Categories
dokter medicolegal politik

2019 Hukum Kesehatan

Hasil gambar untuk hukum bagi dokter

HUKUM  dan KESEHATAN

fx. wikan indrarto*)

Ikatan Dokter Indonesia telah mencanangkan bahwa 27 Juni sebagai Hari Kesadaran Hukum Kedokteran. Hal ini terkait bahwa pada 27 Juni 1984 Mahkamah Agung mengeluarkan putusan yang membebaskan Dr. Setyaningrum di Puskesmas Wedarijaksa, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, dari segala tuntutan hukum atas dugaan malapraktik, yang mengakibatkan seorang pasien meninggal dunia. Para dokter diharapkan menyadari bahwa profesinya selalu bersinggungan dengan hukum, etika, sumpah profesi, spirit kesejawatan, kebutuhan dan keselamatan pasien. Apa yang sebaiknya kita pelajari?

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/06/26/2019-hukum-bagi-dokter/

.


Hukum dan Kesehatan selama ini lebih sering berfokus hanya dalam masalah sengketa medik antara pasien dan dokter. Namun demikian, banyak produk hukum di berbagai negara ternyata dapat meningkatkan derajad kesehatan masyarakat. Beberapa produk hukum, misalnya pajak soda di Meksiko, pembatasan garam di Afrika Selatan, aturan rokok kemasan polos di Australia, pajak dosa di Filipina, asuransi kesehatan nasional di Ghana, wajib helm untuk pengguna sepeda motor di Vietnam, dan perawatan kesehatan di Amerika Serikat, merupakan contoh peran penting hukum dalam menjaga dan mempromosikan kesehatan yang baik. Hal tersebut termuat dalam sebuah laporan pada Selasa, 17 Januari 2017 oleh IDLO (the International Development Law Organization), University of Sydney di Australia, dan Georgetown University di Washington, DC, USA. Laporan penting tersebut menjelaskan banyak cara di mana produk hukum berhasil membuat perbedaan penting bagi masyarakat, meningkatkan derajad kesehatan dan keselamatan warga, bahkan menyediakan sumber informasi bagi semua negara, untuk belajar dari pengalaman negara lain.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/06/07/2019-hoaks-medis/

.


Pada tahun 1875, parlemen di Kerajaan Inggris telah mengeluarkan undang-undang yang mengharuskan semua pemilik tanah untuk menyediakan sanitasi, ventilasi dan drainase yang baik, untuk membendung penyebaran penyakit menular. Sampai saat ini, pengendalian penyakit menular adalah salah satu ilustrasi yang paling menonjol, tentang bagaimana produk hukum dapat membuat perbaikan di bidang kesehatan. Dari wabah cacar pada awal abad 20 sampai yang lebih baru yaitu SARS dan Ebola, hukum kesehatan masyarakat dapat mengatur kegiatan skrining, pelacakan kontak, karantina, dan pelaporan, bahkan membendung penyebaran infeksi.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/12/29/2018-rokok-polos/


.

Produk hukum kesehatan sering menjadi heboh ketika memiliki dampak langsung pada pola konsumsi sehari-hari masyarakat. Misalnya saja pajak soda di Meksiko yang diterapkan pada tahun 2014 untuk mengurangi konsumsi minuman manis. Juga, aturan kemasan rokok polos di Australia, telah menginspirasi secara global dalam upaya untuk mengurangi jumlah perokok. Penggunaan produk hukum untuk mengurangi jumlah perokok telah menjadi salah satu prestasi hukum kesehatan masyarakat yang besar. Tentu saja dapat ditingkatkan untuk menekan makanan yang tidak sehat, penggunaan alkohol berlebihan, cedera karena kecelakaan lalulintas, dan kesehatan mental yang masih diabaikan.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/10/30/2018-semua-berhak-sehat/

.

Sekarang ini jalur baru lebih terbuka, untuk menggunakan intervensi hukum berbasis bukti dalam meningkatkan derajad kesehatan dan kesejahteraan manusia. Bahkan banyak negara juga telah menggunakan perangkat hukum untuk memperkuat sistem kesehatan nasional, misalnya Indonesia dalam program menuju cakupan kesehatan universal pada awal tahun 2019. Beberapa negara lain juga telah menggunakan payung hukum untuk menciptakan lembaga yang mengatur sistem kesehatan, asuransi kesehatan nasional, atau lembaga yang mengatur obat atau menjamin layanan kesehatan yang berkualitas, tersedia dan terjangkau untuk semua warganya.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/08/01/2018-joki-dokter/

.

Sementara di beberapa negara hukum dapat membantu dalam melindungi kesehatan warganya, di beberapa negara lain yang tidak ada atau mengabaikan hukum, maka seluruh warga akan mengalami ancaman kesehatan. Sebagai contoh, lemahnya regulasi tentang produk tembakau di beberapa negara, termasuk Indonesia, memungkinkan perusahaan rokok yang kuat untuk memasarkan produknya dan bahkan merekrut perokok muda. Pada tingkat global, ‘International Health Regulations and Framework Convention on Tobacco Control’ sebagai kerangka hukum untuk merespon keadaan darurat kesehatan masyarakat, karena terjadinya epidemi tembakau global. Namun demikian, kegagalan beberapa negara untuk mematuhi kerangka hukum rokok tersebut, menciptakan risiko wabah yang berpotensi bencana, berbiaya jangka panjang, dan dampak buruk dalam bidang kesehatan karena merokok.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/07/12/2018-rokok-gelap/

.


Lebih buruk lagi, di beberapa wilayah hukum dapat dan telah digunakan untuk membahayakan kesehatan warganya. Sebagai contoh, hukum telah digunakan untuk memenjarakan orang dengan penyakit mental, dan untuk menolak mereka dalam mendapatkan hak dan layanan kesehatan yang mereka butuhkan. Demikian juga, pembatasan perjalanan selama wabah Ebola di Afrika Barat untuk para relawan tenaga medis ke negara-negara yang terkena dampak, terjanya terbukti justru memperpanjang epidemi Ebola. Namun demikian, ketika dimanfaatkan untuk melindungi, mempromosikan dan memajukan hak atas kesehatan, hukum dapat menjadi perangkat yang kuat.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/09/24/1819/

.


Momentum Hari Kesadaran Hukum Kedokteran Kamis, 27 Juni 2019, menyadarkan kita bahwa produk hukum dapat digunakan untuk meningkatkan derajad kesehatan masyarakat. Dengan demikian, semua pihak sebaiknya ikut mendorong pemerintah dan parlemen, dalam mereformasi berbagai undang-undang, untuk mewujudkan hak azasi warga negara atas kesehatan.

Sudahkah Anda berperan?

Candi Angkor Wat di Siem Reap, Kerajaan Kamboja

Sekian

Yogyakarta, 25 Juni 2019

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

Categories
COVID-19 dokter Healthy Life medicolegal

2019 Hukum bagi dokter

Hasil gambar untuk hukum bagi dokter

HUKUM  BAGI  DOKTER

fx. wikan indrarto*)

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) telah mencanangkan bahwa 27 Juni sebagai Hari Kesadaran Hukum Kedokteran. Hal ini terkait bahwa pada 27 Juni 1984 Mahkamah Agung mengeluarkan putusan yang membebaskan Dr. Setyaningrum di Puskesmas Wedarijaksa, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, dari segala tuntutan hukum atas dugaan malapraktik, yang mengakibatkan seorang pasien meninggal dunia. Apa yang sebaiknya kita pelajari?

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/05/13/2019-peran-lengkap-dokter/

.

Sejarah layanan penyembuhan sudah setua manusia itu sendiri. Bentuk layanan penyembuhan, aturan, dan sistem hukumnya juga ikut berubah, sesuai dengan perkembangan waktu. Dimulai dari sumpah Hiprocrates (Yunani Kuno), kemudian kodifikasi etik kedokteran pada sekitar Perang Dunia, Hukum Positif pada dekade tahun 1950-60, ‘Medico Industrial Compleks’ pada era industri, dan terakhir berupa sistem pembiayaan kesehatan.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/04/27/2019-sisi-buruh-dokter/

.

Hippokrates yang hidup tahun 460-370 SM adalah seorang tabib atau dokter jaman Yunani kuno, yang dikenal sebagai “Bapak Kedokteran” dan salah satu murid dari Herodikus. Tulisan hasil karyanya yang dikenal dengan Corpus Hippocraticum, telah mengikis habis semua pemikiran takhyul masyarakat Yunani kuno, mengenai penyakit yang datang dari ilah-ilah yang membalas dendam. Sumpah Hippokrates (Hippocratic oath) adalah sumpah yang secara tradisional diucapkan demi para dewa dalam mitologi Yunani kuno, yaitu Apollo, Asclepius, Hygieia dan Panaceia. Sumpah Hippokrates adalah rambu tentang etika yang harus dijunjung tinggi para dokter, saat melakukan praktik profesi penyembuhan. Sampai sekarang, beberapa bagian sumpah Hippokrates dan aturan etika lisan yang ketat mengatur tersebut telah dihilangkan atau diubah sejalan dengan berjalannya waktu.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/04/24/2019-dokter-digital/

.

Aturan yang mengatur profesi dokter lebih ketat dan tertulis berikutnya adalah “Code of Medical Ethics”. Kode Etik Kedokteran Indonesia terbaru disahkan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) tahun  tahun 2013, sesuai dengan UU Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, UU Nomor 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan, UU Nomor 44 Tahun 2009 tentang Rumah Sakit, UU nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan UU Nomor 24 Tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS), maupun pelbagai perundang-undangan lainnya yang mengatur profesi kedokteran. Revisi dengan penekanan ketat norma yang lebih hirarkis, yang ditunjukkan dengan kata “wajib” atau “dilarang” dan “seharusnya” atau “seyogyanya”. Sebagai contoh adalah seorang dokter wajib selalu melakukan pengambilan keputusan profesional secara independen dan mempertahankan perilaku profesional dalam ukuran tertinggi.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/02/13/2019-etika-profesi-dokter/

.

Setelah etika, rambu yang mengatur profesi dokter berikutnya adalah hukum, baik Sistem Hukum Kodifikasi (Eropa Kontinental) maupun Sistem Hukum Kebiasaan (Common Law System). Dalam hukum kesehatan (Public Health Law) telah diatur tentang hubungan hukum dalam layanan kesehatan antara petugas kesehatan, yaitu dokter, rumah sakit, puskemas dan tenaga kesehatan lain dengan pasien. Baik sistem hukum kodifikasi maupun sistem hukum kebiasaan, hukum kesehatan mempunyai obyek yang sama, yaitu pasien. Hukum yang melindungi pasien inilah yang merupakan obyek atau inti satu-satunya dalam sistem hukum kesehatan internasional, yang bertumpu pada asas ”the enjoyment of the highest annainable standard of health is amount of the fundamented rights of every human being” (kesehatan merupakan salah satu dasar keberadaan dari setiap orang).

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/02/11/2019-dokter-virtual/

.

Layanan dokter pada dekade berikutnya justru lebih banyak diatur oleh ‘Medico Industrial Compleks’ atau kerjasama dokter dengan perusahaan yang memasok produk kesehatan, untuk meraih keuntungan. Konsep ini pertama kali dikembangkan oleh Barbara dan John Ehrenreich dalam ‘Bulletin of the Health Policy Advisory Center’ tahun 1970 dengan judul “The Medical Industrial Complex” dan ulasan dalam New England Journal of Medicine (4 November 1971, 285: 1095). Konsep ini kemudian dipopulerkan pada tahun 1980 oleh Arnold S. Relman dalam sebuah makalah berjudul “The New Medical-Industrial Complex.” Relman mencurigai adanya potensi besar untuk mempengaruhi kebijakan dokter dalam layanan kesehatan. Selain itu, pengelolaan RS juga lebih banyak dilakukan oleh ahli bisnis daripada profesional medis, bahkan prioritas bantuan dana yang terus meningkat ditujukan untuk dokter dalam layanan medis (providing services), bukan pada dokter dalam penelitian medis (medical research). Selanjutnya, layanan dokter disorot terus-menerus, termasuk oleh John Ehrenreich dalam “Third Wave Capitalism: How Money, Power, and the Pursuit of Self-Interest have Imperiled the American Dream” (Cornell University Press, May 2016).

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/12/06/2018-bisnis-medis-dokter/

.

Rambu layanan dokter terbaru dikeluarkan oleh World Health Organization (WHO) pada tahun 2009, berupa sistem pembiayaan kesehatan. Pembiayaan baru berpola ‘Health Insurance’ untuk menggantikan sistem lama, yaitu  ‘Fee for Service’. Kelemahan sistem ‘Fee for Service’ adalah terbukanya peluang bagi dokter untuk memanfaatkan ‘Agency Relationship’, dimana dokter mendapat imbalan untuk pelayanan yang diberikannya kepada pasien, yang besar-kecilnya ditentukan dari negosiasi, termasuk dipengaruhi oleh ‘Medico Industrial Compleks’. Sebaliknya, pada sistem ‘Health Insurance’ pembayaran dilakukan oleh pihak ketiga atau pihak asuransi. Sistem pembiayaan kesehatan dalam era JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) di Indonesia disebut ‘kapitasi’ untuk dokter umum di layanan primer dan ‘case-mix’ untuk dokter spesialis di RS (Rumah Sakit) layanan sekunder atau tersier, sehingga rambu ini dapat menekan pengaruh ‘Medico Industrial Compleks’.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/11/07/2018-dokter-pahlawan/

.


Momentum Hari Kesadaran Hukum Kedokteran Kamis, 27 Juni 2019, menyadarkan kita bahwa layanan medis oleh dokter kepada pasien hakekatnya adalah mulia. Tanpa rambu dan hukum yang tegas, hakekat mulia dapat pudar karena sikap dan perilaku dokter yang menyimpang. Para dokter diharapkan semakin menyadari bahwa profesinya selalu bersinggungan dengan sisi hukum, etika, sumpah profesi, spirit kesejawatan, kebutuhan dan keselamatan pasien.

Sudahkah para dokter bertindak bijak?

Sekian

Yogyakarta, 26 Juni 2019

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, pengajar di FK UKDW, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

Categories
anak COVID-19 dokter Healthy Life Jalan-jalan sekolah

2019 Bebas Asma saat Lebaran

6 Hal yang Perlu Diperhatikan Orang Tua Ketika Anaknya Punya Asma | Kabar  Tangsel

BEBAS ASMA SAAT LEBARAN
fx. wikan indrarto*)

Hari Raya Idul Fitri atau lebih sering disebut Lebaran, saat ini tidak sekedar hari besar agama saja, tetapi sudah menjadi hari besar segenap ‘keluarga besar’. Pada setiap Lebaran, banyak anggota keluarga akan mudik (pulang kampung) dan berkumpul untuk tidak hanya berdoa bersama, tetapi juga halal bilhalal, kunjung mengunjungi, reuni, rekreasi dan silaturahmi. Selain terjadi pertemuan dengan banyak orang dan perpindahan banyak tempat, pastilah juga terjadi perkenalan dengan banyak menu makanan. Semuanya merupakan hal yang lumrah ada pada saat Lebaran, ditunggu-tunggu dan menggembirakan bagi banyak orang. Apakah hal baik tersebut juga terjadi pada anak asma? Belum tentu.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/03/08/steroid-pada-serangan-asma/

.

Serangan asma pada anak dapat berupa keluhan klinis batuk hebat, muntah dan sakit perut, nafas bunyi sampai sesak nafas. Serangan tersebut sangat mudah terjadi karena rangsangan alergen (pencetus alergi), aktivitas fisik dan infeksi virus. Alergen dapat berupa inhalan (yang dihirup seperti debu, serbuk atau bau-bauan di sepanjang perjalanan mudik), ingestan (yang ditelan seperti susu, es krim, coklat atau zat pewarna makanan pada hidangan Lebaran) ataupun kontaktan (yang disentuh seperti boneka mainan, kasur kapuk, tumpukan pakaian kotor atau karpet di kamar penginapan). Aktivitas fisik anak yang berlebihan pada saat libur Lebaran, seperti bermain tanpa kenal lelah, tertawa terbahak-bahak, ‘kekeceh’ bermain air di kamar mandi ataupun ‘ciblon’ di kolam renang. Infeksi virus yang menyerang saluran nafas atas seperti pilek atau flu, sangat banyak dialami oleh anggota keluarga dan mudah sekali menular ke anak.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/10/19/2018-batuk-pada-anak-dalam-era-jkn-2/

.

Semua faktor risiko tersebut sangat mungkin ada pada anak asma saat Lebaran nanti, sehingga orang tua harus melakukan tindakan pencegahannya. Pencegahan terbaik adalah penghindaran faktor risiko tersebut, baik alergen inhalan dan ingestan maupun aktivitas fisik yang berlebihan, sebisa mungkin. Anak harus dijauhkan dari menu makanan, minuman, cemilan ataupun jajanan Lebaran yang dapat mencetuskan serangan asma. Aktivitas fisik yang menggembirakan anak karena kebersamaan dengan saudaranya, sebaiknya dialihkan ke aktivitas ketrampilan otot kecil, bukan kekuatan otot besar. Bermainlah bersama dengan mewarnai atau menggambar, permainan ular tangga, halma, scrable, kartu atau game digital, serta menghindari petak umpet, sepak bola dan lompat tali. Untuk mencegah terjadinya penularan pilek atau flu, anak dianjurkan mendapat imunisasi influenza sebelum berangkat mudik Lebaran. Periksalah ke dokter yang selama ini merawat anak asma dan sampaikan informasi tentang rencana mudik Lebaran keluarga. Dengan demikian, dokter akan merencanakan banyak hal, termasuk edukasi, komunikasi (hot line), imunisasi ataupun farmasi (resep obat asma).

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/02/14/2019-scientific-expert-summit/

.

Bagaimana kalau serangan asma awal terlanjur terjadi saat libur Lebaran? Yang utama adalah pengenalan bentuk serangan asma awal pada anak. Orang tua yang teliti atau anak yang agak besar, biasanya akan mudah mengenali batuk khas yang merupakan tanda awal serangan asma. Pencegahan agar serangan asma awal tidak berlanjut adalah dengan meneruskan obat pengendali asma yang selama ini digunakan, dan menambahkan obat pereda serangan asma secara dini. Pengobatan yang paling dianjurkan adalah menggunakan obat hirupan (nebulaiser atau inhaler dengan spacer), baik obat yang sudah biasa digunakan sendiri, ataupun obat yang baru pertama kali diberikan oleh dokter di rumah sakit terdekat saat liburan. Kalau sudah memiliki obat sendiri, bawalah obat tersebut ke manapun anak pergi dan informasikan semuanya kepada dokter setempat, pada saat memeriksakan anak. Sampaikan tentang riwayat perjalanan klinis asma anak dan pola pengobatan yang selama ini dijalani, agar dokter dapat memilihkan pola pengobatan lanjutan yang sesuai.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/05/09/2018-simposium-ppok/

.

Selain menambahkan obat perada serangan, orang tua diharapkan juga dapat mengenali pencetus munculnya serangan asma. Pastikan pencetusnya dengan mengingat apa saja yang mungkin, baik alergen inhalan ataupun ingestan, juga aktivitas fisik anak. Penambahan obat dan koreksi segera pencetus asma tersebut, maka serangan asma akan mereda. Serangan yang ringan akan hilang dalam beberapa menit, tetapi serangan yang sedang atau berat sangat mungkin akan mengganggu sebagian atau seluruh rencana liburan lebaran keluarga. Serangan berat jauh lebih baik dirawat di rumah sakit terdekat untuk pemantauan 1-2 hari, selain untuk pengelolaan lengkap (oksigenasi, nutrisi cairan, farmasi dan fisioterapi) juga untuk memutus kontak sama sekali dengan faktor pencetus serangan, meskipun kadangkala orang tua belum tahu apa pencetusnya. Libur lebaran di rumah sakit, akan terasa mengganggu dan membosankan, baik bagi orang tua, keluarga maupun anaknya. Namun demikian, pengalaman ‘buruk’ tersebut dapat digunakan sebagai momentum bersama untuk edukasi mendalam, khususnya bagi anak, agar mengenali dan kemudian menghindari faktor pencetus serangan asmanya. Pengalaman yang memberikan kesan emosional sangat dalam, pada umumnya akan mengendap (retensi) dalam memori anak dalam waktu yang cukup lama, sehingga sangat bermanfaat bagi pengelolaan lengkap asmanya secara jangka panjang.

.

Dengan melakukan semua kegiatan tersebut, maka anak akan bebas serangan asma dan dapat menjalani Lebaran dengan penuh suka cita.

Apakah kita sudah bijak?

Yogyakarta, 2 Juni 2019
*) dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Letkro FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA : 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

Categories
anak dokter Healthy Life Jalan-jalan resisten obat

2016 Mengkover Vancouver

MENGKOVER  VANCOUVER  TAHUN  2016

VANCOUVER HARI PERTAMA
fx. wikan indrarto & b. sari prasetyati

Perjalanan kami untuk mengikuti International Congress of Pediatrics (ICP) 2016 di Kanada, dimulai dari Jakarta dengan naik pesawat Airbus A320-300 Cathay Pacific CX 718, yang meninggalkan Bandara Soetta Selasa, 16 Austus 2016 pk. 8. Setelah perjalanan 4 jam, kami transit selama 2 jam di Hong Kong International Airport. Dengan maskapai yang didirikan oleh Roy C. Farrel (AS) dan Sydney H de Kantzow (Australia) di Hong Kong pada 24 September 1946, kami melanjutkan perjalanan dengan pesawat generasi terbaru Boeing 777-300 ER Cathay Pacific CX 838. Setelah menempuh perjalanan dengan kecepatan 825 km/jam dalam ketinggian 11.875 m selama 11 jam perjalanan, kami menempuh jarak 10.278 km dan mendarat di Vancaouver International Airport, Kanada.

20160816_154318

Kami transit selama 2 jam di Hong Kong International Airport, sambil menunggu Boeing 777-300 ER Cathay Pacific CX 838.

20160816_162327

Tiba Stasiun Vancouver City Center dari Vancaouver International Airport (YFR) menggunakan Skytrain menuju Waterfront (downtown)

Vancouver (/væn.ˈkuːvər/ atau /væŋˈkuːvər) adalah sebuah kota di Provinsi British Columbia, Kanada. Kanada merupakan negara terbesar kedua di dunia dalam luas wilayah setelah Rusia, yaitu meliputi sekitar 41% wilayah Amerika Utara. Kepadatan penduduk hanya 3.2 orang per kilometer persegi, yang luar biasa rendah dibandingkan negara lainnya. Sekitar 80 % orang-orang Kanada tinggal dalam rentang wilayah 200 km dari AS, yaitu wilayah dengan iklim sedang, dan memiliki tanah yang terbaik untuk ditanami, termasuk di Vancouver. Kota ini adalah daerah metropolitan terbesar di Kanada bagian barat dan ketiga terbesar di Kanada. Daerah metropolitan Vancouver didiami oleh 2.132.824 ‘Vancouverites’, sebutan untuk penduduk Vancouver, termasuk 583.296 jiwa di kota Vancouver sendiri. Vancouver pernah menjadi tuan rumah Olimpiade Musim Dingin 2010, Memorial Cup 2007, dan World Police and Fire Games 2009. Stadium Swangard di Burnaby juga menjadi lokasi beberapa pertandingan Piala Dunia FIFA U-20 2007.

Dari Vancaouver International Airport (YFR) kami melanjutkan perjalanan dengan Skytrain menuju Waterfront (downtown), dengan tiket elektronik seharga $C 9, yang kami beli di mesin elektronik yang membuat kami sedikit bingung, untunglah kami mendapat bantuan penumpang lainnya. Kami melewati beberapa stasiun, yaitu Sea Island Centre, Templetion, Bridgeport, Marine Drive, Mangara 49th Avenue, Oakridge 41st Avenue, King Edward, Broadway City Hall, Olympic Village, Yaletown Roundhouse, dan turun di Stasiun Vancouver City Center. Dengan perjalanan selama 24 menit, kami melewati 11 pemberhentian dalam kereta Skytrain 980 yang modern itu, yang memiliki platform sign ‘Canada Line to Waterfront’ dan dikelola oleh British Columbia Rapid Transit Company, dan melanjutkan perjalanan ke Waterfront.

20160817_060106

Sambutan International Pediatrics Association (IPA) 2016 di Vancaouver International Airport (YFR)

20160816_164744

Bertemu ‘wong Jogja’ yang kuliah di Vancouver dan menjadi akrab

Seperti kita ketahui, terdapat 10 provinsi di seluruh Kanada dengan ibukotanya, yaitu Nova Scotia (Halifax), New Brunswick (Fredericton), Quebec (Quebec City), Ontario (Toronto), Manitoba (Winnipeg), British Columbia (Victoria), Prince Edward Island (Charlottetown), Saskatchewan (Regina), Alberta (Edmonton), dan Newfoundland and Labrador (St. John’s). Selain itu, terdapat 3 teritori atau wilayah dan ibukotanya, yaitu Northwest Territories (Yellowknife), Yukon Territories (Whitehorse) dan Nunavut (Iqaluit). Sampai tahun lalu, Calgary, Ottawa, Montreal, Vancouver yang akan kami jelajahi, dan Toronto dianggap sebagai kota terbersih di Kanada. Catatan arkeologi menunjukkan kehadiran orang-orang asli di daerah Vancouver dari 8.000 hingga 10.000 tahun yang lalu. Kota ini terletak di wilayah tradisional Squamish, Musqueam, dan Tseil-Waututh (Burrard) bangsa Coast. Masa berkenalan dengan bangsa Eropa dimulai ketika José María Narváez dari Spanyol mengeksplorasi pantai yang kini disebut Point Grey dan bagian dari Burrard Inlet tahun 1791. Meskipun demikian, ada data lain yang mengungkapkan Francis Drake telah mengunjungi wilayah ini tahun 1579. Kota ini mengambil nama dari George Vancouver, pemimpin tim eksplorasi dari angkatan laut Kerajaan Inggris di pelabuhan Burrard Inlet pada tahun 1792.

Dari Stasiun Vancouver City Center, kami menuju berjalan kaki sejauh 1,1 km selama 14 menit, menuju ke Barclay Hotel yang beralamat di 1348 Robson St, Vancouver, BC V6E 1C5, Kanada. Dengan berjalan kaki ke arah tenggara di Robson St menuju ke Jervis St sejauh 850 m, kemudian berbelok kiri ke Howe St/BC-99 S sejauh 180 m, dan akhirnya berbelok kanan ke W Georgia St/BC-99 S/BC-99A S untuk mencapai hotel. Setelah menyelesaikan adminisrasi dan menata barang, kami bersiap-siap menikmati sore pertama di Vancouver, yaitu melihat matahari tenggelam (sunset) di English Bay sejauh 2 km, dengan berjalan kaki selama 24 menit. Dengan berjalan kaki ke arah barat laut dari Robson St menuju ke Broughton St sejauh 950 m, terus ke Lagoon Dr sejauh 270 m, kami berbelok kiri ke Barclay St sepanjang 7 m, dilanjutkan berbelok kanan 400 m dan lurus terus sampai di English Bay. Kami menikmati pemandangan alam saat ‘sun set’ pada pk. 21 waktu lokal. Pemandangan yang indah dengan lokasi pantai yang bersih, sehingga banyak warga kota yang berjalan, berlari ataupun bersepeda menikmati keindahan malam itu. Kami pulang ke hotel setelah kenyang makan malam menu Korea di Robson Blue Bella Korean Cuisine Bistro, dekat hotel.

20160816_201236

Kami melihat matahari tenggelam (sunset) di English Bay

20160816_201455

Kami menikmati pemandangan alam saat ‘sun set’ pada pk. 21 waktu lokal.

Malam itu kami tidur nyenyak, untuk persiapan mengikuti upacara bendera pada 17 Agustus 2016, undangan dari Konsulat Jendral RI Vancouver, di Wisma Indonesia 1395 West 50th Avenue, Vancouver.

(bersambung)

VANCOUVER HARI KEDUA

fx. wikan indrarto

Penggunaan daun mapel sebagai simbol Kanada dilakukan sejak abad ke-18, dan sampai sekarang digambarkan pada bendera nasional Kanada, dengan warna merah dan putih. Kanada dikenal karena hutan luas, dan jajaran pegunungannya (termasuk Pegunungan Rocky di Alberta dan British Columbia), dan hewan liar, seperti rusa besar, karibou, berang-berang, beruang kutub, dan beruang grizzly. Hoki adalah olahraga musim dingin yang sering digunakan sebagai simbol persatuan nasional dan kebanggaan resmi Kanada. Hari kedua kami di Vancouver pada Selasa, 17 Agustus 2016, diawali dengan perjalanan ke Konsulat Jendral RI.

20160817_083838

Upacara Bendera Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke 71 tahun 2016 yang dipimpin oleh Ms. Sri Wiludjeng, Konsul Jendral di Vancouver Kanada yang menjabat sejak 2014.

20160817_074745

Kami naik bis jalur 10 yang dioperasionalkan oleh TransLink, dengan membayar kepada sopir di alat penerima uang logam di samping sopir.

Dari Hotel Barclay yang beralamat di 1348 Robson St, Vancouver, BC V6E 1C5, Kanada, pagi itu kami berjalan menyusuri Robson St sejauh 800 m untuk mencapai Granville St. Sepanjang jalan banyak sekali pohon mapel, lambang Kanada, dengan daun yang berbentuk khas seperti telapak tangan manusia dan berjatuhan saat kering. Kami naik bis jalur 10 yang dioperasionalkan oleh TransLink, dengan membayar kepada sopir di alat penerima uang logam di samping sopir. Dengan tarif $2,75 kami menuju West 50th Avenue sejauh 7,4 km dalam 49 menit, menyusuri Granville Street, lewat Nelson Street, Davie, Drake, menyeberang jembatan English Bay, lanjut melewati West Cloverleaf, West Broadway, West 11 Ave, West 16 Ave, 15 Ave, Angus Dr, Mattew, Laurier Ave, West 16 Ave, 15 Ave, Angus Dr, Mattew, Laurier Ave, West King Edward Ave, Nanton, West 32 Ave, 33, 35, 37, South connaught, 40, 41, 43, 45, 47, dan turun di West 49 Ave. Dengan sedikit berjalan kaki, kami sampai di 1395 West 50th Avenue, alamat kantor Konsulat jendral RI di Vancouver. Kami mengikuti Upacara Bendera Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke 71 yang dipimpin oleh Ms. Sri Wiludjeng, Konsul Jendral yang menjabat sejak 2014. Setelah upacara, diadakan acara seremonial kekeluargaan dan ditutup dengan makan siang menu Indonesia. Acara itu diikuti oleh pegawai dan keluarga KJRI, juga masyarakat Indonesia yang ada di Vancouver, Alberta dan sekitarnya. Setelah itu, kami melanjutkan perjalan ke lokasi konggres.

20160817_081205

Kembali menggunakan bis line 10 yang dioperasionalkan oleh TransLink, berangkat dari West 49th Ave, Vancouver

20160817_120126

‘West Building Vancouver Convention Centre’, dekat dengan pelabuhan untuk bersandar kapal pesiar yang besar

Kami menuju ‘West Building Vancouver Convention Centre’, dengan kembali menggunakan bis line 10 yang dioperasionalkan oleh TransLink, berangkat dari West 49th Ave, menyusuri jalan yang sebelumnya kami lewati dan turun di Waterfornt Station sejauh 8,1 km. Setelah proses registrasi, kami mengikuti upacara pembukaan. International Pediatric Association (IPA) dan dengan 168 organisasi anggotanya, termasuk IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) menyelenggarakan 28th International Pediatric Conggres pada 17-22 Agustus 2016. Tema konggres adalah “Kebersamaan, Keanekaragaman, Kekuatan,” (Community, Diversity, Vitality), yang mencerminkan keduanya, baik Vancouver sebagai kota tuan rumah dan ruang lingkup program ilmiahnya. Vancouver adalah kota yang hidup di pantai barat Kanada, dengan Samudera Pasifik di sebelah barat dan pegunungan di sebelah timur. Pada acara pembukaan yang sangat meriah di ballroom A dan B, kami terhanyut dalam alunan gerak dan lagu oleh Vancouver Children’s Choir and Eagle Song Dancers, juga adanya sambutan yang sangat inspiratif oleh Mr. Anthony Lake, Exeutive Direktur UNICEF sebagai Keynote Speaker. Setelah acara selesai, kami melanjutkan dengan jalan lagi.

Kami naik bis Line 240 bertarif $ 2,75 dari Brighton, melewati Cardero, Denmam, dan Stanley Pakr dalam jalur khusus busway yang sangat lancar, meski pada saat arus lalu lintas yang macet. Kami akan menuju ke Capilano, memasuki hutan Stanly Park yang bersih. Hutan ini adalah hutan wisata terbaik di dunia yang sangat cocok untuk jalan kaki atau naik sepeda, karena telah dibuatkan jalurnya secara khusus. Kami menyeberang Lions Gate Bridge, sebuah jembatan gantung yang melintasi English Bay dan sangat gagah, dengan patung singa duduk pada gerbang jembatan. Jembatan tersebut hanya boleh dilewati maksimal berat mobil 13 ton. The Lions Gate Bridge, yang dibuka pada tahun 1938, secara resmi dikenal sebagai Narrows Bridge adalah jembatan gantung yang melintasi selat Burrard yang menyempit. Jembatan ini menghubungkan Vancouver dengan kota North Shore Distrik Vancouver Utara. Istilah “Lions Gate” mengacu pada The Lions, sepasang puncak gunung di utara Vancouver. Sepasang patung singa yang terbuat dari beton cor, yang dirancang oleh pematung Charles Marega, ditempatkan di kedua sisi ke jembatan pada bulan Januari 1939. Panjang total jembatan termasuk jembatan utara adalah 1.823 meter, tinggi menara 111 m, dan dapat dilewati kapal dengan tiang setinggi 61 m. Jembatan ini memiliki tiga jalur berlawanan arah, dengan volume lalu lintas di jembatan adalah sekitar 70.000 kendaraan per hari. Pada tanggal 24 Maret 2005, Lions Gate Bridge ditetapkan sebagai Situs Bersejarah Nasional Kanada. Sayang sekali, kami tidak mampu mencapai view poin di sisi selatan jembatan, karena jalan masuk ke situ harus melewati hutan Stanley park yang tidak terjangkau kami dengan berjalan kaki. Maka kami menikmatinya dengan naik bis dan mengambil gambarnya dari sisi Capitalino North Vancouver Distric yang kurang eksotis. Pada hal, Vancouver dikenal di dunia akan keindahan alamnya. Kota ini memiliki salah satu dari taman kota terbesar di Amerika Utara, yaitu Stanley Park. Lansekap kota ini didominasi Pegunugan Pesisir Utara dan pemandangan di hari yang cerah dapat mencapai Gunung Baker di Washington, Amerika Serikat; Pulau Vancouver di seberang Selat Georgia, dan Pantai Sunshine.

20160817_182225

Hutan Stanly Park merupakan hutan wisata terbaik di dunia yang sangat cocok untuk jalan kaki atau naik sepeda.

20160817_130526

Lansekap kota Vancouver

Kami memutuskan untuk kembali pulang ke Vancouver, dengan naik bis Line 246 dari North Vancouver Distric ke Chinatown. Kami melewati jalur yang sama, termasuk Marine Drive, Gilford Street, lanjut masuk kembali ke Lions Gate Bridge dan turun di Dusmuin and Hamilton. Kami melanjutkan dengan berjalan kaki sejauh 150 m menuju ‘Victory Square’, sebuah lapangan pada pertemuan Hastings Street, West Pender Street, Cambie Street, dan Hamilton Street di downtown Vancouver. Di tengahnya gagah berdiri tugu peringatan bagi pahlawan pembangunan jalur kereta api, yang bertuliskan ‘In Memory of those, who gave their lives in the service of our country. Their name liveth for evermore’, yang diresmikan pada tanggal 13 Februari 1886. Ekonomi awal Vancouver didominasi oleh perusahaan besar: seperti CPR, yang memicu aktivitas ekonomi dan menyebabkan pesatnya perkembangan kota baru. Beberapa manufaktur melakukan pengembangan, termasuk pembentukan British Columbia Sugar Refinery oleh Benjamin Tingley Rogers pada tahun 1890. Sumber daya alam kemudian menjadi dasar bagi perekonomian Vancouver, yaitu penebangan hutan dan kemudian ekspor kayu melalui pelabuhan, sehingga lalu lintas komersial merupakan sektor ekonomi terbesar di Vancouver sejak tahun 1930-an.

20160817_194359

Gastown Steam Clock, sebuah monumen jam uap legendaris, yang dirancang oleh Raymond K. Saunders.

20160817_193449

‘Victory Square’, sebuah lapangan pada pertemuan Hastings Street, West Pender Street, Cambie Street, dan Hamilton Street di downtown Vancouver.

Selanjutnya kami menikmati keindahan di Gastown Steam Clock, sebuah monumen jam uap yang legendaris, yang dirancang oleh Raymond K. Saunders. Setiap 15 menit sebuah baja akan jatuh dari puncak jam, dan menimbulkan bunyi mesin uap. Mekanika jam dirancang oleh Douglas L. Smith, yang menghabiskan biaya $ 42.000 pada tahun 1870. Monumen jam uap tersebut, menjadi sorotan kamera banyak wisatawan, sehingga kami harus antri mengambil gambar kenangan. Kami selanjutnya menikmati keindahan patung ‘Angel of Victory’, simbol kemenangan para pekerja rel kereta api pertama, sehingga CPR (Canadian Pacific Raylways) terhubung ke Vancouver, di daerah Burrard Landing di West Cordova Street. Patung tersebut tegak berdiri di samping gedung tua yang gagah dan masih berfungsi baik, yaitu stasiun pertama dan awal mula kota Vancouver, yang megah berwarna merah. Stasiun tersebut berlokasi di Waterfront dan menjadi pertemuan antar moda, yaitu Skytrain Expo Line, Millenium Line, Canada Line, West coast express and Sea Bus yang menyeberang ke North Vancouver Distric. TransLink adalah perusahaan pemerintah yang mengakomodasikan berbagai layanan bus, feri yang dikenal dengan nama SeaBus, dua jalur metro bernama SkyTrain, dan kereta api komuter West Coast Express.

Setelah membeli tiket untuk naik kereta bawah tanah Millenium Line, kami turun di Stasiun Burrad, untuk berjalan kaki kembali ke hotel. Kami mampir membeli Chicken Karaage 4 pcs, $ 5,5, spinach, shitake musrhroom, black wood war mushroom & water chestnut 6 pcs, $ 5 di Gyoza King Japanese Spirits, di Robson street. Malam itu kami tidur nyenyak, untuk persiapan mengikuti konggres hari pertama di hari ketiga kami di Vancouver.

(bersambung)

VANCOUVER  HARI  KETIGA

fx. wikan indrarto

Bendera Kanada menggunakan gambar Daun Mapel (bahasa Inggris: Maple Leaf), warna merah dengan sebuah warna putih di tengahnya. Pada tahun 1965 sebuah bendera nasional Kanada, rancangan dari George F. G. Stanley yang didasarkan pada bendera Royal Military College of Canada, secara resmi digunakan untuk menggantikan Bendera Inggris Raya. Bendera sebelumnya yang dikenal dengan nama “Canadian Red Ensign” sudah pergunakan sejak tahun 1890an. Dari Hotel Barclay yang beralamat di 1348 Robson St, Vancouver, BC V6E 1C5, Kanada, pagi itu kami berjalan kaki menyusuri Jervis Street yang menurun tajam, menyeberang Alberni St dan South Georgia St. Melville, Hasting dan Cordoba untuk mencapai ‘West Building Vancouver Convention Centre’. Bendera Kanada dengan gambar Daun Mapel berkibar gagah di arena konggres yang beralamat di 1055 Canada Place Vancouver, BC V6C 0C3 Canada, untuk mengikuti The 28th International Congress of Pediatrics (IPA 2016).

20160817_132201

‘West Building Vancouver Convention Centre’. Canada, untuk mengikuti The 28th International Congress of Pediatrics (IPA 2016).

20160817_204334

Di dalam Bis Line 17 kami menyusuri Georgia St dan Grenville, lalu kami turun di East Pender St, Vancouver

Kamis, 18 Agustus 2018, kami mengikuti sesi MTE 1 (Meet The Expert) dengan tema : Electronic Medical Record (ERM): How to Provide Better Patient Care and Make the Office More Efficient, yang dapat diakses dari http://eventmobi.com/ipa2016. Acara pada Room 211, menampilkan pembicara Neil Cooper, Pediatrician Alberta Children’s Hospital / Sunnyhill Pediatric Clinic, Dr. Neil Cooper seorang Pediatrician and Sports Medicine physician dri Calgary, Alberta, Canada. Lulusan University of Calgary Medical School pada tahun 1990 dan selesai residensi pediatrik di Rumah Sakit Anak Alberta pada tahun 1994 dan Sports Medicine Diploma pada tahun 2007. Sejak tahun 1994 berpraktek aktif pediatrik dan olahraga. Keterlibatannya pada komputer mendahului karir medis, ketika sebagai paramedis pada tahun 1984, mengembangkan database elektronik untuk Korps Pemadam Kebakaran Ft. McMurray dengan komputer IBM 8088. Dia telah menggunakan beberapa bentuk catatan medis elektronik sejak tahun 1996. Acara tersebut dipimpin oleh moderator Dr. Kevin Chan, Pediatrics Chair Memorial University and Clinical Chief of Children’s Health pada Eastern Health in St. John’s, Newfoundland, Canada. Dijelaskan bahwa ERM memiliki banyak sekali keuntungan, misalnya dokumen lebih cepat disajikan kepada dokter, portable, comfortable, and secure. Sebaliknya, rekam medis pada kertas lebih mudah hilang, meskipun kadang tidak disadari, hanya dapat diakses oleh seorang dokter dalam waktu yang sama, seringkali terjadi salah tulis, mahal, memakan tempat, dan bahkan seringkali sulit dicari. Keuntungan EMR lainnya mudah dicari, tidak hilang, mudah disimpan, aman, mudah digandakan, dan tidak boros tempat. Pengembangan ERM bahkan sampai dapat merupakan data terpadu tentang demografi, peresepan obat, informasi alergi obat, imunisasi, hasil laboratorium, diagnsis dan hasil konsultasi antar dokter. Bahkan ke depan akan menjadi bagian dari ‘Screening and Prevention programm’ yang disertai risperdal reminder, dengan modul komunikasi terpadu antar dokter, bahkan juga ada modul komunikasi dengan pasien, misalnya untuk perjanjian kontrol, dan konsultasi. Pada sesi tersebut, berlangsung juga MTE2 dengan tema : Immunology for the Pediatrician, oleh Elie Haddad, Head Immunology and Rheumatology Division, CHU Sainte-Justine, University of Montreal, Canada dengan moderator François Boucher, Pediatrician Centre Mère Enfant-Soleil du Centre Hospitalier. MTE3 dengan tema : Care of the Child and Adolescent With Medical Complexity oleh Dr. Eyal Cohen, Associate Professor Pediatrics and Health, Policy, Management and Education, Hospital for Sick Children, University of Toronto, Canada dengan moderator Dr. Jay Ellis Berkelhamer, American Academy Of Pediatrics Past President, dan MTE4 dengan tema: What is New in Nutrition? oleh Dr. Fügen Çullu Çokuğraş, President Balkan Pediatric Association.

Kami selanjutnya mengikuti acara Plenary 1 dengan tema: Child Health – Now and in the Future’, di Ballroom A-B. Moderator acara adalah Dr. Andreas Konstantopoulos, President International Pediatric Association (IPA), dengan pembicara Richard Horton, Editor-in-Chief The Lancet dengan tema: Global Trends And Progress in Child Mortality’. Kita diingatkan bahwa masih banyak negara yang bermasalah dalam usha menurunkan angka kematian anak, yaitu India, Nigeria, Pakistan, Kongo, Etiopia dan Cina, yang secara total menyumbang kematian 3,5 juta (51%) dari semua anak di dunia. Masalah nutrisi, kebijakan politik di negara berkembang, pencapaikan SDGs, akuntabilitas negara, dan hak azasi manusia harus diperhatikan oleh semua pihak. Hal ini disebabkan karena adanya pengaruh kebijakan politik negara, pada derajad kesehatan anak, ‘economic out put’, ‘social production’, ‘cohetion’, inovasi, dan keamanan. Semua pemerintahan wajib memberikan penekanan dalam aspek kemanusiaan atau Humanitarian, migrasi, proteksi sosial, teknologi transformatif, dan kesamaan gender. Hal ini karena pada anak, derajad kesehatan dan kemanusiaannya, terkait dengan tingkat pendidikannya. Tantangan kita semua adalah dalam aspek prosperity, humanity dan implementasi. Pembicara selanjutnya adalah Prof. Zulfiqar Bhutta, dari Global Child Health & Policy Sick Kids Centre for Global Child Health Research Institute, The Hospital for Sick Children Departments of Paediatrics, Nutritional Sciences and Public Health University of Toronto, dengan tema : ‘Emerging challenges in child health globally: how can pediatricians contribute to change?’ Kita disadarkan bahwa masih ada sekitar 10 juta anak meninggal secara global dalam 2 tahun terakhir di India dan Afrika. Kebijakan tentang MDGs telah menyatukan langkah para pemerintah dan tenaga kesehatan profesional. Namun demikian, MDGs 4, yaitu Menurunkan angka kematian anak, yang memiliki target pada tahun 2015 adalah mengurangi dua per tiga tingkat kematian nak balita, belum berhasil ditekan dari 12,7 jadi 5,2, karena ternyata hanya turun menjadi 5,9. Kita perlu menyelesaikan semua faktor risiko mortalitas yang masih tinggi, terutama pada neonatal yang meliputi malnutrisi dan IUGR. Mortalitas dan kurang gizi atau stunting, perlu intervensi bersama, agar tidak terjadi ‘statistical victory or a moral defeat’ (kekalahan moral). Selain itu, Tentang MDGs8, yaitu mengembangkan kemitraan global untuk pembangunan, yang selanjutnya diteruskan menjadi SDGs 17, kita semua para dokter spesialis anak seharusnya menyatu, berperan, mengenal, berbuat benar dan benar berbuat, dalam kebersamaan dengan petugas kesehatan lainnya. Kita diingatkan agar dokter, bidan dan perawat bersatu, karena ‘we can together, we can.’

Kemudian kami mengikuti sesi ‘Concurrent’ 1 dengan tema ‘Neonatal Jaundice’ di Room 118-120. Acara dengan moderator: Dr. William Keenan, menampilkan Prof. Vinod Bhutani dengan judul : ‘New measurements and prediction of neonatal hyperbilirubinemia’ yang menjelaskan adanya ‘Novel measures in product risk of bilirubin neurotoxicity’, khususnya kasus ‘deficiency G6PD’. Outcome yang ditekankan menyangkut kejadian ‘still birth’, tingginya mortality, adanya ‘neurological impairment’, ‘deafness’, dan gangguan bicara. Penyebab tersering adalah karena perbedaan golongan darah Rh dan ABO. ‘Area of inquiry’ bagi kita semua adalah ‘risk confounded by immaturity’, ‘hemolysis’, sepsis and genetik. Pembicara berikutnya adalah Dr. Praveen Kumar dengan judul: ‘Prevention of Kernicterus: A Global Strategy’. Concurrent lain yang berlangsung bersamaan, tidak dapat kami ikuti, yaitu ‘Management of Sexual Abuse Victims’, ‘Pain Management in Children and Adolescents’, ‘How Large Scale Databases Can Help Improve Your Practice’, ‘Early life experiences: ECD and Developmental Origin of Adult Diseases’, ‘Global Opportunity for Technology Enabled Knowledge Translation in Child Health’, ‘Pediatric Care – Evidence Based or Eminence Based’. Setelah makan siang, kami melanjutkan acara dengan belajar perbandingan kepada BC Children Hospital.

20160819_165230

‘Vancouver Lookout Tower’, di puncak Harbour Centre, yang diinspirasi dari ekor pesawat ruang angkasa dalam film Star Trek yang legendaris.

Dr. Sudung

Para peserta dari Jakarta, Indonesia, yaitu Dr. Sudung Pardede, Dr. Edi dan Dr. Hartono Gunardi pada The 28th International Congress of Pediatrics (IPA 2016) di Vancouver Kanada.

Kami keluar dari arena konggres dan berjalan kaki menyusuri Waterfornt road di sepanjang tepi pelabuhan Vancouver yang bersih dan rapi. Sejenak menikmati keindahan ‘Vancouver Lookout Tower’, di puncak Harbour Centre, yang diinspirasi dari ekor pesawat ruang angkasa dalam film Star Trek yang legendaris. Harbour Centre adalah sebuah gedung pencakar langit terkenal di pusat bisnis Downtown Vancouver. The “Lookout Tower” adalah menara yang dibangun di atas gedung, sehingga menjadi salah satu struktur bangunan tertinggi di Vancouver. Dengan arena untuk melihat pemandangan kota dalam 360 derajat, juga berfungsi sebagai objek wisata dengan ‘Top of Vancouver Revolving Restaurant’. Harbour Centre ini dibuka pada tahun 1977. Kami melanjutkan berjalan kaki ke Stasiun SkyTrain, untuk naik Canada Line dari stasiun Waterfront, Vancouver City Center, Yaletown-Roundhouse, menyeberang ke Granville Island, Olympic Village, Broadway City Hall, King Edward, dan turun di Oakridge 41st Avenue untuk menuju BC Children Hospital. Ternyata kami salah, karena googlemaps tidak berfungsi saat offline, dan kami harus kembali ke Stasiun King Edward. Kami harus berjalan kaki sangat jauh dalam terik matahari sore, untuk masuk ke Heather St Entrance Gate. BC Children Hospital ternyata memiliki 4 buah pintu masuk entrance, yaitu Willis, Oak dan East 28th Ave.

20160818_153211

British Columbia Children’s Hospital terletak di 4480 Oak Street Vancouver,

20160818_154115

Sunny Hill Health Centre for Children, di British Columbia Children’s Hospital

British Columbia Children’s Hospital terletak di 4480 Oak Street Vancouver, British Columbia, Canada, adalah fasilitas kesehatan milik ‘Provincial Health Services Authority’. RS ini khusus melayani perawatan kesehatan bagi pasien dari bayi baru lahir sampai usia 16. Ini juga merupakan fasilitas pendidikan dan penelitian untuk kesehatan anak. Rumah sakit ini juga memiliki Sunny Hill Health Centre for Children, yang menyediakan layanan khusus untuk anak dan remaja dengan cacat perkembangan sejak lahir. Pada tahun 2014, konstruksi proyek $ 676.000.000 dalam tiga tahap untuk membangun fasilitas delapan lantai dalam ukuran sekitar 59.400 meter persegi (640.000 kaki persegi). Fasilitas ini akan dirancang untuk LEED (Leadership in Energy and Environmental Design) sehingga bangunan akan menjadi terang bernderang dengan fasilitas modern kamar pasien memiliki akses ke cahaya alami dan kebun. Bangunan baru mencakup unit bedah rawat inap, gawat darurat, pencitraan medis dan ruang tindakan, departemen hematologi onkologi dan unit perawatan intensif anak dan neonatal. Fasilitas ini akan melengkapi yang sudah ada, yaitu berbagai ruang rawat inap, rawat jalan dan perawatan rujukan tersier untuk anak sejak lahir sampai remaja, termasuk klinik, layanan darurat, perawatan kesehatan anak, bedah, perawatan intensif, transplantasi organ, genetika, dan pusat HIV. Setelah lelah keliling RS, kami makan sore menu ‘chicken Caesar Flatbread’ seharga $7,25 di Second Cup Cafe, di sekat UGD BC Children Hospital, kami melanjutkan perjalanan.

Dari halte bis di dekat Oak St Entrance Gate BC Children Hospital, kami naik bus Line 17 milik TransLink ke Downtown, bis listrik tanpa polusi ini lewat pos pemberhentian di West 23 Ave, West King Edward, West 22 Ave, 17 Ave, 12 Ave, 10 Ave, kemudian berbelok ke kanan masuk Broadway St, untuk melewati pos pemberhentian di Laural St, Heather St, dan West Ash. Kemudian berbelok ke kiri memasuki Cambie St, dan sopir beristirahat selama 3 menit di pos pemberhentian 1, sebelum menyeberangi jembatan ‘Granville Island’ yang gagah dan masuk ke wilayah Downtown Vancouver. TransLink adalah badan hukum bertanggung jawab untuk jaringan transportasi regional Metro Vancouver, Kanada, termasuk transportasi umum dan jalan utama dan jembatan. TransLink dibentuk pada tahun 1998 milik Pemerintah propinsi British Columbia untuk menggantikan SM Transit di Kabupaten Daerah Greater Vancouver dan menganggap banyak tanggung jawab transportasi yang sebelumnya dipegang oleh pemerintah provinsi . TransLink bertanggung jawab untuk berbagai moda transportasi di wilayah Metro Vancouver. Bus listrik tanpa polusi udara milik TransLink, beroperasi pada rute utama di kota Vancouver, yang menerima listrik dari jaringan kabel di atas jalan raya (overhead). Pada musim gugur 2006, TransLink menggunakan generasi baru bus listrik, yang menggantikan model lama buatan 1980-an. Bus listrik baru memiliki lantai yang rendah dan dapat diakses sepenuhnya oleh penumpang berkursi roda. TransLink juga mengoperasikan layanan bus larut malam, disebut nightbus, pada 13 rute yang membentang dari pusat kota seluruh kota dan beberapa pinggiran kota. Di dalam bis terdapat ruang untuk dua kursi roda pada setiap bus, dan area kursi roda juga digunakan untuk pejalan kaki dan kereta bayi. Penumpang di kursi roda memiliki prioritas untuk posisi ini, dan pengguna-prioritas yang lebih rendah (seperti orang-orang dengan kereta bayi) diwajibkan untuk mengosongkan ruang yang diperlukan. TransLink menggunakan sistem pengumuman suara di bus untuk membantu penumpang dengan gangguan penglihatan atau tidak terbiasa dengan daerah yang dilalui bis, dan untuk memungkinkan sopir untuk fokus pada mengemudi daripada membuat pengumuman. Pengumuman menggunakan suara yang dihasilkan komputer, untuk mengingatkan agar bus berhenti di halte berikutnya dan pesan lainnya, menggunakan teknologi GPS untuk mengidentifikasi lokasi bus dan halte berikutnya.

20160818_173220

Dr Sun Yat-Sen Classical Chinese Garden. Ini adalah taman bergaya Cina yang pertama dibangun di luar daratan China, dan terletak di Chinatown di Vancouver, British Columbia, Kanada.

20160818_174244

Dr. Sun Yat-Sen pernah tinggal di Vancouver menyiapkan Revolusi Xinhai yang menggulingkan Dinasti Qing pada tahun 1911. Sun Yat Sen kemudian menjadi presiden pertama Republik Cina.

Sesuai dengan tata ruang kota Vancouver, perumahan dan gedung disusun dalam blok kotak-kotak dengan jalan yang lurus, sehingga terkesan rapi dan alamat mudah diingat. Daerah metropolitan Vancouver didiami oleh 2.132.824 ‘Vancouverites’, sebutan untuk penduduk Vancouver, termasuk 583.296 jiwa di kota Vancouver sendiri. Gaya berpakaian ‘Vancouverites’ tidaklah penting. Beragam gaya busana dari yang casual sampai perlente, terlihat di semua arena dan suasana. Gaya itulah yang selalu kami temui, juga di dalam penampilan para penumpang bis. Bis Line 17 yang kami naiki, setelah memasuki Hamilton St berbelok kanan masuk ke Robson, Richard, Seymour, dan kami turun di West Pender, untuk ganti bis Line 22, menuju ke Dr Sun Yat-Sen Classical Chinese Garden. Ini adalah taman bergaya Cina yang pertama dibangun di luar daratan China, dan terletak di Chinatown di Vancouver, British Columbia, Kanada. Taman ini terletak di 578 Carrall Street dan terdiri dari taman umum dapat diakses secara gratis dan museum dengan tiket berbiaya masuk. Tujuan pembangunan taman adalah untuk “mempertahankan dan meningkatkan jembatan pemahaman antara budaya Cina dan Barat, mempromosikan kebudayaan Cina pada umumnya dan menjadi bagian integral dari masyarakat setempat.” Taman ini dibangun pada 1985-1986 dirancang oleh arsitek Joe Wai dan Donald Vaughan, sedangkan taman bagian dalam dirancang oleh Wang Zu-Xin, dan dibuka pada tanggal 24 April 1986, dalam persiapan untuk World Expo 86. Taman Cina gaya klasik ini sesui prinsip filosofis Feng shui dan Taoisme, berjuang untuk mencapai keselarasan dan keseimbangan yang bertentangan. Dalam hal ini misalnya batu terjal disandingkan dengan dedaunan halus. Air juga merupakan elemen penting dari kebun, dan kolam besar menawarkan keheningan, suara, refleksi dari langit, dan membantu untuk menyatukan unsur-unsur lain. Ikan, kura-kura, dan kelelawar, juga patung naga, dan burung phoenix terlihat di seluruh taman. Taman ini dinamai untuk menghormati Dr Sun Yat-Sen, pemimpin nasionalis “bapak Cina modern.” Saat bepergian ke seluruh dunia untuk meningkatkan kesadaran dan mengumpulkan dana untuk gerakan nasionalis Cina, Dr. Sun Yat-Sen pernah tinggal di Vancouver. Pada saat itu, ada bantuan dari nasionalis Cina di British Columbia, yang membantu membiayai Revolusi Xinhai yang menggulingkan Dinasti Qing pada tahun 1911. Sun Yat Sen kemudian menjadi presiden pertama Republik Cina.

20160817_130156

West Building Vancouver Convention Centre’, dekat dengan pelabuhan untuk bersandar kapal pesiar

img-20160817-wa0074.jpg

Dengan naik Bis Line 17 kami menyusuri Georgia St dan Grenville, lalu kami turun di East Pender St di sore yang cerah

Bis Line 17 kami menyusuri Georgia St dan Grenville, lalu kami turun di East Pender St, sesuai petunjuk dari sopir bis yang selalu ramah dan siap membantu penumpang yang bingung. Untuk di Vancouver, janganlah ragu untuk bertanya kepada sopir bis, sebalum kita naik. Kami pindah bis Line 22 tujuan ke Knight, dengan menyusuri Weat Pender St, kami mewati Richards St, Hamilton, Abbot, Carral masuk Chinatown. Kami sempatkan makan malam di New Town Chinese Restaurant di 148 East Panser Street, Vancouver. Makan malam pk. 18 masih sangat terang, karena cahaya matahari baru akan hilang pk. 21. Setelah puas berjalan-jalan di taman Dr Sun Yat-Sen Classical Chinese Garden, kami kembali naik bis Line 22 menyusur West Pender St, lewat Abbott, dan Victoria Square, untuk turun di Seymour St. Kami berganti bis Line 5 sesuai anjuran sopir, untuk melanjutkan jalan pulang ke Robson St, melewati Granville, Howe, dan Homby, kemudian berbelok kiri menyusur Burrard St, menyeberang Dunsmuir, Burrard Station, West Georgia, Albarni, dan di Robson St belok ke kiri. Kami turun dan berjalan kaki ke Barclay Hotel yang beralamat di 1348 Robson St, Vancouver, BC V6E 1C5, Kanada, untuk tidur nyenyak. Perjalanan kami seharian itu, ditanggung oleh ‘Compass Cards’, yang adalah sebuah kartu tarif isi ulang yang dapat digunakan di manapun di Metro Vancouver. Kartu digital ini nyaman, mudah digunakan, dan aman. Terdapat 3 jenis, yaitu Monthly Passes, Day Passes and Stored Value. Seharian itu, kami menggunakan Day Passes seharga $9.

(bersambung)

VANCOUVER  HARI  KEEMPAT

fx.wikan indrarto

Hari Jumat pagi, 19 Agustus 2016 yang cerah, kembali kami berjalan kaki dari Hotel Barclay yang beralamat di 1348 Robson St, Vancouver, BC V6E 1C5, Kanada, menyusuri Bute Street yang menurun tidak setajam Jervis Street, menyeberang Alberni, South Georgia, Melville, Hasting, dan Cordoba untuk mencapai ‘West Building Vancouver Convention Centre’. Kami akan mengikuti The 28th International Congress of Pediatrics (IPA 2016) dan penjelajahan hari keempat.

IMG-20160818-WA0017

Daun mapel sebagai simbol Kanada dilakukan sejak abad ke-18, dan sampai sekarang digambarkan pada bendera nasional Kanada, dengan warna merah dan putih.

20160817_193544.jpg

 ‘Victory Square’, sebuah lapangan pada pertemuan Hastings Street, West Pender Street, Cambie Street, dan Hamilton Street di downtown Vancouver.

Pagi itu kami mengikuti sesi diskusi ‘Managing Influenza in the Paediatric Population – New Interventions for the Prevention of Seasonal Influenza’ di ruang 202-204. Pada sesi tersebut kami diajak melihat tantangan pencegahan influenza pada anak dan mendiskusikan vaksinasi. Berdasarkan data di negara maju, terlihat pentingnya vaksin influenza. Pada saat yang bersamaan diadakan ‘Meet The Expert’ tentang ‘Medical Education: Teaching in the 21st Century’, dengan moderator Dr. Denis Daneman, menampilkan Dr. Jonathan Kronick, dengan topik Pediatrician Training in Canada: Today and Tomorrow dan Dr. Robert Armstrong dengan tema Population Health and Human Development: A Foundation for Health Professional Education. Topik Meet the Expert lain adalah ‘Eating Disorders in Older Children and Adolescents: Evaluation and Management’ dengan moderator Dr. Pierre André Michaud, menampilkan Dr. Danielle Taddeo dan Dr. Pei Yoong Lam. Meet the Expert 8 dengan tema ‘Not Without a Plan: Writing Evidence-Based Self-Management Plans for Children With Asthma’ dengan moderator Dr. Rohit Agrawal, yang menampilkan Dr. Francine M. Ducharme. Meet the Expert 9 dengan judul ‘Child maltreatment: Evaluation of whether a child has been physically abused’ dengan moderator Dr. Sue Bennett, menampilkan pembicara Dr. Robert Block dan acara Meet the Expert 10 dengan tema ‘A Taste of Panama – IPA 2019’, dengan moderator Dr. Jackie Millette, menampilkan pembicara Dr. Mariana Lopez, Dr. Iván Wilson, dan Dr. Luis Vargas.

Kami selanjutnya mengikuti plenary session di Ballroom A dan B dengan tema ‘The Promise of Global Adolescent Health’, dengan pembicara Professor Susan M Sawyer, Chair of Adolescent Health pada the University of Melbourne, Australia Motto terpenting untuk pasien remaja adalah ‘Tell Me, I Forget, Show Me, I Remember, Involme Me, I Understand’. Pembicara lain adalah Dr. George Patton, Professorial Fellow in Adolescent Health Research at the University of Melbourne Australia.  Pembicara ketiga adalah Professor Vikram Patel seorang Clinical Science at the London School of Hygiene & Tropical Medicine (UK). Ketiganya menjelaskan tentang entingnya pengelolaan kesehatan remaja, dan adanya beberapa determinan sosial dan inti pokok dalam penyaminan kesehatan remaja secara universal. Pada sesi Concurrent hari Jumat 19 Agustus 2016, pk. 11-12.30, kami mengikuti Concurrent 15 bertema : ’Challenges in Global Child Health’, dengan moderator Dr. Jie Ding, menampilkan pembicara Dr. Devendra Gupta (Challenges of Global Child Health Surgical Needs), Dr. Keith Martin (Overcoming a Critical Missing Link: building health human resources in low income settings), dan Dr. Nick Brown (MDGs and SDGs: have disadvantaged children in HICs slipped through the net?). Pada Concurrent 16 bertema : Canadian Perspectives on Cerebral Palsy’ dengan moderator Dr. Michael Shevell, menampilkan pembicara Dr. Darcy Fehlings (Interactive Computer Play in Cerebral Palsy – Let’s PLAY), Dr. Steven Miller (Is cerebral palsy a static brain lesion?  New insights from brain imaging) dan Dr. Annette Majnemer (Promoting vitality through participation in leisure for children with cerebral palsy). Concurrent 17 bertema ‘Immunization – Vaccine Hesitancy’, dengan moderator Dr. Isabelle Chevalier, menampilkan Dr. Noni MacDonald (Vaccine Myths and How to Deal With Vaccine Deniers- in Public), dan Dr. Robb Butler (Tackling vaccine hesitancy in the European Region). Pada Concurrent 18 dengan tema ‘Informatics to improve Child Health’ dengan moderator Dr. Kevin Forsyth, menampilkan Dr. Michael Graven (Integrated Patient-Centred Health Information System ), dan Dr. Prakesh Shah (Quality improvement through national neonatal collaborations). Pada Concurrent 19 dengan tema ‘Best Care For The Newborn’, dipimpin oleh moderator Dr. Peter Cooper, menampilkan Dr. Nalini Singhal (When should the umbilical cord be clamped (or stripped)?, dan Dr. Gary Weiner (Aims for achieving safe oxygenation for the premature baby at birth). Setelah selesai makan siang, kami melanjutkan penjelajahan.

20160817_130145

West Building Vancouver Convention Centre’, dekat dengan pelabuhan untuk bersandar kapal pesiar

20160817_183214

Perumahan sederhana masyarakat suburb Vancouver yang tertata rapi

Dari lokasi konggres di ‘West Building Vancouver Convention Centre’, kami berjalan kaki menuju Waterfront Stasion, sebuah tempat persinggungan antar moda transportasi, yaitu kapal pesiar, feri penyeberangan, kereta api antar kota, SkyTrain dan bis kota. Sore itu kami akan mencoba naik feri SeaBus ke North Vancouver. The SeaBus adalah layanan feri penumpang di Metro Vancouver, Kanada, dengan melintasi selat Burrard Inlet, yang menghubungkan Vancouver dan Vancouver Utara. Dimiliki oleh TransLink dan dioperasikan oleh Coast Mountain Bus Company, SeaBus merupakan bagian penting dari sistem transportasi umum yang terintegrasi di kawasan itu. Armada SeaBus saat ini terdiri dari 4 kapal. Feri beroperasi antara pk. 6 pagi sampai 1 dini hari berikutnya. Pada siang hari kerja, dua dari tiga feri dalam pelayanan, dengan dua feri berangkat secara bersamaan dari terminal yang berlawanan dan akan berpapasan pada setengah jalurya. Dengan jarak tempuh 1,75 mil laut atau 3.24 km, penyeberangan memakan waktu 10-12 menit di setiap arah dengan kecepatan jelajah 11,5 knot (21,3 km / jam), dengan 3-5 menit bersandar di dermaga. Pada saat ini, terjadi lebih dari 50 perlintasan dalam sehari. Feri beroperasi dengan empat anggota awak kapal dan seorang insinyur yang tinggal di darat untuk melakukan pemeriksaan mesin secara rutin. Pintu putar di pintu masuk ke ruang tunggu SeaBus digunakan untuk menghitung jumlah penumpang yang akan naik. Ketika jumlah maksimum tercapai, pintu putar akan terkunci dan tidak akan ada penumpang lebih yang diperbolehkan masuk di SeaBus itu.

IMG-20160819-WA0036

Di daratan Vancouver Utara, SeaBus berhenti di Lonsdale Quay, yang terhubung dengan halte bus untuk tujuan North Shore Vancouver.

IMG-20160819-WA0039

Gerbang Lonsdale Quay SeaBus di wilayah North Shore Vancouver.

Kapal feri SeaBus berhenti di daratan Vancouver di Waterfront Station, dekat Vancouver Convention Centre dan terminal kapal pesiar di Canada Place. Jembatan penyeberangan menghubungkan terminal SeaBus ke bangunan stasiun utama, di mana penumpang dapat berpindah moda ke kereta api cepat West Coast Express dan semua kereta api dalam kota SkyTrain (Expo Line, Millennium Line dan Canada Line). Di daratan Vancouver Utara, SeaBus berhenti di Lonsdale Quay, yang terhubung dengan halte bus untuk tujuan North Shore Vancouver. Selain melayani penumpang, Lonsdale Quay telah menjadi daerah tujuan wisata penting, dengan sebuah hotel dan pasar umum. Pada tahun 1989, terminal Vancouver Utara diberi nama ‘Charles A. Spratt SeaBus Terminal’, untuk menghormati Charles Spratt, Project Manager dari proyek SeaBus yang pensiun pada tahun 1988. Setelah kenyang makan di Suki Japanese Restaurant, dengan menu suki special dan spider roll di dekat Lonsdale Quay Market, kami menikmati pemandangan indah lansekap kota Vancouver, dari seberang lautan selat Burrard Inlet, yang sibuk oleh kapal. Di kejauhan nampak Lion Gate Bridge yang gagah dan juga padat lalu lintas, seperti yang pernah kami rasakan hari sebelumnya. Kembali kami pulang naik SeaBus ke Waterfront.

Dari Waterfront Stasion, kami berjalan kaki 4 menit untuk melihat kembali Gastown Steam Clock, sebuah monumen jam uap yang legendaris, yang dirancang oleh Raymond K. Saunders. Setelah membeli cinderamata di toko sekitar situ, kami berjalan kaki ke Cordova Seymour. Penyebutan 2 buah jalan sekaligus seperti ini, lazim di Vancouver untuk menggambarkan titik persimpangan antara Cordova Street dan Seymour Street. Di situ kami naik bus TransLink Line 4 dan turun di Cordova Mein, untuk menuju Vancouver Police Museum. Museum yang sebelumnya dinamakan Vancouver Police Centennial Museum, dirancang untuk memperingati 100 tahun Departemen Kepolisian Vancouver pada tahun 1986. Terletak di 240 Jalan E. Cordova di Vancouver Gastown, museum ini menempati sebuah bangunan yang dulunya digunakan untuk Pemeriksa Pengadilan dan otopsi jenasah sampai 1980 dan laboratorium Analis sampai 1996. Pada tahun 1935, Gedung Pengadilan digunakan sebagai rumah sakit darurat oleh polisi selama Pertempuran Ballantyne Pier. Gedung ini dirancang oleh arsitek Arthur J. Bird, dan sekarang telah ditetapkan sebagai bangunan warisan budaya (a municipally designated heritage building).

Museum ini dijalankan oleh Vancouver Police Historical Society, sebuah organisasi non-profit yang didirikan pada tahun 1983 dengan tugas untuk menumbuhkan minat dalam sejarah Departemen Kepolisian Vancouver. Katalis untuk proyek ini adalah kurator museum pertama, Joe Swan, seorang mantan sersan polisi dan sejarawan amatir. Swan menulis buku departemen resmi sejarah, yang diterbitkan oleh Vancouver Historical Society pada tahun 1986, berjudul, A Century of Service: The Vancouver Police. Di museum tersebut kami menikmati kemaknaan dokumen arsip, foto, publikasi, senjata api dan senjata sitaan lainnya, uang palsu, dan berbagai artefak lain yang sarat makna. Museum ini menawarkan program pendidikan untuk anak-anak dan wisata berjalan dari lingkungan dengan tema, “Dosa Kota.” Museum ini memiliki sebuah toko dan menerbitkan buletin triwulanan. Setelah puas menikmatinya, dari Vancouver Police Museum naik bus TransLink Line 4 di Cordova Mein dan turun di Gransville Dusmuir, untuk berganti SkyTrain Canada Line di Vancouver City Center. Setelah melewati Stasiun Yaletown Roundhouse dan Olympic Village, kami turun di Broadway-City Hall untuk menikmati kegagahan Balaikota Vancouver.

IMG-20160819-WA0032

George Clark Miller menjadi walikota Vancouver pertama yang berkantor di Vancouver City Hall pada 2 Januari 1937.

IMG-20160819-WA0037

Tangga naik ke Vancouver City Hall adalah balai kota Vancouver, yang terletak di 453 West 12th Avenue.

Vancouver City Hall adalah balai kota dan kantor anggota Dewan Kota Vancouver, yang terletak di 453 West 12th Avenue. Bangunan itu dirancang oleh arsitek Fred Townley dan Matheson, serta dibangun oleh Carter, Halls, dan Aldinger. Bangunan ini memiliki menara dua belas lantai dengan jam dinding di bagian atas. Antara 1897 dan 1929, Balai Kota Vancouver terletak di Main Street, sebelah selatan dari Perpustakaan Carnegie. Pada tahun 1929, City Hall pindah ke Gedung Holden yang dibangun 1911, sedangkan bangunan di Main Street dijadikan Perpustakaan Carnegie. Setelah terpilih sebagai walikota tahun 1934, Gerry McGeer menunjuk sebuah komite pembangunan dan Dewan Kota menyetujui pemilihan pada tahun 1935, untuk membuat Vancouver sebagai kota di Kanada pertama yang membangun balai kota di luar pusat kotanya. Pembangunan Balai Kota yang baru dimulai pada 3 Januari 1936 dan batu landasan pertama diletakkan oleh walikota McGeer. Patung besar Capt. George Vancouver setinggi delapan kaki, diukir oleh Charles Marega, dan ditempatkan di bagian depan gedung. Gedung menelan biaya pembangunan $ 1 juta ini, diresmikan pada tanggal 20 Agustus 1936 oleh Walikota, Sir Percy Vincent. Setelah memenangkan pemilihan umum pada tanggal 9 Desember 1936, George Clark Miller menjadi walikota Vancouver pertama yang berkantor di balai kota baru, pada 2 Januari 1937.

IMG-20160819-WA0029

Tangga batu alam menuju Vancouver City Hall

IMG-20160819-WA0038

Gerbang kantor polisi di Vancouver yang sangat sederhana

Yang kami lihat sangat unik, di Vancouver City Hall selain Bendera Nasional Kanada Daun Maple, juga dikibarkan bendera pelangi yang merupakan bendera kebanggaan kaum gay yang merupakan simbol lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT), yang awalnya berasal di Northern California, AS, tetapi sekarang telah digunakan di seluruh dunia. Bendera yang dirancang oleh artis Gilbert Baker dari San Francisco, AS, pada tahun 1978. Sejak tahun 2008, varian warna yang paling umum terdiri dari enam garis-garis, dengan warna merah, oranye, kuning, hijau, biru, dan ungu. Bendera ini pada umumnya diterbangkan secara horizontal, dengan garis merah di atas, agar menyerupai pelangi alami. Warna bendera memiliki arti khusus untuk masing-masing warna, yaitu warna hot pink adalah seksualitas, merah adalah hidup, oranye adalah penyembuhan, kuning adalah sinar matahari, hijau adalah alam, turquoise adalah magic atau seni, indigo atau biru adalah Serenity atau harmoni, dan Violet adalah semangat atau spirit. Setelah puas mengagumi patung besar Capt. George Vancouver setinggi delapan kaki karya Charles Marega dan bendera pelangi yang dirancang oleh artis Gilbert Baker, kami melanjutkan perjalanan ke Downtown.

Dengan Prof. Dr. Cissy Kartasasmita, Msc, PhD, SpA(K), peserta konggres dari UNPAD Bandung

IMG-20160819-WA0035

Cathedral of Our Lady of the Holy Rosary, yang dikenal sebagai Katedral Rosario Suci di Vancouver, Kanada, adalah gereja bergaya Gothic Perancis yang dibangun pada akhir abad ke-19

Dari halte Broadway City Hall, kami naik bis 980 ke downtown dan turun di Granville West Georgia di seberang Vancouver City Center, dan berjalan kaki sejauh 230 m menuju Richard Dunsmuir, untuk menikmati keagungan gereja besar, Katedral Vancouver. Metropolitan Cathedral of Our Lady of the Holy Rosary, yang dikenal sebagai Katedral Rosario Suci, adalah gereja bergaya Gothic Perancis yang dibangun pada akhir abad ke-19 dan berfungsi sebagai katedral agama Katolik Roma bagi Keuskupan Agung Vancouver. Gereja ini terletak di pusat kota pada persimpangan jalan Richards dan Dunsmuir. Pembangunan katedral dimulai pada 1899, pada situs gereja sebelumnya dengan nama yang sama. Dibuka pada Hari Pesta Bunda Maria Diangkat ke Sorga atau Immaculate Conception pada tanggal 8 Desember 1900. Arsitekturnya menyerupai Katedral Chartres abad pertengahan di Perancis dan gereja ini ditingkatkan statusnya menjadi katedral pada tahun 1916. Hal ini tercantum pada Vancouver Heritage Register dan merupakan bangunan yang dilindungi secara hukum, pada struktur aslinya (1887-1899).

20160819_174535

Interior Katedral Rosario Suci di Vancouver, Kanada.

IMG-20160820-WA0149

Pintu depan yang gagah dari Katedral Rosario Suci di Vancouver, Kanada.

Sejarah mencatat, bahwa pada bulan Juni 1885 Pastor Patrick Fay utusan dari Canadian Pacific Railway (CPR) ditunjuk sebagai pastor pertama. Perayaan misa kudus pertama dilakukan pada pesta Bunda Maria Ratu Rosario (Our Lady of Rosary) pada tahun yang sama di lokasi yang tidak diketahui. Pada waktu sebelumnya, misa kudus biasa diadakan di Blair Hall dan Keefer Hall, sehingga gereja baru dan permanen diperlukan untuk mengatasi meningkatnya jumlah umat, yang awalnya hanya terdiri dari 69 keluarga. Landasan gereja baru diletakkan pada 16 Juli 1899 oleh Uskup Agung Adelard Langevin dari Saint Boniface. Pembangunan gereja dipimpin oleh arsitek Thomas Ennor Julian dan HJ Williams dalam waktu hanya 491 hari, konstruksi selesai. Pada saat itu gedung ini dipuji sebagai “bagian terbaik dari arsitektur barat di Toronto dan San Francisco’. Gereja baru Our Lady of Holy Rosary dibuka pada 8 Desember 1900 dan diberkati satu hari kemudian oleh Uskup Agung Alexander Christie dari Portland, Oregon, AS. Para pastor dari ordo OMI (Oblat Maria Imaculata) diizinkan untuk mengelola paroki sejak 1893 – akhirnya meninggalkan tahun 1927 setelah kesulitan dana dan kekurangan tenaga pastor, yang disebabkan oleh menurunnya jumlah anggota baru.

Oleh karena sebuah Gereja Katolik hanya dapat diberkati setelah bebas dari utang, katedral ini tidak digunakan untuk upacara keagamaan besar sampai 3 Oktober 1953, atau 53 tahun setelah pertama kali dibuka. Upacara besar yang pertama dipimpin oleh Uskup Agung Vancouver William M. Duke, dan berikutnya Misa kepausan dipimpin oleh Michael Harrington, Uskup Kamloops dengan didampingi oleh sekitar 35 uskup dari seluruh Kanada dan Amerika Serikat hadir dalam acara tersebut. Katedral ini dibangun dalam gaya Gothic Perancis, dengan salib dalam bentuk salib Latin. Dinding eksterior gereja dibangun dari batu pasir yang berasal dari Gabriola Island, sementara fondasinya terbuat dari batu granit dengan dua menara lonceng yang asimetris. Secara total, dimensi bangunan gereja adalah 49 m panjang, 32 m lebar dan 19 m tinggi, dengan menara setinggi 66 m. Sore itu, kami mengikuti misa harian sore pk. 17.10 dengan banyak umat yang hadir, dan mendoakan nama Mgr. J. Michael Miller, CSB Uskup Agung Vancouve sekarang, dalam Doa Syukur Agung. Kami menerima hosti suci dalam ukuran jumbo dan berwarna putih kecoklatan, berbeda dengan hosti yang biasa kami rasakan di Indonesia.

IMG-20160820-WA0027

Latar belakang kami adalah ‘Vancouver Lookout Tower’, di puncak Harbour Centre.

IMG-20160817-WA0055

‘Vancouver Lookout Tower’, di puncak Harbour Centre, yang diinspirasi dari ekor pesawat ruang angkasa dalam film Star Trek yang legendaris.

Setelah seleai misa harian sore, sejenak kami menikmati keindahan eksterior gereja gaya Gothic Perancis yang dibangun dari batu pasir, yang berasal dari Gabriola Island. Di seberangnya, kami juga dapat kembali mengagumi kegagahan ‘Vancouver Lookout Tower’, di puncak Harbour Centre, yang diinspirasi dari ekor pesawat ruang angkasa dalam film Star Trek yang legendaris. Harbour Centre adalah sebuah gedung pencakar langit terkenal di pusat bisnis Downtown Vancouver. The “Lookout Tower” adalah menara yang dibangun di atas gedung, sehingga menjadi salah satu struktur bangunan tertinggi di Vancouver. Dengan arena untuk melihat pemandangan kota dalam 360 derajat, juga berfungsi sebagai objek wisata dengan ‘Top of Vancouver Revolving Restaurant’. Harbour Centre ini dibuka pada tahun 1977. Selanjutnya kami berjalan kaki ke Pender Grenville, untuk naik bis TransLink Line 5 kembali ke Hotel Barclay yang beralamat di 1348 Robson St, Vancouver, BC V6E 1C5, Kanada, untuk membuat laporan dan tidur pulas.

(bersambung)

VANCOUVER  HARI  KELIMA

fx.wikan indrarto

Hari Sabtu pagi, 20 Agustus 2016 yang cerah, kembali kami berjalan kaki dari Hotel Barclay yang beralamat di 1348 Robson St, Vancouver, BC V6E 1C5, Kanada, menyusuri Bute Street, menyeberang Alberni, South Georgia, Melville, Hasting, dan Cordoba untuk mencapai ‘West Building Vancouver Convention Centre’. Kami akan mengikuti The 28th International Congress of Pediatrics (IPA 2016) dan penjelajahan hari kelima (terakhir).

Setelah mengikuti sesi acara konggres di siang hari yang melelahkan, kami melanjutkan petualangan. Dari lokasi konggres di ‘West Building Vancouver Convention Centre’, kami berjalan kaki menuju Waterfront Stasion, sebuah tempat persinggungan antar moda transportasi, yaitu kapal pesiar, feri penyeberangan, kereta api antar kota, SkyTrain dan bis kota. Sore itu kami naik

Expo Line dari Stasiun Waterfront ke Stasiun King George. Setelah melewati Stasiun Burrard, Granville dan Stadium-Chinatown, kami turun di Main Street Skytrain Station. Setelah berjalan kaki sekitar 2 menit sejauh 160 m, kami terkagum dengan bangunan megah Science World di areal TELUS World of Science, yaitu di 1455 Quebec Street, Vancouver, BC V6A 3Z7, Kanada

IMG-20160820-WA0153

Berbagai tujuan yang terlihat jelas pada penunjuk arah ke Museum Maritime Vancouver, Bard, Arsip Vancouver, dan Vancouver Academy of Music.

IMG-20160820-WA0159

Bangunan megah Science World di areal TELUS World of Science, yaitu di 1455 Quebec Street, Vancouver, BC V6A 3Z7, Kanada

Science World di Telus World of Science, Vancouver adalah pusat kajian ilmu pengetahuan yang diselenggarakan oleh organisasi nirlaba, yang terletak di ujung semenanjung False Creek. Kegiatannya meliputi permanen interaktif berbagai topik sepanjang tahun. Nama Telus World of Science mulai digunakan pada 20 Juli 2005 yang sebelumnya disebut sebagai Expo Centre selama World Expo 86. Ada juga program super Science Club di sekolah dalam kota yang ditunjuk untuk menginspirasi anak cerdas agar tertarik tentang ilmu pengetahuan seumur hidup dan giat belajar tentang teknologi. Bangunan utama merupakan kubah geodesik versi Buckminster Fuller, yang dirancang oleh arsitek Bruno Freschi, kepala proyek World Expo 1986, dengan bangunan konstruksi dimulai pada tahun 1984 dan selesai pada awal 1985. Setelah Expo ditutup kampanye intensif diluncurkan untuk menjadikan bangunan tersebut sebagai landmark Vancouver. Sumbangan dari pemerintah federal, provinsi dan kota, ektor swasta, yayasan, dan individu memberikan kontribusi $ 19 juta untuk mendesain ulang interior. Pada tahun 1988, lebih dari 310.000 pengunjung datang untuk melihat gedung baru. Setahun kemudian, The 400 kursi Omnimax teater di bagian atas kubah dibuka dengan nama Teater Omnimax Alcan. Pada bulan Januari 2005, bangunan itu secara resmi berganti nama menjadi “Telusphere” sebagai bagian dari kesepakatan di mana Telus memberi sumbangan $ 9 juta sebagai imbalan atas hak-hak penamaan bangunan menjadi Telus World of Science. Science World sempat terlihat di tahun 2002 pada film televisi Amerika First Shot. Kami sangat menikmati keceriaan banyak anak sekolah, yang bermain dan terkagum dengan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Kami melanjutkan perjalanan dari Science World di areal TELUS World of Science, dengan berjalan kaki sekitar 3 menit sejauh 160 m menuju ke Main Street Skytrain Station. Dari situ kembali kami naik SkyTrain Expo Line menuju Waterfront selama 4 menit dengan 3 perhentian. Setelah turun di Burrard Station, kami lanjutkan dengan berjalan kaki sekitar 1 menit menuju ke Burrard Stn Bay 1, untuk berganti naik bis kota TransLink Line 22 menuju MacDonald selama 10 menit dengan 7 perhentian, dan turun di WB Cornwall Ave FS Cypress St. Setelah berjalan kaki sekitar 7 menit sejauh 550 m, kami mencapai Museum of Vancouver, di 1100 Chestnut Street, Vancouver, BC V6J 3J9, Kanada. Museum Vancouver (MOV) adalah sebuah museum lokal yang terletak di Vanier Park, Vancouver, dan merupakan museum sipil terbesar di Kanada dan tertua di Vancouver. Museum ini didirikan pada tahun 1894. Di museum ini juga sering diadakan pameran tentang sejarah kota dari awal 1900-an dan dilengkapi dengan hal kontemporer dan inovatif, termasuk fasilitas H. R. MacMillan Space Centre. Museum ini terletak di 1100 Chestnut Street di Vanier Park, di lingkungan Kitsilano dengan taman yang luas bersebelahan dengan Museum Maritime Vancouver, Bard, Arsip Vancouver, dan Vancouver Academy of Music. Museum ini didirikan oleh ‘Art, Historical, and Scientific Association of Vancouver’, yang dibentuk pada tanggal 17 April 1894, dengan tujuan menumbuhkan “rasa keindahan dan perbaikan dalam kehidupan” dan permanen pertama diselenggarakan pada 15 April 1905. Sejak Revisioning, Museum of Vancouver telah memenangkan Canadian Museum Association Award untuk Outstanding Achievement in Management (2010), Canadian Museum Association Award untuk Pendidikan (untuk Bhangra.me, 2012), dan BC Museum Association Award untuk Museum in Motion (2012). Bangunan museum ini dibangun pada tahun 1967 oleh arsitek terkenal Gerard Hamilton. Awalnya, direncanakan hanya rumah museum, tetapi hadiah dari H.R. MacMillan memungkinkan arsitek itu untuk memasukkan planetarium ke dalam desain, yang mencerminkan bentuk topi keranjang anyaman, yang dibuat oleh orang Northwest Coast First Nations. Ada lebih dari 65.000 barang koleksi, termasuk item dari sejarah Vancouver dari tahun 1900 termasuk mumi yang dibeli di Mesir selama Perang Dunia I, taksidermi permainan lokal dan satwa liar, artefak budaya populer jaman Renaissance yaitu karya Michelangelo dan Johan Gregor van der Schardt. Setelah puas menikmati keindahan koleksi dan bangunannya, kami melanjutkan perjalanan.

IMG-20160820-WA0160

Jalan yang lebar dan sepi menuju ke Science World di areal TELUS World of Science, yaitu di 1455 Quebec Street, Vancouver, BC V6A 3Z7, Kanada

IMG-20160820-WA0163

Bangunan utama merupakan kubah geodesik versi Buckminster Fuller, yang dirancang oleh arsitek Bruno Freschi, kepala proyek World Expo 1986 Vancouver

Dari Museum of Vancouver di 1100 Chestnut Street, Vancouver, BC V6J 3J9, Kanada, kami berjalan kaki sekitar 12 menit sejauh 1 km mencapai halte bis kota di EB w 4 Ave FS Burrard St. Kami naik bis kota TransLink Line 77 dari Nanaimo Stn selama 15 menit dengan 8 perhentian, kemudian turun di NB Granville St NS Dunsmuir St. Setelah berjalan kaki Sekitar 3 menit sejauh 260 m, kami mencapai Holy Rosary Cathedral, di 646 Richards Street, Vancouver, BC V6B 3A3, Kanada. Sore itu kami mengikuti misa kudus Sabtu sore, yang dimulai pk. 17.10 dengan buku panduan misa menggunakan ‘New Saint Joseph Sunday Missal’ Prayerbook and Hymnal for 2016. Kami ikut menyanyi menggunakan buku lagu ‘The Adoremus Hymnal’ dari US Conference of Catholic Bishops, Ignatius Press San Fransisco. Misa kudus di ‘Metropolitan Cathedral of Our Lady of the Holy Rosary’, yang dikenal sebagai Katedral Rosario Suci, adalah gereja bergaya Gothic Perancis yang dibangun pada akhir abad ke-19 dan berfungsi sebagai katedral agama Katolik Roma bagi Keuskupan Agung Vancouver. Gereja ini terletak di pusat kota pada persimpangan jalan Richards dan Dunsmuir. Pembangunan katedral dimulai pada 1899, pada situs gereja sebelumnya dengan nama yang sama. Dibuka pada Hari Pesta Bunda Maria Diangkat ke Sorga atau Immaculate Conception pada tanggal 8 Desember 1900. Arsitekturnya menyerupai Katedral Chartres abad pertengahan di Perancis dan gereja ini ditingkatkan statusnya menjadi katedral pada tahun 1916. Hal ini tercantum pada Vancouver Heritage Register dan merupakan bangunan yang dilindungi secara hukum, pada struktur aslinya (1887-1899).

Selesai misa kudus Sabtu sore, kami menikmati pizza yang dijual kedai ‘Freshslice Pizza’ dg semboyan ‘any location, any day and any time’. Setelah kenyang, kami berjalan kaki sekitar 3 menit sejauh 270 m ke halte bis kota di EB w Pender St at Seymour St, untuk naik bis kota TransLink Line 5 menuju Robson. Perjalanan selama 8 menit dengan 5 pemberhentian, akhirnya kami turun di WB Robson St FS Thurlow St, Robson Street. Vancouver, BC, Kanada, untuk segera masuk kamar dan berkemas, karena pagi berikutnya kami akan check out. Perjalanan kami selanjutnya adalah ke kota San Fransisco, sebuah kota ke 4 terbesar di Negara Bagian California Amerika Serikat. Terima kasih Vancouver di Kanada yang telah membuat kami terkagum-kagum dengan keindahan, keteraturan, kedisiplinan dan keramahannya. Sampai ketemu dalam petualangan penuh warna selanjutnya, di San Fransisco.

Sekian

*) Pelancong Jawa berdana cekak

IMG-20160820-WA0166

Bis kota TransLink Line 77 dari Nanaimo Stn ke NB Granville St NS Dunsmuir St. dengan edukasi tentang antibiotika

IMG-20160820-WA0165

Bangunan tambahan bergerigi lengkung yang artistik, sisa World Expo 1986 Vancouver



		
Categories
antibiotika bayi prematur dokter Healthy Life Jalan-jalan

2015 Rio de Janeiro

RIO DE JANEIRO  –  BRASIL

fx. wikan indrarto*)

Perjalanan kami untuk mengikuti the 9th World Congress on Pediatric Infectious Diseases di Rio de Janeiro, Brazil, dimulai Senin, 16 November 2015. Kami menggunakan pesawat Garuda Indonesia GA 207 Boeing 737 versi 300 dari Yogyakarta ke Jakarta, diteruskan dengan GA 838 Boeing 737 versi 800 ke Singapura selama 1,55 jam. Dari Singapura kami melanjutkan perjalanan dengan pesawat British Airaways BA 12 Boeing 747 versi 400 menuju ke London, pusat Kerajaan Inggris selama 12,50 jam. Kami mendarat di terminal 5 Heathrow International Airport London, Selasa, 17 November 2015 pk. 5.10 dini hari waktu setempat.

Changi2

Transit di Changi International Airport Singapore

Heathrow1

Transit di Heathrow International Airport London, Inggris

Setelah puas menikmati skytrain gratis yang modern dan menghantar penumpang di dalam areal internal terminal 5 Heathrow International Airport London, kami menyeberang dari Gate B ke Gate C dan berlanjut dengan pesawat British Airways BA 249 Boeing 777 versi 200 menuju Rio de Janeiro selama 11,20 jam. Kami mendarat dengan mulus di Aeroporto Internacional Tom Jobim (Galeão) Rio de Janeiro dan langsung akrab dengan istilah sanitario masculino (male restroom), feminino dan saida (exit). Dari Terminal 1 kami naik Premium Auto Onibus linha atau jalur 2018 bertarif R$ (reais) 14,65 atau setara Rp. 60 ribu. Kami melewati Linha Vermelha, Rodoviaria, Praca Maua dan turun di Cinelandia di Centro atau Downtown (kota lama). Dengan berjalan kaki sekitar 300 m, kami sampai di Hotel Atlântico Business Rua Senador Dantas, 25 – Centro, Rio de Janeiro – RJ, 20031-202, Brasil.

Bandara Heathrow

Kesibukan pesawat di Heathrow International Airport London, Inggris

Hotel Atlantico Bussines

Suhu 36 Celcius di Hotel Atlântico Business Rua Senador Dantas, 25 – Centro, Rio de Janeiro – RJ, 20031-202, Brasil.

Kota Rio de Janeiro didirikan oleh Portugis pada 1 Maret 1565 dengan nama São Sebastião do Rio de Janeiro, untuk menghormati St. Sebastian, santo pelindung kerajaan Portugis Dinasti Sebastião. Rio de Janeiro (Sungai Januari dalam Bahasa Portugis) atau hanya disebut Rio adalah kota terbesar kedua di Brazil, kota terbesar keenam di Amerika dan kota terbesar kelima puluh dunia, berdasarkan jumlah populasi. Rio de Janeiro adalah ibukota negara bagian Rio de Janeiro, negara yang paling padat penduduknya ketiga di Brasil. Bagian tengah kota telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia Landscapes between the Mountain and the Sea oleh UNESCO pada tanggal 1 Juli 2012 pada kategori Cultural Landscape.

Rio de Janeiro pada tahun 1763 menjadi ibu kota Negara Bagian Brazil, wilayah Kekaisaran Portugis. Pada 1808, ketika keluarga kerajaan Portugis melarikan diri dari invasi Kaisar Perancis Napoleon, oleh Ratu Maria I yang kemudian diteruskan oleh anaknya Prince Regent pada tahun 1815 dan Raja João VI, Brasil dijadikan Kerajaan Raya (United Kingdom) yang terdiri dari Portugal, Brasil, dan Algarve, sebuah daerah di bagian selatan daratan Portugal. Rio juga menjadi ibukota kerajaan Lusitania pluricontinental sampai tahun 1822, saat Perang Kemerdekaan Brasil dimulai. Ini adalah salah satu contoh dalam sejarah bahwa ibukota negara kolonial secara resmi bergeser ke kota di salah satu koloninya, yaitu ibukota kerajaan Portugal pindah ke Rio de Janeiro dan menjadi satu-satunya ibukota sebuah kerajaan Eropa di luar Eropa. Ketika Pangeran Pedro memproklamasikan kemerdekaan Brasil pada tahun 1822, Rio de Janeiro tetap sebagai ibukota kerajaan baru. Rio juga terus sebagai ibukota Brazil setelah 1889, ketika monarki digantikan oleh republik. Ketika Juscelino Kubitschek terpilih sebagai presiden, pada tahun 1955 mulai menggagas pembangunan Brasília sebagai ibukota negara dan pada tanggal 21 April 1960, ibukota Brasil secara resmi dipindahkan dari Rio de Janeiro ke Brasilia.

Peta Brasil

Peta Brasil dan Rio de Janeiro

Venue

Lokasi konggres di Centro Convencoes Estacionamento

Rio de Janeiro adalah salah satu kota yang paling sering dikunjungi di belahan bumi selatan dan dikenal dengan pemandangan alam, perayaan karnaval, samba, bossa nova, pantai balneario, seperti Barra da Tijuca, Copacabana, Ipanema, dan Leblon. Beberapa landmark paling terkenal di samping pantai, adalah patung raksasa Kristus Penebus (Christ the Redeemer) di puncak gunung Corcovado sebagai salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia; Gunung Sugarloaf dengan mobil kabel, Sambodromo, tribun dan jalan permanen yang digunakan selama Karnaval; dan Stadion Maracanã, salah satu stadion sepakbola terbesar di dunia. Rabu, 18 November 2015 pagi, sehari sebelum konggres yang diadakan di Centro Empresarial Rio Cidade Nova, Avenida Paulo de Frontin, 1 – Estácio, Rio de Janeiro – RJ, 22260-010 Brasil dimulai, terlebih dahulu kami akan menjelajah Rio de Janeiro.

Petualangan kami hari Rabu, 19 November 2015 dimulai dari Hotel Atlântico Business Rua Senador Dantas, 25 – Centro, Rio de Janeiro – RJ, 20031-202, Brasil, menggunakan bus. Di Rio de Janeiro, bus bebas polusi adalah alat utama transportasi umum. Ada hampir 440 jalur bus kota yang melayani lebih dari 4 juta penumpang setiap hari. Selain itu, Rio De Janeiro memiliki 2 jalur kereta bawah tanah (Metro Rio) dengan panjang rel 42 kilometer (26 mil) dan 32 stasiun ditambah beberapa jalur kereta api komuter. Dua jalur Metro Rio melayani kota Rio tujuh hari seminggu. Jalur pertama atau L1 bermula dari General Osorio di Ipanema menuju Uruguai di Tijuca. Jalur kedua atau L2 yang lebih modern bermula dari Botafogo dan berakhir di Pavuna. Semua moda transportasi tersebut akan kami coba, mencapai obyek wisata terkenal dan ikon kota Rio de Janeiro, yaitu Patung ‘Christ the Redeemer’ atau Kristus Penebus yang terletak di puncak Gunung Corcovado yang tingginya 710 m, di dalam areal Taman Nasional Hutan Tijuca, yang menghadap ke kota. Patung ini menjadi simbol umat Katolik, dan menjadi simbol kebanggaan kota. Tangan patung ini yang terbuka, dapat dilihat oleh banyak orang sebagai tanda bahwa Yesus pernah dipaku di kayu salib dan juga tanda dari kehangatan penduduk Brasil. Oleh karena lokasi dan ketinggiannya, patung raksasa ini dapat terlihat dari sudut manapun saja di seluruh pelosok Rio.

Olimpiade 2016

Rio De Janeiro siap menjadi tuan rumah Olimpiade 2016

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Bus bebas polusi dengan hampir 440 jalur yang melayani lebih dari 4 juta penumpang setiap hari

Berbekal ‘Mapa Touristico Oficial’ atau peta untuk turis, dari Avenue Rio Branco yang lurus 2 blok di seberang hotel, kami naik bis 422 yang bertuliskan Cidade do Rio de Janeiro bertarif R$ 3,7/orang. Bis ini berangkat dari Centro menuju ke Laranjeiras, agar kami dapat menyaksikan Patung ‘Christ the Redeemer’. Gagasan untuk membangun sebuah patung yang besar di puncak gunung Corcovado telah muncul sejak pertengahan 1850-an, ketika seorang imam Katolik, yaitu Pedro Maria Boss meminta dana dari Putri Isabel untuk membangun sebuah monumen keagamaan yang besar. Putri Isabel tidak menanggapi gagasan itu, yang kemudian sama sekali dilupakan pada 1889, ketika Brasil menjadi sebuah republik, dengan undang-undang yang mewajibkan pemisahan gereja dari negara. Usulan kedua dibuat pada 1921 oleh Keuskupan Agung Rio de Janeiro dengan mengorganisir sebuah acara yang disebut Semana do Monumento (“Minggu Monumen”) untuk menarik para donatur, yang kebanyakan berasal dari umat Katolik Brasil.

 Christ Redempter

Patung ‘Christ the Redeemer’ yang besar di puncak gunung Corcovado

Banyak rancangan yang dilombakan untuk “Patung Kristus”, termasuk representasi salib Kristus, patung Yesus dengan bola dunia di tangannya, dan sebuah pedestal yang melambangkan dunia. Akhirnya patung Kristus Sang Penebus dengan tangan yang terbuka yang dipilih. Patung besar ini sekarang dianggap menjadi salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Modern, bersama dengan Tembok Besar di China, Machu Picchu di Peru, Petra di Yordania, Piramida Chichén Itzá di Meksiko, Colosseum di Italia, dan Taj Mahal di India.

Patung besar itu tingginya mencapai 30 meter, tidak termasuk alasnya yang setinggi 8 meter, dengan rentangan lengan selebar 28 meter. Patung ini menjadi salah satu struktur Art Deco terbesar di dunia. Berat struktur ini diperkirakan sekitar 635 ton. Monumen ini terbuat dari beton bertulang yang di bagian atasnya dilapisi mosaik ribuan soapstone berbentuk segitiga. Patung ini berdiri di atas alas batu persegi yang tingginya sekitar 8 meter. Pada tahun 1882, Kaisar Dom Pedro II meresmikan jalur kereta api sepanjang 3.800 meter ke puncak gunung untuk mengangkut material patung, dan kereta api ini masih tetap beroperasi sampai sekarang, yang merupakan cara yang paling populer untuk mencapai puncak.

Christ Redempter1

Pematung Perancis, Paul Landowski, membuat kepala dan tangan patung ‘Christ the Redeemer’ itu.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Cristo Redentor patung besar rancangan Insinyur Brasil, Heitor da Silva Costa (1873-1947).

Batu pondasi dasar patung itu secara seremonial diletakkan pada 4 April 1922, yaitu hari perayaan 100 tahun kemerdekaan Brazil dari Portugal. Rancangan Insinyur Brasil, Heitor da Silva Costa (1873-1947), dipilih berdasarkan sketsa tentang sosok Kristus memegang salib di tangan kanannya dan dunia di tangan kirinya. Desain ini diubah oleh seniman Brasil, Carlos Oswald, yang menyarankan pose berdiri dengan tangan merentang luas di mana Kristus sendiri menjadi salib, tangan terentang menandakan penebusan dosa umat manusia pada saat penyaliban. Pematung Perancis, Paul Landowski, dicatat namanya karena membuat kepala dan tangan patung itu. Pembangunan dimulai pada tahun 1926, dan perlu waktu 5 tahun untuk menyelesaikannya. Batu yang digunakan dalam konstruksi ini berasal dari Swedia. Bahan-bahan tersebut dibawa ke puncak gunung dengan menggunakan kereta api. Total biaya yang dikeluarkan pada tahun 1931 adalah sekitar US$ 250.000 atau sekarang setara dengan US$ 3,2 juta. Pada tanggal 12 Oktober 1931, patung Kristus Sang Penebus akhirnya diperkenalkan kepada warga Rio dan seluruh dunia.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Trem do Corcovado’ bertarif R$ 56/orang. Trem yang jalurnya diresmikan oleh Kaisar Dom Pedro II pada tahun 1882

Christ Redempter2

Trem yang jalurnya diresmikan oleh Kaisar Dom Pedro II pada tahun 1882 Panorama lansekap yang nampak dari atas, yaitu pantai Copacabana, Arpoador, Jardim Botanico, Cagarras, Ipanema, Leblon, dan Jockey Club.

Kami turun dari bis 422 di Laranjeiras dan berlanjut menuju puncak gunung Corcovado, dengan naik ‘Trem do Corcovado’ bertarif R$ 56/orang. Trem yang jalurnya diresmikan oleh Kaisar Dom Pedro II pada tahun 1882 dan masih berfungsi sampai saat ini, melewati stasiun Alto do Corcovada Cristo Redentor, Paineiras, Desvio Novo, Santa Teresa, Silvestre, Morro do Ingles, dan Cosme Velho sepanjang 3.800 meter ke puncak gunung, selama sekitar 20 menit. Setelah turun dari trem, kami melanjutkan naik lift 3 lantai dan eskalator 2 lantai, baru kami dapat sampai di dasar patung. Sungguh, keindahan dan kemegahan yang luar biasa. Selain mengagumi kemegahan patung, kami juga mengagumi panorama lansekap kota Rio de Janeiro bagian selatan yang nampak dari atas, yaitu pantai Copacabana, Arpoador, Jardim Botanico, Cagarras Island, Ipanema, Rodrigo de Freitas Lagoon, Parque Lage, Alah’s Garden, Leblon, dan Jockey Club.

Setelah puas berfoto, melihat pemandangan, berdoa sebentar di kapel di dalam dasar patung Yesus, kami segera turun kembali ke Laranjeiras dengan menggunkan ‘Trem do Corcovado’, untuk melihat keajaiban berikutnya di Maracana. Dari halte Laranjeiras kami naik bis jalur 422 dengan tarif R$ 3,4 jauh dekat, menuju Stadion Maracana.

Maracana4

Skema kursi penonton di Stadion Maracanã di Rio de Janeiro, Brasil.

stadion

Stadion Maracanã (Portugis: Estádio do Maracanã), secara resmi dinamakan Estádio Jornalista Mário Filho

Stadion Maracanã (Portugis: Estádio do Maracanã), secara resmi dinamakan Estádio Jornalista Mário Filho, yang merupakan sebuah stadion sepak bola di Rio de Janeiro, Brasil. Mário Filho digunakan sebagai nama resmi dari stadion ini, untuk menghormati seorang wartawan pendukung vokal yang kuat untuk pembangunan Maracanã. Stadion ini merupakan bagian dari kompleks yang mencakup arena yang dikenal dengan nama Maracanãzinho, yang berarti “Little Maracanã” dalam bahasa Portugis. Stadion yang dimiliki oleh pemerintah negara bagian Rio de Janeiro, itu dinamai sesuai nama sungai Rio Maracanã, yaitu sungai yang sekarang disalurkan ke sungai Rio de Janeiro dan bermuara di Guanabara Bay. Nama Maracanã berasal dari kata dalam Bahasa Tupi-Guarani untuk menyebut jenis burung beo yang menghuni daerah tersebut.

Setelah memenangkan hak untuk menjadi tuan rumah Piala Dunia FIFA 1950, pemerintah Brasil berusaha untuk membangun stadion baru. Rencana pembangunan Stadion Maracanã dikritik oleh Carlos Lacerda anggota Kongres dan musuh politik walikota Ângelo Mendes de Morais, karena masalah biaya dan lokasi yang dipilih, dengan alasan bahwa stadion baru harus dibangun di Zona Barat yaitu Jacarepaguá. Pada saat itu dengan dukungan seorang wartawan Mário Filho, Mendes de Morais mampu meneruskan proyek ambisius ini. Pemenang kompetisi untuk desain dan konstruksi pada tahun 1947 adalah Ir. Humberto Menescal dan dirancang oleh 7 orang arsitek Brasil, yaitu Michael Feldman, Waldir Ramos, Raphael Galvão, Oscar Valdetaro , Orlando Azevedo, Pedro Paulo Bernardes Bastos, dan Antônio Dias Carneiro. Landasan pertama diletakkan di lokasi stadion pada 2 Agustus 1948 dan pertandingan Piala Dunia yang pertama dijadwalkan akan dimainkan pada 24 Juni 1950. Namun, keterlambatan pekerjaan proyek mendorong FIFA untuk mengirim Dr. Ottorino Barassi, kepala FA Italia, yang telah mengorganisir Piala Dunia 1934, untuk membantu di Rio de Janeiro. Semula tenaga kerja berjumlah 1.500 orang kemudian ditambahkan menjadi 2.000 pekerja pada bulan-bulan terakhir. Meskipun stadion ini mulai digunakan pada tahun 1950, tetapi konstruksi lengkap baru selesai sepenuhnya pada tahun 1965.

Marasacana

Stadion Maracana dirancang oleh 7 orang arsitek Brasil, yang dipimpin oleh Michael Feldman.

Neymar

Kaos tim nasional sepak bola Brasil no 10 milik Neymar


Pertandingan pembukaan di stadion ini berlangsung pada tanggal 16 Juni 1950, saat Rio de Janeiro All-Stars mengalahkan São Paulo All-Stars 3-1 dan Didi menjadi pemain yang mencetak gol pertama di stadion ini. Pada saat itu pembangunan stadion belum selesai sepenuhnya, yaitu tidak memiliki fasilitas toilet dan penampung air tekan yang berdiri, dan masih tampak seperti sebuah situs bangunan dalam pengerjaan. Meskipun demikian, stadion ini mampu menampung 200.000 penonton berdiri, mengalahkan Stadion Hampden Park di
Glasgow, Skotlandia sebagai stadion terbesar di dunia. Meskipun belum selesai dibangun, FIFA mengizinkan pertandingan untuk dimainkan di tempat tersebut, dan pada tanggal 24 Juni 1950, pertandingan Piala Dunia pertama berlangsung, dengan 81.000 penonton yang hadir.

Stadion ini diresmikan pada tahun 1950 untuk digunakan sebagai tuan rumah Piala Dunia FIFA 1950, yang saat itu Brasil dikalahkan 2-1 oleh Uruguay pada pertandingan final. Kekalahan di kandang ini langsung menjadi peristiwa menyedihkan yang penting dalam sejarah Brasil, yang dikenal populer sebagai ‘Maracanazo’. Kehadiran penonton bertiket resmi pada pertandingan final adalah 199.854 orang, tetapi kehadiran sebenarnya diperkirakan sekitar 210.000 orang. Dengan total penonton yang hadir pada pertandingan final Piala Dunia FIFA 1950 adalah 199.854 orang, sehingga stadion ini sempat menjadi yang terbesar di dunia menurut kapasitas penonton. Setelah direnovasi 2010-2013, stadion dibangun kembali dengan kapasitas kursi 78.838 penonton untuk alasan keamanan, sehingga stadion ini menjadi yang terbesar di Brazil dan yang kedua di Amerika Selatan setelah Estadio Monumental di Peru. Stadion ini adalah tempat utama even Pan American Games 2007, untuk turnamen sepak bola, dan upacara pembukaan dan penutupan. The Maracanã dibangun kembali untuk persiapan Piala Konfederasi FIFA 2013, dan Piala Dunia FIFA 2014, di mana pertandingan final akan digelar. Ini juga akan menjadi tempat untuk pembukaan dan penutupan upacara Olimpiade 2016 dan Paralimpiade Musim Panas 2016.

Uruguaiana

Kami turun di halte Uruguaiana untuk makan siang menu mie goreng kambing seharga R$ 14 dan jus mangga R$ 3 untuk kami berdua

Marcado Populer

Suasana Mercado Populer, sebuah pasar rakyat untuk membeli aqua botol besar dan cinderamata.


Setelah puas foto dan mengelilingi Stadion Maracana, kami melanjutkan petualangan dengan naik bis nomor 249 dengan tujuan ke Central bertarif R$ 3,4. Kami turun di halte Uruguaiana untuk makan siang menu mie goreng kambing seharga R$ 14 dan jus mangga R$ 3 untuk kami berdua, ditambah Agua Mineral Lindoya seharga R$ 4 conteudo atau berisi 510 ml. Setelah kenyang, kami masuk Mercado Populer, sebuah pasar rakyat untuk membeli aqua botol besar dan cinderamata. Selanjutnya kami mencoba naik Metro L2 dari stasiun Pavuna bertiket R$ 4,5. Tiket elektronik dapat dibayarkan secara tunai kepada petugas di loket, sehingga kami tidak harus mempunyai kartu prabayar sendiri. Kami naik dari Stasiun Uruguaiana di bawah Mercado Populer, melewati stasiun Carioca, Cinelandia, Gloria, Catete, Largo di Marchado, Flamengo, dan turun di Botafogo. Di Stasiun Botafogo ini kami harus berganti L1 Metro Rio yang lebih modern, dengan jurusan dari Uruguai ke Ipenama melewati stasiun Cardeal Arcoverde, Siquera Campos, Cantagalo dan turun di stasiun terakhir di dekat pantai Ipanema, yaitu General Osoreo.

Mie Brasil

Suasana sejuk di Mercado Populer dengan suhu udara 20 setelah hujan

Belanja sumuk

Suasana gerah jadi buka kaos di Mercado Populer dengan suhu udara 36

Pantai Ipanema (pengucapan Portugis: [ipanẽmɐ]) pada tahun 2012 dipilih CNN sebagai kota pantai terbaik di dunia, terletak di bagian selatan Rio de Janeiro, antara Leblon dan Arpoador. Nama Ipanema menjadi dikenal secara luas karena lagu “The Girl from Ipanema” (“Garota de Ipanema”), yang ditulis oleh Antônio Carlos Jobim dan Vinícius de Moraes. Kata “Ipanema” berasal dari bahasa Tupi yang berarti “danau bau”, dari upaba (danau) dan nem (bau). Sebagian besar lahan Ipanema dahulu milik José Antonio Moreira Filho, seorang tuan tanah atau Baron. Ipanema mendapatkan ketenaran dengan dimulainya aliran musik bossa nova, pada lagu “The Girl from Ipanema.” Lagu ini ditulis pada tahun 1962, dengan musik dan lirik dalam bahasa Portugis oleh Jobim dan de Moraes, serta lirik dalam bahasa Inggris ditulis oleh Norman Gimbel. Popularitasnya dibangkitkan dengan lagu “Boy from Ipanema” oleh Diana Krall yang dirilis pada tahun 2008. Ipanema berdekatan dengan Copacabana dan Leblon Beach, tetapi memiliki karakter yang berbeda dari tetangganya. Ipanema ini relatif mudah dinavigasi karena jalan-jalan dibangun sejajar dalam kotak atau blok. Investasi swasta telah menyebabkan penciptaan restoran, toko, dan kafe kelas dunia, sehingga Ipanema adalah salah satu tempat paling mahal untuk tinggal di Rio. Terbentuk kehidupan pantai dengan banyak peselancar dan penggemar matahari yang berjemur sepanjang hari di pantai. Setiap hari Minggu, jalan paling dekat ke pantai ditutup untuk kendaraan bermotor, agar penduduk setempat dan wisatawan dapat menggunakan kesempatan untuk naik sepeda, sepatu roda, skateboard, ataupun berjalan kaki di sepanjang pantai. Garis pantai Ipanema dimulai dari gunung yang disebut Dois Irmãos (Two Brothers) di ujung barat pantai, dibagi menjadi beberapa segmen dengan tanda batas yang dikenal sebagai postos (menara lifeguard). Bir dijual di mana-mana sepanjang garis pantai, bersama dengan minuman tradisional cachaça. Selalu terlihat, seolah setiap hari adalah hari libur, adanya kerumunan orang yang bermain sepak bola, bola voli, dan footvolley, olahraga lokal yang merupakan kombinasi dari voli dan sepak bola. Semua keindahan tersebut dapat kami lihat saat menumpang bis 318 bertarif R$ 3,4 menyusur pantai Ipanema dan berlanjut ke pantai Copacabana di sebelahnya.

Metro Central

Stasiun Metro Rio yang lebih modern, dengan jurusan dari Uruguai ke Ipenama

Copacabana1

menyusur pantai Ipanema dan berlanjut ke pantai Copacabana

Copacabana (pengucapan Portugis [kɔpakɐbɐnɐ] atau [kɔpɐkabɐnɐ]) adalah bairro atau lingkungan yang terletak di Zona Selatan dari kota Rio de Janeiro, Brasil. Copacabana memiliki garis pantai atau balneario sepanjang 4 km dan merupakan salah satu yang paling terkenal di dunia. Distrik ini awalnya disebut Sacopenapã (diterjemahkan dari bahasa Tupi yang berarti “jalan yang menyerupai burung Socos) sampai pertengahan abad ke-18. Namanya diubah setelah pembangunan sebuah kapel atau gereja kecil yang menyimpan replika dari Santo Virgen de Copacabana, seorang suci dari Bolivia. Garis pantai Copacabana menghadap Samudera Atlantik, membentang dari Princesa Isabel Avenue Posto Dois (lifeguard menara Dua) ​​ke Posto Seis (menara penjaga pantai Enam). Terdapat benteng bersejarah di kedua ujung pantai Copacabana, yaitu Fort Copacabana yang dibangun pada tahun 1914 di ujung selatan atau Posto Seis dan Fort de Caxias Duque yang dibangun pada tahun 1779 di ujung utara. Pantai Copacabana rutin menjadi tuan rumah bagi jutaan orang yang berpesta dan bersuka ria selama perayaan malam tahun baru tahunan, dengan pesta kembang api warna-warni sepanjang malam. Copacabana promenade adalah trotoar lebar sepanjang 4 kilometer, yang bermotif khas, perpaduan garis lengkung warna hitam dan krem atau putih yang membentuk gelombang geometris. Copacabana promenade dirancang oleh arsitek Roberto Burle Marx pada tahun 1930. Ketika Rio menjadi ibukota Brasil, Copacabana dianggap sebagai salah satu lingkungan terbaik di Brasil.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Copacabana promenade adalah trotoar lebar yang bermotif khas, berbentuk gelombang geometris, dirancang oleh arsitek Roberto Burle Marx pada tahun 1930.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Bagungan peninggalan kolonial Portugal yang artistik dan banyak dijumpai di sekitar garis pantai Rio de Janeiro.

Menurut sensus IBGE, 160.000 orang tinggal di Copacabana dan 44.000 atau 27,5% dari mereka adalah warga berusia 60 tahun atau lebih tua. Mereka dan para wisatawan yang datang dilayani oleh lebih dari 40 rute bus yang berbeda, terdapat 3 stasiun Metro Rio atau kereta bawah tanah, yaitu Cantagalo, Siqueira Campos dan Cardeal Arcoverde. Terdapat 3 jalan arteri utama yang sejajar satu sama lain di seluruh wilayah, yaitu Avenida Atlântica (Atlantic Avenue), Nossa Senhora de Copacabana Avenue, dan Barata Ribeiro atau Raul Pompeia Street, setelah Terowongan Sá Freire Alvim dibangun. Warga dan para wisatawan yang datang, telah mencatatkan kegembiraan dan kebersamaan yang luar biasa. Misalnya Pada tanggal 31 Desember 1994, saat perayaan Tahun Baru menampilkan konser Rod Stewart dengan penonton mencapai 3,5 juta dan menjadi konser musik dengan kerumunan terbesar yang pernah ada. Pada tanggal 21 Maret 2005, konser Lenny Kravitz di sana dihadiri 300.000 orang, dan 18 Februari 2006, The Rolling Stones menarik lebih dari 1,5 juta orang penonton ke pantai Copacabana. Pada tanggal 7 Juli 2007, konser Brasil Live Earth menghadirkan 400.000 orang. Pada tanggal 28 Juli 2013, pantai menjadi tuan rumah acara final World Youth Day 2013, yang menghadirkan sekitar 3 juta orang, termasuk 3 orang presiden yang bergabung saat Paus Franciscus merayakan misa suci, sehingga merupakan salah satu pertemuan keagamaan Katolik yang terbesar dalam sejarah.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Ornamen Our Lady of Navegantes di dalam Igreja de Santa Luzia

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Igreja de Santa Luzia diresmikan pada Desember 1519 dekat Avenida President Antonio Carlos

Setelah puas menikmati kedua pantai di Rio yang legendaris dan selalu penuh wisatawan sepanjang masa itu, kami melanjutkan perjalanan pulang ke Centro dengan naik bis 245. Sayang sekali, kepulangan kami bersamaan dengan puncak kepadatan lalu lintas pulang kerja, sehingga kami turun di jalan saat bis berhenti total tidak mampu menembus kemacetan kota. Kami turun di seberang Igreja de Santa Luzia dekat Avenida President Antonio Carlos. Gereja Santa Luzia terletak di pusat kota Rio de Janeiro, yang dibangun awak kapal Magellan, saat melewati Guanabara Bay pada bulan Desember 1519. Kapel atau gereja kecil itu dibangun di pinggir laut, untuk menyimpan gambar Our Lady of Navegantes. Namun demikian, versi lain menceritakan bahwa kapel ini dibangun oleh para rohaniwan Fransiskan pada saat kedatangan mereka pada tahun 1592 dan diperluas pada 1752. Raja João VI dari Portugal memerintahkan untuk membuka jalan Santa Luzia pada tahun 1817, agar dapat dilewati kereta kerajaan saat menuju ke gereja, bersama cucu kesayangannya Pangeran Sebastian. Hiasan dinding gereja dibuat oleh seniman Thomas Ender. Setelah berdoa dan mengagumi arsitektur gereja tersebut, selanjutnya kami pulang berjalan kaki melewati 2 blok, termasuk bangunan megah Theatro Municipal di Cinelandia, yang bersebelahan dengan Museu Nacional de Relas Artes dan Biblioteca Nacional, untuk kembali ke hotel. Malam itu rasanya kami sangat puas sekali, dengan berbagai pengalaman jasmani dan rohani yang sangat mengesankan.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Theatro Municipal di Cinelandia, bersebelahan dengan Museu Nacional de Relas Artes dan Biblioteca Nacional

Peserta Indonesia

Bersama dengan beberapa dokter dari Jakarta (Dr. Darmawan, Dr. Tjatur dan Dr. Hingki) di depan banner selamat datang

Kamis, 19 November 2015 kami menuju Sul America, Centro de Convencoes Avenida Paulo de Frontin, 1 – Cidade Nova, Estácio, Rio de Janeiro – RJ, 22260-010, Brasil, untuk mengikuti the 9th World Congress on Pediatric Infectious Disease 2015. Perjalanan dimulai dari Hotel Atlântico Business Rua Senador Dantas, 25 – Centro, Rio de Janeiro – RJ, 20031-202, Brasil dengan berjalan kaki 2 blok menuju Stasiun Cinelandia untuk menggunakan Metro Rio L1, yang berangkat dari Stasiun Botafogo menuju Uruguai. Dengan tiket seharga R$ 3,5 yang dibeli tunai di loket, kami melewati Stasiun Carioca, Uruguaiana, Presidente Vargas, Central, Praca Onze dan turun di Estacio. Dari Stasiun Estacio, kami berjalan kaki sekitar 300 m menuju conggres venue. Setelah bertemu, berkenalan, dan berfoto bersama dengan beberapa dokter dari Jakarta (Dr. Darmawan, Dr. Tjatur dan Dr. Hingki) di depan banner selamat datang, kami segera melanjutkan proses registrasi peserta.

Kami segera berpencar di venue yang memiliki 5 hall di lantai 2 untuk mengikuti sesi ‘Meet the Professor’ oleh Prof. Berezin (Brazil) dan Prof. Saha (Bangladesh) dengan topik: Infection Control In Low-Midle Income Countries. Setelah acara pembukaan di Hall utama yang berlangsung hanya sekitar 10 menit, kami lanjut dengan mengikuti simposium dengan beberapa topik, yaitu ‘Inflamation And Immune Subversion In Pneumonia, What Should Clinicians Know’ oleh Dr. Av Gay (Canada), diteruskan dengan ‘Can Etiological Diagnosis Of Pneumonia Be Improved’ oleh Dr. Scott (Inggris) dan ‘Management Of Pneumonia In The Era Of Bacterial’ oleh Dr. Saez Llorens (Panama). Dengan diselingi coffee break sebentar, terus dilanjutkan dengan simposium lagi bertopik ‘Emerging Issues In Staphylococcal Infection: Colonization, Pathogen And Host Respons’ oleh Dr. Creech (AS), ‘The Impprtance Of Global Strain Epidemiology In Clinical Manifestations And Vaccine Development’ oleh Dr. Smeesters (Belgia), ‘Update Management And Treatment Staphyloccocal Disease’ oleh Dr. Curtis (Australia), dan ‘Infection In Infancy In Resource Poor Setting’ oleh Dr. Seale (Inggris).

Peserta

the 9th World Congress on Pediatric Infectious Disease 2015 di Sul America, Centro de Convencoes Avenida Paulo de Frontin, 1 – Cidade Nova, Estácio, Rio de Janeiro – RJ, 22260-010, Brasil

Gerbang

Acara dilanjutkan dengan paralel symposium di 3 hall berbeda dan kami mengikuti simposium bertopik ‘Immunization In Special Host’. Berbagai sesi diterjemahkan ke dalam Bahasa Portugis dan Spanyol, dengan alat bantu dengar untuk sebagian besar peserta dari Amerika Latin. Berbeda dengan di Indonesia, ternyata topik tentang imunisasi bukan milik Sub Bagian Pediatri Sosial dan Tumbuh Kembang, TB dan pneumonia bukan dikelola Sub Bagian Respirologi, Penyakit Kawasaki bukan ditangani Sub Bagian Kardiologi dan sepsis neonatal bukan dibahas di Sub Bagian Perinatologi, tetapi semuanya dibahas di dalam perspektif Infeksi Pediatri.

Menjelang sore, kami memutuskan keluar areal konggres untuk naik Metro Rio L1 dari Uruguai menuju Botafogo, di Stasiun Estacio. Setelah melewati Praca Onze, kami turun Central. Stasiun besar ini menghubungkan Metro, bis dan kereta api di Central do Brasil (pengucapan Portugis : sẽtɾaw du bɾaziw) yang merupakan stasiun kereta api paling penting di kota Rio de Janeiro. Central do Brasil tersambung dengan jalur kereta api ke São Paulo dan Minas Gerais. Stasiun ini terletak di pusat kota Rio de Janeiro, sepanjang Avenida Presidente Vargas dan di seberang taman Campo de Santana.

Central do Brasil

Central do Brasil (pengucapan Portugis : sẽtɾaw du bɾaziw) merupakan stasiun kereta api paling penting di kota Rio de Janeiro

Central do Brasil1

Central do Brasil tersambung dengan jalur kereta api ke São Paulo dan Minas Gerais, terletak di sepanjang Avenida Presidente Vargas

Setelah puas melihat kemegahan stasiun besar ini, kami melanjutkan perjalanan dengan Metro Rio L1 menuju stasiun Uruguaiana untuk makan sore. Hari sebelumnya kami sempat makan siang menu mie goreng R$ 14 dan jus mangga R$ 3, sehingga di tempat yang sama hari itu kami mencoba menu lain, berupa nasi dan sayur yang sudah 3 hari lamanya tidak pernah kami rasakan. Setelah puas makan dengan versi pembayaran berupa ditimbang dengan berat bahan makananan yang diambil pembeli sendiri sebagai patokan harga, kami lanjutkan masuk Mercado Populer, sebuah pasar tradisional di atas stasiun Metro. Setelah kenyang dan mendapat beberapa jenis cinderamata khas Rio de Janeiro, kami segera naik Metro Rio L1 lagi menuju stasiun Cinelandia, melewati Carioca. Perjalanan kami teruskan ke katedral. Gereja Katolik yang besar atau katedral ini diresmikan pada tahun 1976, dan dinamakan Katedral Sao Sebastiao do Rio de Janeiro atau Catedral Metropolitana, karena terletak di pusat kota. Pembangunan gedung katedral berbentuk tumpeng ini dipimpin oleh arsitek modernis Edgar Oliveira da Fonseca dan dikoordinasikan oleh Monsignor Ivo Antônio Calliari, Uskup di Keuskupan Agung Rio de Janeiro. Dengan kapasitas untuk 20.000 kursi umat yang disusun berputar, gedung gereja ini memiliki diameter di dasar 106 meter dengan tinggi 96 meter dan strukturnya berbentuk kerucut. Pintu utama terdiri dari 48 plak perunggu dengan relief yang berkaitan dengan iman Katolik. Jendela kaca berpatri mendominasi interior sepanjang 60 meter membelah dinding gereja dari dasar sampai ke puncak, sehingga memberikan pencahayaan alam yang indah untuk semua tempat di dalam gereja. Di ruang bawah tanah, terdapat Museum Seni Suci yang memiliki koleksi patung, mural, karya seni, dan buku catatan yang digunakan untuk membaptis para pangeran dari keluarga kerajaan Brasil. Juga terdapat patung Bunda Rosario, tahta Raja Pedro II dan Golden Rose yang diberikan kepada Putri Elizabeth oleh Paus Leo XIII, sebagai penghargaan atas Undang-undang Penghapusan Perbudakan di Brasil. Setelah berdoa sebentar dan mengagumi pencahayaan di dalam gereja karena kaca berpatri, kami segera melanjutkan perjalanan ke Lapa.

Katedral1

Katedral Sao Sebastiao do Rio de Janeiro atau Catedral Metropolitana, berbentuk tumpeng karya arsitek modernis Edgar Oliveira da Fonseca

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Jendela kaca berpatri sepanjang 60 meter membelah dinding gereja, memberikan pencahayaan alam yang indah di dalam gereja.

Lapa adalah lingkungan di pusat kota Rio de Janeiro Rio, bersebelahan dengan katedral, dan terkenal karena monumen serta kehidupan malamnya. Lingkungan tersebut adalah rumah bagi Arcos da Lapa, saluran air yang mengesankan yang dibangun pada pertengahan abad ke-18 oleh penguasa kolonial Portugis. Daya tarik lain adalah Passeio Publico, taman publik pertama yang dibangun pada tahun 1780-an. Sejak awal 1950-an, Lapa telah dikenal karena kehidupan budaya dengan banyak restoran dan bar, seperti Asa Branca bar, Fundição Progresso, dan Sala Cecília Meirelles, dimana seniman dan intelektual Brasil bertemu. Aqueduct dan The Carioca Aqueduct yang juga dikenal sebagai Arcos da Lapa, adalah sebuah pemukiman yang dibangun tahun 1792. Lingkungan Lapa dikenal sebagai tempat lahir bohemian Rio, juga terkenal dengan arsitektur Arcos da Lapa, sebuah saluran air pada zaman kolonial dan sekarang berfungsi sebagai kabel sinyal untuk kereta gantung yang memanjat bukit Santa Teresa. The Carioca Aqueduct atau saluran air itu dianggap sebagai karya arsitektur penting jaman Old Rio dan salah satu simbol utama kota. Saluran air yang mengesankan ini berupa bangunan bergaya Romawi selebar 17,6 meter, panjang 270 meter dan memiliki 42 lengkungan. The Carioca Aqueduct yang mulai dibangun pada 1723, dimaksudkan untuk mengalirkan air dari ketinggian sungai Carioca Morro do Desterro di bukit Santa Teresa menuju daerah Morro de Santo Antônio. Setelah berfoto dan mengagumi berulang saluran air jaman kolonial tersebut, kami segera berjalan kaki kembali ke hotel yang hanya berjarak 3 blok dari Lapa, untuk beristirahat.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Passeio Publico, taman publik pertama yang dibangun pada tahun 1780-an, di dekat Arcos da Lapa, sebuah saluran air pada zaman kolonial Portugis.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

The Carioca Aqueduct yang mulai dibangun pada 1723, untuk mengalirkan air dari ketinggian sungai Carioca menuju daerah de Santo Antônio.

Menurut Sensus IBGE 2010, terdapat 5.940.224 orang yang tinggal di kota Rio de Janeiro terdiri dari 51,2% orang kulit putih, 36,5% orang Pardo (multiras), 11,5% orang kulit hitam, 0,7% orang Asia Timur dan 0,1% orang Indian. Rio de Janeiro adalah kota terpadat ke-2 di Brazil, setelah São Paulo. Imigran Portugis di kota Rio de Janeiro adalah yang terbesar, sehingga menjadikannya “kota Portugis” di luar daratan Portugal. Orang keturunan Portugis mendominasi di sebagian besar penduduk Brazil. Bahasa Portugis adalah bahasa resmi dan nasional, sehingga merupakan bahasa utama yang diajarkan di sekolah. Masyarakat kulit hitam berasal dari warga yang nenek moyangnya adalah budak belian dari Angola, Mozambik, dan Afrika Barat dari akhir abad 19 sampai awal abad ke-20. Masyarakat seperti itulah yang kami jumpai dalam perjalanan kami pada hari ke 4 di Rio de Janeiro, Jumat, 21 November 2015 menuju tempat konggres di Sul America, Centro de Convencoes Avenida Paulo de Frontin, 1 – Cidade Nova, Estácio, Rio de Janeiro – RJ, 22260-010, Brasil, untuk mengikuti the 9th World Congress on Pediatric Infectious Disease 2015.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Arsitektur bangunan kolonial Portugis masih banyak dijumpai dalam keadaan utuh dan berfungsi baik

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Rio de Janeiro adalah pusat budaya utama di Brasil, yang kental dipengaruhi budaya Portugis dengan campuran Afrika.

Rio de Janeiro adalah pusat budaya utama di Brasil, yang kental dipengaruhi budaya Portugis dengan campuran Afrika. Cara berpakaian sangat lugas, banyak perempuan hanya bercelana pendek, ‘tanktop’, ‘you can see’, sepatu berhak tinggi dan pria berkaos oblong ke manapun mereka pergi. Bahkan peserta konggrespun banyak yang berpakaian seperti itu, sehingga sangat berbeda dengan para peserta dari luar Brasil yang necis, perlente dan rapi. Pagi itu kami mengikuti acara Meet the Professor : Non-Vaccine Serotype Disease, Does It Have A Real Impact bersama Prof. Dagan (Israel) dan Prof. Pirez (Uruguay). Selanjutnya simposium tentang infeksi virus Zika (Dr. Zafadi, Brazil), Dengue (Dr. Siqueira, Brazil), Chikungunya (Dr. Capeding, Filipina) dan perkembangan vaksin Dengue (Dr. Lanata, Peru). Penjelasan dari Dr. Safadi (Brazil) adalah bahwa infeksi Zika virus (flavivirus) yang berasal dari Polinesia di Pasific selatan (Cook, Caledonia, Marshal & French Reunion), sudah menyebar ke seluruh penjuru Brasil dengan keluhan utama gatal, rash dan keluhan mirip infeksi Dengue atau Chikungunya. Infeksi Virus Zika dapat menyebabkan GBS (Guillain–Barré Syndrome) atau kelumpuhan pada anak dan mikrosefalus atau kelainan neurologis lainnya pada bayi baru lahir, bila infeksi virus Zika terjadi pada ibu hamil. Sementara itu, Dr.  Maria Capeding (Filipina) menjelaskan tentang infeksi virus chikungunya yang tidak mematikan tetapi dapat melumpuhkan persendian. Virus ini berasal dari Tanzania, Afrika tenggara, lalu menyebar secara global dengan komplikasi terbaru yang dilaporkan adalah terjadinya uveitis dan retinitis pada mata. Infeksi Chikungunya (dominasi poliarthralgia) secara klinis sangat mirip dengan Dengue (dominasi gangguan hematologi), sehingga semua pasien harus dikelola sebagai Dengue, sampai saat Dengue dapat disingkirkan, karena sampai saat ini tidak ada laporan tentang koinfeksi keduanya. Rekomendasi baru adalah untuk menggunakan NSAID, kortikosteroid dan fisioterapi pada kasus chikungunya dengan athralgia hebat.

Topik simposium selanjutnya tentang infeksi neonatal dipimpin oleh Dr. Bravo (Filipina), membahas tentang SPRING (Strengthening Publication and Reporting Infection in Newborn Globally) Guidance For Studies And Publication oleh Dr. Fitchett (Inggris), Brain Oxygenation And Outcome Of Sepsis oleh Dr. Rallis (Yunani), TNF on Perinatal Brain Injury oleh Dr. Ferreira (Inggris), Prevention Guideline In Maternity oleh Dr. Freitas (Brasil). Intinya adalah adanya kaskade inflamasi pada sepsis dapat menyebabkan gangguan oksigenasi di otak, yang dapat dinilai dengan spectroskopi dan akan terlihat mulai pada hari ke 3 sepsis, terutama yang disebabkan karena bakteri staphilokokus. Bayley III Infant Todler score dapat digunakan untuk menilai ‘outcome’ sistem saraf pusat pada anak, yang berkorelasi linier dengan derajad deoksigenasi saat masih neonatus. Hal ini juga terkait dengan mekanisme hipoksia pada sepsis, karena terjadi kematian atau kerusakan sel otak dan akan berkembang menjadi CP (cerebral palsy). Peran penting imunitas perifier (peripheral immune system) dalam sepsis, mendasari rekomendasi pemeriksaan swab vaginal dan rectal semua ibu yang berada dalam ancaman persalinan prematur, untuk mendeteksi bakteri streptokokus dan E coli. Pemeriksaan yang dilakukan pada usia kehamilan sebelum 37 minggu dan ketuban utuh ini, dilanjutkan pemberian profilaksis antibiotika ampisilin dalam periode persalinan, untuk mencegah terjadinya sepsis neonatal onset cepat.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Gereja Candelária rancangan Francisco João Roscio diresmikan tahun 1811 di hadapan Raja John VI dari Portugal

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Sisi belakang Igreja de Nossa Senhora da Candelária, yang dilengkapi dengan Pius X Square yang luas.

Setelah acara coffee break sore, kami meninggalkan lokasi untuk menuju Urugauiana. Kami terkaget-kaget saat keluar dari stasiun Metro Rio bawah tanah, sebab hampir semua toko dan kios di Marcado Populer Urugauiana tutup. Ternyata hari itu adalah ‘Black Awareness Day’ atau ‘Dia da Consciência Negra’ (Portuguese) atau Hari Kesadaran tentang kulit Hitam yang dirayakan setiap tanggal 20 November. Hari yang dirayakan setiap tahun tersebut menjadi hari libur nasional di Brazil. Hari tersebut untuk merenungkan ketidakadilan perbudakan terhadap orang kulit hitam dan untuk merayakan kontribusi warga Brasil keturunan Afrika, terhadap kemajuan bangsa. Hari tersebut ditentukan berdasarkan ulang tahun kematian Zumbi dos Palmares (1655-1695), pemimpin terakhir kelompok Quilombo dos Palmares, dengan fokus acara ini adalah untuk menghapus persepsi inferioritas keturunan Afrika dalam masyarakat. Karena rumah makan yang menyediakan nasi juga tutup, akhirnya kami makan sore di McD berupa kentang goreng. Selanjutnya kami berjalan kaki menuju Candelaria. Igreja de Nossa Senhora da Candelária adalah sebuah gereja Katolik Roma yang dilengkapi dengan Pius X Square. Gereja Candelaria (Portugis: Igreja da Candelaria, diucapkan: [igɾeʒɐ ðɐ kɐdelaɾjɐ]) dibangun dan dihiasi selama periode yang panjang, dari 1775 sampai akhir abad ke-19. Pada awal abad ke-17 kapal Candelaria hampir tenggelam saat badai di laut. Setelah tiba di Rio de Janeiro, sekelompok orang Spanyol membangun sebuah kapel kecil, sesuai dengan sumpah mereka selama menghadapi badai. Kapel kecil ini, didedikasikan untuk Our Lady of Candelaria, dibangun sekitar 1609. Pada 1775 kapel ini diperbaiki oleh insinyur militer Portugis, Francisco João Roscio, dan diresmikan pada tahun 1811 di hadapan Raja John VI dari Portugal yang pada saat itu berada di Rio. Kubah gereja dan delapan patung dari batu Lioz putih dibuat di Lisabon dan dibawa ke Brasil dengan kapal. Setelah selesai, kubah dari Candelaria waktu itu adalah struktur bangunan tertinggi di kota Rio. Pada 1878 interior gereja Candelaria mulai didesain ulang, dalam gaya Neo-Renaissance. Dinding dan kolom ditutupi dengan marmer Italia berbagai warna, dan dilengkapi berbagai patung. Pelukis Brasil João Zeferino da Costa ditugaskan untuk melukis bagian tengah dan bagian dalam kubah. Di langit-langit lorong utama, Zeferino da Costa dan asistennya membuat lukisan yang menceritakan sejarah gereja. Altar utama dibuat oleh arsitek Brasil Archimedes Memória, berbagai kaca jendela dan pintu perunggu buatan Jerman, dan di pintu masuk utama dilengkapi patung oleh pematung Portugis António Teixeira Lopes; dan patung perunggu monumental di mimbar dalam gaya Art Nouveau, dikerjakan oleh pematung Portugis Rodolfo Pinto Couto pada 1931.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Gereja Candelaria (Portugis: Igreja da Candelaria) dibangun dan dihiasi selama periode panjang, dari 1775 sampai akhir abad ke-19.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

di pintu masuk utama Gereja Candelaria dilengkapi patung oleh pematung Portugis António Teixeira Lopes

Sayang sekali, saat ini gereja tidak digunakan lagi dan bahkan berubah fungsi menjadi rumah singgah di malam hari untuk ratusan orang tunawisma, para pedagang obat ilegal dan bahkan prostitusi. Petugas gereja secara rutin menyediakan makanan, tempat tinggal, pendidikan dan sarana agama untuk banyak anak tunawisma ini. Petugas polisi berjaga secara rutin pada lingkungan gereja ini, karena sejak awal 1990-an terjadi tingkat kejahatan yang tinggi dan beberapa tunawisma terlibat dalam kegiatan kriminal seperti pencopetan dan pencurian. Pada 12 Juni 1993 sebanyak 8 anak jalanan, yaitu Paulo Roberto de Oliveira,  Anderson Oliveira de Pereira, Marcelo Candido de Jesus, Valdevino Miguel de Almeida, Gambazinho, Leandro Santos da Conceição,  Paulo José da Silva, dan Marcos Antônio Alves da Silva tewas, ketika polisi menembaki sekelompok anak jalanan yang tidur di samping Gereja Candelaria. Tiga polisi militer dipidanakan dalam kasus pembunuhan ini, tetapi hanya satu yang akhirnya dihukum. Salah satu tokoh korban lainnya adalah Sandro Rosa do Nascimento yang menjadi terkenal karena melakukan pembajakan bus kota dan berhadapan dengan polisi Rio. Selama konfrontasi, Sandro berteriak protes di depan kamera televisi tentang ketidakadilan sosial dalam masyarakat Brasil, sambil menempelkan senjata tajamnya ke kepala penumpang bis sebagai sandera.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Centro Cultural Banco do Brazil, sebuah museum yang penuh pengunjung

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Patung gagah perkasa menunggang kuda, Manuel Luis Osorio, di Praca XV de Novembro

Ia berpendapat bahwa pemerintah Brasil mengabaikan warga miskin dan tunawisma. Situasi berlangsung selama beberapa jam dan akhirnya polisi menangkap Sandro dengan beberapa sandera terluka tembak. Banyak warga sipil marah bereaksi dengan memukul dan melempar kotoran manusia ke wajah Sandro, yang akhirnya meninggal karena sesak napas dalam kendaraan polisi dalam perjalanan ke kantor polisi. Meskipun petugas polisi dituduh membunuhnya, tetapi akhirnya semua polisi ditemukan tidak bersalah. Kejadian ini mencerminkan perselisihan antara tunawisma dan polisi, bahkan memicu diskusi tentang hubungan antara tunawisma dan pemerintah di negara berkembang di seluruh dunia. Kejadian ini dapat dilihat dalam film dokumenter berjudul ‘Bus 174’ dan juga disebutkan dalam lagu ‘The Candelaria Massacre’ (Portugis: Slaughter Candelaria [ʃɐsĩnɐ ðɐ kɐdelaɾjɐ]) oleh The Core band metal Brasil.

Setelah mengagumi keindahan bangunan gereja Candelaria dan merenungkan pembantaian yang dulu terjadi di situ, kami segera bergegas ke Praca XV de Novembro, melewati Centro Cultural Banco do Brazil, sebuah museum yang penuh pengunjung karena hari libur nasional. Di lapangan Praca XV de Novembro kami tertegun dengan patung sosok gagah perkasa menunggang kuda, yaitu Manuel Luis Osorio yang lahir 10 Mei 1808 di Arroio Conceição do Rio Grande do Sul, dan meninggal 4 Oktober 1879 (71 tahun) adalah pahlawan Brasil dalam Perang Paraguay. Osorio memodernisasi dan memprofesionalkan kekuatan militer Brasil, dan akhirnya diangkat sebagai pelindung korps kavaleri Tentara Brasil. Patungnya yang gagah di lapangan Praca XV de Novembro dan nama Osorio yang harum diberikan untuk nama daerah di dekat Ipanema. Dari dermaga Praca XV Centro Rio, kami naik ferry ke Niteroi bertarif R$5.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Dari dermaga Praca XV Centro Rio, kami naik ferry ke Niteroi bertarif R$5.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Presiden Costa e Silva Bridge, umumnya dikenal sebagai Jembatan Rio-Niteroi yang megah

Tujuan kami adalah melihat Niteroi dan Presiden Costa e Silva Bridge, umumnya dikenal sebagai Jembatan Rio-Niteroi yang megah. Ferry berlayar sejajar dengan jembatan itu, sehingga jembatan panjang itu nampak sebagai garis lurus di cakrawala. Setelah mendarat, dari dermaga ferry Niteroi kami bermaksud berkeliling kota Niteroi dengan naik bis 49.1 warna merah Cidade de Niteroi tujuan Centro, ternyata kami keliru. Di Niterio juga ada Centro, bukan hanya ada di Rio. Untung ada penumpang yang dapat Berbahasa Inggris, mencoba menerangkan, tetapi tetap juga terjadi salah paham. Kami terpaksa berjalan kaki dari dermaga ke terminal bis, karena ternyata bis 1001 warna putih yang melewati Lapa di Rio de Janeiro tidak masuk terminal bis dan cukup ditunggu di depan dermaga seberang jalan. Untung beberapa orang yang kami temui, membantu kami dengan komunikasi yang agak susah payah.

Penumpang Tram

Suasana di atas ‘Trem do Corcovado’, bertarif R$ 56/orang, sebagai wisatawan

Feri

Suasana di atas ferry Niteroi bertarif R$ 5/orang sebagai penumpang umum

Dengan bis 1001 bertarif R$6 kami pulang ke Rio melewati Jembatan Rio-Niteroi yang sebelumnya kami lihat dari ferry dan merupakan jembatan gelagar kotak beton melintasi Guanabara Bay, yang menghubungkan Rio de Janeiro dan Niteroi. Saat ini merupakan jembatan beton pratekan terpanjang di belahan bumi selatan, dan terpanjang keenam di dunia. Dari selesai pada tahun 1974 sampai tahun 1985 merupakan jembatan kedua terpanjang di dunia, setelah Pontchartrain Causeway Lake di Hong Kong. Nama resminya adalah Presiden Costa e Silva Bridge, untuk menghormati presiden Brasil yang memerintahkan pembangunannya. “Rio-Niteroi” adalah julukan deskriptif yang segera menjadi lebih dikenal daripada nama resmi jembatan tersebut. Dalam rangka untuk menghubungkan dua kota tetangga, yaitu Rio de Janeiro dan Niteroi yang dipisahkan oleh Guanabara Bay, sehingga perjalanan darat lebih dari 100 kilometer (62 mil) menyusuri tepi Guanabara Bay melewati kota Mage, dipikirkan untuk membangun jembatan ataupun terowongan. Pada tahun 1963 sebuah kelompok kerja diciptakan untuk mempelajari proyek membangun jembatan. Presiden Artur da Costa e Silva menandatangani sebuah dekrit pada 23 Agustus 23, untuk proyek jembatan yang dirancang oleh Mario Andreazza, seorang Menteri Transportasi. Konstruksi dimulai secara simbolis pada 23 Agustus 1968 di hadapan Ratu Elizabeth II dan Pangeran Philip, Duke of Edinburgh dari Inggris pada kunjungannya ke Brasil. Pekerjaan yang sebenarnya dimulai pada bulan Januari 1969 dan jembatan ini resmi dibuka pada 4 Maret 1974. Jembatan itu dibangun oleh perusahaan konstruksi Brasil sepanjang 13,2 km dengan 8,8 km berada di atas air dalam ketinggian 72 m, untuk memungkinkan lewatnya ratusan kapal memasuki dan meninggalkan teluk Guanabara. Pada saat selesai dibangun, bentang tengah adalah box girder terpanjang di dunia, yang akhirnya telah dikalahkan oleh 301 meter jembatan Stolma di Norwegia (1998) dan 330 meter jembatan Shibanpo di Cina (2006). Jembatan ini dilewati oleh 140.000 kendaraan setiap hari, yang membayar tol hanya ketika memasuki Niterói dengan tarif terendah R $ 5,5.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Patung gagah warga asli Niteroi jaman kolonial, di dekat dermaga ferry Niteroi

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Niteroi dan Rio de Janeiro yang dipisahkan oleh Guanabara Bay

Bis 1001 line 7755 menuju Gavea, setelah memaski kota Rio terus melewati tunel Santa Barbara, yang menghubungkan distrik Catumbi dan Orange di Zona Utara dan Zona Selatan kota Rio. Pembangunannya dimulai pada tahun 1947 tetapi baru selesai pada tahun 1963. Pada saat itu terowongan ini dianggap yang terbesar di Amerika Selatan dan salah satu yang paling modern di dunia. Lamanya proses pembangunan ini disebabkan oleh kesulitan hukum untuk pengambilalihan 75 real estate (32 di sisi Orange dan 43 di sisi Catumbi). Terowongan sepanjang 1.357 meter dan lebar 17,5 meter memiliki 4 jalur kendaraan dan dilewati 100 ribu kendaraan per hari, sehingga lalu lintas ditutup untuk pemeliharaan dan pembersihan pada hari Senin dan Rabu, kecuali pada hari libur. Kami turun di Largo do Machado untuk berganti Metro Rio dari General Osorio menuju Pavuna, dan turun di stasiun Cinelandia. Seperti biasanya, dari Cinelandia kami berjalan kaki 2 blok, untuk tidur pulas di kamar di Hotel Atlântico Business Rua Senador Dantas, 25 – Centro, Rio de Janeiro – RJ, 20031-202, Brasil. Malam itu, kami kembali tidur nyenyak.

Sabtu, 22 November 2015 adalah hari terakhir kami di Rio de Janeiro, diawali dengan perjalanan menuju tempat konggres di Sul America, Centro de Convencoes Avenida Paulo de Frontin, 1 – Cidade Nova, Estácio, Rio de Janeiro – RJ, 22260-010, Brasil, untuk mengikuti the 9th World Congress on Pediatric Infectious Disease 2015. Kami berjalan kaki 2 blok menuju Stasiun Cinelandia untuk menggunakan Metro Rio L1, yang berangkat dari Stasiun Botafogo menuju Uruguai. Dengan tiket seharga R$ 3,5 yang dibeli tunai di loket, kami melewati Stasiun Carioca, Uruguaiana, Presidente Varga, Central, Praca Onze dan turun di Estacio, dengan dilanjutkan jalan kaki 3 blok untuk mencapai venue.

Venue1

Tempat konggres di Sul America, Avenida Paulo de Frontin, 1 – Cidade Nova, Estácio, Rio de Janeiro

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Suasana Ipenema, pantai yang indah dan favorit bagi peserta konggres lainnya.

Konggres pada hari terakhir tersebut hanya diikuti oleh setengah peserta, karena banyak yang sudah kembali pulang. Selain itu, beberapa peserta sudah membawa kopor pribadi untuk langsung ke bandara setelah konggres, karena sudah sekalian check out dari hotel. Kami hanya sempat mengikuti sebentar sesi ‘Meet The Professor’ bertema ‘Success Of Short Course Antiiotic Therapies, Bringing The Medicine Into Science’ oleh Prof. Samir Saha (Bangladesh). Simposium berikutnya tentang ‘Epidemiology of TB and Relevance of BCG Vaccination’ oleh Dr. Marais (Australia), yang menjelaskan bahwa diperkirakan tuberculosis atau TB telah mengenai 1 milyar anak di dunia, tetapi sering underestimated karena tertutupi oleh pneumonia, malnutrisi, meningitis dan HIV. Pengaruh program vaksinsinasi HiB, pneumokokus dan rotavirus di India, China dan Indonesia, yang merupakan 3 negara dengan jumlah penderita terbanyak, membuat kejadian TB sekitar 3:100.000 penduduk. Sekitar 2/3 kasus TB terjadi Afrika dan Asia Tenggara dengan MDR TB (Multi Drug Resistance Tuberculosis) pada anak diperkirakan terjadi pada 32.000 anak pertahun. Vaksinasi BCG telah terbukti mampu mencegah penyebaran TB dalam tubuh anak, maupun infeksi bakteri M. Tuberculosis, Leprosy, non TB mycrobacterium. Selain itu, imunisasi BCG ternyata juga menurunkan kejadian asthma dan atopy, bahkan berpengaruh pada penyebab kematian total karena infeksi berat kuman apapun (heterologous effects). Dilanjutkan oleh Dr. Moraes Pinto (Brasil) dengan topik ‘Making Sense Of Recent Diagnostic Development’. Diagnosis TB pada anak selama ini 65% kasus hanya berdasarkan anamnesis adanya faktor risiko aktif, misalnya TB pada dewasa, HIV, usia balita, dan pengguna obat imunosupresif, baik yang memiliki gejala pulmonal sekitar 75% kasus, maupun non pulmonal sekitar 25%. Pemeriksaan mantoux test belum banyak digunakan karena memiliki kelemahan sebagai ‘operator dependent’, memerlukan 2 kali kunjungan, tingginya ‘false positive’ karena varicella, campak, flu, TB lama, dan riwayat BCG dalam 2 tahun terakhir. Pemeriksaan bakteri TB dari aspirasi lambung anak hanya dapat positif apabila terdapat 10 ribu bakteri/ml. Gold standar diagnosis TB saat ini adalah kultur darah yang dapat positif meskipun hanya terdapat 10-100 bakteri/ml. Pemeriksaan ‘nucleic acid gen amplification’ memiliki sensitifitas 75%, meskipun TB pada anak bersifat paucibacillary dan pemeriksaan smear negatif. Untuk itu, diagnosis TB sebaiknya juga menggunakan Elispot (T-Spot TB) dan quanti Feron TB Gold yang melacak intergeron gamma atau IGRA (QTF-IT). Namun demikian, hasil positif tes Mantoux ataupun IGRA pada anak sebenarnya hanya berarti telah terjadi peningkatan risiko atau paparan TB dan atau kondisi imunosupresif, bukan berarti bahwa anak mengalami sakit TB. Dengan demikian, follow up pasien oleh dokter yg sama, termasuk untuk memulai dan menghentikan terapi TB, jauh lebih penting.

Simposium selanjutnya bertopik ‘Optimising Drug Therapy For Tuberculosis In Children’ oleh Dr. Garcia Prats (Afrika Selatan), yang menjelaskan bahwa terlalu sedikit penelitian tentang efikasi obat TB pada anak, sehingga selama ini hanya mengutip dari pasien dewasa, termasuk dalam menentukan dosis obat TB dianggap sama dalam hal rumus mg/kgBB pasien dewasa, yang sebenarnya tidaklah dijamin tepat. WHO tahun 2010 merekomendasikan menaikkan dosis INH menjadi 10 mg/kgBB, Rifampisin 15 mg/kgBB, Levofloxacin 15 mg/kgBB untuk anak > 7 tahun, dan maxifloxacin 10 mg/kg. Dosis obat seharusnya ditingkatkan pada anak dengan adanya kontak TB dewasa serumah, untuk mengurangi risiko terjadinya MDR TB dan memperpendek regiments. Simposum selanjutnya berjudul ‘Treatment of Drug Resistant TB For The Practising Clinician’ oleh Prof. Tsolia (Yunani) yang menjelaskan bahwa kasus MDR TB yang telah resisten terhadap INH dan Rif, juga kasus XDR TB yang juga resisten terhadap fluoroquinolon, pada populasi anak belum pernah dihitung jumlah kasusnya, berbeda dengan pada dewasa. Kesulitan diagnosis pada anak karena sulit mengumpulkan spesimen untuk diperiksa di laboratorium, sifatnya infeksi paucibacillary TB, dan riwayat kontak sulit didapat, sehingga hanya dapat diduga ada 32 ribu anak per tahun atau 3,5% dewasa. Terapi dengan 4-6 jenis obat anti TB selama 20 bulan pada kasus MDR dan 24 bulan pada kasus XDR, memiliki keluaran 82% berhasil, 39% efek samping, 6,8% gagal dan 5,9% meninggal.

Simposium berikutnya dengan topik ‘Understanding Neonatal Sepsis’ oleh Prof. Saha (Bangladesh), menjelaskan bahwa kematian neonatus karena sepsis masih mencapai 44% dan perlu segera ditekan, agar angka kematian anak membaik. Sampai sekarang, hasil pemeriksaan kultur darah jarang tumbuh, yaitu hanya sekitar 7%, sehingga terapi hanya berdasarkan gejala klinis yang dinamakan possible Serious Bacterial Infection (pSBI), karena adanya sepsis, asfiksi dan prematuritas adalah 3 hal utama yang saling terkait. Untuk itu, kultur darah sebaiknya bukan dianggap ‘gold standard’ sepsis lagi, tetapi ‘old standard’, karena tidak realistis dan sering dipengaruhi oleh jumlah serum yang tersedia atau pemberian antibiotika pada ibu intra partum. Alternatif diagnosis untuk sepsis neonatal sebaiknya adalah deteksi biomarker dan molekuler, misalnya CRP dan prokalsitonin. Pemeriksaan molekuler terdiri dari amplifikasi PCR, hibridisasi dan non asam nuklei. Real-time PCR memiliki sensitivitas dan spesifisitas 100%, sensitifitas hibridisasi 99%, dan sensitifitas Post PCR amplification 95%. Meskipun pemeriksaan molekuler belum dapat menyingkirkan kultur darah, tetapi real time atau RT PCR paling dianjurkan, termasuk dalam penelitian besar dan global ANISA (A New Initiative For Find The Etiology Of Neonatal Sepsis) menggunakan RT PCR untuk mengenali 30 jenis bakteri berbeda, dari darah dan saluran napas bayi, terutama Streptokokus dan HiB.

Topik selanjutnya adalah GBS (Good Bye Streptococcus) oleh Dr. Dangor (Afrika Selatan), Maternal Vaccination For Prevention Of Pertussis oleh Prof. Edwards (USA), Prevention of RSV Progress Toward Prevention oleh Prof. Pollack (Argentina) dan Prevention Of Pneumonia Mortality In Children oleh Prof. Klugman (USA). Intinya adalah bahwa pneumonia atau radang paru-paru adalah penyebab kematian utama pada anak, terutama di India, Nigeria, Pakistan, Ethiopia dan Kongo. Bahkan koinsidensi atau bersama diare, pneumonia menjadi penyebab utama kematian bayi secara global. Bakteri penyebab utama pneumonia adalah pneumokokus dan di India telah terjadi peningkatan resistensi antibiotika, sehingga meskipun kejadian campak sudah turun 85%, AIDS turun 61%, tetanus 53% dan malaria 56%, tetapi pneumonia hanya turun sangat sedikit. Penyebab kematian anak yg sebenarnya dapat dicegah dengan imunisasi adalah pneumonia, rotavirus, dan Hib yang mencakup total 16% kasus. Sayang sekali, saat ini di India, Indonesia dan Cina belum memberikan imunisasi PCV untuk mencegah pneumonia secara rutin, sehingga penurunan kejadian pneumonia belum terlalu turun secara global.

Menjelang acara penutupan konggres, kami berjalan kaki 3 blok lagi untuk mencapai Stasiun Estacio. Dengan naik Metro Rio L1, yang berangkat dari Stasiun Uruguai menuju Botafogo dan tiket seharga R$ 3,5 yang dibeli tunai di loket, kami turun di Stasiun Praca Onze untuk berjalan kaki 3 blok melihat Sambodromo. Sambadrome Marques de Sapucai (Passarela Profesor Darcy Ribeiro atau Sambodromo dalam bahasa Portugis) atau hanya Sambadrome merupakan daerah parade yang dibangun di pusat kota Rio de Janeiro, untuk tujuan sekolah samba dan parade kompetitif setiap tahun, selama berlangsungnya Karnaval Rio. Parade atau karnaval ini menarik ribuan warga Brasil dan wisatawan asing setiap tahun.


Sambadrome (“Sambodromo” dalam bahasa Portugis) dirancang oleh Oscar Niemeyer dan dibangun pada tahun 1984, yang berupa bentangan jalan Marques de Sapucai sepanjang 700 m yang diubah menjadi tanah parade permanen dengan bangku dibangun di kedua sisi jalan untuk duduk penonton, dengan kapasitas 90.000 kursi. Komplek ini mencakup sebuah kawasan yang berawal dari ujung rute pawai di Praça da Apoteose (Lapangan Apotheosis) dekat favela Morro da Mineira. Pembukaan kembali terjadi pada tanggal 7 Februari 2012, yang dihadiri oleh Walikota Eduardo Paes dan arsitek Oscar Niemeyer. Setiap sekolah samba memiliki waktu sekitar 90 menit untuk berparade dari satu ujung Sambadrome ke yang lain dengan melibatkan ribuan penari serta pemusik. Pada hari Rabu Abu (quarta-feira de cinzas) dalam tradisi Katolik, nilai yuri dikumpulkan dan satu dinyatakan sebagai pemenang. Parade of Champions diadakan Sabtu berikutnya dengan menampilkan 5 sekolah samba pemenang. Pada tahun 2008, harga tiket masuk berkisar antara R$ 10 – R$ 500 (US $ 6,50 menjadi US $ 312,50).

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Sambadrome (“Sambodromo” dalam bahasa Portugis) dirancang oleh Oscar Niemeyer
dan dibangun pada tahun 1984,

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Merasakan sensasi Parade samba Carnaval Rio de Janeiro, di Sambadrome saat hujan gerimis.

Parade samba Carnaval Rio de Janeiro yang terdekat akan diadakan pada hari Jumat dan Sabtu, 5 dan 6 Februari 2016. Final grand Samba Parade 2016 akan diadakan pada hari Minggu dan Senin malam, 7 dan 8 Februari 2016 dan enam sekolah samba terbaik akan parade sekali lagi pada hari Sabtu, 13 Februari 2016. Untuk penyelenggaraan Olimpiade 2016, tempat tersebut akan menjadi arena cabang memanah, atletik, dan maraton. Dalam persiapan untuk Olimpiade 2016, pabrik tua Brahma di dekatnya dihancurkan dan bangku-bangku tambahan dibangun di sana untuk meningkatkan kapasitas penonton menjadi sekitar 18.000 kursi, dengan desain simetris. Di luar musim Karnaval, Apotheosis Square kadang-kadang digunakan sebagai tempat konser musik skala besar. Artis yang telah tampil di Apotheosis Square Sambadrome termasuk Diante Trono, Eric Clapton, Supertramp, Black Eyed Peas, Pearl Jam, Elton John, Coldplay, Whitney Houston, Avril Lavigne, Britney Spears, Iron Maiden, Radiohead, Hillsong Jonas, Nirvana, A-ha, Janet Jackson, Bon Jovi, David Bowie dan Rolling Stones.

Sayang sekali, kami sampai di Sambodromo saat hujan gerimis turun, sehingga kami hanya dapat berfoto sebentar sekali dan mencoba merasakan aura meriah karnaval samba ataupun konser musik skala besar, untuk melanjutkan perjalanan. Dengan naik Metro Rio L1, yang berangkat dari Stasiun Uruguai menuju Botafogo, kami naik di Stasiun Praca Onze meliwati Stasiun Central, Presidente da Vargas, Uruguaiana, Carioca, dan turun di Cinelandia, untuk melihat Teatro Municipal. Teatro Municipal Rio de Janeiro terletak di Central Avenue Cinelandia (Praça Marechal Floriano), sekarang disebut Rio Branco Road, di pusat kota Rio de Janeiro, dan dibangun sekitar tahun 1909. The Theatro Municipal (Municipal Theatre) dianggap sebagai salah satu gedung seni yang paling indah dan bioskop terpenting di Brasil. Bangunan ini dirancang dengan gaya eklektik, terinspirasi oleh Paris Opéra Charles Garnier. Dinding luar bertuliskan nama-nama klasik seniman Eurocentric dan Brasil. Gedung ini berseberangan dengan Perpustakaan Nasional dan Museum Seni Rupa, serta menghadap Cinelandia Square yang luas. Pada paruh kedua abad kesembilan belas, kegiatan teater sangat intens di Rio de Janeiro, sebagai ibu kota negara. Setelah Proklamasi Republik Brasil tahun 1889, tepatnya pada tahun 1894 penulis drama Arthur Azevedo meluncurkan kampanye untuk membangun sebuah gedung teater baru di sepanjang garis Comédie Française. Pada saat Walikota Pereira Passos tahun 1903 membuka Avenue Central (Sekarang Avenida Rio Branco), muncul gagasan dari Francisco de Oliveira Passos (anak dan kemudian menjadi walikota) bekerjasama dengan Albert Guilbert dan desain gedung terinspirasi oleh Paris Opera. Pembangunan dimulai pada tahun 1905 di atas dasar 1.180 buah tiang kayu di dalam tanah. Untuk menghias bangunan, pelukis dan pematung Brasil dilibatkan, seperti Eliseu Visconti, Rodolfo Amoedo dan Bernardelli. Akhirnya, empat setengah tahun kemudian pada 14 Juli 1909, Presiden Nilo Peçanha meresmikan Theatro Municipal do Rio de Janeiro, yang memiliki kapasitas 1.739 pemirsa. Kemudian walikota Serzedelo Correa pada tahun 1934 melakukan beberapa modifikasi, termasuk interior teater yang mewah dengan patung-patung buatan Henrique Bernardelli, lukisan oleh Rodolfo Amoedo, tirai penutup megah karya Eliseu Visconti, dilengkapi Restoran Assírius di ruang bawah tanah yang aneh, dengan dekorasi Asyur yang mengesankan, dan sejak saat itu gedung ini memiliki jumlah 2.361 kursi penonton. Pada tahun 1931, Symphonic Orchestra Kota Rio de Janeiro diciptakan dan melibatkan aktor seperti Arturo Toscanini, Sarah Bernhardt, Bidu Sayao, Cheryl Studer, Eliane Coelho, Heitor Villa-Lobos, Igor Stravinsky, Paul Hindemith dan Alexander Brailowsky. Pada masa kejayaan awal, gedung ini menampilkan hanya opera asing dan acara simfoni orkestra, terutama dari Italia dan Perancis.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Theatro Municipal, gedung konser ini memiliki 2.361 kursi penonton

Bandara

Gerbang terminal 1 Aeroporto Internacional Tom Jobim (Galeão) Rio de Janeiro

Saat ini Theatro Municipal sebagian besar digunakan untuk pertunjukkan balet dan musik klasik. Kami sempatkan mampir dan mengagumi keindahannya, sebelum kembali ke hotel dalam jalan kaki cepat karena gerimis melewati 2 blok. Malam itu kami di kamar 104 Hotel Atlântico Business Rua Senador Dantas, 25 – Centro, Rio de Janeiro – RJ, 20031-202, Brasil berkemas untuk persiapan kembali ke Indonesia. Perjalanan ke Aeroporto Internacional Tom Jobim (Galeão) Rio de Janeiro, akan kami lakukan pada Sabtu, 21 November 2015 menjelang tengah malam.

Sekian

bersambung dengan petualangan di London, Inggris, sebalum pulang ke Indoensia 

baca juga : https://dokterwikan.com/2018/05/28/2015-london/

20151118225148

*) pelancong Jawa berdana cekak

Ditulis di ruang tunggu Aeroporto Internacional Tom Jobim (Galeão) Rio de Janeiro

Kamis, 19 November 2015

Categories
anak dokter Healthy Life Jalan-jalan

2015 LONDON

SEKAJAP  DI  LONDON
fx. wikan indrarto*)

Setelah mengikuti ‘the 9th World Congress on Pediatric Infectious Diseases’ 2015 di Rio de Janeiro, Brazil, kami segera pulang ke Indonesia. Perjalanan pulang dimulai dari Hotel Atlântico Business Rua Senador Dantas, 25 – Centro, Rio de Janeiro – RJ, 20031-202, Brasil menggunakan taksi kuning beragometer dengan tarif R$ 46 Sabtu malam 22 November 2015. Kami naik pesawat British Airways BA 248 Boeing 777-200 dari Aeroporto Internacional Tom Jobim (Galeão) Rio de Janeiro terminal 1, berangkat pk. 00.05 dini hari dan sampai di London Heathrow International Airport terminal 5, Minggu, 23 November 2015 pk. 13.25 dengan lama terbang 11.20 jam.

Bandara Heathrow

Heathrow adalah bandar udara tersibuk di dunia dalam hal lalu lintas penerbangan internasional.

Heathrow1

Bergaya di ruang tunggu London Heathrow International Airport terminal 5

London merupakan pusat transportasi udara internasional dengan kawasan udara kota yang terbesar di dunia. Delapan bandar udara menggunakan kata London dalam penamaannya, namun hanya enam dari bandara-bandara tersebut yang disinggahi oleh kebanyakan lalu lintas udara. Bandar Udara International London Heathrow di Hillington, London Barat, merupakan bandar udara tersibuk di dunia menurut lalu lintas penumpang internasional, dan juga merupakan persinggahan utama dari maskapai penerbangan nasional Britania Raya, British Airways. Pada bulan Maret 2008, terminal kelima dari bandar udara ini dibuka. Ada rencana untuk membangun landasan pacu ketiga dan terminal keenam namun rencana ini dibatalkan oleh Pemerintah Koalisi pada tanggal 12 Mei 2010. Pada bulan Mei 2011, sistem angkutan cepat dibuka di Heathrow untuk menghubungkan bandara dengan tempat parkir yang berada di dekatnya. Lalu lintas penerbangan internasional serta penerbangan lokal yang bertarif rendah juga dikelola oleh Bandar Udara London Gatwick, yang terletak di West Sussex, London Selatan.

Kami mencoba peruntungan di konter imigrasi, saat mengisi waktu transit ke Singapura. Untunglah nasib kami baik, meskipun tidak punya visa Inggris, dengan wajah kami yang memelas akhirnya kami diijinkan oleh petugas imigrasi, untuk masuk Inggirs dan dapat menginap di London 1 hari, guna jalan-jalan di dalam kota (city tour). Segera kami melakukan penjadwalan ulang tiket kami di konter British Airways, agar dapat ikut penerbangan hari berikutnya. Untunglah semua petugas baik hati, termasuk menguruskan bagasi yang sudah di dalam perut pesawat, sehingga kami tenang untuk segera membeli tiket Underground atau Tube, kereta bawah tanah tertua di dunia, menuju ke pusat kota London.

Heathrow2

Ruang kedatangan penumpang di London Heathrow International Airport terminal 5

Ho3dZwKH

Siap-siap masuk ke kota London, setelah bebas dari pemeriksaan imigrasi

London adalah ibu kota Inggris dan Britania Raya, merupakan wilayah metropolitan terbesar di Britania Raya dan juga zona perkotaan terbesar di Uni Eropa menurut luas wilayah. Berlokasi di sepanjang Sungai Thames, London telah menjadi permukiman utama selama dua milenium sejak didirikan oleh bangsa Romawi pada abad ke-1 dengan nama Londinium. Inti dari London kuno, yaitu City of London, sebagian besar masih tetap mempertahankan batas-batas abad pertengahannya. Sejak abad ke-19, nama London juga digunakan untuk menyebut kota metropolitan yang berkembang di sekitar wilayah inti ini. London adalah kota global terkemuka yang unggul dalam bidang seni, bisnis, pendidikan, hiburan, mode, keuangan, kesehatan, media, layanan profesional, penelitian dan pengembangan, pariwisata, serta transportasi. London, bersama dengan New York City, merupakan pusat keuangan terkemuka di dunia, dan menjadi kota dengan PDB terbesar kelima di dunia, atau yang tertinggi di Eropa. Kota ini juga dikatakan sebagai pusat kebudayaan dunia. London bahkan menjadi kota yang paling sering dikunjungi, dan tercatat sebagai kota dengan bandar udara tersibuk di dunia berdasarkan lalu lintas penumpang internasional. Terdapat 43 universitas di London membentuk konsentrasi pendidikan tinggi terbesar di Eropa. Pada tahun 2012, London menjadi kota pertama yang telah menjadi tuan rumah penyelenggara Olimpiade Musim Panas modern sebanyak tiga kali.

VI6kE9rJ

Petualangan dimulai dari terminal 5 London Heathrow International Airport

sfaNQvuo

Naik Underground Piccadily Line menuju Cockfosters turun di Piccadilly Circus

Petualangan kami di London dimulai dari terminal 5 Heathrow International Airport, Minggu, 23 November 2015 sore saat kami naik Underground Piccadily Line menuju Cockfosters bertarif £ 6, untuk turun di Piccadilly Circus. Kami melewati Heathrow terminal 1, 2 & 3, Hatton Cross Hounslow West, Central, East, Osterley, Boston Manor, Northfields, South Ealing, Acton Town, Turnham Green, Stamford Brook, Ravenscourt Park, Hammersmith, Barons Court, Earls Court, Gloucaster Road, South Kensington, Knightsbridge, Hide Park Corner dan Green Park. Penduduk London terdiri dari beragam masyarakat dan budaya dengan lebih dari 300 bahasa dituturkan oleh berbagai etnis. Pada bulan Maret 2011, London tercatat berpenduduk sebanyak 8.174.100 jiwa, atau sekitar 12,5% dari populasi Britania Raya secara keseluruhan. Hal ini menjadikan London sebagai kota terbesar di Uni Eropa menurut jumlah populasi juga menjadi kawasan urban terbesar kedua (setelah Paris) di Uni Eropa dengan jumlah penduduk 8.278.251 jiwa, sedangkan kawasan metropolitan London adalah yang terbesar di Uni Eropa dengan populasinya yang diperkirakan mencapai 12 hingga 14 juta jiwa. Sebelumnya, London juga pernah menjadi kota dengan populasi terbesar di dunia pada periode 1831-1925.

Populasi seperti itulah, sangat elite, santun, rapi dan berbeda jauh dengan warga Rio de Janeiro, Brasil yang kami temui di dalam gerbong Underground Piccadilly Line dan di stasiun Piccadilly Circus, saat kami turun dari Tube. Kami dibantu oleh petugas di konter Tube dan peta yang terpasang di berbagai sudut jalan untuk menuju The Z Hotel Soho, 17 Moor Street, West End Soho, London, UK, W1D 5AP. Di sekitar stasiun itu suasananya sangat ramai dengan para wisatawan yang berjalan santai dalam dingin malam sekitar 7 derajad. Kami segera mampir untuk makan malam menu soto Lamongan di Nusadua Resto, dengan alamat 118-120 Shaftesbury Avenue London W1D5EP dan kami memilih menu Indonesia, karena harganya paling terjangkau, hanya £5. Malam itu kami segera masuk ke kamar 213 The Z Hotel Soho, untuk menghindari dingin yang menggit sampai ke tulang kami, karena kami tidak mengira dan hanya menyiapkan bekal untuk melawan suhu panas yang sampai 34 derajad di Rio de Janeiro, Brasil. Malam itu kami tidur nyenyak, setelah menyiapkan peta jalan ke situs warisan dunia menurut UNESCO di London.

XGeJokwm

Kedinginan di red box depan The Z Hotel Soho London

07mwTJkY

The Z Hotel Soho, 17 Moor Street, West End Soho, London, UK, 

Kami memulai jalan-jalan di kota London, Inggris dari kamar 203 The Z Hotel Soho, 17 Moor Street, West End Soho, London, UK, W1D 5AP, Senin 23 November 2015 dalam pagi yang dingin menggigit tulang. Kami berjalan kaki ke timur di Moor St menuju ke Romilly St sejauh 102 kaki, terus berbelok ke kanan ke Charing Cross Rd/A400 untuk mencapai Stasiun Leicester Square. Kemudian kami naik kereta api bawah tanah Northern Line melewati stasiun Charing Cross dan turun di Embankment bertarif £ 4,8. London Underground, kereta api bawah tanah atau yang lebih dikenal dengan sebutan “Tube”, merupakan sistem transportasi massal kereta listrik bawah tanah yang tertua, dan yang kedua terpanjang di dunia. Sejak mulai beroperasi pada tahun 1863, sistem ini telah melayani 270 stasiun. Lebih dari tiga juta perjalanan dilakukan setiap hari melintasi rangkaian rel bawah tanah London, dengan kata lain lebih dari 1 miliar penumpang pertahunnya. London juga dipuji sebagai kota besar yang memiliki transportasi umum terbaik. Di Stasiun Subway Embankment kami turun dan berganti naik Tube District Line menuju Upminster, selama 11 menit melewati, Temple, Blackfriars, Mansion House, Cannon Street, Monument, dan turun di Tower Hill, lalu Berjalan sekitar 5 menit sejauh 0,3 mil untuk menuju ke Menara London.

kZT4nNKg

Populasi yang elite, santun, dan rapi kami temui di dalam gerbong Underground Piccadilly Line

NhemlLfA

Bangsa Romawi yang mendirikan Londinium, cikal bakal London

Sejak tahun 1899, secara umum dipercaya bahwa nama London berasal dari bahasa Kelt yang bermakna tempat milik orang bernama Londinos. Pada tahun 1998, Richard Coates mengemukakan teorinya bahwa nama London berasal dari sebuah kata dalam bahasa Eropa Lama pra-Kelt yaitu (p)lowonida yang berarti ‘sungai yang terlalu luas untuk diarungi’. Coates berpendapat bahwa nama ini ditujukan untuk menyebut Sungai Thames yang mengalir melintasi London. Dari kata ini, permukiman ini mendapat nama dari bahasa Kelt, yaitu Lowonidonjon. Setelah jatuhnya kekuasaan Romawi pada awal abad ke-5, London menjadi terabaikan. Namun, mulai abad ke-6, sebuah permukiman Anglo-Saxon yang dikenal dengan nama Lundenwic berkembang di sebelah barat kota Romawi yang lama, di lokasi yang saat ini dikenal dengan Covent Garden dan Strand, dan didiami oleh sekitar 10.000–12.000 jiwa. Pada abad ke-9, London berulang kali diserang oleh bangsa Viking sehingga kota itu terpaksa dipindahkan kembali ke kota Londinium Romawi.

Setelah penyatuan Inggris pada abad ke-10, London yang telah menjadi kota terbesar dan pusat perdagangan terpenting di Inggris juga bangkit menjadi pusat politik, meskipun masih harus bersaing dengan Winchester, yang pada saat itu merupakan ibu kota Inggris. Hingga tahun 1889, nama “London” hanya ditujukan untuk menyebut City of London, namun semenjak itu pula nama ini turut digunakan untuk menyebut Country of London, dan saat ini dipergunakan untuk menyebut London Raya secara keseluruhan. Pada tahun 1066 Raja William membangun Menara London yang merupakan pembangunan pertama dari sejumlah besar kastil Norman di Inggris, yang dibangun dengan menggunakan batu. Menara London yang kami kunjungi pagi itu, dilengkapi dengan Jembatan Menara yang dibangun 800 tahun setelahnya, untuk menyeberang Sungai Thames. Jembatan Menara atau Tower Bridge karya arsitek Horace Jones dan John Wolfe Barry ini selesai dibangun pada tahun 1894, merupakan salah satu ikon penting Kota London, dan sering disebut jembatan paling populer di dunia.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

‘sungai yang terlalu luas untuk diarungi’ Sungai Thames yang mengalir melintasi London

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Jembatan Menara dibangun pada tahun 1894 sering disebut jembatan paling populer di dunia.

Setelah itu, kami kembali ke Subway Station, naik Tube Circle Line dari Tower Hill menuju Westminster, selama 13 menit melewati Monument, Cannon Street, Mansion House, Blackfriars, Temple, dan Embankment tempat kami naik Distric Line sebelumnya. Dari Westminster Tube Station kami berjalan ke arah timur di Bridge St/A302 menuju ke Victoria Embankment/A3211, berjalan 213 kaki belok kiri ke Victoria Embankment/A3211, untuk mencapai Westminster Pier tempat terdekat untuk melihat Mata London. Mata London atau London Eye yang sering disebut juga Millennium Wheel adalah sebuah roda pengamatan yang terbesar di dunia setinggi 135 meter atau 443 kaki. London Eye berputar di atas Sungai Thames, London, dan mulai beroperasi pada akhir 1999. London Eye dirancang oleh arsitek David Marks dan Julia Barfield dengan 32 buah kapsul pengamatan tertutup yang ber-Air Conditioner di sisi luar lingkarannya. London Eye berputar dengan kecepatan 0,26 meter/detik dan satu kali keliling memakan waktu sekitar 30 menit atau setengah jam. The Eye, sebutan untuk London Eye, diresmikan oleh Perdana Menteri Inggris Tony Blair pada 31 Desember 1999, namun baru dibuka untuk publik pada Maret 2000 karena masalah teknis. London Eye dioperasikan oleh Tussauds Group dan disponsori British Airways yang menggunakan istilah fly dan flight untuk menggambarkan perjalanan di London Eye. Seiring berjalannya waktu, London Eye menjadi objek pariwisata yang terkenal dan menjadi ikon London. Warga London pun menyambut hangat London Eye, lebih hangat dari sambutan terhadap Millennium Dome, dan sampai Juli 2002, sebanyak 8,5 juta orang telah “terbang” di London Eye.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

The Eye, sebutan untuk London Eye, diresmikan oleh Perdana Menteri Inggris Tony Blair pada 31 Desember 1999

SAMSUNG CAMERA PICTURES

London Eye atau Millennium Wheel adalah sebuah roda pengamatan yang terbesar di dunia berputar di atas Sungai Thames, London,

Dari Westminster Pier kami berbalik arah untuk menuju ke Derby Gate sejauh 0,1 mil, kemudian belok kanan ke Bridge St/A302 sejauh 131 kaki untuk mencapai Big Ben dengan memotong Westminster Bridge. Big Ben adalah nama sebuah menara jam yang terletak di Istana Westminster. Secara resmi menara ini diberi nama Elizabeth Tower, bertepatan dengan pesta 60 tahun Ratu Elizabeth II memimpin Britania Raya dan Wilayah Persemakmuran. Big Ben selesai dibangun pada tahun 1858, dan pada tanggal 31 Mei 2009 menara ini tepat berusia 150 tahun. Menara ini dibangun sebagai bagian dari rencana pembangunan istana baru oleh Charles Barry, setelah Istana Westminster yang lama telah hancur akibat kebakaran pada 22 Oktober 1834. Menara ini tingginya 96.3 meter dan dibangun dengan gaya Gothik Victoria. Dinding setinggi 61 meter di bawah jam terbuat dari bata yang dilapisi oleh batu, sedangkan puncak menara ditopang dengan rangka besi yang dibuat dari besi leleh. Menara ini dibangun di atas tanah berukuran 15 meter kali 15 meter, fondasi terbuat dari beton setebal 3 meter, pada kedalaman 4 meter di bawah permukaan. Semua sisi jam tingginya 55 meter dari atas tanah.

Big Ben

Big Ben atau Elizabeth Tower tingginya 96.3 meter. Dinding setinggi 61 meter di bawah jam terbuat dari bata yang dilapisi oleh batu

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Big Ben atau Elizabeth Tower adalah nama sebuah menara jam yang terletak di Istana Westminster.

Jam ini terkenal karena ketepatannya. Pendesainnya adalah seorang pengacara dan horologis amatir Edmund Beckett Denison dan George Airy, seorang Astronom Kerajaan Inggris. Jam ini dibuat oleh Edward John Dent, yang menyelesaikannya pada tahun 1854, namun menara Big Ben belum selesai saat itu, sehingga baru dipasang tahun 1859, bersamaan dengan lonceng Big Ben yang didesain oleh Augustus Pugin. Jam ini diletakan pada sebuah kerangka besi berukuran 7 meter, ditopang dengan 312 kepingan kaca opal, sehingga mirip seperti jendela berwarna. Jarum pendek untuk jam memiliki panjang 2.7 meter dan jarum panjang untuk menit memiliki panjang 4.3 meter.

Loncengnya dilapisi seluruhnya dengan emas. Pada bagian bawah jam, di setiap sisi jam, terdapat tulisan: DOMINE SALVAM FAC REGINAM NOSTRAM VICTORIAM PRIMAM atau Oh Tuhan, lindungi Ratu Victoria yang Pertama. Ketika terjadi ‘Blitz London’ dalam Perang Dunia II, Istana Westminster sempat dibom oleh Jerman pada 10 Mei 1941, dan sebuah bom menghancurkan 2 dari 4 muka jam, sebagian dari atap menara dan ruangan dewan rakyat. Arsitek Sir Giles Gilbert Scott merancang lagi dan jam ini tetap masih berjalan baik, walaupun serangkaian serangan bom besar terus terjadi dan berlangsung sampai Blitz berakhir.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Lonceng pada Big Bed dilapisi seluruhnya dengan emas.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Red Box, Bis tingkat warna merah, Big Ben dan wanita rapi, ciri khas London.

Dari Big Ben kami melanjutkan perjalanan ke selatan mencapai Parliament Square sejauh 384 kaki atau 2 menit berjalan kaki. Selanjutnya kami berbelok ke kiri melewati St. Margaret’s Church, sejauh 299 kaki atau 1,5 menit untuk mencapai Westminster Abbey. Pada abad ke-11, Raja Edward membangun Westminster Abbey dan Westminster, sebuah kawasan kediaman kerajaan yang terletak tidak jauh ke hulu sungai Thames di pusat kota London. Westminster Abbey adalah sebuah situs warisan dunia dan salah satu bangunan tertua dan paling penting di London sampai tahun 1749. Setelah kemenangannya dalam Pertempuran Hastings, Guillaume sang Penakluk, dimahkotakan sebagai Raja Inggris di Westminster Abbey yang baru saja selesai dibangun pada Hari Natal 1066. Pada 1097, William II memulai pembangunan Westminster Hall, berdekatan dengan lokasi Westminster Abbey. Bangunan ini selanjutnya menjadi dasar bagi terbentuknya Istana Westminster yang baru.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Patung seukuran sebenarannya dari Perdana Menteri Inggris Winston Churcill Di Parliament Square

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Westminster Abbey adalah sebuah situs warisan dunia dan salah satu bangunan tertua dan paling penting di London sampai tahun 1749.

Dari Westminster Abbey kami berjalan kaki lagi sekitar 4 menit atau sejauh 0,2 mil untuk mengagumi patung seukuran sebenarnya Presiden Amerika Serikat Abraham Lincoln dan Perdana Menteri Inggris Winston Churcill. Kemudian kami ikut antri berfoto dengan banyak wisatawan lain, dari seberang Parliament Square. Dari posisi itu, 4 buah ikon London sangat fantastis diabadikan, yaitu Red Box atau kotak telephon umum berwarna merah, Big ben yang menjulang di sisi Istana Westminster, taxi hitam, dan bis tingkat warna merah yang sering berhenti, karena lampu merah. Jaringan bis kota warna merah di London adalah salah satu jaringan yang terbesar di dunia, yang beroperasi selama 24 jam sehari, dengan lebih dari 8.000 armada bus, 700 rute, dan lebih dari 6 juta penumpang setiap hari kerja. Pada tahun 2003, jaringan bus ini mencatat sekitar 1,5 miliar penumpang dalam setahun, lebih banyak dari penumpang yang berhasil diangkut oleh London Undergroud. Cukup lama kami menantikan kesempatan emas dalam berfoto secara bergantian dengan para wisatawan lain, dan selanjutnya kami masuk Westminster Subway Station, untuk kembali ke bandara karena takut kehabisan waktu dan bekal dana.

Kami naik Circle Line melewati Monument, Cannon Street, Mansion House, Blackfriars, Temple, Embankment, Westminster, St. James’s Park, Victoria, Sloane Square, South Kensington, dan di Gloucester Road kami berganti Piccadilly Line. Dari Gloucester Road, kami naik Underground Piccadily Line melewati Earls Court, Barons Court, Hammersmith, Ravenscourt Park, Stamford Brook, Turnham Green, Acton Town, South Ealing, Northfields, Boston Manor, Osterley, Hounslow East Heathrow, Central, Hounslow West, dan turun di Hatton Cross, untuk berganti Piccadilly Line ke bandara Heathrow terminal 5, karena Piccadilly Line yang kami tumpangi hanya sampai terminal 4.

SAMSUNG CAMERA PICTURES

Red Box, dan Big Ben, ciri khas London yang ikonik, dalam Hari Batik International

A380

Bukan di dalam Batik Air, tetapi batik di dalam Airbus A380, enjoy the luxury and the space

Setelah sampai di terminal 5 bandara Heathrow, kami langsung masuk ke ruang tunggu penumpang, tanpa melewati konter imigrasi. Sambil makan siang seadanya di kantin, kami baca ulang tulisan di boarding pass, yaitu Mon 23 Nov BA 11, London Heathrow terminal 5, 19.05. Changi Singapore Terminal 1, Tue 24 Nov, 15.55, duration 12.50, Airbus A380-800. Pesawat terbang Airbus A380 yang diproduksi oleh Airbus S.A.S adalah sebuah pesawat berbadan lebar dua tingkat, dengan empat mesin yang mampu memuat 850 penumpang dalam konfigurasi satu kelas atau 555 penumpang dalam konfigurasi tiga kelas. Pesawat ini melaksanakan penerbangan perdana pada 27 April 2005 dan telah memulai penerbangan komersial pada akhir tahun 2007 setelah ditunda beberapa kali.

Pesawat ini juga merupakan pesawat komersial (pesawat penumpang) terbesar yang pernah dibuat, sehingga dijuluki Superjumbo. Setelah mulai beroperasi, pesawat ini menjadi pesawat super jumbo-jet pertama yang mempuyai ‘double-deck’ penuh tidak seperti competitor pertamanya Boeing 747, yang lantai 2 hanya terdapat di bagian depan cabin. Walaupun pesawat ini mempunyai ukuran yang sangat besar, A380 mengadopsi desain airliner konvensional dengan bodi pesawat silinder yang lebih lebar dari Boeing 747. A380 memakai sayap yang dipasang rendah pada bodinya dengan 4 mesin di sepanjang bentangan sayapnya. Roda pendaratannya terdiri dari 22 roda sehingga beban pada setiap roda sama dengan pada Boeing 747 dan 777. Pesawat ini mempunyai empat mesin buatan Rolls-Royce Trent-900 yang mampu memberikan daya dorong 36.280 kg atau empat mesin kipas turbo Engine Alliance GP 7200 (sebuah perusahaan patungan General Electric dengan Pratt & Whitney), dengan daya dorong 37.003 kg. Sungguh sebuah keajaiban teknologi dirgantara yang sangat menarik untuk kami coba, yang akan mengantar kami pulang ke Indonesia melalui Singapura.

Di terminal 1 Changi Singapore Airport, kami dijemput oleh Ibu Migdiawan, isteri Kol. Pnb. Migdiawan Atase Pertahanan KBRI (Indonesia) di Singapura, untuk menginap semalam di rumah dinasnya. Terima kasih atas semua bantuan dan perhatian dari siapapun, sehingga perjalanan separuh belahan bumi ini, yaitu ke Rio de Janeiro, London dan Singapura, dapat terlaksana dengan luar biasa. Sampai ketemu dalam petualangan selanjutnya.

Ikut pak Jokowi

sekian

*) pelancong Jawa berdana cekak

Rabu, 16 Desember 2015.

Categories
dokter Healthy Life Jalan-jalan vaksinasi

2018 HAPUS TIFUS

Hasil gambar untuk tifus pada anak

HAPUS TIFUS

fx. wikan indrarto*)

Pada akhir Desember 2017, WHO melakukan prakualifikasi vaksin konjugasi pertama untuk tifus, Bharat Biotech’s Typbar-TCV®. Vaksin konjugasi tifus (TCVs) dibandingkan vaksin yang lebih dulu tersedia, adalah produk inovatif yang memiliki kekebalan lebih tahan lama, memerlukan lebih sedikit dosis, dan dapat diberikan kepada anak melalui program imunisasi rutin anak. Fakta bahwa vaksin tersebut telah didahulukan oleh WHO berarti memenuhi standar kualitas, keamanan dan kemanjuran yang dapat diterima. Hal ini membuat vaksin tersebut layak untuk diadakan oleh badan-badan PBB, seperti UNICEF, dan Gavi, the Vaccine Alliance. Apa yang harus dilakukan?

 

Hasil gambar untuk tifus pada anak

Tifus, yang juga dikenal sebagai demam tifoid, adalah penyakit multisistemik yang berpotensi fatal, yang terutama disebabkan oleh bakteri Salmonella enterica, subspesies enterica serovarian typhi. Perkiraan global tentang beban tifus berkisar antara 11 dan 20 juta kasus. Selain itu, juga dapat menyebabkan sekitar 128.000 – 161.000 kasus kematian tifus setiap tahunnya, terutama pada anak. Masyarakat miskin dan kelompok rentan, seperti anak dengan gizi kurang, seringkali yang paling rentan.

Manifestasi tifus sangat luas, sehingga menjadikan penyakit ini memiliki tantangan diagnostik sejati (a true diagnostic challenge). Kriteria standar untuk diagnosis tifus sejak lama adalah isolasi bakteri dengan pemeriksaan biakan atau kultur, yang secara luas dianggap 100% spesifik. Kultur aspirasi sumsum tulang adalah 90% sensitif sampai setidaknya 5 hari setelah dimulainya antibiotik. Namun demikian, teknik pemeriksaan ini sangat menyakitkan bagi pasien, sehingga mungkin lebih besar kerugian daripada manfaatnya. Kultur dengan bahan darah, sekresi usus (muntahan atau aspirasi duodenum), dan tinja akan positif untuk bakteri S typhi pada sekitar 85% pasien tifus pada minggu pertama demam dan akan menurun sampai 20% dalam perjalanan demam selanjutnya.

 

Hasil gambar untuk tifus pada anak

 

Secara khusus, kultur tinja mungkin positif untuk S typhi beberapa hari setelah menelan bakteri, sebagai akibat pembengkakan sel dendritik intraluminal dalam usus. Pada minggu berikutnya, hasil kultur tinja positif karena bakteri ditumpahkan ke dalam usus melalui kantong empedu. Beberapa (tiga atau lebih) pemeriksaan kultur darah  akan menghasilkan sensitivitas 73% Kultur darah dengan gumpalan darah volume besar (10-30 mL) dapat meningkatkan kemungkinan pendeteksian bakteri. Kultur feses saja menghasilkan sensitivitas kurang dari 50%, dan kultur urin saja bahkan kurang sensitif.

 

Hasil gambar untuk tifus pada anak

 

Pedoman terbaru untuk pengobatan tifus di Asia Selatan diterbitkan oleh ‘Indian Association of Pediatrics’ (IAP) pada bulan Oktober 2016. Untuk pengobatan empiris tifus yang tidak berat, IAP merekomendasikan sefiksim dan, sebagai obat lini kedua adalah azitromisin. Untuk tifus yang berat, direkomendasikan ceftriaxone. Aztreonam dan imipenem adalah obat lini kedua untuk kasus yang berat. Rekomendasi IAP berlaku untuk pengobatan empiris tifus pada pasien dewasa dan anak. Oleh karena itu, untuk strain yang berasal dari luar Asia Selatan dan Asia Tenggara, rekomendasi WHO mungkin masih berlaku, bahwa tifus yang tidak berat harus diobat secara empiris dengan ciprofloxacin oral dan tifus yang berat harus diberikan ciprofloxacin intravena.

 

Hasil gambar untuk tifus pada anak

Pada bulan Oktober 2017, Strategic Advisory Group of Experts (SAGE) tentang imunisasi,  merekomendasikan TCV untuk penggunaan rutin pada anak di atas usia 6 bulan di negara-negara endemik tifoid atau tifus, seperti Indonesia. SAGE juga meminta pengenalan TCV untuk diprioritaskan pada negara-negara dengan tingkat penyakit tifus tertinggi atau telah terjadi resistensi antibiotik terhadap Salmonella Typhi, bakteri yang menyebabkan penyakit tifus. Penggunaan vaksin juga harus membantu mengurangi penggunaan antibiotik untuk pengobatan yang diduga tifus atau demam tifoid, dan dengan demikian membantu memperlambat peningkatan resistensi antibiotik atas Salmonella Typhi yang mengkhawatirkan.

 

Hasil gambar untuk tifus pada anak

Tak lama setelah rekomendasi SAGE, Gavi Board menyetujui pendanaan US $ 85 juta untuk pembelian TCV mulai tahun 2019. Prakualifikasi oleh karena itu merupakan langkah penting yang perlu dilakukan agar TCV tersedia bagi negara berpenghasilan rendah, di tempat yang paling mereka butuhkan. Dan bahkan di negara-negara yang tidak didukung Gavi, prakualifikasi dapat membantu memperlancar perizinan.

Prakualifikasi WHO membantu memastikan bahwa vaksin yang digunakan dalam program imunisasi adalah aman, efektif, dan tepat untuk kebutuhan negara. Prosedur prakualifikasi WHO terdiri dari penilaian yang transparan dan masuk akal secara ilmiah yang mencakup peninjauan kembali atas bukti (reviewing the evidence), menguji konsistensi setiap lot pada produksi vaksin, dan mengunjungi lokasi pabrik pembuatannya.

Bagi jutaan orang yang tinggal di negara berpenghasilan rendah dan menengah, tifus adalah penyakit yang selalu ada dan mengancam. Urbanisasi dan perubahan iklim berpotensi meningkatkan beban global tifus. Selain itu, meningkatnya resistensi terhadap pengobatan antibiotik membuat lebih mudah tifus menyebar melalui populasi yang padat di perkotaan, apalagi dengan sistem air dan sanitasi yang tidak memadai. Oleh sebab itu, imunisasi menggunakan Bharat Biotech’s Typbar-TCV® sangat diandalkan untuk menghapus beban global tifus. Apakah anak kita sudah menerimanya?

dr Wikan 6

Sekian

Yogyakarta, 6 Januari 2018

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak di Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com.

 

 

Categories
dokter medicolegal

2018 PERLINDUNGAN DOKTER

Hasil gambar untuk undang-undang perlindungan dokter

PERLINDUNGAN   DOKTER
fx. wikan indrarto*)

 

Ikatan Dokter Indonesia (IDI) mencanangkan Hari Kesadaran Hukum Kedokteran setiap tanggal 27 Juni. Pada tanggal tersebut tahun 1984, Mahkamah Agung mengeluarkan putusan yang membebaskan Dr. Setyaningrum dari Puskesmas Wedarijaksa, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, dari segala tuntutan hukum atas dugaan malapraktik. Profesi dokter akhir-akhir ini lebih sering menghadapi tuntutan hukum. Ada berbagai penyebab, tetapi salah satu yang utama adalah karena perlindungan hukum atas profesi dokter tidaklah rinci. Apa yang sebaiknya dilakukan?

 

Hasil gambar untuk undang-undang perlindungan dokter

 

Undang-Undang Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, Pasal 66 ayat (3) menyebutkan bahwa setiap orang yang mengetahui atau kepentingannya dirugikan, atas tindakan dokter dalam menjalankan praktik kedokteran, atau adanya dugaan tindak pidana, berhak melaporkan kepada pihak yang berwenang dan atau menggugat kerugian perdata ke pengadilan. Pasal ini telah menimbulkan ketidaktenangan dan keraguan dokter dalam melaksanakan tugasnya. Selain itu, juga dapat menimbulkan ‘defensive medicine’, suatu bentuk praktik kedokteran ketika seorang dokter sangat memperhitungkan langkah-langkah aman bagi dirinya, agar tidak gampang dipersalahkan atau dituntut pasien. UU Praktik Kedokteran terbukti justru memberikan peluang yang sangat besar bagi dokter, untuk mudah diadukan dan digugat, baik secara etik, pelanggaran disiplin, ataupun pelanggaran hukum sekaligus, secara bersamaan.

 

Namun demikian, Mahkamah Konstitusi (MK) telah memberikan ketetapan hukum tentang prosedur hukum yang khusus dalam menilai dan menentukan benar salahnya seorang dokter dalam menjalankan profesinya. MK memberlakukan proses pemeriksaan yang berjenjang, dimulai dari proses pemeriksaan etik di Majelis Kehoratan Etik Kedokteran (MKEK) dan disiplin di Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI), sebagai proses pemeriksaan tingkat pertama. Selain itu, juga sekaligus berfungsi sebagai penilai apakah ada pelanggaran hukum atau tidak.  Apabila dari hasil pemeriksaan di MKEK dan MKDKI ditemukan indikasi pelanggaran hukum, maka kasusnya akan diteruskan atau diserahkan kepada kepolisian atau pengadilan.

 

Michel Daniel Mangkey dalam ejournal Unsrat Vol. II/No. 8/Sep-Nov/2014, menjelaskan tentang ‘Lex et Societatis’. Dokter yang telah melaksanakan tugas sesuai dengan standar profesi dan standar prosedur operasional, berhak mendapatkan perlindungan hukum. Terdapat beberapa hal yang menjadi alasan peniadaan hukuman terhadap dokter, yaitu : resiko pengobatan, kecelakaan medik, tanpa unsur kelalaian, aturan minor yang dapat diabaikan, kesalahan dalam penilaian (error of (in) judgment), Volenti non fit iniura atau asumsi atas risiko, dan Res Ipsa Loquitur. Namun demikian, pada praktiknya sebagian hal tersebut sangat sulit, rumit, dan menyita waktu, tenaga dan konsentrasi dokter dalam perumusannya.

 

Hasil gambar untuk undang-undang perlindungan dokter

 

Sebaliknya, perlindungan hukum untuk profesi notaris, jauh lebih jelas, nyata, dan rinci, sebagaimana dituliskan oleh Mariyantini pada ejournal Undip vol 4, no 1 tahun 2013. Perlindungan hukum terhadap notaris ketika terjadi sengketa di pengadilan, telah diatur pada Pasal 66 Undang-undang No. 30 Tahun 2004 tentang Jabatan Notaris. Dalam hal memberikan kesaksian, seorang notaris tidak dapat mengungkapkan akta yang dibuatnya, baik sebagian maupun keseluruhannya, untuk merahasiakan semua hal yang diberitahukan kepadanya, karena akta yang dibuat oleh atau di hadapan notaris, merupakan suatu alat bukti yang mempunyai kekuatan pembuktian yang sempurna. Notaris hanya merumuskan keterangan dan pernyataan yang diperolehnya dari para penghadap. Notaris tidak hanya berhak untuk bicara, tetapi mempunyai kewajiban untuk tidak bicara. Kewajiban tersebut mengesampingkan kewajiban umum yang tercantum dalam Pasal 1909 ayat (1) KUHPerdata, karena adanya hak ingkar dari profesi notaris, sebagai konsekuensi dari adanya kewajiban merahasiakan sesuatu yang diketahuinya.

 

Yurisprudensi Mahkamah Agung (MA) melalui Putusan MA No 702K/Sip/1973, menyatakan bahwa notaris fungsinya hanya mencatatkan atau menuliskan, apa yang dikehendaki dan dikemukakan oleh para pihak yang menghadap notaris tersebut. Tidak ada kewajibanb agi notaris untuk menyelidiki secara materil, terkait apa yang dikemukakan oleh penghadap di hadapan notaris. Berdasarkan Putusan MA tersebut, jika akta yang dibuat oleh notaris dipermasalahkan oleh para pihak, maka hal tersebut menjadi urusan para pihak sendiri, notaris tidak perlu dilibatkan, dan notaris bukan pihak dalam akta.

 

Hasil gambar untuk undang-undang perlindungan dokter

 

Perlindungan hukum yang juga lebih baik, adalah terhadap profesi advokat atau pengacara. Mahkamah Konstitusi (MK) mengabulkan permohonan perkara 26/PUU-XI/2013,  yaitu pengujian Pasal 16 Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat, yang terkenal sebagai hak imunitas advokat. Putusan tersebut dinyatakan MK dalam sidang pengucapan putusan yang dipimpin Ketua MK Hamdan Zoelva, Rabu 14 Mei 2015. MK menegaskan bahwa ketentuan Pasal 16 UU Nomor 18 Tahun 2003 tentang Advokat  harus dimaknai sebagai, advokat tidak dapat dituntut baik secara perdata maupun pidana dalam menjalankan tugas profesinya, dengan iktikad baik untuk kepentingan pembelaan klien, di dalam maupun di luar sidang pengadilan.

 

Mahkamah Konstitusi telah memutus menolak permohonan pengujian oleh Dokter Indonesia Bersatu terkait Pasal 66 ayat (3) UU Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, yang dianggap bertentangan dengan konstitusi, karena membuka interpretasi luas terhadap tindakan kedokteran yang dapat dikualifikasi sebagai tindak pidana. Putusan tersebut menekankan bahwa etika profesi, disiplin profesi, dan norma hukum secara normatif tidak dapat saling meniadakan atau saling menggantikan, yang dibacakan oleh Ketua MK Arief Hidayat Senin, 20 April 2015.

Dalam putusan nomor 14/PUU-XII/2014 tersebut, Mahkamah berpendapat pelanggaran atas etika profesi dan disiplin profesi hanya dapat dikenai sanksi secara etika dan/atau secara administratif. Namun demikian, tindakan dokter yang telah diperiksa dan diputus oleh Majelis Kehormatan Disiplin Kedokteran Indonesia (MKDKI), ditetapkan masih dapat diajukan pelaporannya kepada pihak berwenang dan/atau digugat secara perdata.

Dengan demikian, Pasal 66 ayat (3) UU Nomor 29 Tahun 2004 tentang Praktik Kedokteran, layak direvisi, ditinjau ulang secara hukum (re-judicial review) menggunakan bukti hukum baru (novum), dan kalau perlu dibatasi. Selain itu, hak imunitas dokter dalam aspek perlindungan hukum, layak disejajarkan dan serinci dengan profesi advokat dan notaris.

 

Sudahkah para dokter bertindak? Janganlah para dokter diam saja.

PB IDI

Sekian

Yogyakarta, 14 Mei 2018

*) dokter spesialis anak, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta

Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA 081227280161.

Categories
anak dokter Healthy Life Jalan-jalan rumah sakit

2013 NOSTALGIA KAPUAS dan BANJARMASIN

NOSTALGIA   KAPUAS   BANJARMASIN  2013
fx. wikan indrarto*)

Liburan tengah tahun 2013, kami isi dengan acara Nostalgia di Kuala Kapuas, sebuah kota di Propinsi Kalimantan Tengah, yang cukup sering disingkat dengan Kapuas. Kami menghabiskan 1 tahun penuh pada tahun 2000, dengan bertugas sebagai dokter spesialis anak di RSUD Dr. Soemarno Sosroatmodjo dan mama Sari menjadi dokter gigi di Puskesmas Selat. Yudhistira (mas Yudhi, anak sulung yang sekarang sudah kuliah), saat itu kelas 1 SD dan Bimoseno (dik Bimo anak tengah yang sekarang SMP), saat itu lahir dan dibaptis di sana. Dik Larasati (anak bungsu) yang sekarang kelas 6 SD.

DSC02757

Mendarat di Bandara Samsudin Noor, Banjarmasin (Propinsi Kalimantan Selatan), dengan Boeing 737 NG Lion Air JT 522

DSC02758

Makan siang menu lokal, nasi bungkus itik goreng kuah merah khas Banjar, tanpa sayur secuilpun

DSC02766

Jembatan Barito, jembatan sepanjang 2,2 km melintasi Sungai Barito yang paling lebar di Kalimantan Selatan, dan merupakan batas alam menyeberang ke Kalimantan Tengah

DSC02771

Papan nama Danumare di Pasar Kuala Kapuas, Kalteng masih sama persis dengan yang kami lihat tahun 2000

Perjalanan kami awali dengan pendaratan di Bandara Samsudin Noor, Banjarmasin (Propinsi Kalimantan Selatan), dengan Boeing 737 NG Lion Air JT 522 (gambar 1). Acara dilanjutkan makan siang menu lokal, nasi bungkus itik goreng kuah merah khas Banjar, tanpa sayur secuilpun (gambar 2). Kami makan di Desa Gambut, menjelang masuk kota Banjarmasin, di pinggir jalan trans Kalimantan yang lebar, halus, lurus dan ramai. Perjalanan kami lanjutkan dengan menyeberangi Jembatan Barito, jembatan terpanjang selama Orde baru berkuasa, terbentang 2,2 km melintasi Sungai Barito yang paling lebar di Kalimantan Selatan, dan merupakan batas alam menyeberang ke Kalimantan Tengah (gambar 3). Dalam waktu 1 jam dengan sebuah Kijang Innova 2004 type G, kami sudah mencapai jantung kota Kapuas. Langsung kami nenuju rumah dinas RS yang telah disediakan oleh dr. Bawa Budi Raharjo, direktur rumah sakit tersebut. Selanjutnya kami menuju Pusat Perbelanjaan Danumare, sebuah pasar di samping pelabuhan. Di pasar inilah, di awal Maret 2000, kami menginjakkan kaki pertama kali di Kapuas. Papan nama Danumare masih sama persis dengan yang kami lihat tahun 2000 (gambar 4). Malam hari, kami habiskan di bunderan selamat datang, di gerbang Kuala Kapuas, Kota Air (gambar 5), yang merah menyala dan megah.

DSC02777

Di bunderan selamat datang, di gerbang Kuala Kapuas, Kota Air di Kalteng, yang merah menyala dan megah.

DSC02791

Di depan patung Panglima Burung Dayak di pusat Kuala Kapuas, Kota Air di Kalteng

DSC02792

Rumah dinas dokter di kompleks RS Kuala Kapuas setelah direnovasi, yang dulu kami tempati

rumah kapuas

Rumah dinas dokter yang kami tempati tahun 2000, sederhana dan penuh memori

DSC02793

Bergaya dengan Dr. Diana Yuniarti, sekarang Kepala UGD RSUD Kuala Kapuas Kalteng

DSC02801

Kebun milik Dr. H. Bawa Budi Raharja (Direktur RSUD Kuala Kapuas) di daerah Basarang,

Kamis, 4 Juli 2013 pagi buta, kami berdua keliling kota naik motor dan berfoto penuh kengerian, di depan patung Panglima Burung (gambar 6). Panglima ini lambang kegagahan suku Dayak, saat terjadi bentrok massal melawan suku Madura yang menewaskan lebih dari 100 orang dan menjadi salah satu pencetus kepulangan kami ke Yogyakarta pada awal tahun 2001. Setelah semua terjaga, kami semua menikmati suasana nostalgia di kompleks RS. Pertama-tama adalah rumah dinas dokter yang dulu kami tempati (gambar 7). Saat ini sudah megah dan dilengkapi dengan mobil dinas dokter, Avanza type E tahun 2006 (gambar 7), bergaya dengan Dr. Diana Yuniarti, sekarang Kepala UGD RSUD Kapuas (gambar 8), dan main di kebun Dr. Bawa Budi Raharja, sekarang Direktur RSUD Kapuas. Kedua dokter senior di RSUD Kapuas tersebut masih kami kenang, karena pada waktu tahun 2000 sudah kami kenal. Kami habiskan siang itu di kebun milik dr. Bawa di daerah Basarang, yang penuh buah kelengkeng, buah naga dan buah anggur, disertai kolam ikan patin, dan rumah burung walet (gambar 9).

DSC02802

Semilir angin di pinggir Sungai Kapuas yang lebar, di dermaga penumpang kapal (gambar 10)

bimo gendong.jpg

Dermaga yang sama dengan yang dulu kita nikmati, saat Yangti menggendong dik Bimo (anak tengah) Maret 2001.

DSC02806

Naik perahu kecil bermotor tunggal yang berbunyi ‘klothok-klothok’ saat melaju, sehingga dinamakan kelotok (gambar 11).

DSC02815

Melihat kehidupan warga di sepanjang pinggir sungai Kapuas di Kalteng (gambar 12)

DSC02822

Jembatan merah dari kayu yang legendaris, tetap asri di tahun 2013 (gambar 13).

bimo gendong1

Jembatan merah dari kayu yang legendaris yang kami kunjungi Maret 2001, saat dik Bimo (anak tengah) masih bayi

Nostalgia selanjutnya adalah mencoba semilir angin di Sungai Kapuas yang lebar. Kami menyusuri pelabuhan (gambar 10), dermaga yang sama dengan yang dulu kami injak saat kami pertama kali datang dari Palangka Raya di Maret 2000. Kemudian kami naik perahu kecil bermotor tunggal yang berbunyi ‘klothok-klothok’ saat melaju, sehingga dinamakan kelotok (gambar 11). Kami menyebrang Sungai Kapuas yang lebar dan padat lalu lintas air, untuk menuju ke Dahirang, sebuah sentra kerajinan rotan dan getah karet, untuk disusun menjadi cindera mata khas Kalimantan Tengah. Selanjutnya kami menyusur Sungai kapuas lagi, untuk melihat kehidupan warga pinggir sungai (gambar 12), yang tinggal di rumah panggung dari kayu ulin yang tahan air dan menyusuri Anjir (Kanal) Serapat. Anjir ini menghubungkan Sungai Kapuas dengan Sungai Barito, yang dilengkapi dengan jembatan merah dari kayu yang legendaris (gambar 13).

DSC02831

Replika rumah adat dayak yang tinggi dan besar di pusat kota Kuala Kapuas Kalteng (gambar 14).

DSC02838

Mengunjungi SD St. Paulus di Jl. Tjilik Riwut Kuala Kapuas. Mobil antar jemput murid yang dulu, masih nampak bugar terawat (gambar 15).

yudhi di kelas1

Mas Yudhi (anak sulung) saat duduk di kelas 1 SD St. Paulus di Jl. Tjilik Riwut Kuala Kapuas, di tahun 2000.

DSC02841

Mengunjungi SD St. Paulus di Jl. Tjilik Riwut, sekolah mas Yudhi saat kelas 1 di tahun 2000 (gambar 15).

Perjalanan nostalgia dilanjutkan dengan melihat replika rumah adat dayak yang tinggi dan besar di pusat kota Kapuas (gambar 14), mengunjungi SD St. Paulus di Jl. Tjilik Riwut, sekolah mas Yudhi saat kelas 1 di tahun 2000. Mobil antar jemput yang dulu dia naiki, masih nampak bugar terawat (gambar 15). Kami menyusuri Jl. Patih Rumbi untuk menuju Gereja Katolik St. Mateus yang berwibawa (gambar 16). Mas Yudhi pernah aktif sebagai misdinar, lektor anak dan pemeran Yosef saat drama Natal Anak di gereja tersebut (gambar 16). Di Gereja St. Mateus itu juga, dik Bimo dibaptis pada malam Natal 2000 oleh Rm. Lulus Widodo, Pr dan diberinya nama permandian Karol, untuk mengenal Karol Wotjila (nama asli Paus Yohannes Paulus 2), yang menetapkan tahun 2000 tersebut sebagai Tahun Yubelium.

DSC02847

Gereja Katolik St. Mateus Kuala Kapuas, Kalteng yang artistik dan berwibawa (gambar 16).

bimo baptis2

Dik Bimo (bayi) dibaptis pada malam Natal 2000 oleh Rm. Lulus Widodo, Pr dan bersama dengan anak Dr. Diana Yuniarti juga

DSC02850

Sore harinya, kami bergaya melihat sunset di dermaga Patih Rumbi, tepi sungai Kapuas (gambar 17)

DSC02852

Mengunjungi rumah keluarga Pak dan Bu Prianto (wali baptis dik Bimo), di Kuala Kapuas (gambar 18).

Sore harinya, kami bergaya melihat sunset di dermaga Patih Rumbi (gambar 17), dan mengunjungi Pak dan Bu Prianto (wali baptisnya dik Bimo) (gambar 18). Sebelum meninggalkan kota kenangan, kami sempatkan bergaya di depan gerbang RSUD Kapuas yang nampak gagah (gambar 19) dan Puskesmas Selat di Kecamatan Selat (gambar 20), tempat mama Sari menghabiskan 8 bulan 1 minggu sebagai dokter gigi di sana pada awal tahun 2000 yang lalu.

DSC02846

Gerbang RSUD Kuala Kapuas, tempat kami dulu bertugas sebagai dokter spesialis anak, yang nampak gagah (gambar 19)

DSC02788

Puskesmas Selat di Kecamatan Selat (gambar 20), tempat mama Sari menghabiskan 8 bulan 1 minggu sebagai dokter gigi di sana pada awal tahun 2000 yang lalu.

DSC02859

Pamitan di bunderan Kuala Kapuas Kota Air, dalam pagi yang cerah dan menyilaukan Jumat, 5 Juli 2013 (gambar 21).

DSC02861

RS Suaka Insan, di Jl. H. Zafri Zam-zam no 60, di jantung kota Banjarmasin (gambar 22), tempat dik Bimo lahir.

DSC02866

Hampir semua bangunan RS Suaka Insan masih persis sama seperti yang kami lihat 13 tahun yang lalu, termasuk gerbang (gambar 23)

DSC02867

Pintu kamar no 29 dengan selasar atau lorong RS Suaka Insan Banjarmasin, ruang rawat gabung saat dik Bimo dulu lahir (gambar 24).

Perjalanan nostalgia kami lanjutkan dengan ucapan selamat tinggal di bunderan Kuala Kapuas Kota Air, dalam pagi yang cerah Jumat, 5 Juli 2013 (gambar 21). Perjalanan di dalam perut Innova 2004 type G, berlangsung lancar mencapai pusat kota Banjarmasin dalam 1 jam lebih 20 menit. Kami segera menuju RS Suaka Insan, di Jl. H. Zafri Zam-zam no 60, di jantung kota Banjarmasin (gambar 22). Kami mendapati hampir semua bangunan masih persis sama seperti yang kami lihat 13 tahun yang lalu, termasuk gerbang (gambar 23) dan selasar atau lorong RS (gambar 24). Kami napak tilas perjalanan tertatih-tatih mama Sari, karena persalinan sudah mulai masuk kala I, saat keluar dari Pav. Maria Kamar nomor 29, menuju Kamar Bersalin. Lantai dan lorongnya masih persis sama dengan yang dahulu menjadi saksi detik-detik lahirnya dik Bimo, sampai bertemu kembali dengan Sr. Imelda, SPC, yang dahulu mendekap hangat bayi dik Bimo (gambar 25). Sr. Imelda, SPC sangat terharu mengenangnya, karena kami menunjukkan foto beliau saat menggendong bayi dik Bimo dengan mesra. Dari Sr. Imelda, SPC inilah kami mendapatkan informasi, bahwa Sr. Rita, SPC yang dahulu juga menggendong bayi dik Bimo, saat ini sedang study di Universitas Sanata Dharma di Yogyakarta, sehingga kami cari di biara Sambilegi, Kalasan, Yogyakarta, segera setelah kami selesai liburan (gambar 25).

DSC02870

Sr. Imelda, SPC, yang dahulu mendekap hangat bayi dik Bimo saat baru lahir (gambar 25).

bimo lahir

Bayi dik Bimo tidur nyenyak di kamar no 29 RS Suaka Insan Banjarmasin, lahir pada 28 Oktober 2000

Nostalgia Banjarmasin kami lanjutkan dengan perjalanan ke pelabuhan Trisakti di pinggir sungai Barito yang lebar dan dalam. Gerbang Bandarmasih, nama baru pelabuhan tersebut, sangat megah dan artistik (gambar 26). Di gerbang pelabuhan itulah kami dahulu mencari info, untuk pulang ke Pulau Jawa naik kapal laut, karena harga tiketnya yang cukup terjangkau, dibandingkan naik pesawat terbang. Di pelabuhan tersebut dik Bimo terkagum-kagum dengan aktivitas banyak truk besar, termasuk truk naik truk akan naik kapal (gambar 27).

DSC02878

DSC02881

Di pelabuhan Banjarmasin dik Bimo terkagum-kagum dengan aktivitas banyak truk besar, termasuk truk naik truk akan naik kapal (gambar 27).

DSC02881

Berdoa di gereja katolik Katedral Keluarga Kudus Banjarmasin, yang merupakan katedral paling kecil se Indonesia (gambar 28)

DSC02885

Di kantor Gubernur Kalimantan Selatan yang gagah di Banjarmasin (gambar 30)

DSC02882

Nampak luar gereja katolik Katedral  Keluarga Kudus Banjarmasin (gambar 28).

banjarmasin soto

Bersama Dr. Setyo Sugiyarto, SpB-KBD di Warung Soto Banjar Handayani di pinggir sungai, saat main ke Banjarmasin 14 April 2001

DSC02887

di Warung Soto Banjar Bawah Jembatan, di pinggir Sungai Martapura  yang berair kuning dan penuh sesak pembeli (gambar 31).

Perjalanan nostalgia selanjutnya adalah menuju ke gereja katolik Katedral Banjarmasin (gambar 28), yang merupakan katedral paling kecil se Indonesia. Gereja Katedral Keluarga Kudus Banjarmasin ini diresmikan pada 28 Juni 1931 dan dibangun dengan arsitektur neo-gotik dari Eropa, terletak di Jl. Lambung Mangkurat, Kertak Baru Ilir, Banjarmasin. Kami kenangkan doa khusuk syukur kepada Tuhan, karena lahirnya bayi dik Bimo yang kami tunggu-tunggu dalam penantian selama 8 tahun, dengan berlutut di sebuah bangku dalam gereja tersebut (gambar 29). Setelah berdoa di dalam bangku yang sama dengan bangku yang dahulu kami duduki pada tahun 2000, kami melanjutkan nostalgia di kantor Gubernur Kalimantan Selatan yang gagah (gambar 30) dan makan kuliner menu lokal, soto banjar di Warung Soto Bawah Jembatan Sungai Martapura yang penuh sesak (gambar 31). Lanjutan perjalanan nostalgia di Banjarmasin, diawali dengan makan malam di Taher Square (gambar 32), di pinggiran Sungai Martapura yang membelah kota Banjarmasin, untuk bergabung dengan Sungai Barito.

DSC02903

Makan malam di Taher Square (gambar 32), di pinggiran Sungai Martapura yang membelah kota Banjarmasin, untuk bergabung dengan Sungai Barito.

DSC02908

Menyusuri Sungai Barito untuk menikmati pasar terapung di pagi hari (gambar 33).

DSC02907

Pagi buta, anak2 masih mengantuk saat  kami menyusuri Sungai Barito untuk menikmati pasar terapung (gambar 33).

DSC02918

Para penjualnya masih sangat tradisional di pasar terapung Banjarmasin (gambar 34)

Setelah terlelap kekenyangan di kamar 301 Hotel Palm, Jl. Jend. S. Parman 189 Banjarmasin, Sabtu dini hari, 6 Juli 2013, kami menyusuri Sungai Barito untuk menikmati pasar terapung (gambar 33). Pasar tradisional di pinggiran Sungai Barito ini, merupakan ikon kota Banjarmasin yang hampir punah, karena budaya air secara pelan namun pasti, tergantikan budaya darat dalam era modern. Para penjualnya masih sangat tradisional (gambar 34) dan jual beli makanan menggunakan tongkat penusuk antar kapal (gambar 35). Rasanya lebih banyak wisatawan yang berseliweran dengan perahu klotok (gambar 36), dibandingkan penjualnya yang berperahu jakung. Perjalanan di seputar pasar terapung, kami akhiri dengan melihat-lihat Masjid Sultan Suriansyah di seputaran Kuin yang bersejarah (gambar 37).

DSC02926

Rasanya lebih banyak wisatawan yang berseliweran dengan perahu klotok (gambar 36) di Pasar Terapung Banjarmasin

DSC02917

Jual beli makanan menggunakan tongkat penusuk antar kapal (gambar 35) di Pasar Terapung Banjarmasin.

Perjalanan nostalgia berikutnya adalah menyusuri jalan Martapura lama, menuju ke pusat kota Martapura, yang terkenal dengan sebutan Kota Indan dan Serambi Mekkah. Perjalanan melawan arus Sungai Martapura, melewati desa-desa tradisional Banjar, dengan kehidupan air dan agraris, yang sangat berbeda dengan jalan Martapura baru atau trans Kalimantan, yang dipenuhi budaya darat, industri, kesibukan penambangan, dan jauh lebih modern.

DSC02937

Masjid Sultan Suriansyah di seputaran Kuin Banjarmasin, Kalsel yang bersejarah (gambar 37).

DSC02945

Suasana islami serambi Mekkah di Alun-Alun Ratu Zaleha, Martapura, Kalsel (gambar 39)

DSC02942

Sentra permata di jantung kota Martapura, Kalsel (gambar 38)

DSC02952

Bernostalgia dengan Dr. Dyah Roselina, SpA, teman lama FK UGM (gambar 40) di RSUD Ratu Zalecha Martapura, Kalsel

DSC02953

Makan siang kuliner lokal dengan menu ikan haruan, patin, dan saluang, yang semuanya merupakan ikan spesies lokal Kalimantan,

DSC02959

Mengamati proses pengolahan intan di pusat penggosokan intan (gambar 41), Martapura, Kalsel.

DSC02965

Dapat membedakan intan dengan berlian (gambar 42).

DSC02975

Di Museum Lambung Mangkurat yang artistik (gambar 43), Martapura, Kalsel.

Kami menuju Sentra permata di jantung kota Martapura (gambar 38), kemudian menikmati suasana islami serambi Mekkah di Alun-Alun Ratu Zaleha (gambar 39), dan bernostalgia dengan Dr. Dyah Roselina, SpA, teman lama di UGM (gambar 40). Setelah sangat kenyang karena makan siang kuliner lokal dengan menu ikan haruan, patin, dan saluang, yang semuanya merupakan ikan spesies lokal Kalimantan, kami melanjutkan dengan mengamati proses pengolahan intan di pusat penggosokan intan (gambar 41), sehingga dapat membedakan intan dengan berlian (gambar 42). Kami meneruskan nostalgia di Museum Lambung Mangkurat yang artistik (gambar 43), bahkan menikmati miniatur rumah adat Banjar (gambar 44) dan membandingkannya dengan rumah keluarga Dr. Dyah Roselina, SpA yang sudah nampak megah dan modern, di lahan seluas 800 m2 di Banjarbaru.

DSC02972

Miniatur rumah adat Banjar (gambar 44) Di Museum Lambung Mangkurat yang artistik, Martapura, Kalsel

DSC02976

Rumah keluarga Dr. Dyah Roselina, SpA yang sudah nampak megah dan modern, di lahan seluas 800 m2 di Banjarbaru, Kalsel

banjarmasin

Di depan Bandara Syamsudin Noor, menyetir mobil dinas RS Kijang Super butut, banyak luka, tetapi sangat berkesan, pada 26 November 2001

DSC02977

Di tempat yang sama, depan Bandara Syamsudin Noor, wilayah Ulin pinggiran jalan trans Kalimantan (gambar 45), Banjarmasin

Kenangan nostalgia indah dan mengharukan di Kuala Kapuas (Kalimantan Tengah) dan Banjarmasin (Kalimantan Selatan), kami akhiri di Bandara Syamsudin Noor, wilayah Ulin di pinggiran jalan trans Kalimantan (gambar 45), untuk pulang dengan Lion Air Boeing 737 NG JT 522 menuju Yogyakarta. Terima kasih, kami sampaikan kepada segenap pihak yang telah mendukung terselenggaranya liburan keluarga ini dan sampai ketemu dalam laporan perjalanan selanjutnya.

*) pelancong hemat penuh nikmat di rumah Timoho Regency A4 Yogyakarta Sabtu, 6 Juli 2013

WA = 081227280161

Categories
anak antibiotika dokter Healthy Life Jalan-jalan kanker

2013 Tidak aus di Australia

TIDAK  AUS  DI  ASUTRALIA  2013

fx. wikan indrarto*)

Pada hari Jum’at, 23 Agustus 2013, kami berdua berangkat dari Yogyakarta pk. 14.30, dengan GA252 Boeing 737-800 menuju ke Denpasar. Setelah jalan-jalan ke Kuta dan berdoa sebentar di Gereja Katolik St. Fransiskus Xaverius Kuta dengan ditemani adik tercinta, Wahyu Prasetyaningtyas, kami melanjutkan penerbangan dengan GA 718 Air Bus A330-200. Selama 5 jam 10 menit di langit malam, kami sepesawat dengan Dr. Mei Neni Sitoresmi, PhD, SpA(K) dan Dr. Edy Supriyadi, PhD, SpA(K), keduanya dari RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta, mendarat di Tulamarin International Airport Melbourne, Australia.

DSC03180

Saat mendarat di Tulamarin International Airport Melbourne, Australia

DSC03183

Dalam Sky Bus dari Tulamarin International Airport ke kota Melbourne

MELBOURNE

Melbourne adalah ibu kota negara bagian Victoria di Australia. Melbourne merupakan kota terpenting kedua dari segi bisnis, kedua terbesar di Australia, serta kota terbesar di Negara Bagian Victoria. Pada bulan Juni 2011, Melbourne memiliki populasi 4.1 juta jiwa. Melbourne terletak di dekat teluk alami yang besar, yaitu ‘Port Philip Bay’. Pusatnya berada di muara sungai Yarra, dengan kawasan pinggiran di sekitar teluk ke arah timur dan barat. Melbourne dirikan pada tahun 1835, setelah 47 tahun kolonisasi Inggris di Australia, dan merupakan ibu kota Australia dalam rentang tahun 1901-1927. Melbourne dinyatakan sebagai kota oleh Ratu Inggris Victoria pada tahun 1847. Pada masa ‘Victorian gold rush’ tahun 1850-an, Melbourne menjadi kota paling besar dan kaya di seluruh dunia. Melbourne sudah empat kali mendapatkan predikat “The World’s Most Liveable Cities” (kota paling nyaman untuk ditinggali) dari majalah The Economist, yaitu pada 2002, 2004, 2011, 2012 dan 2013.

DSC03188

Dengan menggunakan myki card (pre paid card) seharga $8, saat kami naik tram

DSC03190

Jalur tram di dalam kota Melbourne yang rapi, moder, dan teratur

Pada pk. 7.25 kami keluar dari gerbang bandara international yang artistik tersebut, untuk menuju pusat kota dengan naik SkyBus, sebuah bis gandheng, warna merah menyala, bertarif  $AUD 17, yang melaju kencang ke Southern Cross Train Station hanya dalam waktu 20 menit. Di stasiun KA yang besar itu, kami membeli myki card (pre paid card) seharga $8, yang akan kami gunakan untuk naik tram. Kami menuju Victoria Hotel di Litlle Collins Street untuk early check in dan menitipkan tas di lockerlock seharga $ 5 untuk 6 jam. Oleh karena kamar belum bisa kami masuki, kami lanjutkan perjalanan menuju Melbourne Convention and Exhibition Centre (MCEC), tempat International Conggres of Pediatric (IPC) 2013 yang akan kami ikuti. Kami menggunakan tram jalur 96 dari Bourke Street, melewati Southern Cross Train Station dan menyeberang Yarra River, untuk terus menuju ke St. Kilda Beach. Setelah selesai proses registrasi, kami sempatkan mengagumi arsitektur bangunan MCEC yang megah, futuristik, bertiang miring dan hemat energi. MCEC mentereng gagah di tepian Yarra River, yang membelah kota Melbourne, di seberang Crown Casino yang padat penjudi.

DSC03191

Di sekitar Victoria Hotel di Litlle Collins Street, di kawasan padat Melbourne

DSC03194

International Conggres of Pediatric 2013 di Melbourne Convention and Exhibition Centre (MCEC)

Transportasi umum di Melbourne dilayani kereta api, tram, dan bus. Layanan ini sudah terintegrasi dalam jaringan bernama PTV sehingga satu karcis myki dapat digunakan untuk ketiga layanan tersebut. Stasiun utama kereta api Melbourne adalah Flinders Street Train Station, dan kerata api antarnegara bagian berangkat dari Southern Cross Train Station. Jalur kereta api pertama dibangun antara kota Melbourne dan Sandhurst pada tahun 1853. Sekarang, daerah metropolis memiliki 200 stasiun dan 16 jalur yang berpusat di ‘City Loop’, bagian jalur bawah tanah yang mengelilingi pusat kota. Dari stasiun Southern Cross, ada jalur langsung ke kota Sydney dan Adelaide, serta Geelong, Ballarat, Bendigo, Bairnsdale dan Seymour dengan kerata api yang dikelola V/Line.

Setelah menikmati keelokan Yarra River dan panoramanya, kami pulang kembali ke hotel, untuk makan siang menu bekal dari Yogyakarta (mie gelas), lalu tidur nyenyak karena sepanjang malam tidak dapat tidur di pesawat. Sorenya kami jalan kaki memikmati Melbourne City Center (MCC) yang tertata rapi, kompleksnya berbentuk persegi, lansekapnya relatif mendatar dan mudah diingat. Yang sejajar Yarra River adalah Flinders, Collins, Bourke, Loundale dan Latrobe Streets. Sedangkan yang memotongnya adalah Spencer, King, William, Queen, Elizabeth, Swanston, Russell, Exhibition dan Spring Streets. Jalan raya di MCC sungguh lebar, begitu juga trotoar untuk pedestrian. Di tengah jalan digunakan untuk jalur tram 2 arah, di tepinya untuk halte penumpang, dan yang lebih luar lagi digunakan untuk jalur mobil, sepeda dan parkir mobil sejajar. Pejalan kaki dan penyeberang jalan, diberi jalur khusus dan sangat dihormati oleh pengemudi. Kami menyusuri Bourke untuk melihat Victoria Parliament House, Hotel Windsor yang artistik, St. Patrick Cathedral, Chinese Museum, dan menjelajah Chinatown, sekalian makan malam dengan menu spicy chicken wing $6, pickled cabbage and vermicellu soup $11.8, rice $1.5 di Hot Pot Restourant, yang sisanya kami bungkus untuk makan di kereta.

DSC03203

Jalan raya di Melbourne City Center (MCC) sungguh lebar, begitu juga trotoar untuk pedestrian.

DSC03205

Patung di Bourke dekat Victoria Parliament House, Hotel Windsor, St. Patrick Cathedral, dan Chinese Museum

Kami melanjutkan perjalanan dengan tram no 96 ke Southern Cross Train Station, membeli tiket XPT (Express Passenger Train) seharga $ 91.20/seat untuk penjelajahan ke Sydney pada kelas ekonomi (gambar 15). Keretaapi yang dioperasionalkan oleh NSW CountryLink Sydney, berangkat pk. 19.55 dan diperkirakan akan sampai di Sydney Central Station pk. 6.55, dini hari berikutnya. Lokomotif streamline dengan warna dominan biru tua dan garis angin kuning, biru muda dan putih, dilengkapi lambang CountryLink yang terkesan dinamis. Kami menyusuri rel double track melewati 2 stasiun ‘pick up only’, 2 stasiun ‘stops only if required’, 1 stasiun tidak berhenti, 2 stasiun ‘set down only’ dan 11 stasiun berhenti penuh. Gerbong kelas ekonomi keempat berkapasitas 50 kursi, malam itu hanya berisi 4 orang penumpang, dilengkapi pintu geser berpemindai, toilet berkompresi, air minum ‘self service’, penghangat ruangan, dan ruang bagasi ala pesawat terbang. Para awak kabin adalah karyawan yang sudah berusia lanjut, bekerja mandiri, dan umumnya seorang wanita.

SYDNEY

Tahun 1770, Letnan James Cook pimpinan armada kapal dari Inggris, mendarat pertama kali di Botany Bay di Semenanjung Kurnell. Sebuah permukiman para tahanan didirikan oleh Arthur Phillip, yang tiba di Botany Bay dengan armada 11 kapal pada tanggal 18 Januari 1788. Phillip kemudian memindahkan koloni di sepanjang pantai, di Sydney Cove di Port Jackson pada tanggal 26 Januari 1788. Ia menamainya sama dengan Menteri Dalam Negeri Inggris, Lord Thomas Townshend Sydney, atas peran Sydney dalam mengeluarkan perjanjian yang membolehkan Phillip mendirikan koloni tersebut. Saat ini Sydney dianggap sebagai sebuah kota dunia A+, menurut Universitas Loughborough tahun 2008 dan menempati peringkat ke-16 berdasarkan Global Cities Indextahun 2008 oleh Foreign Policy. Sydney juga menempati peringkat ke-10 kota yang pantas dihuni di dunia menurut Mercer Human Resource Consulting dan The Economist.

Setelah turun di Sydney Central Train Station, kami tidak membeli opal (pre paid card) untuk tiket elektronik kereta api, karena kami hanya akan tinggal sesaat, sehingga kami menggunakan uang tunai untuk membeli tiket Sub Urban Train paket PP, menuju ke Circular Quay Station seharga $4.8/orang. Kami berdua berangkat dari platfrom 17, naik keretaapi dengan gerbong bertingkat 2, yang melayani rute City Circle, melewati Town Hall dan Wynyard Station, sebelum kami turun di Circualar Quay.

DSC03208

Bangunan megah di sekitar Sydney Central Train Station

DSC03221

Lokomotif streamline dilengkapi lambang Country Link di Sydney Central Station

Kami menikmati Sydney Opera House (SOH) yang artistik, monumental, dan mengingatkan kita kepada arsitek Jorn Utzon (1918-2008) yang merancang dan membangunnya pada tahun 1999. Tersedia paket wisata gedung monumental tersebut selama 1 jam petualangan. Pengunjung akan diajak mengenang kreasi dan cerita pembangungan gedung yang ikonik dan telah menjadi World Heritage. Dengan tiket VIP, pengunjung dapat merasakan sendiri, bermain drama di panggung, disorot lampu dan menjadi pusat perhatian penonton. Bahkan dapat napak tilas tangga legendaris yang telah pernah dilalui Ella Fitzgerald, Pavarotti, Mikhail Barysnikov, Cate Blanchett, dan memasuki Concert-Hall yang paling bagus sedunia, berdiri di panggung conductor, bahkan sampai di ruang ganti pemain. Kami berdua tidak mampu menjangkau semuanya, apalagi ikut menonton pertunjukan yang sedang digelar.

DSC03239

Sydney Opera House (SOH) karya arsitek Jorn Utzon yang artistik dan  monumental

DSC03234

Sydney Bridge yang tidak kalah artistik dan diresmikan pada 19 Maret 1932

Selain SOH, kami juga mengunjungi the Royal Botanical Garden, di sisi timur SOH. Dari puncak bukit kebun konservasi tersebut, tampak sebuah kapal pesiar besar yang sedang berlabuh di Campbells Cove, di seberang SOH. Kebun alami yang terawat baik ini, tidak hanya dilengkapi berbagai tanaman, kursi santai dan jalur olah raga lari, tetapi juga banyak sekali karya seni instalasi luar ruang. Kami sempatkan bergaya dengan ‘The Satir’, patung manusia kuda dari perunggu, karya pematung terkenal Frank Lynch.

DSC03246

‘The Satir’, patung manusia kuda dari perunggu, karya Frank Lynch.

DSC03248

Di dalam Sydney Opera House (SOH) karya arsitek Jorn Utzon.

Setelah itu, kami berjalan kaki menyusuri pelabuhan, yang setiap hari dipenuhi oleh ribuan pelancong. Wisatawan dari berbagai belahan kota dan dunia, ada yang kecil dalam kereta bayi dan yang lanjut dalam kursi roda atau tongkat penyangga, yang duduk dan yang narsis berfoto, yang makan dan yang minum di kafe deret, yang naik sepeda dan yang jogging, yang naik otopet dan yang digendong, semuanya menikmati pelabuhan Sydney yang bersih dan rapi. Kami segera menuju ke The Rocks Market (weekend only) di Goerge Street, dekat Metcalfe Arcade. Pasar kaget ini hanya buka pada hari Sabtu dan Minggu, di bawah lapak kaki lima, menjual aneka souvenir, di atas jalan raya beraspal lembut yang mendaki, dengan dikelilingi cafe kuno di teras rumah. Dinamakan The Rock, karena daerah tersebut berdiri di atas bukit padas yang keras dan besar. Letaknya persis di bawah Sydney Harbour Bridge. Jembatan Pelabuhan Sydney tersebut dibuka secara resmi pada tanggal 19 Maret 1932. Jembatan ini merupakan jalur utama untuk menyeberangi Pelabuhan Sydney yang menghubungkan distrik bisnis sentral Sydney (Sydney CBD) dengan wilayah utara (North Sydney) (gambar 20).

DSC03233

The Coathanger (Gantungan Baju), jembatan indah karena melengkung di bagian atas

DSC03253

Kapal pesiar yang berlabuh dan bersandar di Sydney Harbour

Di atas jembatan itu terdapat jalur kereta api, kendaraan bermotor, sepeda dan trotoar. Bersamaan dengan SOH, jembatan ini menjadi ‘ikon’ bagi kota Sydney, sekaligus Australia. Warga setempat menamai jembatan tersebut sebagai The Coathanger (Gantungan Baju), karena desainnya yang melengkung di bagian atas, meskipun sebutan tersebut semakin lama semakin jarang digunakan. Jembatan tersebut adalah bangunan tertinggi di Kota Sydney pada tahun 1967. Menurut Guinness World Records, jembatan itu merupakan yang terlebar di dunia, sekaligus sebagai jembatan lengkung berkerangka besi tertinggi di dunia, dengan puncaknya setinggi 134 m di atas permukaan pelabuhan.

Jembatan itu juga tercatat sebagai jembatan lengkung besi terpanjang nomor empat di dunia. Jembatan Sydney Harbour selesai dibangun pada 19 Januari 1932 dan 2 bulan kemudian, digunakan untuk pertama kalinya. Pengunjung dapat membeli tiket Bridge Climb, untuk memanjat jembatan tersebut, seperti yang pernah dilakukan Oprah Winfrey, Nicole Kidman, Justin Timberlaki, Cameron Diaz, Robert de Niro dan pemanjat ke 3 juta orang, Caitlin Mc Williams pada bulan April 2013 lalu. Diperlukan waktu 3,5 jam, termasuk persiapan dan penjelasan di ‘Climb Base’ di Cumberland Street dalam kawasan The Rock. Kami berdua juga hanya mampu melihatnya dan membayangkan pendakian tersebut dengan penuh kekaguman.

Di bawah jembatan besi tersebut, kami terkagum-kagum dengan Sydney Harbour Foreshore Authority. Kantor pergudangan tersebut tetap terawat baik, meskipun sudah hampir 150 tahun berdiri. Di halaman kantor tersebut, dibangun Dawes Point Park, sebuah  dermaga kayu sekaligus menempel ke lobi sebuah hotel. Itu merupakan lokasi terbaik, untuk mengambil gambar SOH secara utuh dalam format lansekap, diselingi Sydney Cove yang ramai dengan lalu lalang kapal.

Kami membeli spring roll (sejenis lumpia) $3.5, donuts $4, banana mufin $3, dan teh panas $3 di dekat loket Captain Cook Cruises, sebagai menu makan siang. Di dermaga teluk Sydney tersedia banyak kapal pesiar, yang melayani paket wisata ke Taronga Zoo, Watsan Bay, Darling Harbour, Fort Denison, Shark Island, Luna Park, ataupun sekedar sightseeing, tergantung dari lama waktu dan dana yang tersedia. Pelabuhan Sydney adalahsebuah areal yang banyak teluk dan semenanjung, yang dibangun menjadi sebuah areal publik. Keindahannya dapat disaksikan menggunakan Sydney Explorer Bus Services, sebuah bis tingkat tanpa atap, berwarna merah menyala, bertarif $40. Bis yang dilengkapi pemandu wisata berbahsa Mandarin, Korea, Jepang, Perancis, Jerman, Spanyol dan Inggirs, akan menyinggahi 34 buah tempat wisata, selain Circular Quay (gambar 22). Kami berdua memilih menikmati keindahan areal Pelabuhan Sydney hanya dengan berjalan kaki, melawan hembusan angin dingin di akhir winter (musim dingin).

DSC03257

Spring roll, donuts, banana mufin, dan teh panas di dekat loket Captain Cook Cruises

DSC03265

Dermaga kapal di Sydney Harbour, yang dipenuhi kapal pesiar yang bersandar

Dermaga kapal di Sydney Harbour langsung menghadap Museum of Contemporary Art. Kami sempatkan menikmati keindahan karya sastra 3 dimensi di museum 4 lantai tersebut, lalu melanjutkan perjalanan melewati The Argyl Store, sebuah rumah makan tempo dulu yang masih terawat baik, di kompleks The Rock. Oleh karena hari itu adalah hari Minggu, tujuan kami adalah mencari sebuah gereja, seperti yang terlihat pada peta dan penunjuk arah untuk wisatawan di setiap perempatan. Ternyata kami menemukan The Garrison Church, sebuah gereja Anglikan Australia yang dibangun pada tahun 1840. Sebenarnya kami mencari gereja Katolik. Setelah berdoa sebentar dan mengamati gaya artistiknya gedung gereja tersebut, kami berjalan kaki lagi menyusuri Nurses Walk, sebuah jalan kecil menuju sebuah bangunan bekas klinik, yang dibangun untuk mengenang Lucy Osburn (1835-1891), seorang perawat baik hati bagi kalangan para budak belian waktu itu.

Selanjutnya kami berbelanja Australia the Gift, sebuah toko souvenir, T shirts dan cindera mata, yang tegak berdiri di depan stasiun Circular Quay. Meskipun di toko megah, ternyata harga barangnya lebih rendah karena ‘Made in China’, dibandingkan cindera mata serupa ‘Hand Made by Australian’, yang dijual di kaki lima di areal pelabuhan ataupun The Rock Market. Di situlah kami mendapatkan informasi tentang gereja Katolik dari seorang pembeli lain. Setelah puas berbelanja, termasuk membeli bendera Australia untuk di meja, kami melewati patung Mr. Thomas Sutcliffe Mort, yang meninggal tahun 1879, dan merupakan pioner industri wool Australia yang telah mendunia. Setelah menyusuri George Street, kami berbelok ke Grosvenor Street, untuk menuju gereja Katolik di puncak bukit. Suster Dominikan dari Irlandia yang datang pada 4 September 1867, mendirikan St. Patrick’s Catholic Church Hill di Grosvenor Street. Kami mengukuti misa kudus hari Minggu di situ, yang hanya berlangsung 40 menit, dipimpin pastor yang sudah lanjut, dibantu seorang ibu sebagai prodiakon, dan tanpa ada misdinar seorangpun. Umatnyapun juga sudah tua-tua, sehingga seperti ada kekosongan panggilan pada kaum muda jaman ultra modern di situ.

DSC03274

Sydney Opera House (SOH) karya arsitek Jorn Utzon dari seberang Sydney Harbour

DSC03276

Bangunan kolonial di Sydney Harbour yang tetap terawat baik

Saat ini Sydney merupakan aglomerasi urban terbesar ke-3 di dunia (dengan populasi 3 juta jiwa) setelah Brasília (14.400 km²) dan Tokyo (13.500 km²). Pada sensus tahun 2006, dari 4.119.190 penduduk, 3.641.422 diantaranya menetap di wilayah urban Sydney. Inner Sydney adalah daerah yang paling padat di Australia dengan 4.023 jiwa per kilometer persegi. Nenek moyang penduduk Sydney yang paling umum adalah Australia, Inggris, Irlandia, Skotlandia dan Cina. Tiga negara sumber utama imigran di Sydney adalah Inggris, Cina dan Selandia Baru, diikuti oleh Vietnam, Lebanon, India, Italia dan Filipina.

Menjelang sore hari, kami pulang dengan naik keretaapi sub urban ke Sydney Central Station, melewati stasiun St. James dan Museum. Di Central Train Station yang dibangun Sir John See dan diresmikan pada tanggal 26 September 1903, kami mencari platform 10, untuk berjalan menyeberang ke ‘all paltform’, dan menuju loket intercity train. Kami membeli tiket di konter NSW Trainlink, dengan tujuan pulang ke Melbourne,dan berangkat pk. 20.40.

Perjalanan selepas gelap berlalu, melewati padang rumput yang sangat luas. Bahkan sepanjang mata memandanag, hanya terlihat rumput, domba dan sapi, yang seolah tanpa manusia seorangpun, di antara stasiun kota Benalla dan Seymour. Setelah melewati stasiun kota Broadmeadows, kami menikmati pemandangan daerah sub urban kota metropolitan Melbourne yang tertata, bersih, rapi, modern, dan mencerminkan kehidupan sebuah negara maju. Kami turun di Southern Cross Train Station platform 1 pada hari Senin pagi, 26 Agustus 2013, pk. 7.35 yang masih sepi penumpang.

DSC03284

Bis wisata di sekitar Sydney Harbour yang selalu padat pelancong

DSC03298

St. Patrick’s Catholic Church Hill di Grosvenor Street di Sydney

MELBOURNE

Kami menggunakan Tram no 96 dari East Brunswick ke St. Kilde Beach, naik di halte tram Bourke Street, untuk turun di Melbourne Convention and Exhibition Centre (MCEC). Tram no 96 ini termasuk generasi tram yang relatif baru, full electric dan informatif. Topik International Conggres of Pediatric (IPC) 2013 hari Senin, 26 Agustus 2013 yang menarik adalah ‘Adolescent Health’ dibawakan oleh Patton dari Australia, Vine dari Inggris dan Sawyer dari Australia dalam Plenary Session. Setelah itu, diteruskan dengan ‘Advance Immunisation in the Developing World’ oleh Grimwood dari Australia, Adlide dari USA, dan Thacker dari Nigeria pada sesi simposium di ruang 210.

Pada jam makan siang, kami pulang naik tram 108 via Collin Street, untuk turun di Old Treasury Museum. Setelah menyusuri Spring Street dan melewati Hotel Windsor, kami berbelok ke kiri untuk makan siang di Shuji Sushi, Japanese Cafe di Bourke Street. Menu Yakitori yang berisi daging tusuk dengan saus teriyaki seharga $3.5, Yasai Udon yang berisi berbagai sayuran dan mie seharga $12.9 dan minu teh hangat. Luar biasa uenak. Kami melanjutkan jalan kaki di sekitar MCC (Melbourne City Circle) ke St. Patrick’s Cathedral yang sekarang ini dipimpin Uskup Mgr. Denis Hart dan berlokasi di McArthrur Street. Katedral ini digunakan sejak tahun 1858. Bangunan indah ini lengkung jendela barat digagas Mgr. Patrick Bonaventura Geoghegan, OFM pada tahun 1867. Menara tengah yang menjulang digunakan untuk menganang Mgr. Thomas Joseph, CARR, sedangkan 2 buah menara kembar di bagian tengah untuk mengenang Mgr. James Alipius Goold, OSA. Pintu masuk yang sangat besar dirancang Mgr. Mannix pada tahun 1839, organ akustik oleh Mgr. Simonds tahun 1964, renovasi sakristi oleh Mgr. Knox tahun 1972, dan altar utama oleh Kardinal John O’Connor 1997. Ornament di dalam katedral yang indah ini pernah dikunjungi Santo Sri Paus Johanes Paulus II pada tanggal 28 November 1986.

DSC03311

Southern Cross Train Station platform 1 di Melbourne, sepulang dari Sydney

DSC03319

St. Patrick’s Cathedral di McArthrur Street, Melbourne

Transportasi umum di dalam kota Melbourne dilayani kereta api, tram, dan bus. Layanan ini sudah terintegrasi dalam jaringan bernama PTV (Public Transport of Victoria) sehingga satu karcis myki dapat digunakan untuk ketiga layanan tersebut. Stasiun utama kereta api Melbourne adalah Flinders Street Train Station, dan kerata api antarnegara bagian berangkat dari Southern Cross Train Station. Jalur kereta api pertama dibangun antara kota Melbourne dan Sandhurst pada tahun 1853. Sekarang, daerah metropolis memiliki 200 stasiun dan 16 jalur yang berpusat di ‘City Loop’, bagian jalur bawah tanah yang mengelilingi pusat kota. Dari stasiun Southern Cross, ada jalur langsung ke kota Sydney dan Adelaide, serta Geelong, Ballarat, Bendigo, Bairnsdale dan Seymour dengan kerata api yang dikelola V/Line.

Melbourne juga memiliki jaringan trem listrik terbesar di dunia, dan satu-satunya di Australia yang terdiri dari beberapa jalur. Pada tahun 2010, ada 182,7 juta penumpang trem, pada jalur sepanjang 250 km, sebanyak 28 jalur dan melewati halte trem. Kebanyakan jaringan terletak di median atau tengah jalan, tapi ada bagian kecil yang memiliki jalur khusus. Trem Melbourne dianggap artefak budaya dan daya tarik yang ikonis. Selanjutnya kami menikmati Melbourne City Circle Tram, jalur 35, yang merupakan tram gratis karena ditujukan untuk para pelancong, dan lewat setiap 12 menit. Tram ini merupakan generasi tram pertama di Melbourne, dengan ornamen kayu dan kaca aseli yang masih terawat dengan baik. Kami melewati Spring Street dan menyusuri Yarra River, untuk turun Flinders Street. Kami berfoto di Flinders Street Train Station yang artistik, ikonik dan berfungsi baik, di seberang St Paul’s Cathedral, sebuah katedral ‘the Anglican Church of Australia’. Katedral ini bergaya High Gothic Revival dan dibangun pada tahun 1880-1891 dengan arsitek William Butterfield. Nama jalan ini mengingatkan kita akan penindasan Captain Matthew Flinders (1774-1814) seorang navigator kapal, yang gagah dan ganas. Selanjutnya kami berjalan-jalan di The Federation Square, River Terrace, Federation Wharf, dan Yarra Building yang terletak saling berdekatan dalam sebuah kompleks. Sore itu area publik tersebut dipenuhi oleh para wisatawan dan warga Melbourne yang menikmati keindahan. Setelah kedinginan di Federation Square karena angin musim dingin yang berhembus kencang, kami terpaksa pulang ke hotal, untuk mencari pehangat ruangan.

DSC03322

Sisi dalam St. Patrick’s Cathedral di McArthrur Street, Melbourne

DSC03326

Melbourne City Circle Tram jalur 35, yang kuno, legendaris, tetapi masih hidup

Salah satu acara IPC 2013 di MCEC hari Selasa, 27 Agustus 2013 yang menarik adalah ‘Meet the Expert : Kangaroo Mothercare’ oleh Jeffery dari Australia di ruang 212, diteruskan dengan satu plenary session tentang ‘Global Action Plan for Diarrhea and Pneumonia’ oleh Mulholland dari Inggris di ruang plenary 3, dan seminar tentang ‘Every Newborn Action Plan Needs Every Paediatrician, What Can You Do?’ oleh Chopra dari WHO dan UNICEF. Acara selanjutnya kami isi dengan naik tram no 96 ke Royal Exhibition Building and Carlton Garden World Heritage Site di Nicholson Street Carlton. Royal Building tersebut dibangun pada tahun 1880, untuk ajang sebuah pameran internasional pertama di Australia. Bangunan bergaya Gothic dan Klasik yang berkembang saat itu, telah menginspirasi Joseph Reed sebagai arsiteknya. Gedung tersebut pernah digunakan sebagai gedung Parlemen Federal Australia pertama. Selanjutnya kami mengunjungi Melbourne Museum di sebelahnya yang menyimpan sejarah Melbourne, budaya lokal, jejak ilmu pengetahuan setempat dan pameran Aborigin.

DSC03337

DSC03343

DSC03337 DSC03343
 Stasiun utama kereta api Melbourne adalah Flinders Street Train Station  Building Graduate Centre, yang dirancang oleh Henry Bastow dan John Marsden

Kami berdua melanjutkan perjalanan dengan naik sebuah Tram 96 yang terbaru, berwarna kuning gading, bersifat Stop Requested Tram, untuk menuju ke Swantson Street. Kami berganti Tram 72 ke University of Melbourne, melalui Lincoln Square dan turun Grattan Street, yang merupakan terminal terakhir tram tersebut, di areal kampus. Kami mampir di The Royal Dental Hospital of Melbourne, gerbang kampus, mengagumi 1888 Building Graduate Centre, yang dirancang oleh Henry Bastow dan John Marsden. Gedung indah tersebut dahulu merupakan asrama para dosen muda di University of Melbourne. Setelah menjelajah areal kampus, termasuk Fakultas Kedokteran dan RS Pendidikannya, kami naik Tram 55 di depan The Royal Melbourne Hospital ke Royal Childrens Hospital. Selanjutnya kami naik tram 57 ke Victoria Market, sebuah pasar yang dibangun tahun 1878. Queen Victoria Market merupakan pasar terbuka (open air) terbesar di belahan dunia selatan. Lokasinya di persimpangan Elizabeth and Victoria Street yang buka hanya pada Selasa, Kamis, Jumat dan Sabtu. Di pasar ini dijual segala macam barang dagangan, dari makanan segar, produk impor dan lokal, kosmetik, pakaian dan souvenir. Kami makan di Canton Malay Cuisine beef brisket noodle soup $9.8

DSC03345 DSC03348
 Melbourne Museum berisi sejarah Melbourne dan pameran Aborigin.  Turun dari tram 72 di dekat gerbang University of Melbourne

Selanjutnya kami berdua kembali naik tram 19 menuju ke La Trobe Station, di seberang gedung pencakar langit Melbourne Central yang sangat tinggi sekali. Di situ kami berganti tram 35 ke Harbaour Esplenade and Central Pier. Setelah puas memandang dermaga dengan berbagai kapal dan jembatan, kami naik tram 70, melewati Harbour Side Dockland, Flinder Street, dan Federation Square, untuk menuju ke Melbourne Park, tempat Rod Laver Arena, stadion tenis lapangan yang terkenal dan berdiri begah di dekat stadion criket. Kami sempatkan keliling areal yang sedang direnovasi, mengagumi patung perunggu para juara Australia Terbuka tahun-tahun sebelumnya, dan bahkan bergaya seperti juara Australia Open 2013, salah satu grand slam tenis lapangan, yaitu Novak Djokovic (Serbia) dan Victoria Azarenka (Rusia).

DSC03374 DSC03377
 Rod Laver Arena, stadion tenis lapangan yang sedang direnovasi  Meniru teriakan Novak Djokovic (Serbia) juara Australia Open 2013

Kembali kami naik tram 70 ke Federation Square, untuk berganti tram  5 menuju ke The Shrine of Remembrance, yang berlokasi di St. Kilda Road and Birdwood Avenue. Makam pahlawan ini dibangun pada tanggal 11 November 1927 oleh Letkol Arthrur Herbert Tennyson Baron Somers. Bangunan megah bergaya Yunani abad pertengahan ini, telah menjadi landmark yang ikonik bagi Melbourne. Para pahlawan Australia, banyak yang disemayamkan di situ, karena yang gugur dalam Perang Dunia II di sekitar tahun 1939-1945. Bangunan World War II Forecourt, didirikan untuk mengenang para prajurit RAAF, AMF dan ANF, yang berperang di Yunani, Kreta, Siria, Mesir, Libia, Malaya, New Guenea, Pasifik dan Kalimantan. Kami hadir di situ saat upacara penurunan bendera nasional Australia pada pk. 17, oleh tentara angkatan darat, laut dan udara, sebagai tanda monumen tersebut tutup, dengan diiringi lagu kebangsaan Australia yang keras terdengar. Suasana hening di dalam kompleks makam monumental tersebut, yang berada dalam ketinggian lansekap bangunannya, mengingatkan tentang sejarah tentara Australia, keterlibatannya dalam perang, dan usahanya menciptakan perdamaian dunia. Dari balkon makam tersebut, kita dapat mengalihkan pandangan ke seluruh areal kompleks yang hujau, bahkan panorama pusat kota Melbourne. Dari situ kami kembali menikmati sore yang padat manusia pulang bekerja di Federal Square dan kembali ke hotel untuk bersitirahat.

DSC03378 DSC03383
 World War II Forecourt bergaya Yunani abad pertengahan untuk makam para pahlawan Australia Melbourne dari balkon makam para pahlawan Australia di World War II Forecourt

Hari selanjutnya, pada IPC 2013 di MCEC Rabu, 28 Agustus 2013, kami mengikuti ‘Meet the expert : Non-communicable diseases, a global perspective’ oleh Proimos dari Australia di ruang 210, kemudian ‘plenary session : Environmental impacts on Child Health’ oleh Sly Australia, Soder Swedia dan Wigg Australia di plenary 3, dan simposium ‘Global Infection: what’s new in HIV, TB, Dengue, Malaria?’ oleh Konstantopoulos dari Yunani dan Marais dari Australia.

Tawaran wisata ke Eureka Tower Skydeck 88 di Riverside Quay Southbank, untuk melihat lansekap kota Melbourne (an experience above all else), Phillip Island Nature Park untuk melihat pinguin, Great Ocean Road untuk melihat batu karang indah, Sovereign Hill untuk merasakan nuansa penambangan emas (goldrush) di Australia sekitar tahun 1882, dan Mount Buller untuk melihat salju, semuanya hanya dapat kami bayangkan saja. Selain harga tiketnya paling tidak $100/orang tidak terjangkau, juga syarat dan ketentuan yang diperlukan tidak memungkinkan bagi kami berdua.

DSC03366 DSC03353
Menu makan siang yang hangat dan berkuah lezat di kantin Gerbang sederhana di depan The Royal Children Hospital di Melbourne

Oleh sebab itu, segera kami naik tram 112 untuk pergi ke Gereja St Michel’s yang dibangun tahun 1867 dan merupakan bangunan gereja pertama di seluruh Melbourne. Rancangan interiornya dipengaruhi oleh gaya teatrikel galeri Florentine. Desain eksteriornya menggambarkan gaya Tuscan dengan perseptif Romawi, yang tidak ditemukan di seantero Inggris maupun Australia. Jendela kaca patri kembar, yang menggambarkan teologi visual, merupakan yang terbaik di belahan dunia selatan. Kapel ‘The Quiet Place’, pada sisi barat gereja, merupakan ruang penyimpanan abu jenazah dan doa oleh keluarga, yang setiap hari dikunjungi banyak peziarah. Letaknya di persimpangan Russel dan Collins Street. Nama jalan ini ditujukan untuk mengenang jasa Letkol David Collins, yang memimpin areal pelabuhan besar Port Phillip pada tahun 1803 dan membangun kota Hobart di Pulau Tasmania pada tahun 1804.

Sekedar mengingatkan, Melbourne terletak di bagian tenggara benua Australia dan terletak di sekitar Port Phillip. Daerah pinggiran Melbourne berkembang mengikuti aliran Yarra River ke arah Yarra dan Dandenong Ranges sedangkan di bagian selatan, perkembangannya terbagi ke dua arah disebabkan lokasi Melbourne sendiri. Ke arah barat terdapat Geelong yang terletak di Bellarine Peninsula sedangkan ke arah timur terdapat Frankston, dan berbagai kota yang terletak di pinggir pantai seperti Rye dan Sorrento. Ujung Bellarine dan Mornington Peninsula hanya dipisahkan sebuah selat kecil dan di antara kedua tanjung ini tersedia layanan penyeberangan. Kami putuskan untuk melihat-lihat keindahan daerah pinggiran (suburb) yang terjangkau dari Melbourne.

DSC03386 DSC03388
Istirahat sejenak di taman umum yang nyaman dan bersih  Gereja St Michel’s (1867) gereja pertama di seluruh Melbourne.

Untuk itu, selanjutnya kami melakukan penambahan dana (top up) myki card di Collins Pharmacy, sebuah apotek berbendera myki yang melayani jasa tersebut dengan bantuan petugas. Kami belum berani melakukan hal tersebut secara mandiri di mesin myki yang banyak terdapat di halte tram. ‘Top up’ kami lakukan untuk persiapan jalan-jalan ke sub urb dengan keretaapi Melbourne Metro, karena tarifnya $ 5,8 untuk zone 1. Akhirnya kami naik tram 72 bertiket 2c atau $ 1/5, menuju ke Flinders Street Train Station. Dari Flinders Street di platform 6, kami naik keretaapi METRO limited express zone 1 menuju ke Cranbourne.

Kami akan turun di Huntingdale, yang merupakan batas terjauh METRO sub urb zone 1. Rute METRO setelah Huntingdale, selanjutnya adalah Clayton sampai Cranbourne atau Pakenham, yang merupakan sub urb zone 2 dengan tiket yang lebih mahal. Kami akan menemui adik-adik tercinta Paulus Kuswandono (dosen FIP USD) dan isterinya Amelberga Vita (dosen Fisip UAJY), keduanya dari Yogyakarta dan sekarang mahasiswa S3 di Monash University Clayton. Kami meliwati stasiun Richmond, South Yarra, Hawksburn, Toorak, Armadale, Malvern, Caulifield, Camegie, Murrumbeena, Hughesdale dan Oakleigh. Semua bangunan stasiunnya berdinding warna merah bata, cukup sepi, bersih dan rapi. Kami melewati banyak rangkaian jalur METRO yang sibuk, teratur dan tepat waktu. Daerah sub urb yang kami lewati, pada umumnya terlihat rapi, nyaman, terbagi dalam blok dan berukuran serupa.

DSC03393 DSC03394
Dijemput adik Amelberga Vita (dosen Fisip UAJY) saat tutun dari METRO Zone  1 di Huntingdale Station. Dengan adik Paulus Kuswandono (dosen FIP USD) dan isterinya Amelberga Vita (dosen Fisip UAJY), di Clayton.

Kami dijemput di gerbang stasiun Huntingdale setelah melakukan ‘top off’ myki card. Perjumpaan dengan kedua adik tercinta tersebut, sangat mengharukan sekali, karena hampir 5 tahun dik nDono tidak bertemu mbak Ririk, sementara kami pribadi belum pernah kenal dengan keduanya. Meskipun demikian, suasana akrab dan ‘chemistry’ spontan segera terjalin, dan ‘city tour’ di Clayton segera mulai dari areal kampus Monash University, beli bensin, kompleks perumahan, dan makan siang Peri-Perks Nando, menu ayam dan kentang gaya Portugis di depan pasar Clayton. Setelah mengobrol berbagai hal di rumahnya yang asri, juga ketemu 2 anak mereka, Nimas dan Martin, sepulang mereka dari sekolah, kami diantar dengan mobilnya ke Albert Park. Sungguh sayang, kami lupa berfoto dengan Nimas dan Martin, yang tetap berseragam sekolah mereka masing-masing, pada saat mereka main game digital, dan kami tinggal untuk jalan-jalan lanjutan.

Melbourne dikenal sebagai kota yang gila olahraga. Olahraga yang populer di Melbourne adalah rugby, kriket, tenis, sepak bola dan bola basket, namun yang paling populer adalah Australian Football atau yang akrab dipanggil footy oleh warga Melbourne. Olahraga footy memang identik dengan kota ini dan negara bagian Victoria secara umum, bahkan lebih dari setengah tim-tim yang bermain di AFL (Liga Australian Football) berasal dari Melbourne. Menyebut football di Melbourne berarti merujuk kepada olahraga ini, berbeda dari Sydney atau Canberra, di mana kata tersebut merujuk kepada rugbi.

DSC03397  DSC03401
Kampus adik Amelberga Vita (dosen Fisip UAJY) saat S3 Monash University Clayton  Sisa yang dibungkus dari sajian makan siang di Clayton

Melbourne banyak menyelenggarakan kejuaraan olahraga internasional setiap tahunnya, mulai dari Formula 1, Australia Terbuka (tenis), Melbourne Cup (kejuaraan pacuan kuda paling bergengsi di dunia), hingga pertandingan kriket setiap bulan Desember yang terkenal. Pada tahun 2003, Melbourne merupakan salah satu kota yang menjadi tempat penyelenggaraan Piala Dunia Rugbi. Pada tahun 2006, Melbourne menyelenggarakan Pesta Olahraga Persemakmuran. Sebelumnya, kota ini pernah menyelenggarakan Olimpiade pada tahun 1956.

 DSC03404  DSC03406
 Rumah tinggal adik Paulus Kuswandono  dan isterinya Amelberga Vita di Clayton.  Bergaya di Albert Park, sirkuit balap mobil Formula 1 Grand Prix kelas dunia

Kami akan buktikan nuansa gila olah raga tersebut di Melbourne. Untuk itu, segera kami diantar dengan mobil dik nDono memasuki ke kompleks Albert Park Golf Course, mengelilingi danau buatan dan merasakan sensasi tikungan sirkuit balap mobil paling bergengsi di dunia, Formula 1 Grand Prix. Ternyata track yang digunakan bukanlah sebuah jalur balap khusus seperti di Sentul (Bogor) atau Sepang (Malaysia), tetapi hanyalah merupakan jalan untuk mobil golf para pemain dan caddy yang kelelahan. Pada saat diadakan balapan mobil grandprix seri F1, areal tersebut disulap menjadi sirkuit internasional, lengkap dengan ‘pitstop’, ‘puddock’, jalur pengaman, dan bahkan kursi penonton bertingkat yang portabel. Tikungan tajam yang pernah ditaklukkan Fillipe Massa, Ayrton Senna, ataupun Fernando Alonso, bahkan lintasan lurus yang dijejak Lewis Hamilton, Michail Schumacher, ataupun Kimi Raikonen, telah kami rasakan, meski dengan kecepatan yang sangat jauh lebih rendah. Sensasi dan imaji yang spontan terjadi, sungguh sangat luar biasa. Perpisahan, kami lakukan di areal balap jet darat Albert Park tersebut dan mereka berdua kembali ke Clayton.

 DSC03433  DSC03438
semilir angin laut dari arah Port Phillip Bay di Port of Melbourne.  salam selamat datang yang kami cari-cari, yaitu tulisan Melbourne yang ikonik.

Dengan Tram 112 dari West Beach, kami naik di Clarendon Street, persis di depan Melbourne Sports and Aquatic Centre di Albert Park. Kami ganti Tram 109 untuk menuju Beacon Cove. Rute menyeberangi Yarra River ini untuk menikmati Port of Melbourne. Di situlah kami menemukan salam selamat datang yang kami cari-cari, yaitu tulisan Melbourne yang ikonik. Selain itu, kami juga sempatkan melihat Spirit of Tasmania, sebuah ferri penyebarangan ke Hobart di Pulau Tasmania (gambar 51), yang akan berangkat dari Station Pier. Kami tunggu sampai matahari hampir terbenam dan malam menjelang, dalam dekapan semilir angin laut dari arah Port Phillip Bay yang membuat kami lapar dan mengantuk. Kami habiskan malam itu di City Loop, dengan jalan-jalan, melihat berbagai aktivitas warga kota yang damai, dan makan malam menu China di Red Mansion Exhibition Street di dekat Chinatown Precinct. Malam itu kami mampu tidur nyenyak dalam mimpi dan kepuasan batin, untuk persiapan pulang ke Yogyakarta.

 DSC03442  DSC03430
 Sky Bus warna merah jurusan Tulamarin International Airport ke kota Melbourne  Gerbang sederhana dan kecil di depan Port of Melbourne yang besar.

Tertima kasih kami sampaikan, kepada siapun juga yang telah memberikan dukungan dan kebersamaan, sehingga petualangan dan perjalanan di Melbourne dan Sydney yang melelahkan ini, telah terlaksana dengan baik dan tidak menimbulkan aus pada diri kami.

Sekian

Ditulis di kamar 4109 Victoria Hotel di Litlle Collins Street Melbourne, Australia

Dipancarkan dari free wifi Queen Victoria Market Melbourne

*) pelancong Jawa berdana cekak

DSC03254

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?