PEKAN MENYUSUI DUNIA 2025
fx. wikan indrarto

tulisan ini telah dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 31 Agustus 2025, halaman 8 kolom Husada, dengan judul : menyusui bayi memberikan masa depan penuh harapan.
Pekan Menyusui Dunia (World Breastfeeding Week) diperingati setiap tahun pada minggu pertama bulan Agustus. Ini adalah saatnya untuk mengingatkan kita semua bahwa menyusui bayi adalah fondasi yang kuat bagi kesehatan, perkembangan, dan kesetaraan seumur hidup. Apa yang perlu dilakukan?

Pekan Menyusui Sedunia menyoroti secara khusus dukungan berkelanjutan yang dibutuhkan ibu dan bayi dari sistem layanan kesehatan selama perjalanan menyusui mereka. Hal ini berarti memastikan setiap ibu memiliki akses terhadap dukungan dan informasi yang dibutuhkannya untuk menyusui selama ia menginginkannya. Termasuk ketersediaan konselor laktasi atau menyusui yang terampil, menegakkan Kode Internasional Pemasaran Pengganti ASI, dan menciptakan lingkungan, baik di rumah, di layanan kesehatan, dan di tempat kerja, yang mendukung dan memberdayakan ibu menyusui.
Aksi ini bukan hanya tentang melakukan hal yang benar saja, tetapi juga tentang tindakan ekonomi yang cerdas. Karena menyusui bayi memberikan masa depan yang penuh harapan, tidak hanya bagi anak, tetapi juga bagi masyarakat. Ini mengurangi biaya perawatan kesehatan, meningkatkan perkembangan kognitif, memperkuat ekonomi, dan menyiapkan anak-anak dengan awal yang sehat.
Tema tahun 2025 : Berinvestasi dalam menyusui, berinvestasi untuk masa depan (Invest in breastfeeding, invest in the future). Berinvestasi dalam dukungan pemberian ASI merupakan salah satu metode paling ampuh yang dimiliki para pembuat kebijakan untuk meningkatkan kesehatan masyarakat, memperkuat perekonomian, dan menjamin kesejahteraan generasi mendatang.
Menyusui melindungi kesehatan anak dan meningkatkan kelangsungan hidup, terutama di bulan-bulan pertama kehidupan. Selain nutrisi esensial, pemberian ASI eksklusif mampu menyediakan antibodi penting yang melindungi dari berbagai penyakit umum pada bayi seperti diare, pneumonia, dan infeksi berat (sepsis).
Selain itu, dampak pemberian ASI sebenarnya jauh melampaui masa bayi. Anak yang waktu bayi disusui, lebih kecil kemungkinannya untuk mengalami kelebihan berat badan atau obesitas dan memiliki risiko lebih rendah terkena diabetes tipe 2 dan kondisi kronis lainnya. Para ibu juga mendapatkan manfaat, misalnya menyusui mengurangi risiko perdarahan pascapersalinan, kanker payudara dan ovarium, penyakit jantung, dan diabetes tipe 2.
Dengan investasi yang tepat, banyak negara dapat meningkatkan tingkat pemberian ASI eksklusif secara signifikan, dibuktikan dengan peningkatan global selama dekade terakhir. Sekitar 10% lebih banyak bayi secara global, saat ini yang disusui secara eksklusif sampai pada usia 6 bulan dibandingkan dengan tahun 2013, dengan beberapa negara mengalami peningkatan sebesar 20% selama periode yang sama.
Ada beberapa tindakan kunci bagi pemerintah untuk berinvestasi untuk masa depan. Pertama, alokasikan dana khusus untuk dukungan menyusui, termasuk dengan memastikan semua ibu memiliki akses ke dukungan menyusui oleh konselor yang terampil di rumah sakit dan saat mereka membawa bayi pulang, di samping perlindungan maternitas yang kuat seperti cuti berbayar setelah melahirkan.
Kedua, terapkan Kode WHO dengan mengadopsi sepenuhnya dan tegakkan Kode Internasional Pemasaran Pengganti ASI, untuk menjaga kesehatan masyarakat. Ketiga, pimpinan memberi contoh. Perjuangkan investasi dalam menyusui dalam strategi kesehatan nasional dan pastikan akuntabilitas melalui undang-undang, regulasi, dan pemantauan dampak program menyusui. Keempat, utamakan kesehatan bayi di atas lainnya. Tetapkan dan tegakkan kebijakan yang melindungi menyusui dan mencegah pengaruh komersial dari iklan pemberian makanan bayi.
Juga ada tindakan penting bagi sektor kesehatan. Pertama, dukung setiap langkah perjalanan menyusui. Berikan dukungan menyusui oleh konselor yang terampil dan penuh kasih sayang sejak kehamilan hingga anak usia dini, pastikan para ibu memiliki akses berkelanjutan ke layanan konseling menyusui sejak kehamilan hingga usia dini, termasuk memberikan dukungan khusus pada saat-saat transisi. Kedua, latih dan berdayakan tenaga kesehatan. Dengan memastikan semua tenaga kesehatan yang menangani kesehatan ibu dan anak, dibekali dengan pengetahuan dan keterampilan menyusui terkini. Ketiga, ciptakan sistem kesehatan yang ramah menyusui. Jadikan semua rumah sakit dan klinik sebagai ruang yang aman dan suportif untuk ibu menyusui, melalui Inisiatif Rumah Sakit Ramah Bayi dan seterusnya.
Selain itu, ada beberapa tindakan kunci untuk masyarakat umum. Pertama, kita semua dapat berperan untuk mendukung para ibu. Keluarga, teman, perusahaan, dan masyarakat, semuanya berperan dalam mendukung ibu menyusui dan menciptakan lingkungan yang suportif bagi mereka untuk menyusui kapan saja, di mana saja. Kedua, pahami faktanya. Menyusui adalah cara alami dan ampuh untuk memberi bayi awal terbaik dalam hidup—memperkuat sistem kekebalan tubuh mereka, membantu mereka melawan penyakit – sekarang dan di masa mendatang – serta memberikan kenyamanan dan nutrisi penting. Ketiga, ajukan dukungan untuk menyusui. Advokasikan kebijakan dan lingkungan yang membuat menyusui lebih mudah dan lebih mudah diakses oleh semua keluarga.
Apakah kita sudah bertindak bijak dengan mendukung setiap ibu menyusui di sekitar kita?
Sekian
Yogyakarta, 4 Agustus 2025
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Dekan FK UAJY, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161