DOKTER NANO
fx. wikan indrarto*)
Sepanjang tahun 2017 yang lewat, sebagain besar dokter di Indonesia telah menghabiskan energinya untuk berbagai hal yang terkait kedokteran, tetapi bukan hal yang utama. Permasalahan dalam JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) dan DLP (Dokter Layanan Primer), semuanya berdimensi sosial, politik, hukum, keuangan, dan bahkan kebijakan. Selain bukan ‘patognomonik’ atau khas profesi dokter, topik tersebut hanya menyebabkan terjadinya perbantahan antar dokter. Apa dampaknya?
.
Para dokter Indonesia rasanya akan menjadi lengah, kurang siap dan tergagap saat menghadapi tantangan nyata di bidangnya sendiri, yang selama ini kurang mendapat perhatian sepadan. Salah satu yang harus segera diperbaiki adalah kebersamaan mengembangkan iptekdok (ilmu pengetahuan kedokteran) terkini. Iptekdok nano (nanomedicine) sebagai teknologi di masa depan adalah aplikasi medis dari teknologi nano, yaitu penggunaan material nano, baik untuk tahap diagnostik ataupun terapi. Untuk tahap diagnosis, kemampuan material nano untuk berinteraksi pada sel tertentu akan mampu tervisualisasi untuk mendiagnosis penyakit organ. Zat pewarna (dye) dapat dibuat bereaksi dengan sel penyakit seperti sel kanker, yang kemudian menghasilkan perpendaran (fluoresensi) untuk memudahkan diagnsosis dini. Untuk tahap terapi, partikel nano dapat menghancurkan sel kanker, bakteri TB di ujung apek paru-paru, atau bahkan memperkuat tubuh manusia. Fungsi penghantaran obat (drug delivery) menjadi lebih baik karena material nano mampu dimodifikasi dan diatur untuk melepaskan zat aktif obat, ketika menyentuh benda tertentu, seperti sel kanker. Selain itu, juga mampu melewati saluran khusus pada lapisan kulit dengan diameter 0,4-36 nanometer, sebagai jalur untuk penetrasi obat. Hal ini diperlukan agar dokter dapat meresepkan obat cukup hanya dengan dosis kecil, sehingga tidak akan menimbulkan efek samping berlebih.
.
Istilah ‘nano’ diambil dari ukuran suatu material dalam skala nanometer, yaitu satu nanometer sama dengan sepermiliar meter. Teknologi nano berarti sebuah rekayasa teknologi material dengan ketelitian ukuran pada skala nanometer, menciptakan material baru, bahkan mesin ataupun robot berukuran partikel. Material itu akan lebih kuat daripada intan, super ringan, tahan panas atau dingin, mampu menghantarkan listrik lebih baik, lebih tahan lama, dan ramah lingkungan. Dengan demikian diyakini akan menjadi teknologi terobosan untuk kemajuan di berbagai bidang, termasuk kedokteran, sebagai kunci teknologi di abad 21.
.
Tidak lama lagi akan dapat diciptakan robot nano (nanobot) oleh para peneliti di Zurich, Swiss untuk membantu melakukan operasi halus. Bot ini memiliki jarum untuk menggali dan tubuh dengan diameter yang berukuran hanya seperempat milimeter, atau setara dengan sekitar 4 rambut manusia. Ini berarti nanobot tersebut akan setipis pisau bedah dan jarumnya sama tajam. Dengan demikian, operasi medis apapun, termasuk bedah saraf, jantung dan mata dapat dilakukan dokter dalam sebuah operasi yang non-invasif dan irisan minimal. Peneliti lain sedang mengembangkan sistem yang disebut ‘The OctoMag,’ yang menggunakan serangkaian elektromagnet di sekitar kepala pasien, untuk memberi daya terhadap robot yang dikendalikan dokter, melalui tubuh pasien.
.
Menyusul peluncuran ‘National Nanotechnology Initiative’ (NNI) di USA oleh Presiden Bill Clinton tahun 2001, maka Inggris, Jerman, Perancis, Jepang, Korea Selatan, Taiwan, China, Israel dan lain-lain juga mengeluarkan program yang sama, dan bahkan berlomba menjadi ‘leader’ dalam teknologi ini. Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) mengundang para ilmuwan diaspora Indonesia untuk kembali ke ‘rumah’ dalam rangka Program ‘World Class Scholars’ (WCS) 2017. Sebanyak 40 orang ahli nano asal Indonesia yang bekerja di luar negeri (diaspora) telah dipanggil pulang dan diminta turut memikirkan kemajuan teknologi nano dalam kerjasama dengan perguruan tinggi di Tanah Air. Salah satunya adalah Dr. Ing. Ir. Hutomo Suryo Wasisto, MSc (Ito) yang lahir pada 7 September 1987 di Yogyakarta. Setelah lulus S-1 dari Teknik Elektro Universitas Gadjah Mada, dia melanjutkan Magister Teknik bidang Ilmu Komputer dan Teknik Informatika di Asia University, Taichung, Taiwan dan pada usia 27 tahun, Ito berhasil menyabet gelar doktor bidang Teknik Elektro, Teknologi Informasi, dan Fisika di Technische Universität (TU) Braunschweig, Jerman. Saat ini, Ito yang sudah lima tahun menetap di Jerman itu menjabat kepala Optoelectromechanical Integrated Nanosystems for Sensing (OptoSense) Group di Laboratory for Emerging Nanometrology (LENA), Braunschweig, Jerman dan pendiri Indonesian-German Center for Nano and Quantum Technologies (IG-Nano) di TU Braunschweig.
.
Dengan WCS ini diharapkan terjadi kolaborasi antara ilmuwan diaspora, peneliti peguruan tinggi dan dokter di Indonesia, sehingga mampu merekatkan berbagai bangsa dan profesi, dengan semangat membangun iptek, termasuk nanomedicine. Perkembangan teknologi nano di Indonesia sebenarnya sudah mulai berkembang, namun lebih cenderung ke arah material, belum ke arah teknologinya yang hi-tech, seperti di Tiongkok. Indonesia harus mendongkrak kualitas sumber daya manusia (SDM), termasuk para dokter, agar dapat berkompetisi dengan negara lain.
.
Nano sensor atau alat sensor nanowire GaN yang dibuat Ito sebagai prototipe untuk deteksi nitrogen dioksida (NO2), yaitu gas sensor bio medical. NO2 digunakan sebagai bahan sintesis untuk pembuatan asam nitrit dan merupakan salah satu polutan udara utama. Udara yang mengandung gas NO2 tinggi dapat menyebabkan pembengkakak paru atau edema pulmonum akut dan gangguan pada sisitem saraf yang menyebabkan kejang dan kelumpuhan. Dengan teknologi nano, sensitivitas sensornya tentu akan bertambah dan selektivitasnya juga bisa di-tune in dengan modifikasi. Tak hanya itu, Ito dan tim telah merancang sebuah alat silicon micro nano-electromechanical systems (M/NEMS) berbasis sensor nano partikel dan chip berukuran optik mikroskop dengan kemampuan super-resolusi.
.
Momentum Program ‘World Class Scholars’ (WCS) 2017 yang memanggil pulang Ito dan para diaspora ke Indonesia, mengingatkan pentingnya kolaborasi ilmuwan nano dengan para dokter. Kolaborasi ini mengingatkan para dokter agar berkiprah dalam bidang yang ‘patognomonik’ profesi dokter, serta menghindari perbantahan antar dokter yang tidak perlu. Sudahkah kita terlibat membantu?

Sekian
Yogyakarta, 30 Desember 2017
*) Sekretaris IDI Wilayah DIY, dokter spesialis anak di RS Siloam @ LippoPlaza dan RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com


