JELAJAH KATEDRAL SE JAWA
Perjalanan darat (overland) untuk jelajah 7 buah Gereja Katedral se Jawa 23-27 Oktober 2024
fx. wikan indrarto & b. sari prasetyati
Katedral (bahasa Latin: cathedra yang berarti tempat duduk) adalah gedung gereja yang di dalamnya terdapat tempat duduk khusus yang disebut Katedra, yakni sebuah takhta bagi uskup. Katedral adalah bangunan untuk keperluan peribadatan, khususnya bagi denominasi yang memiliki hierarki episkopal, seperti Gereja Katolik, Gereja Anglikan, Gereja Ortodoks, beberapa Gereja Lutheran, dan beberapa Gereja Metodis, yang berfungsi sebagai tahta uskup, dan oleh karena itu juga berfungsi sebagai gereja pusat dari sebuah diosesan atau keuskupan.
Kursi yang dimaksud ditempatkan secara khusus dalam gedung Gereja utama keuskupan dan dikhususkan bagi kepala keuskupan tersebut, dan oleh karena itu menjadi simbol utama dari otoritas. Pada masa lampau, kursi merupakan lambang guru, dengan demikian kursi uskup melambangkan peran uskup sebagai guru. Kursi juga lambang kepemimpinan resmi, dan oleh karena itu kursi uskup melambangkan peran uskup dalam kepemimpinan sebuah keuskupan.
Kami berniat sungguh untuk mengunjungi semua Gereja Katedral (bahasa Latin : ecclesia cathedralis) se Jawa, sekaligus mengucap syukur atas semua rahmat Tuhan yang telah turun tiada henti untuk kami.
Perjalanan darat (overland) untuk jelajah 7 buah Gereja Katedral se Jawa kami lakukan pada Rabu malam, 23 sampai Minggu malam, 27 Oktober 2024. Langkah pertama adalah naik bis PO Rosalia Indah dari Jogja menuju Gereja Katedral Santo Perawan Maria Dari Gunung Karmel di Malang sejauh 394 km dalam 7 jam. PT Rosalia Indah Transport (Rosalia Indah atau juga dikenal dengan akronim Rosin) adalah sebuah perusahaan bus yang berbasis di Palur, Kecamatan Jaten, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Perusahaan ini merupakan bagian dari Rosalia Indah Group.
Nama “Rosalia” berasal dari nama anak sang pendiri, yaitu pasangan suami-istri Yustinus Soeroso dan Yustina Rahyuni Soeroso pada tahun 1983. Pada awalnya, mereka mengoperasikan dan mengelola sendiri layanan travel dengan armada berupa Mitsubishi Colt “Bibit Kawit” yang melayani trayek Surakarta (Solo)–Blitar, kemudian melakukan pengembangan trayek berupa Yogyakarta–Surabaya, dan Yogyakarta–Blitar/Malang. Pada tahun 1991, Rosalia Indah mulai mengubah orientasi layanan bus yang pada awalnya AKDP menjadi AKAP atau angkutan antarkota antar provinsi, dengan pengembangan trayek dari Blitar, Solo hingga Jakarta. Pada saat itu pula, Rosalia Indah juga melakukan penambahan armada berupa bus bermesin Hino sebanyak lima buah, yang tidak dilengkapi penyejuk udara (AC). Pada 10 April 2015, status Rosalia Indah berubah menjadi perusahaan Perseroan Terbatas berbadan hukum dengan nama PT Rosalia Indah Transport.

Kabin bis Rosalia Indah seri 3006 bermesin Mercedes-benz OH 1626 berbodi Jetbus 3+ buatan Adiputro

Istirahat makan di RM Bebek Taliroso Mejayan, Caruban dalam perjalanan ke Malang
Kamis, 24 Oktober 2024 : Jawa Timur
Kamis, 24 Oktober 2024, pk. 4 dini hari kami dijemput oleh dr. H. Setyo Sugiharto, SH, MH, SpB-SubspBD(K), PhD dari Asean University Internasional (teman seperjuangan saat menjalankan tugas sebagai dokter spesialis di RSUD Dr. Soemarmo Sosroatmodjo, Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah tahun 2000) di pool bis Rosalia Indah di Jl. Hamid Rusdi No. 15 Malang. Setelah beristirahat sejenak di rumahnya jl. Diponegoro 7 Malang yang megah, besar dan dilengkapi dengan 25 kamar kos untuk residen FK UB, kami diantar ke Gereja Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel Katedral Malang di Jl. Buring No. 60, Malang, untuk mengikuti misa kudus harian pagi pk. 6-6.40.

Gereja Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel Katedral Malang di Jl. Buring No. 60, Malang,

Kami dijemput dr. Setyo dengan Hyundai Creta putih

di rumah dr. Setyo Jl. Diponegoro 7 Malang yang megah dan besar
Katedral tersebut dibangun setelah peletakan batu pertama 11 Februari 1934. Tidak seperti kebanyakan gereja katolik yang bergaya arsitektur Gothic atau Klasik, katedral ini dibangun dengan gaya Art Deco. Rancangan bangunan dibuat oleh arsitek L. Estourgie, konstruksi oleh NV Bouwundig Bureau Sitzen en Louzada. Pelaksanaan pembangunan berlangsung 8 bulan dan diselesaikan pada 28 Oktober 1934.
Bangunan katedral ini merupakan sebuah contoh dari warisan arsitektural kolonial Belanda di kota Malang. Gereja pertama di Kota Malang pada tahun 1905, adalah Gereja Hati Kudus Yesus di Kayutangan, yang juga sempat kami lihat dari dalam mobil. Mgr. Clemens van der Pas adalah pencetus ide membangun Gereja Katedral di dekat Jalan Ijen di area yang dahulu dikenal dengan Buring Plein (Taman Buring). Sejak tahun 1961 sesuai dengan Konstitusi Apostolik XXIII, tentang Hirarki Gereja Katolik Indonesia, maka nama Gereja Katedral Malang yang semula adalah Gereja Katedral Santa Theresia, diganti dengan nama resmi yang baru, yaitu Gereja Katedral Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel. Mgr. Prof. Dr. Henricus Pidyarto Gunawan, O.Carm., (lahir 13 Juli 1955) adalah teolog Kitab Suci dan merupakan Uskup Gereja Katolik Roma untuk Keuskupan Malang saat ini.
Setelah misa kudus selesai, kami dijemput oleh dr. Setyo Sugiharto, SH, MH, SpB-SubspBD(K), PhD untuk menuju rumah dr. Iwan Donosepoetro, SpB (FK UB 82) yang juga pernah bersama-sama bertugas di RSUD Dr. Soemarmo Sosroatmodjo, Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah tahun 2000. Setelah melepas rindu dengan mengobrol penuh canda dalam dialek Malang, kami segera diajak dr. Iwan memakai Honda Jazz abu3 keliling Kota Malang dengan gaya nyopirnya yang khas, nyendal2 dengan sering lepas kemudi.

Rumah dr. Iwan di Jl. Pandan 7 Malang buatan tahun 1933 yang masih lestari

Gereja Katedral Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel Malang setelah ikut misa kudus harian pagi.
Sayang sekali kami tidak dpat bertemu istri dr. Iwan, yaitu Dr. dr. Susanthy Djajalaksana, SpP(K) di rumahnya yang kuno di Jl. Pandan 7 dekat SMP Katolik Santa Maria 2 Jl. Panderman Malang. Sebagai Kepala Program Studi Respirologi FK UB, dr. Santhy sedang mengikuti acara ilmiah di Bali dan sedang resah karena Kolegium Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi tidak termasuk kolegium yang disahkan Kemenkes RI. Pada hal, bulan depan harus menyelenggarkan ujian nasional untuk para residen pulmonolgi yang dipusatkan di Malang. Sejak tahan 2018 sudah ada peningkatan kwantitas dan kualitas dosen Respirologi FK UB dengan 4 guru besar, 5 lektor kepala, 2 lektor, dan 4 asisten ahli. Ada 16 dosen di prodi bergelar konsultan yang sudah dilengkap maping jenjang karier dosen.
Tujuan pertama adalah mengunjungi Dr. PC Widyo Karsono, SpB-KL di rumahnya yang asri di Jl. Terusan Mendut no 11 Malang. Beliau adalah dokter bedah senior ternama, yang masuk SMA Kolese de Britto (JB) Yogyakarta saat saya lahir, yaitu tahun 1966. Sebagai senior di WAG JB medis dan guru para dokter spesialis bedah di Malang, sowan kami dan obrolan yang terjadi sangat mengasikkan.

Sowan senior SMP dan SMA, yaitu dr. PC Widyo Karsono, SpB-KL. Beliau masuk SMA Kolese de Britto Yogyakarta saat saya lahir di tahun yang sama, yaitu 1966

Rumah dr. Widyo di Jl. Terusan Mendut no 11 Malang
Selanjutnya kami mengunjungi Hotel Tugu Malang, sebuah hotel bintang lima di Jl. Tugu No. 3, jantung kota lama Malang. Tepat di depannya terdapat Tugu perjuangan kemerdekaan Indonesia yang indah beserta kolam taman lotus. Setelah puas berfoto dengan semua keunikan hotel ini, yaitu koleksi barang antik yang tak ternilai harganya, kami segera terbayang tentang kekayaan pemiliknya. Semua barang antik di hotel tersebut merupakan barang-barang budaya ratusan tahun dari masyarakat Jawa babah Peranakan (campuran antara pendatang Cina di Jawa dan pribumi).

Salah satu sudut Hotel Tugu Malang, sebuah hotel bintang lima di Jl. Tugu No. 3, jantung kota lama Malang.

Air mancur dan tugu di lapangan JP. Coen (Alun-alun Bunder) Malang
Sebelum tahun 1914 Malang masih merupakan daerah bagian dari Karesidenan Pasuruan dan kekuasaan tertinggi di Malang adalah Assisten Residen dan kantornya berada di selatan Alun-alun (sekarang kantor Perbendaharaan dan Kas Negara). Setelah Kota Malang dinaikkan statusnya menjadi Gemeente (pemerintah kota) tanggal 1 April 1914, Kota Malang berhak memerintah daerah sendiri dengan dipimpin oleh seorang Burgemeester (Walikota). Semula jabatan walikota itu dirangkap oleh Asisten Residen sampai tahun 1918. Baru tahun 1919 Malang mempunyai walikota pertama HI Bussemaker, yang menduduki jabatannya sampai 1929 dan menetukan Balaikota Malang di bangun di selatan lapangan JP. Coen. Bangunan balaikota terdiri dari dua lantai. Orientasi bangunannya menghadap utara-selatan. Karena letak dan bentuk utama lokasinya, maka balaikota tersebut seolah-olah ingin menguasai lapangan JP. Coen (Alun-alun Bunder) dengan indahnya.

Bangunan Balaikota Malang terdiri dari dua lantai, menghadap utara-selatan, dan seolah-olah ingin menguasai lapangan JP. Coen (Alun-alun Bunder) dengan indahnya.

Kantor Rektorat Universitas Brawijaya Malang terlihat di kejauhan tinggi menjulang
Perjalanan kami ke Malang kami laksanakan pada Oktober, karena bulan ini dipenuhi dengan gemerisik dedaunan, pesona ladang labu, dan kenyamanan cuaca yang sejuk di daratan Eropa. Namun bagi umat Katolik di seluruh dunia, Oktober memiliki makna yang jauh melampaui keindahan musim gugur, karena bulan Oktober ini didedikasikan untuk berdoa Rosario Mahakudus, salah satu devosi dalam tradisi Katolik yang paling terkenal. Bulan Mei dan Oktober adalah bulan khusus pada kalender liturgi Gereja Katolik, yang didedikasikan untuk penghormatan kepada Perawan Maria, ibu Yesus Kristus.
Bunda Maria dianggap istimewa oleh umat Katolik karena ia adalah teladan manusia yang berserah pada kehendak Allah dan ia memiliki relasi yang erat dengan Yesus Kristus sejak dalam kandungan hingga wafat-Nya. Selian itu, umat Katolik meyakini bahwa Bunda Maria adalah ibu rohani yang penuh belas kasihan dan perantara yang kuat antara mereka dan Yesus Kristus.
Selain berdevosi kepada Bunda Maria, saat itu kami juga mengingat adanya kisah penyerangan pasukan Kesultanan Mataram Islam di Surakarta ke Malang pada 1614, yang dipimpin oleh Tumenggung Alap-Alap. Para pembantu Tumenggung Alap-Alap menyebut warga dan prajurit dari daerah tersebut sebagai penduduk yang “menghalang-halangi” (malang dalam Bahasa Jawa) kedatangan pasukan Mataram. Setelah penaklukan tersebut, pihak Mataram menamakan daerah itu Malang. Kota Malang merupakan kota terbesar kedua di Jawa Timur setelah Surabaya dan kota terbesar ke-12 di Indonesia.

Kunjungan singkat ke pabrik Adiputro Wirasejati (Adiputro), karoseri pembuat bodi bus yang hebat di Malang
Perjalanan kami selanjutnya sebagai penggemar bis adalah mengunjungi pabrik Adiputro Wirasejati (atau dikenal dengan nama merek dagang sebagai Adiputro), yaitu sebuah perusahaan karoseri bus (Coachbuilder) asal Malang. Badan (bodi) bus buatan karoseri Adiputro banyak digunakan oleh perusahaan-perusahaan bus ternama di Indonesia (terutama di Pulau Jawa) seperti Agra Mas, ALS, Budiman, Haryanto, Juragan 99, Lorena Group, NPM, Pahala Kencana, Pandawa 87, Rosalia Indah, Sinar Jaya dan lainnya.
Adi Putro didirikan oleh tiga Jethrokusumo bersaudara yang pada awalnya ketiganya bekerja pada sebuah dealer mobil. Ketiga bersaudara itu adalah Andreas Jethrokusumo, Jesse Jethrokusumo dan David Jethrokusumo. Ketika melihat peluang permintaan pasar otomotif terhadap mobil penumpang yang besar, ketiga bersaudara ini memutuskan untuk keluar dari pekerjaanya dan memulai membuka usaha karoseri kecil-kecilan pada tahun 1973 dengan pekerjaan pertamanya adalah memodifikasi dua Mobil pikap Mitsubishi Colt T120 menjadi mobil penumpang.
Setelah usaha karoseri ini berkembang pesat, ketiga bersaudara itu secara resmi mendirikan perusahaan karoseri dengan nama Adi Putro pada tahun 1975 di Malang. Royal Coach adalah nama model bodi bus pertama buatan Adiputro sejak tahun 1990an. Saat ini yang terkenal adalah versi Jetbus, merupakan penerus model bodi bus Royal Coach. Nama Jetbus adalah singkatan dari “Jethrokusumo Bus”. Dream Coach adalah model bus tidur (Sleeper bus) yang juga merupakan varian baru dari Jetbus buatan Adiputro yang dirilis pada bulan Desember 2020. Jetbus 5 produk terbaru dan kebanggaan karoseri Adiputro pertama kali ditampilkan dan diperkenalkan kepada khalayak pada GIIAS 2023 di gedung ICE, BSD City.

Kami menikmati cwie mie di Warung Cwie Mie Isor Uwit, yang sudah berdiri sejak tahun 1980 di Jl. Guntur 21 Malang.

Siap naik bis ke Surabaya di Terminal Arjosari Malang
Setelah makan siang menu kuliner lokal Malang, yaitu cwie mie dengan konsep sedikit berbeda dengan menu mie ayam khas Solo atau Wonogiri-an yang menyajikan mie dengan siraman ayam berbumbu. Sementara cwie mie Malang biasanya disajikan kering dengan taburan ayam rebus di atas mie-nya. Kami menikmati cwie mie di Warung Cwie Mie Isor Uwit, yang sudah berdiri sejak tahun 1980 di Jl. Guntur 21 Malang.

Suasana kabin bis Tentrem, sebuah bis AC tarif biasa kelas ekonomi menuju terminal Bungurasih Surabaya.

Mas Ig. Wahyu Soemarto dan Ibu Laurentia Handoko menjemput kami di Terminal Bungurasih Surabaya
Setelah kenyang makan menu uenak tersebut, kami segera diantar ke Terminal Arjosari Malang, untuk naik bis Tentrem. Sebuah bis AC tarif biasa kelas ekonomi menuju terminal Bungurasih Surabaya. Di terminal tersebut kami dijemput oleh mas Ig. Wahyu Soemarto, kakak kelas 2 tahun di SMA Kolese de Britto dan Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta. Bahkan istrinya, Ibu Laurentia Handoko, membawakan menu kuliner Surabaya yang enak dan mengantar kami ke Katedral Surabaya pada siang yang terik oleh sengat matahari.
Gereja Hati Kudus Yesus Katedral Surabaya berada di Jl. Polisi Istimewa 15 Surabaya. Gereja ini diresmikan pada 21 Juli 1921. Saat ini, Keuskupan Surabaya dipimpin oleh Vikaris Jenderal Keuskupan Surabaya, Romo Eko Budi Susilo, sebagai administrator diosesan. Romo Eko ditunjuk setelah Uskup Surabaya sebelumnya, Mgr. Vincentius Sutikno Wisaksono, meninggal dunia pada 10 Agustus 2023, sehingga saat kami datang terjadi Takhta Lowong (Sede Vacante). Uskup Surabaya yang baru, diumumkan setelah kami pulang ke rumah adalah Mgr. Agustinus Tri Budi Utomo. Uskup Didik, sapaannya, lahir di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur, 12 April 1968.
Perancangan desain gereja dilakukan oleh Ed Cypress Bureau, di mana rangka denah memiliki bentuk persegi panjang. Sementara itu, konstruksi gereja dilakukan oleh sebuah biro arsitek, yakni Huswit-Fermont. Pembangunan gereja mengeluarkan biaya 216.000 Gulden Belanda. Upacara peletakan batu pertama gereja dilaksanakan pada tanggal 11 Agustus 1920 oleh Romo Fleerakkers, SJ. Peresmian dan pemberkatan gereja dilaksanakan pada tanggal 21 Juli 1921 oleh Mgr. Edmundus Luypen, SJ, Vikaris Apostolik Batavia dan gereja ini diberi nama Gereja Hati Kudus Yesus Surabaya.
Setelah puas berdoa dan berfoto di Gereja Hati Kudus Yesus Katedral Surabaya, kami segera melanjutkan petualangan. Dalam panas terik Oktober di Surabaya sore itu, kami mengingat bahwa bulan Oktober memang cukup istimewa bagi umat Katolik sedunia, termasuk kami, untuk mendaraskan doa rosario. Penentuan bulan Oktober sebagai bulan Rosario, berkaitan dengan pertempuran di Lepanto, yaitu sebuah pertempuran laut yang berlangsung saat Perang Salib pada tanggal 7 Oktober 1571. Pada waktu itu armada laut Liga Suci, koalisi negara-negara Katolik bentukan Paus Pius V, bertemu dengan armada Kekaisaran Usmani Turki di perairan Teluk Patras. Don Juan de Austria, adik tiri Raja Spanyol Felipe II, yang diangkat oleh Paus Pius V menjadi panglima segenap armada Liga Suci.

pertempuran di Lepanto, yaitu sebuah pertempuran laut yang berlangsung saat Perang Salib pada tanggal 7 Oktober 1571.

Don Juan (John) de Austria, diangkat oleh Paus Pius V menjadi panglima segenap armada Liga Suci.
Angkatan perang Usmani saat itu sedang menuju ke barat dari pangkalan lautnya di Lepanto (nama yang diberikan orang Venesia untuk kota Nafpaktos, orang Turki menamakannya İnebahtı) berpapasan dengan armada Liga Suci yang sedang menuju ke timur dari Messina, Sisilia di Italia. Menghadapi ancaman ini, Don Juan (John) de Austria, komandan armada Katolik, memimpin doa rosario memohon pertolongan Bunda Maria. Demikian juga, umat Katolik di seluruh Eropa berdoa rosario untuk memohon bantuan Bunda Maria di dalam keadaan yang mendesak ini.
Pada tanggal 7 Oktober 1571, Paus Pius V bersama-sama dengan banyak umat beriman berdoa rosario di basilika Santa Maria Maggiore Roma, Italia. Sejak subuh sampai petang, doa rosario tidak berhenti didaraskan di Roma untuk mendoakan pertempuran di Lepanto. Walaupun nampaknya mustahil, namun pada akhirnya pasukan Katolik menang. Kemudian, Paus Pius V menetapkan peringatan Rosario dalam Misa di Vatikan setiap tanggal 7 Oktober dan penerusnya, Paus Gregorius XIII, menetapkan tanggal 7 Oktober itu sebagai Hari Raya Rosario Suci.

Kemenangan Liga Suci di Lepanto menjegal langkah ekspansi Kesultanan Utsmaniyah Turki ke sisi Eropa dari Mediterania.

Paus Gregorius XIII, menetapkan tanggal 7 Oktober itu sebagai Hari Raya Rosario Suci, terkait kemenangan di Lepanto tahun 1571
Di dalam sejarah perang laut, Pertempuran Lepanto merupakan laga besar terakhir di Eropa yang mempertarungkan kapal-kapal dayung. Pada hakikatnya pertempuran ini adalah “laga infanteri di atas panggung terapung”. Keterlibatan lebih dari 450 kapal perang menjadikannya pertempuran laut terbesar dalam sejarah Eropa sejak Abad Klasik. Kemenangan Liga Suci ini menjegal langkah ekspansi Kesultanan Utsmaniyah Turki ke sisi Eropa dari Mediterania.
Dengan inspirasi tersebut, kami juga mendasarkan doa rosario untuk memenangkan perang besar melawan dosa, kemalasan, dan tinggi hati. Apalagi kata Surabaya sering diartikan secara filosofis sebagai lambang perjuangan antara darat dan air, seperti mitos pertempuran antara ikan sura (ikan hiu) dan baya (buaya), yang menimbulkan dugaan bahwa terbentuknya nama “Surabaya” muncul setelah terjadinya pertempuran tersebut. Kata Surabaya juga diyakini sebagai perpaduan dua nama tokoh besar pada masa lampau yaitu Suropati dan Purbaya.

Perkelaian Suropati dan Purbaya dalam legenda asal muasal kota Surabaya

Pertempuran antara ikan hiu dan buaya, sebagai lambang kota Surabaya
Pada era Paska Kemerdekaan Indonesia, tanggal 10 November 1945, pasukan Inggris mulai membom Surabaya dan perang sengit berlangsung terus menerus selama 10 hari. Pada 20 November 1945 Inggris akhirnya berhasil menguasai Surabaya dengan korban ribuan orang prajurit tewas. Lebih dari 20.000 tentara Indonesia, milisi dan penduduk Surabaya juga tewas. Seluruh kota Surabaya hancur lebur. Pertempuran ini merupakan salah satu pertempuran paling berdarah yang dialami pasukan Inggris pada dekade 1940-an. Pertempuran ini menunjukkan kesungguhan bangsa Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan dan mengusir penjajah.
Karena sengitnya pertempuran dan besarnya korban jiwa, setelah pertempuran ini, jumlah pasukan Inggris di Indonesia mulai dikurangi secara bertahap dan digantikan oleh pasukan Belanda. Pertempuran di Surabaya pada tanggal 10 November 1945 tersebut hingga saat ini dikenang dan diperingati sebagai Hari Pahlawan. Oleh karena itu, kami ingin mengambil inspirasi semangat juang para pahlawan dengan segera menuju Gereja Katolik Kelahiran Santa Perawan Maria (KELSAPA) yang merupakan gereja tua di kota Surabaya dan turut menjadi saksi kehancuran kota Surabaya, saat perang revolusi Indonesia.
Setelah minum es buah segar di depan gereja, juga menu kuliner khas Surabaya lontong balap dan tahu campur yang dibawakan mas Wahyu dan bu Laurentia, kami segera menikmati keindahan Gereja Kelsapa di Kepanjen dengan dindingnya yang khas karena terbuat dari bata merah tanpa plester. Gereja ini sempat direnovasi pada tahun 1951 oleh Mgr. Verhoeks, CM. Gereja Kelsapa kembali direnovasi setelah pelemparan granat oleh salah seorang anggota Partai Komunis Indonesia pada tanggal 15 Oktober 1967. Gereja Kelsapa ini ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya oleh Pemerintah Kota Surabaya pada tahun 2013.
Gereja Kelasapa ini mulai dibangun pada tahun 1899 dengan bantuan arsitek W. Westmaas dari Semarang, dan diresmikan pada 5 Agustus 1900. Pada zaman perang kemerdekaan RI tahun 1945 bangunan gereja hancur terbakar saat perang revolusi di daerah Jembatan Merah (yang menewaskan Brigadir Jendral Mallaby dari Inggris). Pada tahun 1996 Gereja Kepanjen direnovasi lagi. Kedua menara yang terdapat di samping kanan dan kiri pintu masuk utama gereja, kembali dipasang. Ketinggian masing-masing menara adalah 15 meter, dengan tinggi salib 3,75 meter dan ayam jago 3,50 meter. Keduanya dari bahan stainless steel.

Sesama manuk JB (alumni SMA Kolese de Britto Yogyakarta) angkatan 82 (mas Wahyu), 83 (mas Alex) dan 84 (saya) di Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria (Kelsapa) Surabaya

Gedung Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria (Kelsapa) Kepanjen telah mendapatkan penghargaan dari komunitas Pelestarian Arsitektur Surabaya
Dari segi arsitektur, Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria ini telah mendapatkan penghargaan dari komunitas Pelestarian Arsitektur Surabaya pada tahun 1996, dan pada tahun 1998 ditetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Di gereja tersebut kami bertemu dengan dr. Alexander Surya Agung, Sp.B, FINACS, FICS, FAACT, kakak kelas setahun di SMA Kolese de Britto (JB) Yogyakarta. Setelah bercengkerama sesama manuk JB dengan mas Wahyu dan Dr. Alex, akhirnya kami diantar Dr. Alex menikmati suasana indah di malam hari kota tua Surabaya. Setelah dibelikan menu kuliner lokal nasi cumi hitam yang dibungkus, kami diantar tergesa ke Stasiun Pasar Turi, takut ketinggalan KA Pandalungan.

Kenangan sehabis mendoakan kita semua, di Gereja Kelahiran Santa Perawan Maria (Kelsapa) Kepanjen Surabaya, dengan patung Tuhan Yesus Kristus satu-satunya di dunia maya, yang menengok ke kiri, bukan ke kanan.
KA Pandalungan adalah layanan kereta api penumpang kelas eksekutif yang dioperasikan oleh PT Kereta Api Indonesia (PT KAI) untuk melayani relasi Gambir–Jember di lintas utara Jawa (via Semarang Tawang–Surabaya Pasarturi).

Dibelikan nasi bungkus isi cumi hitam di Pasar Atom Surabaya oleh dr. Alex sebelum diantar ke Stasiun Pasar Turi

Blangkon tertinggal di kabin KA Pandalungan saat kami turun di Stasiun Semarang Tawang Bank Jateng
Dengan jarak tempuh 919 km melalui jalur utara Jawa dan waktu tempuh rata-rata 14 jam 15 menit, KA ini sempat menjadi kereta api antarkota dengan jarak tempuh terpanjang di Indonesia, setelah KA Gajayana (jarak tempuh terjauh di jalur tengah Pulau Jawa), dan KA Ranggajati (jarak tempuh terjauh di jalur selatan Pulau Jawa). Nama Pandalungan berasal dari sub-suku Madura yang mendiami wilayah di Tapal Kuda Jawa Timur (tepatnya di Jember di mana stasiun awal keberangkatan berada) dan disebut sebagai suku utama Madura.
Kami turun di Stasiun Semarang Tawang Bank Jateng menjelang pk. 23 dengan musibah kecil, yaitu blangkon (tutup kepala tradisional Jawa) tertinggal di kursi. Segere kami mengubungi CS PT KAI melalui DM Instagram KAI121. Sepanjang jalan melewati keindahan malam suasana kota lama Semarang yang gemerlap, kami menuju rumah sepupu, yaitu mbak Katini di Jl. Tarupolo no 15, RT 6/RW 10, Gisik Drono, Semarang Barat. Kami juga teringat akan Pelabuhan Simongan sebagai tempat armada Laksamana Cheng Ho dari Tiongkok bersandar pada tahun 1435 M. Di tempat pendaratannya, Laksamana Cheng Ho mendirikan kelenteng dan masjid yang sampai sekarang masih dikunjungi dan disebut Kelenteng Sam Po Kong (Gedung Batu) Semarang, tidak jauh dari rumah mbak Katini.
Pada akhir abad ke-15 M utusan Kerajaan Demak yang dikenal sebagai Pangeran Made Pandan (Sunan Pandanaran I), mulai menyebarkan agama Islam dari perbukitan Bergota. Dari waktu ke waktu daerah itu semakin subur dan tumbuhlah pohon asam yang berjarak satu sama lain (jarang-jarang) (bahasa Jawa: asem arang), sehingga nama daerah itu kemudian menjadi Semarang, yang terbwa dalam mimpi kami malam itu.
Jumat, 25 Oktober 2024 : Jawa Tengah
Hanya tertidur sekitar 5 jam di rumah mbak Katini Jl. Tarupolo no 15, RT 6/RW 10, Gisik Drono, Semarang Barat, kami segara menuju Gereja Katedral Semarang, nama resminya Katedral Santa Perawan Maria Ratu Rosario Suci Randusari berada di Jl. Pandanaran No. 9, Semarang, Jawa Tengah. Katedral ini terletak di dekat Tugu Muda di kelurahan Randusari, Semarang.
Mgr. Dr. Robertus Rubiyatmoko (lahir 10 Oktober 1963) adalah Uskup Agung di Keuskupan Agung Semarang. Ia ditahbiskan menjadi Imam pada tanggal 12 Agustus 1992 dengan penahbis Mgr. Julius Darmaatmadja, SJ dan dipilih oleh Paus Fransiskus menjadi Uskup Agung di Keuskupan Agung Semarang pada tanggal 18 Maret 2017.

Kami menginap di rumah mbak Katini Jl. Tarupolo no 15, RT 6/RW 10, Gisik Drono, Semarang Barat.

Katedral Santa Perawan Maria Ratu Rosario Suci Randusari berada di Jl. Pandanaran No. 9, Semarang
Katedral ini dibangun di atas fondasi batu, dengan ruang besar bebas kolom dalam. Atap dan lengkungan memiliki parapets, dan pintu pada bangunan wajah persegi panjang utara, barat, dan selatan; bagian depan gereja terletak di sebelah barat. Gereja Katedral Semarang memiliki sejarah panjang yang tak terlepas dari Kota Semarang. Gereja ini merupakan bagian dari tahta suci Vicaris Apostolic yang dipimpin oleh Mgr. J. Groff, seorang misionaris Suriname yang tinggal di Batavia. Saat itu Vicaris Apostolic memiliki tiga Paroki besar, yakni Batavia, Semarang, dan Surabaya. Sementara itu, Paroki Semarang memiliki tiga stasi, yakni Stasi Candi (1925), Stasi Bangkong (1932), dan Stasi Randusari (1927).


Bersama mas Awe dan mbak Ratri (teman SMP Bruderan Purworejo, tinggal di Jatingaleh) dan mas Darmadi (teman Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta, tinggal di Karang Panas) di Gereja Katedral Semarang
Pada tahun 1927, dibangunlah sebuah gereja yang sebelumnya merupakan kantor Dinas Kesehatan Belanda bernama Dienst voor Volkgezondheid. Gereja ini dirancang oleh J Th Van Oyen bekerja sama dengan konstruktor Kleiverde. Di tahun itu juga, Mgr Antonius van Velsen SJ Vicaris Apostolic Batavia memberkati gereja yang berlokasi di wilayah Randusari menjadi Stasi Randusari. Renovasi dilakukan pada tahun 1935 dan selesai sekitar tahun 1937, dan diberkati oleh Mgr Pieter Jan Willekens, SJ.
Di katedral Semarang kami berjumpa dalam kehangatan suasana dengan mas Awe dan mbak Ratri, teman kami di SMP Bruderan Purworejo yang tinggal di Jatingaleh. Juga mas Darmadi Tjandrajaya, kakak kelas 2 tahun di Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta, yang tinggal di Karang Panas. Setelah mengikuti misa kudus harian di Gereja St. Perawan Maria Ratu Rosario Suci (Katedral) Randusari, Semarang harian pk. 5.30 kami segera diantar berboncengan 2 sepeda motor menuju Stasiun Poncol Semarang, untuk mengejar KA Kamandaka.
Dalam perjalanan tanpa mengenakan helm diboncengkan mas Darmadi, kami jadi teringat tentang pernah adanya Perang Salib yang pertama kali dicetuskan oleh Paus Urbanus II pada tahun 1095, dalam sidang Konsili Clermont di Perancis. Ia mengimbau peserta konsili untuk angkat senjata membantu Kaisar Romawi Timur melawan orang Turki Seljuk, dan untuk melakukan ziarah bersenjata ke Tanah Suci. Imbauannya ditanggapi dengan penuh semangat oleh seluruh lapisan masyarakat Eropa Barat. Para sukarelawan dikukuhkan menjadi anggota Laskar Salib atau Liga Suci melalui pengikraran kaul di muka umum. Orang mengajukan diri lantaran didorong oleh niat yang berbeda-beda. Ada yang sekadar ingin pergi ke Yerusalem agar ikut terangkat beramai-ramai ke surga, ada yang melakukannya demi bakti kepada majikan, ada yang hendak mencari ketenaran dan nama baik, dan ada pula yang bernafsu meraup keuntungan ekonomi maupun politik melalui keikutsertaannya.
Laskar Salib mampu menguasai dan membentuk 4 negara baru, yang lazim disebut Outremer (Tanah Sabrang), yakni Edessa, Antiokhia, Yerusalem, dan Tripoli. Laskar Salib pada akhirnya terdesak mundur dalam Perang Salib yang berlangsung pada 1095 – 1291, sesudah hampir dua abad bercokol di Tanah Suci. Akko, kota terakhir Laskar Salib di Tanah Suci, direbut kaum Muslim pada tahun 1291. Perang Salib yang berlangsung hampir 2 abad di masa lalu, tepatnya 1095–1291, mengajarkan tentang pentingnya toleransi antar umat beragama di masa kini, termasuk dalam wilayah yang kami lalui selama ziarah katedral ini.
Kami segera melanjutkan perjalanan dari Semarang menggunakan KA Kamandaka, yang merupakan layanan kereta api penumpang kelas eksekutif dan ekonomi milik PT KAI (Kereta Api Indonesia) dengan melayani relasi Cilacap–Purwokerto–Semarang Tawang melalui lintas tengah Pulau Jawa.
Nama “Kamandaka” diambil dari salah satu tokoh legenda asal Banyumas, Raden Kamandaka. Dalam cerita ketoprak di Jawa Tengah selatan, dia dikenal sebagai Lutung Kasarung. Cerita rakyat ini berbeda dengan legenda Tanah Pasundan, yaitu kisah para menak Kerajaan Galuh dan Kerajaan Sunda, tentang perjalanan Sanghyang Guruminda dari Kahyangan, yang diturunkan ke Buana Panca Tengah (Bumi) dalam wujud seekor lutung (sejenis monyet). KA Kamandaka diresmikan oleh Wakil Menteri Perhubungan, Bambang Susantono, dan Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, pada 17 Febuari 2014.

Oleh karena blangkon saya tertinggal di KA Pandalungan, sehingga untuk foto selanjutnya mama yang akan memakai topi, sejak naik KA Kamandaka menuju Purwokerto
Di stasiun Purwokerto kami dijemut oleh Mas Bambang dan mbak Wiwik, teman kami yang tinggal di Purwokerto. Juga orang tua An. Loisa dan An. Lio, yang pernah menjadi pasien kami di RS Panti Rapih Yogyakarta.
Kami berdua berpencar mobil, karena ada 2 mobil yang menjemput kami di Stasiun Purwokerto dan akhirnya bertemu di Gereja Katedral Kristus Raja Purwokerto berlokasi di Jl. Gereja No. 3, Purwokerto Timur, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Gereja Katedral Purwokerto didedikasikan untuk gelar Yesus, yaitu Kristus Raja. Katedral ini menjadi pusat kedudukan dan takhta bagi Uskup Purwokerto, saat ini Mgr. Dr. Christophorus Tri Harsono (lahir 18 Januari 1966) sejak terpilih pada 14 Juli 2018 menggantikan Mgr. Julianus Kema Sunarka, SJ.
Bangunan Katedral Kristus Raja Purwokerto saat ini merupakan bangunan baru, yang menggantikan bangunan katedral lama, yang didirikan pada tahun 1930. Seiring perkembangan umat, Katedral lama dirasa terlalu kecil dan kurang mewakili wajah Katedral sebagai gereja induk di Keuskupan. Kemudian tercetuslah ide untuk membangun sebuah Katedral baru pada masa penggembalaan Mgr. W. Schoemaker, MSC, namun pelaksanaannya selalu tertunda. Wacana ini terus berkembang pada masa penggembalaan Mgr. Paschalis Hardjasoemarta, MSC.
Langkah serius diambil pada bulan Mei 1982 saat perayaan setengah abad berdirinya Keuskupan Purwokerto (dihitung dari pendirian Perfektur Apostolik Purwokerto). Mgr. Paschalis Hardjasoemarta, MSC mengajak umat membangun Katedral baru, sebagai bentuk syukur atas penyertaan Allah sepanjang perjalanan Keuskupan Purwokerto, sekaligus menjadi monumen kesatuan umat yang menampilkan wajah budaya setempat. Sebagai bentuk kontinuitas perjalanan Gereja, gedung Katedral baru dibangun di tempat Katedral lama.

Bersama mbak Wiwik dan mas Bambang yang telah menjemput kami di Stasiun Purwokerto

Gereja Katedral Kristus Raja Purwokerto
Bulan April 1985 katedral lama mulai dibongkar dan pada 26 Mei 1985 dilaksanakan upacara peletakan batu pertama untuk gedung Katedral baru. Selama masa pembangunan ini, misa harian dilaksanakan di kapel susteran dan bruderan, sementara Misa Mingguan dirayakan di aula sekolah susteran (Juli 1985 – Februari 1988).
Bangunan Katedral baru diresmikan oleh Soepardjo Rustam yang waktu itu menjabat sebagai Menkokesra RI pada 30 Mei 1988 dan dikonsekrasi sebagai Katedral oleh Mgr. Paschalis Hardjasoemarta, MSC pada 31 Mei 1988. Katedral Kristus Raja Purwokerto ini menjadi Katedral pertama di Jawa yang dibangun pasca kemerdekaan RI. Corak arsitektur joglo menggambarkan Gereja yang hidup di tengah budaya bangsa. Katedral baru ini bisa menampung sekitar 600-700 umat.

An. Lousa kelas 4 SD yang pernah menjadi pasien di RS Panti Rapih Yogyakarta tidak ikut menjemput dan hanya An. Lio (adiknya) yang ikut menemani kami di Katedral Purwokerto

Bersama RD Martinus Ngarlan (Pastor Kepala Paroki Katedral Kristus Raja Purwokerto)
Setelah berdoa dan berfoto dalam kemegahan Gereja Katedral Kristus Raja Purwokerto, selanjutnya mbak Wiwik (Herwijati Anita Miranda Prajitno adalah Analis Kebijakan Ahli Madya Kementerian Sosial RI) dan mas Bambang segera bergegas pulang, karena ada acara lain dan kami diajak keliling kota Purwokerto bersama An. Lio (5 tahun). Purwokerto adalah ibu kota Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Julukan kota di jalur tengah Jawa Tengah ini adalah kota wisata, kota keripik, kota transit, kota pendidikan, sampai kota pensiunan. Di kota ini pula terdapat Museum Bank Rakyat Indonesia, yang dahulu berdiri di Purwokerto dan didirikan oleh Raden Bei Aria Wirjaatmadja, putra daerah Purwokerto. Bahasa yang digunakan oleh masyarakat Purwokerto adalah bahasa Jawa dialek Banyumasan. Wikipedia juga turut melestarikan bahasa banyumasan ini dengan menerbitkan Wikipedia bahasa Banyumasan.

Bersama An. Lio di dalam Gereja Katedral Kristus Raja Purwokerto

Makan siang di RM Raja Soto Lama H. Suradi Jl. Mayjen Sutoyo Purwokerto menu soto Sokaraja dan mendoan.
Kami segera diajak makan siang di RM Raja Soto Lama H. Suradi Jl. Mayjen Sutoyo Purwokerto. Makanan khas Purwokerto adalah soto Sokaraja dan mendoan, makanan yang terbuat dari tempe yang tipis, kemudian dibalur tepung bumbu dan digoreng setengah matang, yang kami santap dengan penuh semangat siang itu. Tahu brontak, makanan yang terbuat dari tahu yang ditepungi, dibumbui, dan digoreng. Istilah “brontak” berasal dari sayuran yang keluar dari tahu ketika digoreng dan Keripik tempe, Kota Keripik merupakan salah satu julukan dari kota Purwokerto.
Selanjutnya kami diantar ke pol travel Aragon di Jl. Mayjend Sutoyo No. 20, Sawangan, Purwokerto Barat. Tingginya kebutuhan masyarakat Indonesia untuk moda layanan transportasi darat yang efisien tetapi nyaman dan aman, menjadi inspirasi untuk Aragontrans hadir dengan fasilitas-fasilitas yang memenuhi kebutuhan tersebut. Pertengahan tahun 2019 menjadi penanda awal eksistensi Aragontrans di mata publik dunia transportasi darat Indonesia.

Duduk manis di captain seat Travel Toyota HiAce Aragon dari Purwokerto menuju ke Bandung.

Travel Toyota Hi Ace Commuter, menuju ke Bandung saat berstirahat sekali di RM Sukamanah di Jl. Raya Sindangkasih, Ciamis aat menuju ke Bandung
Namanya terinspirasi dari Aragon adalah satu dari tujuh belas wilayah otonom di Spanyol. Ibu kotanya adalah Zaragoza. Layanan Aragontrans terbagi atas layanan shuttle, travel, charter, courier & cargo. Saat ini didukung dengan 30 unit Toyota Hi Ace Commuter, 5 outlet di lokasi strategis, rute terjadwal serta pelayanan terbaik, diyakini dapat menjadi salah satu jasa layanan transportasi profesional dan terpercaya. Kami menikmati perjalanan darat di captain seat Travel Toyota Hi Ace Commute, menuju ke Bandung. Dengan berstirahat sekali di RM Sukamanah di Jl. Raya Sindangkasih, Ciamis pk. 16.30, akhirnya kami sempat ikut keliling dalam kota Bandung mengantar penumpang lain, karena layanan travel Aragon ke Jawa bersifat door to door, bukan pool to pool. Kami ikut menikmati Jalan Braga dan sekitranya dengan suasana hiruk pikuk pengunjung dan akhirnya masuk rumah kami di Sarijadi menjelang pk. 21. Kami bertemu dengan Dik Larasati, anak bungsu kami yang sedang banyak tugas saat koass di RS Sartika Asih Bandung dengan pembimbing yang sangat rajin Dr. Ahmad Seno Kamil, SpPD.

Dini hari itu dik Larasati sudah bangun dan harus melakukan pra visite di RS Sartika Asih Bandung dengan pembimbing yang sangat rajin Dr. Ahmad Seno Kamil, SpPD.
Sabtu, 26 Oktober 2024 : Jawa Barat
Gereja Santo Petrus Katedral Bandung terletak di Jalan Merdeka, Babakanciamis, Bandung, Jawa Barat. Bangunan ini dirancang oleh Charles Prosper Wolff Schoemaker dan bergaya arsitektur neo-Gothic akhir. Dilihat dari atas, bentuknya menyerupai salib yang simetris. Katedral Santo Petrus mempunyai luas tanah sebesar 2.385 m² dan luas bangunan sebesar 785 m². Pembangunan gereja ini dilaksanakan sepanjang tahun 1921 dan diberkati pada 19 Februari 1922 oleh Mgr. Edmundus Luypen, S.J.

Katedral Santo Petrus Bandung ini dirancang oleh Charles Prosper Wolff Schoemaker dan bergaya arsitektur neo-Gothic akhir.
Mgr. Antonius Subianto Bunjamin, O.S.C. (lahir 14 Februari 1968) adalah Uskup Keuskupan Bandung, melanjutkan kepemimpinan Mgr. Johannes Pujasumarta yang ditunjuk sebagai Uskup Agung Semarang dan kekosongan tahta diisi oleh Administrator Apostolik Mgr. Ignatius Suharyo. Ia terpilih menjadi Uskup Bandung pada 3 Juni 2014, dan ditahbiskan menjadi Uskup pada 25 Agustus 2014.

Di Katedral Santo Petrus Bandung ini kami mengalami perjumpaan yang membahagiakan antara kawulo alit dengan perwira tinggi TNI, teman seangkatan di SMA Kolese de Britto (JB) Yogyakarta 1984. Beliau adalah Mantan Kadispsiad Brigjen TNI (Purn) Drs. R Tagar Pujasambada, M.Psi., Psikolog,

Di Katedral Santo Petrus Bandung ini kami mengalami perjumpaan yang membahagiakan antara kawulo alit dengan perwira tinggi TNI, teman seangkatan di SMA Kolese de Britto (JB) Yogyakarta 1984. Beliau adalah Mantan Kadispsiad Brigjen TNI (Purn) Drs. R Tagar Pujasambada, M.Psi., Psikolog, setelah mengikuti misa kudus harian pagi di Gereja Katedral Santo Petrus Bandung. Selain itu, kami juga berjumpa dengan adik kandung kami yang lama tidak bertemu, Yosephine Wara Pradnastuti yang siap mengantar kami ke pool Aragon Travel di Pasteur Bandung untuk menuju ke Katedral Bogor.

Berjumpa dengan adik kandung kami yang lama tidak bertemu, Yosephine Wara Pradnastuti di Gereja Santo Petrus Katedral Bandung.
Kota Bandung berasal dari kata bendung atau bendungan karena terbendungnya sungai Citarum oleh lava Gunung Tangkuban Parahu yang membentuk telaga. Legenda lain mengatakan bahwa nama Bandung diambil dari dua perahu yang diikat berdampingan yang disebut perahu bandung, yang digunakan oleh Bupati RA Wiranatakusumah II, untuk menyusuri sungai Citarum dalam mencari lokasi kabupaten yang baru, untuk menggantikan ibu kota yang lama di Dayeuhkolot.
Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru tahun 1955 mengatakan bahwa Bandung adalah ibu kotanya Asia-Afrika. Pada tahun 1990, Kota Bandung terpilih sebagai salah satu kota paling aman di dunia berdasarkan survei majalah Time. Kota Bandung dijuluki sebagai kota kembang, karena sangat cantik dengan banyaknya pohon dan bunga-bunga yang tumbuh di sana. Selain itu, Kota Bandung disebut juga dengan Paris van Java karena keindahannya yang mirip seperti Kota Paris di Prancis. Pada tahun 2007 Kota Bandung menjadi pilot project kota terkreatif se-Asia Timur. Saat ini Kota Bandung merupakan salah satu kota tujuan utama pariwisata dan pendidikan, maka wajar saja kami sangat terkagum dengan keindahan Bandung.
Dalam perjalanan naik Travel Aragon dari Bandung, kami kembali mengingat bahwa bulan Oktober sebagai bulan Rosario sebagai warisan spiritual Paus Leo XIII (1878-1903). Deklarasi bulan Oktober sebagai bulan Rosario sejarahnya bermula dari keputusan Paus Pius V menetapkan tanggal 7 Oktober sebagai pesta Santa Maria Ratu Rosario. Sepanjang jalan coba kami terus daraskan doa rosario, termasuk saat kami melibas Jalan Tol Jagorawi (Jakarta–Bogor–Ciawi), yang merupakan jalan tol pertama di Indonesia. Jalan tol yang mulai dibangun pada 1 Oktober 1971, dengan biaya Rp. 350 juta per kilometer pada kurs rupiah saat itu, sepanjang kurang lebih 50 KM, dan diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 7 Maret 1977. Pada tahun 2022 Jalan Tol Terbaik I Kategori Jalan Tol Panjang lebih dari 50 kilometer adalah Jalan Tol Jagorawi yang kami nikmati sebelum mencapai Bogor.
Akhirnya kami dapat mencapai Gereja Katedral Santa Perawan Maria (Beatae Mariae Virginis), di Jalan Kapten Muslihat Nomor 22 Bogor, Jawa Barat. Mgr Paskalis Bruno Syukur, O.F.M. (lahir 17 Mei 1962) adalah Uskup Keuskupan Bogor dan merupakan imam Fransiskan. Mgr. Paskalis Bruno Syukur telah menolak menjadi kardinal di antara 21 kardinal baru yang diumumkan oleh Bapa Suci Paus Fransiskus pada Doa Angelus Hari Minggu, 6 Oktober 2024. Mgr. Paskalis Bruno Syukur saat ini menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) sekaligus Uskup Bogor.
Awal sejarah berdirinya Gereja Katedral Bogor berkaitan dengan peranan tokoh perintis umat kota Bogor, yaitu Mgr. Adam Carel Claessens. Pada tahun 1881, Mgr. Claessens membeli sebuah rumah dengan pekarangan yang cukup luas (sekarang meliputi kompleks Gereja, Pastoran, seminari, sekolah, dan Bruderan Budi Mulia). Pada tahun 1889 Pemerintah Hindia Belanda secara resmi mengakui dan menyatakan bahwa Bogor menjadi Stasi misi tetap Batavia. Tahun 1896 (setahun setelah Mgr. AC. Claessen meninggal), MYD. Claessens mulai membangun sebuah gedung Gereja yang megah di atas tanah yang didiaminya. Gereja itu yang hingga sekarang kita kenal dengan Gereja Katedral.

Gereja Katedral Santa Perawan Maria (Beatae Mariae Virginis), di Jalan Kapten Muslihat Nomor 22 Bogor
Di Katedral Bogor kami bertemua dengan Mas Eko Lintang dan mas Felix Rahno Armunanto (teman seangkat di Asrama Mahasiswa Realino) dan Bapak Wahyu Fernandez, ayah An. Baga dan An. Dakhsa adalah pasien kami di RS Panti Rapih Yogyakarta yang semuanya tinggal di Bogor. Kota Bogor dikenal dengan julukan Kota Hujan, karena memiliki curah hujan yang lumayan sangat tinggi. Pada awal abad ke-5 Masehi, Kota Bogor merupakan pusat Kerajaan Tarumanagara dengan raja yang bernama Purnawarman. Pada prasasti Batutulis menceritakan kekuasaan Prabu Surawisesa dari Kerajaan Sunda dengan ibukota di Pajajaran, yang diyakini terletak di Kota Bogor, dan bahkan menjadi pusat pemerintahan Prabu Siliwangi yang dinobatkan pada 3 Juni 1482.

Dengan sesama warga Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta angkatan 1984 (mas Rahno dan mas Eko Lintang) di Gereja Katedral Santa Perawan Maria Bogor.

Bersama Bapak Wahyu Fernandez, ayah An. Baga dan An. Dakhsa adalah pasien kami di RS Panti Rapih Yogyakarta di Gereja Katedral Santa Perawan Maria Bogor.
Hari penobatannya ini diresmikan sebagai Hari Jadi Kota Bogor. Kota Bogor berada di daerah pegunungan yang secara alamiah membuat lokasi ini mudah untuk bertahan terhadap ancaman serangan, dan di saat yang sama adalah daerah yang subur serta memiliki akses yang mudah pada sentra-sentra perdagangan saat itu. Pada tahun 1745, Gubernur Jenderal VOC Gustaaf Willem Baron van Imhoff membangun Istana Bogor seiring dengan pembangunan Jalan Raya Daendels yang menghubungkan Jakarta dengan Bogor.

Bersama Bapak Wahyu Fernandez dan teman2 Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta di Gereja Katedral Santa Perawan Maria Bogor.

Dengan sesama warga Asrama Mahasiswa Realino Yogyakarta di Gereja Kristen Indonesia Bogor, dekat warung tenda milik mas Eko Lintang
Setelah berfoto bersama, kami segera diantar mas Felix Rahno dengan mobilnya yang gagah, Toyota Foruner hitam legam, mengikuti sepeda mas Eko Lintang yang memiliki 35 buah sepeda, mengitari pusat kota Bogor. Pada masa pendudukan Inggris, Gubernur Jendral Thomas Stamford Raffles mengembangkan Kota Bogor, yaitu Istana Bogor direnovasi dan sebagian tanahnya dijadikan Kebun Raya (Botanical Garden), dibantu seorang arsitek Carsens yang menata Bogor sebagai tempat peristirahatan yang dikenal dengan Buitenzorg. Kami segera lahap menikmati menu makan siang di warung tenda milik mas Eko Lintang, di depan Gereja Kristen Indonesia Jl. Pengadilan Bogor, terus diantar mas Felix mencapai Stasiun Bogor.
Kami sangat menyesal karena tidak mampu bertemu dengan mas Anto Tjitro, teman sekalas di SMP Bruderan Purworejo, Jawa Tengah, yang menunggu kami di pintu masuk timur Stasiun Bogor atau taman topi, sementara kami masuk melalui pintu barat. Sangat disayangkan, perjumpaan tersebut gagal terwujud. Kami segera menaiki KRL Commuter Line Bogor. Jalur ini dibuka tahun 1930, dengan panjang lintas Jakarta Kota – Bogor 54,8 km. Kecepatan operasi 90 km/h
Commuter Line Bogor (atau disebut juga Lin Bogor, sebelumnya bernama Lin Sentral) menyusuri rute KRL Lintas Bogor dengan kode warna Merah. Kami berangkat dari Bogor, melewati Cilebut, Bojong Gede, Citayam, Depok, Depok Baru, Pondok Cina, Universitas Indonesia, Universitas Pancasila, Lenteng Agung, Tanjung Barat, Pasar Minggu, Pasar Minggu Baru, Duren Kalibata, Cawang, Tebet dan turun Manggarai. Line Bogor melanjutkan perjalanan ke Cikini, Gondangdia, Juanda, Sawah Besar, Mangga Besar, Jayakarta dan berakhir di Jakarta Kota

Berdesakan dengan sesama penumpang di Commuter Line Bogor dari Bogor melaju ke Jakarta

Transit di Stasin Manggarai Jakarta untuk ganti Line Cikampek menuju Bekasi Timur
Selanjutnya kami berganti Line Biru dari Manggarai melewati Matraman, Jatinegara, Klender, Buaran, Klender Baru, Cakung, Kranji, Bekasi dan turun di Bekasi Timur. Line Biru melanjutkan perjalanan ke Tambun, Cibitung, Metland Telaga Murni, dan berakhir di Cikarang.
Bekasi menjadi kota penyangga dengan jumlah penduduk terbanyak se-Indonesia, menjadi tempat tinggal kaum urban dan sentra industri. Nama Bekasi berasal dari kata Bagasasi yang artinya sama dengan Candrabaga yang tertulis di dalam Prasasti Tugu era Kerajaan Tarumanegara, yaitu nama sungai yang melewati kota ini. Kami menuju rumah besan, yaitu Bapak Suharyadi dan Ibu Endang di Jl.Garuda Raya Blok G no 399 Pondok Timur Indah, Jatimulya, Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi.
Setelah bertemua Joviel, cucu hebat yang sedang berlibur di situ, anak sulung kami mas Yudhi dan mbak Mega, kami bercengkerama tidak lama, dan memohon maaf atas banyak sekali kekurangan kami selama ini sebagai orangtua, dan kami segera melanjutkan perjalanan menuju Jakarta.
Adik sepupu kami, yaitu dik Daniel Prastowo sekeluarga (bersama istrinya yang baik hati dik Ernest Prita dan 2 anaknya yang gagah Marvel dan Rafael), telah menjemput kami dari rumahnya di Taman Galaxi Indah Bekasi. Adik sepupu kami yang hebat ini adalah alumni Universitas Pelita Harapan (Doctor of Law – JD International Business, Trade, and Tax Law). Sebelumnya memegang 2 gelar S2, yaitu Master of Laws – LLM Business Law dari UPH dan Master Business and Managerial Economics dari Universitas Trisaksi. Perjuangan Pendidikan dimulai dari 2 gelar diploma, yaitu Accounting Academy LPI dan Bachelor Finance, dari Universitas Indonesia dan GT Industry Polytechnic (Poltek Gadjah Tunggal). Adik sepupu kami tersebut setelah berprofesi sebagai Business Strategic Associate, Cyber Security & Cyber Law Analyst di Putera Sampoerna Foundation Jakarta, lanjut menjadi Finance Director at Rajawali Foundation Jakarta. Ada berbagai program kerja yayasan Rajawali dalam koordinasi oleh Rajawali Global Education (RGE) yang didirikan pada tahun 2019, sebagai wahana melaksanakan program pendidikan dan pembelajaran, untuk memperluas akses ke peluang pendidikan daring berkualitas tinggi di Indonesia.
Pengetahuan dan keterampilan adalah kunci keberhasilan ekonomi, baik bagi individu maupun bagi negara secara keseluruhan. Dengan pesatnya perubahan teknologi, sangat mungkin seluruh kategori pekerjaan akan hilang, sebaliknya permintaan akan keterampilan teknis justru meningkat tajam. Beberapa jenis keterampilan teknis ini sangat baru, sehingga banyak universitas tidak siap untuk mengajarkannya. Hebat dan mengagumkan sekali adik sepupu kami ini.
Kami diantar keluarga dik Daniel Prastowo sampai di Gereja Katedral Santa Maria Diangkat ke Surga Jl. Katedral No. 7B, Jakarta. Gedung gereja ini diresmikan pada 1901 dan dibangun dengan arsitektur neo-gotik dari Eropa, yakni arsitektur yang sangat lazim digunakan untuk membangun gedung gereja beberapa abad yang lalu.

Bersama mas Bambang Kris, dr Thomas Aliandoe dan mbak Leony Avellince di Gereja Katedral Santa Maria Diangkat ke Surga Jakarta.
Gereja yang sekarang ini dirancang dan dimulai oleh Pastor Antonius Dijkmans dan peletakan batu pertamanya dilakukan oleh Pro-vikaris, Carolus Wenneker. Pekerjaan ini kemudian dilanjutkan oleh Cuypers-Hulswit ketika Dijkmans tidak bisa melanjutkannya, dan kemudian diresmikan dan diberkati pada 21 April 1901 oleh Mgr. Edmundus Sybradus Luypen, SJ, Vikaris Apostolik Jakarta.

Bersama keluarga Dik Daniel Prastowo, kami juga berjumpa dengan mas Bambang Kristanto (kakak kelas 1 tahun di Asrama Mahasisaw realino Yogyakarta, yang sekarang menjabat sekeretaris Yayasan Tarakanita Jakarta), Dr. Thomas Aliandoe (teman seperjuangan melayani pasien di RS Lela Muamere, Flores tahun 1993), dan mbak Leony Avellince (sarjana ilmu politik tentang kepemiluan, anak bungsu mas Wahyu Soemarto di Surabaya)
Pada malam Natal, 24 Desember 2000, gereja ini menjadi salah satu lokasi yang terkena serangan ledakan bom oleh kelompok ekstremis Islam, Jamaah Islamiyah. Serangan terosis tersebut mengingatkan kita bahwa pada 1807–1826 terjadi perubahan politik di Belanda khususnya sejak kenaikan tahta Raja Louis Napoleon, seorang Katolik, membawa pengaruh yang cukup positif. Kebebasan umat beragama mulai diakui oleh pemerintah. Pada tanggal 8 Mei 1807 pimpinan gereja Katolik di Roma mendapat persetujuan Raja Louis Napoleon untuk mendirikan Prefektur Apostolik Hindia Belanda.
Setelah sekitar dua abad perayaan ekaristi dilarang di Hindia Belanda, pada tanggal 10 April 1808, untuk pertama kalinya diselenggarakan misa kudus pertama kali secara terbuka di Batavia di rumah Dokter F.C.H Assmuss, kepala Dinas Kesehatan waktu itu. Dokter Assmuss bersama dengan beberapa kawan berhasil mengumpulkan sejumlah orang dan sebagian besar adalah tentara. Upacara Misa berlangsung sederhana dengan tempat yang kurang memadahi. Kedua Pastor tersebut untuk sementara tinggal di rumah Dokter Assmuss.

Menara Benteng Daud, Menara Gading dan Menara Angelus Dei di Gereja Katedral Bunda Maria diangkat ke Surga Jakarta
Arsitektur gereja dibuat dengan gaya neo-gotik. Denah dengan bangunan berbentuk salib dengan panjang 60 meter dan lebar 20 meter. Pada kedua belah terdapat balkon selebar 5 meter dengan ketinggian 7 meter. Konstruksi bangunan ini dikerjakan oleh seorang tukang batu dari Kwongfu, Tiongkok. konstruksi bangunan ini terdiri dari batu bata tebal yang diberi plester dan berpola seperti susunan batu alam. Dinding batu bata ini menunjang kuda-kuda kayu jati yang terbentang selebar bangunan. Ada 3 menara di Gereja Katedral, yaitu: Menara Benteng Daud, Menara Gading dan Menara Angelus Dei. Menara ini dibuat dari besi. Bagian bawah didatangkan dari Nederland dan bagian atas dibuat di bengkel Willhelmina, Batavia.
Ignatius Kardinal Suharyo Hardjoatmodjo (lahir 9 Juli 1950) adalah Uskup Agung Jakarta sejak 29 Juni 2010, menggantikan Julius Kardinal Darmaatmadja, SJ. Sebelum menduduki jabatan ini, Mgr. Suharyo adalah Uskup Agung Koajutor Jakarta. Saat ini, ia juga menjadi Uskup Ordinariat Militer Indonesia. Sebelumnya, ia pernah menjabat sebagai Uskup Agung Semarang.
Selain dengan keluarga Dik Daniel Prastowo, kami juga berjumpa dengan mas Bambang Kristanto (kakak kelas 1 tahun di Asrama Mahasisaw realino Yogyakarta, yang sekarang menjabat sekeretaris Yayasan Tarakanita Jakarta), Dr. Thomas Aliandoe (teman seperjuangan melayani pasien di RS Lela Muamere, Flores tahun 1993), dan mbak Leony Avellince (sarjana ilmu politik tentang kepemiluan, anak bungsu mas Wahyu Soemarto di Surabaya). Yang tidak kalah seru adalah perjumpaan kami dengan anak kedua, Karol Bimoseno Kridolaksono Indrarto yang akan berulang tahun ke 24 dan pacarnya Nyra Malika.

Kenangan ulang tahun dik Bimoseno (anak kami kedua) dengan Dik Pritta di Stasiun Gambir, Jakarta

Bimoseno lahir tanggal 28 Oktober 2000 selalu mengingatkan kita tentang Hari Sumpah Pemuda. Para pemuda dari beraneka latar belakang suku, agama, dan golongan mengikrarkan Sumpah Pemuda untuk mencintai persatuan Indonesia. Namun demikian, sehari sebelum tercetusnya ikrar Sumpah Pemuda, ternyata Kongres Pemuda II digelar di Gedung Katholieke Social Bond (KSB, Perhimpunan Sosial Katolik) pada Sabtu, 27 Oktober 1928. Gedung tersebut terletak di area Gereja Katedral, Jakarta.
Di gedung tersebut, anggota KSB dan Katholieke Jongenlingen Bond (Perhimpunan Pemuda Katolik) berkumpul dan beraktivitas. Ide diadakannya Kongres Pemuda II di area Gereja Katedral muncul dari aktivis Jong Ambon, Johannes Leimena. Saat itu, Leimena mengusulkan kepada para aktivis lain untuk menggunakan aula Gedung Katholieke Social Bond. Di gedung tersebut Mohammad Yamin berpidato tentang pemuda bagi ”Persatoean dan kebangsaan Indonesia” dengan lima faktor penting, yaitu sejarah, bahasa, hukum/adat, pendidikan, dan kehendak bersatu.
Dalam kongres yang dihadiri oleh 750 orang itu terlibat utusan dari pelbagai organisasi pemuda di Tanah Air. Mereka berbeda-beda suku, agama, juga golongan. Ada perwakilan dari Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (PPPI), Pemuda Indonesia, Jong Java, Jong Sumatranen Bond, Jong Bataks Bond, Jong Celebes, Jong Ambon, Jong Islamieten Bond, Pemuda Kaum Betawi, Sekar Rukun, dan sebagainya. Di antara mereka ada nama Sugondo Djojopuspito, RM Joko Marsaid, Amir Sjarifudin, Johan Mohammad Cai, R Katjasoengkana, Johannes Leimena, RCL Sendoek, Arnold Monotutu, Agustine Magdalena Waworuntu, dan Mohammad Rochjani Su’ud.

Berkonsultasi dengan Bapa Paus Fransiscus di Gedung Katholieke Social Bond yang dahulu digunakan menjelang acara Sumpah Pemuda 1928, sekarang disebut Graha Pemuda di Komplkes Katedral Jakarta

Mendengar cerita Marvel tentang musik, anak sulung dik Daniel Prastowo, sebelum mendampingi mengurus pengambilan blangkon (topi adat Jawa) yang tertinggal di KA Pandaluangan dan telah disimpan di pos keamanan Strasiun Gambir Jakarta.
Oleh karena gedung utama Katedral Jakarta sudah dipenuhi umat yang hadir, sementara kami asyik berfoto berulang, akhirnya kami masuk ke Graha Pemuda yang sangat historis dalam Sumpah Pemuda 1928, untuk mengikuti misa kudus Sabtu malam, 26 Oktober 2024.
Setelah selesai mengikuti misa kudus, kami segera bergegas ke Stasiun Gambir. Kami nikmati sajian Mie Gadjah Mada bersama keluarga dik Daniel Prastowo, kami merayan ulangtahun Bimoseno, anak kedua kami. Juga dengan Marvel, anak sulung dik Daniel Prastowo kami mengurus pengambilan blangkon (topi adat Jawa) yang tertinggal di KA Pandaluangan dan telah disimpan di pos keamanan Strasiun Gambir. Kami apresiasi kinerja seluruh staf PT KAI yang telah menyelamatkan barang penumpang yang tertinggal di gerbong KA. Kami segera menikmati perjalanan malam menggunakan KA Argo Bromo Amnggrek menuju ke Semarang dalam waktu 4 jam.
Minggu, 27 Oktober 2024 : Jawa Tengah lagi
Setelah bertemu dengan anak bungsu kami, dik Agatha Larasati Pangarsaningutami Indrarto yang datang dari Bandung di Stasiun Semarang Tawang Bank Jateng, kami segera naik mobil Innova menuju Mlonggo, Jepara. Tujuan kami ke Jepara adalah mendampingi William, pacar dik Laras, yang akan menerima sakramen baptis.
Jepara dekat lereng Gunung Muria di Jawa Tengah, menurut C. Lekkerkerker berasal dari kata Ujungpara, karena saat ada utusan dari Kerajaan Majapahit melihat di ujung Pulau Jawa ada nelayan yang sedang membagi-bagi ikan hasil tangkapannya, “membagi” dalam bahasa Jawa adalah “Para”. Kemudian berubah menjadi Ujung Mara, Jumpara, Japara dan pada tahun 1950an diubah menjadi Jepara.
Pada umumnya penduduk Jepara merupakan suku Jawa, dan beberapa suku lain dari Indonesia. Berdasarkan agama yang dianut yakni Islam 97,03%, kemudian Kekristenan 2,93% dimana Protestan 2,41% dan Katolik 0,51%. Selebihnya buddha sebanyak 0,02% dan Hindu 0,02%.

By. Fidelio Petra Adiartha (7 bulan) keponakan William akan ikut ke Gereja Stella Marris Jepara

Gereja Stella Marris Jepara sebelum misa kudus sakramen permandian untuk William

Diberikan lilin yang menyala, agar apinya menyemangati William menjadi lebih dewasa secara iman Katolik

Bersama Rm. Andre, MSF keluarga besar William, dan bapak ibu ketua lingkungan di Gereja Stella Maris Jepara
Kami akan menemani pacar dik Laras, untuk dipermandikan menjadi Yoseph William Febuana di Gereja Katolik Stella Maris Jepara. Stella Maris adalah gelar kuno bagi Santa Perawan Maria, ibu Yesus Kristus, dalam bahasa Latin yang bermakna Bintang Samudra. Gelar ini pertama-tama digunakan pada abad ke-9 untuk merujuk Sang Perawan Maria. Bagian dari Maria ini, sebagai seseorang yang bertindak sebagai pembimbing dan pelindung mereka yang bekerja atau berlayar di laut, membuatnya menerima julukan Ratu Kami Sang Bintang Samudra, diangkat sebagai pelindung misi-misi Katolik bagi para pelaut, kerasulan di laut, dan membuat banyak gereja-gereja di tepi/dekat pantai yang diberi nama Stella Maris atau Maria Sang Bintang Samudra.

Perjumpaan yang berselang 42 tahun dengan mas Eddy Kristianto, sejak selesai belajar bersama di SMP Bruderan Purworejo tahun 1981, di Gereja Stella Maris Jepara. Luar biasa pangling dan tidak menyangka.
Setelah dipermandikan oleh RP. Andrianus Sulistyono, MSF (Rm. Andre) Pastor Paroki Stella Maris Jepara, maka kita semua sangat berharap agar William semakain dewasa dalam iman katolik, bertekun dalam doa kepada Bunda Maria Bintang Samudera, dan menjadi tukang kayu yang setia, tangguh dan maju, dalam bisnis mebelairnya.
“Anda dan saya dipanggil untuk berani keluar dari diri sendiri, dari cinta diri menjadi cinta sosial, cinta keluarga, dan cinta kepada banyak orang, sebagai ungkapan cinta kepada Tuhan,” tambahnya. Itulah salah satu ciri khas kata-kata yang selalu diulang selama misa kudus oleh Romo Andre, yaitu ‘Anda dan saya’.
Sebuah insiden pada hari Rabu, 7 September 2016 tidak mengenakkan terjadi di wilayah Paroki St. Petrus Purwosari, Surakarta (Solo), Jawa Tengah. Romo Andrianus “Andre” Sulistiyono MSF yang memimpin perayaan ekaristi untuk memule (mendoakan arwah) Peringatan 1.000 hari meninggalnya salah satu umat, harus dievakuasi lewat jendela ke salah satu ruangan di pendopo Kelurahan Penumping di Kodya Surakarta. Pada hal pendopo tersebut berlokasi persis di belakang Loji Gandrung, rumah dinas Walikota Solo FX “Rudy” Hadi Rudyatmo.
Rm. Andrianus Sulistyono, MSF lahir di Salatiga, 3 April 1975, merupakan putra bungsu dari 5 bersaudara alm. Bapak Ignatius Soelardjo & almarhumah ibu Maria Margaretha Koesmartati. Ditahbiskan bersama 8 temannya di Gereja Atmodirono Semarang, 16 Juli 2002. Romo Andre seperti biasanya pagi itu memberikan kotbah lucu (full humor) serta pesan moral kepada para penerima sakramen permandian (baptis), wali dan keluarga. Misa kudus penerimaan sakramen permandian pagi itu berlangsung hampir selama 2 jam yang tidak terasa membosankan, karena suasana cair yang diciptakan Romo Andre dan udara sejuk dalam gereja berAC, bahkan diakhiri dengan foto bersama yang penuh canda, gaya dan tawa.
Sore harinya kami diantar William ke Semarang, untuk ganti Travel City Trans menuju Yogyakarta dan sampai kembali di rumah kami Minggu, 27 Oktober 2024 pk. 21.30
JELAJAH KATEDRAL SE JAWA
Perjalanan darat (overland) untuk jelajah 7 buah Gereja Katedral se Jawa 23-27 Oktober 2024 :
1. Naik Bis Rosalia Indah dari Jogja menuju Gereja Katedral Santo Perawan Maria Dari Gunung Karmel di Malang sejauh 394 km dalam 7 jam
2. Naik bis Tentrem AC tarif biasa ke Katedral Hati Kudus Yesus di Surabaya sejauh 95 km selama 1 jam.
3. Naik KA Pandalungan ke Katedral Santa Maria Ratu Rosario Suci di Semarang sejauh 353 km dalam 4 jam
4. Naik KA Kamandaka ke Katedral Kristus Raja Purwokerto sejauh 207 km selama 5 jam
5. Naik Travel Aragon Toyota Hi-Ace ke Katdreal Santo Petrus di Bandung sejauh 276 km selama 8 jam.
6. Naik travel Aragon Toyota Hi Ace ke Katedral Bunda Perawan Maria di Bogor sejauh 173 km selama 4 jam
7. Naik KRL ke Katedral Santa Perawan Maria Diangkat ke Sorga di Jakarta sejauh 61 km selama 2 jam.
8. Naik KA Argo Bromo dan lanjut mobil ke Gereja Stella Maris Jepara sejauh 516 km selama 8 jam
9. Naik mobil dan lanjut Travel City Trans ke Jogja : 211 km
Total perjalanan di atas roda : 2.286 km. Disampaikan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung kelancaran ziarah katedral se Jawa kali ini dan sampai jumpa pada petualangan selanjutnya
Berkah Dalem
Yogyakarta Selasa, 29 Oktober 2024