
TENGGELAM
fx. wikan indrarto*)
Cucu Menkopolhukam Wiranto yang berusia 1 tahun 4 bulan meninggal dunia pada Kamis, 15 November 2018, karena mengalami kecelakaan terpeleset di kolam. Pada 7 Mei 2017, telah terbit ‘Preventing drowning: an implementation guide‘ (Mencegah tenggelam: sebuah panduan implementasi). Publikasi ini disusun untuk memberikan panduan praktis tentang bagaimana menerapkan intervensi pencegahan tenggelam. Apa yang sebaiknya kita ketahui?

Tenggelam adalah sebuah proses gangguan pernafasan karena perendaman atau
pencelupan dalam cairan, yang dapat menyebabkan luka atau cidera dan kematian.
Laporan global tentang tenggelam (Global
Report On Drowning: Preventing A Leading Killer) pada tahun 2015,
diperkirakan 360.000 orang meninggal karena tenggelam, sehingga tenggelam
merupakan masalah kesehatan masyarakat utama di seluruh dunia, karena menjadi
penyebab utama ke-3 kematian akibat kecelakaan yang tidak disengaja. Pada tahun
2015, tenggelam menyumbang lebih dari 9%
dari total angka kematian global, penyebab utama kematian akibat cedera yang
tidak disengaja, dan mencapai 7% dari semua kematian terkait cedera.
Beban global dan kematian akibat tenggelam ditemukan di semua kelompok ekonomidan wilayah. Namun demikian, tenggelam mencapai lebih dari 90% kematian yang tidak disengaja di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Lebih dari separuh kasus tenggelam terjadi di Pasifik Barat dan Asia Tenggara. Selain itu, tingkat kematian tertinggi karena tenggelam terjadi di Afrika, mencapai 15-20 kali lebih tinggi daripada di Jerman atau Inggris Raya. Memang masih ada berbagai ketidakpastian tentang perkiraan kematian global karena tenggelam. Hal ini mencakup metode kategorisasi data resmi tenggelam yang tidak seragam dan tidak semua memasukkan kasus kematian tenggelam yang disengaja, baik bunuh diri ataupun pembunuhan. Selain itu, juga kasus tenggelam akibat bencana banjir dan kecelakaan transportasi air. Data kematian karena tenggelam dari sebuah negara dapat dipertimbangkan jika memenuhi kriteria berikut: perkiraan cakupan kematian nasional sebesar 70% atau lebih, penyebab kematian kurang jelas kurang dari 20%, terdapat 10 atau lebih penyebab kematian pada kelompok usia 1-14 tahun, dan data tersedia dari tahun 2007.

Meski data terbatas, beberapa penelitian mengungkapkaninformasi mengenai dampak biaya tenggelam. Di Amerika Serikat, 45% kematiankarena tenggelam mengenai salah satu segmen populasi yang paling aktif secaraekonomi. Kasus tenggelam di pesisir Amerika Serikat saja menyumbang US $ 273juta setiap tahun, untuk biaya langsung dan tidak langsung. Di Australia danKanada, total biaya tahunan untuk tenggelam adalah US $ 85,5 juta dan US $ 173juta.
Laporan ‘the global report on drowning’ tahun 2014 menunjukkan bahwausia merupakan salah satu faktor risiko utama untuk tenggelam. Hubungan inisering dikaitkan dengan kelengahan pengawasan pengasuh anak. Secara global,tingkat tenggelam tertinggi adalah di antara anak usia 1-4 tahun, diikuti olehanak usia 5-9 tahun. Di wilayah Pasifik Barat, anak yang berusia 5-14 tahunmeninggal lebih sering karena tenggelam daripada penyebab lainnya. Tenggelamadalah salah satu dari 5 penyebab kematian tertinggi bagi anak yang berusia1-14 tahun pada 48 dari 85 negara. Di Australia, tenggelam adalah penyebab utamakematian akibat cedera yang tidak disengaja, pada anak usia 1-3 tahun. DiBangladesh, tenggelam menyumbang 43% dari semua kematian pada anak-anak berusia1-4 tahun, di China tenggelam adalah penyebab utama kematian akibat kecelakaanpada anak usia 1-14 tahun, dan di Amerika Serikat: tenggelam adalah penyebabutama kedua kematian akibat cedera yang tidak disengaja pada anak usia 1-14tahun. Di Indonesia, data seperti itu rasanya belum tersedia.
Anak laki-laki lebih berisiko tenggelam, tetapi tingkat kematian atau mortalitas anak perempuan secara keseluruhan dua kali lipat. Laki-laki juga lebih cenderung dirawat di rumah sakit daripada perempuan, karena tenggelamnya secara tidak fatal. Data menunjukkan bahwa tingkat tenggelam yang lebih tinggi di antara laki-laki disebabkan oleh peningkatan paparan terhadap air dan perilaku berisiko seperti berenang sendiri, minum alkohol sebelum berenang dan berperahu sendirian.
Pencegahan yang perlu dilakukan meliputi hindari meninggalkan anak tanpa
pengawasan, di lokasi dekat genangan air, kolam renang tanpa pagar, tidak ada
petugas penjaga (lifeguards) atau perenang terlatih. Anak harus diawasi setiap
saat ketika mereka berada di sekitar air, termasuk bak mandi, toilet, atau
ember penuh air. Tutup toilet harus dibiarkan tertutup, atau sabuk pengikat
anak harus digunakan. Ember dan bathtub harus segera dikosongkan setelah
digunakan dan dibiarkan kosong jika tidak digunakan. Semua kolam harus dipagari
dengan tepat menggunakan pagar 4-4, yaitu di semua 4 sisi kolam renang dan tinggi 4 ft atau 120 cm,
telah terbukti menyebabkan penurunan jumlah kasus anak tenggelam yang
signifikan. Mainan dan benda-benda lainnya yang menarik untuk anak, tidak boleh
dibiarkan di area kolam. Orang tua yang memiliki kolam atau yang membawa anak mereka
selama liburan ini ke kolam renang, didorong untuk belajar resusitasi.
Setidaknya satu orang tua atau pengasuh harus tetap fokus pada anak setiap
saat, menghindari kegiatan lain yang mungkin mengganggu konsentrasi, seperti
menggunakan telepon dan bercakap dengan orang lain.
Peristiwa meninggalnya cucu Menkopolhukam Wiranto karena terpeleset di kolam,
mengingatkan kita semua akan bahaya tenggelam, khususnya pada anak. Pencegahan
tenggelam pada anak bersifat multisektoral, yang memerlukan koordinasi dan
kolaborasi yang lebih besar antara pemerintah, LSM, institusi akademis dan juga
petugas kesehatan. Sudahkah kita berperan?
| Sekian Yogyakarta, 16 November 2018 *) dokter spesialis anak, Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA=081227280161 |