MAKANAN TIDAK AMAN
fx. wikan indrarto
Makanan yang tidak aman menyebabkan 866 juta penyakit dan 1,5 juta kematian setiap tahun. Anak balita menghadapi risiko penyakit akibat makanan yang tidak aman hampir tiga kali lipat, dibandingkan anak yang lebih besar dan orang dewasa. Apa yang perlu diwaspadai?
Tulisan ini dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 21 Juni 2026, halaman 8, kolom HUSADA

Meskipun hanya 9% dari populasi global, anak balita menderita hampir sepertiga dari semua kasus penyakit bawaan makanan, karena mengkonsumsi makanan yang tidak aman, khususnya diare, yang dapat mematikan bagi kelompok usia rentan ini. Selain itu, paparan bahaya kimia berbahaya seperti metilmerkuri dan timbal dalam makanan, dapat membahayakan perkembangan otak, menyebabkan masalah neurologis, dan gangguan perkembangan seumur hidup pada anak balita.
WHO memperkirakan bahwa makanan yang tidak aman menyebabkan sekitar 866 juta penyakit dan 1,5 juta kematian setiap tahun. Pada hal, banyak di antaranya dapat dicegah dengan langkah sederhana, termasuk peningkatan air bersih, sanitasi dan kebersihan, praktik keamanan pangan seperti pasteurisasi, dan juga akses ke perawatan kesehatan untuk populasi rentan. Meskipun beban penyakit bawaan makanan secara keseluruhan telah menurun sejak tahun 2000, ketidaksetaraan regional yang besar masih tetap ada, dengan beban terbesar di Afrika dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia.

Paparan bahaya biologis, termasuk bakteri dan virus bawaan makanan serta infeksi parasit, menyebabkan sebagian besar penyakit bawaan makanan. Sementara itu, paparan bahan kimia menyebabkan sebagian besar kematian. Pada tahun 2021, bahaya kimia menyumbang 73% kematian akibat makanan yang terkontaminasi. Sebagian besar kematian terkait bahan kimia ini, dikaitkan dengan arsenik anorganik (42%) dan timbal (31%), terutama karena paparan ini meningkatkan risiko penyakit jantung dan kanker.
Selain dampak kesehatan, pada tahun 2021 penyakit bawaan makanan menyebabkan kerugian produktivitas (waktu orangtua absen kerja karena anak sakit) sekitar US$ 310 miliar. Ketika dampak ekonomi disesuaikan dengan perbedaan biaya hidup antar negara, perkiraan kerugian produktivitas meningkat menjadi US$ 647 miliar.
Keamanan pangan bukanlah masalah abstrak, karena hal itu sangat mungkin terjadi pada setiap makanan, setiap keluarga, dan setiap hari. Makanan yang tidak aman telah menjadi perhatian utama bidang kesehatan masyarakat, tetapi sampai sekarang kita belum memiliki gambaran yang lebih detail tentang dampak buruknya terhadap manusia dan ekonomi. Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO menyatakan : “Untuk pertama kalinya di tahun 2026 ini, banyak negara kini memiliki data sendiri untuk melihat di mana beban tertinggi berada”. Dengan data itu, pemerintah dapat memprioritaskan tindakan yang diperlukan untuk melindungi kesehatan masyarakat.
Selama ini dikenali ada 42 penyebab utama akan penyakit yang ditularkan melalui makanan, yaitu bakteri, virus, parasit, dan bahan kimia, berdasarkan laporan dari 194 negara dari tahun 2000 hingga 2021. Analisis baru WHO secara signifikan memperluas basis bukti dengan menilai bahaya baru, yaitu logam berat, rotavirus, dan Trypanosoma cruzi (parasit penyebab penyakit Chagas).
Makanan dapat terkontaminasi oleh bahan kimia seperti arsenik anorganik, timbal, dan metilmerkuri dari sumber alami dan aktivitas manusia. Setelah zat-zat ini masuk ke dalam rantai makanan, seringkali sulit atau bahkan tidak mungkin untuk dihilangkan. WHO menyerukan kepada pemerintah untuk mencegah kontaminasi di sumbernya – melalui praktik pertanian yang lebih baik, kontrol industri yang lebih ketat, dan peraturan lingkungan yang lebih kuat.
Meskipun keberadaan beberapa logam dalam makanan telah menurun dari waktu ke waktu, laporan WHO tahun 2026 ini untuk pertama kalinya mengungkapkan beban penyakit kardiovaskular, kanker, dan disabilitas intelektual yang diakibatkan oleh paparan logam melalui makanan. Arsenik dan timbal anorganik dikaitkan dengan lebih dari 1 juta kematian dalam satu tahun. Selian itu, metilmerkuri dapat membahayakan perkembangan otak dan menyebabkan masalah neurologis dan perkembangan seumur hidup pada anak-anak.

Perubahan pola makan, tekanan lingkungan, globalisasi, dan ketidaksetaraan dalam sistem pangan, terus membentuk siapa saja yang paling terpapar makanan yang tidak aman. Anak balita dan orang-orang yang tinggal di komunitas dengan sumber daya terbatas mengalami beban kesehatan akibat makanan tidak aman yang terbesar. Apalagi mereka yang tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah, terutama di Afrika dan Asia Tenggara, karena keduanya bersama-sama menyumbang hampir tiga perempat dari semua penyakit bawaan makanan dan 60% dari kematian global.
Data menunjukkan bahwa penyakit bawaan makanan tidak hanya terus-menerus terjadi, tetapi juga diperburuk oleh perubahan iklim, yang meningkatkan risiko kontaminasi, dan oleh resistensi antimikroba, yang membuat infeksi lebih sulit diobati. Pendekatan ‘One Health’ yang mengintegrasikan kesehatan manusia, hewan, tumbuhan, dan lingkungan, sangatlah penting. Semua negara seharusnya bertindak segera, untuk menargetkan intervensi, berinvestasi dalam pengawasan, dan menghilangkan sekat antara sektor kesehatan, pertanian, dan lingkungan. Penundaan akan merenggut lebih banyak nyawa anak balita.
Sudahkah kita bijak?
Sekian
Yogyakarta, 7 Juni 2026

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Dekan FK UAJY, Anggota MKEK IDI Wilayah DIY, Alumnus S3 UGM.