Categories
Healthy Life Jalan-jalan sejarah

2026 Flyeving to Pacitan

Tujuan akhir petualangan kami adalah di Monumen Jenderal Sudirman, di Desa Pakis Baru, Kecamatan Nawangan, di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur

FLYEVING TO PACITAN

fx. wikan indrarto & b. sari prasetyati

Kami berniat mencoba kehandalan mobil listrik (EV) dalam terbang mendaki (flyeving) punggung Pegunungan Sewu milik UNESCO Global Geopark, di teritorial Gunung Kidul (DIY), Wonogiri (Jawa Tengah) dan Pacitan (Jawa Timur). Kami mengikuti rute gerilya Jendral Sudirman saat menyingkir dalam agresi militer Belanda. Pada 19 Desember 1948 serangan dimulai dengan pengeboman Pangkalan Udara Maguwo di Yogyakarta oleh pasukan Belanda di bawah pimpinan Letnan Jenderal Simon Spoor.

Awal petualangan dari depan rumah di Yogyakarta

Secara ringkas, petualangan kami adalah meningkatkan ketrampilan mengubah menu dalam folder driving pada tablet layar sentuh di dashboard, baik energy recovery menjadi strong dari comfort, maupun driving mode menjadi sporty dari eco. Maka medan mendaki terjal, turun curam, maupun kelok tajam, menjadi tetap mampu dilahap dengan nyaman.

Kami mampir sowan senior Bapak Robertus Setiawan di Wonosari, terus menyeberang Jawa Tengah bagian selatan sampai di Pacitan, untuk mengunjungi Goa Gong, gua dengan stalaktit dan stalakmit terindah se Asia Tenggara. Terus wisata Sungai Maron yang dikenal sebagai Amazone-nya Pacitan, karena kerimbunan pepohonan yang menutupinya. Juga Pantai Klayar di Pacitan yang pernah dipopulerkan oleh lagu campursari milik musisi Didi Kempot, The God Father of Broken Heart.

Setelah full charger di SPKLU PLN Pacitan, lanjut ke Gereja Katolik St Fransiskus Xaverius Paroki Pacitan yang dikenal sebagai Gereja Prau. Terus melihat rumah masa kecil Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Museum SBY ANI. Terus tertegun membayangkan kehebatan perjuangan TNI di Monumen Jendral Sudirman, di Pakis Baru, Nawangan, yang berbatasan dengan Jawa Tengah.

Kami pulang memutar, terbang lagi, menaklukkan bagian lain Pegunungan Sewu melalui Purwantoro, Jatisrono dan Wonogiri. Terus ke Bayat di Klaten dan Kalasan.

Terbang bersama Wuling Aira EV ke Pacitan dengan motor listrik kecil bertenaga 40,2 HP (30 kW) dan torsi 85 Nm berpenggerak roda belakang, mampu menempuh 370 km, dengan tetap tangguh, nyaman dan irit

Sabtu dan Minggu, 26 dan 27 September 2026

Dapat juga di lihat pada :

https://www.instagram.com/p/DdyubUxlMqg/?stkn=MXhmc3QzbDQzNDQ1dw==

Keceriaan mengawali petualatang dengan EV mungil dari rumah Yogyakarta

Sabtu siang, 26 September 2026 dari Yogyakarta lewat Wonosari, Gunung Kidul kami berniat mengunjungi Gua Gong, Sungai Maron, dan Pantai Klayar di Pacitan, Jawa Timur. Pertama kami sowan senior warga Asrama Mahasiswa Realino Yogykarta Bapak Robertus Setiawan SeV 75, di rumahnya di Baleharjo, Wonosari. Beliau 9 tahun di atas saya, saat kuliah di FKH UGM dan mantan Kepala Dinas Peternakan Kabupaten Gunung Kidul.

Sowan senior Bapak Robertus Setiawan SeV 75 di Wonosari

Pamit senior Bapak Robertus Setiawan, untuk melanjutkan petualangan

Kami segera bergegas menuju ke arah timur, melewati Semanu dan Ponjong di Kabupaten Gunung Kidul. Hutan jati yang terlihat merangas karena kemaru panjang, kami lahap dengan nyaman

Hutan jati di Pegungan Sewu yang dipanggang kemarau panjang

Kami berulang mengubah menu dalam folder driving pada tablet layar sentuh di dashboard, baik energy recovery menjadi strong dari comfort, maupun driving mode menjadi sporty dari eco. Maka medan mendaki terjal, turun curam, maupun kelok tajam, menjadi tetap mampu dilahap dengan nyaman.

Hutan jati yang terlihat meranggas di Pegungan Sewu

Memasuki perbatasan Jawa Tengah dan DIY di tengah hutan

Mampir Museum Karst di teritorial Wonogiri, Jawa Tengah

Memasuki perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur di Kabupaten Pacitan

Bersyukur sudah mampu memasuki Gerbang Kabupaten Pacitan, Jawa Timur

Tujuan pertama petualangan kami di Pacitan adalah Gua Gong yang terkenal. Gua Gong ditemukan sekitar tahun 1930-an. Akibat musim kemarau berkepanjangan, saat itu Pacitan mengalami kekeringan dan sangat sulit untuk memperoleh air. Untuk mengatasi kondisi tersebut, 2 orang warga bernama Mbah Noyo Semito dan Mbah Joyo mencari sumber mata air, agar dapat digunakan untuk memenuhi kebutuhan mereka.

Akhirnya mereka menemukan sebuah lubang dan berinisiatif untuk menelusurinya. Dengan hanya membawa obor, mereka masuk ke lubang (goa) tersebut dan menyusuri lorong-lorong yang ada di dalamnya. Lubang yang mereka masuki ternyata sangat dalam, Mbah Noyo dan Mbah Joyo menghabiskan sebanyak tujuh obor hingga keduanya menemukan mata air. Setelah beristirahat dan mandi di mata air tersebut, mereka pulang sambil mengangkut air dan membawa kabar baik untuk penduduk. Mulai saat itu, warga berbondong-bondong memanfaatkan mata air yang ada di gua tersebut.

Menaklukan Pegunungan Sewu yang naik turun tajam

Bergaya di depan gerbang Gua Gong Pacitan yang indah

Melalui jembatan yang melintasi jurang dari parkiran ke mulut Gua Gong

Sesi foto di depan Gua Gong

Stalaktit dan stalakmit terindah se Asia Tenggara ada di Gua Gong Pacitan

Masih boleh memgang stalaktit, tidak boleh memukulnya, di Gua Gong Pacitan

Nama Goa Gong sendiri diambil dari misteri yang dahulu sempat menyelimuti dan menghantui masyarakat sekitar. Masyarakat sekitar gua mengungkapkan bahwa di malam hari mereka sering mendengar suara tabuhan menyerupai suara gong (salah satu alat musik gamelan) yang berasal dari dalam gua. Ada juga yang mengatakan bahwa di salah satu ruangan gua, terdapat batu yang apabila ditabuh akan mengeluarkan bunyi yang menggema, seperti bunyi gong.

Bunyi gong yang nyaris tidak terdengar di Gua Gong di Pacitan

Secara ilmiah, suara yang muncul itu ternyata dapat dijelaskan. Suara yang terdengar menyerupai bunyi gong tersebut dihasilkan dari tetesan air yang menimpa stalaktit atau stalakmit di gua tersebut. Apakagi ditambah dengan gema yang dipantulkan oleh formasi batuan di dalam gua, sehingga bunyi yang dihasilkan cukup apik untuk dinikmati.

Tujuan kami kedua adalah Sungai Maron di Pacitan

Sungai Maron Pacitan yang berarus kecil, di puncak musim kemarau

Kapal kecil untuk susur sungai Maron menikmati Amazone-nya Pacitan

Sungai Maron merupakan objek wisata yang cukup populer di Dersono, Kecamatan Pringkuku, Pacitan, Jawa Timur. Wisatawan dapat menyusuri Sungai Maron yang menyajikan petualangan bernuansa ala sungai Amazon di Brasil, dengan cara Susur Sungai Maron, yang menjadi salah satu kekayaan wisata alam di Pacitan. Daya tarik Sungai Maron adalah memiliki air sungai berwarna hijau kebiruan, yang merupakan refleksi dari cahaya matahari atas rerimbunan pohon di sekitar sungai, karena air Sungai Maron sangat jernih.

Pemandangan saat susur Sungai Maron berupa pepohonan hijau yang terdapat di tepian sungai selama perjalanan, sehingga suasananya sangat sejuk. Karena keindahan alamnya, Sungai Maron juga mendapat julukan Green Canyon Pacitan, tidak hanya disebut Sungai Amazonnya Pacitan. Wisatawan dapat menyusuri Sungai Maron yang bermuara di Pantai Ngiroboyo dalam perjalanan sepanjang 4,5 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih 30 hingga 45 menit di atas sungai dengan kedalaman hingga 20 meter ini.

Wisata Sungai Maron biasanya juga dilengkapi dengan menghabiskan waktu di Pantai Ngiroboyo. Wisatawan dapat turun sejenak untuk menikmati pantai. Sementara, perahu akan menunggu sebelum kembali ke dermaga Sungai Maron. Waktu tunggu perahu dapat mencapai dua jam. 

Jarak tempuh Sungai Maron dari pusat Pacitan sekitar 38,8 kilometer dalam waktu tempuh sekitar satu jam 13 menit. Perjalanan akan melewati Jalan Nasional 3, Jalan Basuki Rahmat, Jalan Gatot Subroto, Jalan WR Supratman, dan Jalan Raya Tompak Rinjing. Rute perjalanan sama dengan rute menuju Goa Gong, kemudian meneruskan perjalanan sejauh 15 kilometer ke arah Selatan.

Tujuan berikutnya di Pacitan adalah Pantai Klayar

Perjalanan kami lanjutkan dengan menuju ke Pantai Klayar yang tidak mudah, karena dikelilingi deretan bukit dan gua kecil yang terlihat stalaktit dan stalagmitnya dari pinggir jalan. Objek wisata Pantai Klayar memiliki garis pantai berpasir putih dengan dihiasi deretan pohon kelapa, serta menjulangnya bukit-bukit di pinggir pantai yang bisa didaki oleh wisatawan untuk melihat keindahan Pantai Klayar dari atas bukit.

Selain pantai berpasir putih, Pantai Klayar memiliki ciri khas yaitu ada sebuah celah di batu karang. Ketika ombak datang dengan cukup deras, sebagian air masuk ke bawah batu dan menyembur ke atas sehingga membentuk sebuah air mancur, bahkan dapat mencapai ketinggian hingga 10 meter. Air yang mancur juga disertai dengan suara mirip siulan, sehingga sering disebut sebagai Seruling Laut. Satu lagi ciri khasnya, yaitu deretan tebing karang raksasa di sisi timur, mirip patung Sphinx di Mesir.

Sesi foto di Pantai Klayar Pacitan yang indah

Pantai Klayar memiliki air laut yang biru dan ombak yang sangat besar, sehingga pengunjung tidak diperbolehkan untuk berenang. Bibir pantai dihiasi tumbuhan pohon kelapa dan gubug dengan lincak yang beratap daun kering, karang-karang di wilayah pasang surut juga masih terawat dengan alami. Wisatawan juga bisa menyusuri deretan karang untuk menemukan kerang Moluska dan bintang laut Echinodermata. Di samping itu, di sepanjang batuan juga terdapat tanaman limpet dan rumput laut yang tumbuh di sekitar bebatuan. Wisatawan kadang dapat melihat langsung masyarakat setempat memanjat pohon kelapa, guna mengambil air deresan (bahan baku untuk pembuatan gula jawa) atau hanya untuk disuguhkan langsung kepada wisatawan, sambil menikmati eksotisme alam Pantai Klayar

Deru angin dan ombak di Pantai Klayar di Pacitan

Pantai Klayar di Kabupaten Pacitan, Jawa Timur, semakin terkenal luas berkat lagu campursari hit yang berjudul “Pantai Klayar.” Lagu ini diciptakan dan dipopulerkan oleh musisi legendaris almarhum Didi Kempot, yang berjuluk “Godfather of Broken Heart”. Lagu “Pantai Klayar” mengisahkan kerinduan dan kesedihan seseorang yang teringat janji kekasihnya di pantai tersebut. Lirik ikoniknya yang berbunyi “Samar, ati iki samar yen nganti kowe lali janjimu ning Pantai Klayar” sangat melekat di hati para penggemar. Lagu ini dinilai sangat berjasa dalam melambungkan nama dan menarik minat wisatawan, termasuk komunitas Sobat Ambyar, untuk berkunjung langsung menikmati keindahan pesona alam Pacitan.

Deru ombak yang berulang-ulang di Pantai Klayar di Pacitan

Bersama para pelancong lain, menikmati keindangan Pantai Klayar di Pacitan

Menikmati keindahan malam dan gemerlap lampu Kota Pacitan, sebelum kami masuki

Terus kami menginap di Super OYO 942 Srikandi Hotel di Jl. A Yani Pacitan Sabtu 26 September 2026 sore masuk dan keluar hari berikutnya

Bugar setelah menginap di Hotel Srikandi Jl. Ahmad Yani Pacitan

Mengisi daya di SPKLU PLN Pacitan untuk Wuling Aira EV dengan motor listrik kecil bertenaga 40,2 HP (30 kW) dan torsi 85 Nm berpenggerak roda belakang

Minggu pagi, 27 September 2026 kami berjalan kaki menuju Gereja Katolik St. Fransiskus Xaverius Paroki Pacitan di Jl. Piere Tendean No. 9, Pucangsewu, Pacitan, Jawa Timur. Jadwal Misa Gereja Katolik Hari Minggu: Pukul 07. Gereja ini diresmikan Jumat, 3 Desember 2021 oleh Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji, SS yang didampingi langsung oleh RP Antonius Wahyuliana, CM, selaku Vikep Madiun,Keuskupan Surabaya.

Bangunan gereja ini mulanya hanyalah bagunan biasa seperti rumah penduduk. Namun setelah dilakukan renovasi, jadilah bangunan gereja itu jadi semegah sekarang. Biaya renovasi gereja ini menghabiskan kurang lebih dana sekitar Rp. 5 milyar. Konsep bangunan ini dirancang dengan memadukan nilai-nilai Katolik dengan model pentagonal asimetris, yaitu lima sisi tidak simetris, yang melambangkan kehidupan manusia yang tidak sempurna. Dari kelima singkap yang ada, posisinya tidak rata. Ada yang naik, ada pula yang turun. Itu merupakan simbolisasi dari gelombang, karena posisi geografis Kabupaten Pacitan memang berdekatan dengan Samudera Indonesia.

Gereja Katolik St. Fransiscus Xaverius Pacitan

Gereja Katolik St. Fransiscus Xaverius Pacitan

Nampak samping seperti sebuah perahu Gereja Katolik St. Fransiscus Xaverius Pacitan

Bangunan gereja ini dirancang oleh para mahasiswa Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya (UKWMS) dengan memadukan nilai-nilai Kristiani. Salah satunya tergambar dengan huruf M, yang merujuk pada Bunda Maria, sosok yang melahirkan Yesus Kristus sekaligus perlindungan bagi umat Katolik. Selain itu, bentuk bangunan yang mirip kapal juga memiliki arti khusus, tak ubahnya kapal yang berlayar di samudera yang sangat luas. Samudera sendiri dimaknai kekuasaan Tuhan yang tanpa batas. Bagian interiornya menggunakan puluhan jenis batu alam asli khas Pacitan.

Dari segi arsitektur gereja yang sekarang, setelah direnovasi sangat memiliki nilai yang bagus. Daya tarik utama gereja ini terletak pada desain bangunannya yang menyerupai kapal. Bentuk ini bukan tanpa makna, melainkan memiliki filosofi mendalam.

Interior gereja Katolik St. Fransiscus Xaverius Pacitan

Salib dengan corpus Yesus dari batu karang di gereja Katolik St. Fransiscus Xaverius Pacitan

Kapal sering dimaknai sebagai simbol perjalanan iman dan perlindungan, layaknya bahtera yang membawa umat menuju keselamatan. Desain ini juga mencerminkan Gereja sebagai tempat bernaung bagi umat dalam menjalani kehidupan spiritual.

Interior gereja Katolik St. Fransiscus Xaverius Pacitan yang menggunakan material batu lokal

Selain bentuk luar yang mencolok, bagian interior gereja juga dirancang dengan sederhana namun tetap menghadirkan suasana khidmat dan tenang. Keunikan gereja ini menjadikannya salah satu destinasi wisata religi di Pacitan yang layak dikunjungi.

Gereja St. Fransiskus Xaverius ini unik berbentuk seperti kapal, tidak terlalu besar dan ornamennya banyak berasal dari batu-batuan alam khas Pacitan.  Gua Maria terletak di halaman bagian belakang gereja, disebut Gua Maria Karang Bolong, namun sebenarnya nama resminya adalah Gua Maria Stella Maris yang bermakna Maria Bintang Samudera, yang diberkati oleh Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono, 5 Oktober 2019.

Patung Santo Fransis Xaverius, pelindung gereja

Gua Maria Karang Bolong di belakang gereja

Bersama Pastor Kepala Stasi Pacitan (yang masuk dalam wilayah Gereja Paroki Santa Maria Ponorogo, Keuskupan Surabaya) Romo Timutheus Siga, yang menggantikan pejabat sebelumnya yaitu R.D. Ferdinandus Eltyson Prayudi (Romo Yudi).

Minggu siang, 27 September 2026 kami rencana akan ke Sentono Gentong: Destinasi di puncak perbukitan yang menyajikan pemandangan teluk dan kota Pacitan dari ketinggian, serta sering dipakai sebagai lokasi lepas landas paralayang.

Meski tak banyak disebut, Pacitan ternyata menyimpan catatan masa perjuangan. Satu di antara bukti sejarahnya yakni Monumen Palagan Tumpak Rinjing, yang kami kunjungi sebelum mencapai Sentono Gentong.
Monumen yang terdiri dari patung Jenderal Sudirman dan Supriyadi tersebut masih berdiri kokoh hingga saat ini. Lokasinya di tepi jalan raya Pacitan-Solo, ruas Desa Dadapan, Kecamatan Pringkuku. Di situ terjadi pertempuran hebat dengan gugurnya lebih kurang 10 orang pejuang Indonesia saat melawan Belanda

Sejarah Tumpak Rinjing tidak dapat dipisahkan dari aktivitas gerilya Jenderal Sudirman. Perlawanan itu dilakukan usai Belanda kembali menguasai Yogyakarta pada 19 Desember 1948. Keberadaan Jenderal Sudirman yang memimpin perang gerilya sampai ke Pacitan, terus menjadi incaran Belanda. Dengan menurunkan pasukan berjumlah cukup besar, pihak penjajah terus menelusuri jejak Jenderal Sudirman dan pasukannya. Bahkan khusus ke Pacitan ini Belanda melakukan pengejaran juga lewat laut. Begitu pasukan Belanda menepi di pantai Pacitan pada 13 Januari 1949, perlawanan pun mulai terjadi di sejumlah tempat. Salah satu yang terbesar terjadi di Tumpak Rinjing pada tanggal 7 Juni 1949. Pertempuran hebat tersebut kemudian dikenal dengan Palagan Tumpak Rinjing. Selanjutnya, setelah kondisi aman, pada tanggal 7 Juli 1949, Jenderal Sudirman meninggalkan Pacitan menuju Yogyakarta.

Palagan Tumpak Rinjing yang kami kunjungi

Setelah menikmati heroisme Palagan Tumpak Rinjing, kami segera menuju ke Sentono Gentong Pacitan terletak di Desa Dadapan, Kecamatan Pringkuku, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur. Sentono Gentong Pacitan merupakan tempat wisata yang berada di area perbukitan. Kawasan wisata yang dibuka pada tahun 2018 ini dapat melihat Kota Pacitan dari ketinggian.

Pengunjung yang tiba di Sentono Gentong Pacitan akan menikmati pemandangan terbuka ke arah Teluk Pacitan yang sangat menakjubkan. Terlihat juga pasir putih Pantai Teleng Ria sampai Pantai Pancer Door yang tampak seperti bulan sabit. Keindahan pemandangan tersebut tampak menyatu dengan barisan perbukitan yang mengelilingi layaknya dinding raksasa. Sapuan awan tipis yang sesekali terlihat membuat suasana semakin syahdu.

Pada malam hari, pengunjung akan disuguhkan keindahan gemerlap cahaya lampu Kota Pacitan yang tampak seperti taburan bintang. Bintang di langit saat cuaca cerah semakin menambah semarak pemandangan di depan mata. Jarak tempuh Sentono Gentong Pacitan dari pusat Kota Pacitan sekitar 25 kilometer dengan waktu tempuh kurang lebih 44 menit.

Teluk Pacitan yang nampak indah dari Selo Gentong

Perjalanan akan melalui Jalan Laksamana Yos Sudarso, Jalan Tentara Pelajar, Jalan Basuki Rahmat, Jalan Gatot Subroto, Jalan WR Supratman, Jalan Raya Tompak Rinjing. Arahkan kendaraan menuju Desa Dadapan hingga menemukan Balai Desa Dadapan. Anda kemudian akan melihat plang petunjuk memasuki lokasi Sentono Gentong Pacitan. Jalan dari balai desa menuju lokasi tidak terlalu luas namun mobil pribadi dan kendaraan motor masih dapat melewatinya.

Rumah masa kecil Presiden SBY

Bergaya di depan rumah masa kecil Presiden SBY

Rumah masa kecil Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, terletak di Lingkungan Blumbang, Kelurahan Ploso berjarak 200 meter dari Terminal Kelas A Kota Pacitan atau sekitar 1 km dari Kota Pacitan. SBY menempati rumah ini sejak kelas 5 SD (tinggal bersama pamannya yang seorang lurah bernama Pakde Sastro) hingga lulus SMA. Bangunan berdesain tradisional Jawa (Joglo) ini berdinding kayu dengan lantai tegel dan ukuran yang sangat sederhana. Kamar tidur pribadi SBY semasa muda sangat sempit, yakni hanya berukuran sekitar 2 meter x 1,5 meter, yang di dalamnya hanya muat sebuah dipan dan meja kecil.Rumah bersejarah tempat SBY tumbuh besar dan menimba ilmu ini kini dirawat dan dipenuhi oleh berbagai foto kenangan masa lalu, serta menjadi salah satu lokasi penanda sejarah perjalanan hidup SBY di Pacitan.

Bergaya di depan Museum dan Galeri SBY – ANI di Pacitan

Salah satu ruangan di Museum dan Galeri SBY – ANI di Pacitan

Museum dan Galeri SBY-ANI merupakan museum yang menyimpan sejarah dan perjalanan panjang salah satu tokoh berpengaruh di Indonesia yaitu Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono. Terletak di Jalan Lingkar Pacitan, Ploso, Pacitan, museum ini berada tepat di tepi Jalan Lintas Selatan (JLS) Pacitan, dan berbentuk bangunan megah, yakni bagaikan Gedung Putih di Amerika Serikat.

Bergaya salah satu ruangan di Museum dan Galeri SBY – ANI di Pacitan

Museum dan Galeri SBY-ANI dibangun di atas lahan seluas 1,5 hektar dengan luas bangunan dua lantai sekitar 7.500 meter persegi. Museum dua lantai tersebut berisi 30 segmen. Dari luarnya, museum ini berdesain modern dengan 6 pilar gagah yang berdiri di bagian depan. Di area luar museum terdapat pohon-pohon rindang di sisi kanan dan kirinya.

Lantai pertama Museum SBY menampilkan narasi awal pembentukan karakter Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), yang dipengaruhi oleh lingkungan alam dan kehidupan masa kecilnya di Pacitan. Pada fase ini, SBY mulai aktif dalam bidang olahraga, kesenian, serta berbagai kegiatan organisasi. Pameran berlanjut dengan dokumentasi perjalanan karier militernya, mulai dari pendidikan di AKABRI Magelang, pengabdian di TNI Angkatan Darat, penugasan luar negeri, hingga jabatan strategis sebagai Komandan Resor Militer dan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan di era pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri. Segmen paling menonjol di lantai ini menyoroti kiprah SBY sebagai Presiden Republik Indonesia selama dua periode (2004–2014), mencakup keputusan untuk mencalonkan diri, dinamika kampanye, hingga keberhasilan dalam dua pemilihan umum.

Kabupaten Pacitan terletak di sisi paling barat Provinsi Jawa Timur, dengan ibu kotanya adalah Kecamatan Pacitan. Pada zaman Hindia Belanda, daerah ini disebut Kawedanan Pacitan. Menurut Babad Pacitan dan sebuah babad yang diterbitkan di Poesaka Djawi, pada masa Demak paruh pertama abad ke-16, wilayah Pacitan merupakan bagian dari Ponorogo.

Dikisahkan di dalam babad tersebut bahwa orang-orang Pacitan berasal dari rombongan Bathara Katong yang diberi izin menempati daerah Pacitan. Daerah tersebut pada masa itu merupakan wilayah tak berpenghuni dan ditutupi oleh hutan belantara. Lebih lanjut, dikisahkan bahwa orang-orang pertama yang disebut sebagai pembuka hutan atau pembabat alas bernama Kiai Siti Geseng, Kiai Ampak Boyo, Ménak Sopal, dan Syekh Maulana Maghribi.

Selanjutnya kami meninggalkan Kota Pacitan ke arah Pemandian Air Hangat Tirtohusodo berada di Kecamatan Arjosari, sekitar 15 km dari Kota Pacitan ke arah utara, untuk menuju tujuan utama petualangan kami. Kami penuh semangat menuju Monumen Jenderal Sudirman berada di Desa Pakisbaru, Kecamatan Nawangan, sekitar 45 km dari Kota Pacitan. Monumen ini berdiri megah di atas gunung dan telah diresmikan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Di sini masih dapat kita lihat rumah yang digunakan Jenderal Sudirman ketika melakukan perang gerilya.

Pada tanggal 19 Desember 1948, beberapa hari setelah Soedirman keluar dari RS Panti Rapih Yogyakarta karena sakit, Belanda melancarkan Agresi Militer II untuk menduduki Yogyakarta. Pada saat pemimpin-pemimpin politik berlindung di Keraton Sultan Hamengku Buwono IX, Soedirman beserta sekelompok kecil tentara dan dokter pribadinya, melakukan perjalanan ke arah selatan dan memulai perlawanan gerilya selama tujuh bulan. Awalnya mereka diikuti oleh pasukan Belanda, tetapi Soedirman dan pasukannya berhasil kabur dan mendirikan markas sementara di Sobo, di dekat Gunung Lawu. Dari tempat ini, ia mampu mengomandoi kegiatan militer di Pulau Jawa, termasuk Serangan Umum 1 Maret 1949 di Yogyakarta, yang dipimpin oleh Letnan Kolonel Soeharto.

Ketika Belanda mulai menarik diri, Soedirman dipanggil kembali ke Yogyakarta pada bulan Juli 1949. Meskipun ingin terus melanjutkan perlawanan terhadap pasukan Belanda, ia dilarang oleh Presiden Soekarno. Penyakit TBC yang diidapnya kambuh; ia pensiun dan pindah ke Magelang. Soedirman wafat kurang lebih satu bulan setelah Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia. Ia dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Semaki, Yogyakarta.

Menyusuri jalur perjalanan gerilya Jenderal Sudirman, nampak jurang di bawah tebing yang kami lalui

Berangkat dari rumah dinas Panglima TRI di Bintaran Timur, Yogyakarta, menuju arah selatan dan sempat beristirahat di Grogol, dekat Parangtritis di Bantul. Lanjut ke wilayah Gunungkidul, masuk ke wilayah karst melalui rute Panggang, Paliyan (singgah di kediaman Mbok Sayuk), Semanu, hingga Bedoyo. Terus ke Wonogiri, melintasi Pracimantoro, Eromoko, Wuryantoro, Jatisrono, hingga Purwantoro. Lanjut terus ke Ponorogo, Jawa Timur masuk melalui Sumoroto, Ponorogo, Jetis, Sambit, Sawoo, Trenggalek, Tulungagung, dan Kediri. Bahkan melalui kawasan pegunungan dan hutan lebat seperti Karangnongko, Goliman, dan Pesanggrahan Bajulan di Loceret. Terus ke Pacitan, menjadikan Desa Pakisbaru, Kecamatan Nawangan, di Pacitan sebagai salah satu basis pertahanan utama, sebelum akhirnya kembali ke Yogyakarta pada Juli 1949

Gerbang masuk ke kawasan sejarah Jenderal Sudirman

Rumah Markas Gerilya Panglima Besar Jenderal Sudirman Desa Pakisbaru, Kecamatan Nawangan, di Pacitan bergaya sederhana dengan dinding dari anyaman bambu dan berlantai tanah. Terdapat beberapa ruang kamar yang pernah digunakan sebagai tempat peristirahatan Jenderal Sudirman, dan pengawalnya, Kapten Soepardjo Roestam, Kapten Tjokropanolo, Roto Suwarno, dan beberapa orang lainnya. Dari markas gerilya ini Jenderal Sudirman menjalin komunikasi dengan Kol. AH. Nasution, Kol. TB.  Simantupang, Kol. Gatot Subroto, Letkol I. Slamet Riyadi, Kol. Zulkifli Lubis, dan Mayor Suharto.

Monumen Jenderal Sudirman dibangun di Desa Pakis Baru karena Sang Jenderal pernah bermarkas di sini pada 1 April 1949 sampai 7 Juli 1949. Monumen Jenderal Sudirman ialah berupa patung Sang Jenderal setinggi sekitar delapan meter. Untuk sampai ke patung, terdapat 70 anak tangga yang harus dilalui. Anak tangga pertama berjumlah 45, kedua berjumlah delapan, dan ketiga berjumlah 17. Anak tangga itu bila disatukan adalah 17-8-45 yang melambangkan tanggal kemerdekaan Indonesia. Sesampai di tempat patung, tampak lapangan yang begitu luas dan dikelilingi bagunan berbentuk persegi. Sementara itu di setiap dinding bangunan, terdapat relief yang menggambarkan kisah hidup Jenderal Sudirman berbahan tembaga. Ada 38 relief yang terpampang di dinding, jika ingin melihat semua, perlu untuk berjalan kali mengelilingi lapangan.

Monumen Panglima Besar Jenderal Sudirman dengan pedang pora yang artistik

Monumen Panglima Besar Jenderal Sudirman memiliki ketinggian sekitar 8 meter dengan luas tanah sekitar 97 meter persegi. Bangunan ini memiliki delapan gerbang yang melambangkan delapan provinsi yang ada pada awal kemerdekaan. Pada bangunan terdapat 12 pedangpora yang menunjukkan penghormatan para prajurit TNI kepada Jenderal Sudirman. Pada pelataran bangunan terdapat tiga bagian undakan tangga dengan 70 anak tangga. Undakan atas memiliki 17 anak tangga, undakan tengah memiliki 8 anak tangga, dan undakan bawah memiliki 45 anak tangga yang melambangkan tanggal kemerdekaan Indonesia. Di sekitar monumen terdapat sekitar 38 relief yang menggambarkan kehidupan Jenderal Sudirman sejak kelahiran hingga kematiannya. Pada Monumen Panglima Besar Jenderal Sudirman terdapat patung Jenderal Sudirman yang terbuat dari perunggu.

Salah satu relief yang menggambarkan kisah hidup Jenderal Sudirman

Relief yang menggambarkan Jenderal Sudirman saat menjadi tentara PETA

Perjalanan Jenderal Sudirman yang bisa disaksikan melalui relief adalah sejak kelahirannya, ketika dirinya belajar mengaji, mengikuti kepanduan, bergabung dalam anggota PETA (Pembela Tanah Air pada zaman Jepang), perjuangan gerilya, hingga wafat di Magelang. Ketika sore hari, banyak warga sekitar yang berkunjung ke monumen Jenderal Sudirman untuk menikmati suasana. Memang, semilir angin perbukitan begitu sejuk ketika dinikmati sambil duduk-duduk di bawah patung.

Relief yang menggambarkan terpilihnya Jenderal Sudirman sebagai Panglima Tertinggi TNI

Salah satu petuah Jenderal Sudirman

Monumen Panglima Besar Jenderal Sudirman memiliki ketinggian sekitar 8 meter dengan luas tanah sekitar 97 meter persegi.

Setelah menikmati Monumen Panglima Besar Jenderal Sudirman di Pakis Baru, Nawangan pacitan, kami segera kembali ke rumah. Kami melewati sisi utara Pegungan Sewu yang terjal, menuju Purwantoro, Jatisarono dan Wonogiri kota. Terus ke Bayat di Klaten dan Kalasan.

Terbang bersama Wuling Aira EV ke Pacitan dengan motor listrik kecil bertenaga 40,2 HP (30 kW) dan torsi 85 Nm berpenggerak roda belakang, mampu menempuh 370 km, dengan tetap tangguh, nyaman dan irit. Juga tidak perlu ikut masuk antrian panjang kendaraan di SPBU, karena kelangkaan parah dan pembatasan pembelian BBM.

Terimakasih banyak atas semua dukungan, sehingga petualngan terbang dengan mobil listrik (flyeving) ke Pacitan telah berlangsung dengan lancar.

Sabtu dan Minggu, 26 dan 27 September 2026

Menikmati lembah dan jurang yang dalam di samping kami, saat menanjak tinggi di Pegunungan Sewu sisi utara

Categories
dokter Healthy Life rumah sakit sejarah ziarah

2017 Ziatour Dokter RSPR

ZIATOUR  DOKTER  RSPR  2017

fx. wikan indrarto

Dokter kurang piknik adalah hal yang tidak baik. Untuk meningkatkan kerjasama, keakraban dan kekompakan segenap dokter di RS Panti Rapih Yogyakarta (RSPR), juga untuk membentuk sinergi menghadapi tantangan yang lebih berat di tahun depan, maka diadakan acara dari, untuk, dan oleh para dokter RSPR. Acara yang dikomandani oleh dr. Radijanti ‘Nenny’ Anggraeni, SpKK ini dikemas dengan memadukan aspek religi, rekreasi dan nutrisi, yaitu Ziatour (ziarah singkat dan piknik jarak dekat) Dokter RSPR 2017. Acara ini dilaksanakan pada hari Sabtu, 11 November 2017, pk. 13-20, dengan menggunakan sebuah bis pariwisata dan kaos seragam untuk kekompakan.

Acara ini dikomandani oleh dr. Radijanti ‘Nenny’ Anggraeni, SpKK (paling kanan)

Masih menunggu penumpang lainnya

Sudah siap menyambut tamu di gerbang masuk Gereja Kristus Raja Paroki Bacito Yogyakarta

Panitia yang sigap merancang acara Ziatour Dokter RSPR 2017

Kami menggunakan Bis Pariwisata Tami Jaya bercat hijau pupus yang melambangkan pertumbuhan. Kami awali acara dengan menuju Gereja Kristus Raja Baciro, Yogyakarta yang berjarak 3,1 km dari RSPR. Sejarah mencatat bahwa pada tahun 1943, Baciro masih merupakan salah satu Kring dari Paroki St. Antonius Kotabaru, yang mengadakan misa di Aula Pabrik Cerutu Taru Martani Jl. Kompol Bambang Suprapto No. 2A Yogyakarta. Pada tanggal 27 Oktober 1963, barulah Gereja dan Paroki Kristus Raja Baciro diresmikan berdirinya, yaitu di Jl. Melati Wetan No. 13 Yogyakarta.

Para dokter senior (dr. Tyas dan dr. Sulanto) yang selalu menginspirasi

Para dokter senior (dr. Djoko dan dr. Pandit) yang juga selalu menginspirasi

Kita ingat bahwa pada hari Sabtu, tanggal 27 Mei 2006 terjadi Gempa Bumi hebat pada pukul 05.56 dengan kekuatan 5,9 Skala Richter, dengan durasi waktu 56 detik, yang telah mengguncang wilayah DIY dan sebagian Jateng. Paling tidak ada 6.000 orang meninggal, banyak bangunan hancur, dan ratusan ribu orang kehilangan tempat tinggal. Di Paroki Kristus Raja Baciro yang sedang berlangsung misa harian pagi, gempa bumi ini menghancurkan bangunan gereja dan membawa korban seorang koster meninggal dunia, saat menjalankan tugas yaitu Bpk. E. Teguh Basuki, dan beberapa umat terluka. Bangunan gereja sudah tidak dapat dipakai lagi, maka untuk Ekaristi dan peribadatan lain diselenggarakan di gereja darurat (tenda) selama satu tahun. Renovasi gereja korban gempa selesai pada Mei 2007 dan pemberkatan gedung gereja tanggal 27 Mei 2007, pada peringatan satu tahun gempa bumi.

Saling koordinasi sebelum pindah tempat

Yunior (dr. John) yang siap menjalankan perintah senior (drg. Agus)

Bangunan gereja baru yang sekarang ini diberkati oleh Uskup Agung Semarang Alm Mgr. Yohanes Pujosumarta, Pr dan diresmikan oleh Sekretaris Daerah Pemerintah DIY, drs. Ichsanuri, MM pada tanggal 25 November 2012, dan merupakan bangunan hasil relokasi gereja lama. Gereja Kristus Raja Baciro yang baru dibangun dengan menyerap budaya lokal, yaitu bentuk bangunan kubah yang berbentuk Joglo, bangunan rumah adat Yogyakarta. Gereja dengan daya tampung kedua terbesar se Kevikepan DIY ini sangat indah dengan sentuhan budaya Jawa yang khas, dilengkapi dengan Gua Maria Ratu Rosari di samping gereja utama.

Belum siap semua, tetapi kamera sudah terlanjur merekam

Ini juga belum siap semua je, lha kok malah sudah dijepret ulang

Nah, ini baru pose yang benar oleh segenap peserta

Khusuk saat dr. Maria Dewanti memimpin doa di depan Goa Maria Ratu Rosari, Baciro

Ziarah singkat dokter RSPR 2017 dan ucap syukur atas semua anugerah Tuhan, diawali dengan berdoa bersama di Gua Maria Ratu Rosari, dalam Kompleks Gereja Kristus Raja, Paroki Baciro, Yogyakarta. Kami semua diingatkan tentang ajaran Santo Paulus kepada Jemaat di Roma, yang pantas menjadi pegangan bagi kita semua, segenap dokter saat bekerja sama di RSPR (Rom 12: 5-16A). Ajaran itu dibacakan oleh dr. Maria Dewanti, SpRad sebagai pemimpin doa di depan Goa Maria Ratu Rosari, Baciro. Paling tidak ada 2 hal yang penting, yaitu ‘bersuka citalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan dan bertekunlah dalam doa’. Kemudian yang kedua adalah ‘hendaklah kalian sehati sebudi, dalam hidupmu bersama.’ Kami semua peserta ziatour sempat terkagum saat menikmati keindahan arsitektural gereja baru, paska bencana gempa bumi dahsyat Sabtu, 27 Mei 2006. Setelah dr. Esdras Ardi Pramudita, SpS datang menyusul naik Grab, kita semua berfoto bersama di lokasi itu, dan melanjutkan perjalanan secara pelan, dengan piknik jarak dekat.

Suasana ceria di dalam bis saat melanjutkan acarea ke tujuan kedua

Setelah dr. Bagus Nugroho, SpP, dr. Theresia Riawati, SpRad, drg. Krisnovianto, SpKG yang baru selesai praktek, dan mbak Helvi Humas RSPR menyusul bis kami di sekitar Blok O, Banguntapan Bantul, kami segera bergegas berangkat. Tujuan pertama adalah menyusuri jejak Mantan Presiden AS Barrack Obama saat berkunjung di Yogyakarta pada hari Rabu (28 Juni 2017), yaitu mengunjungi Tebing Batu Breksi yang terletak di Dusun Groyokan, Kelurahan Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman. Tebing Breksi yang berjarak 17,6 km dari Gereja Baciro ini sangat cantik dan mulai terkenal saat banyak foto-foto yang menggambarkan keindahannya beredar di Instagram.

Tempat wisata yang satu ini memang unik, karena mengedepankan tebing sebagai obyeknya. Sayang sekali, jalan menuju lokasi tersebut macet merayap dan dipadati oleh banyak sekali bis pariwisata, sehingga kami memutuskan tidak jadi pergi ke sana. Kami hanya dapat membayangkan tebing yang tampak bagai mahakarya seni raksasa ini, yang diresmikan oleh HB X Gubernur DIY pada 30 Mei 2015. Segera kami mengingat saat yang bersamaan dengan Tebing Breksi diresmikan, juga dikenalkan Tlatar Seneng, sebentuk area luas yang dilengkapi tempat duduk melingkar dilengkapi panggung bulat berdiameter kira-kira 15 meter. Tlatar Seneng berada satu kawasan dengan Tebing Breksi dan difungsikan untuk tempat pertunjukan kesenian disana. Sekilas panggung ini mengingatkan kita pada amphiteater dalam Colosseum di Roma Italia.

Sudah bergaya, meski yang lain masih akan menyusul datang

Kami juga hanya mampu membayangkan tentang batuapung jenis breksi, yang merupakan salah satu bahan bangunan. Di lokasi tersebut, yang membuktikan dengan sangat meyakinkan bahwa perlapisan ini merupakan hasil letusan gunungapi yang eksplosif. Batuan semacam ini memiliki ketebalan antara 300-600 m. Secara stratigrafi (urutan perlapisan), batu di Tebing Breksi berada di atas Lava Bantal Berbah, di dekat Kali Oya, Berbah yang juga kami lewati dalam perjalanan. Distribusi yang luas sampai ke Wonogiri dan dengan ketebalan yang besar, mengindikasikan bahwa batuan ini dihasilkan dari suatu peristiwa rangkaian letusan gunungapi yang besar, pada sekitar 20 juta tahun lalu. Kemungkinan besar kejadiannya tidak kalah dahsyat dibandingkan dengan letusan Toba Volcano di Sumatera Utara. Saat ini, Tebing Breksi atau yang lebih dikenal dengan Taman Tebing Breksi, benar-benar sudah ditetapkan sebagai kawasan cagar budaya.

Apakah dr. Tyas dan drg. Agus ini kakak beradik, kok tidak serupa?

Terlalu banyak kamera, jadi sulit fokus arah

Tujuan kami selanjutnya adalah Istana Ratu Boko, yang berjarak 3,6 km dari Tebing Breksi yang merupakan sebuah peninggalan situs arkeologi kompleks bangunan istana raja. Situs ini diduga sebagai tempat berkegiatan, situs permukiman atau istana raja (keraton), namun fungsi tepatnya belum diketahui dengan jelas. Istana Ratu Boko diperkirakan sudah dipergunakan orang pada abad ke 8 pada masa Wangsa Sailendra (Rakai Panangkaran) dari Kerajaan Medang (Mataram Hindu). Pendapat ini berdasarkan pada kenyataan bahwa kompleks ini bukan candi atau bangunan dengan sifat religius, melainkan sebuah istana berbenteng dengan bukti adanya sisa dinding benteng dan parit kering sebagai struktur pertahanan. Nama “Ratu Boko” berasal dari legenda masyarakat setempat. Ratu Boko (Jawa, arti harafiah: “raja bangau”) adalah ayah dari Loro Jonggrang, yang juga menjadi nama candi utama pada kompleks Candi Prambanan. Kompleks bangunan ini dikaitkan dengan legenda rakyat setempat tentang Loro Jonggrang.

Gaya resmi, mumpung pengunjung lain sudah menyingkir

Ulangi gaya, karena tadi belum membentangkan spanduk

Semoga lutut drg. Agus dan drg. Krisnov yang untuk jongkok masih dapat menyangga untuk berdiri

Lutut drg. Krisnov sudah menyerah, untung segera dapat berdiri

Istana Ratu Boko juga terkenal sebagai tempat terbaik untuk menikmati sunset di Jogja. Lokasinya yang berada di perbukitan memungkinan hal itu, juga menyaksikan pemandangan sebagian kota Jogja. Istana Ratu Boko adalah sebuah bangunan megah yang dibangun pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran, salah satu keturunan Wangsa Syailendra. Istana yang awalnya bernama ‘Abhayagiri Vihara’ atau biara di bukit yang penuh kedamaian ini, didirikan untuk tempat menyepi dan memfokuskan diri pada kehidupan spiritual. Berada di istana ini, anda bisa merasakan kedamaian sekaligus melihat pemandangan kota Yogyakarta dan Candi Prambanan dengan latar Gunung Merapi.

nah, ini pose wajib dan resmi

Wah, ada yang nutupi tulisan Keraton Ratu Boko je

Meski didirikan oleh seorang raja beragama Buddha, istana ini memiliki unsur-unsur Hindu. Itu dapat dilihat dengan adanya Lingga, Yoni, arca Ganesha, serta lempengan emas sebagai bentuk pemujaan terhadap Dewa Rudra, yang merupakan nama lain Dewa Siwa. Adanya unsur-unsur Hindu itu membuktikan adanya toleransi umat beragama yang tercermin dalam karya arsitektural. Memang, saat itu Rakai Panangkaran yang merupakan pengikut Budha hidup berdampingan dengan para pengikut Hindu. Gambaran toleransi, sinergi dan kerja sama era Rakai Panangkaran, tentu saja akan berlanjut kepada kita semua segenap dokter di RSPR, dalam sebuah dokumentasi yang tak lekang oleh jaman. Kami harus berbagi momentum dengan para pengunjung lain yang sangat padat, saat akan berfoto dalam keindahan bangunan arkeologis itu.

Semua peserta dibagi tiga kelompok, yaitu gajah, monyet dan macan, dengan berkalungkan kacang panjang, pisang dan sosis di leher, sebagai pengenal anggota kelompok.

Sebagian dari berbagai games yang menegangkan, menguji nyali, dan penuh canda

Pada salah satu lapangan berumput hijau di luar beteng Istana Ratu Boko, kami mengadakan fun-games dalam acara outbond, yang dirancang sangat atraktif oleh dr. Caraka Anto Yuwono dan mbak Helvi. Semua peserta dibagi tiga kelompok, yaitu gajah, monyet dan macan, dengan berkalungkan kacang panjang, pisang dan sosis di leher, sebagai pengenal anggota kelompok. Dengan berbagai games yang menegangkan, menguji nyali, dan penuh canda, dr. John Hartono, dr. Esdras Ardi Pramudita, SpS dan drg. Agus Sri Gunarto, SpBM memimpin masing-masing kelompoknya. Sayang sekali dr. Pandit Sarosa, SpAn harus mengakhiri kebersamaan karena ada acara lain, tetapi untunglah dr. Fx. Suharnadi, SpPD-KEMD datang menyusul untuk menggantikan posisinya. Setelah puas berfoto groufi dan selfi berisiko dalam cuaca sedikit mendung, kami segera melanjutkan perjalanan ke tujuan selanjutnya, saat Ibu Wahyu Tyasmono hadir menyusul, untuk memastikan bahwa dr. Tyasmono, SpPD dalam kondisi tetap bugar paska rawat inap.

Menang sing endi iki?

Juara pertama dr. Sulanto yang paling mantab

Juara kedua dr. Theresia Riawati yang hebat

Tetap bergaya, meski hanya juara tiga

Ini bukan di Candi Borobudur Magelang

Acara ziatour 2017 ini ditutup dengan makan malam bersama di puncak bukit, sambil menikmati pemandangan alam yang terpampang luas, di Abhayagiri Restaurant, sekitar 2,1 km dari Istana Ratu Boko. Kita ingat bahwa Abhayagiri Restaurant yang nge-hits sejak tahun 2016 ini, terletak di desa Sumberwatu, Prambanan, yang menarik dari resto ini adalah view Gunung Merapi, Candi Prambanan dan Sojiwan. Ditambah lampu hias yang tertata, menjadikan spot ini sangat bagus untuk dikenang. Puncak acara adalah sesi ramah tamah segenap dokter RSPR yang informal, akrab, dan tanpa sungkan. Setelah makan malam menu spesial 88, kita berbagi hadiah untuk juara fun-games outbond. Lagu ‘Kemesraan’ dan ‘Gundhul2 Pacul’ yang dinyanyikan oleh kelompok Macan dan Monyet, menjadi penentu juara 1 dan 2, karena hasil fun-games keduanya adalah draw.

Malam di Abhayagiri Restaurant yang nge-hits sejak tahun 2016

Suasana malam di Abhayagiri Restaurant

Sebelum acara ditutup, terjadi kudeta karena dr. Djoko Rijanto, SpS mengambil alih mimbar dan microphone, dengan mengungkapkan kesedihannya karena ada 2 orang peserta yang telah melakukan kesalahan selama perjalanan di bis. Lalu dr. Sabarno Pracoyo, SpB dan drg. Krisnovianto, SpKG yang dipanggil maju ke depan oleh dr. Djoko Rijanto, SpS dituduh melakukan kesalahan fatal dan membuat suasana malam itu menjadi sangat tegang, mencekam dan sunyi. Ternyata keduanya melakukan kesalahan fatal, yaitu berulang tahun saat acara ziatour digelar. Hukuman berat segera dijatuhkan, yaitu meniup lilin di atas kue tart coklat dalam iringan lagu ‘Happy Birthday” dari segenap peserta yang sontak berubah menjadi sumringah. Kami semua juga diingatkan oleh dr. Sulanto Saleh Danu, SpFK bahwa semua kegiatan ini intinya adalah menumbuhkan ‘paseduluran’ atau ‘paguyuban’ segenap dokter RSPR, yang seharusnya diselenggarakan rutin.

Dua dokter (dr. Sabarno dan drg. Krisnov) yang dipanggil dr. Djoko Rijanto, SpS

Hukuman berat bagi dokter yang melakukan kesalahan fatal

Menikmati sajian malam di Abhayagiri Restaurant

Porsi kecil makan malam di Abhayagiri Restaurant

Segera kami menikmati keindahan lokasi yang sangat cantik pada saat petang hari, dengan dinyalakannya lampu sorot yang diarahkan ke berbagai sisi, karena akan menghasilkan panorama yang indah, gagah dan megah. Kenangan segenap dokter RSPR secara bersama di situ, diabadikan secara khusus, berulang dan profesional, menggunakan teknik tinggi fotografi digital luar ruang, oleh mas Henry PPU RSPR.

Suasana malam yang cerah di Abhayagiri Restaurant

Kemudian kami kembali ke RS Panti Rapih Yogyakarta yang berjarak 16,2 km dari Abhayagiri Restaurant. Perjalanan pulang dari Abhayagiri Restaurant, setelah diselingi dr. Sabarno Pracoyo, SpB yang turun dari bis di dekat Kalasan, membuat kami terjebak macet jalanan di kota Yogyakarta, yang malam itu padat kendaraan karena cuaca cerah. Bus seri Tourista facelift buatan Karoseri Laksana, Ungaran, Jawa Tengah yang kami naiki itu sangat elit, antara lain ditandai dengan pembaruan desain lampu depan dan desain grill depan agar lebih tampil memukau. Tourista keluaran awal 2016 seharga Rp 337,5 juta ini menggunakan platform sasis terbaru, Hino FC 190, produksi kebanggan Jepang. Bus dengan lebar bodi 260 milimeter ini, tampil mempesona dengan interior bus yang didesain mewah dengan lampu LED untuk penerangan kabin. Kami segera larut dalam alunan lagu-lagu pop yang diputar melalui perangkat audio-video digital dolbi di dalam bis, yang mampu membuat kami betah.

Sebagai seorang dokter, tentu saja banyak sekali acara, rutinitas, dan kegiatan lain yang harus diikuti. Namun demikian, dengan meluangkan waktu sejenak untuk mengikuti program ziatour dokter RSPR 2017 yang menempuh jarak 43 km dan fenomenal ini, tentu kita dapat rehat sejenak dalam acara yang sangat mengasyikkan.

Mengucapkan terimakasih kepada semua pihak

Terimakasih atas perhatian, keterlibatan dan kekompakan kita semua. Sampai jumpa pada acara serupa berikutnya.

Salam hangat dokter RSPR,

wikan dan segenap Panita Ziatour Dokter RSPR 2017.

Categories
anak dokter Healthy Life Jalan-jalan sejarah

2016 San Fransisco CA Amerika

SAN  FRANSISCO

fx. wikan indrarto & b. sari prasetyati

Hari Minggu pagi buta, 21 Agustus 2016 yang masih gelap, setelah selesai acara the 28th International Congress of Pediatrics (IPA 2016) di ‘West Building Vancouver Convention Centre’, kami menumpang taxi dari Hotel Barclay yang beralamat di 1348 Robson St, Vancouver, BC V6E 1C5, Kanada, menuju Vancouver International Airport (YVR). Kami akan melanjutkan penjelajahan di San Fransisco, sebelum pulang ke Indonesia.

Penerbangan dengan pesawat Airbus A320-200 AC 560 milik Air Canada

‘Wellcome to the US’ di San Fransisco International Airport (SFO)

Penumpang tujuan Amerika Serikat, menempati segmen tersendiri di Vancouver International Airport (YVR), terpisah dengan pasien tujuan negera lainnnya. Setelah gagal mengatasi kesulitan proses ‘auto check in’ dengan mesin, kami dibantu petugas darat maskapai Air Canada, untuk pembayaran biaya bagasi penumpang. Sebuah kejadian yang tidak pernah kami alami pada maskapai penerbangan lainnya. Selain itu, ada juga fasilitas pengalihan status tas saat masih di ruang tunggu penumpang, yang awalnya akan masuk kabin pesawat dapat dialihkan menjadi tas bagasi. Rasanya di bandara lain belum pernah memiliki aturan seperti ini. Setelah itu, proses pemeriksaan imigrasi dilakukan oleh petugas dari Amerika Serikat, sehingga sudah ada ucapan ‘Wellcome to the US’, bendera AS yang berkibar di konter tersebut, dan penyerahan deklarasi bebas cukai. Penerbangan dengan pesawat Airbus A320-200 AC 560 yang memakan waktu 1 jam 35 menit, menjadi terasa sebuah penerbangan domistik. Perjalanan sejauh 857 mil atau 13.900 km dari Vancouver Kanada ke San Fransisco Amerika Serikat, masih berada di dalam satuan waktu GMT yang sama. Kami mendarat di San Fransisco International Airport (SFO) di pantai barat Amerika Serikat pada pukul 9.30, tidak lagi melalui proses imigrasi, tetapi sudah langsung dikejutkan dengan suasana kapitalistik murni, dengan aturan bahwa penggunaan troli bagasi penumpang dikenai biaya sewa.

Menikmati Bay Area Rapid Transit (BART) yaitu sistem transportasi umum yang melayani seluruh San Francisco Bay Area

Perjalanan kami selanjutnya adalah mencari tiket kereta api ke pusat kota, dengan menuju konter BART. Bay Area Rapid Transit (BART) adalah sistem transportasi umum yang melayani seluruh San Francisco Bay Area. Sistem BART pesat mengoperasikan lima rute sejauh 167 km, dengan 44 stasiun ditambah 5,1 km AGT ke Oakland Airport. Dengan rata-rata mengangkut 423.120 penumpang pada hari kerja dan 126 juta penumpang per tahun pada tahun fiskal 2015, BART adalah maskapai rel tersibuk kelima di Amerika Serikat. BART dibentuk pada tahun 1957 untuk melayani penumpang di San Francisco, Alameda County, dan Contra Costa County. Pembelian tiket di mesin sudah seringkali kami lakukan, tetapi pada BART sedikit berbeda. Pembelian yang dibantu oleh penumpang lain, ternyata menggunakan sistem pengurangan nominal uang kita, sampai setara tarif BART sesuai tujuan. Setelah itu, uang kembalian dan tiket akan keluar dari mesin.

Dari Pittsburg/Bay Point di San Francisco Int’l Airport Station, kami naik KA selama 30 menit dengan 10 perhentian, melewati stasiun San Bruno Station, South San Francisco Station, Colma Station, Daly City Station, Balboa Park Station, Glen Park Station, 24th St Mission Station, 16th St. Mission Station, Civic Center/UN Plaza Station dan turun di Powell St. Station. Perjalanan dilanjutkan dengan berjalan kaki sekitar sekitar 7 menit sejauh 0,4 mil, untuk mencapai Union Square Plaza Hotel, yang beralamat di 432 Geary Street, San Francisco, CA 94102, Amerika Serikat dengan Biaya: US$8,95. Oleh karena kamar yang kami pesan belum siap dan masih digunakan tamu lain, kami hanya check in menitipkan tas dan melanjutkan petualangan.

Bingung di perempatan saat akan membeli ‘Clipper’ San Francisco, yaitu kartu dengan deteksi sentuh (contactless smart) isi ulang, yang digunakan untuk pembayaran ongkos angkutan umum secara elektronik di San Francisco Bay Area.

Salah satu sudut San Francisco Bay Area.

Kami harus berjalan 2 blok menyusuri Geary Street, untuk membeli tiket di Walgreens Store #1283, semacam apotek waralaba, di 500 Geary St. Untuk membeli ‘Clipper’ San Francisco, yaitu kartu dengan deteksi sentuh (contactless smart) isi ulang, yang digunakan untuk pembayaran ongkos angkutan umum secara elektronik di San Francisco Bay Area. Pertama kali diperkenalkan sebagai ‘TransLink’ pada tahun 2002 dan namanya diubah menjadi Clipper pada tanggal 16 Juni 2010. Kami naik Bis Line 38 menyusuri Geary St naik dari perempatan Jones. Seperti Melbourne dan Vancouver yang pernah kami kunjungi, San Fransisco juga memiliki tata ruang jalan yang sama, yaitu dalam bentuk kotak blok, sehingga rapi dan mudah diingat.

Salah satu sudut Fort Poin untuk melihat Golden Gate Bridge.

Setelah melewati Leavenworth, Hyde, Larkin,  Polk, Van Ness  Ave, Franklin, Gough, Octavia, Laguna, Buchanan, Webster, Fillmore, Steiner, Pierce, Scott, Devisadero, Masocanic Ave, Arguello, 8 th, Funston Ave, kami turun di Park Presidio Blvd. Dari situ kami berganti dengan bis Line 28 menyusuri Park Presiderio melewati Clement, California, Lake, masuk Gen. Douglas MacArthur Tunnel dan menyusuri Veterans Blvd untuk turun di Fort Poin dan melihat jembatan legendari ‘Golden Gate Bridge’ di Fort Point yang penuh wisatawan.

Bergaya melihat Golden Gate Bridge di Fort Point yang penuh wisatawan.

Mencari gaya lain saat melihat Golden Gate Bridge di Fort Point

Golden Gate Bridge adalah jembatan gantung ikonik yang membentang Selat Golden Gate dan menghubungkan kota San Francisco dengan Marin County di sebelah utara. Pada jembatan ini tersedia jalan raya U.S. Route 101 dan California State Route 1 di sepanjang teluk. Jembatan tersebut juga menyediakan pejalan kaki dan lalu lintas sepeda yang dirancang sebagai bagian dari U.S. Bicycle Route 95. Jembatan Golden Gate diakui oleh American Society of Civil Engineers sebagai salah satu dari Keajaiban Dunia, sekaligus salah satu simbol San Fransisco dan California yang diakui dunia.

Jembatan ini memiliki lebar 1,6 km dan panjang 4,8 km, melengkung dan seolah membatasi San Francisco Bay dan Samudra Pasifik. Jembatan ini adalah salah satu simbol paling diakui secara internasional dari San Francisco, California, dan Amerika Serikat. Telah dinyatakan sebagai salah satu ‘Keajaiban Dunia Modern’ oleh American Society of Civil Engineers. Frommer menggambarkan Golden Gate Bridge sebagai “jembatan yang paling indah di dunia untuk difoto.” Jembatan ini dibuka pada tahun 1937 dan sampai 1964 merupakan jembatan gantung bentang utama terpanjang di dunia, yaitu 1.300 m.

Terus bergaya dengan latar belakang Golden Gate Bridge di Fort Point.

Gaya lain de dekat Golden Gate Bridge di Fort Point yang penuh wisatawan.

Mengukur ketinggian Golden Gate Bridge di Fort Point San Fransisco.

Mengukur ulang ketinggian Golden Gate Bridge di Fort Point San Fransisco.

Setelah puas menikmati kegagahan struktur bangunan, keindahan panorama dan saling bantu dengan wisatwan lain untuk berfoto, kami melanjutkan perjalanan. Kembali kami naik bis Line 28, yang kondisi bis pada umumnya sangat berbeda dengan kondisi bis kota di Vancouver, Kanada. Bis kota di San Fransisco umumnya lebih tua, lebih sering ngebut, kurang nyaman dalam berkendara, karena gas rem berulang, sopir kurang sopan dan terkesan sombong, meskipun berpakaian lebih formal.

Mengatur gaya pengunjung lain di dekat Golden Gate Bridge di Fort Point yang penuh wisatawan.

Kami menyusuri Richardson Ave Street, melewati Palace of Fine Arts, lanjut menyusuri Lombard sampai Laguna, Oktavia, Gough, Franklin, dan di Souh van Ness berbelok kiri dan kami turun di Chestnut. Di Chosnut kami berganti bis kota Line 47 menyusuri South Ness Ave sampai GGNRA Headquarters, berbelok ke kanan menuju Fishermans Wharf untuk mencapai Alcatraz Departure Terminal. 

Kami hanya mampu membayangkan Alcatraz, yang sebenarnya adalah sebuah penjara lama yang terletak di sebuah pulau di San Francisco Bay. Pada awalnya adalah pusat pertahanan tentara dan akhirnya diubah menjadi penjara. Penjara Alcatraz menyimpan 1001 jenis misteri dan banyak sekali penjahat ataupun gengster  terkenal pernah dikurung di sini. Sekarang Alcatraz tidak lagi dijadikan sebagai penjara dan telah dibuka untuk pelancong dari seluruh dunia. Sore itu kami tidak jadi ikut keliling pulau Alcatraz, karena terlalu panjangnya antrian calon wisatawan di loket pembelian tiket.

Melewati Fishermans Wharf untuk mencapai Alcatraz Departure Terminal dan melihat kapal yang menuju ke Alcatraz. 

Dari Fishermans Wharf untuk mencapai Alcatraz Landing. 

Dari Pier 33, kami menyusuri dermaga atau San Francisco Fisherman’s Wharf untuk mencapai Pier 39 dengan menggunakan trem listrik. Dari sekian banyak dermaga di sepanjang ‘the embarcadero’ atau dermaga nelayan, Pier 39 adalah yang paling menarik dan paling banyak dikunjungi wisatawan. Pier 39 pertama kali dikembangkan oleh pengusaha Warren Simmons dan dibuka 4 Oktober 1978. Toko2 berkembang dengan pesat. Konsepnya memang ‘shopping arcade / pedestrian arcade’. Mobil2 di parkir jauh dari shopping arcade ini. Ada banyak toko souvenir di sekitar dermaga ini, wisatawan dapat berjalan-jalan sambil melihat-lihat suasana perbelanjaan, dan yang paling menarik adalah melihat singa laut yang banyak beristirahat di sana. Untunglah kami sempat melihatnya, meski hanya ada 1 ekor. Meskipun di daerah Fisherman’s Wharf di San Francisco memang menawarkan banyak daya tarik wisata, dengan dermaga-dermaganya yang cantik dan pemandangan pulau Alcatraz yang terkenal, tetapi bintang utama di Pier 39 yang mampu membuat para wisatawan berkumpul, adalah segerombolan singa laut dengan tingkah polahnya, yang jumlahnya dapat mencapai ratusan ekor. Pernah sejak September 1989 jumlah singa laut di Teluk California terus menurun, sedangkan jumlah mereka di Pier 39 secara umum meningkat. Beberapa orang berspekulasi bahwa singa laut pindah ke dermaga karena gempa Loma Prieta 1989, namun sebenarnya gempa terjadi sebulan setelah singa laut pertama tiba di Pier 39. Kemungkinan bahwa singa laut merasa lebih aman di Pier 39, dibandingkan di dalam ganasnya Teluk California.
Setelah puas menikmati Pier 39, kami pulag ke hotel untuk beristirahat. Maklum, perjalanan pulang kami diawali dengan bangun tidur pada pk. 2 dini hari dan mata tidak pernah sekejappun sejak bangun tidur itu. Kami naik bis Line 8 di North Point Stockton ke Powell, lalu menyusur Powell melewati Fransisco, Chestnut, Lombardi sampai Washinton Square, belok ke Columbus Ave sampai Kearny. Selanjutnya sampai bis sampai di ujung jalan Geary dekat Union Square untuk ganti bis kota Line 38, kembali ke hotel dengan menyusuri Geary. Malam itu kami tidur nyenyak, untuk memulihkan stamina yang sudah loyo dan melanjutkan petualangan kami di San Fransisco esok harinya.

(bersambung)

SAN FANSISCO HARI KEDUA

fx. wikan indrarto*)

Hari Selasa pagi, 23 Agustus 2016 yang dingin sekitar 14 derajad C, setelah selesai mengikuti acara the 28th International Congress of Pediatrics (IPA 2016) di ‘West Building Vancouver Convention Centre’, Vancouver, Kanada, kami melanjutkan petualangan di San Fransisco. Pada hari kedua di San Fransisco, dari Hotel Union Plaza di 432 Geary Street kami berjalan sekitar 2 menit sejauh 427 kaki menuju Geary Blvd & Taylor St untuk naik bis kota Muni Line 38 selama 7 menit dengan 7 perhentian, yaitu Jones St, Leavenworth St, Hyde St, Larkin St, Van Ness Ave, Franklin St. dan turun di Gough St. Selanjutnya kami berjalan kaki sekitar 2 menit sejauh 482 kaki untuk mencapai ‘Cathedral of Saint Mary of the Assumption’ yang beralamat di 1111 Gough Street, San Francisco, CA 94109, Amerika Serikat.

Katedral Santa Maria Assumpta, yang saat ini digembalakan oleh Mgr. Harry Schlitt adalah gereja utama untuk para pemeluk agama Katolik Roma, di Keuskupan Agung San Francisco, California. Katedral asli ‘Saint Mary Immaculate Conception’ dibangun pada 1853-1854 dan masih berdiri saat ini. Hal ini sekarang dikenal sebagai Gereja ‘Old Saint Mary’. Pada 1 Mei 1887 uskup agung meletakkan batu penjuru pembangunan gedung gereja baru. Uskup Agung Riordan, kemudian memberkati bangunan baru tersebut sebagai Katedral ‘Saint Mary of the Assumption’ pada 11 Januari 1891. Katedral kedua dibangun oleh Keuskupan Agung San Francisco selama tujuh puluh satu tahun. Pada tanggal 3 April 1962, Joseph T. McGucken menjadi Uskup Agung kelima San Francisco yang bertahta di katedral baru yang terletak di Van Ness Street. Pada tanggal 5 Mei 1971, katedral ini diberkati dan pada tanggal 5 Oktober 1996, secara resmi didedikasikan untuk Perawan Maria dengan nama ‘Cathedral Saint Mary of the Assumption’. Paus Pertama yang merayakan misa di katedral itu adalah Paus Yohanes Paulus II pada tahun 1987.

Katedral Santa Maria Assumpta ini dirancang oleh arsitek lokal John Michael Lee, Paul A. Ryan dan Angus McSweeney, berkolaborasi dengan arsitek yang dikenal secara internasional Pier Luigi Nervi dan Pietro Belluschi, yang pada saat itu menjabat Dekan Sekolah Arsitektur di MIT. Desainnya menyerupai kapal yang sedang berlayar dan mengingatkan kami akan Katedral Santa Maria yang mirip sekali di Tokyo, yang dibangun awal dekade ini. Ukurannya 77,7 m persegi, tinggi 57,9 m dan dimahkotai dengan  salib suci dari logam setinggi 16,7 m. Karena kemiripannya dengan agitator mesin cuci besar, katedral telah dijuluki “Our Lady of Maytag” atau “McGucken ini Maytag”. Bangunan ini pada tahun 2007 dipilih oleh ‘American Institute of Architects’ untuk masuk dalam daftar top 25 bangunan di San Francisco. Setelah khusuk berdoa dan mengucap syukur, kami segera mengambil gambar dari berbagai sudut, untuk mendokumentasikan kemegahan dan keindahan gedung ‘Cathedral of St. Mary of the Assumption’.     

Kami melanjutkan perjalanan dengan naik bis kota San Fransisco yang dikenal sebagai Muni karena dioperasionalkan oleh MTA (Municipal Transportation Agency) Line 38 lagi, menyusuri Geary Street, melewati Octavia, Laguna, Buchanan, Wesbter, Fillmore, Steiner, Pierce, Scott, Divisidero, Arguello, 8th Ave, dan turun di Park Presidio Ave. Rute ini sama persis dengan yang kami lalui hari sebelumnya, yaitu dengan berganti bis Muni Line 28 ke Fort Poin di Golden Gate Bridge. Hari Senin pagi, 23 Agustus 2016 saat itu taman di dekat jembatan tersebut sangat longgar karena bukan hari libur, sangat berbeda dengan hari sebelumnya. Kami lanjutkan perjalanan melalui Presidio Parkway dan turun di Richardson Ave, untuk menyaksikan keindahan Palace of Fine Art.

The Palace of Fine Arts di daerah Marina di San Francisco, California, adalah struktur monumental indah yang awalnya dibangun untuk acara Panama-Pacific Exposition tahun 1915, yaitu kegiatan pameran karya seni. Gedung ini dibangun kembali pada tahun 1965 dan proyek renovasi laguna, trotoar, dan retrofit diselesaikan pada awal 2009. Selain sering untuk ruang pameran seni, gedung indah itu juga menjadi tujuan yang populer bagi wisatawan dan merupakan lokasi favorit untuk foto pra pernikahan oleh banyak pasangan di seluruh San Francisco Bay Area. Dibangun di sekitar laguna buatan kecil, Palace of Fine Arts terdiri dari, pergola lebar sekitar 340 m yang mengelilingi rotunda atau tiang besar di pusat yang terletak di tepi air dalam laguna. Air tersebut dimaksudkan untuk menimbulkan bayangan atau echo dalam gaya klasik di Eropa saat dilihat, di mana hamparan air menjadi permukaan cermin untuk memantulkan bentuk bangunan megah dari kejauhan. Ornamen mencakup tiga panel garapan Bruno Louis Zimm yang mengelilingi rotunda, dan melambangkan kebudayaan Yunani. Pematung hebat Ulric Ellerhusen memahat patung perempuan menangis di atas tiang dan dekorasi pahatan alegoris yang menggambarkan kontemplasi, keheranan dan meditasi. Bagian bawah kubah Palace rotunda ini memiliki delapan tiang besar, yang awalnya berisi mural karya Robert Reid. Palace of Fine Arts yang dirancang arsitek William Gladstone Merchant dan Bernard Maybeck tahun 1912 dalam areal seluas 6,9 ha telah dicatat dalam ‘U.S. National Register of Historic Places’.

Setelah puas menikmati keindahan bangunan tersebut, kami melanjutkan dengan berjalan kaki dalam taman indah di Golden Gate National Recreation Area yang dibangun tahun 1900. Pada taman yang terletak di seberang Palace of Fine Arts tersebut, juga terdapat Letterman Digital Arts Center, yang didatangi oleh para mahasiswa dan pekerja film. Di tengah taman berdiri gagah, patung Mr. Eadweard James Muybridge (1830-1904), father of cinema San Fransisco. Setelah melihat berbagai karya pekerja seni, termasuk tempat proses editing film Star Wars edisi ke2, kami lanjut ke Montgomery Steet Barracks. Barak militer yang digunakan pada Civil War 1861-64 dan perang Spanyol Amerika tahun 1898, waktu itu  merupakan Music in the Military Presidio Band Barracks yang terkenal sejak tahun 1867.

Di dalam areal tersebut, juga ada The Walt Disney Family Museum (WDFM) yaitu sebuah museum yang menampilkan kehidupan dan warisan Walt Disney. Museum ini terletak di The Presidio of San Francisco, bagian dari National Recreation Area Golden Gate di San Francisco. Bangunan utama dibangun tahun 2009. The Walt Disney Family Museum didanai oleh Walt Disney Family Foundation-sebuah organisasi non-profit yang didirikan oleh ahli waris Disney, termasuk Diane Disney Miller, putri kandung Disney dan pendiri museum. Di dalam bangunan museum utama terdapat 40.000 fitur teknologi terbaru dan bahan bersejarah yang menggambarkan prestasi Disney yang meliputi gambar awal, animasi, film, musik, dan model Disneyland berdiameter 12 kaki. Di lobi museum terdapat 248 penghargaan yang dimenangkan Disney selama karirnya, termasuk Presidential Medal of Freedom dan banyak Academy Awards, termasuk penghargaan kehormatan untuk Putri Salju dan Tujuh Kurcaci, yang terdiri dari satu Oscar berukuran sebenarnya bersama tujuh Oscar kecil yang menggambarkan 7 orang Kurcaci. Ada juga 10 galeri yang menggambarkan cerita dimulai dengan sejarah leluhur Walt Disney dan berakhir dengan saat kematiannya pada tanggal 15 Desember 1966. Miniatur Walt Disney Carolwood Pacific Railroad juga dibangun di halaman belakang museum, termasuk lokomotif Lilly Belle. Setelah itu, kami melanjutkan perjalanan dengan naik bis Muni Line 43 di depan Presidio Transit Center, menuju ke Lombard Street. Kami melewati Divisadero, Scott, Pierce, Steiner, Fillmore, Webster, Buchanan, Laguna, belok ke kiri dan turun di Chesnut untuk ganti bis Muni Line 30 ke Powell Hyde Cable Car Line.

Kita tahu bahwa Cable Car atau mobil kabel di San Francisco yang dioperasikan secara manual adalah yang tertua di dunia. Mobil kabel merupakan ikon San Francisco, bagian dari jaringan transportasi perkotaan intermoda yang dioperasikan oleh San Francisco Municipal Railway. Dari dua puluh tiga jalur rel yang dibangun antara 1873 dan 1890, tiga rute masih tetap aktif, yaitu dari pusat kota dekat Union Square ke Fisherman Wharf, dan sepanjang California Street. Sebagian besar dari 7 juta penumpang tahunan mobil kabel ini adalah wisatawan, karena ini adalah salah satu tempat wisata yang paling signifikan di kota San Fransisco, bersama dengan Alcatraz Island, Jembatan Golden Gate, dan Fisherman Wharf. Daya tarik mobil kabel tidak menjadi berkurang meskipun sudah ada trem San Francisco, yang beroperasi di Market Street dan Embarcadero. Cable Car The Powell-Hyde (Jalur 60) berjalan dari utara dan melaweti jalan yang curam menanjak di Powell menuju Market, sebelum melintasi garis California Street di puncak bukit. Kemudin menurun dari puncak, berbelok ke kiri, dan menanjak lagi melewati Jackson Street sampai ke puncak di Hyde Street. Jalur ini adalah jalur paling menantang dan sangat diminati oleh wisatawan, sehingga sering terjadi antrian panjang di konter tiket.

Setelah berbaur dengan para wisatawan yang mengagumi mobil kabel tersebut, kami lanjutkan perjalanan dengan naik bis Muni Line 30,  menyusuri Columbus dan menyimpang untuk turun di Chesnut. Dari situ kami berjalan kaki 2 blok ke Lombard and Jones, untuk menikmati keindahan sebuah segmen Lombard Street. Segmen jalan tersebut dikenal sebagai ‘crookedest street’ yaitu jalan dari timur ke barat di San Francisco, California, yang merupakan jalan menurun paling curam di dunia. Membentang dari Presidio timur ke Embarcadero, dengan mendatar sebentar di Telegraph Hill, dan dicatat sebagai “jalan yang paling bengkok di dunia “, terletak di sepanjang segmen timur di lingkungan Russian Hill. Jalan itu dinamai Lombard Street oleh Jasper O’Farrell, seorang surveyor dari Philadelphia di San Francisco. Desain jalan menurun tajam ini pertama kali diusulkan oleh pemilik properti Carl Henry dan dibangun pada tahun 1922, yang dimaksudkan untuk mengurangi 27% kemiringan jalan menurun bukit ini, agar tidak terlalu curam untuk kendaraan.

Setelah terengah-engah berjalan mendaki 2 blok dengan kecuraman sekitar 30 derajad, kami harus antri untuk berfoto dengan banyak wisatawan lain. Pada areal tersebut cukup banyak wisatwan yang terkagum-kagum dengan arsitektur jalan menurun dan taman bunga di sekitarnya, sehingga membuat cukup sulit berfoto polos. Setelah menunggu cukup lama dan berhasil foto di tengah kecurman jalan, kami segera melanjutkan perjalan dengan menuruni bukit sebanyak 3 blok, untuk ganti naik Muni Line 30 di  akhir Russian Hill. Bis berjalan cepat menyusuri Columbus menyimpang Masont, melewati Washington Square yang padat pengunjung, lanjut Powell, sampai Stockton belok kanan menyusur sisi barat China Town, kemudian berbelok ke kiri menyusuri Mason. Kami turun di Geary dan lanjut pulang ke hotel untuk berkemas-kemas. Sore itu kami akan makan malam perpisahan dengan seorang teman dari Yogyakarta, yang telah bekerja di sebuah bank, yaitu Wells Fargo, sejak 25 tahun lalu. Malam harinya, kami harus check out dari hotel, untuk kembali ke Indonesia.

Terima kasih kami haturkan, kepada semua pihak yang terkait, sehingga perjalanan untuk mengikuti the 28th International Congress of Pediatrics (IPA 2016) di Vancouver Kanada dan petualangan di San Fransisco AS ini, dapat terlaksana. Sampai jumpa dalam perjalanan selanjutnya. Terima kasih.

Sekian

*) pelancong Jawa berdana cekak.

Ditulis di kamar no 608 Hotel Union Plaza

di 432 Geary Street, San Fransisco, California, USA

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?