
ACEH
(hari ke 1)
fx. wikan indrarto
Perjalanan kami ke Aceh pada Selasa, 22 Maret 2022 untuk mengikuti Muktamar IDI (Ikatan Dokter Indonesia) ke 31 di Banda Aceh. Kami naik KA Bandara dari Stasiun Tugu Yogyakarta, menempuh waktu 40 menit, berangkat pk. 5 dan berhenti di Stasiun Wates saja. Kereta api Bandara Internasional Yogyakarta (YIA) dengan warna interior kabin dominan hijau putih, berpenggerak diesel electric KRDE buatan INKA Madiun, yang mulai beroperasi pada 6 Mei 2019. Kami menikmati pemandangan indah sawah dan kebun di sekitar rel, dalam remang pagi yang perlahan benderang. Sambutan dengan bahasa Indonesia, Inggris dan Jawa keromo hinggil, disampaikan oleh crew yang diselingi suara mesin diesel yang menyelinap, karena kabin kurang kedap, apalagi di gerbong paling depan. Perjalanan melambat sedikit di sekitar Stasiun Kedundang, karena jalur berbelok tajam ke kiri, keluar dari jalur utama sisi selatan Jawa. Jalur baru ini adalah murni layang, di atas sawah subur yang bulir padinya mulai menguning di sekitar Bandara YIA.

ke Muktamar IDI ke 31 di Banda Aceh


Bergabung dengan rombongan IDI Wilayah DIY & IDI Cabang se DIY
di Bandara YIA Kulon Progo DIY
Kontingen IDI Wilayah DIY ke Muktamar IDI ke 31 Banda Aceh meliputi 23 orang, termasuk perwakilan MKKI, IDI Cabang dan pendamping. Kami terdiri dari dr. Muhammad Rosadi (MKKI), dr. Betty Juliastuti (Sleman), dr. Tri Kusumo Bawono, SE (Kota), dr. Fx. Wikan Indrarto (Kota), dr. Riska Novriana (Kota), dr. Sagiran (Bantul), dr. Tri Ermin Fadlina (Bantul), dr. Dewi Irawaty (DIY), dr. Banu Krisna (KP), dr. Melly (KP), dan dr. Rita Ivana Ariyani (KP). Juga dr. Diah Prasetyorini (GK), dr. Joko Murdiyanto (DIY), dr. Moch. Any Ashari (DIY), drg. Dyah Ekowati Ratnasari (peninjau), dr. Tri Widjaja (DIY), dr. Moch Junaidy (DIY), dr. Hernawan Koco Sungkana (Sleman), dr. Rino Rusdiono (Sleman), dr. Desi Arijadi (Sleman), dr. Abdul Latief (Kota), dr. Nuryasin Kurniawan (DIY), dan dr. Agus Wiyono (KP).


Setelah berfoto dengan seragam IDI abu2, jas IDI hijau dan blangkon gaya Sunan Kalijogo yang dilengkapi sulur kain dari mondolan, kami segera naik ke badan pesawat Batik Air dengan nomor penerbangan ID 6371. Penerbangan berangkat dari Yogyakarta International Airport pada pukul 07:10 menuju Padang Minangkabau International Airport, dan kami akan turun di terminal 2 Bandara Soekarno Hatta Tangerang, Banten. Ini adalah penerbangan codeshare dengan Lion Air JT6371, sebuah pesawat Airbus A320 Neo, yang kini menguasai pangsa pasar 60 persen dibandingkan dengan pesawat sejenis, yaitu keluaran Boeing seri 737 Max. Pesawat Airbus A320 ini unggul karena menggabungkan teknologi sharklets, mesin baru yang hemat bahan bakar, dan inovasi kabin terbaru, dengan penggunaan bahan bakar 20 persen lebih hemat per kursi. Di dalam kabin pesawat yang didatangkan pada Selasa, 6 Februari 2020 itu, kami terbang bersama Bapak Muhajir Effendi Menko Kesra RI dan Bapak Hariyadi Suyuti Walikota Yogyakarta. Sesuai aturan protokol kesehatan di masa pandemi COVID-19, untuk penerbangan kurang dari 2 jam tidak diizinkan membuka masker, sehingga roti dan air mineral Batik Air dibagikan untuk dibawa penumpang turun.
Setelah mendarat di Terminal 2 Bandara Internasional Soekarno Hatta Tangerang, Banten, kami naik Innova dan Hi Ace, karena shuttle dan kereta bandara belum beroperasi lagi, menuju ke Terminal 3, untuk pindah pesawat dengan menunggu hampir 3 jam. Kami naik pesawat Garuda Indonesia yang saat ini beroperasi hanya dengan 125 pesawat, yang mencakup pesawat sewa dan pesawat milik Garuda Indonesia, termasuk 6 pesawat jenis A330-300 milik sendiri. Kami naik Garuda A330-300 GA 146 dari Jakarta menuju Bandara Sultan Iskandar Muda di Kabupaten Aceh Besar sekitar 24 km dari Banda Aceh. Pesawat Airbus A330 bermesin ganda (twinjet), untuk penerbangan jarak menengah hingga jauh berkapasitas, besar, berbadan lebar. Pesawat ini dirakit di Toulouse Blagnac, Perancis. Kami sepesawat dengan Prof. dr. Ilham Oetama Marsis, SpOG Ketua purna PB IDI, dr. Daeng M. Faqih, MH Ketua PB IDI sekarang, teman2 dari IDI Wilayah Jawa Barat, Gorontalo, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Barat, Jambi, Papua dan Jawa Tengah.




Setelah mendarat, kami mendapat sambutan luar biasa dari LO segenap 38 institusi dinas tingkat Propinsi Aceh, untuk masing-masing IDI Wilayah se Indonesia. Semua dikoordinasikan oleh dr. Taqwaallah, MKes mantan Kepala Dinas Kesehatan yang sekarang menjabat Sekda Aceh. Kontingan IDI Wilayah DIY disambut khusus oleh Dinas Koperasi dan UMKM Aceh, dengan pengalungan syal khas Aceh oleh Bapak Ir. Helvizar Ibrahim, MSi, Kepala Dinas Koperasi Aceh. Sambutan para pegawai dinas tingkat Propinsi Aceh kepada segenap dokter peserta Muktamar IDI adalah hal baru dan sangat inspiratif bagi IDI. Para pejabat dan ASN di Aceh menyambut para dokter sebagai tamu dengan sangat santun, hormat dan penuh dedikasi.
Dari Bandara Iskandar Muda di Kabupaten Aceh Besar, kami diantar oleh 6 mobil (Nissan Terra dan Toyota Innova G) plat merah milik Dinas Koperasi dan UMKM Aceh menuju warung kopi Solong di Jl. T. Iskandar 13 Ulee Kareng, Banda Aceh yang didirikan oleh H. Muhammad Saman, atau lebih dikenal Abu Amad Solong, pada tahun 1974 yang racikan kopinya sudah beliau temukan sejak 1969.




Kopi Solong “Jasa Ayah” adalah salah satu kedai yang paling ramai dikunjungi oleh para pecinta kopi baik lokal atau pun turis domestik, bahkan para turis mancanegara. Kopi di kedai ini terkenal karena warnanya yang sangat pekat, rasanya yang nikmat, aromanya yang sangat wangi, dan kopi yang hampir tanpa ampas. Kopi yang disajikan disaring dengan menggunakan saringan khusus berulang kali baru kemudian disajikan ke gelas-gelas. Hal ini lah yang membuat kopi-kopi yang disajikan tersebut hampir tidak memiliki ampas, dan sangat kental.
Kami memesan kopi sanger, singkatan sama-sama ngerasa, kombinasi kopi robusta dengan susu sehingga berwarna coklat muda dengan cita rasa mantab. Kopi robusta ada 7 pilihan, sedangkan kopi arabica ada 14 pilihan rasa. Setelah menikmati kue timpan dan kue jala khas Aceh, kami dikenyangkan juga dengan mie Aceh yang pedas dan penuh rempah. Selanjutnya kami check in di Hotel Arabia kamar 221, Jl. Khairil Anwar 55 Peunayong, Banda Aceh, sekamar dengan dr. Tri Kusumo Bawono, SE. Setelah mandi dan sholat maghrib malam ini kami menghadiri malam keakraban bagi peserta Muktamar IDI ke 31 di Stadion Harapan Bangsa atau Stadion Lhong Raya. Ini adalah sebuah stadion sepak bola di Kota Banda Aceh, yang juga merupakan markas klub sepak bola Persiraja Banda Aceh yang bermain di LIGA 1 Indonesia. Stadion ini dibangun pada tahun 1997 dan mengalami renovasi setelah bencana Gempa bumi Samudra Hindia 2004 dengan dana bantuan bersumber dari FIFA. Stadion Harapan Bangsa memiliki kapasitas 45.000 tempat duduk.


di Stadion Harapan Bangsa Banda Aceh
Malam ini kami menghadiri ‘Welcome Dinner’ atau dalam Bahasa Aceh disebut ‘Pemulia Jamee’, berupa Penyambutan oleh Bapak Ir. H. Nova Iriansyah, M.T, Gubernur Aceh dan penyerahan ‘IDI Award’ yang dilaksanakan di Stadion Harapan Bangsa. Acara meriah ini dikoordinasikan oleh Ketua Panitia, dr. Nasrul Musadir, SpS(K), FINA menerapkan protokol kesehatan ketat dan syariat lokal, sehingga tempat duduk peserta wanita dan pria dipisahkan. Sambil makan malam dengan protokol kesehatan agak longgar, acara dibuka dengan tari saman khas Aceh yang rancak, dinamis dan kompak. Lanjut drama kolasal perjuangan Pahlawan Nasional Cut Nyak Dien melawan kolonial VOC Belanda. Kata wasiatnya terus menggema keras, ‘Aku Cut Nyak Dien perempuan Aceh yang tetap merdeka, tidak tunduk kepada siapapun’.
Acara dilanjutkan sapaan hangat oleh Bapak Sandiaga Uno Menparekraf RI secara zoom, yang ditampilkan dalam layar besar. Beliau menyambut baik dimulainya wisata berbasis MICE (Meetings, Incentives, Conferencing, Exhibitions) oleh IDI di Banda Aceh, yang didorong untuk menjadi tulang punggung pendapatan daerah dari sektor pariwisata. Selain itu, Bapak Menteri juga mengingatkan adanya 1,2 juta wisatawan ‘health tourism’ dari Indonesia pergi ke Malaysia. IDI didorong untuk mengembangkan wisata kesehatan di rumah sendiri, di seluruh tanah air Indonesia. Beliau mengapresiasi IDI yang terus berada di garda terdepan dalam mengatasi pandemi COVID-19 dan diharapkan tetap menjadi panglima dalam momentum kebangkitan ekonomi dan pariwisata kesehatan.


di Stadion Harapan Bangsa Aceh Banda Aceh


Kami sempat menggunakan ‘mobile toilet’ VVIP kepresidenan, yang sangat elite, modern, dan hanya ada 2 buah di seluruh Indonesia, dan di parkir pada areal jogging track Stadion Harapan Bangsa, yang dikelola dalam pimpinan Bapak R. Iwan Soenaryo Sasmono, ketua komunitas pencinta sepeda onthel yang tergabung dalam Gari Awak Awai (GAA) Koetaradja Aceh. Sebelum acara selesai, kami bertiga rombongan IDI Cabang Kota Yogyakarta pamit undur diri, untuk menikmati sebuah tempat guna mengenang peristiwa 26 Desember 2004, sekaligus simbol kebangkitan warga Aceh, yaitu Museum Tsunami. Dibangun pada 2008, museum ini dibuka untuk umum pada 2011, yang merupakan hasil rancangan Bapak Ridwan Kamil, saat ini Gubernur Jawa Barat, yang kala itu masih berprofesi sebagai arsitek, dan memenangkan sayembara tingkat internasional yang diadakan oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Nangroe Aceh Darussalam (BRR NAD), bersama Ikatan Arsitek Indonesia (IAI).
Meski dalam remang malam, kami masih dapat merasakan kesedihan dan kemudian semangat kebangkitan warga Aceh. Selanjutnya kami mengunjungi situs tsunami lainnya, yaitu sebuah kapal di atas rumah di kampung Lampulo, Banda Aceh. Kapal itu menjadi saksi bisu bencana alam gempa bumi dan tsunami yang melanda Aceh dan sekitarnya pada 26 Desember 2004. Kapal dengan panjang 25 meter dan lebar 5,5 meter ini memiliki berat 20 ton itu, terseret arus air laut sekitar 1 km dari tempat semulanya di Sungai Krueng, Aceh, akibat musibah besar itu.

Kapal yang hanyut 1 km dan terdampar, karena bencana alam gempa bumi dan tsunami
di kampung Lampulo, Banda Aceh

yang merupakan pantai paling eksotis di malam hari.


Setelah berfoto dalam pengaturan cahaya senter HP yang penuh seni ‘lighting’ di situ, kami melanjutkan perjalanan ke Pantai Ulee Lheue sekitar 7 kilometer dari Kota Banda Aceh, yang merupakan pantai paling eksotis di malam hari. Dengan seni ‘lighting’ dari lampu mobil Toyota Innova G dan senter HP, kembali kami berfoto penuh gaya sampai puas. Selanjutnya kami mengunjungi Masjid Raya Baiturrahman, yang merupakan peninggalan Kerajaan Aceh dan menjadi simbol agama, budaya, dan perjuangan masyarakat Aceh. Masjid besar dan indah ini tidak hanya menjadi pusat kegiatan keagamaan dan saksi kejayaan Kerajaan Aceh, tetapi juga pernah dijadikan markas pertahanan rakyat terhadap serangan penjajah Belanda. Masjid Raya Baiturrahman dibangun oleh Sultan Iskandar Muda, raja Aceh periode 1607-1636, pada 1612. Malam itu kami akhiri perjalanan keliling lantai suci masjid dengan berfoto lagi, sampai kami menjadi kelaparan. Akhirnya kami makan malam nasi goreng kambing muda khas Aceh di RM Daus Jl. TP Polem 87 Banda Aceh, di areal China Town Aceh dekat sebuah kelenteng. Banyak teman dokter dari IDI Cabang lainnya yang juga sedang makan malam menjelang RM itu tutup.

Dalam kekenyangan yang penuh, kami kembali ke Hotel Arabia, melewati Kantor Kodim Iskandar Muda yang gagah dengan sebuah gereja di sampingnya, yang akan kami kunjungi hari selanjutnya.
Selasa malam, 22 Maret 2022. Ditulis di kamar 221 Hotel Arabia, Jl. Khairil Anwar 55 Banda Aceh
ACEH
(hari ke 2)
Rabu, 23 Maret 2022 kami nyaris tidak dapat tidur nyenyak, karena kombinasi, kelelahan, kegembiraan dan peningkatan metabolisme tubuh setelah menelan habis, tetes terakhir kopi sanger di Solong Coffee Jl. T. Iskandar 13 Ulee Kareng Banda Aceh. Dalam semangat pagi yang terkumpul, kami dijemput oleh Bapak Hafiz Adriadi, SE menggunakan mobil Toyota Innova G abu-abu tahun 2016 BL 1053 JP, mobil dinas Kabid PLUT (Pusat Layanan Usaha Terpadu) Dinas Koperasi dan UKMK Propinsi Aceh, untuk mengikuti acara Muktamar IDI (Ikatan Dokter Indonesia) ke 31 yang diselenggarakan di Banda Aceh Convention Hall (BACH) di Jl. T. Panglima Nyak Makam, Kota Baru, Banda Aceh. Acara besar ini mengambil tema : Peran strategis IDI dalam membangun kemandirian dan meningkatkan ketahanan bangsa.
Sepanjang jalan dalam kota Banda Aceh, kita akan melihat hal yang cukup aneh, yaitu tidak ada trotoar buat pejalan kaki di atas gorong pembuangan air hujan. Mungkin karena medan tanahnya yang sangat datar dari ujung ke ujung dan tidak ada pejalan kaki yang melintas sesuai dengan survei, bahwa warga Indonesia adalah yang paling malas berjalan kaki. Para peneliti di Universitas Stanford AS pada Agustus 2018 menggunakan data menit per menit dari 700.000 orang yang menggunakan Argus, sebuah aplikasi pemantau aktivitas pada telepon seluler mereka. Aplikasi Argus memang kurang populer di Indonesia, dibandingkan Strava, Samsung Health, Huawei Health ataupun keluaran Kemenkes RI. Hasilnya, orang di Hong Kong menempati urutan teratas dalam daftar penduduk paling rajin berjalan kaki, sebanyak 6.880 langkah setiap hari. Adapun penduduk paling malas sedunia adalah orang Indonesia yang berada pada posisi terbuncit dengan mencatat 3.513 langkah per hari.

Kami bertiga (dengan dr. Tri Kusumo Bawono, SE dan dr. Rizka Novriana) adalah utusan IDI Cabang Kota Yogyakarta yang sempat berfoto gaya dengan jaga jarak, di depan gedung megah Kantor Gubernur Aceh. Sejak dari lokasi itu, bendera putih lambang IDI berkibar berulang ditiup angin dan bunga papan besar berderet berdiri gagah, mengucapkan selamat dan sukses atas terselenggaranya acara besar ini, sampai di gedung artistik islami modern, Banda Aceh Convention Hall (BACH) yang kami tuju. Sangat berbeda dengan even nasional para dokter yang dipenuhi mobil rental industri farmasi, BACH justru dipenuhi mobil plat merah dari ASN, TNI dan Polri, sebagai LO segenap IDI Wilayah se Indonesia. Bangunan BACH sempat memprihatinkan secara struktural, arsitektural dan elektrikal, karena kurangnya penggunaan dan perawatan. Oleh karena belum jelas kepemilikannya antara Pemkot Banda Aceh dan Pemprov Aceh, bangunan yang rampung dikerjakan pada tahun 2018 itu sempat lama tidak digunakan. Pada hal pemerintah sudah menghabiskan anggaran sekitar Rp. 70 miliar lebih dari sumber dana otonomi khusus atau otsus. Semua fasilitas penunjang gedung sudah tersedia, seperti AC portable, sound system portable, hingga genset terbaik di seluruh Banda Aceh.

Banda Aceh merupakan sebuah kotamadya dan ibukota dari provinsi Aceh, provinsi paling utara di Pulau Sumatera. Sebagai pusat pemerintahan yang mulai 2014 bukan disebut Propinsi Nangroe Aceh Darussalam lagi, tetapi hanya Propinsi Aceh saja, Banda Aceh menjadi pusat kegiatan ekonomi, politik, sosial, dan budaya, bahkan juga kota Islam yang paling tua di Asia Tenggara, karena Banda Aceh merupakan ibu kota dari Kesultanan Aceh Darussalam berdiri pada abad ke-14. Dari batu nisan Sultan Firman Syah, didapat keterangan bahwa Kesultanan Aceh beribu kota di Kutaraja. Setelah Kerajaan Belanda menyatakan perang terhadap Kesultanan Aceh Darussalam pada 26 Maret 1873, Belanda mengirimkan gelombang pertama agresi militernya terhadap Kesultanan Aceh. Pada 12 April 1873 istana Mahmud Syah di Kotaraja (Banda Aceh) berhasil diduduki Belanda. Meski demikian perlawanan rakyat Aceh bukan berarti berakhir, malah dalam penyerbuan ke Masjid Raya Banda Aceh, Belanda justru bernasib sial. Mayor Jenderal Johan Harmen Rudolf Kohler yang mengomandani ekspedisi pasukan KNIL ke Aceh harus meregang nyawa akibat ditembak ‘sniper’ Aceh di halaman masjid. Oleh karena terjadi evakuasi besar-besaran pasukan Aceh keluar dari Banda Aceh, maka kemenangan dirayakan oleh Jenderal Jan Van Swieten dengan memproklamasikan jatuhnya kesultanan Aceh dan mengubah nama Banda Aceh menjadi Kuta Raja. Setelah masuk dalam pangkuan Pemerintah Republik Indonesia, baru sejak 28 Desember 1962 nama kota ini kembali diganti menjadi Banda Aceh.
Kami segera mengikuti rangkaian acara seremonial pembukaan Muktamar, yang diatur oleh EO Satu Langit dari Jakarta dan EO lokal PT AMI Banda Aceh. Ketua Panitia dr. Nasrul Musadir, SpS(K), FINA melaporkan bahwa pada Muktamar IDI ke 31 kali ini, dihadiri oleh dokter utusan 408 dari total 485 IDI Cabang se Indonesia, yaitu 1.723 orang dokter. Para dokter utusan IDI Cabang yang tidak hadir, setelah dikonfirmasi oleh panitia ternyata karena tidak ada dana operasional dan para dokter pengurus IDI Cabang tersebut lebih memilih untuk terus tanpa henti, melanjutkan pengabdiannya sebagai dokter, terutama di lokasi T3 (Tertinggal, Terluar dan Terpencil) Indonesia. Maka dari itu, panitia muktamar berbiaya Rp. 1,4 M ini sangat berharap agar muktamirin bukan berproses untuk mencari pimpinan pengurus IDI yang terkuat, tetapi yang terbesar pengabdiannya untuk bangsa dan negara kita. Selanjutnya dr. Nasrul menceritakan runtutan kegiatan, sejak melaporkan ide keinginan untuk menjadi tuan rumah Muktamar IDI kepada Gubernur Aceh. Waktu itu jawaban Gubernur Aceh adalah tegas, di luar dugaan dan tidak dapat ditawar, bahwa tugas para dokter Aceh adalah membawa Muktamar IDI ke Banda Acah, karena even itu sangat penting bagi masyarakat Aceh. Katakan apa yang diperlukan, pasti akan didukung penuh oleh Pemprov Aceh, termasuk penggunaan gedung BACH pertama kali untuk acara MICE di masa pandemi COVID-19 dan sekretariat panitia berlokasi di Bapelkes, bahkan diadakan jamuan makan malam oleh setiap kepala dinas.
Selanjutnya para muktamirin IDI Cabang se Indonesia disuguhi video perjuangan berjudul ‘Dokter untuk Bangsa’. Digambarkan perjuangan para dokter Indonesia, sejak dr. Soetomo mendirikan Boedi Oetomo 1908, perjuangan dr. Fuziah dokter puteri Aceh pertama sampai dr. Zaini Abdulah sebagai Gubernur NAD. Kami juga diajak mengenang dr. Farid Husain, SpB seorang dokter yang meninggal dunia karena ganasnya COVID-19, dan seorang tokoh perdamaian di Aceh sebagai salah seorang anggota delegasi pemerintah Indonesia dalam perundingan dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di Helsinki, Finlandia pada tahun 2005. Perundingan yang dimediasi oleh Martti Ahtisaari ini berhasil mewujudkan Kesepakatan Helsinki yang ditandatangani pada 15 Agustus 2005. Dengan kesepakatan ini, Konflik Aceh yang telah berlangsung 30 tahun diakhiri. Untuk pertama kalinya dalam sejarah Indonesia gerakan separatis diselesaikan dengan solusi politik yang komprehensif. Video ditutup dengan penampilan nama 751 orang dokter Indonesia yang gugur dan menjadi pahlawan COVID-19.
Setelah menyaksikan beberapa tarian Aceh, dr. Daeng Muhamad Faqih, MH Ketua Umum PB IDI mengapresiasi Muktamar kali ini sebagai suguhan kearifan lokal, tidak hanya dalam aspek kuliner dan kesenian, tetapi juga semangat, komitmen dan penghormatan terhadap tamu. Dengan tetap menerapkan prokes semaksimal mungkin, diharapkan Muktamar tidak hanya kumpul fisik dan membuat gerakan mewujudkan peran yang lebih, untuk memproduksi ide dan gagasan yang baik bagi bangsa dan negara, dengan menunjung tinggi marwah dan etika dokter. Terlebih gap kompetensi dokter Indonesia dengan LN harus dikurangi, terutama dalam memberikan layanan wisata kesehatan, yang diharapkan dapat dimulai dari Serambi Mekah.
Sambutan selanjutnya disampaikan oleh Bapak Ir. Nova Iriansyah, MT Gubernur Aceh, di depan Kejati, Pangdam, Kapolda, Rektor Universitas Syahkuala dan Universitas Islam Ar-Raniry, Sekda, Bupati dan Walikota se Aceh. Beliau menyambut para dokter se Indonesia sebagai tamu mulai di Aceh, karena para dokter adalah pahlawan COVID-19 yang membantu masyarakat luas melawan pandemi. Komunitas dokter disanjungnya sebagai pendamping rakyat Aceh, saat mengalami tantangan terbesar gangguan keamanan pembunuhan, gempa bumi hebat, tsunami menghanyutkan dan pandemi COVID-19. Beliau juga menyebut Muktamar IDI sebagai anugerah bagi Aceh, karena ribuan putera puteri terbaik bangsa, yaitu para dokter hadir serentak di tanah Aceh, dan menjadi torehan sejarah. Beliau juga berharap bahwa peran inovatif IDI yang melahirkan produk berkualitas, untuk pengembangan profesi dan etik kedokteran akan dikenang, karena dirumuskan di Aceh.
Sambutan puncak disampaikan oleh Presiden RI Bapak Joko Widodo dari ruang kredensial Istana Merdeka Jakarta melalui video rekaman. Bapak Presiden dengan suaranya yang tegas dan wajahnya yang nampak lelah, memberikan apresiasi untuk dokter Indonesia di manapun bertugas, yang telah membantu masyarakat menghadapi pandemi COVID-19. Itulah mengapa Indonesia mampu masuk menjadi negara yang berhasil mengendalikan pandemi COVID-19, dengan menggencarkan vaksinasi dan menerapkan protokol kesehatan. Presiden berharap dalam Muktamar IDI akan dihasilkan perbaikan sistem kesehatan, mengenali desrupsi yang memengaruhi, dan mewujudkan pelayanan medis yang prima. Selain itu, dalam Muktamar IDI diharapkan terjadi juga transformasi sistem pendidikan kedokteran, yang harus dapat dipercepat untuk menghasilkan dokter Indonesia yang kompeten, patriotik, dan berdedikasi. Kita juga diharapkan mengenang para dokter yang telah meninggal karena COVID-19, agar menjadi motivasi bagi para dokter yang terus mengabdi bagi negeri.

Setelah sambutan Presiden Jokowi, maka 10 pimpinan daerah dan IDI yang hadir segera naik ke atas panggung untuk membunyikan kendang secara bersama, sebagai simbolis pembukaan Muktamar IDI ke 31 di Banda Aceh. Setelah rangkaian seremonial pembukaan selesai, para peserta melanjutkan makan siang di ruang basement BACH. Selanjutnya kami mengikuti ‘lunch symposium’ bertopik “Co Formulation Insulin’ untuk Diabetis Mellitus (DM) dengan pembicara Dr. dr. Tjokorde Gde Dalem Pemayun, SpPD-KEMD, FINASIM daru FK UNDIP Semarang teman bertugas di RSUD Kuala Kapuas, Kalimantan Tengah tahun 2000 dan dr. Hindra Zufry, SpPD-KEMD dari Aceh. Sampai sekarang sekitar 70% pasien DM belum terkontrol, dengan kadar HbA1c >7,2 karena terlambat memulai pemberian insulin, yang sudah ditemukan sejak 100 tahun lalu. Untuk mencegah kelainan ketovaskuler pada DM yang belum terkontrol secara lebih awal, maka hiperglikemi pandrial justru harus ditangani lebih cepat, tidak hanya basal. Maka proses inisiasi dan perubahan jenis insulin untuk kontrol glikemik, perlu dipertimbangkan menggunakan ‘co formulation insulin’. Insulin campuran ini terdiri dari aspart 30% yang bekerja cepat dan degludec 70% yang bekerja panjang. Co formulation insulin dapat diberikan 1x saja sehari setelah makan besar, lebih praktis, mudah dan dapat mengatasi hiperglikemia prandial sekaligus basal.
Sebelum memasuki sesi sidang organisasi, selanjutnya kami melakukan ‘city tour’ ke Museum Tsunami yang dibuka untuk umum mulai tahun 2011, buah rancangan Bapak Ridwal Kamil, Gubernur Jawa Barat sekarang, yang waktu itu berprofesi sebagai arsitek. Rancangan Museum Tsunami Aceh ini memenangkan sayembara tingkat internasional yang diselenggarakan oleh Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Nangroe Aceh Darussalam. Setelah berfoto secara bergantian dwngan para pengunjung lain, termasuk para dokter peserta Muktamar IDI di gerbang Museum Tsunami, kami segera memasuki lorong tsunami berair turun di kiri kanan dinding, yang mengesankan suara hening untuk pengunjung. Kemudian kami memasuki ruang sumur doa, yang memuat 3.600 nama para korban tsunami, sedalam 30 meter, dab bagian paling atas terdapat lafadz Allah, untuk mengingatkan Allah sebagai sumber dan asal kehidupan. Kemudian kami memasuki lorong kebingungan, dengan mendaki di suatu lorong yang tidak jelas, untuk mengkondisikan para penyintas tsunami yang penuh kebingungan dan kecemasan. Selanjutnya kami menyeberangi jembatan persahabatan, yang memuat ucapan terima kasih dan salam perdamaian, dalam setiap bahasa nasional negara yang memberikan donasi untuk rekonstruksi Aceh. Di dalam bangunan museum yang berbentuk seperti kapal, terdapat prasasti yang bertuliskan daftar 49 palang merah dari seluruh dunia, yang telah memberikan bantuan penyelamatan korban. Pada tanggal 26 Desember 2004, Banda Aceh dilanda gelombang pasang tsunami yang diakibatkan oleh gempa 9,2 Skala Richter di Samudera Hindia. Bencana ini menelan ratusan ribu jiwa penduduk dan menghancurkan lebih dari 60% bangunan kota ini. Selanjutnya kami mengunjungi situs tsunami lainnya, yaitu sebuah kapal di atas rumah di kampung Lampulo, Banda Aceh. Kapal itu menjadi saksi bisu bencana alam gempa bumi dan tsunami yang melanda Aceh pada 26 Desember 2004. Kapal dengan panjang 25 meter dan lebar 5,5 meter ini memiliki berat 20 ton terseret sekitar 1 km dari tempat semulanya di Sungai Krueng, dekat pantai Ulee Lheue.




di Stadion Harapan Bangsa Banda Aceh
Dari situ kami menuju Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh untuk menemani dr. Tri Kusumo Bawono menjalankan sholat. Kami parkir di areal basement, naik ke atas di halaman depan masjid dan mengagumi payung beroenggerak elektrik peneduh umat. Gubernur Aceh Zaini Abdullah menggelar peluncuran payung tersebut di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, pada Senin, 13 Februari 2017 yang menyerupai payung yang dipasang di Masjid Nabawi di Madinah, Arab Saudi. Setelah selesai shalat ashar, kami kemudian bergegas ke Gereja Katolik Hati Kudus Jl. Pangeran Diponegoro, Peunayong, Banda Aceh, yang berjarak sekitar 700 m dari Masjid Raya Baiturrahman. Teman dr. Tri Kusumo Bawono, SE dan dr. Rizka Novriana ikut kami ke gereja tersebut dalam hujan yang tiba-tiba datang. Salah satu potret nyata toleransi kehidupan beragama juga nampak pada bangunan tua Gereja Katolik Hati Kudus yang berdiri kokoh ditengah kota Banda Aceh, di samping Markas Kodam Iskandar Muda dan merupakan salah satu bangunan yang menjadi Ikon kota Banda Aceh. Gereja yang bernaung di bawah Keuskupan Agung Medan ini berdiri pada tahun 1946. Namun demikian, salah satu jejak keberadaan umat Katolik di Aceh adalah catatan tentang dua orang biarawan yang terbunuh pada tahun 1638. Keduanya merupakan biarawan dari Ordo OCD atau Ordo Karmel Tak Berkasut. Kedua biarawan yang terbunuh tersebut adalah Pastor Dionisius A. Nativite, OCD dan Bruder Redemptus A. Kruse, OCD dari Perancis. Keduanya dibunuh pada 27 November 1638 oleh Tentara Aceh saat Kerajaan Aceh dipimpin Sultan Iskandar Tani yang menggantikan Sultan Iskandar Muda. Kedua biarawan ini dibunuh karena tidak mau menyangkal iman mereka sebagai pengikut Kristus. Ia dibeatifikasi oleh Paus Leo XIII pada 1900 dan Gereja Katolik Dunia mengenang kedua biarawan ini sebagai Martir dari Indonesia.







Selanjutnya kami berjalan melewati RSUD dr. Zainoal Abidin Banda Aceh yang merupakan Rumah Sakit Pendidikan Utama Fakultas Kedokteran Universitas Syah Kuala Banda Aceh. Gubernur Nanggroe Aceh Darussalam, Irwandi Yusuf, Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Dr. Norbert Baas, dan Wakil Senior pertama KfW (Bank Pembangunan Jerman) untuk wilayah Asia dan Eropa, Uwe Ohls, meresmikan renovasi RS Zainoel Abidin Banda Aceh yang rusak terdapat tsunami dan berbiaya Rp. 418,5 M, pada hari Sabtu, 23 Januari 2010. Nama dr. Zainal Abidin digunakan pada RS Aceh karena merupakan nama direktur atau pendiri rumah sakit itu pada tahun 1950.
Sore itu di ruang sidang utama Muktamar IDI ke 31 di BACH Banda Aceh telah memutuskan beberapa hal penting. Misalnya tata tertib muktamar yang cukup alot untuk diputuskan, laporan pertanggungjawaban pengurus lama, dan para calon ketua yang siap dipilih untuk organisasi pelengkap IDI, yaitu MPPK atau Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian (dr. Farhat dan dr. Ika Prasetya Wijaya), MKEK atau Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (dr. Djoko Widyarto, dr. Eka Mulyana, dr. Nasser, dan dr. Pukovisa Prawiroarjo), dan MKKI atau Majelis Kelegium Kedokteran Indonesia (dr. Ferdiansyah dan dr. Setyo Widi Nugroho). Yang lebih seru adalah gerakan senyap promosi dan kampanye para calon Ketua Umum PB IDI yang akan dipilih, yaitu dr. Abraham Andi Padlan Patarai, MKes, dr. Ahmad Fariz Malvia Zamzam Zein, SpPD, MM, dr. Mahesa Paranadipa Maikel, MH, dr. Slamet Budiharto, SH, MHKes, dan dr. Zul Asdi, SpB, MKes.
Malam harinya setelah sholat maghrib, kami diundang makan di Paopia Garden, Cafe and Resto Jl. Prof. Ali Hasyimi Pango Raya Ulee Kareng Banda Aceh. Bapak Ir. Helvizar Ibrahim, MSi, Kepala Dinas KopUKM Propinsi Aceh sebagai LO, mengundang para dokter peserta Muktamar IDI dari IDI Wilayah DIY sebanyak 22 orang dalam acara peumulia jame (makan malam bersama) dengan pejabat eselon 3. Setelah menyampaikan sambutan selamat datang yang disertai penyerahan oleh-oleh bakpia kukus dan batik khas Yogyakarta oleh dr. Joko Murdiyanto, SpAn, MKes sebagai Ketua IDI Wilayah DIY, acara segera dilanjutkan dengan foto dan makan malam bersama. Dalam pembicaraan hangat sembari makan, Bapak Helvizar yang menyambut kami sebagai saudara tua karena Yogyakarta dan Aceh sesama daerah istimewa, beliau menjelaskan peran besar DinkopUKM dalam mendampingi para petani kopi Gayo di Aceh Tengah yang kopinya murni dan bercita rasa mantab, bahkan mampu menembus Starbucks, yang merajai 30 persen pasar kopi dunia. Starbucks Corporation yang berkantor pusat di Seattle, Washington, AS didirikan oleh Jerry Baldwin, Gordon Bowker, dan Zev Seigl yang membuka gerai Starbucks pertama di tahun 1971, di Pike Place Market di Seattle, Amerika Serikat. Awalnya, perusahaan ini hendak diberi nama Pequod yang diambil dari nama kapal pemburu Moby-Dick, tetapi nama ini ditolak oleh sejumlah pendiri pendamping. Perusahaan ini akhirnya diberi nama sesuai nama mualim satu kapal Pequod, Starbuck. Pendampingan DinkopUKM Aceh didukung penuh oleh Menteri Koperasi RI Bapak Teten Masduki yang penggila kopi sungguh, mampu meningkatkan ekonomi petani, menjaga kualitas biji kopi dan mengembangkan kebun kopi Gayo yang merupakan jenis kopi arabika, yang sejak abad 17 sudah terkenal di berbagai belahan dunia. Kopi ini di produksi di daerah Aceh Tengah tepatnya di dataran tinggi Gayo, sebagai pusat perkebunan dan produksi kopi terbaik di dunia. Selain itu, Bapak Helvizar yang bijaksana juga menjelaskan komoditas nilam (Pogostemon Cablin, Benth) yang merupakan salah satu dari sembilan komoditi unggulan Aceh yang telah digadang-gadang untuk menjadi komoditas investasi dan ekspor utama Aceh, sebagai bahan utama parfum di Perancis.

Pesan moral yang utama dari Bapak Helvizar malam itu adalah agar dokter di Indonesia tidak kalah dibandingkan dokter di Penang, Malaysia yang telah menangani batu empedu anggota keluarganya. Kesan positif yang perlu ditiru oleh dokter di Indonesia adalah kinerja dokter dan perawat di Penang yang cekatan, responsif, kolaboratif antar dokter spesialis, memberikan kesempatan kepada pasien untuk memperoleh opini kedua dari dokter lain, tarif layanannya yang diketahui secara pasti sebelum tindakan, dan terjangkau. Sungguh pesan moral yang tidak mudah dilaksanakan oleh para dokter Indonesia tercinta.
Rabu malam, 23 Maret 2022, ditulis di kamar 221 Hotel Arabia, Jl Khairil Anwar 55 Banda Aceh
ACEH
(hari ke 3)
Kamis, 24 Maret 2022 kami mengikuti rangkaian acara Muktamar IDI (Ikatan Dokter Indonesia) ke 31 sebagai utusan IDI Cabang Kota Yogyakarta secara penuh, yaitu 4 orang yang terdiri dari dr. Tri Kusumo Bawono, SE, dr. Riska Novriana, dr. Abdul Latief dan saya. Pagi ini kami akan mengikuti kuliah umum dan dilanjutkan menjelajahi wilayah baru.
Provinsi Aceh memiliki 23 kabupaten kota yang terdiri dari 18 kabupaten dan 5 kota, dengan luas wilayah sebesar 57.956,00 km2. Kondisi teritorial Aceh ini berbeda dengan apa yang dilukiskan oleh Karl Friedrich May di tahun 1899 dalam bukunya yang cukup laris ‘Dan Damai Di Bumi!’. Penulis fiksi Winnetou dan Old Shatterhand berkebangsaan Jerman tersebut antara Maret 1899 dan Juli 1900, berkelana ke negeri-negeri Timur: Mesir, Pakistan, Sri Lanka, Malaya, dan Sumatera, yaitu ke Aceh. Karl May berlayar dengan kapal Coen yang dilukiskannya sebagai besar, indah, berkecepatan tinggi dengan teknologi mutakhir (tenaga uap) pada zamannya. Dari Penang, Karl May berlabuh di bandar Uleelheu di daratan Aceh, dan sebelumnya kapal singgah di Edi (mungkin maksudnya Idi), Lo-semaweh (Lhokseumawe), dan Segli (Sigli), yang waktu itu telah menjadi bandar kosmopolit. Justru sekarang ternyata telah terjadi degradasi bandar-bandar besar tersebut di Aceh.
Di pesisir pantai digambarkan oleh Karla May telah dibangun pos-pos militer Belanda untuk penyerangan ke pedalaman Aceh. Agaknya, kala itu Sultan Aceh sudah menyingkir ke wilayah pedalaman. Bandar Uleelheu jauh lebih ramai, dibandingkan bandar lainnya. Karl May selanjutnya naik trem menuju Kota Raja (sekarang Banda Aceh), dan menginap di Hotel Rosenberg. Untuk melakukan perjalanan di dalam kota tersedia kereta kuda poni, yang berlari kencang dan kuat. Karl May mengatakan betapa orang Melayu sangat sayang dalam merawat kudanya. Keunikan lain adalah trem Aceh merupakan satu-satunya yang berorientasi untuk kepentingan perang. Tidak seperti di Jawa yang pengadaannya diperoleh melalui pembelian, lahan untuk jalur rel trem di Aceh berasal dari bekas teritorial Kesultanan Aceh yang berhasil direbut dan dikuasai pasukan Koninklijk Nederlandsch-Indische Leger (KNIL). Sebagai hasil dari aneksasi wilayah, lahan-lahan itu disahkan kepemilikannya menjadi aset langsung Angkatan Darat Tentara Kerajaan Hindia Belanda melalui hukum militer. Tujuan Karl May ke Aceh, sebenarnya untuk membebaskan sahabatnya, sebuah keluarga Amerika, dari penyanderaan oleh orang Melayu di pedalaman Aceh, pegunungan Bukit Barisan yang sangat mungkin Takengon, dengan tebusan sebesar 50.000 gulden. Di antara karya May, Dan Damai di Bumi, berbeda dari buah pena lainnya, yaitu serial Winnetou di daratan Amerika ataupun Kara Ben Namsi di tanah Arab. Novel ini tak lagi bertumpu pada data dan informasi pustaka, melainkan buah perjalanan nyata Karl May ke negeri-negeri Timur.





Pagi itu kami ber 22 orang dokter dari IDI Wilayah DIY dan segenap IDI Cabang se DIY meluncur ke Uleelheu, sebuah pelabuhan penyeberangan yang dikunjungi Karl May, untuk menuju Kota Sabang di Pulau Weh. Sabang adalah salah satu kotamadya di Aceh, yang teritorialnya berupa kepulauan di seberang utara pulau Sumatra, dengan Pulau Weh sebagai pulau terbesar. Kota Sabang merupakan zona ekonomi bebas Indonesia, dan sering disebut sebagai titik paling barat Indonesia, tepatnya di Pulau Rondo. Dengan luas 122,1 km² yang berkontur pegunungan subur, telah dilukiskan pertama kali sekitar tahun 301 Sebelum Masehi, oleh seorang Ahli bumi Yunani, Ptolomacus, yang berlayar ke arah timur dan berlabuh di sebuah pulau tak terkenal di mulut selat Malaka. Kemudian dia menyebut dan memperkenalkan pulau tersebut sebagai Pulau Emas di peta para pelaut.
Di Pelabuhan Uleelheu yang padat penumpang peserta Muktamar IDI ke 31 dari berbagai Wilayah se Indonesia, kami berbaris teratur memasuki lambung Kapal Cepat milik Perusahaan Express Bahari yang rutin melayari rute Pelabuhan Uleelheue Banda Aceh dengan pelabuhan Balohan Sabang. Dalam perjalanan membelah laut lepas tersebut, kami juga mengikuti talkshow virtual dari Banda Aceh Convention Hall (BACH), tempat Muktamar IDI diselenggarakan dan bertema ‘Dokter Indonesia Mandiri & Berdaulat di Negeri Sendiri’. Acara live dan virtual tersebut menampilkan pembicara handal, yaitu Dr. dr. Muhammad Yamin, Sp.JP (K), Sp.PD, FACC, FSCAI, dr. HN. Nazar, Sp.B, FINACS, MH.Kes, Prof. dr. Ali Ghufron Mukti, M.Sc., Ph.D, AAK, Dr. (H.C.) Drs. H. Muhammad Jusuf Kalla, dan Dr. Sofyan A. Djalil, S.H., M.A., M.ALD.
Kami jadi teringat saat Wakil Presiden Jusuf Kalla membuka Muktamar ke-29 Ikatan Dokter Indonesia (IDI) di Istana Wapres, Jakarta, pada Rabu, 11 November 2015. Waktu itu Kalla pun menyinggung sejumlah masalah dan tantangan yang dihadapi oleh pemerintah dalam memperbaiki sektor kesehatan di Indonesia. Menurut Wapres, beberapa hal yang mempengaruhi sektor kesehatan di Indonesia, antara lain perihal layanan, keuangan, infrastruktur dan politik. Saat bukan lagi sebagai Wapres RI tetapi sebagai Ketua Umum Palang Merah Indonesia (PMI), pagi itu Jusuf Kalla mengungkapkan bahwa dunia kesehatan dan kedokteran di Indonesia, yang saat ini sudah mengalami banyak perubahan. Pelayanan kesehatan kini bersaing pada kualitas layanan medis termasuk dokter, teknologi, serta hospitality-nya. Jadi persaingannya bukan hanya persaingan kemampuan atau kompetensi dokter saja. Untuk itu penting bagi fasilitas kesehatan untuk mengembangkan jenis layanan medis oleh dokter, secara kreatif, inovatif dan terus menerus.
Dalam menjawab tantangan pemerataan, baik sisi ketersediaan sarana dan prasarana, maupun tenaga dokter, pada kesempatan tersebut pagi tadi, Direktur Utama BPJS Kesehatan Ali Ghufron Mukti juga mengatakan pentingnya peningkatan kualitas layanan dokter, yang telah menjadi fokus tantangan dalam penyelenggaraan Program Jaminan Kesehatan Nasional-Kartu Indonesia Sehat (JKN-KIS). Saat ini pengelolaan Program JKN-KIS sudah banyak berubah dan semakin baik. Dari sisi layanan, berbagai inovasi berbasis digital terus dikembangkan mulai dari antrean online, pelayanan konsultasi dokter secara online melalui telekonsultasi, monitoring status kesehatan peserta JKN-KIS yang memiliki penyakit kronis. BPJS Kesehatan juga berkomitmen untuk terus memperhatikan cashflow rumah sakit dan kesejahteraan dokter serta tenaga kesehatan. Selain itu, saat ini juga tengah dibahas perubahan tarif layanan kesehatan, baik kapitasi di FKTP maupun tarif di rumah sakit, sambil tetap memperhatikan skenario keberlangsungan program agar tetap terjaga. Pada saat penjelasan virtual Prof. Ali Gufron Mukti tersebut membuat kami lebih optimis mengabdi negeri, tepat kami mampu mendarat dengan selamat di Pelabuhan Balohan Sabang.


Sabang di pulau Weh adalah pulau paling barat Indonesia yang berjarak sekitar 14 mil atau 50 menit pelayaran Kapal Cepat dari Pelabuhan Uleelheu, Banda Aceh. Pulau itu memiliki sekitar 40 ribu penduduk dan Sabang pernah menjadi kawasan perdagangan bebas, hingga akhirnya ditutup pada 1986. Perjalanan darat di Sabang kami lalui menggunakan mobil Toyota Hi Ace dan Mitsubhisi Colt Diesel untuk menuju Monumen Nol Kilometer Indonesia di ujung utara pulau Weh. Titik kilometer nol ini juga populer dengan sebutan Tugu Kilometer Nol yang terletak di Desa Iboih, Kecamatan Sukakarya, Sabang. Butuh waktu satu jam berkendara dari pusat kota Sabang, dengan disuguhi panorama indah Pulau Weh, yaitu medan jalan terjal naik turun, jalan berkelak-kelok, vegetasi hutan tropis, bentangan pantai, dan pulau-pulau kecil. Kami mencapai Tugu kilometer nol yang berupa bangunan bercat putih dengan tinggi sekitar 43,6 meter di atas permukaan laut. Di puncak tugu ini terdapat patung Garuda yang mencengkeram perisai yang membentuk angka nol. Juga ada rencong yang merupakan senjata khas Aceh, sebagai simbol perjuangan rakyat Aceh dalam memerdekakan Indonesia. Tugu kilometer nol memiliki empat pilar penyangga yang berarti simbol batas-batas negara Indonesia, yakni Sabang sampai Merauke, dan Miangas hingga Rote. Tugu kilometer nol diresmikan pada 9 September 1997 oleh Bapak Try Sutrisno, yang pada saat itu menjabat wakil presiden RI. Tepat dua minggu usai peresmian, Bapak B.J. Habibie yang kala itu menjabat menteri riset dan teknologi menambahkan prasasti yang berisi penjelasan tentang kilometer nol. Yang utama adalah penjelasan bahwa penetapan posisi geografis kilometer nol telah diuji oleh Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi menggunakan Global Positioning System (GPS). Setelah puas berfoto penuh gaya, baik pribadi maupun kelompok, yang saling bergantian dengan pengunjung lainnya, kami hapus lapar dengan membeli kuliner lokal, yaitu pisang goreng krispi dan rujak aneka buah, termasuk yang diambil seekor monyet liar saat ditinggal foto oleh dr. Betty Juliastuti, SpAn, teman kami utusan IDI Cabang Sleman, DIY.



Setelah mampir sebentar di Pantai Teupin Layeu Iboih, Sabang yang merupakan arena snorkling indah, dangkal dan dekat garis pantai, kami segera kembali ke Banda Aceh. Pelayaran menggunakan Kapal Cepat Express Bahari berakhir di pelabuhan penyeberangan Uleelheu dalam cuaca mendung. Kami segera merapat ke Banda Aceh Convention Hall (BACH), untuk berpencar mengikuti Muktamar IDI ke 31. Kami terbagi ke dalam sidang komisi A sampai F, MKEK dan MKKI, dengan tidak ada utusan IDI Wilayah DIY ke sidang MPPK. Setelah mengikuti rangkaian sidang yang humanis, dialogis dan terstruktur lebih rapi dibandingkan Muktamar IDI sebelum-sebelumnya, kami segera menikmati udara sore Banda Aceh yang menantang stamina.


Udara sore Banda Aceh seolah menantang pendapat pengamat ekonom Aceh, Dr. Taufik Abdul Rahim, pada Selasa, 22 Maret 2022. Taufik dari Universitas Muhammadiyah Aceh menerangkan alokasi APBA untuk Muktamar IDI, sangat menyayat hati dan miris, karena organisasi profesi yang sarat dengan kelimpahan serta kelebihan dana yang semestinya memberikan sumbangan sebahagian hartanya untuk kehidupan rakyat Aceh yang miskin dan termiskin di Sumatera (15,34%). Selain itu, tantangan lainnya adalah masih banyaknya pengangguran dan bertambahnya pengangguran sebagai dampak selama pandemi Covid-19, bahkan mencapai sekitar 280 ribu orang, disamping akumulasi pengangguran selama ini ditambah dengan pengangguran usia kerja sekitar 800 ribu lebih. Juga kondisi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat Aceh masih sangat jauh dari realitas sejahtera dan makmur yang sesungguhnya. Tantangan tersebut sebaiknya dijawab sesuai seruan Wali Kota Banda Aceh Aminullah Usman, agar menguntungkan bagi pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Ribuan dokter dari seluruh Nusantara datang ke Banda Aceh saat Muktamar IDI, pasti akan membuat UMKM laris manis. Di mana aneka ragam jajanan lokal hingga suvenir pasti jadi sasaran. Para dokter peserta pastinya akan menjajaki lokasi-lokasi wisata, menjajal kuliner, dan membawa pulang cenderamata asal negeri Serambi Mekkah. Inilah yang dinamakan dengan multiplier effect, karena dokter yang datang ke Banda Aceh pasti akan menghabiskan uangnya di kota ini. Wali kota pun meminta agar masyarakat menyambut baik, dan memberikan nuansa nyaman dan aman bagi tamu yang hadir di ‘Kota Gemilang’. Buatlah para dokter terkesan, karena telah datang di Ibukota Provinsi Aceh ini, sebagaimana dikenal dengan daerah yang menjunjung tinggi nilai syariat, dan dengan adat ‘pemulia jamee’, atau memuliakan tamu.

Sore itu saat teman2 sedang menjalani ibadat sholat dan beristirahat sejenak di Hotel Arabia, kami pribadi mengunjungi Kerkhof Peucut, yang merupakan kuburan serdadu Belanda (KNIL), yang tewas pada Perang Aceh dalam rentang tahun 1873 hingga 1904. Dengan diantar Bapak Hafiz Adriadi, SE menggunakan mobil Toyota Innova G abu-abu tahun 2016 BL 1053 JP, mobil dinas Kabid PLUT (Pusat Layanan Usaha Terpadu) Dinas Koperasi dan UKMK Propinsi Aceh, kami bermenung di pemakaman militer Belanda terbesar yang berada di luar teritorial Negeri Belanda dengan luas mencapai 3,5 hektare. Kompleks kuburan militer Belanda semacam ini banyak tersebar di wilayah Indonesia, tetapi di Aceh merupakan komplek kuburan yang paling luas dengan jumlah korban ± 2.200 tentara. Kerkhof Peucut ini terletak di pusat kota Banda Aceh, dan sekarang menjadi objek wisata menarik, khususnya bagi wisatawan mancanegara, terutama wisatawan asal Belanda. Selain tentara Belanda, tentara KNIL dari suku Jawa, Batak, Ambon dan pribumi Aceh juga dimakamkan di Kerkhof Peucut ini, termasuk juga makam putra Sultan Iskandar Muda, Meurah Popok yang tewas dihukum rajam oleh ayahandanya karena dituduh berzina pada tahun 1636. Tokoh militer Belanda yang dimakamkan di Kerkoff Peucut misalnya Mayor Jenderal Johan Harmen Rudolf Köhler yang ditembak mati di halaman Masjid Raya Baiturrahman, Johannes Ludovicius Jakobus Hubertus, dan W.B.J.A. Scheepens.


Korban perang terbanyak terjadi pada pertempuran di Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, yang saat itu disebut Missigit Raija pada tahun 1873. Terdapat nama tentara KNIL dari Jawa pada perang tersebut seperti Darman, Djojosasmito, dan Goenasetja. Bahkan di tahun 1879 ada nama Jawa Poijo, Prodjodjojo, Sariman, Singosasmito, Kromowidjojo, Sarijo, Wongsodikromo, dan Ketowirjo. Tentara Jawa yang meninggal tahun 1897 ada Wirodrono, Wongsotaruno, Samadi, Mangoenpawiro, dan Ronodrikromo. Nama-nama khas leluhur dari Jawa tersebut menghentakkan hening, sedih dan tercenung, karena rasanya itu adalah awal mula konflik Jawa melawan Aceh di akhir abad 19. Konflik selanjutnya yang terjadi di Aceh disebabkan oleh beberapa hal yang lebih luas, yaitu perbedaan pendapat tentang hukum Islam, ketidakpuasan atas distribusi sumber daya alam Aceh, dan peningkatan jumlah orang Jawa di Aceh. Dalam konflik tersebut, GAM (Gerakan Aceh Merdeka) melalui tiga tahapan, yaitu tahun 1977, 1989, dan 1998 menyatakan perang. Sebelumnya, pada 4 Desember 1976, pemimpin GAM, Hasan di Tiro bersama beberapa pengikutnya melayangkan perlawanan terhadap pemerintah RI. Perlawanan tersebut mereka lakukan di perbukitan Halimon di kawasan Kabupaten Pidie. Sejak saat itu, konflik antara pemerintah RI dengan GAM terus berlangsung. Bersyukurlah bahwa Tuhan Yang Maha Baik memberkati kita semua karena selanjutnya, tanggal 27 Februari 2005, GAM dan pemerintah RI memulai tahap perundingan di Vantaa, Finlandia. Pada 17 Juli 2005, setelah berunding selama 25 hari, tim perunding Indonesia berhasil mencapai kesepakatan damai dengan GAM di Vantta, Finlandia.
Penandatanganan kesepakatan damai dilangsungkan pada 15 Agustus 2005. Proses perdamaian selanjutnya dipantau oleh tim yang bernama Aceh Monitoring Mission (AMM) yang beranggotakan lima negara ASEAN. Semua senjata GAM yang berjumlah 840 diserahkan kepada AMM pada 19 Desember 2005. Kemudian, pada 27 Desember, GAM melalui juru bicara militernya, Sofyan Dawood, menyatakan bahwa sayap militer Tentara Neugara Aceh (TNA) telah dibubarkan secara formal. Dengan demikian, pertikaian, konflik dan luka lama antara Indonesia, khususnya Jawa dan Aceh, layak sekedar diingat, agar tidak akan pernah terjadi lagi dan justru kerjasama keduanya semakin padu, padan dan lancar jalan, dalam bingkai NKRI harga mati.


Semangat itulah yang mendorong kami penuh daya dan kekuatan, malam itu kembali masuk venue Banda Aceh Convention Hall (BACH) tempat Muktamar IDI ke 31 diselenggarakan. Malam itu kami mengikuti sidang pleno pembahasan berbagai rekomendasi hasil sidang Komisi A sampai F. Juga keterpilihan dr. Djoko Widyarto dari IDI Wilayah Jawa Tengah, sebagai Ketua Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK). Pemilihan Ketua MKKI (Majelis Kelegium Kedokteran Indonesia) dan MPPK (Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian) yang akan menjadi satu kesatuan dengan Ketua Umum Pengurus Besar (Ketum PB) IDI, sampai saat catatan ini digoreskan masih belum diselenggarakan. Setelah mencicipi nasi goreng kotak khas Aceh dari RM Daus Jl. TP Polem 87 Banda Aceh dan kopi solong di meja panitia, kami melawan lelah dengan melanjutkan ‘city tour’ untuk menikmati kemegahan Gedung Bank Indonesia Aceh. Gedung yang merupakan bangunan berarsitektur kolonial peninggalan pemerintah Hindia Belanda, terletak di Jalan Cut Mutia No. 15, Kota Banda Aceh. Bangunan ini diresmikan pada 2 Desember 1918 dan dulu dikenal sebagai kantor cabang De Javasche Bank sebelum diambil alih oleh BI pada 1 Juli 1953. Gedung ini terletak ditengah kota, tidak jauh dari pusat perekonomian pasar Aceh dan di bagian depan arah timur terdapat sungai Krueng Aceh. Secara fisik, bangunan ini memperlihatkan arsitektur Kolonial yang digabungkan dengan arsitektur bangunan tropis. Bagian atapnya berbentuk kerucut dan limas dengan jendela. Hampir seluruh dinding bangunan ini terdapat ventilasi, baik di lantai dasar maupun di lantai atas. Bangunan ini diapit oleh dua menara, yang menunjukkan arsitektur bangunan pemerintah yang didirikan pada masa Kolonial Belanda. Setelah puas berfoto dengan latar belakang gedung indah tersebut, kami melanjutkan perjalanan ke Monumen Seulawah atau yang disebut juga Monumen Replika Pesawat Seulawah RI 001, yang berbentuk pesawat. Pesawat tersebut merupakan replika dari pesawat pertama milik Indonesia, yang dibeli dengan bantuan dana dari rakyat Aceh secara sukarela. Monumen Seulawah terletak di Lapangan Blang Padang, Kecamatan Baiturrahman, yang hanya terletak 1 km saja dari pusat kota Banda Aceh. Monumen ini didirikan dengan tujuan untuk mengenang perlawanan rakyat Aceh dalam melawan Belanda pada agresi militer tahun 1948. Pesawat berjenis Dakota DC-3 ini memiliki panjang 19,66 meter dan rentang sayap 28,96 meter, yang saat itu mampu terbang hingga kecepatan 346 km/jam. Selain berjasa dalam perjuangan Indonesia meraih kedaulatan, pesawat ini juga merupakan cikal bakal maskapai penerbangan sipil di Indonesia. Pada jaman itu, pesawat RI 001 ini berperan dalam mengangkut senjata, mengantar perjalanan Presiden Soekarno dalam membangkitkan semangat para pemuda, dan membantu menyebarkan berita perjuangan kedaulatan Indonesia ke berbagai daerah hingga ke Markas PBB di New York AS.
Penutup acara kami menjelang tengah malam yang hujan itu, dengan dr. M. Junaidy Heriyanto, SpB FINACS dari IDI Wilayah DIY, diantar menuju RM BARDI di Jl. Residen Danu Broto, Lamlagang, Banda Aceh. Kami mencoba objektif dengan menerima tantangan untuk berani merasakan kelezatan mie goreng balap Aceh, yang tidak terlepas dari bumbu yang diracik dari daun atau biji ganja (canabis). Jenis narkotika yang paling banyak disalahgunakan di dunia adalah ganja. Menurut UNODC, sebanyak 192 juta penduduk dunia menggunakan ganja. Sedangkan berdasarkan hasil survei BNN pada tahun 2019, terdapat 65,5 persen penyalahguna narkotika di Indonesia menggunakan ganja. Sisanya penyalahgunaan narkotika dari jenis methamphetamine (sabu), ekstasi, pil koplo dan obat-obatan dari golongan benzodiazepine. Ganja atau dikenal juga dengan chimeng, berupa tumbuhan berbunga dari famili Cannabaceae yang biasanya tumbuh di daerah pegunungan tropis, dengan ketinggian di atas seribu meter di atas permukaan laut. Daunnya berbentuk menjari dan bunganya kecil-kecil dengan dompolan di ujung ranting. Di Indonesia, ganja banyak tumbuh di daerah pegunungan dalam Propinsi Aceh. Maka dari itu, di Aceh daun dan biji ganja secara umum digunakan oleh penduduk lokal sebagai bahan tambahan dalam kopi atau penyedap masakan. Masakan yang ditambahkan daun ganja dipercaya dapat meningkatkan nafsu makan. Pengunaan ganja untuk bumbu masakan adalah sesuatu yang “umum” untuk dimasukkan ke dalam masakan daging, terutama kare, karena dapat menaikkan rasa gurih. Komposisi utama dari bumbu halus hidangan ini adalah cabai merah, kunyit, jintan, kapulaga, merica dan bawang putih, yang membuat rasa bumbu ini memiliki nuansa berbeda saat di dalam mulut. Apalagi sambil mendengarkan pengalaman baru, seru, dan saru oleh dr. Tri Kusumo Bawono, SE saat melayani para pasien ISK, PSK, gay, HIV dan COVID-19.
Malam ini mulut kami terus berkomat-kamit merasakan sisa-sisa sensasi mie Aceh rasa chimeng (ganja) yang menggoda, sambil berkemas untuk check out hotel, kembali ke Yogyakarta pagi ini
Terimakasih kami haturkan, spesial kepada Bapak Ir. Helvizar Ibrahim, MSiP Kepala Dinas KopUKM Propinsi Aceh dan segenap jajarannya, yang telah memfasilitasi kontingan IDI Wilayah DIY menjelajah sensasi Aceh yang jauh lebih banyak dibandingkan yang dilaporkan ini. Mohon maaf, belum tentu bersambung dengan laporan berikutnya.
Kamis menjelang Jumat dini hari, 24 Maret 2022, ditulis di kamar 221 Hotel Arabia, Jl. Khairil Anwar 55 Banda Aceh
ACEH
(hari ke 4 – terakhir)
Jumat, 25 Maret 2022 merupakan hari ke 4 kami menghadiri Muktamar IDI (Ikatan Dokter Indonesia) ke 31 di Banda Aceh Convention Hall (BACH). Pagi itu kami bergabung dengan rombongan IDI Cabang Bantul DIY dan dijemput oleh Bapak Syukri, driver yang menggunakan mobil dinas Kabid Kelembagaan DinkopUKM Aceh. Kami mengikuti kuliah umum oleh Ketua DPD RI, Bapak AA LaNyalla Mahmud Mattalitti, yang mengajak Ikatan Dokter Indonesia (IDI) membantu pemerintah menyiapkan dan menata roadmap ketahanan nasional sektor kesehatan. Menurut LaNyalla, upaya tersebut harus dilakukan dengan memperkuat kedaulatan sebagai bangsa terlebih dahulu, sesuai tema kuliah umum : Nasionalisme Dalam Tubuh Dokter Indonesia Sebagai Dasar Ketahanan Nasional. Menurut LaNyalla, sebagai sebuah bangsa, amat penting untuk memperkuat ketahanan di sektor strategis, salah satunya adalah sektor kesehatan, selain sektor pangan, pendidikan dan pertahanan keamanan. Dan untuk memperkuat ketahanan di sektor kesehatan harus dilakukan dengan menelaah persoalan yang ada di hulu, bukan sekedar persoalan yang ada di hilir.

Setelah itu, kami bergabung dengan dr. Sagiran, dr. Tri Ermin Fadlila, dr. Agus Suyono dan dr. Nuryasin Kurniawan segera bergegas menuju Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda (SIM) untuk naik pesawat mendahului pulang ke Yogyakarta. Setelah dilanda Tsunami pada 26 Desember 2004, bandara SIM ini telah direnovasi dan memiliki landasan pacu sepanjang 3.000 meter yang mampu menampung pesawat berbadan lebar. Pada 9 Oktober 2011 sebuah Boeing 747-400 berhasil melakukan take off dan landing, yang membuktikan bahwa bandara ini bisa dijadikan tempat transit bagi perusahaan penerbangan internasional.
Sambil mengurus proses check in penumpang, kami memantau perkembangan dinamika Muktamar IDI ke 31, termasuk terpilihnya Dr. dr. Ika Prasetya Wijaya, Sp.PD, KKV sebagai Ketua Majelis Pengembangan Pelayanan Keprofesian (MPPK), dr. Djoko Widiyarto KS, DHM, MHKes. sebagai Ketua Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK), dan Dr. dr. Setyo Widi Nugroho, SpBS(K), sebagai Ketua Majelis Kelegium Kedokteran Indonesia (MKKI). Selain itu, kami juga mengenang dukungan Ketua MPR RI, Bapak Bambang Soesatyo untuk penyelenggaraan Muktamar IDI ke-31 di Kota Banda Aceh. Dirinya berharap, penyelenggaraan Muktamar IDI dapat membuat organisasi IDI semakin solid, sehingga dapat terus bersinergi dengan pemerintah menuju visi Indonesia Sehat 2045, dengan mewujudkan peningkatan kualitas kesehatan dan gizi masyarakat. Mulai dari peningkatan usia harapan hidup, hingga pengendalian berbagai penyakit menular. Karenanya, berbagai persoalan yang dihadapi oleh para dokter harus dapat diselesaikan sedini mungkin, seperti menyangkut pemerataan distribusi dokter di seluruh Indonesia, meningkatkan kualitas daya saing dokter Indonesia melalui peraturan hukum terkait, hingga meningkatkan kesejahteraan dan keselamatan dokter dan tenaga kesehatan lainnya di seluruh Indonesia.


Kami akan naik Batik Air ID 6897 pk. 11.30 menuju ke Bandara Soekarno Hatta Tangerang Banten. Kami naik pesawat jenis Boeing 737-800 NG, bagian dari 28 pesawat Batik Air yang terdiri atas Boeing 737-900ER, Boeing 737-800NG dan Airbus A320 CEO. Seluruh pesawat Batik Air memiliki fasilitas hiburan inflight entertainment system berteknologi tinggi melalui sistem aplikasi. Penumpang dapat menikmati hiburan seperi film Hollywood, film lokal, dan musik dalam perjalanan, menggunakan HP masing2. Boeing 737 Next Generation yang kami naiki adalah pesawat terbang berbadan sempit yang didukung oleh dua mesin jet dan diproduksi oleh Boeing Commercial Airplanes, AS. Diluncurkan pertama kali pada tahun 1993 sebagai turunan generasi ketiga dari Boeing 737 Classic, yaitu seri 300, 400, dan 500.
Sepanjang penerbangan yang diselingi makan siang nasi hangat dan kari ayam, yang kami santap dengan menerapkan protokol kesehatan, jadi teringat tentang Festival Kopi kemarin. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh dalam menyambut rombongan dokter peserta Muktamar IDI menyelenggarakan Festival Kopi Kutaraja 2022 di Taman Budaya Aceh, pada hari Kamis, 24 Maret 2022. Sebagian warga Aceh mempunyai cara unik dalam menyeruput kopi, salah satunya saat menyeruput kopi dengan posisi gelas terbalik atau biasa disebut Kopi Khop, kopi khas dari Meulaboh Aceh Barat. Kopi ini rasanya menjadi incaran utama para dokter yang hadir di Festival Kopi Kutaraja 2022.
Setelah transit sekitar 1 jam, kami melanjutkan penerbangan dari Bandara Soetta Tangerang, Banten menggunakan Batik Air Airbus A320. Pesawat Airbus A320 Neo milik Batik Air memiliki kapasitas penumpang 156 orang dengan konfigurasi 12 penumpang bisnis dan 144 penumpang ekonomi. Pesawat ini memiliki model kursi teranyar dengan jarak lebih longgar hingga 30 inci. Seat Batik Air adalah model terbaru dengan teknologi paling anyar yang kami nikmati sampai mendarat di Bandar Udara Internasional Yogyakarta yang dibangun di Kapanéwon Temon, Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bandar udara ini menggantikan Bandar Udara Internasional Adisutjipto yang sudah tidak mampu lagi menampung kapasitas penumpang dan pesawat. Bandar udara ini berdiri di tanah seluas 600 hektar dan diperkirakan menelan biaya Rp. 9 triliun. Bandara ini akan memiliki terminal seluas 210.000 meter persegi dengan kapasitas 20 juta penumpang per tahun. Selain itu, bandar udara tersebut memiliki hanggar seluas 371.125 meter persegi yang direncanakan bakal sanggup menampung hingga sebanyak 28 unit pesawat. Bandara ini juga, bisa menampung pesawat berbadan lebar, seperti B777, B747, A380, untuk penerbangan internasional jarak jauh.




Sambil menunggu proses pengambilan bagasi dari perut pesawat Batik Air Airbus A320, kami mengikuti perkembangan terkini Muktamar IDI ke 31 di Banda Aceh Convention Hall (BACH), terutama beredarnya rekaman video di media sosial, tentang berlakunya sanksi etik medis pemecatan permanen dari anggota IDI kepada Prof. Dr. dr. Terawan Agus Putranto, SpRad-KI, terkait terapi cuci otak atau DSA (Digital Subtraction Angiography). DSA sebenarnya adalah pemeriksaan gambar lumen (permukaan bagian dalam) pembuluh darah, termasuk arteri, vena dan serambi jantung. Gambar ini diperoleh dengan menggunakan mesin Sinar-X bantuan komputer yang rumit. Media kontras khusus atau ‘dye’ (cairan bening dengan kepadatan tinggi) biasanya disuntikkan agar aliran darah ke kaki, jantung, otak, atau organ tubuh lainnya mudah dilihat dan dilakukan tindakan medis lanjutan, bila terdapat sumbatan. Pengenceran sumbatan dalam pembuluh darah otak dengan metode DSA, telah mengawali terbentuknya kontroversi etik medis oleh dr. Terawan. Selain itu, dr. Terawan juga memimpin tim yang mengembangkan vaksin nusantara berbahan dasar sel denritik, untuk melawan ganasnya pandemi COVID-19 secara personal. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) menyebut vaksin Nusantara adalah vaksin terapi yang penggunaannya tidak membutuhkan izin BPOM, karena bukan vaksin yang seperti biasa, tetapi dapat dilakukan sebagai uji klinik berbasis pelayanan, hanya di fasilitas pelayanan. Kasus ini juga tidak kalah dilematis dalam aspek kontroversi etika kedokteran yang sanksinya sudah berketetapan organisasi, bukan sekedar aspek mutu atau Evidence Based Medicine (EBM), yang masih diperdebatkan.

Adegan viral di media sosial lainnya adalah pada sesi sidang pembahasan tata tertib pemilihan Ketua Umum PB IDI, saat ada seorang dokter yang meminta berbicara, tetapi tidak diberi kesempatan lagi oleh pimpinan sidang, karena sudah berulang kali berbicara dan sidang ditutup. Maka adegan naik ke atas panggung Mukatamar IDI yang diikuti oleh dokter yang lain, sehingga petugas keamanan dari Polda Aceh juga ikut naik ke atas panggung meredakan suasana dan mencegah ekskalasi gangguan keberlanjutan sidang. Adegan ini viral di media sosial yang menyebabkan persepsi luas, liar dan lugas. Untunglah kesejawatan antar dokter muktamirin dapat terus dijungjung tinggi, sampai pada tahap pemilihan dan dr. Slamet Budiharto, SH, MH akhirnya terpilih sebagai Ketua Umum PB IDI terpilih (Presiden Elect) dengan memperoleh 418 suara, untuk mendampingi Ketua Umum PB IDI dr. Moh Adib Khumaidi, Sp.OT, dalam kepengurusan ke depan. Selamat bertugas, demi marwah IDI dan pengabdian kepada negeri yang lebih baik.
Terimakasih
-wikan
IDI Cabang Kota Yogyakarta
Jumat malam, 25 Maret 2022.
Ditulis di rumah Timoho Regency A4 depan kantor walikota Yogyakarta, dalam lelah raga sepulang dari Aceh
4 replies on “2022 ACEH”
Mantab dok.Tks
Tulisan perjalanan yg mencerahkan detail dgn bahasa Ind yg enak dibaca sangat informatip.
Bisa menjadi buku promosi Pariwisata DI Aceh.
Semoga bermanfaat ya Pak Suyoto
Panjang komplet details dan mencerahkan. Sayang tidak ada ulasan jelas suasana pembuatan dokter Terawan. Apa ya semua alamat.
Semoga bermanfaat ya pak Elyas
Salam sehat
-wikan