Categories
Istanbul

2018 Relawan Saat Bencana

Gambar terkait

 

 

RELAWAN  SAAT BENCANA

fx. wikan indrarto*)

 

Jumlah korban meninggal dunia dalam gempa di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, dengan kekuatan 7 pada Skala Richter pada Minggu, 5 Agustus 20178 meningkat terus, bahkan pada hari Senin, 13 Agustus 2018 sudah tercatat sebanyak 436 orang. Selain itu gempa juga menyebabkan 1.353 orang korban luka-luka, dimana 783 orang luka berat dan 570 orang luka ringan. Apa yang sebaiknya kita lakukan?

 

Hasil gambar untuk ‘The Global Foreign Medical Teams’ (FMT)

 

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho, pada hari Kamis, 9 Agustus 2018 menyatakan pemerintah memang belum membuka pintu masuk bantuan dari pihak asing. Oleh karena itu meskipun banyak pihak yang sudah menawarkan bantuan, namun belum disetujui pemerintah. Meskipun demikian, sebaiknya kita mengetahui bahwa ‘The Global Foreign Medical Teams’ (FMT) telah menetapkan standar minimum dan registrasi untuk relawan kesehatan internasional. Kegiatan yang bertema ‘building a global emergency workforce ready to go’, telah diluncurkan pada Jum’at, 10 April 2015. Sistem ini memungkinkan adanya respon yang lebih efektif dan koordinasi dengan lebih baik, antara negara dan wilayah penyedia dan penerima bantuan relawan kesehatan.

 

 

Dalam gerakan tanggap darurat sebelumnya, termasuk bencana gempa bumi di Haiti dan tsunami Asia Selatan dan Tenggara tahun 2004, beberapa tim relawan kesehatan asing datang ke lokasi, tanpa memberitahu pihak berwenang lokal, termasuk di Indonesia, dan tidak berkoordinasi dengan tim kesehatan internasional lainnya. Meskipun mereka sebenarnya memiliki niat baik, namun kadang para relawan tersebut tidak memiliki pengetahuan yang memadai, keterampilan yang tepat, tidak terbiasa dengan standar sistem internasional, atau membawa peralatan yang tidak pantas, tidak sesuai atau tidak layak dengan kebutuhan kesehatan masyarakat setempat.

 

Hasil gambar untuk relawan kesehatan

 

Sistem yang dikembangkan WHO selama masa tanggap darurat sebelumnya adalah untuk bencana wabah Ebola di Afrika Barat, yang melibatkan hampir 60 tim relawan kesehatan asing, yang dikirim oleh 40 organisasi. Negara yang mengirim relawan di 72 pusat pengobatan Ebola di 3 negara di Afrika Barat, meliputi Australia, China, Kuba, Republik Demokratik Kongo, Denmark, Ethiopia, Perancis, Jerman, Kenya, Korea, Selandia Baru, Nigeria, Norwegia, Rusia, Afrika Selatan, Swedia, Uganda, Inggris dan Amerika Serikat. Perawatan pasien Ebola di berbagai negara ini mengingatkan kita semua, akan perlunya pengetahuan medis yang harus selalu diperbaharui dan peralatan kesehatan yang modern, karena para relawan kesehatan juga memiliki risiko besar tertular wabah atau korban bencana alam susulan.

 

Hasil gambar untuk relawan kesehatan

 

Setiap dokter, perawat atau paramedis yang datang dari negara lain atau wilayah lain dalam keadaan darurat medis, wajib datang sebagai sebuah tim relawan. Tim itu harus memiliki kualitas, pelatihan dan peralatan atau perlengkapan yang memadai, sehingga dapat merespon masalah dengan baik, bukan malahan menjadi beban bagi sistem kesehatan nasional atau lokal setempat. Tim harus bekerja secara swasembada, memberikan perawatan kesehatan yang berkualitas dan memenuhi standar minimum yang dapat diterima secara internasional. Tim relawan kesehatan dapat berasal dari instansi pemerintah, RS swasta, LSM, militer dan organisasi nirlaba internasional seperti Palang Merah Internasional atau Bulan Sabit Merah. Relawan wajib terlatih, bekerja sesuai dengan standar minimum internasional, datang dan bekerja secara mandiri, sehingga tidak membebani sistem kesehatan nasional atau lokal setempat.

 

Hasil gambar untuk relawan kesehatan

 

Tujuan registrasi tim relawan kesehatan adalah meningkatkan kualitas pelayanan yang disediakan, meningkatkan koordinasi, dan memberikan respon tepat waktu kepada negara atau wilayah yang terkena dampak bencana. Selain itu, juga sebagai forum peningkatan kualitas, dengan mengembangkan standar minimum dan bimbingan praktek terbaik, juga menciptakan sebuah forum untuk interaksi antara penyedia tim dan negara atau wilayah penerima. Dalam hal ini, juga termasuk memungkinkan otoritas negara atau wilayah untuk menginformasikan kepada tim relawan yang datang, tentang standar pelayanan (SOP) dan persyaratan untuk akses ke negara atau wilayah mereka dalam keadaan darurat, misalnya aturan tentang impor obat dan alat kesehatan, pendaftaran dokter, dan lainnya.

 

Hasil gambar untuk relawan kesehatan

 

Sejarah tim relawan kesehatan memang berhubungan dengan kasus trauma atau luka  karena bencana alam seperti gempa bumi, dan berfokus pada tindakan operatif bedah. Namun demikian, bencana wabah Ebola di Afrika Barat telah membuktikan bahwa diperlukan juga ketrampilan medis dalam penanggulangan bencana karena wabah penyakit non bedah. Wabah Ebola ini berawal di Guinea pada bulan Desember 2013 dan kemudian menyebar ke Liberia dan Sierra Leone. Relawan kesehatan untuk wabah Ebola ini merupakan kegiatan penyebaran tim terbesar untuk sebuah wabah penyakit, yaitu mencapai 58 tim, bandingkan dengan 151 tim saat terjadi Topan Haiyan di Filipina pada bulan November 2013, dan hampir 300 tim saat terjadi gempa bumi di Haiti Januari 2010.

 

Hasil gambar untuk relawan kesehatan

 

Dengan adanya kasus bencana wabah Ebola, persyaratan tim relawan kesehatan untuk tanggap darurat kesehatan menjadi meningkat lebih luas, dari yang dibutuhkan selama ini, yaitu ketrampilan dalam kasus trauma dan bedah. Ke depan, ketrampilan relawan medis juga harus mencakup kemampuan untuk merawat korban penyakit seperti kolera, Shigella dan Ebola, serta tim untuk mendukung masyarakat yang terkena dampak banjir, gempa bumi, konflik bersenjata, dan krisis kemanusiaan berkepanjangan seperti kelaparan.

 

Hasil gambar untuk relawan kesehatan

 

Tim relawan bekerja sesuai pedoman dalam ‘Classification and Minimum Standards for Foreign Medical Teams’. Klasifikasi dan standar minimum ini diterbitkan pada pertengahan 2013 yang untuk pertama kalinya digunakan pada November 2013, saat bencana topan Haiyan di Filipina. Kementrian Kesehatan Filipina telah mengkoordinasikan penyebaran 151 tim relawan dengan baik, dan bahkan mampu menemukan sistem dan klasifikasi yang baru, sesuai dengan tujuan pengerahan relawan kesehatan.

 

Hasil gambar untuk relawan kesehatan

 

Korban bencana gempa bumi, termasuk di Lombok NTB, rata-rata mengalami luka di bagian kepala dan patah tulang akibat reruntuhan bangunan. Kesulitan para relawan biasanya terkait gempa susulan yang masih sering berlangsung, juga terganggunya sistem dan fasilitas kesehatan setempat. Oleh karena itu, setiap orang diingatkan untuk tergerak menjadi relawan kesehatan yang terkoordinasi baik.

Sudahkah kita siap?

 

Ikut pak Jokowi Sekian

Yogyakarta, 7 Agustus 2018

*) dokter spesialis anak, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor FK UKDW, WA : 081227280161,

 

By Fx Wikan Indrarto

Dokter Fx Wikan Indrarto

Leave a Reply

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?