
OBAT DAN ALAT DIAGNOSTIK BARU
fx. wikan indrarto*)
Daftar Obat dan Alat Diagnostik Penting (Essential Medicines List and List of Essential Diagnostics) yang diterbitkan WHO pada hari Selasa, 9 Juli 2019 adalah panduan inti untuk semua negara dalam memprioritaskan produk kesehatan yang harus tersedia secara luas dan terjangkau, dalam seluruh sistem kesehatan. Hal ini untuk mengatasi tantangan bidang kesehatan, memprioritaskan terapi yang lebih efektif, dan meningkatkan akses layanan yang terjangkau. Apa yang menarik?
.
.
Ketika banyak negara bergerak menuju cakupan kesehatan semesta atau ‘Universal Health Couverage’ (UHC) dan berbagai obat menjadi lebih tersedia, akan sangat penting untuk juga memiliki alat diagnostik yang akurat, agar dapat memastikan perawatan yang lebih tepat. Lebih dari 150 negara menggunakan Daftar Obat Esensial WHO untuk memeputuskan tentang obat yang harus disediakan dengan nilai terbaik (the best value for money), berdasarkan bukti yang ada dan dampaknya terhadap derajad kesehatan. Kedua daftar fokus pada kanker dan tantangan kesehatan global lainnya, dengan penekanan pada solusi yang efektif, prioritas cerdas, dan akses optimal untuk pasien. Dimasukkannya dalam daftar beberapa obat kanker terbaru dan tercanggih ini, adalah dukungan kuat bahwa setiap orang berhak mendapatkan akses kepada obat yang mampu menyelamatkan jiwa, bukan hanya dengan pertimbangan finansial saja..
baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/01/09/2019-biaya-uhc/
.
Daftar Obat Esensial yang diperbarui menambahkan 28 obat untuk pasien dewasa dan 23 untuk pasien anak dan menentukan penggunaan baru untuk 26 obat yang sudah terdaftar, menjadikan totalnya menjadi 460 obat yang dianggap penting, untuk memenuhi kebutuhan kesehatan masyarakat yang utama. Meskipun angka ini mungkin tampak besar, tetapi itu hanya sebagian kecil dari jumlah obat yang tersedia di pasaran. Dengan memfokuskan pilihan obat, sebenarnya kita semua menekankan manfaat untuk pasien dan pengeluaran yang bijaksana, dengan tujuan membantu negara memprioritaskan dan mencapai UHC.
.
baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/06/30/2019-capaian-uhc/
.
Ke-12 obat yang ditambahkan untuk terapi 5 jenis kanker dianggap sebagai yang terbaik, dalam hal kemampuannya memperpanjang kelangsungan hidup pasien, yaitu obat untuk kanker kulit melanoma, paru-paru, prostat, multiple myeloma dan leukemia. Terdapat 2 jenis obat imunoterapi (nivolumab dan pembrolizumab) yang telah memberikan tingkat kelangsungan hidup hingga 50%, untuk kanker kulit melanoma stadium lanjut, kanker yang sampai saat ini tidak dapat disembuhkan.
.
baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/09/13/2018-tahap-menuju-uhc/
.
Komite Obat Esensial WHO telah memperkuat saran tentang penggunaan antibiotik dengan memperbarui kategori waspada, yaitu antibiotik yang boleh digunakan pada infeksi paling umum dan serius, guna mencapai hasil pengobatan yang lebih baik, dan mengurangi risiko terjadinya resistensi antimikroba. Komite merekomendasikan agar tiga antibiotik baru untuk pengobatan infeksi multi-obat, ditambahkan dalam daftar ini.
.
Obat pengencer darah atau antikoagulan oral baru, telah dimasukkan dalam daftar untuk mencegah stroke sebagai alternatif obat warfarin, juga untuk pengobatan fibrilasi atrium jantung dan pengobatan trombosis vena dalam. Penambahan ini terutama menguntungkan bagi negara berpenghasilan rendah, karena tidak seperti warfarin, obat tersebut tidak memerlukan pemantauan rutin. Obat carbetocin yang stabil terhadap panas dapat digunakan untuk pencegahan perdarahan pada ibu setelah melahirkan atau postpartum. Obat baru ini memiliki efek yang mirip dengan oksitosin, yang merupakan terapi standar saat ini, tetapi memberikan keuntungan bagi negara tropis, karena tidak memerlukan sistem pendinginan dalam penyimpanannya.
.
Tidak semua usulan diterima dan masuk dalam daftar. Misalnya, obat untuk multiple sclerosis yang diajukan untuk dimasukkan, ternyata tidak diterima. Penyebabnya karena beberapa pilihan terapi yang telah digunakan di banyak negara, justru tidak dimasukkan dalam usulan pengajuan. Komite juga tidak merekomendasikan usulan methylphenidate, obat untuk anak dengan gangguan konsentrasi atau ‘Attention Deficit Hyperactivity Disorder’ (ADHD), karena komite menemukan ketidakpastian dalam perkiraan manfaat obat.
.
baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/02/23/2019-mencegah-kanker-serviks/
.
Daftar Parasat Diagnostik Esensial pertama yang diterbitkan pada tahun 2018, berkonsentrasi pada sejumlah penyakit infeksi prioritas, yaitu HIV, malaria, tuberkulosis, dan hepatitis. Daftar tahun 2019 ini telah diperluas untuk mencakup lebih banyak penyakit tidak menular, termasuk kanker. Mengingat betapa pentingnya penegakan diagnosis kanker dini, yaitu sekitar 70% kematian akibat kanker terjadi karena pasien terlambat didiagnosis, maka WHO menambahkan 12 alat pemeriksaan ke Daftar Alat Diagnostik Baru tahun 2019 ini, untuk mendeteksi tumor padat seperti kanker usus atau kolorektal, hati, leher rahim atau serviks, prostat, payudara, serta kanker non padat termasuk leukemia dan limfoma.
.
baca juga :https://dokterwikan.wordpress.com/2019/07/05/2019-regulasi-obat/
.
Parasat Diagnostik baru untuk penyakit menular, berfokus pada penyakit menular yang lazim di negara berpenghasilan rendah dan menengah seperti kolera, dan penyakit yang terabaikan seperti leishmaniasis, schistosomiasis, demam berdarah dengue, dan zika. Selain itu, juga alat diagnostik untuk influenza, khusus bagi masyarakat di mana tidak ada laboratorium klinik yang tersedia. Daftar alat diagnostik ini juga diperluas untuk mencakup pemeriksaan umum tambahan, seperti kadar zat besi (untuk anemia), kerusakan tiroid dan sel sabit, yaitu bentuk anemia yang diturunkan secara luas yang ada saat ini, khususnya di Afrika Sub-Sahara. Selain itu, juga pemeriksaan untuk skrining donor darah, agar layanan transfusi darah lebih aman.
.
baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/06/07/2019-hoaks-medis/
.
Dengan hanya menggunakan obat dalam Daftar Obat dan Alat Diagnostik Penting 2019 tersebut, sebenarnya kita semua telah memperioritaskan pada aspek manfaat bagi pasien dan pengeluaran anggaran yang bijaksana, untuk mencapai UHC. Di Indonesdia, UHC dicapai melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Apakah kita sudah bijak?
Sekian

Yogyakarta, 16 Juli 2019
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, dan Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161