Categories
Healthy Life Jalan-jalan

2025 Pesona Abu Dhabi

PESONA  ABU DHABI

fx. wikan indrarto dan b. sari prasetyati

Dalam rangka mengikuti ‘International Conference on Pediatrics and Child Health’ di Radisson Gautrain Hotel, Johannesburg, South Africa, kami mampir sehari untuk menikmati pesona Abu Dhabi, Uni Emirat Arab pada Sabtu, 10 Mei 2025. Apa yang menarik?

Dari Yogyakarta kami naik Kereta Api Fajar Utama dari Stasiun Tugu sampai Stasiun Jatinegara Jakarta. Lanjut naik Commuter Line Bandara dari Stasiun Manggarai sampai Bandara Soekarno Hatta, Tangerang Banten.

https://www.instagram.com/p/DJbfSRJS4Rj/?igsh=MTEwcHMwcmJsMmlnMg==

Terus kami terbang dalam perut pesawat Boeing 787-9 Dreamliner milik Ethihad Airways EY 475 menuju Abu Dhabi. Ini adalah pesawat jet penumpang jarak jauh, berukuran sedang, berbadan lebar, dan bermesin ganda. Varian ini merupakan versi yang diperpanjang dari 787-8 dan memiliki kapasitas penumpang yang lebih banyak, serta jangkauan penerbangan yang sedikit lebih luas. Boeing 787-9 mulai beroperasi pada 7 Agustus 2014 dengan pengguna pertama adalah All Nippon Airways.

Mendarat di bandara Zayed Abu Dhabi dengan hiasan lampu kristal

Emirat Abu Dhabi yang kami tempuh dalam 6 jam 15 menit sejauh 4.111 mil atau setara 6.750 km adalah sebuah monarki konstitusional dan saat ini dipimpin oleh Sheikh Muhammad bin Zayid Al Nahyan. Abu Dhabi (Bapak Rusa) adalah ibu kota dan kota terbesar kedua di negara Uni Emirat Arab (UEA), menurut jumlah penduduknya dan luas wilayah. Selain itu, Abu Dhabi merupakan yang terbesar dari tujuh emirat yang membentuk UEA. Abu Dhabi adalah kawasan terpenting UEA karena merupakan pusat Pemerintahan UEA, rumah untuk Keluarga Emir Abu Dhabi dan Presiden UEA.

Saat ini Abu Dhabi telah berkembang menjadi kota metropolis kosmopolitan. Perkembangan yang cepat dan urbanisasi, ditambah dengan pendapatan rata-rata relatif tinggi penduduknya, telah mengubah Abu Dhabi menjadi lebih besar dan maju. Kota ini direncanakan di bawah arahan Sheikh Zayed oleh arsitek Jepang Katsuhiko Takahashi pada tahun 1967, yang awalnya untuk populasi 40.000 jiwa. Saat ini Abu Dhabi adalah kota paling mahal kedua untuk karyawan asing di wilayah tersebut, dan kota termahal ke-67 di dunia. Majalah Fortune & CNN menyatakan bahwa Abu Dhabi adalah kota terkaya di dunia.

Pada awalnya Abu Dhabi berbisnis mutiara, karena Teluk Persia adalah lokasi terbaik untuk pembentukan mutiara. Pada 1930, karena perdagangan mutiara menurun, bisnis pertambangan tumbuh di daerah berpotensi minyak. Pada tanggal 5 Januari 1936, Petroleum Development Trucial Coast Ltd (PDTC), asosiasi Perusahaan Minyak Irak melakukan eksplorasi minyak. Pada tahun 1953, Perusahaan D’Arcy Exploration, anak perusahaan British Petroleum dan Compagnie Française des Pétroles, yang kemudian menjadi Total mulai menggunakan platform pengeboran laut.

Gerbang Premier Inn Abu Dhabi International Airport Hotel

Setelah proses pemeriksaan imigrasi dan pengambilan bagasi, kami segera menuju Premier Inn Abu Dhabi International Airport Hotel, yang terletak di Business Park Opposite Terminals 1 and 3, Next To Skypark Multi Storey Car Park 95219, Abu Dhabi. Segera kami terlelap dalam mimpi indah pada hari Sabtu, 10 Mei 2025 dini hari waktu setempat, yang berselesih 3 jam dengan WIB. Kami bermimpi menjelajah Abu Dhabi  yang terletak di bagian timur laut Teluk Persia di Semenanjung Arab, di sebuah pulau kurang dari 250 meter dari daratan utama, dan dihubungkan dengan 3 buah jembatan indah, yaitu Jembatan Maqta, Musafah dan Sheikh Zayed yang dibuka pada akhir tahun 2010. Sebagian besar kota Abu Dhabi terletak di pulau itu sendiri, sedangkan luas Emirat Abu Dhabi sekitar 67.340 kilometer persegi, yang setara dengan sekitar 80% dari total luas lahan Uni Emirat Arab. Namun hanya 30% dari luas emirat yang dihuni, dengan hamparan luas yang tersisa tertutup oleh padang pasir dan lahan kering, yang merupakan sekitar 93% dari total luas Abu Dhabi.

Sarapan menu Arab di Premier Inn Abu Dhabi International Airport Hotel

Setelah mandi bugar dan sarapan, kami segera menjelajah negeri yang dipimpin oleh Khalifa bin Zayed Al Nahyan. Dia adalah putra Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan, presiden pertama dari Uni Emirat Arab. Saudara tirinya, Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan, adalah Putra Mahkota Abu Dhabi, dan memiliki pengaruh yang cukup besar sebagai Ketua dari Abu Dhabi Executive Council dan Deputi Panglima Tertinggi angkatan bersenjata Uni Emirat Arab.

Kami segera melakukan negosiasi harga dengan seorang sopir taksi, berkebangsaan Pakistan, yang berasal dari Peshawar dekat Afganistan, agar mau mengantar kami berkeliling kota, seperti yang kami lakukan di Dubai pada Sabtu, 3 Juni 2023 yang lalu. Secara geografis Abu Dhabi bertetangga dengan Dubai yang terletak di bagian timur, dengan Abu Dhabi sebagai ibu kota UAE dan Dubai adalah salah satu emirat (kerajaan) di wilayah UAE, yaitu sebuah negara federasi yang terdiri dari tujuh emirat. Dubai adalah salah satu nama kota dan dan salah satu kerajaan di wilayah UAE. Abu Dhabi mempunyai luas sekitar 972 km² hampir 30 kali lebih besar daripada Dubai yang hanya 35 km². Landmark Abu Dhabi adalah Masjid Agung Sheikh Zayed, Louvre Abu Dhabi, Yas Waterworld Abu Dhabi, serta Qasr Al Watan. Sedangkan Dubai mempunyai landmark yang paling terkenal adalah Burj Khalifa yang merupakan bangunan tertinggi di dunia, yakni setinggi 828 m yang telah kami kunjungi 2 tahun sebelumnya.

Toyota Camry Abu Dhabi Taxi yang siap mengantar kami jalan-jalan di Abu Dhabi

Setelah sepakat 250 Dirham dengan 6 tujuan, kami segera meluncur dalam Toyota Camry bermesin 2487 cc yang cicilan sebulannya sebesar sekitar Rp. 20 juta, berbahan bakar gas, dan setir kiri menuju Masjid Raya Sheikh Zayed. Masjid terbesar di negara ini dirancang oleh arsitek Yusef Abdelki, bergaya arsitektur Timur Tengah, didirikan 1996 dengan spesifikasi ada 82 kubah dengan tujuh ukuran berbeda yang dilengkapi 4 buah menara.

Masjid Agung Sheikh Zayed terlihat dari pintu depan

Masjid Agung Sheikh Zayed adalah contoh terbaik seni Islam, menggabungkan arsitektur Mughal, Moor, Ottoman, dan Persia. Hasilnya adalah perpaduan menakjubkan antara tradisi dan modernitas, sebuah struktur yang menghormati masa lalu sambil menatap masa depan. Permata arsitektur ini merupakan bukti kreativitas, keterampilan, dan visi orang-orang di baliknya. Terletak di jantung kota Abu Dhabi, Masjid Agung Sheikh Zayed jadi salah satu spot yang paling banyak dikunjungi di kota itu. Masjid ini adalah sebuah karya seni dengan arsitekturnya yang spektakuler, desainnya yang rumit, dan kemegahannya yang anggun. Masjid Agung Sheikh Zayed merupakan salah satu masjid terbesar ketiga di dunia setelah Masjid Al-Haram di Mekkah dan Masjid Al-Nabawi di Madinah, keduanya di Saudi Arabia. Masjid ini dibangun di areal 12 hektare dengan luas area masjid sebesar 22.412 meter persegi, setara hampir empat lapangan sepak bola. Daya tampung masjid ini dapat mencapai 40.000 jamaah.

Masjid Agung Sheikh Zayed nampak dari sisi belakang, tetap nampak anggun dan mempesona

Kami segera berfoto berdua, dengan latar belakang Masjid Agung Sheikh Zayed yang didominasi oleh warna putih bersih, karena putih melambangkan kemurnian dan dilapisi marmer dari Makedonia. Juga dilengkapi 7 buah lampu gantung kristal di ruang salat dan pintu masuk serambi. Lampu gantung seberat 12 ton tersebut adalah salah satu lampu terbesar di dunia. Juga dilengkapi karpet besar yang terletak di ruang shalat utama masjid seluas 5.700 meter persegi. Karpet Persia tersebut merupakan rekor dunia, yaitu karpet rajutan tangan terbesar dibuat membutuhkan waktu sekitar dua tahun oleh sekitar 1.200 pengrajin, terbuat dari 70% wol dan 30% katun dari seluruh dunia. Para desainer mengambil bahan bangunan dari negara-negara seperti Selandia Baru, Maroko, Mesir, Turki, Yunani, Pakistan, Italia, Jerman, Austria, Cina, dan India.

Sayang sekali, kami datang pada pagi hari yang cerah, sehingga tidak mampu melihat fasad masjid yang bersinar lembut di malam hari, selaras dengan siklus bulan. Speirs and Major Associates merancang skema pencahayaan 360 derajat yang mengubah warna masjid dari putih sejuk saat bulan purnama menjadi biru secara bertahap saat bulan memudar, berubah setiap dua malam. Pada malam keempat belas siklus tersebut, lampu menyala dengan warna biru paling dalam, yang menandakan tidak ada bulan di langit. Sistem ini bukan hanya sebuah prestasi teknologi, tetapi juga sebuah karya seni yang menimbulkan rasa kagum pada semua orang yang melihatnya.

Gerbang Geraja Katedral Santo Yosef Abu Dhabi

Interior dalam Geraja Katedral Santo Yosef Abu Dhabi

Setelah puas berfoto dalam silua sinar matahari pagi yang cerah, kami segera masuk kembali ke Abu Dhabi Taxi Toyota All New Camry untuk menuju Katedral Santo Yosef, yaitu sebuah gereja katedral Katolik di Abu Dhabi. Katedral ini menjadi pusat kedudukan dan takhta dari Vikaris Apostolik atau Uskup Arab Selatan. Katedral Abu Dhabi merupakan salah satu dari enam gereja Katolik yang ada di Keemiran Abu Dhabi, selain Gereja Santo Paulus di Musaffah, Gereja Santa Maria di Al Ain, Gereja Santo Fransiskus di Abu Dhabi, Gereja Santa Theresa di Abu Dhabi dan Gereja Santo Yohanes Pembaptis di Ruwais. Gereja tersebut dibangun pada 1962 di atas sebidang lahan yang disumbangkan oleh Sheikh Shakhbut, seorang kerabat dekat penguasa Abu Dhabi.

Bangku paling belakang untuk tim medis dalam Geraja Katedral Santo Yosef Abu Dhabi

Fasad depan Geraja Katedral Santo Yosef Abu Dhabi

Misa kudus diadakan dalam berbagai bahasa, utamanya bahasa Inggris selain juga bahasa Arab, Tagalog, Malayalam, Sinhala, Urdu, Konkani, Tamil, dan Prancis. Saat ini dipimpin oleh Uskup Mgr. Paolo Martinelli, OFM Cap dan pastor kepala paroki adalah Johnson Kadukanmakal. Kami segera masuk Porta Sancta atau Pintu Suci, yaitu pintu khusus di gereja besar tertentu yang hanya dibuka pada momen istimewa, misalnya pada Tahun Yubileum 2025 sesuai penetapan oleh mendiang Paus Fransiskus. Sebagai peziarah pengharapan (pilgrimage of hope) pada tahun Yubileum 2025 ini, kami sangat bersuka cita dapat memenuhi harapan kami untuk berkunjung ke berbagai gereja katedral.

Poster peziarah pengharapan (pilgrimage of hope) pada tahun Yubileum 2025 di Katderal Santo Yosef Abu Dhabi

Lambang peziarah pengharapan (pilgrimage of hope) pada tahun Yubileum 2025 di pintu depan katedral Santo Yosef Abu Dhabi

Setelah melewati Porta Sancta Katedral Santo Yoseph Abu Dhabi, kami segera berlutut, berdoa dan mengucap syukur. Kami bersyukur atas semua berkat dan rahamat Tuhan Maha Baik di bangku katedral deretan paling belakang, yang sebenarnya dikhususkan untuk tim medis saat ada misa kudus. Dalam doa khusuk, kami memohon kebijaksanaan, keselamatan, kecerdasan, kesehatan dan kebahagian bagi kami semua.

Misa kudus di Gereja Santa Theresia dari Lisieux di Abu Dhabi, dengan ruangan khusus untuk ibu dan bayi di bagian belakang berbatas kaca

Selanjutnya kami memasuki Gereja St. Theresia dari Lisieux, juga dikenal sebagai “Bunga Kecil”, seorang santa Katolik Prancis dan Doktor Gereja yang dihormati karena kerendahan hati dan pengabdiannya kepada Tuhan. Gereja yang dibangun bersebelahan dengan Gereja Katedral Santo Yosef ini merupakan bagian dari Vikariat Arab Selatan, dan merupakan gereja di dalam Paroki Gereja Santo Yosef, dan diberkati dalam sebuah Misa Kudus pada tanggal 14 Desember 2013.

Selesai berdoa pribadi di tengah-tengah misa kudus di Gereja Santa Theresia,  kami segera menuju Masjid Maria ibu Yesus (Masjid Maryam Umm ‘Īsā), yang dibagun di seberang Katedral Santo Yoseph dan terletak di wilayah Al Mushrif. Masjid tersebut dibangun pada 1989 dengan nama Masjid Mohammed Bin Zayed, dan mengambil nama dari Mohammed bin Zayed Al Nahyan, Pangeran Mahkota Abu Dhabi. Pada 14 Juni 2017, Sheikh Mohammed bin Zayed Al Nahyan memutuskan untuk mengganti nama masjid tersebut menjadi “Masjid Mariam Umm Eisa” (Masjid Maria ibu Yesus).

Di bawah papan nama Mary Mother of Jesus Mosque Abu Dhabi

Wajah Bunda Maria (Mary Mother of Jesus) versi Arab di Abu Dhabi

Desain arsitektur masjid yang cukup megah, meski tak semegah dan sebesar Masjid Sheikh Zayed, tetapi desain bangunan Mary Mother of Jesus Mosque juga terbilang indah dan unik. Bangunan masjid ini berbentuk persegi dengan empat menara yang menjulang tinggi di setiap sudutnya. Selain itu, masjid ini juga memiliki kubah utama berukuran besar dan sejumlah kubah kecil di sekelilingnya. Bagian luar bangunan masjid berwana krem keemasan. Warna bangunan yang kalem ini memberi kesan teduh bagi jemaah yang datang dan berkunjung ke masjid tersebut. Terdapat pula plang atau papan nama di bagian depan dan bagian atas pintu masuk masjid bertuliskan “Mary Mother of Jesus”.

Masjid Mara Bunda Yesus (Mary Mother of Jesus) yang indah dan mempesona

Ukiran motif geometris dinding pada bagian luar masjid ini dilengkai elemen dekoratif geometris. Motif geometris ini berfungsi untuk menunjukan perhatian, pengenalan, dan mengesankan perasaan. Jendela masjid dibuat dengan ukiran bermotif arabesk dan tanpa menggunakan kaca. Artinya masjid ini memaksimalkan sirkulasi udara alami dari luar bangunan. Motif arabesk sendiri adalah gambar atau ukiran berupa sulur, daun, cabang, atau pohon. Seniman Muslim mengembangkan seni arabesk dari budaya era Byzantium. Dalam penerapannya, bentuk arabesk bisa dikombinasikan dengan kaligrafi dan ornamen geometris.  Kaligrafi Dalam Masjid Sementara itu, dinding pada bagian dalam masjid ini berwana putih dengan kalifgrafi ayat suci Al Quran. Di bawah tulisan kaligrafi tersebut juga terdapat lemari kayu berukuran besar yang digunakan sebagai tempat untuk menyimpan Al-Quran.

Jalur pejalan kaki menyusuri Teluk Persia di Abu Dhabi, sangat bersih, indah dan mempesona

Selanjutnya kami meluncur lagi di jalanan Abu Dhabi yang mulus, lebar, bersusun dan sepi kendaraan karena hari libur, menuju Etihad Towers. Ini  adalah kompleks gedung dengan lima menara di Abu Dhabi, yang diresmikan pada November 2012. Kelima tower meliputi T1: hotel / perumahan, T2: perumahan, T3: kantor, T4: perumahan dan T5: perumahan. Pembangunan konstruksi dimulai 27 Oktober 2006 dan selesai 27 Oktober 2011 dengan ketinggian masing-masing tower adalah T1: 277,6 m, T2: 305,3 m, T3: 260,3 m, T4: 234,0 m, dan T5: 217,5 m. Jumlah lantai T1: 69, T2: 80, T3: 60, T4: 66 dan T5: 61.

Etihad Tower yang tinggi menjulang di langit Abu Dhabi

Menara ini buah tangan arsitek Tim Desain DBI dari Australia dengan cakupan, besarnya, dan keunikannya sungguh menakjubkan. Menara-menara yang mengubah cakrawala Abu Dhabi ini menawarkan sudut pandang yang paling menakjubkan, dengan pemandangan panorama yang luas ke seluruh kota yang semarak dan Laut Arab dan Teluk Persia. Menara ini terletak di seberang hotel Emirates Palace dibangun dengan perkiraan biaya konstruksi sebesar 2,5 miliar Dirham. HH Sheikh Suroor bin Mohammed bin Khalifa Al Nahyan adalah tokoh terkemuka di UEA adalah pemilik Etihad Towers yang ikonik dan Abu Dhabi Mall yang ramai.

Menara ini digunakan sebagai lokasi syuting film Furious 7 tahun 2015. Furious 7 adalah sebuah film aksi, laga dan balap mobil produksi Amerika Serikat dan merupakan film ketujuh dari serial Fast & Furious. Film ini mengupas ‘pensiunnya’ Brian O’Conner dari dunia balap, karena pemeran Brian, Paul Walker, telah meninggal dunia. Dalam film tersebut, Dominic Toretto (Vin Diesel) dan Brian O’Conner (Paul Walker) mencuri Lykan HyperSport dan mengendarainya melewati tiga menara.

Air mancur menjadi latar depan Menara Etihad yang tinggi menjulang di langit Abu Dhabi

Seterusnya kami menikmati pesona pemandangan tepi pantai di Teluk Persia saat mengunjungi Rixos Marina Abu Dhabi, untuk menemui mas Arya Boske yang bekerja di situ, menyampaikan bingkisan dari ayahnya. Mas Arya adalah anak sulung dr. Paulus Kemil, yang bersama kami praktek di Apotek K24 Demangan Baru Yogyakarta. Rixos Marina adalah bangunan arsitektur ikonik yang menyatukan budaya, kuliner, dan keramahtamahan Arab dan Turki yang terbaik.

Rixos Marina yang tinggi menjulang terlihat di kajauhan, pada jalur pejalan kaki mengyusuri Teluk Persia di Abu Dhabi

Terletak di jantung pusat perbelanjaan, hiburan, dan perumahan Abu Dhabi, Rixos Marina Abu Dhabi adalah resor multifaset yang memiliki perairan yang berkilauan dan garis pantai berpasir. Rixos Marina Abu Dhabi mencerminkan keserbagunaan Abu Dhabi sebagai kota kosmopolitan yang berlimpah dengan pengalaman, warisan alam dan akuatik yang kaya. Rixos Marina Abu Dhabi dengan mulus memadukan desain akuatik dan arabesque yang canggih, untuk menceritakan kisah Abu Dhabi dari asal-usul pelayaran kuno, hingga kini menjadi kota kosmopolitan yang sangat berkembang dengan kemewahan tertingginya. Sebagai destinasi, Rixos Marina Abu Dhabi berani tampil beda, meningkatkan pengalaman tamu melalui desain, fasilitas, suasana, hiburan, dan waktu luang yang luar biasa.

Di halaman depan pada dasar Rixos Marina yang tinggi menjulang

Bertemu Bli Ferdy dari Bali, teman sekamar apartemen mas Arya Boske di Rixos Marina, untuk menitipkan oleh2 dari dr. Paulus Kemil

Qasr Al Watan (Istana Negara) karya arsitek Xavier Cartron

Selanjutnya kami berniat mengunjungi Qasr Al Watan, yang secara harfiah berarti ‘Istana Negara’ karya arsitek Xavier Cartron dan ICON Spaces, merupakan kompleks pemerintahan yang mengesankan wibawa, menjadi kantor resmi Presiden, Wakil Presiden, dan Putra Mahkota Abu Dhabi. Qasr Al Watan dibangun selama kurun waktu tujuh tahun, antara tahun 2010 dan 2017. Istana putih berkilauan dengan kubah adalah Qasr Al Watan. Istana berwarna pasir di sebelah kirinya adalah Istana Emirates sebagai satu-satunya “hotel bintang tujuh” di dunia.

Gerbang penjualan tiket masuk Qasr Al Watan (Istana Negara)

Pengunjung yang masuk kompleks luas tersebut wajib memiliki tiket masuk seharga 75 dirham (AED), yang sudah termasuk bus nyaman yang akan membawa pengunjung ke pintu masuk depan Qasr Al Watan, dan kembali ke pusat pengunjung/kantor tiket. Hal ini disebabkan karena perlu waktu setidaknya 1-2 jam di kompleks ini, yang dibangun di atas lahan seluas 150 Ha dengan luas bangunan melebihi 380.000 m². Pada bulan Agustus 2019, istana ini dinobatkan oleh situs web perjalanan dan pariwisata Hotel and Rest di antara 20 landmark seni dan budaya teratas di Dunia. Pada tahun 2020, Istana Kepresidenan Qasr Al Watan dinominasikan untuk World Travel Awards sebagai objek wisata budaya utama di Timur Tengah.

Gerbang Qasr Al Watan yang dijaga serdadu bersenjata dan anjing tanpa ikatan

Kami hanya sempat berfoto sejenak di depan gerbang dengan fasad yang terbuat dari granit putih dan batu kapur, istana yang sebagian besar berwarna putih dirancang dengan rumit dan dihias dengan sangat indah. Kami segera pergi karena takut banget saat diawasi oleh serdadu Abu Dhabi, dengan senjata laras panjang dan anjing jenis herder di pos penjaga yang tidak dirantai.

Panorama Qasr Al Watan karya arsitek Xavier Cartron yang mempesona

Emirates Palace Mandarin Oriental, Abu Dhabi yang gagah

Selanjutnya kami menuju Emirates Palace Mandarin Oriental, Abu Dhabi, yaitu sebuah hotel mewah bintang lima yang awalnya dioperasikan oleh Kempinski sejak dibuka pada November 2005. Karena adanya perubahan manajemen, Istana ini direnovasi selama dua tahun. Saat ini dioperasikan oleh Mandarin Oriental sejak 1 Januari 2020. Bangunan indah ini dirancang oleh WATG Architects. Desain hotel ini merupakan campuran dari elemen arsitektur Islam seperti keseimbangan, geometri, proporsi, ritme, dan penekanan hierarkis di samping metode desain dan konstruksi modern. Kubah pusatnya menampilkan pola geometris yang rumit dan 114 kubah yang lebih kecil, tersebar di seluruh bangunan. Warna bangunan ini terinspirasi oleh berbagai corak pasir yang ditemukan di Gurun Arab. Biaya konstruksi sekitar US$3 miliar, menjadikannya hotel termahal ketiga yang pernah dibangun, dilampaui oleh Cosmopolitan of Las Vegas di USA ($3,9 miliar) dan Marina Bay Sands di Singapura ($5,5 miliar).

Setelah puas, kami segera kembali ke bandara dan mampir sejenak menikmati keindahan Sheikh Zayed Bridge, sebuah jembatan karya arsitek Zaha Hadid. Antara tahun 1997 dan 2010, arsitek Zahā Ḥadīd merancang jembatan yang jauh lebih ambisius, Jembatan Sheikh Zayed, untuk menghormati Sheikh Zayed bin Sultan Al Nahyan, antara pulau Abu Dhabi dan daratan utama Abu Dhabi, serta ke Bandara Internasional Abu Dhabi. Baik desain jembatan maupun pencahayaannya, yang terdiri dari warna-warna yang berubah secara bertahap, dirancang untuk memberikan kesan gerakan. Siluet jembatan adalah gelombang air laut, dengan lengkungan utama sepanjang 235 meter, berdiri 60 meter di atas air laut. Rentang total empat lajur adalah 842 meter panjangnya, dan juga termasuk jalur pejalan kaki. Jembatan ini diresmikan pada tanggal 25 November 2010, oleh mendiang Presiden UEA Sheikh Khalifa. Upacara tersebut juga dihadiri oleh Ratu Elizabeth II dari Inggris, menandai kunjungan kenegaraan keduanya ke UEA. Lalu lintas di jembatan dimulai tiga hari setelah upacara pembukaan.

Jembatan Sheikh Zayed antara pulau dan daratan Abu Dhabi buah karya arsitek Dame Zaha Mohammad Hadid

Dame Zaha Mohammad Hadid, DBE (Zahā Ḥadīd; 31 Oktober 1950 – 31 Maret 2016) adalah seorang arsitek Inggris kelahiran Irak. Ia adalah wanita pertama yang meraih Penghargaan Arsitektur Pritzker tahun 2004. Ia meraih Penghargaan Stirling pada 2010 dan 2011. Pada 2012, ia diberi bintang Dame Commander of the Order of the British Empire dan pada 2015 ia menjadi wanita pertama yang diberi penghargaan RIBA Gold Medal. Pada 31 Maret 2016, Hadid meninggal karena serangan jantung di rumah sakit Miami, USA dimana ia dirawat akibat penyakit bronkitis.

Major projects (2006–2010) Zahā Ḥadīd meliputi Bridge Pavilion di Zaragoza (2008), Sheikh Zayed Bridge di Abu Dhabi UEA (2010), MAXXI museum di Rome Italia (2010), Guangzhou Opera House in Guangzhou China (2010), Riverside Museum in Glasgow Skotlandia (2011), CMA CGM Tower in Marseille Perancis (2011). Juga London Aquatics Centre di London (Inggris 2012), dan Broad Art Museum di East Lansing, Michigan, US (2012), Galaxy SOHO di Beijing (2012), CMA CGM Tower, di Marseille, France (2006–2011), Heydar Aliyev Center di Baku Azerbaijan (2013), Dongdaemun Design Plaza di Seoul Korea (2013), University of Economics and Business Library and Learning Center di Vienna Austria (2013), Serpentine Sackler North Gallery di London Inggris (2013), Jockey Club Innovation Tower di Hong Kong China (2007–2014), The Wangjing SOHO di Beijing China (2014), dan Sky SOHO di Shanghai China (2014). Ada lagi International Youth Cultural Centre di Nanjing China (2015), Port Authority Building di Antwerp Belgia (2016).

Di gerbang Bandar Udara Internasional Zayed di Abu Dhabi.

Kami segera mencapai Bandar Udara Internasional Zayed di Abu Dhabi. Bandar udara yang terletak 30,6 km timur kota Abu Dhabi ini, adalah bandar udara terbesar kedua di UEA setelah Bandar Udara Internasional Dubai, melayani sekitar 20 juta penumpang pada tahun 2014. Bandara ini memiliki tiga terminal penumpang operasional: Terminal 1 ( terbagi menjadi Terminal 1A dan 1B), Terminal 2, Terminal 3. Bandar Udara Internasional Abu Dhabi ini memiliki luas area sebesar 3.400 hektare. Ruang terminalnya didominasi oleh Etihad Airways, maskapai penerbangan terbesar kedua di UEA setelah Emirates. Terdapat lebih dari 30 maskapai penerbangan yang dilayani di bandar udara ini dan menawarkan layanan ke lebih dari 120 tujuan di lebih dari 60 negara di seluruh dunia.

The Shell, sebuah pahatan berbahan kaca yang terinspirasi oleh warisan maritim Abu Dhabi.

Bandara Internasional Zayed di Abu Dhabi dinobatkan sebagai bandara terindah di dunia. Melansir The National, Senin (16 Desember 2024) bandara tersebut meraih penghargaan tertinggi dalam ajang Prix Versailles yang diadakan di kantor pusat UNESCO di Paris Perancis.

Atap melengkung indah, tinggi, kokoh dan mempesona Bandara Internasional Zayed di Abu Dhabi buah karya arsitek Kohn Pedersen Fox

Bandara Internasional Zayed di Abu Dhabi dirancang oleh arsitek Kohn Pedersen Fox, atap di bandara tidak hanya menjadi elemen desain yang menonjol, tetapi juga memiliki fungsi untuk mengurangi konsumsi energi dengan menaungi bangunan. Juga dihiasi oleh struktur instalasi seperti The Shell, sebuah pahatan berbahan kaca, kuningan, dan baja yang terinspirasi oleh warisan maritim Abu Dhabi. Bandara Internasional Zayed juga dilengkapi dengan teknologi canggih. Tata letak berbentuk X meminimalkan jarak antara titik kedatangan dan keberangkatan. Sungguh Abu Dhabi sangat mempesona.

Sebelum kami lapor diri, mas Arya Boske (putera sulung dr. Paulus Kemil) menyusul kami di Bandara Internasional Zayed. Banyak inspirasi perjuangan hidupnya yang kami dengar, saat cerita penuh semangat kehidupan sehari-harinya sebagai pekerja di Abu Dhabi.

Mas Arya Boske sepulang kerja di Rixos Marina lanjut mengejar kami sampai di Bandara Zayed Abu Dhabi

Sabtu, 10 Mei 2025

Salam pengelana

-wikan & sari

(bersambung)

Ditulis sambil menunggu penerbangan ke Johannesburg Afrika Selatan, di salah satu sudut Bandara Internasional Zayed di Abu Dhabi


By Fx Wikan Indrarto

Dokter Fx Wikan Indrarto

Leave a Reply

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?