HARI TUBERKULOSIS DUNIA 2025
fx. wikan indrarto
Tulisan ini telah dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat Yogyakarta Minggu, 6 April 2025, halaman 8, kolom HUSADA.

Hari Tuberkulosis (TB) Dunia diadakan setiap tanggal 24 Maret untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang dampak buruk TB dalam bidang kesehatan, sosial dan ekonomi. Selain itu, juga untuk meningkatkan upaya mengakhiri epidemi TB global. Apa yang perlu dicermati?

Pada 24 Maret 1882 Dr. Robert Koch menemukan penyebab penyakit TB, yaitu bakteri Mycobacterium tuberculosis. Pada saat Dr. Koch mengumumkan penemuannya di Berlin, Jerman waktu itu TB mewabah di seluruh Eropa dan Amerika, bahkan menyebabkan kematian 1 dari setiap 7 orang penderitanya. Kemajuan yang telah kita dapatkan, 75 juta nyawa telah terselamatkan sejak tahun 2000 melalui upaya global untuk mengakhiri TB. Meskipun 79 juta nyawa telah terselamatkan sejak tahun 2000 berkat upaya global untuk mengakhiri TB, tetapi 10,8 juta orang telah jatuh sakit karena TB pada tahun 2023, dan 1,25 juta orang meninggal karena TB pada tahun 2023.
Tema Hari (TB) Dunia tahun 2025 ini : Ya! Kita Bisa Mengakhiri TB : Berkomitmen, Berinvestasi, Mewujudkan, (Yes! We Can End TB: Commit, Invest, Deliver).

Pertama, berkomitmen. Para pemimpin dunia pada Pertemuan Tingkat Tinggi PBB 2023 telah berjanji untuk mempercepat upaya dalam mengakhiri TB. Sekarang, warga dunia mengingatkan dan membutuhkan tindakan nyata dari segenap pemimpin dunia di semua tingkatan, dalam komitmen implementasi secara cepat pedoman dan kebijakan WHO, strategi nasional dan regional untuk mengatasi TB yang diperkuat, dan pendanaan program secara penuh.
Kedua, berinvestasi. TB tidak dapat dikalahkan tanpa pendanaan yang memadai dan tepat. Dunia memerlukan pendekatan yang berani dan beragam untuk mendanai inovasi, untuk menutup kesenjangan dalam akses terhadap pencegahan, diagnosis molekuler, pengobatan, dan perawatan pasien TB, serta untuk memajukan penelitian kedokteran.
Ketiga, bertindak. Mengubah dari komitmen menjadi sebuah tindakan berarti meningkatkan skala intervensi kesehatan yang direkomendasikan WHO. Dalam hal ini mencakup aspek deteksi dini, diagnosis, pengobatan pencegahan, dan perawatan TB berkualitas tinggi, khususnya untuk TB yang resistan terhadap obat (MDR TB). Keberhasilan tindakan ini bergantung pada kepemimpinan di semua tingkatan dari nasional, regional dan lokal, tindakan serentak segenap masyarakat sipil, dan kolaborasi lintas sektor.
Dalam aspek diagnosis TB secara lebih akurat, modalitas pemeriksaan Tes Cepat Molekuler (TCM) dengan PCR geneXpert konvensional dan ultra sebaiknya dilakukan untuk mengganti pemeriksaan dahak BTA sputum, yang sampai sekarang masih sering dilakukan. Alasan penggunaan TCM yang berbiaya lebih mahal adalah karena pemeriksaan ini jauh lebih sensitif, dapat langsung mendeteksi resistensi bakteri TB, dan lebih praktis, juga sederhana. Perlu juga dicermati, bahwa bakteri M. tuberculosis dapat menginfeksi organ-organ lain atau disebut tuberkulosis ekstraparu, yang tidak mudah didiagnosis.
Momentum Hari Tuberkulosis (TB) Dunia Senin, 24 Maret 2025 mengingatkan kita semua agar berkomitmen, berinvestasi dan bertindak sekarang, untuk mengakhiri TB dan menyelamatkan lebih banyak pasien. Selain itu, kita semua wajib menerapkan rekomendasi WHO yang baru dengan lebih cepat, baik dalam aspek diagnosis dengan TCM, terapi pencegahan (TPT) TB laten dan pengobatan TB sampai tuntas, untuk mengakhiri epidemi TB global.
Sudahkah kita bijak?
| Sekian Yogyakarta, 15 Maret 2025 *) Dokter spesialis anak di RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM. |