Categories
Healthy Life Jalan-jalan sejarah

2026 Ngrabuk Nyowo ke Semarang

Bis Bimo sudah siap berangkat di samping Villa Selatan Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta

NGRABUK  NYOWO

fx. wikan indrarto dan b. sari prasetyati

Asrama Mahasiswa Realino adalah asrama bersejarah di Yogyakarta yang didirikan oleh para pastor dari ordo Serikat Jesus (Yesuit) pada tahun 1957. Terkenal sebagai “percobaan kecil tentang Indonesia”, asrama ini legendaris karena menampung mahasiswa dari berbagai suku, agama, ras, dan kampus di Yogyakarta (UGM, IKIP Negeri Yogyakarta (UNY), IKIP Sanata Dharma (USD), Universitas Atma Jaya Yogyakarta dan UPN Veteran) untuk hidup bersama dan memupuk toleransi. Lokasi asrama berlantai 2 berkapasitas 150 mahasiswa ini berada di Jl. Gejayan, Mrican Yogyakarta dan ditutup tahun 1989, yang kini sebagian besar telah dialihfungsikan menjadi area kampus Universitas Sanata Dharma (USD).

Dapat juga dilihat pada :

https://www.instagram.com/p/DbR8sAZIP8g/?igsh=MWphN2x6ZHNtZzdoZw==

Para warga asrama tersebut saat ini tersebar di seluruh dunia dan tergabung dalam Forsino (Forum Komunikasi Realino). Forsino Cabang Yogyakarta secara rutin mengadakan acara ‘Ngrabuk Nyowo’. Secara harfiah dalam bahasa Jawa berarti “memupuk jiwa” atau “memberi nutrisi pada kehidupan”. Frasa ini bersifat kiasan (metafora) untuk menggambarkan usaha atau aktivitas yang membuat batin pesertanya tetap hidup, sehat, penuh harapan, dan terus berkembang. Tujuannya adalah menjaga mental atau harapan agar tetap tumbuh meski sedang menghadapi masa-masa sulit. Selain itu, juga bersilaturahmi untuk menjalin hubungan baik antar sesama manusia, yang dipercaya sebagai rabuk nyowo (pemupuk jiwa) karena membawa kebahagiaan dan kepedulian.

Setelah berdoa dan menyanyikan lagu MARS REALINO, para peserta bersiap berangkat ke Semarang dari halaman Audiorium Driyarkara USD yang tinggi menjulang

Ngrabuk Nyowo Forsino Yogyakarta seri ke 18 diisi dengan piknik bersama naik bis. Pada Minggu, 26 Juli 2026 pagi hari, kami semua berkumpul di sekitar bekas Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta. Setelah berdoa bersama dan menyanyikan mars Realino dengan penuh semangat, kami naik bis Pariwisata Bimo.

Suasana gembira di dalam bis Bimo, sambil mendengarkan suara merdu Prof. Yoyong Arfiadi SeV 76 dan ibu Astuti, dalam karaoke meriah menjelang masuk Ambarawa.

Bimo Transport dimulai pada tahun 1986, dan didirikan oleh dua orang, yaitu Subagyo Hadi Siswoyo (Kepala Staf TNI Angkatan Darat periode 1998–1999) dan Marsudiono. Subagyo HS menetapkan 12 Juni, hari kelahirannya, sebagai hari ulang tahun perusahaan yang awalnya merupakan usaha angkutan antarkota dalam provinsi (AKDP) yang melayani rute Yogyakarta–Wonosari. Pada tahun 2000 layanan AKDP diakhiri dan Bimo Transport berubah sebagai perusahaan yang sepenuhnya bergerak di bidang transportasi pariwisata.

Per 2024, PO Bimo mengoperasikan 22 bus, dengan rincian 20 bus besar dan 2 bus sedang. Ciri khas tampilan bus adalah gambar wayang Bima, karakter Pandawa dalam wiracarita Mahabharata, yang berwarna biru, sesuai dengan karakter Mahabharata tersebut. Selain itu, bintang empat berwarna emas di atas tanda huruf “BIMO” yang berwarna merah, melambangkan kepangkatan TNI terakhir yang dijabat oleh Subagyo HS, yakni Jenderal TNI (Purn).

Sepanjang jalan kami selalu riang, penuh tawa dan bahagia. Apalagi Bapak Agus ‘Dodiet’ Haryanto memberikan berbagai pertanyaan yang sangat bervariasi isinya dalam quis berhadiah. Setelah melibas sebagain Tol Trans Jawa, kami mencapai Benteng Willem I atau lebih dikenal dengan nama Benteng Pendem Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Benteng yang dibangun pada tahun 1834, ini terletak di dekat Museum Kereta Api, atau di belakang Rumah Sakit Umum Daerah dr. Gunawan Mangunkusumo, dan berada di kompleks Lembaga Pemasyarakatan Kelas II Ambarawa. Benteng ini pernah digunakan sebagai lokasi pengambilan gambar untuk film Soekarno yang disutradarai oleh Hanung Bramantyo.

Bergaya bersama di depan gerbang Benteng Willem I (Benteng Pendem) Ambarawa yang putih dan tinggi

Gerbang Benteng Willem I (Benteng Pendem) Ambarawa yang gagah

Lengkung berulang adalah interior khas Benteng Willem I (Benteng Pendem) Ambarawa yang artistik.

Disebut pendem atau pendhem (bahasa Jawa) karena benteng ini berada di bawah tanah atau terkubur, sebagai sebuah siasat perang. Pada tahun 1840-an di bawah kekuasaan pemerintah kolonial Hindia Belanda di Jawa, Ambarawa merupakan titik sumbu strategis antara Semarang dan Surakarta. Sejak awal abad-18, VOC membangun benteng benteng di sepanjang jalur Semarang – Oenarang (sekarang Ungaran) – Salatiga – Surakarta (Solo). Rancangan ini dimaksudkan untuk pengembangan hubungan dengan Kesultanan Mataram. Kamp-kamp militer juga dibangun di berbagai kota yang dilalui, tak terkecuali Ambarawa. Pada masa kekuasaan Kolonel Hoorn, tahun 1827-1830, sempat ada barak militer dan penyimpanan logistik militer, dan pada tahun 1834 dibangunlah sebuah benteng modern di Ambarawa yang kemudian diberi nama Benteng Willem I pada tahun 1853. Pada tahun 1853 sampai tahun 1927 digunakan sebagai barak militer Hindia Belanda atau KNIL yang terhubung ke Magelang, Yogyakarta, dan Semarang melalui jalur kereta api.

Bergaya di bawah lengkung berulang khas Benteng Willem I (Benteng Pendem) Ambarawa yang tetap terjaga indah.

Beda sisi Benteng Willem I (Benteng Pendem) Ambarawa yang putih telah direnovasi dan merah bata yang asli

Pada umumnya benteng dibangun dengan prinsp defensif dan kuat yang dimaksudkan untuk pertahanan dari serangan musuh. Juga dibangun parit mengelilingi benteng untuk memaksimalkan pertahanan.  Namun Benteng Willem I ini ternyata memiliki desain yang berbeda. Dengan banyak jendela, benteng ini bukan dirancang untuk pertahanan, tetapi untuk barak militer dan penyimpanan logistik militer. Di benteng ini juga tidak dilengkapi bangunan sebagai tameng. Dan tidak ada lubang di puncak dinding, seperti halnya pada benteng peninggalan Portugis, yang dirancang untuk memasang meriam.

Adik bungsu di asrama, yaitu Bapak E. Ponco Yulianto SeV 89 beserta istri yang tinggal di Ungaran, bergabung bersama kami di Benteng Pendhem Ambarawa. Sayang sekali, karena kesibukan keduanya, akhirnya pertemuan kami hanya sampai di bis Bimo, tidak ikut lanjut ke Semarang.

Mas Ponco Yulianto SeV 89 yang menyambut kami di Benteng Willem I (Benteng Pendem) Ambarawa yang berpamitan karena tidak dapat ikut lanjut ke Semarang

Selanjutnya kami mengunjungi Kelenteng Kuno Sam Poo Kong, yang secara harfiah dapat diterjemahkan sebagai “Gua Tiga Perlindungan”,  di Kota Semarang. Istilah “tiga perlindungan” merujuk pada doktrin Buddhisme tentang berlindung pada Triratna (bahasa Sanskerta) atau Tiratana (bahasa Pali), yaitu Buddha, Dharma, dan Sangha. Berdasarkan pemahaman tersebut, wihara atau kelenteng Triratna yang terdapat di Asia Tenggara kerap dikaitkan dengan tokoh Cheng Ho dan oleh karena itu dianggap sebagai klenteng Cheng Ho.

Kelenteng Kuno Sam Poo Kong Semarang yang ikonik bergaya Tiongkok

Kelenteng utama Sam Poo Kong Semarang yang ikonik merah menyala bergaya Tiongkok

Laksamana Zheng He yang menginspirasi pendirian tempat ibadah umat Buddha Tionghoa di Semarang

Laksamana Zheng He atau Cheng Ho adalah tokoh besar yang menginspirasi pendirian tempat ibadah umat Buddha Tionghoa di Semarang ini. Zheng He lahir di Provinsi Yunnan pada 1371 dari suku Hui, salah satu suku minoritas di Tiongkok. Kebanyakan masyarakat Hui beragama Islam, dan menggunakan nama marga Ma, bentuk sinisisasi dari Muhammad. Namun Zheng He mendalami dharma ajaran Buddha dari seorang biksu bernama Daoyan, yang juga memimpin pembacaan Bodhisattva Sila untuk Zheng He.

Pada 1414 Zheng He menyalin Vajracchedika Prajna Paramita Sutra (Jin Gan Jing), Guan Yin Sutra (Guanyin Jing), Amithaba Sutra (Mituo Jing), Marici Bodhisattva Sutra (Molizhitian Jing), Prajnaparamitahrdaya (Xin Jing), Surangama Sutra (Leng Yan Jing), Mahakaruna Dharani (Da Bei Zhou), Sarvadurgatiparisodhana Tantra (Zun Sheng Zhou), dan Mantra Sataksara (Bai Zi Shen Zhou). Setiap mendapat perintah melanglang buana, senantiasa memperoleh karunia dari San Bao. Arti kata San Bao adalah tiga mustika atau tiga permata yang merujuk pada Tri Ratna yaitu Buddha, Dharma, dan Sangha. Dalam Bahasa Indonesia menjadi Sam Poo dan nama akhirnya Sam Poo Kong.

Bangunan yang sekarang menjadi tempat ibadah ini diyakini sebagai bekas tempat persinggahan dan pendaratan pertama Laksamana Zheng He/Cheng Ho, yang juga dikenal dengan nama Sam Poo. Tidak semua anak buah kapal beragama Islam. Kompleks Sam Poo Kong berada di daerah Simongan, sebelah barat daya Kota Semarang. Tanda yang menunjukan sebagai bekas petilasan yang berciri keislaman dengan ditemukannya tulisan berbunyi “Marilah kita mengheningkan cipta dengan mendengarkan bacaan Al Qur’an”.

Kelenteng ini disebut Gedung Batu karena bentuknya merupakan gua batu besar yang berada di sebuah bukit batu. Untuk mengenang Cheng Ho, masyarakat Indonesia keturunan Tionghoa beragama Buddha membangun sebuah kelenteng. Sekarang tempat ini dijadikan tempat peringatan dan pemujaan atau bersembahyang serta tempat untuk berziarah. Untuk keperluan tersebut, di dalam gua batu itu diletakkan sebuah altar serta patung-patung Sam Po Tay Djien.

Di Indonesia banyak yang menganggap Laksamana Cheng Ho adalah seorang Muslim, meskipun tidak ditemukan bukti pendukung atas keyakinan tersebut, akan tetapi umat Buddha Tionghoa menempatkannya sebagai dewa. Proses pendewaan atau deifikasi terhadap tokoh-tokoh besar memang merupakan praktik umum dalam tradisi spiritual Tiongkok, yang terbawa dalam bentuk akulturasinya dengan agama Buddha ke wilayah Nusantara.

Berpanas bersama di depan kelenteng Kuno Sam Poo Kong Semarang

Selanjutnya kami bersiap makan siang di salah satu soto legendaris, yakni warung soto khas Semarang Pak Man. Pendirinya yaitu Bapak Sholeman, yang berjualan sejak tahun 1978. Soto Ayam Khas Semarang Pak Man terkenal kelezatannya sehingga selalu ramai dikunjungi pembeli. Seporsi soto ayam Pak Man berisi nasi, bihun, ayam suwir, taoge, irisan tomat, dan potongan daun bawang dengan bening yang rasanya gurih.

Soto Ayam Khas Semarang Pak Man yang kami kunjungi

Soto Ayam khas Semarang Pak Man mempunyai lima cabang dan kami mengunjungi di cabang Jalan Pamularsih Raya No. 32. Dilansir dari laman setneg.go.id, dalam kunjungannya ke Semarang, Presiden Jokowi dan Ibu Iriana menyempatkan diri mencicipi kuliner soto khas kota Semarang untuk santap paginya. Rumah Makan Soto Ayam Khas Semarang Pak Man menjadi pilihan Jokowi untuk sarapan pada hari Sabtu, 14 April 2018. Presiden Jokowi dan rombongan tiba di rumah makan tersebut pada pukul 07.50 WIB.

Kenyang menu soto Ayam Khas Semarang Pak Man di Jl. Pamulrasih

Mas Darmadi (bertopi) dan mas Antok SeV 82 yang tinggal di Semarang dan bergabung dengan kami

Selanjutnya kami menuju ke Lawang Sewu (Seribu Pintu), gedung megah yang sebelumnya merupakan Gedung Administrasi N.V. Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij adalah bekas bangunan perkantoran yang terletak di seberang Tugu Muda di Samarang. Bangunan ini berstatus sebagai aset PT. Kereta Api Indonesia (KAI). Hal ini terjadi karena merupakan hasil dari perebutan aset-aset NIS dan perusahaan kereta api lain oleh Djawatan Kereta Api Republik Indonesia (DKARI) pada masa Perang Kemerdekaan. Saat ini bangunan tersebut dijadikan sebagai museum dan galeri sejarah perkeretaapian oleh Unit Pusat Pelestarian dan Desain Arsitektur dan kini dioperasikan KAI Wisata, anak perusahaan KAI yang bergerak di bidang pariwisata.

Bergaya setelah menyanyikan lagi MARS REALINO di tangga ke lantai 2 Lawangsewu Semarang

Kegagahan Lawangsewu Semarang dari sisi kanan gedung 1

Dari kiri : Fonali Lahagu 64, William dan Laras, Darmadi Tjandradjaja 82, F. Ronny Dwi Agus 79, Fx. Wikan Indrarto 84, Suyoto 75, Yoyong Arfiadi 78, Ibu Harlina Bobby, Ibu Agung, Ibu Maria Kok Sen, Vincentius Oe Kok Sen 84, Ibu Suyoto, Glenndonald A. Engko 78, Indah Ronny DA, A. Tristiyono Joko M 79, Ibu Merry Arinto, Ibu Sari Wikan, Ch. Agus Dodiet Haryanto 76, Ibu Tristiyono, Ibu Hastuti Edi Santosa, Ibu Titin Anggoro, Edi Santoso 80, Ibu Astuti Yoyong, Ibu Jonna Yoseph Pulo, Agung Sugihandono 80, Joseph Pulo 72, Y. Anggoro Triharyanto 84, Eddy Arianto 75, Wachid SC 79, Setiawan, Robertus 75, Eduardus Tandelilin 76, Ibu Nina Tandelilin

Lawang Sewu yang kami kunjungi diarsiteki oleh Cosman Citroen, dari firma yang dibentuk arsitek senior J. F. Klinkhamer dan B. J. Ouëndag. Bangunan ini dirancang dalam Gaya Hindia Baru, istilah yang diterima secara akademis untuk Rasionalisme Belanda di Hindia. Ini untuk mengintegrasikan preseden tradisional (klasisisme) dengan kemungkinan teknologi baru, yaitu gaya transisi antara Tradisionalis dan Modernis serta dipengaruhi oleh desain Berlage.

Keindahan interior Lawang Sewu Semarang yang diarsiteki oleh Cosman Citroen

Bertemu anak bungsu Larasati, dengan suaminya William, di Lawang Sewu Semarang, setelah mereka datang dari Jepara

Konstruksi dimulai pada tahun 1904 dan rampung pada tahun 1919. Setelah Jepang menduduki Hindia Belanda pada tahun 1942, tentara Jepang mengambil alih Lawang Sewu. Ruang bawah tanah gedung B diubah menjadi penjara dengan eksekusi mati dilakukan di dalamnya. Ketika Semarang direbut kembali oleh Belanda dalam pertempuran di Semarang pada Oktober 1945, pasukan Belanda menggunakan terowongan yang mengarah ke gedung A untuk menyelinap ke kota. Pertempuran terjadi dengan banyak pejuang Indonesia gugur. Lima pegawai yang bekerja di sana juga gugur.

Peserta Ngrabuk Nyowo lengkap berjejer di sudut Lawang Sewu Semarang

Setelah perang, tentara Indonesia mengambil alih kompleks. Bangunan tersebut kemudian dioperasikan oleh Djawatan Kereta Republik Indonesia (DKARI). Pada tahun 1992 bangunan ini ditetapkan sebagai cagar budaya.

Bergaya di depan bis Bimo dengan anak bungsu Larasati, dengan suaminya William, di Lawang Sewu Semarang

Mas Anggoro SeV 84 dan mbak Titin pamitan, karena akan menlanjutkan perjalanan pulang ke Batang di Stasiun Poncol Semarang.

Kunjungan kami ke Semarang diakhiri dengan menikmati Kota Lama Semarang (Belanda: Semarang Oude Stad) ini adalah suatu kawasan pusat perdagangan pada abad 19. Pada masa itu, untuk mengamankan penghuni dan wilayahnya, kawasan itu dibangun benteng, yang dinamai benteng Vijfhoek. Benteng ini hanya memiliki satu gerbang di sisi selatannya dan lima menara pengawas. Masing-masing menara diberi nama: Zeeland, Amsterdam, Utrecht, Raamsdonk dan Bunschoten.

Bergaya dengan anak bungsu Larasati, dengan suaminya William, di depan Gereja Blenduk, Semarang

Bergaya di depan gereja Blenduk Semarang

Untuk mempercepat jalur perhubungan antar ketiga pintu gerbang di benteng itu maka dibuat jalan-jalan perhubungan, dengan jalan utamanya dinamai Heerenstraat (Jl. Letjen Soeprapto). Salah satu lokasi pintu benteng yang ada sampai saat ini adalah Jembatan Berok (De Zuider Por). Kata Berok sendiri merupakan hasil pelafalan masyarakat pribumi yang kesulitan melafalkan kata Burg dalam bahasa Belanda.

Bergaya di depan MARBA di kawasan Kota Lama Semarang

Di sekitar Kota Lama dibangun kanal-kanal air yang keberadaannya masih bisa disaksikan hingga kini meski tidak terawat. Luas kawasan Kota Lama Semarang (Oude Stad) ini sekitar 31 hektare. Dilihat dari kondisi geografi, tampak bahwa kawasan ini terpisah dengan daerah sekitarnya, sehingga tampak seperti kota tersendiri dengan julukan “Little Netherland”.

Silau melawan cahaya matahari sore di kawasan Kota Tua Semarang

Bergaya di depan bangunan bekas bank di kawasan Kota Lama Semarang

Kawasan Kota Lama Semarang ini merupakan saksi bisu sejarah Indonesia masa kolonial Belanda lebih dari 2 abad, dan lokasinya berdampingan dengan kawasan ekonomi dan Stasiun Tawang. Di tempat ini ada sekitar 50 bangunan kuno yang masih berdiri dengan kukuh dan mempunyai sejarah Kolonialisme di Semarang. Secara umum karakter bangunan di wilayah ini mengikuti bangunan-bangunan yang ada di benua Eropa sekitar tahun 1700-an, dengan detail bangunan yang khas dan ornamen-ornamen yang identik dengan gaya Eropa. Seperti ukuran pintu dan jendela yang luar biasa besar, penggunaan kaca-kaca berwarna, bentuk atap yang unik, sampai adanya ruang bawah tanah.

Bergaya di depan semut merah di atas bangunan di kawasan Kota Lama Semarang

Pusat dari Kawasan Kota Lama Semarang terletak di Taman Srigunting, sebuah taman yang menjadi jantung dari kawasan tersebut. Di masa lalu, taman ini dikenal sebagai parade plein, lapangan yang sering digunakan untuk parade militer karena dekat dengan sebuah barak militer. Sebelum menjadi lapangan, taman ini berfungsi sebagai kerkhof atau pemakaman warga Eropa. Pada awal abad ke-19, kerkhof dipindahkan ke daerah pengapon.

Selanjutnya kami kembali masuk ke bis Pariwisata Bimo yang mengusung bodi buatan Karoseri Morodadi Prima Malang, Jawa Timur. Perintis usaha karoseri ini adalah Bapak Bambang Gunawan pada 1978. Morodadi bermakna kepercayaan, yaitu saat pelanggan datang, maka barang jadi sesuai keinginan. Ini sesuai cita-citanya untuk membangun rasa percaya antara pelanggan dan perusahaan. Logo Singa yang digunakan diambil dari simbol yang melambangkan Kerajaan Singosari yang melambangkan semangat tinggi dan etika kerja yang baik, untuk menghasilkan bodi bus yang kuat, kokoh, aman, dan nyaman.

Untuk kategori bis besar, perusahaan ini menggunakan beberapa sasis seperti Mercedez Benz OH 1518, 1521, dan 1526. Selain itu juga menerima sasis Hino R260 dan Hyundai Aero Space. Sementara itu, untuk gayanya panten menggunakan desain New Travego dan Patriot.

Bis Bimo buatan Karoseri Morodadi siap meluncur kembali

Morodadi Prima hingga kini telah mengantongi sejumlah sertifikat resmi dari Mercedez Benz no: BBA-002/12 kepada PT. Morodadi Prima untuk mengakui bahwa semua design, rekayasa dan process produksi bus dengan chasis OH 1626 telah memenuhi semua standard Quality Gate Assessment.

Makan malam di Tahu Baxo Ibu Pudji Ungaran, sebelum kembali ke Jogja

Dalam perjalanan kami kembali ke Yogyakarta, kami singgah di Tahu Baxo Ibu Pudji. Bisnis legendaris sejak tahun 1995 ini dirintis oleh sepasang suami istri, Pudjianto (67) dan istri tercinta, Sri Lestari (65). Mereka berdua merupakan pelopor dan pionir tahu bakso di Semarang. Dasar idenya adalah bahwa tahu adalah makanan sehari-hari dan bakso kesukaan semua kalangan dari anak-anak sampai orang tua. Jadi saat digabungkan menjadi satu makanan baru, didasari pemikiran dan harapan dapat disukai banyak orang. Awalnya hanya disebut tahu yang diisi daging. Setelah kurang lebih satu tahun berjualan, di tahun 1996, barulah disebut tahu bakso. Selain itu, awalnya dinamai “Tahu Bakso Kepodang”, dikarenakan tinggal dan dijual di Jl. Kepodang Semarang. Mulai tahun 2002 resmi bernama Tahu Baxo Ibu Pudji. 

Akhirnya kami sampai kembali ke Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta pk. 21 dalam suasana riang, gembira dan bahagia. Terimakasih banyak atas kebersamaan kita semua dalam bis.

Ayo piknik !

wikan & sari

Categories
dokter Jalan-jalan sejarah

2026 Dari Salemba untuk Dokter Indonesia

Dari Salemba untuk dokter Indonesia
fx. wikan indrarto

Kesempatan menjalankan tugas dari Fakultas Kedokteran Universitas Atma Jaya Yogyakarta (FK UAJY), berangkat ke Jakarta untuk menghadiri acara Forum Dekan FK oleh AIPKI pada Kamis sampai Minggu, 16-19 Juli 2026.

Lihat juga :

https://www.instagram.com/p/Da-VmLOFL1s/?igsh=Y2UwYXE4ZDYyZWJw

AIPKI adalah singkatan dari Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia, yaitu organisasi yang menaungi seluruh fakultas kedokteran di tanah air Indonesia. Saat ini sudah ada 148 Fakultas Kedokteran (FK) di Indonesia

Memasuki gerbang Stasiun Tugu Yogyakarta

Kamis malam, 16 Juli 2026 saya bergegas menuju Stasiun Tugu Yogyakarta untuk masuk ke perut KA Taksaka menuju Stasiun Gambir di Jakarta Pusat. Lanjut naik Bajaj menuju Hotel Borobudur dan lanjut istirahat sejenak.

Nyaman di dalam perut KA Taksaka dari Yogyakarta menuju Stasiun Gambir di Jakarta Pusat.

Sampai di Gerbang Hotel Borobudur Jakarta pada dini hari

Jumat pagi, 17 Juli 2026 setelah ‘early breakfast’, saya mendapat penjelasan dari dr. Risma Ikawaty, MSc, PhD Wakil Dekan I FK Ubaya dari Surabaya. Sambil menunggu bis FK UI yang akan menjemput para peserta Forum Dekan di lobi Hotel Borobudur Jakarta, FK Ubaya menggunakan RS Ibnu Sina di Gresik sebagai RS Pendidikan Utama (RSPU). Dibandingkan UAJY yang sesama PTS, ternyata 2 tahun sejak FK berdiri, Ubaya langsung merancang pendirian RS Pendidikan sendiri, untuk memudahkan sinkronisasi program pendidikan jenjang sarjana, dengan jenjang profesi, bahkan sampai pada jenjang spesialis. Pada 2 tahun kemudian, RS Pendidikan FK memulai operasional tahap rawat jalan dan pada tahun ke 4 sudah lengkap semua layanan. Meskipun demikian, RS baru yang sedang berkembang tersebut kemudian digunakan sebagai RS Pendidikan Satelit, dengan RSPU tetap di RS Ibnu Sina sampai beberapa tahun ke depan. Setelah semuanya siap, RSPU akan menjadi milik Ubaya sendiri dan bahkan akan dikembangkan menjadi wahana pendidikan program spesialis.

Bersama Prof. dr. Ramdan Panigoro, MSc, PhD. (Guru Besar Unpad dan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Parahyangan) Bandung

Aula FK UI yang legendaris di Jakarta

Bersama Prof. Dr. dr. Reviono, SpP(K) Dekan FK UNS Surakarta

Dengan bis milik FK UI, kami segera mendarat di Aula FK UI Salemba Jakarta Pusat yang legendaris, untuk mengikuti sesi pembukaan Forum Dekan AIPKI. Acara diadakan di IMERI (Indonesia Medical Education and Research Institute) yang berada di dalam kompleks Kampus Universitas Indonesia (UI) Salemba, Jalan Salemba Raya No. 6, Senen, Jakarta Pusat.

Para peserta Forum Dekan FK oleh AIPKI 2026 di Aula FK UI Jakarta

Bersama Prof. Dr. dr. Reviono, SpP(K) Dekan FK UNS Surakarta

AIPKI adalah organisasi yang berfungsi sebagai wadah komunikasi dan kolaborasi antara institusi dengan pemerintah untuk menjaga, merumuskan, dan meningkatkan mutu pendidikan medis agar sesuai dengan standar nasional.

Duduk mengantuk di barisan ketiga dari depan, kelima dari kiri, dengan para peserta Forum Dekan FK oleh AIPKI 2026 di Aula FK UI Jakarta

Setelah sambutan seremonial pembukaan oleh Ketua Panitia Forum Dekan FK AIPKI 2026, dr. Eric Daniel Tenda, DIC., PhD, Sp.PD, Sub-Sp.P.M.K (K), FINASIM, FISQua dan Dekan FK UI Prof. Dr. dr. Anna Rozaliyani, M.Biomed, SpP(K) yang dilantik secara resmi oleh Rektor UI pada 8 Desember 2025, sebagai tuan rumah acara. Selanjutnya Ketua Umum Pengurus Pusat Asosiasi Institusi Pendidikan Kedokteran Indonesia (AIPKI) Prof. Dr. dr. Wisnu Barlianto, M.Si.Med., Sp.A(K). Beliau menggantikan ketua periode sebelumnya, Prof. Dr. dr. Budi Santoso, Sp.OG(K).

Kegiatan Forum Dekan FK AIPKI diawali pada Kamis, 16 Juli 2026 dengan diskusi panel yang menghadirkan para dekan FKUI periode sebelumnya. Sesi yang tidak sempat saya ikuti ini ditujukan untuk memberikan perspektif historis sekaligus refleksi pengalaman kepemimpinan dalam menghadapi dinamika pendidikan kedokteran.

Pada hari kedua, 17 Juli 2026, saya mengikuti agenda seremonial pembukaan yang dilanjutkan dengan keynote speech oleh Menteri Pendidikan, Sains, dan Teknologi. Selain itu, akan diselenggarakan diskusi panel serta sesi pleno bersama Ketua AIPKI yang membahas isu-isu strategis terkini dalam pendidikan kedokteran.

Selanjutnya adalah sesi diskusi dengan tema Kebijakan Diktisaintek Berdampak – Arah Penjaminan Mutu Pendidikan Kedokteran dan Optimalisasi Sistem Kesehatan Akademik (SKA), yang dipimpin oleh Prof. dr. Tonang Dwi Ardyanto, Sp.PK(K), Ph.D (Wakil Sekretaris 1 AIPKI). Terus lanjut sesi Diskusi Panel selanjutnya dengan tema Kebijakan Pendidikan Kedokteran : Transformatif dan Pelayanan Kesehatan di Indonesia (S1/profesi dokter, Sp1, Sp2).

Sesi istirahat siang itu saya mengikuti Prof. Dr. dr. Reviono, Sp.P(K), Dekan FK UNS Surakarta teman seangkatan di FK UGM 84 (Konga) menemui Dr. dr. Retno Sulistyo Wardani, Sp.T.H.T.B.K.L, Subsp.Rino(K), teman sesama Konga yang merupakan dokter spesialis THT konsultan rinologi di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM).

Bersama Prof. Dr. dr. Reviono, SpP(K) Dekan FK UNS Surakarta dan Dr. dr. Retno Sulistyo Wardani, Sp.T.H.T.B.K.L, Subsp.Rino(K), konsultan rinologi di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), semuanya teman seangkatan di FK UGM 84 (Konga)

Kami bertiga lanjut mengikuti Hospital Tour di RS yang berdiri sejak 19 November 1919. RSCM memiliki peran sebagai RS pusat rujukan nasional yang terkenal dengan berbagai layanan unggulannya dan juga sebagai RSPU FK-UI. Nama rumah sakit ini diambil dari nama dr. Tjipto Mangoenkoesoemo, seorang tokoh perjuangan Indonesia pada masa kolonial Belanda.

Bersama Prof. Dr. dr. Reviono, SpP(K) Dekan FK UNS dan Dr. dr. Retno Sulistyo Wardani, Sp.T.H.T.B.K.L, Subsp.Rino(K), di Pavilian Kanigara sayap bisnis menangah RS Cipto Mangunkusumo (RSCM)

Di RSCM, ribuan dokter dan tenaga kesehatan lain bersama-sama melayani ribuan pasien dari seluruh Indonesia yang setiap hari berkunjung ke RS ini. RSCM dengan 1.000 tempat tidur merupakan pusat rujukan nasional rumah sakit pemerintah dan merupakan tempat pendidikan dokter umum, dokter spesialis dan subspesialis, perawat, perawat spesialis, serta tenaga kesehatan lainnya.

Tiga serangkai KONGA yang jalan bersama dalam Hospital Tour RSCM

Lorong RSCM Jakarta yang legendaris

Bertiga kompak sampai IMERI FK UI

Setelah makan siang bersama di Kantin RSCM Kencana, kami berdua kembali ke IMERI FK UI untuk mengikuti diskusi panel selanjutnya dengan tema Kerangka Kerja & Peta Jalan Penjaminan Mutu Akademik Pendidikan Dokter dan Optimalisasi peran AIPKI dengan moderator Prof. Dr. dr. Haerani Rasyid, MKes., SpPD,K-GH., Sp-GK., FINASIM (Dekan FK Universitas Hasanuddin – Wakil Ketua 1 AIPKI). Lanjut Diskusi Panel dengan tema “Posisi dan Peran AIPKI pada Penjaminan Kualitas Pendidikan Kedokteran dan Optimalisasi AHS dan Dialog bersama Majelis Guru Besar Kedokteran Indonesia (MGBKI).

Berjalan kaki menyeberangi Jl. Salemba yang padat lalu lintas, untuk menuju ke RS Saint Carolus (RSSC) Jakarta

Sore itu saya melanjutkan kegiatan dengan mengunjungi RS Saint Carolus Jakarta, dengan berjalan kaki menyeberangi Jl. Salemba yang padat kendaraan. Begitu sampai, saya langsung teringat Lagu “Berpisah di Teras St. Carolus”. Lagu yang diciptakan oleh musisi legendaris Wedhasmara ini, merupakan lagu lawas yang menceritakan perpisahan pasien dengan seorang perawat. Lagu ini sangat populer dibawakan oleh penyanyi era 1960-an, yaitu Lilis Suryani dan sering direkam ulang oleh penyanyi seperti Rani pada Agustus 1999.

Kami bertemu di teras RS dengan Direktur RSSC Kolonel CKM (purn) dr. Robertus Bebet Prasetyo, SpU (K), saat mengingat lagu “Berpisah di Teras St. Carolus” yang diciptakan oleh musisi legendaris Wedhasmara

Rumah Sakit St. Carolus di Jakarta resmi dibuka pada 21 Januari 1919. Diprakarsai oleh Uskup Batavia Mgr. Edmundus Luypen, SJ dan dikelola oleh para biarawati dari Kongregasi Suster Suster Cinta Kasih Santo Carolus Borromeus (CB), rumah sakit ini memelopori pendidikan keperawatan dan kebidanan di Indonesia pada era 1940-an dan telah berkembang menjadi salah satu rumah sakit bersejarah tertua dengan fasilitas modern di ibu kota.


Dengan semboyan Kami Melayani dari Hati dan Membangkitkan Harapan, RS St. Carolus (RSSC) adalah rumah sakit tertua ke-2 se-Jakarta yang sudah berinovasi menjadi bangunan yang modern. Pelayanan yang diberikan RS St. Carolus sudah sesuai dengan standar kualitas terbaik, dokter & tenaga medis profesional serta, fasilitas lengkap.

Pendirian RSSC diawali dengan pertemuan sejumlah tokoh awam Katolik Batavia di bawah pimpinan Mgr. Edmundus Sybrandus Luypens SJ (Vikaris Apostolis Batavia), Pastor Sondaal SJ, Pastor van Swieten SJ, Bp. Karthaus, berinisiatif mendirikan sebuah rumah sakit Katolik di Batavia. Pada awal 1915 Mdr. Lucia Nolet, CB (Pemimpin Umum Kongregasi Suster-suster Cinta Kasih St. Carolus Borromeus 1914–1926) menerima tawaran Mgr. Luypens, SJ untuk membuka karya misi di Hindia Belanda – Batavia. Karena situasi perang dunia pertama saat itu, maka baru pada tanggal 22 Juni 1918, Sepuluh Suster CB dari Negeri Belanda berangkat ke Batavia dengan kapal laut, dan tiba di Tanjung Priok pada tanggal 7 Oktober 1918. Pada tanggal 21 Januari 1919 Pelayanan Kesehatan St. Carolus dimulai dan diberkati oleh Mgr. Edmundus S Luypen, SJ dengan kapasitas 40 tempat tidur.

Diterima di ruang kerja Direktur RSSC Kolonel CKM (purn) dr. Robertus Bebet Prasetyo, SpU (K)

Sejarah indah tersebut terngiang saat saya diterima oleh Direktur RSSC Kolonel CKM (purn) dr. Robertus Bebet Prasetyo, SpU (K) yang tegak, ramah dan sangat sibuk. Dokter TNI AD anggota Dokter Kepresidenan RI dan besan dr. Ambar Kelanawati (kakak kelas di FK UGM) sangat ramah sampai mengajak Hospital Tour menikmati sejarah RSSC.

Mengunjungi sepupu dik Gregorius Adi Utomo di Duren Sawit

Terimakasih dik Mukti yang sudah mendampingi suami dik Gregorius Adi Utomo di Duren Sawit setelah pulih dari sakit

Masuk Stasiun Buaran dari rumah adik sepupu di Duren Sawit Jakarta

Terus saya dijemput Bapak Mulyadi, sopir keponakan saya, dik Eka Novianto, sebagai Vice President Director di PT Summit Adyawinsa Indonesia yang merupakan lulusan S-1 Teknik Kimia UGM 1990. Keponakan yang pernah menjadi Wakil Presiden Senat Mahasiswa Fakultas Teknik UGM dan Pengurus Lembaga Kemahasiswaan itu mengutus pak Mulyadi dengan Honda CRV hitam mengantar saya ke Duren Sawit. Saya mengunjungi sepupu, dik Gregorius Adi Utomo yang baru tahap pemulihan setelah pasang stent jantung di RS Jantung Matraman. Setelah menguatkan harapan akan kesembuhan dan mendukung sikap sigap menjalani pemulihan dalam pendampingan oleh dik Mukti istrinya, saya diantar naik motor oleh adik iparnya menuju Stasiun Buaran. Saya menikmati perjalan dalam gerbong KRL.


KRL Commuter Line adalah sistem transportasi angkutan cepat komuter berbasis kereta rel listrik (KRL) yang dioperasikan oleh PT Kereta Commuter Indonesia (KAI Commuter), anak perusahaan dari PT Kereta Api Indonesia (Persero). Layanan ini telah beroperasi di wilayah Jakarta sejak tahun 1925, hingga kini melayani rute komuter di wilayah Jabodetabek serta lintas Yogyakarta—Palur.

Suasana sore di KRL Line biru dari Stasiun Buaran ke Manggarai Jakarta

Tertinggal KRL di Stasiun Manggarai

Saya naik Line Blue (biru) dari Stasiun Buaran, melewati Klender, Jatinegara, Matraman dan turun di Manggarai. Di stasiun besar persimpangan antar moda tersebut, saya naik ke lantai 3 untuk berganti Line Red (merah) melewati Cikini, Gondangdia, Gampir dan turun di Juanda. Lanjut naik Go-Jek menuju Hotel Borobudur.

Senang sekali dapat menyambut anak tengah kami arsitek yang sangat sibuk, Bimoseno, di Hotel Borobudur Jakarta

Jumat malam, 17 Juli 2026 saya menyambut kedatangan dik Bimoseno, anak kedua kami yang sangat sibuk, sepulang dari kantor biro arsitek, di lobi Hotel Borobudur. Terimakasih banyak dik Bimo, anak kami yang baik, membawakan nasi bungkus untuk makan malam bersama di hotel

Bersama Hendro Edi, yang telah tidak pernah ketemu lagi sejak bersama lulus dari SMP Bruderan Purworejo Jawa Tengah

Reuni dengan keluarga Hendro Edi

Lanjut saya menerima Hendro Edi, teman SMP Bruderan Purworejo yang telah tidak ketemu sejak lulus, meskipun sama-sama kuliah di UGM. Ditemani istri dan Yosaphat, anak tunggalnya yang baru lulus dari FK UI dan bersiap mengikuti program internship dokter, bersama Laras, anak bungsu kami. Malam itu kami semua ngobrol asyik di Kamar 838 Hotel Borobudur Jakarta sampai mata hampir lengket mengantuk hebat

Ganti hari

Sabtu pagi, 28 Juli 2026 saya berjalan kaki melewati Lapangan Banteng, untuk mengikuti misa kudus harian pagi di Gereja Katolik Santa Perawan Maria Diangkat ke Sorga, Paroki Katedral Jakarta.

Gereja Katolik Santa Perawan Maria Diangkat ke Sorga, Paroki Katedral Jakarta.

Suasana megah dan berwibawa interior Gereja Katolik Santa Perawan Maria Diangkat ke Sorga, Paroki Katedral Jakarta.

Kursi uskup (catedra) di dalam Gereja Katolik Santa Perawan Maria Diangkat ke Sorga, Paroki Katedral Jakarta.

Bersama Rm. Macharius Maharsono Probo, SJ di Gereja Katolik Santa Perawan Maria Diangkat ke Sorga, sebagai Pastor Kepala Paroki Katedral Jakarta.

Rancangan arsitek Antonius Dijkmans, Gereja Katedral Jakarta dalam bahasa Belanda: De Kerk van Onze Lieve Vrouwe ten Hemelopneming, diresmikan pada 1901 dan dibangun dengan arsitektur neo-gotik dari Eropa, yakni arsitektur yang sangat lazim digunakan untuk membangun gedung gereja beberapa abad yang lalu. Setelah misa kudus selesai, saya sempat berfoto bersama dengan Romo Macharius Maharsono Probo SJ, Pastor Kepala Paroki, yang pernah menduduki jabatan serupa di Gereja Katolik St Antonius Padua Kotabaru Yogyakarta, di depan Graha Pemuda. Sebuah ruangan di samping Gereja Katedral Jakarta tersebut, pernah digunakan untuk menyusun draft Sumpah Pemuda yang digelorakan pada 28 Oktober 1928.

Masjid Istiqlal Jakarta yang tinggi menjulang

Lapangan Banteng dengan patung kebebasan Indonesia

Lanjut mampir sejenak ke Masjid Istiqlal dan Lapangan Banteng, sebelum kembali ke Hotel Borobudur Jakarta. Setelah menikmati sarapan berdua dengan dik Bimo, saya segera memberikan pelatihan online tentang Komite Medik yang diikuti oleh para dokter di RSUD Merauke, Papua Selatan.

Mengunjungi dr. FA Timmy Budi Yudhantara SpM, adik kelas di SMA Kolese de Britto Yogyakarta (JB 96), saat mendampingi dokter muda di RSSC Jakarta.

Sabtu pagi, 18 Juli 2026 saya kembali mengunjungi RS St Carolus untuk menemui dr. FA Timmy Budi Yudhantara SpM, adik kelas di SMA Kolese de Britto Yogyakarta (JB 96). Sambil membimbing dengan sabar para dokter muda dari FK Unika Atma Jaya Jakarta, dr. Timmy menerima saya di sela-sela melayani pasien. Terus saya jalan kaki lagi menyeberangi Jl. Salemba yang padat lalu lintas, untuk masuk ke Auditorium IMERI FK UI, mengikuti Forum Dekan FK AIPKI 2026 hari ketiga.

Bersama Ibu Dekan FK UMS Surakarta Dr. dr. Flora Ramona Sigit Prakoeswa, M.Kes., Sp.KK., Dipl.STD-HIV., FINSDV

Bersama Laksamana Pertama TNI (Purn.) dr. Herjunianto, Sp.PD, MMRS Bapak Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS)

Bersama Ketua Umum AIPKI, Prof. Dr. dr. Wisnu Barlianto, M.Si.Med., Sp.A(K) (berkacamata) dari FK UB Malang dan Sekjen AIPKI Dr. dr. Safrizal Rahman, M.Kes., Sp.OT (FK USK Banda Aceh)

Setelah diskusi panel yang dialogis, dengan pembicara Dr. dr. Flora Ramona Sigit Prakoeswa, M.Kes., Sp.D.V.E. Dekan FK UMS Surakarta berjudul Penjaminan Mutu sebagai Penggerak Transformasi: Perjalanan FK UMS Menuju Akreditasi Internasional. Lanjut tema Penerapan Sistem Penjaminan Mutu Pendidikan Kedokteran di Indonesia oleh Dr. dr. Riwanti Estiasari, Sp.S(K). Juga Sistem Pendidikan Kedokteran di Indonesia: From Policy to Practice oleh Prof. Dr, dr. Anna Rozaliyani, MBiomed, SpP(K) Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, yang mendapat masukan lebih luas oleh Prof. Dr. dr. Haerani Rasyid, M.Sc, Sp.PD-KGH, Sp.GK Dekan FK Unhas Makassar dan Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Trisakti, Dr. dr. Yenny, Sp.FK, terus saya ikut mengenal lebih jauh peran AIPKI dengan mengikuti diskusi paralel dengan subtopik utama terkait AIPKI.

Pertama, Fungsi dan Peran Utama Standarisasi Kurikulum: Berperan penting dalam merumuskan dan mengevaluasi kurikulum pendidikan kedokteran agar selalu relevan dengan perkembangan ilmu dan teknologi medis terkini. Diskusi di auditorium 1 & 2 di lantai 3 itu saya ikuti, bersamaan dengan diskusi kelompok Kedua, yang membahas tentang Koordinasi Antar Fakultas: Menjadi forum bagi para dekan fakultas kedokteran untuk bertukar informasi dan pengalaman dalam mengelola institusi. Juga Ketiga, Penataan Dokter Spesialis: Terlibat aktif dalam program pendampingan tenaga kesehatan dan pengembangan Rumah Sakit Pendidikan. Keempat, Penyelenggaraan AKTAPRO (Asesmen Komprehensif Tahap Profesi), dengan AIPKI menyelenggarakan try out nasional yang dahulu dikenal dengan sebutan TO AIPKI. Ujian simulasi ini dirancang bagi mahasiswa kedokteran sebagai persiapan untuk menghadapi Ujian Kompetensi Mahasiswa Program Profesi Dokter (UKMPPD).

Setelah selesai diskusi paralel, saya menerima teman lama alumni FK UI angkatan 1985, dr. Thomas BJ Aliandoe yang pernah bertugas bersama di Kabupaten Sikka, Flores NTT tahun 1992-1995. Sebagai alumni FK UI, dr. Thomas mengajak saya keliling (Campus Tour).

Bersama alumni FK UI 85 dr. Thomas BJ Aliandoe

Kampus FK UI didirikan pada 2 Januari 1849 (Dokter-Djawa School) yang saat ini dipimpin oleh Ibu Dekan Prof. Dr. dr. Anna Rozaliyani, M.Biomed., Sp.P(K). FK UI tidak lepas dari sejarah pendidikan dokter di Indonesia yang dimulai sejak zaman penjajahan Belanda. Adapun momentum pendidikan kedokteran di Indonesia lahir pada tanggal 2 Januari 1849 melalui Keputusan Gubernemen No. 22. Ketetapan itu menjadi titik awal penyelenggaraan pendidikan kedokteran di Indonesia (Nederlandsch Indie), yang ketika itu dilaksanakan di Rumah Sakit Militer. Selang dua tahun, Dokter Djawa School hadir memenuhi kebutuhan tenaga dokter yang dimulai tahun 1851. Walaupun lulusan tersebut diberi gelar Dokter Djawa, sayangnya lulusan sekolah tersebut hanya dipekerjakan sebagai mantri cacar, karena saat itu sedang terjadi wabah cacar. Nyaris 10 tahun lamanya dokter-dokter Indonesia harus menunggu untuk memperoleh wewenang lebih dari sekadar mantri cacar.

Bersama alumni FK UI 85 dr. Thomas BJ Aliandoe di Aula FK UI Salemba yang bersejarah

Lebih dari 20 tahun kemudian, yaitu pada 1898, barulah berdiri sekolah pendidikan kedokteran yang disebut STOVIA (School tot Opleiding van Indische Artsen). Para alumni ketika itu disebut Inlandsche Arts. Untuk memantapkan kualitas lulusan dalam hal praktik, pada akhir tahun 1919, didirikan Rumah Sakit Pusat CBZ (Centrale Burgerlijke Ziekenhuis, sekarang disebut RS Ciptomangukusumo/RSCM) yang dipakai sebagai rumah sakit pendidikan oleh siswa STOVIA. Kampus dengan dominasi warna putih yang kami kunjungi selesai dibangun pada tanggal 5 Juli 1920. Pada tanggal yang sama pula seluruh fasilitas pendidikan dipindahkan ke gedung pendidikan yang baru di Jalan Salemba 6 sekarang.

Diantar dr. Thomas BJ Aliandoe ke rumah teman

Setelah puas keliling kampus bekas FK, FE dan FT UI Salemba, saya diantar dr. Thomas BJ Aliandoe menuju rumah dab Fauzi, teman SMA Kolese de Britto Yogyakarta di seputaran Utan Kayu Jakarta. Setelah bercengkerama dan mengunjungi ibu mertuanya (88 tahun) yang sudah terpasang NGT sonde karena kesulitan menelan, terkait stroke otak kecil, saya pamit pulang.

Main ke rumah dab Nico Fauzi Bahari Fudhal, teman SMA Kolese de Britto Yogyakarta 1984, alumnus PPM (Pendidikan dan Pembinaan Manajemen) di seputaran Utan Kayu Jakarta

Siap makan menu enak banget buatan mbak Iswari (Alumni FPsi UGM dan Stece) dan dab Nico Fauzi Bahari Fudhal (teman SMA Kolese de Britto Yogyakarta 1984), di rumahnya Utan Kayu Jakarta


Terimakasih banyak kepada Bapak Ketua Lingkungan Albertus Utan Kayu di Paroki St. Yoseph Matraman Jakarta, dab Nico Fauzi Bahari Fudhal (JB 84) yang telah mengantarkan saya sesuai aplikasi, dari rumahnya yang artistik ke Terminal Terpadu Pulau Gebang Jakarta.

Diantar dab Nico Fauzi mendarat di Terminal Terpadu Pulo Gebang Jakarta

Luar biasa banget sambutan, dukungan, cerita dan inspirasi bisnis kamar kost yang diberikan olh dab Fauzi. Mohon maaf tidak membawakan oleh2, malah disiapkan makan siang banyak menu di meja makannya. Sampai ketemu lagi.

Siap naik bis tingkat Rosalia Indah berbodi Jetbus 3+SDD, yang gagah menjulang buatan karoseri Adiputro Malang, dan diusung sasis premium buatan Swedia Volvo BHR 430HP

Istirahat makan malam di Ros In Subang Jawa Barat dari Pulau Gebang Jakarta, sebelum lanjut ke Yogyakarta. Akan masuk di dalam lantai 2 bis tingkat Rosalia Indah berbodi Jetbus 3+SDD, yang gagah menjulang buatan karoseri Adiputro Malang, dan diusung sasis premium buatan Swedia Volvo BHR 430HP. Sangat lancar dan tleser2 melahap Tol Trans Jawa.

Salam holobis enak ngebis sambil mengenang hasil Forum Dekan FK AIPKI 2026 dari Salemba untuk dokter Indonesia

Terimakasih

Categories
anak Healthy Life Jalan-jalan sejarah

2014 Nyata di Italia

NYATA  DI  ITALIA
fx. wikan indrarto*)

Pada hari Senin dan Selasa, 8 dan 9 September 2014 kami mengikuti ERS (European Respiratory Society) International Congress 2014 yang diselenggarakan di ICM (Internationales Congress Center Munchen) di Messegelande, Munchen, Bavaria, Jerman. Setelah selesai acara konggres, kami meninggalkan Munchen, Jerman menuju Roma, Italia dengan menggunakan kereta api internasional City Night Line (CNL) 485, gerbong 255, bed 91 dan 92, Rabu 9 September 2014, berangkat pk. 21.08 dari Hauptbahnhof Central Station. Di dalam gerbong kelas 2 berharga tiket E 333.6, terdapat 6 tempat tidur bertingkat 3, dalam 2 baris pada 1 kamar. Kami berdua dapat bed paling bawah, sehingga tidak perlu memanjat tangga.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/05/22/2014-pancen-munchen/

.

Kereta melewati kota Kufstein di Jerman, Woergl, Jenbach, Inssbruck, Brennero atau Brener di Austria, lalu menyeberang ke Fortezza, Bressanone Brixen, Bolzano, Trento, Rovereto, Verona, Bologna, Firenze, Chiusi, Chiano, Orvieto dan akan turun di Roma Termini. Kami melewati tunnel (terowongan di bawah laut) di antara pulau Sprogo dan Zealand, sepanjang 8 km dalam waktu 4 menit. Kereta CNL berganti lokomotif 2 kali, yaitu di Fortezza dan Chiano, sehingga kami berganti posisi arah jalan juga 2 kali, dan yang terakhir dengan ditarik lokomotif milik Trenitali, sampai memasuki kota Roma.

 
DSC04410
 
DSC04413

City Night Line (CNL) 485
di Hauptbahnhof Munchen Central Station, Jerman

City Night Line (CNL) 485,
gerbong 255, bed 91, dari Jerman
menuju Italia

.

Roma adalah ibu kota Italia, ibu kota Provinsi Roma dan juga ibu kota daerah Lazio. Sebagai kota terbesar di Italia, Roma mempunyai populasi sebesar 2.823.807 jiwa (2004) dengan hampir 4 juta di daerah metropolitan. Sejarah kota ini sangat panjang, hampir 2.800 tahun. Ada bukti arkeologi manusia purba di daerah Roma sekitar 14.000 tahun yang lalu, disebut jaman Palaeolithic dan situs Neolitik. Cerita tradisional yang diwariskan oleh orang-orang Romawi kuno menjelaskan sejarah awal kota mereka dalam legenda dan mitos. Yang paling akrab mitos ini, dan mungkin yang paling terkenal dari semua mitos Romawi, adalah kisah Romulus dan Remus, si kembar yang disusui oleh seekor serigala betina. Mereka memutuskan untuk membangun sebuah kota, tapi pada akhirnya Romulus membunuh saudaranya. Menurut analis, ini terjadi pada 21 April 753 SM. Selama itu, kota ini pernah menjadi pusat Kerajaan Romawi, Republik Romawi dan Kekaisaran Romawi, dan belakangan negara Kepausan, Kerajaan Italia, dan kini Republik Italia.

.

Segera setelah Perang Dunia I selesai, Roma mengalami tumbuhnya kekuatan Fasisme Italia, yang dipimpin oleh Benito Mussolini, yang berbasis di Roma pada tahun 1922. Pada akhirnya Mussolini mendeklarasikan Kekaisaran Italia baru dan bersekutu dengan Nazi Jerman. Dalam Perang Dunia II, karena pengaruh dan kehadiran Vatikan, sebagian besar wilayah kota Roma lolos dari takdir tragis seperti kota-kota Eropa lainnya.

.

Roma telah menjadi situs ziarah Kristen (tepatnya pemeluk agama Katolik Roma) yang utama sejak Abad Pertengahan. Paus adalah pemimpin spiritual pemeluk Katolik dan tokoh paling berpengaruh sejak awal sejarah gereja. Meskipun sempat terjadi perselisihan antara Kepausan dan Kekaisaran Romawi saat Charlemagne, dinobatkan sebagai kaisar pertama di Roma pada tahun 800 oleh Paus Leo III, tetapi Roma sebagai pusat Kepausan dan “kota suci”, tetap berlangsung selama berabad-abad, bahkan ketika Kepausan pindah sebentar ke Avignon di Perancis (1309-1377). Umat Katolik percaya bahwa Vatikan adalah tempat peristirahatan terakhir Santo Petrus, pemimpin murid Yesus Kristus. Orang-orang Katolik dari seluruh dunia mengunjungi Vatikan, yaitu istana kepausan yang berada di dalam kota Roma. Kami juga berkehendak baik sebagai salah satu peziarah.

.

Kami memasuki pelataran Stasiun Kota Roma Termini Rabu, 9 September 2014, pk. 9.20. Segera kami bergegas naik taxi resmi warna putih, sebuah sedan VW, untuk menuju penginapan kami di CIAM (Centro Internazionale di Animazione Missionaria) via Urbano VIII no 16, Roma (Citta del Vaticano). Gedung tempat retret dan kegiatan kerohanian ini dibangun atas ide Mgr. Fulton Sheen Vescove Ausiliare (Uskup New York, USA), yang berada di dalam tembok beteng Vatikan. Kami menginap 2 malam di situ dengan tariff E 160, atas kebaikan hati Rm. Agus Widodo, Pr yang sedang studi S3 di Agustiano College Roma. Basilika (Katedral besar) Santo Petrus adalah tujuan utama peziarah, karena kehadiran paus dan merupakan makam banyak paus sebelumnya di sana, termasuk St. Petrus (St. Peter), yang diakui oleh umat Katolik sebagai Paus pertama.

.

 
Italia
 
DSC04478

Palazzo Senatorio,
Rome City Hall, pusat kota Roma, Italia

CIAM (Centro Internazionale di Animazione Missionaria) di dalam beteng batu bata kota Vatikan

.

Wilayah Kota Vatikan adalah bagian dari Mons Vaticanus (Bukit Vatikan), di mana terdapat Basilika Santo Petrus, Istana Apostolik, Kapel Sistina, dan museum Vatican. Wilayah ini bagian dari Rione Romawi Borgo sejak tahun 1929 dan dipisahkan dari kota Roma oleh sungai Tiber. Daerah itu merupakan bagian kota yang dilindungi oleh benteng batu bata merah sepanjang 3,2 km sejak jaman Paus Leo IV, kemudian diperluas oleh Paus Paul III, Pius IV, dan Urban VIII. Setelah menitipkan barang bawaan di kamar, kami segera bergegas menuju Basilika Santo Petrus. Kami akan mengikuti ‘Al Termine Dell’udienza Generale’ atau audiensi umum dengan Bapa Suci Sri Paus Fransiscus setiap hari Rabu. Kami segera menuju Terminal Gianicolo, melewati stazione San Pietro dan memasuki lapangan Santo Petrus yang sangat penuh peziarah, atas undangan resmi dari Prefettura Della Casa Pontificia (Tahta Suci).

.

 
St. Petro Roma
 
Paus Fransiscus

Dari Indonesia di antara lautan peziarah
dari seluruh dunia di Vatikan City

Bapa Suci Sri Paus Fransiscus
menyapa peziarah
di Lapangan Santo Petrus

.

Diperkirakan bahwa daerah di kota pinggiran kota Roma yang sebelumnya tidak dihuni ini (ager vaticanus), sudah selalu dianggap suci, bahkan sebelum kedatangan agama Kristen perdana. Pada tahun 326, gedung gereja pertama dibangun di atas tempat yang diperkirakan sebagai makam Santo Petrus. Sejak itu, tempat ini semakin banyak dihuni dan menjadi padat penduduk. Ketika Lateran Treaty ditandatangani pada 11 Februari 1929, juga dikenal dengan nama Concordat, oleh Kardinal Gaspari yang mewakili Paus Pius XI dan Benito Mussolini yang mewakili Raja Victor Emmanuel III, Lapangan Santo Petrus di dalam Kota Vatikan, terpisah dari wilayah Italia hanya dengan garis putih di sepanjang batas lapangan, sampai menyentuh Piazza Pio XII. Lapangan Santo Petrus yang kami kunjungi, dapat dicapai melalui Via della Conciliazione, yang membentang dari Sungai Tiber sampai ke Basiliki Santo Petrus. Kompleks besar ini dirancang oleh arsitek Piacentini dan Spaccarelli, atas perintah Diktator Benito Mussolini dan sesuai dengan ide gereja. Menurut Lateran Treaty, Tahta Suci, sebutan lain untuk Vatikan, yang terletak di dalam wilayah Italia, termasuk Istana Paus Castel Gandolfo dan basilika utama, diberikan status ekstrateritorial, mirip dengan kedutaan negara asing. Sejak itu Vatikan atau lebih lengkap disebut sebagai Kota Vatikan, dengan nama resmi Negara Kota Vatikan (Stato della Città del Vaticano), merupakan negara merdeka terkecil di dunia, dari segi luas wilayah yaitu 0,44 km² dan jumlah penduduk.

.

Sejak siang itu kami akrab dengan tulisan benvenuti (selamat datang), livello (level), uscita (exit), uscita di emergenza (pintu egermensi), zucchero (gula), leFrescheBiscottate, croissant (biscuit kering) dan vietato fumare (no smoking). Proprieta Privata (daerah khusus penghuni). Pada sore harinya, kami ditemani Rm. Agus Widodo, Pr memasuki Basilika Santo Petrus. Baik di dalam dan luar gedung basilika St. Petrus, lansekap dan bangunan ini  adalah ekspresi seni dan arsitektur era Renaissance, yang menampilkan karya Michelangelo, Bernini, Raphael dan Bramante. Lokasi pembangun basilika dipilih oleh Kaisar Konstantinus pada abad keempat. Pada zaman Romawi kuno, orang yang meninggal akan dikremasi. Setelah era gereja perdana yang religius, praktek penguburan adalah hal yang wajib dilakukan, seperti  oleh kaum Yahudi dan Kristen.  Monumen pemakaman dan prosesi pemakaman diizinkan di sepanjang jalan menuju ke kota. Orang Kristen pada abad kedua membuat kuburan komunal di katakombe, ruang bawah tanah gereja yang  diukir dari batuan tufa vulkanik lembut, dan menjadi sangat populer hingga saat ini. Pengunjung dapat berkeliling sampai beberapa  kilometer, mulai dari terowongan dengan ukiran makam yang rumit di beberapa situs, dan salah satu yang terbesar dan terpopuler  adalah ‘Catacombs of San Sebastian’. Sore itu kami sangat terkagum-kagum, atas keindahan karya seni Basilika Santo Petrus dan makam para paus di dalam dan di bawah basilica.

.

 
Lansekap Vatikan
 
Katakombe Vatikan
Lansekap Lapangan Santo Petrus, ekspresi seni dan arsitektur era RenaissanceKatakombe di bawah Basilika Santo Petrus di Vatikan City

.

Roma mampu bersaing dengan kota-kota besar Eropa lain dalam hal kekayaan, keagungan, seni, pendidikan dan arsitektur. Periode Renaissance mengubah wajah Roma secara dramatis, dengan karya-karya seperti Pietà oleh Michelangelo dan lukisan-lukisan dinding dari Borgia Apartment, yang semuanya dilakukan selama Paus Innocent. Roma mencapai titik tertinggi kemegahan pada jaman Paus Julius II (1503-1513) dan penerusnya Leo X dan Clement VII. Dalam jangka waktu dua puluh tahun ini, Roma menjadi salah satu pusat seni terbesar di dunia. Basilika Santo Petrus tua yang dibangun oleh Kaisar Konstantinus Agung (yang saat itu berada dalam keadaan rusak), dihancurkan dan yang baru mulai dibangun. Kota ini menjadi panggung artis seperti Ghirlandaio, Perugino, Botticelli dan Bramante, yang membangun kuil San Pietro in Montorio dan merencanakan proyek besar untuk merenovasi Vatikan. Raphael, yang di Roma menjadi salah satu pelukis paling terkenal dari Italia, menciptakan lukisan dinding di Villa Farnesina, para Raphael Rooms, ditambah banyak lukisan terkenal lainnya. Michelangelo mendekorasi langit-langit Kapel Sistina dan membuat patung Musa untuk makam Julius II. Setelah puas melihat tanpa memfoto karena keterbatasan kemampuan kamera, kami segera bergegas untuk menuju Ristorante Cinese Yuqilin. Perut kami menjadi kenyang karena menu Asia, yaitu Omelette (telor dadar), Tou Fu (tahu), Verdure Cinese (sayur). Setelah itu kami membeli tiket bis ‘Biglietto Integrato a Tempo vale 100 minute, 1 sola corsa metro/treno Transporto Publico Locale di ATAC (autobus, tram e metropolitana)’, yang akan kami gunakan untuk jalan-jalan. Tiket angkutan umum di Roma berlaku sesuai waktu untuk masa 100 menit, tidak tergantung jarak dan tujuan.

.

Kamis, 11 September 2014 yang gerimis, kami meninggalkan kamar 211 CIAM dengan berjalan kaki menuju Cavallegeri di dekat Terminal Gianicolo. Kami akan turun di Piezza Venezia dengan naik bis umum. Di Roma bis dan kendaraan lain melintas di jalan yang disusun dari batu tanpa aspal sama sekali, sehingga Roma disebut sebagai Kota Abadi atau The Eternal City. Kami naik bis no 46, berkenalan dengan seorang pastor dari Toledo, Spanyol yang memberkati kami berdua pada akhir perjumpaan kami di terminal bis Piezza Venezia. Pada tahun 1870, saat Roma menjadi ibu kota Kerajaan Italia, gaya bangunan neoklasisisme berpengaruh dominan dalam arsitektur Romawi. Selama periode ini, banyak istana besar dalam gaya neoklasik dibangun, untuk menjadi kantor kementerian, kedutaan besar, dan lembaga tinggi lainnya. Salah satu simbol paling terkenal dari neoklasisisme Romawi adalah Monument Vittorio Emanuele II atau “Altar Tanah”, dimana Makam Prajurit Tak Dikenal, yang mewakili 650.000 orang tentara Italia yang gugur dalam Perang Dunia I. Dengan berjalan kaki dari Piezza Venezia, kami menyeberang Fori Imperiati dan Il Vittoriano : Monumento Della Celebrazione, yang dibangun tahun 1878, untuk mengenang Kaisar Vittorio Emanuele II. Saat ini gedung tersebut digunakan sebagai museum, yaitu Museo Nazionale Emigrazione Italiana. Di belakangnya ada Gereja Santa Maria in Ara Coeli, di dalam sebuah areal arkeologis yang dinamakan Foro di Augusto.

.

 
DSC04479
 
DSC04488

Monumento Della Celebrazione Il Vittoriano, terlihat dari Piazza Venezia

Foro Di Cesare, Situs arkeologis Peninggalan Romawi di Italia

.

Kami segera bergegas dalam ketakjuban arkeologis, memasuki Foro Romano. Sepanjang jalan yang tertata rapi tersebut, dilengkapi banyak patung para kaisar Romawi, termasuk IMP Caesari Nervae Traiano Optimo Principi, dan Piazza e Statua Equestre di Traiano. Kami memasuki ‘I Fori di Roma’ dengan 6 kompleks peninggalan arkeologis, yaitu Foro Romano yang utama, kemudian Foro Di Cesare, Foro di Augusto, Foro Della Pace, Foro di Nerva dan Foro di Traiano. Foro Romano memiliki 31 buah tempat ekskavasi arkeologis, no 1 yaitu Tabularium dan no 31 adalah Via Sacra dan yang utama adalah Basilica di Massenzio. Sedangkan Foro Di Cesare ada 3 tempat yang menarik, yang utama adalah Necropoli protostorica.

.

Menurut sejarah Romawi, areal di dalam tembok kota, yaitu Servian Wall, yang dibangun oleh bangsa Galia pada sekitar tahun 390 SM. Batas ini meliputi sebagian besar perbukitan Esquiline dan Caelian. Servian Wall di Roma dibangun sampai hampir selama 700 tahun, sampai pada tahun 270, saat Kaisar Aurelian mulai membangun Tembok Aurelian. Tembok baru ini memanjang hampir 19 kilometer (12 mil) dan menjadi bagian sistem pertahanan kota pada perang tahun 1870 dan bertahan sampai sekarang dalam kompleks yang disebut ‘I Fori di Roma’. Salah satu simbol dari kejayaan masa lalu Roma adalah Colosseum (70-80 AD), amphitheatre terbesar yang pernah dibangun di jaman Kekaisaran Romawi. Awalnya mampu menampung 60.000 penonton yang duduk, untuk menyaksikan pertempuran gladiator. Monumen penting dari situs Romawi kuno meliputi Roman Forum, Domus Aurea, Pantheon, Kolom Trayanus, Pasar Trajan, Catacombs, Circus Maximus, Baths of Caracalla, Castel Sant’Angelo, Mausoleum Augustus, Ara Pacis, Arch of Constantine, Piramida Cestius, dan Bocca della Verità.

.

 
DSC04499
 
DSC04492
Colosseum, amphitheatre terbesar di jaman Kekaisaran Romawi, dapat menampung 60.000 penontonArch of Constantine
gerbang utama menuju Colosseum

.

Karena kehujanan pada akhir musim panas di Colosseum, kami segera pulang dengan naik bis kota nomor 916 ke arah Tassoni dan akan turun di Cavallegeri. Kami melewati Palazio Altieri, Chiesa Nuova, dan Sassia, untuk menuju Musei Vaticani dan Capella Sistina. Dengan berjalan kaki dari Cavallegeri, kami memasuki kembali areal Lapangan Santo Petrus. Dengan menyeberangi lapangan yang padat peziarah tersebut, kami melewati titik ziarah yang cukup populer yaitu tangga Pontius Pilatus. Menurut tradisi Kristen, tangga ini dibangun menyerupai langkah yang mengarah ke gedung pengadilan jaman Pontius Pilatus menghukum mati Yesus Kristus di Yerusalem. Di situlah, Yesus Kristus berdiri untuk memulai sengsara-Nya dalam perjalanan ke Bukit Golgota. Tangga tersebut dibawa ke Roma oleh St Helena di abad ke-4. Keindahnnya tidak kalah dibandingkan karya arsitektur era Renaissance, yaitu Piazza del Campidoglio oleh Michelangelo, Palazzo del Quirinale (sekarang istana Presiden Republik Italia), Palazzo Venezia, Palazzo Farnese, Palazzo Barberini, Palazzo Chigi (sekarang kantor Perdana Menteri Italia), Palazzo Spada, Palazzo della Cancelleria, dan Villa Farnesina. Juga Panorama Piazza del Campidoglio yang sangat menarik, dengan Patung Berkuda Marcus Aurelius yang gagah, dibangun selama era Baroque. Yang utama adalah Piazza Navona, Piazza di Spagna, Campo de ‘Fiori, Piazza Venezia, Piazza Farnese, Piazza della Rotonda dan Piazza della Minerva. Salah satu contoh yang paling eksotis sebagai simbol seni aliran Baroque adalah Fontana di Trevi oleh Nicola Salvi dan Palazzo Madama, sekarang digunakan sebagai gedung Senat Italia dan Palazzo Montecitorio, sekarang kantor wakil perdana menteri Italia.

.

Pada tahun 1266, saat Paus meninggal, para kardinal bertemu di Viterbo, tetapi tidak mampu menyetujui tentang penggantinya. Masyarakat kota Roma menjadi marah tentang itu, mengunci pintu gedung di mana mereka bertemu, memenjarakan mereka sampai mereka telah memilih paus yang baru. Periode ini menandai lahirnya ‘konklaf’ yang berarti kunci, dalam pemilihan seorang paus baru. Konklaf terakhir pada tahun 2013, dilakukan di Kapel Sistina di dalam kompleks Museum Vatikan, untuk memilih Paus Farnsiscus.

.

 
Tangga Museum Vatikan
 
DSC04508
Tangga Melingkar di Museum VatikanGerbang keluar Mesei Vaticani

.

Setelah melewati Guardaroba (ruang pemeriksaan barang) dan biglietteria (ticket), kami bergegas untuk pulang ke penginapan. Kedua kaki sudah terasa penat berjalan kaki jauh sekali, tetapi kedua mata dan kedalaman hati terasa tergagap, tidak mampu mengucapkan komentar, atas semua keindahan dan keajaiban seni yang telah kami nikmati. Malam ini kami tertidur pulas, setelah menyiapkan diri untuk menuju Rome-Fiumicino Leonardo da Vinci International Airport menuju ke Paris, dini hari Jumat, 12 september 2014.

Akan bersambung dengan petualangan di Perancis

*) pelancong Jawa bermodal niat Ditulis di kamar 116 CIAM (Centro Internazionale di Animazione Missionaria) via Urbano VIII no 16, Roma (Citta del Vaticano).

baca :  https://dokterwikan.wordpress.com/2018/05/23/2014-nyaris-di-perancis/

Categories
anak Healthy Life Jalan-jalan sejarah

2009 JELAJAH LAMPUNG : BUMI RUWA JURAI

JELAJAH  LAMPUNG  :  BUMI  RUWA  JURAI

fx. wikan indrarto dan b. sari prasetyati

Kami berlima dengan Yangti Salaman (Eyang Putri Yustina Nanik Karsini) berangkat dari Stasiun Tugu Yogyakarta dengan KA Argo Lawu pada Rabu pagi, 1 Juli 2009 menuju ke Jakarta. Setelah menginap semalam di rumah pakde Totok Ismintarto di Pamulang, Tangerang Selatan, kami melanjutkan dengan mobil sewaan, Kijang Innova B 8272 ZY ke Merak, di ujung barat Pulau Jawa. Biaya menyeberang kapal milik Indonesia Ferry yang dioperasikan ASDP untuk golongan 4A adalah Rp. 198.000 dengan waktu tempuh sekitar 2 jam, sampai di pelabuhan Bakauheni, di ujung selatan Propinsi Lampung (Ruwa Jurai). Ruwa Jurai berarti kaya raya dan indah berseri.

100_3269

Siap2 wisata bahari di  Pantai Mutun di jantung Teluk Betung, Lampung

Kami sampai di Bandar Lampung, ibukota Ruwa Jurai, Jumat, 3 Juni 2009 sekitar pk. 17.30 dan menginap di Hotel Arinas Jl. Radin Intan no 35A, di pusat kota. Malam itu kami beristirahat dan menikmati angin laut di alam bebas yang berhembus dari teluk Lampung. Bandar Lampung adalah sebutan untuk kota yang baru, sebab merupakan gabungan 3 kota lama yaitu Teluk Betung, Tanjung Karang dan Panjang. Setelah makan malam, kami menuju rumah Kol. Inf. Arwandi (sepupu bapak Wikan) di Jl. Pulau Batam Raya no 12 Wai Halim, Lampung. Kami membezook mertuanya (75 tahun) yang baru pulang dari rumah sakit, karena menderita Hepatitis A dan radang usus (kolitis) kronis. Setelah ngobrol dan anak-anak mulai mengantuk, kami pulang ke hotel.

100_3177

Ubur-ubur laut yang ditangkap dik Bimosaat berenang di Pantai Mutun

100_3179

Dik Laras bergaya di atas kelotok dalam perjalanan kembali dari Pantai Mutun

Jum’at pagi kami menjemput Sr. Franselin, HK (sepupu mama Sari) di Biara Pusat Kongregasi Suster Hati Kudus St. Anna di Jl. Pattimura, samping kompleks sekolahan Xaverius, lalu menuju Pantai Mutun di jantung Teluk Betung. Perjalanan diselingi tersesat 2 kali, sebab banyak persimpangan jalan di kota lama Teluk Betung. Pantai itu berpasir putih yang bersih dan kami naik kelotok bertarif Rp. 5.000 perorang untuk menyeberang ke pulau kecil yang terdekat. Kami mendarat setelah 10 menit berperahu di laut dangkal yang jernih, dan berenang sepuas hati di sekitar kelotok yang tertambat. Air lautnya jernih, pasirnya putih, ombaknya nyaris tidak ada, sehingga anak-anak sangat puas dan bergembira. Setelah mandi bilas dengan 100% air tawar yang dingin, kami melanjutkan perjalanan ke Wai Kambas.

100_3231

Kami mencapai tujuan kami utama, yaitu Sekolah Gajah di Way Kambas, Lampung.

100_3208

Keinginan kami adalah naik ‘gajah terdidik’ keliling taman Way Kambas, Lampung.

Perjalanan menyusur jalan lintas tengah Trans Sumatera yang padat dengan truk dan bis antar propinsi besar-besar hanya sampai Tegineneng, lalu membelok ke kanan menuju Metro, sebuah kotamadya di Lampung bagian tengah. Perjalanan menyusur melawan arus air irigasi, semacam Selokan Mataram di Yogyakarta dengan lebar 2 kali lipat, areal persawahan yang subur, luas dan sedang menghijau di lumbung padi Lampung. Kami mampir untuk mengenal Biara Novisiat Suster Hati Kudus di pusat kota Metro yang rindang karena lebatnya pohon dan teratur tata kotanya karena terancang baik. Perjalanan kami lanjutkan dengan melintasi Lampung bagian tengah yang sudah lebih maju dan masuk ke teritorial Kabupaten Lampung Timur yang lebih tertinggal. Sukadana sebagai ibukota kabupaten, nampak kusam dan sepi, dengan jalan protokolnya yang hancur, penuh lobang. Taman Nasional Way Kambas yang kami tuju adalah areal hutan asli yang dirancang sebagai tempat pelatihan dan penangkaran gajah Sumatera yang masih liar. Kami memasuki arealnya menjelang adzan Ashar yang menggema dari mushola dekat kantor petugas. Pertunjukan ketangkasan gajah rutin sudah usai, sebab jadwal terakhirnya pk. 14 dengan biaya Rp. 500.000 per paket, yang biasanya ditanggung ramai-ramai (patungan) oleh para pengunjung, makanya kami hanya melihat aktivitas sore hari para gajah. Sewaktu mereka pulang dari hutan untuk mencari makan sehari penuh, langsung dimandikan oleh para pawang, berendam di sebuah kolam, lalu kembali ke kandang. Mereka berjalan berpasangan, yang jantan gagah dan besar dengan kaki depan dirantai dan kedua gadingnya sudah dipotong ujung runcingnya, yang betina lebih kecil badannya, tanpa gading dan berjalan sambil melindungi anaknya. Salah seorang anak gajah yang sebesar sapi ada yang sempat marah dengan lenguhan keras dan mengejar kerumunan orang di pinggir jalan setapak.

Gajah Jinak

Kami (dengan Sr. Franselin, HK) bergaya tanpa takut di depan gajah yang jinak di WaiKambas, Lampung

Kandang Gajah

Kandang gajah tanpa pagar, seluas lapangan sepak bola dengan tiang beton penambat gajah yang nampak di kejauhan

Kami berhamburan melompat menghindar, sampai nafas tersengal dan degup jantung meningkat tajam, saat pawangnya memanggil gajah itu yang langsung menurut. Dikejar anak gajah sebesar sapi, adalah pengalaman ‘miris’ tak terlupakan. Kami lanjutkan dengan naik gajah keliling kompleks dan melihat dataran seluas lapangan sepak bola, dimana setiap gajah ditambatkan di sebuah tiang beton dengan rantai terikat dikedua kakinya. Malam hari sering ada rombongan gajah liar datang, sehingga gajah yang sudah jinak harus dirantai, agar tidak ikut mereka dan kembali liar. Ada 82 gajah dewasa dan 17 anak gajah di seluruh areal dan terlihat sebuah truk bermuatan rumput gajah, daun tebu dan rumput ilalang yang diturunkan di setiap tiang beton, untuk makan malam para gajah. Di sebelah lapangan itu, nampak banyak gajah yang masih merumput di semak-semak yang sangat luas, sepanjang mata memandang, nampak gajah-gajah yang berjalan dengan langkah pelan namun mantap.

100_3207

Gajah yang sudah jinak tidak buta huruf, karena sudah sekolah

100_3203

Taman Way Kambas yang luas, untuk mendidik gajah Sumatera

100_3200

Rombongan gajah yang pulang sekolah di Way Kambas, Lampung

Sore itu kami kembali ke Metro dan mengistirahatkan Pak Nardi, sopir yang membawa kami dari Jakarta, di sebuah kamar di Biara Novisiat Suster Hati Kudus. Kami mampir untuk bertemu Dr. Paran Bagionoto, SpB, direktur RS Mardi Waluyo, dengan jamuan makan malam menu Jawa di sebuah RM serba ada, dekat alun-alun kota. Sehabis itu kami melanjutkan perjalanan pulang ke Bandar Lampung, setelah Pak Nardi cukup kuat. Kami menginap di Susteran HK Meirmeri, Jl. Dr. Sunarto, Bandar Lampung. Pagi harinya kami antar pak Nardi untuk menjalani rawat inap di BP St. Anna Jl. Patimura, sebab demam tinggi sekali sampai 40 derajad C, lemah, dan pusing, kemudian kami tinggal untuk keliling kota dengan dipandu oleh mas Erwin, anak sulung Kol. Inf. Arwandi.

100_3256

Koleksi kain tenun khas Lampung di Museum Negeri Lampung

Pertama-tama kami mengunjungi Museum Negeri Lampung yang dirintis sejak 1975 di areal seluas 17.010 m2 dan diresmikan oleh Prof. Dr. Fuad Hasan, Menteri P&K RI pada 24 September 1988. Bentuk bangunan menggambarkan arsitektur tradisional Balai Adat Lampung (Sesat). Di halamannya yang luas, berdiri miniatur rumah panggung sebagaimana dahulu digunakan oleh masyarakat tradisional. Selain itu, juga ada jangkar kapal niaga abad lalu yang besar, ranjau laut dan meriam kuno untuk melawan bala tentara Kumpeni Belanda (VOC). Di dalamnya tersimpan aneka benda purbakala, dari jaman batu (megalitikum), jaman pertengahan sampai jaman sekitar kemerdekaan. Selain itu, tersimpan juga binatang khas Lampung dalam awetan, seperti hariamau, gajah, beruang madu, buaya, aneka ular dan burung yang semuanya asli Lampung dan hampir punah. Di lantai dua tersimpan aneka hasil tenun, batik, pakaian adat dan alat tenun tradisionil penghasil kain tersebut.

100_3255

Gaya dik Bimo menembakkan Meriam kuno di halaman Museum Lampung

100_3264

Makan siang di Pantai Pasir Putih dengan keluarga pakde Kol. Arwandi

Setelah puas memandang, kami melanjutkan perjalanan ke THR Pantai Pasir Putih, di dekat pelabuhan Panjang, di pinggir jalan trans Sumatera yang padat lalu lintas. Kami susuri jalan yang berdampingan dengan rel kereta api, yang saat itu dilalui oleh kereta babaranjang, kereta api terpanjang pengakut batubara dengan 50 gerbong dari Bukit Assam di Lampung Barat menuju Pelabuhan Batubara di Panjang. Kami sampai geleng-geleng kepala tanda takjub atas kebesaran eksplorasi alam Lampung yang kaya raya.

Rekresai di Pantai Pasir Putih itu kami awali dengan makan siang di atas tikar yang kami gelar di samping mobil yang parkir, dalam rindang bayangan pohon waru di atas pasir putih yang bersih, dengan hembusan angin laut yang semilir. Setelah itu, kami menyewa kelotok untuk menyeberang laut, menuju Pulau Condong yang berwarna hijau dari dedaunan di bukit yang terjal. Kami mengitari pulau itu, sambil melihat keindahan taman laut dengan kaca ‘snorkeling’ yang disediakan awak kapal. Karang dan ikan berbagai warna, ukuran dan bentuk, nampak nyata dan indah di bawah kapal yang bergeser, perlahan dibawa arus ombak kecil. Kami mendarat di sisi timur pulau dan menghabiskan siang itu dengan berenang-renang sampai puas.

Sore harinya, kami jenguk pak Nardi yang masih tergolek layu di bangsal rawat inap di BP St. Anna Jl. Patimura dan kami putuskan untuk pulang ke Jakarta, tanpa membawanya serta, karena tidak tega. Malam itu kami menginap di Hotel Kalianda, di seberang kantor Polres Lampung Selatan.

100_3273

Istirahat sejenak di depan Kantor Bupati Lampung Selatan di Kalianda

100_3236

Awal perjalanan pulang disimpang lima Bandar Lampung (Tapis Berseri)

Siger Lampung

Menara Siger di Bukit Bakauheni yang nampak gagah dari atas ferry penyebarangan

Minggu pagi 5 Juli 2009, kami sempatkan berdoa saja, sebab Misa Kudus baru akan berlangsung 2 jam lagi, di Kapel St. Paulus di kompleks rumah kalwat atau rumah retret Suster Hati Kudus di samping kantor Kodim Lampung Selatan. Perjalanan kami lanjutkan ke pelabuhan Bakauheni, di ujung selatan Lampung Selatan.  Kami pandangi Menara Siger di puncak bukit Bakauheni. Menara tersebut berbentuk topi khas Lampung, yang biasa dikenakan oleh pria bangsawan, dan berfungsi sebagai gardu pandang para pelancong yang ingin melihat pemandangan Selat Sunda yang indah, kesibukan pelabuhan penyeberangan yang berdenyut selama 24 jam sehari, dan juga berfungsi sebagai ‘tetenger’ Bakauheni dari tengah laut.

Perjalanan menyeberang laut di sisi selatan Gunung Krakatau itu berjalan lancar dalam 2 jam. Kami lanjutkan dengan makan siang menu Jawa Timur di depan Terminal Terpadu Merak. Terminal tersebut sangat luas, sebab paduan antara terminal bis antar kota, angkot, mobil pribadi, truk angkutan barang, kereta api penumpang, pelabuhan peti kemas, dan penyeberangan laut menggunakan ferri. Setelah berfoto-foto sepuasnya, perjalanan kami lanjutkan melalui jalan tol Jakarta Merak yang sedang diperbaiki, untuk menuju Banten.

Kami mengunjungi Banten Lama, sekitar 9 km dari pusat kota Serang. Kami melihat kompleks Keraton Surosowan atau Gedung Kedaton Pakuwan yang dibangun pada masa pemerintahan Maulana Hasanuddin (1552-1570). Perlu diketahui bahwa Kerajaan Islam Banten di Surosowan (saat ini masuk Banten Lama) didirikan di dekat pantai, pindahan dari Banten Girang (=hulu). Kota Surosowan sebagai ibukota kerajaan dibangun atas perintah Sunan Gunung Jati kepada puteranya Maulana Hasanuddin Panembahan Surasowan yang kemudian menjadi raja Banten pertama pada tahun 1552.

Islam datang pada 1524 dan Sunan Gunung Jati atau Syeh Syarif Hidayatullah mengalahkan Prabu Pucuk Umum (putera Prabu Seda), penguasa terakhir Kerajaan Sunda Wahanten Girang. Keraton Surosowan dibangun pada 1552-1570, dindingnya setinggi 2 meter, dan tebalnya 5 meter. Panjang dari timur ke barat 300 m dan utara ke selatan 100 m.

100_3304

Dinding bekas pondasi Keraton Sorosowan di Banten yang dihancurkan pasukan Daendels

100_3308

Dik Laras bergaya sendirian di Situs purbakala yang tinggal puing batu kurang tertata, di dalam kompleks Banten Lama

Pada pemerintahan Pangeran Muhammad, berlabuhlah kapal-kapal Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman di pelabuhan Banten pada tahun 1596. Dalam catatan Jansen Kaerel  diceritakan kota Banten yang sudah maju, dikelilingi pagar tembok batu bata, bermeriam, pasarnya ramai  dan masjidnya besar. Catatan Willem Lodewiyk menggambarkan pedagang Portugis, Arab, Cina, Turki, Keling, Pegu, Gujarat, Malaya, Benggali, Malabar dan Abesinia, juga Bugis dan Jawa.

Catatan Tome Pires menyebutkan transaksi di pasar telah menggunakan mata uang Cina, yaitu Caxa (cash) dan Tumdaya (tael). Sebagai perbandingan 1.000 cash seharga 29 kg (58 pon) lada. Masa keemasan Kerajaan Banten dicapai pada pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa Abdulfathi Abdul Fatah (1651-1672). Sensus penduduk pada masa pemerintahan Sultan Abdul Mahasin Zainul Abidin menyebutkan jumlah penduduknya 31.848 jiwa di tahun 1694

Pada tahun 1808 Daendels yang gagal memaksa Sultan Muhammad Syafiuddin untuk menyerahkan kerajaannya bersama dengan Lampung, lalu menghasut rakyat Banten untuk menghancurkan gedung istana Pakuwan Surosowan dan dipaksa untuk membuat pelabuhan kapal di pantai Labuan (pantai barat selatan Banten). Perang besar meletus dan tentara Belanda didatangkan dari Batavia untuk menghancurkan istana yang megah itu pada tahun 1832 dan berakhirlah era Kerajaan Banten yang akhirnya disatukan dalam teritorial Batavia dan dibentuk pemerintahan sipil yang dipimpin oleh landrost (semacam residen) dan berkedudukan di Serang.

Peninggalan di Banten lama adalah Kompleks Keraton Surosowan, Masjid Agung, Tiyamah, Menara Masjid, kompleks makam, meriam Ki Amuk (hadiah dari Sultan Trenggana di Demak kepada Sunan Gunung Jati), masjid Pacinan Tinggi (masjid yang pertama kali dibangun Sunan Gunung Jati), kompleks Keraton Kaibon (istana sultan terakhir), vihara Avalokitecvara (didirikan oleh Sunan Gunung Jati yang mengalahkan rombongan Cina yang akan ke Tuban, kehabisan bekal dan mampir di Banten. Sunan memperisteri Puteri Ong Tien, sehingga dibuatkan Masjid Pecinan Tinggi dan vihara untuk para pengikutnya secara adil, sebab ada yang jadi Islam), masjid Koja, Kerkhof (makam orang Eropa), benteng Speelwijck, Tasik kardi (sebuah danau buatan), pengindelan (bungker yang berfungsi sebagai penyaring air), klenteng Cina, Watu Gilang dan Museum Banten. Watu Gilang ada 2 buah, di depan kompleks keraton Surosawan dan di alun-alun sebelah utara. Bentuknya segi 4 dengan permukaan datar, terbuat dari batu adesit dan digunakan untuk pentasbihan sultan Banten.

Setelah puas berkeliling situs arkeologis itu, kami melanjutkan perjalanan ke Jakarta dengan masuk tol di gerbang Serang Timur. Kami menuju Gereja Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga di Paroki Katedral Jakarta, untuk mengikuti misa sore. Hari Minggu 5 Juli 2009 itu, gereja dengan arsitek Marius Hulswit (1899-1901) yang bergaya Gothik abad pertengahan, sedang direnovasi bagian menara kembar di depan.

Setelah misa, kami mengitari Taman Monumen Nasional, berfoto dan terkesima atas kegagan cahaya api dari emas di puncaknya setinggi 145 m. Malam itu kami ketemu keluarga pakde Totok di kantin stasiun Gambir, lalu berpisah jalan. Mobil Kijang Innova sewaan telah diambil lagi oleh salah seorang sopir yang telah menunggu di Gambir, sebab pada saat itu pak Nardi masih tergolek lunglai di Bandar Lampung.

Kami pulang ke Yogyakarta dalam gerbong KA Taksaka II dengan badan lunglai, sedangkan Yangti (Eyang Puteri Yustina Nanik Karsini) diajak untuk berlibur di rumah pakde Totok Ismintarto di Pamulang, Tangerang Selatan. Kami berlima sampai di Yogyakarta dengan selamat di pagi buta Senin, 6 Juli 2009, meski lemah, pening, mual, demam dan batuk. Sungguh, itu perjalanan sejauh 1.586 km yang penuh kenangan karena diakhiri dengan sakit.

Disampaikan banyak terima kasih, kepada siapa saja yang telah membantu terjadinya petualangan menjelajah Lampung, bumi Ruwa Jurai kali ini. Sampai jumpa dalam petualangan berikutnya.

100_3162

Bergaya di buritan fery penyeberangan ke Merak, Banten dari Bakaheuni, Lampung

sekian

Yogyakarta, 7 Juli 2009

Bapak Wikan

*) ketua rombongan pelancong bergaya minimalis.

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?