Categories
Istanbul

2018 Hari Malaria Dunia

Hasil gambar untuk malaria

 

HARI MALARIA DUNIA 2018

fx. wikan indrarto*)

Rabu, 25 April 2018 merupakan Hari Malaria Sedunia (World Malaria Day) 2018 dengan tema bergelora : siap untuk mengalahkan malaria (ready to beat malaria). Tema ini menggaris bawahi energi dan komitmen kolektif komunitas global dalam menyatukan tujuan bersama, yaitu menciptakan dunia yang bebas malaria. Apa yang perlu diketahui?

Gambar terkait

Malaria adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh parasit Plasmodium yang hidup dan berkembang biak dalam sel darah merah manusia, ditularkan oleh nyamuk malaria (Anopheles) betina, dan dapat menyerang semua orang pada semua golongan umur dari bayi, anak sampai orang dewasa. Pada tahun 2016, terjadi 216 juta kasus malaria di seluruh dunia, dengan 445.000 kematian dan diperlukan $US 2,7 Milyar untuk mengalahkan malaria. Peringatan Hari Malaria Sedunia ini untuk menyoroti kemajuan luar biasa yang telah dicapai, dalam menanggulangi salah satu penyakit tertua pada manusia, sambil juga mencermati tren yang mengkhawatirkan, seperti yang diungkap dalam Laporan Malaria Dunia 2017.

Hasil gambar untuk malaria

Respons global terhadap malaria berada di persimpangan jalan. Setelah periode keberhasilan pengendalian malaria yang belum pernah terjadi sebelumnya, sangat disayangkan kemajuan telah terhenti. Kecepatan penyelesaian masalah saat ini tidak mencukupi untuk mencapai tonggak pencapaian (milestones) tahun 2020 sesuai dengan target pada Global Technical Strategy for Malaria 2016–2030’, khususnya target pengurangan 40% kejadian kasus malaria (morbiditas) dan angka kematian (mortalitas).

Hasil gambar untuk malaria

Banyak negara semakin jelas masuk ke dalam salah satu dari dua kategori, yaitu negera yang bergerak menuju eliminasi malaria dan negara yang lain justru bergerak dengan penularan berkelanjutan, bahkan telah melaporkan peningkatan kasus malaria yang signifikan. Tanpa tindakan segera, keberhasilan besar dalam perang melawan malaria berada di bawah ancaman. Laporan tentang kabupaten atau kota di Indonesia tahun 2016, sebanyak 48,1% sudah tersertifikasi bebas malaria, 32,2% endemis rendah, 11,7% endemis sedang, dan 8,0% endemis tinggi.

Selain itu, kita dapat belajar bahwa sejak tahun 2000, India telah membuat terobosan besar dalam mengurangi jumlah korban malaria. Namun jalan menuju eliminasi telah terbukti sebagai tantangan di negara bagian Odisha, India timur yang merupakan lebih dari 40% beban malaria di India. Dalam beberapa tahun terakhir, banyak pemerintah negara bagian di India telah secara dramatis meningkatkan upaya untuk mencegah, mendeteksi dan mengobati malaria, dengan hasil yang mengesankan terlihat dalam rentang waktu yang singkat. Data di Indonesia menunjukkan bahwa angka kesakitan malaria cenderung menurun, yaitu dari 1,8 per 1.000 penduduk berisiko pada tahun 2009, menjadi 0,84 pada tahun 2016.

Hasil gambar untuk malaria

Selain itu, dari desa terpencil Etsu Gudu di Nigeria, kita dapat belajar bahwa Manajemen Balita Sakit (MTBS) atau Integrated Community Case Management (ICCM), adalah strategi efektif yang hemat biaya, karena melibatkan petugas kesehatan masyarakat yang tinggal di daerah yang sulit dijangkau. Mereka dilibatkan untuk mendiagnosis cepat dan mengobati dini 3 penyakit mematikan pada anak yang dapat disembuhkan, yaitu malaria, pneumonia dan diare. Dalam 3 tahun sejak para kader kesehatan dipilih dan dilatih, tidak ada anak yang meninggal di desa tersebut. Data di Indonesia menunjukkan bahwa secara nasional, sebesar 95% pasien yang dicurigai atau suspek malaria telah diperiksa secara laboratorium (Rapid Diagnostic Test dan Mikroskop). Papua merupakan provinsi dengan Angka Kesakitan Malaria (Annual Paracite Incidence/API) tertinggi, yaitu 45,85 per 1.000 penduduk. Angka ini sangat tinggi jika dibandingkan dengan provinsi lainnya. Empat provinsi dengan API per 1.000 penduduk tertinggi lainnya, yaitu Papua Barat (10,20), Nusa Tenggara Timur (5,17), Maluku (3,83), dan Maluku Utara (2,44). Sebanyak 83% kasus malaria di Indonesia berasal dari Papua, Papua Barat, dan Nusa Tenggara Timur.

Hasil gambar untuk malaria

Untuk pertama kalinya, WHO pada tahun 2018 ini telah membuat semua data dari Laporan Malaria Dunia tersedia melalui aplikasi seluler. Dengan gesekan jari, kita sekarang dapat mengakses secara langsung informasi terbaru tentang kebijakan, pembiayaan, intervensi dan beban malaria di 91 negara endemik. Aplikasi ‘global reportmobile of malaria’ tersedia untuk diunduh, baik untuk perangkat iOS maupun Android.

Hasil gambar untuk malaria

Selain itu, dalam beberapa tahun terakhir, 5 negara di ‘Greater Mekong Subregion’ (GMS), yaitu Thailand, Vietnam, Myanmar, Kamboja, dan Laos telah mempercepat upaya untuk mencegah, mendiagnosa dan mengobati malaria. Jumlah kasus malaria dan kematian yang dilaporkan di GMS turun sebesar 74% dan 91%, antara tahun 2012 dan 2016. Perkiraan pertengahan tahun untuk tahun 2017 menunjukkan penurunan lebih lanjut dalam jumlah kasus, meskipun tidak pada tingkat kematian. Pengobatan malaria harus dilakukan secara efektif, dengan pemberian jenis obat yang harus benar dan cara meminumnya harus tepat waktu, sesuai dengan acuan program pengendalian malaria. Pengobatan efektif adalah pemberian ACT (Artemicin-based Combination Therapy) pada 24 jam pertama pasien demam dan obat harus diminum sampai habis.

Hasil gambar untuk malaria

Momentum Hari Malaria Sedunia Rabu, 25 April 2018 mengingatkan agar kita ‘ready to beat malaria’ (siap untuk mengalahkan malaria). Sudahkah Anda ‘ready’ dan terlibat membantu?

 PB IDI

Sekian

Yogyakarta, 25 April 2018

*) Sekretaris IDI Wilayah DIY, dokter spesialis anak, lektor FK UKDW, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161

Categories
Istanbul

2018 HAK SEHAT

Hasil gambar untuk hak untuk hidup sehat

HAK SEHAT

fx. wikan indrarto*)

Konstitusi WHO (1946) menegaskan bahwa sehat adalah hak asasi manusia. Dengan demikian, semua negara memiliki kewajiban hukum bagi warganya dengan memastikan akses terhadap layanan kesehatan tepat waktu, dapat diterima, dan terjangkau, dengan kualitas yang memadai. Selain itu, juga penyediaan faktor terkait sehat, seperti air bersih, sanitasi, makanan, perumahan, informasi dan pendidikan kesehatan. Apa yang perlu disadari?

Hasil gambar untuk hak untuk hidup sehat

Kewajiban setiap negara untuk mendukung hak atas sehat, termasuk dengan melakukan alokasi sumber daya maksimum yang tersedia. Dalam banyak kasus, hak atas sehat telah diadopsi menjadi hukum nasional atau hukum konstitusional, sesuai dengan prinsip yang telah disuarakan dalam ‘Sustainable Development Goal’ (SGDs) 2030 dan Cakupan Kesehatan Semesta atau ‘Universal Health Coverage’ (UHC). Di Indonesia, UHC akan dicapai melalui program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Hasil gambar untuk hak untuk hidup sehat

Layanan kesehatan yang tidak adil dan memarjinalisasi akan menyingkirkan populasi tertentu di masyarakat, sehingga gagal menikmati derajad kesehatan yang baik. Tiga penyakit menular paling mematikan di dunia, yaitu malaria, HIV / AIDS dan TBC, secara tidak proporsional mempengaruhi populasi termiskin di dunia, dan dalam banyak kasus diperburuk oleh ketidaksetaraan lainnya, termasuk karena jenis kelamin, usia, orientasi seksual atau identitas gender dan status migrasi. Sebaliknya, beban penyakit tidak menular, yang sering terjadi di negara berpenghasilan tinggi, meningkat secara tidak proporsional di negara berpenghasilan rendah dan menengah. Sebagian besar dipengaruhi oleh faktor gaya hidup, perilaku, dan lingkungan, yang sebenarnya juga terkait erat dengan hak asasi manusia.

Hasil gambar untuk hak untuk hidup sehat

Dalam pendekatan berbasis hak, maka kebijakan, strategi dan program layanan kesehatan harus dirancang secara eksplisit untuk meningkatkan kemungkinan semua warga mewujudkan hak sehat, dengan fokus pada warga yang masih terbelakang terlebih dahulu. Negara dan pemangku kepentingan lainnya bertanggung jawab atas terpenuhinya hak asasi manusia. Penjaminan harus ada, bahwa hak asasi manusia dilaksanakan tanpa diskriminasi dalam bentuk apapun, misalnya berdasarkan ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, pendapat politik, asal usul kebangsaan atau sosial, kekayaan, atau status lainnya. Selain itu, juga disabilitas atau kecacatan, usia, status perkawinan dan keluarga, orientasi seksual dan identitas gender, status kesehatan, tempat tinggal, situasi ekonomi dan sosial.

Hak asasi manusia bersifat universal dan tidak dapat dicabut. Hak tersebut berlaku sama untuk semua orang, dimana saja, dan tanpa perbedaan. Realisasi pemenuhan hak untuk sehat oleh negara, seharusnya dilakukan secara progresif, dengan menggunakan sumber daya maksimum yang tersedia. Artinya bahwa tidak peduli dengan tingkat sumber daya yang dimiliki, semua pemerintah harus mengambil langkah segera untuk pemenuhan hak ini, misalnya penghapusan diskriminasi dan perbaikan dalam sistem hukum.

Hasil gambar untuk hak sehat

Hak atas kesehatan (Pasal 12) dalam ‘General Comment 14 of the Committee on Economic, Social and Cultural Rights’, sebuah komite ahli yang independen mencakup 4 komponen inti, yaitu ketersediaan (availability), keterjangkauan (accessibility), penerimaan (acceptability), dan mutu (quality). Ketersediaan (availability) mengacu pada adanya fasilitas, obat, alat dan layanan kesehatan yang memadai untuk semua warga. Ketersediaan dapat diukur melalui analisis data terpilah untuk berbagai kelompok masyarakat yang berbeda termasuk usia, jenis kelamin, lokasi tinggal dan status sosial ekonomi. Selain itu, juga survei kualitatif untuk menggambarkan cakupan kesenjangan dan cakupan penyebaran petugas kesehatan profesional.

Hasil gambar untuk hak untuk hidup sehat

Keterjangkauan (accessibility) adalah kemudahan saat memerlukan fasilitas, obat, alat dan layanan kesehatan untuk semua warga. Aksesibilitas memiliki empat dimensi yang saling tumpang tindih, yaitu tanpa diskriminasi, aksesibilitas fisik, ekonomis dan informasi. Menilai aksesibilitas memerlukan analisis penghalang yang ada, baik keuangan, fisik atau lainnya, dan bagaimana dampaknya terhadap warga yang paling rentan. Selain itu, juga sistem informasi kesehatan yang baik dan menjangkau semua populasi. Penerimaan (acceptability) berkaitan dengan penghormatan petugas kesehatan terhadap etika kedokteran, budaya lokal, dan kepekaan terhadap kondisi pasien. Akseptabilitas mensyaratkan bahwa fasilitas kesehatan, barang, layanan dan program berpusat pada pasien dan memenuhi kebutuhan spesifik dari kelompok populasi yang beragam, sesuai dengan standar etika profesi, etika internasional untuk kerahasiaan, dan ‘informed consent.’

Hasil gambar untuk hak sehat

Kualitas atau mutu adalah komponen kunci dari Cakupan Kesehatan Semesta (UHC). Layanan kesehatan yang bermutu harus aman (menghindarkan bahaya pada pasien), efektif (layanan kesehatan berbasis bukti), dan berpusat pada pasien (merespons preferensi, kebutuhan dan nilai individual). Selain itu, juga tepat waktu (mengurangi waktu tunggu dan penundaan), merata (tidak berbeda kualitas berdasarkan jenis kelamin, etnisitas, lokasi geografis, dan status sosial ekonomi), terintegrasi (menyediakan berbagai bentuk layanan kesehatan), dan efisien (memaksimalkan manfaat sumber daya yang ada dan menghindari pemborosan).

Sesuai Konstitusi WHO (1946) yang menyebutkan bahwa sehat adalah hak asasi manusia, maka mutu layanan kesehatan harus terus diperbaiki, guna meningkatkan kemungkinan semua warga menikmati haknya untuk sehat. Sudahkah kita terlibat membantu?

 PB IDI

Sekian

Yogyakarta, 2 Januari 2018

*) Sekretaris IDI Wilayah DIY, dokter spesialis anak di Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161,

e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

Categories
Istanbul

2018 BERANTAS CACING

Hasil gambar untuk cacing

BERANTAS CACING

fx. wikan indrarto*)

Rabu, 28 Maret 2018 BPOM RI telah melakukan pengujian terhadap 541 sampel ikan makarel kaleng, dengan 27 merek positif mengandung parasit cacing anisakis. Cacing anisakis memang hidup di dalam tubuh mamalia laut dan ikan makarel yang biasa berenang di lautan Eropa. Cacing ini dianggap berbahaya jika dikonsumsi saat hidup, karena dapat menginfeksi perut dan alergi bagi penderita asma, meskipun cacing anisakis pada ikan makarel kaleng dipastikan mati saat diolah, dan tidak berbahaya jika dikonsumsi. Apa yang sebaiknya diketahui?

Hasil gambar untuk cacingcacing anisakis pada ikan makarel kaleng

Cacing anisakis yang tidak berbahaya ini mengingatkan kita bahwa lebih dari 1,5 miliar orang atau 24% populasi dunia, sebagian besar anak, telah terinfeksi dengan infeksi cacing yang ditularkan melalui tanah di seluruh dunia. Infeksi cacing ini lebih berbahaya dibandingkan cacing anisakis, tersebar luas di daerah tropis dan subtropis, dengan jumlah terbesar terjadi di sub-Sahara Afrika, Amerika Latin, China dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Indonesia memiliki angka kecacingan yang tinggi sebesar 28% anak, karena dipengaruhi oleh kurangnya kebersihan, sanitasi, pasokan air, kepadatan penduduk, serta tanah yang lembab.

Hasil gambar untuk asia afrika

Ada beberapa jenis cacing berbahaya yang menginfeksi anak, jauh lebih berbahaya dibandingkan cacing anisakis pada ikan makarel kaleng. Pertama adalah cacing gelang (Ascaris lumbricoides) yang masuk ke dalam tubuh anak saat berupa telur, yang terdapat pada sayuran dan buah yang tidak dibersihkan dengan baik. Kedua adalah cacing cambuk (Trichuris trichiura) yang mampu bertelur hingga 5-10 ribu butir per hari. Cacing ini dapat membenamkan kepalanya pada dinding usus besar sehingga menyebabkan luka di usus. Pada infeksi yang berat akan terjadi diare yang mengandung lendir dan darah.

Hasil gambar untuk cacing tambang pada manusia
Larva cacing tambang mampu menembus kulit kaki

Ketiga cacing tambang (Necator americanus dan Ancylostoma duodenale) yang mampu bertelur 15-20 ribu butir per hari. Larva cacing tambang mampu menembus kulit kaki dan selanjutnya terbawa oleh pembuluh darah ke dalam usus halus, paru dan jantung. Keempat adalah cacing kremi yang berbentuk kecil dan berwarna putih. Cacing ini bersarang di usus besar. Cacing kremi dewasa akan berpindah ke anus untuk bertelur. Telur inilah yang menimbulkan rasa gatal pada anus.

Hasil gambar untuk cacing cambuk trichuris trichiura
cacing cambuk (Trichuris trichiura)

Cacing dapat mengganggu status gizi anak dengan berbagai cara. Cacing makan jaringan anak, termasuk darah, yang menyebabkan hilangnya zat besi dan protein dari darah anak. Cacing tambang di samping menyebabkan kehilangan darah kronis yang dapat menyebabkan anemia pada anak, juga meningkatkan gangguan penyerapan atau malabsorpsi nutrisi pada usus. Selain itu, cacing gelang diduga juga dapat menyebabkan malabsorbsi vitamin A di usus, menyebabkan hilangnya nafsu makan dan oleh karena itu, pengurangan asupan nutrisi dan kebugaran fisik. Secara khusus, cacing pita dapat menyebabkan diare disentri.

Hasil gambar untuk cacing pita

cacing pita dapat menyebabkan diare disentri.

Pengobatan berkala kecacingan dilakukan tanpa diagnosis sebelumnya, terhadap semua orang berisiko yang tinggal di daerah endemik. Pengobatan harus diberikan setahun sekali bila prevalensi infeksi cacing yang ditularkan melalui tanah pada masyarakat di atas 20%, dan dua kali setahun bila prevalensi di atas 50%. WHO merekomendasikan obat albendazol (400 mg) dan mebendazol (500 mg), yang telah terbukti efektif, murah dan mudah dikelola oleh petugas non medis sekalipun, misalnya guru. Obat tersebut telah melalui pengujian keamanan yang ekstensif dan telah digunakan pada jutaan orang dengan sedikit efek samping. Baik albendazol dan mebendazol diberikan di semua negara endemik, untuk semua anak usia sekolah. Pemberian obat cacing dapat dimulai sejak anak usia 2 tahun. Hal ini, disebabkan karena pada anak usia 2 tahun sudah terjadi kontak dengan tanah, yang merupakan sumber penularan infeksi cacing. Pemberian obat cacing dapat diulang setiap 6 bulan sekali. Sedangkan, untuk daerah non endemis pemberian obat cacing harus diberikan sesuai indikasi dan anjuran dokter, berdasarkan hasil pemeriksaan tinja positif ditemukan telur cacing atau cacing.

Hasil gambar untuk albendazole untuk anak 1 tahun

obat cacing Albendazole (400 mg) dosis tunggal

Hasil gambar untuk cacing kremi pada manusia

cuci tangan yang benar, mampu mencegah kecacingan

Tahun 2015 lalu, sebanyak 18,1 juta anak Indonesia telah mendapatkan obat cacing Albendazole (400 mg) dosis tunggal oleh petugas puskesmas dan diminum langsung saat itu, untuk memastikan bahwa obat itu benar diminum oleh anak sekolah. Pada tahun 2016, lebih dari 385 juta anak usia sekolah telah diobati dengan obat cacing di negara endemik, sesuai dengan target 68% dari semua anak yang berisiko. Target global tahun 2020 adalah memberantas cacing yang ditularkan melalui tanah pada anak.

Hasil gambar untuk cacingParasit cacing anisakis pada ikan makarel kaleng

Temuan parasit cacing anisakis oleh BPOM RI pada ikan makarel kaleng, mengingatkan kita akan program pemberantasan cacing. Dengan melatihkan kebiasaan mencuci tangan secara benar, ditambah dengan pemberian obat cacing secara teratur, setidaknya pada 75% anak di daerah endemik, yaitu diperkirakan 836 juta anak pada tahun 2016, maka anak akan bebas dari infeksi cacing. Sudahkah tahun ini anak kita diberikan obat cacing?

 Dr. Wikan 2

Sekian

Yogyakarta, 2 April 2018

*) Sekretaris IDI Wilayah DIY, dokter spesialis anak, Alumnus S3 UGM, pengajar di FK UKDW, WA: 081227280161

Categories
Istanbul

2013 NOSTALGIA KAPUAS dan BANJARMASIN

NOSTALGIA   KAPUAS   BANJARMASIN  2013
fx. wikan indrarto*)

Liburan tengah tahun 2013, kami isi dengan acara Nostalgia di Kuala Kapuas, sebuah kota di Propinsi Kalimantan Tengah, yang cukup sering disingkat dengan Kapuas. Kami menghabiskan 1 tahun penuh pada tahun 2000, dengan bertugas sebagai dokter spesialis anak di RSUD Dr. Soemarno Sosroatmodjo dan mama Sari menjadi dokter gigi di Puskesmas Selat. Yudhistira (mas Yudhi, anak sulung yang sekarang sudah kuliah), saat itu kelas 1 SD dan Bimoseno (dik Bimo anak tengah yang sekarang SMP), saat itu lahir dan dibaptis di sana. Dik Larasati (anak bungsu) yang sekarang kelas 6 SD.

 DSC02757  DSC02758

Mendarat di Bandara Samsudin Noor, Banjarmasin (Propinsi Kalimantan Selatan), dengan Boeing 737 NG Lion Air JT 522 (gambar 1)

Makan siang menu lokal, nasi bungkus itik goreng kuah merah khas Banjar, tanpa sayur secuilpun (gambar 2).

 DSC02766  DSC02771

Jembatan Barito, jembatan sepanjang 2,2 km melintasi Sungai Barito yang paling lebar di Kalimantan Selatan, dan merupakan batas alam menyeberang ke Kalimantan Tengah (gambar 3).

Papan nama Danumare di Pasar Kuala Kapuas, Kalteng masih sama persis dengan yang kami lihat tahun 2000 (gambar 4).

Perjalanan kami awali dengan pendaratan di Bandara Samsudin Noor, Banjarmasin (Propinsi Kalimantan Selatan), dengan Boeing 737 NG Lion Air JT 522 (gambar 1). Acara dilanjutkan makan siang menu lokal, nasi bungkus itik goreng kuah merah khas Banjar, tanpa sayur secuilpun (gambar 2). Kami makan di Desa Gambut, menjelang masuk kota Banjarmasin, di pinggir jalan trans Kalimantan yang lebar, halus, lurus dan ramai. Perjalanan kami lanjutkan dengan menyeberangi Jembatan Barito, jembatan terpanjang selama Orde baru berkuasa, terbentang 2,2 km melintasi Sungai Barito yang paling lebar di Kalimantan Selatan, dan merupakan batas alam menyeberang ke Kalimantan Tengah (gambar 3). Dalam waktu 1 jam dengan sebuah Kijang Innova 2004 type G, kami sudah mencapai jantung kota Kapuas. Langsung kami nenuju rumah dinas RS yang telah disediakan oleh dr. Bawa Budi Raharjo, direktur rumah sakit tersebut. Selanjutnya kami menuju Pusat Perbelanjaan Danumare, sebuah pasar di samping pelabuhan. Di pasar inilah, di awal Maret 2000, kami menginjakkan kaki pertama kali di Kapuas. Papan nama Danumare masih sama persis dengan yang kami lihat tahun 2000 (gambar 4). Malam hari, kami habiskan di bunderan selamat datang, di gerbang Kuala Kapuas, Kota Air (gambar 5), yang merah menyala dan megah.

 DSC02777  DSC02791

Di bunderan selamat datang, di gerbang Kuala Kapuas, Kota Air di Kalteng (gambar 5), yang merah menyala dan megah.

Di depan patung Panglima Burung Dayak di pusat Kuala Kapuas, Kota Air di Kalteng (gambar 6).

 DSC02792  rumah kapuas

Rumah dinas dokter di kompleks RS setelah direnovasi, yang dulu kami tempati (gambar 7)

Rumah dinas dokter yang kami tempati tahun 2000, sederhana dan penuh memori

 DSC02793  DSC02801

Bergaya dengan Dr. Diana Yuniarti, sekarang Kepala UGD RSUD Kuala Kapuas Kalteng (gambar 8)

Kebun milik Dr. H. Bawa Budi Raharja (Direktur RSUD Kuala Kapuas) di daerah Basarang, (gambar 9)

Kamis, 4 Juli 2013 pagi buta, kami berdua keliling kota naik motor dan berfoto penuh kengerian, di depan patung Panglima Burung (gambar 6). Panglima ini lambang kegagahan suku Dayak, saat terjadi bentrok massal melawan suku Madura yang menewaskan lebih dari 100 orang dan menjadi salah satu pencetus kepulangan kami ke Yogyakarta pada awal tahun 2001. Setelah semua terjaga, kami semua menikmati suasana nostalgia di kompleks RS. Pertama-tama adalah rumah dinas dokter yang dulu kami tempati (gambar 7). Saat ini sudah megah dan dilengkapi dengan mobil dinas dokter, Avanza type E tahun 2006 (gambar 7), bergaya dengan Dr. Diana Yuniarti, sekarang Kepala UGD RSUD Kapuas (gambar 8), dan main di kebun Dr. Bawa Budi Raharja, sekarang Direktur RSUD Kapuas. Kedua dokter senior di RSUD Kapuas tersebut masih kami kenang, karena pada waktu tahun 2000 sudah kami kenal. Kami habiskan siang itu di kebun milik dr. Bawa di daerah Basarang, yang penuh buah kelengkeng, buah naga dan buah anggur, disertai kolam ikan patin, dan rumah burung walet (gambar 9).

 DSC02802  bimo gendong.jpg

Semilir angin di pinggir Sungai Kapuas yang lebar, di dermaga penumpang kapal (gambar 10)

Dermaga yang sama dengan yang dulu kita nikmati, saat Yangti menggendong dik Bimo (anak tengah) Maret 2001.

 DSC02806  DSC02815

Naik perahu kecil bermotor tunggal yang berbunyi ‘klothok-klothok’ saat melaju, sehingga dinamakan kelotok (gambar 11).

Melihat kehidupan warga di sepanjang pinggir sungai Kapuas di Kalteng (gambar 12),

 DSC02822  bimo gendong1

Jembatan merah dari kayu yang legendaris, tetap asri di tahun 2013 (gambar 13).

Jembatan merah dari kayu yang legendaris yang kami kunjungi Maret 2001, saat dik Bimo (anak tengah) masih bayi

Nostalgia selanjutnya adalah mencoba semilir angin di Sungai Kapuas yang lebar. Kami menyusuri pelabuhan (gambar 10), dermaga yang sama dengan yang dulu kami injak saat kami pertama kali datang dari Palangka Raya di Maret 2000. Kemudian kami naik perahu kecil bermotor tunggal yang berbunyi ‘klothok-klothok’ saat melaju, sehingga dinamakan kelotok (gambar 11). Kami menyebrang Sungai Kapuas yang lebar dan padat lalu lintas air, untuk menuju ke Dahirang, sebuah sentra kerajinan rotan dan getah karet, untuk disusun menjadi cindera mata khas Kalimantan Tengah. Selanjutnya kami menyusur Sungai kapuas lagi, untuk melihat kehidupan warga pinggir sungai (gambar 12), yang tinggal di rumah panggung dari kayu ulin yang tahan air dan menyusuri Anjir (Kanal) Serapat. Anjir ini menghubungkan Sungai Kapuas dengan Sungai Barito, yang dilengkapi dengan jembatan merah dari kayu yang legendaris (gambar 13).

 DSC02831  DSC02838

Replika rumah adat dayak yang tinggi dan besar di pusat kota Kuala Kapuas Kalteng (gambar 14).

Mengunjungi SD St. Paulus di Jl. Tjilik Riwut Kuala Kapuas. Mobil antar jemput murid yang dulu, masih nampak bugar terawat (gambar 15).

 yudhi di kelas1  DSC02841

Mas Yudhi (anak sulung) saat duduk di kelas 1 SD St. Paulus di Jl. Tjilik Riwut Kuala Kapuas, di tahun 2000.

Mengunjungi SD St. Paulus di Jl. Tjilik Riwut, sekolah mas Yudhi saat kelas 1 di tahun 2000 (gambar 15).

Perjalanan nostalgia dilanjutkan dengan melihat replika rumah adat dayak yang tinggi dan besar di pusat kota Kapuas (gambar 14), mengunjungi SD St. Paulus di Jl. Tjilik Riwut, sekolah mas Yudhi saat kelas 1 di tahun 2000. Mobil antar jemput yang dulu dia naiki, masih nampak bugar terawat (gambar 15). Kami menyusuri Jl. Patih Rumbi untuk menuju Gereja Katolik St. Mateus yang berwibawa (gambar 16). Mas Yudhi pernah aktif sebagai misdinar, lektor anak dan pemeran Yosef saat drama Natal Anak di gereja tersebut (gambar 16). Di Gereja St. Mateus itu juga, dik Bimo dibaptis pada malam Natal 2000 oleh Rm. Lulus Widodo, Pr dan diberinya nama permandian Karol, untuk mengenal Karol Wotjila (nama asli Paus Yohannes Paulus 2), yang menetapkan tahun 2000 tersebut sebagai Tahun Yubelium.

 DSC02847  bimo baptis2

Gereja Katolik St. Mateus Kuala Kapuas, Kalteng yang artistik dan berwibawa (gambar 16).

Dik Bimo (bayi) dibaptis pada malam Natal 2000 oleh Rm. Lulus Widodo, Pr dan bersama dengan anak Dr. Diana Yuniarti juga

 DSC02850  DSC02852

Sore harinya, kami bergaya melihat sunset di dermaga Patih Rumbi, tepi sungai Kapuas (gambar 17)

Mengunjungi rumah keluarga Pak dan Bu Prianto (wali baptis dik Bimo), di Kuala Kapuas (gambar 18).

Sore harinya, kami bergaya melihat sunset di dermaga Patih Rumbi (gambar 17), dan mengunjungi Pak dan Bu Prianto (wali baptisnya dik Bimo) (gambar 18). Sebelum meninggalkan kota kenangan, kami sempatkan bergaya di depan gerbang RSUD Kapuas yang nampak gagah (gambar 19) dan Puskesmas Selat di Kecamatan Selat (gambar 20), tempat mama Sari menghabiskan 8 bulan 1 minggu sebagai dokter gigi di sana pada awal tahun 2000 yang lalu.

 DSC02846  DSC02788

Gerbang RSUD Kuala Kapuas, tempat kami dulu bertugas sebagai dokter spesialis anak, yang nampak gagah (gambar 19)

Puskesmas Selat di Kecamatan Selat (gambar 20), tempat mama Sari menghabiskan 8 bulan 1 minggu sebagai dokter gigi di sana pada awal tahun 2000 yang lalu.

 DSC02859  DSC02861

Pamitan di bunderan Kuala Kapuas Kota Air, dalam pagi yang cerah dan menyilaukan Jumat, 5 Juli 2013 (gambar 21).

RS Suaka Insan, di Jl. H. Zafri Zam-zam no 60, di jantung kota Banjarmasin (gambar 22), tempat dik Bimo lahir.

 DSC02866  DSC02867

Hampir semua bangunan RS Suaka Insan masih persis sama seperti yang kami lihat 13 tahun yang lalu, termasuk gerbang (gambar 23)

Pintu kamar no 29 dengan selasar atau lorong RS Suaka Insan Banjarmasin, ruang rawat gabung saat dik Bimo dulu lahir (gambar 24).

Perjalanan nostalgia kami lanjutkan dengan ucapan selamat tinggal di bunderan Kuala Kapuas Kota Air, dalam pagi yang cerah Jumat, 5 Juli 2013 (gambar 21). Perjalanan di dalam perut Innova 2004 type G, berlangsung lancar mencapai pusat kota Banjarmasin dalam 1 jam lebih 20 menit. Kami segera menuju RS Suaka Insan, di Jl. H. Zafri Zam-zam no 60, di jantung kota Banjarmasin (gambar 22). Kami mendapati hampir semua bangunan masih persis sama seperti yang kami lihat 13 tahun yang lalu, termasuk gerbang (gambar 23) dan selasar atau lorong RS (gambar 24). Kami napak tilas perjalanan tertatih-tatih mama Sari, karena persalinan sudah mulai masuk kala I, saat keluar dari Pav. Maria Kamar nomor 29, menuju Kamar Bersalin. Lantai dan lorongnya masih persis sama dengan yang dahulu menjadi saksi detik-detik lahirnya dik Bimo, sampai bertemu kembali dengan Sr. Imelda, SPC, yang dahulu mendekap hangat bayi dik Bimo (gambar 25). Sr. Imelda, SPC sangat terharu mengenangnya, karena kami menunjukkan foto beliau saat menggendong bayi dik Bimo dengan mesra. Dari Sr. Imelda, SPC inilah kami mendapatkan informasi, bahwa Sr. Rita, SPC yang dahulu juga menggendong bayi dik Bimo, saat ini sedang study di Universitas Sanata Dharma di Yogyakarta, sehingga kami cari di biara Sambilegi, Kalasan, Yogyakarta, segera setelah kami selesai liburan (gambar 25).

 DSC02870  bimo lahir

Sr. Imelda, SPC, yang dahulu mendekap hangat bayi dik Bimo saat baru lahir (gambar 25).

Bayi dik Bimo tidur nyenyak di kamar no 29 RS Suaka Insan Banjarmasin, lahir pada 28 Oktober 2000

Nostalgia Banjarmasin kami lanjutkan dengan perjalanan ke pelabuhan Trisakti di pinggir sungai Barito yang lebar dan dalam. Gerbang Bandarmasih, nama baru pelabuhan tersebut, sangat megah dan artistik (gambar 26). Di gerbang pelabuhan itulah kami dahulu mencari info, untuk pulang ke Pulau Jawa naik kapal laut, karena harga tiketnya yang cukup terjangkau, dibandingkan naik pesawat terbang. Di pelabuhan tersebut dik Bimo terkagum-kagum dengan aktivitas banyak truk besar, termasuk truk naik truk akan naik kapal (gambar 27).

 DSC02878  DSC02881

Di pelabuhan Banjarmasin dik Bimo terkagum-kagum dengan aktivitas banyak truk besar, termasuk truk naik truk akan naik kapal (gambar 27).

Berdoa di gereja katolik Katedral Keluarga Kudus Banjarmasin, yang merupakan katedral paling kecil se Indonesia (gambar 28)

 DSC02885  DSC02882

Di kantor Gubernur Kalimantan Selatan yang gagah di Banjarmasin (gambar 30)

Nampak luar gereja katolik Katedral  Keluarga Kudus Banjarmasin (gambar 28).

 banjarmasin soto  DSC02887

Bersama Dr. Setyo Sugiyarto, SpB-KBD di Warung Soto Banjar Handayani di pinggir sungai, saat main ke Banjarmasin 14 April 2001

di Warung Soto Banjar Bawah Jembatan, di pinggir Sungai Martapura  yang berair kuning dan penuh sesak pembeli (gambar 31).

Perjalanan nostalgia selanjutnya adalah menuju ke gereja katolik Katedral Banjarmasin (gambar 28), yang merupakan katedral paling kecil se Indonesia. Gereja Katedral Keluarga Kudus Banjarmasin ini diresmikan pada 28 Juni 1931 dan dibangun dengan arsitektur neo-gotik dari Eropa, terletak di Jl. Lambung Mangkurat, Kertak Baru Ilir, Banjarmasin. Kami kenangkan doa khusuk syukur kepada Tuhan, karena lahirnya bayi dik Bimo yang kami tunggu-tunggu dalam penantian selama 8 tahun, dengan berlutut di sebuah bangku dalam gereja tersebut (gambar 29). Setelah berdoa di dalam bangku yang sama dengan bangku yang dahulu kami duduki pada tahun 2000, kami melanjutkan nostalgia di kantor Gubernur Kalimantan Selatan yang gagah (gambar 30) dan makan kuliner menu lokal, soto banjar di Warung Soto Bawah Jembatan Sungai Martapura yang penuh sesak (gambar 31). Lanjutan perjalanan nostalgia di Banjarmasin, diawali dengan makan malam di Taher Square (gambar 32), di pinggiran Sungai Martapura yang membelah kota Banjarmasin, untuk bergabung dengan Sungai Barito.

 DSC02903  DSC02908

Makan malam di Taher Square (gambar 32), di pinggiran Sungai Martapura yang membelah kota Banjarmasin, untuk bergabung dengan Sungai Barito.

Menyusuri Sungai Barito untuk menikmati pasar terapung di pagi hari (gambar 33).

 DSC02907  DSC02918

Pagi buta, anak2 masih mengantuk saat  kami menyusuri Sungai Barito untuk menikmati pasar terapung (gambar 33).

Para penjualnya masih sangat tradisional di pasar terapung Banjarmasin (gambar 34)

Setelah terlelap kekenyangan di kamar 301 Hotel Palm, Jl. Jend. S. Parman 189 Banjarmasin, Sabtu dini hari, 6 Juli 2013, kami menyusuri Sungai Barito untuk menikmati pasar terapung (gambar 33). Pasar tradisional di pinggiran Sungai Barito ini, merupakan ikon kota Banjarmasin yang hampir punah, karena budaya air secara pelan namun pasti, tergantikan budaya darat dalam era modern. Para penjualnya masih sangat tradisional (gambar 34) dan jual beli makanan menggunakan tongkat penusuk antar kapal (gambar 35). Rasanya lebih banyak wisatawan yang berseliweran dengan perahu klotok (gambar 36), dibandingkan penjualnya yang berperahu jakung. Perjalanan di seputar pasar terapung, kami akhiri dengan melihat-lihat Masjid Sultan Suriansyah di seputaran Kuin yang bersejarah (gambar 37).

 DSC02926  DSC02917

Rasanya lebih banyak wisatawan yang berseliweran dengan perahu klotok (gambar 36) di Pasar Terapung Banjarmasin

Jual beli makanan menggunakan tongkat penusuk antar kapal (gambar 35) di Pasar Terapung Banjarmasin.

Perjalanan nostalgia berikutnya adalah menyusuri jalan Martapura lama, menuju ke pusat kota Martapura, yang terkenal dengan sebutan Kota Indan dan Serambi Mekkah. Perjalanan melawan arus Sungai Martapura, melewati desa-desa tradisional Banjar, dengan kehidupan air dan agraris, yang sangat berbeda dengan jalan Martapura baru atau trans Kalimantan, yang dipenuhi budaya darat, industri, kesibukan penambangan, dan jauh lebih modern.

 DSC02937  DSC02945

Masjid Sultan Suriansyah di seputaran Kuin Banjarmasin, Kalsel yang bersejarah (gambar 37).

Suasana islami serambi Mekkah di Alun-Alun Ratu Zaleha, Martapura, Kalsel (gambar 39),

 DSC02942  DSC02952

Sentra permata di jantung kota Martapura, Kalsel (gambar 38)

Bernostalgia dengan Dr. Dyah Roselina, SpA, teman lama FK UGM (gambar 40) di RSUD Ratu Zalecha Martapura, Kalsel

 DSC02953  DSC02959

Makan siang kuliner lokal dengan menu ikan haruan, patin, dan saluang, yang semuanya merupakan ikan spesies lokal Kalimantan,

Mengamati proses pengolahan intan di pusat penggosokan intan (gambar 41), Martapura, Kalsel.

 DSC02965  DSC02975

Dapat membedakan intan dengan berlian (gambar 42).

Di Museum Lambung Mangkurat yang artistik (gambar 43), Martapura, Kalsel.

Kami menuju Sentra permata di jantung kota Martapura (gambar 38), kemudian menikmati suasana islami serambi Mekkah di Alun-Alun Ratu Zaleha (gambar 39), dan bernostalgia dengan Dr. Dyah Roselina, SpA, teman lama di UGM (gambar 40). Setelah sangat kenyang karena makan siang kuliner lokal dengan menu ikan haruan, patin, dan saluang, yang semuanya merupakan ikan spesies lokal Kalimantan, kami melanjutkan dengan mengamati proses pengolahan intan di pusat penggosokan intan (gambar 41), sehingga dapat membedakan intan dengan berlian (gambar 42). Kami meneruskan nostalgia di Museum Lambung Mangkurat yang artistik (gambar 43), bahkan menikmati miniatur rumah adat Banjar (gambar 44) dan membandingkannya dengan rumah keluarga Dr. Dyah Roselina, SpA yang sudah nampak megah dan modern, di lahan seluas 800 m2 di Banjarbaru.

 DSC02972  DSC02976

Miniatur rumah adat Banjar (gambar 44) Di Museum Lambung Mangkurat yang artistik, Martapura, Kalsel.

Rumah keluarga Dr. Dyah Roselina, SpA yang sudah nampak megah dan modern, di lahan seluas 800 m2 di Banjarbaru, Kalsel

 banjarmasin  DSC02977

Di depan Bandara Syamsudin Noor, menyetir mobil dinas RS Kijang Super pada 26 November 2001

Di tempat yang sama, depan Bandara Syamsudin Noor, wilayah Ulin pinggiran jalan trans Kalimantan (gambar 45), Banjarmasin

Kenangan nostalgia indah dan mengharukan di Kuala Kapuas (Kalimantan Tengah) dan Banjarmasin (Kalimantan Selatan), kami akhiri di Bandara Syamsudin Noor, wilayah Ulin di pinggiran jalan trans Kalimantan (gambar 45), untuk pulang dengan Lion Air Boeing 737 NG JT 522 menuju Yogyakarta. Terima kasih, kami sampaikan kepada segenap pihak yang telah mendukung terselenggaranya liburan keluarga ini dan sampai ketemu dalam laporan perjalanan selanjutnya.

*) pelancong hemat penuh nikmat

di rumah Timoho Regency A4 Yogyakarta

Sabtu, 6 Juli 2013

WA = 081227280161
Categories
Istanbul

2018 BUKTI DOKTER

Hasil gambar untuk ebm adalah

BUKTI  DOKTER
fx. wikan indrarto*)

Majelis Kehormatan Etik Kedokteran (MKEK) menilai bahwa Mayjen TNI DR. Dr. Terawan Agus Putranto, SpRad, penemu dan penerap metode cuci otak (brain flushing) melakukan pelanggaran etik. Terapi Digital Substraction Angiogram (DSA), metode cuci otak, atau ‘bran washing’ ini, mengingatkan kita semua akan banyak hal. Selain aspek etika kedokteran, juga aspek bukti klinis yang wajib diketahui oleh dokter, sebelum sebuah intervensi baru dapat diterapkan secara etik kepada para pasien. Apa yang sebaiknya kita cermati?

Hasil gambar untuk ebm

Belajar tentang kedokteran berbasis bukti atau EBM (Evidence-Based Medicine), kita akan mengingat jasa besar William Aaron Silverman (23 Oktober 1917 – 16 Desember 2004), yaitu seorang dokter Amerika Serikat yang memberikan kontribusi penting untuk ilmu neonatologi (bayi baru lahir). Dia pengajar di ‘Columbia University College of Physicians and Surgeons’ di New York dan menjabat sebagai direktur medis unit perawatan intensif neonatal di ‘Columbia-Presbyterian Medical Center’, juga di New York, AS.

Hasil gambar

Dr. William Aaron Silverman

Dr. Silverman memiliki dugaan atau hipotesis bahwa kebutaan pada bayi karena retinopati prematuritas terkait dengan konsentrasi oksigen yang tinggi, yang diberikan pada bayi prematur. Melalui keterlibatannya dalam kisah tragis ‘retrolental fibroplasia’, istilah lama sebelum resmi disebut retinopati prematuritas, Dr. Silverman juga berhasil mengatasi kelemahan dalam metodologi penelitian klinis.

Hasil gambar untuk rop

Pada awal karirnya, ia telah melakukan uji klinik penggunaan hormon adreno corticotropic (ACTH), dalam mengobati retinopati prematuritas. Pada tahun 1949, Dr. Silverman dan Dr. Richard Day menggunakan ACTH pada 31 bayi dengan tanda-tanda awal fibroplasia retrolental. Dua puluh lima dari bayi tersebut dapat melihat dan tidak buta. Meskipun hasil penelitian tampaknya mendukung ACTH sebagai pengobatan yang efektif untuk kondisi ini, para peneliti di Fakultas Kedokteran Universitas Johns Hopkins di Baltimore, Maryland, AS menyangkal hubungan ini. Meskipun Dr. Silverman dan Dr. Day meyakini bahwa ACTH adalah pengobatan yang tepat, tetapi mereka merasa berkewajiban untuk tunduk pada metodologi penelitian yang benar.

Hasil gambar untuk rop

Akhirnya mereka mendapat izin untuk melakukan penelitian yang belum pernah terjadi sebelumnya, yaitu uji klinis terkontrol acak yang dilakukan pada pada neonatus atau bayi baru lahir. Temuan baru mereka pada uji klinik ternyata memutarbalikkan fakta sebelumnya. Sepertiga dari bayi yang diobati ACTH justru menjadi buta, tetapi hanya seperlima yang buta dari kelompok kontrol yang tidak diberikan perlakuan pada pertengahan 1950-an.

Hasil gambar untuk rop

Pengalaman dengan ACTH membuat kesan yang kuat pada pendirian Dr. Silverman, yang menjadi bersikukuh bahwa bukti ilmiah yang kuat harus memandu semua keputusan medis. Epidemiolog Dr. David Sackett menyebutkan bahwa Silverman adalah pelopor dalam kedokteran berbasis bukti (EMB), yang terus digunakan oleh para dokter sampai sekarang di seluruh dunia. Pada hal, Dr. David Sackett dikenal sebagai bapak EBM (the fathers of evidence-based medicine), yang mendirikan ‘clinical epidemiology’ di McAster University Canada. Selain itu, Silverman juga menekankan bahwa dokter harus mempertimbangkan kualitas hidup pasien sebelum memutuskan untuk melakukan intervensi kedokterann yang baru dan bersifat agresif.

Pada tahun 2003, Yayasan Amerika untuk Orang Buta (American Foundation for the Blind) menghadiahkan penghargaan tertinggi, Medali Migel, kepada Dr. Silverman. Persatuan Dokter Spesialis Anak (American Academy of Pediatrics) juga menghormatinya pada tahun 2006 dengan menciptakan ‘William A. Silverman Lectureship’. Semuanya diberikan atas integritas ilmiah dan kepatuhannya kepada aspek kedokteran berbasis bukti (EBM).

Secara etika, semua dokter harus jujur dan secara berhati-hati menyampaikan kepada masyarakat, bahwa metode intervensi yang dilakukannya masih dalam taraf uji klinik, sehingga tidak boleh menarik imbal jasa kepada pasien. Testimoni yang menyebutkan bahwa metode DSA tersebut telah mengatasi masalah stroke sejak tahun 2005 pada sekitar 40.000 pasien, bahkan tidak banyak muncul komplain dari masyarakat, sebenarnya baru merupakan salah satu dari 3 buah syarat untuk membuktikan kevalidan sebuah metode kedokteran yang baru. Yang disebut EBM adalah suatu kondisi yang mutlak memiliki 3 hal, yaitu penilaian klinis obyektif (clinical judgment), secara ilmiah memang berhubungan (relevant scientific), dan dirasakan manfaatnya oleh pasien (patients’ values and preferences) atau semacam testimoni.

Hasil gambar untuk jkn

Berdasarkan Peraturan Presiden (Perpres) no 19 tahun 2016 Tentang Jaminan Kesehatan, serta berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan (Permenkes) no 23 tahun 2017, tentang Pelayanan Kesehatan pada Jaminan Kesehatan Nasional, dalam rangka menjamin kendali mutu dan biaya, penilaian teknologi baru di bidang kesehatan dilakukan oleh Tim ‘Health Technology Assessment’ (HTA), yang dibentuk oleh Menteri Kesehatan. Oleh karenanya penilaian terhadap metode DSA atau ‘Brain Washing’ yang selama ini dikerjakan oleh Mayjen TNI DR. Dr. Terawan Agus Putranto, SpRad dan akan dilakukan oleh Tim HTA Kementerian Kesehatan Rl, layak kita dukung bersama. Selain itu, dukungan pembiayaan untuk penelitian uji klinik lebih lanjut oleh Kemenkes dan Kemenristekdikti, juga dukungan keilmuan dari segenap guru besar dan dokter ahli terkait, pasti akan berdampak positif pada kesatuan sesama warga Indonesia, baik di tingkat lokal maupun internasional.

Hasil gambar untuk hta
Tidak ada manusia yang sempurna, sehingga peran koreksi dari pihak lain, adalah sangat penting untuk memberikan hasil terbaik. Aspek etika yang diingatkan oleh MKEK dan kedokteran berbasis bukti (EBM) yang dirintis Dr. Silverman, wajib dilaksanakan oleh segenap dokter di manapun berada. Sudahkah para dokter bijak?

 dr Wikan 6

Sekian

Yogyakarta Senin, 9 April 2018

*) Sekretaris IDI Wilayah DIY, dokter spesialis anak, Alumnus S3 UGM, pengajar di FK UKDW, WA: 081227280161

Categories
Istanbul

2013 Main di Bali

BALI 2013

fx. wikan indrarto, b. sari prasetyati & a. larasati pangarsaning utami indrarto*)

Dalam rangka ‘7th Asia Respirology Disease Forum’ (ARDF) 2013, kami mengadakan serangkaian acara di Bali. Acara diadakan di Nikko Bali Hotel and Spa, Nusa Dua Bali, Jum’at dan Sabtu, 26 dan 27 April 2013. Setelah pembahasan berbagai penyakit pada saluran napas anak oleh Prof. Bambang Supriyatno (Jakarta, Indonesia), Prof. Liu Enmai (Chongqing, China), Dr. Arnel Gerald Jiao (Manila, Philippines), Prof. Chen Yuzhi (Beijing, China) dan Dr. Darmawan (Jakarta, Indonesia), kami bertiga menikmati semua pesona alam dan keindahan arsitektural hotel Nikko.

 DSC02257  DSC02259

keelokan hotel nuansa Bali (gambar 1)

keelokan taman hotel (gambar 2)

Selain itu, juga pengalaman tak terlupakan sebagai sopir bis Pariwisata (gambar 6) dan keindahan Tanjung Benoa. Dik Laras (Agatha Larasati Pangarsaningutami Indrarto, saat itu kelas 5 SD), juga ikut mengagumi keelokan struktur bangunan lobi dan restoran di dalam hotel, yang bernuansa Bali (gambar 1 sampai 5). Setelah itu, kami juga terkagum-kagum dengan performans tarian Barong yang magis di Banjar Sari Budaya di Jl. By Pass, Denpasar selatan (gambar 7 dan 8). Pertunjukan tarian yang mulai pk. 9.30 setiap hari, ditonton banyak wisatawan asing, di panggung sebuah banjar (tempat berdoa sesuai agama Hindu).

 DSC02269  DSC02255

hotel yang bernuansa Bali (gambar 3)

lansekap hotel di Bali (gambar 4)

 DSC02271  DSC02275

Panorama laut dari hotel (gambar 5)

sopir bis Pariwisata (gambar 6)

 DSC02295  DSC02288

Barong di Banjar Sari Budaya di Jl. By Pass, Denpasar selatan (gambar 7).

Tarian Barong yang magis di Banjar Sari Budaya di Denpasar (gambar 8).

Perjalanan kami lanjutkan melintasi Jl. Prof. Dr. Ida Bagus Mantra By Pass (Bali Golden Line), melewati Sanur dan akhirnya menuju ke Gianyar. Kami masuk ke areal luas yang megah di KM 19,8, yaitu Bali Safari & Marine Park. Kami menikmati sajian drama gajah, keahlian elang Jawa, kegagahan harimau putih, kejinakan unta, kengerian singa, kemalasan komodo, keganasan ikan arowana, kebesaran ular phyton, dan kebesaran gajah Sumatera (gambar 9-17).

 DSC02322  DSC02297

Kebesaran ular phyton di Bali Safari & Marine Park (gambar 9).

Kemalasan komodo di Bali Safari & Marine Park (gambar 10).

 DSC02312  DSC02307

Drama gajah Sumatera di Bali Safari & Marine Park (gambar 11).

Patung Gajah di Bali Safari & Marine Park (gambar 12).

 DSC02318  DSC02302

Kegagahan harimau putih di Bali Safari & Marine Park (gambar 13).

Keganasan ikan arowana di Bali Safari & Marine Park (gambar 14).

 DSC02308  DSC02316

Kejinakan unta di Bali Safari & Marine Park (gambar 15).

Sajian drama gajah di Bali Safari & Marine Park (gambar 16).

Setelah diselingi makan siang menu Bali aslei, berupa srombotan (semacam urap atau gudangan di Jawa) dan kerupuk batu (kerupuk dari ubi yang cukup keras) di RM Satriya Jl. Haryono Denpasar Timur, kami lanjutkan perjalanan nostalgia ke kamar kost, yang digunakan mama di tahun 1990 (gambar 18). Kami jalan lagi ke Jl. Kebudayaan di daerah Renon, untuk mengunjungi dik Nila yang merayakan mitoni (syukuran usia kehamilan 7 bulan), di rumah Bulik Sudilah. Sekejap dalam obrolan akrab, kami segera lanjut untuk menikmati sore yang indah di Pantai Kuta (gambar 19) dan mengikuti misa kudus Sabtu sore di Gereja Katolik St. Fransiskus Xaverius Kuta yang megah, artistik dan full AC (gambar 20).

 DSC02330  DSC02333

Gerbang Bali Safari & Marine Park (gambar 17).

nostalgia kamar kost mama thn 1990 (gambar 18).

 DSC02338  DSC02339

Sore yang indah di Pantai Kuta yang berombak besar (gambar 19)

Gereja Katolik St. Fransiskus Xaverius Kuta yang megah (gambar 20).

Malam itu kami akhiri dengan jamuan santap malam dengan segenap peserta ARFD di RM Klapa, Pecatu Indah Resort, dekat Pantai Dreamland yang padat pengunjung. Sampai ketemu di petualangan selanjutnya.

 DSC02344  DSC02346

Keluarga dik Saut Pakpahan, sepupu yang tinggal di Denpasar (gambar 21).

Pintu masuk pura Pura Goa yang paling kecil di seluruh Bali (gambar 22).

Hari Minggu, 28 April 2013 kami awali dengan berenang di kolam renang ‘nikko bali resort and spa’ yang artistik, futuristik dan berhasil mengeksploitasi lansekap pantai dan bukit di lantai dasar hotel. Luar biasa. Setelah sarapan, kami nikmati hangatnya persaudaraan dengan keluarga dik Saut Pakpahan, sepupu yang tinggal di Denpasar, yang datang ke lobi hotel dengan isteri dan ketiga anaknya yang lincah, sampai tidak terlihat dalam foto (gambar 21).

 DSC02350  DSC02361

Patung Arjuna yang sedang dikerjakan di Pantai Pandawa (gambar 23).

Mengajari dik Laras mencuci cumi di dekat Bale Bengong (gambar 24)

Berikutnya kami bermain dengan keluarga dik Aning Wahyuningtyas, sepupu lain yang tinggal di Jimbaran. Kami menikmati Pura Goa Gong, sebuah pura di atas bukit yang dirimbuni akar pohon lebat, dengan pintu masuk pura yang paling kecil di seluruh Bali (gambar 22). Sebelum makan siang, kami melanjutkan jalan-jalan ke Pantai Pandawa, sebuah pantai eksotis yang dibuat dalam rentang 4 tahun. Pantai ini diciptakan dengan pemotongan punggung bukit kapur putih, penataan semak, dan pengaturan muara sebuah sungai di Nusa Dua bagian selatan. Di bukit kapur yang dipotong, tersaji patung besar kelima orang satriya Pandawa yang sedang dikerjakan, termasuk patung Arjuna yang luwes (gambar 23).

 DSC02365  DSC02367

Berbagai menu makan siang khas Bali masak sendiri (gambar 25)

Bergaya di gerbang pura dan pantai Muaya (gambar 26)

Sampailah kami di acara yang ditunggu-tunggu dik Laras, yaitu masak dengan tangannya yang mungil, cumi, kepiting dan ikan laut segar. Bulik Aning yang jago memasak, mengajari dik Laras, mencuci cumi, memotong-motongnya di dekat Bale Bengong (gambar 24) dan memasaknya di dapurnya yang penuh aroma bumbu khas Bali. Siang itu kami dikenyangkan dengan cumi bakar, telor cumi goreng, ikan kerapu merah bakar, gule kaki babi tanpa santan, dan sayur asem Jawa (gambar 25). Wow.

Sore hari kami habiskan di pura dan pantai Muaya (gambar 26), dekat Four Season Hotel. Kami juga bersantai di pasir putih yang lembut, sambil menikmati pemandangan pura, tamu bule yang berjemur, pengunjung pantai yang bermain ombak, bahkan lalu lintas pesawat di landas pacu Bandara Ngurah Rai. Dari tempat kami berbaring kekenyangan dalam semilir angin tersebut, kecelakaan Lion Air yang terjadi 1 bulan sebelumnya, dapat kami bayangkan kehebatan tragedinya secara jelas (gambar 27 dan 28).

 DSC02370  DSC02371

Melihat lalu lintas pesawat di landas pacu Bandara Ngurah Rai (gambar 27)

Berbaring kekenyangan dengan semilir angin di pantai Muaya (gambar 28)

Kami akhiri ‘7th Asia Respirology Disease Forum’ (ARDF) 2013 dan jalan-jalan di Bali, dengan pulang ke Yogyakarta menggunakan GA 252, sebuah Boeing 737-800, yang menempuh jarak 5.425 km, dalam kecepatan rata-rata 757 km/jam (0,732 Match), pada ketinggian 8.229 m. Sampai ketemu dalam laporan perjalanan berikutnya. Terima kasih.

sekian

*) penikmat jalan-jalan dan foto diri

Categories
Istanbul

2017 LEPTOSPIROSIS PASKA BANJIR

Hasil gambar untuk leptospirosis

LEPTOSPIROSIS PASKA BANJIR

fx. wikan indrarto*)

Bencana banjir karena siklon tropis Cempaka di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Selasa, 28 November 2017 sangat memprihatinkan. Bahaya ikutan setelah banjir surut adalah leptospirosis yang mematikan. Leptospirosis adalah penyakit akibat infeksi bakteri Leptospira sp. yang dapat ditularkan dari hewan ke manusia atau sebaliknya (zoonosis). Apa yang perlu kita waspadai?

Hasil gambar untuk leptospirosis

Leptospirosis pertama kali dilaporkan pada tahun 1886 oleh Dr. Adolf Weil dengan gejala demam tinggi disertai beberapa gejala saraf serta pembesaran hati dan limpa. Penyakit dengan gejala tersebut di atas oleh Goldsmith 1887 disebut sebagai Weil’s Disease. Pada tahun 1915 Inada berhasil membuktikan bahwa “Weil’s Disease” disebabkan oleh bakteri Leptospira icterohemorrhagiae.

Pada tahun 2016 yang lalu kasus leptospirosis di Indonesia mencapai 343 orang, meninggal 47 orang dan CFR 13,70%, sedangkan di DIY dengan jumlah kasus 17 orang, meninggal 6 orang, maka CFR sangat tinggi, yaitu 35,29%. Pada usia lebih dari 50 tahun kematian mencapai 56%. Di beberapa publikasi angka kematian dilaporkan antara 3-54% tergantung sistem organ yang terinfeksi.

Hasil gambar untuk leptospirosis

Leptospirosis merupakan penyakit yang dapat ditularkan melalui air (water borne disease). Urin (air kencing) dari individu yang terserang penyakit ini merupakan sumber utama penularan, baik pada manusia maupun pada hewan. Hujan deras akan membantu penyebaran penyakit ini, terutama di daerah banjir. Kejadian Leptospirosis pada manusia banyak ditemukan pada pekerja pembersih selokan, karena selokan banyak tercemar bakteri Leptospira. Leptospirosis dapat juga mengenai anak, yang tinggal di lingkungan padat perkotaan dengan banyak tikus rumah yang berkeliaran.

Gambar terkait

Masa inkubasi Leptospirosis pada manusia yaitu 2-26 hari. Infeksi Leptospirosis mempunyai manifestasi yang sangat bervariasi dan kadang tanpa gejala, sehingga sering terjadi kesalahan diagnosis, apalagi pada infeksi subklinis yang ditandai dengan flu ringan sampai berat. Hampir 40% penderita terpapar infeksi tidak bergejala tetapi pemeriksaan serologis positif. Sekitar 90% penderita akan mengalami kuning ringan, sedangkan 5% kuning berat yang dikenal sebagai penyakit Weil. Perjalanan penyakit Leptospira terdiri dari 2 fase, yaitu fase septisemik dan fase imun. Pada periode peralihan fase selama 1-3 hari kondisi penderita mungkin terlihat membaik.

Fase Septisemik dikenal sebagai fase awal atau fase leptospiremik karena bakteri dapat diisolasi dari darah, cairan serebrospinal dan sebagian besar jaringan tubuh. Pada stadium ini, penderita akan mengalami gejala mirip flu selama 4-7 hari, ditandai dengan demam, kedinginan, dan kelemahan otot. Gejala lain adalah sakit tenggorokan, batuk, nyeri dada, muntah darah, nyeri kepala, takut cahaya, gangguan mental, radang selaput otak (meningitis), serta pembesaran limpa dan hati. Fase Imun sering disebut fase kedua atau leptospirurik karena sirkulasi antibodi dapat dideteksi dengan isolasi kuman dari urin, dan mungkin tidak didapatkan lagi dari darah atau cairan serebrospinalis. Fase ini terjadi pada 0-30 hari akibat respon pertahanan tubuh terhadap infeksi. Gejala tergantung organ tubuh yang terganggu seperti selaput otak, hati, mata atau ginjal.

Hasil gambar untuk leptospirosis

Jika yang diserang adalah selaput otak, maka akan terjadi depresi, kecemasan, dan sakit kepala. Pada pemeriksaan hati didapatkan kulit kuning, pembesaran hati (hepatomegali), dan tanda koagulopati. Gangguan paru-paru berupa batuk, batuk darah, dan sulit bernapas. Gangguan hematologi berupa peradarahan dan pembesaran limpa (splenomegali). Kelainan jantung ditandai gagal jantung atau perikarditis. Meningitis aseptik merupakan manifestasi klinis paling penting pada fase imun.

Hasil gambar untuk leptospirosis

Sindrom Weil adalah bentuk Leptospirosis berat ditandai kulit dan mata kuning atau jaundis, disfungsi ginjal, nekrosis hati, disfungsi paru-paru, dan diathesis perdarahan. Kondisi ini terjadi pada akhir fase awal dan meningkat pada fase kedua, tetapi bisa memburuk setiap waktu. Manifestasi paru meliputi batuk, kesulitan bernapas, nyeri dada, batuk darah, dan gagal napas. Penderita dengan kuning berat lebih mudah terkena ghagal ginjal, perdarahan, dan kolaps kardiovaskular. Kasus berat dengan gangguan hati dan ginjal mengakibatkan kematian sebesar 20-40%.

Diagnosa Leptospirosis biasanya dilakukan dengan pemeriksaan serologis. Antibodi dapat ditemukan di dalam darah pada hari ke-5-7 sesudah adanya gejala klinis. Selain pemeriksaan serologis, untuk mengkonfirmasi infeksi Leptospirosis adalah Microscopic agglutination test (MAT). Kultur atau pengamatan bakteri Leptospira di bawah mikroskop berlatar gelap umumnya tidak sensitif. Selain itu, diagnosa juga dapat dilakukan melalui pengamatan bakteri Leptospira pada spesimen organ yang terinfeksi, dengan menggunakan imunofloresen.

Hasil gambar untuk leptospirosis

Leptospirosis dapat diobati dengan antibiotik doksisiklin, ampisillin, amoksisillin, eritromisin dan antibiotika yang lebih baru. Namun demikian, keterlambatan pengobatan, kesalahan diagnosis, ataupun terjadinya Sindrom Weil, dapat meningkatkan angka kematian atau CFR (Case Fatality Rate).

Bencana banjir karena siklon tropis Cempaka di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) harus diantisipasi sebaik mungkin. Tidak hanya dengan rekonstruksi bangunan paska banjir, tetapi juga peningkatan kewaspadaan akan bahaya leptospirosis. Sudahkah kita bijak?

 dr Wikan 5

Sekian

Yogyakarta, 29 November 2017

*) Ketua IDI Cabang Kota Yogyakarta, dokter spesialis anak di RS Siloam @ LippoPlaza dan RS Panti Rapih Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, Lektor di FK UKDW, WA: 081227280161, e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

 

Categories
Istanbul

2018 LAYANAN TBC

Hasil gambar untuk layanan tbc

LAYANAN TBC

fx. wikan indrarto*)

Layanan tuberkulosis (TBC) di Moskow, Rusia yang disiarkan oleh WHO Regional Eropa pada Selasa, 3 April 2018, dapat menjadi contoh dalam pencapaian kesehatan untuk semua (Health for All) di Indonesia. TBC disebabkan oleh infeksi bakteri Mycobacterium tuberculosis. Apa yang dapat dipelajari?

Hasil gambar untuk layanan tbc

Alkisah tentang Karam, lelaki berusia 23 tahun dari wilayah Khatlon di Tajikistan, Asia Tengah. Khatlon merupakan sebuah provinsi di Tajikistan yang terletak di bagian selatan di negara itu. Ibu kotanya ialah Qurghonteppa. Provinsi ini memiliki luas wilayah 24.600 km² dengan jumlah penduduk 2.150.000 jiwa. Dia merantau ke Moskow, Rusia pada 2015 untuk bekerja di sektor konstruksi. Sekitar 2 tahun kemudian jatuh sakit demam tinggi dan nyeri kepala. Dia merasa seolah-olah tidak memiliki kekuatan dan ketika kondisinya menjadi sangat parah sampai hampir tidak sadar, sebuah keadaan yang digambarkan oleh dokternya sebagai ujung kehidupan dan kematian, maka paman Karam, dengan siapa dia tinggal, memanggil ambulans RS.

Hasil gambar untuk layanan tbc

Di rumah sakit, Karam didiagnosis menderita meningitis TB atau radang selaput otak karena bakteri TBC. Sampai saat itu, dia tidak tahu apa-apa tentang TBC, bahkan dia merasa takut tentang bagaimana dia akan membayar biaya untuk perawatan di RS sampai sembuh. Untunglah bahwa biaya perawatannya gratis, yang disediakan oleh Lembaga Penelitian dan Pengendalian TBC (Research and Clinical Center for Tuberculosis Control) di Moskow, Rusia. Ini adalah bagian dari inisiatif yang dilakukan oleh pemerintah kota Moskow, untuk memastikan bahwa semua orang, termasuk para migran seperti Karam, memiliki akses ke layanan TBC yang mereka butuhkan.

Hasil gambar untuk layanan tbc

Pemerintah Kota Moskow meluncurkan inisiatif TBC pada tahun 2012, meskipun pada saat itu tingkat TBC di Moskow sudah menurun. Menurut Gobal Tuberculosis Report 2016, jumlah kasus TBC di Indonesia sebanyak 351.893 kasus, meningkat dari tahun 2015 yang sebesar 330.729 kasus. Jumlah kasus tertinggi di Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah, mencapai sebesar 44% dari jumlah seluruh kasus baru di Indonesia. Sebaliknya di Moskow, oleh karena terjadi peningkatan jumlah migran, yang sering lebih rentan terhadap penyakit TBC ini, menjadikannya perlu untuk mengubah pendekatan tradisional terhadap upaya pengendalian TBC. Pemerintah Kota Moskow menciptakan model organisasi baru dalam semangat memberikan layanan kesehatan untuk semua orang (Health for All), tanpa menyebabkan kesulitan keuangan. Program ini didasarkan pada model dengan komponen kunci yang meliputi memberikan perawatan yang berpusat pada pasien, memperkuat kapasitas sumber daya manusia untuk pembasmian TBC, dan memantau data epidemiologi serial.

Dalam 5 tahun terakhir ini, model baru ini telah menghasilkan perubahan yang signifikan terhadap luaran layanan TBC di Moskow. Yang paling penting, program ini memungkinkan pemerintah kota untuk menyediakan layanan berkualitas bagi semua populasi rentan, termasuk migran dan tunawisma. Kerja intensif untuk mengatasi infeksi TBC laten dan kontak TBC telah membantu mengurangi tingkat pelaporan atau notifikasi TBC di antara penduduk tetap di Moskow sebesar 11,7%, yaitu menjadi 12,8 per 100.000 penduduk, dan pada anak sebesar 23,8%. Angka notifikasi kasus (CNR) adalah jumlah semua kasus tuberkulosis yang diobati dan dilaporkan di antara 100.000 penduduk yang ada di suatu wilayah tertentu. Di Indonesia, provinsi dengan CNR semua kasus TBC tertinggi yaitu DKI Jakarta (269), Papua (260), Maluku (209), dan Papua (223). Sedangkan CNR semua kasus tuberkulosis terendah yaitu Provinsi Bali (73), DI Yogyakarta (83) dan Riau (95).

Pendekatan baru untuk mengobati pasien TBC yang resistan terhadap berbagai obat (MDR-TB) dan TBC yang resistan terhadap obat secara ekstensif (XDR-TB) juga telah diterapkan di Moskow, dengan hasil yang positif. Data di Indonesia, angka keberhasilan pengobatan tuberkulosis semua tipe per provinsi tertinggi adalah Kalimantan Selatan (94,2%) dan terendah Papua Barat (56,9%). Ada 7 provinsi yang sudah mencapai angka keberhasilan pengobatan semua jenis TBC diatas 90% yaitu Provinsi Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Sulawesi Barat, Nusa Tenggaran Barat, Nusa Tenggara Timur dan Banten.

Gambar terkait

Pada tahun 2016, peningkatan fokus pada pencegahan di antara populasi migran di Moskow berkontribusi pada deteksi tambahan 1.605 kasus TBC. Sejak 2012, jumlah kematian TB di ibukota Rusia telah menurun 22%, dan jumlah pasien MDR-TB telah menurun 44%, menjadi 3,4 per 100.000 penduduk, menjadikannya kota yang terendah di Rusia. Profil Kesehatan Indonesia Tahun 2016 tidak mencantumkan laporan tentang jumlah pasien MDR-TB, apalagi XDR-TB di Indonesia.

Gambar terkait

Puan Maharani, Menteri Koordinator Bidang PMK menegaskan bahwa Indonesia bangga dan berkomitmen penuh untuk memperkuat kemandirian dan keberlanjutan eliminasi TBC. Layanan TBC di Indonesia ada 6 langkah menurut Menko PMK, saat menjadi Panelis Diskusi Panel dalam ‘First Global Ministerial Conference Ending TB’ yang diselenggarakan di Moskow, Rusia pada 16-17 November 2017. Pertama adalah strategi bantuan eksternal untuk pengendalian TBC, kedua adalah melaksanakan skema Jaminan Kesehatan Nasional dan perlindungan sosial, sedangkan ketiga adalah melakukan pendekatan kesehatan keluarga dan masyarakat. Selain itu, keempat adalah membangun strategi gabungan layanan publik dan swasta berbasis kabupaten, kelima adalah mempraktekkan penemuan dan kemitraan aktif, dan keenam adalah melibatkan kebijakan inovatif dalam pengendalian TBC.

Hasil gambar untuk layanan tbc

Manfaat pendekatan baru layanan TB oleh pemerintah kota Moskow mungkin sangat terasa pada tingkat individu. Bagi Karam, informasi bahwa perawatannya dalam 2 bulan terapi intensif adalah gratis terdengar sebagai bantuan besar. Dia dirawat dan ditangani oleh beberapa dokter spesialis selama 11 bulan. Bagaimana di Indonesia?

 dr Wikan 6

Sekian

Yogyakarta, 6 April 2018

*) Sekretaris IDI Wilayah DIY, dokter spesialis anak, Alumnus S3 UGM, pengajar di FK UKDW, WA: 081227280161

Categories
Istanbul

2018 Hari Kesehatan Sedunia

 

Hasil gambar untuk HARI KESEHATAN  SEDUNIA 2018

HARI KESEHATAN DUNIA 2018

fx. wikan indrarto*)

Pada Hari Kesehatan Sedunia (World Health Day 2018) Sabtu, 7 April 2018, setiap orang diharapkan mengambil peran untuk berkontribusi mencapai dan mempertahankan UHC (Universal Health Couverage) atau cakupan layanan kesehatan semesta. Apa yang sebaiknya dilakukan?

Hari Kesehatan Sedunia (World Health Day 2018) diselenggarakan untuk memperingati lahirnya Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yang didirikan pada tanggal 7 April 1948, sebagai badan khusus Perserikatan Bangsa-Bangsa. WHO bermarkas di Jenewa, Swiss dengan anggota hampir mencapai dua ratus negara, badan tersebut melaksanakan program berskala dunia untuk mencegah dan melenyapkan penyakit. Tujuannya adalah “pencapaian tingkat kesehatan yang tertinggi untuk seluruh umat manusia di dunia”, dimana kesehatan didefinisikan sebagai “kesejahteraan yang seutuhnya baik fisik, mental maupun sosial”.

Hasil gambar untuk HARI KESEHATAN  SEDUNIA 2018

Dengan UHC, maka WHO akan memastikan semua orang mendapatkan layanan kesehatan berkualitas, di manapun dan kapanpun mereka membutuhkannya, tanpa menderita kesulitan keuangan. UHC adalah kunci terciptanya derajad kesehatan dan kesejahteraan bagi masyarakat dan bangsa, sehingga UHC layak dilakukan. Semua negara akan mencapai UHC dengan cara yang berbeda.

Sedikitnya separoh penduduk dunia saat ini tidak dapat memperoleh layanan kesehatan esensial. Hampir 100 juta orang didorong ke dalam kemiskinan ekstrim, dipaksa bertahan hidup hanya dengan $ 1,90 atau kurang sehari, karena mereka harus membayar layanan kesehatan dari kantong mereka sendiri. Lebih dari 800 juta orang (hampir 12 persen dari populasi dunia) menghabiskan setidaknya 10 persen dari anggaran rumah tangga mereka, untuk biaya kesehatan untuk diri mereka sendiri, anak yang sakit atau anggota keluarga lainnya. Mereka menanggung apa yang disebut pengeluaran bencana atau ‘catastrophic expenditures’.

Hasil gambar untuk HARI KESEHATAN  SEDUNIA 2018

UHC seharusnya tidak berarti cakupan gratis (does not mean free coverage) untuk semua layanan kesehatan, karena rasanya tidak ada negara yang dapat memberikan semua layanan tanpa biaya secara berkelanjutan. UHC tidak hanya menjamin paket layanan kesehatan minimum, namun juga memastikan perluasan cakupan layanan kesehatan dan perlindungan finansial secara progresif, karena tersedia lebih banyak sumber daya. UHC bukan hanya tentang perawatan medis untuk individu tertentu, tetapi juga mencakup layanan untuk keseluruhan populasi, seperti layanan kesehatan masyarakat, misalnya menambahkan fluorida ke air di KM atau mengendalikan tempat berkembang biak nyamuk, yang membawa virus yang dapat menyebabkan penyakit Dengue.

Hasil gambar untuk bendera merah putih

Semua pemerintah, termasuk di Indonesia, diharapkan membawa perubahan kebijakan mencapai UHC, untuk memperbaiki derajad kesehatan, memacu pertumbuhan ekonomi, dan pembangunan sosial. Komisi kesehatan parlemen, termasuk Komisi IX DPR RI, dan kelompok pemerhati kesehatan seharusnya berperan menengahi antara pemerintah yang menyusun kebijakan dan yang menjalankannya. Ruang lingkup Komisi IX DPR RI meliputi tenaga kerja dan transmigrasi, kependudukan dan kesehatan.

Sekain itu, partai politik seharusnya juga terlibat dalam menyusun program untuk memenuhi kebutuhan kesehatan para pendukung partai dan konstituen, bukan sekedar memenangkan pemilihan umum saja. Asosiasi profesional kesehatan, seperti Ikatan Dokter Indonesia (IDI), berperan untuk melindungi kesejahteraan anggotanya sebagai tenaga kerja profesional. Organisasi masyarakat sipil seperti LSM yang bekerja di lapangan, dapat berperan untuk mewakili keprihatinan dari kelompok populasi yang berbeda, juga berperan mencapai UHC.

Hasil gambar untuk HARI KESEHATAN  SEDUNIA 2018

Media massa termasuk para pengguna media sosial dapat membantu meningkatkan pemahaman masyarakat, tidak hanya tentang UHC, tetapi juga aspek transparansi dan akuntabilitas dalam pembuatan kebijakan. Awak media seharusnya kita dorong untuk menyoroti adanya inisiatif dan intervensi kebijakan publik, yang telah membantu memperbaiki akses terhadap layanan kesehatan yang berkualitas, dan terlindung dari dampak buruk finansial bagi masyarakat. Caranya dengan menunjukkan apa yang terjadi, bila warga masyarakat tidak mampu memerlukan dan mendapatkan layanan kesehatan yang mereka butuhkan.

Para pejabat pemerintahan disarankan untuk berdialog terstruktur dengan berbagai pemangku kepentingan, untuk memastikan terbentuknya UHC. Diharapkan dapat menangkap tuntutan, opini, dan harapan warga masyarakat mengenai hal-hal terkait UHC untuk perbaikan kebijakan. Pendapat warga dapat diperoleh melalui dialog tatap muka, survei atau bahkan referendum, untuk mengeksplorasi solusi UHC yang layak.

Hasil gambar untuk sistem pelayanan kesehatan di indonesia

Warga masyarakat sebagai individu dapat menggunakan suaranya sendiri, untuk menuntut terciptanya sistem layanan kesehatan yang baik. Semua warga masyarakat sebagai individu, juga kelompok masyarakat sipil dan petugas kesehatan, diharapkan dapat mengkomunikasikan kebutuhan, pendapat dan harapannya kepada pembuat kebijakan, politisi, menteri, dan bahkan presiden. Diperlukan kebulatan suara untuk memastikan kebutuhan kesehatan masyarakat, diperhitungkan dan diprioritaskan di tingkat lokal, regional, atau bahkan nasional.

Hasil gambar untuk jkn adalah

Hari Kesehatan Sedunia (World Health Day 2018) pada Sabtu, 7 April 2018, mengingatkan kita bahwa di Indonesia UHC akan diwujudkan melalui program JKN (Jaminan Kesehatan Nasional), dengan BPJS Kesehatan sebagai penjanim biayanya. Apakah kita telah ikut mewujudkan?

 Komdik RSPR 1

Sekian

Yogyakarta, 7 April 2018

*) Sekretaris IDI Wilayah DIY, dokter spesialis anak, lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161,

e-mail : fxwikan_indrarto@yahoo.com

Categories
Istanbul

2018 Hari Orang Sakit Sedunia

Gambar terkait

HARI ORANG SAKIT SEDUNIA 2018

fx. wikan indrarto*)

Hari Orang Sakit Sedunia (World Day of the Sick) ditetapkan oleh Sri Paus Yohanes Paulus II dan mulai dirayakan pada 11 Februari 1993. Tema Hari Orang Sakit Sedunia tahun 2018 ini adalah kata yang diucapkan Yesus dari atas salib kepada Maria, IbuNya, dan Yohanes; “Ibu, inilah anakmu. Inilah ibumu. Dan sejak saat itu, murid itu menerima dia di dalam rumahnya.” (Yoh 19;26-27). Kata-kata Yesus itu dengan terang benderang menerangi misteri Salib, yang tidak menghadirkan keputusasaan, namun justru menunjukkan kemuliaan dan kasihNya sampai akhir.

Ketiga subtema yang terus-menerus didengungkan pada Hari Orang Sakit Sedunia adalah pertama, mengingatkan semua orang beriman, untuk berdoa secara khusuk bagi mereka yang sedang sakit. Kedua, mengundang semua orang beriman untuk merefleksikan sakit dan penderitaan manusia, dan ketiga, penghargaan bagi semua petugas kesehatan.

Hasil gambar untuk HARI ORANG SAKIT SEDUNIA 2018

Melayani saudara kita yang sedang sakit, seharusnya diawali dengan kemurnian hati sampai kita mampu bersikap seperti Ayub “Saya mata untuk orang buta, dan kaki bagi orang lumpuh” (Ayub 29:15), kepada sesama yang sakit. Pelayanan kita tidaklah harus dilakukan dengan menjadi petugas kesehatan bagi para pasien. Sebenarnya kita dapat sekedar dekat dengan orang sakit, terutama yang membutuhkan perawatan lama, membantu dalam memandikan, berpakaian, mencucikan dan menyuapkan makanan. Layanan sederhana seperti ini, terutama bila dilakukan berkepanjangan, pastilah dapat menjadi sangat melelahkan dan memberatkan.

Meskipun tidak ada yang menginginkannya, namun setiap manusia akan mungkin mengalami sakit, penderitaan dan bahkan dapat berlanjut dengan kematian. Sakit yang ringan sekalipun, sebaiknya digunakan sebagai sebuah momentum penting untuk mensyukuri sehat. Kita diingatkan untuk bersandar pada Tuhan, menyadari pentingnya iman bagi mereka yang sakit dan berbeban berat, untuk datang pada Tuhan. Dalam pertemuannya dengan Tuhan melalui caranya masing-masing, mereka yang sakit akan menyadari bahwa dirinya tidak sendirian.

Bagi kita semua yang sehat, memberikan pendampingan, penghiburan dan perhatian untuk mereka yang sakit, sangatlah berarti. Selain itu, kita disadarkan akan pergerakan roda kehidupan. Pada saat sehat, kita seharusnya meluangkan waktu, tenaga, pikiran dan dana untuk membantu mereka yang sakit. Pada saat yang lain, sangat mungkin kita sendiri justru menjadi orang yang sakit dan memerlukan hal yang sama dari semua orang di sekitar kita, sebagaimana pergerakan dan putaran roda kehidupan.

Hasil gambar untuk HARI ORANG SAKIT SEDUNIA 2018

Pada era JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) yang sekarang berlaku di Indonesia, kendali mutu dan kendali biaya untuk pasien yang sakit akan terus diwujudkan. Hal ini karena kebebasan profesi dokter semakin direduksi, kompleksitas masalah medis pasien semakin diabaikan, dan mutu layanan medik yang dilakukan semakin disetarakan. Untuk itu, terhadap pasien dengan sakit berat dan berbiaya mahal, para dokter pasti akan sampai pada sebuah titik terjadinya dilema medis. Pada titik itulah diperlukan perubahan dari pengobatan menjadi perawatan (Advance Cures and Transform Care).

Para dokter wajib membedakan sifat tindakan medis yang akan diambilnya, menjadi ‘Ordinary’ atau ‘Extraordinary’. Disebut ordinary kalau memenuhi 6 syarat, yaitu 3 aspek medis dan 3 aspek moral. Syarat aspek medis adalah teruji secara imiah, terbukti berhasil secara statistik, dan tersedia secara rasional. Sedangkan aspek moral adalah menguntungkan, bermanfaat, dan tidak menjadi beban finansial bagi pasien, keluarga maupun RS.

Hasil gambar untuk HARI ORANG SAKIT SEDUNIA 2018


Penilaian sifat tindakan medis tersebut adalah ‘hic et nunc’, yaitu sekarang dan di RS ini. Apabila salah satu saja dari 6 syarat tersebut tidak tepenuhi, maka tindakan medis tersebut termasuk ‘Extraordinary’, sehingga secara etika tidak wajib dilakukan oleh dokter. Ketentuan etika tersebut diperlukan untuk menghindari 3 hal, yaitu ‘agresive medicine’ (tindakan berlebihan), ‘futile medicine’ (intervensi sia-sia), dan rasa bersalah yang tidak perlu, baik bagi dokter, para petugas RS lainnya, pasien maupun keluarganya. Selain itu, perburukan kondisi medis, bahkan kematian pasien tidak boleh dianggap sebagai kegagalan dokter, asalkan kewajiban dokter sudah dilaksanakan.

Hasil gambar untuk HARI ORANG SAKIT SEDUNIA 2018
M
omentum Hari Orang Sakit Sedunia (World Day of the Sick) Minggu, 11 Februari 2018, mengingatkan kita agar memiliki kebijaksanaan hati bagi para orang sakit. Selain itu, saat terjadi sakit juga tidak perlu putus asa, karena adanya kemuliaan dan kasih Tuhan sampai pada akhir kehidupan. Sudahkah kita menemani orang sakit di sekitar kita?

 Dr. Wikan 2 Sekian

Yogyakarta, 6 Februari 2018

*) Sekretaris IDI Wilayah DIY, dokter spesialis anak, Lektor di FK UKDW Yogyakarta, Alumnus S3 UGM, WA: 081227280161,

wa.me/
wa.me
Halo, ada yang dapat dibantu?