Penggunaan antibiotik terdata berlebihan pada pasien yang dirawatinap di rumah sakit karena COVID-19. Pada 26 April 2024 terdapat bukti lengkap dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang menunjukkan penggunaan antibiotik yang berlebihan selama pandemi COVID-19 di seluruh dunia, yang mungkin telah memperburuk penyebaran resistensi antimikroba (AMR) secara diam-diam. Apa yang mencemaskan?
Meskipun hanya 8% pasien COVID-19 yang dirawatinap di rumah sakit memiliki koinfeksi bakteri dan sebenarnya memerlukan antibiotik, ternyata tiga dari empat atau sekitar 75% pasien telah diobati dengan antibiotik, dengan pertimbangan ‘untuk berjaga-jaga’ karena antibiotik tersebut mungkin membantu (just in case they help). Penggunaan antibiotik berkisar dari 33% untuk pasien di Wilayah Pasifik Barat, hingga 83% di Wilayah Mediterania Timur dan Afrika. Antara tahun 2020 dan 2022, jumlah resep antibiotik menurun seiring waktu di Eropa dan Amerika, sementara jumlah resep obat serupa masih meningkat di Afrika.
Tingkat penggunaan antibiotik tertinggi terjadi pada pasien COVID-19 yang parah atau kritis, dengan rata-rata global sebesar 81%. Dalam kasus ringan atau sedang, terdapat variasi yang cukup besar antar wilayah, dengan penggunaan tertinggi di Wilayah Afrika (79%).
WHO mengklasifikasikan antibiotik berdasarkan klasifikasi AWaRe (Access, Watch, Reserve), berdasarkan risiko AMR. Yang mengkhawatirkan, laporan tersebut menemukan bahwa antibiotik ‘Watch’ dengan potensi resistensi lebih tinggi, justru telah paling sering diresepkan secara global, dibandingkan antibiotika ‘Access’ yang sebenarnya lebih aman.
Ketika seorang pasien membutuhkan antibiotik, manfaatnya sering kali lebih besar daripada risiko yang terkait dengan efek samping atau resistensi antibiotik. Namun, jika tidak diperlukan, obat tersebut tidak memberikan manfaat, tetapi justru menimbulkan risiko, dan penggunaannya berkontribusi terhadap muncul dan penyebaran resistensi antimikroba. Meskipun demikian, data pada laporan tersebut memerlukan perbaikan dalam penggunaan antibiotik yang rasional, untuk meminimalkan konsekuensi negatif yang tidak perlu bagi pasien dan masyarakat.
Secara keseluruhan sebenarnya penggunaan obat antibiotik terbukti tidak memperbaiki hasil klinis pasien COVID-19. Namun, penggunaan antibiotik ini justru dapat membahayakan orang yang tidak mengalami infeksi bakteri, dibandingkan dengan mereka yang tidak menerima antibiotik. Laporan ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk meningkatkan penggunaan antibiotik secara rasional, guna meminimalkan konsekuensi negatif yang tidak perlu bagi pasien dan masyarakat.
Telah diterbitkan rekomendasi WHO mengenai penggunaan antibiotik pada pasien dengan COVID-19, sebagai bagian dari pedoman pengelolaan klinis COVID-19. Pedoman ini didasarkan pada data dari Platform Klinis Global WHO untuk COVID-19, yang merupakan kumpulan data klinis anonim dan terstandarisasi pada tingkat individu, dari pasien yang dirawat di rumah sakit karena COVID-19. Data dikumpulkan dari sekitar 450.000 pasien yang dirawat di rumah sakit karena COVID-19, di 65 negara selama periode 3 tahun antara Januari 2020 hingga Maret 2023.
Temuan ini menggarisbawahi risiko meningkatkan peresepan antibiotik secara global, dan sangat serius dibahas pada Pertemuan Tingkat Tinggi Majelis Umum PBB mengenai AMR yang diadakan pada bulan September 2024. Pertemuan Tingkat Tinggi PBB mengenai AMR telah mempertemukan para pemimpin global untuk berkomitmen melakukan mitigasi AMR di bidang kesehatan manusia, kesehatan hewan, sektor pertanian pangan dan lingkungan hidup, serta untuk mendorong kepemimpinan politik, pendanaan dan tindakan untuk memperlambat kemunculan dan penyebaran AMR.
Penggunaan antimikroba yang bertanggung jawab dan bijaksana perlu ditingkatkan di semua sektor baik pada manusia, hewan, tanaman, dan lingkungan hidup, untuk menjaga manfaat antibiotika bagi kesehatan masyarakat. Secara khusus, antimikroba yang secara medis penting bagi pengobatan manusia perlu dilestarikan dengan mengurangi penggunaannya di sektor non-manusia. Daftar MIA WHO (Medically Important Antimicrobials) tentang antimikroba yang penting secara medis untuk pengobatan manusia merupakan alat manajemen risiko yang dapat digunakan dalam mendukung pengambilan keputusan, guna meminimalkan dampak penggunaan antimikroba di sektor non-manusia, terhadap resistensi antimikroba (AMR) pada manusia. Daftar MIA WHO dibuat untuk memandu upaya pengelolaan antimikroba internasional, nasional, dan subnasional (lokal, negara bagian, provinsi). Panduan ini melengkapi kerangka kerja WHO AWaRe (Access, Watch, Reserve) yang telah diterbitkan sebelumnya dan panduan penggunaan antibiotik esensial yang tepat, dalam sektor kesehatan manusia.
Daftar MIA WHO tersebut mengkategorikan kelas antimikroba berdasarkan pentingnya bagi pengobatan manusia dan menurut risiko AMR, serta potensi implikasi kesehatan manusia dari penggunaannya di sektor non-manusia. Daftar MIA WHO dikembangkan melalui kerja sama erat dengan Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) dan Organisasi Kesehatan Hewan Dunia (WOAH) sebagai upaya bersama untuk menyelaraskan pedoman dan daftar terkait yang dikembangkan oleh keempat organisasi tersebut.
Pasien memiliki hak untuk mengingatkan para dokter, tentang perlu tidaknya peresepan obat antibiotika saat periksa. Sudahkah kita bertindak bijak dalam penggunaan obat antibiotika paska pandemi COVID-19?
Sekian
Yogyakarta, 30 November 2024
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161
Mpox (dulu disebut cacar monyet) adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus Monkeypox (MPXV). Pada tanggal 14 Agustus 2024 WHO menyatakan bahwa wabah mpox di Afrika merupakan darurat kesehatan masyarakat yang mengkhawatirkan dunia. Apa risikonya?
Mpox adalah penyakit langka yang menyebabkan ruam kulut dan gejala mirip flu, terutama pada orang dewasa. Anak dapat tertular mpox jika mereka melakukan kontak dekat dengan seseorang yang memiliki gejala. Anak dapat terpapar virus di rumah dari saudara kandung, orang tua, pengasuh, atau anggota keluarga lainnya melalui kontak dekat. Di beberapa wilayah di pedalaman Afrika, anak dan remaja dapat terpapar melalui kegiatan berburu atau menjebak binatang liar, atau juga mengkonsumsi daging hewan yang tidak dimasak dengan benar. Remaja yang telah melakukan aktivitas seksual dengan seseorang yang menderita mpox juga dapat terpapar. Ruam mpox pada awalnya dapat menyerupai penyakit anak umum lainnya, seperti cacar air dan infeksi virus lainnya.
Anak mungkin berisiko lebih besar terkena mpox parah daripada orang dewasa. Mereka harus dipantau secara ketat hingga pulih, untuk diwaspadai jika mereka membutuhkan perawatan tambahan. Dokter dan tenaga kesehatan yang bertanggung jawab atas anak tersebut, mungkin menyarankan agar mereka dirawat inap di RS, sesuai derajat gejala klinis. Dalam situasi ini, orang tua atau pengasuh yang sehat dan berisiko rendah terkena mpox, tentu akan diizinkan untuk tinggal bersama mereka.
Jika seorang ibu menyusui telah dikonfirmasi atau diduga terinfeksi mpox, bicarakan dengan dokter dan tenaga kesehatan terdekat untuk meminta saran. Mereka akan menilai risiko penularan mpox serta risiko buruk jika tidak melanjutkan memberikan ASI kepada bayi. Jika ibu dapat terus menyusui dan melakukan kontak dekat, mereka akan mengajarkan kepada ibu tentang cara mengurangi risiko dengan mengambil tindakan lain, termasuk menutupi lesi kulit. Risiko infeksi perlu diimbangi secara hati-hati dengan potensi buruk yang disebabkan oleh penghentian pemberian ASI, dan kontak dekat antara ibu dan bayi. Belum diketahui apakah virus cacar monyet dapat menyebar dari ibu ke bayi melalui ASI, dan saat ini masih merupakan area yang perlu diteliti lebih lanjut.
Penelitian bertahun-tahun tentang terapi cacar yang telah dapat dibasmi di seluruh dunia, telah menghasilkan pengembangan produk farmasi yang juga dapat bermanfaat untuk mengobati mpox. Misalnya, obat antivirus yang dikembangkan untuk mengobati cacar (tecovirimat) telah disetujui pada Januari 2022 oleh Badan Obat-obatan Eropa untuk pengobatan mpox dalam keadaan luar biasa. Pengalaman dengan terapi ini dalam konteks wabah mpox terus berkembang tetapi masih terbatas. Karena alasan ini, penggunaannya biasanya disertai dengan kewajiban untuk masuk dalam uji klinis atau protokol akses yang diperluas, disertai dengan pengumpulan data yang akan meningkatkan pengetahuan tentang cara terbaik untuk menggunakannya, di masa mendatang.
Ada vaksin yang direkomendasikan oleh WHO untuk digunakan melawan mpox. Penelitian selama bertahun-tahun telah menghasilkan pengembangan vaksin yang lebih baru dan lebih aman, yang berasal dari vaksin untuk penyakit yang telah diberantas secara global, yaitu cacar. Beberapa vaksin tersebut telah disetujui di berbagai negara untuk digunakan melawan mpox. Saat ini, WHO merekomendasikan penggunaan vaksin MVA-BN atau LC16, atau vaksin ACAM2000 jika vaksin lainnya tidak tersedia.
Hanya orang yang berisiko (misalnya, seseorang yang pernah menjadi kontak dekat dengan seseorang yang menderita mpox, atau seseorang yang termasuk dalam kelompok berisiko tinggi terpapar mpox) yang harus dipertimbangkan untuk divaksinasi. Vaksinasi massal, termasuk untuk anak, saat ini tidak direkomendasikan. Pelancong yang akan memasuki daerah endemis mpox dan mungkin berisiko berdasarkan penilaian risiko individu oleh dokter, mungkin perlu dipertimbangkan mendapatkan vaksinasi.
WHO saat ini merekomendasikan vaksin bagi orang-orang yang pernah melakukan kontak dekat dengan seseorang yang menderita mpox, atau orang-orang yang termasuk dalam kelompok berisiko tinggi terpapar mpox. Vaksin mpox memberikan tingkat perlindungan terhadap infeksi dan penyakit parah. Hasil penelitian efektivitas vaksin menunjukkan bahwa tingkat perlindungan yang baik diberikan terhadap mpox setelah vaksinasi.
Anak dengan imunosupresi berisiko lebih tinggi terkena mpox parah atau meninggal. Mpox yang parah dapat mencakup lesi yang lebih besar dan lebih luas (terutama di mulut, mata, dan alat kelamin), kondisi seperti peradangan pada jantung, otak, atau organ lainnya, atau infeksi bakteri sekunder pada kulit atau darah, dan infeksi paru-paru.
Anak dengan penyakit HIV stadium lanjut (jumlah CD4 rendah, dan viral load HIV tinggi) memiliki risiko kematian yang lebih tinggi jika mereka mengalami mpox parah. Hal ini lebih umum terjadi pada orang dengan status HIV yang tidak diketahui sebelum diagnosis mpox.
Anak yang hidup dengan HIV yang tidak lagi mengalami supresi virus melalui pengobatan antiretroviral (ARV), tampaknya tidak memiliki risiko lebih tinggi mengalami mpox parah, daripada populasi umum. Penggunaan setiap hari antiretroviral (ARV) mengurangi risiko timbulnya gejala mpox parah pada anak dengan HIV, jika terjadi infeksi. Anak dengan HIV yang tidak diobati dan penyakit HIV stadium lanjut, sangat mungkin mengalami gangguan kekebalan tubuh, dan karenanya berisiko lebih besar mengalami mpox parah. WHO menyarankan agar setiap negara mengintegrasikan pengujian, pencegahan, dan perawatan HIV dan mpox.
Kasus mpox parah yang terlihat di beberapa negara di Afrika menyoroti kebutuhan mendesak untuk meningkatkan akses yang adil terhadap tes diagnostik, vaksin, dan terapi mpox, serta pencegahan, pengujian, dan pengobatan HIV. Jika anak hidup dengan HIV, teruslah minum obat HIV sesuai petunjuk. Pada tahun 2023, terdapat 9 juta orang, termasuk anak, di seluruh dunia yang hidup dengan HIV, tetapi tidak menjalani pengobatan HIV, berisiko terkena penyakit HIV stadium lanjut dan mpox yang mengancam jiwa, apalagi kalau tidak mendapatkan vaksinasi.
Saat ini, vaksin Mpox yang digunakan di Indonesia adalah jenis Modified Vaccinia Ankara-Bavarian Nordic (MVA-BN), yaitu vaksin turunan cacar (smallpox) generasi ketiga yang bersifat non-replicating. Pelaksanaan vaksinasi Mpox dengan MVA-BN telah dilakukan sejak 2023, setelah ditemukan kasus konfirmasi Mpox di Indonesia.
Apakah kita sudah bertindak bijak melindungi anak dari mpox?
Yogyakarta, 25 September 2024
*) dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM. WA : 081227280161
Perjalanan darat (overland) untuk jelajah 7 buah Gereja Katedral se Jawa 23-27 Oktober 2024
fx. wikan indrarto & b. sari prasetyati
Katedral (bahasa Latin: cathedra yang berarti tempat duduk) adalah gedung gereja yang di dalamnya terdapat tempat duduk khusus yang disebut Katedra, yakni sebuah takhta bagi uskup. Katedral adalah bangunan untuk keperluan peribadatan, khususnya bagi denominasi yang memiliki hierarki episkopal, seperti Gereja Katolik, Gereja Anglikan, Gereja Ortodoks, beberapa Gereja Lutheran, dan beberapa Gereja Metodis, yang berfungsi sebagai tahta uskup, dan oleh karena itu juga berfungsi sebagai gereja pusat dari sebuah diosesan atau keuskupan.
Kursi yang dimaksud ditempatkan secara khusus dalam gedung Gereja utama keuskupan dan dikhususkan bagi kepala keuskupan tersebut, dan oleh karena itu menjadi simbol utama dari otoritas. Pada masa lampau, kursi merupakan lambang guru, dengan demikian kursi uskup melambangkan peran uskup sebagai guru. Kursi juga lambang kepemimpinan resmi, dan oleh karena itu kursi uskup melambangkan peran uskup dalam kepemimpinan sebuah keuskupan.
Kami berniat sungguh untuk mengunjungi semua Gereja Katedral (bahasa Latin : ecclesia cathedralis) se Jawa, sekaligus mengucap syukur atas semua rahmat Tuhan yang telah turun tiada henti untuk kami.
Perjalanan darat (overland) untuk jelajah 7 buah Gereja Katedral se Jawa kami lakukan pada Rabu malam, 23 sampai Minggu malam, 27 Oktober 2024. Langkah pertama adalah naik bis PO Rosalia Indah dari Jogja menuju Gereja Katedral Santo Perawan Maria Dari Gunung Karmel di Malang sejauh 394 km dalam 7 jam. PT Rosalia Indah Transport (Rosalia Indah atau juga dikenal dengan akronim Rosin) adalah sebuah perusahaan bus yang berbasis di Palur, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Perusahaan ini merupakan bagian dari Rosalia Indah Group.
Nama “Rosalia” berasal dari nama anak sang pendiri, yaitu pasangan suami-istri Yustinus Soeroso dan Yustina Rahyuni Soeroso pada tahun 1983. Pada awalnya, mereka mengoperasikan dan mengelola sendiri layanan travel dengan armada berupa Mitsubishi Colt “Bibit Kawit” yang melayani trayek Surakarta (Solo)–Blitar, kemudian melakukan pengembangan trayek berupa Yogyakarta–Surabaya, dan Yogyakarta–Blitar/Malang. Pada tahun 1991, Rosalia Indah mulai mengubah orientasi layanan bus yang pada awalnya AKDP menjadi AKAP atau angkutan antarkota antar provinsi, dengan pengembangan trayek dari Blitar, Solo hingga Jakarta. Pada saat itu pula, Rosalia Indah juga melakukan penambahan armada berupa bus bermesin Hino sebanyak lima buah, yang tidak dilengkapi penyejuk udara (AC). Pada 10 April 2015, status Rosalia Indah berubah menjadi perusahaan Perseroan Terbatas berbadan hukum dengan nama PT Rosalia Indah Transport.
Kabin bis Rosalia Indah seri 3006 bermesin Mercedes-benz OH 1626 berbodi Jetbus 3+ buatan Adiputro
Istirahat makan di RM Bebek Taliroso Mejayan, Caruban dalam perjalanan ke Malang
Kamis, 24 Oktober 2024 : Jawa Timur
Kamis, 24 Oktober 2024, pk. 4 dini hari kami dijemput oleh dr. H. Setyo Sugiharto, SH, MH, SpB-SubspBD(K), PhD dari Asean University Internasional (teman seperjuangan saat menjalankan tugas sebagai dokter spesialis di RSUD Dr. Soemarmo Sosroatmodjo, Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah tahun 2000) di pool bis Rosalia Indah di Jl. Hamid Rusdi No. 15 Malang. Setelah beristirahat sejenak di rumahnya jl. Diponegoro 7 Malang yang megah, besar dan dilengkapi dengan 25 kamar kos untuk residen FK UB, kami diantar ke Gereja Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel Katedral Malang di Jl. Buring No. 60, Malang, untuk mengikuti misa kudus harian pagi pk. 6-6.40.
Gereja Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel Katedral Malang di Jl. Buring No. 60, Malang,
Kami dijemput dr. Setyo dengan Hyundai Creta putih
di rumah dr. Setyo Jl. Diponegoro 7 Malang yang megah dan besar
Katedral tersebut dibangun setelah peletakan batu pertama 11 Februari 1934. Tidak seperti kebanyakan gereja katolik yang bergaya arsitektur Gothic atau Klasik, katedral ini dibangun dengan gaya Art Deco. Rancangan bangunan dibuat oleh arsitek L. Estourgie, konstruksi oleh NV Bouwundig Bureau Sitzen en Louzada. Pelaksanaan pembangunan berlangsung 8 bulan dan diselesaikan pada 28 Oktober 1934.
Bangunan katedral ini merupakan sebuah contoh dari warisan arsitektural kolonial Belanda di kota Malang. Gereja pertama di Kota Malang pada tahun 1905, adalah Gereja Hati Kudus Yesus di Kayutangan, yang juga sempat kami lihat dari dalam mobil. Mgr. Clemens van der Pas adalah pencetus ide membangun Gereja Katedral di dekat Jalan Ijen di area yang dahulu dikenal dengan Buring Plein (Taman Buring). Sejak tahun 1961 sesuai dengan Konstitusi Apostolik XXIII, tentang Hirarki Gereja Katolik Indonesia, maka nama Gereja Katedral Malang yang semula adalah Gereja Katedral Santa Theresia, diganti dengan nama resmi yang baru, yaitu Gereja Katedral Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel. Mgr. Prof. Dr. Henricus Pidyarto Gunawan, O.Carm., (lahir 13 Juli 1955) adalah teolog Kitab Suci dan merupakan Uskup Gereja Katolik Roma untuk Keuskupan Malang saat ini.
Setelah misa kudus selesai, kami dijemput oleh dr. Setyo Sugiharto, SH, MH, SpB-SubspBD(K), PhD untuk menuju rumah dr. Iwan Donosepoetro, SpB (FK UB 82) yang juga pernah bersama-sama bertugas di RSUD Dr. Soemarmo Sosroatmodjo, Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah tahun 2000. Setelah melepas rindu dengan mengobrol penuh canda dalam dialek Malang, kami segera diajak dr. Iwan memakai Honda Jazz abu3 keliling Kota Malang dengan gaya nyopirnya yang khas, nyendal2 dengan sering lepas kemudi.
Rumah dr. Iwan di Jl. Pandan 7 Malang buatan tahun 1933 yang masih lestari
Gereja Katedral Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel Malang setelah ikut misa kudus harian pagi.
Sayang sekali kami tidak dpat bertemu istri dr. Iwan, yaitu Dr. dr. Susanthy Djajalaksana, SpP(K) di rumahnya yang kuno di Jl. Pandan 7 dekat SMP Katolik Santa Maria 2 Jl. Panderman Malang. Sebagai Kepala Program Studi Respirologi FK UB, dr. Santhy sedang mengikuti acara ilmiah di Bali dan sedang resah karena Kolegium Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi tidak termasuk kolegium yang disahkan Kemenkes RI. Pada hal, bulan depan harus menyelenggarkan ujian nasional untuk para residen pulmonolgi yang dipusatkan di Malang. Sejak tahan 2018 sudah ada peningkatan kwantitas dan kualitas dosen Respirologi FK UB dengan 4 guru besar, 5 lektor kepala, 2 lektor, dan 4 asisten ahli. Ada 16 dosen di prodi bergelar konsultan yang sudah dilengkap maping jenjang karier dosen.
Tujuan pertama adalah mengunjungi Dr. PC Widyo Karsono, SpB-KL di rumahnya yang asri di Jl. Terusan Mendut no 11 Malang. Beliau adalah dokter bedah senior ternama, yang masuk SMA Kolese de Britto (JB) Yogyakarta saat saya lahir, yaitu tahun 1966. Sebagai senior di WAG JB medis dan guru para dokter spesialis bedah di Malang, sowan kami dan obrolan yang terjadi sangat mengasikkan.
Sowan senior SMP dan SMA, yaitu dr. PC Widyo Karsono, SpB-KL. Beliau masuk SMA Kolese de Britto Yogyakarta saat saya lahir di tahun yang sama, yaitu 1966
Rumah dr. Widyo di Jl. Terusan Mendut no 11 Malang
Selanjutnya kami mengunjungi Hotel Tugu Malang, sebuah hotel bintang lima di Jl. Tugu No. 3, jantung kota lama Malang. Tepat di depannya terdapat Tugu perjuangan kemerdekaan Indonesia yang indah beserta kolam taman lotus. Setelah puas berfoto dengan semua keunikan hotel ini, yaitu koleksi barang antik yang tak ternilai harganya, kami segera terbayang tentang kekayaan pemiliknya. Semua barang antik di hotel tersebut merupakan barang-barang budaya ratusan tahun dari masyarakat Jawa babah Peranakan (campuran antara pendatang Cina di Jawa dan pribumi).
Salah satu sudut Hotel Tugu Malang, sebuah hotel bintang lima di Jl. Tugu No. 3, jantung kota lama Malang.
Air mancur dan tugu di lapangan JP. Coen (Alun-alun Bunder) Malang
Sebelum tahun 1914 Malang masih merupakan daerah bagian dari Karesidenan Pasuruan dan kekuasaan tertinggi di Malang adalah Assisten Residen dan kantornya berada di selatan Alun-alun (sekarang kantor Perbendaharaan dan Kas Negara). Setelah Kota Malang dinaikkan statusnya menjadi Gemeente (pemerintah kota) tanggal 1 April 1914, Kota Malang berhak memerintah daerah sendiri dengan dipimpin oleh seorang Burgemeester (Walikota). Semula jabatan walikota itu dirangkap oleh Asisten Residen sampai tahun 1918. Baru tahun 1919 Malang mempunyai walikota pertama HI Bussemaker, yang menduduki jabatannya sampai 1929 dan menetukan Balaikota Malang di bangun di selatan lapangan JP. Coen. Bangunan balaikota terdiri dari dua lantai. Orientasi bangunannya menghadap utara-selatan. Karena letak dan bentuk utama lokasinya, maka balaikota tersebut seolah-olah ingin menguasai lapangan JP. Coen (Alun-alun Bunder) dengan indahnya.
Bangunan Balaikota Malang terdiri dari dua lantai, menghadap utara-selatan, dan seolah-olah ingin menguasai lapangan JP. Coen (Alun-alun Bunder) dengan indahnya.
Kantor Rektorat Universitas Brawijaya Malang terlihat di kejauhan tinggi menjulang
Perjalanan kami ke Malang kami laksanakan pada Oktober, karena bulan ini dipenuhi dengan gemerisik dedaunan, pesona ladang labu, dan kenyamanan cuaca yang sejuk di daratan Eropa. Namun bagi umat Katolik di seluruh dunia, Oktober memiliki makna yang jauh melampaui keindahan musim gugur, karena bulan Oktober ini didedikasikan untuk berdoa Rosario Mahakudus, salah satu devosi dalam tradisi Katolik yang paling terkenal. Bulan Mei dan Oktober adalah bulan khusus pada kalender liturgi Gereja Katolik, yang didedikasikan untuk penghormatan kepada Perawan Maria, ibu Yesus Kristus.
Bunda Maria dianggap istimewa oleh umat Katolik karena ia adalah teladan manusia yang berserah pada kehendak Allah dan ia memiliki relasi yang erat dengan Yesus Kristus sejak dalam kandungan hingga wafat-Nya. Selian itu, umat Katolik meyakini bahwa Bunda Maria adalah ibu rohani yang penuh belas kasihan dan perantara yang kuat antara mereka dan Yesus Kristus.
Selain berdevosi kepada Bunda Maria, saat itu kami juga mengingat adanya kisah penyerangan pasukan Kesultanan Mataram Islam di Surakarta ke Malang pada 1614, yang dipimpin oleh Tumenggung Alap-Alap. Para pembantu Tumenggung Alap-Alap menyebut warga dan prajurit dari daerah tersebut sebagai penduduk yang “menghalang-halangi” (malang dalam Bahasa Jawa) kedatangan pasukan Mataram. Setelah penaklukan tersebut, pihak Mataram menamakan daerah itu Malang. Kota Malang merupakan kota terbesar kedua di Jawa Timur setelah Surabaya dan kota terbesar ke-12 di Indonesia.
Kunjungan singkat ke pabrik Adiputro Wirasejati (Adiputro), karoseri pembuat bodi bus yang hebat di Malang
Perjalanan kami selanjutnya sebagai penggemar bis adalah mengunjungi pabrik Adiputro Wirasejati (atau dikenal dengan nama merek dagang sebagai Adiputro), yaitu sebuah perusahaan karoseri bus (Coachbuilder) asal Malang. Badan (bodi) bus buatan karoseri Adiputro banyak digunakan oleh perusahaan-perusahaan bus ternama di Indonesia (terutama di Pulau Jawa) seperti Agra Mas, ALS, Budiman, Haryanto, Juragan 99, Lorena Group, NPM, Pahala Kencana, Pandawa 87, Rosalia Indah, Sinar Jaya dan lainnya.
Adi Putro didirikan oleh tiga Jethrokusumo bersaudara yang pada awalnya ketiganya bekerja pada sebuah dealer mobil. Ketiga bersaudara itu adalah Andreas Jethrokusumo, Jesse Jethrokusumo dan David Jethrokusumo. Ketika melihat peluang permintaan pasar otomotif terhadap mobil penumpang yang besar, ketiga bersaudara ini memutuskan untuk keluar dari pekerjaanya dan memulai membuka usaha karoseri kecil-kecilan pada tahun 1973 dengan pekerjaan pertamanya adalah memodifikasi dua Mobil pikap Mitsubishi Colt T120 menjadi mobil penumpang.
Setelah usaha karoseri ini berkembang pesat, ketiga bersaudara itu secara resmi mendirikan perusahaan karoseri dengan nama Adi Putro pada tahun 1975 di Malang. Royal Coach adalah nama model bodi bus pertama buatan Adiputro sejak tahun 1990an. Saat ini yang terkenal adalah versi Jetbus, merupakan penerus model bodi bus Royal Coach. Nama Jetbus adalah singkatan dari “Jethrokusumo Bus”. Dream Coach adalah model bus tidur (Sleeper bus) yang juga merupakan varian baru dari Jetbus buatan Adiputro yang dirilis pada bulan Desember 2020. Jetbus 5 produk terbaru dan kebanggaan karoseri Adiputro pertama kali ditampilkan dan diperkenalkan kepada khalayak pada GIIAS 2023 di gedung ICE, BSD City.
Kami menikmati cwie mie di Warung Cwie Mie Isor Uwit, yang sudah berdiri sejak tahun 1980 di Jl. Guntur 21 Malang.
Siap naik bis ke Surabaya di Terminal Arjosari Malang
Setelah makan siang menu kuliner lokal Malang, yaitu cwie mie dengan konsep sedikit berbeda dengan menu mie ayam khas Solo atau Wonogiri-an yang menyajikan mie dengan siraman ayam berbumbu. Sementara cwie mie Malang biasanya disajikan kering dengan taburan ayam rebus di atas mie-nya. Kami menikmati cwie mie di Warung Cwie Mie Isor Uwit, yang sudah berdiri sejak tahun 1980 di Jl. Guntur 21 Malang.
Suasana kabin bis Tentrem, sebuah bis AC tarif biasa kelas ekonomi menuju terminal Bungurasih Surabaya.
Mas Ig. Wahyu Soemarto dan Ibu Laurentia Handoko menjemput kami di Terminal Bungurasih Surabaya
Setelah kenyang makan menu uenak tersebut, kami segera diantar ke Terminal Arjosari Malang, untuk naik bis Tentrem. Sebuah bis AC tarif biasa kelas ekonomi menuju terminal Bungurasih Surabaya. Di terminal tersebut kami dijemput oleh mas Ig. Wahyu Soemarto, kakak kelas 2 tahun di SMA Kolese de Britto dan Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta. Bahkan istrinya, Ibu Laurentia Handoko, membawakan menu kuliner Surabaya yang enak dan mengantar kami ke Katedral Surabaya pada siang yang terik oleh sengat matahari.
Gereja Hati Kudus Yesus Katedral Surabaya berada di Jl. Polisi Istimewa 15 Surabaya. Gereja ini diresmikan pada 21 Juli 1921. Saat ini, Keuskupan Surabaya dipimpin oleh Vikaris Jenderal Keuskupan Surabaya, Romo Eko Budi Susilo, sebagai administrator diosesan. Romo Eko ditunjuk setelah Uskup Surabaya sebelumnya, Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono, meninggal dunia pada 10 Agustus 2023, sehingga saat kami datang terjadi Takhta Lowong (Sede Vacante). Uskup Surabaya yang baru, diumumkan setelah kami pulang ke rumah adalah Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo. Uskup Didik, sapaannya, lahir di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, 12 April 1968.
Perancangan desain gereja dilakukan oleh Ed Cypress Bureau, di mana rangka denah memiliki bentuk persegi panjang. Sementara itu, konstruksi gereja dilakukan oleh sebuah biro arsitek, yakni Huswit-Fermont. Pembangunan gereja mengeluarkan biaya 216.000 Gulden Belanda. Upacara peletakan batu pertama gereja dilaksanakan pada tanggal 11 Agustus 1920 oleh Romo Fleerakkers, SJ. Peresmian dan pemberkatan gereja dilaksanakan pada tanggal 21 Juli 1921 oleh Mgr. Edmundus Luypen, SJ, Vikaris Apostolik Batavia dan gereja ini diberi nama Gereja Hati Kudus Yesus Surabaya.
Setelah puas berdoa dan berfoto di Gereja Hati Kudus Yesus Katedral Surabaya, kami segera melanjutkan petualangan. Dalam panas terik Oktober di Surabaya sore itu, kami mengingat bahwa bulan Oktober memang cukup istimewa bagi umat Katolik sedunia, termasuk kami, untuk mendaraskan doa rosario. Penentuan bulan Oktober sebagai bulan Rosario, berkaitan dengan pertempuran di Lepanto, yaitu sebuah pertempuran laut yang berlangsung saat Perang Salib pada tanggal 7 Oktober 1571. Pada waktu itu armada laut Liga Suci, koalisi negara-negara Katolik bentukan Paus Pius V, bertemu dengan armada Kekaisaran Usmani Turki di perairan Teluk Patras. Don Juan de Austria, adik tiri Raja Spanyol Felipe II, yang diangkat oleh Paus Pius V menjadi panglima segenap armada Liga Suci.
pertempuran di Lepanto, yaitu sebuah pertempuran laut yang berlangsung saat Perang Salib pada tanggal 7 Oktober 1571.
Don Juan (John) de Austria, diangkat oleh Paus Pius V menjadi panglima segenap armada Liga Suci.
Angkatan perang Usmani saat itu sedang menuju ke barat dari pangkalan lautnya di Lepanto (nama yang diberikan orang Venesia untuk kota Nafpaktos, orang Turki menamakannya İnebahtı) berpapasan dengan armada Liga Suci yang sedang menuju ke timur dari Messina, Sisilia di Italia. Menghadapi ancaman ini, Don Juan (John) de Austria, komandan armada Katolik, memimpin doa rosario memohon pertolongan Bunda Maria. Demikian juga, umat Katolik di seluruh Eropa berdoa rosario untuk memohon bantuan Bunda Maria di dalam keadaan yang mendesak ini.
Pada tanggal 7 Oktober 1571, Paus Pius V bersama-sama dengan banyak umat beriman berdoa rosario di basilika Santa Maria Maggiore Roma, Italia. Sejak subuh sampai petang, doa rosario tidak berhenti didaraskan di Roma untuk mendoakan pertempuran di Lepanto. Walaupun nampaknya mustahil, namun pada akhirnya pasukan Katolik menang. Kemudian, Paus Pius V menetapkan peringatan Rosario dalam Misa di Vatikan setiap tanggal 7 Oktober dan penerusnya, Paus Gregorius XIII, menetapkan tanggal 7 Oktober itu sebagai Hari Raya Rosario Suci.
Kemenangan Liga Suci di Lepanto menjegal langkah ekspansi Kesultanan Utsmaniyah Turki ke sisi Eropa dari Mediterania.
Paus Gregorius XIII, menetapkan tanggal 7 Oktober itu sebagai Hari Raya Rosario Suci, terkait kemenangan di Lepanto tahun 1571
Di dalam sejarah perang laut, Pertempuran Lepanto merupakan laga besar terakhir di Eropa yang mempertarungkan kapal-kapal dayung. Pada hakikatnya pertempuran ini adalah “laga infanteri di atas panggung terapung”. Keterlibatan lebih dari 450 kapal perang menjadikannya pertempuran laut terbesar dalam sejarah Eropa sejak Abad Klasik. Kemenangan Liga Suci ini menjegal langkah ekspansi Kesultanan Utsmaniyah Turki ke sisi Eropa dari Mediterania.
Dengan inspirasi tersebut, kami juga mendasarkan doa rosario untuk memenangkan perang besar melawan dosa, kemalasan, dan tinggi hati. Apalagi kata Surabaya sering diartikan secara filosofis sebagai lambang perjuangan antara darat dan air, seperti mitos pertempuran antara ikan sura (ikan hiu) dan baya (buaya), yang menimbulkan dugaan bahwa terbentuknya nama “Surabaya” muncul setelah terjadinya pertempuran tersebut. Kata Surabaya juga diyakini sebagai perpaduan dua nama tokoh besar pada masa lampau yaitu Suropati dan Purbaya.
Perkelaian Suropati dan Purbaya dalam legenda asal muasal kota Surabaya
Pertempuran antara ikan hiu dan buaya, sebagai lambang kota Surabaya
Pada era Paska Kemerdekaan Indonesia, tanggal 10 November 1945, pasukan Inggris mulai membom Surabaya dan perang sengit berlangsung terus menerus selama 10 hari. Pada 20 November 1945 Inggris akhirnya berhasil menguasai Surabaya dengan korban ribuan orang prajurit tewas. Lebih dari 20.000 tentara Indonesia, milisi dan penduduk Surabaya juga tewas. Seluruh kota Surabaya hancur lebur. Pertempuran ini merupakan salah satu pertempuran paling berdarah yang dialami pasukan Inggris pada dekade 1940-an. Pertempuran ini menunjukkan kesungguhan bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan dan mengusir penjajah.
Karena sengitnya pertempuran dan besarnya korban jiwa, setelah pertempuran ini, jumlah pasukan Inggris di Indonesia mulai dikurangi secara bertahap dan digantikan oleh pasukan Belanda. Pertempuran di Surabaya pada tanggal 10 November 1945 tersebut hingga saat ini dikenang dan diperingati sebagai Hari Pahlawan. Oleh karena itu, kami ingin mengambil inspirasi semangat juang para pahlawan dengan segera menuju Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria (KELSAPA) yang merupakan gereja tua di kota Surabaya dan turut menjadi saksi kehancuran kota Surabaya, saat perang revolusi Indonesia.
Setelah minum es buah segar di depan gereja, juga menu kuliner khas Surabaya lontong balap dan tahu campur yang dibawakan mas Wahyu dan bu Laurentia, kami segera menikmati keindahan Gereja Kelsapa di Kepanjen dengan dindingnya yang khas karena terbuat dari bata merah tanpa plester. Gereja ini sempat direnovasi pada tahun 1951 oleh Mgr. Verhoeks, CM. Gereja Kelsapa kembali direnovasi setelah pelemparan granat oleh salah seorang anggota Partai Komunis Indonesia pada tanggal 15 Oktober 1967. Gereja Kelsapa ini ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh Pemerintah Kota Surabaya pada tahun 2013.
Gereja Kelasapa ini mulai dibangun pada tahun 1899 dengan bantuan arsitek W. Westmaas dari Semarang, dan diresmikan pada 5 Agustus 1900. Pada zaman perang kemerdekaan RI tahun 1945 bangunan gereja hancur terbakar saat perang revolusi di daerah Jembatan Merah (yang menewaskan Brigadir Jendral Mallaby dari Inggris). Pada tahun 1996 Gereja Kepanjen direnovasi lagi. Kedua menara yang terdapat di samping kanan dan kiri pintu masuk utama gereja, kembali dipasang. Ketinggian masing-masing menara adalah 15 meter, dengan tinggi salib 3,75 meter dan ayam jago 3,50 meter. Keduanya dari bahan stainless steel.
Sesama manuk JB (alumni SMA Kolese de Britto Yogyakarta) angkatan 82 (mas Wahyu), 83 (mas Alex) dan 84 (saya) di Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria (Kelsapa) Surabaya
Gedung Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria (Kelsapa) Kepanjen telah mendapatkan penghargaan dari komunitas Pelestarian Arsitektur Surabaya
Dari segi arsitektur, Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria ini telah mendapatkan penghargaan dari komunitas Pelestarian Arsitektur Surabaya pada tahun 1996, dan pada tahun 1998 ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Di gereja tersebut kami bertemu dengan dr. Alexander Surya Agung, Sp.B, FINACS, FICS, FAACT, kakak kelas setahun di SMA Kolese de Britto (JB) Yogyakarta. Setelah bercengkerama sesama manuk JB dengan mas Wahyu dan Dr. Alex, akhirnya kami diantar Dr. Alex menikmati suasana indah di malam hari kota tua Surabaya. Setelah dibelikan menu kuliner lokal nasi cumi hitam yang dibungkus, kami diantar tergesa ke Stasiun Pasar Turi, takut ketinggalan KA Pandalungan.
Kenangan sehabis mendoakan kita semua, di Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria (Kelsapa) Kepanjen Surabaya, dengan patung Tuhan Yesus Kristus satu-satunya di dunia maya, yang menengok ke kiri, bukan ke kanan.
KA Pandalungan adalah layanan kereta api penumpang kelas eksekutif yang dioperasikan oleh PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) untuk melayani relasi Gambir–Jember di lintas utara Jawa (via Semarang Tawang–Surabaya Pasarturi).
Dibelikan nasi bungkus isi cumi hitam di Pasar Atom Surabaya oleh dr. Alex sebelum diantar ke Stasiun Pasar Turi
Blangkon tertinggal di kabin KA Pandalungan saat kami turun di Stasiun Semarang Tawang Bank Jateng
Dengan jarak tempuh 919 km melalui jalur utara Jawa dan waktu tempuh rata-rata 14 jam 15 menit, KA ini sempat menjadi kereta api antarkota dengan jarak tempuh terpanjang di Indonesia, setelah KA Gajayana (jarak tempuh terjauh di jalur tengah Pulau Jawa), dan KA Ranggajati (jarak tempuh terjauh di jalur selatan Pulau Jawa). Nama Pandalungan berasal dari sub-suku Madura yang mendiami wilayah di Tapal Kuda Jawa Timur (tepatnya di Jember di mana stasiun awal keberangkatan berada) dan disebut sebagai suku utama Madura.
Kami turun di Stasiun Semarang Tawang Bank Jateng menjelang pk. 23 dengan musibah kecil, yaitu blangkon (tutup kepala tradisional Jawa) tertinggal di kursi. Segere kami mengubungi CS PT KAI melalui DM Instagram KAI121. Sepanjang jalan melewati keindahan malam suasana kota lama Semarang yang gemerlap, kami menuju rumah sepupu, yaitu mbak Katini di Jl. Tarupolo no 15, RT 6/RW 10, Gisik Drono, Semarang Barat. Kami juga teringat akan Pelabuhan Simongan sebagai tempat armada Laksamana Cheng Ho dari Tiongkok bersandar pada tahun 1435 M. Di tempat pendaratannya, Laksamana Cheng Ho mendirikan kelenteng dan masjid yang sampai sekarang masih dikunjungi dan disebut Kelenteng Sam Po Kong (Gedung Batu) Semarang, tidak jauh dari rumah mbak Katini.
Pada akhir abad ke-15 M utusan Kerajaan Demak yang dikenal sebagai Pangeran Made Pandan (Sunan Pandanaran I), mulai menyebarkan agama Islam dari perbukitan Bergota. Dari waktu ke waktu daerah itu semakin subur dan tumbuhlah pohon asam yang berjarak satu sama lain (jarang-jarang) (bahasa Jawa: asem arang), sehingga nama daerah itu kemudian menjadi Semarang, yang terbwa dalam mimpi kami malam itu.
Jumat, 25 Oktober 2024 : Jawa Tengah
Hanya tertidur sekitar 5 jam di rumah mbak Katini Jl. Tarupolo no 15, RT 6/RW 10, Gisik Drono, Semarang Barat, kami segara menuju Gereja Katedral Semarang, nama resminya Katedral Santa Perawan Maria Ratu Rosario Suci Randusari berada di Jl. Pandanaran No. 9, Semarang, Jawa Tengah. Katedral ini terletak di dekat Tugu Muda di kelurahan Randusari, Semarang.
Mgr. Dr. Robertus Rubiyatmoko (lahir 10 Oktober 1963) adalah Uskup Agung di Keuskupan Agung Semarang. Ia ditahbiskan menjadi Imam pada tanggal 12 Agustus 1992 dengan penahbis Mgr. Julius Darmaatmadja, SJ dan dipilih oleh Paus Fransiskus menjadi Uskup Agung di Keuskupan Agung Semarang pada tanggal 18 Maret 2017.
Kami menginap di rumah mbak Katini Jl. Tarupolo no 15, RT 6/RW 10, Gisik Drono, Semarang Barat.
Katedral Santa Perawan Maria Ratu Rosario Suci Randusari berada di Jl. Pandanaran No. 9, Semarang
Katedral ini dibangun di atas fondasi batu, dengan ruang besar bebas kolom dalam. Atap dan lengkungan memiliki parapets, dan pintu pada bangunan wajah persegi panjang utara, barat, dan selatan; bagian depan gereja terletak di sebelah barat. Gereja Katedral Semarang memiliki sejarah panjang yang tak terlepas dari Kota Semarang. Gereja ini merupakan bagian dari tahta suci Vicaris Apostolic yang dipimpin oleh Mgr. J. Groff, seorang misionaris Suriname yang tinggal di Batavia. Saat itu Vicaris Apostolic memiliki tiga Paroki besar, yakni Batavia, Semarang, dan Surabaya. Sementara itu, Paroki Semarang memiliki tiga stasi, yakni Stasi Candi (1925), Stasi Bangkong (1932), dan Stasi Randusari (1927).
Bersama mas Awe dan mbak Ratri (teman SMP Bruderan Purworejo, tinggal di Jatingaleh) dan mas Darmadi (teman Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta, tinggal di Karang Panas) di Gereja Katedral Semarang
Pada tahun 1927, dibangunlah sebuah gereja yang sebelumnya merupakan kantor Dinas Kesehatan Belanda bernama Dienst voor Volkgezondheid. Gereja ini dirancang oleh J Th Van Oyen bekerja sama dengan konstruktor Kleiverde. Di tahun itu juga, Mgr Antonius van Velsen SJ Vicaris Apostolic Batavia memberkati gereja yang berlokasi di wilayah Randusari menjadi Stasi Randusari. Renovasi dilakukan pada tahun 1935 dan selesai sekitar tahun 1937, dan diberkati oleh Mgr Pieter Jan Willekens, SJ.
Di katedral Semarang kami berjumpa dalam kehangatan suasana dengan mas Awe dan mbak Ratri, teman kami di SMP Bruderan Purworejo yang tinggal di Jatingaleh. Juga mas Darmadi Tjandrajaya, kakak kelas 2 tahun di Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta, yang tinggal di Karang Panas. Setelah mengikuti misa kudus harian di Gereja St. Perawan Maria Ratu Rosario Suci (Katedral) Randusari, Semarang harian pk. 5.30 kami segera diantar berboncengan 2 sepeda motor menuju Stasiun Poncol Semarang, untuk mengejar KA Kamandaka.
Dalam perjalanan tanpa mengenakan helm diboncengkan mas Darmadi, kami jadi teringat tentang pernah adanya Perang Salib yang pertama kali dicetuskan oleh Paus Urbanus II pada tahun 1095, dalam sidang Konsili Clermont di Perancis. Ia mengimbau peserta konsili untuk angkat senjata membantu Kaisar Romawi Timur melawan orang Turki Seljuk, dan untuk melakukan ziarah bersenjata ke Tanah Suci. Imbauannya ditanggapi dengan penuh semangat oleh seluruh lapisan masyarakat Eropa Barat. Para sukarelawan dikukuhkan menjadi anggota Laskar Salib atau Liga Suci melalui pengikraran kaul di muka umum. Orang mengajukan diri lantaran didorong oleh niat yang berbeda-beda. Ada yang sekadar ingin pergi ke Yerusalem agar ikut terangkat beramai-ramai ke surga, ada yang melakukannya demi bakti kepada majikan, ada yang hendak mencari ketenaran dan nama baik, dan ada pula yang bernafsu meraup keuntungan ekonomi maupun politik melalui keikutsertaannya.
Laskar Salib mampu menguasai dan membentuk 4 negara baru, yang lazim disebut Outremer (Tanah Sabrang), yakni Edessa, Antiokhia, Yerusalem, dan Tripoli. Laskar Salib pada akhirnya terdesak mundur dalam Perang Salib yang berlangsung pada 1095 – 1291, sesudah hampir dua abad bercokol di Tanah Suci. Akko, kota terakhir Laskar Salib di Tanah Suci, direbut kaum Muslim pada tahun 1291. Perang Salib yang berlangsung hampir 2 abad di masa lalu, tepatnya 1095–1291, mengajarkan tentang pentingnya toleransi antar umat beragama di masa kini, termasuk dalam wilayah yang kami lalui selama ziarah katedral ini.
Kami segera melanjutkan perjalanan dari Semarang menggunakan KA Kamandaka, yang merupakan layanan kereta api penumpang kelas eksekutif dan ekonomi milik PT KAI (Kereta Api Indonesia) dengan melayani relasi Cilacap–Purwokerto–Semarang Tawang melalui lintas tengah Pulau Jawa.
Nama “Kamandaka” diambil dari salah satu tokoh legenda asal Banyumas, Raden Kamandaka. Dalam cerita ketoprak di Jawa Tengah selatan, dia dikenal sebagai Lutung Kasarung. Cerita rakyat ini berbeda dengan legenda Tanah Pasundan, yaitu kisah para menak Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda, tentang perjalanan Sanghyang Guruminda dari Kahyangan, yang diturunkan ke Buana Panca Tengah (Bumi) dalam wujud seekor lutung (sejenis monyet). KA Kamandaka diresmikan oleh Wakil Menteri Perhubungan, Bambang Susantono, dan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, pada 17 Febuari 2014.
Oleh karena blangkon saya tertinggal di KA Pandalungan, sehingga untuk foto selanjutnya mama yang akan memakai topi, sejak naik KA Kamandaka menuju Purwokerto
Di stasiun Purwokerto kami dijemut oleh Mas Bambang dan mbak Wiwik, teman kami yang tinggal di Purwokerto. Juga orang tua An. Loisa dan An. Lio, yang pernah menjadi pasien kami di RS Panti Rapih Yogyakarta.
Kami berdua berpencar mobil, karena ada 2 mobil yang menjemput kami di Stasiun Purwokerto dan akhirnya bertemu di Gereja Katedral Kristus Raja Purwokerto berlokasi di Jl. Gereja No. 3, Purwokerto Timur, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Gereja Katedral Purwokerto didedikasikan untuk gelar Yesus, yaitu Kristus Raja. Katedral ini menjadi pusat kedudukan dan takhta bagi Uskup Purwokerto, saat ini Mgr. Dr. Christophorus Tri Harsono (lahir 18 Januari 1966) sejak terpilih pada 14 Juli 2018 menggantikan Mgr. Julianus Kema Sunarka, SJ.
Bangunan Katedral Kristus Raja Purwokerto saat ini merupakan bangunan baru, yang menggantikan bangunan katedral lama, yang didirikan pada tahun 1930. Seiring perkembangan umat, Katedral lama dirasa terlalu kecil dan kurang mewakili wajah Katedral sebagai gereja induk di Keuskupan. Kemudian tercetuslah ide untuk membangun sebuah Katedral baru pada masa penggembalaan Mgr. W. Schoemaker, MSC, namun pelaksanaannya selalu tertunda. Wacana ini terus berkembang pada masa penggembalaan Mgr. Paschalis Hardjasoemarta, MSC.
Langkah serius diambil pada bulan Mei 1982 saat perayaan setengah abad berdirinya Keuskupan Purwokerto (dihitung dari pendirian Perfektur Apostolik Purwokerto). Mgr. Paschalis Hardjasoemarta, MSC mengajak umat membangun Katedral baru, sebagai bentuk syukur atas penyertaan Allah sepanjang perjalanan Keuskupan Purwokerto, sekaligus menjadi monumen kesatuan umat yang menampilkan wajah budaya setempat. Sebagai bentuk kontinuitas perjalanan Gereja, gedung Katedral baru dibangun di tempat Katedral lama.
Bersama mbak Wiwik dan mas Bambang yang telah menjemput kami di Stasiun Purwokerto
Gereja Katedral Kristus Raja Purwokerto
Bulan April 1985 katedral lama mulai dibongkar dan pada 26 Mei 1985 dilaksanakan upacara peletakan batu pertama untuk gedung Katedral baru. Selama masa pembangunan ini, misa harian dilaksanakan di kapel susteran dan bruderan, sementara Misa Mingguan dirayakan di aula sekolah susteran (Juli 1985 – Februari 1988).
Bangunan Katedral baru diresmikan oleh Soepardjo Rustam yang waktu itu menjabat sebagai Menkokesra RI pada 30 Mei 1988 dan dikonsekrasi sebagai Katedral oleh Mgr. Paschalis Hardjasoemarta, MSC pada 31 Mei 1988. Katedral Kristus Raja Purwokerto ini menjadi Katedral pertama di Jawa yang dibangun pasca kemerdekaan RI. Corak arsitektur joglo menggambarkan Gereja yang hidup di tengah budaya bangsa. Katedral baru ini bisa menampung sekitar 600-700 umat.
An. Lousa kelas 4 SD yang pernah menjadi pasien di RS Panti Rapih Yogyakarta tidak ikut menjemput dan hanya An. Lio (adiknya) yang ikut menemani kami di Katedral Purwokerto
Bersama RD Martinus Ngarlan (Pastor Kepala Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto)
Setelah berdoa dan berfoto dalam kemegahan Gereja Katedral Kristus Raja Purwokerto, selanjutnya mbak Wiwik (Herwijati Anita Miranda Prajitno adalah Analis Kebijakan Ahli Madya Kementerian Sosial RI) dan mas Bambang segera bergegas pulang, karena ada acara lain dan kami diajak keliling kota Purwokerto bersama An. Lio (5 tahun). Purwokerto adalah ibu kota Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Julukan kota di jalur tengah Jawa Tengah ini adalah kota wisata, kota keripik, kota transit, kota pendidikan, sampai kota pensiunan. Di kota ini pula terdapat Museum Bank Rakyat Indonesia, yang dahulu berdiri di Purwokerto dan didirikan oleh Raden Bei Aria Wirjaatmadja, putra daerah Purwokerto. Bahasa yang digunakan oleh masyarakat Purwokerto adalah bahasa Jawa dialek Banyumasan. Wikipedia juga turut melestarikan bahasa banyumasan ini dengan menerbitkan Wikipedia bahasa Banyumasan.
Bersama An. Lio di dalam Gereja Katedral Kristus Raja Purwokerto
Makan siang di RM Raja Soto Lama H. Suradi Jl. Mayjen Sutoyo Purwokerto menu soto Sokaraja dan mendoan.
Kami segera diajak makan siang di RM Raja Soto Lama H. Suradi Jl. Mayjen Sutoyo Purwokerto. Makanan khas Purwokerto adalah soto Sokaraja dan mendoan, makanan yang terbuat dari tempe yang tipis, kemudian dibalur tepung bumbu dan digoreng setengah matang, yang kami santap dengan penuh semangat siang itu. Tahu brontak, makanan yang terbuat dari tahu yang ditepungi, dibumbui, dan digoreng. Istilah “brontak” berasal dari sayuran yang keluar dari tahu ketika digoreng dan Keripik tempe, Kota Keripik merupakan salah satu julukan dari kota Purwokerto.
Selanjutnya kami diantar ke pol travel Aragon di Jl. Mayjend Sutoyo No. 20, Sawangan, Purwokerto Barat. Tingginya kebutuhan masyarakat Indonesia untuk moda layanan transportasi darat yang efisien tetapi nyaman dan aman, menjadi inspirasi untuk Aragontrans hadir dengan fasilitas-fasilitas yang memenuhi kebutuhan tersebut. Pertengahan tahun 2019 menjadi penanda awal eksistensi Aragontrans di mata publik dunia transportasi darat Indonesia.
Duduk manis di captain seat Travel Toyota HiAce Aragon dari Purwokerto menuju ke Bandung.
Travel Toyota Hi Ace Commuter, menuju ke Bandung saat berstirahat sekali di RM Sukamanah di Jl. Raya Sindangkasih, Ciamis aat menuju ke Bandung
Namanya terinspirasi dari Aragon adalah satu dari tujuh belas wilayah otonom di Spanyol. Ibu kotanya adalah Zaragoza. Layanan Aragontrans terbagi atas layanan shuttle, travel, charter, courier & cargo. Saat ini didukung dengan 30 unit Toyota Hi Ace Commuter, 5 outlet di lokasi strategis, rute terjadwal serta pelayanan terbaik, diyakini dapat menjadi salah satu jasa layanan transportasi profesional dan terpercaya. Kami menikmati perjalanan darat di captain seat Travel Toyota Hi Ace Commute, menuju ke Bandung. Dengan berstirahat sekali di RM Sukamanah di Jl. Raya Sindangkasih, Ciamis pk. 16.30, akhirnya kami sempat ikut keliling dalam kota Bandung mengantar penumpang lain, karena layanan travel Aragon ke Jawa bersifat door to door, bukan pool to pool. Kami ikut menikmati Jalan Braga dan sekitranya dengan suasana hiruk pikuk pengunjung dan akhirnya masuk rumah kami di Sarijadi menjelang pk. 21. Kami bertemu dengan Dik Larasati, anak bungsu kami yang sedang banyak tugas saat koass di RS Sartika Asih Bandung dengan pembimbing yang sangat rajin Dr. Ahmad Seno Kamil, SpPD.
Dini hari itu dik Larasati sudah bangun dan harus melakukan pra visite di RS Sartika Asih Bandung dengan pembimbing yang sangat rajin Dr. Ahmad Seno Kamil, SpPD.
Sabtu, 26 Oktober 2024 : Jawa Barat
Gereja Santo Petrus Katedral Bandung terletak di Jalan Merdeka, Babakanciamis, Bandung, Jawa Barat. Bangunan ini dirancang oleh Charles Prosper Wolff Schoemaker dan bergaya arsitektur neo-Gothic akhir. Dilihat dari atas, bentuknya menyerupai salib yang simetris. Katedral Santo Petrus mempunyai luas tanah sebesar 2.385 m² dan luas bangunan sebesar 785 m². Pembangunan gereja ini dilaksanakan sepanjang tahun 1921 dan diberkati pada 19 Februari 1922 oleh Mgr. Edmundus Luypen, S.J.
Katedral Santo Petrus Bandung ini dirancang oleh Charles Prosper Wolff Schoemaker dan bergaya arsitektur neo-Gothic akhir.
Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C. (lahir 14 Februari 1968) adalah Uskup Keuskupan Bandung, melanjutkan kepemimpinan Mgr. Johannes Pujasumarta yang ditunjuk sebagai Uskup Agung Semarang dan kekosongan tahta diisi oleh Administrator Apostolik Mgr. Ignatius Suharyo. Ia terpilih menjadi Uskup Bandung pada 3 Juni 2014, dan ditahbiskan menjadi Uskup pada 25 Agustus 2014.
Di Katedral Santo Petrus Bandung ini kami mengalami perjumpaan yang membahagiakan antara kawulo alit dengan perwira tinggi TNI, teman seangkatan di SMA Kolese de Britto (JB) Yogyakarta 1984. Beliau adalah Mantan Kadispsiad Brigjen TNI (Purn) Drs. R Tagar Pujasambada, M.Psi., Psikolog,
Di Katedral Santo Petrus Bandung ini kami mengalami perjumpaan yang membahagiakan antara kawulo alit dengan perwira tinggi TNI, teman seangkatan di SMA Kolese de Britto (JB) Yogyakarta 1984. Beliau adalah Mantan Kadispsiad Brigjen TNI (Purn) Drs. R Tagar Pujasambada, M.Psi., Psikolog, setelah mengikuti misa kudus harian pagi di Gereja Katedral Santo Petrus Bandung. Selain itu, kami juga berjumpa dengan adik kandung kami yang lama tidak bertemu, Yosephine Wara Pradnastuti yang siap mengantar kami ke pool Aragon Travel di Pasteur Bandung untuk menuju ke Katedral Bogor.
Berjumpa dengan adik kandung kami yang lama tidak bertemu, Yosephine Wara Pradnastuti di Gereja Santo Petrus Katedral Bandung.
Kota Bandung berasal dari kata bendung atau bendungan karena terbendungnya sungai Citarum oleh lava Gunung Tangkuban Parahu yang membentuk telaga. Legenda lain mengatakan bahwa nama Bandung diambil dari dua perahu yang diikat berdampingan yang disebut perahu bandung, yang digunakan oleh Bupati RA Wiranatakusumah II, untuk menyusuri sungai Citarum dalam mencari lokasi kabupaten yang baru, untuk menggantikan ibu kota yang lama di Dayeuhkolot.
Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru tahun 1955 mengatakan bahwa Bandung adalah ibu kotanya Asia-Afrika. Pada tahun 1990, Kota Bandung terpilih sebagai salah satu kota paling aman di dunia berdasarkan survei majalah Time. Kota Bandung dijuluki sebagai kota kembang, karena sangat cantik dengan banyaknya pohon dan bunga-bunga yang tumbuh di sana. Selain itu, Kota Bandung disebut juga dengan Paris van Java karena keindahannya yang mirip seperti Kota Paris di Prancis. Pada tahun 2007 Kota Bandung menjadi pilot project kota terkreatif se-Asia Timur. Saat ini Kota Bandung merupakan salah satu kota tujuan utama pariwisata dan pendidikan, maka wajar saja kami sangat terkagum dengan keindahan Bandung.
Dalam perjalanan naik Travel Aragon dari Bandung, kami kembali mengingat bahwa bulan Oktober sebagai bulan Rosario sebagai warisan spiritual Paus Leo XIII (1878-1903). Deklarasi bulan Oktober sebagai bulan Rosario sejarahnya bermula dari keputusan Paus Pius V menetapkan tanggal 7 Oktober sebagai pesta Santa Maria Ratu Rosario. Sepanjang jalan coba kami terus daraskan doa rosario, termasuk saat kami melibas Jalan Tol Jagorawi (Jakarta–Bogor–Ciawi), yang merupakan jalan tol pertama di Indonesia. Jalan tol yang mulai dibangun pada 1 Oktober 1971, dengan biaya Rp. 350 juta per kilometer pada kurs rupiah saat itu, sepanjang kurang lebih 50 KM, dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 7 Maret 1977. Pada tahun 2022 Jalan Tol Terbaik I Kategori Jalan Tol Panjang lebih dari 50 kilometer adalah Jalan Tol Jagorawi yang kami nikmati sebelum mencapai Bogor.
Akhirnya kami dapat mencapai Gereja Katedral Santa Perawan Maria (Beatae Mariae Virginis), di Jalan Kapten Muslihat Nomor 22 Bogor, Jawa Barat. Mgr Paskalis Bruno Syukur, O.F.M. (lahir 17 Mei 1962) adalah Uskup Keuskupan Bogor dan merupakan imam Fransiskan. Mgr. Paskalis Bruno Syukur telah menolak menjadi kardinal di antara 21 kardinal baru yang diumumkan oleh Bapa Suci Paus Fransiskus pada Doa Angelus Hari Minggu, 6 Oktober 2024. Mgr. Paskalis Bruno Syukur saat ini menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) sekaligus Uskup Bogor.
Awal sejarah berdirinya Gereja Katedral Bogor berkaitan dengan peranan tokoh perintis umat kota Bogor, yaitu Mgr. Adam Carel Claessens. Pada tahun 1881, Mgr. Claessens membeli sebuah rumah dengan pekarangan yang cukup luas (sekarang meliputi kompleks Gereja, Pastoran, seminari, sekolah, dan Bruderan Budi Mulia). Pada tahun 1889 Pemerintah Hindia Belanda secara resmi mengakui dan menyatakan bahwa Bogor menjadi Stasi misi tetap Batavia. Tahun 1896 (setahun setelah Mgr. AC. Claessen meninggal), MYD. Claessens mulai membangun sebuah gedung Gereja yang megah di atas tanah yang didiaminya. Gereja itu yang hingga sekarang kita kenal dengan Gereja Katedral.
Gereja Katedral Santa Perawan Maria (Beatae Mariae Virginis), di Jalan Kapten Muslihat Nomor 22 Bogor
Di Katedral Bogor kami bertemua dengan Mas Eko Lintang dan mas Felix Rahno Armunanto (teman seangkat di Asrama Mahasiswa Realino) dan Bapak Wahyu Fernandez, ayah An. Baga dan An. Dakhsa adalah pasien kami di RS Panti Rapih Yogyakarta yang semuanya tinggal di Bogor. Kota Bogor dikenal dengan julukan Kota Hujan, karena memiliki curah hujan yang lumayan sangat tinggi. Pada awal abad ke-5 Masehi, Kota Bogor merupakan pusat Kerajaan Tarumanagara dengan raja yang bernama Purnawarman. Pada prasasti Batutulis menceritakan kekuasaan Prabu Surawisesa dari Kerajaan Sunda dengan ibukota di Pajajaran, yang diyakini terletak di Kota Bogor, dan bahkan menjadi pusat pemerintahan Prabu Siliwangi yang dinobatkan pada 3 Juni 1482.
Dengan sesama warga Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta angkatan 1984 (mas Rahno dan mas Eko Lintang) di Gereja Katedral Santa Perawan Maria Bogor.
Bersama Bapak Wahyu Fernandez, ayah An. Baga dan An. Dakhsa adalah pasien kami di RS Panti Rapih Yogyakarta di Gereja Katedral Santa Perawan Maria Bogor.
Hari penobatannya ini diresmikan sebagai Hari Jadi Kota Bogor. Kota Bogor berada di daerah pegunungan yang secara alamiah membuat lokasi ini mudah untuk bertahan terhadap ancaman serangan, dan di saat yang sama adalah daerah yang subur serta memiliki akses yang mudah pada sentra-sentra perdagangan saat itu. Pada tahun 1745, Gubernur Jenderal VOC Gustaaf Willem Baron van Imhoff membangun Istana Bogor seiring dengan pembangunan Jalan Raya Daendels yang menghubungkan Jakarta dengan Bogor.
Bersama Bapak Wahyu Fernandez dan teman2 Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta di Gereja Katedral Santa Perawan Maria Bogor.
Dengan sesama warga Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta di Gereja Kristen Indonesia Bogor, dekat warung tenda milik mas Eko Lintang
Setelah berfoto bersama, kami segera diantar mas Felix Rahno dengan mobilnya yang gagah, Toyota Foruner hitam legam, mengikuti sepeda mas Eko Lintang yang memiliki 35 buah sepeda, mengitari pusat kota Bogor. Pada masa pendudukan Inggris, Gubernur Jendral Thomas Stamford Raffles mengembangkan Kota Bogor, yaitu Istana Bogor direnovasi dan sebagian tanahnya dijadikan Kebun Raya (Botanical Garden), dibantu seorang arsitek Carsens yang menata Bogor sebagai tempat peristirahatan yang dikenal dengan Buitenzorg. Kami segera lahap menikmati menu makan siang di warung tenda milik mas Eko Lintang, di depan Gereja Kristen Indonesia Jl. Pengadilan Bogor, terus diantar mas Felix mencapai Stasiun Bogor.
Kami sangat menyesal karena tidak mampu bertemu dengan mas Anto Tjitro, teman sekalas di SMP Bruderan Purworejo, Jawa Tengah, yang menunggu kami di pintu masuk timur Stasiun Bogor atau taman topi, sementara kami masuk melalui pintu barat. Sangat disayangkan, perjumpaan tersebut gagal terwujud. Kami segera menaiki KRL Commuter Line Bogor. Jalur ini dibuka tahun 1930, dengan panjang lintas Jakarta Kota – Bogor 54,8 km. Kecepatan operasi 90 km/h
Commuter Line Bogor (atau disebut juga Lin Bogor, sebelumnya bernama Lin Sentral) menyusuri rute KRL Lintas Bogor dengan kode warna Merah. Kami berangkat dari Bogor, melewati Cilebut, Bojong Gede, Citayam, Depok, Depok Baru, Pondok Cina, Universitas Indonesia, Universitas Pancasila, Lenteng Agung, Tanjung Barat, Pasar Minggu, Pasar Minggu Baru, Duren Kalibata, Cawang, Tebet dan turun Manggarai. Line Bogor melanjutkan perjalanan ke Cikini, Gondangdia, Juanda, Sawah Besar, Mangga Besar, Jayakarta dan berakhir di Jakarta Kota
Berdesakan dengan sesama penumpang di Commuter Line Bogor dari Bogor melaju ke Jakarta
Transit di Stasin Manggarai Jakarta untuk ganti Line Cikampek menuju Bekasi Timur
Selanjutnya kami berganti Line Biru dari Manggarai melewati Matraman, Jatinegara, Klender, Buaran, Klender Baru, Cakung, Kranji, Bekasi dan turun di Bekasi Timur. Line Biru melanjutkan perjalanan ke Tambun, Cibitung, Metland Telaga Murni, dan berakhir di Cikarang.
Bekasi menjadi kota penyangga dengan jumlah penduduk terbanyak se-Indonesia, menjadi tempat tinggal kaum urban dan sentra industri. Nama Bekasi berasal dari kata Bagasasi yang artinya sama dengan Candrabaga yang tertulis di dalam Prasasti Tugu era Kerajaan Tarumanegara, yaitu nama sungai yang melewati kota ini. Kami menuju rumah besan, yaitu Bapak Suharyadi dan Ibu Endang di Jl.Garuda Raya Blok G no 399 Pondok Timur Indah, Jatimulya, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi.
Setelah bertemua Joviel, cucu hebat yang sedang berlibur di situ, anak sulung kami mas Yudhi dan mbak Mega, kami bercengkerama tidak lama, dan memohon maaf atas banyak sekali kekurangan kami selama ini sebagai orangtua, dan kami segera melanjutkan perjalanan menuju Jakarta.
Adik sepupu kami, yaitu dik Daniel Prastowo sekeluarga (bersama istrinya yang baik hati dik Ernest Prita dan 2 anaknya yang gagah Marvel dan Rafael), telah menjemput kami dari rumahnya di Taman Galaxi Indah Bekasi. Adik sepupu kami yang hebat ini adalah alumni Universitas Pelita Harapan (Doctor of Law – JD International Business, Trade, and Tax Law). Sebelumnya memegang 2 gelar S2, yaitu Master of Laws – LLM Business Law dari UPH dan Master Business and Managerial Economics dari Universitas Trisaksi. Perjuangan Pendidikan dimulai dari 2 gelar diploma, yaitu Accounting Academy LPI dan Bachelor Finance, dari Universitas Indonesia dan GT Industry Polytechnic (Poltek Gadjah Tunggal). Adik sepupu kami tersebut setelah berprofesi sebagai Business Strategic Associate, Cyber Security & Cyber Law Analyst di Putera Sampoerna Foundation Jakarta, lanjut menjadi Finance Director at Rajawali Foundation Jakarta. Ada berbagai program kerja yayasan Rajawali dalam koordinasi oleh Rajawali Global Education (RGE) yang didirikan pada tahun 2019, sebagai wahana melaksanakan program pendidikan dan pembelajaran, untuk memperluas akses ke peluang pendidikan daring berkualitas tinggi di Indonesia.
Pengetahuan dan keterampilan adalah kunci keberhasilan ekonomi, baik bagi individu maupun bagi negara secara keseluruhan. Dengan pesatnya perubahan teknologi, sangat mungkin seluruh kategori pekerjaan akan hilang, sebaliknya permintaan akan keterampilan teknis justru meningkat tajam. Beberapa jenis keterampilan teknis ini sangat baru, sehingga banyak universitas tidak siap untuk mengajarkannya. Hebat dan mengagumkan sekali adik sepupu kami ini.
Kami diantar keluarga dik Daniel Prastowo sampai di Gereja Katedral Santa Maria Diangkat ke Surga Jl. Katedral No. 7B, Jakarta. Gedung gereja ini diresmikan pada 1901 dan dibangun dengan arsitektur neo-gotik dari Eropa, yakni arsitektur yang sangat lazim digunakan untuk membangun gedung gereja beberapa abad yang lalu.
Bersama mas Bambang Kris, dr Thomas Aliandoe dan mbak Leony Avellince di Gereja Katedral Santa Maria Diangkat ke Surga Jakarta.
Gereja yang sekarang ini dirancang dan dimulai oleh Pastor Antonius Dijkmans dan peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Pro-vikaris, Carolus Wenneker. Pekerjaan ini kemudian dilanjutkan oleh Cuypers-Hulswit ketika Dijkmans tidak bisa melanjutkannya, dan kemudian diresmikan dan diberkati pada 21 April 1901 oleh Mgr. Edmundus Sybradus Luypen, SJ, Vikaris Apostolik Jakarta.
Bersama keluarga Dik Daniel Prastowo, kami juga berjumpa dengan mas Bambang Kristanto (kakak kelas 1 tahun di Asrama Mahasisaw realino Yogyakarta, yang sekarang menjabat sekeretaris Yayasan Tarakanita Jakarta), Dr. Thomas Aliandoe (teman seperjuangan melayani pasien di RS Lela Muamere, Flores tahun 1993), dan mbak Leony Avellince (sarjana ilmu politik tentang kepemiluan, anak bungsu mas Wahyu Soemarto di Surabaya)
Pada malam Natal, 24 Desember 2000, gereja ini menjadi salah satu lokasi yang terkena serangan ledakan bom oleh kelompok ekstremis Islam, Jamaah Islamiyah. Serangan terosis tersebut mengingatkan kita bahwa pada 1807–1826 terjadi perubahan politik di Belanda khususnya sejak kenaikan tahta Raja Louis Napoleon, seorang Katolik, membawa pengaruh yang cukup positif. Kebebasan umat beragama mulai diakui oleh pemerintah. Pada tanggal 8 Mei 1807 pimpinan gereja Katolik di Roma mendapat persetujuan Raja Louis Napoleon untuk mendirikan Prefektur Apostolik Hindia Belanda.
Setelah sekitar dua abad perayaan ekaristi dilarang di Hindia Belanda, pada tanggal 10 April 1808, untuk pertama kalinya diselenggarakan misa kudus pertama kali secara terbuka di Batavia di rumah Dokter F.C.H Assmuss, kepala Dinas Kesehatan waktu itu. Dokter Assmuss bersama dengan beberapa kawan berhasil mengumpulkan sejumlah orang dan sebagian besar adalah tentara. Upacara Misa berlangsung sederhana dengan tempat yang kurang memadahi. Kedua Pastor tersebut untuk sementara tinggal di rumah Dokter Assmuss.
Menara Benteng Daud, Menara Gading dan Menara Angelus Dei di Gereja Katedral Bunda Maria diangkat ke Surga Jakarta
Arsitektur gereja dibuat dengan gaya neo-gotik. Denah dengan bangunan berbentuk salib dengan panjang 60 meter dan lebar 20 meter. Pada kedua belah terdapat balkon selebar 5 meter dengan ketinggian 7 meter. Konstruksi bangunan ini dikerjakan oleh seorang tukang batu dari Kwongfu, Tiongkok. konstruksi bangunan ini terdiri dari batu bata tebal yang diberi plester dan berpola seperti susunan batu alam. Dinding batu bata ini menunjang kuda-kuda kayu jati yang terbentang selebar bangunan. Ada 3 menara di Gereja Katedral, yaitu: Menara Benteng Daud, Menara Gading dan Menara Angelus Dei. Menara ini dibuat dari besi. Bagian bawah didatangkan dari Nederland dan bagian atas dibuat di bengkel Willhelmina, Batavia.
Ignatius Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo (lahir 9 Juli 1950) adalah Uskup Agung Jakarta sejak 29 Juni 2010, menggantikan Julius Kardinal Darmaatmadja, SJ. Sebelum menduduki jabatan ini, Mgr. Suharyo adalah Uskup Agung Koajutor Jakarta. Saat ini, ia juga menjadi Uskup Ordinariat Militer Indonesia. Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai Uskup Agung Semarang.
Selain dengan keluarga Dik Daniel Prastowo, kami juga berjumpa dengan mas Bambang Kristanto (kakak kelas 1 tahun di Asrama Mahasisaw realino Yogyakarta, yang sekarang menjabat sekeretaris Yayasan Tarakanita Jakarta), Dr. Thomas Aliandoe (teman seperjuangan melayani pasien di RS Lela Muamere, Flores tahun 1993), dan mbak Leony Avellince (sarjana ilmu politik tentang kepemiluan, anak bungsu mas Wahyu Soemarto di Surabaya). Yang tidak kalah seru adalah perjumpaan kami dengan anak kedua, Karol Bimoseno Kridolaksono Indrarto yang akan berulang tahun ke 24 dan pacarnya Nyra Malika.
Kenangan ulang tahun dik Bimoseno (anak kami kedua) dengan Dik Pritta di Stasiun Gambir, Jakarta
Bimoseno lahir tanggal 28 Oktober 2000 selalu mengingatkan kita tentang Hari Sumpah Pemuda. Para pemuda dari beraneka latar belakang suku, agama, dan golongan mengikrarkan Sumpah Pemuda untuk mencintai persatuan Indonesia. Namun demikian, sehari sebelum tercetusnya ikrar Sumpah Pemuda, ternyata Kongres Pemuda II digelar di Gedung Katholieke Social Bond (KSB, Perhimpunan Sosial Katolik) pada Sabtu, 27 Oktober 1928. Gedung tersebut terletak di area Gereja Katedral, Jakarta.
Di gedung tersebut, anggota KSB dan Katholieke Jongenlingen Bond (Perhimpunan Pemuda Katolik) berkumpul dan beraktivitas. Ide diadakannya Kongres Pemuda II di area Gereja Katedral muncul dari aktivis Jong Ambon, Johannes Leimena. Saat itu, Leimena mengusulkan kepada para aktivis lain untuk menggunakan aula Gedung Katholieke Social Bond. Di gedung tersebut Mohammad Yamin berpidato tentang pemuda bagi ”Persatoean dan kebangsaan Indonesia” dengan lima faktor penting, yaitu sejarah, bahasa, hukum/adat, pendidikan, dan kehendak bersatu.
Dalam kongres yang dihadiri oleh 750 orang itu terlibat utusan dari pelbagai organisasi pemuda di Tanah Air. Mereka berbeda-beda suku, agama, juga golongan. Ada perwakilan dari Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), Pemuda Indonesia, Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Islamieten Bond, Pemuda Kaum Betawi, Sekar Rukun, dan sebagainya. Di antara mereka ada nama Sugondo Djojopuspito, RM Joko Marsaid, Amir Sjarifudin, Johan Mohammad Cai, R Katjasoengkana, Johannes Leimena, RCL Sendoek, Arnold Monotutu, Agustine Magdalena Waworuntu, dan Mohammad Rochjani Su’ud.
Berkonsultasi dengan Bapa Paus Fransiscus di Gedung Katholieke Social Bond yang dahulu digunakan menjelang acara Sumpah Pemuda 1928, sekarang disebut Graha Pemuda di Komplkes Katedral Jakarta
Mendengar cerita Marvel tentang musik, anak sulung dik Daniel Prastowo, sebelum mendampingi mengurus pengambilan blangkon (topi adat Jawa) yang tertinggal di KA Pandaluangan dan telah disimpan di pos keamanan Strasiun Gambir Jakarta.
Oleh karena gedung utama Katedral Jakarta sudah dipenuhi umat yang hadir, sementara kami asyik berfoto berulang, akhirnya kami masuk ke Graha Pemuda yang sangat historis dalam Sumpah Pemuda 1928, untuk mengikuti misa kudus Sabtu malam, 26 Oktober 2024.
Setelah selesai mengikuti misa kudus, kami segera bergegas ke Stasiun Gambir. Kami nikmati sajian Mie Gadjah Mada bersama keluarga dik Daniel Prastowo, kami merayan ulangtahun Bimoseno, anak kedua kami. Juga dengan Marvel, anak sulung dik Daniel Prastowo kami mengurus pengambilan blangkon (topi adat Jawa) yang tertinggal di KA Pandaluangan dan telah disimpan di pos keamanan Strasiun Gambir. Kami apresiasi kinerja seluruh staf PT KAI yang telah menyelamatkan barang penumpang yang tertinggal di gerbong KA. Kami segera menikmati perjalanan malam menggunakan KA Argo Bromo Amnggrek menuju ke Semarang dalam waktu 4 jam.
Minggu, 27 Oktober 2024 : Jawa Tengah lagi
Setelah bertemu dengan anak bungsu kami, dik Agatha Larasati Pangarsaningutami Indrarto yang datang dari Bandung di Stasiun Semarang Tawang Bank Jateng, kami segera naik mobil Innova menuju Mlonggo, Jepara. Tujuan kami ke Jepara adalah mendampingi William, pacar dik Laras, yang akan menerima sakramen baptis.
Jepara dekat lereng Gunung Muria di Jawa Tengah, menurut C. Lekkerkerker berasal dari kata Ujungpara, karena saat ada utusan dari Kerajaan Majapahit melihat di ujung Pulau Jawa ada nelayan yang sedang membagi-bagi ikan hasil tangkapannya, “membagi” dalam bahasa Jawa adalah “Para”. Kemudian berubah menjadi Ujung Mara, Jumpara, Japara dan pada tahun 1950an diubah menjadi Jepara.
Pada umumnya penduduk Jepara merupakan suku Jawa, dan beberapa suku lain dari Indonesia. Berdasarkan agama yang dianut yakni Islam 97,03%, kemudian Kekristenan 2,93% dimana Protestan 2,41% dan Katolik 0,51%. Selebihnya buddha sebanyak 0,02% dan Hindu 0,02%.
By. Fidelio Petra Adiartha (7 bulan) keponakan William akan ikut ke Gereja Stella Marris Jepara
Gereja Stella Marris Jepara sebelum misa kudus sakramen permandian untuk William
Diberikan lilin yang menyala, agar apinya menyemangati William menjadi lebih dewasa secara iman Katolik
Bersama Rm. Andre, MSF keluarga besar William, dan bapak ibu ketua lingkungandi Gereja Stella Maris Jepara
Kami akan menemani pacar dik Laras, untuk dipermandikan menjadi Yoseph William Febuana di Gereja Katolik Stella Maris Jepara. Stella Maris adalah gelar kuno bagi Santa Perawan Maria, ibu Yesus Kristus, dalam bahasa Latin yang bermakna Bintang Samudra. Gelar ini pertama-tama digunakan pada abad ke-9 untuk merujuk Sang Perawan Maria. Bagian dari Maria ini, sebagai seseorang yang bertindak sebagai pembimbing dan pelindung mereka yang bekerja atau berlayar di laut, membuatnya menerima julukan Ratu Kami Sang Bintang Samudra, diangkat sebagai pelindung misi-misi Katolik bagi para pelaut, kerasulan di laut, dan membuat banyak gereja-gereja di tepi/dekat pantai yang diberi nama Stella Maris atau Maria Sang Bintang Samudra.
Perjumpaan yang berselang 42 tahun dengan mas Eddy Kristianto, sejak selesai belajar bersama di SMP Bruderan Purworejo tahun 1981, di Gereja Stella Maris Jepara. Luar biasa pangling dan tidak menyangka.
Setelah dipermandikan oleh RP. Andrianus Sulistyono, MSF (Rm. Andre) Pastor Paroki Stella Maris Jepara, maka kita semua sangat berharap agar William semakain dewasa dalam iman katolik, bertekun dalam doa kepada Bunda Maria Bintang Samudera, dan menjadi tukang kayu yang setia, tangguh dan maju, dalam bisnis mebelairnya.
“Anda dan saya dipanggil untuk berani keluar dari diri sendiri, dari cinta diri menjadi cinta sosial, cinta keluarga, dan cinta kepada banyak orang, sebagai ungkapan cinta kepada Tuhan,” tambahnya. Itulah salah satu ciri khas kata-kata yang selalu diulang selama misa kudus oleh Romo Andre, yaitu ‘Anda dan saya’.
Sebuah insiden pada hari Rabu, 7 September 2016 tidak mengenakkan terjadi di wilayah Paroki St. Petrus Purwosari, Surakarta (Solo), Jawa Tengah. Romo Andrianus “Andre” Sulistiyono MSF yang memimpin perayaan ekaristi untuk memule (mendoakan arwah) Peringatan 1.000 hari meninggalnya salah satu umat, harus dievakuasi lewat jendela ke salah satu ruangan di pendopo Kelurahan Penumping di Kodya Surakarta. Pada hal pendopo tersebut berlokasi persis di belakang Loji Gandrung, rumah dinas Walikota Solo FX “Rudy” Hadi Rudyatmo.
Rm. Andrianus Sulistyono, MSF lahir di Salatiga, 3 April 1975, merupakan putra bungsu dari 5 bersaudara alm. Bapak Ignatius Soelardjo & almarhumah ibu Maria Margaretha Koesmartati. Ditahbiskan bersama 8 temannya di Gereja Atmodirono Semarang, 16 Juli 2002. Romo Andre seperti biasanya pagi itu memberikan kotbah lucu (full humor) serta pesan moral kepada para penerima sakramen permandian (baptis), wali dan keluarga. Misa kudus penerimaan sakramen permandian pagi itu berlangsung hampir selama 2 jam yang tidak terasa membosankan, karena suasana cair yang diciptakan Romo Andre dan udara sejuk dalam gereja berAC, bahkan diakhiri dengan foto bersama yang penuh canda, gaya dan tawa.
Sore harinya kami diantar William ke Semarang, untuk ganti Travel City Trans menuju Yogyakarta dan sampai kembali di rumah kami Minggu, 27 Oktober 2024 pk. 21.30
JELAJAH KATEDRAL SE JAWA
Perjalanan darat (overland) untuk jelajah 7 buah Gereja Katedral se Jawa 23-27 Oktober 2024 :
1. Naik Bis Rosalia Indah dari Jogja menuju Gereja Katedral Santo Perawan Maria Dari Gunung Karmel di Malang sejauh 394 km dalam 7 jam
2. Naik bis Tentrem AC tarif biasa ke Katedral Hati Kudus Yesus di Surabaya sejauh 95 km selama 1 jam.
3. Naik KA Pandalungan ke Katedral Santa Maria Ratu Rosario Suci di Semarang sejauh 353 km dalam 4 jam
4. Naik KA Kamandaka ke Katedral Kristus Raja Purwokerto sejauh 207 km selama 5 jam
5. Naik Travel Aragon Toyota Hi-Ace ke Katdreal Santo Petrus di Bandung sejauh 276 km selama 8 jam.
6. Naik travel Aragon Toyota Hi Ace ke Katedral Bunda Perawan Maria di Bogor sejauh 173 km selama 4 jam
7. Naik KRL ke Katedral Santa Perawan Maria Diangkat ke Sorga di Jakarta sejauh 61 km selama 2 jam.
8. Naik KA Argo Bromo dan lanjut mobil ke Gereja Stella Maris Jepara sejauh 516 km selama 8 jam
9. Naik mobil dan lanjut Travel City Trans ke Jogja : 211 km
Total perjalanan di atas roda : 2.286 km. Disampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung kelancaran ziarah katedral se Jawa kali ini dan sampai jumpa pada petualangan selanjutnya
Berita bahwa Sr. Dr Conchita Cruz, SpSS (83 tahun) meninggal dunia pada hari Kamis, 22 Maret 2018, pukul 16.10 di RSUP Sanglah Denpasar, Bali tersiar sangat cepat ke segenap pihak. Sosok yang sering kita sapa dengan sebutan Suster Dokter, karena sebagai seorang biarawati dalam konggregasi suster Abdi Roh Kudus (SpSS), juga seorang dokter medis tamatan Universitas Santo Thomas Manila, karena beliau sebelumnya adalah warga negara Filipina. Beliau adalah pribadi yang luar biasa dan panutan bagi kita semua, rasanya telah beristirahat dengan kekal bersama Bapa Yang Maha Baik di surga.
Pertemuan kami pertama kali dengan Suster Dokter terjadi pada hari Rabu, 24 Februari 1992 di sebuah siang yang terik. Kami diantar oleh Om Petu (maaf, saya lupa nama lengkapnya), seorang pegawai di kantor Dinas Kesehatan Kabupaten Sikka, NTT yang menemani kami, sebagai seorang dokter baru CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) di lingkungan Departemen Kesehatan RI. Sesuai keputusan Dr. Lada (Kepala Kantor Wilayah Departemen Kesehatan NTT), kami ditempatkan sebagai dokter pemerintah yang diperbantukan di RS St. Elisabeth Lela, sekitar 24 km di selatan Maumere, ibukota Kabuaten Sikka, di Pulau Flores.
Sambutan yang meriah dengan kedua tangan terbuka, senyum lebar dan teriakan kegembiraan, menyambut kami dan memanggil kami sebagai dokter Fransiscus. Maklum saja, semua orang di Flores dengan nama permandian Katolik Santo Fransiscus Xaverius seperti kami, ataupun Santo Fransiscus yang lain, pasti akan disapa dengan panggilan Fransiscus, Frans, atau Franky. Beliau mengungkapkan kegembiraannya, karena direksi RS memohon bantuan tenaga dokter keada pemerintah sudah sejak lama, tetapi belum dapat dikabulkan, dengan alasan tenaga dokter pemerintah masih diperlukan di fasilitas kesehatan milik pemerintah.
Sejak siang itu, kami digembleng sebagai dokter klinisi di RS, sebuah profesi yang kami ragukan sendiri akan berhasil, terkait kompetensi diri yang sangat terbatas. Kami mendapatkan bimbingan langsung oleh Suster Dokter, baik dalam tatalaksana penyakit non bedah, tindakan operatif, maupun pengaturan jadwal jaga dokter, karena di RS tersebut juga sudah ada Dr. Kartono. Dalam ketiga bidang tersebut kami memiliki pengalaman sangat mengesankan tentang pribadi Suster Dokter.
Pada tatalaksana penyakit pasien yang bersifat non bedah, Suster Dokter membimbing kami dalam mengenali pasien TBC aktif, kusta, malaria, diare akut dan resusitasi bayi baru lahir. Semuanya memiliki karakter penyakit yang khusus, sehingga saat pasien masih berdiri di depan pintu ruang praktek saja, Suster Dokter sudah dapat menyusun diagnosis kerja yang sangat jarang meleset, dibandingkan dengan diagnosis akhirnya. Tidak hanya terkait diagnosis penyakit itu saja, tetapi juga menyangkut harapan kesembuhan (prognosis) dan kemungkinan kekambuhan (relaps), yang juga relatif tepat.
Pada bidang tindakan operatif, kami dilibatkan, dimbimbing dan akhirnya dilepaskan untuk melakukan berbagai jenis operasi, dari yang bersifat ringan, menengah dan besar. Operasi ringan pertama adalah pengambilan kuku (nail extraction) sampai benjolan lemak (lipoma exicion) di wajah. Operasi sedang pertama adalah pengambilan usus buntu sederhana (simple appendintomy) sampai koreksi ketedun pada pasien lansia (hernioraphy). Operasi besar pertama adalah sesar terencana (elective caesar) sampai pembukaan perut dan penyambungan usus (laparotomy with end to end anastomosis).
Operasi yang paling mengesankan adalah penyambungan tulang paha (ORIF Femur), sesar darurat (emergency caesar), pengambilan kelenjar gondok dengan anastesi lokal (strumectomy), pengambilan kelenjar prostat (open prostatektomy), pengambilan batu ureter lewat perut (peritoneal uretherotomy), dan pembukaan anus bayi (correction of atresia ani lower side). Semua tindakan operasi tersebut dilakukan oleh Suster Dokter dengan sangat terampil, baik sebagai dokter umum yang setiap 8 bulan mengikuti kursus di Jerman dan Belgia, maupun sebagai mentor bagi kami. Tentu saja, mengajarkan teknis operasi kepada seorang dokter umum yunior seperti kami, pasti memerlukan ketrampilan, semangat dan kesabaran ekstra besar, yang ternyata dimiliki oleh Suster Dokter dengan hampir sempurna. Bukti keberhasilan proses mentoring untuk kami, adalah saat kami sendiri mampu mandiri untuk melakukan hampir semua teknik oparasi yang diajarkan, selain strumectomy dengan anestesi lokal.
Pada aspek manajemen RS, termasuk pengaturan jadwal jaga dokter, Suster Dokter mengajari kami secara bertahap. Aspek pengaturan asuransi pasien, pengelolaan perbekalan obat dan alkes, juga kaderisasi tenaga perawat terampil sesuai unit kerja, semuanya diajarkan dan didiskusikan bersama. Suster Dokter selalu mengijinkan kami untuk pesiar, sebuah istilah untuk menggambarkan aktivitas jalan-jalan pergi ke kota, pada setiap hari libur dan tanggal merah, meskipun kami terjadwal dinas jaga, asalkan Suster Dokter tidak ada tugas keluar RS. Bahkan Suster Dokter cukup sering memintakan ijin bagi kami untuk meminjam mobil dinas RS sebagai sarana jalan-jalan, setelah kami memiliki satu anak.
Yudhistira Yasanusaraharja Indrarto, anak sulung kami yang lahir pada hari Kamis, 22 Januari 1993 di RS St Elisabeth Lela, Maumere dan kami tolong sendiri, diberikan nama permandian Erwin, oleh Suster Dokter. Beliau menyatakan sangat menyesal, karena waktu kelahiran anak kami tiba, beliau sedang bertugas sebagai pejabat biara di Seminari Hokeng, Flores Timur. Rasa sayangnya kepada Yudhi, panggilan anak sulung kami, ditunjukkan dengan banyak hal, termasuk kehendaknya agar Yudhi memanggilnya dengan sebutan Nenek Suster. Kedekatan Yudhi dengan Nenek Suster terakhir terlihat, saat kami sekeluarga bernostalgia ke Flores yang cantik dan menginap di Biara Suster SpSS Ende pada hari Sabtu, 26 Juni 2010. Keduanya terlibat teriakan hebat pada dini hari, saat menonton bersama (nobar) siaran langsung di TV, putaran kedua Final Sepak Bola FIFA Piala Dunia 2010.
Kontak kami terakhir adalah melalui email dengan Suster Dokter, setelah kami bertemu dan berkenalan dengan Sr. Maria Caridad, SSpS, di kapel Pink Sister dan Rumah Retret dan Pusat Pelayanan Konggregasi Roh Kudus (SpSS) di Tagaytay City, sekitar 60 km dari ibukota Filipina, Manila, pada Rabu sore 11 Januari 2012. Selain itu, juga saat kami mampir di Del Pilar Academy di Kota Imus, tidak jauh dari Tagatay City dan mencari Mrs. Tessie Cruz, seorang ipar Sr. Dr. Conchita Cruz, SpSS, yang bekerja di bagian administrasi sekolah tersebut.
Pada saat Suster Dokter menghadap Sang Pencipta, Yudhi sedang menjalankan tugas sebagai dokter baru dalam Program Internship Dokter Indonesia (PIDI) di RS Bhayangkara Polda NTT di Kupang. Selain itu, kami juga sedang mengikuti ‘The 16th Annual World Congress on Pediatrics’, sebuah konggres dokter spesialis anak sedunia di Hilton New York JFK Airport Hotel, 5144-02 135th Avenue, Jamaica, New York 11436 USA. Namun demikian, kami sekeluarga dan kita semua tetap merasa sangat berduka cita secara mendalam, atas kepulangan yang abadi Suster Dokter. Tentu saja, kami sangat menyesal tidak dapat ikut melayat dan menghantarkannya pada pemberhentian terakhir di Biara Suster SpSS di Kewapante, sedikit di luar kota Maumere, Flores NTT.
Marilah kita kenangkan, semua jasa baik Suster Dokter bagi kami pribadi, sekeluarga, maupun kita semua, dengan permohonan agar arwahnya dapat beristirahat dengan tenang, damai, dan kekal di rumah Bapa Sang Pencipta. Selamat jalan Sr. Dr Conchita Cruz, SpSS. Terimakasih atas semua jasa baik Suster Dokter yang telah kami rasakan dan mohon maaf atas kesalahan yang telah kami lakukan waktu itu.
Sekian
Ditulis dalam laju Train 93 milik Amtrax dari Pennsylvania Station di New York, menuju Union Station di Washington, DC di USA pada hari Kamis, 22 Maret 2018 pk. 14.10
*) dokter umum di RS St. Elisabeth Lela, Maumere, Flores, NTT 1992-1995.
Sebagian tulisan ini telah diterbitkan di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 29 September 2024 dengan judul : Pentingnya diagnosis benar dan tepat waktu, pada kolom Husada, halaman 5.
HARI KESELAMATAN PASIENDUNIA
fx. wikan indrarto
Hari Keselamatan Pasien Dunia (World Patient Safety Day) pada 17 September 2024 merupakan kesempatan untuk meningkatkan kesadaran publik dan mendorong kolaborasi antara pasien, dokter, tenaga kesehatan, pembuat kebijakan, dan pemimpin fasilitas perawatan kesehatan untuk meningkatkan keselamatan pasien. Apa yang menarik?
Tahun ini temanya adalah “Meningkatkan diagnosis demi keselamatan pasien” dengan slogan “Lakukan dengan benar, buat aman!”, yang menyoroti pentingnya diagnosis yang benar dan tepat waktu dalam memastikan keselamatan pasien dan meningkatkan luaran atau hasil medis.
Diagnosis yang ditegakkan oleh dokter dan tenaga kesehatan merupakan identifikasi masalah kesehatan yang dialami pasien. Diagnosis ini merupakan kunci utama untuk mengakses perawatan dan pengobatan yang dibutuhkan pasien. Kesalahan diagnosis adalah kegagalan pasien untuk mendapatkan luaran klinis yang baik, karena tidak diteruskan dengan tatalaksana medis yang benar dan tepat waktu tentang masalah kesehatan pasien. Kesalahan diagnosis ini dapat mencakup diagnosis yang tertunda, tidak benar, atau terlewat, atau dapat juga merupakan kegagalan untuk mengomunikasikan penjelasan kondisi medis kepada pasien.
Kesalahan diagnostik terjadi pada 5–20% hasil pemeriksaan dokter terhadap pasiennya. Kesalahan diagnostik yang berbahaya ditemukan pada minimal 0,7% pasien dewasa yang dirawat inap di RS. Keselamatan pasien dalam aspek diagnostik dapat ditingkatkan secara signifikan dengan mengatasi masalah klinis berbasis sistem dan faktor kognitif dokter, yang dapat menyebabkan kesalahan diagnostik. Faktor sistemik adalah kerentanan organisasi yang menjadi predisposisi terjadinya kesalahan diagnostik, termasuk kegagalan komunikasi antara dokter dengan petugas kesehatan atau dokter dan petugas kesehatan dengan pasien, beban kerja yang berat, dan kerja tim yang tidak efektif. Faktor kognitif melibatkan pelatihan dan pengalaman dokter serta predisposisi terhadap bias, kelelahan, dan stres.
Prioritas keselamatan diagnostik perlu mengadopsi pendekatan multifase dalam memperkuat sistem, merancang jalur diagnostik yang aman, mendukung dokter dan tenaga kesehatan lainnya dalam menegakkan diagnosis, membuat keputusan yang tepat, dan melibatkan pasien di seluruh proses diagnostik.
Setiap titik dalam proses pemberian pelayanan medis dan keperawatan mengandung tingkat ketidakamanan tertentu untuk pasien, yang selalu melekat. Sekitar 1 dari 10 pasien mengalami cedera dan lebih dari 3 juta kematian terjadi setiap tahun, akibat perawatan yang tidak aman di fasilitas pelayanan kesehatan. Kejadian buruk umum yang dapat mengakibatkan cedera pasien yang dapat dihindari adalah kesalahan pengobatan, prosedur pembedahan yang tidak aman, infeksi terkait perawatan kesehatan, kesalahan diagnosis, pasien jatuh, luka dekubitus, kesalahan identifikasi pasien, transfusi darah yang tidak aman, dan tromboemboli vena.
“Pertama, jangan merugikan” (First, do no harm) adalah prinsip paling mendasar dari setiap layanan kesehatan bagi pasien. Tidak seorang pasienpun boleh dirugikan dalam layanan kesehatan. Keselamatan pasien didefinisikan sebagai tidak adanya bahaya yang dapat dicegah bagi pasien dan pengurangan risiko bahaya yang tidak perlu, terkait dengan perawatan kesehatan ke tingkat minimum yang dapat diterima. Dalam konteks sistem kesehatan yang lebih luas, keselamatan pasien adalah kerangka kegiatan terorganisasi yang menciptakan budaya, proses, prosedur, perilaku, teknologi, dan lingkungan dalam perawatan kesehatan yang secara konsisten dan berkelanjutan menurunkan risiko, mengurangi terjadinya bahaya yang dapat dihindari, mengurangi kemungkinan terjadinya kesalahan, dan mengurangi dampak bahaya saat terjadi pada pasien.
Sumber umum bahaya untuk pasien saat menerima layanan kesehatan adalah dalam bentuk kesalahan diagnosis, pengobatan, tindakan bedah dan terjadinya infeksi ikutan. Dalam lingkup kesalahan pengobatan, bahaya terkait pengobatan memengaruhi 1 dari setiap 30 pasien dalam perawatan kesehatan, dengan lebih dari seperempat dari bahaya ini dianggap parah atau mengancam jiwa. Setengah dari bahaya atas pasien yang dapat dihindari dalam layanan kesehatan terkait dengan pengobatan.
Dalam lingkup kesalahan bedah, berasal dari sekitar 300 juta prosedur bedah yang dilakukan setiap tahun di seluruh dunia. Meskipun adanya efek samping sudah disadari sepenuhnya dan dilakukan tindakan antisipasi, namun demikian kesalahan bedah terus terjadi pada tingkat yang cukup tinggi. Bahkan 10% dari bahaya pasien yang dapat dicegah dalam perawatan kesehatan dilaporkan dalam lingkup kesalahan bedah, dengan sebagian besar kejadian buruk pada pasien yang diakibatkannya terjadi sebelum dan sesudah operasi dilakukan.
Dengan tingkat global sebesar 0,14% (meningkat sebesar 0,06% setiap tahun), infeksi terkait perawatan kesehatan mengakibatkan durasi rawat inap yang lebih lama, kecacatan jangka panjang, peningkatan resistensi antimikroba, beban keuangan tambahan pada pasien, keluarga dan sistem kesehatan, serta kematian yang dapat dihindari.
Ada banyak faktor yang saling terkait yang dapat menyebabkan cedera pada pasien, dan lebih dari satu faktor biasanya terlibat dalam setiap insiden keselamatan pasien, termasuk dalam proses penegakan diagnosis. Pertama faktor sistem dan organisasi, yaitu kompleksitas intervensi medis, proses dan prosedur yang tidak memadai, gangguan dalam alur kerja dan koordinasi layanan, keterbatasan sumber daya, staf yang tidak memadai dan pengembangan kompetensi yang kurang. Kedua faktor teknologi medis, yaitu masalah yang terkait dengan sistem informasi kesehatan, seperti masalah dengan catatan kesehatan elektronik atau sistem pemberian obat, dan penyalahgunaan teknologi. Ketiga faktor perilaku manusia, dapat beruapa gangguan komunikasi di antara petugas layanan kesehatan, dalam tim perawatan kesehatan, dan dengan pasien dan keluarga mereka, kerja tim yang tidak efektif, kelelahan, kejenuhan, dan mungkin juga bias kognitif.
Selanjutnya, kesalahan diagnosis juga dipengaruhi oleh faktor yang terkait dengan pasien, meliputi keterbatasan pasien dalam literasi kesehatan, kurangnya keterlibatan pasien dalam proses dan ketidakpatuhan pasien terhadap pengobatan. Dan terakhir faktor eksternal, yaitu tidak adanya kebijakan, regulasi yang tidak konsisten, tekanan ekonomi dan keuangan, dan tantangan yang terkait dengan lingkungan alam, semuanya dapat berkontribusi pada kesalahan diagnosis dan keselamatan pasien.
Bukti menunjukkan bahwa ketika pasien diperlakukan sebagai mitra dalam layanan kesehatan, keuntungan signifikan akan diperoleh dalam hal keselamatan, kepuasan, ketepatan diagnosis, dan luaran klinis dari tindakan medis. Apakah kita sudah bijak?
Sekian
Yogyakarta, 7 September 2024
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, surveiyor akreditasi Kemenkes RI untuk pelayanan di RS. WA: 081227280161
ANTARA LEMBANG DAN BANDUNG, ADA GOTRAH MANGUNDIHARJO,
fx. wikan indrarto
Keluarga besar (gotrah) Simbah Mangundiharjo secara rutin mengadakan pertemuan setiap tahun, yaitu pada hari ke 4 Lebaran Idul Fitri. Sejak selesai pandemi COVID-19, pertemuan diubah tidak lagi pada saat liburan Lebaran, karena sering membuat banyak peserta terlambat datang atau kelelahan yang sangat, terkait terjebak dalam padatnya arus lalu lintas. Pada 2024 ini, pertemuan Gotrah Mangundiharjo diselenggaraan di antara Lembang dan Bandung, pada liburan ‘long weekend’ Hari Maulud Nabi Muhammad SAW. Apa yang menarik?
Bis milik SMK Muhamadiyah Prambanan Sleman buatan Karoseri Piala Mas dari Singosari Malang, yang selintas serupa dengan body Jetbus 2+ Adi Putro yang juga dari Malang, bernomor polisi AB 7392 UA dengan dapur pacu Isuzu ELF NQR 71B, siap berangkat.
Simbah Kakung (kakek) Mangundiharjo berprofesi sebagai pembuat blangkon (tutup kepala tradisional pria Jawa) gaya Ngayogyokarto dan berasal dari Kotagede, Yogyakarta, sedangkan Simbah Putri (nenek) berprofesi sebagai penjual kain jarit dan slendang (busana tradisional wanita Jawa) di beberapa pasar, yang berasal dari Salaman, sebuah kecamatan di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Simbah Mangundiharjo memiliki 14 anak dan tinggal di Salaman yang terletak sekitar 17 km di sebelah baratdaya Kota Magelang atau 50 km dari Yogyakarta. Kami adalah anak kedua dari almarhum Bapak Heribertus Sukiman Tondodarsono, anak ke 9 Simbah Mangundiharjo, yang sewaktu kecil tinggal di rumah peninggalan Simbah Mangundiharjo di Salaman. Kebesaran Salaman adalah sebagai bekas ibu kota Eks Kawedanan Salaman, yang meliputi Kecamatan Salaman, Kecamatan Borobudur, Kecamatan Tempuran dan Kecamatan Kajoran, di Kabupaten Magelang.
Pada Sabtu siang, 14 September 2024 rombongan keluarga Simbah Mangundiharjo berangkat ke Bandung menggunakan bis, yang bermula dari penumpang pertama Mas Suyanto dan istrinya mbak Dewi, anak ketiga dari almarhum Budhe Mulyodiharjo, anak ke 5 Simbah Mangundiharjo. Setelah rombongan kami (mbak Sally, dik Laksita, mas Mahendra dan mas Iwan) naik bis di depan Kantor Pajak Pratama Sleman, seberang Perumahan Cassa Grande di ring road utara Yogyakarta, bis segara menjemput dik Hersanti dan dik Ugah sekeluarga, anak kedua dan ketiga almarhum Bulik Daliyah, anak ke 11 Simbah Mangundiharjo, yang naik dari Jalan Kaliurang. Lanjut kami menemui dik Tavip Sukarno, anak sulung almarhum Bulik Sutiyah, anak ke 10 Simbah Mangundiharjo. Dik Tavip yang sedang dalam pemulihan gangguan ginjal, saraf dan tekanan darah, nampak bahagia sekali saat kami hampiri, meski hanya mampu duduk di kursi Honda City hitam yang terparkir di SPBU Mendut, sebelum kami mencapai Candi Borobudur. Setelah saling menguatkan dan berfoto bersama, kami segera melanjutkan perjalanan.
Dik Tavip Sukarno yang sedang dalam masa pemulihan dari sakit, kami temui di SPBU Mendut, Borobudur, sebalum kami berangkat ke Bandung
Rombongan bis segara meluncur ke pusat pemerintahan Kecamatan Salaman yang berada di Desa Salaman. Saat ini Kecamatan Salaman sudah terhitung sebagai sentra bibit buah hortikultura, terutama rambutan dan mangga, yang menjangkau lingkup regional dan nasional. Kami melewati Desa Menoreh yang merupakan sentral grubi Magelang, sebuah menu lokal dari ketela, dilumuri gula Jawa yang manis dan renyah. Akhirnya kami menjangkau Tugu Bunderan Salaman, sebuah persimpangan jalan yang menghubungkan wilayah Kota Magelang, Purworejo dan Borobudur.
Saat memasuki teritorial Salaman, kami membayangkan berbagai tempat menarik, misalnya Masjid Langgar Agung yang pernah digunakan oleh Pangeran Diponegoro di Desa Menoreh, Cagar Budaya Plengkung Pitu di Desa Menoreh, Makam Kyai Nur Muhammad di Desa Ngadirejo, Lapangan Tembak Latihan Taruna Militer AKMIL di Desa Ngadirejo, sisa kemegahan Pabrik Tepung Tapioka di Desa Ngadirejo, Gunung Kukusan di Desa Ngargoretno, Wisata Alam Marmer di Desa Ngargoretno dan Gunung Banyak Angkrem di Desa Kalirejo. Juga makanan khas Salaman, berupa Wajik Week, makanan dari beras ketan yang terkenal sejak tahun 1939.
Akhirnya kami sampai di rumah peninggalan Simbah Mangundiharjo di Salaman, yang saat ini ditempati oleh Bulik Sunariyah (81 tahun) sendirian, anak bungsu (ke 14) Simbah Mangundiharjo. Kami segera bergegas menuju ke Sapuran, di Kabupaten Wonosobo, melewati pertigaan Maron di Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo, dengan didahului memberikan peneguhan agar Pak Sapto sopir utama bis, berani melalui medan terjal berliku, yang sebelumnya menolak.
Kecamatan Sapuran berjarak 18 km dari pusat Kabupaten Wonosobo dan 122 km dari pusat Provinsi Jawa Tengah, berada pada ketinggian berkisar 641 m sampai 1.443 m di atas permukaan laut (mdpl). Pada masa perang Diponegoro (1825-1830), prajurit Wonosobo merupakan salah satu barisan pertahanan pasukan pendukung Pangeran Diponegoro, terutama yang berasal pada sepanjang jalan dari Purworejo, Kepil dan Sapuran sampai kota Wonosobo. Tokoh penting yang mendukung perjuangan Pangeran Diponegoro adalah Imam Misbach, yang kemudian dikenal dengan nama Tumenggung Kerto Sinuwun, Mas Lurah atau Tumenggung Mangkunegoro, Gajah Pemerintah dan Kyai Muhammad Ngarpah.
Seiring dengan berjalannya perjuangan Pangeran Diponegoro di sepanjang jalan antara Purworejo-Wonosobo, para pasukan mendirikan atau membuat pemukiman penduduk di tengah hutan, yang dijadikan pusat pemerintahan wilayah Wonosobo bagian timur. Hingga akhirnya wilayah tersebut menjadi Kecamatan Sapuran, yang kami tempuh dengan bis kami yang menyusuri jalan berliku, naik turun, menembus hutan dan memiliki kenangan bersejarah tersebut, dengan penuh antusias sambil membayangkan perjuangan Pangeran Diponegoro.
Setelah melalui rute yang sama dengan saat kami kelas 4 SD dahulu, yaitu saat kami melewati jalan berliku tersebut waktu itu masih banyak monyet yang menyeberang jalan, kami mencapai Pasar Sapuran. Rencana untuk bertemu dengan keluarga mas Badi dan beberapa saudara kami keturunan Budhe Harjodiwirjo, anak ke 3 Simbah Mangundiharjo di depan Pasar Sapuran, ternyata tidak terwujud karena kesibukannya. Kemudian kami melanjutkan perjalanan ke Wonosobo yang berdasarkan cerita rakyat, pada awal abad ke-17 dilewati 3 orang pengelana, yaitu Kiai Kolodete, Kiai Karim dan Kiai Walik, yang mulai merintis sebuah permukiman yang saat ini bernama Wonosobo. Selanjutnya, Kiai Kolodete bermukim di Dataran Tinggi Dieng, Kiai Karim bermukim di daerah Kalibeber dan Kiai Walik bermukim di sekitar Kota Wonosobo sekarang.
Kabupaten Wonosobo berdiri pada 24 Juli 1825 sebagai kabupaten di bawah Kesultanan Yogyakarta, seusai pertempuran dalam Perang Diponegoro. Kata Wonosobo berasal dari Bahasa Jawa: Wanasaba, yang secara harfiah berarti “tempat berkumpul di hutan”. Bahasa Jawa sendiri mengambilnya dari Bahasa Sanskerta: vanasabhā yang artinya kurang lebih sama. Kedua kata ini juga dikenal sebagai dua kata pada buku Mahabharata, yaitu “Sabhaparwa” dan “Wanaparwa”.
Dalam pertempuran melawan VOC Belanda, Kiai Muhamad Ngarpah berhasil memperoleh kemenangan yang pertama. Atas keberhasilan itu, Pangeran Diponegoro memberikan nama baru Kiai Muhamad Ngarpah menjadi Tumenggung Setjonegoro dan diangkat sebagai penguasa Ledok Wonosobo, teritorial peninggalan Kiai Walik. Setjonegoro adalah bupati yang memindahkan pusat kekuasaan dari Selomerto ke daerah Kota Wonosobo saat ini.
Setelah Om Fx Sukirlan (87 tahun) anak ke 13 Simbah Mangundiharjo, Mbak Fatimah menantu Budhe Mulyodiharjo anak ke 5 Simbah Mangundiharjo dan beberapa keluarga keturunan Budhe Surtinah, anak ke 8 Simbah Mangundiharjo naik bis dari kota Wonosobo, kami segera meluncur ke Bandung. Perjalanan malam itu kami isi dengan ngobrol, ngemil dan ‘ngenyek’ (saling ejek antar saudara saking akrabnya) saat melewati kota Banjarnegara, Purwokerto, Ajibarang dan Bumiayu, sampai akhirnya kami terlelap. Saking nyenyaknya tidur, kami sampai kaget saat tahu bis tersesat masuk ke areal persawahan dengan jalan kecil penuh cabang di Kabupaten Brebes, seturut nasehat googlemaps. Tidak jelas apakah ada salah input data, tetapi nasehat mbak Google membuat kami kehabisan waktu di jalan, apalagi Pak Sapto, sang sopir utama hanya mempu menjalankan bis dengan kecepatan rata-rata 40 km per jam, dengan alasan yang tidak terlihat dalam diskripsi ulasan di media sosialnya.
Perjalanan malam itu kami isi dengan ngobrol, ngemil dan ‘ngenyek’ dalam bis menuju Bandung
Bis kami milik SMK Muhamadiyah Prambanan Sleman DIY buatan Karoseri Piala Mas dari Singosari Malang yang selintas serupa dengan body Jetbus 2+ Adi Putro yang juga dari Malang, bernomor polisi AB 7392 UA dengan dapur pacu Isuzu ELF NQR 71B, dilengkapi sistem injeksi bahan bakar SOHC, Direct Injection 4 Cylinders dengan isi silinder 4,570 (cc). Bis ini sebenarnya memiliki tenaga maksimum 125 / 2,900 (PS/rpm) dan torsi maksimum 35 / 1,200 – 2,200 (Kgm/rpm). Entah bagaimana, kecepatan yang dikeluarkan saat pak Sapto menjelang mengantuk hanya 40 km/jam. Bis medium yang kami naiki memiliki panjang keseluruhan 7.445 mm, Lebar 2.100 mm, dan Tinggi 1.630 mm. Akhirnya kami masuk Tol Trans Jawa melalui Gerbang Tol Pejagan di Kabupaten Cirebon. Setelah pindah tol dan masuk Tol Cisumdawu (Ciulengsi, Sumedang dan Dawuan) yang menanjak sangat panjang, kami masuk ke terowongan kembar yang menjadi ciri khas tol ini. Tak banyak yang tahu, Twin Tunnel di tol Cisumdawu ini merupakan terowongan pertama yang berada di badan jalan tol dan merupakan yang terpanjang di Indonesia dengan panjang 472 meter.
Dalam pembangunannya, Direktorat Jenderal (Ditjen) Bina Marga melalui Balai Geoteknik Terowongan dan Struktur (BGTS), mampu menyelesaikan pembangunan Twin Tunnel ini di tol sepanjang 61, 6 Kilometer. Pembangunan terowongan kembar dengan konsep yang unik seperti ini, tak lepas dari karakteristik topografi daerah tol yang memiliki pegunungan dan bukit.
Terowongan kembar di tol Cisumdawu yang kami masuki, sangat ikonik
Akhirnya kami berhasil memasuki Kota Bandung dengan keterlambatan 3 jam dari estimasi, yang disusun oleh mas Mahendra. Generasi ke 3 ini adalah salah satu cicit Simbah Mangundiharjo dari keturuanan Bude Surtinah, yang penuh semangat menjadi ‘tour leader’ kami, untuk mendapatkan sebuah portofolio pribadi. Mas Mahendra sedang menempuh studi pariwisata program sarjana terapan, di sekolah vokasi UGM Yogyakarta.
Minggu pagi, 15 September 2024, kami langsung menikmati suguhan pertama acara Gotrah Mangundiharjo, yaitu wisata edukasi. Kami menuju ke Edutainment Dirgantara Indonesia atau Museum Dirgantara Bandung, yaitu lokasi wisata edukasi yang berada di Bandara Internasional Husein Sastranegara, Bandung dan dikelola oleh PT Dirgantara Indonesia (PTDI).
Edutainment Dirgantara Indonesia atau Museum Dirgantara Bandung, yaitu lokasi wisata edukasi yang berada di Bandara Internasional Husein Sastranegara, Bandung
PTDI di Bandung yang kami kunjungi saat ini menjadi satu-satunya industri pesawat terbang di Asia Tenggara.
Pesawat N250-100 kebanggaan PT Dirgantara Indonesia di Bandung.
Kami yang masih terkagum dan tidak dapat beranjak dari landasan, malah jadi jongkok semua, karena pesawat N250-100 yang menjadi kebanggaan PT Dirgantara Indonesia di Bandung, memang luar biasa.
Areal wisata ini memfasilitasi masyarakat maupun pelajar, termasuk keluarga besar Simbah Mangundiharjo, untuk memahami tentang industri pesawat terbang. Adapun beberapa daya tarik Museum Dirgantara Bandung yang kami kagumi adalah Mock Up Pesawat, karena kami dapat berfoto sekaligus melihat-lihat berbagai mock up atau bentuk yang sesungguhnya, mulai dari pesawat, roket, rudal, hingga produk-produk dirgantara karya anak perusahaan PTDI. Selain itu, kami juga menikmati koleksi pesawat Buatan Anak Bangsa di hanggar milik PTDI produksi Indonesia. Kami menikmati kegagahan pesawat jenis N250 Gatotkaca, NC212i, CN235, N219 Nurtanio, KFIF sebuah pesawat tempur kerjabareng dengan Korea Selatan, UAV MALE yang merupakan drone militer, dan berbagai varian helikopter, yang bersejarah dan menggambaran kehebatan putera bangsa Indonesia dalam bidang kedirgantaraan.
Mock Up (bentuk asli) Pesawat CN235 pesawat Buatan Anak Bangsa di hanggar milik PTDI Bandung, asli produksi Indonesia.
Perjalanan wisata edukasi berupa ‘Factory Tour’, kami mulai dari Pos 1 PTDI dekat DI Runway 29 Café, ruang terbuka hijau di area dekat landas pacu Bandara Husein Sastranegara. Selanjutnya kami diajak berkeliling area eduwisata, yang biasanya menggunakan Bis Bandros milik Pemkot Bandung, Bis BARATA milik Pemkab Bandung Barat, atau Bis Si Jalak Harupat, milik Dishub Jawa Barat, tetapi karena saat itu sedang digunakan untuk karnaval HUT ke 214 Kota Bandung, maka kami menggunakan bis Sakoci (Saba Kota Cimahi) selama sekitar 45 menit.
Mock Up (bentuk asli) ekor Pesawat CN235
Dalam Factory Tour, para pengunjung didampingi seorang pemandu dari PTDI yang menjelaskan seluk beluk industri penerbangan Indonesia. Bis Sakoci (Saba Kota Cimahi) memiliki desain khusus seperti angkutan wisata dengan jendela dan bagian belakang terbuka lebar yang memaksimalkan pandangan selama perjalanan. Bis Sakoci memiliki bangku untuk 24 penumpang, basisnya Hino Dutro 130 HD Diesel berkapasitas 4009 cc dengan transmisi manual, memiliki panjang 747 cm, tinggi 315 cm, dan lebar 210 cm.
Setelah selesai Factory Tour, kami langsung sarapan nasi dos yang terlambat kami santap, karena kami justru baru sampai di lokasi Factory Tour, sudah mepet sekali dengan jadwal keberangkatan yang telah dipesan yaitu pk. 08.30. Segera kami sarapan cepat, meski tanpa sendok yang kelupaan disertakan dalam dos, kami segera bergegas menuju acara kedua, yaitu wisata kuliner di Warung Sayur Lodeh Lembang, yang menempati bangunan restoran yang sederhana dengan area tempat duduk yang begitu luas. Restoran ini didesain dengan sangat khas seperti bangunan joglo tradisional Yogyakarta. Areanya didominasi dengan sentuhan kayu klasik, ditambah pilar-pilar bangunan yang dibalut dengan batik Indonesia yang ciamik.
Benar-benar terasa tradisionalnya. Apalagi restoran ini mengusung konsep prasmanan, sehingga dapat mengambil menu lauk-pauk dan sayur sesuai keinginan dan selera masing-masing. Seperti namanya, menu andalan di sini ada sayur lodeh dengan tiga kreasi, yakni sayur lodeh tempe, tahu, dan terong. Sayur lodeh ini identik dengan menu rumahan sebagian besar keluarga Indonesia. Hidangan sehat berbahan dasar aneka sayuran ini, dapat dikreasikan dengan bahan utama dan pelengkap. Akibat slogannya “19.000 makan sepuasnya”, Warung Lodeh Lembang ini menjadi hits dan viral. Tentu saja selain mengenyangkan, makan dengan aneka sayur yang disediakan juga menyehatkan tubuh kami. Tidak hanya bebas refill menu sayur lodeh, kami juga mendapatkan gratis ambil sendiri kerupuk dan teh sebagai minumannya.
Akibat slogannya “19.000 makan sepuasnya”, Warung Lodeh di Lembang ini menjadi hits dan viral.
Setelah kenyang dan hampir mengantuk karena sayur lodeh yang lezat, kami berpisah dengan rombongan. Kami bertiga dengan dik Larasati (anak bungsu) yang sedang menjalani rotasi klinik Bagian Penyakit Dalam di FK UKM RS Emmanuel Bandung, segera turun sedangkan bis dan rombongan lainnya bergegas naik. Mereka naik ke Floating Market di Jl. Grand Hotel No. 33 E, Lembang yang sejak dibuka pada 2012 silam, langsung mencuri perhatian masyarakat, terutama para wisatawan yang sedang berlibur di Bandung, dan selalu dipadati pengunjung. Daya tarik utama dari Floating Market Lembang adalah terdapat pasar apung yang menjual berbagai jenis makanan, jajanan lokal, hingga souvenir. Uniknya, para pedagang menjajakan dagangan mereka dari atas kapal kecil yang telah disediakan pengelola.
Para joagoan Mangundiharjo di Gerbang Floating Market di Jl. Grand Hotel No. 33 E, Lembang yang dibuka pada 2012 silam.
Kami justru berniat turun menempuh jalan berliku yang menurun tajam antara Lembang dan Bandung. Sayang sekali, transportasi on line sangat sulit kami dapatkan, baik karena jaringan internet yang kurang kuat, arus lalu lintas yang sangat padat, ataupun para driver online yang gamang mengambil penumpang di areal Lembang. Akhirnya kami memutuskan untuk naik angkot jurusan Lembang ke Stasiun Hall Bandung. Untunglah jalanan yang turun sepi kendaraan, sehingga angkot kami, sebuah Mitsubishi L300 buatan tahun 2009 yang bodinya sudah banyak berkarat, tetap membuat kami sempat terlelap, sebelum kami turun di per3an Gegerkalong.
Menikmati angkot jurusan Lembang ke Stasiun Hall, sebuah Mitsubishi L300 buatan tahun 2009, karena transportasi on line sedang banyak kendala terkait lonjakan pemesan.
Minggu sore, 15 September 2024, kami melanjutkan kegiatan bertiga dengan wisata religi di gereja Katolik Paroki Santo Laurentius Jl. Gegerkalong, Sukasari, Bandung. Pada 1 Maret 1987 dilaksanakan pemberkatan atas gedung gereja ini oleh Uskup Bandung Mgr. Alexander Djajasiswaja. Gereja ini berkapasitas ±500 umat, berbentuk setengah tumpeng, dilengkapi Gua Maria dan kolumbarium, untuk menyimpan abu jenazah umat. Bentuk kolumbariumnya adalah kotak-kotak besi yang ditempelkan di tembok sisi luar gereja, di belakang altar. Gereja ini dipimpin oleh para pastor dari ordo OSC (Ordo Salib Suci).
Hari itu kebetulan sekali tepat dirayakan sebagai Pesta Wajib Santa Helena dari Salib Suci. Santa Helena adalah ibu kandung Kaisar Konstantinus Agung. Helena pada awalnya hanyalah anak dari seorang penjaga penginapan. Ketika masih muda, ia bertemu dengan seorang jenderal Romawi dan mereka menikah. Anak dari perkawinan mereka bernama Konstantinus. Beberapa tahun kemudian, jenderal Romawi tersebut ditunjuk sebagai kaisar sehingga menceraikan Helena dengan alasan politis, yakni supaya bisa mengawini puteri kaisar terdahulu. Helena menjadi orang biasa lagi. Tiga belas tahun kemudian, Konstantinus, anak Helena, menjadi kaisar menggantikan ayahnya. Ia mengharuskan setiap orang Romawi menghormati Helena, sehingga wajah Helena dicetak pada mata uang koin Romawi.
Sebelum mengikuti misa kudus hari Minggu sore di gereja Katolik Paroki Santo Laurentius Bandung, yang diresmikan oleh Uskup Bandung Mgr. Alexander Djajasiswaja 1 Maret 1987.
Ketika Konstantinus mengakui agama katholik di seluruh kekaisaran Romawi, Helena mulai mempelajari ajaran agama katholik dan memutuskan untuk memeluk agamanya. Setelah itu, ia bekerja demi gereja dan menjelajahi kawasan Palestina untuk membangun banyak gereja. Ia terkenal karena keramahannya kepada para tawanan, tentara, dan kaum miskin. Ia wafat pada tahun 330 dalam usia sekitar 80 tahun. Dalam tradisi Gereja Katholik perdana, St. Helena sering digambarkan memeluk sebuah salib, oleh sebab Helena merupakan orang yang menemukan relikui Salib Sejati (yang dianggap sebagai bagian dari salib Yesus Kristus yang asli) di Yerusalem.
Setelah selesai mengikuti misa kudus di gereja St. Laurensius Gegerkalong Bandung, kami bertiga segera berpencar memesan trasportasi online berupa motor, bukan mobil karena sering di-cancel terkait kemacetan lalu lintas, untuk bergabung dengan rombongan. Pada Minggu malam 15 September 2024, kami memasuki Private Family Villa, yang terletak di dekat Rumah Sosis di Jl. Setiabudi 384 Bandung, sekitar 8 km dari pusat kota Bandung. Setelah makan malam bersama, acara Gotrah Mangundijarjo atau pertemuan segenap anak, cucu dan cicit Simbah Mangundiharjo diselenggarakan oleh tuan rumah, keluarga Pakde Evaristus Willis Legiono, anak ke 4 Simbah Mangundiharjo.
Keluarga besar almarhum Budhe Surtinah, anak ke 8 Simbah Mangundiharjo yang kompak berkemeja putih dan hitam, dengan generasi pertama Gotrah Mangundiharjo yang masih dapat hadir.
Setelah sesi perkenalan anggota baru dan foto bersama segenap peserta, segera kami larut dalam nostalgia Mangundiharjo. Om Fx Sukirlan, Budhe Evaristus Wilis Legiono, Bulik Nariyah (semuanya generasi pertama) dan mbak Fatimah Subagyo (generasi kedua yang paling senior) duduk di kursi untuk berbagi kenangan, sedangkan kami semua duduk lesehan di depannya. Dengan 13 anak dalam periode revolusi kemerdekaan Indonesia, kedua Simbah Mangundiharjo bekerja keras menghidupi semua anaknya, sampai semuanya berhasil baik menjadi manusia yang membanggakan keluarga.
Suasana pertemuan Gotrah Mangundiharjo 2024
Di situlah prakarsa bapak kami, Heri Sukiman (anak ke 9 Mangundiharjo) dan pakde EW Legiono (anak ke 5 Mangundiharjo) dalam mempertahankan tali ikatan keluarga besar, dalam bentuk pertemuan Gotrah Mangundiharjo setiap tahun, perlu diteruskan. Juga semangat, kerja keras, dan dedikasi tanpa henti orangtua demi kesuksesan anak cucunya layak diapresiasi. ‘Kamulyaning anak soko rekasaning wong tuwo. Kamulyaning wong tuwo, soko nyawang anakke’ atau ‘kesuksesan anak buah dari keprihatinan dan kerja keras orangtua. Kebahagiaan orangtua sekedar melihat keberhasilan anak’. Semboyan tersebut terus kami pertahankan dalam keluarga besar Simbah Mangundiharjo. Malam itu kami terlelap dalam kebahagiaan keluarga besar Simbah Mangundiharjo, di semua kamar pada ke 2 lantai Private Family Villa di Jl. Setiabudi 384 Bandung.
Om Fx Sukirlan, Budhe Evaristus Wilis Legiono, Bulik Nariyah (semuanya generasi pertama) dan mbak Fatimah Subagyo (generasi kedua yang paling senior) duduk di kursi untuk berbagi kenangan, sedangkan kami semua duduk lesehan di depannya.
‘Kamulyaning anak soko rekasaning wong tuwo. Kamulyaning wong tuwo, soko nyawang anakke’ atau ‘kesuksesan anak buah dari keprihatinan dan kerja keras orangtua. Kebahagiaan orangtua sekedar melihat keberhasilan anak’. Semboyan tersebut yang dijelaskan oleh Om Fx Sukirlan terus kami pertahankan dalam keluarga besar Simbah Mangundiharjo.
Generasi pertama Gotrah Mangundiharjo yang kita hormati bersama
Peserta lengkap pada malam hari pertemuan Gotrah Mangundiharjo 2024 di Bandung
Beda-beda gaya, gaya-gaya semua peserta lengkap pada malam hari pertemuan Gotrah Mangundiharjo 2024 di Bandung
Keluarga almarhumah Budhe Dalinah Mulyodiharjo, anak ke 4 Simbah Mangundiharjo
Keluarga almarhumah Pakde Wagiyo Kebumen, anak ke 5 Simbah Mangundiharjo
Keluarga besar almarhumah pakde Evaristus Wilis Legiono, anak ke 6 Simbah Mangundiharjo, sebagai tuan rumah yang hebat untuk acara Gotrah Mangundiharjo 2024 yang sukses luar biasa.
Keluarga almarhumah Budhe Surtinah, anak ke 7 Simbah Mangundiharjo
Keluarga almarhumah Bulik Sutiyah, anak ke 10 Simbah Mangundiharjo
Keluarga Om Fx. Sukirlan, anak ke 11 Simbah Mangundiharjo
Keluarga almrahumah Bulik Daliyah, anak ke 12 Simbah Mangundiharjo
Keluarga Dadiet Sukarno, calon tuan rumah Gotrah mangundiharjo periode selanjutnya, menerima amanah dari Pakde Suyanto, ketua kelas kita bersama
Senin pagi, 17 September 2024 masih ada adik kami (Bulik Nana) dan suaminya (Om Greg) bungsu keluarga Bapak Sukiman, anak ke 9 Simbah Mangundiharjo yang datang bergabung, tentu menambah sukacita dan kegembiraan semua peserta acara gotrah. Meskipun ada beberapa yang sudah pulang duluan, tetapi sarapan dan foto bersama sebelum pamit pulang lebih mengesankan dengan kehadiran William Febuana (pacar dik Larasati, anak bungsu kami), yang datang langsung dari Jepara Jawa Tengah, bermobil sendrian selama 8 jam perjalanan melibas tol Trans Jawa.
Bulik Wara Pradnastuti sebagai dirigen paduan foto bersama peserta Gotrah Mangundiharjo 2024.
Peserta Gotrah Mangundiharjo 2024 di antara Lembang dan Bandung, sebelum pulang ke rumah masing-masing Private Family Villa, yang terletak di dekat Rumah Sosis di Jl. Setiabudi 384 Bandung,
Setelah itu kami berpisah lagi. Rombongan bis mengikuti wisata belanja ke Pasar Baru Bandung. Pasar Baru Bandung yang kini disebut dengan Pasar Baru Trade Center merupakan pasar tertua yang ada di Bandung. Lokasinya terletak di Jalan Otto Iskandardinata No. 152, Kelurahan Kebon Jeruk, Kecamatan Andir, Kota Bandung. Pasar ini telah berdiri pada tahun 1906. Tentu saja pasar ini telah menopang sebagian besar ekonomi masyarakat selama lebih dari 1 abad.
Kami bertiga diantar William Febuana melanjutkan wisata religi dengan mengunjungi Gereja Katedral Bandung, atau Katedral Santo Petrus. Dalam perjalanan ke geraja pagi itu, kami jadi ingat bahwa pada tahun 1806 Raja Louis Napoleon (pangeran Prancis yang menguasai dan menjadi Raja Belanda) mengumumkan undang-undang kebebasan beragama di Negeri Belanda dan jajahannya di seluruh dunia. Gereja Katolik di Nusantara pun dapat berkembang lagi, setelah sebelumnya sempat tertekan hebat oleh dominasi Gereja Protestan yang dianut mayoritas para pimpinan dan warga Belanda. Pada tahun 1807 dibentuklah Prefektur Apostolik Batavia yang meliputi seluruh wilayah Hindia Belanda.
Awal pengembangan misi dari Batavia ke Cirebon dan Priangan dimulai segera setelah imam-imam Jesuit pertama tiba di Batavia. Tidak terlalu lama sesudah dibangun jalur kereta api Batavia-Bandung pada tahun 1884, dibangunlah Gereja St. Franciscus Regis di Bandung yang diberkati pada tahun 1895, gereja ini kemudian beralih fungsi menjadi gedung pertemuan sosial, sesudah dibangun Gereja St. Petrus. Gereja pertama di kota Bandung ini sekarang sudah tidak ada lagi, karena sudah menjadi bagian dari gedung Bank Indonesia.
Wisata religi di Katedral Santo Petrus Jalan Merdeka,Bandung
Katedral Santo Petrus terletak di Jalan Merdeka, Babakanciamis, Sumurbandung, Bandung. Bangunan ini dirancang oleh Charles Prosper Wolff Schoemaker dan bergaya arsitektur neo-Gothic akhir. Dilihat dari atas, bentuknya menyerupai salib yang simetris. Katedral Santo Petrus mempunyai luas tanah sebesar 2.385 m² dan luas bangunan sebesar 785 m².
Gereja perdana di Bandung adalah Gereja St. Franciscus Regis yang mulai digunakan pada tanggal 16 Juni 1895. Setelah Bandung memperoleh status gemeente (setingkat kotamadya) pada 1906, diputuskan untuk membangun bangunan gereja baru. Pembangunan gereja yang baru dilaksanakan sepanjang tahun 1921, yaitu katedral yang kami kunjungi pagi itu. Katedral Santo Petrus ini lalu diberkati pada 19 Februari 1922 oleh Mgr. Edmundus Luypen, S.J.
Selanjutnya kami menikmati wisata sejarah dengan mengunjungi Gedung Sate, yang merupakan gedung kantor Gubernur Jawa Barat. Gedung ini memiliki ciri khas berupa ornamen tusuk sate pada menara sentralnya, yang telah lama menjadi penanda Kota Bandung yang ikonik, sehingga tidak saja dikenal masyarakat di Jawa Barat, tetapi juga seluruh Indonesia. Lebih lanjut, model bangunan itu dijadikan pertanda bagi beberapa bangunan dan tanda khusus berbagai kota di Jawa Barat, misalnya bentuk gedung bagian depan Stasiun Kereta Api Tasikmalaya.
Bergaya di depan Gedung Sate yang berwarna putih ini hasil karya Arsitektur Ir. J. Gerber dan Dr. Hendrik Petrus Berlage yang mulai dibangun pada tahun 1920
Gedung Sate yang berwarna putih ini mulai dibangun pada tahun 1920 dan masih berdiri kokoh hingga saat ini. Arsitektur Gedung Sate adalah Ir. J. Gerber yang mengadopsi berbagai masukan dari maestro arsitek Belanda Dr. Hendrik Petrus Berlage, sehingga bernuansakan wajah arsitektur tradisional Nusantara. Banyak kalangan arsitek dan ahli bangunan menyatakan Gedung Sate adalah bangunan monumental yang anggun mempesona dengan gaya arsitektur unik mengarah kepada bentuk gaya arsitektur Indo-Eropa (Indo Europeeschen architectuur stijl), sehingga tidak mustahil bila keanggunan Candi Borobudur ikut mewarnai Gedung Sate. Beberapa pendapat tentang megahnya Gedung Sate di antaranya Cor Pashier dan Jan Wittenberg dua arsitek Belanda, yang mengatakan “langgam arsitektur Gedung Sate adalah gaya hasil eksperimen sang arsitek yang mengarah pada bentuk gaya arsitektur Indo-Eropa”.
Setelah selesai berfoto diantara banyak para pelancong dengan maksud serupa, kami segera menyebrang jalan untuk menikmati suasana lapangan Gasibu yang sarat dengan perjalanan sejarah Kota Bandung. Lapangan Gasibu yang sudah ada sejak zaman Hindia Belanda , semula bernama Wilhelmina Plein atau lapangan Wilhelmina yang diambil dari nama Ratu Belanda. Sekitar tahun 1950-an, nama lapangan ini berganti menjadi Lapangan Diponegoro. Dulunya lapangan ini sering digunakan perkumpulan sepak bola Bandung Utara, sehingga masyarakat akhirnya mengenal lapangan ini sebagai Gasibu (Gabungan Sepak Bola Indonesia Bandung Utara).
Bergaya di gerbang Lapangan Gasibu Bandung, yang semula bernama Wilhelmina Plein atau lapangan Wilhelmina, dengan tulisan Tepasna Jawa Barat (teras Jawa Barat).
Setelah itu, kami segera beranjak untuk melanjutkan wisata religi, bergabung dengan rombongan bis setelah selesai wisata belanja dari Pasar Baru, untuk mengunjungi Masjid Raya Al-Jabbar atau yang lebih dikenal dengan Masjid Terapung Gedebage, Bandung. Pembangunan masjid ini sebesar kurang lebih Rp. 1 triliun dari dana APBD, masjid ini mulai dibangun pada tahun 2017 di atas danau buatan dan baru selesai pada tahun 2020.
Masjid Raya Al Jabbar mulai didesain tahun 2015 oleh Ridwan Kamil sebagai Masjid Raya tingkat Pemerintah Daerah Provinsi. Bangunan utama dirancang dengan luas lantai 99 x 99 m2 sesuai angka Asmaul Husna. Arsitektur Masjid Raya Al Jabbar dirancang dari perpaduan arsitektur modern kontemporer dengan aksentuasi masjid Turki, yang dihiasi seni dekoratif khas Jawa Barat. Bangunan utama masjid tidak memisahkan dinding, atap, dan kubah, melainkan hasil peleburan ketiganya menjadi satu bentuk setengah bola raksasa.
Masjid Raya Al Jabbar di Bandung dirancang dari perpaduan arsitektur modern kontemporer dengan aksentuasi masjid Turki, yang dihiasi seni dekoratif khas Jawa Barat.
Ketiga sisi bangunan masjid dikelilingi sebuah danau besar yang, ibarat cermin, merefleksikan masjid menjadi berbentuk bulat utuh. Pada malam sampai dini hari, kerlip tata cahaya menambah keindahan masjid, yang kami nikmati dan dokumentasikan, sambil berusaha terbangun dari tidur nyenyak di dalam kabin bis. Selain keindahan, danau memiliki fungsi penting lain, yaitu sebagai retensi banjir sekaligus penyimpan air. Semua hal tersebut memang direncanakan dengan sangat seksama. Masjid ini diprakarsai pembangunannya oleh Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan. Peletakan batu pertama masjid ini dilakukan pada tanggal 29 Desember 2017 oleh Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat saat itu, Ahmad Heryawan dan Deddy Mizwar.
Di masa lalu, kawasan Gedebage merupakan sebuah rawa-rawa bekas peninggalan Danau Bandung Purba. Lalu akhir abad ke-19, rawa-rawa ini mulai mengering dan dijadikan area persawahan. Kemudian perusahaan kereta api negara, Staatsspoorwegen membangun jalur kereta api yang menghubungkan Gedebage dan Cicalengka di tengah rawa-rawa ini. Di areal tersebutlah masjid megah yang kami kunjungi pagi itu, dibangun.
Kita juga dapat mengerti bahwa akibat biayanya yang mencapai triliunan, dan sudah terdapatnya sekitar hampir 50.000 masjid di Jawa Barat, kritikan pun ramai datang dari masyarakat yang menganggap dana tersebut akan jauh lebih baik bila dialokasikan untuk pendidikan, menanggulangi kemiskinan, memperbaiki infrastruktur dan gedung-gedung sekolah yang masih banyak yang rusak di provinsi tersebut.
Setelah beristirahat sejenak, tidak sempat ikut sholat dzuhur karena kehabisan waktu perjalanan dari Pasar Baru, rombongan kami segera beranjak pulang ke Jawa Tengah. Setelah sedikit kesulitan mencari Gerbang Tol Ciulenyi dari areal parkir Masjid Al Jabbar Bandung, kami segera makan menu nasi dos yang tetap tanpa sendok lagi, di dalam bis yang melaju kencang memasuki Tol Cisumdawu. Pemandangan terowongan kembar (Twin Tunnel) yang yang merupakan ciri khas tol Cileunyi – Sumedang – Dawuan (Cisumdawu), mampu menarik perhatian kami dan para pengendara yang melintas karena keunikannya.
Sesi foto di rest area 203 tol Cisumdawu, saat kami pulang dari Bandung menuju Weleri.
Keluar dari tol Cisumdawu, kami memutuskan melibas tol Palikanci, dan lanjut ke gerbang tol Weleri Kendal, bukan keluar di Gerbang Tol Pejagan Cirebpn seperti saat kami berangkat. Tujuannya adalah kami akan menikmati dataran tinggi Temanggung, di Kabupaten Temanggung sisi utara terutama Kecamatan Candiroto, yang sangat inspiratif. Bis kami harus berjalan pelan dan penuh kucuran asap hitam knalpotnya, karena jalanan menanjak, menikung dan menanjak lagi, sejak dari Weleri menuju Sukorejo. Kami lanjut menyeberang ke teritorial Kabupaten Temanggung, untuk mengingat bahwa di areal tersebut pada masa pemerintahan Kerajaan Mataram Hindu, kekuasaannya telah melebar sampai di perbatasan Kabupaten Kendal, salah satu di antaranya adalah desa Candiroto. Menurut cerita rakyat lokal pada zaman itu ada seorang yang tidak diketahui asalnya dan mereka membuat sebuah candi di malam hari, kemudian Candi itu diketahui salah satu warga yang sedang menumbuk padi di lesung, sebuah kayu gelondongan yang bercelah. Sebelum sholat subuh warga tersebut mengintai untuk melihat cara membuat Candi, tetapi orang yang membuat Candi tersebut langsung pergi dan kepergian tersebut tidak ada yang tahu sama sekali.
Oleh karena Candi yang dibuat itu belum jadi, maka segenap warga sepakat agar Candi tersebut diratakan saja, dan memberi nama desa tersebut Candirata (yang berasal dari kata Candi yang diratakan). Saat ini Kecamatan Candiroto adalah penghasil kopi terbesar di Temanggung. Di kecamatan ini terletak pula Umbul Jumprit, mata air yang disucikan yang airnya diambil untuk upacara keagamaan umat Buddhisme dan Hindu, termasuk untuk acara Hari Raya Waisak di Candi Borobudur
Perjalanan kami di areal dataran tinggi wilayah Kabupaten Temanggung bagian utara tersebut, malam itu penuh kecemasan, karena cadangan solar di tangki bis semakin menipis. Ada 7 SPBU yang kami masuki, tetapi tidak tersedia bio solar untuk bis kami. Pada hal kami masih harus menaklukkan areal ketinggian di sekitar Situs Candi Liyangan, Purbosari, di Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. Dalam situs Liyangan terdapat bukti pemukiman dan peradaban manusia kuno nenek moyang manusia Jawa, dimana ditemukan sebuah punden berundak, talut, latar, kayu, area pertanian, tempat peribadatan, dan sisa bekas pembakaran. Situs Candi Liyangan di dekat jalanan menanjak yang kami lalui malam itu, diperkirakan merupakan pemukiman Hindu sebelum abad ke-10 Masehi.
Untunglah kami mampu menaklukan medan terjal dan penuh sejarah tersebut, untuk mencapai Parakan. Kami lanjut ke Wonosobo menurunkan para penumpang dalam dekapan dingin malam menjelang pergantian hari menjadi Selasa, 17 September 2024. Beruntunglah akhirnya bis kami mendapatkan tambahan bio solar di SPBU ke 10 yang kami masuki, dan semua penumpang dapat diturunkan di dekat rumah masing-masing. Akhirnya kami mampu mendarat di rumah Timoho Yogyakarta pada pk. 4 dini hari.
Terimakasih banyak disampaikan kepada segenap pihak, terutama keluarga budhe E. Wilis Legiono sebagai tuan rumah Gotrah Mangundijarjo 2024. Antara Lembang dan Bandung, telah terrangkum persaudaran, kebahagiaan, dan semangat kehidupan bersama segenap keturunan Simbah Mangundiharjo. Sampai ketemu lagi dalam acara serupa tahun berikutnya.
11.Fx. Sukirlan & Lucia Darwiyati (almarhum) 11.1.Agustinus Purwaka & B Novita K. 11.1.1.Stk. Wiyar Galih O. 11.1.2.Maria Sekar Gayuh O. 11.2. Gregorius Aditomo & C Mukti P. 11.3. Bernardus Tri Santoso & Winda 11.3.1. Fiorenza (Fio) Alethea Alexandreina 11.3.2. Falenxia (Falen) Adrienna Alexandrea
Pada tanggal 14 Agustus 2024, Director-General WHO menyatakan bahwa wabah mpox atau monkeypox (cacar monyet) di Afrika merupakan PHEIC berdasarkan International Health Regulations (2005). PHEIC (Public Health Emergency of International Concern) adalah istilah yang digunakan oleh WHO untuk menggambarkan wabah penyakit yang merupakan darurat kesehatan masyarakat yang mengkhawatirkan dunia. Apa risikonya?
Sampai Agustus 2024 ini telah terjadi 15.664 kasus cacar monyet, dengan 537 kematian, telah dilaporkan di Republik Demokratik Kongo saja, yang telah melampaui total tahun lalu, yang merupakan rekor tersendiri. Peningkatan kasus di Kongo didorong oleh dua wabah terpisah dari dua galur atau klade virus yang menyebabkan cacar monyet.
Yang pertama adalah wabah di Kongo barat laut yang sebelumnya dikenal sebagai klade 1, sekarang disebut klade 1a. Wabah ini terutama menyerang anak dan menyebar melalui berbagai cara penularan. Yang kedua adalah wabah di timur laut Kongo yang merupakan cabang baru dari klade 1 yang disebut klade 1b, yang pertama kali terdeteksi pada bulan September tahun 2023 lalu dan menyebar dengan cepat, terutama melalui penularan seksual di antara orang dewasa.
Dalam sebulan terakhir, lebih dari 100 kasus klade 1b juga telah dilaporkan di empat negara tetangga Kongo yang sebelumnya tidak melaporkan cacar monyet, yaitu Burundi, Kenya, Rwanda, dan Uganda. Penyebaran klade 1b yang cepat, dan deteksinya di negara-negara tetangga, adalah alasan utama keputusan WHO untuk menyatakan keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional. Namun, klade 1b yang juga telah dilaporkan di Republik Afrika Tengah dan Republik Kongo bukanlah satu-satunya risiko, karena klade 2 telah dilaporkan di Kamerun, Pantai Gading, Liberia, Nigeria, dan Afrika Selatan. Klade 1a dan 1b keduanya menyebabkan penyakit yang lebih parah daripada klade 2, yang menyebabkan wabah global cacar monyet yang telah dinyatakan sebagai keadaan darurat kesehatan masyarakat yang menjadi perhatian internasional pada tahun 2022.
Monkeypox (cacar monyet) disebabkan oleh virus monkeypox, anggota genus Orthopoxvirus dalam famili Poxviridae adalah penyakit zoonosis virus yang terjadi terutama di daerah hutan hujan tropis Afrika Tengah dan Barat. Cacar monyet biasanya memiliki gejala klinis demam, ruam kulit, pembengkakan kelenjar getah bening, dan dapat menyebabkan berbagai komplikasi medis. Cacar monyet biasanya merupakan penyakit yang sembuh sendiri dengan gejala yang berlangsung dari 2 hingga 4 minggu. Kasus yang parah dapat terjadi dengan rasio kasus kematian telah sekitar 3-6%.
Manifestasi klinis cacar monyet mirip dengan cacar, infeksi orthopoxvirus yang telah dinyatakan dapat diberantas di seluruh dunia pada tahun 1980. Cacar monyet kurang menular daripada cacar dan menyebabkan penyakit yang kurang parah. Berbagai spesies hewan telah diidentifikasi rentan terhadap virus cacar monyet, yaitu tupai tali, tupai pohon, tikus, dormice, primata non-manusia dan spesies lainnya. Cacar monyet pertama kali diidentifikasi pada manusia pada tahun 1970 di Republik Demokratik Kongo pada seorang anak laki-laki berusia 9 tahun di wilayah di mana cacar telah dieliminasi pada tahun 1968. Sejak itu, kasus cacar monyet telah dilaporkan pada manusia di 11 negara Afrika, yaitu Benin, Kamerun, Republik Afrika Tengah, Republik Demokratik Kongo, Gabon, Pantai Gading, Liberia, Nigeria, Republik Kongo, Sierra Leone, dan Sudan Selatan.
Penularan dari hewan ke manusia (zoonotik) dapat terjadi dari kontak langsung dengan darah, cairan tubuh, atau lesi kulit atau mukosa dari hewan yang terinfeksi. Makan daging yang tidak dimasak dengan baik dan produk hewani lainnya dari hewan yang terinfeksi merupakan faktor risiko yang mungkin. Penularan dari manusia ke manusia dapat terjadi akibat kontak dekat dengan sekret pernapasan, lesi kulit orang yang terinfeksi, atau benda yang baru saja terkontaminasi. Penularan melalui partikel pernapasan biasanya memerlukan kontak tatap muka yang berkepanjangan, yang menempatkan petugas kesehatan, anggota rumah tangga dan kontak dekat lainnya dari kasus aktif pada risiko yang lebih besar. Penularan juga dapat terjadi melalui plasenta dari ibu ke janin (yang dapat menyebabkan cacar monyet bawaan) atau selama kontak dekat selama dan setelah kelahiran.
Masa inkubasi cacar monyet biasanya dari 6 hingga 13 hari, tetapi dapat berkisar dari 5 hingga 21 hari. Infeksi dapat dibagi menjadi dua periode, yaitu periode pertama disebut periode invasi berlangsung antara 0-5 hari yang ditandai dengan demam, sakit kepala hebat, limfadenopati (pembengkakan kelenjar getah bening), nyeri punggung, mialgia (nyeri otot) dan asthenia yang hebat (kekurangan energi). Limfadenopati adalah ciri khas cacar monyet dibandingkan dengan penyakit lain yang awalnya mungkin tampak serupa (cacar air, campak, cacar). Periode kedua disebut periode erupsi kulit biasanya dimulai dalam 1-3 hari setelah munculnya demam. Ruam cenderung lebih terkonsentrasi di wajah dan ekstremitas daripada di badan. Ini mempengaruhi wajah (dalam 95% kasus), dan telapak tangan dan telapak kaki (dalam 75% kasus). Juga terkena adalah selaput lendir mulut (dalam 70% kasus), alat kelamin (30%), dan konjungtiva (20%), serta kornea. Ruam berkembang secara berurutan dari makula (lesi dengan dasar rata) menjadi papula (lesi keras yang sedikit terangkat), vesikel (lesi berisi cairan bening), pustula (lesi berisi cairan kekuningan), dan krusta yang mengering dan rontok. Jumlah lesi bervariasi dari beberapa hingga beberapa ribu. Dalam kasus yang parah, lesi dapat menyatu sampai sebagian besar kulit terkelupas.
Pengelolaan medis untuk cacar monyet harus dioptimalkan sepenuhnya untuk meringankan gejala, mengelola komplikasi, dan mencegah gejala sisa jangka panjang. Diperlukan pemberian cairan dan makanan bergizi untuk mempertahankan status gizi yang memadai. Infeksi bakteri sekunder harus diobati sesuai indikasi. Obat antivirus yang dikenal sebagai tecovirimat yang dikembangkan untuk cacar atau smallpox, dilisensikan oleh European Medical Association (EMA) untuk cacar monyet pada tahun 2022, tetapi sampai sekarang obat ini belum tersedia secara luas. Pada Juli tahun 2018, Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat telah memberikan persetujuan kepada SIGA Technology untuk TPOXX (Tecovirimat), obat anti cacar pertama yang disetujui FDA. TPOXX (Tecovirimat) adalah obat penghambat protein pembungkus amplop ortopoxvirus VP37 dengan memblok interaksinya dengan seluler Rab9 GTPase dan TIP47, sehingga mencegah pembentukan bentuk ortopoxvirus kompoten yang diperlukan dalam penyebaran virus di dalam tubuh.
Pengobatan Tecovirimat diindikasikan pada orang dewasa dan anak dengan berat setidaknya 13 kg. Obat ini poten, spesifik, aman, mudah dibuat, stabil, tersedia secara oral, memiliki rejimen dosis langsung yang tidak memerlukan pengawasan medis dan tidak mengganggu vaksin. Sediaan dibuat oral dalam kapsul gelatin padat yang berisi zat aktif kristal tecovirimat monohidrat dan bahan tambahan lainnya.
Vaksinasi cacar dalam beberapa penelitian observasional sekitar 85% efektif dalam mencegah cacar monyet dan dapat menyebabkan penyakit yang lebih ringan. Bukti vaksinasi sebelumnya terhadap cacar biasanya dapat ditemukan sebagai bekas luka di lengan atas. Saat ini, vaksin cacar (generasi pertama) yang asli tidak lagi tersedia untuk masyarakat umum. Vaksin yang masih lebih baru berdasarkan virus vaccinia yang dilemahkan dan dimodifikasi (strain Ankara) telah disetujui untuk pencegahan cacar monyet pada tahun 2019. Ini adalah vaksin dua dosis yang ketersediaannya masih terbatas. Meningkatkan kesadaran akan faktor risiko dan mendidik masyarakat tentang langkah-langkah yang dapat mereka ambil untuk mengurangi paparan virus adalah strategi pencegahan utama cacar monyet.
Apakah kita sudah bertindak bijak menekan risiko cacar monyet?
Yogyakarta, 21 Agustus 2024
*) dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Alumnus S3 UGM. WA : 081227280161
NYAMAN BANGET DI RS SOERADJI TIRTONEGORO KLATEN fx. wikan indrarto
Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr. Soeradji Tirtonegoro atau disebut juga RSST yang berada di Tegalyoso, Klaten, Jawa Tengah tercatat sebagai rumah sakit pertama dan tertua di teritorial Provinsi Jawa Tengah, yang didirikan pada 20 Desember 1927. Saat pertama kali dibangun, RS ini diberi nama Dr. Scheurer Hospital. Rumah sakit ini dikelola oleh Yayasan Zending yang bergerak di bidang kesejahteraan umat dan dipimpin oleh Dr Bakker. Pada awal Kemerdekaan Republik Indonesia (RI) namanya kemudian berganti nama menjadi Rumah Sakit Umum (RSU) Tegalyoso Klaten.
Rumah Sakit Dr. Scheurer yang dikelola oleh Yayasan Zending sejak 20 Desember 1927
Pada 5 Maret 1946, Perguruan Tinggi Kedokteran bagian pre-klinik dibuka di RSU Tegalyoso Klaten, yang menjadi cikal bakal berdirinya Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada (FK UGM) Yogyakarta. Hingga saat ini, RSST terus menjalin kerja sama erat dan menjadi RS pendidikan bagi FK UGM Yogyakarta, meskipun RSST dikelola secara penuh oleh Kementrian Kesehatan RI. Selain itu, RSST juga berkembang dalam memberikan berbagai pelayanan medis dan bahkan terpilih sebagai Rumah Sakit yang paling berkomitmen dalam memberikan pelayanan terbaik bagi peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) Kategori RS Kelas A, Tingkat Kedeputian Wilayah Jawa Tengah dan DIY pada 2020.
.
Anak sulung kami, laki-laki usia 29 tahun, mengalami cedera lutut kanan berulang akibat benturan dengan temannya saat main futsal, terpeleset dan jatuh saat naik gunung, serta mungkin juga salah posisi mendarat setelah melakukan smash saat bermain bulutangkis. Oleh karena saya bertugas sebagai seorang dokter spesialis di RS Panti Rapih Yogyakarta, maka saya periksakan anak saya kepada dr. Bambang Kisworo, Sp.OT(K), seorang dokter spesialis bedah tulang konsultan lutut dan pinggul yang biasa dipanggil dr. BK dan merupakan dokter paling senior di RS saya. Setelah diperiksa secara teliti terhadap gerakan lutut kanan, anak saya disarankan untuk periksa MRI (Magnetic Resonance Imaging). MRI saat ini menjadi modalitas pemeriksaan penunjang medis yang paling valid dalam menilai kondisi jaringan lunak di daerah lutut karena pada MRI dapat terlihat gambaran ligamentum, meniscus serta jaringan kartilago yang ada di area cedera pada lutut. Ternyata anak saya mengalami robek atau ruptur Anterior Cruciatum Ligamen (ACL) akut komplit karena tampak adanya diskontinuitas jaringan ACL, irregularitas sinyal MRI pada ACL, perubahan sudut ACL, penebalan (buckling) PCL, serta memar pada tulang (lateral femoral condylus, lateral tibiaplateau). Sementara itu, tidak ada tanda seperti lesi atau edema subchondral yang biasanya dapat menjadi penanda sebuah robekan yang kronik.
Robek atau ruptur Anterior Cruciatum Ligamen (ACL) akut komplit pada lutut kanan
Saya cukup terkejut saat dr. BK menyarankan anak saya untuk dirujuk ke RSST di Klaten, bukan ke RSUP Dr. Sardjito di Yogyakarta, yang merupakan RS rujukan tertinggi di DIY, Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian selatan. Beliau meyakinkan saya, bahwa anak saya akan ditangani dengan baik oleh Dr. dr. Sholahuddin Rhatomy, Sp.OT(K), yang juga seorang dokter spesialis bedah ortopedi konsultan pinggul dan lutut. Meskipun lebih junior di bandingkan dengan dr. BK, tetapi saya diyakinkan lagi bahwa dr. Tomy jauh lebih terampil, karena didukung oleh tim yang solid dan alat medis terbaru untuk prosedur artroskopi, yaitu Arthroscopy System Instrument, sebuah alat bedah medis berkode [ME8-70020-00164] berharga sekitar Rp 1.5 Milyar
Dr. dr. Sholahuddin Rhatomy, Sp.OT(K) memeriksa lutut pasien di Klinik Bedah Tulang RSST Klaten
Benar sekali apa yang dijelaskan oleh dr. BK, saya menjadi mantap saat anak saya ditangani oleh dr. Tomy, karena pada pemeriksaan pertama di ruang praktek, dijelaskan secara detail tentang kondisi cedera lutut dan rencana penanganannya secara lengkap. Jaminan pembiayaan oleh BPJS Kesehatan berlaku sepenuhnya sejak awal penanganan, proses administrasi sederhana, penjadwalan operasi, dan penempatan pasien di kamar ruang rawat inap berjalan lancar, penuh koordinasi yang baik dan efisien waktu.
Dr. dr. Sholahuddin Rhatomy, Sp.OT(K) melakukan operasi rekonstruksi dan meniskus lutut kanan atau ‘reconstruction and repair meniscus medial genu dextra’
Sesuai rencana, pada hari Rabu pagi, 15 Mei 2019 saya diijinkan mendampingi anak saya masuk ke kamar operasi. Penyambutan yang ramah, akrab, dan personal oleh banyak sejawat dokter kenalan pribadi di ruang ganti dan persiapan operasi, membuat saya semakin mantap. Begitu juga saat saya melihat dari dekat jalannya operasi ‘reconstruction and repair meniscus medial genu dextra’ oleh dr. Tomy yang cekatan, dibantu oleh tim yang solid, diselingi beberapa kali penjelasan singkat melalui layar monitor dan operasi dapat diselesaikan dalam waktu sekitar 45 menit saja.
Dr. dr. Sholahuddin Rhatomy, Sp.OT(K) melakukan operasi menggunakan prosedur arthroskopi dan hasilnya terlihat pada layar monitor
Operasi tidak lagi dilakukan terbuka secara manual seperti di RS lain, melainkan anak saya menjalani operasi tertutup yang modern dengan prosedur artroskopi. dr. Tomy memasukkan alat kecil yang dilengkapi dengan kamera melalui sayatan kecil (seukuran 1 cm) di sekitar lutut kanan anak saya. Kamera tersebut menampilkan kondisi lutut anak saya, sehingga dr. Tomy dapat memeriksa ligamen dan jaringan lain di area lutut dengan mudah. Kemudian dr. Tomy membuat sayatan kecil lainnya di sekitar lutut dan memasukkan instrumen medis untuk memperbaiki kerusakan serta mengganti ligamen ACL dengan cangkok (graft). Cangkok diambil dari tendon kaki kiri anak saya, dengan cara membuat sayatan yang lebih besar di kaki kiri untuk mengeluarkan tendon untuk autograft. Setelah itu, dr. Tomy membuat soket ke tulang paha dan tulang kering untuk memosisikan cangkok ligamen ACL secara akurat. Ligamen yang rusak dibuang dan digantikan dengan tendon, kemudian dibuat lubang kecil lain pada tulang kering untuk memposisikan graft, dengan menempatkan baut dan alat lain dengan tujuan supaya posisi graft tidak bergeser. Graft ini akan membantu jaringan ligamen yang baru agar dapat tumbuh. Pada akhir operasi, dr. Tomy menutup luka sayatan dengan jahitan, yang terkesan sangat rapi agar tidak terlihat sebagai sayatan bekas operasi.
Perawatan pasien paska operasi lutut kanan secara paripurna dalam pengawasan oleh Dr. dr. Sholahuddin Rhatomy, Sp.OT(K)
Pengelolaan pasien dalam tahap pemulihan dari operasi, baik di ruang pemulihan maupun di ruang rawat inap, termasuk pengelolaan nyeri pasca operasi sangat rapi, runtut dan berkesinambungan. Begitu juga layanan fisioterapi untuk pemulihan fungsi lutut paska operasi secara bertahap, telah dilakukan dengan cermat. Tidak ada biaya tambahan yang kami keluarkan karena penjaminan biaya oleh BPJS Kesehatan juga mencakup layanan pasca operasi.
Selama 3 hari anak saya menjalani operasi lutut secara modern dengan prosedur artroskopi dan rawat inap di RSST Klaten, telah menyadarkan saya akan adanya pengembangan layanan medis yang luar biasa pesat, yang telah dilakukan di RSST Klaten. Meskipun merupakan RS tertua di Jawa Tengah, RSST Klaten tetap laju berkembang menyesuaikan adanya perubahan zaman, dan kemajuan teknologi kedokteran yang berkembang pesat.
Terima kasih kami haturkan kepada Dr. dr. Sholahuddin Rhatomy, Sp.OT(K) dan tim di RSST Klaten, yang bersemboyan “Berbenah tanpa lelah, Berinovasi tanpa henti.” Dokter dan tim hebat ini telah memberikan layanan medis inovatif terbaik bagi cidera parah lutut anak saya, dengan hasil yang luar biasa bagus, sampai saat ini pada tahun ke 5 pasca operasi, tidak ada keluhan yang terjadi. Benar sekali, nyaman banget di RSST.
Salam sehat untuk kita semua, Selasa, 2 Juli 2024.
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta
Pada tanggal 30 April 2024, lebih dari 7,6 juta kasus demam berdarah dengue (DBD atau Dengue) telah dilaporkan secara global, termasuk 3,4 juta kasus terkonfirmasi, lebih dari 16.000 kasus dengue parah, dan lebih dari 3.000 kematian. Bagaimana situasi dengue regional Asia?
.
Virus dengue ditularkan ke manusia melalui gigitan nyamuk yang terinfeksi. Kasus paling sering tidak menunjukkan gejala atau mengakibatkan penyakit demam ringan. Namun, beberapa kasus akan berkembang menjadi dengue parah, yang mungkin menyebabkan syok, pendarahan hebat, atau kerusakan organ parah. Mengingat skala wabah dengue saat ini, potensi risiko penyebaran internasional lebih lanjut, dan kompleksitas faktor-faktor yang mempengaruhi penularan, risiko keseluruhan di tingkat global masih dinilai tinggi, sehingga dengue tetap menjadi ancaman global terhadap kesehatan masyarakat.
.
Faktor-faktor yang terkait dengan peningkatan risiko epidemi dengue dan penyebarannya ke berbagai negara meliputi musim penularan dengue yang dimulai lebih awal dan lebih lama di daerah endemis, perubahan distribusi dan peningkatan kelimpahan vektor nyamuk, konsekuensi perubahan iklim dan fenomena cuaca berkala (El Nino dan La Nina) yang menyebabkan curah hujan tinggi, kelembapan, dan kenaikan suhu yang mendukung reproduksi vektor dan penularan virus. Selain itu, juga perubahan serotipe virus dengue yang beredar di suatu negara yang mempengaruhi kekebalan penduduk, sistem kesehatan yang rapuh di tengah ketidakstabilan politik dan keuangan di beberapa negara, dan juga perpindahan penduduk dalam skala besar yang mengganggu respons kesehatan masyarakat.
Secara regional, semua negara di Asia Tenggara dan Timur Jauh mempunyai kondisi lingkungan yang memungkinkan terjadinya penularan endemik dengue, dan semuanya telah melaporkan kasus dengue secara sistematis, kecuali Republik Demokratik Rakyat Korea atau Korea Utara. Terdapat pola musiman yang jelas dalam kejadian dengue, terkait dengan pola iklim di masing-masing negara.
Indonesia mengalami lonjakan kasus dengue dengan 88.593 kasus terkonfirmasi dan 621 kematian pada Selasa, 30 April 2024. Angka ini sekitar tiga kali lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada tahun 2023. Pada tahun 2024 Bangladesh, Nepal, dan Thailand melaporkan jumlah kasus dengue yang lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun 2023. Dari Januari hingga April 2024, CFR bervariasi dari 0% di Nepal hingga 1,09% di Bangladesh. Namun, penafsiran nilai-nilai ini memerlukan kehati-hatian karena definisi kasus dengue yang digunakan berbeda-beda di setiap negara. Beberapa negara hanya melaporkan kasus rawat inap (dikonfirmasi laboratorium) (dibandingkan negara lain yang melaporkan kemungkinan kasus dari masyarakat), sehingga menyebabkan tingkat kematian kasus yang lebih tinggi di antara mereka yang dirawat di rumah sakit atau menderita dengue parah.
.
Lonjakan kejadian dengue kemungkinan besar dipicu oleh berbagai faktor, antara lain pergeseran serotipe yang beredar dan perubahan iklim. Setidaknya lima negara (Bangladesh, India, Myanmar, Nepal dan Thailand) saat ini sedang bergulat dengan permulaan musim hujan, yang menciptakan kondisi yang cocok untuk perkembangbiakan dan kelangsungan hidup nyamuk Aedes. Selain itu, urbanisasi dan perpindahan penduduk juga memainkan peran penting dalam meningkatnya beban dengue di wilayah tersebut. Perubahan pada serotipe dengue dominan yang bersirkulasi tidak hanya meningkatkan kejadian, tetapi juga risiko populasi terkena serotipe DENV yang heterolog, yang pada gilirannya meningkatkan risiko tingginya angka dengue parah dan kematian.
.
Demam berdarah dengue pada dasarnya adalah penyakit perkotaan di daerah tropis dan virus dengue yang menyebabkannya berada dalam siklus yang melibatkan manusia dan nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk yang sama tersebut juga menularkan virus chikungunya dan Zika. Kedekatan tempat perkembangbiakan vektor nyamuk dengan tempat tinggal manusia merupakan faktor risiko yang signifikan terhadap infeksi virus dengue. Nyamuk spesies Aedes dapat tertular virus setelah menggigit individu yang terinfeksi DENV dan kemudian menularkan virus tersebut ke orang lain di sekitarnya. Oleh karena itu, siklus ini membuat nyamuk yang infektif mampu menyebarkan virus dengue di dalam rumah tangga dan lingkungan sekitar, sehingga menyebabkan terjadinya klaster.
.
Intervensi pengendalian vektor yang efektif adalah kunci pencegahan dan pengendalian dengue. Kegiatan pengendalian vektor harus menyasar seluruh area dimana terdapat risiko kontak manusia-vektor, seperti tempat tinggal, tempat kerja, sekolah, dan bahkan rumah sakit. Manajemen Vektor Terpadu untuk mengendalikan spesies Aedes harus mencakup menghilangkan potensi tempat perkembangbiakan, mengurangi populasi vektor, dan meminimalkan paparan individu. Hal ini harus melibatkan strategi pengendalian vektor untuk larva dan serangga dewasa (yaitu pengelolaan lingkungan dan pengurangan sumber air), terutama pemantauan praktik penyimpanan air, pengeringan dan pembersihan wadah penyimpanan air rumah tangga setiap minggu, larvasida dalam air yang tidak dapat diminum menggunakan larvasida dengan dosis yang tepat, penggunaan kelambu berinsektisida bagi pasien dengue rawat inap di RS, untuk membendung penyebaran virus dari RS. Penyemprotan di dalam ruangan untuk mengusir nyamuk yang terinfeksi dengue mungkin sulit dilakukan di daerah padat penduduk. Kota Yogyakarta menjadi kota pertama di Indonesia yang mengimplementasikan teknologi nyamuk ber-Wolbachia dalam pengendalian dengue. Sejak program ini dimulai pada tahun 2016 lalu, angka kasus dengue di Kota Yogyakarta berangsur menurun, dan pada tahun 2023 mencatatkan rekor terendahnya sepanjang sejarah, yaitu di angka 67 kasus saja.
Tindakan perlindungan diri selama beraktivitas di luar ruangan meliputi penggunaan pengusir nyamuk topikal pada kulit yang terbuka atau penggunaan pakaian pelindung, misalnya lengan kemeja dan celana panjang. Selain itu, perlindungan di dalam ruangan dapat mencakup penggunaan produk aerosol insektisida rumah tangga, atau obat nyamuk bakar di siang hari; tirai jendela dan pintu dapat mengurangi kemungkinan masuknya nyamuk ke dalam rumah dan kelambu yang mengandung insektisida memberikan perlindungan yang baik terhadap gigitan nyamuk saat tidur di siang hari. Tindakan perlindungan pribadi dianjurkan dari fajar hingga senja, karena Aedes aegypti bersifat diurnal. Langkah-langkah dan pengendalian nyamuk ini juga harus mencakup tempat kerja dan sekolah, karena vektor dengue adalah nyamuk yang menggigit di siang hari. Surveilans entomologi harus dilakukan untuk menilai potensi perkembangbiakan nyamuk Aedes dalam wadah, sebagai target kegiatan pengendalian vektor dan memantau resistensi insektisida, untuk membantu memilih intervensi berbasis insektisida yang paling efektif.
.
Tidak ada pengobatan khusus untuk infeksi dengue. Namun demikian, deteksi dini dan akses terhadap layanan kesehatan yang tepat dapat mengurangi angka kematian dengue. Begitu pula deteksi cepat kasus dengue dengan pengenalan tanda bahaya, yang disertai dengan rujukan tepat waktu, untuk kasus dengue parah ke RS tersier.
.
Vaksinasi dengue harus juga dilakukan sebagai bagian dari strategi terpadu untuk mengendalikan penyakit ini. WHO merekomendasikan penggunaan TAK-003, satu-satunya vaksin dengue yang saat ini tersedia untuk anak usia 6–16 tahun di semua wilayah dengan intensitas penularan dengue yang tinggi. Vaksin dengue TAK-003 (backbone DEN-2) ini dapat diberikan pada semua anak, baik pernah sakit dengue (seropositif) maupun belum pernah sakit (seronegatif), yang disuntikkan di bawah kulit (subkutan) mulai usia 6 tahun, sebanyak dua dosis dengan interval tiga bulan. Vaksin dengue TAK-003 merupakan vaksin tetravalen, vaksin hidup yang dilemahkan dan mempergunakan teknologi DNA rekombinan dengan back-bone virus Dengue-2, sehingga keamanan vaksin ringan sampai sedang, tetapi masih dapat ditoleransi dan tidak dilaporkan KIPI serius. Untuk menurunkan morbiditas dan mortalitas infeksi dengue, vaksinasi dengue harus diberikan integrasi dengan pencegahan vektor.
Semua negara dalam regional Asia didorong untuk saling belajar dan mengadopsi contoh-contoh keberhasilan manajemen kasus yang efektif, pencegahan, dan pengendalian dengue dan arbovirus lainnya, melalui berbagai proyek penelitian yang lebih baik, terutama uji klinis. Penerapan surveilans klinis serta laporan kasus dan kematian dengue dapat sangat berguna dalam memahami penyakit ini dengan lebih baik, dan juga menjadi dasar untuk mengembangkan uji klinis, untuk terapi baru.
WHO tidak merekomendasikan penerapan pembatasan perjalanan warga atau perdagangan apapun antar negara regional. Namun demikian, Kementerian Kesehatan dan mitranya harus meninjau secara cermat kebijakan lokal yang selama ini diterapkan, untuk menerima dan merekomendasikan intervensi baru meniru negara lain yang telah lebih berhasil, dalam program kesehatan masyarakat mengendalikan dengue.
Sudahkah kita siap melawan dengue?
Sekian
Yogyakarta, 29 Juni 2024
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161.
Kejadian infeksi virus infuenza pada anak cukup sering terjadi, di semua belahan dunia, termasuk di Indonesia. Gejala klinisnya seringkali ringan, tetapi pada beberapa anak dapat berisiko berat. Apa yang perlu dicermati?
.
Influenza harus dicurigai pada setiap anak yang mengalami demam akut dengan atau tanpa gejala pernafasan, apalagi pada periode epidemi influenza tahunan. Banyak penyakit infeksi virus pernapasan pada anak yang memiliki tanda dan gejala serupa, sehingga dokter biasanya tidak dapat memastikan infeksi virus tertentu hanya berdasarkan tanda klinis saja. Cukup penting untuk mendapatkan diagnosis secara mikrobiologis pada beberapa pasien, dimana diagnosis yang lebih spesifik mungkin dapat mengubah manajemen pasien, termasuk kemungkinan untuk diberikan obat antiviral influenza.
.
Pneumonia bakterial harus dipertimbangkan terjadi pada setiap anak yang diduga menderita virus influenza, disertai gambaran klinis yang menunjukkan infeksi saluran pernapasan bawah, apalagi pada periode epidemi tahunan influenza. Sebaliknya, kemungkinan tertular virus influenza harus dipertimbangkan pada setiap anak pneumonia dalam periode yang sama. Pneumonia influenza dan pneumonia bakterial mungkin menunjukkan gejala klinis yang tumpang tindih. Diagnosis banding mungkin memerlukan rontgen dada, uji laboratorium dan mikrobiologi, dan tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan tanda klinis.
Diagnosis mikrobiologis diindikasikan ketika hasil tes mungkin mengubah perawatan klinis pasien, pada semua kasus dengan perjalanan klinis yang parah, dan pada orang yang berisiko tinggi mengalami komplikasi terkait influenza (misalnya mereka yang memiliki penyakit jantung paru atau anak dengan sistem imun yang lemah). Diagnosis mikrobiologis harus diupayakan pada setiap kasus dengan kecurigaan klinis adanya infeksi virus influenza pada subjek yang dirawat inapdi rumah sakit. Diagnosis mikrobiologis tidak diindikasikan untuk anak yang tidak mengalami gangguan imunitas dan yang tidak menunjukkan faktor risiko perburukan klinis. Diagnosis mikrobiologis mungkin membantu menghindari pengobatan antibiotik yang tidak perlu dan pengobatan antivirus influenza yang lebih akurat.
.
Spesimen usapan nasofaring atau orofaringeal yang diambil dengan menggunakan kapas poliester steril dengan batang bukan kayu, merupakan sampel pilihan untuk diagnosis mikrobiologi non-invasif infeksi virus influenza. Aspirasi atau pencucian nasofaring merupakan spesimen alternatif yang dapat ditoleransi dengan baik oleh anak. Alternatif lain adalah spesimen air liur, tetapi berhubungan dengan hasil yang lebih rendah untuk diagnosis mikrobiologis.
.
Tes amplifikasi asam nukleat (Nucleic acid amplification test atau NAAT) adalah Tes Molekuler Cepat (TCM) sebagai metode pilihan untuk diagnosis mikrobiologis infeksi virus influenza. Pemeriksaan ini mampu mengidentifikasi virus influenza tipe A dan tipe B, bahkan mampu membedakan subtipe H1 dan H3, dengan sensitivitas dan spesifisitas tinggi. Tes deteksi antigen harus dibatasi hanya pada pasien anak, dengan sampel dikumpulkan dalam waktu 24-48 jam setelah timbulnya gejala, dan hanya ketika NAAT tidak tersedia. Kultur virus hanya dilakukan untuk mengetahui karakterisasi antigenik saja. Tes serologis untuk influenza umumnya tidak direkomendasikan, kecuali untuk tujuan penelitian dan surveilans.
.
Pasien bayi, anak, atau remaja harus dirujuk segera ke Unit Gawat Darurat Rumah Sakit terdekat jika mengarah pada komplikasi pneumonia atau komplikasi lain dari infeksi virus influenza. Kemungkinan ini harus dicurigai dengan adanya kondisi umum yang buruk, tanda sepsis, penurunan kesadaran atau kejang, dehidrasi, syok, gangguan pernapasan (takipnea, retraksi dada, hipoksemia, dan episode apnea). Hal ini juga harus dipertimbangkan jika gejala infeksi virus influenza membaik, tetapi kemudian kambuh dalam bentuk demam dan atau memburuk.
.
Seorang anak yang dicurigai menderita pneumonia berdasarkan pemeriksaan foto rongten dada harus dirujuk ke Unit Gawat Darurat rumah sakit untuk dipertimbangkan perlunya rawat inap di rumah sakit, jika kondisi klinisnya buruk. Bayi berusia kurang dari 3 bulan dengan demam yang tidak diketahui penyebabnya, seharusnya dirujuk ke Unit Gawat Darurat karena alasan klinis, yaitu infeksi virus influenza mungkin tidak dapat dibedakan dari sepsis dan kondisi lainnya yang berpotensi mengancam jiwa.
.
Anak dengan infeksi virus influenza harus diobati dengan obat antivirus sebagai pasien rawat jalan, dalam 24 jam pertama setelah timbulnya gambaran klinis. Manfaat yang diharapkan terbatas pada pengurangan waktu sakit atau berkembangnya otitis media akut saja, dan bukan pada penurunan angka rawat inap atau komplikasi lainnya. Tidak direkomendasikan penggunaan pengobatan antivirus secara sembarangan pada populasi anak umum, tetapi hanya jika anak menunjukkan faktor risiko yang signifikan terhadap perkembangan infeksi yang berat (dengan imunosupresi, penyakit paru-paru kronis, penyakit jantung yang signifikan secara hemodinamik, patologi neurologis yang parah, nefropati, dan penyakit hati kronis).
.
Obat anti virus dalam kelompok inhibitor neuraminidase adalah obat lini pertama pengobatan sebagai pasien rawat jalan. Oseltamivir oral (dalam bentuk kapsul atau suspensi oral) lebih disukai daripada zanamivir inhalasi (tidak diindikasikan untuk anak di bawah usia 5 tahun) untuk anak yang dapat menggunakan obat oral. Semakin dini pengobatan dengan inhibitor neuraminidase dimulai, semakin besar efek menguntungkannya, idealnya dimulai dalam 48 jam pertama setelah timbulnya gejala.
.
Gejala klinis influenza seperti demam, sakit kepala, dan mialgia dapat diobati menggunakan parasetamol, ibuprofen, atau dipyrone. Batuk dapat diredakan dengan madu dan dekstrometorfan, namun penggunaan obat yang dijual bebas, harus dipertimbangkan secara hati-hati terhadap risiko overdosis. Penggunaan salisilat dan kodein harus dihindari pada pasien berusia kurang dari 18 tahun, karena risiko sindrom Reye, henti napas, perdarahan dan kematian. Pengobatan dengan antibiotik tidak diindikasikan, kecuali diduga terjadi superinfeksi bakteri.
.
Pasien anak yang perlu dirawat inap di rumah sakit adalah anak yang memiliki faktor risiko perjalanan penyakit yang memburuk. Obat antivirus juga dapat dipertimbangkan untuk anak yang dirawat di rumah sakit karena infeksi virus influenza walaupun tidak memiliki faktor risiko komplikasi, ketika mengalami pneumonia, risiko gagal napas, atau pada saat masuk ke unit perawatan kritis. Inhibitor neuraminidase adalah obat lini pertama bagi anak yang memerlukan pengobatan saat dirawat inap di rumah sakit. Oseltamivir oral lebih disukai daripada zanamivir inhalasi untuk anak yang dapat memakai obat oral. Zanamivir tidak diindikasikan, dalam keadaan apa pun, untuk anak di bawah usia 5 tahun.
.
Diagnosis influenza secara mikrobiologis idealnya dibuat sebelum pemberian obat antivirus, karena kurangnya spesifisitas gejala. Diagnosis etiologi juga memungkinkan isolasi pasien pada periode influenza musiman, yang tumpang tindih dengan virus lain, seperti Respiratory Syncytial Virus. Khususnya pada pasien yang sakit kritis dan/atau mempunyai faktor risiko, kecurigaan klinis yang kuat terhadap influenza, dan ketidakmungkinan melakukan tes diagnostik, antivirus dapat diresepkan tanpa konfirmasi mikrobiologis.
.
Posisikan anak duduk dan hisapan lembut pada lubang hidung ketika sekret menyumbatnya dapat berguna. Infus dan terapi cairan intravena diindikasikan jika asupan oral yang memadai tidak memungkinkan, dan terapi oksigen atau ventilasi mekanis juga sesuai indikasi. Obat lain seperti antihistamin, dekongestan hidung, antitusif, ekspektoran, atau mukolitik umumnya tidak dianjurkan. Kortikosteroid tidak boleh ditambahkan pada pengobatan influenza pada pasien rawat inap, kecuali diindikasikan karena alasan lain.
.
Pengobatan antibiotik hanya diindikasikan pada kasus infeksi bakteri sekunder yang terbukti atau dicurigai kuat, misalnya otitis media bakterial, sinusitis, dan pneumonia. Antibiotik empiris harus ditujukan pada bakteri patogen yang paling umum setelah influenza, yaitu Streptococcus pneumoniae, Staphylococcus aureus, dan Streptococcus pyogenes. Tidak ada indikasi obat antibiotik untuk mencegah komplikasi bakteri sekunder. Tidak ada tes pelengkap yang cukup untuk menentukan koinfeksi bakteri, tetapi dapat juga menggunakan kombinasi protein C-reaktif (CRP) lebih tinggi dari 13mg/dl, prokalsitonin lebih tinggi dari 0,52ng/ml, dan/atau konsolidasi alveolar pada rontgen dada. Pada anak dengan infeksi virus influenza yang gejala pernafasannya memburuk setelah perbaikan awal, terapi antibiotik harus dipertimbangkan.
.
Pencegahan penularan influenza di masyarakat adalah dengan melakukan kebersihan tangan setelah kontak dengan sekret pernafasan, dengan cara mencuci tangan dengan sabun dan air (atau hand sanitizer berbahan dasar alkohol yang mengandung minimal 60% etanol atau isopropanol bila sabun dan air tidak tersedia). Juga menutup hidung dan mulut ketika batuk atau bersin dengan menggunakan tisu atau siku tertekuk (jika tisu tidak tersedia). Menyentuh mata, hidung, atau mulut harus dihindari sebisa mungkin. Dianjurkan untuk melakukan pembersihan rutin pada permukaan dan benda yang sering disentuh, yang mungkin terkontaminasi sekresi saluran pernapasan (di rumah, sekolah, fasilitas penitipan anak, dan tempat kerja).
.
Kemoprofilaksis pasca pajanan dapat dipertimbangkan pada orang tanpa gejala yang berisiko tinggi mengalami komplikasi influenza, dan bagi mereka yang vaksinasi influenzanya dikontraindikasikan, tidak tersedia, atau diperkirakan memiliki efektivitas yang rendah (misalnya pada anak dengan sistem imun yang lemah). Juga untuk anak yang tidak divaksinasi dan merupakan kontak serumah dengan pasien yang berisiko sangat tinggi terkena komplikasi influenza (misalnya anak dengan sistem kekebalan yang sangat lemah). Regimen 10 hari dengan inhibitor neuraminidase direkomendasikan sebagai kemoprofilaksis pasca pajanan yang harus dimulai sesegera mungkin (dalam waktu 48 jam setelah paparan, dengan oseltamivir oral atau dalam waktu 36 jam dengan zanamivir inhalasi).
.
Seorang wanita hamil dengan dugaan atau konfirmasi infeksi virus influenza yang dirawat di rumah sakit, harus dilayani sesuai standar sebelum, selama, dan setelah melahirkan. Tindakan tersebut meliputi kewaspadaan standar dan kewaspadaan droplet. Setelah melahirkan, karena risiko komplikasi serius jika bayi baru lahir tertular influenza, maka pemisahan sementara dengan bayi harus dipertimbangkan, sesuai dengan keinginan ibu. Bayi harus dirawat oleh pengasuh yang sehat, bila memungkinkan. Ibu nifas yang hendak menyusui hendaknya memerah ASInya, guna mempertahankan produksi ASI. ASI perah dapat diberikan kepada bayi baru lahir oleh pengasuh yang sehat. Jika bayi tetap berada di ruangan yang sama (karena keinginan ibu atau alasan lain), kewaspadaan droplet harus ditetapkan untuk meminimalkan penularan.
.
Rumah sakit harus menerapkan berbagai langkah untuk mengurangi paparan virus pada bayi baru lahir termasuk penghalang fisik (misalnya tirai antara ibu dan bayi baru lahir), menjaga jarak setidaknya 2 meter antara ibu dan bayi baru lahir, dan memastikan ada orang dewasa lain yang hadir untuk merawat bayi tersebut. Jika ASI tetap diberikan ketika ibu mengalami infeksi virus influenza, ibu harus mengenakan masker bedah dan menjaga kebersihan tangan sebelum menyusui atau melakukan kontak dengan bayi baru lahirnya.
Vaksinasi direkomendasikan untuk anak antara usia 6 bulan dan 18 tahun secara universal. Vaksinasi anak dan remaja sebaiknya menggunakan vaksin quadrivalent (terhadap virus influenza A H3N2, influenza A H1N1pdm09, influenza B garis keturunan Victoria, dan influenza B garis keturunan Yamagata).
.
Satu dosis vaksin influenza pertama dan diulang dengan selang waktu empat minggu, dianjurkan untuk anak berusia antara 6 bulan sampai 8 tahun. Dosis tunggal tahunan direkomendasikan untuk semua anak selajutnya. Dosis penuh 0,5ml vaksin influenza direkomendasikan untuk semua orang, tanpa memandang usia mereka. Vaksin sebaiknya diberikan pada bulan Oktober-November bagi mereka yang tinggal di Belahan Bumi Utara. Vaksinasi diindikasikan sampai akhir musim influenza tahunan bagi mereka yang tidak menerima vaksin pada bulan Oktober-November.
.
Apakah kita sudah bertindak bijak dengan melengkapi status imunisasi influenza untuk semua anak di sekitar kita?
Sekian
Yogyakarta, 22 Mei 2024
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161