Categories
Istanbul

2019 Obat Epilepsi Langka

Gambar terkait

OBAT  EPILEPSI  LANGKA

fx. wikan indrarto*)

Kamis, 20 Juni 2019 dilaporkan adanya tiga perempat Orang Dengan Epilepsi (ODE) di negara berpenghasilan rendah, tidak mendapatkan pengobatan yang mereka butuhkan. Hal ini akan meningkatkan risiko kematian dini dan hidupnya penuh dengan stigma. Apa yang perlu disadari?

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/02/14/2019-scientific-expert-summit/

.

Epilepsi atau ayan (Jawa) adalah salah satu penyakit neurologis yang paling umum, menyerang hampir 50 juta orang dari segala usia di seluruh dunia. Epilepsi adalah penyakit pada otak yang ditandai oleh aktivitas listrik abnormal, yang menyebabkan kejang atau perilaku yang tidak biasa, sensasi tertentu, dan kadang kehilangan kesadaran. Epilepsi mempengaruhi orang dari segala usia, dengan puncak kejadian pada anak dan lansia di atas 60-an. Epilepsi memiliki risiko terjadinya gangguan neurologis, kognitif, psikologis dan sosial. Penyebab epilepsi pada anak meliputi cedera persalinan, cedera otak karena trauma kepala atau kecelakaan, infeksi otak, termasuki meningitis atau ensefalitis, dan juga stroke. Diperkirakan 25% kasus epilepsi sebenarnya dapat dicegah.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/05/13/2019-harga-obat/

.

Kesenjangan pengobatan untuk epilepsi sangat tinggi, ketika ada bukti bahwa 70% ODE dapat bebas kejang, dengan obat yang harganya hanya US $ 5 per tahun dan dapat diberikan melalui fasilitas kesehatan tingkat primer, tidak harus melalui RS. Obat anti kejang dapat dipertimbangkan untuk dihentikan, setelah periode 2 tahun tanpa kejang dengan memperhitungkan faktor klinis, sosial dan pribadi yang ada. Etiologi yang ditemukan dari serangan kejang dan pola grafik pada pemeriksaan rekam otak atau Electro Encephalo Graphy (EEG) yang abnormal, adalah dua prediktor yang paling konsisten untuk terjadinya kekambuhan kejang.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/07/07/2018-obat-cacing-baru/

.

Di negara berpenghasilan rendah, sekitar tiga perempat ODE mungkin tidak menerima pengobatan yang mereka butuhkan. Di banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah, ketersediaan obat anti kejang juga rendah, bahkan rata-rata ketersediaan obat anti kejang generik kurang dari 50%. Hal ini dapat berperan sebagai penghalang untuk mengakses pengobatan yang optimal, pada hal adalah mungkin untuk mendiagnosis dan mengobati sebagian besar ODE pada fasilitas kesehatan primer, tanpa menggunakan peralatan medis yang canggih. Tindakan pembedahan otak mungkin bermanfaat, hanya bagi sebagian kecil ODE yang berespons buruk terhadap pemberian obat.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/06/30/2019-bebas-malaria/

.

Risiko kematian dini pada ODE adalah hingga tiga kali lebih tinggi daripada populasi umum. Di negara berpenghasilan rendah dan menengah, kematian dini pada ODE secara signifikan lebih tinggi daripada di negara berpenghasilan tinggi. Penyebab kematian dini ini terkait dengan kurangnya akses ke fasilitas kesehatan, ketika serangan kejang berlangsung lama atau terjadi berulang secara berdekatan, tanpa pemulihan kesadaran di antara keduanya. Selain itu, juga adanya penyebab kematian yang dapat dicegah seperti tenggelam, cedera kepala dan luka bakar, saat terjadi serangan kejang di dekat tempat yang berbahaya.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2018/07/07/2018-obat-cacing-baru/

.

Kira-kira setengah dari ODE memiliki setidaknya satu kondisi gangguan kesehatan lainnya, dengan paling umum adalah depresi dan kecemasan. Paling tidak mencapai 23% ODE dewasa akan mengalami depresi klinis selama hidup mereka dan 20% akan mengalami kecemasan yang menggangu, sedangkan data pada ODE anak belum tersedia. Kondisi kesehatan mental seperti ini dapat membuat serangan kejang lebih buruk dan mengurangi kualitas hidup. Sebaliknya, kesulitan perkembangan kognitif dan belajar di sekolah, akan dialami oleh 30-40% ODE anak.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/05/09/2019-kematian-bayi/

.

Stigma tentang kondisi epilepsi juga telah tersebar secara luas. Pada hal, stigma yang terkait dengan epilepsi adalah salah satu faktor utama, yang justru menghambat ODE dan keluarganya untuk mencari pengobatan. Banyak ODE anak tidak mau lagi pergi ke sekolah dan ODE dewasa yang ditolak bekerja, hak untuk mengemudi dan bahkan untuk menikah juga menjadi berkurang. Pelanggaran hak asasi manusia yang dialami oleh ODE ini perlu secepatnya diakhiri.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/06/06/2019-kota-sehat/

.

Pengobatan untuk epilepsi sebenarnya dapat diintegrasikan ke dalam layanan kesehatan primer. Namun demikian, laporan terbaru tersebut juga menunjukkan bahwa hanya bila ada kemauan politik saja, maka diagnosis dan pengobatan epilepsi dapat berhasil diintegrasikan ke dalam layanan kesehatan primer. Program percontohan yang diperkenalkan di Ghana, Mozambik, Myanmar dan Vietnam, telah menyebabkan peningkatan akses yang cukup besar, sehingga terdapat sekitar 6,5 juta lebih banyak ODE, yang memiliki akses ke pengobatan epilepsi saat mereka membutuhkannya. Memastikan pasokan tanpa gangguan akses ke obat anti kejang adalah salah satu prioritas tertinggi. Selain itu, pelatihan dokter dan petugas layanan kesehatan non-spesialis yang bekerja di fasilitas kesehatan tingkat primer, juga harus dilakukan secara periodik.

.

baca juga : https://dokterwikan.wordpress.com/2019/04/24/2019-dokter-digital/

.

Laporan yang dikeluarkan pada hari Kamis, 20 Juni 2019 bahwa tiga perempat ODE di negara berpenghasilan rendah, tidak mendapatkan pengobatan yang mereka butuhkan karena kelangkaan obat, tentu sangat memprihatinkan. Menurut data Ketua Yayasan Epilepsi Indonesia (YEI) Dr. Irawaty Hawari, SpS di Indonesia pada tahun 2016 dari 237,6 juta penduduk, diperkirakan jumlah ODE mencapai 1,1-8,8 juta.

Semoga kita dapat membantu menyediakan obat anti epilepsi.

Sekian

Yogyakarta, 25 Juni 2019

*) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161.

 

By Fx Wikan Indrarto

Dokter Fx Wikan Indrarto

Leave a Reply

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?