
RSV PADA BAYI
fx. wikan indrarto*)
Jumat, 30 Mei 2025 WHO merekomendasikan vaksin untuk melindungi bayi dari infeksi RSV (Respiratory Syncytial Virus). RSV penyebab utama infeksi saluran pernapasan bawah akut pada bayi di seluruh dunia. Apa yang menarik?

Catatan : Tulisan ini telah dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta pada Minggu, 6 Juli 2025, halaman 8, kolom HUSADA dengan judul : Vaksin pelindung bayi yang direkomendasikan WHO
Setiap tahun, RSV menyebabkan sekitar 100.000 kematian dan lebih dari 3,6 juta rawat inap pada anak-anak di bawah usia 5 tahun di seluruh dunia. Sekitar setengah dari kematian ini terjadi pada bayi yang berusia di bawah 6 bulan. Sebagian besar (97%) kematian RSV pada bayi terjadi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah yang memiliki akses terbatas ke perawatan medis suportif, seperti oksigen atau hidrasi.
“RSV adalah virus yang sangat menular yang menginfeksi orang-orang dari segala usia, tetapi sangat berbahaya bagi bayi, terutama yang lahir prematur, saat mereka paling rentan terhadap penyakit parah,” kata Dr. Kate O’Brien, Direktur Imunisasi, Vaksin, dan Biologi di WHO. Produk imunisasi RSV yang direkomendasikan WHO dapat mengubah perang melawan penyakit RSV yang parah, secara drastis mengurangi rawat inap, dan kematian, yang pada akhirnya menyelamatkan banyak nyawa bayi di seluruh dunia.

RSV adalah virus pernapasan umum yang menyebabkan gejala yang mirip dengan flu biasa, termasuk pilek, batuk, dan demam. Namun, penyakit ini dapat mengakibatkan komplikasi serius, termasuk pneumonia dan bronkiolitis, pada bayi, anak balita, lansia, dan mereka yang memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah. Tanda dan gejala yang sesuai dengan komplikasi berupa infeksi saluran pernapasan bawah meliputi batuk, sesak napas, napas cepat, bronkospasme dan mengi.
Penyakit paru-paru yang parah dapat mengakibatkan kadar oksigen rendah dalam tubuh, kelelahan otot pernapasan, dan terkadang dapat mengakibatkan kematian. Infkesi RSV pada awal kehidupan anak dapat menyebabkan konsekuensi pernapasan jangka panjang, termasuk rawat inap berulang karena penyakit pernapasan selama masa bayi, mengi dan atau asma berulang, dan gangguan kesehatan paru-paru setelah masa bayi. Tidak ada pengobatan khusus untuk RSV. Penatalaksanaan penyakit RSV yang parah melibatkan perawatan suportif, seperti penyedotan sekresi melalui hidung, cairan intravena untuk hidrasi, dan yang terpenting oksigen tambahan untuk membantu pernapasan.
Menanggapi beban global penyakit RSV parah pada bayi, WHO merekomendasikan agar semua negara memperkenalkan vaksin maternal (RSVpreF) pada ibu atau pemberian antibodi monoklonal, yaitu nirsevimab untuk bayi, tergantung pada kelayakan penerapan dalam sistem kesehatan di setiap negara, efektivitas biaya, dan cakupan yang dapat diantisipasi. Kedua produk tersebut direkomendasikan oleh Strategic Advisory Group of Experts on Immunization (SAGE) untuk penerapan global pada September 2024. Selain itu, vaksin maternal untuk ibu telah menerima prakualifikasi WHO pada Maret 2025, yang memungkinkannya untuk dibeli dengan harga terjangkau. baik oleh badan-badan PBB ataupun negera yang membutuhkan.
WHO merekomendasikan agar vaksin maternal RSVpreF (seperti Abrysvo dan Arexvy harga sekitar US $ 350) adalah vaksin yang ditujukan untuk ibu hamil yang mengandung bagian virus RSV, yaitu subunit protein F prefusi stabil bivalen (RSV A dan B), dan diberikan secara injeksi intramuskuler. Vaksin ini diberikan pada ibu hamil saat usia kehamilan 32-36 minggu, untuk mengoptimalkan transfer antibodi yang memadai kepada janin. Vaksin dapat diberikan selama kontrol kehamilan atau perawatan antenatal (ANC) rutin, misalnya pada salah satu dari 5 kunjungan ANC yang direkomendasikan WHO pada trimester ketiga atau konsultasi medis tambahan.
Produk kedua yang direkomendasikan WHO, yaitu nirsevimab, diberikan sebagai suntikan tunggal antibodi monoklonal yang mulai melindungi bayi terhadap RSV dalam waktu seminggu setelah pemberian dan bertahan setidaknya selama 5 bulan, yang dapat mencakup seluruh musim RSV di semua negara dengan musim RSV. Nirsevimab adalah antibodi monoklonal suntik seharga US $ 519,75 per dosis untuk dosis 50 mg dan 100 mg, yang mencegah penyakit RSV parah pada bayi dan anak kecil. Antibodi monoklonal tidak mengaktifkan sistem imun, seperti yang terjadi pada proses infeksi atau program vaksinasi (imunisasi aktif).
WHO merekomendasikan agar bayi menerima suntikan satu dosis nirsevimab (merek dagang Beyfortus) segera setelah lahir atau sebelum dipulangkan dari fasilitas bersalin. Jika tidak diberikan saat lahir, antibodi monoklonal dapat diberikan selama kunjungan kesehatan pertama bayi. Jika suatu negara memutuskan untuk memberikan produk hanya selama musim RSV bukan sepanjang tahun, satu dosis juga dapat diberikan kepada bayi yang lebih besar tepat sebelum memasuki musim RSV pertama mereka. Dampak terbesar pada penyakit RSV yang parah akan tercapai dengan pemberian antibodi monoklonal kepada bayi di bawah usia 6 bulan. Namun, masih ada potensi manfaat pada bayi hingga usia 12 bulan.
Bayi sering memiliki gejala infeksi RSV yang mirip dengan flu biasa, termasuk pilek, batuk, dan demam. Namun demikian, apabila memburuk menjadi batuk, sesak napas, napas cepat, bronkospasme dan mengi harus dirujuk sesegera mungkin di fasilitas kesehatan, karena dicurigai mengalami komplikasi serius, termasuk pneumonia dan bronkiolitis. Pemberian vaksin maternal (RSVpreF) pada ibu hamil atau pemberian antibodi monoklonal nirsevimab untuk bayi, dapat mengurangi risiko terjadinya kejadian tersebut.
Apakah kita sudah melakukannya?
Sekian
Yogyakarta, 13 Juni 2025
*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM.