Categories
anak COVID-19 dukacita

2025 Melepas Yangti Nanik

MELEPAS  YANGTI  NANIK

fx. wikan indrarto*)

Eyang Puteri Yustina Nanik Karsini (ibu saya dan selanjutnya disebut Yangti Nanik) sempat bertirahbaring di rumah mas Ig. Toto Ismintarto (kakak saya) di Villa Pamulang, Tangerang Selatan, Banten selama lebih dari 4 tahun, sejak sebelum pandemi COVID-19.

Perayaan Natal terakhir bersama dengan Yangti, yaitu Natal 2024

Yangti menderita penyakit Parkinson dan stroke ringan sejak awal Januari 2020 tepat sebelum pandemi COVID-19. Penyakit Parkinson yang dialami Yangti bertambah terus ‘stage Hoehn and Yahr’. Kita diingatkan bahwa Skala Hoehn dan Yahr yang diterbitkan pada tahun 1967 digunakan untuk membedakan lima tahap penyakit Parkinson, dari gangguan satu sisi tubuh atau unilateral (Tahap 1) hingga gangguan dua sisi tubuh atau bilateral, tanpa kesulitan kontrol postural (Tahap 2), ketidakstabilan berdiri atau postural (Tahap 3), hingga hilangnya kemandirian fisik (Tahap 4), dan akhirnya mencapai stadium akhir yang harus berbaring di tempat tidur (Tahap 5). Kondiasi ini menyebabkan Yangti harus terbaring di tempat tidur (bedridden), 2x masuk RSUP Fatmawati Jakarta, dan 3x mengalami luka tekan di bagian tubuh yang terkena kasur (decubitus). Bahkan luka dekubitus yang terakhir masih menganga lebar, 3x mendapat suntikan antibiotik di rumah, infus NaCl 3%, kadang ditambah terapi hirupan atau nebulizer, dan makan menu cair yang masuk lewat pipa lambung (NGT).

dokumentasi : https://drive.google.com/drive/folders/1BuXg1-Orjtl0usKSyUoz-wQpHnxRngrm

Berkat bantuan beberapa pihak yang baik hati, Yangti didampingi kakak berdua (mas Toto dan mbak Tari, seorang dokter spesialis saraf di RSUP Fatmawati Jakarta) dan pramurukti (mbak Amy Amanah), dihantar pulang ke rumah Kauman 348 Salaman, Magelang menggunakan Ambulance pada hari Minggu, 1 Desember 2024. Sejak itu, sangat banyak tetangga, kenalan, saudara dan murid Yangti yang datang berkunjung memberikan peneguhan. Bersyukur sekali Yangti seringkali merespon, baik dengan gerakan tangannya yang lemah, air mata yang menetes, buka mata yang sekejap atau engahan suara tanpa arti.

Yangti terbaring lemah di dalam ambulance transport yang dilengkapi peralatan medis, didampingi mas Toto dan mbak Tari, menuju rumah kebanggannya di Kauman, Salaman, Magelang, Jawa Tengah

Malam pertama Yangti berbaring di rumah Kauman, Salaman Magelang, Jawa Tengah sesuai permintaan yang di-‘ucapkannya’ pada hari Minggu, 1 Desember 2024, setelah lebih dari 4 tahun di rumah Mas Toto di Pamulang, Tangerang Selatan, Banten

Mbak Esthi (cucu Yangti) berpamitan kepada Yangti, karena liburan Natalnya sudah habis dan harus kembali bekerja di Bali

Tepat sebulan setelah Yangti berbaring di kamar yang dirancang Eyang Kakung Heribertus Sukiman Tondodarsono (selanjutnya disebut Yangkung yang telah  meninggal pada tahun 2009), pada hari Rabu, 1 Januari 2025 siang yang merupakan hari libur, kami berdua melaju dari rumah Timoho Yogyakarta menuju Salaman, Magelang Jawa Tengah. Ini adalah sebuah kunjungan tidak terencana, karena biasanya kami sowan Yangti pada hari Minggu pagi. Oleh sebab itu, siang yang mendung kami membeli bunga tabur di dekat Tugu Yogyakarta dan meluncur melalui jalan alternatif menghindari keramaian lalu lintas. Kami menyusuri teritorial Kapanewon Mlati dan Sayegan di Kabupaten Sleman, menyeberang Sungai Progo di Jembatan Ancol untuk masuk ke Kapanewon Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo lanjut menyusuri Sungai Progo yang berarus deras untuk masuk ke Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang. Perjalanan kami melalui jalur alternatif sungguh menyingkat waktu, dibandingkan melalui jalan nasional melewati Muntilan, yang padat sangat merayap oleh kendaraan pelancong pada pergantian tahun. Bunga yang kami beli untuk ditaburkan di makam Yangkung di Mendut terpaksa kami tetap simpan di mobil, entah mengapa kami memutuskan untuk langsung ke rumah Salaman, tidak mampir makam terlebih dahulu seperti kebiasaan sebelumnya.

Keluarga Bulik Partinah datang dari Bekasi Jawa Barat dan Melbourne Australia mengunjungi Yangti

Sampai di rumah Salaman kami segera bergegas menurunkan beberapa barang yang kami beli di Yogyakarta untuk kebutuhan Yangti, dan segera menghampiri Yangti yang nampak semakin lemah, lunglai dan letih dengan napas yang berbunyi karena banyak dahak tertahan di jalan napasnya. Mama Sari segera mengajak mbak Amy keluar ke Pasar Salaman untuk membeli keperluan Yangti lainnya dan lanjut RM Sumber Rejeki di pinggir jalan besar menuju Magelang, untuk makan siang menu kegemaran mbak Amy menjelang sore.

Tidak lama kemudian kedua sahabat kami, yaitu mas Isdiyanto (dokter purna karya dari RSUD Sunan Kalijaga Demak, Jawa Tengah) dan mbak Titik Purwaningsih (dokter gigi kepala Puskesmas Gajah di Demak, Jawa Tengah) sampai di rumah Salaman, untuk mengunjungi Yangti. Setelah disuguhi minuman teh manis hangat oleh Bulik Sunariyah (82 tahun, adik bungsu Yangkung), kami bertiga langsung terlibat dalam cerita yang mengasyikkan, di kamar tamu yang berbatasan dengan sebuah tembok penuh ditempeli banyak foto kenangan dalam pigura, dengan kamar Yangti. Belum kelar kami berbagi cerita, tetiba ada seorang bapak memanggil mbak Amy di depan pintu samping barat rumah Yangti. Saya segera menemuinya dan menerima sebuah bungkusan plastik yang ternyata diminta membayar kiriman yang datang atau COD. Untuk menghindari penipuan saya menelphon mama Sari untuk menanyakan kepada mbak Amy, apakah benar memesan sebuah barang yang harus saya bayar secara COD. Saat itu juga Bulik Sunariyah datang menghampiri kami dan setelah mendapat konfirmasi dari mbak Amy, segera transaksi non tunai kami lakukan di depan pintu barat rumah Yangti.

Proses yang sedikit menelan waktu itu, diselengi suara Yangti yang terdengar akan mengeluarkan dahak lewat mulutnya dan membuat mbak Titik mendekat untuk membersihkan mulut Yangti. Segera saya taruh bingkisan COD pesanan mbak Amy di sebuah meja kecil, untuk bergegas menggantikan posisi mbak Titik di sebelah kanan badan Yangti yang tergolek miring ke kanan. Begitu banyak dahak yang telah keluar dari jalan napas dan tertahan di mulut Yangti. Segera saya kenakan sarung tangan dan membersihkannya dengan kertas tissue, karena tidak ada alat suction elektrik penyedot lendir di kamar besar itu. Sambil saya bersihkan lendir, dahak dan liur Yangti, saya saksikan wajah Yangti semakin pucat, bahkan napasnya semakin pelan, berat dan tersendat. Juga teraba kulit lehernya demam cukup tinggi.

Spontan saya teringat tarikan napas terakhir Yangkung di kamar sebelah di rumah yang sama, pada Jumat malam, 20 Februari 2009. Vibesnya serupa (vibes adalah kata gaul yang digunakan untuk menggambarkan suasana, perasaan, atau energi yang dirasakan dalam suatu momen. Kata ini berasal dari bahasa Inggris “vibe” yang artinya atmosfer). Saya ingat pasti dalam sekejap, yakin tanpa salah, ini sangat serupa dengan kondisi Yangkung sebelum meninggal.

Segera saya berpura menanyakan kepada Yangti apakah akan segera berpulang. Tanpa menunggu jawaban, saya segera menyampaikan bahwa kalau Yangti hendak segera berpulang, menghadap Tuhan Maha Besar dan menyatu dengan Yangkung, kami semua, yaitu anak, menantu, cucu dan cicit sudah iklas dan siap. Saya mohonkan Yangti berpulang dalam kondisi bersih, dengan saya terus mengeringkan lendir di mulutnya dengan kertas tissue berulang-ulang. Didampingi mbak Titik di sebelah kiri badan Yangti yang semakin pucat, saya terus mengulangi kata-kata peneguhan agar Yangti dapat lancar, mantab dan tanpa ragu menghadap Sang Perncipta. Bersyukurlah mas Isdiyanto dari kamar tamu segera bergabung dengan kami berdua, mendampingi napas terakhir Yangti yang dihembuskan dengan sangat pelan, tertahan dan berat. Setelah mulut Yangti bersih dan tidak ada lagi usaha napas yang muncul, saya segera memimpin doa spontan kepasarahan kepada Sang Khalik.

Sempat saya terhenti sangat terharu dan meneteskan air mata, sehingga alunan doa kepasarahan menjadi tersendat. Saat itu juga mama Sari dan mbak Amy pulang dari belanja dan ikut mendampingi Yangti berpulang dengan lengkingan haru, mengapa Yangti berangkat menghadap Tuhan dengan tidak berkenan menunggu sampai meraka pulang dan justru mencuri waktu (malah nglimpeke). Setelah selesai berdoa, saya lepas sarung tangan dan hendak mulai menyebarkan kabar Yangti berpulang dengan chat WA ke segala penjuru arah angin. Mas Isdiyanto dan mbak Titik melanjutnya tindakan merawat jasad Yangti yang masih hangat dengan melepas NGT, sebuah pipa plastik yang setia menghantarkan menu ke lambung Yangti, mengatupkan dagu, dan mengikatnya dengan verban agar mulut Yangti tidak lagi menganga.

Kami, mbak Anna, mas Gunawan dan Mas Isdiyanto (kemeja batik) berdoa bersama sesaat setelah Yangti berpulang

Kembali saya tatap, sangat dekat, dan lebih lekat lagi wajah Yangti yang sudah pucat, pasi, dan pasti tanpa nadi. Saya teteskan ulang air mata haru, baru dan sendu mengingat bimbingannya membesarkan saya, sampai saya mampu mewujudkan angan Yangti dan Yangkung, bahwa ‘kamulyaning anak, soko rekasaning wong tuwo, kamulyaning wong tuwo, soko nyawang anake’. Terima kasih atas semua yang Yangti telah lakukan bagi saya, dan mofon maaf atas semua kilaf, salah dan keliru yang saya telah perbuat. Yangti yang saya kagumi, selamat beristirahat dalam udara dingin menjelang sore, di rumahmu saat hujan tetiba lebat mengguyur bumi.

Para tetangga dekat sebagai pelayat awal, turut melihat jasad Yangti di dalam peti. Sangat meneguhkan hati.

Kiriman bunga papan ucapan dukacita atas meninggalnya Yangti yang pertama kali datang, dari Umat Lingungan FX2 Villa Pamulang, Paroki Santo Barnabas Pamulang, Keuskupan Agung Jakarta.

Pada Rabu hari pertama tahun 2025, kepulangan Yangti rasanya adalah kematian yang sungguh indah, membebaskan Yangti dari penderitaan, sungguh bagus dalam tahapan saat saya sudah berdiri di samping Yangti, sungguh tepat dalam waktu, dan sungguh mudah pada prosesnya. Yangti pamit dalam damai, seolah berucap ‘Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.’ (2 Timotius 4:7) Syukurlah keberangkatan itu saya tunggu, saksikan dan hantarkan langsung, bukan pada saat saya pergi, lengah atau terlelap. Kepergian itu telah memisahkan kami semua yang masih hidup dengan Yangti, dalam jarak yang abstrak, beda yang sumir, dan rentang yang absurd.

Sembahyangan sore setelah jasad Yangti berada dalam peti jenazah oleh beberapa umat Stasi Santo Paulus Salaman

Para tetangga segera datang mendampingi, menguatkan dan membantu kami merawat jasad Yangti yang sudah mulai dingin, mengecil, dan penuh luka dekubitus yang dalam. Proses memandikan jasad Yangti berjalan lancar berkat bantuan para ibu dari Gereja Kristen Jawa (GKJ) Salaman yang sigap, cekatan dan ramah. Berkat bantuan, kerja keras, dan koordinasi oleh dik Totok Wilarso, peti jenazah sudah segara siap di ruang tengah, sebelum adzan Mahrib berkumandang dari Masjid Besar Kauman Salaman di seberang rumah. Setelah cukup rapi, dengan hujan yang masih turun cukup deras malam itu kami segera mengadakan sembahyangan pertama, yang dipimpin oleh mbak Tuti (MGE Triyati Yuliastuti) sebagai prodiakon pengganti, bersama beberapa umat Stasi Santo Paulus, Paroki Santo Mikael Panca Arga Magelang.

Malam itu saya menemani jasad Yangti yang telah terbujur, dingin dan kaku, di dalam peti jenazah yang diletakkan di depan altar dalam ruang tengah rumah depan. Rumah peninggalan Yangkung ini memang telah digunakan sebagai kapel Stasi Santo Paulus, ruang doa, ruang pertemuan umat dan kegiatan kemasyarakatan lainnya. Saya terus mendaraskan doa untuk Yangti di samping kanan peti jenazah, ditemani para tetangga yang setia, semangat dan solider, duduk sambil ngobrol di bawah tratag yang masih basah di halaman samping rumah. Kantuk, lelah dan gundah yang telah menyatu, tetaplah tidak mampu mengusir saya dari kursi merah di samping peti mati Yangti. Saya tetap duduk, terjaga dan berdoa agar rangkaian kepulangan Yangti tidak ada yang terlupa.

Kamis, 2 Januari 2025 menjelang pk. 2 dini hari, keluarga Bulik Nana (Yosephine Wara Pradnastuti, adik bungsu saya) telah datang. Om Greg (suaminya), dik Kevin dan dik Niko (kedua anaknya) yang menyertai Bulik Nana, segera saya peluk dan syukuri atas kedatangannya. Meski baru sehari sampai di rumahnya di Cimahi Jawa Barat dari libur Natal di Salaman, langsung harus kembali ke Salaman lagi.

Rombongan berikutnya adalah kedatangan anak bungsu yang cantik (Larasati). Perjuangan pulang mengantar Yangti dimulai dengan langsung pamit kepada dokter perseptor karena sedang menjalani rotasi klinik (koass) bagian bedah di RS Emanuel Bandung, dengan diantar William (pacar Laras, yang sedang pada periode ritual apel) dari Bandung naik Travel CT Trans ke Semarang. Menjelang ganti hari Rabu ke Kamis mereka berdua bergabung dengan Bapak Mulyo dan Ibu Harlina (orangtua William) yang datang langsung dari Jepara, untuk lanjut ke Salaman Magelang. Setelah saya rangkul hangat, Laras lalu mengajak William dan orangtuanya berdoa di samping jasad Yangti, sebelum akhirnya mereka bertiga beristirahat di sebuah hotel di dekat Candi Borobudur. Laras lanjut saya dekap lama untuk menemani saya menjaga jasad Yangti yang telah terbaring di peti.

Selanjutnya hadir menyatu pada dini hari yang masih dingin, saat Pakde Totok (Ignasius Toto Ismintarto, kakak saya) dan budhe Tari (Hastari Soekardi, kakak ipar saya yang selama ini menangani penyakit Yangti dengan cermat) datang tidak lama kemudian, yang hanya sehari di rumahnya di Pamulang Tangerang Selatan, Banten. Keduanya jadi tidak begitu bugar, malah sedikit demam dan batuk karena kelelahan yang sangat. Apalagi ditambah kesedihan yang peling mendalam, karena pakde Totok sangat dekat, lekat dan terikat dengan Yangti yang sempat tinggal hampir 5 tahun berturut-turut di salah satu kamar depan di rumah Pamulang.

Matahari segera bersinar cerah di hari Kamis, 2 Januari 2025 saat cucu Yangti lainnya (mbak Esthi dan mas Danang dari Pamulang, mas Yudhi yang menggendong Joviel, 2 tahun, cicit Yangti, seorang anak yang menggemaskan dari Yogyakarta dan dik Bimo dari Jakarta) datang lengkap. Para tamu lain segera datang, susul menyusul, silih berganti dengan wajah bersahabat, ucapan turut berduka dan pelukan peneguhan. Mereka datang dari 8 penjuru angin, bergerak dari rumahnya yang dekat, kantornya yang menengah, ataupun tempatnya yang berjarak. Mereka layaknya aliran sungai Elo yang tidak pernah berhenti mengalir untuk bergabung dengan sungai Progo, sangat deras meski meliuk-liuk, sampai di dekat sebuah makam, di daratan yang diapit Candi Borobudur yang gagah dan Candi Mendut yang suci. Makam Krekoff Mendut namanya, makam yang telah dipilih oleh Yangkung, sebagai tempatnya bersebelahan dengan Yangti yang terakhir, terlama dan terindah dalam iringan debur suara arus air sungai, yang tidak akan pernah diam.

Mas Moko (Ketua RT, teman sekolah mas Totok saat SD) dan ibu yang sangat banyak membantu kami, saat melayat Yangti

Misa pemberkatan jenazah (requiem) hari Kamis, 2 Januari 2025 dipimpin langsung oleh Romo Petrus Sajiana, Pr (Pastor Kepala Parki Santo Mikael Panca Arga Magelang), dimulai pk. 9 pagi, dihadiri oleh umat stasi Salaman dan sanak saudara yang membuat persediaan tambahan kursi semakin terasa kurang. Dalam homilinya, Romo Saji menekankan nasehat Santo Paulus kepada Timotius, tentang kematian orang beriman. ‘Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir dan aku telah memelihara iman.’ (2 Timotius 4:7). Menurut Romo Saji, Yangti telah mati dalam iman yang teguh, telah menyelesaikan tugas kemanusiaan dan telah mengakhiri pertandingan kehidupan. Tentulah Yangti juga telah terbebas dari semua penderitaan, terlepas dari segala kepedihan raga dan masuk dalam kesatuan dengan Allah Bapa.

Setelah selesai acara liturgi, para pelayat dipersilakan memberikan penghormatan terakhir bagi Yangti, sebelum peti jenazah ditutup dan disekrop. Dik Wowok, dik Totok, dik Nunung, dik Jati, Yudhi dan William ikut menyekrop, meski dengan obeng yang harus bergantian. Jenazah Yangti dilepas pergi menjelang pk. 11 setelah Bapak Antok, Kepala Dusun Kauman, menyampaikan pidato pelepasan di tengah-tengah banyak para pelayat yang terpaksa harus berdiri, karena tidak kebagian kursi. Setelah acara ‘tlusupan’ (berjalan berurutan di bawah peti jenazah yang diangkat 8 orang petugas dari Yayasan Dharma Magelang, memutarinya sebanyak 3 kali), peti jenazah Yangti dimasukkan ke dalam mobil jenazah. Ada 2 mobil jenazah dan 7 mobil lain dalam iring-iringan menuju makam Mendut, berjalan perlahan dalam cuaca agak mendung sepanjang jalan, sejauh sekitar 9 km.

Ibadat pemakaman Yangti pada tengah siang yang agak terik itu dipimpin oleh mbak Tuti prodiakon

Makam Yangti sudah disiapkan sejak pagi itu oleh petugas makam Krekoff Mendut. Makam yang sepi itu telah diramakain oleh banyak handai taulan yang melayat tidak ke rumah duka Salaman, tetapi langsung menunggu di makam tersebut. Setelah acara pemberkatan liang kubur oleh mbak Tuti (MGE Triyati Yuliastuti) sebagai prodiakon pengganti, bersama beberapa umat Stasi Santo Paulus, Paroki Santo Mikael Panca Arga Magelang, secara perlahan peti jenazah yang mendekap jasad Yangti yang telah kaku dan beku, diturunkan ke pangkuan ibu pertiwi. Penutupan ‘gladak’ beton, tanah yang basah, bunga tabur yang wangi semerbak, dan salib penanda makam Yangti, dilakukan dalam cuaca yang cukup terik dengan angin sepoi yang kadang datang. Bahkan Joviel (cucu pertama saya berusia 2 tahun) dalam gendongan saya sampai kehausan dan berteriak meminta minum. Setelah lobang kubur tertutup oleh tanah dengan rapi, kami segera mengadakan tabur bunga dengan segenap pelayat yang hadir, termasuk Joviel yang penuh semangat.

Peti jenazah Yangti siap dimasukkan ke liang lahat, persis di samping nisan makam Yangkung

Turut serta memasukkan tanah ke liang lahat Yangti

Setelah selesai semua rangkaian acara, para pengantar jenazah bergegas berlalu, suara tapak alas kakinya perlahan menjauh, dan deru mobil-mobilnya beringsut kabur, tinggallah kami sekeluarga dicekam sunyi, terpaku ragu dan kehabisan air mata. Segeralah kami berjajar bersujud berdoa, menunjukkan kepasrahan yang dalam dan kegembiraan iman yang berpadu satu saat melepas Yangti menghadap Sang Pencipta, ‘Selamat Jalan Yangti Yustina Nanik Karsini, berpulanglah dengan damai dan berbahagialah di rumah Tuhan. ‘Berbahagialah orang-orang mati, yang mati dalam Tuhan’ (Wahyu 14,13).

Terimakasih dan Berkah Dalem

sekian

*) anak Yangti yang tengah

disusun dalam penat, lelah dan sunyi di hari pertama masuk kerja

Sabtu, 4 Januari 2025.

Categories
anak dukacita

2019 Kehilangan Bayi

KEHILANGAN  BAYI

fx. wikan indrarto*)

Kehilangan bayi (losing a baby) dalam kehamilan karena keguguran atau kelahiran mati, masih merupakan hal yang tabu di seluruh dunia, terkait dengan stigma dan rasa malu. Banyak ibu masih tidak menerima perawatan yang tepat dan penuh hormat, ketika bayi mereka meninggal selama kehamilan atau persalinan. Apa yang harus disadari?

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/01/17/2019-kematian-anak/

Keguguran adalah kejadian paling umum untuk kehilangan bayi selama kehamilan. March of Dimes, sebuah organisasi internasional yang bekerja untuk kesehatan ibu dan anak, memiliki data tingkat keguguran 10-15% pada ibu yang tahu bahwa mereka hamil. Kehilangan bayi didefinisikan secara berbeda di seluruh dunia, tetapi secara umum bayi yang meninggal sebelum kehamilan berusia 28 minggu disebut keguguran (miscarriage) dan pada atau setelah 28 minggu kehamilan disebut bayi lahir mati (stillbirths). Setiap tahun, terjadi 2,6 juta keguguran dan bayi lahir mati di seluruh dunia dan banyak dari kematian ini, sebenarnya dapat dicegah. Namun demikian, keguguran dan kelahiran mati tidak dicatat secara sistematis, bahkan di negara maju sekalipun, sehingga mungkin saja jumlahnya dapat lebih tinggi. Bayi lahir mati (stillbirth) terjadi pada sekitar 2.000 keluarga Australia setiap tahun. Tingkat kelahiran mati belum berubah dalam 20 tahun terakhir dan bagi penduduk asli Australia, bahkan terjadi dua kali lebih tinggi. Namun demikian, sebelum hal itu terjadi pada satu dari enam ibu, banyak ibu hamil tidak pernah berpikir bahwa bayi dapat mati di dalam rahim.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/09/21/2018-kematian-anak/

Ada banyak alasan mengapa keguguran dapat terjadi, termasuk kelainan struktur tubuh janin, usia ibu, dan infeksi. Sebenarnya banyak di antaranya dapat dicegah, seperti infeksi malaria dan sifilis, meskipun memastikan penyebab yang tepat seringkali sulit. Nasihat umum untuk mencegah keguguran berfokus pada makanan yang sehat, berolahraga, menghindari rokok, narkoba dan alkohol, membatasi kafein, mengendalikan stres, dan mengendalikan kenaikan berat badannya. Kesemuanya menempatkan penekanan pada perbaikan faktor gaya hidup, tetapi sebenarnya justru dapat menyebabkan ibu merasa bersalah, bahwa ibu telah menyebabkan keguguran.

.

Bayi lahir mati pada umumnya terjadi selama kehamilan. Namun demikian, 1 dari 2 bayi lahir mati terjadi selama proses persalinan, yang sebenarnya banyak di antaranya dapat dicegah. Sekitar 98% kelahiran mati terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Untuk itu, meningkatkan kualitas perawatan yang lebih baik selama kehamilan dan persalinan, dapat berperan dalam mencegah lebih dari setengah juta kelahiran mati di seluruh dunia. Bahkan di negara berpenghasilan tinggi, layanan kesehatan di bawah standar merupakan faktor penting dalam kelahiran mati.

.

Ada beberapa cara untuk mengurangi jumlah bayi yang meninggal dalam kehamilan, misalnya meningkatkan akses ke perawatan antenatal, menciptakan kesinambungan layanan melalui perawatan yang dipimpin oleh bidan sampai pada perawatan komunitas, jika memungkinkan. Mengintegrasikan pengobatan infeksi selama kehamilan, pemantauan detak jantung janin, dan pengawasan proses persalinan sebagai bagian dari paket perawatan terpadu, dapat menyelamatkan 1,3 juta bayi dari kejadian lahir mati. Pada awal tahun 2019, sekitar 200 juta ibu yang ingin menghindari kehamilan, tidak memiliki akses ke layanan kontrasepsi modern. Ketika ibu benar hamil, 30 juta ibu tidak melahirkan di fasilitas kesehatan dan 45 juta ibu menerima perawatan antenatal yang tidak memadai atau tidak ada, sehingga menempatkan ibu dan bayi pada risiko komplikasi dan kematian, yang jauh lebih besar.

.

Budaya tradisional seperti sunat perempuan dan pernikahan anak sangat merusak kesehatan reproduksi anak perempuan dan kesehatan bayi mereka. Ibu yang memiliki bayi pada usia yang terlalu muda, dapat berbahaya bagi ibu dan bayinya. Ibu remaja, usia 10 – 19 tahun, jauh lebih mungkin untuk mengalami eklampsia atau infeksi rahim dibandingkan ibu berusia 20-24 tahun, yang kedua kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko bayi lahir mati. Bayi yang lahir dari ibu yang berusia kurang dari 20 tahun, juga lebih cenderung memiliki berat badan lahir rendah, prematur, atau memiliki kondisi neonatal yang parah, yang semuanya dapat meningkatkan risiko bayi lahir mati. Sunat perempuan meningkatkan risiko ibu mengalami persalinan yang lama, terhambat, disertai perdarahan, dan robekan jalan lahir yang parah. Bayi yang dilahirkannya, jauh lebih mungkin membutuhkan resusitasi neonatal saat persalinan, dan menghadapi risiko kematian yang tinggi, selama persalinan atau setelah kelahiran.

.

Menempatkan ibu menjadi fokus perawatan sangatlah penting, agar ibu mendapatkan pengalaman kehamilan yang positif, baik dalam aspek biomedis dan fisiologis, juga untuk mendapatkan dukungan sosial, budaya, emosional dan psikologis. Namun demikian banyak ibu, bahkan di negara-negara maju dengan akses ke perawatan kesehatan terbaik, ternyata menerima perawatan yang tidak memadai setelah kehilangan bayi. Bahkan istilah yang digunakan oleh dokter untuk menjelaskan keguguran dan bayi lahir mati, dapat bersifat traumatis bagi ibu, misalnya “serviks yang tidak kompeten” atau “blighted ovum,” karena keduanya sangat menyedihkan bagi para ibu.

.

Ibu sering kali tidak menerima informasi apa pun tentang keguguran. Para dokter, bidan dan perawat sangat sering dingin dan tidak ramah, bahkan mereka bersikap seolah-olah itu hanya prosedur medis rutin. Diperlukan petugas medis yang memiliki sedikit rasa kemanusiaan, yang kemudian meyakinkan ibu bahwa ibu dapat mencoba lagi untuk hamil. Bergantung pada kebijakan rumah sakit, tubuh bayi yang lahir mati dapat diperlakukan sebagai limbah RS dan dimusnahkan. Aturan lokal ada yang berlaku bagi seorang ibu yang bayinya telah meninggal, diharuskan untuk menggendong bayi lain selama beberapa hari, sampai dia bisa melahirkan bayinya yang telah meninggal tersebut. Bahkan di negara maju, ibu dapat melahirkan bayi mereka yang telah meninggal di sebuah kamar bersalin, bersama dengan ibu lain yang bayinya sehat. Meskipun mungkin ada alasan medis untuk ketentuan itu, namun hal tersebut sebenarnya sangat menyusahkan bagi ibu dan pasangannya.

.

Mungkin sulit untuk merumuskan apa yang harus dikatakan, ketika ibu kehilangan bayi dalam kehamilan, tetapi kepekaan, dukungan, dan empati seharusnya diberikan bagi ibu, termasuk kesempatan untuk mengungkapkan perasaan mereka. Daripada mengatakan “Segala sesuatu terjadi karena suatu alasan”, sebaiknya mengatakan yang lain seperti “Saya sangat menyesal. Saya dapat membayangkan ini sangat menyedihkan bagi Anda.” Selain itu, daripada mengatakan “Setidaknya ibu tahu bahwa ibu dapat hamil”, cobalah hanya mendengarkan dan mungkin bertanya “Apa kabar?”. Juga daripada mengatakan “Setidaknya ibu sudah memiliki anak yang sehat”, mungkin lebih baik mengatakan “Saya sangat menyesal atas kehilangan bayi ini”.

.

Untuk menyelamatkan lebih banyak bayi yang meninggal dalam kehamilan, perlu tambahan tindakan untuk meningkatkan akses ibu hamil ke perawatan antenatal. Selain itu, juga membentuk kesinambungan perawatan dalam masalah emosi, psikologi, sosial, budaya dan medis, khususnya bagi ibu yang kehilangan bayinya.

Apakah kita sudah bijak?

Sekian

Yogyakarta, 21 Maret 2019

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak di RS RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161.

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?