Mengeksplor Timor
hari pertama
fx. wikan indrarto & b. sari prasetyati
Dalam rangka mempromosikan Fakultas Kedokteran Universitas Atma Jaya Yogyakarta (FK UAJY), kami mengeksplor Timor. Minggu malam, 19 Oktober 2025 kami naik KA Pasundan kelas ekonomi dari Stasiun Lempuyangan Yogyakarta, menuju ke Stasiun Gubeng Surabaya.

Bergaya sebelum berangkat, di gerbang Stasiun Lempuyangan Yogyakarta

Dalam kabin kelas ekonomi KA Pasundan yang akan melaju kencang ke Stasiun Gubeng Surabaya

Mendarat di Stasiun Gubeng Surabaya yang bersih
Perjalanan menyusuri rel menempuh 320 km dan kami lanjutkan dengan berdoa Porta Sancta di Gereja Katolik Katedral Hati Kudus Tuhan Yesus, di Jl. Polisi Istimewa 11 Surabaya. Terus kami menuju Bandara Juanda di Sidoarjo untuk terbang dalam perut pesawat Lion Air / JT 697 pada pk. 05:45 dan mendarat di Eltari Airport Kupang NTT pk. 07:45. Petualangan mengeksplore Timor langsung dimulai.

Porta Sancta Gereja Katedral Hati Kudus Tuhan Yesus Surabaya

Gedung Gereja Katedral Surabaya yang dirancang Ed Cypress Bureau

Siap meninggalkan Bandara Juanda Surabaya, dengan Boeng 737 seri 800 Next Generation Lion Air menuju Kupang
Pulau Timor adalah sebuah pulau di bagian selatan Indonesia, terbagi antara negara merdeka Timor Leste dan kawasan Timor Barat, bagian dari Provinsi Nusa Tenggara Timur. Luas Pulau Timor sekitar 30.777 km². Nama pulau ini diambil dari kata ‘timor’, bahasa Melayu untuk “timur”; dinamakan demikian karena pulau ini terletak di ujung timur rantai kepulauan nusantara.
Sejarah Pulau Timor berasal dan berawal dari Gunung Lakaan, Belu, leluhur pertama orang Tetun bernama Laka Lorok Kmesak. Catatan sejarah paling awal tentang pulau Timor adalah Nagarakretagama pada abad ke-14, yaitu Pupuh 14, yang mengidentifikasi bahwa Timor sebagai sebuah pulau dalam wilayah Majapahit. Timor tercantum di dalam sastra kuno Jawa, disebutkan sebagai bagian jaringan perdagangan Cina dan India abad ke-14 sebagai pengekspor kayu cendana aromatik, budak, madu dan lilin.

Kenangan bersama Bang Drs. Alfred Herman Welem Fina, MKes, (paling kanan, tangan di saku celana) pada tahun 1992 saat sebagai Kepala Bagain Umum Kanwil Kesehatan NTT, menerima para dokter PNS baru yang ditempatkan di seluruh NTT.

Siap mengeksplore Timor dalam Mitshubishi Triton Merah ditemani pak Alfred (bertopi) dan pak David, adiknya
Ditemani Bang Drs. Alfred Herman Welem Fina, MKes, pensiunan Widyaiswara Madya UPTD Latnakes Jl. Adisucipto Penfui Kupang, yang kami kenal baik sejak pada tahun 1992 saat sebagai Kepala Bagian Umum Kanwil Kesehatan NTT, menerima para dokter PNS baru yang ditempatkan di seluruh NTT. Ditemani adik kandungnya, yaitu Direktur Yayasan Pelayanan dan Pengembangan Masyarakat Alfa Omega (YAO) 2020-2023 milik Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), Bapak Pdt. David Alfons Nikolas Fina, STh, MA kami terguncang di dalam Mitsubhisi Triton doube cabin menyusuri jalan nasonal Trans Timor jalur tengah sejauh 194 km menuju ke Kefamenanu di Timor Tengah Utara (TTU). Jalanan yang berkelok berulang, menanjak dan menurun berliku, dilahap habis oleh ketrampilan tangan Bapak Pendeta David mengemudikan kegarangan Mitsubhisi Triton bermesin diesel 4N15 berkapasitas 2.4 liter, dengan tenaga hingga 136 ps pada 3.500 rpm dan torsi 324 Nm berpenggerak 4 roda. Diselingi sesi makan sei di siang yang sejuk di Soe, ibukota Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), kami lanjut ke Timor Tengah Utara (TTU), menggapai ibukotanya, yaitu Kefamenanu.

Santap siang menu sei di Soe, ibukota Timor Tengah Selatan
Kefamenanu adalah sebuah kota kecil di Lembah Bikomi, yang didirikan oleh Belanda pada tanggal 22 September 1922. Kota ini kemudian dijadikan sebagai ibu kota Pemerintahan Belanda yang disebut Onderafdeling Noord-Midden Timor, dalam usaha Belanda untuk menguasai Pulau Timor seluruhnya, karena sudah bercokol lebih dahulu Portugis di ujung timur Pulau Timor dan sebagian wilayah utara, yang kini dikenal dengan nama Oecussi-Ambeno. Topasses (Portugis Hitam) yang menguasai bagian utara Pulau Timor dan beberapa wilayah lainnya berusaha menghalangi langkah Belanda masuk ke pedalaman Timor.
Dibentuklah Onderafdeling Noord Midden Timor dengan Controleur Landshoofd Noord-Midden Timor adalah Letnan Sketel Olifielt. Saat mencoba mencari wilayah yang dianggap pas untuk dijadikan sebagai kota dan pusat Pemerintahan Militer Belanda, berjumpa dengan seorang warga (rakyat dari Usif Bana yang sedang menggembalakan sapi dan tinggal di Nuntaen) dan bertanya dalam bahasa Melayu, “Di mana ada sumber air?”, warga yang ditanya tersebut dengan setengah mengerti menunjuk ke sebuah arah sambil menyebut: “Kefa’mnanu!”. Dan akhirnya tempat itu diberi nama Kefamenanu (setelah disesuaikan dengan dialek Bahasa Belanda) dan pada tanggal 22 September 1922, ibu kota Pemerintahan Militer Belanda (Onderafdeeling Noord Midden Timor) di Noetoko pindah ke Kefamenanu.
Kami segera menuju Gereja Paroki Santo Antonius Padua Sasi, yang merupakan salah satu gereja yang terkenal di Kefamenanu, Nusa Tenggara Timur. Gereja ini tidak hanya menjadi tempat ibadah bagi umat Katolik di sekitar daerah tersebut, tetapi juga simbol sejarah dan budaya yang kental. Terletak di jantung kota Kefamenanu, gereja ini menjadi saksi bisu perkembangan keimanan dan kebudayaan masyarakat setempat selama bertahun-tahun.


Pengalungan kain tenun khas Kefamenanu dalam sambutan hangat di depan gerbang Gereja St. Antonius Padua Sasi
Kami disambut hangat oleh para bidan yang merupakan mahasiswa Prodi Sarjana STIKES Guna Bangsa Yogyakarta, yang selama ini telah berulang bertatap muka dengan layar (zoom) saat berdiskusi dalam mata kuliah Kegawatdaruratan Neonatal.

Porta Sancta di Gerbang Gereja Santo Antonius Padua Sasi, Kefamenanu
Luar biasa penyambutan yang kami terima, termasuk pengalungan kain adat di depan Gerbang Gereja Porta Sancta. Gereja Santo Antonius Padua Sasi memiliki arsitektur khas dengan sentuhan gaya kolonial yang memukau. Bangunan gereja yang megah dan kokoh ini tersusun dari batu alam berwarna coklat dengan gereja membentuk setengah lingkaran. Interior gereja yang indah, lengkap dengan altar berornamen dan patung-patung santo, menambah kekhidmatan suasana bagi siapa pun yang beribadah di sana.

Gereja indah di Kefamenanu

Sambutan hangat oleh para bidan di Kefamenanu

Interior Gereja Santo Antonius Padua Sasi, Kefamenanu TTU

Setelah berpisah dengan Pak Alfred Herman Welem Fina yang lanjut ke Atambua, kami bertiga segera meneruskan mengeksplore Timor. Terus disopiri Pdt. David Alfons Nikolas Fina, ahli anthropologi budaya alumnus Menchester UK yang banyak cerita, kami lanjut menyusuri jalanan berliku tajam, tetapi tetap beraspal mulus di seputaran pegunanan Mutis dalam areal Taman Nasional Mutis Timau, yang mengandung marmer kelas dunia, mengeksplore Timor.
Pulau ini secara politik dibagi menjadi dua bagian selama berabad-abad. Belanda dan Portugis berebut untuk mengontrol pulau itu sampai tercapai Perjanjian Lisboa pada tahun 1859, tetapi keduanya masih belum secara resmi menyelesaikan masalah perbatasan hingga tahun 1912.
Pada 1945, Indonesia memproklamirkan kemerdekaan dan tak lagi di bawah cengkraman Belanda. Pada tahun itu, Portugal masih menguasai Timor Timur. Pada awal dekade 1970-an, Portugal bergejolak dan terjadi Revolusi Anyelir terjadi pada 25 April 1974, pasukan Jenderal António de Spínola mampu yang menggulingkan kediktatoran rezim Estado Novo, dengan tokohnya yang terkenal adalah Américo Tomás, Marcelo Caetano dan Joaquim da Silva Cunha. Pemerintah pusat Lisabon lalu menarik semua pasukan di daerah jajahan termasuk Timor Leste pada Agustus 1973.
Setelah Portugal cabut, Timor-timur mendeklarasikan kemerdekaan pada 1975. Kemudian terjadi kerusuhan internal dan partai Fretilin yang dicurigai komunis mulai mendominasi kekuatan, sehingga mendorong sebuah invasi oleh tentara Indonesia, yang menentang konsep Timor Portugis untuk merdeka. Pada tahun 1975, wilayah Timor Portugis diintegrasikan oleh Indonesia dan kemudian dikenal sebagai provinsi Timor Timur (Timtim) yang merupakan provinsi ke-27 Indonesia dengan ibu kota Dili, tetapi aneksasi ini tidak pernah diakui oleh PBB atau Portugal. Kami pernah mengunjungi Dili pada 12 Desember 1992, saat masih menjadi ibukota Timtim yang bersamaan dengan terjadinya gempa bumi besar di Maumere
Timor-Leste (Republik Demokratik Timor-Leste) yang sebelum merdeka bernama Timor Timur, berada dekat di sebelah utara benua Australia dan merupakan bagian timur pulau Timor. Selain itu wilayah negara ini juga meliputi pulau Kambing atau Atauro, Jaco, dan Oe-Cusse Ambeno di Timor Barat. Negara ini memiliki luas sekitar 15.007 kilometer persegi dengan Dili, kota di pesisir utara Pulau Timor, menjadi ibu kota dan kota terbesarnya.
Pada tanggal 20 Mei 2002, Konstitusi Republik Demokratis Timor-Leste mulai berlaku dan Timor-Leste diakui sebagai negara merdeka dan berdaulat oleh PBB. Parlemen Nasional dibentuk dan Xanana Gusmão dilantik sebagai Presiden pertama negara tersebut. Gusmão menolak masa jabatan presiden yang kedua kalinya. José Ramos-Horta terpilih sebagai presiden pada pemilihan bulan Mei 2007, sementara Gusmão mengikuti kontestasi pemilihan parlemen dan menjadi Perdana Menteri.
Urutan Presiden Timor Leste setelah Xanana Gusmao sejak awal adalah Francisco Xavier do Amaral, Nicolau dos Reis Lobato, Xanana Gusmão, José Ramos-Horta, Vicente Guterres, Fernando de Araújo, Taur Matan Ruak, Francisco Guterres dan sekarang kembali José Ramos-Horta.

Pos Napan yang memisahkan Indonesia dan Timor Leste

Kami di batas negara Indonesia dan Timor Leste

Petualangan dalam Mitsubishi Triton DH 8458 AK menyeberang batas negara
Senin, 20 Oktober 2025 kami mencapai Pos Lintas Batas (PLBN) Napan, yang merupakan pos lintas batas terpadu Indonesia-Timor Leste di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU) NTT. Pos ini diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada 2 Oktober 2024 bersama dengan enam PLBN terpadu lainnya, dan pengoperasiannya kembali sejak April 2025 menandai peningkatan pelayanan, keamanan, dan pergerakan ekonomi di wilayah perbatasan. Setelajh proses imigrasi dan bea cukai yang sedikit memakan waktu, kami lanjut mengunjungi Distrik Otonomi Oecusse (Oecusse-Ambeno) yang merupakan sebuah eksklave, terletak di pantai utara bagian barat Timor. Oecusse dipisahkan dari wilayah Timor Leste lainnya oleh Timor Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Timor Barat mengelilingi Oecusse di semua sisi kecuali utara, di mana eksklave ini menghadap ke Laut Sawu. Ibu kota Oecusse adalah Pante Makasar atau sebelumnya saat jaman Timor Portugis disebut Vila Taveiro.

Tumtum adalah sepeda motor untuk penumpang di Oecusee

Kantor resmi Penghubung KBRI Dilli di Oecusse Timor Leste
Kami disambut hangat oleh Kepala Kantor Penghubung KBRI Dili di Oecusse Timor Leste, Bapak Bonifasius Agung Nugroho, SE, Akt, MPA. Alumnus Master of Public Administration dari Lee Kuan Yew School of Public Policy, Singapura adalah ayah kandung Dharma (7 tahun) pasien kami di RS Panti Rapih Yogyakarta. Setelah dijamu makan malam menu sop ikan ekor kuning yang merupakan menu kuliner lokal, kami menginap semalam di KBRI-Oecusse R92C+G53, Pante Macassar

Jamuan makan malam kenegaraan dengan menu lokal, sop asam manis ikan ekor kuning oleh Bapak Boni Nugroho di Oecusse

Jembatan karya BUMN Indonesia Waskita Karya yang indah
Selasa, 21 Oktober 2025
Ditulis di Oecusse Timor Leste
(bersambung)
Mengeksplor Timor (hari kedua)
Dalam rangka mempromosikan Fakultas Kedokteran Universitas Atma Jaya Yogyakarta (FK UAJY), kami mengeksplor Timor. Selasa pagi, 21 Oktober 2025 kami terjaga dari tidur nyenyak dari mimpi indah di kamar utama Wisma Indonesia di Kantor Penghubung KBRI Dili untuk Oecusse, Timor Leste.

Tulisan estasionamentu reitor atau petugas parkir di Gereja St. Antonio Oecusse siap menjalankan tugas

Suasana umat yang khusuk berdoa di depan kami, saat misa kudus harian pagi di Gereja Santo Antonio Oecusse

Gedung Gereja Santo Antonio yang dibangun Portugis tahun 1965 di Oecusse
Pagi itu kami berdua bergegas berjalan kaki menyusuri Pante Maksar, sejajar dengan Av. Santo António, melewati Secretária Regional para a Educação e Solidariedade Social, menyusuri bibir pantai Laut Sewu yang indah. Kami menyususuri trotoar yang raspi, rata dan lebar, terus berjalan kaki melewati Estatua Nossa Senhora (Patung Bunda Maria) yang sayang sekali tertutup seng biru karena proses renovasi, untuk mencapai Igreja Consagrada a Santo António (Gereja Katolik Santo Antonius) untuk mengikuti misa kudus harian pagi. Gereja St. Antonius ini sebelumnya bernama Nossa Senhora do Rosário, dibangun di pinggir pantai Oecusse pada tahun 1965 oleh Portugis. Awal mulanya sebagai tempat tinggal Ordo Dominikan. Hingga saat ini, umat Katolik di Oecusse menghidupkan sebuah tradisi khusus selama Pekan Suci Paskah setiap tahun di paroki ini. Pada saat perayaan Paskah umat Katolik di Oecusse melakukan prosesi besar-besaran untuk menghormati Senhor Morto (patung seukuran tubuh Yesus yang terletak sujud di platform khusus dalam gereja tersebut). Dalam khusuk kami berdoa dan menerima tubuh Kristus, pada misa kudus berbahasa Tetun yang sama sekali tidak kami pahami secara logika, tetapi kami selami secara nurani, untuk kelancaran semua penugasan untuk kami.

Jalanan yang mulus, lebar, datar, sepi dan menyusuri pantai Laut Sawu di Oecusse

Jembatan Noefefa yang artistik buah karya PT Adhi Karya di Oecusse
Setelah misa kudus selesai, kami segera bergabung dengan Bapak Pdt. David Alfons Nikolas Fina, ahli anthropologi budaya alumnus Menchester UK yang banyak cerita, lanjut menyusuri jalanan halus sepanjang tepi Pante Makasar yang mengahadap Laut Sawu, dalamn Mitsubhisi Triton double cabin mengeksplore Timor di Oecusse.
Tujuan pertama kami adalah Jembatan Noefefa (mulut sungai) yang sering disebut warga setempat dengan nama Ponte Noefefa, yang melintasi muara sungai Noefefa sebelum aliran air sungainya menyatu dengan Laut Sawu. Jembatan baja lengkung yang kokoh, berwarna hijau dan telah kami kunjungi malam sebelumnya, kami datangi lagi saat pagi, untuk melihat keindahkan hasi bangunan BUMN PT. Adhi Karya pada bulan April 2017 hingga selesai tahun 2017. Jembatan Noefefa adalah jembatan jalan dua jalur di atas Sungai Tono, merupakan jembatan terbesar yang pernah dibangun di Timor Leste, dengan panjang 380 meter, dan menjadi salah satu ikon pariwisata bagi pemerintah Timor Leste khususnya di distrik Oecusse.

Jembatan Noefefa yang artistik buah karya PT Adhi Karya di Oecusse Timor Leste
Sejarah Oecusse bermula pada abad 15, sejumlah negara Eropa melakukan ekspansi ke wilayah di Asia Tenggara dengan tujuan awal mencari rempah-rempah. Portugis pertama kali mendarat pada 1511 di Malaka Malaysia. Pada awal 1512, kapal dagang Portugis rutin ke Pulau Timor untuk membeli kayu cendana sebagai komoditas utama dari pulau Timor. Pendaratan pertama Portugis di Pulau Timor adalah di Lifau, sedangkan Belanda baru berlabuh di Pelabuhan Banten pada 1596, dan seiring berjalannya waktu mereka tergiur untuk berdagang kayu cendana juga.

Monumen Lifau yang menggambarkan pendaratan Portugis pertama kali di Pulau Timor
Kami segera berbalik arah meninggalkan jembatan Noefefa dan tujuan kami selanjutnya adalah Lifau. Kami menikmati keindahan Monumen Lifau, yang menggambarkan peristiwa yang sangat penting dalam sejarah Timor-Leste dan Gereja Katolik di Pulau Timor. Di tempat tersebut, tepatnya di pantai Lifau inilah Portugis mendarat pada tahun 1515 dan memulai penjajahan selama lebih dari 450 tahun, hingga didirikan sebagai ibukota Portugis pada saat itu. Saat itu dari Lifau, para misionaris Katolik pertama mulai menyebarkan ajaran iman Katolik di pulau Timor. Pada Monumen Lifau terlihat perwira Portugis yang berwajah Kaukasus berbadan tidak tinggi, dan berhidung mancung membawa pedang terhunus menemui raja lokal. Di sampingnya berdiri seorang pastor Katolik yang menyertainya untuk menyebarkan Kabar Baik, iman dan harapan baru kepada masyarakat setempat.

Patung Perwira Portugis saat pertama kali mendarat di Pulau Timor, tertutup oleh Bapak Pdt. David Fina, karena badannya seukuran

Misionaris Katolik ikut bersama dalam pendaratan pertama kali Portugis di Pulau Timor pada Monumen Lifau Oecusse Timor Leste
Kami jadi mengingat pada Sabtu, 3 Oktober 2007 saat mengunjungi Monumen Penemuan (Discovery Monument), lambang penemuan dunia baru oleh para pelaut Portugis yang gagah berani, didirikan di tepi sungai Tajo di pusat kota Lisabon untuk mengenang jasa, semangat dan keberanian para pelaut Portugis. Merekalah yang berhasil menemukan jalur pelayaran ke seluruh dunia pada tahun 1448, terutama Vasco da Gama, setelah mereka berhasil menemukan teknologi pembuatan layar menjadi berbentuk kotak, sehingga laju kapal dapat lebih dikendalikan. ‘Discovery Monument’ ini merupakan hadiah dari Pemerintah Afrika Selatan, sebab Vasco da Gamalah yang mendarat di Cape Town, ujung selatan Afrika Selatan pada tahun 1488, sebelum melanjutkan pelayaran sampai di Natal 1492. Kolonisasi Portugis dimulai sejak mereka berhasil mencapai India dan menguasai hampir seluruh dunia, sehingga bahkan akhirnya ditandatanganilah perjanjian dengan Spanyol, untuk membagi 2 wilayah jajahan di seluruh dunia.

Monumen Penemuan (Discovery Monument), lambang penemuan dunia baru oleh para pelaut Portugis yang gagah berani, didirikan di tepi sungai Tajo di pusat kota Lisabon, Portugal yang kami kunjungi saat kami masih muda belia Sabtu, 3 Oktober 2007
Tidak hanya dengan Spanyol di belahan dunia lain Portugis bertikai, tetapi Belanda dan Portugis lalu terlibat perebutan wilayah pada 1859, untuk membagi Pulau Timor berdasarkan Perjanjian Lisbon. Timor Barat menjadi bagian Belanda dengan pusat koloni di Kupang, sementara Timor Timur menjadi bagian Portugis dengan pusat di Dili. Namun, pembagian itu meninggalkan Oekusi-Ambeno dan Noimuti sebagai daerah kantung yang dikelilingi wilayah kekuasaan Belanda. Pada 1916 Belanda membuat perbatasan definitif yang terus digunakan hingga akhir masa kolonial dan wilayah ini diberi status county (conselho), bernama Oecússi oleh pemerintah Portugis, dengan ibu kota Pante Makasar.
Pante Makassar adalah sebuah kota di pantai utara Timor Leste, 152 km atau 94 mil di sebelah barat Dili, ibu kota negara. Wilayah ini memiliki populasi 14.730 (2023) dan merupakan ibu kota eksklave dari Distrik Otonomi Khusus Oecusse. Nama ini secara harfiah berarti “Pantai Makassar”, mengacu pada perdagangan sebelumnya dengan Kesultanan Makassar (Kerajaan Gowa Tallo) di Pulau Sulawesi bagian selatan oleh Raja Tallo, Manginyarrang Daeng Makkio Karaeng Kanjilo, Sultan Mudaffar Tumammaliang ri Timoro pada tahun 1641. Secara lokal Pante Makassar dikenal juga sebagai Oecussi dan merupakan nama salah satu dari dua kerajaan asli yang membentuk eksklave. Yang lainnya adalah Ambeno. Selama penjajahan Portugis, kota ini juga dikenal sebagai Vila Taveiro.

Pembuatan jalan raya tambahan terlihat sambil mengenang keperkasaan Topass, menyusuri bibir pantai Laut Sawu, menjauh dari pusat Kota Pante Makasar di Oecusse Timor Leste
Lifau, yang terletak di pinggiran kota sekarang, adalah tempat di mana Portugis pertama kali mendarat di Pulau Timor dan merupakan ibu kota pertama Timor Portugis. Itu berlanjut sebagai ibu kota sampai tahun 1769, ketika dipindahkan ke Dili karena serangan terus-menerus dari Topass.
Suku Topasses adalah kelompok orang Indo-Portugis yang menyebut diri mereka “Portugis Hitam”. Dipimpin oleh dua keluarga berpengaruh, Da Costa (keturunan pedagang Yahudi Portugis) dan Hornay (keturunan Belanda). Mereka tinggal di daerah Oecussi dan Flores, dengan pusat kegiatan di Larantuka, Flores Timur, yang terkenal karena keterampilan bela diri dan budaya yang kuat.
Orang Topas (Portugis Hitam atau Bidau) terutama adalah keturunan campuran prajurit, pelaut, dan pedagang Portugis dengan wanita India dan Melayu. Seiring perjalanan waktu, istilah ini digunakan untuk menyebut sejumlah penduduk blasteran, dan pada akhirnya hanya digunakan oleh Portugis untuk menyebut Larantuqueiros, penduduk campuran Katolik dari Larantuka, Flores Timur. Di sana, orang Topas dalam 1 generasi mencoba membentuk sebuah kerajaan kecil merdeka, yang hingga abad ke-19. Belanda menggunakan istilah Topas untuk penduduk blasteran yang memeluk agama Kristen dan menjalani gaya hidup ala Eropa. Istilah Topas ini berasal dari kata topi (Gente de Chapeo), yang dalam bahasa Portugis berarti “orang yang memakai topi”.

Sisa pondasi rumah kerajaan keluarga da Costa, pemimpin Topass di Oecusse Timor Leste
Selain di Larantuka, orang Topas juga tinggal bersama orang Portugis di Lifau yang sekarang berada di Oecusse, Timor Leste. Dari sini, orang Topas juga mengambil alih perdagangan cendana. Pada tahun 1642, sejumlah besar orang Topas sudah tinggal di Timor dan masuk ke pedalaman. Pasokan senapan menjamin kendali atas sebagian besar produksi kayu cendana dan dapat menentukan harga. Di sini, klan Costa dan Da Hornay juga berperang untuk kekuasaan. Pemimpin Topas sejak tahun 1911–1948 adalah Hugo Hermenegildo da Costa. Tahun 1948–1999 digantikan oleh João Hermenegildo da Costa dan sejak tahun 1999 digantikan oleh António da Costa.

Monumen Korea di Pante Makasar Oecusse Timor Leste

Sebuah meriam di depan prasasti untuk 5 orang penjaga perdamaian PBB dari Republik Korea yang terbawa arus sungai kuat, hingga kehilangan nyawa mereka di Oé-Cusse.
Setelah puas merenungkan pendaratan Portugis di Lifau dan konflik dengan Belanda dan Topass, kami segera melaju lagi menyusuri bibir pantai yang berjalan mulus, bersih dan sepi untuk menuju Monumen Peringatan Korea. Monumen ini dibangun untuk menandai tragedi 6 Maret 2003, dimana terdapat lima penjaga perdamaian PBB dari Republik Korea terbawa arus sungai yang kuat hingga kehilangan nyawa mereka di Oé-Cusse. Lt Col Byungjo Min, Lt Col Jin Kyu Park, sergent Jong hoon Baek, segeant Jeong Joong Kim dan Sergeant Hee Choi adalah serdadu Korea yang namanya tercantum di monumen itu, sebagai tanda penghormatan kepada mereka yang kehilangan nyawa, saat bekerja untuk Timor-Leste yang lebih baik.

Kantor KBRI Dilli Kantor Penghubung Oecusse Timor Leste

Pohon cendana yang legendaris dan baru pertama kali kami lihat di Kantor KBRI Dilli Kantor Penghubung Oecusse Timor Leste
Setelah menikmati panorama sekitar Monumen Korea yang indah itu, kami segera kembali ke Wisma Indonesia KBRI Dili Kantor Penghubung untuk Oecusse. Di halaman sampingnya kami melihat 2 buah pohon cendana yang legendaris terus tumbuh, sebagai pengingat salah satu komoditas perdangan Timor yang tidak terlupakan.
Setelah mandi bugar kami segera berkemas dan mengikuti pergerakan Bapak Bonifasius Agung Nugroho, SE, Akt, MPA alumnus Lee Kuan Yew School of Public Policy, Singapore. Kandidat Dokter bidang pertahanan nir militer Universitas Pertahanan Bogor Jawa Barat ini, mengajak kami naik Toyota Jeep Land Cruiser 4WD ke reruntuhan Istana Raja Oé-Cusse. Sepanjang sejarah, raja-raja Oé-Cusse memiliki peran mendasar dalam hierarki sosial wilayah tersebut, dengan istana yang dibangun pada awal 1900-an, yang terletak di tepi pantai Oecusse.

Panorama perjalanan yang dilahap Toyota Jeep Land Cruiser 4WD menyusuri bibir pantai Laut Sawu di Oecusse Timor Leste

Sisa pondasi istana Raja keluarga da Costa di Oecusse yang tetap dihormati, meski telah rusak parah saat kerusuhan kemerdekaan Timor Leste
Karena jaraknya jauh dari wilayah Timor Leste lainnya, Oecussi-Ambeno, dan khususnya Pante Makasar, menjadi wilayah pertama yang diduduki pasukan Indonesia pada 29 November 1975. Pada tahun 1999, dalam hiruk-pikuk yang mengiringi referendum kemerdekaan, Pante Makasar sangat terpengaruh oleh proses kehancuran banyak bangunan oleh milisi pro-integrasi, yang didukung oleh tentara Indonesia. 65 warga sipil pendukung kemerdekaan digantung, dan 90 persen bangunan dibakar, termasuk istana raja Oecusse keluarga da Costa yang kami kunjungi pagi itu.

Gerbang tertinggi di Bukit Fatu-Suba Oecusse Timor Leste

Sisa bangunan bekas penjara era Portugis di Bukit Fatu-Suba Oecusse Timor Leste

Selesai pasang lilin dan berdoa di Gua Maria di puncak Bukit Fatu-Suba Oecusse Timor Leste
Tujuan kami selanjutnya adalah Fatu-Suba. Pada zaman penjajahan Portugis di Timor-Leste, Futu-Suba (batu di atas kepala) ini dijadikan sebagai penjara bagi para pelaku kriminal dan pemberontakan. Saat keemasan penjajahan Portugis, penjara Fatu Suba merupakan salah satu bangunan paling simbolis di Oé-Cusse. Kami sempatkan berdoa sejenak di Gua Maria yang dibangun di daratan landai puncak bukit itu, kemudian menyaksikan reruntuhan fasilitas keemasan Portugis ini yang terletak di puncak sebuah bukit di atas pusat Kota Oecusse. Dari atas bukit yang sangat tinggi dan lahap digapai Mitshubishi Tritor oleh Bapak Pendeta David Fina dan Toyota Land Cruiser 4WD milik KBRI Dili yang kami tumpangi, untuk menikmati pemandangan nan indah seluruh kota Pante Makasar dari atas bukit.

Panorama kota Pante Makasar terlihat jauh di bawah dari gardu pandang di Bukit Fatu-Suba Oecusse Timor Leste
Selanjutnya rombongan kami mengunjungi Bandar Udara Internasional Oé-Cusse Rota Da Sândalo. Bangunan megah ini adalah bandar udara yang berada di enklave Timor Leste, Oecusse dengan ketinggan 0 meter dari permukaan laut. Bandara ini dibangun kembali pada 2015 dan diresmikan oleh Presiden Timor Leste Francisco Guterres pada 18 Juni 2019 untuk melayani rute domestik dan internasional.

Bandar Udara Internasional Oé-Cusse Rota Da Sândalo yang diresmikan oleh Presiden Timor Leste Francisco Guterres
Selanjutnya rombongan kami kembali menyusuri jalanan mulus, bersih, sepi dan panoramik di bibir pantai Laut Sawu untuk meninggalkan Oecusse menuju wilayah Indonesia. Kami keluar melalui jalur berbeda dengan saat masuk, yaitu akan keluar melalui pos Wini ke arah timur, berbeda dengan saat masuk lewat pos Napan dari arah tengah. Untuk memperlancar proses keluar kendaraan pada pos yang berbeda, Bapak Bonifasius Agung Nugroho, SE, Akt, MPA menyertai kami sampi pos Wini. Bersyukur juga karena pagi itu beliau juga akan bertugas dalam melindungi warga Indonesia, termasuk yang berada di Desa Inbate, Kecamatan Bikomi Nilulat yang terlibat konflik dengan UPF (Unidade Patrullamentu Fronteira) atau unit polisi patroli perbatasan Timor Leste.

Bersama bapak Bonifasius Agung Nugroho, SE, Akt, MPA dengan latar foto presiden dan PM Timor Leste
Setelah mengucapkan obrigado barak (terimakasih banyak untuk pria), berfoto bersama dan berpamitan, kami berpisah di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Wini, sebuah pos resmi di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), NTT, yang berbatasan langsung dengan wilayah Oecusse di Timor Leste. Fungsi utamanya adalah sebagai titik pengawasan dan pelayanan lintas batas untuk orang dan barang antara Indonesia dan Timor Leste. PLBN ini memiliki posisi strategis di pesisir utara Pulau Timor. Kami lanjut menuju Atambua (70 km) melalui jalan pantai utara, untuk menjemput Bapak Alfred Herman Welem Fina, yang telah menginap di Griya Bunda Homestay di pusat kota Atambua.

Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Wini, sebuah pos resmi di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), NTT,

Sisi Indonesia di pos Lintas Batas Negara (PLBN) Wini, sebuah pos resmi di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), NTT,

Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Wini, sebuah pos resmi di Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), NTT,
Atambua adalah ibu kota Kabupaten Belu di provinsi Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Kota ini meliputi 3 kecamatan, yaitu Kecamatan Kota Atambua, Kecamatan Atambua Barat, serta Kecamatan Atambua Selatan. Atambua adalah kota terbesar kedua di Pulau Timor dalam hal ekonomi, jumlah penduduk, pemerintahan dan sebagainya. Sebagian besar masyarakatnya berbahasa Tetun Belu dan Bunaq serta Kemak. Atambua adalah kota yang multi etnis dari suku Timor, Rote, Sabu, Flores, sebagian kecil suku Tionghoa dan pendatang dari Ambon, Bugis Makassar dan beberapa suku bangsa lainnya. Tetapi terlepas dari keragaman suku bangsa yang ada, penduduk Kota Atambua tetap rukun menjalani kehidupan sosial mereka.

Menu legendaris khas Padang yang rasanya nendang di RM Beringin Atambua

Menu legendaris khas Padang yang komplit tersaji di RM Beringin Atambua
Siang itu kami segera menuju RM Padang Beringin di Jalan Soekarno – Hatta atau Jalan Jenderal Sudirman No 34, Atambua, Belu, NTT. RM ini dikenal dengan masakan Padang otentik seperti rendang, ayam pop, gulai, dan lainnya dengan rasa nendang, bahkan memiliki ulasan yang bagus, seperti rating 4,3 dari 35 ulasan di Mindtrip. Setelah makan siang sampai kenyang di RM Padang Beringin yang legendaris itu, kami ber4 segera mengunjungi Bendungan Rotiklot, yang berfungsi untuk irigasi lahan pertanian seluas 139 hektare, penyediaan air baku, pengendali banjir, dan pariwisata. Bendungan ini dibangun di atas Sungai Rotiklot di Desa Fatuketi, Kecamatan Kakuluk Mesak. Dengan kapasitas tampung sebesar 3,3 juta meter kubik, bendungan ini mengatasi masalah kekeringan di wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste, bahkan mampu memenuhi kebutuhan Pelabuhan Atapupu sebesar 40 liter/detik. Dengan kapasitas tampung mencapai 3,3 juta meter kubik, bendungan ini memiliki tinggi 42,50 meter dan panjang puncak: 415,82 meter. Setelah berfoto bersama, kami segera menuju Atapupu.

Bendungan Rotiklot di luar kota Atambua, Belu, NTT

Penjaga pintu yang baik hati di bendungan Rotiklot di luar kota Atambua, Belu, NTT
Kembali Mitsubhisi Triton melaju kencang dalam genggaman tangan handal Bapak Pdt. David Alfons Nikolas Fina, STh, MA. Kami terguncang di dalam Mitsubhisi Triton doube cabin menyusuri jalan nasonal sejauh 42 km, berliku, menurun dan menanjak tajam, juga beberapa ruas datar. Sayang sekali, mobil bagus yang kami tumpangi tersebut sempat ditabrak anak kambing yang tetiba menyeberang jalan dan cidera parah berakibat fatal di sebuah segmen lurus yang datar. Setelah berbalik arah untuk menemui warga dan penggembala kambing yang tewas itu, kami sampaikan uang duka dan kembali melaju menuju Mota Ain.

Kejadian yang tidak diinginkan di jalan nasional dari Atambua ke Atapupu, Belu NTT
Pos Mota’ain (sering juga ditulis Mota Ain) adalah sebuah pos lintas batas negara (PLBN) antara Indonesia dan Timor Leste. Pos ini merupakan fasilitas utama untuk perlintasan orang dan barang di wilayah perbatasan antara dua negara, yang terletak di Desa Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur, Kabupaten Belu, NTT. Dari Atapupu kami melaju sejauh 5 kilometer menyusuri tepi pentai yang berliku untuk mencapai Mota’ain.

Gerbang Pos Mota’ain sebuah pos lintas batas negara (PLBN) antara Indonesia dan Timor Leste.

Para pelancong yang akan menyeberang ke Timor Leste di gerbang Pos Mota’ain sebuah pos lintas batas negara (PLBN) antara Indonesia dan Timor Leste.

Gerbang Pos Mota’ain sebuah pos lintas batas negara (PLBN) antara Indonesia dan Timor Leste.
Mota’ain berfungsi sebagai pos pemeriksaan utama yang melayani bea cukai, imigrasi, dan karantina bagi warga negara yang melintasi perbatasan Indonesia dan Timor Leste. Pos yang jauh lebih ramai dibandingkan Napan dan Wini yang telah kami lewati ini, dirancang oleh Pemerintah Indonesia dalam melakukan peningkatan fasilitas dan layanan di PLBN Mota’ain untuk memperlancar mobilitas dan mendukung pertumbuhan ekonomi di perbatasan. Oleh sebab itu, kami berjumpa dengan jauh lebih banyak pengunjung, baik yang ingin menyeberang ke Timor Leste ataupun yang sekedar ingin berfoto seperti kami.

Bapak Frans Leo (78 tahun) senior yang ramah, hangat dan menyenangkan saat menyambut kami yang lusuh di Atambua

Sesama warga Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta yang bertemu di Atambua, Belu NTT

Genggam erat tanganmu kawan, untuk sesama warga Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta yang bertemu di Atambua, Belu NTT
Setelah puas berfoto, kami segera kembali ke Atambua melewati jalur lain, bukan Atapupu lagi tetapi melewatai Umarese dan Bandar Udara AA. Bere Tallo. Setelah sampai di Stambua, kami segera menginap di Griya Bunda Homestay dan bereuni dengan Bapak Frans Leo SeV 71 dan Bapak Dens Klau SeV 85. Keduanya adalah warga Atambua yang kuliah di Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) dan warga Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta yang bersemangat Sapientia et Virtus (SeV). Kata “sapientia” dapat ditafsirkan dengan “kebijakan” dan dengan “kebijaksanaan”, yang tidak persis sama; sedang kata “virtus” dapat ditafsirkan dengan “kebajikan”, tetapi juga dengan “kekuatan”. SeV itulah semboyan segenap warga Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta sampai akhir hayatnya.
https://forsino.wordpress.com/2008/07/06/sapientia-et-virtus/

Kenangan foto bersama orang2 yang baik dan mendukung penuh kami, saat bertemu di Atambua, Belu NTT
Malam itu kami bertiga menyanyikan Mars Realino dengan penuh semangat, berbagi cerita menarik saat berkehidupan di asrama dan berbagi harapan untuk kehidupan yang lebih baik. Bapak Frans Leo sudah sangat senior, tetapi tetap sehat digelapnya glaukoma yang menyerang dan memberikan dukungan besar bagi langkah kami selanjunya. Bapak Gaudiens Klau memang sudah pensiun sebagai Kepala Protokoler Sekretariat Daerah Kabupaten Malaka, tetapi tetap memiliki lobi yang luas untuk membantu pengembangan kehidupan banyak manusia. Luar biasa indah anugerah Tuhan Maha Baik melalui keduanya, yang saya bawa mimpi saat terlelap di sebuah kamar di Griya Bunda Homestay Atambua, Belu NTT.
Rabu pagi, 22 Oktober 2025
Ditulis di Griya Bunda Homesta Atambua
(bersambung)
Mengeksplor Timor (hari ketiga)
Rabu, 22 oktober 2025 pagi buta kami telah terjaga dari mimpi indah di kamar A Griya Bunda Homestay Atambua, Belu NTT.

Simpang Lima Atambua, NTT di pagi yang indah

Sisi kota Atambua NTT yang indah di pagi hari
Atambua adalah kota yang merupakan salah satu pusat penampungan pengungsi dari Timor Timur pada tahun 1999. Mayoritas penduduk Kota Atambua beragama Katolik, di mana Atambua juga merupakan sebuah Keuskupan. Bahkan Keuskupan Atambua adalah salah satu keuskupan di Indonesia yang persentasi penganut Katoliknya mencapai 95% dari total jumlah penduduknya. Wilayah Keuskupan Atambua mencakup seluruh wilayah Kabupaten Belu, Kabupaten Malaka, dan Kabupaten Timor Tengah Utara. Total luas keuskupan ini mencapai 5.200 km2 dan berpenduduk sekitar 650.000 ribu jiwa pada tahun 2008. Sementara itu Belu, dalam bahasa Tetun berarti sahabat atau teman.

Titik Nol Atambua NTT di situlah kami mulai menikmati keindahkannya
Pagi itu kami berjalan kaki sejauh 1,2 km melewati jalur tengah Jl. Trans Timor menuju Gereja Katedral Atambua, untuk mengikuti misa kudus harian pagi pk. 5.30. Gereja Katedral Santa Maria Imakulata Atambua adalah sebuah gereja katedral Katolik yang didekisasikan untuk gelar Maria, yaitu Immaculata berarti Dikandung Tanpa Noda. Katedral ini menjadi pusat kedudukan dan takhta bagi Uskup Atambua, yang saat ini diemban oleh Mgr. Dominikus Saku.

Setelah misa kudus harian pagi di Gereja Katedral Santa Maria Imakulata Atambua NTT

Bersama bu Titi UAJY setelah misa kudus harian pagi di Gereja Katedral Santa Maria Imakulata Atambua NTT
Nama “Atambua” berasal dari kata Ata yang artinya hamba dan Buan yang artinya budak. Kemudian dalam perkembangannya kata Atabuan mengalami penyisipan fonem “M”. Hal ini dapat saja terjadi dengan tidak sengaja karena fonem “B” dan “M” masih memiliki titik artikulasi yang sama sehingga mampu mempertahankan kelancaran ucapan.
Pada tahun 1866-1911, Atapupu pernah jadi pusat pemerintahan Hindia Belanda untuk kawasan Kota Atambua dan Kabupaten Belu, dimana sebelumnya Belanda menjalankan pemerintahan dari Kupang (ibu kota provinsi NTT sekarang). Selanjutnya pada tahun 1911-1916 Beredao, yang terletak di tapal batas dengan Timor Portugis (Timor Leste), telah menjadi Benteng Pertahanan Belanda. Dan pada pada tahun 1916-1942, berubahlah pusat pemerintahan Belanda dari Atapupu ke Kota Atambua setelah berhasil mengalahkan Raja Moruk Pasunan.
Atambua memiliki sejarah yang panjang, dari masa penjajahan Belanda, dimana Belanda datang ke kota Atambua pada tahun 1916 (dimana tanggal itu ditetapkan pula sebagai tanggal Ulang Tahun Kota Atambua), masa penjajahan Jepang sekitaran tahun 1942 setelah berhasil mengusir Belanda dari daratan Timor, hingga masa Konflik Timor Leste yang berujung merdekanya Timor Leste pada tahun 1999 / 2002.
Awalnya, perbudakan di Belu hanya terjadi antar golongan yang berkuasa atas individu yang dikuasai. Penguasaan atas individu bisa terjadi secara sederhana. Catatan VOC tahun 1765 menjelaskan bahwa terdapat aktivitas perdagangan budak belian secara terbuka di Timor. Tung Hsi Kau, seorang pedagang Cina tahun 1618 bahkan sudah mulai perdagangan di Timor dengan komoditas yaitu: Cendana, Lilin, Madu dan Budak. Perdagangan budak oleh Belanda meningkat lagi pada tahun 1621 yang dipicu dengan berdirinya perusahaan perdagangan Belanda di India Barat yaitu West Indische Compagnie (WIC). Pada tahun 1667 setelah Belanda menguasai Makasar, maka aktivitas perdagangan budak ditingkatkan lagi karena kebutuhan tenaga kerja.
Pada tahun 1945 Atambua sudah merdeka dan bebas dari penjajahan bangsa lain, yaitu Portugis, Belanda dan Jepang. Pada tahun tersebut juga, presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno menanam beberapa pohon di Kota Atambua, tepatnya di Lapangan Umum Kota Atambua (nama tempat tersebut sekarang), dengan harapan supaya dijaga dan dilestarikan hingga sekarang. Namun, seiring perkembangan waktu, beberapa pohon tersebut layu, dan mati. Pada waktu itu, hanya pohon beringin yang ditanam Ir. Soekarno yang masih tetap hidup. Sampai sekarang pohon tersebut tetap dijaga dan dilestarikan, dengan membuat tempat-tempat duduk di bawah pohon tersebut. Sekarang, masyarakat kota Atambua pergi ke Lapangan Umum untuk bersantai, membeli sesuatu, dan duduk di bawah pohon tersebut.
Setelah misa kudus selesai, kami sempatkan melewati Pohon Beringin Sukarno di Lapangan Umum Kota Atambua. Kami jadi ingat akan laporan dari Komisi Akhir Penerimaan, Kebenaran dan Rekonsiliasi Timor-Leste (CAVR), tentang adanya beberapa bentuk pelanggaran hak asasi manusia (HAM) pada era kemerdekaaan Timor Leste oleh militer Indonesia. Bentuk pelanggaran hak asasi manusia tersebut adalah pemindahan paksa, kelaparan, pembunuhan tidak sah, penahanan sewenang-wenang, kekerasan seksual, pelanggaran hak anak, pelanggaran hukum perang, serangan terhadap orang dan barang sipil, perlakuan buruk terhadap orang tempur musuh, perusakan dan pencurian bangunan dan barang lain, penggunaan senjata ilegal, serta perekrutan paksa. CAVR memperkirakan bahwa jumlah terbesar pembunuhan tidak sah dan penghilangan terjadi pada tahun 1999 ketika diyakini sedikitnya 1.400 dan kemungkinan sebanyak 2.600 orang dibunuh secara tidak sah atau hilang. Jumlah korban dihitung sejak tahun 1975, yaitu mulainya perang saudara dan invasi Indonesia.
Kesuksesan rakyat Indonesia dalam melengserkan tirani Orde Baru pada tahun 1998, telah mengobarkan semangat perlawanan rakyat Timor Timur kepada pemerintah Indonesia. Saat Era Reformasi mulai berjalan di bawah pemerintahan Presiden B. J. Habibie, Timor Timur kembali bergejolak. Peristiwa jajak pendapat di Timor Timur tahun 1999 telah menelan korban baik dari pihak pro-otonomi maupun pihak pro-kemerdekaan. Beberapa dari mereka meninggal, luka-luka atau harus mengungsi. Sepanjang jajak pendapat tahun 1999, telah tercatat setidaknya lebih dari 5.297 orang, yang terdiri dari 149 orang tewas, 4 orang luka-luka, 5.150 orang mengungsi dan 23 kejahatan terhadap wanita. Atambua menjadi kota terpenting dalam pengungsian tersebut.

Gerbang Gereja Katedral Santa Maria Imakulata Atambua NTT
Setelah mengenang para pengungsi Timor Timur di Atambua yang jalan utamanya kami lewati dalam perjalanan pulang dari Gereja Katedral Santa Maria Imakulta menuju penginapan, segera kami bergegas bersiap menjalankan tugas utama kami, yaitu mempromosikan Fakultas Kedokteran Universitas Atma Jaya Yogyakarta (FK UAJY).

Bersama bu Titi UAJY dan Kordinator Kampus Ursulin Santa Angela Atambua, Sr. Caritas Sri Lestari, OSU yang berjubah biru.

Promosi FK UAJY pada Edufair SMA Santa Angela, Manumutin, Atambua, Belu NTT.
Kami segera bergeas menuju sesi Edufair di SMA Santa Angela yang berada di dalam kompleks Kampus Ursulin Santa Angela, Manumutin, Atambua, Belu NTT. Kami disambut oleh Kordinator Kampus Ursulin Santa Angela Atambua, Sr. Caritas Sri Lestari, OSU. Menurut Suster Lestari, Edufair diselenggarakan untuk mempertegas minat dan arah karir anak didik di SMA Santa Angela yang akan melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Selain itu, lewat Edufair ini masyarakat atau orang muda di Kabupaten Belu yang ingin mengakses langsung perguruan tinggi terkenal di seluruh Indonesia, juga dapat hadir pada Pameran Perguruan Tinggi dan Seminar yang berlangsung pada Selasa dan Rabu, 21-22 Oktober 2025 di SMA Santa Angela Atambua. Dipandu oleh Wakil Kepala Bidang Promosi Kantor Kerja Sama dan Promosi (KKP) UAJY, Dra. Maria Titi Purwaningsih, kami segera melakukan presentasi dalam Seminar bertajuk ‘Menjadi Dokter Indonesia’, yang diikuti oleh sekitar 30-an siswa dari beberapa SMA yang hadir saat itu, bukan sekedar dari SMA Santa Angela.

Kordinator Kampus Ursulin Santa Angela Atambua, Sr. Caritas Sri Lestari, OSU.
Setelah sesi tanya jawab yang disertai pembagian hadiah selesai, kami segera lanjut melakukan hal serupa di SMA Suria. Catatan yang ada adalah Agustus 1958 sekolah ini dimulai. Pendirinya adalah seorang imam Katolik misionaris asal Belanda, (alm.) Pater Piet Verharren, SVD. Jumlah siswa angkatan perdana yang tamat pada 1961 sebanyak 14 orang. SMA Suria di Jl. Ki Hajar Dewantara, Tulamalae, Belu milik Keuskupan Atambua ini dipimpin oleh Kepala Sekolah : Rm. Drs. Benyamin Seran, Pr. MA.

Drs. Gaudensius Klau teman lama di Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta dan Rm. Drs. Benyamin Seran, Pr. MA yang berkemeja putih, Kepala Sekolah SMA Suria Atambua
Kami difasilitasi oleh Bapak Drs. Gaudensius Klau, pensiuanan PNS di Pemda Kabupaten Malaka, alumnus Ekonomi Akuntansi FE UAJY 1985 dan teman beda kamar di Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta. Apalagi Bapak Dens Klau adalah yunior Rm. Drs. Benyamin Seran, Pr. MA saat belajar di SMA Seminari Lalian, Belu, maka kami dimudahkan. Dengan tema yang sama, ‘Menjadi Dokter Indonesia’, promosi FK UAJY telah kami sampaikan di kedua SMA penting di Atambu, Belu dan kami lanjut kembali ke Kupang.

Bergaya mempromosikan FK UAJY pada seminar bertajuk ‘Menjadi Dokter Indonesia’
Rute ke Kupang kami pilih yang berbeda dengan rute saat kami datang yaitu jalur tengah Trans Timor yang padat lalu lintas, tetapi kami pilih jalur selatan. Kami melewati Lalian, Halilulik dan menujuke Betun, ibukota Kabupaten Malaka, sebuah kabupaten pemekaran dari Belu.
Seminari Menengah Lalian yang telah berusia 75 tahun, merupakan SMA swasta milik Keuskupan Atambua di Jl. Nela Raya, Lalian, Naelaksa Timor, kami lalui setelah keluar dari Atambua. Drs. Gaudensius Klau dan Rm. Drs. Benyamin Seran, Pr. MA yang telah melepas kami di halaman SMA Suria adalah alumnus seminari tersebut yang saat ini dipimpin oleh Rektor : Rm. Leonardus Asuk, Pr. Kami lanjut menuju Halilulik, yaitu kota kecil yang berada di desa Naitimu, kecamatan Tasifeto Barat, sekitar 20km dari ibu kota Kabupaten Belu, Atambua. Kota ini merupakan kota terbesar kedua di Kabupaten Belu, sekaligus kota terbesar di kecamatan Tasifeto Barat. Terdapat sebuah jalan, yaitu Jalan Nasional Trans Timor yang halus, sepi dan lurus menguhungkan kota kecil ini dengan Atambua. Walaupun Halilulik adalahkota terbesar di kecamatan Tasifeto Barat, tetapi Halilulik bukan ibu kota kecamatan tersebut.
Halilulik adalah gabungan dari kata Hali yang berarti pohon beringin dan lulik yang berarti keramat. Pohon beringin yang berbau mitis magis, memiliki makna dan konsep religius tertentu dalam kehidupan suku Tetun di Naitimu. Kata Halilulik kemudian diberikan sebagai nama dari sebuah tempat di lokasi di mana sekarang berdiri gereja Katolik Paroki Roh Kudus Halilulik. Namun dari segi status tempat, kampung yang bernama Halilulik ini adalah sebuah kampung kecil dari sebuah wilayah besar yang berbentuk kerajaan yang bernama kerajaan Naitimu, sebuah kerajaan yang besar di Belu. Gereja paroki Roh Kudus Halilulik secara resmi berdiri pada tahun 1918 dan kami lewati saat kami menuju Betun, sejauh 67 km dari Atambua.

Ditunggui si merah Mitshubisi Triton saat makan siang menu sei di Betun, yang merupakan ibu kota Kabupaten Malaka, dengan nasi bermotif jantung hati
Kami mampir makan siang menu sei di Betun, yang merupakan ibu kota Kabupaten Malaka. Selain Kota Atambua, kota ini juga merupakan salah satu tempat penampungan para pengungsi dari Timor Leste, yang mengungsi karena konflik antar-negara Indonesia dan Timor Leste pada tahun 1999-2006. Kota Betun ini diresmikan sebagai ibu kota Kabupaten Malaka sejak Kab. Malaka diresmikan diresmikan 22 April 2013. Kamimelanjutkan perjalanan di jalanan yang lebih menantang, berliku, menanjak, menurun, berbelok curam, bahkan kadang menyempit, aspal terkelupas dan ada juga timbunan material longsoran dari bukit sebelah.

Berhenti sejenak di depan Markas Polres Malaka di Betun, ibukota Kabupaten Malaka
Setelah kenyang makan siang di Betun, kami melanjutkan perjalanan di jalur Trans Timor sisi selatan yang memberikan tantangan sepadan untuk kegarangan Mitsubhisi Triton bermesin diesel 4N15 berkapasitas 2.4 liter, dengan tenaga hingga 136 ps pada 3.500 rpm dan torsi 324 Nm berpenggerak 4 roda. Bersama Bang Drs. Alfred Herman Welem Fina, MKes, pensiunan Widyaiswara Madya UPTD Latnakes Jl. Adisucipto Penfui Kupang, yang kami kenal baik sejak pada tahun 1992 saat sebagai Kepala Bagain Umum Kanwil Kesehatan NTT, menerima para dokter PNS baru yang ditempatkan di seluruh NTT. Ditemani adik kandungnya, yaitu Direktur Yayasan Pelayanan dan Pengembangan Masyarakat Alfa Omega (YAO) 2020-2023 milik Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), Bapak Pdt. David Alfons Nikolas Fina, STh, MA kami terguncang di dalam Mitsubhisi Triton doube cabin menyusuri jalan nasonal Trans Timor jalur selatan menuju Pantai Kolbano di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), sejauh 104 km

Menunjuk daratan Benua Australia yang ‘nampak’ dari sisi bukit di jalur selatan Jl. Trans Timor

Istirahat sejenak menikmati pemandangan alam, karena Bpk. Pdt. David Fina (kemeja kotak2) tidak tergantikan mengendalikan keperkasaan Mitshubisi Triton merah di jalanan
Kolbano sepertinya telah menjadi primadona dan daya tarik utama bagi para pengunjung yang hendak mengeksplorasi Pulau Timor. Pantai Kolbano yang dulu sepi, nampaknya sudah tak asing lagi terdengar di kalangan para pelancong, karena pasalnya keberadaan pantai ini sudah diliput oleh banyak acara di stasiun televisi dan juga para pengguna sosial media. Terletak di Desa Kolbano, Kecamatan Kolbano, sekitar 135 km dari Kupang, dibutuhkan waktu sekitar 3-4 jam untuk sampai ke lokasi. Pantai cantik nan unik ini, bukan berupa hamparan pasir putih seperti di Pantai Tablolong yang lebih awal terkenal, melainkan hamparan bebatuan kerikil yang terlihat cantik berwarna-warni.

Menuju pantai Kolbano di Kabupaten TTS

Bersama anak-anak lokal yang ceria di Pantai Kolbano TTS, NTT

Batu besar “Fatu Un” yang sekilas terlihat seperti kepala singa di Panti Kolbano TTS, NTT

Menabur harapan ke atas dan menyebarkan semangat ke segala arah di Pantai Kolbano yang berbatu2 indah

Batu besar “Fatu Un” yang sekilas terlihat seperti kepala singa yang menatap kami berdua
Tak hanya itu saja, keindahan Pantai Kolbano juga dilengkapi dengan adanya landmark yang berupa sebuah batu raksasa yang menjadi ciri khas di Pantai Kolbano ini, penduduk setempat biasa menyebutnya batu besar “Fatu Un”. Sekilas batu Fatu Un ini terlihat seperti kepala singa jika dilihat dari sisi samping. Di sepanjang garis Pantai Kolbano, ombak yang tenang dan air laut yang jernih memancarkan gradasi warna biru yang memikat. Keindahan alamnya semakin sempurna dengan latar belakang perbukitan hijau yang menambah kesan alami dan asri.

Pantai Kolbano dengan batu besar “Fatu Un” yang sekilas terlihat seperti kepala singa
Pantai ini tidak hanya menawarkan keindahan visual, tetapi juga memberikan suasana yang tenang dan damai, jauh dari keramaian. Sehingga sangat cocok bagi Bapak Pdt. David Fina melakukan relaksasi dengan berbaring di hamparan bebatuan untuk melepas lelah, setelah mengendarai Mitshubishi Triton tanpa dapat diganti oleh seorangpun dari kami yang kurang profesional mengendalikan kegarangan kendaraan 4WD.

Padang pasir di Pantai Oetune TTS, NTT

Lambang UAJY berbentuk huruf A dengan anak2 lokal di padang pasir di Pantai Oetune TTS, NTT

Padang pasir di Pantai Oetune TTS, NTT
Setelah berfoto berbagai gaya yang dijepret oleh anak-anak lokal yang terampil, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Oetune yang tidak kalah indahnya. Pantai Oetune adalah destinasi wisata unik yang terletak di Desa Tuafanu, Kecamatan Kualin, Kabupaten Timor Tengah Selatan. Pantai ini terkenal karena hamparan pasirnya yang luas dan membentuk bukit-bukit kecil menyerupai gurun pasir, memberikan pemandangan eksotis yang jarang ditemukan di pantai lain di Indonesia. Salah satu daya tarik utama Pantai Oetune adalah keberadaan gurun pasir yang membentang luas dengan bukit-bukit pasir bergelombang, mirip dengan pemandangan di Gurun Sahara Afrika dan Pantai Parangtritis di Bantul, DIY yang pernah kami kunjungi. Pasir di sini berwarna putih kekuningan dan sangat halus, memberikan sensasi berbeda saat disentuh dan diinjak. Setiap angin yang berembus membentuk pola-pola indah di permukaan pasir, sehingga setiap kunjungan menawarkan pemandangan yang selalu berubah.

Si merah Mitsubhisi triton double cabin yang garang dan setia menyertai kami petualangan kami
Lanjut kami menikmati hamparan sawah yang sangat luas di Daerah Irigasi Bena, yang memiliki luas baku sawah total sebesar 3.515 hektare. Selain itu, ada juga memiliki sistem irigasi dengan panjang aliran 23 kilometer, yang menunjukkan pentingnya sektor pertanian di daerah tersebut. Selanjutnya kami bergabung dengan jalur tengah Trans Timor yang ramai di dekat Jembatan Noelmina. Jembatan ini dibangun pada tahun 1910 oleh Pemerintah Hindia Belanda. Para pekerjanya adalah penduduk asli Timor yang dipaksa bekerja alias dijadikan tenaga kerja rodi. Penduduk tersebut diarahkan untuk mengumpulkan batu dan kayu dari hutan. Batu tersebut digunakan untuk membangun pondasi beton dan kayu untuk membuat struktur dan rangka jembatan.
Diperkirakan jembatan Noelmina dikerjakan selama 10 tahun dan tahun 1920 Jembatan Noelmina sudah dipergunakan. Di saat pendudukan Jepang, Jembatan Noelmina dijadikan penghubung utama mobilitas antara markas Jepang di Kota Kupang hingga barak tentara Jepang di Atambua, Kabupaten Belu. Pada tanggal 19 Februari 1944, Jembatan Noelmina dibom putus oleh pesawat tempur pasukan sekutu. Kondisi putusnya Jembatan Noelmina ini membuat pertahanan Jepang di Pulau Timor melemah dan terus mendapatkan serangan dari armada sekutu hingga berakhirnya masa pendudukan Jepang di Timor.
Pada akhir tahun 1945, Jembatan Noelmina di rekonstruksi kembali memperbaiki bekas pemboman tentara sekutu. Dan di awal kemerdekaan Indonesia, rekonstruksi Jembatan Noelmina diperkuat dengan manambah konstruksi lengkung untuk menahan beban jembatan. Saat itu Jembatan Noelmina hanya dapat memuat lalu lintas satu kendaraan saja.
Pada tahun 1987, tepat bersebelahan dengan Jembatan Noelmina lama di bangun Jembatan Noelmina yang baru dengan menggunakan konstruksi baja. Proses pembangunannya berlangsung hinga tahun 1989 atau selama 2 tahun. Dan tepat pada tanggal 14 Maret 1990, Jembatan Noelmina diresmikan oleh Wakil Presiden Republik Indonesia, Sudarmono. Jembatan Noelmina memiliki panjang 240 meter dengan lebar 7 meter. Jembatan Noelmina juga merupakan jembatan rangka baja terpanjang di Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Setelah makan malam di RM Suka Ramai, kami yang telah menempuh 308 km dari Atambua ke Kupang melahap jalur selatan Trans Timor, segera terlelap di rumah Bapak Pendeta David Vina di Jl. Perwira II areal Walikota, Kupang
Kamis pagi, 23 Oktober 2025
Ditulis di lantai 2 rumah Pdt. David Alfons Nikolas Fina, STh, MA yang indah di kawasan Walikota Kupang
(bersambung)
Terang Kupang (mengeksplor Timor hari ketiga)
(lanjutan)
Kamis pagi, 23 Oktober 2025 kami terjaga di kamar lantai 2 rumah Direktur Yayasan Pelayanan dan Pengembangan Masyarakat Alfa Omega (YAO) 2020-2023 milik Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT), Bapak Pdt. David Alfons Nikolas Fina, STh, MA yang indah di kawasan Walikota Kupang. Kami segera bergegas bersiap dan pamit dengan segala ucapan terimakasih kepada tuan rumah, atas semua kebaikan yang diberikan dalam mengeksplor Timor sampai di Timor Leste.

Pamit pulang kepada Bapak Pdt. David Alfons Nikolas Fina, STh, MA di rumahnya yang indah di kawasan Walikota Kupang, untuk melanjutkan petualangan.
Pagi itu kami dijemput oleh Om Drs. Alfred Herman Welem Fina, MKes, pensiunan Widyaiswara Madya UPTD Latnakes Penfui Kupang, yang kami kenal baik sejak pada tahun 1992 saat sebagai Kepala Bagain Umum Kanwil Kesehatan NTT, menerima para dokter PNS baru yang ditempatkan di seluruh NTT. Kami diantar menuju Gereja Katolik Katedral Kristus Raja Kupang, yang didekisasikan untuk gelar Yesus, yaitu Kristus Raja. Katedral ini menjadi pusat kedudukan dan takhta bagi Uskup Agung Kupang, saat ini Mgr. Hironimus Pakaenoni.

Bergaya di depan Geraja Katedral Kupang yang pernah rusak karena Badai Seroja yang melanda Kota Kupang pada 2021 lalu.
Presiden Joko Widodo meresmikan Gereja Katedral Keuskupan Agung Kupang pada Rabu, 6 Desember 2023. Dalam sambutannya, Presiden Jokowi berpesan bahwa selain untuk tempat ibadah, gereja yang memiliki kapasitas 1.500 jemaat tersebut dapat dimanfaatkan untuk kegiatan sosial kemasyarakatan dan mempererat persaudaraan. Renovasi gereja katedral ini dilakukan secara menyeluruh dengan membangun gereja baru yang lebih luas dari bangunan sebelumnya, dan dilengkapi dengan pembangunan sekretariat paroki, menara lonceng, ruang panel, dan genset, yang nampak megah, indah, dan tertata rapi. Gereja bersejarah ini perlu direnovasi karena terdampak oleh bencana Badai Seroja yang melanda Kota Kupang pada 2021 lalu, apalagi telah menjadi bagian dari keberadaan gereja katolik di Kota Kupang sejak tahun 1936.

Gereja Katolik Kristus Raja Katedral Keuskupan Agung Kupang
Sayang sekali tidak ada misa kudus harian pagi yang rutin diselenggarakan di Katedral Kupang tersebut, sehingga kami segera lanjut mengunjungi SMA Giovani Kupang. SMA Katolik Giovanni didirikan oleh Pater Adrianus Conterius,SVD pada tahun 1992. Nama Giovanni diambil dari nama Paus Paulus VI yaitu Kardinal Giovanni Montini, seorang Paus yang diangkat pada tahun 1962. Penyelenggara sekolah adalah Yayasan Persekolahan Keuskupan Atambua dengan Kepala Sekolahnya Pater Adrianus Conterius, SVD dari tahun 1962-1967 sebagai Kepala Sekolah yang pertama. Kami diterima oleh kepala sekolah Rm. Stefanus Mau, Pr dan Guru BP Ibu Kiki Klau untuk promosi FK UAJY dengan tema ‘Menjadi dokter Indonesia’, di SMA yang bersemboyan ‘Maju terus dan terus maju bersama Giovanni. Hidup Giovanni, majulah pantang mundur.’

Bersiap mengadakan promosi FK UAJY di SMA Katolik Giovanni Kupang NTT

Disambut Rm. Stefanus Mau Kepala sekolahSMA Katolik Giovanni Kupang NTT
Lanjut kami menuju Bandara El Tari Kupang, untuk mengakhiri petualangan kami dalam mengksplore Timor, dan lanjut dengan Menggores Flores. Dalam perut pesawat Wings Air ATR72-500/600 yang berbaling-baling besar di luar kabin pesawat, sehingga kami menjadi berkeringat kepanasan di dalamnya, kami menuju ke Larantuka.

Siap masuk perut pesawat Wings Air ATR72-500/600 yang berbaling-baling besar di luar kabin pesawat

Suasana panas dan berkeringat di kabin pesawat Wings Air ATR72-500/600, karena berbaling-baling besar terpasang di luar kabin pesawat

Mendarat dengan Wings Air ATR72-500/600 di Bandar Udara Gewayantana Larantuka.
Pengaruh Portugis sangat terasa pada kehidupan umat Katholik di Larantuka, diujung timur Pulau Flores. Hal inilah yang menyebabkan Larantuka juga disebut sebagai Kota Reinha (kota yang diberkati Maria). Larantuka adalah ibukota Kabupaten Flores Timur, NTT. Larantuka dikenal sebagai tujuan wisata rohani bagi umat Katolik, bahkan kota yang terletak di kaki Gunung Ile Mandiri ini, memiliki tradisi Katolik peninggalan Portugis.
Beberapa ahli sejarah mengatakan bahwa pada abad ke-13 dipastikan sudah ada sistem pemerintahan yang teratur di bawah pimpinan seorang raja. “Tutu maring usu-asa” dalam ceritera rakyat menyebutkan bahwa kerajaan Larantuka semula didirikan oleh seorang tokoh perempuan bernama Watowele bersama suaminya Pati Golo Arakian yang berasal dari keturunan bangsawan kerajaan Manuaman Lakaan di Pulau Timor dan peranakan bangsawan Jawa. Kerajaan itu semula lebih dikenal dengani kerajaan Ata Jawa sebelum akhirnya bernama Larantuka.

Disambut rindu karena lama tidak bersua, oleh Bang Didu Fernandez, seorang Topas, di Bandar Udara Gewayantana Larantuka.

Diantar Bang Didu Fernandez mengunjungi SMAS Katolik Frateran Podor Larantuka, Flores Timur NTT
Pada tahun 1515, Portugis membangun kekuatannya di dua wilayah yang berada di Flores sebagai tempat singgah sebelum ke Pulau Timor, yakni di Ende dan Larantuka. Larantuka sendiri dipilih karena letaknya yang strategis, tidak menghadap laut lepas, dan terlindungi oleh dua pulau di depannya, yakni Pulau Solor dan Pulau Adonara, serta teluknya yang tenang dan indah. Selanjutnya, Portugis lebih memusatkan kekuatannya di Pulau Solor, tepatnya di Lohayong dan Larantuka ditinggalkan.
Pada tahun 1561, Solor didatangi oleh kaum misionaris Dominikan yang memulai misi Katolik di sana. Ketika Belanda menyerang Solor pada tahun 1613 dan benteng pertahanan yang dibangun Portugis di Lohayong berhasil direbut, Portugis mengalami kekalahan dan melarikan diri bersama beberapa pribumi yang sudah memeluk Katolik ke Larantuka sebagai wilayah yang aman. Dalam pelarian tersebut ada hal yang menarik di dalamnya, yaitu ketika komandan garnisun Belanda di Solor membelot dan menggabungkan diri dengan Portugis di Larantuka serta memeluk Katolik. Ketika berada di Larantuka itulah, imam-imam Portugis datang kepada Raja Larantuka dan mempermandikan raja beserta keluarganya menurut iman Katolik. Mulai saat itu juga, muncul semboyan di Larantuka, yaitu “raja adalah penguasa wilayah, penguasa pemerintahan, adat, dan agama”.
Kerajaan Larantuka merupakan sebuah kerajaan yang berada di Nusa Nipa yang berarti Pulau Naga dalam bahasa lokal, sedangkan dalam bahasa Portugis disebut Cabo de Flores yang sekarang disebut sebagai Pulau Flores. Wilayah kekuasaannya hingga mencapai Pulau Adonara, dengan raja pertama yaitu bernama Lorenzo I dan menjadi kerajaan Kristen-Katolik pertama di Nusantara, karena pengaruh Portugis. Dinasti Raja dari keluarga Diaz Vieira de Godinho (DVG) di Kerajaan Larantuka, di mana Don Lorenzo II adalah raja terakhir yang memerintah, dan Don Andreas Martinus DVG adalah keturunan yang saat ini masih aktif memegang peran penting dalam tradisi keagamaan di Larantuka.
Pelabuhan Larantuka selanjutnya berkembang dengan cukup pesat. Kapal-kapal dari Jawa dan Tiongkok rutin menyinggahi dan mendatangi Larantuka. Pada tahun 1641, terjadi pengungsian besar-besaran orang Portugis dari Malaka ke Larantuka bersama orang Melayu-Malaka yang telah memeluk agama Katolik, karena Malaka berhasil direbut oleh Inggris. Pengungsian besar-besaran inilah yang diduga juga membawa patung-patung dan benda-benda kerohanian Katolik ke Larantuka.
Pada tahun 1645, Raja Larantuka bernama Olla Adobala dipermandikan oleh seorang imam Katolik Portugis. Olla Adobala kemudian menyandang nama DVG (Don Fransisco Olla Adobala Diaz Viera Ghodinho). Para penerusnya lantas memerintah dan membangun Kerajaan Larantuka secara Katolik. Olla Adobala juga menyerahkan tongkat emas kerajaan pada Bunda Maria Reinha Rosari. Ratu Kerajaan Larantuka sesungguhnya adalah Bunda Maria Reinha Rosari dan keturunan dari Don Fransisco Olla Adobala Diaz Viera Ghodinho adalah wakil-wakilnya di dunia. Raja hanya bergerak di bidang keagamaan menjadi conferia (pemimpin perserikatan) dengan bendera keloba (gurita).
Kerajaan Larantuka adalah kerajaan terbesar di Flores Timur dan dikenal sampai di ujung timur Pulau Timor. Di Lospalos misalnya, kemasyhuran Kerajaan Larantuka membuat Raja Fuiloro, Verrisimo menyimpan pusaka berupa kain Larantuka yang unik. Dengan pemerintahan seperti itu, Kerajaan Larantuka pun dengan tangan terbuka menerima agama Katolik.

Diterima Bapak Edy Wakil Kepala Sekolah Bidang Humas dan Kerjasama saat mengunjungi SMAS Katolik Frateran Podor Larantuka, Flores Timur NTT
Kamis siang, 23 Oktober 2025 kami dijemput oleh Bang Didu Fernandez, sesama warga Asrama Mahasiswa realino Yogyakarta angkatan 1984 yang belum pernah berjumpa sejak lulus, di Bandar Udara Gewayantana Larantuka. Segera kami berdua melepas rindu di bandar udara yang terletak di Desa Tiwatobi, Kecamatan Ile Mandiri, Kabupaten Flores Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Bandar udara ini memiliki ukuran landasan pacu 1600 x 30 m. Jarak bandara ini dari pusat kota Larantuka kurang lebih 10 km. Bandar Udara Gewayantana adalah Bandara Kelas III dan merupakan bandara Pengumpan dengan sarana dan prasaran terbatas dan fasilitas sederhana. Gedung terminalnya sangat kecil, dengan ruangan kecil. Terminal kedatangan kira-kira hanya berukuran 3 x 3 meter. Tak ada troli, tak ada conveyor belt. Jadi, bagasi akan dibagikan langsung oleh petugas bandara kepada para penumpang sesuai nomor masing-masing.
Namun, di balik fasilitasnya yang sederhana, Bandara Gewayantana mempunyai keistimewaan tersendiri. Tak lain adalah suasana bandara yang bersih dan asri serta panorama di sekitarnya yang menakjubkan. Begitu turun dari pesawat, penumpang akan disambut taman kecil dengan bunga-bunga cantik aneka warna dan di kejauhan, tampak pemandangan Gunung Ile Mandiri yang menjulang setinggi 1.501 mdpl sebagai latar belakangnya. Segera kami bergegas melakukan promosi FK UAJY di SMA Katolik Frateran Podor, Larantuka.

Diterima Fr. Karolus Kepala Sekolah saat mengunjungi SMAS Katolik Frateran Podor Larantuka, Flores Timur NTT
SMAK Frateran Podor yang pada tahun ini (2017) berusia 28 tahun sebenarnya bercikal bakal dari sebuah lembaga pendidikan guru tempo dulu yang dimulai sejak 1957. Kala itu, lembaga pendidikan guru bernama SGA mulai dirintis di Larantuka di bawah pimpinan Bpk. Mus da Cunha dengan mengambil lokasi di Postoh (kompleks bengkel misi sekarang). Dalam bulan Mei 1958, datanglah beberapa frater dari Ndao-Ende untuk menyelidiki lokasi pembangunan sekolah, asrama, dan rumah biara. Ada 3 tempat yang ditawarkan untuk tujuan itu, yaitu: Sarotari (kompleks Rumah Sakit Umum sekarang), Postoh (Stadion Ile Mandiri sekarang), dan Podor. Akhirnya, berkat kebijaksanaan sang perintis, pilihan jatuh pada Podor di Desa Lewolere –sebuah lokasi bekas kebun kapas dengan banyak batu dan pohon bidara. Di SMA Frateran Podor Larantuka itu, kami juga membawakan tema ‘Menjadi dokter Indonesia.’

Salam kompak Realino dari sesama warga Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta angkatan 1984
Selanjutnya Bang Didu Fernandez, teman sesama Mahasiswa Realino Yogyakarta angtan 1984 mengajak kami mengililingi rute prosesi Jumat Agung (hari kematian Tuhan Yesus Kristus di kayu salib) dan pekan Semana Santa atau Sesta Vera -pun mulai diberlakukan secara rutin sejak tahun 1736. Pada puncak ritual Sesta Vera atau Jumat Agung, pintu kapel Tuan Ma dan juga kapel Tuan Ana (Patung Bunda Maria dan Patung Yesus Kristus) akan dibuka untuk umum sejak pukul 10 pagi, dan umat Katolik mulai berdatangan untuk berdoa mengenang Yesus. Kegiatan ini telah menjadi kegiatan tahunan yang diadakan pada Jumat Agung, yang juga telah menjadi program wisata rohani unggulan di Nusa Tenggara Timur, dan di Flores Timur secara khusus.

Gereja Katedral Larantuka Flores Timur, Renha Rosari yang megah dan bersejarah

Bersama Bang Didu Fernandez di depan gereja Katedral Larantuka Flores Timur, Renha Rosari

Interior gereja Katedral Larantuka Flores Timur, Renha Rosari yang megah dan bersejarah
Tradisi yang masih dipertahankan sampai sekarang adalah delapan suku yang tetap berperan aktif selama masa Semana Santa. Mereka memimpin doa di kapela, mengatur perarakan Tuan Ma, menggerakkan masyarakat, membangun armida (tempat persinggahan Tuan Ma dan Tuan Ana), dan memimpin prosesi Jumat Agung.
Sampai sekarang pun yang menjaga dan membersihkan Patung Tuan Berdiri (Yesus disesah) dan juga Patung Cruz Costa (Yesus memikul salib) hanyalah suku-suku asli di masa lalu yang diberi kepercayaan penuh oleh Raja Larantuka. Begitu pula urut-urutan devosi sampai sekarang masih tetap dipertahankan sesuai dengan aslinya seperti di dalam Alkitab.
Cerita rakyat yang beredar bisa dipastikan bahwa tradisi Semana Santa dimulai sejak penemuan Patung Tuan Ma di Pantai Larantuka pada tahun 1510. Patung tersebut diperkirakan terdampar di pantai akibat karamnya kapal milik Portugis di perairan Larantuka. Atas perintah dari Kepala Kampung Lewonama saat itu, patung Tuan Ma tersebut kemudian disimpan di rumah pemujaan korke (bahasa lokal). Warga setempat yang kala itu belum mengenal sosok patung tersebut, kemudian menghormatinya sebagai benda sakral. Masyarakat pun kerap memberikan sesaji ketika merayakan peristiwa tertentu seperti perayaan panen dan perayaan-perayaan lainnya.

Kapel Tuan Ana (untuk menyebut Yesus Kristus sebagai anak) tempat menyimpan patung yang diarak dalam proses Samana Santa di Larantuka

Kapel Tuan Ma (untuk menyebut Santa Maria sebagai mama atau bunda Yesus Kristus) tempat menyimpan patung yang diarak dalam proses Samana Santa di Larantuka

Gerbang Reinha Rosari di perpisahan jalan atas dan jalan bawah pusat kota Larantuka Flores Timur NTT
Perayaan Semana Santa di tempat ini terjadi tiga kali, yang kerap disebut dengan Hari Baedi Nagi, Hari Bae diKonga, dan Hari Baedi Wureh. Perayaan ini menempatkan Yesus dan Bunda Maria yang berkabung menyaksikan penderitaan anaknya sebelum dan saat disalibkan sebagai pusat ritual.
Wureh, Adonara Barat, Flores Timur adalah sebuah desa yang memiliki pengaruh kuat dari budaya Portugis. Desa ini terletak di Pulau Adonara atau tepatnya di Kecamatan Adonara Barat yang dapat ditempuh dengan transportasi laut selama kurang lebih 20 menit dari kota Larantuka.

Pulau Adonara yang nampak di seberang dan dipisahkan oleh sebuah selat bagian dari Laut Sawu, dengan Larantuka
Petualangan kami Menggores Flores selanjutnya adalah menyusuri jalan Trans Flores, diantar Bang Didu Fernandez dengan Toyota Avanza Velos warna putih. Jalur yang berliku, mendaki, dan menyusuri bibir pantai Laut Sawu di sisi selatan ujung timur Pulau Flores, dilahap nyaman oleh Bang Didu. Sesi yang kami tunggu-tunggu akhirnya tiba, yaitu bertemu Joviel (3 tahun) cucu kami tersayang, di pinggir jalan daerah Lewolaga. Bang Didu Fernandez memberi kami kenang-kenangan kain tenun khas motif Solor yang indah. Luar biasa baik teman yang satu ini.

Bertemu cucu tersayang, Joviel (3 tahun) di tengah jalan saat kami diantar oleh Bang Didu Fernandez dari Larantuka ke Maumere

Bertemu cucu tersayang, Joviel (3 tahun) di areal Lewo Laga di tengah jalan dari Larantuka ke Maumere

Kesempatan yang lama banget kami tunggu, bermain dengan cucu tersayang, Joviel (3 tahun)

Melihat Gunung Lewotobi Laki-Laki dan Perempuan, yang telah meletus dan membuat Bandara Maumere sempat ditutup untuk penerbangan pesawat

Nostalgia ke Puskesmas Watubaing di Talibura, Sikka sekitar 46 km dari Maumere, Flores NTT. Di rumah dinas samping puskesmas tersebut mas Yudhi (anak sulung kami) pernah bertugas sebagai dokter puskesmas dan tinggal sekitar 2 tahun.

Kenangan bersama teman2 Puskesmas Watubaing di Talibura, Sikka teman mas Yudhi (anak sulung kami) pernah bertugas sebagai dokter puskesmas di situ.

Kenangan bersama teman2 mas Yudhi (anak sulung kami) di Gereja Kristus Raja Talibur.

Persiapan misa kudus penerimaan sakramen krisma di Gereja Kristus Raja Talibura, sekitar 46 km dari Maumere

Mimbar kayu di Gereja Kristus Raja Talibura, donasi dari mas Yudhi dan mbak Mega saat proses kanonik sebelum pernikahan mereka berdua

Langsung diajak bermain cucu kesayangan, Joviel (3 tahun), begitu kami sampai di rumahnya di Maumere.

Berkunjung kepada keluarga Bapak Don Rani, dimana mas Yudhi sekeluarga pernah tinggal sebelum pindah ke rumah dinas.

Kunjungan balasan oleh Bang Rolan dan Kak Lastri yang baik hati, ke rumah dinas RSUD dr. TC Hiller Maumere, tempat keluarga mas Yudhi tinggal.
Malam itu kami tertidur pulas di kamar depan rumah dinas yang ditempati keluarga mas Yudhi, sebagai dokter spesialis radiologi di RSUD dr. TC Hiller Maumere, Flores NTT.
Jumat pagi, 24 Oktober 2025
(bersambung)
NOSTALGIA MAUMERE
(sambungan)
Jumat pagi, 24 Oktober 2025 kami terjaga dari mimpi dan lelah di rumah dinas yang ditempati keluarga mas Yudhi, sebagai dokter spesialis radiologi di RSUD dr. TC Hillers Maumere, Flores NTT. Segera kami bergegas untuk mengikuti misa kudus harian pagi di Kapel Biara Suster Sang Timur. Pagi itu kami akan berkeliling di Maumere dan sekitarnya.

Selesai misa kudus harian pagi di Kapel Biara Suster Sang Timur, seberang RSUD Maumere
Nama Maumere berasal dari bahasa Ende dan Lio, dimana “ma’u” berarti pantai dan “mere” berarti besar atau luas. Jadi, Maumere secara harfiah berarti “pantai luas” atau “pantai besar”. Nama ini mencerminkan kondisi geografis kota tersebut yang memang terletak di pesisir pantai yang luas.
Nama aslinya oleh penduduk pribumi setempat dinamakan Alok, sedangkan nama Maumere diberikan oleh Belanda. Saat ini Kota Maumere merupakan kota terluas kedua di Nusa Tenggara Timur setelah kota Kupang. Kota ini pertama kali dibentuk sebagai Kecamatan Maumere pada tahun 1962. Pada tahun 1992, Kecamatan Alok memisahkan diri dari Maumere. Pada tahun 2007, Kecamatan Alok Timur dan Alok Barat memisahkan diri dari Kecamatan Alok dan memperoleh daerah tambahan berupa beberapa desa dari Kecamatan Maumere. Sementara itu, sisa Kecamatan Maumere juga dipecah menjadi Kecamatan Koting dan Kecamatan Nelle.

Joviel (3 tahun) tetap terlelap saat mengahadap Bapak Wakil Bupati Kabupaten Sikka

Gedung Kantor Bupati Sikka di pusat kota Meumere yang megah
Dahulu Kabupaten Sikka merupakan sebuah Onderafdeling dan kemudian menjadi Swapraja yang dipimpin oleh 12 raja dan ratu secara turun temurun. Yakni sejak pemerintahan Portugis saat dipimpin oleh Raja Don Alesu Ximenes da Silva hingga masa pemerintahan Belanda oleh Raja Andreas Djati da Silva pada tahun 1874. Saat kepemimpinan Raja J. Nong Meak da Silva pada tahun 1902 sistem pemerintahan Swapraja Sikka diubah dengan sistem Desentralisasi. Hingga kemudian berlakunya Undang – undang nomor 69 tahun 1958 tentang pembentukan daerah tingkat I Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur maka pada tanggal 1 Maret 1958, daerah Swapraja Sikka dijadikan Daerah Tingkat II dengan ibu kotanya Maumere dengan kepala daerah pertama pada masa itu adalah D. P. C. Ximenes da Silva. Para bupati yang pernah memimpin Maumere adalah Paulus Samador da Cunha, Laurentius Say, Daniel Woda Palle, Avelinus Maschur Conterius, Alexander Idong, Paulus Moa, Alexander Longginus, Sosimus Mitang, Fransiskus Roberto Diogo, dan saat ini dijabat oleh Juventus Prima Yoris.

Salam Atma Jogja bersama Bapak Ir. Simon Subandi Supriadi, Wakil Bupati, di Kantor Kabupaten Sikka di pusat kota Maumere.

Bersama Joviel (3 tahun) di lobi Gedung Kantor Bupati Sikka
Pagi itu kami menghadap Bapak Ir. Simon Subandi Supriadi, Wakil Bupati, di Kantor Kabupaten Sikka di pusat kota Maumere. Dalam perbincangan hangat dan singkat karena kesibukan beliau, diperoleh kesempatan bagi kami untuk mempromosikan FK UAJY. Selain itu, juga adanya jaminan beasiswa bagi putra-putri daerah yang berpestasi untuk masuk FK UAJY, dengan syarat harus bersedia kembali ke aKabupaten Sikka sebagai dokter, yang memberikan layanan medis bagi masyarakat setempat.

Bergaya di belakang mobil dinas Bapak Wakil Bupati Sikka
Kami segera bergegas menuju ke SMA Negeri 1 Maumere yang diresmikan pada 6 Maret 1980 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. Dr. Daoed Yoesoef. Kami diterima oleh Bapak Johanes Jonas Teta, S.Pd (Kepala Sekolah) dan Eko Goran Maria, S.Pd (Wakasek Urusan Kurikulum). Pada sesipromosi FK UAJY, pertanyaan yang sering muncul dari para siswa adalah masalah beasiswa untuk pendidikan dokter. Beruntunglah Pemkab Sikka dengan Bapak Ir. Simon Subandi Supriadi sebagai wakil bupati, telah merencanakan pemberian beasiswa bagi putera-puteri terbaik. Hal ini telah menumbuhkan harapan bagi banyak peserta acara sosialisasi FK UAJY tersebut.

Saat diterima oleh Bapak Johanes Jonas Teta, S.Pd (Kepala Sekolah) di SMA Negeri 1 Maumere untuk promosi FK UAJY

Wisata religi secara Katolik di Bukit Nilo, Maumere
Selanjutnya kami segera lanjut menikmati liburan keluarga di segenap pelosok Kabupaten Sikka. Dengan mobil Toyota Avanza yang disopori mas Yudhi dan didampingi mbak Mega di sampingnya dengan setiap, Joviel 93 tahun cucu kami yang tidak mau diam), melompat ke sana ke mari di antara kami berdua di kursi deretan kedua. Tujuan pertama kami adalah tempat ziarah Bunda Maria Segala Bangsa Nilo, yaitu tempat doa yang dilengkapi patung setinggi 28 meter yang berlokasi di Bukit Keling-Nilo, Desa Wuliwutik, Kecamatan Nita, Kabupaten Sikka, Flores, NTT. Areal ini merupakan tujuan wisata religi bagi umat Katolik yang berfungsi sebagai tempat ziarah, dan menawarkan pemandangan alam lansekap kota Maumere yang indah dari puncak bukit dengan ketinggian sekitar 1.200 mdpl. Bukit Keling-Nilo berjarak sekitar 7 km dari pusat Kota Maumere dengan jalannan yang berliku, naik, melengkung dan mendaki, dengan areal sekitar jalan raya yang segar, nampak dedaunan hijau dan hidup. Nilo dalam bahasa Sikka berarti terang. Rasanya tepat jika di dusun ini berdiri Patung Maria Bunda Segala Bangsa, untuk memberikan terang bagi umat Katolik yang datang untuk berdoa dan menerangi seluruh penduduk Sikka.

Patung Bunda Maria Segala Bangsadi Bukit Nilo, Maumaere

Hiduplah Sang Saka Merah Putih oleh Joviel (3 tahun) yang tidak mau diam
Patung Maria Bunda Segala Bangsa dibangun oleh para imam Katolik Kongregasi Pasionis (CP) bekerja sama dengan umat Katolik di sana. CP didirikan di Italia oleh St. Paulus dari Salib tahun 1720. Kongregasi ini berpusat di Roma dan telah menyebar ke berbagai negara di dunia, termasuk Indonesia. Areal ziarah ini diresmikan pada 31 Mei 2005 dan setelah khusuk mengucap syukur atas semua kebaikan hati Tuhan Yesus Kristus dalam kehidupan kami, kami segera berdoa melalui perantaraan Bunda Maria, agar segala bangsa dapat hidup rukun dan damai. Selanjutnya kami menikmati pemandangan kota Maumere dari ketinggian, dalam suasana sejuk, damai dan tenang alami.
Lanjut kami turun bukit dan menikmati Bakso Mercon daging sapi yang lezat di samping Gereja Santo Mikael Nita. Terus ke Puskesmas Nita, tempat mama Sari pernah bertugas selama 3 tahun pada 1992-1995, setiap 3 hari dalam seminggu sebagai dokter gigi. Lanjut kami menyusuri jalan Trans Flores ke arah Ende, selalu berilu sesuai kontur bukit yang kami lalui, nampak dedaunan yang jauh lebih hijau dan hidup, dibandingkan daratan Timor yang telah kami eksplor hari sebelumnya. Kami mengunjungi RS. St. Elizabeth Lela yang berjarak 24 km dari Maumere dan diresmikan pada tanggal 10 Mei 1935 dibawah naungan Yayasan Kesehatan St Lukas, awalnya di bawah Keuskupan Agung Ende, tetapi kemudian mengalami pemekaran dan diserahkan kepada Keusukupan Maumere. Sayang sekali kami tidak berhasil bertemu Direktur RS St Elisabeth Lela, dr. Maria Bernadina Sada Nenu, sobat lama yang sedang berziarah ke Fatima Portugal.

Gerbang RS St. Elisabeth Lela

Di rumah dinas dokter RS St. Elisabeth Lela, 24 km dari Maumere itulah mas Yudhi sempat berguling jatuh di depan rumah dengan baby walker.
Di RS tersebut kami pernah bertugas selama 3,5 tahun (1991-1994), mas Yudhi anak sulung kami lahir di situ, kami tolong sendiri dengan penuh kehati-hatian pada 22 Januari 1993, di sebuah kamar darurat di dalam kompleks RS, karena banyak bangunan yang rusak terdampak gempa bumi dan tsunami Flores 1992. Itu adalah gempa bumi besar berkekuatan 7,8 pada skala Richter yang terjadi di lepas pantai Flores, pada hari Sabtu, 12 Desember 1992, pukul 13.29. Gempa bumi ini menyebabkan tsunami dengan ketinggian maksimum 26 m (85 ft) yang menghancurkan rumah di pesisir pantai utara Flores. Setidaknya 2.500 orang tewas atau hilang di wilayah Flores, termasuk 1.490 tewas di Maumere dan 700 orang di Pulau Babi, lebih dari 500 orang terluka dan 90.000 orang kehilangan tempat tinggal. Peristiwa ini merupakan salah satu gempa bumi paling mematikan di Indonesia.

Di kamar sebelah kiri lorong mas Yudhi lahir dan di kamar sebelah kanan lorong tepat di depannya, kami bertiga tinggal selama 1,5 tahun paska gempa bumi Flores

Rasanya tinggal tersisa seorang karyawan RS St. Elisabeth Lela (berkaos merah berdinas di dapur roti) yang masih aktif sampai sekarang, yang pernah berkarya pada waktu kami bertugas di situ
Kami susuri ulang jalanan di dalam kompleks RS St. Elisabeth Lela, di mana dulu kami setiap hari lalui untuk visite, praktek, operasi dan rekreasi. Kami kenang ulang jalan mendaki ke bagian belakang RS, ke rumah dinas dokter dimana kami tinggal, di tengah kebun sayuran, buah dan kandang babi serta ayam. Kami renungkan penuh hikmat, bahwa penyelenggaraan Tuhan Maha Besar sungguh luar biasa, karena dari rumah dinas di belakang RS itulah kami memulai hidup berkeluarga, berkarier sebagai dokter dan menyiapkan masa depan gemilang. Saat ini kondisinya sudah sangat menyedihkan, karena area tersebut sudah tidak digunakan sebagai aktivitas harian RS sejak pandemi COVID-19 menghantam dan menghancurkan banyak sisi kehidupan di situ.

Gerbang Wisung Fatima di Lela, 24 km dari Maumere

Mampir di rumah Zr. Stefani Ety Parera, mantan perawat kamar operasi satu-satunya yang kidal di RS St. Elisabeth Lela, saat ini menjadi Kepala Sekolah SMK Kesehatan Lela
Lanjut kami berziarah ke Sanctuarium Wisung Fatima di seberang RS St. Elisabeth Lela, Kabupaten Sikka, NTT, yang merupakan tempat ziarah dan wisata religi umat Katolik. Tempat ini menjadi pusat spiritualitas dengan arca Bunda Maria Fatima dan sering didatangi ribuan peziarah untuk berbagai kegiatan rohani, seperti ziarah tahunan. Berakar dari devosi kepada Bunda Maria yang diawali pada 1947, setelah seruan Paus Pius XII. Arca Bunda Maria Fatima tiba pada 1949 dan sanctuarium diberkati pada tahun yang sama. Pada tahun 2014, tempat ini dianugerahi status sanctuarium resmi sebagai tempat ziarah Maria pertama di Indonesia. Sanctuarium adalah kata Latin sanctus, yang berarti suci, tempat suci atau tempat penyimpanan benda-benda suci. Ziarah tahunan pada puncak kegiatan rohani yang dihadiri ribuan umat dari berbagai paroki di Keuskupan Maumere, sering kali dipimpin oleh Uskup Maumere, dilaksanakan di situ. Wisung Fatima Lela dikenal sebagai tempat ziarah yang didedikasikan untuk Bunda Maria, khususnya terkait dengan peringatan penampakan Maria di Fatima, Portugal, pada 1917.

Sanctuarium Wisung Fatima di seberang RS St. Elisabeth Lela, Kabupaten Sikka, NTT
Pada 1947, umat Paroki Lela dan Sikka secara resmi menyerahkan diri kepada Bunda Maria, di bawah pimpinan Pastor Herman Bolscher, SVD. Pastor inspiratif ini pernah tinggal bersama kami di komplkes RS St. Elisabeth Lela selama hampir 3 tahun. Upacara penyerahan diri waktu itu dihadiri ribuan umat dan menjadi momen bersejarah yang menguatkan iman dan kebersamaan komunitas Katolik di wilayah tersebut.

Gereja tua di Sikka yang terawat baik
Selanjutnya kami menyusuri pantai selatan Flores yang mengahadap Laut Sawu, berombak cukup besar, menimbulkan suara gemuruh berulang tetapi tetap indah dipandang dan ritmik didengar, untuk menikmati kemashuran Gereja Santo Ignatius Loyola. Bangunan megah ini dikenal sebagai Gereja Tua Sikka yang berada di desa Sikka, Flores, NTT. Gereja ini syarat sejarah dan menjadi salah satu gereja tertua di Indonesia dan masuk cagar budaya nasional. Gereja Santo Ignatius Loyola dibangun oleh arsitek Portugis, Pastor JF Le Cocq Engbers d’armanddaville, SJ pada 1896, dibantu oleh Raja Sikka Don Andreas Jati Ximenes da Silva, Joseph Mbako Ximenes da Silva dan warga Kampung Sikka.

Gereja Santo Ignatius Loyola yang dikenal sebagai Gereja Tua Sikka yang berada di desa Sikka, Flores, NTT
Gereja Santo Ignatius Loyola berada di pesisir pantai selatan Pulau Flores, tepatnya di Desa Sikka, Kecamatan Lela, Kabupaten Sikka. Gereja ini digunakan pertama kali pada malam Natal 24 Desember 1899. Gereja Katolik tertua yang berusia lebih dari 100 tahun ini, berukuran panjang 47 meter dan lebar 12 meter masih kokoh hingga kini, dan menjadi tempat ibadat umat Katolik di Kampung Sikka. Bangunan Gereja Tua Sikka sangat eksotis, arsitektur bangunan gereja adalah kombinasi sentuhan budaya Eropa dan budaya setempat, mengikuti gaya Renaisans dan Barok yang berkembang di daratan Eropa waktu itu. Terdapat ukiran khas tenun ikat Sikka bermotif Wenda terlihat pada dinding Gereja tersebut, yang sejak pertama kali gereja ini digunakan untuk misa malam Natal 24 Desember 1899, tetap utuh sampai sekarang. Bangunan Gereja Tua Sikka menggunakan material 150 kubik kayu jati. Material kayu khas Indonesia ini sebagai kuda-kuda penahan atap bangunan serta tiang penyangga bangunan gereja. Material kayu jati ini didatangkan langsung dari hutan-hutan di Pulau Jawa, termasuk material lain seperti semen dan besi, semuanya dibawa dari luar Maumere.
Setelah seharian berkelana, malam itu kami beristirahat nyenyak di sebuah kamar di rumah dinas dokter RSUD dr. TC Hillers Maumere, tempat tugas mas Yudhi sebagai dokter spesialis radiologi di situ.
Jumat malam, 24 Oktober 2025
(bersambung)
MAUMERE HARI TERKAHIR
Sabtu, 25 Oktober 2025 kami terbangun dari tidur nyenyak di sebuah kamar di rumah dinas dokter RSUD dr. TC Hillers Maumere, tempat tugas mas Yudhi menjadi dokter spesialis radiologi di situ. Lanjut kami mengikuti misa kudus harian pagi di Biara Sang Timur di seberang RS.

Dengan Mama Hedwigis Rosarince, teman lama sejak kami bertugas di RS St. Elisabeth Lela, di rumahnya yang indah di dekat terminal bis Maumere
Setelah misa kudus, kami lanjut bercengkerama sekejap dengan Mama Hedwigis Rosarince, teman lama sejak kami bertugas di RS St. Elisabeth Lela, di rumahnya yang indah di dekat terminal bis Maumere. Suami pertama mama Rince adalah mendiang Om Alfridus da Cunha, senior kami di SMA Kolese de Britto Yogyakarta. Kami saling melepas rindu dalam susana hangat di pagi hari, juga melihat dari dekat sebuah rumah paviliun di belakang rumah utama, yang pernah ditinggali keluarga mas Yudhi sebelum menempati rumah dinas RS sekarang.

Di rumah mungil nan indah itulah mas Yudhi, mbak Mega dan Joviel tinggal sebelum pindah ke rumah dinas RS

Bersama mama Linda Sabinus Nabu, anggota DPRD Sikka dari Fraksi Partai Perindo
Setelah sarapan pagi, kami segera meluncur ke TK Maria Ferrari, di situlah Joviel (3 tahun, cucu yang tidak mau diam) bersekolah. TK ini berfokus pada pendekatan pembelajaran yang menyenangkan dan inovatif. Dengan suasana yang ramah dan penuh kasih, TK Maria Ferrari memberikan lingkungan yang mendukung perkembangan anak-anak secara holistik, baik secara intelektual, sosial, maupun emosional. Melalui program yang beragam dan kreatif, sekolah ini bertujuan untuk mempersiapkan anak-anak untuk mengembangkan potensi mereka dengan penuh kepercayaan diri dan kecerdasan yang berkelanjutan.

Bersama teacher di TK Maria Ferrari Maumere

Bergaya di dalam kelas Joviel (3 tahun) di TK Maria Ferrari Maumere
Joviel sangat menikmati suasana TK MARIA FERRARI SCHOOL ini yang didirikan pada tanggal 16 Januari 2010 dengan Kepala Sekolah saat ini adalah Ibu Maria Magdalena Elu Saga. TK MARIA FERRARI SCHOOL merupakan salah satu sekolah jenjang TK di wilayah Kab. Sikka yang menawarkan pendidikan berkualitas dengan terakreditasi A dan sertifikasi ISO 9001:2008.

Kami bertiga di makam Sr. dr. Conchita Cruz, SSpS

Mas Yudhi dan mbak Mega yang pernah datang ke makam Sr. dr. Conchita Cruz, SSpS sempat tersesat saat mengantar kami, karena lupa-lupa ingat arah jalannya
Setelah menikmati suasana sekolah Joviel, kami lanjut ziarah ke makam Sr. dr. Conchita Cruz, SSpS di seputaran Kewapante. Beliau adalah sesorang biarawati Katolik berasal dari Imus, Filipina yang rumah keluarganya pernah kami kunjungi di tahun 2012. Selain seorang biarawati, Sr. Conchita sering dipanggil sebagai suster dokter, karena juga seorang dokter umum hebat, dalam banyak aspek preventif, diagnosis, terapi medis dan bahkan operatif berbagai kasus bedah. Dengan bimbingannya yang sangat sabar, kami pribadi telah mampu melakukan berbagai tindakan operasi untuk banyak kasus bedah di RS St. Elisabeth Lela. Teknik operasi terakhir yang diajarkan dan telah kami kuasai adalah strumektomi dengan anestesi lokal, yaitu mengambil jaringan kelenjar gondok di leher saat pasien sadar penuh. Setelah mendoakan agar arwah Sr. dr. Conchita Cruz, SSpS bersitirahat kekal di samping makam, kami lanjut jalan lagi.
baca juga : https://dokterwikan.com/2024/10/23/2018-selamat-jalan-suster-dokter/

Mangroove di Watubing

Klakat atau Mangrove Watubaing di Sikka
Kami lanjut menyusuri Jalan Trans Flores ke arah timur, yaitu menuju Larantuka, untuk berwisata ke hutan bakau atau mangrove di Desa Watubaing, Kecamatan Talibura, sekitar 42 kilometer dari Maumere, ibu kota Kabupaten Sikka. Perjalanan kami berlima melalui jalan Trans Flores yang datar, cukup padat lalu lintas dan menyusuri pantai utara menghadap Selat Flores yang berombak kecil. Sepanjang jalan Joviel selalu berceloteh, beritingkah dan polah menggemaskan sekali. Rindu kami seakan terobati dengan kelucuan, keluguan dan bahkan kecerdasan Joviel yang sering tidak terduga. Wisata yang satu ini tak sekedar menyuguhkan keindahan alam yang apik, tetapi juga banyak spot foto Instagramable. Belum lagi saat menyusuri jalanan dari batang kayu di atas air payau yang membelah hutan bakau, kami merasakan sensasi yang luar biasa. Mangrove Watubaing dibuka pada bulan Desember 2022 dan diberi nama Klakat.

Kak Wawan Duran berkaos hijau menggendong anak sulungnya

Menikmati menu enak buah karya mbak Maria, istri Kak Wawan Duran, setelah lelah menyusuri jalan kayu di Klakat Mangrove Watubain
Kami menemui Kakak Wawan Duran inisiator wisata Klakat saat ditemui di situ. Kak Wawan tertarik mengelola hutan mangrove di sela-sela kuliah S2 Teknik Sipil di ITS di Surabaya, sampai hutan bakau mampu tumbuh subur di belakang rumahnya. Setelah menyelesaikan pendidikan magister di kampus tersebut, Kak Wawan lebih giat menyulap hutan itu sejak bulan Agustus 2022. Di Sikka sendiri, menurutnya mangrove masih belum dimanfaatkan secara optimal, sehingga dikreasikan banyak hal untuk meningkatkan daya tarik mangrove Klakat bagi banyak wisatawan. Selain jalur kayu menembus hutan mangrove sejauh 30 m, juga dibangun lopo atau rumah tradisional terbuat dari kayu dan beratap kerucut, yang dapat digunakan pengunjung untuk berfoto ria sembari menikmati kuliner menu masakan Jawa oleh tangan mbak Maria, istrinya yang berasal dari Magelang Jawa Tengah, sambil merasakan sensasi aliran udara sejuk dan kicau burung. Siang itu kami menimati menu sop kuah asam dengan ikan ekor kuning yang lezat, sei sapi dengan sayur kangkung, sempol dan bakso sapi, ditambah mangga segar yang dipetik di halaman rumah Kak Wawan, sampai kami kekenyangan.
Selanjutnya kami menyebarng jalan Trans Flores yang padat lalu lintas ke arah Larantuka, untuk melihat Puskesmas Watubaing. Kami disambut hangat, meriah dan penuh sukacita oleh banyak pegawai, karena mereka teman lama mas Yudhi saat bertugas sebagai dokter umum di situ selama sekitar 2 tahun. Kami juga melihat rumah dinas yang dahulu ditinggali mas Yudhi, sebelum memulai pendidikan spesialis radiologi di UGM, Yogyakarta. Rumah penuh kenangan yang sekarang terbengkelai itu, menggambarkan juga kegigihan, keuletan dan harapan mas Yudhi untuk kehidupan lebih baik, meski penuh penderitaan, tantangan dan keterbatasan. Kami sangat terharu sekali, karena kami tidak mampu mengunjungi dan memberikan dorongan semangat saat mas Yudhi tinggal di rumah tersebut, karena wakgtu itu kami juga sedang dalam banyak kesulitan.

Gedung Puskesmas Watubaing yang megah di samping rumah dinas mas Yudhi saat bertugas si situ

Nama mas Yudhi nomer 15 masih tercantum di dalam daftar karyawan Puskesmas Watubaing
Setelah berfoto bersama di Watubaing, kami segera melanjutkan perjalanan ke Bendungan Napun Gete yang berjarak 11 km dari jalan negara Trans Maumere-Larantuka, dibangun membendung alur Sungai Napun Gete di perbatasan antara Desa Ilinmedo dan Desa Werang di Kecamatan Waiblama. Pembangunan bendungan terbesar di Pulau Flores ini dimulai sejak Desember 2016 yang proses pengerjaannya dilaksanakan oleh PT Nindya Karya (Persero), dan diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada tanggal 23 Februari 2021. Selain dimanfaatkan untuk mengairi lahan pertanian seluas 300 hektar, bendungan ini juga dimanfaatkan untuk mereduksi debit banjir sebesar 219,43 meter kubik per detik dan menyediakan air baku sebesar 0,214 meter kubik per detik. Air yang terbendung oleh bendungan ini juga berpotensi untuk membangkitkan listrik melalui PLTM berkapasitas 0,1 MW.

Dari gardu pandang Bendung Napungete

Sang Saka Merah Putih selalu berkibar di tangan Joviel (3 tahun), juga di Bendungan Napungete, Sikka
Kementerian PUPR melakukan pengisian awal (impounding) bendungan Napun Gete sejak Desember 2020 dan diklaim akan mamapu memenuhi kebutuhan air bersih dan pengairan lahan pertanian milik warga sekitar. Total daya tampungan air di Bendungan Napun Napun yakni 11,2 juta m3 dengan luas genangan 99,78 hektar (Ha). Setelah puas menikmati keindahan banguan infrastruktur kebanggaan nasional tersebut, kami segera bergegas kembali ke Maumere.
Maumere ibu kota Kabupaten Sikka NTT sebenarnya adalah sebuah daerah yang sudah tidak ada lagi dalam pembagian wilayah administratif Indonesia. Namun demikian, daerah yang umumnya dianggap sebagai “Kota Maumere” adalah wilayah Kecamatan Alok, Kecamatan Alok Timur, dan Kecamatan Alok Barat. Nama Maumere berasal dari bahasa Ende dan Lio, dimana “ma’u” berarti pantai dan “mere” berarti besar atau luas. Jadi, Maumere secara harfiah berarti “pantai luas” atau “pantai besar”. Nama ini mencerminkan kondisi geografis kota tersebut yang memang terletak di pesisir pantai yang luas. Nama aslinya oleh penduduk pribumi setempat dinamakan Alok, sedangkan nama Maumere diberikan oleh Belanda. Kota Maumere merupakan kota terluas kedua di Nusa Tenggara Timur setelah kota Kupang. Kota ini pertama kali dibentuk sebagai Kecamatan Maumere pada tahun 1962. Produk ekspor yang dihasilkan di Maumere antara lain kelapa kopra, pisang, kemiri, dan kakao. Selain itu, Maumere merupakan sentra produksi kain tenun ikat dengan beragam motif.
Bukti prasejarah menunjukkan kawasan Sikka telah ada sejak zaman batu-megalithikum, dimana banyak artefak arkeologis menujukkan jejak-jekak prasejarah tersebut. Ada fosil yang ditemukan disebuah batu cadas yang keras masyarakat menyebutnya dengan la’e ripu terdapat di Rejo, Desa Wolorego, Kecamatan Paga. Ada juga sejumlah gua yang diyakini dahulunya manusia-manusia purba asli Sikka seperti Gua Patiahu di Talibura, Gua Keytimu, dan kubur batu buabari di Paga. Artefak emas berbentuk kapak atau bahartaka dan ukiran tuhan berwajah tiga di Kecamatan Bola. Artefak perunggu berbentuk perahu (Jong Dobo) di Kecamatan Kewapante.
Maumere memiliki beberapa julukan, di antaranya Nian Tana Sikka (tanah dan pantai) dan Kota Tahun Maria, karena pernah menjadi tempat Perayaan Tahun Maria dan kunjungan Paus Yohanes Paulus II tahun 1989. Kota ini juga dikenal dengan julukan Maumere Manise dan dijuluki Nyiur Melambai karena keindahan alamnya dengan pantai pasir putihnya.

Kembar bidan yang dulu berkarya dengan kami sebagai perawat di RS St. Elisabeth Lela

Kunjungan si Kembar Ika dan Eta Parera di rumah dinas mas Yudhi di RSUD dr. TC Hillers Maumere
Sore itu kami segera berjalan kaki dari rumah dinas dokter, menuju bangunan utama Rumah Sakit Umum Daerah T C Hillers Maumere berdiri tahun 1953 yang berada dibawah naungan Pemerintah Daerah Kabupaten Sikka. Memiliki Visi menjadi Rumah Sakit yang memberikan pelayanan yang berkualitas, memuaskan pelanggan dan menjadi Rumah Sakit rujukan di daratan Flores. Dengan sejumlah fasilitas penunjang layanan medis seperti: Unit Hemodialisa (Cuci Darah); instalasi Laboratorium, baik Laboratorium Klinik, Laboratorium Patologi Anatomi maupun Laboratorium Mikrobiologi, Instalsi Radiologi, IGD, dan Poliklinik Spesialis telah tersedia dan berfungsi dengan baik guna mendukung pelayanan kesehatan masyarakat Nian Tana. Kami mengunjungi Instalasi Radiologi dan saat mama Sari menjalani pemeriksaan USG abdomen oleh mas Yudhi, Joviel berlarian menyusuri lorong RS RSUD dr. TC Hillers yang memiliki 11 tempat tidur khusus ICU dari total 177 tempat tidur RS.

Menyerobot urutan anak yang minta berkat romo, tetapi Joviel (3 tahun) langsung berputar badan saat pemberkatan oleh romo belum selesai

Bergaya di depan Katedral Santo Yosep Maumere

Adegan ulangan di depan Katedral Santo Yosep Maumere, karena sebelumnya Joviel membalikkan muka
Sore itu kami mengikuti misa kudus di Stasi Santa Maria Perumnas Maumere, karena tidak ada misa di Gereja Katedral Santo Yosep. Katedral ini menjadi pusat kedudukan dan takhta bagi Uskup Maumere, saat ini Mgr. Ewaldus Martinus Sedu. Gereja Katedral Maumere ini dibangun oleh Pastor Omzight, SVD yang saat itu ditunjuk sebagai Pastor Stasi Maumere dan diresmikan pada tanggal 8 Desember 1873. Pembangunan gereja ini menjadi bagian dari penyebaran misi Katolik oleh para misionaris SVD di Flores. Pada awal Tahun 1900-an, beralih menjadi Paroki Santo Yosef Maumere, yang kini menjadi Paroki Katedral dan diumumkan oleh Paus Benediktus XVI pada tanggal 14 Desember 2005 pisah dari Keuskupan Agung Ende. Gereja ini juga pernah menjadi saksi kunjungan Paus Yohanes Paulus II pada 11 Oktober 1989. Bangunan gereja ini bergaya arsitektur kolonial Belanda cukup sederhana, dipugar dan diperluas beberapa kali sejak abad ke-20. Di dalamnya terdapat altar Paus Yohanes Paulus II, kursi Paus, dan patung Kristus Raja di taman samping. Selain itu, ada juga lonceng besar, lambang Santo Yosef, dan lambang keuskupan Maumere.

Jamuan makan malam menu lengkap kuliner lokal, di rumah mama Anny Radho Rani
Malam itu, setelah mengikuti misa kudus lanjut kami menyusuri Jalan El Tari di Kota Maumere, yang menjadi lokasi car free night (CFN) sejak Februari 2024 lalu. Semua ruas jalan di depan kantor Bupati Sikka itu menjadi pusat kuliner, sekaligus menggerakan ekonomi pelaku UMKM di Kota Maumere, Kabupaten Sikka, juga pelaku tempat olahraga, kuliner & hiburan. Hadirnya CFN ini menambah titik pusat kuliner di Kota Maumere. Warga memiliki tempat untuk menikmati kuliner dan menghabiskan waktu akhir pekan di Jalan El Tari. Bergam kuliner makanan dan minuman yang lezat bisa didapatkan di sini dengan harga yang ramah di kantong.

Bersiap terbang akan pulang ke Yogyakarta
Minggu pagi, 26 Oktober 2025 kami berdua mengakhiri petualangan di daratan Flores, yang karena hanya melewati 2 wilayah di sedikit sisi timur dan utara, maka kami hanya menggores Flores. Kami diantar mas Yudhi dan Joviel, karena mbak Mega sedang kurang bugar, bergegas menuju Bandar Udara Frans Xavier Seda (MOF) yang sebelumnya disebut Bandar Udara Wai Oti, untuk akan terbang ke Kupang, lanjut ke Surabaya dan terus ke rumah kami di Yogyakarta. Bandar Udara Frans Seda Maumere ini memiliki ukuran landasan pacu 2.250 x 45. Jarak dari pusat kota sekitar 5 km. Di ujung utara landasan menghadap langsung dengan Laut Flores, hampir menyentuh Jalur Trans Flores dari Maumere menuju Larantuka, sedangkan ujung selatan menghadap perbukitan. Bandar Udara Frans Seda semula hanyalah sebuah lapangan terbang darurat yang dipakai untuk kepentingan militer dan mobilitas tentara Belanda, yaitu lapangan udara sepanjang 700 meter yang dibangun pada tahun 1930 oleh Departement Voor Verkeer en Waterstaats (semacam Departement Pekerjaan Umum) Pemerintahan Hindia Belanda.

Sebelum masuk perut pesawat Wings Air meninggalkan Maumere
Perjalanan kami dalam mengeksplor Timor dan menggores Flores selama sepekan sangat membahagikan. Terimakasih banyak kepada semua pihak yang telah mendukung petulangan seru ini dan sampai ketemu lagi dalam petualangan selanjutnya.
Sekian
Ditulis di kursi 23c dalam kabin pesawat Boeing 737-800 Lion Air JT 697 dalam penerbangan menembus awan dari Kupang ke Surabaya.
Sesampai kami di Bandara Juanda Surabaya, kami dijemput oleh Laksma TNI Purn dr. Herjunianto, SpPD MMRS Dekan Fakultas Kedokteran Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (Dekan FK UKWMS 2025-2029) dan istri. Langsung diajak menikmati kuliner lokal Surabaya, sambil berbagi inspirasi, harapan dan kebahagiaan antara kami berempat yang langsung akrab, meskipun baru pertama kali bersua, juga antar institusi FK UKWMS dan FK UAJY.

Makan kuliner lokal Surabaya yang lezat, rujak cungur di Surabaya Plaza

Diantar ke Stasiun Gubeng untuk naik KA Sancaka ke Yogyakarta
Minggu, 26 Oktober 2025
Salam pengelana
-wikan & sari