JELAJAH LAMPUNG : BUMI RUWA JURAI
fx. wikan indrarto dan b. sari prasetyati
Kami berlima dengan Yangti Salaman (Eyang Putri Yustina Nanik Karsini) berangkat dari Stasiun Tugu Yogyakarta dengan KA Argo Lawu pada Rabu pagi, 1 Juli 2009 menuju ke Jakarta. Setelah menginap semalam di rumah pakde Totok Ismintarto di Pamulang, Tangerang Selatan, kami melanjutkan dengan mobil sewaan, Kijang Innova B 8272 ZY ke Merak, di ujung barat Pulau Jawa. Biaya menyeberang kapal milik Indonesia Ferry yang dioperasikan ASDP untuk golongan 4A adalah Rp. 198.000 dengan waktu tempuh sekitar 2 jam, sampai di pelabuhan Bakauheni, di ujung selatan Propinsi Lampung (Ruwa Jurai). Ruwa Jurai berarti kaya raya dan indah berseri.

Siap2 wisata bahari di Pantai Mutun di jantung Teluk Betung, Lampung
Kami sampai di Bandar Lampung, ibukota Ruwa Jurai, Jumat, 3 Juni 2009 sekitar pk. 17.30 dan menginap di Hotel Arinas Jl. Radin Intan no 35A, di pusat kota. Malam itu kami beristirahat dan menikmati angin laut di alam bebas yang berhembus dari teluk Lampung. Bandar Lampung adalah sebutan untuk kota yang baru, sebab merupakan gabungan 3 kota lama yaitu Teluk Betung, Tanjung Karang dan Panjang. Setelah makan malam, kami menuju rumah Kol. Inf. Arwandi (sepupu bapak Wikan) di Jl. Pulau Batam Raya no 12 Wai Halim, Lampung. Kami membezook mertuanya (75 tahun) yang baru pulang dari rumah sakit, karena menderita Hepatitis A dan radang usus (kolitis) kronis. Setelah ngobrol dan anak-anak mulai mengantuk, kami pulang ke hotel.

Ubur-ubur laut yang ditangkap dik Bimosaat berenang di Pantai Mutun

Dik Laras bergaya di atas kelotok dalam perjalanan kembali dari Pantai Mutun
Jum’at pagi kami menjemput Sr. Franselin, HK (sepupu mama Sari) di Biara Pusat Kongregasi Suster Hati Kudus St. Anna di Jl. Pattimura, samping kompleks sekolahan Xaverius, lalu menuju Pantai Mutun di jantung Teluk Betung. Perjalanan diselingi tersesat 2 kali, sebab banyak persimpangan jalan di kota lama Teluk Betung. Pantai itu berpasir putih yang bersih dan kami naik kelotok bertarif Rp. 5.000 perorang untuk menyeberang ke pulau kecil yang terdekat. Kami mendarat setelah 10 menit berperahu di laut dangkal yang jernih, dan berenang sepuas hati di sekitar kelotok yang tertambat. Air lautnya jernih, pasirnya putih, ombaknya nyaris tidak ada, sehingga anak-anak sangat puas dan bergembira. Setelah mandi bilas dengan 100% air tawar yang dingin, kami melanjutkan perjalanan ke Wai Kambas.

Kami mencapai tujuan kami utama, yaitu Sekolah Gajah di Way Kambas, Lampung.

Keinginan kami adalah naik ‘gajah terdidik’ keliling taman Way Kambas, Lampung.
Perjalanan menyusur jalan lintas tengah Trans Sumatera yang padat dengan truk dan bis antar propinsi besar-besar hanya sampai Tegineneng, lalu membelok ke kanan menuju Metro, sebuah kotamadya di Lampung bagian tengah. Perjalanan menyusur melawan arus air irigasi, semacam Selokan Mataram di Yogyakarta dengan lebar 2 kali lipat, areal persawahan yang subur, luas dan sedang menghijau di lumbung padi Lampung. Kami mampir untuk mengenal Biara Novisiat Suster Hati Kudus di pusat kota Metro yang rindang karena lebatnya pohon dan teratur tata kotanya karena terancang baik. Perjalanan kami lanjutkan dengan melintasi Lampung bagian tengah yang sudah lebih maju dan masuk ke teritorial Kabupaten Lampung Timur yang lebih tertinggal. Sukadana sebagai ibukota kabupaten, nampak kusam dan sepi, dengan jalan protokolnya yang hancur, penuh lobang. Taman Nasional Way Kambas yang kami tuju adalah areal hutan asli yang dirancang sebagai tempat pelatihan dan penangkaran gajah Sumatera yang masih liar. Kami memasuki arealnya menjelang adzan Ashar yang menggema dari mushola dekat kantor petugas. Pertunjukan ketangkasan gajah rutin sudah usai, sebab jadwal terakhirnya pk. 14 dengan biaya Rp. 500.000 per paket, yang biasanya ditanggung ramai-ramai (patungan) oleh para pengunjung, makanya kami hanya melihat aktivitas sore hari para gajah. Sewaktu mereka pulang dari hutan untuk mencari makan sehari penuh, langsung dimandikan oleh para pawang, berendam di sebuah kolam, lalu kembali ke kandang. Mereka berjalan berpasangan, yang jantan gagah dan besar dengan kaki depan dirantai dan kedua gadingnya sudah dipotong ujung runcingnya, yang betina lebih kecil badannya, tanpa gading dan berjalan sambil melindungi anaknya. Salah seorang anak gajah yang sebesar sapi ada yang sempat marah dengan lenguhan keras dan mengejar kerumunan orang di pinggir jalan setapak.

Kami (dengan Sr. Franselin, HK) bergaya tanpa takut di depan gajah yang jinak di WaiKambas, Lampung

Kandang gajah tanpa pagar, seluas lapangan sepak bola dengan tiang beton penambat gajah yang nampak di kejauhan
Kami berhamburan melompat menghindar, sampai nafas tersengal dan degup jantung meningkat tajam, saat pawangnya memanggil gajah itu yang langsung menurut. Dikejar anak gajah sebesar sapi, adalah pengalaman ‘miris’ tak terlupakan. Kami lanjutkan dengan naik gajah keliling kompleks dan melihat dataran seluas lapangan sepak bola, dimana setiap gajah ditambatkan di sebuah tiang beton dengan rantai terikat dikedua kakinya. Malam hari sering ada rombongan gajah liar datang, sehingga gajah yang sudah jinak harus dirantai, agar tidak ikut mereka dan kembali liar. Ada 82 gajah dewasa dan 17 anak gajah di seluruh areal dan terlihat sebuah truk bermuatan rumput gajah, daun tebu dan rumput ilalang yang diturunkan di setiap tiang beton, untuk makan malam para gajah. Di sebelah lapangan itu, nampak banyak gajah yang masih merumput di semak-semak yang sangat luas, sepanjang mata memandang, nampak gajah-gajah yang berjalan dengan langkah pelan namun mantap.

Gajah yang sudah jinak tidak buta huruf, karena sudah sekolah

Taman Way Kambas yang luas, untuk mendidik gajah Sumatera

Rombongan gajah yang pulang sekolah di Way Kambas, Lampung
Sore itu kami kembali ke Metro dan mengistirahatkan Pak Nardi, sopir yang membawa kami dari Jakarta, di sebuah kamar di Biara Novisiat Suster Hati Kudus. Kami mampir untuk bertemu Dr. Paran Bagionoto, SpB, direktur RS Mardi Waluyo, dengan jamuan makan malam menu Jawa di sebuah RM serba ada, dekat alun-alun kota. Sehabis itu kami melanjutkan perjalanan pulang ke Bandar Lampung, setelah Pak Nardi cukup kuat. Kami menginap di Susteran HK Meirmeri, Jl. Dr. Sunarto, Bandar Lampung. Pagi harinya kami antar pak Nardi untuk menjalani rawat inap di BP St. Anna Jl. Patimura, sebab demam tinggi sekali sampai 40 derajad C, lemah, dan pusing, kemudian kami tinggal untuk keliling kota dengan dipandu oleh mas Erwin, anak sulung Kol. Inf. Arwandi.

Koleksi kain tenun khas Lampung di Museum Negeri Lampung
Pertama-tama kami mengunjungi Museum Negeri Lampung yang dirintis sejak 1975 di areal seluas 17.010 m2 dan diresmikan oleh Prof. Dr. Fuad Hasan, Menteri P&K RI pada 24 September 1988. Bentuk bangunan menggambarkan arsitektur tradisional Balai Adat Lampung (Sesat). Di halamannya yang luas, berdiri miniatur rumah panggung sebagaimana dahulu digunakan oleh masyarakat tradisional. Selain itu, juga ada jangkar kapal niaga abad lalu yang besar, ranjau laut dan meriam kuno untuk melawan bala tentara Kumpeni Belanda (VOC). Di dalamnya tersimpan aneka benda purbakala, dari jaman batu (megalitikum), jaman pertengahan sampai jaman sekitar kemerdekaan. Selain itu, tersimpan juga binatang khas Lampung dalam awetan, seperti hariamau, gajah, beruang madu, buaya, aneka ular dan burung yang semuanya asli Lampung dan hampir punah. Di lantai dua tersimpan aneka hasil tenun, batik, pakaian adat dan alat tenun tradisionil penghasil kain tersebut.

Gaya dik Bimo menembakkan Meriam kuno di halaman Museum Lampung

Makan siang di Pantai Pasir Putih dengan keluarga pakde Kol. Arwandi
Setelah puas memandang, kami melanjutkan perjalanan ke THR Pantai Pasir Putih, di dekat pelabuhan Panjang, di pinggir jalan trans Sumatera yang padat lalu lintas. Kami susuri jalan yang berdampingan dengan rel kereta api, yang saat itu dilalui oleh kereta babaranjang, kereta api terpanjang pengakut batubara dengan 50 gerbong dari Bukit Assam di Lampung Barat menuju Pelabuhan Batubara di Panjang. Kami sampai geleng-geleng kepala tanda takjub atas kebesaran eksplorasi alam Lampung yang kaya raya.
Rekresai di Pantai Pasir Putih itu kami awali dengan makan siang di atas tikar yang kami gelar di samping mobil yang parkir, dalam rindang bayangan pohon waru di atas pasir putih yang bersih, dengan hembusan angin laut yang semilir. Setelah itu, kami menyewa kelotok untuk menyeberang laut, menuju Pulau Condong yang berwarna hijau dari dedaunan di bukit yang terjal. Kami mengitari pulau itu, sambil melihat keindahan taman laut dengan kaca ‘snorkeling’ yang disediakan awak kapal. Karang dan ikan berbagai warna, ukuran dan bentuk, nampak nyata dan indah di bawah kapal yang bergeser, perlahan dibawa arus ombak kecil. Kami mendarat di sisi timur pulau dan menghabiskan siang itu dengan berenang-renang sampai puas.
Sore harinya, kami jenguk pak Nardi yang masih tergolek layu di bangsal rawat inap di BP St. Anna Jl. Patimura dan kami putuskan untuk pulang ke Jakarta, tanpa membawanya serta, karena tidak tega. Malam itu kami menginap di Hotel Kalianda, di seberang kantor Polres Lampung Selatan.

Istirahat sejenak di depan Kantor Bupati Lampung Selatan di Kalianda

Awal perjalanan pulang disimpang lima Bandar Lampung (Tapis Berseri)

Menara Siger di Bukit Bakauheni yang nampak gagah dari atas ferry penyebarangan
Minggu pagi 5 Juli 2009, kami sempatkan berdoa saja, sebab Misa Kudus baru akan berlangsung 2 jam lagi, di Kapel St. Paulus di kompleks rumah kalwat atau rumah retret Suster Hati Kudus di samping kantor Kodim Lampung Selatan. Perjalanan kami lanjutkan ke pelabuhan Bakauheni, di ujung selatan Lampung Selatan. Kami pandangi Menara Siger di puncak bukit Bakauheni. Menara tersebut berbentuk topi khas Lampung, yang biasa dikenakan oleh pria bangsawan, dan berfungsi sebagai gardu pandang para pelancong yang ingin melihat pemandangan Selat Sunda yang indah, kesibukan pelabuhan penyeberangan yang berdenyut selama 24 jam sehari, dan juga berfungsi sebagai ‘tetenger’ Bakauheni dari tengah laut.
Perjalanan menyeberang laut di sisi selatan Gunung Krakatau itu berjalan lancar dalam 2 jam. Kami lanjutkan dengan makan siang menu Jawa Timur di depan Terminal Terpadu Merak. Terminal tersebut sangat luas, sebab paduan antara terminal bis antar kota, angkot, mobil pribadi, truk angkutan barang, kereta api penumpang, pelabuhan peti kemas, dan penyeberangan laut menggunakan ferri. Setelah berfoto-foto sepuasnya, perjalanan kami lanjutkan melalui jalan tol Jakarta Merak yang sedang diperbaiki, untuk menuju Banten.
Kami mengunjungi Banten Lama, sekitar 9 km dari pusat kota Serang. Kami melihat kompleks Keraton Surosowan atau Gedung Kedaton Pakuwan yang dibangun pada masa pemerintahan Maulana Hasanuddin (1552-1570). Perlu diketahui bahwa Kerajaan Islam Banten di Surosowan (saat ini masuk Banten Lama) didirikan di dekat pantai, pindahan dari Banten Girang (=hulu). Kota Surosowan sebagai ibukota kerajaan dibangun atas perintah Sunan Gunung Jati kepada puteranya Maulana Hasanuddin Panembahan Surasowan yang kemudian menjadi raja Banten pertama pada tahun 1552.
Islam datang pada 1524 dan Sunan Gunung Jati atau Syeh Syarif Hidayatullah mengalahkan Prabu Pucuk Umum (putera Prabu Seda), penguasa terakhir Kerajaan Sunda Wahanten Girang. Keraton Surosowan dibangun pada 1552-1570, dindingnya setinggi 2 meter, dan tebalnya 5 meter. Panjang dari timur ke barat 300 m dan utara ke selatan 100 m.

Dinding bekas pondasi Keraton Sorosowan di Banten yang dihancurkan pasukan Daendels

Dik Laras bergaya sendirian di Situs purbakala yang tinggal puing batu kurang tertata, di dalam kompleks Banten Lama
Pada pemerintahan Pangeran Muhammad, berlabuhlah kapal-kapal Belanda yang dipimpin Cornelis de Houtman di pelabuhan Banten pada tahun 1596. Dalam catatan Jansen Kaerel diceritakan kota Banten yang sudah maju, dikelilingi pagar tembok batu bata, bermeriam, pasarnya ramai dan masjidnya besar. Catatan Willem Lodewiyk menggambarkan pedagang Portugis, Arab, Cina, Turki, Keling, Pegu, Gujarat, Malaya, Benggali, Malabar dan Abesinia, juga Bugis dan Jawa.
Catatan Tome Pires menyebutkan transaksi di pasar telah menggunakan mata uang Cina, yaitu Caxa (cash) dan Tumdaya (tael). Sebagai perbandingan 1.000 cash seharga 29 kg (58 pon) lada. Masa keemasan Kerajaan Banten dicapai pada pemerintahan Sultan Ageng Tirtayasa Abdulfathi Abdul Fatah (1651-1672). Sensus penduduk pada masa pemerintahan Sultan Abdul Mahasin Zainul Abidin menyebutkan jumlah penduduknya 31.848 jiwa di tahun 1694
Pada tahun 1808 Daendels yang gagal memaksa Sultan Muhammad Syafiuddin untuk menyerahkan kerajaannya bersama dengan Lampung, lalu menghasut rakyat Banten untuk menghancurkan gedung istana Pakuwan Surosowan dan dipaksa untuk membuat pelabuhan kapal di pantai Labuan (pantai barat selatan Banten). Perang besar meletus dan tentara Belanda didatangkan dari Batavia untuk menghancurkan istana yang megah itu pada tahun 1832 dan berakhirlah era Kerajaan Banten yang akhirnya disatukan dalam teritorial Batavia dan dibentuk pemerintahan sipil yang dipimpin oleh landrost (semacam residen) dan berkedudukan di Serang.
Peninggalan di Banten lama adalah Kompleks Keraton Surosowan, Masjid Agung, Tiyamah, Menara Masjid, kompleks makam, meriam Ki Amuk (hadiah dari Sultan Trenggana di Demak kepada Sunan Gunung Jati), masjid Pacinan Tinggi (masjid yang pertama kali dibangun Sunan Gunung Jati), kompleks Keraton Kaibon (istana sultan terakhir), vihara Avalokitecvara (didirikan oleh Sunan Gunung Jati yang mengalahkan rombongan Cina yang akan ke Tuban, kehabisan bekal dan mampir di Banten. Sunan memperisteri Puteri Ong Tien, sehingga dibuatkan Masjid Pecinan Tinggi dan vihara untuk para pengikutnya secara adil, sebab ada yang jadi Islam), masjid Koja, Kerkhof (makam orang Eropa), benteng Speelwijck, Tasik kardi (sebuah danau buatan), pengindelan (bungker yang berfungsi sebagai penyaring air), klenteng Cina, Watu Gilang dan Museum Banten. Watu Gilang ada 2 buah, di depan kompleks keraton Surosawan dan di alun-alun sebelah utara. Bentuknya segi 4 dengan permukaan datar, terbuat dari batu adesit dan digunakan untuk pentasbihan sultan Banten.
Setelah puas berkeliling situs arkeologis itu, kami melanjutkan perjalanan ke Jakarta dengan masuk tol di gerbang Serang Timur. Kami menuju Gereja Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga di Paroki Katedral Jakarta, untuk mengikuti misa sore. Hari Minggu 5 Juli 2009 itu, gereja dengan arsitek Marius Hulswit (1899-1901) yang bergaya Gothik abad pertengahan, sedang direnovasi bagian menara kembar di depan.
Setelah misa, kami mengitari Taman Monumen Nasional, berfoto dan terkesima atas kegagan cahaya api dari emas di puncaknya setinggi 145 m. Malam itu kami ketemu keluarga pakde Totok di kantin stasiun Gambir, lalu berpisah jalan. Mobil Kijang Innova sewaan telah diambil lagi oleh salah seorang sopir yang telah menunggu di Gambir, sebab pada saat itu pak Nardi masih tergolek lunglai di Bandar Lampung.
Kami pulang ke Yogyakarta dalam gerbong KA Taksaka II dengan badan lunglai, sedangkan Yangti (Eyang Puteri Yustina Nanik Karsini) diajak untuk berlibur di rumah pakde Totok Ismintarto di Pamulang, Tangerang Selatan. Kami berlima sampai di Yogyakarta dengan selamat di pagi buta Senin, 6 Juli 2009, meski lemah, pening, mual, demam dan batuk. Sungguh, itu perjalanan sejauh 1.586 km yang penuh kenangan karena diakhiri dengan sakit.
Disampaikan banyak terima kasih, kepada siapa saja yang telah membantu terjadinya petualangan menjelajah Lampung, bumi Ruwa Jurai kali ini. Sampai jumpa dalam petualangan berikutnya.

Bergaya di buritan fery penyeberangan ke Merak, Banten dari Bakaheuni, Lampung
sekian
Yogyakarta, 7 Juli 2009

*) ketua rombongan pelancong bergaya minimalis.
6 replies on “2009 JELAJAH LAMPUNG : BUMI RUWA JURAI”
Mantap dr. Wikan
Ayo jalan2.
What ?
What ?
What ?
What ?