untuk menghormati ikon antiapartheid dan mantan Presiden Afrika Selatan. Patung yang dibuat oleh seniman Kobus Hattingh dan Jacob Maponyane ini diresmikan pada tahun 2004.

Patung Nelson Mendela ikon antiapartheid dan mantan Presiden Afrika Selatan

Pintu gerbang Alun-alun Nelson Mandela

Selfie di depan patung Nelson Mandela buah karya Kobus Hattingh dan Jacob Maponyane

Selanjutnya kami mengunjungi RS Anak Nelson Mandela di 6 Jubilee Rd, Parktown, Johannesburg. Dimpimpin oleh CEO Dr. Nonkululeko Boikhutso, RS ini dengan hangat menyambut semua pelanggan di tahun penuh harapan, kepedulian, dan dedikasi. Tahun 2025 ini, fokus pelayanan tetap teguh, yaitu menyediakan layanan kesehatan khusus kelas dunia untuk anak-anak di seluruh negeri.

Ruang menyusui di salah satu lantai RSA Nelson Mandela.

Salah satu bagian penentu keberhasilan pemberian ASI eksklusif di RSA Nelson Mandela adalah layanan laktasi yang unggul.

Ruang pemeriksaan radiologi RSA Nelson Mandela Joburg yang ramah anak

Gerbang RSA Nelson Mandela yang gagah

Selanjutnya kami meluncur ke rumah kediaman terakhir Nelson Mandela di Houghton Estate no 9 di 12th Ave Johannesburg. Rumah ini terletak di kawasan perumahan kelas atas yang tenang. Di sinilah Nelson Mandela tinggal sebelum kematiannya.

Houghton Estate no 9, rumah kediaman terakhir Nelson Mandela

Kata-kata berisi pujian kepada Nelson Mandela tertulis di batu, yang kemudian diletakkan pada petak bunga taman depan rumah. Rumah tersebut terletak di daerah yang indah dan tenang, dengan rumah-rumah kelas atas dengan tembok tinggi, serta keamanan super ketat. Jalanannya ditumbuhi pepohonan yang indah, cocok untuk penghormatan kepada Nelson Mandela sebagai warga negara yang dihormati ini.

Kata pujian untuk Nelson Mandela tertulis pada banyak batu putih dekat pohon bunga di depan rumahnya

Kami jadi teringat bahwa pada bulan Desember 1956, Nelson Mandela ditangkap bersama sebagian besar pejabat eksekutif tingkat nasional ANC dan dituduh melakukan “pengkhianatan tingkat tinggi” terhadap negara. Ia dinyatakan sebagai penjahat karena menuntut kesetaraan bagi semua orang negro Afrika kulit hitam. Ia dihukum, diasingkan, dan dijebloskan ke penjara, ditindas dan disiksa hingga tak tertahankan. Ia menderita kelaparan, penindasan, dan ketidakadilan, tetapi tegar menjaga api kemerdekaan tetap menyala di dalam hatinya.

Dengan berakhirnya politik apartheid, pada 10 Mei 1994 Nelson Mandela dilantik sebagai presiden berkulit hitam pertama Afrika Selatan. Pada saat dilantik Nelson Mandela mengidentifikasi tiga masalah utama dalam pidatonya, yaitu kemiskinan, ketidakadilan, dan ketidaksetaraan yang parah. Sebagai Presiden Afrika Selatan, Nelson Mandela meningkatkan taraf hidup dan fasilitas penduduk kulit hitam Afrika Selatan, yang telah menderita selama puluhan tahun di bawah apartheid. Ia juga bekerja keras untuk menjadikan Afrika Selatan sebagai negara yang menjunjung tinggi kesetaraan, tempat orang-orang dari semua ras dan warna kulit dapat hidup bersama dalam damai.

Di samping patung perunggu Nelson Mandela yang menyebarkan perdamaian

Nelson Mandela dianugerahi Hadiah Nobel Perdamaian 1993, bersama dengan mantan Presiden Frederik Willem de Klerk, atas karyanya dalam mengakhiri rezim apartheid secara damai, dan meletakkan dasar bagi Afrika Selatan yang demokratis. Namun demikian, oleh karena Konstitusi tahun 1996 membatasi masa jabatan presiden hingga dua kali masa jabatan lima tahun berturut-turut, maka Mandela tidak berupaya mengubah dokumen tersebut bahkan ia hanya bermaksud untuk menjabat satu kali, dengan faktor usia sebagai faktor utama dalam keputusan ini. Mandela meninggalkan jabatannya pada tanggal 14 Juni 1999.

Pada 5 Desember 2013 Nelson Mandela meninggal dunia pada usia 95 tahun di rumahnya di Houghton, Johannesburg, yang telah kami kunjungi, dikelilingi oleh keluarga dekat. Kematiannya diumumkan oleh Presiden Jacob Zuma di televisi nasional Afrika Selatan. Nelson Mandela adalah seorang pejuang kemanusiaan yang memperjuangkan keadilan sosial selama 67 tahun hidupnya. Kita patut mengenang kerja kerasnya untuk menjadikan dunia tempat yang lebih baik

Selanjunya kami meluncur ke Stadion First National Bank (FNB Stadium atau Soccer City) adalah sebuah stadion yang dibangun tahun 1987, berlokasi di Joburg bagian utara. Stadion ini berkapasitas 78.000 tempat duduk berbentuk ember plastik dan merupakan stadion ketiga terbesar di Afrika dan pernah digunakan sebagai tempat final Piala Dunia sepak bola FIFA 2010.

Selamat datang di FNB Stadium bukan pada final World Cup FIFA 2010

Kita jadi dapat mengingat bahwa Timnas Portugal berhasil mencetak tujuh gol tanpa sekalipun kebobolan, saat melawan Korea Utara yang berakhir 7–0. Pada Piala Dunia 2010 tersebut juga tim Selandia Baru merupakan satu-satunya tim yang tidak pernah kalah dalam turnamen, gagal lolos ke babak gugur, serta hanya bermain imbang di seluruh pertandingan fase grup. Spanyol kalah 0–1 dari Swiss di laga perdana, namun berikutnya berhasil membuat sejarah baru sebagai tim pertama yang menjuarai Piala Dunia dengan mengalami kekalahan di pertandingan awal, dengan memenangkan seluruh laga hingga final dengan skor sama, yaitu 1–0.

Tidak jadi beli tiket final Piala Dunia 2010 di FNB Stadium Joburg

Ketinggian lokasi sejumlah stadion di Afrika Selatan diduga memengaruhi gerakan bola dan kelincahan pemain. Enam dari sepuluh stadion terletak lebih dari 1.200 m di atas permukaan laut, dengan dua stadion di Joburg (FNB atau Soccer City dan Ellis Park) berada di ketinggian paling tinggi, yaitu sekitar 1.750 m. Final Piala Dunia FIFA 2010 pada 11 Juli 2010 antara Belanda dan Spanyol berakhir 0–1 dengan gol dicetak oleh Iniesta di FNB atau Soccer City, Joburg, dilihat oleh 84.490 penonton dan dipimpin oleh Wasit Howard Webb (Inggris)

Selanjutnya kami kembali ke hotel karena sudah kelelahan. Setelah beristirahat sejenak, kami segera keluar kamar untuk menikmati makan malam menu Afrika.

Menu Afrika siap dipesan sebelum kembali pulang ke Indonesia

Sambil makan malam, kami mengenang Johannesburg yang dinamai dari nama dua pejabat Zuid-Afrikaansche Republiek (ZAR), Christiaan Johannes Joubert dan Johannes Rissik, yang keduanya bekerja di bidang survei dan pemetaan tanah. Kedua pria itu menggabungkan nama yang mereka gunakan, dengan menambahkan ‘burg’, kata kuno dalam bahasa Afrikaans yang berarti ‘kota berbenteng’. Selanjutnya Johannesburg sering disingkat Joburg sebagai pusat, jantung komersial dan finansial Afrika Selatan, yang secara planologi kotanya ditata dalam pola kotak persegi panjang, yang tidak berubah sejak survei kota pertama pada tahun 1886. Jalan-jalannya sempit dan dibayangi oleh blok-blok beton tinggi, sehingga menciptakan efek seperti terowongan.

Panorama efek terowongan kota Joburg sejak tahun 1886.

Afrika Selatan memiliki tiga ibu kota, yaitu ibu kota administratif Pretoria yang telah kami kunjungi sehari sebelumnya, ibu kota legislative adalah Cape Town yang tidak mampu kami jangkau, dan ibu kota yudikatif adalah Bloemfontein. Dari Bloemfontein kami pamit untuk kembali ke Indonesia.

Bloemfontein ibukota yudikatif Afrika Selatan

Setelah selesai mengikuti International Conference on Pediatrics and Child Health at Radisson Blu Gautrain Hotel, Corner of West Street and Rivonia Road, Sandton, Johannesburg (Joburg), Afrika Selatan dan melihat dari jendela Mandela, maka kami akhiri laporan perjalanan ini dengan penuh damai.

Pamit (out of Africa) untuk kembali ke Indonesia

Disampaikan terimakasih kepada semua pihak yang telah mendukung terselenggaranya pengelanaan ke Afrika Selatan ini dan sampai jumpa pada petualangan selanjutnya.

Salam pengelana

-wikan dan sari

Selasa malam, 13 Mei 2025

Ditulis saat sudah sangat penat di kamar 116 The Bannister Hotel di 9 De Beer St, Braamfontein, Joburg, di bagian selatan South Africa

Categories
Healthy Life Jalan-jalan

2025 Pesona Abu Dhabi

PESONA  ABU DHABI

fx. wikan indrarto dan b. sari prasetyati

Dalam rangka mengikuti ‘International Conference on Pediatrics and Child Health’ di Radisson Gautrain Hotel, Johannesburg, South Africa, kami mampir sehari untuk menikmati pesona Abu Dhabi, Uni Emirat Arab pada Sabtu, 10 Mei 2025. Apa yang menarik?

Dari Yogyakarta kami naik Kereta Api Fajar Utama dari Stasiun Tugu sampai Stasiun Jatinegara Jakarta. Lanjut naik Commuter Line Bandara dari Stasiun Manggarai sampai Bandara Soekarno Hatta, Tangerang Banten.

https://www.instagram.com/p/DJbfSRJS4Rj/?igsh=MTEwcHMwcmJsMmlnMg==

Terus kami terbang dalam perut pesawat Boeing 787-9 Dreamliner milik Ethihad Airways EY 475 menuju Abu Dhabi. Ini adalah pesawat jet penumpang jarak jauh, berukuran sedang, berbadan lebar, dan bermesin ganda. Varian ini merupakan versi yang diperpanjang dari 787-8 dan memiliki kapasitas penumpang yang lebih banyak, serta jangkauan penerbangan yang sedikit lebih luas. Boeing 787-9 mulai beroperasi pada 7 Agustus 2014 dengan pengguna pertama adalah All Nippon Airways.

Mendarat di bandara Zayed Abu Dhabi dengan hiasan lampu kristal

Emirat Abu Dhabi yang kami tempuh dalam 6 jam 15 menit sejauh 4.111 mil atau setara 6.750 km adalah sebuah monarki konstitusional dan saat ini dipimpin oleh Sheikh Muhammad bin Zayid Al Nahyan. Abu Dhabi (Bapak Rusa) adalah ibu kota dan kota terbesar kedua di negara Uni Emirat Arab (UEA), menurut jumlah penduduknya dan luas wilayah. Selain itu, Abu Dhabi merupakan yang terbesar dari tujuh emirat yang membentuk UEA. Abu Dhabi adalah kawasan terpenting UEA karena merupakan pusat Pemerintahan UEA, rumah untuk Keluarga Emir Abu Dhabi dan Presiden UEA.

Saat ini Abu Dhabi telah berkembang menjadi kota metropolis kosmopolitan. Perkembangan yang cepat dan urbanisasi, ditambah dengan pendapatan rata-rata relatif tinggi penduduknya, telah mengubah Abu Dhabi menjadi lebih besar dan maju. Kota ini direncanakan di bawah arahan Sheikh Zayed oleh arsitek Jepang Katsuhiko Takahashi pada tahun 1967, yang awalnya untuk populasi 40.000 jiwa. Saat ini Abu Dhabi adalah kota paling mahal kedua untuk karyawan asing di wilayah tersebut, dan kota termahal ke-67 di dunia. Majalah Fortune & CNN menyatakan bahwa Abu Dhabi adalah kota terkaya di dunia.

Pada awalnya Abu Dhabi berbisnis mutiara, karena Teluk Persia adalah lokasi terbaik untuk pembentukan mutiara. Pada 1930, karena perdagangan mutiara menurun, bisnis pertambangan tumbuh di daerah berpotensi minyak. Pada tanggal 5 Januari 1936, Petroleum Development Trucial Coast Ltd (PDTC), asosiasi Perusahaan Minyak Irak melakukan eksplorasi minyak. Pada tahun 1953, Perusahaan D’Arcy Exploration, anak perusahaan British Petroleum dan Compagnie Française des Pétroles, yang kemudian menjadi Total mulai menggunakan platform pengeboran laut.

Gerbang Premier Inn Abu Dhabi International Airport Hotel

Setelah proses pemeriksaan imigrasi dan pengambilan bagasi, kami segera menuju Premier Inn Abu Dhabi International Airport Hotel, yang terletak di Business Park Opposite Terminals 1 and 3, Next To Skypark Multi Storey Car Park 95219, Abu Dhabi. Segera kami terlelap dalam mimpi indah pada hari Sabtu, 10 Mei 2025 dini hari waktu setempat, yang berselesih 3 jam dengan WIB. Kami bermimpi menjelajah Abu Dhabi  yang terletak di bagian timur laut Teluk Persia di Semenanjung Arab, di sebuah pulau kurang dari 250 meter dari daratan utama, dan dihubungkan dengan 3 buah jembatan indah, yaitu Jembatan Maqta, Musafah dan Sheikh Zayed yang dibuka pada akhir tahun 2010. Sebagian besar kota Abu Dhabi terletak di pulau itu sendiri, sedangkan luas Emirat Abu Dhabi sekitar 67.340 kilometer persegi, yang setara dengan sekitar 80% dari total luas lahan Uni Emirat Arab. Namun hanya 30% dari luas emirat yang dihuni, dengan hamparan luas yang tersisa tertutup oleh padang pasir dan lahan kering, yang merupakan sekitar 93% dari total luas Abu Dhabi.

Sarapan menu Arab di Premier Inn Abu Dhabi International Airport Hotel

Setelah mandi bugar dan sarapan, kami segera menjelajah negeri yang dipimpin oleh Khalifa bin Zayed Al Nahyan. Dia adalah putra Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan, presiden pertama dari Uni Emirat Arab. Saudara tirinya, Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan, adalah Putra Mahkota Abu Dhabi, dan memiliki pengaruh yang cukup besar sebagai Ketua dari Abu Dhabi Executive Council dan Deputi Panglima Tertinggi angkatan bersenjata Uni Emirat Arab.

Kami segera melakukan negosiasi harga dengan seorang sopir taksi, berkebangsaan Pakistan, yang berasal dari Peshawar dekat Afganistan, agar mau mengantar kami berkeliling kota, seperti yang kami lakukan di Dubai pada Sabtu, 3 Juni 2023 yang lalu. Secara geografis Abu Dhabi bertetangga dengan Dubai yang terletak di bagian timur, dengan Abu Dhabi sebagai ibu kota UAE dan Dubai adalah salah satu emirat (kerajaan) di wilayah UAE, yaitu sebuah negara federasi yang terdiri dari tujuh emirat. Dubai adalah salah satu nama kota dan dan salah satu kerajaan di wilayah UAE. Abu Dhabi mempunyai luas sekitar 972 km² hampir 30 kali lebih besar daripada Dubai yang hanya 35 km². Landmark Abu Dhabi adalah Masjid Agung Sheikh Zayed, Louvre Abu Dhabi, Yas Waterworld Abu Dhabi, serta Qasr Al Watan. Sedangkan Dubai mempunyai landmark yang paling terkenal adalah Burj Khalifa yang merupakan bangunan tertinggi di dunia, yakni setinggi 828 m yang telah kami kunjungi 2 tahun sebelumnya.

Toyota Camry Abu Dhabi Taxi yang siap mengantar kami jalan-jalan di Abu Dhabi

Setelah sepakat 250 Dirham dengan 6 tujuan, kami segera meluncur dalam Toyota Camry bermesin 2487 cc yang cicilan sebulannya sebesar sekitar Rp. 20 juta, berbahan bakar gas, dan setir kiri menuju Masjid Raya Sheikh Zayed. Masjid terbesar di negara ini dirancang oleh arsitek Yusef Abdelki, bergaya arsitektur Timur Tengah, didirikan 1996 dengan spesifikasi ada 82 kubah dengan tujuh ukuran berbeda yang dilengkapi 4 buah menara.

Masjid Agung Sheikh Zayed terlihat dari pintu depan

Masjid Agung Sheikh Zayed adalah contoh terbaik seni Islam, menggabungkan arsitektur Mughal, Moor, Ottoman, dan Persia. Hasilnya adalah perpaduan menakjubkan antara tradisi dan modernitas, sebuah struktur yang menghormati masa lalu sambil menatap masa depan. Permata arsitektur ini merupakan bukti kreativitas, keterampilan, dan visi orang-orang di baliknya. Terletak di jantung kota Abu Dhabi, Masjid Agung Sheikh Zayed jadi salah satu spot yang paling banyak dikunjungi di kota itu. Masjid ini adalah sebuah karya seni dengan arsitekturnya yang spektakuler, desainnya yang rumit, dan kemegahannya yang anggun. Masjid Agung Sheikh Zayed merupakan salah satu masjid terbesar ketiga di dunia setelah Masjid Al-Haram di Mekkah dan Masjid Al-Nabawi di Madinah, keduanya di Saudi Arabia. Masjid ini dibangun di areal 12 hektare dengan luas area masjid sebesar 22.412 meter persegi, setara hampir empat lapangan sepak bola. Daya tampung masjid ini dapat mencapai 40.000 jamaah.

Masjid Agung Sheikh Zayed nampak dari sisi belakang, tetap nampak anggun dan mempesona

Kami segera berfoto berdua, dengan latar belakang Masjid Agung Sheikh Zayed yang didominasi oleh warna putih bersih, karena putih melambangkan kemurnian dan dilapisi marmer dari Makedonia. Juga dilengkapi 7 buah lampu gantung kristal di ruang salat dan pintu masuk serambi. Lampu gantung seberat 12 ton tersebut adalah salah satu lampu terbesar di dunia. Juga dilengkapi karpet besar yang terletak di ruang shalat utama masjid seluas 5.700 meter persegi. Karpet Persia tersebut merupakan rekor dunia, yaitu karpet rajutan tangan terbesar dibuat membutuhkan waktu sekitar dua tahun oleh sekitar 1.200 pengrajin, terbuat dari 70% wol dan 30% katun dari seluruh dunia. Para desainer mengambil bahan bangunan dari negara-negara seperti Selandia Baru, Maroko, Mesir, Turki, Yunani, Pakistan, Italia, Jerman, Austria, Cina, dan India.

Sayang sekali, kami datang pada pagi hari yang cerah, sehingga tidak mampu melihat fasad masjid yang bersinar lembut di malam hari, selaras dengan siklus bulan. Speirs and Major Associates merancang skema pencahayaan 360 derajat yang mengubah warna masjid dari putih sejuk saat bulan purnama menjadi biru secara bertahap saat bulan memudar, berubah setiap dua malam. Pada malam keempat belas siklus tersebut, lampu menyala dengan warna biru paling dalam, yang menandakan tidak ada bulan di langit. Sistem ini bukan hanya sebuah prestasi teknologi, tetapi juga sebuah karya seni yang menimbulkan rasa kagum pada semua orang yang melihatnya.

Gerbang Geraja Katedral Santo Yosef Abu Dhabi

Interior dalam Geraja Katedral Santo Yosef Abu Dhabi

Setelah puas berfoto dalam silua sinar matahari pagi yang cerah, kami segera masuk kembali ke Abu Dhabi Taxi Toyota All New Camry untuk menuju Katedral Santo Yosef, yaitu sebuah gereja katedral Katolik di Abu Dhabi. Katedral ini menjadi pusat kedudukan dan takhta dari Vikaris Apostolik atau Uskup Arab Selatan. Katedral Abu Dhabi merupakan salah satu dari enam gereja Katolik yang ada di Keemiran Abu Dhabi, selain Gereja Santo Paulus di Musaffah, Gereja Santa Maria di Al Ain, Gereja Santo Fransiskus di Abu Dhabi, Gereja Santa Theresa di Abu Dhabi dan Gereja Santo Yohanes Pembaptis di Ruwais. Gereja tersebut dibangun pada 1962 di atas sebidang lahan yang disumbangkan oleh Sheikh Shakhbut, seorang kerabat dekat penguasa Abu Dhabi.

Bangku paling belakang untuk tim medis dalam Geraja Katedral Santo Yosef Abu Dhabi

Fasad depan Geraja Katedral Santo Yosef Abu Dhabi

Misa kudus diadakan dalam berbagai bahasa, utamanya bahasa Inggris selain juga bahasa Arab, Tagalog, Malayalam, Sinhala, Urdu, Konkani, Tamil, dan Prancis. Saat ini dipimpin oleh Uskup Mgr. Paolo Martinelli, OFM Cap dan pastor kepala paroki adalah Johnson Kadukanmakal. Kami segera masuk Porta Sancta atau Pintu Suci, yaitu pintu khusus di gereja besar tertentu yang hanya dibuka pada momen istimewa, misalnya pada Tahun Yubileum 2025 sesuai penetapan oleh mendiang Paus Fransiskus. Sebagai peziarah pengharapan (pilgrimage of hope) pada tahun Yubileum 2025 ini, kami sangat bersuka cita dapat memenuhi harapan kami untuk berkunjung ke berbagai gereja katedral.

Poster peziarah pengharapan (pilgrimage of hope) pada tahun Yubileum 2025 di Katderal Santo Yosef Abu Dhabi

Lambang peziarah pengharapan (pilgrimage of hope) pada tahun Yubileum 2025 di pintu depan katedral Santo Yosef Abu Dhabi

Setelah melewati Porta Sancta Katedral Santo Yoseph Abu Dhabi, kami segera berlutut, berdoa dan mengucap syukur. Kami bersyukur atas semua berkat dan rahamat Tuhan Maha Baik di bangku katedral deretan paling belakang, yang sebenarnya dikhususkan untuk tim medis saat ada misa kudus. Dalam doa khusuk, kami memohon kebijaksanaan, keselamatan, kecerdasan, kesehatan dan kebahagian bagi kami semua.

Misa kudus di Gereja Santa Theresia dari Lisieux di Abu Dhabi, dengan ruangan khusus untuk ibu dan bayi di bagian belakang berbatas kaca

Selanjutnya kami memasuki Gereja St. Theresia dari Lisieux, juga dikenal sebagai “Bunga Kecil”, seorang santa Katolik Prancis dan Doktor Gereja yang dihormati karena kerendahan hati dan pengabdiannya kepada Tuhan. Gereja yang dibangun bersebelahan dengan Gereja Katedral Santo Yosef ini merupakan bagian dari Vikariat Arab Selatan, dan merupakan gereja di dalam Paroki Gereja Santo Yosef, dan diberkati dalam sebuah Misa Kudus pada tanggal 14 Desember 2013.

Selesai berdoa pribadi di tengah-tengah misa kudus di Gereja Santa Theresia,  kami segera menuju Masjid Maria ibu Yesus (Masjid Maryam Umm ‘Īsā), yang dibagun di seberang Katedral Santo Yoseph dan terletak di wilayah Al Mushrif. Masjid tersebut dibangun pada 1989 dengan nama Masjid Mohammed Bin Zayed, dan mengambil nama dari Mohammed bin Zayed Al Nahyan, Pangeran Mahkota Abu Dhabi. Pada 14 Juni 2017, Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan memutuskan untuk mengganti nama masjid tersebut menjadi “Masjid Mariam Umm Eisa” (Masjid Maria ibu Yesus).

Di bawah papan nama Mary Mother of Jesus Mosque Abu Dhabi

Wajah Bunda Maria (Mary Mother of Jesus) versi Arab di Abu Dhabi

Desain arsitektur masjid yang cukup megah, meski tak semegah dan sebesar Masjid Sheikh Zayed, tetapi desain bangunan Mary Mother of Jesus Mosque juga terbilang indah dan unik. Bangunan masjid ini berbentuk persegi dengan empat menara yang menjulang tinggi di setiap sudutnya. Selain itu, masjid ini juga memiliki kubah utama berukuran besar dan sejumlah kubah kecil di sekelilingnya. Bagian luar bangunan masjid berwana krem keemasan. Warna bangunan yang kalem ini memberi kesan teduh bagi jemaah yang datang dan berkunjung ke masjid tersebut. Terdapat pula plang atau papan nama di bagian depan dan bagian atas pintu masuk masjid bertuliskan “Mary Mother of Jesus”.

Masjid Mara Bunda Yesus (Mary Mother of Jesus) yang indah dan mempesona

Ukiran motif geometris dinding pada bagian luar masjid ini dilengkai elemen dekoratif geometris. Motif geometris ini berfungsi untuk menunjukan perhatian, pengenalan, dan mengesankan perasaan. Jendela masjid dibuat dengan ukiran bermotif arabesk dan tanpa menggunakan kaca. Artinya masjid ini memaksimalkan sirkulasi udara alami dari luar bangunan. Motif arabesk sendiri adalah gambar atau ukiran berupa sulur, daun, cabang, atau pohon. Seniman Muslim mengembangkan seni arabesk dari budaya era Byzantium. Dalam penerapannya, bentuk arabesk bisa dikombinasikan dengan kaligrafi dan ornamen geometris.  Kaligrafi Dalam Masjid Sementara itu, dinding pada bagian dalam masjid ini berwana putih dengan kalifgrafi ayat suci Al Quran. Di bawah tulisan kaligrafi tersebut juga terdapat lemari kayu berukuran besar yang digunakan sebagai tempat untuk menyimpan Al-Quran.

Jalur pejalan kaki menyusuri Teluk Persia di Abu Dhabi, sangat bersih, indah dan mempesona

Selanjutnya kami meluncur lagi di jalanan Abu Dhabi yang mulus, lebar, bersusun dan sepi kendaraan karena hari libur, menuju Etihad Towers. Ini  adalah kompleks gedung dengan lima menara di Abu Dhabi, yang diresmikan pada November 2012. Kelima tower meliputi T1: hotel / perumahan, T2: perumahan, T3: kantor, T4: perumahan dan T5: perumahan. Pembangunan konstruksi dimulai 27 Oktober 2006 dan selesai 27 Oktober 2011 dengan ketinggian masing-masing tower adalah T1: 277,6 m, T2: 305,3 m, T3: 260,3 m, T4: 234,0 m, dan T5: 217,5 m. Jumlah lantai T1: 69, T2: 80, T3: 60, T4: 66 dan T5: 61.

Etihad Tower yang tinggi menjulang di langit Abu Dhabi

Menara ini buah tangan arsitek Tim Desain DBI dari Australia dengan cakupan, besarnya, dan keunikannya sungguh menakjubkan. Menara-menara yang mengubah cakrawala Abu Dhabi ini menawarkan sudut pandang yang paling menakjubkan, dengan pemandangan panorama yang luas ke seluruh kota yang semarak dan Laut Arab dan Teluk Persia. Menara ini terletak di seberang hotel Emirates Palace dibangun dengan perkiraan biaya konstruksi sebesar 2,5 miliar Dirham. HH Sheikh Suroor bin Mohammed bin Khalifa Al Nahyan adalah tokoh terkemuka di UEA adalah pemilik Etihad Towers yang ikonik dan Abu Dhabi Mall yang ramai.

Menara ini digunakan sebagai lokasi syuting film Furious 7 tahun 2015. Furious 7 adalah sebuah film aksi, laga dan balap mobil produksi Amerika Serikat dan merupakan film ketujuh dari serial Fast & Furious. Film ini mengupas ‘pensiunnya’ Brian O’Conner dari dunia balap, karena pemeran Brian, Paul Walker, telah meninggal dunia. Dalam film tersebut, Dominic Toretto (Vin Diesel) dan Brian O’Conner (Paul Walker) mencuri Lykan HyperSport dan mengendarainya melewati tiga menara.

Air mancur menjadi latar depan Menara Etihad yang tinggi menjulang di langit Abu Dhabi

Seterusnya kami menikmati pesona pemandangan tepi pantai di Teluk Persia saat mengunjungi Rixos Marina Abu Dhabi, untuk menemui mas Arya Boske yang bekerja di situ, menyampaikan bingkisan dari ayahnya. Mas Arya adalah anak sulung dr. Paulus Kemil, yang bersama kami praktek di Apotek K24 Demangan Baru Yogyakarta. Rixos Marina adalah bangunan arsitektur ikonik yang menyatukan budaya, kuliner, dan keramahtamahan Arab dan Turki yang terbaik.

Rixos Marina yang tinggi menjulang terlihat di kajauhan, pada jalur pejalan kaki mengyusuri Teluk Persia di Abu Dhabi

Terletak di jantung pusat perbelanjaan, hiburan, dan perumahan Abu Dhabi, Rixos Marina Abu Dhabi adalah resor multifaset yang memiliki perairan yang berkilauan dan garis pantai berpasir. Rixos Marina Abu Dhabi mencerminkan keserbagunaan Abu Dhabi sebagai kota kosmopolitan yang berlimpah dengan pengalaman, warisan alam dan akuatik yang kaya. Rixos Marina Abu Dhabi dengan mulus memadukan desain akuatik dan arabesque yang canggih, untuk menceritakan kisah Abu Dhabi dari asal-usul pelayaran kuno, hingga kini menjadi kota kosmopolitan yang sangat berkembang dengan kemewahan tertingginya. Sebagai destinasi, Rixos Marina Abu Dhabi berani tampil beda, meningkatkan pengalaman tamu melalui desain, fasilitas, suasana, hiburan, dan waktu luang yang luar biasa.

Di halaman depan pada dasar Rixos Marina yang tinggi menjulang

Bertemu Bli Ferdy dari Bali, teman sekamar apartemen mas Arya Boske di Rixos Marina, untuk menitipkan oleh2 dari dr. Paulus Kemil

Qasr Al Watan (Istana Negara) karya arsitek Xavier Cartron

Selanjutnya kami berniat mengunjungi Qasr Al Watan, yang secara harfiah berarti ‘Istana Negara’ karya arsitek Xavier Cartron dan ICON Spaces, merupakan kompleks pemerintahan yang mengesankan wibawa, menjadi kantor resmi Presiden, Wakil Presiden, dan Putra Mahkota Abu Dhabi. Qasr Al Watan dibangun selama kurun waktu tujuh tahun, antara tahun 2010 dan 2017. Istana putih berkilauan dengan kubah adalah Qasr Al Watan. Istana berwarna pasir di sebelah kirinya adalah Istana Emirates sebagai satu-satunya “hotel bintang tujuh” di dunia.

Gerbang penjualan tiket masuk Qasr Al Watan (Istana Negara)

Pengunjung yang masuk kompleks luas tersebut wajib memiliki tiket masuk seharga 75 dirham (AED), yang sudah termasuk bus nyaman yang akan membawa pengunjung ke pintu masuk depan Qasr Al Watan, dan kembali ke pusat pengunjung/kantor tiket. Hal ini disebabkan karena perlu waktu setidaknya 1-2 jam di kompleks ini, yang dibangun di atas lahan seluas 150 Ha dengan luas bangunan melebihi 380.000 m². Pada bulan Agustus 2019, istana ini dinobatkan oleh situs web perjalanan dan pariwisata Hotel and Rest di antara 20 landmark seni dan budaya teratas di Dunia. Pada tahun 2020, Istana Kepresidenan Qasr Al Watan dinominasikan untuk World Travel Awards sebagai objek wisata budaya utama di Timur Tengah.

Gerbang Qasr Al Watan yang dijaga serdadu bersenjata dan anjing tanpa ikatan

Kami hanya sempat berfoto sejenak di depan gerbang dengan fasad yang terbuat dari granit putih dan batu kapur, istana yang sebagian besar berwarna putih dirancang dengan rumit dan dihias dengan sangat indah. Kami segera pergi karena takut banget saat diawasi oleh serdadu Abu Dhabi, dengan senjata laras panjang dan anjing jenis herder di pos penjaga yang tidak dirantai.

Panorama Qasr Al Watan karya arsitek Xavier Cartron yang mempesona

Emirates Palace Mandarin Oriental, Abu Dhabi yang gagah

Selanjutnya kami menuju Emirates Palace Mandarin Oriental, Abu Dhabi, yaitu sebuah hotel mewah bintang lima yang awalnya dioperasikan oleh Kempinski sejak dibuka pada November 2005. Karena adanya perubahan manajemen, Istana ini direnovasi selama dua tahun. Saat ini dioperasikan oleh Mandarin Oriental sejak 1 Januari 2020. Bangunan indah ini dirancang oleh WATG Architects. Desain hotel ini merupakan campuran dari elemen arsitektur Islam seperti keseimbangan, geometri, proporsi, ritme, dan penekanan hierarkis di samping metode desain dan konstruksi modern. Kubah pusatnya menampilkan pola geometris yang rumit dan 114 kubah yang lebih kecil, tersebar di seluruh bangunan. Warna bangunan ini terinspirasi oleh berbagai corak pasir yang ditemukan di Gurun Arab. Biaya konstruksi sekitar US$3 miliar, menjadikannya hotel termahal ketiga yang pernah dibangun, dilampaui oleh Cosmopolitan of Las Vegas di USA ($3,9 miliar) dan Marina Bay Sands di Singapura ($5,5 miliar).

Setelah puas, kami segera kembali ke bandara dan mampir sejenak menikmati keindahan Sheikh Zayed Bridge, sebuah jembatan karya arsitek Zaha Hadid. Antara tahun 1997 dan 2010, arsitek Zahā Ḥadīd merancang jembatan yang jauh lebih ambisius, Jembatan Sheikh Zayed, untuk menghormati Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan, antara pulau Abu Dhabi dan daratan utama Abu Dhabi, serta ke Bandara Internasional Abu Dhabi. Baik desain jembatan maupun pencahayaannya, yang terdiri dari warna-warna yang berubah secara bertahap, dirancang untuk memberikan kesan gerakan. Siluet jembatan adalah gelombang air laut, dengan lengkungan utama sepanjang 235 meter, berdiri 60 meter di atas air laut. Rentang total empat lajur adalah 842 meter panjangnya, dan juga termasuk jalur pejalan kaki. Jembatan ini diresmikan pada tanggal 25 November 2010, oleh mendiang Presiden UEA Sheikh Khalifa. Upacara tersebut juga dihadiri oleh Ratu Elizabeth II dari Inggris, menandai kunjungan kenegaraan keduanya ke UEA. Lalu lintas di jembatan dimulai tiga hari setelah upacara pembukaan.

Jembatan Sheikh Zayed antara pulau dan daratan Abu Dhabi buah karya arsitek Dame Zaha Mohammad Hadid

Dame Zaha Mohammad Hadid, DBE (Zahā Ḥadīd; 31 Oktober 1950 – 31 Maret 2016) adalah seorang arsitek Inggris kelahiran Irak. Ia adalah wanita pertama yang meraih Penghargaan Arsitektur Pritzker tahun 2004. Ia meraih Penghargaan Stirling pada 2010 dan 2011. Pada 2012, ia diberi bintang Dame Commander of the Order of the British Empire dan pada 2015 ia menjadi wanita pertama yang diberi penghargaan RIBA Gold Medal. Pada 31 Maret 2016, Hadid meninggal karena serangan jantung di rumah sakit Miami, USA dimana ia dirawat akibat penyakit bronkitis.

Major projects (2006–2010) Zahā Ḥadīd meliputi Bridge Pavilion di Zaragoza (2008), Sheikh Zayed Bridge di Abu Dhabi UEA (2010), MAXXI museum di Rome Italia (2010), Guangzhou Opera House in Guangzhou China (2010), Riverside Museum in Glasgow Skotlandia (2011), CMA CGM Tower in Marseille Perancis (2011). Juga London Aquatics Centre di London (Inggris 2012), dan Broad Art Museum di East Lansing, Michigan, US (2012), Galaxy SOHO di Beijing (2012), CMA CGM Tower, di Marseille, France (2006–2011), Heydar Aliyev Center di Baku Azerbaijan (2013), Dongdaemun Design Plaza di Seoul Korea (2013), University of Economics and Business Library and Learning Center di Vienna Austria (2013), Serpentine Sackler North Gallery di London Inggris (2013), Jockey Club Innovation Tower di Hong Kong China (2007–2014), The Wangjing SOHO di Beijing China (2014), dan Sky SOHO di Shanghai China (2014). Ada lagi International Youth Cultural Centre di Nanjing China (2015), Port Authority Building di Antwerp Belgia (2016).

Di gerbang Bandar Udara Internasional Zayed di Abu Dhabi.

Kami segera mencapai Bandar Udara Internasional Zayed di Abu Dhabi. Bandar udara yang terletak 30,6 km timur kota Abu Dhabi ini, adalah bandar udara terbesar kedua di UEA setelah Bandar Udara Internasional Dubai, melayani sekitar 20 juta penumpang pada tahun 2014. Bandara ini memiliki tiga terminal penumpang operasional: Terminal 1 ( terbagi menjadi Terminal 1A dan 1B), Terminal 2, Terminal 3. Bandar Udara Internasional Abu Dhabi ini memiliki luas area sebesar 3.400 hektare. Ruang terminalnya didominasi oleh Etihad Airways, maskapai penerbangan terbesar kedua di UEA setelah Emirates. Terdapat lebih dari 30 maskapai penerbangan yang dilayani di bandar udara ini dan menawarkan layanan ke lebih dari 120 tujuan di lebih dari 60 negara di seluruh dunia.

The Shell, sebuah pahatan berbahan kaca yang terinspirasi oleh warisan maritim Abu Dhabi.

Bandara Internasional Zayed di Abu Dhabi dinobatkan sebagai bandara terindah di dunia. Melansir The National, Senin (16 Desember 2024) bandara tersebut meraih penghargaan tertinggi dalam ajang Prix Versailles yang diadakan di kantor pusat UNESCO di Paris Perancis.

Atap melengkung indah, tinggi, kokoh dan mempesona Bandara Internasional Zayed di Abu Dhabi buah karya arsitek Kohn Pedersen Fox

Bandara Internasional Zayed di Abu Dhabi dirancang oleh arsitek Kohn Pedersen Fox, atap di bandara tidak hanya menjadi elemen desain yang menonjol, tetapi juga memiliki fungsi untuk mengurangi konsumsi energi dengan menaungi bangunan. Juga dihiasi oleh struktur instalasi seperti The Shell, sebuah pahatan berbahan kaca, kuningan, dan baja yang terinspirasi oleh warisan maritim Abu Dhabi. Bandara Internasional Zayed juga dilengkapi dengan teknologi canggih. Tata letak berbentuk X meminimalkan jarak antara titik kedatangan dan keberangkatan. Sungguh Abu Dhabi sangat mempesona.

Sebelum kami lapor diri, mas Arya Boske (putera sulung dr. Paulus Kemil) menyusul kami di Bandara Internasional Zayed. Banyak inspirasi perjuangan hidupnya yang kami dengar, saat cerita penuh semangat kehidupan sehari-harinya sebagai pekerja di Abu Dhabi.

Mas Arya Boske sepulang kerja di Rixos Marina lanjut mengejar kami sampai di Bandara Zayed Abu Dhabi

Sabtu, 10 Mei 2025

Salam pengelana

-wikan & sari

(bersambung)

Ditulis sambil menunggu penerbangan ke Johannesburg Afrika Selatan, di salah satu sudut Bandara Internasional Zayed di Abu Dhabi


wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?