Categories
anak Jalan-jalan

2025 Timur Laut Jawa Tengah

2025  TIMUR  LAUT  JAWA  TENGAH

fx. wikan indrarto & b. sari prasetyati

Liburan pergantian tahun kami isi dengan menjelajah darat (overland) teritorial Jawa Tengah bagian timur laut, dengan tujuan utama Lasem, di perbatasan utara Jawa Tengah dengan Jawa Timur.

Petualangan ini dapat dinikmati juga pada : https://www.instagram.com/p/DSzyO5JElLm/?igsh=MWd1Nm0xanZzaXlpeQ==

Mengajak dik Bimo (anak kedua, arsitek muda yang sedang WFA) dan dik Laras (anak ketiga, yang sedang menunggu ujian nasional dokter Indonesia UKMPPD), meninggalkan rumah Timoho Yogyakarta untuk menjelajah timur laut Jawa Tengah

Kami meninggalkan Yogyakarta Minggu siang, 28 Desember 2025 dengan tujuan pertama adalah Keraton Kartasura. Memang saat ini tinggallah sebagai bekas keraton dan ibu kota Kesultanan Mataram pada periode 1680–1745. Tepatnya sesudah Keraton Plered dihancuran pada Perang Trunajaya. Keraton ini akhirnya tidak digunakan lagi karena dipindahkan ke Surakarta.

Menikmati kemegahan benteng Keraton Kartasura yang sedang dipugar di Sukoharjo, Jawa Tengah

Keraton Kartasura didirikan oleh Sultan Amangkurat II pada tahun 1680, karena Keraton Plered saat itu telah diduduki Pangeran Puger yang ditugasi mempertahankan Plered oleh Sultan Amangkurat I, ketika terjadi pemberontakan Trunajaya. Pangeran Puger akhirnya dapat dibujuk untuk bergabung ke Kartasura dan mengakui kedaulatan kakaknya sebagai Amangkurat II.

Bekas Keraton Kartasura sekarang terletak di wilayah administratif Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo. Peninggalan yang masih tersisa dari Keraton Kartasura hingga saat ini adalah sebagian dinding cepuri (benteng), baluwarti, taman keraton (Gunung Kunci), gedong piring, gedong obat, dalem pangeran, dan toponim yang merupakan komponen kota Kartasura di masa lalu

Benteng Keraton Kartasura yang terbuat dari bata merah

Akibat pemberontakan Pangeran Trunajaya, maka Sultan Amangkurat I beserta keluarganya mengungsi ke arah barat termasuk putranya yaitu Raden Mas Rahmat. Dalam pengungsiannya, ia mengangkat Raden Mas Rahmat sebagai adipati anom (putra mahkota) yang sebelumnya hak putra mahkota telah diberikan kepada Pangeran Puger.

Amangkurat I beserta keluarga dan para pengikutnya sudah berada di daerah Banyumas. Dalam kondisi yang serba sulit, Amangkurat I jatuh sakit hingga akhirnya wafat. Sesuai wasiatnya sebelum meninggal, Amangkurat I dimakamkan di dekat gurunya di Tegalarum, Adiwerna, Tegal, Jawa Tengah sudah mendekati Jawa Barat.

Sementara itu Raden Mas Rahmat menyatakan diri sebagai susuhunan Mataram menggantikan Amangkurat I yang bergelar Amangkurat II. Pada tahun 1678 Amangkurat II mengerahkan pasukannya dengan dibantu VOC Belanda menyerang Pangeran Trunajaya di Kediri. Pada akhirnya Pangeran Trunajaya tertangkap dan dijatuhi hukuman mati, sehingga kekuasaan Mataram berhasil dipulihkan oleh Amangkurat II.

Usai menumpas Trunajaya, Amangkurat II menarik pasukannya menuju Semarang, kemudian ia memerintahkan kepada Patih Nerangkusuma agar membuka hutan Wanakerta yang akan dibangun menjadi keraton baru. Amangkurat II mulanya merupakan raja tanpa istana karena Keraton Plered telah diduduki adiknya, yaitu Pangeran Puger yang mengangkat diri sebagai Sunan Ngalaga. Pada 28 November 1681 Sunan Ngalaga menyerah kepada Jacob Couper, perwira VOC yang membantu Amangkurat II. Pada Rebo 11 September 1680 Amangkurat II secara resmi menempati Keraton Kartasura dan memindahkan pusat pemerintahannya di sana.

Gerbang Petilasan Keraton Kartasura yang telah hancur karena Geger Pacinan

Kehancuran Keraton Kartasura

Peristiwa Geger Pacinan dan perubahan sikap Pakubuwana II terhadap para pemberontak Tionghoa menjadi awal dari kehancuran Keraton Kartasura. Kekuatan pasukan pemberontak yang kuat berhasil mengalahkan pertahanan pasukan Kartasura di Boyolali, Teras, Mojosongo, dan Ngasem. Serangan ini membuat Van Hohendroff memberikan saran kepada Pakubuwana II agar menyelamatkan diri. Seusai penyerbuan, para pemberontak mulai merampas dan menjarah emas, karungan uang, dan barang-barang berharga lainnya. Selain melakukan penjarahan para pemberontak juga membakar perkampungan di sekitar keraton. Kekosongan kursi raja karena Susuhunan yang melarikan diri, diisi oleh Sunan Kuning yang kekuasaanya juga didukung oleh orang-orang Tionghoa

Peninggalan Kraton Kartasura yang digunakan pada tahun 1680-1742

Siang itu kami membayangkan kemegahan Keraton Kartasura yang merupakan istana Kerajaan Mataram Islam. Keraton megah yang dibangun tahun 1680 oleh Amangkurat II di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, menjadi saksi sejarah sebelum pindah ke Surakarta. Kami hanya melihat reruntuhan benteng (cepuri) dan situs pemakaman keluarga raja yang bersejarah dan kaya akan kisah heroik dan kehancuran, serta menjadi cikal bakal Keraton Surakarta.

Masjid Hastana Karaton Kartasura di Desa Ngadirejo, Kecamatan Kartasura, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, sekitar 11 km dari Keraton Surakarta.

Gerbang Petilasan Keraton Kartasura yang dibangun tahun 1680

Peninggalan: Yang tersisa hanyalah reruntuhan benteng bata merah (benteng cepuri dan baluwarti) serta situs makam keluarga raja (seperti makam keluarga Pakubuwana IX dan X).

Bentuk asli Benteng Cepuri Keraton Kartasura, benteng berbentuk segi delapan dengan dinding bata tanpa perekat, disebut juga Benteng Sri Penganti.

Setelah puas terkagum dengan bayangan kemegahan Keraton Kartasura yang saat ini tinggal petilasannya saja, kami segera melanjutkan penjelajahan darat (overland) menuju Petilasan (peninggalan) Kerajaan Pajang yang terletak di perbatasan Desa Pajang, Kota Surakarta dengan Desa Makamhaji, Kabupaten Sukoharjo. Petilasan Pajang ini telah menjadi salah satu destinasi wisata sejarah yang menawarkan pengalaman mendalam tentang perjalanan sejarah Nusantara, khususnya Jawa. Situs bersejarah ini merupakan saksi bisu kejayaan salah satu kerajaan Islam penting di Tanah Jawa pada abad ke-16.

Pintu gerbang Petilasan Keraton Pajang di Surakarta

Kerajaan Pajang didirikan oleh Sultan Hadiwijaya atau yang lebih dikenal sebagai Jaka Tingkir pada tahun 1568, setelah runtuhnya Kerajaan Demak Bintaro. Sebagai penerus Kerajaan Demak, Pajang memainkan peran penting dalam penyebaran Islam di Jawa dan perkembangan budaya Jawa.

Nuansa sakral, tenang dan teduh di areal Petilasan Keraton Pajang

Meskipun tidak ada istana yang tersisa, area Petilasan Kerajaan Pajang menawarkan nuansa yang tenang dan sakral. Pengunjung dapat melihat beberapa peninggalan seperti gapura, batu berukir, dan makam yang diyakini terkait dengan tokoh-tokoh penting kerajaan.

Salah satu daya tarik utama adalah Makam Sultan Hadiwijaya yang terletak di Desa Makamhaji, Kartasura. Kami tidak sempat mengunjungi makam ini siang itu, meski sering menjadi tujuan ziarah bagi masyarakat yang ingin menghormati leluhur sekaligus berdoa. Di depan makam terdapat gapura berbentuk paduraksa dengan hiasan ukiran kayu dan tembok batu bata bertuliskan kaligrafi Arab yang mengelilingi makam.

Selain makam, terdapat pula peninggalan berupa artefak seperti batu bata kuno dan struktur bangunan yang menjadi petunjuk penting bagi arkeolog dalam mempelajari sejarah Kerajaan Pajang. Meski banyak bagian yang telah terkikis oleh waktu, sisa-sisa ini tetap memberikan gambaran tentang kehidupan di masa kejayaan Pajang.

Suasana di dalam Petilasan Kerajaan Pajang

Petilasan Kerajaan Pajang juga menjadi lokasi untuk berbagai acara budaya dan tradisional. Pada malam Jumat Legi, masyarakat setempat menggelar kegiatan tahlil bersama dengan menyediakan bancakan sego liwet sebagai bentuk penghormatan terhadap leluhur.

Selanjutnya kami santap siang di Warung Pedas Cak Kend seputaran Laweyan, lanjut mengunjungi Masjid Raya Sheikh Zayed, Solo. Masjid ini dibangun pada tahun 2021, dan merupakan replika dari Masjid Sheikh Zayed di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab. Masjid ini merupakan hibah dari Pemerintah Uni Emirat Arab kepada Pemerintah Indonesia.

Masjid Agung Sheikh Zayed di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab yang kami kunjungi 10 Mei 2025

Masjid ini kemudian dirancang mirip aslinya dengan empat menara menjulang, satu kubah utama, dikelilingi 81 kubah-kubah kecil, dan ornamen bangunan Timur Tengah. Diresmikan pada 14 November 2022 oleh Presiden Joko Widodo dan Presiden Uni Emirat Arab Mohamed bin Zayed Al Nahyan, masjid ini menggunakan karpet bermotif batik serta tembok di dekat imam bertuliskan Asmaulhusna.

Masjid Raya Sheikh Zayed, di Gilingan Solo (Surakarta) yang dibangun pada tahun 2021

Sebelum menjadi masjid, lokasi tempat masjid ini berdiri dahulu merupakan bekas depot minyak Pertamina Gilingan. Seiring bertumbuhnya Kota Surakarta, depot minyak Gilingan menjadi semakin tidak efektif untuk distribusi BBM karena berlokasi di tengah-tengah permukiman. Akibatnya, rencana distribusi minyak menggunakan jaringan perpipaan ke depo ini menjadi gagal karena persoalan biaya. Depot minyak ini ditutup pada tahun 2008 karena beroperasinya depot baru di Boyolali. Pada tahun 2012, Pertamina merencanakan membangun hotel dan gedung pameran serta kawasan wisata kuliner di atas lahan depot minyak tersebut, tetapi akhirnya gagal terencana. Sebagian kecil dari lahan eks-depot minyak tersebut akhirnya dijadikan stasiun pengisian bahan bakar.

Masjid megah hasil rancangan PT Arkonin dan PT Airmas Asri Architects

Pada tahun 2019, Luhut Binsar Pandjaitan, yang menjabat sebagai Menko Marinves, membeberkan rencana UEA untuk membangun masjid di atas lahan depot minyak Gilingan. Terkait dengan hal tersebut, Duta Besar UEA kemudian meninjau lokasi eks-depot minyak Gilingan tersebut sebagai lokasi pembangunan masjid, sebagaimana rencana Muhammad bin Zayid Al Nahyan.

PT Arkonin dan PT Airmas Asri Architects ditunjuk sebagai firma arsitektur yang mendesain bangunan masjid, atas mandat Pemerintah UEA. Sementara itu, proses pembangunan dilakukan oleh kontraktor Waskita Karya. Masjid ini diresmikan pada 14 November 2022 oleh Presiden Joko Widodo dan Presiden Uni Emirat Arab Mohamed bin Zayed Al Nahyan. Selanjutnya, Wakil Presiden Ma’ruf Amin resmi membuka masjid ini untuk seluruh kegiatan keagamaan umum pada 28 Februari 2023.

Yang membedakan masjid ini dan masjid aslinya yang terletak di Abu Dhabi adalah ukurannya yang lebih kecil, dengan luas hanya 2,7 ha (27.000 m2) atau hanya sekitar 22,5% dari lahan masjid aslinya yang seluas 12 ha (120.000 m2).

Masjid Zayed di Surakarta yang diresmikan pada 14 November 2022 oleh Presiden Joko Widodo dan Presiden Uni Emirat Arab Mohamed bin Zayed Al Nahyan.

Bentuk dasarnya masih mengikuti masjid aslinya, yang masih kental dengan gaya arsitektur Maroko, Asia Selatan, dan Timur Tengah, dengan ukurannya yang lebih kecil. Di samping ukuran masjidnya yang kecil, yang menjadi ciri khas dari masjid ini dibandingkan dengan masjid aslinya adalah adaptasi motif-motif batik ke tiap-tiap komponen bangunan, seperti kawung, kembang, dan bokor kencono. Dengan luasnya itu, masjid ini diklaim mampu menampung 10.000 jemaah.

Setelah berdesakan dengan pengunjung lain dalam mencari posisi terbaik untuk melihat kemegahan Masjid Zayed, kami segera melanjutkan petualangan ke Jembatan Layang Simpang Joglo. Jembatan indah ini merupakan sebuah jalur rel layang dan jembatan kereta api yang berlokasi di Banjarsari, Kota Surakarta, Jawa Tengah. Jalur rel layang ini menghubungkan Solo Balapan dengan jalur kereta api lintas utara Jawa.

Jalur rel layang Simpang Joglo menjadi salah satu jalur rel layang kereta api di Jawa Tengah. Terdapat jalur rel layang lainnya di Indonesia, beberapa diantaranya yaitu jalur kereta api Kadipiro–Bandara Adi Soemarmo, jalur kereta api Jakarta Kota–Manggarai–Jatinegara, jalur kereta api cepat Jakarta–Bandung, jalur kereta api Kedundang–YIA, dan jalur kereta api Medan.

Jembatan Simpang Joglo melintas di atas persimpangan 7 arah di ujung utara Kota Surakarta.

Peletakan batu pertama pembangunan jalur rel layang dan jembatan Simpang Joglo dilakukan pada 8 Januari 2022. Pembangunan dilakukan oleh Direktorat Jenderal Perkeretaapian melalui Balai Teknik Perkeretaapian Kelas I Semarang dengan KSO antara Hutama Karya dan Wijaya Karya. Jalur rel layang Simpang Joglo memiliki panjang 270 meter.

Setelah terkagum dengan kemegahan jembatan besi berwarna merah yang melintasi simpang Joglo, segera dik Laras mengambil alih kemudi untuk melibas Jalan Tol Solo–Ngawi. Jalan ini adalah jalan tol sepanjang 90 km yang menghubungkan Kota Surakarta, Jawa Tengah dengan Ngawi, Jawa Timur. Jalan tol ini melewati wilayah Boyolali, Karanganyar, Sragen, dan Ngawi. Jalan tol ini merupakan bagian dari jaringan Jalan Tol Trans-Jawa, menghubungkan kota–kota utama di Pulau Jawa.

Dik Laras melahap jalan tol Solo Ngawi, yang dipagari pohon trembesi yang ditanam Djarum Faoundation

Pada 29 Maret 2018, Presiden Joko Widodo meresmikan Jalan Tol Solo–Ngawi ruas Ngawi-Klitik bersamaan dengan Jalan Tol Ngawi-Kertosono ruas Klitik-Wilangan. Untuk ruas Kartasura – Sragen sepanjang 35 kilometer telah diresmikan pada 16 Juli 2018, sedangkan ruas Sragen – Ngawi sepanjang 55 kilometer baru diresmikan pada 28 November 2018.

Minggu sore, 28 Desember 2025 kami menuju pemberhentian pertama, yaitu Ngawi, di Jawa Timur. Kata Ngawi (Bahasa Jawa Kuno : awi yang berarti bambu) menandakan bahwa di daerah ini terdapat banyak pohon bambu, yang tumbuh subur di areal pertemuan 2 sungai besar, yaitu Bengawan Solo dan Bengawan Madiun. Wilayah Ngawi telah menjadi bagian dari Kerajaan Majapahit ketika Raja Hayam Wuruk memerintah, tercermin dalam Prasasti Canggu 7 Juli 1358 M (1280 dalam kalender Saka).

Melawan silau matahari sore di gerbang Benteng Van den Bosch (Benteng Pendem), yaitu benteng di Kelurahan Pelem, Ngawi.

Tujuan wisata pertama kami adalah Benteng Van den Bosch (Benteng Pendem), yaitu benteng di Kelurahan Pelem, Ngawi. Benteng ini memiliki ukuran bangunan 165 m x 80 m dengan luas tanah 15 Ha. Letak benteng ini sangat strategis karena berada di dekat muara sungai Bengawan Madiun ke sungai Bengawan Solo. Benteng ini dulu sengaja dibuat lebih rendah dari tanah sekitar yang dikelilingi oleh tanah tinggi, agar tersembunyi dan memenuhi unsur ideal bagi suatu benteng pertahanan, sehingga terlihat dari luar terpendam dan disebut Benteng Pendem, nama serupa seperti Benteng Willem di Ambarawa. Hebatnya arsitek Belanda saat itu dalam mendesain saluran drainase, walaupun berposisi lebih rendah dari tanah sekitarnya, lokasi Benteng mampu terhindar dari banjir. Dipilihnya lokasi itu untuk pembangunan Benteng Van Den Bosch karena Sungai Bengawan Solo dan Bengawan Madiun kala itu merupakan jalur perdagangan strategis, dari Surakarta, Ngawi menuju Gresik, demikian juga Madiun-Ngawi dengan tujuan yang sama.

Situs Benteng Pendem di Ngawi

Pada abad 19 Ngawi menjadi salah satu pusat perdagangan dan pusat pertahanan Belanda dalam Perang Diponegoro (1825-1830). Perlawanan dipimpin oleh Adipati Judodiningrat dan Raden Tumenggung Surodirjo, serta salah satu pengikut Pangeran Diponegoro bernama Wirotani. Pada tahun 1825 Ngawi berhasil direbut dan diduduki oleh Belanda yang kemudian membangun sebuah benteng pada tahun 1845. Benteng ini dihuni tentara Belanda, terdiri dari 250 orang bersenjatakan bedil, 6 meriam api dan 60 orang kavaleri dipimpin oleh Johannes van den Bosch.

Benteng Van den Bosch yang masih nampak gagah dan anggun

Beristirahat sejenak di dalam benteng yang dahulu dihuni tentara Belanda yang dipimpin oleh Johannes van den Bosch.

Melihat usaha Belanda dalam menguasai wilayah Ngawi, Pangeran Diponegoro tidak tinggal diam, bersama salah satu pengikut setianya yaitu Kyai Haji Muhammad Nursalim, dia melakukan perlawanan terhadap Belanda serta mengajarkan Agama Islam dan memotivasi perlawanan terhadap Belanda kepada Masyarakat Ngawi. Konon Kyai Haji Muhammad Nursalim memiliki kekuatan kebal terhadap peluru dan senjata. Belanda membuat siasat untuk menangkap dan kemudian mengubur Kyai Haji Muhammad Nursalim hidup-hidup di sekitar zona inti Benteng Van Den Bosch. Lokasi makam bertempat di ruang utama benteng, tepatnya berada di sebelah museum mini yang dibatasi dengan kaca.

Bangunan paling megah di dekat Makam Kyai Haji Muhammad Nursalim di sekitar zona inti Benteng Van Den Bosch Ngawi

Sudut Benteng Van den Bosch yang nampak kokoh dalam pertahanan, tetapi tetap artistik dalam keindahan

Setelah puas menikmati kemegahan dan kewibawaan bangunan benteng Van den Bosch di Ngawi yang ikonik, kami segera menuju hotel. Di tengah tantangan ekonomi yang melanda sektor pariwisata, Nata Azana Hotel tetap percaya diri untuk menjalankan bisnisnya di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur. Meskipun sempat dibilang investasi gila oleh sejumlah pengamat, hotel yang berlokasi strategis ini tetap optimis untuk meraih sukses. Nata Azzana Hotel resmi dibuka pada Senin, 3 Februari 2025, hotel ini menghadirkan pengalaman menginap mewah di pusat Kota Ngawi.

Bergaya di pinggir kolam renang di Hotel Nata Azana Ngawi

Nata Azana Hotel dengan konsep yang menggabungkan kenyamanan modern dan nuansa tradisional. Dengan puluhan kamar yang tersedia, hotel ini menawarkan berbagai fasilitas, termasuk kolam renang, restoran, dan ruang pertemuan yang siap digunakan untuk berbagai acara.

Peresmian Nata Azzana Hotel Senin, 3 Februari 2025 dihadiri langsung oleh Bupati Ngawi Ony Anwar Harsono, Wakil Bupati, serta jajaran Forkopimda, termasuk Ketua DPRD dan seluruh Kepala Dinas setempat. Hotel ini terletak di Desa Grudo dekat dengan exit toll Ngawi.

Lomba renang internal keluarga kami di Hotel Nata Azzana Nagwi, yang dimenangkan oleh pengguna kostum yang paling minimalis

Malam itu dik Bimo melanjutkan rendering WFA proyek resort di Bali, sedangkan dik Laras belajar menyiapkan diri menghadapi ujian negara kedokteran UKMPPD, di kamar 517 Hotel Nata Azzana Ngawi. Kami berdua mendampinginya sambil leyeh-leyeh

Minggu malam, 28 Desember 2025

(bersambung)

NGAWI

(sambungan)

Senin, 29 Desember 2025 pagi kami bangun tidur di kamar 517 Hotel Nata Azzana Ngawi dan segera bergegas untuk mengikuti misa kudus harian di Gereja Santo Yosef Paroki Ngawi, pk. 5.30. Gereja Katolik Roma ini berada di wilayah Keuskupan Surabaya, yang terletak di Kelurahan Ketanggi, Kecamatan Ngawi, Ngawi.

dapat juga dilihat pada : https://www.instagram.com/p/DS2Y6nbklGW/?igsh=MTNpbHdxOGJmbnJmNA==

Gerbang Gereja katolik Santo Yosef di Ngawi

Bangunan gedung gereja yang kami kunjungi pagi itu sudah ada dan digunakan sebagai tempat ibadah bagi umat Katolik pada zaman itu. Bentuk bangunan menunjukkan secara jelas bahwa gereja tersebut merupakan peninggalan zaman Hindia Belanda yang digunakan untuk melakukan pelayanan rohani bagi orang-orang Katolik zaman itu.

Interior Gereja Katolik Santo Yosef Ngawi, Jawa Timur setelah misa kudus harian selesai

Pada tahun 1955, Pastor Andre van Rijnsoever, CM, datang dari Madiun ke Ngawi bersama seorang pemuda bernama Sanen dan mengelola gedung gereja di Jalan Jaksa Agung Suprapto No 43, yang terletak di depan Polres Ngawi. Hingga saat ini, tata letak dan bentuk bangunan gereja tersebut masih asli dan belum mengalami perubahan. Lahan di belakang gereja yang berdampingan dengan rumah dinas Dandim Ngawi dulunya adalah tempat pembantaian orang-orang Belanda pada masa penjajahan Jepang.

Pada Desember 1968, umat Ngawi mulai merayakan Hari Natal kelahiran Yesus Kristus di gereja, menandakan kebahagiaan umat saat itu. Kemudian pada tahun 1969, Pastor Filippo Catini, CM, menetap di gereja untuk menggembalakan umat Ngawi. Pada 9 Juni 1969, Uskup Surabaya Mgr. Johanes Klooster, CM, memberikan Sakramen Penguatan pertama kali di gereja tersebut Ngawi.

Pagi itu misa kudus dipimpin oleh RD. Yakobus Budi Nuroto, pastor kepala paroki yang menyelesaikan pendidikan teologi dan filsafatnya di Universitas Sanata Dharma (USD) di kampus Kentungan Sleman DI Yogyakarta.

Bersama RD. Yakobus Budi Nuroto, pastor kepala paroki Santo Yosef Ngawi

Tradisi menuliskan pribadi Yusuf, suami Maria sebagai seorang tukang kayu di kota Nazareth.Ia seorang bangsawan yang saleh dan sederhana. Darah kebangsawanannya mengalir dari Raja Daud leluhurnya. Kesucian dan kesalehannya terlihat di dalam ketaatannya pada kehendak Allah untuk menerima Maria sebagai istrinya serta mendampingi Maria dalam membesarkan Yesus, Putera Allah yang menjadi manusia. Kesederhanaannya terlihat dalam pekerjaannya sebagai seorang tukang kayu, dan cara hidupnya yang biasa-biasa saja di dalam masyarakat.

Bergaya di depan Kantor Bupati Ngawi, Jawa Timur

Dalam pribadi Yusuf, pekerjaan tangan memperoleh suatu dimensi ilahi. Kerja meningkatkan harkat dan martabat manusia sebagai ciptaan Allah dan memungkinkan manusia turut serta di dalam karya penciptaan dan penyelamatan Allah. Atas dasar inilah gereja pada masa kepemimpinan Paus Pius XII menetapkan tanggal 1 Mei sebagai hari Raya Santo Yusuf Pekerja, sekaligus menetapkan sebagai Hari Buruh. Yusuf selanjutnya diangkat sebagai pelindung para karyawan/buruh yang bekerja setiap hari untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari.

Sarapan bersama

Segera kami menikmati santap pagi bersama di Arum Dalu di lantai 1 Hotel Nata Azzana Ngawi, sebelum melanjutkan petualangan. Dik Bimo dan dik Laras kembali terpaku di depan laptop mereka masing-masing, dalam mengerjakan tugasnya yang tetap ada saat liburan pergantian tahun. Kami berdua lanjut mengenang kejadian tahun 1888, saat perusahaan Hindia Belanda yang bergerak di bidang perkebunan, bernama Verenigde Vorstenlandsche Cultuur Maatschappij (VVCM) mendirikan sebuah Pabrik Gula yang berlokasi di Desa Tepas, Kecamatan Geneng, Ngawi dan bernama Pabrik Gula Soedhono, yang masih operasional sampai sekarang.

Gerbang Stasiun Geneng, di seberang Pabrik Gula Soedhono

Pabrik Gula Soedhono di seberang Stasiun Geneng adalah pabrik gula yang produksinya berbasis tebu dan telah beroperasi sejak tahun 1888. Pabrik Gula Soedhono didirikan pada tahun 1888 oleh perusahaan Verenigde Vorsendsche Cultuur Maatschappij (VVCM). Pada tanggal 10 Desember 1957, direksi sebagai pimpinan tertinggi perusahaan negara yang berpusat di Jakarta melakukan perubahan struktur organisasi perkebunan dari sentralisasi menjadi desentralisasi dan status PG Soedhono menjadi Perusahaan Perkebunan Negara (PPN).

Gerbang Pabrik Gula (PG) Soedhono yang tinggi menjulang

Dalam setiap musim giling PG Soedhono sudah tidak mengaktifkan lagi loko yang ada untuk menarik tebu dari kebun ke pabrik, hal ini sebagai dampak dari usia loko dan mahalnya biaya perawatan. Untuk mengatasi hal tersebut PG Soedhono menggunakan armada truck untuk mengangkut tebu dari kebun ke pabrik dengan sistem kontrak. Hal ini dapat menghemat biaya pemeliharaan serta mempercepat proses penggilingan tebu. Pada tahun ini jumlah armada yang dipakai dari jumlah tebu digiling sebanyak 160 truck.

Cerobong asap PG Soedhono nampak menjulang di kejauhan

Tujuan petualangan kami sekanjutnya adalah Museum Trinil, yaitu museum khusus yang mengkoleksi beragam jenis fosil manusia dan hewan purba, yang dirintis oleh Wirodiharjo sejak tahun 1967. Pada tanggal 20 November 1991 Museum Trinil diresmikan oleh Soelarso (Gubernur Jawa Timur saat itu). Situs Trinil diteliti oleh seorang dokter militer Hindia Belanda bernama Eugene Dubois, yang melakukan penelitian pada 1891-1893. Penemuannya ialah fosil manusia purba Pithecanthropus Erectus dan tulang panggul gajah jenis Stegodon Trigonochepslus dan fosil tulang pengumpil gajah. Museum ini kelilingi oleh aliran Sungai Bengawan Solo.

Gerbang utama Museum Trinil di Ngawi

Situs ini mulai terkenal di dunia setelah Eugene Dubois memulai penelitiannya di wilayah Ngawi pada tahun 1891, meliputi tiga desa: Desa Kawu, Desa Gemarang, dan Desa Ngancar. Nama “Trinil” sendiri berasal dari tiga desa tersebut (tri) dan Sungai Bengawan Solo yang mengalir di sekitarnya, yang pada saat itu memiliki debit air melimpah seperti Sungai Nil (nil). 

Titik Nol Prasejarah dunia di Museum Trinil, Ngawi

Di Trinil, Eugene Dubois menorehkan penemuan penting. Pada tahun 1891, ia menemukan atap tengkorak dan gigi manusia yang mirip kera. Setahun kemudian, tulang paha kiri manusia purba pun ditemukan. Eugene Dubois kemudian menamai temuannya Pithecanthropus erectus, yang berarti “manusia kera yang berjalan tegak”. Penemuan revolusioner ini menjadi tonggak awal penelitian situs-situs Pleistosen dan perkembangan paleoantropologi di Indonesia. Trinil pun mendunia sebagai situs penting dalam evolusi manusia pada akhir abad ke-19, menarik para peneliti lain untuk mengikuti jejak Eugene Dubois dan melakukan penelitian di sana.

Pithecanthropus erectus, yang berarti “manusia kera yang berjalan tegak” di Museum Trinil, Ngawi

 Situs Trinil, salah satu situs penting di Indonesia dari era Pleistosen, menyimpan banyak informasi penting tentang kehidupan prasejarah, termasuk manusia, budaya, dan lingkungan pada masa lampau. Situs ini mulai terkenal di dunia setelah Eugene Dubois memulai penelitiannya di wilayah Ngawi pada tahun 1891.

Gajah purba era Pleistosen yang fosilnya ditemukan oleh Eugene Dubois di situs Trinil, Ngawi

Setelah check out hotel, kami segera menyusuri jalanan yang dikepung hutan jati, dari Ngawi masuk teritorial Bojonegoro. Kami beristirahat untuk makan siang di Rumah Makan Ikan Bakar Semriwing Mbak Ita di Arjosari, Ngasinan, Kecamatan Padangan, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Makan siang di Rumah Makan Ikan Bakar Semriwing Mbak Ita, Bojonegoro, Jawa Timur

Setelah kenyang, kami segera berbelok ke kiri melintasi Bengawan Solo, untuk masuk kembali ke teritoial Jawa Tengah. Kami memasuki wilayah Kecamatan Cepu di Kabupaten Blora. Cepu dikuasi pemerintah Kadipaten Jipang pada abad XVI, yang pada saat itu masih di bawah pemerintahan Kerajaan Demak. Adipati Jipang yang legendaris bernama Aryo Penangsang, yang lebih dikenal dengan nama Aria Jipang. Daerah kekuasaannya meliputi Pati, Lasem, Blora, dan Jipang sendiri.

Bergaya di gerbang SMP Negeri 1 Cepu, Blora Jawa Tengah

Begitu memasuki wilayah Cepu, langsung teringat beberapa teman di SMA Kolese de Britto Yogyakarta (JB), yang lulusan SMPN 1 Cepu. Ada mas Abu Khoiri dan mas Anang Prihutomo yang sekarang telah sukses sebagai insinyur di ibukota.

Pendopo di pusat Petilasan Kadipaten Jipang Panolan di Cepu.

Selain teringat wajah para teman SMA JB meski lama tidak bersua, kami juga langsung bergegeas menuju Petilasan Kadipaten Jipang Panolan berada di Desa Jipang, sekitar 8 kilometer dari Cepu. Petilasannya berwujud makam Gedong Ageng yang dahulu merupakan pusat pemerintahan dan bandar perdagangan Kadipaten Jipang. Di tempat tersebut juga terlihat Petilasan Siti Hinggil, Petilasan Semayam Kaputren, Petilasan Bengawan Sore, dan Petilasan Masjid. Ada juga makam kerabat kerajaan, antara lain makam R. Bagus Sumantri, R. Bagus Sosrokusumo, RA. Sekar Winangkrong, dan Tumenggung Ronggo Atmojo. Di sebelah utara Makam Gedong Ageng, terdapat Makam Santri Songo. Disebut demikian karena di situ ada sembilan makam santri dari Kerajaan Pajang yang dibunuh oleh prajurit Jipang, karena dicurigai sebagai telik sandi atau mata-mata Sultan Hadiwijaya.

Dikisahkan oleh Babad Tanah Jawi dalam perjalanan pulang ke Pajang, rombongan Adipati Pajang Jaka Tingkir singgah ke Gunung Danaraja tempat Ratu Kalinyamat menyendiri, setelah kematian Sunan Prawoto dan suaminya Hadlirin. Ratu Kalinyamat mendesak Jaka Tingkir agar segera membunuh Arya Penangsang, dirinya yang mengaku sebagai pewaris takhta Sunan Prawoto, berjanji akan menyerahkan Demak dan Jepara jika Jaka Tingkir menang.

Jaka Tingkir segan memerangi Arya Penangsang secara langsung karena merasa dirinya hanya sebagai mantu keluarga Demak. Maka diumumkanlah sayembara, barangsiapa dapat membunuh Arya Penangsang tersebut, akan memperoleh hadiah berupa tanah Pati dan Alas Mentaok (yang akan menjadi wilayah Mataram). Orangtua angkat Jaka Tingkir, yaitu Ki Ageng Pemanahan dan sahabatnya Ki Panjawi dibimbing oleh Ki Juru Martani untuk mendaftar sayembara itu. Putra kandung Ki Ageng Pemanahan yang bernama Sutawijaya juga ikut mendaftar dalam sayembara dengan bekal Tombak Kyai Plered dari Jaka Tingkir.

Bergaya di alun-alun Jipang, bekas pusat Kotaraja Jipang di Cepu, saat Arya Penangsang berkuasa, di sekat aliran Sungai Bengawan Solo.

Diceritakan dalam Babad Tanah Jawi, ketika pasukan Pajang datang menyerang Kotaraja Jipang, saat itu Adipati Arya Penangsang sedang akan berbuka setelah keberhasilannya berpuasa 40 hari. Surat tantangan atas nama Hadiwijaya membuatnya tidak mampu menahan emosi. Apalagi surat tantangan itu dibawa oleh pekatik-nya (pemelihara kuda) yang sebelumnya sudah dipotong telinganya oleh Pemanahan dan Penjawi. Meskipun sudah disabarkan adik Arya Penangsang (Arya Mataram), Penangsang tetap berangkat ke medan perang menaiki kuda jantan yang bernama Gagak Rimang.

Kuda Gagak Rimang dengan penuh nafsu mengejar Sutawijaya yang mengendarai kuda betina, melompati bengawan. Perang antara Pasukan Pajang dan Jipang terjadi di dekat Bengawan Solo. Dalam perang tersebut perut Arya Penangsang robek terkena tombak Kyai Plered milik Sutawijaya. Meskipun demikian kesaktian yang dimiliki oleh Arya Penangsang membuatnya tetap bertahan. Ususnya yang terburai dililitkannya pada gagang keris yang terselip di pinggang. Arya Penangsang berhasil meringkus Sutawijaya. Saat mencabut keris Setan Kober untuk membunuh Sutawijaya, usus Arya Penangsang malah terpotong sehingga menyebabkan kematiannya.

Setelah kejadian itu, Jaka Tingkir (Hadiwijaya) mewarisi takhta Keraton Demak, dan pusat pemerintahan dipindah ke Pajang, yang petilasannya di Solo telah kami kunjungi pada hari sebelumnya. Dengan demikian, Cepu dan seluruh Blora masuk dalam kekuasan Kerajaan Pajang. Namun demikian, Kerajaan Pajang tidak lama memerintah (1568 sampai 1587), karena dikalahkan oleh Sutawijaya yang bergelar Panembahan Senopati dari Kerajaan Mataram (1587 sampai 1601) yang berpusat di Kotagede, sekitar 8 km dari Yogyakarta. Blora termasuk wilayah Mataram bagian timur atau daerah Bang Wetan.

Mampir berdoa sejenak di Gua Maria Sendangharjo , Blora, Jawa Tengah

Setelah puas membayangkan kegagahan Arya Penangsang dan sengitnya petempurannya dengan Danang Sutawijaya, kami segera meninggalkan Cepu dan Blora, untuk melanjutkan petualangan ke Rembang. Di tengah perjalanan ke Rembang menembus hutan jati dengan jalanan yang berkelok berulang, kami singgah di Sendangharjo. Harjo berarti selamat, sehingga Sendangharjo berarti Sendang Keselamatan.

Kami mengunjungi Gua Maria Sendangharjo yang terletak di Dukuh Polaman, Desa Sendangharjo, Kecamatan Blora, pada jalan menuju ke arah Rembang. Selain sarana Jalan Salib, tempat ziarah ini juga menyediakan pendopo dan tempat menginap dengan kapasitas 30 kamar.

Gua Maria Sendangharjo juga merupakan salah satu fasilitas rohani yang disediakan oleh Wireskat (Wisma Rehabilitasi Sosial Katolik). Wireskat mirip dengan Bahasa latin Virescat,  yang berarti “menghijaukan kembali” hidup sehat lagi dan sembuh.

Berdoa dan mengucap syukur atas semau anugerah sepanjang tahun 2025 di Gua Maria Sendangharjo , Blora, Jawa Tengah

Wireskat didirikan oleh para romo yang bertugas di Paroki Santo Pius X, Blora, Keuskupan Surabaya sekitar tahun 1970-1971. Antara lain Romo Siveri, Romo Fornasari dan Romo Ernesto Fervari. Wisma tersebut dibangun untuk menampung para penyintas sakit kusta dari RSK Donorejo, Jepara, RSK  Bojonegoro dan Susteran Bojonegoro. Karya pastoral Wireskat tersebut sangat menyentuh, karena memanusiakan para penderita kusta, sebuah penyakit infeksi kronis menular yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae. Penyakit yang sudah disebut sejak jaman Yesus Kristus ini menyerang kulit, saraf tepi, serta saluran pernapasan atas, dan mata. Kusta atau lepra ini menyebabkan mati rasa, lesi kulit, serta potensi kerusakan saraf dan cacat jika tidak diobati, meskipun penyakit ini bisa disembuhkan dengan pengobatan yang tepat. 

Mencari makan malam di seputaran Alun-alun Kota Rembang, untuk disantap bersama di seberangnya.

Selanjutnya kami beristirahat di kamar 504 Hotel Aston yang menghadap Laut Jawa di Jl. Jendral Sudirman No 8 Rembang, sebelum meneruskan petualangan ke Lasem.

(bersambung)

LASEM, REMBANG

Selasa, 30 Desember 2025 pagi kami terbangun dan bergegas berjalan kaki sejauh 600 m dari Hotel Aston Inn Jl. Jendral Sudirman No 8 untuk menuju Gereja Santo Petrus dan Paulus Jl. Diponegoro No 91 Rembang, untuk mengikuti misa kudus harian pagi.

Pada awalnya, gereja Katolik di Rembang merupakan stasi dari Gereja Cepu di Blora. Stasi ini secara berkala dikunjungi oleh para imam misionaris dari Ordo Jesuit yang pada waktu itu berkedudukan di Surabaya. Setelah daerah misi Surabaya diserahkan kepada Ordo Lazaristen yaitu imam ordo CM, Gereja Cepu yang memiliki umat Katolik lebih banyak dibanding kota-kota sekitarnya (kebanyakan mereka adalah orang Belanda karyawan minyak BPM) dan Stasi Rembang juga dilayani oleh imam CM.

Gereja Santo Petrus dan Paulus Jl. Diponegoro No 91 Rembang

Bersama Rm. Siprianus Yitno, Pastor Kepala Paroki dan para frater dari Keuskupan Surabaya di Gereja Santo Petrus dan Paulus Rembang

Pada tahun 1954 berdirilah sebuah gereja ukuran 7 x 14 meter, lengkap dengan menaranya disebut Gereja Santo Petrus dan Paulus (yang dirayakan tiap tanggal 29 Juni). Dan tepat pada hari raya Minggu Palma gedung Gereja yang baru diberkati oleh Bapa Uskup Surabaya Mgr Johannes Klooster, CM.

Bersiap untuk mengikuti misa kudus harian pagi di Gereja Santo Petrus dan Paulus Rembang

Bersama Rm. Siprianus Yitno, Pastor Kepala Paroki setelah mengikuti misa kudus harian pagi di Gereja Santo Petrus dan Paulus Rembang

Setelah selesai mengikuti misa kudus harian pagi dan bercengkerama sebentar dengan Romo Siprianus Yitno, Pr dan beberapa umat, kami segera berjalan kaki lagi kembali ke hotel. Kami menyusuri Jalan Pantura (Pantai Utara), yaitu jalur jalan nasional utama di sepanjang pesisir utara Pulau Jawa, membentang dari Merak (Banten) di barat hingga Banyuwangi (Jawa Timur) di timur Jalan lebar 4 jalur ini berfungsi sebagai urat nadi transportasi dan penghubung antar-provinsi yang sangat penting, yang cikal bakalnya berasal dari Jalan Raya Pos (De Grote Postweg) yang dibangun pada masa Gubernur Jenderal VOC Belanda Herman Willem Daendels (1808 hingga 1811).

sarapan di hotel, sebelum menjelajah Lasem

Setelah sarapan, kami segera menyusuri Jalur Pantura dari Rembang menuju Lasem. Jalan lebar yang kami lalui ini dipadati Truk Hino kategori tronton (10 roda atau lebih), yang di Indonesia masuk dalam lini Hino 500 Series (Ranger) dengan standar emisi Euro 4. Secara umum, tronton Hino terbagi menjadi dua konfigurasi penggerak utama, yaitu FL dan FM. Truk Hino Tipe FL sudah sering kami kagumi saat melewati tol Trans Jawa, termasuk Cipali dan Japek. Namun demikian, truk Hino Tipe FM (6×4) dengan dua gardan penggerak (double gardan) yang dirancang untuk beban berat dan medan ekstrem, yang memiliki roda pada sasis belakang sampai 3 deret, baru kami lihat di Jalur Pantura sekitar Rembang ke Lasem.

Mengawali penjelajahan di Lasem, sentra batik tulis motif Cina

Lasem adalah sebuah kecamatan bersejarah di Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, dikenal sebagai “Tiongkok Kecil” karena menjadi titik pendaratan awal orang Tiongkok di Jawa. Budaya Lasem kaya akan akulturasi budaya Tiongkok, Jawa, Arab, serta Belanda, terlihat dari arsitektur kuno, perkampungan, serta batik tulis khasnya yang dipengaruhi motif Tiongkok (naga, merak, phoenix).  

Belanja batik Lasem yang penuh warna, corak dan gaya

Berbagai motif batik Lasem 

Batik Lasem sangat terkenal karena cirinya sebagai batik pesisir yang indah dengan pewarnaan yang berani. Batik Lasem adalah batik tulis model pesisir, yang sangat khas dengan perpaduan motif Tiongkok (seperti naga, merak, phoenix) dan warna-warna berani, serta teknik pewarnaan yang unik.

Bergaya di Rumah Merah Heritage Lasem, Rembang

Salah satu tempat berkembangnya para imigran dari Tiongkok terbesar di Pulau Jawa abad ke-14 sampai 15 adalah Lasem (Hokkien: Lao Sam, Mandarin: La Sen) selain di Sampotoalang (Semarang) dan Ujung Galuh (Surabaya). Datangnya armada besar Laksamana Cheng Ho ke Jawa sebagai duta politik Kaisar Tiongkok masa Dinasti Ming yang ingin membina hubungan bilateral dengan Majapahit terutama dalam bidang kebudayaan dan perdagangan negeri tersebut, mereka memperoleh legitimasi untuk melakukan aktivitas perniagaannya dan kemudian banyak yang tinggal dan menetap di daerah pesisir utara Pulau Jawa.

Rumah Keluarga Oei Sien Tjo bergaya Tiongkok di Lasem, Rembang

Bahkan menurut NJ. Krom, perkampungan Tionghoa di masa Kerajaan Majapahit telah ada sejak 1294-1527 M. Hal ini dapat dibuktikan dengan adanya bangunan-bangunan tua seperti permukiman Pecinan dengan bangunan khas Tiongkoknya dan kelenteng tua yang berada tak jauh dari jalur lalu lintas perdagangan di sepanjang aliran Sungai Babagan Lasem (kala itu disebut Sungai Paturen) yang pada waktu itu sebagai akses utama penghubung antara laut dan darat, juga penguasaan tempat-tempat perekonomian yang strategis oleh mereka di kemudian waktu, seperti yang dapat dilihat pada pusat-pusat pertokoan di sepanjang jalan raya kota sekarang ini

Perkampungan Tionghoa di masa Kerajaan Majapahit di Lasem, Rembang yang telah ada sejak 1294-1527.

Batik Laseman sangat liat bercirikan egalitarian, yang mana batik ini lebih terbuka atau umum penggunaannya bagi segala kalangan atau lapisan masyarakat berikut macam etnisnya. Konon perkembangan Batik Laseman ini dipengaruhi oleh unsur-unsur seni dan budaya negeri seberang, yaitu Tiongkok dan Campa.

Bergaya di halaman depan Oemah Batik Lasem

Oemah Batik Lasem yang indah dipandang

Banyaknya orang-orang Tiongkok dan Campa yang menetap di Lasem dan membaur dengan penduduk lokal lambat laun melahirkan akulturasi kebudayaan yang positif dan kaya, salah satunya adalah seni batik itu sendiri. Batik Laseman sendiri pernah mengalami kejayaan dalam produksi dan pemasarannya.

Museum Batik Tiga Negeri di Lasem, Rembang

Secara historis, budaya di Lasem merupakan perpaduan budaya dari masyarakat pribumi (Jawa), Tiongkok & Campa (dibawa oleh pasukan Laksamana Cheng Ho), dan Belanda. Wujud nyata dari perpaduan budaya ini dapat kita temui sampai detik ini pada batik Lasem motif Tiga Negeri

Klenteng Cu An Kiong di Jalan Dasun, Lasem

Kelenteng Cu An Kiong merupakan kelenteng tertua di Lasem, Rembang dan bahkan juga tertua di Pulau Jawa, karena kelenteng ini dibangun pada tahun 1335. Ruang utama kelenteng yang berisi altar Tian Shang Sheng Mu berada di belakang dan tidak terbuka untuk umum. Orang-orang Tionghoa mulai datang dan mendarat di daerah hutan Jati di sekitar Sungai Babagan Lasem pada abad ke-15.

Kelenteng Cu An Kiong dibangun orang-orang Tionghoa menggunakan kayu jati yang tersedia melimpah. Tiang penyangga utama kelenteng ini merupakan dua buah kayu jati yang belum pernah diganti hingga sekarang. Bangunan kelenteng terakhir kali direnovasi pada tahun 1838, untuk meninggikan lantai bangunan yang sering mengalami banjir, karena lokasinya tepat berada di depan kali Lasem. Laksamana Zheng Ho mendarat di depan kelenteng tersebut, yaitu di muara Kali Lasem yang akan masuk ke Laut Jawa, sehingga pada masa lalu sering digunakan sebagai sarana lalu lintas kapal, meskipun dermaganya kini sudah tidak tersisa keberadaannya.

Monumen Perang Kuning dengan para tokohnya di Kelenteng Cu An Kiong, di Lasem, Rembang.

Perang Kuning merupakan perang yang dikobarkan oleh masyarakat Lasem secara khusus. Peperangan pada akhirnya dimenangkan oleh Belanda setelah jatuhnya banyak korban jiwa pada kedua belah pihak serta menyebabkan wilayah Lasem dipisahkan dari Rembang secara de facto. Akhir peperangan ini juga menandakan berakhirnya seluruh perlawanan rakyat Lasem terhadap kekuasaan Kompeni serta kekuasaan keluarga Tejakusuman di Lasem.

Pasukan gabungan Tionghoa dan Jawa yang dibantu oleh Kesultanan Mataram. Para tokohnya adalah Tan Kee Wie, Oei Ing Kiat, Panji Margono, Kyai Ali Badawi, Kwee An Say, Guo Liu Guan, Amangkurat V, dan Pangeran Sambernyawa atau Mangkunegoro 1. Dalam Perang Kuning mereka melawan Perusahaan Hindia Timur Belanda (VOC) dibantu Kesultanan Mataram. Para tokohnya adalah Bartholomeus Visscher, Gustaaf Willem baron van Imhoff, Johannes Thedens, Adriaan Valckenier, Cakraningrat IV,  Citrasoma IV dan Pakubuwana II.

Perang Kuning (Geel Oorlog) adalah serangkaian perlawanan rakyat Lasem-Rembang dan sekitarnya terhadap kekuasaan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) di Semarang (1741-1742) dan Lasem (1750). Perang Kuning ini terjadi sebagai bagian dari konflik Mataram melawan VOC Belanda, dengan hasil akhir dimenangkan oleh VOC Belanda

Tempat Pasujudan Sunang Bonang di Lasem, Rembang

Setelah puas mengagumi warisan budaya Tiongkok di Lasem, segera kami mengungjungi Pasujudan Sunan Bonang, sedikit menjauh dari Lasem. Kami menyusuri Jalur Pantura dengan banyak truk Hino yang panjang untuk mengenang Sunan Bonang dilahirkan pada tahun 1465 M di Lasem, Rembang dengan nama As-Sayyid Raden Maulana Makhdum Ibrahim. Ia adalah salah satu Wali Songo (sembilan orang penyiar agama Islam di Jawa) putra Sunan Ampel dengan Dewi Candrawati. Sunan Bonang juga dikenal sebagai penggubah suluk Wijil dan tembang Tombo Ati, yang masih sering dinyanyikan orang.

Kami melanjutkan petualangan dengan melaju di sela-sela truk Hino seri FL yang lalu lalang di Jalur Pantura, untuk kembali ke Rembang. Tujuan kami adalah melihat musem Kartini

Museum R.A. Kartini, dulunya bernama Museum Kamar Pengabadian R.A. Kartini berada di Jl. Gatot Subroto No. 8, Rembang. Dulunya museum ini menempati salah satu ruangan Rumah Dinas Bupati Rembang, tetapi sejak 2011 museum ini diperluas ke seluruh rumah dan namanya diubah menjadi Museum RA Kartini. Kami datang bersama banyak wisatawan yang berkunjung di sana, di samping mengenang sejarah pahlawan wanita ini yakni RA Kartirni, juga melihat langsung sejarah peninggalannya yakni tulisan tangan asli Ibu Kartini, dalam memperjuangkan emansipasi wanita Jawa. Kami juga menyaksikan gedung tempat RA Kartini dahulu mengajar atau mengamalkan ilmunya kepada para anak didiknya. Bangunan asli tersebut terletak satu lokasi kurang lebih 150 m dengan museum RA Kartini.

Patung dada Ibu RA Kartini di halaman depan museum

Reuni dengan dr. Bambang Suyamto, SpTHT sebagai sesama alumni FK UGM 1984 di Rembang

Selanjutnya kami melakukan reuni sekejap dengan teman seangkatan saat kuliah di FK UGM Yogyakarta angkatan 1984, yaitu dr. Bambang Suyamto, SpTHT. Sebagai mantan Ketua IDI Cabang Rembang, dr. Bambang menerima kami bersama istrinya, dr. Nunuk Sri Lestari, MKes, direktur RS Umum Islam Arafah di Jl. Raya Rembang lasem KM 5, Tritunggal, Rembang. Kami diajak santap siang di Citra Resto Jl. Jend. Sudirman No 47, Rembang, dengan menu andalan soup gurameh. Resto milik dr. Nowohadi Tjitrosuwito, SpPD senior kami di FK UGM Yogyakarta angkatan 70, juga menyambut kami dengan hangat.

Disambut dr. Bambang Suyamto, SpTHT dan istrinya, dr. Nunuk Sri Lestari, MKes dengan salam Konga (alumni FK UGM 84)

Bersama dr. Nowohadi Tjitrosuwito, SpPD senior kami di FK UGM Yogyakarta

Bersama mas dr. Bambang Suyamto, SpTHT di Citra Resto Jl. Jend. Sudirman No 47, Rembang, milik dr. Nowohadi Tjitrosuwito, SpPD

Setelah kenyang makan siang menu soup gurameh di Citra Resto, kami segera meninggalkan Rembang, menuju ke Cepu. Dalam perjalanan ke Cepu, kami mengingat kembali kebesaran jasa Ibu Kita Kartini untuk perempuan Indonesia. “Habis Gelap Terbitlah Terang”, kutipan penuh makna dari seorang pejuang emansipasi wanita, Raden Ajeng Kartini.

Ibu ini dilahirkan di Jepara, lalu menikah dengan Bupati Rembang. Di akhir hayatnya, RA Kartini bersama suami dan keturunannya dimakamkan di Desa Bulu, Rembang. Makamnya selalu ramai oleh para peziarah hingga saat ini. Kami sempatkan mampir, sebelum memasuki teritorial Blora menuju ke Cepu.

Bersama dik Laras di makam RA Kartini di Bulu, Rembang

Patung seukuran aslinya RA Kartini di depan makamnya di Bulu, Rembang

Setelah berhenti sejanak melepas penat dan mengenang keharuman nama RA Kartini di makamnya, kami segera melanjutkan perjalanan ke Cepu. Malam itu kami makan malam bersama di kamar 204 Hotel Kyriad Arra Hotel Cepu, sebelum mengantar dik Bimoseno (anak kedua, arsitek yunior) kembali ke Jakarta. Perjalanan naik KA Pandalungan dari Stasiun Cepu berangkat pk. 21.28 dan sampai di Stasiun Jatinegara Jakarta hari berikutnya pk. 4.12

Makan malam bersama sambil melihat drakor. sebelum mas Bimo kembali ke Jakarta

Selamat melaju mas Bimo, dengan KA Pandalungan dari Stasiun Cepu ke Stasiun Jatinegara Jakarta

(bersambung)

LANJUTAN PERJALANAN

Rabu, 31 Desember 2025 kami terbangung di kamar 204 Hotel Kyriad Arra Hotel Cepu, lanjut mengikuti misa kudus harian pagi di Gereja Santo Willibrordus Paroki Cepu, Jawa Tengah

Di depan Gereja Santo Willibrordus Cepu, Jawa Tengah

Umat Cepu tercatat pada Buku Baptis X, XI dan XII Paroki Santo Yusup Gedangan Semarang, karena ada baptisan baru yang terjadi pada 28 Februari 1912, sebanyak 3 orang oleh Romo HJJ. Janssen, SJ. Kemudian pada 29 September 1912 serta 24 September 1917, Vikaris Apostolik Batavia Mgr. Edmundus Luypen, SJ bahkan menerimakan Sakramen Krisma di Cepu terhadap 21 orang. Sebuah sejarah geraja yang panjang.

Bergaya sejenak di depan Gereja Santo Willibrordus Cepu, Jawa Tengah yang penuh sejarah

Dengan adanya perusahaan Minyak DPM (Dordtsche Petroleum Maatschappij) milik Belanda yang mulai mengadakan pengeboran minyak di Cepu pada tahun 1893, di Jepon pada tahun 1899 di Tinawun, Dandangilo – Wonocolo, Kawengan, Kidangan pada tahun 1895 demikian pula di Ledok pada tahun yang sama. Karyawan pertambangan DPM telah memberi sumbangan yang cukup berarti bagi tumbuh dan berkembanganya Gereja Santo Willibrordus, Cepu.

Apalagi pada tahun 1895/1896 di Cepu dibangun pabrik lilin, dikarenakan minyak di daerah Cepu banyak mengandung lilin. Sehingga pada tahun 1896 Peruasahaan Minyak DPM berkembang menjadi Peruasahaan Minyak terkuat di Jawa. Situasi ini memungkinkan bertambahnya umat Katolik di Cepu, Bojonegoro, Blora dan sekitarnya semakin banyak, karena jumlah orang Belanda yang bekerja di Cepu semakin banyak pula.

Pemberkatan Gedung Gereja Santo Willibrordus Cepu dilakukan oleh Mgr. Anton Pieter Franz van Velsen, S.J. perfector Apostolic Batavia, pada tanggal 20 Mei 1931. Nama pelindung gereja adalah Santo Willibrordus, seorang uskup dari daerah Belanda Selatan. Pada tanggal 15 September 1932 dijadikan Paroki dibawah kegembalaan Pastor G. Ravestijn, CM. Paroki Cepu dimasukkan dalam wilayah kerja Keuskupan Diosesan Surabaya dengan Mgr. Klooster, CM sebagai Uskup.

Interior Gereja Santo Willibrordus Cepu, Blora, Jawa Tengah, dengan patung bayi Yesus di palungan tanpa atap. Bagus sekali

Selesai misa kudus harian pagi, kami lanjut menyeebrang jalan menikmati kegagahan Patung Kuda Arjuna Wiwaha yang menjadi ikon Kota Cepu. Patung yang menelan anggaran fantastis Rp 1,3 miliar ini baru berdiri sejak tahun 2017.

Arjuna sedang memanah menggunakan Pasupati ke arah langit-langit mulut Prabu Niwatakawaca

Patung itu menggambarkan Arjuna (satria tengah Pandawa) sedang memanah menggunakan Pasupati ke arah langit-langit mulut Prabu Niwatakawaca, raja raksasa yang mengancam kayangan. Dengan bantuan bidadari Suprabha, Arjuna mengetahui kelemahan Niwatakawaca, yaitu langit-langit mulutnya, dan saat raja raksasa itu lengah, dan Arjuna berhasil membunuhnya, membawa kemenangan bagi para dewa. Patung Arjuna Wiwaha ini berdiri megah di depan Gereja Santo Willibrordus Cepu dan merupakan bagian dari Taman Seribu Lampu Cepu, yang menjadi gerbang wisata dari Jawa Timur sekaligus destinasi alternatif bagi warga lokal Blora dan Bojonegoro bagian barat.

Selanjutnya kami melakukan wisata geologi untuk melihat cara kerja sumur angguk, dalam menyedot minyak mentah dari bumi Blora. Awalnya kandungan minyak itu ditemukan di daerah Cepu, sejak saat itu penemuannya menjamur hingga seperti sekarang, sampai ke Bojonegoro. Tjokronegoro III, Bupati Blora era 1886-1912 pada masa kepemimpinannya mendorong Belanda melakukan pengeboran minyak pertama kali pada tahun 1894 di Desa Ledok, Kecamatan Sambong.

Sumur angguk menyedot minyak di bumi Nglobo, Jiken, Blora Jawa Tengah

Kami melihat Sumur Angguk di Desa Nglobo, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora. Ini adalah sebuah sumur minyak peninggalan Belanda yang sudah beroperasi sejak tahun 1928, menjadikannya sangat tua dan bersejarah. Untuk menuju ke titik peninggalan Belanda itu, kami harus masuk dulu melewati jalan berbatu menuju arah hutan jati yang lebat dan menyerupai labirin. Setelah itu melewati permukiman penduduk. Dengan pemandangan alam yang indah dan mesin sumur minyak tua yang masih berfungsi, desa Nglobo ini mampu menarik minat wisatawan yang ingin mengenal lebih jauh tentang sejarah perminyakan Indonesia, serta menikmati keunikan teknologi sederhana yang digunakan sejak zaman kolonial.

Selain itu, Desa Nglobo juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai destinasi wisata edukasi. Lingkungan yang asri dan alami sangat mendukung kegiatan edukasi luar ruangan, seperti pengenalan flora dan fauna lokal, konservasi lingkungan, dan pelajaran sejarah industri perminyakan melalui kunjungan ke Sumur Angguk.

Sumur angguk di Nglobo, Jiken yang menyedot minyak di bumi Blora

Sayang sekali kami datang saat hujan turun, sehingga kami tidak sempat melibatkan masyarakat lokal sebagai pemandu dan instruktur, wisata edukasi ini tidak hanya memperkaya pengetahuan pengunjung, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi penduduk setempat.

Selanjutnya kami segera menyusuri jalur pantura yang penuh dengan truk Hino panjang, untuk sowan senior dr. Bowo Widiasmoko, SpPD di RS Budi Agung di Juwana, Pati Jawa Tengah. Banyak sekali Hino Tipe FM (6×4) dengan dua gardan penggerak (double gardan) yang dirancang untuk beban berat dan medan ekstrem, yang memiliki roda pada sasis belakang sampai 3 deret, yang kami temui dalam perjalanan ke Juwana.

Bergaya di depan papan informasi jadwal praktek dr. Bowo Widiasmoko, SpPD dan para dokter lain di RS Budi Agung, Yuawan, Pati, Jawa Tengah

Diterima dr. Bowo Widiasmoko, SpPD di ruang prakteknya

RS Budi Agung Juwana, Pati Jawa Tengah

Setelah puas mengobrol, kami lanjut diajak makan siang di WM Sumber Rejeki Juwana, Pati. RM dengan menu unggulan garangasem dan bakso, tersaji secara sederhana tetapi lezat.

Makan siang dijamu dr. Bowo Widiasmoko, SpPD di Juwana, Pati

Lanjut kami melewati jalan lurus melewati Tayu, Pati dan terus ke Mlonggo, Jepara memutari Gunung Muria yang tenang. Kami mengunjungi William Febuana di rumahnya, untuk membicarakan persiapan masa depannya bersama dik Laras. Sampai larut malam pembicaraan hangat berlangsung, yang diselingi makan menu ikan bakar sambil menunggu pergantian tahun 2025 menjadi 2026

(bersambung)

JEPARA

dapat dilihat juga pada : https://www.instagram.com/p/DS-Fp76Emkl/?igsh=bzJndWsxN3Fueno=

Kamis pagi, 1 Januari 2026 di awal tahun baru, kami segera bergegas mengikuti misa kudus di Gereja Katolik Stella Maris Paroki Jepara

Sejarah Gereja Katolik di Jepara dimulai kembali secara signifikan pada tahun 1930-an setelah sempat hilang pasca-larangan Jan Pieterszoon Coen , dengan berdirinya stasi Pecangaan pada 1936 yang dipimpin Pastor Stienen MSF, lalu diresmikan tahun 1961, sebelum akhirnya Paroki Stella Maris Jepara resmi berdiri dan gereja barunya diberkati tahun 1964, menandai kebangkitan kekatolikan di wilayah tersebut. 

Bersama Rm. Anton Gunardi, MSF di Gereja Stella Maris Jepara setelah misa kudus harian pagi pada hari pertama tahun baru 2026

Mgr. Albertus Soegijopranoto SJ, Uskup Agung Semarang saat itu, mengunjungi Jepara untuk memberikan Sakramen Penguatan (Krisma) pada 21 Oktober 1956. Pembentukan Dewan Stasi Jepara yang pertama dibentuk pada 24 Maret 1963. Peresmian Gereja Katolik Jepara yang baru diresmikan pada 18 Mei 1964 oleh Romo Kardinal Darmojuwono, menjadi penanda resmi berdirinya paroki di Jepara, yang kemudian dikenal sebagai Paroki Stella Maris. 

Misa kudus pagi itu dipimpin oleh Rm. Anton Gunardi, MSF, yang ternyata alumni SMA Kolese de Britto Yogyakarta (JB) angkatan 1972.

JB 72 dan JB 84 di Gereja Stella Maris Jepara

Setelah selesai mengikuti misa kudus harian pagi, kami segera lanjut melihat Pecinan Jepara sebagai salah satu pecinan (china town) tertua di Indonesia, komplek ini menjadi saksi bisu perkembangan sejarah, budaya, dan interaksi antar-etnis yang panjang. Terletak di bagian timur pusat kota, komplek Pecinan Jepara mencerminkan keberagaman dan integrasi harmonis antara masyarakat Tionghoa dan budaya lokal. Pecinan Jepara, yang didirikan pada abad ke-16, memperlihatkan arsitektur tradisional yang khas dengan aksen-aksen Tionghoa yang memesona. Pusatnya adalah klenteng wang fu atau furianto yang dibangun pada tahun 1881 Masehi.

Pada awalnya, komplek Pecinan di Jepara didirikan sebagai tempat tinggal dan pusat kegiatan komunitas Tionghoa yang memigrasi ke Jepara pada abad ke-16. Mereka membawa serta tradisi, budaya, dan agama dari tanah leluhur, menciptakan suatu kawasan yang memiliki identitas unik di tengah masyarakat Jepara yang heterogen. Di dalam komplek Pecinan, dapat ditemukan kuil-kuil dan kelenteng-kelenteng yang menjadi pusat aktivitas keagamaan dan budaya masyarakat Tionghoa. Struktur arsitektural yang khas, dengan ornamen-ornamen Tionghoa yang memikat, mencerminkan keberlanjutan tradisi dan nilai-nilai yang diwariskan dari generasi ke generasi. Selama berabad-abad, komplek Pecinan di Jepara menjadi saksi bisu perkembangan masyarakat Tionghoa dan interaksi harmonis dengan masyarakat lokal.

Pecinan Jepara yang merupakan salah satu chinatown tertua di Indonesia

Setelah sarapan, kami berlima (Bapak Mulyono tidak ikut) segera bergegas menuju ke Benteng Portugis, yang terdapat di Desa Banyumanis Kecamatan Donorojo atau 45 km di sebelah timur laut Kota Jepara.

Sarapan bersama Keluarga Bapak Mulyono di Mlonggo Jepara, pada hari pertama tahun 2026

Kami jadi mengingat bahwa pada tahun 1619, kota Jayakarta atau Sunda Kelapa pertama kali dimasuki VOC Belanda. Saat ini Sunda Kelapa diubah namanya menjadi Batavia dan dianggap sebagai awal tumbuhnya penjajahan oleh Imperialis Belanda di Indonesia. Sultan Agung, Raja terbesar Mataram, langsung merasakan adanya bahaya yang mengancam dari situasi jatuhnya kota Jayakarta ke tangan Belanda. Untuk itu Sultan Agung mempersiapkan angkatan perangnya guna mengusir penjajah Belanda. Tekad Raja Mataram ini dilaksanakan berturut-turut pada tahun 1628 dan tahun 1629 yang berakhir dengan kekalahan di pihak Mataram.

Kejadian ini membuat Sultan Agung berpikir bahwa VOC Belanda hanya mungkin dikalahkan lewat serangan darat dan laut secara bersamaan. Padahal Mataram tidak memiliki armada laut yang kuat, sehingga perlu adanya bantuan dari pihak ketiga yang juga berseteru dengan VOC, yaitu Bangsa Portugis.

Bergaya di Gerbang Benteng Portugis Jepara

Pada hal sebelumnya Bangsa Portugis setidaknya mendapat serangan dari Ratu Kalinyamat, sebagai penguasa Jepara dan Jawa pada umumnya, sebanyak dua kali, yakni pada 1550 dan tahun 1564. Pada tahun 1550 Ratu Kalinyamat menyerang Portugis di Malaka (sekarang Malaysia), bersama pasukan dari Kesultanan Aceh, Johor, Palembang, dengan kekuatan total 200 kapal perang dan belasan ribu prajurit. Pada tahun 1564 juga menyerang lagi bersama pasukan dari Kesultanan Aceh Darussalam. Juga pada tahun 1573 menyerang Portugis lagi di Selat Malaka.

Replika meriam di puncak Benteng Portugis di Jepara yang menghadap ke arah laut

Ternyata Bangsa Portugis hanya beberapa tahun saja menempati benteng ini. Banyaknya gangguan yang memakan korban prajurit Portugis menjadi salah satu alasannya. Di Selat Mandalika depan benteng itu ada pusaran air laut, prajurit Portugis sering tersedot ke dalam laut dan hilang entah ke mana. Alasan lain adalah lalu lintas perdagangan yang waktu Kerajaan Demak dipusatkan melalui laut, dengan pindahnya Kerajaan Demak ke Pajang, lalu lintas perdagangan berubah melalui jalan darat. Benteng itu akhirnya ditinggalkan begitu saja, hingga bertumbuh semak belukar. 

Sisa bangunan Benteng Portugis di Jepara

Pada waktu Jepang menapakkan kakinya di bumi Nusantara, benteng ini kembali digunakan. Jepang memanfaatkannya sebagai tempat pengintai laut. Benteng ini sekarang menjadi tempat wisata, meski hanya berupa reruntuhan tembok berbentuk persegi empat yang terletak di atas bukit, tepat di seberang selatan Pulau Mandalika. Di dalam tembok hanya berupa lahan kosong yang ditumbuhi beberapa pohon yang sengaja dibiarkan untuk tempat berteduh pengunjung. Di area dalam sebelah utara terdapat satu bangunan yang juga digunakan sebagai temat berteduh pengunjung. Selain itu terdapat beberapa replika meriam yang ditempatkan di sisi utara dan timur benteng yang langsung berbatasan dengan laut lepas.

Di depan RS dr. Rehatta Donorojo, Jepara

Sepulang dari Benteng Portugis, kami sempat mampir di salah satu Rumah Sakit Umum Daerah dr. Rehatta saat ini adalah Rumah Sakit milik Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Pada awal berdirinya bernama Rumah Sakit Kusta Donorojo dengan direkturnya dr. H. Bervoets dibantu dr. Durachim.. Rumah Sakit Kusta Donorojo dibangun sekitar tahun 1916  oleh   Pemerintah  Hindia Belanda dan dikelola oleh misi Zending.  Tujuan pembangunan Rumah Sakit Kusta Donorojo waktu itu adalah untuk pengobatan dan leposeri. Rumah Sakit Kusta Donorojo berlokasi di Desa Banyumanis, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara berdiri diatas lahan seluas 1.791.740 m2. Termasuk lahan di kampung rehabilitasi yang dihuni oleh 155 KK.

Unit rehabilitasi kusta di Donorojo, Jepara

Pada tahun 1950-an karena pihak Zending tidak mampu lagi membiayai operasional RS Kelet dan RS Donorojo maka pengelolaan kedua Rumah Sakit tersebut diserahkan kepada Pemerintah Provinsi Jawa Tengah. Sejak itu kedua RS tersebut menjadi Rumah Sakit Kusta dengan kunjungan dokter seminggu sekali dari RS Kusta Tugurejo Semarang. Sejak tahun 1999 mulai dirintis langkah-langkah menata ulang fungsi  pelayanan di RS Kusta Donorojo untuk rehabilitasi kusta. Harapannya Jawa Tengah bebas kusta, hilangnya Stigma dan Diskriminasi Kusta, serta dipermudah dalam mendapatkan obat bagi para penderita kusta.

Kusta atau lepra adalah penyakit infeksi bakteri kronis disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae yang menyerang jaringan kulit, saraf tepi, serta saluran pernapasan. Kusta atau lepra dapat ditandai dengan rasa lemah atau mati rasa di tungkai dan kaki, kemudian diikuti timbulnya lesi pada kulit yang berawarna pucat terang serta mati rasa.

Kusta memang dapat menyebar melalui percikan ludah atau dahak yang keluar saat batuk atau bersin namun penularan terjadi jika seseorang terkena percikan droplet dari penderita kusta secara terus-menerus dalam waktu yang lama. Hal ini menunjukkan bahwa bakteri penyebab lepra tidak dapat menular ke orang lain dengan mudah. Selain itu, bakteri ini juga membutuhkan waktu lama untuk berkembang biak di dalam tubuh penderita. Seseorang tidak akan tertular kusta hanya karena bersalaman, duduk bersama, atau bahkan memeluk penderita.


Ayo Stop Stigma dan Diskriminasi Kusta ‘United for Dignity’!
Ingat ! Kusta bisa dicegah dan diobati.

Sepulangnya dari Benteng Portugis, kami mampir ke Pertapaan Sonder atau Sonder Hermitage Park terdapat di Dukuh Sonder, yang berlokasi Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, Kabupaten Jepara. Pada abad XIV Nyai Langgeng atau sering dikenal dengan Ratu Kalinyamat berkuasa atas kerajaan yang berpusat di Kalinyamatan. Pada tahun 1549 suaminya yang bernama Sultan Hadirin terbunuh oleh Arya Penangsang pada suatu pertempuran.

Pertapaan Ratu Kalinyamat di Dukuh Sonder, Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, JeparaPertapaan Ratu Kalinyamat di Dukuh Sonder, Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, Jepara

Sepeninggal suaminya, Ratu Kalinyamat meninggalkan tahta kerajaan untuk berkelana menuntut keadilan, sampai akhirnya sampai di Dukuh Sonder Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo. Di tempat itu dia bertapa ‘topo wudo’ yaitu meninggalkan pakaian kebesaran kerajaan sampai dendamnya kepada Arya Penangsang terbalaskan. Ratu Kalinyamat yang dilukiskan sangat cantik bertapa hanya dengan berbalutkan rambutnya yang panjang terurai.

Pertapaan Ratu Kalinyamat di Dukuh Sonder, Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, Jepara

Ia memohon pertolongan kepada Tuhan agar diberikan kekuatan sehingga bisa membalas dendam atas kematian suaminya. Dia bersumpah ”ora pisan-pisan ingsun jengkar saka tapa ingsun yen durung iso kramas getihe lan kesed jambule Arya penangsang” (Ia tidak akan menghentikan laku tapanya jika belum bisa keramas dengan darah Aryo Penangsang). Akhirnya, Aryo Penangsang terbunuh dalam suatu pertempuran dengan Danang Sutawijaya, yang dikemudian hari menjadi Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram Islam di Pulau Jawa. Aryo Penangsang tewas secara mengenaskan dengan usus terburai oleh kerisnya sendiri. Situs peninggalan Aryo Penangsang di Jipang, Cepu sudah kami kunjungi sehari sebelumnya.

Pertapaan Ratu Kalinyamat yang berada di tengah pohon yang rimbun. Di depan masuk terdapat gapura dari batu bata kuno.

Laku tapa Ratu Kalinyamat dengan sumpahnya itu ditafsirkan oleh masyarakat desa Tulaan sebagai wujud kesetiaan, kecintaan, dan pengabdian sang ratu kepada suaminya. Ia dengan kesadaran dan keiikhlasannya yang tinggi bersedia meninggalkan gemerlapnya kehidupan istana demi membalas dendam atas kematian suaminya Ratu Kalinyamat bertapa sangat lama sampai-sampai rambutnya dikubur di tempat itu. Kami sampai di petilasan yang berada di tengah pohon yang rimbun, saat hujan gerimis tidak berhenti, sehingga hanya sekejap berdiri di depan pintu masuk yang dilengkapi dengan gapura dari batu bata kuno.

Selanjutnya kami pulang untuk makan siang di depan Pasar Mlonggo, Jepara

(bersambung)

JEPARA ke JOGJA
(sambungan terakhir)

Jumat, 2 Januari 2026 kami melanjutkan etape terakhir petualangan ke teritorial timur laut Jawa Tengah, dengan pulang dari Jepara ke Jogja.

Ternyata tidak ada misa kudus harian pagi di Gereja Stella Maris Paroki Jepara, karena hari tersebut adalah Jumat pertama, Jumat, 2 Januari 2026, ya kami hanya nampang saja

Melihat Klenteng Wang Fu atau Furianto Klenteng yang dibangun tahun 1881 di Pecinan Jepara. Diprakarsai oleh keluarga Giok Hwa yang menjadi tempat penyimpanan kitab Sam Ho Bio.

Mampir di Atmosfera coffee and eatery, di pusat kota Jepara untuk menemui sahabat lama

Bertemu sahabat lama, mas Edi mBako, teman sekelas di SMP Bruderan Purworejo, yang bisnis sembako dan tinggal di Jepara. Anak sulungnya pemilik atmosfera cofee and eatery.

Melihat alam indah di Pantai Blebak, Jepara, tetapi tidak naik jeep

Mampir sowan menemui bu Siwi Djanong dan cucu (sesama warga Yogyakarta) yang sedang berlibur di Sekuro Village Beach Resort, Blebak, Jepara

Kami pamit kepada Bapak Mulyono sekeluarga di Mlonggo Jepara, yang diiringi Lio (1 tahun), cucu yang menggemaskan

Setelah berpamitan dengan keluarga Bapak Mulyono (calon besan), kami segera menuju pemberhentian pertama perjalanan pulang ke Yogyakarta, yaitu Benteng VOC Japara (Fort Japara (XVI) atau Loji Gunung). Didirikan di Jepara pada 1618, karena kantornya di Gresik, Jawa Timur selalu mendapat gangguan terkait sistem monopoli VOC.

Bergaya di depan Benteng VOC Belanda Japara (Fort Japara (XVI) atau Loji Gunung), yang didirikan di Jepara pada 1618.

Kami mampir, melihat, dan mengagumi Benteng VOC Japara, juga dikenal sebagai Fort Japara (XVI) atau Loji Gunung, yang merupakan sebuah benteng peninggalan VOC Belanda di Jepara, Jawa Tengah. Gerbang benteng ini didirikan di Jepara pada 1613, karena kantornya yang ada di Gresik, Jawa Timur selalu mendapat gangguan dari para pedagang Islam madura dan Jawa Timur yang menentang sistem monopoli VOC.

Ketika pemberontakan Pangeran Trunajaya meletus, Letnan Martinus van Ingen memimpin 100 orang prajurit infanteri di Benteng VOC Jepara. Dibantu Ngabehi Wangsadipa, Bupati Jepara saat itu, dan menang melawan Pasukan Trunajaya. Oleh sebab itu Benteng Jepara tetap digunakan oleh VOC Belanda, sebagai konsesi yang diberikan Amangkurat II.

Pada 1615, Sultan Agung dari Mataram memberikan izin kepada VOC untuk mendirikan loji sebagai kantor pewakilan dagang di Jepara. Loji itu selesai dibangun pada tahun 1618. Ketika Pemberontakan Trunajaya meletus, Letnan VOC Martinus van Ingen membuat peta daerah Jepara dan merencanakan penempatan 100 infanteri di Benteng VOC Jepara. Pemimpin Jepara saat itu, Ngabehi Wangsadipa, memberi VOC berupa lima pucuk meriam yang salah satunya dipasang di benteng itu. Pasukan Trunajaya berkali-kali menyerang benteng Jepara, tetapi selalu berakhir gagal. Benteng Jepara tetap digunakan oleh VOC Belanda sebagai konsesi dalam bentuk sewa yang diberikan Amangkurat II kepada VOC, atas usahanya dalam menumpas Pemberontakan Trunajaya.

Benteng ini menjadi pusat perdagangannya VOC di pantai utara Jawa, tetapi kemudian ditinggalkan perlahan pada 1697, ketika Semarang mulai menggantikan fungsi Jepara sebagai pusat perdangangan. Alasannya adalah karena pelabuhan Jepara mengalami pendangkalan yang disebabkan oleh sedimentasi lumpur yang dibawa oleh arus sungai dan binatang-binatang karang yang semakin berkembang. VOC juga mempertimbangkan keunggulan pelabuhan Semarang yang memiliki akses ke pedalaman Mataram di Surakarta. Pada 1707, VOC secara resmi memindahkan pusat kekuasaannya dari Jepara ke Semarang. Hal itu didasarkan pada perjanjian tanggal 31 Oktober 1707 antara VOC dengan Pakubuwana I selaku raja Kesultanan Mataram di Surakarta.

Diselingi mampir di rumah mas dr. Isdiyanto, MHum dan menyantap menu kodok swike di Demak, ditraktir drg. Fx. Titik Purwaningsih.

Santap siang menu kodok swike di Demak, enak, hangat, pedas dan lezaat

Lanjut kami menyusuri jalan Pantura yang sering tergenang banjir rob, dari Demak ke Semarang. Setelah melalui tahapan hujan lebat sepanjang tol Trans Jawa dan keluar di GT Boyolali, kami segera menuju ke Pesanggrahan Pracimoharjo yang terletak di Desa Paras, Kecamatan Cepogo, Boyolali, Jawa Tengah.

Gerbang Pesanggrahan Pracimoharjo yang terletak di Desa Paras, Kecamatan Cepogo, Boyolali, yang gagah menjulang

Pesanggrahan Pracimoharjo yang menjulang, artistik dan selesai dipugar

Pesanggrahan Pracimoharjo merupakan salah satu peninggalan bersejarah Kerajaan Mataram yang berdiri sejak era Pakubuwono IV pada 1803–1804. Lokasinya berada di lereng Gunung Merapi, sehingga sejak awal difungsikan sebagai tempat tetirah para raja, termasuk Pakubuwono VI yang kerap menikmati suasana perkebunan kopi di sekitarnya. Kesejukan dan keheningan menyatu menjadi satu di Pesanggarahan Pracimoharjo sehingga tempat ini cocok untuk merenung hingga mencari ketenangan.

Pesanggrahan Pracimoharjo didirikan pada masa pemerintahan Sinuhun Pakubuwono IV sekitar tahun 1803–1804.

Lereng Merapi dipilih sebagai lokasi karena ketenangan dan keindahan alamnya, menjadikannya tempat yang ideal untuk tetirah (beristirahat dan memulihkan diri). Pakubuwono VI kemudian melanjutkan tradisi tersebut. Sang Sunan kerap menggunakan pesanggrahan ini untuk menikmati keindahan perkebunan kopi di sekitarnya.

Selain itu, Pracimoharjo juga menjadi lokasi penting dalam sejarah Perang Jawa, karena PB VI beberapa kali bertemu Pangeran Diponegoro atau pasukannya di tempat ini untuk merumuskan strategi perlawanan kepada Belanda.

Bagian tengah Pesanggrahan Pracimoharjo yang terletak di Desa Paras, Kecamatan Cepogo, Boyolali.

Puncak kejayaan Pesanggrahan Pracimoharjo terjadi pada masa Sunan Pakubuwono X. Bangunan pesanggrahan sebelumnya masih sederhana. Baru pada masa PB X tempat ini dibangun ulang secara besar-besaran hingga menyerupai miniatur Keraton Kasunanan Surakarta.

Patung seukuran sebenarnya Raja terbesar Keraton Surakarta, Paku Buwono X

Petualangan penjelajahan darat (overland) pergantian tahun 2025 ke teritorial timur laut Jawa Tengah diakhiri dengan menikmati Tol Jogja-Solo Paket 1.1, ruas Kartasura-Klaten sejauh 22,3 km dan Ruas Klaten-Prambanan yang telah beroperasi pada 2 Juli 2025. Nyaman, tenang dan aman sampai di Yogyakarta. Ayo piknik !

Sampai bertemu dalam petualangan selanjutnya. Terimakasih

Jumat, 2 Januari 2026


By Fx Wikan Indrarto

Dokter Fx Wikan Indrarto

Leave a Reply

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?